(AF) One Afternoon Part 3 (End)

One Afternoon Part III

IMG_7289

Author             : Kireynalice

Type                : Chaptered

Genre              : Romance

Rating              : PG 17

Main Cast        : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Disclaimer       : Cerita ini terinspirasi dari mana-mana J Apabila ditemukan adanya ketidaksempurnaan penggambaran latar tempat dan suasana, harap dimaklumi. Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita.

When you say goodbye 

All in Author’s POV

Tiffany mengetuk-ngetuk lantai marmer dengan ujung sepatunya. Matanya menatap lekat gadis berambut pirang yang sedang mengetik di komputer. Sebenarnya dia termasuk pribadi yang bisa diandalkan dalam hal pengendalian diri. Meskipun mudah bergaul dan ceria, tak pernah sedetik pun dia melupakan norma kesusilaan atau bertindak ceroboh. Berpikir cepat, tegas dan realistis adalah prinsip hidupnya.

“Maaf, Mam. Semua kamar sudah dipesan.” Sesal resepsionis dari balik meja.

Tiffany tercengang, “Termasuk suite sekalipun?”

Resepsionis itu mengangguk, “Maaf, saya tidak bisa membantu. Pada situasi seperti ini akan sulit untuk menemukan kamar kosong.”

Tiffany menghela napas, “Apa semuanya sudah ditempati? Aku perlu menginap untuk malam ini. Tolonglah..” Pintanya memelas.

“Kalau Anda bersedia, saya dapat menghubungi hotel di sekitar sini. Semoga saja masih tersedia kamar kosong.” Tawar resepsionis.

Mata Tiffany berbinar, “Terima kasih banyak. Aku sangat menghargai bantuanmu.”

Resepsionis tersenyum, “Jika berkenan, Anda dapat mengunjungi bar kami untuk menikmati welcome drink.”

“Tidak. Aku akan menunggu di sini saja.” Ujar Tiffany.

Resepsionis baik hati itu memberi isyarat pada teman di sebelahnya untuk melayani tamu lain sebelum mengambil gagang telepon dan menekan sederet angka. Memanfaatkan momen, Tiffany meluncurkan jari di sepanjang layar sentuh ponselnya untuk memeriksa. Tiga pesan masuk.

Wanita berusia 27 tahun itu menarik napas panjang sebelum bersiap membaca pesan pertama. Pesan itu berasal dari Jessica, kakak iparnya.

Mertuamu menelepon untuk menanyakan warna kesukaanmu. Aku harus menjawab apa? Merah muda atau pink?

Tiffany berdecak.

Leluconmu sungguh lucu, Jessi Hwang! Apa katanya tadi? Mertua? Seenaknya saja memanggil orang lain seperti itu. Lagipula untuk apa mereka tahu warna kesukaanku? Tidak aka nada yang berubah.

Pesan kedua masih dikirim oleh orang yang sama.

Kau dimana? Oppa sudah pulang! Aku mengatakan padanya kalau kau pergi berbelanja.

Pesan berikutnya berasal dari Leo, kakak tercintanya.

Puas berbelanja, Miss Hwang? Sudah saatnya pulang. Eonni memesan spagethi kesukaanmu untuk makan malam.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba saja dia menjadi gelisah. Apa yang harus dia lakukan? Alasan apa yang akan dia berikan pada Leo?

Seakan menggemakan pikirannya, ponsel Tiffany bergetar panjang. Tanpa perlu melihat pun dia sudah bisa menebak kalau kakaknya lah yang menelepon. Mata indahnya menatap layar yang berkedip-kedip. Tentu saja Tiffany tidak berani menerimanya. Leo pasti menuntut jawaban. Bagaimana reaksi pria itu saat mengetahui bahwa Tiffany tidak pulang dan sedang berada di Roma? Jika hal itu sampai terjadi, Tiffany pasti langsung dikembalikan ke New York.

Pada akhirnya benda persegi panjang itu berhenti bergetar. Leo mungkin sudah menyerah dan memilih untuk mengacuhkan adiknya. Namun, belum sempat Tiffany merasa lega sebuah pesan masuk menyusul.

Kenapa tidak menjawab panggilanku? Sebenarnya kau dimana? Cepat pulang atau aku akan mengadukanmu pada Appa, HWANG MIYOUNG!!!

Tiffany memejamkan mata. Kalau nama itu sudah disebut artinya Leo benar-benar marah. Bisa-bisa saat kembali nanti ponselnya dibuat remuk sebelum dia sempat mencapai kamar.

“Maaf menunggu.” Kata resepsionis. Tiffany segera menyimpan kembali ponselnya.

“Bagaimana? Apa ada kamar untukku?” Tanya Tiffany penuh harap.

“Saya sudah menghubungi hotel terdekat. Tapi mereka juga mengalami masalah yang sama. Pemesanan sudah dilakukan sejak sebulan yang lalu. Mohon maaf, dengan sangat menyesal kami tidak bisa membantu Anda.” Ujar resepsionis. Nada empati terdengar dalam suaranya.

Senyum Tiffany luntur seketika. Setelah mengucapkan terima kasih, Tiffany memutar tubuhnya. Dengan lunglai ia melangkah ke sudut ruangan dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Yang jelas wajah menderita dan rambut kusutnya sudah pasti ada. Tangan kurusnya merogoh tas untuk mengambil karet rambut yang ia temukan di sana. Setidaknya masih ada yang bisa diselamatkan dari penampilannya.

Tiffany menghembuskan napas berat lalu memijat keningnya dengan sebelah tangan. Bayangan akan berbagai peristiwa berputar ulang layaknya tayangan video berdurasi cepat. Obrolan ayahnya mengenai perjodohan, rencana pernikahan yang dipercepat, keberaniannya untuk datang ke Roma seorang diri, kemungkinan tertidur di kursi lobi di tengah badai salju, petualangan seharinya bersama Siwon…

Tiffany mendesah. Di antara semua peristiwa dalam hidupnya, mengapa harus ingatan saat bersama pria itu yang membuatnya bertambah gelisah?

Ponsel Tiffany kembali bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

“Kali ini siapa?” Pikirnya. Dia sudah sangat lelah.

Annyeonghaseyo, kau sedang apa?

Keningnya berkerut. Pria ini.. kenapa dia menguhubungiku? Meskipun begitu Tiffany tetap membalas pesannya.

Annyeonghaseyo, Siwon Oppa. Jawabnya singkat.

Ponselnya kembali berbunyi.

Gaya rambut ekor kuda seperti itu cocok untukmu.

Tunggu! Bagaimana mungkin Siwon bisa tahu kalau dia mengikat rambutnya? Kalau hanya untuk sekedar berbasa-basi, tidak mungkin tebakannya begitu tepat. Mungkinkah..

Tiffany mengangkat wajahnya dan mencari ke sekeliling. Matanya terbelalak saat menangkap sesosok pria bertubuh tinggi dengan mantel hitam yang terasa tak asing baginya. Bukankah itu..

Annyeonghaseyo.” Siwon mengangkat tangan kanannya.

Tiffany tercengang, tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. “Oppa?!” Pekiknya tak percaya, “Apa yang Oppa lakukan di sini?”

Siwon mengangkat sebelah alisnya, “Bukankah seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu? Kenapa kau ada di tempat ini?”

“Aku menunggu selama 1 jam di stasiun. Tapi badai salju menyebabkan gangguan pada system sehingga keretanya dibatalkan.” Jelas Tiffany.

Siwon sedikit terkejut mendengarnya, “Lalu bagaimana kau bisa kemari?”

“Aku kembali menggunakan taksi. Ahjussi yang mengantarku menyarankan untuk menginap di tempat ini. Tapi ternyata hotelnya penuh.”

“Sayang sekali.” Sesal Siwon. “Mau kuantar ke tempat lain? Mungkin mereka memiliki kamar kosong.” Tawarnya.

Tiffany menggeleng lemah, “Resepsionis sudah membantuku menghubungi hotel setempat dan jawaban mereka sama.”

“Kalau begitu sekarang apa yang akan kau lakukan?”

Tiffany mendesah pasrah. Mau bagaimana lagi? Yang bisa dia lakukan sekarang mungkin hanya duduk sepanjang malam di sudut lobi.

“Aku akan menunggu di sofa. Besok pagi aku akan pulang dengan kereta pertama.”

Aniyo. Mana boleh begitu?”

Ghwenchanayo, Oppa. Setidaknya itu lebih baik daripada berkeliling tanpa tujuan.”

Sejenak Siwon terlihat ragu, “Mmm.. begini, bagaimana kalau kau tidur di kamarku?”

Mata Tiffany mengamati Siwon dengan tatapan tajam. Menyadari kekeliruan dalam penyampaian maksudnya, Siwon dengan cepat mengoreksi.

“Maksudku.. suite-ku memiliki dua kamar dengan pintu terpisah. Dan.. memiliki kunci juga. Kalau kau mau, aku tidak keberatan berbagi kamar denganmu.”

Tiffany menggigit bawahnya. Bagaimana pun Siwon yang telah menawarkan diri untuk berbagi kamar dengannya ini adalah orang asing.

“Aku mengadakan pertemuan bisnis di hotel ini. Kau bisa memeriksa identitasku di resepsionis. Aku bukan pria mata keranjang atau sejenisnya. Aku tulus ingin menolongmu.”

Tiffany menatap ke luar gedung melalui pintu kaca. Butiran halus berwarna putih mulai terlihat turun dari langit. Dia benar-benar bisa membeku kalau salju turun lebih deras.

“Jadi.. bagaimana?” Tanya Siwon.

Tiffany menghembuskan napas. Mungkin ini adalah hal tergila yang pernah dia lakukan. Tetapi setidaknya dia bisa mendapat kamar untuk tidur dan mandi. Besok dia bisa pergi ke stasiun untuk kembali ke Venice. Di samping itu, bukankah pria dihadapannya ini terlihat sopan?

“Baiklah. Tapi aku..”

“Percayalah. Aku tidak akan menyalahgunakan kesempatan ini.” Janji Siwon.

Tiffany memandang punggung Siwon sementara kakinya bergerak untuk mengikuti pria itu. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa Siwon menawarkan diri untuk berbagi kamar dengan orang asing sepertinya. Bukan berarti Tiffany tidak tahu berterima kasih, tapi.. apa mungkin pria itu memang melakukannya pada semua wanita? Pemikiran itu membuat Tiffany mengerucutkan bibir karena tak suka.

“Kau bisa tidur di sini malam ini.” Suara Siwon membuat Tiffany mendongak.

Tiffany terkejut akan dirinya sendiri. Apa saja yang dia pikirkan sampai-sampai tidak menyadari kemana Siwon membawanya? Sekedar melihat nomor kamar pun dia tidak sempat.

Karena Tiffany tidak juga menjawab, Siwon berdehem pelan. “Mmm.. aku.. akan memberikan waktu pribadi untukmu. Setelah itu kalau kau tidak keberatan.. aku.. ingin mengajakmu makan malam.” Katanya.

Sebenarnya Tiffany ingin menolak, tapi dia mengurungkan niatnya. Siwon sudah banyak membantu dan mungkin ini adalah cara yang bisa dia gunakan untuk membalas budi. Wanita itu pun menjawab ajakan Siwon dengan anggukan pelan.

Siwon baru akan menutup pintu kamar  saat Tiffany memanggilnya.

Oppa..  mmm.. gumawoyo.”

Siwon tersenyum, “Tidak usah sungkan.”

Tiffany membalas dengan senyuman dan pintu pun tertutup.

****One Afternoon****

Tiffany terlihat lebih segar saat keluar dari kamar mandi. Dia sudah berendam air hangat dan memoles wajahnya dengan riasan tipis. Satu hal yang disesalinya adalah kenyataan bahwa dia terpaksa memakai baju yang sama, padahal Siwon berniat untuk mengajaknya makan malam.

Lampu-lampu berbentuk kue jahe dan rusa bergantungan di atas jalanan yang mereka lalui. Cahayanya yang berkelap-kelip membuat salju terlihat berkilau.

“Kita akan pergi kemana?” Tanya Tiffany.

“Kedai.” Jawab Siwon.

Kening Tiffany berkerut, “Bukankah kau bisa memesan makanan di hotel?”

Siwon menggeleng, “Aku tidak suka suasana yang terlalu kaku.”

“Aku juga.” Gumam Tiffany pelan.

“Apa yang kau katakan?”

“Tidak ada. Aku hanya berbicara pada diriku sendiri.”

Mobil Siwon meluncur cepat di jalanan yang licin. Tiffany menyandarkan kepala dan punggungnya di sandaran kursi lalu memejamkan mata. Dalam hati dia mendesah. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Aneh, mereka baru berteman selama sehari ini, tetapi ia sama sekali tidak takut pada Siwon. Entah kenapa Tiffany bisa dengan mudah percaya padanya.

“Maaf membangunkanmu, Tiffany. Aku tidak keberatan kau tidur di dalam mobil ini. Namun kurasa perut kita akan segera mengajukan protes.” Goda Siwon yang menyadarkan Tiffany bahwa mereka sudah tiba.

Tiffany terperanjat, sontak pipinya merona karena malu. Gadis itu terburu-buru menegakkan tubuhnya.

“Mianheyo.”

Siwon terkekeh, “Selain makanan kini aku juga tahu apa kata favoritmu.”

N.. ne?”

“Maaf. Kira-kira sudah berapa kali kau mengucapkannya malam ini?”

Tiffany menyeringai lalu mengedarkan pandang ke luar jendela. “Mmm..Oppa, dimana ini?”

“Kita ada di depan Rich Hotel. Letaknya sekitar lima blok dari hotel tempat kita menginap.”

Tiffany tertegun.

HOTEL?! Bukankah seharusnya mereka makan di restoran atau cafe seperti yang Siwon katakan tadi? Kenapa dia membawa Tiffany ke tempat ini? Jangan-jangan sebenarnya pria ini memiliki niat buruk terhadapnya? Bagaimana kalau ternyata di balik sikap sopan dan pendiamnya, Siwon itu adalah seorang koruptor yang sedang diincar oleh pihak kepolisian Korea? Bisa saja dia datang ke Roma untuk bersembunyi. Lebih parahnya lagi bagaimana kalau dia merencanakan perbuatan tidak senonoh pada Tiffany!

“Kenapa kau terlihat tegang? Apa kau sakit?” Pertanyaan Siwon membuat Tiffany terlonjak. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman dengan kuat.

“Aku.. tidak melihat restoran atau apapun di sini.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Tempatnya ada di ujung gang itu.” Jelas Siwon sembari menunjuk sebuah jalan kecil di sebelah bangunan megah. “Kita harus sedikit berjalan untuk sampai ke sana. Tidak apa-apa kan?”

Ah.. jadi seperti itu..

Tiffany tersenyum lebar. Kelegaan luar biasa merasuk ke dalam hatinya. “Ghwencanayo, Oppa. Bukankah seharian ini kita memang sudah banyak berjalan?”

Siwon membuka sabuk pengamannya sendiri, lalu membuka sabuk pengaman Tiffany. Berada dalam jarak yang cukup dekat membuat Tiffany dapat mencium wangi tubuh pria itu. Gadis itu hanya terpaku dengan tatapan kosong hingga akhirnya sebuah panggilan terdengar ditelinganya.

Kajja, Tiffany.” Ajak Siwon yangsudah membukakan pintu mobil untuknya.

Siwon melirik wanita disebelahnya sembari menimbang-nimbang. Setelah ini dia masih harus melakukan sesuatu. Bukan tugas yang berat memang. Tapi dia tidak yakin bisa melakukannya dengan baik.

“Mmm.. Tiffany?”

Tiffany menoleh. “Ne?”

Siwon merasa sedikit ragu, “Kalau aku.. apakah aku boleh meminta bantuanmu?”

Tiffany mengangguk, “Tentu. Ada apa? Apa kau melupakan dompetmu? Aku tidak keberatan jika harus membayar.”

Aniyo. Bukan itu. Aku.. harus mencari gaun untuk.. mmm.. adikku. Kami akan mengadakan acara di malam tahun baru dan dia.. memintaku untuk membelinya.” Jelas Siwon.

Tiffany tersenyum, “Aku kira ada apa. Ternyata soal itu. Baiklah, aku akan membantumu.”

“Apa kau tidak keberatan?”

” Tentu saja tidak. Aku akan dengan senang hati membantumu.”

Siwon mendesah lega, “Syukurlah! Aku hampir putus asa tadi. Untung saja aku bertemu denganmu.”

Tiffany berpura-pura memasang wajah keberatan, “Jadi kau merasa senang karena aku tidak bisa pulang?”

Seketika itu juga Siwon merasa panik, “A.. aniyo.. Maksudku aku hanya.. merasa senang bisa bertemu kembali denganmu sehingga.. Aish! Maksudku..”

Tiffany terkekeh pelan, “Arrasoyo. Aku hanya bercanda.”

Siwon menyeringai lalu mengusap-usap tengkuknya yang tak gatal.

Keundae.. kenapa kau yang harus membelinya?” Tanya Tiffany dengan kening yang berkerut. “Bukankah akan lebih menyenangkan kalau dia memilih sendiri?”

“Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Jawab Siwon meskipun dalam hati dia membenarkan perkataan Tiffany. Kenapa harus dia yang membelinya?

Tiffany mendongak dan seulas senyum terukir di bibirnya saat melihat restoran kecil dan nyaman yang agak tersembunyi.

Oppa, apa benar ini tempatnya?”

Siwon mengangguk. Pria itu lantas mendorong pintu hingga terbuka dan mempersilahkan Tiffany untuk masuk lebih dulu. Mereka duduk di dekat jendela. Tiffany melepas mantel dan menyampirkannya di sandaran kursi.

“Apa Oppa sering datang kemari?” Tanya Tiffany setelah pelayan memberikan daftar menu.

Aniyo. Aku diberitahu oleh salah seorang teman. Dia mengatakan kalau pasta di sini sangat lezat.”

Bibir Tiffany membulat membentuk huruf ‘O’. “Apa artinya ini?” Tanyanya menunjuk ke bagian sampul menu, tempat dimana nama restoran tertulis, “In.. na.. mora.. to.” Ia membaca dengan perlahan.

“Kekasih hati.” Siwon menerjemahkan.

“Pemilihan nama yang bagus. Aku menyukainya.” Ujar Tiffany disertai sebuah senyuman.

“Apa kau siap memesan?” Tanya Siwon mengalihkan pembicaraan, mencoba untuk mengabaikan senyuman menawan milik wanita di hadapannya.

Tiffany melihat daftar menu lalu menyebutkan sebuah nama sementara Siwon memilih makanan pertama yang dilihatnya di sana. Setelah pelayan membawakan pesanan, pembicaraan mereka bergerak ke pembahasan seputar hidangan di depan mereka.

“Kau menyukai pasta?” Ujar Siwon setelah menelan rotinya.

Tiffany mengangguk sembari mengunyah, “Ne. Aku sangat sangat sangat menyukainya.”

Siwon tersenyum puas. Melihat Tiffany yang begitu ceria saat makan menjadi kesenangan tersendiri untuknya.

“Apa kau sudah memberitahu kakakmu kalau kau menginap?”

Tiffany menyeruput minumannya lalu menggeleng, “Aku belum mengatakan apa pun padanya. Hah.. kau tidak tahu betapa menyeramkannya dia saat marah, Oppa.”

“Jadi menurutmu berdiam diri seperti ini merupakan solusi yang tepat?”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak sebelum menghadapi amarahnya.” Sanggah Tiffany.

“Wajar kalau dia bersikap begitu. Dia tentu mengkhawatirkanmu. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada adikku.” Jelas Siwon.

“Baiklah.. baiklah.. aku mengerti. Mana mungkin kami para adik ini menang dari Oppa yang protektif. Setelah ini aku akan menelepon dan bersiap untuk mendengarkan kuliah 1 jamnya.” Sungut Tiffany. Gadis itu lantas menggumamkan gerutuan yang tidak jelas.

Meskipun begitu protes Tiffany pada Siwon tidak berlangsung lama. Senyumnya langsung mengembang saat pelayan menyajikan chocolate lava cake sebagai hidangan penutup. Satu jam kemudian Siwon mengajak Tiffany ke salah satu butik pakaian wanita yang diketahuinya berdasarkan hasil pencarian di mesin pencari terhandal di dunia maya. Tempat itu termasuk kategori eksklusif di kelasnya, meskipun Siwon tidak paham benar apa perbedaannya. Menurutnya deretan gaun yang dipasang pada mannequin itu terlihat sama. Setelah sedikit berbasa-basi, pemilik butik mengeluarkan beraneka ragam barang untuk mereka lihat.

“Apakah adikmu menginginkan sesuatu yang spesifik?” Tanya Tiffany sembari menyentuh gaun berwarna hitam dengan detail renda di pinggiran kainnya.

“Adik?” Siwon mengerutkan kening, “A.. Ah..itu.. emm.. dia akan menghadiri.. makan malam.”

“Tepatnya acara seperti apa?”

Siwon terdiam, “Kurasa hanya acara keluarga besar kami.”

“Kalau begitu, sebaiknya dia mengenakan gaun sederhana namun terkesan cantik. Detailnya pun tidak perlu berlebihan. Selain itu karena sekarang ini musim dingin, gaunnya harus cukup tertutup.” Jelas Tiffany.

Siwon hanya mengangguk-anggukan kepala. Sebenarnya dia tidak terlalu menyimak apa yang Tiffany ucapkan. Pria itu hanya senang memerhatikan bahasa tubuhnya.

“Apa ukurannya, Oppa?”

“Aku tidak tahu.” Jawab Siwon asal membuat Tiffany mendesah.

“Kau akan membeli baju untuk seseorang tapi kau tidak tahu apa ukurannya?”

Siwon mengangkat bahu, “Apapun tidak masalah. Dia bisa mengecilkannya sendiri nanti.”

Tiffany mengatupkan rahangnya dengan gemas. “Lalu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

Tiffany menghembuskan napas, “Siwon Oppa, kita tidak bisa memilih baju sesuai dengan keinginan kita. Kalau nanti tidak dipakai, bukankah usahamu akan sia-sia?”

Siwon mengangguk tanda mengerti. Pria itu lalu mendekat ke deretan gaun yang digantung rapi.

“Bagaimana dengan ini?” Siwon menunjukkan gaun merah tanpa lengan dengan bagian belakang yang menjuntai.

“Itu tidak cocok untuk acara keluarga!” Ujar Tiffany dengan nada menegur.

“Bukan untuk adikku,” Jawab Siwon, “Untukmu.”

“Aku?” Suara Tiffany melengking tinggi, “Aku tidak pernah memakai gaun seperti itu. Terlalu resmi dan berlebihan. Terlihat seperti gaun pengantin.”

“Menurutku kau akan tampak sangat cantik kalau memakainya. Kenapa kau tidak mencobanya?”

Shireo.” Tiffany berbalik dan mengambil benda pertama yang tersentuh tangannya. “Ini.. untuk adikmu, Otte?” Tanya Tiffany sembari menunjukkan gaun berwarna kuning lembut pada Siwon.

Siwon terlihat mengamati, “Gaun yang cantik. Seleramu bagus juga.”

Tiffany berdecak, “Kau akan tercengang saat melihat lemari pakaianku.” Sombong Tiffany.

“Hmm.. hmm..” Gumam Siwon malas.

Pelayan toko yang terkekeh geli melihat perdebatan kecil mereka dalam bahasa yang tidak dia mengerti membuat Tiffany berdehem.

“Kami akan mengambil gaun ini.” Katanya dalam bahasa Inggris.

“Baik, Nona. Apa Anda ingin langsung memakainya?”

Tiffany menggeleng, “Kami akan memberikannya sebagai hadiah.”

Pelayan toko itu tersenyum, “Kalau begitu saya akan menempatkannya di dalam kotak. Sementara saya mengemas, Anda bisa memilih kartu ucapannya.”

Tiffany mengucapkan terima kasih. Dia lantas menarik lengan mantel Siwon agar pria itu mengikutinya.

“Apa ini?” Tanya Siwon saat dihadapkan pada setumpuk kertas berwarna-warni.

“Kartu ucapan.” Tiffany yang sedang menyusuri rak pajang dengan jemarinya menjawab singkat.

“Oh.. untuk siapa?”

Tiffany menoleh memandang wajah Siwon dengan tatapan tak percaya. “Tentu saja untuk adikmu. Kau harus menuliskan beberapa patah kata agar dia terkesan pada hadiahmu.”

Siwon mengangguk-anggukkan kepala. Untung saja dia berbelanja bersama Tiffany. Kalau tidak dia pasti akan diprotes habis-habisan oleh ibunya.

“Nah.. bagaimana kalau kita ambil yang ini saja?” Tiffany mengambil kartu dengan sampul berwarna biru dihiasi bunga yang cantik.

“Aku suka. Elegan tapi tidak berlebihan.” Puji Siwon.

Tiffany menyodorkan kartu dan sebuah pena, “Silahkan..”

“Ne? Aniyo.. kau saja yang menuliskannya untukku. Tulisanku tidak bagus.”

“Aish! Mana boleh begitu? Bukan bagus tidaknya tulisanmu yang penting, tapi ketulusan di dalam setiap katanya.”

“Tapi kalau pada akhirnya tidak terbaca, bagaimana?” Kilah Siwon.

Tiffany menghela napas kasar. Terpaksa dia harus mengalah, “Baiklah. Kau ingin aku menulis apa?”

“Mmm.. tulis saja ‘semoga kau menyukainya’.”

Tiffany memandang Siwon dengan tatapan tak percaya, “Itu saja? Apa tidak ada kalimat yang lebih baik?”

Siwon menggeleng, “Aniyo. Aku hanya ingin mengucapkan itu saja padanya.”

Tiffany menggerutu pelan, “Dasar kakak yang tidak peka!”

Siwon hanya menyeringai saat Tiffany menuruti permintaannya dengan bibir mengerucut. Setelah selesai, dia menyerahkannya pada Siwon tanpa banyak bicara. Selagi Siwon membayar, Tiffany memilih untuk melihat-lihat desain yang lain.

“Di sini kau rupanya.” Kata Siwon saat dirinya menemukan Tiffany. “Ini. Ambillah..” Lanjutnya seraya menyerahkan satu diantara dua kantung kertas yang dipegangnya.

“Apa ini?” Tiffany mengintip ke dalamnya. Dua potong pakaian dan sesuatu yang terbungkus plastik. “Oppa, ini..”

Siwon menoleh, “Sebenarnya aku ingin memberikan gaun merah tadi padamu. Tapi sepertinya tidak akan cocok untuk kau pakai saat pulang besok.”

Oppa, ini terlalu berlebihan. Aku tidak pernah memintamu melakukan ini.” Tolak Tiffany.

“Memang tidak.” Jawab Siwon acuh. “Aku hanya ingin membantu. Kau mungkin terlalu malu kalau harus membeli pakaian bersamaku.”

Tiffany terenyuh. Matanya menatap Siwon dalam. “Kamsahamnida.”Ucapnya. “Oppa, entah apa yang harus kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu.”

“Ucapan terima kasih sudah cukup.” Siwon tersenyum. “Mmm.. ngomong-ngomong.. aku meminta Nona itu untuk membawakan semua kebutuhanmu. Kuharap dia memilihkan yang sesuai dengan ukuranmu.”

Tiffany hanya mengangguk sebagai jawaban. Kepalanya menunduk guna menyembunyikan pipi yang merona. Tentu saja dia mengerti kebutuhan apa dan ukuran mana yang Siwon maksud. Udara dingin yang menerpa wajahnya membuat Tiffany gemetar.

“Kau kedinginan?” Tanya Siwon.

Aniyo. Hanya terkejut saja.” Tiffany menjelaskan, kembali gemetar. Gadis itu lantas menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

“Kenapa sarung tangannya tidak kau pakai?” Protes Siwon.

Tiffany menyeringai. “Aku menaruhnya di atas meja rias sebelum mandi.”

Siwon berdecak. “Kau selalu saja lupa.”

Siwon mengulurkan tangannya ke arah Tiffany untuk membantunya menuruni tangga kayu. Saat tangan mereka bersentuhan, Tiffany merasakan sebuah getaran merambat naik dari pergelangan tangan hingga ke bahunya. Tiba-tiba angin berhembus kencang diiringi butiran salju yang beterbangan. Secara otomatis Siwon mendekap Tiffany. Mereka terlarut dalam diam. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk saling mendengar degup jantung masing-masing. Ponsel Tiffany yang bergetar membuat Siwon tersadar kalau tangannya masih dengan setia merangkul bahu gadis itu.

Dengan cepat Siwon melepaskan Tiffany dan menegakkan posisi tubuhnya. “Mmm.. kita.. sebaiknya segera kembali.”

Setelah itu tanpa banyak bicara Siwon melajukan mobilnya menuju ke hotel. Dia lalu memasuki kamarnya setelah mengucapkan selamat malam tanpa memandang wajah Tiffany. Siwon tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Hatinya terlalu sulit untuk diterka. Namun hanya satu hal yang pasti terjadi. Keduanya tidak dapat tidur dengan nyenyak malam ini.

****One Afternoon****

“Seharusnya aku tidak melanggar larangan Jessica.” Gumam Tiffany pada dirinya sendiri setelah sambungan teleponnya terputus. Dia baru saja menelepon kakak iparnya untuk memberikan keterangan singkat mengenai keadaannya saat ini. Setelah membuat Tiffany berjanji untuk memberi penjelasan mendetail saat kembali nanti, Jessica mengatakan akan menyampaikan hal itu pada suaminya.

Berbagai kemungkinan berputar dalam benaknya. Jika kemarin dia tidak mengajak Siwon ke taman bermain tentu saat ini dia sudah duduk nyaman di kursi kamarnya. Kenapa ini harus terjadi? Kemana perginya julukan perencana handal yang diberikan oleh ayahnya?

Tiffany menggigiti ujung jarinya dengan gelisah. Sesungguhnya dia terlalu pengecut untuk jujur pada diri sendiri. Walaupun waktu bisa diputar kembali, tidak akan ada yang berubah. Pada akhirnya dia pasti tetap memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama Siwon dan menikmati setiap detik yang mereka lalui bersama.

Tiffany berdecak pelan. Tidak ada gunanya merenung. Dia harus bergegas. Setelah memastikan penampilannya di cermin, Tiffany keluar dari kamar. Sebelah alisnya terangkat saat melihat Siwon yang berjalan bolak-balik di depan pintu kamarnya.

“Selamat pagi.” Sapa Tiffany, “Oppa sudah bangun?”

Siwon menyeringai, “Sebenarnya bangun pagi bukanlah bakatku sejak lahir.”

Tiffany terkekeh pelan. Alih-alih menatap Siwon, dia memilih untuk mengalihkan pandang ke pintu kaca. Di luar, teras dan pagar pembatas dibungkus lapisan putih tebal. Balkon kamar Siwon lebih pantas disebut sebagai taman salju mini. Serpihan-serpihan air beku jatuh dari langit menambah kesan dramatis.

Bunyi bel terdengar memenuhi ruangan. Tiffany menoleh ke arah pintu dan Siwon secara bergantian.

“Aku sudah memesankan sarapan untuk kita.” Ujar Siwon memberi penjelasan.

Pria itu kemudian beranjak untuk membuka pintu dan mempersilahkan petugas layanan kamar untuk masuk. Dia mendudukkan dirinya di kursi saat piring-piring berisi makanan dihidangkan di meja. Telur, roti dan beberapa jenis makanan lainnya serta sepoci minuman hangat.

“Apa saya boleh membuka tirainya, Sir?” Tawar pria itu yang Siwon jawab dengan anggukan.

Tiffany berjalan mendekat ke arah meja dan menatap Siwon tak percaya, “Kau memesan sebanyak ini untuk menu pagimu, Oppa?”

Siwon mengangkat bahu, “Aku tidak tahu makanan apa yang kau sukai selain pasta. Tapi mereka tidak menyediakannya sepagi ini.”

Tiffany berdecak pelan, “Pemborosan.”

“Sudahlah. Ayo duduk. Kita memerlukan banyak energi untuk melewati hari yang melelahkan.” Kata Siwon sembari menaruh telur ke piring. Tiffany menuangkan minuman ke dalam cangkir.

“Kau memesan teh?” Tanya Tiffany saat menyadarinya.

“Hmm.. kau kan tidak bisa minum kopi.” Jawab Siwon.

Tiffany menatap cairan berwarna kecoklatan di hadapannya. Sepertinya dia tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya pada Siwon. Kecuali jika Siwon memerhatikan Tiffany saat pertemuan pertama mereka di cafe kemarin. Mustahil! Bagaimana mungkin dia bisa mengingat hal kecil semacam itu?

Pelayan yang kembali menghampiri mereka setelah menyelesaikan tugasnya membuat Tiffany mengerjap.

“Apa ada lagi yang bisa saya bawakan untuk Anda, Sir?”

Siwon menggeleng, “Tidak terima kasih.”

“Kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati sarapan Anda, Tuan dan Nyonya Choi.”

Uhuk… Uhuk..

Tiffany terbatuk seketika. Perkataan tulus petugas layanan kamar itu sukses membuatnya tersedak.

Ghwenchanayo?” Tanya Siwon.

Tiffany mengangguk meskipun hidungnya masih terasa perih, “Ghwenchanayo, Oppa. Aku.. hanya sedang melamun.” Kilahnya.

Tiffany berpura-pura berkonsentrasi pada telur dan rotinya. Bagaimanapun kalimat singkat, padat dan jelas itu cukup mempengaruhi suasana hatinya. Dia dan Siwon memang sedang menikmati sarapan di akhir pekan dalam kamar hotel yang sama. Ritual pagi semacam itu tentu akan lebih sempurna jika disertai dengan panggilan sayang. Siapapun pasti akan mengira kalau mereka adalah pasangan keka..

“Ehm!” Siwon berdehem sebelum memulai kalimatnya, “Aku sudah memesan tiket untukmu. Tapi jalurnya baru bisa digunakan setelah salju dibersihkan. Jadi kemungkinan besar kau akan berangkat sore nanti.”

Ne. Gumawoyo.” Jawab Tiffany singkat.

Tiffany menatap piringnya. Ada sisi dalam dirinya yang merasa sedih. Dia merindukan suasana ini bahkan sebelum dirinya benar-benar pergi. Bukankah seharusnya dia merasa senang karena akan pulang? Ada apa ini?

“Aku rasa.. aku.. harus mulai berkemas.” Ujarnya, walaupun satu-satunya benda yang dia keluarkan dari tas hanyalah ponsel.

“Sebenarnya..” Siwon terdiam membuat Tiffany menengadah. “Ada tempat yang ingin aku tunjukkan padamu sebelum kau pergi. Mungkin arahnya sedikit berlawanan, tapi kurasa hasilnya akan sepadan.”

Tiffany mengerutkan dahi. Apa pria ini bermaksud untuk menunda perjalanannya?

“Kemana?”

“Kejutan.” Siwon memasang seringai jahil di wajahnya.

Tiffany mendesah pelan. Masalahnya adalah belum tentu kejutan itu baik untuknya. Terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi belakangan ini.

“Habiskan dulu makananmu.” Kata Siwon dan Tiffany menurut.

Lima belas menit kemudian Tiffany sudah siap dengan syal panjang dan mantelnya. Wanita itu mengikuti Siwon keluar sembari menatap punggungnya. Tiffany masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman tanpa menoleh ke arah Siwon. Ia terpesona pada bagaimana gagah dan tegapnya tubuh pria itu. Bagaimana dia bisa melupakan kehangatan dari pelukan seorang Siwon? Cara pria itu memperlakukan dan melindunginya benar-benar membuatnya terkesan. Tentu saja setelah hari ini dia tidak akan bisa melihatnya lagi.

Ghwenchanayo?” Tanya Siwon saat mereka mencapai jalan utama.

Ne? Eo.. eoh.. aku.. baik-baik saja.” Tiffany tersenyum sekilas lalu memalingkan wajah. “Apa kau benar-benar berencana untuk merahasiakan tempat itu dariku?”

“Kalau kau tahu, bukan kejutan namanya.” Kilah Siwon.

Tiffany mengerucutkan bibir. Sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli kemana Siwon akan membawanya. Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pemandangan di luar benar-benar cantik. Semuanya putih dan berkilauan. Atap rumah dan pepohonan berlapis salju di sekitarnya, apakah ia bisa melihatnya lagi suatu saat nanti? Apakah saat itu Siwon juga akan ada bersamanya?

Tiffany memejamkan mata. Andwe! Kembali ke hal-hal yang penting!

Apa yang harus dia katakan pada kakaknya? Jelas dia harus melewatkan bagian menginap bersama seorang pria kalau ingin selamat. Sesampainya di hotel, dia harus segera bersiap-siap untuk acara makan malam nanti. Mungkin Jessica akan meminta bantuannya untuk memilih menu. Kira-kira apa makanan kesukaan Siwon? Apa dia menyukai kimchi?

Ya Tuhan.. sadarlah, Tiffany!

“Kita sudah sampai.” Ujar Siwon. Tak lama kemudian pria itu terkekeh pelan.

Waeyo? Apa yang kau tertawakan?”

“Kau.”

“Aku?” Tiffany menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?”

“Karena kau tidak keluar dari mobil dan tetap diam di tempatmu meskipun aku sudah mengatakan ‘kita sampai’ berulangkali.”

Tiffany mengerjap. Ia segera membuka sabuk pengaman, meraih pegangan pintu dan melangkah keluar. Kakinya sedikit terperosok di lapisan salju yang tebal. Ia merapikan mantelnya tanpa menyadari Siwon yang berjalan mengitari mobil ke arahnya.

“Kau sudah bisa menebak dimana kita berada?” Tanya Siwon.

Pria itu berdiri tepat di sebelahnya sehingga membuat Tiffany sulit untuk berpikir jernih. Ia bahkan bisa merasakan kehangatannya.

Fokus, Tiffany!

Tiffany bergeser menjauh dan menengadah, “Omona!”

Karya seni indah berlatarkan langit dan patung-patung yang tertutup salju membuat napas Tiffany tertahan. Tanpa perlu membaca, dia sudah tahu dimana mereka berada. Tempat ini adalah tempat yang sangat ingin dikunjunginya sejak lama.

“Ini.. bukankah ini..”

Siwon tersenyum dan meraih tangan Tiffany. “Kajja! Aku akan menjadi pemandumu.”

Fountain Trevi. Di sanalah mereka berdua berada. Kolam air mancur terbesar di Roma dan paling terkenal di Italia, Eropa bahkan dunia. Kolam berbentuk persegi panjang selebar 20 meter itu berhiaskan relief bergaya baroque dengan tinggi 26 meter. Salah satu bagian sisinya menempel ke tembok dan dihias dengan patung-patung. Terdapat patung Neptunus dan Triton, dewa laut serta berpuluh kuda laut yang mengitarinya. Biasanya ada banyak wisatawan asing maupun lokal yang memenuhi tempat ini. Tidak hanya karena keindahan artistiknya saja melainkan karena mitosnya. Tetapi hari ini hanya segelintir orang saja yang berkunjung. Mungkin mereka menyerah pada cuaca.

Siwon menemukan bangku di dekat papan informasi. Setelah menyingkirkan salju sebisa mungkin dari atasnya, pria itu duduk untuk menikmati pemandangan. Siwon memerhatikan Tiffany yang bergerak cepat dari satu sisi ke sisi lainnya. Gadis itu menghindari gundukan salju di tanah, mengagumi pahatan karya seni yang indah dan sesekali mengabadikannya. Wajahnya berseri-seri dan matanya berbinar. Sesekali Tiffany berseru pada Siwon untuk memberitahu apa yang sedang dilihatnya. Jarak mereka yang terpaut cukup jauh membuat angin meniup pergi beberapa kata yang Tiffany ucapkan. Tapi itu tidak menjadi masalah. Siwon tidak terlalu peduli pada apa yang ada di sini. Ia terlalu tersihir oleh pesona Tiffany. Wanita itu cantik.

“Aku bahkan tidak sadar kalau Oppa membawaku kemari.” Ujar Tiffany. Wanita itu kini duduk di sebelah Siwon.

Siwon mengerjap, “Tentu saja. Kau melamun sepanjang jalan.”

“Benarkah? Aku.. aku sedang memikirkan sesuatu.”

Tentu saja. Sesuatu itu adalah penjelasan, makan malam dan pria bernama Siwon.

“Aku melihat kartu pos bergambar tempat ini saat mengirimkan paket tadi pagi. Kukira kau akan menyukainya. Jadi kuputuskan kalau aku harus membawamu kemari.”

Tiffany memutar tubuh untuk menatap langsung ke mata Siwon. Dia yakin benar kalau dia tidak pernah membahas soal tempat ini. Bahkan saat mengatakannya pun dia hanya bergumam pelan. Apa pria itu mendengarnya?

“Terima kasih.” Kata Tiffany pelan.

“Kembali.”

Kata-kata itu terdengar begitu sederhana. Tetapi perasaan yang ditimbulkannya tidak sekecil itu. Tiffany begitu dekat sekaligus terlalu sulit untuk dijangkau. Siwon memalingkan wajah. Tiffany begitu cantik saat pipinya merona.

“Aish! Kenapa aku bisa lupa membawa koin?” Gerutu Tiffany yang ditujukan pada dirinya sendiri.

Siwon menolehkan kepala pada wanita yang ada di sebelah kanannya, “Waeguraeyo?”

“Aku lupa membawa koin.” Kata Tiffany. Wanita itu membuka telapak tangannya dan menunjukkan sebuah koin pada Siwon.

“Lalu yang di tanganmu itu apa?” Tanya Siwon heran.

“Iya. Tapi hanya ada satu.” Bibir Tiffany mengerucut.

“Bukankah sudah cukup?”

Tiffany berdecak. Tangannya menunjuk sebuah papan pengumuman kayu yang ditulis dalam bahasa Inggris. Siwon mengernyitkan kening sebelum membacanya.

“Barang siapa melempar satu koin, dia akan kembali ke Roma. Jika ingin menemukan cinta sejati lemparkan dua koinmu. Tapi percayalah, tiga koin akan membuatmu segera menikah. Lemparkan koin dengan tangan kanan melalui bahu kirimu dan biarkan keajaiban terjadi.”

Siwon menatap Tiffany dengan sebelah alis yang terangkat, “Jadi maksudmu kau..”

Tiffany mengangguk, “Aku tidak tahu kapan bisa kembali ke sini lagi. Kesempatan seperti ini sayang untuk dilewatkan.”

“Kalau begitu, lemparkan saja satu koinnya. Saat impianmu terwujud dan kau kembali ke tempat ini, bawalah dua buah koin lalu lemparkan lagi.” Jawab Siwon santai.

Tiffany memberi tatapan tak percaya, “Kalian para pria memang tidak romantis!” Sungutnya.

Siwon tersenyum. Pria itu lalu merogoh saku celananya dan menemukan sebuah koin di sana. “Ini. Aku mempunyai sebuah koin.” Katanya sembari menunjukkannya pada Tiffany. “Ambillah.”

Tiffany menggelengkan kepalanya, “Aniyo. Itu koin milik Oppa. Oppa harus melemparnya ke kolam.”

Ghwenchanayo. Lagipula aku memang tidak berniat untuk kembali ke kota ini. Terlalu ramai dan sibuk.”

Tiffany mengerjap, “Benarkah? Bukankah aturannya mengatakan kalau aku harus melemparkan dua koin ke dalam kolam? Tapi salah satu koinnya kudapat dari Oppa.”

“Mmm.. kalau begitu anggap saja aku menitipkan kebahagiaanku padamu.”

Tiffany tersenyum senang, “Baiklah kalau begitu.”

Wanita itu mengambil koin dari tangan Siwon dengan tangan kanannya dan berdiri membelakangi kolam. Tiffany memejamkan matanya dan mengucapkan doa singkat di dalam hati sebelum melemparkan koinnya. Ketika koin itu mencapai dasar kolam.. PRIIIITT!!!

Polisi keamanan meniup peluitnya sebagai tanda peringatan.

“Apa yang terjadi? Kenapa mereka meniup peluitnya?” Tanya Siwon heran.

“Karena aku melempar koinnya.”

“Kenapa? Bukankah orang lain juga melakukannya?”

“Memang. Tapi itu dulu. Sekarang sebenarnya sudah tidak boleh lagi.”

MWO?!”

Siwon tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Yang dia tahu Tiffany sudah menggenggam tangannya dan membawanya berlari. Dibelakang mereka petugas keamanan terlihat mengejar. Gadis itu menarik Siwon untuk bersembunyi di lorong sempit dengan cahaya temaram. Napas keduanya tersengal-sengal.

Siwon bersandar di dinding untuk meredam gemuruh jantungnya. Tenggorokannya terasa kering karena olahraga tak terduga yang baru dilakukannya. Sementara itu Tiffany yang berdiri di sampingnya tertawa pelan.

“Kau..” Lirih Siwon sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu.

“Menyenangkan bukan? Kita sudah melakukan banyak hal bersama-sama. Berkeliling kota, sarapan sampai dengan olahraga.”

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kau melewatkan bagian tidur bersama.”

Tawa Tiffany perlahan berubah menjadi senyum canggung. Baginya kalimat Siwon terdengar begitu..

Napas gadis mungil itu tercekat tatkala tangan Siwon terangkat untuk menyentuh wajahnya yang dingin. Tubuh Siwon bergerak maju menyebabkan Tiffany mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Siwon menundukkan wajah dan membawa bibirnya ke bibir Tiffany. Bibir itu terasa lembut di bawah bibirnya. Saat ia berhasil membujuk bibir wanita itu untuk membuka dan mereguk manisnya, seluruh dunia serasa tunduk di bawah kakinya. Lengan Tiffany mencengkeram erat jas Siwon. Sementara Siwon melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Tiffany, menariknya lebih dalam dan lebih dekat.

Ketika tetesan salju pertama mengenai tengkuknya, Siwon menjauhkan bibirnya dan memberikan kecupan ringan. Tangannya menarik tubuh Tiffany ke dalam kehangatan pelukannya. Di kecupnya puncak kepala Tiffany dengan segenap jiwa. Untuk pertama kalinya Siwon menikmati rasa ini.

“Hello… Mr. Choi… kau masih di sini?” Tiffany menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Siwon.

N.. ne?” Siwon mengerjap.

Sial! Jadi tadi itu hanya..

Kening Tiffany berkerut, “Apa yang kau pikirkan, Oppa? Sejak tadi kau hanya berdiri dengan pandangan menerawang. Ada apa?”

Siwon memejamkan matanya. Semuanya terasa begitu nyata. Kehangatan, kelembutan dan aroma Tiffany begitu merasuk sukmanya. Siwon seakan melayang tinggi saat bayangan itu hadir.

Oppa.. kau akan mengantarku ke stasiun atau tidak?” Suara Tiffany kembali mengantar Siwon ke dunia nyata.

“Eoh.. ne.. tentu saja. Kajja..” Jawab Siwon.

Dengan terpaksa Siwon menyeret kakinya. Bagaimana pun dia adalah seorang pria dewasa. Wajar saja kalau pikiran itu membuatnya sedikit gelisah.

“Kau sudah siap pulang?” Tanya Siwon.

Ne.” Tiffany mengiyakan. Dalam hati dia sangat bersyukur karena waktunya untuk kembali hampir tiba, tapi di sisi lain dia belum siap untuk berpisah dengan Siwon.

Siwon membukakan pintu untuk Tiffany dan menutupnya setelah gadis itu masuk. Tiffany memerhatikannya memutar ke depan. Dia sangat mengagumi sosok Siwon yang lembut dan hangat. Seandainya boleh meminta, Tiffany ingin sosok seorang Siwon lah yang menjadi pendampingnya kelak.

Tidak! Batin Tiffany menjerit. Sudah cukup baginya untuk berandai-andai. Setelah ini, Siwon hanya akan menjadi bagian dari masa lalunya. Posisinya tidak lebih dari sekedar teman seperjalanan yang menyenangkan. Saat ini hal yang harus dia lakukan hanya satu. Pulang.

Tiffany menghela napas. Laju mobil memelan, melewati pertokoan. Hanya kurang dari 200 meter lagi jarak yang harus ditempuh untuk mencapai stasiun namun Tiffany tidak mampu merangkai kata perpisahan. Apa yang harus dia ucapkan? Setelah ini mungkin kesempatannya untuk bertemu Siwon akan benar-benar tertutup.

Mereka tiba di depan stasiun. Polisi berseragam biru terlihat berjaga di tempatnya, lampu lalu lintas berkedip-kedip memasang tanda waspada, semuanya begitu wajar. Rasanya Tiffany seperti terbangun dari mimpi.

Siwon menghentikan mobilnya, namun Tiffany tidak beranjak.

Mianheyo, aku tidak bisa mengantarmu ke dalam.”

Tiffany terdiam beberapa saat lalu mengangguk. Dia bersiap untuk menanggalkan sarung tangan Siwon.

“Kau boleh menyimpannya. Udara di dalam kereta pasti cukup dingin dan kau tidak memiliki sarung tangan lain untuk kau pakai.” Siwon mengingatkan.

Gumawoyo, Oppa.” Tiffany merasa ragu. Tangannya mencengkeram pegangan pintu dengan erat, mencoba untuk mengulur-ulur waktu.

“Tiffany?”

Ne?” Tiffany berbalik menghadap Siwon.

“Berhati-hatilah. Jaga kesehatanmu.”

Tiffany mengangguk dengan susah payah. Kata-kata perpisahan Siwon membuatnya ingin menangis. Gadis bermantel cokelat itu melangkah keluar dengan canggung. Tangannya berpegangan pada sisi pintu. Kakinya melangkah cepat menuju pintu masuk stasiun tanpa menoleh ke belakang. Sementara Siwon masih duduk diam. Kepalanya terasa pening. Pikirannya bercampur aduk. Punggungnya bersandar lemah di kursi kemudi. Tangannya masih menutupi wajah dan ia masih tak bergerak bagai patung. Sepertinya dia harus bersiap untuk patah hati.

***One Afternoon***

Keesokan paginya, Tiffany terbangun dengan kepala yang berputar. Kemarahan Leo, interogasi Jessica ditambah lagi kerisauan hatinya membuat mata indah itu meneteskan banyak air mata semalam. Tiffany kemudian beranjak dari tempat tidur untuk membuka tirai balkon kamarnya. Di luar cuaca gelap dan berkabut. Benar-benar sempurna. Ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di kamar mandi. Setelah mengenakan pakaian yang cukup hangat, Tiffany meraih ponselnya. Tidak ada pemberitahuan apa-apa. Kenapa tidak ada yang menghubunginya? Helaan napas keluar dari mulutnya. Memangnya siapa yang dia harapkan?

Merasa bosan, Tiffany menyalakan televisi. Terlihat tayangan yang menggambarkan sekawanan singa tengah mengintai sekelompok rusa.

Sedang apa dia di sana? Apakah dia sudah makan? Apa dia juga menonton acara ini? Pikiran-pikiran itu membuat Tiffany mendesah. Dua hari bukanlah waktu yang singkat. Ada kejadian yang terlalu indah untuk dilupakan namun terlalu sedih dikenang. Sekedar mendengar nama tempat atau acara televisi saja akan dengan sontak membuka album kenangannya bersama Siwon.

“Tiff.. ada paket untukmu!” Suara nyaring milik Jessica membuat Tiffany berdecak. Dalam hati Tiffany bertanya-tanya apa yang membuat Leo menikahi sahabatnya yang ‘menyebalkan’ itu.

Tak berselang lama pintu kamarnya terbuka. “Aish! Kenapa kau diam saja?!” Protes Jessica.

Tiffany menatap Jessica dengan malas, “Ada apa? Teriakanmu membuat langit mendadak mendung.”

Jessica memukul lengan Tiffany membuat gadis itu meringis, “Bicara yang sopan pada kakak iparmu!” Tegurnya.

“Baiklah, Eonni.” Tiffany memberikan penekanan pada kata terakhirnya. “Ada apa?”

Aigoo.. adik iparku manis sekali.” Goda Jessica seraya mencubit pipi Tiffany.

“YA!!!” Jerit Tiffany. Suasana hatinya sedang tidak enak untuk diajak bercanda.

Jesscia terkekeh pelan. “Ada paket untukmu.”

“Dari siapa?”

Jessica meletakkannya di meja rias. “Calon mertuamu.”

Tiffany memandang kantung kertas di hadapannya tanpa minat lalu berjalan menuju tempat tidur.

“Ya! Kau mau kemana? Kenapa paketnya tidak kau hiraukan?” Tanya Jessica heran.

“Aku lelah, Jessi. Kau saja yang melihatnya.”

Mata Jessica berbinar, “Jinjja? Baiklah.. aku akan membukanya. Siapa tahu lebih pantas untukku.”

Wanita yang tengah mengandung 3 bulan itu mengeluarkan kotak berhiaskan pita dari kantung kertas lalu membuka tutupnya.

“Kya.. kyeopta! Cantik sekali! Kau pasti akan terlihat sempurna saat memakai gaun ini.”

Tiffany mendengus pelan. Terserah! Meskipun gaun itu sangat cantik, dibuat oleh perancang mode ternama atau bahkan berharga sangat mahal sekalipun hatinya tidak akan tergugah.

“Eoh? Ada sesuatu di dalamnya.”

Hening sejenak. Jessica lalu terlihat mengerutkan dahi, “Aneh..”

Tiffany menghela napas, “Memangnya ada apa?” Tanyanya malas.

“Calon suamimu ini mungkin memang pintar dan cerdas. Tapi sepertinya dia terlalu kaku.”

Jessica menyimpan kotaknya di atas meja rias lalu berjalan mendekat.

Tiffany mengangkat sebelah alisnya, “Kalau kau tidak berniat untuk mengatakannya lebih baik aku tidur.”

Jessica menyeringai. “Lagi?! Kau bahkan melewatkan pancake-mu.”

“Lalu apa?” Desis Tiffany.

“Dia mengirimkan kartu ucapan untukmu. Kau tahu apa yang dia tulis? Semoga kau menyukainya..”

Finish 120716 ^_^

Finally..

Setelah berpuasa satu bulan lamanya #eh..

Saya masih bimbang untuk melanjutkan cerita ini atau tidak.

Tergantung dari pekerjaan (sok sibuk) dan mood juga.

Jadiiii.. dicukupkan sampai sini aja dulu, ya..

Makasih untuk yang udah ngikutin ceritanya.

Semoga ke depannya coretan saya ini bisa lebih baik lagi. C U :*

44 thoughts on “(AF) One Afternoon Part 3 (End)

  1. Ya ampunn thorr aku pikir ni blog nya udah gk update lagi alias di tutup.
    Syukurlah klo masih update
    Thor next 1 minggu sekali dong update ny, jeball

  2. Aigoo…..so sweet banget deh sifany di negara Roma.jangan2 siwon calon suaminya fany deh…..
    Gak apa2 kok lama updatenya,saya akan sabar menanti thor.ditggu lanjutannya thor.
    Author jjang.hwaiting.

  3. Mmm… Ini gak end kan? As expected yaa dari part pertama bakal kaya gini, tp sayang kalo harus end disini 😭😭 entah ini fluff atw romance yg jelas ini sweet banget 😍😍 kelanjutannya ditunggu selalu /eaaa/

  4. akhirnya ada postingan ff baru…
    jadi yg bakal dijodohin sama tiffany itu siwon?? ini belum end kan?? klu end disini sayang banget, jdi di tunggu banget next chapternya….

  5. Akhirnyaaaa Sifany Island is back yeeayyyy🙌
    Udah takut aku kiraa gak akan update lagi ..
    Akhirnyaa stelah skian lama update lagii..
    Cerita nyaa srruuu bgtt dan ternyataa calon suami tiffany itu siwon toh ..

  6. Ahaayyy deee ternyata oh ternyata Fany eonni bakalan di jodohin sama Siwon oppa^^. Oppa bisa aja y kasih surprisenya…. wow double woww. Gk nyangka aja ternyata calon nya Fany eonni itu Siwon oppa*what the **** is that!
    Author selamat akhirnya cerita selesai juggaaa*ku selalu menunggu part ini hehe^^

  7. ahh akhirnya ad ff lagi yg d post di SI makasih yaa admin sama author..kangen sama ni couple hehe
    suka sama jalan ceritanya,,manis2 gmna gitu, apalagi penggambaran settingnya jd nikmatin ceritanya,,
    semoga cerita ini belum bner2 ending ya thor, please ^^
    ditunggu karya2 selanjutnya

  8. adch smpek jamuran ni Thor nunggu ffx…..
    kk end.
    next ya sequel gtu

    siwon kah?
    klo bnran iya pgn tau critax dari sudut pandangan Siwon.

    semangat Thor lanjuuuuuut,………

  9. akhirnya blog ini ada penghuni nya lagi, udah lamaaaaaaa bgt kosong soalnya, dilanjut ya kak ceritanya, msh penasaran dg kisah nya sifany, kok kyknya itu gaun yg dipilih tiffany sendiri ya kalo diliat dr ucapan yg ditulis, moga aja bener siwon yg dijodohin ke tiffany

  10. Aduh kenapa udah end sih… Padahal pengen liat gimana reaksi tiffany tau pas yg dijodohin ternyata siwon. Hahaha seru thor. Kreatif ceritanya hehe

  11. Akhirny n blog post update jga. Ak kira dtutup atw sbgny.. tp syukurlah ternyata nggak

    btw, n cerita gk bneran end kan ?
    Msh ad sequel atw astorny gtu ?
    Cuz klo bner end kita smua reader bkalan merasa digantung dg endingny..
    ap bneran siwon orang yg djodohin dg fany atw siapa

    pokony next dtunggu bgt lanjutan hub mereka. Ok ?
    Please…

  12. Kyaaaaaaa ketahuaaaannnn siapa calon suami ny pattini 😂😂😂😂😂😂😂

    Kirain gk bakal dilanjut lagi ne cerita, sempet berhenti berharap bakal lanjutin baca kelanjutanny kmren. 😂
    Kirain juga udah gk ad yg peduli lagi ama ne blog. 😂
    Ternyata masih ad 😁

    Ahhh, semoga kak kirey trus dpt inspirasi ttg ne epep dan ttp lanjut ngpost sampe akhir.😁
    Semangaattt kak kirey!! Brpa lama pun kk puasa ttp ditunggu koq kelanjutanny, 😁

  13. Ada yg update juga aku kira udah close blog SI 😥
    Adegan ciumannya kirain beneran 😂 tenyata ngayal 😂😂 Dan ceritanya end gitu aja thor-nim? 😅 gantung banget 😬 dan calon suami tiffany itu siwon???? 😱 ada kelanjutanya ga yaaaaaaaa 😐

  14. Thor saya dari hati saya yg paling dalam beserta keluarga saya memohon dengan sungguh-sungguh agar ff ini dilanjutttt. Please thor demi reader dilanjut ya thor, bapernya sampe ke ubun2 kalau ga dilanjut bisa menderita saya karna kepikiran ff ini terus. Kapanpun mau dilanjutkan terserah, yg penting jgn gantung sampe chapter ini aja. Coretan tangan author ini sangat indah seindah patung di fountain trevi. Please ya thor, dilanjut.

  15. Kyaa setelh sekian lm menugu kelanjtn a ….agk sedikit kecwwa…buat secuel a dong ndk rela nh bepisah ama kemesraan sifany….
    Mmg a jodoh emang gk kemana
    Blm d pertemukn …eh u bertemu so sweet

  16. Annyeong kireynalice-ssi…
    Nih ya, jangan sebut kireynalice klo ga bikin ff yg unik, aku selalu menemukan hal menarik di dalam karyamu. Kehangatan hubungan keluarga dan kekerabatan selalu menjadi menu spesial dari karya2 mu. Ending-nya nyeleneh, tapi keren. Semoga ini jadi semangat buat kebangkitan Sifany setelah sekian lama gak ngepul “dapur”nya. “Karya yang hebat, tidak lahir sembarangan” dan karya kireynalice tidak pernah lahir sembarangan. Apakah aku boleh berharap akan ada “one evening” atau “one night” mung…kin (maunya aku, hahahhaa 😅).
    Homawo.. 😄

  17. Kyaaa setelah sekian lama akhirnya blog SI post ff lagi seneng bangetttt😀😀😀 Terima kasih buat admin semua 🙏dan para author yg masih ngelanjutin nulis ff SiFany🙏👏👍👌
    .
    .
    .
    Buat author kirey ffnya keren banget apalagi penggambarannya bener” dapet feelnya. Dan ternyata yg dijodohin sama tiff itu siwon, hehe tebakanku bener😂😂😂😂 tapi sumpah klow udh end disini bener” gantung banget aku jadinya kepikiran terus😂😅 jadi bolehkah diriku ini dan reader yg lain minta sequel,? Pleasee😅
    Gomawo and Hwaiting…

  18. Oalaahh lg seru2 baca ehhh.. trnyata
    nanggung nh thor end’a huuaaa ToT
    blm ada moment yg greget
    tp bgus sh crita’a
    dan trnyata siwon toh yg jd calon suami’a tiffany astagaa
    iiihhhh ga rela
    blm mreka ketemu lg blm merid blm punya ank
    tuh kn baper..😦

  19. hehehe.. jadi ini yg dimaksud kak echa dengan gaya crita unikmu mengubah sesuatu yg biasa dan ketebak jadi sesuatu yg oke bangeeet.. jujur aja dr awal aku uda nebak sih, klo yg dijodohin sama tiff tu siwon, tapi yg aku enggak nyangka, caramu nyritain ketauannya.. dari dress+kartu ucapan “semoga kau menyukainya” dan langsung tamat disitu.. ini drama rasa ala2 misteri gituu.. semangat untuk project slanjutnua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s