(AF) One Afternoon Part 1

One Afternoon Part I

  

Author             : Kireynalice

Type                : Chaptered

Genre              : Romance

Rating             : PG 17

Main Cast        : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Disclaimer       : Cerita ini terinspirasi dari mana-mana🙂 Apabila ditemukan adanya ketidaksempurnaan penggambaran latar tempat dan suasana, harap dimaklumi. Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita.

 

All in Author’s POV

Siwon mendongak menatap langit. Awan kelabu yang menggantung di ufuk barat membuatnya mendesah pelan. Ramalan cuaca pada siaran berita yang dilihatnya beberapa menit lalu sepertinya memang benar. Bulan ini merupakan puncak dari musim dingin bagi negara Eropa bagian selatan. Suhu udara disinyalir mencapai titik 0 derajat akibat hujan salju yang turun semalam. Mentari yang bersinar malu-malu di balik langit Roma tidak mampu membuat udara menjadi sedikit lebih hangat. Meskipun sebagian besar bekuan sudah mencair, jejak dinginnya masih terasa. Ternyata cuaca di kota ini benar-benar membuat Siwon menyerah. Selain mantel pria itu sudah memakai sweater, sarung tangan, kaus kaki dan syal yang melilit lehernya namun tetap saja tubuhnya masih menggigil. Padahal kalau di Seoul perlengkapan lengkap itu sangat bisa diandalkan.

Siwon menarik napas lalu menghembuskannya untuk menyemangati diri. Mengeluh bukanlah kebiasaannya. Lagipula hal itu tidak akan membantu sama sekali. Yang harus dia lakukan sekarang adalah berjalan menuju tempat tujuannya. Sepatu kulit Siwon terdengar berderap di trotoar. Beberapa kali dia terlihat melompat untuk menghindari genangan air yang berasal dari sisa lelehan. Lengah sedikit saja pinggangnya bisa dihiasi luka memar akibat terjatuh. Setelah melewati deretan toko di kawasan pintu masuk stasiun kereta bawah tanah, langkahnya terhenti di sebuah bangunan dengan dinding batu bercat kuning. Kepalanya mendongak untuk melihat tulisan dalam huruf berukuran besar yang terpampang di atas pintu bercanopi. Setelah memastikan kalau dia sudah berada di tempat yang benar, Siwon memutuskan untuk masuk.

Tring.. Tring.. Tring..

Dorongan pada pintu yang Siwon lakukan membuat lonceng di belakangnya berdenting. Seulas senyum menghiasi wajahnya saat menginjak selembar keset berbentuk biji kopi bertuliskan selamat datang dalam bahasa Italia. Cafe-nya tidak ramai padahal di akhir pekan seperti sekarang biasanya tempat ini dipenuhi oleh pengunjung. Mungkin sebagian besar dari mereka memilih untuk menghangatkan tubuh dengan berdiam diri di rumah. Sebenarnya Siwon juga bisa melakukan itu, tapi dia merasa bosan kalau hanya duduk di depan perapian kamar hotelnya yang berbentuk persegi empat dan dikelilingi kaca.

Siwon melangkah menuju meja yang terletak di sudut ruangan lalu mendudukkan dirinya di sofa. Dia memang selalu memilih kursi yang letaknya paling belakang. Menurutnya ini adalah posisi yang paling sempurna. Terlebih lagi dia dapat melihat pintu masuk dengan jelas. Kenapa? Karena dia bebas dari gangguan pengunjung lain tetapi dapat diam-diam mengamati. Baginya melihat tingkah laku mereka yang unik seakan-akan menjadi hiburan menarik di tengah hari-harinya yang menjemukan.

Seorang wanita berseragam kemeja merah muda dan rok sepanjang betis datang menghampirinya sembari membawa sebuah buku.

Buongiorno1, Sir2. Saya Julia yang akan melayani Anda pagi ini. Anda perlu bantuan dengan jasnya?” Kata wanita itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Italia yang kental.

“Tidak, terima kasih. Aku akan tetap memakainya.” Tolak Siwon halus.

Julia menyerahkan buku yang dipegangnya pada Siwon dengan sopan, “Silahkan dilihat daftar menunya. Jika sudah siap memesan, Anda bisa memanggil saya.” Katanya sebelum berlalu.

Siwon tersenyum dan mengangguk. Sedetik kemudian dia terlihat berkonsentrasi pada benda di tangannya. Jika dilihat dari daftar minuman di dalam buku menu, sepertinya ciri khas cafe ini memang menawarkan hidangan yang terbuat dari bahan dasar kopi. Beraneka macam olahan dimulai dari arabica, cappuccino, ekspresso dan nama lain yang kelihatan asing di mata Siwon ada di sana. Setelah memutuskan untuk memesan segelas minuman hangat dan sepotong kue, Siwon memanggil Julia dengan lambaian tangan. Wanita itu tersenyum lalu segera menghampirinya.

“Anda sudah siap memesan, Sir?” Tanyanya.

Siwon mengangguk. “Aku memesan secangkir plain americano dan pie apel dengan saus karamel.”

Julia mencatat pesanan Siwon pada secarik kertas, “Apa anda menginginkan gula dan krim secara terpisah?”

“Tidak.”

“Ada tambahan lain, Sir?”

Siwon menggeleng, “Untuk saat ini itu saja.” Jawabnya sembari mengembalikan buku menu.

Julia mengangguk dan menerima bukunya. “Baik. Saya ulangi pesanan Anda. Satu americano tanpa gula dan krim serta pie apel saus karamel.” Kata Julia memastikan, “Saya akan segera kembali dengan pesanan Anda.”

Sepeninggal Julia, Siwon menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa yang empuk. Dipandanginya keseluruhan ruangan. Roberto lah yang menyarankan tempat ini padanya. Rekan kerja Siwon yang sudah berkeluarga itu datang hampir setiap minggu. Dan ternyata tempat ini memang sangat layak untuk dikunjungi. Suasana nyaman dan akrab serta pengaturan interior yang dirancang sedemikian rupa memberikan kesan santai dalam sebuah rumah yang teduh. Pemanas ruangan juga diatur dengan sesuai hingga terasa cukup hangat. Sangat sesuai dengan nama yang diberikan oleh pemiliknya. Tranquillo yang berarti tenang.

Tak lama berselang, Julia kembali dengan membawa nampan berisi semua pesanannya.

“Silahkan.”

Grazie3.” Ucapnya setelah Julia selesai meletakkan semuanya di atas meja.

“Ada lagi yang bisa saya bantu?” Tanya pramusaji itu.

“Tidak. Aku akan memanggilmu kembali jika membutuhkan sesuatu.” Jawab Siwon.

“Kalau begitu saya permisi. Buon appetito4.” Ujar Julia sebelum kembali ke tempatnya.

Siwon memusatkan perhatiannya pada hidangan di atas meja. Americano yang menebarkan harum kopi dan pie apel yang berbau manis. Siwon mendadak merasa lapar. Keduanya terlihat begitu menggoda hingga dia merasa bimbang. Apa yang harus dicobanya terlebih dulu?

Teringat pada rasa dingin yang sejak tadi menghinggapi tubuhnya membuat Siwon memilih untuk mencoba kopinya. Diangkatnya cangkir bergaya Eropa abad pertengahan itu lalu menyesap isinya dengan perlahan. Aroma asing yang tiba-tiba memenuhi rongga mulutnya membuat pria itu berdecak. Ditatapnya minuman yang mengepulkan asap itu dengan enggan. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana mungkin Youngwon, kakak sulungnya, bisa menyukai minuman ini. Pria yang berselisih usia 3 tahun dengannya itu mengatakan kalau Italia adalah salah satu negara yang memiliki penyajian kopi americano terbaik di dunia dan minuman itu akan terasa lebih sedap jika dinikmati tanpa campuran apapun termasuk gula di dalamnya.

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Dia jelas tidak menyetujui pendapat Youngwon. Saat pertama kali cairan hitam pekat itu menyentuh lidah, hanya satu rasa yang bisa digambarkannya. Menurut Siwon selera pria yang satu itu benar-benar aneh. Seharusnya tadi dia memesan cappucino dengan tambahan krim dan susu saja. Kalau sekarang dia meminta pada pelayan untuk membawakan minuman jenis lain, dia pasti akan ditertawakan. Julia menawarkan gula dan krim terpisah saat Siwon memesan tadi. Dan tentu saja pria itu menolaknya dengan penuh rasa percaya diri.

Siwon mengalihkan pandang ke piring kue dihadapannya. Harapan satu-satunya kini hanya tinggal pie apel yang sudah setengah dingin. Dengan ragu Siwon mengunyah potongan kecil pie dan memutuskan untuk menghabiskannya. Perpaduan antara kesegaran buah apel dan kelezatan karamel di tiap gigitan begitu memanjakan lidahnya. Makanan di tempat ini enak. Kesalahan hanya terletak pada ketidak pandaiannya memilih kopi.

Selesai dengan makanannya, Siwon menolehkan kepala menatap ke arah jendela yang memakai efek air mancur. Riak air yang mengalir turun di sepanjang kaca membuat pemandangan menjadi kabur. Tapi meskipun begitu dia masih dapat melihat dengan jelas kejadian di luar sana. Siwon membiarkan tatapannya terkunci pada sosok-sosok manusia yang tengah berjalan tergesa dengan wajah muram. Dia paham benar apa penyebabnya. Yang terbayang dalam pikiran para “karyawan teladan” itu saat ini mungkin tidur berbungkuskan selimut tebal, menikmati secangkir cokelat panas sembari menonton pertandingan olahraga atau bermalas-malasan diantara tumpukan majalah di atas karpet tebal. Bekerja jelas tidak masuk dalam daftar kegiatan menyenangkan di akhir pekan. Beberapa hari yang lalu dia juga pasti terlihat seperti itu, ketika jadwal pertemuan dengan klien yang padat terasa mencekiknya. Siwon sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak bisa menikmati sarapannya dengan benar. Tugas yang diberikan padanya memang harus ditangani dengan serius. Apalagi semua itu ditargetkan selesai sebelum tahun baru.

Tahun.. baru.. Rangkaian kata yang akhir-akhir ini selalu menggema dalam benak Siwon. Seharusnya saat itu menjadi waktu yang paling menyenangkan untuk semua orang, tetapi tidak untuknya. Bukan karena perayaan natal atau ibadah di dalamnya tapi lebih karena sebuah kegiatan yang diselipkan diantara jadwal “kebersamaan keluarga”. Kalau saja tidak takut dipanggil sebagai pengecut, dia pasti sudah meninggalkan negara ini menuju ke sebuah tempat di wilayah antah berantah yang tidak mengenal kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Pikiran Siwon melanglang buana. Kenangan masa lalu memenuhi benaknya. Sandainya makna akhir tahun masih sama seperti dulu, mungkin dia tidak akan merasa seperti sekarang ini. Ketika usianya masih 7 tahun dan kesulitan terbesar hanyalah menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru matematikanya, natal terasa begitu menenangkan. Dia bahkan bersedia menjalani kembali ritual membosankan duduk melingkar menikmati ayam panggang besar, susu berbau rempah diselingi acara berebut mainan bersama kakaknya. Tapi dihadapkan pada kenyataan bahwa semuanya tidak bisa diputar ulang membuat Siwon mendesah.

Tring.. tring.. tring..

Bel berbunyi sebanyak tiga kali. Siwon mengalihkan perhatiannya dan menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dan menempati meja yang letaknya tepat di sebelah Siwon. Ia membanting tubuhnya ke sofa, menyimpan tas tangan di atas meja, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras seolah hal itu dapat membuat beban yang menghimpit dadanya ikut keluar.

Siwon memerhatikan tingkah wanita itu melalui sudut matanya. Menurut perkiraannya wanita dewasa muda ini berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Hanya dengan melihat sekilas saja dia sudah dapat menyimpulkan kalau wanita ini, sebut saja Ms. X, adalah seseorang yang mengerti tentang fashion. Hal itu tergambar jelas dari mantel yang ia kenakan, pilihan warna syal yang mencolok namun tetap serasi, serta kaca mata hitam yang sekarang ia kenakan di kepalanya sebagai pengganti bando. Sangat modern, bergaya dan elegan.

Julia yang tadi melayani Siwon datang menghampiri.

Buongiorno. Perkenalkan, saya Julia. Anda perlu bantuan dengan mantelnya?” Tawarnya sama seperti tadi.

“Ah.. aku sedikit tidak tahan terhadap udara dingin. Bolehkah aku tetap memakainya?” Jawab Ms. X dengan senyuman yang mencapai matanya.

Julia mengangguk sebagai tanda persetujuan lalu menyerahkan buku menu, “Sepertinya Anda membutuhkan sesuatu yang hangat. Kami memiliki berbagai jenis minuman dan beraneka macam pie buah.”

“Aku hanya ingin minum.” Ujar Ms. X sambil melihat daftar minuman. Dia lalu mendongak menatap Julia, “Apa yang kau sarankan untukku?”

“Bagaimana kalau Anda mencoba cafe au lait? Kami mencampurkan kopi hitam dengan susu murni dan bubuk rempah.” Tawar Julia.

“Mmm..” Ms. X menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bisa meminum kopi. Aku akan merasa mual setelahnya.”

“Kalau begitu bagaimana dengan latte? Susu hangat dengan tambahan busa susu yang dicampur dengan sedikit ekspresso. Komposisi krimnya lebih banyak sehingga kopinya tidak terlalu terasa.”

Ms. X terlihat berpikir sejenak, “Baiklah. Kalau begitu aku pesan yang itu saja.”

Julia mengangguk lalu menerima buku menu, “Secangkir latte hangat akan segera tersaji untuk Anda.”

“Nona..” Panggil Ms X sebelum Julia beranjak, “Emm.. maaf, bisakah aku meminta tambahan krim dan susu ke dalam latte-ku?” Tanyanya ragu.

Julia tersenyum ramah, “Tentu saja. Saya akan segera kembali.” Jawabnya.

Siwon tersenyum. Makanan manis adalah kesukaannya. Dia nyaris tidak dapat menolak pesona makanan berkalori tinggi itu. Tadinya dia mengira tidak ada orang yang meminta tambahan susu dan krim ke dalam kopi mereka selain dirinya. Terlebih lagi sepertinya wanita ini berasal dari keturunan Asia. Terlihat dari bentuk mata dan warna kulitnya walaupun bahasa Inggrisnya sangat baik.

Tak lama berselang, Julia kembali dengan nampan berisi pesanan Ms X.

“Silahkan.”

“Terima kasih.” Jawab Ms. X. Dia melihat gelas dan senyumnya langsung mengembang.

Mungkin karena latte art di permukaan kopinya.” Pikir Siwon.

Benar saja. Wanita bertubuh mungil itu mengucapkan terima kasih pada Julia. Dia mengatakan kalau hiasannya sangat cantik.

Ms X terlihat merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel untuk memotret bagian atas cangkirnya. Siwon menunduk kemudian terkekeh pelan tanpa suara. Baik adiknya maupun wanita ini, semuanya sama saja. Mereka gemar mengabadikan momen yang menurut mereka sangat manis.

Siwon kembali mengamati wanita di seberangnya. Kini wanita itu tengah mengangkat cangkir kopinya dengan perlahan seakan takut merusak karya seni yang ada di dalamnya. Ditiupnya asap tipis yang mengepul diatas minumannya sebanyak beberapa kali sebelum menyeruputnya sedikit demi sedikit.

“Hmm… mashita..” Ucapnya sambil mencecap.

Siwon terhenyak, “Anda.. orang Korea?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Ms. X mendongak saat menyadari bahwa pria yang duduk di meja sebelahnya berbicara dalam bahasa Hangug.

Agassi, apa Anda berasal dari Korea?” Tanya Siwon lagi karena wanita itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Wanita cantik itu mengerjap, “Eo.. Mm.. Ne..” Jawabnya salah tingkah, “Apa.. Anda juga?”

Siwon menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, “Aku lahir dan besar di Seoul.”

“Jinjjayo?!” Ms. X tersenyum dan menarik napas lega. “Syukurlah..” Desahnya, “Akhirnya aku bisa bertemu dengan seseorang yang mengerti bahasaku. Selama ini aku selalu berbicara dalam bahasa Inggris. Hangug hanya kugunakan saat bersama keluargaku. Ah.. Aku benar-benar merindukan Seoul. Seperti apa kota itu sekarang? Pasti sudah banyak berubah, ya? Bayangkan saja, terakhir kali aku menginjakkan kaki di sana adalah pada hari thanks giving 10 tahun yang lalu.” Celotehnya tanpa henti.

Siwon menatapnya dengan senyum terkulum. Wanita dihadapannya ini sungguh lucu. Bagaimana mungkin dia bisa berbicara tanpa henti pada seseorang yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu?

“A.. Ah.. mianheyo. Aku sepertinya terlalu banyak bicara,” Ucap wanita itu malu saat menyadari tingkahnya. Dia mengambil gelas kopi dan tasnya kemudian berpindah tempat ke kursi seberang Siwon. “Mmm.. perkenalkan.. Aku Tiffany.” Katanya seraya mengulurkan tangan kanan, “Nama Anda siapa?”

Siwon menyambut uluran tangan Tiffany, “Siwon.”

“Siwon?” Tiffany mengerutkan keningnya, “Aku merasa tidak sopan kalau harus memanggil nama Anda secara langsung. Apa aku boleh memanggil Anda Oppa?” Tanya Tiffany.

Op.. pa?” Ulang Siwon tidak yakin. “Kita baru saja berkenalan dan kau ingin memanggilku.. Oppa?”

Tiffany mengangguk, “Waeyo?”

Aniyo.. hanya saja.. bukankah panggilan itu biasanya digunakan untuk..”

Tiffany memotong kalimat Siwon, “Aku memanggil kakak laki-lakiku begitu. Jadi tidak ada salahnya kalau aku memanggil Anda seperti itu juga, kan?”

Siwon tersenyum tipis. Pemikiran Tiffany begitu polos dan sederhana. “Apa dia tidak tahu kalau panggilan itu bisa membuat seorang pria mendadak panas dingin?“ Pikirnya.

“Tapi bagaimana kalau ternyata usiaku lebih muda darimu?” Kilah Siwon.

“Tidak mungkin! Aku yakin Anda bahkan sudah pandai berceloteh saat aku lahir.” Sanggah Tiffany. “Aku tidak tahu berapa usia Anda. Usiaku tepat 27 tahun bulan Agustus lalu. Jadi seharusnya usia Anda terpaut beberapa tahun di atasku.”

Berhadapan dengan gadis seperti Tiffany pada akhirnya harus membuat Siwon menyerah juga. “Baiklah. Asal jangan Ahjussi saja.” Kelakarnya membuat Tiffany tersenyum lebar.

“Mmm.. Apa Oppa menetap di sini?” Tanya Tiffany.

Siwon menggeleng.

“Apa Oppa sedang berlibur?” Tanya wanita berambut ikal itu lagi.

Aniyo. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Biar kutebak. Oppa pasti sudah menyelesaikan pekerjaan dan sekarang sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan. Benar, kan?”

Siwon tersenyum menanggapi pertanyaan Tiffany yang tiada habisnya, “Sepertinya begitu.”

Hening sejenak diantara mereka. Keduanya terlalu bingung untuk kembali memulai pembicaraan. Tiffany memutar-mutar pegangan cangkir sembari menggigit bibir bawahnya.

“Obrolan seputar hobi, lagu favorit atau makanan kesukaan pasti sudah ketinggalan zaman.” Katanya dalam hati. “Apa yang harus kubicarakan dengan namja ini?”

Pandangannya lalu tertumbuk pada meja. Di depan Siwon terdapat piring kosong dengan sisa remah-remah kue di atasnya dan secangkir kopi.

“Apa yang pria itu minum?” Batin Tiffany, “Ekspresso? Cappucino? Kopi rempah? Aish! Seandainya dulu aku menuruti keinginan Oppa untuk membuatkannya kopi, mungkin sekarang aku bisa tahu jenis minuman apa yang Siwon Oppa minum.” Dalam hati Tiffany merutuki kebodohannya.

“Apa.. Oppa menyukai kopi hitam?” Tanya Tiffany. Menurutnya istilah ‘kopi hitam’ lebih aman untuk digunakan guna menutupi kebingungannya.

“Ah.. ini.. baru kali ini aku mencoba plain americano.” Jawab Siwon.

Plain?” Tiffany terdiam sejenak, “Apa maksud plain disini dalam arti kata sebenarnya?”

“Hmm..” Siwon bergumam mengiyakan.

“Jadi minuman ini hanya kopi hitam yang diberi air panas, begitu?” Tanya Tiffany memastikan.

“Iya.”

“Wah… Oppa.. Daebak! Kau benar-benar seorang pria!” Pekik Tiffany.

“Benar-benar pria? Aku memang seorang pria. Apa maksudmu?” Siwon bertanya dengan kening yang berkerut.

“Begini. Leo Oppa, kakakku, dia pernah mengatakan kalau pria sejati adalah mereka yang menyukai kopi murni. Maksudku tanpa tambahan gula atau krim. Mereka melakukan itu karena ingin menikmati keistimewaan aroma di balik rasa pahitnya. Berdasarkan apa yang kudengar kopi memiliki rasa manis tersendiri.” Jelas Tiffany. “Aku kagum padamu, Oppa.”

Siwon tersenyum kaku. Seandainya saja Tiffany tahu betapa ingin dia membuang minuman luar angkasa ini ke dalam pot mawar di bawah mejanya pasti gadis itu akan mengutuknya saat ini juga.

Bel kembali berdenting membuat mereka berdua menoleh. Terlihat seorang pria bertubuh gempal dan seorang gadis kecil memasuki cafe. Setelah kedua orang yang sepertinya pasangan ayah dan anak itu duduk, Julia menghampiri mereka dengan perlengkapan buku dan catatan kecilnya. Wanita ramah itu menyambut mereka dengan bahasa Italia.

Oppa..” Bisik Tiffany membuat Siwon mengalihkan pandang ke arahnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah meja untuk meniru apa yang Tiffany lakukan.

Waeyo?” Tanya Siwon sambil berbisik juga.

“Saat kau datang tadi, apa yang pelayan itu katakan padamu?”

Siwon berpikir sejenak, “Mmm.. selamat pagi, kurasa?” Jawabnya tak yakin.

Tiffany berdecak, “Bukan itu. Maksudku saat aku datang, dia berbicara padaku dengan bahasa Inggris. Apa dia juga melakukan itu padamu?”

“Hmm.. Memangnya ada yang salah dengan itu?”

Tiffany menopang dagu dengan sebelah tangannya, “Kenapa pada tamu yang baru datang itu tidak? Dia memakai bahasa Inggris saat melayani kita tapi berbicara bahasa Italia pada orang itu.”

Siwon menyilangkan tangannya di depan dada, “Mungkin karena pria itu sudah biasa berkunjung ke tempat ini atau..”

“Atau apa?” Tanya Tiffany penasaran.

“Atau wajah kita terlalu mencerminkan asal usul kita. Mungkin.. kau mirip dengan.. tteokpokki.”

“Aish!” Bibir Tiffany mengerucut, “Aku serius, Oppa!” Tiffany menegakkan tubuhnya dan kembali bersandar pada sofa begitu juga dengan pria dihadapannya.

Siwon terkekeh pelan, “Pelayan itu mungkin cerdas. Tapi yang aneh itu justru kita.”

Waeyo?” Tanya Tiffany tak terima.

“Kita berada di negara asing dan berbicara Hangug. Tapi kenapa kita harus berbisik-bisik? Memangnya mereka mengerti apa yang kita katakan?”

Tiffany tertawa menyadari kebodohannya, “Benar juga.”

Siwon menopang dagu dengan sebelah tangan. Matanya menatap Tiffany yang terlihat sangat manis saat tersenyum. Merasa diperhatikan, gadis itu mengalihkan pandang ke arah jendela.

“Aku sangat menyukai efeknya.” Kata Tiffany mengusir kecanggungan.

Siwon ikut menoleh, “Kaca airnya?”

Ne. Gemericik air membuatku merasa tenang dan damai.”

“Hmm..” Siwon bergumam setuju.

Kaca air dalam ruangan memang menambah nilai estetika. Hiasan itu tidak hanya berfungsi untuk mempercantik tempat ini, tetapi juga menciptakan kesejukan alami dan natural. Suasana pun menjadi lebih nyaman dan tenang.

“Mmm..” Tiffany tampak ragu untuk sesaat. Dia menyelipkan helaian rambut ke belakang telinganya. “Apa Oppa mau.. berjalan-jalan bersamaku?”

Siwon mengernyitkan dahi, “Kita baru bertemu dan kau sudah mengajakku pergi bersama?”

Tiffany menjadi gugup, “Emm.. Maksudku.. mungkin kita bisa… mengunjungi tempat yang indah. Kurasa pergi bersama-sama lebih menyenangkan dibanding seorang diri.”

Siwon mengangguk-angguk.

Waeyo? Apa Oppa keberatan?”

Siwon memandang lurus, tepat ke dalam mata Tiffany. Nada suaranya berubah menjadi serius, “Bagaimana kalau aku bukan pria baik-baik?”

Tiffany mengangkat bahunya acuh, “Kalau begitu Oppa orang jahat yang kurang beruntung.”

Waeyo?” Kali ini giliran Siwon yang balik bertanya.

“Karena kau harus segera menemui dokter mata.” Tiffany menggantung kalimatnya, “Aku membawa semprotan merica.”

Siwon terbahak mendengar alasan konyol Tiffany. Wanita ini benar-benar lucu!

Siwon berdehem untuk menghentikan tawanya, “Sebenarnya aku juga baru pertama kali mengunjungi negara ini. Tapi tersesat bersama-sama sepertinya cukup menyenangkan.” Lanjut Siwon sembari tersenyum membuat kedua lesung pipinya yang menawan terlihat.

Entah apa yang menyebabkan Siwon dengan mudahnya menyetujui usulan wanita itu untuk berkeliling kota bersamanya. Bukankah dia bisa saja menolak dan memilih untuk kembali ke hotel?

Jinjjayo?! Baiklah kalau begitu.” Mata Tiffany terlihat berbinar. “Tapi sebelumnya kita harus menghabiskan pesanan kita dulu.” Lanjutnya sembari meraih cangkir dan meminumnya perlahan. Kopinya memang sudah jauh dari kata panas. Tapi Tiffany hanya ingin lebih lama menikmatinya. Lidahnya tidak rela jika harus cepat berpisah dengan minuman lembut nan manis itu.

Melihat Siwon yang hanya diam membuat Tiffany menghentikan kegiatannya, “Oppa, kenapa kopinya tidak kau habiskan?”

“Eo.. eoh? Aku.. sebenarnya sudah kenyang.” Tolak Siwon.

“Ck.. kau tidak boleh membuang makananmu, Oppa. Itu namanya pemborosan.” Nasihat Tiffany.

Siwon menelan ludah. Mau tidak mau dia harus menelan pil pahit, bukan.. kopi yang isinya hanya berkurang sesendok sejak pertama kali diletakkan dimejanya itu. Tiffany sudah memujinya. Kalau sampai gadis itu tahu yang sebenarnya, bisa hancur harga diri dan martabatnya sebagai seorang pria jantan dan sejati. Terpaksa pria itu meraih cangkir, menahan napas lalu meminum isi didalamnya dengan sekali teguk. Ditatapnya wajah Tiffany yang kini sedang tersenyum ke arahnya. Benar apa kata pujangga. Saat bidadari turun ke bumi, maka racun sekalipun akan terasa bagaikan madu. Begitupun Siwon yang menatap wajah cantik Tiffany. Baginya kopi yang diminumnya terasa begitu..

PAHIT!!

***One Afternoon***

Siwon berjalan tanpa kata di belakang Tiffany. Bukan karena dia menyesal telah menerima ajakan gadis itu, bukan juga karena harus membayar cukup mahal untuk secangkir ‘kopi beracun’ tapi lebih karena sisa rasa getir yang seakan menari-nari di lidahnya. Tanpa air putih, permen atau makanan manis lainnya yang bisa dia gunakan untuk menetralkan indera perasanya, apa lagi yang bisa Siwon lakukan selain diam dan berpura-pura tegar?

Siwon menatap Tiffany yang kini sedang sibuk mengabadikan setiap momen yang dilihatnya menggunakan kamera ponsel canggihnya. Wajahnya yang serius saat mengatur posisi pengambilan gambar dan senyumnya yang terukir karena mendapatkan hasil yang memuaskan membuat Siwon tersenyum tipis. Gadis itu kini tengah berjalan mengendap-endap menghampiri dinding pembatas jembatan batu. Kawanan burung merpati yang bertengger disana merupakan pemandangan yang lumrah namun cukup pantas untuk dinantikan. Simbol perdamaian dunia itu seakan memberi gambaran ketenangan suasana kota Roma. Namun baru saja bersiap menekan tombol kamera, burung merpati itu terbang ke segala penjuru hingga membuat Tiffany berteriak protes.

Aish! Ya! Kalian mau kemana?!”

Siwon yang tidak dapat lagi menyembunyikan rasa gelinya, tertawa terbahak-bahak.

Oppa! Kenapa malah menertawakanku?! Aku tidak sedang melucu!” Gerutu Tiffany kesal.

Siwon menghentikan tawanya, “Kalian mau kemana?” Ujar Siwon meniru ucapan Tiffany. “Kau pikir merpati itu segerombolan anak TK yang akan mengerti ucapanmu?”

“Itu kan kalimat yang keluar dari mulutku secara spontan karena terkejut.” Kilahnya, “Gagal sudah keinginanku memasang tampilan gambar merpati yang lucu.” Keluhnya.

“Seharusnya tadi kau tidak mendekati mereka dan membidik dari jarak jauh saja.”

“Tapi aku sudah berjalan perlahan.”

“Memang mereka tidak bisa mendengarmu? Insting mereka sangat tajam.” Kata Siwon sembari berjalan mendahului Tiffany.

Tiffany yang tak mengerti berlari kecil menyusul langkah pria yang lebih tinggi darinya itu. “Oppa tahu darimana?”

Siwon menggedikkan bahunya, “Tentu saja dari animal channel di tayangan televisi.”

“Ah..” Tiffany mengangguk-anggukkan kepala, “Kalau begitu, Oppa pasti menyukai channel geografi juga.”

Siwon memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantelnya, “Kalau aku menontonnya di setiap waktu senggang yang kumiliki, apa bisa dikatakan kalau aku menyukainya?”

Tiffany memutar bola matanya, “Tentu saja, Tuan Siwon! Anda ini bagaimana. Membedakan suka dan tidak saja sulit.”

Siwon menyeringai menanggapi protes kecil Tiffany. Mereka lantas berjalan berdampingan menyusuri jembatan. Terkadang Siwon mengikuti di belakang wanita itu ketika terdengar bunyi bel sepeda yang mengingatkannya untuk tidak menghalangi jalan.

“Tempat mana saja yang sudah Oppa kunjungi?” Tanya Tiffany.

“Aku belum sempat pergi kemana pun.” Kaki Siwon menendang kerikil yang basah.

“Memangnya sudah berapa lama Oppa berada di sini?”

“Mmmm…” Siwon menghitung dalam hati, “Kurang lebih sudah 2 bulan.”

Tiffany tercengang mendengarnya. Dia lantas menghentikan langkah, “2 bulan dan belum pergi kemana pun? Wah.. pasti Oppa sibuk sekali.”

Siwon hanya membenarkan dengan senyuman. Apa yang harus dia jelaskan pada Tiffany? Tidak ada alasan untuk menceritakan kehidupannya pada wanita ini, bukan?

“Kalau begitu.. apa Oppa sudah pergi ke St Peter’s Square?”

“Mmm.. Maksudmu Vatican?”

Ne.”

“Belum. Aku lebih memilih untuk makan dan tidur kalau tidak bekerja.”

Tiffany berdecak, “Dasar laki-laki. Tidak bisa memanfaatkan waktu luang.”

“Bukan begitu, Nona Tiffany. Aku hanya malas keluar kamar.” Kilah Siwon.

“Memangnya letaknya jauh dari sini?”

Siwon tampak berpikir, “Kalau tidak salah kita harus menaiki bus selama beberapa puluh menit. Temanku mengatakan kalau haltenya ada di ujung jalan sana.”

Tiffany memberengut, “Aku kira letaknya dekat dari sini.”

“Memangnya kenapa? Apa kau mau pergi?”

Tiffany menghembuskan napas, “Sebenarnya iya. Kudengar tempat ibadahnya sangat indah. Aku ingin berdoa di sana.”

“Kalau begitu aku akan menemanimu.” Putus Siwon.

Tiffany membelalakkan matanya, “Ne?! Tapi jaraknya lumayan jauh, Oppa. Apa kau tidak keberatan menghabiskan waktumu untuk pergi?”

Ghwenchanayo. Kapan lagi kita berkunjung bersama? Lagipula aku punya banyak waktu.”

Jinjjayo?” Tanya Tiffany ragu.

“Tentu saja. Kajja!”

Tanpa sadar Siwon meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya erat. Sejujurnya Tiffany merasa sedikit terkejut dengan perlakuan Siwon padanya. Tapi Siwon adalah pria yang baik. Tindakan ini pasti merupakan salah satu bentuk rasa hormatnya pada Tiffany. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh wanita itu.

Siwon menceritakan detail-detail kecil kawasan wisata Roma yang diketahuinya selama perjalanan mereka menuju halte. Awalnya dia mengira kalau dirinya dan Tiffany adalah orang pertama yang akan menaiki bus, tapi dugaannya salah besar. Buktinya halte yang mereka datangi telah dipenuhi oleh banyak orang. Sepertinya mereka berasal dari rombongan turis asal Perancis karena bendera segitiga berwarna biru yang mereka bawa bertuliskan Tour la France. Meskipun begitu Siwon cukup beruntung karena bisa mendapatkan tiket untuk keberangkatan pertama.

Pengemudi bus yang mereka tumpangi menjalankan kendaraannya dengan perlahan menyusuri kota. Gumaman pembicaraan diiringi riuh rendah suara tawa terdengar sepanjang perjalanan. Namun Tiffany yang duduk di dekat jendela mengacuhkannya dan menatap ke luar dengan penuh kekaguman.

“Indah, ya?” Tanya Siwon yang duduk di sebelahnya.

Tiffany mengangguk tanpa suara, “Rasanya sungguh menyenangkan melihat matahari bersinar melalui celah di antara pepohonan. Dahannya yang dibasahi tetesan air terlihat berkilauan.”

“Hmm..” Siwon menyetujui dengan gumaman, “Sangat romantis, bukan?”

Tiffany terkekeh, “Jadi Oppa tahu hal romantis juga?”

Siwon mengangkat kedua alisnya, “Bukankah saat di cafe tadi kau mengatakan kalau aku adalah seorang pria sejati?”

Tiffany tertawa mendengarnya, “Baiklah. Jadi pria sejati kita ini rupanya sangat romantis. Pasanganmu pasti menyukainya.”

Siwon hanya tersenyum mendengar pendapat Tiffany.

“Apa Oppa sudah menikah?”

“Belum.”

“Kalau begitu, apa kekasih Oppa orang Korea juga?”

“Aku belum punya kekasih.” Jawab Siwon.

Kojjimal! Aku tidak percaya.” Ujar Tiffany meremehkan.

“Untuk apa aku berbohong. Kalau memang ada, aku pasti mengatakannya.”

Tifffany memperbaiki letak kacamatanya sebelum berkata, “Waeyo? Padahal Oppa cukup tampan.”

Siwon mengangkat bahunya, “Mungkin belum menemukan yang sesuai saja.”

“Menurutku dibandingkan menjadi pria yang menunggu kedatangan cinta, wajah Oppa lebih cocok  menjadi pangeran penggoda.”

Siwon tertawa, “Dengan kostum hitam putih dan bando berbentuk telinga kelinci, maksudmu?”

Mereka berdua lalu tertawa bersama.

“Ehm..” Siwon berdehem, “Kau sendiri sudah punya kekasih?”

“Belum.” Jawab Tiffany.

Waeyo? Bukankah bagi kebanyakan gadis misi terbesar dalam hidup mereka adalah menemukan ksatria berkuda putih yang tampan, penuh cinta dan perhatian?”

Tiffany memutar badannya ke arah Siwon, “Darimana Oppa tahu soal itu?”

“Adik perempuanku.” Jawab Siwon santai. “Dia mengatakan kalau impiannya adalah menghabiskan hidupnya bersama dengan seorang pria yang memiliki rumah, mobil, tabungan dan membangun keluarga kecil sejahtera. Ah.. dan satu lagi tentu saja. Happily ever after.”

Tiffany terkikik pelan, “Intinya memang begitu. Tapi pada kenyataannya..” Tiffany menggeleng, “Tidak pernah ada kesempurnaan semacam itu dalam hidup.’

“Aku tahu no body’s perfect. Tapi apa maksudmu? Kau terlihat.. putus asa.. mungkin?” Tebak Siwon ragu.

“Aku hanya bersikap realistis, Oppa. Kebanyakan orang akan merasa bahagia dengan cinta mereka meskipun hidup sederhana. Sementara sebagian orang lagi justru tidak bisa meraih cinta dan kebahagiaan karena harta yang ada pada mereka.”

Siwon mengernyitkan dahi, “Aku semakin tidak mengerti.”

Tiffany tersenyum, “Lebih baik tetap seperti itu. Kalau tidak, rambutmu akan rontok karena terlalu banyak berpikir, Oppa.”

Siwon baru akan membalas ejekan Tiffany saat operator bus mengumumkan bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan. Alhasil Siwon harus menahan keinginannya itu. Bagaimana pun ini adalah hari berlibur sehari bersama dengan teman barunya dan dia tidak ingin kebahagiaan mereka rusak karena hal kecil.

Siwon dan Tiffany, atau lebih tepatnya tiffany saja, menjelajahi bangunan megah itu dengan bersemangat. Mereka melewati pintu utama yang memiliki dua sayap bangunan di tiap sisinya. Saat memasuki atrium bermozaik raksasa yang melukiskan Santo Petrus tengah berjalan di atas air, Tiffany berdecak terkagum-kagum. Tempat ini memang indah. Berkali-kali dia terpana akan keindahan arsitekturnya. Pilar-pilar tinggi berwarna keemasan, lampu yang bercahaya terang, tempat lilin yang berukir dan derap langkah yang menggema membuatnya serasa berada di dalam sebuah istana. Tak heran kenapa kota ini selalu dipenuhi oleh wisatawan setiap tahunnya.

Siwon membersihkan serpihan salju sebisa mungkin dari atas kursi kayu di sebelah pohon yang gaunnya sudah berguguran lalu duduk untuk menikmati pertunjukan. Dia akan kembali mengamati dan kali ini objeknya adalah sang gadis latte.

Tiffany terlihat mengarahkan ponsel ke berbagai penjuru yang menurutnya pantas untuk diabadikan. Latar belakang langit biru membuat bangunan yang berwarna putih menjadi semakin hidup. Gerombolan burung dara di pelataran menandakan betapa damai dan tentramnya tempat itu.

Selesai dengan kegiatannya, Tiffany berbalik dan mencari Siwon. Saat menemukan pria yang dicarinya itu tengah duduk sembari memandang ke arahnya, Tiffany berdecak. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan mendekat.

“Kenapa Oppa hanya diam saja?”Protes Tiffany.

“Duduklah.” Siwon mempersilahkan Tiffany duduk. Dia mengambil segelas cokelat panas dan memberikannya pada gadis itu.

Setelah mengucapkan terima kasih, Tiffany meminum isi gelas kertasnya. “Sejak tadi Oppa hanya duduk sambil sesekali tersenyum. Apa yang sedang Oppa lakukan?”

“Bukan aku yang diam saja, tapi kau yang terlalu banyak bergerak.” Sanggah Siwon. “Tempat ini terlalu luas, Tiffany. Membeli minuman ini saja membuatku harus berkeliling.”

Tiffany mencibir, “Luas bagaimana? Apa Oppa tahu kalau Vatican adalah negara terkecil di dunia?”

“Hmm.. aku pernah membacanya. Sebenarnya Vatican adalah sebuah gereja dengan segala fasilitasnya. Bisa dibilang negara di dalam sebuah kota.”

Tiffany mengangguk. “Tapi meskipun begitu megah dan mewah, ternyata kebutuhan mereka tetap didatangkan dari Roma.”

Bibir Siwon membentuk huruf “O“ saat mendengar informasi yang disampaikan Tiffany. Sepertinya setelah ini dia harus lebih memerhatikan tayangan televisinya dengan baik.

“Jadi, kalau Oppa merasa lelah sehabis berkeliling itu artinya Oppa harus lebih sering berolahraga.”

Siwon masih mendengarkan Tiffany hingga beberapa saat kemudian gadis itu berhenti berbicara dan…

 

To Be Continued ^_^

Arti kata:

  1. Buongiorno : Selamat pagi
  2. Sir : Tuan
  3. Grazie : Terima kasih
  4. Buon appetite : Selamat makan

 

 

Hallo..

I’m comeback! long time no see..

Semoga suka dengan cerita ini. Oh iya, kalau suatu saat nanti ada part yang di protect, teman2 bisa meminta passwordnya setelah meninggalkan komen di part sebelumnya.  Hubungi saya di 089623045626 (WA, please. sms slow respon ya :p)

75 thoughts on “(AF) One Afternoon Part 1

  1. wahhh kerrennn thorr kirain tiffany disini jadi orang pemalu, ternyata welcome,polos bangett lagi hahaha, lanjutt thorr fighthinggggg

  2. wah..ide ceritanya fresh banget nihh,,,

    aku suka karakter tiffany yang cerah ceria disini..next ditunggu kelanjutannya thor…. 😀

  3. alurnya lincah. karakternya juga keren, realistis banget gitu. Hidup dah ini cerita. eh, authornya punya banyak pengalaman soal kopi dan cafe rupanya. td smpt berpikir agak bertele2 dgn percakapan gdgn Julia itu. Haha. Tp jdinya ini kyk real banget. Bagian konflik-dramanya ditunggu looh… fighting!

  4. lama nggak mampir kesini. tiba2 udah banya ff baru aja hehehe…
    dan nyesel jga nggak ikutan PO novel sifany different taste. brharap ada PO yg kedua. pengen beli hehehe…

    ceritanya ini detail bgt aku suka. dari mulai deskripsi,penjabaran tempat nya emang authornya pernah ke roma ya ngikut dong hehehe…
    like this one. ditunggu next part nya

  5. hn…serasa ikut tour bersama sifany krn deskripsi kmu yg keren n hheee. aplg sifany yg awal ketemu aj sdh merasa cocok
    wew…kira2 hal ap yg mjd suprise dlm hub mereka selanjutny ?

    next part dtunggu

  6. Awal perkenalan nya aja udah seru. Ga tau kenapa ya aku suka bangrt dari dulu sama sifany, soalnya mereka tuh kayak ada chemistry nya.

  7. secara konsep, awal ketemunya sama ya kaya video iklannya allure green tea.. sama sama di kafe..
    baca ff ini aku jadi mbayangin.. asik kali yaaa, ketemu orang yg speak the same language di negara asing, trs bisa jalan jalan bareng.. sayangnyaaa, didn’t happen in my real life.. duh, setahun tinggal di US, baru sekali ketemu orang Indonesia, itu aja pas uda mau pulang dan sayangnya bukan mas mas ganteng #jadicurhat
    aku suka banget sama ide ceritanya dan aku jg suka banget cara kamu nulisinnya.. beberapa kali aku sempet ngobrol sama kak echa ttg kamu lhoo.. krn menurutku, kamu termasuk penulis ff sifany yg oke banget..
    but, ada typo yg konsisten (jadi aku mengasumsikan, mgkin kamu blm tau). ekspresso itu seharusnya espresso.. dan fakta ttg kopinya ada beberapa yg mess up, mgkin kamu sama kaya siwon di ff ini, bukan pecinta kopi atau sama kaya tiffany, sering nolak waktu diminta bikinin kopi.. hehehe..
    part 2 nya uda upload, aku cus baca dulu yaaa..

  8. Aku suka alur dan pembawaan ceritanya….
    Gaya bahasa yang author tuangkan dalam cerita juga terlihat lebih bervariasi.
    Ceritanya cukup bikin penasaran.
    Dan dialog antar tiffany dan siwon cukup berisi. Keknya author beneran mengerti ya tentang coffe dan roma hehe
    Nice ff!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s