(AF) Long Search

LONG SEARCH

 Long Search

Author : @q2lovepink

Main Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang and Jessica Jung

Other Cast : Choi SeungHyun, Im YoonA, Go Ara

Genre : Romance, Hurt, and Family

Rating : PG (17+)

Length : Chapter

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku. Apabila ada kesamaan cerita ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak di sengaja.

So Happy Reading ;)

 

 

“Unnie.. tolong aku!! Lepaskan aku unnie!! Unnie…!!!”

 

“Arrgggghhh…!” nafas Jessica tersengal ketika mimpi buruk itu kembali menghantui dirinya. Inilah alasannya ia sangat takut untuk tidur. Sebisa mungkin Jessica menahan dirinya untuk tidak memejamkan matanya  tanpa pelukan suaminya. Hanya pelukan hangat suaminya-lah yang mampu mengusir mimpi buruk itu. Jessica mengambil segelas air dengan tangan yang bergemetar di meja samping kursi santai yang tadi mengantarnya pada mimpi yang sama selama bertahun – tahun.

Rasa bersalah terus menggerogoti hatinya atas kejadian 20 tahun yang lalu. Ia tidak pernah bisa memaafkan dirinya karena tak mampu mencegah semua peristiwa buruk itu terjadi. Sanggupkah ia menebus kesalahannya? Kesalahan yang telah mengakibatkan nyawa seseorang melayang. Tidak, pangkal dari kejadian buruk itu adalah orang lain bukan dirinya. Orang yang pernah ia kagumi, orang yang selalu menjadi panutannya. Namun semua pemikiran itu pupus seiring rasa bencinya yang kini semakin membesar. Ia tidak ingin lagi mengingat orang itu. Ia sudah menguburnya jauh di dalam hatinya yang tak akan terjambah.

Dengan peluh dingin yang bercucuran di kulit putihnya, Jessica bersusah payah menyeret langkahnya menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajahnya yang terlihat pucat. Belum sempat ia sampai pada tujuannya, langkahnya harus terhenti karena suara ketukan pintu.

“Siapa?” ucapnya parau.

“Nona Choi, makan malam anda sudah siap.” Jawab salah satu maid yang tadi mengetuk pintu kamarnya.

“Ne, aku akan segera turun Min Ah-ssi. Gomawo.”

 

 

Jessica menuruni anak tangga secara perlahan. Seperti malam – malam sebelumnya ia kembali disuguhkan pada pemandangan kosong di hadapannya. Ya, sudah satu minggu ini suaminya harus pulang larut malam dikarenakan proyek besar yang harus ditanganinya. Jessica menghela nafas berat sebelum menarik kursinya dan duduk di depan makanan yang sejak tadi sudah disediakan oleh para koki dirumahnya. Menjadi seorang menantu dalam keluarga Choi memang harus menerima segala konsekuensinya, ia paham itu. Untuk itulah ia hanya mampu menahan diri untuk tidak memberontak.

 

**Sifany**

Seorang gadis berambut hitam pekat, tengah membereskan sisa – sisa makanan bekas pemilik rumah yang saat ini ia tempati. Sudah 13 tahun ia bekerja pada mereka tanpa bayaran sedikitpun. Meskipun begitu, ia tetap bersyukur karena masih bisa berlindung di bawah atap yang nyaman. Selama satu tahun sebelum ia masuk kedalam rumah ini, ia harus bekerja di bawah terik matahari. Saat malam tiba, ia harus tidur beralaskan kardus – kardus bekas dengan kain lusuh sebagai pengganti atapnya. Majikannya yang terdahulu tidak mengijinkannya untuk tinggal bersama mereka. Gadis malang ini hanya diberi makan pada pagi hari dan malam hari. Selebihnya ia harus menjual kue – kue di jalanan tanpa boleh bersisa. Setelah mereka bosan padanya, mereka lantas menjualnya pada keluarga Go yang pada saat itu tengah mencari asisten rumah tangga yang rela bekerja untuknya tanpa diberi upah. Begitu mendapat tawaran menguntungkan ini, ia tidak menyia – nyiakan kesempatan. Dengan bayaran yang tidak terlalu tinggi, gadis ini kembali berpindah tangan.

Setelah seharian bekerja, tentu rasa lelah mulai menyerang tubuhnya. Ia menyandarkan sejenak punggungnya pada dinding dapur seraya memejamkan mata guna mengurangi rasa lelahnya. Namun belum satu menit ia melakukannya, sebuah cacian kembali harus diterimanya.

“MIYOUNG!!!! Apa yang kau lakukan disini, eoh? Apa appa ku mempekerjakanmu hanya untuk bersantai –  santai, HAH?” Go Ara putri tunggal sang pemilik rumah, dari sejak awal memang tidak menyukai Miyoung. Selalu ada saja yang ia permasalahkan, bahkan ia berani menyiksanya. Seperti yang sekarang terjadi. Go Ara menarik kuat rambutnya dan menyeretnya menuju counter dapur. Ia tak segan – segan membenturkan kepala Miyoung yang menimbulkan luka memar di kening atasnya. Miyoung meringis kesakitan. Percuma saja ia berteriak, tidak akan ada seorang pun yang berani menolongnya, kecuali satu.

“Go Ara hentikan!” mendengar suara neneknya, ia langsung diam tak berkutik. Nyonya besar Go adalah orang yang sangat baik. Ia berbeda dengan putranya, menantunya dan juga cucunya. Dia-lah salah satu alasan Miyoung mampu bertahan. ia sangat menyayangi Miyoung seperti cucunya sendiri. Ia juga memberikan pendidikan pada Miyoung –yang dulu tidak didapatkannya—dengan bantuan Lim YoonA putri dari kepala rumah tangga Lim Tae Hee. YoonA dan ibunya tinggal di pavilion kecil yang disediakan keluarga Go di halaman belakang rumah mereka. Berkat rayuan nyonya besar Go, Miyoung akhirnya diperbolehkan tinggal bersama keluarga Lim.

YoonA sangat menyayangi Miyoung, mereka sudah seperti kakak beradik. YoonA mengajari Miyoung berbagai hal. Jika berada disamping YoonA, Miyoung akan berubah menjadi gadis yang ceria. Ia dapat melupakan perlakuan buruk yang selalu diterimanya selama bekerja. Meskipun tuan Go tidak pernah membayarnya, bukan berarti Miyoung tidak mendapatkan hidup yang layak. Secara diam – diam nyonya besar Go memberinya beberapa lembar won di setiap awal bulan. Selain itu Lim Tae Hee juga dengan senantiasa membagi kasih sayangnya untuk Miyoung.

“Unnie, lukamu cukup dalam. Apa ini sakit?” YoonA tengah mengobati luka Miyoung yang tadi disebabkan oleh Go Ara. Ia mengompresnya dengan handuk kecil yang dicelupkan pada air dingin.

“Aww!! Yoong, pelan – pelan saja.” Ringis Miyoung kesakitan.

“Ups! Mianhae.” Dengan sangat hati – hati YoonA kembali mengompresnya,” Unnie, aku tidak mengerti kenapa Go Ara sangat membencimu. Padahal setahuku Unnie tidak pernah menganggunya,” lanjut YoonA masih dengan aktivitasnya mengompres Miyoung.

“Entahlah Yoong, mungkin karena statusku yang jauh dibawahnya.” Jawab Miyoung asal sembari menahan sakit. “Tapi aku tidak pernah menyesalinya, karena berkat mereka aku bisa bertemu denganmu, ibumu dan juga nyonya besar Go.” Tambah Miyoung tersenyum senang.

“Ne, aku juga senang bertemu denganmu unnie.” YoonA memeluk tubuh kurus Miyoung erat seolah mereka tidak akan terpisahkan.

 

**Sifany**

Akibat kurang tidur semalam, kini kepala Jessica terasa pening. Matanya terasa berat untuk dibuka. Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya. Dengan susah payah Jessica berusaha membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat ialah wajah tampan suaminya. Mata abu – abunya, senyuman manisnya begitu menyejukkan hatinya.

“Good morning, my ice princess.”

“Good morning, oppa. Maaf, semalam aku tidak menyambut kepulanganmu.”

“gwenchana, akulah yang seharusnya minta maaf padamu. Kau pasti sangat tersiksa dalam tidurmu.”

“Hm, bagaimana pekerjaannmu oppa? Apa semuanya berjalan lancar?” Jessica sudah beranjak duduk dengan bersandar pada dada bidang suaminya. Ia memain – mainkan kancing piyama pria yang telah dinikahinya 2 tahun yang lalu itu.

“Tentu saja honey, ini semua berkat dirimu. Kau-lah penyemangatku.” Jessica mendongakkan kepalanya untuk menatap suaminya.

“Oppa,”

“Hm,”

“Kau tidak akan lupa dengan janjimu kan?” pria yang mengaku sangat mencintai istrinya ini, tersentak sejenak. Ya, ia pernah berjanji jika urusan kantornya telah selesai maka ia akan memenuhi permintaan istrinya yang menurutnya agak sulit.

“Chagie-ya, aku pasti akan mencarinya. Tapi kau harus sabar ne, ini bukanlah hal yang mudah.”

“Ne arraseo. Sekarang cepatlah kau mandi oppa. Aku tidak tahan dengan baumu.” Jessica berpura – pura menutup hidung mancungnya dan mendorong tubuh suaminya agar menjauh.

“Mwo? Bukankah kau menyukainya?” seringainya seraya mendekati Jessica dan mengepung tubuhnya.

“YAK!! Oppa!!!”

 

**Sifany**

PRANG

Karena tergesa – gesa, Miyoung tak sengaja memecahkan piring yang hendak dibawanya ke meja makan. Ia segera mengumpulkan pecahan – pecahan piring yang berserakan di lantai. Mendengar kegaduhan yang diciptakan Miyoung, semua penghuni rumah berlari kearah dapur untuk melihat kekacauan yang baru saja menganggu ketenangan mereka. Mata nyonya Go membulat sempurna mengetahui Miyoung telah memecahkan piring – piring miliknya. Dengan amarah yang sudah memuncak, tanpa rasa iba ia menampar keras pipi kanan Miyoung. Tubuh Miyoung tersungkur ke belakang, kepalanya membentur lemari es yang berdiri tepat dibelakangnya.

Ini bukan kali pertama Miyoung mengalaminya. Sudah puluhan kali ia menerima siksaan dan cacian dari mereka. Bahkan ia pernah mendapatkan yang lebih dari sekedar tamparan. Miyoung menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih yang begitu terasa di pipinya yang kini memerah. Ia mencoba berdiri dengan memegang pada ujung counter dapur. Kepalanya tertunduk dalam tak berani memandang ke depan.

“Mianhae, nyonya.” Lirihnya pelan.

“Cih, apa kata maaf cukup untuk mengganti piring – piring yang kau pecahkan?” Kini Go Ara yang menimpali. Ia berjalan mendekat kearah Miyoung lalu mendorong bahunya keras.

“CUKUP!! Miyoung cepat kau bereskan semuanya! Aku tidak ingin mendengar keributan lagi.” Tuan Go yang merasa tidak tahan dengan pertengkaran yang ditimbulkan istrinya, putrinya dan juga Miyoung, berusaha untuk mengakhiri keributan di pagi hari ini. Lim Tae Hee membantu Miyoung membersihkan kekacauan di dapur. Sebenarnya ia tidak tega melihat gadis yang sudah dianggap putrinya ini terus menerus tersiksa. Namun apa daya, ia tidak memiliki kekuasaan apapun di rumah ini. nyonya besar Go pun yang notabene-nya ibu dari tuan Go tidak mampu melakukan apapun jika putranya sudah mengambil keputusan.

“Miyoung-ah, kau tidak apa – apa? Maaf bibi tidak bisa membelamu.” Ucap bibi Lim seraya mengelus rambut panjang Miyoung.

“Gwenchana bibi Lim, aku baik – baik saja.” Nada suara Miyoung sedikit bergetar akibat menahan tangisan.

“Kau adalah gadis yang baik anakku, bibi yakin suatu hari nanti kebahagian akan menjemputmu.” Mendengar ucapan tulus bibi Lim, membuat Miyoung tidak sanggup lagi menahan air matanya. Miyoung memeluknya seakan ia adalah ibu kandungnya.

“Gomawo, aku sangat menyayangimu.”

“Bibi juga sangat menyayangimu, nak.”

 

**Sifany**

Seorang pemuda dengan senyumannya yang khas melajukan motornya dengan kecapatan tinggi. Ia tidak ingin mengalah pada lawannya Jong In Suk. Ekspresinya tampak serius walau tertutup helm fullface nya. Ia memecah jalanan yang sepi dengan kelihaiannya mengendarai motor gede-nya.  setelah mencapai garis finish, pemuda itu lantas membuka helmnya yang menutupi wajah tampannya. Ia menoleh ke belakang seraya menyeringai pada lawannya yang tertinggal jauh di belakang.

Begitu Jong In Suk mensejajarkan motornya dengan miliknya, pemuda itu berujar angkuh, “Bukankah sudah kukatakan kalau kau tidak sanggup mengalahkanku?”

“Kali ini kau boleh menikmati kemenanganmu Choi, tapi suatu saat nanti kau akan bertekuk lutut di hadapanku. Ingat itu!” setelah mengatakan ancamannya, Jong In Suk lalu menancap gas dan melesat pergi dengan kemarahan yang menyelimutinya.

“Kau memang yang terbaik Hyung!” puji pemuda lain yang sedari tadi menjadi saksi pertarungan sengit temannya dengan Jong In Suk untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara mereka dalam menaklukan jalanan.

“Kau lihat bagaimana ekspresi kekesalannya? Ia terlihat sangat lucu, tch.” Pemuda itu kembali memasang helmnya hendak beranjak pergi.

“Kau mau kemana Hyung?”

“Setelah kemenanganku kau pikir kemana kita harus pergi, eoh? Tentu saja kita harus bersenang – senang dengan para gadis seksi di bar. Kajja aku sudah tidak sabar menyentuh mereka.” Ucapnya dengan kilatan mata penuh gairah.

 

**Sifany**

Pagi ini Miyoung diantar YoonA untuk berbelanja kebutuhan makanan keluaga Go di pasar. Karena tidak ingin orang – orang melihat wajahnya yang penuh dengan memar, Miyoung menggunakan masker dan kain panjang yang ia sampirkan di atas kepalanya dan sisanya ia belitkan pada leher jenjangnya. Miyoung terlihat seperti gadis berkerudung merah bermasker. Hanya saja kain yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya berwarna hitam.

Miyoung dan YoonA berjalan berdampingan dengan tangan saling menggenggam. Menikmati indahnya kota berasama orang yang disayanginya begitu sangat mengasyikkan meskipun tujuannya hanya sekedar berbelanja. YoonA merasa iba melihat keadaan Miyoung, ia bahkan tidak ingin menunjukkan penderitaannya pada dunia. YoonA tersenyum miris tatkala menatap Miyoung. Kapan gadis disampingnya ini akan menemukan kebebasannya? Ia selalu berdoa setiap waktu untuk kebahagian Miyoung. Ya, hanya itu yang paling diharapkannya sepanjang ia mengenal Miyoung.

“Unnie, jika unnie berpenampilan seperti ini, orang – orang akan menganggap unnie jelek.” Ucap YoonA bercanda. Miyoung hanya tertawa ringan, “haha Itu lebih baik kurasa.”

Ketika sampai di sebuah kedai sayuran, YoonA berpamitan untu pergi sejenak. Ia ingin membeli sesuatu di tempat lain. Miyoung mengangguk mengiyakan, toh ia juga sudah terbiasa pergi sendiri tanpa ditemani YoonA. Hari ini gadis jangkung itu memaksa untuk ikut bersamanya. Miyoung menggeleng – gelengkan kepalanya mengingat bagaimana YoonA merengek padanya ketika ia meminta ikut.

“Nona, ini belanjaanmu.” Suara ahjuma penjual sayur membuyarkan lamunan Miyoung.

“Oh, ne gomawo ahjuma.” Miyoung beralih menuju kedai lainnya. Ia ingin membeli beberapa bumbu dapur yang telah habis. Saat ia tengah memeriksa hasil belanjaannya, tiba – tiba ia mendengar suara keributan dari arah timur tempatnya berdiri. Merasa penasaran, Miyoung melangkahkan kakinya menuju arah sumber suara.

Orang – orang bergerumun melingkari sesuatu. Beberapa diantara mereka ada yang berkata, “kasihan sekali pemuda itu.” Ada pula yang mengatakan, “Ia pasti terlibat tawuran,” bahkan yang lebih parah lagi ada yang berkomentar, “Ia pasti seorang pencuri yang tertangkap basah dan akhirnya ia mendapatkan balasannya.” Kenapa mereka hanya berkomentar tanpa berniat menolongnya? Batin Miyoung kesal.

Dengan tidak mengindahkan tatapan – tatapan aneh orang – orang disekitarnya, Miyoung berjalan mendekati pemuda yang tengah tersungkur kesakitan itu. Miyoung berlutut di depannya dan mencoba membalikkan tubuhnya yang menggeliat bagaikan kucing yang tengah tertidur kedinginan.

“Tuan, apa kau baik – baik saja?” tanyanya lembut. Pemuda itu membuka matanya perlahan setelah mendengar suara lembut Miyoung. Ia mengerjap – erjap bingung. Pandangannya masih samar – samar.

“adakah yang bersedia membantuku mengangkat tuan ini? dia butuh pertolongan segera.” Ucap Miyoung tegas. Orang – orang yang tadi hanya menontonnya saja, saling pandang dan berbisik. Merasa tidak mendapat respon, Miyoung menghela nafas kasar.

“Baiklah jika memang tidak ada yang bersedia membantuku, aku akan melakukannya sendiri.” Miyoung mengangkat tubuh pemuda itu dengan tenaga minim yang dimilikinya. Ia berusaha mati – matian untuk tidak jatuh. Miyoung membopong tubuh pemuda yang jauh lebih besar darinya itu ke tempat yang lebih nyaman. Ia menemukan sebuah kedai kosong yang menyediakan bangku kayu panjang di terasnya. Miyoung tersenyum kecil, ia akan membawanya ke tempat itu. Setidaknya ia harus mengobati luka – luka yang menempel di sekujur tubuhnya.

Sesampainya di kedai tersebut, Miyoung membaringkannya di atas bangku kayu. Lalu ia berlari mencari obat – obatan dan air mineral untuk pemuda yang ia tolong itu. Setelah mendapatkannya, dengan cekatan Miyoung mengobatinya secara hati – hati. Sebelumnya, Miyoung memberikan air mineralnya terlebih dahulu. Ia mengangkat kepalanya dan membantunya untuk minum.

Butuh waktu 15 menit untuk Miyoung menyembuhkan luka – lukanya. Memang tidak sembuh sepenuhnya, ia hanya mencegahnya agar tidak semakin parah. Menyadari ia terlalu lama berada diluar, Miyoung tersentak. Nyonya Go pasti akan kembali menyemburkan amarahnya. Miyoung melirik sekilas kearah pemuda tersebut, sepertinya ia sudah tidak apa – apa jadi Miyoung bisa dengan tenang meninggalkannya. Baru saja ia hendak bangkit, sebuah tangan kekar menahannya.

“Kau mau kemana nona?” tanyanya dengan suara parau.

“A-aku harus segera pergi tuan, lukamu sudah aku obati. Jadi aku rasa tugasku untuk menolongmu sudah selesai.” Jawab Miyoung gugup. Ia belum terbiasa dengan sentuhan seorang pria seperti ini.

“Kenapa kau menolongku? Bahkan semua orang tidak ingin menyentuhku. Apa kau tidak takut jika aku berbahaya untukmu?” Lanjut pemuda itu lagi. Miyoung ternganga dengan pertanyaan yang diajukan untuknya. Tentu saja pemuda itu tidak dapat melihatnya karena mulut Miyoung tertutup masker.

“Aku rasa jika kita ingin menolong seseorang, kita tidak perlu tahu siapa orang yang kita tolong tersebut. Dan mengenai apakah kau akan berbahaya untukku atau tidak, aku tidak peduli. Karena aku tidak bisa tahan melihat seseorang tersakiti. Itu akan mengingatkanku pada diriku sendiri.” pemuda yang terluka itu tertegun dengan penuturan Miyoung. Meskipun ia tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup, yang hanya menyisakan sepasang mata indah dan hidung atasnya, namun ia yakin dengan sorot mata lembut gadis ini jika ia benar – benar tulus.

Miyoung kembali untuk bangkit, namun lagi – lagi ia ditahan. Miyoung memejamkan matanya menahan kesabarannya untuk tidak mengeluarkan kata – kata pedas yang bisa menyakiti hati pemuda tersebut.

“Tuan, aku mohon biarkan aku pergi. Kau akan menghancurkan hidupku jika kau masih menahanku disini.” Mohon Miyoung berharap pemuda ini mau melepaskan genggamannya. Kali ini ia yang terperangah dengan pernyataan Miyoung. Apa maksudnya hidupnya akan hancur jika aku menahannya lebih lama? Tanyanya dalam hati. Dengan enggan, ia mengendurkan genggamannya pada lengan Miyoung yang terasa hangat. Miyoung tersenyum tulus yang hanya terlihat melalui lengkungan bulan sabitnya. Ia membungkuk dan berkata, “Aku harap kau akan segera pulih tuan. Apapun masalah yang menimpamu, tetaplah tersenyum karena itu akan membuatmu menjadi lebih kuat. Jika kau terluka lagi seperti ini, carilah tempat yang lebih baik karena aku tidak akan mungkin berada ditempat yang sama lagi denganmu.” Ujarnya dengan diakhiri kalimat candaan. Ia pun berlalu meninggalkan tanda tanya besar pada pemuda yang kini tengah duduk memandangi punggung gadis itu menjauh.

 

**Sifany**

Seperti dugaannya, nyonya Go dan putrinya Go Ara telah bersiap diambang pintu untuk mengeluarkan cacian kejam mereka. Miyoung menunduk merasa bersalah. Ia tahu keterlambatannya jauh di luar batas. Miyoung siap menerima kata – kata menyakitkan yang akan keluar dari mulut mereka.

“Eomma, lihatlah tuan putri kita baru saja tiba. Apa mungkin ia sedang mencari pangeran tampannya di pasar tadi? Hahaha…” Go Ara yang mulai membuka mulut pedasnya dengan nada mencemooh. Nyonya Go berjalan cepat mendekati Miyoung dan menarik rambutnya lalu menyeretnya masuk hingga semua kantung belanjaannya jatuh berserakan.

“DASAR GADIS BODOH!!! Apa yang kau lakukan di luar SANA??? Apa kau pikir kau bisa seenaknya keluar masuk rumah ini HAH?? INGAT! Kau hanyalah seorang BUDAK di rumahku!!!!!” nyonya Go melempar tubuh Miyoung ke dasar lantai. Ia juga melemparkan tomat yang tadi di bawa Miyoung pada wajahnya. Namun bukan itu yang membuat Miyoung menangis melainkan kata ‘budak’ yang dilontarkan nyonya Go padanya. Satu kata itu telah mencabik – cabik harga dirinya. Ia merasa dirinya begitu rendah. Lebih rendah daripada seekor binatang  liar yang mencuri makanan. Miyoung tidak mampu berdiri, hatinya terlalu sakit. Ia akan berlapang dada menerima hukuman apapun yang mengenai fisiknya, asalkan satu kata itu tidak meluncur untuk menghakiminya.

Nyonya besar Go yang melihat Miyoung menangis, tidak dapat menahan dirinya lagi. Ia menampar menantunya yang dibalas dengan tatapan tajam oleh wanita yang telah dinikahi putranya itu. Go Ara mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. Ini adalah kali pertama nyonya besar Go melakukannya dan itu semua dikarenakan satu orang yang disayanginya, Miyoung. Tangannya bergetar setelah mendaratkan tamparan keras pada menantunya.

“Eomonim.. kau…” tak tahan dengan perlakuan ibu mertuanya, nyonya Go lantas berlari menuju kamar utamanya. Go Ara menyusulnya dari belakang. “Eomma tunggu aku!!”

Lim Tae Hee meraih tubuh lemah Miyoung yang masih bergetar. Ia mendudukannya di kursi makan, memberinya minum dan mengelus rambut hitam panjangnya.

“Miyoung-ah, uljima!” bibi Lim menghapus air mata Miyoung yang tidak mau berhenti. Terlihat sekali jika hati gadis ini sangat sakit.

“Apakah aku seburuk itu bibi Lim?” isaknya dengan mulut bergetar.

“Aniyo, kau adalah gadis yang sangat istemewa. Hanya orang – orang bodoh yang tidak menyadarinya.” Ucap bibi Lim lembut. Miyoung masih terisak.

“Miyoung-ah, maafkan cucu dan menantuku ne. aku tahu permintaan maafku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Tapi maukah kau memaafkan mereka?” Miyoung hanya terdiam menanggapi permintaan maaf nyonya besar Go. Sanggupkah ia melakukannya? Entahlah.

 

**Sifany**

Tuan dan nyonya Choi mengundang Jessica dan putranya untuk makan malam bersama mereka. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Nyonya Choi sangat merindukan putranya. Sejak menikah dengan Jessica ia jarang mengunjungi kedua orang tuanya. Itulah yang membuat nyonya Choi terkadang kesal pada menantunya.

“SeungHyun-ah akhirnya kau datang juga, eomma sangat merindukanmu. Apa begini caramu memperlakukan eomma mu, eoh? Kau bahkan jarang menghubungi eomma. Keterlaluan sekali.” Rajuk nyonya Choi manja.

“Eomma, akhir – akhir ini aku tidak bisa meninggalkan urusan kantor. Aku bahkan harus mengorbankan istriku yang cantik ini demi pekerjaanku.” Nyonya Choi mendelik pada Jessica, lagi – lagi wanita ini. lihatlah, putraku lebih memilihnya daripada eomma nya sendiri, batinya.

“Sica-ya bagaimana kabarmu nak? Kau pasti sangat kesepian selama putraku tidak ada, ne?” berbeda dengan nyonya Choi, tuan Choi selalu bersikap ramah pada menantunya. Ia memeluknya hangat.

“Aniyo, aboenim. Aku bisa mengatasi kesepianku. Terimakasih sudah memperhatikanku.” Jessica membungkuk hormat pada ayah mertuanya. Ketika mereka akan beranjak menuju meja makan, suara keras pintu menginterupsi langkah mereka. Sontak keempatnya langsung menoleh pada orang yang telah membuat kegaduhan. Seorang putra Choi yang lain dengan penampilan yang sangat berantakan. Choi Siwon.

“Lihatlah anak itu! Apa masih pantas ia menyandang nama keluarga kita?” ucap Nyonya Choi tajam. Jessica, SeungHyun juga tuan Choi hanya memandang heran pada Siwon putra kedua dalam keluarga Choi.

Siwon memang sangat bertolak belakang dengan kakaknya Choi SeungHyun. Ia lebih memilih hidup di jalanan dibandingkan bersenang – senang di rumah mewah yang tidak pernah memberinya arti sebuah keluarga. Nyonya Choi sangat membencinya. Ia selalu memperlakukannya dengan tidak wajar. jadi seperti inilah Siwon tumbuh.

Well, Siwon merupakan anak dari wanita simpanan tuan Choi. Pernikahan Choi Kiho ayahnya dan Choi Hyo Rin tidak berdasarkan cinta. Mereka menikah untuk kepentingan bisnis. Oleh karena itulah tuan Choi berselingkuh dengan wanita yang sangat dicintainya, Song Hae Na. Wanita itu memberinya seorang putra yang tampan bernama Choi Siwon. Ketika Siwon berusia 5 tahun, ibunya meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tuan Choi terpaksa membawanya pulang ke kediamannya. Pada awalnya nyonya Choi marah begitu mengetahui suaminya memiliki anak lain dari hasil perselingkuhannya. Namun karena ia tidak ingin putra kandungnya tersingkir oleh Siwon, ia akhirnya mengalah dan menerima Siwon tinggal bersama mereka. Tuan Choi mengaku pada publik jika Siwon adalah putra kerabatnya yang telah meninggal sehingga mereka mengangkatnya sebagai putra kedua mereka.

Hubungan Choi SeungHyun dan Choi Siwon tidak terlalu dekat. Mereka jarang berkomunikasi. SeungHyun mengemban pendidikannya di LA, sementara Siwon, ia hanya mendapat pendidikan sewajarnya. SeungHyun memang tidak membenci Siwon, namun ia tidak tahu bagaimana ia harus bersikap terhadap adiknya. Terlebih lagi, Jessica sering menasehatinya ‘jika ia tidak ingin menyesal di kemudian hari, maka perlakukanlah saudaramu dengan baik.’

“Choi Siwon! Apa kau masih berurusan dengan berandalan – berandalan itu, eoh?” suara keras tuan Choi memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Apa appa peduli padaku? Selama ini aku selalu melakukan apa yang aku mau. Aku juga tidak pernah melibatkan kalian dalam urusanku.”

“Tapi kau akan menghancurkan nama keluarga Choi!” balas nyonya Choi tak kalah keras.

“Kalau begitu keluarkan aku dari keluarga ini. beres kan?” Siwon melenggang santai menuju lantai atas untuk membawa beberapa bajunya. Ia tidak mempedulikan tatapan tajam dari nyonya Choi.

Tuan Choi memegangi dadanya yang terasa sakit, ucapan Siwon tadi sukses membuatnya syok.

“Appa gwenchana?” Tanya SeungHyun khawatir.

“Tolong ambilkan obatku yeobo.” Nyonya Choi segera berlari mengambil obat yang selalu dikonsumsi suaminya. Jessica dan SeungHyun membantu tuan Choi berbaring diatas sofa.

“Oppa, bicaralah pada Siwon,” bisik Jessica.

“Tapi chagie-ya ini bukan waktu yang tepat.”

“Aku yakin ia berniat pergi sekarang, jadi sebelum semua itu terjadi sebaiknya oppa mencegahnya.” SeungHyun tampak berfikir sejenak sebelum mengikuti permintaan istrinya.

“Baiklah, akan kucoba.” Jessica memberikan senyuman terbaiknya pada SeungHyun. “Kau memang yang terbaik Oppa.” Bisiknya lagi membuat SeungHyun semakin bersemangat.

 

Di dalam kamarnya, Siwon tengah memasukkan beberapa baju yang akan dibawanya ke dalam tas besar. Suara ketukan pintu menghentikan aktifitasnya. Setelah pintu terbuka, Siwon terlonjak kaget mendapati kakaknya berada di dalam kamarnya. Ini adalah hal yang sangat langka. SeungHyun berdehem keras sebelum memulai pembicaraan.

“Bisakah kita bicara sebentar?” Siwon mengangkat bahunya. “Tentu saja Hyung, masuklah!” kamar Siwon tidak se-rapi kamar SeungHyun. Banyak barang – barang yang berserakan dan ada beberapa poster tokoh favorite nya tergantung di dinding. Kamar Siwon bernuansa merah hitam. Dilihat dari bentuk kamarnya, SeungHyun dapat menilai jika adiknya ini merupakan orang yang mencintai kebebasan. Semuanya terbukti dari banyaknya benda yang menonjolkan sifat asli Siwon.

“Apa yang ingin Hyung bicarakan?” Karena terlalu asyik mengamati kamar Siwon, SeungHyun sampai tidak menyadari jika Siwon sudah duduk di depannya.

“Ah, eum begini.. eum… aku tahu mungkin ini terlalu klise untukmu. Tapi aku rasa akan lebih baik kalau kau tinggal bersamaku. Dengan begitu kita lebih bisa saling mengenal satu sama lain dan kau juga tidak akan sering berdebat dengan appa dan eomma.” bagai tersengat listrik ribuan volt, tubuh Siwon menegang. Apa ia tidak salah dengar? Choi SeungHyun kakaknya mengajaknya untuk tinggal bersama? Tidak, ini tidak mungkin. Ia pasti sedang bermimpi. Siwon menggeleng – gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Apa Hyung yakin dengan ucapan Hyung?”

“Tentu saja Choi Siwon. Aku juga berharap kau bisa menjaga istriku ketika aku tidak ada.” Siwon mengangguk setuju. Ia juga sudah lama memimpikan untuk bisa lebih dekat dengan kakaknya. Kedua putra Choi itu saling melempar senyum.

 

**Sifany**

Sepanjang malam kemarin Miyoung tidak berhenti menangis. YoonA sudah berusaha untuk menghiburnya, namun sepertinya kali ini ia harus menelan kekecewaan. Ucapan nyonya Go kemarin masih berbekas di hatinya. Mereka juga mengurungnya di rumah keluarga Lim dengan alasan Miyoung harus menerima hukuman untuk tidak pergi kemanapun selama 3 hari.

“Unnie, ayo makanlah! Jangan menyiksa dirimu seperti ini, aku mohon!” bujuk YoonA untuk kesekian kalinya.

“Aku tidak lapar Yoong, kau saja yang makan. ne,”

“Shirreo! Aku tidak akan makan kalau unnie juga tidak makan.”

“Tidak bisa Yoong, kau akan sakit.”

“Lalu bagaimana dengan unnie? Unnie juga bisa sakit sepertiku.” Miyoung hanya menghela nafas menghadapi sifat keras kepala YoonA. Dengan berat hati ia menerima mangkuk nasi yang disuguhkan YoonA, sehingga membuat gadis yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya itu tersenyum lega.

 

Sementara di tempat lain, sesuai janjinya pada SeungHyun untuk menjaga istrinya, kini Siwon membuktikannya dengan menemani Jessica pergi ke butik langganannya. Ketika mereka melewati pasar di daerah Myeongdong, Siwon menghentikan mobilnya secara mendadak.

“Choi Siwon apa yang kau lakukan?”

“Noona, apakah kau keberatan jika aku mampir kesana sebentar?” Siwon menunjuk kearah pasar yang sontak membuat kening Jessica berkerut hebat.

“Jangan katakan kalau kau ingin memeras para pedagang kecil itu Choi Siwon.” Geram Jessica.

“Aniyo, aku tidak mungkin melakukannya Noona. Aku justru sangat membenci para preman yang memeras mereka.”

“Benarkah?”

“Kau bisa pegang janjiku.”

“baiklah. Lalu apa yang ingin kau lakukan disana?”

“Eumm.. aku.. aku ingin berterima kasih pada seseorang.”

“Seseorang? Nugu?”

“Entahlah, gadis itu telah menolongku kemarin dan bodohnya aku tidak sempat mengucapkan terima kasih.” Jessica tersenyum penuh arti padanya.

“Baiklah aku akan menemanimu. Kajja!”

 

Sudah hampir 30 menit Jessica dan Siwon berkeliling pasar, namun orang yang mereka cari belum juga ditemukan.

“Siwon, apa kau yakin gadis itu akan kembali kesini?” Tanya Jessica ragu.

“Aku rasa begitu.”

“Bagaimana ciri – cirinya?”

“Ia mengenakan masker dan kain hitam yang menutupi kepalanya.”

“Mwo? Kenapa ia berpenampilan seperti itu?”

“Mungkin karena ia tidak ingin kulitnya terkena sinar matahari.” Jawab Siwon asal.

“Aku sama sekali tidak yakin dengan jawabanmu Choi Siwon.” Desisnya.

Merasa putus asa dengan pencarian mereka, Siwon memutuskan untuk berhenti mencari dan kembali pada tujuan awal yaitu mengantar Jessica berbelanja keperluannya di butik langganannya.

“Sudahlah Noona, sepertinya ia tidak akan datang hari ini.” keluh Siwon dengan nada penuh penyesalan.

“Apa kau yakin? Tidak masalah bagiku jika kita harus mencarinya lagi.”

“Aniyo, aku sudah lelah. Sebaiknya kita pergi saja.”

“Mmm baiklah.” Sebelum melangkah menuju mobilnya, Jessica kembali menoleh ke belakang. Terbesit kenangan masa lalunya di tempat ini. Jessica menggelengkan kepalanya mencoba menghapus memori buruknya.

 

Flashback On

Myeongdong, 1995

“eomma, apa eomma akan mengajak kita kesini lagi?” Jessica yang kala itu masih berusia 10 tahun begitu antusias ketika ibunya mengajak ia serta adiknya yang berusia 7 tahun pergi ke pasar. Mereka tidak pernah pergi ke tempat ini sebelumnya. Maklum saja, keadaan ekonomi mereka bisa dibilang berada di atas rata – rata. Hwang Gyu Ri ingin mengajari kedua putrinya untuk tetap hidup sederhana dan tidak meremehkan orang lain.

“Apa kalian senang sayang?”

“Ne, kami sangat senang eomma.” Jawab kedua putri Hwang itu kompak.

“Baiklah, kalau begitu eomma akan lebih sering lagi mengajak kalian. Eotte?”

“Yeayyy!!! Hore!!!!”

 

Malam harinya Hwang Gyu Ri dan suaminya bertengkar hebat. Jessica yang kebetulan belum terlelap, tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

“Apa?! Yeobo aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya! Dia putriku! Kau tidak boleh menyerahkannya pada orang lain!”

“Ini adalah jalan satu – satunya agar perusahaan kita tetap berdiri Gyu Ri-ya.”

“dengan menjual anakmu? Tidak yeobo! Lebih baik kita jatuh miskin daripada kita harus menjualnya.”

“Mwo? Apa yang akan dikatakan orang jika kita jatuh miskin?”

“Aku tidak peduli!”

“Kau harus merelakannya Hwang Gyu Ri. Kita masih bisa memiliki anak lagi jika kau menginginkannya.”

“Tch, ternyata pikiranmu sangat sempit Hwang Dong Ju. Kau tidak menghargai perasaanku sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya.”

“Aku sangat mengerti, tapi keadaan ini sangat mendesak. Aku tidak punya cara lain. Mianhae, ” karena gelap mata, ia memberikan obat bius pada istrinya sehingga sang istri tak sadarkan diri. Lalu ia masuk ke kamar putri bungsunya, dan membawanya pergi untuk ditukarkan dengan sejumlah uang yang dapat menyelamatkan perusahaannya.

Jessica yang melihat kejadian itu semua hanya mampu berdiri mematung. Setelah beberapa detik ia tersadar, dan menyusul ayahnya menuju beranda depan. Disana ia melihat sebuah mobil sedan yang telah siap membawa adiknya pergi.

“Appa jangan bawa Tiffany pergi! Lepaskan dia!!” Jessica menarik – narik tangan ayahnya.

“Diam kau!! Jangan campuri urusan Appa. Cepat pergi ke kamarmu!!”

“Tidak sebelum appa melepaskannya!” Jessica di dorong ke belakang hingga ia tersungkur. Kepalanya tak sengaja mengenai batu kecil yang menyebabkan keluarnya darah segar dari pelipis kanannya.

“Unnie tolong aku!!! Lepaskan aku unnie!!! Unnie..!!!” Jessica tak mampu bergerak ketika mobil itu membawa pergi Tiffany, adiknya.

 

Sejak kejadian itu, Hwang Gyu Ri membawa Jessica pergi dari rumahnya. Ia hidup terpisah dari suaminya. Kesehatan mentalnya pun mulai terganggu. Ia sering menjerit histeris dan mengamuk. Untuk memenuhi kebutuhannya dan juga ibunya, Jessica bekerja di restoran milik keluarga Jung. Ia bekerja sebagai pencuci piring dan mengantarkan pesanan makanan ke rumah – rumah pelanggan. Meskipun usianya masih 10 tahun, ia mampu melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa. Itulah yang membuat nyonya Jung salut padanya.

6 bulan setelahnya, Hwang Gyu Ri ditemukan tewas bunuh diri di kamar rumah sewanya. Gadis itu juga mendapat kabar jika ayahnya tertembak mati saat polisi hendak menangkapnya atas tuduhan penjualan anak di bawah umur. Jessica semakin terpuruk. Ia merasa hidupnya tidak berarti lagi. Beruntung ia masih memiliki nyonya Jung. Ia memberinya kehidupan baru. Kehidupan yang mengubahnya menjadi Jung Jessica.

Jessica yakin jika adiknya masih hidup. Berkat dukungan dan dorongan dari nyonya Jung, Jessica bertekad untuk mencarinya meskipun harus ke ujung dunia sekalipun.

Pada saat usianya menginjak 25 tahun, ia bertemu dengan Choi SeungHyun yang kala itu menjadi atasannya di perusahaan tempat ia bekerja. Selama 3 tahun SeungHyun mengejar cinta Jessica. hingga akhirnya ia dapat meyakinkan gadis itu jika ia akan membantunya mencari keberadaan adiknya. Dan Jessica pun luluh. Mereka menikah meskipun tanpa restu dari nyonya Choi.

 

Flashback off

 

Jessica tidak dapat menahan tangisannya setiap kali ia mengingat kenangan pahit itu. Sudah dua puluh tahun ia mencari Tiffany, namun hasilnya tetap nihil. Hingga detik ini belum ada tanda – tanda keberadaan adiknya.

“Kau dimana Tiff? Aku merindukanmu.” Jessica menggenggam erat kalung pemberian ibunya yang diberikan untuknya dan juga adiknya, Tiffany.

 

**Sifany**

“Cepat kau bereskan kamarku sekarang juga! Jangan sampai ada sampah yang tersisa sedikit pun!” seperti biasa hari – hari Miyoung akan dipenuhi dengan bentakan dan cacian. Ia sudah kebal dengan semua itu. Baru saja ia akan membersihkan kamar Go Ara, nyonya besar Go memanggilnya.

“Miyoung, tolong kau antar aku keluar. Aku ingin membeli sesuatu.”

“Halmonie, Miyoung harus membersihkan kamarku. Suruh saja bibi Lim yang mengantarmu.” Merasa tak terima, Go Ara membentak neneknya.

“Kau berani membentakku Ara-ya?” Go Ara yang takut dengan ekspresi neneknya, bergegas menutup pintu kamarnya dan mengusir Miyoung keluar.

“ayo Miyoung, ikut denganku!” Miyoung hanya mengikutinya dari belakang. Mereka pergi dengan menggunakan mobil yang dimiliki putranya. Entah kemana nyonya besar Go akan membawa Miyoung pergi, yang jelas ia merasa senang karena terbebas dari perintah Go Ara yang menyebalkan.

Mobil melaju dengan kecapatan sedang, Miyoung tidak berhenti tersenyum. Ia terus memandang kearah luar jendela menikmati setiap pemandangan yang dilewatinya. Butuh waktu 20 menit untuk mereka sampai pada tujuan. Ternyata nyonya besar Go membawa Miyoung ke sebuah butik ternama. Awalnya Miyoung berfikir jika ia hanya menemaninya saja. Namun ia salah, nyonya besar Go menyuruh Miyoung untuk memilih baju yang ia suka. Miyoung menolak, tentu saja. Disaat mereka tengah berdebat kecil, seorang wanita cantik nan anggun menyapa hangat mereka.

“Nyonya Go, apakah ini anda?” sapanya lembut.

“Omona! Nyonya muda Choi, lama kita tidak bertemu ne, aigoo kau semakin cantik anakku.” Pujinya tulus.

“Khamsahamnida,” wanita itu melirik sekilas kearah Miyoung. “Apakah gadis cantik ini cucu anda nyonya?” Miyoung terperangah, ia hendak menyangkalnya, tapi…

“Iya ini cucuku. Namanya Miyoung,” nyonya besar Go mengedipkan sebelah matanya pada Miyoung. Mengisyaratkannya untuk memperkenalkan diri pada wanita yang berdiri di depannya.

“Annyeonghaseo, Miyoung imnida.” Miyoung memberikan senyuman terbaiknya dan sesaat wanita itu tercekat. Mata itu…. Senyuman itu….

“Nona, anda tidak apa – apa?”

“Ah, ne.. mian. Jessica Choi imninda.” Pandangan Jessica tidak lepas dari mata Miyoung. Ia sangat merindukan sorotan mata itu. Sorotan mata yang sama yang dimiliki Tiffany.

“Nyonya Choi, bisakah aku meminta bantuanmu?”

“oh tentu saja. Apa yang bisa saya bantu?”

“Tolong kau bantu pilihkan baju yang cocok untuk cucuku, aku tidak tahu bagaimana selera anak muda jaman sekarang.” Jessica tertawa ringan mendengarnya. Ia merasa senang sekaligus aneh karena nyonya Go memintanya untuk mencarikan baju yang cocok untuk cucunya. Kenapa cucunya tidak bisa memilihnya sendiri? bukankah ia berasal dari kalangan atas? Tapi jika dilihat dari penampilannya, sepertinya ia gadis yang sangat sederhana. Pakaian yang ia kenakan juga bukan dari merk terkenal. Tapi mesikpun begitu ia tetap terlihat cantik. Cantik yang sangat natural.

Jessica mengajak Miyoung mengelilingi butik dan membantunya memilihkan baju yang cocok untuknya. Ini hal yang mudah baginya mengingat ia seorang fashionable. Jessica mengambil dress selutut berwarna soft pink dengan corak polkadot. Ia merasa dress ini sangat cocok untuk Miyoung. Jessica memasangkannya pada tubuh Miyoung. Ia tersenyum puas karena hasil pilihannya sempurna.

“Ny-nyonya Choi..” Miyoung merasa tidak pantas menerimanya.

“Panggil aku Jessica. aku rasa usia kita tidak terpaut jauh.” Jessica memasukkan dress yang tadi dipilihnya kedalam keranjang. “Ah.. atau kalau kau mau kau bisa memanggilku unnie, kurasa itu lebih baik. Bagaimana menurutmu?” Miyoung tak mampu berkata – kata. Lidahnya begitu kelu untuk mengeluarkan suara.

“Ta-tapi…”

“Apa kalian sudah selesai?” kalimat Miyoung terpotong oleh pertanyaan nyonya besar Go.

“Ne, kami sudah selesai. Miyoung akan sangat terlihat cantik dengan dress ini.” Jessica menunjukkan dressnya pada nyonya besar Go.

“Oh, terima kasih anakku. Cucuku Miyoung pasti menyukainya. Bukankah begitu nak?” Miyoung berdiri kikuk di depan mereka. Ini bukan tempat yang pantas untuknya. Pikirnya.

“Miyoung-ah,” panggil nyonya besar Go.

“Ah, ne. tentu saja.” Jessica merasa ada sesuatu yang ganjal pada sikap Miyoung. Jika ia adalah cucunya, kenapa ia harus bersikap canggung? Entah kenapa pertanyaan ini begitu menarik perhatiannya. Lebih tepatnya sosok Miyoung-lah yang telah mencuri perhatian Jessica.

 

**Sifany**

Semenjak pertemuannya dengan Miyoung tadi siang, pikiran Jessica selalu terpusat padanya. Ia bahkan melupakan Choi SeungHyun suaminya. Berulangkali SeungHyun memanggil namanya, tetapi ia tetap tidak bergeming. Karena kesal tidak mendapat respon dari istrinya, SeungHyun pun langsung mencium pipi Jessica singkat.

“Yak Oppa! Apa yang kau lakukan?” teriak Jessica tak terima.

“Apa yang kulakukan? Istriku sejak tadi melamun dan mengabaikanku. Apa aku harus diam saja, eoh?” SeungHyun pura – pura merajuk, membuat Jessica tersenyum geli.

“Mianhae, oppa. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu.” Jessica memeluk suaminya dari samping, ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang SeungHyun. SeungHyun mencium puncak kepala Jessica dan mengelus rambut cokelat nya.

“Apa yang sedang kau pikirkan, hm?”

“Entahlah Oppa, aku merasa adikku berada di dekatku sekarang.” SeungHyun menatap Jessica tak percaya.

“Apa kau yakin honey?”

“Aku belum yakin Oppa, tapi aku bisa merasakannya.” SeungHyun tahu istrinya sangat frustasi dalam mencari keberadaan adiknya. Ia tidak ingin menambah bebannya dengan membantah ucapannya. SeungHyun hanya bisa memberikan pelukan ketenangan untuk istri tercintanya.

 

**Sifany**

Untuk kesekian kalinya Siwon mendatangi tempat yang telah mempertemukannya dengan gadis penolongnya. Ia begitu penasaran terhadapnya. Sentuhan lembutnya, suara merdunya, kata – katanya yang menyejukkan, aroma tubuhnya yang memabukkan dan senyuman cantik di mata indahnya. Dari sekian banyak gadis yang ia kencani, belum ada satupun yang berhasil memikat hati siwon seperti sekarang. Ia tak lelah menunggu dan mencarinya berjam – jam.  Yang ia inginkan saat ini adalah kembali bertemu dengannya.

“Youngie, tunggu! Jangan tinggalkan aku!” suara itu mengalihkan perhatian Siwon. Ketika pandangannya tertuju pada gadis yang tengah berlari, Siwon mendesah kecewa. Ia bukan gadis penolongnya. Siwon kembali berjalan dan melewati gadis yang tadi berteriak. Nafas gadis tersebut terengah – engah akibat berlari. Ia membungkukkan badannya seraya memegang lututnya mencoba mengatur ritme pernafasannya. Siwon hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. ‘Dasar gadis aneh, tingkahnya seperti anak kecil. Saling berkejaran di tengah keramaian. Ckckck.’ Ucap Siwon dalam hati.

“Unnie, ayo cepat! Jangan lamban begitu. Kejar aku jika kau bisa, hahaha..” YoonA terus mempermainkan Miyoung, berharap gadis itu akan terhibur dengan caranya.

“Yak! Youngie!! Jangan berlari lagi, aku menyerah!!!” teriak Miyoung yang sudah tidak kuat untuk mengejar YoonA. Ia pun menyandarkan punggungnya di bawah pohon yang menjulang tinggi dari tubuhnya. YoonA berlari menghampiri Miyoung, unnie nya ini sangat lucu jika sedang kesal.

“oh, jadi unnie menyerah, eoh? Uh payah sekali,” cibir YoonA. Miyoung memukul kepala YoonA pelan dengan tas yang dibawanya.

“Aku bukan seorang pelari Yoong, jadi berhenti mengajakku berlari terus.” Pinta Miyoung dengan nafas yang masih terengah – engah.

“Unnie, setiap hari kau selalu bekerja. Jadi tidak ada salahnya jika kita bersenang – senang sebentar. Lagipula ini baik untuk kesehatan unnie.” Sanggah YoonA tak mau kalah.

“Bersenang – senang yang bisa membuat jantungku copot begitu? Aishh kau ini keterlaluan sekali, Yoong”

“Hahaha.. unnie berlari tidak akan membuat jantungmu copot. Kau terlalu berlebihan.” Miyoung dan YoonA terus berdebat, sementara Siwon tak putus asa mencari gadis yang telah menyita waktu dan pikirannya. Sudah lebih dari 3 putaran ia mencarinya bahkan sudah ratusan orang yang berlalu lalang di pasar ini yang ia tanyai tentang gadisnya. Siwon tidak menyadari jika gadis yang dicarinya berada tepat di belakangnya tengah tertawa dan bercanda bersama teman sekaligus adik tersayangnya.

 

**Sifany**

Jessica tengah menikmati udara sore di beranda belakang rumahnya ketika suara langkah kaki menghampirinya. Ia menolehkan kepalanya dan sontak terkejut karena orang yang berada di depannya kini melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan yang tajam.

“Eo-eomonim… selamat sore! Se-sejak kapan anda disini?” sapanya terbata.

“Jadi begini kelakuan istri putraku? Hanya duduk santai, sementara suamimu bekerja keras untuk memenuhi keinginanmu. Tch, istri macam apa kau? Bahkan mengurus rumah saja tidak kau lakukan.” Nyonya Choi memalingkan wajahnya, enggan untuk menatap Jessica lebih lama.

“Eomonim, anda tidak bisa menghakimiku seperti itu. Aku tidak seperti yang anda pikirkan.” Jessica berusaha bersikap tenang, ia tidak ingin emosinya terpancing oleh ucapan pedas nyonya Choi.

“Benarkah? Lalu seperti apa dirimu sebenarnya?” tampaknya nyonya Choi masih ingin berdebat dengan menantunya ini. Jessica menghembuskan nafasnya, mencoba menahan kesabarannya.

“Maaf eomonim, aku tidak mengerti maksud anda. Lebih baik sekarang kita masuk dan menunggu SeungHyun Oppa pulang.” Jessica hendak meninggalkannya, namun nyonya Choi menghalangi jalannya dengan merentangkan kakinya sehingga Jessica tersungkur ke depan.

“Awww!!” pekiknya. Nyonya Choi tersenyum sinis.

“Ckckck… kasihan sekali menantuku, pasti sakit ya,” ucapnya di buat – buat. Jessica bangkit dengan tatapan yang berapi – api, ia sudah tidak tahan lagi. Dengan tangan yang mengepal, ia siap menyemprot ibu mertuanya.

“Apa salahku padamu eomonim? Kenapa kau selalu bersikap kasar terhadapku?!” teriak Jessica, nyonya Choi tentu saja terperangah.

“Kau berani berteriak padaku!!!! Dasar menantu tidak tahu DIRI!!!!” nyonya Choi bersiap melayangkan tamparannya, namun tangannya di tahan oleh Choi Siwon.

“Jangan pernah menyentuh kakakku, nyonya!” geramnya.

“Mwo!!! Sejak kapan wanita ini menjadi kakakmu CHOI SIWON!!” balas nyonya Choi sengit.

“Sejak ia menikah dengan SeungHyun Hyung. Apa kau lupa?”

“Hahaha… berani sekali kau menyebut nama putraku. Kau bukan siapa – siapa bagi kami. Kau hanyalah anak HARAM!! INGAT ITU CHOI SIWON!!” pegangan Siwon pada tangan Nyonya Choi mengendur, kata – kata itu sukses menghantam keras ke ulu hatinya. Siwon mundur, pandangan kabur tertutup air mata. Jessica syok melihatnya. Secara reflek, ia menangkap tangan Siwon. Menyuruhnya untuk berhenti.

“Kau tidak berhak memanggilnya dengan kata yang tidak pantas itu eomonim.”

“Wow..wow..wow.. jadi kalian berdua menyatukan kekuatan untuk melawanku? Cih, Aku-tidak-takut.” Tantang nyonya Choi dengan menyibakkan tangannya. Ia berjalan angkuh melewati mereka berdua dengan pandangan jijik.

“Siwon-ah, gwenchana?” Siwon tertawa hambar, ia menghapus setitik air yang lolos dari mata elangnya.

“Kau dengar Noona? Aku tidak pantas berada disini. Aku-bukan-siapa-siapa.” Siwon menekankan kalimat terakhirnya. Ia hendak beranjak pergi, akan tetapi…

“Jangan pernah dengarkan apa kata orang yang menurut hatimu tidak benar. Tetaplah tersenyum Siwon-ah, karena itu akan membuat kita menjadi lebih kuat.” Siwon otomatis menoleh pada kakak iparnya. Kata – kata itu…

“Noona, dari mana kau mendengarnya?”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Kata- kata Noona barusan. Darimana kau mendengarnya?” Siwon mengguncang – guncangkan tubuh Jessica. terang saja Jessica tidak mengerti.

“Apa yang kau maksud Siwon-ah, aku tidak mengerti.” Jessica menghempaskan tangan Siwon dari bahunya. Siwon menggeram kesal.

“Noona, kalimat terakhirmu itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh gadis penolongku.” Jessica membuka mulutnya dengan mata terbelalak.

“Ma-maksudmu, gadis yang pernah kita cari di pasar itu?” Siwon mengangguk cepat. Jessica terkulai lemas, Siwon segera menahan tubuhnya sebelum ia ambruk ke atas tanah.

“Noona, ada apa?”

“Si-Siwon, kalimat itu selalu ia tanamkan padaku. Aku selalu mengingatnya.” Jawab Jessica pelan, tatapannya kosong entah kemana.

“Ia? Nugu?”

“Adikku yang hilang.”

 

**Sifany**

“Arrggghhh… dimana kalungku???” nyonya Go panik karena kalung kesayangannya tidak ditemukan. Ia sudah mencarinya disetiap sudut kamarnya.

“Go Ara!!! Go Ara!!!”

“Ne, eomma. Ada apa?”

“Apa kau melihat kalung eomma?” Go Ara yang sedang menyantap cemilannya, hanya mengangkat bahu ringan seolah ia tidak peduli.

“Yak! Kenapa reaksimu seperti itu?”

“Eomma, kenapa eomma tidak tanya saja pada Miyoung? Ia kan yang selalu memberskan kamar eomma.” Nyonya Go mengangguk – anggukkan kepalanya, apa yang dikatakan putrinya memang benar. Bisa saja Miyoung pernah melihatnya. Tanpa menunggu waktu lama, ia lekas menemui Miyoung. Go Ara menyungginggkan senyuman kemenangannya secara diam – diam.

“MIYOUNG!!! CEPAT KEMARI!!!”  karena tidak ingin mendapat teriakan yang lebih keras lagi, Miyoung segera menghampiri nyonya Go.

“Ne, nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?”

“Cepat katakan dimana kalungku!!!” Miyoung mengernyit hebat. Kalung? Apa maksudnya?
“A-aku tidak mengerti maksud nyonya,”

“jangan pura – pura bodoh. Kalungku hilang dan kau pasti yang telah mencurinya.” Bagai di sambar petir, tubuh Miyoung langsung membeku.

“M-mwo? Nyonya aku tidak mungkin mencuri kalung anda.” Bela Miyoung.

“Bohong eomma! Kemarin aku melihatnya keluar kamar eomma dengan gelagat yang aneh.” Timpal Go Ara dari atas tangga.

“Tidak, aku tidak melakukannya, aku bersumpah.”

“Kita geledah saja kamarnya, eomma.”

Nyonya Go, Miyoung, dan Go Ara pergi ke kamar Miyoung untuk membuktikan jika kalungnya memang ada padanya. Miyoung yang merasa tidak mencurinya, mencoba bersikap tenang.

Setelah mereka sampai, nyonya Go, dan Ara langsung mengobrak – abrik kamar Miyoung. Tanpa diduga, kalung itu jatuh dari seprai yang diangkat Go Ara.

“Eomma! Bukankah ini kalung eomma? Berarti dugaan kita benar. Miyoung telah mencurinya.” Go Ara menuduhnya dengan antusias. Inilah yang ia harapkan. Miyoung menegang ditempat. Bagaimana mungkin kalung itu ada padanya? Ia sama sekali tidak mencurinya.

“Nyonya ini tidak benar, pasti ada orang yang menyimpan kalung itu di kamarku. Aku tidak pernah mencuri apapun. Aku bersumpah.” Miyoung berlutut di hadapan nyonya Go, berharap ia akan percaya dengan ucapannya.

“Apa kau pikir aku bodoh. HAH? Bagaimana mungkin kalung itu ada dikamarmu jika bukan kau yang menyimpannya!!!” amarah nyonya Go sudah memuncak. Secara membabi buta, ia memecut tubuh kurus Miyoung dengan sabuk yang tadi ia gunakan.

“ARRGGH, ampun nyonya!! Aku tidak melakukannya, percayalah padaku!! Arrrghhh!!” nyonya Go terus memecutnya tanpa ampun. Darah segar keluar dari sudur bibirnya, akibat terkena besi yang terdapat pada sabuk yang dipecutkan nyonya Go.

“Aku tidak akan mengampunimu!! Dasar PENCURI!!!” pecutan itu semakin keras menghantam Miyoung. Miyoung mengangkat tangannya untuk menahan pecutan itu, sehingga tangannya menjadi sasaran dan menggoreskan luka yang panjang.

“Ampun nyonya, aku mohon percayalah padaku! Aku tidak bersalah.” Miyoung memohon disela isakannya. Airmata dan darah bercampur menjadi satu. YoonA yang tidak tahan melihatnya, langsung menghambur memeluk Miyoung. Tubuh YoonA ikut terkena pecutan.

“Yak! Apa yang kau lakukan!! Jangan halangi kami!!” Go Ara mendorong tubuh YoonA, hingga pelukan mereka terlepas. Nyonya Go kembali menyiksanya. Kali ini ia menjambak rambutnya dan melemparnya keluar. Miyoung sudah tidak sanggup bergerak. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Terik panas matahari semakin menambah luka Miyoung. Ia dijemur dan diikat di sebuah pohon kemudian ditampar berulang kali. YoonA tidak berhenti menangis, ia tak mampu melakukan apapun. Hari ini nyonya besar Go dan bibi Lim sedang pergi keluar, sehingga tidak ada orang yang bisa membela Miyoung.

Miyoung sudah tidak berdaya, airmatanya pun sudah mengering. Nyonya Go tidak berhenti menyiksanya. Tatkala sebuah pukulan akan mendarat di wajah Miyoung, sebuah suara menginterupsinya.

“Hentikan!!!” semua orang sontak menoleh padanya.

“nyonya Choi?”

“Apa aku mengganggu?” Tanya nya berbasa- basi. Pandangannya tak sengaja melihat kondisi Miyoung, ia bergidik ngeri.

“A-apa yang membawa anda kemari?” ujar nyonya Go gugup. Maklum, Choi SeungHyun merupakan investor terbesar di perusahaan suaminya. Ia sangat ketakukan setelah Jessica melihat semua kejadian tadi, ia akan menyuruh suaminya untuk mencabut saham mereka di perusahaannya.

“Aku hanya ingin bertemu Miyoung, bolehkah aku meminjamnya?” Jawabnya santai. Tentu saja jawaban Jessica membuatnya terheran – heran. Bagaimana ia bisa mengenal Miyoung? YoonA melepaskan ikatan yang melilit pada tubuh Miyoung. Ia merengkuhnya dan menyerahkannya pada Jessica. melihat ekspresi ketakutan dari wajah nyonya Go, Jessica memasang senyum seolah ia tidak melihat apapun.

“Kau tidak perlu khawatir nyonya Go, aku tidak akan melaporkanmu. Aku hanya mengingikan Miyoung. Jika anda bersedia menyerahkannya padaku, aku berjanji tidak akan mencabut saham kami di perusahaan suami anda.” Tegas Jessica angkuh. Nyonya Go hanya terpaku, tak mampu bersuara.

 

**Sifany**

Siwon kembali ke klub. Ia ingin membalas perbuatan Jong In Suk yang telah membuatnya babak belur tak berdaya tempo hari. Dengan penuh amarah, Siwon berjalan cepat masuk ke dalam tempat yang dipenuhi para wanita dan pria tua maupun muda yang menginginkan kebebasan sejenak dari hiruk pikuk kehidupan di dunia yang mereka geluti atau sekedar bersenang – senang menghilangkan rasa penat dan masalah mereka. Musik yang keras memengakkan telinga Siwon. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan para wanita yang menggeranyanginya. Tidak seperti biasanya Siwon menepis para wanita yang haus akan sentuhannya. Dulu jika ia datang ke tempat ini, ia akan dengan senantiasa melayani para wanita yang sangat memujanya. Siwon akan membuat mereka melayang – layang dengan sentuhan – sentuhan lembutnya. Tapi tidak untuk tidur bersama. Siwon sangat menghindari hal itu. Seberapa besar pun hasratnya untuk melakukan ‘itu,’ Siwon akan mati – matian melawan gairahnya meskipun wanita – wanita yang ia kencani ‘semalam’ berusaha merayunya dan membangkitkan gairahnya.

Siwon terus mencari – cari keberadaan Jong In Suk di bawah redupnya cahaya lampu. Banyaknya pengunjung yang memenuhi klub yang cukup terkenal ini, menyulitkan Siwon untuk menemukan Jong In Suk.

“Hyung, apa kau yakin ia sudah kembali?” Tanya Myungsoo, orang yang selalu setia menemani Siwon juga tempat keluh kesah pria yang memiliki lesung pipi ini.

“Tentu saja. Informan ku bilang ia sudah kembali dari Busan.” Siwon menerobos masuk pada kerumunan orang yang tengah menari sambil bermesraan dengan pasangan mereka. Tidak berselang lama, tatapannya jatuh pada seorang pria yang sedang menggeranyangi seorang wanita seksi di sudut klub yang merupakan ruangan VIP. Siwon menyeringai, sasarannya sudah ditemukan dan bisa dipastikan ia dalam keadaan mabuk. Itu sangat memudahkan Siwon untuk menyerangnya.

Dengan langkah yang mantap, Siwon menghampiri pria yang lebih tua darinya itu. Siwon menggebrak meja mereka dan memberikan tatapan mematikannya pada Jong In Suk. Sementara Myungsoo, ia hanya berjaga – jaga di belakang Siwon, waspada jika pria yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya ini akan kembali diserang oleh Jong In Suk. Ia tidak ingin lengah seperti tempo hari. Ketika Siwon harus menerima pukulan yang bertubi – tubi, Myungsoo tidak menemaninya. Mendadak ia harus pergi karena ada urusan yang harus diselesaikannya. Kali ini ia siap melawan siapapun orang yang berani menantang Hyung-nya.

“Oh, Choi Siwon lama tidak bertemu ne, ” ucap Jong In Suk seraya berdiri sempoyongan karena mabuk.

BUGH

Sebuah pukulan keras mendarat sempurna di pipi Jong In Suk. Tak terima dengan perlakuan Siwon, Jong In Suk memanggil teman – temannya untuk membalas pukulan Siwon. Perkelahian pun terjadi. Siwon dan Myungsoo harus melawan orang – orang yang bertubuh besar dan lebih banyak dari mereka. Suasana klub menjadi kacau, semua orang berhamburan keluar. Tidak ada seorangpun yang berani terlibat dalam perkelahian mereka. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Siwon dan Myungsoo berhasil mengalahkan kelompok Jong In Suk. Mereka terkapar tak berdaya. Siwon menginjak sebelah kaki Jong In Suk seraya berkata, “Jika kau berani mengganggu kehidupanku lagi, akan kupastikan kau tidak akan dapat melihat duniamu lagi.” Siwon meninggalkan mereka dengan melemparkan sejumlah uang untuk mengganti rugi kekacauan yang telah ia ciptakan.

 

**Sifany**

Beberapa hari yang lalu, Jessica menyuruh sekretaris pribadi suaminya untuk menyelidiki Miyoung. Sejak pertama kali bertemu, Miyoung telah mencuri perhatian Jessica. menurut informasi yang ia dapatkan, seseorang telah menjual Miyoung kepada keluarga Go dan mereka mempekerjakannya bagaikan seorang budak. Sejak itulah Jessica berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengambil Miyoung dari tangan mereka. Dan disinilah Miyoung sekarang. Terbaring lemah diatas kasur king size di sebuah kamar mewah milik putra sulung keluarga Choi. Semenjak Jessica membawa Miyoung ke kediamannya hingga detik ini, Miyoung masih belum sadarkan diri. Luka – luka yang ia derita cukup parah. Jessica memanggil dokter pribadinya untuk mengobati luka Miyoung. Dokter itu mengatakan, akan membutuhkan waktu lama bagi Miyoung untuk bisa pulih seperti sedia kala. Jessica hanya menatap nanar gadis yang terlihat sangat kurus itu. Seberapa banyak mereka menyakitinya? Tidak terbayang olehnya jika hal ini menimpa dirinya. Mungkin ia akan lebih memilih untuk mati.

Jessica menutup pintu kamarnya, membiarkan Miyoung istirahat dengan tenang. Ia melenggang menuju ruang tengah, menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk yang menghadap langsung pada televisi flat-nya. Begitu banyak pemikiran yang berputar dalam otaknya. Ia yakin jika keputusannya membawa Miyoung kerumahnya adalah benar. Jessica tidak pernah menyesali apapun yang sudah ia putuskan. Tak terasa kini ia sudah berada di alam mimpi yang indah untuk pertama kalinya.

 

**Sifany**

“Apa yang kau lakukan yeobo? Kenapa kau harus menyiksanya? Kau tahu bagaimana pengaruh Choi SeungHyun terhadap perusahaan kita?” begitu mendengar kisah yang diceritakan istrinya, tuan Go langsung murka. Jika Choi SeungHyun sampai mencabut sahamnya maka perusahaanya pasti akan gulung tikar. Tentu saja tuan Go tidak mau semua itu terjadi. Ia menyalahkan kecerobohan istrinya.

“Yeobo, maafkan aku.  aku terlalu emosi karena Miyoung telah mencuri kalung pernikahan kita.”

“bukan Miyoung yang melakukannya, tapi putrimu.” Sangkal nyonya besar Go.

“Halmonie, kenapa kau menuduhku?” Tanya Go Ara tak terima.

“Cukup sudah kau membela dirimu Go Ara. Kau sangat membenci Miyoung. Kau iri padanya. Semua orang menganggap Miyoung lebih cantik darimu. Itulah alasanmu ingin menghancurkan hidupnya.” Go Ara tak dapat mengelak lagi. Apa yang dikatakan neneknya adalah benar. Ia juga selalu memperangaruhi dan memanas – manasi ibunya untuk menyiksa Miyoung. Tanpa di duga, tuan Go menampar Go Ara. Semua pasang mata terbelalak tak percaya.

“Appa..” lirih Go Ara sembari memegangi pipinya yang terasa panas.

“Kau lihat akibat dari perbuatanmu, hah?! Kau bisa menghancurkan hidup kita!! Aish.. aku tidak percaya ini bisa terjadi. Kalian benar – benar BODOH!!!” nyonya Go dan putrinya hanya bisa menangis menerima makian tuan Go. Keduanya mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat. Dan sebagai balasannya, mereka harus siap menerima segala konsekuensi segala kemungkinan yang akan terjadi jika SeungHyun benar – benar menarik sahamnya.

 

**Sifany**

Miyoung mengerjap – erjapkan matanya. Kepalanya masih terasa sakit begitupun dengan seluruh badannya. Untuk bangkit duduk saja ia kesulitan. Miyoung menyadari jika ini bukan kamarnya. Ia mengingat – ingat kejadian sebelumnya. Seingatnya, nyonya Go marah besar padanya dan menghukumnya dengan sebuah pecutan. Miyoung bergidik ngeri mengingatnya. Ia sama sekali tidak dapat mengingat kejadian selanjutnya. Siapa yang telah membawanya ke tempat ini? dan dimana ini? Miyoung sungguh bingung, siapapun orang telah menolongnya, ia sangat berterima kasih.

Ketika gadis itu tengah bergelut dengan pikirannya, pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok cantik nan anggun membawa nampan berisi makanan. Miyoung sontak terkejut. Bukankah wanita itu orang yang ia temui di butik beberapa hari yang lalu? Jessica tersenyum simpul menanggapi tatapan bingung Miyoung. Ia meletakkan nampan itu diatas meja nakas lalu duduk disampingnya. Sebelum membuka suaranya, ia terlebih dulu memegang kening Miyoung memastikan jika panasnya sudah turun.

“Syukurlah panasmu sudah turun Miyoung-ah. Kau membuatku sangat khawatir. Sekarang makanlah! Kau harus segera meminum obatmu.” Tanpa mempedulikan tatapan kaget Miyoung, Jessica mengambil sesendok bubur lantas menyuapkannya pada Miyoung.

Karena tidak mendapat respon sedikitpun dari Miyoung, Jessica berpura – pura merajuk, “Kau tidak ingin menghargai niat baikku, eoh?”

“Nde??? A-aniyo.”

“Kalau begitu makanlah!” Jessica mengoyang – goyangkan tangannya di depan wajah Miyoung. “Palli Miyoung-ah, tanganku sudah pegal.” Dengan ragu, Miyoung menerima suapan bubur dari tangan Jessica. entah kenapa ada perasaan tenang dan damai ketika ia melihat ketulusan Jessica.

“Oh iya Miyoung-ah, mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku. Aku sudah menyuruh Han Ahjussi untuk mengambil semua barang – barangmu dirumah keluarga Go.” Miyoung hampir saja menyemburkan air yang baru saja diminumnya. Ia tersedak dan batuk – batuk begitu mendengar pernyataan Jessica.

“Miyoung-ah, gwenchana?” Jessica kembali menyodorkan minuman pada Miyoung.

“Nyonya Choi..”

“Mwo?? Miyoung, bukankah sudah kukatakan kalau kau harus memanggil unnie?”

“Ta-tapi..”

“Tidak ada penolakan!! Kau harus tinggal bersamaku dan panggil aku Unnie! Aratchi?” Miyoung melongo dengan sifat keras kepala Jessica, itu mengingatkannya pada YoonA. Bicara soal YoonA, bagaimana keadaannya sekarang? Apa yang akan terjadi padanya jika ia tinggal disini?

“Miyoung-ah, kenapa kau diam saja? Apa kau mendengarkanku?”

“Ne, nyo.. ah maksudku Unnie,” ucap Miyoung canggung, Jessica tersenyum senang mendengarnya. Ia kembali menyuapi Miyoung dengan penuh semangat.

 

**Sifany**

Siwon dan Myungsoo bersandar santai di atas motor mereka. Siwon menatap langit dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang entah kemana.

“Hyung, apa hari ini kau akan pulang ke rumah kakakmu?” Tanya Myungsoo memecah keheningan.

“Aniyo. Aku akan tinggal bersamamu,” Myungsoo otomatis bangkit dan menoleh kearah Siwon yang berada disampingnya.

“Hyung, kau tidak bisa terus menerus tinggal bersamaku.”

“Wae?”

“Aku..aku..” Siwon menyipitkan matanya curiga.

“Apa kau menyimpan seorang gadis dirumahmu?” selidik Siwon.

“Mwo? Yak!! Hyung, aku tidak mungkin melakukannya. Hanya saja…. akhir – akhir ini eomma sering mengunjungiku. Eomma bilang ia tidak ingin hidup jauh lagi dariku.” Ada perasaan rindu yang menyelebungi hati Siwon tatkala Myungsoo menceritakan perihal ibunya. Sejak ibunya meninggal, ia tidak pernah lagi merasakan kehangatan seorang ibu. Myungsoo sangat beruntung masih memilikinya.

“Hyung, kau tidak apa – apa?” nada bicara Myungsoo mulai khawatir.

“Ne, tentu saja. Baiklah kalau begitu aku akan mencari tempat lain.” Siwon beranjak dari motornya, ia ingin mencari tempat untuk ia tinggali sementara.

“Hyung, kembalilah ke rumah kakakmu. Bukankah mereka menerimamu?”

“Entahlah, aku tidak yakin.” Siwon sudah menyalakan mesin motornya saat Myungsoo menahan lengannya. “Hyung, aku mohon kembalilah. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Siwon menepuk sekilas bahu Myungsoo sebelum ia melajukan motornya. “Aku akan baik – baik saja. Kau tidak perlu khawatir.” Teriaknya. Dan dalam hitungan menit tubuh Siwon sudah menghilang dari pandangan Myungsoo.

 

**Sifany**

“Selamat malam,” berkat perawatan yang dilakukan Jessica, kondisi Miyoung kini sudah mulai membaik. Ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

“Miyoung-ssi duduklah.” Miyoung membungkuk hormat pada SeungHyun. Meskipun sudah 5 hari ia tinggal bersama mereka, namun Miyoung masih belum bisa menghilangkan rasa canggungnya.

“Kau tidak perlu sungkan Miyoung-ah, suamiku orang yang sangat baik. Bukan begitu Mr. Choi?” Jessica menggerlingkan matanya pada suaminya, membuat SeungHyun tertawa geli.

“Haha.. kau benar chagie, itulah yang membuatmu tergila-gila padaku.”

“Mwo?? YAK Mr. Choi! Kau lah yang selalu mengejarku.” Cibir Jessica kesal, wajahnya berubah merah. Ia malu karena Miyoung tengah menatap mereka.

“Lihatlah Miyoung-ssi, istriku sangat lucu bukan?” Miyoung mengangguk singkat. Ia terharu menyaksikan keromantisan Jessica dan SeungHyun. Selama ini yang selalu ia lihat hanyalah pertengkaran dan penderitaan. Entah sejak kapan cairan bening jatuh dari mata indahnya. Miyoung segera menyekanya, sebelum pasangan suami istri itu melihatnya menangis.

“Oh iya Oppa, apa kau sudah menghubungi Siwon?” Jessica menuangkan air pada gelas kosong milik SeungHyun. Sejak kedatangan nyonya Choi ke rumahnya dan membuat ulah, Siwon tidak pernah kembali pulang.

“Ponselnya tidak aktif. Kemana bocah itu? Apa ia bersama teman- teman berandalannya lagi?” SeungHyun menerima air dari Jessica, ia meneguknya lalu kemudian merangkul bahu istrinya.

“Aku takut terjadi sesuatu padanya,” lanjutnya mempererat pelukannya.

“Jangan khawatir Oppa, Siwon adalah orang yang kuat. Kau juga tahu kan?”

“Hm,” tak ingin mengganggu perbincangan mereka, Miyoung memilih untuk kembali ke kamarnya.

“Unnie, SeungHyun-ssi, aku akan kembali ke kamarku. Selamat menikmati waktu kalian.”

“Eoh? Baiklah, kau juga beristirahatlah Miyoung-ssi.” Miyoung kembali membungkukkan badannya sebelum beranjak pergi.

“Kau tampak bahagia, honey.”

“Hm,”

“Apa semua ini karena Miyoung?”

“Entahlah Oppa, aku merasa nyaman berada di dekat Miyoung.”

“Syukurlah, akhirnya istriku yang cantik ini tidak akan memasang wajah masam lagi.” SeungHyun mencontohkan wajah masam Jessica, sehingga membuat wanita berambut cokelat itu tertawa lepas.

“YAK!! Oppa hentikan!!!”

 

**Sifany**

Pagi ini keadaan Siwon hancur berantakan. Akibat mabuk – mabukkan semalam, ia membuat keonaran dan harus menerima beberapa pukulan dari orang – orang yang merasa terganggu oleh ulahnya. Tanpa sadar, Siwon berjalan menuju kediaman Choi SeungHyun dengan langkah gontai. Berulang kali ia menekan bel rumah, seakan – akan ia tengah terburu – buru. Jessica yang kebetulan membuka pintu, terperangah begitu melihat kondisi Siwon yang kacau.

“Omona! Siwon-ah! Apa yang terjadi padamu?” Siwon terhuyung ke depan, beruntung Jessica segera menangkapnya. Namun ia tidak sanggup menahannya lebih lama.

“Miyoung-ah, tolong aku!!” mendengar suara Jessica yang panik, Miyoung bergegas menghampirinya.

“Omo!! Unnie, apa yang terjadi dengannya?” Miyoung ikut panik dengan keadaan Siwon.

“MIyoung-ah, tolong kau bantu aku  bawa dia ke kamar sebelahmu, ne. aku tidak ingin SeungHyun Oppa mengetahuinya.”

“Nde?”

“Ayolah Miyoung, cepat bantu aku!” Miyoung membantu Jessica membopong tubuh kekar Siwon. Mereka sangat kesulitan membawanya. Begitu sampai dikamarnya, mereka langsung meletakkan tubuh Siwon diatas kasur king size-nya.

“Huft, berat sekali.” Keluh Miyoung seraya mengelap peluhnya.

“Miyoung-ah, bisakah kau mengurusnya sebentar? Aku harus pergi menemani SeungHyun Oppa.”

“Pergilah Unnie, biar aku yang mengurusnya.”

“Oh, gomawo Miyoung-ah. I love you,” secara spontan Jessica mencium pipi Miyoung, membuatnya diam membisu. “Aku pergi dulu ne, bye!”

Selang beberapa detik setelah kepergian Jessica, Miyoung tersadar. Ia segera melangkah mendekati Siwon. Setelah ia berada tepat disampingnya, Miyoung baru ingat jika Siwon adalah orang yang sama yang dulu pernah ditolongnya.

“Ya ampun tuan, apa kau selalu terluka seperti ini? tapi aku senang Karena kali ini kau tidak tergeletak dijalanan. Dan kau harus bersyukur karena aku kembali mengobatimu. Bagaimana nasibmu jika kau jatuh di tempat yang dulu? Uh.. aku tidak bisa membayangkannya.” Seandainya Siwon mendengar ocehan Miyoung, ia pasti akan sangat bahagia karena gadis penolongnya kini ada di depannya. Tepatnya, tengah memberikan sentuhan lembut yang selalu Siwon rindukan. Namun sayang Siwon tak sadarkan diri.

 

**Sifany**

Akibat pengaruh alkohol yang begitu besar, Siwon baru bisa membuka matanya pada malam hari. Ia terbangun dengan kepala yang terasa berat. Siwon menatap ke sekeliling kamar. Ruangan ini sangat mirip dengan kamarnya di rumah Choi SeungHyun. Setelah kesadarannya terkumpul penuh, ia baru ingat akan kejadian – kejadian yang menimpanya sebelum terdampar di rumah ini.

Saat pikirannya tengah melayang, tiba – tiba perutnya mengeluarkan bunyi pertanda ia meminta untuk segera diisi. Siwon tersenyum konyol. Bagaimana ia tidak lapar? Sudah seharian ini ia tidak makan apapun. Tentu saja perutnya berontak.

Siwon memutuskan untuk pergi ke dapur. Berharap ia akan menemukan makanan disana. Ketika kakinya menginjak lantai dapur, Siwon melihat sesosok gadis tengah asyik mengaduk minumannya. Alis Siwon berkerut. Seingatnya kakaknya tidak menambah maid lagi dan ia juga tidak pernah tahu jika Jessica suka mengajak temannya untuk menginap. Dengan sangat  hati – hati Siwon melangkah mendekatinya.

“Siapa kau?” mendengar suara berat dari arah belakang, sontak membuat Miyoung menoleh cepat. Ia terperanjat melihat Siwon berdiri dengan tatapan mematikan.

“A-aku..aku…” Siwon menatap Miyoung dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya seakan ingin menguliti gadis di depannya. Jessica dan SeungHyun masih belum pulang. Miyoung bingung bagaimana cara ia menjelaskannya pada Siwon.

“Kau tidak bisa bicara nona? Apa aku perlu membantumu untuk bicara?” Miyoung menundukkan kepalanya, tangan dan kakinya bergetar gugup.

“Tu-tuan aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada anda, ja-jadi sebaiknya kita tu-tunggu unnie pulang.” Miyoung menjawab terbata masih dengan kepala tertunduk.

“Unnie? Apa maksudmu Jessica Noona?” Siwon meletakkan tangannya di kedua sisi pinggangnya. Miyoung menggigit bibir bawahnya. Kenapa ia harus menyebut unnie? Tentu saja orang ini akan merasa aneh.

“Ma-maksudku nyonya Choi, maaf aku tidak bermaksud lancang.” Siwon semakin penasaran terhadapnya, ketika ia akan membuka mulutnya kembali, Jessica menginterupsinya.

“Choi Siwon aku akan menjelaskannya padamu. Ikutlah denganku ke belakang.” Akhirnya Miyoung bisa bernafas lega, oh betapa menegangkannya tadi. Ia bagaikan tercekik tak mampu bernafas. Miyoung lekas pergi ke kamarnya tak ingin bertemu lagi dengan Siwon.

 

**Sifany**

Jessica menceritakan semua pengalaman pahit yang menimpa Miyoung. Siwon sangat prihatin mendengarnya. Selama ini ia selalu berfikir bahwa hanya dirinya-lah yang memiliki kisah menyedihkan. Namun ternyata ada orang yang lebih menderita daripada dirinya. Siwon berdiri di atas balkon kamarnya memandang langit yang seolah mengajaknya berbicara dengan mengelipkan bintang – bintang. Di sebelah kamarnya, Miyoung juga melakukan hal yang sama. Ia memejamkan matanya menikmati setiap hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Baru kali ini ia merasakan kebebasan, terlepas dari ikatan kuat yang selama ini membelenggunya. Ketika Siwon memalingkan wajahnya ke samping kiri, ia tak sengaja bertemu pandang dengan Miyoung. Miyoung tersentak. Ia berniat untuk pergi, tapi Siwon menahannya.

“Tunggu!” Miyoung berhenti.

“Eum.. namamu Miyoung kan? Aku minta maaf atas sikap kasarku tadi.” Miyoung mendongak, lalu sedetik kemudian ia tersenyum tulus. Siwon terpaku dibuatnya. Mereka berdiri dengan penghalang tembok setinggi dada Miyoung, sehingga Siwon bisa melihat wajahnya lebih jelas.

“Gwenchana tuan, aku lah yang bersalah karena tidak bisa menjelaskannya pada anda.” Balas Miyoung ramah, senyumannya tidak hilang dari bibir manisnya. Siwon terbuai dengan suara lembut Miyoung, suara yang mengingatkannya pada gadis penolongnya. Apalagi tadi pagi ia memimpikannya tengah menyentuhnya, mengobati luka – lukanya dan memberinya perhatian –yang pada kenyataannya Siwon tidak bermimpi—Miyoung memang melakukannya secara nyata.

Suasana berubah menjadi hening. Baik Siwon maupun Miyoung sibuk dengan pikiran masing – masing. Entah apa yang merasuki Siwon, ia ingin Miyoung menemaninya jalan – jalan di taman belakang rumahnya.

“Eum.. Miyoung-ssi, maukah kau menemaniku malam ini?” Miyoung menautkan kedua alisnya, bingung dengan maksud ajakan Siwon. Menyadari kebingungan yang ditampakkan Miyoung, Siwon berdehem bergegas menjelaskan maksud sebenarnya.

“Maksudku.. malam ini aku sangat bosan. Aku ingin berjalan – jalan sebentar dan kurasa akan lebih menyenangkan jika mengajak seorang teman.” Miyoung berfikir sejenak, tidak ada salahnya menerima ajakan Siwon. Lagipula ia juga merasa bosan.

 

Disinilah Siwon dan Miyoung sekarang. Berjalan berdua menelusuri taman belakang, melewati kolam, hingga akhirnya duduk di bangku kayu yang menghadap pada sebuah lahan yang ditumbuhi beraneka ragam bunga cantik. Miyoung sibuk mengagumi keindahan malam ini, sementara Siwon sibuk memikirkan dirinya yang mendadak canggung berdekatan dengan Miyoung seolah ada daya magnet yang dimilikinya sehingga ia tak ingin membiarkannya jauh barang sejenak pun. Siwon merasa ada sesuatu yang tidak asing pada diri Miyoung, namun ia tidak tahu apa itu.

“Siwon-ssi, nampaknya langit sudah semakin gelap. Aku harus kembali ke kamarku. Kau tidak keberatan kan?” Miyoung sedikit memiringkan kepalanya menghadap Siwon sambil mengusap – usap lengannya yang terasa dingin.

“Kau kedinginan?”

“Nde?? Ah a-aniyo,” ucap Miyoung gugup. Sejujurnya ia sangat kedinginan. Miyoung hanya memakai kaos tipis lengan panjang kebesaran dan celana training. Ia lupa menggunakan cardigan-nya. Siwon tersenyum kecil menanggapi jawaban Miyoung. Sudah jelas – jelas ia kedinginan, tapi masih menyangkalnya. Tanpa menunggu Miyoung memintanya, Siwon membuka jaketnya dan menyampirkannya pada bahu Miyoung. Tentu saja Miyoung tersentak dengan aksi Siwon. Ia menatap Siwon seakan bertanya ‘apa maksudnya?’mengerti dengan tatapan Miyoung, Siwon hanya mengedikkan bahunya acuh.

Mereka kembali terdiam. Karena merasa mengantuk, dalam keadaan tidak sadar Miyoung menjatuhkan kepalanya pada pundak Siwon hingga membuatnya terguncang akibat gugup. Siwon menatap lama wajah damai Miyoung saat tertidur. Menit berikutnya, ia membopong tubuh mungil Miyoung menuju kamarnya di lantai 2. Bagaikan mengangkat sehelai kapas, Siwon sama sekali tidak kesulitan mengangkat tubuhnya meskipun ia harus menaiki tangga yang cukup tinggi. Sesampainya di kamar Miyoung yang langsung disambut dengan aroma lembut khas tubuh gadis yang berada dalam gendongannya, Siwon meletakkannya perlahan di atas kasur empuknya. Menyelimutinya hingga atas dadanya juga menyingkirkan rambut – rambut kecil Miyoung yang menghalangi wajah cantiknya. Siwon tertegun sesaat dengan pemandangan indah di depannya. Ia lalu berbisik, “Seandainya kau adalah gadis penolongku, aku akan sangat bahagia dan  aku ingin mengatakan thank you for the tenderness you gave,” selanjutnya, Siwon meninggalkannya dalam tidur yang damai.

 

**Sifany**

Miyoung menggeliat begitu cahaya matahari menganggu tidurnya, ia mengubah posisinya menjadi duduk. Setelah mengumpulkan kesadarannya, ia mengerjap kaget. Bagaimana ia bisa sampai disini? Miyoung memeriksa pakaiannya. Ia bernafas lega karena semuanya masih lengkap. Namun seketika pipinya merona membayangkan Siwon kesulitan membawanya ke lantai atas dalam keadaan tidur pula. Betapa bodohnya ia tidak bisa menahan rasa kantuknya. Miyoung mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu menyentaknya, “Si-siapa?”

“Miyoung-ah kau sudah bangun? Kami menunggumu di bawah untuk sarapan.” Kening Miyoung mengernyit. Sarapan? Secepat kilat ia menoleh pada jam yang bertengger di atas meja nakasnya. Pukul 07.30 KST. Oh God ia terlambat bangun. Bagaimana ini bisa terjadi? Miyoung lekas menyibakkan selimutnya dan berlari menuju kamar mandinya. “unnie, kalian makan lah dulu, nanti aku menyusul. Tidak perlu menungguku ne!” teriak Miyoung dari balik pintu kamar mandi.

“Baiklah, cepatlah turun! Jangan terlalu lama.” Jessica melenggang menuruni tangga, ia tertawa ringan membayangkan  kepanikan Miyoung. Ya, Jessica bisa menebaknya dari nada suara Miyoung yang tampak terburu – buru.

“Pagi ini istriku tampak sangat bahagia. Ada apa hm,?”

“Tidak ada apa – apa Oppa, ayo kita makan. Kau tidak ingin terlambat bukan?” Jessica mencium pipi SeungHyun sekilas sebelum mengisi piring kosongnya dengan pancake buatannya.

“Apa Miyoung tidak makan bersama kita Noona?” Jessica dan SeungHyun sontak memandang Siwon bersamaan, membuatnya menjadi kikuk.

“Ma-maksudku.. bukankah sekarang ia juga tinggal disini? Jadi tidak ada salahnya kan ia makan bersama kita.” Ada seulas senyum tersembunyi dari balik wajah tampan SeungHyun. Jika tebakannya benar, maka ia tidak perlu khawatir lagi jika adiknya akan bermain wanita di luar sana.

“Kau benar Siwon-ah. Chagie-ya apa kau sudah memanggilnya?” SeungHyun mengedipkan sebelah matanya mesra pada sang istri yang dibalas dengan cubitan kecil di pinggangnya.

“Aww! Appo..” ringis SeungHyun kesakitan.

“Itulah balasan bagi orang yang genit. Mengenai Miyoung, ia sedang bersiap – siap. Mungkin sebentar lagi ia akan turun.” Dan benar saja, setelah beberapa menit Jessica mengatakannya, Miyoung turun dengan tergesa- gesa. Rambutnya masih basah, pakaian yang ia gunakan hanya seadanya, ditambah lagi wajah polosnya tanpa make-up. Tiga pasang mata menatapnya kagum. Dalam penampilan yang bisa dikatakan sangat biasa, Miyoung masih tampak cantik. Siwon tetap bertahan dengan tatapannya, mengharuskan SeungHyun menyenggol lengannya. “Apa ada masalah dengan penglihatanmu Siwon-ah?”

“Nde?”

“Sudahlah, ayo habiskan makananmu.” Siwon meraih pisau dan garpu nya dengan tangan gemetar. Sial, kenapa ia harus gugup seperti ini? umpatnya dalam hati.

“Unnie, apa penampilanku terlihat aneh?” bisik Miyoung setelah mengambil tempat duduk disamping Jessica.

“Aniyo, kau bahkan sangat cantik Miyoung-ah.” Pipi Miyoung kembali merona dengan pujian Jessica. bisa dipastikan saat ini wajahnya bagaikan udang rebus.

Keempat insan itu menghabiskan waktu sarapan mereka dengan obrolan ringan diselingi candaan yang berasal dari Siwon ataupun SeungHyun. Hingga sebuah amplop coklat berukuran besar mengganggu suasana hangat mereka.

“Tuan, ada kiriman untuk anda.”

“Dari siapa?”

“Tidak ada nama pengirimnya tuan.”

“Baiklah, terima kasih. Kau boleh kembali ke tempatmu.”

Dengan perlahan, SeungHyun membuka tali penutup amplopnya. Kedua alisnya bertaut, ketika ia menemukan beberapa lembar foto di dalamnya. Matanya membelalak sempurna tatkala melihat kedua objek dalam foto tersebut. SeungHyun mengepalkan tangannya dan menggebrak meja mengakibatkan benda – benda yang berada di atasnya terguncang, berdenting karena saling bersentuhan.

“Oppa ada apa? Apa isi dari amplop itu, eoh?” Jessica berdiri dari duduknya merasa ada yang tidak beres terjadi pada suaminya.

“Kau ingin tahu apa yang ada di dalam amplop ini Sica?” SeungHyun melemparkannya tepat di depan wajah Jessica, membuatnya tersentak tak percaya. Terlebih lagi saat Jessica melihat foto – foto itu. Tubuhnya bergetar, ini tidak mungkin. Foto itu pasti salah. Ia tidak pernah melakukannya. Sedikitpun ia tidak pernah mengkhianati suaminya. Cairan bening meluncur deras dari pelupuk matanya. Jessica tak mampu lagi berdiri, ia terkulai duduk di kursinya. Menumpahkan seluruh air matanya.

Siwon dan Miyoung tak kalah terkejut seperti mereka. Miyoung bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Meskipun ia baru mengenal Jessica, namun ia yakin jika wanita yang telah memberinya kehidupan baru ini, tidak mungkin melakukan hal yang memalukan seperti ini.

“Hyung ini tidak benar! Aku dan noona tidak pernah mengkhianatimu.” Siwon mencoba menjelaskannya pada SeungHyun yang tampak murka. Foto – foto itu memperlihatkan kebersamaan Siwon dan Jessica. Foto mereka diambil ketika Siwon mengantar Jessica beberapa waktu lalu. Dalam foto tersebut, Nampak Siwon tengah mencium Jessica—kenyataannya Siwon membantu Jessica membuka seatbeltnya—ada pula yang memperlihatkan Siwon memegang mesra tangan Jessica dan gambar – gambar kedekatan mereka lainnya.

SeungHyun tidak peduli dengan penjelasan Siwon, ia justru memukul wajah Siwon dengan pukulan yang sangat keras. Siwon tersungkur ke belakang. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.

“Ternyata aku salah menilaimu Siwon! Kau tidak jauh berbeda dengan eomma-mu!!” bentak SeungHyun tajam. Mendengar hinaan yang ditujukan pada ibunya, hati Siwon memanas. Ia bangkit dengan amarah yang mendidih. Siwon membalas pukulan SeungHyun. “Kau boleh saja menghinaku! Tapi jangan pernah kau menghina Eomma ku!!”  jeritan Miyoung dan Jessica saling bersahutan. Mereka takut terjadi sesuatu yang lebih mengerikan diantara kedua kakak beradik ini. tidak ada seorangpun pelayan di rumah tersebut yang berani menghentikan pertengkaran mereka. Semuanya hanya mampu berdoa agar tidak ada yang terluka parah.

“Oppa hentikan!” Jessica berusaha mencegah SeungHyun untuk kembali memukul Siwon. SeungHyun menatapnya tajam, “Jadi kau membela pria brengsek ini, eoh? Bagus Sica, semuanya nampak jelas sekarang. Kau lebih memilihnya daripada aku suamimu sendiri.” SeungHyun menghempaskan tangan Jessica kasar.

“Oppa, percayalah padaku! Aku sangat mencintaimu. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan  Siwon.” Airmata Jessica tidak berhenti mengalir. Dengan cara apalagi ia harus meyakinkan suaminya.

“Lalu apa arti semua ini, eoh?! Apa kau pikir aku bodoh? Foto – foto ini membuktikan semuanya!!!” SeungHyun mencengkram kuat bahu Jessica sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan.

“Oppa ini semua fitnah. Aku yakin ada orang yang sengaja melakukannya untuk menghancurkan kebahagian kita,” lirih Jessica. Miyoung tak tahan lagi melihat tragedi ini, ia melirik sekilas kearah Siwon yang bersusah payah mengontrol emosinya.

“Pergilah Sica! Aku tidak ingin melihat kalian berada dirumahku.” SeungHyun memalingkan wajahnya dari hadapan Jessica. ia menunjuk kearah luar mengisyaratkan mereka untuk keluar dari rumahnya.

“Oppa..k-kau mengusirku?”

“…..” tidak ada jawaban.

Jessica semakin terisak. Tak tega melihat Jessica diusir dari rumahnya sendiri, Siwon melangkah maju. “Kau tidak bisa mengusir istrimu, Hyung. Ia berhak untuk tinggal disini.”

“Jangan panggil aku HYUNG!!! Aku tidak sudi mendengarnya!!!!” lagi – lagi mereka tersentak. Siwon sudah tidak bisa mentolerirnya lagi. Ia akan membawa Jessica serta Miyoung pergi bersamanya.

“Sica Noona, Miyoung-ssi, tidak ada gunanya lagi kita berdiam diri disini. Ikutlah bersamaku. Aku berjanji akan menjaga kalian.” Ucap Siwon tegas penuh keyakinan. Jessica tidak bergeming. Ia masih berharap SeungHyun akan mempercayainya.

“Oppa.. aku mohon percayalah…hiks…” Jessica memohon dengan pilu, mencoba meraih lengan SeungHyun. Namun SeungHyun menepisnya keras.

“AKU BILANG PERGI!! AKU TIDAK INGIN TINGGAL BERSAMA WANITA JALANG SEPERTIMU!!!” teriak SeungHyun tak terkontrol.

PLAK!!

Tamparan keras mendarat sempurna di pipi kiri SeungHyun. “Kau sudah keterlaluan Oppa. Baik. Aku akan pergi sekarang dan aku berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi.” Kali ini ucapan SeungHyun sukses menohok hati Jessica. sakit, itulah yang dirasakannya. Ia tak menyangka suami yang begitu dicintainya akan mengeluarkan kata tidak pantas seperti itu. Pertahanan Jessica runtuh. Ia tidak sanggup bertahan lagi. Cukup sudah ia memohon. Pria di hadapannya ini sudah tidak menginginkannya lagi. Jessica memilih mundur, ia pergi bersama Siwon dan Miyoung. Entah kapan ia akan kembali atau mungkin ia akan menghilang dari suaminya untuk selamanya.

 

**Sifany**

Jessica tidak berhenti menangis dalam pelukan Miyoung. Sejak pertengkarannya dengan SeungHyun, hidup Jessica seolah hancur. Beruntung ia memiliki Miyoung yang selalu memberinya kekuatan dan kehangatan yang biasa ia dapatkan dari suaminya. Miyoung tidak pernah meninggalkannya barang sedikitpun. Ia selalu setia berada disampingnya.

Berkat bantuan Myungsoo, mereka bisa mendapatkan rumah dengan harga sewa yang tidak terlalu tinggi. Sesuai janjinya pada dirinya sendiri, Siwon menjaga kedua wanita yang kini menjadi tanggung jawabnya. Ia berperan seolah ia adalah ayah mereka. Siwon memastikan kehidupan mereka layak dan tidak diganggu oleh siapapun.

Miyoung keluar dari kamarnya, ia mengambil tempat duduk di seberang Siwon. Miyoung menekuk wajahnya yang kusut. Ia merasa iba melihat kondisi Jessica yang semakin lemah.

“Apa Noona sudah tidur?” Miyoung mendongak demi menatap Siwon.

“Ne, ia sangat rapuh. Aku harap SeungHyun-ssi segera sadar dan mau menerima Unnie lagi.” Siwon menghela nafas kasar. Mendengar nama SeungHyun membuat emosinya kembali bangkit. “eum… Siwon-ssi, apa kau tidak ingin menyelidiki siapa pelaku yang memfitnah kalian?” lanjutnya ragu – ragu.

“Aku tidak perlu menyelidikinya, ia adalah orang yang mempunyai alasan untuk membenci kami.”

“Nugu?”

“Nyonya Choi.”

 

**Sifany**

Satu bulan sudah sejak SeungHyun mengusir Jessica juga Siwon. Kini mereka hidup terpisah. Walaupun masih belum sepenuhnya melupakan luka yang ditorehkan suaminya, Jessica mulai menata hidupnya yang baru. Ia dan Miyoung bekerja di toko bunga milik ibu Myungsoo. Mereka sangat menikmatinya karena pada dasarnya kedua wanita cantik ini sangat menyukai bunga.

Hari ini suasana toko begitu ramai. Banyak pembeli yang berdatangan silih berganti. Miyoung dan Jessica kewalahan melayani mereka. Bahkan selalu saja ada pembeli yang datang hanya sekedar ingin bertemu dengan salah satu diantara mereka. Jessica terkikik geli tatkala menyaksikan ekspresi kesal Miyoung ketika mendapat godaan dari para pembelinya. Kehadiran Miyoung sungguh sangat membantu kebangkitan Jessica dari keterpurukannya. Begitupun sebaliknya.

“dari sekian banyak pembeli yang datang, kenapa tidak ada satupun yang menarik perhatianmu, eoh?” Jessica menyenggol lengan Miyoung, mencoba untuk menggodanya.

“Unnie, kau ini bicara apa? Saat ini tidak ada dalam pikiranku untuk berkencan dengan seseorang.” Miyoung mengerucutkan bibirnya lucu. Sesaat Jessica terperangah. Kenapa setiap ekpresi yang ditunjukkan Miyoung selalu mengingatkannya pada adiknya Tiffany?

“Unnie…”

“Eoh?”

“Kau tidak apa – apa?” tanya Miyoung khawatir.

“Ah, ne. Eum… Miyoung, ini sudah sore. Ayo kita pulang. Aku sudah membereskan semuanya. Kau hanya tinggal mengemasi barang – barangmu.”

“Baiklah. Unnie tunggu saja diluar.” Miyoung segera mengemasi barangnya dan menyusul Jessica yang sudah menunggunya di luar toko. Mereka berjalan pulang sambil berpegangan tangan. Kebersamaan mereka semakin hari semakin dekat, seolah keduanya memang telah ditakdirkan untuk hidup bersama.

 

**Sifany**

Siwon baru saja pulang dari bengkel yang ia bangun bersama Myungsoo 3 minggu yang lalu. Hanya sebuah bengkel sederhana. Siwon menyimpan tas nya diatas meja dekat pintu masuk. Ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu bergegas menuju dapur untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti begitu menangkap sosok gadis menggunakan masker dengan kepala tertutup topi yang terdapat pada hoodie-nya tengah merawat bunga – bunga yang berada di beranda kecil belakang rumahnya. Nafasnya seketika tercekat. Gadis itu……

“Gadis penolongku?” gumam Siwon. Ia mengambil langkah cepat lantas menarik topi serta masker itu dari gadis tersebut. Setelah semuanya terlepas, Siwon tak dapat berkedip. Gadis yang selama ini ia cari ternyata berada satu atap dengannnya dalam waktu lebih dari 1 bulan. Siwon tersenyum konyol. Bodoh! Kenapa ia tidak menyadarinya?

“Siwon-ssi, ada apa denganmu? Hei, sadarlah!” Miyoung melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Siwon. Dengan gerakan cepat Siwon menangkap tangan mugilnya, lalu memeluknya erat. Miyoung tercekat. Ada apa dengan pria ini?

“Siwon-ssi, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Kenapa kau bertingkah aneh, hm?” Miyoung mengeluarkan suaranya dengan susah payah akibat kehabisan nafas karena pelukan erat Siwon. “Siwon-ssi, aku mohon lepaskan aku! Kau membuatku tidak bisa bernafas.” Siwon melepasnya dengan enggan. Ia memandang lekat wajah polos Miyoung. Sesaat kemudian, Siwon teringat sesuatu. Perbincangannya dengan Jessica dulu. Jessica pernah berkata jika kalimat yang pernah diucapkan gadis penolongnya ialah kalimat yang sering diucapkan pula oleh adiknya. Seketika Siwon menegang. Apakah itu berarti…..

Siwon berlari mencari Jessica meninggalkan Miyoung yang berdiri mematung karena bingung. Ia bahkan lupa dengan rasa hausnya. Siwon yakin jika dugaannya benar. Ia mengetuk pintu kamar Jessica berulang kali.

Cklek

“Siwon-ah, ada apa?” Siwon menerobos masuk tanpa mendapat izin dari si empunya kamar.

“Noona, kau pernah bilang padaku jika kau telah mencari adikmu selama bertahun – tahun?” Jessica mengangguk tak mengerti.

“Noona pernahkah kau berfikir jika ia ada didekatmu?” Jessica menggeleng namun kemudian juga mengangguk.

“Noona apa tanda yang akan menyakinkan noona jika seseorang adalah adikmu?” Jessica tampak berfikir sejenak, ia tidak mengerti dengan pertanyaan Siwon yang bertubi – tubi.

“Ia mempunyai tanda di lengan kanan atasnya. Ia juga memiliki kalung yang sama denganku.” Jessica menunjukkan kalung yang ia miliki bersama adiknya, Tiffany. Mata Siwon berbinar, ia menarik tangan Jessica keluar.

“Noona kau harus membuktikannya sendiri.” Siwon membawa Jessica pada Miyoung. Kedua wanita itu hanya saling mengedikkan bahunya tak mengerti.

“Miyoung-ssi, mian. Bisakah kami melihat lengan kananmu?”

“Mwo?”

“Choi Siwon sebenarnya ada apa? Apa yang kau fikirkan?” Tanya Jessica begitu Siwon meminta Miyoung membuka sedikit bajunya.

“Noona kita harus membuktikannya.”

“Membuktikan apa? Apa kau pikir Miyoung……… oh,” Jessica menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Apa benar Miyoung….

“Miyoung-ah bisakah kau ikut bersamaku ke kamar?”

“Nde? Unnie, apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua panik seperti ini?”

“Miyoung-ah, aku mohon ikutlah denganku, ne.” melihat wajah memelas Jessica, Miyoung pun akhirnya menurut.

 

Di dalam kamar, Jessica berharap – harap cemas. Miyoung membuka sedikit bajunya pada bagian lengan kanannya sesuai keinginan Jessica. begitu terlepas, Jessica terperangah. Ada bulir – bulir airmata bahagia yang turun dengan indah. Jessica tidak berniat menyekanya, ia membiarkannya jatuh. Miyoung hanya menatap aneh pada Jessica.

“Unnie, ada apa? Kenapa unnie menangis lagi?”

“Miyoung-ah, apa kau memiliki kalung seperti ini?” bukannya menjawab pertanyaan Miyoung, Jessica malah menanyakan soal kalung.

Miyoung menyipitkan matanya, memperhatikan kalung yang mirip dengan miliknya. Detik berikutnya ia baru paham. Kalung yang kini ditunjukkan Jessica adalah kalung pemberian ibu mereka. Pada kalung yang di pegang Jessica terdapat huruf ‘JH’ yang berarti Jessica Hwang di dalam bandul berbentuk hati tersebut. Sementara pada kalung Miyoung terdapat huruf ‘TH’ yang berarti Tiffany Hwang. Di sudut bawah pada masing – masing bandul kalung mereka terdapat tulisan Hwang Gyu Ri. Pada awalnya, setiap kali Miyoung melihat kalungnya, ia tidak mengerti dengan inisial tersebut. Ia menganggapnya hanya inisial biasa. Sekarang ia paham kalung tersebut memiliki arti khusus baginya.

“Unnie, apa maksud dari semua ini? Apakah ini berarti…….” Miyoung tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia takut jika pemikirannya salah.

“Ya, Miyoung-ah. Ah, aniyo. Tiffany.” Miyoung mengernyit bingung.

“Tiffany?”

“Ye, Tiffany. Kau adalah Tiffany adikku. Adik yang selalu aku rindukan. Adik yang telah menghilang dari kehidupanku.”

Seperti halnya Jessica, ia terkejut dengan kenyataan baru ini. ternyata ia masih memiliki keluarga. Ia kembali dipertemukan dengan kakaknya. Miyoung juga tak dapat menahan tangisan bahagianya. Ia memeluk kakaknya erat, tak ingin dipisahkan lagi.

“Tiffany, aku tidak percaya kini aku berada dalam pelukanmu. Aku sangat merindukanmu. 20 tahun aku mencarimu, dan sekarang…sekarang.. kau ada di depanku, hiks..” Jessica terisak dalam pelukan Miyoung yang sebenarnya adalah Tiffany.

“Unnie, aku senang karena kau telah menyelamatkanku. Aku selalu berharap jika unnie adalah kakak kandungku. Doaku ternyata terkabul. Unnie adalah milikku. Hiks.. aku menyayangimu unnie, sangat.” Kedua insan ini larut dalam pelukan hangat mereka. Kakak beradik yang kembali bersatu setelah 20 tahun terpisah.

 

**Sifany**

Derap langkah kaki SeungHyun terdengar jelas di ruang tengah kediaman keluarga Choi yang tampak sepi. Semenjak berpisah dari Jessica, ia sering mengunjungi ibunya untuk mengusir rasa kesepiannya. SeungHyun dan Jessica belum memutuskan untuk bercerai. Entah kenapa ada sedikit keraguan dalam hati SeungHyun untuk menceraikan istrinya. Hingga detik ini belum sekalipun SeungHyun menghubungi istrinya meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya. Terlalu perih baginya mengingat pengkhianatan yang dilakukan Jessica bersama adiknya sendiri.

SeungHyun mengelilingi seluruh sudut rumahnya mencari keberadaan ibunya. Ia tidak menemukannya dimanapun. SeungHyun berjalan menaiki tangga dengan langkah gontai berharap ibunya berada di dalam kamarnya. Hidupnya kini tak sesemangat ketika ia masih bersama Jessica. tidak ada lagi orang yang memberinya kehangatan dan cinta. Sejujurnya ia sangat merindukan istrinya. merindukan sentuhannya, senyumannya, sifat manjanya, sifat dinginnya, ia merindukan semua yang ada pada diri Jessica. SeungHyun mendesah kecewa. Ia membuka pintu kamar orang tuanya. Melihat ke sekeliling, semuanya tampak rapi dan tertata. Benda – benda mewah menghiasi setiap sudut kamarnya. Perlahan, SeungHyun menghampiri benda persegi panjang yang tengah menyala di atas kasur king size milik orang tuanya. Benda tersebut seolah berteriak memanggil sang empunya. SeungHyun mengambilnya ragu. Ia menggeser tombol hijau untuk mengetahui siapa orang yang tidak sabar memanggilnya. Ketika SeungHyun menempelkannya pada telinga kirinya, suara keras menyambutnya kasar.

“Nyonya Choi jika sampai sore nanti kau tidak membayarku, aku akan membongkar semua permainanmu pada keluargamu. Akan ku tunjukkan pada mereka bahwa kau-lah dalang dibalik foto – foto menantu dan putra tirimu. Ingat itu!”

DEG

Bagai mendapat tamparan keras, SeungHyun mendadak membeku. Jadi semua ini adalah permainan ibunya? SeungHyun merasa dirinya adalah orang yang paling bodoh karena tidak percaya pada istrinya sendiri. ia juga telah berkata kasar dan mengusirnya. Wajah SeungHyun memerah karena marah. Ia mengepalkan tangannya seakan siap untuk memukul siapapun yang ada di depannya.

Cklek

Pintu kamar mandi terbuka. Nyonya Choi menyambut putranya dengan senang hati, namun tidak dengan Choi SeungHyun. Ia menatap ibunya tajam dengan kemarahan yang berapi – api.

“SeungHyun-ah ada apa? Kenapa kau menatap eomma seperti itu?” Tanya nyonya Choi lembut menghampiri putranya.

“APA YANG EOMMA INGINKAN. EOH? APA EOMMA TAHU HIDUPKU HANCUR KARENA PERBUATAN EOMMA!!” nyonya Choi tersentak dengan bentakan SeungHyun. Ini kali pertama baginya mendapat bentakan dari putranya.

“Apa maksudmu Choi SeungHyun? Kenapa kau membentak Eomma?!!!” teriak nyonya Choi tak kalah keras.

“Apa eomma kenal dengan nomor ini?” SeungHyun memperlihatkan nomor yang tadi menghubungi ibunya. Tubuh nyonya Choi menegang, wajahnya memucat.

“Eom-eomma… eomma tidak mengerti maksudmu SeungHyun-ah..” ucapnya terbata.

“Apa harus ku jelaskan lagi, eoh?” SeungHyun hendak meneriakinya lagi, namun suara tuan Choi menginterupsinya.

“Ada apa ini?” tuan Choi baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya di Jepang selama dua bulan . tak heran jika ia tidak tahu menahu perihal konflik rumah tangga putranya.

“Choi SeungHyun jelaskan pada Appa apa yang terjadi di rumah ini selama Appa tidak ada.” Baik SeungHyun maupun nyonya Choi, tidak bergeming menanggapi pertanyaan tuan Choi. SeungHyun bingung bagaimana cara menjelaskannya. Ia sangat takut dengan reaksi yang akan keluar dari ayahnya. SeungHyun menghembuskan nafasnya terlebih dahulu sebelum memulai ceritanya. Setelah keyakinannya terkumpul, ia mulai bercerita.

 

**Sifany**

Tiffany dan Siwon tengah asyik bergelut dengan peralatan dapur. Mereka ingin membuat kimchi untuk makan malam mereka. Tak henti – hentinya mereka saling melempar senyum, tertawa dan bercanda bersama di sela – sela kegiatan memasaknya. Sesekali Siwon menggoda Tiffany dengan mengoleskan bumbu dapur pada wajah cantiknya. Tiffany memekik. Ia membalas perbuatan Siwon dengan hal yang sama. Alhasil, keadaan dapur menjadi hancur berantakan dalam sekejap.

Jessica yang mendengar kegaduhan dari arah dapur, melenggang untuk mengetahui apa yang terjadi.  Betapa terkejutnya ia mendapati Siwon dan Tiffany dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik. Jessica menatap keduanya secara bergantian. Tiffany dan Siwon hanya memamerkan senyum polos mereka seakan mereka adalah anak berusia 5 tahun yang tengah bermain masak – masakan. Jessica menghela nafas berat, kenapa ia seolah menjadi ibu mereka yang marah karena perbuatan nakal anak – anaknya?

“Fany-ah, Siwon-ah, apa kalian sadar berapa usia kalian saat ini?” geram Jessica dengan meletakkan tangannya di kedua sisi pinggangnya.

“Ne, Unnie,”     “Ne, Noona,” jawab keduanya bersamaan sambil menundukkan kepala mereka.

“Oh God, kalian sungguh membuatku pusing. Cepat bereskan semuanya! Aku tidak mau tahu!” Jessica pergi meninggalkan mereka yang tertawa ringan.

 

 

Setelah membereskan kekacauan yang mereka ciptakan, Siwon dan Tiffany membawa kimchi buatan mereka ke meja makan. Jessica sudah menunggunya dengan tidak sabar. Begitu semuanya tertata rapi, Siwon dan Tiffany mengambil tempat duduk mereka masing – masing. Tiffany duduk disamping Jessica, sementara Siwon duduk diseberang mereka.

“Unnie, kau sudah tidak marah lagi kan?” Tanya Tiffany seraya mengelus – elus lengan kakaknya.

“Mwo? Siapa bilang? Aku masih marah pada kalian.”

“Unnie…” rengek Tiffany manja. Jessica tidak dapat menahan tawa nya lagi melihat ekspresi lucu adiknya. Ia mencubit kedua pipi Tiffany dan menggoyang – goyangkannya.

“Aigoo kyeopta…” Tiffany mengembungkan pipinya agar cubitan Jessica terlepas. Jessica kembali tertawa. Siwon bersyukur dalam hati menyaksikan kedua wanita yang disayanginya tampak begitu bahagia. Ia berjanji akan selalu menjaga senyuman bahagia mereka.

 

**Sifany**

Berhari – hari SeungHyun mencari tempat tinggal Jessica. hidupnya sangat kacau tanpa kehadiran istrinya. SeungHyun ingin membawanya kembali. Jika perlu, ia akan bersujud di bawah kakinya agar wanita yang paling dicintainya itu mau memaafkannya. SeungHyun kehilangan jejak mereka. Ia kesulitan menemukannya.

Berbagai cara sudah ia tempuh, namun hasilnya tetap nihil. SeungHyun tidak ingin putus asa. Ia harus mendapatkan kembali hati Jessica. ia bersumpah tidak akan pernah memaafkan ibunya jika Jessica tidak bisa kembali padanya.

Tuan Choi juga murka terhadap istrinya, ia mengancam akan menceraikannya dan mencabut seluruh fasilitas yang dilmilikinya jika istrinya tidak mau berubah. Nyonya Choi sangat ketakutan . ia tidak ingin semua itu terjadi. Ia berjanji pada suaminya akan memperbaiki sikapnya pada Jessica dan juga Siwon. Sekali saja ia ingkar, tuan Choi tidak akan segan – segan merealisasikan ancamannya.

Karena kelelahan, SeungHyun menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia menyandarkan kepalanya di kemudi mobil. Setelah beberapa saat ia bersandar, ia kembali mendongakkan kepalanya. Sejenak ia terhenyak. Matanya tak sengaja menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Wanita itu berjalan anggun dengan dua buah paper bag ditangannya. Tak ingin kehilangan kesempatan, SeungHyun membuka paksa seatbelt-nya lalu keluar dari mobilnya dan berlari kencang mengejar wanita tersebut.

SeungHyun menghadang jalannya. Ia berdiri tepat di depannya. Jessica, wanita yang dikejar SeungHyun, menjatuhkan kedua paper bag-nya. Ia berjalan mundur, tak ingin—lebih tepatnya belum siap—bêrtemu dengan pria ini lagi.

“Sica, tunggu! Aku mohon beri aku kesempatan untuk berbicara.” SeungHyun menggennggam pergelangan tangan Jessica.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi SeungHyun—ssi!” ujar Jessica tegas tanpa memandang SeungHyun. SeungHyun terperangah dengan panggilan yang Jessica alamatkan padanya.

“Sica aku tahu kau marah, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”

“Pergilah SeungHyun-ssi, jangan ganggu hidupku lagi.” Jessica menghempaskan tangan SeungHyun yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Ia lalu pergi meninggalkannya. Baru 5 langkah ia melenggang, tiba – tiba pandangannya mengabur dan ia kehilangan kesadarannya. SeungHyun sontak berlari cemas. Ia mengguncang – guncang tubuh Jessica.

“Sica… bangunlah… Sica!!!” tanpa pikir panjang SeungHyun langsung membopongnya masuk kedalam mobil, lantas ia melaju cepat menuju rumah sakit.

 

**Sifany**

Tiffany duduk cemas menunggu kedatangan Jessica yang hingga detik ini belum menunjukkan batang hidungnya. Sudah hampir 3 jam lebih kakaknya itu pergi untuk membeli beberapa bahan makanan di supermarket, namun ia tak kunjung datang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, ponselnya tidak aktif.

Tiffany menggigiti kukunya, sudah puluhan kali ia melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Nafasnya memburu tak beraturan. Tidak biasanya Jessica pulang terlambat dan tanpa kabar pula. Tiffany bangkit, lantas berjalan menuju jendela utama. Ia membuka sedikit gorden rumahnya berharap Jessica akan muncul dari arah pintu gerbang. Namun harapannya nihil. Jessica masih belum tampak. Tiffany kembali duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan cemas yang semakin menyelimuti hatinya.

Cklek

Suara pintu sontak membuat Tiffany berdiri. Ia bernafas lega. Ketika pintu terbuka, sosok yang muncul bukanlah orang yang diharapkannya. Tiffany mendesah kecewa. Siwon mengerutkan keningnya tatkala melihat perubahan raut wajah Tiffany yang mengkerut berlipat – lipat.

“Wae? Sepertinya kau tengah menunggu seseorang?” Tanya Siwon tepat sasaran.

“Jessie Unnie belum pulang.” Jawab Tiffany hampir menangis.

“Mwo??? Bukankah tadi ia pergi ke toko bunga bersamamu Tiff?” Tiffany tidak sanggup lagi menahan airmatanya. “Tadi Unnie meminta izin pergi supermarket, tapi hingga sekarang ia belum kembali.” Ucap Tiffany serak disela isakannya. Siwon membawa Tiffany kedalam pelukannya. Ia menepuk – nepuk punggungnya pelan. “Sssttt… sudahlah jangan menangis, Noona pasti akan kembali dengan selamat. Percayalah.” Tiffany mengangguk dibalik bahu Siwon.

 

**Sifany**

Setelah memeriksa keadaan Jessica, dokter yang sudah berusia kepala 5 itupun keluar dari ruangannya dengan senyum mengembang. SeungHyun menghampirinya dengan perasaan cemas. “Dokter, bagaimana keadaan istriku?” sang dokter hanya tersenyum kecil seraya menepuk bahu SeungHyun pelan. “kau tidak perlu khawatir tuan, hal ini sudah biasa terjadi pada wanita hamil.” SeungHyun melebarkan matanya tak percaya. Hamil? Jessica hamil?

“A-apa maksud dokter istriku sedang hamil?” tanyanya gugup.

“Ne, jadi anda baru mengetahuinya tuan? Kandungannya sudah menginjak usia 6 minggu.”

“Mwo? 6 minggu? Dokter, bolehkah aku melihatnya?” tak dapat dipungkiri ada perasaan bahagia yang hinggap di hati pria berusia 33 tahun itu. Begitu dokter menganggukkan kepalanya, ia lekas masuk menemui istrinya.

Senyuman tidak hilang dari wajah tampannya. Ia mendekati ranjang Jessica dan duduk disampingnya. Ia menggenggam tangan Jessica erat. Wanita itu masih tertidur lelap. Wajahnya begitu damai tidak seperti beberapa saat yang lalu ketika mereka bertemu di jalan.

Selang berapa lama, Jessica membuka matanya perlahan. Ia terkejut mendapati dirinya berada dikamar yang berbeda. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, SeungHyun tengah tersenyum kearahnya. Jessica segera memalingkan wajahnya. Ia masih enggan bertemu tatap dengannya.

SeungHyun tersenyum geli menanggapi ekspresi kesal Jessica, meskipun dalam hatinya ia masih merasa bersalah. Telapak tangannya masih terpaut kuat dengan telapak tangan Jessica.

“Sica-ya, gomawo.” Ucapnya tulus. Jessica otomatis menolehkan kepalanya, ia bingung dengan ucapan terima kasih SeungHyun.

“gomawo untuk apa?”

“Untuk keturunanku yang ada dalam rahimmu.” Mata Jessica membelalak. Dengan reflek, ia langsung memegang perutnya yang masih rata.

“Op-oppa..jangan katakan kalau aku sedang hamil.” Ujar Jessica tak percaya. SeungHyun semakin melebarkan garis melengkung pada bibirnya. “itulah kenyataannya chagi.” Sambungnya setengah berbisik.

“Nde???” untuk kedua kalinya Jessica terkejut. Ada rasa bahagia menyelimuti hatinya. Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Namun ia segera mengubah raut wajahnya, tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang masih sangat dicintainya itu.

 

**Sifany**

Tiffany sudah tidak tahan lagi. Ini sudah 5 jam Jessica menghilang tanpa kabar. Ia segera bangkit dan hendak pergi meninggalkan rumah. Tiffany bertekad untuk mencarinya, namun Siwon menahannya. “Kau mau kemana Tiff?” tak dapat dipungkiri Siwon juga khawatir dengan keadaan Jessica.

“Kita harus mencarinya Siwon-ssi. Aku tidak bisa hanya menunggu saja disini.” Siwon ikut berdiri. Ia tahu saat ini Tiffany sangat panik.

“Ini sudah malam Tiff, kau tunggu saja disini. Biar aku yang mencarinya.”

“Shirreo!! Aku harus ikut.” Siwon menghela pasrah, percuma saja ia berdebat dengan gadis didepannya ini.

“Baiklah, ayo!” ketika mereka akan melangkah keluar, dua sosok muncul di depan mereka.

“Unnie!”

“Noona!” langkah Siwon terhenti tatkala ia bertemu pandang dengan Choi SeungHyun. Siwon bergegas memalingkan wajahnya. Ia lebih memilih untuk pergi.

“Aku harus pergi.”  Siwon berlalu melewati keduanya. Ia tidak berniat menoleh sedikitpun kearah mereka.

“Choi Siwon!” panggil Jessica lemah.

“Unnie, biar aku yang bicara dengannya. Sebaiknya unnie masuk saja. Kalian pasti sangat lelah.” Jessica mengangguk setuju. Ia mengajak SeungHyun untuk ikut masuk. Sementara Tiffany, ia segera berlari mengejar Choi Siwon.

“Siwon-ssi!!! Tunggu!!!” Siwon menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati Tiffany tengah berlari kearahnya. Begitu sampai dihadapan Siwon, Tiffany langsung membungkukkan badannya seraya memegang kedua lututnya mencoba mengatur nafasnya yang naik turun akibat berlari.

Siwon menggeleng pelan, “Kalau kau tidak kuat berlari, kenapa harus berlari, eoh?” Tiffany mendongak dan mendelik sebal. “Kalau aku tidak berlari, apa kau pikir aku bisa mengejarmu?” ucapnya dengan nafas yang masih terengah – engah. Tanpa diduga, Siwon mengelap peluh yang bercucuran di wajah cantik Tiffany hingga membuat gadis itu terpaku.

“Lihatlah! Sekarang wajahmu penuh dengan keringat.” Dengan penuh kelembutan, ia terus mengelapnya hingga tidak bersisa. “Ada apa kau mengejarku?” tambahnya. Karena terlalu sibuk memikirkan ulah Siwon, Tiffany tidak menyadari jika Siwon sudah berulang kali memanggil namanya.

“Tiffany… Tiffany…”

“Eoh? Kau bilang apa?” Siwon tersenyum kecil menanggapi pertanyaan polos Tiffany.

“Ada apa kau mengejarku?” ulangnya.

“Ah.. ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengannmu.”

“Baiklah. Kajja!” Siwon langsung menggandeng tangan Tiffany menuju suatu tempat dan lagi – lagi Tiffany terpaku dibuatnya. Kenapa akhir – akhir ini pria disampingnya ini sering melakulan skinship terhadapnya?

 

Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Siwon mengajak Tiffany untuk duduk disampingnya. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Siwon memulai pembicaraan.

“Kenapa kau pergi Siwon-ssi?” Siwon mengalihkan pandangannya kedepan. “Aku belum bisa bertemu dengannya.” Jawabnya datar. Ada nada kekecewaan yang tersirat dalam ucapannya.

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku juga pernah mengalaminya. Tapi aku selalu mengingatkan diriku untuk tidak pernah mengungkitnya, karena itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Aku selalu menatap kedepan dan menjadikan masa laluku sebagai pelajaran. Bukan dijadikan sebagai acuan untuk menyimpan rasa dendam. Aku tidak ingin hatiku ternoda oleh luka yang pernah ditorehkan orang – orang di masa laluku. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah bagaimana aku menata hidupku untuk masa depanku bersama orang – orang yang aku cintai. Kau masih ingat apa yang pernah aku katakan padamu?” Siwon menaikkan sebelah alisnya pertanda ia tidak mengerti. “Tersenyumlah, karena itu akan membuatmu selalu bahagia.” Lanjut Tiffany.

Siwon menatap Tiffany intens. Ada perasaan asing yang tersirat dalam tatapannya. Ia lalu berbisik, “Tiff, maukah kau memelukku?”

“Nde??” terkejut? Tentu saja. Itulah reaksi yang juga ditunjukkan Tiffany.

“Aku mohon,” pinta Siwon dengan iba.

“Apakah itu akan membuatmu merasa lebih baik?” Siwon mengangguk cepat.

“Oke.” Tiffany merentangkan tangannya, dan dengan kilat Siwon berhambur ke pelukannya.

“Gomawo, Tiff. Jeongmal gomawo.” Bisik Siwon di telinga Tiffany. Gadis itu menepuk – nepuk pelan punggung Siwon. Pria itu merasa nyaman berada didalam pelukan Tiffany. Kalau boleh, ia tidak ingin pernah melepaskannya. “Jadi, apa kau mau pulang sekarang?” Siwon tersenyum seraya menjawab, “Asalkan bersamamu, aku pasti bersedia.”

Tiffany sontak melepaskan pelukan mereka, membuat Siwon harus mendesah kecewa. “Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Tiffany bingung.

“Karena kau adalah gadis penolongku.”

“Nde????”

 

**Sifany**

“Chagie, apa kau yakin Mi.. eum maksudku Tiffany bisa membujuk Siwon?” ya, selama berada di rumah sakit Jessica dan SungHyun berhasil memecahkan masalah mereka. Jessica juga menceritakan perihal Tiffany pada suaminya. SeungHyun merasa bahagia karena istrinya telah menemukan adiknya yang telah lama hilang.

“Aku sangat yakin Oppa. Siwon banyak mengalami perubahan setelah bertemu dengan adikku. Bahkan aku melihat ada sorot cinta yang terpancar dari mata Siwon.”

“Benarkah? Syukurlah aku senang mendengarnya.” Disaat mereka tengah asyik berbincang, dua insan yang sedari tadi dibicarakan, sudah berdiri di ambang pintu rumah mereka.

“Eoh? Kalian sudah datang?”

“Unnie, kau berhutang cerita padaku. Ayo kita bicara di kamar!” mengerti dengan maksud Tiffany, Jessica mengekorinya dari belakang.

Siwon berjalan ragu menuju sofa yang tadi ditempati Jessica. Ia duduk tepat dihadapan SeungHyun. Suasana canggung menyelimuti kedua kakak beradik ini. SeungHyun bingung darimana ia harus mulai berbicara. Lidahnya mendadak kelu. Keberaniannya mendadak luntur. Pun begitu dengan Siwon. Ia bagaikan seorang tersangka yang hendak diinterograsi. Hingga akhirnya dua pria tampan ini hanya mampu terdiam untuk beberapa saat.

Siwon mengotak – atik ponselnya tidak jelas demi menghilangkan rasa gugupnya. Kesal dengan suasana canggung yang tak kunjung hilang, SeungHyun pun akhirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan. “Siwon-ah..”

“Nde?” Siwon meletakkan kembali ponselnya di tempat semula.

“Eum..aku…aku… minta maaf atas ucapan kasarku beberapa waktu yang lalu. Aku terlalu terbawa emosi hingga tidak memikirkan perasaanmu.” SeungHyun kembali menundukkan kepalanya. Ia terlalu malu untuk menatap adiknya.

“Gwenchana. Berkat seseorang aku jadi sadar bahwa menyimpan rasa dendam itu tidaklah baik.” Kening SeungHyun berkerut. Namun selang satu detik, ia tersenyum. “Seseorang? Nugu?”

“Hyung pasti sudah mengetahuinya.” SeungHyun semakin melebarkan senyumannya. “Arra. Lalu apa yang akan kau lakukan?” entah bagaimana semuanya bermula, obrolan dua pria Choi ini berubah menjadi hangat.

“Mollayo. Aku butuh belajar darimu Hyung.”

“Haha.. dengan senang hati aku akan mengajarimu saeng-ah.” Mereka pun semakin larut dengan obrolan antar pria dewasa untuk pertama kalinya.

 

Sementara itu, para wanita cantik ini juga tak kalah seru dengan percakapan mereka. “Jadi sekarang Unnie sedang mengandung?” Jessica mengangguk antusias. “Oh.. Chukkae unnie!” Tiffany memeluk Jessica erat, “Sebentar lagi aku akan menjadi seorang aunty.” Jessica meletakkan dagunya di atas bahu Tiffany sambil berbisik, “Kau juga harus secepatnya menjadi seorang ibu. Hihi..” Tiffany melepas paksa pelukan mereka. “Unnie…” rengeknya manja.

“Hahaha… kyeopta.” Seperti biasa, jika Tiffany bertingkah lucu, maka Jessica akan selalu mencubit kedua pipinya gemas. “Yak!! Unnie!!! Appo..!!!”

 

**Sifany**

Hari ini cuaca sangat cerah. Sama halnya dengan perasaan keempat insan yang tengah memasuki rumah mewah yang selama dua bulan ini tidak menginjakkan kakinya kembali disana.

Mata Jessica berkaca – kaca mengingat semua kenangan manis-pahit di rumah yang telah banyak memberinya cinta ini. Siwon dan SeungHyun mendorong koper dan beberapa tas bawaan kedua wanita yang berjalan di depan mereka. senyuman pun tidak luntur dari keempat orang ini.

Ketika mereka sampai diruang tengah, dua sosok setengah baya menyambut mereka dengan suka cita. Jessica, Tiffany dan Siwon tidak berani melanjutkan langkah mereka saat berhadapan dengan nyonya Choi. Menyadari kekhawatiran pada ketiganya, nyonya Choi berinisiatif untuk menghampiri mereka terlebih dahulu.

Nyonya Choi menampakkan senyum tulus. Sejak mengetahui perihal kehamilan Jessica, ibu satu anak ini begitu excited menyambut kedatangan menantunya. Ia sangat senang karena dalam waktu 7 bulan ini, ia akan mengubah statusnya menjadi seorang nenek.

“Sica-ya, selamat datang kembali di rumah kami.” Nyonya Choi memeluk Jessica dengan penuh kasih sayang. Namun Jessica tidak bergeming. Ia masih terkejut dengan perubahan tiba – tiba ibu mertuanya. Karena tidak mendapat respon, nyonya Choi mengendurkan pelukannya. “Kau pasti sangat terkejut dengan perubahan sikapku kan? Sica, eomonim tahu kesalahan eomonim tidak pantas untuk dimaafkan. Kau boleh menghukumku apa saja. Eomonim siap menerimanya.” Setetes air lolos dari pelupuk mata Jessica. Ia tidak menyangka semuanya telah berubah begitu cepat. Seulas senyum tercetak dari bibirnya. “Eomonim, aku sudah memaafkanmu. Apapun yang terjadi, kau tetaplah ibu yang telah melahirkan suamiku.” Nyonya Choi bisa bernafas lega karena Jessica mau memaafkan kesalahan terbesarnya. Ia kembali memeluk menantunya.

Tiffany tidak kuasa menahan cairan bening yang terus mendesak keluar. Bagaimana tidak? Kakak tercintanya kini telah mendapatkan keluarga yang utuh yang selama ini selalu ia impikan. Terlebih kini di dalam janinnya tumbuh buah cintanya bersama sang suami Choi SeungHyun. Siwon mengelus lembut bahu Tiffany. Ia juga tidak menampik jika pemandangan ini mampu membuatnya terenyuh.

Setelah melepas pelukannya pada Jessica, nyonya Choi beralih menghampiri Siwon. Ia mengangkat tangan kanannya untuk menangkup sisi kiri wajah Siwon. Pria berlesung pipi itu terhenyak. Ia tak mampu melakukan gerakan apapun. Ini adalah kali pertama nyonya Choi memperlakukannya layaknya seorang ibu terhadap putranya.

“Apa kau juga bersedia memaafkan eomma Siwon-ah?” sebagai seorang pria, Siwon tidak ingin menangis. namun untuk kali ini ia tidak bisa mencegahnya. “Eom-ma…” nyonya Choi merentangkan tangannya, mengisyarakatkan pada putra tirinya untuk memeluknya. Tanpa pikir panjang Siwon langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan hangat ibu tirinya. “Maafkan eomma Siwon-ah.. maafkan eomma.” Lirih nyonya Choi disela isakannya.

Suasana di ruang tengah kediaman Choi SeungHyun, menjelma menjadi sebuah lautan airmata. Tidak ada seorangpun yang tidak menitikan cairan hangat tersebut. Semuanya ikut terhanyut dalam keharuan yang tercipta disana.

Tiffany dan Jessica semakin terisak keras. Mereka berdiri berdampingan saling merangkul satu sama lain. Walaupun Tiffany hanya sekedar mendengar cerita tentang masalah yang pernah menghinggapi mereka, namun ia juga bisa merasakan atmosfir ketegangan saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jessica dan Siwon menegang saat bertatap muka dengan nyonya Choi.

Merasa cukup dengan drama yang penuh tangisan ini, tuan Choi mencoba untuk mengembalikan suasana. Ia berdehem dengan sangat keras mengalihkan perhatian semua orang.

“Aku rasa semuanya cukup mengeluarkan tangisan kalian. Aku tidak ingin rumah ini banjir karena airmata kalian.” Ucap tuan Choi lantang dengan nada candaan. Semuanya tertawa haru mendengar candaan tuan Choi.

“Kau terlalu berlebihan yeobo.”

“Tidak, eomma. Aku rasa appa benar. Kalian menangis seolah tidak ada lagi hari esok.” Timpal SeungHyun,

“Omo! Eomma lupa. hidangannya pasti sudah sangat dingin.” Nyonya Choi yang baru mengingat hidangan yang sudah disiapkannya, memekik keras.

“Gwenchana. Menurutku tidak masalah jika hidangannya dingin. Yang penting keluarga kita tetap hangat.” Ucap Jessica seraya bergelayut manja di lengan nyonya Choi.

“Kau benar, Sica-ya. Kalau begitu ayo kita makan. Eomma sudah sangat lapar.” Mereka semua berbondong – bondong menuju meja makan dengan jejak – jejak airmata yang masih tercetak di pipi masing – masing.

Dan sejak hari ini, keluarga Choi memulai hidup baru mereka dengan penuh kebahagian.

 

 

THE END

 

 

 

Epilog

“Oppa, kau mau membawaku kemana? Lepaskan kainnya! Aku tidak bisa melihat!” sejak Siwon mengajak paksa Tiffany dengan menutup kedua matanya, gadis pemilik eyesmile itu tidak berhenti berteriak. Siwon membawanya ke suatu tempat. Setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, Siwon memutuskan untuk mengutarakan isi hatinya hari ini juga. Ia tidak ingin menunda – nunda waktu lagi. Cukup sudah ia menahan perasaannya selama ini pada gadis yang telah mencuri hatinya sejak awal pertemuan mereka yang menurutnya terasa manis.

“Sabarlah Tiff, sebentar lagi kita akan segera sampai.” Siwon masih setia menuntun Tiffany yang kesulitan berjalan akibat matanya yang tertutup. Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Siwon menghentikan langkah Tiffany. Secara perlahan ia membuka kain yang sejak tadi melekat pada kedua mata indah Tiffany. Dengan sangat hati – hati, Tiffany membuka matanya. Dan betapa terkejutnya ia, tatkala melihat pemandangan yang begitu indah yang disuguhkan khusus untuknya.

Disebuah danau dengan air yang tenang, terdapat beberapa lilin bertuliskan ‘Will You Be My Lover Tiffany Hwang?’ dan disaat Tiffany tengah terpaku, alunan musik terdengar dari arah sampingnya. Siwon melantunkan lagu ‘Just The Way You Are’ dengan iringan gitar yang begitu selaras dengan suara khasnya.  Tiffany semakin terbuai dibuatnya. Ditambah lagi, orang – orang yang disayanginya turut hadir di tempat romantis tersebut. Yang membuat Tiffany terperangah ialah kehadiran YoonA dan bibi Lim. Tiffany memejamkan matanya sejenak berharap ini bukanlah mimpi belaka. Airmata mengalir lembut mengikuti irama musik yang dimainkan Siwon. Pria dengan sweater abu – abu yang di padukan dengan jeans hitam ini berlutut di hadapan Tiffany sembari memegang setangkai bunga mawar. Nafas Tiffany tercekat. “Oppa, apa yang kau lakukan?” tanya Tiffany pelan setengah berbisik.

“Aku dan Tuhan tidak pernah bersaing. Jika Ia membahagiakanmu dengan menciptakan hujan, maka aku membahagiakanmu dengan memberimu payung. Jika Ia membahagiakanmu dengan menciptakan sungai, maka aku membahagiakanmu dengan tidak mengotorinya. Jika Ia membahagiakanmu dengan memberimu senyuman indah, maka aku membahagiakanmu dengan tidak membuatmu menangis. Jika Ia membahagiakanmu dengan memberimu kecantikan, maka aku membahagiakanmu dengan tidak berhenti menatapmu. Jika Ia membahagiakanmu dengan memberimu suara indah, maka aku membahagiakanmu dengan tidak menutup telingaku. Kebahagian terbesarku adalah memilikimu.

Tiffany Hwang, aku mohon tetaplah menjadi gadis penolongku. Tetaplah berada disisiku. Tetaplah menjadi nafasku. Tetaplah menjadi penyemangat hidupku. Tetaplah menjadi bagian dari hatiku yang masih kosong. jadilah kepingan puzzle terakhir hatiku untuk menyempurnakan hidupku. Dan….  will you be my lover?” Tiffany membeku di tempatnya. Ia tidak mampu berkata – kata. Pria yang tengah berlutut di depannya ini sukses mengalihkan dunianya. Hatinya berdesir hebat. Seluruh otot – otot tubuhnya menegang. Pandangannya mengabur tertutup aliran sungai yang siap meluap. Jantungnya berhenti berdetak. Otak nya berkeliaran mencari jawaban apakah kini ia berada di alam mimpi atau alam nyata?

Semua pasang mata menatapnya cemas, takut dengan jawaban apa yang akan Tiffany berikan. Tiffany menunduk sekilas sebelum berkata, “Kau-lah penyempurna hidupku Oppa. Tanpamu aku hanyalah sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Suatu anugerah terindah bagiku, jika aku bisa menjadi bagian dari hidupmu. Yes, Oppa. I will.” Mata Siwon berbinar bahagia. Ia bangkit dari posisinya, lalu kemudian mencium kening Tiffany lama. Suara riuh tepuk tangan dan sorak kegembiraan melengkapi keromantisan pasangan baru ini.

“Gomawo Tiff,  Saranghae.”

“Nado, Oppa.”

Saat Siwon hendak mendekatkan wajahnya, suara lengking YoonA menginterupsinya.

“Unnie!!!!”

“Eoh? Youngie..!!!” YoonA langsung berhambur ke pelukan Tiffany. keduanya saling berpelukan melepas rindu. Sejak Tiffany pergi bersama Jessica, mereka tidak pernah bertemu lagi. “Kenapa kau tidak pernah menemuiku, eoh? Apa kau sudah tidak menganggapku kakak lagi?”

“Unnie, sekarang kita sudah berbeda. Kau sudah berubah menjadi seorang putri Hwang.”

“Mwo?? Siapa yang memberi peraturan seperti itu? Aku tidak peduli siapa dirimu. Bagiku kau tetaplah Youngie-ku. Adik kesayanganku.” Tiffany menangkup kedua sisi wajah YoonA, mereka saling melempar senyum.

Jessica berjalan menghampiri kedua gadis yang tengah melepas rindu itu. Ia mengelus lembut rambut adiknya. “I am so happy for you, baby Hwang.”

“Thanks Unnie.” Ketiganya kembali menitikan airmata. Entah kapan cairan bening tersebut akan berhenti mengalir.

“Hey, girls! Apa kalian sudah puas berbincang – bincang?” Siwon memeluk mesra Tiffany dari belakang yang membuat dua wanita di depannya mencibir sebal. “Tidak akan pernah ada kata puas untuk kami, Choi Siwon.” Tukas Jessica kesal melihat tingkah Siwon yang semakin membuatnya geli.

“Baiklah, aku akan memberikan kalian waktu. Karena setelah ini Tiffany hanya akan menjadi milikku seorang.” Ujar Siwon dengan mengurangi volume suaranya di kalimat terakhir.

“YAKK!! Choi Siwon!!!” semua yang hadir di tempat itu tertawa melihat kekesalan Jessica, termasuk Tiffany. Ia merasa kini kebahagiannya telah lengkap. Moment indah hari ini tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

 

 

1 tahun kemudian

“Eomma, terima kasih kau sudah memberikanku kakak terbaik. Maaf, karena aku eomma harus pergi untuk selamanya. Aku akan selalu merindukan eomma. Namamu akan selalu terukir dihatiku. Sekarang aku sudah menemukan kebahagianku, keluargaku dan juga cintaku. Dan untuk bibi Jung, terima kasih kau telah menjaga kakakku. Kau telah menjadikannya seseorang yang begitu kuat. Kau telah memberikan ia kehidupan yang baru. Walaupun kita tidak pernah bertemu, tapi aku yakin bibi adalah orang yang luar biasa. Karena berkatmu-lah kami bisa kembali bersatu.” Tiffany menggenggam erat tangan Jessica. Mereka kini tengah berdiri di hadapan makam Hwang Gyu Ri dan Jung Mi Ran. Dua wanita yang paling berharga dalam kehidupan keduanya. Wanita yang telah mengantarnya ke dunia ini dan wanita yang telah memberinya kehidupan juga mengajarkan apa arti hidup yang sebenarnya.

“Eomma, eomma Jung, terima kasih atas segalanya. Aku berjanji tidak akan pernah lagi melepaskan tangan kami. We always love you.”

“Chagie-ya!!”

“Tiff baby!!”

“Ne, Oppa.” Jawab kedua wanita cantik itu kompak. Tiffany dan Jessica menampilkan senyum terbaik mereka yang sukses membuat hati para suami bergetar.

“Hentikan senyumanmu itu honey, atau aku akan memberikan adik untuk Jimmy.” SeungHyun mengedipkan sebelah matanya genit. Ia lalu berlari sebelum Jessica  berhasil menangkapnya.

“Yak!! Oppa!!! Kau tidak bisa lari dariku!!!!” benar saja, ibu dari satu anak ini langsung lari mengejar suaminya.

“Lihatlah kedua kakak kita. Tingkahnya masih saja seperti anak kecil. Mereka lupa dengan kehadiran Jimmy.” Siwon melingkarkan lengannya di perut buncit istrinya. Ia hendak menciumnya, namun dengan sigap Tiffany mencegahnya.

“Oppa! Stop!”

“Wae?”

“Aku tidak ingin calon putri kita marah melihat mommy dan daddy-nya bermesraan di tempat umum.”

“Eoh? Jinjja? Tapi aku rasa ia tidak akan keberatan. Iya kan aegi-ya?” Siwon mencium perut Tiffany yang sudah membesar. Lalu kemudian ia kembali menatap istrinya intens.

“Tiff baby..”

“Hm?”

“I Love You so much.”

“Eoh? Mmm.. mianhae Oppa, aku tidak bisa membalas cintamu.” Ujar Tiffany dengan nada yang di buat – buat untuk menggoda Suaminya.

“Mwo?? Yak!! Tiffany Choi!! Apa kau ingin aku memangsamu disini sekarang juga?”

“NDE????? YAAAK OPPAAA!!!! ANDWEEEEEE!!!!”

 

 

FIN

 

Oughh… akhirnya ff ini berhasil aku tuntaskan. Setelah kemarin aku mencoba menulis ff twoshoot, sekarang aku mencoba untuk membuat ff oneshoot.

Sebenarnya cerita ini sudah aku tulis jauh sebelum Thank You My Brother. Hanya saja aku belum pede untuk memposting-nya. Jadi terpaksa deh aku menundanya. So, jadi beginilah hasilnya. mian jika masih banyak banget kekurangannya.

Kritik dan saran selalu kutunggu ^^

 

 

66 thoughts on “(AF) Long Search

  1. i like the story, walaupun pahit di awal, tp brakhir dg manis di akhir….seunghyun ma jessi sweet deh, walaupun ny. choi g suka ma jessica, tp g lantas menyurutkan cintanya buat seunghyun….epilog buat sifany momentnya keren deh, siwon romantis jg y nyatain prasaannya ke tiffany…

  2. crt yg melankolis tp bgtu mnyentuh hati siapa pun yg bc. sukses obrak arik hati dibalik setiap jln yg kita lalui baik itu buruk dan jlni dgn ikhlas niscaya Tuhan mengganti dgn hal yg sgt indah.gumawwo thor^^

  3. Suka sama ceritanya, cerita yang buat aku tersentuh.. kenapa jessica gak ambil aja saham suaminya di keluarga Go, ngeselin tuh mereka. Seharusnya gak boleh dibiarin gitu aja huhuhu😭😭😭. Tapi suka ceritangaa good thor!

  4. Wuahhhh, excited banget aku thor sama ff ini beneran deh thor. Ahhh, gak nyangka bakal ada awal ceritanga yg menyedihkan dan akhir yg begituuuuuuuu membahagiakan banget thor.
    Speechless deh thor gabisa komen apa” lagi, krna gatau mau komen apalagi, ini mah keren banget.
    Tapi dikit masukan nih thor, cerita ttng kebahagiaan sifanynya pasti bakal lebih keren lagi kalok lebih panjang. Krna thor nenurut aku tuh singkat banget thor.
    Okedeh thor, daebak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s