(AF) The Choi’s Girl Part 3


THE CHOI’S GIRLS PART 3
TCG

Author : @zoey_loe

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Support Cast : Im Yoona – Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Lee DongHae – Park Jung Soo – Choi Min Ho

Length : Chapter

Genre : Family, Romance and Comedy

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!

NOTE: DIPART INI JANGAN TERLALU BERHARAP UNTUK MENEMUKAN BANYAK SCENE SIFANY. KARENA LEBIH FOKUS PADA ANAK ANAK. TERIMAKASIH DAN MOHON PENGERTIANNYA😉

BAB 5 – SAY YOU LOVE ME

Inilah kebiasaan Eun Ji dijam istirahat, dia hanya duduk dikelas sembari membaca novel atau memainkan ponselnya. Eun Ji bersandar dengan nyaman dikursinya, serius membaca novel yang baru dia beli beberapa  waktu lalu. ah ralat ralat, Jung Woo lah yang membayar novel ini.

Ketika sedang fokus membaca, tiba tiba novel tersebut ditarik paksa dari genggamannya. Eun Ji menoleh kebelakang untuk melihat siapa pelakunya, dan ternyata Jung Woo yang mengambil novelnya. Lagi lagi pria ini yang mengganggu ketenangannya.

Eun Ji tidak terkejut lagi, pria inilah yang sering mengganggunya akhir akhir ini. Eun Ji menjulurkan tangannya, telapak tangannya diatas, meminta novel itu dikembalikan.

“Kembalikan” kata Eun Ji dengan suara jengkel.

“Kau tidak terkejut?” tanya nya pada Eun Ji, mengalihkan pembicaraan.

“Berikan novel itu padaku?” pinta Eun Ji, suaranya meninggi karena kesal.

“Kenapa kau tidak pernah keluar untuk istirahat?” tanya Jung Woo penasaran. Dia selalu melihat Eun Ji didalam kelas ketika jam istirahat, wanita wanita dikelas ini tidak ada yang dekat dengan Eun Ji karena Eun Ji sangat menutup diri.

“Bukan urusanmu” teriak Eun Ji “Choi Jung Woo, berikan padaku sebelum aku marah” Eun Ji berdiri dan berjalan selangkah mendekati Jung Woo.

“Wanita galak” Jung Woo menjulurkan tangannya, memberikan novel pada Eun Ji “Kau belum mengucapkan terimakasih padaku”

Eun Ji terkesiap, dia mengambil novel itu ragu ragu. Teringat kejadian ditoko buku dan benar, dia belum mengucapkan terimakasih pada Jung Woo sudah membayarkan novel ini “Gomawo” Gumam Eun Ji sangat lembut.

“Oh Tuhan, aku belum pernah mendengar suara mu selembut ini” Jung Woo tersenyum, tangannya dilipat didepan dada.

“Pergilah Jung Woo, kenapa kau suka sekali mengganggu ku” Eun Ji mengabaikan ucapan Jung Woo barusan, dia berjalan kembali ketempat dimana dia duduk tadi.

“Karena aku suka” Jung Woo berjalan dibelakang Eun Ji dan dia duduk dihadapannya. Menopang dagunya dengan satu tangannya “Ice princess, tapi bagiku kau adalah es yang hangat” kata Jung Woo, memberi penekanan di setiap kata katanya.

Eun Ji yang tadinya akan mulai membaca, menjadi tidak fokus mendengar perkataan Jung Woo. Tapi dia masih pura pura membaca dan seakan tidak mendengar ucapan Jung Woo “Dan kau terlihat sangat cantik ketika sedang marah” lanjut Jung Woo.

Eun Ji mengangkat kepalanya, tersenyum sangat manis pada Jung Woo dan sedetik kemudian dia menampar wajah Jung Woo dengan novelnya.  Eun Ji berlalu pergi meninggalkan Jung Woo yang sedang meringis kepedihan diwajahnya. Eun Ji tidak sama dengan wanita wanita itu, dia tidak akan terpengaruh dengan godaan ataupun rayuan dari mulut manis Jung Woo.

 

 

***

Finish. Aku akan pulang sekarang” gumam Nana. Dia menutup pintu lokernya dan bersandar disana.

Soo Ji mengintip dari balik pintu lokernya “Kau tidak menonton pertandingan basket?” tanyanya, karena biasanya Nana sangat antusias menonton sekumpulan pria bertubuh tinggi yang penuh dengan keringat itu.

“Kenapa? Kau ingin aku temani menonton?” bukannya menjawab, Nana malah balik bertanya.

Soo Ji menjulurkan kepalanya dari balik pintu “Tidak. Hanya tumben kau tidak ingin menonton”

Nana tertawa pelan “Aku harus mengerjakan tugas Soo Ji, kali ini aku tidak bisa menghindar lagi” Nana merapikan bajunya dan berdiri dengan tegap.

Good girl” Soo Ji memberi dua ibu jarinya pada Nana.

“Kalau begitu aku pulang dulu, Soo Ji aah. Kau tidak pulang?” tanya Nana, menatap Soo Ji yang memunggunginya.

“Sebentar lagi, menunggu jemputan” Soo Ji menutup pintu loker dan menguncinya. “Selamat mengerjakan tugas dan hati hati” Soo Ji merangkul Nana sampai mereka berpisah didepan koridor perpustakaan.

Nana berjalan lurus untuk sampai kegerbang sekolah, sedangkan Soo Ji menunggu didepan perpustakaan duduk dikursi panjang yang ada disana. Dia tidak berniat masuk kedalam perpustakaan, tempat sunyi, tidak boleh berisik. Itu bukan tempatnya, itu tempat Eun Ji.

Kedua tangan Soo Ji saling meremas, dia menunggu kabar dari Tiffany yang akan menjemputnya. Kursi yang Soo Ji duduki berderit, pertanda ada seorang yang duduk disampingnya. Tapi Soo Ji tidak tertarik untuk melihat siapa yang ada disampingnya itu, kepalanya menunduk dalam.

Soo Ji merasa orang yang duduk disampingnya sedang menatapnya, karena dihinggapi rasa penasaran, Soo Ji mengangkat kepalanya dan dia terkejut setengah mati. Dengan reflek Soo Ji menjauh kebelakang, orang yang berada disampingnya menarik tangannya, karena Soo Ji hampir terjatuh.

“Kenapa kau selalu menghindariku?” itu Joon yang berada disampingnya, sedang mencengkram erat pergelangan tangannya.

Soo Ji mengerjap, dia masih terkejut. Bahkan dia tidak mencoba menarik tangannya yang dicengkram erat oleh Joon.

Joon menggoyang goyangkan satu tangannya didepan wajah Soo Ji yang termanggu “Hoh” Soo Ji tersadar, dia melirik tangannya dan dengan cepat dia menarik dengan kasar.

“Kenapa kau menghindariku, Choi Soo Ji?” ulang Joon.

“Aku tidak” balas Soo Ji gugup. Dia menunduk tidak ingin menatap wajah tampan Joon.

“Kau tidak pandai berbohong” Joon menyeret tubuhnya lebih dekat dengan Soo Ji dan otomatis Soo Ji mundur “Lihat, kau menghindar” tunjuk Joon kearah Soo Ji “Oke, jika kau marah padaku karena aku mencium mu dikantin waktu itu. Aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya lagi” Joon menegakkan bahunya dengan serius.

Soo Ji menatap wajah Joon, lalu matanya meninggalkan wajah Joon dan melihat kearah lain “Kau tidak akan mencium ku lagi?”

“Tidak” Joon mengerang “Jadi jangan menghindar lagi” pinta Joon pada Soo Ji.

“Aku tidak menghindar” bentak Soo Ji. Hanya saja Soo Ji tidak kuat berada dekat Joon karena jantungnya terus berdetak dengan liar.

Joon mempersempit jarak diantaranya dan Soo Ji. Soo Ji tahu, Joon sedang mengujinya, jadi dia tetap berada ditempatnya. Jantungnya berdetak lebih cepat lagi. semoga Joon tidak mendengar suara detak jantungku.

Joon tersenyum sangat lebar “Ayo kita pergi makan?” ajak Joon dengan lembut.

“Maaf aku tidak bisa” tolak Soo Ji dengan lembut pula.

“Apa yang membuatmu tidak bisa, hoh?” Joon menyandarkan kepalanya ke dinding karena kecewa.

“Aku harus pulang, lain kali saja” kata Soo Ji. Lain kali? Yak, Soo Ji. Kau membuat janji padanya.

“Benarkah?” mata Joon terbelalak mendengar kata kata Soo Ji.

“Ya, tapi kau harus mengonfirmasi jadwalnya padaku. Karena aku sangat sibuk” Soo Ji bicara dengan gaya angkuhnya.

Joon menjitak kepala So Ji dengan main main “Sok sibuk” Joon tertawa melihat Soo Ji mempoutkan bibirnya sembari mengusap kepalanya yang dijitak oleh Joon.

 

 

 

***

Soo Ji tengah berbaring dikamarnya, menatap langit langit kamar tanpa rasa bosan. Sudah dua hari dia tidak bertemu Joon, pria itu tidak mondar mandir disekolahnya untuk pertandingan. Joon juga tidak memberinya kabar, Soo Ji tidak pernah menelfon atau mengirim pesan pada Joon terlebih dulu. Dia hanya dapat menunggu dan menunggu.

Pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar sana,  Soo Ji pun duduk bersandar ditempat tidur.

“Soo Ji, ini Mommy. Apa Mommy boleh masuk?” seru Tiffany dari luar kamar.

“Tentu” jawab Soo Ji dengan lesu.

Tiffany masuk kedalam kamar, ditangannya ada kardus pizza dan cola. Tiffany duduk ditepi ranjang, meletakkan pizza dan cola di meja nakas samping tempat tidur.

“Kau tidak turun untuk makan malam? Kau sakit?” tangan Tiffany terulur untuk menyentuh kening Soo Ji. Tdak panas tapi Soo Ji terlihat lesu, batin Tiffany.

“Tidak Mommy. Hanya tidak enak badan, mungkin tamu bulanan ku akan datang” Soo Ji tersenyum memperlihatkan gigi putih dan dimplenya. Matanya melirik kenakas “Itu buat aku?”

Tiffany mengikuti kearah Soo Ji melihat “Yup, Daddy tidak melihat mu dimeja makan dan dia langsung memesan itu untuk mu”

Soo Ji menyilangkan kaki nya dan meraih kardus pizza tersebut “Dimana Daddy?” tanyanya sembari membuka kerdus nya dengan tidak sabaran.

“Diruang kerja. Pekerjaan kantor, biasa” Tiffany menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Tiffany selalu sebal ketika Siwon membawa pekerjaannya kerumah. Apa tidak cukup dua belas jam yang dia habiskan dikantor, dan sekarang dirumah Siwon juga harus disibukkan dengan dokumen dokumen itu sampai larut malam.

“Oh itu yang membuat Mommy menekuk wajah, karena Daddy membawa kekasihnya kerumah” Soo Ji terkikik dan mengigit pizza pertamanya, dia memejamkan matanya ketika pizza itu menyentuh lidahnya. Soo Ji sangat suka mengonsumsi junk food.

“Bisa dibilang seperti itu” Tiffany menganggukan kepalanya pelan “Jangan terlalu sering mengonsumsi junk food nanti-“

“Kau bisa mati lebih cepat” sela Soo Ji, dia sudah hapal dengan kalimat itu. Karena Tiffany sering mengucapkan ketika dia sedang mengonsumsi junk food.

Tiffany tertawa sembari mengacak acak rambut Soo Ji “Makanlah, Mommy keluar dulu”

“Sampaikan peluk dan ciumku untuk Daddy ya, Mommy” Gumam Soo Ji dengan mulut penuhnya.

“Mommy tidak janji” kata Tiffany, lalu dia menghilang dari balik pintu.

 

Ketika Soo Ji sedang menghabiskan pizza keduanya, ponselnya berdering karena ada Line masuk. Soo Ji memasukkan gigitan terakhir kedalam mulutnya, lalu dia mencecap ibu jari dan telunjuknya. Mengambil ponsel diatas nakas dan ternyata itu line dari Joon.

 

Isi Line Joon dan Soo Ji:

 

Ayo kita makan?

Aku sedang makan.

Tidak, maksudku besok.

Jam berapa?

17.30 otte?

Heh? Kenapa harus malam?

Memang kenapa?

Aku hanya takut pada Mommy

Aku yang akan meminta izin pada Tiffany Aunty

Kau berani?

Kenapa tidak. Kita kan teman, pasti Tiffany Aunty akan mengizinkan.

Oh ya, kau benar.

Ajak Eun Ji dan Young Ji, karena Hara dan Jung Woo juga akan bergabung.

Sip..

 

 

 

Soo Ji melemparkan ponselnya begitu saja. Kecewa, kecewa ketika Joon bilang mereka adalah teman. Ya, tidak bisa dipungkiri mereka memang teman saat ini. tapi entah kenapa dewi dalam dirinya mengharapkan lebih. Dan lebih kecewa nya lagi, mereka bukan pergi makan berdua tapi ada yang lain juga. Soo Ji tidak bersemangat untuk pergi besok malam yang kebetulan sabtu malam. Semangatnya buyar, Soo Ji melampiaskan kekesalannya pada pizza yang Siwon belikan untuknya. Dia menghabiskan semuanya tanpa sisa, padahal tadi Soo Ji berniat untuk membagi pada adik adiknya.

 

 

***

Sabtu pagi yang cerah Tiffany dan anak anaknya sedang berkumpul untuk sarapan. Siwon dan Lauren belum turun untuk bergabung. Hanya di hari Sabtu dan Minggu mereka dapat berkumpul seperti ini.

Bunyi derap kaki yang menuruni anak tangga mengalihkan perhatian Tiffany. Siwon turun dengan setelan kantornya. Tiffany menautkan alisnya “Big Papa, kau lupa ini hari Sabtu”

Siwon membenarkan letak dasi dan merapikan jas nya “Ya, aku tahu ini hari Sabtu. Tapi aku ada rapat pagi ini untuk proyek baru di Jepang” Siwon duduk ditempatnya.

Tiffany melihatnya tidak suka “Kau sudah bekerja sampai larut malam, belum lagi kau membawa pekerjaan itu kerumah dan sekarang hari Sabtu kau pergi ke kantor. Apa itu tidak keterlaluan” Tiffany mengumpat dengan kesal.

Siwon melirik anak anak, tidak ingin anak anaknya menyaksikan pertengkaran mereka “Jangan berteriak didepan anak anak” bisik Siwon pada Tiffany.

“Biar saja. Biar mereka tahu, bagaimana Daddy nya sangat gila bekerja” marah Tiffany, matanya melotot kearah Siwon.

“Setelah proyek ini selesai, aku berjanji tidak akan membawa pulang pekerjaan kerumah lagi. Tolong mengerti hmm?” Siwon ingin menggenggam tangan Tiffany tapi Tiffany menepisnya.

“Aku selalu mengerti, tapi kau tidak pernah mengerti” bentak Tiffany, suaranya serak menahan amarah.

Siwon tidak dapat membalas ucapan Tiffany, dia hanya diam dan mulai sarapan. Tapi ponselnya berbunyi, sekretarisnya yang menelpon agar Siwon cepat datang ke kantor. Karena rapatnya dimajukan.

Siwon pun beranjak dari tempat duduknya, dia meraih wajah Tiffany untuk mencium keningnya, tapi Tiffany menghindar. Siwon tersenyum kecut mendapat penolakan dari istrinya. Siwon hanya mengacak rambut Tiffany pelan.

“Baiklah, Daddy pergi dulu” pamit Siwon dan dengan cepat berjalan kearah pintu tapi panggilan Lauren menghentikan langkahnya.

“Apa ini punya Daddy? Aku menemukannya didepan kamar Daddy dan Mommy”  Lauren memberikan amplop cokelat yang dia temukan tadi pada Siwon. Mungkin saat Siwon keluar kamar nya dengan terburu buru amplop cokelatnya terjatuh.

“Ya Tuhan” Siwon menepuk keningnya “Terimakasih. Rapat akan kacau kalau tidak ada berkas ini, sekali lagi terimakasih”

Lauren tersenyum pada Siwon, senang dapat membantu Siwon “Daddy pergi dulu” Kata Siwon sambil mengacak rambut Lauren.

Lauren mengangguk dengan ragu, ketika Siwon mulai berjalan, dia menarik tangan Siwon. Otomatis Siwon menoleh kearah Lauren “Ada apa?”

Lauren hanya diam menatap Siwon, dia ingin Siwon mencium keningnya seperti dulu saat Siwon akan berangkat kekantor. Seakan dapat membaca fikiran Lauren, Siwon menarik belakang kepalanya dan mencium kening Lauren dengan cepat. Siwon berlari kecil kearah audinya yang terparkir dihalaman rumah. Lauren tersenyum lebar mendapat kecupan dari Siwon pagi ini. sudah lama Siwon tidak memperlakukannya dengan manis, Lauren merindukan saat saat dulu.

 

***

Tiffany menyalahkan TV LCD berukuran 80 inch, dia berniat akan menonton karena Tiffany merasa bosan seharian di rumah. Siwon yang berjanji akan pulang sore tapi ini sudah pukul lima lewat, Siwon belum terlihat batang hidungnya.

Tidak ada acara yang menarik, dengan kesal Tiffany mematikan TV dengan kasar dan melempar remote nya disofa. Dia beranjak dari depan TV dan kembali kekamarnya tapi, bunyi bel rumah menghentikan langkah kakinya.

Tiffany berjalan kearah pintu rumahnya dan membuka pintu itu dengan cepat. Dia berharap salah satu temannya berkunjung kerumah, tapi harapan nya musnah ketika Tiffany membuka sedikit pintu besar tersebut. Dia mengernyit “Park Joon?” pekiknya “Apa Taeyeon yang mengirim mu kesini?” Tanya Tiffany, suaranya penuh dengan rasa penasaran. Ini pertama kalinya Joon datang kerumahnya sendirian.

“Bukan, aku ingin mengajak Soo Ji pergi” ucap Joon dengan santai. Walaupun tangannya sedikit gemeteran disisi tubuhnya.

“Soo Ji?” pekik Tiffany lagi. Dua kali, hitung Joon dalam hati.

“Ya. Maaf Aunty, apa aku boleh masuk dulu sebelum aku menjelaskan” mata Joon melirik kedalam, dia berharap Tiffany mengizinkannya masuk.

Dengan ragu ragu Tiffany menarik pintu itu lebih lebar lagi dan membiarkan Joon masuk, mempersilahkan Joon untuk duduk disofa ruang tamunya.

Tiffany melipat kakinya dan tangannya bersedekap, matanya menatap Joon dengan tajam “Kau mau mengajak putriku kemana?” tanya Tiffany to the point. Dagunya terangkat dengan angkuhnya.

Joon berdehem sebelum menjawab “Aku ingin mengajaknya pergi makan, tidak lama Aunty. Jam delapan aku sudah membawanya pulang. Ada Hara dan Jung Woo juga, bolehkan?” Joon menatap Tiffany penuh harap, Tiffany hanya diam menatapnya.

“Tunggu disini” perintah Tiffany dengan suara dingin.

Dia naik kelantai atas dan masuk kekamar Soo Ji tanpa mengetuknya lagi. Tiffany terkejut melihat Soo Ji yang duduk didepan cermin sedang memakai lipsgloss.

Soo Ji juga menyadari Tiffany masuk kedalam kamarnya dan sekarang duduk diatas tempat tidurnya, sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kau ada hubungan apa dengan Joon?” tanya Tiffany, tangannya dilipat didepan dada.

Soo Ji diam tidak langsung menjawab. Ditutupnya lipsgloss dan memutar tubuhnya menatap Tiffany “Kami teman” jawab Soo Ji dengan santai, dia merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sangat rapih.

“Kau berdandan cantik sekali malam ini” kata Tiffany menatap Soo Ji dengan curiga.

“Mommy lupa, aku selalu ingin tampil cantik” Soo Ji berdiri, merapikan mini dress warna biru soft tanpa lengan, memamerkan kaki indah dan lengan putih mulusnya.

“Bagaimana Mommy? Apa cocok dengan sepatunya?’ Soo Ji menunjukkan sepatu flat berwarna hitam keluaran terbaru dari Valentino yang dibelikan Tiffany bulan lalu.

“Hoh” gumam Tiffany, dia memperhatikan putri sulungnya dari ujung rambut sampai kaki. Putrinya sudah dewasa, tapi dia belum rela membiarkan Soo Ji untuk berkencan.

“Pakai coat, diluar dingin” Tiffany mengingatkan Soo Ji setengah hati. Dia tidak ingin membiarkan putrinya pergi tapi Soo Ji sudah rapi. Dia juga akan tetap pergi walaupun Tiffany melarangnya karena Soo Ji memiliki kepala yang sekeras batu.

Soo Ji tersenyum dan menyambar coat berwarna cokelat yang sudah dia siapkan. Dia tahu Tiffany melarangnya pergi, tapi sepertinya malam ini Tiffany mengalah untuk nya “Aku pergi dulu Mommy” Soo Ji mencium pipi Tiffany yang menimbulkan bunyi dan meninggalkan bekas lipsgloss nya disana “Semoga Daddy cepat pulang agar Mommy tidak kesepian lagi”  goda Soo Ji.

Tiffany mencubit pipi Soo Ji, mereka saling merangkul turun kebawah untuk menemui Joon yang sudah lama menunggu “Maaf sudah lama menunggu” ucap Soo Ji ketika dia berdiri dihadapan Joon.

Joon berdiri dan membungkuk pada Tiffany “Kalau begitu aku meminta izin untuk membawa Soo Ji pergi dulu Aunty” Joon tersenyum kearah Tiffany yang memasang wajah flat.

“Bawa kembali putriku tepat waktu. Arraseo?” tukas Tiffany, masih belum ada senyum diwajahnya.

Arraseo. Kalau begitu kami pergi dulu” Joon membungkuk sekali lagi. Soo Ji melambaikan tangannya pada Tiffany yang tidak mengantarnya sampai depan pintu, sesuai permintaan Soo Ji.

 

Joon berjalan sembari mengintip kearah Soo Ji “Ini pertama kalinya aku melihat mu mengikat rambut” setengah rambut Soo Ji diikat dengan rapih membuatnya terkesan seperti gadis anggun “Kau cantik”

“Oh” Soo Ji tersipu mendengarnya. Wajahnya tiba tiba memanas, dia yakin wajahnya sudah memerah sekarang.

Ketika mereka sudah berada didepan mobil ferrari milik Joon, Soo Ji kecewa ketika melihat Hara sudah duduk dengan mantap dijok samping kemudi. Hara memang sangat dekat dengan Joon, Joon selalu memujinya karena Hara pandai memasak, terkadang terbesit rasa cemburu dihati Soo Ji, tapi dia menampiknya karena dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Joon.

Sebelum Joon membukakan pintu untuknya, Soo Ji menarik pintu jok belakang dengan kasar. Dia tidak menghiraukan Joon yang masih berdiri dibelakangnya. Soo Ji melemparkan tubuhnya dengan kesal disamping Jung Woo yang sedang menatapnya. Tidak lama kemudian Joon sudah berada dibelakang roda kemudi.

“Noona, kenapa kau sangat lama? Apa kau memasang bulu mata palsu dulu?” Jung Woo tertawa sambil memegang perutnya.

Soo Ji memukul lengannya, lalu menunjuk Jung Woo dengan jari telunjuknya “Shut up” kata Soo Ji, suaranya terdengar jengkel.

Jung Woo langsung menghentikan tawanya dan duduk dengan tenang. Dia tahu karakter Soo Ji yang tempramental seperti Tiffany, dari pada dia harus menerima banyak pukulan lagi lebih baik Jung Woo diam.

 

***

“Kau senang? Kami menuruti kemauanmu?” tutur Joon pada Hara disela kunyahannya. Mereka pergi kerestoran Italia favorite Hara untuk makan lasagna, makanan favorit Hara juga.

Hara menganggukan kepalanya “Sangat senang. Terimakasih Oppa” Hara tersenyum senang kearah Joon.

Joon membalas senyuman Hara “Habiskan” nada suaranya penuh dengan perintah.

Soo Ji begitu tidak nyaman dikursinya, dagunya bersandar dengan nyaman disatu tangannya dan tangannya yang lain mengaduk aduk lasagnya didepannya.

“Kau tidak menyukai lasagna nya?” tanya Joon yang melihat Soo Ji hanya mengacak acak lasagnanya.

“Tidak”

“Apa ingin pesan makanan yang lain?” tanya Joon lagi.

“Tidak” hanya itu yang Soo Ji ucapkan, seperti kaset yang diputar berulang ulang.

Joon bingung harus menyikapi sikap cuek Soo Ji bagaimana, sejak masuk kedalam mobil dan sampai di restoran, mood nya tidak bagus. Entah apa yang membuatnya seperti itu.

Joon memandang Soo Ji sebentar, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke Hara yang sedang makan dengan lahapnya.

Hara mengangkat kepalanya dan mendapati Joon yang sedang menatapnya, Hara pun balik menatap mata nya. Joon mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa makanan yang menempel disudut bibir Hara. Hara tidak nyaman dengan perlakuan Joon sehingga pandangannya dengan cepat meninggalkan mata Joon dan beralih menatap bagian wajah yang lain.

Mereka terkejut mendengar suara hentakan garpu yang menghantam piring dengan kuat “Aku ingin pulang” Suaranya penuh dengan kemarahan. Dia sudah tidak dapat menahan emosinya yang melonjak.

 

***

Tiffany berbaring dengan nyaman disofa panjang diruang tengah rumahnya. Ditangannya ada majalah fasion yang sedang dia baca.

Tiffany menajamkan pendengarannya, bunyi klik dipintu rumahnya dan derap kaki yang tak asing lagi ditelinganya. Itu suaminya, Choi Siwon. Tiffany pura pura acuh, dia sedang marah pada Siwon yang lebih mementingkan urusan kantor dari pada dirinya.

Dihari libur seperti ini, Tiffany merindukan Siwon yang sudah satu minggu lebih sibuk pulang malam dan membawa pekerjaan kerumah, membuat Siwon mengabaikannya.

Sentuhan hangat Siwon  menyentuh pipi Tiffany, tapi dia tidak bergeming “Aku kira kau tidak pulang” kata Tiffany dengan ketusnya.

Siwon yang duduk dilantai dan masih membelai pipi Tiffany tersenyum “Aku tidak bisa tidur tanpamu” bisik Siwon ditelinga Tiffany dan memberi kecupan kecil disana “Sudah selesai. Proyek baru di Jepang akan segera diproses”  sambung Siwon, memainkan rambut panjang Tiffany yang bergelombang dibagian bawahnya.

Tiffany menutup majalahnya “Jadi, kau akan pergi ke Jepang. Begitu?” Tiffany duduk dengan serius menjauhi Siwon.

Siwon beranjak dan duduk disampingnya “Tidak. Aku sudah bilang, aku tidak bisa tidur tanpa mu” Siwon mengambil tangan Tiffany dan meremasnya lembut. Siwon merindukan istrinya, sudah lama mereka tidak bermesraan.

“Benar?” rengek Tiffany layaknya anak kecil. Tiffany jika sedang berdua dengan Siwon kerap kali bersikap seperti anak kecil, melupakan bahwa mereka sudah memiliki empat putri.

“Iya. Kau takut sekali aku pergi” Siwon tersenyum dan satu tangan nya yang lain menyentuh wajah Tiffany.

Tiffany bersandar dibahu Siwon “Karena aku juga tidak bisa tidur tanpamu” bisik Tiffany dengan manjanya.

Siwon mencium rambut Tiffany “Aku merindukanmu”

Tiffany mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Siwon “Me too” gumamnya didepan wajah Siwon.

Siwon menarik dagu Tiffany untuk mencium bibir tipisnya, bibir Siwon mendarat dengan manis diatas bibir Tiffany. Siwon tidak hanya ingin mengecupnya, dia ingin lebih tapi-

BRAAAKKK!!!

Suara bantingan pintu mengejutkan mereka, dengan cepat Tiffany mendorong dada Siwon. Siwon melirik kearah pintu dan kembali menatap Tiffany. Mata mereka bertemu, Tiffany seakan dapat membaca apa arti tatapan itu.

“Itu pasti Soo Ji. Dia pulang lebih cepat” kata Tiffany.

Soo Ji berlari kecil melewati mereka dan naik kekamarnya dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Siwon terperangah melihatnya, biasanya putri sulungnya akan menyapa dengan riang jika melihat nya atau mengoda dengan seringaian jahilnya. Tapi ini dia berlalu begitu saja.

“Dari mana dia?” Tanya Siwon pada Tiffany.

“Pergi bersama Joon, Hara dan Jung Woo” jawab Tiffany, dia menyandarkan tubuhnya disofa.

Selanjutnya, yang Tiffany lihat. Siwon sudah berlari keatas mengejar Soo Ji, Tiffany hanya menghela nafas dengan kasar. Lagi lagi dia ditinggalkan, tapi kali ini bukan karena pekerjaan tapi karena putri mereka.

 

SOO JI POV

Aku membanting pintu ketika aku masuk kedalam rumah. Aku tidak perduli jika Daddy atau Mommy akan marah, karena aku masuk kedalam rumah dengan tidak sopan. Aku melihat Daddy dan Mommy diruang tengah tapi aku mengabaikan mereka yang sedang berdiskusi.

Aku masuk kedalam kamar dan membanting pintu lalu menguncinya. Beberapa detik kemudian pintu kamar ku digedor dengan kasar, aku terlonjak dan menghadap kepintu.

“Soo Ji, buka pintunya” Ya Tuhan, itu Daddy. Tapi aku tidak akan membuka pintunya, aku ingin sendiri.

“Maaf Daddy aku lelah dan ingin segera tidur” aku mencoba mengeluarkan suara ku senormal mungkin ketika berbicara, tapi Daddy sangat mengenalku, dia tahu aku, dia merasakan apa yang aku rasakan dan aku benci itu. Membuat aku sulit untuk berbohong pada Daddy.

“Jika karena laki laki itu, Daddy akan kerumahnya dan menghajarnya untuk mu” ucap Daddy, nada suaranya sangat serius. Wajahku memucat, bagaimana jika Daddy melakukan hal bodoh itu. Akulah yang malu nantinya.

Aku berdehem untuk menetralkan suaraku “Tidak Daddy, aku baik baik saja” aku tersenyum sangat dipaksakan. Walaupun Daddy tidak melihat, setidaknya dia dapat merasakan jika aku tersenyum, senyum palsu.

“Kau tidak bohongkan?” tanya Daddy terdengar sangat khawatir. Oh Daddy maafkan aku telah membuatmu khawatir. Aku merasa bersalah karena tidak dapat mengontrol emosiku dan membuat Daddy khawatir.

“Tidak Daddy. Pergilah istirahat, karena aku juga ingin istirahat” aku ingin Daddy segera pergi. Detik jam terdengar sangat jelas ketika Daddy tidak mengatakan apapun. Apa Daddy sudah pergi?

“Tidurlah, dan jangan memikirkan hal yang tidak penting. Arratchi?” oh ternyata Daddy masih disana, belum menyerah.

Arro. Good night big papa” kataku. Kami sering memanggil Daddy dengan sebutan itu karena dia menyukai panggilan tersebut.

Dengan itu aku mendengar suara langkah Daddy pergi menjauh, menjauh dariku, menjauh dari kamarku. Aku berjalan ketempat tidur, melempar sepatuku dengan asal, melepas coat dan melemparkannya kesembarang tempat. Aku menjatuhkan diriku diatas ranjang, kubenamkan kepala ku dibantal dan memejamkan mataku dengan rapat.

Tapi Joon yang memperlakukan Hara dengan manis berputar dikepala ku, aku membuka mataku cepat. Merasakan muak yang membuncah, lalu tanpa sadar aku berteriak dengan frustasi. Apa maksudnya dia mengajak ku pergi makan? Untuk memamerkan sikap manisnya dengan Hara kepadaku? Heol, aku tidak cemburu tapi aku marah. No, I’m not jealous. Hmm well, a little bit maybe.

Aku benci Joon, aku iri pada Hara..

Bahkan saat aku marah dan minta pulang, Joon tetap tidak peka. Mungkin benar, Joon tidak menyukaiku tapi menyukai Hara yang lebih unggul dariku. Gadis pintar, jago memasak, dan gadis yang anggun. Beda sekali dengan aku, aku tidak pintar tapi aku juga tidak bodoh, dapat dikatakan berada dirata rata. Aku tidak jago memasak seperti Hara dan aku juga bukan gadis anggun. Aku gadis kasar dan egois, aku sadar dengan sikap burukku.

Tapi aku lebih cantik dari Hara, apa Joon tidak melihat sisiku yang satu itu? Oke, Choi Soo Ji. Tidak semua pria menyukai gadis cantik, kau harus ingat itu. Aku memukul kepala ku dengan kesal, memang waktunya untuk melupakan Joon. Good bye Park Joon…

 

 

***

AUTHOR POV

“Yak Young Ji aah, kenapa kau mengajak kami lari pagi? Biasanya kau lari pagi bersama Daddy?” gerutu Soo Ji, nafasnya sudah terengah engah. Padahal mereka belum jauh berlari.

Young Ji menarik lengan baju kedua Unnie nya yang mulai berhenti berlari “Daddy tidak bangun ketika aku mengetuk pintun kamarnya. Tidak ada salahnya Unnie, ini sehat. Ayo lari lagi” Young Ji menarik kedua Unnie nya lagi. Soo Ji dan Eun Ji hanya menggeleng pasrah mengikuti kemauan Young Ji.

Mereka terus berlari kecil, sampai didekat sebuah taman kecil diperkomplekan itu. Mereka bertemu Joon, Hara dan Jung Woo yang sepertinya juga sedang lari pagi. Otomatis Soo Ji dan Eun Ji langsung memutar tubuh mereka.

Oh my god. Apa kita bisa pergi jauh dari mereka?” kata Eun Ji mencibir dengan sebal. Dia tidak ingin bertemu dengan pria perayu itu, sangat muak.

Ketika kakinya akan melangkah, Jung Woo sudah memanggilnya lebih dulu. Terlambat!!

“Sangat kebetulan bukan?” kata Jung Woo dengan senyum sumringahnya. Eun Ji memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya erat ketika mendengar suara penuh rayuan Jung Woo.

“Hai Joon Oppa, hai Hara Unnie, Hai Jung Woo Oppa” sapa Young Ji dengan ramah, dia melambaikan tangannya penuh semangat.

Joon, Hara dan Jung Woo mengangguk kecil dan tersenyum tipis membalas sapaan Young Ji.

Soo Ji bersikap layaknya orang asing, dia mengibaskan rambutnya dengan angkuh. Tidak menatap kesiapapun, dia membuang tatapannya kearah taman tanpa menghiraukan mereka yang sedang asik mengobrol.

Entah kapan, Joon dan Hara sudah berada didekat Soo Ji. Sedangkan Eun Ji, Young Ji dan Jung Woo berada tidak jauh dari mereka. Merasa seperti orang bodoh, Soo Ji berniat pergi tapi teriakan Joon membuat kepalanya menoleh kearah Joon.

“Awas” teriak Joon kuat. Dia menarik Hara yang hampir terserempet sepeda motor yang sedang lewat,  Joon menarik Hara kuat sehingga Soo Ji yang berada dekat Hara terpental, terjerembab ke aspal akibat ulah Joon yang sangat kuat. Sedangkan Hara aman berada di tangan Joon.

“Unnie” teriak Eun Ji dan Young Ji bersamaan. Dia melihat Soo Ji tersungkur diaspal kasar dengan rambut panjang yang menutupi wajah cantiknya.

Eun Ji, Young Ji dan Jung Woo berlari untuk membantu Soo Ji yang tidak berniat berdiri.

“Unnie gwencana?” tanya Eun Ji menyibak rambut Soo Ji yang menutupi wajahnya.

“Oh Tuhan. Unnie, siku dan lututmu berdarah” kata Young Ji panik. Dia mengangkat tubuh Soo Ji dibantu oleh Eun Ji.

“Aku ingin pulang” bisik Soo Ji lirih. Dia menggigit kuat bibir dalamnya, menahan tangis agar tangisnya tidak pecah.

Eun Ji dan Young Ji membawa Soo Ji pulang, mereka meninggalkan Joon, Hara dan Jung Woo begitu saja tanpa berpamitan.

Joon hanya menatap kepergian mereka tanpa berkata apapun, remasan ditangannya menyadarkan Joon bahwa ada seseorang didalam rangkulannya “Gwencana?” tanya Joon pada Hara dengan lembut. Hara mengangguk dengan wajah pucat.

“Hyung, kau keterlaluan” tegur Jung Woo pada Joon. Mereka mulai berjalan kembali kerumah Joon “Kau tidak mengatakan sepatah katapun pada Soo Ji Noona. Dia terluka, karena ulah mu” Jung Woo menghela nafas kasar “Kau lebih memilih menolong Hara ketimbang Soo Ji Noona yang benar benar memerlukan pertolongan”

Joon tertegun mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Jung Woo, dia melihat luka pada siku dan lutut Soo Ji, dia juga melihat ekspresi dingin pada wajah gadis itu. Entah kenapa jika ada Hara didekatnya, dia suka mengabaikan orang yang berada disekitarnya. Joon menyayangi Hara seperti dia menyayangi Yeon Ah. Mereka sudah dekat sejak kecil, bahkan saat Joon harus pindah ke Jepang, mereka tetap menjalin hubungan dengan baik. Joon menginginkan sosok adik perempuan dan Hara yang menginginkan sosok kakak laki laki membuat mereka semakin dekat. Itu kenapa dia lebih mementingkan Hara ketimbang Soo Ji, karena Hara adalah adiknya. Memang benar dia menyayangi Hara, tapi dia mencintai Soo Ji.

“Hara terlihat ketakutan tadi” gumam Joon. Perasaannya diliputi rasa bersalah yang amat dalam. Apa karena Hara juga yang membuat mood Soo Ji saat makan malam sangat buruk. Sikapnya pada Hara membuat Soo Ji marah? Benarkah itu? Apa Soo Ji memiliki perasaan yang sama padanya?

“Hara hanya shock. Sedangkan Soo Ji Noona terluka, berdarah Hyung, dia berdarah dan kau hanya mematung tanpa membantunya” Jung Woo marah pada Joon, suaranya naik satu oktaf.

Jung Woo berjalan meninggalkan Hara dan Joon dibelakangnya, terlihat sangat emosi. Jelas jelas Joon penyebab jatuhnya Soo Ji tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Joon. Menurut Jung Woo, Joon bukan pria yang bertanggung jawab.

 

***

Siwon dan Soo Ji sedang berada dihalaman belakang, dibawah payung tenda kuning besar. Siwon sedang menemani Soo Ji makan siang yang sangat telat karena ini sudah pukul tiga sore.

Tadi pagi ketika Siwon bangun tidur, dia mendengar tangis Soo Ji yang meraung raung. Soo Ji menangis karena siku dan lututnya terluka, tapi Siwon tidak percaya karena luka itu tidak parah, pasti ada sebab lain fikir Siwon. Dan dugaannya benar, Soo Ji tidak keluar kamar sejak pagi, bahkan sarapan dan makan siang yang diantar kekamarnya tidak disentuh sedikitpun dan Siwon mengajak kehalaman belakang, membujuknya makan dan akan mengorek informasi, apa yang terjadi pada putri sulungnya.

“Apa Daddy harus memesan makanan kesukaan mu?” Siwon bertanya sambil mengeluarkan ponselnya. Siwon melihat Soo Ji tidak berselera makan, dia hanya memainkannya saja sejak tadi.

Soo Ji berpaling dan menggeleng “Aku baik baik saja, Daddy”

Siwon tersenyum dan mengacak rambut Soo Ji “Kau tahu? ‘aku baik baik saja’ adalah kata kata yang paling sering digunakan orang yang sedang berada dalam keadaan sebaliknya”

Soo Ji cemberut mendengar kalimat itu “Baiklah Daddy, aku kacau” Soo Ji menopangkan dagu disatu tangannya.

Siwon mengangguk dengan ekspresi puas “Karena kau sedang kacau, Daddy siap menjadi teman mu. Ceritakan semuanya pada Daddy, hmm?” Siwon menumpukan kedua tangannya diatas meja.

Soo Ji tersenyum tipis mendengar ucapan Siwon. Ini senyuman pertama Soo Ji untuk hari ini “Apa Daddy bisa menjadi My Boyfriend juga?”

Siwon memukul kepala Soo Ji dengan sendok “Jangan mengalihkan pembicaraan, bukankan kita sudah menjadi partner cerita?”

Soo Ji memandang Siwon “Daddy” panggilnya, tapi matanya meninggalkan mata Siwon. Siwon hanya mengangguk pelan “Daddy” lirihnya “Joon tidak menyukai ku, Daddy” ucap Soo Ji sedih.

“Apa kau mengungkapkan perasaan mu padanya?” Siwon terlihat geram, tangannya mengepal diatas meja.

“Tidak” gumam Soo Ji, mereka saling berpandangan lagi “Semalam ketika dia mengajakku makan malam, Hara dan Jung Woo juga ikut bergabung. Aku kecewa, aku kira hanya kami berdua. Belum lagi sikapnya sangat manis pada Hara, rasanya aku ingin muntah jika mengingat kejadian semalam” raut wajah Soo Ji terlihat jijik saat dia bicara, dia menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum melanjutkan cerita “Dan luka ini, ini karena dia menolong Hara yang hampir tertabrak sepeda motor. Joon menariknya sangat kuat, hingga Hara menabrak tubuhku sampai aku terjatuh.  Tapi Joon tidak berniat menolong atau meminta maaf. Rasanya sakit sekali Daddy, bukan pada luka luka itu tapi disini” Soo Ji menggeleng lemah, sambil memegang hatinya. Dimana lukanya yang lebih sakit dari pada luka di lutut dan sikunya.

Siwon mengulum senyum mendengar kata demi kata yang Soo Ji ucapkan, putrinya sedang patah hati “Joon cinta pertamamu kan?” tanya Siwon hati hati.

“Hoh. Cinta pertama, cinta sepihak, cinta yang menyakitkan. Apalagi? Ah I don’t know” Soo Ji berteriak frustasi, mengacak rambutnya dengan kasar.

Siwon mengambil tangan Soo Ji dan menggenggam tangannya “Apa kau pernah dengar yang orang orang katakan, bahwa cinta pertama tidak akan berhasil” kata Siwon penuh penekanan disetiap kata katanya.

“Awalnya aku tidak percaya, tapi sekarang aku percaya” balas Soo Ji, dia menarik tangannya dari genggaman Siwon “Daddy, katakan padaku dengan jujur. Aku atau Hara yang lebih cantik?” tanya Soo Ji penuh antusias.

“Tentu kau sayang” Jawab Siwon dengan cepat.

“Ya, benar. Tapi Hara gadis baik, Hara juga pandai memasak dan dia gadis yang anggun tidak seperti aku. Mungkin Joon mencintai sifat Hara” Soo Ji cemberut. Siwon hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang menurut Siwon lucu. Soo Ji tampak perfikir sebentar “Daddy, apa pria menyukai wanita yang pandai dalam urusan dapur?” Soo Ji menumpukan tangannya dan mengerjapkan matanya beberapa kali menunggu jawaban Siwon.

Siwon tersenyum lebar “Tentu. Wanita terlihat seksi jika sedang didapur bertelanjang kaki. Daddy sangat suka jika Mommy sedang sibuk didapur dan tanpa alas kaki” Siwon tersenyum konyol membayangkan Tiffany.

Soo Ji memukul tangan Siwon yang sedari tadi tersenyum seperti orang bodoh “Apa aku harus belajar memasak juga, Daddy. Agar Joon menyukaiku?”tanya Soo Ji, suaranya penuh dengan keraguan.

“Tidak, tidak perlu. Seorang pria jika jatuh cinta pada wanita, dia akan menyukai wanita tersebut apa adanya. Tidak hanya kelebihannya, dia juga menerima kekurangannya. Well, jadilah dirimu sendiri. Jangan berubah menjadi orang lain hanya karena ingin dicintai. Apa kau mengerti?” Siwon tersenyum prihatin ketika melihat ekspresi Soo Ji meredup.

 

***

Siwon masuk kedalam perpustakaan rumahnya, dimana biasanya Siwon dan Tiffany mengerjakan pekerjaan mereka dirumah. Siwon melihat Tiffany yang sibuk didepan laptop dengan pensil yang terselip dijari jari lentiknya.

Tiffany mendengar pintu dibuka tetapi dia hanya mengintip sebentar, lalu beralih ke laptopnya.

Siwon memeluk Tiffany dari belakang dan mengecup pipi nya dengan penuh kasih sayang “Kau masih sibuk? Aku kesepian menunggumu dikamar” Siwon membenamkan kepalanya dileher Tiffany, menghirup aroma favoritnya disana.

Tiffany melihat portable clock yang berada di atas meja, sudah pukul sepuluh “Begitulah aku ketika menunggumu” balas Tiffany ketus, jari jari lentiknya masih menari diatas keyboard laptopnya.

“Ah, jadi ini semacam balas dendam” Siwon menarik kursi lain dan duduk disamping Tiffany.

Tiffany berpaling dan tersenyum “Tidak sayang, aku benar benar sibuk” tangannya terangkat menyentuk wajah Siwon yang sedikit kasar karena bulu bulu halus yang mulai tumbuh disekitar wajahnya.

Siwon menggenggam erat tangan Tiffany yang berada di pipinya dan mencium telapak tangannya “Apa kau sibuk merancang pakaian musim dingin?” tanya Siwon penuh perhatian.

“Ya, itu yang sedang kami sibukkan” Tiffany menarik tangan Siwon, menggenggamnya dan meletakkannya diatas pangkuan “Bulan depan aku akan menghadiri  acara Christian Dior Boutique Opening di Hongkong. Kami mendapat undangan tersebut” kami yang Tiffany maksud adalah dia dan Yoona, mereka baru mendapatkan undangannya hari ini.

“Jadi kau akan pergi?” tanya Siwon, menekan mulutnya menjadi garis keras.

“Sepertinya, kau tahu kan Yoona memiliki tiga balita. Tidak mungkin dia meninggalkan anak anaknya, bukan?” Tiffany tahu Siwon tidak akan mengizinkan dia pergi  walau hanya satu hari. Tapi Tiffany tetap ingin pergi, karena kesempatan ini tidak datang dua kali.

“Berapa hari kau akan pergi ke Hongkong?” tanya Siwon pada Tiffany. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tangan yang masih bertautan, saling meremas.

“Tiga hari” jawab Tiffany hati hati.

“Apa aku boleh ikut?” Siwon tersenyum jahil kepada Tiffany.

Tiffany memukul dada Siwon “Kau harus bekerja, bodoh” bibirnya menipis membentuk senyum kecil “Lagi pula jika kau pergi bersamaku, anak anak tidak ada yang mengawasi”

“Ya, pergilah” Siwon mengacak rambut Tiffany. Siwon tidak ingin Tiffany pergi. Tapi, Siwon melihat dari sorot matanya, Tiffany ingin sekali pergi. Lagi pula hanya tiga hari dia pergi ke Hongkong, bukan satu bulan.

“Kau mengizinkan aku pergi?” mata Tiffany berbinar, memancarkan kebahagiaan yang membuncah.

“Hoh” gumam Siwon setengah hati.

Tiffany melompat duduk dipangkuan Siwon dan memeluk lehernya erat “Terimakasih, sayang” Tiffany menghujani Siwon dengan kecupan kecupan basah dan manis dipipinya. Siwon menggeleng dan tersenyum, Tiffany terkadang menjelma menjadi anak umur lima tahun jika sedang merajuk atau keinginan nya terpenuhi. Tapi, jika didepan anak anak dia bersikap layak nya Ibu dan istri dewasa yang tegas, satu lagi tukang marah dan pengomel. Siwon tidak hanya mencintai paras istrinya, semuanya yang ada pada Tiffany dia menyukainya.

 

 

 

***

“Yak, Choi Soo Ji. Kenapa kau lama sekali, hoh?” Nana memukul bahu Soo Ji dengan geram. Mereka berada di toilet, Soo Ji sedang merapikan kekusutannya setelah belajar tujuh jam dikelas tanpa jam istirahat. Soo Ji dan Nana akan pergi bersenang senang setelah ini, itu kenapa Soo Ji merapikan dirinya karena dia selalu ingin terlihat cantik.

“Kau duluan saja, tunggu aku di mobil” Kata Soo Ji penuh perintah.

Beginilah jika Nana membawa mobil ke sekolah, mereka tidak langsung pulang kerumah. Ada saja tempat yang harus mereka datangi. Nana sendiri adalah anak dari seorang dokter bedah terkenal di Korea, kakeknya pemilik rumah sakit ternama di Seoul. Ya, kalian tahu sendiri betapa kaya nya dia.

Keundae, Soo Ji aah. Apa kau sudah meminta izin pada Fany Imo?” tanya Nana, dia takut pada Tiffany sejak kejadian mereka membolos waktu itu.

“Sudah, aku bilang padanya jika aku ada tugas kelompok” kata Soo Ji santai sambil menyisir rambut panjangnya.

Nana menarik bahu Soo Ji agar melihat kearahnya “Kau berbohong. Aku tidak ingin Fany Imo marah marah padaku lagi” Nana bergidik mengingat Tiffany yang mengomel padanya.

Soo Ji terkekeh “Tenang saja, kali ini kita tidak bolos” Soo Ji berpaling menatap cermin besar dihadapannya lagi.

“Fany Imo seperti nenek sihir jika sedang marah” Soo Ji berbalik menatap Nana “Angry Mom” teriak Soo Ji dan Nana bersama sama, lalu mereka tertawa terbahak bahak. Angry Mom julukan yang Soo Ji berikan pada Tiffany dan Nana sangat setuju dengan julukan itu.

“Soo Ji aah, aku menunggu mu di mobil. Jangan lama lama, arraseo?”

“Sip” Soo Ji mengacungkan ibu jarinya kepada Nana dan sahabatnya itu mulai berjalan keluar toilet.

 

 

“Chaa selesai” Soo Ji menegakkan bahu dan merapikan baju seragamnya. Tidak ingin Nana menunggu lebih lama lagi Soo Ji berjalan keluar toilet.

Soo Ji sedikit berlari, tapi bunyi ponselnya membuat langkah nya melambat. Pasti Nana yang menelpon tebak Soo Ji. Soo Ji menarik ponsel dari sakunya, alis nya berkerut melihat caller id nya “Park Joon” ucap Soo Ji dalam hati. Tidak berniat untuk menjawab nya, Soo Ji memasukkan kembali ponsel kedalam saku kemeja seragam sekolahnya dan berjalan lagi.

Langkah Soo Ji terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya “Kau?” kata Soo Ji terperangah melihat siapa orang yang ada dihadapannya.

“Hai” orang yang berada didepannya, melambaikan tangan dengan senyum mempesona miliknya.

“Menyingkirlah, Park Joon” pinta Soo Ji dengan suara dingin. Dia tidak ingin menatap wajah pria itu lagi, tidak ingin berada dekat dengan pria itu lagi. Tapi, jantungnya tidak berpihak padanya. Jantungnya masih berdebar dan nyaman berada didekatnya. Soo Ji menggeleng, dia harus melawan apa yang ada didalam hatinya, sebelum dia tersakiti lebih jauh.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?” tanya Joon.

Karena kau jahat. Soo Ji tidak menjawab, tangannya menggenggam erat rok nya karena gugup.

“Kau marah?” tanya Joon lagi. Dia menatap wajah Soo Ji, Joon merindukan gadis angkuh ini.

Aku sangat marah padamu Park Joon “Tidak” Soo Ji mengangkat dagunya dengan angkuh, tapi tidak menatap wajah Joon, matanya menatap kearah lain.

“Mau pulang dengan ku?” Soo Ji menautkan alisnya, tidak mengerti dengan sikap Joon. Kemarin dia bersikap acuh dan sekarang berdiri dihadapannya tanpa ragu ragu, seakan tidak ada masalah diantara mereka.

“Maaf, aku sudah memiliki janji” Soo Ji berjalan kesamping Joon. Tapi, Joon lagi lagi menghalangi jalannya.

Soo Ji mendongakan kepalanya melihat Joon yang berada beberapa senti diatasnya “Park Joon, aku buru buru. Menjauhlah” Joon terkejut mendengar bentakan Soo Ji yang serius. Apa lagi ketika Soo Ji memanggilnya Park Joon, sangat asing. Karena biasanya, Soo Ji memanggil nya Joon.

“Aku akan berteriak jika kau tidak mau menyingkir” ancam Soo Ji yang melihat Joon tidak berkutik dihadapannya.

Dengan enggan, Joon berjalan kesamping beberapa langkah. Tanpa ragu ragu, Soo Ji meninggalkan Joon yang berdiri mematung tanpa berniat untuk melihat kebelakang. Soo Ji terus berjalan menjauh sebelum berubah fikiran.

 

***

“Mommy pulang” seru Tiffany saat masuk kedalam rumahnya. Mengganti high heels dengan sandal rumah yang nyaman.

Tiffany berhenti diruang keluarga, dimana anak anaknya sedang menonton TV “Daddy sudah pulang?” tanya Tiifany, ikut bergabung bersama mereka. Dia memijat kakinya yang terasa pegal.

“Baru saja” jawab Eun Ji seadanya.

Tiffany menatap anak anaknya. Eun Ji, Young Ji, Lauren. Tiffany mengabsen putrinya, siapa yang tidak ada? Oh Tuhan Soo Ji “Dimana Soo Ji?” Tanya Tiffany panik yang tidak melihat Soo Ji.

“Unnie belum pulang. Mommy, memang ada sekolah yang pulang selarut ini?” Young Ji melihat jam yang bertengger ditangan kirinya, sudah pukul enam tapi Unnie nya belum pulang dari sekolah.

“Keterlaluan sekali dia” marah Tiffany mengabaikan pertanyaan Young Ji. Dia merogoh tas nya, mengambil ponsel. Tadi siang Soo Ji mengirim pesan bahwa dia ada tugas kelompok dan akan pulang pada pukul empat sore. Tapi, ini sudah pukul enam belum pulang juga.

Tiffany geram ketika teleponnya tidak diangkat oleh Soo Ji “Lauren, tolong ambilkan Mommy rotan dikeranjang payung didekat  dapur” pinta Tiffany pada Lauren. Dia masih mencoba menelpon Soo Ji.

“Apa Mommy akan memukul Soo Ji Un-“

“Ambilkan saja Lauren” potong Tiffany cepat.

Lauren berjalan kearah dapur dan kembali membawa rotan sepanjang 30cm. Dia memberikannya pada Tiffany. Eun Ji dan Young Ji saling bertatapan, apa Tiffany akan memukul Soo Ji dengan rotan itu?

Kecemasan mereka memuncak ketika mendengar bunyi klik pada pintu “Nah itu pasti dia” kata Tiffany. Dia melempar blazer yang meninggalkan white blouse tipis yang sudah basah oleh keringat yang menampakkan bra hitam ditubuhnya.

“Choi Soo Ji. Jam berapa sekarang?” tanya Tiffany dengan suara tinggi, ketika Soo Ji sudah berada didepannya.

Soo Ji melihat jam ditangan kirinya “Jam enam” jawabnya takut takut. Dia tahu, dia telat pulang kerumah. Pergi bersama Nana selalu membuatnya lupa waktu.

“Kau mengingkar janji”

PLAAAK!!

Tiffany melayangkan pukulan pertama di atas ransel Soo Ji. Tiffany tidak punya keberanian untuk memukul putrinya. Tangannya gemetar memegang rotan tersebut.

Eun Ji, Young Ji dan Lauren hanya menutup mulutnya rapat rapat. Sesekali melihat iba kearah Soo Ji yang sedang dimarahi oleh Tiffany.

“Kau tidak berbohong kan Soo Ji?” tanya Tiffany, suaranya turun satu oktaf.  Soo Ji hanya menggeleng pelan “Jawab Soo Ji, gunakan mulut itu” teriak Tiffany. Semua yang ada disana memegang dadanya, terkejut.

“Tidak Mommy” desis Soo Ji ketakutan. Dia menunduk memilin jari jarinya, matanya memilih untuk melihat lantai saja.

Tiffany memicingkan matanya melihat ransel Soo Ji yang begitu penuh dan terlihat sangat berat “Apa isi dalam ransel itu? Kenapa begitu penuh?”

Soo Ji menelan liur nya dengan susah payah, menggenggam erat tali ranselnya “Ti..dak ada” balas nya dengan suara terbata bata. Dia mundur satu langkah.

“Berikan ranselnya” pinta Tiffany. Dia menjulurkan tangannya dengan telapak tangan diatas, meminta pada Soo Ji agar ranselnya diberikan padanya. Karena Soo Ji terlihat mencurigakan.

“Jangan” Soo Ji mundur satu langkah lagi, kepalanya menggeleng kuat.

Wae?” Tiffany kesal dengan tingkah putrinya yang membuat dia penasaran. Apa sih isi ransel itu? Sehingga dia ketakutan ketika aku meminta nya?

Tiffany berjalan mendekati Soo Ji dan otomatis Soo Ji mundur menjauhi Tiffany. Dengan sigap Tiffany meraih ransel Soo Ji. Ransel nya sangat berat ketika Tiffany mengambilnya.

Soo Ji mempererat pegangan pada tali ranselnya “Lepaskan Soo Ji” perintah Tiffany dengan suara serak karena menahan amarah nya. Soo Ji tidak bergeming, dia masih menggenggam erat tali tas nya “Choi Soo Ji” peringatan terakhir dari Tiffany dengan suara tinggi.

Soo Ji menyerah, dia tahu Ibunya tidak akan menyerah. Tiffany mengambil ransel itu dan kembali duduk disofa. Di buka nya ransel Soo Ji dan terkejut banyak pakaian pakaian baru didalamnya, ada juga sepasang sepatu cantik berwarna pink dengan hak yang tidak begitu tinggi.

Tiffany menatap Soo Ji dengan tatapan mematikan “Kau tidak pergi untuk mengerjakan tugas kelompok, kau pergi shoping. Pasti bersama Kim Nana.” Tiffany terlihat tersinggung, bisa bisanya dia dibohongi oleh anak nya sendiri. “Dan kau mendapatkan uang dari mana? Belanja sebanyak ini.” Tiffany tidak pernah memberikan anak anaknya uang jajan sebanyak itu walaupun dia mampu memberikannya. Karena Tiffany ingin mengajarkan anak anaknya hidup dengan berhemat tanpa berfoya foya.

Soo Ji mengangkat kepalanya dengan berani menatap mata Tiffany yang melotot padanya “Grammy. Grammy yang memberi ku kartu kredit” balas Soo Ji setengah berteriak, suaranya begitu lancar tanpa tersendat sendat.

Ne?” Tiffany terkejut. Mata nya semakin melebar seakan akan keluar dari tempatnya “Berikan kartu kredit itu?”

“Mommy” pinta Soo Ji. Ibunya selalu saja mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.

“Berikan Soo Ji, kau belum bisa mengatur keuanganmu sendiri. Kau hanya akan menghambur hamburkan uang” Soo Ji memang pernah meminta kartu kredit pada Tiffany. Tapi, Tiffany tidak memberikannya dan dia melupakan satu hal, jika Soo Ji bisa mendapatkan nya dari Siwon atau Ny.Choi yang selalu mengabulkan permintaannya.

“Lalu kenapa jika aku menghambur hamburkan uang? Itu juga bukan uang Mommy, itu uang Grammy” gerutu Soo Ji kesal. Tangannya terkepal disisi tubuhnya.

Ada perasaan sedih dihati Tiffany ketika Soo Ji mengatakan kalimat itu, apalagi Soo Ji mengatakannya dengan berteriak padanya “Ya, itu memang uang Grammy. Tapi kau anak ku, aku yang berhak memberi atau tidak memberi apa yang kau inginkan” suara Tiffany terdengar dingin.

Soo Ji melihat dari mata Tiffany yang terluka karena ucapannya. Merasa tidak enak akhirnya Soo Ji menunjuk kearah tas nya dimana dia menyimpan kartu kredit dalam dompetnya.

Tiffany mengambilnya “Masuk kekamar dan mandi” perintah Tiffany pada Soo Ji dan berlalu meninggalkan anak anaknya. Naik keatas menuju kamarnya dengan hentakan hentakan kaki yang kuat.

Soo Ji berjalan menuju sofa untuk mengambil ranselnya, matanya bertemu dengan mata Lauren yang menatapnya dengan iba “Apa yang kau lihat? Aku tidak butuh belas kasihan dari mu, bocah” marahnya. Soo Ji merapikan isi ranselnya, memasukkannya dengan asal. Lauren hanya menunduk ketika melihat mata Soo Ji yang penuh kemarahan padanya.

 

***

SIWON POV

Sudah lama sekali tidak berendam air hangat seperti ini, aku pulang dari kantor lebih cepat karena butuh penyegaran. Sangat penat, bosan dan muak dikantor hari ini.

Biasanya aku selalu mandi dengan cepat karena kelelahan sepulang bekerja tapi hari ini aku memiliki waktu untuk berendam. Aku juga sudah lama tidak berendam bersama istri tercintaku, Tiffany. Biasanya kami sering berendam bersama, saling menggosok punggung satu sama lain dan… you know what I mean lah. Aissh aku benar benar merindukan istriku.

Aku mendengar samar samar teriakan dibawah. Itu pasti Tiffany. Apa dia tidak lelah pulang dari bekerja langsung memarahi anak anak seperti itu. Hebat dia masih memiliki energi untuk berteriak setelah tenaga nya terkuras seharian ini. Oh, dia benar benar wanita yang kuat.

Aku sengaja tidak mengunci pintu kamar mandi dan membuka sedikit pintunya untuk menggoda Tiffany agar mau ikut bergabung bersama ku di bathtub. Tapi sepertinya mood nya sangat buruk, apa dia akan memarahi aku juga? Karena biasanya jika Tiffany marah pada satu orang, semuanya terkena imbasnya. Dia wanita galak, tukang mengomel tapi aku mencintainya.

Itu pasti dia. Aku mendengar bantingan pintu kamar dan derap kakinya masuk kedalam kamar mandi. Aku memejamkan mataku, pura pura tidak mendengar kedatangannya. Wow, langkah kakinya semakin dekat. Dan yang aku rasakan selanjutnya adalah rambutku terasa akan lepas dari kulit kepala ku. Tiffany menarik rambutku dengan sekuat tenaga yang dia punya.

“Yak!! Tiffany lepaskan. Sakit sekali” aku mencoba menarik tangannya yang berada dirambutku, tapi nihil, cengkramannya semakin kuat. Apa yang terjadi? Kenapa dia begitu marah padaku? Hilang sudah harapan untuk bermesraan bersama Tiffany, lihat saja sekarang. Dia sudah seperti orang kesetanan menarik rambutku seperti ini.

“Rasakan. Apa lagi yang kau rahasiakan dariku, hoh?” dia mendekatkan wajahnya didepan wajahku. Sampai aku merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Aku menatap wajahnya dengan make up simple namun sangat cantik dan seksi. Dan yang membuat aku terpesona adalah dia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, membuat leher nya terekspos sangat jelas. Aku menelan ludah dengan susah payah.

Rahasia? Apa yang sedang dia bicarakan “Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan?” Tiffany menguatkan cengkramannya dirambutku, membuat aku mengerang kesakitan.

“Pertama, Soo Ji sekolah mengemudi dan aku tidak tahu. Kedua, dia memiliki kartu kredit dan aku juga tidak tahu. Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Siwon?” teriak Tiffany frustasi, mukanya memerah karena marah. Aku menahan nafasku yang akan aku hembuskan.

“Kau selalu melarangnya, itu kenapa aku selalu merahasiakannya darimu” kataku tegas “Apa masalahnya dengan kartu kredit itu? Kau marah seperti ini karena kartu sialan itu? Tsk..” aku menarik lepas tangan Tiffany dari rambutku dengan kasar dan terlepas. Rasa perih dikulit kepalaku mulai menjalar.

Tiffany masih menunduk didepan wajahku, tangannya bergerak mencengkram otot lengan ku. Meremasnya dengan kuat “Dia putriku. Aku ingin mengajarinya untuk tidak menghambur hamburkan uang” dia membentakku, matanya memerah. Apa dia akan menangis, oh jangan. Itu kelemahanku.

“Dengarkan aku. Aku sangat kaya Tiffany, ingat itu. 21 abad hartaku juga tidak akan habis, jadi tidak ada salahnya jika Soo Ji menghambur hamburkan uang. Karena itu tidak akan membuatku bangkrut” ucap ku dengan nada sarkatis. Sebenarnya kartu kredit itu dariku tapi aku meminta Soo Ji merahasiakannya jika ketahuan nanti. Tapi tetap saja aku juga terkena amarah Tiffany sekarang.

“Cih pria sombong” Tiffany melemparkan tatapan tidak suka padaku “Kau selalu memanjakan putrimu, dan itu berdampak tidak bagus untuknya”

“Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak anak ku” bisikku dengan lembut didepan bibirnya yang hanya berjarak beberapa inci dari mulutku.

Tiffany mencibir dan memukul dadaku kuat, dia berdiri dan pergi dari hadapanku tapi dengan gerakan cepat aku menarik tangannya dengan kuat sehingga tubuhnya terlempar kedalam bathtub diatas tubuhku. Air dengan banyak busa terpecik kemana mana. Tiffany menjerit karena terkejut tapi dia tidak menolak untuk bergabung. Aku tahu yang kau mau adalah yang ku mau Tiffany Choi, aku menyeringai kearahnya ketika menarik tubuhnya dan membersihkan busa yang menutupi wajah cantiknya. Dan lagi lagi dia tidak menolak, Yeas!!!

 

TIFFANY POV

Tidak bisa disangkal, aku tergoda saat masuk kedalam kamar mandi dan melihat priaku sedang berendam didalam bathtub. Rasanya aku ingin bergabung dengannya saat itu juga, melemparkan tubuhku padanya. Tapi tidak sekarang, aku menggelengkan kepalaku, mengesampingkan keinginan ku yang satu itu. Aku mempunyai masalah lain dengan nya, aku marah, aku kecewa dan aku merasa bodoh sebagai Ibu dan Istri.

Apa lagi mendengar ucapan Soo Ji tadi, membuat hatiku mencelos. Apa dia tahu kalau aku adalah seorang gadis miskin sebelum menikah dengan Siwon. Ya, aku adalah seorang anak tunggal dari pria pemilik toko bunga sederhana. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur lima tahun dan Daddy lah yang selalu mencukupi kebutuhanku. Aku tahu betapa kerasnya dia bekerja, betapa susahnya mandapatkan uang dari penghasilan toko bunganya. Daddy selalu ingin merawat tanaman tanaman bunga yang cantik, dan dia memiliki kebun mawar yang indah dan luas. Karena Daddy bilang, Mommy sangat menyukai bunga mawar, Daddy sangat mencintai Mommy. Itu yang aku tahu karena sampai sekarang Daddy tidak berniat untuk menikah lagi.

Kenapa aku sangat marah ketika anak anak ku menghambur hamburkan uang? Bukan karena aku merasa iri pada mereka. Aku dulu memang tidak bisa seperti anak anak ku yang selalu meminta ini dan itu, apa yang mereka inginkan mereka akan mendapatkannya. Aku tidak seperti itu dulu, tapi aku tidak merasa iri. Aku hanya ingin mengajari mereka betapa susahnya mencari uang, harus mengorbankan waktu bersama keluarga, menguras tenaga dan fikiran hanya untuk mendapatkan kekayaan berlimpah. Aku ingin mereka mengerti bahwa uang digunakan bukan untuk keinginan kita tapi untuk kebutuhan. Bahkan sampai sekarang aku jarang membeli tas, sepatu dan pakaian pakaian mahal. Siwon dan Ny.Choi lah yang sering membelikan barang barang yang hanya akan tersimpan rapi dilemari. Karena biasanya mereka hanya memakai satu kali, itulah yang biasa orang orang sosialita lakukan. Membeli, memakai dan menyimpannya begitu saja. Bukannya itu membuang buang uang?

“Hei.. Kenapa kau menangis? Tiffany..” dia menarik wajahku saat sadar air mataku jatuh. Bahkan aku tidak menyadari air mataku jatuh begitu saja. Ya Tuhan, demi apapun aku sangat menyukai suara pria ini. aku sangat suka ketika dia memanggil namaku.

Air mataku jatuh lebih deras, tanpa aku tahu kapan akan berhentinya “Bisakah kau memberi aku waktu satu menit untuk aku menangis?” pintaku dengan suara bergetar. Dan Siwon mengangguk patuh.

Aku menggigit bibirku agar isakan tidak keluar dari mulutku, aku merasakan tangan Siwon naik turun dilengan ku. Dia berada dibelakangku dan aku bersandar didada bidangnya, kami berada didalam bathtub dan entah kapan aku sudah melucuti semua pakaianku yang sekarang sudah tergeletak dilantai. Astagaa!! Aku begitu terlena hanya menatap mata pria ini.

“Apa sudah lebih baik?” Tanya Siwon memecah keheningan didalam kamar mandi. Tangannya masih bekerja dilengan ku, menenangkan aku. Aku mengangguk pelan, menghapus semua air mata yang jatuh dipipiku.

“Maaf, jika perkataanku melukai hatimu. Aku tidak bermaksud-“

Aku mencela ucapannya dengan cepat “Tidak, Siwon. Kau benar. Itu uang mu, kau berhak memberikan apapun yang mereka inginkan. Aku tidak akan melarangnya mulai sekarang. Lakukan apa yang kau inginkan” gumamku.

“Jangan seperti itu” katanya, memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan menahan tatapanku kearah tatapannya “Aku tidak ingin kehidupan seperti itu. Aku ingin kehidupan kita bersama sama. Uang ku adalah uang mu juga, uang kita”

Aku berkedip kearah nya dan tersenyum pahit “Tidak, Siwon. Itu uang mu. Aku bahkan tidak membawa apapun ketika menikah dengan mu. Walaupun aku sudah menikah dengan seorang CEO yang kaya raya, aku tetaplah gadis miskin. Itu tidak akan berubah”

Siwon mengeram, dia marah dan aku tahu itu “Tiffany, aku fikir kita sudah mengusir semua permasalahan ini sejak awal pernikahan. Kenapa sekarang kau mengungkitnya?” suaranya terdengar kesal dan dingin padaku.

“Aku tidak mengungkitnya, aku hanya mengingatkan sebuah fakta yang tidak bisa dihindari bahwa aku adalah gadis miskin itu” ucap ku pelan. Aku melepaskan tangannya diwajahku dan beranjak keluar dari bathtub. Tapi tangan kekar Siwon menarik pinggangku dengan kuat membuat aku kembali bersandar didadanya.

Dia memutar tubuhku untuk menghadap kearahnya “Aku tidak perduli dengan gadis miskin. Yang aku tahu kau adalah istriku sekarang, Tiffany. Kau tidak bisa mengelak lagi karena yang aku punya adalah punyamu juga. Kita hidup bersama, memiliki kehidupan bersama, merawat buah hati kita bersama. Jadi, semua yang kita miliki adalah milik kita bersama. Jangan mengungkit masalah itu lagi hmm? aku benci itu”

Aku tidak bisa menolak apapun ketika pria ini meminta dan memohon. Sekalipun aku tengah marah padanya. Aku tidak ingin dia lebih marah padaku, dia bisa saja bermain kasar jika emosinya sedang berapi seperti ini. sebaiknya aku mengalah padanya. Kami memang sudah berjanji tidak akan mengungkit soal kekayaan yang Siwon punya tapi aku mengungkitnya sekarang yang membuatnya sangat marah.

“Ya” aku tersenyum.

“Bagus” dia membungkuk dan menciumku, merangkulku kedalam pelukannya. Saat saat ini adalah yang aku rindukan, yang begitu menyenangkan berada dipelukannya dan begitu romantis dan ya sedikit erotis. Berada didalam bathtub bersama Choi Siwon tanpa sehelai benangpun membuat gairah ku membuncah. Ya, Tuhan hanya Siwon yang membuat aku selalu mengininkan lebih dan lebih.

 

***

AUTHOR POV

“Eun Ji, ini untuk mu” Soo Ji melemparkan kemeja berwarna putih kepangkuan Eun Ji. Mereka berada di kamar Soo Ji sekarang, duduk dengan santai ditempat tidur Soo Ji yang penuh dengan pakaian pakaian yang tadi dia beli bersama Nana.

“Unnie. Ucapan mu tadi menyakiti Mommy, dia terlihat terluka ketika kau melontarkan kata kata itu” kata Young Ji membuka percakapan, dia kesal sedari tadi Soo Ji hanya mengoceh tentang dia pergi bersama Nana. Padahal satu jam yang lalu Tiffany baru saja memarahinya, tapi tidak terlihat raut wajahnya yang memancarkan kesedihan atau penyesalan. Dia bersikap layaknya tidak terjadi apapun tadi. Daebak!!

Soo Ji sedikit berfikir, dia juga menyadari itu tapi dia tidak perduli dengan yang sudah dia ucapkan pada Tiffany karena semuanya benar “Aku tidak mengatakan hal yang salah, ucapanku sepenuhnya benar” elak Soo Ji membela diri. Dia mulai merapikan pakaian yang berserak ditempat tidurnya.

“Tetap saja, Unnie tidak boleh mengatakan hal itu.” Young Ji meringis.

“Aku tahu Mommy iri padaku, karena saat muda dulu dia tidak seperti aku yang dengan mudahnya mendapatkan apa yang aku inginkan” ucap Soo Ji dengan gaya angkuhnya. Mereka sudah tahu fakta masa lalu kedua orang tuanya dari Tn.Hwang dan Ny.Choi membenarkan ketika mereka menanyakan kembali pada Grammy nya.

“Unnie kenapa kau berfikir seperti itu?” Young Ji marah pada Soo Ji “Mommy bersikap begitu karena dia tidak ingin anak anaknya menjadi anak manja yang hanya bisa menghambur hamburkan uang orang tuanya. Dia ingin memberitahu kita bahwa mendapatkan uang tidak semudah kau menghamburkannya, Unnie. Dia tidak ingin kita menjadi anak anak yang sombong hanya karena harta yang dimiliki orang tua kita” Young Ji sangat kesal pada Soo Ji hingga dia tidak sadar bahwa dia berteriak pada Soo Ji “Harusnya Unnie menyadari itu” lanjut Young Ji pelan, dia menyesal berteriak pada Soo Ji yang notaben adalah kakak nya.

Speechless. Soo Ji diam beberapa saat merenungkan ucapan yang Young Ji katakan barusan. Tidak terima Young Ji meneriakinya, Soo Ji pun berteriak mengusir Young Ji keluar dari kamarnya. Tanpa berniat menengok kebelakang Young Ji keluar kamar Soo Ji.

 

“Eun Ji, apa kau berpendapat sama dengan Young Ji?” tanya Soo Ji ragu ragu, yang melihat Eun Ji hanya terdiam melihat pertengkarannya dengan Young Ji.

“Kau ingin aku jujur?” belum niat untuk menjawab pertanyaan Soo Ji, Eun Ji balik melontarkan pertanyaan.

“Tentunya aku ingin kau berkata jujur” lirih Soo Ji. Dia dihinggapi rasa bersalah yang amat sangat setelah mendengar kata kata Young Ji.

Eun Ji memberi jeda cukup lama, lalu dia tersenyum tipis “Ya, kau salah Unnie”

Soo Ji menghembuskan nafasnya perlahan. Dua orang menyatakan dirinya salah. Dia tersulut emosi tadi sehingga melontarkan kata kata yang tidak seharusnya dia ucapkan. Dia bingung harus bagaimana sekarang? Apa meminta maaf pada Tiffany akan menghapus luka dari ucapannya itu? Soo Ji sadar, dia sudah keterlaluan.

“Unnie, aku tidak bermaksud menggurui mu. Tapi, yang Young Ji katakan tadi benar. Tidak mungkin Mommy iri padamu, walaupun hidupnya dulu tidak selayak kita saat ini. faktanya dia dapat membeli barang barang mahal yang dia inginkan menggunakan uang  nya sendiri sekarang.” Eun Ji mengintip dari bulu matanya, Soo Ji mendengarkannya dengan kepala yang menunduk, apa dia menyesal?

“Mommy ingin mengarahkan kita menjadi anak yang baik. Tidak ada Ibu yang cemburu atau iri pada anaknya sendiri, dia ingin anaknya bahagia walaupun hidupnya sendiri tidak bahagia. Ibu mencintai anaknya tanpa syarat”

Seperti ditampar, mata Soo Ji memanas. Matanya memerah dengan air mata yang tertahan. Eun Ji merangkak mendekati Soo Ji, meremas tangannya yang bergetar “Apa yang harus aku lakukan sekarang, Eun Ji aah?” tanya nya dengan isakan yang sudah tidak dapat ditahannya.

“Minta maaflah pada Mommy”
***

“Kau lagi” keluh Eun Ji yang sadar ketika Jung Woo mengikutinya dari belakang, sejak dia keluar dari perpustakaan. Eun Ji terus berjalan tanpa memperdulikan Jung Woo yang sekarang berjalan disampingnya. Eun Ji menghentikan langkahnya “Apa kau tidak lelah mengganggu dan mengikuti ku sejak tadi?”

Jung Woo tersenyum lebar sambil menggosok gosok dagu nya “Tidak. Ini hoby baruku dan aku sangat sangat menikmatinya” Ucapnya. Jung Woo terus tersenyum kearah Eun Ji, yang membuatnya bergidik geli.

Eun Ji berjalan lagi, dan Jung Woo tetap mengikutinya. Eun Ji berhenti mendadak yang membuat tubuh belakangnya tertabrak oleh Jung Woo “Aku ingin ke toilet, apa kau tetap akan mengikutiku?” geram Eun Ji. Apa yang dia inginkan? Kenapa dia terus mengikuti aku?

Jung Woo terkikik “Tapi perlu kau tahu, Choi Eun Ji. Bahwa toilet berada di dekat kelas 2B, kenapa kau berjalan kearah sana. Kau salah jalan atau kau lupa tempatnya karena gugup berada disampingku?”

Wajah Eun Ji memerah ketika ketahuan berbohong, dia berbohong agar Jung Woo pergi meninggalkannya. Tapi, bohongnya salah tempat. Sial!!

Dia memejamkan matanya sebentar lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Jung Woo “Sebenarnya apa yang kau inginkan, kenapa kau mengikutiku terus. hoh?”

Jung Woo menatap Eun Ji tanpa ekspresi “Apa kau menyukaiku?” suaranya terdengar serius.

“Heh?” Eun Ji terkejut mendengar ucapan Jung Woo, dia melihat kesegala sisi. Apa dia sedang dipermainkan? Apa ada kamera tersembunyi disini?

“Apa kau menyukaiku?” ulang Jung Woo. Masih dengan wajah flat tidak ada senyum seperti biasanya.

“Pria aneh” Eun Ji mendorong dada Jung Woo dan berjalan pergi.

Jung Woo berlari dan menghalangi langkahnya “Jawab pertanyaan ku” kata Jung Woo, rahang nya mengeras.

Eun Ji menggeram kesal “Sebaiknya kau pergi ke UKS, sepertinya kau sakit. Kau seperti orang gila, kau tahu” Eun Ji mengelak untuk meninggalkan Jung Woo tapi lagi lagi Jung Woo menghadangnya. Keras kepala!!

“Aku gila karena mu”

Nde?astaga!! Betapa manis nya mulut itu, rasanya ingin aku sumpal dengan kertas. “Jika tidak ada hal penting, menyingkirlah. Kau membuang buang waktuku” timpalnya, Eun Ji menatap marah pada Jung Woo.

“Aku menyukai mu Choi Eun Ji. Apa kau tidak sadar itu” kata katanya benar benar tulus.

Eun Ji terperangah, mengerutkan dahinya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia mendengar suara Jung Woo benar benar tulus tapi hatinya tidak mempercayai ucapan pria dihadapannya itu.

“Belajar lah menyukai buku buku dan tugas tugas yang diberikan songsenim, baru kau bisa berkata menyukai seseorang”

 

 

***

Soo Ji sedang duduk dengan tenang di bangku halaman sekolahnya. Angin musim dingin menerpa wajah dan rambutnya yang terbang dengan liar. Dia menolak ajakan Nana ke kantin, dia ingin sendiri saat ini. merenungi kesalahannya pada Ibunya, yang sampai sekarang belum berani mengucapkan kata maaf. Setelah hari itu, dia tidak banyak bicara pada Tiffany, walaupun Tiffany bersikap seperti biasanya. Tapi, Soo Ji masih menyimpan rasa bersalahnya. Dia belum memiliki keberanian untuk meminta maaf.

Matahari yang tidak terlalu terik mengenai wajahnya tapi tiba tiba cahaya itu menghilang karena seseorang bertubuh tinggi berdiri tepat didepannya. Soo Ji mengangkat wajahnya dan melihat dengan jelas siapa orang itu, setelah tahu Park Joon yang berada dihadapannya dia memiringkan kepala nya kesisi lain. Mengabaikan Joon.

Pertandingan basket tersisa beberapa hari lagi karena sudah memasuki babak final. Soo Ji tahu team sekolahnya Joon masuk dalam final, tidak heran jika pria itu masih berkeliaran disekolahnya.

“Apa aku boleh duduk dibangku ini?” Joon melihat kursi yang ditempati Soo Ji masih tersisa tempat kosong dan perhatiannya kembali pada wanita cantik didepannya.

Soo Ji tidak menjawab, dia masih mengabaikan keberadaan Joon. Bahkan pandangannya tidak pernah melihat sedikitpun kearah Joon.

Tapi Joon rindu padanya, dan Soo Ji tidak tahu itu. Frustasi karena perbuatan Soo Ji yang terus mengabaikan nya sejak kemarin. Joon menarik bahu Soo Ji agar gadis itu menatapnya.

Soo Ji terbelalak kaget dan menepis tangan Joon “Demi Tuhan, apa kau tidak tahu sopan santun?”

“Persetan dengan sopan santun!!” Bentak Joon. “Berhenti mengabaikanku..”

Soo Ji mendengus pelan “Sekarang kau tahu bagaimana menyenangkannya diabaikan bukan?” tanya nya dengan sinis.

“Aku tahu aku salah, maafkan aku” Suara Joon melembut.

Soo Ji tidak menjawab permintaan maaf Joon. Permintaan maaf yang sangat terlambat dan menurutnya sudah kadaluarsa.

“Kau cemburu melihat aku dan Hara?” aku anggap ini pernyataan Joon, bukan pertanyaan.

Soo Ji menatap Joon ketika mendengar yang menurutnya adalah pernyataan “I’m not jealous type Park Joon!!” ucap Soo Ji kesal pada Joon. Namun Joon memandangnya geli ketika melihat Soo Ji salah tingkah.

“Kau tidak perlu semarah itu jika kau benar benar tidak cemburu” Joon tertawa melihat wajah Soo Ji yang mulai merah seperti tomat.

Tidak ingin malu lebih lama lagi, Soo Ji berdiri meninggalkan Joon. Tapi, Joon menarik tangannya “Kau belum mendengarkan penjelasanku.” Joon menarik tangannya lagi ketika Soo Ji hanya berdiri mematung. Soo Ji menurut, saat Joon menyuruhnya duduk kembali.

“Aku dan Hara sudah dekat sejak kami masih kecil” Soo Ji menengok melihat Joon ketika suaranya memecahkan keheningan “Ketika para orang tua kita berkumpul, aku tidak pernah melihat Tiffany Aunty mengajak mu. Aku hanya pernah melihat mu beberapa kali, dan ya kau gadis kecil yang paling cantik yang pernah aku temui”

Bluss.. wajah Soo Ji kembali memerah mendengar pujian dari Joon untuknya tapi dia tidak ingin terlalu percaya diri. Karena yang Soo Ji tahu Joon mencintai Hara, sangat jelas mencintai Hara.

“Aku menganggap Hara seperti adik ku sendiri. Aku sangat menginginkan adik perempuan sebelum Yeon Ah ada” Joon memandang Soo Ji yang hanya mendengarkan ceritanya dalam diam “Tidak disangkal, aku menyayanginya. Tapi, aku menyayanginya sebagai seorang kakak kepada adik. Aku tidak pernah memandangnya sebagai wanita. Itu kenapa aku tidak ragu ragu memberi perhatian pada Hara”

Joon menarik nafas panjang dan menelan “Hanya ada satu wanita yang membuat jantung ku berdebar sangat aktif saat aku berada disisinya. Aku mencintainya pada pandangan pertama” Joon tersenyum tipis ketika Soo Ji memandangnya “Wanita itu kau, Soo Ji”

Soo Ji terkesiap, mulutnya terbuka membentuk huruf O yang sangat besar. Sadar akan sikapnya yang berlebihan Soo Ji merapatkan mulutnya dan berdehem kuat “Jika kau benar mencintaiku, kau tidak akan mengabaikanku ketika kau bersama Hara”

Sebuah kerutan terlihat diwajah Soo Ji “Orang orang yang melihat kau dan Hara pasti memiliki pemikiran yang sama dengan ku. Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta” dengan enggan Soo Ji melontarkan kata kata itu.

“Ya, tapi kau tahu sekarang apa yang sebenarnya terjadi” Joon menatap mata Soo Ji yang masih terlihat ragu padanya.

Soo Ji menggeleng “Jika kau mengatakan hal ini karena merasa kasihan padaku. Kau tidak perlu melakukannya” Soo Ji tersenyum prihatin “Kita dapat menjadi teman yang baik. Aku baik baik saja” Oh semoga dia tidak menyadari kebohongan yang aku buat. Sesungguhnya aku tidak baik baik saja.

Merasa kesal, Joon menarik tangan Soo Ji dan menggenggam nya erat “Sungguh, aku benar benar mencintaimu. Percayalah” pinta Joon dengan suara memelas.

Soo Ji membiarkan tangannya berada digenggaman Joon, karena ini akan menjadi terakhir kalinya pria itu dapat menyentuhnya “Tidak. Kau mencintai Hara. Kau hanya kasihan padaku” aku tidak akan mengemis cinta padanya, aku hanya ingin membuatnya sadar kemana arah mata angin hatinya seharusnya berhembus.

Geram dengan sifat keras kepala Soo Ji, Joon menarik Soo Ji kedalam pelukannya. Soo Ji menolak dan mendorong tubuh Joon menjauh, tapi Joon mengunci tubuhnya agar tidak terlepas dari pelukannya.

“PARK JOON. KAU GILA” teriak Soo Ji penuh emosi. Ini tempat umum akan banyak yang melihat mereka. Cukup dengan kecupan memalukan itu, tidak ingin dengan skinship lain.

“Rasakan detak jantung ku Soo Ji. Rasakan” perintah Joon dengan berteriak. Tangannya menekan tubuh Soo Ji, mempererat pelukan sepihaknya. Joon tidak perduli jika orang orang sedang menonton mereka.

Soo Ji terperangah ketika merasakan detak jantung Joon yang berdetak dengan liar sama seperti detak jantung miliknya yang berdetak dengan cepat ketika berada didekat Joon. Apa Joon benar benar mencintainya?

Soo Ji diam, tidak memberontak lagi. Dia hanya mendengarkan detak jantung Joon yang tepat ditelinganya. Joon jauh lebih tinggi darinya. Bunyi detak jantung mereka saling bersahutan. Soo Ji malu, apa yang harus dia lakukan ketika pelukan ini berakhir? Apa yang akan dia katakan? Oh Tuhan…

Joon meletakkan tangannya dikedua sisi bahu Soo Ji, menarik tubuhnya agar melihat kearahnya. Tapi Soo Ji malu untuk menatap wajah Joon, dia hanya menunduk. Pasti wajahnya memerah lagi.

“Hey, apa kau sudah percaya padaku?” Tanya Joon. Tangannya meremas pelan bahu Soo Ji.

Soo Ji memberanikan diri untuk mendongakan kepalanya “Entahlah, aku belum yakin” Soo Ji cemberut. Hati dan otaknya berlawanan. Hatinya mempercayai ucapan Joon tapi otaknya selalu berputar mengingat sikap Joon pada Hara yang membuatnya ragu.

Ekspresi Joon meredup “Apa yang tidak kau yakin?”

“Kau dan Hara” gumam Soo Ji. Mata mereka tidak lepas, saling memandang satu sama lain.

“Apa kau ingin aku berteriak, kalau aku mencintaimu. Itu yang kau mau?” ucapnya dengan nada menantang.

Soo Ji memukul lengan Joon “Jangan lakukan itu, Park Joon. Kau gila” Soo Ji terus memukul lengannya, melampiaskan kekesalannya pada Joon.

Joon menangkap tangan Soo Ji agar berhenti memukulnya “Maka dari itu, percaya dan terimalah aku” senyum pelan pelan melintasi mulutnya.

“Yak!! Itu pemaksaan namanya” Soo Ji ingin memukul lengan Joon lagi tapi tangannya tidak dapat bergerak. Joon mencengkramnya dengan kuat. Entah sejak kapan, Soo Ji menyukai memukul lengan kuat berotot milik Joon. Pria ini pasti sering berolahraga karena memiliki lengan yang kuat.

“Baiklah kalau begitu aku akan berteriak” Joon melepas tangan Soo Ji, mulutnya sudah terbuka untuk berteriak. Tapi, Soo Ji dengan susah payah menutup mulut Joon dengan telapak tangannya. Dia harus menjinjit agar sampai menggapai mulutnya.

“Jangan jangan” seru Soo Ji, dia menggeleng ketakutan.

Joon melepaskan tangan Soo Ji dan tersenyum jahil “Jadi kau percaya padaku, kita berkencan sekarang?” Tanyanya penuh dengan antusias.

Soo Ji tersenyum malu, memegang kedua pipinya yang akan kembali merona “Menurutmu?” bisiknya pelan.

“Aku tahu, kau juga mencintaiku. Kau hanya gengsi untuk mengungkapkannya” Joon mencubit pipi Soo Ji gemas. Gemas dengan sifat keras kepalanya, gemas dengan sifat angkuhnya. Tapi, Joon mencintainya.

Soo Ji mencibir lalu cemberut “Ya, aku mencintaimu Park Joon. Puas?” Soo Ji mengeluarkan suara dengan nada kemarahan tapi dia tersenyum.

“Aku mengatakannya dua kali dan kau hanya satu kali. Katakanlah sekali lagi” pinta Joon dengan lembut.

Soo Ji menatap garang pada Joon, banyak maunya!! “Aku mencintai mu Park Joon” kata Soo Ji memberi penekanan disetiap katanya. Lalu dia menutup mukanya karena malu.

Joon bertepuk tangan beberapa kali, merasa sangat puas “Satu lagi, jangan panggil aku Park Joon. Aku merasa kita tidak dekat ketika kau memanggil namaku dengan lengkap. Joon saja, oke? Atau Oppa?” goda Joon menarik tangan Soo Ji yang menutupi wajahnya.

“Tidak akan. Aku akan tetap memanggil mu Joon” Soo Ji memperingatkan nya dengan lembut.

Joon menyeringai yang membuat Soo Ji mengerutkan alisnya “Ji aah, aku akan memanggimu Ji aah”

Soo Ji bergidik geli mendengarnya “Shiro. Ganti ganti” protes Soo Ji. Bukan tidak suka tapi terdengar menggelikan ditelinganya.

“Tidak akan” Tolak Joon “Aku menyukainya, Ji aah” ucap Joon memberi penekanan diakhir ucapannya.

Stop calling me that” Soo Ji bersedekap pura pura merajuk.

“Oh, I just can’t

I hate you

Love you too…” Joon menyeringai jahil manatap Soo Ji. Membuat gadis itu yang tadinya marah, sekarang Joon membuat  wajahnya memerah dalam sekejap.

Soo Ji tidak menganggap seringaian jahil Joon. Suara serak Joon ketika bilang Love you too terdengar sangat menghibur ditelinganya.

 

 

***

“Yak, ayolah bantu aku” Yuri menendang kaki Min Ho, tangannya diletakkan dipinggang rampingnya. Menahan kesal karena sejak tadi suaminya asik bermain game dan tidak menghiraukannya.

“Choi Min Ho, apa kau tidak dengar?” Yuri menendang kaki Min Ho lagi, kali ini lebih kuat.

Min Ho tidak bergeming, matanya masih fokus menatap layar persegi tersebut “Aku dengar” gumamnya. Tidak menengok sedikitpun kearah Yuri yang berada didepannya dengan raut wajah yang kesal.

“Jika kau dengar, letakkan Ipad itu dan bantu aku memasak sekarang” pekik Yuri. Dia berjalan  ke dapur meninggalkan Min Ho.

Ketika sudah berada didapur, Min Ho masih duduk disofa. Yuri geram melihat tingkah suaminya jika sudah bermain game “Choi Min Ho” bentak Yuri, amarahnya sudah hampir meledak.

Mendengar bentakan Yuri, Min Ho meninggalkan game nya dan berlari kedapur. Dia berdiri tepat dibelakang Yuri yang tengah memotong sayur dan jamur. Min Ho memeluk pinggangnya erat dan meletakkan dagu nya dibahu Yuri.

“Sepertinya rambutmu sudah sangat panjang. Bisakah kau memotong nya sedikit lebih pendek?” Min Ho memainkan rambut panjang Yuri yang berwarna cokelat gelap. Sesekali Min Ho menciumnya.

“Kenapa? Kau tidak suka jika rambutku panjang?” Yuri memiringkan kepala nya kesatu sisi untuk menatap mata Min Ho.

“Hanya, kau terlihat lebih tua dengan rambut panjang” Min Ho mencium pipi nya cepat, takut jika Yuri akan marah dengan ucapannya.

Yuri tersenyum pahit “Kenyataannya aku lebih tua dua tahun dari mu Min Ho”

Arraseo Noona” Min Ho melepas pelukannya dan berdiri disamping Yuri, tangannya bertengger dibahu istrinya, merangkulnya dengan mesra.

Yuri berhenti memotong dan menatap Min Ho “Jangan panggil aku Noona, aku merasa sangat tua ketika kau memanggilku seperti itu” wajahnya mengerut, bibirnya melengkung cemberut. Min Ho terkikik geli, dia mengacak rambut Yuri gemas.

 

“Appa, Eomma. Bagaimana masaknya akan cepat selesai jika kalian terus bermesraan” ucap Hara yang baru masuk kedapur. Suaranya terdengar dingin dan jengkel.

Min Ho melepas rangkulannya pada Yuri “Apa kau sudah lapar?” Min Ho mengalihkan pembicaraan. Dia menatap putrinya yang bersedekap duduk di konter dapur.

Hara mengangguk kuat. Seharusnya mereka sekarang dapat menyantap makan malam. Tapi sekarang masih dalam proses pembuatan. Perut Hara berbunyi dalam diam.

“Hara, Jung Woo odiso?” tanya Yuri tanpa berpaling untuk menatapnya. Tangannya dengan ahli memotong sayur dan jamur lebih cepat. Yuri mencari anak bungsunya karena biasanya Jung Woo yang lebih cerewet jika makan malam nya telat, tapi sekarang anaknya tidak ada didapur untuk protes.

“Dia sedang belajar dikamarnya” Hara mengangkat bahunya tidak percaya.

Ne?” seru Min Ho dan Yuri bersamaan. Merasa heran karena Jung Woo tidak pernah mau belajar. Dia akan belajar jika ada ulangan, terkadang tugas pun Hara yang membantu mengerjakannya.

Yuri meletakkan pisau dan menatap Hara “Apa besok ada ulangan?” tanya nya pada Hara.

Hara menatap langit langit, sedikit menerawang “Setahuku tidak ada. Kami akan mulai ulangan setelah natal, Eomma”

Yuri mencuci tangannya dan menyerahkan pekerjaannya tadi pada Min Ho “Hara, tolong kau bantu Appa memasak. Eomma mau melihat Jung Woo, akhir akhir ini dia terlihat aneh” Jung Woo lebih sering mengurung diri dikamarnya beberapa hari ini. biasanya dia tidak ada bosannya mengganggu Hara.

Nde” Hara menjawab dengan semangat. Karena inilah kemauannya, membantu memasak makan malam.

 

Yuri berjalan cepat ke kamar Jung Woo. Rumah Min Ho dan Yuri tidak begitu mewah tapi sederhana dan terlihat indah.

Yuri membuka pintu kamar bercat putih tanpa permisi terlebih dahulu. Ketika pintu itu terbuka, Yuri melihat pencahayaan dikamar putranya temaram. Hanya lampu kecil dimeja belajarnya yang menyalah. Yuri menyalakan lampu dan melihat Jung Woo menopang dagunya diatas meja belajar.

“Mana bisa kau belajar dengan cahaya gelap seperti itu?” Jung Woo memutar kursinya dan menghadap Yuri yang duduk disofa kamarnya, kakinya dilipat dengan anggun.

Yuri mengintip kearah meja belajar Jung Woo, buku buku berantakan disana. Yuri mengerutkan dahinya “Kau sedang belajar?” tanya Yuri hati hati.

“Hanya sedang belajar menyukai buku buku dan tugas tugas” gumamnya lesu. Yuri menatapnya aneh, biasanya Jung Woo selalu bertingkah konyol dan senyum tidak akan pudar diwajah manisnya. Jung Woo sangat mirip dengan Yuri.

“Belajar menyukai?” Ucapan Jung Woo terdengar kalimat yang sulit Yuri mengerti “Buku buku itu tidak hanya disukai dan kau pandangi seperti itu. Tapi, isinya harus kau pelajari Jung Woo”

“Seseorang yang aku sukai mengatakan ‘Belajar lah menyukai buku buku dan tugas tugas yang diberikan songsenim, baru kau bisa berkata menyukai seseorang’ jadi, aku sedang berusaha menyukai buku buku ini” ucap Jung Woo menatap nanar kearah buku miliknya diatas meja belajar.

Yuri tertawa geli, lalu dalam sekejap terperangah ketika menyerap kalimat yang Jung Woo ucapkan “Menyukai? Kau jatuh cinta?” tanya Yuri tidak percaya.

Jung Woo tidak berani menjawab pertanyaan Yuri. Jantungnya terus berdebar dan selalu ingin berada disampingnya, apa itu dapat dikatakan jatuh cinta? Ucap Jung Woo didalam hati.

Nugu? Siapa yang kau sukai, Jung Woo aah?” pekik Yuri, suaranya naik satu oktaf. Merasa jengkel karena Jung Woo hanya diam membisu.

“Choi Eun Ji” bisik Jung Woo.

Dua kali dibuat terkejut, Yuri tahu Choi Eun Ji yang dmaksud Jung Woo adalah putri Siwon dan Tiffany. Karena Yuri pernah melihat sketsa lukisan yang Jung Woo buat mirip sekali dengan wajah Choi Eun Ji. Yuri yang awalnya curiga sekarang rasa curiganya terjawab sudah.

Yuri menepuk keningnya merasa frustasi “Ya Tuhan”

 

***

“Tidak terdengar petikan petikan lagu sedih dari lagu yang kau mainkan hari ini” sindir Taeyeon, dia masuk kedalam kamar Joon membawa nampan dengan gelas tinggi berisi air putih dan vitamin diatasnya.

Joon tersenyum “Eomma, kemarilah. Nyanyikan lagu yang aku mainkan ini” pinta Joon dengan lembut.

Taeyeon meletakkan nampan dinakas dan menghampiri Joon duduk ditepi tempat tidur. Mendengar petikan petikan pada gitar yang Joon mainkan. Joon memainkan lagu milik One direction berjudul What makes you beautiful. Alis Taeyeon menyatu mendengarnya, dia menahan senyum dan mulai menyanyikan lirik lirik tersebut. Taeyeon tidak bisa menahan senyumnya saat memahami lirik lirik lagu milik One direction.

Joon melirik Taeyeon sekilas, ibunya itu pintar bernyanyi, suaranya ternyata sangat merdu. Lirik lagu itu sulit untuk diikuti. Tapi, Taeyeon dengan santai dan lancar menyanyikannya. Membuat Joon terkagum kagum.

That’s what makes you beautiful” dilirik terakhir Taeyeon menyanyikannya dengan tersenyum jahil kearah Joon.

Joon menyadari senyuman jahil ibunya. Tapi, dia mencoba mengabaikannya “Waah, Eomma seharusnya menjadi penyanyi” Joon bertepuk tangan dengan gitar yang masih dalam pangkuannya.

Taeyeon mencibir “Terimakasih atas pujiannya” Taeyeon mengacak rambut Joon. Putranya cemberut karena rambutnya yang rapih sekarang menjadi berantakan.

 

Keundae Eomma, siapa cinta pertama mu?” Tanya Joon tiba tiba. Joon penasaran dan ingin tahu kisah cinta orang tuanya, apa mereka memiliki kisah cinta yang romantis?

Taeyeon terdiam, mulutnya keluh. Bahkan untuk menelan liurnya saja terasa sulit. Tangannya saling meremas, wajah Taeyeon yang tadinya terlihat bahagia sekarang berubah menjadi gugup.

Joon menyadari perubahan pada Taeyeon “lupakanlah Eomma. Aku hanya penasaran” ucapnya tidak enak.

“Hoh” gumam Taeyeon menampakan senyum palsu diwajah mungilnya. Suasana kamarpun berubah hening dan dingin.

 

“Nah, itu dia Eomma” suara Jung Soo memecahkan keheningan. Jung Soo masuk kedalam kamar dengan Yeon Ah yang berada dalam dekapannya “Aku sudah menebak, kau pasti disini. Karena kau lebih suka berlama lama dengan putra mu ketimbang dengan aku” Sindir Jung Soo pura pura merajuk. Menyerahkan Yeon Ah pada Taeyeon dan dia duduk disofa empuk didalam kamar.

Taeyeon tersenyum malu mendengar ucapan suaminya yang terselip nada cemburu. Taeyeon mencium pipi Yeon Ah berulang kali dengan gemas “Ada apa mencari Eomma? Bukannya tadi sedang bermain bersama Appa” Taeyeon menangkup pipinya dan mencium pipi Yeon Ah sekali lagi.

“Appa membosankan” bisik Yeon Ah pada Taeyeon.

Tapi Jung Soo maupun Joon dapat mendengarnya “Appa mendengarnya Yeon Ah” pekik Jung Soo, lalu mereka tertawa bersama. Hanya Taeyeon yang tidak tertawa begitu lepas seperti tertawa dipaksakan. Fikirannya pun seperti sedang berada ditempat lain, Joon mengawasi Ibunya sedari tadi.

“Eomma, apa aku boleh meminta satu permintaan?” Yeon Ah menatap mata ibunya dalam.

Taeyeon menatap suaminya yang mengangkat bahu, matanya kembali melihat putrinya “Apa itu?”

“Eomma, aku ingin tiga adik laki laki seperti Lee triplets” Yeon Ah mengangkat tiga jari mungilnya didepan wajah Taeyeon.

Nde?” teriak Jung Soo dan Taeyeon bersamaan, mata mereka melebar. Sedangkan Joon hanya terkikik geli melihat ekspresi kedua orang tuanya.

 

***

“Sekarang ketiga anak kelinci itu hidup dengan tubuh yang sehat” Yoona menyudahi ceritanya. Menutup buku cerita dan meletakkannya diatas nakas.

“Chaa.. sekarang apa kalian akan meyukai sayur?” tanya Yoona pada ketiga anak kembarnya.

“Aku suka brokoli” Seru Daehan mengangkat tinggi tangan kanannya.

“Aku suka wortel” Timpal Minguk tidak mau kalah.

“Aku suka stroberry” pekik Manse sangat kuat, begitu semangatnya.

“Lee Manse” protes Daehan dan Minguk bersamaan.

Noe phaboya. Stroberry itu buah bukan sayur” Minguk memberi tahu Manse dengan suara jengkel.

Yoona tertawa pelan “Sayur dan buah sama pentingnya, sayang” Yoona merapikan letak selimut mereka “Sekarang waktunya kalian tidur. Selamat malam” Yoona memberikan mereka masing masing kecupan penuh kasih sayang dikeningnya.

Yoona keluar kamar dengan pelan dan masuk kedalam kamarnya bersama Donghae yang berada tepat disamping kamar anaknya.

Dilihatnya Donghae yang sudah tertidur pulas dengan posisi miring. Yoona mengerutkan dahinya, tumben sekali suaminya tidur lebih cepat. Tanpa rasa curiga, Yoona masuk kedalam selimut bergabung bersama suaminya. Diamati wajah suaminya yang terlelap, saat tidur seperti ini saja masih terlihat tampan. Yoona tersenyum tipis, cinta nya dengan pria ini masih sama, bahkan bertambah. Pria yang tetap setia disampingnya ketika tujuh tahun menunggu datangnya buah hati mereka.

Yoona tidak tahan untuk tidak menjalankan jari jarinya menyusuri wajah Donghae. Dari kening, alis tebalnya, hidung mancung sempurna dan garis bibir tipis nya. Yoona terkejut ketika jarinya digigit oleh Donghae. Dia memekik kuat, Donghae tersenyum kecil.

“Oppa belum tidur?” tanya Yoona pelan, tanpa rasa bersalah Donghae masih memejamkan matanya.

Donghae membuka matanya perlahan “Aku menunggumu” bisik Donghae. Menarik tubuh kurus Yoona kedalam pelukan hangatnya.

“Oppa” panggil Yoona dengan jurus aegyo nya.

Tahu Yoona akan mengerjainya seperti biasa yang hanya memanggilnya begitu saja, Donghae menepuk bahunya “Tidurlah gadis nakal” Yoona tersenyum mendengar panggilan itu, dia mempererat pelukan suaminya dan mata mereka terpejam sampai akhirnya mereka terlelap tertelan tidur.

 

***

Sudah lima menit Soo Ji hanya berdiri didepan kamar Siwon dan Tiffany. Menggigit kuku kuku jarinya, berharap gugupnya hilang. Tapi nihil, rasa gugup itu tetap bersarang.

Tarik, buang, tarik, buang, hembuskan perlahan. Fiuuuuhh….

Soo Ji menetralkan suaranya sebelum masuk kedalam kamar orang tuanya. Soo Ji mengetuk pintu nya ragu ragu. Seruan suara Tiffany menyuruhnya masuk. Soo Ji pun melangkahkan kakinya kedalam kamar dengan takut takut.

Tiffany memperhatikan gerak gerik putri sulungnya  yang tidak seperti biasanya “Yak, kenapa kau ketakutan seperti itu? Apa ada hantu?” Tiffany mengedarkan pandangannya kesegala sisi.

Soo Ji dengan cepat mengibaskan tangannya “Anyio” diam sejenak “Dimana Daddy?” Soo Ji mengangkat kepalanya mencari keberadaan Siwon.

Tiffany menutup buku yang tadi sedang dia baca “Daddy mandi. Kemarilah” perintah Tiffany, menepuk tempat tidur kosong disampingnya.

Tiffany menatap aneh Soo Ji yang terlihat kikuk. Soo Ji berjalan lambat lambat, Tiffany terkikik melihatnya. Ini tidak seperti Soo Ji biasanya, Soo Ji yang biasa tanpa diperintah dia akan melompat ketempat tidur Siwon dan Tiffany.

“Hey, kemarilah. Ppali” Tiffany memberi isyarat dengan jari jari tangannya, menyuruh putrinya agar cepat datang padanya.

Soo Ji duduk dengan canggung diatas tempat tidur, disamping Tiffany, Soo Ji tidak menatap Tiffany. Tiffany merangkulnya, membawa kepala Soo Ji agar bersandar dibahunya “Apa yang membawa gadis cantik ini kekamar Mommy?” tanya Tiffany lembut, tangannya naik turun dilengan Soo Ji.

“Mommy mianhae, jeongmal mianhae” gumam Soo Ji pelan, suaranya lirih penuh penyesalan.

“Lupakan saja” Tiffany tahu yang dimaksud Soo Ji. Dia tersenyum sembari mengusap kepala Soo Ji dengan sayang “Jadilah anak yang baik huh?” Tiffany menarik nafas lalu membuangnya perlahan “Mommy ingin semua anak Mommy tumbuh menjadi anak yang baik, bukan hanya sekedar cantik”

Soo Ji mengangkat kepalanya dan mata indah mereka bertemu “Aku akan menjadi anak yang baik” Janji Soo Ji pada Tiffany. Dengan serius mengucapkan kalimat itu.

Soo Ji memeluk pinggang Tiffany “Mommy, aku ingin tidur bersama Mommy” pinta Soo Ji, dia membenamkan kepalanya dileher Tiffany.

“Tck. Biasanya kau tidak mau. Jika Mommy datang kekamar mu untuk tidur bersama, kau mengunci pintunya tidak membiarkan Mommy masuk” Tiffany mencubit pipi Soo Ji. Sudah lama putri sulungnya tidak bersikap manja seperti ini. Soo Ji hanya tertawa mendengar kata kata Tiffany.

 

Pintu kamar mandi terbuka, munculah Siwon yang sudah rapih dengan piyama tidurnya. Tangannya diletakkan dipinggang, menatap Soo Ji tidak suka “Choi Soo Ji keluarlah” perintah Siwon.

Shiro, malam ini aku ingin tidur disini” balas Soo Ji, mempererat pelukannya pada Tiffany.

Siwon berjalan mendekat, menarik kaki Soo Ji “Andwae”

“Mommy” pinta Soo Ji. Dia meminta Tiffany membantunya, karena Siwon terus menarik kakinya.

Tiffany menatap Siwon, memberi isyarat seakan berkata ‘biarkan’. Dengan kesal Siwon naik ketempat tidur, dia menepuk bahu Soo Ji yang masih nyaman dipelukan Tiffany.

Soo Ji menolehkan kepalanya “Mwo?” Soo Ji mengangkat dagunya angkuh. Tiffany tersenyum, putrinya kembali. Ini baru gayanya, angkuh dan pemarah.

“Kau ingin Daddy mengambil gambar mu dengan posisi memeluk Mommy seperti anak manja dan mengirimnya pada pria itu?” goda Siwon, tumben sekali Soo Ji bersikap manja pada Tiffany, fikir Siwon. Dia mengambil ponsel diatas nakas untuk mengambil foto Tiffany dan Soo Ji.

“Pria? Nugu?” tanya Tiffany bingung.

Soo Ji melotot kearah Siwon dan berbalik menatap Tiffany “Anyio Mommy, tidak usah dengarkan Daddy” Soo Ji kembali memeluk Tiffany.

Tiffany menatap Siwon meminta penjelasan, tapi Siwon hanya tersenyum kaku. Memergoki Tiffany yang sedang menatap Siwon tajam, Soo Ji mempererat pelukannya, membenamkan kepalanya lebih dalam dileher Tiffany.

“Aigoo. Mommy harum sekali” ucapnya mengalihkan suasana.

Soo Ji menggesek gesekan kepalanya dileher Tiffany “Soo Ji hentikan, geli” Tiffany memandang Soo Ji yang tertawa puas.

 

 

BAB 6 – FIRST LOVE STORY

PLAAAK…

Eun Ji memukul belakang kepala Jung Woo dengan geram “Kenapa kau begitu bodoh?” gerutunya.

Jung Woo meringis sembari mengusap belakang kepalanya “Kau seharusnya berterimakasih padaku, aku membalas dendan mu”

Eun Ji menatapnya tajam “Aku tidak memintamu. Lihat, sekarang kita harus menjemur sepatu sepatu ini karena ulahmu” Eun Ji mengambil sepatu lainnya untuk dia susun dibawah terik matahari diatap sekolah.

“Aku geram melihat kau hanya diam ketika Bo Na dan teman temannya mengolok olok mu” Jung Woo mengambil sepatu terakhir dan selesai.

Mereka sedang di hukum karena Jung Woo memasukkan sepatu Lee Bo Na dan ketiga temannya kedalam kolam berenang. Dia marah ketika empat perempuan itu terus mengolok olok Eun Ji.

Eun Ji kelelahan, dia menyilangkan kakinya dan duduk disembarang tempat “Biarkan saja. Aku tidak seperti yang mereka katakan” balasnya dengan malas.

Jung Woo mengikuti Eun Ji dan duduk disampingnya “Tapi mereka keterlaluan”

“Lupakan. Jangan ulangi hal bodoh ini lagi, apa kau mengerti? Untung saja kita tidak harus mengganti sepatu sepatu mereka” Eun Ji menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan lelah.

“Aku tidak janji” Gumam Jung Woo.

“Yak” Eun Ji memukul bahunya kuat.

Jung Woo mencibir kesal, sudah dua kali dia terkena pukulan dari Eun Ji “Baiklah baiklah” ucapnya menyerah.

 

Hening, tidak ada yang bicara lagi. Mereka menikmati desiran angin dan mencoba menghilangkan lelah. Jung Woo mengeluarkan ponselnya, dengan jahil dia menelpon Eun Ji yang berada disampingnya.

Merasakan ponselnya bergetar Eun Ji menariknya dari saku kemeja seragam sekolah nya. Jung Woo yang penasaran menjulurkan kepalanya untuk melihat caller Id di ponsel Eun Ji.

Setelah membacanya dengan teliti, dahi nya berkerut “Yak, pantas saja kau tak pernah mengangkat telepon ku” Jung Woo marah pada Eun Ji.

Caller Id diponsel Eun Ji bukan namanya melainkan ‘Jangan Diangkat’ itu yang membuat Jung Woo marah padanya.

Up to me” balas Eun Ji dengan ketusnya.

Jung Woo merampas ponsel Eun Ji “Kau harus menggantinya” Jung Woo mengangkat tangannya yang menggenggam ponsel Eun Ji setinggi mungkin.

Eun Ji menggapai gapai, berusaha merebutnya kembali “Aku akan menggantinya, berikan padaku” Suaranya terdengar menjanjikan tapi Jung Woo masih terlihat ragu untuk menyerahkannya.

“Aku janji” Eun Ji mencoba meyakinkan Jung Woo.

Dengan ragu ragu Jung Woo memberikan ponselnya “Cepat ganti, aku ingin lihat” Jung Woo mengintip, memastikan bahwa Eun Ji benar benar menggantinya.

“Lihat, apa kau puas?” Eun Ji menyodorkan ponselnya tepat didepan wajah Jung Woo.

“Choi Jung Woo” Jung Woo mengeja namanya dilayar ponsel dan mengangguk dengan puas “Angkatlah jika aku menelpon” katanya memelas.

“Kau selalu mengikuti aku disekolah dan dirumah kau juga terus mengganggu ku. Apa kau tidak bosan?” Eun Ji menatap Jung Woo yang masih tersenyum lebar untuknya.

“Apa kau benar benar tidak menyukai ku?” tanya Jung Woo dengan serius. Tanpa merespon pertanyaan Eun Ji.

“Jangan membahasnya”

“Apa aku tidak bisa berada di dekatmu?”

Eun Ji menerawang menatap langit. Terkadang dia risih ketika Jung Woo terus mengikutinya. Tapi, ada kalanya dia ingin seorang teman berada disisinya. Eun Ji tidak memiliki satupun teman dikelas. Itu kenapa Lee Bo Na dan teman temannya mengolok olok nya kalau Eun Ji adalah gadis aneh.

Eun Ji menatap Jung Woo, mata mereka bertemu “Menjadi teman sepertinya tidak buruk” Eun Ji menjulurkan tangannya pada Jung Woo.

Jung Woo melamun menatap tangan Eun Ji yang terjulur kearahnya. Teman? Mereka akan semakin dekat, Jung Woo tersenyum konyol.

Eun Ji memukul lengan Jung Woo, kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari Jung Woo yang hanya tersenyum seperti orang bodoh.

“Mau atau tidak?” pekik Eun Ji membuyarkan lamunan Jung Woo.

Jung Woo terlonjak kaget. Dengan cepat dia menyambar tangan Eun Ji dan menjabatnya erat “Chingu” teriaknya penuh semangat.

Eun Ji hanya menggeleng. Astaga, pria ini selalu bertingkah aneh…

 

 

***

HARA POV

Eomma tidak bisa menjemputku hari ini. Tapi, untung saja aku memiliki Oppa yang dapat aku andalkan, Park Joon Oppa. Aku memintanya untuk menjemputku, menolak ajakan Jung Woo untuk pulang dengan bis sekolah yang pengap.

Oh, entah kenapa setiap kali mendengar Nama Joon Oppa membuat hatiku berbunga bunga. Jika dulu aku menganggapnya sebagai Oppa ku, tapi pandangan itu berubah dua tahun lalu ketika aku beranjak menjadi gadis remaja. Aku tidak melihatnya sebagai Oppa lagi melainkan sebagai pria.

Dapat dibilang aku menyukai Joon Oppa, walaupun cukup ekstrim karena usiaku baru menginjak empat belas tahun. Tapi, begitulah perasaan ku pada nya saat ini.

Disinilah kami sekarang, di sebuah Cafe tempat biasa kami menyantap es krim. Aku meminta padanya untuk mampir sejenak  karena aku menginginkan es krim. Joon Oppa tidak pernah menolak ketika aku meminta apapun padanya. Sesibuk apapun dia, Joon Oppa pasti akan menemani, menuruti apa yang aku inginkan. Tipe pria idaman semua wanita bukan?

Aku melihatnya fokus pada ponsel sedari tadi dan senyum itu tidak pudar ketika dia mengetik sesuatu diponselnya. Aku cemberut, siapa seseorang yang membuatnya tersenyum seperti itu?

“Oppa es krim mu meleleh” kata ku memberitahu Joon Oppa. Tapi dia seperti tidak tertarik pada es krim nya.

Joon Oppa melirik sebentar es krim miliknya dan kembali fokus pada ponsel “Oh ya, sebentar” dia tersenyum sekali lagi dan meletakkan ponselnya diatas meja, disamping  tangan kirinya.

Aku tidak bisa menahan rasa penasaran ku, mulutku sudah gatal untuk bertanya “Siapa yang membuat Oppa tersenyum sepanjang waktu?” Aku menunjuk ponselnya dengan daguku. Aku yakin dia mengerti dengan maksudku, karena aku melihat bibirnya menipis karena tersenyum.

“Oh itu Soo Ji” Joon Oppa memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya “Aku menyukainya, begitupun dia. Bisa dikatakan kami berkencan. Hmm sudah satu minggu ini” Oh Tuhan, aku tidak salah dengar bukan? Mereka berkencan?

Kecewa, itu pertama yang aku rasakan ketika mendengar kata kata Joon Oppa. Mulutku tiba tiba kering, aku menyuap es krim kedalam mulut, melicinkan tenggorokanku yang terasa kering.

Apa yang harus aku katakan? Selamat Oppa, aku ikut senang. Ditambah memasang senyum palsu. Oh tidak, karena sesungguhnya aku tidak merasa senang.

“Hey, kenapa kau hanya diam?” tegur Joon Oppa.

Aku masih terdiam, memikirkan apa yang harus aku katakan. Kenapa dia menyukai Soo Ji Unnie? Padahal mereka belum lama bertemu. Astaga, aku ingat sekarang. Dulu Joon Oppa pernah menanyakan Soo Ji Unnie ketika dia masih tinggal di Jepang.

Siapa yang tidak menyukai Soo Ji Unnie, dia cantik bak supermodel. Dan bodohnya aku pernah berkata pada Joon Oppa, jika aku mengagumi nya. Dia wanita cantik dengan mata indah, ditambah dengan senyum lebar dan dimple yang dimiikinya, walaupun dia sedikit angkuh dan sombong. Ya, aku jauh jika dibandingkan dengannya.

“Choi Hara” panggil Joon Oppa, dia menjentikkan jarinya didepan wajahku. Membuat aku tersadar dari lamunanku.

Mataku terangkat untuk menatapnya “Oppa, aku menyukaimu” gumamku, kalimat itu mencelos dengan lancar. Mataku terluka ketika menatap matanya yang melebar.

“Hara” aku tahu dia terkejut. Aku melihat tenggorokannya naik turun “Kau bercanda bukan?” Tanya nya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan barusan.

“Tidak. Aku benar benar menyukai Oppa” kenapa aku begitu bodoh mengatakan hal semacam itu, sudah jelas jelas Joon Oppa menyukai Soo Ji Unnie dan tidak akan berbalik menyukaiku. Walaupun aku mengungkapkan perasaanku padanya “Kau tidak perlu membalas menyukai aku. Tapi biarkan aku menyukai Oppa” aku bicara lagi, karena dia hanya diam menatapku dengan rasa terkejut.

Oh, apa perkataan ku akan merusak hubungan kami yang sudah kami bangun selama separuh usia kami. Aku tahu dia hanya menganggap ku sebagai dongsaeng nya, dia menyayangi aku layaknya Oppa kepada Dongsaeng nya. Tapi, aku serakah dan menginginkan lebih.

Joon Oppa menggeleng kuat “Jangan Hara, kau yang akan terluka nantinya” dia mengambil satu tangan ku dengan kedua tangannya, menggenggamnya dengan erat “Aku yakin, kau akan mendapatkan pria yang lebih baik nantinya”

Aku menatap tepat dibola matanya dengan tatapan menyalang, meminta pertanggung jawaban atas apa yang barusan dia ucapkan “Lalu, apa yang harus aku lakukan ketika menunggu pria itu datang?” kataku dengan suara menantang.

Dia memejamkan matanya sebentar, lalu menatap ku lagi “Dengarkan aku, aku sangat menyayangimu. Sangat menyayangimu sebagai adikku” aku baru saja diajaknya terbang tinggi diawal ucapannya, lalu dia menjatuhkan aku kebumi dengan kata terakhirnya.

“Aku akan selalu ada disisimu, ada ketika kau membutuhkan aku. Tidak ada yang berubah diantara kita, Hara” suaranya terdengar meyakinkan. Tapi, apa dia dapat menepatinya? Ya, aku tahu. Joon Oppa tidak pernah ingkar janji.

Aku tersenyum lemah kearahnya “Aku tahu, aku tidak secantik Soo Ji Unnie. Aku tidak memiliki senyum lebar sepertinya”

“Jangan bicara seperti itu” sela Joon Oppa tidak setuju dengan apa yang aku katakan “Perlu kau tahu, Soo Ji sangat iri padamu. Kau gadis baik dan pandai memasak. Setiap orang memiliki kelebihan masing masing”

“Ya. Tapi, dia lebih beruntung dari pada aku” saat itu juga aku merasa menjadi seseorang yang lemah, semangat ku hilang. Tapi, kami akan tetap berhubungan baik. Sejujurnya aku juga tidak ingin berjauhan dengan Joon Oppa, dia baik dan aku nyaman berada didekatnya. Mungkin kami memang lebih cocok menjadi Oppa – Dongsaeng. Karena sejak awal kami sudah begitu.

 

 

***

AUTHOR POV

Soo Ji meraih ponselnya yang dia letakkan diatas nakas. Senyumnya mengembang ketika melihat caller id nya.

“Ya, Joon” Jawabnya dengan cepat. Dia memang sudah menunggu Joon untuk menelponnya.

“Bagaimana harimu?” suara hangatnya membuat Soo Ji tersenyum ditelepon.

“Baik. Bagaimana dengan mu?”

“Melelahkan” Joon mengerang “Aku tidak ingin membicarakan hal itu. Aku lebih suka membicarakan makan malam kita besok. Apa kau senang?”

Soo Ji menatap langit langit kamarnya, dia baru ingat jika besok adalah hari sabtu. Sesuai janji, mereka akan pergi makan malam dan kali ini hanya berdua.

“Ya” seru Soo Ji riang.

“Aku senang, kau tidak pernah menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya sekarang” Soo Ji merasakan jika Joon sedang tersenyum diseberang telepon..

Awal mereka berkencan, Soo Ji selalu menyembunyikan perasaannya tapi sekarang dia tidak dapat mengontrolnya dengan baik. Karena Joon selalu memberinya kata kata manis, perhatian lebih, yang membuat Soo Ji ingin membalas apa yang Joon berikan tanpa harus malu malu.

“Itu konyol” Jawab Soo Ji jujur.

“Apa besok pagi kau akan bersepeda?” kegiatan rutin mereka semenjak berkencan, Joon selalu mengajak Soo Ji untuk berolahraga sebelum pergi kesekolah. Awalnya Soo Ji keberatan karena dia selalu bangun siang. Tapi, karena Joon meminta dengan dibumbui paksaan, Soo Ji tidak dapat menolak.

“Aku tidak bisa. Aku harus kesekolah mengemudi pagi pagi sekali untuk ujian terakhir dan hasilnya akan keluar hari itu juga” Soo Ji mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh penyesalan.

“Gwencana. Semoga kau lulus mengemudi walaupun belum mendapatkan SIM. Aku ingin merasakan disupiri dengan seorang wanita cantik”

Lihatlah, dia sudah pandai menggoda sekarang.

Soo Ji memegang pipinya yang memanas “Someday, aku akan menjadi supir mu, Joon” Soo Ji mendengar Joon menghembuskan nafasnya pelan.

“Baiklah, kau harus pergi tidur sekarang, Ji aah” Soo Ji tidak dapat memprotesnya ketika Joon memanggil nya seperti itu dengan penuh penekanan.

Soo Ji melihat portable clock yang berada di nakas, sudah jam sepuluh lima belas. Memang dia sudah seharusnya untuk tidur “Aku harus tidur sekarang” gumam Soo Ji sembari menganggukan kepalanya.

“Tutuplah teleponnya, Joon” nada nya penuh dengan perintah.

“Kau saja” Joon menolak secara halus.

“Kau yang menelpon. Well, kau juga yang harus menutupnya” balas Soo Ji tidak mau kalah.

“Apa salahnya mengalah”

“Aku tak pernah mau mengalah, kau tahu” ucapnya dengan ketus “Kau mau menutupnya atau tidak, Joon?” tanya Soo Ji lagi. Karena Joon tidak menjawabnya.

“Yasudah” Joon mengalah dan Soo Ji tersenyum “Selamat tidur dan sampai bertemu besok malam. Aku sangat tidak sabar menunggu”

“Aku juga”

 

Soo Ji merebahkan tubuhnya, menarik bantal guling untuk dia peluk. Dia tersenyum konyol, memikirkan makan malamnya bersama Joon. Tapi seketika dia bingung, apa yang harus dia pakai besok? Rambutnya harus diapakan?

Apa dia perlu kesalon untuk creambath dan mengecat kuku kuku nya. Dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Tapi, dia tertarik. Soo Ji pernah melihat kuku Tiffany yang dicat dengan warna warna indah. Tidak ada salahnya mencoba.

Soo Ji menarik selimutnya lebih tinggi dan beranjak untuk tidur. Karena besok dia memiliki hari yang penuh dan sangat dia nantikan. Dimulai dari ujian terakhir mengemudinya dan makan malam bersama Joon. Soo Ji pun terlelap dan tersenyum dalam tidurnya.

 

 

***

“Yahuu, yeas, yeas…” Soo Ji masuk kedalam rumah dengan berlari sembari melompat. Ditangannya ada amplop cokelat yang dia pegang erat.

Siwon berjalan dibelakangnya, tersenyum melihat tingkah laku putri sulungnya, seperti anak usia lima tahun.

Soo Ji bertemu Tiffany yang menuruni anak tangga terakhir. Tiffany mengamati Soo Ji dengan memicingkan matanya. Tiffany meraih amplop cokelat dari tangan Soo Ji.

Setelah membukanya, Tiffany melihat nilai mengemudi Soo Ji yang mendapatkan nilai B. Itu artinya, putrinya lulus. Tiffany melirik Siwon “Kau tidak memakai kekuasaan mu untuk mendapatkan nilai ini kan, Daddy?” Tiffany mengangkat kertas tersebut sebelum memasukkannya kembali.

Siwon menggeleng cepat “Tidak, itu murni. Aku tidak ikut campur” kata Siwon jujur. Dia tidak akan memanipulasi, apalagi ini menyangkut keselamatan putrinya juga.

“Mommy tahu, Grammy bilang mobil ku akan datang satu minggu lagi” Soo Ji tersenyum lebar, dia bertepuk tangan riang.

“Kau tidak bisa membawa mobil itu karena kau belum mendapatkan SIM” Tiffany mengingatkan Soo Ji, mematahkan semangatnya.

Arrayo” gerutunya sebal. Dia cemberut mendengar pernyataan Tiffany

Tiffany menyerahkan amplop tersebut pada Siwon dan merapikan rambutnya. Dibahunya tersandang tas berwarna hitam “Baiklah, Mommy pergi dulu”

Tiffany baru melangkahkan kakinya tapi Soo Ji menarik tangannya “Mommy mau kemana?” tanya Soo Ji ingin tahu. Karena sebenarnya dia ingin ditemani kesuatu tempat.

“Kesalon” jawab nya. Tiffany menatap Soo Ji yang juga sedang menatapnya.

“Ikut” pinta Soo Ji. Tiffany menautkan alisnya, tumben sekali, Batin Tiffany.

“Kau yakin?” tanya Tiffany lagi. Soo Ji mengangguk kecil, matanya berbinar penuh harap.

“Ajaklah, Tiff. Tadi dia memintaku untuk mengantarnya kesalon tapi aku menolak” Tiffany menatap Siwon lalu beralih menatap Soo Ji.

Siwon memang tidak pernah mau mengantar ke salon dan satu lagi, mall. Menurutnya itu dua tempat terkutuk. Dimana wanita dengan senang hati menghabiskan waktu berjam jam, sedangkan Siwon menunggu dengan bosan.

Tanpa ingin bertanya lebih banyak lagi, Tiffany langsung menarik Soo Ji dan berpamitan dengan Siwon. Soo Ji tersenyum puas, karena ini adalah keinginan nya. Pergi ke salon untuk mencuci rambut dan mengecat kuku kuku cantiknya. Berterimakasih pada Tiffany yang secara kebetulan akan pergi ke salon. Keberuntungan kedua yang dia dapat hari ini.

 

***

Tiffany mendorong pintu kaca besar didepannya, menyuruh Soo Ji lebih dulu masuk. Lalu Tiffany melambaikan tangannya pada Yuri yang duduk disofa berwarna putih pucat dengan majalah yang ada ditangannya dan ada Hara duduk disampingnya. Mereka memang membuat janji temu disalon ini. yuri meminta Tiffany memberi referensi potongan rambut yang cocok untuk bentuk wajahnya. Min Ho sudah sangat cerewet menyuruhnya untuk potong rambut.

“Ku kira kau sendiri” kata Yuri, ketika Tiffany duduk didepannya dihalangi meja marmer modern.

Tiffany hanya tersenyum “Kau sudah lama, Yul?” Tiffany meraih majalah yang berisi macam macam model rambut.

“Belum terlalu lama” Yuri melirik Soo Ji yang duduk disamping Tiffany “Hai Soo Ji, kau semakin cantik saja” puji Yuri benar benar dari hati.

Soo Ji tersipu “Terimakasih Yuri Imo”

Tiffany menatap Soo Ji yang tersenyum malu malu, lalu Tiffany memanggil pegawai salon untuk membantu Soo Ji “Tolong bantu gadis centil ini. dia ingin creambath dan mengecat kukunya” pinta Tiffany dengan lembut.

Soo Ji menatap Tiffany tidak suka karena panggilan Tiffany untuknya. Tapi, beberapa menit kemudian, Soo Ji sudah menghilang mengikuti pegawai tadi.

Yuri terkekeh “Soo Ji sudah beranjak menjadi gadis dewasa”

Tiffany mengangguk setuju “Yul, kau potong rambut dengan model ini saja” Tiffany memperlihatkan gambar yang ada dimajalah pada Yuri. Gambar seorang wanita dengan potongan rambut sebahu “Dan ditambah dengan poni, kau akan terlihat lebih fresh”

Yuri tersenyum menatap Tiffany “Ya, aku suka”

“Aku yakin, Min Ho akan menyukainya juga” Tiffany melihat Hara yang hanya diam menyimak pembicaraan mereka “Bukan begitu Hara? Apa kau menyukainya?” Tiffany meminta pendapat pada Hara.

“Eomma akan terlihat semakin cantik” Yuri tersenyum malu mendengar penuturan putrinya, dia mengacak rambut Hara.

 

Satu jam kemudian..

Tiffany masih setia menunggu Soo Ji, Yuri sudah pulang lebih dulu. Sangat puas dengan model rambut barunya dan dia sudah tidak sabar untuk pulang. Menunjukkan pada suaminya, Choi Min Ho.

Soo Ji berjalan kearah Tiffany yang menunggunya. Dia mengibaskan rambut dengan gaya angkuhnya. Tiffany yang menyadari kedatangan Soo Ji, mendongakan kepalanya. Melihat putri sulungnya yang tersenyum puas memamerkan kuku kuku jari lentiknya.

“Apa aku sudah terlihat cantik?” Soo Ji mengibaskan rambutnya yang panjang dan bergelombang dibagian bawah. Dia mengedipkan matanya dengan genit.

Tiffany berdecak “So beautiful” ucap Tiffany. Putrinya memang benar benar cantik, dia memenuhi kriteria menjadi model. Tapi Tiffany tidak ingin anaknya menjadi sorotan kamera. Kalau bisa keempat putrinya menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain.

Tiffany membayar tagihan salon. Ketika mereka berjalan keluar salon, Soo Ji merangkul Tiffany layaknya seorang teman, mereka memiliki tinggi tubuh yang sama. Tiffany menoleh kearahnya dengan terkejut.

“Mommy” panggil Soo Ji dilembut lembutkan.

Tiffany mencibir, tahu dengan sifat putrinya. Pasti Soo Ji menginginkan sesuatu fikir Tiffany “Mwo?”

“Aku tahu Mommy lelah” Soo Ji diam sebentar “Well, berikan kunci mobilnya padaku. Aku akan menjadi supir Mommy”

Tiffany melepas rangkulan Soo Ji dan melotot kearahnya “ANDWAE” pekik Tiffany. Berlalu meninggalkan Soo Ji dibelakangnya.

Soo Ji berlari kecil menyusul Tiffany dan menarik lengannya “Hanbeonma.. keunyang hanbeonma” pinta Soo Ji, mengangkat satu jari didepan wajahnya.

Tiffany dilema, dia ingin melihat kemampuan mengemudi Soo Ji tapi dia ragu. Soo Ji menggoyangkan lengan Tiffany, karena Tiffany hanya diam tidak memberi respon. Detik kemudian, Tiffany melemparkan kunci mobilnya pada Soo Ji tanpa berkata sepatah katapun dan berjalan menuju mobil.

 

Tiffany melirik Soo Ji yang duduk dengan siap  dibalik roda kemudi “Berhentilah tersenyum seperti orang idiot dan fokuslah mengemudi” tegur Tiffany. Karena sedari tadi Soo Ji tidak berhenti tersenyum.

Arraseo” balasnya dengan semangat. Sebelum menghidupkan mesin Soo Ji menarik nafas dan membuangnya perlahan.

Soo Ji menginjak pedal gas dengan lembut. Matanya sesekali melihat kaca spion dengan hati hati. Dia ingin menunjukkan pada Tiffany kalau dia mampu. Karena Tiffany selalu tidak mempercayai kemampuan yang dia punya.

Ketika sampai dipersimpangan, Soo Ji menekan rem terlalu kuat. Sehingga tubuh mereka terlempar kedepan.

“Jangan terlalu kuat menginjak rem nya, Soo Ji aah” Tiffany memperingati, Soo Ji hanya mengangguk patuh dan kembali fokus mengemudi.

Di persimpangan kedua, Soo Ji melakukan hal yang sama membuat Tiffany menjerit kesal. Tiffany menyerah, dia menyandarkan kepalanya di jok dan menutup matanya. Perutnya sedikit mual, dia berharap cepat sampai dirumah dengan selamat.

 

Tiffany keluar dari mobil lebih dulu, dia menyandarkan tubuhnya dipintu mobil. Memijit kepalanya yang terasa pusing, perutnya pun mual, menurut Tiffany Soo Ji masih harus belajar menginjak rem.

Soo Ji yang melihat Tiffany sedikit melengkungkan bibir tipisnya “Mommy berlebihan” katanya dengan suara jengkel.

Tiffany menoleh dan berjalan kearah Soo Ji “Kau harus belajar menginjak rem dengan benar” Tiffany memijit kepalanya pelan “Oh Tuhan, kau membuat Mommy mual” Tiffany berjalan lebih dulu kedalam rumah, Soo Ji menghentak hentakan kaki nya kuat ketika dia berjalan. Soo Ji berharap mendapat pujian tapi dia tidak mendapatkan itu.

 

 

***

“Aku suka makan dengan wanita cantik disampingku” Puji Joon sungguh sungguh. Sedari tadi dia hanya memandang Soo Ji yang berada disampingnya, menyantap steak nya dengan lahap.

Soo Ji mendengar itu dengan jelas, genggaman pada pisau dan garpunya terlepas “Oh” Soo Ji tersipu “Terimakasih”

“Tidak perlu berterimakasih untuk mengatakan yang sebenarnya”  dia melihat sekeliling restoran dan tersenyum “You looked so amazing, Ji aah” bisik Joon, dia mengamati Soo Ji sekali lagi.

Perkataan Joon membuat wajah Soo Ji memerah dalam sekejap “Berhenti memanggilku seperti itu” jawab Soo Ji pelan.

“Aku tidak bisa”

“Aku membencimu” kata Soo Ji, tidak benar benar mengucapkannya dari hati.

“Aku mencintai mu juga” Joon tersenyum jahil menatap Soo Ji. Ini menjadi dialog andalan mereka ketika Joon memanggil nya Ji aah.

Mereka terus berbincang bincang sepanjang menghabiskan makan malam. Soo Ji tidak pernah senyaman ini pada seorang pria, bahkan dia dapat mengobrol berjam jam, hal yang sulit dia lakukan pada orang lain. Soo Ji pernah dekat dengan pria ketika berada di kelas tiga sekolah menengah pertama tapi rasanya jauh lebih berbeda  dengan yang dia rasakan saat ini, bersama Joon.

 

 

Sudah pukul sepuluh malam ketika mereka sampai didepan rumah Soo Ji. Tiga jam mereka menghabiskan waktu bersama direstoran. Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu.

Soo Ji melepas sabuk pengamannya “Thank you for tonight, Joon. It was fun.” Dia tersenyum tipis ketika akan turun dari mobil Joon “Aku tahu kau harus pulang sekarang dan tidur. Karena besok pagi kau harus pergi latihan”

Bahu Joon merosot “Sangat disayangkan kita tidak bisa pergi jogging besok pagi” Suara Joon terdengar lesu, harus absen dari kegiatan rutin mereka. Lagi.

“Jangan khawatir, kita memiliki hari hari lain” ucap Soo Ji menyemangati.

Joon senang mendengar kalimat yang Soo Ji katakan ‘memiliki hari hari lain’  berarti mereka akan selalu bersama sama kedepannya nanti “Baiklah, sampaikan salamku pada Tiffany Aunty dan Siwon Samchon”

Tadi ketika mereka pergi Siwon dan Tiffany tidak ada dirumah karena harus menghadiri pesta pernikahan pegawai dikantornya. Seketika Soo Ji teringat kedua orang tuanya, apa mereka sudah pulang? Soo Ji berbohong pada Joon kalau dia sudah meminta izin untuk pergi malam ini karena yang sebenarnya terjadi, Soo Ji tidak meminta izin sama sekali. Dia mengambil kesempatan karena Siwon dan Tiffany keluar dan berharap dia pulang ketika orang tuanya masih berada diluar.

Soo Ji masih menutupi hubungannya dengan Joon, bahkan Siwon juga belum diberitahunya. Rutinitas lari paginya bersama Joon juga tidak ada yang tahu, Soo Ji menutupnya rapat rapat. Walaupun dia tahu suatu hari nanti hubungannya akan tercium, tapi tidak sekarang. Jangan…

Dengan cepat Soo Ji segera meninggalkan Joon dan masuk menerobos pintu pagar besi tinggi yang menutupi rumah mewahnya. Dia memasukkan password, pintu terbuka dan dia masuk lalu menutup pintu dibelakangnya dengan sangat pelan.

Soo Ji melompat terkejut mendapati Siwon dan Tiffany berdiri disamping dekat pintu, tidak terasa dia menahan nafasnya.

“Dari mana Choi Soo Ji?” tanya Siwon dan Tiffany bersamaan, tangan mereka bersedekap didepan dada. Kompak!!

“A..aku pergi bersama Nana” katanya terbata, dia memilin rok yang dipakainya.

Tiffany maju selangkah lebih dekat dengan Soo Ji “Jangan berbohong. Mommy baru saja menelpon Nana. Tapi, dia bilang kalian tidak bersama” ucap Tiffany sarkatis.

Soo Ji begitu aman ketika pergi karena Eun Ji dan Young Ji berada dikamarnya sedangkan Lauren ikut bersama Siwon dan Tiffany. Tapi, sekarang dia sedang tidak aman. Suasana begitu mencengkam.

Tiba tiba Siwon menarik pergelangan tangannya dan membawa Soo Ji keruang tengah untuk menjelaskan semuanya. Siwon dan Tiffany begitu cemas melihat Soo Ji tidak ada dikamarnya, Soo Ji pergi tanpa meminta izin dan lebih parahnya lagi, Soo Ji meninggalkan ponselnya. Membuat mereka semakin cemas, takut jika anaknya diculik. Tapi Siwon begitu pintar, tanpa sepengetahuan Tiffany dia menelpon Taeyeon dan menanyakan tentang Joon. Setelah mendapatkan informasi yang akurat, Siwon cukup lega. Hanya saja dia ingin Soo Ji  menjelaskan langsung padanya dan dia harus berjanji untuk tidak pergi secara diam diam.

Suasana begitu dingin diruang tengah, padahal diluar sedang tidak turun hujan. Tiffany menatap putrinya yang sedari tadi hanya menunduk.

“Jelaskan pada kami, Choi Soo Ji. Kemana kau pergi? Kau tahu kami mengira kau diculik. Kami sangat cemas, Soo Ji” Tiffany menahan suaranya agar tidak berteriak tapi sangat sulit. Bahkan saat ini suaranya terdengar tinggi yang membuat Soo Ji meringis ketakutan.

“Aku pergi bersama Joon” kata Soo Ji mendesah dengan ragu ragu.

“Hanya berdua?” tanya Tiffany. Soo Ji mengangguk pelan.

“Kemana kalian pergi?” Tanya Siwon penasaran. Sudah lama Soo Ji tidak berbagi cerita dengannya dan sepertinya Siwon banyak ketinggalan info seputar putrinya.

“Kami hanya pergi makan” kepala Soo Ji terangkat, dia memberanikan diri untuk menatap Siwon dan Tiffany.

Tiffany memicingkan matanya, menenggelamkan Soo Ji dalam tatapannya “Kalian tidak berkencan kan?”

Hening beberapa detik “Aku berkencan dengan Joon” Ucap Soo Ji lantang dengan penekanan disetian kata demi katanya.

Tiffany terperangah, matanya membulat dengan sempurna, mulutnya terbuka untuk bicara tapi Soo Ji mencelanya “Mommy tidak bisa melarangku. Ingat, Mommy dulu juga berkencan saat seusiaku” Soo Ji berdiri “Aku lelah, selamat malam” dia membungkuk lalu meninggalkan Siwon dan Tiffany begitu saja.

Tiffany lebih terkejut lagi ketika putrinya meninggalkannya begitu saja padahal mereka belum selesai bicara. Tiffany membebaskan Soo Ji malam ini, tapi besok dia harus bicara pada Soo Ji karena penjelasannya masih belum mendetail.

Tiffany melirik Siwon yang berada disampingnya, dia memukul lengan Siwon kuat saat Siwon membuang tatapannya ketika mata mereka bertemu “Aku tebak, kau tahu. Karena yang aku lihat kalian sering mengobrol berdua akhir akhir ini”

Siwon tidak dapat mengelak “Ya, aku tahu” gumam Siwon pelan.

Lagi lagi Tiffany tidak tahu tentang putrinya. Apa ada lagi yang mereka sembunyikan? Sakit dihatinya membuncah, dia memukul dada Siwon “Kau jahat” Tiffany berjalan pergi meninggalkan Siwon. Kesal, marah dan lagi lagi dia merasa dibodohi.

Satu orang yang saat ini ingin dia ajak bicara adalah Taeyeon. Tiffany masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponselnya, beruntung Siwon tidak menyusulnya. Tiffany membuka kaca besar dan keluar balkon kamarnya, lalu dia menutupnya kembali. Tiffany mencari nama Taeyeon di kontak ponsel nya dan menelponnya tanpa ragu ragu.

 

***

Taeyeon yang baru saja membukakan pintu untuk Joon, merasakan getar ponsel disaku celana piyamanya. Taeyeon menarik keluar ponsel miliknya, sebelah alisnya terangkat ketika melihat nama Tiffany dilayar ponselnya.

Taeyeon yang melihat Joon sedang menaiki anak tangga pun berteriak “Jangan tidur dulu, Joon. Ada yang ingin Eomma bicarakan” Suaranya penuh dengan perintah. Joon mengangkat satu ibu jarinya untuk Taeyeon sebagai jawaban.

Sebenarnya tidak ada yang penting untuk dibicarakan pada Joon, hanya saja Taeyeon penasaran dengan makan malam putranya bersama gadis yang disukainya, yang dinyatakan Joon sebagai kekasihnya.

Taeyeon menarik kursi meja makan, menempatkan tubuhnya diatas sana dan menggeser tombol hijau dilayar ponselnya “Nde” jawab Taeyeon.

“Apa Joon baru saja pulang?” tanya Tiffany pada Taeyeon tanpa berbasa basi terlebih dulu.

“Ya” Taeyeon mengerutkan dahinya, pasti Tiffany tidak menghetahui hubungan Joon dan Soo Ji.  “Kau tidak tahu?”

“Kau tahu?” bukan menjawab, Tiffany malah balik bertanya.

Taeyeon menghembuskan nafasnya “Aku tahu. Joon selalu terbuka padaku”

“Sejak kapan?” suara Tiffany terdengar kecewa “Sejak kapan mereka berkencan?” Tiffany memperjelas pertanyaannya.

“Satu minggu, kurasa” Taeyeon tidak yakin “Kau benar benar tidak tahu tentang ini?” Tanya Taeyeon hati hati.

“Tidak. Tapi, Siwon tahu dan yang lebih menyakitkan nya lagi, malam ini aku tidak tahu Joon dan Soo Ji pergi untuk kencan. Karena aku ada acara juga dengan Siwon. Aku merasa menjadi Ibu terburuk” kata Tiffany panjang lebar, dia mengerang frustasi.

Taeyeon terkejut, dia tidak tahu kalau putranya membawa anak gadis sahabatnya secara diam diam. Karena yang Taeyeon tahu, Joon adalah pria yang gentle “Aku tidak tahu jika Joon membawa putrimu tanpa izin” Taeyeon merasa bersalah atas tindakan putranya.

“Dan jangan bilang, kau Ibu terburuk. Kau Ibu terbaik dengan mengurus empat putri sekaligus, aku bahkan iri padamu” Taeyon mencoba menyenangkan hati Tiffany.

“Entahlah, aku tidak yakin” gumam nya lesu “Tae, apa kau marah jika aku melarang anak kita berkencan?”

Mwo?” jerit Taeyeon tidak suka “Sangat marah, lagi pula apa yang membuatmu melarang mereka berkencan hoh?” marah Taeyeon pada Tiffany. Dia penasaran apa Tiffany memiliki alasan yang tepat untuk melarang anak mereka berkencan.

“Aku ingin Soo Ji fokus pada sekolahnya dulu” jawab Tiffany pelan.

“Itu alasan yang tidak dapat aku terima. Biarkan saja Tiff, aku bahkan sudah mengancam Joon jika nilai nya jelek. So, kita hanya perlu mengawasi mereka saja.

“Kau yakin?”

“Yakin. Demi Tuhan, Fany aah kau seperti tidak pernah muda saja. Astaga” Taeyeon sudah sangat hapal, Tiffany selalu bertindak berlebihan sejak dulu. Tapi, Taeyeon tahu, Tiffany ingin yang terbaik untuk anak anak nya. Begitupun Taeyeon.

 

Setelah pembicaraannya dengan Tiffany ditelepon, Taeyeon pergi ke kamar Joon. Ingin mengkonfirmasi soal perginya dengan Soo Ji tanpa meminta izin pada orang tua gadis itu.

Ketika Taeyeon masuk, Joon sudah rapih dengan piyama tidurnya. Dia duduk bersandar ditempat tidur besarnya. Taeyeon tersenyum kearah Joon yang sedang menatapnya.

“Apa tadi kau meminta izin pada orang tua Soo Ji ketika mengajaknya pergi?” tanya Taeyeon lembut, dia duduk ditepi tempat tidur.

“Tadi ketika aku menjemputnya, mereka tidak ada dirumah. Soo Ji bilang, dia sudah mewakilkan aku untuk meminta izin pada orang tuanya” tutur Joon. Ini bukan pertanyaan yang seharusnya Taeyeon tanyakan, harusnya Taeyeon menanyakan kemana kalian pergi? Apa menyenangkan? Apa yang kalian bicarakan? Fikir Joon.

“Kau tidak sadar kalau Soo Ji membohongimu?”

Joon menatap Taeyeon dengan raut wajah kebingungan “Maksud Eomma?” Joon meminta Taeyeon menjelaskan lebih padanya.

Taeyeon sedikit curiga ketika Siwon menghubunginya tadi. Tapi, yang Taeyeon fikirkan Tiffany tahu. Tapi malah sebaliknya “Orang tuanya tidak tahu soal kepergian kalian malam ini. ketika mereka pulang dan tidak menemukan Soo Ji mereka cemas”

Joon merasa tidak enak pada Ibunya “Apa Tiffany Aunty marah pada Eomma karena sikapku?” tanya nya prihatin.

“Tidak” Taeyeon mengibaskan tangannya diudara “Mana berani dia memarahi Eomma” Taeyeon terkekeh, Joon tersenyum ragu ragu “Bicaralah pada Soo Ji untuk lebih bersikap jujur” Taeyeon memberitahu Joon. Dia hanya mengangguk, Joon kecewa pada Soo Ji yang membohonginya.

Setelah Ibunya keluar, Joon mengambil ponselnya, mengirimkan pesan pada Soo Ji.

 

***

Soo Ji yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, duduk kembali ketika ponselnya berdering satu kali. Satu pesan masuk dari Joon.

Apa kau sudah tidur?

Soo Ji ersenyum, dia cepat membalas pesan dari Joon ‘Baru akan tidur, ada apa?’ Soo Ji menekan send dilayar ponselnya.

Tidak butuh waktu lama, Joon sudah membalas pesannya.

Kenapa kau berbohong padaku?

Soo Ji mengernyit setelah membaca pesan dari Joon. Soo Ji tahu, pasti Ibunya bicara pada Ibu Joon mengenai kepergian diam diam mereka malam ini. matilah kau Soo Ji!! Soo Ji menepuk keningnya.

‘Maaf’ hanya itu balasan Soo Ji. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Lama Joon membalas pesannya, membuat Soo Ji tidak sabar menunggu dan akhirnya mengetik sesuatu di ponselnya lagi. Tapi, notifikasi pesan masuk mengurungkan niatnya.

Kau tahu, hubungan akan bertahan lama jika dilandasi kejujuran. Aku ingin menjalin hubungan dengan mu lebih lama, dengan arti aku ingin kau jujur padaku. Tidak ada rahasia kecil apapun diantara kita. Aku tidak ingin kau berbohong, Soo Ji.

Hatinya berdenyut nyeri saat membaca pesan dari Joon. Soo Ji tahu, Joon kecewa padanya. Soo Ji tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja dia belum menemukan waktu yang tepat untuk bicara pada orang tuanya ‘Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi’

Bahu Soo Ji merosot, dia mencoba menyerap kata demi kata pesan dari Joon. Hubungan mereka baru berjalan satu minggu. Tapi, sudah memiliki konflik yang dia timbulkan. Lamunanya buyar ketika ponselnya berbunyi, pesan balasan dari Joon.

Aku harap jangan hanya dimulut. Tapi, kau benar benar melakukannya. Selamat malam

Joon marah dan kecewa padanya, itu yang dapat Soo Ji fikirkan saat ini. Joon juga memanggil nya Soo Ji bukan Ji aah seperti biasanya dan Joon menyudahi pesannya dengan ucapan selamat malam yang biasa, tidak semanis biasanya.

Kepala Soo Ji berdenyut, ini konsekuensinya jika dia berbohong. Joon yang kecewa padanya dan lebih parahnya lagi, kedua orang tuanya pun marah padanya. Tadi dia meninggalkan Siwon dan Tiffany begitu saja, padahal mereka belum selesai bicara. Sekarang Joon yang melakukan itu padanya. Apa itu karma?

 

***

Tiffany yang terus bergerak ditempat tidurnya sejak tadi, membuat Siwon membuka matanya “Apa yang membuatmu gelisah?” tanya Siwon penuh perhatian.

Tiffany memutar tubuhnya menghadap Siwon, dia menatap Siwon ragu ragu “Joon dan Soo Ji. Apa mereka akan memiliki kisah yang sama seperti Taeyeon dan-“

Siwon menempatkan jari telunjuknya diatas bibir tipis Tiffany “Ssst!! Jangan berfikir seperti itu” Siwon meletakkan tangannya dipipi Tiffany “Mereka tidak sama, sayang. Mereka berbeda” Siwon menarik Tiffany kedalam pelukannya. Dia tahu ketakutan istrinya saat ini.

“Tapi Joon-“ untuk yang kedua kalinya, Siwon mencela ucapan Tiffany.

“Sudah, jangan mengungkitnya lagi. Taeyeon sudah bangkit dan melupakan masa lalu kelamnya. Kenapa sekarang kau harus mengungkitnya?” Siwon menggosok gosok punggung Tiffany.

“Aku tidak pernah lupa. Aku membenci pria itu, aku ingin membunuhnya, membalas perlakuannya pada Taeyeon” Suaranya penuh dengan kebencian. Tangan Tiffany terkepal dengan sendirinya.

 

***

“Eomma, boleh aku masuk?” seru Hara. Sebelum itu dia mengetuk pintu terlebih dulu, lalu membuka knop pintu perlahan.

“Ada apa?” tanya Yuri, ketika dia membiarkan anak nya masuk. Yuri meletakkan ponselnya diatas nakas.

“Bolehkah aku disini, menemani Eomma menunggu Appa pulang?” Hara berdiri didekat tempat tidur, memeluk boneka Mickey Mouse kesayangannya. Menunggu persetujuan Yuri.

“Karena kau sudah disini, maka kemarilah” Yuri menepuk tempat tidur kosong disampingnya.

Hara dengan senang hati melemparkan tubuhnya dan Yuri menangkapnya kepelukan hangat. Min Ho pergi sejak Yuri dan Hara pergi ke salon dan sampai sekarang belum pulang. Inilah kebiasaan Min Ho jika sudah berkumpul dengan teman temannya, dia dapat melupakan statusnya sebagai Suami dan Ayah.

“Kau terlihat tidak baik hari ini? ada apa?” tanya Yuri membuka pembicaraan, tangannya terus mengusap puncak kepala Hara dengan sayang.

Hara hanya dapat menggeleng dipelukan Yuri, Yuri menarik dagu Hara untuk menatap matanya “Ada apa hoh? Ceritakan pada Eomma”

Yuri menangkap perubahan sikap putrinya sejak kemarin, Yuri fikir itu hanya akan sesaat. Tapi, sudah dua hari, Hara masih bersikap murung.

Hara memberi jeda, sedang berfikir apa yang akan dia katakan pada Yuri “Eomma, aku menyukai seseorang. Tapi, orang itu menyukai orang lain” bisik Hara. Tapi, terdengar jelas ditelinga Yuri karena Hara berada ditengkuk lehernya.

Yuri terejut, beberapa waktu lalu putranya yang menyatakan dia menyukai seseorang dan sekarang putrinya. Yuri seketika pusing “Apakah itu Joon?” tebak Yuri.

 

 

YURI POV

“Apakah itu Joon?” Hara mengangkat kepalanya secara otomatis.

Dilihat dari reaksinya, pertanyaanku tidak salah. Astaga, kedua anakku sedang jatuh cinta? Jeongmal? Diusia mereka yang masih belia? Demi Tuhan, mereka masih berada disekolah menengah pertama. Kepala ku tiba tiba berdenyut.

Hara menatapku tanpa suara, matanya berkedip beberapa kali “Dari mana Eomma tahu?” Suaranya keluar dengan terbata bata. Dugaanku benar.

“Hanya menebak” aku mengangkat bahuku ketika dia menarik diri dari pelukanku “Karena hanya Joon, pria yang dekat dengan mu”

“Ya, tapi dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Joon Oppa menyukai Soo Ji Unnie” gumamnya kecewa, bibirnya cemberut. Oh anakku, kau masih terlalu dini untuk patah hati.

Aku mengambil satu tangannya dan menggenggamnya erat dengan kedua tanganku. Aku tersenyum simpul kearahnya “Terkadang kau mencintai orang yang salah diwaktu yang tepat dan bisa saja kau mencintai orang yang tepat diwaktu yang salah”

Hara memberengut, kerutan didahinya terlihat lebih jelas “Otakku terlalu tumpul untuk memahami kalimat Eomma” ungkap Hara jujur.

Aku tertawa, bahkan aku menyadari ucapan yang aku ucapkan pasti terdengar rumit. Tapi, aku yakin dia paham “Kau tahu, orang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Eomma yakin kau akan mendapatkan pria yang lebih baik. Soon, maybe

Dia menggeleng tidak setuju “Joon Oppa baik, kenapa dia mendapatkan wanita yang tidak baik  seperti Soo Ji Unnie” Suaranya terdengar jengkel, apa Hara membenci Soo Ji?

“Yak, kenapa kau bicara seperti itu?” aku tidak suka putriku menilai orang dari luarnya saja.

Yang aku tahu Soo Ji anak yang baik walaupun sedikit  angkuh. Ya, bagaimana tidak, dia cantik, memiliki orang tua yang kaya raya. Jadi, mungkin sifat angkuhnya karena dia merasa sempurna. Astaga, kenapa aku jadi membicarakan hal buruk tentang Soo Ji.

“Soo Ji Unnie gadis kasar dan angkuh. Aku pernah melihat dia megganggu Lauren, bahkan memarahinya” aku melihat mata Hara seperti menerawang, mengingat sesuatu dikepalanya.

Benarkah itu? Yang dibilang Hara tentang Soo Ji? Aku memicingkan mataku kearahnya “Kau tidak membencinya kan?” aku takut Hara bicara seperti itu karena dilandasi rasa cemburu.

Hara menggeleng sembari mengibaskan tangannya “Aku tidak membencinya, hanya tidak menyukainya saja” suaranya terdengar lemah.

“Kalian tidak saling menyapa disalon tadi. Eomma tidak ingin kalian bermusuhan hanya karena seorang pria.” Aku melihat jelas disalon tadi, mereka hanya bertemu mata sebentar, lalu saling mengabaikan satu sama lain.

“Aku tahu. Aku memang tidak begitu dekat dengan Soo Ji Unnie dan Eun Ji. Young Ji lebih asyik diajak mengobrol, Young Ji sangat berbeda dari kedua Unnie nya”

Ya, aku juga berpendapat sama dengan Hara. Young Ji lebih friendly dan ramah, dia juga sangat sopan. Sifat periang Tiffany menurun padanya. Tapi, sifat buruk Tiffany sepertinya diambil semua oleh Soo Ji. Sedangkan Eun Ji, mengambil Sifat Siwon yang acuh dan tidak peduli sekitar. Tapi Siwon perlahan berubah semenjak berteman dengan Tiffany. Aigoo, lagi lagi aku menilai orang lain.

“Kalian harus berteman dekat seperti kami”  Hara mengangguk kecil dan menarik sudut bibirnya.

Kami terdiam cukup lama sampai suara decitan pintu menghilangkan kesunyian. Hara langsung bersembunyi dibalik selimut, tahu siapa yang datang. Aku pun mengikuti permainan yang dia ciptakan.

“Aku kira kau tidak pulang” ucapku dengan wajah masam. Dia duduk ditepi tempat tidur, disisiku.

Min Ho menatapku tanpa berpaling, aku tahu dia mengamati model rambut baruku. Apa dia menyadari kalau aku memakai poni sekarang?

Neomu Yeppo” pujinya, dan aku tersipu seperti gadis remaja yang sedang digoda oleh kekasihnya.

“Oh Tuhan, aku tidak dapat berkata apa apa. kau cantik dengan model rambut ini dan poni” dia mengucapkan dengan penuh penekanan disetiap suku kata.

Aku juga menyukai model rambutku yang sekarang, Tiffany benar benar hebat memilih model rambut yang cocok untukku. Tiba tiba Min Ho menangkap wajahku dengan kedua tangannya, aku tahu apa yang akan dia lakukan. Secara otomatis aku memejamkan mataku ketika wajahnya membelah jarak diantara kami. Ketika bibir kami hampir menempel, Hara keluar dari persembunyiannya. Ya Tuhan, aku melupakan dia yang berada dibalik selimut.

Min Ho melompat kaget “Choi Hara” pekiknya kesal. Antara terkejut atau merasa diganggu, entahlah. Tapi, ekspresinya lucu, membuat aku dan Hara tertawa geli.

Lalu beberapa detik setelah itu, Hara menatap garang kearah Min Ho, menyilangkan tangan didepan dadanya “Appa tahu jam berapa sekarang? Appa selalu lupa waktu jika sudah berkumpul dengan Onew Ahjussi dan yang lain. Appa mau aku pecat menjadi Appa ku. Aku akan mencarikan Appa baru untuk Eomma”

Marahnya panjang lebar, apa apaan dia? Dipecat menjadi Appa? Suaranya terdengar serius. Astaga Hara.

Min Ho terperangah, mulutnya terbuka tidak percaya “Ya ya ya, tega sekali kau bicara seperti itu. Seharusnya kau bangga memiliki Ayah seperti Appa. Penyayang, mapan dan tampan” Min Ho memegang dagu dengan gaya sok cool nya.

Ya, Tuhan. Aku menggeleng melihat Min Ho dan Hara yang berdebat saat ini “Ya, aku bangga. Tapi, tidak dengan sifat lupa waktu Appa” Ucap Hara tidak suka.

Arraseo” Min Ho berjalan kearah Hara, memutar tempat tidur untuk sampai disisi Hara “Bisa kau keluar dari kamar kami? Appa sangat lelah, jeongmal” wajahnya dibuat selelah yang dia bisa, aku tahu Min Ho sedang berakting.

“Appa mengusirku?” pekik Hara tidak setuju.

Anyio” Min Ho mengelak mendengar pekikan Hara.

Hara berdiri diatas tempat tidur “Aku akan keluar jika kuda berkaki dua membawa ku kekamar dengan selamat” pinta Hara. Yang dia maksud adalah Min Ho mengantarnya dengan menggendongnya dibahu. Itu favorite Hara ketika dia kecil.

Min Ho tidak terlihat keberatan dengan permintaan Hara. Dengan gerakan cepat Min Ho menyodorkan bahunya didepan Hara dan Hara langsung melompat ke bahu Min Ho kegirangan.

 

 

***

AUTHOR POV

“Aku menyerah” Gumam Soo Ji terbatuk batuk. Setelah memunculkan kepalanya kepermukaan. Mengusap wajahnya yang ditutupi air.

Selang beberapa detik Tiffany menimbulkan kepalanya, mengusap wajahnya yang dipenuhi air. Lalu dia tersenyum puas.

“Jelas saja Mommy menang. Mommy saja dapat mengomel tanpa menghirup oksigen selama sepuluh menit” gerutu Soo Ji. Dia mulai berenang ketepi.

Di Minggu pagi, mereka tengah berenang dikolam luas dibelakang rumah. Lauren disisi lain tengah menikmati air kolam menggunakan pelampung, Eun Ji dipinggir kolam, duduk dikursi panjang dengan novel ditangannya. Sedangkan Siwon dan Young Ji pergi ketempat gym.

Tiffany berenang ketepi menyusul Soo Ji “Yak!! Yang kau ucapkan itu berlebihan” protes Tiffany tidak setuju. Mereka bersandar didinding tepi kolam, Tiffany menatap Soo Ji “Well, sudah berapa lama kalian berkencan?”tanya Tiffany to the point. Dia hanya ingin memastikan yang diucapkan Taeyeon semalam dengan jawaban putrinya.

Soo Ji menolehkan kepalanya untuk menatap Tiffany, tatapan tidak suka terpancar di wajah cantiknya “Itu privasi, Mommy” hidungnya mengerut.

Tiffany memukul lengannya “Jangan lupakan kalau aku adalah Ibumu” hardik Tiffany.

Soo Ji berdecak, mengerucutkan bibirnya kesamping “Sekitar satu minggu” Soo Ji membenarkan posisinya “Dan apa yang Mommy katakan pada Taeyeon Eomma? Sampai Joon marah padaku” Soo Ji menatap dingin kemata Tiffany.

Tiffany menautkan alisnya “Kau lebih mengkhawatirkan Joon yang marah padamu, dari pada Mommy yang hampir pingsan karena mendapatkan anak gadisnya menghilang. Tsk!! Manis sekali” Tiffany mencibir “Dan perlu kau tahu, semua ini berasal dari kebohongan mu, Choi Soo Ji” cerca Tiffany kesal. Putrinya lebih mengkhawatirkan pujaan hatinya, dia benar benar sedang dimabuk cinta.

Apa perasaan menyesal dihati Soo Ji setelah mendengar penuturan Tiffany “Sorry” gumamnya sangat pelan.

Tiffany menarik nafas sesaat “Mommy tidak melarangmu. Tapi, kau harus mengikuti peraturan Mommy” Soo Ji menatap Tiffany lalu mengangguk ragu “Pertama, bertemu hanya dua kali dalam satu minggu” ucap Tiffany lantang.

“Tapi, sudah satu minggu ini aku bertemu dengannya setiap pagi untuk jogging” ungkap Soo Ji jujur.

Tiffany terkejut, tapi dia terkesan dengan kejujuran putrinya “Oke, itu tidak masalah” Soo Ji menyeringai.

“Kedua, jika keluar pada malam hari. Harus kembali kerumah tidak boleh lewat dari jam sembilan” Soo Ji mengangguk lagi. Tidak masalah fikirnya, yang terpenting dia mendapat izin untuk keluar pada Sabtu malam “Dan Joon harus meminta izin langsung pada Mommy”

Arro” Soo Ji mulai jengkel, sifat cerewet Tiffany tidak pernah hilang.

“Ketiga tidak saling menyentuh” Tiffany mengucapkannya dengan lantang penuh penekanan.

“Tidak berpelukan” Check, Soo Ji mengangguk setuju.

Kisseu, No!!” Check, aku akan menghindarinya.

“Tidak berpegangan tangan” Uncheck. Aku tidak setuju.

“Mommy, berpegangan tangan tidak boleh? Itu peraturan kuno” sebalnya. Mommy overprotectif.

“Berawal dari berpegangan tangan dan kalian akan menginginkan lebih satu sama lain”  ketika Soo Ji akan melayangkan protesnya, Tiffany membekap mulut Soo Ji “Hanya menurut pada peraturan Mommy atau aku akan melarang  kalian”

Soo Ji merenggut tangan Tiffany dan menjauhkan dari mulutnya “Mommy bertingkah seakan Mommy tidak pernah muda” cibir Soo Ji.

Karena Mommy pernah muda, Mommy sangat mengkhawatirkan kalian. Tidak ingin kejadian menyeramkan yang dialami kedua sahabat Mommy menimpamu, Anakku..

 

***

Soo Ji merasa penat, seharian ini dia hanya dirumah merindukan Joon yang tidak menghubunginya seharian ini. dengan kesal, Soo Ji melempar ponselnya ditempat tidur. Kepalanya sangat panas, dia butuh es krim.

Keluar kamar dan menuju dapur, Soo Ji membuka lemari es tapi tidak ada es krim. dengan kesal dia menutup pintu lemari es dengan kasar.

Ketika Soo Ji melewati ruang keluarga, disana ada Tiffany dengan kepala Siwon yang berada dipangkuan Tiffany.

“Mau kemana?” tanya Tiffany, menjauhkan kepala Siwon dari pangkuannya.

“Aku ingin ke super market, membeli es krim” dia sedang kesal, ditambah sikap overprotektif Ibunya membuat emosinya berada di ubun ubun.

“Kau tidak ingin menemui Joon, kan?” kata Tiffany, suaranya penuh dengan curiga.

Soo Ji menghela nafas dalam “Demi Tuhan Mommy. Aku hanya ingin es krim, keluar dan kembali kerumah dengan cepat. Jika Mommy tidak percaya, ikutlah dengan ku” suara Soo Ji meninggi.

Tiffany terperangah, kenapa jadi dia yang marah? Sebelum Tiffany bicara lagi, Siwon mencelanya dengan cepat “Pergilah dan cepat kembali” kata Siwon pelan. Soo Ji hanya mengangguk kecil, lalu keluar dengan membanting pintu.

 

Sepanjang perjalanan Soo Ji menggerutu, kakinya menendang liar apa saja yang ada didepannya. Soo Ji mengeratkan mantel yang menempel ditubuhnya ketika angin berhembus kearahnya. Terkutuklah dia memakai rok diatas lutut, yang membuat rok itu terus melambai kearah angin itu berhembus.

“Tidak seharusnya memakai rok sependek itu dimalam yang dingin seperti ini” suara itu? Soo Ji menegakkan kepalanya dan melihat Joon berdiri tidak jauh dari nya, memakai traning biru dan hoddie dengan warna senada.

Yang soo Ji lakukan hanya termanggu, memandang pria yang ada didepannya. Matanya berkedip beberapa kali. Siapa tahu, pria didepannya hanyalah ilusi belaka. Mengetahui hubungan mereka yang tidak baik  terakhir kali, tapi pria itu nyata sedang tersenyum malu, senyum kekanak kanakan dan perlahan berjalan maju mempersempit jarak diantara mereka.

“Kau kedinginan? Kenapa kau tidak memakai celana panjang?”

“Aku tidak tahu kalau malam ini akan sangat dingin”

“Kau bahkan tidak tahu bagaimana mengurus diri sendiri” Joon menatap Soo Ji tidak setuju “Kau mau kemana?” tanyanya dengan lembut.

“Aku ingin ke super market. Membeli es krim” Soo Ji menunjuk letak super market yang sudah tertangkap oleh matanya yang berada di belakang Joon.

“Dicuaca dingin seperti ini?” tanya Joon tidak percaya.

Soo Ji mengangguk kecil “Kepalaku terasa panas dan aku membutuhkan es krim” gumamnya.

“Tunggu disini” perintah Joon. Lalu dia berlari secepat kilat, bahkan Soo Ji belum berkata apapun lagi. Tapi, Joon sudah berlari menjauh ke supermarket dan kembali dengan dua cup es krim kecil rasa vanila.

Soo Ji mengambil es krim dari tangan Joon “Ini kecil sekali, biasanya aku membeli yang lebih besar” bibir tipisnya melengkung cemberut.

“Cuacanya sedang tidak bagus, Ji aah” mendengar panggilan itu, membuat mata Soo Ji mencari wajah Joon.

Tiba tiba es krim bukan menjadi prioritasnya lagi “Kau masih marah padaku?” Tanya Soo Ji hati hati. Dia berpaling dari wajah Joon dan menyendokkan suapan besar es krim kedalam mulutnya. Matanya terpejam merasakan sensasi dingin dan rasa manis didalam mulutnya. Mulutnya mendesah kecil.

“Aku memaafkan mu, tapi belum sepenuhnya” Joon melirik kewajah Soo Ji yang berubah masam mendengar ucapannya “Aku bercanda. Aku memaafkan mu sepenuhnya, hanya jangan mengulanginya lagi”

Bibir Soo Ji menipis membentuk senyuman “Terimakasih” setelah itu Soo Ji menceritakan pembicaraannya dengan Tiffany dikolam berenang tadi pagi. Dengan penuh perhatian, Joon mendengarkan ceritanya tanpa ada yang terlewatkan diindra pendengarannya.

Joon mengacak rambut Soo Ji “Itu tandanya Tiffany Aunty menyayangi mu”

Soo Ji mengangguk setuju “Dia overprotektif dan sesungguhnya dia penguntitku” Soo Ji tertawa kecil “Ku kira kau marah dan akan meninggalkan aku” kata Soo Ji kembali membahas permasalahan utama.

“Aku bahkan tak ingin membayangkan itu” desah Joon memejamkan mata, kedua alisanya saling bertautan.

Seperti anak kecil Soo Ji menyenggol tubuh Joon dengan bahunya “Aku tahu, kau tidak tahan marah terlalu lama padaku” goda Soo Ji.

Mendengar ucapan itu, senyum Joon mengembang tak dapat ditahan lagi. Karena yang Soo Ji bicarakan adalah kebenaran. Bahkan ketika latihan, dia memikirkan Soo Ji. Entah dorongan dari mana, Joon balas menyenggol tubuh Soo Ji hingga es krim yang mencair didalam cup Soo Ji tumpah ke trotoar.

“Kau membuat es krim ku tumpah. Demi Tuhan, itu adalah perbuatan paling menyebalkan, Joon”

Joon tertawa “Ya sudah, ambil punyaku. Kau berlebihan” ucap Joon, menyodorkan es krimnya pada Soo Ji.

Soo Ji membuang es krim miliknya, lalu mengambil es krim milik Joon. Joon menghembuskan nafas panjang sambil matanya memperhatikan Soo Ji yang sekarang memakan es krim nya.

“Aku senang bertemu dengan mu malam ini” Ucap Soo Ji tersenyum senang lalu senyumnya hilang dan menjadi cemberut “Tapi, kita harus terpisah disini. Kau tidak perlu mengantarku sampai rumah”

Wae?” protes Joon ingin tahu. Dia ingin mengantar Soo Ji sampai rumah, seperti pria gentle pada umumnya.

Soo Ji memberitahu pada Joon perihal perdebatan nya dengan Tiffany ketika akan keluar tadi.

“Ya sudah, baiklah” Joon tersenyum sampai menyentuh matanya. “Sampai ketemu besok pagi, kita sudah melewatkan lari pagi kita beberapa hari ini”

Soo Ji memberikan dua ibu jarinya “Sip, sampai ketemu besok. Joon”

 

 

***

SOO JI POV

Ini sudah lima hari setelah aku dan Joon berbaikan. Kami hanya bertemu setiap pagi untuk lari pagi dan malamnya saling menghubungi hanya sekedar untuk mengobrol. Dan besok adalah hari sabtu, waktu kencan kami.

Eeewww.. apa aku sudah layak menyebutkan itu kencan, diusiaku yang baru menginjak lima belas? Astaga..

Tapi, aku sangat nyaman bersama Joon, dia memang tidak romantis tapi dia selalu membuatku nyaman. Terkadang dia dapat diandalkan sebagai seorang kakak, sebagai teman dan sebagai pria gentle. Dia memiliki sifat yang berubah dengan cepat. Pria yang unik menurutku.

“Makanlah” suara Joon mengejutkan aku dari lamunan tentangnya. Sejak kapan dia sudah berada disampingku?

Kami baru saja lari pagi dan sekarang tengah beristirahat di bangku taman. Aku melihat kimbab segitiga dan yogurt ditangannya. Dengan cepat aku mengambilnya, perutku sudah protes minta diisi sejak tadi.

“Pelan pelan, kau bisa tersedak” Joon mengusap pelan bahuku.

Ya Tuhan, seharusnya aku makan dengan anggun didepannya. Tidak seperti sekarang, pasti aku terlihat seperti orang yang tidak makan satu minggu, memalukan.

Aku mengunyah dengan pelan dan meminum setengah yogurt ku “Aku kelaparan. Kau membuat aku lari sangat jauh hari ini” Aku pura pura merajuk padanya, menutupi rasa malu yang masih menyerangku.

“Kau akan sehat karena lari pagi” gumamnya. Mulutnya penuh dengan kimbab, jeda sebentar untuk mengunyah dan menelan makanan yang berada dimulutnya, sebelum dia melanjutkan bicara “Besok kita pergi jam empat, pakai pakaian yang santai saja”

Oh, aku mulai penasaran, kemana dia besok akan membawaku. Aku memasukkan kimbab terakhir kedalam mulutku, aku mengangguk membalas ajakannya “Kemana? Kemana besok kau akan membawaku pergi?” tanyaku, tidak dapat menahan rasa penasaranku.

Dia menatapku, bertemu dengan mataku. Lalu bibirnya tersungging membentuk senyuman kecil “Rahasia” Aku cemberut tapi dia tertawa.

Joon berdiri dan mengulurkan tangannya padaku “Ayo kita pulang. Kau tidak ingin terlambat kesekolah seperti kemarin kan?” Alisnya terangkat dengan lucu. Demi Tuhan, dengan ekspresi seperti itu dia masih terlihat tampan.

“Kau selalu membuatku terlambat” gerutu ku. Menyambut uluran tangannya dan dia mengacak rambutku gemas dengan satu tangannya yang lain.

Kami berjalan sembari mengaitkan jari jari kami, sedikit mengabaikan peraturan Mommy. Aku mendongak kearahnya “Kau benar benar tidak ingin memberitahuku, kemana kita pergi besok?” aku mengerjapkan mataku, berharap dia memberitahu.

Joon menggeleng “Hmm tidak”

“Beri aku sedikit petunjuk” pintaku. Tapi, dia mengabaikan aku dengan menggelengkan kepalanya lagi.

Aku memukul dadanya kuat “Jahat” aku memberengut kesal. Tapi, dia tersenyum tanpa dosa. Senyuman nya yang membuat aku meleleh. Aku tidak bisa marah padanya jika sudah tersenyum seperti itu.

 

 

***

AUTHOR POV

 

Sabtu sore..

Pergi kali ini lebih aman dan tenang karena mendapatkan izin sepenuhnya dari Siwon dan Tiffany. Walaupun tadi Joon dan Soo Ji ditahan lima belas menit sebelum pergi untuk diintrogasi. Tapi, sekarang mereka sudah didalam mobil, menuju tempat rahasia yang seperti Joon katakan kemarin.

Soo Ji mengenakan denim jeans berwarna biru pucat lembut dan white blouse dipadukan dengan sepatu sport hitam merk channel. Dia benar benar menuruti perintah Joon.

Joon terus meliriknya, terpesona karena baru pertama kali melihat Soo Ji mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Ditambah dandanan yang simple namun sangat cantik. Tidak heran dia mendapatkan predikat gadis favorite disekolah karena memang pengakuan bahwa dia seperti supermodel itu benar.

Joon meliriknya lagi, seakan tidak pernah bosan. Gadis itu pintar bernyanyi, suaranya ternyata sangat merdu. Soo Ji mengikuti setiap lirik dengan sempurna, padahal radio itu memutar lagu Ariana Grande yang berjudul problem digabung lagu Adele yang berjudul Set fire to the rain. Seharusnya lagu itu sulit untuk diikuti.

Joon tidak dapat menahan senyumnya saat Soo Ji menyanyikan lirik lirik tersebut. Dengan tersenyum manis dan meliriknya. Perutnya menegang dan ada desiran aneh setiap lirikan mata mereka bertemu.

 

***

Ternyata Joon membawa Soo Ji ke central park untuk bermain sepatu roda. Tapi, Soo Ji menolak karena dia tidak bisa dan takut terjatuh. Joon tidak menyerah, dia terus membujuk Soo Ji.

Joon menyodorkan sepatu roda pada Soo Ji “Jangan” Soo Ji menggeleng keras “Aku tidak bisa memakai sepatu roda”

“Ayolah, Ji aah” rayu Joon, dia menarik Soo Ji “Ini akan menyenangkan”

“Aku akan jatuh” ucapnya ketakutan.

“Aku tidak akan membiarkan mu jatuh” Joon menarik Soo Ji kearahnya “Aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh” Ulang Joon meyakinkan Soo Ji yang masih ketakutan.

“Aku tidak bisa. Percayalah, aku akan jatuh” rengek Soo Ji karena Joon terus memaksa nya.

“Aku akan menjadi kesatria berbaju baja dan akan berada disana untuk menangkapmu jika kau terjatuh” Joon menariknya lebih dekat dan Soo Ji bisa mendengar detak jantung Joon saat berada sangat dekat dengan Joon.

Soo Ji menatapnya dan ketulusan serta keyakinan itu mengalir dari matanya.

“Kalau begitu ayo” Soo Ji tertawa dan melepas sepatunya, di ganti dengan sepatu roda yang Joon berikan “Ayo bermain sepatu roda, sebelum aku berubah fikiran” dan mereka menghabiskan sisa hari itu dengan saling memegang tangan, memakai sepatu roda disepanjang central park dan hebatnya Soo Ji tidak pernah jatuh sekali pun.

 

***

Setelah puas bermain, Joon mengajak nya kesebuah restoran. Cuaca hari ini sedang mendung. Mereka duduk berhadapan dipisahkan meja bundar yang kecil dibawah payung tenda berwarna hijau.

“Jangan pandang aku seperti itu, Joon” perintah Soo Ji tanpa lepas menatap layar ponselnya. Dia tahu, Joon tidak lepas menatapnya sedari tadi dengan pandangan khasnya.

Joon tersenyum tipis “Kau sangat cantik” pujinya jujur.

“Aku tahu itu” jawab Soo Ji percaya diri. Joon tertawa kecil melihat sikap Soo Ji.

 

Sembari menunggu pesanan mereka datang, Soo Ji menyodorkan ponselnya kearah Joon. Memperlihatkan foto foto mereka di central park tadi. Soo Ji memperlihatkan foto ketika mereka self camera. Foto tersebut diedit menjadi satu bingkai namun terisi empat pose gambar.

Yang pertama, mereka memasang pose silly face atau wajah konyol namun melihat kamera. Mereka tersenyum merutuki fikiran mereka masing masing yang saling memuji satu sama lain.

“Dia tetap cantik meski bergaya konyol seperti itu” batin Joon.

“Dia terlihat tampan dengan gaya konyol” batin Soo Ji.

Yang kedua, mereka memasang ekspresi protrude the tounge alias menjulurkan lidahnya dan juga menatap kamera.

Yang ketiga, Soo Ji seperti memberi kecupan kearah kamera dan Joon berpose pura pura jijik menatap Soo Ji. Mereka tersenyum lebar melihat foto itu.

Dan yang keempat, Soo Ji menyengir sangat lebar sehingga mata bulan sabitnya melengkung dengan cantik, Joon mencoba mengikutinya. Tapi, untuk eyes smile yang gagal.

Mereka pun tertawa keras tidak memperdulikan pengunjung lain disekitar mereka.

I love this one” ucap Soo Ji sambil menunjuk foto yang mereka lihat tadi.

Joon mengangguk “Me too

 

“Soo Ji” panggil suara berat dibelakang Joon. Joon pun menoleh kebelakang melihat siapa yang memanggil Soo Ji.

Soo Ji tersenyum “Hai Sehun Oppa” dia melambaikan tangannya kearah Sehun. Oh Sehun adalah sunbae nya disekolah, pria tertampan dan paling mapan disekolah. Keluarga nya memiliki restoran dengan banyak cabang.

“Apa ini restoran milik keluarga mu?” tebak Soo Ji.

“Kau benar” Sehun memiliki cara bicara yang unik karena dia tidak dapat menyebut R dengan jelas. Bahkan dengan beberapa huruf yang lain, tapi kekurangannya tertutup oleh ketampanannya.

“Kau dan temanmu boleh makan dengan gratis, aku akan bilang pada manager restoran disini nanti” tawarnya dengan lembut. Soo Ji dekat dengan Sehun karena Nana, dia pun mengenal Sehun melalui Nana.

“Oh ti-“

“Aku masih sanggup membayarnya” sela Joon dengan suara dingin.

Sehun tertawa kecil “Aku hanya menawarkan. Baiklah, Selamat menikmati. Aku pergi dulu” pamitnya dengan sopan.

Soo Ji hanya membalas dengan anggukan dan senyuman manis miliknya. Matanya menyusuri Sehun yang terus berjalan kearah pintu keluar.

Plaak…

Joon memukul kepala Soo Ji dengan buku menu yang berada diatas meja, Soo Ji meringis mengusap kepalanya dengan mencibir.

“Tidak seharusnya kau menatap pria lain seperti itu” katanya tidak suka “Dan satu lagi, senyum mu sangat berlebihan untuknya” ahh cemburu..

“Aah.. kau cemburu yaa?” Soo Ji menggoda Joon dengan menyenggol tangan Joon yang terulur diatas meja.

“Ti..tidak. aku hanya tidak suka kau bersikap seperti itu pada pria lain” elak nya dengan terbata bata.

Arro. Kau cemburu, mengaku saja” desak Soo Ji.

“Ya aku cemburu” kata Joon dengan nada bersuara tinggi.

“Ah manis sekali”

 

 

***

Oh my god. It’s awful. It’s so bad” Soo Ji memuntahkan jus buatan Tiffany kedalam gelas “Mommy kau lupa memasukkan yogurtnya” Soo Ji mengerutkan hidungnya, masih merasakan Jus brokoli dilidahnya.

Tiffany mencicipi jus miliknya dan “Ya benar” Tiffany mengambil jus milik Soo Ji “Mommy akan membuatkan yang baru” katanya. Berjalan kedapur untuk membuat jus yang baru.

Ini minggu pagi. Tapi, meja sarapan tampak sepi. Soo Ji mengedarkan pandangannya kesisi rumah dan tidak menemukan siapapun. Hanya ada dia dan Tiffany.

“Mommy, kemana yang lain?” tanyanya. Soo Ji mengambil roti gandum dan mengoleskannya dengan selai stroberry favoritnya.

“Adik adik mu dibelakang dan Daddy sudah pergi lima belas menit yang lalu” Tiffany kembali dari dapur, membawakan jus yang baru dan meletakkannya didepan Soo Ji.

Soo Ji meraih jus nya dan mencicipi dengan hati hati. Setelah jus itu masuk kedalam mulutnya, dia mengangguk. Rasanya tidak seburuk tadi “Daddy ke kantor?” Soo Ji menggigit rotinya.

“Bukan, ada urusan lain” Tiffany meneguk jusnya sampai habis, tidak ada yang tersisa setetes pun. Soo Ji berdecak kagum, jus itu masih sangat terasa brokoli, hanya yogurt penetralisir rasa jus tersebut.

 

Bunyi klakson mobil didepan rumah yang sangat berisik membuat Tiffany dan Soo Ji saling melempar tatapan. Bunyi klakson nya semakin menjadi jadi dan memekakan telinga. Tiffany dan Soo Ji meringis.

Penasaran siapa yang membuat kebisingan di minggu pagi, Tiffany beranjak dan berjalan keluar rumah. Soo Ji membuntuti Tiffany dari belakang.

Tiffany terbelalak melihat mobil mercedes benz berwarna hitam dan Siwon dibalik kemudi melambai dengan senyum jahil. Soo Ji menautkan alisnya, mobil siapa ini? karena mereka tidak memiliki mobil merk ini.

Siwon keluar dari mobil dan melemparkan kunci mobil kearah Soo Ji. Dengan terkejut Soo Ji menangkapnya dengan terbelalak.

Yours” gumam Siwon, mengedipkan sebelah matanya pada Soo Ji. Berjalan mendekati Tiffany dan merangkulnya, seakan tahu dengan tatapan Tiffany, Siwon mendekatkan mulutnya ditelinga Tiffany “Dari Eomma” lalu dia mencium pelipis Tiffany penuh kasih.

Soo Ji berjalan kearah mobilnya, sangat pelan karena kakinya terasa lemas bagaikan jelly. Ini dampak terlalu senang yang membuncah. Ada memo didepan kaca mobil, Soo Ji menariknya dan membacanya.

Yours, baby. Tetaplah jaga keselamatan. Menyayangimu selalu – Grammy…

Soo Ji membawa memo tersebut kedadanya. Memeluknya erat, dia ingin berteriak tapi tidak bisa tiba tiba mulutnya kering.

 

“Woaah, mobil keren milik siapa ini?” tanya Young Ji yang baru saja datang dari arah belakang. Diikuti Eun Ji dan Lauren.

“Milikku” pamer Soo Ji bangga “Test drive?” Soo Ji meminta izin pada Tiffany yang hanya diam sejak tadi tanpa memberi komentar apapun.

Tiffany tetap diam, tapi Siwon menyenggol bahunya dan Tiffany mengangguk kecil “Hati hati” perintahnya dengan lembut.

Soo Ji tersenyum lebar “Let’s go” dia mengajak adik adik nya penuh semangat.

Young Ji mengambil tempat dikursi depan, disamping pengemudi. Sedangkan Eun Ji dikursi belakang. Soo Ji membuka atap mobilnya dan melihat Lauren yang hanya berdiri diteras rumah.

“Lauren, kau tidak ingin ikut?” Tanya Soo Ji pada Lauren. Lauren terkejut dengan pertanyaan Soo Ji. Tumben sekali, biasanya Unnie nya yang satu itu tidak pernah mau mengajaknya.

“Bolehkah?” suara Lauren kecil dan tergagap.

“Tentu boleh, cepatlah naik” ajaknya dengan tidak sabaran. Tangannya sudah gatal untuk mencoba mobil barunya.

Ketika semuanya sudah siap, Soo Ji menyalahkan mesin mobilnya. Menghembuskan nafas perlahan, dia menginjak pedal gas dengan hati hati. Saat mobil mulai berjalan mereka melambai tangan kegirangan.

Siwon menatap Tiffany yang masih fokus menatap mobil itu pergi meninggalkan halaman rumahnya. Dengan jahil Siwon mencium rahangnya. Tiffany terkejut dengan ciuman Siwon, dia mundur menjauh.

“Selagi anak anak sedang bersenang senang. Mari kita bersenang senang juga” Siwon menyeringai.

Sebelum Siwon menangkapnya, Tiffany berlari masuk kedalam rumah “Byuntae” teriaknya, menjauh. Sejauh yang dia bisa.

 

 

***

“Kau tahu dari mana, aku tidak menyukai sayur?” kepala Eun Ji miring kesatu sisi untuk mencari wajah Jung Woo yang berada disampingnya.

Mereka baru saja selesai makan siang dikantin sekolah dan sekarang mereka berada diatap yang sudah menjadi tempat favorite mereka.

“Kita sering berkumpul sejak kecil, ingat itu” kata Jung Woo mengingatkan. Setiap orang tua mereka berkumpul, Jung Woo dan Eun Ji selalu bertemu. Hanya saja Eun Ji tidak perduli pada sekitar setiap kali pertemuan orang tua mereka.

“Dan aku sering melihat Tiffany Aunty menyingkirkan sayur sayuran itu dari makananmu. Makanya aku melakukan hal yang sama tadi” lanjutnya.

Eun Ji menekan bibirnya dalam dan menganggukan kepalanya. Dia mengingat ingat masa lalu, apa dia pernah memperhatikan Jung Woo, seperti pria itu memperhatikannya? Tapi sepertinya tidak.

“Eun Ji, pria seperti apa yang kau suka?”

 

 

JUNG WOO POV

“Eun Ji, pria seperti apa yang kau suka?” tanyaku dengan ragu ragu. Dia menatapku dengan tatapan seperti ‘Kenapa kau ingin tahu?’

“Aku hanya penasaran” timpalku. Ketika responnya hanya diam dan seperti mengulum senyum. Apa pertanyaan ku konyol?

Eun Ji menatap langit, seperti sedang menerawang. Apa dia sedang membayangkan pria idamannya? Membuat aku semakin penasaran.

“Aku menyukai pria Hottie, mature and sexy” kenapa dia harus berbicara dengan bahasa inggris. Apa dia sengaja? Dia tahu, aku tidak pandai dibidang itu.

Aku mengerutkan keningku, mencerna ucapannya. Hottie? Hot? Panas? Aku menyentuh keningku, biasa saja tidak panas. Kenapa dia menyukai pria panas? Lewatkan mature, karena aku tidak tahu.

Dan sexy? Apa dia menyukai pria yang memakai celana ketat dan baju tanpa lengan. iiew, itu bukan aku.

Dia mempelajari ekspresi wajahku dan tersenyum geli, pasti dia tahu aku tidak dapat mengerti ucapannya.

“Kenapa kau menyukai pria panas, sedangkan suhu tubuh kita tidak panas kalau tidak terkena demam. Dan sexy, apa kau menyukai pria yang memakai pakaian minim?” setelah beberapa detik, aku melihat dia tertawa terbahak bahak. Satu tangannya memegang perutnya, bahunya terguncang dampak tawanya yang kuat dan aku melihat  sudut matanya mengeluarkan cairan bening.

Aigoo, aku malu ditertawakan seperti itu. Tapi, melihatnya tertawa lepas membuat sesuatu dalam hatiku bergetar.

Eun Ji menyeka air mata dengan ujung jarinya “Ya Tuhan, kau bodoh dan polos” katanya, oke itu pernyataan.

Apa ucapan ku salah? Pasti salah, makanya dia tertawa seperti itu.

Setelah tawanya reda, dia menjelaskan yang dia ucapkan tadi. Bahwa hottie adalah pria keren, mature adalah pria dewasa dan sexy yang dimaksud Eun Ji adalah pria yang berotot dan memiliki enam kotak pada perutnya.

Ya Tuhan. Selera nya benar benar tinggi…

 

***

AUTHOR POV

“Nana, kau bodoh” umpat Soo Ji geram.

Nana disukai Sunbae tampan bertubuh tinggi, rambut cokelat dengan bibir tipis yang seksi. Pria itu bernama Oh Sehun, pria yang bertemu dengan Soo Ji direstoran beberapa waktu lalu. Sehun terus mendekati Nana tapi sahabatnya itu selalu menolak dan menghindar. Bukan kah Nana bodoh? Kesempatan didepan mata. Karena yang Soo Ji tahu, Nana selalu membicarakan pria itu, mengagguminya setiap kali melihatnya.

“Aku belum bisa menyatakan bahwa aku jatuh cinta padanya” Ucap Nana santai, dia mengaduk es kopi miliknya.

“Tapi kau cemberut ketika melihat Sehun Oppa dekat dengan wanita lain. Kau cemburu bukan?”

Oh Sorry, I’m not the jealous type. Aku hanya tidak suka” katanya kesal ke Soo Ji. Namun Soo Ji memandang Nana geli.

“Dan jelaskan padaku apa arti jatuh cinta bagimu?” tanya Soo Ji, menyengir kearah Nana.

“Ah… simple saja, babe. Jatuh cinta itu berarti terjatuh alias sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya, sesuatu yang tanpa alasan. Aku harus melalui kejadian atau menerima sesuatu yang membuat tanganku melemas akhirnya hatiku terjatuh untuknya”

Soo Ji mendengus “Bodoh, itu tidak simple. Kau membuat aku pusing. Jatuh cinta itu kejatuhan cinta yang membuat perasaan kita bahagia. Bukan seperti terjatuh yang sama seperti definisi dikamus. Orang yang jatuh cinta tidak harus membuat dia terjatuh dulu hingga hidupnya menjadi sengsara bahkan akan bunuh diri mengatas namakan cinta”

Nana menggeleng antara tidak mengerti dengan ucapan Soo Ji atau tidak setuju dengan definisinya “Tidak Soo Ji, tidak semudah itu. Kau tahu arti jatuh cinta? Jatuh, terjatuh. Aku tidak merasakan itu”

“Maksudmu ketika kita jatuh cinta kita harus terjatuh dulu? Merasakan sakit karena terjatuh?”

“Yep” jawab Nana dengan singkat.

“Baru pertama kali ini aku mendengar definisi bodoh seperti itu” Soo Ji menggeram kesal.

“Bagiku itu harus, prinsip dihidupku. Jika aku belum jatuh karenanya, aku tidak akan pernah mengakui kalau aku mencintainya” perdebatan mereka semakin sengit, memilki definisi jatuh cinta yang berbeda diprinsip mereka.

“Jadi kau harus menangis karena merasakan terjatuh terlebih dulu barulah kau sebut itu dengan cinta?” Soo Ji terus mengajukan pertanyaan. Menurut Soo Ji, Nana sangat rumit dalam mendefinisikan arti jatuh cinta.

“Ya. Cinta yang sangat dalam. Aku tidak merasakan itu pada Sehun Oppa. Belum” Nana menyeruput es kopi nya, membasahi tenggorokan nya yang kering.

“Kau akan sengsara jika mengartikan cinta seperti itu, Nana. Definisi terbodoh yang pernah aku dengar. Tapi, aku yakin kau akan kacau karena batinmu akan berperang melawan definisi bodohmu itu” Soo Ji menertawakan Nana.

“Saat dekat dengannya jantung mu berdebar?” Hmm.. harus aku akui itu benar. Check..

“Kau malu malu saat menatapnya?” check. Sial!!

“Kau juga terus mengaguminya” uh!! Check..

“Kau melamuninya juga kan?” check eh no no uncheck..

“Dan kau selalu meliriknya?”  uncheck. Ah baiklah aku jujur untuk ku sendiri, ya check. Aku membencimu Choi Soo Ji.

“Dari lima tanda tanda menyukai seseorang yang aku tebak tadi hanya satu yang kau jawab ragu.  Sebenarnya hanya egomu saja untuk uncheck itu. Padahal tadi kau malu malu menatapnya” tutur Soo Ji panjang lebar.

Heol, bagaimana dia tahu dalam fikiranku aku mengecheck dan uncheck jawaban.

“Raut wajahmu itu sangat jelas terlihat. Fix, kau telah jatuh cinta pada Sehun Oppa” Ucap Soo Ji percaya diri. Gadis ini memang mengenalku luar dan dalam atau apa dia memiliki supranatural, huh?

 

 

TBC…..

 

 

Ada yang capek baca? Karena dipart ini panjang sekaleeee……

Pasti banyak yang kecewa ya karena ga banyak nemu scene Sifany? Hehe mian, sesuai dengan judul ceritanya juga sih yaa, kalo yang baca judul dengan teliti pasti udah tahu dong maksud cerita ini isinya apa.

Oh ya, sekarang kita masuk ke cerita percintaan para remaja labil eaaak #cekikikan
adakah yang ngeshiperin Joon dan Soo Ji atau Eun Ji dan Jung Woo atau Joon dan Hara? KOMEN!! KOMEN!! KOMEN!! *teriak pake toak*

Dicerita ini memang ga terfokus pada Sifany aja, tapi mencangkup semuanya dengan sebisa mungkin tetap diselipkan scene Sifany nya jadi jangan pada protes ya. Ini sebenernya FF Sifany bukan sih? Ini FF Sifany kok, dengan dibumbui scene scene support cast nya.

 

56 thoughts on “(AF) The Choi’s Girl Part 3

  1. Part 3 wahhh anak-anaknya sifany udah mulai terjebak dorr dorr an nih yeeee wkwkkwkw, tapi scene sifany kurang 😟, ya emang gak bisa berharap lebih sih, judulnya aja udah the choi’s girl pastinya fokus ke anak-anak siwon, tapi gak papa tetep suka kok dengan ceritanya.. dan disini kagak ada scene lauren yee fokus ke sooji dan eunji .-.

  2. ya nggalh malah Zoey yg pst capek. pgn fokus am Lauren nih krn crtny bikin baper.
    sdh psti sweet moment sooji joon n eunji joo woon bikin sifany cemas akn tndkn ank2ny. tp salut mrk bisa ttp kontrol ankny meski kdg bikin haru. salut utk sooji yg udh mw merubh diriny jd lbh baik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s