(AF) The Choi’s Girl Part 5 (End)

THE CHOI’S GIRLS PART 5
TCG

 Author : @zoey_loe

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Support Cast : Im Yoona – Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Lee DongHae – Park Jung Soo – Choi Min Ho

Cameo: Lee Dong Wook

Length : Chapter

Genre : Family, Romance and Comedy

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!

Okey!! Happy reading and keep RCL please…….

BAB 8 – DON’T LEAVE ME

One month later

“Bangunlah tukang tidur” suara Tiffany mengintrupsi saat menarik selimut Soo Ji.

“Ugh”

“Kau hanya punya waktu lima menit untuk turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Atau shower yang akan mendatangimu” ancam Tiffany tidak main main.

Soo Ji membuka satu mata dan mengintip. Tiffany yang berdiri ditepi tempat tidurnya mengenakan terusan berwarna putih, dengan kedua tangan yang diletakkan dipinggangnya.

“Choi Soo Ji” teriak Tiffany, melihat Soo Ji yang masih belum bergerak.

“Aku dengar” Soo Ji menggeram kesal lalu duduk dan bersandar ditempat tidurnya.

“Joon dan Yeon Ah sudah berada dibawah” Tiffany memberitahu dengan suara lantang.

Mata Soo Ji melebar, dia memiliki janji dengan Joon untuk mengajak Yeon Ah dan Lauren pergi bermain ke tempat bermain in door yang berada di sebuah mall. Diliriknya portable clock yang berada dinakas. Sudah pukul sembilan kurang sepuluh menit, sedangkan mereka akan pergi pada pukul sembilan.

Tanpa ingin menghabiskan banyak waktu lagi, Soo Ji berlari terhuyung huyung kekamar mandi. Tiffany tertawa geli menatap tingkah putrinya. Berjalan kelemari pakaian Soo Ji, Tiffany membantu menyiapkan pakaian untuk Soo Ji. Berhubung ini musim dingin Tiffany menyiapkan fashion item kas preppy style, bergaya layering tapi tetap terlihat fashionable.

 

***

“Kalian tidak lelah sudah tiga jam bermain dan masih ingin bermain lagi” Soo Ji menggelengkan kepala nya sembari memasangkan sepatu Lauren ketika keluar dari arena permainan itu.

“Ini menyenangkan Unnie” Seru Lauren yang tak terlihat lelah sehabis bermain.

“Unnie, bisa tolong ikatkan tali sepatuku?” pinta Yeon Ah dengan manis.

“Biar Oppa saja” kata Joon berlutut untuk mengikat tali sepatu adiknya. Tapi Yeon Ah menarik kakinya menjauh dari Joon.

“Aku ingin Soo Ji Unnie yang mengikatnya” tolaknya mentah mentah.

Soo Ji melirik Yeon Ah yang duduk disamping Lauren “Oh, wait a minute huh?” Yeon Ah mengangguk senang.

Setelah selesai memakaikan sepatu Lauren, Soo Ji beralih ke Yeon Ah. Mengikat tali sepatunya dengan ikatan sepatu yang tidak biasa, membuat Yeon Ah berdecak kagum.

“Woaah.. ikatan sepatu Unnie berbeda dari ikatan sepatu Eomma dan Oppa” ucapnya dengan takjub ketika Soo Ji selesai mengikat tali sepatu nya.

Soo Ji melirik Joon dan tersenyum bangga “Ikatan sepatu itu agar tidak mudah terlepas”

“Apa yang ingin kalian makan?” tanya Joon saat mereka mulai berjalan pergi meninggalkan tempat bermain itu.

“Kami ingin ayam” gema Lauren dan Yeon Ah bersamaan.

“Oke.. ayo kita pergi”

 

***

“Aigoo.. mereka tampak begitu serasi” kata Taeyeon yang menatap layar ponselnya. Suaranya begitu keras dan membuat Tiffany menjulurkan kepalanya penasaran.

Nugu?”

Taeyeon memperlihatkan pada Tiffany apa yang dia lihat. Foto Soo Ji, Joon, Lauren dan Yeon Ah dengan wajah lucu menatap kamera. Yeon Ah dan Lauren berada ditengah tengah Joon dan Soo Ji.

“Mereka sangat cocok. Seperti foto keluarga” gumam Taeyeon asal.

Tiffany menatapnya tajam “Mereka masih terlalu kecil untuk menikah, Kim Taeyeon”

Taeyeon tahu, dia juga tidak serius mengatakan itu, hanya bercanda. Tiffany saja yang selalu serius dalam menanggapi segala hal.

“Jangan terlalu serius, aku hanya sedang berimajinasi. Tiffany Hwang” Taeyeon merebut kembali ponselnya yang ada ditangan Tiffany. Tadi Joon yang mengirimkan foto itu padanya.

“Kenapa kau begitu menyukai Soo Ji?” Tiffany memicingkan matanya menatap Taeyeon penasaran. Taeyeon begitu bersemangat setiap kali membicarakan Soo Ji dan Joon yang membuat Tiffany ingin tahu alasan dibalik semua itu.

“Cukup simple, babe. Aku menyukai Soo Ji karena putraku menyukainya. Dan karena dia adalah putrimu” jawab Taeyeon dengan santai.

Tiffany mengerutkan alisnya “Memang kenapa jika dia putriku?” tiba tiba matanya terbelalak menatap Taeyeon “Kau tidak menyukai aku kan, Tae?”

Taeyeon memberi pukulan kuat dikepala Tiffany “Oh sorry, I’m normal

Apa apan Tiffany, mulutnya asal bicara seperti itu. Tidak mungkin dia menyukai Tiffany, dia mencintai Tiffany layaknya seorang sahabat, layaknya seorang saudara.

Tiffany meringis dan mengusap kepalanya dimana Taeyeon memukulnya tadi “Kau sangat kejam” cibir nya dengan sebal.

 

Hening…

“Sebenarnya beberapa hari ini aku tidak dapat tidur nyenyak karena aku mendapatkan mimpi buruk yang sama” Tiffany berhasil menelan ludahnya ketika berhasil mengatakan itu.

Mimpi itu datang satu minggu yang lalu, mimpi yang sama dan membuatnya ketakutan setengah mati. Tapi, Tiffany tidak menceritakan mimpi itu pada siapapun termasuk Siwon. Dan sekarang dia sudah tidak tahan, Tiffany akan membaginya pada Taeyeon.

“Mimpi buruk? Tentang?” Taeyeon merapatkan tubuhnya lebih dekat dengan Tiffany. Mimpi itu membuat raut wajah Tiffany berubah seketika.

Tiffany menghela nafas panjang sebelum bicara “Aku melihat Lauren dibawa paksa oleh seseorang yang wajahnya tidak terlihat jelas dimimpi itu. Lauren menangis begitu pun aku, tapi orang itu tetap membawa Lauren tanpa menghiraukan tangisannya” suara Tiffany terdengar lemah.

Taeyeon menggigit kuku jarinya “Apa kekasih Jessica tahu kalau Jessica hamil?” tanya Taeyeon cemas menatap Tiffany.

“Tidak. Bahkan aku menutup rapat soal kematian Jessica” Tiffany menarik nafas sesaat “Aku menutup mulut para perawat disana agar menyembunyikan kebenaran bahwa anak Jessica masih hidup”

Taeyeon terperangah “Kenapa kau melakukan itu?”

“Karena sejak saat itu Lauren adalah anakku dan aku tidak mau kehilangannya”

Taeyeon mencerna ucapan Tiffany dan dia dapat mengerti apa yang Tiffany rasakan. Menarik tubuh Tiffany kedalam pelukannya, Taeyeon mendekap nya erat.

“Itu hanya mimpi, darling. Mungkin mimpi itu datang karena kau terlalu takut kehilangan Lauren” Taeyeon mengusap penuh sayang dipunggung Tiffany.

Tiffany mengangguk pelan. Memang tidak dapat dipungkiri, apa yang Taeyeon katakan itu benar. Terkadang Tiffany takut, jika kekasih Jessica tahu bahwa dia memiliki putri dan putrinya ada bersamanya. Tiffany takut, kekasih sahabatnya itu akan datang dan mengambil Lauren darinya. Itu yang dia takutkan setelah mimpi itu datang dalam tidur nya.

 

 

***

“Lusa adalah ulang tahun mu, kita harus membuat pesta yang meriah” usul Ny.Choi pada Lauren. Tiffany dan Siwon mengangguk setuju, begitupun Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji.

Tapi raut wajah Lauren tidak terlihat senang mendengar rencana yang akan dibuat Grammy nya “Aku tidak ingin pesta seperti itu” katanya menolak.

“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Siwon dengan heran.

Bukan ini yang diinginkan setiap anak ketika mereka berulang tahun? Pesta meriah dengan balon balon yang menghiasi ruangan, cake dengan karakter favoritnya, teman teman sekolahnya yang datang berkumpul untuk memberinya hadiah dan ucapan.

“Aku hanya menginginkan pesta yang sederhana disebuah taman yang dipenuhi dengan bunga bunga yang indah dan hanya ada aku, Grammy, Daddy, Mommy dan Unniedeul”

Tiffany mengernyit “Tapi ini musim dingin. Tidak ada taman seperti di musim panas” Lauren memang sangat menyukai musim panas dengan terik matahari. Itu kenapa dia sangat menyukai taman dan pantai.

Lauren cemberut karena keinginan nya setiap kali dia berulang tahun tidak pernah terwujud, sebab tanggal kelahirannya jatuh tepat pada musim dingin.

“Kau akan mendapatkannya” ucap Ny.Choi dengan santai.

“Bagaimana bisa?” itu pertanyaan yang keluar dari mulut Soo Ji. Karena ini musim dingin bagaimana bisa Grammy nya menjanjikan hal yang mustahil seperti itu.

“Apa yang tidak Grammy bisa”

Semua yang mendengarnya kebingungan. Apa Ny.Choi akan memakai kekuasaannya untuk mendatangkan musim panas dikala musim dingin sedang menghampiri negeri gingseng tersebut. Tapi, lagi lagi mereka mengingat bahwa Ny.Choi tidak pernah berdusta dengan ucapannya. Mereka dibuat penasaran dengan apa yang akan Ny.Choi lakukan untuk merayakan ulang tahun Lauren. Lauren sangat antusias menyambut hari ulang tahun nya, karena ini akan menjadi ulang tahun yang berkesan diingatannya, nantinya.

 

***

TIFFANY POV

“Kita Dimana?” rengek Lauren sekali lagi. Ketika kami sama sekali tidak memberinya petunjuk kemana kita akan pergi, apalagi dengan mata Lauren yang kami tutup. Jujur, aku pun tidak tahu kemana sekarang Siwon mengendarai mobilnya. Eomma hanya memberitahu tempatnya pada Siwon saat kami akan pergi tadi. Kami mengendarai dua mobil yang berbeda, membiarkan Soo Ji membawa mobilnya sendiri dengan Eun Ji dan Young Ji.

“Sebentar lagi sampai, sayang” Ujar Eomma sambil tertawa pelan.

“Bolehkah aku menebak?” tanya Lauren ketika aku membawanya keluar dari dalam mobil.

“Tentu saja” jawabku santai. Eomma mengambil alih untuk menggenggam satu sisi tangan Lauren.

“Hmmm” aku melihatnya sedang berfikir sejenak, dia memegang erat tanganku. Aku tahu dia tidak ingin terjatuh ataupun tersandung. Aku merasakan hembusan dingin  bulan Desember di Seoul.

“Aku bisa merasakan suara rumput yang terinjak oleh kakiku. Mungkin taman? Central park?” tanya Lauren, menerka keberadaan kami sekarang dan dia benar berada ditaman tapi bukan central park.

“Woaah” ujar Siwon tidak percaya “Jangan bilang kalau kau cenayang, Lauren Choi” Kata Siwon dengan nada terkejut yang dibuat buat.

“Apa penutup mata nya sudah dapat dilepaskan? Sudah setengah jam mataku ditutup dan aku merasa tersiksa” rengek Lauren pelan.

“Oke oke” Eomma tertawa pelan dan beberapa saat kemudian melepaskan penutup mata itu dari kepala Lauren.

Aku melihat Lauren dapat bernafas lega sekarang, dia mengerjapkan matanya beberapa saat, melihat semua hal baru yang berada didepannya. Ada taman besar dihadapan kami, dan itu bukan central park. Dan suhu diruangan ini hangat, tidak sedingin sebelumnya. Beberapa saat memperhatikan tempat ini, aku baru sadar ini taman buatan yang berada didalam ruangan. Plafon ruangan ini setinggi delapan meter kurasa, dengan lukisan awan diatasnya, membuatnya tampak begitu nyata. Aku pernah melihat tayangan iklan di TV beberapa waktu lalu, dan harga pembuatan taman ini sangat mahal. Tapi, untuk Eomma ini bukan lah apa apa.

“Eomma, apa kau tidak bisa menunggu hingga musim panas tiba?” tanya ku masih tidak percaya dengan taman buatan yang terasa begitu seperti taman asli pada umumnya.

Eomma hanya tertawa, sambil memperhatikan Lauren yang berlari dengan bahagia ditaman buatan ini. Lauren memang bukan penggemar berat musim dingin dan sudah merindukan musim panas.

Aku bisa melihat kilatan kebahagiaan ketika melihatnya menemukan taman musim panas buatan ini “Summer!! Summer!!” aku mendengar Lauren berteriak riang.

Kami berhenti didepan pohon yang tinggi, aku tidak tahu apa nama pohonnya tapi pohonnya sangat tinggi. Ada tikar lebar untuk alas duduk kami dengan cake lezat dua tingkat ditengah tengahnya. Ada pie blueberry kesukaan Lauren, sandwich kesukaan aku dan Soo Ji, spaghetti kesukaan Eun Ji, salad buah kesukaan Young Ji dan waffle coklat kesukaan Siwon. Semua ini yang menyiapkan adalah Eomma, aku tidak ikut campur untuk menyiapkan semua ini. kami seperti piknik, karena sudah lama juga kami tidak pergi piknik.

 

 

LAUREN POV

Make a wish, sayang” kata Mommy mengingatkan, dia duduk tepat disisi kananku.

Sowonel malhaebwa” seru Unniedeul penuh semangat.

Aku pun menautkan jemari ku, mengepalkannya didepan dada. Ada satu keinginan yang aku inginkan yaitu dapat terus bersama mereka. Aku pun meniup lilin yang mengelilingi cake lezat yang ada didepanku. Suara tepuk tangan memenuhi taman musim panas buatan ini, Oh Tuhan aku sangat bahagia sekarang.

“Selamat ulang tahun, sayang” Grammy memelukku dan memberikan ciuman bertubi tubi diwajahku. Aku menyayanginya sejak dulu dan tidak berkurang sedikitpun. Rasanya aku ingin menangis mendapat perlakuan yang begitu manis darinya.

“Grammy tidak bisa membelikan anak anjing yang kita lihat waktu itu karena ada seseorang yang alergi dengan hewan berbulu” Grammy melirik Soo Ji Unnie ketika bicara. Soo Ji Unnie memiliki alergi dengan hewan berbulu dan boneka, dia akan bersin bersin jika berada didekatnya.

“Jadi, Grammy membelikanmu ini” Grammy memberikan kotak persegi panjang dengan dihiasi pita biru.

Aku membuka kotaknya dan didalamnya ada mini dress baby doll berwarna biru soft ditambah bandana dan sepatu cantik berwarna senada. Astaga, ini cantik sekali..

“Grammy, ini cantik sekali. Thank you so much, I like this” aku mencium pipinya dengan cepat.

Kali ini aku membuka hadiah dari Daddy dan Mommy. Sebuah amplop yang membuat aku penasaran. Vocer bermain? Belanja? Atau tiket liburan?

Aku membukanya perlahan dan aku keluarkan isinya, ada sebuah foto dan itu adalah ruang bermainku. Tapi ada yang berbeda karena disudut ruangannya terdapat sebuah piano berwarna putih. Mata ku beralih menatap Daddy dan Mommy bergantian, tersenyum berterimakasih atas hadiah yang mereka berikan. Aku pernah meminta ruang musik beberapa waktu lalu, tapi Daddy belum bisa memberikannya karena kekurangan ruangan yang ada dirumah. Banyak sekali yang aku inginkan dan satu persatu mulai tercapai. Dulu aku tidak berani untuk meminta banyak hal tapi sekarang aku mempunyai keberanian untuk meminta apa yang aku inginkan.

“Kami tidak bisa memberikan ruang musik untuk saat ini. Well, ruang bermain kami gabungkan dengan ruang musik” Mommy menjelaskan apa yang ada difoto tersebut.

Gwencana. Sekarang aku tidak harus ke rumah Yeon Ah jika aku ingin bermain piano” Aku terkekeh.

Yeon Ah sangat pandai bermain piano membuat aku ingin mencoba dan akhirnya dia mengajariku cara menyentuh turth agar menjadi nada yang indah. Ah aku melupakan sahabatku satu itu untuk mengajaknya ketaman buatan yang menakjubkan ini.

Nah, sekarang hadiah dari Unniedeul. Itu kotak persegi kecil, aku menebak mungkin itu kalung, cincin atau gelang. Aku membuka nya dan gelang perak berkilau didalamnya, ada mainan berbentuk hati yang menggantung disisinya. Kemudian yang aku lihat, Unniedeul mengangkat satu tangannya dan aku melihat mereka memakai gelang yang sama seperti yang mereka berikan padaku. Aku mengambil gelang tersebut dari dalam kotaknya, meminta Grammy untuk memasangkannya dipergelangan tangan kiri ku.

Hadiah hadiah ini tidak seberapa dengan cinta yang mereka berikan padaku. Apa aku pantas mendapatkan cinta sebanyak ini?

“Hari ini tidak akan pernah aku lupakan. Dimana aku mendapatkan hadiah dan cinta yang begitu banyak” aku menelan ludahku dengan susah payah karena aku menahan tangis kebahagiaan yang aku rasakan sekarang.

“Aku berdoa kepada Tuhan, semoga aku tetap bersama kalian selamanya. Karena bersama kalian aku merasa sangat dicintai. Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang baik” tangis yang sedari tadi aku tahan sekuat tenaga akhirnya pecah.

Mommy menarikku kedalam pelukannya “Oh sayang, jangan menangis dihari bahagia ini” mencium rambutku dan mengusapnya penuh kasih sayang.

Aku mengusap air mata ku “Ini tangisan bahagia. Please, stay with me” pintaku dengan sungguh sungguh karena aku takut jika mereka meninggalkan aku.

 

***

AUTHOR POV

Tiffany baru saja merapikan ruang bermain Lauren. Sudah satu minggu setelah ulang tahunnya, Lauren selalu bermain piano tak kenal waktu. Membuat Tiffany harus mengunci ruangan tersebut dan membukanya jika anak nya sudah selesai belajar.

Tiffany sudah rapih dengan mini dress yang ditutupi oleh mantel berwarna pink, karena setelah ini dia harus pergi ke butik. Ketika Tiffany sedang memakai sepatunya diruang tamu tiba tiba bel rumahnya berbunyi. Tiffany melirik jam yang ada ditangannya, masih begitu pagi untuk seseorang bertamu.

Dia berjalan kearah pintu, melihat dari layar intercom dan dilihatnya seseorang pria yang memunggunginya, dahi nya berkerut ketika tahu dia memiliki tamu laki laki dipagi hari. Membuka knop pintu dengan pelan dan dengan otomatis tamu laki laki itu membalikan tubuhnya. Tiffany terbelalak melihat siapa orang yang sedang bertamu dirumahnya. Rasa takut mulai menyebar, membuat tubunya seketika melemas.

“Kenapa kau terlihat terkejut begitu dengan kedatanganku?” Bukan menyapa dengan baik tapi pria itu malah menyindir Tiffany yang membulatkan matanya menatap pria itu.

Tiffany masih terdiam ditempatnya, mulutnya kering. Keringat mulai mengalir disisi kepalanya padahal diluar cuacanya begitu dingin.

“Kau tidak membiarkan aku masuk?” melihat Tiffany yang hanya membuka sedikit pintu rumahnya dan diam membatu membuat pria itu menginginkan lebih.

Tiffany tersadar dari lamunannya “Silahkan masuk Lee.. Lee Dong Wook Oppa” ucapnya dengan terbata bata.

Tiffany berjalan masuk kedalam rumahnya dan diikuti oleh pria bernama Lee Dong Wook yang berjalan dibelakangnya sembari melihat lihat foto foto yang terpajang didinding rumah mewah itu. Mata pria berkulit pucat itu tertuju pada foto close up Lauren dengan bingkai besar. Lauren yang tersenyum lebar menatap kamera yang menampakkan gigi putih kecil yang tersusun rapih miliknya. Hatinya mencelos melihat anak itu, mengingatkannya kepada seseorang dimasa lalunya.

“Ingin minum apa?” tawar Tiffany berbasa basi.

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar” balas Dong Wook dan menempatkan punggungnya disofa empuk saat Tiffany mempersilahkannya duduk.

Hening..

“Kenapa putri mu yang kecil sangat berbeda, bahkan namanya tidak menggunakan nama korea seperti ketiga anakmu yang lainnya?”

Lee Dong Wook membuka percakapan yang membuat Tiffany jengah. Menurut Tiffany, pria dihadapannya ini terlalu mengulur waktu. Kedatangan Lee Dong Wook sudah dapat ditebak, kalau pria itu mengetahui tentang Lauren. Buktinya pembicaraan ini dimulai dengan membicarakan Lauren.

“Kenapa kau ingin tahu?” Tiffany menjawabnya dingin.

Lee Dong Wook tertawa pelan “Apa dia anak Jessica?” tanya nya tanpa berbasa basi lagi.

Sejujurnya Tiffany merasa takut saat ini, jari jari nya saling meremas dipangkuannya. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria ini.

“Dia anakku” gumam Tiffany sangat pelan.

Lee Dong Wook mencibir “Aku sudah menyelidiki semuanya, Tiffany. Kau tidak bisa berbohong lagi” Dia menatap mata Tiffany tajam. Pria itu menangkap ketakutan yang mendalam dimata Tiffany.

“Aku datang kesini untuk mengambilnya”

“Tidak” sela Tiffany cepat.

“Kenapa tidak? Dia putriku. Aku tidak akan menelantarkannya jika aku tahu dia ada”

“Bagaimana kau tidak tahu, padahal kau menidurinya tanpa pengaman. Seharusnya kau tahu dampak yang akan terjadi. Kau membuatnya menderita, membuat Ayahnya meninggal terkena serangan jantung karena mengatahui putri satu satu nya mengandung tanpa suami” Tiffany berteriak dengan mata berkaca kaca. Mengingat kenangan itu membuat hatinya selalu sakit, perasaan bersalah terus menghampirinya.

Lee Dong Wook sudah tahu semua tentang hal itu. Setelah pertemuannya dengan Taeyeon di Jepang dia langsung mencari informasi tentang Jessica. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki dia mendapatkan informasi bahwa Jessica meninggal setelah melahirkan. Bahkan informasi tentang anaknya yang masih hidup bisa dia dapatkan walaupun Tiffany sudah menutupnya rapat.

Lee Dong Wook teringat saat dia akan meninggalkan Jessica pergi karena orang tuanya sudah mengancam Jessica untuk mencabut semua biaya pengobatan Ayahnya jika Jessica masih menjalin hubungan dengannya. Seharusnya dia menyadari jika Jessica hamil, karena mereka melakukannya tidak hanya satu kali dan itu tanpa pengaman. Begitu mudahnya dia mempercayai Jessica yang hanya menunjukkan tes kehamilan dengan satu garis. Yang ternyata adalah Jessica memanipulasinya.

 

“Pergilah” Jessica mendorong dada bidang Lee Dong Wook yang berada didepannya.

“Tidak akan” tolak nya dengan suara tegas. Dia berusaha meraih lengan Jessica tapi dengan cepat Jessica menghindar dengan gerakan cepat.

“Pergilah, ku mohon” pinta nya dengan wajah memelas.

“Kenapa kau tidak pernah ingin memperjuangkan cinta kita, berlari berlari dan berlari yang selalu kau lakukan” bibir Lee Dong Wook mengeluarkan erangan yang cukup kuat, membuat Jessica yang berada dihadapannya meringis ketakutan.

“Karena itu yang aku bisa, keluarga mu mengancam ku akan mencabut semua biaya pengobatan Daddy jika aku masih berhubungan dengan mu.” Isakan kecil lolos dari mulutnya “A..aku harus membiarkan mu pergi” dengan cepat dia menghapus air mata dengan jari lentik nya yang akan jatuh dipipi tirusnya.

Lee Dong Wook maju beberapa langkah, mempersempit jarak antara dia dan kekasihnya “Kita lari saja. Kau dan aku” Pria tampan itu meraup wajah mungil kekasihnya.

“Kau gila. Orang tua mu memiliki banyak kaki tangan dan mereka pasti akan menemukan kita. No, I can’t” Jessica melepas kedua tangan kekasihnya yang menempel diwajahnya “Pergilah, aku baik baik saja”

“Tapi kita sudah bercinta, bisa saja kau-” Ucap Lee Dong Wook dengan ragu dan menggantung ucapannya. Dia mengusap wajahnya prustasi.

Dia mengangkat tangannya yang memegang benda putih dengan satu garis merah “Look!! Negatif, aku tidak hamil” ucapnya dengan senyuman lebar.

Lee Dong Wook langsung merengkuh tubuh mungil kekasihnya dan menangis dirambut panjang yang tergerai milik kekasihnya “Sorry, I Love you forever” bisiknya sebagai ucapan terakhir, Jessica ikut menangis. Menangis tersedu sedu.

Setelah hari itu Lee Dong Wook dikirim ke Jepang untuk mengurus Hotel yang dimiliki Ayahnya. Dia tidak mencoba menghubungi Jessica lagi, keberadaan Jessica pun dia tidak tahu. Perlahan dia mulai melupakan Jessica walaupun tidak bisa. Karena sekeras apapun usaha mereka, kedua sepasang kekasih itu tidak akan dapat bersatu. Setahun setelah itu Lee Dong Wook menerima perjodohan yang orang tuanya pilihkan untuknya. Dia sudah menikah tapi tidak dapat dikaruniai seorang anak dan akhirnya dia memilih untuk hidup sendiri satu tahun terakhir ini.

 

 

“Jangan ambil Lauren dariku” Pinta Tiffany memohon pada Lee Dong Wook.

“Kau sudah memiliki tiga putri, Tiffany. Jangan menjadi orang yang serakah, dia anakku bukan anakmu” Ucap Lee Dong Wook dengan tegas. Membuat hati Tiffany hancur berkeping keping mendengar kenyataan pahit itu.

“Tapi aku menyayanginya, layak nya putriku sendiri” air mata Tiffany mulai lolos. Dia akan memperjuangkan Lauren bagaimanapun caranya.

“Aku akan tetap membawa Lauren. Dia putriku” ujarnya, terlihat tekat dimatanya dan ambisinya yang besar.

Tiffany turun dari sofa dan berlutut dihadapan Lee Dong Wook “Kumohon. Jangan ambil Lauren dariku” Tiffany terisak setelah mengucapkan kalimat itu.

Tidak ada rasa kasihan dimata Lee Dong Wook, malah sebaliknya. Dia menatap geram pada Tiffany “Kalau kau tidak mau menyerahkan Lauren kepadaku secara baik baik. Aku akan membawanya ke pengadilan untuk hak asuh Lauren dan aku akan melakukannya secepat mungkin”

Tiffany mengusap air matanya ketika melihat tidak ada kelembutan dari sikap Lee Dong Wook, Tiffany mendengus pelan “Kau fikir kau akan memenangkan hak asuh ini?” tanya Tiffany dengan senyuman meremehkan, tangisnya hilang begitu saja.

“Dengan senang hati aku akan melakukan nya kalau itu satu satunya cara untuk dapat memastikan dimana Lauren berhak berada. Aku pasti memenangkannya, mengingat kau adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab. Meniduri Ibunya semaumu tanpa menyadari dampaknya dan bahkan kau tidak berusaha mencarinya setelah beberapa tahun kau pergi”

Lee Dong Wook hanya menepuk tangannya dengan sebuah senyuman kemenangan menghiasi wajahnya “Jangan lupakan bahwa aku tidak tahu keberadaan Lauren saat itu, aku benar benar tidak menyadari jika Jessica mengandung. Dan aku mempercayainya karena dia menunjukkan benda sialan itu dengan satu garis merah. Dengan bukti bukti itu, aku akan memenangkan hak asuh ini dengan mudah”

Tubuh Tiffany menegang dalam sekejap dan jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Apakah dia akan kehilangan Lauren?

“Aku pergi dulu dan sampai bertemu lagi dipengadilan” Ujar Lee Dong Wook dengan penuh penekanan. Dia berjalan keluar tanpa melihat kearah Tiffany yang masih berlutut dilantai.

Jantung Tiffany bekerja sangat cepat sekarang. Lee Dong Wook akan membawa ke pangadilan untuk hak asuh Lauren? Hati Tiffany seakan diremas remas. Tiffany merasa lemah dan tidak berdaya mendengar kata kata yang Lee Dong Wook katakan. Tiffany merasakan air matanya turun dari kelopak matanya.

Apa dia akan kehilangan satu putrinya yang sangat dia cintai? Tiffany akan kehilangan satu putrinya yang selalu menemaninya, yang mencintainya, yang selalu menghiburnya dikala dia penat. Hell, rasanya sakit.

Hatinya terasa sakit, Tiffany menekan dadanya, berusaha menghilangkan rasa sakit dihatinya. Rasanya seperti kehilangan seseorang yang masih berada disisimu, Namun kau tahu dia akan segera pergi dari kehidupanmu. Rasanya sangat sakit.

Tubuh Tiffany terguncang hebat. Dia menangis terisak isak memikirkan kehidupannya tanpa Lauren. Dia tidak pernah bisa membayangkan kehidupan itu dan sekarang dia berhadapan dengan ketakutan yang dia takutkan selama ini.

 

 

***

“Tiffany” panggil Siwon ketika dia membuka ruang kerja Ny.Choi.

Setelah kedatangan Lee Dong Wook, Tiffany langsung menuju Hyundai Grup. Fikiran nya kacau, untung saja dia sampai dengan selamat di  perusahaan milik keluarga suaminya itu. Tiffany sedang menangis dipelukan Ny.Choi, ketika Siwon masuk Tiffany berpaling dan menangis didekapan Siwon.

Don’t cry. Kau bisa sakit karena menangis terus menerus” Siwon menenangkan Tiffany, dihapus airmata istrinya yang terus mengalir membasahi wajahnya. Mata Tiffany sudah merah dan terlihat sembab.

 

“Aku mengenal keluarga Lee Dong Wook. Ayah nya adalah orang yang sangat sukses, pemilik hotel dan beberapa resort di Jepang dan yang aku tahu Ibu nya seorang politikus” kata Ny.Choi membuka pembicaraan.

“Mereka pasti akan memenangkan hak asuh itu” sela Tiffany, tangisnya sudah mulai reda.

“Belum tentu. Mereka bersih, tidak pernah menggunakan kekuasaan nya untuk hal apapun” Ny.Choi menyilangkan kakinya dengan anggun, menarik nafas sesaat sebelum lanjut bicara “Kita akan meminta Jaksa untuk menangani kasus ini yang tidak memiliki koneksi dengan kita maupun mereka. Jadi ini murni”

“Apa kita akan memenangkan hak asuh Lauren, Eomma?” Tiffany cemas, sejak Lee Dong Wook datang kerumahnya pagi tadi dengan ancaman pengadilan untuk hak asuh Lauren rasa cemas itu tidak pernah sirna.

“Ada sedikit cela untuk kita menang. Jangan lupakan bahwa aku ada Ibu dari Ibunya Lauren” Ny.Choi mengusap lengan Tiffany “Jangan khawatir. Aku akan mempertahankan Lauren, karena aku juga menyayanginya. Dia akan terus bersama kita”

Tangis Tiffany pecah lagi dan dia menghambur kepelukan Ny.Choi “Eomma, tolong pertahankan Lauren. Hanya kau yang bisa, aku sangat bergantung padamu” gumam Tiffany disela tangisnya.

Ny.Choi mengangguk sembari tangannya naik turun dibelakang kepala Tiffany. Sebenarnya, Ny.Choi juga sangat cemas. Tapi dia menutupnya rapat rapat. Bagaimana jika mereka kalah atas hak asuh ini? mereka akan kehilangan Lauren untuk selamanya. Ny.Choi bersikap optimis bahwa dia akan memenangkan hak asuh Lauren. Karena tidak ada yang tidak mungkin bukan? So, positive thinking..

 

 

***

Hari hari berikutnya mereka tetap menjalankan aktivitas normal walaupun diliputi kecemasan. Pengacara Lee Dong Wook sudah mengirimkan jadwal, sepuluh hari lagi ketuk palu untuk hak asuh Lauren.

Taeyeon, Yuri dan Yoona sudah mengetahui tentang hal ini. mereka begitu terkejut ketika Tiffany menceritakan semuanya. Tidak ada yang mereka dapat lakukan, hanya menyemangati Tiffany dan membantunya dengan doa agar Tiffany memenangkan hak asuh tersebut.

 

Hari ini Ny.Choi menjemput Lauren disekolah. Sejak kedatangan Lee Dong Wook, Ny.Choi mengirimkan dua orang maid untuk menjaga Lauren disekolah. Takut jika orang orang Lee Dong Wook membawa Lauren begitu saja.

Sudah sepuluh menit Ny.Choi menunggu disebrang jalan gedung sekolah Lauren, dia memang sengaja menjemput cucunya lebih awal. Beberapa saat kemudian satu persatu murid mulai berjalan keluar. Senyum Ny.Choi mengembang saat melihat Lauren yang berdiri diantara maid dan melambaikan tangannya kearah Ny.Choi dengan riang.

Lauren berlari begitu saja, sampai dia tidak melihat ada mobil sedan melaju dengan kencang. Ny.Choi yang melihat itu berteriak dengan histeris dan memejamkan matanya rapat rapat. Bunyi decitan ban seketika membuat mata ny.Choi terbuka dan melihat Lauren yang berjongkok didepan mobil sedan menutup telinganya.

Ny.Choi berlari untuk membantu Lauren, tapi kedua maid itu sudah membawa Lauren ke trotoar.

Gwencana?” tanya Ny.Choi dengan khawatir. Lauren mengangguk kecil, garis wajahnya masih terlihat ketakutan.

Ny.Choi berjalan menghampiri pengemudi mobil sedan tersebut dan mengetuk kaca mobil itu dengan kuat. Dan ternyata itu adalah salah satu karyawan yang bekerja diperusahaan miliknya tapi Ny.Choi tidak mengingat siapa nama orang itu.

“Apa kau tidak bisa mengemudi hoh?” hardik Ny.Choi “Ini zebra cros dan kau mengendarai mobil mu dengan kecepatan tinggi. Apa kau ingin membunuh seseorang?” tuturnya dengan nada suara tinggi.

Pengemudi itu hanya dapat menundukkan kepalanyan meminta maaf dan Ny.Choi melepaskannya pergi setelah memakinya. Ny.Choi menghampiri Lauren yang sedari tadi melihatnya memaki pengemudi bodoh yang hampir mencelakai cucunya.

“Kenapa juga kau begitu senang melihatku hoh? Kau hampir saja celaka Lauren” Ny.Choi mengamit tangannya dan membawanya masuk kedalam mobil. Sedangkan dua maid tadi menunggu mobil jemputan lain.

“Sudah beberapa hari ini Grammy begitu sibuk, aku merindukan Grammy” Lauren memeluk pinggang Ny.Choi dan membenamkan kepala nya dilekukan leher Grammy nya yang sangat nyaman.

Ny.Choi mencubit hidung mancung Lauren dengan gemas. Kepala Lauren mendongak menatap mata Ny.Choi “Grammy, aku tidak ingin ada maid itu lagi besok disekolahku” gumamnya pelan.

Wae?” Ny.Choi menautkan alisnya heran. Apa maid itu tidak becus menjaganya sampai membuat cucunya tidak nyaman ketika mereka berada disekitarnya.

“Aku hanya sedikit tidak nyaman, ketika mereka mengikuti ku kemana aku pergi”

Ny.Choi mengusap kepalanya lembut “Diluar sedang tidak aman, sayang. Banyak penculikan dimana mana. Grammy hanya ingin kau aman” Ny.Choi beralibi.

Lauren tidak bisa berkata kata lagi saat mendengar alasan itu. Masuk akal memang, tapikan disekolah sudah ada seongsenim yang akan menjaga mereka dan beberapa petugas keamanan sekolah jadi Lauren akan aman walaupun tanpa maid yang dikirim oleh Grammy nya.

Ponsel Ny.Choi berdering, membuyarkan keheningan yang ada didalam mobil. Seketaris nya menelpon bahwa ada tamu dari Jepang yang ingin bertemu dengannya. Mau tidak mau mereka harus mengcancel acara shopping mereka dan kembali ke kantor. Ny.Choi mengintrupsi supir nya untuk putar balik kembali kekantor dengan tetap membawa Lauren. Dia bisa menitipkannya dengan Siwon sebentar, setelah itu mereka akan pergi shopping.

 

Sesampainya di gedung pencakar langit perusahaan Hyundai Grup, Ny.Choi membawa Lauren ke ruangan Siwon dan untungnya anak laki lakinya itu sedang tidak sibuk jadi dia dapat menjaga Lauren untuk beberapa jam kedepan.

“Masuk, Lauren. Tapi kau tidak boleh menyentuh apapun yang ada diruangan ini. arraseo?” ucap Siwon berturut turut.

Lauren mengangguk patuh, dia masuk kedalam ruangan Siwon untuk pertama kalinya. Ruangan megah, lebih luas dari kamarnya. Dengan meja berbentuk persegi yang dia ketahui adalah meja kerja yang ada diruangan tersebut dengan kursi bagaikan kursi seorang raja. Ada sofa empuk dengan dekorasi berbentuk huruf U ditengah tengah ruangan tersebut, jendela besar yang langsung menghadap kepemandangan kota Seoul dari lantai dua puluh empat dan ada bar kecil diujung ruangan tersebut.

Lauren berjalan kearah bar dan meminta pada Siwon untuk mengangkat tubuhnya duduk dikursi tinggi didepan bar. Siwon mengangkat tubuh mungil nya dan menempatkannya dengan aman diatas kursi besi itu.

“Apa yang ingin kau makan?” tanya Siwon yang duduk disampingnya.

“Apapun yang Daddy berikan padaku” balas Lauren dengan cepat.

“Bagaimana dengan katak panggang?” tanya Siwon dengan main main.

Lauren bergidik ngeri tapi tetap menjawab pertanyaan Siwon “Jika Daddy tega memberikannya padaku, aku akan memakannya” Lauren memasang wajah sok seriusnya yang membuat Siwon tidak enak.

“Daddy bercanda” Siwon mengacak rambut Lauren.

Lauren mengangguk tahu “Apa ada susu strobery disini?” Lauren mengedarkan pandangannya pada botol botol minuman yang berjejer rapih didekat bar, dia tidak tahu minuman apa itu.

Siwon terkekeh “Tidak ada. Apa kau ingin susu strobery? Daddy akan memesankannya sekalian?” kata Siwon yang masih berkutat pada ponsel yang ada ditangannya.

“Ya, aku mau” seru Lauren dengan kencang.

Lauren adalah gadis kecil yang cerewet dengan keinginan tahunya yang sangat besar. Sangat berbeda dengan Jessica yang lebih pendiam dan bersikap dingin. Apa sifat nya seperti Ayahnya? Tapi menurut Siwon dia seperti Tiffany.

 

***

“Kenapa kau terus tersenyum? Bukannya kau tidak jadi pergi shopping bersama Grammy?” Tanya Tiffany penasaran dengan Lauren yang terus mengukir senyum sejak masuk kedalam kamarnya.

Lauren masih tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Tiffany “Dia mengacau ruangan ku. Menumpahkan susu strobery nya di seluruh lantai” gerutu Siwon yang berbaring disampingnya.

“Tapi semuanya bersih kembali dengan seorang wanita pirang yang membersihkan ruangan Daddy” kata Lauren yang menatap Siwon “Nde, sajangnim akan saya bersihkan. Sudah selesai, sajangnim” ucap Lauren menirukan cara wanita yang membersihkan ruangan Siwon tadi siang.

Siwon dan Tiffany tertawa geli melihat Lauren menirukan ucapan wanita tersebut dengan gaya genit yang dibuat buat.

“Astaga. Daddy tidak akan membawa mu ke kantor lagi” siwon memberikan cubitan cubitan kecil dilengan Lauren dengan main main. Membuat Lauren menghindar dan tertawa dengan keras.

 

“Mommy, dikelas yang memiliki nama Amerika hanya aku. Aku ingin memiliki nama Korea” Lauren merengek dengan nafas yang masih tersendat sendat sehabis tertawa tadi.

Tiffany dan Siwon saling bertukar pandang lalu menerawang memikirkan nama Korea untuk Lauren.

“Choi Hana” seru Siwon.

Lauren menggeleng “Hana itu satu atau pertama Daddy. Sedangkan aku anak keempat. Ganti!!” tangan kecil nya bersedekap didepan dada membuat Siwon gemas melihatnya.

“Choi Mi Rae?” timpal Tiffany dengan ragu ragu.

No!!” Lauren menggeleng kuat “Aku ingin nama terakhirku JI, sama seperti Unniedeul”

Ah ya, ketiga anak Siwon dan Tiffany memang memiliki nama terakhir yang sama. Mereka pun berfikir lagi untuk mencarikan nama untuk Lauren.

“Choi Seo Ji?” Kata Tiffany memilihkan nama untuk Lauren.

“Choi Yeon Ji” ucap Siwon asal.

“Choi Yeon Ji” Lauren mengeja satu persatu suku kata dan senyumnya mengembang, matanya berbinar binar menatap Siwon “Yeon Ji, Yeon Ah. Kami seperti anak kembar kan?” Lauren bertepuk tangan dengan riang.

“Ya. Tapi Mommy lebih menyukai nama Lauren untuk mu, itu lebih cocok”

“Ya benar” Siwon menimpali.

“Aku akan menyukai namaku sekarang” Lauren memeluk Tiffany erat dan memunggungi Siwon.

“Bisa kah kau berbalik? Daddy tidak suka dipunggungi” Gumam Siwon dengan wajah yang ditekuk. Dia cemburu melihat Tiffany yang dipeluk erat oleh Lauren karena dia ingin memeluk Tiffany juga. heh salah. Ralat, ingin memeluk Lauren juga. Haha..

Lauren berbalik menatap Siwon sebentar dan mencium pipinya. Lalu dia meraih satu tangan Tiffany dan Siwon, menggenggamnya dan meletakkannya diatas dadanya. Lauren pun memejamkan matanya, tertidur pulas dengan menggenggam tangan Siwon dan Tiffany erat. Tiffany dan Siwon melempar senyum melihat sikap Lauren yang lebih ceria dari sebelumnya. Dia mendapatkan banyak cinta sekarang. Rasa cemas tiba tiba menghampiri Tiffany membuat air matanya mengalir lambat dari kelopak mata indahnya. Takut jika Lauren tidak berada ditengah tengah keluarganya lagi. Tiffany tidak bisa membayangkan kehidupan seperti itu.

 

***

TIFFANY POV

Aku bangkit dari tempat tidurku dan jantungku berdebar dengan kencang. Mimpi buruk itu kembali dan menghampiri ku terus terusan. Aku menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya. Aku melakukan itu  berkali kali sampai aku merasa tenang.

“Kau sudah bangun?” tanya Siwon keluar dari kamar mandi menggunakan kemeja soft blue dengan jas hitam dan celana kain hitam.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil mengusap keringatku.

“Ke pengadilan” Jawab Siwon sambil tersenyum tipis padaku. Astaga!! Aku melupakan hal yang sangat penting itu. Ini karena aku terserang demam sudah dua hari ini.

“Aku akan siap siap” jawabku sambil beranjak dari tempat tidur.

“Tidak, Tiffany” kata Siwon, menghampiriku dan menyuruh ku untuk berbaring lagi “Kau istirahat saja. Kau belum sembuh”

Aku tahu dia masih marah padaku karena aku menolaknya saat dia ingin membawaku ke Dokter atau membawa Dokter kerumah. Menurutku itu berlebihan, karena aku hanya demam biasa. Kurang tidur karena mimpi buruk sialan itu.

“Aku ingin ikut” Balas ku dengan kesal. Berdiri dari tempat tidur, kepalaku terasa berputar ketika aku menginjakkan kakiku dilantai. Kalau Siwon tidak menangkapku, mungkin aku sudah terjatuh. Aku menggerutu sebal, membiarkan Siwon membantuku kembali berbaring keatas tempat tidur lagi.

“Lihat?” Ucapnya dengan senyum lebar “Aku akan memenangkan kasus ini, sayang. Percaya padaku”

Aku mengangguk pasrah “Menangkan untukku, Big papa” jawabku “Aku akan menunggu dirumah dengan demam sialan ini” timpalku kesal.

Siwon tertawa pelan, lalu dia mencium keningku. Rasa nyaman dan menyenangkan tapi dilain sisi aku merasa sedikit sedih. Hatiku terasa sakit. Aku menggeleng, membuang perasaan itu, kenapa aku harus sedih? Siwon dan Eomma akan memenangkan kasus ini, aku yakin. Harus yakin.

“Kami pergi dulu hmm?” kata Siwon menatapku dengan wajah khawatir. Eomma berdiri disamping Siwon dengan pakaian formal, walaupun sudah berumur tapi tetap terlihat cantik dan fashionable.

“Beri aku ciuman” ucapku berusaha terdengar normal, menatap Siwon.

Aigoo” Eomma menutup matanya dan memunggungi kami. Ya Tuhan, aku benar benar tidak tahu malu.

Siwon terkekeh geli dan langsung memberi kecupan manis diatas bibirku. Singkat tapi bermakna.

“Eomma, Siwon hati hati” kataku sembari tersenyum tulus pada mereka.

“Sampai ketemu nanti” setelah itu Siwon dan Eomma meninggalkan ku. Hatiku terasa hampa dalam   sekejap. Ada apa denganku?

Berusaha membuang fikiran itu, aku berusaha tidur lagi dan berharap setelah bangun nanti mereka pulang dengan membawa kabar gembira.

 

***

AUTHOR POV

Siwon dan Ny.Choi memasuki ruang pengadilan yang masih kosong. Mereka datang setengah jam lebih awal sebelum pengadilan dimulai. Dikursi paling belakang Siwon melihat Lee Dong Wook dengan wajah dingin yang selalu dia perlihatkan pada orang orang disekitarnya.

Siwon mencemaskan Tiffany yang masih belum sembuh dari demamnya. Siwon tahu, Tiffany tidak mendapatkan tidur yang baik menjelang pengadilan. Siwon pun begitu, memikirkan berbagai cara agar dapat memenangkan hak asuh Lauren. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin.

“Choi Siwon?” panggil Lee Dong Wook lembut. Tapi dia memasang wajah datar pada Siwon “Kau terlihat melamun”

“Aku tidak apa apa” jawab Siwon dingin.

“Apa kau sudah siap dengan kekalahanmu hari ini?” tanyannya dengan arogan.

Siwon mendengus, lalu menggeleng pelan “Percaya diri sekali”

Lee Dong Wook mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan seperti sedang mencari sesuatu “Dimana istrimu? Sepertinya nyalinya menciut karena dia sudah tahu akan kalah”

Tangan Siwon mengepal, tapi Ny.Choi meremas tangannya dan menatap matanya seakan bicara ‘Abaikan saja dia’ tapi Siwon tidak bisa. Pria arogan ini harus diberi pelajaran.

“Bukan urusanmu” Siwon melemparkan wajah datar pada Lee Dong Wook. Siwon tidak ingin mengatakan bahwa Tiffany sedang sakit dirumah karena terlalu memikirkan pengadilan ini. Lee Dong Wook akan semakin senang mendengarnya.

Ruang pengadilan mulai terisi penuh, Lee Dong Wook berdiri untuk kembali ketempatnya “Aku harus pergi dulu, Choi Siwon. Kita bertemu lagi setelah pengadilan selesai” Siwon tidak menjawab, Lee Dong Wook segera pergi meninggalkannya.

 

***

SIWON POV

Kasus hak asuh dimulai dan aku melihat seorang hakim muda berambut hitam pekat didepanku yang mengetuk palunya dengan tegas. Hakim ini bersih, dan baru menjadi hakim tiga bulan dan tidak memiliki koneksi apapun dengan Lee Dong Wook dan keluarga kami. Dua jam didalam ruangan ini dan terasa sangat lama. Aku melihat wajah pucat Eomma  disampingku, aku meremasnya jemarinya, menenangkannya.

“Sidang ditutup dan selamat pada Tuan Lee Dong Wook” Hakim itu menatap Lee Dong Wook beberapa saat “Anda memenangkan hak asuh atas Lauren Choi” tambahnya.

Aku melihat Lee Dong Wook berdiri dari tempatnya dengan bahagia. Dia tersenyum lebar pada semua orang yang bertepuk tangan untuknya. Aku memeluk Eomma yang tidak dapat menahan air matanya lagi, aku tidak suka melihat Eomma menangis didepan pria itu. Dia akan tertawa diatas penderitaan orang lain.

Aku membawa Eomma berjalan keluar ruangan pengadilan. Dia masih menangisi kekalahan kami, tidak ada cara lain selain merelakan Lauren pergi bersama Lee Dong Wook yang notaben adalah Ayah kandungnya.

“Choi Siwon” aku mendengar suara berat yang familiar itu dibelakangku. Aku memutar tubuhku, berusaha tetap terlihat santai walaupun aku juga sudah sangat sulit untuk menapakkan kakiku dilantai.

“Aku akan mengambil Lauren dua jam setelah ini”

“Apa itu tidak keterlaluan” pekik Eomma yang masih menangis “Beri kami waktu, apa tidak bisa besok kau mengambilnya hoh?”  lanjutnya dengan lirih. Aku mengusap lengannya lembut agar dia sedikit tenang.

“Bisakah besok?” tanyaku padanya. Dia hanya diam, tidak merespon. Kami belum mempersiapkan apapun untuk kepergian Lauren, apalagi Tiffany yang masih sakit. Dia bisa lebih sakit lagi karena aku tidak bisa memenangkan kasus ini. aku tidak tega untuk memberitahunya.

“Baiklah besok, aku akan menjemputnya jam sembilan”

 

***

AUTHOR POV

Siwon masuk kedalam kamarnya dan merangkak naik ketempat tidur. Memandangi wajah Tiffany yang masih tidur dengan pulas, disentuhnya dahi Tiffany dan masih terasa panas. Siwon meremas satu tangan Tiffany, membuat istrinya terjaga dari tidur lelapnya.

Tiffany merapatkan tubuhnya ketika tahu Siwon sudah berada disampingnya, memeluk pinggang Siwon begitu erat. Siwon dapat merasakan hembusan nafas hangat Tiffany didadanya.

“Bagaimana?” tanya Tiffany dengan suara serak sehabis bangun tidur.

Siwon mencium puncak kepalanya “Mianhae” bisiknya.

Tiffany menggeleng, isakan kecil mulai terdengar didalam kamar “Katakan kau memenangkannya, Siwon?” Tiffany masih menenggelamkan kepala nya didada Siwon.

Mianhae” hanya itu yang bisa Siwon katakan saat ini.

Tiffany memukul dada nya dua kali “Jangan hanya mengatakan maaf. Kau memenangkannya kan Siwon, huh?” kemeja yang Siwon kenakan basah oleh air mata Tiffany. Membuat hati nya remuk mendengar tangisan orang yang dicintainya.

“Kita kalah” Jawab Siwon akhirnya. Yang membuat Tiffany menangis semakin kencang.

Tiffany mendongakan kepala nya menatap Siwon tepat dimatanya “Dimana Lauren? Apa Lee Dong Wook Oppa sudah membawanya?”

Siwon menyentuh pipi Tiffany dan menghapus air mata yang membasahi wajahnya “Eomma mengajak anak anak pergi. Besok dia akan mengambil Lauren, jam sembilan” ujarnya.

“Oh Tuhan” Tiffany menangis lagi. Sesuatu yang dia takutkan akhirnya datang, mimpi buruknya selama ini menjadi kenyataan. Dia terus menangis membayangkan hari hari berikutnya tanpa Lauren, menangis dalam dekapan hangat Siwon, menangis hingga kelelahan sampai dia kembali tidur.

 

Disepertiga malam, Tiffany terbangun. Tangan kekar Siwon yang berada diatas perutnya dan satu tangan lagi menjadi sandaran kepalanya. Dilihatnya Siwon yang tertidur masih mengenakan kemeja soft blue dan celana hitam, pakaian yang dia kenakan saat akan kepengadilan hanya saja jas nya sudah terlepas dari tubuhnya.

Tiffany mengangkat tangan Siwon diatas perutnya, dan beranjak duduk diatas tempat tidur. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi tidak separah tadi. Matanya yang terasa berat akibat bengkak karena terlalu lama menangis.

Tiffany mengendap endap keluar kamarnya tidak ingin sampai Siwon terbangun, Tiffany pun masuk kedalam ruang kerja nya yang memiliki perpustakaan kecil didalamnya. Dia duduk dikursi, didepan meja. Dimana biasanya dia melakukan pekerjaannya jika membawanya pulang kerumah. Diatas meja tersebut ada tumpukan kertas dan bolpen milik Siwon. Tiffany jadi ingin menulis sesuatu untuk Lauren, hatinya tidak sanggup untuk melihat kepergian Lauren besok. Dia berniat hanya akan mengurung diri didalam kamar ketika Lee Dong Wook menjemputnya.

Tiffany menatap kedua benda itu dengan ragu. Dan tanpa berfikir lagi Tiffany mengambil bolpen dan mulai menuliskan sesuatu diatas kertas tersebut.

I Love you forever & always – Your Mommy..

 

Tiffany menghela nafas panjang ketika selesai menulis surat untuk Lauren. Tiffany membaca surat itu sekali lagi dan air matanya lolos dari bola matanya. Membuat surat yang dia buat basah berbentuk tetesan air matanya. Tiffany menghapus air matanya, menahan diri agar tidak terisak. Tiffany membuat surat itu dengan sepenuh hati dan bahkan Tiffany tersenyum, lalu menangis sendiri saat dia menulis surat tersebut. Perut Tiffany tiba tiba seperti diaduk aduk dan dia ingin muntah.

Dengan cepat Tiffany melipat surat yang dia buat tadi dan memasukkannya kedalam saku piyamanya. Dia berjalan dengan cepat keluar ruang kerja dan masuk kedalam kamar Lauren yang jaraknya tidak begitu jauh. Tiffany langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat Lauren yang sedang tertidur ditempat tidur nya, karena isi perutnya sudah benar benar ingin dimuntahkan.

Membungkuk diwastafel tapi tidak ada apapun yang keluar, hanya salivah yang keluar dari mulutnya. Tiffany tidak memakan apapun hari ini, hanya meminum susu hangat tadi pagi selebihnya dia hanya tertidur. Mungkin lambungnya bermasalah karena tidak mendapatkan asupan makanan yang baik beberapa hari ini. membasuh mulut dan mencuci mukanya, Tiffany pun keluar dan naik perlahan ketempat tidur Lauren.

Tiffany mendekapnya, memeluknya erat sepuasnya, mencium dengan sepuasnya. Tiffany tidak perduli jika Lauren akan terbangun dengan apa yang dia lakukan saat ini. tapi, Lauren tak bergeming, dia masih tertidur pulas. Ini terakhir kalinya Tiffany dapat memeluknya, dapat mencium Lauren. Karena Lee Dong Wook pasti akan membawanya ke Jepang dan akan sangat sulit untuk bertemunya lagi. Tiffany berharap Lauren dapat hidup dengan baik bersama Ayah kandungnya nanti.

 

***

“Eomma, sebenarnya kita mau kemana? Kenapa semua pakaianku dimasukkan kedalam koper koper itu?” tanya Lauren pada Taeyeon yang sedang memasukkan pakaian pakaian milik Lauren kedalam koper koper besar dan beberapa barang lainnya. Sedangkan Yoona sedang menyisir rambut Lauren dan memakaikan bandana berwarna pink dengan pita yang menghiasi kepalanya.

Molla” Taeyeon mengangkat bahunya tapi dia tersenyum kearah Lauren “Semoga kau menyukai tempat itu, sayang”

Taeyeon, Yuri dan Yoona datang pagi pagi kerumah Tiffany hanya untuk membantu nya. Mereka tahu, Tiffany tidak akan mampu melewati hari ini sendiri. Ditambah dengan demam yang masih hinggap ditubuh Tiffany.

Taeyeon dan Yoona membantu mengemasi barang barang milik Lauren, sedangkan Yuri bersama keluarga Choi dibawah menunggu kedatangan orang orang Lee Dong Wook. Karena menurut informasi, bukan Lee Dong Wook yang akan menjemput Lauren. Sedangkan Tiffany sejak bangun tidur tidak keluar dari kamarnya, dia tidak mau melihat Lauren pergi dibawa oleh orang orang itu.

“Sudah siap?” tanya Yuri yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu.

Yoona berjalan menghampiri Yuri dan berbisik ditelinganya “Apa mereka sudah datang?”

Yuri mengangguk pelan “Jika belum siap, mereka akan menunggu” Yuri balik berbisik pada Yoona “Aku akan kekamar Tiffany dulu. Tidak ada yang dapat membujuknya sejak tadi”

Yuri pergi dari kamar Lauren dan Yoona membantu Taeyeon mengemasi beberapa barang barang milik Lauren. Setelah selesai, Yoona mengamit tangan Lauren dan membawanya keluar bersama Taeyeon. Ny.Choi berpesan, jangan ada yang menangis saat Lauren pergi nanti. Jadi, sekuat tenaga mereka akan menahan air mata yang sudah terbendung dipelupuk mata.

Lauren menatap aneh, dua orang pria bertubuh tinggi dengan satu wanita yang memakai seragam seperti baby sitter duduk berhadapan dengannya Siwon dan Ny.Choi.

“Mereka yang akan membawa mu pada Lee Dong Wook, dia adalah Ayah kandungmu” ujar Ny.Choi dengan suara tercekat menahan tangis “Bukan kah kau ingin mengenalnya? Kau dapat hidup bersamanya sekarang”

“Tidak” teriak Lauren tidak suka. Mata bulatnya memancarkan ketakutan mendengar ucapan Grammy nya.

Didekat dapur Taeyeon dan Yoona berusaha menenangkan Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji yang sudah menangis sejak orang orang itu datang untuk menjemput Lauren.

“Imo, tolong lah. Jangan biarkan orang orang itu membawa adik kami” Ucap Young Ji pada Yoona yang berada disampingnya. Yoona tidak dapat berkata apapun hanya memeluk Young Ji, mencoba menenangkan anak itu.

 

 

Yuri yang berdiri disamping tempat tidur, dengan Tiffany yang memunggunginya. Tiffany tidak bergeming saat Yuri masuk kekamarnya tadi, Yuri memanggilnya pun Tiffany tetap diam. Tapi, Yuri tahu kalau Tiffany sedang menangis karena bahu nya bergetar.

“Lauren akan pergi sekarang, Fany aah” kata Yuri memberitahu.

Tiffany masih tetap diam “Turunlah, Lauren pasti mencari mu juga” timpal Yuri.

“Lee Dong Wook akan membawanya ke Jepang, Fany aah. Kau tidak akan dapat bertemu dengannya lagi”

Beberapa detik setelah itu, Tiffany menyibakkan selimutnya. Berdiri dan berlari keluar kamar memanggil Lauren berkali kali. Yuri yang berada dibelakangnya, menyusul Tiffany dengan cepat. Karena Tiffany berjalan dengan sempoyongan membuatnya khawatir.

“Lauren” panggil Tiffany ketika dia sudah berada dibawah. Sedangkan Lauren menangis dalam gendongan satu pria bertubuh tinggi, memberontak ketika melihat Tiffany dibelakangnya.

Siwon mengambil alih Lauren dan anak itu berlari kearah Tiffany memeluknya erat.

“Mommy, aku tidak ingin pergi bersama mereka” kata Lauren dalam tangisnya “Ku mohon Mommy, aku hanya ingin disini. Aku tidak ingin pergi kemanapun” tangis Lauren semakin kencang didalam pelukan Tiffany.

Semua yang melihat pemandangan itu tidak bisa menahan air mata lagi. Ny.Choi, Siwon, Taeyeon, Yoona, Yuri sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Soo Ji, Eun Ji, dan Young Ji menangis dibelakang Tiffany dan Lauren yang saling berpelukan.

“Mommy berjanji bahwa kita akan hidup bahagia bersama selamanya. Tapi kenapa Mommy membiarkan mereka membawa ku pergi. Aku mohon Mommy, suruh mereka pergi”

Tiffany hanya dapat menangis sembari menciumi wajah Lauren, dia menarik Lauren dan menangkup wajah mungilnya “Maafkan Mommy karena tidak bisa mempertahankanmu, sayang. Mommy ingin kau tetap disini bersama kami, tapi Mommy tidak bisa”

“Kenapa? Kenapa tidak bisa?”

Sebelum Tiffany dapat menjawab, wanita yang mengenakan seragam baby sitter menarik Lauren, menjauhkannya dari Tiffany. Membuat anak itu meronta ronta dalam pelukan wanita muda tersebut. Lauren terus menangis ketika wanita itu membawanya keluar rumah tapi belum sampai dipintu keluar Lauren menggigit tangannya dan berhasil lolos dari wanita tersebut.

Lauren berjalan merangkak karena kaki nya terasa lemah karena ketakutan. Dia berjalan kearah Ny.Choi dan yang lain yang tengah berdiri berbaris melihatnya dengan pilu.

Lauren menggenggam kaki Ny.Choi dan menangis disana “Grammy, tolong aku. Aku tidak ingin pergi” Ny.Choi menangis mendongakan kepalanya tidak ingin melihat Lauren karena pertahanannya akan runtuh untuk membiarkan Lauren pergi.

Lauren merangkak kearah Siwon yang berdiri tepat disamping Ny.Choi “Daddy, tolong. Aku takut” Siwon menunduk melihat Lauren dibawahnya sebentar, matanya berkaca kaca melihat Lauren berlutut memohon padanya seperti itu.

“Taeyeon Eomma.. tolong bantu aku” Taeyeon memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Lauren yang menangis berpegang pada kakinya.

“Yuri Imo, Yoona Imo. Tolong lah aku” Lauren berhenti merangkak didepan Yoona dan menangis sejadi jadinya membuat Yoona tidak tega melihatnya. Yoona menundukkan tubuh tingginya mensejajarkan level nya pada Lauren.

“Sayang, kau akan tinggal bersama Ayah kandung mu. Kau akan baik baik saja walaupun akan terasa asing pada awalnya. Dia akan mencintaimu seperti kami yang mencintaimu”

Lauren langsung menghambur kepelukan Yoona “Aku tidak ingin pergi, tolong mengerti aku”

Dua orang bertubuh tinggi menarik paksa Lauren dan satu dari pria tinggi yang bertubuh lebih besar membawa Lauren di bahunya. Lauren menangis, meronta sekuat tenaganya. Tiffany yang sedang memeluk ketiga putrinya yang menangisi kepergian Lauren sejak tadi, berdiri dan melepaskan pelukannya tiba tiba. Dia mengejar Lauren yang jauh didepannya, berlari dengan susah payah karena kepalanya kembali berputar, kaki nya melemas ketika melihat Lauren masuk kedalam mobil Maybach Zeppelin berwarna hitam. Matanya buram karena dipenuhi air mata, tapi setelah itu pandangannya hitam dan Tiffany terjatuh dilantai teras rumahnya saat mobil yang membawa Lauren meninggalkan perkarangan rumahnya.

Semua orang berteriak dan menghampiri Tiffany yang pingsan, wajahnya begitu pucat. Membuat semua orang khawatir padanya.

 

***

Taeyeon langsung menghampiri Tiffany ketika melihat nya perlahan membuka kelopak matanya. Sudah dua jam Tiffany pingsan dan tertidur. Dengan setianya Taeyeon, Yoona dan Yuri menunggu Tiffany sampai terbangun. Karena Siwon sibuk mengurus ketiga anaknnya yang masih diliputi kesedihan.

“Kau harus makan” desak Taeyeon saat mata Tiffany sudah terbuka dengan sempurna “Aku sudah membuatkan mu bubur” Taeyeon membantu Tiffany setengah duduk bersandar di tempat tidurnya.

“Aku tidak tahu harus senang atau sedih” lanjut Taeyeon.

Tiffany mengernyit, tidak mengerti apa yang Taeyeon ucapkan “Maksudmu?”

“Kau hamil, Fany aah” ucap Yuri memberitahu. Tadi setelah Tiffany pingsan, semua orang panik dan memanggil dokter untuk memeriksa Tiffany dan ternyata sahabatnya itu sedang hamil dan mengalami dehidrasi juga.

Tiffany terperangah, matanya berkaca kaca tapi dia tidak ingin menangis lagi “Benar bukan, bahwa bahagia dan sedih itu satu paket” ujar Tiffany dengan suara pelan. Taeyeon, Yoona dan Yuri mengangguk setuju. Tiffany baru saja kehilangan Lauren, tapi Tuhan memberinya keturunan lagi dan itu yang dinamakan kebahagiaan dan kesedihan datangnya satu paket.

“Untung saja malam itu aku mencegah mu meminum alkohol karena pada saat itu Unnie sudah mengandung. Usia kandungan Unnie sudah dua belas minggu, bagaimana mungkin Unnie tidak menyadari itu” cerocos Yoona berturut turut.

Lagi lagi Tiffany dibuat terkejut dengan usia kandungannya. Memang tiga bulan yang lalu Tiffany sering sekali sakit perut, setelah itu diarea dada nya juga terasa nyeri sampai sakit jika tersentuh, belum lagi hormon nya yang meningkat. Tamu bulanan nya memang tidak datang teratur jadi dia tidak menyadari bahwa dia hamil. Dan muntah muntah, Tiffany tidak pernah merasakan itu sejak kehamilan pertamanya. Tapi ini dia mengalami muntah muntah dan pusing dikepalanya.

“Tolong jaga kesehatan mu” pinta Taeyeon “Bukan hanya kesehatanmu saja yang menjadi prioritas, tapi anak yang berada didalam kandungan mu saat ini. kau juga harus banyak minum, Fany aah. Kau mengalami dehidrasi”

Tiffany mencibir “Kau bertingkah seolah kau adalah suamiku” senyum pertama yang terukir dari bibir Tiffany untuk hari ini.

“Itu karena aku menyayangimu dan calon keponakanku” kata Taeyeon dan menyodorkan nampan berisi bubur diatas pangkuan Tiffany “Sekarang makan dan habiskan” suara Taeyeon penuh dengan perintah.

“Jika kau menginginkan sesuatu katakan pada kami huh?” timpal Yuri. Biasanya orang hamil mengalami yang namanya mengidam, Tiffany pasti akan melewati fase itu juga.

Tiffany mengangguk, dan menyuapkan buburnya kedalam mulut. Dia menolak ketika Taeyeon akan menyuapinya. Mata Tiffany memanas saat mengingat Lauren, dan airmatanya pun turun dikedua pipinya.

“Jangan menangis, kau bisa tersedak” Yuri yang berada disisi kirinya menghapus airmata Tiffany dengan tissue.

Tiffany menelan dengan susah payah bubur yang berada dalam mulutnya “Aku merindukannya” lirihnya dengan nada yang begitu pilu.

“Lama lama kau akan terbiasa. Anggap saja Lauren sedang berlibur” Taeyeon memberikan gelas berisi air putih pada Tiffany. Dan Tiffany meneguk setengah air dari gelas tersebut.

Tiffany melanjutkan makannya lagi dan setelah itu meminum vitamin dan obat yang dokter berikan. Tidak lama setelah itu Siwon masuk kedalam kamar dan seketika Taeyeon, Yuri dan Yoona keluar dari kamar mereka. Memberikan privasi pada Siwon dan Tiffany.

“Bagaimana perasaanmu?” Siwon menyentuh pipi Tiffany dengan satu tangannya.

“Masih sedikit pusing” keluh Tiffany. Dia menyandarkan kepalanya dibahu Siwon.

“Kau sedang hamil. Tolong jaga kesehatanmu, makanlah dengan baik, istirahat yang cukup dan jangan terlalu sering menangis. Aku sakit melihatmu seperti itu” Siwon mengusap lembut belakang kepala Tiffany. Naik turun berkali kali.

“Maaf, jika aku membuatmu khawatir” Tiffany menarik tubuhnya dan menatap Siwon “Aku mengantuk. Mau kah kau menemaniku sampai aku terlelap?” pinta Tiffany dengan manja.

Tanpa menjawab, Siwon membantu Tiffany berbaring dan dia ikut berbaring disamping Tiffany dengan posisi yang saling mendekap satu sama lain.

“Aku berharap anak kita kali ini adalah laki laki” ujar Siwon membuka percakapan.

“Aku merasakan perbedaan saat kehamilan kali ini” Gejala yang tidak pernah dia alami saat hamil dulu, sekarang Tiffany mengalaminya. Tubuhnya juga gampang sekali lelah, apa karena faktor umur?

“Kalau saja Lauren tahu aku sedang hamil, pasti dia akan sangat senang. Dia begitu menginginkan adik” Tiffany tersenyum kecut.

“Jagalah kesehatan mu dan anak kita sampai lahir nanti. Dan kita akan memberitahu Lauren bahwa dia memiliki adik laki laki yang tampan” balas Siwon mencoba menghibur Tiffany yang mulai kembali sedih.

Tiffany terkekeh pelan, dia mencubit dada Siwon “Bagaimana bisa kau bilang laki laki, kita belum tahu jenis kelaminnya Siwon”

Siwon tertawa “Aku sangat berharap bayi kita laki laki. Apa kau tidak menginginkan bayi laki laki juga?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Aku ingin, agar kau mempunyai teman untuk menemanimu melakukan hobimu tanpa harus mengajak Young Ji lagi. Tapi, aku masih takut jika bayi ini adalah perempuan”

“Laki laki ataupun perempuan yang penting sehat”

“Tapi kau masih mengharapkan bayi laki laki kan?”

“Tentu” balas Siwon dengan cepat.

“Kau tidak kecewa jika bayi nya perempuan lagi?” tanya Tiffany hati hati.

“Tidak” Siwon menyeringai “Karena kita dapat mencoba nya lagi” bisik Siwon lembut ditelinga Tiffany.

Tiffany mendorong dada Siwon menjauh “Tidak. Ini adalah anak terakhir kita. Setelah itu aku tidak mau memberikan anak untuk mu lagi. Sudah cukup”

Tiffany mengangkat tangannya ketika Siwon akan menangkap tubuhnya lagi, mencegah Siwon agar tidak mendekatinya. Tapi Siwon terlalu mahir, dia mengambil tangan Tiffany dan menariknya mendekat. Lalu Siwon menangkup wajah Tiffany dan mencium bibirnya dengan lembut, perlahan dan dalam. Awalnya Tiffany hanya diam, tapi tiba tiba dia membalas ciuman lembut itu dan ikut bergabung bersama Siwon dengan permainan yang dibuatnya.

 

***

LAUREN POV

Aku memasuki sebuah hotel berbintang lima bersama dua pria bertubuh tinggi dan satu wanita cantik. Mereka ternyata orang yang baik, sepanjang jalan menuju kesini, aku selalu diajaknya mengobrol. Tapi aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan gelengan saja.

Mereka membawa ku kelantai teratas hotel tersebut, dimana tempat Ayah kandungku menginap. Aku penasaran seperti apa rupa nya, apa dia orang yang baik? Tiba tiba aku merindukan Mommy, aku merindukan Daddy, Grammy dan Unniedeul. Aku ingin pulang, tapi inilah keluarga ku yang sebenarnya. Pria bernama Lee Dong Wook adalah Ayah kandungku kekasih dari Ibu kandungku Jessica Jung.

Aku masuk kedalam kamar suite yang indah, ada sebuah sofa didekat tempat tidur dan disanalah seorang pria tengah duduk memunggungiku. Dia berbalik ketika mendengar kedatangan kami dan aku tertegun melihat pria yang berada didepanku saat ini.

“Ahjussi?” ujarku terkejut. Pria itu adalah pria yang aku temui ditaman sekolah beberapa hari yang lalu. Aku melukai punggung tangannya oleh buku yang aku bawa. Apa dia Ayah kandungku? Ya Tuhan.

Aku berjalan lebih dekat padanya, mata kami saling memandang satu sama lain “Apa Ahjussi adalah Ayahku?” tanya ku dengan suara pelan.

Ahjussi membungkuk dan menggenggam sisi bahuku, aku melihat matanya mulai berkaca kaca “Hoh” sedetik kemudian aku berada didalam pelukannya. Dia menangis dengan keras, aku tidak bereaksi, bahkan tidak terasa aku menahan nafasku. aku hanya diam sampai menunggunya selesai.

 

Setelah itu kami belum bicara apapun, seorang petugas hotel membawakan beberapa menu makanan yang lezat, perutku protes minta diisi, bahkan bau dari makanan itu sangat menggoda seleraku, air liurku hampir menetes melihatnya. Mungkin Ahjussi membiarkan aku makan terlebih dahulu.

Kami pun makan dalam diam. Ah tidak, aku hanya makan sendirian dan Ahjussi itu hanya menatapku sejak tadi. Membuatku salah tingkah dibuatnya.

“Kau sangat mirip dengan Ibumu” gumam Ahjussi itu membuka suara.

Aku melihatnya sebentar lalu menekuni makanan yang ada dihadapan ku lagi “Jessica Mommy lebih cantik dariku” itulah faktanya setelah aku melihat foto yang Tiffany Mommy tunjukan padaku.

“Maukah kau memanggilku Appa?”

Aku menatap nya terkejut, belum menjawab pertanyaannya. Tapi seketika wajah Ahjussi itu terlihat tidak enak dan terlihat jelas garis kekecewaan di wajahnya.

“Ah terlalu cepat ya? Jika kau masih terasa asing tidak perlu memanggilku Appa. Terserah kau mau memanggilku apa” dia tersenyum simpul sembari menggaruk tengkuknya salah tingkah.

Aku masih diam. Aku mengintip dari bulu mataku dia menunduk sesekali mengusap wajahnya dengan gusar. Dia mengambilku, apa karena dia menyesal tidak mengetahui kehadiranku? Atau memang dia benar benar menyayangiku? Atau hanya untuk penebusan dosa atas kesalahannya dimasa lalu? Tapi, bukankah tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anak nya?

“Appa” bisikku. Dia pantas mendapatkan itu karena aku adalah anaknya dan dia adalah orangtua ku.

Matanya membulat menatapku tidak percaya, aku mengulang memanggil namanya lagi. Dia, Appa menyebrangi meja dan memelukku lebih erat dari pelukan pertamanya tadi. Kali ini aku yang menangis, entah kenapa air mata ku lolos dengan mudahnya.

“Apa Appa menyayangiku?” oh Tuhan pertanyaan macam apa itu, pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku.

“Aku sangat menyayangimu, kau adalah putriku. Aku menyesal karena baru mengetahui nya sekarang” aku mendengar Appa menarik nafas panjang dan melepaskan pelukan kami “Mulai sekarang kita akan memulai kehidupan yang baru, berdua. Otte?” tanya nya penuh semangat.

Aku tidak bisa menolak, walaupun hatiku masih ingin pulang tapi disinilah seharusnya aku berada bersama Appa. Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Appa menangkup wajahku dan mencium dahiku lembut, ciuman pertama yang aku dapatkan darinya.

Dan Appa memberitahu bahwa nanti malam kami akan terbang ke Jepang, memulai kehidupan baru dirumahnya. Aku akan membiasakan diri dengan ini, menyimpan kenangan dan rindu pada Mommy, Daddy, Grammy, Unniedeul dan yang lainnya. Entah kapan kami dapat bertemu lagi, tapi aku sangat berharap kami dapat bertemu kembali walaupun di tahun tahun yang akan datang. Aku akan tetap menunggu saat nya tiba, kapanpun.

 

***

AUTHOR POV

Jepang – Osaka

Sebelum ke Korea, Lee Dong Wook terlebih dulu menceritakan semua yang terjadi antara dia dan Jessica pada orang tuanya. Mereka terkejut dan menyesal, tidak dipungkiri penyebab dari semua permasalahan ini adalah mereka. Andai dulu mereka merestui Putra sematawayang nya berekencan dengan Jessica pasti tidak akan seperti ini jadinya. Tapi waktu tidak bisa diputar, nasi telah menjadi bubur. Walaupun begitu mereka akan tetap menikmati bubur tersebut, dan mengolah bubur itu kembali agar rasanya lebih baik. Itulah istilah kehidupan yang mereka alami saat ini.

Saat sudah berada didalam penthouse milik Lee Dong Wook, Lauren melihat sepasang suami istri yang sudah berumur menyambutnya. Dia bingung melihat kedua orang itu, Lee Dong Wook menangkap ekspresi kebingungan diwajah Lauren.

Dia membungkuk dan membisikkan sesuatu ditelinga Lauren “Itu orangtua Appa. Kau bisa memanggil nya Haraboji dan Halmoni” ujarnya.

Lauren menatap Lee Dong Wook sebentar, lalu kepalanya berpaling untuk melihat orangtua didepannya yang terus memandanginya dengan senyum yang tersungging dibibirnya.

Ny.Lee mengangkat tubuh Lauren kedalam gendongannya “Ya Tuhan, kau begitu mirip dengan Jessica” kata nya, lalu dia mencium pipi Lauren cepat.

“Apa Halmoni mengenal Jessica Mommy?” tanya Lauren ragu ragu.

“Tidak begitu dekat, tapi Halmoni pernah bertemu dengannya”

Lauren mengangguk patuh, matanya bertemu dengan Tuan Lee yang sedari tadi juga sedang menatapnya. Lauren menundukkan kepalanya memberi hormat “Annyeonghaseo Haraboji” ucap Lauren dengan sopan.

Tuan Lee mengusap kepala Lauren dengan lembut “Semoga kau betah berada disini. Kami akan mencarikan mu sekolah yang paling bagus”

Lauren cemberut “Tapi aku tidak bisa berbahasa Jepang” balas nya dengan lesu.

Lee Dong Wook terkekeh geli “Tenang saja, jika terus belajar lama kelamaan kau akan mahir berbahasa Jepang nanti” ucapnya menyemangati.

Mereka pun berbincang bincang sebentar, setelah itu membiarkan Lauren masuk kedalam kamar yang akan menjadi kamarnya sekarang. Ada dua orang maid yang sedang mengeluarkan barang barang miliknya dari dalam koper. Lauren melihat boneka teddy bear berwarna cream yang diletakkan diatas tempat tidurnya. Boneka itu adalah boneka pertama yang Tiffany belikan untuknya. Rasa rindupun datang dan membuncah begitu saja. Lauren mengambil boneka tersebut dan memeluknya erat. Dia tidak ingin menangis didepan para maid itu karena mereka akan mengadukannya pada Lee Dong Wook.

“Agassi, aku menemukan kertas ini didalam kopermu. Sepertinya ini untukmu” bersyukur karena maid itu adalah orang Korea jadi Lauren tidak kesulitan saat berbincang dengan mereka.

Lauren mengambil kertas putih yang dilipat berbentuk persegi empat, dia belum mau membacanya selagi para maid itu masih berada didalam kamarnya. Lauren menunggu sampai para maid selesai dan keluar dari kamarnya.

Lauren menghela nafas panjang, lalu membuka kertas itu. Jantungnya berdebar dengan kencang ketika melihat tulisan yang rapi itu. Ini tulisan Tiffany, Lauren memegang surat itu sekuat mungkin.

Dear, Lauren Choi.

Itu kata kata pertama dari surat itu.

Ah.. mungkin sekarang namamu bukan Lauren Choi lagi tapi Lauren Lee. Namun, kau akan tetap menjadi Lauren Choi-ku.

Mommy merasa bodoh ketika menulis surat ini, tetapi Mommy benar benar ingin menulis surat untukmu. Karena Mommy tidak ingin melihat saat orang orang itu membawamu pergi dari rumah.

Lauren sedih membacanya, membayangkan Tiffany tengah berbicara padanya, tertawa padanya. Dia merindukan Tiffany setengah mati. Lauren ingin menangis tapi dia menggeleng pelan lalu melanjutkan membaca surat.

Mungkin ketika kau membaca surat ini, kau sedang berada didalam kamarmu, atau mungkin menonton TV bersama Ayahmu atau pergi jalan jalan. Hmm… siapa yang tahu?
Mommy sering sekali bermimpi buruk tentang mu beberapa waktu lalu, tetapi Mommy tidak berjaga jaga untuk kemungkinan hal terburuk mimpi itu akan menjadi kenyataan.

Lauren menghembuskan nafas lelah, ternyata Tiffany sudah memiliki firasat buruk melalui mimpinya bahwa mereka akan kehilangan satu sama lain. Tapi, Lauren kecewa. Kenapa Tiffany tidak pernah memberitahunya?

Mommy juga akan memberitahumu kenapa Mommy sangat mencintaimu. Mommy ingin memberitahumu ini. Mommy memiliki perasaan ini sejak merengkuh mu pertama kali dalam dekapanku. Kau yang sudah aku nyatakan sebagai anakku sejak itu. Bukan karena rasa bersalahku pada Ibu mu, tapi karena kau patut mendapatkan kasih sayang dan cinta dariku. Itu karena aku benar benar mencintaimu sepenuh hati, nak. You’re everything for me..

Lauren berhenti sejenak, meremas kertas itu pelan dan merasakan air matanya mengalir turun. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya.

Ketika kau memulai kehidupan barumu lagi bersama Ayah kandungmu, Mommy mohon tetap lah menjadi Lauren-ku yang ceria, yang penyayang, yang selalu membuat orang tersenyum ketika berada didekatmu. Satu lagi, Lee Dong Wook adalah Ayah kandungmu dan berarti dia orangtuamu juga sama seperti kami. Cintai dia oke? Cintai dia seperti kau mencintai kami, bahkan lebih.

Jika Mommy bisa, Mommy ingin selalu berada disisimu. Mendidikmu sampai kau dewasa. Kau dengar kan, Mommy sangat mencintaimu.. Kau membuat Mommy bahagia setiap kali berada disisimu. Dan berkat kau, Mommy bisa memaafkan diri Mommy sendiri atas apa yang terjadi pada Ibumu.

Mommy menyesal karena tidak bisa mempertahankanmu, tapi Mommy berfikir lagi. Kau hidup bersama Ayah mu yang pastinya akan menyayangimu, nak. Jadi Mommy tidak akan menyesal ketika kau pergi karena sudah merasakan semua perasaan bersamamu selama tujuh tahun ini. maaf, Mommy tidak bisa merangkulmu lagi saat tidur, menenangkanmu saat menangis dan membuat mu tertawa disaat kau sedang penat.

Jangan menangis, sayang. Hapus air matamu dan lihat kedepan. Kau ingin menjadi seorang pianis kan?  Mommy yakin kau bisa melakukan hal itu sayang.

mommy selalu berfikir kita bisa menjadi sebuah keluarga bahagia selamanya, dan Mommy akan memberikan adik seperti yang kau inginkan. Tenang saja, kita akan bertemu lagi nanti kan? Walaupun tidak tahu kapan, tapi Mommy berjanji saat kita bertemu nanti, Mommy sudah memberikan mu adik dan mengatakan pada adikmu bahwa dia memiliki empat kakak perempuan yang cantik.

Mommy berharap kau tetap bisa tertawa setelah ini. walaupun nanti kau akan tertidur tanpa mendapat kecupan lagi dari Mommy dan terbangun tanpa mencium bau masakan saat Mommy membuatkan sarapan kesukaanmu. Tapi kau harus tetap tidur dan terbangun dari tempat tidurmu, menghadapi duniamu yang baru, yang lebih indah, menemukan cinta dari orang orang baru ditempat lain.

Mommy hanya ingin kau bahagia, sayang. Walaupun itu artinya kau akan bersama orang lain. Mommy rela, rela melepaskanmu sekarang dengan satu syarat kau harus bahagia, anakku.

Please, hanya menjadi bahagia untukmu sendiri. Mommy ingin mendengar suara tawamu yang selalu membuat Mommy tertawa dan melihat senyumanmu yang menular. Mommy membutuhkan mu, tapi kau tidak membutuhkan Mommy lagikan? Kau anak yang kuat, lagi pula ada Ayahmu yang selalu berada disisimu sekarang.

I Love you, I Love you, I Love you!!

You’re my daughter forever and I am your Mommy huh?

I Love you forever & always – your Mommy…

 

Lauren mengusap air mata yang turun dari kelopak matanya. Bahunya bergetar dengan hebat. Menutup wajahnya yang sudah basah oleh airmata. Lauren melipat surat itu kembali dan menyimpannya dilaci nakas disamping tempat tidurnya.

Lauren berjanji didalam hatinya bahwa dia akan tetap menjadi dia yang normal. Dia akan menuruti semua perkataan Tiffany untuk menjadi anak yang selalu ceria, tersenyum dan tertawa. Satu lagi, melanjtukan hidupnya yang baru bersama Ayahnya, dan akan mulai mencintainya seperti Lauren mencintai keluarga Choi.

 

***

Five months later

“Pelan pelan Soo Ji” perintah Tiffany dengan lembut.

Soo Ji menengok pada Tiffany yang duduk disampingnya, dan tersenyum tipis “Arro” lalu Soo Ji kembali fokus pada jalan.

“Mommy, kenapa Daddy mengajak kita makan siang ketempat sejauh ini? Apa ada hari spesial?” Young Ji menjulurkan kepalanya kedepan untuk melihat Tiffany.

Tiffany tersenyum sembari menggeleng pelan, satu tangannya menyentuh pipi Young Ji “Daddy ada pertemuan dengan rekan bisnis nya yang kebetulan membawa keluarganya. Well, kita diminta datang juga kesana” ucap Tiffany panjang lebar.

Tadi Siwon menelponnya menyuruhnya pergi kehotel dimana suaminya bertemu dengan rekan bisnis nya, sebenarnya agak janggal karena Siwon tidak pernah membawa serta merta keluarga nya untuk bertemu dengan rekan bisnis. Tapi, Tiffany tidak ingin terlalu banyak bertanya. Hanya menurut dengan apa yang Siwon perintahkan, lagi pula sudah lama mereka tidak makan bersama diluar.

Eun Ji menghela nafas panjang “Apa belum sampai juga? Perutku sudah berbunyi sejak tadi” keluh nya pura pura cemberut.

Mereka sudah menempuh jalan hampir satu jam, awalnya Tiffany yang mengendarai mobil tapi karena kakinya tiba tiba keram jadi dia meminta Soo Ji untuk menggantikannya.

Soo Ji melirik GPS yang berada di dasboard “Kita sudah hampir sampai” seru Soo Ji dengan riang. Karena perutnya juga sudah sangat kelaparan.

Setelah mereka sudah berada didepan hotel, Soo Ji memberikan kunci mobilnya pada petugas vallet dan mereka memasuki lobby hotel dengan menggandeng Tiffany yang sudah kesulitan berjalan karena usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan.

“Mommy, kau masih memakai heels? Daddy akan marah padamu nanti” kata Soo Ji yang berjalan mengamit tangan Tiffany disisi kirinya memarahi Tiffany ketika Ibunya memakai heels hitam merk Channel dengan tumit yang memang tidak begitu tinggi.

Tiffany mengintip sepatunya dari samping, karena sisi depannya sudah tertutup oleh perut buncitnya “Mommy tidak percaya diri jika berjalan di samping kalian dan Daddy tanpa menggunakan heels” ujarnya beralasan.

“Mommy tidak hadir saat pembagian tinggi badan, makanya Mommy seperti kurcaci. Padahal Grandpa sangat tinggi” Young Ji terkekeh dan menular pada Soo Ji karena mendengar kelakar dari adiknya.

Eun Ji melengkungkan bibirnya “Aku tersinggung” karena tubuhnya juga tidak begitu tinggi.

Tiffany mencibir tidak suka “Kau suka sekali mengejek orang ya” ucapnya pura pura merajuk.

Mereka sudah berada ditengah tengah lobby, tapi langkah Tiffany tiba tiba berhenti. Dia mencengkram erat tangan Soo Ji dan Eun Ji yang berada disisi nya. Matanya terpejam, dan menggigit dalam bibirnya seakan menahan sakit.

Soo Ji menatap khawatir kearah Ibunya “Mommy, waeyo?” tanyanya dengan cemas.

Tiffany meringis “Adik kalian menendang dan begitu kuat. Sampai terasa sangat sakit” rintihnya.

Eun Ji dan Soo Ji mengajaknya duduk disalah satu kursi yang berada di lobby, membawa Tiffany dengan pelan dan hati hati.

“Apa Mommy ingin melahirkan?” tanya Young Ji dengan asal, membuatnya mendapatkan pukulan dari Eun Ji dikepalanya.

“Usia kandungannya baru delapan bulan, babo” kesal Eun Ji mengingatkan Young Ji. Adiknya hanya cemberut sembari mengusap kepalanya bekas pukulan Eun Ji tadi.

Tiffany masih meringis sembari mengusap perutnya dengan lembut “Kalian pergilah terlebih dulu, Daddy pasti sudah menunggu. Mommy akan menyusul setelah rasa sakitnya hilang”

Ketiga nya menggeleng kuat “Daddy akan marah jika kami meninggalkan Mommy sendirian disini” ujar Soo Ji tidak setuju.

Tiffany tersenyum simpul “Daddy akan lebih marah karena kita membuatnya menunggu terlalu lama. Katakan saja Mommy sedang ketoilet, huh?”

Gwencana?” tanya Eun Ji. Dia masih merasa ragu untuk meninggalkan Tiffany seorang diri disini apa lagi dalam keadaan sakit seperti ini.

Tiffany tersenyum lebar meyakinkan anak anaknya “Gwencana. Pergilah, sebelum Daddy mengamuk” Tiffany mendorong tubuh mereka agar segera berjalan memasuki restoran yang berada di hotel tersebut.

 

Sejak memasuki hotel ini hati Tiffany seakan diremas. Ini adalah hotel dimana tempat Jessica bekerja dulu, disinilah sahabatnya menemukan cintanya. Rasa rindu menyeruak pada Jessica dan putrinya Lauren. Sudah lima bulan mereka tidak bertemu dan Tiffany tidak tahu kabarnya lagi. Tapi, Tiffany selalu berharap bahwa Lauren akan baik baik saja. Tentu akan baik saja, karena Lauren tinggal bersama Ayah kandungnya bukan orang lain.

Lima belas menit Tiffany duduk ditengah lobby dan rasa sakit diperutnya pun sudah berkurang, tapi dia belum ingin beranjak dari sana. Sampai sebuah suara yang sangat dia kenal, yang selama ini dia rindukan memanggilnya dengan begitu lembut dibelakangnya.

Suara itu memanggilnya lagi dan kali ini terdengar sangat jelas ditelinga Tiffany “Lauren” bisik Tiffany yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Tiffany tidak ingin menolehkan kepalanya kebelakang, karena seperti yang sudah sudah ternyata itu adalah alusinasinya saja yang membuatnya kecewa setiap kali mendengar suara anak yang dirindukannya beberapa bulan ini.

Suara lembut itu semakin dekat tapi Tiffany tetap tidak ingin menoleh, dia tidak mau dikecewakan lagi oleh alusinasi itu. Tapi hatinya berdebar setiap kali suara itu terdengar ditelinganya yang semakin dekat dan jelas.

GREEPPP!!

Sepasang tangan mungil memeluk leher Tiffany, dan membisikkan sesuatu ditelinganya “Apa Mommy sudah melupakan aku” ucapnya dengan sedih.

Tiffany meraba tangan mungil yang melingkar dilehernya, nyata fikir Tiffany. Dia memiringkan kepalanya kesatu sisi dan melihat Lauren menyandarkan kepala dibahunya. Air mata nya lolos melihat anak yang dia rindukan benar benar nyata berada disisinya.

Tiffany menarik Lauren agar duduk disampingnya, lalu merangkul Lauren. Melepas rindu lewat pelukan itu. Tiffany menangis tanpa suara, tidak dengan Lauren yang tersenyum karena begitu senang dapat bertemu kembali dengan keluarga yang merawatnya. Bolehkan aku menyebutnya keluargaku?

Tiffany menangkup wajahnya dan mencium dua belah pipinya “I miss you so bad” bisik Tiffany didepan wajah Lauren.

Lauren menggenggam tangan Tiffany yang berada diwajahnya “Me too” tangan mungilnya terangkat untuk menghapus air mata yang turun sejak tadi diwajah Tiffany “Mommy bilang padaku untuk tidak menangis. Tapi Mommy sendiri yang menangis, Tsk!! Cengeng sekali” ejeknya main main.

Tiffany tersenyum malu “Mian” dia membersihkan wajahnya yang basah oleh airmata.

Lauren melirik perut Tiffany, dan kembali menatap matanya “Apa dia.. hmm boleh aku menyebutnya adikku?” ujarnya ragu ragu.

Tiffany mengambil satu tangan Lauren dan meletakkan diatas perutnya “Tentu. Dia terus menendang sejak Mommy masuk kedalam dan ternyata dia tahu bahwa dia akan bertemu kakaknya” Lauren tersenyum mendengar kata kata Tiffany.

Tiffany mengedarkan pandangannya kesegala arah “Dimana Ayahmu?”

“Appa bersama Daddy didalam” Lauren menunjuk pintu restoran yang tidak begitu jauh dari tempat mereka duduk.

“Ah.. jadi ini sudah direncanakan?” mata Tiffany melebar tidak percaya.

Lauren hanya dapat mengangguk dan menarik Tiffany untuk masuk kedalam restoran karena dia juga tidak sabar untuk bertemu Unniedeul.

Tiffany membungkuk sopan ketika sampai didepan meja dimana Siwon, Lee Dong Wook dan ketiga anaknya sudah duduk dengan manis didalam restoran diruangan VIP. Tiffany mengambil tempat disamping Siwon dan anak anaknya berada disisi lain saling berpelukan melepas rindu.

“Apa kabar Tiffany?” tanya Lee Dong Wook berbasa basi membuka percakapan.

“Aku baik” jawab Tiffany singkat.

“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Aku mengambil Lauren begitu saja dan membuat kalian kehilangan satu sama lain. Dan lebih parahnya aku tidak sempat mengucapkan terimakasihku pada kalian karena sudah merawat Lauren dengan sangat baik, menjadikannya anak yang periang, memiliki sifat yang baik dan pintar. Aku sangat berterimakasih padamu, pada kalian, karena sudah memberikan cinta yang banyak dan tulus untuk putriku” ucap Lee Dong Wook panjang lebar, tidak terlihat wajah dingin seperti biasanya. Dia mengatakannya dengan tulus, dari lubuk hatinya yang paling dalam.

“Aku mengerti. Kau sangat mencintainya bahkan lebih dari kami mencintainya. Dan Oppa berhak mengambilnya karena Lauren adalah putri kandungmu” Tiffany berbicara sembari mengintip anak anaknya yang sedang tertawa bersama. Sudah lama dia tidak melihat pemandangan didepannya.

Lee Dong Wook tersenyum sebentar “Aku datang ke Korea bukan untuk menyerahkan Lauren kembali pada kalian. Karena Lauren akan tetap bersamaku, aku yang bertanggung jawab atas hidupnya sekarang. Aku hanya ingin persaudaraan kita tetap terjalin sebagaimana mestinya, aku tidak ingin ada permusuhan diantara kita. Jadi sebisa mungkin aku akan membawa Lauren pulang ke Korea atau kalian yang mengunjunginya ke Jepang, ketempatku. Seperti Ny.Choi, dia sudah dua kali mengunjungi Lauren”

Tiffany terperangah mendengar kalimat terakhir yang Lee Dong Wook ucapkan “Eomma?” Tiffany tidak tahu itu, Ibu mertua nya tidak mengatakan apapun padanya setiap dia pulang ke Korea. Tiffany menatap Siwon dengan curiga.

Siwon menggeleng dengan cepat dan menggoyangkan tangannya diudara “Tidak, aku tidak tahu” ucapnya jujur ketika mendapatkan tatapan dari Tiffany.

Lee Dong Wook berdehem untuk melanjutkan ucapannya “Jadi itu lah tujuanku kesini, menjalin persaudaraan dengan kalian. Tidak ingin memutuskan hubungan kalian dengan Lauren, kalian dapat menghubunginya kapanpun kalian mau, kapanpun Lauren mau. Karena aku tidak akan membatasinya”

Tiffany tersenyum senang dengan mata yang berkaca kaca. Setidaknya walaupun Lauren tidak kembali kedalam keluarganya lagi, mereka tetap bisa menjalin hubungan melalui telepon. Tidak seperti beberapa bulan ini yang lost contact, membuatnya merindukan Lauren setengah mati begitupun Lauren. Walaupun Lauren tidak mengatakan apapun tapi Lee Dong Wook sebagai Ayah dapat merasakan apa yang putri nya rasakan. Dan dia berfikir untuk mempertemukan kembali Lauren dengan keluarga yang merawatnya dulu yang notaben Siwon adalah kakak dari Ibu kandungnya yang berarti pamannya sendiri.

“Terimakasih, Oppa” kata Tiffany dengan tulus.

“Akulah yang harusnya berterimakasih” balas Lee Dong Wook dengan tidak kalah tulus.

Siang itu mereka habiskan untuk megobrol sembari menyantap makan siang. Mereka saling bertukar cerita apa yang telah mereka lewatkan selama lima bulan terakhir. Lee Dong Wook sengaja meninggalkan mereka untuk memberi waktu berkumpulnya keluarga itu. Melihat senyum yang terus mengembang diwajah putrinya membuatnya sangat senang. Karena itu lah tujuannya membuat putrinya senang dan dilimpahi banyak cinta.

 

 

 

***

BAB 9 EPILOG – FOREVER & ALWAYS

 

TIFFANY POV

“AAAAAAAAAAA!!!!”

Teriakan itu membuat Siwon dan aku terbangun dari tidur, ini tengah malam dan ada keributan apa dibawah, membuat aku merinding dalam sekejap. kami duduk dengan saling memandang satu sama lain. Teriakan itu terdengar lagi, membuatku semakin takut dan cemas. Mau tidak mau, aku meminta pada Siwon untuk memeriksanya kebawah, aku mengikuti Siwon dan bersembunyi dibalik tubuh besarnya.

Ketika kami sudah keluar kamar, keadaan rumah gelap gulita, seingatku lampu masih menyalah saat aku masuk kedalam kamar setelah makan malam. Astaga, ini membuat ku mengencangkan pegangan di lengan Siwon. Seketika ada lampu kecil berwarna warni menghiasi sepanjang tangga rumah kami dan menuntun kami untuk turun kebawah dimana ada sebuah layar TV besar, yang biasa digunakan untuk menonton film di ruang teather.

Pertama kali yang muncul di layar TV besar itu adalah putri sulung kami, Choi Soo Ji yang sepertinya berada didalam kamar karena dia hanya menggunakan tank top berwarna putih usang. Membuat Siwon geram dan menggelengkan kepalanya melihat pakaian putri kesayangannya itu.

Happy Wedding Anniversary Daddy, Mommy” Pekik nya begitu riuh “Jangan cemberut seperti itu Daddy, aku menggunakan pakaian seperti ini karena aku berada dikamar. Tidak ada siapapun, Lihat!!” Soo Ji terkekeh sembari mengarahkan kamera nya kesisi kamar, memberitahu Siwon bahwa tidak ada satupun orang didalam sana. Dia sudah dapat menebak reaksi Siwon ketika melihatnya berpakaian seperti itu hahah..

“Aku merasa senang mengetahui usia pernikahan kalian yang genap dua puluh satu tahun hari ini . Wooow!! Itu bukan waktu yang singkat bukan?”

Tentu, itu waktu yang lama, anakku. Siwon merangkul ku, melihat Soo Ji yang sudah tumbuh dewasa dilayar TV tersebut membuat hatiku merasakan hal yang tidak biasa, aku tidak menyangka bahwa aku sudah membesarkan anak cantik itu, oke ralat, kami, aku dan Siwon. Sudah dua tahun kami tidak bertemu karena Soo Ji memilih keluar negeri untuk menggapai cita citanya. Kalian masih ingat? Cita citanya menjadi modeling? Itu tercapai sekarang. Kita akan bahas itu nanti.

“Aku selalu berdoa pada Tuhan, agar Daddy dan Mommy dapat hidup bersama sampai maut memisahkan kalian, melewati hari hari dengan penuh cinta walaupun diselingi pertengkaran kecil. Aku ingin memiliki suami seperti Daddy nantinya, yang selalu sabar menghadapi istri yang mempunyai tempramental tinggi. Oops, sorry Mommy. Aku juga ingin seperti Mommy, Ibu yang sukses dalam segala hal, mengurus rumah tangga dan karir. Aku ingin seperti itu juga nantinya. But, aku tidak ingin memiliki banyak anak seperti kalian. Karena itu sangat merepotkan”

Aku melihat Soo Ji memutar matanya dengan bosan.

Keep healty and keep romance huh? Kalian harus sehat sampai aku menikah dan memberi kalian cucu? Daddy dan Mommy mau kan berjanji padaku? Untuk selalu bersama ku, membimbingku sampai aku memiliki keluarga juga nantinya. So, jagalah kesehatan kalian dan hidup berbahagia selama sisa hidup kalian. Mencintai kalian selalu”

Soo Ji menutup pidatonya dengan memberikan kecupan kearah kami, membuat aku tersenyum haru. Apa tadi dia bilang? Cucu? Apa dia sudah ingin menikah?

Layar TV berganti, sekarang Eun Ji yang tersenyum menatap kami. Astaga anakku yang satu ini juga tumbuh besar, dia tetap bersama kami di Korea tidak seperti Soo Ji yang bersikeras meninggalkan Korea demi cita citanya, membuat kami sulit bertemu dengan putri sulung kami itu.

Happy wedding anniversary Orang tua terhebat yang aku miliki” seru Eun Ji dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

Aku senang dia banyak sekali perubahan, sudah mau berbincang dengan orang lain, dan banyak tersenyum, satu lagi, dia memiliki banyak teman sekarang. Dia berada ditahun pertama menjadi mahasiswa jurusan sastra inggris diUniversitas ChungAh.

“Aku sangat bersyukur karena Tuhan memberikan aku orangtua seperti Daddy dan Mommy. Bukan karena harta dan tahta yang kalian miliki. Tapi, bagaimana cara kalian mendidik kami sebaik mungkin. Kalian tidak mengontrol kami, Daddy dan Mommy masih memberikan kami keluasan untuk memilih kemana kami akan melanjutkan hidup, memilih cita cita kami sendiri.”

Mata Eun Ji terlihat berkaca kaca. Anak kami yang satu ini memang gampang sekali menangis.

“Satu doa ku, agar Daddy dan Mommy hidup lebih lama dalam keadaan sehat. aku ingin Daddy dan Mommy melihatku sukses dan bangga padaku. Well, makanlah dengan baik, jangan terlalu keras bekerja hmm? Karena beberapa tahun kedepan kalian hanya akan memetik hasil yang kalian tanamkan pada kami. Percaya kan jika kami dapat membanggakan kalian? Aku mencintai Daddy dan Mommy bahkan melebihi diriku sendiri, aku berharap Tuhan lebih dulu memanggilku nantinya karena aku tidak sanggup jika harus kehilangan kalian”

Akhirnya, air mata Eun Ji pecah setelah mengatakan kalimat panjang nya yang menularkan tangis padaku. Kenapa dia harus bicara seperti itu? Aku tahu, kita semua akan mati. Tapi, tidak harus membahasnya juga karena jujur aku sangat takut dengan yang namanya kematian.

Sekarang giliran Young Ji yang muncul pada layar. Dia memangku gitar nya dan menyanyikan sebuah lagu tentang percintaan romantis yang terjalin bertahun tahun. Membuat hatiku bergetar ketika petikan petikan senar pada gitar mengeluarkan nada nada indah, walaupun suara Young Ji tidak begitu selaras tapi tertutupi dengan lirik demi lirik yang manis. Oh, aku terharu..

Happy Wedding anniversary My Daddy and My Mommy. Tidak banyak yang aku sampaikan hanya aku berharap akan selalu ada ulang tahun pernikahan kalian ditahun tahun berikutnya, oke? Saranghae” ujarnya, tangannya membentuk love dan meletakkannya didepan wajahnya. Dia masih menjadi anak periang yang tomboy. Dia belum berubah juga walaupun sudah ada sisi feminimnya karena dia mau memakai beberapa mini dress yang aku buatkan untuknya.

Setelah itu Lauren yang bertepuk tangan memenuhi layar TV. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu, aku merindukan anak Amerikaku. Lee Dong Wook begitu sibuk sampai tidak bisa membawanya ke Korea begitupun Siwon dan Eomma. Jadi kami belum dapat berkunjung, hanya satu kali kami ke Jepang waktu itu.

Happy wedding anniversary Daddy dan Mommy. Maaf sepertinya lagi lagi aku tidak bisa pulang untuk merayakan nya. Tapi doa ku selalu menyertai kalian. Mommy tahu kan, Mommy adalah Ibu terbaik yang aku punya. Tetaplah hidup bahagia bersama Daddy. I love you!! I Love you!! I Love you” teriak Lauren begitu riangnya.

Airmata haru tidak henti hentinya menetes dari mataku, begitu banyak doa dan harapan yang mereka lontarkan untuk kami. sedangkan Siwon, aku melihatnya sekuat tenaga untuk menahan tangisnya. Dasar laki laki.

Layar TV tersebut berganti dan muncul dua pria berusia lima tahun menggunakan topi kerucut dengan tulisan ‘Boy’s Daddy’ dan pria kecil ku satunya dengan topi bertuliskan ‘Boy’s Mommy’

Seketika aku tersenyum lebar melihat anak bungsu kembarku bernama Davide dan Daniel yang terlihat imut menggunakan topi kerucut tersebut. Lima tahun lalu aku melahirkan bayi laki laki kembar melalui proses caesar. Kami sangat bahagia ketika Davide dan Daniel lahir, begitu menginginkan anak laki laki dan Tuhan memberikan kami dua sekaligus. Bukankah Tuhan itu sangat adil?

“Daddy, Mommy. Happy wedding anniversary” ucap Davide dan Daniel serempak. Senyum nya lebar dan menampakkan gigi susu yang putih dan rapih.

“Kami tidak tahu harus berkata apa tapi kami mencintai kalian. I Love you…” pekik Davide dan Daniel bersamaan, terlihat sekali bahwa mereka berlatih hanya untuk mengatakan kalimat singkat itu. Siwon dan aku tertawa gemas melihat tingkah anak laki laki kami yang begitu aktif dan keras kepala. Errrrrr!! Terkadang aku pusing dibuat nya.

Tiba tiba layar TV mati dan ruangan kembali gelap, aku melompat dalam dekapan Siwon. Beberapa menit berlalu lampu menyalah dengan terang, tampak balon balon berwarna putih menghiasi ruangan tersebut dengan hiasan hiasan dekorasi lainnya. Layar TV kembali menyalah menampilkan foto foto lama Siwon dan aku saat masih menjadi sepasang kekasih, terus ada foto pernikahan kami, foto foto saat kami pergi berlibur dan masih banyak lagi. Ahh… aku teringat saat Eun Ji meminjam notebook ku karena disanalah aku menyimpan semua foto foto lama kami dengan rapi. Oke Girls, kalian menakjubkan…

Datanglah mereka mendorong sebuah meja persegi kecil dengan cake betingkat tiga diatasnya dan ada sebuah lilin angka dua puluh satu yang bertengger dibagian teratas cake berlapis cokelat dan stroberry tersebut. Ini cake kesukaan ku dan Siwon, Ya Tuhan mereka menyiapkannya begitu apik.

Aku melihat Soo Ji berdiri diantara mereka menggunakan atasan turtle neck dengan rok mini berwarna hitam. Dia tidak seharusnya di Korea, dia memiliki jadwal pemotretan yang begitu padat dan pasti lagi lagi dia- Astaga, Siwon akan menanggung nya lagi kali ini. entah sudah yang keberapa kali. Anak itu memang benar benar selalu bertingkah semaunya sendiri.

“Soo Ji aah” teriak ku tidak percaya melihat leader yang tersenyum tanpa dosa kearahku dan Siwon.

“Kau pulang? Kapan? Bagaimana bisa?” tanya Siwon bertubi tubi.

“Satu satu, Daddy. Tapi kita bicarakan itu nanti, sekarang ayo tiup lilinnya” ucap Soo Ji mengalihkan pembicaraan. Karena memang hal itu belum seharusnya dibahas sekarang, mereka memiliki hal penting lainnya untuk dibahas kan? Seperti meniup lilin diatas cake lezat ini salah satunya.

Tanpa ragu ragu, Siwon dan aku meniup lilin tersebut bersamaan, kami mengucapkan harapan kami didalam hati untuk kedepannya sebelum meniup lilin. Lalu Siwon tanpa menghiraukan anak anak yang sedang menatap kami pun menarikku kedalam pelukannya. Aku merasa tidak enak  harus memperlihatkan kemesraan didepan mereka dan ingin menjauh dari tubuh Siwon, tetapi Siwon menarik dan menekan tubuhku sehingga tidak dapat bergerak. Tangan Siwon yang lain menekan leher ku dan mencium bibirku dengan lembut. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa aku perbuat huh?

Aku mengintip Anak laki laki kami berdiri disana dengan polosnya yang sangat mirip dengan Siwon. Rambutnya berwarna hitam pekat, mereka memiliki mata bulat berwarna cokelat. Davide dan Daniel mengerjapkan matanya, dengan cepat Eun Ji dan Young Ji menutup mata mereka dengan telapak tangannya.

“Apa yang sedang Daddy dan Mommy lakukan? Noona, singkirkan tanganmu” aku mendengar protes Davide pada Eun Ji dengan geram.

“Daddy dan Mommy sedang memakan wajah mereka satu sama lain” celetuk Daniel dengan nyaring. Membuat ku tertawa dalam sekejap dan ciuman kami terlepas begitu saja. Ya Tuhan, aku sangat malu.

Terkadang aku menyesal tidak dapat mencegah Siwon untuk berperilaku nakal padaku didepan anak anak terutama Davide dan Daniel. Maksud berperilaku nakal adalah mencium tidak mengenal waktu dan tempat.

Aku berdiri lebih tegas dan menatap tajam pada Siwon “Kau selalu tidak dapat mengontrol nya” ucapku dengan pelan didepan wajahnya, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka tapi Siwon lebih cepat menarik pergelangan tanganku dan meminta maaf dengan senyum konyol khas nya. Bagaimana aku bisa marah kalau dia seperti ini?

“Mommy” teriak Davide bersemangat “Soo Ji Noona tadi berbisik padaku, dia bilang orang dewasa akan melakukan apa yang seperti Daddy dan Mommy lakukan tadi” oke! Aku tahu kemana arahnya Davide berbicara, ini soal ciuman tadi. Oh, Siwon ini gara gara kau.

“Aku akan melakukannya juga saat dewasa nanti?” timpalnya, dia bergidik ngeri. Apa yang membuat dia ngeri dengan ciuman tadi? Apa karena kata kata Daniel ‘Memakan wajah satu sama lain’ yang membuatnya terlihat ngeri seperti itu?

Aku menatap Soo Ji dan memutar mata dengan jengkel. Soo Ji tertawa pelan dengan mengangkat tangannya “Davide, Daniel. Daddy tadi sedang membantu Mommy menghabiskan makanan yang ada didalam mulutnya”

Apa lagi ucapan aneh Soo Ji ini, aku memutar mata sekali lagi. Alasan yang Soo Ji berikan tidak ada yang benar, Ya ampun.

Aku menunduk sebentar dan menatap kedua anak laki laki ku ini dengan frustasi “Ya, Davide. Kau dapat melakukannya saat umur mu dua puluh tahun” jawabku.

Davide menatapku bingung “Soo Ji Noona melakukannya dan saat itu umurnya sembilan belas, Mommy” teriaknya tidak terima.

Dia pasti melihat iklan lipstick dimana Soo Ji yang menjadi modelnya, Soo Ji melakukan kiss scene dengan aktor muda blasteran Amerika-Korea, tapi yang aku lihat hanya sebuah kecupan dan sukses membuat Siwon marah besar waktu itu. Aku mengintip Siwon yang raut wajahnya berubah menjadi merah, dia akan marah kalau mengingat itu.

Soo Ji memaksakan senyuman diwajahnya dan mengusap lembut kepala Davide dan Daniel “Kalian harus segera tidur, ini sudah malam” Soo Ji meminta Eun Ji dan Young Ji membawa kedua adiknya itu kedalam kamar. Tapi Daniel protes ketika Soo Ji menyuruhnya tidur.

“Noona aku masih merindukanmu” kata Daniel dengan suara manja.

“Dan aku ingin cake nya” timpal Davide.

“Masuklah kekamar sekarang. Noona akan menyusul dengan membawa cake ini nanti” dalam sekejap Davide dan Daniel bersorak riang. Dengan enggan Eun Ji dan Young Ji membawa mereka masuk kedalam kamarnya. Aku tahu, mereka semua masih merindukan Soo Ji yang sangat sibuk sekarang.

 

Oke kita kembali pada Soo Ji. Setelah lulus sekolah menengah atas dia memilih meneruskan pendidikan dengan mengambil jurusan kedokteran tapi dengan satu syarat dia ingin melanjutkan pendidikannya diluar negeri yaitu Amerika. Awalnya kami tidak mengizinkan tapi Soo Ji bersikeras dan pada akhirnya kami membiarkan dia tinggal di Amerika dengan Eomma yang mengawasinya.

Satu tahun setelah dia pergi ke Amerika, Siwon pergi untuk mengunjunginya. Dan kami dikejutkan bahwa Soo Ji sudah keluar dari Universitas tersebut dan masuk ke sekolah modeling. Siwon marah besar dan membawa Soo Ji kembali ke Korea tapi Eomma mengambil hak nya lagi dan mengatakan pada kami agar Soo Ji memilih jalannya sendiri. Lagi lagi kami harus merelakannya, mengikuti kemauannya tapi tetap mengawasinya. Siwon yang lebih overprotektif pada putri sulungnya, bahkan dia mengirimkan seseorang untuk membuntuti Soo Ji. Menurut Siwon Amerika begitu bebas, dia tidak ingin putrinya terjebak dunia yang menyeramkan dan bebas, begitupun aku.

Awal yang membuat namanya terkenal adalah ketika sahabatnya yang kebetulan berbakat dibidang photographer meminta Soo Ji untuk menjadi modelnya saat dia akan mengikuti perlombaan untuk para photographer berbakat disebuah studio foto ternama di Amerika. Foto debut Soo Ji dengan menggunakan filter hitam putih menuai pujian. Bukan hanya sang photographer begitu lihai mengambil gambar dari berbagai sisi tapi didukung oleh model yang berbakat juga.

Soo Ji pertama kali mendapat job untuk pemotretan pakaian sekolah, setelah itu parfum, jam dari berbagai merk terkenal, perhiasan Tiffany & co, busana busana dari merk ternama seperti channel, mixxo, coach dan yang lainnya, tidak sampai disana Soo Ji mengepakkan sayapnya untuk berbagai cover majalah dari Marie Claire, Grazia, Vogue Girl, Ceci dan High Cut. Bahkan dia pernah menjadi model pakaian dalam calvin clein. Dan satu tahun terakhir ini dia baru merambah menjadi model iklan lipstick, eyeliner dan kontak lensa.

Soo Ji selalu berkata pada Siwon bahwa dia sudah dewasa, jadi Siwon jangan mengkhawatirkan nya lagi. Tapi tetap saja, Siwon tidak begitu percaya pada Soo Ji, dia masih menyuruh orang membuntuti anaknya sampai sekarang. Dan Soo Ji tidak tahu, jika tahu pasti dia akan marah besar. Anak ku benar benar anak yang baik, dia tidak terlalu sering berkumpul keluar bersama teman teman satu agensinya, dia lebih memilih tidur jika tidak memiliki jadwal apapun. Tapi, baru baru ini dia kena skandal sedang berpacaran dengan seorang DJ, karena kedapatan menamani DJ tersebut keberbagai kota untuk konser tour nya. Itu yang ingin kami tanyakan padanya, karena setiap kali ditelpon dia tidak pernah mau mengangkatnya dengan alasan sibuk.

Soo Ji juga memiliki aturan tersendiri, dia suka seenaknya membatalkan kontrak secara sepihak. Bukan hanya satu kali, tapi berkali kali. Tapi anehnya merk itu masih saja ingin mengontraknya untuk menjadikan Soo Ji modelnya. Belum lagi, Soo Ji yang selalu datang telat kelokasi pemotretan, dia selalu bertindak semaunya sejak dulu. Siwon lah yang membayar denda denda tersebut, walaupun Siwon mengancamnya tidak akan membayar denda nya lagi jika Soo Ji membatalkan kontrak tapi tetap saja Siwon membayarnya.

“Daddy melihat jadwal mu yang begitu padat minggu ini. kenapa kau bisa pulang?” tanya Siwon dengan suara dingin. Matanya terus mengarah ke Soo Ji yang duduk santai sembari memainkan jari jari tangannya.

“Daddy tidak ingin aku pulang?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan” terdengar jengkel dari suara Siwon, aku hanya diam mendengarkan mereka terlebih dulu.

“Kau membatalkan kontrak lagi kan?” tanya Siwon to the point.

Aku melihat Soo Ji menatap Siwon ragu ragu, sudah pasti jawabannya iya dan benar Soo Ji mengangguk pelan.

“Daddy tidak mengerti jalan fikiranmu” Siwon menggeram frustasi. Menurut prinsip Soo Ji ‘Aku yang mengaturnya sendiri, bukan orang orang itu yang mengatur aku’ prinsip itu sudah tercipta sejak dulu dan dia masih berpegang teguh sampai sekarang. Satu kata untuk mu, nak. Hebat!!

Siwon menatap benda perak bermata berlian yang cantik menempel di jari manis Soo Ji, aku mengikuti kearah dimana Siwon menatap. Dan Soo Ji menyadari dengan tatapan kami.

“Ini bukan apa apa. Ini hanya properti, aku lupa melepasnya setelah pemotretan terakhirku” Soo Ji tidak berbohong, terlihat dari kilauan matanya dan cara dia bicara dengan lancar.

“Lalu siapa DJ itu?” tanya ku yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku saat melihatnya tadi.

Just friend” jawabnya dengan santai.

“Teman macam apa yang membuatmu membatalkan kontrak hanya untuk menemaninya berkeliling untuk menggelar konser. Kalian berkencan?” Siwon terlihat menahan amarah nya, setiap kali bertemu Soo Ji pasti harus dilewati dengan pertengkaran pertengkaran terlebih dulu.

What? Errrrr, No. Dia gay” Ada ekspresi jijik yang dibuat buat oleh Soo Ji. Bagaimana bisa pria sekeren itu, pria yang memiliki enam kotak diperutnya ternyata gay. Ya Tuhan aku terkejut mendengarnya.

“Kenapa kau mau dekat dengannya jika dia gay hoh?” Siwon terlihat kesal. Suasana diruang tengah begitu panas, apa aku harus membuatkan minuman dingin untuk mereka?

“Karena dia gay” Soo Ji melipat kakinya dengan anggun “Jika aku berteman dengan para pria normal, Daddy akan lebih marah padaku” tentu, apalagi kau seorang model terkenal. Pria pria diluar sana pasti banyak yang menginginkanmu Choi Soo Ji.

“Daddy tahu, kau belum bisa move on dari Joon kan?”

“Daddy” teriak Soo Ji tidak terima.

 

 

Four years ago…

“Aku diterima diuniversitas Harvard” Ucap Joon memberitahu Soo Ji, raut wajahnya tidak terlihat senang. Harusnya dia senang bukan? Dapat diterima diuniversitas yang paling diminati seluruh manusia yang mengetahui universitas tersebut.

“Wow!! Itu keren, Joon. I’m proud of you, dear” Soo Ji menepuk punggung Joon dua kali.

Hening..

“Ada apa Joon?” tanya Soo Ji, melihat raut wajah Joon yang terlihat aneh.

“Ji aah” Soo Ji hanya membalas dengan gumaman, alisnya saling bertautan karena bingung.

“Aku akan sibuk menjadi mahasiswa, aku tidak ingin main main disana. Aku tidak ingin mengecewakan keluargaku, karena aku lah harapan mereka satu satunya”

“And then?” dahi Soo Ji berkerut, Joon terlalu rumit untuk menyampaikan maksudnya yang membuat Soo Ji bingung.

“Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai disini. Aku ingin fokus dengan pendidikanku” ujar Joon hati hati.

Hati Soo Ji seperti ditarik dari tempatnya dan dibuang lalu diinjak, tahu bagaimana sakitnya? Hubungan yang baik baik saja tiba tiba harus berpisah dengan alasan yang tidak bisa diterima oleh Soo Ji. Oke, mungkin dia akan sibuk dan tidak dapat menghubungi Soo Ji, tidak mau Soo Ji mengharapkannya, tidak mau Soo Ji menunggunya. Tapi, apa tidak ada perjuangan lain untuk mempertahankan hubungan yang sudah terjalin hampir satu tahun ini? Soo Ji tidak ingin memaksa Joon untuk mempertahankannya, jika itu mau Joon. Ya sudah, let it go..

Soo Ji menampakan senyum palsunya pada Joon “Ya, aku tidak menginginkan Long distance relationship. Mungkin ini yang terbaik, Joon” mata nya mulai memanas, tapi Soo Ji tidak ingin menangis sekarang. Jangan  sekarang, nanti oke? Ucap Soo Ji dalam hati berperang dengan air matanya.

Joon tersenyum simpul “Apa nanti malam kita bisa keluar?”

“Kau harus berangkat ke Amerika esoknya kan?”

Joon mengangguk mantap “Tapi penerbangan siang”

“Tapi aku sudah memiliki janji dengan Nana” Soo Ji menatap kearah lain karena dia tidak mau Joon menangkapnya yang sedang berbohong.

“Ah, tidak apa” Joon terlihat salah tingkah “Kalau begitu aku pulang dulu, aku harus kesekolah untuk mengambil beberapa surat penting”

“Ya, silahkan” Joon mendekat untuk mencium pipi Soo Ji, tapi Soo Ji menolak dengan menjauhkan kepalanya secara halus.

Joon mengerti, kalau Soo Ji masih belum terima dengan perpisahan mereka yang begitu tiba tiba. Tapi Joon tidak mempunyai jalan lain, ini lah yang dia dapat lakukan. Tidak ingin Soo Ji menunggunya tanpa kepastian yang jelas. Joon berjalan pergi, dia ingin menatap wajah Soo Ji tapi mantan kekasihnya itu memunggunginya.

Soo Ji menangis setelah Joon benar benar sudah pergi jauh dari rumahnya. Dia masih mencintai Joon, bahkan setelah perpisahan ini Joon akan selalu berada didalam jiwanya. Joon adalah first love, first kiss, tidak semudah itu untuk melupakan seseorang yang pertama kali mengisi penuh hatinya. Satu yang Soo Ji tetapkan didalam hatinya, jika memang dia benar berpisah dengan Joon dia akan tetap setia dan membuat cerita yang pernah terjadi antara dia dan Joon tersimpan menjadi history. Memang tidak mudah untuk Soo Ji, tapi dia akan tetap tegar menjalani kosongnya hati.

 

 

Soo Ji menangis kencang pasti dia mengingat kembali dimana hari perpisahannya dengan Joon beberapa tahun lalu. Siwon dan aku membiarkan Soo Ji menangis dengan suara nyaring seperti itu, tapi semakin lama suara tangisnya semakin kuat membuat Siwon menutup telinganya.

“Apa Daddy harus memukul, Joon?” tanya Siwon dengan main main, mencoba menggoda Soo Ji. Aku hanya menahan senyum ketika Soo Ji menatap Siwon dengan tatapan membunuh.

“JANGAN” pekik Soo Ji disela tangisnya “Aku masih mencintainya, Daddy. Dia pria yang selalu aku fikirkan ketika aku sendirian, pria yang selalu aku rindukan. Pria yang membuatku belum bisa membuka hati untuk pria lain” cerocosnya sembari menangis.

“Stupid” umpat Siwon sebal. Membuat Soo Ji menangis kembali dan lebih kuat. Aku melihatnya kasihan dan lucu bersamaan. Diluar dia memiliki sifat angkuh dan tegar tapi hatinya kosong dan hampa. Kau akan menemukan cinta sejatimu setelah ini, jika kau mau membuka hatimu kembali, anakku.

 

***

AUTHOR POV

Tiffany melihat Davide dan Daniel meneteskan air liurnya ketika melihat Ibunya membawa pie blueberry kesukaan Lauren. Menurut informasi yang dibocorkan Soo Ji, Ny.Choi dan Lauren akan sampai di Korea pagi ini. itu kenapa Tiffany menyiapkan beberapa makanan lezat dengan bantuan beberapa pelayan yang ada dirumahnya.

Tiffany membawa pie blueberry itu keruang tamu dan anak laki laki kembarnya mengikuti Tiffany dengan mencengkram kuat pinggiran dress yang Tiffany pakai dan berjalan bersama. Dia meletakkan pie itu diatas coffe table dan melihat dekorasi sisa semalam dengan tambahan tulisan ‘WELCOME HOME LAUREN CHOI’ Tiffany menatap puas dekorasi yang dibuat Young Ji dan Siwon pagi ini. ya, Young Ji memiliki cita cita menjadi seorang arsitek dan Tiffany dapat melihat potensinya dengan dekorasi ini.

Dia beralih menatap Davide dan Daniel yang memakai tuxedo hitam dengan dasi kupu kupu berwarna merah. Sangat tampan, seperti Daddy nya, ucap Tiffany didalam hati. Eun Ji dan Young Ji sudah siap dengan pakaian yang tidak kalah menakjubkan. Eun Ji memakai dress dibawah lutut berwarna hazel, dan Young Ji menggunakan hot pants dengan blouse tipis berwarna putih.

“Semuanya sudah siap?” Tanya Tiffany yang menyeringai lebar menatap putrinya bergantian. Eun Ji dan Young Ji mengangkat ibu jari nya bersamaan.

Bel pintu pada rumah Tiffany berbunyi, tidak mungkin Siwon dan Soo Ji kembali begitu cepat karena dia baru pergi sepuluh menit yang lalu untuk menjemput Ny.Choi dan Lauren dibandara. Lagi pula jika itu Siwon, dia hanya akan melenggang masuk saja kedalam rumah.

Tiffany merapikan mini dress pensil yang dipadukan dengan blazer. Umurnya sudah empat puluh tahun sekarang tapi Tiffany masih terlihat muda dan tetap fashionable. Dia berjalan menuju pintu rumahnya dan membukanya perlahan. Tiffany tersenyum tipis melihat wanita kurus berambut cokelat yang sedang menggendong anak perempuan cantik berusia dua tahun.

Perempuan itu memeluk Tiffany cepat dan mencium pipinya “Belum ada yang datang, Unnie?” tanya nya pada Tiffany.

Tiffany menggeleng pelan “Kau yang pertama, Yoong” Tiffany mengambil alih, Lee Na Ra yang berada digendongan Yoona. Gadis cantik dengan rambut lurus yang lebat dan memakai bandana bunga bunga yang cantik. Yoona dan Dong Hae akhirnya mendapatkan bayi perempuan setelah mendapatkan tiga jagoan kembarnya.

Ketika Yoona mulai masuk kedalam, Donghae dan triplets menyusul dibelakangnya “Tiffany Aunty” panggilnya penuh semangat. Tiffany membalas sapaan mereka dan seketika triplets menghilang setelah bertemu dengan Daniel dan Davide.

“Dimana Choi Soo Ji, ah anyio anyio Stephanie Choi, right?” ujar DongHae saat melihat foto Soo Ji yang  bertengger didinding dengan bingkai yang sangat besar. Stephanie adalah nama panggung Soo Ji saat dia mulai terkenal.

Tiffany tersenyum tipis menanggapi ucapan Donghae “Unnie bilang Soo Ji pulang ke Korea?” tanya Yoona yang tidak mendapatkan Soo Ji ketika sudah berada didalam. Dia hanya disambut oleh Eun Ji, Young Ji dan anak kembarnya saja.

Mereka pun berbincang bincang dan tidak lama Yuri datang. Tapi sayangnya suami dan anak anak nya tidak ikut karena sedang pergi bersama Ibu nya Min Ho. Dan disusul oleh keluarga Taeyeon yang datang berkumpul. Rumah Tiffany semakin ramai ditambah dengan anak anak mereka membuat keadaan rumah semakin riuh. Hanya tinggal menunggu Siwon dan Soo Ji pulang menjemput Ny.Choi dan Lauren.

“Hey Joon, kapan kau pulang dari Amerika?” sapa Yuri yang melihat Joon berjalan dibelakang Taeyeon.

Joon membungkuk sopan “Tiga hari yang lalu, Imo” jawabnya.

Tiffany menatap Joon setelah beberapa tahun tidak melihatnya. Joon semakin tampan dan tinggi, dia menggunakan kemeja putih dengan jeans hitam, mata Tiffany tidak berkedip melihatnya.

“Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kekasih disana?” tanya Tiffany dengan nada menyindir.

Taeyeon melotot kearah Tiffany tapi dia tidak perduli. Setelah hubungan Soo Ji dan Joon berakhir Tiffany sempat marah pada Taeyeon karena putranya membuat putrinya menjadi pemurung dan lebih parah nya menutup diri sampai sekarang.

Joon tersenyum salah tingkah dan menggelengkan kepalanya lemah “Aku disana bukan untuk itu” balas Joon sekenanya.

Yoona menepuk bahu Joon “Good boy” ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya kearah Joon.

“Whoaa…” terdengar suara nyaring Davide dari atas. Lalu langkah kecilnya berlari menuruni tangga. Dibelakangnya Daniel dan triplets mengikutinya. Mata Davide melebar ketika melihat banyak sekali tamu “Dasar Soo Ji Noona sialan, dia membawa tamu sebanyak ini” katanya dengan wajah polos.

Languange, Davide” kata Tiffany mengingatkannya. Davide dan Daniel sering berucap layaknya orang dewasa karena sering mendengar Soo Ji berbicara kasar pada teman temannya ditelepon. Tiffany sudah sering mengingatkan putra kembarnya untuk tidak meniru Soo Ji namun kata kata Tiffany hanya dianggapnya angin lalu saja.

“Halo Yeon Ah Noona” teriak Daniel melambaikan tangannya pada Yeon Ah yang menempel pada Joon sejak tadi.

“Ah Prince Charming” ujar Daniel yang melihat Joon. Semua yang ada disana mengerutkan alisnya. Prince charming? Kata kata dari mana itu? Apa mereka pernah bertemu? Tapi ini adalah pertemuan pertama mereka? Pertanyaan itu berputar putar dikepala Tiffany.

“Aku melihat foto Hyung di ponsel Soo Ji Noona. Dan Noona bilang bahwa foto itu adalah Prince Charming-nya” Ucap Daniel dengan jujur membuat Joon salah tingkah. Sedangkan Taeyeon hanya menahan senyum melihat reaksi putra nya.

“Mereka sebentar lagi datang” suara Eun Ji mengintrupsi, secara tidak langsung menyelamatkan Unnie nya karena Daniel membuka kartunya dengan begitu polosnya.

Daniel duduk diantara Yoona dan Yuri sedangkan Davide duduk disamping Taeyeon. Mereka saling berbincang beberapa menit kedepan. Jika Yoona dan Yuri adalah Imo favorit Daniel, Taeyeon adalah Imo favorite Davide.

Terdengar mesin mobil dari luar dan semua orang yang berada didalam langsung terdiam. Mereka semua berdiri dan bersiap siap untuk menyambut kedatangan Lauren.

Ketika pintu rumah dibuka, mereka semua langsung berteriak “WELCOME HOME LAUREN”

Terlihat Lauren yang semakin cantik itu menatap takjub dengan kejutan yang disiapkan keluarganya. Tiffany tersenyum lebar saat matanya bertemu dengan mata Lauren. Anak itu tumbuh menjadi gadis cantik, bahkan lebih cantik dari Jessica. Rambutnya pirang karena dia ingin memiliki rambut yang sama dengan Jessica, kulitnya putih bersinar. Lauren tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Terimakasih semuanya” ucapnya senang.

Semuanya pun berhamburan mendatanginya. Lauren langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Tiffany “I miss you so much, Mommy” gumamnya membuat Tiffany tersenyum lebar. Tiffany pun beralih memeluk Ny.Choi erat.

Soo Ji yang berada dibelakang Lauren melihat Yoona, Yuri dan Taeyeon yang berdiri tepat disamping Tiffany pun tidak enak untuk tidak menyapanya “Bolehkah aku memeluk Ibu Ibu terbaik di dunia bersamaan?” tanyanya.

Mereka bertiga bertukar pandang, lalu tertawa bersama sama. Mereka berempat berpelukan, membuat seulas senyum tersungging diwajah masing masing.

Taeyeon berbisik ditelinga Soo Ji “You are so damn beautiful” melihat Soo Ji yang mengenakan gaun pendek berwarna pink soft dengan tali gaun yang terikat ditengkuknya, memamerkan bahu dan punggung nya yang indah. Memampangkan kaki panjang putih dan mulusnya. Soo Ji terkekeh geli mendengar ucapan Taeyeon.

“Eomma, bagaimana kabarmu?” tanya Tiffany pada Ny.Choi.

Ny.Choi menggeleng sembari memijit keningnya “Baik sebelum datang ke Korea. Kau tahu apa yang diperbuat Soo Ji dibandara?” Ny.Choi memberi jeda untuk menarik nafas “Dia membuat kekacauan karena membuang sampah sembarangan dan seorang petugas menegurnya tapi malah Soo ji yang marah karena petugas tersebut tidak mengenali siapa dia. Aigoo, bibit siapa sebenarnya yang Soo Ji ambil”

Tiffany dan yang lainnya hanya tertawa mendengar kata kata Ny.Choi. Choi Soo Ji memang tidak berubah. Dia bitchy dan gampang marah seperti Tiffany. Tetapi selama Soo Ji tinggal bersama Ny.Choi, sebisa mungkin Ny.Choi mengontrolnya dan tetap tidak ada perubahan selama empat tahun tinggal bersama Grammy nya.

“Hai Davide, Daniel” teriak Lauren senang dan melambai kearah Adik laki laki kembarnya yang tampan “Yeon Ah!!” teriaknya lagi ketika melihat Yeon Ah sahabat kecilnya, Lauren menghampiri Yeon Ah dan memeluknya erat.

“Davide, Daniel” panggil Soo Ji dengan nyaring.

What bitch?” tanya Davide dan Daniel bersamaan. Dan terlihat jelas permusuhan dimata mereka, keadaan rumah Keluarga Choi akan semakin ramai dalam satu minggu kedepan.

Languange, dudes!!” balas Soo Ji dan memukul kepala mereka bergantian, membuat kedua adik kembarnya berteriak kesakitan. Soo Ji dan adik kembarnya memang terkadang tidak akur, mereka bertengkar sepanjang hari.

“Daddy. Soo Ji Noona memukul kepalaku” adu Davide pada Siwon.

“Itu salahmu sendiri” Siwon menatapnya dengan pandangan tidak setuju “Dan kau Soo Ji, kau sudah melakukan hal yang benar” Siwon mengacungkan dua ibu jari nya untuk Soo Ji.

Soo Ji tersenyum lebar, dan menjulurkan lidahnya pada Davide dan Daniel.

Mata Soo Ji bertemu dengan pandangan Joon yang sedang menatapnya. Joon tersenyum manis untuk Soo Ji membuat tubuhnya menegang dalam sekejap. Wajahnya berubah merah dan gugup ketika melihat Joon, mereka berpandangan dalam waktu yang lama. Membuat Taeyeon yang sedang memergoki mereka tertawa pelan.

***

What?” tanya Soo Ji yang mendapatkan Joon terus menatapnya sejak mereka berada dihalaman belakang.

Nothing. Just glad I met you” jawabnya dengan seringaian kecil.

Wajah Soo Ji merah seketika, ini yang selalu Joon lakukan padanya sejak dulu diawal perkenalan mereka.

“Apa DJ itu kekasihmu?”

Semenjak Soo Ji menjadi seorang super model terkenal, Joon dapat melihat Soo Ji setiap hari ketika dia menonton TV. Ketika berada di mall, foto Soo Ji terpampang begitu besar didepan beberapa toko. Dan beberapa tempat lainnya, membuat Joon setiap saat semakin mengingatnya. Tapi, mereka lost contact setelah berpisah. Tidak ada yang ingin memulai karena ego masing masing.

No. Dia sahabatku dan dia gay” Soo Ji terkekeh setelah mengucapkan kata kata itu “Bagaimana denganmu? Apa kau mendapatkan kekasih di Amerika? Disana banyak gadis seksi Joon” Soo Ji menyenggol tubuh Joon dengan bahunya.

“Aku disana untuk belajar bukan untuk mencari jodoh”

“Nyelam sembari minum air. Kau dapat melakukan kedua nya, Joon”

Hening..

“Sesungguhnya a..aku” Joon tergagap dan menggantung ucapannya. Soo Ji masih diam menunggu Joon melanjutkan ucapannya yang terpotong.

“Aku tidak bisa melupakan mu, Ji aah” Joon menelan ludahnya setelah berhasil melontarkan kalimat itu “Aku salah karena aku mengira hubungan kita akan membuat fokus ku terbelah antara kau dan study ku. Tapi sebaliknya saat mengingat kita dulu membuatku lebih semangat dan ingin cepat cepat bertemu dengan mu untuk memperbaiki hubungan kita yang telah aku kacaukan”

“Aku memang bodoh dan bertindak seenaknya. Menarik mu dan melepaskanmu sesuka hatiku, aku tidak dapat memberikanmu kepastian saat itu. Tapi sekarang aku akan memberikan kepastian yang jelas, aku ingin lebih serius denganmu. I want your world to begin and end with me

Soo Ji tertegun mendengar kalimat terakhir Joon untuknya. Betapa senangnya dia mendengar Joon masih mencintainya sama seperti dia yang selalu mencintai Joon setelah berakhirnya hubungan mereka empat tahun silam.

Soo Ji membalik tubuhnya menghadap Joon, dan mereka berdiri saling berhadapan “Kau tahu, setelah kau mengakhiri hubungan kita. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap setia, tetap menjaga hatiku untukmu, menutup rapat rapat pintu hatiku yang hanya akan terbuka untuk mu. Karena aku yakin, kau akan kembali padaku walaupun aku tidak tahu kepastiannya, walaupun nanti kau sudah memiliki wanita lain. Tapi hatiku selalu yakin kau akan datang dan kembali padaku. Because, I am completely caught up in your spell…”

Joon menarik tubuh Soo Ji kedalam pelukannya, Soo Ji melingkarkan tangannya dipinggang Joon untuk membalas pelukan tersebut. Joon menangkup wajah Soo Ji, dan mendekatkan wajah nya membelah jarak diantara mereka.

Second kiss?” tanya Joon dengan hati hati. Soo Ji tersenyum tipis dan mengangguk mantap. Sedetik kemudian bibir Joon sudah mendarat diatas bibir merah muda milik Soo Ji.

“I Love you so much dear”

“I Love you My prince Charming”

 

***

Siwon dan Tiffany memandang dari kejauhan, melihat sahabat sahabatnya, anak anaknya, saudaranya yang sedang berbahagia merayakan pesta ini. semuanya bahagia, walaupun kami semua memiliki cerita hidup yang tidak mulus tapi kami bahagia.

“Semua nya tampak terlihat bahagia” kata Siwon sembari menghela nafas “Everything’s gonna be alright from know on” Siwon tersenyum pada Tiffany dan mencium keningnya.

Tiffany mengangguk pelan, mendesah karena merasa lega “Lihatlah anak anak kita, mereka adalah anugerah. Kita sempat menjalani hujan badai dihidup kita tapi sekarang kita mendapatkan pelangi yang sangat indah”

Tangan Siwon yang hangat menyentuh pipi Tiffany ketika istrinya menangis, dia menghapus airmata Tiffany dan Tiffany berusaha tersenyum pada Siwon. Mereka berpandangan selama beberapa detik, sampai akhirnya sebuah senyuman tersungging diantara mereka.

Everything will be alright” kata Tiffany lembut.

“Kenapa kau sangat yakin?” tanya Siwon dan memeluk Tiffany dari belakang. Dalam sekejap tubuh Tiffany terasa hangat oleh pelukan Siwon.

“Karena kita sudah ditakdirkan untuk bersama selamanya.” Tiffany berbisik pelan dan mencium pipi Siwon dari samping.

You’re my wife, my life, my everything, you’re the best Mommy in the world and thanks for always there beside me” kata Siwon berturut turut.

Siwon mencium bibir Tiffany dengan lembut, Tiffany tersenyum dalam ciuman Dan berbisik didepan bibir Siwon “I feel like you’ve always been. Forever a part of me, babe” dan setelah itu Tiffany membalas ciumannya.

 

THE END…

 

Whoaaaa!! Akhirnya End, dudes. Yeaahhh!! *teriak alay*
ga pernah nyangka bisa bikin cerita segini panjangnya.

Sangat berterimakasih untuk para readers, readers yang baca setengah doang, readers yang baca sampe selesai walaupun terpaksa hehe, readers setia yang selalu meninggalkan komen, silent readers, semua readers deh pokonya!!
terimakasih juga buat Editor terbaik, Armi yang selalu mencari kesalahan ini cerita, untuk Nicky yang selalu mau direpotkan buat poster. Cerita ini ada karena ide dari kalian, ini cerita milik kita geng haha Love you yaa, chuu….

Happy ending kan? Keluarga Sifany dapet dua pangeran cakep replika Daddy nya hahah Walaupun Lauren tetap tinggal sama Ayah kandungnya yang terpenting mereka masih bisa kumpul dan berkomunikasi dengan baik dengan keluarga Choi. Karena hidup gaada yang semulus paha Tiffany guys, look at their story? Mereka semua mengalami lika liku kehidupan, gaada manusia yang tidak memiliki permasalahan, hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam ya, adem ga berasa. Well, ini lah akhirnya… see you in my new story yup? GOODBYE!!!

61 thoughts on “(AF) The Choi’s Girl Part 5 (End)

  1. Wow…..saeng benar2 daebak.is very very nice fanfic,i like it.akhirnya fany melahirkan bayi kembar putra.dan juga joon sooji akhirnya kembali bersama,dan bersatu lagi.unni suka storynya saeng.tetap semangat saeng.keep writing.saeng jjang.hwaiting.

  2. Kyaaaaaa sumpah thor, keren bangeeet.sejak part ke-1 sampai part ini sumpah aku terbawa suasana keluarga choi, mulai dr tiff siwon. soo ji eun ji young ji saat masih skolah sampai sudah gede.Apalagi waktu ada konflik ketika saat part2 sebelumnya yg belum terjawab dan selanjutnya disuguhkan ketika di part selanjutnya. Jangan end dulu thor peliiiis*lebay*
    besanin dulu taeng dg tiffany…..
    thor kamu jahat :v kamu mengaduk-ngadukkan kisah yg sering bikin aku nangis :v dr konflik masa lalu tiff dg bestie-nya sampai konfik lauren, belum lagi ketika putri sulung tiff sering banget bikin masalah. Thor…sangat disayangkan cerita ini harus end sampe disini *nangis lagi* Bikin lagi yang fanfic yg klimaksnya dapet ya thor, fighting ^_^

  3. happy ending yayyy!!! tapi lauren gak sama keluarga siffany😦 tapi tetepsenengkarna mereka hidup bahagia semua😉 next ditunggu karya selanjutnya authornim :-*

  4. Yeyy happy ending
    So cool story ever. I am always waiting for this chapter and finally this is the end of this ff
    I am really happy to read it, it feels like wow i enjoy it so much

  5. Sorry author.. saya cuma coment di part akhir.. suka banget sama ff ini.. suka bagaimana sifany menghadapi masalah yg sili(?) Berganti.. suka sama persahabatan mereka.. suka semuanya lah pokoknya.. haha

  6. Part 5 ending yang sweet suka sama penggambarannya dan soo ji tetep ngeselin ye udah dewasa juga wkkwkwk ya walaupun lauren gak bersama mereka tapi masih tetep berhubungan baik, pokoknya suka banget sama bagian endingnya ditambah ada duo lg wkwkkw semoga mereka gak terpengaruh sama gaya soo jin wkkww, cuman eun ji gak diceritain yaa hmm😟

  7. speechless q krn inilh takdir Tuhan, wlu trkdg kita mrh akn Takdirny tp klo kita ikuti jlnNya dgn ikhlas jln berliku pn bisa dgn mudah kita lalui. n diujungny kita psti dpt kbhgiasn. thanks utk author semua yg udh bikin crt ini dgn spnh hati, sukses trs n ditggu lnjutynny..^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s