(AR) Intense Part 2 (End)

Intense

By Elsa Mardian 

1448022363800

Main Cast :

Hwang Tiffany as Hwang Tiffany

Choi Siwon as Choi Siwon

Cho Kyuhyun as Vampire Cho 

Supporting Cast:

Im Yoon Ah as Hwang Yoon Ah

Jung Jessica as Hwang Jessica 

Kim Taeyeon as Hwang Taeyeon

Jung Krystal as Hwang Krystal 

Genre : Fantasy, Romance, AU

Rating : PG 17

Disclaimer: 

“Fanfiction ini saya persembahkan khusus untuk my lovely sister, Nindy Zulyanti. Selamat Ulang Tahun yang ke-21, sweety. Much love for you.

Part 2

 

“AAAAAHHHH!!!”

“Yah! Yah! Ada apa denganmu, Oppa? Bangunlah!”

Byur!

Siwon melompat duduk setelah segelas air menerpa wajahnya. Ia menoleh ke kanan kiri dengan sangat cepat, meraba-raba tubuhnya sendiri, terutama di bagian lehernya. Ia masih bisa merasakan betapa nyerinya gigitan itu. Napas Siwon tersengal seperti seseorang yang baru saja selesai berlari kencang. Adrenalinnya meningkat drastis karena rasa takut.

“Dimana…dimana perempuan itu? Dia menggigitku!” racau Siwon.

Yoona dan Krystal yang masih berdiri di samping ranjang Siwon hanya saling pandang heran. Laki-laki itu tampak kacau.

“Oppa, sepertinya kau bermimpi buruk,” ucap Krystal.

Mendengar suara asing di dalam kamarnya, Siwon terlonjak kaget. Ia rasa mungkin sebentar lagi ia akan terserang penyakit jantung.

“Yaa! Kenapa kalian bisa berada di kamarku? Mengagetkan saja!” sembur Siwon seraya memegangi dadanya yang bergemuruh.

Alih-alih merasa menyesal, kedua gadis itu mengedikkan bahu serentak.

“Oppa ceroboh sekali tidak mengunci pintu depan. Oleh sebab itu kami langsung masuk saja,” jawab Yoona.

Siwon mengatur napasnya agar lebih tenang. “Tapi tetap saja tidak sopan. Ada apa kalian kesini?”

“Tentu saja untuk menjemputmu. Sudah waktunya berlatih pedang dengan Tiffany Eonnie. Hurry up!” jawab Yoona penuh semangat.

**

 

Siwon berdiri tegap di hadapan Tiffany. Senyumnya terbentuk begitu lebar sehingga Tiffany dapat melihat seluruh giginya. Tiffany tahu kalau laki-laki itu sedang menarik perhatiannya, jadi ia tidak boleh tergoda.

“Ehem!” Tiffany berdehem dan memasang ekspresi datar. Yoona dan Soojung saling lirik melihat kegugupan keduanya.

“Aku harap hari ini kau berlatih lebih keras, Siwon-ssi. Perhatikan gerakanku. Kau juga harus bergerak dengan gesit agar dapat memukulku atau menghindari pukulanku.”

Siwon mengangkat kedua alisnya. “Memukulmu? Yang benar saja! Tidak, aku akan mengalah.”

Tiffany menggeram. “Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bersikap sok gentleman. Anggap saja aku adalah musuhmu. Mengerti?”

Siwon melirik Yoona dan Krystal dengan bimbang. Kedua gadis itu langsung menganggukkan kepala seakan-akan Tiffany tidak bisa diajak berkompromi. Siwon pun akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Tapi aku akan berusaha lembut padamu,” ujar Siwon lemah.

Sebenarnya lelaki lemah tidak termasuk dalam tipe lelaki idaman Tiffany, tapi entah mengapa Siwon mampu menggelitik hatinya. Tiffany menyerahkan salah satu pedang kayu yang mereka gunakan kepada Siwon. Selanjutnya mereka berdiri berhadapan dengan masing-masing pedang di tangan.

“Hei, Yoong. Apa menurutmu Siwon Oppa mampu mengalahkan Cho Kyuhyun? Setelah melihat Cho Kyuhyun kemarin, aku rasa laki-laki itu sangat tangguh. Mustahil Siwon yang kikuk ini mengalahkannya,” ujar Krystal. Mereka berdua duduk di salah satu bangku lapangan basket indoor itu. Merasa tidak ditanggapi oleh Yoona, Krystal pun menoleh.

Yoona menatap Tiffany dan Siwon yang sedang bersiap-siap di tengah lapangan, namun Krystal tahu kalau sebenarnya Yoona sedang melamun. Gadis itupun menyenggolnya.

“Yoona, kau melamun lagi! Tadi saat di bathtube kau juga melamun. Ada apa denganmu?” tegur Krystal.

Yoona mengerjap. Ia memalsukan senyumnya pada Krystal. “Tidak, aku hanya memikirkan bagaimana jadinya duel minggu ini.”

Yoona terpaksa berbohong. Ia tidak ingin Krystal tahu apa yang terjadi dengannya bersama Kyuhyun tadi malam. Yoona tidak ingin mengingatnya lagi meskipun dirinya tak berdaya sedikitpun.

 

 

Tiffany POV

 

Rasanya aku ingin menyerah melihat ketidakmampuan Siwon mengimbangi permainan. Ia benar-benar payah dalam bela diri atau teknik pedang. Aku maklum sebab ini adalah pertama kali baginya. Aku hanya merasa putus asa mengingat hari perjodohanku semakin dekat.

Ini sudah hari keempat dan Siwon tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Meskipun Yoona dan Krystal selalu memberinya semangat, tapi pada dasarnya kekuatan Siwon memang tidak mencapai batas permainan ini. Apalagi dalam waktu yang sangat singkat.

Siwon terlentang di tengah lapangan basket, tempat yang selalu kami gunakan untuk berlatih. Hari ini Yoona dan Krystal tidak ikut bersama kami. Hanya aku dan Siwon. Ia sudah menyerah, begitu juga denganku. Namun aku tidak mempunyai pilihan lain. Hari yang tersisa tinggal dua hari saja. Aku harus memberinya semangat.

“Siwon, bangun. Kau tidak boleh menyerah!” panggilku seraya berdiri di sampingnya. Ia membuka mata. Aku bisa melihat kontak lens coklat terang miliknya menatapku tajam.

“Tubuhku sakit semua, Tiffany-ssi.”

“Siwon, aku bahkan tidak memukulmu hari ini.”

“Tapi tadi aku sempat memukul kakimu. Apa kau baik-baik saja?”

Ya, kau jangan khawatir. Vampire bisa menyembuhkan diri sendiri.

“Hanya sakit sedikit,” jawabku berbohong. “Ayo, semangatlah. Waktu kita semakin menipis.”

Siwon menyeringai konyol. Ia berusaha bangkit dan menumpukan kedua sikunya di lantai, membuatku dapat melihat dada bidangnya.

“Beri aku ciuman penyemangat.”

Aku mengerjapkan mata tak percaya. “Eoh?”

Siwon tersenyum semakin lebar. “Aku menyukaimu, kurasa. Eum…mungkin jika kau menciumku, aku akan mendapatkan kekuatanku.”

Apa lelaki ini masih waras? Kenapa ia meminta hal konyol seperti itu? Aku menatapnya tajam namun sepertinya ia masih tetap keras kepala pada permintaannya. Aku tidak akan menciumnya, tidak akan! Ciumanku akan membahayakan nyawanya sebab efek skinship yang begitu intim jauh lebih parah dari hanya sekedar berpegangan tangan.

Just one kiss, please. Aku berjanji akan berlatih lebih giat, bahkan sampai tengah malam pun akan kusanggupi.”

Siwon, seandainya kau tahu kita ini berbeda. Kau tidak boleh menyukaiku.

Aku tahu kalau Siwon bersungguh-sungguh saat ia menarik tanganku hingga berlutut di sampingnya. Oh tidak, ini berbahaya! Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.

Wajah kami berada dalam jarak hanya beberapa inci saja. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat. Tatapannya begitu lembut, membuat hatiku yang sekeras batu ini melunak. Aku menahan kekuatanku sebisa mungkin agar tidak menghisap energinya. Tapi itu sangat mustahil. Kekuatanku diluar kendali.

 

 

Siwon POV

 

Aku tidak dapat menahan diriku untuk menyatukan bibir kami. Dan saat itu terjadi, aku merasa diriku berada di sebuah lemari es besar. Tubuh dan bibirnya sangat dingin, membuatku merinding. Bibirnya sangat lembut seolah akan hancur jika aku melumatnya lebih lama. Ia membalas ciumanku. Aku tidak bisa lebih bahagia dari ini.

Aku merengkuh lehernya dengan posesif. Tanganku dapat meraba kalung yang selama ini tersembunyi di balik pakaiannya. Ia mencengkram tanganku sama eratnya, seperti mencegah tanganku menyentuh titik sensitive di lehernya. Aku memutar kepala ke kiri dan kanan, mencoba melumat bibirnya dari segala arah.

Harus kuakui baru kali ini aku melakukan ciuman panas. Aku tidak ingin ini berakhir, walaupun aku mulai merasakan energiku terkuras lagi. Tubuhku melemah. Aku tidak tahu, tubuhku gemetar karena ciuman kami atau kesadaranku yang mulai hilang lagi. Ia mendorongku perlahan, menimbulkan suara nyaring dari bibir kami yang terpisah.

Kepalaku mulai pusing lagi. Sial, kenapa tubuhku tidak bisa diajak kompromi? Aku masih ingin menciumnya.

“Siwon…”

Aku membuka mataku dengan berat. Pandanganku tidak fokus pada wajahnya. Rasanya berputar-putar. Lalu ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah liontin warna maroon tergantung di dadanya. Apakah itu liontin miliknya? Tunggu, sepertinya aku pernah melihat liontin itu. Tapi kapan?

“Liontin itu…”

Ya Tuhan, semuanya kembali menghitam.

 

 

Author POV

 

Siwon terbangun dengan wajah penuh kengerian. Matanya melotot, terpaku pada langit-langit kamar. Siwon sadar ia tidak berada di kamarnya sendiri, melainkan di sebuah kamar yang terkesan feminine. Ia menurunkan kedua kakinya, meninggalkan ranjang hangat yang baru saja ia tempati. Siwon memandang berkeliling.

Kamar itu terkesan gelap, hanya didominasi oleh warna hitam dan merah. Tidak ada benda lain kecuali lemari pakaian, meja nakas, ranjang serta lampu tidur. Siwon mengernyit heran. Jika ini kamar Tiffany, Yoona atau Krystal, tidak mungkin mereka tidak memiliki cermin. Mereka adalah perempuan. Siwon yang laki-laki saja memerlukan benda itu untuk menilai penampilannya sendiri.

Siwon berjalan mendekati pintu, membukanya perlahan lalu melangkah keluar. Benar, ia sedang berada di dalam apartemen Tiffany. Mungkin setelah ia tidak sadarkan diri, Tiffany membawanya kemari. Siwon merasa malu. Tiffany pasti menertawakannya. Seketika ia putus asa, Tiffany tidak akan menyukai pria lemah sepertinya.

Samar-samar Siwon mendengar obrolan di ruang tengah. Tapi sepertinya bukan hanya tiga orang gadis terlibat di dalamnya, melainkan lebih dari itu. Siwon menyelinap di belakang meja vas bunga yang cukup besar, berada tepat di balik sekat ruang tamu. Kemudian Siwon mencoba mengintip ke sumber suara.

Matanya menyipit. Siapa dua gadis berambut kuning keemasan yang duduk bersama Tiffany, Yoona dan Krystal, Siwon bertanya dalam hati. Ia belum pernah melihat mereka sebelumnya.

“Kau tidak mempunyai waktu untuk mencari pria lain lagi, Tiffany! Menyerah saja pada keputusan Papa!”

“Menyerah, katamu? Taenggo, bayangkan jika kau berada di posisiku. Kau dijodohkan dengan orang yang tidak kau kenal sama sekali dan tidak diberikan pilihan untuk menolaknya. Hanya ini yang bisa kulakukan, Taenggo.”

“Lalu kau akan mengorbankan laki-laki malang itu, Tiff? Ia bahkan tidak bisa mengangkat pedangnya sendiri. Hentikan ini semua jika kau peduli pada laki-laki itu. Cho Kyuhyun pasti akan menghabisinya dengan sekali tebas.”

“Sampai kapanpun manusia biasa tidak sanggup melawan bangsa kita. Itu kenyataan mutlak, Tiffany.”

Siwon menelan ludah. Ia merasa nyawanya tidak lagi di badan. Siapa gadis-gadis itu sebenarnya? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Siwon. Dan apa maksudnya dengan manusia biasa tidak sanggup melawan bangsa kita? Siwon mencubit lengannya sendiri, untuk membuktikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Auw…,” rintih Siwon pelan karena cubitannya cukup menyakitkan.

Sayangnya suara Siwon terdengar oleh Hwang bersaudari. Taeyeon dan Jessica segera melompati sofa dan mendarat mulus tepat di samping Siwon. Siwon menyaksikannya dengan mulut terbuka dan mata melebar. Yang baru saja dilihatnya bukan bagian dari film action, kan?

Taeyeon dan Jessica menatap Siwon dengan tajam. Tiffany berdiri dari duduknya. Matanya sedikit bengkak karena menangis.

“Taenggo, Jessie, jangan menyentuhnya, kumohon!” cegah Tiffany. Siwon dapat merasakan betapa terlukanya Tiffany saat ini hanya dari suaranya saja.

“Tapi ia telah mendengar cukup banyak, Tiff!” seru Jessica.

“Siwon, jangan tatap mata mereka!” Tiffany memberitahu.

Siwon tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi sepertinya saran dari Tiffany sangat cemerlang. Ia pun memejamkan mata.

“Aku tidak akan menyakitinya, Tiff!” tukas Taeyeon kesal. “Aku hanya ingin bertanya seberapa banyak yang ia dengar.”

Tiffany berjalan mendekati mereka. Siwon dapat mendengar langkah itu mendekat. Ia membuka matanya perlahan lalu melihat Tiffany sudah mensejajarkan wajah mereka. Mereka bertatapan intens, seolah sedang menyelami hati masing-masing.

“Siwon, cepat atau lambat kau harus mengetahui semua ini. Aku harap aku tidak melukai perasaanmu.”

Siwon mengangguk. Tiffany mengedikkan kepala ke samping, memberi isyarat agar Siwon berdiri dan mengikutinya ke sofa. Siwon masih tidak ingin memandangi Taeyeon dan Jessica yang kini berjalan di belakangnya. Yoona dan Krystal duduk di double couch. Mereka tidak melepaskan matanya dari Siwon.

“Duduklah,” ucap Tiffany lembut. Siwon mengikuti perintahnya. Ia duduk di salah satu sofa, namun cukup jauh dari jangkauan Taeyeon dan Jessica. Ia hanya ingin memandangi Tiffany saat ini. Aura di sekelilingnya mulai dingin, persis seperti saat berada di dalam lift malam itu.

“Siwon, apa yang kau pikirkan tentangku?” tanya Tiffany. Siwon mengernyitkan kening. Matanya langsung tertuju kepada liontin maroon yang tergantung bebas di dada gadis itu.

“Aku…tidak tahu. Tapi aku merasa ada sesuatu yang tidak lazim.”

Tiffany meremas tangannya sendiri. “Sesaat sebelum kau pingsan, kau menyadari liontinku. Ada apa?”

Jantung Siwon berdebar begitu cepat. Mengingat mimpi buruk itu membuat titik cemasnya mendidih. Ia menatap Tiffany tanpa kedip lalu menggelengkan kepala. Tiffany ingin sekali menggenggam tangan yang gemetar itu, tapi itu tidak mungkin. Ia hanya bisa menenangkan Siwon melalui kata-kata.

“Siwon, percaya padaku. Aku tidak akan menyakiti pria baik sepertimu. Katakan Siwon, apa yang telah kau alami?”

“Aku melihat liontin yang sama di dalam mimpiku, oke! Perempuan berjubah serta bertudung serba hitam, dengan taring di dalam mulutnya, mengenakan kalung yang sama persis dengan kalungmu. Perempuan itu…dia…dia menggigit leherku lalu menancapkan taringnya. Tiffany, apa yang kau pikirkan tentang hal ini? Kenapa aku merasa kau dan perempuan di dalam mimpiku adalah orang yang sama?”

Kelima gadis itu bungkam. Tiffany menahan napasnya mendengar penuturan Siwon barusan. Ia sendiri tidak tahu apakah mimpi Siwon ada hubungan dengannya. Tiffany yang tidak pernah tidur memang selalu bermain di mimpi orang lain, tetapi ia tidak pernah merasa masuk ke dalam mimpi Siwon. Kalau pun ia masuk, ia tidak akan menakut-nakuti Siwon.

Demi Tuhan, Siwon adalah pria baik dan Tiffany menyukainya!

“Kau mungkin benar, Siwon.”

Ucapan Tiffany mengagetkan Siwon. Sementara Taeyeon, Jessica, Yoona dan Krystal saling melempar tatapan prihatin.

Tiffany menatap Siwon lekat. “Kau melihat perempuan itu bertaring dan menggigit lehermu? Siwon, kau adalah seorang penulis fiksi, benar? Seharusnya kau tahu makhluk apa itu.”

Siwon menelan ludah. Ia menggelengkan kepala berulang kali. “Tidak mungkin. Aku tahu makhluk apa yang kau maksud dan kau…kau bukanlah bagian dari mereka.”

Siwon berdiri dari duduknya, menatap Tiffany nanar dengan airmata yang berlinang. Bagaimana bisa ia menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya adalah…

“Aku…dan gadis-gadis yang kau lihat sekarang, adalah bangsa vampire, Siwon. Itu kenyataannya.”

Siwon menggeleng keras. Ia melangkah mundur perlahan. Ruangan itu tiba-tiba meremang seiring dengan langkahnya mendekati pintu sekat ruang tamu. Ia harus membuktikannya sendiri. Bagaimanapun juga ia sudah terlanjut jatuh cinta kepada Tiffany. Siwon tidak ingin kehilangan gadis itu hanya karena mitos konyol ini. Tidak ada vampire di dunia ini, bantah Siwon dalam hati. Meski ia seorang penulis novel fantasy, hal-hal magis itu tetap tidak masuk akal baginya.

“T…tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana!” ucap Siwon dengan suara gemetar.

 

 

Siwon POV

 

Aku lari membabi buta menuju kamarku. Keringatku telah membanjiri hampir seluruh permukaan tubuh. Kenyataan mengejutkan ini terasa sangat menyakitkan. Disaat aku mulai jatuh cinta lagi, disaat aku mulai menetapkan hatiku untuknya, Tuhan membenturkanku pada kenyataan yang sama sekali sulit dipercaya. Aku tidak ingin gadisku benar-benar vampire. Aku bahkan tidak tahu harus menyebut vampire itu apa. Makhluk atau tidak. Aku tidak tahu.

Tetapi ingatanku tentang keanehan-keanehan Tiffany membuat hatiku semakin risau. Kulitnya yang sepucat kertas, tidak adanya cermin di dalam apartemennya, serta mimpi buruk itu. Aku memang benar-benar harus segera membuktikannya.

Aku menyambar cermin persegi kecil yang selalu terletak di atas meja komputerku. Kakiku kembali berlari menuju lantai atas gedung ini, ke kamarnya.

Saat aku sampai disana, mereka masih berada di posisi saat kutinggalkan tadi. Aku bisa melihat mata Tiffany mulai bengkak. Ia tidak boleh menangisiku seperti itu. Justru akulah yang seharusnya meratapi nasibku.

“Siwon, apa yang kau lakukan?” desah Tiffany frustasi.

Aku mendekati mereka dan mengangkat cermin itu. Kelimanya menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa kubaca. Aku menghadapkan cermin itu kepada mereka.

“Jika…jika bayangan kalian tidak ada di dalam cermin, itu artinya kalian benar-benar vampire.”

Tiffany menatap lantai di bawahnya. Baiklah, aku juga harus mengetahui hal ini. Secepatnya.

Dengan cermin mengarah kepada mereka, aku memberanikan diri mengintip. Jantungku berdegup kencang tak terkendali. Aku bahkan tidak rela mengedipkan mata, takut kenyataan ini menguap seperti asap.

Dan yang kulihat adalah suatu kenyataan. Cermin itu tidak menunjukkan apa-apa selain diriku. Aku menoleh berulang kali kepada mereka, lalu kembali ke cermin. Hanya terlihat bayanganku saja disana. Apakah semua ini benar?

“Kami tidak terlihat di dalam cermin, Siwon. Kami tidak memiliki jiwa.”

Suara gadis bernama Taeyeon membuatku semakin yakin. Tapi kenapa? Kenapa aku harus mengalami ini semua? Kutatap Tiffany yang masih menunduk. Bahunya terguncang.

“Jadi kalian…ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang terjadi,” ujarku terbata. Aku berpegangan pada dinding di sampingku.

“Ya, seperti yang Tiffany katakan, kami adalah vampire. Vampire modern yang menghisap energi manusia. Apa kau ingat, setiap menyentuh Tiffany kau pasti tidak sadarkan diri setelahnya? Itu karena Tiffany menghisap energimu, Siwon. Kami bisa tinggal di dunia manusia karena kami berbeda dengan vampire penghisap darah. Kami tidak takut dengan bawang putih, cahaya matahari, atau salib. Hanya saja bayangan kami tidak ada di dalam cermin sebab kami tidak memiliki jiwa. Siwon, aku sangat menyesal kau telah terlibat dalam masalah kami.”

Taeyeon menjelaskan dengan tenang, membuatku semakin terpaku. Jika Tiffany benar-benar seorang vampire, lalu bagaimana dengan perasaanku? Dan seingatku saat kami berciuman, ia membalasnya. Ia membalas dengan kelembutan yang sama. Aku berjalan mendekati Tiffany. Tiba-tiba ada perasaan tidak rela melepasnya.

Aku…memang tidak akan melepaskannya.

“Tiffany, tatap mataku!” pintaku lembut. Aku mencoba meraih tangannya tapi ia mengelak dengan gesit.

“Jangan sentuh aku Siwon.”

“Baiklah, tapi tatap mataku. Tiffany, aku mencintaimu. Kau harus tahu hal itu. Aku jatuh cinta padamu.”

Tiffany cukup terkejut dengan pengakuanku. Tadi aku hanya mengatakan kalau aku menyukainya. Tapi kali ini aku mengatakan hal yang paling jujur. Aku sungguh jatuh cinta padanya.

“Aku tidak peduli kau vampire atau manusia, tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu pergi. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria lain. Apa kau ingin aku berduel dengan pria itu? Baiklah, aku akan berlatih lebih keras. Aku akan mengalahkannya demi kau.”

Tiffany menutup mulutnya. Aku bisa melihat dengan jelas bulir-bulir airmata yang mengalir di pipinya. Seandainya aku dapat menyeka airmata itu.

“Siwon, jangan pernah jatuh cinta padaku. Kau akan menyesalinya. Kita benar-benar berbeda. Dan mengenai duel itu, kau tidak akan melakukannya. Mungkin Taenggo dan Jessie benar, aku tidak seharusnya mengorbankan pria baik sepertimu.”

Siwon tertawa miris. “Lalu kau akan menikah dengannya, begitu? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

Tiffany menoleh pada Yoona dan Krystal, meminta bantuan. Tapi kedua adiknya sama-sama merasa bersalah. Pada dasarnya, ini adalah kesalahan mereka yang telah menyeret Siwon ke dalam masalah ini.

“Aku akan menunggu hari itu, Tiffany. Aku akan buktikan kalau aku dapat mengalahkan pria itu di dalam duel.”

**

 

Author POV

 

Tiffany termenung di bibir balkon kamarnya, memikirkan bahwa sebentar lagi masa lajangnya akan berakhir. Setelah membuka rahasia tentang siapa dirinya kepada Siwon kemarin, Tiffany merasa semakin buruk. Ia tidak lagi memiliki semangat untuk mengerjakan apapun. Bahkan Tiffany meninggalkan kedua adiknya di apartemen hari ini. Tiffany tidak ingin diganggu oleh siapapun menjelang acara perjodohan besok.

Gadis itu mendengar suara pintu berayun. Ia menoleh dan melihat dua orang wanita berjalan mendekat. Tiffany tersenyum kecil. Sudah cukup lama rasanya berpisah, kini ia sangat merindukan keduanya. Tiffany pun turut mendekat lalu memeluk dua wanita itu bergantian.

“Mama, Nenek, I really miss you.”

Yoonhae mengelus punggung putri ketiganya dengan penuh kasih sayang, sedangkan Nenek Hwang menciumi wajah manis itu.

“Kami juga merindukanmu, Sayang. Mari, kita mengobrol sebentar.”

Tiffany, Yoonhae dan Neneknya duduk di sofa dalam kamar. Pelayan membawakan tiga cangkir minuman berbeda. Wine merah untuk Tiffany dan Yoonhae, serta darah Rusa segar untuk Nenek.

“Bagaimana perasaanmu sekarang, Tiffany? Apa kau masih bersedih karena pria bernama Choi Siwon itu?” tanya sang Nenek. Beliau menyesap minumannya penuh kenikmatan, membuat Tiffany meringis.

“Eum, bisa dikatakan begitu,” jawab Tiffany.

“Kau jatuh cinta padanya, ya?” tebak Yoonhae. Tiffany menatap ibunya penuh selidik. Ia tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya kepada siapapun.

“K-kenapa Mama berpikir seperti itu?”

“Bukan Mama yang menebaknya, Nak. Tapi Yoona berpikir seperti itu. Ia memberitahu Mama kalau kau dan pria itu sebenarnya saling mencintai. Bukankah kalian juga telah berciuman mesra?”

Tiffany menunduk, malu. Sejak dulu Mama memang selalu menggoda anak-anak gadisnya. Mama adalah sosok yang bersahabat dan tidak terlalu serius menghadapi masalah yang ada. Bukan berarti beliau tidak bijaksana. Karena Mama berpikir kalau sikap serius yang berlebihan seperti Papa akan membuat masalah semakin rumit.

Sikap seperti itulah yang membuat kelima putrinya nyaman.

“Tiffany, kemarin Nenek mengunjungi Kakekmu ke makamnya,” ujar Nenek.

“Apa Nenek kembali membujuk Kakek untuk tinggal di kastil lagi?” tanya Tiffany. Sejak ia remaja Kakeknya sudah memilih tinggal di makam saja dengan alasan ia tidak cocok tinggal satu atap dengan putranya, William.

“Bukan, ia tetap tidak mau dibujuk. Nenek kesana untuk meminta bantuannya.”

Tiffany dapat melihat Yoonhae dan Neneknya tersenyum.

“Meminta bantuan apa?”

“Untuk membantumu, tentu saja. Kau tahu kan, Tiffany. Meskipun Kakek suka bertindak konyol, sebenarnya beliau memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari Papa. Kakek hanya tidak ingin menunjukkan kepada siapapun. Katanya tidak ingin pamer. Kakekmu ahli pedang, bela diri, bahkan sihir. Beliau juga mampu berubah bentuk jika menggigit korban yang diinginkannya.”

Tiffany terdiam mendengar penjelasan Yoonhae. Ia tidak mempunyai ide bantuan apa yang kira-kira diberikan padanya.

“Setelah Nenek menceritakan masalahmu, Kakek bersedia membantumu dan Siwon.”

Tiffany mengernyit. “Caranya?”

Nenek mengangkat bahu santai. “Tentu saja mengajarinya teknik pedang yang benar. Kakek pasti bisa melatihnya lebih keras daripada yang kau lakukan.”

Tiffany melonjak berdiri. “What?? Nenek, Mama, kalian tidak bergurau, kan?”

“Untuk apa kami bergurau? Waktumu tinggal sehari lagi. Jadi Kakek harus segera melatih manusia itu dengan keras,” jawab Nenek.

“Tapi Kakek masih menghisap darah, Nenek! Dan Siwon bisa menjadi santapannya. Oh, ya Tuhan!”

Yoonhae dan Nenek menggigit bibir. Jelas sekali hal itu tidak terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

“Ups, bagaimana ini? Kakek sudah pergi ke apartemenmu sejak tadi pagi. Kakek juga sangat bersemangat,” ujar Nenek sedikit menyesal.

Tiffany memegangi kepalanya yang terasa pusing mendadak.

“Ya sudah, tidak apa-apa, Tiffany. Yoona dan Krystal pasti bisa menanganginya. Mereka pasti bisa mengendalikan Kakek. Sekarang ayo kita makan biskuit.”

Tiffany hanya dapat terperangah melihat sikap santai sang Mama dan kini Nenek menjadi duplikat beliau. Ia tidak bisa tinggal diam. Sebaiknya ia kembali ke apartemen sebelum semuanya terlambat.

**

 

 

“Aku rasa topi pantai ini lebih cocok untuk Kakek. Lihat, Yoong! Kakek tampan sekali, bukan?”

“Benarkah? Hahaha!”

“Kakek kita memang paling tampan, Krystal. Ngomong-ngomong, Kek. Aku kira Kakek juga menyetujui perjodohan itu. Papa sangat keras kepada Tiffany Eonnie, membuatku sedih.”

Kakek Hwang menepuk-nepuk lembut bahu Yoona dan Krystal. “Yang Kakek inginkan hanyalah melihat cucu-cucu Kakek bahagia, bukan William yang keras kepala itu. Sekarang mari kita temui pemuda malang itu! Kakek sudah tidak sabar melatihnya.”

Yoona menahan tangan Kakeknya. Kedatangan Kakeknya pagi ini cukup membuat ia dan Krystal terkejut, terlebih setelah mendengar maksud kedatangannya. Yoona dan Krystal langsung membelikan pakaian pria dewasa untuk Kakek mereka sebab tidak mungkin pria itu berkeliaran dengan memakai jubah dan pakaian serba hitam. Musim Hallowen telah usai, mereka akan dikatakan konyol jika masih berdandan mistis. Si kembar tak lupa memakaikan kacamata hitam serta masker penutup mulut untuk menyembunyikan taring sang Kakek.

“Tunggu dulu, Kakek!”

“Ada apa lagi, Yoona-ku yang manis?”

“Kakek jangan tersinggung, tapi…kami hanya takut Kakek tidak tahan mencium aroma tubuh Siwon. Dia itu manusia biasa, jadi darahnya…bisa saja memancing Kakek,” ujar Yoona gugup.

Kakeknya justru tertawa keras. “Hahaha! Tenang saja, cucu-cucu manisku. Kakek sudah sangat berpengalaman menahan rasa lapar. Asalkan pemuda itu tidak berdarah saja, hahaha!”

Yoona dan Krystal memucat.

“Ck, kalian terlalu serius. Baiklah, Kakek berjanji tidak akan memangsa pemuda itu. Tapi izinkan Kakek memukul kepalanya jika ia masih saja tidak bisa mengayunkan pedang.”

Yoona dan Krystal akhirnya mengangguk lega. Kemudian Kakeknya berjalan menuju sudut ruangan, mengambil dua buah benda panjang yang tertutup oleh kain hitam. Dan ketika pria itu mengangkatnya, Krystal menutup mulutnya.

“Kakek, apakah itu pedang sungguhan?!” jeritnya tertahan.

Kakek memandangi pedang yang dipegangnya dan Krystal bergantian. Yoona masih diam terpaku di tempatnya.

“Benar. Memangnya apa yang kalian harapkan? Pedang mainan?”

 

 

 

Siwon berjalan gontai menuju pintu depan apartemennya. Hari ini ia masih malas masuk kantor, sama seperti ketika ia berlatih dengan Tiffany. Dan jika Yunho atau siapapun dari kantor datang melihat keadaannya pagi ini, ia tidak peduli. Ia sudah tidak peduli pada pekerjaannya, bahkan pada novel fiksi fantasy miliknya. Mungkin kali ini writer’s block menyerangnya lebih lama dari sekedar ditinggal mati kucing kesayangannya.

Suara bel itu terdengar semakin sering saat Siwon hampir mencapainya. Sedikit kesal, Siwon menarik pintunya dengan sedikit kencang.

Ia mendesah. Tamunya tidak lain adalah Yoona dan Krystal, dua orang yang sering menekan bel dengan tak sabaran. Tapi kali ini mereka tidak hanya berdua saja. Ada seorang pria berpenampilan sedikit aneh di tengah-tengah mereka. Memakai kemeja bermotif bunga-bunga, celana gunung selutut, sepatu sport, topi pantai serta selembar masker.

Kening Siwon mengernyit heran.

“Oppa, ada lingkaran hitam di bawah matamu. Apa kau tidak tidur?” celetuk Krystal setelah mengamati penampilan Siwon yang benar-benar berantakan.

“Tentu saja ia tidak bisa tidur, Krys! Siwon Oppa pasti terus memikirkan Tiffany Eonnie,” sambar Yoona. Wajahnya tampak prihatin.

“Ada apa kalian kemari? Siapa orang ini?” tanya Siwon datar.

Tanpa dipersilahkan terlebih dahulu, Kakek mendorong tubuh Siwon ke dalam. Yoona dan Krystal segera menyusul lalu mengunci pintu dari dalam. Siwon melangkah mundur dengan ketakutan. Tiba-tiba saja pria di hadapannya bertindak kasar dengan mendorongnya ke dalam. Cengkraman pria itupun sangat dingin, persis seperti kulit Tiffany. Siwon berusaha memberontak, takut akan pingsan lagi.

“Ya! Ya! Lepaskan aku!” teriak Siwon histeris. Kakek melepaskan cengkraman tangannya pada Siwon lalu melepaskan maskernya.

Siwon terperajat melihat wajah asli Kakek yang sebenarnya. Wajah pucat, empat taring panjang, lingkaran mata yang merah serta cuping telinga meruncing. Jika Tiffany dan saudari-saudarinya adalah vampire berpenampilan sempurna, maka pria di hadapannya sangat persis dengan vampire-vampire yang pernah dilihatnya di dalam internet.

Ternyata melihat secara langsung lebih menyeramkan.

“S-siapa kau?”

“Jangan takut anak muda! Aku tidak akan menyakitimu. Apa kau tahu siapa aku? Perkenalkan, aku adalah Vladimir Hwang, Kakek dari Tiffany. Aku dengar kau mencintai cucuku. Apa itu benar?”

Siwon mengatur degup jantung serta napasnya yang terengah. Namun otaknya memberi perintah agar menjawab pertanyaan Kakek Hwang itu dengan cepat.

“Y..ya, aku mencintai Tiffany.”

Kakek Hwang menyeringai puas. “Baguslah. Sekarang aku akan melatihmu menjadi seorang ksatria yang tangguh. Meskipun kita hanya memiliki hari ini dan besok. Jadi kau harus benar-benar berjuang. Mengerti?!”

**

 

Tiffany menuruni tangga pualam kastil menuju beranda. Tanpa menemui Taeyeon dan Jessica terlebih dahulu, ia ingin segera pergi. Kakeknya memang dapat dipercaya, namun insting membunuhnya tidak. Tiffany membayangkan Siwon akan terluka dan Kakeknya ada disana. Bahkan Papanya sekalipun tidak dapat menghentikan sang Kakek yang sudah terlanjur mencium darah.

“Hwang Tiffany!”

Kaki Tiffany otomatis berhenti. Sial, suara Papanya! Dalam sekejap mata William telah berdiri di depan Tiffany, entah darimana.

“Di hari yang cerah seperti ini, bukankah lebih baik beristirahat di rumah saja?”

Tiffany membasahi bibirnya.

“Aku ada urusan sebentar, Papa.”

“Urusan?” William menaikkan sebelah alisnya. “Besok adalah hari penting untukmu. Seharusnya sudah tidak ada urusan lagi saat ini.”

“Tapi ini sangat mendesak, Papa. Kumohon, hanya sebentar!” Tiffany memohon.

William menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “No no no. Kau tidak boleh kemana-mana lagi. Kembali ke kamarmu, sekarang!”

“Papa, hanya satu jam. Ini benar-benar penting!” seru Tiffany marah.

“Tidak boleh, tetap tidak boleh! Kembali ke kamarmu!”

William menyentak satu tangannya ke arah gerbang masuk serta rangka-rangka jendela. Tiffany menggeram kesal melihat Papanya tengah memasang perisai penghalang. Ia menatap Papanya tak percaya.

“Papa kenapa tega sekali kepadaku?”

William terdiam menatapnya. Ia mendekati Tiffany lalu mengusap puncak kepala anak gadisnya.

“Karena Cho Kyuhyun tidak akan mengampuniku jika tidak jadi menikah denganmu,” jawaban William membuat Tiffany sakit hati.

“Jangan coba-coba meminta bantuan Taeyeon untuk melewati perisai itu. Kalian berdua akan musnah.”

Setelah tersenyum pahit, William berlalu meninggalkan Tiffany. Tiffany kini begitu rapuh, bahkan mungkin penyihir kecil saja dapat mengalahkannya. Ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerah.

**

 

Tubuh Siwon terlempar ke sudut ruang tamu yang sengaja dikosongkan oleh Kakek Hwang. Mereka tidak keluar apartemen untuk berlatih seperti yang biasa dilakukan Tiffany sebab Kakek Hwang tidak bisa terkena cahaya matahari. Jika Siwon merasa kelelahan setengah mati berlatih teknik pedang bersama Tiffany, kali ini ia merasa hampir mati. Tenaganya benar-benar terkuras, tenggorokannya kering karena haus luar biasa.

Siwon mengambil pedangnya yang tadi terlempar. Ajaibnya, Siwon mampu mengelak dari setiap serangan Kakek tersebut. Mungkin selain takut terbunuh, kemampuan bela dirinya juga sudah sedikit meningkat.

“Hei anak muda! Tiffany saja sudah bisa membunuh lalat di usianya yang ke-70 dalam sekali tebas. Saat itu tingginya hanya sebatas pedang ini. Seharusnya kau malu! Ayo, bangkit!”

Siwon mengernyit hebat. Berapa usia Tiffany? Siwon tidak ingin tahu betapa tuanya Tiffany saat ini jika di usia 70 Tiffany masih kanak-kanak.

Siwon bangkit dengan kaki gemetar. Ia mencengkram gagang pedang dengan kedua tangannya. Ketika itu pria bernama Vladimir Hwang tersebut menyeringai penuh ejekan. Lantas ia menurunkan pedangnya sambil mendecakkan lidah.

“Memegang pedang saja kau tidak becus! Jangan gemetaran seperti itu! Kau seperti seorang pengecut! Anggap saja aku adalah orang yang paling kau benci dan kau ingin membunuhku. Ingat teknik yang kuajarkan tadi, Siwon!”

Siwon menggeram. Ia bukanlah pengecut. Apa yang dilakukannyannya sekarang justru karena rasa cintanya kepada Tiffany. Ia berani menghadapi apa saja yang akan menyakiti Tiffany.

Kemudian Siwon melangkah mantap menuju Kakek Hwang. Kedua tangannya terangkat penuh tekad. Kakek Hwang menyiapkan diri. Pria itu bahkan memegang pedang hanya dengan satu tangan. Ia mengelak begitu lincah, menghindari serangan pedang Siwon.

Yoona dan Krystal menonton dari jarak yang cukup jauh. Mereka meragukan apakah Siwon akan berhasil mengalahkan Cho Kyuhyun. Dilihat dari tekniknya, Siwon hanya menunjukkan peningkatan yang tidak begitu drastis.

Sampai akhirnya Siwon kembali terjerembab ke lantai, tepat di depan kaki si kembar. Siwon sudah hampir kehabisan tenaganya. Keringatnya mengalir deras tak henti dan wajahnya telah memerah. Ia membutuhkan air minum. Namun Kakek Hwang sepertinya tidak bisa diajak kompromi.

“Oppa, kau baik-baik saja?” tanya Yoona khawatir. Siwon tidak mampu lagi berkata-kata.

Kakek Hwang berjalan mendekat. Ia menjatuhkan pedangnya di samping Siwon lalu berjongkok. Cukup lama Kakek Hwang memandangi Siwon, melihat seberapa besar tekad laki-laki yang lebih muda darinya itu.

“Anak muda, dengarkan aku baik-baik. Kau adalah seseorang yang dimabuk cinta. Kau tidak memikirkan hal lain lagi kecuali Tiffany seorang. Seharusnya kau membuktikan itu. Gadis yang kau sukai akan segera menikah dengan pemuda lain. Dan gadismu itu tidak mencintainya. Sekarang apa kau yakin kalau Tiffany mencintaimu?”

Siwon membuka matanya yang berat dan memandangi pria yang lebih tua darinya. Ya, ia yakin kalau Tiffany juga mencintainya. Siwon dapat melihat hal itu dari tatapan lembut serta ciuman mereka.

“Ya, aku yakin.”

“Kalau begitu, kejar cintamu sampai titik darah penghabisan! Kau tidak akan tahu seberapa berharganya dirimu dan orang yang kau cintai jika kau tidak berusaha sekuat mungkin. Kau akan terjebak pada rasa penyesalan seumur hidup. Cinta sejati hanya datang satu kali dalam hidup ini, Choi Siwon. Cinta sejati tidak mengenal pertemuan yang lama atau singkat. Jika kedua insan telah bertemu dan saling jatuh cinta, maka harus ada perjuangan serta pengorbanan di dalamnya.”

Siwon tertegun. Bahkan Yoona dan Krystal pun begitu. Sejujurnya, mereka jarang sekali melihat sang Kakek seperti ini.

“Siwon, kau dan Tiffany memang berbeda. Tetapi cinta sejati tidak mengenal perbedaan. Kalian tidak akan terpisahkan apapun selain kematian. Tapi jika kau menyerah saat ini juga, kau tidak akan pernah lagi mendapatkan cinta sejatimu. Lakukan apa yang bisa kau lakukan selagi kau masih muda dan kuat. Aku percaya Tiffany juga sedang berharap padamu. Ia hanya seorang gadis yang tidak terbuka dengan perasaannya. Ia tidak akan mengatakan dengan gamblang tentang perasaannya. Tapi jika kau sudah sangat mengenalnya, kau bisa mengetahui perasaannya hanya melihat dari perlakuannya saja.”

“Kakek benar, Oppa. Dan percayalah, Tiffany Eonnie juga mencintaimu,” ucap Yoona menenangkan.

“Tapi dia terlalu malu untuk mengungkapkannya padamu,” Krystal menambahkan.

**

 

 

Semua tamu telah berkumpul di aula. Kastil keluarga Hwang disihir sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tempat pesta yang nyaman dan elegan. Tiffany sudah siap dengan gaun spesial sutra rancangan khusus Mamanya. Gaun berpotongan leher rendah hingga memperlihatkan bagian atas dadanya, berwarna merah darah yang sangat kontras dengan kulit pucat gadis itu.

Tiffany duduk di kursi di samping kursi Papanya, terlihat murung di tengah-tengah meriahnya pesta. Sementara Nenek, Kakek, Mama serta Taeyeon dan Jessica terlihat bergabung dengan para tamu, namun hanya si kembar yang tidak terlihat sejak sore tadi. Kepada siapapun Tiffany bertanya dimana keberadaan adik kembarnya, tidak ada satupun yang mempunyai jawaban memuaskan.

“Oh, si kembar? Bukankah mereka berada di kamar?”

“Yoona dan Krystal? Tadi mereka menemani Paman dan Bibi Jung berburu di hutan!”

“Kemana lagi mereka kalau bukan di dapur untuk mencuri makanan.”

Dan masih banyak lagi jawaban-jawaban tak pasti yang Tiffany dapatkan. Disaat seperti ini ia sangat membutuhkan dukungan dari kedua adiknya tersebut. Bukannya tidak dekat dengan kedua kakaknya, akan tetapi Tiffany sudah terbiasa dengan Yoona dan Krystal.

Ketika melihat Kakeknya masuk ke dalam aula, Tiffany segera bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri beliau. Ia tidak peduli dengan panggilan William untuk tidak beranjak kemana-mana.

“Kakek!” panggil Tiffany. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran, namun sebaliknya dengan sang Kakek. Pria tua yang masih tampan itu tersenyum penuh percaya diri.

“Oh, Tiffany-ku Sayang!” sahut Kakeknya riang.

“Kakek, kenapa baru muncul sekarang? Dimana Yoona dan Krystal? Dan bagaimana dengan Siwon?”

Tiba-tiba raut wajah ceria Kakek berubah seketika. Alisnya melengkung turun sementara ia menghela napas berat.

“Sayangku, maafkan Kakek.”

Tiffany terdiam menatap Kakeknya. Jarang sekali beliau berekspresi sedih seperti ini. Kakek yang Tiffany kenal selalu ceria dan penuh semangat, persis seperti beberapa saat lalu.

“Kenapa Kakek meminta maaf?”

“Kakek tidak berhasil melatih Siwon.”

Bahu Tiffany merosot. Hancur sudah harapannya. Pertukaran cincinnya bersama Kyuhyun akan terjadi beberapa menit lagi dan sekarang ia tahu kalau dirinya tidak mempunyai pilihan lain kecuali benar-benar bersedia menjadi istri Kyuhyun. Tiffany ingin sekali berteriak histeris lalu menangis. Namun perilaku seperti itu tidak mencerminkan seorang Hwang Tiffany. Tiffany yang biasanya tampil di depan semua orang adalah gadis yang kuat, berkemauan keras dan dingin.

Tiffany mengangkat kepala yang tadinya tertunduk dan mencoba menatap wajah Kakeknya lagi. “Lalu dimana Yoona dan Krystal?”

Kakeknya melihat ke pintu di belakangnya lalu menyeringai. “Entahlah. Sepertinya mereka sedang berbuat jahil dengan mencampurkan lendir katak ke minuman para tamu. Hihihi.”

Tiffany hanya mengernyitkan kening menanggapi lelucon Kakeknya. Yang benar saja, Kakeknya masih bisa bergurau disaat menyebalkan seperti ini.

“Ah, Hye Joong! Kau sudah datang rupanya!”

Tiffany tidak mencegah Kakeknya pergi menghampiri tamu tersebut. Mungkin salah satu sahabatnya, Tiffany tidak ingin tahu. Tiffany memandang pintu yang dilirik Kakeknya tadi. Siapa tahu Yoona dan Krystal memang ada disana, pikirnya. Lalu tanpa menghiraukan beberapa tamu yang menyapanya, Tiffany berjalan menghampiri pintu tersebut.

Kakeknya benar-benar usil. Jangankan Yoona dan Krystal, satu orangpun tidak ada disana. Tiffany menghela napas. Kepalanya mungkin akan meledak sebentar lagi. Kira-kira dimana ia bisa menemukan kedua adiknya. Tiffany menggigit bibir, apa Taeyeon dan Jessica tahu?

Lalu disaat kakinya kembali berputar menuju ruang pesta, tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang. Tiffany menyeimbangkan tubuhnya sendiri di atas heels sepanjang 10 senti yang dipakainya sebab orang yang ditabraknya tidak berniat membantu. Tiffany menatap tajam ke depan lalu terkejut.

Sosok laki-laki dengan tinggi lebih dari 180 senti itu berperawakan sangat elegan, tampan sekaligus sinis. Kulitnya yang pucat, bibir sedikit tebal dan merah, lalu rambut hitam sedikit ikal. Tiffany menahan napas mengingat hanya mereka berdua yang berada di ruangan tersebut.

“Halo, Calon Istri.”

**

 

 

“Oppa, tolong konsentrasi sedikit! Memangnya apa yang aneh dari rumahku?”

Siwon menutup mulutnya yang sejak tadi terbuka lebar karena takjub melihat bangunan kastil yang biasa ia lihat di film-film fantasy atau dari novel-novel yang dibacanya. Ia sendiri sering menggambarkan kastil di novel yang dibuatnya dan baru kali ini berada di dalamnya.

Yoona dan Krystal masih disibukkan dengan ramuan yang disarankan sang Kakek untuk diminum oleh Siwon. Sebenarnya mereka tidak tahu apa fungsi ramuan itu, si kembar hanya menurut saja. Kakeknya menyihir laki-laki itu untuk dibawa ke dunia vampire, tepatnya ke kastil keluarga Hwang. Mereka berakhir di dapur untuk meramu ramuan untuk Siwon, lalu Siwon terbangun saat Krystal melumuri hidungnya dengan cairan kayu putih.

“Ramuan siap disajikan. Gula merah, ekstrak gingseng, ekstrak turnera aphrodisiaca, dua sendok mentega, dan mint. Eum, Siwon Oppa. Sepertinya minuman ini cukup lezat!” seru Yoona seraya menuangkan cairan berwarna orange ke dalam gelas bening.

Perhatian Siwon teralih dari besarnya dapur kastil itu ke gelas yang berisi minuman. Keningnya mengernyit. “Minuman apa itu?”

Yoona mengangkat bahu. “Entahlah. Kakek hanya mengatakan kalau minuman ini harus habis sebelum kau muncul di pesta.”

“Tapi, aku masih tidak percaya diri dengan kemampuanku.”

Krystal menepuk bahu Siwon pelan. “Tenanglah. Kami percaya padamu. Kau…pasti bisa bertarung malam ini.”

**

 

 

Well, well, well. Pertama kali bertemu kau sudah terpesona denganku. Apa aku terlalu tampan dan akhirnya kau tidak kecewa menerima perjodohan ini?”

Tiffany menjaga jaraknya dengan pemuda itu, Cho Kyuhyun. Meskipun ia baru mendengar sedikit tentang Cho Kyuhyun dari Papanya, namun Tiffany yakin kalau Kyuhyun jauh lebih berbahaya dari yang telah disampaikan beliau. Kyuhyun merupakan vampire keturunan Eropa yang terbilang masih kuno. Pemuda itu masih menghisap darah dan terkadang berburu binatang. Kyuhyun ahli pedang dan bela diri. Tiffany hanya tahu sebatas itu namun ternyata melihat sosok Kyuhyun secara langsung membuatnya mati kutu.

Sepertinya pemuda itu tampak tidak terkalahkan!

“Apa kau takut padaku, Tiffany? Santailah sedikit, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin mengucapkan salam pada calon kakak iparku.”

Ucapan Kyuhyun membuat Tiffany tertegun. Cukup lama ia menatap Kyuhyun tanpa berkedip, memastikan kalau ada seringai jahil di wajahnya. Tetapi ekspresi pemuda itu terlalu sulit ditebak.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun justru terkekeh geli. Ia senang menggoda Tiffany rupanya.

“Aku ingin meminta maaf jika membuatmu kecewa. Tetapi ini salahmu sendiri, kenapa tidak hadir pada makan malam beberapa hari lalu. Jika aku melihatmu terlebih dahulu sebelum melihatnya, mungkin aku akan jatuh cinta padamu,” ujar Kyuhyun penuh percaya diri. Tiffany menggelengkan kepalanya, masih belum menangkap maksud Kyuhyun.

Kyuhyun memanggilnya kakak ipar, lalu mengatakan kalau seandainya melihatnya terlebih dahulu sebelum melihatnya? Matanya melebar. Siapa yang dimaksud Kyuhyun? Jika Kyuhyun memanggilnya kakak ipar itu berarti…

“Kau menyukai adikku?” tanya Tiffany penuh selidik. Kyuhyun tersenyum lebar seperti anak kecil.

That’s right, aku menyukai adikmu. Tapi, acara ini sayang sekali jika dilewatkan. Aku tahu kau tidak menyukaiku. Itu membuat hatiku sakit ketika kau mengatakan akan membawa kekasihmu untuk berduel denganku. Tapi aku tidak bisa menolak tantangan, Tiffany. Aku tidak pernah terkalahkan oleh siapapun, apalagi kekasihmu yang ternyata seorang manusia biasa yang lemah, ckckck. Tapi tidak usah khawatir. Meskipun nanti aku mengalahkan kekasihmu, aku tidak akan melakukan perjodohan ini. Karena kau tahu apa?”

Tiffany menelan ludah. Ia tidak tahu harus bersorak senang karena lega atau mendekati pemuda itu lalu mencakar wajahnya.

“Karena…aku akan menjadi adik iparmu. Hahahaha!”

“Yaa! Apanya yang lucu? Siapa yang kau maksud dengan adikku? Dan kau anggap duel pedang itu main-main, ya?” sembur Tiffany. Pemuda itu benar-benar menyebalkan. Jika Kyuhyun menyukai Yoona atau Krystal, Tiffany tidak akan menyetujuinya begitu saja. Bisa-bisa adiknya ketularan buas.

“Sssttt, tenanglah Tiffany. Kenapa pemarah sekali,” gerutu Kyuhyun seolah-olah sedang dimarahi gurunya. “Aku sangat hobi berduel, kau tahu. Lagipula aku sudah lama tidak melakukannya. Hitung-hitung latihan.”

Tiffany mengerjap heran. Apakah seorang Pangeran memang selalu bertindak seenaknya?

“Lalu siapa adikku yang kau maksud?” tekan Tiffany.

“Aku tidak akan memberitahumu. Ck, ya sudah. Sepertinya acara akan segera dimulai. Kau ingin menggandeng tanganku atau tidak?”

“Cih, tidak sudi.”

 

 

Tiffany POV

 

Aku tidak perlu mencemaskan apapun, benar? Kyuhyun menganggap kalau Siwon akan datang kemari. Padahal Siwon tidak dapat memenuhi tantangannya. Lantas apa yang akan dilakukan pemuda itu? Jika ia terus menunggu Siwon, itu mustahil. Lebih baik ia langsung mengatakan kepada Papa kalau ia tidak jatuh cinta kepadaku, melainkan kepada salah satu dari si kembar. Damn, kenapa dia tidak mengatakan sejujurnya siapa diantara si kembar yang telah membuatnya jatuh cinta.

“Tiffany…”

Aku menoleh kepada Papa yang duduk di sampingku. “Ya?”

“King Cho serta Pangeran Kyuhyun sudah datang. Para leluhur serta tamu pun sudah lengkap. Apa kau sudah siap?”

Aku menelan ludah. Papa memandang berkeliling. Para tamu masih nyaman dengan hidangan lezat yang disediakan. “Tapi kenapa kekasih yang kau banggakan itu belum datang? Oh, apakah ia menyerah?”

Papa tidak tahu kalau Kakek telah melatih Siwon diam-diam. Jadi jika hasilnya seperti ini, Papa tidak akan menertawakan Kakek.

“Papa, dia…tidak dapat—“

“PERHATIAN SEMUANYA!”

Perkataanku terhenti ketika sebuah teriakan menggema di seluruh ruangan. Otomatis aku, Papa, King Cho, Kyuhyun serta semua yang hadir disana menoleh ke sumber suara. Aku mengerjap senang. Nah, itu dia si kembar! Kemana saja sih mereka?

Aku melihat Krystal berdiri dengan seenaknya di atas salah satu meja minuman. Ia memegang sebuah gelas kosong serta sebuah garpu. Krystal memukul gelas itu menggunakan garpu untuk mengambil seluruh perhatian setiap pasang mata.

Dan aku dapat melihat Yoona, Taeyeon dan Jessica berdiri di samping meja minuman untuk mengawasi si bungsu. Apa yang sedang dilakukan adikku itu?

“Kita semua tahu kalau malam ini adalah malam yang penting untuk keluarga kerajaan serta keluargaku. Sebentar lagi akan dilaksanakan pertukaran cincin antara Pangeran Cho Kyuhyun dengan kakakku, Hwang Tiffany. Tapi untuk kalian tahu, bahwa kakakku…telah memiliki kekasih.”

Aku melotot tak percaya melihat keberanian Krystal. Aku memberanikan diri melirik Papa. Beliau tampak melotot kepada Krystal. Semoga nanti Krystal tidak dikurung di kamar sebagai hukumannya.

“Hwang Krystal!” tegur Papa seraya berdiri.

“Dan malam ini, Pangeran Cho akan menyanggupi tantangan dari kekasih Hwang Tiffany yang bernama Choi Siwon. Benar kan, Pangeran Cho?” Krystal melanjutkan, mengabaikan kemarahan Papa.

Aku dengan cepat menoleh kepada Kyuhyun yang kebetulan berdiri di dekatku. Pemuda itu tampak menyeringai puas dan melompat kesenangan.

“Aku kira tidak jadi. Baiklah, aku siap!”

Aku berdiri kaku. Ingin sekali rasanya aku menarik Krystal turun dan memintanya untuk menyudahi omong kosong ini. Siwon jelas-jelas tidak ada disini. Kakek sendiri yang mengatakan kalau beliau tidak dapat melatih Siwon.

Namun suara langkah kaki teratur yang memasuki ruangan pesta membuat jantungku berhenti berdetak. Langkah kaki yang berasal dari sebuah pintu yang tadi kumasuki dengan Kyuhyun. Semuanya terdiam, menunggu kedatangan orang yang dimaksud Krystal bagaikan menunggu seorang bintang besar. Tidak ada obrolan bahkan bisik-bisik. Semuanya terfokus pada suara langkah kaki yang semakin mendekat, tidak terkecuali Papa, King Cho serta Kyuhyun.

Lalu saat sosok itu muncul, aku tahu marabahaya akan segera terjadi.

 

 

Author POV

 

Tiffany terkesiap melihat Siwon. Ia memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Tidak ada Siwon yang kutu buku saat ini. Yang terlihat di mata semua orang adalah Siwon yang begitu gagah dengan sebuah pedang di tangannya. Tiffany mengenali pedang itu. Pedang yang biasa ia gunakan saat berlatih dengan Kakek.

Jadi, Kakeknya merahasiakan hal ini? Tiffany benar-benar mengira kalau Kakeknya memang tidak berhasil melatih Siwon. Tapi apakah mungkin laki-laki itu bisa melawan Kyuhyun hanya dengan berlatih selama 2 hari bersama Kakek?

Sementara itu Yoonhae dan Nenek Hwang tampak mengagumi pilihan putrinya. Siwon tak kalah menawan dibandingkan dengan Kyuhyun. Mereka ikut senang melihat keberanian Siwon masuk ke ‘sarang’ penghisap darah dan energi di kastil ini. Itu pertanda kalau Siwon bersungguh-sungguh memperjuangkan Tiffany.

Krystal turun ke lantai dan sang Kakek segera menghampiri.

“Apa ia sudah meminum ramuan itu sampai habis?” bisiknya. Krystal dan Yoona mengacungkan ibu jari mereka.

“Untung saja rasanya sangat enak, Kakek. Jadi ia menghabiskannya dalam waktu singkat,” jawab Krystal.

“Kakek, sebenarnya ramuan apa itu?” tanya Yoona penasaran. Kakeknya menyeringai konyol.

“Itu ramuan khusus pria. Setelah meminumnya, tubuhmu akan terasa lebih kuat 100 kali lipat. Siwon nanti akan sangat bersemangat, agresif, percaya diri dan bergairah. Huh, biar Pangeran tengik itu tahu rasa,” jelas sang Kakek dengan santainya.

“Tapi Kakek, Siwon Oppa kan belum terlalu mahir menggunakan pedang! Yang bisa dilakukannya hanya mengelak!” Yoona menahan suaranya agar tidak meninggi. Kakek mengibaskan sebelah tangan.

“Jangan pikirkan hal itu, Yoong. Sekarang Siwon dalam keadaan bersemangat sekali. Itu akan menambah kekuatannya. Nah, sekarang mari bersama-sama kita menonton duel ini. Pasti mengasyikkan.”

 

 

 

Siwon dan Kyuhyun sudah berada di tengah-tengah aula. Masing-masing memegang pedang dengan kuat. Pedang Kyuhyun tampak sangat indah dan istimewa dengan ukiran-ukiran khusus dari bangsa Roma kuno. Ketajamannya sudah tidak diragukan lagi, bahkan mengandung racun.

Racun tersebut yang akan mematikan lawan. Biasanya Kyuhyun menggunakan pedang tersebut untuk menebas kepala binatang yang diburunya. Ia terkekeh melihat Siwon. Selain tekad yang dimiliki Siwon di sorot matanya, Kyuhyun yakin tidak ada lagi yang patut dibanggakan dalam diri Siwon. Dalam hati ia berdecak, mengejek pilihan Tiffany.

Kyuhyun bersikap masa bodoh dengan perjodohannya sebab ia menyukai Yoona. Bahkan telah jatuh cinta. Akan tetapi ia tidak bisa menjilat ludah sendiri. Beberapa hari lalu ia bersikukuh untuk menerima tantangan kekasih Tiffany. Jadi ia harus melaksanakannya sekarang. Ayahnya juga harus melihat kalau calon King berikutnya ini tidak terkalahkan.

Siwon tampak sangat berbeda, menurut Tiffany. Wajahnya tidak menunjukkan rasa gugup lagi. Sorot matanya tampak tajam seperti seekor singa yang akan memangsa lawannya. Tiffany tidak mempunyai ide darimana keberanian itu diperoleh Siwon. Setidaknya ia harus tahu kalau di pesta ini tidak ada satupun yang sama seperti dirinya.

“Apa kau siap?” tanya Kyuhyun lantang.

“Aku bahkan sudah tidak sabar. HYAAAAA!!!”

Siwon menyerbu Kyuhyun dengan pedang terangkat di sebelah kanannya. Tiffany menutup mulut. Gerakan Siwon terlalu serampangan dan ceroboh. Kyuhyun bisa saja mengalahkannya dengan mudah.

Tapi Kyuhyun tidak langsung melukai Siwon. Ia ingin bermain-main dulu dengan rivalnya, menahan serangan serta sesekali mengayunkan pedang ke arah leher Siwon. Beruntung Siwon pandai mengelak. Siwon mengayunkan tangannya dengan lincah dan berhasil menahan serangan Kyuhyun.

Kyuhyun menyeringai. Ia cukup terkejut kalau Siwon bisa menahan serangan gesitnya. “Wow, ternyata teknikmu boleh juga.”

“Jangan banyak bicara!” bentak Siwon murka.

Suara pedang beradu keras menggema di ruangan pesta. Kini semuanya menonton pertarungan antara Kyuhyun dan Siwon. Suasana berubah pekat dan intens, tatkala seluruh leluhur Kyuhyun dan Tiffany berjalan mendekat lalu mengepung pertarungan dua pria gagah itu. Tiffany memegangi dadanya, menahan agar lonjakan jantungnya tidak sampai meledak. Tapi sungguh, tidak pernah ia secemas ini.

Kyuhyun melayang dan mengangkat pedangnya dari atas kanan ke samping kiri, menuju tepat di lengan Siwon. Namun, lagi-lagi Siwon mampu menangkisnya. Sayangnya, pedang Kyuhyun tergelincir di pedang Siwon, membuat Siwon terdorong ke depan.

Pada saat itu Tiffany menyadari dirinya sendiri terpekik ngeri.

Mata pedang Kyuhyun mengenai lengan kiri Siwon!

Siwon terjerembab. Ruangan sunyi sesaat seperti tanah tandus yang tidak berpenghuni. Tiffany menahan napas. Ketakutan yang amat sangat kini menghantuinya. Tiffany dapat mendengar geraman Papa serta King Cho yang berdiri di dekatnya. Perlahan geraman itu terdengar di setiap sudut ruangan.

Kyuhyun berdiri dengan tubuh tegang. Matanya melotot ke arah Siwon yang kini berada di lantai dengan lengah berdarah serta tubuh semakin lemah. Racun dari pedang Siwon sudah pasti merambat dengan cepat di pembuluh darahnya.

Tiffany berjalan cepat menuju Siwon. Ia harus bergerak secepat mungkin. Siwon tidak boleh berlama-lama di dalam ruangan yang penuh dengan vampire penghisap darah itu. Bau darah Siwon yang terus mengalir dari lengannya mengundang insting membunuh para vampire, termasuk Kyuhyun, yang berada sangat dekat dengan Siwon.

“Siwon…Siwon, bangunlah! Ayo cepat pergi dari tempat ini!” seru Tiffany. Ia ragu ingin menyentuh Siwon atau tidak. Siwon mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menyeringai.

“Hei, rupanya kau disini. Aku sangat merindukanmu,” desahnya lirih. “Ah, sakit sekali Tiff.”

Geraman semakin keras terdengar. Tiffany mendongak menatap Kyuhyun. Mata pemuda itu telah memerah, napasnya tersengal serta keempat taring yang mulai muncul. Tiffany menelan ludah. Ini tidak benar. Siwon memang harus segera di bawa lari dari tempat itu.

“Siwon, bertahanlah. Aku akan menggendongmu dan energimu akan terhisap olehku. Maafkan aku.”

“Tiffany!” seru Yoonhae mendekat. “Cepat bawa Siwon ke ruang bawah tanah!”

Namun terlambat. Para vampire penghisap darah yang ada di dalam ruangan mulai mendekat, bahkan ada yang melompat untuk langsung sampai di samping Siwon. Melihat keadaan semakin genting, Hwang bersaudari serta Nenek mereka menghela vampire-vampire yang tengah kelaparan tersebut. Tiffany memanfaatkan keadaan untuk menggendong Siwon dan berusaha keluar dari kerumunan.

Sial, mereka terjebak! Bahkan Tiffany dapat melihat Papa serta Kakeknya di antara kelompok vampire buas penghisap darah yang mengelilinginya. Tiffany menatap khawatir pada Mama serta Neneknya yang sebenarnya juga masih menghisap darah manusia. Namun Tiffany bersyukur keduanya masih dapat mengendalikan diri atas bau darah Siwon.

Tiffany melihat sebuah perisai penghancur mengelilingi tubuhnya. Gadis itu menoleh ke segala arah lalu menemukan bahwa Taeyeon-lah yang membuat pelindung tersebut.

“Cepatlah, Tiffany! Terjang saja kerumunan itu! Kami akan menahan mereka disini terlebih dahulu sebelum menyusulmu!”

Tiffany mengangguk gugup. Siwon semakin sekarat di dalam gendongannya. Selain rasa sakit akibat racun pedang Kyuhyun, energinya kembali terkuras karena bersentuhan dengan Tiffany.

Dengan sigap Tiffany menerobos kerumunan. Ia bisa merasakan cakaran-cakaran para vampire yang mencoba menggapai Siwon. Tiffany melihat pintu di hadapannya semakin dekat. Pintu itu menghubungkan ruang pesta dengan ruang bawah tanah. Tenaganya yang jauh lebih kuat dari manusia biasa membawa Siwon dengan begitu mudah, menerobos kerumunan vampire haus darah dengan tergesa. Terakhir Tiffany menendang Kakeknya sendiri yang menghalangi pintu tersebut.

Sorry, Kakek.”

BLAM!

Pintu pun tertutup rapat. Kini tugas Hwang bersaudari serta dua Nyonya Hwang untuk menghalau para vampire buas tersebut. Selain mereka masih ada vampire penghisap energi yang lain, mencoba menenangkan rekan-rekan mereka yang mengamuk. Yoonhae bertugas menenangkan suaminya, begitupun dengan Nenek Hwang yang mencoba menarik Kakek agar menjauh dari pintu.

Namun ada satu vampire yang berhasil menerobos mereka. Yoona tercekat. Itu Kyuhyun! Pemuda itu melesat ke arah pintu kemudian masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Tiffany serta Siwon tadi. Yoona pun berlari sangat cepat ke pintu tersebut dan syukurlah langsung menemukan Kyuhyun.

Yoona belum pernah menggunakan kekuatannya untuk berkelahi. Sebab selama hidupnya ia dididik menjadi seorang putri baik hati yang bersikap penuh martabat. Tetapi ini adalah keadaan genting yang mempertaruhkan satu nyawa manusia yang tidak bersalah. Bukan hanya itu, Tiffany kemungkinan juga akan disiksa oleh Kyuhyun jika tidak dapat merebut Siwon.

Yoona mendorong tubuh Kyuhyun sekuat tenaga ke dinding batu di dekat tangga naik. Yoona sengaja mendorongnya menjauh dari tangga menuju ke ruang bawah tanah, tempat Tiffany melarikan Siwon. Gadis bertubuh kurus itu pun mendekati Kyuhyun. Napas Kyuhyun begitu memburu dan wajahnya benar-benar menakutkan.

“Kemana manusia itu? Jangan halangi aku, brengsek!” raung Kyuhyun seraya bangkit berdiri. Yoona kembali mendorongnya ke dinding, kali ini menghimpit tubuh pemuda itu. Mata mereka sama-sama menyala merah. Kyuhyun sudah tidak sadar dengan dirinya sendiri sebab insting membunuh kini mengendalikannya. Dan Yoona bertugas menyadarkan Kyuhyun.

“Pangeran Cho! Ini aku, Yoona!”

Kyuhyun masih terengah-engah menahan nafsunya lalu menatap Yoona dengan keji. Ia benci dihalangi. Tangannya mencengkram kedua lengan Yoona sangat kuat, membuat Yoona berteriak kesakitan. Kyuhyun tertawa keras lalu melempar tubuh Yoona hingga terhempas ke dinding.

Yoona terpelanting bagaikan sebuah batu kerikil ringan. Gadis itu terbatuk-batuk merasakan kekuatan Kyuhyun yang menyakitinya. Yoona kembali bangkit sementara luka di lengan serta kepalanya yang terbentur membaik dengan sendirinya.

Kyuhyun terbang singkat kemudian berhenti tepat di depan Yoona, mendorong Yoona hingga mereka berdua terhempas ke dinding batu. Yoona berteriak kesakitan. Kekuatan Kyuhyun memang bukan tandingan vampire penghisap energi seperti dirinya.

Kyuhyun mencengkram erat dagu Yoona lalu membawanya mendekati wajahnya. Yoona menatap intens kilatan emosi di mata Kyuhyun. Kilatan yang sangat berbeda saat pemuda itu menciumnya tempo hari. Yoona mencoba meletakkan kedua tangannya di dada Kyuhyun kemudian mencakarnya dengan keras. Kyuhyun hanya meringis pelan. Seberapa keras Yoona melukainya, tetap saja hanya seperti goresan kecil untuknya.

“Apa kau menginginkan darah? Kalau begitu, hisap darahku sampai kau puas,” desis Yoona.

Yoona tahu ia tidak akan baik-baik saja kalau seorang vampire menghisap darahnya. Mereka satu bangsa namun berbeda jenis. Yoona pernah menghisap darah, tapi hanya sebatas darah hewan, seperti Mama dan Neneknya. Namun kekuatannya jauh lebih kecil dibandingkan vampire penghisap darah manusia seperti Kyuhyun.

Kyuhyun menekan kuku panjangnya di pipi Yoona tanpa belas kasihan. “Tapi kau akan kesakitan nantinya, Sayang.”

Yoona menelan ludah. Ia siap menahan kesakitan berhari-hari sebagai akibatnya.

“Kalau dengan menggigitku, Tiffany Eonnie dan Siwon Oppa akan terbebas darimu, aku bersedia.”

Mata Kyuhyun berkilat-kilat penuh nafsu mendengar ucapan mantap dari Yoona. Pertama-tama ia memberi kecupan pada mulut yang baru saja menantangnya. Sebuah kecupan ringan yang memancing hasratnya semakin besar. Lalu ia mencium Yoona lagi seakan-akan akan melahap setiap inci bibir gadis itu.

Yoona memejamkan matanya seraya mencengkram dada Kyuhyun semakin keras. Kyuhyun menciumnya dengan rakus seolah ingin menghancurkannya dengan itu. Lalu Kyuhyun melepaskan ciumannya dengan kasar. Ia menatap wajah Yoona yang terengah-engah.

“Kalau begitu aku akan segera menyantap menu utamaku,” bisiknya.

Yoona menyerah di dalam kepungan Kyuhyun. Ia memejamkan mata semakin erat sementara taring-taring Kyuhyun mulai mendekati lehernya. Tepat disaat Kyuhyun akan menancapkan taringnya, bunyi pintu dibanting keras menghentikan segalanya. Kyuhyun dan Yoona menoleh ke sumber suara lalu tanpa disadari Yoona, tubuh Kyuhyun kembali terpelanting menghantam dinding.

Mama dan Neneknya berdiri disana dengan amarah yang sama besarnya. Ternyata Yoonhae yang baru saja menyelamatkan Yoona.

“Jangan coba-coba menyentuh putriku, Pangeran Cho! Kau dalam keadaan marah dan lapar saat ini. Yoona bukan mangsamu!” teriak Yoonhae marah. Kyuhyun bangkit.

“Dimana Tiffany dan Siwon?” tanya Nenek kepada Yoona.

“Mereka sudah berada di ruang bawah tanah, Nenek!” jawab Yoona dengan napas yang masih tersengal.

“Ayo, Yoonhae. Kita harus segera menyelamatkan Siwon!”

Nenek turun terlebih dahulu, sementara Yoonhae masih mengawasi Kyuhyun yang terdiam.

“Yoona, tetap halangi Pangeran Cho agar tidak turun ke ruang bawah tanah. Mama telah menyihirnya.”

Yoona mengangguk mantap.

Sepeninggalan Nenek dan Mamanya, Yoona mendekati Kyuhyun. Kyuhyun masih berdiam diri. Matanya yang menyala merah perlahan kembali normal. Yoona bernapas lega. Syukurlah Mama telah menyihir Kyuhyun, batin Yoona.

Lalu saat Yoona akan menariknya untuk duduk, pemuda itu balas menarik Yoona sehingga mereka berpelukkan. Kyuhyun memeluknya dengan erat seolah tidak akan pernah melepaskan Yoona. Yoona tercekat. Apa Kyuhyun masih dalam pengaruh sihir?

“Apa yang sudah kulakukan terhadapmu,…Yoona-yaa?”

 

 

 

Yoonhae dan ibu mertuanya menemukan Siwon terbaring di atas pembaringan batu sementara Tiffany sibuk menggeledah lemari persedian ramuan. Ia tidak tahu ramuan apa yang dapat menghentikan racun dari pedang Kyuhyun. Siwon masih sadarkan diri meskipun tenaganya benar-benar hampir musnah. Ia hanya dapat mengerang kesakitan.

“Tiffany!” seru Yoonhae.

“Mama! Oh Mama, tolong bantu aku! Siwon sudah sekarat, Mama!”

Sedangkan Nenek Hwang mendekati Siwon lalu mengamati bibir Siwon yang sudah memucat. Racun itu cepat sekali menyebar. Jika mereka tidak segera menyelamatkan Siwon, lelaki itu akan menemui ajalnya.

Nenek Hwang menghela napas berat. Ia menatap Yoonhae dan Tiffany yang kini sibuk mencari ramuan penangkal racun.

“Tidak ada ramuan yang akan menyelamatkan pemuda ini.”

Perkataan Nenek Hwang membuat Yoonhae dan Tiffany menghentikan aktifitas mereka. Tiffany menatap sang Nenek dengan nanar.

“Apa maksud Nenek? Bukankah semua ramuan ini Nenek dan Kakek yang membuatnya? Pasti ada salah satunya untuk menghentikan racun itu,” ujar Tiffany lirih. Airmata telah membanjiri pipinya.

Tepat saat itu masuklah tiga saudarinya yang lain. Taeyeon, Jessica dan Krystal yang telah berhasil menghalau para vampire penghisap darah. Mereka menatap Siwon dengan prihatin.

“Hanya ada satu cara, Tiffany. Dengan cara itu, Siwon mempunyai kesempatan untuk hidup dan bersatu denganmu. Namun konsekuensinya jika semuanya gagal, ia akan kehilangan apa yang telah ia miliki selama hidupnya dan yang paling berbahaya adalah…ia akan mati.”

Tiffany, Taeyeon, Jessica dan Krystal tercekat. Mereka sangat paham dengan cara yang dimaksud oleh sang Nenek, yaitu ritual khusus untuk menjadikan manusia biasa menjadi salah satu bagian dari mereka.

 

 

Tiffany POV

 

Semuanya sudah siap pada posisi masing-masing. Mama telah meminumkan sebuah cairan untukku, agar menumbuhkan kembali dua taringku yang semula sudah dikikir. Rasanya menyakitkan seperti menumbuhkan kembali tulan yang telah hancur. Kemudian Mama memimpin ketiga saudariku—Yoona entah berada dimana saat ini—di belakang meja kayu sebatas dada mereka. Di atas kitab tersebut terbentang sebuah buku mantra berukuran besar.

Nenek berada di tengah-tengah lantai besamaku dan Siwon yang terbaring. Di sekeliling kami terdapat lilin-lilin yang menyala. Aku bersimpuh di samping Siwon, menatap wajah sekarang laki-laki itu. Sampai sekarang aku tidak habis pikir, mengapa ia rela berkorban begitu besar hanya demi menghentikan perjodohan ini.

Cinta, ya karena cinta. Kini aku seratus persen yakin dengan cinta Siwon kepadaku. Cinta tulus seorang manusia biasa terhadap vampire sepertiku. Mustahil aku menemukan cinta sejati seperti ini lagi. Oleh sebab itu aku putuskan untuk melakukan ritual yang mempertaruhkan nyawa ini. Tidak hanya Siwon yang akan mati jika ritual ini berhasil, namun aku juga akan musnah. Bagiku jika semua itu kulakukan untuk tetap bersamanya, aku rela dengan segala akhir yang akan terjadi.

Nenek mengangkat tangan serta memejamkan matanya, pertanda ritual segera dimulai. Aku menunggu aba-aba dari Nenek, seperti yang telah ia jelaskan sebelumnya. Mama, Taeyeon, Jessica dan Krystal mulai membacakan mantra-mantra berbahasa Latin. Mereka membaca dengan serentak. Harmonisasinya membuatku merinding.

Nenek mengucapkan berbagai mantra seperti bersenandung. Angin terasa semakin berhembus kencang, entah masuk darimana. Dan ajaibnya lilin-lilin ritual tersebut masih menyela terang.

“Sekarang, Hwang Tiffany! Gigit lehernya dan hisap darah pemuda ini!”

Aku merendahkan kepalaku menuju leher Siwon. Tubuhnya sudah dingin, membuatku ragu kalau nyawanya masih utuh di dalam sana. Aku membuka mulutku agar kedua taring atasku terbebas. Sudah sangat lama aku tidak melakukan ini. Dulu aku hanya menghisap darah hewan, tidak dengan darah manusia. Tetapi aku pernah melihat Papa melakukannya. Sebenarnya tak jauh berbeda dengan menghisap darah hewan.

Perlahan tapi pasti, taringku mulai menyentuh kulit leher Siwon. Aku bisa merasakan nadinya berdenyut. Aku menancapkan taringku tepat di nadinya, tubuhku bergetar hebat ketika taringku menancap disana. Aku mengambil napas sejenak. Ini adalah bagian tersulit. Aku harus menghisap darahnya. Demi para leluhur, aku sedang meregang nyawa pria yang kucintai!

 

Author POV

 

Tiffany melepaskan gigitannya dari leher Siwon dengan mulut yang penuh darah. Seketika tubuh Siwon kejang-kejang. Rapalan mantra semakin terdengar cepat, seiring dengan kesakitan yang amat sangat menjalari tubuh Siwon. Setelah disiksa oleh racun pedang Kyuhyun, kini tubuhnya ditempa racun dari taring Tiffany. Racun dari Tiffany akan menghancurkan racun Kyuhyun namun efeknya akan luar biasa.

Jika ritual ini berhasil, maka racun Tiffany akan menyatu dengan darah Siwon. Begitupula dengan darah Siwon yang telah mengalir di tubuh Tiffany. Siwon akan terjaga dari tidur panjangnya sebagai vampire penghisap energi, sama seperti vampire yang memberinya racun.

Tetapi jika itu berhasil. Tiffany tidak ingin membayangkan bagaimana jika ritual ini gagal.

Darah seolah habis di tubuh Siwon, membuatnya kian pucat. Urat-urat nadinya menyembul ke permukaan kulit hingga Tiffany takut menyentuhnya. Ia takut jika menyentuh Siwon, tubuh laki-laki itu akan hancur.

Siwon mengerang kesakitan. Benar-benar menyiksa. Mungkin jika dibandingkan dengan kesakitan lain di dunia ini, akan sama rasanya seperti sedang dibakar hidup-hidup. Siwon menggeliat-liat serta mencengkram dadanya. Mulutnya terbuka ingin berteriak, namun semuanya seolah tertahan di tenggorokan.

Tiffany menatap Neneknya dengan mata penuh airmata. Ia tidak tega melihat kesakitan Siwon, memohon agar Neneknya segera menyelesaikan ritual ini. Tapi tiba-tiba tubuhnya mendadak lemah. Ia bertumpu dengan lutut serta tangannya sendiri. Jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan lebih kencang dibandingkan saat matanya bertemu dengan mata Siwon. Telinganya dapat mendengar degupan jantungnya yang kian cepat.

Deg deg deg deg deg

Pandangan Tiffany mulai buram. Apa ritual ini tidak berhasil? Lantas mengapa ia juga merasakan kesakitan layaknya kesakitan yang dialami Siwon? Tiffany menggapai tubuh Siwon yang masih kejang. Tiffany merasakan sesak di dadanya, sulit bernapas. Lalu, ketika tangannya berhasil menggapai tangan Siwon, semuanya mendadak gelap.

Tiffany ambruk tepat di samping Siwon. Napas mereka tertahan untuk sejenak, kemudian berhenti secara bersamaan.

**

 

 

Siwon POV

 

Aku terbangun karena sesuatu yang basah menyentuh bibirku. Sudah berapa lama aku tidur? Terakhir kali aku merasakan sakit yang luar biasa dari serangan Cho Kyuhyun. Kini rasanya jauh lebih baik. Apa karena aku telah pulih atau berada di surga? Ah, aku tidak menginginkan kedua hal itu. Yang aku inginkan adalah berada di sisi Tiffany.

Lantas aku membuka mata, ingin tahu siapa yang telah mengganggu tidurku. Mataku mengerjap berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Mulanya aku melihat bayangan buram seorang gadis. Rambutnya merah menyala, sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.

Wajahnya begitu dekat denganku. Siapa dia? Apa gadis ini baru saja menciumku? Aku tidak akan membiarkannya. Aku hanya mencintai. Gadis lain tidak ada yang boleh menyentuhku!

“Siwon-ah, kau tampak ketakutan begitu? Apa kau tidak suka dengan warna rambutku?”

Aku mengernyit. Suara serak dan lembutnya sangat familiar di telingaku. Apalagi aroma tubuhnya. Perlahan penglihatanku kembali normal, bahkan lebih terang dibandingka menggunakan kacamata atau kontak lens. Aku sedang tidak memakai alat bantu melihat akan tetapi objek di hadapanku terlihat jelas.

Tiffany?

Baru kusadari kalau gadis yang menciumku adalah Tiffany. Rambutnya tidak lagi hitam legam, tapi kecantikannya abadi. Aku tertegun melihat mata teduhnya yang menatapku intens. Aku belum mati ternyata. Terima kasih, Tuhan! Tapi tunggu…

Saat ini Tiffany menggenggam tanganku. Mataku melebar ketakutan. Aku tidak takut padanya, namun aku takut jika nanti energiku habis terhisap olehnya. Tiffany justru tertawa kecil melihatku. Tawa yang belum pernah kulihat sebelumnya. Demi Neptunus, tawa Tiffany sangat cantik hingga membekukan hatiku.

“Kita dimana?” tanyaku padanya. Setelah melihat berkeliling aku menyadari kalau kami berada di sebuah kamar dengan nuansa merah dan hitam. Aku terbaring di sebuah ranjang king size dan Tiffany duduk di tepinya. Dinding dan jendela kamar ini semua terbuat dari batu. Apa tempat ini masih bagian dari kastil?

“Kita di kamarku, Siwon. Kau sudah tidur selama berminggu-minggu. Syukurlah, akhirnya kau bangun.”

Aku mengernyit hebat. Tidur selama berminggu-minggu? Seperti mati suri saja. Tapi mengapa Tiffany masih menggenggam erat tanganku? Apakah ia tidak kasihan karena aku bisa saja kolaps lagi?

“Tenanglah. Kau sudah kebal dengan kekuatanku,” ucap Tiffany akhirnya. Ia menyadari aku yang berusaha melepaskan tangan kami.

“Kebal dengan kekuatanmu?” tanyaku heran. Ia tersenyum penuh arti.

“Siwon, aku tidak akan bisa melukaimu lagi.”

Aku masih tidak mengerti. Aku memegangi kepalaku sendiri. Aneh, kenapa aku tidak merasakan sakit sedikitpun? Aku teringat dengan luka di lenganku. Segera saja aku memeriksanya. Eh, mulus? Tidak ada gores sedikitpun maupun bekas lukanya. Aku termenung. Bukankah Kyuhyun telah melukaiku di lengan? Meskipun aku sangat bersemangat malam itu, aku tetap bisa mengingat dengan jelas kalau pedangnya melukai lenganku.

Aku pun menatap Tiffany. Wajahnya tampak berseri karena warna rambutnya yang baru.

“Wajahmu tampak lebih bersinar,” komentarku.

“Karena rambut ini,” jawabnya. “Ini adalah rambut asliku. Sekarang aku kembali menjadi Tiffany yang dulu.”

“Apa…maksudmu?”

Tiffany mengalungkan tangan di leherku lalu memainkan rambut bagian belakangku. Aku tersenyum gugup. Tubuhku tidak lemah sama sekali.

“Karena aku ingin menjadi seorang vampire sesungguhnya, lebih tepatnya menjadi seorang istri vampire dan mengabdikan diriku padanya. Aku tidak akan merubah diriku lagi hanya untuk menjadi seorang model terkenal di dunia manusia.”

Aku sungguh tidak mengerti. Seseorang, tolong benturkan kepalaku!

“Siwon, maukah kau menjadi suamiku?” bisiknya lembut.

Aku termagu. Matanya menyiratkan kesungguhan. Apa ia baru saja melamarku? DEMI TUHAN, APAKAH HWANG TIFFANY BARU SAJA MELAMARKU???

“T…tapi apakah kita bisa menikah? Maksudku…erm, maksudku kita ini berbeda, bukan?” aku mencicit gugup. Demi Tuhan aku sangat senang, sekaligus merasakan khawatir yang amat sangat.

Alih-alih marah, Tiffany justru tersenyum. Ia melepaskan pelukannya kemudian duduk tegak. “Ulurkan tanganmu.”

Mengulurkan tangan? Baiklah. Aku mengulurkan tangan kananku padanya dan ia langsung menggenggam dengan erat.

“Sekarang, tatap mataku dengan intens. Berkonsentrasilah. Jangan pikirkan hal lain, kecuali hanya aku. Just me, Siwon. Kau bisa melakukannya?”

Aku mengangguk. Kutatap matanya sesuai dengan perintahnya tadi. Jika ia memintaku hanya memikirkannya saja, itu sangat mudah kulakukan. Ia balas menatapku dengan sama intens-nya.

Tiba-tiba aku merasa tenagaku sangat pulih. Tubuhku yang tadinya sedikit pegal karena tidur berminggu-minggu kini terasa membaik. Kini aku bahkan bisa lari 100 meter sepertinya! Pertautan tanganku dengan Tiffany menimbulkan sensasi yang kuat, seolah-olah kami sedang saling mengisi. Hingga akhirnya aku mengalihkan pandangan dari mata Tiffany ke tangan kami. Rasa saling mengisi itupun berakhir.

Tiffany mengecup tanganku dengan lembut lalu melepaskannya perlahan. Aku memandangi telapak tanganku bingung. Hatiku mencelos ketika menyadari sesuatu. Mustahil, aku tidak mungkin menghisap energi Tiffany! Benar-benar tidak dapat dipercaya. Aku adalah seorang manusia biasa, tidak mungkin aku menghisap energinya.

“Tiffany…a-apa ini…apa yang terjadi padaku?”

“Ya, Siwon. Kau adalah vampire sekarang. Sama sepertiku. Racunku telah mengalir di dalam tubuhmu, begitupun dengan darahmu yang mengalir di tubuhku. Maafkan aku, Siwon. Tapi itu satu-satunya cara menyelamatkan nyawamu.”

 

 

Author POV

 

Siwon terkejut bukan main. Ia yakin Tiffany bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya. Berulang kali Siwon memandangi tangannya, berusaha menerima kenyataan yang benar-benar diluar nalar. Kepalanya tertunduk lesu. Tentu saja semakin membuat Tiffany merasa bersalah.

Tiffany tahu karir dan kehidupan Siwon berjalan sangat bagus. Ia seorang novelis terkenal serta editor yang sukses. Tiffany turut menyesal dengan takdir yang Siwon alami. Tetapi bukankah lebih baik kehilangan pekerjaannya daripada harus mati? Tiffany tidak memaksa Siwon untuk menerima kenyataan ini. Mungkin lelaki itu butuh waktu.

“Kau boleh menyalahkanku atas semua yang terjadi. Mungkin kau butuh waktu sendiri, Siwon. Temui aku di bawah jika kau membutuhkanku.”

Tiffany bangkit dari duduknya. Ia tidak akan mengganggu Siwon dulu sebelum lelaki itu benar-benar siap menerima kenyataannya. Lantas sebuah tangan menahannya untuk tidak pergi. Tiffany segera menoleh dan melihat Siwon sedang tersenyum manis ke arahnya.

Silly. Aku tidak akan menyalahkanmu atas semua ini. Justru aku ingin mengucapkan terima kasih padamu karena telah membuat kita bersatu. Kini aku tidak takut menyentuhmu lagi. Aku tidak akan menahan diriku untuk menciummu lagi. Dan yang paling penting bagiku, kau dan aku tidak terpisahkan lagi. Kau adalah takdirku, Hwang Tiffany.”

Mata Tiffany berkaca-kaca. Ungkapan hati Siwon membuatnya lega luar biasa. Maka tubuhnya langsung menghambur ke pelukan Siwon, membuat lelaki itu terdorong ke ranjang. Siwon menangkup wajah Tiffany dan menatap gadisnya dengan mata berbinar.

Damn, kekuatanmu sungguh luar biasa. Tapi aku bisa lebih kuat darimu sekarang,” bisik Siwon.

Te amo, Siwon.”

Siwon mengecup ringan bibirnya. “Aku suka mendengar logat Latin-mu, Sayang.”

Kemudian mereka pun berciuman. Jenis ciuman yang saling melepaskan rindu serta memuasakan hasrat. Sudah lama Siwon mendambakan hal ini. Mulai dari sekarang ia bebas menyentuh gadisnya. Siwon tidak peduli dengan apapun yang ia tinggalkan di dunia manusia. Ia hanya mengharapkan Tiffany.

By the way, apa yang terjadi dengan Cho Kyuhyun?” tanya Siwon setelah melepaskan ciuman memabukkan mereka.

“Jangan pikirkan pemuda aneh itu. Kau tahu tidak, ternyata ia mengincar Yoona. Sebelum bertemu denganku ternyata ia jatuh cinta pada adikku itu.”

Siwon tergelak. Lega sekaligus prihatin pada Yoona.

Tiffany menciumnya lagi, membiarkan Siwon memutar posisi mereka. Siwon menyentuh Tiffany dengan lembut meski ia merasakan kekuatannya kian membesar. Ia tahu Tiffany tahu cara untuk mengimbangi kekuatannya.

“Hwang Tiffany, aku pun mencintaimu. Sungguh mencintaimu.”

**

 

 

“Jadi, kapan kau akan menerimaku sebagai kekasihmu, Hwang Yoona?”

Yoona mendongakkan kepala. Matanya menatap Kyuhyun yang kini bergelantungan di dahan pohon yang tingginya lebih dari 12 meter. Yoona mendengus sebal.

“Aku tidak akan menerima cinta pemuda yang bergelantungan seperti kelelawar begitu!” tukasnya sinis.

Kyuhyun mendecakkan lidah kemudian melompat dengan santai ke bawah. Jika manusia biasa yang melakukan itu, maka tulang-tulang mereka akan remuk. Nyatanya Kyuhyun bisa berdiri dengan tegap di hadapan Yoona.

“Yoona, bahkan seisi penghuni hutan ini tunduk padaku. Aku ini seorang Pangeran dan segera menjadi seorang Raja. Tapi kau berani-beraninya menolak cintaku!” omelnya.

“Aku tidak suka dengan sifat sombongmu itu, Yang Mulia!” Yoona memanggilnya dengan nada mencemooh.

Kyuhyun menarik sebelah tangan Yoona lalu menggenggamnya erat.

“Pokoknya kau sudah harus menjadi kekasihku sebelum pernikahan Tiffany dan Siwon. Kalau tidak, mau ditaruh dimana wajah tampanku ini, eoh? Calon istriku menikah dengan orang lain sementara diriku masih melajang. No no no. Kau tidak boleh membantah perintah Pangeran, Hwang Yoona!” cerocosnya.

“Jadi kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Apa aku harus menjadi kekasihmu agar kau tidak malu? Oh, sebaiknya lupakan saja. Kau bisa mencari gadis lain untuk menyelamatkan harga dirimu itu,” ujar Yoona. Jelas ia kecewa dengan alasan Kyuhyun.

Namun pemuda itu tidak melepaskan Yoona, justru menahannya semakin kuat.

“Tentu saja tidak! Apa sangat sulit bagimu untuk mempercayai bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu? Lihatlah mataku ini, Yoona!”

Yoona menatap mata Kyuhyun. Bodoh sekali jika ia tidak percaya dengan perasaan Kyuhyun yang jelas tersirat melalui dua mata bulatnya.

“Sekarang kau percaya, kan?”

Yoona diam saja.

“Ck, dasar gadis aneh. Seharusnya kau merasa tersanjung karena seorang Pangeran tampan tergila-gila padamu. Kau tidak perlu menjadi Cinderella untuk menarik perhatian Pangeran ini, Yoona. Aku mencintai dirimu yang seperti ini. Apa itu belum cukup?” ungkapnya dengan gaya sombong khas Cho Kyuhyun.

“Aish, mulai menyombongkan diri lagi. Kau benar-benar menyebalkan,” gerutu Kyuhyun. Pemuda itu justru tersenyum malu-malu.

“Jadi, kau tak marah kan, Sayang?”

Yoona berusaha menahan senyumannya. Ia sudah dapat membayangkan, jika seumur hidup harus dihabiskannya bersama Kyuhyun, ia yakin kalau hari-harinya penuh warna.

“Bagaimana bisa aku juga jatuh cinta pada pemuda menyebalkan sepertimu?” gumamnya pelan. Kyuhyun mendekatkan wajahnya.

“Apa? Kau mengatakan apa barusan? Aku yakin tidak mendengarnya dengan benar,” ucap Kyuhyun bersemangat.

“Kau memang tidak mendengarnya dengan benar. Ya sudah lepaskan tanganku! Kedua kakakku serta Krystal sudah meninggalkanku ke dalam hutan. Aku harus menyusul mereka!”

Kyuhyun cemberut. Ia tidak ingin melepaskan Yoona begitu saja.

“Tunggu dulu! Kau belum mengatakan kalau kau bersedia menerimaku menjadi kekasihmu.”

Yoona menghela napas dengan tenang. Ia harus banyak bersabar.

“Baiklah, Cho Kyuhyun. Aku bersedia menjadi kekasihmu. Asal kau tidak terus-terusan menyombongkan diri.”

Kyuhyun semakin tersipu.

“Oke. Now kiss me.”

Yoona membulatkan mata. “Menciummu? Tidak, aku menolak. Sebab jika aku menciummu, seperti biasa, kau tidak akan melepaskanku sampai aku harus menendang selangkanganmu dulu.”

Kyuhyun menyeringai dan merengkuh wajah Yoona. “I don’t care.”

Lalu mereka berciuman. Yoona berpikir untuk benar-benar menendangnya lagi. Namun tanda cinta yang menuntut di bibirnya itu terasa menyenangkan. Sejujurnya Yoona juga senang dicium oleh Kyuhyun.

Akan tetapi kesenangan baru mereka harus berhenti karena Kyuhyun tiba-tiba meringis. Yoona membuka matanya dan terkejut melihat Taeyeon dan Jessica kini tengah menarik kedua telinga Kyuhyun. Sementara Krystal terus saja berdecak di samping Yoona.

Ah, Yoona benar-benar malu.

“Ya, lepaskan tangan kalian! Kalian sedang menyakiti seorang—“

“Pangeran!” sambung Taeyeon dan Jessica kesal. Mereka sudah tahu tabiat Pangeran penuh percaya diri itu.

Kyuhyun menenangkan diri sambil merapikan jubahnya. “Kalian mengganggu kami saja.”

“Mengganggu katamu? Justru kau yang menggangu adikku! Aku kira Yoona kembali ke kastil, tapi ternyata lagi-lagi kau menculiknya!” omel Taeyeon.

“Kau benar-benar mencintai adikku?” tanya Jessica setelah menoleh ke arah Yoona yang masih menunduk malu.

“Kalian sudah tahu jawabannya,” jawab Kyuhyun malas.

“Kalau begitu, bersikap baiklah terhadap kami. Kau harus membuat kami luluh dengan menjadi pemuda baik dan ramah. Jangan sebut-sebut lagi tentang kekuasaanmu itu. Paham?” ujar Jessica.

Kyuhyun mengerjap tak percaya. “Kenapa jadi kalian yang mengaturku? Tiffany saja tidak pernah protektif seperti ini.”

“Itu karena ia sedang menjaga Siwon Oppa. Mengurus Yoona yang selalu dikejar-kejar olehmu sangat melelahkan, kau tahu tidak?!” sembur Krystal.

Kyuhyun mengangkat kedua tangannya. Tatapannya kepada Yoona dan Hwang bersaudari sangat penuh dengan kepercayaan diri.

“Baiklah, aku akan mematuhi aturan kalian. Apa saja akan kulakukan demi menikah dengan Yoona. Apa kalian puas?”

Taeyeon, Jessica dan Krystal hanya dapat tersenyum.

“Kalau begitu sekarang semuanya sudah jelas. Aku akan pergi. Dan kalian Nona-nona cantik, tolong jaga Yoona-ku. See you soon.”

Dan sebelum dirinya terbang jauh, Kyuhyun sempat mengedipkan sebelah matanya pada Yoona. Krystal mendekat pada Yoona terlebih dahulu. Ia melihat saudari kembarnya itu menghela napas.

“Percayalah, Yoong. Kyuhyun akan membuatmu semakin mencintainya, setiap detik yang kalian lalui bersama.”

 

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Epilog

 

 

 

“…John pun melompat ke atas kudanya lalu menghentak tali kekang dengan kasar. Ia tahu nyawanya sedang dalam bahaya…

Tik tik tik

Sudah larut malam, tetapi Siwon masih sibuk di depan laptop. Ia harus segera menyelesaikan novelnya. Jadwal penyerahan naskah kepada penerbit hanya tinggal 5 hari lagi. Beruntung ia sudah mencapai klimaks novelnya.

Honey, bisakah kau berhenti sekarang? Kau sudah lebih dari 12 jam di depan laptop sialan itu!”

Siwon tertawa kecil mendengar umpatan istrinya.

“Sebentar lagi, baby! Beri aku waktu 15 menit lagi!”

Lalu terdengar langkah kaki mendekatinya. Seorang wanita dengan rambut merah menyala, berpakaian sangat minim yang mengekspos kulit pucatnya, berjalan menghampiri Siwon. Dengan seenaknya ia melepaskan tangan Siwon dari laptop kemudian duduk di pangkuan suaminya tersebut.

Siwon mengangkat kedua alis melihat penampilan ‘mengundang’ Tiffany. “Erm, Tiffany. Hanya tinggal sedikit lagi, please.”

“Apa kau tega membiarkan aku kedinginan di atas ranjang sendiri?”

“Tentu saja kau kedinginan dengan pakaian minim seperti ini.”

Tiffany berdecak sebal.

“Jadi kau lebih memilih novel ini daripada diriku?” tanyanya dengan nada mengancam.

“Bu…bukan begitu maksudku, babe.”

“Lalu? Apa aku harus menghisap energimu agar kau tidak bisa melanjutkan pekerjaanmu, eoh?” suara Tiffany terdengar begitu menggoda. Jarinya naik turun di sepanjang rahang tegas Siwon.

Siwon menggeram. “Kau sedang menggodaku, hm?”

“Begitukah?” bisik Tiffany lalu membasahi bibirnya.

Siwon memeluk pinggang Tiffany dengan erat.

“Baiklah kalau kau sudah tidak sabar. Tapi aku minta satu hal,” Siwon menggesekkan hidung mereka.

“Apa?” tanya Tiffany nyaris tidak mengeluarkan suaranya.

“Malam ini kita bercinta di lantai. Sebab aku sudah lelah memberi ranjang baru. Lagipula tidak enak rasanya dilihat para tetangga di apartemen ini karena setiap hari ada pekerja furniture yang mengantarkan barang.”

Tiffany nyaris tersedak karena tertawa. Ia memeluk suaminya erat lalu menganggukkan kepala.

“Terserah padamu, Suamiku.”

 

 

 

 

The end

 

 

Author’s note:

Sekali lagi selamat ulang tahun untuk sahabat sekaligus adik bagi saya, Nindy Zulyanti. Kasih sayang tidak akan pernah sia-sia, dimanapun kita berada. Btw, no matter what, you still my favorite reader. Thank you for your kindness.

Buat readers, i heart you! Terima kasih untuk menerima segala kekurangan author yang satu ini. Seandainya bisa menjadikan kalian semuanya dekat dengan saya hehe. Btw, sekalian saya mau ngasih tahu kalau saya akan hiatus lagi. Kali ini karena saya sakit. Minta doanya guys J

Trus soal komentar di setiap ff. Saya tekankan sekali lagi. Readers semua hanya tinggal baca. Cerita yang kalian baca itu dari otak serta kerja keras Author. Ide serta informasi yang dicari author nggak main-main. Belum lagi mengembangkannya menjadi sebuah bacaan bermutu. So, kalian seharusnya berterima kasih dengan meninggalkan jejak. Cerita yang kalian baca itu bukan sehari jadi atau bikinnya sambil senyum-senyum atau tutup mata lho. Diantara kami para author harus meluangkan waktu dr kesibukan kuliah, kerja atau ngurus rumah tangga. So, please hargai tulisan kami. saya gak pernah mempermasalahkan hal ini, cuma gak tau kenapa silent readers makin menyebalkan buat saya.

Komentar pembaca adalah vitamin buat penulisnya. Jangan sampai penulis kekurangan vitamin dan akhirnya berhenti memberikan karyanya yang terbaik.

 

Salam,

Echa.

84 thoughts on “(AR) Intense Part 2 (End)

  1. Woahhhhh akhirnya… Finally!! Happy ending? Aishhh, genrenya bikin baper, haha. Seruuuu, kerennn. Pokoknya daebak! Ffnya udah bikin aku kaya masuk ke dalam dunia fantasi, wkwk. Next fanfic thor, i’ll be waiting!

  2. Daebakkkkkkkkk keren bgt lah ff fantasy nya kak echa yg satu ini….
    Kak epilog nya dikit siy?? Hehe *just kidding
    D bikin sequelnya donk Pasti seru hehe. please gomawo
    Terus berkarya yah kak

  3. Yes, wanna get to baper. Baper nih aku baperrr.
    Gimana gak baper coba eon? Siwon dengan semangat manusia mendapatkan cinta Tiffany. Apalagi pas minta cium itu yaowooooh, minta sama aku ajalah /gak.abaikan/.
    Tengok ke samping, eh Kyuhyun-Yoona lebih-lebih gimanaa gituh, semogaa Taeng-Sica-Krys dapet segera yaak

    Aku waiting loh eon karya mu yang lainn, semoga makin nge-baperr. Mmmm:*

  4. good job kak echaa <3<3<3 puas bgt sama endingnya hihihi perjuangannya siwon itu loh.. rela ninggalin semua yg dimiliki didunia manusia demi tiffany oh god!! tetep ditunggu karya selanjutnya kak,, see yaa😉

  5. Mantap nih ffnya makasih bgt loh kak echa udh nglanjutin nih ff cepet banget
    Bakal hiatus lagi kak? Sebelum itu sih pengennya bca dulu kelanjutannya ff red door tapi gpp deh i will always waiting for your next ff☺ btw get well soon kak echa yang semangat yaa😊 lophe-lophe😙

  6. Akhirnya siwon jadi vampire juga hehehe .. jadi bisa bersatu sama tiffany tanpa halangan lagi😀
    Tapi kak echa kalau buat ff fantasi itu bener2 bisa buat aku berfantasi juga hihihi ^^
    Ditunggu karya selanjutnya😀

  7. Get well really soon kak echaa!! Ffnya bagus bgt bikin merinding gimana gtu bacanya hehehe akhirnya sifany bersatu oh ia john itu siapa ya?

  8. Gils ceritanya keren banget gak boong! Gak nyangka siwon jadi vampire juga, kirain bakalan jadi cinta antara manusia-vampire kyk twilight gitu hehe. Seneng banget akhirnya sifany bersatu walaupun ga diceritain ttg pernikahannya. Buat kak echa, good job deh! Dan kalau bisa dibuat dong sequel nya hehe thx ^^

  9. Ahh moment sifanya singkat sih, tp sweet bgt. Suka bgt sm ceritanya..
    Pas bgt takaranya, kyk gak butuh squel jg uda bagus nih ff..
    Cepat sembuh yah mba eca .
    Biar bisa berkarya lagi

  10. Yuuhuuu akhirnya berakhir bahagia…..
    Ga sama sekali kepikiran kalo siwon bakal dibantu kakeknya tiffa, beruntunglah siwon, dan ternyata pertarungannya ga seserius yang aku pikir, aku kira eonnie bakal buat yang panjang gitu adegan main pedang-pedangnya tapi ternyata cukup singkat dan tetep oke.
    Latihan keras siwon dan harapan tiffa ga sia-sia, banyak juga yang bantu mereka dan pro sama tiffa, taengsic+yoonkryst, mama+neneknya tiffa bahkan kakeknya jg.
    Jadi semacam versi terbalik dari twilight yah, disini edward’nya tiff, bella’nya siwon, hihii seru apalagi siwonnya jg berhasil dirubah jadi vampire^^
    Eonnie hiatus dong, aku nungguin Red door loh eonn, hiikkss.
    Semangat jari-jari manis eonni-ku untuk tulisan-tulisan berikutnya, hwaiting ♡

  11. Ehhh….siwonnya minta ciuman dari fany agar lebih bersemangat latihan pedangnya,ehhh malah pingsan,energinya dihisap ama fany,hehehe…….
    Ehhhh…..kakeknya fany ampai turun tangan bikin ramuan segala buat siwon penambah kekuatan,apalagi cinta siwon ke fany banyak dukungan dari keluarganya.
    Syukur dehh ritual siwon dan fany berhasil dan siwon akhirnya jadi vampire dehh.
    Ternyata kyuhyun jatuh cinta ama yoona.
    Kacian telinga kyuhyun dijewel ama taeyeon dan jessica,makanya jgn culik yoona dari kastil.
    Akhirnya happy ending deh.
    Wow…saeng penuh dengan imajinasi.
    Thanks buat saeng dan ff vampirenya,unnie suka bangat.
    Unnie ampai baca 2 kali,baru comment,abisnya ff vampire ini menegangkan banget,bikin jantungan,kayak twilight.
    Hehehe…….
    Ahhh…..unnie jadi kepingin nonton twilight lagi ahh.
    Saeng elsa jjang….hwaiting.
    Sifany 4ever♡♡♡

  12. cie ciee udah suami aja… aku suka banget ff fantasy-nya author elsa.. agak berterima kasih banget sihh soalnya kyuna disini dikekgini.in setidaknya mengobati kyuna waktu di magic kiss magic kiss itu :v

  13. Keren!! Perjuangan siwon untuk mendapatkan tiffany benar-benar luar biasa..
    Dan akhirnya mereka pun bisa bersama, sampai jadi suami istri …. Tp epilognya kurang kak, jadi kepengen sequelnya..

    Syukurlah ff kak echa kali ini membuat kyuna bersatu, jadi bahagia deh baca endingnya😀

    Kak echa semoga cepat sembuh yaa , bisa beraktivitas seperti biasa lagi , dan menghibur kami lagi dengan karya-karyanya. Kami juga akan menghibur kak echa dengan mengomentari atau menyimpan jejak disetiap ff kak echa yang kami baca, dan juga ff yang ada di SI (:

  14. ooohhh god akhirnya happy ending juga,yaelah knp bayangan w wkt siwon blg kasurnya rusak jd kebayang twilight breaking down hahahahha, sukaa sukaaaa keren

  15. Lucuuuuu pas bagian kakeknya~ 😂
    Yampun udah kayak apaan aja yaa dari ketawa terus tegang pas WonKyu tarung makin tegang waktu Kyuhyun ngejar siwon karena udah emosi dan makin makin tegang waktu siwon udah dingin, takut gak ada harapan..
    Tapi akhirnya Sifany bersatu 😀 yaaay terus KyuNa awww :3 bikin emesh banget couple ini ahihi

  16. Ending yang errrghhh wkwkwk tiffany byuntae wkwkwk, kasian waktu siwon perang sama kyuhyun dan kalah, tapi seneng juga karena dengan begitu tiffany ngubah siwon jadi vampire, dan gak akan ada masalah kan kalo mereka touch touchan 😏😏 aa tidak ketuleran byuntae fany unni .g wkkw pokoknya aku suka sama ceritanya.. jarang-jarang aku mo baca ff fantasi.. aa thor ada yang kurang.. kurang nc nya 😏😏 /ditabok/ wkkwkw pokoknya like ceritanya kak.. trus berkarya oke, ditunggu karya selanjutnya 😉😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s