(AF) Secret Part 2 (End)

Secret Part 2 (End)

poster secret

Author : lovelysifany

Genre : Romance, sad

Cast :

Choi Siwon – Hwang Miyoung

Lee Yeonhee

Kim Heechul – Eunhyuk

Lee Donghae – Park Jungsoo

Rating : PG 15

Length : Twoshoot

Disclaimer :

Ide dan jalan cerita ff ini murni BUKAN hasil pemikiran saya sendiri. Cerita ff ini berdasarkan sebuah film berbahasa mandarin yang berjudul sama. Film ini diperankan oleh Jay Chou dan Gwei Lun Mei. Jadi, ff ini bukanlah hasil plagiarisme. Saya hanya mengubah bentuk cerita dari film menjadi sebuah bacaan serta mengganti nama tokoh. Maaf bila terdapat banyak kekurangan dalam penulisan ff ini, karena ini baru pertama kalinya saya bisa menyelesaikan sebuah ff. Selamat membaca🙂

~ The Secret That Cannot Be Told ~

Dengan wajah kaget, Siwon segera membuka pintu dan keluar.

“H-hwang Miyoung sudah pergi..” Han Ahjussi menunjuk kearah perginya Miyoung.

Siwon segera menuju ruang piano tua, melalui kaca pintu Siwon melihat kedalam ruangan tapi tidak ada siapapun, ruangan itu kosong.

“Dimana ?” Siwon bertanya pada Han Ahjussi.

“Miyoung sudah p-pergi..”

Siwon segera berlari meninggalkan Yeonhee dan Han Ahjussi.

“Choi Siwon !…” Yeonhee berdiri didepan pintu ruang piano tua, ia bingung melihat sikap Siwon.

“H-hwang Miyoung marah..” Ujar Han Ahjussi.

Yeonhee melihat Han Ahjussi yang berbicara, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Han Ahjussi.

Siwon mencari Miyoung diseluruh daerah kampus, ia berkejaran kesana-kemari. Dengan napas terengah-engah Siwon mengedarkan pandangannya, dan kembali mencari Miyoung ditempat lain.

Keesokan harinya, setelah pulang kuliah Siwon menunggu didekat rumah Miyoung. Ia terus melihat kearah rumah tersebut, berharap Miyoung akan keluar. Tetapi usaha siwon sia-sia saja, orang yang dinantikan tak kunjung keluar.

Siwon kemudian berniat untuk pulang. Saat ia hendak mendorong sepedanya, Siwon melihat seorang wanita paruh baya yang membawa banyak barang belanjaan, kesulitan untuk mengambil buah apel yang berjatuhan dijalan. Wanita tua itu adalah Ibu Miyoung.

Siwon segera mengambil buah-buah apel yang berjatuhan itu, dan memberikannya pada Ibu Miyoung. Siwon ingat dia adalah wanita paruh baya yang dilihatnya dirumah Miyoung tempo hari.

“Terima kasih.. Terima kasih..” Wanita tua itu langsung masuk kerumahnya.

“Permisi Ahjumma.. Bisakah aku bertanya..” Belum selesai Siwon berbicara, Ibu Miyoung sudah masuk menutup pintu rumahnya.

Esoknya, Siwon mengambil sepeda miliknya ditempat parkir. Ia sudah bersiap untuk pulang, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Siwon menoleh kebelakang, dan yang dilihatnya adalah Yeonhee.

“Kau tidak apa-apa, Siwon ?”

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak adakah yang ingin kau katakan padaku ?”

Siwon kebingungan untuk menjawab, bibirnya sulit bergerak untuk mengeluarkan kata-kata.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku minta maaf..” Lalu Siwon mengayuh sepedanya, meninggalkan Yeonhee.

Yeonhee memandangi Siwon yang mulai menjauh dengan tatapan yang senduh. Ia berpikir selama ini Siwon mempunyai perasaan suka padanya, tapi ternyata ia salah.

Dirumah, Siwon bermain piano untuk menghibur dirinya. Perasaan yang tak karuan mempengaruhi permainannya, ia bermain piano dengan asal-asalan.

“Hentikan.. Aku rasa sebentar lagi aku akan menangis.” Ucap Choi Kangsanim dari ruang buku.

Siwon menghentikan permainan pianonya, ia pun diam termenung dengan tatapan kosong dimatanya.

Choi Kangsanim berusaha menghibur putranya yang sedang tidak semangat, ia bermain gitar dengan gaya yang aneh didekat Siwon.

Siwon merasa risih dengan hal itu “Abeoji, tolong berhentilah..”

“Apa ?!” Choi Kangsanim memainkan gitarnya dengan suara yang lebih nyaring.

“Abeoji, aku bilang hentikan!” Siwon berkata dengan nada yang sedikit tinggi.

Ayah Siwon menghentikan permainan gitarnya, ia merasa putranya sedang ada masalah yang serius.

“Maafkan aku, Abeoji. Aku hanya ingin ketenangan…” Siwon menyesal karena bersikap kurang baik terhadap ayahnya.

“Apa yang membuatmu merasa tidak senang ? Katakan padaku…”

“Tidak ada.”

Choi Kangsanim segera duduk bersama Siwon, lalu ia merangkul putranya “Kau adalah putraku satu-satunya. Aku peduli padamu. Jika ada sesuatu yang membuatmu sedih, beritahu aku..”

Siwon tidak mau menceritakan masalah yang ia alami kepada ayahnya, ia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.

“Aku akan menyiapkan makan malam…” Siwon bergegas menuju dapur.

Choi Kangsanim merasa bingung dengan Siwon, ia tidak tahu apa yang mengganggu pikiran putranya tersebut.

“Hei, tidak perlu memasak. Beristirahatlah! Bagaimana kalau kita makan diluar saja ? Apa yang ingin kau makan ?”

Choi Kangsanim kembali bermain gitar sambil bernyanyi, ia menyanyikan lagu untuk menyemangati putranya. Siwon keluar dari dapur dan segera masuk kekamarnya.

* * *

Siwon kembali datang kerumah Miyoung, ia berdiri didepan pagar rumah gadis misterius itu. Siwon tak henti-hentinya menekan bel rumah, hingga membuat ibu Miyoung membuka pintu.

“Berhenti menekan bel rumah! Siapa kau ?”

“Aku mencari Hwang Miyoung..”

“Jangan berbicara dengan suara yang keras. Miyoung dalam keadaan tidak baik, dia sedang tidur. Kau akan membangunkannya..”

“Mengapa Miyoung tidak masuk kelas, Ahjumma ?”

“Dia sudah berhenti kuliah, asmanya memburuk dan dia harus beristirahat. Jangan datang mencari Miyoung!”

“Tapi…”

Ibu Miyoung menutup pintu rumahnya, dan membiarkan Siwon sendiri diluar. Usaha Siwon gagal lagi, ia tidak bertemu dengan Miyoung. Siwon pun pulang dengan harapan yang tidak terwujud.

Siwon dan Yeonhee berada diruang piano tua. Siwon duduk memainkan piano, sedangkan Yeonhee berkeliling ruangan untuk melihat-lihat.

“Yeonhee..”

“Hmmm ?”

“Untuk kejadian yang waktu itu, aku minta maaf.”

“Tidak apa-apa, yang sudah berlalu biarkan saja berlalu.” Yeonhee berjalan kesisi ruangan yang lain untuk kembali melihat-lihat.

Siwon memainkan piano dengan tempo yang pelan, permainan pianonya menggambarkan isi hatinya pada Miyoung. Tiba-tiba Siwon merasakan kehadiran Miyoung. Meskipun hanya bayangan, gadis ini tetap terlihat sangat cantik. Tubuh Miyoung yang bercahaya, membuat ia seperti bidadari. Siwon dan Miyoung memainkan piano dengan senyuman diwajah mereka.

– 5 bulan kemudian –

Siwon menjalani hari-harinya seperti biasa tanpa kehadiran Miyoung. Pada saat kuliah ia belajar dengan lebih serius dan tekun.

Siwon dan Yeonhee pulang bersama dengan berjalan kaki disaat hujan sedang turun, keduanya berjalan dibawah payung masing-masing.

“Kau mengendarai sepeda hari ini ?” Yeonhee memandangi Siwon.

“Tidak..”

“Kalau kau mengendarai sepeda, apa kau mau memberi aku tumpangan ?”

“Tentu..”

Malam harinya Siwon dan ayahnya memasak makan malam bersama, mereka membuat masakan yang ada dibuku resep.

“Abalone. Kita harus memasukan abalone..” Choi Kangsanim membacakan bahan makanan yang ada dibuku resep.

“Tapi kita tidak punya abalone. Apa harus dimasak tanpa menggunakan abalone ?”

“Abeoji akan pergi membelinya.. Haisshh aku sudah sangat lapar.” Choi Kangsanim bergegas pergi membeli abalone.

Sepulang kuliah, Siwon berbelanja bahan makanan ditempat Ahjumma langganannya.

“Sama seperti kemarin ?” Ahjumma memasukan sayur-sayuran dan juga ikan kedalam kantong plastik.

“Iya..”

“Apakah semuanya berjalan dengan lancar ?” Ahjumma sangat perhatian pada Siwon, ia sudah menganggap Siwon seperti anaknya sendiri.

“Ya, baik-baik saja.” Siwon menerima dua kantong plastik berisi bahan makanan yang dibelinya dari Ahjumma.

“Baguslah kalau begitu..”

“Aku pulang dulu, Ahjumma..”

“Berhati-hatilah..”

“Ya, terima kasih.” Siwon mengayuh sepedanya.

Selama Miyoung tidak ada, Siwon dan Yeonhee lebih banyak menghabiskan waktu bersama, hubungan mereka hanya sebatas teman saja. Yeonhee menemani Siwon bermain piano diruang piano tua, setelah Siwon selesai bermain mereka lanjut dengan mengobrol.

“Tidakkah kau merasa bahwa piano tua ini sulit untuk dimainkan ?” Yeonhee menatap kagum pada Siwon.

“Aku tidak merasa kesulitan.”

“Sepertinya kau suka datang ketempat ini.”

“Karena banyak kenangan yang tersimpan disini.”

“Sayangnya, dihari wisuda nanti tempat ini akan dihancurkan.”

Siwon mengangguk kecil “Ya, aku tahu.”

Yeonhee memperhatikan wajah Siwon yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

“Kau sangat misterius.”

“Aku ?”

“Jika ada yang ada yang mengganggu pikiranmu, kau bisa memberitahu aku..”

“Baik.”

“Jadi, kau bisa mengantarkanku pulang setelah kuliah nanti ?..”

Siwon mengantarkan Yeonhee pulang menggunakan sepeda, Yeonhee tersenyum senang karena akhirnya ia diantar oleh Siwon.

Setelah mengantar Yeonhee, Siwon singgah ditoko CD yang pernah ia dan Miyoung datangi. Menggunakan headphone, Siwon kembali mendengarkan lagu yang pernah ia dengarkan pada Miyoung.

Siwon diam mendengarkan lagu itu, pikirannya terus teringat akan Miyoung. Betapa ia sangat merindukan sosok cantik yang selalu mengisi harinya, merindukan tawa dan senyuman nya dan juga candaannya.

Penjaga toko CD membuat Siwon terkejut, ia tiba-tiba sudah duduk disamping Siwon. Penjaga toko itu mendekatkan telinganya pada headphone yang Siwon gunakan.

“Kau sudah membeli CD dari lagu ini bukan ?”

“Iya.” Siwon melepaskan headphone, dan segera pergi.

Penjaga toko CD itu menatap kepergian Siwon dengan aneh, kemudian ia mengambil headphone yang tergeletak dan mendengarkan lagu yang Siwon dengar tadi.

Hari wisuda telah tiba, semua siswa dan pengajar berkumpul diaula besar kampus. Sebelum penyerahan ijazah, akan ditampilkan piano concerto.

Dibelakang panggung, Siwon merasa gugup karena sebentar lagi ia akan tampil sebagai solis piano.

“Kau gugup ?” Yeonhee menghampiri Siwon.

“Sedikit.”

“Ini untukmu, gelang ini akan membawa keberuntungan..” Yeonhee memasangkan gelang ditangan Siwon.

Gelang itu adalah gelang yang Siwon pernah tanyakan pada Yeonhee, sewaktu mereka menonton pertandingan sepak bola.

“Aku akan mengembalikannya padamu setelah acara selesai..”

“Ya.. Semoga berhasil.”

Yeonhee kemudian meninggalkan Siwon menuju tempat duduknya di aula. Tak lama kemudian Siwon dipanggil ke atas panggung untuk tampil.

Siwon membungkukkan badannya kepada para hadirin di aula. Siwon duduk dikursi piano, sesaat sebelum memainkan pianonya Siwon memberikan aba-aba pada konduktor musik yang berdiri dibelakangnya.

Siwon memainkan pianonya dengan sangat indah, semua orang yang melihatnya mengagumi permainannya. Terutama Choi Kangsanim, ia bangga pada Siwon karena putranya tampil dengan sangat baik didepan umum.

Didepan pintu aula, Miyoung berdiri memejamkan mata. Saat Miyoung membuka matanya, ia tersenyum melihat Siwon sedang memainkan lagu ciptaan yang dipersembahkan untuk dirinya.

Keadaan Miyoung bertambah buruk, wajahnya pucat pasi dan tubuh yang tampak lebih kurus dari pada sebelumnya. Miyoung menangis melihat orang yang dicintainya ada diatas panggung menepati janji yang dibuat untuknya.

Mata Siwon tak sengaja menangkap sosok cantik yang selama ini ia rindukan. Siwon tersenyum pada Miyoung, dan dari kejauhan Miyoung juga membalas dengan senyuman.

Kemudian Miyoung berlari meninggalkan aula, Siwon yang melihatnya segera turun dari panggung menyusul Miyoung. Semua orang yang ada didalam aula heran melihat sikap Siwon, tidak terkecuali Choi Kangsanim.

“Miyoung! Miyoung!”

Siwon terus berlari dibelakang Miyoung, mereka berlarian dilorong kampus. Miyoung memperlambat langkahnya dan berhenti berlari, sementara Siwon memperhatikan dari belakang.

“Miyoung…”

Miyoung menyeka air mata dipipinya, kemudian ia berbalik dan berlari memeluk Siwon. Miyoung menahan tangisannya didalam pelukkan hangat Siwon.

“Bisakah kau tidak menghilang lagi ?”

“Ya…” Miyoung berkata lirih.

Miyoung memeluk Siwon dengan erat-erat, seakan-akan tidak ingin berpisah lagi dari Siwon. Miyoung melepaskan pelukkannya dari Siwon, saat ia melihat Choi Kangsanim menyusul putranya.

“Apa yang kau lakukan ?!” Choi Kangsanim memanggil Siwon dari kejauhan.

Sebelum pergi, Siwon memegang tangan Miyoung “Tunggu aku di ruang kelas…”

“Kau sudah merusak nama baikku. Kembali sekarang!” Choi Kangsanim menatap kesal pada Siwon.

Siwon kembali ke aula diikuti sang ayah dari belakang, para hadirin tengah bertepuk tangan. Untung saja pertunjukkannya tetap berjalan lancar hingga selesai. Siwon segera menghampiri Yeonhee dan mengembalikan gelangnya.

“Gelang ini benar-benar membawa keberuntungan..”

Jung Kangsanim yang melihatnya, langsung memarahi Siwon “Beruntung apanya ?! Kau berlari kemana ? Dan baru kembali saat acara sudah selesai.”

Siwon tidak peduli meski telah dimarahi, ia kembali meninggalkan aula untuk segera menemui Miyoung. Melihat hal itu Choi Kangsanim hanya bisa diam saja memandangi putranya yang mulai menjauh.

Siwon telah sampai dilorong kampus, ia melihat kedalam kelas tetapi tidak ada Miyoung. Hanya ada Heechul dan Eunhyuk yang sedang menjarah loker-loker kecil milik siswa lainnya. Mereka tidak mengikuti acara wisuda dan sibuk mencari barang-barang disetiap kelas.

Eunhyuk melihat Siwon dari balik jendela “Yo.. Hai Choi Siwon…”

Heechul dan Eunhyuk keluar dari kelas, saku baju dan tangan mereka dipenuhi dengan berbagai macam alat tulis.

“Apa yang kalian lakukan ?”

“Sedang menolong teman-teman membersihkan kelas dan mencari benda-benda yang bagus..” Heechul menjawab dengan santai.

Heechul mengambil sebuah correction pen dari Eunhyuk dan memasukkannya ke saku kemeja Siwon.

“Jangan bilang kami tidak mencarikannya untukmu. Ambil ini, jangan lupakan kami!”

“Selamat tinggal..” Heechul dan Eunhyuk serempak mengucapkan salam perpisahan, dan mereka mulai meninggalkan Siwon.

“Apa kalian melihat seorang gadis didalam kelas, baru saja ?”

Heechul dan Eunhyuk berhenti, mereka menoleh kebelakang dan tersenyum nakal.

“Seorang gadis ? Siapa dia ?” Heechul bertanya dengan nada menggoda.

“Yang menari bersamaku dipertunjukkan band kalian..”

Heechul memandang aneh pada Siwon “Menari bersamamu ? Dasar gila ! Dari awal sampai akhir kau hanya menari sendirian. Aku belum memukulmu karena sudah berani menyaingi kegilaanku!”

Siwon tertegun mendengar perkataan Heechul. Kemudian Heechul dan Eunhyuk tertawa dan meninggalkan Siwon sendirian.

* * *

Siwon mulai menyadari ada kejanggalan yang terjadi padanya saat bersama Miyoung. Ia mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dari awal ia bertemu dengan Miyoung.

-flashback part-

“Mengapa kau tidak masuk kelas tadi ?..”

“Aku berlatih piano.”

“Aku pikir seseorang telah bolos kuliah hari ini…”

“Siapa bilang ? Tadi aku berlatih di ruang piano.”

“Banyaknya buah apel ini sama dengan jumlah hari kau tidak datang kekampus..”

“Yang menari bersamaku dipertunjukkan band kalian..”

“Menari bersamamu ? Dasar gila ! Dari awal sampai akhir kau hanya menari sendirian.”

Dipertunjukkan band Heechul dan Eunhyuk, Siwon hanya menari sendirian dari awal sampai akhir. Setelah selesai menari, Siwon mengobrol bersama Donghae. Dan disaat itulah ada beberapa siswa perempuan yang menghampiri Siwon.

“Lain kali, jika kau tidak punya teman untuk menari bersama, kau bisa menemuiku.” Ucap salah seorang siswa.

Siwon tidak mengerti maksud dari perkataan gadis itu, kemudian para siswa perempuan itu pergi sambil menertawai Siwon.

“Siapa namamu ?!!..”

“Bukankah sudah kuberitahu ?…”

Yeonhee menjawab pertanyaan Siwon yang dikira ditujukan padanya, tidak ada seorang pun yang melihat Siwon bersama Miyoung.

“Tadi jelas-jelas aku mendengarkan duet permainan piano. Bagaimana bisa kau sendiri disini ?”

Disaat Jung Kangsanim membuka pintu lemari, ia tidak melihat ada siapapun didalamnya selain tulisan nakal dari Heechul yang berbunyi “Para pengajar adalah orang idiot!”

“Kalian ini para siswa, benar-benar.. Aku akan berpura-pura tidak melihat apapun.”

Siwon ingat saat Heechul keluar dari persembunyiannya dilemari kayu itu, Heechul memasukkan sebuah correction pen kedalam saku bajunya.

“Mereka akan berduel piano, kau tidak tahu ?”

Siwon melihat Yeonhee berbicara sendiri, saat Yeonhee menyaksikan duel piano.

“Nanti malam pukul 19.00, diruang piano <3”

Pesan yang ditulis Siwon, dibaca oleh Yeonhee. Karena tidak ada siapapun yang duduk dibangku dibelakang Yeonhee.

“Aku berpikir kau mengagumkan sejak saat aku melihatmu untuk pertama kalinya.”

-flashback end-

Siwon berada diruang kelas, ia duduk dibangku milik Miyoung. Siwon terus menggigiti kuku-kukunya karena gelisah, selama ini ia selalu bersama Miyoung. Lalu kenapa orang lain melihatnya selalu berinteraksi sendirian, ia bertanya-tanya siapakah Miyoung sebenarnya.

Setelah sekian lama berada dikelas, Siwon membaringkan kepalanya diatas meja, pandangannya lurus tak berkedip. Tiba-tiba sebuah tulisan muncul satu persatu diatas meja, tulisan itu ditulis menggunakan correction pen.

Dengan tatapan kaget, Siwon melihat tulisan itu muncul dengan sendirinya. Lama-lama kelamaan tulisan itu mengering, seperti sudah sangat lama ditulis.

“Aku Hwang Miyoung.”

Siwon segera mengeluarkan correction pen yang diberikan Heechul, tanpa membuang waktu Siwon membalas tulisan tersebut.

“Dimana kau ?”

Tak hentinya Siwon menggigiti kuku-kukunya, ia tidak sabar menunggu balasan. Tulisan Miyoung muncul kembali diatas meja.

“Aku cinta padamu… Apa kau mencintaiku ?”

Siwon ingin membalas pertanyaan dari Miyoung, sayangnya isi correction pen itu telah habis. Siwon berusaha keras untuk bisa menulis, karena terkejar waktu akhirnya Siwon dengan cepat membuat titik-titik berbentuk hati diatas meja.

Usai dari kampus, Siwon pergi ke kediaman Miyoung. Ia ingin mengetahui lebih jauh tentang Miyoung.

“Ahjumma! Ahjumma! Apa ada orang didalam ?” Siwon terus menekan bel rumah.

Ibu Miyoung membuka pintu rumahnya “Siapa kau ?”

“Aku mencari Hwang Miyoung.”

“Pagarnya tidak dikunci. Masuklah !…”

Ibu Miyoung mempersilahkan Siwon masuk kerumahnya dan menutup pintu.

“Jangan berisik.. Miyoung sedang mendengarkan musik.” Ibu Miyoung melangkah kedapur mempersiapkan minuman untuk Siwon.

Siwon melangkah masuk, ia melihat Ibu Miyoung tengah sibuk membuat teh. Lalu Siwon memandangi sebuah foto Miyoung yang terpajang, foto itu terlihat seperti foto jaman dulu.

Didepan pintu kamar Miyoung, Siwon dapat mendengar sebuah lagu diputar. Ia melangkah masuk dan melihat kamarnya rapi dan bersih. Kamar Miyoung sangat kental akan nuansa klasik.

“Aku tidak tahu dia pergi kemana..” Ibu Miyoung berdiri didepan pintu.

Lalu Ibu Miyoung memasuki kamar putrinya “Suatu hari dia berkata padaku, dia bertemu seseorang yang sama sepertinya. Orang yang juga menyukai lagu ini (Rythm Of The Rain).”

Siwon menoleh kearah piringan hitam yang sedang berputar, kemudian ia berjalan menuju piano milik Miyoung. Siwon mengambil sebuah partitur piano yang disimpan rapi.

Dengan cepat Ibu Miyoung menyambar partitur piano itu dari tangan Siwon “Jangan menyentuh benda milik Miyoung !”

Sebuah lembaran kertas tidak sengaja keluar dari selipan partitur piano itu, Ibu Miyoung mengeluarkan lembaran kertas itu.

Rupanya lembaran kertas itu adalah sketsa wajah seorang pria, Ibu Miyoung melihat wajah pria yang ada di sketsa sama persis dengan wajah Siwon.

“Miyoung… Ibu seharusnya percaya padamu..”

“Apa maksudnya ?” Siwon bertanya serius.

Ibu Miyoung membuka sebuah laci untuk mengambil sesuatu dan memberikannya pada Siwon.

* * *

Dirumah, Siwon menunjukkan foto yang diberikan Ibu Miyoung pada ayahnya. Gambar foto itu menunjukkan Miyoung berdiri disamping Choi Kangsanim, yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah Siwon.

Satu hal yang menarik perhatian, didalam foto itu Choi Kangsanim terlihat lebih muda, tidak seperti tampilannya sekarang yang sudah tua.

“Ini pada saat wisuda tahun 1979, Hwang Miyoung adalah mahasiswa semester akhir di jurusan musik. Permainan pianonya sangat luar biasa bagus dan dia juga murid yang berbakat. Tetapi, ia sering berpikiran yang tidak waras.”

Siwon hanya terpaku mendengarkan penuturan sang ayah.

-flashback-

*Tahun 1979*

Ditaman dekat lapangan sepak bola, Miyoung dan Choi Kangsanim duduk dan diam satu sama lain. Miyoung menundukkan wajahnya dengan ekspresi kesedihan yang mendalam.

“Miyoung…”

“Ya ?”

“Kita sudah duduk disini lama sekali. Bisakah kau memberitahu Kangsanim, mengapa kau menangis ? Aku sudah sangat lelah..”

“Kangsanim, apa kau percaya padaku ?”

“Tentu saja, Kangsanim mempercayaimu. Justru aku yang khawatir kau tidak percaya pada Kangsanim.”

“Jadi, aku bisa menceritakan tentang suatu hal ?”

Choi Kangsanim mengangguk pelan.

— —

Miyoung bercerita tentang hari dimana ia menemukan sebuah partitur piano yang sudah usang dibawah piano tua. Partitur piano itu berjudul “Secret”, Miyoung melihat isi partitur tersebut. Didalamnya terdapat tulisan :

“Follow the notes upon the journey

At first sight marks one’s destiny

Once the voyage comes to an end

Return lies within hasty keys”

Miyoung mulai memainkan lagu itu dengan nada yang pelan, seketika benda-benda yang ada diruangan itu bergerak dengan sendirinya. Perubahan demi perubahan terjadi beriringan dengan alunan lagu yang dimainkan Miyoung.

Musim-musim datang silih berganti, bangunan tua yang temboknya kokoh kini mulai ada retakan. Itu semua terjadi karena pergantian tahun yang terus berlalu, selama lagu “Secret” tetap dimainkan.

Usai menyelesaikan permainannya, Miyoung merasa takjub bagaimana ruangan piano itu telah berubah. Ruangan piano itu menjadi lebih gelap dan sedikit tidak terurus.

Miyoung mengambil partitur pianonya, ia melihat kesekeliling mencari tempat yang pas untuk menyimpan partitur piano itu. Kemudian Miyoung melihat sebuah rak buku dan menyelipkan partitur pianonya kedalam rak.

Pada saat itulah Miyoung bertemu dengan pria yang sangat ia cintai.

“Dia adalah orang pertama yang aku lihat. Itulah sebabnya, hanya dia yang dapat melihatku.”

Cerita Miyoung kemudian berlanjut saat Miyoung mengelilingi kampus, tidak ada satu orang pun yang bisa melihatnya. Semua orang berlalu lalang seperti biasa saat Miyoung menyapa mereka, dan ia merasa bingung sekaligus senang.

Melanjutkan perjalanannya, Miyoung berada di lorong kampus. Ia masuk kedalam salah satu kelas, disana Miyoung bersikap usil dengan menganggu para siswa dan juga Kangsanim yang mengajar.

Keluar dari kelas itu, Miyoung tertawa puas. Saat berjalan dilorong, Miyoung tak sengaja melihat Siwon sedang menyimak pelajaran dari balik kaca jendela.

Miyoung merapikan pakaiannya dan memasang wajah bersalah, ia masuk kedalam kelas dan duduk dibelakang Yeonhee.

“Sebenarnya dia satu kelas denganku..”

Tertera dipapan tulis, bahwa hari itu bertepatan tanggal 07 April 1999.

“Tapi, umur kami terpaut 20 tahun.”

Karena ingin Siwon menjadi yang pertama dilihat, Miyoung menghitung jumlah langkah kaki dari ruang piano tua menuju kelas. Jumlahnya ada 108 langkah, maka dengan hal ini Siwon selalu bisa melihat Miyoung.

“Terkadang apa yang aku lakukan tidak selalu berjalan sempurna..” Yeonhee pernah menjadi orang pertama yang Miyoung lihat, itulah mengapa sewaktu dikompetisi piano Yeonhee bisa berinteraksi dengan Miyoung.

“Aku tidak akan pernah melupakan bayangan dirinya.. Dan waktu yang sulit untukku telah tiba…”

Miyoung datang kemasa 1999 jam 7 malam untuk menemui Siwon, tapi orang pertama yang dilihat Miyoung adalah Han Ahjussi yang sedang menyapu. Han Ahjussi memberitahu Miyoung bahwa Yeonhee juga ada ditempat itu.

Kejadian yang menyakitkan bagi Miyoung telah terjadi, ia melihat Yeonhee mencium pria yang ia cintai. Miyoung segera pergi menuju ruang piano tua, dan bersembunyi dibalik pintu.

Siwon yang melihat kedalam ruang piano tua tidak bisa melihat Miyoung yang ada dibalik kaca pintu, karena Siwon bukan orang pertama yang dilihat Miyoung.

— —

Setelah menceritakan semua perjalanannya dimasa depan, Miyoung menatap Choi Kangsanim menunggu tanggapan darinya.

“Miyoung, pria itu sama sekali tidak tau apa yang dia lepaskan. Apakah seperti itu pria dimasa depan ? Jika aku bertemu dengannya, aku akan memberinya tamparan yang keras diwajahnya.” Choi Kangsanim berusaha menghibur Miyoung yang bersedih.

Han Ahjussi yang sibuk menyapu ditaman, sengaja mendekat agar bisa mendengarkan percakapan Choi Kangsanim dan Miyoung.

“Han Ahjussi.. Bukannya aku bersikap kurang ajar. Jika kau menyapu sedekat ini, tidakkah ini disebut menguping pembicaraan kami ?” Tandas Choi Kangsanim.

“Baiklah Choi Kangsanim, aku akan menyapu disebelah sana saja..”

Sebelum meninggalkan Choi Kangsanim dan Miyoung, Han Ahjussi berbisik pada Miyoung.

“Jangan mendengarkan omong kosong nya itu.” Miyoung tertawa kecil mendengarkan bisikan itu.

Setelah Han Ahjussi pergi meninggalkan Miyoung dan Choi Kangsanim, mereka berdua kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Miyoung, pria itu tidak pantas untuk kau pikirkan. Lupakan dia !… Kedepannya jika ada yang membuatmu sedih, datanglah kepada Kangsanim. Aku akan membantumu…” Choi Kangsanim menasehati Miyoung.

Miyoung berpikir sejenak, lalu ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Choi Kangsanim, aku memutuskan untuk tidak menemui dia lagi.”

Choi Kangsanim mengangguk pelan pertanda setuju dengan keputusan Miyoung.

“Kangsanim, bisakah kau menyimpan partitur piano ini untukku ?” Miyoung menyerahkan partitur piano “Secret” nya.

Choi Kangsanim mengambil partitur piano itu “Tentu, aku bisa. Tapi ingat, jangan menceritakan hal ini pada siapapun !…”

“Dan… Kangsanim, apa kau mau menjaga rahasiaku ?”

“Ya..”

Miyoung tersenyum dan pamit untuk pulang kerumah. Saat Miyoung mulai berjalan, Choi Kangsanim memberitahu sesuatu padanya.

“Miyoung, jangan terlalu banyak pikiran..”

Miyoung berbalik badan dan tersenyum pada Choi Kangsanim, setelah itu ia kembali pulang. Dari kejauhan Choi Kangsanim memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan Miyoung.

Dilain waktu, Ibu Miyoung dan Choi Kangsanim membahas tentang keadaan Miyoung diruang kantor pengajar.

Seusai bertemu dengan ibu Miyoung, Choi Kangsanim meminta salah seorang mahasiswa tertua dikelas Miyoung keruang kantornya. Choi Kangsanim meminta siswa perempuan itu untuk memperhatikan Miyoung dan memberitahukan siswa itu untuk tidak menceritakan masalah Miyoung pada teman-teman sekelasnya.

Pada jam istirahat, Miyoung menyantap bekal makan siangnya dikelas. Seorang siswa laki-laki melewati mejanya dan memberikan selembar kertas kecil.

Miyoung melihat siswa laki-laki itu duduk dibangkunya bersama dengan siswa perempuan yang tadi dipanggil Choi Kangsanim. Siswa perempuan itu telah membocorkan rahasia Miyoung pada seluruh kelas.

Miyoung membaca tulisan dikertas itu dalam hati “Apakah kau kehilangan keperawananmu dalam waktu 20 tahun ?”

Seketika Miyoung merasa hatinya ditusuk dengan seribu jarum, ia melihat teman-teman sekelasnya memandanginya dengan tatapan merendahkan dirinya. Miyoung melipat kembali kertas itu dan melanjutkan makan siangnya, meski begitu Miyoung merasa tidak bisa menelan makanannya.

“Walaupun nilai-nilaimu sangat bagus, ternyata kau sakit jiwa. Memalukan !!” Hina siswa laki-laki itu.

Han Ahjussi yang sedang menyapu didepan kelas, melihat Miyoung ditindas teman-teman sekelasnya.

“Kau sangat cantik, mengapa tidak “pacaran” denganku saja?” Siswa laki-laki itu kembali mengeluarkan kata-kata hinanya.

“Bagaimana kalau kita suruh dia saja yang tampil dihari wisuda nanti ?” Celetuk siswa laki-laki yang lain.

“Menampilkan keahlian kemasa depan ? Untuk mencari pacar ? Hahahahaha”

Miyoung sudah tidak tahan lagi dengan ejekan teman-temannya itu, segera ia membereskan tempat makan dan mengambil tasnya.

“Kenapa ?! Sudah tidak tahan mendengar ejekan kami ?” Ujar siswa laki-laki itu.

Han Ahjussi yang tidak tega melihat Miyoung diperlakukan semena-mena, berusaha untuk membela gadis malang itu.

“Jangan menindas Hwang Miyoung!” Ucap tegas Han Ahjussi pada dua siswa laki-laki yang mengejek Miyoung tadi.

“Bukan urusanmu, Ahjussi! Lanjutkan saja pekerjaanmu itu !!..” Salah seorang dari dua siswa itu berdiri menatap tajam pada Han Ahjussi.

Miyoung berlari keluar kelas, seluruh siswa-siswa kampus yang telah mengetahui rahasia Miyoung memandang dengan tatapan mengintimidasi padanya.

Choi Kangsanim yang hendak masuk kelas untuk mengajar, melihat Miyoung berlari sambil menangis.

“Miyoung!”

Miyoung tak menghiraukan Choi Kangsanim yang memanggil namanya. Choi Kangsanim menatap Miyoung yang sudah pergi, ia mengerti ini sudah pasti ulah teman-teman sekelas Miyoung.

Sudah berhari-hari Miyoung tidak kuliah, didalam kamarnya Miyoung bermain piano. Lalu, Ibu Miyoung masuk membawakan obat dan segelas air putih.

“Miyoung, kau benar tidak ingin kuliah ?”

Miyoung menggelengkan kepala, mengartikan ia sudah tidak mau masuk kelas lagi. Sambil memainkan pianonya, Miyoung melihat ibunya meletakan obat diatas meja.

“Jika kau merasa tidak enak badan, segera minum obatnya. Eomma meletakkannya disini.” Ibu Miyoung keluar dari kamar putrinya.

Melihat ibunya sudah keluar, Miyoung bergegas menuju meja belajarnya. Miyoung melihat obat yang diberikan oleh ibunya, seketika ia tertegun membaca label obat tersebut.

“DAESEONG PSYCHIATRIC CLINIC”

Ibu Miyoung yang berada didapur sibuk merapikan gelas, mendengar suara pintu kamar putrinya ditutup dengan cukup kuat. Ibu Miyoung melihat sejenak kearah kamar putrinya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.

Didalam kamar, Miyoung duduk menyandarkan tubuhnya dipintu. Ia menangis tersedu-sedu, tak habis pikir ibunya sendiri juga tidak percaya pada dirinya. Miyoung merasa sangat terluka, ibunya sama seperti orang lain yang menganggap dirinya mengalami gangguan jiwa. Karena susah bernafas Miyoung menghirup inhaler yang dipegangnya.

Malam harinya Miyoung membuat sebuah sketsa wajah seorang pria. Miyoung menggerakan pensilnya dengan sangat terampil, ia tahu betul bagaimana rupa wajah pria yang disukainya. Hasil sketsanya sama persis seperti wajah asli Siwon.

Ibu Miyoung masuk kekamar dan melihat sketsa yang dibuat putrinya “Siapa dia ?”

Miyoung tersenyum pada ibunya “Pria yang aku ceritakan pada Eomma..”

Ibu Miyoung memandangi putrinya dengan kekhawatiran diwajahnya “20 tahun yang akan datang, bagaimana penampilan Eomma?”

“Pintu didepan rumah selalu terkunci, jadi aku tidak bisa masuk. Tapi aku pikir, Eomma tetap cantik seperti sekarang.”

Miyoung dan ibunya saling tersenyum. Kemudian Ibu Miyoung keluar dari kamar Miyoung meninggalkan putrinya yang kembali sibuk dengan sketsanya.

Diruang keluarga Ibu Miyoung menangis didepan foto mendiang Ayah Miyoung yang tergantung didinding.

“Ini semua karena kau, hiks.. Dengan mengatakan anak gadis yang belajar musik akan memiliki temperamen yang lebih baik. Hiks hiks.. Kau lihat, bermain piano hanya membawa kesakitan untuk putri kita. Apa yang harus aku lakukan ?”

Dibalik pintu kamarnya yang terbuka, Miyoung melihat ibunya yang menangis. Miyoung segera keluar dari kamar menuju dapur dan membuka bungkusan obat dari klinik kejiwaan yang dibawa ibunya tadi siang. Miyoung menatap ibunya dengan tatapan kekecewaan.

Melihat putrinya keluar dari kamar Ibu Miyoung dengan cepat menghapus air matanya dan menuju dapur “Eomma akan menuangkan air untukmu..”

Ditengah malam hari, Miyoung menangis didalam selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia merasa tersakiti dengan ucapan ibunya tadi.

– beberapa bulan kemudian –

“Apakah Miyoung masih pergi menemui pria itu ?”

“Sudah tidak lagi. Terima kasih telah datang melihat Miyoung, Kangsanim.”

“Miyoung pasti sangat senang, jika dia tahu hari ini adalah hari wisuda. Aku berharap dia mau pergi juga.”

Choi Kangsanim datang kerumah Miyoung untuk menjemput Miyoung pergi kekampus mengikuti acara wisuda.

Didalam kamar Miyoung duduk termenung memandang keluar jendela.

Ibu Miyoung membuka pintu kamar “Miyoung, lihat siapa yang datang ?”

Miyoung menoleh pada ibunya dan melihat Choi Kangsanim yang tersenyum padanya.

“Miyoung hari ini adalah hari wisuda. Kangsanim ingin kau pergi ikut merayakan kelulusanmu, bagaimana ?”

Miyoung teringat percakapan antara ia dan Siwon diruang piano saat itu, dimana Siwon berjanji akan memainkan lagu yang diciptakan khusus untuk dirinya dihari wisuda.

Dikampus seluruh siswa beramai-ramai berfoto bersama, mereka semua bersenang-senang merayakan kelulusan. Termasuk teman-teman sekelas Miyoung.

“Ayo semuanya, lihatlah siapa yang datang!” Choi Kangsanim berseru kepada teman-teman Miyoung yang berkumpul.

Teman-teman Miyoung terdiam melihat kedatangan gadis itu, mereka semua tidak suka dengan keberadaan Miyoung diantara mereka. Miyoung sendiri merasa tidak nyaman, jika harus bertemu teman-temannya itu.

Choi Kangsanim membawa Miyoung kekerumunan para siswa, tanpa basa-basi siswa-siswa tersebut menjauhi Miyoung.

“Tolong ambil foto kami berdua.” Ucap Choi Kangsanim pada seorang siswa laki-laki yang memegang kamera.

“Siap-siap ! 1 2 3 !” Choi Kangsanim mengambil foto bersama Miyoung yang berwajah murung.

-flashback end-

* * *

“Aku tidak pernah membayangkan ada kejadian seperti ini.”

Choi Kangsanim memandangi foto dirinya bersama Miyoung dengan wajah serius.

-flashback again-

Setelah Miyoung berfoto bersama Choi Kangsanim, para siswa lainnya berebutan untuk berfoto bersama Choi Kangsanim juga. Miyoung yang tersisih dari kerumunan memutuskan untuk menemui Siwon lagi, mengingat dihari wisuda bangunan tua akan dihancurkan maka jalan Miyoung untuk kemasa depan pun akan hilang. Dan ia tidak akan bisa bertemu dengan Siwon pria yang ia cintai.

Miyoung menuju ruang piano tua dan memainkan lagu “Secret”. Tubuh Miyoung perlahan-lahan menghilang dari masanya berasal dan beralih kemasa Siwon berada. Tiba dimasa depan, Miyoung melangkah pelan ke aula pertunjukan dengan menutup kedua matanya.

Miyoung membuka matanya, dan orang pertama yang dilihatnya adalah Siwon tepat ditengah atas panggung memainkan lagu ciptaan untuknya. Miyoung pun menangis melihat hal itu.

Dilorong kampus Miyoung melepaskan pelukannya dari Siwon karena Choi Kangsanim datang menyusul putranya. Sebelum pergi, Siwon memegang tangan Miyoung “Tunggu aku di ruang kelas…”

Melihat tangan Siwon memakai gelang milik Yeonhee, membuat Miyoung berpikir bahwa Siwon sudah menjadi kekasih Yeonhee. Miyoung berlari sambil menangis.

Diruang piano, Miyoung memainkan lagu “Secret” secepat yang ia bisa untuk kembali kemasanya. Miyoung memainkan piano dengan hati yang hancur berkeping-keping, air mata yang mengalir dipipinya jatuh membasahi salah satu tuts piano yang ia mainkan. Setelah memainkan nada terakhir semua benda-benda yang melayang kembali seperti semula.

Miyoung menangis didalam kelas, ia duduk dibangkunya dan menuliskan sebuah pesan untuk Siwon menggunakan correction pen.

“Aku Hwang Miyoung.”

“Aku cinta padamu.”

Sambil menangis sesenggukkan Miyoung menulis satu persatu kata-kata tersebut.

Karena terlalu bersedih dan lama menangis, Miyoung mulai kesulitan untuk bernafas. Nafasnya terasa sesak, untuk menulis pun dengan susah payah ia menggerakkan tangannya.

“Apa kau mencintaiku ?” Kalimat terakhir ini mengingatkan Miyoung, saat ia menuliskan kalimat yang sama dipunggung Siwon waktu diatas atap rumahnya.

Inhaler, alat bantu nafas milik Miyoung tertinggal dirumahnya, hal ini berakibat sangat fatal pada Miyoung. Disaat yang sama pada masa 1999, Siwon menerima tulisan itu dan menjawab pertanyaan Miyoung dengan memberikan titik-titik berbentuk hati.

Tidak ada siapapun yang berada dikelas untuk menolong Miyoung, membuat gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya. Miyoung telah meninggal dunia setelah menyelesaikan tulisannya, kepalanya terbaring diatas meja dengan tangan masih memegang correction pen.

-flashback end-

“Ini adalah foto terakhir yang kami ambil bersama.. Mengapa kau bertanya tentang hal ini ? Apakah kau pernah mendengar cerita tentang dirinya ?..”

Siwon masih berusaha mencerna semua cerita dari ayahnya, ia tampak sangat kebingungan. Seluruh tubuhnya diliputi oleh keringat dingin.

“Oh ada satu lagi..” Choi Kangsanim teringat akan sesuatu, lalu ia masuk kedalam ruang buku dan mengambil sebuah partitur piano.

Saat Choi Kangsanim keluar untuk memberikan partitur piano itu pada Siwon, putranya sudah tidak berada ditempat. Choi Kangsanim kebingungan dengan kepergian Siwon.

Siwon mengendarai sepedanya dengan sangat laju, ia segera menuju kampus setelah mengerti dengan semua yang dialaminya. Siwon teringat dengan kata-kata Miyoung.

“Siwon, jangan mainkan lagu ini di ruang piano tua itu.”

“Mengapa ?”

“Karena tidak akan terdengar bagus jika dimainkan di piano tua..”

Siwon telah memahami maksud perkataan Miyoung, alat yang menjadi penghubung masa lalu dan masa depan adalah lagu “Secret” dan piano tua itu. Dan siapa Miyoung sebenarnya juga sudah terungkap, Miyoung adalah gadis dari masa 1979 yang datang kemasa 1999.

Selama ini orang-orang mengira Miyoung menderita sakit jiwa, tapi itu tidak benar. Miyoung benar-benar menuju masa depan dan bertemu dengan seorang pria, dan pria itu adalah Siwon.

Sesampainya dikampus, Siwon meninggalkan sepedanya begitu saja dan secepat mungkin menuju bangunan tua. Seluruh wilayah yang ada dibangunan tua telah diberi garis pembatas. Petugas-petugas juga sudah memastikan bahwa tidak ada lagi orang didalam bangunan.

Dengan sembunyi-sembunyi Siwon menyusup masuk kedalam bangunan. Jalan menuju ruang piano tua telah ditutup dan ada petugas yang berjaga, Siwon segera keluar dan memanjat tembok menggunakan tangga. Siwon sempat tergelincir dan hampir jatuh, untung saja ia berpegangan dengan erat dan hal itu tak menyurutkan niatnya untuk menuju ruang piano tua.

Siwon memecahkan kaca jendela dari sebuah ruangan dilantai dua, lalu ia membuka kunci jendela itu dan masuk kedalam. Setelah berhasil masuk, Siwon berkejaran kelantai bawah. Mesin traktor telah digerakkan dan meruntuhkan bagian lain dari bangunan tua itu.

Didalam ruang piano tua, Siwon sudah duduk didepan piano. Sebelum mulai memainkan piano tua itu, Siwon mengingat kembali perkataan dari Miyoung.

“Apakah lagu itu harus dimainkan secepat ini ?”

“Aku memainkannya secepat ini ketika aku kembali.”

Untuk kembali kemasa lalu kuncinya ada pada permainan yang cepat. Siwon mendengar bunyi mesin yang mulai menghancurkan bangunan tua itu, tanpa menunggu lama Siwon memainkan lagu “Secret” itu dengan cepat. Meskipun baru pertama kali memainkan lagu ini, jari-jari Siwon sama sekali tidak kaku untuk memainkannya karena Siwon sudah menghafal lagu ini dengan sangat baik saat Miyoung memainkan lagu “Secret” ini untuknya.

Dirumah Siwon, Choi Kangsanim melihat isi partitur piano “Secret”. Sampai dihalaman terakhir, ia membaca sebuah tulisan tangan dari Miyoung.

Tidak peduli jika kita akan bertemu lagi

Tidak peduli jika kau masih mengingat diriku

Aku hanya ingin memberitahu kau sebuah rahasia

Aku cinta padamu

Hwang Miyoung.

Kertas pada halaman terakhir itu terlipat dibagian atasnya, Choi Kangsanim membuka bagian yang terlipat dan membaca tulisan yang tertera.

“Choi Siwon”

Choi Kangsanim merasa kaget, mengapa nama putranya tertulis dikertas itu. Sejenak Choi Kangsanim berpikir dan ia pun menyadari akan suatu hal.

Ditengah gempuran dari traktor yang menghancurkan bangunan tua itu, Siwon tetap memainkan lagu “Secret” dengan sangat cepat. Ia mulai ditimpa oleh runtuhan-runtuhan bangunan tua. Tangan Siwon berdarah-darah akibat pecahan kaca jendela tadi.

Setelah menyadari bahwa Miyoung benar-benar pergi kemasa depan dan mengetahui pria yang Miyoung temui adalah Siwon putranya, Choi Kangsanim berlari menyusul putranya. Dadanya terasa sakit akibat berlari dengan sangat cepat, ia tidak peduli. Yang terpenting adalah menghentikan putranya agar tidak menuju masa 20 tahun yang lalu.

Sedikit demi sedikit bangunan tua mulai rata dengan tanah, gempuran mesin traktor pun semakin menjadi. Ditengah permainan pianonya, Siwon membayangkan semua kenangan yang ia lalui bersama Miyoung. Ia yakin tidak akan menyesali keputusannya menuju masa dimana gadis yang ia cintai berasal, meskipun ia tidak akan bisa kembali lagi kemasa depan karena piano tua yang menjadi alat penghubung waktu telah hancur.

Mendekati akhir permainan lagu “Secret” tersebut, mesin traktor telah menghantam dinding ruangan disebelah ruang piano tua. Dan tepat disaat nada terakhir lagu dimainkan, darah menetes dari tangan Siwon mengenai tuts piano tua itu, disaat itu pula traktor menghancurkan ruang piano tua beserta isinya.

* * *

Didalam kelas Miyoung sendirian sedang mengerjakan tugas kuliahnya, ia menoleh saat seorang pria muncul berdiri didepan pintu kelas. Miyoung memberi tatapan bingung pada pria itu, pakaian pria itu kotor dan ada beberapa luka kecil diwajahnya. Miyoung tidak mengenali siapa pria tersebut.

Siwon yang berdiri didepan pintu, memberi isyarat pada Miyoung bahwa ia datang untuk menemui dirinya. Tapi, Miyoung hanya tersenyum dan kembali mengerjakan tugasnya. Siwon pun tahu, ia datang diwaktu sebelum Miyoung menemukan partitur piano “Secret” dan menuju masa depan, pantas saja Miyoung tak mengenalinya. Dan sekarang, gilirannya lah yang akan mengejar cinta Miyoung.

Siwon menjalani kehidupannya sebagai orang dimasa 20 tahun yang lalu. Tidak hanya Miyoung yang dapat melihatnya, orang lain juga dapat berinteraksi dengan dirinya. Itu dikarenakan piano tua yang menjadi mesin waktu sudah tidak ada lagi.

Wisuda tahun 1979, Siwon dan Miyoung merapikan pakaian mereka dan bersiap-siap untuk berfoto bersama teman-teman mereka. Siwon dan Miyoung berdiri bersampingan dan mengambil foto bersama dengan senyum cerah diwajah mereka berdua.

The End.

Author’s note :

Hai… Para readers tersayang😀 makasih ya udah mau nyempetin waktu baca ff Secret ini. Terima kasih juga untuk blog kesayangan kita semua SiFany Island yang udah repot-repot memposting ff ini. Maaf banget ya kalau ff ini masih banyak kekurangan, mulai dari penggunaan kata-kata yang belum tepat atau alur cerita yang terlalu cepat/lambat. Maaf juga buat yang gak ngerti/masih bingung dengan jalan cerita ff ini, mungkin ini dikarenakan saya yang masih belum bisa menerangkan dengan baik jalan cerita ff Secret ini. Buat readers yang udah nonton film Secret pasti ngerti dengan jalan ceritanya. Nah buat yang belum nonton, coba deh nonton.. Film nya bagus loh🙂 Saya tidak merubah ending dari ff ini agar feel dari film ini juga kerasa waktu membaca ff ini *mudah-mudahan* Terakhiir jangan lupa komen ya.. Kalau mau ngasih kritik dan saran sangat dipersilahkan asal jangan ngebash. Semoga kedepannya saya bisa menyelesaikan ff dari hasil pemikiran saya sendiri. Thank you🙂

53 thoughts on “(AF) Secret Part 2 (End)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s