(AF) My Lovely T

My Lovely T

picsart_02-06-04-01-52

Author         : Kireynalice

Type            : Oneshoot

Genre          : Memories

Rating                   : PG 15+

Main Cast    : Choi Siwon, Tiffany Hwang

Disclaimer   : Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja.

“Terima kasih telah singgah dalam hidup singkatku”

All in Choi Siwon’s POV

Kupercepat langkah sembari memperbaiki letak kacamata bacaku yang merosot. Udara sore ini terasa cukup hangat. Mungkin sebentar lagi aku harus bersiap menyambut datangnya liburan musim panas. Sungguh disayangkan kondisiku tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Sebaiknya aku pergi kemana? Sauna? Tidak. Tempat itu terlalu ramai. Lagipula hampir setiap tahun aku mengunjunginya. Berkemah? Kedengarannya menyenangkan. Tapi tentu saja wisata alam seperti itu harus direncanakan sebaik mungkin. Ya.. mungkin aku harus meminta saran pada rekan kantorku.

Langkahku terhenti di sebuah bangunan berdinding kaca dengan hiasan manik berkilau sebagai tirainya. Sarang café. Stiker dalam huruf besar itu tertempel di bagian pintunya yang juga terbuat dari kaca.

“Silahkan. Selamat datang penanti cinta..” Seorang pramusaji menyambut kedatanganku.

Aku tersenyum. Tempat ini masih sama seperti saat kunjungan terakhirku. Sapaan selamat datang yang kini terdengar begitu menggelikan ditelingaku, seragam pelayan yang berwarna merah muda, serta interior tempat ini memang dirancang untuk kalangan muda.

“Anda ingin memesan apa?” Tanya gadis bertanda pengenal Yoon Soo Jin padaku.

“Aku mau strawberry cheese cake dan segelas air.”

Yoon Soo Jin mengangguk, mengetik sesuatu di komputer dan menyebutkan sejumlah nominal. Aku merogoh saku belakang dan membayar. Gadis berwajah bulat itu memintaku menunggu selagi dia menyiapkan pesanan. Aku mengiyakan lalu menekuni bagian dalam dompetku.

Aku mencintaimu, baby..

Kata itu secara otomatis terucap dalam hatiku. Kau yang ada dalam potret itu terlihat terkejut. Bukan.. aku tahu bukan pernyataan cintaku lah penyebabnya. Yang  mungkin akan membuatmu terkejut adalah kenyataan bahwa aku masih menyimpan potret itu setelah sekian tahun berlalu. Aku selalu membawanya kemanapun dan tidak pernah mengganti posisinya dengan yang lain. Bahkan tidak untuk gadis yang kini telah hadir dalam hidupku. Aku akan selalu menyimpan potretmu selamanya. Secara diam-diam.

Jika mungkin kau melihatnya suatu saat nanti, akankah kau masih mengingat bagaimana caraku mendapatkannya?

Waktu itu Kwon Songsaeng, guru biologi kita, memberi tugas yang cukup sulit. Menurut pengamatannya yang cermat dan tepat, Choi Siwon yang pembangkang, nakal, malas dan tinggal kelas ini dipastikan tidak akan mampu menyelesaikannya. Hal itu juga yang membuatnya memutuskan bahwa kau, Tiffany Hwang -siswa akselerasi dengan otak brilian- harus menjadi partner kerjaku.

Aku yakin saat itu atap sekolah terasa runtuh di kakimu. Kau mungkin lebih memilih untuk berenang mengarungi sungai Han daripada harus berada dekat denganku. Namun nasib baik rupanya berpihak padaku. Perkebunan bunga milik ibuku berhasil membuatmu bertahan. Kau seakan melupakan rasa bencimu padaku jika sudah dihadapkan pada hamparan mawar yang merekah indah.

Setiap harinya selama 2 bulan berturut-turut aku akan berjalan mengikutimu dengan patuh menuju ke rumahku. Saat aku mencoba mengajakmu bicara, kau pura-pura tidak mendengar dan malah bersenandung riang. Melihatmu yang seolah menganggapku tak ada seringkali membuatku kesal. Ingin rasanya menjahilimu dengan menaruh daun di rambut ikalmu atau menyimpan serangga di seragam sekolahmu. Tapi aku tidak pernah bisa. Kau tidak mengizinkanku untuk terlalu dekat denganmu. 5 meter. Itulah jarak terdekat yang kau tentukan. Tak pernah sekalipun kau mengizinkanku untuk berjalan berdampingan denganmu. Aku tahu teman-teman mengejek kita. Heechul bahkan mengatakan bahwa kita mungkin berjodoh. Berbicara mengenai dia, kemana perginya anak nakal berambut pirang itu? Kurasa dia harus mempertanggung jawabkan perkataannya dulu. Bukan begitu?

Masih segar dalam ingatanku saat kau yang berpakaian jeans dan kaus putih datang ke halaman belakang rumahku siang itu. Kau berniat memberikan pupuk pada tanaman kita. Aku mengambil sekop yang kau minta di gudang penyimpanan. Namun bukannya segera kembali, aku malah berjalan mengendap dan mengambil kamera polaroid dari ruang kerja ayahku.

Kau menerima sekopmu dengan senang hati sementara aku memilih untuk memperhatikanmu. Kau masih serius dengan bunga matahari kita hingga suara ‘klik’ dari kameraku terdengar. Saat kau sadar atas apa yang sedang kulakukan, kau berlari mengejarku. Jemari lentikmu bersiap melempar batu sebesar kepalan tangan padaku. Betapa beruntungnya aku. Kakimu tersandung pot besar dan lututmu harus mencium gundukan tanah.

Aku menertawakan kemalanganmu. Tiffany yang bersikap angkuh dan dingin di kelas menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis tersedu. Awalnya kukira kau hanya bercanda. Rupanya kau benar-benar merasa kesakitan. Kau memanggil ibumu disela tangisan seperti anak kecil yang kalah dalam permainan. Rasa iba menghampiriku. Sosokmu mengingatkanku pada adik perempuan yang terpaut 3 tahun di bawahku. Sama sepertimu. Kemudian aku tersadar. Jika aku berumur 18 tahun, berarti kau..

Ya Tuhan.. Kau masih anak-anak!

“Maafkan aku, Fany-ya..” Kataku. “Kalau aku tahu ada pot besar disana, pasti aku akan memberitahumu dan kau tidak akan jatuh.”

Kau masih menangis.

Aku mengusap pelan kepalamu untuk menenangkan, “Mana yang sakit?”

Kau membuka wajahmu dan mendongak menatapku. “Kakiku sakit..” Rengekmu.

Wajahmu terlihat sangat kacau. Mata merah dan hidung berair membuatmu jauh dari kata cantik. Tapi entah mengapa semuanya terlihat begitu berkilau dimataku. Aku tak yakin dengan apa yang terjadi. Seperti ada sihir aneh yang membuatku melakukan hal yang bahkan sebelumnya tak pernah kubayangkan. Aku yang berandalan dan sering membolos ini mendapati diriku sendiri tengah mengusap air mata di pipimu yang kotor karena bercampur dengan tanah.

“Aku akan meminta obat pada Eomma untuk lututmu yang berdarah.” Kataku, “Kau bisa berjalan?”

Kau menggeleng, “Sepertinya aku terkilir.”

Aku mengerti. Aku membalikkan tubuh dan memintamu untuk naik ke punggungku. Kau tidak menolak. Kau bahkan mengalungkan tanganmu di leherku. Aku menahan tawa saat merasakan tidak ada tanda-tanda kedewasaan seorang wanita pada bagian tubuhmu yang menempel di punggungku. Hah… kau memang benar-benar masih kecil, Tiffany. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. Sepertinya pikiranku sudah terkontaminasi oleh isi majalah milik Heechul. Setelah ini aku harus berhenti membacanya. Selain itu.. memangnya apa yang kuharapkan dari seorang gadis berusia 15 tahun?

Aku bersiap untuk berdiri. Ternyata kau cukup berat untuk ukuran tubuhmu yang mungil. Secara spontan aku memegang tubuhmu agar tidak terjatuh. Tapi.. apa ini? Rasanya bulat, padat, kenyal sekaligus lembut. Apakah ini punggungmu? Atau.. betismu?

Teriakanmu yang memekakkan telinga menjawab pertanyaanku, “YA!!! Jangan menyentuh bokongku!!!”

Strawberry cheese cake dan air mineral. Silahkan, selamat menikmati.” Pramusaji yang sudah kembali membuatku tersadar.

Dengan segera aku memasukkan dompetku ke dalam saku. Setelah mengucapkan terima kasih aku pergi menuju meja dengan baki berisi pesananku. Aku sengaja memilih duduk di sini. Meja di sudut ruangan yang bersebelahan langsung dengan jendela. Persis seperti pilihanmu.

Tidak ada apapun di atas meja selain tissue dan kertas menu. Aku bersyukur peraturan yang melarang pengunjung untuk merokok masih berlaku di tempat ini. Itulah yang menjadi salah satu alasanmu untuk memilih café ini sebagai tempat pertemuan kita. Kau akan langsung menggerutu saat hidungmu mencium bau asap rokok. Dulu kau sering menggeledah tas sekolah dan saku bajuku untuk memastikan tidak ada rokok atau pemantik yang kusimpan. Satu hal yang tidak kau ketahui adalah tempat persembunyianku di sudut belakang sekolah. Aku menyimpan benda itu dalam kaleng bekas biskuit lalu menguburnya di tanah. Sialnya, kau yang terlalu pintar selalu berhasil mengendus kecuranganku. Apa hukuman yang kau berikan saat itu padaku, Sayang? Cubitan maut atau jeweran pedas?

Perlu waktu 1 minggu untuk meyakinkanmu agar kau percaya bahwa aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Sejak saat itu aku berubah menjadi sosok yang amat berbeda. Tidak ada lagi Siwon si penghuni tetap kesiswaan. Aku bertekad menjadi pria yang layak untukmu. Salah satu cara yang kutempuh adalah dengan belajar. Apa kau tahu? Aku meminta Appa mencarikan bimbingan belajar terbaik yang ada di kota ini. Karena itu nilai matematikaku melonjak drastis. Tidak ada satupun tugas yang terlewat untuk kukerjakan. Ketika kenaikan kelas tiba, untuk pertama kalinya dalam hidup aku menerima sertifikat penghargaan. Wali kelas kita mengatakan bahwa tubuhku telah dirasuki roh halus berenergi positif. Aku hanya tersenyum. Dia salah. Aku telah dipengaruhi oleh seorang malaikat. Dan malaikat itu bernama Tiffany Hwang.

Kikikan tawa yang mengganggu khayalanku membuatku menoleh. 4 orang anak sekolah menengah terdengar membicarakan sesuatu sebelum memesan vanilla float dan camilan pada pramusaji. Seorang di antaranya mengenakan kemeja ketat dan rok di atas lutut yang terlalu pendek untuk ukuran seragam sekolah. Andai saja kau disini, aku pasti akan menyampaikan penilaianku padamu.

Aku ingat kau sering memprotes kebiasaanku ini. Menurutmu apa yang kulakukan ini seperti menghakimi orang lain. Aku menyangkal ucapanmu dan mengatakan kalau aku tidak menuduh. Itulah kenyataan yang kulihat. Seseorang bisa kita ketahui perilakunya dari apa yang dia kenakan. Tentu saja cara pandang kita berbeda. Tapi kau tetap saja memperingatkan aku.

Art inspired art,” Begitu selalu ucapmu, “Tidak ada salahnya mengikuti tren terbaru. Lagipula menurutku itu terlihat bagus.”

Ah.. kau tidak mengerti. Aku menghargai kerja keras para perancang mode berbakat negeri ini, tapi aku menyukai gadis yang menutupi aset mereka.

“Aku bukannya tidak peduli akan keindahan. Tapi mereka seharusnya tidak mempertontonkan apapun.”

Kau menatapku dalam-dalam seusai aku mengatakan itu, “Kau tidak akan menyuruhku memakai mantel panjang saat musim panas, kan?”

Aku tertawa.

“Tentu saja kau tidak boleh memakai baju yang terlalu pendek. Memangnya kau berniat memakai pakaian mini juga?” Sahutku sambil pura-pura memandangmu curiga.

“Kita lihat saja nanti,” Jawabmu singkat.

Aku tersenyum mengenang semua itu. Kutatap potongan kue di hadapanku dan memotongnya dengan sendok kecil yang sudah disediakan. Rasa manis bercampur aroma keju yang kental melewati indera perasaku. Lezat. Ini memang makanan kesukaan kita berdua. Kau menetapkan hari Selasa minggu ke-3 pada setiap bulannya sebagai jadwal rutin ‘kencan bergengsi’ kita. Sayangnya uangku hanya cukup untuk membeli sepotong saja. Kau tak pernah keberatan harus berbagi dan makan dari piring yang sama denganku. Tapi kau akan sangat marah jika aku memakan strawberry-nya lebih dulu. Seperti yang terjadi pada kencan terakhir kita sebelum memasuki waktu perkuliahan.

“Aku takut jika kau memasak untukku suatu hari nanti,” Ucapku saat itu.

“Kenapa?” Sahutmu.

“Tentu saja kau akan mengira kalau aku tidak menyukai makananmu.”

Kau melipat kedua tanganmu di depan dada. Bahasa tubuh yang menyiratkan keberatanmu atas ucapanku, “Kau meragukan kemampuanku?”

“Bukan begitu. Aku pasti akan menghabiskan makananku tanpa berpikir panjang. Jika aku sangat lapar, aku mungkin akan menyantap garnish yang kau buat dengan susah payah juga.”

Kau tertawa, “Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menatanya di piring.” Jawabmu, “Aku akan menyajikan langsung dari wajannya.”

Aku meneguk air mineral setelah menelan suapan terakhirku. Musik ceria milik girl band ternama kini telah berganti dengan alunan nada yang lebih lembut. Lantunan syair dari penyanyi ballad bersuara merdu terdengar memenuhi ruangan. Tunggu.. Bukankah ini lagu kesukaanmu? Lagu yang sama saat kita duduk berhadapan lima tahun lalu. Kau bercerita tentang hari-harimu di butik tempatmu bekerja sambil sesekali memaksaku mengunyah.

“Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin kau selalu memasukkan brokoli ke dalam menu makan malammu, Tiffany.” Protesku seperti biasa.

“Brokoli bagus untuk kesehatan, Oppa. Selain itu bentuknya lucu. Kapan-kapan aku akan menggunakannya sebagai hiasan.”

Aku tertawa karena tahu kau akan berkata seperti itu. Reaksimu yang selalu sama setiap aku menolak menghabiskan jatah makanku.

“Kapan kau akan berhenti memberikannya padaku?” Tanyaku menatapmu dengan senyum terkulum.

Kau balas menatapku, “Tidak akan, sampai Oppa menyukai sayuran.”

Sekali lagi aku tertawa. Suasana ini selalu saja membuatku nyaman. Bersamamu hujan badai pun akan terasa seperti pelangi.

“Dasar pemaksa.”

Kau ikut tertawa. Namun dalam hitungan detik kulihat tawa di bibirmu menghilang.

“Setelah menikah, kuharap istrimu memasak sayuran untukmu.”

Kuremas telapak tanganmu yang terletak di atas meja.

“Aku yakin kau akan selalu mengingatnya.” Ujarku.

Kau melirikku dengan matamu yang bening.

“Tapi.. aku selalu merasa penasaran akan sesuatu.” Tanyaku setelah kau meminum jus jerukmu.

“Apa?”

“Bukannya aku tidak merasa senang. Tapi kau selalu memanggil namaku bahkan setelah kita berkencan selama tiga tahun. Apa yang membuatmu memutuskan untuk memanggilku dengan sebutan Oppa?”

Pipimu perlahan-lahan bersemburat merah. “Kenapa.. kau menanyakan hal itu?”

“Dan kenapa kau tidak menjawab?”

Kau berdehem, “Entahlah. Aku hanya merasa kalau itu lebih pantas.”

Selalu begini. Jawabanmu tidak pernah membuatku puas.

“Apa impianmu, Tiffany?” Tanyaku serius.

“Hmmm..” Kau tampak berpikir, “Kurasa.. aku belum pernah memikirkan tentang itu.”

“Apa kau menginginkan rumah baru?”

Matamu menatapku tak mengerti.

“Sebuah rumah kecil dengan kebun mawar dan rumput hijau, misalnya?” Tanyaku lagi.

Kedua matamu terbelalak lebar dengan bibir yang sedikit terbuka. Ekspresi yang muncul setiap kali kau terkejut.

“Bagaimana dengan suami yang selalu menggoda dan jejak kaki anak-anak yang mengotori terasmu?”

Tanpa menanti jawabanmu lebih dulu, aku bertanya lagi, “Tiffany, jika saat ini ada pria yang melamarmu tanpa sebuket bunga atau pun cincin yang indah, apakah kau akan menerimanya?”

Kutatap matamu dengan sungguh-sungguh. Kali ini kutunggu jawabanmu. Namun yang kudapat hanya raut wajah bingung terukir disana.

Aku memaksa diriku untuk tersenyum, “Tidak apa-apa. Mungkin aku terlalu terburu-buru. Kau tidak perlu memikirkannya. Maafkan aku. Sepertinya aku telah kehilangan kendali.”

Aku meraih gelasku dan meminum isinya, “Ayo, habiskan makananmu. Setelah itu aku antar kau pulang.” Kataku.

Kau berdecak pelan, “Kenapa kau menyerah semudah itu? Aku belum menjawab tapi kau sudah menyimpulkan sendiri.”

Aku menatap ke dalam manik matamu. Tuhan.. aku tidak sanggup jika harus jauh darinya. Kumohon.. jangan pisahkan kami.

Kedua tanganmu terangkat naik menggenggam tanganku, “I love you, Oppa.”

Kata-katamu yang sederhana mampu membuatku sukses menelan potongan brokoli yang baru saja masuk ke dalam mulutku tanpa sempat mengunyahnya lebih dulu. Kemudian untuk alasan yang tidak kumengerti tiba-tiba saja aku merasa penuh. Dadaku membuncah dengan rasa bahagia yang membuat kupu-kupu berterbangan dalam perutku.

“Jadi.. Tiffany Hwang, maukah kau menjaga anak-anak kita untukku?”

Mengingat peristiwa itu membuatku merasa malu pada diri sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mengucapkan kalimat rayuan seperti itu padamu? Kau memang telah meluluh lantahkan duniaku, Sayang. Tidak akan ada suatu hal pun yang mampu melukiskan betapa besarnya cintaku padamu. Meskipun pada kenyataannya banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita.

Dan kini saat dimana aku duduk sendiri, rasanya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuatku tersadar. Aku masih mencintaimu. Hingga detik ini.

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul enam sore. Musim semi membuat siang menjadi lebih panjang. Rasanya belum cukup lama aku duduk di sini. Menatap gumpalan bulu-bulu halus yang berarak di langit. Namun aku tidak keberatan. Sofa ini sangat nyaman dan lembut. Aku mungkin akan terlelap jika bersandar sepenuhnya pada benda ini. Tetapi tidak. Masih ada pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Kukeluarkan tablet dari dalam tas kerjaku untuk memeriksa laporan keuangan.

Aku ingat kau selalu menasehatiku untuk tidak terlalu keras bekerja. Menurutmu aku berubah menjadi Siwon yang membosankan sejak membuka perusahaan kecilku. Kau mengatakan kalau kita tidak mungkin saling meminjam tablet. Sebab menurutmu tidak ada hal menarik di dalamnya. Kau tidak sanggup melihat deretan laporan dalam folderku yang membuatmu pening hanya dengan melihat judulnya. Selera kita begitu berbeda satu sama lain namun tak lantas membuat kita saling membenci. Saat aku bekerja kau akan menyibukkan dirimu dengan melihat video lucu atau menggambar sketsa. Bukankah seharusnya kita cocok satu sama lain?

“Selamat datang penanti cinta..” Suara riang pramusaji itu terdengar lagi. Selanjutnya aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan karena terlalu fokus pada deretan angka di depanku.

Oppa..” Suara serak yang kukenal menyapa lembut telingaku.

Aku mendongak dan merasa sesak karena tanpa sadar sudah menahan napas. Mataku hampir tak berkedip menatap ke arah sosok yang muncul di depan mejaku. Bibirku menyunggingkan senyum lebar. Jantungku tiba-tiba saja berdegup lebih cepat. Ternyata rasa itu masih ada. Rasa bahagia yang menghiasi relung hatiku sejak lama dan tersimpan rapi di hatiku yang terdalam.

Wanita itu adalah dirimu. Kau, pujaan hati yang selama ini kurindukan. Kau yang membuatku menahan diri untuk tidak merengkuhmu dalam pelukanku. Mengusap lembut rambutmu, mencium keningmu atau sekedar melihat senyummu. Tapi aku tidak mungkin melakukannya. Karena saat ini kau tidak sedang melangkah sendiri. Senyumku lenyap saat melihatmu datang bersama siapa. Bayi lelaki bertopi beruang. Wajahnya tampan dengan mata tajam dan alis hitam tebal. Ia menghisap ibu jarinya sendiri. Segala perhatianku langsung tertuju padanya, membuatku lupa untuk menyambutmu.

“Fany-ya..,” Sahutku lirih setelah pandanganku beralih padamu.

Kau masih saja memesona seperti dulu. Penampilanmu yang sederhana, pipimu yang merona semakin membuatmu sempurna.

Mian, apa kau sudah menunggu lama?”

Aku menahan rasa kecewa di dadaku. Harapanku untuk menghabiskan waktu berdua denganmu pupus sudah.

Oppa, aku bertanya padamu.”

“Kukira kita hanya akan bernostalgia berdua.”

“Maaf. Sepertinya dia tahu kalau aku akan pergi.”

Pria kecil di gendongan Tiffany menatapku. Bibirnya mengerut disertai mata bening yang terlihat berkaca-kaca.

“Mmmaaaaa!!!” Akhirnya dia memutuskan untuk menangis.

Kau menggerutu, “Oppa, kau membuat takut putramu sendiri!” Tanganmu mengusap punggungnya lembut. “Sssh.. Won kaget ya..”

“Mma..mma..” Putra kita masih terisak.

Baiklah.. salahkan aku dan rasa cintaku padanya. Padahal tadinya aku ingin sekali ini saja mengacuhkannya. Kuraih putra kita dari gendonganmu dan memeluknya.

“Tidak apa-apa. Appa tidak marah. Ssshh… Sayang.. kau ingin ikut dengan Eomma  ya?”

Pangeran kecil kita menyandarkan kepalanya di bahuku. Aroma khas bayi yang berasal dari bedak dan baby cologne menguar dari tubuhnya. Aku menyesapnya perlahan. Rasa haru menyelimuti hatiku. Dia adalah putra kita. Buah dari cintamu dan cintaku.

“Hana mana, Sayang?” Tanyaku padamu yang tengah membuka sebungkus biskuit.

“Eoh.. tadi dia..”

Appa!!” Suara nyaring diiringi derap langkah riang memotong ucapanmu.

“Nah.. jadi pengacau kita sudah lengkap sekarang.” Gurauku.

Gadis manis berkuncir dua itu menatapmu, “Eomma, pengacau itu apa?”

Kau melayangkan tatapan mematikanmu padaku sebelum mengelus pipi putri kita, “Bukan apa-apa, Cantik. Jangan dengarkan Appa.”

Gadis kecilku menggeleng. Dia tidak puas dengan penjelasanmu, “Appa, apa itu pengacau?”

Karena bayi kita sudah tenang aku memutuskan untuk duduk dan mengecup keningnya. “Pengacau itu artinya berisik. Noona selalu berteriak saat Won tidur.”

Putri kita menyeringai, “Habis.. Eomma tidak menoleh kalau Hana memanggil dengan pelan.”

Kau tertawa sebelum pandanganmu tertuju pada piring bekas makananku.

“Apa yang kau pesan, Yeobo?”

Cheese cake.” Jawabku ditengah acara menggelitiki putra kita.

Bibirmu mengerucut, “Kau meninggalkan aku.”

Aku tersenyum. “Maaf, Sayang. Rasanya terlalu lezat. Aku tidak sadar sudah menghabiskannya. Bagaimana kalau kau juga memesan sesuatu?”

Senyum di bibirmu mengembang, “Setuju. Mana uangnya?” Kau menengadahkan telapak tangan.

“Dasar ibu rumah tangga perhitungan!” Ujarku sembari merogoh saku dan memberikan dompetku padamu.

“Hana mau makan apa?” Tanyamu pada putri kita.

Dia tampak berpikir, “Hana mau ikut pesan.” Jawabnya seraya turun dari kursi.

“Sebentar ya, Sayang.” Pamitmu padaku sebelum meninggalkanku bersama pria kecil kita.

Aku membiarkan putraku memakan potongan biskuit susunya dan memperhatikanmu. Tidak ada yang berubah denganmu, Sayang. Rambut ikal, mata cantik, bibir indah dan pipi merona itu masih tetap sama seperti dulu. Pesonamu tidak pernah berkurang. Bahkan kau terlihat semakin menarik dengan gadis manis yang kini menggenggam tanganmu. Putri kita menunjuk sesuatu di dalam etalase. Kau membungkuk dan mengatakan sesuatu padanya. Gadis cantik itu mengangguk lalu tersenyum padamu. Lesung pipi menghiasi wajahnya dan matanya melengkung indah. Dia adalah perpaduan kita yang sempurna.

Kau membuka dompetku lalu tertegun. Aku tahu apa yang kau lihat. Apa kau terkejut? Kau memberengut namun sesaat kemudian memalingkan wajahmu padaku. Kau tersenyum. Kau memberiku ciuman jauh dan mengedipkan sebelah matamu padaku.

Sayang.. tentu saja aku tahu tidak ada kehidupan abadi di dunia ini. Begitupun hidupku atau hidupmu. Namun izinkan aku untuk menciptakan kisah cinta paling indah dalam sejarah hidup kita. Aku rasa sampai kapanpun rasa ini tak akan terganti. Aku mencintaimu Tiffany Choi, istri dan ibu dari anak-anakku.

Kau terlihat mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu. Siapa yang kau hubungi, Cintaku? Siapapun itu kuharap tidak mengganggu kebersamaan kita. Suara pengingat pesan mengalihkan perhatianku darimu. Sebuah email masuk. Darimu.

12 Februari 2017

Oppa, di tanggal yang sama beberapa tahun lalu adalah saat pertama kali aku memanggilmu begitu. Oppa.. Oppa-ku.. Oppa milikku..

Sampai saat ini aku tak pernah tahu apa yang membuatmu begitu mencintaiku. Kau pria sempurna dimataku. Tampan dan pekerja keras. Bagaimanapun aku berusaha mencari jawaban, mengapa kau bisa jatuh cinta pada seorang gadis yang terjatuh di kebun belakang rumahmu. Tapi aku tak pernah menemukan jawabannya. Kau tidak pernah mau menjelaskan apa alasanmu berjuang begitu gigih meraih prestasi tertinggi di bidang yang tidak kau minati.

Namun sekarang bagiku, ada atau tidaknya jawaban darimu sudah tidak penting lagi. Yang memenuhi kepalaku hanyalah bagaimana caraku untuk mencintaimu dengan semua hal yang ada pada diriku. Sebab mengenalmu entah mengapa membuat hidupku seolah menjadi utuh.

Kau mengatakan lamaranmu tidak sempurna tanpa bunga atau cincin berkilau. Namun bagiku kau telah memberikan hati dan seluruh hidupmu untukku. Atau bahkan lebih dari itu.

Keterlaluankah jika aku berharap kita akan selalu menikmati senja bersama sepanjang sisa usia kita?

Salahkah aku jika meminta Tuhan menciptakanmu hanya untukku?

Aku tidak pandai mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi sungguh..

Aku. Cinta. Padamu.

Your lovely, T.

-The End-

Iklan

29 respons untuk ‘(AF) My Lovely T

  1. Aku senang gak masuk ‘trap’nya author 😂 well, ini agak twisted di pertengahan-akhir, tp yah beruntung aku gak kejebak wkwk
    Btw, this fanfic is so damn good 👍 ceritanya, tata bahasa, penggunaan kata, semuanya bagusss
    Fluff dari awal, sweet af 😍 pokoknya suka lah, ditunggu pake banget karya yg lainnya 😘
    Keep it up author-nim 💪

  2. Tll manis bgt crtny jd merinding bgt. Mngkin g slh klo sifany bnr2 hub yg real.
    Hmpr aj pkran buruk klo ini cm crt siwon yg g bs am fany, nytany justru mrk bnr klrg bhgia bhkn udh ad buah cinta mrk.
    Bnr2 bkin merinding n berbungah hati.^^

  3. Ya tuhaaaann,bisa kena diabet nih krn baca ff yg satu ini,si sweeettt bgt dah pokoknya.lanjutin ff yg belum selesai donk kak😁

  4. Annyeong….😄
    Hhaaaaaaaa……😚😙…mbrebes mili, haru bahagia……membaca “My Lovely T”, “Dadaku membuncah dengan rasa bahagia yang membuat kupu-kupu berterbangan dalam perutku”….sista… karya mu bisa membunuh ku…. 😙😙… laah gimana enggak…. kalo’ dadaku membuncah trus meledak, atau kupu2 benar2 terbang dalam perut ku… wasalam idup ane…. untung aja gak meledak Sist, dan gak ada kupu2 yg terbang dlm perut ku, tapi aku serasa mabuk kepayang setelah baca “My Lovely T”, ide ceritanya, alurnya, tata bahasanya, dari awal sampe akhir….aaaaa… semua gak pernah sembarangan, semua terorganisir (bahasa apa ini..😅) dengan rapi, aku baca ini sambil dengerin “when you say you love me” -nya bang Josh Groban di lanjut “With You” masih JG juga, lalu dilanjut dengan OST fav dari Drakor Fav ku “You are My Spring” SSK, Secret Garden….dah complete, makin endol, makin dapet feel-nya……. yaak ampuuun….😂 kapan aku punya kisah cinta seindah “My Lovely T”…. #edisijomblobaper
    Laah… pokoknya…Kirynalice is the best…👍👍👍👍, original, cerdas, detail, dan membumi….
    Speechless aku….(ai..mampuss…. speechless ja komennya segambreng gini…pakek curcol lagi)
    Terimakasih banyak…. banyak banget pokoknya…., karya berikutnya selalu dinanti….
    Gomawo…🙇..Annyeong…😄

    • Satu lagi lupa, sangking mabok kepayangnya nih…..”Karya yang hebat tidak pernah lahir sembarangan” dan “My Lovely T” tidak pernah lahir sembarangan….
      Love you Sista…😚😚😘

  5. Waaww ceritanya romantis bgtt!!! Author lg mikirin apa pas nulis cerita ini?? Tapi sayangnya short chapter😢 kirain pertamanya enggak jodoh, eehh tau”nya jodoh smpe udh punya anak. Ditunggu karya slnjtnya yaa

  6. astaga astaga, mantap banget gaya penulisan and pemilihan katanya, semua yg baca pada hanyut kebawa suasana…gak nyangka ini makin ke ending makin sweet makin berasa real, makasih author udah buatin kita ff seindah ini..jadi kangen sma sifany

  7. “Silahkan. Selamat datang penanti cinta..”
    Haha ini siih kata2nya dalemm vrohh..

    sindiran secara g langsung untuk “sang jomblo” 😀

  8. dibuat speechless sama ff mu ini teteeeeh! setelah sekian lama gak baca ff sifany dan teteh menyuguhkan sebuah mahakarya yg patut diacungi jempols.
    aku suka point of view nya yg rinci dan jelas. teteh menjabarkannya dengan mulus dan bikin rasa penasaran pembaca terus berkobar halaaaah hahaa.
    good job author kesayangan ❤

  9. Whoaaaaaa ini sweet abis T.T udah lama ga baca ff sifany pas baca inj langsung kangen sama momentnya daddy siwon sm tiff eomma, semoga pas dad balik dr wamil ada confirm dating sm tiffamy deh amiinn XD
    Ditunggu next ff nya author-nim^^

  10. Aaaaaaaaa yah ampun aku melumer bacanya, gak kuat tuhan Siwon oppa kamu sweet banget sih, makan apa sih bisa jadi kayak gitu?

  11. omoooooo iniii sweeettt bangeett sumpah.. Seorg badboy yg mencintai goodgirl dan mau berubah karena goodgirl-nya. Cintanya siwon bener” buat aku terpada sampai lupa bahwa ini hanyalah ff semata..

  12. penulisan kata dan bahasanya bikin ceritanya makin perfect😍 cinta sifany selalu jadi yg tersweeet aiguuuu😚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s