(AD) THE TOUCH OF LOVE Chapter 2

THE TOUCH OF LOVE Chapter 2

IMG_2186

Tiffany Hwang [Girls Generation] | Choi Siwon [Super Junior]| Romance, Hurt, Sad, Drama | PG-17 | All casts belong to their God, parents, manajement and their self. I just borrow their name and character to support my story. The story is original by me, so Don’t  be a plagiator and dont copy this fan fiction without permission. Sorry if you got a typo and please keep RCL |

“Aku memperingatkanmu untuk tidak jatuh cinta pada Tiffany Hwang. Kau harus membuang perasaanmu jauh-jauh.”

Aku sangat-sangat tidak mengerti kenapa Jessica seperti ini. memangnya kenapa dengan Tiffany? kenapa jika aku mencintainya?

“jangan bertanya tentang alasanku memperingatkanmu, Siwon. Tiffany, dia bukan gadis yang bisa kau taklukkan. Dia berbeda, dan kau tidak akan bisa memahami perbedaan itu”

Jessica meninggalkanku dengan kebingungan yang begitu besar. Perbedaan seperti apa itu? dan kenapa aku harus membuang perasaanku? Justru setelah melihatnya lagi malam ini, aku merasa aku semakin kagum padanya. Dan kemudian seseorang menyuruhku membuang perasaan itu jauh-jauh. Ini tidak masuk akal.

Aku menatap punggung Jessica yang makin menjauh ditelan kerumunan orang banyak. Lalu Suho datang padaku.

“Kau kenapa, Hyung?” dia menyodorkan wine padaku. Dan aku langsung meminumnya hingga habis.

Gwanchana, bagaimana denganmu? Apa kata Tuan dan Nyonya Jung?” aku mengalihkan pembicaraan dan merubah raut wajahku dengan senyum tulus padanya.

Suho terkekeh. “tidak buruk. Mereka menyukaiku sebagai pendamping Jessica. Meski aku lebih muda darinya, mereka tetap percaya aku bisa melindungi putri mereka itu” Suho tersenyum bahagia. Dia menepuk punggungku dengan semangat. “kau jangan mau kalah denganku, Hyung. Meski aku lebih tampan darimu, tapi aku percaya banyak yang menginginkanmu diluar sana. Carilah wanita baik yang pantas untukmu”

Aku tertawa padanya. Dia memang selalu percaya diri ketika membandingkan diriku dengannya. Mengingat tentang mencari wanita yang pantas, aku teringat dengan peringatan yang Jessica katakan padaku sebelumnya. Tentang jangan jatuh cinta pada Tiffany.

“Suho? Apa kau mengenal Tiffany Hwang?”

Suho menatapku “tentu saja aku mengenalnya. Dia sahabat baik Jessica. Memangnya kenapa?”

“Menurutmu dia orang yang seperti apa?” aku spontan bertanya. Dan seperti yang kuduga, Suho memberi tatapan menggodanya padaku. Dia menyeringai.

“Tunggu, kenapa kau menanyakannya? Apa kau menyukainya Hyung?”

Aku menepuk jidatnya dan dia meringit kesakitan. “jawab saja pertanyaanku. Jangan bertanya balik”

Aissh, kau ini. memangnya kenapa kalau aku bertanya apa kau menyukainya atau tidak?”

“Yeah, aku menyukainya. Sekarang jawab pertanyaanku, Dia orang yang seperti apa?”

Suho tersenyum dan meraih punggungku lalu ditepuknya perlahan. “kau menyukainya? Wah, hebat! Dia memang cantik, punya suara yang indah dan dia pandai bermain musik tapi kau harus hati-hati dengannya, dia punya kepribadian yang sedikit kasar dan kurang bisa bersosialisasi dengan baik. Yang kutahu, dia hanya punya Jessica sebagai teman. Tapi meski begitu, dia gadis paling populer di Universitas”

Hanya Jessica temannya? Yang benar saja!

“kau yakin pada bagian ‘dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik’? kurasa semua gadis populer termasuk yang bisa bersosialisasi dengan baik”

“jangan salah, Hyung. Dia orang yang tertutup dan penuh misteri. Kurasa hanya bersama Jessica dia menjadi lebih baik. Setidaknya aku pernah melihatnya tertawa lepas dan sering bercanda dengan Jessica jadi aku tahu dia tidak semisterius yang orang lain lihat. Tapi percayalah, diluar kau akan melihat dirinya yang datar dan dingin.” Suho melepaskan rangkulannya padaku.

“kau lihat para pria diujung sana? mereka adalah kaum pemujanya dan masih banyak lagi gadis-gadis yang mengidolakannya meski mereka semua tidak dipedulikan sama sekali” aku mengikuti arah pandang Suho dan menemukan sekelompok pria didekat panggung yang asik bicara satu-sama lain.

Yeah, semoga orang pasti terpesona padanya, sama halnya denganku.

“baiklah terima kasih, Suho. Aku mau pergi minum sebentar. Kau nikmatilah pestanya” Aku melepaskan diri darinya dan melangkah menuju tempat minum dipinggir kolam.

Aku melirik jam tangan ku. Sekarang sudah pukul sembilan lewat tiga belas menit. Aku belum berniat untuk pulang. Lagipula aku butuh beberapa hiburan disini. Panggung musik juga membuatku nyaman dengan suara indah beberapa teman Jessica.

“Anda mau Tuan?” seorang pelayan dipinggir meja menghampiriku serta datang membawa kue dan minuman. Aku tersenyum padanya dan mengambil beberapa. Dia lalu pergi untuk menjamuh tamu yang lain.

Aku makan kue dan minum dengan tenang. Masih menikmati nyanyian dari atas panggung musik. Lalu seseorang datang. dia melempar tubuhnya ke kursi disampingku dan mengambil kue milikku dan memakannya habis. Aku memutar tubuh menghadapnya dan ternyata dia adalah Tiffany.

Aku tersenyum memperhatikan dia yang makan dengan lahap tapi tetap terlihat begitu elegan dimataku. Secantik itukah dia?

“Siwon?” aku tersadar saat dia selesai makan. Dia menatapku memastikan bahwa dia memanggil dengan nama yang tepat. Aku menggangguk dan dia tersenyum.

“apa kau butuh minum?” aku bertanya tanpa menunggu jawabannya. Dia pasti membutuhkannya. Aku melirik pelayan lain dipinggir meja. Mengisyaratkan agar dia membawa dua gelas minuman untuk kami. “ini untukmu” aku mengambil minumannya dan memberikan satu gelas untuknya dan gelas yang lain untukku.

“apa kau mendengar dan melihat semua yang kubicarakan dengan wanita itu tadi?” dia bertanya hati-hati setelah selesai minum. Wajahnya serius.

Aku binggung harus memberi jawaban seperti apa. Apakah mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya? Kurasa tidak.

“tidak semuanya. Aku hanya datang saat kau menangis” dia mengangguk kecil. Mungkin merasa lega mengetahui aku tidak menyaksikan semuanya. Padahal aku disana.

“Oh yah, bagaimana dengan gadgetmu? Aku sungguh minta maaf atas hal itu.”

“tidak. Bukan masalah besar. Lagipula bukan hal sulit mendapatkan data dan informasi didalamnya. Aku punya sekertaris yang handal” lalu Tiffany tertawa.

“terima kasih. Lega mendengarnya” dia minum lagi. Wajahnya terlihat lelah.

Aku memandangnya dengan tersenyum. Satu tanganku menakup wajahku dan membuat sisi miring menatapnya. Dia tersenyum padaku. “apa kau teman Jessica? Atau rekan bisnis ayahnya?”

“keduanya. Aku dan Jessica sudah bersahabat lama dan aku juga rekan bisnis ayahnya. Dan ayahmu”

“itulah kenapa kita bertemu di Tae San?” dia bertanya memastikan. Aku mengganguk dengan pasti. “lalu bagaimana denganmu? Sahabat Jessica di Universitas?” dia mengangguk.

“kami sudah bersahabat saat masih di Amerika. Dan bertemu lagi setelah berada dikampus yang sama” aku terkejut mendengarnya. Amerika?

“jadi kau dari Amerika?”

Dia tertawa menggemaskan. “ya. ibuku orang California. Kami tinggal disana untuk waktu yang lama kemudian pindah ke Korea saat ayah melanjutkan bisnisnya”

Aku menatapnya untuk waktu yang lama. Aku mengagumi matanya yang akan melengkung ketika dia tersenyum seperti saat ini. Dia cantik sekali.

you look so beautiful

Aku melihat Tiffany terkejut dengan ucapanku. Dan aku meruntuki diriku sendiri karena tidak dapat mengontrol perkataanku. “Maaf, Tiffany.”

“Tidak apa-apa. Terima kasih” dia menjawab dengan sopan. Kupikir dia akan marah dan menganggap aku sedang merayunya. Ternyata dia gadis baik dan tidak semisterius yang Suho katakan.

 

oOo

 

TIFFANY POV’S

Aku tidak pernah bisa selepas ini dengan orang lain selain ibuku dan Jessica. Tapi malam ini aku merasa menjadi Tiffany yang berbeda. Saat aku duduk bersama Siwon, aku merasa bisa mempercayainya. Ini tidak pernah terjadi padaku sebelumnya. Tidak setelah kematian Ibu.

“Ayah dan ibuku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan” aku prihatin mendengarnya. “untung keluargaku punya hubungan baik dengan tuan dan Nyonya Jung. Mereka banyak membantuku dan Suho untuk menjalani hidup dan membangun kembali perusahaan keluargaku” dia tersenyum memandang air kolam. Seolah disana dia bisa melihat ayah dan ibunya.

“Siwon..” dia menatapku. “Aku turut prihatin atas hal itu. maaf”

Dia tersenyum tulus. “tidak apa-apa Tiffany. aku senang ada yang mendengarku. Aku tidak bisa terbuka seperti ini sebelumnya.”

Apakah kita sama? Mungkin Siwon sudah banyak kehilangan dan dia menyimpan luka itu sendirian. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi aku berharap dia bisa berbagi denganku.

“aku juga senang mendengarnya. Aku yakin ayah dan ibumu bangga padamu”

“semua orang bilang begitu”

“memang seperti itu. aku juga berharap ibuku ada disini. Terkadang aku merindukannya” Siwon menatapku dengan wajah tulusnya. Matanya seperti elang dan terlihat indah saat ini. dan mata itu seperti tulus menatapku.

“Ibumu. Dia menunggumu untuk membuatnya bangga.” Dia berkata dengan sangat menyentuh padaku. Aku tersenyum padanya. “terima kasih, Siwon”

“sama-sama Tifany” entah apa yang dimiliki mata elangnya itu. ini sangat memikatku untuk menatapnya lama. Dia punya matanya yang indah, wajah yang tampan dan senyum yang menawan. Aku pernah bertemu beberapa pria yang tampan dan punya mata yang indah. Tapi Siwon, dia tampak berbeda.

Kami sadar cukup banyak waktu yang kami habiskan malam ini. bahkan pesta Jessica sudah hampir selesai dan banyak tamu yang sudah pulang. Tapi sayangnya, aku tidak melihat gadis bloude itu dari tadi. Kemana dia?

“Jessica. Apa kau melihatnya Siwon?” Siwon menggeleng.

“aku bicara denganmu dari tadi dan aku tidak melihat Jessica” Oh, mungkin dia sedang sibuk. Aku melirik jam tangan dan mendapati waktu sudah menunjukkan jam sebelas lewat tiga puluh dua menit. Aku harus pulang.

Aku berdiri dari dudukku. “Senang bicara denganmu Siwon. Tapi aku harus pulang” Siwon ikut berdiri dekat denganku.

“kau mau kuantar? Aku tahu rumah ayahmu, rumahmu”

Aku berpikir untuk ajakkannya. Setidaknya itu lebih baik daripada harus menunggu sopir keluarga untuk menjemputku karena aku datang tanpa membawa Range Roverku.

“baiklah”

 

oOo

 

Aku melambaikan tangan pada Siwon sebelum dia membawa Mercedes Benz SLK 200 miliknya keluar di jalanan. Aku lalu masuk kerumah dengan langkah pelan. Aku masuk kerumah melewati taman kecil dipekarangan. Tanpa diduga, ayah diluar. Dengan tongkat coklatnya, dia berdiri menungguku. Aku mendekatinya dan membungkuk mengucapkan salam selamat malam. Tapi justru aku ditamparnya.

“kapan kau mulai dewasa, Tiffany? aku tahu kau merindukan ibumu, tapi haruskah kau melampiaskannya pada Cae Kyung? Dia disini sebagai ibumu. Hargailah itu” ayah membentakku. Dia marah dan menahan suaranya yang berat.

“aku tidak peduli dengan apa yang kau lihat dikantorku kemarin. Aku ayahmu, orang yang membesarkanmu bahkan darahku mengalir dalam darahmu dan akulah yang membuat dirimu bertahan hidup hingga detik ini. ”

Aku bertahan pada posisiku untuk mendengarnya bicara. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang kelelahan. Aku melirik tangan ayah yang mencengkram kuat tongkatnya.

“aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan, tentang apa yang tidak kau inginkan. Aku sudah memberikan semua yang kau butuhkan dan ini saatnya bagiku untuk mulai mengurus hidupku sendiri yang perlahan juga sudah mulai berantakkan. Entah kau setuju atau tidak, aku akan tetap melaksanakan pernikahanku dengan Xi Cae Kyung. Aku akan mulai hidupku, dan begitu juga denganmu. Kau harus berhenti bertindak kasar padanya dan mulailah membiasakkan dirimu dengan keluarga barumu, juga terimalah Luhan dan anggap dia sebagai adik kandungmu”

Aku mengangkat wajahku yang mungkin berbekas merah. Aku sudah biasa ditampar. Aku mengalami kekerasan fisik sejak masih remaja jadi hal ini tidak menyakitiku terlalu banyak. Aku hanya kecewa karena ayah lebih memihak wanita murahan itu daripada aku. Rasanyanya aku ingin menangis.

“Terima kasih” aku membungkuk dan meninggalkannya meski dia meneriaki namaku berulang kali agar aku kembali berdiri didepannya, tapi aku tidak mengindahkannya.

Aku masuk dan melihat wanita itu diruang keluarga bersama putranya. Mereka sedang menonton televisi dengan tawa yang hanya mereka bagi berdua. Aku menatap moment itu dari tempatku berdiri. Sepintas, kenangan dimana ibuku, aku dan juga Ae Ri kakakku, saat dulu masih bersama membayangiku. Aku membandingkannya dengan kenyataan sekarang yang sungguh terasa memiluhkan.

Lamunanku buyar saat aku mendengar decitan dipintu masuk. Ayah pasti sudah masuk. Aku berpura-pura tidak mendengar apapun dan bergegas naik kekamarku dilantai dua rumah ini. aku pikir ayah akan meneriaki namaku lagi dan memintaku turun seperti sebelumnya, tapi dia hanya memandangku dengan marah dan menyusul Cae Kyung dan putra mereka. Aku benci keluarga ini.

Ponselku berbunyi dan nama Jessica tertera dipanggilan masuk.

“Kau dimana, sayang?” aku mendengar dia khawatir.

“aku sudah dirumah dan sampai dengan selamat diantar temanmu.”

“temanku? Siapa?”

“Siwon. Dia temanmu kan?”

“Kau diantar Siwon?” meski ini hanya lewat panggilan, tapi aku bisa mendengar keterkejutan dari nada suaranya.

“Ya. Choi Siwon.” Jessica diam. Entah apa yang terjadi dengannya.

“Aku senang mendengarmu sudah sampai dengan selamat. Terima kasih telah menyumbangkan suaramu yang indah dipestaku dan maaf mengabaikanmu tadi.” Katanya setelah diam yang cukup lama.

“sama-sama dan bukan masalah Jess.”

“bagus. Aku juga perlu bicara denganmu tentang Siwon besok. Selamat malam Tiffany”

Dia memutuskan telepon sepihak. Jessica pasti khawatir padaku. Dia tahu banyak tentang luka, kehilangan dan ketakutan yang aku alami.

Aku punya hidup yang sulit sejak pindah ke Korea. Setelah ibu meninggal karena serangan jantung saat ayah memberitahukan ingin bercerai, saat aku mengetahui ayah punya istri simpanan dan ingin menikah dengannya, saat kakakku marah dan meninggalkan rumah lalu menikah dengan pria pemabuk bernama Yunho yang sialan.

Begitu banyak, terlalu banyak. Jika ibu masih ada, aku yakin aku tidak akan ketakutan. Tapi kenyataan bahwa semua itu merusakku, merusak hidupku sangatlah menggangu. Hanya Jessica yang kupunya untuk berbagi. Kami dekat saat masih di Amerika dan aku bersyukur pada takdir bahwa aku bisa bertemu lagi dengannya setelah pindah ke Korea. Setidaknya ada satu orang dibumi ini yang mendengarku dan melindungiku. Ya, Jessica melindungiku. Dia tahu aku punya trauma mendalam tentang bagian buruk yang lain dari hidupku dan dia berusaha keras untuk menjagaku agar aku baik-baik saja. Dia seperti kakak yang baik bagiku.

Aku tidak terbiasa dengan cinta. Dan dia menjagaku dari aspek yang satu itu. dia tidak ingin aku terluka dan aku juga tidak ingin kembali ke kubangan menakutkan saat aku masih remaja. Mungkin dia berpikir tentang Siwon. Apakah mungkin bagiku? Itu terdengar menarik dan memang Siwon sangat menarik.

Aku terkesan dengan matanya, wajahnya dan senyumnya. Dia tampan dan baik. Aku meruntuki diriku sendiri saat mengingat bagaimana aku bersikap padanya diawal pertemuan. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku. Aku terjepit pada keadaan saat aku frustasi pada sikap ayah dan dia datang disaat yang tidak tepat. Bagaimanapun itu, aku menyukai bagaimana kita menghabiskan waktu bersama malam ini. untuk pertama kalinya, aku bisa berbagi dengan lepas selain kepada ibu dan Jessica. Dia pria pertama yang mendengarku dan aku juga senang ketika mendengarnya.

Aku terkesan bagaimana dia bisa tumbuh sesukses ini sekarang dan bagaimana dia bisa membangun hidupnya setelah kehilangan kedua orang tuanya. aku suka mendengarnya bicara dan bagaimana dia menatapku. Itu terkesan tulus dan menarik. Tunggu..

Ada apa denganku? Kenapa aku seperti ini saat mengingat Siwon? Ini pertama kalinya kami bicara dan mengenal satu sama lain tapi aku sudah jatuh dengan kagum padanya terlalu banyak.

Aku mungkin harus bicara dengan Jessica besok.

 

oOo

 

Kentang goreng ditemani segelas Juice terasa sempurna dimulutku. Aku makan dengan pelan sambil mendengar lagu The only exception yang diputar diCafe. Tapi sesuatu yang membuat aku tak bisa sepenuhnya makan dengan baik adalah karena Jessica didepanku.

“Jadi semalam kau duduk bersamanya dan dia mengantarmu pulang, begitu?”

“Ya begitulah” itulah kenyataannya.

“apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?”

“mengatakan apa?”

“ya sesuatu yang mungkin menyatakan ketertarikannya padamu”

Aku menggeleng membantah pemikirannya. “tidak, Jess. Kami hanya bicara sebagai perkenalan dan dia sedikit bercerita soal orang tuanya”

“dia bicara soal orang tuanya?”

“Umm, ya”

Kunyahan kentang goreng dimulutku menjadi lambat dan rasanya sudah hambar sebelum kutelan. Aku menyaksikan bagaimana Jessica menatapku dengan terkejut.

“Tiffany, aku sudah mengenal Siwon sejak kecil dan dia bukan tipe orang yang bisa dengan mudah menceritakan kehidupannya pada orang yang baru dikenalnya.”

“Jadi?” aku bertanya ragu-ragu dan Jessica menghembuskan nafasnya dan bersandar disandaran kursinya.

“Dia. Menyukaimu.” Jessica bicara dengan meyakinkan. Aku hanya memutar mataku dengan malas dan bersandar dikursi mengikuti Jessica. “sebenarnya aku melarangnya untuk jatuh cinta padamu”

Aku membelalakkan mata padanya. Apa yang barusan dia katakan?

“Kau melarangnya jatuh cinta padaku?”

Jessica menggangguk. “Aku sangat takut memikirkan Siwon akan terluka karena kau akan menghindarinya atau karena egh, masa lalumu, Tiff. Aku juga takut dan sangat khawatir pada keadaanmu. Kau takut jatuh cinta dan tidak menginginkan itu terjadi karena pria brengsek sialan-yang lain-yang ingin sekali kubunuh itu, aku khawatir pada kau dan Siwon disaat yang bersamaan”

Aku memainkan jari-jariku disekitar gelas jus dengan gelisah dan binggung. Disisi lain aku memang tak punya pemikiran untuk berhubungan dengan siapapun. Trauma dimasa lalu itu membuatku takut. Tapi tidak bisa kupungkiri kehadiran Siwon sangat memperngaruhiku.

Sebelum aku sempat memberi respon, Jessica melanjutkan ucapannya. “Aku tahu ini sangat sulit bagimu. Aku juga tidak ingin kau terluka terlalu banyak”

Aku tersenyum saat Jessica mendekatkan tubuhnya dan menggenggam tanganku untuk sekedar memberi kekuatan. Aku memandangnya dengan tenang. “tapi Tiff, bisakah kau belajar untuk membuka hatimu? Siwon orang yang sangat baik”

Aku menggeleng malas.  “mungkin tidak Jess. Kau tahu betapa aku berusaha keras untuk menghapus bagian sialan itu dari masa laluku. Dan kenyataannya itu semakin melukaiku”

“Baik. Maafkan aku Fany-ah”

Gwanchana. Aku hanya belum siap.” Jessica mengangguk mengerti.

Lalu aku terjebak dengan pemikiranku mengenai Siwon. Hatiku merasa aneh saat memikirkan dia menyukaiku dan aku akan menolaknya. Entahlah. jika ini memang cinta, kurasa aku yang harus membuang perasaan ini jauh-jauh.

 

oOo

 

Setelah pembicaraan itu kami kembali ke Universitas. Aku punya mata kuliah di kelas begitu juga dengan Jessica. Kami melalui sisa hari dengan duduk bosan mendengar dosen menerangkan lalu setelah waktu yang cukup kami menyelesaikan pertemuan hari itu. Aku melangkah meninggalkan gedung Universitas berniat untuk pulang. Sementara Jessica sudah pergi dengan Suho.

Kadang aku benci ketika aku ditinggal pasangan itu dan menjadi sendirian. Tapi aku tidak bisa memberi batasan pada mereka. Jadi dengan berat hati aku harus pulang dan mengistirahatkan diriku dirumah yang sudah seperti sangkar kejam bagiku. Aku menghilangkan pemikiran buruk tentang rumah. Meski hampir sepanjang hidupku aku mengalami hal buruk disana, tapi itu tempat penuh kenangan yang tetap hidup dihatiku. Aku sangat merindukan ibu dan Ae Ri Eonnie untuk waktu yang lama.

Aku tersadar dan lamunanku buyar saat kulihat sebuah CR-V berhenti didepanku. Sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya.

“Ayo pulang, Tiffany” itu Cae Kyung. Sial! Ayah pasti memintanya menjemputku.

Aku menatapnya tanpa minat. Tapi kakiku akhirnya melangkah kesamping mobil itu dan naik disebelah Cae Kyung. Kenyataan bahwa aku disampingnya membuatku mual.

mobil masuk kejalanan kota yang padat. Langit mulai berwarna jingga dan hari menuju malam. Aku mengamati suasana kota lewat jendela mobil. Sedikit memberi ketenangan karena kami tidak berdebat disini. Tapi kurasa kami tidak melewati jalan yang benar untuk pulang.

“kau mau membawaku kemana?” aku bertanya padanya setelah yakin bahwa dia tidak menjemputku untuk membawaku pulang.

Dia tersenyum sambil fokus mengemudi. “kita harus pergi kesatu tempat. Tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk”

“kemana?”

Dia hanya diam sambil membawa mobil semakin cepat. Perasaanku mulai tidak baik. Tapi aku yakin wanita itu tidak akan menyakitiku.

Tidak butuh waktu lama kendaraan beroda empat itu akhirnya berhenti dan sampai disebuah butik. Aku langsung menatap Cae Kyung yang memarkir kendaraan ini.

“Kenapa kita kesini?” dia membuka Set belnya dan menatapku dengan senyum bangga yang tampak aneh dimataku. Apa dia mengejekku?

“kita akan mencoba gaun penggantin untuk pernikahan aku dan ayahmu. Dia juga disini dan dia memintaku menjemputmu untuk kemari”

Apa? Aku melupakan kenyataan bahwa wanita iblis ini akan segera menikah dengan ayah. Oh Tuhan

“masuklah” dia mengajakku dengan rasa bangga yang kuyakini begitu berlebihan. Dengan berat hati aku turun dari mobil dan mengikuti dia masuk kedalam butik.

Aku baru melewati pintu masuk beberapa langkah dan kemudian aku dikejutkan dengan pelukan mendadak yang datang dari LuHan. Anak Cae Kyung dan ayahku. Sebenarnya aku meragukan kenyataan bahwa Luhan anak mereka.

“Noona maukah kau bermain bersamaku?” dia memeluk kakiku dengan erat dan menengadahkan wajahnya keatas untuk menatapku. Dia memang anak yang lucu tapi setiap kali aku mengingat bagaimana Ibu meninggal dan bagaimana Cae Kyung datang membawa bocah ini sebagai anaknya dan ayah itu membuatku membencinya.

Aku mendorongnya dengan keras. “menyingkirlah” dia menatapku dengan wajah sedih. Kemudian Cae Kyung datang. dia langsung meraih  Luhan dan membawanya dalam pelukan. Cae Kyung menatapku tajam.

“bisakah kau tidak sekaras ini padanya? Luhan masih sangat kecil Tiffany”

Aku membalas tatapannya yang tajam. Mereka berdua sungguh merusak suasana hatiku.

“aku tahu dia masih kecil. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa dia lakukan padaku saat dia besar.” Luhan menatapku dengan air mata yang menggenang disudut matanya. Kemudian dia memeluk ibunya semakin erat.

“Tiffany..”

“Kau harusnya berterima kasih padaku, Cae Kyung. Aku dengan baik hati bersediah menerimamu dan anakmu dikeluargaku. Tapi jangan berpikir ini akan sampai disini. Aku akan membuat kalian menyesal pernah masuk dalam hidupku”

Aku berjalan angkuh meninggalkan mereka. Dan mereka menyusulku menemui ayah setelahnya. Ayah sudah mengenakan Tuxedo sebagai pengantin prianya dan dia terlihat bahagia saat itu.

Aku memilih menunggu dan duduk disofa kulit dekat tempat mereka mencoba pakaian sambil membaca majalah fashion yang disediahkan.

“bagaimana kelihatannya?” ayahku meminta pendapat padaku tentang penampilannya hari ini.

“bagus” aku bergumam dan memaksakan mengukir senyum tipis diwajahku. Itu membuatnya percaya diri.

“sayang, kau harus mencoba gaunmu” pelayan di butik mempersilahkan Cae Kyung masuk keruang ganti sesuai dengan perintah ayah. Cae Kyung lalu melepas Luhan dari gendonggannya dan mendudukkannya sedikit jauh disampingku.

“Jangan nakal yah sayang? Tetap disini sampai ibu kembali” Cae Kyung mencium puncak kepala anaknya dengan sayang dan berlalu masuk kedalam ruang ganti.

Aku membolak-balikkan majalah fashion dengan malas tanpa minat. Lalu salah satu lembarnya terbuka dengan tidak sengaja dan aku melihat foto Siwon disana. Aku membaca artikel itu sekilas.

Empire Group melesat dengan CEO handal dan menawan. Choi Siwon.

Aku membaca judulnya dengan teliti. Sehebat itukah dia?

Empire Group mengalami masa kritis yang serius yang hampir membuat perusahaan dibidang Departemen Store itu bangkrut. Setelah kecelakaan yang merenggut CEO utama, Alm. Choi Ki Ho membuat Empire dikhawatirkan akan runtuh. Namun perjuangan para petinggi perusahaan akhirnya berbuah manis berkat bantuan besar yang datang dari berbagai pihak. CEO baru Empire juga berperan besar dalam pembangunan kembali bisnis ini. dia adalah putra pertama Choi Ki Ho yang handal dan cerdas dalam menjalankan bisnis. Bergelar MBA Dari Harvard University, Si Won dapat membangun kembali Empire hingga dapat berjaya.

Pria 28tahun itu termasuk salah satu pengusaha muda yang sukses yang sangat berpengaruh dalam bisnis di Korea Selatan.  Namun hal itu tak serta merta membuatnya tinggi hati. Bahkan ditengah kesuksesan yang hebat, dia membantah bahwa perkembangan Empire adalah sepenuhnya usahanya.

“Aku tidak bekerja sendirian. Banyak rekan bisnis, petinggi perusahaan, pemegang saham bahkan karyawan yang membantuku. Mereka telah bekerja keras” begitu ungkapnya saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Fokus membacaku hilang saat kulihat Luhan mendekatiku. Ketika aku mengalihkan pandangan kearahnya, dia menunduk dalam dan takut menatapku. Sebenarnya aku tidak tega padanya. Dia masih terlalu polos untuk mengerti permasalahan apa yang dihadapi dalam keluarga ini.

“Noona, kumohon maafkan aku. Aku janji tidak akan nakal lagi” dia mengangkat wajahnya dan wajahnya jadi sedih. Aku tahu dia pasti takut padaku.

“tidak apa-apa” aku tersenyum lembut padanya. Tanpa kusadari tanganku terangkat pada puncak kepalanya dan mengelus rambut pirangnya dengan lembut. Dia tersenyum senang padaku.

Lalu tirai diruang ganti terbuka. Aku buru-buru menurunkan tanganku. Perhatian seluruh orang diruangan terarah pada Cae Kyung yang menggenakkan gaun pengantin mahalnya.

“Anda sangat cantik, Nyonya” kudengar salah satu pelayan butik memujinya. Mereka menatapnya kagum begitu juga dengan ayah.

“apa kau menyukainya, Cae Kyung-ah? Ini terlihat cocok untukmu. Aku akan sangat senang jika kau mengenakannya dihari pernihakan kita” Cae Kyung tersenyum dan mengangguk.

“aku menyukainya” dia menatap dirinya pada pantulan cermin dan tersenyum senang. Dia lalu melihatku. “bagaimana denganmu Tiffany? kau tidak mencoba gaun disini? Kau akan jadi pengiring nanti”

Aku menghembuskan nafasku dengan berat hati dan tersenyum padanya. “tidak. Tidak perlu. Aku tidak ingin jadi pengiringmu nanti. Aku lebih suka duduk dan menonton”

“Baiklah, jika sudah selesai” ayah berbicara sebentar dengan pemilik butik sementara Cae Kyung mengganti pakaiannya. Begitu semua persiapan selesai kami memutuskan untuk makan malam direstoran keluarga.

 

oOo

 

Kami sampai di Restoran keluarga Cheongjinok dikawasan Gwanghwamun Sation, Setelah Fitting baju pengantin dibutik tadi. Sebenarnya aku malas berada disini. Aku sudah bilang ingin pulang dan makan malam dirumah tapi ayah terus memaksaku kesini. Ini menyebalkan.

Aku turun dari mobil dengan malas. Cae Kyung, ayah dan Luhan masuk lebih dulu dan aku mengikuti mereka dibelakang. Saat aku berbalik hendak masuk ke Restoran, aku dikejutkan dengan Seseorang didepan pintu masuk.

Itu Siwon.

 

oOo

 

Dan disinilah kami sekarang. Dengan ayah, Cae Kyung, Luhan dan seseorang yang membuatku kaku untuk duduk dan makan disini, Choi Siwon. Setelah tak sengaja bertemu didepan Restoran, ayah melihatnya dan mengajaknya makan bersama kami. Awalnya Siwon berniat menolak, lalu ketika ayah menyinggung soal proyek mereka, dia lalu setuju.

Aku duduk disampingnya sementara ayah dan Cae Kyung duduk berdampingan didepan kami dan Luhan dipangkuan wanita itu.

“Aku berharap pembangunan bisa diselenggarakkan secepatnya” ayah membuka pembicaraan setelah menyelesaikan kunyahan daging steaknya. Siwon mengangkat wajahnya dan tersenyum ringan menanggapinya.

“aku juga. Tapi kita butuh direktur perencanaan yang baru setelah Tuan Han mengundurkan diri dari proyek” ujar Siwon.

“kau benar. Ku rasa aku harus memikirkan bagian itu. kita perlu adakan rapat untuk menentukkan langkah selanjutnya. Aku harap semua berjalan baik sebelum pernikahanku”

“Uhug!” aku tersedak mendadak membuat perhatian seluruhnya terpusat padaku. aku mencoba buru-buru mengambil air dimeja dan Siwon membantuku untuk minum dengan perlahan. “maaf.” Kataku sambil mengelap ujung bibir dengan serbet makan. “aku tidak bermaksud apa-apa” kataku sambil saling melempar pandang dengan Cae Kyung.

“Mom, aku minta dagingnya!” Luhan menunjuk mangkuk Sup berisi daging sapi  milik ibunya dimeja. “ini sayang” Cae Kyung lalu menyuapinya dengan perlahan. Ayah juga membantu membersihkan mulut Luhan yang belepotan dengan pasta kedelai dari daging sapi yang dimakannya. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.

Aku membuang pandang dan mencoba melanjutkan makanku.

“Dia anak yang pintar. Siapa namanya?” Siwon bertanya dengan antusias. Sepertinya dia menyukai Luhan.

“Xi Luhan.” Cae Kyung menjawab.

“mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi Hwang Lu Han” kata ayah yang disambut tawa renyah semuanya.

“bagaimana denganmu, Tuan Choi Siwon? Kurasa kau sudah bisa memikirkan tentang pernikahan”

Aku menghentikan makanku saat mendengar Cae Kyung bicara. Aku melihat Siwon yang hanya tersenyum dan menggeleng.

“aku belum bisa memikirkannya sekarang. Ada proyek dan pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan” katanya. “lagipula.. aku sedang menunggu seseorang”

Apa? Dia menunggu seseorang? Siapa? Oh tidak, mungkinkah kekasihnya? Aku merasa kehilangan seluruh selerah makanku.

“wow, kau sedang menunggu rupanya. Itu bagus, aku berharap bisa mendapatkan undangan pernikahanmu. Aku menantikan yang terbaik” balas ayah dengan senyum diwajahnya.

Aku pura-pura melirik jam tangan dilengan kiriku dan menemukan waktu pada Pukul sepuluh. Bagus, ini waktu yang tepat untuk alasan pulang.

“bukankah ini sudah larut malam? Aku rasa kita sudah menyelesaikan makan malamnya jadi mengapa kita tidak pulang sekarang?” Aku melepas garpu dan pisau lalu membersihkan mulutku dengan serbet.

“Luhan dan Cae Kyung masih menikmati makam malam ini. jika kau ingin pulang, kau bisa pergi sekarang sementara ayahmu ini akan menemani mereka hingga selesai. Dan Presdir Choi, bisakah aku memintamu mengantarkan putriku pulang? Jika kau tidak keberatan”

“Tentu”

 

Siwon mengantarku untuk kedua kalinya dalam dua malam berturut-turut. Kami terlibat pembicaraan yang menyenangkan satu sama lain dan kuakui aku menikmati setiap waktu saat bersamanya. Sampai akhirnya kami sampai didepan kediamanku.

“terima kasih Siwon.”

“tentu, dan bukan masalah Tiffany”

Aku melepas sabuk pengaman dan mencoba memberanikan diri menatap Siwon meski aku sangat gugup sekarang. “senang bertemu denganmu. Sampai jumpa lagi, selamat malam” aku menyudahi tatapan itu dan membuka pintu mobil hendak keluar. Tapi kurasakan tangannya yang posesif melingkar dilenganku dan menahanku untuk tetap berada ditempat yang sama. spontan aku mengalihkan pandangan padanya dan dia melepaskan tangannya dariku.

“aku juga senang bertemu denganmu kemarin dan hari ini. aku juga akan sangat senang jika bisa makan malam lagi denganmu besok, jika kau tidak keberatan”

Ohh.. dia mengajakku makan malam.

Aku tersenyum kaku sambil berpikir tentang ajakannya. aku juga menginginkan untuk menghabiskan porsi makananku dan mengobrol banyak dengannya, tapi kenyataan bahwa itu semua akan semakin menarikku padanya terasa menakutkan. Aku takut bahwa dia akan mempengaruhiku dan bisa membuatku memiliki perasaan padanya. Aku takut itu terjadi. Lagipula katanya dia sedang menunggu seseorang.

“aku akan memikirkannya, aku akan memberitahumu besok”

“Jadi bisakah aku mendapatkan nomor teleponmu? Agar kau bisa menghubungiku dan aku bisa menghubungimu”

“eeh… tentu”

Kami saling berbagi nomor telepon masing-masing kemudian menyudahi malam itu dengan senyuman singkat bersama. Aku menahan nafas ketika melihat mobilnya menghilang dibelokkan. Dia membuatku kehilangan setengah dari kepercayaan diriku yang begitu tinggi. Aku heran kenapa aku jadi sangat gugup dihadapannya. Setiap saat.

 

oOo

 

“menurutmu bagaimana, Jess?”

that’s a great idea! Terima saja ajakannya. aku menyukai jika kau bisa lebih dekat dengannya” Jessica menyemangatiku setelah aku meminta pendapat padanya tenang ajakan makan malam Siwon.

Tapi aku merasa dia aneh. “Kau yakin? Bukankah malam sebelumnya kau memperingatinya untuk tidak jatuh cinta padaku dan sekarang kau menyukai jika aku bisa lebih dekat dengannya. Kau aneh, Jess”

Jessica Terkekeh “ya, kuakui jika awalnya aku melarangnya untuk jatuh cinta padamu karena aku takut kau tidak memiliki perasaan apapun padanya dan itu akan melukainya. Tapi aku bisa memahamimu lebih dari siapapun, Tiffany. dan semua yang kau lalui bersama Siwon adalah karena kau juga menyukainya. Aku mengenal kalian berdua dengan baik dan bisa kupastikan kalian akan tampak sangat luar biasa jika kalian bersama”

“entahlah, tapi semalam dia mengatakan dia sedang menunggu seseorang”

“kurasa maksudnya adalah dirimu. Untuk waktu yang sangat lama, Siwon melaluinya dengan fokus kepada perusahaan dan itu tidak akan membuatnya menuggu seseorang”

“aku tidak yakin, Jess. Bisa saja dia memang sedang menunggu”

Memikirkan Siwon memiliki wanita lain membuatku aneh. Tapi Jessica tetap bersikukuh dengan pendapatnya. “percaya padaku Tiffany. Jika memang dia sedang menunggu seseorang atau dengan kata lain dia memiliki kekasih diluar sana, mana mungkin dia akan mengajakmu makan malam? Bahkan secara terang-terang dia mengatakan padaku dia sudah menyukaimu ah tidak, dia sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali dia bertemu denganmu di gedung Tae San.”

Apa?

“kau serius?” aku terkejut dengan apa yang Jessica katakan dan kemudian wanita cantik itu mengangguk meyakinkanku bahwa perkataannya adalah fakta yang harus kuketahui.

“Ya. tidak ada salahnya mencoba. Siwon pria yang baik, lagipula aku sangat berharap kau bisa sembuh dari traumamu. Kau tidak bisa hidup seperti ini terus, bernapas tanpa merasakan apa itu cinta”

..

 

Malamnya, aku sudah duduk manis disalah satu meja yang dipesan dengan gaun merah marun bermotif, selutut tanpa lengan dan sepasang high heels perak yang sangat nyaman dikakiku. Rambutku kuurai dan menjatuhkan seluruh helaiannya pada sisi kiri antara pundak dan leherku. Sementara Siwon tetap tampan dengan kemeja abu-abu dan celana panjang berwarna hitam yang menggantung dari pinggang sampai batas kakinya.

“terima kasih sudah memenuhi undangan makan malam denganku, jujur aku sangat senang ada disini bersamamu”

Dia tersenyum penuh ketulusan dan lesung pipinya yang manis tak hilang sedetikpun dari wajahnya. Secara transparan dia sudah menunjukkan ketertarikannya padaku. dan aku tersanjung karena hal itu.

“Kau sudah mengatakan terlalu banyak terima kasih” dia tertawa.

“ya, maaf. Tapi aku memang harus berterima kasih”

Lalu pelayan datang dan memberi menu pada kami. Setelah selesai menentukan pilihan, sang pelayan kembali kedapur untuk menyiapkan hidangan bagi kami.

“Tiffany?” aku menoleh padanya. Wajahnya terlihat sedang berpikir kemudian dia melanjutkan perkataannya. “kau senang dengan pernikahan ayahmu?” nada suaranya sangat hati-hati. Aku tahu dia melakukannya untuk menjaga perasaanku.

“tidak juga. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghalangi mereka”

“aku yakin semua akan baik-baik saja”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Bagaimana kuliahmu?”

“menyenangkan. Sebentar lagi aku akan wisuda”

Siwon menunjukkan ekspresi kagum. “jinja? Aku akan menyempatkan waktu untuk datang”

Kemudian pelayan datang membawakan pesanan kami dan pergi setelahnya. Aku menikmati hidanganku setelah terkesan dengan ucapan Siwon. Aku bahkan tidak mengundangnya, tapi ya, dia memang berhak datang karena dia punya tangung jawab yang besar di Universitas.

“terima kasih. Aku terkesan”

Dia tertawa lagi, “apa kau menikmati hidangannya?” aku mengangguk.

“ya, ini lezat. Apa kau sering datang kemari?”

“dulu, saat orangtuaku masih ada”

“artinya ini tempat makan keluargamu, begitu?”

Dia mengangguk. “ya. tapi setelah sekian lama ini pertama kalinya lagi aku kesini.” Dia menatapku, “dan sekarang aku datang lagi dan itu denganmu.”

Aku membalas tatapannya dan merasa gugup ketika dia berkata seperti itu. dia tersenyum membuat suasana lebih baik.

“apa kau ingin mengatakan bahwa aku wanita pertama yang kau ajak kesini?”

“ya, begitulah kenyataanya.”

“kupikir kau sedang menunggu seseorang..” perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan aku lihat Siwon mengangkat alisnya lalu diwaktu selanjutnya dia mengerti maksudku.

“tidak, Tiff..”

Dia bilang tidak? Lalu apa maksudnya kemarin?  kami saling menatap untuk waktu yang cukup lama.

“seseorang yang kumaksud,…itu…. kau”

Aku?! “Siwon..”

“sebenarnya aku ingin mengatakannya dari awal, Aku menyukaimu”

Aku menghirup udara sebisaku karena sekarang aku gugup. Jessica benar.

“kau yakin dengan perasaanmu padaku?”

“uhm, ya. aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.”

Aku kehilangan kata-kataku. Mungkin ya, aku senang dengan ungkapannya bahwa dia menyukaiku. Tapi tetap saja, bukankah ini terlalu cepat? Kita baru saling mengenal. Bahkan belum benar-benar saling mengenal.

“tidakkah kau merasa ini terlalu cepat? Ini baru beberapa hari-mungkin-dari saat aku menghancurkan gadgetmu..”

“ya, kita baru saling mengenal. Tapi aku hanya ingin mengatakannya.”

“tapi aku…”

gwanchana. Kau tidak perlu memikirkannya, aku hanya ingin mengatakan perasaanku.” Dia tersenyum.

“Ehh, Siwon…”

“Tiffany, tidak apa-apa, ok? Sekarang lanjutkan makanmu” dia kembali menikmati hidangannya sementara aku kebingungan dengan keadaan ini. semoga Siwon bisa mengerti bahwa sebenarnya aku tidak bisa bersamanya, meski aku begitu menginginkan hal itu.

 

oOo

 

Siwon menyukaiku. Aku bahkan terkejut dengan kenyataan itu dan lebih terkejut lagi mengetahui bahwa diriku senang akan hal itu.

Aku tidak mengerti kenapa pria itu begitu mempengaruhiku. Untuk sekian lama tidak ada pria manapun yang bisa memikat hatiku bahkan mempengaruhiku hanya dengan senyuman dan tatapannya yang tulus seperti yang bisa Siwon lakukan padaku. Aku bisa saja senang dengan hal itu karena pria yang kusukai juga menyukaiku bahkan lebih dari yang kuharapkan. Tapi aku terperosok pada kenyataan dan bayangan masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk kukenang. Lihat, bahkan hanya memikirkan betapa menyakitkan masa itu, aku sudah meneteskan air mata.

“Tiffany? apa yang kau lakukan disini? Kau menangis?”

Pertanyaan itu menyadarkanku. Aku melihat Cae Kyung datang mendekatiku yang sedang berdiri dihalaman rumah setelah berpisah dengan Siwon yang baru saja mengantarku. Aku menghapus air mataku.

“tidak. Dimana ayah?”

“dia sudah tidur. Dia menunggumu dan dia bilang kau sedang makan malam dengan CEO Empire. Benarkah?”

Aku mengangguk malas. “apa kau berkencan dengannya?”

“tidak. Aku tidak sedang berkencan dengan siapapun.”

Dia memandang lurus padaku. ekspresinya aneh. “benar juga. Aku tidak pernah melihatmu kencan dengan seorang pria. Apa itu wajar?”

“apa maksudmu?”

“aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya merasa aneh padamu. kau berada diusia yang cocok untuk sebuah hubungan tapi kau tidak pernah mencobanya.”

“aku anggap itu pujian dan terima kasih untuk itu. tapi kehidupan percintaanku bukan urusanmu, mengerti?”

“aku akan jadi ibumu, Tiff. Dan sejak hal itu terjadi, hidupmu adalah urusanku”

Aku mendekatinya, dia membuatku emosi tapi aku masih bisa menahannya. “Apa kau sangat bangga jika kau bisa jadi ibuku? Usia kita bahkan hanya berbeda 3tahun, bagaimana itu terlihat membanggakan untukmu…”

Dia menatapku marah. Mungkin merasa tersudut atas perkataanku, tapi akut tidak peduli padanya dan ingin segera masuk kedalam kamarku, meringkuk dalam selimut hangat dan tidur nyenyak.

“Karena saat aku jadi ibumu, jadi bagian keluarga ini, aku punya hak dan kekuasaan untuk segala hal didalamnya”

“Tsk, kau sangat berambisi Cae Kyung-ah, jika aku bisa membatalkan pernikahan konyol kalian, maka aku akan melakukannya. Tapi jika dipikir-pikir aku kasihan juga padamu.  kau melewati masa yang sulit saat masih menjadi simpanan ayah. Aku tahu, hamil diusia muda tanpa seseorang yang sepenuhnya bertanggung jawab adalah masa tersulit. Jadi berterima kasihlah karena aku membiarkanmu masuk kekeluargaku sepenuhnya, tapi jangan berpikir bahwa kau bisa berkuasa karena statusmu disini.”

“TIFFANY!!”

“kenapa? Kau tersinggung?”

Tangannya mengepal kuat dan dia sangat marah padaku. “Ini hanya awal Cae Kyung-ah, sudah kubilang aku akan membuatmu menyesal karena pernah masuk dikehidupanku”

Aku berjalan angkuh meninggalkan dia yang mematung dihalaman rumah. Mengejeknya terasa sangat menyenangkan bagiku.

Tapi aku tidak menyangka, bahwa ambisinya bukan sekedar candaan belaka. Buktinya, setelah dia resmi menikah dengan ayah, dia mulai mempengaruhi ayah hingga mampu menduduki jabatan direktur untuk proyek pembangunan swalayan di Gangnam.

Dan protesku pada ayah tentang wanita itu malah membuatku tersudut.

“Jika aku mengesernya dari kursi direktur, apa kau mampu mengantikannya? Kau tidak tahu apapun soal bisnis dan perusahaan jadi bagaimana kau bisa menggantikannya?”

Perkataan ayah tempo hari memupus semangatku untuk jadi musisi handal. Aku berniat akan fokus sepenuhnya pada bidang itu, namun melihat bagaimana wanita itu menapakan dirinya dalam bisnis dan mulai ambil alih dikelurgaku membuatku berpikir untuk melempar mimpi menjadi musisi itu dan beralih kedunia bisnis. Bagaimanapun, aku tidak ingin wanita asing itu berkuasa dikeluargaku. Aku harus membuatnya menyesal, bukannya menang.

Lalu dihari penting saat aku akhirnya wisuda, aku duduk dibarisan tanpa keluarga yang menantikanku.

Kami mungkin akan terlambat. Ada rapat penting dengan direksi – Ayah

Aku mengalihkan diri setelah membaca pesan singkat yang dikirim ayah. Jessica disampingku menggenggam tanganku. Wajahnya berseri bahagia, ini saat yang sangat dinantikan untuknya.

Lalu kami fokus pada acara saat pembawa acara mempersilahkan rektor dan dewan Universitas untuk membawakan sambutan. Dan setelah sambutan panjang rektor Universitas yang diakhiri dengan tepuk tangan, seorang pria yang sangat kukenal naik kepodium disambut tepuk tangan meriah lainnya dan dia membawakan sambutannya. Ohh Choi Siwon.

“Tiffany..?” Jessica melirikku dengan wajah menggodanya. “lihat siapa yang membawakan sambutan?”

“itu Siwon. I know, Jess”

oOo

 

Acara panjang itu akhirnya berakhir. Seluruh wisudawan dan wisudawati saling memberi selamat dan mengabadikan moment itu dengan berfoto bersama.

Chukae Tiffany!” Tuan dan nyonya Jung menyalamiku dan memelukku sebagai tanda bahagia. Jessica dan aku juga saling berbagi pelukkan dan memberi selamat kepada satu dengan yang lain.

Kamsahamnida” aku membungkuk sopan dan tersenyum pada mereka.

“Tiff, aku akan melanjutkan studiku di Amerika. Bagaimana denganmu?”

Aku lemas mendengarnya. Jujur aku sedih karena jika Jessica melanjutkan studinya diluar negeri, kami tidak akan punya waktu lagi untuk bersama. Sementara aku sendiri mulai memiliki pemikiran untuk belajar bisnis.

Aku mengangkat bahu namun sebisa mungkin mempertahankan senyuman dihadapan mereka. “Entahlah. Aku masih memikirkannya. Kapan kau akan ke Amerika?”

“mungkin dalam beberapa bulan kedepan. Aku harus menyelesaikan segala keperluanku disini. Jadi kau tidak ikut bersamaku?”

“aku masih memikirkannya. Tapi aku tetap berharap yang terbaik untukmu” Jessica terlihat sedih. Dia lalu memelukku dengan hangat. Tuan dan Nyonya Jung tersenyum simpati. Mereka pasti mengerti bagaimana dekatnya kami, jadi ini pasti sulit untuk melepas satu lama lain.

“aku pasti akan sangat merindukanmu”

“aku juga Jess” kami saling melepaskan pelukan dan tersenyum bersama.

Jessica seperti saudara bagiku. Ini pasti akan sulit kedepannya tanpa dia disampingku. Memangnya siapa lagi yang bisa kuandalkan untuk menampung semua keluh kesahku? Siapa lagi yang akan rela berbagi waktu terbaiknya hanya untuk menghiburku? Siapa yang akan melakukan itu semua jika dia akan pergi? Tiba-tiba aku merasa kesepian membayangkan itu semua. Mataku mulai berair.

“kalian masih punya banyak waktu untuk bersama selagi Jessica mempersiapkan diri untuk studinya di Amerika. Kalian juga bisa sering memberi kabar satu lama lain” hibur Nyonya Jung yang mampu membuatku merasa lebih baik.

“bagaimana dengan Suho? Apa dia tahu rencanamu?” tanyaku yang tiba-tiba teringat dengan pria lucu itu. Jessica mengangguk.

“aku sudah memberitahunya. Dan dia setuju meski aku tahu itu berat. Ahh, pasti akan sangat banyak yang merindukanku haha”

Aku tertawa lepas dengan kepercayaan dirinya. Bahkan disaat seperti ini dia bisa sangat bangga meninggikan dirinya. Itulah Jessica Jung.

Anyyeong haseoimnida

“Ohh Choi Siwon..” Seru nyonya Jung saat mendapati sapaan pria itu yang datang dengan mengejutkan.

Aku dan Jessica saling melirik.

Congratulations Ice Princess.” Dia memeluk singkat Jessica lalu melepaskannya saat melihatku. Dia tersenyum seperti biasa. “selamat juga untuk kelulusanmu, Tiffany”

dia mengulurkan tangannya dan aku menyambutnya dengan senang hati.

“terima kasih, Siwon.”

“sama-sama. bisakah kita bicara berdua?” dia menunjuk tempat lain dengan dagunya.

sure. You can” Jessica yang menjawab Siwon sebelum aku menjawab. Dia lalu menyuruh Siwon segera membawaku pergi sesuai keinginannya dan aku tak bisa menolak dan hanya menurut saat pria itu pamit pada keluarga Jung dan membawaku menjauh. Tangannya tak melepaskan tanganku semenjak kami bersalaman. Ini membuatku sangat gugup.

“aku tidak melihat keluargamu Tiffany..”

Dia membuka suara lebih dulu sambil melirik kesegala arah. Lalu kembali menatapku dengan bingung.

“katanya mereka sedang rapat penting. Aku tidak ingin mengganggu, lagipula aku tidak apa-apa tanpa mereka”

Ekspresinya berubah setelah aku menyelesaikan kalimatku. Dia seperti prihatin tapi aku segera tersenyum meyakinkan padanya.

“aku tidak apa-apa”

“kau pasti kesepian..”

“aku sudah biasa seperti ini, Siwon”

“apa mereka sering mengabaikanmu?”

aku melihat kekhawatiran dimatanya. Kenapa tebakkannya bisa benar?

Aku menggangguk santai. “tapi ini bukan masalah bagiku. Aku lebih suka mereka mengabaikanku daripada berpura-pura peduli padaku”

Aku merasakan tangannya makin menggenggam erat tanganku. Aku melirik tautan tangan kami lalu dengan berani menatapnya.

“aku peduli padamu, Tiffany. kau tidak perlu merasa kesepian. Anggap aku bagian keluargamu”

Dia…. sangat tulus.

“terima kasih Siwon”

Sekarang aku punya seseorang yang peduli padaku. seseorang yang ingin jadi bagian keluargaku. aku sangat tersentuh dan tak hentinya tersenyum padanya.

“Aku ingin pergi kesuatu tempat setelah acara ini. Apa kau mau menemaniku?”

“kemanapun, asal denganmu” jawabnya yang terasa menyenangkan hatiku.

 

oOo

 

“kau lihat, bu? Aku sudah membuktikan aku bisa membuatmu bangga padaku”

aku tersenyum menatap makam ibu. Rasanya sudah lama tidak ketempat ini. Meski aku sangat merindukan ibu, aku tidak pernah kemakamnya setelah dia pergi beberapa tahun yang lalu. Itu karena aku merasa tidak ingin bertemu itu disaat diriku sedang kacau. Tapi hari ini aku bisa datang karena aku yakin dia bangga melihatku bisa menyelesaikan pendidikan di Universitas. Bahkan aku menemuinya bersama Siwon.

Aku melirik pria itu yang berdiri dibelakangku. Dia tak berhenti tersenyum sejak kami bicara di acara tadi. Aku bahkan sangat senang dengan kehadirannya ditempat ini bersamaku. Dia dengan sabar menungguku dan terus disampingku, membuatku merasa banyak kebahagiaan mengisi hatiku.

Aku menatap kembali makam ibu. “bu, aku akan melakukan yang terbaik setelah ini” aku membungkuk hormat pada makam ibuku lalu kembali berdiri tegak ketika sudah selesai.

“ayo pulang” aku mendekati Siwon lalu kembali melirik kemakam ibu. “See you later mom”

Siwon menggenggam tanganku dengan erat dan mendekatkan dirinya padaku. dia menatapku sebentar lalu membungkuk hormat pada makam ibuku.

kajja, aku juga ingin mengajakmu kesebuah tempat”

 

oOo

 

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Siwon mengajakku ke Gereja. Gedung yang tak pernah kukunjungi setelah aku kehilangan ibu. Mungkin yang terakhir adalah saat sekolah minggu. Ugh, itu sudah lama sekali.

Aku melirik Siwon dengan kagum saat kami berjalan masuk kedalam ruang doa. Lalu aku sangat kagum dengan altar yang kulihat. Ini mungkin pertama kalinya setelah sekian lama. Kami lalu duduk dideretan bangku yang ditengah. Disini memang sedikit sepi karena menggingat ini bukan hari untuk kegiatan kebaktian, hanya ada seorang kakek yng berdoa dibangku paling depan, pasangan suami istri yang mengobrol setelah berdoa lalu ada aku dan Siwon.

“aku selalu kesini saat aku punya sesuatu untuk didoakan” aku mengalihkan pandangan kearah Siwon yang fokus menatap kedepan altar.

“aku ingin mengajakmu mendoakan segalanya yang patut untuk didoakan”

Lagi-lagi aku tersentuh oleh ketulusannya. Ini pertama kalinya dalam hembusan nafas yang membuatku tetap hidup, ada seorang pria yang berlaku sangat manis dihadapanku.

Lalu kami berdoa bersama.

Siwon membuka mata lebih dulu setelah berdoa. Aku menyelesaikan doaku dan membuka mata, mendapati pria berlesung pipi itu dengan senyuman yang selalu memikat.

“bagaimana rasanya?”

“sangat baik. Terima kasih banyak Siwon” aku memandang kedepan. Membayangkan sepanjang waktu ada disini, itu pasti menyenangkan. Aku ingin merasakan ketenangan ini lebih lama.

“Ehh, Tiffany?”

Lamunanku buyar mendapati Siwon memanggilku. Aku menatapnya dengan ekspresi bertanya. Dia seperti menahan napasnya untuk waktu yang cukup yang dia butuhkan, kemudian dia mengatur duduknya dan memandangku sepenuhnya.

“Tiffany, maukah kau memulai sesuatu yang baik bersamaku? Aku menginginkanmu dalam hidupku lebih dari sekedar teman.”

Kini aku yang menahan napas dan menghembuskannya ketika aku sadar apa yang dimaksud pria ini.

“Siwon, kau harus berhenti mencintaiku. Aku tidak pantas untukmu” aku sedikit mengigit bibir bawahku setelah menyelesaikan akhir kalimatku.

Lalu kurasakan telapak tangan yang penuh kehangatan itu jatuh menggenggam tanganku sepenuhnya. “Kau sempurna untukku”

Aku menggeleng membantah pemikirannya. “tidak, Siwon. Kau bisa mendapatkan yang lebih dari diriku”

“tidak ada yang sebaik dirimu, Tiffany. Katakan padaku kenapa kau berpikir kau tidak pantas untukku”

Aku diam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus kukatakan padanya. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya tentang rahasia masa laluku. Aku sangat-sangat ketakutan dengan hal itu.

“aku, diluar mungkin terlihat baik-baik saja. Tapi aku orang dengan masa lalu yang menyakitkan”

Kulihat Siwon mengeraskan rahangnya. Namun matanya sangat menyentuhku.

“aku mencintaimu bukan melihat masa lalumu, Tiffany. kau mungkin punya bagian pahit dimasa lalumu, tapi aku disini berjanji akan menjagamu. Aku akan melindungimu”

“kau tidak mengerti Siwon”

“aku mencoba, sangat keras untuk mengerti dirimu”

Aku terdiam melihat betapa gigihnya dia memperjuangkan perasaannya padaku. sekali lagi aku mengigit bibirku dengan gelisah untuk menjawabnya.

“apa aku bisa mempercayaimu?” tanyaku ragu-ragu setelah menemukan diriku yang jatuh terlalu jauh dalam ketakutan akan cinta.

“Kau bisa mempercayaiku.” Katanya penuh keyakinan.

Aku menatap Siwon lekat-lekat. Memastikan tidak ada kebohongan dalam mata elangnya. Dan kenyataannya dia sedang berkata jujur padaku.

“jangan kecewakan aku Siwon. Aku akan percaya padamu. aku akan menerimamu dihidupku, asal kau berjanji akan melindungiku dari apapun juga, berjanjilah juga bahwa kau tidak akan membuatku terluka.”

Dia mengukir senyum diwajahnya. “aku berjanji untuk semua itu”

Diwaktu selanjutnya, aku menemukan diriku sudah dalam pelukan pria itu. dia memelukku begitu erat sambil terus berterima kasih dan menyakinkanku dengan janjinya. Aku membalas pelukannya dan memejamkan mataku.

Aku sudah luluh dan tersentuh dengan cintanya. Aku sadar bahwa aku juga menginginkannya sama seperti dia menginginkanku. Aku butuh Siwon untuk melindungiku.

oOo

 

okay, how do you think about this part? Aku berharap ini berhasil untuk menjawab sedikit rasa penasaran pada readers meskipun rahasia masa lalu Tiffany masih bersifat rahasia haha, tapi tenang kok. Chapter 3 bakal lebih complete masuk kekonflik. Semoga nggak pada bosan nunggu yah

 

77 thoughts on “(AD) THE TOUCH OF LOVE Chapter 2

  1. keren thor😀
    Akhirnya tiffany luluh juga sama wonpa semoga hubungan mereka langgeng dan cepat menikah hehehehe semoga siwon yg terbaik buat tiffany dan bisa ngelindungin tiffany
    Tapi yg aku lihat kayaknya cae kyung sayang sama tiffany apa itu cuma sandiwara ??
    Penasaran sama konflik selanjutnya dan masa lalu tiffany
    ditunggu part selanjutnya thor😀

  2. ahh finally, tiff unnie bisa nerima siwon oppa🙆 smoga siwon oppa bisa menepati janjinya dan tidak mmbuat tiff unni terluka n.n masih penasaran batt dg masa lalu tiff unnie yg sampe bikin trauma itu😭 konfliknya bikin ughhh 😂 ditunggu lanjutannya,hwaiting!!

  3. Meskipun terlalu cepat tpi seneng sifany bisa bersama,berharap complik yg akan muncul tidak mempengaruhi hubungan mereka,next part ditunggu

  4. Aa sifany so sweet bgt jadiannya di gereja lgi duuhh 😍😘😘 akhirnya ya fany nerima juga emng pnsran bgt sma msa lalu nya fany kyknya dia disakitin sma cwok ya? Trus ksihn juga liat kehidupan fany yg kyaknya kacau bgt tpi untung ada si on skrng 😊 duuhh thor nggk bosen kok sma ff nya malah ditunggu bgt 😊 smga part slnjutnya hubungn sifany ttp baik” aja ya🙏

  5. Ahhh sweettttt, ini keren, serius!! Itu Luhan kyaknya emang bukan anaknya tuan Hwang deh, waktu interaksi antara Luhan sma Tiff serasa liat drama Nice Guy, ada adegan yg mirip sma itu :v wlaupun agak Anu ngliat Luhan sma Tiff jd adek kakak, cz di blog, aq sering pairingin mereka hahaha, but it’s okay, ceritanya ttep bagus, ehh satu lagi, tolong donk thor itu si Chae Kyung singkirin aja, gedek lama2 liat tingkahnya -_- pokoknya ditunggu part slanjutnya ^-^

  6. Ga nyangka tiffany bisa jadian cepet banget, haha. Aku kira dia bakalan lama pacarannya, eh gataunya dipart ini mereka dipersatukan. Masih penasaran sama masa lalu tiffany yg kelam, aishhh.. Next chapter thor, i’ll be waiting for!!

  7. Ada ap dengan masa lalu tiffany thor.
    Tambah bikin penasaran aja sihh ..
    Next capther selanjutnya ya thorr.
    Klo bisa jangan lama lamahe..he..he..

  8. Ada apa dengan masa lalu fany? Knp fany kayak takut banret dgn masa lalunya? Hmm siwon daddy semoga menuhin janjinya sama fany yaa jgn kecewain fany hehe ditunggu next partnya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s