(AF) The Wills Part 5 (End)

THE WILLS PART 5 (END)

The wills cover

Author : @q2lovepink

Main Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang and Jessica Jung

Other Cast : Im YoonA, Cho KyuHyun, Lee Donghae and Kim Taeyeon

Genre : Romance, Hurt, and Family

Rating : PG (17+)

Length : Chapter

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku. Apabila ada kesamaan cerita ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak di sengaja.

So Happy Reading ;)

“Hwang YoonA?” Jaksa Cho tersentak saat mendapati YoonA tengah berdiri dihadapannya dengan tatapan tak percaya.

“Siapa kau? Apa kau mencoba menipu keluargaku?” YoonA berjalan perlahan dengan tetap tidak mengalhkan pandangannya dari pria berwajah pucat tersebut.

“A..aku..aku.. akan menjelaskannya p-padamu.” Ucapnya tergagap.

“Setelah kedokmu terbongkar, kau baru akan menjelaskannya padaku?? Cih.. sebenarnya apa yang kau rencanakan Tuan Cho KyuHyun?” YoonA berhenti melangkah tepat di depan Cho KyuhHyun yang berdiri mematung. Baru saja ia akan membuka mulutnya, suara berat seseorang menginterupsi ucapannya.

“Jadi selama ini kau membohongiku Kyu? Setelah apa yang kita lalui bersama, ternyata kau hanya ingin mematai – matai kami? Aku bahkan sudah menganggapmu sebagai adikku.”

“Hyung??”

“Siwon-ssi?”

YoonA dan KyuHyun sontak menoleh kearah Siwon yang berjalan penuh dengan amarah.

“A-aku mohon percayalah padaku. Aku akan menjelaskan duduk persoalannya. Ini semua tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Seorang Jaksa Cho yang sangat disegani oleh bawahannya kini hanya bisa tergagap menghadapi dua insan yang tengah mengintimidasinya.

“Kami memang butuh penjelasannmu Kyu!” kata Siwon tegas. Menit berikutnya mereka sudah berada di sebuah ruangan yang biasa digunakan KyuHyun untuk mempelajari berkas – berkas kasus yang ia tangani.  Siwon duduk disamping YoonA. Sementara KyuHyun, ia duduk diseberang mereka masih dengan kegugupan yang enggan lenyap dari tubuhnya.

Setelah merasa sedikit tenang, KyuHyun memulai ceritanya.

“Ayahku adalah seorang jaksa terhebat yang pernah dimiliki Korea Selatan. Kecelakaan yang menimpa Hwang Chae Rim, membuatnya berpikir keras jika kecelakaan itu bukanlah hanya sekedar kecelakaan biasa. Walaupun pihak kepolisian menutup kasus tersebut, namun secara diam – diam ayahku menyelidikinya. Ia sangat yakin ada orang yang menyabotase mobil yang dikendarai Hwang Chae Rim kala itu. Butuh waktu lima tahun lebih baginya untuk membuktikan hasil penyelidikannya. Setelah ia berhasil mengumpulkan bukti – bukti yang ia dapat dan juga fakta baru yang tidak sengaja ia temukan, Appa hendak mengungkapkannya. Namun entah darimana musibah itu terjadi, Appa tiba – tiba menderita Struk yang berkepanjangan hampir lebih dari sepuluh tahun. Ia tidak kuasa melakukan apapun. Appa hanya mampu terbaring di ranjang pesakitan. Eomma sering menasehatinya untuk tidak melanjutkan kasus tersebut. Tetapi Appa tidak pernah menanggapinya. Ia tetap bersikeras untuk menuntaskan penyelidikannya. Hingga akhirnya ia tewas dengan mengenaskan. Disaat keadaannya mulai menemui harapan, Appa ditemukan terkujur kaku di atas ranjangnya dengan mulut yang berbusa dan mata yang terbelalak. Eomma tak kuasa membendung jeritannya. Dan sejak itu, ia membangun diriku menjadi sosok yang kuat untuk membalaskan dendam ayahku. Bertahun – tahun aku mempelajari kasus yang ditangani Appa, seiring berjalannya waktu aku menemukan kejanggalan yang terjadi di perusahaan Hwang Group. Aku tidak tahu apa tuan Hwang menyadari kejanggalan tersebut. Yang jelas ada seseorang yang menikamnya dari belakang. Aku yakin ia juga ada sangkut pautnya dengan kematian ayahku. Untuk itulah aku masuk kedalam perusahaan tersebut  dengan bekal yang telah aku persiapkan sejak awal. Aku juga berperan sebagai mata – mata Lee Dong Ju guna mempermudah rencanaku. Ia sangat mempercayaiku untuk memantaumu Hyung. Ia bahkan percaya dengan semua berita yang aku sampaikan padanya. Sekarang semuanya sudah hampir sempurna. Bukti – bukti kejahatan mereka kini sudah berada dalam genggamanku.” KyuHyun mengakhiri cerita panjangnya dengan senyuman lebar. Perasaannya sudah berubah tenang tidak seperti saat ia bertemu pandang dengan Siwon dan YoonA beberapa menit yang lalu. YoonA sedikit menitikkan air matanya mendengar cerita KyuHyun yang menurutnya sangat berani, hebat dan kuat dalam menghadapi hidupnya yang ternyata juga rumit seperti yang ia alami. Kini ada perasaan kagum yang membuncah dalam hatinya.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku Kyu? Kau bahkan berani bermain api di belakangku.” wajah KyuHyun kembali muram menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Siwon.

“Mianhae Hyung, aku tidak mungkin mengatakan panyamaranku sebelum aku berhasil mengungkap semuanya.”

“Apapun alasanmu aku tetap kecewa padamu.” YoonA mendelik sebal pada Siwon. “Kau seharusnya berterima kasih Choi Siwon. Ia ingin menyelamatkan perusahaan kita.” Ungkap YoonA kesal.

“Berbicara soal Lee Dong Ju, apakah pikiranmu sama denganku bahwa ia sengaja ingin menghancurkan Hwang Group dan mengambil alih untuk menguasai dunia bisnis?” tanya Siwon tanpa mempedulikan ocehan YoonA.

“Iya. Tepat sekali. Ia bahkan berusaha merebut anak perusahaanmu yang dipimpin Jessica.”

“Sudah kuduga. Itulah alasanku mengapa aku melarang keras Jessica untuk bekerjasama dengan mereka.” KyuHyun mengangguk – angguk setuju. Selang beberapa detik ia mengalihkan tatapannya pada gadis kurus yang sejak tadi duduk di hadapannya.

“YoonA-ssi, apa yang membawamu kemari?” YoonA sedikit tersentak sebelum berbicara gugup, “A-aku.. aku hanya ingin menuntut keadilan untuk kedua kakakku. Dan juga mempertanggungjawabkan perbuatan eomma.” Mendengar kata ‘kakak’ membuat Siwon teringat sesuatu. Ia segera berdiri dan matanya membulat sempurna. YoonA dan KyuHyun hanya menatap bingung kearahnya. “Apa yang terjadi Hyung?” KyuHyun mendongakkan kepalanya.

“Tiffany…… aku meninggalkannya di dalam mobil.” Ujar Siwon masih dengan posisi yang sama dan dengan suara yang rendah bahkan sedikit lirih. YoonA praktis ikut berdiri. “Mwo??? Yak!! Choi Siwon!!! Kenapa kau meninggalkan eonni sendirian di dalam mobil?! Bodoh!!! Jika terjadi sesuatu padanya kau akan menerima akibatnya.!!!” Siwon berlari secepat yang ia bisa tanpa mengindahkan teriakan YoonA yang menggema memenuhi seisi ruangan kerja Kyuhyun.

 

Begitu sampai di tepian jalan dimana ia memarkirkan mobilnya sembarang, Siwon langsung membuka pintu mobilnya kasar. Tubuhnya menegang tatkala ia melihat Tiffany dalam keadaan tertidur. Tanpa pikir panjang Siwon menggunjang – gunjang tubuh Tiffany kencang. Hatinya mendadak berteriak memaki – maki dirinya yang lalai menjaga wanita yang dicintainya. Butuh waktu lima menit bagi Siwon untuk menyadarkan Tiffany hingga wanita bereyesmile itu melenguh panjang.

“Eungghhhhh……….” perlahan – lahan Tiffany membuka matanya. Siwon menghela nafas lega. Ternyata Tiffany hanya ketiduran. Ia tersenyum konyol menyadari dirinya yang hampir gila karena takut kehilangan wanita yang kini tengah mengerjap – erjapkan mata indahnya.

“Choi Siwon? Kau sudah kembali?” Tiffany menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri untuk mencari keberadaan Siwon.

“Ne, aku ada disini.” Siwon menangkup wajah Tiffany yang membuat mereka saling berhadapan meskipun Tiffany tidak dapat menatap mata yang Siwon yang berkilat penuh cinta. “Gwenchana?” lanjutnya lembut setengah berbisik.

“Nde?” Tiffany tampak kebingungan.

“Aniyo. Kajja kita pergi.” Siwon menutup pintu mobilnya lantas ia memakai seatbeltnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.

Selama beberapa menit tidak ada yang membuka suara diantara kedua insan yang tengah bergelut dengan pikiran masing – masing itu. Sebenarnya Tiffany ingin menanyakan sesuatu, namun ia berulang kali menelan kembali ucapannya yang mendesak keluar. Siwon melirik sekilas kearahnya, ia menyimpulkan bibirnya menyadari jika wanita disampingnya tengah mati – matian menahan dirinya untuk tidak bersuara dengan menghembuskan nafas gugup juga memainkan kuku – kuku jemarinya.

“Wae? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya siwon memecah keheningan.

“Eumm…… itu… eum… k-kenapa tadi kau tiba – tiba meninggalkanku?” suara Tiffany terdengar ragu. Siwon mengangkat tangan kanannya dan mengelus rambut panjang Tiffany lembut. “Aku pasti akan menceritakannya padamu. Sekarang kau tampak sangat lelah. Beristirahatlah Tiff, aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai.” Tiffany hanya mengangguk patuh. Tak lama kemudian matanya sudah tertutup sempurna karena ia memang sudah sangat kelelahan.

 

*****

Jam makan siang sudah tiba. Jessica keluar dari ruangannya untuk sekedar mengisi perutnya yang sudah meronta – ronta memanggil makanan. Ia melenggang santai menuju meja Taeyeon. Saat matanya tak sengaja menangkap sosok pria yang masih setia bersandar di tembok ruangannya, langkahnya mendadak tertahan. Ia membuang nafas kasar dengan menatap tak percaya pada pria yang sedang memberinya seulas senyuman. “K-kau? Kenapa kau masih berdiri disana?! Apa kau sudah gila eoh?” Donghae berjalan menghampirinya dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. Ia bersikap seolah ia baru menunggu 5 menit wanita dengan tatapan dinginnya itu.

“Bukankah sudah kukatakan padamu? Aku-tidak-akan-menyerah.” Donghae membalas tatapan tajam Jessica dengan tatapan teduhnya. Entah kenapa jantung Jessica tiba – tiba berdegup kencang dengan sikap yang ditunjukkan Lee Donghae. Ia segera menampiknya dengan memalingkan wajahnya dan berdengus kesal. “Dan aku akan tetap pada pendirianku.” Balasnya sengit. Donghae melangkah maju mempersempit jarak mereka. Jessica mengerjap kaget. “Apa kau yakin nona Hwang?” bisik Donghae tepat di telinga Jessica. Wanita berambut blonde itu bergidik ngeri. “A-apa yang a-kan k-kau lakukan?” jantung Jessica semakin berdentum keras. Donghae semakin mendekatkan wajahnya, lalu tanpa diduga ia mendaratkan sebuah ciuman di pipi tirus Jessica yang membuat matanya terbelalak. Seisi dunia seolah berhenti bergerak. Jessica masih tetap berdiri mematung meskipun Donghae sudah memberinya jarak. “Hey, sampai kapan kau akan berdiam diri terus, hm?” suara Donghae sukses mengembalikan kesadaran Jessica. Ia berdiri kikuk sembari menelan ludahnya dengan susah payah. “Apa pesonaku begitu kuat hingga kau terpaku seperti tadi?” lanjutnya dengan nada menggoda.

“Mwo??? Aishh.. jinjja!! Kau benar – benar menyebalkan.” Jessica menghentakkan kakinya dengan rona pipi nya yang semakin memerah bak tomat matang. Ia berlalu meninggalkan Donghae yang tersenyum geli.

 

Di dalam toilet, Jessica tidak berniat beranjak dari depan cermin besar yang memperlihatkan wajah merona nya. Ia masih memegangi pipinya yang belum lama dicium oleh pria yang sudah membuat hatinya jungkir balik dalam hitungan menit. “Hey, gadis bodoh! Kenapa kau membiarkan pria itu melakukannya eoh,?” Jessica memaki bayangannya sendiri di dalam cermin. “Kau tahu ia sudah membuatmu kalah. Mana Jessica yang selama ini berdiri kokoh? Kenapa kau menghancurkannya hanya dalam satu jentikan? Errggghhhhh…. paboya!!! Paboya!!!!” Jessica terus memukul – mukul kepalanya dengan kepalan tangannya. Entah apa yang terjadi padanya hingga ia tidak berdaya melawan tindakan kurang ajar Lee Donghae. Jessica terduduk lemas di atas lantai dingin toilet. Beruntung tidak ada orang yang masuk kesana, jadi ia bisa bebas mengeluarkan semua perasaannya yang tercampur aduk. “Ottoke? Setelah ini bagaimana aku bisa bertatap muka dengannya? Ergh.. Jessica Pabo!!” ia lalu menyandarkan kepalanya pada dinding seraya menerawang jauh.

 

*****

Siwon tidak beranjak dari tempatnya memandang makhluk indah yang dikirimkan untuknya. Sejak sepuluh menit yang lalu, keduanya telah sampai di halaman besar kediaman mereka. Siwon enggan untuk membangunkannya. Tiffany begitu damai dalam tidurnya. Sesekali ia merapikan anak – anak rambut Tiffany yang menghalangi pemandangannya. Dan tak terhitung berapa kali ia mengelus lembut pipi mulus Tiffany seraya berkata ‘saranghae.’ Siwon tidak tahu kenapa ia begitu terobsesi dengan wanita bertinggi 165 cm ini. Tapi yang jelas, hatinya sudah terpatri oleh seseorang  bernamaTiffany Hwang.

Untuk kesekian kalinya pria berlesung pipi itu menciptakan seulas senyuman pada bibir tipisnya setiap kali Tiffany menampakkan ekspresi lucu saat ia tertidur. Ia juga tidak berhenti mengucapkan kata syukur karena telah dipertemukan dengan seorang wanita yang telah berhasil mencuri seluruh hatinya.

Saat ia tengah asyik menikmati pemandangan indahnya, suara ketukan di jendela mobinya mengalihkan perhatiannya. Siwon mengumpat kesal pada siapapun yang telah mengganggu kesenangannya.

Setelah jendela mobil diturunkan, muncullah wajah cantik YoonA dengan mata yang menyipit. Siwon membuang nafas kasar. Ia mencoba untuk menahan kekesalannya pada gadis jangkung tersebut. YoonA sedikit mencondongkan tubuhnya dan menyembulkan kepalanya kedalam mobil.

“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak membawa eonni masuk ke dalam?” cercar YoonA tak sabaran.

“Kau lihat? Ia sedang tertidur pulas. Aku tidak tega membangunkannya.”

“Tapi eonni akan kesakitan kalau tidur dengan posisi seperti ini.”

“Ia tidak akan kesakitan. Aku yang akan menjaminnya.”

“Mwo?” seakan lupa dengan keberadaan Tiffany, Siwon dan YoonA terus bersaing mempertahankan agrumen mereka.

“Kau tidak perlu khawatir. Jika Tiffany kesakitan aku yang akan mengobatinya. Aku berjanji ia tidak akan pernah tersakiti lagi.” Siwon berucap dengan begitu santainya hingga membuat YoonA mengernyit.

“Nde??? Choi Siwon, jangan katakan kalau kau—“ YoonA membulatkan matanya seraya membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sebelum ia melanjutkan kalimatnya.

“Kau..kau….” seakan tahu apa yang ada dalam pikiran YoonA, Siwon bergegas keluar dari mobilnya lalu menghampiri YoonA yang masih terkejut.

“Dengarkan aku Yoong, aku dan Tiffany saling mencintai. Dan kau juga tahu kalau aku tidak benar – benar menikahi ibumu. Jadi aku pikir ini semua tidak masalah.” Rangkaian kata Siwon begitu sulit untuk dicerna. Kenyataan bahwa mereka saling mencintai terlalu mengejutkan bagi YoonA. Terlebih ini kali pertama untuk Tiffany mencintai seorang pria. YoonA yakin jika Siwon adalah pria yang baik yang bisa membahagiakan kakak tercintanya. Tapi bagaimana dengan statusnya? Apa yang akan orang lain pikirkan tentang mereka? Dan… apa yang akan terjadi jika Jessica mengetahuinya? YoonA menggeleng kuat – kuat. Tidak! Ini terlalu membingungkan. Di satu sisi ia ingin melihat kakaknya bahagia karena telah menemukan seseorang yang dicintainya. Namun di sisi lain ia takut jika perjalanan cinta mereka akan terhalang oleh jurang yang sangat curam. YoonA menatap Siwon lekat – lekat mencoba mencari kesungguhan dalam matanya.

“Wae?” tanya Siwon bingung dengan tingkah YoonA.

“Apa kau benar – benar mencintai Tiffany eonni?”

“Tentu saja. Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya.”

“Apapun?”

“Apapun.” Ada seulas senyum yang tercipta dari bibir manis YoonA. Ia senang karena kini kakaknya memiliki seseorang yang dapat melindunginya. Meskipun ia tahu suatu hari nanti akan ada banyak badai yang menghampiri mereka. Hanya satu keyakinan YoonA, ‘kekuatan cinta akan mengalahkan segalanya.’

 

*****

Setelah kejadian memalukan yang ditimbulkan Donghae, Jessica tidak memberanikan diri untuk kembali ke ruangannya. Ia menghubungi Taeyeon untuk membawakan tasnya karena ia ingin segera pulang untuk menenangkan dirinya lebih banyak. Jessica juga menyuruhnya untuk memberitahu pria tidak tahu malu itu untuk tidak menunggunya lagi.

Tanpa menunggu waktu lama, Jessica langsung menancap pedal gas mobilnya dan melaju kencang. Sepanjang perjalanan, ia tidak berhenti menata hatinya yang telah porak poranda akibat ciuman yang diberikan Lee Donghae.

‘Sejak kapan aku menjadi goyah? Oh ayolah Jessica! Kembalilah menjadi dirimu yang sebelumnya.’ Itulah kalimat yang sedari tadi diucapkannya. Untung saja jalanan siang ini cukup lenggang sehingga Jessica tidak perlu khawatir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi juga dengan kondisi tidak fokus. Seandainya Tiffany ataupun YoonA berada disampingnya saat ini, sudah dipastikan mereka tidak akan berhenti mengomelinya.

20 menit menempuh perjalanan, Jessica akhirnya tiba di parkiran rumahnya. Ia bergegas masuk dengan coat hitam yang tergantung di atas lengannya juga tas kecil yang setia bersandar di bahunya.

Sesaat ia menghentikan langkahnya tatkala melihat YoonA tengah berpikir keras di meja makan dengan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja. Bahkan YoonA tidak menyadari kehadirannya. Merasa penasaran, Jessica berjalan mendekatinya. Ia menyentuh lembut pundak YoonA.

“Youngie?”

“Omona!” YoonA terlonjak kaget dan sontak berdiri. Bagaimana tidak? Ketika ia sedang fokus dengan satu titik, tiba – tiba saja ia dikagetkan oleh sebuah suara. YoonA memegang dadanya yang masih berdentum kencang seraya berkata, “Eonni kau mengagetkanku. Kenapa eonni sudah pulang? Apa ada masalah? Apa eonni sakit? Omo! Apakah ada orang yang mengganggumu?” Jessica tersenyum kecil menanggapi pertanyaan adik bungsunya. Oh betapa ia sangat merindukan sifat cerewetnya. “Apa yang akan kau lakukan kalau ada orang yang mengangguku?” bukannya menjawab pertanyaan YoonA, Jessica malah balik bertanya.

“Tentu saja aku akan memberinya pelajaran dan membuatnya menyesal karena telah mengganggu eonni.” Inilah YoonA. Gadis cerewet yang akan dengan senantiasa melawan siapapun jika ada orang yang berani mengganggu kedua kakaknya. Bahkan YoonA pernah mengalahkan seorang pria bertubuh kekar hanya karena pria itu membuat Tiffany menangis.

Jika mengingat kenangan – kenangan indah mereka dulu, rasanya ingin sekali Jessica kembali memutar waktu dan menghentikannya agar tdak berputar ke masa – masa sulit seperti sekarang.

“Eonni gwenchana?”

“Ah.. ne, oh iya Yoong apa yang sedang kau kerjakan? Dan kertas apa ini?” Jessica meraih selembar kertas dan sontak bola matanya terbelalak saat membaca tulisan – tulisan yang tertera di atas kertas tersebut.

“ini……..”

“Ne, Eonni. Itu adalah beberapa bukti penggelapan dana yang dilakukan di perusahaan Appa. Dan….dan… eomma terlibat didalammya.”

“Mwo?? Darimana kau mendapatkannya?”

“Cho KyuHyun.”

“Cho KyuHyun?” YoonA menceritakan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu tanpa ada yang terlewat seujung kuku pun. Jessica hanya mengangguk – anggukkan kepalanya mendengar penuturan YoonA sambil sesekali menyereput teh hangatnya. Apa yang menimpanya tadi bersama Donghae, tiba – tiba saja hilang dari peredaran ingatannya.

“Lalu, apakah Tiffany juga sudah mengetahuinya?”

“Molla, tadi eonni pergi bersama Siwon-ssi. Jadi mungkin ia sudah menceritakannya pada eonni.” YoonA tidak menyadari perubahan raut wajah pada Jessica yang mengerut sampai berlipat – lipat.

“Mwo? Tiffany pergi bersama Choi Siwon?” YoonA menoleh cepat dan merutuki dirinya yang tak dapat mengontrol mulutnya.

“Jessie eonni? Youngie? Apakah itu kalian?” Tiffany yang baru bangun dari tidurnya, mendengar suara bising dari bawah. Lalu ia memutuskan untuk keluar kamar.

‘huft.. syukrlah aku selamat.’ Batin YoonA seraya menghela nafas lega.

“Ne, Tiff. Ini kami. Mau bergabung?”

“Jika kalian mengijinkan, kenapa tidak?” kekeh Tiffany.

“Pabo! Tentu saja kami akan mengijinkanmu.” Jessica menaiki tangga untuk membantu Tiffany turun agar bisa bergabung bersama mereka.

“Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan?” Jessica dan YoonA saling pandang, bingung dengan apa yang harus mereka katakan pada Tiffany. Lalu satu detik kemudian, Jessica teringat dengan kalimat terakhir YoonA yang mengatakan bahwa Tiffany pergi bersama Siwon. Ia pun memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Tiffany.

“Tiff, apa seharian ini kau pergi keluar?” Jessica bertanya selembut mungkin untuk mencegah ketidaknyamanan yang mungkin akan timbul pada diri adiknya dengan pertanyaan yang diajukan olehnya.

“Nde?” Tiffany terpaku. Tubuh YoonA juga menegang. Mereka takut dengan apa yang akan Jessica  pertanyakan lagi.

“Hm maksudku, apa hari ini kau bersenang – senang? Aku akan sangat bahagia jika jawabanmu adalah ‘iya’.” Jessica sengaja mengatakannya setelah melihat raut wajah Tiffany yang berubah tegang. Ia tidak ingin adik kesayangannya merasa terimintidasi.

“Ne, eonni hari ini aku sangat bahagia.” Bibir Jessica melengkung keatas menampakkan bahwa ia juga ikut bahagia.

“Jinjja? Apakah kau ingin berbagi bersama kami?” pancingnya. YoonA sudah gemetaran di tempatnya. Berulang kali ia memainkan kuku – kuku jemarinya yang ia letakkan di bawah meja.

“Eonni jika waktunya sudah tiba aku pasti akan berbagi denganmu. Jadi untuk kali ini biarkan aku menyimpannya sendiri ne,” Jessica menghembuskan nafas berat mencoba untuk bersabar. Ia lalu menolehkan kepalanya pada YoonA untuk mencari jawaban. Namun yang ditatap, justru malah menundukkan kepalanya.

“Baiklah untuk kali ini aku akan mengalah. Tapi suatu waktu aku pasti akan menagih ceritamu. Aratchi?”

“Arra.”

“Oke. kalau begitu aku akan pergi ke kamarku. kau juga harus kembali beristirahat Tiff,”

“Nde?? Eonni aku baru saja bangun. Kenapa kau menyuruhku beristirahat lagi?” protes Tiffany yang tidak terima dengan perintah Jessica.

“Beristirahat bukan berarti harus tidur Tiff, kau bisa mendengarkan musik atau yang lainnya.” Kilah Jessica.

“Apa eonni tidak ingin menemaniku?” ada nada kekecewaan yang tersirat dalam kalimat Tiffany.

“Bukan begitu Tiff, aku ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu. Tapi hari ini tubuhku sangat lelah. Aku ingin mengistirahatkannya sejenak. Kau mengerti kan?” wanita yang dikenal dengan sebutan ice princess itu mensejajarkan tubuhnya dengan Tiffany. Ia memegang kedua sisi wajah adiknya dengan sayang. YoonA bangkit dari duduknya. Ia berdiri di belakang kursi roda Tiffany.

“Eonni, apa yang Jessie eonni katakan benar. Kau harus lebih banyak beristirahat. Kami berjanji nanti sore kita akan menghabiskan waktu bersama – sama seperti dulu. Otte?” Tiffany akhirnya menyerah. Ia menganggukkan kepalanya pasrah.

“Baiklah, Aku mengerti.” Jessica memberi isyarat pada YoonA untuk mengikutinya ke atas sebelum ia kembali membawa Tiffany ke kamarnya.

 

*****

“Mwo? Lee Dong Ju? Apa kau yakin Kwang Soo?” beberapa menit setelah mengantar Tiffany dan berbicara pada YoonA, Siwon langsung bertolak ke kantornya untuk menemui Kwang Soo yang diketahuinya telah menemukan siapa pemilik alamat rumah yang ia curigai sebagai kekasih gelap Hwang Soo Na sekaligus orang yang diyakininya sebagai ayah kandung YoonA.

Siwon sedikit terhuyung ke belakang. Jika dugaan Kwang Soo benar, itu berarti YoonA adalah putri dari orang yang selama ini ia waspadai. Terlebih setelah ia mendengar fakta dari Cho KyuHyun yang mengatakan bahwa Lee Dong Ju adalah dalang dari pembunuhan jaksa Cho Ming Yuk dan juga beberapa kejahatan lainnya termasuk rencananya mengambil alih perusahaan Hwang Group.

Siwon mengusap wajahnya frustasi. Apa yang harus ia sampaikan pada Hwang bersaudari? Terutama YoonA. Sanggupkah gadis tak berdosa itu menerima kenyataan pahit ini? Mendadak jarum jam berhenti berdetak. Bumi ini seolah tak berpenghuni. Hanya ada dirinya yang tengah berjalan lunglai mencari jalan untuk segera keluar dari lubang yang begitu menyesakkan hatinya.

Disaat yang bersamaan, bunyi deringan ponselnya bergema mengembalikan ruh-nya yang sempat menghilang dari raga tegapnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Siwon meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja kerjanya. Lalu tanpa melihat nama sang penelepon, Siwon segera menggeser tombol hijau.

“Ye?” ujarnya lesu.

“Hyung, bukankah kau berjanji akan segera menghubungiku setelah menerima hasil dari Kwang Soo?” karena terlalu syok, Siwon hampir saja melupakan janjinya pada KyuHyun untuk segera memberinya kabar perihal hasil penyelidikannya yang dibantu oleh Kwang Soo.

“Mianhae Kyu. Aku belum bisa mencerna apa yang baru saja aku dapatkan. Sebaiknya kau datang saja kemari.”

“Baiklah tunggu aku lima belas menit lagi.”  Tanpa membalas ucapan KyuHyun, Siwon sudah mengakhiri sambungannya. Pikirannya masih mencari – cari kepingan tubuhnya yang tiba – tiba hancur lebur.

 

*****

Suara isakan terdengar mendominasi di kamar bercat putih tersebut. Dua wanita cantik duduk saling berhadapan diatas tempat tidur dengan seprai tebal bewarna serupa. Setelah menceritakan perihal hubungan Siwon dan Tiffany, YoonA tidak mampu lagi membendung genangan air yang sudah menumpuk di kelopak matanya. Lain halnya dengan Jessica. Ia tampak tenang menanggapi cerita YoonA. Karena sesungguhnya, Jessica sudah terlebih dulu menyadari keanehan yang terjadi pada dua insan yang kini menjadi obyek pembicaraan antara dirinya dengan YoonA. Jessica membiarkan YoonA menghabiskan sisa air matanya. Ia masih memandangi gadis di depannya yang tengah sibuk menyeka cairan hangat di pipinya.

“Eon-eonni… k-kau tidak akan menghalangi ci-cinta mereka kan?” ujarnya di sela – sela isakan kecilnya.

“Apa menurutmu aku akan melakukannya? Apakah aku terlihat seperti kakak yang kejam?” cercar Jessica santai. YoonA berhenti menangis. Ia mendongakkan kepalanya, menatap kedalam mata Jessica.

“Jadi eonni…” Jessica memukul pelan kepala YoonA, “Pabo! Aku tidak ingin menambah penderitaan Tiffany dengan menghalangi cinta mereka. Aku sangat yakin Siwon bisa membuatnya bahagia.” Kedua wanita berbeda usia tersebut saling melemparkan senyum, dan detik berikutnya mereka saling berpelukan. “Gomawo Eonni, kau memang yang terbaik.”

“I know”

 

*****

Seperti halnya Siwon, KyuHyun juga menunjukkan ekpresi yang sama tatkala mengetahui siapa Lee Dong Ju sebenarnya. Wajah pucatnya bertambah pucat dengan mata yang terbelalak.

“Apa yang akan kau lakukan?” Siwon mengalihkan perhatian KyuHyun yang sedari tadi tidak lepas memandang tulisan dalam kertas yang dipegangnya.

“Hyung, ironis sekali bukan? Ternyata gadis yang selama ini aku cintai adalah putri dari orang yang telah membunuh ayahku sendiri.” KyuHyun mulai mendudukan tubuhnya di atas kursi di depan meja kerja Siwon. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat.

“Ingat Kyu, YoonA sama sekali tidak terlibat dalam kejahatan orang tuanya. Kalau kau benar – benar mencintainya, jangan pernah melihat orang yang kau cintai dari latar belakangnya.”

“Tapi bagaimana aku bisa sanggup menatap wajahnya jika bayangan ayahnya akan selalu muncul di depanku, Hyung?” nada suara KyuHyun sedikit meninggi.

“Kau lupa, bagaimana penderitaan Tiffany dan Jessica karena perbuatan dua orang jahat itu? Mereka bahkan harus kehilangan kedua orang tuanya dan hampir saja kehilangan seluruh hartanya! Tapi apa yang mereka lakukan, eoh? Mereka tetap menerima YoonA dengan tangan terbuka. Dan itu semua karena kekuatan cinta. KEKUATAN CINTA Kyu!! Kau harus ingat itu!” kini Siwon dan KyuHyun saling berhadapan dengan urat – urat leher yang menegang karena emosi.

KyuHyun membuang nafas kasar. Ia mengacak rambutnya frustasi. “Mianhae Kyu, aku tidak bermaksud membentakmu.” Ujar Siwon menyesal.

“Gwenchana, akulah yang terlebih dulu berteriak padamu.” Siwon mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu KyuHyun. “Pulanglah, kau tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini.” KyuHyun membenarkan ucapan Siwon, ia tidak mungkin bisa berkonstrasi jika hatinya dalam keadaan tercabik – cabik.

“gomawo Hyung.” Siwon memberikan senyuman terbaiknya yang menampilkan kedua lesung pipinya.

 

*****

“Sayang, apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku takut dengan perubahan sikap putri kita yang tiba – tiba.” Tanpa takut ada orang yang memergoki mereka, dengan berani Hwang Soo Na mengunjungi Lee dong Ju di kantornya. Tentu saja pria berusia 60-an itu terlonjak kaget dengan ulah ceroboh wanita yang sudah memberinya seorang putri cantik tersebut.

“Soo Na-ya, kau sadar dengan apa yang kau lakukan sekarang? Aku tidak ingin ada orang yang curiga pada kita. Bagaimana bisa kau berani datang kemari.” Lee Dong Ju menahan geramannya agar tidak meledak.

“Aku tidak peduli. Masalah ini lebih penting. Aku tidak bisa menunggu lebih lama laigi.” Lee Dong Ju meraih lengan Soo Na dan mencengkramnya kuat sehingga wanita itu meringis kesakitan.

“Dengar Hwang Soo Na, lebih baik kau pulang sekarang sebelum aku mengusirmu kasar.” Desisnya di telinga Soo Na, lalu mendorongnya ke arah pintu.

Saat Soo Na akan meraih handle pintu, kayu berbentuk persegi panjang itu tiba – tiba terbuka dan menampakkan seorang pria tampan yang berdiri tegap dengan ekpresi wajah yang tidak dapat diartikan.

“Putri kita? Siapa yang kalian maksud dengan putri kita?” pria itu berjalan tegas tanpa melepaskan pandangannya pada dua orang yang kini tengah berdiri tegang.

“L-Lee Dong-hae?” nafas Lee Dong Ju tersengal dengan kehadiran putranya yang tidak terduga.

“Katakan padaku Appa! Siapa putri yang kalian bicarakan?!” Hwang Soo Na tertunduk dalam. Ia tidak berani menatap mata Donghae yang berkilat tajam.

“Kau hanya salah paham nak, bukan seperti itu yang kau dengar.” Lee Dong Ju berusaha mengelak, namun nampaknya Donghae sudah terlanjur tidak percaya.

“Selama ini dugaanku benar bukan? Kau berselingkuh dengan WANITA SIALAN INI!!!!” Donghae menunjuk ke arah Soo Na, lalu ia berjalan mendekatinya. “Kau!!! Karena kehadiranmu, eomma harus mati bunuh diri!!! Aku tidak akan membiarkanmu hidup!!!” Donghae bersiap melayangkan tamparannya, namun suara keras ayahnya menghentikannya.

“LEE DONGHAE HENTIKAN!!!!” tubuh Soo Na bergetar hebat. Ia tidak menyangka akan berada dalam situasi yang mencengkam seperti ini.

“Wae? Appa ingin membelanya? Selama ini aku selalu menjadi boneka appa yang bisa dipermainkan seenaknya hanya demi obsesi Appa terhadap kekuasaan. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan appa menguasai diriku lagi. Terutama mengenai wanita sialan ini! Dan mulai hari ini aku resmi keluar!!!” Donghae berlalu dari hadapan ayahnya dengan nafas memburu. Suara gebrakan pintu terdengar keras memenuhi ruangan yang menyisakan sepasang kekasih yang tengah berdiri mematung.

 

******

Jessica dan Siwon berada di meja yang sama setelah mereka sepakat untuk bertemu di cafe di daerah Gangnam. Tidak ada suara yang tercipta disana. Siwon sibuk dengan pikirannya yang sedang merangkai kata untuk menyampaikan berita yang ia dapat tadi siang pada wanita di depannya. Sementara Jessica, ia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Siwon mengenai hubungannya dengan Tiffany.

Setelah cukup lama terdiam, Siwon akhirnya buka suara.

“Jess, berjanjilah padaku. Setelah kau mendengar berita ini, kau tidak akan membenci YoonA.” Jessica mengernyit heran. YoonA? Kenapa lagi – lagi YoonA yang dilibatkan?

“Ceritakan saja langsung Siwon! Jangan berbelit – belit.” Siwon terlebih dulu menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi rongga paru – parunya sebelum ia mulai bercerita.

“YoonA adalah putri dari Lee Dong Ju, orang yang selama ini ingin menghancurkan perusahaan ayahmu. Dan itu berarti ia adalah adik dari Lee Donghae.” Tubuh Jessica seketika menegang. Apalagi ini? Ia tidak sedang bermimpi bukan?

“Jess, gwenchana?” Siwon melambaikan tangannya di depan wajah Jessica.

“Ah, ne. Choi Siwon apa kau yakin dengan informasi yang kau dapat?”

“Aku sudah memastikannya Jess.” Kepala Jessica mendadak berputar hebat. Perutnya terasa mual. Jika ia membiarkannya lebih lama lagi, sudah dipastikan tubuhnya akan ambruk.

“Jessica, kau masih mendengarku?” Siwon tampak khawatir dengan kondisi Jessica yang memucat dan mengeluarkan keringat dingin.

“Choi..Siwon.. tolong kau antarkan aku pulang..” katanya lemah.

“Ba-baiklah.” Siwon membantu Jessica berdiri dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Jika Jessica saja bereaksi seperti ini, lalu bagaimana dengan Tiffany dan YoonA? Itulah pertanyaan yang sejak satu menit yang lalu terus bersarang di otak Siwon. Hingga ia tidak menyadari jika mereka sudah berada di depan mobil Siwon. Pria berlesung pipi itu langsung membuka pintu mobilnya dan membantu Jessica duduk dengan nyaman. Lalu ia memutari mobilnya, kemudian masuk dan menyalakan mesin, lantas ia menancap pedal gas keluar dari pelataran parkir cafe tersebut.

 

*****

Di tempat yang berbeda dua wanita cantik pemilik senyum terindah tengah menyantap makan malam mereka dengan tenang. YoonA selalu fokus dengan makanannya. Tidak peduli dengan orang yang berada disekitarnya.

“Yoong,” panggil Tiffany lembut.

“Hm,”

“Jessie eonni tidak ikut makan bersama kita?”

“Aniyo. Ia bilang ada urusan mendadak diluar.” YoonA kembali menyantap makan malamnya yang menurutnya sangat lezat.

“Lalu yang lainnya?” menyadari siapa yang kakaknya maksud, YoonA menghentikan aktivitas makannya dan menatap lekat wajah Tiffany yang terlihat merona. Ternyata benar, Tiffany tengah jatuh cinta. Sebuah senyum simpul tercetak di wajah cantik YoonA.

“Siapa yang eonni maksud, hm?” tanya YoonA mencoba menggodanya.

“Ah.. i..itu.. eum.. bukankah di rumah ini tidak hanya kita bertiga yang tinggal?” YoonA berusaha mati – matian menahan tawanya. Ia tidak ingin Tiffany merasa tersinggung.

“Hmm… maksud eonni Siwon-ssi dan eomma?”

“Ne, apakah mereka juga tidak berada dirumah?”

“Mollayo. Kalau eomma, ia memang sudah terbiasa tinggal diluar kan? Tapi… Siwon-ssi… aku tidak tahu ia pergi kemana.” Tiffany menganggukan kepalanya mengerti. Saat ia akan kembali menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, suara pintu tiba – tiba saja mengagetkan mereka. Tiffany yang tidak dapat melihat apapun, tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi di depannya.  Berbeda dengan YoonA yang membekap mulutnya tak percaya.

Seorang pria memaksa masuk dengan amarah yang sebentar lagi akan meledak. Matanya menyiratkan kemarahan yang sangat dalam. Ia berjalan cepat mendekati YoonA dan Tiffany. Dibelakangnya security yang bekerja pada keluarga Hwang, hanya mampu menundukkan kepalanya sebagai permohonan maaf karena tidak kuasa melawan kekuatan pria tersebut.

YoonA memberinya isyarat untuk segera pergi dan membiarkan pria yang berdiri di depannya untuk menyampaikan tujuan ia datang ke rumahnya tanpa permisi.

“Jadi bisakah anda mengatakan pada kami, kenapa anda tiba-tiba datang ke rumah kami dengan tidak sopan? Tidakkah anda memiliki etika?” tanpa menghiraukan pertanyaan YoonA, pria tersebut menggebrakan meja seraya berteriak, “DIMANA IBUMU HAH?!!!!” tubuh Tiffany bergetar hebat karena ketakutan. Dengan sigap, YoonA langsung membawanya kedalam pelukannya dan mengusap – usap punggungnya agar lebih tenang.

“Youngie? Ada apa? Siapa pria itu? Kenapa ia berteriak – teriak pada kita?” Tiffany semakin mengeratkan pelukannya pada YoonA

“Ssstt.. tenanglah eonni. Siapa KAU? Berani sekali kau masuk kedalam rumah kami dan berteriak seperti orang GILA!!” balas YoonA tak kalah sengit.

“Lee Donghae?” seperti telah tertulis dalam sebuah skenario, Jessica dan Siwon datang disaat yang tepat.

Donghae menolehkan kepalanya pada orang yang memanggilnya. Begitu badannya berbalik, matanya sontak membulat sempurna. “Jes-sica?”

“Apa yang telah kau lakukan pada adikku, Hoh?” semburnya tak terima melihat kedua adiknya dipelakukan kasar.

“Adik?? Jadi wanita itu—“ tahu kemana arah pembicaraan Donghae, Siwon segera menggiringnya ke halaman belakang. “ikut denganku!” perintah Siwon tegas.

“Shirreo!! Lepaskan aku!!”

“Aku bilang ikut!!!” bentaknya tajam. Donghae akhirnya pasrah mengikuti Siwon. Ia ingin tahu apa yang diinginkan pria yang tengah mencengkram kuat lengannya itu.

“Tiff, gwenchana?” Jessica menghampiri Tiffany yang terisak pelan.

“Eonni, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria itu? Kenapa ia mencari eomma? Kau mengenalnya kan?” Tiffany langsung menghajar Jessica dengan pertanyaan beruntunnya.

“………”  tidak ada jawaban.

“Eonni, apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?” kini giliran YoonA yang angkat bicara.

“………” Jessica masih enggan untuk membuka mulutnya.

“Baiklah jika eonni tidak ingin mengatakannya, aku akan menemui mereka.” Baru saja YoonA hendak melangkah, Jessica langsung mencegahnya. “Youngie, andwe!!!”

“Wae? Apa ini berhubungan denganku?” YoonA semakin penasaran dibuatnya.

“Eonni, Youngie, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian bicarakan. Apa karena keadaanku tidak seperti dulu lagi kalian jadi enggan untuk berbagi cerita bersamaku?” ada kesedihan dan kekecewaan yang tersirat dalam nada bicara Tiffany.

“Aniyo. Tiff, aku mohon jangan pernah berkata seperti itu lagi. Hatiku akan sangat sakit.”

“Kalau begitu ceritakanlah.”

 

*****

Bugh!!

“Akhh….” ini adalah balasan karena kau telah membentak mereka.”

Sesampainya di halaman belakang, Siwon langsung menghadiahi Donghae dengan sebuah pukulan keras.

“Pukul aku Choi Siwon!!! Pukul aku agar rasa sakit ini terlampaui!!!” teriak Donghae keras. Siwon melayangkan tinjunya pada pohon yang berada di dekatnya hingga darah segar mengalir dari sela – sela jarinya. Ia tidak tahu darimana ia harus memulai bicara dengan pria yang tengah emosi ini.

“Jika kau menginginkan Hwang Soo Na, jangan pernah libatkan ketiga putri Hwang. Mereka lebih terluka daripada kau Lee Donghae.”

“Hwang Soo Na bukanlah ibu kandung Tiffany dan Jessica. Ia telah menipu mereka selama bertahun – tahun.” Donghae terkejut dengan apa yang baru saja Siwon katakan. Namun ia tak kalah terkejut saat mengingat sesuatu.

“tunggu! Kau hanya bilang ia bukan ibu kandung Tiffany dan Jessica? Apa itu berarti salah satu diantara mereka adalah—–“ Donghae menggantungkan kalimatnya. Ia tidak sanggup untuk melanjutkannya.

“Jadi kau sudah tahu?”

“Aku baru mengetahuinya tadi siang.” Emosi Siwon dan Donghae, berangsur menguap. Kini mereka berbicara santai layaknya sepasang sahabat.

“iya benar. Diantara mereka berdua adalah adikmu. Adik yang selama ini harus menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya.” Donghae semakin frustasi. Ia bingung siapa diantara kedua wanita yang tadi ia temui yang merupakan adiknya. Apakah wanita yang berada diatas kursi roda? Ataukah wanita yang tadi ia bentak.

“Yang mana dia?’ Donghae memberanikan diri bertanya.

“Orang yang membentakmu.” Seketika hawa panas menjalar disekujur tubuh Donghae. Ia tidak mampu berkata apa – apa lagi.

 

*****

Suara tangisan saling bersahutan memenuhi ruang makan kediaman Hwang. Mereka tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang terus menggerogoti hati mereka. Luka yang belum sempat kering, kini kembali terkoyak dengan luka baru.

“Eonni, kenapa aku harus lahir ke dunia ini? Aku tidak ingin terlahir sebagai putri mereka.”

“SSsttt…. ingatlah Yoong. Kau masih memiliki kami. Kau adalah pelengkap hidup kami.”

“Ne, Jessie eonni benar. Kami sangat beruntung memilikimu. Apapun yang terjadi, sampai kapanpun, kita akan tetap menjadi satu.” Isakan YoonA semakin keras. Ia begitu terharu dengan ketulusan kedua kakaknya yang jelas – jelas harus tersakiti karena tindakan jahat ayah dan ibunya.

“Tapi Eonni… karena perbuatan mereka, kalian harus menderita. Aku merasa kotor karena telah menjadi putri mereka.”

“Apa kau pernah menyakiti kami, eoh? Apa kau pernah membenci kami? Apa hatimu menerima mereka? siapa orang yang selama ini tumbuh bersamamu? Apakah pernah mereka memberikan kasih sayangnya padamu? Apa selama hidupmu mereka pernah menganggapmu ada? Setelah semua yang kau lalui bersama kami, kau mengatakan kalau kau adalah putri mereka? aku akan mengatakan kau kotor jika kau tetap menganggap mereka adalah orang tuamu.” Tiffany merentetkan pertanyaan dengan suara parau. Tidak bisa dipungkiri hatinya begitu sakit mengetahui siapa orang tua YoonA sebenarnya. Namun gadis yang kini terlihat rapuh itu, tidak patut untuk disalahkan. Ia juga adalah korban. Tiffany tidak ingin YoonA terus menyalahkan dirinya atas apa yang telah diperbuat kedua orang tuanya. Baginya, YoonA tetaplah adiknya yang selalu melindunginya.

“Kau bodoh Yoong. Kami adalah kakak sekaligus orang tuamu. Tidakkah kau ingin mengakui kami lagi? Apa ini yang kau inginkan? Meskipun darah mereka mengalir dalam tubuhmu, kami tidak peduli. Kau tetaplah adik kandung kami.” Jessica juga ikut berkomentar. Sebagai kakak pertama, ia harus kuat menjaga dan melindungi kedua adiknya. Mata mereka semakin meleleh mengeluarkan aliran sungai yang semakin deras. Jika satu jam saja mereka menangis, niscaya rumah mereka akan terendam banjir.

YoonA mengangkat kepalanya seraya berkata, “Love You Eonnideul”

“Love You too Youngie-ah”

 

Tanpa ketiganya sadari, dua pria tampan tengah memandangi mereka di ambang pintu ruang tengah. Donghae tidak kuasa lagi menahan air matanya yang menetes tanpa ia kehendaki. Disana terdapat dua wanita yang kini harus menjadi prioritas utamanya.

“Lihatlah! Betapa mereka saling mencintai.” Ucap Siwon dengan mata yang berkaca – kaca. Donghae berjalan pelan kearah mereka.

“ehem!!“ deheman keras Donghae sontak mengalihkan perhatian ketiga wanita yang tengah berpelukan itu.  YoonA dan Jessica menatap bingung Lee Donghae yang berjalan kerah mereka.

“Eum..eum..Y-YoonA, bi..bisakah kita bicara sebentar?” ucapnya tergagap. YoonA memandang Jessica, ia ragu dengan ajakan Donghae.Jessica mengelus pipinya sejenak, “Pergilah Yoong! Bicaralah dengan kakakmu.” YoonA pun akhirnya mengangguk setuju. Ia bangkit dan mengikuti langkah Donghae. Saat mereka berjalan berdampingan, Tiffany memanggilnya. “Lee Donghae-ssi!” YoonA dan Donghae menghentikan langkah mereka dan menoleh kebelakang. “Tolong jaga adikku.” Lanjutnya.

“Bukankah ia juga adikku?” ada perasaan aneh yang menjalar pada diri YoonA ketika Donghae mengatakannya. Begitu pun dengan pria itu. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.

Tanpa mengindahkan keberadaan Jessica, dengan berani Siwon memeluk Tiffany dari belakang dan menghapus sisa – sisa airmatanya. Tentu saja hal itu membuat Tiffany terkejut sekaligus takut.

“Uljima baby.” Bisiknya.

“S-Siwon, apa yang kau lakukan? Apakah Jessie eonni tidak berada disini?” Siwon terkekeh mendengarnya.

“Aniyo. Ia tepat berada di depanmu.” Mata Tiffany sontak membulat.

“Mwo? Lalu kenapa kau berani memelukku?”

“Karena kakakmu tidak akan berani menentang hubungan kita.” Ujar Siwon yakin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jessica yang dibalas degan tatapan jijik.

“Jangan terlalu senang Mr. Choi, aku akan membunuhmu kalau sampai kau melukai adikku.”  Jessica mencium puncak kepala Tiffany sebelum berkata, “Laporkan padaku jika ia berani membuatmu menangis. Aratchi?” Jessica mendelik pada Siwon, lalu ia menghilang dari hadapan pasangan baru ini.

“Mwo? Apa – apaan dia?”

“Mr. Choi, bisa kau jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”

“Tentu my baby.”

 

Flashback On

 

“Jadi apa kau benar – benar mencintai Tiffany?” setelah hening beberapa saat di dalam mobil Siwon, Jessica akhirnya membuka pembicaraan.

“Sangat. Aku akan melakukan apapun untuk tetap bersamanya.” Jawab Siwon sedikit melirik pada wanita disampingnya.

“Walaupun kau harus berhadapan dengan eomma?”

“Jangankan menghadapi eomma mu, sekalipun aku harus berhadapan langsung dengan monster, aku tidak akan takut.” Jessica berdecak sebal, “Ck, percaya diri sekali. Baiklah kau harus membuktikannya padaku. Jika sekali saja Tiffany menangis karenamu, aku tidak akan segan – segan membunuhmu.” Ucapnya serius.

“Aku berjanji Jess. Aku akan berusaha membahagiakannya.” Diam – diam Jessica tersenyum dengan pernyataan Siwon. Walau bagaimanapun, ia percaya pada pria yang tengah fokus dengan kemudinya itu.

 

Flashback Off

 

“Jadi mulai sekarang kau tidak perlu takut lagi ne,” Siwon menggenggam erat tangan Tiffany seolah ia tidak ingin kehilangan gadis pemilik eyemile ini. Tiffany tersenyum manis menampilkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.

“Ne, Oppa.” Siwon mengangkat alisnya terkejut. “Oppa?”

“wae? Kau tidak suka? Baiklah kalau begitu aku akan menariknya kembali Si—“ ucapan Tiffany terpotong karena Siwon langsung membungkamnya dengan mulutnya.

“Yaaak!! CHOI SIWOONNN!!!” Jessica yang kebetulan kembali ke ruang tengah langsung berteriak histeris melihat adegan mereka.

 

*****

“Aku tidak menyangka ternyata aku memilki seorang adik yang sangat cantik.”

“Nado,” sejak mereka tiba di sebuah taman dan duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batu, YoonA terus menundukkan kepalanya tidak berani menatap pada pria yang duduk disampingnya.

“Kau tahu, aku sangat membenci ibumu.”

“Semua orang membencinya.”

“Kau juga?”

“Hm, aku bahkan ingin membuatnya bertanggung jawab atas semua perbuatannya selama ini.”

“Maksudmu?”

YoonA menceritakan semua perihal ibunya tanpa ada yang di sensor. Kaget? Tentu saja. Donghae tidak mengira jika orang yang telah membuat ibunya harus mengakhiri hidupnya, ternyata telah membawa banyak penderitaan pada orang lain. Terlebih pada wanita yang disukainya.

“Jadi selama bertahun – tahun kau baru mengetahuinya akhir – akhir ini?”

“Ne, eomma menyimpannya dengan sangat rapi. Aku benci menyadari dalam darahku mengalir darah kotor mereka. Aku benci!! Aku benci!! Aku benci!!!!” YoonA mulai histeris seraya memukul – mukul dadanya yang terasa sesak. Dengan sigap Donghae memeluknya. Ia mengusap – usap rambut panjang YoonA mencoba menenangkannya. Perlahan isakan YoonA mulai menghilang. Ia merasa nyaman berada dalam dekapan hangat kakaknya.

“Sssssttt…sudahlah. kau dan aku memilki darah yang sama. Mulai detik ini ayo kita lupakan siapa orang tua kita. Kau adalah adikku, aku berjanji akan menjadi kakak yang pantas untukmu. ” Donghae menatap lembut kedalam mata YoonA. Ada sorot ketulusan yang terpancar di matanya. Tanpa diduga, YoonA malah bertanya, “Kau tidak akan memisahkanku dari kedua kakakku yang lain kan?” Donghae tersenyum kecil menanggapi pertanyaan polos YoonA. “Pabo! Aku tidak mungkin memisahkan kalian. Karena aku mencintai kakakmu.” Ucapnya dengan mata berbinar.

“Nde? Nugu? Jessie eonni? Tiffany eonni? Kalau kau mencintai Tiff eonni, kau akan berurusan dengan Choi Siwon.” YoonA bergedik ngeri membayangkan amarah Siwon jika sampai Donghae merebut Tiffany dari tangannya.

Seketika tawa Donghae meledak, “Hahahaha.. bagaimana mungkin aku mencintainya eoh? Bertemu dan mengetahui namanya saja baru beberapa menit yang lalu. Aisshh kau ini.” Ada rasa senang yang terselip dalam hati Donghae setelah berbicara dengan YoonA. Memiliki adik perempuan ternyata menyenangkan juga.

“Jadi Jessie eonni?” Donghae mengangguk cepat. “Kau bisa membantuku?” pria tampan itu menggerlingkan matanya pada YoonA.

“Dengan senang hati.”

 

*****

Di lain tempat, Lee Dong Ju dan Hwang Soo Na terlibat perdebatan sengit. Sejak Donghae memergoki mereka, Lee Dong Ju tidak berhenti menyalahkan Soo Na.

“Bukankah sudah ku katakan untuk tidak pernah mengunjungiku di kantor, Hah??”

“Dong Ju-ah, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ketakutanku mengalahkan akal sehatku.”

“Itu bukan alasan!!! Seharusnya kau bisa mengontrol dirimu!! Sekarang lihatlah akibat ulah bodohmu!!”

“Kau pasti bisa membujuknya Dong Ju-ah. Aku yakin putramu akan menurut padamu.”

“Apa kau tidak lihat bagaimana reaksinya?! Ia marah besar!! Ia bisa saja menghancurkan rencana KITA!!!!” Dong Ju menggebrak meja yang ada di depannya, membuat benda – benda ringan diatasnya ikut terguncang.

“Mianhae Jung-ah, mianhae..”

“Arrggghhhhhhh….!!!!”

 

*****

Pagi sudah tiba. KyuHyun bangun dengan kepala yang terasa berat. Semalaman ia berpikir keras mengenai perasaannya terhadap YoonA juga kasus Lee Dong Ju yang harus segera ia tuntaskan. Setelah menghembuskan nafas berkali – kali dan memantapkan hatinya, KyuHyun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Ia menekan nama yang tertera di salah kontak ponselnya.

Dalam deringan kedua, sambungannya terhubung.

“Yeoboseo,”

“Hyung, kita bertemu di kantorku.”

Klik

Begitu telepon terputus, KyuHyun menyeringai. “Sekarang adalah saatnya.”

 

 

Suara derap langkah cepat beberapa pasang kaki terdengar jelas di koridor sebuah perusahaan besar. Semua mata terbelalak kaget melihat sekelompok orang berjas hitam dengan senjata yang berada dalam genggaman mereka, berjalan menyusuri setiap sudut yang terdapat di perusahaan tersebut guna memeriksa semua berkas yang mencurigakan.

Tampak seorang pria tampan berkulit pucat, melangkah angkuh menuju ruangan utama. Ia tidak terlihat gusar ataupun takut. Yang ada pada dirinya saat ini adalah keyakinan dan keberanian untuk menangkap sosok yang sudah diincarnya sejak bertahun – tahun silam.

KyuHyun mendobrak pintu kasar. Ia sudah tidak sabar ingin menguliti orang yang sudah membunuh ayahnya. Namun yang ia dapat hanyalah ‘pepesan kosong’  ruangan yang bertuliskan ‘Director’s Room’ itu sudah tidak berpenghuni. Sang pemilik sudah terlebih dulu melarikan diri sebelum kedatangan KyuHyun. Pria berusia 30-an itu yakin jika Lee Dong Ju pergi melalui jalan rahasia yang tidak bisa dilihat olehnya ataupun tim-nya. KyuHyun menggeram kesal. “Arrggghhh SIAL!!!”

Tanpa menunggu waktu lama KyuHyun segera menghubugi Siwon yang menunggunya di bawah.

“Hyung, target kita berhasil melarikan diri. Cepat kau telusuri setiap jalan yang mungkin dilewatinya. Aku yakin ia belum pergi jauh.”

“Mwo?? Iya baiklah. Aku akan mengejarnya. Sepertinya aku tahu kemana ia pergi.”

“Gomawo Hyung, kabari aku jika kau berhasil menemukannya. Aku akan segera menyusul.”

Ne,”

Setelah Siwon menutup teleponnya, ia bergegas berlari menuju mobilnya dan melajukannya ke suatu tempat yang ia yakini sebagai tujuan Lee Dong Ju bersembunyi. Saat di tengah perjalanan, ponselnya kembali berdering.

“Ye, ada apa Jess?”

“Siwon, apa kau membawa Tiffany pergi?”

“Mwo?? Ani.”

“Oh Gosh!! Bagaimana ini? Kemana dia?” suara diseberang sana tampak bergumam cemas.

“Jessie, katakan apa yang terjadi dengan Tiffany!” Siwon tidak bisa menahan kekhawatirannya membayangkan bahaya yang menimpa wanita yang sangat dicintainya.

“Ia tidak ada dirumah. Aku sudah mencarinya kemana – mana. Bahkan Soo Na juga menghilang.” Lirih Jessica dengan suara parau. Terlihat jelas jika ia juga tengah mencemaskan keselamatan Tiffany. Siwon terdiam sejenak. Seingatnya, saat ia pergi Soo Na belum pulang ke rumah. Jadi bagaimana bisa Jessica mengatakan jika Soo Na juga menghilang.

“Halo! Siwon, kau masih mendengarku?”

“Jessica apa maksudmu Soo Na juga menghilang? Bukankah ia tidak pulang semalaman?”

“Setelah kau pergi, ia datang dan aku melihat ia mem-packing baju – bajunya. Aku pikir ia akan pergi lagi untuk beberapa hari. Tapi tidak berselang lama, ia menerima sebuah paggilan. Aku tidak sempat mencurigainya. Dan entah bagaimana caranya, Tiffany menghilang bersamanya.”

DEG!

Secara reflek, Siwon menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang sekarang mungkin tengah kesakitan dan membutuhkan pertolongan. Siwon mengeratkan pegangannya pada kemudi. Rahangnya mengeras. Dengan kekuatan penuh, ia menancap pedal gas mobilnya meninggalkan gumpalan asap dibelakangnya..

 

*****

Setelah mendapatkan alamat yang diberikan Siwon, Jessica dan YoonA serta Lee Donghae segera menyusul menuju tempat yang ditunjukkan Siwon. Berulang kali pria itu mencoba menenangkan kedua gadis yang disayanginya, namun usahanya sia – sia. Jessica dan YoonA tidak bisa berhenti menangis.

“Lee Donghae! Tingkatkan kecepatan mobilmu!!” itulah kata – kata yang sering diucapkan Jessica. Ia tidak sabar ingin segera  menemukan Tiffany.

“Jessica, kalau kita celaka, kau tidak akan bisa menyelamatkan adikmu.”

“Oppa benar eonni. Kita harus bertahan demi Tiffany eonni.” YoonA menggenggam tangan Jessica. Meskipun ia juga takut dengan keadaan kakak keduanya, namun mereka tidak boleh ceroboh dengan mencelakakan diri sendiri.

“Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya Yoong?” kepala Jessica kini bersandar di bahu YoonA.

“Percayalah eonni, kita pasti bisa menyelamatkannya.”

“Aku harap begitu.”

 

Di tempat yang berbeda, Siwon memarkirkan mobilnya sembarang. Disusul dengan mobll KyuHyun yang berjarak beberapa meter darinya. Siwon keluar dengan emosi yang meluap – luap. Ia hendak membuka gerbang yang menjulang tinggi di depannya. Namun KyuHyun menghentikan aksinya.

“Hyung, tenanglah.”

“Aku tidak mungkin bisa tenang Kyu. Tiffany dalam bahaya. Ia berada di tangan orang – orang kejam itu!!!!”

“Aku tahu Hyung, tapi kita tidak boleh gegabah. Nyawa Tiffany taruhannya.” Siwon menghembuskan nafas frustasi. KyuHyun benar, selangkah saja ia membuat kesalahan, nyawa Tiffany akan melayang.

Para pengawal Lee Dong Ju sudah bersiap dengan senjata mereka untuk menghadang tim yang dibawa KyuHyun. Begitupun sebaliknya. Mereka sama – sama memperkuat barisan mereka. Saat KyuHyun tengah berbincang dengan Siwon, tiba – tiba suara tembakan terdengar persis disampingnya. Dan ketika ia menoleh, salah satu anggota tim-nya tewas. KyuHyun tidak bisa terima. Ia berteriak kencang, “TEMBAK MEREKA!!!!” dan suara tembakan pun akhirnya saling bersahutan.

YoonA dan Jessica yang baru saja tiba, merasa ngeri dengan apa yang sedang terjadi di depan mereka. Ini adalah kali pertama bagi mereka menyaksikan adegan menyeramkan seperti ini. Donghae tidak mengijinkan keduanya untuk turun dari mobil. Situasi saat ini sangat berbahaya untuk mereka.

“Eonni, eotokke? Apa yang akan terjadi dengan Tiffany eonni?” Jessica dan YoonA saling berpelukan. Tubuh mereka bergetar hebat. Tanpa mereka sadari, Donghae sudah keluar dari mobilnya.

 

“Hyung, sebaiknya kau cari celah untuk masuk kedalam dan selamatkan Tiffany!” KyuHyun berteriak pada Siwon. Suaranya terkalahkan oleh suara tembakan yang membabi buta.

Siwon mengangguk setuju. Saat ia membalikkan badannya, Donghae berseru, “Aku akan ikut bersamamu.”

 

*****

Tiffany melenguh panjang. Ia baru saja sadar setelah pingsan akibat obat bius yang diberikan Hwang Soo Na. Samar – samar ia mendengar suara dua orang yang tengah berbisik. Ia juga merasa dirinya tengah diikat. Sadar dengan apa yang terjadi padanya, Tiffany pun berteriak.

“Siapa kalian?!!!! Lepaskan AKU!!!!” Tiffany menjerit histeris. Tangannya terikat kebelakang kursi rodanya. Suara – suara tembakan diluar, semakin membuatnya takut.

“Tenanglah Tiff, kau aman disini.” Tiffany mengenali suara itu. Iya, ia yakin itu suara Hwang Soo Na.

“Eomma?”

“Eoh? kau mengenalku” oh… kau memang anakku yang paling manis, Tiff.” Ujar Soo Na dengan nada yang dibuat – buat.

“Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menculikku?!!” Tiffany menendang – nendangkan kakinya ke segala arah. Dengan keadaanya yang seperti ini, mustahil ia bisa menyelamatkan diri.

“Ini semua karena kakakmu yang menyebalkan itu. Aku heran kenapa ia membenci ibunya sendiri.”

“karena kau bukan ibu kandung kami.” Soo Na tersentak mendengar pernyataan Tiffany.

“Apa maksudmu Tiff? Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Berhenti berpura – pura Soo Na-ssi. Kami sudah tahu semua kebusukanmu!” Soo Na tertawa nyaring. Rencananya menculik Tiffany hanya untuk membebaskannya dari kasus penggelapan dana. Tapi setelah mengetahui rahasianya telah terbongkar, Ia memiliki rencana lain. Ia akan membunuh kedua putri Hwang tanpa meninggalkan jejak seperti yang pernah dilakukannya pada ibu mereka dulu.

Saat Soo Na tengah berpikir panjang, suara gebrakan pintu sontak mengalihkan perhatiannya . Choi Siwon dan Lee Donghae datang dengan nafas yang terengah – engah.

“Choi Siwon? Lee Donghae?” Soo Na terkejut dengan kedatangan mereka. Terlebih kebersamaan Donghae dengan Siwon.

Ya, mereka berhasil menemukan jalan masuk tanpa diketahui oleh pengawal Lee Dong Ju. Sejak mengikuti Hwang Soo Na ke rumah ini, Siwon mengutus beberapa suruhannya untuk mengamati rumah yang dijadikan pasangan kejam ini untuk tempat mereka menghabiskan waktu bersama.

“B-bagaimana kalian bisa masuk?”

“Apa kau terkejut, hm? Sebaiknya sekarang kau menyerah dan lepaskan Tiffany.”

“TIDAK!!! Kalau kau ingin Tiffany selamat, kau harus membebaskanku Siwon.” Tanpa sengaja, Donghae melihat bayangan sesosok orang yang tengah berlari ke arah halaman belakang.

“Sial! Siwon, ayahku berusaha melarikan diri lagi. Aku akan mengejarnya. Kau urus saja wanita ini.” Mendengar itu, Soo Na semakin kelabakan. Ia tidak menduga jika Lee Dong Ju akan kabur tanpa membawa dirinya.

“Wae? Kau takut karena kekasihmu tidak mempedulikanmu? Lihatlah! Ia bahkan tega meninggalkanmu.” Siwon semakin mendekat. Ia hampir saja mencapai anak tangga pertama.

“Berhenti! Atau aku akan melemparnya ke bawah.” Soo Na meraih kursi roda Tiffany dan bersiap untuk menjatuhkannya ke lantai dasar.

“Akhh… Lepaskan aku!!!”

“Berani kau menyentuh kulit Tiffany, aku tidak akan segan – segan membunuhmu.” Soo Na mengernyit, lalu detik berikutnya ia tertawa miris.

“Woahhh!!! Apa kau mencintai putriku Choi Siwon?”

“berhenti memanggilku putrimu!!! Aku tidak sudi menjadi putrimu!!” tak terima dengan pernyataan Soo Na, Tiffany kembali berontak.

PLAK!  

Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi mulus Tiffany. Siwon semakin tidak bisa menahan amarahnya.

“Sudah kubilang jangan sentuh DIA!!!!!!!”

“Kalau begitu menjauhlah! Aku akan lebih menyakitinya jika kau berani mendekat.” Soo Na sudah kehilangan akal. Sifat buruknya semakin menjadi. Sebuah pisau telah siap memahat kulit wajah Tiffany.

“Oppa… tolong aku… hiks…” Tiffany ketakutan. Air mata terus membanjiri wajahnya. Hati Siwon teriris melihat penderitaan Tiffany. Namun ia harus hati – hati menghadapi wanita gila di hadapannya.

“Wow, kau bahkan sudah lancang memanggilnya ‘Oppa’. “ Soo Na semakin mendekatkan pisaunya di rahang Tiffany. “Aww, appo!!” ringisnya kesakitan. Siwon mengepalkan kedua tangannya disisi tubuhnya. “SOO NAAAA!!!!! JANGAN SENTUH DIA!!!” Soo Na kembali menoleh kearah Siwon. Matanya berkilat – kilat merah pertanda ia marah besar.

“Ingatlah Choi Siwon! Kau masih suami sahku!!! Kalian berdua tidak akan pernah bisa hidup bersama!!!!” karena pergerakan tangannya, pisau itu berhasil menggores kulit rahang Tiffany.

“Akhhh..!!!” setitik demi setitik darah keluar dari kulitnya sehingga mencetak bercak merah di kerah kemeja birunya.

“Tiffany!!” Siwon sudah tidak tahan lagi. Ia menekadkan hatinya untuk melangkah maju. Soo Na tidak mau kalah, ia kembali menancapkan ujung pisaunya.

“Satu langkah satu tusukan.” Siwon berhenti. Ia menatap tajam pada Soo Na. “Dasar wanita gila!!! Aku bersumpah akan membunuhmu!!!”

“Hahaaha… sebelum kau berhasil membunuhku, kau akan melihat mayat kekasihmu terlebih dahulu.” Tiffany membeku di tempatnya. Ia tidak mampu lagi memberikan perlawanan. Hatinya berkata bahwa ia akan mati di tangan wanita yang pernah menjadi ibunya ini.

Dalam diamnya, Siwon memikirkan cara untuk menyelamatkan Tiffany tanpa harus menyakitinya lebih banyak.

 

******

Di halaman belakang, Donghae berlari cepat mengejar ayahnya. Matanya terbelalak mendapati pemandangan buruk di depannya. Lee Dong Ju tengah bersiap melepaskan peluru pada wanita yang telah mencuri hatinya.

Jessica terpaku. Ia tidak mampu berlari ataupun bergerak. Jessica merasa hidupnya akan berakhir saat ini juga, dan ketika ia menutup matanya. Tembakan pun berhasil meluncur. Namun anehnya, ia tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Tatkala Jessica kembali membuka matanya, Donghae tersenyum kearahnya dengan bersimpah darah yang mengalir dari sisi dadanya. Seketika tubuh Jessica menegang. Bola matanya seolah ingin melompat keluar. Mulutnya terbuka lebar. Dan begitu tubuh lemah Donghae tersungkur ke tanah, barulah Jessica menjerit histeris.

“TIDAAKKKKK!!!!!!!”

Lutut Jessica terasa lemas. Ia tidak sanggup lagi berdiri. Dalam hitungan detik ia pun terperosot ke atas tanah. Donghae berusaha menggapai tangan Jessica yang terkulai lemas. Dengan sisa tenaganya, ia berbisik, “Saranghaeyo Jessica.”

Tangisan Jessica pecah. Ia kembali berteriak.

“Kalau kau mencintaiku, kau tidak boleh mati. Kau harus bangun Lee Donghae. Ayo buka matamu!!! Buka Lee Donghae! Bukaaaaaaa!!!!” kepala Jessica terjatuh diatas dada Donghae yang terus mengeluarkan darah segar. Ia pun menghabiskan tangisannya disana.

Lee Dong Ju mematung di tempatnya. Tangannya yang masih memegang pistol, mendadak gemetaran. Ia telah membunuh anaknya sendiri. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Rasa takut yang mendominasinya, membuatnya kembali melarikan diri. Namun aksinya terhenti karena tembakan yang diluncurkan seseorang.

“Kau tidak akan bisa lari lagi.”

DOORRRRRR…. DOORRRRRR

 

******

Teriakan Jessica yang terdengar hingga ke dalam rumah, menjadi pelengkap ketakutan Tiffany. Buliran – buliran hangat yang mengalir dari mata indahnya, seolah enggan berhenti untuk mendesak keluar.

Sahutan tembakan dari luar berangsur menghilang digantikan oleh suara isakan tangis. YoonA dan KyuHyun bisa dengan mudah masuk karena kini para pengawal Lee Dong Ju telah tewas di tangan mereka. YoonA masih berjalan tertatih – tatih. Bayangan kejadian penembakan yang dilakukan ayah kandungnya terhadap kakaknya masih terlintas di benaknya.

“Kyu, apa yang terjadi?” bisik Siwon setelah KyuHyun berdiri disampingnya.

“Lee Donghae tertembak.” Ujarnya pelan.

“Mwo?” Siwon sontak menoleh pada YoonA yang masih terisak. Seketika gadis kurus itu menatap tajam pada ibunya yang masih berdiri di lantai atas bersama Tiffany. Nafasnya memburu. Tatkala YoonA akan melangkahkan kakinya, suara seseorang menginterupsinya.

“Tunggu Yoong! Biar aku yang menyelesaikannya.” Jessica menyeka kasar air matanya. Ia berjalan cepat menuju tangga. Namun lagi – lagi Soo Na memberikan ancaman.

“Jangan berani mendekat atau Tiffany akan mati!!!”

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambil keluargaku lagi Soo Na.” Desis Jessica tajam.

“hahaha… jika saja keluargamu itu tidak bodoh, mereka tidak akan mati dengan mudah.”

Mata Jessica menyiratkan kemarahan yang membuncah. Ia tidak takut dengan ancaman Soo Na. Kakinya terus melangkah.

“Kau-lah yang bodoh Soo Na. Kau pikir kau akan menguasai seluruh harta kami? Cih, kau salah besar. Kau tidak akan mendapatkan apapun dari harta peninggalan Appa.”

“Hahaha… apa kau lupa, eoh? Ayahmu meninggalkan surat wasiat itu untukku. Jadi aku lah yang berhak atas semuanya.”

“Harta itu masih menjadi milikku Soo Na.” Suara khas pria paruh baya, sontak mengalihkan perhatian semua orang yang berada disana.

“Hwang Suk Jin?”

“Appa?”

“Tuan Hwang?”

Hanya Tiffany yang tidak bisa melihat secara langsung. Ia hanya bisa menangkap kejadian yang terjadi disekitarnya dengan mengandalkan pendengarannya.

“Eonni, katakan padaku. Apa itu suara Appa? Apakah Appa masih hidup? Jawab aku eonni! Youngie! Siwon Oppa! Kenapa kalian semua diam saja?” jangankan untuk menjawab pertanyaan Tiffany. Berkedip saja mereka tidak mampu. Semuanya terlalu syok dengan kehadiran tiba – tiba Tuan Hwang yang kini menggunakan tongkat sebagai penopang tubuhnya yang rentan.

“S-Suk Jin? Ba-bagaimana mungkin kau masih hidup? Tidak.. tidak… ini mustahil. Ini tidak mungkin terjadi.. tidak.. tidak…” Seperti orang yang kebakaran jenggot, Soo Na berjalan kesana kemari tanpa arah, dan tanpa sengaja ia mendorong Tiffany hingga ia jatuh berguling – guling melewati setiap anak tangga yang cukup panjang. Tubuh Tiffany terlepas dari kursi rodanya. Ia terlebih dulu jatuh menyentuh lantai dengan darah yang bercucuran di beberapa bagian tubuhnya. Siwon dan yang lainnya hanya tercengang menyaksikan Tiffany terkujur kaku di depan mereka. selang tiga detik, akhirnya mereka sadar dan mulai meneriaki namanya.

“TIFFANYYYYY!!!!!!!!”

Soo Na gelagapan. Ia sangat takut atas perbuatan yang telah ia lakukan. Hingga kemudian ia memutuskan untuk melarikan diri. YoonA yang menyadari kepergian ibunya, segera mengejarnya disusul oleh Cho KyuHyun.

“Jangan lari Hwang Soo Na!! Kau harus menerima akibat semua perbuatanmu.” Ketika KyuHyun akan memberinya tembakan peringatan, tiba – tiba YoonA merebut pistolnya. Dan melepaskan pelatuknya hingga menimbulkan suara erangan keras dari arah depannya.

“AKKHHHHHHH………………………..”

“YoonA…. kau……”

“Drama ini harus segera berakhir.”

 

 

 

THE END

 

Fyuuhhh…. akhirnya selesai juga FF ini. Sempet kehilangan mood dan feel saat melanjutkannya. Jadi ya hasilnya seperti ini. Mian, jika ceritanya kurang greget atau kurang memuaskan.

Tapi mungkin aku akan menyempatkan waktu untuk membuat epilognya jika para readers berkenan. Dengan cacatan jumlah komentarnya harus lebih dari 75. Kalau tidak, berarti ceritanya sampai disini. Dan kalian bisa bayangkan sendiri endingnya sesuai imajinasi masing – masing.. hehehe…

Terima kasih untuk readers yang selalu memberikan komentar, kritik, saran serta kalimat penyemangat yang membuat aku bisa menyelesaikan semua FF ku.

Thanks a lot… *bow 900*

 

 

85 thoughts on “(AF) The Wills Part 5 (End)

  1. Ada apa ini kok endingnya bikin penasaran!!?? Pokoknya harus ada epilog nya klo byngin sendiri agak aneh ntar hihi xD fuuhh bner” dah ni ff keren bngt nggk tau mau ngomong apalagi :’

  2. Huffft…. Donghae oppa kena tembakan appa-nya sendiri?
    Tiffany eonni ada sayatan diwajah plus jatuh dari tangga?😢😟😢
    Tuan Hwang tiba – tiba muncul?😲
    Endingnya greget gimana gitu, ada unsur “serem” nya😨
    Sekuel? Author Sekuel

  3. Tiffany gimana? Huaa semoga dia selamat 😭 itu tuan hwang kok bs muncul lgi??? Duhh thor penasaran bnget, sequelnya dong, endingnya ngegantung 😂

  4. Gantung thor endnya.
    Hore….hubungan sifany sudah disetujui oleh sica.
    Jadi yoona itu adik tirinya donghae.jadi tuan hwang masih hidup tohh.andwe……donghae tertembak oleh appanya,donghae jgn mati deh, please.kalo donghae mati,kasian donk ama sica, sica pasti sedih sekali.thor penasaran akut tingkat tinggi nih.pingin tau apakah donghae masih hidup setelah kena tembakan,apakah kyuhyun akan mengatakan cintanya pada yoona dan juga apakah mata fany akan melihat kembali,aduhhhh
    thor penasaran abis nih…ditggu ya thor lanjutannya.tetap semangat dan keep writing thor
    Author jjang.good luck.

  5. Authorrrrr aku suka banget sama ending yg belum kelar ini. Alur cerita tata bahasa semuanya udah jjang!!!!!! Aku suka pokoknya ditunggu sequelnya

  6. Mencengangkan, banyak yg tdk terduga dr ff ini. Meskipun dr part sebelumnya sdh curiga banyak yg aneh seperti skenario d keluarga hwang.
    Akhirnya semuanya terungkap.
    Tp endingnya ngegantung klo ga d lanjut sm epilognya ya kan thor.
    Gimana nasib dong ju, donghae, soo na dan terutama miyoung

  7. Sumpah cerita nya keren banget thor .. please lanjutin karna sumpah ini ceritanya keren banget .. penasaran banget sama kelanjutan nya .. fighting thor

  8. Keren abisss fanynya gimanaaa siwon selamatin fany dongg trus si soo na sama pcrnya di bunuh ajaa dann suk jin knp bs tiba” muncul gitu? Aaa gantungg epilog ditungguu

  9. Yahh udah end😦
    Tiffany kasian bgt udah gak bisa liat, ditambah jatuh dari tangga pula.. soona emang ih kejam bgt. Overall, ceritanya menarik kok, cuma gantung bgt akhirannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s