(AF) Why Devil Wears PRADA

Why Devil Wears PRADA

sifany siwon tiffany why devil wears prada poster

Main Cast(s)

Choi Siwon Tiffany Hwang

Genre

Drama Romance Marriage-life

Rating

R 18+

Length

One-shoot

Disclaimer

This story is a work for fiction. Characters, places, and incidents are either the product of the author’s imagination or are use fictitiously. I just borrow the name of the characters. This is for entertainment purpose only.

This story is originally mine.

dandelions_flo

2016

“What men don’t know…”

WARNING!

THIS STORY CONTAINS RESTRICTED SCENE

AND IS NOT SUITABLE FOR CHILDREN UNDER THE AGE OF 18!

Choi Siwon tersenyum ketika melihat Tiffany Hwang berjalan keluar dari lobi kantornya. Meski sudah hampir 12 jam bekerja, istrinya itu tetap saja terlihat cantik dan fashionable seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan wanita itu kecuali rambutnya yang kini diikat asal. Menampakkan leher jenjang Tiffany dengan dibayangi beberapa helai anak rambut yang tidak ikut terikat. Membuat Siwon tidak sabar untuk mendaratkan kecupan basah di leher istrinya.

 

 

“Hei,”

 

 

Sapaan Siwon langsung disambut dengan ciuman pipi yang diberikan Tiffany sesaat setelah supir mereka membantu wanita itu memasuki mobil. Dengan cekatan, dibukanya pump berukuran 7 cm yang tak pernah lepas dari kakinya sejak pagi hari.

 

 

Tough day, Juliet?” tanya Siwon sambil meraih Tiffany ke dalam pelukannya.

 

 

Let me take a nap, Romeo.” balas Tiffany seraya membetulkan posisi duduknya.

 

 

Tanpa harus bertanya, Siwon sudah hafal kebiasaan istrinya ini. Jika sedang sangat lelah, Tiffany akan memeluk Siwon kuat-kuat, bersandar di dada Siwon dan terlelap selama kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit. Setelah itu Tiffany akan terbangun dan seolah-olah tidak mengingat rasa lelahnya tadi.

 

 

“Apa kau sudah makan malam?” tanya Siwon lagi.

 

 

Pertanyaan itu hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari Tiffany.

 

 

“Tiffany, kalau kau telat ma—”

 

 

Belum sempat Siwon melanjutkan omelannya, Tiffany sudah membungkam bibir pria itu dengan ciumannya.

 

 

“Jangan mengomel tentang makan malam karena aku pun tahu kau belum makan malam, arraseo?”

 

 

Melihat tatapan galak istrinya membuat Siwon terdiam patuh. Tiffany memang terlalu memahami kebiasaan pria itu. Siwon akan lebih memilih makan bersama Tiffany di rumah dibandingkan harus makan di luar.

 

 

“Kalau begitu, apa kau mau mampir ke restoran untuk makan?”

 

 

“Tidak usah, aku akan memasak untuk makan malam,”

 

 

“Tubuhmu lelah, Juliet.”

 

 

“Membuat menu makan malam tidak akan membuatku pingsan, lagi.”

 

 

“Ini bukan soal pingsan atau tidak pingsan. Tapi tubuhmu butuh istirahat yang cukup. Aku akan meminta Bibi Yoo untuk delivery saja.”

 

 

“Siwon, ayolah. Apakah kau tidak ingin makan Bibimbap buatanku malam ini?”

 

 

Tiffany bertanya dengan mengeluarkan jurus ampuhnya. Wajah memohon dengan menyebut-nyebut makanan kesukaan Siwon. Sesuatu yang tidak mungkin ditolak oleh suaminya.

 

 

You know, I’m a wife of Superman. Am I right?

 

 

Siwon mencoba menahan tawanya. Kadang ia berpikir, kenapa Tiffany masih saja mau berdebat meski wanita itu lelah seharian bekerja. Kenapa Tiffany masih mau memasak untuknya padahal mereka bisa dengan mudah makan di luar atau delivery sesuatu.

 

 

Walaupun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa sifat keras kepala ini justru membuat Siwon semakin jatuh cinta pada Tiffany setiap harinya.

 

 

“Tapi, janji tidak ada lagi lembur untuk satu minggu ke depan, oke?”

 

 

Tiffany tersenyum. “I love you.

 

 

 

 

Siwon menarik bantal untuk menutup telinga saat ponselnya berbunyi dengan volume tinggi. Pria itu tampak tidak tertarik mengangkat telepon yang berasal dari istrinya. Siwon justru semakin menarik selimut tebal hingga menutupi wajah. Sebisa mungkin ia meredam suara yang mengganggu indera pendengarannya.

 

 

Namun sayangnya, semakin Siwon mengabaikan telepon Tiffany, nyatanya wanita itu semakin gencar menelepon Siwon. Membuat Siwon tak punya pilihan kecuali mengangkatnya.

 

 

“Aish!”

 

 

Dengan terpaksa, Siwon bangkit dari tidurnya lalu mengambil ponsel di atas nakas.

 

 

Good afternoon, Romeo!”

 

 

Lengkingan suara Tiffany membuat Siwon menjauhkan ponsel beberapa sentimeter demi kesehatan gendang telinganya.

 

 

“Di sini masih jam enam pagi, Tiffany.” Siwon merespon dengan suara serak dan setengah menguap.

 

 

“Sepertinya kau tidak merindukanku,” sindir Tiffany.

 

 

Siwon memasang ekspresi sebalnya yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh istrinya. Sejak Tiffany memberitahu bahwa dirinya akan pergi ke Milan selama lima hari untuk urusan pekerjaan, Siwon sudah tidak setuju. Dirinya paling tidak suka jika harus berjauhan dengan sang istri. Padahal, ini bukan yang pertama. Tiffany sudah berkali-kali mendapatkan dinas luar negeri yang berkali-kali pula tidak disetujui oleh Siwon. Namun berkali-kali juga wanita itu mampu membuat Siwon luluh untuk mengizinkannya pergi. Dan seperti anak kecil yang merajuk karena keinginannya tidak dituruti, Siwon melancarkan aksi hemat bicara. Tidak mau mengangkat telepon dari Tiffany pun salah satu bentuk tindakan merajuk ala Choi Siwon.

 

 

“Jangan-jangan kau sedang berselingkuh di belakangku, ya?” Siapapun yang mendengar pertanyaan Tiffany, tentu bisa mendengar nada menggoda yang keluar dari mulut wanita itu. Mencoba mencairkan suasana.

 

 

Namun Choi Siwon tidak pernah suka candaan seperti itu. “Jangan bicara yang aneh-aneh, Tiffany!”

 

 

Mendengar nada tinggi suaminya malah membuat Tiffany terkekeh. Menggoda Siwon adalah hobi tersendiri bagi wanita berusia 29 tahun itu.

 

 

“Skype, yuk? Aku kangen,”

 

 

Walaupun sangat enggan beranjak dari tempat tidur, Siwon harus mengakui juga bahwa ia rindu ingin melihat istrinya yang telah menghilang selama empat hari.

 

 

“Sepuluh menit lagi ya,”

 

 

Keduanya pun mematikan sambungan telepon masing-masing.

 

 

 

 

 

 

Tiffany terkikik geli melihat wajah Siwon yang masih mengantuk. Suaminya itu terlihat susah payah membuka kedua kelopak mata untuk menatap layar laptop. Rambutnya terlihat berantakan sementara kausnya telihat kusut.

 

 

“Kenapa kau membangunkanku sepagi ini?”

 

 

“Karena aku baru saja selesai mengelilingi beberapa kawasan penting di Milan!” jawab Tiffany begitu ceria.

 

 

“Kau bilang tadi merindukanku,” sindir Siwon.

 

 

I do. And I want to tell you story about Milan. OMG, this city is sooo romantic. You know, …

 

 

Tanpa bisa dihentikan, cerita panjang mulai mengalir dari mulut Tiffany.

 

 

Sementara Siwon terlihat bosan. Bagaimana tidak, hampir tiga puluh menit Tiffany hanya membahas tentang Milan dan kegiatan apa yang dilakukannya selama berada di kota kelahiran Giovanni Arrighi itu. Suasana hatinya benar-benar kacau. Sebab Tiffany sama sekali tidak menanyakan kabar Siwon.

 

 

“… dan yang terpenting aku mendapatkan ini untukmu! Tadaaa!”

 

 

Tiffany mengakhiri dongeng keromantisan Milan dengan menunjukkan sebuah kotak Omega yang membuat Siwon mendengus.

 

 

“Kau belanja lagi?”

 

 

What could I say? I’m a woman. Lagi pula, kau akan sangat menyesal jika mengunjungi kota fashion tanpa berbelanja, Romeo. Ini adalah tempat lahirnya para designer kelas dunia. ”

 

 

Bukannya Siwon tidak suka dengan kegiatan Tiffany yang satu ini. Hanya saja, kadang Siwon tidak mengerti kenapa Tiffany senang membelikan dirinya barang-barang yang kalau dipikir ulang, tidak benar-benar Siwon butuhkan. Karena Siwon masih memilikinya dan kualitasnya pun masih sangat bagus.

 

 

Ini bukan kali pertama Tiffany membelikan Siwon barang-barang pajangan. Ya, begitulah Siwon menyebutnya karena ia jarang memakainya. Bahkah kemeja, jas, dasi, sepatu, topi, kaca mata, dan barang keperluan Siwon lainnya lebih banyak yang dibelikan oleh Tiffany dibandingkan membeli sendiri. Yang Siwon tahu, selalu saja ada barang-barang baru setiap bulannya yang mengisi walk in closet mereka.

 

 

“Minggu lalu kau baru saja membelikanku sebuah ballpoint seharga stick golf, Tiffany Hwang.”

 

 

“Lalu? Aku suka bentuk dan warnanya, terlihat cocok jika kau menggunakan jas Armani. By the way, apakah stiletto ini terlihat bagus di kakiku?”

 

 

Kali ini Siwon mendesah. Istrinya ini selalu mengajukan pertanyaan yang sama jika tengah mencoba barang baru di tubuhnya. Padahal Tiffany tahu Siwon akan memberikan jawaban yang sama, kau terlihat cantik meski tidak menggunakan apapun, Juliet.

 

 

Tapi kini bukan kalimat itu yang Siwon pilih untuk menjawab pertanyaan Tiffany. “Bukankah kau sudah punya sepatu model itu?”

 

 

“Sepatu ini punya nama, Romeo. Kau bisa menyebutnya stiletto.”

 

 

“Apapun namanya. Tapi, aku tidak tertarik dengan itu semua. Aku hanya ingin kau cepat pulang. Titik.” Akhirnya Siwon mengungkapkan kalimat yang sejak beberapa jam lalu tertahan di bibir.

 

 

“Kau yakin tidak suka melihat aku memakai stiletto ini? Bukankah aku terlihat semakin seksi?”

 

 

Siwon tidak menjawab. Hanya memperhatikan Tiffany yang berlenggak-lenggok di lantai kamar hotelnya melalui layar laptop.

 

 

Sedangkan Tiffany menyeringai saat menyadari ekspresi kaku di wajah suaminya. Tiffany sangat yakin bahwa Siwon terpesona dengan tampilannya saat ini. Sebab stiletto 15 cm itu mengangkat bokong berbalut denim shorts milik Tiffany dengan dengan sempurna. Paha, betis, hingga punggung dan bahu pun Tiffany biarkan terbuka karena wanita itu memilih menggunakan halterneck crop top. Hanya pria tidak waras yang tidak tergiur dengan penampilan Tiffany Hwang.

 

 

Sebuah ide jahil tiba-tiba terlintas dalam benak Tiffany. Jangan salahkan Tiffany karena menggoda Siwon adalah salah satu hobinya.

 

 

“Hm.. baiklah. Karena kau tidak mau mengakuinya, aku akan memberimu hukuman.”

 

 

“Maksudmu?”

 

 

Tanpa berpikir lebih lama, Tiffany membuka kancing denim shorts-nya. Lalu menurunkan ritsleting dengan gerakan jari yang sengaja ia buat berlama-lama. Setelahnya, denim shorts itu langsung terjatuh di lantai.

 

 

“Tiffany. Apa yang sedang kau lakukan?”

 

 

Seringai Tiffany semakin lebar ketika mendengar suara Siwon semakin berat.

 

 

Kali ini, Tiffany menarik tali halterneck crop top-nya. Secara perlahan, tali-tali yang membuat simpul dibagian punggung Tiffany mulai terbuka, terlepas satu sama lain. Hingga pakaian atas itu bertingkah serupa dengan denim shorts. Terjatuh di lantai.

 

 

Senyum kemenangan tercetak di wajah Tiffany. Ia berhasil membuat pandangan Siwon menggelap, membuat Siwon susah payah menelah salivanya dan tentu saja menggeram karena tidak tahan melihat penampilan istrinya.

 

 

Seperti seorang Victoria’s Secret Angel, Tiffany dengan percaya diri kembali berlenggak-lenggok di lantai hotel seolah-olah itu adalah runaway stage.

 

 

“Tiffany. Berhenti. Sekarang. Juga. Atau—”

 

See on : https://blowingthedandelions.wordpress.com/2016/02/14/fanfiction-ff-siwon-tiffany-sifany-why-devil-wears-prada/

 

Sial! Rasanya Siwon ingin terbang ke Milan sekarang juga, atau jika mungkin, ia ingin menarik Tiffany keluar melalu layar laptop-nya. Menghabisinya di ranjang saat ini juga.

 

 

“Ku rasa sudah waktunya kau bersiap-siap ke kantor, Romeo. Sampai bertemu besok. Bye!”

 

 

Diiringi dengan kedipan mata dan kecupan sensual, Tiffany menutup layar laptop. Dan di saat yang bersamaan, Siwon nyaris menjerit begitu mendapati layar laptop-nya berubah hitam. Pria itu terlihat totally frustasi dengan kekacauan yang telah diciptakan oleh istrinya. Siwon dipaksa bekerja dengan fokus sepuluh kali lipat ekstra hari ini. Bagaimana pun ia harus bisa mengenyahkan bayang-bayang Tiffany, walau bisa dipastikan itu adalah hal mustahil.

 

 

Bip. Bip.

 

 

Suara notifikasi sebuah aplikasi media sosial dari ponsel membuat Siwon tak sabar untuk membukanya. Ia yakin pesan itu pasti dari Tiffany. Apa yang ingin dikatakan oleh wanita penggoda itu?

 

 

Demi semua dewa, Siwon mengeluarkan sumpah-serapahnya sekarang juga!

 

 

Tiffany mengirimkan foto dirinya yang tak berbusana di atas ranjang!

 

 

Tabahkan dirimu, Siwon. Hanya tinggal satu hari lagi.

 

 

 

 

Sepinya lantai rumah sakit itu menciptakan bunyi ketukan antara sepatu dan lantai yang terdengar hingga ujung ruangan. Kaki Siwon tidak dapat berhenti berlari sejak ia mendapat kabar bahwa Tiffany dilarikan ke rumah sakit. Wanita itu pingsan saat tengah berada di dalam lift kantornya.

 

 

Dengan rasa tidak sabar, Siwon menarik kasar kenop pintu di kamar ber-label 407 tersebut. Dan di tempat tidur rumah sakit inilah istrinya sedang tertidur lelap.

 

 

Doctor said she’s fine. Tiffany only need time for rest.”

 

 

Sooyoung langsung menjelaskan keadaan sahabatnya begitu melihat Siwon masuk dengan wajah penuh kekhawatiran. Wanita berambut pendek itu pun bergeser untuk memberikan ruang bagi Siwon mendekati Tiffany.

 

 

“If she’s fainted and need to taking to the hospital, she’s totally not fine, Syoo.”

 

 

Sooyoung yang saat ini juga bersama Yoona, saling memandang. Mereka bisa mengerti rasa khawatir dan panik yang masih menyelimuti suami Tiffany Hwang itu. Sebab kejadian Tiffany pingsan bukanlah hal yang baru. Namun sampai harus dibawa ke rumah sakit adalah yang pertama. Tiffany sering kali pingsan karena telat makan, kelelahan, hingga dehidrasi.

 

 

“You know her, Siwon. She just loves her jobs so much.” Kali ini Yoona yang berbicara.

 

 

Dan kalimat itu sukses membuat Siwon menghela napas panjang. Yoona benar. Sekuat apapun Siwon mengingatkan atau melarang, Tiffany pasti tidak akan mendengarkan jika itu berkaitan dengan tugasnya sebagai managing editor.

 

 

“Terima kasih sudah membawa Tiffany kemari.”

 

 

Bagaimana pun Siwon mengerti. Sebagai sahabat dekat, Sooyoung dan Yoona sudah tentu ikut menjaga Tiffany. Atau mungkin lebih tepatnya sudah lelah menasehati Tiffany soal kesehatannya.

 

 

Anytime.” Jawab Sooyoung dan Yoona bersamaan. Kedua wanita tinggi semapai itu pun pamit untuk kembali bekerja, meninggalkan Siwon yang kini menatap wajah istrinya yang begitu pucat.

 

 

 

 

Tiffany membuka pintu ruangan kerja Siwon dengan rasa jengkel yang tidak bisa disembunyikan. Wanita itu langsung menarik kursi di hadapan suaminya dan memberikan sebuah amplop putih dengan tulisan tangan yang sangat Siwon kenali. Ya, tulisan tangannya sendiri.

 

 

“Ini apa?”

 

 

“Bukankah kau sudah membacanya?” tanya Siwon tanpa mau mengalihkan pandangan dari tiga bundel berkas yang terjajar di mejanya saat ini.

 

 

“Aku butuh penjelasanmu, Tuan Choi Siwon yang terhormat.”

 

 

Jika Tiffany sudah memanggil nama jelasnya, Siwon paham bahwa suasana hati wanita itu jauh dari kata baik. Atau mungkin sebentar lagi Tiffany akan marah.

 

 

“Aku hanya mengirimkan surat izin resmi agar kau mendapat tambahan istirahat. Itu saja.”

 

 

“Tapi dokter sudah memberiku waktu istirahat selama empat hari. Dan selama itu pula aku harus absen dari kantor. Lalu, sekarang kau membuat surat izin lagi agar aku tidak masuk kantor selama tiga hari? Genap tujuh hari aku harus absen dari kantor?! Yang benar saja!”

 

 

“Tapi empat hari bukanlah waktu yang cukup, Tiff. Kau itu sangat keras kepala jika sudah berkeja, tidak kenal waktu, tidak ingat diri. Kau hampir lembur setiap hari sejak seminggu lalu. Pola makan berantakan, pola tidur berantakan. Jadi, menurutku sesuatu yang wajar jika aku mengambil kontrol pekerjaanmu.”

 

 

Bukannya melunak, Tiffany justru semakin jengkel mendengar kalimat terakhir Siwon. Belum lagi nada suaranya yang angkuh dan terdengar bossy. Mungkin profesinya sebagai CEO membuat Siwon terbiasa mengatur dan memutuskan banyak hal sesuai keinginannya.

 

 

“Terserah!”

 

 

Bang!

 

 

Tiffany pun menghilang dibalik pintu kantor tanpa memedulikan panggilan Siwon.

 

 

 

 

Tiffany kembali ke rumah dengan beberapa plastik yang sebagian besar isinya adalah makanan. Ia mengisi hari dengan ber-spa, salon, berbelanja, serta mengunjungi beberapa tempat makan yang direkomendasikan melalui Instagram.

 

 

Pagi tadi, sebelum Tiffany datang ke kantor suaminya, ia mendapat telepon dari Kwon Boa—Editor in Chief di tempat Tiffany bekerja. Kwon Boa mengingatkan Tiffany untuk benar-benar memanfaatkan waktu istirahat tambahan yang diminta Siwon agar wanita itu bisa kembali fit dalam bekerja. Sebagai salah satu aset penting yang dimiliki oleh perusahaan, Kwon Boa tidak mau mengambil resiko terkait kesehatan Tiffany. Dan belum sempat Tiffany memberikan tanggapan, teleponnya sudah ditutup. Itu artinya, Boa tidak mau menerima argumentasi.

 

 

Alhasil, kini Tiffany tengah bersandar di sofa bed balkon kamarnya. Membuat beberapa review terkait gaya hidup dan juga fashion street untuk musim panas dengan ditemani beberapa snack yang sudah ia beli.

 

 

Di saat yang bersamaan, Siwon baru saja pulang. Lebih cepat dari biasanya. Pria itu meringis ketika mendapat jawaban dari Bibi Yoo bahwa Tiffany tidak membuat makan malam untuknya. Wanita itu pasti sedang merajuk. Sama seperti Siwon, ini adalah salah satu bentuk perlawanan atas ketidaksukaan.

 

 

 

 

 

 

Terlalu asyik tenggelam dengan kesibukannya, Tiffany tidak menyadari kehadiran Siwon di pintu pembatas antara balkon dan kamar tidur mereka. Ketika Siwon sudah berdiri di hadapannya, barulah Tiffany tersadar. Pria itu sudah mandi dan kini mengenakan kaus hitam serta celana training abu-abu. Kedua tangannya memegang cangkir berisi kopi berbeda rasa.

 

 

Saat indera penciumannya menyambut aroma Americano dan Macciato, Tiffany cepat-cepat membuang muka dan kembali fokus pada tablet-nya. Jika Siwon membuat dua jenis kopi itu, pasti ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Dan Tiffany bisa menebak, pembicaraan kali ini akan membahas surat pemaksaan perpanjangan izin itu.

 

 

“Can we talk?”

 

 

Tanya Siwon setelah mendudukan diri di sebelah Tiffany dan menempatkan kedua gelas di atas meja bundar kecil di hadapan mereka.

 

 

“Ku rasa kita tidak perlu lagi bicara. Untuk apa? Bukankah semua keputusan ada di tanganmu? Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginanmu, kan. Bukan begitu?” Tiffany balik bertanya dengan nada sinis yang tidak bisa ia tahan.

 

 

Sementara Siwon menghela napas. Ia sudah mempersiapkan diri jika Tiffany akan marah-marah padanya beberapa jam ke depan.

 

 

“Bukan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau memang sudah mendapatkan istirahat yang cukup. Kau paham betul betapa hectic-nya pekerjaanmu.”

 

 

“Tapi, apa kau tidak bisa mendiskusikannya denganku?”

 

 

“Karena jika aku bertanya, kau pasti langsung membantahnya, menolak mentah-mentah.”

 

 

Tiffany terdiam. Bingung mau menjawab apa, sebab yang dikatakan Siwon sangat benar adanya. Tapi ia tidak ingin kalah berargumentasi dengan Siwon.

 

 

“Walau bagaimana pun, seharusnya kau berbicara dahulu padaku sebelum bertindak. Atau jangan-jangan kau tidak suka aku bekerja? Kita tidak pernah membahas hal yang satu ini, kan? Dan kau selalu merajuk ketika aku mendapatkan dinas luar. Kenapa tidak kau katakan saja kalau kau tidak suka aku berkerja? Bukankah itu lebih jelas dan mudah?”

 

 

Entah dari mana pikiran itu datangnya, tapi Tiffany sendiri pun kaget dengan apa yang ia ucapakan.

 

 

“Bagaimana kalau memang aku tidak suka kau bekerja? Kalau aku tidak suka dengan pekerjaanmu yang sangat menyita waktu? Kalau aku hanya ingin kau di rumah dan mengurus rumah tangga?”

 

 

Pertanyaan Siwon menyentak kesadaran Tiffany. Bagaimana Siwon bisa menyindir pekerjaan istrinya? Pekerjaan yang menjadi cita-cita Tiffany sejak kecil. Dunia yang amat dikaguminya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dan kini dirinya nyaris berada di puncak karir. Managing editor sebuah majalah fashion ternama Korea Selatan. Dengan gaji setahun saja, ia sudah bisa membeli Audi.

 

 

“Kenapa jadi menyebut pekerjaanku yang menyita waktu? Apakah kau tidak sadar bahwa pekerjaanmu lebih menyita waktu? Tidak peduli hari kerja atau hari libur, entah pagi, siang, atau malam, kau akan pergi dengan alasan rapat, rapat, rapat!”

 

 

“Jangan membahas pekerjaanku, Tiffany.”

 

 

“Memangnya kenapa? Bukankah itu terdengar tidak adil? Dengar, Siwon. Aku tidak pernah menghalangi pekerjaanmu. Aku tidak pernah mengarahkan karirmu. Aku mendukung seratus persen apa saja yang kau lakukan selama itu benar. Karena aku percaya padamu. Dan yang kau lakukan sekarang adalah meragukan kredibilitasku dan pekerjaanku.”

 

 

“Tapi—”

 

 

See?! Tapi, tapi, dan tapi! Kita akan berhenti bertengkar sampai aku kehabisan kata-kata. Kau terus menyerang dan aku mencoba bertahan. Kita tidak akan pernah benar-benar bicara!”

 

 

Kalimat Tiffany membuat Siwon terkesiap. Dibiarkannya wanita itu berjalan keluar kamar dengan bantingan pintu yang amat keras.

 

 

Hanya ada kepulan asap yang semakin menipis dari dua gelas cangkir kopi yang tak berkurang sama sekali isinya sejak diletakkan di atas meja.

 

 

 

 

Siwon meraba bagian kiri tempat tidurnya yang terasa kosong. Pria itu baru teringat bahwa semalam dirinya tidak tidur bersama Tiffany. Istrinya itu memilih tidur di kamar tamu dan mengunci pintu. Membuat Siwon menyerah memanggilnya dan memilih tidur.

 

 

Suara desisan air dalam minyak panas dari dapur serta aroma mentega membuat Siwon berjalan keluar kamar. Ia menemukan Tiffany yang sudah berpakaian rapi dengan skinny jeans dan tank top turquoise, juga dengan apron merah muda.

 

 

“Apa lagi sekarang?”

 

 

Bola mata Tiffany memutar, pertanda sebal melihat Siwon yang tengah berjalan ke arahnya dengan padangan yang amat fokus. Membuat Tiffany merasa tidak nyaman karena diperhatikan seintens itu. Padahal tadi malam mereka baru saja bertengakar.

 

 

Detik berikutnya, yang bisa Tiffany rasakan adalah Siwon menarik tubuhnya merapat pada tubuh pria itu. Melingkarkan kedua lengannya dengan sempurna di pinggang mungil Tiffany. Membiarkan punggung Tiffany bersandar di dada bidang Siwon hingga dapat mendengar detak jatungnya.

 

 

“Aku rindu kebersamaan kita, Tiffany.” bisik Siwon teramat pelan di telinga kanan istirnya. Membuat Tiffany semakin terkejut dengan sikap Siwon yang tiba-tiba seperti ini.

 

 

“Aku minta maaf jika kata-kataku semalam menyakitimu. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu.”

 

 

Siwon kemudian melanjutkan. “Aku merasa pekerjaan kita belakangan ini membuat kita lupa satu sama lain. Dan aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Kau sudah beberapa kali pingsan di tempat kerja karena tidak ingat waktu makan. Yang terakhir bahkan kau sampai harus dibawa ke rumah sakit.”

 

 

Tiffany terhenyak. Meresapi kalimat-kalimat yang meluncur mulus dari bibir Siwon. Pria itu benar. Waktu kebersamaan mereka menjadi berkurang. Namun tetap saja, mengingat kembali kata-kata Siwon membuat Tiffany merasa semacam dikhianati.

 

 

Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Siwon sambil mencoba melepaskan pelukan suaminya. Tapi, percuma. Pelukan itu tidak melonggar sedikit pun. Yang ada malah membuat tubuh bagian depan mereka semakin menempel satu sama lain.

 

 

“Kau mengatakannya dengan jelas, Siwon. Aku bisa mendengar kau tidak suka perkerjaanku sebagai managing editor. Kau tidak suka jika aku bekerja. Kau bahkan sering merajuk jika aku pergi jauh untuk tugas dinas. Lalu, kenapa kau malah menikah denganku? Jika kau lebih suka wanita yang hanya mengurus rumah tangga, untuk apa memilih wanita yang jelas-jelas mencintai cita-citanya dan berambisi untuk mewujudkannya sepertiku?”

 

 

Mata Tiffany mulai memanas tanpa sebab yang jelas. Oh, Tuhan! Jangan biarkan dia menangis. Tiffany sangat benci mengeluarkan air matanya!

 

 

I’ve told you. Aku minta maaf dengan kata-kataku semalam. Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi padamu. Makanya aku mengatakan bahwa aku tidak menyukai pekerjaanmu dan menginginkan kau tidak berkerja. Aku berharap kau lebih memperhatikan kesehatanmu. Dan… aku tidak pernah tahu kenapa aku memilihmu. Yang aku tahu, aku hanya menginginkan Tiffany Hwang untuk melengkapi hidupku. Itu saja.”

 

 

Dengan nada yang sedikit menggebu-gebu, Tiffany menjelaskan, “Kau tahu bahwa menjadi editor fashion adalah cita-citaku. Dunia yang sangat aku sukai. Aku senang melakukan banyak hal di sana hingga sering kali lupa waktu. Aku berkembang, aku menemukan banyak hal yang terus membuatku tertantang untuk berkarya. Karena aku suka, sayang, cinta dengan dunia itu. Apakah itu salah?”

 

 

“Sesuatu yang wajar jika kita menghabiskan banyak waktu dengan hal-hal yang kita sukai. Tapi bukan berarti kita lupa waktu dan mengorbankan diri sendiri. Kalau kau sudah sakit, aku tidak bisa fokus bekerja karena cemas. Dan pekerjaanmu pun akan terbengkalai. Kau bisa membayangkan bagaimana orang-orang di kantor kelimpungan karena kau tidak masuk kantor lima hari.”

 

 

Tiffany membisu. Wajahnya menunduk. Memikirkan kalimat yang dipaparkan suaminya.

 

Benarkah dirinya adalah sosok yang memiliki ambisi setinggi itu? Kenapa ia terlalu egois dengan impiannya, dengan pekerjaannya? Kenapa ia tidak memikirkan kekhawatiran suaminya, dan hal-hal buruk lain yang mungkin terjadi?

 

 

“Maaf,”

 

 

Hanya satu kata itu yang Tiffany ucapkan.

 

 

Siwon yang dengan cepat menyadarinya getaran pada suara Tiffany pun mengangkat tubuh istrinya ke atas kitchen counter, membuat tinggi mereka sejajar. Posisi mereka saaat ini memudahkan Siwon untuk menatap langsung wajah Tiffany.

 

 

Dikecupnya kedua mata Tiffany bergantian. “Jangan menangis, Juliet.”

 

 

Dan Siwon pun dapat bernafas lega setelah merasakan kedua tangan Tiffany memeluk lehernya begitu erat.

 

 

 

 

“Apa kau ingin tahu kenapa aku ingin bekerja dan memilih menjadi wanita karir?”

 

 

Tiffany tiba-tiba menghentikan gerakan tangan pada tablet-nya yang juga membuat Siwon mengalihkan pandangan dari berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.

 

 

“Apa ada alasan tertentu dibalik pilihan itu?” Siwon bertanya balik dengan nada penasaran. Pria itu meletakkan pulpen di atas nakas, kemudian merentangkan tangan kiri untuk meraih Tiffany agar bersandar padanya.

 

 

“Ketika kita menikah, kita sudah memilih pasangan hidup yang kita anggap pantas untuk menjalani kehidupan bersama. Tapi seiring berjalannya waktu, kita tidak pernah tahu, kan, apa yang akan terjadi? Apalagi di zaman seperti ini, dengan tingkat perceraian yang tinggi, perempuan yang tidak berkerja akan dirugikan karena ia tidak memiliki penghasilan kecuali yang diberikan suaminya. Dan… aku merasa ketika wanita mampu berpenghasilan sendiri, akan membuat laki-laki berpikir dua kali untuk bertingkah macam-macam.”

 

 

“Bertingkah macam-macam seperti apa?”

 

 

“Mungkin memang tidak semua, tapi banyak dari wanita yang menuntut suami untuk berpenghasilan tinggi agar dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan keinginannya tanpa mau membantu si suami. Kalau hal itu sering terjadi, laki-laki yang goyah imannya akan memilih pelarian. Seperti selingkuh. Ujungnya, yang terjadi adalah perceraian.

 

 

“Alasan lainnya, menurutku rasanya kurang pantas jika wanita menggunakan uang pemberian suaminya untuk memenuhi kebutuhannya.”

 

 

“Tapi, bukankah itu kewajiban suami untuk menafkahi?”

 

 

“Hmm, betul. Tapi dari sisi wanita, konsep dinafkahi menurutku adalah menggunakan penghasilan yang diberikan suami untuk kebutuhan bersama, untuk hidup bersama. Bukan untuk membeli peralatan make-up atau bahkan menggunakannya untuk perawatan diri. Yaa, segala macam yang bersifat pribadi.”

 

 

“Apakah ada wanita semacam itu?”

 

 

Tiffany menatap Siwon tak percaya. Apakah suaminya ini terlalu polos? Atau dia benar-benar tidak tahu bahwa wanita semacam itu tumbuh subur di era globalisasi ini.

 

 

“Romeo, ini adalah penyebab Jiyoung, Nichkhun, dan Henry bercerai dengan istri mereka masing-masing.” jawab Tiffany, menyebutkan tiga nama rekan Siwon yang memang sudah bercerai dengan alasan yang disembunyikan rapat-rapat. Bahkan sampai tidak terungkap ke media.

 

 

“Ini alasan lain kenapa wanita perlu bekerja.”

 

 

“Kenapa kembali ke topik awal?”

 

 

“Karena para pria tidak mengerti perbedaan lipstik seharga 60.000 won dengan lipstik seharga 6.000 won. Kalian tidak mengerti kenapa para wanita rela mengeluarkan belasan juta demi membeli sepatu untuk diinjak-injak.”

 

 

“Meaning?”

 

 

“Kami—para wanita—harus bisa menjaga penampilan untuk suaminya. Kalian—para pria—adalah makhluk visual yang mudah tergoda hanya dengan sekali lirikan mata. Itulah kenapa kami harus pandai bersolek, mencegah suami bertingkah macam-macam. Dan karena barang-barang itu tidaklah murah, maka wanita perlu bekerja. Rasanya kurang pantas jika suami harus membelikan barang-barang itu, kecuali suaminya sepertimu yang suka rela membelajakan istrinya macam-macam.”

 

 

Tiffany tertawa pelan dengan kalimat terakhirnya yang justru membuat Siwon bersikap pura-pura sebal.

 

 

“Tidak semua pria seperti itu, Tiff. Berdandan atau pun tidak, aku tetap mencintaimu. Kau bahkan sangat cantik tanpa harus mengenakan apapun.”

 

 

“Siwon!!!”

 

 

Candaan itu sukses membuat kepalan tangan kiri Tiffany mendarat di bahu Siwon dengan bunyi pukulan yang cukup keras. Entah kenapa ia selalu merasa malu untuk membahas dirty conversations bersama suaminya. Walaupun untuk melakukannya, justru tidak ada malu sama sekali.

 

 

Tiffany mendesah dalam hati, dirinya belum cukup berani untuk mengatakan kalimat-kalimat ini pada Siwon: ‘You can say that. Tapi faktanya, pernikahan tidak membuat laki-laki berhenti untuk melirik wanita lain. It’s important for woman to protect her precious man, Sayang. Dan cara melindunginya adalah with dress up, make up. Termasuk juga membuat sarapan serta makan malam, meski kadang tubuh rasanya sudah mau tumbang. Namun dengan begitu, kami sudah membuat kalian ketergantungan terhadap kami.‘

 

 

Mata Siwon menyipit tiba-tiba saat rasa penasaran menghampirinya terkait perceraian ketiga rekan bisnisnya.

 

 

By the way, kau tahu dari mana tentang alasan perceraian Jiyoung dan kawan-kawan? Apakah kau bergosip?”

 

 

Kini giliran Tiffany yang memutar bola matanya. “C’mon, wanita mandiri dan independen tidak punya waktu untuk bergosip mengurusi kehidupan orang lain. Yang jelas, sebagai seorang istri dari seorang Superman dengan pergaulan kerjanya yang penuh intrik, kadang aku harus bisa menempatkan diri untuk tidak berpihak. Yang diperlukan cukup empati atau simpati. Informasi seperti itu akan mudah didapat meski kau tidak bertanya. Pasti akan ada saja yang memberitahu kisah sebenarnya.”

 

 

“Sepertinya aku tidak salah memilih istri.” kata Siwon, lalu mencium pipi kanan Tiffany.

 

 

Yang dicium malah mencibir. “Kau tidak tahu juga, kan?”

 

 

“Tentang?”

 

 

Kenapa rasanya banyak sekali yang Siwon tidak ketahui dari Tiffany?

 

 

“Itu adalah salah satu cara istri untuk menjaga kehormatan suaminya. Pandai-pandai menjaga lisan dan pintar berargumentasi, karena wanita dilahirkan dengan kemampuan bersilat lidah yang sangat sempurna. Dan juga, jangan salah. Berbelanja pun menjadi salah satu cara menjaga kehormatan suami.”

 

 

Siwon mengernyit. “Bagaimana bisa?”

 

 

“Sebagai seorang istri, kami dituntut untuk bisa mengurus suaminya, mengurus diri sendiri, serta anak jika sudah mempunyai keturunan. Gaya hidup, pakaian, rumah dan lain-lain menjadi penting dalam kaca mata istri para petinggi perusaahaan, kau tahu? Hal itu merepresentasikan sejauh mana kami bisa menjaga martabat suami.”

 

 

“Tapi bukannya hal itu justru membuat kita hanya bersaing kekayaan?”

 

 

“Betul, maka dari itu, untuk mencegah kita dari menghambur-hamburkan materi, aku harus bisa mengontrol keuangan kita dan tetap melakukan kegiatan social responsibility.”

 

 

“Lalu, kenapa kita harus mengikuti standar pergaulan mereka, Juliet? Haruskah kita memedulikan pandangan mereka terhadap kita?”

 

 

“Romeo, jangan pura-pura bodoh. Kau tahu bahwa dirimu adalah orang penting di negeri ini. Karena itulah, duniamu bukan hanya milikmu dan milikku. Tapi, juga milik publik. Bukan artinya kita selalu mengikuti keinginan publik, tapi justru mengontrol sejauh mana publik berpadangan terhadap kita. Dan bagaimana pun juga, kita harus tetap bisa menyetarakan diri di kalangan kita saat ini. Itulah cara untuk bisa survive bersama dalam pergaulan kerjamu.”

 

 

Siwon menggelengkan kepala tak percaya. Penjelasan Tiffany membawanya pada fakta tersembunyi yang tak pernah ia ketahui. Atau mungkin ia tak mampu melihatnya, karena menggunakan sudut pandang yang berbeda.

 

 

“Apakah sesulit itu menjadi istri Choi Siwon?” tanya Siwon sambil meringis. Dirinya tidak pernah tahu bahwa hal-hal seperti itu menjadi penting di mata wanita. Dan sekarang Siwon mengerti kenapa istrinya hobi berbelanja.

 

 

Pertanyaan polos itu membuat Tiffany terkekeh. “Well, aku tidak mau menganggapnya sebagai sesuatu yang sulit karena aku sudah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Aku menganggapnya sebagai salah satu tahap pembelajaran agar aku semakin dewasa dan lebih banyak mengenal wajah-wajah di sekitarku.”

 

 

“I must be very lucky husband.”

 

 

That’s why you must be faithful to me. Juga… kau harus semakin rajin memberikan Tiffany & Piaget untuk istri cantikmu ini.” Ujar Tiffany sambil terkikik geli.

 

 

No offense, guys. But all of women really love golds!

 

 

But… man always be a man.

 

 

“Hmm, begitu ya? Aku tidak keberatan selama…”

 

 

Siwon menggantungkan kalimatnya sambil menatap Tiffany dengan pandangan jahil.

 

 

Oh, tidak! Senyuman itu! Tiffany tahu apa arti senyuman itu.

 

 

“Nooo—”

 

 

Belum sempat melarikan diri, Siwon sudah membungkam Tiffany dengan ciumannya. Tangannya dengan cepat menekan tombol bed curtains otomatis di dekat lampu tidur. Alhasil tirai putih semi transparan pun mulai mengelili tempat tidur Siwon dan Tiffany, menyembunyikan apa yang ada dibaliknya.

 

 

Dan malam itu, semesta ikut bernyanyi mengiringi irama yang dilantunkan oleh dua pasang manusia yang tengah dimabuk cinta.

 

 

 

Halo, readers!

Cerita ini terinspirasi dari cerita, obrolan, serta fakta dari berbagai sumber, juga film TDWP. Terinspirasi juga dari banyak novel yang sekarang tidak sedikit mengangkat cerita tentang wanita karir. Kalau ada yang tidak setuju dengan cara pandang cerita ini abaikan saja yaa.

Semoga cerita ini bisa menginspirasi🙂

 

37 thoughts on “(AF) Why Devil Wears PRADA

  1. Well, cerita dikit yaa, sebenernya cara pandang cowok sama cewek (dalam konteks hubungan pernikahan) itu emang seperti diatas, mngkin emang gk semua, tp yakinlah, kebanyakan suami emng kyak gitu. Mikirnya istri gk perlu kerja, di rumah ajalah, tp pemikiran istri lbih panjang. Mereka memikirkan hal yg kedepan, memikirkan kemungkinan2 yg ‘mungkin’ akan trjadi, entah itu buruk apa enggak. Dan itulah kenapa, jaman skarang bnyak wanita karir. Setuju sih sma fanfic ini, krna cepat atw lambat, bnyak yg akan diposisi mereka, trmasuk saya /halah/
    Okee, ditunggu karya selanjutnya author-nim 💪💪

  2. Tiffany perempuan yg pekerja keras ya~ didampingi sama siwon yg juga sama pekerja kerasnya, sama sibuknya, well mereka cocok lah, karakter tiff disini cukup menginspirasi aku sbg perempuan juga, good ff good job ka^^

  3. It’s was a great story and I very love it.
    Aku sangat setuju tentang pandangan pernikahan yang dipaparkan author melalui sudut pandang tiffany dalam cerita ini. Memberikan sedikit banyak pelajaran bagi seorang bagaimana nantinya bertanggung jawab sebagai istri yang bekerja.
    A good story from a great author

  4. Yap, bener bgt… Banyak cwo yang emg gak ngerti dan menyepelekan hal hal yg cwe anggap penting🙂 banyak pasangan yg emg bermasalah dalam hal ini, si cwe diem di Rumah sedangkan si cwo kerja dan mendua *oh no* udah banyak yang ngalamin.. Author nim semoga kisah hidup kita semua sama seperti SiFany ya, hehe😀 amiiin

  5. Simple tp memberi kesan yg manis dan bermakna.
    Aku setuju bgt dgn cara pandang author ttg seorang istri yg tetap berkarir. Soalnya aku jg g mau setelah married nanti kita para wanita dtuntut utk berhenti bkerja.
    Sekaya apapun suami kita, tetep aja kita g boleh terlalu brgantung padanya.
    Anyway nice story n good job 👍👍

  6. suka banget sma ff ni, ide ceritanya menarik dan sangat inspiratif terutama buat para wanita yg punya karir..karakter mereka disini juga keren, nice ff thor

  7. Akuuu sukaaa bgtt ff inii baruu akuu mauu baca kmarenn tapi pas liat di blog asli nya kok udh gak ada yaa ff ini???
    Eh jodoh gak kmana pas buka SI di post disini ff nyaaa wkwkwkwk..
    Btwww ini ff kereeen brasaaa aslii wkwkwk

  8. Nice story! Aku suka dibagian tiffany dan siwon debat. Tiffany lebih banyak berargumen, dan terlihat lebih unggul. Gak nyangka penuturan Tiffany itu mewakili pemikiran para wanita, yang terkesan mandiri dan cerdas. Ff ini menyampaikan kurang lebih kehidupan berumah tangga pada faktanya, dan lika liku permasalahan yg dialami oleh seorang wanita karier yg mungkin kurang di dukung suami. Lol but Over all it’s good thor!

  9. Bener banget.. Cerita yg mewakili, cerita yg menginspirasi..oneshoot tpi sdh smpai pesannya.. Kerennnnn tuk author.. Lanjuttttt..

  10. 100% bener banget fanfic ini . itu knp emansipasi wanita itu penting . meskipun kita sbg seorang wanita karir yg sukses jangan lupa kodrat.nya sbg seorang istri dan seorang ibu . kebutuhan wanita itu emang banyak banget , jd bener kata fany un itu . siip banget , banyak pesan moralnya , terus berkarya ya thor…

  11. it’s must became my inspiration to do more better than waiting a prince coming to me. hahahah.. oke oke gomawo ffnya.
    fany disini inspiring banget dan siwon yaah seperti biasa lah, suami yg care bingits!

  12. Entah kenapa FF ini memunculkan sisi sensitifku, sampe berkaca-kaca sepanjang baca.
    Tapi yg jelas, banyak pelajaran berharga yg bisa dipetik dari FF ini, terutama buat yg berusia dewasa muda & lajang, karena penjelasan & argumennya yg logis untuk dijadikan bahan diskusi buat calon pendamping kelak..
    Kelihatan kalo nulisnya serius & udah melalui riset kecil2an dari berbagai sumber sehingga hasilnya bisa se-objektif ini.
    You did a great job, Authornim!

  13. bagus cara pandang Tiffany krn saya rasa wanita memang hrs bisa ngontrol k dpn y ..
    tp d sisi lain klo Qta lihat k akidah Qta .
    mungkin alangkah lebih baik wanita diam d rmh tuk mengurus suami dn anak.
    krn jika wanita krja. hal yg d takutkan adalah akan ada org 3 dn anak kan trabaikan. baik dtg dr suami atau dr istri. Misal suami brfikir : istri kurang merhatiin lg dn anak jd cuek krn sang ayah dn ibu sibuk brkerja alhasil si cowok selingkuh krn ada yg lebih prhatian.Atau bisa aja suami befikir si istri selingkuh dn nuduh istri y macam” krn cemburu jd y brcerai.
    Pandangan istri misal : suami kemampuan y cuma sgitu jd dia brambisi tuk mndapatkan lebih dgn brkerja keras. tanpa d sadari ada laki” dtg dgn memberikan prhatian dn si wanita mrasa nyaman. alhasil si cewek bisa selingkuh.
    Jd cara aman kembali k kodrat y..
    Mau bagaimanapun laki” hrs bekerja keras tuk kbutuhan anak dn istri y.
    dan si suami klo bisa jgn pegang uang lebih krn itu akan timbul ingin pergi “iseng” dgn ada y uang.
    si istri hrs bisa control keunangan dn memberikan keinginan suami agar suami gk brani macem”.
    itu sih pandangan saya..

  14. Ceritanya ga bikin bosen walaupun bacanya udah berulang ulang,bener banget ff ini kenapa emansipasi wanita itu penting.
    Keep writing thor

  15. Well, cerita ini aku setuju banget sama argumen” yg diajukan tiffany.
    Great banget thor:)
    Terinspirasi sekaligus terkekeh hahaha
    Ada” aja kelakuan tiff, ehh siwon apa gak jadi ‘nyerang’ tiff yaa?? Hahaha…yadong banget yakkk
    Keren thor, daebakk!
    Fighting nulis ff yg lebih keren lagi thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s