(AF) Thank You My Brother Part 2 – End

Thank You My Brother Chap 2

 thank you my brother 2

Author : @q2lovepink

Main Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang. Kang Minhyuk and Jung Krystal

Other Cast : Jung Jessica, Im YoonA, Kim Taeyeon and Kai

Genre : Romance and Family

Rating : PG (17+)

Length : Two Shoot

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku. Apabila ada kesamaan cerita ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak di sengaja.

So Happy Reading

 

Tiffany berjalan mondar – mandir di dalam tendanya. Setelah perkataan Siwon beberapa jam yang lalu, pikirannya jadi tidak bisa tenang. Ada perasaan takut menggeranyangi hatinya. Berulangkali ia membuang nafas kasar sembari menggigiti kuku – kuku jemari tangannya. Otaknya tiba – tiba mendapat pencerahan. Tiffany berhenti sejenak. Hatinya berkata, ‘Apa yang harus aku takutkan? Aku bukanlah tersangka dalam kasus ini. Justru mereka-lah yang seharusnya malu untuk  bertemu denganku.’ Tiffany menganggukkan kepalanya cepat. Seraya mengibaskan rambut panjangnya, ia bergumam, “Kita lihat saja siapa yang akan merasa ketakutan nanti.” Rahang Tiffany mendadak mengeras menahan kekesalannya saat bayangan masa lalunya kembali muncul.

“Seonsaengnim?”  Tiffany tersentak mendengar panggilan lemah Krystal yang masih terbaring di dalam tendanya. ‘Damn! Kenapa aku sampai melupakan gadis itu?’ pikirnya. Ia segera melangkah menghampirinya.

“Wae? Apa kau butuh sesuatu Krys?” tanyanya lembut. Entah kenapa melihat keadaan Krystal yang seperti ini membuat hatinya melunak.

Krystal menggeleng lemah, “Aniyo. Apa aku tertidur lama? Mianhae karena sudah merepotkanmu.” Tanpa sadar, Tiffany tersenyum tulus kearahnya. “Gwenchana. Kau adalah tanggungjawabku Krys.” Krystal membalas senyuman wanita yang dipanggilnya seonsaengnim itu. Ia mengulurkan  tangannya menggapai lengan Tiffany yang terbebas. “Seonsaengnim, bolehkah aku memanggilmu Eonnie? Setiap kali aku melihat wajahmu, aku selalu teringat pada kakakku.”

DEG.

Tiffany terpaku ditempatnya. Apa – apaan ini? Kenapa gadis ini tiba – tiba membuatnya tidak mampu bersuara?

“Seonsaengnim? Gwenchana?”

“Ah.. ne. Eum… Krystal kau pasti sangat haus. Aku akan mengambilkan minuman untukmu.” Tiffany bangkit dari duduknya, ia keluar tenda dengan perasaan yang berkecamuk. Ucapan Krystal membuatnya merinding.

Setelah kepergian Tiffany, Krystal tersenyum miris. Ia tahu jika wanita yang tadi menemaninya hanya beralasan untuk menghindari permintaannya. Ia bingung kenapa kedua saudara Hwang itu seolah membencinya. Gadis bertubuh tinggi itu, mendesah kecewa sebelum kembali memejamkan matanya.

 

*****

Karena tidak fokus berjalan, tubuh Tiffany menabrak seseorang yang lebih tinggi darinya yang membuatnya harus terjembab ke atas tanah. “Aww!!” pekiknya.

“Maaf, Aku tidak sengaja. Kau tidak apa – apa kan Tiffany-ssi?” merasa mengenali suara berat tersebut, Tiffany segera mendongakkan kepalanya.

“Ne. Aku tidak apa – apa. Hanya sedikit luka saja.” Ucapnya dengan tersenyum paksa.

“Mari, aku bantu.” Orang tersebut mengulurkan tangannya berniat membantu Tiffany, namun dengan sopan Tiffany menolaknya.

“Tidak. Terima kasih tuan, anda tidak perlu mengkhawatirkanku.” Ketika Tiffany ingin berdiri, mendadak kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Wanita itu mencoba menahan sakit dan memaksakan dirinya untuk berdiri. Ia tidak ingin pria di depannya mencemoohnya karena menolak bantuannya yang jelas – jelas sangat ia butuhkan saat ini. Namun apa daya, Tiffany tidak mampu melakukannya sendiri. Ia kembali terjatuh dan memekik keras. “Akh..!!!” saat tubuhnya hampir menyentuh tanah, sebuah tangan kekar menahannya. “Kenapa anda selalu keras kepala nona?” Tiffany terpana. Mata teduh pria yang hanya berjarak 5 senti dari wajahnya itu begitu menusuk hingga kedalam hatinya. Selama beberapa detik, mereka tetap pada posisi dimana punggung Tiffany berada diatas lengan kokoh pria yang dikenal sebagai Choi Siwon tersebut. Tidak ada diantara mereka yang berniat mengakhiri tatapan yang belum pernah terjadi diantara keduanya itu sebelumnya. Hingga akhirnya Tiffany tersadar dan berdehem keras.

“Oh, Mianhae.” Siwon membantu Tiffany bangun. Tidak dapat dipungkiri, wanita pemilik eyesmile itu diliputi rasa canggung. Ia bersumpah jika detik ini pipinya pasti sudah berubah bak kepiting rebus. Siwon mengulum senyum melihat wajah Tiffany yang merona. ‘Yeppuda,’ gumamnya dalam hati. Ia pun memapah Tiffany yang kesulitan berjalan menuju sebuah sebuah batu besar untuk mereka duduki agar ia lebih mudah mengobati luka pada kaki wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

Setelah Tiffany duduk dengan nyaman, Siwon mulai mengobati lukanya. Mula – mula ia meniup – niup lembut goresan luka sepanjang 5 senti yang terdapat di lengan kiri Tiffany. Lalu ia mengoleskan obat anti septic pada lukanya yang membuat Tiffany meringis kesakitan. Siwon begitu telaten melakukannya hingga Tiffany terpaku untuk sesaat. Langkah berikutnya, Siwon beralih pada pergelangan kaki Tiffany yang terkilir. Ia meliuk – liukkannya dengan sangat hati – hati. Tiffany menggigit bibir bawahnya, menahan agar teriakannya tidak keluar. Tangannya memegang erat kedua sisi batu yang ia duduki. Beberapa tetes peluh keluar dari keningnya. Rasanya begitu sakit. Namun ia tidak ingin berteriak. Ia terlalu malu untuk melakukannya. Mengerti dengan apa yang Tiffany rasakan, Siwon berujar, “Berteriaklah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”

“Nde???” Siwon mendongak kearahnya dan tersenyum tulus. “Jangan selalu merasa jika dirimu adalah orang yang kuat. Sebagai manusia hidup, kita pasti akan berada pada posisi dimana titik kelemahan kita akan muncul, dan itu tidak akan pernah bisa kita cegah. Kau tidak bisa selamanya menahan rasa sakitmu sendiri. Orang – orang disekitarmu akan senantiasa memberikan bahu mereka untukmu bersandar, jika kau memintanya. Meminta dengan ketulusan hatimu. Menyimpan luka seorang diri, hanya akan membuatmu semakin tersiksa. Dan mungkin saja orang yang menyayangimu tanpa kau sadari, juga akan ikut terluka. Cobalah untuk tersenyum. Bahagiakanlah hatimu, setidaknya untuk dirimu sendiri. Niscaya kebahagian akan menjemputmu. Percayalah!” jarum jam berhenti berdetak, begitu pun dengan jantung Tiffany. Untaian  kalimat Siwon, seolah menjadi lirik – lirik indah yang menjelma menjadi sebuah lagu harmonis. Untuk beberapa saat, Tiffany hanya mampu menatap manik mata Siwon tanpa berkedip. Rasa sakit yang tadi menyerangnya, seakan memudar secara perlahan digantikan dengan rasa asing yang tiba – tiba mendesak masuk ke dalam lubuk hatinya. Tanpa ia sadari, buliran hangat meluncur seperkian detik dari pelupuk mata indahnya. Tiffany tidak kuasa untuk menghapus jejak mereka. otaknya terlalu sibuk mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut pria yang sukses membalikkan hatinya dalam hitungan jari.

Siwon sudah berdiri dari posisinya semula. Ia mengulurkan tangannya pada wanita yang masih terpaku di depannya. “Nona, apa kau akan duduk terus disini? Sebentar lagi malam akan tiba. Tidak baik untukmu berada disini sendirian. Lagipula angin sore ini tidak terlalu enak. Kau juga hanya memakai kaos tipis. Aku tidak mau sampai mendengarmu sakit. Itu akan sangat menyakitkan.” Sekali lagi dalam hidup Tiffany, ia terenyuh dengan ucapan Siwon. Kenapa pria ini mampu mengubah hatinya?

“Halo, nona. Kau masih hidup?”

“……….” tidak ada jawaban.

“Baiklah jika kau masih tetap berdiam diri, aku terpaksa akan menggendongmu.” Tiffany sontak membulatkan matanya. Ia langsung tersadar dari kesesatan hatinya beberapa saat lalu.

“A-apa maksud anda tuan? Jangan pernah berani macam – macam padaku atau aku akan…..” Tiffany bingung dengan kalimat apa yang akan ia ucapkan selanjutnya. “akan..?” Siwon bertanya geli melihat ekspresi gugup Tiffany. Ia mendekat kearahnya. Lalu tanpa diduga, Siwon menyampirkan jaketnya di atas bahu wanita itu. Ia juga mengeluarkan dan  merapikan rambut Tiffany yang sempat terselip diantara kaos dan jaketnya. Tiffany tersentak. Jarak mereka begitu dekat. Ia bahkan bisa mencium aroma tubuh maskulin Siwon. Mendadak jantungnya berdentum kencang. Ia merutuki hatinya yang tidak mampu menolak tindakan pria berlesung pipi ini.

“Bolehkah aku melanjutkan kalimatmu?” tanya Siwon lembut.

“Nde???” hanya kata itu yang mampu keluar dari tenggorokan Tiffany.

“Aku akan marah pada diriku sendiri jika membiarkanmu terluka.” Lanjut  Siwon serius. Dan detik itu juga dunia Tiffany beubah. Bunga – bunga seolah bertaburan diatasnya. Kupu – kupu ikut menari  bersama hembusan angin. Tiffany terjebak dalam pesona Siwon. Ia tidak tahu kenapa saat ini dirinya begitu sulit melepaskan jeratan hatinya yang tiba – tiba diikat kencang oleh pria yang berdiri di depannya. Namun satu hal yang tidak ingin diterimanya, yakni ‘CINTA.’

 

*****

Setelah selasai dengan tugasnya, Minhyuk berniat menemui kakaknya guna membicarakan perihal keluarga Krystal yang akan berkunjung besok pagi. Ia yakin jika kakaknya tengah cemas dengan apa yang akan terjadi bilamana ‘keduanya’ kembali bertemu. Tidak bisa dibayangkan olehnya, jika hal itu terjadi setelah 3 tahun berlalu. Minhyuk berjalan cepat menuju tenda Tiffany. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.

“Noona—” Minhyuk mendesah kecewa. Yang ia dapati disana hanyalah Krystal yang tengah terbaring lemah. Dengan langkah berat, ia terpaksa menghampiri gadis tersebut yang terlanjur melihat kedatangannya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dingin. Krystal memutar bola matanya. Ia heran kenapa dalam kondisi seperti ini sekalipun sang Sunbae masih bersikap dingin padanya.

“Sunbae-nim, jika kau tidak berniat untuk menanyakan kabarku, sebaiknya kau tidak perlu melakukannya.” Ucapnya ketus. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Minhyuk yang menurutnya tidak masuk akal.

“Aku datang kemari hanya untuk bertemu dengan Tiffany Noona-ku. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.” Dengan kepala yang masih terasa pening, Krystal memaksakan dirinya untuk duduk. Ia menghembuskan nafas berat sebelum bertanya,  “Sunbae-nim yang terhormat, bisakah sekali saja kau menghargaiku? Kau bahkan masih bisa bersikap kasar meskipun keadaanku sedang tidak baik. Aku tidak peduli dengan alasan kenapa kau begitu membenciku. Yang aku inginkan hanyalah keadilan. Kenapa kau tidak bisa memperlakukanku seperti kau memperlakukan yang lainnya? Apa kesalahanku begitu besar dimatamu, eoh? Apa yang telah aku perbuat sehingga membuatmu membenciku?” secara tidak sadar, Krystal meninggikan volume suaranya. Dan hal itu mampu membungkam mulut Minhyuk. Ia terperanjat dengan ucapan yang dilontarkan Krystal. Gadis itu benar. Apa yang telah dilakukannya sehingga ia harus membencinya. Apa yang pernah menimpa kakaknya dulu, belum tentu ada sangkut pautnya dengan gadis yang kini hampir menangis itu. Perasaan bersalah langsung menyerang hatinya. Tak sanggup meladeni luapan emosi Krystal, Minhyuk memilih untuk segera pergi. Krystal kembali menghempaskan tubuhnya diatas kasur tipis milik Tiffany. Ia terisak keras setelah berhasil meluapkan isi hatinya yang belakangan ini selalu mengganjal didalam dirinya.

 

*****

Minhyuk terduduk lemas. Wajahnya menyiratkan kefrustasian yang sangat dalam. Berulang kali ia mengacak rambutnya kuat. Ucapan Krystal terus  terngiang di otaknya seolah itu adalah sebuah rekaman yang tidak berhenti berputar. Kata – kata yang dilontarkan gadis itu berhasil mencambuk hatinya. Minhyuk memejamkan matanya dan menggeram keras.

YoonA yang kebetulan lewat, tidak sengaja melihat kegundahan sahabatnya yang kini tengah hancur berantakan. Merasa harus membantunya, YoonA memutuskan untuk menghampirinya.

“Oppa, gwenchana?” tanya YoonA lembut seraya duduk disampingnya dan menggenggam bahunya lembut. Minhyuk langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara halus YoonA.

“Oh Yoong, ada apa?”

“Ada apa?” YoonA mengernyitkan keningnya. “Oppa, seharusnya itu pertanyaanku. Sejak tadi aku melihatmu duduk gelisah. Apa terjadi sesuatu?”

“Aniyo.” Minhyuk mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin YoonA menyadari raut wajahnya yang tengah frustasi.

“Kau tidak bisa berbohong padaku Oppa.” Jawab YoonA cepat. Minhyuk menghela nafas sejenak, gadis disampingnya ini tidak akan pernah menyerah sebelum ia mendapatkan jawabannya.

“Baiklah. Aku akan menceritakannya padamu. Tapi berjanjilah kau tidak akan membahas masalah ini di depannya.” YoonA mengangguk setuju. “Oke.”

Minhyuk menceritakan semuanya dari awal. YoonA tersentak kaget saat Minhyuk menjelaskan apa yang telah menimpa kakaknya di masa lalu. YoonA memang mengetahui keadaan Tiffany ketika ia dalam masa keterpurukan. Namun yang ia tahu hanyalah pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya. YoonA tidak tahu persis penyebabnya. Airmata tiba – tiba lolos dari pelupuk matanya, membayangkan betapa sakitnya perasaan Tiffany kala itu. Kini ia tahu, mengapa Minhyuk begitu membenci Krystal.

Tanpa mereka ketahui, Krystal berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada. Ia hendak mencari udara segar setelah hampir seharian tidur di dalam tenda. Nafasnya tercekat tatkala mendengar penuturan Minhyuk pada YoonA. Dadanya begitu sesak mengetahui kebenaran yang membuatnya diasingkan oleh pria yang telah berhasil membuatnya menangis. Krystal tidak menyangka jika kakaknya berada dibalik semua ini. Ia membalikkan badannya dan berjalan lunglai dengan derasnya airmata yang tidak henti – hentinya mengalir.

 

*****

Tiffany masih belum bisa berpikiran normal. Ingatannya masih melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu dimana ia hanya mampu membisu dengan semua perlakuan Siwon terhadapnya. Tersenyum? Sejak kapan ia melupakannya? Tiffany sadar, ia jarang sekali tersenyum lepas seperti kebanyakan orang. Jika pun pernah, ia melakukannya dengan terpaksa ataupun hanya sekilas.

Apa yang baru saja dituturkan Siwon  sukses membuatnya terhempas dari kegelapan yang selama ini membelenggunya. Tiffany tersenyum miris memikirkannya. Kenangan pahitnya dulu kembali terputar. Kapan aku bisa melupakannya?  Batinnya.

Saat ia tengah hanyut dalam kenangannya, suara lengkingan Taeyeon menyadarkannya. “Tiff, bangunlah!  apa yang sedang kau pikirkan, eoh?”

“Aishh.. Taeng, kenapa kau selalu mengagetkanku?” renggut Tiffany kesal.

“salahmu sendiri. Kenapa sedari tadi kau hanya melamun saja?” Taeyeon mengambil tempat di depan Tiffany. Mereka kini tengah duduk diatas tikar yang di gelar Tiffany di depan tendanya.

“Oh iya bagaimana keadaan Krystal?” lanjut Taeyeon setelah mengingat keberadaan Krystal di dalam tenda mereka.

“Sudah agak baikan. Tapi entah kenapa sejak tadi ia hanya diam saja. Bahkan matanya terlihat sangat bengkak. Sepertinya ia telah menghabiskan airmatanya sepanjang hari.” Jelas Tiffany membayangkan bagaimana kondisi Krystal saat terakhir kali ia melihatnya.

“Apa ia punya masalah?”

“Mollayo.”

Saat mereka tengah asyik mengobrol, sosok yang sejak tadi berkeliaran di pikiran Tiffany tiba – tiba muncul di hadapan mereka.

“Tiffany-ssi, Taeyeon-ssi, aku ingin bertemu dengan Krystal.”

“Eoh, tuan Choi?” Taeyeon sontak berdiri mendapati atasannya berada dihadapannya. Berbeda dengan Tiffany yang tidak bergerak sedikitpun. Taeyeon melirik sekilas kearahnya, ia geram dengan tingkah sahabatnya yang tidak bisa bersikap sopan terhadap atasannya sendiri.

“Boleh aku masuk?” tanya Siwon lembut tanpa mempedulikan sikap acuh Tiffany.

“Tentu saja tuan, silahkan!” Taeyeon mempersilahkan Siwon untuk masuk. Sementara Tiffany, ia masih tidak bergeming di tempatnya. Wanita cantik itu belum bisa menghadapi Siwon sejak kejadian yang membuat hatinya berperang dengan pikirannya.

Taeyeon hanya menghela pasrah melihat Tiffany yang kembali termenung.

 

*****

Siwon menghampiri Krystal yang berbaring membelakanginya. Bahunya sedikit bergetar akibat menangis. Rupanya ia belum bisa melupakan percakapan antara Minhyuk dengan yoonA yang tak sengaja ia dengar.

Siwon menyentuh bahu Krystal lembut. Ia tahu adik sepupunya ini tidak bisa bertahan di tempat seperti ini. Krystal tumbuh di lingkungan kalangan atas. Ia selalu dimanjakan oleh harta yang bergelimang. Siwon mengira jika Krystal bersedih karena ia sudah tidak sanggup lagi berada di perkemahan ini. Untuk itulah Siwon ingin mengajaknya pulang.

“Krys-ah..” mendengar suara Siwon, Krystal bergegas menyeka airmatanya. Ia membalikkan badannya dan tersenyum palsu.

“Ne, Oppa.” Jawabnya serak.

“Bagaimana jika besok pagi kita pulang?” Krystal menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti kenapa Siwon mengajaknya pulang secara mendadak.

“Ada Oppa? Bukankah kita masih ada waktu 2 hari lagi?”

“Krys, aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Aku takut kau tidak akan bisa bertahan sampai 2 hari kedepan.” Krystal menundukkan kepalanya. Ia sadar jika keberadaan dirinya disini hanya merepotkan semua orang. Terlebih kenyataan pahit yang baru saja diketahuinya membuatnya tidak mampu berpikiran jernih.

“Baiklah Oppa.” Siwon meraih tangan Krystal seraya berkata, “Aku akan mengantarmu besok. Sekarang istirahatlah! Jangan terlalu banyak menangis ne, kau terlihat jelek dengan mata sembabmu itu.”

Krystal tertawa kecil, “Kau akan menyesal karena mengatakan aku jelek Oppa.” Siwon ikut tertawa. Ia mengacak rambut Krystal dan menuntunnya untuk kembali berbaring. Detik berikutnya pria itu mencium kening Krystal, “Mimpilah yang indah baby Jung.”

‘aku tidak yakin bisa bermimpi indah, Oppa.’ Batin Krystal setelah Siwon hilang dari pandangannya.

 

*****

Pagi ini Siwon sudah bersiap – siap untuk mengantar Krystal pulang. Ia berdiri di depan tenda krystal yang sejak 20 menit yang lalu tidak kunjung keluar. Kesal? Tentu saja. Semua wanita sama saja. Selalu lama jika sudah berurusan dengan penampilannya. Tampak Tiffany, Minhyuk dan Taeyeon menghampirinya. Walau bagaimanapun mereka harus mengucapkan salam perpisahan sebelum Krystal dan Siwon meninggalkan perkemahan ini. Siwon telah terlebih dulu menghubungi supir pribadinya untuk menjemput mereka. ia juga memberitahukan pada keluarga Jung agar tidak perlu mengirimkan orang untuk menjaga Krystal.

Setelah sekian menit mereka menunggu, Krystal akhirnya keluar dengan mimik wajah yang terlihat suram. Ia menatap Tiffany dan Minhyuk secara bergantian. Lalu tanpa aba – aba ia langsung menghambur ke pelukan Tiffany dengan isakan yang kembali menyeruak. Tiffany terperangah. Ia bingung dengan sikap Krystal yang mendadak aneh.

“Seonsaengnim, mianhae.. jeongmal mianhae.” Tiffany mengendurkan pelukannya. Ia menatap mata Krystal yang sudah basah.

“Untuk apa?” Tanyanya pelan.

“Untuk luka yang ditorehkan kakakku.”

DEG!

Tiffany terpaku. Apa ia tidak salah dengar? Untuk beberapa saat Tiffany hanya mampu mematung. Ia tidak sanggup merespon ucapan Krystal. Gadis yang berhasil membuatnya membisu itu kini beralih menghampiri Minhyuk.

“Minhyuk sunbae, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kita sayangi menderita. Aku berjanji akan berusaha menebus semua kesalahan yang dilakukan oleh kakakku. Tapi tolong beri aku waktu untuk mencari akar permasalahannya.” Minhyuk mengernyit hebat. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Krystal. Kenapa gadis ini tiba – tiba meminta maaf padanya –lebih tepatnya meminta maaf untuk kakaknya—Siwon yang tidak tahu menahu dengan permasalahan mereka, lebih memilih untuk diam. Ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain yang bukan menjadi urusannya.

“Krys-ah, kajja!” Krystal menoleh ke belakang. Ia menghapus jejak – jejak airmata yang masih bersisa di pipinya.

“Ne, Oppa.”

“Tiffany-ssi, aku serahkan semua urusan disini padamu. Aku yakin kau bisa andalkan.” Tiffany yang masih terdiam, tersentak dengan suara bass Siwon.

“Eoh?? Ah ne, baiklah.” Detik berikutnya Siwon dan Krystal berlalu menuju mobil mereka yag telah siap mengantar keduanya pulang.

 

*****

Setibanya di kediaman mewahnya, Krystal langsung berlari menuju kamar kakaknya yang sudah 3 tahun tidak berpenghuni. Ia segera mencari benda apaun yang dapat menguak semua teka – teki yang sejak kemarin bersarang di kepalanya. Siwon yang bingung dengan sikap aneh adik sepupunya, memutuskan untuk duduk di sofa. Ia ingin menunggu sampai Krystal siap menceritakan apa yang mengganggu pikirannya.

Setelah mencari kesana kemari, Krystal akhirnya menemukan sebuah buku diary bersampul biru dengan ukiran tulisan ‘Jung Jessica’. Dengan tangan yang bergemetar, Krystal membuka buku itu secara perlahan. Ia mengamati setiap kata yang tercetak disana.

Dear diary,

Aku Jung Jessica. Aku ingin berbagi cerita denganmu. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Kau tahu? Kini statusku sudah berubah menjadi seorang mahasiswa. Aku juga bertemu dengan seorang teman yang super cantik dan pintar. Namanya Tiffany Hwang. Entah kenapa aku langsung merasa nyaman dengannya. Ia mampu membuatku tersenyum sepanjang hari. Ini adalah kali pertama aku menemukan seorang teman yang berhasil menyejukkan hatiku saat menatap wajahnya. Ia begitu polos dan memancarkan aura ketulusan juga kelembutan. Aku benar – benar menyukainya. ©©©©©

Oh iya aku hampir lupa. Ada satu hal lagi yang membuatku semakin bahagia. Aku bertemu pria tertampan yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Tubuhnya yang kekar, wajahnya yang tampan dan senyumnya yang menggoda. Kau tahu siapa pria itu? Dia Lee Dongwook. Seniorku di kampus baruku. Oh I’m so so happy…………..

 

Krystal tersenyum miris, ia kemudian membuka kembali halaman berikutnya.

Dear diary,

Tolong katakan padaku apa yang harus kulakukan? sahabatku Tiffany, ternyata menyukai pria yang sama. Ia begitu sangat memujanya. Aku bingung bagaimana aku harus bersikap terhadapnya. Di satu sisi aku dan Dongwook Oppa saling mencintai. Tapi di sisi lain aku tidak ingin menyakiti Tiffany. Aku sangat menyayanginya. Hingga detik ini ia tidak tahu perihal hubunganku dengan Dongwook Oppa. Aku tidak sempat mengatakannya, karena ia terlebih dulu mengungkapkan perasaannya di saat yang sama ketika aku dan Dongwook Oppa memutuskan untuk menjalin hubungan spesial. Awalnya aku ingin memberinya kejutan. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Dan kau tahu apa yang membuatku semakin dilema? Dongwook Oppa menerima cintanya. Aku marah padanya, sangat marah. Namun ia terus membujukku. Ia mengatakan jika cintanya hanyalah untukku. Dongwook Oppa hanya ingin memanfaatkan kepintaran Tiffany untuk membantunya mendapatkan beasiswa agar ia bisa melanjutkan study-nya di London. Dan bodohnya aku, aku membiarkannya melakukannya. Aku terlalu dibutakan oleh cinta. Aku tidak sanggup melepaskan cintaku untuk sahabatku.

 

Dear diary,

Hidupku semakin tersiksa dengan semua kebohongan ini. Semakin hari Tiffany semakin mencintainya. Dan sepanjang itu pula, aku mengkhianatinya. Setiap kali Dongwook Oppa berkencan dengannya, ia selalu menggenggam tanganku tanpa Tiffany sadari. Tiffany tidak tahu jika selama ini kekasih yang begitu ia cintai selalu menghabiskan waktunya bersamaku. Ia tidak pernah luput bercerita padaku tentang bagaimana kisah cintanya bersama Dongwook Oppa yang sesungguhnya hanyalah sebuah kepalsuan. Hatiku sangat sakit jika memikirkannya. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan sandiwara ini. Namun aku juga bukanlah makhluk yang kuat yang mampu mengungkapkan kebenaran. Aku terlalu takut untuk kehilangan semuanya. Aku seorang pengecut.

 

Dear diary,

Aku sungguh takut, Tiffany mulai mencium ada ketidakberesan antara aku dan Dongwook Oppa. Ia merasa jika sikap Dongwook Oppa mulai berubah. Menyadari hal itu, Dongwook Oppa segera bertindak cepat. Ia tidak ingin usahanya untuk mendapat beasiswa, harus berakhir sia – sia. Untuk itulah ia meyakinkan Tiffany dengan mengajaknya bertunangan. Tiffany sangat behagia, dan aku senang melihatnya. Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika hatiku sangatlah sakit.

Pertunangan akan diadakan seminggu dari sekarang. Aku berdebat sengit dengan Dongwook Oppa. Aku ingin ia segera mengakhiri permainannya. Aku tidak ingin ia menyakiti Tiffany lebih banyak. Aku tahu Dongwook Oppa akan memutuskan pertunangannya begitu ia berhasil mendapatkan surat kelulusan beasiswanya.

Dan mimpi buruk pun terjadi. Disaat aku dan Dongwook oppa tengah bedebat, Tiffany berdiri di ambang pintu dengan airmata yang bercucuran membasahi pipinya. Ia berlari meninggalkan kami. Tiffany enggan menyahut panggilanku. Ia terus berlari hingga menghilang dari pandanganku.

Sejak saat itu, kami bagaikan sepasang orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Aku selalu berusaha mendekatinya, namun ia selalu menjauh. Ia tidak ingin lagi aku muncul dihadapannya. Hancur sudah persahabatan yang telah kami bangun selama ini. Dan aku-lah penyebab kehancuran itu.     

 

Krystal menutup buku diary kakaknya dengan hati yang bergemuruh. Titik – titik air yang pada awalnya hanya menetes satu persatu, kini berubah menjadi gelombang air yang siap membanjiri seisi ruangan kamar milik Jessica. Dadanya sesak, kepalanya terasa berat. Tangisnya pun pecah.

 

*****

Tiffany termenung di balkon kamarnya dengan sebuah cincin yang berada di genggamannya. Ia kembali teringat dengan ucapan Krystal dua hari yang lalu di perkemahan. Ingatannya kembali melayang pada kenangan 3 tahun yang lalu.

 

“Tiffany!! Lihatlah apa yang aku bawa.” Dengan senyuman yang terus mengembang, Jessica memperlihatkan sebuah cincin couple berinisial huruf ‘J’ dan ‘T’. Ia menyerahkan cincin dengan huruf ‘J’ pada Tiffany. “ini untukmu.” Tiffany mengambil cincin tersebut dari tangan Jessica. “Untukku?” Jessica mengangguk cepat.

“Kau sengaja membuatnya Jess?” wanita berambut blonde itu langsung merangkul bahu sahabatnya. “Tentu saja. Aku ingin kau selalu memakainya Tiff,” ucapnya lembut. Tiffany meraih tangan Jessica yang terbebas. Ia menatapnya dengan tatapan sendu. “Always my bestie.”  Kedua wanita cantik itu berpelukan menyalurkan rasa sayang mereka yang begitu dalam.

 

Tiffany menengadahkan kepalanya guna menahan airmatanya agar tidak keluar. Ia sudah lelah menangis. Persahabatan manisnya bersama Jessica harus berakhir dengan cara tragis. Ia menatap cincin dalam genggamannya. Dengan lembut, ibu jarinya menelusuri bentuk cincin tersebut.

“Seandainya kau tidak membohongiku, kita pasti masih bersama Jess.” Gumamnya pelan.

“Noona?” tanpa Tiffany sadari, Minhyuk sudah berdiri di belakangnya mengamati setiap gerakannya.

“Eoh? Minhyuk-ah..”

“Kau masih mengingatnya?”

“Aku tidak mungkin bisa melupakannya Hyuk-ah.”

“Tapi mereka sudah mengkhianatimu Noona. Ingat itu!” Minhyuk sedikit meninggikan volume suaranya.

“Aku tahu. Tapi Jessica…. aku tidak yakin bisa menghapusnya.” Tiffany menunduk lemah. Tangisannya mendesak keluar. Minhyuk mengusap rambutnya kasar. Ia tidak tahu dengan cara apa lagi ia bisa membantu Tiffany melupakan masa lalunya.

“Semuanya tergantung padamu Noona.” Minhyuk pergi meninggalkan Tiffany bersama isakannya.

 

*****

Dengan tergesa – gesa Krystal berlari menemui kakak sepupunya Choi Siwon. Nyonya Choi yang tengah memasak pun terperangah dengan kehadiran keponakannya yang tiba – tiba tanpa mengucapkan salam.

“Krys-ah, ada apa nak? Kenapa kau terburu – buru?”

“Imo, apa Siwon Oppa ada dikamarnya?” teriak Krystal dari arah tangga.

“Ne, ia ada dikamarnya.” Tidak menunggu waktu lama lagi, Krystal langsung menerobos masuk kedalam kamar Siwon.

“Yak!! Jung Krystal!!! Kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu!!” beruntung Siwon telah selesai mengganti pakaiannya. Jika tidak, entahlah bagaimana jadinya.

“Salah Oppa sendiri kenapa tidak menguncinya.” Tanpa merasa bersalah, Krystal langsung duduk di pinggiran tempat tidur Siwon.

“Oppa, beri aku alamat Tiffany seonsaengnim.” Sambungnya. Alis Siwon bertaut. Ia heran kenapa Krystal mendadak meminta alamat Tiffany. Merasa diberi jalan, Siwon pun menanyakan perihal yang sejak kemarin terus ditundanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan keluarga Hwang?” tanya Siwon to the point. Krystal sedikit ragu untuk menceritakannya pada pria yang usianya jauh di atasnya itu. Ia melihat ke segala arah untuk menghindari tatapan Siwon.

“Krystal jawab aku.” Tegas Siwon. Takut dengan reaksi Siwon kedepannya, gadis itu akhirnya memulai ceritanya.

Siwon shock dengan cerita yang dituturkan Krystal. Ia sama sekali tidak tahu dengan apa yang dialami sepupunya Jessica. Kala itu Siwon tengah menyelesaikan study-nya di Amerika. Jadi wajar saja jika ia terkejut. Dari kenyataan ini Siwon dapat menyimpulkan darimana sifat dingin Tiffany bermula.

 

*****

TING TONG

Suara bel pintu menghentikan aktivitas Tiffany yang tengah mencuci piring – piring kotor. Ia mematikan kran dan menglap tangannya yang basah. Lalu kemudian ia berjalan kearah pintu utama. Saat pintu terbuka lebar, Tiffany terperanjat mendapati Siwon dan Krystal berada di depan rumahnya.

“Annyeong seonsaengnim.” Sapa Krystal ramah.

“A-annyeong..”

“Boleh kami masuk?” timpal Siwon.

“Ah ne, tentu saja. Silahkan.” Siwon terkagum – kagum dengan gaya rumah Tiffany yang minimalis namun tidak menghilangkan kesan elegan dan kenyamanan. Ia duduk di sofa panjang putih yang langsung berhadapan dengan meja makan yang hanya dibatasi oleh sebuah lemari besar.

Setelah memperbaiki posisi duduknya, Tiffany memberanikan diri untuk bertanya. “Mian, kalau boleh aku tahu ada kepentingan apa anda kemari tuan Choi?” Siwon berdehem sejenak sebelum menjawab pertanyaan Tiffany. “Aku hanya mengantar Krystal. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan denganmu.” Gadis disamping Siwon itu tampak gugup. Ia memain – mainkan kuku jemarinya.

“Krys, bicaralah.” Siwon menggenggam tangan Krystal yang dingin seperti es.

“S-seonsaengnim.. maukah kah kau memaafkan Jessie Eonnie? Aku mohon maafkan dia. Aku tahu Eonnie telah melakukan kesalahan besar padamu. Tapi aku mohon seonsaengnim, berilah ia maafmu.” Lirih Krystal dengan suara yang bergetar. Ia tidak mampu mengangkat kepalanya.

“Apa kakakmu tidak punya nyali sehingga ia harus menyuruhmu untuk meminta maaf padaku?” tanya Tiffany sinis.

“Bukan nyali yang tidak dimilikinya melainkan kesehatan mental.”

Zeeepppppp

Bagai disiram air es, Tiffany membeku di tempatnya. Kesehatan mental? Apa itu artinya…..

“A-apa maksudmu Krystal?”

“3 tahun yang lalu, setelah kalian berpisah, Eonnie dan Dongwook Oppa bertengkar hebat. Eonnie memaksa Dongwook Oppa untuk meminta maaf padamu apapun caranya. Tapi Dongwook Oppa bersikeras ingin tetap pergi ke London hari itu juga. Dongwook Oppa berhasil mendapatkan beasiswanya. Ia pergi meninggalkan Jessie Eonnie. Selang berapa jam setelah keberangkatannya, Jessie Eonni mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Dongwook Oppa mengalami kecelakaan dan ia tewas seketika. Jessie Eonnie terguncang. Ia menjerit histeris. Dan sejak saat itu, jiwanya mulai terganggu. Appa dan Eomma menyembunyikannya di rumah sakit jiwa di daerah Busan. Mereka tidak ingin nama baik keluarga Jung tercoreng hanya karena kabar putri mereka yang sakit jiwa. Mereka bahkan tidak pernah mengizinkanku untuk menjenguknya. Mereka takut ada orang yang tidak sengaja melihatku berada disana. Aku sangat merindukannya. Eonnie pasti ketakutan tinggal seorang diri tanpa ada orang yang menyayanginya disampingnya. Jadi aku mohon seonsaengnim, hanya kau-lah satu – satu harapanku untuk menyembuhkan Jessie Eonnie. Aku mohon seonsaengnim, aku mohon.” Siwon memeluk Krystal yang sudah tidak sanggup lagi mempertahankan daya tahan tubuhnya yang semakin bergetar hebat. Krystal terisak keras dipelukan Siwon.

Tidak jauh berbeda dengan Krystal, Tiffany pun ikut terguncang. Ia tidak menyangka jika keadaan sahabat yang sempat ia benci lebih menderita daripada dirinya. Tiffany merutuki hatinya yang keras yang tidak mau memaafkan kesalahan sahabatnya. Dengan perlahan, ia mendekati Krystal. “Krystal..” panggilnya lembut. Siwon melepaskan pelukannya pada Krystal. Ia lalu menyerahkannya pada Tiffany. Dengan sedikit ragu, wanita bermarga Hwang itu memegang pipi kanan Krystal. “Bisakah kau beritahu aku dimana alamat Jessica berada saat ini?” walaupun  sempat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar, namun Krystal senang karena akhirnya Tiffany mau menemui kakaknya.

“Dengan senang hati seonsaengnim.”

 

*****

Tiffany berdiri kaku di depan sebuah gedung berdominasi putih yang ukurannya tidak terlalu besar seperti kebanyakan rumah sakit pada umumnya. Tempat ini sangat jauh dari kehidupan orang – orang. Terbesit dalam benaknya, kenapa orang tua Jessica harus tega mengasingkan anaknya di tempat seperti ini? Bahkan adiknya sendiri pun tidak diperbolehkan untuk menjenguknya. Setitik air menetas dari pelupuk mata indahnya. Ia tidak menyangka wanita yang dulu sangat ceria dan selalu membuatnya tersenyum, kini harus berada di sebuah ruangan yang sepi yang hanya di temani oleh sebuah ranjang besi kecil dan satu pasang meja-kursi.

Tiffany melangkah masuk menelusuri lorong – lorong sempit yang hanya cukup untuk dua orang pejalan kaki. Ia berhenti di depan kamar bernomor  120. Setelah mengambil nafas panjang, Tiffany meraih handle pintu yang terasa dingin. Hawa ketegangan menjalar di seluruh tubuhnya. Dengan langkah yang diseret, Tiffany memberanikan diri untuk masuk.

Saat pintu terbuka lebar, tampaklah sesosok wanita yang tengah duduk di atas ranjang dengan pakaian khas pasiennya. Pandangannya kosong. Kepalanya sedikit tertunduk dan ia miringkan ke sebelah kiri. Entah apa yang ia lihat saat ini.

Tiffany terperanjat dengan pemandangan yang ia saksikan di depan matanya. Rambut wanita itu tidak beraturan. Wajahnya sangat kusut. Di  kedua matanya terdapat lingkaran hitam yang cukup besar. Bibirnya kering. Tubuhnya juga sangat kurus. Tiffany menutup mulutnya dengan kedua tangannya guna meredam suara tangisannya. Ia kehilangan sosok Jessica yang ia kenal dulu. Pertahanannya runtuh. Ia tidak sanggup lagi untuk berdiri.

Setelah cukup lama menenangkan dirinya, Tiffany akhirnya memantapkan kakinya untuk menghampiri teman lamanya. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Jessica. Tak mampu untuk membendung airmatanya, kini Tiffany menangis keras di dalam pelukan Jessica.

Wanita yang saat ini di peluknya tidak bergeming. Ia sama sekali tidak merespon kehadiran Tiffany. “Jessie, sadarlah! Lihat aku! Aku kembali untukmu. Mianhae karena telah membuatmu seperti ini. Jeongmal mianhae.” Isakan Tiffany semakin kencang. Ia menyalurkan seluruh rasa rindu, sedih dan kecewa di balik tubuh kurus Jessica. Tiffany sangat merindukannya. Sangat sangat merindukannya. Ia tidak pernah berharap akan bertemu kembali dengan Jessica dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Perlahan Tiffany melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah tirus Jessica yang masih tidak bereaksi. Tangannya merogoh tas kecilnya untuk mengambil benda yang paling berharga baginya dan juga Jessica. Sebuah cincin persahabatan yang pernah Jessica berikan padanya dulu.

“Lihatlah ini! Apa kau masih mengingatnya? Dulu kau selalu bilang padaku kalau aku tidak boleh melepasnya barang sejenakpun. Dan sekarang lihatlah! Aku memakainya Jess. Aku akan selalu memakainya sampai kapan pun. Kau tidak boleh curang. Mana tanganmu? Aku ingin tahu apa kau juga masih memakainya?” Tiffany terus mengoceh seolah Jessica bisa mendengarnya. Dan sangat mengejutkan! Saat Tiffany mengangkat tangan kiri Jessica, ia menemukan sebuah cincin yang sama yang melingkar di jari manisnya. Cairan bening kembali menyeruak. Pantaskah ia disebut sebagai pengkhianat? Ia bahkan tidak pernah melepaskan cincin persahabatan mereka meskipun keadaannya saat ini jauh berada di alam sadarnya.

“Bodoh! Kau memang bodoh Tiff! Apa pantas kau meninggalkannya? Kenapa kau pergi darinya hanya karena seorang pria. eoh? Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Tiffany menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Jessica. Ia mengeluarkan seluruh airmatanya disana.

“Tiffany….” merasa ada seeorang yang memanggilnya, sontak Tiffany mendongak. Jessica bergumam dengan pandangan yang masih lurus ke depan. Lalu….

“Kau orang yang jahat Jess! Kau tidak pantas memanggil nama Tiffany! Kau telah menghancurkan kepercayaannya! Pergi kau Jessica! Pergiiiii!!!!!” mendadak Jessica mengamuk. Ia mengacak – acak rambutnya dan melemparkan bantal – bantal yang ada di atas ranjangnya. Tiffany panik. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

Dua orang perawat masuk kedalam ruangannya dengan jarum suntik berisi obat bius ditangannya. Tiffany terperangah. Saat mereka akan menyuntikannya pada Jessica, Tiffany menjerit. “Andwe!! Apa yang kalian lakukan?”

“Kami harus membiusnya nona. Pasien ini tidak akan berhenti sebelum kami memberinya obat bius.” Ujar salah satu perawat.

“Tidak suster! Tolong jangan lakukan itu! Biarkan aku yang menenangkannya.” Mohon Tiffany dengan suara lembut.

“Tapi nona—“

“Aku mohon..” kedua perawat itu mundur. Mereka tetap mengawasi Tiffany yang kini mencoba meraih tubuh lemah Jessica.

“Jessie, tenanglah. Dengarkan aku. Kau bukanlah orang jahat. Kau adalah malaikatku. Kau boleh memanggil namaku sepuasmu. Berhentilah menyalahkan dirimu.” Entah karena sudah kelelahan atau memang karena bujukan Tiffany, kini Jessica sudah mulai tenang. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi yang meliuk bagaikan anak kucing yang tengah tertidur. Tiffany menyelimutinya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Mata Jessica perlahan – lahan terpejam. Dengkuran halus begitu cepat terdengar dari mulutnya.

Tiffany tidak lepas memandangnya. Saat tidur seperti ini, wajah Jessica terlihat damai tidak seperti saat ia pertama kali masuk ke ruangan ini. Sekian menit berlalu. Tiffany masih setia menunggunya. Ia menceritakan beberapa kisah indah ketika mereka masih bersama dulu. Ada setetes air yang keluar dari mata Jessica. Tiffany segera menyekanya. Ia berharap itu adalah pertanda bahwa Jessica menyadari keberadaannya.

 

*****

Krystal keluar dari ruang kelasnya ditemani Luna. Ia tampak tidak bersemangat. Pikirannya melayang pada pertemuan Tiffany dengan kakaknya. Hingga suara seseorang, menyadarkannya.

“Jung Krystal, bisa kita bicara sebentar?” Krystal menoleh kearah sumber suara. Ia terkejut mendapati Minhyuk sudah menunggunya di samping ruang kelasnya.

“Ah, tentu saja Sunbaenim.” Luna tersenyum menggoda pada Krystal. Ia berbisik, “Ini kesempatanmu Krystal.” Krystal memberikan tatapan mematikannya pada Luna. “Jangan berpikir macam – macam Luna. Kami hanya akan membicarakan hal penting yang harus kami selesaikan.” Desisnya.

“Terserah. Yang penting kalian berduaan. Hihihi..”

“Kau…” baru saja Krystal akan mengajukan protes pada temannya, suara deheman Minhyuk menginterupsinya.

“Ehem!! Bisa kita pergi sekarang?”

“Oh, ne tentu saja.” Krystal berjalan di belakang Minhyuk. Sesekali ia melirik punggung tegap pria di depannya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia bersandar di punggungnya. Krystal pun tersenyum konyol.

“Kau kenapa?” karena terlalu asyik melamun, Krystal tidak sadar jika mereka sudah sampai di tempat yang dituju Minhyuk.

“Eoh? Aniyo. Aku tidak apa – apa.” Jawab Krystal gugup.

“Duduklah!” Krystal menghembuskan nafas panjang menanggapi sikap dingin Minhyuk.

Mereka kini tengah berada di kantin kampus. Minhyuk memilih meja paling ujung yang agak sepi. Ia ingin membicarakan hal yang serius dengan Krystal.

“Kau mau minum apa?”

“Apapun asalkan bukan racun.”

“Apa kau berfikir aku akan meracunimu?”

“Nde???”

“Tch, sudahlah.” Minhyuk melambaikan tangannya memanggil salah satu pelayan. Ia lalu memesan dua buah gelas orange juice. Setelah pelayan itu pergi, Krystal memberanikan diri untuk bertanya.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Jung Jessica.” Krystal mengangguk cepat. Ia sudah menduga akan hal ini.

“Oke.”

 

*****

Tiffany masih belum puas bercerita pada jessica. Ia menghabiskan separuh waktunya hari ini untuk menemani wanita yang kini tengah tertidur pulas. Saat ia tengah asyik bercerita, sebuah tangan kekar menyentuh bahunya. Tiffany sontak menoleh.

“Tuan Choi?”

“Hey, bagaimana keadaan Sica?” Siwon beralih duduk di tepi ranjang yang ditempati Jessica. Ia menatap lurus kearah sepupunya tersebut.

“Seperti yang ada lihat tuan. Kondisinya masih sama.” Lirih Tiffany. Siwon mengalihkan pandangannya pada Tiffany. “Tiffany-ssi, bisakah kau tidak berbicara formal padaku di luar jam kerja?”

“Nde?” Tiffany mengerutkan keningnya. “A-aku….”

“Aku ingin kita berteman.” Sambung Siwon.

Tiffany kembali tercengang. Kenapa pria di depannya ini selalu membuat kejutan untuknya?

“T-tuan…”

“Panggil aku Siwon.” Tiffany menghela pasrah. Pria bernama Choi Siwon ini memang tidak pernah mau kalah.

“Baiklah, S-Siwon.” Jawab Tiffany yang masih canggung menyebut nama tersebut. Siwon menampakkan lesung pipinya. Ia senang karena akhirnya ia bisa membujuk Tiffany.

Suara lenguhan panjang menyentak kedua insan yang tengah duduk canggung. Tiffany reflek mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Dilihatnya Jessica yang sedang membuka matanya perlahan.

“Euungghhhhh…..” Jessica menggeliat pelan. Ia mengerjap – erjapkan matanya menyempurnakan penglihatannya. Ketika tatapannya beradu dengan tatapan Tiffany, ia terkejut. Tubuhnya spontan melompat turun dari ranjangnya.

“Kau.. kau…” Jessica gemetar ketakutan. Tiffany dan Siwon saling pandang. Mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya.

“Jessie, kau kenapa? Apa kau mengenalku?” Tiffany berusaha meraih tangan Jessica. Namun wanita itu menepisnya.

“Pergi!! Pergi!! Kau jahat!! Kau telah mengurungku disini!! Aku hanya ingin Tiffany!! Aku ingin Tiffany!! Hanya dia yang bisa mengerti aku. Pergiiii!!!!!” Tiffany kembali berurai airmata. Tidak peduli dengan amukan Jessica, ia meloncat untuk memeluknya.

“aku disini Jess. Ini aku Tiffany.” Jessica terus memberontak. Dengan terpaksa, Tiffany melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua bahu Jessica kencang.

“Tatap aku Jessie!” Jessica menatap Tiffany dengan tatapan bingung. Ia mengedip beberapa kali. “Aku Tiffany Hwang. Kau lupa padaku?” perlahan Jessica mundur. Ia menggeleng – gelengkan kepalanya. “Tidak.. tidak mungkin. Tiffany marah padaku. Ia tidak ingin menemuiku.” Punggung Jessica menabrak dinding dibelakangnya. Ia terpaksa berhenti melangkah.

“Tapi ini sungguh aku Jess. Aku datang untukmu. Percayalah!” Tiffany berjalan mendekat, ia meraih tangan Jessica yang masih terbebas. Sementara Siwon, ia hanya mampu menyaksikan kedua sahabat yang telah lama berpisah tersebut. Pria itu tidak ingin merusak suasana hangat yang sedangTiffany bangun.

“Tiffany?” ucap Jessica parau. Tiffany mengangguk cepat. Kini wanita itu sudah mulai tenang sehingga Tiffany bisa dengan mudah mengendalikannya.

“Kembalilah seperti dulu Jess. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.” Tiffany mengelus lembut rambut Jessica yang berantakan. Kakak dari Jung Krystal itu tertunduk lemas. Alam sadarnya sedikit demi sedikit mulai tumbuh. “Benarkah?” tanyanya seraya mendongak kearah Tiffany. “Kau bisa pegang janjiku.” Akhirnya senyuman yang sudah lama Tiffany nantikan kini telah hadir kembali. Jessica tersenyum manis padanya. Tanpa jeda waktu, Tiffany langsung memeluk sosok rapuh tersebut. Dan tangis mereka pun tumpah ruah memenuhi seisi ruangan.

 

*****

Krystal tidak menyangka pria yang selama ini selalu bersikap dingin padanya, saat ini tengah meminta satu kata maaf darinya. Minhyuk sadar, ia tidak sepantasnya memperlakukan Krystal dengan tidak adil. Kala itu ia hanya terbawa emosi mendengar marga Jung yang akan mengingatkannya pada penderitaan kakaknya. Minhyuk menunduk malu, ini adalah kali pertama ia meminta maaf pada seorang gadis. Melihat ekpresi menggemaskan yang ditimbulkan Minhyuk secara tidak sengaja, malah membuat Krystal tidak mampu menahan tawanya. Sadar akan tatapan tajam yang diberikan Minhyuk padanya atas perbuatannya, Krystal berdehem keras untuk menghetikan tawanya.

“Ehem! Maaf aku tidak bermaksud menertawakanmu.” Krystal memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman.

“Jadi, apa kau akan memaafkanku? Ingat, aku hanya akan memintanya satu kali.” Lagi – lagi sifat dinginnya muncul.

“Baiklah, karena aku seorang pemaaf, maka aku akan memaafkanmu sunbae-nim.” Minhyuk mendelik sebal. Sifat sombong Krystal membuatnya mual. “Bisakah kau menghilangkan sifat sombongmu itu nona Jung? Aku tidak tahan melihatnya.”

“Mwo?? Kaulah yang seharusnya menghilangkan sifat dinginmu itu Hwang Minhyuk.”

“Tch, berbicara denganmu hanya akan membuat darahku mendidih.” Minhyuk berdiri dan meninggalkan Krystal yang masih membelalak tak percaya.

“Yakk!!! Hwang Minhyuk!!! Tunggu!!! Urusan kita belum selesai.”

 

Dari kejauhan, YoonA berdiri dengan berlinang airmata. Ia tahu perasaannya tidak akan pernah terbalaskan. Dengan kasar ia menyeka buliran hangat yang terus mengalir membanjiri pipinya.

“Kau masih menunggunya?”

“Apa aku begitu bodoh masih mengharapkan cintanya?”

“Tidak ada yang salah dalam mencintai seseorang Yoong. Siapapun berhak memiliki perasaan cinta. Hanya saja semuanya tergantung bagaimana cara kita mengatasinya.” YoonA berbalik menghadap pria yang lebih tinggi darinya itu. Ia memaksakan senyumnya untuk menutupi kerapuhan hatinya.

“Terima kasih Kai, kau selalu bersedia menjadi sandaranku.”

‘itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu Yoong,’ batin Kai pilu.

 

*****

Setelah cukup lama bernegosiasi dengan pihak rumah sakit, Siwon akhirnya berhasil mendapatkan izin untuk membawa Jessica pulang dengan jaminan dirinya sendiri. Ia ingin Jessica dirawat di rumah agar wanita itu lebih banyak mendapatkan perhatian dari orang – orang yang menyayanginya. Siwon yakin jika ia tinggal bersama Tiffany, proses penyembuhannya akan cepat tercapai.

Dengan langkah bahagia, Siwon masuk ke dalam kamar Jessica yang langsung menyuguhkan pemandangan indah baginya. Tiffany tengah meninabobokan Jessica. Ia besenandung kecil sebagai penghantar tidurnya. Bagaikan melihat seorang ibu yang sedang menemani tidur anaknya, tanpa sadar Siwon meneteskan airmata.

Sejenak Siwon terpaku. Perasaannya terhadap Tiffany kian menguat. Ia memantapkan hatinya untuk mendapatkan cinta wanita yang sejak awal telah mengacaukan pikirannya.

“Tiff, aku membawa kabar baik untukmu.” Ucap Siwon dengan suara berbisik agar tidak menganggu tidur Jessica.

“Apa?” tanya Tiffany tanpa suara. Ia kemudian bangkit dan duduk di hadapan Siwon.

“Kita bisa membawa pulang Jessica besok pagi.”

“Benarkah? Ah syukurlah. Terima kasih Choi Siwon.” Karena teralu senang, Tiffany tidak sadar jika ia langsung memeluk Siwon. Tentu saja kesempatan langka ini tidak disia – siakan oleh pria tersebut. Lama mereka dalam posisi tersebut. Entah kenapa ada perasaan nyaman saat Tiffany memeluknya sehingga ia enggan untuk melepaskannya.

Waktu berjalan cukup lambat. Sampai akhirnya Tiffany terlebih dulu melepaskan pelukan mereka. “Mianhae, a-aku tidak bermaksud—“

“Gwenchana.” Potong Siwon. Dan suasana canggung pun kembali tercipta. Tiffany ingin malam ini segera berakhir. Ia tidak sanggup menghadapi Siwon dengan kondisi seperti sekarang. Terlebih setelah kejadian yang tak terduga tadi.

“Mmmm.. aku akan keluar untuk mencari makanan. Apa kau ingin menitip sesuatu?”

“Tidak, terima kasih.”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ne,”

“Ne,” Tiffany akhirnya bisa bernafas lega setelah sedari tadi ia menahannya. Rasa gugup menjalari tubuhnya. Ia merutuki hatinya yang tidak bisa berhenti berdetak. Tangannya terangkat untuk memegang dadanya yang berdentum – dentum kencang tak beraturan. ‘apa yang terjadi denganku?’ gumamnya dalam hati.

 

*****

Matahari sudah menampakkan dirinya. Pagi ini ia mengeluarkan sinarnya dengan begitu terang. Sepertinya ia siap membagikan kebahagian pada setiap orang yang menjadi penikmatnya. Jessica berjalan dengan diapit oleh Tiffany dan Siwon. Ini adalah kali pertama baginya setelah 3 tahun tidak menginjak dunia luar. Setibanya mereka di tempat parkir, Siwon berjalan cepat terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi Tiffany dan Jessica. Tiffany menuntun Jessica masuk kedalam. setelah memastikan posisi duduknya nyaman, ia lalu ikut duduk disampingnya. Siwon mendesah kecewa. Tak ingin menghilangkan kesempatan, ia segera mencari cara. “uhm.. Tiff, bukankah akan lebih baik kalau kau duduk di depan?” Tiffany menaikan satu alisnya pertanda ia bingung dengan pertanyaan Siwon.

“Wae? Aku tidak ingin meninggalkan Jessica.”

“Kalau kau duduk bersamanya, ia tidak akan leluasa jika ingin berbaring.” Tiffany tampak berfikir sejenak. Apa yang dikatakan Siwon ada benarnya juga.

“Iya kau benar. Baiklah aku akan pindah ke depan.” Siwon berteriak senang di dalam hatinya. Ia bergegas membuka pintu depan mobilnya untuk Tiffany.

“Silahkan,”

“Jangan bersikap terlalu manis padaku Choi Siwon.” Gumam Tiffany pelan.

“Nde?”

“Ah, aniyo. Ayo kita pulang.”

“Oke.” Tiffany bernafas lega karena Siwon tidak mendengar gumamannya. Ia pun memasangkan seatbeltnya sebelum Siwon melajukan mobilnya.

 

*****

“Sunbae-nim, teima kasih kalian mau menerima kakakku tinggal disini.”

“Itu semua karena permintaan Tiffany Noona. Jadi berterima kasihlah padanya.” Minhyuk dan Krystal tengah mempersiapkan kamar untuk Jessica tinggali. Mereka berencana akan menampung Jessica sampai ia benar – benar pulih. Walaupun sempat terjadi perdebatan antara dirinya dan Tiffany, namun akhirnya ia menerima permohonan kakaknya. Ia tidak akan bisa menolak permintaan Tiffany jika kakaknya tersebut sudah mengeluarkan jurus aegyo-nya.

“Selesai.” Minhyuk menepuk – nepuk tangannya dua kali untuk menghilangkan debu yang menempel pada telapak tangannya. “Ayo kita tunggu mereka diluar.” Ajaknya pada Krystal yang masih membereskan tempat tidur. “Sebentar. Aku ingin menatanya lebih cantik.” Minhyuk mendengus sebal, “Dasar wanita!” ia pun melenggang keluar meninggalkan gadis bermarga Jung tersebut.

Minhyuk merebahkan tubuhnya diatas sofa. Setelah beberapa jam membereskan kamar yang akan ditempati Jessica, ia merasakan pegal pada punggungnya. Adik dari Tiffany tersebut mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya kembali secara perlahan bersamaan dengan gerakan tangannya yang naik turun mengikuti nafasnya.

“Sunbae!”

“Omona!” Minhyuk terlonjak kaget. Krystal tiba – tiba saja muncul di depannya saat matanya tengah terpejam. Wajahnya yang penuh dengan bercak – bercak hitam, membuat Minhyuk semakin terkejut. Namun detik berikutnya, Minhyuk tertawa keras sambil memegang perutnya. Krystal cemberut sebal. Ia tidak tahu apa yang membuat pria dihadapannya tertawa seperti itu.

“YAK!! Apa nya yang lucu?”

“Wajahmu.. haha.. lihatlah wajahmu! Haha..” Krystal otomatis langsung memegang wajahnya dan berlari menuju kamar yang tadi baru saja ia bereskan. Setelah ia melihat bayangannya di dalam cermin, gadis itu berteriak histeris. “Akkhhhhhh…!!!!!” gelak tawa Minhyuk semakin keras begitu mendengar teriakan Krystal. Merasa jengkel, Krystal pun meraih bantal dan langsung ia lemparkan tepat pada wajah tampan Minhyuk yang sontak membungkam mulutnya. “YAAKK!!! JUNG KRYSTAL…!!!!” Minhyuk melempar bantal tersebut ke sembarang arah dan tanpa jeda waktu, ia bergegas mengejar Krystal.

“Kemari kau gadis manja!”

“Tangkap aku jika kau bisa. Wlekkkk” Krystal menjulurkan lidahnya dan berlari menghindari kejaran Minhyuk.

“Aku bersumpah akan mematahkan lehermu!”

“AKKHHHH!!!!”

 

*****

Suasana hening menyelimuti perjalanan Siwon, Tiffany dan Jessica. Ketiganya tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Siwon sibuk dengan kemudinya. Tiffany sibuk menatap jalanan. Sementara Jessica masih bingung dengan keadaannya saat ini. Detik hingga detik, menit hingga menit, Siwon mulai bosan. Ia pun memutuskan untuk membuka pembicaraan.

“Uhm, Tiff. Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Siwon ragu.

“Tentu saja.” Tiffany mengalihkan pandangannya dari jendela mobil.

“Apa yang membuatmu begitu dekat dengan Jessica?”  Tiffany menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Siwon. “Karena aku melihat kehampaan yang terpancar dari mata Jessica. Kala itu ia terlihat sangat kesepian. Kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja dan adiknya tinggal di luar negeri. Aku mencoba mendekatinya, dan tidak kusangka ia meresponku berlebihan. Aku sempat berfikir jika ia tidak pernah memiliki teman dekat sebelumnya sehingga begitu kami akrab, ia tidak pernah luput menumpahkan keluh kesahnya padaku. Tapi…..” Tiffany tiba – tiba berhenti bicara. Siwon menatapnya dengan tatapan penuh tanya seolah ia mengatakan, ‘ada apa? Katakan saja.’ “Ia tidak jujur soal perasaannya terhadap Dongwook Oppa dan membiarkan masalah ini memuncak. Kami saling menyakiti dan berpisah dengan sangat menyedihkan.” Ada rasa pilu yang tersirat dari nada kalimat terakhir Tiffany. Secara reflek Siwon mengangkat tangan kirinya dan menggenggam tangan Tiffany yang berada diatas pangkuannya. Tentu saja tingkah Siwon itu mampu membuat Tiffany tersentak. Ia menoleh cepat seraya menautkan kedua alisnya. Sedangkan yang ditatap hanya bisa mengedikkan bahunya. Tatkala Tiffany akan kembali bersuara, Siwon sudah terlebih dulu berseru. “Kita sudah sampai. Kajja!” Siwon keluar dari mobilnya meninggalkan Tiffany dengan segala kebingungan dan detak jantung yang berpacu cepat. Bergegas ia memegang dadanya yang berdenyut tak beraturan.

“Nona Hwang, kau masih ingin tinggal disini?” suara berat Siwon mengembalikan Tiffany ke alam nyata setelah ia tersesat di dunia yang tidak dikenalinya. Jessica juga sudah berada disamping Siwon masih dengan tatapan bingungnya.

“Oh, mianhae.” Ia pun melangkah keluar dari mobil dan langsung menggandeng tangan Jessica. Saat ketiganya mencapai pintu rumah, mereka mendengar suara teriakan yang saling bersahutan. Tiffany dan Siwon saling pandang seraya mengernyit. Ia bergegas membuka pintu dan terbelalak kaget melihat kekacauan yang diciptakan adiknya juga Krystal.

“Hwang Minhyuk!! Apa yang kalian lakukan?” bentakan Tiffany sontak membuat kedua anak muda itu berhenti berkejaran. Mereka menundukkan kepalanya merasa bersalah. Berbeda dengan Minhyuk yang tidak berani menatap kakaknya, Krystal justru mematung saat pandangannya tidak sengaja bertemu dengan mata Jessica. Buliran airmata mengalir memenuhi sebagian wajah cantiknya. Ia tidak percaya kakak yang selama 3 tahun tidak pernah dijumpainya kini ada dihadapannya. Dengan perlahan, Krystal mendekatinya. “Eonnie..” panggilnya dengan suara bergetar. Jessica yang memang belum sadar sepenuhnya hanya menatap Krystal dengan mata menyipit. Ia merasa mengenalinya, namun ia juga bingung siapa gadis yang kini tengah memeluknya hangat. “K-kau siapa?” Krystal otomatis mengendurkan pelukannya. Ia menatap sedih pada kakaknya yang tidak mengenalinya. “Aku adikmu Eonnie. Jung Krystal. Apa kau tidak ingat padaku?” Jessica berjalan mundur sembari menggeleng – gelengkan kepalanya. Tubuhnya bergetar dan wajahnya mulai panik. Menyadari hal itu, Tiffany segera bergerak cepat. Ia merengkuh tubuh Jessica dan membawanya ke dalam kamar yang sudah disiapkan adiknya.

Krystal menangis ditempat. Tanpa sadar, Minhyuk merangkul pundaknya mencoba memberinya ketenangan. “Sssttt… sudahlah, Tiffany noona pasti bisa mengatasinya. Kakakmu pasti akan kembali seperti dulu. Percayalah.” Krystal menoleh padanya dan memberi senyuman terbaiknya. “Gomawo.” Dan untuk pertama kalinya, Minhyuk terpana akan pesona seorang Jung Krystal.

 

*****

Pagi ini Siwon memutuskan untuk menemui Minhyuk yang notabene-nya akan menjadi iparnya jika suatu hari nanti ia bisa memenangkan hati Tiffany. Siwon tahu jika Minhyuk sangat ketat dalam menjaga kakaknya terutama terhadap pria. Ia mencarinya di ruang penyiaran yang biasa ia kunjungi bersama teman – temannya. Namun Minhyuk tidak berada disana. Ia pun beralih ke ruangan lainnya. Setelah 10 menit mencari, Siwon akhirnya menemukan pria tersebut tengah berdiskusi dengan beberapa rekannya di dekat taman belakang kampus.

Siwon menghampirinya dengan langkah santai. “Hwang Minhyuk, bisa aku meminta waktumu sebentar?” Minhyuk tampak berpikir sejenak sebelum ia mengiyakan ajakan Siwon.

Kedua pria tampan itu berjalan beriringan menuju sebuah bangku panjang dibawah pohon besar yang terdapat di taman yang langsung menghadap pada air mancur. Siwon meletakkan butt-nya dengan nyaman. Ia kemudian menyodorkan satu kaleng cola pada pria yang lebih muda darinya itu. “Ini untukmu.” Minhyuk menerimanya dengan senang hati. Ia membuka penutup kalengnya dan meneguknya dengan satu tegukan. Saat ia akan kembali meneguk, tiba – tiba …

“Aku ingin mendekati kakakmu”

Byuuurr….

Minhyuk menyemburkan minuman yang belum sempat masuk ke tenggorokannya. Ia membelalak tak percaya dengan apa yang tadi diucapkan oleh Choi siwon.

“T-tadi anda bilang apa tuan?”

“Aku ingin mendekati kakakmu.” Ulang Siwon

“Aku sedang tidak ingin bercanda tuan.” Minhyuk mencoba bersikap tenang untuk menutupi keterkejutannya.

“Apa menurutmu aku sedang bercanda?” Siwon bertanya serius.

“Tapi kenapa anda ingin melakukannya?”

“Karena aku mencintainya.”

“Apa noona sudah tahu perasaan anda?”

“Belum. Aku sangat menghargaimu sebagai adiknya, jadi aku ingin meminta izin darimu terlebih dahulu sebeum mengungkapkan perasaanku padanya.”

“Apa alasan anda mencintainya?”

“Tidak ada alasan.”

“Apa anda yakin dengan perasaan anda?”

“Lebih dari seratus persen.”

“Apa jaminan anda untuk membahagiakannya?”

“Seluruh hidup dan jiwaku.”

“Apa anda bisa membuktikannya?”

“Tentu.”

“Baiklah. Aku akan menilai seberapa besar cinta anda pada Tiffany Noona. Jika anda berhasil meyakinkanku, maka aku akan menyerahkannya dengan kedua tanganku sendiri.” Siwon melebarkan senyumannya mengetahui Minhyuk mau memberinya kesempatan untuk mendapatkan hati kakaknya.

“Gomawo Hwang,”

“Aku tunggu pembuktianmu.”

 

*****

Tiffany memutar balik badannya saat ia menangkap sosok Siwon. Ia tidak ingin bertemu dengannya untuk beberapa waktu.

“Tiffany!!!”

“Sial! Ia melihatku.” Umpatnya geram. Tiffany terus berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan Siwon. ‘aku tidak boleh berdekatan dengannya. Aku tidak ingin jantung ini terus berdetak setiap kali menatapnya. Aku tidak ingin perasaan aneh ini muncul lagi. Ayolah Tiff, kau harus bertahan. Kau pasti bisa.’ Tiffany tidak henti – hentinya bergumam dalam hati seraya melebarkan langkahnya.

“Tiffany, aku bilang tunggu!” Siwon berhasil meraih tangan Tiffany yang membuat tubuhnya berbalik arah padanya.

“Siwon lepaskan tanganku! Aku harus pergi.”

“Tidak. Kau harus ikut denganku. Ada hal yang penting yang ingin aku sampaikan padamu.” Siwon tetap menariknya, tidak peduli dengan rintihan Tiffany yang kesakitan akibat cengkraman Siwon pada lengannya.

“Kita bisa bicarakan nanti Siwon.”

“Tidak Tiffany. Sejak kemarin kau selalu menghindariku, dan sekarang aku tidak ingin kau melarikan diri lagi.”

“Aku tidak menghindarimu. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“…” tidak ada jawaban.

“Choi Siwon lepaskan tanganku!”

“…” masih tidak ada jawaban.

“CHOI SIWOOOONNNN!!!!!” Siwon menghentikan langkahnya. Ia menatap Tiffany dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

“Kau tidak ingin pergi denganku?” ada nada kekesalan saat Siwon mengajukan pertanyaan tersebut. Memang sudah 2 hari ini Tiffany selalu mencoba lari darinya. Ia seakan – akan tidak ingin bertatap muka dengan pria berlesung pipi tersebut. Dan itu membuat Siwon semakin bertanya – tanya. Hingga akhirnya ia membawa paksa Tiffany seperti yang saat ini terjadi.

“A-aku..aku..” Tiffany tidak mampu berkata – kata. Lidahnya mendadak kelu.

“Oke. Kau boleh pergi.” Siwon melepaskan genggamannya. Ia mengangkat tangannya ke udara sebagai tanda ia membiarkan Tiffany untuk pergi.

“Nde?” Tiffany bingung dibuatnya. Kenapa pria di depannya ini berubah begitu cepat? Ia seakan tengah merajuk karena tidak mendapatkan keinginannya.

“Kau kenapa Choi Siwon?”

“Kenapa? Aku yang seharusnya bertanya padamu Tiff.” Siwon mendesah frustasi. Ia mengacak rambutnya sebelum berujar, “Pergilah. Aku tidak ingin meluapkan kemarahanku di depanmu.” Siwon meninggalkan wanita cantik itu dengan sejuta pertanyaan. Dengan kaki yang lemas, Tiffany pergi dari kampusnya yang hanya menyisakan beberapa penghuni.

 

*****

Hari sudah mulai gelap. Tiffany masih berdiri menunggu kedatangan bis yang tidak kunjung datang. Merasa sia – sia dengan penantiannya, wanita dengan kemeja putih itu pun memutuskan untuk berjalan kaki.  Ia melewati bermacam – macam gedung dengan ketinggian yang bervariasi. Tiffany merasa lututnya semakin tidak bertenaga. Sudah 15 menit ia berjalan dengan menggunakan high heels. Angin juga sedang tidak bersahabat dengannya. Dikala ia lupa untuk membawa sweater nya, angin malah berhembus kencang. Menusuk kulit hingga ke tulang rusuknya. Tiffany berulang kali menggosok – gosokkan lengannya untuk mengusir rasa dingin yang begitu menyiksa. Pikirannya pun melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu. Seandainya ia tidak bertengkar dengan Siwon, mungkin sekarang ia tidak akan kesusahan seperti ini. Siwon pasti akan mengantarnya pulang.

Tiffany ingin menghubungi adiknya, namun ponselnya mati.  Sepertinya alam tengah mengujinya saat ini. Ketika ia berbelok masuk menuju pemukiman yang selalu tampak sepi, ia melihat tiga orang pria asing yang terlihat mabuk berjalan kearahnya. Kontan saja Tiffany ketakutan seketika. Wajahnya memucat. Ia ingin lari namun kakinya terasa kaku. Tiffany membeku ditempatnya. Ketiga pria itu semakin mendekat padanya. Mereka menyeringai dengan seringaian yang menjijikan. Mata Tiffany memanas. Nafasnya tercekat saat salah satu pria bertubuh besar mengelus pipinya.

“Malam ini kita mendapatkan hadiah yang begitu indah kawan. Lihatlah betapa cantiknya wanita ini.” Aroma alkohol langsung menyeruak masuk kedalam indera penciuman Tiffany. Tubuhnya bergetar hebat.  Kenapa disaat seperti ini ia tidak mampu berteriak?

“A-apa yang k-kalian inginkan?” tanya Tiffany dengan suara yang menyerupai cicitan.

“Kami menginginkanmu nona.” Tiffany menegang. Pria dengan kepala plontos, kini membelai leher jenjangnya.

“Aku mohon tuan, jangan sakiti aku.” Lirih Tiffany dengan mulut yang bergetar.

“Kami tidak mungkin menyakitimu sayang. Justru kami akan membuatmu merasakan kebahagian yang luar biasa.” Ujar pria yang lebih pendek dari kedua temannya. Tiffany terus berdoa di dalam hati berharap ada seseorang yang menolongnya.

Sreeekkkk…

“Aakkhhh..” Tiffany terkesiap. Salah satu dari mereka merobek lengan bajunya. Tangisan Tiffany semakin menjadi. Ia merasa hidupnya akan hancur dalam hitungan detik.

“Tolong… jangan sentuh aku.. hiks… kumohon.. hiks..” suara Tiffany semakin parau. Ia sungguh ketakutan.

“sssttt.. tenanglah sayang. Kami akan melakukannya pelan – pelan.” Jantung Tiffany memompa begitu cepat. Seakan ia meminta untuk keluar dari tempatnya. Tiffany memejamkan matanya, pasrah akan nasibnya malam ini. Hingga sebuah suara membangunkannya untuk kembali hidup.

“Jangan berani sentuh dia brengsek!!!”

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Pukulan – pukulan yang membabi buta mampu menumbangkan ketiga pria mabuk itu hingga jatuh tak berdaya. Tiffany tersenyum lega disela isakannya, “Choi Siwon..” panggilnya pelan. Siwon menghampiri Tiffany dengan pandangan miris. “Tiff, gwenchana?” tanyanya khawatir. Tanpa menjawab pertanyaan Siwon, Tiffany langsung menjatuhkan kepalanya pada dada bidang milik Siwon. Ia menumpahkan tangisannya disana. Meluapkan rasa takut dan kelegaan di dalam dekapan hangat pria bermarga Choi tersebut. Siwon mengeratkan pelukannya. Menyalurkan ketenangan pada wanita yang kini tengah terguncang hebat.

“Aku takut… hiks… aku takut… hiks…”

“Ssstt… tenanglah aku disini, hm.” Siwon membelai lembut rambut panjang Tiffany yang basah karena keringatnya. “Maafkan aku Tiff, tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian.” Tiffany mencengkram jaket belakang Siwon. Ia sangat takut Siwon akan pergi lagi.

“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi Choi Siwon. Aku tidak ingin sendirian. Hiks..”

“Aku berjanji akan selalu disampingmu, menjadi pelindungmu. Sekarang tenanglah.” Perlahan isakan Tiffany melembut. Kini ia hanya mengeluarkan isakan – isakan kecil. Melihat pakaian Tiffany yang telah terkoyak, Siwon mengutuk orang – orang biadab itu yang telah berani menyentuh wanitanya. Ia mengendurkan pelukannya. Lantas membuka jaketnya dan memakaikannya pada Tiffany. “Hey, berhentilah menangis. Simpan airmatamu ini untuk kebahagianmu nanti.” Siwon menghapus aliran sungai kecil yang mengalir di pipi mulus Tiffany dengan kedua ibu jarinya. “Apa kau ingin aku menghabisi mereka?” Tiffany menggeleng tegas. “Tidak. Jangan kau kotori tanganmu dengan darah mereka. cukup kau lindungi aku saja.” Ada segaris senyuman yang tercetak dari wajah tampan Choi Siwon atas permintaan Tiffany untuk menjadi pelindungnya. Itu adalah sebuah hadiah indah baginya.

“Dengan senang hati nona Hwang.”

 

*****

YoonA dan Krystal tengah berkutat dengan peralatan dapur milik keluarga Hwang. Saat ini mereka sedang berada di rumah mereka. Tiffany meminta YoonA untuk menemani Jessica. Kebetulan hari ini YoonA tidak ada jadwal perkuliahan. Krystal datang berkunjung pada sore harinya. Sejak Jessica tinggal di kediaman saudara Hwang, ia jadi sering menyambangi rumah sederhana ini. Krystal memperhatikan kelihaian YoonA yang memasak kimchi untuk menu makan malam nanti. Sudah menjadi kebiasaan bagi gadis jangkung tersebut memasak untuk sahabat juga gurunya. Krystal semakin yakin jika seniornya ini memiliki hubungan special dengan Minhyuk.

“Sunbaenim, apa kau terbiasa menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka?” tanya Krystal sembari membantu YoonA membersihkan sayuran.

“Panggil saja aku eonnie. Aku rasa itu lebih baik.” YoonA melirik sekilas kearah Krystal lalu kembali pada masakannya.

“Baiklah.. Eonnie..” Krystal memamerkan deretan gigi putihnya. YoonA akui jika gadis disampingnya ini sangat cantik dan manis, wajar saja jika Minhyuk tertarik padanya.

“Eumm.. Eonnie, sepertinya kau sangat dekat dengan Minhyuk sunbae dan Tiffany seonsaengnim. Apa ada hubungan spesial diantara kalian?” YoonA menghentikan aktivitasnya, lantas ia memandang Krystal dengan tatapan yang sulit diartikan. ‘itu adalah harapan terbesarku. Tapi sayangnya aku hanya mampu menelannya begitu saja.’ Jawab YoonA dalam hati. “Hubungan kami hanya sebatas keluarga tidak lebih.” Krystal menggerakkan bibirnya membentuk huruf ‘o’ ia lantas kembali pada aktivitas mencucinya.

 

“Noona.. aku pulang!” Minhyuk mengira jika kakaknya sudah pulang, karena bisanya di jam segini Tiffany selalu menyambutnya dengan senyuman indahnya.

“Oh, Oppa. Selamat datang. Apa kau ingin minum sesuatu?” YoonA keluar dari dapur dan menyambut sahabatnya masih dengan alat memasak yang ia pegang.

“Yoong, dimana Tiffany Noona? Apa ia ada di dapur?”

“Aniyo. Ia belum pulang Oppa.”

“Mwo? Bagaimana mungkin?” Minhyuk bergegas mengambil ponselnya di dalam tas. Ia memeriksa kotak pesan berharap Tiffany mengirimnya pesan singkat. Namun hasilnya nihil. Wajah Minhyuk mendadak cemas. Tidak biasanya Tiffany pulang terlambat tanpa kabar.

“Apa ia tidak meneleponmu Yoong?”

“Aniyo.” Minhyuk mengacak rambutnya frustasi. ‘kemana dia?’ gumamnya. Detik berikutnya, Minhyuk menyambar jaket yang tadi disimpannya di atas sofa. Ia lalu melesat pergi bersama sepeda kesayangannya.

 

*****

Tiffany masih belum berhenti menangis. Kejadian mengerikan tadi masih melekat sempurna di otaknya. Siwon sudah berusaha menghiburnya. Ia tahu usahanya akan sia – sia, karena bagaimanapun Tiffany pasti akan mengalami trauma atas perbuatan tidak senonoh pria – pria hidung belang itu.

Angin malam yang berhembus kencang, suara ombak yang semakin bergemuruh, tidak menghentikan hujan deras yang turun dari pelupuk mata indah Tiffany. Siwon kebingungan, dengan cara apa lagi ia harus menghentikan tangisannya.

“Tiff, apa yang harus kulakukan untuk membuatmu tenang?” Tiffany mendongakkan kepalanya, “Bolehkah aku meminjam bahumu?” bukannya menjawab, Tiffany malah mengajukan pertanyaan lain. Siwon mengulurkan tangannya dengan senang hati, “Kapan pun kau menginginkannya, aku akan sedia memberikannya untukmu.” Tanpa komando, Tiffany langsung meletakkan kepalanya di bahu lebar Siwon. Ia memejamkan matanya yang sudah membengkak. Dengan penuh kelembutan dan ketulusan, Siwon mengelus lengan Tiffany yang masih bergetar.

“Kenapa kau bisa berada disana, Siwon?” setelah cukup lama terdiam, Tiffany akhirnya mau membuka suara.

“Setelah meninggalkanmu, aku merasa tindakanku sangat keterlaluan. Sepanjang perjalanan, pikiranku tidak pernah lepas darimu. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk menemuimu kembali. Dan tidak kuduga, kau tengah dalam bahaya.” Tiffany mencengkram lengan berotot Siwon saat ia harus terpaksa mengingat kembali peristiwa buruk yang menimpanya. Menyadari hal itu, Siwon mengeratkan pelukannya pada Tiffany. “Tidurlah Tiff, lupakan semua kejadian tadi. Ingatlah kenangan – kenangan indah yang pernah kau lalui untuk menghantarmu pada mimpi indah.” Entah dorongan darimana, Siwon mencium puncak kepala Tiffany lama. Wanita itu pun merasa nyaman dengan perlakuan Siwon yang diberikan padanya hingga ia mampu terlelap dengan tenang.

 

*****

Tatkala Minhyuk pulang dalam keadaan kecewa setelah mencari – cari keberadaan kakaknya yang tidak bisa ditemukan, tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan Choi Siwon bersama Tiffany dalam gendongannya di teras rumah. Minhyuk melongo tak percaya. Akal sehatnya pun menghilang. Minhyuk berfikir Siwon telah melakukan sesuatu terhadap kakaknya. Dengan langkah cepat ia menghampiri Siwon. Wajahnya menunjukkan kemarahan. Siwon hanya termagu di tempatnya. Bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan Minhyuk.

“Apa yang telah kau lakukan pada kakakku, Hah?” teriak Minhyuk keras. Kontan saja Siwon terkejut. Tiffany juga ikut terbangun karenanya. Wanita itu mengerjapkan matanya berkali – kali sebelum menyadari situasi yang sebentar lagi akan memanas jika ia tidak bertindak cepat. Tiffany turun dari gendongan Siwon dengan tubuh yang masih lemas. Ia mendekat pada adiknya. Matanya yang sendu dan bengkak, ditambah dengan penampilannya yang yang kacau, membuat Minhyuk merasa miris. “Noona, apa yang terjadi? Apa pria ini melakukan hal buruk padamu?” Tiffany menggeleng lemah. “tidak. Jangan memarahinya Minhyuk-ah, justru dia-lah yang telah menyelamatkan hidupku.”

“Apa maksudmu Noona?”

“Hwang Minhyuk, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Sekarang biarkan kakakmu beristirahat. Ia sangat lelah.” Minhyuk menuruti saja perintah Siwon. Ia mengantarkan Tiffany masuk kedalam rumahnya. YoonA dan Krystal yang masih berada di meja makan, terkejut dengan keadaan Tiffany. “Eonnie, ada apa?” Minhyuk memberi isyarat pada YoonA untuk tetap diam. Gadis itu pun mengangguk paham.

Setelah membantu Tiffany berbaring di atas tempat tidurnya, Minhyuk keluar dari kamar kakaknya dengan rasa penasaran yang sudah mencapai ubun – ubun. Lantas ia ikut bergabung bersama Siwon, YoonA dan Krystal di ruang tengah. Begitu si bungsu Hwang itu duduk nyaman, Siwon memulai ceritanya. Ia menjelaskan kronologis yang terjadi antara dirinya, Tiffany dan juga ketiga pria mesum itu tanpa celah sedikitpun.

“KURANG AJAR!!”

Brakk!!

Gebrakan meja yang ditimbulkan Minhyuk sukses membuat Siwon dan dua gadis di depannya hampir kehilangan jantungnya. YoonA menarik paksa lengan Minhyuk untuk kembali duduk. “Oppa! Jangan berteriak. Ingatlah ada dua makhluk yang sedang tertidur lelap.” Desis YoonA tajam.

“Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja Yoong. Tiffany noona hampir saja kehilangan harta paling berharganya. Aku harus menghabisi mereka.” ucap Minhyuk dengan berapi – api.

“Minhyuk sunbae, Siwon Oppa sudah melaporkan mereka ke pihak kepolisian. Aku yakin mereka sudah meringkuk di tahanan.” Krystal ikut menimpali.

“Benar. kalau kau ingin melampiaskan kemarahanmu, aku akan mengantarmu besok ke kantor polisi. Aku juga masih belum puas menghajar mereka.” Siwon mengepalkan tangannya dengan kilatan emosi yang terpancar dari mata elangnya.

“Minhyuk Oppa, Tuan Choi, tolong kendalikan emosi kalian. Biarkan polisi yang menghukum mereka. Tiffany Eonnie pasti akan marah jika kalian bertindak yang justru akan merugikan kalian sendiri.” Perkataan bijak YoonA, menyadarkan Siwon dan Minhyuk. Ya, ia benar. Tiffany tidak suka dengan kekerasan. Keempatnya pun hanya bisa menghela nafas berat sebelum mereka pergi ke alam mimpi masing – masing.

 

*****

Cahaya matahari mengusik aktivitas tidur Tiffany. Ia bangun dengan perlahan. Kepalanya terasa berat akibat tangisan yang menguras habis seluruh airmatanya. Wanita dengan piyama pink itu, berjalan kearah jendela. Ia tersentak saat pandangannya menangkap dua sosok pria dan wanita tengah menikmati udara pagi di teras rumahnya. Tiffany melebarkan matanya, meyakinkan jika penglihatannya tidak salah.

Siwon mengajak Jessica berjemur di bawah sinar mentari yang masih hangat. Tunggu! Apa pria itu menginap dirumahnya semalam? Belum lepas dari keterkejutannya, Tiffany kembali dikejutkan oleh pandangan Siwon yang sedang menatapnya lurus. Walaupun terhalang oleh kaca jendela yang cukup besar, Siwon masih bisa dengan jelas melihat wajah polos Tiffany setelah bangun tidur. Kecantikan alaminya mampu menyihir seorang Choi Siwon.

Sadar akan tatapan intens Siwon yang membuat hatinya berdesir, Tiffany segera memalingkan wajah meronanya.

“Apa kau sudah merasa lebih baik Noona?”

“Eoh?” entah sejak kapan Minhyuk berada dibelakangnya. Ia memperhatikan setiap gerak – gerik kakaknya bersama Siwon.

“Ne, aku sudah agak baikkan.”

“Syukurlah.”

“Aku harus berterima kasih pada Choi Siwon, kalau bukan karenanya mungkin aku… aku…”

“Sudahlah Noona. Jangan kau ingat – ingat lagi. Semuanya telah berlalu.” Tiffany mengangguk kecil seraya menyeka setitik air yang jatuh di pipinya.

“Uhm, Noona. Apa pandanganmu tentang Choi Siwon?”

“Nde? Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tiffany jelas tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Minhyuk.

“Aniyo. Aku hanya bertanya saja. Sudahlah lupakan.”

semalaman ia terus mengigau memanggil namamu. Bahkan dalam mimpinya sekalipun, ia berjanji akan selalu melindungimu. Haruskah aku menyerahkanmu padanya?’ batin Minhyuk. Ia lantas mengikuti arah pandang Tiffany yang tengah menyaksikan Krystal menyuapi Jessica dan Siwon yang sedang bercerita untuk mereka.

“Mereka terlihat manis, bukan?”

“Ne, sangat manis.” Tiffany merasa ada yang ganjal dengan nada suara adiknya, ia lalu melirik sekilas dan tercengang tak percaya dengan jenis tatapan yang diberikan Minhyuk untuk Krystal. Mungkinkah ……..

 

*****

Seminggu telah berlalu setelah kejadian mengerikan yang dialami Tiffany. Wanita itu kini bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Berkat dukungan dan dorongan semangat dari orang – orang terdekatnya, Tiffany akhirnya bisa melewati masa – masa traumanya. Meskipun ia belum berani dan tidak diizinkan untuk keluar rumah seorang diri.

Saat ini wanita bertubuh mungil itu sedang bersiap – siap untuk pergi ke kampus. Ia menunggu YoonA yang berjanji akan menjemputnya hari ini. Tanpa diduganya, Jessica sudah berdiri disampingnya. Berbeda dengan saat ia pertama kali bertemu dengannya di rumah sakit, penampilan Jessica kini sudah lebih terawat dan cantik. “Bolehkah aku pergi bersamamu? Aku bosan disini.” Tanyanya takut – takut seperti seorang anak yang meminta izin untuk bermain pada ibunya. Tiffany tersenyum lembut. Ia merapikan rambut Jessica yang sedikit berantakan. “Tentu saja honey, aku senang kau mau pergi keluar.” Dengan tangkas, Tiffany segera menyiapkan segala sesuatu untuk dibawanya pergi bersama Jessica. Mulai dari obat – obatan, buku cerita—Jessica sering merengek ingin dibacakan dongeng jika sedang bosan—sampai dengan cemilan yang disukai wanita berusia 27 tahun itu.

Tiitt.. tiit..

“Oh, itu pasti YoonA. Ayo kita pergi!” Tiffany menarik tangan Jessica, dan benar saja YoonA sudah menunggu disamping mobil audi putihnya.

“Eoh? Jessie Eonnie juga ikut?” komentar YoonA.

“Ne, kau tidak keberatan kan Yoong?” YoonA mengamit tangan Tiffany dan Jessica—posisinya kini berada ditengah kedua wanita cantik itu—“aku justru senang bisa bersama – sama dengan kalian. Eonnie tahu kan aku hanya anak tunggal dirumah, jadi aku sangat ingin memiliki seorang kakak.” Tiffany mengacak poni rambut gadis yang terpaut usia lebih muda darinya itu. Detik berikutnya mereka masuk kedalam mobil yang terlihat jelas nuansa seorang gadis.

 

*****

“Tuan Choi!” Minhyuk berlari kearah Choi Siwon yang hendak masuk ke dalam ruangannya.

“Ya, ada apa Minhyuk-ah?” Siwon membalikkan badannya menghadap Minhyuk. “Aku ingin membicarakan sesuatu padamu.”

“Masuklah, kita bicarakan di dalam.” Kedua pria tampan itu pun melenggang masuk kedalam ruangan berukuran 8 x 10 m itu.

Sekretaris Go meletakkan dua cangkir teh hangat diatas meja. Ia membungkuk pergi setelah Siwon mengucapkan terima kasih padanya. “Minumlah!”

“Ne,”

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Siwon seraya meletakkan cangkir teh yang baru saja diminumnya.

“Apa.. kau benar – benar mencintai kakakku?” Siwon menaikan kedua alisnya sebelum tersenyum kecil. “Aku bahkan terlalu mencintainya.” Jawab Siwon mantap.

Minhyuk mengangguk senang, “Baguslah. Aku mempercayakannya padamu.”

“Jeongmal???”

“Ne, tuan.”

“Ehem!” Siwon berdehem keras sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kalau begitu mulai saat ini kau harus memanggilku ‘Hyung’.”

“Mwo?”

“Wae? Kau keberatan?” Siwon sedikit kecewa dengan reaksi Minhyuk.

“A-aniyo. Hanya saja aku tidak terbiasa memanggilmu dengan sebutan ‘Hyung’” Minhyuk merendahkan nada suaranya pada kata’Hyung’. Ia pun menunduk malu yang membuat Siwon tidak bisa menahan tawanya. “Hahaha.. gwenchana. Kau tidak usah terburu – buru. Aku akan menunggu sampai kau siap.”

“Gomawo.” Ucap Minhyuk tulus. Keduanya pun larut dengan obrolan antar pria. Minhyuk sudah mulai merasa nyaman bersama Siwon. Kali ini ia yakin dengan keputusannya untuk menyerahkan kakaknya pada pria bertanggung jawab seperti Choi Siwon.

 

*****

“Hey, Tiff.”

“Hey,” Siwon mengambil tempat duduk disamping Tiffany. Ia menyodorkan satu kaleng minuman dingin pada wanita cantik itu.

“Aku tidak menyangka kau akan membawa Jessica kemari.” Ujarnya setelah menyereput minuman yang dipegangnya.

“Ia merasa bosan di rumah, jadi ia ingin ikut bersamaku.” Balas Tiffany tanpa menengok pada Siwon. Ia terlalu sibuk memperhatikan Jessica yang sepertinya tengah mengingat – ingat masa lalunya di kampus ini. “Oh iya, kau tidak akan mengusirnya kan Choi Siwon?”

“Apa aku terlihat seperti ahjussi yang kejam?” Siwon menunjukkan ekspresi wajah yang lucu dimana ia melebarkan matanya dan memanyunkan sedikit mulutnya.

“Hahaha…. aniyo. Kau tidak pantas dengan wajah seperti itu Choi Siwon, hahaa..” untuk pertama kalinya selama ia mengenal Tiffany, kakak dari Hwang Minhyuk itu tertawa lepas di depannnya. Bahkan mata bulan sabitnya melengkung sempurna. Siwon terpaku dibuatnya.

“Aku senang bisa melihat senyumanmu lagi Tiff,” Tiffany sontak menghentikan gelak tawanya. Wajahnya merona malu. “uhm, itu semua karenamu. Kau telah banyak membantuku.” Siwon tersenyum senang mendengarnya.

“Tapi itu semua tidak gratis Tiff.”

“Mwo?” Tiffany sempat berfikir jika ternyata Siwon tidak pernah tulus menolongnya. Namun pikiran buruk itu segera sirna seiring keluarnya penuturan Siwon selanjutnya.

“Kau harus mentraktirku malam ini, otte?” tawar Siwon seraya mengedipkan sebelah matanya. Tiffany mendelik sebal. “Aku tidak mungkin melakukannya tuan Choi,”

“Kenapa?”

“Karena kau belum memberi upah bulananku.” Bisiknya pelan.

“Hahaha… baiklah. Untuk kali ini biar aku yang mentraktirmu. Tapi jangan harap kau bisa lepas dari hutangmu Tiffany Hwang.”

“Oke. Deal.” Keduanya saling melempar senyum sampai suara Jessica menginterupsinya.

“Bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah bosan.” Tiffany meraih tangan Jessica dan bangkit dari kursinya. “Tentu, Ayo! Kami pulang dulu tuan Choi.”

“Ne, eoh tunggu! Apa kalian hanya berdua?”

“Hm, wae?”

“Aku akan mengantar kalian.” Siwon bersiap untuk kembali ke ruangannya. Ia berniat untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya.

“Tidak perlu Choi Siwon. Kami akan naik taksi. Sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk mentraktirku malam nanti.” Siwon berusaha keras untuk tidak meloncat girang. Bagaimana tidak? Ucapan Tiffany tadi seakan menjadi sinyal yang kuat bagi Siwon untuk mendapatkan cintanya.

“Arraseo.”

 

*****

“Sepertinya aku harus bisa merelakannya Kai,” lirih YoonA. Ia dan Kai sedang menatap dua insan yang kini tengah bercanda ria di meja kantin kampus. Intensitas pertemuan antara Minhyuk dan Krystal  semakin sering dan membuat hubungan mereka semakin dekat. Terlebih tinggalnya Jessica di kediaman Hwang, mengakibatkan Krystal sering kali menginap disana. Harapan YoonA makin menipis. Ia yakin jika cinta Minhyuk bukan untuk dirinya. Ia pun harus rela melepaskannya untuk orang lain demi kebahagiannya.

Kai yang tidak tega melihatnya, dengan sigap merangkulnya dan membiarkannya menumpahkan cairan bening membasahi kemejanya.

“Kau pasti akan mendapatkan pria yang benar – benar mencintaimu dengan tulus Yoong. Kau adalah gadis yang baik. Kau pantas berbahagia.” YoonA mendongakkan kepalanya. “Benarkah?”

“Hm, percayalah padaku.” YoonA semakin mengeratkan pelukannya pada Kai. “Aku juga berharap begitu.”

 

*****

Tiffany telah sampai di restoran mewah yang dialamatkan Siwon padanya. Gaun merah berlengan pendek dan rambut ikal yang disampirkan ke bahu kirinya, serta make–up yang tidak terlalu tebal, membuatnya tampak sangat cantik. Namun ia merasa heran melihat restoran tersebut tampak sepi dan gelap. Sekali lagi wanita dengan tas Gucci di tangannya, melihat secarik kertas kecil berisi alamat yang dikirimkan Siwon melalui pesan singkat. “Alamatnya benar.” Gumamnya pelan. “Apa aku terlambat?” Tiffany melirik jam tangan casio yang melingkar manis di lengan kirinya. Jam masih menunjukkan pukul 20.03 KST. Ia hanya terlambat 3 menit dari waktu yang sudah disepakati. Dikala Tiffany tengah bingung dengan apa yang terjadi, seorang pelayan tampan nan muda menghampirinya. “Apa anda nona Tiffany Hwang?” Tiffany sontak menoleh padanya. “Eoh? Ah, ne. Aku Tiffany.” Pelayan itu tersenyum sopan padanya. “Tuan Choi sudah menunggu anda di dalam. Mari saya antar.” Dengan kening yang sedikit berkerut, Tiffany mengikuti kemana langkah pelayan tersebut akan membawanya.

Suasana di dalam restoran tersebut bagaikan di tempat pemakaman. Sepi, gelap dan menyeramkan. Tiffany bergidik ngeri. Ia hampir saja berbalik badan untuk pergi, jika saja suara Siwon yang keluar dari sebuah layar besar berukuran 1×1 m itu tidak menghentikan langkahnya.

“Hai, Tiff. Maaf jika aku membuatmu bingung dan terkejut. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Pengecut? Ya, mungkin aku memang pengecut. Aku tidak berani bertatap muka langsung denganmu. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Aku-sangat-mencintamu. Sejak awal pertemuan kita, kau telah membuatku goyah. Setiap detik aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mencari tahu tentangmu. Aku bagaikan orang bodoh yang tengah mencari jawaban soal matematika yang begitu rumit. Seperti halnya dirimu yang sulit untuk kujangkau. Semakin hari, rasa penasaranku akan sosok dirimu semakin membuncah dan mengubahnya menjadi perasaan cinta yang suci. Kau telah mengalihkan seluruh duniaku. Kau adalah satu – satunya wanita yang mampu membuatku bertekuk lutut dihadapanmu. Senyuman indahmu selalu aku rindukan. Senyuman yang dapat menyihirku hingga aku hanya mampu terpaku di tempat aku berpijak. Kau adalah kebahagian terbesarku Tiffany Hwang.”

Klik.

Layar pun mati, dan digantikan oleh sosok pria bertubuh atletis yang tengah berdiri tegap dengan setangkai bunga mawar yang ia genggam di depan dadanya. “Please, be my love Tiffany Hwang.”  Ungkapnya selanjutnya. Cairan bening yang sejak tadi menggenang di kelopak mata indahnya, kini mengalir sempurna di kedua pipi mulusnya. Tiffany berjalan hati – hati mendekati pria tersebut. Air matanya tidak bisa dihentikan. Mereka terus mendesak keluar.

Saat ia sampai di hadapannya, ia pun membalas ungkapan perasaannya. “Kau tahu, aku pernah memiliki kisah cinta yang menyedihkan di masa lalu. Pengalaman pahit itu memaksaku untuk membangun tembok yang kokoh untuk pria manapun. Aku begitu takut untuk kembali jatuh cinta. Aku terlalu takut untuk kembali disakiti. Dan kau… kau telah menghancurkan pertahananku. Dengan mudahnya kau menerobos masuk pintu hatiku yang sudah terkunci rapat. Kau harus bertanggung jawab Choi Siwon. Aku akan menghukummu dengan pasal cinta atas tuduhan pencurian hati seorang wanita bernama Tiffany Hwang. Kau akan menjadi tahanan hatiku sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Kau resmi menjadi seorang narapidana cinta Choi Siwon.” Pria dengan stelan jas merah itu pun tersenyum bahagia. Ia memegang bahu Tiffany yang masih bergetar akibat terisak. “Asalkan aku berada dipenjara hatimu, aku rela menjadi tahananmu untuk selamanya.” Tanpa berkata – kata lagi, Tiffany langsung berhambur kedalam pelukan Siwon. Perasaan bahagia meledak di dalam dadanya. Ia tidak mampu lagi meredamnya. “Kau jahat Choi Siwon. Kenapa kau tega mengembalikan perasaan cinta itu padaku? Kau benar – benar jahat.” Rajuk Tiffany disela isakannya. “Arra.. arra.. aku minta maaf. Aku pasti akan mempertanggung jawabkan kejahatanku. Sekarang berhentilah menangis, nanti make-up mu bisa luntur. Oh iya, berbicara soal make-up, kau terlihat sangat cantik malam ini Tiff.  Apa kau sengaja berdandan cantik untuk membuatku terpesona?” Tiffany melepaskan pelukan mereka dan menatap sebal pada Siwon. “Simpan rasa percaya dirimu itu tuan Choi.”

“Hahahaha…” Siwon tertawa lepas. Selang beberapa detik, ia menangkup kedua sisi wajah Tiffany dan berbicara serius. “Dengar, Tiff. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu. Jika suatu saat nanti aku melakukannya, kau bunuh saja hatiku. Aku pantas mendapatkannya.” Tiffany membelai lembut dada Siwon dengan jari – jari lentiknya. ia lantas berbisik, “Aku pegang janjimu Choi Siwon. Aku pasti akan menjaga dada bidang ini agar tidak menjadi milik orang lain.” Siwon mendekatkan wajah mereka dan bulan yang bersinar pada malam ini menjadi saksi bersatunya dua insan yang saling mencinta.

 

*****

Selama bergulat dengan panci dan alat – alat dapur lainnya, Tiffany tidak henti – hentinya bersenandung. Jelas saja ini menimbulkan kecurigaan pada Taeyeon dan juga Minhyuk. Hari ini merupakan akhir pekan. Jadi mereka tidak ingin menyia – nyiakan waktu untuk bersantai dirumah. Taeyeon memilih untuk berkunjung ke rumah sahabatnya itu dengan membawa serta Kim Kyungsan. Suaminya Kim Heechul, sedang melakukan perjalanan bisnis hingga besok lusa.

Taeyeon menoleh pada Minhyuk yang asyik dengan buku – bukunya. Hwang muda ini memang tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang hobi belajar. Ibu dari satu anak ini mendengus, kenapa kedua saudara Hwang ini bisa memiliki otak yang begitu encer? Sementara dirinya hanya memiliki kemampuan lebih di bidang seni. Huft, payah sekali.

“Minhyuk-ah, apa kau tahu apa yang terjadi dengan kakakmu?” Tanya Taeyeon sembari menyuapi bubur pada putranya.

“Setahuku semalam ia hanya pergi bersama tuan Choi.”

“Omo! Benarkah?” seketika Taeyeon menghentikan suapannya.

“Apa ada yang aneh?” bingung Minhyuk.

“Aishh jinjja.. kenapa kau bodoh sekali? Kalau mereka pergi berdua pada malam hari, itu artinya terjadi sesuatu diantara mereka.” Taeyeon merendahkan suaranya, menghindari Tiffany yang bisa saja mendengar ucapannya. Minhyuk yang mengerti kemana arah pembicaraan wanita dengan rambut pendek tersebut, hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Ia yakin Siwon pasti sudah mengungkapkan perasaannya pada Tiffany. Dan ia senang karena pria itu bisa mengembalikan kecerian pada kakak satu – satunya tersebut.

“Tiffany,”

Panggilan dari suara lain, sontak membuat ketiga orang dengan aktvitas masing – masing itu terlonjak kaget.  Jessica berdiri disamping lemari penyekat antara ruang tamu dan meja makan. Rambutnya yang diikat kebelakang, membuatnya tampak manis. Jessica tersenyum lembut pada mereka. Tiffany ternganga ditempatnya. Ini bukan mimpi kan? Perlahan Jessica menghampiri Tiffany  yang masih mematung. Minhyuk dan Taeyeon juga tidak mampu bergerak, seakan bumi berhenti berputar untuk mereka dan membiarkan Jessica menikmatinya sendiri.

“Apa ada yang bisa aku bantu disini?’ tanyanya kemudian.

“Nde?” Tiffany mengerjap kaget.

“Maafkan aku Tiff, aku telah menorehkan luka yang begitu dalam padamu. Tapi kau… seperti biasa kau selalu baik padaku. Kau bahkan rela merawatku disaat keluargaku membuangku. Aku malu… aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari orang sebaik dirimu. Hiks.. hiks..”

“Jess.. Jessica.. kau….”

“Ne, aku kembali Tiff. Setelah kemarin kau mengajakku ke kampus, aku mendapatkan lagi memori dan kesadaranku. Aku tidak tahu apakah itu karena ketulusanmu atau yang lainnya. Yang jelas, aku senang bisa bersamamu lagi.” Tiffany mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah tirus Jessica. “Kau benar – benar kembali Jessie?” Jessica mengangguk tegas. Setetes demi setetes air, tumpah dari kedua mata sepasang sahabat yang saling merindukan itu. Mereka berpelukan lama mencurahkan segala rasa rindu yang terpendam selama 3 tahun.

 

*****

“Eonnie, terima kasih kau mau kembali pada kami. Maaf, aku telah gagal menjadi adikmu.” Krystal bergelayut manja di lengan kakaknya Jung Jessica. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan hangat darinya.

“Hey, kau tidak salah little Jung. Aku mengerti bagaimana posisimu. Jangan salahkan dirimu lagi ne,”

Tiffany mengadakan pesta kecil – kecilan di beranda rumahnya untuk merayakan hubungannya bersama Siwon juga kembalinya Jessica pada kehidupan mereka. ia sangat bersyukur karena bisa mendapatkan dua orang yang dicintainya sekaligus. Tiffany kembali menangis. Kali ini tangisan bahagia yang ia tumpahkan.

“Kenapa kau hobi sekali menangis, hm?” Siwon memeluk Tiffany dari belakang. Ia menyandarkan dagunya diatas kepala Tiffany.

“Salahkan keadaan yang selalu membuatku menangis.” Tiffany memutar tubuhnya sehingga ia berhadapan langsung dengan Choi Siwon. Pria yang lebih tinggi darinya itu merapikan poni Tiffany yang tertiup angin. “Sepertinya aku harus mengisi penuh kulkas kita dengan ice cream setelah kita menikah kelak.” Tiffany membulatkan matanya, “Yak!! Oppa!! Jangan bicara yang tidak – tidak.” Teriaknya guna menutupi rona malunya.

“Wae? Bukankah kita akan menikah?”

“Mwo??”

“Aku akan segera menjadikanmu istriku Tiffany Hwang.”

“Jinjja??”

“Tentu saja.” Tiffany memukul pelan dada Siwon. “Lamaran yang tidak romantis.” Cibirnya kesal.

Siwon meraih kedua tangan Tiffany dan meletakkannya tepat di tempat jantungnya berdetak. Tiffany dapat merasakan detakan yang cepat dan tidak beraturan di balik kemeja Siwon. Ia mendongak menatap manik mata elang Siwon yang sarat akan cinta. Dengan susah payah, Tiffany menelan ludahnya. Siwon mengunci tatapannya seakan ia tidak ingin membiarkan mangsanya pergi. “Aku menginginkanmu menjadi milikku seutuhnya.” Bisiknya sangat pelan bahkan menyerupai desahan. “Will you marry me?” Tiffany terpaku dilantai batu yang ia pijak.  Siwon sungguh melamarnya? Benarkah?

“Tiffany, ayo jawab! Kami tidak sabar ingin mendengarnya!” teriakan Jessica membuyarkan moment romantis mereka. semua pasang mata menatap tajam kearahnya. “Ups, mianhae.” Tiffany terkekeh melihat ekspresi ketakutan Jessica. Ia pun dengan lantang menjawab, “AKU TIFFANY HWANG DENGAN SEGALA KESADARANKU AKAN MENERIMA LAMARAN DARI SEORANG PRIA BERNAMA CHOI SIWON. Apa ada yang keberatan?” semua yang hadir disana melongo tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Tiffany, termasuk Choi Siwon. Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan. Pada detik berikutnya mereka tertawa menyisakan Tiffany dengan wajah memerahnya bak udang rebus. Tiffany menunduk malu. Menyadari hal itu, Siwon segera menghiburnya. “Woahh.. ternyata calon istriku agresif juga. Nafsuku semakin meningkat.” Godanya dengan sebuah kedipan genit.

“OPPAAAA!!!!”

“Hahahahaha……”

Mata Minhyuk berkaca – kaca menyaksikan kebahagian sang kakak. Ia menatap dua bintang yang paling bersinar, ‘Eomma, Appa, aku sudah memenuhi janjiku untuk mengembalikan senyuman Tiffany Noona. Tugasku kini akan kuserahkan pada Siwon Hyung. Aku percaya ia akan menjaga Noona melebihi diriku.’ Gumamnya dalam hati.

“Kau menangis Oppa?” selidik Krystal yang entah sejak kapan berada disamping Minhyuk.

“Aniyo. Jangan sembarang menuduh.” Minhyuk memalingkan wajahnya. Ia tidak mau Krystal melihatnya menangis.

“Sudahlah Oppa. Kau tidak perlu berbohong.  Aku melihat air matamu menetes.” Krystal mati – matian menahan tawanya.

“Aisshh.. kau ini. Sudah kukatakan aku tidak menangis.” Tanpa terduga, Krystal menyeka satu titik air yang masih menempel di pipi Minhyuk. “Kalau kau tidak menangis, lalu apa ini?” gadis itu mengangkat jempolnya yang basah. Minhyuk tidak bisa lagi mengelak. Ia menepis tangan Krystal yang terangkat di depan wajahnya. “Terserah.” Pria tampan itu pun pergi meninggalkan Krystal yang tertawa sembari memegangi perutnya.

“Akui saja Oppa. Tidak perlu malu. Hahahha…..”

Malam yang indah ini terasa sangat panjang. Mereka melaluinya dengan suka cita hingga tak terasa fajar sudah menjelang. Kebahagian mereka tidak ikut sirna bersama hilangnya awan gelap.

 

The End

 

 

Epilog

Suara hentakan heels setinggi 3 senti menggema memenuhi koridor rumah sakit. Wanita berambut coklat itu mendapat kabar bahwa sahabatnya harus dilarikan ke gedung serba putih ini. Mata dinginnya mencari – cari keberadaan keluarga serta sahabat lainnya. Ia dapat bernafas lega, saat matanya menangkap sosok – sosok yang dicarinya. Dengan langkah cepat, ia menemui mereka. “Siwon Oppa, bagaimana keadaan Tiffany?” tanyanya to the point setelah ia mengatur nafasnya akibar berlari.

“Ia masih di dalam Jess. Dokter sedang menanganinya.” Wajah Jessica tiba – tiba berubah sayu. “Seharusnya tadi aku menemaninya di rumah. Ia pasti sangat kesakitan.” Sesalnya.

“Gwenchana. Ini memang sudah waktunya Tiffany melahirkan.” Hibur Siwon. Ia tahu Jessica akan terus merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada istrinya, meskipun ia tidak melakukan kesalahan apapun. Pengalaman menyakitkan tempo dulu masih membekas dihatinya.

Setelah 1 jam menunggu, dokter yang membantu proses persalinan Tiffany akhirnya keluar dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya. Siwon langsung saja mencecarnya dengan pertanyaan bertubi – tubi. “Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa ia selamat? Lalu bagaimana dengan bayi kami, apa ia juga selamat? Apa mereka berdua sehat? Tidak ada sesuatu yang hilang dari mereka kan, Dok?” Jessica memukul lengan kekar Siwon. “Oppa, kalau pertanyaanmu seperti itu, bagaimana bisa dokter menjeaskannya?”

Dokter cantik bername-tag Kwon Yuri itu pun hanya tersenyum kecil menanggapi kecemasan Siwon. Ia tahu persis bagaimana cemasnya seorang suami saat istrinya melahirkan. Dengan bijak, ia menjelaskan, “Istri anda baik – baik saja tuan. Ia wanita yang sangat kuat. Aku sungguh kagum padanya. Dengan sisa tenaganya yang sudah melemah, ia terus berjuang untuk mengantarkan putra – putri anda ke dunia ini. Ia sama sekali tidak mempedulikan rasa sakit yang harus diterimanya. Yang istri anda inginkan hanyalah keselamatan bayi – bayi kalian.” Mata Siwon berbinar bahagia. Mendengar pejelasan sang dokter, membuatnya semakin mencintai istrinya. Tiffany telah rela mempertaruhkan nyawanya demi bayi – bayi mereka. tunggu! Bayi – bayi? Apa itu berarti…….

“Dokter, tadi anda sempat mengatakan bayi – bayi dan putra – putri. Apa maksud anda ….”

“Iya tuan, selamat. Istri anda telah memberi sepasang bayi kembar yang sangat tampan dan cantik.”

“Jeongmalyo?” teriak Jessica, Siwon, Minhyuk dan Krystal bersamaan.

“Ne, kalian boleh menjenguknya sekarang.” Dokter Kwon membuka pintu kamar Tiffany lebih lebar agar keluarga pasiennya bisa leluasa masuk. Ia pun meninggalkan mereka dengan hati yang senang karena sekali lagi ia telah berhasil menolong orang yang sangat membutuhkan keahliannya.

 

*****

“Oppa berikan Nana padaku! Kau bisa menjaga Juno!” seperti biasa Minhyuk dan Krystal selalu memperebutkan Choi Juno dan Choi Nana putra – putri kembar Tiffany dan Siwon.

“Hwang Minhyuk! Jung Krystal! Mereka bukan mainan yang bisa kalian perebutkan seenaknya!” Jessica memasang badannya untuk melindungi dua keponakannya yang sangat ia sayangi dari tangan – tangan usil Minhyuk dan Krystal.

“Eonnie, aku hanya ingin mendandani Nana.” Rengek Krystal.

“Ia masih bayi Krys-ah. Kau tidak perlu mendandaninya berlebihan.”

“Aku hanya memberinya aksesoris rambut dan …..”

“Dan memasangkannya gelang, kalung serta aksesoris lainnya yang biasa ia pakai.” Potong Minhyuk.

“Mwo? Benarkah itu?” suara Siwon mengalihkan perhatian mereka. Siwon dan Tiffany baru saja turun dari kamarnya. Hampir setiap hari mereka harus mendengar keributan yang diciptakan oleh tiga makhluk di depannya. Jessica, Krystal dan Minhyuk selalu berkunjung ke rumah pasangan suami istri ini hanya untuk sekedar bertemu dengan bayi kembar yang baru berusia 1 bulan ini.

Tiffany senang dengan kehadiran mereka. namun jika sudah terjadi keributan seperti ini, ia akan merasa pusing sendiri.

Ting tong

“Biar aku yang membukanya.” Minhyuk mengajukan diri. Langkah kakinya yang lebar memudahkannya mencapai pintu lebih cepat.

Tatkala ia membuka pintu, ia mendpati YoonA dan Kai sedang tersenyum kearahnya.

“Hei, Oppa.”

“Hei, Yoong.”

“Kami hanya ingin memberikan ini untuk kalian.” YoonA menyerahkan kertas tebal berwarna gold dengan ukiran tulisan “Engagement” pada Minhyuk. Pria itu menatap tak percaya. “kalian?”

“Ne, kami akan bertunangan minggu depan.” Ujar Kai menjelaskan.

“Tapi bagaimana bisa?”

“Apanya yang tidak bisa? Aish.. kau selalu saja membuatku kesal Oppa.” YoonA memberenggut kesal.

“Maksudku, aku tidak pernah tahu kalian berkencan.”

“Itu karena kau terlalu sibuk dengan urusan cintamu.”

“Cinta apa?” Krystal yang tiba – tiba muncul dari arah belakang, menyela obrolan mereka.

Minhyuk gelagapan, menatap tajam pada mata bulat YoonA.

“Aniyo. Kau akan tahu kalau waktunya sudah tiba.” YoonA terkiki geli. Ia kemudian menarik tangan Kai untuk segera pergi dari hadapan pasangan yang kini tengah mengerutkan keningnya bingung.

“Ayo, Oppa kita pergi. Dan kau Hwang Minhyuk jangan terlalu lama menunggu sebelum kesempatanmu hilang. Bye!” teriak YoonA seraya menjauh.

“Apa – apaan bocah itu.” Gerutu Minhyuk gugup dengan tatapan intimidasi dari Krystal.

“Bisa kau jelaskan padaku Oppa?” Minhyuk segera menghindar. “Aku akan menjelaskannya setelah aku siap. Ok?” pria tinggi itu berjalan mundur. Setelah tiba di ambang pintu tengah, ia langsung berlari menaiki tangga. “Yak!! Oppa!! Tunggu!! Kita belum selesai bicara!”

Tiffany, Siwon dan Jessica hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah adik – adik mereka yang tidak pernah luput dari pertengkaran.

 

*****

“Nana-ya, Juno-ya, tolong berhentilah menangis.” Jessica mengibas – ibaskan tangannya untuk meredakan tangisan Choi Juno dan Choi Nana. Saat ini ia tengah berada di sebuah taman menunggu Tiffany yang tidak kunjung datang sejak 20 menit yang lalu.

“Anda wanita yang hebat nona.” Komentar seorang pria yang entah dari mana munculnya. Jessica mendongak keget. “Maksudnya?”

“Anda mengasuh bayi kembar anda hanya seorang diri?”

“Nde? Maaf tuan, anda salah paham. Mereka bukan bayiku. Aku—“

“Jadi anda tidak ingin mengakui mereka? ckck.. ironis sekali. Apa suami anda pergi meinggalkan anda, sehingga anda berniat untuk membuang mereka?” Jessica semakin terbelalak. Pria ini benar – benar membuat darahnya mendidih.

“Tuan, dengar. Aku bukan ibu dari bayi kembar ini. Mereka hanyalah keponakanku. Ibunya sedang pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan mereka.” teriaknya kesal. Ketika mereka sedang asyik berdebat, suara langkah Tiffany menghentikan perdebatan mereka. “Jessie, ada apa? Kenapa kau berteriak?” Jessica mendelik kearah pria tadi. Mengerti dengan tatapan sahabatnya, ia pun mengikuti arah pandangnya.

“Oh, Annyeong. Apa saudaraku menganggu anda tuan?”

“Aniyo, justru aku-lah yang telah menganggunya.”

“Nde?”

“Namaku Lee Donghae. Aku seorang sosiolog. Maaf tadi aku sempat menuduh saudara anda ingin menelantarkan anaknya.” Pria bernama Lee Donghae itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Tiffany. Ia melirik sejenak pada Jessica yang memanyunkan bibirnya.

“Oh, namaku Tiffany Choi. Dan wanita disampingku ini bernama Jung Jessica.” Tiffany tampak berfikir sejenak sebelum kembali berujar,” Uhm, aku rasa kesalahpahaman kalian ini adalah suatu takdir.”

“Mwo?” kaget Jessica dan Donghae bersamaan.

 

6 bulan kemudian

Pesta pernikahan Lee Donghae dan Jung Jessca berlangsung meriah. Tiffany terlihat sangat cantik dengan gaun putih tanpa lengan yang menjulang sampai lututnya. Choi Nana yang berada dalam gendongannya pun tidak kalah cantik dari ibunya. Ia menggunakan gaun senada dengan Tiffany ditambah pita yang melingkar manis di sekitar kepala munginya.

Siwon berdiri disamping istrinya dengan tuxedo hitam yang dipadukan dengan dasi berwarna merah. Ia menggendong Choi Juno yang tampak sangat tampan persis seperti ayahnya dengan lesung pipi yang menambah kadar ketampanannya.

“Aku senang akhirnya Jessica bisa menemukan pendamping hidup yang begitu mencintainya.” Ungkap Tiffany terharu menyaksikan betapa serasinya pasangan pengantin baru itu.

“Aku juga senang karena istriku tidak akan menduakan kami lagi untuk mengurus sahabatnya.” Tiffany sontak menoleh kesamping. Ia memicingkan matanya guna menatap tajam suaminya.

“Jadi selama ini kau beranggapan kalau aku menduakan kalian Oppa?”

“Hehe.. itulah yang kurasakan honey, tapi aku tidak keberatan selama dia bukan seorang pria.Tiffany mencubit keras pinggang Siwon. “Aww..!” pekiknya.

“Sekali lagi Oppa berani bicara macam – macam. Aku tidak akan mengizinkan Oppa untuk menyentuhku.” Ancam Tiffany pura – pura marah. Kontan saja Siwon tidak terima. Bagaimana mungkin ia bisa tahan tanpa menyentuh istrinya barang sejenak pun.

“Yak! Nyonya Choi! Kenapa hukumannya berat sekali? Aku tidak bisa bertahan tanpa menyentuhmu.” Siwon merengek manja di kalimat terakhirnya.

“Aigoo.. suamiku lucu sekali. Kalian lihat babies Choi, Daddy kalian sedang merajuk. Hihihi..” secepat kilat Siwon mencium singkat bibir Tiffany yang tengah terkikik. “I love you more Tiff baby,”

“Me too.”

 

******

“Aku iri dengan kemesraan kakak – kakak kita. Kapan aku bisa seperti mereka?” Krystal menatap iri pada dua pasangan yang sedang di mabuk cinta itu. Ia kesal karena hingga detik ini belum ada pria yang mau menjadi kekasihnya.

“Dasar gadis bodoh. Kalau kau ingin seperti mereka kau harus memiliki kekasih terlebih dulu.” Cibir Minhyuk yang duduk disebelahnya.

“Justru itu yang membuatku kesal. Kenapa tidak ada seorangpun yang mengungkapkan cintanya padaku?”

“Hahaha.. mungkin karena mereka tidak menyukai gadis cerewet dan menyebalkan sepertimu.” Minhyuk memegangi perutnya akibat tertawa keras yang dibalas tatapan mematikan dari Krystal.

“YAAKKK!!! Apa maksudmu?” Krystal mengerucutkan bibirnya. Matanya sudah basah. Ia sungguh – sungguh ingin memiliki seorang kekasih. Sadar dengan perubahan raut wajah dari gadis di sampingnya, Minhyuk pun terdiam. Ia menatap lekat manik mata Krystal.

“Hey, jangan menangis. Kau terlihat jelek saat menangis.” Minhyuk menghapus cairan yang mengalir dipipi Krystal. “Dengar, kau adalah satu – satunya gadis pemilik kunci dari gembok hatiku. Hanya kau-lah yang mampu membukanya. Aku tidak tahu kapan persisnya aku jatuh cinta padamu. Yang aku tahu, aku selalu ingin berada di dekatmu. Saat bersamamu, jantungku selalu berdetak lebih cepat. Aku sadar bahwa aku telah jatuh dalam pesonamu. Saranghae Jung Krystal.” Krystal terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka dengan ungkapan cinta yang akan meluncur dari mulut orang yang selama ini diharapkannya. Dengan gerakan cepat, gadis berambut hitam tersebut menghambur kedalam pelukan hangat seorang Hwang Minhyuk.

“Nado saranghae Oppa.” Balasnya dengan iringan tangisan kebahagiaan.

 

FIN

 

Note :

Aku tidak menyangka kalau chap 2 ini ternyata lebih panjang dari rencana sebelumnya. Awalnya aku sempet berfikir untuk membagi dua chap ini. Tapi rasanya tanggung dan takut kelamaan nunggunya hehehe…

Oke. Berarti hutangku tinggal satu. Aku sedang mengumpulkan feel untuk melanjutkan ff ku yang berjudul ‘saranghae my spoilled waitress’ yang sudah lama tertunda. Semoga aja aku memiliki waktu luang dan feel yang mendukung untuk melanjutkannya.

Thanks and see you ^^

 

 

 

 

 

 

 

50 thoughts on “(AF) Thank You My Brother Part 2 – End

  1. Huaaaaaa happy ending suka deh akhirnya fanynya luluh ama siwon. Kasian jessienya di asingin kaya gitu jahat bgt sih orangtuanya hiks

  2. Anzayy nangis cuy di part2 awal 😂😂 itu kopel yoona-kai krystal-minhyuk greget masa, kenapa gk di tuker aja?? krystal-kai kan … Ah sudahlah 😕😕
    Dan akhirnya happy end #horayy walaupun kerasa cepet a.k.a kurang panjang hahaha friendshipnya disini kerasa banget, jadi terharu aku 😱😱
    Okee, ditunggu karya selanjutnya 💪💪

  3. hoho, gak nyangka ternyata konflik jeti di masa lalu diselesaikan di masa depan..siwon gombal banget yaa, and senengnya happy ending buat semua..dituggu karya2 berikutnya thor

  4. Waaa.. happy ending 😊 seneng banget akhirnya jessica sm tiffany bs sahabatan lgi & siwon sm tiffany skrg dah pnya anak duhh sweet family 😊
    Daebak thor ^^

  5. Annyeong @q2lovepink-ssi…
    Aaaaa… haa…. ni ff bikin melting….. 😋 apalagi scene TiffMommy wktu nrima cinta WonDaddy, pakek kalimat hukum yg maaniiss banget. Trus scene Jung Baby n Hyukkie, memulihkan semangat hyukstal shipper yg sempat porak-poranda. Daaann… aku paling seneng sma ff yg menceritakan btapa dahsyatnya persahabatan 9 gadis, walau ga semua ada. Terutama tentang “Kembaran Sialan” JeTi, Jessica Tiffany. Ooohh… Gomawo @q2lovepink, ditunggu karya berikutnya terutama SMSW nya. Annyeong

  6. Q terharu bc ff ini..dg kisah cinta SIFANY dn prsahabatan JETI..semoga dlm khdupan yg nyata akn seperti sbuah ff SiFany yg sllu apik crtnya..jd kangen JETI CAUPLE

  7. akhirnya masalah udah jelas,tiffany dapat bertemu jessica trus jessica udah sembuh,siwon mendapatkan tiffany,minyuk bersama krystal,jessica bersama donghae,yoona bersama kai,mereka semua udah mendapatkan kebahagiaan masing2,

  8. Hampir lupa sama alur ceritanya-_-
    Tapi ini beneran keren! Feel nya dapet banget. Sedih, senang, manis dicampur aduk dah
    Couple nya juga ditambah haesica meskipun gak ada momentnya-,-
    Keep writing!!

  9. Akhirnya mreka menemukan kebahagiaan masing2
    Happ END
    Wahh senang’a liat SIFANY ini MINSTAL jg
    Jjang lah pkok’a

  10. Aaaaaa…. Sweett bgttt pas bagian tiff meluk siwon krna ktakutan ama preman² brengsek itu 😂 smpe geli sndiri baca nya dan aneh nya aku baca balik lg karna seneng bgt ama moment nya 💞 author jeongmal gomaweoyo udh bikin ff se kece ini 😄

  11. Memang ya persahabatan itu bisa aja hancur diterpa badai karena rasa cinta ke seorang pria yang sama, walaupun udh bertahun tahun bersahabat tetep aja…😔😵
    Tapi persahabatan bisa kembali lagi dirajut karena cinta❤
    Kasih sayang💕 memang harus buang ego masing masing kalo udh menyangkut tentang sahabat *Curhat sedikit boleh lah hehe^_^ Siwon oppa bijaksana banget sih, ibaratkan dewa Zeus ya gk sedangkan Tiffany eonni dewi Athena*inget lagu The Boys💃
    Nangis part flashback Tiffany eonni sama Jessie eonni pas kuliah dulu😭 *berasa kyk Fany eonni and Jessie eonni di Girls’ Generation
    Couplenya disini banyak Sifany, Haesica, Minhyuk-Krystal, Yoona-Kai, Taeyeon-Heechul *eh Kai oppa sama Krstal eonni😊
    Serius deh Happynya ada, Sad ada, Comedy ada lengkap lah… tetep aja ada part yang bikin nangis😭
    Lupa ada Juno and Nana noumu kyeopta👦👧 pokoknya yang couple paling hot Sifany❤ Happy Family Choi’s Family👪 💑 Author Jjang! Gk ke pikiran ceritanya bakal kyk gini

  12. Kasian sica mengalami kesehatan mental,tapi syukurlah sica akhirnya sembuh juga.sifany akhirnya menikah dan punya anak kembar.dan juga sica menikah eengan donghae.
    Daebak thor ffnya,keren banget,suka deh ffnya.
    Ditggu ff lainnya thor.tetap semangat thor.

  13. akhirny ksalah pahaman yg mnodai persahabatan fany-jessi berakhir. aplg endingny smua couple bahagia dg hidup masing2 hheee

  14. yuhuu happy ending. disini couple nya greget yah. kai-yoona krystal-minhyuk ulalaaaa (untung gak kaistal/slap wkwk) (gak gak. kalo kaistal pun juga gpp hueheh)
    suka deh aku pokoknya. ditunggu karya yg lain lain🙂

  15. Ahh akhirnya haapy ending..
    Aku suka baca FF ini soalx banyak couple kesukaanku yaitu SiFany (udah pastilah), HaeSica (forever), HyukStal, dan JeTi terlebih suka sama cerita persahabatan mereka. Semoha aja di kehidupan realnya mereka tetap sahabatan

  16. waahh….akhirnya semua mendapatkn pasangan…ending yg membahagiakn, terutama buat sifany yg dikarunia’i baby kembar…

  17. Jd seperti itu masa lalu fany jessie,itu salahnya dongwook sendiri yg berambisi dan jessie jg serba salah jadinga, mereka sama sama jd korban dongwwok biarpun dongwook jg mencintai jessi, tp dia mengorbankan 2 hati wanita sekaligus. Dan dia jg sdh merusak persahabatan jeti.
    To untung semuanya sdh terselesaikan dan mereka bisa hidup bahagia.
    Klo menurutku kayanya d jadiin 2 part gini emg kepanjangan, jd alurnya berasa keepetan.
    Perkembangan hub masing” karakter jg jd berkembang secara singkat.
    Tp menarik sih ide ceritanya thor, semoga kedepannya ff’y lebih keren lg

  18. miss jeti moments<3 dannn ffnya so sweet skaliiii suka deh dgn persahabatan tiffany percintaan sifany kaiyoong hyukstal hahahah ditunggu ff berikutnyaa

  19. Keren banget
    Sekian lama gak baca ff sifany dan sampailah di ff yg keren ini hehehehe kangen sifany {}
    Senang akhirnya tiffany jessica kembali kayak dulu lagi dan menemukan cinta sejati mereka masing2, tapi krystal sama minhyuk menarik perhatianku😀 jadi ingat the heirs kalau liat mereka hehehehe lucunya mereka berdua ini😀
    Ditunggu karya selanjutnya dan ditunggu kelanjutan ff saranghae my spoiled waitersnya thor😀

  20. Bagus banget, Min!
    Aku jadi keinget sama sahabatku yang sama seperti Jessica di ff ini, dan sekarang dia sudah tenang di alam sana sejak enam tahun yang lalu. Uhh, kok aku jadi lagi merasa bersalah banget ya? Ceritaku persis banget kaya Tiffany yang ingin menemuinya, tapi karena aku ketakutan aku jadi nggak pernah berhasil untuk menemuinya sampai dia sudah nggak ada aku tetap sama saja. Aku merasa bahwa dia itu bencana bagiku, aku juga merasa malu karena punya sahabat yang seperti itu. Padahal dulu dia selalu baik padaku, menolongku di segala waktu yang dia punya walau hari itu dia sangat sibuk, dia juga selalu datang menghampiriku tanpa kusuruh, semua keluh kesahku juga sudah kutumpahkan bersama dia yang selalu mendengarkanku dan dia juga yang menepis hawa membunuh di dalam hatiku setiap kali aku melihat senyuman manisnya. Aku tau kalau aku merindukan semuanya tentang dia, tapi aku terlalu takut untuk bertatap mata dengannya. Aku tau kalau aku ingin sekali mengembalikan hidupnya seperti dulu lagi dan juga mengembalikan senyuman manis itu, tapi… aahh sudahlah… aku yakin dia pasti sudah sangat bahagia di sisi-Nya saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s