(AF) Destiny Part 1

destiny-na

Destiny

Author : Na

Main Cast : Choi Si Won| Hwang Tiffany

Other Cast : Cho Kyuhyun

Genre : Romance, Comedy

Rating : PG+17

Lenght :Chapter

Disclamer : “This story mine. Don’t be a plagiator or flame”

Also visit my web or wattpad : https://floristcarousel.wordpress.com/ and https://www.wattpad.com/user/FloristHaruna or http://tiffyqueen.wordpress.com/

-***-

Chapter One- Fallin’

Jangan pernah menyangkal takdir ini. Ini takdir yang di persembahkan dari Tuhan untuk kita berdua, jadi, katakan halo pada takdir kita, Tiffany.

-***-

 

Bandara Incheon terlihat ramai pagi itu. Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang membuat keadaan bertambah sesak. Seorang pria berjas dengan rambut klimis mengangkat tinggi-tinggi papan bertuliskan ‘Choi Si Won’ berharap, orang yang tengah ia cari menemukan dirinya dengan cepat.

Lelaki muda dengan baju santai serta wajah rupawan bak adonis tersebut menggerakkan kaki panjangnya menuju pria berjas itu dengan cepat.

Wajah datar serta sorot mata yang tajam membuat pria berjas tersebut meneguk ludahnya sulit. Ia tahu kalau sebentar lagi, tuan mudanya akan murka.

Dia terlambat lima menit karena jalan di dekat bandara mengalami kemacetan yang cukup parah dan pria berjas ini tahu kalau tuan mudanya tidak menyukai orang yang terlambat, bahkan hanya satu detik.

“Kau lama sekali,” Ujar lelaki muda itu rendah. Pria berjas tersebut langsung membungkukkan badannya sembilan puluh derajat sambil menatap lantai keramik di bawahnya.

“Maafkan saya, tuan muda. Tadi, jalan di dekat bandara mengalami kemacetan yang cukup parah,” Lelaki yang di panggil tuan muda oleh pria berjas tersebut hanya mendenguskan nafasnya kasar ketika mendengar alasan akrab yang sering ia dengar dari pria berjas tersebut.

Entah itu benar atau tidak tapi, lelaki muda itu tetap percaya pada sopir kepercayaannya ini.

Lelaki muda dengan nama lengkap Choi Si Won tersebut melangkahkan diri menuju mobil limosin yang terparkir rapi di depan bandara.

Membiarkan sopir pribadinya membawakan koper-koper yang ia bawa dari London.

 

***

 

Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang masih terlihat muda itu terlihat heboh ketika melihat anak semata wayangnya yang berdiri di depan pintu rumah.

Berkali-kali wanita itu menciumi seluruh wajah anak kesayangannya ini, membuat sang anak sangat risih oleh ciuman sang Ibu yang terlalu membabi buta, menurutnya.

“Berhentilah menciumiku, Aku sudah besar, Ibu!” Wanita paruh baya itu hanya terkikik geli kemudian, mencubit pipi sang anak persis seperti kejadian tujuh tahun lalu.

Wanita itu masih ingat masa kecil anak semata wayangnya ini, anak manis yang sangat manja padanya sekarang berubah menjadi lelaki yang di puja para wanita dan lelaki berhati dingin.

Sorot mata sedih terpatri di mata wanita paruh baya ini.

Terkadang, dirinya merindukan anak lelakinya yang dulu. Yang ceria dan juga hangat. Namun, semua harapannya sirna sudah. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali, mendukung keputusan sang anak untuk menjadi pembisnis penerus Ayah dan Kakeknya.

Segera, wanita paruh baya itu tersenyum dan menyembunyikan segala kesedihannya.

“Kau masih bocah bagiku, Ayo masuk, Ibu tahu kau lelah setelah penerbangan yang panjang, Ibu akan memasak, Kau bisa mandi dan tidur sekarang. Kalau masakannya sudah jadi, Ibu akan membangunkanmu,”

Si Won segera melangkahkan diri menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Setelah melewati tiga puluh anak tangga serta beberapa lorong yang panjang, Si Won telah sampai pada depan pintu kamarnya.

Pintu warna cokelat tua dengan ukiran klasik membuat senyum tertera di wajah tampan Si Won. Perlahan, Si Won membuka kenop pintu itu dan menyalakan saklar lampunya menampilkan sebuah kamar besar dengan dinding warna merah menyala serta beberapa stiker klub sepakbola Barcelona yang tertempel di dinding tersebut.

 

Kamar ini masih sama seperti dulu. Aroma, warna dinding, bahkan bed cover miliknya yang tidak berubah.

Bahkan, figura-figura bergambar dirinya yang ketika itu masih berumur sebelash tahun masih terpasang di tempatnya yang dulu.

Pasti Ibu menyuruh orang untuk membersihkan kamar ini rutin.

Bed cover bergambar Barcelona membuat senyumnya tambah lebar. Ia ingat betul ketika umurnya masih sebelas tahun, dimana dia rela membolos sekolah hanya untuk meononton pertandingan bola klub kesayangannya itu di tivi bersama sang Ayah.

Si Won merebahkan tubuh atletisnya pada tempat tidur berukuran king size ini dan menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh.

Tepat tujuh tahun lalu, ketika usianya masih sebelas tahun Si Won tinggal dan mulai sekolah di London, Inggris dengan Kakeknya. Satu-satunya alasan yang ia tahu adalah Si Won itu satu-satunya penerus keluarga Choi.

Maka dari itu, sejak umur sebelas tahun Si Won di ajarkan sang  Kakek untuk menjadi lelaki berhati dingin dan tak kenal ampun. Ia tidak pernah pulang ke Korea Selatan sejak saat itu. Ia sibuk menuntut ilmu dan memperdalam bisnisnya.

Ia baru bisa pulang sekarang. Semua ini karena bujukan sang Ibu yang ingin melihat dirinya setiap saat. Sedingin apapun hati seorang anak pasti akan luluh juga pada Ibunya. Umurnya kini telah menginjak usia delapan belas tahun.

Dan tentu saja Si Won masih harus mengenyam bangku sekolah menengah tinggi di Seoul. Dan kata Ibu, sih dirinya akan masuk ke Seoul High School. Sekolah elit dengan fasilitas terbaik seantero Korea Selatan.

Si Won menutup matanya ketika kantuk itu menyerangnya perlahan membawanya pada pusaran mimpi yang indah.

 

***

 

Lelaki berwajah tampan ini membuka matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah tepukan di pipi kanannya. Yang pertama ia lihat adalah seorang wanita paruh baya tersenyum padanya dengan lembut.

Senyum yang ia rindukan, senyum yang tak pernah menghiasi harinya selama tujuh tahun.

“Ibu?” Suara serak khas orang bangun tidur menyapa indera pendengaran snag Ibu membuat sang Ibu tersenyum lagi.

“Bangunlah, Kau pergilah jalan-jalan sambil menunggu masakannya matang,” Si Won mendudukkan dirinya di tempat tidur itu kemudian, mengangguk. Lelaki itu berjalan ke ruang gantinya.

Ia keluar dengan wajah segar. Lelaki itu mengenakan kaos oblong warna putih serta celana training abu-abu dan sepatu sneakers warna hitam yang sangat mahal dan tentunya menambah kesan kharisma serta ketampanannya.

Ia tersenyum kemudian, mencium pipi kanan Ibunya kilat.

“Aku pergi dulu,” Sang Ibu tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

“Anak itu,”  Gumam Ibunya pelan.

Tidak seperti hari biasanya, kali ini, Si Won berjalan-jalan dengan cara berlari sore sembari melihat hiruk pikuk kota Seoul yang makin ramai menjelang malam.

Kota Seoul tidak seperti dahulu, jelas. Kota Seoul sekarang banyak berdiri gedung pencakar langit juga beberapa jalan yang kelihatannya macet membuat kota kelahirannya ini bertambah sempit dari hari ke hari.

Sore ini langit kelihatan tak bersahabat, terlihat dari warna kelabu yang ada di atas sana seolah siap meluncurkan titik-titik air kapan saja.

Rasa dahaga membuat Si Won mampir sebentar pada minimarket dua puluh empat jam untuk membeli minuman lalu, kembali ke rumah. Namun, entah berapa lama yang di habiskan Si Won untuk memilih minuman sampai-sampai ia tidak sadar kalau hujan sudah turun deras di luar sana.

Si Won mendengus kasar seperti biasa. Seharusnya ia langsung pulang tadi, sial.

Lelaki itu menatap sekeliling emperan minimarket dan menemukan banyak orang yang kelihatannya juga berteduh karena hujan yang cukup deras.

Ia memutar bola matanya bosan ketika segerombol gadis dengan make up tebal mengedip-ngedipkan matanya kepada lelaki itu seolah-olah memuja Si Won yang lagi-lagi membuat Si Won mendenguskan nafas kasar.

Tidak di London tidak di Seoul, wanita itu sama saja.

Ketika, ia menoleh ke kanan ia mendapati seorang gadis yang memakai dress warna merah muda serta rambut warna coklat yang sediit lepek karena mungkin terkena hujan. Untuk pertama kalinya, Si Won tidak berkedip beberapa saat.

Gadis di sampingnya ini sangat cantik, ya Tuhan!

Gadis dengan wajah yang jelita, tubuh mungil namun ramping, kulit seputih porselen, hidung mancung, dan juga bibir kecil kissable yang membuat gadis ini makin sempurna di matanya.

Sebuah mobil mewah warna hitam berhenti di depannya. Seorang lelaki dengan jas yang(menurut Si Won adalah pelayan gadis ini)membawakan sebuah payung dan gadis itu memasuki mobil tersebut.

Gadis itu tidak melihatnya seperti gadis-gadis yang lain, tidak bahkan hanya satu detik. Gadis itu berbeda.

 

***

 

“Choi Siwon imnida,” Si Won menatap calon teman-temannya dengan wajah tanpa ekspresi, namun, yang membuatnya heran kenapa gadis-gadis di kelas ini masih berjerit histeris? Padahal, sudah jelas kalau Si Won sudah memasang muka super datarnya. Dan menurut lelaki ini muka datar sama sekali tidak menarik.

Perempuan memang aneh.

“Kau bisa duduk di sebelah, Yesung,” Dengan langkah cepat Si Won duduk di sebelah Yesung. Yesung mengulum senyum idiotnya persis seperti tujuh tahun lalu yang membuat Si Won me-roll bola matanya bosa untuk yang kesekian kalinya.

“Kau masih ingat aku, bukan?” Tanya Yesung. Si Won menatap Yesung sebentar kemudian berujar pelan.

“Tentu saja,” Dan tolonglah ingatkan Si Won untuk membeli alat penuli suara sementara karena Yesung adalah sahabatnya yang paling cerewet yang pernah ia miliki.

Bel istirahat berbunyi membuat Si Won dan Yesung pergi ke taman sekolah untuk berbincang. Kata Yesung sih temu kangen.

Si Won menatap malas Yesung yang sejak sepuluh menit tadi membicarakan hal yang kurang bermanfaat. Lalu, seorang gadis berjalan dengan temannya membuat perhatian Si Won seketika tersedot ke arah gadis itu.

“Kau tahu gadis itu?” Tanya Si Won sambil menunjuk gadis berambut coklat yang di kucir kuda yang tengah berjalan dengan temannya yang memiliki kulit tan eksotis.

“Yang mana?” Tanya Yesung balik.

“Rambut coklat di kucir kuda,” Yesung menatap Si Won dengan ekspresi yang sukar di artikan.

“Jangan mendekatinya!” Si Won mengerutkan alisnya pelan. Apa maksud Yesung?

“Memangnya kenapa?” Tanya Si Won lagi, Yesung menghembuskan nafasnya pelan.

“Dia gadisnya Kyuhyun, si anak jenius yang memiliki lebih dari lima puluh geng berandal di Seoul, jangan dia,” Jelas Yesung terperinci. Si Won makin tertarik pada pembicaraan ini.

“Siapa namanya?” Yesung menatap Si Won pelan kemudian, berujar dengan pelan juga.

“Tiffany Hwang,” Senyum Si Won terukir sempurna di wajah tampannya. Tiffany? Nama yang cantik secantik orangnya.

Bel masuk berbunyi dengan keras yang terpaksa membuat Si Won menghentikan omongan tentang Tiffany dan memasuki kelasnya. Pelajaran kali ini adalah biologi, pelajaran kesukaannya. Seluruh siswa kelas kecuali Si Won tampak bosan bahkan, ada beberapa yang tertidur. Termasuk, Yesung.

Si Won menatap papan tulis yang telah di penuhi gambar-gambar preparat yang telah di perbesar sepuluh kali dengan cermat dan fokus.

Namun, lagi-lagi perhatiannya buyar ketika melihat Tiffany yang melintas di lorong samping kelas. Segera Si Won berdiri dari tempat duduknya dan dengan cepat berujar dengan datar.

“Saya izin ke toilet,” Guru berambut putih dengan kacamata melorot itu mengangguk kemudian, melanjutkan lagi acara menggambarnya di papan tulis. Si Won berjalan keluar kelas dengan langkah yang cepat dan panjang.

Berharap Tiffany belum memasuki kelasnya.

Si Won berjalan tambah cepat dan lebar ketika melihat punggung Tiffany yang terlihat jelas di depan matanya.

“Hey,” Berhasil! Tiffany menghentikan langkahnya kemudian, membalikkan tubuhnya. Menatap Si Won dengan ekspresi bingung. Mungkin, memikirkan siapa yang memanggilnya ini. Maklum, Si Won adalah murid baru di sini.

“Kau, Tiffany kan?” Kata Si Won rendah dan berusaha cool. Ia tidak bisa menyangkal kalau dia sedikit grogi berhadapan dengan gadis di depannya ini. Padahal, Si Won sering rapat dengan tokoh dunia seperti Bill Gates tapi, kenapa ia keteteran hanya karena Tiffany melihatnya?

Tiffany segera membalikkan tubuhnya hendak menjauh namun, segera, Si Won menarik tubuh Tiffany hingga gadis ini menempel di tubuh atletis Si Won. Gadis itu memberontak sekuat tenaga dan berusaha melepaskan dirinya.

Namun, sayangnya tubuh lelaki lebih besar dan kekuatan lelaki lebih besar.

“Lepaskan aku!” Ujar Tiffany sembari memukul-mukul dada Si Won agak keras. Lelaki ini hanya tersenyum senang. Betapa menyenangkannya berada di dekat gadis manis ini.

“Aku menyukaimu, kau harus jadi milikku,” Tiffany menghentikan pukulannya ketika mendengar ucapan lelaki di depannya dan menatap Si Won dengan mata terbelalak kemudian menggeleng.

Tiffany akhirnya berhasil lepas dari dekapan Si Won dan berjalan mundur seraya masih memasang ekspresi takut.

“Tidak, jangan sukai aku. Jangan! Aku peringatkan, kau. Aku tidak ingin menyakiti siapapun, aku tidak ingin ada orang yang terluka karena Kyuhyun lagi,” Si Won mendengus. Tiffany berjalan menjauh dari Si Won dengan cepat membuat lelaki ini memasang senyum miringnya.

Kyuhyun atau siapapun itu. Ia tidak takut.

Si Won akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Semuanya, termasuk gadis itu. Ia sangat menginginkan gadis itu lebih dari apapun di dunia ini.

Tiffany adalah gadisnya.

Suka tidak suka Tiffany padanya, Gadis itu harus tetap menjadi miliknya kelak.

Tbc

A/N: Hai! Na kembali dengan fanfiksi super absurd yang well, idenya cukup pasaran. Maaf kalo ada typo ya dan kurang panjang, Na emang enggak bisa buat fanfict yang terlalu panjang :3 Na takutnya malah bosen sama fanfiksi yang panjang. Lagipula, ff Na juga belum terlalu bagus. Mohon kritik dan sarannya! Terimakasih.

 

40 thoughts on “(AF) Destiny Part 1

  1. Hai Na ketemu lagi nih, well this is so good written btw, yaa walaupun agak susah ngebayangin siwon jd anak abg lagi karna di watty lebih sering pake pairing exo or bts yaa, tapi sejauh ini ide ceritanya masih bisa masuk lah ☺
    Selalu suka sama gaya tulisanmu lah, ditunggu nextnya ☺

  2. q g perduli bgmn crt yg dibuat asl itu sifany…^^❤❤
    wah seru nih kls atas puny. itu jls2 takdir Tuhan n bnr siwon g akn sia2kn ksmptan.
    g sbgr tggu dual kyu n siwon. bisa2 mrk bertmn….
    n mgkin ini jg ksmptn fany lps dr kyu krn ad org bsr yg justru tiba2 ingin fany jd milikny…
    g sbr nih tggu lnjutnny….👍

  3. seru seru… siwon yg keras kepala dan suka seenaknya ama kyuhyun. nggak sbr baca lart slnjutnya… suka ama cara penyampaian ceritanya… kerennn…. msh pnsaran ama sosok Tiffany. ditunggu part slnjtnya.

  4. Wih ff baru lagi nih. Aku liat di wattpad kamu gak ada yang cast sifany ya (kalo gak salah). Keren kok. Ceritanya bagus. Masalahnya pasti panjang nih dan juga greget. Next thor…. Fighting, btw tanpa batas part 2 juga ya. Hih

  5. Crtinya keren buanggetttt….
    Siwon siwon,,,bru jumpa udah ngomong suka ja ke fany…
    Da tau si fany da pnya pcar…haha
    Pi spertinya fany tdak menyukai kyuhyun,,dian hnya tdak mau kyuhuun mnyakiti orang2 yg ingin dekat dngannya,,aplagi laki2..

  6. Haii naa kitaa ketemu lgi disini wkwkwkw..
    Btw aku udh pernah baca ff ini di wattpad kamu ya kyanya .. dan oh iya aku suka sama alur ceritanyaa bikin penasaran , kalo bisa di panjangin yaa na chapter slanjutnyaa.. semangaatt

  7. Tumben ada ff sifany edisi high school gini haha, gila siwon jadi ice prince. Mean,selfish,possesive juga woah ga jauh beda kayaknya sama karakter kyuhyun nanti. Penasaran sama cara siwon buat ngerebut tiff dari kyuhyun nanti gimana, update soon authornim 😊

  8. Busett to the point bgt siwon haha..
    lucu sih
    tp ga tau knp ga trlalu trtari klo msh ank skolah atau abg gtu mian
    lbh suka yg dewasa2 lbh sweet gmn gtu hehe..
    tp gpp bagus kok crita’a
    lanjutkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s