(AF) The Choi’s Girl Part 2

THE CHOI’S GIRLS PART 2
TCG

 Author : @zoey_loe

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Support Cast : Im Yoona – Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Lee DongHae – Park Jung Soo – Choi Min Ho

Length : Chapter

Genre : Family, Romance and Comedy

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!

Okey!! Happy reading and keep RCL please…….

BAB 3 – HOLIDAY

 

Siwon, Tiffany dan Lauren tengah mengendap endap di villa mewah bercat putih. Mereka baru saja sampai, Siwon dapat menyelesaikan pekerjaannya pada pukul delapan dan pergi naik pesawat pada penerbangan pukul sembilan. Mereka sampai di villa sudah pukul sepuluh lewat, tapi ada satu kamar yang masih berisik. Siwon dan Tiffany dapat menebak, jika itu adalah kamar ketiga putrinya.

Siwon mengintip melalui jendela kaca besar yang tertutup tirai tipis, jadi Siwon dapat melihat apa yang sedang ketiga putrinya lakukan.

“Mereka sedang menonton apa?” Tanya Tiffany yang tidak dapat mengintip, karena tinggi tubuhnya yang tidak memungkinkannya untuk dia mengintip.

“Sepertinya The book of life” bisik Siwon pelan. Tiffany bernapas lega mendengarnya, dia takut jika ketiga putrinya menonton film yang berbau dewasa.

“Daddy, Mommy. Aku ngantuk sekali, bisakah kita segera masuk.”

“Ssssttt!!” Siwon dan Tiffany bersamaan meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya, memberitahu Lauren untuk tidak bersuara. Dengan cepat Lauren mendekap mulut dengan kedua tangannya.

“Hey, siapa diluar sana?” suara itu berasal dari dalam, salah satu putrinya berteriak.

“Kucing” pekik Siwon dengan suara yang dibuat buat.

Tiffany mengangkat tangannya, memberi pukulan dikepala Siwon “Yakk!! Babo

Siwon meringis kesakitan, sedangkan Tiffany mengomel. Mana ada kucing yang menyatakan bahwa dirinya seekor kucing.

Bunyi jendela terbuka mengejutkan Siwon dan Tiffany yang berada dekat dibawah jendela. Dengan cepat Tiffany menarik Lauren menjauh dari sana dan bersembunyi dibalik dinding lain.

BYUUURRRRR…..
Bunyi guyuran air yang terakhir Tiffany dengar setelah dia berhasil bersembunyi ditempat yang lebih aman bersama Lauren.

 

***

“Kau masih beruntung, Eomma menyiram mu dengan air es bukan air panas” Ucap Ny.Choi, tangannya dilipat didepan dadanya.

Siwon yang duduk dihadapan Ny.Choi melotot kearah ibunya “Mwo? Masih beruntung? Apanya? Aku hampir mati kedinginan gara gara air es sialan itu” Siwon menggosok gosok hidungnya, sepertinya dia akan terkena flu. Tiffany sibuk mengeringkan rambut Siwon dengan handuk kecil.

“Siapa suruh mengendap endap seperti pencuri, hoh?” Tiffany dan Lauren bersamaan menunjuk Siwon, karena memang semua itu adalah ide Siwon. Ingin memberi kejutan kepada anak anaknya.

Raut wajah Siwon berubah kesal “Aku yang ingin memberi kejutan tapi sepertinya aku yang mendapatkan kejutan” Siwon menghela nafas pelan. Semua yang ada disana tertawa dengan keras, Siwon yang malang.

“Daddy, ini teh panas untuk Daddy. Spesial dari kami bertiga” Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji datang dari arah dapur dan membawa nampan berisi secangkir teh.

Siwon melirik kearah teh yang diletakkan diatas meja, lalu menatap ketiga putrinya “Daddy ragu” Siwon meletakkan jarinya didagu dan menggosoknya beberapa kali. Siwon tahu betapa jahil anak anaknya, bahkan Siwon pernah memakan kimbab super asin yang dibuat anak anak nya.

“Oh Tuhan, Daddy. Cobalah dulu, ini kami buat dengan penuh cinta. Sebagai permintaan maaf” Ucap Young Ji, dia menyesal karena itu idenya untuk menyiram seseorang yang mengendap endap  dijendela kamarnya dan tanpa disangka seseorang itu adalah Daddynya.

Tidak ingin mengecewakan anak anak nya, Siwon menarik cangkir teh dan menyesapnya. Dia meletakkan kembali cangkir itu diatas meja, tanpa memberikan komentar apapun.

Otte?” tanya Eun Ji. Dia gugup mendengar komentar Siwon, karena dia yang memberikan gula pada teh tersebut.

“Lumayan. Tapi terlalu manis” gumam Siwon. Kepalanya mengangguk, tidak terlalu buruk. Anak anaknya sudah dapat diandalkan.

“Yeaas!!” Soo Ji, Eun Ji, dan Young Ji bersorak sembari high five. Senang Daddy nya tidak berkomentar buruk tentang teh yang mereka buat.

“Kalian tidak membuatkan Mommy teh juga?” Tiffany cemberut. Dia sering kali cemburu pada Siwon ketika anak anaknya lebih memberi perhatian pada Siwon dari pada dirinya. Padahal waktu temu Tiffany dengan anak anaknya lebih banyak ketimbang dengan Siwon.

“Mommy tidak membutuhkannya, Daddy yang lebih membutuhkan teh hangat saat ini” Ujar Young Ji, dia langsung berlari kearah Siwon dan duduk diatas pangkuan Siwon.

“Aigoo, anak laki laki ku yang tampan” Ucap Siwon main main, dia memeluk pinggang Young Ji.

“Siwon” protes Ny.Choi dan Tiffany.

“Dia gadis cantik. Bukan laki laki tampan” Ny.Choi mengoreksi ucapan Siwon dan Tiffany mengangguk setuju.

“Jika Daddy menginginkan anak laki laki kenapa tidak memintanya pada Mommy. Aku juga ingin adik laki laki” Kata Young Ji santai. Siwon langsung tersenyum kearah Tiffany, senyuman jahil tapi mempesona.

“Aku juga ingin adik laki laki” tambah Soo Ji.

“Aku juga mau” seru Lauren.

“Grammy sangat menginginkan cucu laki laki” Ny.Choi terkekeh. Tiffany terperangah ditempatnya.

Nan Shiro” pekik Eun Ji.

Wae?” tanya Ny.Choi yang nampak heran. Hanya Eun Ji yang menolak adik disaat yang lain menginginkannya.

“Aku tidak suka bayi” jawabnya dingin. Ny.Choi teringat ketika Young Ji lahir, Eun Ji menangis sepanjang hari karena tidak menginginkan adik dan ketika Lauren, Eun Ji tidak antusias untuk menyambutnya.

“Aku juga belum terfikir untuk memiliki bayi lagi. Kurasa empat sudah cukup” Tiffany bersuara. Suaranya nampak berat, dia menarik nafas panjang dan menelan.

“Keluarga ini akan lebih sempurna jika memiliki bayi laki laki. Akan ada penerus keluarga Choi” Ny.Choi menatap kearah Tiffany yang terlihat gugup “Kau masih tiga puluh lima tahun, Tiffany. Masih bisa untuk memiliki satu anak lagi”

Tiffany hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pembicaraan ini diluar dugaannya. Sebenarnya Tiffany menginginkan anak laki laki juga, tapi dia takut jika menambah anak tidak dapat mengurusnya dengan baik. Dengan empat anak ini saja dia sudah sangat kerepotan.

“Aku akan mempertimbangkannya” Bisik Tiffany. Mereka yang menginginkan kehadiran anggota barupun saling tatap dan tersenyum senang, kecuali Eun Ji. Siwon meraih tangan Tiffany dan meremasnya lembut, Tiffany melihat kearah Siwon yang tersenyum lebar.

 

“Baiklah. Grammy, Daddy, Mommy, kami pamit pergi tidur. selamat malam” pamit Soo Ji sembari membungkukkan tubuhnya serendah mungkin. Diikuti dengan yang lainnya.

Young Ji menarik tangan Lauren “Kajja, ada dua tempat tidur didalam kamar. Kita akan berbagi tempat tidur malam ini” sebelum mengiyakan ajakan Young Ji, Lauren menatap Tiffany meminta pendapatnya. Karena rencana awal, Lauren akan tidur bersama Siwon Dan Tiffany. Tiffany tersenyum lalu menganggukan kepalanya, dengan senang hati Lauren menerima ajakan Young Ji. Lauren pun membungkuk sebelum meninggalkan ruangan itu.

“Sangat senang karena kalian cepat menyusul. Lusa, aku sudah harus kembali ke Amerika” Ucap Ny.Choi memberi penekanan dikata terakhir.

Siwon mengerutkan keningnya “Ada masalah?” tanya nya khawatir. Ini mendadak, karena yang Siwon tahu Ibunya akan berada di Korea selama satu minggu.

“Sedikit”

“Jaga kesehatan, Eomma. Seharusnya Eomma sudah pensiun dan menikmati masa tua dirumah bersama cucu cucu Eomma” Siwon tidak terlalu senang melihat Ny.Choi yang bekerja sangat keras. Setelah Ayahnya meninggal, Ibunya yang menghandle perusahaan, bahkan cabang diluar negeri pun dia yang menghandle sendiri.

“Aku masih ingin bekerja. Lagi pula aku masih sanggup melakukannya. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, aku belum terlalu tua.”

 

 

***

Ny.Choi sedang menikmati matahari pagi diteras villa, sembari menyaksikan anak beserta cucu cucunya yang sedang bermain bola dipantai. Tangannya memegang kamera, beberapa kali dia mengambil gambar kebahagiaan keluarga anaknya. Tidak ada yang lebih indah dari menyaksikan anak dan cucu cucunya tertawa bahagia.

Mata Ny.Choi menangkap gadis kecil yang sedang duduk dikursi panjang sembari menyantap es krim ditangannya. Dia tengah menonton ketiga Unnie dan Daddy nya yang asyik bermain bola.

Lauren yang sedang ditatapnya memakai pakaian renang lucu, rambutnya digelung keatas  membentuk sanggul yang rapih, kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya. Ny.Choi beberapa kali mengambil gambarnya dengan tangan gemetar.

 

NYONYA CHOI POV

Oh Tuhan, mataku berkedip beberapa kali. Anak itu sangat mirip dengan “Jessica” nama itu terlontar begitu saja dari mulutku. Melihat Lauren seperti melihat Jessica saat kecil dulu. Aku mengarahkan kameraku kearahnya, beberapa kali aku mengambil gambarnya. Tanganku bergetar hebat, air mataku akan tumpah sekarang juga. Aku ingin memeluknya sangat ingin.

Dengan langkah yang gemetaran aku berjalan kearahnya yang tidak begitu jauh dari tempat aku duduk tadi.

Aku merindukannya, jangan pergi. Aku mohon…

Es krim stroberry? Dia sedang memakan es krim stroberry. Jessica sangat menyukai es krim stroberry. Aku sudah berada didekatnya, tapi dia tidak menyadari keberadaan aku. Karena fokus menonton Siwon, Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji yang sedang bermain bola. Aku menariknya kedalam dekapan ku, dan aku mendengar cup es krim nya jatuh ketanah. Apa dia terkejut dengan pelukan ku?

Lama dalam posisi ini, airmata ku lolos begitu saja. Aku menarik dia untuk menatapnya, dia masih mengenakan kaca mata hitamnya “Jessica”

Dia menatapku, dahi nya berkerut dan melepas kacamata hitamnya. Dia memanggil ku “Grammy” gumamnya.

Aku tersadar kalau dia bukan Jessica tapi Lauren. Dengan cepat aku menghapus airmataku, berdiri dan berlari menjauh darinya, tanpa mau melihat kebelakang lagi. Aku berdoa semoga Siwon dan yang lainnya tidak melihat kebodohan yang aku lakukan pada Lauren.

Aku berjalan melewati dapur untuk sampai kekamarku, aku mengabaikan Tiffany yang menyapaku. Aku tidak ingin dia melihat wajahku yang penuh bekas air mata. Aku menutup pintu dibelakangku dan menguncinya. Aku duduk ditempat tidur sembari memegang dadaku yang terasa sakit.

Setiap kali aku menatap Lauren terkadang aku melihat Jessica didalam dirinya. Ah tidak mungkin, perasaanku ini ada karena merindukannya sampai dadaku terasa sesak. Sejak kematian suamiku aku kerap kali memimpikan Jessica.

Lauren, aku tidak terlalu tertarik pada anak itu. Apalagi dia penyebab kematian suamiku, aku semakin tidak menyukainya. Tapi ketika aku berada di Amerika, aku selalu memimpikan Lauren yang sedang bermain denganku. Aku juga tidak menolaknya untuk bermain didalam mimpi itu dan didalam mimpi yang sama suamiku bicara agar jangan menyia nyiakan Lauren, karena akan ada penyesalan jika aku melakukannya. Aku ingin bersikap pada Lauren seperti aku bersikap kepada ketiga cucuku yang lain tapi aku tidak bisa. Mungkin belum bisa.

 

AUTHOR POV

Tiffany menyiapkan sarapan diatas selimut kotak kotak yang dia tebarkan diatas pasir dipinggir pantai. Tiffany meletakkan sandwich ayam yang dia buat dan Lauren datang dari belakang dengan keranjang apel merah yang dia ambil dari dalam. Ada beberapa kaleng orange juice juga yang Tiffany siapkan.

“Mommy, siapa itu Jessica?” Tanya Lauren, dia duduk tepat disamping Tiffany yang tengah menata makanan.

Tangannya berhenti untuk melakukan aktifitas dan Tiffany menelan ludahnya dengan susah payah “Ada Apa?” Suara Tiffany serak, tiba tiba mulutnya kering.

“Tadi Grammy memelukku, tapi dia memanggil nama Jessica, bukan namaku” Lauren mengambil nafas panjang dan membuangnya.

Hening…

“Wooaah… sandwich” teriakan Young Ji membuyarkan lamunan Tiffany.

Tangan Young Ji akan meraih sandwich yang sangat menggiurkan tapi Tiffany memukul tangannya yang hampir menyentuh sandwich “Cuci tangan” tegur Tiffany.

“Aku sudah mencuci tanganku, Mommy” protes nya kesal. Young Ji menyilangkan kakinya dan menyantap sandwich itu dengan lahap.

“Selama dua hari berada disini, aku tidak melihatmu memakan sereal, Young Ji aah” seru Soo Ji yang tengah membuka kaleng orange juice nya.

“Grammy seperti Mommy, sangat cerewet ketika aku memakan sereal itu” Young Ji mencibir kearah Tiffany.

Tiffany mengangguk sekali “Itu bagus” ucapnya sangat setuju dengan yang Ny.Choi lakukan untuk anaknya.

“Ada yang mau apel?” tanya Tiffany. Semua berseru mengatakan menginginkan buah merah itu tanpa kecuali Siwon. Dengan senang hati Tiffany mengupaskan apel untuk mereka. Tiga dari empat anak Tiffany tidak menyukai buah dan sayuran jadi Tiffany harus membujuk atau mengolahnya dengan menarik agar anak anak nya mau mengonsumsi buah dan sayuran.

 

***

Tiffany menatap keluar, jendela kaca besar kamarnya dibuka lebar. Pemandangan pada malam hari tidak begitu indah, hanya gelap malam dan sinar bulan. Tapi Tiffany menyukai udara pada malam hari dipinggir pantai ini. dia menutup matanya, tangannya dilipat didepan dada. Tiffany membiarkan angin menerpa wajah dan rambut panjangnya, sampai seseorang menutup jendela tersebut. Tiffany membuka matanya dan menatap tidak suka kearah pria yang mengganggu ketenangannya.

“Kau bisa terserang flu nanti” Ucap Siwon lembut. Dia memeluk Tiffany dari belakang, tangan kanan nya memeluk pinggang Tiffany, sedangkan tangan kirinya melilit dileher Tiffany “Udara malam disini sangat dingin” Ucapnya lagi.

Tiffany memiringkan kepalanya untuk melihat Siwon “Tapi aku menyukainya. Aroma laut yang asin, sangat enak” Tiffany menghirup udara dalam dalam dan membuangnya perlahan.

Siwon meletakkan dagunya dibahu Tiffany, sesekali dia mencium leher Tiffany. Tiffany pun menyandarkan tubuhnya pada Siwon. Beberapa detik kemudian Siwon memutar tubuh Tiffany agar mengahadap kearahnya. Siwon mengangkat tangannya dan meletakkan kedua tangannya disisi wajah nya, Tiffany pun meletakkan kedua tangannya dipinggang Siwon.

“Kau serius dengan menambah satu anak lagi?” Tanya Siwon, dia menatap kedalam mata Tiffany.

“Hoh” Tiffany mengangguk “Sepertinya itu bukan ide yang buruk” Tiffany tersenyum lebar kearah Siwon.

Siwon membalas senyuman Tiffany, yang menampakan dimple dikedua pipinya “Bayi laki laki” Gumam Siwon. Wajahnya semakin mendekat kewajah Tiffany.

“Ya” bisik Tiffany. Entah kenapa tiba tiba suaranya menghilang.

“Apa kau masih meminum pil mu?” Tiffany tahu apa yang dimaksud Siwon dengan pil, itu pil pencegah kehamilan yang selalu Tiffany minum setiap pagi.

“Aku tidak meminumnya pagi tadi” suaranya mendesah ragu ragu.

“Bagus. Kalau begitu kita bisa mulai memprosesnya malam ini” senyum pelan pelan melintasi mulut Siwon, dan dia mulai merapatkan tubuhnya pada Tiffany. Siwon menangkap mulut Tiffany, melumatnya dengan lembut dan perlahan, dia akan melakukannya secara perlahan malam ini. Tiffany pun mengencangkan pegangannya ditangan Siwon untuk membalas ciumannya, Siwon menekan tengkuk Tiffany untuk memperdalam ciuman mereka.

Setelah membutuhkan asupan oksigen, Siwon dengan perlahan melepaskan tautannya. Kepalanya menunduk untuk mencium rahang Tiffany dan berlama lama disana. Siwon mengangkat kepalanya menatap Tiffany, dia tersenyum kecil kearah Siwon memberi signal bahwa dia sudah siap.

Siwon melepas dua kancing teratas piyama milik Tiffany, dan menuntunnya kearah tempat tidur yang hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. Tangan Siwon terangkat untuk melepas satu lagi kancing piyama Tiffany, tapi tiba tiba pintu kamar mereka terbuka dengan kasar. Tiffany menepis tangan Siwon yang berada diatas dadanya dan dengan cepat mengancingkan kembali piyamanya.

Tiffany berbisik ketelinga Siwon “Babo. Kau lupa mengunci pintunya” Tiffany tersenyum prihatin melihat Siwon yang tampak kesal.

Keempat putrinya lah yang masuk kedalam kamarnya dengan paksa, membawa bantal dan selimut yang mereka peluk.

“Kalian sangat tidak sopan, masuk tanpa mengetuk pintu” Suara Siwon naik satu oktaf.

“Kami sudah mengetuk pintunya, tapi Daddy dan Mommy tidak mendengar” Ucap Eun Ji dengan suara menantang.

Siwon maupun Tiffany terperangah. Benarkah itu? Mereka tidak mendengar sama sekali. Bunyi ketukan dipintu.

Well, ada apa kalian menerobos pintu kamar?” Tanya Tiffany to the point. Tangannya diletakkan dipinggang, menatap putrinya yang duduk dengan rapih ditepi tempat tidur.

“Kami ingin tidur bersama Daddy dan Mommy” Jawab Young Ji.

“Tidak” sela Siwon cepat “Kalian tidak bisa” Siwon menggerakan tangannya membelah udara.

“Kenapa tidak?” Soo Ji memiringkan kepalnya kesatu sisi, mengintip kearah Siwon yang berada dihadapannya.

“Karena tempat tidurnya kecil” Nada suara Siwon penuh frustasi.

Tiffany melirik Siwon yang terlihat sangat jengkel. Bagaimana tidak? Mereka baru saja akan memulai tapi keempat putrinya mengacaukan semuanya.

Keempat anaknya memutar kepalanya kebelakang untuk memeriksa ukuran tempat tidur “Tempat tidur ini King Size Dad, akan muat untuk kita berenam” Eun Ji melemparkan tubuhnya diatas tempat tidur, diikuti yang lain. Mereka mulai mengambil posisi untuk tidur.

Siwon menjalankan jari jari dirambutnya, benar benar frustasi. Siwon menatap Tiffany, Tiffany hanya mengangkat bahunya lalu ikut berbaring ditempat tidur dengan anak anaknya. Siwon menyerah, dia berjalan mengitari tempat tidur untuk bergabung.

Tiffany, Lauren, Eun Ji, Soo Ji, Young Ji dan Siwon, itu posisi yang mereka ambil. Tempat tidur ini benar benar besar, kamar yang Siwon dan Tiffany tempati adalah kamar utama di villa ini, jadi tidak salah kalau tempat tidurnya sangat besar dan dapat menampung enam orang diatasnya.

“Tidurlah” tegur Siwon “jika kalian terus bermain, Daddy tidak segan segan mengeluarkan kalian dari kamar ini” Suara Siwon penuh ancama ketika melihat anak anaknya yang terus menjahili satu sama lain.

“Nde” Seru keempatnya dengan serempak.

Setengah jam berlalu, Sudah terdengar nafas teratur yang saling bersahutan. Siwon mengintip anak anaknya dan benar, ternyata mereka sudah terlelap.

Merasakan pergerakan pada tempat tidur, Tiffany membuka matanya dan tatapannya bertemu dengan mata elang Siwon.

Siwon menyangga kepala ditangannya “Mari kita lanjutkan apa yang sudah kita mulai tadi. Kita pindah kekamar lain” Siwon berbisik sangat pelan, tapi Tiffany dapat mendengarnya walaupun terdengar samar samar.

“Kau gila, kita bisa melanjutkannya lain waktu. Aku juga sangat lelah” Tiffany berbisik, lalu menyandarkan kepalanya diatas bantal.

Siwon cemberut, dia meraih tangan Tiffany tapi gerakan Young Ji yang memeluknya erat membuat Siwon mengurungkan niatnya. Lagi lagi Siwon kecewa, gagal total malam ini.

Tiffany mengedipkan sebelah matanya kearah Siwon dan memberikan flying kiss “Saranghae, selamat malam” mulutnya berucap tanpa suara, Siwon pun membalasnya dengan sangat manis juga.

 

 

***

Siwon dan Tiffany saling menautkan jari jari tangan mereka, berjalan menyusuri pantai dan menjauh dari anak anaknya yang sedang asyik bermain.

Setelah mereka selesai sarapan, Siwon menariknya untuk mengajak Tiffany berjalan jalan dipinggir pantai, hanya berdua tanpa gangguan anak anak. Sesekali Siwon melempar senyum kearah Tiffany, mencium punggung tangan Tiffany dengan mesra.

Siwon mengajaknya duduk diatas bebatuan tinggi dipinggir laut, mereka duduk dengan nyaman disana. Siwon menarik pinggang Tiffany agar lebih dekat dengannya, Tiffany pun menyandarkan kepalanya dibahu Siwon, sedangkan Siwon memeluk pinggangnya erat.

Siwon membenamkan hidungnya diatas kepala Tiffany, menghirup aroma shampo yang Tiffany pakai “Terkadang aku menginginkan waktu berdua dengan mu seperti ini” gumam Siwon. Menyandarkan kepalanya diatas kepala Tiffany yang bersandar dengan nyaman dibahunya.

“Kau mendapatkannya” kata Tiffany. Matanya terpejam, dia sedang menikmati kebersamaannya dengan Siwon yang jarang sekali mereka dapatkan, karena sibuk dengan pekerjaan masing masing.

“Terimakasih, Mommy. Kau istri dan ibu terhebat. Tidak pernah terlintas dibenakku, aku menyesal telah menjadikan kau ibu dari anak anak kita” Siwon mengangkat kepalanya dan melirik kearah Tiffany yang perlahan membuka matanya, senyumnya terukir diwajahnya.

“Terimakasih juga telah memilih aku. Kau suami dan Daddy termanis yang kami miliki” Tiffany menatap Siwon, satu tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Siwon. Tiffany mendaratkan kecupan manis dipipi Siwon, menimbulkan bunyi pada kecupan itu. Mereka saling pandang dan saling menyentuh satu sama lain.

 

***

“Unnie” pekik Lauren lemah. Ini kedua kalinya Soo Ji menghancurkan istana pasir yang sedang Lauren bangun. Mendengar teriakan Lauren, Soo Ji memutar tubuhnya menghadap Lauren dan senyum puas terukir di bibir tipisnya. Lauren hanya menunduk lesu, menatap tangannya yang kotor karena pasir.

“Wanita cantik adalah wanita yang berkepribadian baik” gumam Young Ji, dia menyindir Soo Ji. Jika Young Ji berteriak pada Soo Ji untuk tidak mengganggu Lauren, Soo Ji tidak akan berhenti. Dia semakin menjalankan aksinya untuk menjahili Lauren.

“Yak Young Ji. Kau bilang aku tidak cantik?” marah Soo Ji, dia menatap Young Ji tajam. Matanya menyipit dan dahinya berkerut, benar benar marah.

“Aku tidak bilang Unnie seperti itu. Tapi jika Unnie merasa demikian itu bagus, berarti Unnie dapat menyerap ucapanku” Young Ji bersedekap dan menyeringai kearah Soo Ji.

Dengan kesal Soo Ji mengambil segenggam pasir yang lembab dan melempar ke perut Young Ji, meninggalkan beberapa pasir dan noda di T-shirt putihnya.

Tidak suka dengan perlakuan Soo Ji, Young Ji pun membalas dan terjadilah perang lempar pasir antara Soo Ji dan Young Ji.

“Soo Ji Unnie, Young Ji. Apa kalian bisa berhenti” pinta Eun Ji yang terganggu karena sedang membaca novelnya “Itu berbahaya jika mengenai mata”

Dengan cepat Young Ji membuang pasir yang berada di genggamannya, sedangkan Soo Ji melemparnya untuk balasan terakhir. Tapi pasir itu mengenai wajah Lauren yang mencoba melindungi Young Ji, karena Soo Ji melempar kearah wajahnya.

Lauren menjerit kencang ketika pasir itu menerpa wajahnya dan masuk kedalam matanya. Lauren terduduk diatas pasir dan menutup mata dengan kedua tangannya.

“Lauren” pekik Young Ji, dia ikut terduduk mensejajarkan tubuhnya dengan Lauren “Lauren, Gwencana?” dia mengguncang guncang tangan Lauren dengan cemas, sangat berharap Lauren baik baik saja.

Appo, mani Appo, Unnie.” Rintihnya, isakannya mulai terdengar.

“Oh tuhan, Unnie ottoke?” Young Ji cemas setengah mati, dia menatap Soo Ji dan Eun Ji bergantian. Young Ji takut terjadi apa apa pada Lauren.

Soo Ji terlihat pucat, ini ulahnya. Bagaimana jika terjadi hal buruk pada Lauren? Soo Ji memilin jari jari nya menutupi kecemasannya.

 

SOO JI POV

Oh tuhan, apa aku sudah keterlaluan? Aku benar benar takut. Bagaimana kalau Lauren buta? Ku mohon jangan, lindungi dia Tuhan. Ini pertama kalinya aku berdoa untuk dia.

Aku tidak menyukai dia, sejak kedatangannya, pusat perhatian Mommy sepenuhnya untuk Lauren. Bahkan Granddaddy sangat menyayangi Lauren, dan rela mati untuk menyelamatkannya, aku benar benar iri.

Jika Mommy tahu, dia akan marah. Aku sudah dapat menebaknya, dia akan marah besar kali ini. Lauren putri kesayangan Mommy, aku merasa Mommy lebih menyayangi Lauren dari pada kami bertiga. Mommy selalu memuji dan membanggakan Lauren.

Nah, yang sedang aku bicarakan datang, dia berlari secepat yang dia bisa, Daddy berada dibelakang Mommy.

Mommy sangat cemas, dia duduk diatas pasir dan menangkup sisi kepala Lauren tapi matanya melihat ke kami bertiga secara bergantian “Apa yang terjadi?” tanyanya, nafanya masih belum stabil setelah berlari tadi.

Aku tidak menjawab, begitu juga Eun Ji dan Young Ji “Apa yang terjadi?” tanya Mommy lagi, suaranya meninggi.

“Soo Ji Unnie melempar pasir dan mengenai mata Lauren” Eun Ji membuka mulutnya, tapi dia terlihat ketakutan seperti aku. Sangat takut.

“Mwo? Kau ingin mencelakai Lauren?” aku menduduk sangat dalam, tidak berani menatap matanya yang terbuka lebar.

“Tiff, jangan memarahinya. Kita dengarkan dulu penjelasannya” Daddy angkat bicara, dia mencoba menenangkan Mommy. Tapi Mommy mengabaikan Daddy. Lihat? Betapa berlebihannya Mommy, Aku tidak sepenuhnya salah disini.

Aku mencoba menceritakan yang terjadi, dari awal aku mengganggu Lauren, pertengkaran aku dengan Young Ji, sampai pasir terakhir yang aku lempar pada Young Ji tapi Lauren yang mendapatkan lemparan tersebut.

Setelah aku menceritakan semuanya Mommy marah, berteriak padaku. Mommy bilang aku belum bisa menjadi kakak yang baik, aku tidak bisa melindungi adikku, bukan melindunginya tapi aku melukainya.

Aku ingin berbalik marah dan berteriak pada Mommy tapi aku tahan. Karena aku tahu aku salah, tapi haruskah Mommy berkata begitu, sangat menyakitkan.

“Mommy, Jeongmal mianhae” bisikku, hanya kalimat itu yang dapat aku ucapkan. Aku menggigit bibir bawahku agar isakan yang aku tahan tidak lolos.

“Jangan meminta maaf pada Mommy, meminta maaf lah pada Lauren” kata Mommy, ucapannya sangat dingin. Aku mengintip dari bulu mataku, Mommy menggendong Lauren dan membawanya kedalam, Eun Ji dan Young Ji mengikutinya dari belakang.

Hanya ada Daddy yang tinggal bersamaku, tangisan ku pecah, bahu ku bergetar karena menangis. Aku merasakan sebuah tangan besar melilit tubuhku. Daddy ku, pelukan Daddy membuat air mataku semakin deras.

Uljima. Kau anak Daddy yang terbaik dan akan menjadi Unnie yang baik, Daddy tahu kau tidak mungkin ingin melukai saudara mu sendiri” Aku hanya mengangguk membalas ucapan Daddy. Ucapan Daddy memberi aku pencerahan, andai Grammy tidak kembali ke Amerika pagi ini, aku memiliki satu lagi orang yang menyanyangiku.

Aku tidak tahu, Mommy menyayangi aku atau tidak. Dia sangat sering marah dan teriak padaku. Apa aku benar benar tidak baik? Sehingga Mommy terus marah padaku?

“Mommy menyayangi mu, nak. Tidak ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya, bersikaplah lebih baik lagi agar Mommy berhenti berteriak padamu” Daddy hebat, dia seperti dapat membaca semua yang ada difikiran ku. Lagi lagi aku hanya mengangguk, aku menyayangi mu Daddy…

 

 

AUTHOR POV

Tiffany masuk kedalam kamar, dia melihat Siwon sedang duduk diatas tempat tidur, sedang memainkan Ipadnya.

“Bagaimana keadaan Lauren?” Tanya Siwon, dia melihat kearah Tiffany yang duduk ditepi tempat tidur.

“Matanya merah dan bengkak” Jawab Tiffany, dia berjalan kearah lemari pakaian. Tiffany ingin berendam dan membersihkan diri.

“Kau terlalu kasar pada Soo Ji” Siwon meletakkan Ipad dimeja samping tempat tidur.

“Kau memanjakannya” balas Tiffany dengan ketus, masih memilih pakaian yang akan dia pakai.

“Kau membuatnya menangis karena ucapan mu”

Tiffany menutup lemari dengan kasar dan menatap kearah Siwon “Itu karena dia salah dan sudah keterlaluan” ucap Tiffany dengan nada menantang.

“Kau bahkan pernah marah besar pada Soo Ji ketika itu kesalahan Lauren”

Siwon mengungkit kejadian beberapa minggu lalu, ketika Lauren tidak sengaja menumpahkan susu diatas buku PR Soo Ji, Karena kesal Soo Ji melemparkan buku itu kewajah Lauren. Ujung sisi buku meninggalkan garis panjang dipipi sebelah kanan Lauren yang membuat Tiffany marah besar. Jika memang Lauren salah, seharusnya Soo Ji tidak bersikap kasar seperti itu. Karena Tiffany tidak pernah mengajarinya menjadi seorang gadis yang tidak dapat mengendalikan emosinya.

“Tapi Soo Ji salah, dia melukai Lauren” Tiffany berteriak pada Siwon, mengingat itu membuat emosinya membuncah.

“Kau berlebihan, Tiff.” pekik Siwon “Kau selalu memarahi Soo Ji dan membuatnya berfikir kalau kau tidak menyayanginya. Aku berharap kau dapat merubah itu dan bersikaplah selayaknya. Sesungguhnya kau sangat berlebihan” Siwon marah, dia berjalan keluar kamar dan membanting pintu dibelakangnya.

Tiffany memejamkan matanya, ketika suara bantingan pada pintu memenuhi kamar. Tiffany berjalan kearah kamar mandi, dia berhadapan pada cermin wastafel, dia menatap pantulan dirinya dicermin. Ucapan Siwon berputar dikepalanya. Benarkah? Apa aku terlalu kasar pada Soo Ji?

Terkadang Tiffany tidak habis fikir dari mana sifat Soo Ji berasal, semakin besar dia semakin menjadi gadis pemarah, egois dan kasar. Apa sikapanya tumbuh karena Siwon dan Ny.Choi terlalu memanjakannya? Menuruti kemauannya?

Sesunguhnya Tiffany tidak ingin anak anak nya salah untuk dididik. Tiffany menginginkan anak anak nya bersikap baik dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Tiffany sedih, harus bagaimana lagi menyikapi Soo Ji. Ketika dia hanya diam, Soo Ji semakin menjadi anak yang tidak baik. Jika Tiffany terus memarahinya, Soo Ji menganggap dia tidak menyayanginya. Tiffany bingung dan serba salah. Tiffany akan mencari jalan lain, dia akan mengajak Soo Ji pergi berdua dan bicara baik baik dari hati ke hati antara anak dan ibu. Tiffany akan melakukan itu..

 

 

***

TIFFANY POV

Sisa waktu setelah perdebatan kami, aku benar benar tidak melihat Siwon. Saat makan siang pun dia tidak bergabung dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi aku menyuruh Young Ji untuk mengantar makan siang kekamar lain, tempat Siwon bersembunyi, menghindar dari ku.

Sekarang pukul tiga sore, aku akan pergi ke supermarket membeli bahan makanan untuk makan malam. Aku berjalan menyusuri lorong menuju kamar anak anak, ketika aku membuka knop pintu, aku melihat Lauren dan Eun Ji sedang tertidur, Young Ji bermain games di Ipadnya.

“Kau tidak tidur?” tanyaku, berjalan kearahnya dan duduk tepat disampingnya.

Young Ji mempause game dan menatapku “Baru saja bangun, Mommy mau kemana?” Young Ji melihat tas tangan yang aku genggam, jadi dia tahu kalau aku akan pergi.

“Ke supermarket, membeli bahan makanan untuk makan malam” Aku mengedarkan pandanganku keseluruh sisi kamar. Aku tidak melihat Soo Ji “Soo Ji odiga?”

“Hoh, Soo Ji Unnie. Tadi dia keluar kamar setelah bangun tidur”

Aku mengusap puncak kepalanya “Mommy akan pergi sekarang, ingin dibelikan sesuatu?”

Young Ji mengerjapkan matanya beberapa kali “Sereal, aku ingin sereal” aku tahu betapa dia menginginkan makanan itu, sudah beberapa hari disini, dia belum memakannya sekalipun.

Aku menepuk pundaknya “Kau akan mendapatkannya”

berdiri untuk segera pergi, ketika aku berjalan beberapa langkah dia berteriak “Gomawo Mommy dan hati hati” aku memutar tubuhku dan tersenyum kearahnya. Dia membalas senyumanku, senyuman Siwon yang Young Ji punya. Membuat aku merindukan suamiku. Baru beberapa jam saja tidak melihatnya aku sudah merindukannya setengah mati. Dia benar benar marah padaku, apa kali ini aku sudah keterlaluan?

Saat aku berjalan keluar, aku melihat Soo Ji duduk disofa ruang tamu. Ponsel dalam genggamannya, aku tahu itu ponsel baru yang Siwon belikan untuknya dan aku melihat Iphone miliknya tergeletak diatas meja. Benar benar menghamburkan uang.

Aku mendaratkan tubuhku diatas sofa, disampingnya. Soo Ji melihat kearahku dengan bingung. Aku hanya tersenyum kearahnya “Apa ini ponsel baru itu?” tanyaku basa basi. Dia masih menatapku dengan heran, alisnya bertautan.

“Ya” hanya itu jawabannya. Soo Ji marah, seperti Siwon marah padaku.

“Boleh pinjam?” dia menatapku lagi, lebih dalam. Soo Ji tidak menjawab tapi dia memberikan ponselnya padaku.

Aku mengklik kamera dilayar ponsel “Ingin mencoba kameranya, ayo kita selca” Ajakku, aku tahu putri sulungku sangat gila foto. Aku pernah melihat isi ponselnya dan sangat banyak foto foto diri nya dengan berbagai gaya. Soo Ji pernah bilang, dia ingin menjadi model tapi aku belum mengiyakannya.

Soo Ji mengangguk dan kami menarik tubuh kami lebih dekat hingga kepala kami saling menyentuh “Hana, dul, set” klik klik klik klik. Difoto pertama aku mengkuti gaya nya mempoutkan bibir dengan lucu, foto kedua dia menjulurkan lidahnya dan aku mengikuti gayanya. Foto ketiga kami tersenyum tipis dan yang keempat, difoto ini kami terlihat sangat mirip. Kami tersenyum sangat lebar memperlihatkan gigi gigi putih yang berderet dengan rapih dan mata kami melengkung seperti bulan sabit, bedanya dia memiliki dimple sedangkan aku tidak.

Tiba tiba dia tertawa ketika menarik ponselnya dari tanganku “Hey, apa yang lucu?” aku menjulurkan kepalaku untuk melihat apa yang sedang dia tertawakan.

Soo Ji menatap foto kami tadi dan dia terus tersenyum “Mommy terlihat seperti anak berusia belasan tahun” dia mengeluarkan tawanya lagi sembari menunjuk layar ponselnya.

“Benarkah? Kita terlihat sangat mirip bukan?” tawanya sudah tidak terdengar, tapi dengusan yang dia keluarkan.

“Sedikit. Lebih dominan ke Daddy, Aku lebih mirip Daddy” Ya, aku tahu Soo Ji akan memihak Siwon. Karena Siwon selalu memihaknya.

Well, Mommy akan pergi ke supermarket. Apa kau mau ikut?” aku mengajaknya, memang sudah rencanaku. Aku ingin berbicara padanya, tidak berteriak. Kali ini aku akan bicara dengan lembut.

Soo Ji diam sejenak, menimbang nimbang apa dia ikut atau tidak “Ya, aku ikut” oh akhirnya kita punya waktu berdua.

“Kalau begitu, kajja” aku mengamit tangannya dan dia tidak menolak. Dia menggenggam tanganku dengan senang hati. Sesungguhnya kau gadis yang baik Choi Soo Ji.

 

 

SOO JI POV

Aku tidak bisa marah terlalu lama pada Daddy ataupun Mommy. Setiap kali kami memiliki permasalahan, kami akan menyendiri dan setelah cukup tenang kami akan mengobrol kembali  sembari menyelesaikan permasalahan kami. Dan sekarang aku tahu, Mommy sedang ingin berbaikan denganku, ternyata Mommy lebih cepat bertindak dari pada aku.

Aku mengiyakan ajakan Mommy dan menggenggam kembali tangan Mommy. Kami masuk kedalam mobil sedan milik pengurus villa ini. aku memainkan ponsel baru yang dibelikan Daddy, ketika aku sudah mendaratkan tubuhku diatas kursi empuk mobil, aku mengklik upload pada akun instagramku. Aku mengupload pada akun instagramku, mengupload fotoku bersama Mommy dengan caption “With my gorgeous Mommy” aku memberikan tiga emoticon cium. Karena tanpa disadari aku menyayangi Mommy, walaupun Mommy seringkali marah padaku, aku menyayanginya.

“Pakai sabuk pengaman mu” perintah Mommy, mengejutkan aku. Meletakkan ponsel dipangkuan, aku memakai sabuk pengaman dan Mommy menjalankan mobil.

Ada satu komentar pada foto yang baru aku upload. Pria dua tahun lebih tua dariku bernama Park Joon yang memberi komentar. Dia orang Korea tapi tinggal di Jepang, aku mengenalnya tiga minggu yang lalu melalui sosial media. Dia orang yang asyik dan tidak salah kan jika memiliki satu teman sosial media.

Dia meinggalkan komentar di postinganku “Aku tahu dari mana kecantikan mu berasal” oh Tuhan, dia pandai merayu juga ternyata. Aku tersenyum sebelum membalas komentarnya.

“Hey, apa yang membuat mu tersenyum?” teguran Mommy menyadarkan aku dan dengan cepat aku meletakkan ponselku dan melihat kearah Mommy.

Nope” aku menggeleng pelan. Kami diam beberapa saat, aku tidak berani memainkan ponselku, karena jika aku membaca komentar Joon akan membuat aku tersenyum kembali dan wajahku pasti akan memerah. Aku sering mendengar pujian tapi kenapa kali ini aku merasa tersanjung sekali. Aku mengatupkan mulutku menahan senyum.

“Soo Ji” panggil Mommy, tapi menyerupai bisikan. Aku hanya membalasnya dengan gumaman.

“Kau sudah besar untuk tahu mana yang benar dan yang salah. Mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak. Mommy yakin kau paham itu, hanya saja kau belum dapat menerapkannya” aku mendengar Mommy menarik nafas untuk mulai bicara lagi “Jika kau dapat menerapkannya, kau akan menjadi anak yang baik, Unnie yang baik. Maaf untuk kata kata Mommy tadi pagi, Mommy tidak bermaksud menyakitimu, sayang.” Aku mengintip kearah Mommy yang masih fokus pada jalan.

Ketika aku menatap kearah lain, Mommy melihatku sebentar “Jadilah anak yang baik agar Mommy berhenti memarahimu. Dan perlu kau tahu, nak. Mommy marah karena Mommy menyayangimu, Mommy tidak mau kau menjadi anak yang tidak baik. Tidak ada Ibu yang tidak menyayangi anaknya, Soo Ji. Mommy sangat menyayangi mu, begitu juga dengan Eun Ji, Young Ji dan Lauren. Jika kau menilai Mommy lebih menyayangi Lauren, itu salah. Mommy sangat menyayangi kalian berempat, tidak ada yang Mommy bedakan. Hanya saja Lauren masih terlalu kecil, dia lebih membutuhkan perhatian Mommy. Tidak seperti kalian yang sudah dapat mandiri. Mommy menyanyangimu Soo Ji, sangat menyayangi mu nak” Mommy memberi penekanan dikata terakhir, raut wajahnya terlihat sangat sedih.

Apa yang Mommy bilang ada benarnya, ini pasti karena aku terlalu cemburu pada Lauren. Aku akan belajar untuk bersikap baik mulai sekarang tapi untuk baik pada Lauren aku tidak janji. Aku mencondongkan tubuhku kearah Mommy dan meletakkan tanganku diatas pahanya.

“Aku tahu Mommy sangat menyayangiku. Hanya saja aku tidak menyadari itu. Karena rasa cemburu pada Lauren menghalangi segalanya. Maafkan aku Mommy, aku akan belajar menjadi anak yang baik sekarang. Terimakasih” aku memberi kecupan dipipi mulusnya. Dia menatap kearahku dan tersenyum manis. Mommy sangat cantik, jika tersenyum seperti itu.

 

 

AUTHOR POV

Tiffany dan Soo Ji berbelanja bahan makanan bersama, mereka memiliki perdebatan kecil mengenai menu untuk makan malam. Soo Ji juga membantu Tiffany memasak, dengan mengiris beberapa sayuran menjadi potongan kecil dan Soo Ji lulus pada bagian itu walaupun jarinya terluka karena tidak hati hati menggunakan pisau.

 

Pertengkaran Siwon dan Tiffany membuat suasana makan malam sangat sunyi. Anak anaknya juga tidak ada yang berani bersuara, mereka sibuk menikmati makanan yang Tiffany buat. Bunyi derit kursi yang didorong kebelakang membuyarkan lamunan Tiffany, dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi hanya menatap kepiringnya.

“Aku selesai” kata Siwon, pergi meninggalkan meja makan begitu saja.

Tiffany merasa sakit hati dengan sikap Siwon. Apa dia tidak mendengar keributan didapur dengan Soo Ji, apa Siwon tidak tahu bahwa Tiffany sudah berbaikan dengan Soo Ji? Tiffany akan menyelesaikan masalahnya dengan Siwon setelah ini.

Setelah selesai, Tiffany merapikan meja dibantu Soo Ji dan Eun Ji. Tiffany mencuci piring piring kotor dan setelah itu dia bersiap menemui Siwon dikamar persembunyiannya.

 

TOKK TOKK TOKK….

Tiffany mengetuk pintu bercat putih itu, bersabar menunggu sampai Siwon menjawabnya. ketika tangan Tiffany terangkat untuk mengetuk pintu itu kembali, Siwon berseru menyuruhnya masuk.

Dengan ragu ragu Tiffany membuka pintu, apa Siwon tahu kalau ini dirinya?
Tiffany melihat Siwon yang berbaring menatap langit langit kamar dengan kedua tangan dibelakang kepalanya. Siwon melihat Tiffany dan merubah posisinya menjadi duduk tegap.

“Ada apa?’ tanya Siwon, suaranya terdengar dingin.

“Ada Apa?” Tiffany memicingkan mata, wajahnya terlihat tidak suka “Kau yang ada apa? Mengabaikan aku seharian ini”

“Jika kau marah karena masalah tadi pagi, kali ini kau yang berlebihan, kau tahu.” Teriak Tiffany. Emosinya sudah akan meledak. Dia tidak suka ketika Siwon mengabaikannya, karena Tiffany tidak pernah bersikap seperti apa yang Siwon lakukan padanya ketika dia marah dan bagi Tiffany, Siwon curang.

“Jangan berteriak ini sudah malam” ucap Siwon lembut, dia menutup telinga nya rapat rapat.

“Kau yang membuat aku berteriak” bentak Tiffany, suaranya masih terdengar nyaring.  Dasar wanita tidak bisa jika tidak berteriak, batin Siwon.

Siwon bangkit dari tempat tidur dan menarik pergelangan tangan Tiffany “Apa ini?” Tiffany menatap pergelangan tangannya yang digenggam Siwon dan beralih menatap wajah Siwon yang menyebalkan, untuk saat ini.

“Ikut aku, kau bisa teriak sesukamu tanpa mengganggu orang lain” lagi, Siwon menarik pergelangan tangan Tiffany. Mau tidak mau Tiffany mengikuti Siwon.

Siwon menarik Tiffany keluar Villa dan mereka sekarang berada dipantai, ada beberapa kursi panjang yang tersusun rapi disana. Siwon melepaskan cengkramannya “Berteriaklah”

Tiffany mencibir “Kau gila” Tiffany memukul dada Siwon kuat. Tiffany memeluk dirinya sendiri, angin pantai sangat kencang. Dia memakai dress panjang tanpa lengan berwarna pink. Tiffany memutar tubuhnya untuk masuk kedalam, tapi tiba tiba Siwon menariknya.

“Mau kemana?” tanya Siwon dengan nada sarkatis.

“Aku mau masuk kedalam dan pergi tidur” tanpa menunggu balasan dari Siwon, Tiffany berjalan meninggalkan Siwon. Tapi lagi lagi Siwon menariknya.

“Kau tidak bisa masuk kedalam, karena kita akan tidur diluar. Disana” Siwon menunjuk kearah kursi panjang yang tidak berada jauh darinya.

Tiffany terkesiap mendengar penuturan Siwon “Yak!! Disini sangat dingin” Tiffany mengusap lengannya yang tidak tertutup benang sehelai pun.

“Tsk.. kau selalu bilang padaku jika kau wanita yang kuat. Lagi pula cuaca malam ini tidak begitu dingin” Siwon tersenyum mengejek kearah Tiffany, yang membuat Tiffany geram.

“Oke” Tiffany berjalan kearah kursi panjang, ada dua bantal dan satu selimut disana. Dengan cepat Siwon berlari mendahului Tiffany untuk mengambil selimut itu.

“Hey berikan padaku, aku yang lebih membutuhkan selimut itu” Tiffany ingin merebut selimut yang berada ditangan Siwon tapi Siwon menarik selimut itu lebih tinggi.

“Tidak. jika kau ingin, kita harus berbagi selimut ini”

Shiero, aku sedang tidak ingin berdekatan dengan mu” Tiffany menginjak kaki Siwon kuat dan Siwon merintih kesakitan.

Tiffany mengambil tempat diujung sisi sebelah kiri dan Siwon disisi sebelah kanan, mereka saling berjauhan. Tiffany meletakkan bantal dan merebahkan tubuhnya dengan kesal. Siwon tersenyum puas melihat itu.

“Tiffany jika kau membutuhkan selimut datanglah padaku” teriak Siwon dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

Tiffany mengacuhkan ucapan Siwon, dia memunggungi Siwon yang tengah menatapnya. Siwon pun memutar tubuhnya dan mereka saling memunggungi.

Tiffany tampak gelisah ditempatnya, dia merasa kedinginan dengan pakaian yang dipakainya, ingin kembali kedalam, Siwon sudah mengunci pintunya. Terkadang Siwon bersikap seperti orang idiot. Sikapnya berubah ubah dengan cepat.

Sudah tidak tahan dengan dingin yang merayapi tubuhnya, Tiffany pun memeluk bantalnya dan berjalan untuk menghampiri Siwon. Dia menarik kursi panjang tersebut agar lebih dekat dengan Siwon untuk berbagi selimut.

Siwon tersenyum penuh kemenangan dan Tiffany melihat itu “Kau suami paling kejam” Tiffany merebahkan tubuhnya dan menarik selimut yang Siwon pakai.

Siwon mengangkat tangannya untuk menarik Tiffany kedalam pelukannya. Tapi Tiffany mundur dan mengangkat tangannya untuk mencegah Siwon “Stop it. Kita mempunyai batasan untuk malam ini. don’t touch me, okey

Siwon hanya tersenyum menanggapi itu. Tiffany mencoba memejamkan matanya, tapi dia merasa Siwon sedang menatapnya. Perlahan matanya terbuka dan benar Siwon menatapnya dengan senyum manis yang memperlihatkan dimple nya.

“Berhenti menantapku seperti itu” marah Tiffany pada Siwon.

“Aku suka menatapmu” balas Siwon. Senyum itu tidak luntur dari wajahnya. God, apa dia tidak lelah hanya tersenyum seperti itu sejak tadi. Aku saja lelah melihatnya, seperti orang idiot.

Tiffany tidak menanggapi rayuan Siwon, dia benar benar mengantuk, yang tadinya ingin bicara baik baik jadi penuh dengan emosi. Tiffany terlelap dan Siwon menyusulnya untuk terlelap juga.

 

 

Matahari yang mulai naik menerpa wajah Siwon, perlahan matanya terbuka dan dia tersenyum ketika Tiffany memeluknya, kaki Tiffany berada diatas kakinya. Betapa senangnya Siwon, dia tertawa dan bahunya bergetar.

Merasa terganggu Tiffany pun terbangun dan menyadari posisinya. Tiffany bergerak menjauh , dia hampir terjatuh jika Siwon tidak menarik lengannya. Tiffany baru ingat kalau ini bukan tempat tidur besarnya.

“Hati hati” gumam Siwon “Lihat, siapa yang memeluk siapa?” ejeknya, Siwon menyeringai pada Tiffany.

“Jangan terlalu senang. Aku memelukmu tidak sadar dan aku sedang tidur” Tiffany mengelak, tapi benar dia tidak sadar akan perlakuannya. Karena sudah terbiasa.

“Tetap saja, kau memeluk- Haciiimm…” Ucapan Siwon terpotong dengan bersin yang keluar dari mulutnya.

“Hahah aku tidak salah, aku benar benar- Haciiimmm….” kata kata Tiffany pun terputus dengan bersin yang keluar dari mulutnya.

Siwon tertawa “Jangan terlalu membanggakan diri”

“Ini semua gara gara kau, aku jadi terserang flu” Tiffany menggosok hidung dengan jari jari lentiknya, hidungnya mulai memerah.

“Aku akan menebusnya. Kajja kita masuk, aku akan membuatkan sarapan untuk pagi ini”

“masakan mu standar, kau tahu.” Tiffany berbohong, sesungguhnya rasa masakan Siwon lebih enak dibanding masakannya.

“Tapi kau selalu menghabiskan masakan yang aku buat” Siwon menjentikkan jarinya dikening Tiffany, yang membuat Tiffany meringis kesakitan.

“Ayo sayang, kita masuk” ajak Siwon, dia mengulurkan tangannya kepada Tiffany.

Tiffany cemberut “Hmm gendong” gumamnya.

Siwon tersenyum, dia berjongkok didepan Tiffany “Naiklah” perintah Siwon.

Dengan semangat Tiffany melompat ke punggung Siwon, melilitkan kaki nya di pinggang dan tangannya memeluk erat leher Siwon agar tidak terjatuh. Siwon yang awalnya berjalan sangat lambat, tiba tiba dia berlari membawa Tiffany yang berada dibahunya. Tiffany tertawa memekik ketakutan, tapi Siwon semakin mengencangkan larinya dan mereka tertawa bersama sama. Tiffany memberi kecupan dipipi Siwon bertubi tubi seakan sudah lama tidak menciumnya.

 

 

 

 

 

BAB 4 – LOVE AT THE FIRST SIGHT

 

Mereka menghabiskan sisa liburan dengan penuh tawa, tidak ada pertengkaran lagi. Ini sudah masuk bulan November dan musim panas akan segera berakhir. Keluarga Siwon dan Tiffany pun sudah kembali ke Seoul dan mulai melakukan kesibukan dan aktivitas masing masing.

 

Dibutik nya, tepatnya diruangannya, Tiffany tengah membuat sketsa gambar gaun rancangannya. Tapi lagi lagi gambarnya terlihat jelek, dengan kesal Tiffany meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang ada didekatnya. Merasa lelah Tiffany menyembunyikan kepalanya diantara kedua tangannya diatas meja.

Beberapa menit kemudian pintu ruangannya terbuka tapi Tiffany tidak berniat untuk melihat siapa yang masuk kedalam ruanganya.

“Unnie. Ini sudah jam makan siang, kau harus segera makan. Agar dapat menggambar sketsa sketsa itu dengan bagus” ucap wanita jangkung bertubuh kurus. Dia membawa kantung berisi makanan dan air mineral.

Mengetahui suara itu, Tiffany mengangkat kepalanya dengan enggan “Yoong, aku tidak dapat berkonsentrasi, apa karena aku lapar?” Tiffany memegangi perut ratanya. Tadi pagi dia hanya makan waffle cokelat dan teh manis.

“Ya, sepertinya Unnie lapar. Igo, aku membawakan ayam, burger dan kentang goreng” Yoona adalah sahabat sekaligus partner kerja Tiffany. Mereka membuka butik ini bersama sama.

Yoona membuka cup besar berisi ayam goreng dan mengeluarkan kantung kertas berisi burger dan kentang goreng, dia menyodorkannya kearah Tiffany. Tiffany tersenyum lebar melihat semua makanan diatas meja, dia dan Yoona bukan hanya partner kerja tapi partner makan dan belanja juga.

Dengan air liur yang hampir menetes Tiffany meraih burger nya lebih dulu tapi Yoona memukul tangannya “Unnie belum mencuci tangan, jadi gunakan tissue ini” Yoona memberinya beberapa lembar tissue. Oh my god, biasanya aku yang paling cerewet jika menyangkut kebersihan. Sepertinya aku benar benar kelaparan.

Tiffany tersenyum kecut, meraih tissue dan mengambil burger nya “Hmm bagaimana dengan Lee Triplets? Mereka sudah sehat?” Tiffany menanyakan keadaan anak kembar Yoona yang beberapa hari lalu jatuh sakit.

Yoona menikah dengan seorang direktur tampan bernama Lee Donghae. Diusia tujuh tahun pernikahan, mereka baru dikarunia buah hati. Tidak tanggung tanggung, Tuhan memberinya tiga anak laki laki tampan dan lucu sekaligus. Yoona berfikir Tuhan memang adil memberinya tiga anak sekaligus, mengejar ketinggalan teman temannya yang sudah memiliki banyak keturunan. Yoona dan Donghae sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan kasih untuk mereka, walaupun harus menunggu tujuh tahun lamanya.

Yoona mengangguk “Sudah lebih baik tapi mereka masih belum mau makan. Donghae Oppa menjaganya dirumah, dia selalu bolos kerja jika Triplets sedang sakit. Tapi tidak denganku, aku terkadang merasa cemburu dengan anak ku sendiri” ada ekspresi tidak suka diwajah Yoona tapi dia tersenyum tipis.

“Siwon juga seperti itu. Apa lagi keempat anak ku perempuan, kau bisa tahu bagaimana cemburunya aku yang diabaikan Siwon jika sedang bersama putrinya” Tiffany tertawa prihatin untuk dirinya sendiri.

“Nah, sepertinya aku tidak ingin memiliki anak perempuan” Yoona menggigit ayam keduanya. Dia sangat cepat jika makan.

Tiffany terkekeh mendengarnya “Kau harus memilki anak perempuan Yoong, agar kau ada teman untuk memasak dan shoping”

Yoona menggeleng cepat “Aku ingin Triplets besar dulu, Unnie. Mengurus mereka bertiga sudah sangat repot”

Tiffany mengacungkan satu jempolnya untuk Yoona, dia salut pada Yoona yang dapat mengurus tiga anak kembarnya dengan sangat telaten. Sangat susah mengurus anak yang memiliki umur yang sama, kita harus benar benar memperhatikan mereka dengan baik.

“Oh ya Unnie. Apa kau tahu kabar Taeyeon Unnie?” Taeyeon adalah salah satu sahabat mereka yang pindah kejepang tujuh tahun yang lalu karena harus mengikuti suaminya mengurus perusahaan milik orang tuanya dijepang. Dan sudah tujuh tahun pula mereka tidak bertemu. Dan ada satu lagi sahabat mereka, Kwon Yuri. Mereka berempat bersahabat baik sejak dibangku sekolah.

“Ya. Ketika aku berada di Jeju, dia mengirimkan aku pesan melalui facebook.  Dia bilang akan kembali ke Korea dalam waktu dekat dan menetap disini. Karena Jung Soo Oppa akan kembali mengurus perusahaan orang tuanya yang ada dikorea.” Tiffany meneguk air mineralnya, perutnya masik berteriak lapar. Ayam goreng akan menjadi sasaran selanjutnya.

“Woaah, itu kabar bagus. Aku ingin melihat putrinya, karena kita tidak berada disana ketika Taeyeon Unnie melahirkan” Yoona bertepuk tangan, benar benar gembira.

“Nama nya Park Yeon Ah, dia seusia dengan Lauren” Kata Tiffany. Dia juga sangat senang mendengar Taeyeon sahabatnya akan kembali ke Korea dan mereka bisa berkumpul kembali. Selama tujuh tahun tidak bertemu, ada yang Taeyeon lewatkan tentang Tiffany.

“Andai Sica Unnie masih ada” Gumam Yoona. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.

“Aku juga berharap seperti itu” Tiffany menghela nafas dengan lambat, dia menumpukan tangannya diatas meja. Rasa laparnya menghilang.

“Apa Unnie akan memberitahu Taeyeon Unnie tentang-“ Yoona tidak berani melanjutkan kata katanya tapi Yoona yakin Tiffany tahu apa yang dia maksud.

“Aku.. aku tidak tahu” tiba tiba raut wajah Tiffany berubah pucat, tampak tegang setelah mendengar ucapan Yoona.

 

 

***

Soo Ji masuk kedalam rumah dengan bersemangat, dia dapat menyantap makan siang buatan Tiffany. Tapi harapannya putus ketika dia masuk kedalam ruang makan dan melihat ketiga adiknya sedang menyantap lunch box.

“Lunch box lagi?” tanyanya, lebih tepat untuk dirinya sendiri.

“Yep, tapi sepertinya Daddy yang memesan Lunch box ini. karena tidak ada sayuran didalamnya” seru Young Ji dengan lahap memakan makanannya yang terbebas dari sayuran.

Soo Ji melihat isi lunch box Lauren yang berada disampingnya “Tapi punya Lauren ada sayurnya”

Lauren menatap Soo Ji lalu kembali fokus kemakanannya “Itu karena aku suka capcai” kata Lauren dengan mulut penuh.

I know you so well” Ucap Eun Ji menimpali. Mereka sangat tahu itu, karena Lauren selalu mendapat pujian ketika menyantap sayuran dengan lahapnya.

“Ini kenapa aku tidak menyukai Mommy bekerja, karena kita sangat susah untuk memakan masakannya” Omel Soo Ji, dan yang lain mengangguk setuju.

 

SOO JI POV

Bunyi ponsel ku mengejutkan kami yang sedang menyantap makan siang dengan hening. Aku sedikit kesal siang ini, Kim Ahjussi dan Kim Ahjumma sedang mengunjungi anaknya. Jadi setiap hari aku pergi dan pulang naik bis sekolah yang berisik, belum lagi tidak ada masakan Kim Ahjumma atau masakan Mommy yang bisa aku santap. Aku merindukan masakan  mereka.

Aku menarik ponsel dari kantung kemeja sekolah ku. Notifikasi line dan itu dari Joon. Oh sudah tiga hari dia tidak mengirimkan aku pesan. Dia mengirimkan foto dirinya yang berada di Namsan tower dengan pesan “Segera ingin bertemu dengan mu Soo Ji-ssi”

God, apa dia benar benar di Korea? Dia bersungguh sungguh dengan ucapannya. Tiga hari yang lalu Joon memberitahuku, jika dia akan pindah ke Korea, tapi aku tidak menanggapi ucapannya.

Dengan cepat aku mengirimkan balasan untuknya “Wow keren. Aku kira kau bercanda dengan ucapan mu kemarin” aku mengklik kirim dan melanjutkan makan ku sembari menunggu balasan dari Joon.

Tidak butuh waktu lama, ponsel ku bergetar. Aku mengaturnya agar tidak berbunyi, tidak ingin mengganggu adik adik ku yang sedang makan dengan serius.

“Harus kau tahu, aku tidak pernah berbohong. Kita harus mengatur pertemuan kita secepatnya” aku tersenyum membaca pesan darinya, dia ingin bertemu dengan ku secepat itu? Heol…

Aku menanyakan alamat rumahnya, tempat dia tinggal sekarang di Korea. Dan aku terkejut ketika dia mengirimkan alamat rumahnya.

“Hey kita berada di komplek yang sama, hanya berjarak beberapa blok dari rumahku” Aku membalas pesannya.

Oh God, aku merasa semakin dekat dengannya. Wajahku memanas, pasti sekarang sudah berubah menjadi warna tomat. Sangat bersyukur adik adik ku fokus pada makanannya, aku tidak ingin mereka melihat kekonyolanku.

Ponsel ku bergetar kembali dan itu balasan dari Joon “Takdir sepertinya selalu punya cara yang lucu” Takdir? Lucu? Apanya. Aku tersenyum lagi, oh ya aku benar benar seperti orang gila yang terus tersenyum karena memandangi ponsel ini.

 

 

***

AUTHOR POV

“Mommy, bagaimana dengan soal nomor tiga ini?” Tanya Eun Ji. Ini sudah yang ketiga kalinya Eun Ji bertanya. Tiffany sedang menemani anak anak nya yang sedang mengerjakan tugas sekolah.

Tiffany menutup majalah fashion yang sedang dia baca “Eun Ji, balik kehalaman sebelumnya. Disana semua rumus untuk soal soal yang sedang kau kerjakan”

Eun Ji mengikuti intruksi yang Tiffany arahkan, dengan gerakan cepat dia membalik buku matematika nya dan “Ya, Mommy. Aku menemukannya” Matanya bersinar seperti habis menemukan harta karun.

Tiffany hanya menggeleng, bagaimana bisa Eun Ji yang hobi membaca tapi ketika mengerjakan tugas dia selalu bertanya tanpa mau membaca bukunya terlebih dulu.

 

TING TONG.. TING TONG…

Bunyi bel memecahkan kesunyian, Tiffany mengerutkan keningnya. Apa itu Siwon? Heh, tapi jika itu Siwon dia akan langsung masuk bukan? Tanpa harus menekan bel. Ya, jadi itu tamu.

“Mommy” panggil Young Ji yang melihat Tiffany duduk melamun tanpa bergerak untuk membuka pintu “Ada tamu” lanjutnya lagi.

Tiffany tersadar dari lamunannya dan segera berjalan menuju pintu. Bunyi bel semakin tidak sabaran, membuat Tiffany bergerak lebih cepat dan menarik knop pintu dengan kasar.

“Yak.. kenapa lama sekali” marahnya. Seorang wanita seusianya dengan rambut panjang, bertubuh pendek dengan kulit putih pucat. Disampingnya ada seorang anak perempuan seusia Lauren.

“Aaaaa… Kim Taeyeon” pekik Tiffany. Mungkin suaranya terdengar kerumah tetangganya, karena sangat kuat. Tiffany menarik wanita bernama Taeyeon kedalam pelukannya, menguncinya tanpa ingin melepasnya “Jeongmal bogoshipoe

“Kau tidak berubah, masih suka berteriak” Taeyeon menutup telinganya, lalu membalas pelukan Tiffany.

“Mommy, ada apa?” Lauren menyusul Tiffany. Dia khawatir ketika mendengar teriakan Tiffany dari dalam.

Taeyeon melepaskan pelukan Tiffany dan berjalan kearah Lauren “Oh Tuhan, Fany aah. Apa ini si bungsu?” Taeyeon melirik Tiffany yang mengangguk. Taeyeon mensejajarkan tubuhnya dengan Lauren “Kenapa dia sangat mirip dengan Jessica, Fany aah?” seketika wajah Tiffany memucat dan mulutnya tiba tiba kering. Dengan susah payah Tiffany tersenyum untuk menanggapi perkataan Taeyeon.

Taeyeon menyentuh wajah Lauren dengan satu tangannya “Hai siapa namamu? Boleh aku memelukmu?” tanya Taeyeon dengan lembut.

“Lauren Choi” Lauren mengangguk ragu ragu “Ya Ahjumma” gumamnya.

“Panggil aku Taeyeon Eomma. Ketiga Unnie mu juga memanggil aku seperti itu”  Taeyeon meralat panggilan Lauren untuk nya dan mendekap Lauren dengan penuh kasih sayang. Melihatmu, mengingatkan aku pada Jessica. Jessica kami, bogoshipda.

“Oh maafkan aku Fany aah, aku berlebihan. Melihat Lauren membuat aku semakin merindukan Jessica, sahabat kita” ucap Taeyeon ketika selesai memeluk Lauren.

Nado” bisik Tiffany, suaranya berubah serak. Matanya pindah menatap gadis kecil yang sedari tadi menempel pada Taeyeon.

“Biar aku tebak, ini pasti Park Yeon Ah kan?” Tiffany membuat dirinya seceria mungkin, dia ingin menepis ucapan Taeyeon tadi.

“Ya, kau benar. Perkenalkan dirimu, sayang” Taeyeon membelai rambut putrinya yang tergerai sampai kebahunya. Park Yeon Ah memperkenalkan dirinya dengan lucu dan anak ini benar benar pemalu. Lauren pun berkenalan dengan Yeon Ah, dia senang karena anak teman Eomma nya ada yang seusia dengannya.

“Mommy, apa aku boleh mengajak Yeon Ah keruang bermain?” tanya Lauren penuh harap.

Of course. Jika tugas sekolah mu sudah selesai” balas Tiffany. Dia tahu Lauren sangat friendly, Lauren sangat senang bertemu dengan teman seusinya.

“Sudah, sudah” teriak Lauren dengan semangat “Ayo Yeon Ah, aku akan meminjamkan beberapa boneka milikku” Lauren menarik tangan Yeon Ah pelan. Yeon Ah sedikit enggan tapi akhirnya menerima ajakan Lauren ketika wajah Lauren mengeluarkan ekspresi memohon padanya. Taeyeon dan Tiffany tersenyum, melihat putrinya yang mulai akrab.

 

Tiffany merangkul Taeyeon, mengajak nya masuk kedalam ruang tengah rumahnya. Dimana ketiga putrinya sedang mengerjakan tugas sekolahnya.

“Hai girls” sapa Taeyeon, ketika sampai diruang tengah. Ketiga putri Tiffany tengah duduk memunggunginya, mereka menoleh untuk melihat siapa yang menyapanya.

“Taeyeon Eomma” Teriak Eun Ji dan Young Ji bersamaan. Berbeda dengan Soo Ji, dia memicingkan matanya untuk memperjelas pengelihatannya. Dia tidak mengenal wanita yang dipanggil Taeyeon Eomma oleh kedua adiknya.

Eun Ji dan Young Ji berlari untuk memeluk Taeyeon “Aigoo, kalian sudah besar, huh?” Taeyeon memeluk Eun Ji dan Young Ji bergantian “Betapa menyenangkannya memiliki banyak anak perempuan seperti ini” Tiffany menyikut perut Taeyeon, tahu jika Taeyeon sedang menyindirnya.

“Choi Soo Ji. Kau tidak ingin memeluk Eomma” Taeyeon melihat Soo Ji yang hanya diam ditempatnya.

“Sepertinya dia lupa” bisik Tiffany ditelinga Taeyeon.

Jinja? Kau lupa pada Eomma, Soo Ji aah. Coba kau ingat ingat, kau pasti mengingatnya” Taeyeon menunjuk wajahnya. Sedikit kecewa karena salah satu putri sahabatnya tidak mengenalnya. Ya, dulu sebelum Taeyeon pindah ke Jepang, dia jarang bertemu Soo Ji. Karena Soo Ji lebih sering dibawa oleh Ibunya Siwon.

Soo Ji mengangkat bahunya “Sorry, aku benar benar lupa” wajah Soo Ji terlihat sangat menyesal.

“Oh menyedihkan sekali” Taeyeon melempar tubuhnya di sofa dan raut wajahnya dibuat sesedih mungkin. Tiffany tertawa melihat itu, Taeyeon terlihat lucu ketika berakting dan itu fail.

“Eomma, Eomma. Mommy bilang, Eomma memiliki anak perempuan. Oddie?” Young Ji mengedarkan pandangannya dengan liar, dia tidak melihat perempuan asing yang berada diruangan ini.

“Lauren mengajaknya keruang bermain” jawab Taeyeon, menunjuk keatas, kearah Lauren membawa Yeon Ah.

“Aku ingin melihatnya, apa dia mirip dengan Joon Oppa” kali ini Eun Ji yang berseru dengan semangat. Eun Ji tidak terlihat dingin ketika bersama orang orang yang dekat dengannya.

“JOON??” teriak Soo Ji tiba tiba. Dia menutup mulutnya dengan cepat, semua orang yang ada disana menatapnya.

“Jangan bilang kau hanya mengingat Joon, Soo Ji aah” Taeyeon mengangkat tubuhnya, dia duduk dengan serius menatap Soo Ji.

Nope. Hanya namanya tidak asing buatku” Soo Ji teringat teman sosial media nya yang bernama Joon. Yang sekarang berada di Korea, pria yang sekarang memenuhi fikirannya.

Omo. Joon tidak masuk, dia benar benar menunggu didalam mobil” gerutu Taeyeon, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

“Joon ikut?” Tanya Tiffany yang mengamati gerak gerik Taeyeon.

“Ya, dia yang menyetir” Taeyeon mengetik sesuatu di ponselnya.

“Kau bercanda?” Tiffany menatap Tayeon tidak percaya. Seingatnya Joon seusia dengan Soo Ji tapi kenapa Taeyeon sudah mengizinkan putra nya mengendarai mobil.

“Aku serius. Dia tujuh belas tahun, Fany aah. Dan aku tidak bisa melarangnya” Taeyeon mengangkat tangannya ketika Tiffany ingin bicara lagi “Joon, kau tidak sopan. Cepat masuk”

“…”

“Eomma tidak mau tahu. Kau harus segera masuk” Taeyeon mengakhiri panggilan nya dengan kasar.

 

Eun Ji dan Young Ji naik kelantai atas untuk melihat Lauren dan Yeon Ah. Tapi Soo Ji tetap ditempat, dalam dirinya seperti ada yang menyuruhnya untuk tetap berada disana. Soo Ji mengerjakan kembali tugasnya yang hampir selesai, dia mendengar derap kaki yang mendekat.

Annyeonghaseo Tiffany Aunty” pria bertubuh tinggi dengan rambut yang tersisir rapih menutupi keningnya. Dia membungkuk sopan, Soo Ji tetap pada posisinya tidak bergeming ketika mendengar suara merdu itu.

Oh my God” Tiffany menutup mulut dengan telapak tangannya “Ini kau Park Joon. Ya, kau tinggi dan tampan” Ucap Tiffany, dia menepuk pundak Joon dua kali.

“Soo Ji, kau tidak ingin mengenal putra Eomma?” Taeyeon memanggil Soo Ji yang masih fokus pada buku pelajarannya.

Perlahan Soo Ji berdiri dan memutar tubuhnya sangat lambat, entah kenapa jantung nya berdetak lebih cepat. Ketika mereka sudah saling berhadapan, Soo Ji terkejut setengah mati.

“PARK JOON-SSI” panggilnya dengan suara tinggi. Tapi setelah itu tenggorokannya kering. Soo Ji mengerjapkan matanya beberapa kali, Joon hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Kalian sudah mengenal satu sama lain?” Tiffany menatap Soo Ji yang tidak lepas memandang Joon, begitu pula dengan Joon. Tidak ada yang menjawab, mereka sibuk memandang satu sama lain.

Melihat itu, Taeyeon meninju perut Joon, dan putranya melompat kesakitan “Kau mengenalnya?” tanya Taeyeon ketika anaknya sudah sadar dari lamunannya.

“Aku mengenalnya lewat sosial media” kata Joon yang terus menggaruk tengkuknya, tampak salah tingkah.

“Dunia begitu sempit” seru Taeyeon. Dia menggelengkan kepalanya lalu tesenyum sembari bertepuk tangan beberapa kali.

 

***

JOON POV

“Takdir sepertinya selalu punya cara yang lucu” ucap Soo Ji memecahkan keheningan diantara kami. Hey, itu kata kataku.

Kami berada ditaman belakang rumahnya, duduk dikursi panjang yang ada ditaman itu, aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Dia benar benar sudah berubah menjadi gadis remaja yang cantik, tidak ketika masih kecil dulu, gadis manja yang pemarah. Rambutnya masih panjang seperti dulu, hanya tidak ada lagi poni yang menutupi keningnya. Aku masih mengingat dia, tapi dia tidak mengingat aku. Menyedihkan bukan?

“Park Joon ssi, kau sangat pandai berakting. Kau mengenalku tapi seolah olah tidak mengenalku, Tsk!!” dia meninju lengan ku sangat kuat. Oh dia masih menjadi gadis pemarah.

“Bisakah kau memanggil ku Joon saja, kita sudah dekat sejak kecil” aku meralat panggilan dia untukku sembari mengusap usap lenganku bekas tinjuannya.

“Tapi aku tidak mengingat mu” Ucap nya dengan suara menantang. Dagu nya diangkat dengan angkuhnya.

“Dasar pikun” Aku mendorong keningnya dengan jari telunjukku. Dia mempout bibirnya dan itu terlihat sangat lucu dimataku.

“Awalnya aku tidak yakin jika itu kau ketika pertama kali aku melihat akun mu. Tapi setelah kau mengupload fotomu bersama Fany Aunty, aku yakin itu kau Choi Soo Ji si gadis manja dan pemarah” aku memberi penekanan diujung kalimat yang aku ucapkan.

Dia memukul bahuku berkali kali, tenaganya cukup kuat untuk wanita seperti Soo Ji “Yayaya. Aku tidak manja, aku tidak pemarah, kau harus tahu itu Joon aah” dia masih memukul bahuku dan aku berusaha menghindari pukulannya, tapi kata kata terakhirnya membuat aku menangkap tangannya.

“Apa? Kau panggil aku apa tadi?” aku mendengarnya, hanya saja aku ingin Soo Ji mengatakannya dengan pelan.

Dia menarik tangannya yang tadi aku tangkap “Apa?” tanya nya pura pura tidak tahu, haha pasti dia keceplosan memanggil aku seperti itu.

“Aku mendengarnya Soo Ji, dan seharusnya kau memanggil aku Oppa. karena aku dua tahun lebih tua darimu” aku tersenyum kearahnya, dan aku melihat wajahnya yang memerah.

Soo Ji mengangkat kepalanya untuk melihatku “In your dream, Park Joon aah” katanya, memukul bahuku sekali lagi lalu berlari masuk kedalam rumah. Aku menyusul nya. Tsk, kenapa dia suka sekali memukul orang.

 

AUTHOR POV

Bosan bermain, Lauren meminta ditemani keruang teather. Mengajak Yeon Ah menonton film yang sering dia tonton. Eun Ji dan Young Ji pun menemani dua gadis kecil ini menonton, menonton BIG HERO 6. Lauren sangat menyukai film ini dan dia berharap mempunyai teman robot seperti Baymax. Young Ji lah yang pertama kali menonton film ini dan mengajak Unnie dan adiknya menonton juga.

Ketika mereka asik menonton, pintu ruang teather terbuka. Munculah Soo Ji dan Joon dari balik pintu. Yeon Ah yang melihat Oppa nya, langsung berteriak dengan nyaring “Joon Oppa”

“Aigoo. Suara mu nyaring juga ternyata” Ucap Young Ji terkejut. Karena sedari tadi Yeon Ah hanya diam. Saat ditanya Yeon Ah hanya mengangguk dan menggeleng sebagai jawabannya.

“Sesungguhnya dia sangat cerewet” kata Joon yang sudah bergabung bersama mereka. Joon mencubit hidung adiknya dengan gemas.

Joon melihat kearah Eun Ji dan Young Ji bergantian “Kau Eun Ji dan kau pasti Young Ji, right?” Joon menyebut nama dan menunjuk orangnya dengan tepat. Tatapannya turun kegadis kecil yang duduk disamping Yeon Ah “Tunggu, siapa gadis Amerika ini?” Joon menyentuh tangan mungil Lauren.

Annyeonghaseo Oppa. Aku adik Soo Ji Unnie, Eun Ji Unnie dan Young Ji Unnie” jawab Lauren, mengeja setiap kata yang dia ucapkan.

“Ah Jinja?” Joon melihat kearah Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji secara bergantian. Meminta jawaban atas perkataan Lauren dan ketiganya mengangguk mengiyakan “Lauren tampak berbeda dari kalian bertiga, namanya juga. Nama dan wajahnya seperti gadis Amerika” Tidak ada yang membalas ucapan Joon, mereka kembali menatap layar lebar didepan mereka, kembali fokus pada film yang sedang diputar.

 

SOO JI POV

Aku dan yang lainnya sedang asik melihat Baymax yang dengan lucunya menyumpal lubang lubang ditubuhnya dengan solasi. Tiba tiba layar mati dan Young Ji menggantinya dengan Dora The Explorer. Eh, kenapa acara ini? rasanya aku ingin mengambil remote dan mematikannya. Tapi Yeon Ah terlihat senang ketika acara itu mulai, belum lagi wajah imutnya yang terus tersenyum membuat aku tidak tega untuk mematikan acaranya. Well, aku mengikuti mereka menonton acara bodoh ini.

Aku duduk disamping Lauren dan disisi ku yang lain ada Eun Ji, sedangkan Young Ji duduk disamping Yeon Ah yang duduk berdekatan dengan Lauren dan Joon berada di belakang kami.

Oh God. Dora, seharusnya anak seusiamu berada dirumah bukan berkeliling hutan. Dasar anak nakal.

“Dimana permata merah?” tanya Dora pada orang orang yang sedang menonton.

Dan dengan penuh minat Lauren dan Yeon Ah menjawab “Didepanmu”

“Dimana?” tanya Dora sekali lagi.

Aku mulai kesal. Didepan mu bodoh!! Apa dia buta, permata sebesar itu tidak terlihat? Aku menggeram kesal ketika Dora berteriak dimana lagi.

“Didepan mu Dora” Teriak Lauren tidak kalah kesalnya denganku.

“Unnie, kenapa Dora begitu bodoh?” Tanyanya padaku.

“Itu karena yang dia lakukan hanya berkeliling hutan. Dia tidak pernah pergi kesekolah, itulah kenapa Dora bodoh” jawabku asal.

Lauren mengangguk setuju dan kembali melihat Dora anak bodoh itu. Aku mendengar tawa kecil dibelakangku dan itu suara tawa Joon. Apa yang dia tertawakan?

“Hey apa yang kau tertawakan?” tanyaku, kepalaku berputar kebelakang untuk melihatnya.

“Jawaban mu benar benar membuat ku geli, Oh tuhan” jawabanku? Jawaban atas pertanyaan Lauren tadi? Apanya yang lucu, dasar aneh. Tapi dia terlihat tampan ketika tertawa lepas seperti itu.

Yak, Soo Ji. Apa yang kau fikirkan, kau selalu memujinya. Aku memutar tubuhku dan kembali melihat kedepan layar, aku berharap acara ini cepat selesai. Aku benar benar kesal melihatnya.

 

 

AUTHOR POV

“Eomma, Eomma. Aku ingin ruang bermain dan ruang teather seperti punya Lauren” pekik Yeon Ah yang berada di jok belakang.

Taeyeon melihat kearahnya dan tersenyum  cerah “Ya, bilang pada Appa sesampainya kita dirumah, oke?” Yeon Ah melompat ditempatnya. Dia sangat senang karena biasanya apa yang dia pinta kepada Ayahnya pasti akan diberikan. Taeyeon senang melihat putrinya yang sangat gembira. Bagaimana tidak, Yeon Ah selalu menangis ketika dia tiba di Korea. Dia kehilangan teman temannya dan harus mencari teman baru dan nanti harus beradaptasi lagi disekolah baru. Taeyeon pun berencana mendaftarkan Yeon Ah disekolah yang sama dengan Lauren, agar putrinya dapat mudah bergaul dengan teman teman barunya melalui Lauren.

Taeyeon mengintip kearah putranya yang fokus menyetir tapi bibirnya tertarik membentuk senyuman, sejak tadi Taeyeon memergoki Joon yang tersenyum sejak keluar dari perkarangan rumah Tiffany.

Taeyeon meninju kecil lengan Joon “Heh, apa yang membuat mu tersenyum seperti orang idiot hoh?”

Joon menggeleng “Nope” senyumnya masih mengembang diwajahnya.

“Eomma tahu kau tertarik pada Soo Ji. Tadi Eomma melihatmu seperti akan menerkamnya saat kau menatap Soo Ji” Taeyeon menunjuk Joon dengan wajah menggoda.

“Eomma” Pinta Joon, tidak tahan dengan godaan Ibunya.

Taeyeon mengacak acak rambut Joon “Aigoo, putraku sudah besar” Joon cemberut karena rambutnya berantakan seperti habis diterjang badai.

“Tapi aku melihat wajah tidak suka Fany Aunty ketika aku berdekatan dengan Soo Ji”  Joon menatap Taeyeon dengan ekspresi datar. Tadi ketika mereka berlari masuk kedalam rumah, Tiffany menatapnya dengan tatapan dingin. Itu kenapa Joon menilai Tiffany seperti itu.

“Tidak mungkin Tiffany tidak menyukai putra ku yang tampan ini” Taeyeon mengusap lengan Joon, memberi semangat lewat sentuhannya “Tiffany hanya overprotektif pada putrinya” Taeyeon tersenyum pada Joon yang melirik kearahnya.

“Eomma tidak marah jika aku berkencan?” tanya Joon sangat pelan. Tidak ingin adik kecilnya mendengar perbincangannya dengan Ibunya.

“Tidak. Bahkan Eomma jatuh cinta pertama kali saat berumur lima belas tahun” Taeyeon tersenyum malu mengingat kenangan itu. Bukan pada suaminya, karena dia mengenal suaminya setelah cinta pertamanya gagal “Tapi kau harus tetap menomorsatukan belajar. Jika nilai jelek, katakan selamat tinggal pada kekasihmu” Ancam Taeyeon, suara nya sangat serius ketika melontarkan kalimat itu.

Joon terkikik “Arro” gumamnya. Ibunya memang teman cerita yang baik, tidak seperti Ayahnya yang hanya membicarakan pelajaran dan pendidikan. Memang itu bagus, tapi Joon juga ingin membicarakan hal santai seperti sekarang bersama Ibunya.

 

 

***

“Hey sayang. Lelah?” tanya Tiffany. mencium pipi Lauren ketika anak itu masuk kedalam mobil. Tiffany berjanji untuk menjemput keempat putrinya hari ini, kebetulan butik tidak begitu sibuk. Dan Tiffany juga akan mengajak mereka pergi ke mall. Berbelanja, sekalian membeli hadiah untuk Yeon Ah yang minggu lalu berulang tahun.

Mata Lauren berbinar “No, I’m not. I’m happy so much, Mommy” Lauren tersenyum sangat lebar.

Tiffany ikut tersenyum melihat Lauren yang sedang gembira “Ada apa? Nilai mu bagus lagi?” tanya Tiffany antusias. Matanya melihat ke Lauren lalu kembali ke jalan.

Lauren tertawa, tebakan Tiffany meleset semua “Yeon Ah teman yang menyenangkan, aku menyukainya. Kami memiliki banyak kesamaan, Mommy”

“Akhirnya, kau memiliki teman yang benar cocok dengan mu” Lauren mengangguk kuat, tidak membantah. Sudah setengah tahun Lauren masuk kesekolah ternama itu, tapi dia tidak pernah mendapatkan teman yang cocok.

Mereka terdiam beberapa saat dan Tiffany pun menginjak rem dengan lembut. Lauren melihat keluar jendela “Ice cream?” tanya nya pada Tiffany.

“Yup. Unniedeul satu jam lagi baru akan keluar. Well, kita menunggu disini saja. Tempat favorite mu” Tiffany mencubit hidung Lauren lalu melepas sabuk pengamannya.

Tiffany keluar lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Lauren. Tiffany mengamit tangan mungil Lauren dan masuk kedalam cafe yang sering mereka kunjungi dan ini tempat favorit Lauren untuk menikmati es krim. Di cafe ini juga tersedia tempat bermain untuk anak anak, itu kenapa Lauren menyukai tempat ini.

Tiffany mendorong pintu kaca besar cafe tersebut dan menahannya, memerintahkan Lauren untuk masuk dan Tiffany berjalan dibelakangnya. Lauren langsung berlari kearah tempat bermain, ada kolam yang dipenuhi bola bola kecil dan perosotan.

Tiffany memesan dua cup es krim  berukuran besar , rasa vanila dengan taburan oreo untuk Lauren dan rasa stroberry untuknya. Ketika Tiffany selesai menunggu pesanannya, dia membawa nampan berisi es krim yang dipesannya tadi dan mengambil tempat dekat tempat Lauren bermain.

Mata indah milik Tiffany menatap seorang wanita manis  bertubuh sexy, rambut panjang nya tergerai indah  sampai kebahu nya.

“Yuri aah” pekik Tiffany. Seketika dia menutup rapat mulutnya, menyadari para pengunjung cafe menatap kearahnya.

Yuri berjalan kearahnya dan merangkulnya “Kenapa kau selalu berteriak. Lihat, semua orang menatap mu” bisik Yuri ditelinga Tiffany.

Tiffany menutup matanya rapat “Mian” dia tersenyum kikuk kearah Yuri.

Yuri duduk dihadapannya dengan es krim vanila miliknya “Kau datang kerumah baru Taeyeon, minggu nanti?” Tiffany membuka pembicaraan, dia menatap Yuri yang sedang menyantap es krim nya.

“Ya, aku datang. Hara sangat ingin bertemu dengan Joon” balas Yuri dengan mulut yang penuh es krim.

“Aku sudah lama tidak melihat Hara dan Jung Woo, bagaimana kabarnya?” Hara dan Jung Woo adalah anak Yuri bersama Choi Min Ho. Hara dan Jung Woo berada disekolah yang sama dengan Eun Ji dan Young Ji. Hara berada di kelas tiga menengah pertama sedangkan Jung Woo satu kelas dengan Eun Ji.

“Mereka baik. Aku tahu kau sibuk, makanya kau jarang berkunjung kerumah ku” Yuri mencibir kearah Tiffany. Sudah dua minggu mereka tidak bertemu dan kabar terakhir yang Yuri dengar, Tiffany pergi berlibur ke Jeju. Hanya itu.

Mian, sepulang aku berlibur, pekerjaan ku menumpuk seperti gunung himalaya” Tiffany menggosok gosok keningnya, sesaat mengingat pekerjaan yang terbengkalai sepulang berlibur.

“Hiperbola” ejek Yuri “Oh ya, kau bersama Lauren?” tanya Yuri, dia melihat dua cup es krim yang ada diatas meja. Berarti Tiffany tidak sendiri, fikir Yuri.

“Yup. Itu dia” Tiffany menunjuk kearah Lauren yang sedang meluncur diperosotan kecil dan membenamkan tubuhnya diantara bola bola.

“Sangat berbeda. Dia friendly sekali” Yuri melihat Lauren tetap bermain dengan serunya. Padahal disana tidak ada satupun orang yang dia kenal.

“Ya” bisik Tiffany. Dia tahu apa yang Yuri maksud, dan itu memang benar berbeda. Tiffany menghela nafas panjang.

 

Tiffany dan Yuri berpisah saat keluar dari cafe. Tiffany menjemput Soo Ji lebih dulu, karena Soo Ji akan mengomel jika dia telat menjemputnya. Sedangkan Yuri menjemput Hara dan Jung Woo yang berada disekolah yang sama.

Setelah Tiffany menjemput anak anaknya, Tiffany pulang kerumah membiarkan anak anaknya berganti pakaian yang lebih santai dan setelah itu makan siang disebuah restoran, barulah mereka pergi ke mall, tujuan utama.

“Mommy, aku dan Lauren ingin bermain game” ucap Young Ji ketika mereka sudah berada didalam mall.

“Aku ingin ketoko buku” seru Eun Ji.

“Dan kau Soo Ji?” tanya Tiffany, sebelum Soo Ji mengucapkan keinginannya. Tiffany sangat mengenal anak anaknya yang tidak terlalu suka berkeliling untuk mencari sesuatu, kecuali terdesak.

“Aku ikut Mommy, mencari hadiah untuk Yeon Ah” balas Soo Ji, Tiffany mengernyitkan keningnya. Tumben sekali.

“Baiklah. Mommy tidak mau tahu, setelah satu jam kita harus bertemu disini. Jika tidak, Mommy akan meninggalkan siapa yang telat datang” Ancam Tiffany. Karena anak anaknya suka lupa waktu jika menyangkut hoby nya, keempat putrinya belum ada yang disiplin dengan waktu.

“Siap” Ucap Eun Ji, Young Ji dan Lauren serempak. Mereka pun berjalan kearah yang berbeda.

 

“Tumben sekali kau ingin ikut berkeliling, biasanya menunggu di starbucks. Menginginkan sesuatu?” Tiffany menggerling kearah Soo Ji.

No Mommy, aku tidak menginginkan apapun. Kenapa Mommy berfikir seperti itu?” ah ketahuan.. Soo Ji memilin rok yang dia kenakan, entah kenapa tiba tiba dia gugup. Apa karena tertangkap basah? Ya, benar Soo Ji menginginkan sesuatu dari Tiffany tapi dia berbohong.

“Karena seperti itulah dirimu jika sedang ada maunya” beberapa waktu lalu Soo Ji membuatkan Tiffany teh dan mengantarnya keruang kerja Tiffany. Ternyata dibalik itu Soo Ji menginginkan ransel baru. Bukan hanya satu kali tapi sudah sering, jadi Tiffany sudah hapal dengan gelagat putri sulungnya. Kita lihat apa yang dia inginkan.

Tiffany dan Soo Ji masuk kesebuah toko yang berisi piyama anak anak dengan motif yang lucu lucu. Tapi Tiffany tidak tahu apa animasi favorit Yeon Ah. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk membelikan Yeon Ah piyama. Mereka berjalan lagi mencari cari yang lebih menarik.

“Mommy” panggil Soo Ji. Meremas lengan kemeja yang Tiffany pakai.

Tiffany sedang melihat sepatu anak anak, berpaling menatap Soo Ji “Wae? Lelah?” pasti dia lelah, sudah hampir setengah jam berkeliling tapi belum mendapatkan hasil.

“Tidak, bukan. Aku ingin menanyakan sesuatu” ucap Soo Ji dengan lembut.

Tiffany berdiri tegak dan berhadapan dengan Soo Ji “Apa?”

Soo Ji diam sejenak untuk merangkai kata. Lalu dengan keberanian dia mengajukan pertanyaannya “Bagaimana Daddy dan Mommy bertemu?” kalimat itu mencelos dengan lancar dari mulutnya.

“Heh?” mata Tiffany terbelalak dan bibirnya sedikit terbuka.

“Aku hanya ingin tahu kisah cinta Mommy dan Daddy” lanjut Soo Ji. Matanya turun untuk melihat lantai, tidak ingin melihat Tiffany yang menatapnya dengan tajam.

For what? Kenapa ingin tahu?” Tiffany menarik dagu Soo Ji agar melihat kearahnya “Kau tidak sedang jatuh cinta kan?”

Pertanyaan Tiffany membuat mata Soo Ji melebar seakan ingin keluar dari tempatnya. Dengan cepat Soo Ji mengibaskan tangannya keudara “Tidak, tidak. Aku tidak, Mommy” Soo Ji mundur satu langkah “Tugas sekolah. Mengarang tentang kisah cinta” Oh Tuhan, aku berbohong. Semoga Mommy tidak tahu.

“Benarkah?” tanya Tiffany memastikan. Soo Ji hanya mengangguk, tidak dapat bersuara lagi.

Tiffany berjalan meninggalkan Soo Ji, Soo Ji pun berlari kecil untuk mengejar ketinggalannya “Mommy dan Daddy tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu ketika bertemu kami sudah memiliki kekasih” kata Tiffany mengawali ceritanya. Mereka tetap berjalan pelan sembari melihat lihat.

“Berapa usia Mommy dan Daddy saat itu?” pertanyaan pertama Soo Ji. Dia mulai penasaran dengan kisah cinta orang tuanya. Apa seromantis Romeo dan Juliet.

“Daddy tujuh belas dan Mommy lima belas saat itu” ada rasa senang dihati Soo Ji ketika mendengar umur kedua orang tuanya, dan Tiffany memiliki kekasih diusia sama dengannya sekarang.

“Dia sunbae yang baik dan ramah. Mommy tidak memiliki banyak teman, hanya Jessica dan Taeyeon. Yuri dan Yoona hobae jadi kami jarang bertemu. Taeyeon dan Jessica juga mulai sibuk ketika dia memiliki kekasih, jadi Mommy lebih sering sendiri. Kekasih Mommy berada disekolah yang berbeda, kami berkenalan ketika kami bertemu disebuah cafe dan kami dekat, lalu entah bagaimana kami menjalin hubungan tapi kami jarang sekali bertemu” Tiffany menarik nafas lalu membuangnya perlahan “Semakin lama, Mommy dan Daddy semakin dekat. Daddy sering mengajak Mommy keluar, membantu mengerjakan tugas, hampir seluruh waktu Daddy dihabiskan bersama Mommy dari pada bersama kekasihnya dan lebih mementingkan Mommy dari pada kekasihnya. Kekasih Daddy pun cemburu” Tiffany terkikik, lalu melanjutkan ceritanya lagi “Daddy jengah ketika kekasihnya mulai menuduhnya berselingkuh. Dari sanalah hubungan mereka renggang dan akhirnya putus. Daddy sempat terpuruk selama satu minggu, bagaimana pun dia mencintai kekasihnya yang sudah dikencaninya selama satu tahun lebih” Tiffany melirik Soo Ji yang menganggukan kepalanya mendengar kisah cinta kedua orang tuanya “Mommy berusaha menghiburnya dan akhirnya Daddy bangkit dari keterpurukannya. Berbulan bulan kami lewati dengan persahabatan normal, sampai sewaktu ketika Mommy dan Daddy melihat kekasih Mommy bersama wanita lain. Ya, dan itu kekasihnya, dia berselingkuh” kata Tiffany sedih.

“Jelas kekasih Mommy selingkuh, Mommy adalah gadis gendut saat itu” gumam Soo Ji santai.

“Yak!!” Tiffany memekik tepat didepan telinganya, Soo Ji menjauh dari Tiffany “Kau melihat foto Mommy saat sekolah dulu?”

“Ya, Daddy yang menunjukannya” Soo Ji tertawa melihat wajah Tiffany yang memerah menahan marah “Sudah, Mommy. Aku tahu akhirnya kalian jatuh cinta satu sama lain kan?” tebak Soo Ji asal, tapi benar, kalau tidak kedua orang tuanya tidak akan bersama sekarang.

“Hmm, tapi tidak secepat itu” gumam Tiffany, Tiffany tidak berniat melanjutkan ceritanya lagi. Dia masih kesal karena Siwon menunjukkan fotonya saat sekolah dulu pada putrinya. Memang saat sekolah dulu Tiffany tidak dapat merawat tubuhnya dengan baik, dia memakan apapun yang dia suka tapi berkat diet yang Yuri ajarkan pada nya tubuh Tiffany terlihat langsing dan lebih cantik sekarang. Siwon dulu memanggil nya sexy karena tubuhnya yang berisi, entah kenapa dia menyukai panggilan itu.

 

 

***

Ditempat lain Eun Ji sedang sibuk mencari novel series terbaru, sudah tidak ada novel yang dapat dia baca. Lebih tepatnya kehabisan stock.

Kepalanya terangkat untuk melihat ke rak buku yang lebih tinggi, dan matanya menangkap sebuah judul novel yang sedang dia cari. Tapi itu berada jauh dari jangkauannya.

 

EUN JI POV

Mataku melihat kesana kesini dengan liar, dan tepat diatas sana, aku menemukan novel incaranku. Tapi sedikit problem, dia berada jauh dari jangkauanku dan tidak ada satupun penjaga toko buku yang lewat dilorong ini. aku mencoba mengambilnya dengan berjinjit tapi aku tidak bisa meraihnya juga. Aku melihat kekanan dan kekiri, siapa tahu ada kursi yang dapat membantu. Namun nihil, aku tidak menemukannya juga.

Disudut ada seorang pria, sepertinya seusia denganku, dia memunggungiku sedang membaca buku. Aku tidak akan meminta bantuan pada siapapun. Aku berjinjit sekali lagi dan menyerah dengan penuh kekecewaan. Aku menghentakkan kakiku dengan kuat, hingga menimbulkan bunyi nyaring dilorong tersebut.

Tidak lama aku mendengar derap kaki orang yang berada disudut berjalan kearahku, kini aku yang memunggunginya.

“Perlu bantuan Choi Eun Ji ssi?” oh Tuhan, aku tahu siapa pria ini. Dia anak bungsu Yuri Imo dan adik kandungnya Hara Unnie. Lengkap bukan informasi dariku.

“Tidak” ucapku dingin. Aku sama sekali tidak pernah dekat denganya, dia seorang player diumurnya yang baru menginjak tiga belas tahun. Bahkan dia suka menggoda sunbae sunbae yang genit, itu menjijikan.

Choi Jung Woo, siapa yang tidak mengenalnya disekolah, seorang player dan ya boleh diakui dia tampan. Semua siswi disekolah mengakui itu tapi dia terkenal nakal dan bodoh dikalangan para guru. Yuri Imo juga sering datang kesekolah untuk memenuhi panggilan kepala sekolah karena ulah anaknya itu. Oh, dia bukan tipeku. Aku menginginkan pria pria seperti didalam novel, pria tampan bertubuh tinggi dan berotot, satu lagi harus pintar dan romantis. Oh My God, kenapa aku jadi memikirkan itu. Lupakan, oke!!

Tiba tiba tubuh Jung Woo yang lebih tinggi dari tubuhku menghadang didepanku, aku memandanginya dengan kepanikan.

“Aku tahu, kau membutuhkan pertolongan. Right?” Tck. Aku tahu bahasa inggris nya sangat dangkal, pasti dia hanya tahu right, yes dan no.

Aku membenarkan posisiku lebih tegap dan serius, aku harus cepat menjawab pria ini. sehingga dia bisa pergi dengan cepat pula dan aku mendapatkan novelku dan kembali kelantai dasar. Karena satu jam ku sudah hampir habis, aku akan ditinggal jika terlambat.

“Ya, tapi sepertinya kau sedang terburu buru Jung Woo ssi. Well, aku tidak ingin mengganggumu” Itu cara penolakan ku, sebenarnya aku bisa lebih kasar tapi aku memandang Yuri Imo karena dia sahabat Mommy.

“Itu tidak masalah, Baby” What? Baby? Look? Betapa manisnya mulut itu. Pasti kata itu sudah sering dia lontarkan pada wanita wanita yang dia dekati. Astaga, aku ingin muntah.

Tangannya terangkat untuk meraih novel yang tadi ingin aku ambil, dia meraihnya dengan mudah karena tubuhnya tinggi. Andai tinggi Daddy menurun padaku, sayangnya aku mengikuti jejak Mommy, menjadi gadis kerdil.

“Dari mana kau tahu, aku ingin mengambil novel ini?” tanyaku. Dia pasti melihat tingkah konyolku yang melompat, berjinjit untuk meraih novel itu.

“Aku melihat semuanya tadi” dia terkekeh geli. Benar dia melihat kebodohanku, sial.

“Apa kau datang kesini dengan temanmu?” tanyanya, kenapa dia ingin tahu? Bukan urusan mu, bodoh.

“Berikan novel itu” kataku. Aku akan merebutnya tapi dia mengangkat novel itu keatas, lebih tinggi. Apa yang dia mau?

“Aku menghargai kau membantu mengambil novel itu, tapi maaf aku harus mengatakan bahwa kau adalah orang asing” dia bertepuk tangan ketika aku selesai berbicara, sepertinya bukan hanya bodoh tapi dia gila.

“Aku bukan orang asing, listen!!” Oh, speak english “Kita teman satu kelas dan orangtua kita berteman. Oke, jika kau tidak mengenal aku, pernah dengar orang yang berusaha untuk saling mengenal?” andai novel itu sudah berada ditanganku, aku akan segera pergi dari hadapannya. Seriously, aku benar benar muak.

“Itu tidak perlu dilakukan” ucapku ketus “Berikan novel itu” aku menjulurkan tanganku, telapak tangan keatas dan menunggu novel itu diletakkan diatas telapak tanganku. Aku sudah tidak sabar untuk memukul kepala batunya.

Jung Woo mengambil tanganku yang terjulur dengan tangannya dan menggenggam erat tanganku. Aku mengerutkan dahiku “Don’t touch me. Aku menginginkan novel itu” aku berusaha menarik tanganku, tapi dia menahannya lebih kuat. Dia benar benar gila, kasihan sekali Min Ho Ahjussi dan Yuri Imo memiliki anak seperti dia. Dalam hitungan detik Jung Woo berlari kecil membawa novel ku kemeja kasir. Apa apaan dia? Apa dia ingin membeli novel itu? No, No. Itu novel ku.

Jung Woo membayar novel itu dan akhirnya menyerahkan novel nya padaku. Akhirnya, aku melirik arloji ditanganku, sepuluh menit lagi.

“Kau tidak perlu membayar novelnya” dia gila, Choi Jung Woo benar benar gila.

Dia memandangku “Tapi aku baru saja membayarnya”

“Kau gila. Novel itu seharga dua puluh ribu won” suara ku terdengar jengkel, ya Tuhan, kenapa kau ciptakan mahkluk gila seperti Jung Woo.

“Ya, benar. Bagaimana kalau kita makan siang berdua. Kulihat kau sendiri datang kesini?” dia bersikap layaknya orang dewasa. Ini salah satu alasan kenapa Mommy melarang kami menonton drama diusia kami yang belum menginjak tujuh belas. Kami akan dewasa sebelum waktunya, seperti orang gila ini.

Aku tidak menghiraukannya, aku berjalan kearah pintu keluar tapi dia menghadangi jalanku, aku tetap berdiri didepannya. Aku ingin tahu apa lagi yang dia inginkan, aku ingin segera bergerak jauh darinya.

“Jika kau ingin aku mengganti uangmu sekarang, aku akan menggantinya” kataku dengan memberi penekanan disetiap kata yang aku ucapkan.

“Tidak, aku tidak menginginkan itu. Hanya pergi makan atau minum bersama” dia menatap ku penuh harap. Tidak menyerah.

“Tidak, aku tidak bisa. Aku-“

“Tentu kau bisa. Hanya dua puluh menit” Jung Woo memotong ucapanku. Selain gila dia juga suka memaksa. Astaga, begitu buruknya dia.

“Aku tidak bisa Jung Woo ssi” aku meninggikan suaraku, agar dia tahu bahwa aku tidak ingin memenuhi keinginannya itu.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara serak, dia pasti menahan amarahnya. Karena yang aku dengar dia anti penolakan.

“Karena aku tidak tertarik” ucapku dengan perlahan, agar dia dapat mencerna ucapanku. Dan yeas berhasil. Jung Woo berjalan beberapa langkah kesamping dan mempersilahkan aku untuk keluar. Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas. Astaga, sudah lewat sepuluh menit. Semoga Mommy dan yang lain masih berada disana. Aku berlari kecil menuruni eskalator dengan cepat. Dapat bernafas lega ketika melihat mereka masih berdiri disana, walau dengan raut wajah yang sangat kesal.

 

 

 

***

 

AUTHOR POV

 

“CHOI SOO JI…..” teriak Tiffany sekuat yang dia bisa. Putri sulung nya masih meringkuk didalam selimut nya. Mendengar teriakan Tiffany dia langsung terbangun, putri nya satu ini tipe orang yang akan langsung sadar ketika bangun tidur.

“Iya, aku dengar” gumamnya, Soo Ji memicingkan mata nya untuk memperjelas pengelihatannya. Kamarnya masih remang remang karena tirai jendela nya belum dibuka.

Tiffany berjalan untuk membuka tirainya dan cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar. Soo Ji dengan santai duduk bersandar diatas tempat tidurnya dan mengamati gerak gerik Tiffany.

“Apa yang membuat Mommy berteriak sepagi ini, dihari libur?” Tanya Soo Ji pada Tiffany yang masih terdiam menatapnya. Tangan Soo Ji dan Tiffany bersedekap didepan dada.

Tiffany menunjuk keranjang pakaian kotor Soo Ji yang kosong “Dimana pakaian kotor mu kau letakkan, Soo Ji?” Kata Tiffany penuh penekanan disetiap katanya “Apa kebiasaan buruk mu belum hilang juga?” Tiffany menatap tajam Soo Ji yang tatapannya mulai melemah.

Sekedar informasi, kebiasaan buruk Soo Ji adalah mengumpulkan pakaian kotornya dibawah tempat tidurnya. Itu karena dia malas untuk meletakkan pakaiannya kedalam keranjang karena jauh dari jangkauannya. Ya jadi begitulah, dia melemparkannya kebawah tempat tidur. Awalnya Tiffany tidak tahu kebiasaan buruk Soo Ji sampai ketika Kim Ahjumma mengambil cuti waktu itu dan Tiffany akan mencuci pakaian kotor tapi hanya keranjang pakaian Soo Ji yang masih kosong dan ini lah keburukannya. Biasanya Kim Ahjumma yang akan memunguti pakaian pakaian itu dibawah tempat tidur, tapi jika Tiffany yang mengambil alih untuk mencuci pakaian, Soo Ji tidak bisa berbuat seenaknya. Karena Tiffany akan menyuruh putrinya yang memunguti pakaian nya sendiri.

“Hoh” gumam Soo Ji.

“Oh Tuhan. Benar benar gadis jorok, tidak akan ada pria yang mau dengan mu jika kau tidak merubah kebiasaan buruk mu itu” Ucap Tiffany kesal, dia kesal dengan kebiasaan buruk putri sulungnya yang belum hilang dan lebih kesal lagi mendengar jawaban Soo Ji barusan.

“Tidak mungkin. aku cantik, bahkan aku pernah dinobatkan sebagai gadis terfavorit disekolah” sombongnya, yep memang itu benar. Jika dilihat dari fisik Soo Ji benar benar sempurna tapi attitude belum bisa dikatakan sempurna.

“Kau belum bisa dikatakan cantik jika semua orang tahu keburukan mu” Tiffany meletakkan tangannya dipinggang. Semarah apapun Tiffany, Soo Ji tidak akan pernah takut padanya karena Tiffany tidak punya keahlian untuk marah seperti ibu tirinya cinderella.

“Cepat ambil semua pakaian kotormu sekarang juga, Soo Ji” perintah Tiffany dengan tegas.

“Ya, aku akan mengambilnya nanti” balasnya santai. Soo Ji merebahkan tubuhnya lagi dan menarik selimut lebih tinggi.

Dengan emosi yang sudah akan membuncah, Tiffany berjalan kearah tempat tidur Soo Ji dan menarik selimutnya dengan kasar “Sekarang. Jika tidak, Mommy tidak akan mencucinya” ancam Tiffany.

“Baiklah, baiklah. Aissh cerewet sekali” gumamnya sangat pelan. Tapi Tiffany masih bisa mendengarnya.

“Sepuluh menit, pakaian itu sudah harus berada dibawah. Kalau tidak, bersiaplah untuk mencuci pakaian mu sendiri” Tiffany mengingatkan Soo Ji dan putrinya mendumel dengan kesal dan mulai beranjak dari tempat tidurnya.

Tiffany pun keluar dari kamar Soo Ji dan turun kedapur, sarapan sudah siap hanya tinggal menunggu semuanya berkumpul. Baru saja Tiffany melangkahkan kaki nya menuruni anak tangga teriakan menyedihkan terdengar dari pintu rumahnya.

“Mommy…” itu suara Young Ji.

Tiffany menggeleng kan kepalanya pelan “Apalagi kali ini?” tanya Tiffany yang melihat Young Ji berjalan dengan susah payah.

“Jatuh lagi” Adunya. Young Ji dan Siwon baru saja pulang dari lari pagi dan Tiffany sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Siwon berjalan kearah lemari es dan mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai habis “Kenapa kau tidak pernah mau mengalah dengan anak mu sendiri, Daddy” kesal Tiffany. Masih pagi tapi dia sudah marah marah. Kebiasaan Siwon jika lari pagi dia tidak akan menunggu Young Ji, dia berlari selalu berada didepan Young Ji dan anaknya anti dengan yang namanya kekalahan dan jadilah dia terjatuh karena ingin mengejar ketertinggalan nya.

“Karena aku tidak ingin anak ku merasa puas dengan kemenangan palsu yang dia dapatkan” Ucap Siwon santai dan menyandarkan tubuhnya didepan pintu lemari es.

Ya memang ada benarnya “Tapi perlu kau ingat ini bukan pertandingan, apa salahnya untuk mengalah” Tiffany berjalan untuk mengambil kotak obat karena lutut dan siku Young Ji terluka.

“Ya, setidaknya aku melatih nya untuk lebih ba-“

Tiffany mencela nya dengan cepat “Tapi anakmu terluka dan ini sudah tiga kali” ucap Tiffany, suaranya naik satu oktaf.

“Hanya luka kecil” kata Siwon pelan, Tiffany menatapnya tajam. Menyuruh Siwon agar diam sebelum kotak obat ini terlempar mengenai wajah tampannya.

“luruskan kaki mu, mommy akan mengobati lukanya” perintah Tiffany, Young Ji pun mengikuti apa yang Tiffany perintahkan.

Dengan telaten Tiffany membersihkan luka nya terlebih dahulu baru menutupi luka tersebut dengan plester dan selesai.

“Sudah selesai” Ucap Tiffany, dia tersenyum kearah Young Ji, putri terkuatnya yang tidak akan pernah menangis sebanyak apapun dia terluka.

“Terimakasih Mommy” Young Ji memberikan flying kiss untuk Tiffany “Mommy, kita jadikan pergi kerumah Taeyeon Eomma siang ini?” Tanya Young Ji yang sedang memperhatikan Tiffany yang merapikan kotak obat.

“Tentu Jadi” balas Tiffany, Young Ji sangat senang ketika mereka mengadakan pertemuan seperti ini. dia menyukai anak anak.

“Lee Triplets akan datang juga kan?” Tanya nya penuh antusias. Siapa yang tidak suka dengan ketiga anak kembar Donghae dan Yoona yang sangat menggemaskan. Tiffany saja sangat iri pada Yoona karena memiliki tiga anak laki laki yang sangat lucu.

“Semuanya akan berkumpul” Young Ji berteriak sangat keras seakan lupa dengan luka nya.

 

***

“Yakk!! Kenapa lama sekali” marah Tiffany ketika Taeyeon membukakan pintu untuknya. Ini kata kata yang Taeyeon dan Tiffany sering ucapkan ketika mereka saling mengunjungi sejak berada dibangku sekolah dulu.

Taeyeon tersenyum menanggapi ucapan Tiffany “Bagaimana bisa kau datang terlambat, padahal jarak rumah kita tidak begitu jauh” Taeyeon memeluk Tiffany cepat “Hay Tuan Choi kau semakin tinggi saja atau aku yang semakin pendek”

Siwon tertawa dan langsung memeluk Taeyeon “Ini karena kita sudah lama tidak bertemu” Siwon menjentik kening Taeyeon, dan Taeyeon pura pura cemberut.

Taeyeon pun mempersilahkan mereka masuk, mereka berjalan beriringan menuju kedalam rumah yang masih tampak lenggang “Keluarga kalian akan lebih sempurna jika ada pangeran kecil”

Tau apa yang dimaksud Taeyeon, Siwon langsung menanggapi “Kami lagi memprosesnya” ucapnya santai.

Tiffany mencubit perut Siwon “Tidak usah dengarkan dia, Tae” Siwon yang meringis kesakitan pun mendapat tatapan mematikan dari Tiffany. Istri galak!!

Mereka sampai diruang tamu besar dengan sofa yang melingkar membentuk setengah lingkaran. Keluarga Choi Min Ho dan Yuri sudah datang lebih dulu tapi mereka tidak terlihat berada diruang tamu.

“Dimana Yuri dan keluarga nya berada?” tanya Tiffany yang mengedarkan pandangannya kesegala sisi.

“Min Ho berada diruang kerja bersama Jung Soo Oppa dan Yuri didapur bersama Hara sedang membantu membuat pie blueberry, dan Jung Woo dikamar Joon” jelas Taeyeon dengan terperinci. Kemudian, Siwon pun mulai berjalan menuju ruang kerja, sedangkan Tiffany dan anak anaknya menuju dapur mengiringi Taeyeon.

Tiba tiba Yeon Ah berlari dari ruangan seperti kamar dan menarik tangan Lauren “Aku memiliki ruang bermain seperti mu. Kajja, akan aku tunjukan” tanpa menghiraukan orang orang yang berada disana, Yeon Ah berjalan sembari menarik Lauren keruangan dimana dia keluar tadi.

“Sepulang dari rumahmu, Yeon Ah merengek menginginkan ruang bermain dan teater juga.” Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan “Tapi dia tidak mendapatkan ruang teater karena dia suka lupa waktu jika menonton”

“Anak anakku juga seperti itu. Ruang teater akan terbuka saat weekend atau keadaan darurat” Tiffany melirik ketiga putrinya, ada nya ruang teater karena ide mereka dan Siwon menurutinya.

Annyeonghaseo Yuri, hai Hara” Tiffany berlari kecil untuk mendekati Hara yang sedang sibuk dengan adonan kue nya.

“Hai Tiffany Aunty” balasnya sembari membungkukan tubuhnya dengan sopan.

Aigoo. Tinggalkan saja adonan ini, biar Aunty yang melanjutkannya” Hara, anak sulung Yuri yang sangat hoby berada didapur hanya untuk mencoba membuat masakan masakan lezat.

“Sebentar lagi, Aunty. Ketika aku akan memasukannya kedalam oven, tugas ku sudah selesai” dia tersenyum pada Tiffany, sangat mirip Min Ho. Gadis manis.

Hara pun menuangkan adonan pie kedalam loyang bundar dan dengan telaten dia memasukkan nya kedalam oven. Tiffany melihat gerak gerik nya, dia tidak percaya anak berumur empat belas tahun sudah mahir memasak. Yuri mendidik anak nya dengan sangat baik, kecuali dengan si bungsu yang selalu bikin masalah disekolah.

Soo Ji, Eun Ji, Young Ji dan Hara pun mulai meninggalkan dapur. Tinggalah Tiffany, Taeyeon dan Yuri yang duduk dengan santai diatas meja dapur.

“Kenapa Yoona lama sekali? Aku sangat ingin bertemu Lee triplets” kata Taeyeon, melirik jam yang tergantung didinding dapur.

“Pasti sangat sibuk mengurus ketiga anaknya” balas Yuri, tangannya berada dibawah dagunya menyangga kepalanya.

“Ketiga nya mirip Yoona. Apalagi mulut besarnya, mereka sangat suka memakan stroberry. Dan dengan lucu nya mereka memasukkan stroberry itu dengan utuh kedalam mulutnya” Tiffany tertawa mengingat betapa lucunya ketiga anak Yoona jika sedang melahap stroberry.

“Sebentar, sepertinya aku tadi membeli stroberry” Taeyeon berjalan kearah lemari es dan melihat ada satu kotak kecil stroberry yang tersisa. Taeyeon mengambilnya dan meletakkannya diatas meja.

 

Bunyi bel dipintu membangkitkan semangat Taeyeon, dia sudah dapat menebak siapa yang datang, pasti Yoona. Dengan berlari kecil Taeyeon berjalan kearah pintu yang diikuti oleh Tiffany dan Yuri yang ingin menyambut kedatangan Yoona.

“Selamat datang” gumam Taeyeon ketika menarik pintu agar terbuka lebih lebar. Dan yang pertama Taeyeon lihat adalah Yoona, Donghae dan ditengah tengah mereka ada tiga anak berusia empat tahun sedang berdiri menatapnya dengan lucu.

Saat berjalan masuk kedalam rumah, tatapan Taeyeon tidak lepas dari ketiga anak kembar Yoona. Melihat Lee Triplets membuatnya ingin memiliki anak laki laki lagi. Donghae langsung berjalan menuju ruang kerja untuk bergabung bersama para pria yang lain.

“Beritahu aku, Yoong. Mana Lee Daehan, Lee Minguk dan Lee Manse? Mereka mirip sekali” Taeyeon duduk didekat anak anak Yoona yang terlihat malu malu.

“Ayo perkenalkan kalian pada Taeyeon Eomma” perintah Yoona dengan sangat lembut. Dengan perlahan satu persatu dari mereka mulai memperkenalkan diri yang membuat Taeyeon menjerit karena gemas.

Taeyeon berlari kearah meja dapur dan mengambil kotak berisi stroberry. Beberapa menit kemudian Taeyeon duduk kembali. Menunjukkan kotak stroberry kepada Lee Triplets, mata mereka pun mulai berbinar melihat kotak yang Taeyeon pegang.

“Mau?” tanya Taeyeon. Dengan cepat ketiganya mengangguk sangat kuat. “Poppo?” Taeyeon mencuri kesempatan untuk mendapatkan ciuman dari mereka. Dan Taeyeon mendapatkan itu.

“Aigoo, kalian sangat lucu” Taeyeon mengacak acak rambut Daehan yang kebetulan duduk sangat dekat dengan nya.

 

“Daehan, Minguk, Manse” Teriak Lauren dan berlari kecil untuk menghampiri mereka.

“Lolen Noona” Pekik ketiga nya. Belum dapat memanggil nama Lauren dengan benar.

“Ayo kita main dan akan Noona kenalkan dengan Yeon Ah Noona. Dia teman baru kita” kata Lauren menarik narik tangan mereka yang masih enggan untuk pergi karena buah stroberry nya belum habis.

Taeyeon tahu, karena mata ketiga nya hanya menatap kearah kotak berisi stroberry itu “Kalian boleh membawanya” dengan malu malu Daehan mengambil kotak tersebut dan memeluk nya didada.

“Jangan nakal” Ucap Yoona ketika Lauren sudah membawa anak anak nya masuk kedalam ruang bermain.

“Pasti sangat menyenangkan memiliki tiga anak kembar yang sangat menggemaskan?” Tanya Taeyeon menatap Yoona.

“Walaupun sedikit kerepotan tapi dibalas setimpal dengan senyuman mereka” Nada suaranya penuh dengan kegembiraan.

“Bagilah ilmu mu pada Tiffany agar dia dapat memiliki bayi laki laki juga, Yoong?” celetuk Yuri asal. Diantara mereka hanya Tiffany yang tidak memiliki anak laki laki dan itu selalu menjadi mainan mereka untuk menggoda Tiffany.

Tiffany menggerakan tangannya membelah udara “Tidak perlu memberitahu ku, aku akan menanyakannya langsung pada dokter ku” Tiffany tidak bisa mengontol nada jengkel dari suaranya.

“Heh? Jadi benar apa yang dikatakan suami mu tadi?” Taeyeon masih mengingat kata kata Siwon, kami sedang memprosesnya.

Tiffany menunduk malu karena keceplosan bicara “Yep” bisiknya. Lalu dia mengangkat kepalanya “Eomma Siwon, Siwon dan anak anak ku menginginkan bayi laki laki juga. Dan tidak bisa dipungkiri akupun menginginkannya” jelas Tiffany, dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas “Tapi, aku takut jika nanti Tuhan memberi ku anak perempuan lagi. Karena pasti mereka kecewa padaku”

“Fany aah, tidak ada salahnya mencoba. Jika memang Tuhan memberi mu anak perempuan lagi mungkin itu yang terbaik untukmu. Laki laki ataupun perempuan sama saja” Taeyeon memberikan dukungan pada Tiffany yang mulai tidak percaya diri.

 

Mereka pun berbincang bincang membahas pekerjaan, kesibukan masing masing dan Yuri yang sesekali kedapur hanya untuk memeriksa pie yang sedang dipanggang didalam oven.

“Kalian tahu, aku bertemu mantan kekasihnya Jessica. Dan ternyata dia anak yang mempunyai hotel CIEL dijepang. Wow..” Taeyeon bertepuk tangan beberapa kali. Karena yang Taeyeon tahu kekasih Jessica adalah manager hotel tempat Jessica bekerja.

“Lalu?” tanya Yuri dan Yoona serempak. Tiffany hanya diam, tangannya gemetar. Tiffany menggengam tangannya erat diatas pangkuannya.

“Aku kesal karena dia tidak tahu kabar Jessica meninggal. Padahal dialah penyebab Jessica kembali ke Amerika” kesal Taeyeon.

“Jadi dia tidak tahu jika Jessica sudah meninggal?” Tanya Yuri lagi, masih tidak percaya dengan apa yang Taeyeon ucapkan.

“Ya, sepertinya dia benar benar tidak tahu karena aku melihat ekspresi terkejut diwajah nya”

Yoona dan Yuri menatap Tiffany yang hanya diam. Yoona meremas tangan Tiffany yang gemetar dan dingin.

Tiffany melepaskannya dan berdiri “A..aku akan kedapur melihat pie dan akan membawa nya untuk anak anak” Tiffany tergagap, dia bicara tapi matanya memandang kearah lain. Tanpa menunggu jawaban ketiga sahabatnya Tiffany berlalu menuju dapur.

 

***

“Ah membosankan sekali. Kamarmu masih sangat kosong Hyung” Kata Jung Woo, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Joon.

“Aku mempunyai banyak Video game tapi barang barangnya masih dalam tahap pengiriman” Balas Joon yang sedang memantulkan bola basketnya.

“Bagaimana kalau kita main truth or dare?” Seru Young Ji, menjentikkan jari nya diudara penuh semangat. Mereka sangat bosan, tidak ada apapun yang menarik dikamar Joon.

“Itu permainan kekanak kanakan” Gumam Eun Ji yang sedang membaca novel barunya.

“Tapi sepertinya seru juga” kata Hara yang bangkit dari tempat duduk nya, berdiri mencari sesuatu. Dan dia menemukan pensil dimeja belajar Joon “Tidak ada botol jadi kita menggunakan ini saja” Hara menunjukkan pensilnya pada yang lain.

“Setuju” Jawab Soo Ji semangat.

“Tapi jika kalian mendapatkan giliran dan kalian memilih truth, selanjutnya jika kalian mendapatkan giliran lagi kalian harus memilih dare. Begitu seterusnya, karena disini ada yang curang, dia selalu memilih truth” Kata Young Ji dengan nada penuh sindiran.

“Aku tidak curang” sela Soo Ji tidak suka.

“Aku tidak bilang Unnie curang” Ucap Young Ji, tapi sesungguhnya memang sindiran itu untuk Soo Ji dan setidaknya dia tidak benar benar menyebut itu Soo Ji kan?

“Sudah sudah, ayo kita main” Kata Joon yang mulai duduk bersila didepan meja bundar yang ada dikamarnya. Yang lain pun mulai mengikuti dan mengambil tempat masing masing.

“Karena aku yang lebih tua disini jadi aku yang akan memutar pensilnya. Berikan padaku” Joon meminta pensil yang ada ditangan Hara dan mereka memulai permainan.

Putaran pertama dan pensil itu terus berputar dan berputar, dengan lambat pensil itu mulai mengurangi kecepatannya dan ujung pensil itu berhenti didepan Hara.

“Ya, Hara. Truth or dare?” Tanya Joon cepat.

Truth” jawab Hara dengan mantap.

“Apa kau sedang jatuh cinta pada seseorang?”

“Oh No” Hara menjawab tanpa ragu ragu.

“Dia tidak akan jatuh cinta. Karena dia tidak punya hati” celetuk Jung Woo, dia pun tertawa. Hara hanya memandangnya dengan tatapan jengkel.

“Lanjut” Joon memutar pensil nya lagi dan berhenti didepan Young Ji “Truth or dare?” tanya Joon tanpa basa basi.

Truth

“Jika kedua orang tua mu hampir tenggelam dilaut siapa yang akan kau tolong? Pilih salah satu?”

Dengan santainya Young Ji menjawab “Aku tidak akan menolong siapapun. Karena Daddy dan Mommy sangat jago berenang, mereka bisa menyelamatkan dirinya sendiri.”

Joon tertawa keras “Jawaban macam apa itu”

“Aku menjawabnya sesuai fakta” Young Ji mengeluarkan kata itu dari mulutnya yang membuat Joon berhenti tertawa.

Jung Woo mengambil alih pensil itu “Sekarang giliran aku yang mengambil kendali” Jung Woo pun memutar pensil tersebut dan berhenti didepan Soo Ji.

Well, apa yang akan gadis terfavorite pilih? Truth or dare?” Nada suaranya nya penuh rayuan, Jung Woo benar benar player.

Soo Ji bergidik geli mendengar nada suara Jung Woo “Truth

“Siapa pria yang kau suka?” Jung Woo menatap Soo Ji dengan tatapan mengintimidasi.

“Pria tinggi dan harum. Tidak perlu tampan, yang terpenting harum” jawab Soo Ji dengan lancar.

“Aku tidak menanyakan tipe tapi inisial?”

“Oh itu rahasia” seru Soo Ji.

“Noona, aku harum. Apa kau menyukai aku?” Jung Woo mengedipkan matanya pada Soo Ji.

“Jangan terlalu percaya diri dan cepat lanjutkan” marah Soo Ji pada Jung Woo. Soo Ji menggelengkan kepalanya, tiga belas tahun sudah pandai menggoda bagaimana dewasa nanti? Oh my god..

Jung Woo pun mulai memutar pensil nya lagi dan kali ini Eun Ji yang mendapat giliran “Ini yang aku tunggu tunggu” bisik Jung Woo tapi Young Ji dan Joon dapat mendengarnya karena mereka duduk paling dekat dengan Jung Woo.

Truth or dare?” Tanya Jung Woo tidak sabaran.

Dare” Jawab Eun Ji dengan suara lantang.

“Oh akhirnya ada yang memilih Dare” Mata Jung Woo bersinar memancarkan kegembiraan.

“Karena aku tidak suka kebohongan” balas Eun Ji dingin.

“Baiklah, aku ingin mendengar kau bicara selama lima menit tanpa jeda. Karena yang kita tahu kau sangat pelit dengan kata kata” Ucap Jung Woo dengan penuh tantangan.

Eun Ji awalnya hanya diam karena ini pertama kalinya dia akan bicara panjang lebar didepan orang orang yang tidak dekat dengannya. Perlahan dia membuka mulutnya dan mengoceh terus menerus tanpa henti selama lima menit.

“Wow Daebak.. ini kata kata terpanjang yang aku dengar dari mulutmu” Jung Woo bertepuk tangan sangat puas, hanya dia yang paling antusias disana.

You’re stupid. Ini cerita, dasar bodoh” Akhirnya Eun Ji mengeluarkan kata kata kasarnya, dia sudah sangat geram pada Jung Woo dari kejadian di toko buku. Selama lima menit tadi Eun Ji bercerita tentang novel yang pernah dia baca.

Jung Woo hanya menyeringai menanggapi omelan Eun Ji sambil memutar kembail pensil nya dan untuk kedua kali nya ujung pensil berhenti kearah Soo Ji.

“Ya, Noona Truth or dare?” tanya Jung Woo.

“Tentu saja aku memilih dare, karena aku sudah memilih truth sebelumnya. Kenapa kau masih bertanya?” Ucap Soo Ji sengit.

“Hanya formalitas” bibir Jung Woo menipis membentuk senyuman “Dare ya. Katakan Noona mencintai Joon Hyung tiga kali” gumam Jung Woo santai.

“Heh?” Kaget Joon dan Soo Ji bersamaan.

“Lihat, kalian menjawab bersamaan seperti itu terlihat sangat serasi” goda Jung Woo yang mendapat jitakkan dari Joon.

“Cepat lah Noona, kau tidak memiliki banyak waktu” Jung Woo mengingatkan Soo Ji yang hanya terdiam membisu.

“Tidak usah Soo Ji Unnie, jangan dengarkan ucapan bocah nakal itu” sela Hara yang juga geram melihat tingkah laku adiknya.

Wae? Ini hanya permainan. Jika Soo Ji Noona tidak melakukannya berarti dia curang” bentak Jung Woo, dia terlihat tersinggung.

“Oke, aku akan melakukannya” cicit Soo Ji. Dia manarik nafas dan menelannya dengan susah payah. Lalu Soo Ji mengintip Joon yang sedang menatapnya.

“Aku mencintaimu Joon” Ucap Soo Ji dengan cepat, ucapannya hampir tidak jelas.

“Noona, katakanlah dengan pelan dan kuat. Yang tadi tidak masuk hitungan” Soo Ji menatap Jung Woo garang, dia merasa Jung Woo benar benar mengerjainya.

Soo Ji menetralkan suaranya yang susah untuk dia keluarkan, gugup pun mulai merayapinya. Satu kali dia katakan dengan lancar, dua kali lancar dan yang ketiga kalinya “AKU MENCINTAIMU JOON” pekiknya dan bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka.

“Soo Ji” marah Tiffany yang mendengar dengan jelas apa yang baru saja putrinya katakan. Dia berjalan masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi pie, ada Taeyeon dibelakangnya.

“Mommy. Aku-“ belum sempat Soo Ji menjelaskan semuanya, Tiffany mencela nya dengan cepat.

“Itu memalukan. Kenapa kau mengatakan hal itu kepada pria?” marah Tiffany, Taeyeon menarik lengannya dengan maksud jangan memarahi Soo Ji didepan banyak orang.

“Aihh serisus sekali. Kami sedang bermain truth or dare Angry Aunty” Jung Woo mencoba menjelaskan dengan main main karena suasana disini tiba tiba menjadi hening. Jung Woo memang biasa memanggil Tiffany seperti itu karena jika mereka sedang berkumpul Tiffany yang paling sering mengomel.

Tiffany mengernyit “Siapa yang memberi tantangan itu?” tanya nya. Menatap semua anak anak yang berada disana. Dan semuanya menunjuk Jung Woo tanpa ragu ragu.

“Oh jadi kau ya” Tiffany meletakkan nampan diatas meja dan mulai memberikan cubitan pada lengan Jung Woo dengan main main.

Jung Woo berteriak minta agar Tiffany berhenti, tapi bukan berhenti Tiffany semakin mencubitnya tanpa henti. Taeyeon memandang Joon yang sedang memandangnya dengan senyuman khas miliknya, Taeyeon menggerlingkan matanya sebagai balasan.

 

 

***

SOO JI POV

Sudah tiga hari sejak permainan truth or dare sialan itu, Tiga hari juga Joon tidak menghubungiku. Biasanya dia menelpon hanya untuk menanyakan hal sepele atau mengirimku pesan dari Line hanya sekedar untuk menggoda atau menggangguku. Tapi dia tidak, apa salahku? Aissh kenapa aku harus memusingkan hal itu, tidak ada ruginya juga dia tidak menghubungiku.

Disekolah sedang disibukkan dengan turnamen basket. Tahun ini di sekolah ku tempat berlangsungnya perlombaan diselenggarakan dan seperti inilah keadaan kelas saat ini, sangat ribut. Aku memasang earphone B&O hitam milikku, dari pada aku mendengarkan kebisingan kelas, lebih baik aku mendengar Ariana Grande bernyanyi.

 

AUTHOR POV

Soo Ji menenggelamkan kepalanya diantara kedua lengannya diatas meja, earphone masih menempel ditelinganya. Tiba tiba seseorang memegang kedua bahunya, yang membuat Soo Ji melompat karena terkejut.

“Aku terkejut” keluh Soo Ji dengan jengkel.

“Soo Ji, kau pasti akan menyukainya” Ucap wanita berambut panjang, rambutnya diikat seperti ekor kuda.

“Apa?” Jawab Soo Ji malas, dia melepas earphone dan memasukkan kedalam ransel miliknya.

“Banyak pria pria tampan berhamburan dilapangan, Soo Ji aah” pekiknya sangat histeris.

“Oh Nana, apa kali ini benar benar tampan? Aku tidak ingin seperti kemarin, kau menipu ku” Kim Nana adalah sahabat Soo Ji disekolah, mereka sangat cocok satu sama lain. Hanya saja, Nana lebih gila dan bithcy dibanding Soo Ji.

“Aku janji, kau tidak akan menyesal kali ini” Nana mencoba meyakinkan Soo Ji yang sedang bimbang “Ayo kita lihat” Nana menarik tangan Soo Ji dengan paksa.

Soo Ji melepas cengkraman Nana “Aku bisa berjalan sendiri, Kim Nana” Ucap Soo Ji pura pura marah.

Soo Ji membuntuti Nana turun menuju lapangan basket dan disana sudah penuh dengan orang orang yang sedang berlatih dan para wanita berkumpul untuk menonton sekaligus mencari perhatian para pria pria itu. Astaga!!

Banyak pria pria bertubuh tinggi sedang memantulkan bola dan memasukkannya kedalam ring. Soo Ji menatap satu persatu pria yang ada disana, semua nya biasa saja menurut pandangan Soo Ji. Shoot!! Pandangan Soo Ji jatuh pada pria yang tidak asing lagi untuknya. Soo Ji menajamkan pengelihatannya dan tidak salah lagi, pria yang sedang diperhatikan banyak wanita adalah Joon. Mata Soo Ji tidak berkedip melihatnya.

“Menikmati pemandangan?” Sindir Nana, yang melihat Soo Ji tidak berpaling menatap pria pria itu.

“Tidak ada yang tampan” elak Soo Ji, dia menegakkan bahu nya lebih santai.

“Kau tahu pria itu” Nana menunjuk Joon, dengan cepat Soo Ji menggeleng “Dia pria yang sedang diincar para gadis di sekolah ini, Soo Ji aah”

Siapa yang tidak suka dengan pria itu, tubuh tinggi, kulit putih mulus tanpa cela, berwajah innocent yang menurun dari Ibunya. Tentu saja para gadis rela mengejarnya walaupun hanya dapat berdekatan untuk mencium aroma parfum yang dia pakai, atau hanya dapat menjabat tangannya. Mungkin itu sudah membuat para gadis menjerit.

“Dia gay” bisik Soo Ji ditelinga Nana.

“Kau serius?” tanya Nana tidak percaya. Mata nya membelalak dengan sempurna.

“Aku serius. Sebaiknya, cepat kau beritahu pada mereka. Jangan mau berdekatan dengannya, karena dia gay” ucap Soo Ji dengan suara yang dibuat seserius mungkin.

Dengan percayanya Nana berlari mendekati sekumpulan para gadis yang hampir meneteskan air liurnya, karena menatap Joon. Melihat itu Soo Ji terkikik geli,  dia berlalu dari lapangan basket dan menuju ke kantin.

 

 

Sepuluh menit Soo Ji  berada di kantin, sedang menikmati minumannya. Nana datang kemejanya,  lalu menghabiskan minuman Soo Ji.

“Aku sudah memberi tahu mereka, dan mereka percaya. Karena pria itu tidak bergeming saat mereka meneriakinya” cerita Nana, nafasnya masih tersenggal senggal sehabis berlari.

“Bagus” balas Soo Ji, dia tersenyum lebar.

Keunde Soo Ji aah, dari mana kau tahu bahwa pria yang bernama Joon itu gay?” tanya Nana, dia masih tidak percaya sebenarnya. Tapi melihat keseriusan Soo Ji membuatnya bimbang.

“Oh jadi kalian yang menyebarkan gosip itu?” Ucap Suara berat dibelakang mereka, pria itu bicara dengan lantang. Sehingga, orang orang yang berada dikantin dapat mendengarnya.

Dengan takut takut, Nana dan Soo Ji memutar kepalanya kebelakang. Disanalah Joon berdiri, tangannya diletakkan dipinggang.

“Bukan aku, dia yang memberitahu gosip itu” Gumam Nana, suara nya penuh dengan ketakutan. Soo Ji menangkap jari Nana yang menunjuknya, dengan bahasa matanya Soo Ji menyuruh Nana agar menutup mulutnya.

Joon berjalan lebih dekat kemeja “Jadi kau percaya?” tanya Joon pada Nana. Joon duduk dikursi kosong diantara Nana dan Soo Ji.

Molla” jawab Nana dengan suara gemetaran.

“Aku akan menunjukan padamu dan yang lain bahwa aku tidak gay” Joon menggosok gosokkan dagunya mencari ide untuk menunjukan pada mereka semua bahwa gosip itu tidak benar.

Joon mendekatkan tubuhnya dengan Soo Ji, dan Soo Ji menatapnya dengan penuh waspada. Jantungnya sudah berdebar sangat cepat, dan dengan gerakan cepat Joon mencium pipi Soo Ji secepat kilat. Suara teriakan orang orang yang melihat aksi itu menyadarkan Soo Ji, dan Soo Ji yakin wajahnya memerah sekarang. God, how many times my face changed like a freaking tomato now?

“Apakah kau masih berfikir aku tidak suka perempuan?” Joon tersenyum dan senyuman itu sangat berbeda dari biasanya. Senyuman jahil tapi tetap mempesona.

Soo Ji ingin marah tapi dia tidak bisa berkata apapun “So, I’m wrong?” Soo Ji menelan ludah ketika berhasil mengatakan itu.

Joon tertawa melihat tingkah Soo Ji, wajahnya memerah seperti tomat “Of course. Berhenti menyebarkan gosip tentang aku” Joon berlalu, meninggalkan meja. Senyum masih terukir diwajahnya ketika dia melenggang pergi.

Soo Ji masih termanggu ditempatnya, tangannya memegang pipinya tepat dimana Joon menciumnya tadi “Oh my god, Soo Ji aah. Kau sangat beruntung”  seru Nana, dia menepuk lengan Soo Ji kesenangan. Belum hilang rona merah dipipinya, ucapan Nana pasti membuat wajahnya lebih merona lagi.

 

***

“Eomma, lama ya?” tanya Joon ketika masuk kedalam mobil ferrari miliknya yang Taeyeon bawa untuk menjemputnya.

“Sedikit” gumam Taeyeon “Bagaimana latihannya?” Taeyeon mulai menjalankan mobil, meninggalkan halaman sekolah nomor satu dikorea. Taeyeon tidak memasukkan Joon kesekolah ini karena Joon tidak ingin. Entah apa alasan nya, Taeyeon tidak ingin tahu. Yang terpenting Joon menuntut ilmu dengan baik dimanapun sekolahnya.

“Sangat lancar” Jawab Joon sumringah. Dia meletakkan kedua tangannya dibelakang kepalanya.

“Bertemu Soo Ji?” tanya Taeyeon dengan hati hati, dia mengintip Joon yang tersenyum konyol.

“Bukan hanya bertemu, tapi-“ Joon menggantung ucapannya. Yang membuat Taeyeon melihat kearahnya, Joon pun menatap Ibunya “Aku menciumnya”

Ciittt!!! Taeyeon menginjak rem tiba tiba, yang membuat tubuh mereka terlempar kedepan “Joon kau bercanda?” Taeyeon terperangah mendengar perkataan Joon. Untung saja perkomplekan sekolah ini sepi, jadi tidak ada yang menabraknya ketika mereka berhenti secara mendadak.

“Aku tidak bercanda” Joon sedikit takut menatap Ibunya yang tiba tiba diam.

Taeyeon menjalankan kembali mobilnya “Kenapa kau menciumnya, Park Joon aah?”

Joon menyandarkan tubuhnya “Dia menyebarkan gosip bahwa aku gay” Joon menarik nafas lalu membuangnya perlahan “Jadi untuk membuktikan kesemua orang, aku menciumnya di depan orang banyak” Taeyeon menatap Joon dengan mata yang melebar “Aku mencium pipinya, Eomma”

“Apa reaksi Soo Ji, ketika kau menciumnya?” Taeyeon sedikit lega mendengar Joon mencium Soo Ji dipipi bukan dibibir.

“Wajahnya memerah seperti tomat” Joon tertawa mengingat kejadian dikantin beberapa jam yang lalu.

Taeyeon ikut tertawa mendengarnya “Dasar jahil. Jika Mommy nya tahu, dia akan menendang bokongmu”

Joon berhenti tertawa “Jeongmal?”

Taeyeon  tertawa keras melihat ekspresi Joon yang terlihat ketakutan “Eomma mengerjaiku” Ucap Joon yang sadar bahwa Taeyeon sedang menggodanya.

 

***

Soo Ji menyusuri taman yang penuh dengan bunga, sesekali dia berhenti untuk mencium harum dari bunga tersebut atau hanya sekedar untuk menyentuhnya. Soo Ji berjalan lagi, dia tidak pernah melihat taman ini sebelumnya, ini taman yang sangat indah.

Ketika Soo Ji ingin melangkahkan kakinya, tiba tiba sepasang tangan menggenggam lengannya dengan erat dari belakang. Soo Ji terkejut, bersamaan dengan itu matanya melebar. Dengan hati hati Soo Ji memutar kepalanya kesatu sisi dan dia dapat melihat siapa yang berada dibelakangnya, yang menggenggam erat tubuhnya.

“Joon” Panggil Soo Ji, dia mundur beberapa langkah menjauhi Joon yang tengah tersenyum jahil kearahnya.

Soo Ji terus berjalan mundur karena Joon melangkah mendekatinya, sampai Soo Ji hampir terjatuh ke sebuah danau, jika Joon tidak cepat menarik lengannya.

“Joon” Seru Soo Ji, dia merasa aneh melihat Joon hanya diam dan tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tangan Soo Ji masih digenggam erat oleh Joon, perlahan Joon menunduk, mempersempit jarak antara dia dan Soo Ji. Dengan cepat Soo Ji menjauhkan kepalanya, Joon memegang kedua sisi lengan Soo Ji dengan sangat kuat, sehingga Soo Ji tidak dapat menghindar lagi.

“Joon, apa yang kau lakukan?” tanyanya, suara nya penuh dengan ketakutan..

Joon tidak menjawab, jarak wajah mereka hanya beberapa inci. Joon memiringkan kepalanya “Oh my God” Soo Ji menggeleng kuat. Jantungnya berdebar semakin kencang.

Joon semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Soo Ji dan seperti terhipnotis, Soo Ji memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian Soo Ji mengintip dari sebelah matanya, dia melihat bibir Joon sudah berada diatas bibirnya, tapi Soo Ji tidak dapat merasakan apapun. Kemuadian Joon tersenyum dan melepaskan cengkramannya, Soo Ji berteriak kencang ketika tubuhnya masuk kedalam danau.

 

 

“Aaaaaaa!!” pekik Soo Ji dengan nyaring.

Tiffany yang sedang sibuk dengan laptopnya, melompat dan menghampiri Soo Ji yang sedang berbaring di sofa, tangannya menggapai keudara dengan liar. Tiffany mengguncang tubuh Soo Ji, sampai putrinya membuka matanya. Soo Ji duduk dari posisi tidurnya, buku yang berada diperutnya jatuh kelantai.

“Itu kenapa Mommy tidak menyuruh mu belajar sembari berbaring. Karena kau pasti akan tertidur” Tiffany mengusap bahu Soo Ji yang sedang mengambil oksigen dengan susah “Dan lihat sekarang kau bermimpi buruk”

Tidak, itu mimpi indah. Andwae, andwae..

Soo Ji menggeleng dengan kuat “Aku ingin kekamar, selamat malam Mommy” Soo Ji mengambil bukunya yang terjatuh kelantai dan mengecup pipi Tiffany, Lalu Soo Ji berlari keatas menuju kamarnya. Disepanjang jalan dia memegangi bibirnya dan tersenyum seperti orang idiot.

Soo Ji masuk kedalam kamarnya dengan tergesa gesa dan terkejut melihat Eun Ji yang sedang berbaring diatas tempat tidurnya sembari memainkan ponsel miliknya.

“Apa yang kau lakukan dikamarku?” Soo Ji melempar bukunya diatas meja belajar dan duduk diatas tempat tidur menatap Eun Ji tidak suka.

“Tidak ada. Can I say something?” Eun Ji meletakkan ponselnya diatas nakas.

What do you want to say?” Soo Ji menyandarkan kepalanya disandaran tempat tidur.

“Sepertinya Unnie sangat dekat dengan Joon Oppa. Padahal Unnie baru bertemu satu minggu yang lalu” Eun Ji mengambil ponselnya dan membuka akun instagram nya “Joon Oppa juga sering mengomentari foto foto mu di instagram” Eun Ji menyodorkan ponselnya kedepan wajah Soo Ji, ada salah satu foto dan dibawahnya Soo Ji dan Joon saling mengobrol dikolom komentar.

“Kau benar benar cocok menjadi stalker” Soo Ji merebut ponsel Eun Ji dan menekan tombol kunci lalu meletakkannya begitu saja diatas tempat tidur “Aku sudah mengenalnya satu bulan yang lalu. Lewat sosial media, aku tidak tahu kalau Ibunya sahabat Mommy”

“Dunia begitu sempit” balas Eun Ji. Dia menyilangkan kedua kakinya dan memutar posisinya untuk menghadap Soo Ji “Aku dengar Joon Oppa mencium seseorang disekolah mu?”

Dengan cepat Soo Ji menjawab “Bukan aku” wajahnya berubah menjadi merah padam.

“Aku tidak bilang kalau itu Unnie” Eun Ji menautkan alisnya menatap Soo Ji yang tiba tiba gugup dengan wajah memerah.

Mendapat tatapan itu dari Eun Ji, Soo Ji pun menyerah “Oke, itu aku. Aku lah orang yang Joon cium” gumam Soo Ji pelan, takut jika seseorang akan mendengarnya.

Oh my God. Really?” Eun Ji menutup mulutnya tidak percaya.

Soo Ji hanya membalas dengan anggukan lemah “Ceritakan padaku Unnie, kenapa Joon Oppa bisa mencium mu?” Eun Ji menggoyang goyangkan lengan Soo Ji. Dia haus akan informasi, Eun Ji mendengar gosip ini dari kakak tingkatnya yang kebetulan datang kesekolah Soo Ji untuk melihat para team basket dari sekolah sekolah lain yang berlatih untuk perlombaan besok.

Soo Ji pun akhirnya menceritakan semuanya pada Eun Ji, tidak ada sedikitpun cerita yang terlewatkan.

“Unnie, itu gila. Lalu apa reaksi mu?” suara Eun Ji terdengar geli.

“Aku hanya diam dan mengatakan kalau aku salah” Soo Ji mengatakan itu dengan wajah yang merah seperti tomat.

“Unnie tidak marah?” pekik Eun Ji, lagi lagi dibuat terkejut. Jangankan mencium, dulu ada yang menyentuh tangannya saja, Soo Ji sudah melemparkan sepatu kewajah orang yang menyentuhnya itu. Tapi kali ini Soo Ji bersikap biasa, apa Soo Ji menyukai Joon? Batin Eun Ji.

“Entahlah, aku tidak bisa marah saat itu” Ucap Soo Ji kembali gugup dan dia berdehem beberapa kali.

“Unnie menyukainya?” tuduh Eun Ji dengan penuh godaan.

“Aku tidak tahu” Jawab Soo Ji cuek.

“Ya, kau menyukainya Unnie” Eun Ji menggoda Soo Ji dengan mencolek dagunya dengan main main.

“Baiklah, baiklah. Aku menyukainya, kau puas?” kesal Soo Ji, melipat kedua tangan didepan dadanya.

Eun Ji melompat untuk merangkul Soo Ji “Aigoo, Choi Soo Ji si hati batu akhirnya jatuh cinta juga. Wow..”

Soo Ji menatap Eun Ji cepat, dia meletakkan jari telunjuk lentiknya didepan bibirnya “Rahasia ini hanya milik kita berdua. Jangan sampai Mommy tahu, oke?”

“Harus ada imbalan yang setimpal” Ucap Eun Ji main main.

“Kau!!” Soo Ji baru saja akan melemparkan pukulannya tapi Eun Ji sudah berlari kearah pintu kamarnya.

 

 

***

Bel pulang yang ditunggu tunggu semua siswa pun akhir nya berbunyi. Soo Ji merapikan buku buku  dan memasukkannya kedalam loker miliknya, menyusun nya dengan rapih, Soo Ji menguncinya kembali. Soo Ji merogoh ransel untuk mengambil ponsel yang tidak disentuh sejak dia berada disekolah tadi pagi. Ada notifikasi delapan panggilan tidak terjawab dan semuanya dari Joon. Soo Ji mengernyit, dikepalanya berputar mimpinya semalam, mimpinya bersama Joon.

Soo Ji bimbang, harus menelpon Joon kembali atau mengabaikan panggilannya saja. Dia mengetuk ngetuk kakinya ke lantai dan akhirnya dia memilih untuk menelpon Joon kembali. Soo Ji menelpon Joon dengan cepat, sebelum dia berubah fikiran. Soo Ji menghitung tiap bunyi nada sambungnya, hingga Joon mengangkatnya.

“Joon, ada apa?” tanya Soo Ji ragu ragu.

“Hari ini pertandingan basket team ku” jawab Joon, suara nya terdengar ragu ragu juga.

“Ya, terus?” Aku sudah tahu team mu hari ini bertanding, aku sudah melihat papan pengumuman tadi. Soo Ji memutar matanya malas, apa Joon hanya akan memberi informasi kacangan itu.

“Aku ingin kau datang, menonton pertandingan” Ucap Joon pelan.

“Aku tidak janji” balas Soo Ji cepat.

Please” Suara Joon penuh dengan permohonan.

Soo Ji menarik nafas, lalu membuangnya dengan kasar “Oke”

“Oke?” Joon mengulang ucapan Soo Ji. Dia ingin memperjelas apa kepastian dibalik kata oke.

“Ya, oke. Aku akan menonton”

“Sip, aku tunggu. Terimakasih” kata Joon dengan penuh semangat.

Soo Ji memutuskan sambungannya, dia takut jika mimpi itu benar benar terjadi, dia takut untuk bertemu dan berdekatan dengan Joon. Mengingat sesuatu, Soo Ji langsung mengeluarkan masker berwarna biru soft, dan dia tersenyum.

“Ini aman untuk menutup mulutku, jika Joon tiba tiba akan menciumku”

Dijalan menuju kelapangan, Soo Ji mengirim pesan pada Tiffany untuk menjemputnya beberapa jam lagi. Dia merasa kesepian hari ini karena teman gila nya tidak masuk, menurut informasi dari ketua kelas katanya Nana sakit. Tapi Soo Ji tidak percaya bahwa Nana benar benar sakit, karena yang Soo Ji tahu Nana belum mengerjakan tugas bahasa inggris nya, dan dia tidak masuk hari ini untuk menghindar dari pelajaran tersebut.

Soo Ji sudah berada didepan pintu masuk lapangan basket, lapangan basket indoor yang membuatnya terlihat pengap. Soo Ji mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang kosong dan matanya menagkap Taeyeon, Ibu Joon yang sedang duduk diantara para penonton lain menunggu pertandingan dimulai.

Soo Ji naik keatas menghampiri Taeyeon, dia melepas masker agar suaranya jelas “Annyeonghaseo Taeyeon Eomma” sapa Soo Ji. Dia bicara didekat telinga Taeyeon karena suasana mulai berisik.

“Hay, Eomma kira kau tidak menyukai pertandingan semacam ini” Taeyeon menarik tangan Soo Ji untuk duduk disampingnya.

“Seseorang memaksa ku” Soo Ji tersenyum kaku, lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Taeyeon.

Taeyeon tertawa mendengar ucapan Soo Ji dan tahu pasti putranya yang memaksa gadis cantik itu untuk datang.

Pertandingan pun dimulai, Soo Ji tidak begitu menikmatinya, dia bosan. Soo Ji akan bersorak jika Taeyeon bersorak. Matanya tidak lepas dari Joon yang berlari kesana kemari membawa bola basket sampai ke ring lawan, belum lagi keringat yang membasahi wajahnya, membuat Joon terlihat sangat gagah. Menyadari apa yang sedang dia fikirkan, Soo Ji memukul kepalanya untuk menghilangkan fikiran tersebut.

Taeyeon melihat ketika Soo Ji memukul kepalanya beberapa kali “Gwencana?” tanya Taeyeon khawatir.

Soo Ji terkejut “Hoh, gwencana Eomma” dia memaksakan senyumnya.

Bunyi peluit menandakan pertandingan selesai dan team Joon memenangkan pertandingan dengan skor 15 – 08. Mata Soo Ji melebar, lima belas? Dari mana angka itu? Dia tidak melihat orang orang yang menembak ke ring lawan. Ya itu karena kau terlalu sibuk memperhatikan Joon  dari pada bola basketnya!!

 

“Eomma, aku pulang dulu. Daddy sudah menjemput” pamitnya, dan itu bohong. Belum ada yang menjemputnya. Soo Ji hanya ingin menghindari Joon, dia tidak ingin bertemu Joon.

”Eh? Eomma kira kau akan pulang bersama kami” ekspresi Taeyeon meredup.

“Oh tidak Eomma, terimakasih. Kalau begitu aku pulang dulu” Soo Ji berpamitan sekali lagi dan pergi keluar lapangan dengan tergesa gesa.

Baru beberapa langkah Soo Ji meninggalkan lapangan basket, Seseorang menangkap tangannya.

“Joon” kaget Soo Ji ketika berbalik untuk melihat orang yang memegang tangannya. Oh Tuhan, aku lupa memakai masker. Soo Ji menarik tangannya yang masih digenggam Joon.

“Kau mau kemana?” tanya Joon yang melihat Soo Ji seperti menjaga jarak, karena berdiri tiga langkah darinya.

“Aku mau pulang” jawab Soo Ji cepat. Dia membungkam mulutnya, merapatkan mulutnya serapat yang dia bisa.

“Ayo kita merayakan kemenanganku” Joon maju untuk mendekati Soo Ji, tapi Soo Ji mundur menjauh.

“Jangan besar kepala dulu, Joon. Kau masih harus melawan beberapa team lagi” kata Soo Ji dengan tatapan meremehkan.

“Kau mematahkan semangatku” gumam Joon kecewa. Joon melangkah maju, tidak menyerah “Aku ingin mentraktirmu makan”

Soo Ji menggeleng dan mundur “Aku tidak makan dengan seorang pria” Soo Ji memandang mata Joon sebentar, lalu dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.

“Oke tidak makan, kita minum” Nada suara Joon terdengar frustasi.

“Tidak minum juga” Soo Ji melangkah mundur lagi, sampai tubuhnya menabrak dinding.

“Baiklah, kita pergi jalan. Ketaman atau kemana saja, terserah padamu” Joon tidak bisa mengontrol nada jengkel dari suaranya.

“Tidak, aku tidak bisa” pekik Soo Ji dengan nada melodramatis “Aku harus pulang” tanpa menunggu balasan Joon, Soo Ji berlari kecil meninggalkan Joon disana yang berdiri penuh dengan kekecewaan.

Soo Ji tidak menghiraukan teriakan Joon yang memanggilnya, Soo Ji berlari lebih jauh. Entah kenapa mimpi itu membuatnya takut untuk berada dekat dengan Joon saat ini.

Joon menunduk kecewa, dia berjalan untuk mencari Taeyeon, yang ternyata sudah berada didepannya.

“Apa ada hal buruk yang terjadi?” Tanya Taeyeon penuh perhatian, dia menangkap ekspresi Joon yang sangat kecewa.

“Ini lebih buruk dari yang terburuk” Joon merengek pada Ibunya.

Taeyeon memukul lengannya “Jangan cemberut seperti itu, kau terlihat jelek” Goda Taeyeon. Joon tersenyum kecil, lalu wajahnya cemberut kembali.

“Dia menghindariku Eomma, bahkan dia menolak ku” adu Joon. Memang benar yang orang katakan, pria terlihat lemah ketika dia patah hati.

“Mungkin dia masih malu berada didekatmu, karena kau menciumnya ditempat umum” Taeyeon menarik Joon berjalan menuju parkiran, untuk segera pulang.

“Benarkah?” tanya Joon pada Taeyeon.

“Pemikiran Eomma saja” Taeyeon tersenyum prihatin.

“Jika benar seperti itu, aku akan meminta maaf pada Soo Ji dan tidak akan melakukannya lagi” kepala Joon miring kesatu sisi untuk melihat Taeyeon, apa Ibunya setuju dengan pendapatnya.

“Good boy” Taeyeon mengacak rambutnya “Tapi jangan sekarang, beri dia waktu. Oke?” Joon mengangguk penuh semangat.

Ketika mereka sampai didekat mobil, Joon melihat Soo Ji berdiri didepan pagar sekolah “Eomma, apa tidak apa apa jika aku mengajak Soo Ji pulang bersama?”

Taeyeon mengerutkan keningnya, lalu Joon menunjuk kearah tempat Soo Ji berdiri “Soo Ji berbohong. Dia tadi bilang pada Eomma jika Daddynya sudah menjemputnya” Joon terperangah mendengarnya “Jangan, dia pasti akan menolakmu”

“Oh baiklah” dengan enggan Joon masuk kedalam mobilnya, Taeyeon melihat kegalauan anak sulungnya yang sedang dimabuk cinta. Taeyeon pun masuk kedalam mobil seraya tersenyum, menggelengkan kepalanya.

 

SOO JI POV

Oh Tuhan, kenapa Daddy lama sekali. Sudah pukul lima lewat sepuluh menit tapi belum juga datang, semoga Joon dan Taeyeon Eomma tidak melihatku berdiri didepan pagar sialan ini.

Aku mengetuk ngetukan kakiku diaspal, berapa lama lagi aku menunggu. Mobil ferrari lewat dan membunyikan klakson nya ketika melewatiku dan aku tahu itu siapa. Itu Joon dan Taeyeon Eomma, sialan!!!

Aku ketahuan berbohong, aku mengatakan pada mereka bahwa Daddy sudah menjemputku, tapi apa? Mereka melihatku seperti orang bodoh berdiri menunggu jemputan. Ini pertama kalinya aku ketahuan berbohong. Astaga, astaga, rasanya aku ingin menenggelamkan tubuhku kedalam tanah.

Bunyi klakson mengejutkanku, aku melihat mobil audi berhenti didepanku, itu Daddy. Aku menarik pintu terbuka dan melemparkan tubuhku dijok mobil dan kembali menutup pintunya.

Daddy melirik ku “Tumben sekali tidak marah” karena biasanya aku akan mengomel ketika masuk sampai tiba dirumah ketika Daddy telat menjemput.

Aku menyandarkan kepala ku dan menghela nafas kasar. Dadaku terasa sesak menyimpan semua perasaan ini, bercerita pada Daddy tidak ada salahnya.

“Aku baru saja mencampakan orang, aku tidak tahu bagaimana perasaan dia sekarang” aku mengintip Daddy yang tersenyum. Bagus, Daddy mendengarkan aku.

Daddy menggeleng, lalu tertawa sambil memegang perutnya. Apa sih yang lucu? Aku memukul lengan Daddy menyuruhnya untuk berhenti tertawa. “Kau adalah gadis egois, memangnya sejak kapan kau memperdulikan perasaan orang lain?”

Aku cemberut mendengar ucapan itu dan mengibaskan rambutku dengan kesal “Semua orang harus berubah, Daddy” Ucapku.

Daddy mengangguk, berusaha memasang wajah serius “Ya Tuhan, aku sudah membesarkan anak gadisku dengan sangat baik. Lihatlah, dia sudah memikirkan perasaan orang lain yang telah dicampakkannya” ucap Daddy, dia melanjutkan tawa nya lagi “Kau ingat, saat pertama kali masuk sekolah. Kau memecat baby sitter karena dia lupa membawa pensil barumu, atau ketika kau membuat Daddy meninggalkan Mommy dirumah sendirian karena kau ingin ditemani menonton film yang ingin kau tonton dibioskop. Atau ketika kau menghancurkan kamar Daddy dan Mommy karena kami terlambat menjemputmu” Ucap Daddy masih dengan senyum lebarnya “Sekarang kau sudah dewasa, huh?” Daddy mengacak rambutku dengan gemas.

Rona kemerahan membayangi pipiku, teringat semua sifat egois ku dulu. Kedua tanganku saling meremas dengan gugup “Daddy jangan bicarakan itu lagi. Sangat memalukan”

“Jadi siapa?” pertanyaan Daddy membuat aku menatapnya.

“Oh?” aku melihat senyum lebar Daddy berubah menjadi senyuman tipis.

“Siapa orang yang kau campakan dan kau khawatirkan sekarang?” tanya Daddy lagi.

Aku menatapnya dengan malu malu “Aku ingin menceritakan semuanya, tapi Daddy harus berjanji untuk tidak menggodaku” aku mengangkat jari kelingkingku sebagai kesepakatan perjanjian kami.

Daddy menautkan jari kelingkingnya pada ku “Promise!!” katanya dengan suara keras. Haus akan informasi, huh?

“Seseorang membuat jantungku berdebar dengan cepat, sepertinya aku jatuh cinta” kataku sangat pelan, seperti desisan.

“ANDWAE!!” teriak Daddy, yang membuat aku melemparkan pandanganku kearah Daddy.

“Kenapa tidak?” balasku dengan berteriak juga.

“Tidak boleh” kata Daddy dengan cepat. Nada suaranya sangat serius.

“Kenapa?” aku ingin tahu alasannya, kenapa tidak? Kenapa tidak boleh?

“Pokoknya tidak” aku melihat tangan Daddy yang mencengkram roda kemudi dengan erat, sampai buku buku jarinya memutih. Apa Daddy marah?

“Daddy tidak bisa mengatakan tidak. Karena saat Daddy seusiaku, Daddy juga sudah berkencan” ucapku dengan kesal, aku meletakkan kedua tanganku di dada.

Daddy terperangah, wajahnya memerah. Entah karena malu atau menahan amarahnya “Informasi dari mana itu?” matanya menyipit menatapku.

“Mommy” jawabku santai “Tidak ada alasan untuk melarangku, ingat.”

Daddy menatapku tidak percaya “Siapa pria yang bersedia mati ditangan Daddy?” suaranya terdengar santai tapi sengit.

Aku menggelengkan kepala “Oh Tuhan, Daddy. Kami belum berkencan, aku tidak tahu perasaannya seperti apa padaku”

“Jadi cinta sepihak” celetuk Daddy.

No. Bahkan dia belum menyatakan apapun atau menunjukkan penolakan padaku”

“Apa dia cinta pertamamu?”

“Hmm” ya, Joon orang pertama yang membuat jantungku berdetak dengan cepat, membuat wajahku terus memerah, orang yang sering berputar difikiran ku. Tanpa aku sadari dia menerobos masuk pintu hatiku tanpa permisi.

“Choi Soo Ji, kau tahu Daddy sangat menyayangimu” Aku mengangguk, jelas aku tahu, sangat. “Dan Daddy tahu kau jatuh cinta pada pria ini dan dia orang pertama yang kau cintai” Aku mengangguk lagi, mulutku tiba tiba keluh “Kau bergerak terlalu cepat nak, kau tahu semua ini hanya cinta monyet”

“Ini bukan cinta monyet, aku mencintainya” aku menggeleng dan mendesah “Daddy tidak mengerti”

“Daddy mengerti. perlu kau tahu, Daddy juga pernah muda” Daddy tersenyum kearahku “Kau lima belas tahun dan masih labil, Kontrol emosimu. Apalagi kau belum mengetahui perasaannya padamu, siapa tahu dia hanya menginginkan sebuah persahabatan” Daddy menggidikkan bahunya.

“Tapi dia menciumku” Oh tuhan, aku keceplosan. Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku.

Daddy menginjak rem nya mendadak, membuat tubuh kami terlempar kedepan. Bersyukur karena Daddy mengambil jalan di tepi.

Aku memejamkan mataku dengan erat, tidak berani untuk menatap Daddy yang pastinya sedang marah besar.

“Siapa pria kurang ajar itu? Daddy benar benar harus membunuhnya” tanya Daddy dengan emosi yang sudah berada diubun ubun yang siap meledak.

“Itu kesalahan ku, aku yang membuat dia melakukannya” aku masih menenggelamkan kepalaku. Ini kedua kalinya Daddy marah besar padaku, pertama kali ketika aku ketahuan membolos hanya untuk menonton film terbaru dibioskop bersama Nana.

Perlahan aku menceritakan semuanya pada Daddy, kejadian yang cukup memalukan dikantin kemarin.

“Tetap saja dia salah mengambil tindakan” suara Daddy turun satu oktaf. Selamat, emosinya sudah reda “Dan kau? Kenapa kau tidak marah?” Daddy menjentikkan jarinya dikeningku, sakit. Aku mengusapnya agar rasa sakit nya berkurang.

Itu karena aku mencintainya, Daddy. Aku hanya mengucapkannya didalam hati sambil menatap mata Daddy yang kebetulan sedang menatapku juga.

“Tidak perlu dijawab, Daddy sudah tahu jawabannya” kata Daddy dengan sebal. Daddy mulai menjalankan mobilnya lagi yang sudah hampir sampai dirumah kami.

Seketika aku teringat Mommy “Daddy, jangan beritahu Mommy. Ini rahasia kita berdua, hmm?”aku menumpukkan tanganku didepan wajahku. Daddy saja sudah marah sebesar ini padaku, bagaimana reaksi Mommy jika dia tahu. Oh aku bisa mati..

“Rahasia mu aman bersama Daddy. Tapi siapa pria itu?” aku diam sejenak. Baiklah Soo Ji tarik nafas lalu buang.

“Park Joon” gumamku.

Mata Daddy melotot dan mulutnya sedikit terbuka membentuk huruf O kecil “Putra sulung Jung Soo dan Taeyeon?” tanya nya tidak percaya. Aku hanya membalas dengan anggukan lemah.

 

 

***

AUTHOR POV

Taeyeon naik ketempat tidur dan masuk kedalam selimut bergabung bersama suaminya, Park Jung Soo yang sedari tadi menunggunya. Taeyeon baru saja kembali dari kamar Yeon Ah, putrinya selalu ingin dibacakan buku cerita sebelum tidur dan sekarang putri kecilnya sudah terlelap dengan pulas.

Jung Soo tersenyum ketika Taeyeon masuk ketempat tidur, dia menarik tubuh mungil Taeyeon kedalam dekapan hangatnya “Apa yang membuat bibir ini terus tersenyum?” Jung Soo menelusuri garis bibir Taeyeon dengan jari telunjuknya.

Taeyeon memeluk erat pinggang Jung Soo “Putra kita sudah dewasa” gumam Taeyeon didada Jung Soo.

“Ya, aku tahu dengan postur tinggi tubuhnya yang sudah akan menyaingi aku” tangan Jung Soo naik turun dibahu Taeyeon.

“Dia sedang jatuh cinta” Taeyeon terkikik, mengingat tingkah laku Joon ketika dia mulai jatuh cinta pertama kalinya pada Soo Ji.

Jung Soo melepas pelukan Taeyeon “Dia tidak boleh jatuh cinta. Joon masih terlalu muda” protes Jung Soo. Dia tidak suka mendengar perkataan Taeyeon.

“Kenapa tidak? Bahkan kita menemukan cinta pertama kita diusia lima belas” Taeyeon cemberut, dia berbeda pendapat kali ini dengan suaminya.

“Iya, tapi itu akan mengganggu belajarnya” Dia meraih pipi Taeyeon agar istrinya menatap kearahnya.

Taeyeon menggenggam tangan Jung Soo yang berada dipipinya “Jangan melarangnya ketika dia masih dapat menjalankan kewajibannya, dan tidak meninggalkan tugas tugas sekolahnya”

Jung Soo tersenyum dengan ucapan Taeyeon yang mencoba meyakinkannya “Kenapa kau begitu menyetujuinya? Kau tidak takut Joon akan lebih sering bersama kekasihnya”

“Tidak. Karena itu Choi Soo Ji” ucap Taeyeon menatap mata suaminya yang tampak terkejut.

“Choi Soo Ji putri Siwon dan Tiffany?” pekiknya.

“Ya” Taeyeon tersenyum lebar dan kembali memeluk pinggang Jung Soo yang masih menegang karena tidak percaya.

 

 

TBC…..

 

Hai readers…. aku datang kembali membawa kelanjutan The Choi’s Girls part 2.
maaf kalau masih belum ketemu konfliknya ya, kita bermanis manis diawal dulu aja kali yaa heheh

Oh ya, untuk anak anak Siwon – Tiffany, Jung Soo – Taeyeon, dan Min Ho – Yuri. Kalian bisa menggunakan imajinasi masing masing ya, karena aku juga gabisa kasih gambaran tokoh yang pas buat anak anak mereka hehehe…

Lagi lagi yang aku minta hanya komen dari kalian, ga berat kan buat ninggalin jejak bahwa kalian baca cerita ga jelas ini?

49 thoughts on “(AF) The Choi’s Girl Part 2

  1. aahhh SO SWEET !!!! ♡♥
    hubungan anak y sifany bener kental bgt dah meskipun karakter mereka berbeda.
    Yoona jg Triplets baby yg lucu.
    jg Taeyeon yg bijak dgn keputusan Park Joon.
    BUT !!!
    ada apa dgn jessica jg lauren???
    dan knp Ny.Choi begitu kesal pd Lauren yg notabene anak “SiFany” lalu tiba” merindukan Jessica yg gk tau status y apa dgn keluarga CHOI jg persahabatan TaeTiYoon?
    PENASARAN !!!
    G’LUCK @Zoey_Loe
    We Waiting !!! ♡♥

  2. Aiggo….kasian banget siwon disiram air es.
    Tapi,kenapa grammy panggil lauren jessica ya, ada huhungan apa sica dengan lauren dan juga tiffany,apalagi wkt taeyeon bilang lauren mirip banget ama jessica,fany kaget banget begitu.
    Anak2 siwon tiffany,jungso taeyeon,minho yuri, anak2 yg cute dan dipastikan akan saling jatuh cinta,saling mencintai dan saling menjodohkan, benar gak saeng…..ya ini menurut unnie sih. Hehehe…….moga2 aja ya saeng.Amin.
    Penasaran dengan next partnya saeng,jgn lama2 ya saeng;-).tetap bersemangat saeng.saeng jjang
    Keep writing saeng.fighting.

  3. Ceritanya bagus banget, tapi kayanya ada konflik di masa lalu antara tiffany dan jessica. Trus tentang lauren, apa dia anak jessica? Lanjut thor ga sabar nih untuk chapter selanjutnya…

  4. Sweet banget thor.. paling lucu pas bagian Dora, wkwkwk walaupun aku agak susah ngebayangin sosok anak2 sifany sama Taeyeon tapi aku menikmati bacanya.. Hehe aku menunggu karya mu di bagian tiga! Fighting🙂

  5. Akhirnya keluar juga part ini makin penasaran sama kelanjutannya terutama zama Jessica nih kenapa Tiffany gugup setiap disebut namanya Jessica
    Lanjut ne jngan lama” ngepost nya

  6. What happen with Jessie, Taeyeon, and Lauren?? Penasaran deh 😆 itu juga duhhh gemes sama Soo Ji n Joon, berasa baca novel teen 😁 ditunggu kelanjutannya banget, pokoknya harus cepet #maksa ✌

  7. Msih pnsran ma status Lauren nih…
    Sbnarnya dia anak siapa sih…?

    TruTrus ommanya siwon knal ma jessica drimna..?
    Kok dia smpe mluk lauren.gra2 lauren mrip jessie…

    Siap2 ja.nih fany,,,dnger kbar anaknya pcran ma anak taeyeon…hahaha

    Dtnggu klnjutannya thor…

  8. ketika semua orang mengatakan lauren mirip dengan jessica,kenapa reaksi tiffany gmn gt??kok reaksinya cuma diem aja,trus jessica kok bisa meninggal kenapa??ato jangan jangan lauren itu anak jessica

  9. apa hubungan jessica sm ny. choi??
    lauren anak siapa?? knp mirip jessie??
    aku masih penasaran sm prolog d awal part 1.. kalo cewe cowo yg putus itu sifany,, knpa kesininya mereka mlh udah punya anak??
    next next

  10. Wow konfliknya bikin penasara. Bgt… Jessica itu knp kayanya deket bgt sma ny.choi. terus knp fany kaya gimana gitu kalo ngomongin sica.. Penasaran bgt knp sicanya meninggallll next min ditunggu bgt yah

  11. jatuh cinta sama ni ff..ceritanya menarik, drama keluarga banget tapi seru ngeliat gimana hubungan yg terbentuk antara orang tua dan anak2nya di dalam ff ini,
    semoga sifany segera punya anak cowo..
    penasaran apa hubungan antara ny,choi, jessica, tiffany, and lauren..😰
    ditunggu kelanjutannya thor😍😍

  12. penasaran sama siapa lauren, kayaknya bukan anak kandung sifany dan kenapa fany sayang banget sama lauren dan siapa sosok jesi selain teman fany. sulit di tebak. hhmmm

  13. huahahaha yaampun i love park joon yaaa wkwkwk
    kayaknya itu bocah idaman banget aww 😍
    suka momen pas sifany bobok diluar. “datanglah padaku kalau kau membutuhkan selimut” wadaw kesempatan 😁
    yg bikin penasaran tuh jessica. ini lauren anaknya jessica gitu? omayaa😲
    suka authornim! semangat ya next part nya.

  14. jgn2 Lauren anakny jessi…
    tp jessi sdh mninggal..
    hnnn perlu flashback nh next chapt utk mjawab smuany..
    aplg dg kisah ny.Choi jd bersikap kya gtu am Lauren

    ommo… soo ji lg jatuh cinta ya..

    next chapt dtunggu

  15. Duuh, so sweeetnya gadis2 Choi itu!! Baca ff sweet pagi2 gini bikin fresh saja. Tentunya, diselingi penasaran ttg Lauren & Jessica. Jgn2 Lauren mmg benar anaknya Jessica kaliii… eh, pokoknya ditunggu lnjutannya deh. Sukakk gaya bahasanyay yg ngalir tenang tp njeleeb… keep writing, authornim!!! Kami sll nunggu klnjutannya lohhh!!

  16. jangan2 lauren anaknya jessica? kenapa setiap kali yoona, taeyon dan yuri bicara tentang jessica, tiffany langsung tegang gitu.. ditunggu kelanjutannya thor.

  17. Hahaha ia manis banget dah ffnya tapi aku smpe skrg ga ngeri jessica itu ada hubungan apa sama eommanya siwon kok smpe eommanya siwon juga syg gitu sama jessica hmm

  18. Sweet n lucu klo critain tntang ank2 mereka apalagi ank fany yg lg pada jatuh cinta haha..
    Seru crita’a, demen bgt dah klo udh baca marriage life gene hihi..
    Btw msh penasaran sm jessica
    Next yaa

  19. Jalan ceritanya lucu deh..
    Dan gak sabar juga mau tau apa konfliknya..
    Apa lauren anaknya sica eonni..
    Terus sica eonni meninggal gegara apa.
    Ditunggu bnget nih part slanjutnya..
    Yg semangat ya thor.. fighting👊😄

  20. Aih lucu bgt sih keluarga satu ini^^
    Fany mau punya anak lagi? Waduh rame bgt tuh kyknya haha.. tp gapapa lucu pasti nanti mirip siwon~
    Lauren jg bikin tambah penasaran nih sebenernya dia itu siapa😦
    Ditunggu next chapter nyaa, fighting author-nim!

  21. walaupun cuma dikit, tp scence sifany sweet abis, ttp romantis meski udah pny 4 anak…..ngakak banget pas bagian soo ji yg nemenin adik2nya nonton dora the explorer, wkt dora nanya letak permatanya berkali-kali, trus lauren nanya ke soo ji knp dora begitu bodoh.. wkwkwk….

  22. ada hubungan apa Jessica sama Lauren ? apa Lauren anak Jessica ? tapi kenapa tangan Tiffany bergetar setiap mendengar nama Jessica…

  23. Part 2. Soo ji, sifatnya nyebelin ya, wkwkk seperti biasa part 2 juga gak kalah keren, aku suka.. soo ji pun jatuh hati pada anaknya taeng cieeee, part ini khusus ke soo ji yak nampaknya dan apa yang terjadi pada lauren masih misteri.. wanita di part 1 apakah itu jessica?

  24. Ug msh jd pertnyaan pstiny ttg jessica, bhkn Lauren sgt mirip dgnny.
    yg bikin tmbh sweet bisa2 ank2 mrk slg cinta ❤
    Thanks utk Zoey yg dr awl udh bikin kita senyum n baper. tp hrs siap utk kejutn slnjutny.
    alurny oke n feelny dpt….daebak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s