(AF) Heartbreak Part 1

HEARTBREAK PART 1

hb-1

Main Cast

Tiffany Hwang [Girl’s Generation]  || Choi Siwon [Super Junior]

Genre

Romance

Length

Chapter

 Rating

 PG 18+

Category

Fanfic

PERINGATAN!!
BAGI KALIAN YANG TIDAK SUKA ATAU BAHKAN ADA SEDIKIT KEENGGANAN MEMBACA CERITA SAYA KARENA MENGANDUNG KATA-KATA KOTOR, KASAR DAN FULGAR, BENAR-BENAR TIDAK MASALAH UNTUK TIDAK MEMBACANYA. KALIAN BEBAS UNTUK ITU, LEAVE IT. DON’T JUDGE..

Nb : sebagian part dari ff ini akan diproteksi, clue pw akan ada di setiap part jadi jika ingin pw, silahkan baca dari part awal hingga akhir,,,Gomawo

Happy Reading🙂

Oke Selamat Membaca…

 

SUMMER 2008

 

Wow… I love summer….

Minggu pertama dimusim panas, dan pagi ini begitu cerah, matahari tersenyum ramah menerpa wajahku.

Aku terus berjalan, ah tidak, sedikit berlari dan melompat girang. Dari bibir tipisku, aku bersenandung menyanyikan lagu milik BOA yang berjudul moon and sunrise. Aku sebenarnya tidak suka bernyanyi tapi orang-orang yang mendengar suaraku, mengatakan aku memiliki suara yang dapat diterima oleh telinga. Ah, aku cukup tersanjung. Walaupun jika aku bicara suaraku tidak begitu merdu, melainkan sangat nyaring. Appa dan teman-temanku sering menutup telinganya ketika aku bicara dengan suara tinggi. Terkadang aku tersinggung. Ya, tapi mau bagaimana lagi? This is me!!

Soal kecantikan, jika dinilai dari 10 – 100 aku mendapatkan nilai 75 untuk kecantikanku, itu menurutku. Aku tidak sempurna dan perlu kalian ketahui tidak ada manusia yang sempurna. Untuk model rambut, aku memiliki rambut panjang lurus berwarna hitam pekat. Aku memiliki mata yang paling indah diantara teman-temanku. Bukan ingin menyombongkan diri sendiri tapi itu lah faktanya. Tinggi tubuh ku berada di rata-rata, tubuhku sedikit berisi dan memiliki lekuk tubuh yang terkadang membuatku tidak percaya diri. Tapi sahabatku bilang, aku terlihat panas dan seksi. Astaga!!!

Oke, sekarang kita kembali pada tujuan utamaku. Sebuah toko yang harus aku kunjungi sudah berada dihadapanku.

Sebelum masuk ke toko untuk mengambil majalah yang Appa minta, aku bercermin melalui kaca mobil Audi Q7 berwarna hitam yang terparkir didepan toko tersebut. Aku bersiul sembari merapikan rambut dan poni tipis yang menutupi keningku.

Dengan percaya diri aku masuk kedalam toko dan mataku mencari dengan liar majalah yang aku cari. Di rak nomor dua, disamping meja kasir, aku melihat majalahnya dan berjalan cepat menuju kesana.

Ketika aku menarik majalah tersebut dengan satu tanganku, seseorang dari belakang tubuhku merampasnya begitu saja.

Kepala ku berputar dan aku melihat pria tampan, tubuhnya tinggi, sampai aku harus mendongakkan kepalaku untuk melihatnya. Aromanya, astaga.. aku dapat bertahan berjam-jam pada posisi seperti ini. hanya untuk mencium aroma tubuhnya.

Mataku berpaling melihat majalah yang berada di tangan pria itu dan spontan mataku membulat dan menarik majalah nya kembali.

“Milikku” aku ingin berteriak, tapi suaraku tidak bekerja sama padaku. Sial!!

“Kau belum membayarnya, Nona. Jadi ini bukan milikmu” bisiknya. Ya Tuhan, suaranya membuat tubuhku bergetar hebat.

Aku menggeleng kuat, menetralkan fikiranku. Apa-apaan “Tapi aku mengambilnya lebih dulu”

Aku masih mempertahankan majalah itu ditanganku dan pria ini mempertahankan majalah ditangannya, tidak mau mengalah.

Dia tersenyum meremehkan kearahku “Selagi kau belum membayarnya, aku masih bisa merebutnya darimu, sayang”

What? Sayang? Astaga, dia mencoba merayuku? Aku tidak akan termakan rayuannya. Ya, harus ku akui, pria didepanku ini  tampan dan terlihat hampir sempurna dengan memakai jeans biru pucat, ditambah kaos putih polos dengan leher V, ada kaca mata hitam tergantung disana.

Dengan berani aku menepuk diatas bahunya “Dengar, kau pria dan aku wanita. Apa kau tidak bisa mengalah dengan seorang wanita?”

Aku memberi penekanan diakhir ucapanku. Aku mulai jengkel dengannya, dan sialnya majalah itu hanya tersisa satu ditoko ini. aku mengerang frustasi.

“Hwang Mi Young” panggilan Ahjussi pemilik toko, mengurungkan pria menyebalkan ini untuk bicara dan aku tersenyum puas.

Ahjussi, katakan pada pria menyebalkan didepanku, bahwa majalah ini adalah milikku” kataku dengan angkuh dan meliriknya sekilas.

Aku melihat ekspresi Ahjussi berubah gugup.

“Maaf, Mi Young aah. Tapi majalah itu milik Tuan Choi” suaranya menyerupai bisikan.

Aku ingin marah pada mereka berdua “Ahjussi” teriak ku tidak terima “Bukankah Appa sudah menelponmu, kau mengingkar janji” gerutuku.

Aissh, memalukan, menyebalkan. Aku tidak berani menatap pria itu tapi aku merasakan matanya mengintimidasi ku. Damn it!!

“Berikan majalah nya pada Tuan Choi, aku akan memberikan majalah mu besok”

Dengan kasar aku melepaskan cengkraman pada majalah dan berjalan keluar dengan menghentakkan kaki ku kuat dilantai. Aku malu dan benar-benar marah. Aku ingin berteriak dan mengomel pada mereka tapi rasa maluku lebih besar dari amarahku. Lebih baik aku pergi dan berharap tidak bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu.

Aissh!! Padahal aku sudah tidak sabar ingin melihat foto Appa dimajalah bisnis itu. Appa masuk tiga pendiri caffe tersukses di Seoul. Aku sebagai putrinya sangat bangga. Sudah 24 tahun caffe itu berdiri, Appa dan Eomma yang membangun caffe tersebut dengan uang mereka sendiri. Sampai Eomma meninggal pun Appa tetap mengembangkan caffe miliknya.

Appa bukan miliyuner yang memiliki mansion super mewah dan megah, bukan. Kami hidup dengan kesederhanaan, caffe yang juga menjadi rumah sekaligus. Dimana hanya ada kami berdua yang tingal disana. Pegawai Appa juga tidak banyak, hanya ada 5. Mungkin yang membuat Appa masuk kedalam daftar 3 pendiri caffe tersukses karena caffe yang dimilikinya paling lama bertahan dengan pengunjung yang tidak berkurang sejak dulu.

Appa tidak memiliki pekerjaan lain, selain dengan caffe nya dan Eomma sudah meninggalkan kami sejak aku berumur lima belas tahun. Eomma difonis memiliki penyakit kanker otak yang merenggut nyawanya. Aku masih tidak percaya, orang sebaik dan sepolos Eomma memiliki penyakit mengerikan seperti itu.

Aku bekerja di butik sekaligus bekerja dibidang Event Organizer milik kedua sahabatku Taeyeon dan Yoona. Baru berdiri sekitar tiga tahun, kurasa. Tapi kami sudah memiliki banyak pelanggan.

Aku sudah berjalan menjauh dari toko, melewati  trotoar didepan toko-toko yang berjejer rapi dipinggir jalan. Rasa kesal belum juga hilang, tanganku masih mengepal menahan amarah yang tak sempat aku luapkan.

Aku memutar tubuhku dengan jengkel ketika aku merasakan seseorang menyentuh bahuku, dan pria menyebalkan ditoko tadi yang berdiri didepanku. Apa lagi yang dia inginkan? Mempermalukan aku?

“Apa lagi?” bentakku, aku melipat tanganku didepan dada. Menatap kearahnya tapi tidak kemata tajamnya karena aku tidak tahan berada dibawah tatapannya.

“Ini majalahmu” katanya dengan lembut. Aku terperangah, pria yang menyebalkan ditoko dan pria yang ada didepanku adalah pria yang sama. Tapi pria yang ada dihadapanku sekarang adalah pria yang lembut. Ya Tuhan, mengapa aku terus memujinya. ANDWAE!!

“Aku tidak membutuhkannya lagi” balasku datar dan aku berjalan meninggalkannya.

Kenapa dia tiba-tiba berubah fikiran? Apa dia baru menyadari betapa tidak gentle nya dia tadi?

Aku mendengar derap kaki yang mengikutiku, dan pria tampan berkepala batu sudah berada disampingku.

“Ahjussi itu bilang sebenarnya majalah ini milikmu, tapi karena aku yang merebutnya darimu, Ahjussi jadi berpihak padaku”

Aku menghentikan langkahku untuk menatapnya lagi dan aku menatap kearah bibirnya yang tersenyum simpul dengan dimple yang menghiasi wajah tampannya.

Siapa pria ini? kenapa dia sangat berpengaruh? Apa dia seorang aktor?

“Siapa kau?” tanya ku dengan lantang.

“Aku Choi Siwon” Dia mengulurkan lengan besarnya padaku. Dia salah paham ternyata tapi itu suatu keberuntungan karena aku dapat mengetahui namanya.

“Bukan namamu, maksudku apa kau seorang yang terkenal? Yang membuat Ahjussi memberikan majalahku padamu”

Dia tersenyum malu tapi terkejut setelahnya “Kau tidak mengenalku?”

Suaranya tinggi dan aaaa… sangat seksi. Hatiku menjerit untuknya. Ya Tuhan, aku bisa gila. Aku diam untuk menetralkan fikiranku, bersikaplah cuek padanya Hwang Mi Young…

“Apa itu penting”

Aku mengintip dari bulu mataku, dia menatapku lekat “Aku serius, kau tidak mengenalku?”

Sepertinya dia ingin kejelasan dariku, tapi aku tidak mengenalnya. Sungguh. Atau kami pernah bertemu sebelumnya? Kurasa tidak.

“Aku tidak mengenalmu dan tidak ingin mengenalmu” bentakku setengah berteriak dan berjalan pergi.

Pria itu, Siwon masih mengikutiku. Aku terlalu sibuk, tidak ada waktu hanya untuk mendengar celotehan tidak jelas dari orang asing yang baru aku temui beberapa menit yang lalu.

“Tapi aku ingin mengenalmu” dia berbisik disampingku.

Sial, tubuhku meremang. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan ucapannya yang aku ingin anggap seperti angin lalu, tapi gagal karena ucapannya terus berputar di kepala ku.

Tiba-tiba tubuh tegap yang menjulang tinggi berdiri didepanku dan secara otomatis aku menghentikan langkahku. Mataku terbelalak saat tangannya mencengkram sisi tubuhku dengan kuat. Aku mencoba melepaskan diri tapi aku tidak memiliki banyak tenaga. Sentuhannya sangat berpengaruh untukku.

Demi Tuhan, aku belum pernah merasakan hal semacam ini, maksudku tubuhku merespon semua apa yang pria asing ini lakukan padaku.

Mata kami bertemu dalam beberapa detik, setelah itu mataku berpetualang menghapal setiap inci bentuk wajahnya. Dari mata, hidung, astaga bibirnya.. aku-

“Siapa namamu?” tanya nya. Menghancurkan lamunanku yang hampir berfantasi liar tentangnya.

Aku menetralkan suaraku, tenggorokanku begitu kering “Kau tahu” balasku.

Pasti dia sudah tahu namaku, tadi Ahjussi memanggil namaku dengan lengkap, lantang dan sangat jelas menurutku. Jadi tidak mungkin jika dia tidak mendengarnya.

Perlahan dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membuatku semakin menegang. Apalagi ketika aroma tubuhnya menusuk hidungku. Apa yang akan dia lakukan?

“Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirmu”

Dia berbisik tepat ditelinga kiriku, bahkan nafasnya menerpa pipiku. Posisi seperti ini membuatku semakin gugup, aku mengangkat bahu untuk melepaskan diri dari cengkramannya.

“Lepaskan aku, aku merasa tidak nyaman. Kau pria asing yang baru aku temui beberapa menit yang lalu” Dia melepas cengkramannya dengan enggan dan tertawa congkak. Pria ini begitu banyak kejutan.

“Mau minum kopi bersamaku? Untuk permintaan maaf dan menghilangkan kata asing diantara kita”

Siapa yang bisa menolak ajakan pria hot? Tapi itu bukan aku, aku tidak minum dengan orang yang baru saja aku temui.

“Aku sibuk”

Setelah kata itu mencelos dari mulutku, hatiku berteriak berlawanan. Ada apa sebenarnya denganku? What are you doing to me, Choi Siwon. Aku banyak menembus pintu-pintu yang tidak seharusnya aku masuki. Tapi dengan pria ini dengan mudahnya aku memasuki pintu-pintu itu tanpa dapat mencegahnya.

“Oke” dia menggaruk tengkuknya, terlihat salah tingkah “Aku berharap suatu hari kita bertemu dan dapat mengobrol dengan nyaman” dia tersenyum lebar kearahku, senyum percaya diri.

“Dan ini majalahmu” dia menjulurkan majalah dihadapanku.

Aku merenggut majalahnya dengan kasar “Aku tidak yakin, akan ada suatu hari diantara kita dan terimakasih”

Aku berlalu pergi meninggalkannya, ada rasa kecewa ketika Siwon tidak mengikuti ku lagi. Tapi merasa bersyukur, jika masih berada disekitarnya jantungku bisa melompat dari tempatnya.

Aku juga berharap dapat bertemu dengan mu lagi…

 

***

Aku melihat senyum Appa tidak pudar sejak aku pulang membawa majalah itu. Dengan antusias, dia membawa majalahnya untuk memamerkan pada pegawai dan pengunjung.

Melihat majalah itu membuat aku teringat pada pria bernama Choi Siwon. Kapan kami akan bertemu lagi? Ya Tuhan, sebelumnya aku tidak pernah mengharapkan apapun. Tapi sekarang aku mengharapkan hal yang belum tahu kejelasannya.

“Sepertinya putriku tidak begitu senang melihat foto Ayah nya berada didalam majalah” teguran Appa menghancurkan lamunanku.

Pria itu benar-benar menyita semua fikiranku, seharusnya aku sedang berbahagia sekarang. Aku memeluk leher Appa dan meninggalkan kecupan basah disalah satu pipi nya.

“Appa tahu, betapa bangganya aku.”

Aku menunjukkan senyum terbaikku tapi Appa menatapku dengan tatapan menyelidik. Dia mengenalku melebihi diriku sendiri, itu lah Ayahku.

“Apa yang ada disini?” Appa menepuk keningku beberapa kali, aku meringis “Kau terlihat sedang berfikir”

Aku tidak harus menceritakan pada Appa, apa yang terjadi ditoko tadi. Pertengkaran kecil dengan pria tampan super seksi. Itu hanya akan aku bagi pada Taeyeon dan Yoona saja. Itu juga mungkin.

Bunyi klakson menyelamatkan aku. Itu pasti Taeyeon dan Yoona yang menjemputku. Aku menyampirkan tas dibahuku dan merapikan mini dress berwarna kuning tanpa lengan milikku.

“Appa, aku harus pergi bekerja. Semoga harimu menyenangkan”

Aku berlari kearah pintu, tidak ingin Taeyeon mengomel karena aku begitu lama.

“Kau juga dan jangan telat makan” Appa berteriak dan aku mengangkat ibu jari ku sebagai jawaban.

Aku melompat kedalam mobil Bentley berwarna putih milik Taeyeon, sahabatku, bitch, byuntae, hmm apa lagi ya? Kalian bisa menilainya nanti. Sangat berbeda dengan Yoona yang lugu dan polos. Yoona memang berbeda dua tahun dibawah kami. Yoona seringkali menyumpal telinganya jika aku dan Taeyeon sedang berbicara berbau dewasa.

Ketika aku mendaratkan bokongku dijok kulit, dikursi penumpang. Taeyeon melemparkan majalah kepangkuanku. Majalah itu lagi, aku menggeleng kuat membuang fikiran ku tentang pria itu.

“Appa mu sangat tampan, seperti aktor Lee Min Ho”

Taeyeon menginjak pedal gas dengan lembut dan perlahan mobil melaju meninggalkan halaman rumahku. Taeyeon menengok kepalanya sebentar kebelakang, tersenyum konyol kearahku.

“Andai Ayahmu mau aku jadikan yang kedua, aku mau dijadikan istrinya”

Aku memukul kepalanya keras dengan majalah “Kau gila” hardikku “Aku tak sudi memiliki Ibu tiri sepertimu” aku menyandarkan kepalaku, sedang tidak berminat untuk melayani obrolan gila nya Kim Taeyeon.

“Tapi kau mencintaiku Hwang Mi Young” Tentu, tapi untuk menjadi Ibuku, aku tidak sama sekali menyetujuinya. Itu konyol.

“Unnie, kau memiliki Jung Soo Oppa dan Joon dirumah. Ingat itu” Yoona berseru, menutup majalah fashion yang tadi sedang ditekuni nya.

“Jangan mengungkit hal itu jika kita sedang berada diluar” ucapnya jengkel. Pasti dia sedang memutar matanya seperti biasa, dasar wanita gila. Dia selalu merasa bahwa dirinya seorang wanita single, padahal dia sudah memiliki putra berusia satu tahun.

“Akan aku adukan pada Jung Soo Oppa” ancam Yoona, tangannya menyambar ponsel yang berada dipangkuannya.

“Dia lebih percaya padaku dari pada kau” balas Taeyeon santai.

“Bagaimana jika aku merekamnya, apa Jung Soo Oppa masih percaya pada Unnie?” kena kau Kim Taeyeon.

Taeyeon menatap Yoona dengan tatapan mematikan “Kau jahat” Taeyeon mempoutkan bibirnya pura-pura merajuk, beberapa detik setelah itu Yoona tertawa dan menularkan tawanya pada Taeyeon dan aku. Aku tidak begitu lepas tertawa sampai mataku bertemu dengan mata Taeyeon dari kaca depan.

“Hwang, kau terlihat sangat tidak biasa pagi ini?”

Tidak biasa bagaimana? Kacau kah? Aku harus menceritakan nya pada mereka tentang pagiku yang ah entahlah aku tidak bisa mengungkapkannya.

“Aku memiliki pagi yang membuat hatiku porak poranda” aku menghembuskan nafas dengan kasar.

“Lanjutkan” seperti biasa, Kim Taeyeon yang haus akan informasi.

“Saat aku ke toko untuk membeli majalah. Ada seorang pria yang merampas majalahku. Dia menyebalkan memang tapi dia sangat-” aku memejamkan mataku mengingat setiap inci bentuk tubuh dan wajahnya “Dia tampan, seksi, terlihat panas, bersih dan harum” senyum perlahan melintas di bibirku.

“Wow” Taeyeon berdecak dengan suara yang berlebihan “Kau melihatnya bertelanjang dada? Atau kau sudah tidur dengannya?”  Aku sudah dapat menebak, pasti kesinilah arah pembicaraannya. Dasar ByunTaeyeon!!

“Unnie jangan mulai” Yoona setengah berteriak pada Taeyeon. Wajah cantiknya merengut sebal.

Taeyeon mengambil earphone B&O warna hitam di dashboard dan melemparkannya pada Yoona “Sumpal telinga mu” perintahnya tapi Yoona mengabaikannya dan memutuskan mendengarkan perbincangan diantara aku dan si gila Kim Taeyeon.

“Tidak keduanya. Apalagi tidur dengan nya, itu bukan aku”

Aku memutar mataku, walaupun mulut kotor Taeyeon sudah terbiasa untuk aku dengar tapi masih saja membuatku jengkel padanya, setiap kali membahas masalah seperti ini.

“Bagaimana kau bisa menilai dia seperti itu sedangkan kau tidak melihatnya telanjang” Taeyeon memperlambat laju mobilnya hanya untuk mendengar ceritaku.

Aku mengangkat tubuhku, duduk dengan serius “Kami berdiri sangat dekat, bahkan dia menyentuh bahuku”

Seperdetik kemudian, Taeyeon menepikan mobilnya dan menyuruh Yoona menggantikannya. Taeyeon masuk kembali kedalam mobil dan duduk tepat disampingku. Yoona selalu menjadi mangsa Taeyeon untuk menjadi supir kami. Kasihan sekali Yoona..

Taeyeon memutar tubuhnya untuk duduk berhadapan denganku, wajahnya terlihat begitu serius “Yaak!! Dia sudah memberimu sinyal bahwa dia menginginkan mu. Mengapa kau tidak mengajak nya ke hotel terdekat, Hwang”

Lihat betapa gila nya dia. Mataku menatap nyalang kearahnya “Kim, aku serius” aku berteriak frustasi kearahnya.

“Aku juga” balasnya dengan suara datar. Terkadang aku geram dengan tingkahnya.

“Unnie, kau selalu bicara kearah itu dengan terang-terangan. Itu sangat memalukan” Yoona yang tengah fokus mengemudi pun masih mendengarkan pembicaraan absurd kami.

Taeyeon menengok kerah Yoona “Tidak jika didepan kalian. Dan fokuslah mengemudi Lim Yoona, karena aku belum ingin mati” kata Taeyeon dengan penuh penekanan dan perintah.

Taeyeon kembali memusatkan perhatiannya padaku “Well, apa yang kau rasakan pada saat itu?”

Aku menatap langit-langit mobil, mengingat sengatan yang menyulut tubuhku “Perasaan aneh” kataku dengan cuek “Jantungku berdebar hebat, aku gugup, suaraku seketika menghilang dan ya kaki ku bagaikan jelly” aku meringis ngeri mengingatnya.

“Kau menyukainya?” Taeyeon membelalakkan mata kecilnya padaku.

Dia pasti terkejut, karena aku tidak dengan mudahnya menyukai pria. Bahkan aku baru berkencan satu kali. Itu karena aku masih sulit untuk ditaklukan, tapi kali ini? bahkan aku tidak dapat mengenal diriku sendiri.

“Bukannya itu aneh jika aku menyukainya dipertemuan kami yang begitu singkat”

Love at the first sigh” celetuk Yoona. Ternyata dia masih menyimak pembicaraan kami.

Aku menggeleng masih tidak percaya “Setelah lima tahun akhirnya kau membuka hatimu, Hwang. Segera bertemu dengan pria hot itu lagi dan bawa dia keranjang empuk milikmu”

Taeyeon memelukku erat, tapi setelah mulut kotor nya itu berceloteh, aku memukul belakang kepalanya dan Yoona tersenyum puas dengan tindakanku. Mungkin dia sama muaknya denganku.

 

 

***

Ini sudah tiga hari setelah pertemuanku dengan pria seksi itu. Sengatan-sengatan ditubuhku masih sedikit terasa walaupun tidak sedahsyat seperti pertama kali. Mungkin seiringnya waktu, rasa ini akan berkurang. Kuharap begitu.

Aku menepikan mobil milik Taeyeon diparkiran sebuah restoran dan disamping ku ada seorang anak kecil tampan yang tengah kelaparan. Park Joon, buah cinta Jung Soo Oppa dan Taeyeon.

Baby sitter nya sedang sakit, jadi Taeyeon membawanya ke kantor. Sebenarnya ada dua pelayan dirumah Taeyeon tapi Joon sangat pemilih untuk bergantung pada orang lain.

Taeyeon ada rapat siang ini dan Yoona harus bertemu klien, jadi aku lah yang mengajak anak ini untuk pergi makan. Karena biasanya Yoona yang melakukan hal ini, sebab mereka tahu aku tidak menyukai anak kecil.

Anak kecil itu merepotkan menurutku, dulu aku sempat berfikir tidak ingin memiliki anak. Tapi melihat Joon, aku berubah fikiran. Dia anak manis, walau terkadang menyebalkan karena selalu menangis jika jauh dari Taeyeon atau baby sitter nya. Tapi siang ini dia tidak menangis  karena aku mengajaknya naik mobil, dia suka sekali jalan-jalan berkeliling menggunakan mobil.

Aku menggendongnya karena dia belum terlalu mahir berjalan. Aku masuk kedalam restoran dengan Joon yang terus memainkan rambutku dan sesekali menariknya. Betapa menyebalkannya bukan? Belum lagi orang-orang yang berada didalam restoran tidak ada yang melirik ku, itu karena mereka mengira aku seorang Ibu karena membawa Joon. Oh tolonglah, aku tidak akan mendapatkan jodoh jika terus membawa anak ini.

Sebenarnya duduk di dekat jendela itu menyenangkan apalagi saat musim panas seperti ini, tapi sayang nya semua meja dekat jendela sudah penuh. Jadi aku mengambil tempat di tengah-tengah restoran.

Aku mendudukkan Joon di baby chair. Selagi aku menekuni buku menu, Joon terus memukul-mukul meja, dia sudah sangat kelaparan, kurasa. Aku memesan dengan cepat dan setelah itu mengajak Joon bercanda selagi menunggu makanan datang.

Sesaat aku sedang asik bercanda bersama Joon, aku merasakan seseorang berdiri tepat dibelakang ku. Aku mencium aroma cologne dan aku pernah mencium aroma ini sebelumnya. Pria itu!!!

Perlahan aku memutar kepala ku dan benar itu dia. Choi Siwon..

“Hai” dia menyapaku dengan senyum manis nya yang mencapai matanya. Mata kami bertemu, apakah ini kebetulan?

Aku tidak sanggup  membalas sapaannya, sampai dia mulai bicara padaku lagi “Semua meja penuh, apa aku boleh bergabung dengan mu? Aku akan membayar bon nya nanti”

Dia mengedarkan pandangannya keseluruh sisi restoran dan kembali menatap tepat dimataku. Aku berdehem, agar suaraku terdengar biasa.

“Kau boleh bergabung dan tidak untuk membayar bon nya. Karena aku bisa membayarnya sendiri”

Tanpa berfikir lama, dia menarik kursi dengan anggun dan duduk disampingku. Dia terlihat lebih tua dengan menggunakan pakaian formal dan rambut yang tersisir rapi. Dia seperti tidak nyaman duduk dikursi nya, dia terus menunduk. Apa dia tidak nyaman berada dekat dengan ku? Atau dia malu?

Ketika pelayan datang dan membawakan pesananku, Siwon berbisik padaku “Tolong pesankan aku kopi dengan banyak es” pintanya dengan lembut. Kenapa dia tidak memesan sendiri saja?

Aku mengangguk pelan dan berbicara pada pelayan untuk pesanan yang Siwon minta.

“Kau tidak memesan makanan?” tanyaku, saat pelayan mulai berjalan pergi.

“Tidak” pria aneh, datang ke restoran hanya untuk memesan kopi. Ah terserah dia, itu bukan urusan ku, kan?

“Apa pekerjaan mu?” pertanyaan itu mencelos begitu saja dari mulutku. Astaga, ini sangat terlihat jika aku tertarik padanya. Memalukan!!

Dia menunduk tapi aku tetap dapat melihatnya jika dia sedang tersenyum. Siwon sedikit menegakkan kepalanya dan melihat kearah Joon yang ada disisi kanan ku. Ya Tuhan, bahkan aku hampir lupa jika aku sedang bersama Joon. Lihat? Sekarang dia sedang mengacak acak spagetti didepannya.

“Apakah dia putra mu?” tanyanya, suara Siwon terdengar tidak suka. Dia memandang aku dan Joon bergantian, pasti sedang membandingkan wajahku dan Joon. Jelas tidak mirip.

Aku mengangkat jari-jari tanganku kehadapan nya “Apa kau melihat cincin yang terselip dijari ku?”

Dia tertawa. Ya ampun, dia tampan dalam segala hal.

“Aku kira kau sudah menikah” bukan hanya kau, tapi semua orang yang berada direstoran ini menganggap aku sudah menikah “Aku percaya, karena kalian tidak terlihat mirip”

Dia melirik wajah ku dan Joon bergantian, aku melihat Joon yang sedang asik melahap spagetti nya, disekitar mulutnya kotor oleh saus.

“Dia putra temanku” aku memberitahunya, menghilangkan rasa penasarannya.

“Kita belum berkenalan secara resmi” Siwon mengulurkan tangan besarnya “Choi Siwon” aku sudah tahu namamu, aku masih mengingatnya.

Dengan ragu, aku menerima uluran tangannya “Hwang Mi Young” kataku, kau harus mengingat namaku juga Choi Siwon.

Dia meremas tanganku pelan, dan kami saling menatap satu sama lain, sampai pelayan datang membawa pesanan Siwon dan tangan kami berpisah.

Siwon menyeruput es kopi nya, bibir tipisnya menyelimuti sedotan minuman tersebut. Membuat aku menelan ludah melihatnya. Betapa beruntungnya sedotan itu.

“Berapa usiamu?” kenapa dia ingin tahu?

“25” aku tetap menjawab “Kau?”

“28” Siwon duduk lebih tegap dan menautkan jari jarinya diatas meja, mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan ku “Apakah kau sudah memiliki pacar?” tanyanya, suaranya terdengar seperti bisikan.

Aku menarik tubuhku menjauh darinya “Kenapa kau ingin tahu?”

Dia menarik satu tanganku yang berada diatas meja, aku terkejut dan menatap matanya. Aku meleleh oleh tatapannya, oleh sentuhannya. Pria ini berpengaruh besar padaku dan aku sangat membenci diriku karena tidak dapat mengontrol diri.

Wajah nya lebih serius dan dia mulai bicara dengan mata kami yang masih saling menatap “Sebenarnya.. aku” aissh.. apa sih sebenarnya yang ingin dia katakan? Dia membuat aku menunggu. Sial!!

“Sebenarnya aku hanya tidak ingin, seseorang menendang pantatku karena bergabung bersamamu disini”

Double damn!! Aku mengira dia akan mengatakan ‘aku menyukaimu’ atau hal lainnya yang membuat aku ingin lebih. Ini lah jika kita terlalu berharap, karena semakin besar harapan semakin besar pula rasa kecewanya.

Aku tertawa menangapi ucapannya “Tidak, tidak ada. Tidak ada seorang yang akan menendang pantat mu. Kau tenang saja”

Aku mengalihkan perhatian ku pada Joon, dan melihat anak itu sudah sangat kacau dengan saus yang menempel disekitar mulutnya dan pakaiannya. Itu mengapa Taeyeon membawakan tas perlengkapan Joon, karena seperti ini cara anak nya makan.

Aku menatap Siwon, matanya berbinar seperti memenangkan undian “Maaf, aku harus ke toilet, anak itu sudah sangat kacau” aku menunjuk Joon dan mata Siwon berpaling melihat Joon yang memainkan garpu dan mengetuk-ngetuk nya dipiring.

“Ya, silahkan”

Astaga, dia tersenyum seperti itu lagi padaku. Kaki ku sampai tidak dapat berfungsi untuk melangkah. Sulit rasanya untuk berjalan saat melihat senyum nya tadi. Dan itu membuat ku menggeleng jijik untuk diriku sendiri.

“Apa ada yang salah?” tanya Siwon yang menatapku dari atas hingga ujung kaki.

Aku menghembuskan nafas kasar, merasa frustasi berada di dekat pria ini.

“Tidak ada. Hanya sedikit keram karena terlalu lama duduk”

Bersyukur, kaki ku sudah dapat digerakkan dan membawa Joon dengan cepat tanpa berniat menoleh kebelakang hanya untuk melihat Siwon.

Butuh waktu lama untuk merapikan Joon, karena dia begitu aktif. Tapi sekarang dia sudah kembali menjadi pria tampan yang harum. Aku menempatkan Joon dipangkuan ku setelah kami kembali ke meja. Aku memanggil pelayan, meminta tagihannya tapi pelayan itu bilang bahwa semuanya sudah dibayar.

Aku menatap Siwon yang sedang memainkan ponselnya. Dia tidak menoleh juga saat pelayan pergi, jadi aku menendang tulang keringnya.

“Kepala batu” aku setengah berteriak “Bukan nya aku sudah bilang, kau tidak perlu membayar tagihan sialan ini” aku sampai kelepasan bicara kasar di depan anak kecil.

Siwon meringis kesakitan dan memusatkan perhatiannya padaku. Dia suka sekali menatap ku seperti itu.

“Kau seharus nya hanya mengucapkan terimakasih saja padaku”

“Oke, terimakasih. Berapa yang harus aku ganti?” aku menarik dompetku dan berharap masih menyimpan uang tunai disana. Tapi keberuntungan tidak berpihak padaku.

Aku tahu, Siwon menjulurkan kepalanya dan melihat isi dompetku “Lihat, kau bahkan tak punya uang tunai, kan?”

Aku membenci situasi seperti ini “Baiklah, berapa nomor rekening mu?” aku meletakkan kembali dompetku kedalam tas dan menarik ponsel ku keluar.

Siwon merampas ponsel ku dengan cepat “Dari pada nomor rekening, lebih baik kau menyimpan nomor ponselku dan traktir aku makan siang, suatu hari”

Dia mulai menyibukkan jari nya di ponselku. Aku hampir menjerit senang “Jadi akan ada suatu hari, lagi?” tanya ku tidak percaya. Aku tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dari suaraku.

Siwon hanya mengangguk, diam masih menekuni ponsel. Akhirnya dia mengembalikan ponselku, aku mengambil tanpa menyentuh tangan nya. Tangan Joon yang menarik tangan Siwon mengejutkan kami. Joon menjulurkan tangannya kearah Siwon dan berharap Siwon mengambil dan membawa kepelukannya. Mau tidak mau, aku menyerahkan  Joon pada Siwon yang nampak masih terkejut.

“Sepertinya dia menyukai mu?” kataku ketika menempatkan Joon dengan aman dipangkuan Siwon.

Siwon mencubit pipi Joon tapi ekspresi wajahnya nampak kaku. Sepertinya dia tidak memiliki banyak pengalaman dengan anak-anak sama seperti aku.

“Dia hanya merindukan Ayah nya. Sejak berada di dekapan ku, dia berucap papapa”

“Ya kau benar. Sudah satu minggu Joon tidak bertemu ayahnya. Perjalanan bisnis”

Aku melihat Siwon menganggukan kepalanya sebentar, lalu Siwon berusaha mengajak Joon bermain. Siwon mengeluarkan bunyi hewan dari mulutnya yang membuat Joon tertawa geli. Ternyata Siwon tidak begitu buruk soal mengasuh anak, sepertinya dia bisa menjadi Ayah yang hebat.

Bunyi ponselku mengintrupsi lamunanku. Sial, itu Taeyeon. Ini sudah lewat jam makan siang, pasti dia mengkhawatirkan aku, ah tidak mengkhawatirkan putranya.

Aku mengangkat teleponnya dengan cepat “Ya, kami sedang dijalan” sebelum Taeyeon sempat mengatakan apapun, aku mencela nya dan mematikan telepon.

Aku tahu Taeyeon akan marah seperti biasanya karena sikapku yang selalu mematikan telepon tanpa membiarkannya bicara. Tapi itu urusan nanti, aku harus kembali ke kantor sekarang. Merapikan barang-barang ku dan aku meminta Joon dari pelukan Siwon tapi Joon menolak bahkan mempererat pelukannya dileher Siwon.

“Oh, boy. Kita harus segera kembali. Ibu mu akan marah padaku” kataku sambil mengerang putus asa pada Joon.

Siwon berdiri, satu tangannya mendekap Joon yang berada dipelukannya dan tangan satu nya menarik tangan ku.

“Ayo, aku akan mengantar kalian kedepan. Apa kau membawa mobil sendiri?” aku hanya dapat mengangguk, mataku menatap tanganku yang digenggam erat oleh Siwon.

Aku tidak dapat berkata kata, hanya mengikuti ketika dia menyeretku. Siwon suka sekali menyentuh ku secara tiba-tiba dan aku selalu terlena oleh sentuhan nya.

Ketika aku mengarahkan dimana letak mobil Taeyeon diparkir, Siwon bersiul menatap mobil mewah milik Taeyeon.

“Mobil yang bagus” puji nya benar-benar dari hati. Aku setuju dengan ucapan nya, sayang itu bukan mobil ku, tapi mobil sahabatku.

“Ini mobil mu?”

Aku menggeleng “Bukan. Punya sahabatku, Ibu nya anak ini”

Seakan ingat dengan mobilnya, Joon tiba-tiba melompat kepelukan ku. Untung saja aku menangkapnya dengan benar, walaupun tas perlengkapan Joon dan tas punyaku terjatuh.

Siwon mengambilnya dan memasukkan nya ke kursi penumpang.

“Dia sudah sadar, kemana seharusnya dia bergantung” Siwon mengacak rambut Joon dengan sayang.

“Dia suka sekali berkeliling dengan mobil. Maka dari itu dia melompat padaku, karena dia tahu aku akan mengendarai mobil Ibu nya”

Joon terus melompat-lompat didalam pelukan ku, membuat tubuhku hampir limbung dan dengan sigap Siwon meletakkan tangan besarnya di punggungku. Jarak wajah kami hanya beberapa inci. Sampai Siwon mengangkat tangan nya yang lain untuk menyentuh wajahku. Wajahnya semakin dekat, entah setan apa yang merasuki ku, aku memejamkan mataku begitu saja.

Aku semakin merasakan deru nafas nya yang semakin dekat dengan wajahku. Tapi yang aku rasakan bukan sesuatu yang basah menempel dibibir ku, melainkan pukulan tangan kecil Joon didepan wajahku, rasanya perih menyengat. Aku membuka mata dan melihat Siwon yang meringis kesakitan. Bukan hanya aku, Siwon juga mendapatkan perlakuan yang sama dari Joon. Dasar pengganggu!!!

Kami berdiri berhadapan dengan salah tingkah, Siwon terus menggaruk tengkuknya, sedangkan aku mengalihkan perhatian ku pada Joon. Walaupun sesekali mengintip kearah Siwon.

“Aku harus segera kembali” Siwon bersuara, membuat aku menolehkan kepalaku kearahnya.

“Hmm.. aku juga” Aku mengigit bibir dalam ku agar tidak tersenyum.

Aku mengelilingi mobil dan menempatkan Joon dikursi nya dengan nyaman. Aku melihat Joon bertepuk tangan dengan girang.

Ketika aku akan membuka pintu mobil, Siwon membukanya lebih dulu untuk ku “Aku menunggu traktiran makan siang darimu. Secepatnya”

Aku menunduk malu dan menegakkan kepala ku lagi “Hanya telepon aku ketika kau tidak memiliki teman untuk makan siang” kataku sembari menggerlingkan mata untuk nya.

Selagi dia tidak membalas ucapanku, aku melangkah kan kaki ku masuk kedalam mobil. Tapi sebelum mencapainya, Siwon menarik tangan ku dan menjepit tubuhku dengan tubuhnya dimobil. Dan yang aku rasakan selanjutnya, bibirku sudah dilahap habis oleh mulutnya. Ciuman nya keras dan bergairah. Astaga, aku bisa merasakan sesuatu yang menekan perutku. Aku juga tidak bisa menahan tanganku untuk melingkar dilehernya, memperdalam ciuman kami yang semakin lama semakin lembut.

Tidak!! Aku membutuhkan oksigen sekarang juga, sebelum aku kehabisan nafas. Aku mendorong dada Siwon dan ciuman kami terlepas. Dahi kami menempel dan nafas kami terengah-engah. Aku tidak pernah merasakan ciuman sedahsyat ini.

Siwon menangkup wajahku dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya “Dessert” bisiknya “Sampai jumpa cantik” lanjutnya.

Astaga, aku seakan terbang mendengar kalimat terakhirnya. Aku sangat malu untuk membalas ucapannya jadi aku langsung bergegas masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan enggan.

 

***

Sendirian di kantor membuat sisa hari ini berjalan begitu panjang. Taeyeon pulang setelah aku kembali dari makan siang, sedangkan Yoona tidak kembali lagi ke kantor.

Aku memasukkan barang-barang milikku kedalam tas dengan asal dan berjalan keluar dengan malas. Ketika aku baru saja melewati pintu, ponsel ku berbunyi dengan nyaring, maroon 5 – payphone bernyanyi begitu lama karena aku harus mengacak-acak isi tas ku untuk menemukan benda persegi kesayangan ku.

Ya, aku menemukan mu “Kim Taeyeon sayang” sahutku dengan manja.

Aku mendengar Taeyeon mendengus “Kau mengerikan”

Aku tertawa mendengar nada geli yang terselip disuara Taeyeon “Ada apa?” tanyaku.

“Hanya ingin memeriksa mu. Kau dimana?” oh manisnya, bibir ku tertarik membentuk senyum tipis.

“Aku baru saja keluar kantor. Kalian meninggalkan segudang pekerjaan untuk ku. Terimakasih” aku membuat penekanan diakhir kalimat sebagai sindiran.

“Oh, darling. Maafkan aku, Joon menangis saat aku ingin kembali ke kantor” dari nada bicara nya, dia terdengar sangat menyesal.

Saat aku kembali dari makan siang, Joon memang terus menangis. Membuat Taeyeon kualahan dan akhirnya menyerah untuk membawa Joon pulang dan berjanji akan kembali lagi ke kantor.

Gwencana. Itu pekerjaan ku dan aku menyukai nya”

Hening…

“Berhubung ini sudah jam sebelas dan bis terakhir sudah lewat. Well, bagaimana kau pulang?”

Delapan belas tahun berteman dengan Kim Taeyeon, dia masih seperti yang dulu. Tipe sahabat yang selalu mengkhawatirkan sahabatnya.

“Jangan khawatir, masih ada taksi” aku mengetukkan kaki ku di trotoar, tempat dimana aku menunggu taksi.

“Carilah kekasih. Aku sudah memiliki keluarga, tidak bisa selalu bersama mu dan Yoona juga akan segera menikah. Tidak ada lagi yang akan menjadi supir pribadimu”

Selain suka mengkhawatirkan orang, dia juga sangat cerewet. Ya itu benar, aku akan kesepian nanti. Karena biasanya sepulang bekerja kami pergi makan atau minum dan belanja untuk menghilangkan penat. Tapi sekarang rutinitas itu sudah sangat jarang kami lakukan. Apa aku membutuhkan seorang kekasih?

“Aku bisa mengurus diriku sendiri” kataku datar.

“Tapi tetap saja, harus ada seseorang yang menjaga dan menemani mu” aku terlalu malas untuk membahas topik ini, baiklah aku mengalah.

“Tenang saja, aku akan segera mencari Ahjussi kaya” ucapku dengan bercanda.

“Itu bagus” aku mendengar tarikan nafas disebrang telepon sebelum Tayeon kembali bicara “Bagaimana dengan pria hot itu?”

Ya Tuhan, aku melupakan Siwon karena di sibukkan dengan pekerjaan. Aku kembali teringat pada kejadian di tempat parkir restoran yang membuat kepala ku berputar dan dengan tidak sengaja tanganku terangkat menyentuh bibirku. Aku belum menceritakan nya pada Taeyeon perihal pertemuan kami direstoran tadi.

“Hmm… aku bertemu dengan nya direstoran saat makan siang” senyum konyol mengembang diwajahku.

Jinja?” Taeyeon menjerit dan itu sangat berlebihan “Itu kenapa kau begitu lama”

Awalnya aku ragu, tapi aku menceritakan semuanya pada Taeyeon. Tidak ada yang terlewatkan, bahkan ciuman panas itu. Karena faktanya tidak ada rahasia diantara kami. Setelah aku selesai menceritakan semuanya, Taeyeon tidak berhenti untuk berdecak. Entah apa maksudnya karena kagum atau tidak percaya, kurasa.

“Aku ingin melihat wajah sialan mu memerah setelah bercumbu”

“Itu konyol” pekikku merasa malu.

“Kau berhutang cerita padaku, aku ingin detailnya”

“Tidak” sela ku dengan cepat. Kim Taeyeon yang tidak pernah puas dalam hal apapun.

“Oh, ayolah Hwang. Aku selalu menceritakan kehidupan ranjangku pada kalian”

Lagi-lagi Taeyeon dan mulut bermasalahnya membuat aku memutar mataku dengan jengkel.

“Itu kau yang bersedia menceritakannya pada kami, bukan karena kami yang meminta” Ucapku sarkatis. Karena itulah kenyataannya.

“Bukan kah itu tidak adil?” Taeyeon masih penasaran dan aku senang membuatnya penasaran.

“Cukup adil bagiku”

Aku melihat taksi dari kejauhan dengan sigap aku melambaikan tanganku dan taksi itu berhenti. Syukurlah, aku mempunyai alasan untuk memutuskan obrolan ini, karena tidak mungkin mengobrol dengan Taeyeon didepan supir taksi. Aku tidak percaya pada mulut bermasalah Taeyeon untuk berbicara didepan umum.

Well, aku sudah mendapatkan taksi” aku membuka pintu penumpang, melemparkan tas dan duduk dengan nyaman “Aku harus menutup telepon mu sekarang. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku dan sampai jumpa hmm, hari senin mungkin”

Aku sudah bicara panjang lebar tapi Taeyeon hanya membalas dengan satu kata “Jahat” aku menutup telepon, Taeyeon nampak begitu lucu jika sedang marah. Setelah aku menyimpan ponsel ku kedalam tas, supir taksi baru menanyakan tujuanku.

Aku menyandarkan kepalaku dan memejamkan mata. Terlintas bayangan Siwon dengan senyum seksi nya dan ciuman panas kami, membuat aku membuka mata. Sudah lama tidak ada seorang pria yang memenuhi fikiran ku dan sekarang aku memiliki pria yang selalu menghantui fikiranku. Terdengar geli, seperti remaja yang sedang dimabuk cinta.

Kenapa dia belum menghubungiku? Kau sangat berharap sekali ya, Hwang Mi Young. Aku memukul pelan kepalaku.

Ketika taksi mengurangi kecepatan dan berhenti, aku tahu, aku sudah sampai. Aku membayar tagihan dan berjalan masuk kedalam rumah. Caffe sudah tutup memang, tapi aku yakin Appa belum tidur karena putrinya belum berada di rumah.

Aku menekan knop pintu dan mendorong nya “Appa” seru ku. Menutup pintu dibelakang ku dan menguncinya.

Cahaya di dalam remang-remang, tapi aku masih dapat melihat Appa duduk dibelakang meja kasir dan tersenyum ramah padaku.

“Miyoungie” panggilnya dengan riang.

Walaupun sudah terlihat jelas kerutan diwajahnya tapi Appa tetap terlihat tampan. Itu kenapa Taeyeon suka sekali berfantasi menjadi istrinya, astaga!! Wanita gila.

Aku memajukan bibir bawahku dan berjalan kearahnya, aku menumpukan tanganku dan cemberut “Aku sudah sangat tua untuk panggilan itu”

Masih teringat jelas panggilan itu adalah panggilan saat aku masih kecil dulu. Bahkan beberapa temanku memanggilku seperti itu. Tapi saat aku berada dikelas tujuh, aku mulai protes pada Appa dan Eomma, karena panggilan itu sudah tidak pantas lagi untukku.

Appa mencubit daguku “Berapa pun usia mu, kau tetap putri kecil Appa”

Aku tersenyum lebar “Aw.. manis sekali”

“Ingin sesuatu?”

“Cokelat panas penghantar tidur, bolehkah?” aku selalu menyukai cokelat panas buatan Appa, dari pada buatan Eomma. Urusan dapur Appa lebih unggul dibandingkan Eomma.

“Tentu boleh, baby girl. Tunggu sebentar”

Appa sedikit menjauh dariku tapi aku masih dapat mendengar suaranya saat dia menanyakan mengapa aku pulang telat dan dengan siapa aku pulang.

“Appa bisa membelikan mobil untuk mu dengan mencicil nya setiap bulan”

“Ah, sesungguhnya itu tidak perlu Appa”

Appa datang membawakan secangkir besar cokelat panas dan meletakkan nya didepanku.

“Kalau begitu carilah kekasih”

Aku membeku. Untung saja aku sedang tidak meminum cokelat panasnya, bisa-bisa aku tersedak atau yang lebih parah, menyemburkannya.

Bukan hanya Taeyeon, Appa pun menginginkan aku memiliki kekasih. Tapi pada dasarnya memiliki kekasih tidak selalu merasa aman bukan? Kejadian lima tahun yang lalu membuat aku sedikit trauma untuk menjalin sebuah hubungan lagi.

“Lupakan masa lalu itu, nak. Masa lalu bukan untuk kau takutkan, sebaliknya kau bisa belajar dari masa lalu itu” Appa selalu dapat membaca fikiranku dan menangkap ketakutan yang aku rasakan.

Appa menggenggam tanganku “Buka hatimu, cari pria baik dan menikahlah. Kau wanita baik, kau akan mendapatkan pria baik. Kau pasti akan bahagia” suara Appa terdengar begitu lirih, membuat mataku berkaca-kaca.

Appa takut jika aku masih merasakan trauma yang mendalam, tapi sebenarnya setelah bertemu Siwon trauma ku sedikit berkurang. Entahlah, pria itu sangat berpengaruh dan membuat perubahan padaku.

Aku meremas tangannya “Tunggulah sebentar lagi. Aku akan berusaha, aku akan mencoba”

Appa mengusap kepala ku dengan sayang dan mencium kening ku lama “Bagus, sekarang kau pergi tidur. Kau terlihat kelelahan”

Aku mengangguk, beranjak dengan membawa cokelat panas buatan Appa “Selamat malam Appa. Terimakasih sudah menungguku pulang dan cokelat panasnya”

“Selalu, baby girl

Aku menaiki tangga menuju kamarku, disepanjang jalan aku menyeruput cokelat panas milikku. Saat sudah berada dikamar, aku meletakkan nya di nakas samping tempat tidur.

Aku membuka lemari, mengambil tank top dan hot pants. Masuk kedalam kamar mandi, mengganti pakaian, mencuci muka, menyikat gigi, semuanya aku lakukan dengan cepat.

Saat aku kembali kekamar, aku merangkak ketempat tidur yang aku rindukan. Aku memeluk bantal dan memejamkan mataku, sangat lelah. Mataku kembali terbuka ketika ponsel ku berbunyi. Pesan masuk? Di jam segini?

Aku meraih ponselku dan tersenyum konyol saat aku melihat siapa pengirim pesan tersebut. Pesan dari Siwon, isinya singkat tapi membuat hatiku merasakan hal yang aneh.

‘Sudah tidur?’ isi pesan dari Siwon yang aku baca berulang-ulang.

Aku mengerutkan bibirku sambil berfikir, apa aku harus membalasnya sekarang atau besok saja dan berbohong padanya bahwa aku sudah terlelap. Sayang nya, jari-jariku tidak mau bekerja sama.

‘Belum. Baru pulang mencari sebongkah berlian (Kerja)’

Aku tekan kirim dan tidak butuh waktu lama ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari Siwon. Ya Tuhan, aku masih malu untuk bicara padanya, tapi dilain sisi aku merindukan suara berat miliknya. Oke, aku akan mengangkat telepon mu Choi Siwon.

“Apa pekerjaan mu? Kenapa jam segini kau baru pulang”

Aku belum sempat mengatakan apapun karena Siwon menyemburkan pertanyaan. Aku terkejut saat mendengar nada nya yang hampir berteriak, apa-apaan dia?

“Maaf?” balasku dengan suara dingin. Siapa dia? Kenapa dia begitu marah? Aku tidak suka dia membentakku, tidak ada yang pernah membentakku seperti ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa nama bos mu? Dia begitu kejam memperkerjakan seorang wanita berusia dua puluh lima sekeras ini. bekerja sampai larut malam, itu keterlaluan”

Dia marah?

“Bukan urusan mu” jawabku datar. Aku marah, aku tidak suka cara dia membentakku.

“Jawab aku!!” dia membentak lagi.

“Jika kau terus berteriak padaku, aku akan menutup telepon nya”

Aku mengancamnya, sepertinya ancamanku berhasil. Aku mendengarkan dia menghembuskan nafas beberapa kali, meredakan amarah kurasa.
“Oke, aku minta maaf. Aku begitu emosi mendengar kau baru pulang kerja”

Jujur, aku sedikit tersipu dengan sikap nya yang perhatian tapi tetap tidak menyukai sikap kasarnya. Dia cepat sekali merubah mood nya.

“Kau tidak perlu marah. Kau tidak punya hak untuk marah padaku”

“Aku hanya ingin melindungi mu” blush.. pasti sekarang wajahku merona seperti tomat.

“Kenapa? Kau tetaplah orang asing bagiku” aku tergagap menanggapi ucapannya. Demi Tuhan, suaraku berpihaklah padaku sebentar.

“Entahlah, sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku ingin sekali melindungi mu”

Ya Tuhan, siapa yang tidak ingin dilindungi pria tampan seperti Siwon, siapa yang akan menolaknya?

Aku bingung harus menjawab apa, jadi kami hanya terdiam cukup lama.

“Kau masih disana?” tanya Siwon dengan lembut.

“Ya”

“Sebenarnya aku menelpon untuk-“

“Menagih traktiran makan siang?” aku mencela nya sebelum dia dapat menyelesaikan ucapannya.

Aku mendengar tawanya, aku menggeleng pelan. Pria yang membentakku beberapa menit yang lalu, sekarang tertawa begitu santainya.

“Haha tidak. Besok aku ingin mengajak mu keluar, bisa?”

“Aku libur besok. Tapi aku akan pergi ke Sarimyun, masalah pekerjaan juga”

Aku tersenyum puas memikirkan akan pergi ke Sarimyun untuk melihat para minion yang merubah lumbung menjadi tempat resepsi. Itu adalah konsep milikku yang aku tawarkan pada klienku, jadi aku sangat ingin datang kesana. Walaupun para staff berjanji akan mengirimkan fotonya padaku, tetap saja aku ingin melihatnya secara langsung.

“Apa pekerjaan mu?”

“Aku bekerja sebagai Event Organizer dan dibutik juga. Semua itu milik temanku, aku bekerja untuknya, bekerja bersama”

“Wow” Siwon berdecak, kagum?

“Jika kau mau, ikut lah dengan ku besok” aku menutup mulut dengan telapak tanganku. Aku tidak menyangka memiliki keberanian mengajak seorang pria untuk pergi bersamaku. Apa ini sebuah kemajuan? Kemajuan, pantat mu Mi young ahh..

Aku begitu cemas saat Siwon hanya diam, apa dia menolak ajakan ku? Memalukan..

“Baiklah, aku ikut” aku lega mendengarnya.

“Dimana aku harus menjemputmu? Dan jam berapa?”

“Aku akan mengirimkan alamat nya padamu. Bagaimana jika jam sembilan? Tidak begitu pagi, kan?”

“Oke, jam sembilan. Kalau begitu kita harus pergi tidur sekarang”

Kita? Kenapa aku bergetar saat dia mengucapkan kata ‘kita’. Sepertinya aku sudah gila, gila karena mu Choi Siwon. Jika Taeyeon dan Yoona mendengar kalimat terakhirku ini, mereka pasti akan muntah. Hahah!!

Aku mengigit bibir dalamku agar tidak tersenyum “Ya, selamat malam Choi Siwon”

“Selamat malam”

Ketika telepon terputus, aku langsung mengirimkan alamat rumahku pada Siwon. Senyum tidak luntur dari wajahku. Aigoo, besok aku akan bertemu dengan nya, lagi?

Mungkin perjalanan ke Sarimyun yang akan membosankan, akan menjadi menyenangkan jika pergi bersama Choi Siwon.

Aku mendapat balasan dari Siwon ‘Tidak sabar untuk bertemu dengan mu lagi besok’

Choi Siwon ternyata pria manis juga, aku membalas pesan dengan cepat ‘nado’ kantuk tiba-tiba menyerang, padahal tadi saat bicara dengan Siwon aku tidak merasakan kantuk sama sekali.

 

***

Pukul sembilan pagi, Siwon sudah berada didepan rumah, pria yang tepat waktu. Appa sedikit curiga dengan siapa aku akan pergi. Ketika aku berkata jika aku pergi dengan staff, Appa mengerutkan dahi melihat Audi milik Siwon.

Siwon tidak turun jadi aku tidak bisa berkata yang sebenarnya pada Appa, jika aku pergi dengan seorang pria yang baru saja aku kenal beberapa hari yang lalu.

“Untuk mu” Aku menyodorkan cangkir kopi pada Siwon. Dia mengambil nya dari tanganku dan meletakkannya di dashboard.

“Terimakasih. kau bekerja disana juga?” jarinya menunjuk kearah caffe, rumahku.

“Tidak. Aku tinggal disana”

“Caffe milikmu?”

“Lebih tepatnya milik Ayahku”

“Ah, jadi itu Caffe sekaligus rumah?”

“Ya”

“Dan kopi ini, apa Ayah mu yang membuatnya untuk ku?”

“Bukan. Aku lah yang membuatnya, ucapan terimakasih karena mau menemani aku ke Sarimyun

“Tidak apa-apa, aku menyukainya. Pakai seatbealt mu, kita pergi sekarang”

 

Seperti dugaanku perjalanan ini menjadi tidak membosankan. Dia banyak mengajukan pertanyaan padaku, mengorek informasi tentangku, tentang pekerjaanku, dari mana aku berasal, ah banyak sekali. Tapi ketika aku bertanya padanya, dia tidak memuaskan aku dengan jawabannya. Aku penasaran tentang nya, tapi dia sedikit tertutup padahal aku sudah sangat terbuka padanya. Jika dilihat dari mobil yang dia punya sepertinya dia orang kaya, tapi aku tidak pernah tertarik padanya karena dia pria kaya. Aku menyukai fisik dan sikap nya padaku. Aku berusaha mengorek informasi tentang nya tapi lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan.

 

Aku melompat keluar mobil dengan kecewa, Siwon tidak ingin turun. Padahal aku ingin memamerkan hasil kerja ku padanya dan itu juga pertanda bahwa aku tidak bisa berlama-lama disini. Tidak mungkin aku meninggalkan Siwon berjam-jam di dalam mobil nya, itu sangat tidak tahu diri.

“Aku tidak akan lama” seru ku, melongok dari kaca mobil yang Siwon buka.

“Gunakan waktu mu. Aku akan menunggu disini” tersenyum, dia sangat murah senyum.

 

Aku berjalan menyusuri jalan berumput setelah itu jalan berkerikil. Udara disini sejuk sekali. Nomu, nomu, nomu joah!!

Mata ku menangkap lumbung yang sudah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan yang indah. Menakjubkan!! Para minion bekerja dengan keras..

“Unnie.. kau datang? Bukan nya aku sudah bilang, jika aku akan mengirim gambar nya pada mu” aku melihat ekspresi terkejut diwajah Soo Jung, salah satu minion yang menyulap lumbung ini.

“Aku tidak begitu puas hanya melihat nya dari foto saja” aku mulai mengambil gambar dengan kamera canon yang menggantung dileher ku. Aku harus melakukan nya dengan cepat. Ada seseorang yang menungguku.

Setengah jam berkeliling, ini benar-benar indah. Aku sudah mengambil beberapa gambar yang akan aku pamerkan pada Taeyeon dan Yoona.

“Kerja bagus” aku bertepuk tangan puas untuk mereka.

“Kita akan merayakannya, minggu depan mungkin. Di club biasa” aku mendengar seruan sorak dari para minion yang tidak pernah mengecewakan. Taeyeon memang teliti dalam menyeleksi para pegawai.

Aku pun berpamitan pada mereka semua, dan menolak ketika Soo Jung menawarkan akan mengantarku sampai ke mobil. Itu akan menjadi gosip hangat nanti nya jika mereka melihatku datang bersama seorang pria tampan.

 

Aku mengendap-endap berjalan kearah mobil, aku ingin mengejutkan Siwon. Aku berjinjit dan menunduk setelah sampai disisi kemudi. Saat aku menegakkan tubuhku tepat disisi kemudi dengan kaca yang terbuka, Siwon juga menjulurkan kepala nya keluar, seperti nya dia melihat ku dari kaca spion ketika aku mengendap-endap seperti orang idiot.

Wajah kami sangat dekat, tanpa permisi Siwon mengecup bibirku ringan “Sudah selesai?” Tanyanya, mengecup bibirku lagi.

Membeku, aku hanya dapat mengangguk.

“Masuk lah, kita akan pergi jalan-jalan”

Dengan patuh aku berjalan mengitari mobil dan masuk kedalam, duduk dengan mantap.

Aku diam, tidak berkutik, tidak berniat meliriknya. Tubuh besarnya condong kearahku, membuat aku menjauh dan kepala ku terbentur kaca mobil. Aissh sial..

“Aku hanya akan memakaikan sealtbealt” dia begitu santai, tidak seperti aku yang membeku.

Sudah lama aku tidak mendapatkan perlakuan seperti ini, setelah kejadian mengerikan itu aku sangat menjaga jarak dengan pria, bahkan aku tidak ingin disentuh. Tapi dengan Siwon begitu mudahnya aku ditahklukan. Perubahan besar? Atau pengaruh besar?

 

“Apa kau menunggu lama tadi?” Tanyaku, ketika tubuhku sudah kembali normal.

“Lumayan”

Kemana dia akan membawa ku? Harus nya aku takut ketika pria asing membawa ku, kami belum mengenal lebih jauh. Aku tidak tahu apa dia memiliki niat buruk dibalik sikapnya. Tapi sejauh ini dia tetap sopan dan tidak memandangku seperti pria brengsek. Itu pendapat ku.

 

Mobil siwon berhenti didekat sebuah jembatan kayu, dibawahnya ada padang rumput dan sungai dengan air yang jernih.

“Kita akan berjalan sedikit, dan aku sangat bersyukur kau tidak memakai heels

Dia memandang kearah kaki ku, dan beruntung nya aku memakai jeans yang menutupi seluruh kaki ku. Ya, aku memang tidak pernah menggunakan heels ketika turun kelapangan, karena itu sangat merepotkan untuk berjalan cepat.

Siwon keluar lebih dulu dan mengambil keranjang rotan berukuran sedang di kursi penumpang. Aku mengerjapkan mataku, dia membawa makanan? Kita akan hmm piknik?

Tahu kemana arah mataku melihat, Siwon tersenyum dan mengamit tangan ku dengan tangan yang satunya. Kami pun mulai berjalan.

“Ketika kau menyebutkan Sarimyun, yang ada difikiran ku adalah piknik. Ini tempat tinggal Kakek dan Nenek ku dulu. Aku punya villa disini, jika kau mau aku akan membawa mu kesana”

“Oh tidak perlu” aku takut akan melampaui batas dengan pria yang tidak dapat ditolak seperti Choi Siwon.

 

Aku membantunya membentangkan selimut bermotif kotak-kotak. Dia benar-benar menyiapkan piknik ini dengan rapih. Dia menyiapkan beberapa menu makanan dan minuman kaleng.

“Aku kelaparan” keluhku.

“Bagus. Kemarilah”

Aku penasaran apa dia membuatnya sendiri?

“Semua ini, kau yang membuatnya?” Aku duduk bersila disamping Siwon.

“Ya. Makanlah, kau akan ketagihan jika sudah mencicipinya” Siwon menyodorkan kimbab padaku dan aku mengambilnya.

Hmm… benar rasanya sungguh enak. Tampan, pandai memasak? Ya Tuhan, dia terlalu sempurna.

“Bagaimana? Enak?”

Mulutku penuh, jadi aku hanya dapat mengangguk kuat. Kami duduk di atas rumput dengan pemandangan yang indah. Tidak jauh dari pandangan ku, aku melihat sungai. Oh, ini sangat indah.

“Kita akan kesana setelah makan” daebak, dia seperti cenayang, dapat membaca fikiran ku.

Aku tersenyum untuk nya “Kau pandai memasak. Ini benar-benar enak”

“Terimakasih” bibir nya tersungging senyum puas.

Sembari makan siwon menceritakan masa kecil nya saat tinggal di Sarimyun bersama kakek dan nenek nya. Aku jadi terbayang Siwon kecil main di sungai atau berlari di padang rumput. Oh pasti baby boy yang menggemaskan dan tampan tentunya.

“Aku menyukai perempuan yang suka makan.”

“Apa maksud mu?” aku berhenti mengunyah dan menatapnya dengan cemberut.

“Seperti yang aku katakan tadi” Siwon mengangkat bahunya “Apa yang kau pikirkan?”

“Aku tidak tahu” aku memakan strawberry.

“Jangan katakan kau memiliki masalah dengan berat badan”

“Tidak” hanya berhenti membicarakan hal ini.

“Kau tahu, aku suka dengan bentuk tubuhmu yang berisi. Kau terlihat seksi”

Aku mecibir “Aku tidak merasa seksi”

“Jangan merendah diri. Kau cantik, Mi Young aah”

Aku hanya tidak percaya diri pada bentuk tubuhku.

“Kau memiliki kulit yang bagus dan aku suka lekuk tubuhmu”

Mataku melebar dan bibirku mengerut cemberut “Jangan cemberut” ujarnya.

 

Setelah makan, kami merapikan wadah-wadah kedalam keranjang dan memindahkan selimut di dekat sungai. Kami duduk dengan tenang, sibuk dengan fikiran kami masing-masing. Aku merasakan Siwon menatapku jadi aku memiringkan kepala ku kesatu sisi untuk membalas tatapannya.

“Kau cantik” aku tidak bergeming, aku sudah biasa mendengar pujian seperti itu. Menurut ku itu biasa.

“Aku berfikir tentang banyak hal-hal yang ingin aku lakukan dengan mu” lanjutnya.

Ya tuhan, hatiku berdetak lelah. Sejak tadi bersama pria ini hatiku terus berdetak. Aku menatap tepat dibola matanya dan tatapan Siwon seperti, hmm menginginkan aku? Tatapan intens dan tajam.

“Jangan” bisikku “Jangan menatapku seperti itu”

Siwon menyeret tubuhnya lebih dekat denganku, yang aku lakukan hanya diam mematung.

“Mi young aah” setelah bibirnya memanggil namaku, dia menarik belakang kepalaku dan mencium ku dengan lembut. Satu tangan nya berada dipunggungku, menahanku. Tanganku? Tanganku terkulai lemas disisi tubuhku. Sial!!

Entah apa yang mendorongku, akhirnya aku membalas ciumannya. Tanganku bergerak melingkar dileher nya. Semakin lama ciuman kami semakin panas, perlahan Siwon merebahkan tubuhku. Satu tangannya menjadi bantalan dibelakang kepalaku dan satunya lagi?

Oh tuhan, tidak, dia tidak boleh. Tangan Siwon membuka satu kancing teratas blus ku, berhasil. Astaga, sentuhan nya sama persis dengan pria brengsek itu. Bukan, ini Siwon bukan pria brengsek itu. Rasa takut mulai menyerangku saat Jemari-jemarinya turun lagi untuk membuka kancing berikutnya, tidak. Aku mendorong dada nya tapi Siwon tak bergeming. Aku mencoba cara lain dengan menangkap tangannya yang ahli membuka blus ku. Mata nya terbuka dan bertemu mataku yang ketakutan.

Aku menggeleng pelan dan mataku mulai berkaca-kaca, tidak, jangan menangis Hwang Mi Young.

Siwon duduk dan menarik ku kedalam pelukan nya dan disana lah tangisan ku pecah. Aku tahu dia resah dan merasa bersalah ketika aku menangis didalam pelukan nya.

“Oh Mi Young, maafkan aku, maafkan aku” tangan nya naik turun dipunggungku, menenangkan aku.

“Aku tidak bermaksud merusakmu, aku tidak bermaksud melukaimu”

Aku masih menangis tapi tidak sehebat tadi, aku mendengar deru nafasnya lebih cepat ditelinga ku “Aku tertarik padamu, aku menyukaimu”

Kata-kata nya bagaikan petir disiang bolong, perlahan aku menarik tubuhku untuk melihat nya. Jari-jari nya menghapus air mata yang mengalir dipipiku.

“Kau menyukai ku? Diwaktu yang singkat ini?” Tanyaku tidak percaya.

Bagaimana tidak, kami belum saling mengenal lebih jauh. Tapi sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama, hanya saja aku masih ragu untuk mengakuinya, trauma itu penghalang segalanya.

“Ya. Kau wanita yang sangat berbeda dari wanita-wanita lain”

“Apa nya yang berbeda?” Aku sedikit tersinggung. Apa yang dimaksud nya berbeda dalam arti aku wanita pertama yang rela dia cium dengan perkenalan singkat?

“Pokok nya kau berbeda”

“Kau hanya menginginkan tubuhku” desisku kesal.

“Demi Tuhan, tidak”

Siwon berteriak, Siwon si pemarah kembali “Aku tidak pernah menginginkan seseorang seperti aku menginginkan mu”

Haruskah aku percaya?

“Apa ciuman tadi tidak cukup membuktikan kalau aku benar-benar menyukaimu?”

Hebat. lagi, dia dapat membaca fikiranku. Jujur, ini pertama kalinya pria menciumku dengan manis dan panas secara bersamaan. Dia seperti benar-benar memujaku. Mantan kekasihku yang brengsek itu hanya mengecup ringan bibirku beberapa kali. Jadi aku tidak tahu, mana ciuman yang benar-benar didasari cinta atau nafsu semata. Apa aku harus menceritakan pada Siwon kejadian lima tahun lalu?

“Kau tidak mengerti” kataku lemah.

“Kalau begitu beritahu aku, agar aku mengerti”

Kami diam sejenak. Aku diam untuk meyusun kata-kata yang akan aku ucapkan untuknya, dan dia diam menunggu aku bicara.

“Ketika aku berusia dua puluh, aku memiliki kekasih dan dia pacar pertamaku”

“Kau serius? Maksudku, Pacar pertama diusia dua puluh?”

“Ya. Sebenarnya aku orang yang sulit di tahklukan. Aku tidak biasa menghabiskan banyak waktu dengan laki-laki. Aku tidak berciuman. Aku tidak berbagi makanan. Aku tidak menghabiskan waktu untuk mengobrol. Tapi dengan kau-“ aku tidak dapat melanjutkan ucapanku, dan aku yakin dia tahu.

“Apa aku membuat perubahan besar padamu?”

“Bisa dikatakan seperti itu”

“Tolong lanjutkan ceritanya” pinta Siwon dengan lembut.

“Dia seorang DJ, pria bad boy tapi aku menyukainya karena dia tidak pernah memintaku untuk tidur dengan nya. Walaupun teman-teman ku mengatakan bahwa dia pria gay karena tidak berniat membawaku ke ranjang nya, tapi aku tetap percaya kalau dia pria gentle yang menghormatiku”

Siwon mendengarkan aku dalam diam, tangannya terkepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengatup dengan keras.

“Satu tahun kami berkencan, kami tetap menjalani kencan normal yang tidak melampaui batas. Sampai waktu ketika aku datang kesebuah pesta ulang tahun temanku. Aku tidak tahu jika dia berada disana untuk mengisi acara, begitupun dengan dia. Kami bertemu dan disana juga kami berpisah”

“Apa yang menyebabkan kalian berpisah?”

“Aku melihatnya sedang mengangkangi seorang pelacur. Aku muak, aku marah tapi aku tidak bisa berteriak didepannya. Yang aku katakan saat itu hanya ‘kita selesai’ setelah itu aku pergi dan dia tidak berniat mengejarku. Aku terluka, terpuruk selama satu minggu. Dia menghubungiku tapi aku tidak menjawab, sampai akhirnya dia datang kerumah dan sial nya aku sedang sendirian saat itu”

Aku memejamkan mataku, mengingat kembali kejadian itu membuatku kembali ngeri, aku bergidik. Siwon menggenggam erat tanganku, aku membuka mataku dan menatapnya tengah tersenyum padaku, menguatkan aku.

“Dia masuk secara paksa, dia memohon dan berlutut padaku. Memintaku untuk kembali padanya, jelas aku menolaknya mentah-mentah. Dia marah dan menganggap aku sudah memiliki pria lain karena tidak mau kembali padanya. Dia marah seperti orang gila, memecahkan barang-barang yang ada didekatnya. Aku ketakutan, dan akan berlari keluar tapi dia menangkap tanganku. Aku memberontak tapi dengan kasarnya dia menampar pipiku membuat aku lemas dan dia membawaku dibahu nya, dia masuk kedalam kamarku. Dia akan memperkosaku, dia sudah menggerayangi tubuh bagian atasku dan aku bersyukur saat Ayahku pulang dan melihatnya sedang mengikatku diranjang dan melihat lebam dipinggir bibirku. Ayah ku murka dan menghajarnya habis-habisan setelah itu aku tidak tahu lagi, malam nya aku terbangun dirumah sakit dengan tulang rusuk ku yang retak. Tubuhku terasa remuk tapi lagi-lagi aku bersyukur, dia belum sempat merusak ku”

Siwon mengambil nafas dalam, wajahnya mengerut marah. “Brengsek.”

Dia tidak mengatakan apapun cukup lama. Dia hanya terlihat seperti melamun.

“Jadi,” aku menginterupsi keheningan, “itulah mengapa aku punya batasan dengan para pria. Itu membutuhkan beberapa tahun konseling dan nasihat Ayah dan teman-temanku menyadarkanku dan menarikku keluar dari masa kelam itu”

Siwon tidak ingin melihatku. Sial, ini terlalu cepat untuk nya!

“Hey.” Aku memegang tangannya. “Aku tahu itu semua terlalu cepat untukmu, dan kita baru saja saling mengenal. Jika kau lebih memilih untuk mengantarku pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak menghubungi aku, aku dapat mengerti.”

“Tidak, Mi Young ah, aku tidak akan melepaskan mu begitu mudahnya.”

“Kau menjadi pendiam.”

“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.” Dahinya berkerut dan dia menatapku.

“Aku hanya…” aku tidak melanjutkan untuk mengumpulkan pikiranku. “Aku merasa, kupikir kau seharusnya tahu.” Dua kata terakhir adalah sebuah bisikan.

“Kau tidak pernah berkencan dengan seseorang setelah itu?”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Oh, ya. Aku punya satu pertanyaan lagi.”

“Oke.”

“Dimana bajingan itu?”

“Aku tak tahu. Kenapa?”

“Karena aku akan membunuhnya.”

Aku tidak percaya dia baru saja mengatakan hal itu! Aku tertawa pelan. “Tidak perlu. Aku yakin dia adalah laki-laki yang menyedihkan”

“Dia harus masuk ke neraka.”

“Dia akan berada di sana.” Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Perlahan, mari kita melakukannya perlahan” ucap Siwon meminta dengan tulus “Aku akan menarik mu untuk bangkit dari masa lalu. Aku tidak apa jika kau tidak ingin aku menyentuhmu, selama proses ini. aku akan menunggu mu sampai kau benar-benar siap”

Aku menatap nya takjub, pria baik. Ku harap kau tidak seperti pria brengsek itu “Terimakasih”

Lama kami hanya berdiam diri. Duduk sedikit menjauh, aku tahu dia menahan tangannya untuk tidak menyentuhku. Suasana begitu canggung, aku tidak suka situasi seperti ini, bukan nya kita harus mengukir cerita indah ditempat indah seperti ini?

Aku berdiri dan menarik lengannya agar dia berdiri juga “Kita kesini untuk bersenang-senang bukan? Ayo”

Kami berjalan lebih dekat dengan sungai, aku ingat saat kecil dulu aku sering kali melempar batu kesungai tapi lemparan ku selalu saja kalah dengan Appa dan Eomma. Kali ini aku ingin mencoba permainan kuno itu bersama Siwon.

“Apa kau bisa mengalahkan lemparan ku?” aku menantang Siwon. Mengambil batu, aku pun melemparnya dan batu itu melompat tiga kali diatas air, setelah itu tenggelam. Tidak begitu buruk “Giliran mu, cobalah”

Dengan enggan Siwon mengambil batu, dia melemparnya dengan gerakan santai dan batu itu terlempar lebih jauh dari punyaku. Aku cemberut menatapnya dan dia hanya mengangkat bahunya meminta maaf.

“Sudah berapa lama kau menyukai bidang Event Organizer dan Designer?” tanya nya setelah kami lelah bermain lempar batu kedalam sungai, aku hanya dapat mengalahkannya satu kali tadi.

“Seumur hidupku. Ibuku memberikan aku pensil warna dan buku gambar ketika aku berusia empat tahun. Aku hanya menggambar sepanjang hari dan aku tak pernah ingin melakukan hal lain” ingatan itu membuat senyum terukir diwajahku dan aku teringat Eomma.

“Dia pasti sangat bangga padamu”

“Dia sudah pergi” rasa sakit dan rindu mengalir cepat.

“Pergi?”

“Ibu ku sudah meninggal” aku tidak ingin mengatakan itu, aku akan terlihat rapuh jika sudah membahas tentang Eomma.

“Ya Tuhan, Mi Young ahh. Maafkan aku”

Siwon menarik sisi bahuku dan aku merasakan air mata mulai menggenang dipelupuk mataku. Aku akan menangis lagi? Tidak boleh. Aku tidak ingin hari ini menjadi hari yang sedih.

“Aku baik-baik saja”

Aku meletakkan tanganku dilengannya dan mendongak melihat wajahnya. Siwon mengernyitkan dahinya, matanya menatap mengasihani, aku tidak ingin dia merasa bersalah padaku.

“Hey, aku baik-baik saja. Sungguh” aku menyentuh pipinya dan dia mencium telapak tanganku..

“Oke”

Aku memandang kearah nya dan dia masih terlihat murung, ada kerutan kecil diwajah tampan nya.

“Siwon, kau tidak melakukan sesuatu yang salah. Aku senang kau berada disini”

Dia tersenyum kearahku, mood nya sudah membaik “Ku harap, aku tidak membuat mu bosan”

Aku menggelengkan kepalaku “Melihat mu aku tidak akan pernah bosan”

Rintik kecil membasahi wajahku “Kita harus pergi, aku basah” bisikku.

“Aku tahu, akibat ciuman tadi kan?” Siwon menyeringai padaku. Astaga dia memikirkan itu?

“Bukan yang itu, tapi kita akan segera basah kehujanan” apa dia tidak merasakan rintik hujan yang turun?

Aku merasakan rintik hujan semakin deras. Siwon menarik tanganku, kami berlari mengambil keranjang rotan dan berlari lebih cepat menuju mobil nya. Kami basah, kami berlari dan cekikikan seperti anak kecil.

“Ku pikir, aku mengubah pikiran ku?” Siwon tiba-tiba berhenti dan kami berdiri saling berhadapan.

“Dan mengapa itu?”

“Untuk tidak menyentuhmu. Karena aku tidak bisa melepaskan tanganku dari mu, aku tak tahu apa yang telah kau lakukan padaku”

Begitupun dengan ku, kau banyak melakukan perubahan padaku. Siwon meraih wajahku dengan satu tangannya tapi seketika dia menggeleng dan melihat langit semakin gelap.

“Hujan akan semakin lebat, ayo” dia menarik tanganku lagi.

“Aku tidak ingin membuat jok kulit mu basah”

“Jangan mengkhawatirkan itu. Masuklah” Siwon membukakan pintu untukku “Aku tidak ingin kau sakit, baby

Wow.. baby?

 

TBC…

 

Ini baru prolog, tapi kayak nya terlalu panjang ya buat sekedar prolog heheh. Terimakasih buat kalian yang masih mau membaca tanpa menjudge. Kita bertemu di part selanjutnya yaa!!!

57 thoughts on “(AF) Heartbreak Part 1

  1. Wahh so sweet..
    taeyeon sih koplak loh dasar byuntae haha
    tp menurutku trlalu cepat sprti’a thor
    tp gpp dh yg penting bnyk moment2 sweet’a hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s