(AF) The Choi’s Girls Part 4

THE CHOI’S GIRLS PART 4
TCG

Author : @zoey_loe

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Support Cast : Im Yoona – Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Lee DongHae – Park Jung Soo – Choi Min Ho

Cameo: Byun Baek Hyun – Liu Wen

Length : Chapter

Genre : Family, Romance and Comedy

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!

Okey!! Happy reading and keep RCL please…….

BAB 7 – MESS

Tiffany menyesap kopi yang baru saja dia buat. Duduk disofa yang ada di ruangannya. Tiffany menatap Yoona yang tidak terlalu fokus ketika sedang memilih bahan bahan dengan potongan kecil yang berserakan diatas meja.

“Yoong, apa kau ingin kopi?” tawar Tiffany. Sebenarnya Tiffany merasa pusing juga dengan pekerjaannya, makanya dia membuat kopi dan beristirahat sejenak.

Yoona mengangkat kepalanya sebentar “Oh, tidak Unnie” Tolak Yoona dengan lembut.

Tiffany meletakkan cangkir kopinya diatas meja, matanya tidak terlepas dari Yoona “Sepertinya ada yang mengganggu fikiranmu, Yoong. Jika kau berkenan untuk menceritakan keluh kesah mu padaku, aku tidak keberatan untuk mendengarnya” Tiffany menyandarkan punggungnya di sofa, kakinya disilangkan dengan anggun.

Yoona melepaskan bahan bahan yang berada digenggamannya dan membenarkan posisi duduknya lebih tegap “Semalam aku bertengkar kecil dengan Donghae Oppa” ucapnya dengan lesu, bibir Yoona mengerucut kesamping.

Tiffany mencondongkan tubuhnya “Masalah apa?”

Yoona menghela nafas panjang sebelum bicara “Kemarin ketika aku menjemput Triplets, Guru Minguk memanggilku” ketiga anak Yoona sudah dimasukkan kesekolah play group. Mereka satu sekolah tapi Minguk berada dikelas yang berbeda dari Daehan dan Manse.

“Minguk lebih fokus bermain sendiri, dia tidak pernah mau berbaur dengan temannya yang lain. Jika ada temannya yang mengganggu, Minguk tidak segan segan memukul temannya atau ketika dia ingin meminjam dan meminta sesuatu Minguk akan mengambil bahkan merebut dari temannya. Terkadang dia merebutnya dengan kasar, dan dengan kekerasan”

Suara Yoona terdengar sedih, Tiffany hanya mendengarkan Yoona dalam diam “Aku sedih mendengarnya. Aku tidak pernah bersikap kasar didepan mereka. Jadi, guru Minguk menyarankan untuk membawa nya ke psikolog. Aku memberitahu semuanya pada Donghae Oppa. Tapi, dia marah dan tidak setuju untuk membawa Minguk ke psikolog. Dia tersinggung, karena dia fikir Minguk tidak membutuhkan bimbingan khusus seperti itu”

Yoona meremas jari tangannya, Tiffany memandangnya iba. Jika Tiffany berada diposisi Yoona pasti dia juga merasa sedih. Bagaimana bisa Minguk yang memiliki wajah innocent bersikap kasar seperti itu?

“Aku merasa tidak berhasil mendidik anak anak ku karena minimnya waktu yang aku punya untuk mereka. Donghae Oppa juga menyalahkan aku tentang itu. Dia bilang seharusnya seorang ibu berada dirumah untuk mengurus anaknya dan memberikan perhatian lebih. Aku tidak setuju dengan ucapannya, karena walaupun aku sibuk bekerja, aku masih menyempatkan waktu untuk mereka. Selelah apapun aku, aku selalu mendengarkan celotehan mereka, menjawab pertanyaan mereka yang tidak berujung”

Yoona terisak, Tiffany berdiri dan memutari meja untuk menenangkan Yoona yang mulai menangis. Wajah cantiknya sudah dihiasi air mata.

Tiffany merangkulnya “Jangan menangis, kau Ibu yang hebat” Yoona membenamkan kepalanya dilekukan leher Tiffany dan Tiffany merasakan bahunya basah oleh airmata Yoona.

Beberapa menit berlalu, Yoona sudah mulai tenang dan Tiffany membuka mulut untuk bicara “Yoong, kau beri penjelasan pada suamimu. Bahwa membawa anak ke psikolog bukanlah hal memalukan. Katakan padanya, kau ingin meminta masukan agar dapat mendidik anak anak dengan baik” Tiffany menepuk bahu Yoona pelan.

“Soo Ji juga ketika seusia putramu dia bersikap seperti itu. Ketika aku membawanya ke psikolog, gejalanya adalah karena dia kesepian. Aku tidak menyangkal, Soo Ji sering dibawa oleh mertuaku dan yang merawatnya adalah para maid. Jauh dari aku, Siwon dan adiknya. Sama seperti kasus Minguk, dia berbeda kelas dengan Daehan dan Manse yang selalu bersamanya. Dia tidak dapat berbaur karena tidak menemukan teman yang cocok” Tiffany menyudahi pidatonya. Nafasnya tersenggal karena bicara tanpa jeda.

Yoona menarik diri dari rangkulan Tiffany dan menghapus sisa air mata diwajahnya “Unnie gomawo, kalimat panjangmu membangkitkan semangatku” senyumnya mengembang perlahan “Aku akan membawa Minguk ke psikolog, walaupun Donghae Oppa tetap menentangku dan aku tidak akan berhenti bekerja karena aku yakin dapat menghandle semuanya dengan baik” Suara Yoona terdengar lantang dan penuh percaya diri.

Tiffany bertepuk tangan “Keren, kau adalah Ibu terbaik didunia” ketika Tiffany akan memeluk Yoona, ponselnya berdering.

Tiffany berdiri dan berjalan cepat menuju meja kerjanya, alisnya bertautan membaca caller id diponselnya.

Yoona yang menangkap ekspresi aneh diwajah Tiffany pun penasaran “Unnie, nugu?”

Tiffany menatap Yoona “Dari wali kelas Young Ji” Tiffany menekan tombol hijau dan menggesernya “Nde, Oh Songsenim” jawab Tiffany dengan lembut. Tapi, rasa khawatir mulai menyelimutinya.

“…..”

“Young Ji?” Tiffany berteriak tidak sadar.

“……”

Nde, saya akan segera kesana”

 

 

***

“Duduk Young Ji” Perintah Siwon tegas. Tiffany dan Siwon duduk diseberangnya.

Tadi Tiffany dipanggil kesekolah karena Young Ji bertengkar dengan teman sekelasnya. Dan yang membuat Tiffany terbelalak adalah temannya seorang pria yang dipukuli habis habisan oleh putrinya.

Dari informasi yang Tiffany dapat, Young Ji menempelkan permen karet dikursi Lee Shin yang membuat celana seragam sekolahnya menempel dan sobek. Lalu Lee Shin membalas perbuatan Young Ji  dengan menempelkan permen karet dirambut Young Ji. Permen karetnya lebih banyak dari yang Young Ji berikan untuk bokong Lee Shin. Mereka memang sudah menjadi musuh sejak lama dan ini bukanlah pertengkaran pertama mereka. Karena kesal, Young Ji meninju perut Lee Shin dan merasa harga dirinya dicampakan, Lee Shin memukul Young Ji. Tidak mengindahkan fakta bahwa lawannya adalah perempuan.

“Dia mengikat tali sepatuku kemarin, membuat aku terjatuh. Jadi aku membalasnya” kata Young Ji membela diri.

Siwon memjamkan matanya sebentar “Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan juga” ucap Siwon, suaranya terdengar dingin.

“Lihat rambutmu sekarang” karena permen karet yang begitu banyak menempel, rambut panjang Young Ji tidak tertolong lagi. Jadi rambutnya dipotong model bob.

Young Ji memegang rambutnya, tidak ada rasa menyesal “Gwencana. Setidaknya aku puas menginjak MILIKNYA sampai dia pingsan” Young Ji terkikik geli, menutup mulutnya menahan tawa nya yang akan meledak.

“Pinggir bibir mu memar Choi Young Ji, kau juga membuat orang sekarat dan kau masih bisa tertawa?” Tiffany menggeleng tidak percaya. Putrinya benar benar kuat, terlewat kuat. Bisa bisa nya dia menghajar temannya dan itu seorang pria, sampai pingsan pula.

“Dia pantas mendapatkan itu” gumam Young Ji.

“Kemarilah” pinta Siwon. Raut wajahnya melunak ketika melihat memar diwajah putrinya.

Young Ji berjalan pelan kearah Siwon dan Siwon mengangkat tubuh Young Ji dan mendudukannya diatas pangkuannya “Dimana lagi dia memukulmu?” Siwon menangkup wajah Young Ji dan memeriksa bagian tubuh lain.

“Tidak ada. Aku lengah dan membiarkan dia memukul ku” Siwon berdecak kagum, tidak sia sia putrinya selalu ikut pergi kegym. Karena putrinya menjadi wanita yang kuat.

Tiffany mencubit lengan Siwon tidak setuju dengan tanggapan Siwon yang berdecak kagum. Itu tandanya Siwon bangga ketika putrinya melakukan kekerasan “Kau wanita, bersikaplah layaknya seorang wanita” kata Tiffany menyadarkan Young Ji dengan gender nya.

Tiffany memijit kepalanya yang berdenyut merasa frustasi “Kau memukul pria sebrutal itu, astaga”

Young Ji menggenggam tangan Tiffany “Aku tidak akan mengulanginya lagi” Young Ji tahu Tiffany sangat cemas ketika disekolah tadi, apalagi yang melihat rambutnya kusut karena permen karet, baju yang acak acakan dan memar pada sudut bibirnya.

Tiffany mengusap kepalanya “Jangan melukai orang lagi dan jangan terluka lagi. Kau tahu, Mommy sangat sakit melihat orang lain memukul mu” ucap Tiffany lirih, mengusap lembut diatas memar pada wajah Young Ji.

Young Ji mengangguk kuat, berjanji pada Tiffany untuk tidak melukai dan terluka lagi “Mommy, apa model rambut ini cocok dengan ku?” tanya Young Ji, ingin mendengar pendapat Tiffany tentang rambutnya.

“Kau terlihat seperti Dora” sela Siwon dan Tiffany mengangguk mengiyakan.

Shiro” protesnya “Mataku tidak sebesar mata Dora” marahnya pada Siwon dan Tiffany. Mereka hanya tertawa kencang menanggapi protesnya Young Ji.

 

 

***

“Ya Tuhan” Taeyeon menghentikan langkahnya. Menepuk keningnya pelan.

Joon yang berada disamping Taeyeon, ikut berhenti dan menatap Ibunya “Eomma, waeyo?”

“Eomma lupa membelikan kaos kaki titipan Yeon Ah. Padahal tadi dia sudah berkali kali mengingatkan Eomma” keluh Taeyeon “Eomma akan kembali kedalam, kau duluan saja ke mobil” Joon baru selesai menemani Taeyeon berbelanja keperluan rumah tangga dan yang lain disebuah mall.

Melihat wajah Taeyeon yang terlihat kelelahan karena sudah dua jam mereka berkeliling, Joon menawarkan diri agar dia saja yang kembali kedalam dan membiarkan Taeyeon ke basement, mungkin Ibunya bisa istirahat dimobil sembari menunggunya.

“Apa kau bisa mencarinya?” Tanya Taeyeon ragu.

“Serahkan padaku, Eomma” Joon memberikan kantung belanjaan yang dibawanya tadi. Menyerahkannya pada Taeyeon.

Joon kembali masuk kedalam Mall, sedangkan Taeyeon masuk kedalam lift untuk turun ke basement. Kaki Taeyeon sudah sangat pegal, karena dia berkeliling menggunakan high heels shoes. Ketika lift sudah membawanya ke basement, Taeyeon melangkah keluar dan mencari mobil ferrari milik Joon. Menempatkan kantung kantung belanjaan dikursi belakang dan Taeyeon menutup pintunya.

Taeyeon terkejut ketika seorang pria bersandar dipintu depan mobilnya. Pria itu memakai topi dan masker. Tapi, dari sorotan matanya Taeyeon dapat mengenal orang tersebut. Kakinya melemas tidak dapat ditahan, tubuhnya ambruk jika pria itu tidak menangkapnya. Taeyeon mendadak mundur, menjauhi pria itu. Dia berpegangan pada mobil untuk menopang tubuhnya, nafasnya memburu seperti habis berlari jauh.

Pria didepannya membuka topi dan maskernya. Mata Taeyeon terbelalak, benar dengan apa yang ditebaknya. Seseorang dari masa lalunya kembali “Byun Baek Hyun” lirihnya, suaranya serak seakan sulit untuk dikeluarkan.

“Aku senang kau masih mengingatku” pria berwajah maskulin itu tersenyum puas, dia berjalan satu langkah mendekati Taeyeon.

Taeyeon mengangkat kedua tangannya “Jangan mendekat, kumohon” pintanya, kepalanya menunduk dalam tidak berani menatap mata itu.

Pria bernama Byun Baek Hyun mengangguk kecewa. Taeyeon terdiam mengumpulkan keberaniannya untuk mengangkat kepalanya. Mencari mata pria itu dan mereka pun saling menatap.

“Aku tidak bisa hidup tanpamu? Tsk.. bahkan kau masih hidup sekarang” ucap Taeyeon dingin.

Baek Hyun menarik satu tangan Taeyeon dengan kasar dan meletakkannya tepat diatas jantungnya. Menahan tangan Taeyeon disana “Aku tidak pernah melupakan betapa jantungku berdebar keras ketika menatap matamu. Saat pertama kali aku bertemu denganmu dan sekarang aku masih merasakan hal yang sama”

Taeyeon merasakan detakan jantung itu, hatinya teremas kuat. Matanya tersengat oleh airmata yang akan tumpah. Taeyeon menarik tangannya dan menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya.

Baek Hyun menarik tubuh Taeyeon kedalam pelukannya. Ketika Taeyeon memberontak, Baek Hyun menahan belakang kepala dan tubuh mungilnya. Taeyeon menangis kuat didalam pelukan Baek Hyun. Walaupun dia tidak memberontak lagi, Taeyeon tidak membalas pelukan Baek Hyun.

“Aku masih mencintaimu. Aku tidak bisa melupakan mu, Kim Taeyeon” bisik Baek Hyun, hatinya terasa sakit mendengar Taeyeon menangis meraung raung dan seperti ketakutan ketika melihatnya.

“Bahkan setelah tujuh belas tahun berlalu, aku masih bisa merasakan tubuhmu ketika aku berada didalammu” mata Taeyeon terbuka lebar, nafasnya tercekat  ketika mendengar kata kata yang keluar dari mulut Baek Hyun.

 

***

Lima belas menit Joon mencari kaus kaki yang diinginkan Yeon Ah. Tiba tiba perasaannya tidak enak. Joon berjalan dengan cepat menuju basement, dia melihat Ibunya bersandar dimobil dengan kaki yang ditekuk. Kepalanya dibenamkan diantara kedua tangannya.

Joon berlari menghampiri Taeyeon, ketika dia menyentuh lengan Ibunya, Taeyeon menepisnya. Kepalanya terangkat dengan air mata yang membasahi wajahnya.

Taeyeon menyambar memeluk Joon “Aku ingin pulang” gumam Taeyeon dileher Joon.

Joon mengernyitkan dahinya, ada apa dengan Ibunya? Dia belum bisa menanyakan hal itu, ketika Ibunya masih kacau. Ibunya terdengar dingin dan tidak biasanya Taeyeon menggunakan kata ‘aku’ ketika bicara padanya. Pasti terjadi sesuatu yang buruk pada Ibunya.

Joon mengangkat tubuh Taeyeon dan membawanya masuk kedalam mobil. Disepanjang jalan Taeyeon hanya diam. Tapi, air mata terus mengalir dari matanya, meringkuk dan menyandarkan kepalanya dijendela mobil.

Joon sedih melihat Ibunya, ini kedua kalinya dia melihat Taeyeon menangis. Tapi, tangisan kali ini lebih pilu dari pada tangisnya ketika Ibunya Taeyeon meninggal.

Sampainya dirumah, Taeyeon langsung masuk kekamar dan mengunci diri didalam kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Menyalakan shower, Taeyeon terduduk lemas dibawahnya, masih menggunakan pakaian lengkap.

Sesekali dia memukul kepalanya dan dadanya ketika bayangan masa lalu menghantui fikirannya. Masa lalu yang menyakitkan, yang pernah dia hindari, yang pernah dia lupakan dan berhasil melakukannya sampai seseorang dari masa lalu itu kembali lagi. Seseorang yang pernah dicintainya, seseorang yang selalu dia nantikan kepulangannya ketika dia menghilang dulu. Seseorang yang ingin dia hapus dari fikirannya. Tapi, dia tidak bisa. Taeyeon berteriak histeris, dibawah pancuran air yang membasahi tubuhnya.

 

 

Pertama kali aku mencintai suaranya yang merdu, setelah itu tatapan matanya saat pertama kali mata kami bertemu. Hatiku bergetar dibawah tatapannya, aku mencintai semua yang ada padanya. Terutama senyumannya, ini love at the first sight.

Dia seorang penyanyi di kafe tempat aku dan sahabat sahabatku sering berkumpul. Dengan gentle nya dia mengajakku berkenalan dan saat itu juga kami saling bertukar nomor ponsel.

Tiga bulan saling mengenal, akhirnya kami berkencan. Saat itu aku berada di kelas satu sekolah menengah atas, usia ku lima belas tahun. Baek Hyun pun seusia dengan ku.

Aku memiliki pengalaman pengalaman gila bersamanya. Aku sering bolos hanya untuk menemani dia bernyanyi dari satu kafe ke kafe yang lain.

Baek Hyun tinggal seorang diri di Seoul, dia tidak memiliki siapapun. Dia tinggal dipanti asuhan sejak kecil. Tapi, setelah dia sudah dapat mencari uang untuk dirinya sendiri, Baek Hyun meninggalkan panti asuhan dan tinggal disebuah apartemen kecil.

Aku bangga padanya, dia dapat hidup mandiri ditengah kerasnya kota Seoul. Itulah yang membuat aku jatuh cinta lebih dalam lagi padanya. Tapi, sayangnya orang tua ku sangat menentang hubungan kami, karena latar belakang Baek Hyun. Orang tuaku dapat dikatakan orang terpandang diKorea, yang memiliki perusahaan periklanan ternama diKorea.

Ketika kami berusia tujuh belas tahun, hubungan kami semakin bebas. Kami sering bepergian dan menginap keluar Seoul. Tempat terjauh yang kami kunjungi adalah Jepang. Sampai sesuatu yang tidak seharusnya kami lakukan tapi dengan relanya aku menyerahkan diriku padanya. Bukan karena dia memaksaku. Tapi, karena kami saling mencintai dan kami tidak melakukannya satu kali tapi lebih.

Terkadang aku merasa berdosa, tapi aku tidak dapat menghindar karena aku menginginkannya juga. Kalimat yang sering dia ucapkan adalah “Aku tidak akan meninggalkan mu karena aku tidak bisa hidup tanpa mu” yang membuat aku yakin dan percaya padanya. Seburuk apapun, dia tidak akan meninggalkan aku. Tapi, sebaliknya dia meninggalkan aku.

Ketika aku tahu aku mengandung empat bulan, aku terkejut. Aku tidak terfikir untuk melihat dampak yang akan terjadi. Aku ingat, dua kali dia menyentuhku tanpa pengaman dan betapa cerobohnya kami. Baek Hyun sama terkejutnya dengan aku, kami masih sangat belia untuk memiliki anak. Sampai ide untuk menggugurkan kandungan pun kami fikirkan tapi tidak bisa karena usia kandungan ku sudah terbilang rentan untuk melakukan aborsi.

Kami bingung, memberitahu pada orang tuaku pun bukan ide bagus, karena mereka menentang kami. Baek Hyun mengajak ku melarikan diri tapi aku menolak, karena aku hanya satu satunya anak yang dimiliki orang tuaku. Mereka bisa terkena serangan jantung mengetahui aku menghilang, lagi pula mereka tidak akan tinggal diam mengetahui putrinya dibawa oleh pria yang bukan pilihan mereka.

Entah setan apa yang merasuki kami berdua, dengan percaya dirinya aku dan Baek Hyun menemui Appa dan Eomma. Memberitahu mereka bahwa aku hamil. Mereka terkejut, terpukul, kecewa dan marah. Terutama Appa, dia marah besar. Membanting semua yang ada didekatnya. Sedangkan Eomma hanya menangis, aku ingin memeluknya tapi Appa mendorong tubuhku menjauh. Aku masih mengingat dengan jelas kata kata menyakitkan yang terlontar dari mulutnya.

“Mulai detik ini kau bukan anak ku lagi. Silahkan keluar, tanpa membawa sekecil apapun barang yang kau miliki dirumah ini. karena semuanya milikku” suaranya dingin, bahkan aku tidak bisa mengenalinya. Appa yang riang dan berkata lembut padaku tidak ada lagi.

“Yeobo” Eomma protes tidak setuju. Tapi, Appa menyuruhnya diam.

“Dan kau” Appa menunjuk Baek Hyun dengan jari telunjuknya. Matanya memancarkan kebencian yang amat dalam pada Baek Hyun “Bawalah dia pergi. Semua tanggung jawabmu, kau yang menanggung hidupnya sekarang” Appa melihat Baek Hyun seperti melihat kotoran yang menempel disepatunya.

“Tsk!! Bahkan untuk hidupmu sendiri kau harus berkeliling kafe”

Cacian Appa tidak tanggung tanggung. Mendengar cacian untuknya, Baek Hyun berdiri dan menarik tanganku “Aku akan membahagiakannya” ucap Baek Hyun bersungguh sungguh. Itu yang membuat aku yakin bahwa dia akan tetap mempertahankan aku.

Appa tertawa prihatin “Kita lihat seberapa lama kau dapat mengurusnya, sampai kapan kau dapat bertahan menanggung kehidupannya”

Baek Hyun menarik tangan ku lebih kuat, sampai membuatku berdiri “Aku akan membawanya sekarang. Permisi” Baek Hyun membungkuk sebelum berjalan pergi. Menarikku kedalam rangkulannya.

“Kalian tidak akan bahagia” teriak Appa. Aku tahu itu sumpahnya, dan kami menganggapnya bagaikan angin lalu..

Kami terus berjalan sampai seseorang memelukku dari belakang dan itu Eomma. Ya Tuhan, aku menyakiti hati wanita ini “Anakku, kau akan pergi kemana?” dia menangis sedari tadi, aku berbalik dan memeluknya erat. Air mataku tumpah tanpa diperintah. Aku meminta maaf padanya, sudah mengecewakan mereka, memutuskan harapan mereka untuk memiliki putri yang sukses, aku meminta maaf untuk semua itu, aku sangat menyesal.

“Tolong jaga anakku” pinta Eomma pada Baek Hyun, dan dia mengiyakan, meyakini Eomma bahwa dia akan menjaga aku dengan baik “Telepon Eomma jika kau membutuhkan apapun” bisiknya ditelingaku, agar Appa tidak mendengarnya.

Aku memeluknya sekali lagi dan setelah itu benar benar pergi. Ketika aku berada diluar rumah, aku menoleh kebelakang untuk mengingat bentuk rumah, semua kenangan indah yang berda dirumah ini. aku merasakan basah dipunggung tanganku ketika Baek Hyun menciumnya.

“Everything is gonna be alright” dan lagi aku percaya dan yakin untuk meninggalkan rumah dan menjalani kehidupan baru bersama pria yang mencintai aku, yang aku cintai.

 

Satu bulan aku keluar dari rumah dan tinggal diapartemen Baek Hyun. Kami hidup dengan kesederhanaan, bisa dibilang sangat pas pasan. Tapi, aku tidak mengeluh. Bahkan aku belum satu kalipun memeriksakan kandunganku karena kami tidak memiliki uang lebih untuk memeriksanya. Aku terkadang ingin makan ini dan itu, ibu hamil yang katanya mengalami ngidam, aku mengalami fase itu. Tapi, aku tidak memintanya pada Baek Hyun, aku hanya menahan rasa inginku.

Sampai suatu hari, aku sudah tidak dapat menahan rasa inginku untuk makan steak direstoran biasa aku makan bersama Eomma. Memang harganya sangat mahal dan aku juga mengingingkan pie blueberry. Aku menyerah, aku menelpon Eomma untuk dibelikan semua makanan itu dan Eomma menyuruh seseorang datang ke apartemen Baek Hyun, karena Eomma bilang Appa menyuruh anak buahnya memata matai Eomma. Agar tidak mengunjungi aku. Sedih, Appa benar benar sudah membenciku. Eomma juga menyelipkan uang untuk memeriksakan kandunganku.

Baek Hyun tahu dengan semua pemberian Eomma dan dia marah. Harusnya aku meminta padanya bukan pada Eomma. Aku tidak meminta padanya karena aku tahu dia tidak bisa membeli semua itu. Tapi dia tidak mengerti, dia berkata aku tidak menghargainya.

Beberapa hari setelah itu aku sakit, Baek Hyun panik dan membawa aku kerumah sakit. Dan dokter berkata bahwa aku mengalami stress dan kekurangan banyak vitamin. Untungnya aku tidak harus menginap dirumah sakit. Tapi, dokter memberikan resep obat yang harus ditebus. Baek Hyun pergi keapotik dan pulang dengan tangan kosong. Obatnya sangat mahal dan dia tidak dapat menebusnya.

Aku meyakinkannya, bahwa tanpa obat itu aku akan sembuh. Tapi, dia merasa menjadi laki laki yang tidak bertanggung jawab karena tidak dapat memenuhi kebutuhan aku. Tiga hari setelah itu, aku terbangun dengan tempat tidur yang kosong, tidak seperti biasanya. Padahal semalam kami baru saja melewati malam yang indah.  Kami menghabiskan waktu bersama, kami pergi nonton, makan dan bermain, seperti dulu saat kami berkencan.

Lalu ditanganku ada sebuah kertas yang dilipat dua menjadi bentuk persegi panjang, dengan takut aku membuka nya perlahan.

“Maaf, jika aku tidak memberimu kebahagiaan selama kau tinggal bersamaku. Aku tidak bisa memberimu makan enak, hidup yang layak, aku minta maaf. Kau bisa bilang aku pria pengecut dan tidak bertanggung jawab karena pergi meninggalkan mu begitu saja.  Aku ingin kau dan anak kita  hidup dengan layak meskipun tanpa aku. Karena aku tidak dapat membuat hidup kalian menjadi layak. Saat aku pergi, kumohon jangan menangis dan terpuruk, jangan hancurkan dirimu sendiri. Jaga anak kita baik baik, cintai anak kita seperti kau mencintai aku, bahkan lebih. Dan kalau bisa, aku ingin selalu berada disisimu. Aku mencintaimu KIM TAEYEON. You have to know something, okey? I love you forever. Selamat tinggal. Milikmu – BBH”

Surat itu terlepas begitu saja dari tanganku, aku berdiri dan langsung memeriksa lemari pakaiannya. Lemarinya kosong, tidak ada satupun yang tertinggal. Air mataku mulai jatuh, aku keluar kamar dan berjalan dengan cepat ke pintu, tidak ada lagi sepatu sepatunya. Dia benar benar meninggalkan aku.

Berjalan keluar apartemen, berharap aku masih dapat menemukannya, tapi aku tidak. Aku berteriak memanggil namanya bagaikan orang gila. Tidak perduli orang yang menatapku dengan tatapan aneh. Dan lagi aku menelan kekecewaan, aku tidak dapat menemukannya.

Aku kembali keapartemen dan menangis berjam jam disana. Setelah merasa sangat lelah aku pergi kedapur untuk mengambil pisau. Fikiranku sangat kosong, tidak ada pria-ku disisiku. Padahal aku sangat bergantung padanya, karena aku sudah dibuang oleh orangtua ku. Aku tidak akan pulang kerumah, Appa akan mencemohku karena aku dicampakan.

Hanya satu yang dapat aku fikirkan, lenyap dari muka bumi ini. aku masuk kedalam kamar mandi dan mengisi penuh bathtub, aku masuk kedalamnya dengan pakaian tidur yang masih menempel ditubuhku. Tanpa ragu ragu, aku menggoreskan pisau tepat diurat nadi tangan kiriku. Aku meringis merasakan perih dan darah mulai mengalir. Aku memasukkan tanganku kedalam bathtub, sedikit demi sedikit menenggelamkan tubuhku bersamaan dengan darah yang terus mengucur dari pergelangan tangan.

Pintu kamar mandi terbuka dan aku melihat Appa dan Eomma. Ah, pasti itu mimpi karena mataku sangat berat sekali, lalu perlahan mataku terpejam dan aku tidak sadarkan diri.

 

Aku terbangun dua hari setelah kejadian mengerikan itu. Aku berada dikamarku, dirumah Appa dan Eomma. Ada selang infus yang menempel dipunggung tanganku dan pergelangan tanganku diperban. Kenapa mereka menyelamatkan aku? Aku benar benar ingin mati.

Menentang keluargaku, lalu aku hamil, diusir dari rumah dan aku dicampakan oleh satu satunya pria yang menjadi harapan terakhirku. Kepala ku pusing ketika aku bangun tapi aku menahannya. Ketika aku mencabut paksa selang infus, Appa dan Eomma masuk kedalam kamarku, melihatku dengan kepanikan.

“Kenapa kalian menyelamatkanku?” pekik ku pada mereka.

Appa berjalan kearahku, dia menampar kuat pipiku. Rasa panas dan menyengat menjalar dipipi sebelah kiriku “Gadis bodoh” Hardik Appa.

Aku memegang pipiku yang memerah “Seharusnya Appa membiarkan aku mati saja” aku berteriak didepan Appa dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.

“Baik, jika kau memang benar benar ingin mati” Appa menggulung lengan kemeja nya sampai siku dan menarikku kedalam kamar mandi, Eomma mencoba menarik tangan Appa tapi dengan kasar Appa menepisnya.

Appa mencengkram erat rambut belakangku dan memasukan kepala ku kedalam bathtub yang sudah terisi air. Dengan samar samar aku mendengar Eomma berteriak meminta Appa untuk berhenti, tapi Appa mengabaikannya.

“Yeobo, hentikan. Kau akan membunuh dua nyawa sekaligus” teriak Eomma yang membuat Appa menarik kepala ku lagi sebelum aku kehabisan nafas.

Aku megap megap dan terbatuk duduk dilantai dingin kamar mandi. Eomma datang menyelimutiku dengan handuk. Aku berjalan merangkak lebih dekat pada Appa. Mencengkram kakinya erat.

“Appa, jebal. Temukan Baek Hyun, aku sekarat tanpanya, Appa” aku menangis dikakinya. Appa menunduk dan mensejajarkan tubuhnya denganku mencengkram erat bahuku.

“Kau gadis bodoh, dia tidak mencintaimu” aku menggeleng tidak percaya “Jika dia mencintaimu, pria sialan itu tidak akan menyerahkan mu padaku” Aku melihat Appa menarik nafas panjang “Dia memintaku untuk membawamu kembali pada kami. Itu kenapa aku berada diapartemen kumuh ketika kau menggoreskan tanganmu dengan pisau”

Aku terisak kuat tidak percaya. Pria brengsek, dia memakaiku dan mencampakkan aku begitu saja. Apa karena dia tidak dapat memberiku kehidupan yang layak? Itu hanya alasan untuk pecundang. Jika dia benar benar mencintai aku, dia akan berusaha mempertahankan aku dan memberiku kehidupan walaupun sangat berkecukupan.

Aku menangis kencang dan memukul diriku sendiri. Appa menangkap tanganku dan memeluk tubuhku erat “Aku akan memberimu dan cucuku kehidupan yang layak, yang akan dilimpahkan banyak cinta dan kasih sayang. Jangan pernah merasa sendiri karena kami akan selalu ada untuk mu, nak. Lupakan pria itu, aku akan memberikan pria yang lebih baik darinya”

 

 

Jung Soo terus menggedor gedor pintu kamar mandi. Tapi, tetap tidak ada jawaban dari Taeyeon. Hanya terdengar gemericik air yang turun dari shower. Dengan sekuat tenaga, Jung Soo mendobrak pintu kamar mandi dan akhirnya terbuka. Dilihatnya Taeyeon yang terduduk lemas dan menangis dibawah shower, mukanya pucat dan bibirnya mulai biru.

Jung Soo mematikan shower dan membalut tubuh Taeyeon dengan handuk. Taeyeon memutar kepalanya, seketika dia menyeret tubuhnya menjauh. Jung Soo meraih tangan Taeyeon, tapi Taeyeon menepisnya.

“Hey, ini aku Park Jung Soo, suamimu. Lihat aku” ada nada sedih dari suaranya. Melihat istri tercintanya seperti orang asing, sama seperti pertama mereka menikah dulu.

Taeyeon menegakan kepalanya, dia langsung menghambur kepelukan Jung Soo. Tanpa ragu ragu Jung Soo menangkap tubuh Taeyeon yang basah kuyup.

“Oppa, dia kembali. Byun Baek Hyun kembali” Isaknya dileher Jung Soo.

Jung Soo tercekat, bertemunya Taeyeon dengan pria itu pasti membuat ingatan buruk yang sudah lama Taeyeon kubur dalam dalam kembali berputar dikepalanya. Jung Soo tidak dapat berkata apa apa, perasaannya campur aduk. Marah, kesal dan takut. Takut jika Taeyeon kembali pada pria itu. Pria yang sangat dicintai istrinya dulu.

Jung Soo membuka pakaian Taeyeon dan membawanya ketempat tidur mereka. Memakaikan Taeyeon dengan pakaian baru yang hangat. Taeyeon pun tertidur.

Jung Soo menatap wajah tenang Taeyeon, diamati dan dia hapali setiap inci wajah istrinya. Mungkin saja ini adalah terakhir kalinya dia dapat mengamati wajah Taeyeon. Karena Taeyeon akan kembali pada pria masa lalunya.

Jung Soo menyelipkan rambut yang menutupi wajah Taeyeon kebelakang telinga nya. Mencium keningnya dan berlama lama disana, lalu ciumannya turun kebibir merah muda Taeyeon yang panas. Jung Soo hanya memberinya kecupan manis diatas bibir Taeyeon. Dia merebahkan tubuhnya dan memeluk Taeyeon erat. Seakan akan takut jika wanitanya itu akan pergi.

 

 

Ini untuk ketiga kalinya aku menatap mata itu, tapi kali ini tatapan matanya tampak berbeda. Tatapan matanya kosong dan sendu. Saat dia berada dikelas dua sekolah menengah atas kami sudah dijodohkan. Tapi, yang aku dengar dari mulutnya, dia menentang perjodohan ini. karena dia sudah memiliki kekasih, dan dia bilang padaku bahwa aku bukan type nya. Dia tidak menyukai pria yang berkecimpung didunia bisnis, karena menurutnya pria seperti aku kaku dan membosankan.

Aku mencintainya sejak pertama kali bertemu dengannya. Gadis cantik, gadis mungil yang ceria, tidak pernah ingin terlihat cantik didepan siapapun. Padahal dia menyimpan aura kecantikan bagaikan dewi. Dia memang sedikit nakal dan bebas, aku pernah bertemu dengannya diclub bersama kekasihnya dalam keadaan mabuk. Tapi, aku tetap menyukainya. Sudah aku tetapkan dalam hatiku, bahwa aku akan menerima dia apa adanya.

Lama aku tidak mendengar kabar tentang Taeyeon. Sampai suatu hari Kim Ahjussi, Ayahnya datang kerumahku. Memintaku untuk menikahi Taeyeon dalam keadaan hamil. Aku terkejut dan kesal mendengar cerita Ayahnya. Kim Ahjussi berkata bahwa Taeyeon menerima perjodohan ini. aku senang bukan main, walaupun aku tahu Taeyeon tidak mencintaiku. Orang tuaku tahu bahwa aku lah yang menghamili Taeyeon. Sangat beruntung karena mereka tinggal di Jepang.

Diusia kandungannya yang keenam bulan, kami menikah. Tidak meriah, hanya keluarga dan kerabat terdekat. Taeyeon bukan lagi anganku, dia bukan lagi mimpiku. Sulit dipercaya bahwa dia telah menjadi milikku sekarang. Taeyeon istriku dan aku tidak perduli  jika aku bukanlah pria yang ada di mimpinya. Tapi, yang pasti Taeyeon akan selamanya jadi bagian dari diriku.

Yang Taeyeon tahu aku menikahinya karena kasihan padanya, padahal aku benar benar tulus mencintai dia dan aku juga akan menyayangi anak yang ada didalam kandungannya, meskipun anak itu bukan darah dagingku.

Setelah menikah, kami tinggal diApartemenku, dia minta untuk memiliki kamar yang berbeda. Tapi, aku tidak setuju. Aku khawatir karena dia sedang hamil, pasti sangat membutuhkan perhatian. Aku bilang padanya bahwa aku tidak akan menyentuhnya, walaupun kami tidur diranjang yang sama. Dan akhirnya dia setuju.

Setiap malam, kakinya selalu sakit. Dengan senang hati aku memijitnya, terkadang dia ingin makan sesuatu ditengah malam. Kami pergi keluar bersama untuk mencari makanan yang taeyeon ingin makan.

Semakin lama kami semakin dekat, tidak ada lagi kecanggungan diantara kami. Terkadang aku menjadi pendengar untuknya dikala dia merindukan pria yang sudah meninggalkannya. Dia sering menangis, dan aku merasa sakit ketika istriku menangisi pria lain. Tapi, ketika usia kandungannya menginjak sembilan bulan.  Dia sudah sangat jarang menceritakan dan menangisi pria itu.

Yang membuatku terharu adalah ketika dia menanyakan siapa nama untuk calon bayi laki lakinya ini.

“Oppa, kau ingin memberi nama siapa pada bayi ini?” tanyanya, tangannya terus mengusap lembut perut besarnya.

“Joon” entah kenapa aku menyukai nama itu.

Taeyeon mengangguk “Park Joon” ucapnya. Aku terbelalak, dia memberikan marga anaknya dengan margaku? Aku tidak percaya.

Dia menatapku dengan tatapan bingung “Oppa, wae?”

Mataku berkedip “Ka.. kau tidak memberinya marga Ayah kandungnya?” tanyaku hati hati.

Aku melihat matanya terluka “Kau bilang dia anakmu, kau bilang kau juga akan menyayanginya. Apa sekarang kau berubah fikiran?” Taeyeon membalik tubuhnya memunggungiku. Dia marah, padahal aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya masih tidak percaya.

Aku merapatkan tubuhku padanya, mengusap perutnya, dia sudah mulai terbiasa dengan sentuhanku. Meskipun aku belum pernah berhubungan intim dengannya selama tiga bulan kami menikah.

“Dia anakku. Dengar, dia anakku” Aku mencium bahunya “Aku hanya tidak percaya, kau mau memberi dia marga yang sama denganku. Terimakasih, aku senang” aku memeluknya lebih erat dan tiba tiba aku merasakan tendangan diperutnya, Taeyeon tertawa.

“Lihat, sepertinya dia menyukai nama yang Oppa berikan”

Aku mengangguk dan tersenyum simpul “Dia suka sekali menendang. Pasti akan menjadi pemain sepak bola”

“Aku lebih suka dia menjadi CEO handal” dahiku berkerut dan Taeyeon terkekeh. Membalik tubuhnya menghadapku “Seperti Ayahnya” suara Taeyeon berubah seperti bisikan.

“Ya, CEO handal” kataku mengulang ucapannya. Mata kami saling bertatapan, “Tidurlah. Dan kau baby boy, jangan ganggu Eomma tidur. Appa mencintai kalian berdua. Tidur”

Kegelapan menarik kami dan kami tidur dengan hati yang begitu lega dan senang. Terimakasih Tuhan, setidaknya ini sedikit kemajuan dihubungan kami.

 

Saat Joon lahir, kami dilimpahi banyak kebahagiaan. Keluarga ku bahkan keluarga Taeyeon sangat antusias. Kami melupakan hal buruk yang pernah terjadi pada Taeyeon. Semua yang tahu, bersandiwara seakan Joon adalah putraku dan Taeyeon.

Meskipun rumah tangga kami tidak seperti suami istri pada umumnya. Aku tidak menyentuh Taeyeon, dia juga tidak membiarkan aku menyentuhnya. Tapi dia pernah berkata padaku “Berpura puralah kita saling mencintai sampai kita lupa bahwa kita sedang berpura pura”

Itu yang kami lakukan sampai usia pernikahan kami menginjak lima tahun. Aku baru dapat menyentuhnya, kami menjalankan kehidupan rumah tangga yang normal dan dia mulai mencintaiku. Lima tahun waktu yang begitu lama tapi tidak sia sia untukku.

Kami pun memulai program untuk memiliki bayi, tapi Tuhan berkehendak lain. Taeyeon mengalami keguguran tiga kali. Lima tahun kami menunggu, akhirnya kami mendapatkan Yeon Ah. Kebahagiaan lebih yang kami rasakan dari pada mendapatkan Joon. Mungkin karena kami sudah saling mencintai.

Aku berharap Tuhan terus memberi kebahagiaan pada keluarga kami dan tidak memisahkan aku dengan Taeyeon kecuali maut yang memisahkan kami.

 

***

GREEP….

“Selamat pagi Big Papa” sapa Tiffany riang.

“Mommy payah” Soo Ji mencibir. Tiffany malu, dia mengira orang yang memeluknya dari belakang adalah Siwon tapi ternyata itu putrinya.

“Bagaimana mungkin Mommy tidak dapat membedakan pelukan Daddy dan aku” Katanya dengan senyum geli.

“Karena hanya Daddy yang memeluk Mommy seperti ini” balas Tiffany dengan malu malu.

Soo Ji mempererat pelukannya dipinggang Tiffany, membuat Tiffany ingin berbalik menatapnya “Tetaplah seperti ini, Mommy” pinta Soo Ji. Dia menahan tubuh Tiffany, agar tidak berbalik kearahnya.

Soo Ji menyandarkan pipinya dipunggung Tiffany “Apa Mommy mau membantuku?” tanyanya dengan suara pelan.

“Jika Mommy bisa, Mommy akan membantu” Tiffany menolehkan kepalanya untuk mengintip Soo Ji yang bersandar dipunggungnya. Tapi, Tiffany tidak dapat melihat wajah putrinya.

“Joon tidak menghubungiku dua hari ini. aku sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya mati” Soo Ji menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar “Mommy maukan menanyakannya pada Taeyeon Eomma?”

Tiffany diam beberapa detik “Kenapa kau tidak menanyakannya sendiri?”

Soo Ji menggeleng kecil “Harga diri” gumamnya. Tiffany tersenyum lembut, Soo Ji masih sama. Dia masih suka mempertahankan harga dirinya seperti dulu.

“Nanti akan Mommy tanyakan pada Taeyeon” tidak ada respon dari Soo Ji ketika Tiffany mengiyakan permintaanya “Kau tidak sedang menangiskan?”  tanya Tiffany hati hati.

Soo Ji melepaskan pelukannya dan berdiri disamping Tiffany “Oh my God. Itu bukan aku. Mommy tahu aku gadis yang kuat, bukan?”

Tiffany tersenyum lebar dan mengangguk setuju, dia menarik Soo Ji kedalam dekapannya “Good Girl

 

***

“Hara” panggil Soo Ji. Dia berdiri dari tempat duduk yang dia duduki ketika menunggu Hara. Soo Ji melambaikan tangannya pada Hara.

Hara mengangguk dengan senyum kecil dan berjalan mendekati Soo Ji. Mereka duduk berdampingan dikursi kayu yang ada dihalaman sekolah.

“Apa jam pelajaran sudah habis?” tanya Soo Ji berbasa basi. Dia mendatangi Hara kesekolahnya untuk menanyakan Joon. Karena hanya Hara orang yang dekat dengan Joon. Sebenarnya Soo Ji tidak berniat menanyakan hal itu pada Hara. Tapi, Nana mendesaknya. Jadi apa salahnya mencoba.

“Dua puluh menit lagi. Pelajaran olahraga, jadi aku bisa kesini” jawabnya dengan lembut.

Soo Ji memainkan buku buku jarinya, diam untuk menyusun kata yang akan dia ucapkan pada Hara “Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang Joon padamu” Soo Ji menatap Hara yang juga kembali menatapnya “Apa kau bertemu dengannya beberapa hari ini?”

Hara menatap Soo Ji bingung. Tapi, dia tetap menjawab pertanyaan Soo Ji “Ya” Hara menatap langit, mengingat pertemuannya dengan Joon beberapa hari lalu. Joon yang sedang bersedih menemuinya malam itu.

“Aku tidak bisa menjelaskannya pada Unnie. Tapi, ketika dia menemuiku, dia sangat kacau dan sedih. Eomma nya sedang sakit”

Soo Ji menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Joon lebih memilih menemui Hara dari pada dia untuk berbagi cerita. Apa Joon lebih nyaman bersama Hara ketimbang dia? Oke aku kecewa.

“Kemarin aku menelponnya dan dia masih sama” lanjut Hara.

“Bukankah ponselnya mati?”

Hara mengangguk “Aku menelpon ke telepon rumahnya” kekecewaan Soo Ji naik satu level. Hara lebih banyak tahu tentang Joon. Itu yang membuat Soo Ji berfikir, kenapa Joon memilih Hara untuk dia jadikan tempat bersandarnya.

“Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Hara. Melihat Soo Ji hanya diam melamun dengan tatapan mata yang kosong.

“Tidak” Soo Ji tersenyum kecut. Dia mengabaikan aku dan memilih kau.

“Aku tidak mendengar kabarnya beberapa hari ini, ponselnya pun mati. Aku khawatir, makanya aku menanyakannya padamu”

“Kenapa Joon Oppa tidak menceritakannya pada Unnie, mungkin dia tidak ingin Unnie sedih” Hara mengambil kesimpulan, berharap Soo Ji berfikir positif.

Soo Ji mengangguk dan tersenyum terpaksa “Aku harap begitu” tapi tetap saja aku kecewa, aku lebih senang jika dia mau berbagi bersama ku.

 

 

***

Tiffany mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tadi ketika dia di butik pada waktu makan siang. Tiffany teringat permintaan Soo Ji. Dia pun menelpon Taeyeon tapi yang menjawab bukanlah Taeyeon. Melainkan Suaminya, Park Jung Soo.

Jung Soo menceritakan semua kejadian yang dialami Taeyeon dua hari yang lalu pada Tiffany. Dua hari ini Taeyeon sangat kacau, dia hanya tidur, itu juga tidak dalam tidur yang nyenyak. Taeyeon sering mengigau, bahkan berteriak dan menangis didalam tidurnya. Taeyeon tidak makan dengan baik, dia terbangun hanya untuk menangis.

Tiffany tahu kejadian kelam yang dialami Taeyeon tujuh belas tahun yang lalu. Tiffany tahu bertemunya Taeyeon dengan orang dimasa lalu yang menjadi penyebab kekacauan, itu sama saja membuka luka lama. Taeyeon pernah berkata pada Tiffany, bahwa dia tidak berharap untuk bertemu Baek Hyun lagi. Karena itu membuatnya merasa berdosa pada orang tua, dirinya sendiri dan Joon. Karena dia pernah berniat mencelakai hidupnya sendiri dan Joon.

Tapi, Taeyeon wanita yang kuat. Buktinya dia bisa hidup bahagia bersama keluarganya sekarang tanpa bayang bayang masa lalu yang sudah dibuangnya. Tapi, mungkin sekarang akan menjadi kekacauan karena pria pecundang itu datang kembali.

“Dimana Taeyeon?” Tanya Tiffany, ketika Jung Soo membukakan pintu untuknya. Dia sudah masuk kedalam sebelum Jung Soo menyuruhnya masuk.

“Dia dikamar” Jawabnya. Jung Soo mengantar Tiffany keatas menuju kamarnya dengan Taeyeon. Meninggalkan Tiffany sendirian disana.

Tiffany berjalan perlahan kearah tempat tidur, dimana Taeyeon tengah berbaring. Tiffany mengamati wajah Taeyeon yang tenang dalam tidurnya, wajahnya pucat. Menempatkan tubuhnya ditepi tempat tidur, Tiffany menggengam erat tangan Taeyeon. Menyalurkan kekuatan dari sentuhannya. Air matanya lolos tanpa bisa dibendungnya lagi.

Tiffany teringat tujuh belas tahun lalu saat Taeyeon diusir dari rumahnya karena dia hamil. Tiffany maupun Jessica terkejut ketika Taeyeon datang keapartemen mereka dengan tangis yang begitu pilu. Dia mengungkapkan penyesalanya sepanjang malam. Membuat Tiffany dan Jessica larut dalam tangis. Semenjak Taeyeon tinggal diapartemen Baek Hyun, mereka sulit bertemu dengan Taeyeon. Kendala pertama adalah jarak nya yang jauh. Sedangkan Tiffany dan Jessica sibuk sekolah dan kerja paruh waktu. Sampai mereka mendengar kabarnya dari Yuri, kalau Taeyeon berada dirumahnya dalam keadaan sekarat. Wajahnya yang sekarang sama persis seperti tujuh belas tahun yang lalu, ketika Taeyon terbaring koma.

Suara tangisan kecil membuyarkan lamunan Tiffany, dia melihat Taeyeon bergerak dalam tidurnya, dengan tangis tanpa airmata. Air mata Tiffany menetes lebih deras ketika melihat Taeyeon, mengambil kedua sisi bahu Taeyeon, Tiffany mengguncangnya beberapa kali. Sampai Taeyeon membuka matanya dan mata mereka bertemu.

Taeyeon langsung duduk dan menyambar tubuh Tiffany, memeluknya erat. Tiffany membalas pelukannya dan Taeyeon menangis di bahu Tiffany.

“Fany ahh, dia kembali” Lirih Taeyeon disela tangisnya. Tiffany mengangguk, tidak dapat mengucapakan satu patah katapun.

“Ketika melihatnya, aku merasa sangat berdosa. Dosaku sangat banyak dan tidak termaafkan” Tangis Taeyeon semakin kencang.

“Tidak Tae, kau tidak seperti dulu. Kau yang sekarang jauh lebih baik dari kau yang dulu” Tiffany menarik tubuhnya dan menangkup wajah Taeyeon agar menatapnya. “Lihatlah sekarang, kau memiliki  dua buah hati  dan suami yang mencintaimu. Mereka mengkhawatirkan mu, Tae. Bangkitlah, lawan masa lalu itu”

“Dimana Joon?” Taeyeon menyibakkan selimut dan beranjak dari tempat tidur “Baek Hyun tidak membawanya kan?” gumam Taeyeon dengan panik.

Tiffany menangkap tubuh Taeyeon dan mendudukannya kembali ketempat tidur “Joon ada disini. Aku tidak akan membiarkan Baek Hyun membawanya. Karena sejak dia meninggalkan kalian, dia bukanlah Ayahnya lagi”

Taeyeon bernafas lega mendengar kata kata Tiffany, dia kembali berbaring dan Tiffany membantunya menyelimuti tubuh Taeyeon dengan nyaman.

“Tidurlah, jika kau masih membutuhkannya” Tiffany menunduk mencium pipi Taeyeon “Satu lagi, makanlah. Kau harus sehat, kasihan Joon dan Yeon Ah. Mereka terlihat sedih” Pinta Tiffany dengan lembut.

Taeyeon tersenyum, kepalanya mengangguk kecil. Tiffany memang sahabatnya yang benar benar cocok dengannya. Hanya dengan ucapannya saja, Taeyeon dapat tersihir menjadi lebih baik sekarang.

Tiffany menutup pintu dibelakangnya dengan sangat pelan. Ada Jung Soo yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar “Masuklah, sepertinya Taeyeon membutuhkanmu. Aku akan pulang sekarang” Jung Soo berniat mengantar Tiffany sampai depan pintu. Tapi, Tiffany menolak dan menyuruh Jung Soo menemani Taeyeon saja.

Tiffany menuruni anak tangga dan bertemu Joon dibawah. Joon membungkuk sopan, Tiffany melihat kesedihan dimata Joon. Tiffany menarik tangan Joon untuk mengajaknya bicara. Tiffany menarik Joon duduk disofa putih yang ada diruang tamu.

“Kau tahu, Ibumu adalah wanita yang kuat” Tiffany membuka pembicaraan. Mata indahnya melengkung dengan sempurna ketika dia memberikan senyuman pada Joon.

Joon yang melihat mata dan senyum Tiffany teringat akan seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak di temuinya. Tiba tiba rasa rindu menyerangnya.

“Aunty, bagaimana kabar Soo Ji?” tanya Joon ragu ragu.

“Tidak baik. Karena kekasihnya tidak menghubunginya beberapa hari ini” Sindir Tiffany.

Joon hanya dapat menunduk, tidak enak pada Tiffany “Seburuk apapun keadaanmu, kau harus menghubunginya. Walaupun hanya dengan pesan singkat. Dia mengkhawatirkan mu, Joon”

“Aku menyesal. Aku terlalu mengkhawatirkan Ibuku sampai aku melupakan seseorang yang akan mengkhawatirkan aku” Nada suaranya penuh dengan penyesalan.

Tiffany menepuk bahu Joon dua kali “Gwencana. Kau anak yang baik. Sikap mu sudah benar, karena orang tua adalah prioritas utama”

“Aku mengizinkan kalian berkencan dengan batasan. Ada hal hal yang tidak boleh kalian lakukan. Berkencanlah sewajarnya, perjalanan hidup kalian masih panjang. Kalian anak muda, generasi masa depan. Kau mengertikan, Joon?”

Joon tahu, dia mengerti apa yang Tiffany maksudkan. Batasan itu sudah membuat Joon mengerti apa yang Tiffany bicarakan padanya. Itu bukan untuk kebaikan Soo Ji saja, tapi kebaikan dia juga “Aku mengerti”

 

***

Soo Ji berbaring di pangkuan Tiffany dengan wajah yang dipenuhi potongan timun. Tiffany pun melakukan hal yang sama, kepalanya mendongak dan bersandar disofa agar timun timun yang menempel diwajahnya tidak terjatuh.

“Mommy tahu Taeyeon Eomma sakit?”tanya Soo Ji memecahkan keheningan.

“Tahu. Tadi siang Mommy menjenguknya” jawab Tiffany santai.

“Kenapa Mommy tidak menceritankannya padaku?” apa Ibunya bertemu dengan Joon? Itu yang terpantul dikepala Soo Ji.

“Mommy baru akan cerita. Tapi, kau sudah menanyakannya lebih dulu” Tiffany mengambil timun didalam mangkuk yang berada di atas perut Soo Ji dan meletakkan timun tersebut didagunya “Apa Joon sudah meghubungimu?”

Soo Ji menggeleng. Tiffany merasakan gerakan kepala Soo Ji dipahanya “Lalu, dari mana kau tahu jika Ibunya sedang sakit?” tanya Tiffany bingung.

“Hara yang memberitahuku” Soo Ji akhirnya menceritakan semua tentang kedekatan Joon dan Hara pada Tiffany.

Tiffany melihat kesakitan di wajah Soo Ji “Kau cemburu?”

I’m Not, Mommy” ucap Soo Ji kesal “Tapi, apa yang telah menjadi milikku adalah milikku. Aku tidak suka jika dia lebih memilih bersandar pada orang lain dari pada dengan ku yang notaben adalah kekasihnya”

Tiffany mendengarkan gerutuan Soo Ji dengan senyuman geli “Kau tidak perlu semarah itu. Dengarkan penjelasannya dulu, mungkin dia memiliki alasan” Tiffany menasehati Soo Ji. Tapi, sepertinya kepala batunya tidak menerima karena dia melayangkan protesnya.

“Aku tidak menerima alasan apapun. Pokoknya aku marah, sangat marah” pekik Soo Ji, membuat timun yang menempel dikedua pipinya terlepas.

Tiffany tersenyum, teringat ketika dia berkencan dengan Siwon dulu. Soo Ji benar benar memiliki replika sikap darinya. Keras kepala, tapi sebesar apapun marahnya akan luluh juga jika sudah mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut manis Siwon. Mungkin Soo Ji berbeda, apa dia mudah untuk ditahklukan?

 

“Wooah.. betapa menyenangkannya, pulang dari kantor disambut pemandangan indah” ucap Siwon dengan senyum konyol kekanak kanakannya. Jas dan tas kantornya dilemparkan disofa dan berdiri tepat didepan Tiffany dan Soo Ji.

Soo Ji bangkit menyilangkan kedua kakinya, mengambil timun yang menempel diwajahnya dan melemparkan nya kedalam mangkuk. Tiffany juga melakukan hal yang sama, karena ingin menyambut Siwon.

“Aku tahu pemandangan yang Daddy maksud adalah Mommy dengan lingeri baby doll pink nya” sindir Soo Ji, tangannya bersedekap didepan dada.

Siwon terkekeh malu, tangannya berlari menggaruk tengkuknya. Tapi, sedetik kemudian Siwon mencondongkan tubuhnya untuk mengecup  bibir Tiffany. Dengan gerakan cepat, Soo Ji mencela dengan memberikan pipinya menghalangi wajah Tiffany. Jadi bibir Siwon mendarat dipipi Soo Ji.

Soo Ji mencibir “Jika kalian ingin bermesraan, biarkan aku pergi dulu. Oke?” Soo Ji mencium pipi Tiffany “Selamat malam Mommy” katanya dengan manis.

Siwon menunjuk pipinya,  meminta ciuman dari Soo Ji. Tapi, putrinya menolak mentah mentah “Maaf, Choi Sajangnim. Saya tidak memberikan ciuman pada pria beristri” ucapnya main main.

Siwon dan Tiffany terkekeh mendengarnya “Yak!! Tapi semenit yang lalu kau baru saja aku cium” gumam Siwon pura pura marah.

“Ah.. itu suatu kesalahan yang tidak disengaja. Baiklah selamat malam Choi Sajangnim, Mr. Pervert” Soo Ji membungkuk, lalu dia melarikan diri sebelum Siwon menangkap tubuhnya dan menggelitiki perutnya tanpa ampun.

“Putrimu dengan mulut pintarnya” ejek Tiffany.

Siwon duduk disamping Tiffany “Putri kita” ralatnya. Siwon merangkul Tiffany dan Tiffany dengan senang hati menyandarkan kepalanya dibahu Siwon.

 

 

***

Taeyeon baru saja selesai mandi, menghilangkan kekacauan dua hari kemarin. Dia duduk didepan cermin meja riasnya, menyisir rambut panjang hitam pekatnya. Rasanya seperti hidup kembali walaupun hatinya masih kacau.

Meja riasnya bergetar saat ponselnya berdering, sudah dua hari benda itu tidak disentuhnya. Taeyeon mengambilnya dengan ragu ragu, dilihat dari Caller Id yang tanpa nama. Tapi, karena dia penasaran, Taeyeon mengangkatnya.

Jung Soo yang baru akan masuk kedalam kamar, berhenti diambang pintu ketika mendengar Taeyeon menyebutkan nama Byun Baek Hyun ditelpon. Wajah Jung Soo terlihat sedih, ketika tahu Taeyeon sedang bicara dengan pria itu. Apa mereka kembali berhubungan? Kepanikan menyeruak.

Setelah Taeyeon selesai bicara, Jung Soo masuk kedalam kamar. Melihat Taeyeon memakai coat birunya dan menyambar tas hitam merk Mixxo.

“Kau mau kemana?” tanya Jung Soo. Tapi hatinya berkata kalau Taeyeon akan bertemu dengan pria masa lalunya.

“Aku ingin kesekolah, menjemput Yeon Ah” jawab Taeyeon sembari membenarkan coatnya.

Taeyeon ketahuan berbohong karena ini sudah lewat jam pulang sekolah. Lagi pula tadi Yeon Ah pulang bersama Tiffany dan Jung Soo sudah menyuruh Joon untuk menjemputnya kerumah Tiffany.

Jung Soo tersenyum “Apa kau sudah baikan? Ingin aku antar?” Jung Soo memeluk pinggang Taeyeon dari belakang.

Mereka berdiri tepat didepan cermin, jadi bayangan mereka terpantul melalui cermin. Jung Soo melihat wajah Taeyeon yang terlihat gelisah, seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi, Jung Soo membiarkannya.

Taeyeon menggeleng, menggenggam tangan Jung Soo yang berada dipinggangnya “Sudah lebih baik, terimakasih. Aku akan pergi sendiri” tolaknya dengan lembut.

Jung Soo mencium pipi Taeyeon “Pergilah”

Taeyeon berbalik, menjinjit dan mencium pipi Jung Soo “Aku pergi dulu” Suara Taeyeon terdengar ditelinga Jung Soo seakan istrinya akan meninggalkannya. Jika memang Taeyeon lebih memilih pria itu, Jung Soo belum siap kehilangan Taeyeon dan kedua anaknya.

 

 

***

“Unnie, ada Joon Oppa dibawah” kata Eun Ji memberitahu. Soo Ji memang sudah menebak, Joon akan datang kerumahnya untuk menjemput Yeon Ah, dan mereka akan bertemu lalu bicara. Itu yang Soo Ji fikirkan.

“Dia ingin menjemput Yeon Ah” ucap nya pura pura tidak perduli. Sibuk membuka laci laci yang ada dikamarnya. Padahal dia sedang tidak mencari apapun.

“Tidak, dia ingin bicara denganmu” Eun Ji memutar mata jengkel. Melihat sikap sok tidak perduli nya Soo Ji. Eun Ji tahu, Soo Ji sedang bersandiwara sekarang.

“Bilang padanya, aku tidak ingin bertemu”

“Tapi tubuhmu berkata lain. Kau ingin bertemu dengan nya kan Unnie?”

Mata Soo Ji melebar, tahu darimana Eun Ji jika dia benar benar ingin menemui Joon. Padahal dia sudah berakting semaksimal mungkin untuk bersikap tidak perduli.

“Baiklah aku akan menemuinya” pekik Soo Ji kesal. Eun Ji hanya tersenyum melihat sikap kekanakan kakaknya. Eun Ji keluar kamar lebih dulu tanpa menunggu Soo Ji.

 

Soo Ji turun kebawah dan melihat Joon duduk dengan gaya cool nya, yang membuat jantung Soo Ji berdebar lebih cepat. Soo Ji mengajak Joon untuk bicara kehalaman belakang, agar mereka dapat leluasa untuk bicara.

Mereka cukup lama berdiri berdampingan dalam diam, hanya terdengar deru nafas mereka yang saling bersahutan.

“Aku minta maaf tidak memberimu kabar beberapa hari ini” Ucap Joon, memecahkan keheningan.

“Kau bisa menemui Hara. Tapi, hanya mengirim pesan padaku saja kau tidak bisa” Soo Ji mencibir dengan wajah tidak suka.

Tangannya bersedekap, tatapan matanya tidak pernah kearah Joon. Sebisa mungkin dia mengalihkan tatapannya kearah lain. Sebanyak apapun dia ingin melihat wajah Joon tapi Soo Ji menahannya.

“Aku sudah terbiasa menceritakan masalahku pada Hara. Itu kenapa aku melakukannya” suaranya terdengar lemah, penuh penyesalan.

“Tapi sekarang kau memiliki aku. Kau harus membiasakan itu” nafasnya memburu karena menahan amarah “Kenapa kau tidak bersandar padaku? Kau tahu aku mengkhawatirkan mu” suara Soo Ji bernada tinggi. Tapi, Joon tidak bergerak. Dia hanya diam.

“Terkadang aku ingin menghiburmu disaat kau sedih. Tapi, sepertinya kau lebih suka dihibur oleh orang lain” kata Soo Ji lirih. Joon masih terdiam.

Melihat Joon yang hanya diam sejak dia terus mengomel, dengan kesal Soo Ji melangkahkan kakinya. Tapi, baru beberapa langkah menjauh. Sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.

“Tetaplah disini. Aku merindukanmu”

 

***

“Sialan, kenapa kau mengajak ku ketempat ini?” kesal Taeyeon, memukul dada Baek Hyun dan berjalan menjauh dari pintu apartemen. Tempat tinggal Baek Hyun dan Taeyeon dulu.

Baek Hyun menangkap lengan Taeyeon, secara otomatis Taeyeon menghentikan langkahnya “Karena ditempat inilah kita menghabiskan waktu, banyak kenangan indah disini”

Taeyeon menghempaskan tangannya dari genggaman Baek Hyun. Mata nya menatap kedalam mata Baek Hyun “Kau tahu, ditempat ini juga aku hampir mengakhiri hidupku” Taeyeon mengangkat satu tangannya didepan wajah Baek Hyun. Menunjukkan pada Baek Hyun bekas luka goresan pisau yang dia lakukan tujuh belas tahun yang lalu.

Mata Baek Hyun melebar, mulutnya sedikit terbuka. Dia tampak terkejut, Baek Hyun tidak tahu jika Taeyeon pernah mencoba bunuh diri. Apa aku penyebabnya? Batin Baek Hyun.

Jeongmal mianhae. Aku tidak tahu” Ucap nya menyesal.

“Biarkan aku pergi” kata Taeyeon. Tapi, Baek Hyun menggeleng.

Baek Hyun mengikuti Taeyeon berjalan ditrotoar didepan pertokoan pertokoan yang berjejer dipinggir jalan. Baek Hyun terus mengikuti Taeyeon dari belakang. Dia tahu, Taeyeon sedang menangis, dari bahunya yang bergetar dan sesekali Taeyeon menggerakan tangan ke wajahnya untuk menghapus airmata.

Penyesalan selalu datang diakhir, itu yang Baek Hyun rasakan. Meninggalkan Taeyeon dan calon buah hati mereka karena dia merasa tidak layak. Tapi, kepergiannya membuat orang yang dicintainya menderita bahkan hampir mengakhiri hidupnya. Baek Hyun berharap Taeyeon dapat memberinya kesempatan untuk memulainya dari awal lagi. Dia tahu Taeyeon sudah memiliki keluarga. Katakan dia egois, karena itulah faktanya.

Taeyeon berhenti dan berjongkok, bahunya bergetar hebat. Baek Hyun dengan panik langsung menghampirinya, mensejajarkan level tubuhnya dengan Taeyeon. Dilihatnya Taeyeon yang menangis tersedu sedu.

Baek Hyun menarik Taeyeon kedalam pelukannya. Tapi, Taeyeon menolak. Dia memukul dada Baek Hyun berkali kali.

Nappeun, Nappeun. Nappeun Namja” gumam Taeyeon disela tangisnya. Air mata Baek Hyun tidak terasa ikut mengalir, ketika melihat wanita yang masih dicintainya menangis dengan pilu.

“Kau tahu, aku menderita ketika kau pergi. Aku merasa separuh jiwaku hilang. Kau brengsek” teriak Taeyeon. Tangannya terus memukul dada Baek Hyun tanpa merasa lelah.

“Ya, aku brengsek” balas Baek Hyun. Dia mengiyakan apa yang Taeyeon katakan.

Dia menarik tubuh mungil Taeyeon kedalam pelukannya. Awalnya Taeyeon memberontak tapi Baek Hyun menahannya agar Taeyeon tidak terlepas dari pelukannya. Taeyeon menangis semakin kuat dipelukan Baek Hyun. Mencoba menghilangkan rasa sakit dihatinya seiring airmatanya turun.

Entah bagaimana, Baek Hyun membawa Taeyeon ke hotel dengan mudah. Sehingga mereka sudah berada didalam kamar suite yang indah. Baek Hyun dan Taeyeon duduk diatas tempat tidur dengan Taeyeon yang masih terisak didalam pelukannya.

Taeyeon menarik diri dari pelukan Baek Hyun dan melihat tempat dia berada sekarang. Tidak seharusnya dia berada ditempat ini, apalagi bersama pria ini. ini salah.

Taeyeon berdiri dan merapikan pakaiannya yang terlihat kusut, coatnya sudah terlepas dari tubuhnya dan entah berada dimana, tinggal blouse biru tipis yang menempel ditubuhnya.

“Aku harus pergi” ucap Taeyeon dan berjalan pergi. Tapi Baek Hyun mendorong tubuh Taeyeon  sampai menabrak dinding dan mengunci tubuh Taeyeon dengan kedua tangannya.

“Byun Baek Hyun” pinta Taeyeon. Tapi, Baek Hyun tidak mau mendengar.

Dia semakin mendekatkan wajahnya, ketika wajahnya hampir dekat dengan wajah Taeyeon, dengan cepat Taeyeon mengelak dan ciuman itu meleset mengenai pipinya. Baek Hyun mencoba lagi, tapi Taeyeon tetap menghindar.

Baek Hyun menarik nafas frustasi “Aku masih mencintaimu, Kim Taeyeon. Kembalilah padaku” Baek Hyun membuka paksa blouse Taeyeon, sampai dua kancing teratasnya lepas dan jatuh kelantai.

Mata Taeyeon terbelalak, tangannya mencengkram atas blouse nya yang terbuka “Kita tidak boleh melakukan ini” kata Taeyeon, mencoba mendorong tubuh Baek Hyun tapi tidak bisa.

Baek Hyun menyeringai “Kita saling mencintai, kenapa tidak?” Baek Hyun menangkup wajah Taeyeon, menahan kepalanya agar tidak bergerak “Kembalilah padaku” bisiknya didepan bibir Taeyeon. Sedetik kemudian Baek Hyun sudah melumat bibir Taeyeon dengan lembut.

Taeyeon yang awalnya memberontak, akhirnya luluh juga. Sudah sejak lama Baek Hyun menginginkan ini, merindukan ciuman manis ini. wanita yang sudah tujuh belas tahun ini tidak dapat dia hapus dari ingatannya.

 

 

***

TAEYEON POV

Ketika aku turun dari taxi, aku melihat Joon dan Yeon Ah yang sedang berjalan tidak jauh dari rumah. Aku melambaikan tanganku, aku sangat merindukan mereka. Melihat Yeon Ah, aku jadi teringat Jung Soo Oppa. Tadi aku berbohong, mengatakan padanya jika aku akan menjemput Yeon Ah. Padahal aku memiliki urusan lain.

Hatiku sudah sangat tenang, rasanya bahuku terasa ringan. Tidak ada lagi beban yang aku rasakan. Semoga keputusan yang aku ambil adalah langkah yang benar.

“Eomma…” gema Yeon Ah, sembari melebarkan tangannya. Aku pun melakukan hal yang sama untuk menangkap tubuh mungilnya.

Saat dia sudah berada didalam pelukan ku, aku menggendongnya. Dan dia memeluk leherku sangat erat. Menghujani wajahku dengan ciuman basah yang manis.

“Apakah Eomma pantas mendapatkan cinta sebanyak ini?” tanya ku dengan main main. Sangat senang mendapatkan perlakuan manis dari putriku. Mataku menangkap Joon yang berjalan kearah kami dengan wajah tampannya yang ditekuk.

“Tentu. Eomma pantas mendapatkannya” Yeon Ah memelukku sekali lagi, membuatku mengalihkan tatapanku pada Joon.

Aku menurunkannya “Pergilah mandi” aku mencubit dagunya gemas. Yeon Ah mengangguk lalu berlari sambil melompat masuk kedalam rumah. Anak manis yang penurut.

 

“Eomma sudah sehat?” tanya Joon penuh perhatian. Pasti dia sangat cemas. Oh boy, maafkan Eomma.

“Kau lihat kan? Eomma sudah sangat sehat. Jangan khawatirkan Eomma lagi hoh?” aku merangkul Joon yang tinggi tubuhnya lebih tinggi dariku. Gen siapa yang dia ambil? Karena aku dan ayahnya tidak setinggi dia.

Aku melihat senyumnya mengembang “Ini baru Eomma ku” katanya dengan riang.

Kami masuk kedalam dan menaiki anak tangga beriringan, aku mengintip kearah Joon yang sepertinya sedang melamun “Sedang memikirkan sesuatu?” tanyaku. Memiringkan kepalaku kesatu sisi untuk melihat kearahnya dengan jelas.

Joon menghentikan langkahnya dan menatapku “Apa yang pria harus lakukan, ketika gadisnya sedang marah padanya?” Joon menyilangkan tangannya didepan dada, menunggu jawaban dariku.

“Soo Ji marah padamu?” tanya ku sebelum menjawab pertanyaannya.

Dia mengangguk, dan menceritakan semua masalahnya padaku. Astaga, aku merasa kembali seperti remaja mendengar cerita Joon. Ya, jika aku berada diposisi Soo Ji aku juga akan marah dan kecewa jika kekasihnya lebih memilih orang lain untuk tempat bersandarnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan Eomma?” wajahnya terlihat frustasi dan bingung.

Aku menggoyangkan jari telunjukku, mengintruksi nya untuk mendekat. Karena aku ingin membisikkan sesuatu padanya. Ide cemerlang agar Soo Ji tidak marah lagi.

Joon menurut dan mendekatkan telinganya didepan mulutku. Aku pun mulai memberitahunya. Tapi, belum selesai dia menarik kepalanya menjauh.

“Eomma, itu akan membuat Soo Ji semakin marah” protesnya tidak setuju.

Aku menarik tangannya agar dia mendekat lagi padaku “Eomma belum selesai” kataku, lalu melanjutkannya. Dia mendengarkan aku dengan baik dan hanya mengangguk sesekali. Setelah selesai dia terlihat cemberut.

“Tapi, aku tidak romantis”

Aku menepuk punggungnya “Eomma yakin kau bisa”

“Baiklah. Ide Eomma tidak begitu buruk” Joon tersenyum dan kami high five. Setelah itu kami terpisah, dia berbelok kekiri menuju kamarnya dan aku berbelok kekanan, masuk kedalam kamarku.

 

 

Aku melihat Jung Soo Oppa bersandar ditempat tidur, kakinya lurus dan ada buku digenggamannya. Aku mnegintip dari bulu mataku kalau dia menutup bukunya dan menatap kearahku yang tidak menatapnya.

Jung Soo Oppa dapat membaca mimik wajahku, dia mengenalku lebih dari aku yang mengenal diriku sendiri.

“Ada apa dengan pakaianmu?” tanyanya, sembari menunjuk blouse yang aku pakai.

Astaga, aku lupa. Ini ulah Baek Hyun tadi dan aku lupa memberinya peniti. Apa yang harus aku jawab? Aku berdehem sembari mencari alasan yang tepat.

“Tadi ditarik Yeon Ah”

Begitu gugupnya karena berbohong, aku jadi bingung dan canggung menghadapi Jung Soo Oppa. Kami terdiam cuku lama. Ketika aku akan masuk kekamar mandi, Jung Soo Oppa bersuara. Yang membuat aku tercekat mendengar pertanyaannya.

“Ketika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih? Sesuatu yang ada dalam genggaman mu, tetapi masih kau ragukan atau yang pernah ada dalam genggaman mu, sempat terlepas tetapi kembali pulang?”

Aku menoleh kearahnya, melihat matanya penuh kecemasan menunggu jawabanku. Aku bersandar dipintu kamar mandi, tanganku aku silangkan didepan dada dan menatapnya dengan tatapan menantang.

“Bagaimana jika aku kembali pada Baek Hyun?” aku melihat tenggorokkannya naik turun,  seperti susah menelan liurnya.

“Asal kau bahagia. Nan gwencana” balasnya dengan terbata. Aku tahu itu bukan jawaban dari hatinya. Matanya terluka.

 

 

“Kembalilah padaku” yang aku tahu selanjutnya dia mencium bibirku, ciuman dengan kelembutan yang sama  seperti dulu. Tapi, aku tidak merasakan getaran  seperti tujuh belas tahun yang lalu, rasanya hampa.

Berbeda ketika Jung Soo Oppa menciumku, aku merasakan getaran aneh yang membuat kaki ku lemas. Tapi dengan Baek Hyun aku tidak merasakannya. Aku melepas ciuman itu dengan nafas yang tersendat sendat. Kening kami menempel tapi setelah itu aku mendorong tubuhnya menjauh.

“Ayo kita lari yang jauh dan pergi ketempat dimana tidak ada satupun orang yang mengenal kita” ajaknya padaku.

Dia lebih gila dan nekat dari yang aku kenal. Tapi, kenapa dulu dia tidak seperti ini untuk mempertahankan aku.

“Kau gila. Aku sudah memiliki keluarga” Teriak ku tepat didepan wajahnya.

“Aku tidak perduli” dia balas berteriak padaku “Aku masih mencintaimu Kim Taeyeon” Baek Hyun mendekat tapi aku mundur dan menjauh, sejauh yang aku bisa.

“Kenapa kau dulu meninggalkan aku?”mataku tiba tiba memanas lagi.

“Aku menyesal. Aku tidak dapat memberi kehidupan yang layak untuk mu. Tapi sekarang aku mampu untuk menghidupi mu”

“Itu bukan alasan jika kau benar mencintaiku. Kau akan memperjuangkan aku, bagaimanapun keadaannya” aku marah setiap kali mendengar alasannya itu. Alasan yang tidak dapat aku terima dengan baik.

“Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya. Kita mulai dari awal” dia ingin meraihku lagi, tapi aku menjauh dari jangkauannya.

“Aku mencintai suamiku” kataku memberitahu Baek Hyun.

Baek Hyun tersenyum congkak “Kau berbohong. Kau membalas ciumanku tadi” baek Hyun berhasil menangkap bahuku dan mengguncangnya pelan.

“Ya. Tapi aku tidak merasakan hal yang sama lagi”  aku mencoba melepaskan cengkramannya dibahuku dengan pelan “Kau masa laluku dan aku sudah menemukan masa depanku”

Aku melihat Baek Hyun menyerah, ekspresi wajahnya terlihat lesu bercampur kecewa “Apa Joon anak kita?” Apa dia tidak tahu? Dasar Ayah yang buruk. Dia tidak tahu aku mempertahankannya mati matian.

“Hoh” gumamku. Baek Hyun layak tahu, dia Ayah kandungnya. Bahkan jika dia ingin bertemu dengan Joon, aku akan mempertemukan mereka. Tapi setelah aku menjelaskan semuanya pada Joon.

“Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan mengizinkannya”

Baek Hyun terduduk lemas di sofa, tangannya menutupi wajahnya “Aku sudah melihatnya, dan aku tidak punya muka untuk bertemu dengannya” dia tersenyum simpul “Biarkan situasinya seperti ini. Jangan katakan pada Joon tentang aku. Biarkan seperti ini”

Aku mendesah ragu ragu. Kenapa dia tidak ingin bertemu dengan Joon? Apa dia tidak mencintainya?

“Kau tidak mencintai Joon?”

Baek Hyun menggeleng “Aku mencintainya, sangat. Makanya aku tidak ingin membuat kekacauan karena kehadiranku yang akan membuatnya terluka”

Aku mendekat untuk menenangkannya, dia mengambil tanganku “Kau menjaga nya dengan baik” dia tersenyum bangga.

“Aku tidak merawatnya sendirian” ralatku. Dia tahu apa yang aku maksud.

Baek Hyun setuju “Katakan pada suamimu aku sangat berterimakasih padanya. Aku bahagia, kau mendapatkan lelaki yang tepat. Dia pasti pria yang baik”

“Sangat baik” tambahku “Lupakan lah aku dan mulai lah kehidupan baru, Baek Hyun aah”

Dia menggenggam tangan ku, meremasnya lebih kuat “Aku akan mencoba melepaskanmu” dia mengangkat tanganku kemulutnya “Pulanglah. Selamat tinggal Kim Taeyeon kekasihku yang berharga”

Sesungguhnya dia pria yang baik. Tapi, sayang nya dulu dia tidak bisa memperjuangkan aku. Mungkin memang kami tidak ditakdirkan untuk bersama.

“Aku mencintaimu” ucapku untuk yang terakhir kalinya.

 

JUNG SOO POV

Taeyeon berjalan ketempat tidur dimana aku berada saat ini, dia berlutut didepanku, menggenggam tanganku erat. Tatapannya sulit diartikan, apa dia akan mengucapkan selamat tinggal padaku?

“Aku akan memilih pria yang berada dalam genggaman ku sekarang” Taeyeon mengangkat tangan kami dengan tersenyum manis.

“Sejak aku memilih untuk hidup  bersama Oppa, aku tidak pernah meragukannya lagi. Pria baik yang menerima semua kekuranganku. Pria yang sibuk, tapi selalu meluangkan waktunya untukku. Pria yang tidak romantis tapi selalu perhatian dan bersikap manis padaku. Cinta mengalir seiringnya waktu kita bersama, itu yang aku rasakan pada Oppa. Aku menemui Baek Hyun untuk menyelesaikan semua permasalahan kami, dia menitipkan ucapan terimakasih pada Oppa karena sudah merawat Joon dengan sangat baik”

Taeyeon memberi penekanan disetiap suku kata yang dia ucapkan, membuat aku tersanjung dengan kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Aku senang, sampai mulutku tidak dapat mengeluarkan suara lagi.

Taeyeon melepaskan genggaman tangannya pada tanganku “Tsk!! Aku sudah memuji Oppa habis habisan. Tapi, Oppa hanya diam” katanya pura pura merajuk. Aku menangkup wajahnya ketika dia berpaling dari ku.

“Apa dia mencium mu tadi?” tanyaku dan seketika matanya melebar mendengar pertanyaanku. Hati ku terenyuh ketika dia mengangguk.

“Aku ingin menciummu. Tapi, tidak dengan rasa pria itu yang masih tertinggal dimulutmu” aku menariknya berdiri “Jadi, aku akan membersihkan mu dulu. Kau harus mandi” aku menyeretnya pelan kekamar mandi.

“Oppa, aku bisa mandi sendiri” teriaknya protes. Tapi, dia tetap melangkahkan kakinya dengan terkekeh. Suara tawanya yang aku suka.

“Aku ingin memastikan, kau benar benar bersih” aku berhenti untuk menatapnya “Dimana lagi dia menyentuh dan menciummu?”tanya ku ragu ragu.

“Ah.. disini” Taeyeon menyentuh keningnya “Disini” Tangan Taeyeon turun menyentuh pipinya “Dan disini” Turun lagi menyentuh lehernya. Omo, ANDWAE!!!

Jinja?”

Taeyeon tertawa lepas melihat  ekspresi wajahku yang terkejut “Aku bercanda” dia menyelesaikan sisa tawanya “Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku sebanyak itu”

“Bagus. Kalau begitu ayo mandi” aku menariknya lagi, sampai kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

Aku bahagia sekarang, karena yang aku takutkan tidak akan datang lagi. Dia sudah merelakan Taeyeon dan Joon untukku, karena mereka adalah milikku. Taeyeon juga sudah menentukan hatinya untukku, hanya untukku. Cintaku berbalas.

Aku berharap hidup kami lebih bahagia setelah ini, walaupun kami masih menyimpan satu rahasia tentang Joon. Kami tidak akan mengungkitnya, Joon anakku dan Taeyeon. Tidak ada yang berubah. Terimakasih Tuhan, aku bahagia sekarang.

 

 

***

AUTHOR POV

“Kenapa kau baru memberitahuku?” protes Tiffany. Tangannya masih sibuk menyimpulkan dasi Siwon, dileher kemejanya.

“Aku juga baru mendapatkan undangannya”

Tiffany melirik Siwon sebentar “Aku belum menyiapkan pakaian untuk acara amal nanti malam”

Siwon menarik pinggang Tiffany “Pakailah gaun yang kau miliki. Kau terlihat cantik menggunakan apapun” puji Siwon yang membuat Tiffany tersenyum malu.

“Baiklah, aku akan menemanimu nanti malam” ucap Tiffany setuju dengan ajakan mendadak Siwon.

Siwon memberitahunya bahwa dia mendapatkan undangan acara amal. Tapi, Siwon baru memberitahu Tiffany pagi ini. dan acaranya nanti malam, jadi Tiffany tidak memiliki kesiapan apapun.

“Bagus. Aku akan menjemputmu jam tujuh. Jangan pakai gaun yang terlalu terbuka” kata Siwon penuh perintah dan Tiffany mengangguk patuh.

Simpulan dasinya selesai dan Tiffany tersenyum bangga, melihat simpulan dasi yang rapih dan suaminya yang tampan.

Siwon mencium bibir Tiffany cepat “Aku pergi” seru Siwon.

Tiffany bersedekap dan tersenyum menatap kepergian Siwon. Bahkan melihat dari bahunya saja, suaminya terlihat sangat tampan dan gagah.

 

***

Soo Ji menopangkan dagu dengan kedua tangannya, dia berada dikafe menunggu Nana. Tadi mereka membuat janji di kafe ini pada jam empat sore. Tapi, ini sudah setengah jam berlalu. Nana belum menampakkan batang hidungnya.

Soo Ji menyesap cappucino miliknya, kebetulan diluar sedang turun hujan. Nana tidak akan datang, fikir Soo Ji. Karena sahabatnya itu tidak dapat berteman baik dengan hujan. Gagal semua rencana bersenang senang mereka. Menyebalkan..

Hal menyebalkan lainnya adalah, sudah satu minggu Joon tidak menemuinya, juga tidak menelponnya. Sebenarnya siapa yang sedang marah disini? Aku atau dia? Kenapa dia tidak membujukku untuk memaafkannya.

Soo Ji selalu kesal sendiri bila mengingat pembicaraan terakhir mereka. Dan kekesalan Soo Ji semakin bertambah besar karena beberapa kali ini Hara mengunggah fotonya bersama Joon di Instagram. Apa hubungan ini sudah berakhir tanpa ada kata kata perpisahan? Oh, menyakitkan sekali.

Mengingat itu, membuat hati Soo Ji semakin kesal. Dia membanting cangkir ketatakan hingga menimbulkan suara dentingan cangkir dan piring dibawahnya. Setelah puas melampiaskan emosinya, Soo Ji keluar dari kafe tersebut dan berjalan menuju parkiran dengan berlari kecil.

Dia baru saja duduk dibalik roda kemudi ketika sadar ada sebuah amplop terselip diwiper mobilnya. Dengan kening berkerut, Soo Ji keluar dan meraih amplop tersebut. Jemarinya membuka amplop dan dia menemukan fotonya bersama Joon didalamnya. Foto mereka ketika dicentral park beberapa waktu lalu dengan pose Joon merangkul bahunya dan mereka tersenyum lebar menatap kamera. Joon meminta orang asing untuk mengambil foto mereka saat itu. Soo Ji membalik foto dan menemukan tulisan dibaliknya.

Miss you like crazy..

Dengan cepat tangan Soo Ji menarik ponsel yang berada disaku jeans nya. Kemudian menekan speed dial yang langsung terhubung pada Joon. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia.

Where are you?” tanya Soo Ji begitu panggilan tersambung.

“Ditempat dimana tidak ada hujan” Suara Joon terdengar geli. Seakan sadar kalau dia mengatakan kalimat konyol sekarang.

“Joon itu tidak lucu” Ucap Soo Ji sambil menghentakkan kakinya. Mendadak amarah nya surut dan rasa rindu membuncah begitu saja “Siapa yang menyelipkan foto diwiper mobilku?”

Joon berdehem “Aku menyuruh para minionku. Berbaliklah, aku memiliki kejutan untuk mu” ucapnya masih berteka teki.

Soo Ji berbalik, dia tidak perduli hujan membasahi tubuhnya. Tapi, tiba tiba seorang pria tidak dikenalnya memberikan payung berwarna kuning padanya. Ada pria kecil yang imut berdiri didepannya sambil membawa setangkai mawar merah dan menyodorkannya pada Soo Ji. Soo Ji menerima bunga itu dengan ragu.

“Oh ternyata masih ada kurir lainnya” ucap Joon dan benar, dari belakang pria kecil pertama yang memberi Soo Ji bunga, ada pria kecil lainnya, berdiri sambil membawa tangkai mawar lainnya.

“Apa ini?” tanya Soo Ji dengan suara tercekat.

“Kau memiliki banyak penggemar, Ji aah” jawab Joon. Soo Ji merasa kalau Joon tersenyum disebrang telepon.

Ada sepuluh pria kecil yang memberinya tangkai bunga mawar merah. Soo Ji kesusahan memegang payung, menjepit ponsel dengan bahu ketelinganya dan belum lagi sepuluh tangkai mawar merah yang berada ditangan satunya.

Barisan pemberi bunga itu berakhir pada sebuah gedung kosong. Tapi, bangunan itu masih terlihat kokoh walaupun sudah tua. Soo Ji memberanikan diri untuk masuk kedalamnya, membuang payung kesembarang arah, memasukkan ponselnya kedalam saku. Karena dia sudah melihat Joon berdiri jauh didepannya.

Joon terlihat salah tingkah dengan mengusap tengkuknya, Soo Ji mulai berjalan kearahnya “Aku tahu, kau pasti berfikir aku sangat konyol sekarang. Maaf, selama ini tidak pernah memberimu bunga. Itu karena kau, hmm well, bunga bunga itu akan kehilangan kecantikannya kalau diberikan padamu. Karena kau jauh lebih cantik” Joon mengatakan itu dengan wajah merah padam.

Soo Ji tertawa melihatnya “Kau tahu, aku tidak memakan bunga” langkahnya semakin dekat dengan Joon.

“Aku tidak menyuruhmu memakannya” Joon ikut tertawa yang ditularkan oleh Soo Ji.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu?” ucap Joon kembali gugup. Dia berdehem beberapa kali “Aku ingin meminta maaf. Aku akan menjadikan mu yang pertama dalam hal apapun tentangku. Aku  akan bersandar padamu setiap kali  aku membutuhkannya. Because I Love you and you are my only one, Choi Soo Ji”

Soo Ji menangkap mulut dengan telapak tangannya, menahan jeritan dan tawa yang akan keluar bersamaan. Sebagian bunga berjatuhan dari tangannya yang gemetar karena perasaan bahagia yang membuncah hingga menyesakkan dadanya.

Thank you so much, dear. Hmm I Love you too” ucap Soo Ji berturut turut dengan senyuman lebar yang membuat Joon  berjalan kearahnya dan memeluk Soo Ji erat.

“Joon, kau melanggar peraturan Mommy” gumam Soo Ji didada Joon.

Joon melirik liar kesisi gedung “Tidak ada Tiffany Aunty, aman” Joon mendekatkan bibirnya ketelinga Soo Ji “Pelukan rahasia” tanpa ragu ragu Soo Ji pun membalas pelukan Joon.

 

 

***

“Aku ingin ke toilet sebentar” pamit Tiffany, ketika mereka sudah berada didalam gedung mewah tempat diselenggarakannya acara amal.

“Hmm” Siwon bergumam sembari menganggukkan kepalanya. Melepaskan tangannya yang sedari tadi bertengger dengan nyaman dipinggang Tiffany.

Tiffany melenggang ke toilet. Tadi dia ketiduran sebentar didalam mobil, karena tempat acara amal ini cukup memakan waktu lama. Jadi Tiffany ingin memeriksa make up nya, takut jika terlihat berantakan.

Tiffany menghadap kecermin ketika sudah berada  didalam toilet, make up nya masih terlihat rapi dan cantik. Tiffany memakai gaun selutut berwarna merah terang, dengan kedua lengan baju yang tersampir disisi lengannya yang memamerkan leher dan bahu indahnya. Tiffany memakai anting dan kalung mutiara yang Siwon berikan dua bulan lalu. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan bagian bawah yang bergelombang, satu sisi rambutnya diselipkan dibelakang telinganya.

Tiffany berjalan keluar toilet dan mulai mencari Siwon.  Dia menangkap suaminya sedang asik mengobrol dengan teman temannya, semuanya pria. Tiffany tidak enak bergabung dan mengacaukan pembicaraan mereka. Tiffany berniat mencari meja, karena kakinya mulai sakit, dia memakai high heels dengan tumit yang begitu tinggi. Tapi, seorang wanita memanggilnya.

“Tiffany Hwang” suara tersebut membuat Tiffany memutar kepalanya.

“Liu Wen” suara Tiffany tercekat. Wanita didepannya ini adalah mantan kekasih suaminya, cinta pertama suaminya.

“Sudah lama bukan? Senang bertemu dengan mu lagi” ucapnya dengan akrab. Terakhir mereka bertemu, saat Young Ji berumur enam tahun. Liu Wen datang bersama suaminya waktu itu.

“Aku tidak tahu kau berada di Korea” kata Tiffany masih terkejut dengan pertemuan tidak terduga nya bersama Liu Wen.

“Aku sudah satu minggu berada di Korea. Apa Siwon tidak memberitahumu? Kami bahkan sering bertemu” Liu Wen tersenyum. Mengatakan kalimat itu dengan santai. Belum hilang rasa terkejutnya, Tiffany dibuat terkejut lebih dalam oleh ucapan Liu Wen barusan.

“Oh, dimana suamimu?” Tiffany ingin bersikap santai. Seolah dia tidak sedang kecewa tentang pertemuan Siwon dengan Liu Wen tanpa sepengetahuannya.

“Kami sudah bercerai tiga bulan yang lalu” raut wajahnya terlihat sedih.

Tiffany mulai takut dengan kedatangan Liu Wen ke Korea, apa lagi Liu Wen sudah tidak memiliki suami lagi. Apa Liu Wen kembali untuk merusak rumah tangganya? Bukannya Tiffany ingin berburuk sangka pada Liu Wen. Tapi, Siwon dan Liu Wen memiliki masalalu yang indah. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka masih memiliki rasa yang dulu pernah ada.

Mulut dan tenggorokan Tiffany terasa kering, dia menyambar gelas sampanye  yang dibawa oleh pelayan. Sembari mendengarkan cerita Liu Wen yang menurutnya sangat membosankan. Tapi, ketika dia membicarakan Siwon, itu menjadi tertarik ditelinganya. Siwon menjemputnya dibandara saat dia sampai diKorea, mereka sering makan siang bersama. Oke, Tiffany tidak tahu semua itu. Kenapa Siwon tidak memberitahunya? Kenapa Siwon menutupinya?

Tiba tiba fikiran Tiffany kacau, dia sudah meneguk sampanye ke limanya. Tiffany butuh mabuk.

 

“Disini kau rupanya” Siwon berdiri disamping Tiffany yang sedang meneguk sampanye nya.

Sudah tidak ada lagi Liu Wen. Tadi dia berpamitan untuk bertemu dengan temannya, tidak lama setelah itu Siwon datang.

Siwon menatap wajah Tiffany yang memerah “Kau mabuk? Sudah berapa banyak kau minum?” Siwon menarik paksa gelas yang ada ditangan Tiffany.

Tiffany menatap Siwon dengan tatapan tidak suka “Bukan urusan mu dan aku benar benar ingin mabuk” Tiffany pergi meninggalkan Siwon.

Siwon menarik lengannya “Ada apa dengan mu?” Tanyanya bingung dengan perubahan sikap Tiffany.

Tiffany tersenyum kecil “Aku? Kau yang ada apa? Kenapa kau menyembunyikannya dariku?” dagu Tiffany terangkat dengan angkuh. Siwon mengerutkan keningnya “Aku bertemu Liu Wen” kata Tiffany lantang “Dia menceritakan semuanya padaku, betapa manisnya sikapmu padanya”

Siwon terdiam untuk menarik nafas “Kau tidak mengerti, aku punya alasan”

Tiffany merenggut tangannya dari genggaman Siwon “Bagaimana aku bisa mengerti, jika kau tidak menceritakannya padaku. Aku ingin pulang, jika kau masih ingin tetap disini, Silahkan”

Tiffany berjalan pergi meninggalkan Siwon lagi. Tapi, Siwon menarik tangannya, menyeretnya keluar. Tiffany protes ketika Siwon menariknya dengan kuat, karena dia memakai high heels dengan tumit yang lebih tinggi dari yang biasa Tiffany pakai.

Siwon mendorongnya masuk kedalam mobil, dan mereka meninggalkan gedung tersebut. Disepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Sibuk dengan fikiran masing masing. Siwon fokus pada jalan, sedangkan Tiffany menikmati pemandangan kemerlap lampu lampu jalan yang dilewatinya.

Tiffany merasakan perutnya mual, seperti diaduk aduk. Dia ingin muntah. Meminta Siwon menepikan mobil tapi Siwon mengabaikannya.

“Siwon tepikan mobilnya, aku ingin muntah” teriak Tiffany kesal.

Siwon melihat kearah Tiffany yang mulai pucat, keringatnya mengalir disisi wajahnya. Dengan gerakan cepat, Siwon menepikan mobilnya. Karena sudah tidak tahan, sebelum Siwon membukakan pintu untuknya, Tiffany membuka pintu mobil sendiri dan melompat keluar. Membukukkan tubuhnya, mengeluarkan semua isi perutnya. Siwon memijit tengkuknya, satu tangannya yang lain, sudah menyiapkan sapu tangan untuk Tiffany. Merasa lebih enakan, Tiffany berdiri dan mengambil  sapu tangan yang Siwon berikan untuknya. Tiffany berjalan masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan Siwon yang mengkhawatirkannya.

“Kau minum tanpa makan terlebih dulu. Ini lah dampaknya” Siwon menjulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Tiffany. Tapi, Tiffany menepisnya.

“Cepat jalankan mobilnya. Aku ingin cepat berada dirumah sekarang” pinta Tiffany dengan suara dingin.

Siwon menurut, dia menjalankan mobilnya kembali. Sesekali dia melirik kearah Tiffany yang menyandarkan kepalanya di jok mobil. Wajahnya masih terlihat pucat.

“Sudah baikan? Kita mampir ke apotik dulu untuk membeli obat” tanya Siwon penuh perhatian.

“Tidak perlu” Tiffany membungkuk dan menyalahkan radio dengan suara keras. Jason Miraz menyanyikan lagu I want give up memenuhi telinga mereka. Secara tidak langsung, itu tanda Tiffany menyuruh Siwon untuk diam. Siwon tahu, Tiffany masih sangat marah padanya.

Sesampainya dirumah, Tiffany keluar dari mobil lebih dulu. Dia masuk dan menghempaskan pintu dibelakangnya. Padahal Siwon masih berada diluar. Tiffany naik kekamarnya, sedangkan Siwon setelah masuk kedalam rumah, dia berjalan ke arah dapur.

 

Tiffany membuka lemari pakaiannya, mengambil jubah tidur sutra warna abu abu. Masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka, menyikat gigi dan mengganti pakaian. Semuanya Tiffany lakukan dengan cepat. Dia ingin segera merangkak ketempat tidur, meringkuk kedalam selimut dan menutup mata.

Saat Tiffany hampir terlelap, dia mendengar pintu kamar dibelakangnya terbuka lalu tertutup kembali. Tiffany dapat merasakan kehadiran Siwon yang berjalan masuk dan berhenti ditepi tempat tidur.

“Kau tega membiarkan aku makan sendirian” kata Siwon dibelakang Tiffany. Meremas lembut bahu Tiffany.

“Kenapa kau tidak meminta aku untuk menemani kau makan”

Siwon duduk ditepi tempat tidur, mengusap lembut lengan Tiffany, dia menghela nafas “Tiffany” jari jari Siwon terus membelai naik turun disepanjang lengan Tiffany “Ayo makan dan bicara”

“Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Kau menyembunyikan segalanya dariku. Padahal dulu kau pernah bilang tanpa kejujuran kau tidak akan pernah bisa dekat denganku” Tiffany mempererat cengkraman pada bantal yang dia peluk.

“Aku menyesal kau mengetahuinya dari orang lain. Tapi aku akan menjelaskannya padamu” Siwon menarik bahu Tiffany agar melihat padanya “Tapi makanlah dulu sebelum kita bicara. Aku sudah membuatkan mu sup” Siwon menunjuk meja yang sudah terisi nampan makanan dengan dagunya.

“Aku tidak berselera makan jika suasana hatiku sedang kacau seperti ini” tolak Tiffany.

“Baiklah kita bicara” Siwon memejamkan matanya, kepalanya berdenyut menghadapi sikap keras kepala istrinya “Kau bisa duduk kan?” Tanya Siwon. Dia mencoba membantu Tiffany untuk duduk. Tapi, Tiffany menolak. Tiffany benar benar menghindari Siwon malam ini.

Siwon menegakkan bahunya serius, menatap Tiffany yang bersandar ditempat tidur, Tiffany yang tidak menatapnya. Dada Siwon terasa nyeri dengan Tiffany yang menghindarinya, bahkan hanya dengan kontak mata saja Tiffany tidak melakukannya dengan Siwon.

“Pertama, aku menjemputnya dibandara untuk menyambutnya sebagai teman lama. Tidak lebih” kata Siwon dengan jujur. Tiffany hanya diam tidak merespon.

“Kedua, aku sering keluar dengannya karena dia membutukan teman. Dia baru saja bercerai, aku mendengarkan keluh kesahnya” Tiffany masih diam, membiarkan Siwon menyelesaikan ucapannya terlebih dulu “Kami menjalin sebuah persahabatan dan itu sudah sejak lama. Tidak ada yang berubah”

Tiffany menarik tubuhnya dari sandaran tempat tidur “Apa alasan dia kembali ke Korea? Karena yang aku tahu dia tidak memiliki keluarga disini” keluarga Liu Wen pindah ke china setelah Liu Wen lulus Sekolah menengah atas, itu yang Tiffany tahu dari Siwon dulu. Sampai sekarang pun keluarganya masih menetap disana.

Tiffany mengangkat tangannya ketika Siwon akan bicara, Tiffany menyuruhnya agar Siwon mendengarkannya dulu “Kau tidak pernah mengajakku pergi makan siang, padahal terkadang aku mengirimmu pesan berisi kode bahwa aku sangat penat. Aku membutuhkan kau untuk membantuku menghilangkan penatku. Tapi sayang, kau selalu bilang sibuk. Tapi, dengan Liu Wen kau selalu ada untuknya. Tsk!! Manis sekali” Tiffany menyilangkan tangannya didepan dada.

Siwon frustasi, Tiffany jika sedang cemburu bisa berubah menjadi sangat menyebalkan “Dia sedang berlibur disini. Jangan lupakan dia memiliki koneksi di Seoul, itu kenapa dia datang ke acara amal malam ini”

Siwon menarik dagu Tiffany. Tapi, Tiffany menolak untuk menatapnya “Aku tidak begitu sibuk minggu minggu ini. jadi aku bisa bertemu Liu Wen. Tapi, ketika kau mengajakku waktu itu, aku benar benar sibuk. Mulai sekarang kita akan pergi makan siang bersama, otte?”

“Aku tidak tertarik lagi” Tiffany memberengut kesal. Tiffany tidak ingin Siwon melakukan hal itu karena sindiran darinya. Yang Tiffany inginkan, Siwon benar benar melakukannya dari hati.

Siwon menarik kedua sisi bahunya, memaksa Tiffany untuk menatapnya “Dengarkan aku, berfikirlah positif. Jika kau berfikiran buruk tentang aku dan Liu Wen, itu bisa saja menjadi doa. Lagi pula Liu Wen sangat mengenal keluarga kita, bahkan dia iri padamu. Karena dapat melahirkan putri putri yang cantik, sedangkan dia-“ Siwon menggantung ucapannya dan melanjutkannya dengan ragu ragu “Dia bercerai karena tidak dapat memiliki keturunan”

Tiffany terperangah, merasa menyesal sudah menuduh Liu Wen akan merusak rumah tangganya. Padahal, dia hanya membutuhkan teman untuk mencurahkan keluh kesahnya.

Siwon mencibir sembari mencubit hidung Tiffany “Kau sudah tua, masih saja cemburu” sindir Siwon main main.

Tiffany mengangkat tangannya, menyentuh pipi Siwon “Because, I can’t lose you babe” bisik Tiffany lembut.

Siwon menggenggam tangan Tiffany yang berada dipipinya dan mencium telapak tangannya “Me too

Siwon mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman manis diatas bibir Tiffany. Awalnya Siwon ingin melumatnya, tapi diurungkan. Siwon menarik diri dan Tiffany merengek karena ingin lebih.

“Kau harus makan” Kata Siwon penuh perintah.

Tiffany mengerucutkan bibirnya kesamping “Tapi tiba tiba tanganku tidak bisa digerakkan” Tiffany menjulurkan kedua tangannya pada Siwon “Well, aku membutuhkan seseorang untuk memberi aku makan” Ucap Tiffany dengan manja.

Siwon tahu apa yang Tiffany maksud. Bibirnya tertarik untuk senyum lebar “Dengan senang hati, baby girl

 

 

***

Keesokan harinya, Liu Wen datang kerumah Siwon dan Tiffany untuk meminjam keempat anaknya. Liu Wen ingin mengajaknya pergi ke Lotte World. Awalnya Tiffany keberatan, dia takut keempat putrinya akan membuat Liu Wen repot. Tapi, anak anaknya ingin sekali pergi. Terutama Soo Ji, dia memang cukup dekat dengan Liu Wen. Dan akhirnya Tiffany mengizinkan Liu Wen membawa keempat anaknya.

Sudah tiga jam Liu Wen membawa mereka pergi. Tapi, belum ada tanda tanda mereka akan pulang.

“Siwon, bisa kau telepon Liu Wen? Aku khawatir. Dia pasti sangat kerepotan” pinta Tiffany. Siwon dan Tiffany sedang duduk santai diruang tengah. Siwon dengan laptop dipangkuannya dan Tiffany sibuk mengunyah buah stroberry.

“Tadi aku sudah mencoba menelponnya, tapi tidak ada jawaban. Sepertinya mereka sedang bersenang senang” Siwon meletakkan laptop diatas meja dan merangkul Tiffany “Lagi pula, apa yang kau khawatirkan hmm?”

Tiffany menarik nafas sesaat “Faktanya, keempat putri kita selalu membuat orang repot. Itu yang aku khawatirkan” kepala Tiffany bersandar dibahu Siwon, sedangkan jari jari lentiknya membuat pola melingkar didada Siwon yang tertutupi oleh T-shirt yang dia pakai.

Siwon mencium kening Tiffany, memberikan ketenangan melalui ciumannya “Mereka akan bersikap baik, karena mereka sedang tidak pergi bersama kita dan Liu Wen pasti akan menjaganya dengan baik”

“Aku harap begitu” mereka diam beberapa menit. Saling menyentuh, memberikan kenyamanan satu sama lain.

“Kau jadi pergi ke Hongkong minggu depan?” Tanya Siwon, memecahkan keheningan diantara mereka.

Tiffany mengangguk pelan “Ya, aku yang akan pergi” Tiffany mengangkat kepalanya mencari mata Siwon “Tolong jaga anak anak kita. Terutama Lauren” pinta Tiffany sungguh sungguh.

“Hey” Siwon mempererat pelukannya “Kau bicara seperti itu, membuat aku takut. Seakan kau akan pergi dan tak akan kembali” tutur Siwon tidak suka. Terasa janggal mendengar kata kata Tiffany.

“Ini pertama kalinya aku pergi meninggalkan mereka” gumam Tiffany pelan.

“Aku akan menjaga mereka. Ingat, mereka putriku juga”

“Kau Daddy terbaik” puji Tiffany.

Of course” ucap Siwon dengan bangga.

Pelukan mereka terlepas ketika mendengar pintu rumah terbuka. Tiffany langsung berdiri menghampiri kearah pintu, dia melihat anak anaknya yang tersenyum sumringah. Soo Ji berada dirangkulan Liu Wen, tampak begitu akrab.

“Apa mereka membuatmu repot?” tanya Tiffany pada Liu Wen, ketika mereka sudah berdiri berhadapan.

Soo Ji masih nyaman berada dirangkulan Liu Wen, Tiffany merasa iri melihatnya.

“Tidak. Mereka semua anak anak yang cantik dan menyenangkan” Liu Wen melepaskan rangkulannya pada Soo Ji dan berjalan lebih dekat dengan Tiffany. Menarik satu tangannya dan meremasnya.

“Terimakasih sudah memberi izin untuk meminjamkan mereka padaku” Liu Wen tersenyum berterimakasih dengan tulus kearah Tiffany.

Tiffany membalas senyuman Liu Wen tidak kalah tulus “Aku juga berterimakasih. Kau sudah mengajak putriku pergi, mereka terlihat begitu senang” Tiffany mengangkat tangan satunya untuk balas menggenggam erat tangan Liu Wen.

Liu Wen melirik Siwon yang berada disamping Tiffany “Aku masih tidak menyangka, kau sudah menjadi seorang Ayah” Liu Wen tersenyum mengejek.

“Kenyataannya aku sudah memiliki empat putri, Liu Wen” Siwon mengingatkan dan Liu Wen mengangguk mengerti.

“Baiklah, aku harus pulang. Lusa aku akan pulang ke China” Liu Wen melepaskan tangannya dari genggaman Tiffany.

“Secepat itu?” tanya Siwon terkejut. Tiffany melihat wajah Siwon yang menurutnya berlebihan.

“Aku harus kerja. Pemotretanku terbengkalai jika aku terlalu lama di Korea” Liu Wen adalah seorang model. Setelah lulus sekolah dia mengepakkan sayapnya didunia modeling. Karena itu adalah cita citanya.

“Jika sempat aku akan mengantarmu”

“Tidak perlu” Liu Wen melirik Tiffany, merasa tidak enak “Aku pergi dulu, sampai ketemu lagi anak anak manis” Liu Wen melambaikan tangannya kearah mereka.

Jeongmal ghamsanamida” kata anak anak Siwon dan Tiffany serempak, membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

“Aku menunggu telepon dari mu, Aunty” seru Soo Ji.

“Terimakasih untuk hari ini. menyenangkan” timpal Eun Ji.

“Kembalilah ke Korea dan ajak aku pergi bersenang senang lagi” kata Young Ji.

“Sangat senang dapat mengenalmu” gumam Lauren melambaikan tangannya.

“Aku akan merindukan kalian” Liu Wen berjalan mundur, meniupkan kecupan untuk mereka. Dan akhirnya, tubuh jangkungnya menghilang dibalik pintu.

 

 

“Daebak.. daebak.. daebak..” Soo Ji tidak berhenti berdecak kagum sedari tadi “Aku benar benar iri dengan tubuh langsing dan tinggi Liu Wen Aunty. Astaga, aku benar benar ingin menjadi model”

Andwae!!” pekik Siwon tidak setuju “Kau harus pilih, kuliah dibidang bisnis atau kedokteran?” Siwon memberi dua pilihan yang membuat Soo Ji mengerutkan keningnya.

“Aku tidak tertarik dengan bisnis, dan kenapa aku harus menjadi dokter?” Soo Ji tidak tertarik dengan dua profesi tersebut. Sejak dulu dia benar benar ingin menjadi model. Tapi, kedua orang tuanya tidak pernah memberinya lampu hijau.

“Karena kau harus” ucap Siwon tegas, dia bersungguh sungguh dengan ucapannya.

“Kenapa kau ingin menjadi model?” tanya Tiffany penasaran. Dia belum pernah menanyakan alasan Soo Ji ingin menjadi model.

“Karena aku mampu. Wajah dan tubuhku sangat mendukung. Dan aku menyukai dunia modeling” kata Soo Ji dengan percaya diri. Memang tidak diragukan, Soo Ji memenuhi kriteria menjadi model. Tapi, entah kenapa Siwon maupun Tiffany tidak menyukainya.

“Tapi kau bekerja karena mempertontonkan tubuhmu, Unnie” Eun Ji bersuara, mengutarakan pendapatnya.

“Tidak. Aku akan menggunakan auraku”

“Tetap saja, mereka akan lebih membutuhkan tubuhmu” Kali ini Young Ji yang berkata.

“Yak!! Kalian masih kecil, apa yang kalian tahu tentang dunia model hoh?” marahnya dengan kesal, Soo Ji berdiri “Pokoknya, aku ingin menjadi model. Titik” dia berjalan pergi meninggalkan ruangan, berjalan pergi dengan menghentakkan kaki dengan kuat dilantai.

Siwon dan Tiffany hanya dapat menggelengkan kepala, menghadapi sikap Soo Ji yang selalu bertingkah semaunya sendiri.

“Yang aku lihat, model tidak ada yang seksi. Lihat Liu Wen Aunty, dia memiliki tubuh yang rata. Tidak ada yang menonjol dan itu tidak terlihat seksi” kata Young Ji dengan raut wajah tidak suka yang dibuat buat nya.

Tiffany tidak dapat menahan tawanya, dia tertawa geli mendengar ucapan Young Ji. Bisa bisa nya, putrinya menilai orang sedetail itu. Sampai sampai memperhatikan lekuk tubuh nya.

“Harusnya model memiliki tubuh seperti Mommy. Yang memiliki bagian tubuh yang menonjol dibagian tertentu” Ucap Eun Ji lalu terkekeh.

“Itu bukan menonjol yang seksi tapi itu lemak” celetuk Siwon lalu tertawa geli.

Melihat Siwon dan anak anaknya menertawakannya. Tiffany merengut sebal “Yak!!” pekiknya marah. Tapi, satupun tidak ada yang berhenti tertawa. Bahkan Lauren tertawa menutup mulut dengan tangannya. Tertawa sembunyi sembunyi.

 

 

***

“Kau benar benar tidak ada pekerjaan?” tanya Tiffany. Kepalanya mendongak untuk melihat Siwon yang jauh lebih tinggi darinya. Siwon baru saja menjemput Tiffany ke butiknya untuk mengajak Tiffany pergi makan siang.

“Aku mengcancel semua jadwalku hari ini. aku ingin pergi jalan jalan dengan mu. Sudah lama kita tidak jalan jalan berdua” Siwon meremas lebih kuat jari jari Tiffany yang berada didalam genggamnanya. Mereka saling menatap dan melempar senyum.

“Kau tahu, aku hanya pergi tiga hari. Kau tidak perlu melakukan ini” kata Tiffany. Besok pagi, dia sudah harus terbang ke Hongkong. Meninggalkan Siwon dan anak anaknya untuk tiga hari kedepan.

“Aku tidak melakukan ini karena kau akan pergi besok. Tapi, tiba tiba aku ingin melakukan hal hal yang sering kita lakukan dulu, ketika kita berkencan” Siwon menariknya masuk kedalam restoran, dimana dulu mereka sering makan disini saat masih menjadi sepasang kekasih.

“Apa kita akan pergi nonton? Ketaman dan makan permen kapas?” tanya Tiffany antusias.

Siwon menarik kursi untuk Tiffany, lalu dia mengelilingi meja dan duduk dihadapan Tiffany “Semuanya akan kita lakukan. Kembali muda” Siwon tersenyum simpul. Tiffany bertepuk tangan dengan senang, layaknya anak kecil yang mendapatkan balon.

 

Sembari menunggu pesanan datang, Siwon mengajak Tiffany bicara dan memberi tahu Tiffany bahwa lusa dia harus pergi ke Jeju, selama dua hari untuk pekerjaan penting. Tiffany bingung, siapa yang akan menjaga anak anaknya jika mereka pergi.

“Eomma akan pulang besok” gumam Siwon. Tiffany cukup tenang menitipkan anak anaknya pada Ny.Choi. tapi, tidak dengan Lauren.

“Aku akan menitipkan Lauren pada Taeyeon saja”

Dahi Siwon berkerut mendengarnya “Kenapa begitu? Kau tidak percaya pada Eomma? Eomma tidak akan melukainya” Siwon kecewa.

“Tapi, Eomma tidak menyukai Lauren” Lirih Tiffany. Lauren akan senang bersama Ny.Choi tapi tidak dengan Ny.Choi. dia tidak pernah berubah untuk menyukai Lauren.

“Eomma akan tetap menjaga nya, Tiffany. Percayalah” Siwon meremas tangan Tiffany, mencoba meyakinkan istrinya.

“Kau yakin?” tanya Tiffany yang masih belum begitu yakin dengan ucapan Siwon.

“Ya” jawab Siwon tegas. Walaupun Eomma nya tidak menyukai Lauren. Tapi, Siwon tidak pernah melihat Ibunya mencoba melukai Lauren. Dia hanya bersikap dingin pada Lauren.

 

Setelah steak pesanan mereka datang. Siwon memotong steak menjadi potongan potongan kecil dan memberikan piring itu pada Tiffany. Itulah yang selalu Siwon lakukan ketika makan steak bersama Tiffany.

Mereka makan dengan tenang, bercerita tentang kenangan kenangan mereka dulu. Mereka tertawa satu sama lain, sesekali saling memukul, tidak memperdulikan pengunjung yang melihat mereka karena begitu berisik.

Selesai mereka makan, Siwon mengajak Tiffany berjalan ketaman dan mencari permen kapas kesukaan Tiffany. Istrinya menyukai permen tersebut karena warnanya pink. Mereka menghabiskan sisa hari ini dengan canda dan tawa, terasa kembali muda.

Anak anak nya sudah aman dirumah. Tadi Siwon menyuruh salah satu pegawainya untuk mengurus anak anak mereka untuk beberapa jam kedepan. Selagi dia menghabiskan waktu bersama Tiffany.

 

***

Well, siapa yang akan mengalah? Karena tempat tidur ini hanya dapat menampung empat orang” kata Soo Ji.

Mereka berada didalam kamar Siwon dan Tiffany. Tiffany mengajak anak anaknya tidur bersama tapi kendalanya tempat tidur itu hanya dapat ditempati empat orang.

“Daddy yang akan mengalah” Ucap Tiffany tanpa meminta persetujuan Siwon. Siwon yang awalnya tidak setuju tapi akhirnya mengalah juga.

“Aku tidur dikamar ku saja” gumam Lauren, yang membuat semua orang melihat kearahnya.

“Kau tidak ingin tidur bersama Mommy?” Tiffany meyakinkan Lauren.

“Aku ingin. Tapi, aku bisa tidur dengan Mommy dihari hari yang lain. Kita masih memiliki waktu setelah Mommy pulang dari Hongkong” ucapnya panjang lebar. Lauren menampakkan senyum dibibir mungilnya.

Tiffany menatap Siwon yang akan keluar dari kamar “Daddy, kau bisa menemani Lauren kan?”

Siwon menoleh kebelakang “Tentu” tangannya terulur untuk mengajak Lauren “Kajja, ini sudah malam”

Lauren berjalan dan menyambut tangan Siwon “Selamat malam Mommy, selamat malam Unniedeul” Seru Lauren sebelum meninggalkan kamar dan pergi menuju kamarnya bersama Siwon.

 

“Oke girls, sudah malam. Take tempat” perintah Tiffany. Mereka pun mulai merangkak ketempat tidur. Dengan Tiffany yang berada ditengah tengah mereka.

Aigoo. Anak anak Mommy sudah besar, rasanya baru kemarin Mommy melahirkan kalian” Tiffany meraih ketiga putrinya. Soo Ji yang berada disisi kanan Tiffany memeluk pinggangnya, begitupun dengan Young Ji yang berada disisi kiri Tiffany. Eun Ji yang terhalang Young Ji berusaha menjangkau untuk memeluk Tiffany.

“Apa ketika kecil, kami merepotkan Mommy?” tanya Young Ji yang menyandarkan kepalanya dilengan Tiffany.

“Sedikit melelahkan. Tapi, Mommy senang dapat mengurus kalian” Tiffany menatap langit langit kamarnya sembari tersenyum tipis.

“Saat kecil dulu, Soo Ji sangat aktif. Dia sering sekali terjatuh” Tiffany memulai cerita. Mengingat kembali kemasa dimana anak anak nya masih balita.

“Itu kenapa dia begitu bodoh, karena dia sering terjatuh” celetuk Young Ji, yang membuat Tiffany dan Eun Ji mengeluarkan tawanya. Sedangkan Soo Ji mencibir sebal.

“Beda dengan Eun Ji, dia anak yang pendiam. Jika Mommy sedang sibuk, Mommy hanya memberinya mainan dan dia akan main sendiri tanpa membuat kekacauan” Eun Ji tersenyum bangga mendengar penuturan Tiffany.

“Berarti aku merepotkan ya?” sela Soo Ji.

“Hmm sedikit” Tiffany terkekeh “Sampai sekarang pun kau masih merepotkan” Tiffany mengacak rambut Soo Ji gemas.

“Mommy, bagaimana dengan Young Ji saat kecil dulu?” tanya Eun Ji penasaran.

“Young Ji anak yang rusuh, dia jahil. Seringkali membuat Soo Ji dan Eun Ji berteriak karena ulahnya. Bahkan dia sering membuat Soo Ji menangis”

Young Ji menutup wajahnya, malu mendengar cerita Tiffany “Tapi, ketika Lauren hadir dikeluarga kita. Young Ji mulai berhenti menjahili kalian. Karena dia sudah mendapatkan mainan baru” Tiffany melirik Young Ji yang berada dipelukannya.

“Young Ji suka sekali mengganggu Lauren, mencoba mengajaknya bermain. Padahal Lauren masih bayi dan belum mengerti dengan mainan yang Young Ji berikan” Tiffany tertawa gemas mengingat kenangan demi kenangan indah itu.

So proud of you Mommy. You are the best Mom in the world” Soo Ji merasa bangga pada Tiffany yang dapat mengurus empat anak dengan empat kriteria yang berbeda beda.

“Mommy beruntung punya kalian”

“Kami lah yang beruntung” Protes Eun Ji dan Tiffany mengangguk mengalah.

“Sekarang tidur bayi bayi ku” kata Tiffany bercanda. Mereka saling mempererat pelukan mereka. Berbagi kehangatan dan terlelap.

 

***

“Daddy tidak nyaman tidur bersamaku?” tanya Lauren. Dia merasakan tempat tidurnya terus bergerak sejak tadi. Siwon terlihat gelisah.

Posisi mereka saling memunggungi. Siwon memutar tubuhnya, menatap langit langit kamar Lauren yang terang oleh cahaya lampu.

“Tidak. Daddy tidak biasa tidur dengan lampu menyalah”

Lauren memutar tubuhnya juga, menatap Siwon “Daddy bisa mematikan lampunya. Aku tidak takut karena Daddy berada disampingku”

Siwon terperangah, karena Lauren phobia dengan kegelapan. Dia akan menjerit histeris jika berada ditempat gelap. Tapi, ini dia menyuruh Siwon mematikan lampunya tanpa ragu ragu.

“Tidak apa apa?” Tanya Siwon. Lauren mengangguk kuat meyakinkan Siwon.

Ketika Siwon sudah mematikan lampu, dia merasakan Lauren menegang dan mencengkram selimut dengan kuat.

Siwon menarik tubuh Lauren dan memeluknya “Jangan takut. Daddy masih disini” Siwon menggosok punggung Lauren, yang mulai berangsur santai.

“Aku sedang beradaptasi dengan kegelapan. Daddy jangan tinggalkan aku hmm?” Lauren memeluk pinggang Siwon, tangannya mencengkram kuat T-Shirt  bagian bawah yang Siwon pakai.

“Tidurlah, Daddy akan tetap disini” Siwon mencium puncak kepala Lauren. Lauren menurut dan tertidur dipelukan Siwon.

 

 

***

“Sampai disini saja, Siwon. Kau bisa kembali ke kantor” kata Tiffany mendorong dada Siwon. Mereka sudah berada didepan bandara, lima belas menit lagi Tiffany akan terbang ke Hongkong.

Siwon menggenggam tangannya “Aku ingin memastikan kau benar benar pergi ke Hongkong, dan bukan dibawa lari oleh pria lain” Siwon menarik Tiffany lebih dekat dengannya.

“Itu konyol Siwon” Tiffany tertawa geli, sembari memukul dada bidang Siwon.

“Cuaca begitu dingin. Kau harus memakai mantel, tutup telingamu, jika sudah begitu dingin” kata Siwon berturut turut. Mereka berjalan pelan beriringan, berpegangan tangan.

Nde” seru Tiffany menurut, seperti anak lima tahun yang sedang diberi nasehat oleh Ayahnya.

“Telepon aku”

“Kau tidak akan mengangkatnya” sela Tiffany. Karena memang biasanya begitu, Siwon sangat sulit mengangkat panggilannya. CEO yang sibuk.

“Aku akan mengangkatnya dengan cepat. Percayalah”

“Baiklah kalau begitu” mereka berdiri didepan pintu masuk penerbangan.

“Penerbangan menuju Hongkong dengan nomor pesawat SF-0701C sudah dibuka. Harap para penumpang segera tiba ke gerbang E27”

“Ah itu penerbanganku” Tiffany tersenyum simpul, menjinjit dan mencium pipi Siwon “Aku pergi. Jaga dirimu dan titip anak anak”

Siwon cemberut “Kau mengucapkan kalimat itu seakan ini adalah ucapan perpisahan kita. Apa kau akan meninggalkan ku?” satu tangan Siwon terangkat menyentuh wajah Tiffany, mengusap nya lembut dengan ibu jarinya.

“Ini karena aku memang akan pergi, Siwon”

Siwon mencium kening Tiffany dan berlama lama disana “Pergilah”

Tiffany mencibir “Bagaimana aku bisa pergi, jika kau masih menggenggam tanganku seperti ini” Tiffany mengangkat tangannya yang dipegang erat oleh Siwon.

Siwon tertawa, lalu dengan enggan melepaskan tangan Tiffany dari tangannya “Pergilah sayang dan cepat kembali”

“Belum pergi saja, aku sudah ingin kembali” Tiffany terkekeh geli dengan candaan yang dia buat.

Siwon memutar tubuh Tiffany, memunggunginya dan mendorongnya pelan “Pergilah, sebelum aku berubah fikiran. Dan membawa mu kembali kerumah”

“Arra, Arra”

Tiffany mulai berjalan meninggalkan Siwon, sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan Siwon, Tiffany mengucapkan kata ‘Saranghae’ tanpa suara. Siwon membalasnya dengan meniupkan ciuman manis untuk Tiffany.

 

 

***

Dua hari kemudian..

“Mommy” pekik anak anak Tiffany. Tiffany menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan anak anaknya. Mereka mengaktifkan loudspeaker yang membuat gendang telinganya seakan hampir pecah.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Tiffany penuh antusias. Sejak dia berada di Hongkong, ini kedua kalinya Tiffany menelpon anak anaknya.

“Kami menunggu telepon dari Mommy” seru Young Ji “Apa Mommy baik baik saja?” lanjutnya. Mereka saling mengkhawatirkan dan saling merindukan.

“Mommy baik. Bagaimana dengan kalian? Kalian makan dengan baik bukan?”

Tiffany dapat menjamin anak anaknya mendapatkan pelayanan yang baik. Karena Ny.Choi membawa mereka ke mansion mewah nan megah milik keluarga Choi. Sejak Siwon pergi, Ny.Choi yang menghandle sepenuhnya. Menjaga dan mengurus cucu cucunya, dibantu oleh para maid yang bekerja di Mansion tersebut.

“Sangat baik. Kami makan ikan sepuas yang kami mau” ucap Soo Ji. Dia menyindir Tiffany.

Karena Tiffany tidak pernah memasakkan anak anak nya ikan dalam olahan apapun. Tiffany sangat takut dengan ikan, jadi dia tidak memberi anak anaknya menu tersebut. Walaupun Tiffany tahu, ikan memiliki banyak protein dan bagus untuk pertumbuhan anak anaknya. Jika mereka ingin makan ikan, biasanya Siwon yang membawa anak anaknya pergi kerestoran.

Tiffany tertawa dan bergidik bersamaan “Makanlah sepuasnya. Karena jika Mommy pulang, kalian tidak dapat mengkonsumsinya lagi”

“Grammy akan memarahimu” gumam Eun Ji. Tiffany hanya terkekeh mendengar celotehan celotehan putrinya.

“Lauren, apa kau suka berada disana?” Tanya Tiffany pada anak bungsunya yang tidak bersuara sejak tadi.

“Aku suka. Ini pertama kalinya aku ke Mansion. Ada Jang Ahjumma yang sangat baik, dia mengajak ku berkeliling Mansion. Aku pernah kebingungan karena Mansion ini begitu luas” Lauren terkekeh geli, membuat Tiffany tersenyum dan merasa tenang kalau Lauren baik baik saja.

Tiffany sangat mengenal Jang Ahjumma, dia adalah maid paling lama yang bekerja untuk keluarga Choi. Dan wanita itu sangat baik.

“Syukurlah kalau begitu, Mommy lega mendengarnya” Tiffany menarik nafas lalu membuangnya pelan.

“Kapan Mommy pulang?” tanya Lauren, dia sudah sangat merindukan Tiffany.

“Besok malam Mommy sudah berada di Korea”

“Woaaah” mereka bersorak gembira.

“Baiklah Mommy tutup dulu. Mommy harus menelpon Daddy kalian, sebelum dia marah” Tiffany tertawa pelan, mengingat Siwon yang akan merajuk padanya. Karena melelpon anak nya lebih dulu ketimbang dia.

“Katakan pada Daddy, dia harus menelpon kami juga” kata Soo Ji pura pura marah.

Arraseo. Sampai ketemu besok girls. Sampaikan salam Mommy untuk Grammy dan Soo Ji, berhenti untuk mengganggu para maid” tutur Tiffany berturut turut.

Soo Ji sejak dulu sangat suka mengerjai para maid yang berada di Mansion dan sampai sekarang dia tidak berubah, membuat Tiffany pusing dengan tingkahnya.

“Wajah mereka yang meminta untuk diganggu, Mommy”

“Soo Ji” suara Tiffany bernada tinggi. Tidak menyukai dengan ucapan Soo Ji barusan.

Just kidding, Mommy” balas Soo Ji tanpa merasa bersalah.

“Baik baiklah sampai Mommy pulang”

See u soon, Mommy” seru anak anaknya bersamaan.

Tiffany mematikan sambunganya dan menekan speed dial yang langsung terhubung ke Siwon.

“Hey sayang” ucap Tiffany saat panggilannya dijawab Siwon.

“Aku tebak, kau habis menelpon putri mu kan?” katanya to the point, tanpa membalas sapaan mesra dari istrinya.

“Jangan marah seperti itu. Yang penting aku menelpon mu sekarang” senyum Tiffany tersungging ketika membayangkan wajah cemberut Siwon.

“Aku merindukanmu. Aku membutuhkan mu disini sekarang” gumam Siwon dengan lirih.

Tiffany menautkan alisnya “Apa ada masalah?” tanyanya dengan khawatir.

“Sepertinya aku akan kalah tender”

“Kenapa kau bicara seperti itu. Jangan patah semangat dulu. Hey, dimana Siwon pantang menyerah yang aku kenal?” Tiffany berusaha menyemangati Suaminya. Dia juga berharap berada disamping Siwon, memberi dukungan dan semangat untuk suami tercintanya.

“Apa besok kau jadi pulang?” tanya Siwon mengalihkan pembicaraan. Dia pusing membahas masalah ini.

“Tentu. Malam nya aku sudah sampai di Korea. Bagaimana dengan mu?”

“Besok sore aku sudah berada di Seoul. Aku akan menjemputmu, oke?” suara Siwon sudah terdengar santai, tidak seperti tadi yang begitu lesu karena kehilangan semangat.

“Aku tunggu” Tiffany diam sebentar, menunggu Siwon untuk bicara lagi padanya. Tapi Siwon tetap diam “Telepon lah anak anak mu. Mereka menanyakan Daddy nya”

“Ah ya… suasananya begitu pelik, sampai aku lupa menelpon mereka” Tiffany mendengar Siwon menarik nafas panjang disebrang telepon “Gwencana jika aku tutup sekarang. Aku masih ada beberapa pekerjaan”

Gwencana. Tidurlah jika waktunya tidur. Ingat, kau bukan superhero, kau bukan robot. Kau manusia yang membutuhkan tidur. Apa kau mengerti?” Tiffany mengingatkan Siwon.

Karena biasanya Siwon tidak akan tertidur jika dilanda pekerjaan yang sedang dia kejar. Membuat Tiffany kesal karena Siwon terlalu keras bekerja dan tidak memikirkan kesehatan dirinya sendiri.

“Aku mengerti. Aku mencintaimu” ucap Siwon, memberi penekanan diakhir ucapannya.

“Mencintaimu juga Big papa. Sampai bertemu besok”

 

 

***

“Jangan ada yang mendekati meja, apa kalian mengerti?” peringatan dari Ny.Choi untuk cucu cucunya yang berada tidak jauh dari meja kayu panjang. Diatas meja tersebut, penuh dengan kertas kertas penting dan laptop yang masih menyalah.

Eun Ji dan Young Ji yang sedang menonton TV menoleh ke sumber suara “Baik Grammy” jawab mereka bersamaan.

Ny.Choi pergi meninggalkan meja dan masuk kesebuah ruangan perpustakaan kecil. Soo Ji datang dari arah dapur, membawa segelas cokelat panas ditangannya. Diluar sedang turun hujan, dan cokelat panas adalah minuman paling pas dinikmati saat ini, menurut Soo Ji.

Dia mendengar peringatan Ny.Choi untuk tidak mendekati meja. Tapi, itu bukan membuat Soo Ji mentaati peringatannya. Malah membuatnya penasaran, ada apa sehingga Ny.Choi melarang mereka mendekati meja.

Karena penasaran, Soo Ji mendekati meja. Dia mengambil salah satu kertas dan membacanya. Soo Ji menyemburkan cokelat panas yang berada dimulutnya, ketika membaca laporan keuangan yang berada ditangannya. Dia baru melihat angka nol berderet begitu panjangnya. Sekaya itu kah Grammy nya?

Soo Ji tersadar saat menyemburkan cokelat nya mengenai laptop yang ada didepannya. Soo Ji terkejut, tangannya gemetar. Dia meletakkan gelas berisi cokelat panas miliknya tapi sialnya, cokelat itu tumpah mengenai laptop dan kertas kertas yang berada diatas meja.

Mata Soo Ji mengerjap liar, melihat sisi ruangan. Tidak ada yang melihatnya, kedua adiknya masih asik menonton. Dengan cepat Soo Ji pergi dari meja tersebut dan naik kelantai atas. Ketika dia berada dianak tangga teratas, Soo Ji bertemu Lauren. Dia menyerahkan gelas cokelat panas yang masih terisi setengah gelas pada Lauren.

“Tolong kau letakkan gelas ini di dapur” ucap Soo Ji cepat. Sebelum Lauren menjawab, dia berlari kecil menyusuri lorong dan masuk kedalam kamarnya.

Lauren melihat gelas cokelat panas yang ada ditangannya, dia mengerutkan hidungnya dan sedikit menjauhkan gelas tersebut darinya. Saat Lauren sudah berada dibawah, dia berpapasan dengan Ny.Choi yang membawa tumpukan map didadanya. Ny.Choi melihat Lauren sekilas setelah itu berlalu pergi. Lauren tersenyum sedih, sudah biasa jika dia diacuhkan seperti ini.

Lauren kedapur untuk meletakkan gelas, dan mencuci tangan diwastafel. Belum selesai mencuci tangan, Lauren terkejut mendengar teriakan Ny.Choi yang memanggil namanya. Berlari dengan cepat, Lauren menghampiri Ny.Choi. dia melihat Grammy nya menatap dengan tatapan menyalang. Lauren menunduk takut, Eun Ji dan Young Ji mematikan TV dan berdiri tidak jau dari Ny.Choi dam Lauren yang saling berhadapan.

“Sudah aku bilang, jangan mendekati meja. Lihat, kau menumpahkannya diatas berkas berkas penting milikku. Ya Tuhan, bahkan laptopnya mati karena tumpahan cokelat panas yang kau minum” Ny.Choi mencengkram rambutnya frustasi, berjalan mondar mandir dihadapan Lauren.

“Aku tidak melakukannya, Grammy” bela Lauren. Suaranya kecil seperti mencicit.

Ny.Choi menatap Lauren garang, emosinya sudah diubun ubun “Kau tidak mengaku? Jelas jelas tadi kau membawa gelas yang berisi cokelat panas”

“Grammy, Lauren tidak melakukannya karena dia-“

“Diam Young Ji” Sela Ny.Choi membentak Young Ji. Membuat Young Ji diam seketika, tidak berani bersuara. Begitupun Eun Ji.

Ny.Choi menarik salah satu lengan Lauren. Lauren meringis ketika Ny.Choi  mencengkram lengannya kuat “Aku akan menghukum mu jika kau tidak mau mengaku” Ancam Ny.Choi pada Lauren.

Lauren memberanikan diri menatap mata Ny.Choi yang terpancar kebencian ketika menatapnya. Lauren menggeleng pelan “Bukan aku Grammy, itu Soo Ji Unnie” katanya jujur.

Ny.Choi mengguncang lengannya kuat “Beraninya kau menyalahkan Soo Ji. Jelas jelas itu kau yang melakukannya. Dasar penjahat kecil” Ny.Choi menghempaskan tubuh Lauren, sampai dia tersungkur ke lantai.

Young Ji berlari mendekati Lauren, membantunya untuk bangun. Tapi, Ny.Choi menarik tubuh Young Ji menjauh “Menjauhlah Young Ji atau Grammy akan memukul mu juga”

Maid yang diperintahkan Ny.Choi untuk mengambil ikat pinggang datang dan menyerahkan ikat pinggang kulit berwarna hitam. Eun Ji, Young Ji dan Lauren meringis ketakutan ketika melihat benda tersebut. Soo Ji yang mendengar keributan, menjulurkan kepalanya dari balik pintu kamarnya. Dia melihat kebawah, dimana Ny.Choi sudah memegang ikat pinggang untuk menghukum Lauren, tubuh Soo Ji menegang. Kakinya bergetar dan tangannya dingin, ini semua salahnya. Tapi, dia tidak bisa berkata jujur karena dia juga takut.

 

“Ini hukuman karena kau telah menghancurkan dokumen dokumen pentingku”

PLAAAK!!!! Ny.Choi melayangkan pukulan pertama tepat diatas tulang kering Lauren. Lauren menangis dan menjerit bersamaan, ketika ikat pinggang itu menyentuh kulitnya.

Eun Ji hanya memejamkan matanya, tidak mau melihat kejadian mengerikan yang ada didepannya. Young Ji sudah terduduk lemas diatas lantai. Dia berteriak meminta Ny.Choi tidak melakukannya. Tapi usaha nya sia sia, dia ikut menangis melihat Lauren yang kesakitan. Sedangkan Soo Ji, semakin pucat. Dia bingung harus berbuat apa. Dia ketakutan setengah mati.

“Dan ini karena kau tidak mengakui kesalahanmu”

PLAAAK!!! Pukulan kedua membuat Lauren meringis kuat, merasakan perih dan panas yang menyengat. Para maid yang mengintip, merasa iba melihat Lauren, apa lagi Jang Ahjumma.

“Kau menuduh orang lain atas kesalahanmu” Ny.Choi terus mencambuk Lauren tanpa ampun. Meskipun Lauren dan Young Ji berteriak agar Grammy nya menghentikannya. Tapi Ny.Choi tidak mengindahkan. Amarah sudah menguasai dirinya.

 

 

***

Tiffany tersenyum ketika melihat Siwon membawa papan nama ‘Tiffany Choi’ diatas kepalanya. Dia berlari dan memeluk Siwon “Kau tidak perlu membawa papan nama itu, Siwon. Itu konyol” kata Tiffany, tertawa kecil didekapan Siwon.

“Aku khawatir jika kau lupa denganku. Karena sudah tiga hari kita tidak bertemu” Siwon melepas pelukannya dan mencium bibir Tiffany singkat.

“Itu tidak lucu” Tiffany mencibir “Ayo kita pulang” Tiffany bergelayut manja ditangan besar Siwon dan menyeretnya berjalan.

“Hujan sangat deras. Apa kita tidak bersantai di kafe dulu sembari menunggu hujan sedikit reda” ucap Siwon memberi saran. Mereka mulai berjalan pelan menuju tempat parkir dengan Siwon yang menyeret koper kecil milik Tiffany dan Istrinya masih asyik bergelayut manja.

Tiffany menggeleng kuat “Tidak. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu anak anak ku”

Siwon menatap Tiffany cemburu “Arraseo

 

 

“Kau terlihat patah semangat karena tidak memenangkan tender itu. Ingatlah, kekalahan bukan akhir dari segalanya” Tiffany meremas lutut Siwon. Mereka sudah berada didalam mobil, dan Siwon menjalankan mobil dengan kecepatan rendah karena hujan begitu deras.

Tiffany menarik ponsel dari saku jeans nya, dilihatnya ternyata ponselnya mati karena batrai nya habis. Tiffany pun memasukkannya kembali kedalam saku jeans nya.

Siwon yang mengendarai mobil dengan pelan, membuat hatinya gelisah. Tiba tiba perasaannya tidak enak, dia ingin cepat sampai ke mansion.

“Siwon, bisa kau lebih cepat lagi? Perasaan ku tidak enak” ucap Tiffany yang mulai cemas. Dia menggoyangkan kakinya, sesekali menggigit ibu jarinya untuk menghilangkan kegelisahannya.

“Diluar sedang hujan, Tiffany. Bahaya” Siwon tidak menuruti keinginan Tiffany, karena itu akan membahayakan mereka berdua.

“Kumohon. Lebih cepat lagi” pinta Tiffany memelas pada Siwon.

“Kau gila. Apa kau ingin mati?” teriak Siwon geram. Suasana hatinya sedang tidak bagus, ditambah desakan Tiffany yang membuatnya semakin marah.

“Kau berlebihan Tiffany. Mereka baik baik saja” lanjut Siwon, merasa jengkel dengan sikap Tiffany.

“Tapi perasaanku tidak enak” suara Tiffany naik satu oktaf.

Dengan kesal, Siwon menginjak pedal gas lebih dalam. Membuat mobil audinya melaju dengan kecepatan tinggi. Tiffany ketakutan, dia mencengkram sabuk pengaman dengan kuat dan menutup matanya rapat rapat.

Tiffany semakin tidak sabar, ketika mobil yang Siwon kendarai mulai memasuki perkarangan Mansion. Jarak pintu pagar dan Mansion begitu jauh, membuat Tiffany semakin gelisah dan tidak sabaran.

Begitu mobil berenti  didepan teras Mansion mewah itu,  Tiffany melompat keluar. Tidak perduli jika tubuhnya akan basah oleh hujan. Dia menaiki satu persatu tangga teras dan membuka pintu raksasa itu. Telinganya menangkap suara tangisan saat pintu itu terbuka lebar. Tanpa banyak berfikir, Tiffany berlari kedalam menuju sumber suara. Betapa terkejutnya Tiffany yang melihat Ny.Choi sedang mencambuk Lauren habis habisan.

“Eomma… berhenti” teriak Tiffany kuat. Tiba tiba kakinya lemas, hatinya sakit melihat pemandangan menyakitkan didepannya. Tidak terasa air matanya lolos tanpa diperintah.

Ny.Choi menoleh kebelakang. Tapi, setelah itu dia melayangkan pukulan lagi pada Lauren. Tiffany mempercepat langkahnya dan menangkap tangan Ny.Choi.

“Hentikan” pinta Tiffany. Tangannya masih menggenggam erat tangan Ny.Choi. takut jika Ny.Choi akan memukul Lauren lagi “Apa yang membuatmu memukulnya sekejam itu?” tanya Tiffany dengan suara tercekat. Tidak ada lagi sopan santun dalam kata katanya saat bicara pada wanita yang notaben adala Ibu mertuanya.

Ny.Choi menarik tangannya dan membuang ikat pinggang ke lantai “Dia menumpahkan cokelat panas didokumen dokumen pentingku” jawab Ny.Choi dengan keras. Nafasnya memburu setelah memukul Lauren habis habisan.

Mata Tiffany kabur ketika menatap Ny.Choi, menghapus air matanya cepat. Tiffany mengangkat dagunya dengan angkuh “Apa kau yakin, Lauren yang melakukannya?”

“Aku melihat dia membawa gelas berisi cokelat panas, siapa lagi pelakunya kalau bukan dia” Ny.Choi menatap jijik kearah Lauren. Tanpa merasa kasihan melihat anak itu meringis kesakitan dengan kaki dan pahanya yang dipenuhi memar bekas cambukan.

Tiffany membungkuk untuk mengambil Lauren, tapi Ny.Choi menangkap tangannya “Kenapa kau membelanya?”

“Karena dia anakku” kata Tiffany memberi penekanan disetiap suku kata yang dia ucapkan.

Ny.Choi tertawa “Perlu kau ingat Tiffany. Bahwa Lauren bukanlah anak kandungmu dan Siwon” Ucap Ny.Choi. mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas.

Semua yang ada disana terperangah, walaupun mereka sudah tahu tentang rahasia ini. tapi, tidak ada yang pernah mengungkitnya. Hanya Young Ji dan Lauren yang tidak tahu, mereka terlihat terkejut dengan mata yang terbuka lebar.

Tiffany mematung tanpa suara. Siwon yang sejak tadi sudah berada didekatnya pun hanya diam membisu. Soo Ji masih mengintip dibalik pintu, membekap mulutnya. Air matanya lolos, dia merasa menjadi orang yang sangat jahat. Yang menimbulkan kekacauan besar malam ini.

“Aku sudah muak melihat anak ini” Ny.Choi meliihat Lauren sebentar dan berpaling menatap Tiffany “Aku ingin dia pergi atau kembalikan dia dimana kalian mengambilnya dulu”

“Eomma” sentak Tiffany kasar.

“Apa? Kau tidak suka?” suaranya menantang, Ny.Choi meletakkan tangannya dipinggang “Jika kau memilih keluarga ini, biarkan dia pergi. Jika kau memilih dia, tinggalkan keluarga ini”

Tiffany tercekat, menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana dia bisa memilih, keduanya adalah yang terpenting untuknya. Kenapa Ny.Choi begitu jahat padanya, memeberi pilihan yang begitu sulit untuknya. Tiffany sibuk dengan lamunannya, sampai dia tidak melihat Lauren yang sudah bangkit dan berdiri didekatnya.

Lauren berjalan menjauh, perlahan. Kakinya terasa perih.

“Mommy tidak harus memilih. Biar aku yang pergi” gumam Lauren. Suaranya serak karena menangis.

Tiffany menggeleng, tangisnya pecah ketika melihat Lauren terus berjalan menjauh menuju pintu. Ketika Tiffany akan menyusulnya, Siwon memeluk tubuh Tiffany dari belakang. Tiffany memberontak meminta Siwon untuk melepaskannya. Tapi, Siwon tetap mengunci tubuh Tiffany dengan kuat.

“Lauren, jangan pergi nak. Tetap disana, Mommy mohon” Tiffany teriak histeris. Melihat Lauren yang terus berjalan tanpa menghiraukan teriakannya.

Dengan emosi yang sudah membuncah, Tiffany menghempaskan kepalanya tepat diatas hidung mancung Siwon. Membuat Siwon meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya pada Tiffany.

“Lauren dengar Mommy. Tetap disana, stop please” pinta Tiffany dengan teriakan lembut. Seketika Lauren menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh kebelakang.

Tiffany menatap Siwon dan menampar kuat pipi Siwon “Dimana janjimu yang akan menjaganya? Dimana janjimu yang akan memberinya kasih sayang? Kau tidak berpegang teguh pada janjimu, Siwon” ucap Tiffany berteriak dihadapan Siwon.

Tiffany tidak perduli anak anaknya sedang melihat pertengkaran mereka. Siwon tidak merespon, dia hanya menengadahkan kepalanya sembari memegang hidung nya yang mengeluarkan darah.

“Berani berani nya kau bersikap kasar pada suamimu” Ny.Choi yang geram menarik tangan Tiffany.

Tiffany merenggut tangannya kembali dengan kasar “Jangan sentuh aku. Kau monster, kalian monster” Tiffany mundur selangkah, jarinya menunjuk Ny.Choi dan Siwon bergantian.

“Apa kau seorang Ibu? Begitu teganya kau mencambuk anak enam tahun, seperti kau mencambuk seekor binatang” Tiffany bergidik ngeri “Aku akan memilih Lauren dan pergi” ucap Tiffany tanpa ragu.

“Kau tidak akan mendapatkan satu persen pun harta, jika kau berpisah dengan Siwon”

Tiffany berbalik menatap Ny.Choi “Perlu kau ketahui, aku menikahi Siwon bukan karena aku mengincar hartanya” kata Tiffany dengan tegas “Aku memiliki butik. Aku masih dapat hidup walau tidak bernaung pada kalian”

Ny.Choi mencibir jahat “Butik mu akan bangkrut” entah itu ancaman atau sumpah, Tiffany tidak perduli.

“Aku tidak takut”

“Surat perceraian akan datang dalam waktu dekat”

“Akan aku tunggu” Ujar Tiffany berusaha santai. Dia berhenti berjalan dan berbalik menatap Ny.Choi yang juga menatapnya “Perlu kau tahu, Lauren tidak menyukai cokelat. Jadi aku sangat yakin kalau bukan Lauren pelakunya dan kau akan menyesal jika mengetahui semua kebenarannya” Tiffany memberi penekanan diakhir ucapannya.

Dia berjalan lagi menghampiri Lauren. Tapi Eun Ji dan Young Ji memanggilnya. Tiffany menangis, mengingat dia akan meninggalkan anak anaknya. Tiffany mencari Soo Ji, dia tidak melihat Soo Ji sejak tadi.

“Mommy jangan pergi” Pinta Eun Ji. Menangis dipelukan Tiffany.

“Aku ingin ikut Mommy” kata Young Ji disela isakannya.

Tiffany menangis sembari memeluk kedua anaknya “Maafkan Mommy. Mommy harus pergi bersama Lauren. Kalian masih memiliki Daddy dan Grammy” Tiffany mencium puncak kepalan anaknya bergantian.

“Aku ingin bersama Mommy”

Tiffany mengusap puncak kepala Eun Ji dan Young Ji dengan sayang “Dengarkan Mommy, kita masih bisa bertemu. Tapi, biarkan Mommy pergi hmm?” Eun Ji dan Young Ji menggelengkan kepalanya kuat.

“Kau tega meninggalkan anak anak?” tanya Siwon yang baru datang menghampiri mereka.

“Aku akan menjadi orang jahat jika meninggalkan Lauren yang hanya sebatang kara” balas Tiffany “Tolong pegang anak anak. Aku harus pergi” Tiffany melepaskan pelukannya, tapi kedua anaknya semakin mempererat pelukannya pada Tiffany.

“Kau mau kemana? Diluar sedang hujan” Siwon tidak ingin Tiffany pergi. Tapi sepertinya Tiffany akan tetap pergi karena kecewa padanya dan Ibunya.

“Mencari tempat aman untuk Lauren”

Siwon memberikan kunci mobilnya pada Tiffany “Pakailah mobil. Aku ingin kau tetap aman”

“Aku masih memiliki kaki”

“Tapi diluar sedang hujan, Tiffany. Jangan keras kepala” bentak Siwon kesal dengan sikap keras kepala Tiffany.

“Perduli apa kau? Kita selesai sekarang” Ucap Tiffany menatap Siwon dengan tatapan menantang.

Hati Siwon bagaikan diremas, dia masih ingin hubungannya tetap terjalin dengan baik. Tapi Tiffany mengakhiri nya dengan kata kata kasarnya.

Siwon menarik paksa Eun Ji dan Young Ji yang berada dipelukan Tiffany “Pergilah. Kau bebas sekarang” gumam Siwon sengit.

Tak ingin membuang waktu, Tiffany berjalan pergi. Menutup telinganya rapat rapat ketika Eun ji dan Young Ji berteriak memanggilnya. Hatinya pilu mendengar tangisan mereka. Tiffany mengamit tangan Lauren dan berjalan keluar mansion melewati pintu besar.

Eun Ji dan Young Ji menangis dipelukan Siwon “Daddy, bawa Mommy kembali. Aku ingin Mommy” Eun Ji memohon pada Siwon yang hanya diam melihat kepergian Tiffany dan Lauren.

“Aku hanya ingin Mommy. Aku tidak ingin Mommy dan Daddy bercerai. Aku tidak mau Ibu tiri, apa lagi Ibu tirinya Liu Wen Aunty, aku tidak mau” Tutur Young Ji dalam tangisnya.

Siwon tertegun mendengar penuturan anak anaknya, dia tidak tahu apa hubungannya dengan Tiffany  dapat diperbaiki atau tidak. Tapi yang jelas sekarang Tiffany tidak ingin bersamanya lagi.

 

Ketika Tiffany sampai diteras mansion, dia bertemu Jang Ahjumma yang membawakan mantel untuk Lauren dan payung. Jang Ahjumma juga memberikan sedikit uang untuk Tiffany. Dia teringat kalau dia tidak membawa apapun, hanya ponsel yang berada disaku jeansnya. Dompetnya ada didalam tas yang dia tinggalan didalam mobil Siwon. Tiffany sangat berterimakasih pada Jang Ahjumma atas bantuan yang sangat dia butuhkan saat ini.

“Ahjumma, Gomawo. Aku akan menggantinya nanti” Tiffany memeluk Jang Ahjumma erat.

“Tidak Nyonya, saya senang dapat membantu Nyonya” Jang Ahjumma membalas pelukan Tiffany dan mengusap punggungnya, menenangkan Tiffany yang masih menangis.

Setelah Tiffany sudah cukup tenang, dia berpamitan pada Jang Ahjumma. Taksi yang dipesan Jang Ahjumma sudah datang. Tiffany bersyukur dengan bantuan Jang Ahjumma, jadi dia tidak perlu jauh jauh berjalan untuk mencari taksi.

“Ahjumma, sekali lagi terimakasih.”

Jang Ahjumma mengangguk “Hati hati Nyonya”

Tiffany dan Lauren masuk kedalam taksi, dan meninggalkan mansion mewah penuh dengan luka. Tiffany tidak berhenti menangis sembari memeluk Lauren, Lauren juga ikut menangis. Hati Tiffany terasa teriris melihat memar yang begitu banyak dibagian paha dan kaki Lauren. Dia merasa bersalah karena tidak dapat menjaga Lauren dengan baik.

 

***

Yoona keluar dari kamar yang ditempati Tiffany dan Lauren malam ini. Yoona menghampiri Tiffany yang merebahkan kepalanya dimeja sarapan, meremas bahu Tiffany pelan.

“Lauren tidur, aku sudah memberi krim pada memar dikaki nya” ujarnya. Duduk dihadapan Tiffany yang masih menempelkan pipinya dimeja.

“Terimakasih Yoong” Tiffany meminta Yoona melakukan hal itu, karena dia tidak tahan melihatnya. Rasanya begitu menyakitkan.

“Aku masih tidak habis fikir, Ny.Choi yang sangat dijunjung tinggi bisa menghukum Lauren sekejam itu” Yoona menggidikkan bahunya.

Kedatangan Tiffany malam ini sangat mengejutkan Yoona. Apa lagi melihat mata Tiffany yang mulai bengkak dan yang terjadi pada Lauren membuat Yoona hampir terkena serangan jantung. Tiffany mendatangi rumah Yoona, karena rumahnya tempat paling aman sekarang. Rumah Yuri tidak begitu aman, Min Ho bekerja diperusahaan Siwon. Itu mempermudah Siwon untuk menemukannya. Apalagi rumah Taeyeon yang berjarak tidak jauh dari rumahnya akan sangat mudah untuk Siwon melacaknya. Dan ini lah pelabuhan terakhir Tiffany, berada dirumah Yoona.

“Kau bisa menghandle butik untuk beberapa hari kedepan kan, Yoong?” Tiffany mulai menegakkan kepalanya. Air mata sesekali masih menetes dari mata indahnya yang sudah terlihat bengkak.

“Aku akan melakukannya” Yoona menyanggupi permintaan Tiffany. Dia tahu, Tiffany butuh waktu untuk kembali beraktifitas. Kejadian malam ini begitu bertubi tubi, dari Lauren sampai perceraian nya dengan Siwon. Tahu betapa terguncangnya Tiffany sekarang.

“Jika Siwon datang ke butik, tolong jangan katakan jika aku ada dirumahmu huh?” pinta Tiffany memohon pada Yoona.

Yoona tampak ragu untuk menjawabnya “Apa Unnie benar benar akan bercerai?” tanya Yoona dengan hati hati.

“Hoh”

“Bagaimana dengan anak anak?” Yoona terenyuh, anak anak Tiffany masih sangat membutuhkan perhatian seorang Ibu. Bagaimana jika Tiffany benar benar akan berpisah dengan Siwon? Yang harus dipertanyakan adalah bagaimana nasib anak anak nya?

“Mereka aman bersama Siwon dan Ibunya. Sedangkan Lauren, dia tidak memiliki siapapun selain aku Yoong. Aku akan terus bersamanya, walaupun aku harus mengorbankan keluarga ku. Karena itu janjiku pada Ibunya dan aku benar benar menyayangi Lauren seperti anak ku sendiri” isakan kecil lolos setelah Tiffany meyelesaikan kalimatnya.

Yoona memajukan tubuhnya untuk memberi sentuhan dilengan Tiffany, mengusap lembut menenangkan Tiffany. Yoona tidak bisa menghakimi Tiffany untuk kembali pada keluarga nya karena jika dia kembali Lauren tidak akan ikut bersamanya, Ny.Choi sudah sangat membenci anak itu.

Tiffany mengambil kaleng beer yang tadi dia ambil didalam lemari es milik Yoona. Tiffany membukanya dan ketika dia akan meneguknya, Yoona mengambil beer itu dari tangannya.

Andwae. Unnie, sedang program untuk bayi laki laki bukan?” Yoona mengingatkan Tiffany.

Tiffany tersenyum prihatin “Tidak ada bayi laki laki” dia menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya dan kembali menangis.

Yoona turut sedih melihat Tiffany yang terpuruk seperti sekarang, dia hanya dapat memberikan pundaknya untuk Tiffany. Membiarkan Tiffany menangis sepuasnya, mungkin itu akan membuat hatinya lega.

 

***

Tiffany menyelipkan sejumput rambut nakal kebelakang telinga Lauren, mencium pipinya dengan penuh kasih sayang. Tiffany memeluk tubuh mungilnya seerat mungkin, takut jika Lauren akan pergi darinya.

“Mommy” panggil Lauren yang terbangun dari tidur pulasnya karena perlakuan Tiffany yang mengganggu tidurnya.

“Maaf, jika Mommy mengganggu tidurmu” Tiffany mencium puncak kepalanya.

“Mommy, apa yang Grammy katakan benar? Bahwa aku bukan anak kandung Daddy dan Mommy?” Tiffany tidak menjawab, tapi semakin memeluk Lauren erat.

Tiffany akan memberitahu Lauren tentang siapa dia, siapa orangtuanya. Hanya saja mulutnya masih keluh untuk bicara.

Cukup lama terdiam, akhirnya dengan enggan Tiffany mengangguk kecil. Hatinya sakit mengingat fakta bahwa Lauren bukanlah darah dagingnya. Lauren juga sedih mengetahui kebenaran bahwa dia bukan lah anak kandung Siwon dan Tiffany, bukan adik dari ketiga kakaknya yang sangat dia sayangi. Lauren mulai menangkap, kenapa Soo Ji dan Eun Ji tidak menyukainya. Siwon yang menghindarinya karena kecelakaan itu. Kebencian demi kebencian yang dia terima dari Ny.Choi. sebenarnya itu sudah cukup jelas, hanya saja Lauren tidak begitu peka.

“Mommy bisa membawaku kembali pada orang tuaku. Dan Mommy kembali pada Daddy dan Unniedeul” Ucap Lauren berbohong. Yang dia inginkan hanyalah bersama keluarganya sekarang, Lauren sangat mencintai mereka walaupun beberapa dari mereka tidak mencintainya.

“Ibu kandungmu sudah meninggal sayang”

 

Aku dan Jessica adalah sahabat sejak kecil, bahkan kami dilahirkan dirumah sakit yang sama. Kami berasal dari California, keluarga kami bukan lah keluarga terpandang dan kaya raya. Daddy yang hanya seorang pemilik toko bunga dan Ayah Jessica seorang sekertaris sebuah perusahaan besar milik orang Korea yang membuka cabang perusahaannya di California.

Kami pergi ke Korea pada umur tiga belas, kami ingin sekali menjadi seorang yang terkenal. Pergi ke Korea hanya ingin mengikuti sebuah audisi agensi musik ternama. Tapi kami tidak memiliki keberuntungan karena kami tidak lolos audisi.

Aku dan Jessica bertekat akan tetap tinggal di Korea, ingin mencicipi bagaimana rasanya hidup mandiri dinegara orang. Daddy dan Ayah Jessica tidak menyetujui pada awalnya tapi setelah berargumen mereka menyetujui, melepaskan anak gadis nya untuk menetap di Korea.

Ayah Jessica memberikan fasilitas yang cukup dengan membelikan kami apartemen sederhana, memasukkan kami disekolah yang sama. Dan Ayah Jessica juga sering datang ke Korea untuk mengetahui kabar para anak gadisnya. Aku sudah dianggap anak sendiri oleh Ayahnya, begitupun dengan Daddy. Kami begitu dekat satu sama lain.

Kami selalu berdua, kemana pun selalu berdua. Teman teman kami memanggil kami ‘Kembar Sialan’ kami selalu memakai barang barang yang sama, dari tas, sepatu dan pakaian. Sikap kami sedikit berbeda, Jessica memiliki sikap cuek dan dingin tapi dia sahabat yang menyenangkan untukku. Satu lagi kesamaan kami, kami sama sama tidak memiliki Ibu. Bedanya, Mommy meninggal saat aku masih kecil, sedangkan Ibu Jessica meninggalkannya bersama Ayahnya. Yang aku tahu, Ibunya adalah seorang yang kaya raya. Tapi, Jessica tidak pernah mau bertemu dengan Ibunya karena Ibunya sudah meninggalkannya pada Ayahnya dan mulai saat itu, Jessica mengklaim bahwa dia tidak memiliki Ibu.

Seoul tidak begitu menakutkan seperti California, bahkan kami memiliki teman lain. Seperti Taeyeon, kami mengenalnya di Sekolah menengah Atas ditahun pertama. Tahun selanjutnya, kami bertemu dengan Yuri dan Yoona yang berada dua tahun dibawah kami. Mereka sudah berteman sejak di sekolah menengah pertama. Aku, Jessica dan Taeyeon sudah menganggap Yoona dan Yuri seperti adik kami sendiri.

Kami sering sekali pergi bersama, walaupun kami sudah memiliki teman kencan tapi kami tetap sering berkumpul hanya untuk bersenang senang. Kami masuk ke Universitas yang sama, hanya Taeyeon yang tidak mengikuti jejak kami karena dia sudah lebih dulu menikah. Aku dan Yoona mengambil designer, Yuri bisnis dan Jessica perhotelan. Aku tidak menyangka jika Jessica mengambil bidang perhotelan, yang aku tahu dia ingin menjadi designer sama seperti aku dan Yoona.

Tahun demi tahun kami melalui waktu kebersamaan kami, begitupun dengan Taeyeon. Dia sudah menikah tapi masih menyempatkan diri untuk berkumpul bersama kami. Tidak lama setelah itu, aku pun menikah dengan Siwon dan disusul oleh Yuri dan Yoona menyusul setelah Yuri. Sedangkan Jessica masih berkencan dengan kekasihnya. Kekasihnya adalah manager hotel dimana tempat Jessica bekerja yang notaben adalah atasannya. Orang tua kekasihnya tidak menyetujui hubungan mereka, level Jessica sangat jauh jika dibandingkan dengan kekasihnya yang kaya raya.

Sebelas tahun mereka berkencan, sampai akhirnya Jessica menyerah. Dia bilang padaku bahwa, orang tua kekasihnya mengancam akan mencabut semua biaya pengobatan Ayahnya yang sedang sakit keras. Sudah lima tahun ini, Ayah Jessica berhenti bekerja karena memiliki penyakit TBC yang dideritanya. Jessica bekerja hanya untuk membayar pengobatan Ayahnya, tapi presiden hotel itu, Ayah kekasihnya memberi bantuan beruba biaya pengobatan Ayahnya yang berada di California. Jessica adalah resepsionis yang dibanggakan dihotel itu, makanya Presiden hotel tempatnya bekerja memberinya bantuan yang tidak terhitung besarnya. Sampai akhirnya gossip tentang putranya yang berkencan dengan Jessica membuatnya murka dan menyuruh Jessica menjauhi anaknya.

Setelah memutuskan hubungan dengan kekasihnya, Jessica kembali ke California dengan alasan ingin merawat Ayahnya. Aku tidak menyetujui nya, karena Taeyeon juga sudah pergi ke Jepang bersama suami dan anaknya. Sekarang Jessica yang akan pergi, aku tidak bisa melarangnya ketika dia membuat alasan kalau Ayahnya membutuhkannya. Aku membiarkan dia pergi tanpa mencurigainya, jika mengingat kembali hal ini aku menyesal. Aku tidak mengetahui maksud terselubung kembalinya Jessica ke California.

Selama Jessica berada di California, aku tidak dapat menghubunginya sama sekali. Dia juga tidak menghubungi aku, hanya satu kali ketika dia sudah mendarat dengan aman di California. Aku menanyakannya pada Daddy karena sudah enam bulan kami lost contact. Aku mulai mengkhawatirkan nya. Akhirnya Daddy menceritakan semuanya padaku, Jika Jessica kembali ke California dalam keadaan hamil yang membuat Ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung. Aku bahkan tidak tahu tentang kematian Ayahnya, aku merasa menjadi sahabat yang buruk. Dan Daddy bilang, Jessica pindah ke florida setelah kematian Ayahnya dan menetap disana.

Aku menangis mendengarnya, Jessica dalam keadaan hamil dan tinggal di florida seorang diri tanpa ada orang yang mengenalnya, tanpa ada orang yang dia kenal. Tidak ada teman untuk menjadi sandarannya ketika dia membutuhkan. Aku menangis meraung raung mengingat kembaran sialanku, aku marah pada Daddy yang baru memberi informasi sangat penting bagiku. Daddy menutupinya atas permintaan Jessica. Aku tidak mengerti dengan jalan fikiran nya. Dia pernah berkata bahwa kami akan susah senang bersama tapi dia harus menjalankan kesusahannya seorang diri.

Besok nya aku terbang ke Florida bersama Siwon, anak anak ku aku titipkan pada orang tua Siwon. Sesampainya di Florida aku langsung mencari restoran kecil yang Daddy berikan alamatnya padaku. Kata Daddy, Jessica bekerja menjadi pelayan disana. Astaga!!

Aku menemukan restorannya, dan mengintip dari kaca buram. Aku menangis melihat Jessica sedang membersihkan meja dengan perut yang sudah membuncit, wajahnya terlihat sangat pucat. Aku ingin sekali masuk dan menyeretnya pulang, kenapa dia begitu bodoh dengan menjalankan hari hari yang seharusnya ditemani seseorang yang sangat dicintai tapi dia seorang diri dikota terpencil di Florida.

Aku masuk kedalam restoran, mematung dipintu masuk menatap Jessica dengan air mata yang terus berlinang. Lonceng berbunyi ketika aku masuk membuat Jessica menolehkan kepalanya kearah pintu, kearahku. Dia mematung beberapa saat, mata nya berkaca kaca ketika matanya bertemu dengan mataku yang penuh dengan air mata. Tanpa tidak bisa dibendung, air mata Jessica menetes dan saat itu juga dia berbalik dan berjalan pergi.

Aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi, aku berlari dan memeluk lehernya dari belakang, Jessica menghentikan langkahnya. Kami berdiri dengan aku yang memeluknya dari belakang, dia menggenggam tanganku. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya dan menangis bersamanya dalam waktu yang lama. Sangat beruntung karena restoran dalam keadaan sepi.

“Kau anggap aku apa huh? Kenapa kau tidak memberitahuku. Kau jahat, kau membuat aku terlihat menjadi kembaran yang buruk” aku mengomel disela tangisku.

“Mianhae” lirihnya, dia masih senggugukan.

Aku membalik tubuhnya untuk melihatnya, aku merindukannya “Jangan meminta maaf. Aku lah yang harusnya meminta maaf karena tidak dapat membaca, jika kau menyembunyikan sesuatu ketika kau pergi”

Aku melihat wajahnya sangat pucat “Jess, kau tidak apa apa? Kau sangat pucat?” tanya ku khawatir. Dia tidak menjawab. jangankan menjawab, menarik oksigen saja rasanya sangat sulit dia lakukan.

Aku mengajaknya untuk duduk disalah satu kursi yang ada direstoran tersebut “Ayo, kita kerumah sakit” ajak ku dengan lembut, menggenggam tangannya yang sangat dingin.

Jessica menolak tapi aku memaksanya dan membawanya kerumah sakit. Karena yang dia butuhkan saat ini adalah rumah sakit. Aku menuntunya, dia sudah kesulitan untuk berjalan. Aku membawa nya kerumah sakit terdekat, karena wajahnya semakin pucat. Aku takut dan khawatir melihat Jessica yang ada dihadapanku saat ini.

Saat kami sampai, Dokter memintaku untuk menandatangani surat Operasi caesar untuk Jessica. Karena bayi dan Ibunya dalam keadaan bahaya. Aku panik, tanpa fikir panjang aku menandatangani surat tersebut dan berdoa agar Jessica dan bayi nya baik baik saja.

Dokter bilang padaku, jika aku membawa Jessica tepat waktu karena dapat menyelamatkan bayinya. Tapi, tidak dengan Jessica. Dia memiliki riwayat penyakit darah tinggi saat kehamilan itu dampak stress yang dia alami ketika hamil. Jessica mengalami pendarahan hebat, Dokter sudah dapat menghentikannya tapi tidak dapat menjamin untuk hasil akhir pada Jessica. Dan lagi aku menangis untuknya.

Dokter menyuruh aku masuk kedalam kamar ICU, aku memakai pakaian rumah sakit dan penutup kepala berwarna biru soft. Aku menghapus air mataku sebelum aku masuk menemui Jessica. Aku membuka knop pintu sangat pelan, melihat Jessica dengan selang infus dan selang oksigen yang menempel dihidungnya.

Aku menarik kursi besi dan duduk ditepi tempat tidurnya. Menggenggam satu tangannya yang terbebas dari selang infus, aku meletakkan tangannya dipipiku dan tak bisa menahan tangis ku.

“Tiff” gumamnya dengan susah payah.

Aku mendongakan kepalaku dan melihat kearahnya, matanya masih terpejam, dia bernafas dengan susah “Aku disini Jess” jawabku, mengeluarkan suaraku senetral mungkin. Aku tidak ingin menangis lagi didepannya.

“Anakku baby boy atau baby girl?” tanyanya. Aku yakin dia tidak memeriksakan kandungannya selama ini, dia tidak tahu perkembangan kehamilannya yang buruk karena dia terlalu stress.

“Baby girl. Sangat mirip dengan mu Jess” aku melihatnya, berusaha membuka matanya perlahan dan akhirnya terbuka walaupun tampak sayu.

“Apa kau mau membantuku untuk merawatnya” pinta nya padaku. Tanpa dia meminta aku akan membantunya merawat putrinya yang sangat cantik ini.

“Kita akan merawatnya bersama huh?” aku meremas tangannya, aku berdiri untuk bertemu dengan tatapan matanya.

“Aku tidak yakin. Aku sangat kelelahan, Tiff” dia menarik nafas sesaat “Tolong rawat dia Tiff. Berikan dia cinta seperti kau mencintai aku, bahkan lebih” sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang membuat aku menangis lagi.

“Kita akan merawatnya, Jess. Kau wanita yang kuat kan” air mataku berjatuhan diatas dadanya, aku menghapusnya dengan cepat agar tidak terjatuh lebih banyak lagi.

“Beri dia nama Lauren. Mulai sekarang dia adalah putrimu. Aku menyerahkan sepenuhnya padamu, jaga dia untukku, Tiff. Berikan kasih sayang untuknya karena aku dan Daddy nya tidak dapat memberikannya kasih sayang, kami tidak bisa menjaganya” Jessica berkata dengan terbata bata.

Air mataku turun lebih deras mendengar ucapannya, aku menghambur memeluknya. Menangis dengan kuat dilehernya. Aku mendengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya. Pertemuan pertama kami setelah enam bulan tidak bertemu tapi sepertinya ini akan menjadi pertemuan terakhir kami.

“Maaf. Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu. Maaf, maaf aku tidak berada disismu ketika kau melewati hari hari tersulit mu selama beberapa bulan ini” tuturku bersamaan dengan isakan yang mengiringi ucapanku.

Aku merasakan tangan Jessica mengusap kepalaku dengan lembut “Tidak, Tiff. Jangan bicara seperti itu. Kau kembaranku, kau yang terbaik. Begitu juga dengan Taeyeon, Yoona dan Yuri. Aku menyayangi kalian”

“Jangan menangis lagi huh?” Jessica masih menjalankan tangannya naik turun diatas kepala ku, tapi aku tetap tidak bisa berhenti menangis.

“Tiff, bisa kau peluk aku? Aku kedinginan” aku mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya yang kembali pucat, tangannya dingin ketika aku genggam.

Aku mengangkat sedikit tubuhnya untuk mendekapnya kedalam pelukanku. Dia membalas pelukanku, aku merasakan tanggannya berada dipunggungku dan kepalanya yang bersandar dibahuku.

Sembari memeluknya, aku menceritakan kenangan kenangan indah yang kami lalui berdua. Ketika kami kehujanan saat pergi sekolah dan sesampainya disekolah kami tidak boleh masuk kelas dan songsenim menyuruh kami pulang karena pakaian kami basah kuyup. Saling merayakan ulang tahun, hanya membeli beberapa macaron dan satu lilin. Mendapatkan hukuman karena tertidur dikelas saat jam pelajaran karena kelelahan harus bekerja part time hanya untuk pergi jalan dan menonton. Dan yang terakhir, niat kami yang akan menjodohkan anak kami diwaktu yang akan datang dan saat itulah aku merasakan tangan Jessica terlepas dari punggungku dan tubuhnya melemas.

Dia pergi, dia sudah pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku masih memeluknya erat, sebelum aku merebahkan tubuhnya kembali ketempat tidur. Aku membisikkan sesuatu ditelinganya.

“aku berjanji, aku akan menjaganya. Menyayanginya seperti menyayangi anakku sendiri. Melimpahkan cinta yang selalu aku berikan padamu, bahkan aku akan memberinya lebih. Jangan khawatir dan tenanglah di surga, Jessica Jung. Sahabatku yang berharga, kembaran sialanku”

Aku merebahkan tubuhnya dan mencium keningnya. Dokter masuk membawa bayi perempuan mungil yang cantik. Bayi itu menangis kuat, dia pasti tahu bahwa Ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dokter menyerahkannya padaku, dan aku mendekatkan Bayi Jessica kewajahnya. Lauren masih menangis dengan kencang, tapi ketika tangannya dapat menggapai wajah Ibunya. Bayi cantik ini berhenti menangis. Aku tersentuh melihatnya.

Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, menyatakan bahwa Lauren adalah putriku, bagian dari keluarga ku. Walaupun Ibu Siwon sempat tidak suka ketika aku mengangkat seorang bayi perempuan tanpa alasan dan rencana. Tapi aku tetap membawanya pulang kerumah. Memberinya kenyamanan dan kasih sayang yang berlimpah. Seburuk apapun kenyataannya, Lauren adalah putriku. Jessica yang sudah menyerahkannya padaku, aku tidak akan membiarkan orang lain untuk menjauhkan kami, memisahkan kami. Bahkan jika Ayahnya kembali, aku tidak akan memberikan Lauren padanya karena mulai saat ini dia adalah ANAKKU!!

 

 

Lauren memeluk Tiffany erat dan menangis didada Tiffany setelah mendengar cerita panjang yang Tiffany ceritakan pada Lauren.

Tiffany melepaskan pelukan Lauren dengan lembut, mengambil sebuah bingkai foto yang dia pinjam dari Yoona. Bingkai foto berukuran sedang, yang didalamnya ada foto Tiffany, Jessica, Taeyeon, Yoona dan Yuri saat mereka berlibur ke pantai di Malibu.

Tiffany bersandar ditempat tidur, Lauren mengikuti Tiffany. Tiffany merangkulnya, menunjukan bingkai foto tersebut pada Lauren. Lauren menghapus air matanya ketika penasaran ingin tahu sosok Ibu yang sudah melahirkannya dan mempertemukannya dengan Tiffany. Satu satunya Ibu yang dia miliki saat ini.

“Ini Ibumu, sangat mirip dengan mu kan?” Tiffany menunjuk wajah Jessica yang sedang tersenyum menatap kamera. Rambut cokelat terangnya melambai liar karena tertiup angin.

“Dia lebih cantik dari aku, bahkan Mommy juga kalah cantik darinya” Ucap Lauren jujur. Tiffany tersenyum dan mengangguk.

“Mommy, dimana Ayahku?”

Tiffany menimbang nimbang memikirkan jawaban yang akan dia berika pada Lauren “Mommy tidak mengetahui keberadaannya. Apa kau ingin hidup bersamanya?” Tiffany mulai bersikap overprotektif, takut jika Lauren lebih memilih mencari Ayahnya dan memutuskan untuk tinggal bersamanya. Tiffany tidak bisa kehilangan Lauren.

“Aku hanya ingin tahu” Lauren menyandarkan kepalanya didada Tiffany “Jika aku dapat dilahirkan kembali, aku ingin terlahir menjadi anak Daddy dan Mommy. Bukan karena aku menyesal dilahirkan oleh Jessica Mommy, tapi aku menyesal karena tidak dapat bersama dengannya”

Tiffany meletakkan bingkai foto itu diatas nakas dan merengkuh tubuh Lauren “Dengar, kau adalah anak Mommy. Walaupun bukan Mommy yang melahirkanmu, tapi kau tetap anak Mommy sama seperti Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji hmm?”

“Aku sangat bersyukur, Jessica Mommy memberikan aku pada Mommy. Aku sangat beruntung dibesarkan di keluarga Mommy”

 

 

***

Ini hari kelima dimana Tiffany dan Lauren bersembunyi dirumah Yoona. Tiffany tidak pergi ke butik, Lauren juga tidak pergi ke sekolah, mereka benar benar menghilangkan jejak. Lima hari ini juga, Siwon selalu datang ke butik, itu yang Yoona katakan padanya setiap kali Yoona pulang dari butik.

Setiap malam Tiffany menangis dalam diam, dia merindukan anak anaknya dan dia juga mengakui kalau dia merindukan Siwon. Lima hari ini adalah hari hari terburuk yang dia lalui, dia tidak bisa kembali pada keluarganya karena ini sudah menjadi keputusannya. Tiffany tidak menyesal mengambil keputusan untuk memilih Lauren.

Tiffany mengambil ponsel nya yang mati, men-charger nya karena ponsel itu mati sedari dia pulang dari Hongkong. Ketika ponselnya sudah hidup, ponsel nya berdering berkali kali. Banyak pesan masuk keponselnya. Tiffany membuka satu persatu pesan yang masuk keponselnya.

 

EUN JI: Kami sudah pulang ke rumah. Tapi, kami tidak menemukan Mommy dan Lauren. Mommy oddiso? Miss u so bad😥

YOUNG JI: Aku merasa asing dirumah sekarang. Merindukan teriakan Mommy dan adik amerika ku. Berharap kalian pulang L L L

EUN JI: Mommy kenapa ponsel mu mati? tolong telepon kami…

YOUNG JI: Aku mendapatkan nilai tertinggi lagi. Merindukan pujian dan kecupan Mommy…

EUN JI: Apa Mommy merindukan kami?

YOUNG JI: Apa yang sedang Mommy dan Lauren lakukan hari ini? kalian berada dimana? Aku seharian dirumah merindukan kalian berdua..

EUN JI: Mommy, keadaan rumah begitu kacau tanpa mu. Daddy selalu mabuk dan menangis setiap malam. Soo Ji Unnie tidak pernah keluar kamar sejak kami kembali kerumah, dia juga tidak pergi ke sekolah. Kami semua membutuhkan mu.

SIWON: I can’t lose you, baby…

SOO JI: Mommy, I’m sorry. I made a mess. I’m a very  bad daughter and I’m very.. very bad sister. Please, don’t leave me.

YOUNG JI: Mommy, jika kau tidak membalas pesanku. Aku tidak akan tidur.

 

Tiffany membaca pesan tersebut dan air matanya turun karena terlalu merindukan mereka. Pesan yang mereka kirimkan sejak kepergiannya. Hanya ada satu pesan dari Siwon, tapi kata kata nya membuatnya terenyuh. Dia juga tidak ingin kehilangan Siwon, tapi ini lah takdirnya. Satu pesan dari Soo Ji yang memperjelas permasalahan tentang cokelat panas. Tiffany sudah mendengarnya dari Lauren, dia juga tidak menuduh Soo Ji mengkambing hitamkan Lauren. Yang Tiffany fikirkan, kemungkinan Soo Ji panik saat itu dan memberikan gelasnya pada Lauren dan sialnya Ny.Choi melihat Lauren yang membawa gelas berisi cokelat panas tersebut. Tapi, Tiffany kecewa karena Soo Ji bersembunyi saat Lauren dihukum Ny.Choi. seharusnya dia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Ny.Choi pasti akan mentoleransi karena Soo Ji mengakui kesalahannya, berbeda dengan Lauren yang sudah dibenci oleh Ny.Choi. dia tidak akan mendengar apalagi percaya dengan apa yang Lauren katakan.

Tiffany membalas pesan Young Ji karena pesan tersebut baru masuk beberapa menit yang lalu.

Mommy tidak baik karena Mommy juga sangat merindukan kalian. Jaga diri baik baik hmm? Sekarang kau bisa tidur, selamat malam anakku…

Setelah itu Tiffany mematikan ponselnya kembali. Tiffany menggigit bibir bawahnya agar isakan yang berasal dari tangisnya tidak pecah. Dia membekap mulut dengan tangannya dengan kuat. Tiffany menghapus air mata nya dengan cepat ketika pintu yang beberapa hari ini menjadi kamarnya terbuka. Tiffany sedikit lega yang masuk bukanlah Lauren tapi Yoona.

 

 

YOONA POV

Pemandangan didepan ku sudah terbiasa aku lihat, semenjak Tiffany Unnie menginap dirumahku dia memang sering sekali menangis. Aku lupa mengetuk pintu saat masuk tadi, jadi aku dapat memergokinya menangis.

Aku membawakannya teh hijau, dia tampak begitu stress dan ya kacau, sangat kacau. Tapi dia selalu bersandiwara bahwa dia baik baik saja. Padahal aku tahu, dia terpuruk, terjatuh sangat dalam. Dia merindukan anak anaknya dan Siwon Oppa, aku sangat tahu.

Siwon Oppa selalu datang ke butik hanya untuk menanyakan Tiffany Unnie. Aku merasa berdosa karena menyembunyikan istrinya. Siwon Oppa tidak kalah kacau, dia berpenampilan tidak seperti biasanya yang rapih dan bersih. Dia terlihat begitu berantakan dengan kemejanya yang terkadang keluar dari celana nya, rambutnya yang tidak tersisir rapih dan rambut rambut halus yang mulai tumbuh disekitar wajahnya. Siwon Oppa pasti tidak bercukur karena terlalu merindukan Tiffany Unnie, dia tidak menghiraukan penampilannya lagi.

Aku merangkul Tiffany Unnie dan mengusap nya lembut “Menangislah, jika itu yang Unnie butuhkan” ucapku, tapi aku melihatnya sudah tidak mengeluarkan air mata lagi. Tiffany Unnie menahan tangisnya lagi, seperti biasa.

“Terimakasih untuk tehnya” mengalihkan pembicaraan. Tiffany Unnie sama dengan Jessica Unnie, mereka tidak ingin menampakkan kesedihannya didepan orang lain.

Aku mengangguk “Tadi Siwon Oppa datang lagi ke butik” ini lah pembukaan pembicaraan yang biasanya kami lakukan beberapa hari ini.

Tiffany Unnie menyesap teh nya pelan “Lalu? Apa dia sudah mengantarkan surat perceraian?” Astaga… apa dia benar benar ingin bercerai? Aku kira mereka masih bisa bersama, mencari cara untuk mempertahankan rumah tangga dan Lauren.

“Unnie” sentakku “Apa kau menginginkan perceraian?” aku menatap matanya, mencari goresan kebohongan disana.

“Itulah yang dia inginkan. Setelah perceraian, aku akan kembali ke California memulai kehidupan baru bersama Lauren” dia berucap begitu serius, sampai aku tidak bisa melihat sedikitpun keraguan diwajahnya.

“Bagaimana dengan anak anakmu, Unnie?” oke, aku tidak mempermasalahkan Siwon Oppa sekarang, tapi bagaimana dengan anak anaknya? Astaga mereka menjadi korban atas keegoisan orang tuanya.

“Mereka akan baik baik saja” ucap Tiffany Unnie dengan santai.

Aku kesal, bagaimana mungkin mereka akan baik baik saja. Ibu kandungnya pergi meninggalkan mereka, padahal mereka sangat membutuhkan dan sangat bergantung pada Ibunya.

“Tentu tidak” ucapku dengan suara jengkel “Cobalah bicara pada Siwon Oppa dan mencari solusi agar kalian dapat mempertahankan keduanya. Rumah tangga kalian dan Lauren”

Tiffany menggeleng pelan “Tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi, Yoong” suara nya terdengar lemah. Apa dia menyerah?

“Ta-“ aku menghentikan ucapanku ketika Lauren masuk kedalam kamar dan duduk dipangkuan Tiffany Unnie. Melihat anak manis ini, aku masih tidak menyangka jika Ny.Choi tega mencambuknya seperti itu.

“Mommy, aku ingin pergi ke sekolah besok. Aku merindukan Yeon Ah” dia bersandar manja ditubuh Tiffany Unnie yang sedang memeluk nya dari belakang.

“Tapi, kau tidak mempunyai seragam sekolah disini” Ya, itu benar. Tiffany Unnie tidak membawa apapun saat datang kerumah. Hanya pakaian yang melekat ditubuhnya. Tapi, sekarang mereka memiliki beberapa pakaian. Tiffany Unnie menyuruhku membeli pakaian untuk mereka berdua.

“Aku bisa memakai pakaian biasa. Songsenim tidak akan marah”

Lauren terus membujuk Tiffany untuk pergi kesekolah besok. Pasti anak ini sangat bosan, terkurung dirumah tanpa teman. Triplets baru dapat menemaninya bermain disore hari. Karena aku memang menitipkan mereka pada Eomma DongHae dan aku menjemputnya saat aku pulang dari butik.

“Hmm pergilah kesekolah besok” yang aku lihat setelahnya, Lauren melompat kegirangan dipangkuan Tiffany. Dia memang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Jessica Unnie tapi untuk sikap dan tingkah lakunya, Lauren sangat mirip Tiffany Unnie.

“Besok, Imo yang akan mengantarkan mu kesekolah huh?” dia menganggukan kepalanya kuat. Kurasa dia tidak perduli siapa yang mengantarnya, karena yang terpenting dia dapat pergi kesekolah besok. Astaga anak kecil yang menggemaskan, aku jadi menginginkan anak perempuan. Oops!!

 

 

***

AUTHOR POV

Yoona melompat terkejut dikursinya, ketika Taeyeon memukul meja dengan kepalan tangannya. Pagi pagi Taeyeon datang kebutik menanyakan soal kepergian Tiffany dan Lauren.

“Demi Tuhan, jika Soo Ji tidak datang kerumahku. Aku benar benar tidak tahu tentang hal ini” ucapnya dengan kesal. Dada nya naik turun karena menahan emosi yang sudah akan meledak.

Soo Ji mendatangi rumah Taeyeon, dia menangis meminta Taeyeon mencari Tiffany. Soo Ji menceritakan semuanya pada Taeyeon perihal masalah yang terjadi malam itu. Yeon Ah juga bicara padanya bahwa Lauren sudah beberapa hari ini tidak pergi kesekolah. Bodohnya Taeyeon tidak mencari kabar, Taeyeon mengira Lauren hanya sakit. Taeyeon juga sedang sibuk mengurus sekolah yang baru saja dia buka untuk anak anak yang tidak mampu. Jadi dia tidak sempat menghubungi Tiffany.

Setelah Soo Ji datang kerumahnya, Taeyeon langsung mencari Tiffany ke butik dan mengetahui semua informasi dari Yoona tanpa ada yang ditutupi lagi.

“Tiffany Unnie ada dirumahku” kata Yoona sangat pelan. Dia ketakutan melihat Taeyeon yang sedang marah besar seperti ini.

“Kau menyembunyikannya?” pekik Taeyeon, suaranya meninggi.

Yoona meringis, kepalanya menunduk dalam bagaikan kura kura yang bersembunyi didalam rumahnya “Aku tidak menyembunyikannya. Tiffany Unnie yang memintaku untuk tutup mulut soal keberadaannya” Yoona membela diri, tapi dia berkata jujur.

Yoona sangat ingin memberitahu Siwon, setiap kali pria itu datang ke butik tapi dia menutup mulutnya rapat rapat ketika mengingat Tiffany yang memohon padanya.

“Aku akan menemuinya sekarang” Taeyeon berdiri dan menarik tas nya yang dia letakkan diatas meja.

“Unnie tunggu” panggil Yoona, dia mengambil amplop besar berwarna cokelat dan memberikannya pada Taeyeon “Tolong berikan ini pada Tiffany Unnie. Sepertinya itu datang dari Eomma Siwon”

Yoona tahu apa isi amplop tersebut. Itu surat perceraian, tadi seseorang bertubuh tinggi dengan setelan serba hitam yang mengantarnya ke butik dan menyuruhnya memberikannya pada Tiffany. Yoona takut, jika mereka tahu bahwa dia menyembunyikan Tiffany beberapa hari ini. apa lagi jika Siwon tahu, habislah dia karena ketahuan berbohong.

Taeyeon mengerutkan alisnya, tangannya mengambil amplop itu dari tangan Yoona “Ige mwoya?” tanyanya penasaran dan bingung yang bersamaan.

“Aku tidak tahu”

 

***

Sudah sepuluh menit Soo Ji dan Lauren hanya duduk diam dibangku taman sekolah. Setelah menemui Taeyeon, Soo Ji pergi ke sekolah Lauren. Hati nya menuntunnya kesana, padahal tadi dia ingin ke butik untuk bertanya pada Yoona.

“Bagaimana kabar Unnie?” tanya Lauren, menyela lamunan Soo Ji. Lauren melihat mata sembab Soo Ji, mata nya pun masih merah sehabis menangis.

I’m not good” Soo Ji hanya menunduk melihat jari jari tangannya yang saling meremas diatas pangkuannya.

“Begitu banyak dosa ku padamu. Apa aku pantas mendapatkan maaf?”

Lauren menggenggam tangan Soo Ji, otomatis Soo Ji mendongakan kepalanya dan tatapan mereka bertemu “Bukankah Mommy pernah bilang, bahwa kita harus saling memaafkan tanpa memendam dendam dan kebencian”

Soo Ji menangis mendengar itu, dia menyadari betapa jahatnya dia pada Lauren karena kebencian yang selama ini dipendamnya. Sebenci apapun dia, sejahat apapun dia pada Lauren tapi gadis kecil ini selalu bersikap baik padanya. Rasa benci itu pun berkurang bahkan mungkin telah hilang sekarang.

Soo Ji minta maaf dengan sungguh sungguh, dia tidak bermaksud melimpahkan kesalahannya pada Lauren malam itu. Dia hanya meminta Lauren meletakkan gelas nya, tapi dia tidak menyangka jika akhirnya terjadi begitu mengerikannya. Dia merutuki sikap pengecutnya, karena tidak muncul ketika Ny.Choi menghukum Lauren, karena dia sendiri sangat ketakutan melihat Grammy nya begitu marah. Itu pertama kalinya dia melihat Grammy nya bagaikan nenek sihir yang sangat mengerikan.

Soo Ji menangis sembari memeluk Lauren, ini pertama kalinya dia memeluknya. Mulai saat ini dia akan menyayangi Lauren sebagaimana dia menyayangi Eun Ji dan Young Ji. Bukan karena dia merasa bersalah, tapi karena harus. Seperti yang Tiffany katakan bahwa Lauren adalah anaknya dan berarti Lauren adalah adiknya juga.

Setelah tenang, Soo Ji melepas pelukannya pada Lauren dan menghapus sisa air matanya “Kalian tinggal dimana sekarang?” tanya Soo Ji dengan suara serak.

“Kami tinggal dirumah Yoona Imo” jawabnya dengan ragu ragu, karena Tiffany berpesan padanya jika Lauren bertemu Siwon atau ketiga Unnie nya sebaiknya dia menghindar. Tapi, Lauren tidak bisa.

“Bagaimana kabar Daddy?” Lauren merindukan Siwon juga, tapi dia memiliki rasa takut untuk bertemu Ny.Choi karena cambukan itu masih menyisakan luka dihatinya, lebih sakit dari pada memar dikakinya.

“Kacau. Daddy sering pulang dalam keadaan mabuk, tangannya sering terluka karena memecahkan kaca atau memukul benda yang keras untuk melampiaskan kemarahannya. Aku juga sering melihatnya menangis dimalam hari” raut wajah Soo Ji begitu sedih saat memberitahu Lauren. Dia merasa bersalah menyebabkan banyak kekacauan yang bermula dari cokelat panas yang dia minum. Dia tidak akan meminum, minuman sialan itu lagi.

“Mommy pun begitu. Aku sering memergokinya menangis dimalam hari, kurasa dia tidak tidur, dia hanya menangis sepanjang malam” Lauren turut sedih. Tiffany tersiksa karena memilihnya, mengorbankan keluarganya untuk membelanya.

“Itu yang ingin aku bicarakan padamu” Soo Ji menarik nafas panjang perlahan dan menghembuskannya “Aku tahu Mommy dan Daddy masih saling membutuhkan dan tidak bisa kehilangan satu sama lain. Aku ingin mereka kembali bersama, dan kau tetap bersama kami juga. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Aku sudah bicara pada Grammy, tapi dia tidak bereaksi sedikitpun. Mungkin dia terkejut atau menyesal. Entahlah” ucap Soo Ji panjang lebar.

“Ayo kita berusaha bersama. Aku juga ingin Daddy dan Mommy kembali bersama” Lauren tersenyum simpul kearah Soo Ji.

Soo Ji menggenggam tangan mungil Lauren “Kau anak baik, kenapa aku tidak menyadari itu sejak lama. Tapi, aku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya”

“Aku menyayangi Unnie, karena aku adikmu kan?” walau kenyataan begitu pahit, tapi Lauren tetap berharap bahwa dia adalah bagian dari mereka.

Of course. Forever will stay in, I can’t igrone you anymore” Soo Ji merentangkan tangannya agar Lauren masuk kedalam pelukannya.

Lauren menghambur kepelukan Soo Ji dengan senyuman yang mengembang diwajahnya “I’m the happiest girl in the world. Oh my god!!

Lama mereka dalam posisi berpelukan seperti itu, sampai rintik hujan turun dan mengintrupsi mereka untuk segera pergi. Soo Ji menarik tangan Lauren kedalam mobil nya.

“Aku akan mengantar mu pulang, oke?” katanya ketika mereka sudah berada didalam mobil. Lauren mengangguk dan Soo Ji pun memasangkan sabuk pengaman Lauren.

Disepanjang jalan, mereka selalu melempar senyum. Lauren sangat senang mendapatkan senyuman tulus dari Soo Ji yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sebelumnya. Soo Ji tidak terfokus pada jalan karena sibuk berpandangan dengan Lauren, saat mereka hampir dekat dengan lampu merah, Soo Ji masih mempercepat laju mobilnya. Teriakan Lauren memberitahu bahwa didepannya ada mobil yang sudah berhenti tapi karena mobil yang Soo Ji kendarai berkecepatan tinggi, Soo Ji tidak sempat untuk menginjak rem dan akhirnya dia membanting roda kemudinya sampai membentur pembatas jalan. Tapi, Lauren dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk Soo Ji dan setelah itu mobil menambrak pembatas jalan dengan sangat kuat.

 

***

“Aku tidak bisa membuatkan mu minum. Karena aku tidak tahu dimana Yoona menyimpan cangkir dan teh nya” ucap Tiffany pada Taeyeon penuh penyesalan.

Taeyeon yang duduk disebrang nya menatap Tiffany dengan tatapan datar “Aku kesini bukan untuk minum” balas nya dengan suara dingin.

Tiffany mengangguk kecil, tahu apa yang membawa sahabatnya kesini. Taeyeon sudah mengetahui semuanya, itu pasti.

“Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kalian begitu jahat menyimpan semuanya sendiri tanpa aku tahu” kata nya berturut turut dengan nada penuh kekecewaan.

Tiffany tidak bodoh, dia mengerti dengan maksud ucapan Taeyeon. Menceritakan permasalahan yang terjadi pada keluarganya saat ini. memberitahu, rahasia siapa Lauren dan meninggalnya Jessica. Karena saat itu mereka bilang pada Taeyeon bahwa Jessica meninggal karena sakit tanpa tahu bahwa Jessica hamil. Kecuali Yoona dan Yuri yang mengetahui semuanya. Tiffany tidak memberitahukan kebenaran itu karena Taeyeon sedang hamil, takut mengganggu kehamilannya karena begitu shock mengetahui kabar tentang Jessica yang menurutnya sangat menyedihkan.

“Aku minta maaf. Karena suasananya tidak mendukung untuk memberitahumu”

“Tapi tetap saja, itu keterlaluan” sela Taeyeon dengan cepat, dia tidak menginginkan alasan “Aku teman kalian, Jessica temanku. Kita teman bukan? Astaga” Taeyeon memijit pelipisnya lembut, merasakan denyutan dikepalanya.

“Aku menyesal. Tapi kau sudah tahu sekarang”

“Ya, sangat terlambat” lirihnya. Taeyeon tidak perlu mendengar cerita dari Tiffany lagi sebab dia sudah mengetahui semuanya dari Yoona dengan lengkap.

Tiffany melirik Taeyeon lalu beralih melihat amplop cokelat yang Taeyeon bawa tadi “ Apa itu?” tanya nya penasaran.

Taeyeon melihat mata Tiffany tertuju pada amplop cokelat yang ada diatas meja, yang Yoona titipkan untuk Tiffany.

“Aku tidak tahu, tapi itu untuk mu”

Tiffany meraih amplop tersebut, jantungnya berdebar dengan kuat. Perlahan mengeluarkan isi nya dari dalam amplop tersebut dan menekuni isinya. Dan itu adalah surat perceraiannya dengan Siwon. Tiffany penasaran apa Siwon yang memberinya atau Ibunya? Tiffany berharap Siwon memperjuangkannya dengan memberi jalan untuk menyelesaikan masalah ini. tapi sepertinya Siwon tidak. Siwon memang sangat penurut pada Ibunya, dia mencintai Ibunya melebihi apapun, jadi tidak heran jika Siwon mengiyakan permintaan Ibunya, walaupun permintaan itu menyangkut kebahagiaannya sendiri.

Taeyeon melihat Tiffany yang membatu memegang kertas tersebut “Apa isinya?” tanya Taeyeon, menjulurkan kepalanya kearah Tiffany.

Tiffany memasukkannya kembali kedalam amplop, dia akan menandatanganinya nanti “Surat perceraian”

“Kau serius?” Suara Taeyeon bernada tinggi. Dia terkejut mendengar ucapan Tiffany yang tampak begitu santainya ketika mengatakan perceraian.

“Ya. Kami selesai”

“Fikirkan lagi, Fany ahh. Jangan mengambil keputusan begitu cepat. Kau akan menyesal, kalian akan menyesal” sentak Taeyeon “Anak anak mu? Oh Tuhan, Soo Ji datang padaku dan menangis memintaku untuk membawa Ibunya kembali. Dia kacau. Apa kau tega? Come on, mereka masih membutuhkan mu” Rasa nya Taeyeon ingin mengambil surat perceraian itu, dan membakarnya menjadi abu.

“Mereka-“ suara Tiffany berhenti disela oleh suara ponsel Taeyeon yang begitu nyaring.

Taeyeon mengeluarkan ponsel dari tas tangannya dan melihat Joon yang menelpon. Taeyeon menggeser tombol answer dilayar nya tanpa menunggu lama.

“Ada apa, Joon?” sahut Taeyeon.

Nde?” wajah Taeyeon berubah panik. Tanpa sengaja dia menahan nafas nya sebentar.

“Baiklah, Eomma akan segera kesana. Kebetulan Eomma sedang bersama Tiffany” balas Taeyeon dan langsung menutup telepon itu.

Tiffany menautkan alisnya melihat ekspresi Taeyeon yang takut dan khawatir “Ada apa Tae?” Tiffany merasakan aura itu juga menjalar disekujur tubuhnya.

Taeyeon menelan gumpalan yang ada ditenggorokannya dengan susah payah “Soo Ji dan Lauren mengalami kecelakaan. Mereka berada di rumah sakit sekarang” pelan tapi terdengar serius.

Tiffany langsung berdiri dari kursinya “Mwo? Bagaimana bisa?”

Taeyeon meraih tas nya dan berdiri “Aku tidak tahu, yang jelas kita harus kerumah sakit sekarang” Taeyeon menarik Tiffany yang masih mematung ditempatnya.

Taeyon tidak harus menyuruh Tiffany mengganti pakaian lagi, karena sudah cukup rapih untuk pergi kerumah sakit dengan Tiffany yang menggunakan kemeja pink dan rok hitam yang menjuntai sampai lututnya dan memakai stoking hitam yang menutupi kakinya.

 

***

SIWON POV

Aku memukul lemari kaca yang ada diruang kerja dirumahku. Darah segar mengalir dibuku buku jariku. Luka yang kemarin belum sepenuhnya mengering tapi aku menambahkan luka baru. Aku tidak perduli.

Aku melihat Eomma masuk kedalam, itu pasti karena suara pecahan kaca yang membuatnya datang. Dia meringis ngeri, saat melihat tangan kanan ku yang robek.

“Astaga, Siwon. Apa yang kau lakukan? Melukai dirimu sendiri karena wanita bodoh itu? Apa kau sudah gila?”

Dengan buru buru Eomma mengambil kotak obat yang ada didalam lemari, mengobati dan membalut luka ku dengan perban.

“sepertinya tanganmu harus dijahit. Lukanya cukup dalam”

Aku hanya menatap kosong. Aku tidak perduli dengan luka itu. Luka sebenarnya bukan disitu. Tapi dihatiku.

“Berhenti untuk mencarinya. Dia tidak ingin ditemukan karena itu memang keinginannya. Dan aku sudah mengirimkan surat perceraian kebutiknya”

Aku tidak membalas, aku tahu Eomma akan melakukan itu. Dia tidak pernah berbohong dengan apa yang diucapkannya. Aku tidak bisa berkata kata lagi, Tiffany sudah pergi, dia benar benar meninggalkan aku dan anak anak kami.

Eomma meletakkan tanganku dengan hati hati setelah dia selesai membalut lukaku. Dia menatapku dengan tatapan prihatin.

“Sebenarnya Lauren itu siapa? Kenapa Tiffany mempertahankannya dan mengorbankan keluarganya sendiri demi anak itu?”

Ya, saat kami membawanya kerumah. Yang Appa dan Eomma tahu adalah kami mengambil nya dari panti asuhan di Florida tanpa menjelaskan apa alasan kami mengangkat Lauren. Padahal kami sudah memiliki tiga anak perempuan saat itu. Itu yang membuat Eomma tidak menyukai saat kami membawa Lauren.

Aku juga tidak dapat mencegah Tiffany, karena Ibu dari anak itu adalah sahabatnya. Betapa akrabnya mereka dulu, mereka seperti anak kembar yang saling menempel satu sama lain. Aku memang tidak dekat dengan Jessica. Dia seperti memiliki dendam padaku, padahal aku tidak pernah memiliki masalah apapun dengannya. Setiap kali Jessica menatapku, matanya memancarkan kebencian yang amat dalam. Bahkan jika aku sedang berkunjung ke apartemen mereka, Jessica memilih pergi atau masuk kekamarnya tanpa mau menyapaku atau bergabung bersama kami seperti Taeyeon, Yoona dan Yuri. Menurutku Jessica adalah orang yang misterius.

Aku menceritakan pada Eomma, dari mana Lauren berasal. Dari kepergian kami ke Florida untuk bertemu Jessica yang dalam keadaan hamil, setelah itu Jessica meninggal setelah melahirkan Lauren. Aku juga menceritakan betapa dekatnya Tiffany dan Jessica pada Eomma, dari mana mereka berasal dulu sebelum pindah dan menetap diKorea.

Aku melihat raut wajah Eomma berubah, dia terlihat aneh. Eomma menyodorkan ponsel nya padaku dan menunjukkan sebuah foto wanita dengan rambut cokelat terang yang sedang tersenyum menampakkan giginya yang berderet putih dan rapih. Dan yang aku yakini itu adalah foto Jessica ketika berumur belasan tahun.

“Apa Jessica yang kau maksud adalah dia?” kata Eomma dengan terbata bata.

Aku bingung, dari mana Eomma memiliki foto Jessica? Apa dia mengenalnya? Aku mengangguk kuat “Ya”

 

 

NYONYA CHOI POV

“Apa Jessica yang kau maksud adalah dia?” aku memperlihatkan foto Jessica yang aku tahu pada Siwon. Entah kenapa suaraku sangat susah untuk keluar, membuat aku terbata bata saat menanyakannya.

Tanpa ragu, Siwon mengangguk mantap dan “Ya” Dunia terasa runtuh saat itu juga. Ya Tuhan.

Aku terkulai lemas, rasanya anggota tubuhku tak berfungsi. Hanya detak jantung yang memompa begitu kuat dari biasanya. Siwon menatapku khawatir, dia menggenggam tanganku. Rahasia yang selama ini aku sembunyikan akan Siwon ketahui, bahkan suamiku tidak tahu tentang hal ini. air mata ku mengalir begitu saja saat mengingat betapa banyaknya dosa ku pada suamiku, Jessica, Ayah nya Jessica dan Siwon.

“Eomma, waegeure?” Siwon mengguncang lenganku pelan, membuat aku tersadar dari lamunan ku.

Aku menatapnya dengan wajahku yang penuh dengan air mata “Jessica adalah anakku” bisikku, pelan tapi aku jelas mengatakan padanya.

Aku melihat matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit terbuka. Dia pasti sangat terkejut, aku menyimpan rahasia ini dengan rapih, sudah begitu lama terjadi.

Dia mengusap wajahnya merasa frustasi “Eomma, bagaimana bisa?” dia masih tidak percaya dengan yang aku ucapkan.

Aku pun mulai menceritakan pada nya kejadian tiga puluh dua tahun silam, saat Siwon masih berumur dua tahun. Saat itu kami berada di California untuk membuka cabang perusahaan milik suamiku. Dia begitu sibuk, dia sering keluar kota dan menginap dalam waktu lama membuat aku kesepian. Sampai aku bertemu dengan Ayah Jessica, Jung Ji Ho. Sebelum dia diangkat menjadi sekretaris suamiku dia adalah pegawai biasa. Pria yang baik dan perhatian, jika aku datang kekantor bersama Siwon, dia sering mengajak Siwon bermain. Tidak seperti suamiku yang begitu dingin pada anaknya, ya walaupun kebutuha Siwon sangat tercukupi tapi anak seusianya tidak membutuhkan itu saja. Dia membutuhkan kasih sayang dan perhatian ayahnya juga kan.

Seiring nya kami bersama, aku pun berpaling padanya yang ternyata juga menyimpan rasa padaku. Akhirnya kami menjalin hubungan terlarang dibelakang suamiku, sampai aku hamil. Aku merasa berdosa pada suamiku yang sangat baik itu, jujur aku masih mencintainya tapi aku juga mencintai Jung Ji Ho. Katakan aku serakah, karena itulah aku. Aku takut jika suamiku menyadari kehamilan ku bukanlah anaknya karena kami sudah lama tidak berhubungan badan. Tapi aku mendapatkan reaksi mengejutkan darinya. Dia sangat senang mengetahui aku mengandung, dia memang menginginkan anak perempuan.

Aku menemui Ji Ho, memberitahu tentang kehamilanku. Dia juga terlihat sangat senang, tapi dia juga merasa berdosa pada suamiku yang notaben adalah atasan dan orang yang sangat dekat dengannya. Akhirnya dia mengalah dan melepaskan aku, dan aku juga mulai menyadari tentang hubungan terlarang kami yang tidak harus kami teruskan. Tapi, aku sudah bertekat didalam hatiku jika anak ini lahir aku akan memberikannya pada Ji Ho dan beralasan pada suamiku bahwa anak kami meninggal. Dan semuanya begitu lancar saat aku melahirkan, suamiku sedang berada diluar kota dan tidak bisa pulang. Jadi Ji Ho lah yang menemaniku saat persalinan. Setelah itu, dengan berat hati aku langsung memberinya pada Ji Ho, anakku yang diberinama Jessica Jung oleh ayahnya. Kami berjanji untuk tidak mengungkit masalah affair kami dan menutupnya rapat rapat.

Kami pulang ke Korea setelahnya, suamiku sangat sedih mengetahui anak perempuannya meninggal. Tapi, aku terkejut mendengar cerita suamiku bahwa dia memberi fasilitas untuk putri Jung Ji Ho. Aku ketakutan, aku takut jika rahasia itu diketahui suamiku. Dia menyayangi Jessica, dia sudah menganggap Jessica seperti anaknya sendiri. Setiap kali dia pergi ke California pasti untuk menjenguk Jessica. Andai jika dia tahu siapa Jessica sebenarnya, pasti dia akan membencinya, membenci aku dan Ji Ho juga. Tapi, aku merasa bersyukur melalui suamiku aku dapat mengetahui perkembangan putriku yang semakin besar.

Aku mendengar bahwa dia pindah ke Korea dan aku sangat antusias ingin melihatnya secara langsung. Pertama kali aku menemuinya saat disekolahnya, dia mengikat rambut cokelatnya menjadi kunciran kuda yang rapih, dia sangat cantik dan cerdas. Ketika dia menatap ku, dia langsung menghindariku. Dia tahu aku, pasti Ji Ho yang menceritakannya padanya tentang aku. Tentu, seorang anak yang besar tanpa Ibu pasti penasaran dan menanyakan dimana Ibunya berada? Kenapa tidak bersama nya? Aku sedih melihat dia yang begitu membenciku, saat aku bilang bahwa aku adalah Ibunya, dia menolak dan berkata jika Ibunya sudah mati. Hatiku hancur berkeping keping, sangat jelas dia membenciku karena aku meninggalkannya pada Ayahnya.

Suamiku pernah membawa Jessica kerumah kami setelah pertemuan kami yang hanya satu kali itu. Dia bersikap baik dan ramah padaku, aku tahu dia bersandiwara. Tapi aku senang mendapatkan senyuman nya, melihatnya tersenyum lebih tepatnya.

Aku mengikuti suamiku untuk pindah ke Jepang dan menetap beberapa tahun disana. kami membangun sebuah resort yang harus kami pantau dengan baik, itu kenapa kami menetap di Jepang dalam jangka waktu yang lama. Dan saat itu lah kami kehilangan kontak dengan Jessica.

Kami kembali lagi ke Korea sebelum Siwon dan Tiffany pergi ke Florida dan ketika pulang mereka membawa seorang bayi perempuan yang aku akui sangat cantik. Tapi aku tidak setuju dengan mereka yang mengangkat seorang bayi padahal mereka memiliki tiga anak perempuan. Aku tidak membenci Lauren hanya tidak menyukainya saja. Tapi berbulan bulan aku melihat perkembangan nya dan perubahan wajahnya, dia terlihat sangat mirip dengan Jessica. Tapi aku tidak pernah terfikir jika Lauren adalah anak Jessica. Setiap melihat Lauren, aku selalu teringat Jessica. Sudah lama tidak mendapat kabarnya, akupun menanyakannya pada suamiku dan aku terkejut mengetahui bahwa Ji Ho dan Jessica sudah meninggal karena sakit. Bagaimana bisa mereka berdua meninggal begitu cepat? Aku tidak menanyakan lebih banyak pada suamiku, takut jika dia akan curiga. Aku terpukul mengetahui fakta menyedihkan itu. Aku belum sempat memberinya kasih sayang dan merawatnya tapi dia sudah pergi meninggalkan aku.

Beberapa tahun setelah itu, aku harus mendapatkan pukulan lagi dengan kematian suamiku. Dia memang sangat menyayangi Lauren, seperti menyayangi ketiga cucunya sendiri. Jika dia tidak sibuk, suamiku bukan pergi untuk beristirahat tapi meluangkan waktunya untuk mengajak cucu cucunya bermain. Dia berubah, tidak seperti dulu yang begitu dingin pada anak anak.

Kepergiannya begitu membuatku terpukul, padahal pagi itu dia masih sangat sehat. Kami memiliki waktu yang indah paginya, dia terlihat begitu romantis dan memang ada yang janggal pagi itu. Dia mengatakan padaku agar bersikap baik pada Lauren, menyayangi Lauren. Karena Lauren sangat ingin mendapatkan kasih sayang dariku. Tapi aku mengabaikannya bahkan setelah kematiannya membuatku sangat membenci Lauren.

Tapi, aku sangat menyesal sekarang. Waktu demi waktu Tuhan mengambil orang yang aku cintai, dari Ji Ho, Jessica dan Ki Ho suamiku. Sekarang, aku tidak ingin kehilangan Lauren, dia cucuku, darah dagingku. Aku akan mencari mereka sebelum aku menyesal.

 

Aku melihat Siwon yang terdiam mendengar cerita panjangku. Raut wajahnya masih terlihat terkejut “Itu kenapa Jessica selalu memandangku dengan kebencian. Karena Ibunya yang meninggalkannya adalah Ibuku”

Aku mengangguk “Maafkan Eomma”

kami menangis dalam diam dengan waktu lama. Bunyi deringan ponsel Siwon yang menghentikan kami. Tapi Siwon tidak berniat untuk mengangkatnya. Jadi aku berinisiatif untuk mengangkat telepon yang aku lihat caller id nya dari Soo Ji.

Anak ini sudah mengurung dirinya dikamar setelah kejadian itu, aku tahu dia merasa bersalah. Makanya aku tidak memarahinya karena dia juga sudah tertekan begitu banyak. Aku tidak memikirkan dokumen itu lagi sekarang.

“Kau dimana Soo Ji?” Tanya ku. Aku tahu dia keluar rumah karena saat aku masuk kekamarnya dia tidak ada didalam.

“Aku berada dirumah sakit, Grammy” aku mendengar suara tangisannya dari seberang telepon. Ya Tuhan apa yang terjadi?

“Aku mengalami kecelakaan bersama Lauren. Grammy tolong datang kerumah sakit sekarang, aku takut” tangisnya pecah dan aku panik.

“Grammy akan segera kesana sekarang juga, kirimkan alamat rumah sakitnya hmm?”

Setelah itu aku memutuskan telepon “Soo Ji dan Lauren kecelakaan. Kita harus cepat kerumah sakit” ucapku memberitahu Siwon yang sedari tadi memperhatikan aku.

“Ya Tuhan” Siwon tidak kalah panik. Dia menarikku dan berjalan dengan tergesa gesa.

 

 

***

AUTHOR POV

Tiffany berlari menyusuri lorong untuk sampai ke UGD, meninggalkan Taeyeon yang berada jauh dibelakangnya. Dia tidak dapat berfikir jernih sepanjang perjalanan tadi, begitu mencemaskan kedua anaknya.

Ketika dia sudah berada didepan ruang UGD, Tiffany melihat Soo Ji yang tengah menangis disalah satu kursi yang berada disana. Tangan kanan nya dibalut dengan perban putih, lalu dimana Lauren? Apa Lauren masih didalam UGD? Apa begitu serius dengan luka lukanya? Pertanyaan pertanyaan itu muncul dikepalanya.

Berlari dan menghampiri Soo Ji, Tiffany memeluknya. Memberikan ketenangan untuk mengurangi rasa takut Soo Ji. Soo Ji menceritakan kejadian kecelakaan itu pada Tiffany dan Taeyeon dengan diiringi air mata yang terus mengalir bagaikan sungai kecil. Soo Ji tidak mendapatkan luka yang parah karena Lauren melindunginya dengan pelukan yang Lauren berikan untuknya. Tapi itu berdampak buruk untuk Lauren yang harus ditangani khusus oleh dokter. Soo Ji melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat darah mengalir dari kepala Lauren belum lagi dengan tangan Lauren yang terkena pecahan pecahan kaca.

Tiffany mengusap kepalanya dengan lembut “Lauren akan baik baik saja” ucapnya, yang sebenarnya kata kata itu juga untuk menyemangatinya.

“Maafkan aku Mommy” gumam Soo Ji. Tangisnya sedikit reda, dia mulai tenang karena ada Tiffany didekatnya, mendekap tubuhnya.

Pintu ruang UGD terbuka dan munculah pria paruh baya dengan pakaian serba putih. Tiffany, Soo Ji dan Taeyeon langsung berdiri menghampiri dokter tersebut.

“Dia kehilangan banyak darah. Kami membutuhkan darah golongan AB sekarang juga, kebetulan dirumah sakit sedang kehabisan darah dengan golongan itu”

“Ambil saja darahku, aku memiliki golongan darah yang sama dengannya” Ucap Soo Ji dengan lantang.

Dokter menatap Soo Ji dan melihat perban yang membalut luka dilengannya “Kau tidak bisa, karena kau sedang terluka” kata Dokter itu penuh penyesalan.

“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Tiffany kembali cemas, Taeyeon yang berada disampingnya hanya mengusap lembut lengan Tiffany.

“Grammy” pekik Soo Ji tiba tiba “Grammy memiliki golongan darah yang sama dengan kami”

Tiffany masih tidak merespon. Mana mungkin Ny.Choi mau mendonorkan darahnya pada anak yang sangat dia benci. Tapi, tidak ada jalan lain. Ny.Choi lah satu satu nya orang yang dapat diandalkan disini.

“Telepon Grammy sekarang” pinta Tiffany pada Soo Ji. Dia akan memohon pada Ny.Choi bila perlu berlutut dihadapannya agar dia mau memberikan sedikit darahnya untuk Lauren.

“Aku sudah menelponnya. Mungkin dia masih dijalan”

Taeyeon menepuk bahu Tiffany memberitahu bahwa Ny.Choi dan Siwon sedang berjalan kearah mereka. Yang pertama Tiffany lihat adalah Siwon, suaminya yang begitu kacau dan penampilannya itu bukan Siwon yang saat bersamanya. Siwon yang berada dihadapannya begitu asing dimatanya. Tapi, Tiffany mengesampingkan Siwon dulu. Karena dia memiliki masalah lain yang lebih penting disini.

Tiffany berlutut sembari menggenggam tangan Ny.Choi ketika Ibu mertuanya itu sudah berdiri tepat didepannya yang sedang merangkul Soo Ji.

Tiffany mendongakan kepalanya, agar air mata yang dia tahan sejak tadi tidak tumpah “Ku mohon. Bantulah aku, tolong berikan sedikit darahmu pada Lauren. Dia sangat membutuhkannya” Tiffany menunduk ketika air matanya lolos tanpa bisa ditahan.

Ny.Choi bingung mendengar ucapan Tiffany, apalagi dengan Tiffany yang berlutut dihadapannya seperti ini.

“Lauren kehilangan banyak darah akibat kecelakaan itu dan dia membutuhkan darah dengan golongan AB. Dan Soo Ji bilang anda memiliki golongan darah yang sama” Taeyeon berucap membantu Tiffany memperjelas kalimat yang dia ucapkan.

Ny.Choi terperangah, ini bukan saatnya untuk mengulur waktu. Menarik tangan Tiffany agar berdiri, Ny.Choi menyentuh sisi bahunya “Aku akan memberikannya karena dia adalah cucuku” Ny.Choi tersenyum simpul “Kita akan bicara setelah ini”

Ny.Choi melirik dokter yang sedari tadi berdiri didekat mereka “Kemana aku harus pergi?”

“Ikut saya” perintah Dokter tersebut.

Tiffany bernafas lega, dia memeluk Taeyeon dan masih mengabaikan Siwon yang berdiri tidak jauh darinya.

 

***

Tiffany duduk bersebrangan dengan Ny.Choi dikantin rumah sakit. Setelah mendonorkan darahnya pada Lauren, Ny.Choi mengajak Tiffany untuk bicara. Karena banyak yang harus mereka bicarakan sekarang.

“Aku tahu” ucap Tiffany dan Ny.Choi bersamaan.

“Ah, Eomma dulu saja” Kata Tiffany cepat. Suasana begitu awkward membuatnya salah tingkah.

Ny.Choi meremas jari jari tangannya yang berada diatas meja “Aku tahu siapa Lauren. Dia adalah putri Jessica dan Jessica adalah putri kandungku. Itu berarti Lauren adalah cucu ku”

“Aku sudah tahu sejak lama” balas Tiffany. Jangan lupakan bahwa Jessica adalah ‘kembar sialan’ Tiffany, jadi diantara mereka tidak ada rahasia sedikitpun.

Ny.Choi menatap Tiffany terkejut “Kau tahu?” Tiffany membalasnya dengan anggukan pelan.

Ny.Choi menarik nafas dengan susah payah “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“Aku tidak mempunyai cukup bukti untuk memberi tahu bahwa Lauren adalah anak kandung Jessica. Tapi, aku selalu berharap Eomma akan menyadari itu karena Lauren dan Jessica memiliki wajah yang sangat mirip”

“Terkadang aku melihat Jessica didalam diri Lauren. Tapi, aku begitu bodoh karena tidak menyadarinya. Aku membencinya bahkan aku menyakitinya. Bukan hanya menyakiti hatinya, tapi aku juga menyakiti fisiknya” air mata Ny.Choi perlahan mengalir diwajahnya.

Tiffany mengulurkan tangannya untuk menenagkan Ibu mertuanya, meremas jari jari dengan tangan lembutnya “Keinginan Lauren adalah ingin mendapatkan kasih sayang darimu, makan dari suapan tanganmu, dipeluk saat tidur denganmu. Sepertinya dia akan mendapatkannya sekarang” Tiffany menerawang ketika mengucapkan kalimat itu.

“Apa dia tidak membenciku?” Ny.Choi menegakkan kepalanya, menatap Tiffany.

“Tidak. Eomma mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya” Tiffany tersenyum lembut.

Ny.Choi teringat sesuatu yang dia kirim tadi pagi ke butik Tiffany “Kau belum menandatangani surat perceraian itu kan, Tiffany?” tanya nya dengan cemas.

“Hmm.. belum” Jawab Tiffany pelan.

“Maafkan aku Tiffany” suaranya penuh dengan penyesalan “Kembalilah kerumah. Siwon dan anak anak mu sangat membutuhkanmu”

Mata Tiffany bertemu dengan mata Ny.Choi yang menatapnya dengan ketulusan “Aku akan kembali” balasnya dengan senyum mengembang.

Ny.Choi meraih tangan Tiffany, menggenggam nya dengan kuat “Aku akan melihat Lauren, kau tetaplah disini. Kalian butuh bicara juga”

Tiffany mengikuti kearah dimana Ny.Choi melihat, dia menolehkan kepalanya dan tepat dibelakangnya Siwon tengah berdiri menatapnya. Ny.Choi bangkit dari tempatnya dan digantikan dengan Siwon yang duduk disebrang meja.

Tiffany bingung harus bicara apa, rasanya canggung saat bertemu lagi dengan Siwon. Dia merindukan suaminya ini. apa untuk berbasa basi, dia harus menanyakan kabarnya terlebih dulu?

“Jangan menanyakan kabarku. Karena aku tidak baik baik saja setelah malam itu” gumam Siwon, seakan tahu apa yang akan ditanyakan Tiffany.

Tiffany diam, mata nya menangkap tangan Siwon yang dia letakkan diatas meja. Tiffany melihat ada beberapa bekas luka yang hampir mengering dan luka yang baru dengan dibalut perban. Hati nya teriris melihat Siwon yang terluka dan tidak mengurus dirinya dengan baik setelah kepergiannya.

Dengan berani Tiffany mengangkat kedua tangannya dan menyentuh pelan buku buku jemari Siwon, air matanya turun dengan mudah ketika melihat luka luka itu.

“Jangan terluka lagi” isaknya dengan pilu.

“Jangan menangis” rasanya Siwon ingin menghapus airmata yang turun dipipi mulus Tiffany. Tapi sentuhan Tiffany begitu nyaman sehingga dia tidak dapat menjauhkan tangannya.

“Aku merindukan mu” lirih Tiffany dengan jujur.

Siwon menatap Tiffany dengan pekat “Aku terus memikirkan mu setiap kali aku akan tidur. I know it sounds cheesy, but hell yeah. It’s the truth

Siwon menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan agar tidak menangis “Jangan pergi lagi” pinta Siwon sungguh sungguh.

“Aku tidak akan pergi” balas Tiffany.

“Aku mencintaimu. Rasanya aku akan gila ketika tidak bisa menemukanmu” Siwon mengangkat tangan Tiffany kemulutnya, menciumnya begitu lama. Tiffany merasakan tangannya basah, dilihatnya Siwon yang menangis didepannya.

Siwon mengusap air matanya “I am nothing without you. Never leave me again

Tiffany berjalan pelan menghampiri Siwon, duduk disamping Siwon dan memeluknya erat “Maafkan aku, Siwon”

Siwon berusaha menenangkan Tiffany yang menangis kencang dipelukannya “Hanya jangan pernah meninggalkan aku lagi, oke?” tanyanya pelan, menatap Tiffany tepat pada matanya.

“Oke” Jawab Tiffany, tanpa terdengar keraguan pada suaranya.

 

“Mommy….” teriak Eun Ji dan Young Ji dari pintu masuk kantin. keduanya berlari secepat mungkin, agar cepat sampai kearah Tiffany dan Siwon.

Tiffany menarik tangannya, berlutut sembari merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Eun Ji dan Young Ji.

“Mommy” rengek keduanya saat sudah berada dalam pelukan hangat Tiffany yang selalu mereka rindukan.

“Maafkan Mommy hmm?” Tiffany mengusap lembut belakang kepala anak anaknya dengan sayang.

“Aku tidak akan membiarkan Mommy pergi lagi” ucap Eun Ji dengan serius.

“Mommy tidak akan pergi, sayang”

“Aku akan berada di pihak Mommy jika Daddy nakal. Kita akan menghukumnya bersama sama huh?” tambah Young Ji yang tidak memperdulikan tatapan Siwon yang sedang menatapnya tajam.

Tiffany tertawa pelan “Daddy tidak pernah nakal. Mommy lah yang nakal karena pergi meninggalkan kalian. Maafkan Mommy” Tiffany merasa bersalah karena meninggalkan anak anak nya begitu saja. Emosi sudah berkumpul dikepalanya dan mengusainya malam itu.

“Ayo Mommy, kita melihat Lauren. Aku sangat merindukan adik amerika ku” seru Young Ji ketika pelukannya terlepas dari Tiffany.

Tiffany menatap Siwon untuk mengajaknya juga, dan Siwon mengangguk mengerti dengan tatapan mata Tiffany. Tiffany mengamit tangan Eun Ji dan Young Ji ketika mereka mulai berjalan ke ruang inap tempat Lauren dirawat.

Siwon yang berada dibelakang Tiffany berbisik ditelinganya “Gomapta, saranghamnida” lalu Siwon mencuri kecupan kilat dipipi Tiffany. Tiffany memiringkan kepalanya kearah Siwon, dia tersenyum dan menggerling dengan genit.

 

***

“Lauren, jangan kesana sayang” pekik wanita cantik berambut cokelat terang. Wanita itu terlihat anggun menggunakan gaun putih dengan flower crown yang menghiasai kepalanya.

Lauren menolehkan kepalanya, mata nya berbinar ketika melihat siapa wanita itu. Dia tidak meneruskan jalan yang ingin dia tuju tadi, sebaliknya Lauren berlari menghampiri wanita yang memanggil namanya tadi.

Duduk diatas pangkuannya, Lauren menangkup wajah wanita itu. Matanya mengerjap, takut jika pengelihatannya salah. Wanita itu tersenyum mendapat perlakuan dari gadis kecil ini.

“Jessica Mommy?” tanyanya tidak percaya.

“Ya, ini Mommy sayang” Jessica menangkup wajah Lauren dan memberi kecupan dikeningnya.

Lauren memainkan rambut panjang Jessica yang melambai liar tertiup oleh angin “Kenapa rambutku tidak cokelat seperti Mommy?”

Jessica tertawa menanggapi pertanyaan putri nya “Rambutmu mirip dengan Daddy” Jessica merapikan rambut Lauren yang berantakan.

“Aku belum pernah melihatnya. Aku ingin bertemu Daddy, Mommy” pinta Lauren menggoyang goyangkan lengan Jessica kuat.

“Jika kau ingin bertemu Daddy, jangan berjalan kesana. Dan kembalilah”

Lauren memeluk pinggang Jessica erat “Tapi, aku ingin bersama Mommy disini” kata nya merengek dengan manja.

Jessica balas memeluknya tidak kalah erat “Mommy selalu bersamamu, sayang” Jessica menarik tubuh Lauren “Mommy selalu berada disini” Jessica menunjuk diatas letak hati milik Lauren.

“Kenapa Mommy tidak ikut kembali bersama ku, huh?”

“Jika bisa, Mommy sangat ingin ikut kembali bersama mu nak” Jessica mencium puncak kepala Lauren berkali kali.

“Lauren.. Lauren… dimana kau bersembunyi nak?”

Lauren melepas pelukannya, menatap mata Jessica “Mommy, suara Tiffany Mommy. Dia mencariku”

Jessica mencium kening, kedua pipi Lauren dan mengecup singkat bibir mungil nya “Kau sudah harus kembali sayang. Pergilah” Jessica menegakkan tubuh Lauren dan menepuk pantat nya main main.

Lauren cemberut menatap Jessica “Apa ini yang Mommy inginkan?”

Jessica mengangguk mantap “Kau lebih bahagia bersama Tiffany Mommy. Pergilah anakku”

Lauren membungkukkan tubuhnya dan mencium pipi Jessica “Aku mencintai Mommy”

Lauren pun berjalan kesumber suara diamana Tiffany memanggilnya, sesekali dia menoleh kebelakang dan masih menemukan Jessica yang tersenyum menatapnya. Ketika dia sudah hampir menghilang dari pandangan Jessica, Lauren menolehkan lagi kepalanya. Jessica meniupkan ciuman untuknya, Lauren menangkapnya dan memasukan ciuman yang Jessica berikan kedalam hatinya.

 

 

“Lauren” panggil Ny.Choi yang melihat Lauren membuka matanya perlahan.

Ny.Choi menggenggam erat tangan mungil Lauren “Lauren” panggil Ny.Choi lagi, karena tidak mendapatkan respon dari Lauren.

Lauren memiringkan kepalanya kesatu sisi mendengar panggilan itu, matanya sudah terbuka dengan sempurna. Kepalanya dibalut dengan perban dan sepanjang tangan kanannya dibalut perban untuk menutupi luka akibat pecahan pecahan kaca yang menggores tangannya.

“Grammy” gumamnya sangat pelan “Dimana Soo Ji Unnie? Apa dia baik baik saja?”

Ny.Choi tertegun mendengar pertanyaan Lauren. Dalam keadaan sakitpun, dia masih memikirkan orang lain.

“Soo Ji baik baik saja. Bagaimana dengan mu?”

“Aku baik baik saja” bibir Lauren tertarik membentuk senyum tipis.

Ny.Choi melihat garis diwajah Lauren, jika anak itu tidak baik baik saja “Jangan berbohong? Apa yang kau rasakan hmm?”

Lauren menarik nafas panjang dan membuangnya dengan susah payah “Badanku terasa remuk, semuanya sakit dan kepala ku terasa pusing” kata nya dengan jujur.

Ny.Choi mencium tangan Lauren yang berada digenggamannya “Kita akan mencari obat terbaik, untuk menghilangkan semua rasa sakit itu”

Lauren menatap wajah Ny.Choi dan mencari mata untuk menatapnya. Lauren melihat tatapan Ny.Choi yang sekarang sangat berbeda dengan tatapan yang dia lihat terakhir kali, begitu penuh kebencian saat menatapnya.

“Apa Grammy tidak membenciku lagi?” tanya Lauren dengan hati hati.

Mendengar pertanyaan itu, Ny.Choi menangis saat itu juga “Maaf, Grammy begitu jahat padamu” isaknya “Sekarang, tidak ada lagi kebencian. Grammy sangat menyayangimu”

Mata Lauren berkaca kaca mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ny.Choi “Apa ini mimpi?” tanya nya masih tidak percaya.

Ny.Choi menyentuh pipi Lauren lembut “Ini nyata, sayang. Kau cucuku sejak dulu dan selamanya” kata Ny.Choi penuh penekanan disetiap suku kata yang dia ucapkan.

“Boleh aku memeluk Grammy?” pinta nya dengan manja.

Ny.Choi berdiri dan mengangkat pelan tubuh Lauren “Kau akan selalu mendapatkan apa yang kau pinta” merengkuh tubuh Lauren pelan, takut jika sentuhannya menyakitkan Lauren.

“Apa Grammy menyakitimu?” tanyanya, karena Lauren hanya diam sejak tadi dalam pelukan Ny.Choi.

“Ini begitu menyenangkan” kata Lauren senang, dan semakin mempererat pelukannya.

“Mulai sekarang kita akan melalui hari hari yang indah. Tidak ada air mata, semuanya kita lakukan dengan tawa”

Yakso?”

Yakso

 

THE END

Hahahah nggak nggak, becanda deh. Tapi sebenernya pengen banget nulis THE END wkawka…

What do you think guys?

Banyak ya konflik nya? Yup, ini lah inti konflik nya. Percintaan antara BaekHyun – Taeyeon – Jung Soo hanya selingan tapi entah kenapa suka sama kisah cinta mereka. nanti kita bikin versi SIFANY nya deh tapi ga janji *PHP*

Next chapter akan jadi chapter terakhir dan epilog cerita ini dan The Choi’s Girls akan selesai *nangis didada Tiffany*😄

Terimakasih atas perhatian kalian pada cerita ini, komen komen yang kalian berikan meningkatkan semangat aku sampai puncak monas *mulei lebay* dan sampai ketemu dilast chapter yaaa!!!!

74 thoughts on “(AF) The Choi’s Girls Part 4

  1. Huaahhh.. Gilak speechless duhh
    Sbenernya byk yg pengen dikomenin dr awal, cuma aq kburu lupa thor 😁
    Puas bgt ama chapter ini, tp aq kesel knpa siwon ga mnta maaf jg k tiff 😠pdhal dia jg kan salah.
    Lauren bener2 bak malaikat kecil, daebak! Ada y anak yg se amaze dia? 😂

  2. serius itu sooji jahat banget. dia yg salah, lauren yg kena. inilah kenapa aku lebih suka joon hara /plak 😁 joon kan baik hara pun begitu.
    akhirnya ya di part ini ada siwon laurennya wkwk sokyut banget sih si daddy coba aja lauren beneran anaknya sama tiff (dunia pun gempar)
    pokoknya suka sama ff ini. panjang kek sinetron tapi asyik. btw, aku suka kisah taeteuk nya. secara mereka couple kesayanganku pertama kali. dan sejak ada byunbaek si cabe, pupus sudah harapanku hah 😪
    yaudahlah gak apa. berharap endingnya bahagia aja pokoknya. semoga byunbaek gak ganggu taeteuk lagi ya authornim. semoga sifany makin mesra. semoga joon sama hara /ups✌
    pokoknya suka. semangat last partnyaaaa

  3. Ceritanya bikin aku mewek kak. Lanjut terus jangan end dulu soalnya cerita ini tuh kerennn banget kak. Oh ya ceritain dong tentang daddynya lauren 😁 Gomawo keep writing kak fighting!

  4. Sedih ya kasian lauren udah dijahatin gitu tp trnyt cucu nya grammy pst grammy rasa skt banget udh jahatin cucunya sendiri.. Dan krn jessica makanya grammy sll liat ada diri jessica di dlm diri lauren… Walaupun udh sakit” gitu tp akhirnya smua bahagia hehe

  5. Wow.. susah ngedeskripsiin ff yg satu ini, dari part 1 sampe 4 ini keren banget lah pokoknya ceritanya. Ada yg bikin senyum2 gajelas, ada yg bikin mewek, sampe terharu sekaligus.. bener2 campur aduk bgt deh bacanya saking panjangnya. Salut sama authornya! Jjang!
    Duh jd sedih udh mau last chapter aja😦
    Ditunggu update-an nya, smg banyak sifany nya di last chapter hehe ^^

  6. Mantappp…. pantes aja panjang banget ya thor😊 penghabisan ceritanya wkwkwk^^
    Nangis pas bacanya… hebat daebak👍 gk nyangka kalo Lauren itu anaknya Jessica eonni dan Jessica eonni itu anaknya nyonya Choi😢😢
    Tiffany eonni Mommy and Wife yang paling hebat…. the best ever
    Saranghae Choi Family❤ sampai jumpa di fanfiction selanjutnya*ehhh harusnya author yang nulis ya… hehe^^ mianhe🙇

  7. aaarrghh!! daebak! ini nih yg ditunggu”
    bikin nyesek beneran, gereget bacanya, pas dah pokoknya, ditambah happy ending pula..
    ada sequel ya? siip!

  8. huuuwaaa, air mataku sampai ngalir pas baca chapter ini…..bener2 mngharukan..dari mulai lauren yg disiksa ma ny.choi, tiffany yg akhirnya lebih memilih lauren, walaupun sebenernya dia jg tersiksa harus pisah dg suami & putri2ny, sampai rahasia yg sudah terkuak n membuat mereka brsatu lgi, bener2 daebak ni authornya…

  9. Jadi,joon itu anaknya taeyeon ama baekyun,kirain anaknya taeyeon ama leeteuk.
    Wow…..saeng benar2 daebak.bagus banget ffnya.
    Jadi,sica itu putri kandungnya nyonya choi dan lauren itu putrinya sica.untung saja sifany tidak jadi cerai.kirain udah end saeng.suka banget ama konfliknya saeng.ok deh,unnie lanjut baca part endnya.tetap semangat saeng.keep writing.jjang.

  10. Part 4 bikin banjir nih bacanya.
    Kesel liat kelakuan Ny. Choi gak kasian apa, dan menurutku kalo anak kecil ngalamin hal itu pasti akhirnya trauma tapi lauren hebat yee wkwkwk,
    Kecewa liat kelakuan soo ji disini, siwon juga aaaa pokoknya ngeselin part ini bikin mata sembeb huhuhuhuhu dah deh good author nya bikin reader nangis 😢

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s