(AF) One Afternoon Part 2

One Afternoon Part II

IMG_7289

Author             : Kireynalice

Type                : Chaptered

Genre              : Romance

Rating             : PG 17

Main Cast        : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Disclaimer       : Cerita ini terinspirasi dari mana-mana J Apabila ditemukan adanya ketidaksempurnaan penggambaran latar tempat dan suasana, harap dimaklumi. Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita.

Untuk sahabat yang menantikan kelanjutan cerita ini :*

All in Author’s POV

Bibir Siwon membentuk huruf “O” saat mendengar informasi yang disampaikan Tiffany. Selama ini dia hanya menonton video atau gambar dalam channel geografi secara sekilas tanpa menyimak penjelasan yang disampaikan oleh narator. Sepertinya mulai sekarang Siwon harus lebih memperhatikan tayangan televisinya dengan baik.

“Jadi kalau Oppa merasa lelah sehabis berkeliling itu artinya Oppa harus lebih sering berolahraga. Apalagi Oppa menyukai kopi. Minuman berkafein seperti itu tidak baik untuk kerja jantungmu.”

Siwon masih mendengarkan Tiffany dan kalimat-kalimat wejangannya. Sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Perhatian Siwon terpusat pada gerak-geriknya. Tiffany mengapresiasikan kata yang keluar dari mulutnya dengan bahasa tubuh. Mata indah yang mengerjap, tangan yang bergerak, bibir yang mengerucut serta tawa yang renyah. Dalam hati Siwon bertanya-tanya, sebenarnya Tiffany ini mengambil jurusan apa saat kuliah dulu? Kedokteran, managemen bisnis atau ekonomi? Tapi kelihatannya dia lebih cocok menjadi seorang desaigner. Selera berpakaiannya sangat baik. Selain itu dia juga cantik, percaya diri dan mudah bergaul. Sepertinya pekerjaan sebagai idol juga cukup pantas untuknya.

Siwon masih setia mendengarkan kisah Tiffany dengan sebelah tangan yang menopang dagu. Wanita itu kini tengah menceritakan pengalamannya saat berolahraga di salah satu gym New York yang biasa dikunjungi artis ternama hingga beberapa saat kemudian dia berhenti berbicara dan..

“Hachu!” Tiffany menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan.

Bless you.” Timpal Siwon.

“Hachu!!”

“Jangan terlalu serakah, Tiffany. Aku sudah mendoakanmu.”

Mianheyo.” Gumam Tiffany lirih.

Siwon menatap Tiffany yang sekarang ini tengah menyeka hidungnya dengan tisu, “Untuk apa meminta maaf?”

Tiffany membuang tisu bekas ke tempat sampah di samping kursinya, “Tentu saja karena kejadian tadi.”

Siwon terlihat berpikir, “Kejadian apa? Ah.. maksudmu ‘hachu’ itu?”

Tiffany mengangguk malu.

“Kau meminta maaf karena bersin?” Siwon mendengus pelan, “Hah.. yang benar saja. Semua orang juga melakukannya.”

“Tapi aku pasti terlihat tidak anggun.”

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ayolah, Tiffany. Itu hanya masalah sepele. Bahkan Lady Diana sekalipun melakukannya.”

Bibir Tiffany mengerucut, “Tapi aku melakukannya di depanmu.”

Siwon menghela napas, “Sudah kubilang itu adalah hal wajar. Lagipula aku tidak merasa keberatan.”

Jinjjayo? Waeyo? Bukankah itu sedikit menjijikan?”

“Entahlah. Menurutku itu begitu manusiawi.” Ujar Siwon sembari mengangkat bahu.

Jawaban Siwon tidak lantas membuat Tiffany puas. Bibirnya masih mengerucut saat mengambil gelas cokelat dan memegangnya dengan kedua tangan. Semakin siang udara terasa semakin dingin padahal matahari bersinar cukup terik. Tubuhnya menjadi sedikit bergidik saat angin berhembus.

Ghwenchanayo?” Tanya Siwon saat melihat tubuh wanita di sampingnya gemetar.

Ne? Eoh.. Ne. Memangnya aku kenapa?”

“Kau terlihat tidak baik.”

“Aku baik-baik saja, Oppa. Kenapa kau.. hachu!” Ucapan Tiffany lagi-lagi terpotong, “Mianheyo.” Ujarnya sambil sekali lagi menyeka hidung.

Siwon memerhatikan Tiffany. Jari tangannya terlihat cantik dengan cat berwarna marun. Batu kecil menyerupai berlian yang tidak Siwon ketahui namanya menempel di salah satu kukunya. Semuanya begitu cantik dan serasi di kulit putih Tiffany yang bersinar layaknya pualam. Akan tetapi hal itu secara otomatis membuat kening Siwon berkerut.

“Kau tidak memakai sarung tangan?”

Tiffany menatap jemarinya, “Ah.. sepertinya aku lupa.”

“Apa kau meninggalkannya di suatu tempat? Mungkin tertinggal di cafe ketika kau ke toilet tadi.”

Aniyo. Aku memang tidak memakainya sejak tadi, Oppa.” Jawabnya seraya menaruh gelasnya lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

Waeyo? Padahal suhu Roma begitu rendah.”

Tiffany menyeringai, “Tadi aku begitu terburu-buru karena takut tertinggal kereta.”

“Kereta? Memangnya kau menginap dimana?”

Tiffany memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. “Aku menginap di hotel St. Angela.”

St. Angela? Rasanya aku belum pernah mendengar nama hotel itu di kota ini.”

“Mmm.. memang bukan di sini. Aku menginap di Venice.”

Mata Siwon terbelalak, “Venice? Bukankah jarak tempuhnya ke Roma memakan waktu hampir 3 jam?“

Tiffany mengangguk.

“Kau sudah ada di Roma pada pukul 08.00. Kapan kau pergi?”

Tiffany hanya mengangkat bahu, “Aku tidak sempat melihat jam tadi.”

Siwon melepas sarung tangannya dan menyodorkannya pada Tiffany, “Kalau begitu kau pakai milikku saja.”

Tiffany dengan cepat menggeleng, “Aniyo. Aku yang ceroboh kenapa harus Oppa yang direpotkan. Aku baik-baik saja, Oppa. Aku bisa memasukkan tanganku ke dalam saku mantel.” Tolaknya.

“Kau memegang gelas cokelatmu dengan erat untuk mencari kehangatan, pipi dan hidungmu memerah karena kedinginan dan tubuhmu sudah memberi sinyal sebanyak 3 kali dalam 5 menit terakhir. Itukah yang kau bilang baik-baik saja?” Papar Siwon.

“Tapi aku tidak bisa. Oppa juga pasti kedinginan.”

“Aku ini pria, Tiffany.”

“Lantas kenapa?”

“Aku lebih bisa menerima rasa dingin dibanding dirimu.”

“Baik pria atau pun wanita, kalau dingin ya tetap saja dingin.” Sanggah Tiffany.

“Sudah, pakai saja.” Paksa Siwon.

“Tapi aku..” Ucapan Tiffany terputus saat Siwon meraih tangannya.

Pria berambut hitam itu memasangkan sarung tangannya tanpa mengatakan apapun. Tiffany memandang kulitnya yang bersentuhan dengan Siwon. Pria itu begitu lembut dan hangat. Wanita mana yang tidak melayang jika diperlakukan seperti itu termasuk dirinya. Semburat merah dengan segera menghiasi kedua pipinya.

“Aku sangat  menyukainya.” Gumam Tiffany tanpa sadar.

“Apa?” Tanya Siwon.

Tiffany mendongak menatap Siwon, “Apanya yang apa?”

“Tadi kau mengatakan suka. Apa yang kau sukai?”

Ne?” Tiffany mendadak gugup. Dia kira suaranya sudah cukup pelan saat mengatakan kalimat itu, “A.. ah.. Maksudku.. aku.. sangat menyukai.. Roma.”

“Roma?” Ujar Siwon dengan alis yang terangkat sebelah. “Kurasa kita tidak sedang membahas mengenai masalah Roma.”

“M.. Maksudku.. Mmm.. ah.. Gedung kusam berwarna putih gading dan berbatu bata merah di sini membuatku takjub.” Jelas Tiffany berusaha terdengar normal.

“Gedung itu?” Tunjuk Siwon dengan dagunya pada bangunan di depan mereka.

Tiffany mengangguk ragu. Dia berharap Siwon mempercayai ucapannya.

Siwon merapikan lipatan sarung tangannya di pergelangan Tiffany, “Sepertinya cara pandang kita berbeda. Bagiku Roma hanyalah salah satu dari sekian banyak negara yang harus kukunjungi. Mungkin beberapa di antaranya memang menarik, tapi dibalik semua pesonanya pekerjaan yang menumpuk selalu menunggu. Aku tidak tahu kenapa orang-orang ingin mengunjungi negara ini.”

Tiffany mengerutkan keningnya, “Mungkin karena kota ini dianggap sebagai asal muasal kebudayaan dan modernitas sehingga siapapun ingin menyinggahinya. Aku pernah mendengar kalau ada 2 jenis turis yang datang ke Roma. Pertama adalah mereka yang mencintai sejarah dan mereka yang datang untuk beribadah. Oppa termasuk yang mana?”

“Hmm.. Aku rasa aku adalah ‘dan’ yang berada di antara keduanya.” Jawab Siwon asal.

Tiffany tertawa geli, “Kalian para pria memang pintar bersilat lidah.”

Siwon tersenyum. Wanita ini ternyata sangat suka berkomentar.

“Kenapa Oppa tersenyum?” Protes Tiffany.

Aniyo.”

Tiffany menyeringai, “Apa karena aku begitu menggemaskan?”

Siwon memutar bola matanya dengan malas. Tapi sedetik kemudian seringaian jahil menghiasi wajahnya, “Benar sekali. Kau sangat menggemaskan. Apalagi jika dibandingkan dengan benda yang ada di belakangmu.” Ujarnya.

Tiffany mengernyit, “Benda? Benda apa?” Tanyanya lalu menoleh ke belakang.

Rupanya benda yang dimaksud oleh Siwon adalah patung reflika David karya Michelangelo. Karya seni itu begitu indah dan detail. Setiap potongan dan lekukannya dibentuk secara halus oleh tangan yang terampil. Bukannya Tiffany tidak menghargainya. Hanya saja patungnya terlalu…

“Aish! Oppa!” Pekik Tiffany dengan telapak tangan yang menutupi kedua matanya. “Kenapa kau menunjukkan hal seperti itu padaku?!”

Siwon berjalan mundur meninggalkan Tiffany dengan tawa yang menghiasi bibirnya. Kalau diingat-ingat, sudah berapa kali dia tersenyum ataupun tertawa pagi ini?

“Kau harus melihatnya agar bisa menjadi wanita dewasa, Tiffany.”

Tiffany mengatupkan rahangnya, “Itu bukan dewasa, tetapi mesum! Aish!”

Siwon memperlambat langkah hingga jaraknya dengan Tiffany cukup dekat. Dia pikir wanita itu akan memukulnya atau meneriakkan sesuatu saat mereka berpapasan. Tapi ternyata Tiffany malah terus berjalan menjauh dan mengacuhkannya.

“Hey, Tiffany. Kau marah padaku?” Tanya Siwon. Tiffany tak mau mendengar.

“Jangan kesal, aku kan hanya bercanda.” Bujuk Siwon. Tiffany bergeming.

“Kau benar-benar marah padaku ya?” Kali ini Siwon mulai khawatir. Terlebih lagi wanita itu sepertinya memang tidak berniat untuk menghentikan langkahnya. Terpaksa Siwon berlari untuk menyusul.

Tiffany menatap Siwon tajam saat pria itu menghadang langkahnya.

“Emm.. mianheyo. Aku hanya bermaksud untuk membuatmu lebih baik. Tapi ternyata leluconku keterlaluan.”

Tiffany mendengus acuh dan kembali mengalihkan perhatian ke jalanan di depannya.

Mianheyo. Aku akan melakukan apapun agar kau tidak marah lagi padaku.” Rayu Siwon.

“Ck.. kau pasti hanya akan menggodaku lagi.”

Siwon mengangkat jari tengah dan telunjuknya hingga membentuk huruf ‘V’. “Aku bersungguh-sungguh, Tiff.”

Tiffany mendongak, menatapnya hambar. “Jeongmal? Kau akan melakukan apapun untukku?”

Siwon mengangguk, “Itu adalah janjiku sebagai seorang pria.”

“Baiklah.” Tiffany mengangkat dagunya angkuh, “Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”

Siwon menunggu kata-kata Tiffany selanjutnya dengan cemas. Bagaimana kalau gadis itu ternyata memintanya untuk berlari mengelilingi gereja atau berdiri mematung di bawah pohon tanpa memakai mantel? Bahkan bisa saja dia..

“Aku ingin meminta nomor ponselmu, Oppa.” Kata Tiffany cepat, seraya tersenyum tak kentara.

Siwon tertegun, “Untuk apa?”

“Tentu saja untuk meminta balasan atas apa yang telah Oppa lakukan padaku.”

Siwon berdecak, “Baiklah. Dimana aku harus menuliskannya?”

Tiffany merogoh saku mantelnya lalu menyerahkan ponsel berwarna merah muda pada Siwon, “Di sini saja.”

Siwon menerima ponsel Tiffany lalu menyimpan nomor ponselnya sendiri, “Hubungi aku jika sudah tahu apa yang kau inginkan.” Ujarnya seraya menyerahkan ponsel itu ke tangan pemiliknya.

Tiffany mengangguk, “Kesempatan tidak akan datang dua kali, Oppa. Aku harus memikirkannya dulu sebelum memutuskan.”

Wanita itu menunduk menatap ponselnya lalu menekan lambang telepon berwarna hijau di layar. Sedetik kemudian musik lembut terdengar mengalun dari ponsel Siwon.

“Kau juga harus menyimpan nomorku sehingga bisa dengan mudah menghubungiku.”

“Tentu. Aku akan menyimpannya dengan nama ‘si cerewet Tiff’ di ponselku.”

Aish! Seenaknya saja menyebutku seperti itu. Aku bukan cerewet, wanita itu harus mengeluarkan setidaknya 20.000 kata per hari agar bisa bertahan hidup.” Sanggah Tiffany.

Siwon mengangkat sebelah alisnya, “Pembelaan tidak masuk akal apalagi itu? Mana ada hal yang begitu.”

“Kalau Oppa tidak percaya buktikan saja sendiri. Di dunia ini tidak pernah benar-benar ada wanita yang pendiam.”

“Ne, Seonsaengnim.” Pada akhirnya Siwon mengalah, “Lalu setelah ini apa yang akan kita lakukan?”

Tiffany mengangkat bahu, “Aku juga tidak tahu. Tapi sebenarnya ada sesuatu yang ingin kulakukan.”

“Apa itu?”

“Aku ingin kita pergi ke sebuah tempat dimana Oppa bisa melupakan segala masalah yang ada, membebaskan diri dari kesibukan yang menyiksa dan tertawa lepas dengan gembira.” Jelas Tiffany.

Siwon termenung, “Maksudmu?”

“Hari ini aku akan membuat Oppa bahagia.” Tawaran Tiffany terdengar menggoda.

“Tapi..”

“Tidak ada penolakan.” Tiffany bersikeras. “Aku ingin kita menikmati perjalanan ini dan membuat perasaan kita lebih baik.”

Siwon terdiam. Ia tahu tidak ada sesuatu pun yang bisa membuatnya merasa lebih baik. “Baiklah. Kita akan kemana?” ia memutuskan menerima tawaran Tiffany meskipun tidak dengan sepenuh hati.

Bibir Tiffany menyunggingkan sebuah senyuman misterius, “Lihat saja nanti.” Tiffany bersikeras untuk merahasiakan tujuan kepergian mereka.

Siwon berdecak. Ia tidak suka kejutan dan ketidakpastian.

Kajja, Oppa.” Ajak Tiffany. Wanita itu menggenggam tangan Siwon saat menghampiri salah satu loket sebuah perusahaan transportasi darat.

Buongiorno, !@#$%T^&?” Tanya petugas loket dalam bahasa Italia.

Siwon menahan senyum mendengarnya. Nona penjaga loket ini sepertinya tidak secerdas Julia. Tiffany menyeringai dan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga, “Maaf, aku tidak mengerti. Apakah anda bisa berbahasa Inggris?” Tanyanya dalam bahasa Inggris.

Petugas loket tersenyum, “Maafkan saya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”

Ne.. eh.. maksudku.. iya. Aku ingin membeli dua lembar tiket dengan tujuan ke Riviera.” Jawab Tiffany.

Petugas loket terlihat mengetik sesuatu di komputernya lalu menyerahkan bukti pembayaran pada Tiffany. “Ini. Semuanya €16.”

Tiffany tersenyum sebelum membuka tas tangannya, namun Siwon sudah lebih dulu menyodorkan 2 lembar uang sepuluh euro ke depan loket. Sontak Tiffany terkejut dan menoleh padanya.

Oppa, apa yang kau lakukan?” Tanyanya sedikit keberatan.

“Membayar akomodasi.” Jawab Siwon santai.

Tiffany berdecak, “Aku tahu. Tapi seharusnya aku yang membayar. Yang ingin memberikan kejutan padamu itu kan aku.” Protesnya.

Siwon menggeleng, “Kita bebas bepergian kemana saja sesuai dengan keinginanmu. Tapi tidak dengan biayanya. Untuk yang satu itu aku yang akan membayar.”

“Oppa, aku tidak..”

“Jangan menyakiti harga diriku, Tiff. Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis membayar untuk tiket bus-ku.”

Tiffany tidak mengajukan protes lagi meskipun dia sangat ingin menggerutu. Siwon berterima kasih setelah petugas loket menyerahkan dua lembar tiket. Dia lalu melihat tiketnya. Sebenarnya Siwon sama sekali buta soal bahasa Italia jadi dia tidak mengerti apapun yang tercetak di atas kertas berwarna biru itu. Nona berseragam tadi mengatakan kalau mereka harus menaiki bus bernomor 8808 dan duduk di kursi 13 dan 14.

“Tiffany, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Siwon saat mereka berjalan beriringan menuju bus.

“Ke Riviera.” Tiffany menjawab ringan.

“Aku tahu kita akan pergi ke Riviera, tapi tepatnya kita akan pergi kemana? Apa yang akan kita lakukan?”

“Kursi nomor 13 dan 14. Ah.. di sini rupanya. Apa Oppa mau duduk di dekat jendela?” Tawar Tiffany saat keduanya sampai di tempat duduk mereka.

“Kau saja.” Jawab Siwon dingin.

Dan entah mengapa meskipun banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, Siwon menurut saja saat Tiffany mempersilahkannya untuk duduk.

“Sebenarnya kau mau membawaku kemana, Agassi?” Tanya Siwon sekali lagi. Nada menuntut jawaban terdengar jelas dalam suaranya.

Tiffany menoleh ke arahnya lalu tersenyum. “Kau tenang saja.”

Siwon menghela napas, “Aku adalah seorang pria. Kejutan semacam ini tidak cocok untukku.”

“Sejak awal aku tahu kalau kau itu seorang pria, Oppa. Kenapa kau senang sekali mengatakan soal itu? Aku akan memberikanmu kejutan yang menyenangkan. Percayalah padaku.”

Siwon memutar bola matanya dan menyandarkan punggungnya kasar. Saat itulah dia menyadari sesuatu. Tadi dia pergi bersama dengan gadis ini dan sekarang mereka hendak pergi entah menuju kemana. Kenapa dia dengan mudah menuruti semua keinginan wanita itu? Bukankah dulu dia tidak pernah bersikap seperti itu meskipun pada kekasihnya sendiri? Padahal dia sama sekali tidak mengenalnya. Siwon menghela napas dan kembali menoleh pada Tiffany yang ternyata tengah memandangnya juga.

“Kau.. tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, bukan?” Tanya Siwon curiga.

Tiffany tergelak. “Kalau aku berbuat jahat padamu, kau bisa meminjam semprotan mericaku untuk membela diri. Oppa, ACnya kumatikan saja ya? Rasanya terlalu dingin.” Ujarnya seraya mengangkat tangan ke atas untuk meraih celah kecil yang terletak tepat di atas kepalanya dan menutupnya.

Sesuai dengan jadwal yang tercantum dalam papan pengumuman, bus akhirnya mulai melaju meninggalkan Vatican. Siwon memijat tengkuknya yang pegal.

“Apa Oppa mau tidur? Kurasa kau membutuhkannya. Aku tidak akan mengganggumu.” Saran Tiffany, mengingat selama ini pria itu mungkin saja kurang beristirahat.

“Baiklah. Bangunkan aku jika kita sudah sampai.” Pinta Siwon.

Sepertinya Siwon memang sedang penat. Tak memerlukan waktu lama untuknya terlelap. Tiffany menoleh dan menatap Siwon yang tertidur. Diamatinya sebentar wajah yang terlihat damai itu sebelum menatap keluar jendela.

Senang bisa mengenalmu, Siwon Oppa.

***One Afternoon***

“Taman bermain?” Siwon menoleh pada Tiffany.

Wanita itu tersenyum lebar. “Ne. aku sangat ingin mengunjunginya.”

Jinjja?” Desis Siwon tak percaya, “Kau jauh-jauh datang ke Roma, pergi bersamaku ke Vatican, menaiki bus selama berpuluh-puluh menit dan kita berakhir di tempat seperti ini?”

Waeyo? Semua orang menyukainya. Kajja, Oppa.” Tiffany menarik tangan Siwon tanpa memedulikan protes yang keluar dari bibir pria itu.

Siwon mengamati sekelilingnya. Hari ini taman bermain tampak lengang. Antrian anak-anak yang menunggu giliran bermain juga tidak terlalu panjang. Seorang gadis kecil yang berada dalam gendongan ayahnya terlihat menunjuk-nunjuk boneka beruang cokelat di etalase dengan tak sabar sambil sesekali merengek. Siwon tersenyum simpul. Sudah lama dia tidak berkunjung ke tempat semacam ini. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia datang berkunjung. Saat menenangkan adiknya yang menangis karena ditinggal ibu mereka ke luar negeri, mungkin? Kapan hal itu terjadi? 10 atau mungkin 15 tahun yang lalu? Dia tidak begitu ingat.

“Tiffany, orang bisa membeku kalau bermain hari ini. Pasti suasananya sepi.” Ujar Siwon.

“Itulah tujuanku. Hari ini kita bebas bermain sepuasnya.” Seru Tiffany bersemangat. “Kita bisa naik apa saja tanpa harus mengantri bersama pengunjung yang lain. Jadi, kita akan mulai dari mana?” Tanya Tiffany.

“Terserah kau saja,” Jawab Siwon ketus.

“Siwon Oppa.. ayolah tersenyum. Kita harus menikmati hari ini. Besok kita harus kembali ke kehidupan nyata.”

Siwon berdecak sebal tapi Tiffany justru tertawa. Wanita itu lantas meraih tangan Siwon dan menggenggamnya, “Kajja.”

Tiffany berhasil memaksa Siwon untuk menaiki wahana yang amat dihindari pria itu dengan alasan dapat membuatnya mual. Mereka berteriak dengan kencang hingga nyaris menyebabkan suara menjadi serak. Siwon tertawa saat membantu Tiffany yang turun dari roller coaster dengan rambut berantakan dan wajah pucat.

“Aku tidak akan pernah mau menaiki benda itu lagi.” Sumpah Tiffany.

Siwon menyeringai, “Waeyo? Bukankah kau bilang kalau rasanya menyenangkan? Teriakanmu bahkan mengalahkan Whitney Houston tadi.” Ejeknya.

Tiffany berpura-pura tidak mendengar. Daripada harus berdebat dengan Siwon dia lebih memilih untuk menuju loket dan mengambil hasil foto mereka.

“Hahaha.. lihat, Oppa! Kau jelek sekali!” Ledeknya.

Aish! Enak saja. Memangnya kau terlihat cantik dalam gambar itu?” Balas Siwon.

“Saat itu kereta besinya sedang miring ke arahku. Tentu saja aku terkejut.” Tiffany berkilah.

Mereka lalu saling pandang dan tertawa. Tidak ada yang benar ataupun salah di antara mereka. Pose Siwon dan Tiffany di foto itu memang jauh dari kata tampan dan cantik. Siwon tergelak. Tidak dapat dipungkiri perasaan keduanya menjadi jauh lebih riang setelah menaiki berbagai wahana itu. Permainan yang sebelumnya tidak pernah Siwon coba dapat dia naiki berkali-kali. Bahkan mereka hampir menaiki perahu karet seandainya udara tidak bertambah dingin.

Sandwich ayam dan jeruk hangat pesananmu datang..” Ujar Siwon pada Tiffany yang tengah duduk di sebuah bangku.

Tadi wanita itu mengatakan kalau dia lapar dan meminta untuk dibelikan roti lapis isi daging dan sayuran yang terlihat sangat menggiurkan. Hal yang mudah dan tidak memakan banyak biaya, tapi masalahnya adalah Siwon harus menghabiskan 1 jam dari waktu istirahatnya hanya untuk mengantri di sebuah toko roti yang entah mengapa begitu ramai!

Kamsahamnida, Oppa.” Tifany tersenyum tanpa dosa dan langsung memasukkan segigit besar sandwich ke mulutnya, “Oppa tidak membeli?”

Siwon mengangkat kantung kertas di tangan kirinya, “Memangnya aku rela jika hanya kau saja yang merasa kenyang?”

Aigo.. Siwon Oppa ini manis sekali. Sepertinya kita sudah menjadi teman seperjalanan yang senasib sepenanggungan.” Kata Tiffany seraya mengunyah suapan keduanya.

“Jauh-jauh datang ke tempat ini dan pada akhirnya hanya memakan roti saja.” Gumam Siwon sementara Tiffany menjulurkan lidah.

“Aku sangat suka makan di pinggir sungai.” Kata Tiffany setelah menelan separuh dari makanannya. “Meskipun hanya sungai buatan sebuah taman bermain, tapi tempat ini seperti mengobati rasa rinduku pada Korea.”

Siwon menghentikan kunyahannya, “Maksudmu Sungai Han?”

Tiffany mengangguk, “Tempat itu mengingatkanku pada seseorang.”

“Kekasihmu?” Tebak Siwon.

Aish! Tentu saja bukan!” Protes Tiffany.

“Mmm.. kalau begitu..” Siwon terlihat berpikir, “Pasti kau sedang menangisi seorang pria tertampan di kelas karena dia sudah menolak cintamu.”

Tiffany melayangkan tatapan datarnya pada Siwon. Ternyata pria yang seharian ini dikaguminya memiliki sisi menyebalkan juga. Beruntung dia sedang tidak ingin repot-repot menjelaskan kalau dirinya yang pernah tergabung dalam tim cheerleader ini merupakan primadona di sekolah menengahnya. Bahkan Ronald, kapten tim basket, yang ketampanannya bisa disejajarkan dengan aktor hollywood sekalipun sampai berlutut di tengah lapangan agar Tiffany mau menerima cintanya.

“Dia yang kumaksud itu adalah ibuku.” Jelas Tiffany.

“Ah.. kalau begitu kau harus mengajak ibumu untuk makan bersama di sana kalau datang berkunjung.”

Tiffany tersenyum miris, “Kalau saja bisa, aku pasti akan membawanya pergi. Tapi sepertinya Eomma sudah menikmati hidangan terbaiknya di surga.”

Siwon tercekat, “Mianheyo. Aku tidak bermaksud untuk..”

Ghwenchanayo. Lagipula kejadiannya sudah lama sekali.”

Siwon menelan ludah. Atmosfer di antara mereka tiba-tiba berubah suram. Seharusnya dia tidak usah mengatakan apapun tadi.

Oppa..” Panggil Tiffany membuat Siwon menoleh, “Sungai Han sekarang seperti apa? Apa masih banyak yang memancing seperti dulu?”

“Tentu saja, tapi tidak seperti dulu. Sekarang kawasan itu berubah menjadi taman kota. Kebanyakan orang mengunjunginya untuk sekedar makan atau melepas penat saja.” Jelas Siwon.

“Makan? Maksudmu seperti rekreasi keluarga di atas rumput sambil membawa bekal?” Tanya Tiffany.

Siwon terkekeh, “Tentu saja bukan. Kau hanya tinggal memesan ke restoran yang ada di sana. Mereka menyajikan berbagai olahan ikan sungai.”

Tiffany bergidik, “kalau begitu kupastikan tidak akan pernah datang ke tempat itu.”

Waeyo? Bukankah kau menyukai makan di pinggir sungai?”

“Iya, tapi tidak dengan ikannya.”

Kening Siwon berkerut, “Ikan? Memangnya kenapa? Kau tidak suka makan ikan?”

Tiffany memasang tampang mual, “Lebih dari itu. Aku sangat sangat sangat membencinya. Kulit, kepala dan ekornya membuatku geli!”

Siwon tertawa, “Kalau begitu kasihan sekali dirimu. Kau mungkin harus membawa bekal untukmu sendiri.”

“Biar saja. Aku bisa memakan ramen.” Kilah Tiffany.

“Aku bahkan sudah bosan dengan ramen. Hampir setiap hari mie itu menjadi menu sarapanku.”

Waeyo? Kenapa Oppa tidak memasak? Bukankah ada yang mengatakan kalau orang Korea harus sarapan dengan nasi dan sup?”

Siwon berdecak, “Itu hanya berlaku untuk warga Korea yang bekerja dengan santai. Tidak seperti diriku.”

“Memangnya Oppa bekerja dimana?”

“Aku memiliki sebuah bisnis kecil di Korea. Karena baru merintis, aku harus bekerja lebih giat.”

“Bisnis keluarga?”

Siwon menggeleng, “Bisnis pribadiku.”

Waeyo? Bukankah akan lebih mudah kalau mengerjakannya berrsama-sama?”

“Bukannya aku tidak menghargai keluarga. Tapi aku hanya ingin berdiri di atas kedua kakiku sendiri.”

Tiffany bertepuk tangan, “Bravo, Oppa! Aku benar-benar salut! Sementara pemuda lain mengharapkan hasil yang cepat, kau rela bersusah payah membangun kerajaanmu dengan kekuatan sendiri.”

Siwon melipat tangannya di depan dada, “Kurasa informasi mengenai diriku sudah cukup. Kau sendiri bagaimana? Apa kegiatan sehari-harimu?”

“Emm..” Tiffany mengayun-ayunkan kakinya ke udara, “Bagaimana aku harus menjelaskannya padamu, ya.. aku sudah menyelesaikan pendidikanku tetapi tidak bekerja.”

“Jadi pengangguran, ya?” Sindir Siwon.

“Setidaknya itu bukan murni keinginanku, Oppa. Appa melarangku karena kemungkinan besar calon suamiku tidak akan suka jika aku bekerja.”

Kening Siwon berkerut, “Bukankah tadi kau mengatakan tidak memiliki kekasih?”

“Memang tidak. Tapi sebentar lagi aku akan menikah.”

Siwon termenung, “Mianheyo, apa maksudmu kau.. dijodohkan?”

Tiffany mengangguk.

Siwon bergidik, “Aku tidak suka perjodohan.”

“Aku juga tidak.” Ujar Tiffany setuju.

“Lalu kenapa kau tidak menolak?”

Tiffany tersenyum miris, “Aku hanyalah anak gadis yang dilahirkan untuk menuruti kemauan orangtuanya. Apa yang bisa kulakukan, Oppa?”

Siwon terdiam. Dia jelas tidak bisa menjawab pertanyaan Tiffany. Wanita yang dijodohkan ini saja bingung, apalagi dirinya.

Hong.. Hong..

Suara kapal terdengar. Tiffany dan Siwon serentak menoleh.

“Wah.. kapalnya terlihat seperti sungguhan ya, Oppa? Sepertinya cukup menyenangkan bisa mengelilingi kota dengan itu.” Ujar Tiffany mengalihkan pembicaraan.

Siwon memperhatikan kapal-kapalan sebesar mobil yang terbuat dari kayu dan dijalankan dengan mesin itu. “Tidak juga. Roma bukan tempat yang baik untuk mencoba transportasi air.”

“Maksudmu di Venice?” Tanya Tiffany.

Siwon menggeleng, “Ada tempat lain yang patut untuk dicoba.”

Jinjja? Padahal kudengar menyusuri sungai dengan gondola merupakan pengalaman romantis. Lalu dimana?”

Siwon tersenyum, “Keukenhof.”

“Keu.. apa? Dimana itu?” Kening Tiffany berkerut. “Aku baru mendengarnya kali ini.”

“Di Belanda. Aku pernah datang ke sana saat musim semi tahun lalu. Bunga warna-warni terlihat bermekaran di sepanjang jalan yang dilalui dengan perahu. Aku yakin, kau pasti akan langsung jatuh cinta pada tempat itu.” Papar Siwon.

Tiffany mengerjap takjub, “Bunga? Perahu? Jinjjayo? Wah.. Oppa, tempatnya pasti bagus sekali. Kau beruntung bisa mengunjunginya.”

“Hmm.. mungkin kau bisa menjadikannya sebagai tujuan bulan madumu.” Saran Siwon.

Napas Tiffany tercekat. Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan Siwon. Sarannya itu cukup layak untuk dipertimbangkan, tapi mengapa jiwanya menjadi tak tenang? Kenapa saat Siwon mengungkit mengenai masalah itu hatinya menjadi perih? Bukankah dia sudah menyetujui perjodohan ini sejak awal? Apakah ini lebih karena ketidaksiapannya menghadapi hari pernikahannya yang semakin dekat?

Hening di antara mereka. Setelah ini apa yang akan dilakukan keduanya? Tiffany jelas harus kembali secepatnya ke hotel tempatnya menginap. Sanggupkah dia mengucapkan selamat tinggal pada Siwon lalu berpisah di tempat ini untuk kembali ke tujuan mereka masing-masing atau..

“Kurasa sudah saatnya kita menaiki wahana yang menenangkan.” Rupanya Tiffany sudah memutuskan.

“Kau mau naik apa?” Siwon mengambil gelas kosong Tiffany dan membuangnya bersama kertas bekas bungkus rotinya ke tempat sampah.

“Aku ingin naik komedi putar.” Ujar Tiffany.

“Apa itu?” Siwon mengingat. “Kuda yang berputar-putar itu?”

Tiffany mengangguk.

Mwo?! Apa kau tidak bisa meminta sesuatu yang lebih standar untuk ukuran wanita? Bukankah kalian sangat menyukai bianglala?” Protes Siwon.

“Ck.. aku bukan gadis remaja yang termakan hasutan drama romantis Korea, Oppa. Kincir raksasa itu terlalu mainstream.”

“Memangnya kereta kuda plastik itu tidak?”

Tiffany mendelik ke arah Siwon, “Jadi Oppa tidak mau menemaniku? Kalau begitu aku naik sendiri saja. Selamat tinggal!”

Siwon mendesah pasrah. “Baiklah.”

Dan..

To Be Continued ^_^

Hehehe.. bohong ketang..

Dan garis kerutan di sekeliling bibir Siwon semakin bertambah ketika ternyata Tiffany mengajaknya duduk bersama di dalam sebuah kereta berbentuk labu dengan kuda merah muda di depannya.

Oppa, jangan cemberut begitu. Kau terlihat seperti Ahjussi tua yang menemani putrinya berkeliling kota.”

“Biar saja!” Jawab Siwon dingin.

“Ayolah, Oppa…” Bujuk Tiffany, “Ini adalah wahana terakhir yang ingin kucoba. Setelahnya kita akan pulang.”

“Baiklah.” Akhirnya Siwon mengalah.

Keduanya lantas menaiki wahana yang menurut Tiffany menenangkan saat sore menjelang.

“Apakah Oppa merasa lebih baik?” Tanya Tiffany.

Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Siwon lalu menatap Tiffany . “Ne. Kamsahamnida.”

Tiffany membalas senyuman Siwon. “Kalau begitu tidak sia-sia aku melarikan diri dari pengawasan kakakku.”

“Melarikan diri?”

Ne..” Tiffany mengangguk. “Dia tidak mengizinkanku untuk pergi. Aku hanya berpamitan pada kakak iparku saja.”

“Lalu kenapa tidak pergi bersamanya saja?”

“Jes.. emm.. maksudku.. Eonni sedang hamil. Jadi dia tidak boleh terlalu lelah.”

“Oh.. jadi sebentar lagi kau akan menjadi Tiff Aunty?” Goda Siwon.

Tiffany tertawa kecil lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar ‘jendela’ kereta labu untuk menikmati lampu warna-warni yang muali dinyalakan. Ia sempat melirik sebentar ke arah Siwon dan mengamatinya.

Siwon menoleh dan membalas tatapannya membuat Tiffany menjadi gugup dan segera mengalihkan pandang. Pandangannya tertumbuk pada jam besar berbentuk tokoh kucing dalam film animasi Alice in wonderland yang langsung membuatnya panik seketika.

Oppa, sekarang sudah pukul 16.00!” Pekiknya.

Siwon ikut melihat jam yang Tiffany tunjuk dengan jarinya. “Hmm.. memangnya kenapa?”

“Keretaku akan berangkat pukul 17.00!”

“Hmm.. lalu?”

Oppa..” Kata Tiffany gemas, “Aku bisa terlambat dan tidak bisa pulang!”

Mendengar kata terlambat membuat Siwon mengerjap, “MWO?! Aish! kenapa tidak bilang dari tadi?! Ayo cepat turun! Kita harus segera menuju ke stasiun sekarang juga.”

Setelah itu huru-hara terjadi. Siwon dengan cepat menarik Tiffany menuju halte bus terdekat untuk memesan tiket kembali ke Roma, tapi rupanya mereka sedang tidak beruntung. Bus dengan keberangkatan terakhir sudah berangkat 15 menit yang lalu.

Tiffany menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah, “Ah.. Oppa.. Ottoke? Aku harus bagaimana?” Siwon mengusap dagunya dengan jari telunjuk. Sebenarnya ini adalah masalah yang mudah. Dia bisa saja membantu Tiffany mencari hotel terdekat agar wanita itu menginap dan bisa pulang keesokan harinya. Namun, dia pasti akan terkena masalah. Minimal kakak laki-lakinya akan memarahinya. Tiba-tiba sebuah ide berpijar di kepalanya. Jarak tempat ini ke stasiun terdekat sekitar 30 menit, itupun kalau jalanan lengang. Di malam minggu seperti sekarang ini siapa yang sanggup melewati jalur ke arah sana tanpa hambatan? Kalau mereka naik taksi, Tiffany tentu bisa menaiki kereta untuk kembali ke Venice dari sana.

“Kita naik taksi saja.” Putus Siwon.

Ne? Kita? Aniyo, Oppa. Aku bisa pergi sendiri. Kau bisa kembali ke..”

Siwon tidak memberikan kesempatan pada Tiffany untuk menolak. Tanpa dia sadari mereka sudah duduk di kursi belakang sebuah taksi berwarna kuning. Siwon mengucapkan rentetan kalimat dalam bahasa Inggris yang intinya meminta pada sopir taksi untuk membawa mereka secepatnya ke stasiun terdekat. Setelah mengajukan upah yang menurutnya sesuai, sopir itu menjalankan kendaraannya.

Pria bertanda pengenal itu mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyetir. Ia sangat hafal dengan jalan-jalan pintas yang paling aman dari keramaian dan macet. Dalam waktu 20 menit mereka sudah tiba di jalan besar yang berjarak 1 blok dari stasiun kereta bawah tanah. Selama perjalanan baik Siwon maupun Tiffany tidak saling bicara. Kalaupun Siwon bicara hanya untuk menjawab pertanyaan sopir taksi sesekali. Tapi meskipun begitu mereka diam dengan jemari yang saling menggenggam.

Lima menit kemudian taksi tiba di depan marka jalan berlogo kereta. Begitu pintu terbuka, Siwon nyaris melompat untuk turun.

“Pukul 16.45. Masih sempat, bukan?” Tanya Siwon memastikan.

Ne. Kamsahamida, Oppa. Aku.. sudah merepotkanmu.” Tiffany tersenyum pada Siwon setelah turun dari taksinya.

“Aku juga. Mmm.. Hari ini sangat menyenangkan.” Kata Siwon.

Tiffany terdiam. Ia merasa seperti berkencan.

“Rasanya seperti kencan remaja.” Ujar Siwon seakan menyuarakan pikirannya.

Omo! Aku juga sempat berpikir begitu!” Timpal Tiffany spontan.

Senyuman Siwon melebar menampakkan lesung pipinya. “Baiklah. Kalau begitu sepertinya aku harus segera kembali. Ada hal lain yang menunggu untuk kukerjakan.” Pamit Siwon. Bukannya dia tidak mau mengantar, namun pihak keamanan stasiun memang menetapkan peraturan yang menyatakan kalau pengantar hanya boleh menunggu sampai depan gerbang.

Tiffany tersenyum dipaksakan. Ada bagian dari hati kecilnya yang tidak rela kalau mereka harus berpisah. “Ne, Oppa. Berhati-hatilah di jalan.”

Siwon mengangguk lalu masuk ke dalam taksi. Tiffany memandangi taksi itu sampai menghilang di kejauhan. Sepeninggal Siwon, dia berjalan dengan langkah gontai menuju deretan tempat duduk untuk calon penumpang. Dadanya terasa sesak saat membayangkan apa yang akan terjadi setelah dia kembali nanti. Namun, mengingat petualangan hari ini yang telah ia lalui bersama Siwon membuat hatinya menghangat dan semua perasaan yang menyiksanya terasa berkurang. Seorang pria bernama Siwon membuka satu lembar catatan dalam hatinya.

Selamat tinggal, Siwon Oppa. Terima kasih untuk perjalanan sederhana yang kau  berikan untukku. Semoga pertemuan kita bukanlah suatu kebetulan..

***One Afternoon***

 

To Be Continued ^_^

57 thoughts on “(AF) One Afternoon Part 2

  1. Romatis banget sifany.fany akan dijodohkan,tapi siapakah…..?berharap banget ya kalo calon suami fany itu siwon.ditggu ya thor next partnya.keep writing thor.fighting.

  2. wooo? pisah gitu aja? enggak pake tukeran nomor WA, kontak fb, atau id line? mereka ini hidup di jaman apa sih?? :v
    hehehe sorry.. habisnya greget.. ditunggu lanjutannya..

  3. daebakkk romantiss bangettt itu tuh baru pertama kenal, yahh kenapa tiffany di jodohin? tiffany tolak aja atuh udh sama siwon aja hehe 😀
    lanjutkan thor fighthingg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s