(AR) Baby Blue Syndrome

Baby Blues Syndrome

Poster FF Sifany ( Baby Blues Syndrome )

Author : @janisone

Main casts :

Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support casts :

Im Yoona – Choi Soo Young

Kim Tae Yeon – Kwon Yuri – Lee Soon Kyu

Jessica Jung –  Kim Hyo Yeon – Seo Joo Hyun

Jung Kyung Ho

Length : Oneshoot

Genre : Merried Life, Friendship

Rating : 15

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan. Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading!

Kelahiran seorang anak merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh pasangan menikah. Bukan hanya sebagai buah cinta namun juga penyempurna kebahagiaan dalam rumah tangga. Sebagai seorang wanita, sudah kodratnya untuk hamil dan melahirkan. Hal yang paling dinanti-nantikan bagi kaum hawa itu ternyata berbanding terbalik dengan seorang wanita keturunan Amerika-Korea, Tiffany Hwang.

Bukan ingin menyalahi kodratnya, sungguh. Tiffany paham betul dengan tugasnya sebagai seorang wanita. Terlebih sebagai istri dari pria yang bukan sembarang orang. Ia juga tahu, karena perngorbanan dan perjuangan seorang wanita jualah ia bisa hadir di dunia ini. Tumbuh dengan baik hingga bertemu dengan pria yang dicintai dan mencintainya.

Dari awal, mulai sejak kali pertama bertemu, bertunangan hingga menikah, hubungan mereka baik-baik saja. Tahun ini, pernikahan mereka menginjak usia dua tahun penuh. Disaat ini, Tiffany selalu ditanyai oleh mertua bahkan para sahabatnya. Selama ini, ia tidak pernah ambil pusing dengan pertanyaan orang-orang. Namun ia mulai resah ketika suaminya bertanya kapan ia siap untuk memiliki seorang anak.

Tiffany menarik dan menghembus nafas dari hidungnya. Dia dalam posisi bersila dengan tangan di atas kedua lutut. Pagi ini matahari bersinar cerah. Ia tengah berlatih yoga ditemani gemericik air dari waterwall disisi kanannya.

Konsentrasi Tiffany buyar ketika tiba-tiba sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Seorang pria dengan setelan jas rapi menghampirinya dan mencium pipinya manis. Sontak, mata indah yang semula terpejam itu perlahan terbuka.

Pria tampan itu memandanginya dengan lesung pipi yang sangat lucu bagi Tiffany. Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Dia masih agak takut jika sang suami kembali mengungkit hal yang paling ia hindari. Anak.

Suaminya, Choi Si won tersenyum.

“Sampai kapan kau akan tetap di sini? Ayo, masuklah. Cokelat panas dan roti panggangnya akan dingin.”

Tiffany mengangguk singkat. Pertanda ia mendengarkan Si won. Namun ia tetap tidak beranjak dari tempatnya.

“Baiklah. Kalau begitu aku berangkat sekarang.”

“Oppa,”

Tiffany menahan lengan Si won sebelum pria itu bangkit dan beranjak darinya.

Wae?”

Si won bertanya lembut. Tiffany menurunkan tangannya lalu menatap Si won.

“Kau marah padaku?”

Alis Si won terangkat. Seolah bertanya apa maksud dari pertanyaan wanita itu. Tapi sepertinya ia mengerti sekarang.

“Apa aku terlihat sedang marah?” Si won kembali bertanya.

Tiffany menggeleng lalu menunduk. Si won tersenyum dan meraih tangan lembut itu untuk bangkit. Wanita dengan legging hitam dan kaos longgar berwarna merah muda itu diam saja ketika Si won membawanya menuju pintu keluar.

“Aku akan berangkat sekarang. Jika kau bosan di rumah, datanglah ke  kantorku atau kunjungi teman-temanmu.”

“Aku akan ke café Yoona hari ini.”

Si won mengangguk.

“Berhati-hatilah menyetir. Aku pergi.”

Si won memberikan kecupan singkat di kening Tiffany. Keduanya tersenyum sebelum Si won masuk ke dalam Audinya.

“Aku pergi.”Tiffany melambaikan tangannya begitu mobil Si won beranjak menjauh dan menghilang. Ia mendesah berat kemudian memilih masuk. Langkahnya menuju dapur untuk menikmati sarapan yang  sudah Si won siapkan.

Tiffany bukannya tidak peka. Ia tahu jika Si won sudah ingin memiliki momongan. Terlebih keluarga pria itu. Wanita cantik berambut hitam itu mendesah. Andai memiliki anak tidak harus serumit hamil dan melahirkan.

 

***Sifany***

 

Siang itu, Tiffany tengah berada di sebuah toko pakaian. Dia tidak memiliki jadwal apa pun hari ini. Berkunjung ke café Yoona sepertinya dia sedang tidak ingin karena kemarin dia juga dari sana. Lagi pula, Yoona sepertinya selalu sibuk dengan pengunjung yang ramai jadi dia tidak ingin mengganggu. Sebab itulah, ia memutuskan untuk berbelanja. Ia sedang asyik memilih baju yang ia suka ketika seseorang memanggil namanya.

“Fany-ah!”

Kepala Tiffany terangkat. Segera ia menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berpostur tinggi berlari kecil menghampirinya.

“Soo young-ah!”

Dua sahabat yang telah lama tak bertemu itu saling berbagi pelukan rindu.

Omo! Aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Aku berencana mengunjungimu nanti sore untuk memberi kejutan. Bagaimana kabarmu? Aigo, kita sudah lama sekali tidak bertemu.”

Tiffany tersenyum saja mendengar ocehan sahabatnya itu. Sejak menikah, Soo young memang pindah ke Jerman bersama suaminya yang membuka usaha di sana. Mereka jarang sekali bertemu dan hanya berkomunikasi lewat telfon atau pun media sosial.

Soo young melepas pelukan mereka. Matanya memperhatikan penampilan Tiffany dari atas sampai bawah.

“Wah, kau terlihat semakin cantik, ya? Apa yang Si won Oppa lakukan padamu?” Soo young mengedipkan matanya menggoda.

Mwoya.”

Tiffany tersenyum malu dengan godaan sahabatnya tersebut.

“Kabarku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Suasana pedesaan di Jerman pasti menyenangkan. Aku merindukannya.”

“Berkunjunglah lebih sering. Kami akan dengan senang hati menerima kalian.”

Ya, ketika  Tiffany dan Si won dalam perjalanan liburan akhir tahun lalu, mereka sempat menginap di rumah Soo young. Berhubung mereka sedang di tanah eropa, mau tidak mau mereka harus singgah jika tidak ingin wanita itu memutuskan hubungan pertemanan diantara mereka. Teman yang jahat, bukan?

Tiffany terdiam ketika menyadari ada sesuatu bersama Soo young. Dia menyampirkan rambutnya lalu memperhatikan benda di dekat sahabatnya. Kereta bayi? Tiffany terkejut. Matanya tak lepas memperhatikan bayi berkulit putih yang asyik dengan mainan di tangannya tersebut.

Soo young diam saja melihat reaksi Tiffany. Sebagai sahabat, dia tentu saja tahu jika Tiffany tidak begitu senang dengan anak-anak.

“Usianya lima bulan. Kau ingatkan, aku sedang hamil muda ketika kalian menginap.”

Tiffany mengangguk. Matanya masih tak lepas dari sosok mungil nan menggemaskan itu. Soo young terlihat sedikit jengkel karena hanya menyaksikan adegan itu sejak tadi. Tanpa menunggu lagi, diambilnya putrinya, Hana. Kemudian menyerahkannya pada Tiffany.

Terkejut. Itulah reaksi Tiffany. Tangannya gemetar memegang bayi semungil Hana dengan kedua tangannya. Soo young tahu jika Tiffany tidak suka. Namun dia juga yakin jika wanita dengan blouse putih itu tidak akan menjatuhkan bayinya.

Soo young membiarkan hal itu untuk beberapa saat. Sampai Hana merasa nyaman dan Tiffany  tidak merasa terganggu. Awalnya, Tiffany memang takut. Dadanya berdebar kencang saat Hana benar-benar berada di gendongannya. Namun detik demi detik berlalu, ia mulai merasa heran. Terlebih setelah bayi mungil itu tertawa kepadanya.

Tiffany tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang ia tahu, ia gugup bercampur senang. Jadi, seperti ini rasanya menggendong bayi?

“Hana-ya, ini Fany aunty. Dia cantik, bukan? Dia juga teman Mommy. Bersikap baiklah padanya, aratchi?”

Anak itu tertawa. Tiffany dan Soo young saling pandang dan tersenyum.

Otte? Tidak terlalu buruk, bukan?”

Tiffany menggenggam jemari mungil itu.

“Kau akan merasa lebih tersentuh jika dia bayimu sendiri.”

Tiffany tersenyum saja.

“Oh ya, bagaimana jika kita mencari makanan? Aku lapar.”

Eoh.

Siang itu dihabiskan Tiffany bersama Soo young dan Hana. Selain melepas rindu, ia juga menikmati waktunya bersama Hana. Walau masih terlihat canggung, tapi Soo young tahu jika Tiffany sudah tidak terlalu anti lagi dengan anak-anak. Semenjak teman-temannya menikah dan memiliki anak, mau tidak mau Tiffany sering bertemu malaikat-malaikat kecil itu. Namun dia tidak pernah berani untuk menggendongnya meski dipaksa. Baru kali ini dia merasa nyaman sekaligus tersentuh.

 

***Sifany***

 

Si won mengusap wajahnya. Matanya sudah perih dan lelah karena sibuk dengan layar komputer serta dokumen-dokumen perusahaan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Dimatikannya komputer itu lalu merapikan berkas-berkas yang berserakan. Dia sebaiknya menemui Tiffany lalu tidur.

Ruang kerja berukuran 5×4 meter itu Si won tinggalkan. Langkahnya menuju lantai dua sembari tangannya mematikan lampu di lantai bawah. Begitu tiba di atas, ia langsung menuju kamar. Ketika memasuki ruang pribadi dengan wallpaper berwarna langit itu, Si won mendapati Tiffany di ranjang. Wanita dengan piyama putih bermotif bunga itu terlihat asyik melihat sesuatu pada ponselnya tanpa menyadari kehadiran Si won.

Ya!

Omo! Oppaaa!”

Tiffany merajuk kesal. Tak suka jika Si won mengganggunya. Si won tertawa saja. Lucu melihat Tiffany marah dan merengut karenanya.

“Apa yang kau lihat?”

Si won penasaran. Ia duduk di samping Tiffany. Ingin melihat apa yang sejak tadi menyita perhatian sang istri. Namun Tiffany tak mau berbagi. Ia menutup layar smartphone-nya dari Si won.

“Bukan apa-apa.” Jawabnya kemudian. Si won menyipitkan matanya.

“Fany-ah, kau tidak sedang melihat foto itu lagi bukan?”

Si won ingat. Dulu, Tiffany pernah menyimpan foto abs seorang pria. Yang tak lain adalah adik dari Si won, Choi Min ho yang sekarang kuliah di Amerika. Tapi  seingatnya juga, dia sudah menghapusnya. Lalu apa yang sedang di lihat istrinya?

“Fany-ah, kau tidak menyimpan foto abs pria lain, bukan?”

Mwo? Memangnya aku apa mengoleksi hal semacam itu?”

Tiffany terlihat tersinggung dengan tuduhan Si won. Menyadari kesalahannya, Si won cepat-cepat minta maaf. Walau bagaimana pun juga dia tidak ingin wanita itu marah dan menjauhinya. Itu masalah.

“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, hm?”

Tiffany tak merespon. Diletakkannya ponsel di genggamannya di meja nakas lalu  berbaring. Si won mengikutinya. Ditariknya selimut hingga sebatas leher Tiffany. Kemudian dipeluknya wanita yang memunggunginya itu. Tiffany pun menyandarkan punggungnya di dada Si won yang hangat.

“Oppa”

“Hm?”

Si won menunggu. Tangannya memeluk erat perut Tiffany di bawah selimut mereka.

“Tadi, saat di pusat perbelanjaan, aku bertemu Soo young.”

“Soo young? Kapan dia kembali ke Seoul?”

Si won bertanya sembari menikmati aroma shampoo yang harum di rambut hitam Tiffany.

“Kemarin. Dia datang bersama suami dan putrinya.”

Tiffany memutar tubuhnya hingga wajahnya berhadapan dengan wajah Si won.

“Oppa tahu tidak? Hana, dia sangat menggemaskan. Jari-jari mungilnya sangat lembut dan hangat. Oppa ingat tidak dengan foto yang dikirim Soo young ketika Hana berusia satu hari? Dia sudah semakin besar dan cantik. Mulutnya mungil dan sangat cute.”

Si won tertegun. Dia kaget sekaligus heran. Ini pertama kalinya Tiffany bercerita tentang seorang bayi dengan antusias. Biasanya, wanita itu akan langsung mengganti topik yang menyangkut anak-anak. Apa Tiffany sudah mulai menyukainya? Jika benar ini akan menjadi berita baik.

“Benarkah?” Si won merespon dengan senang. Tiffany mengangguk pasti.

“Jika dia bayi kita pasti jauh lebih cantik.”

Tiffany terkesiap. Wajahnya berubah merah karena kaget bercampur malu. Detik kemudian, tangan kanannya terangkat untuk memukul dada Si won. Kemudian kembali berbalik memunggungi pria itu.

Si won tertawa dan kembali memeluk istrinya dengan sayang.

Wae, kau marah? Maaf, aku tidak akan mengulanginya.”

Si won mengecup bagian belakang kepala Tiffany. Wanita itu tersenyum dan mengeratkan pelukan Si won di perutnya.

“Selamat malam, Oppa.”

“Malam.”

 

***Sifany***

 

Tiffany sedang bersantai di bedsofa ketika bel berbunyi. Si won sudah berangkat ke kantor dan dia hanya seorang diri di rumah. Ia tidak memiliki agenda apa pun hari ini selain bersantai. Pekerjaan rumah tangga pun sudah dilakukan assitent rumah tangga.

“Siapa yang bertamu? Apa Si won Oppa kembali?”

Tiffany bicara pada diri sendiri. Tak mau menunggu, ia langsung bangkit menuju layar intercom.

“Yoong!”

Tiffany tersenyum lebar dan dengan senang hati membukakan pintu untuk Yoona.

“Selamat pagi, Unnie.”

Eoh. Masuklah.”

Tiffany mendekat untuk menyambutnya. Namun langkah kakinya perlahan terhenti ketika menyadari Yoona tidak seorang diri. Di tangannya, ada seorang anak laki-laki berusia 4 tahun. Yoon Ji hoon. Putra dari sahabatnya yang lain, Yuri.

“Ji hoon-ah, beri salam pada Fany Aunty.”

Anak itu menurut dan membungkukkan badannya dengan manis.

Annyeong haseyo, Aunty.”

“Ah, ne, Ji hoon-ah. Masuklah.”

Yoona dengan hati-hati membuka sepatu Ji hoon. Tiffany dengan sigap mengambil sandal rumah seukuran kaki Ji hoon. Mengingat teman-temannya sudah memiliki anak, Tiffany juga memiliki sandal rumah untuk anak-anak karena mereka sering berkunjung bahkan menginap.

“Wah, lucu, bukan? Warnanya juga bagus.”

Yoona memasangkan sandal rumah berwarna pastel itu pada kaki Ji hoon. Mereka kemudian berjalan menuju sofa.

“Ayo, kita duduk disini.”

Yoona mendudukkan Ji hoon di atas sofa kemudian meletakkan tasnya.

“Dimana Yuri?”

“Yuri Unnie sedang ada pekerjaan di Pulau Jeju selama tiga hari. Jadi dia menitipkan Ji hoon padaku. Ji hoon tidak bisa ikut karena dia harus ke play group.”

Tiffany mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O. Matanya memperhatikan bayi tampan berkulit putih yang asyik bermain di sofa. Hal yang selalu menjadi bahan candaan mereka adalah, kenapa Ji hoon memiliki kulit putih sementara Yuri memiliki kulit yang agak gelap? Jika Yuri beralasan putranya mewarisi kulit suaminya, namun mereka selalu menggodanya jika sebenarnya Ji hoon adalah putra Tae yeon. Memang, Ji hoon sangat mirip dengan putra sulung Tae yeon, Tae young yang satu tahun lebih tua dari Ji hoon.

“Unnie sedang sibuk?”

Eoh? Aniyo.”

“Baguslah. Kami sedang bosan di café jadi aku ajak Ji hoon kesini. Dan ini.”

Yoona menyerahkan sebuah kertas kecil bergambar kartun anak-anak.

“Ulang tahun kedua putra ketiga Hyo yeon Unnie minggu depan.”

Tiffany mengangguk. Dia sudah mendengar hal itu dari Soo young sebab itu jugalah alasan kenapa mereka datang ke Seoul.

“Duduklah, Yoong. Aku akan ambilkan minuman.”

Eoh. Biarku bantu, Unnie.”

Yoona mengikat rambutnya yang tergerai dengan hairband yang baru ia ambil dari tasnya.

“Ji hoon-ah, kau ingin susu cokelat?”

Anak itu menggeleng.

“Aku sudah minum susu cokelat tadi pagi. Aunty, aku ingin kue.”

“Kue?”

Yoona merapikan anak rambutnya seraya menoleh kearah Tiffany yang sudah berada di dapur. Dapur yang berada tepat di belakang mereka memang tidak memiliki sekat jadi, sangat memungkinkan mereka untuk bisa saling melihat satu sama lain.

“Kue? Kue kering atau cake?”

Tiffany bertanya. Jika yang dimaksud anak itu cake, Tiffany masih memilikinya. Si won membelinya kemarin jadi masih bisa di makan. Kalau kue kering, biscuit atau semacamnya dia tidak yakin memilikinya.

“Aunty, kue yang kita makan ketika ulang tahunku.”

Yoona tertawa dan mencium anak itu gemas.

Arasso. Duduklah yang manis, aratchi?”

Ne.”

Anak itu memilih bermain dengan robot di tangannya. Yoona segera menuju dapur dan berdiri di samping Tiffany yang sedang membuka kulkas berwarna abu-abu itu.

“Si won Oppa membelinya kemarin sepulang kerja. Kurasa masih bagus.”

Yoona mengambil alih piring berisi cake itu untuk memotongnya. Tiffany pun menuangkan orange jus untuknya dan Yoona serta susu putih cair untuk Ji hoon. Setelah siap, mereka kembali ke sofa dimana Ji hoon menunggu cake-nya dengan sabar.

“Ini. Makan dengan tenang, aratchi?”

Ne. Gumawoyo, aunty.”

Tiffany menatap pemandangan manis itu. Ji hoon memang sangat penurut pada Yoona dibanding Yuri.

“Oh ya, sebenarnya tadi aku ingin membawa Ji yeon juga. Tapi dia masih bayi jadi Tae yeon Unnie tidak mengijinkannya.”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya pertanda ia kecewa. Tiffany menyenggol kakinya dan tersenyum. Jelas saja Tae yeon tidak akan mengijinkan orang lain membawa bayinya yang baru berusia tiga bulan itu.

Ya, kau selalu saja membawa bayi orang lain. Kapan kau membawa bayi sendiri, eoh?”

Yoona tersenyum malu sembari menutupi pipinya. Tiffany sangat gemas melihat tingkah gadis itu.

“Aigo, jjinja!”

“Unnie, aku tidak dalam keadaan dimana aku bisa memiliki bayi sendiri. Tapi Unnie tanang saja, aku mungkin bisa memilikinya akhir tahun depan.”

Tiffany sontak menatap gadis itu. Yoona memang sedang menjalin hubungan dengan seorang dokter. Adik kandung dari suami Tae yeon yang juga seorang dokter.

Jjinja? Kalian sudah menetapkan tanggal?”

Hm.

Omo. Chukkae!

Tiffany tersenyum senang. Tangannya terulur agar Yoona menyambutnya. Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain dan tersenyum.

“Aku ikut senang mendengarnya. Chukkae.

Gumawo, Unnie.”

Untuk beberapa saat, keduanya larut dalam obrolan seru dan menyenangkan soal hubungan Yoona dan kekasihnya. Hingga obrolan mereka pun sampai kemana-mana. Beruntung, Ji hoon tidak merasa terganggu dengan tawa dua wanita cantik yang ada bersamanya. Selain sudah terbiasa, dia juga lebih asyik dengan mainan dan cake-nya.

Ketika tertawa dengan lelucon mereka, Tiffany tanpa sengaja melihat bibir dan pipi Ji hoon yang belepotan. Kaosnya juga kotor karena remahan cake yang berjatuhan. Dengan cepat, tangannya meraih tissue lalu membersihkan bibir serta pipi anak itu.

Yoona yang melihat itu hanya menyaksikannya dalam diam. Dia memang sengaja membawa Ji hoon ke sini agar Tiffany merasa lebih dekat dengan anak-anak. Dia sudah mendengar dari Soo young bagaimana Tiffany memperlakukan Hana. Mereka sangat berharap agar Tiffany mulai terbiasa dengan anak–anak dan berniat untuk memilikinya.

Dari dulu, Tiffany memang tidak suka dengan anak-anak karena tingkah mereka yang tidak terduga, berisik dan menyebalkan. Namun, semenjak teman-temannya memiliki anak, mau tidak mau Tiffany selalu bertemu mereka. Masih terlihat sangat canggung memang. Tapi setelah bertemu Hana, Tiffany mulai terbiasa dan menyukai para malaikat kecil itu. Dia sering melihat foto-fotonya bersama Hana atau pun melihat video bayi dari para sahabatnya yang lain yang selalu mereka bagikan di akun SNS pribadi mereka.

“Yoong, baju Ji hoon kotor. Kurasa baju Tae young tidak terlalu besar untuknya.”

Yoona mengangguk. Ketika Si won melakukan perlajanan bisnis ke Jepang selama tiga hari sebulan yang lalu, Yoona dan Tae young menemani Tiffany di rumah.

“Aku akan mengambilnya, Unnie.”

Aniyo. Aku saja.”

Tiffany meninggalkan sofa-nya dan segera naik ke lantai atas. Yoona tersenyum menatap kepergiaannya. Ia senang melihat Tiffany yang sekarang.

“Kenapa Aunty tersenyum seorang diri?”

Mulut mungil itu bertanya. Yoona yang menyadari hal itu menaikkan alisnya kemudian tertawa.

“Aunty tersenyum karena Ji hoon sangat lucu dan tampan.”

Jjinja?” Anak itu tersenyum senang ketika dicubit dengan manja oleh Yoona.

Kurom.” Yoona menjawab sembari membersihkan mulut Ji hoon yang kembali belepotan ketika ia mengunyah cake-nya.

“Setelah makan kita mandi dan ganti baju, aratchi?”

Ne, aunty.”

Si won tiba di rumah lebih awal hari ini. Dia cukup terkejut ketika yang menyambutnya bukan Tiffany melainkan sang adik sepupu.

“Yoong, kau disini?”

Eoh.”

“Dimana Tiffany?”

“Ssstt.”

Yoona meletakkan telunjuk di bibirnya. Dibawanya Si won ke kamar tamu. Mereka menyaksikan Tiffany tidur sambil mendekap seorang anak laki-laki.

“Ji hoon?” Bisik Si won.

Yoona mengangguk dan kembali menutup pintu. Keduanya berjalan menuju dapur. Si won duduk di meja makan sementara Yoona menyiapkan coffee untuknya.

“Apa yang terjadi?”

Si won terlihat penasaran. Merasa sayang karena dia melewatkan moment tersebut.

“Kami hanya bermain dan menghabiskan waktu bersama, Oppa.”

“Seperti?” Si won memang sangat penasaran. Tidak biasanya Tiffany seakrab itu dengan anak-anak.

“Mengobrol, makan. Kami juga berenang bersama.”

Si won mengangguk sebagai respon.

“Apa Tiffany baik-baik saja?”

Yoona mengangguk diiringi senyum puas di bibirnya. Mengingat betapa Tiffany sangat nyaman bermain bersama Ji hoon ketika mereka berenang tadi membuatnya sangat lega.

“Hm. Awalnya memang agak kaku tapi Fany Unnie mulai terbiasa. Kami akan lebih sering membawanya kelingkungan anak-anak, Oppa.”

Gwenchana. Tidak perlu buru-buru. Tiffany bukannya tidak menyukai mereka, dia hanya terlalu takut untuk terlibat dengan segala macam hal tentang anak-anak.”

Yoona mengangguk kemudian menghidangkan coffee yang sudah siap untuk Si won.

“Minumlah, Oppa.”

Gumawo.

Si won meneguk coffee-nya. Setelah itu di tatapnya Yoona dengan sebuah senyum kecil di sudut bibirnya.

Wae, Oppa?”

Yoona yang menyadari itu pun bertanya. Kentara sekali jika ada maksud dari tatapan dan senyum pria itu.

Aniyo. Aku hanya merasa jika kau sedang berlatih untuk menjadi seorang istri.”

Yoona tertawa lepas mendengarnya.

“Ku dengar dari Oemma kalian sudah semakin serius. Kau sudah merasa yakin?”

Wae, Oppa meragukannya?”

“Tentu saja tidak. Aku akan senang jika kau bahagia.”

“Kami sudah saling mengenal lama dan mengetahui satu sama lain cukup baik. Ku harap, tidak akan ada masalah.”

Si won tersenyum sembari mengangguk.

“Ku ucapkan selamat. Jangan lupa hubungi aku jika kau butuh sesuatu.”

Yoona tertawa senang dibuatnya.

“Tentu.”

 

***Sifany***

 

Hari ini adalah pesta ulang tahun dari putra ketiga Hyo yeon yang kedua. Si won sudah rapi dengan jeans cokelat serta kaos yang dipadukan dengan jas biru tua. Tiffany juga sedah selesai merias diri. Wanita itu mengenakan simple mini dress tanpa lengan berwarna merah terang yang cocok di kulit putihnya.

Untuk aksesories, dia hanya mengenakan sebuah kalung dari Tiffany and Co serta jam tangan. Dengan high heel berwarna hitam dan rambut yang disanggul rapi, wanita itu masih duduk di ranjang. Dia terlihat ragu untuk hadir. Alasannya, sudah pasti karena disana akan penuh dengan anak-anak. Beberapa hari yang lalu, Tiffany sudah merasa yakin untuk hadir. Namun entah kenapa pagi ini dia kembali merasa gugup.

Menyadari hal itu, Si won tidak banyak berkomentar. Setidaknya sekarang ada perubahan dari Tiffany yang ia lihat. Karena, untuk ulang tahun anak dari teman-teman mereka sebelumnya, Si won harus membujuknya dengan keras. Jika bukan teman dekat, Tiffany tidak akan pergi.

“Kau sudah siap?”

Eoh?”

Tiffany mendongak. Sadar Si won sudah rapi, ia pun bangkit seraya merapikan dress-nya. Dia akan beranjak menuju tempat Si won namun pria itu lebih dulu mendekat. Pria itu menatapnya lama kemudian mengecup pelan bibirnya.

“Cantik sekali. Jika kau tidak ingin pergi, kita bisa membuka dress ini.”

“Yaaa”

Tiffany menjauhkan tangan Si won dari punggungnya. Mencegah pria itu untuk membuka resleting dress-nya. Kemudian, sebuah pukulan ia hadiahkan bagi pria yang suka menggodanya itu.

Otte? Pipimu sama merahnya dengan dress ini.”

“Oppaa.”

Tiffany merengek tak suka. Si won berhenti tertawa sebelum mood Tiffany makin buruk dan semuanya menjadi kacau.

Tiffany merapikan kerah kemeja Si won. Tak mau membuang waktu dengan percuma, Si won membisikkan kata-kata manis yang membuat dada Tiffany bergemuruh. Pria itu selalu membuatnya jatuh cinta.

Setelah cukup dengan adegan manis dan kalimat penuh gombalan Si won, mereka pun berangkat. Hyo yeon akan sangat marah jika mereka terlambat lagi untuk yang kesekian kalinya.

Berbeda dengan acara ulang tahun yang biasanya mengambil tempat di hotel atau pun restoran, kali ini pesta tersebut dilakukan Hyo yeon di ruang terbuka. Sebuah sudut taman disulap menjadi tempat ulang tahun yang penuh dengan balon dan mainan khas anak laki-laki.

Tiffany keluar dari mobil begitu Si won berhasil memarkirkan Audinya. Si won menghampiri Tiffany untuk membawanya masuk ke area yang kini penuh dengan anak-anak dan orang tua masing-masing.

“Hyo yeon tidak mengundang orang lain selain kalian para sahabat dekatnya. Jadi kau tidak perlu cemas.”

Tiffany menarik nafas dalam kemudian mengangguk.

Seorang gadis cantik dengan tinggi semampai menyambut mereka di pintu gerbang yang terbuat dari puluhan balon warna-warni itu, Seo hyun.

“Unnie, kalian datang?”

Eoh.”

Seo hyun menepis lengan Si won yang selalu menggandeng mesra pinggang Tiffany.

“Oppa, sebaiknya kau menemui para pria disana, okay? Kyung Ho Oppa mencarimu sejak tadi. Sekarang, Fany Unnie milik kami.”

Si won tak bisa berbuat apa-apa ketika Seo hyun membawa Tiffany menjauh darinya. Dia pun segera beranjak ketika Kyung Ho memanggilnya. Para suami berkumpul dan mengobrol di sebuah meja yang penuh dengan makanan.

Tiffany melirik Seo hyun yang tersenyum di sampingnya.

Wae?”

Aniyo. Aku hanya senang karena Unnie mendapatkan pria yang baik.”

Tiffany tersenyum. Dia ikut senang karena sosok di sebelahnya itu adalah calon istri dari seorang professor muda di Universitas ternama di Seoul.

“Ayo, Unnie. Kau butuh topi kerucut dan terompet untuk pesta ulang tahun.”

Seo hyun mempercepat langkahnya dan membawa Tiffany bersama. Tiffany memutar bola matanya. Inilah yang paling tidak ia sukai dari pesta anak-anak, bertingkah seperti anak-anak.

Eoh, Fany-ah!”

“Hyo.”

Tiffany memeluk sahabatnya erat. Meski mereka tinggal di kota yang sama namun sangat sulit untuk bertemu karena kesibukan masing-masing. Jadi wajar jika mereka saling merindukan satu sama lain.

Omo. Kau terlihat makin cantik, Hyo-ya.” Wanita berambut pendek itu tertawa.

Jjinja? Haha. Gumawo. Kau juga terlihat cantik.”

Tiffany tersenyum lalu melepaskan pelukan mereka. Sesaat diperhatikannya Hyo yeon. Wanita itu terlihat bahagia. Dia pasti menikmati hidupnya sebagai istri seorang pengusaha dan Ibu dari tiga orang anak.

“Oh ya, dimana Se hoon?”

“Di danau. Bersama Yoona dan Tae yeon.”

Tiffany memutar pandangannya kearah yang dimaksud. Tampak olehnya Yoona tengah menggendong seorang bayi dan Tae yeon yang menjaga anak-anak lain bermain.

Omo. Itu Sunny Unnie.”

Dengan cepat, Tiffany menoleh. Dari arah pintu masuk, seorang wanita yang terakhir kali ia lihat di pesta ulang tahun Ji hoon tiga bulan lalu dan tinggal di Dubai itu muncul.

Wanita dengan blouse berlengan pendek dan rok selutut itu tersenyum lebar sembari melambai kearah mereka. Tiffany menahan diri untuk tidak berteriak dan berlari menghampirinya sebab wanita itu bersama suaminya dan anak kembar mereka.

“Soon kyu-ya!”

Wajah Sunny yang tadinya tersenyum lebar berubah seketika. Ia benci mendengar nama itu disebut di hadapannya.

Aish, Jjinja! Aku benci datang kesini karena nama itu.” Decaknya sebal.

Tiffany tidak peduli. Langsung dipeluknya Sunny dan tentunya di balas dengan hangat.

Tiffany segera melepas pelukan mereka begitu suami Sunny mendekat. Pria tampan berkaca mata itu terlihat sopan dan ramah. Sunny dan suaminya menikah karena perjodohan yang diatur orang tua mereka. Tapi sepertinya Sunny tidak memilih pria yang salah sebab selama 6 tahun ini rumah tangga mereka sangat harmonis.

Annyeong haseyo, Jae jun-ssi. Senang kita bisa bertemu lagi.”

Ne. Aku juga, Tiffany-ssi. Bagaimana kabar kalian?”

“Kami baik, Oppa.”

Seo hyun dan Hyo yeon bergantian menjawab lalu memberikan salam.

“Kami sudah mengirimkan hadiah seminggu yang lalu. Apa sudah sampai?”

Hyo yeon berdecak mendengar pertanyaan wanita yang juga berambut pendek itu.

Ya, kalian tahu dia mengirimkan apa? Dia memberikan sepeda lipat untuk anak berusia 12 tahun padahal Se hoon baru dua tahun. Suamiku bahkan sempat mengira kalau hadiahnya salah kirim.”

Jjinja?” Tiffany tertawa. Begitu pun dengan Sunny dan Seo hyun.

“Aku tidak tahu harus memberi Se hoon apa karena ku pikir dia sudah memiliki semuanya. Ketika sedang jalan-jalan di sebuah pertokoan, aku melihat seorang anak merengek ingin sepeda lipat pada orang tuanya, jadi ku putuskan untuk membelinya juga.” Cerita Sunny sembari tertawa.

“Walau bagaimana pun, gumawo.”

Sunny tertawa dan merangkul Hyo yeon yang berdiri di hadapannya.

“Aigo. Jun se dan Hani, annyeong.

Pasangan kembar berusia empat tahun itu membungkuk kompak. Seo hyun berseru gemas. Segera ia membawa keduanya bermain dan bergabung dengan anak-anak lain. Yoona dan Tae yeon menyambut keduanya dengan senang hati.

“Aigo, ini terlihat seperti reuni orang tua bukan pesta ulang tahun anak-anak.” Komentar Sunny disambut persetujuan Hyo yeon juga Tiffany.

“Sunny-ah!”

Dari arah lain, Yuri dan Soo young muncul. Keduanya sejak tadi berada di restoran dekat taman mempersiapkan makan siang mereka nanti. Yoona dan Tae yeon pun ikut bergabung membuat tempat itu semakin ramai.

Dengan  mempertimbangkan matahari yang mulai meninggi, acara pun dimulai. Diawali dengan nyanyian ulang tahun dan tiup lilin, Se hoon terlihat senang melihat kumpulan orang banyak dan dekorasi taman yang indah.

Ketika masih di rumah, Tiffany sempat takut bagaimana ia akan bertindak selama pesta ini. Namun,  begitu memperhatikan senyum tulus dan bahagia setiap anak-anak disini, untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman bersama para malaikat kecil itu. Jika biasanya ia dan Si won akan berdiri paling jauh. Tapi hari ini, ia berdiri tepat di sebelah putri kedua Hyo yeon yang menemani orang tua dan adik bungsunya meniup lilin. Dan semua yang hadir di sana menyadari perubahan kecil itu.

 

***Sifany***

 

“Aunty, ikat pinggangku lepas.”

Ji hoon berlari menghampiri Yoona. Para orang tua sedang menikmati makan siang sementara anak-anak lebih suka bermain dengan hadiah yang mereka dapatkan.

Yoona melihat anak itu berlari menghampirinya. Ia tertawa. Ditinggalkannya makanannya sejenak lalu mendudukkan Ji hoon di pangkuannya untuk membetulkan ikat pinggang anak itu.

Yuri yang berada tepat di sebelah Yoona menatap putranya tak suka.

Ya, Ji hoon-ah, kau melukai hati Oemma, arra? Oemma disini dan kau memanggil Yoona aunty.”

Yuri merajuk pada putranya. Yang lain ikut tertawa seraya memperhatikan Ji hoon yang tampak tersenyum menggemaskan di pangkuan Yoona.

“Itulah akibatnya jika kau selalu sibuk bekerja. Lihat, Ji hoon malah lebih menyayangi Yoona dari pada kau.” Cibir Hyo yeon sembari memotong steak-nya. Seo hyun mengangguk membenarkan.

“Dia bahkan sudah menitipkan Ji hoon pada Yoona ketika anak itu berusia dua minggu.”

Semuanya mengangguk kompak. Tentu saja mereka tahu akan hal itu. Dari mereka semua, hanya Yuri yang bekerja. Selain itu memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Baik dengan keinginan sendiri maupun karena permintaan ibu mertua.

“Selesai.” Yoona menurunkan Ji hoon dan merapikan kaos anak itu.

Aigo, uri Ji hoon tampan sekali. Aunty poppo.”

Anak itu mencium Yoona lalu dengan cepat berlari untuk kembali bermain bersama teman-temannya. Yuri tertawa melihat tingkah sang putra.

“Kalian tahu apa yang paling membuat hatiku terluka?” Tukasnya dengan mimik sedih.

“Ketika dia demam panas beberapa waktu lalu, dia mengigau. Kalian tahu apa yang ia ucapkan? Yoona aunty, aunty, hah…”

Yuri mengusap dadanya sementara teman-temannya tertawa.

“Kalian tahu rasanya? Aku sangat terluka sampai air mataku ingin keluar. Tapi aku tidak marah. Yoona bukan orang lain bagiku. Aku yakin Ji hoon juga menyayangiku.”

“Tentu saja. Kau ibunya.” Ujar Soo young.

“Itulah kenapa Oemma melarangku untuk menggunakan jasa babysitter. Akan sangat berbahaya jika saat aku pulang kerja, anak-anakku tidak mengenaliku.” Cerita Sunny. Tae yeon dan Hyo yeon mengangguk. Mereka juga memilih merawat buah hati mereka sendiri. Walau merepotkan namun mereka menikmatinya.

“Tapi Ji hoon sudah mulai besar. Dia tidak akan bingung lagi mana Ibunya dan mana Aunty-nya.” Komentar Seo hyun. Tae yeon protes tak setuju.

“Tetap saja, seorang anak lebih membutuhkan ibunya.” Terangnya pula.

Tiffany hanya mendengarkan dalam diam. Dia tidak memiliki anak dan dia rasa dia tidak pantas untuk ikut berkomentar dengan topik kali ini.

Yuri meneguk orange jusnya lalu berujar.

“Selama bukan Appanya, gwenchana.

Tidak ada yang bisa menahan tawa ketika kalimat itu meluncur dari mulut Yuri. Tiffany bahkan hampir tersedak dibuatnya.

Ya!” Teriaknya sembari tertawa bersama yang lain.

Yoona dengan spontan menepuk pundak sahabatnya itu.

“Ah, Jjinja!” Komentarnya sembari merapikan rambutnya yang diterbangkan angin. Para pria terlihat memperhatikan mereka sebentar. Penasaran dengan apa yang begitu lucu sehingga mereka tertawa seperti itu.

“Sebuah bencana jika suamimu yang mengigau dan menyebut nama Yoona, Yuri-ah.” Tukas Soo young diikuti tawanya.

“Yoona-ya, kau sudah mendapatkan hati anaknya, tidak akan sulit untuk menaklukkan Appanya.”

“Tae yeon Unnie.”

Yoona merajuk tak suka ketika istri sang calon kakak ipar ikut menggodanya.

Para wanita itu kembali melanjutkan makan siang mereka. Anak-anak sibuk dengan makanan dan mainan masing-masing. Yang berusia 4 sampai 6 tahun bermain bersama. Sedangkan yang masih bayi ditemani para Ibu dan Aunty yang cantik. Para pria juga tampak menikmati waktu mereka dengan obrolan seputar pekerjaan, hobi dan keluarga.

“Wah, lihat. Ji yeon sepertinya haus sekali.”

Yuri berseru senang. Dia tengah memberikan putri bungsu Tae yeon itu asi cadangan dengan botol susu di tangannya.

Ya, berhenti memberi anakku minum. Kau sudah memberinya banyak.”

Tae yeon yang menyiapkan buah-buahan bagi para suami mereka menegur.

Wae, dia menyukainya.”

Yuri tak mendengarkan. Hingga mulut dan pipi anak itu belepotan dengan air susu yang keluar dari mulut mungilnya. Tiffany yang melihat itu dengan reflek meraih tissue untuk membersihkannya.

Suasana mendadak hening, Hyo yeon dan Seo hyun yang sedang tertawa dengan lelucon mereka bahkan ikut terdiam. Tiffany menyadari itu, dia mendongak dan mendapati semua orang memandanginya. Semua orang kecuali anak-anak yang sibuk bermain dan makan.

Tiffany menjauhkan tangannya dari wajah Ji yeon, namun Yuri menahannya.

Gwenchana. Lakukan saja.”

Tiffany menatap Yuri. Wanita berponi itu mengangguk yakin. Tiffany tersenyum kemudian membersihkan sisa asi di mulut dan pipi Ji yeon dengan hati-hati.

Kyung ho, suami Soo young menepuk pundak Si won.

“Sepertinya kami akan datang lebih sering untuk menghadiri pesta ulang tahun.”

Kalimat itu mengundang tawa semua orang. Tiffany salah tingkah dibuatnya.

“Haha. Gwenchana, tidak masalah jika kita berkumpul karena hal baik.” Tambah Hyo yeon. Para pria pun kembali pada obrolan dan makanan mereka.

“Oh ya, Fany-ah. Kapan kau berencana untuk memiliki anak?”

Pertanyaan Yuri membuat meja yang ditempati para wanita itu terasa hening. Yoona tertawa canggung di sebelahnya.

“Unnie, kenapa kau bertanya seperti itu?” Bisiknya kemudian sembari menyenggol bahu Yuri. Memang dulu membahas anak bagi Tiffany adalah hal yang menakutkan. Namun sebagian dari mereka merasa jika Tiffany sudah mulai menyukainya.

Tiffany menggigit bibirnya lalu menundukkan wajah.

“Aku tidak tahu.”

Hyo yeon tersenyum sembari memainkan gelas di tangannya.

Gwenchana. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Anak-anak lahir ke dunia untuk menyempurnakan kebahagiaan orang tua. Kau akan tahu betapa berharganya mereka setelah memilikinya.”

“Memang terkadang menyebalkan karena kita pasti akan dibuat sibuk. Tapi, melihat tawa dan canda mereka akan membuatmu berenergi kembali.” Tukas Sunny melanjutkan.

“Benar. Melihat mereka tumbuh dan berkembang dari hari ke hari akan membuatmu benar-benar merasa menakjubnya. Wanita yang sebenarnya.” Tambah Tae yeon bergabung.

Yoona dan Seo hyun yang belum menikah dan memiliki anak pun mengangguk. Menerima setiap masukan dari sahabat mereka yang sudah berpengalaman.

Yoona memegang tangan Tiffany.

“Tidak perlu takut, Unnie. Si won Oppa dan kami bersamamu.”

Tiffany menatap sahabatnya satu persatu. Mereka tersenyum dan saling berbagi tatapan hangat.

Gumawo.” Ucap Tiffany tulus. Yang lain mengangguk dan tersenyum. Soo young mengulurkan kedua tangannya. Satu persatu dari mereka menggenggam tangan dari masing-masing sosok di sebelah mereka. Mereka tertawa bersama.

“Ah, aku sangat senang karena kita semua bisa berkumpul. Sekali lagi, ini semua berkat anak-anak yang manis.”

Semuanya mengangguk setuju dengan Sunny. Untuk pertama kalinya di tahun ini, dalam acara ulang tahun mereka semua bisa hadir. Karena biasanya, ada satu atau pun dua orang yang tidak bisa datang karena sibuk dengan pekerjaan. Namun tidak dengan Yoona. Gadis itu tampak tersenyum masam.

Jjinja? Apa kalian tidak merasa ada yang kurang?”

Semuanya mendadak bungkam. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati masing-masing. Sampai akhirnya Seo hyun yang ingin meneguk air mineralnya menjatuhkan gelasnya dan berujar…

“Sica Unnie…”

Kalimat itu seperti petir di siang bolong. Mereka semua menoleh kearah pandang Seo hyun dengan raut wajah terkejut dan jantung yang berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Disana, tepatnya di dekat pintu gerbang, seorang wanita modis berdiri mematung menatap mereka. Seorang gadis kecil berkepang satu juga terlihat bersamanya.

“Unnie!”

Yoona tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis lalu berlari untuk memeluk Jessica. Wanita berambut cokelat itu tidak berbuat apa-apa. Dia masih terlalu takut menghadapi teman-temannya kembali setelah sekian lama. Terlebih setelah melihat bagaimana reaksi mereka sekarang. Mungkin mereka masih belum bisa menerimanya. Dan belum tepat bagi dirinya untuk muncul.

“Unnie, kau kemana saja? Kau tahu betapa kami semua merindukanmu?”

Tae yeon memalingkan wajahnya. Tangannya terangkat untuk menghapus air matanya yang mengalir jatuh. Soo young dan Sunny yang sudah lebih dulu menangis meraih tissue terdekat. Hyo yeon tertawa begitu sadar matanya sudah penuh dengan air mata yang siap keluar. Sementara Seo hyun sudah lebih dulu menangis di bahunya.

Tiffany menggenggam tangan Yuri dan tersenyum. Ia kemudian bangkit mendekati Jessica yang masih dipeluk erat oleh Yoona. Para pria melihat hal itu. Mereka tidak berbuat apa-apa karena tidak ingin mengganggu.

“Selamat datang kembali, Sica-ya.”

Jessica tidak bisa menahan tangisnya ketika Tiffany ikut memeluknya dengan hangat. Tangis ketiganya semakin keras begitu Yuri bergabung. Tak mau ketinggalan, Soo young, Tae yeon, Sunny, Hyo yeon dan Seo hyun pun bangkit dan mereka pun berpelukan.

“Appa, bukankah itu Jessica Aunty dan putrinya Aleyna? Teman Oemma yang tinggal di California.”

Tae young yang sudah berada di dekat Appanya bertanya. Para pria yang mendengar hal itu saling lirik dan tersenyum. Si won pun menjawab.

“Kau benar, Tae young-ah.” Jawabnya kemudian.

“Maafkan aku.”

Jessica berujar lirih dalam pelukan 8 sahabat baiknya. Saudara yang takkan tergantikan.

Gwenchana. Tidak ada gunanya jika kita terus mengingat masa lalu.” Kalimat Tae yeon disambut anggukan setuju yang lain. Pelukan mereka satu sama lain semakin erat diiringi tangis bahagia. Setelah dirasa cukup, mereka pun melepas pelukan itu. Sunny berjongkok dan menggapai tangan mungil yang dari tadi berdiri di dekat mereka dan memperhatikan dengan bingung.

Aigo. Aleyna?”

Ne. Annyeong haseyo, Sunny Aunty.”

Sunny tersenyum dengan mata yang kembali basah. Gadis itu memeluknya dan dibalasnya dengan hangat.

“Dia cantik sepertimu, Unnie.” Tukas Yoona. Yang lain mengangguk setuju.

“Ayo, Unnie. Sebaiknya kita duduk.” Ajak Seo hyun.

Jessica membungkuk memberi salam pada para pria sebelum duduk bersama para sahabat yang amat ia rindukan. Selama lima belas tahun, mereka bersembilan adalah sahabat baik yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun. Semakin dewasa, masalah yang tumbuh semakin rumit namun mereka bisa mengatasinya. Namun, ketika cinta datang, mereka mulai terpecah. Saat itu, Tae yeon memiliki kekasih namun Jessica juga menyukainya. Ternyata, pria itu juga menyukai Jessica. Mereka berhubungan tanpa sepengetahuan yang lain sampai akhirnya Sunny memergoki mereka di sebuah restoran.

Semenjak kejadian itu, hubungan mereka memburuk. Puncaknya, setelah pria itu memutuskan untuk bersama Jessica dan meninggalkan Tae yeon. Mereka pindah ke New York dan menikah disana tanpa mengundang siapa pun. Pasti terbayang bagaimana sakitnya Tae yeon dan para sahabatnya yang lain.

Enam tahun berlalu. Bagi Tae yeon dan yang lain, semua itu hanyalah masa lalu. Namun bagi Jessica, hal itu sangat mengganggu dan menyakitinya. Dan jika lebih lama, ia tidak akan bisa bertahan hidup mengingat kesalahannya.

“Aku minta maaf karena merusak acara kalian.”

Jessica berucap sembari menatap satu persatu sahabatnya. Tangan Yoona tak lepas menggenggam tangannya.

Gwenchana. Kami senang karena kalian baik-baik saja.” Balas Yuri.

“Itu benar.” Tambah Soo young.

Hyo yeon mengangguk.

“Kau tahu kenapa dulu kami sangat marah?” Tanya Hyo yeon kemudian melanjutkan.

“Karena kami takut semua itu hanya cinta sesaat. Tapi karena sampai saat ini kalian masih bersama dan bahagia, kami ikut senang. Percayalah.”

“Mungkin sudah takdirnya seperti ini. Tae yeon juga menemukan pria yang lebih baik untuknya. Andai kalian tidak pergi dan kami tidak menjauh, hubungan kita tidak akan sesulit dan sesakit ini.” Komentar Tiffany pula disambut persetujuan yang lain.

Soo young tersenyum dan menggenggam tangan Jessica yang duduk berhadapan dengannya.

“Ah, aku rindu waktu kita belanja bersama.” Ucapnya. Sunny tertawa.

“Kau tahu betapa kami sangat merindukannmu, Unnie? Harusnya kau kembali sejak dulu. Unnie tahu, selalu ada kekosongan ketika kami bersama tanpamu.” Komentar Seo hyun dengan suara bergetar. Ia ingin menangis saking bahagianya.

“Maaf. Aku hanya terlalu takut dan malu untuk bertemu kalian.”

“Berhentilah minta maaf, Jung Soo yeon!” Protes Yuri sebal. Bermaksud mencairkan suasana yang kembali melankolis. Mereka tertawa dan saling memberikan tissue satu sama lain untuk menyeka air mata yang kembali keluar.

“Bagaimana dengan Hana dan Ji yeon? Ku harap mereka tumbuh dengan baik.”

Semuanya mengangguk sebagai jawaban. Namun Soo young sepertinya menyadari sesuatu.

“Tunggu, kenapa kau mengetahui nama bayiku dan Tae yeon?” Tanyanya. Semuanya ikut bingung dan menatap Jessica. Wanita berambut cokelat itu tersenyum kecil.

“Sebenarnya, aku men-stalker akun SNS kalian.” Jawabnya dengan senyum yang tertahan. Sontak, pandangan Tae yeon langsung menuju Sunny. Dia ingat ketika Sunny menyapa Aleyna padahal mereka belum pernah saling mengenal dan bertanya kabar.

Sunny yang menyadari hal itu tertawa.

“Aku, sebenarnya diam-diam juga mengikuti akun SNS Jessica.” Akunya malu. Hyo yeon tertawa dengan buah anggur di mulutnya.

“Aku juga.” Akunya pula.

“Aku juga.” Imbuh Seo hyun.

Tiffany, Yoona, Tae yeon, Yuri dan Soo young saling pandang lalu tersenyum. Mereka semua melakukannya.

Sembilan sahabat itu tertawa. Meski mereka saling diam dan menjauh namun nyatanya mereka selalu bersama lewat dunia maya.

Acara makan siang masih berlanjut dengan obrolan riang. Anak-anak sangat senang karena mereka memiliki teman baru. Ji hoon dan Junse sempat bertengkar karena berebut mainan. Namun sebagai yang tertua, Tae young mampu menangani masalah tersebut membuat para orang tua bangga.

Tiffany memperhatikan kumpulan foto-foto kebersamaan mereka ketika menghadiri pesta ulang tahun putra ketiga Hyo yeon minggu lalu. Yoona mengantarkan album fotonya kemarin. Dia senang karena pesta itu membawa Jessica kembali bersama mereka. Suami Jesica juga menyusul ke Korea dan bertemu mereka untuk minta maaf. Walau sebenarnya keduanya tidak perlu melakukannya namun Tiffany dan yang lain senang karena mereka bisa kembali seperti dulu.

Tiffany membalikkan halaman demi halaman. Hal berikut yang menjadi pusat perhatiannya adalah senyum dan tawa anak-anak yang polos. Entah kenapa dia tidak berhenti untuk tersenyum kala melihatnya.

Tiffany menggigit bibirnya. Obrolan ditengah makan siang mereka
waktu itu selalu mengusik pikirannya. Mungkinkah sekarang sudah waktunya ia memiliki buah hati?

Punggung sofa menjadi pilihan Tiffany untuk bersandar. Diletakkannya album foto itu dan memejamkan mata. Dia butuh tidur dan beristirahat.

 

***Sifany***

 

Bagi Si won, semakin hari Tiffany tampak semakin aneh.  Istrinya itu menjadi suka melamun dan hanya bicara seadanya. Bahkan saking parahnya, dia tidak akan bersuara jika Si won tidak memulai percakapan diantara mereka.

Si won sudah menelfon Yoona, bertanya pada gadis itu apakah terjadi sesuatu selama Tiffany mengunjungi café gadis itu akhir-akhir ini. Namun Yoona berkata tidak ada hal yang serius. Mereka hanya mengobrol dan mengantar keluarga Soo young dan Sunny ke bandara.

Si won masuk ke kamar dengan segelas air putih di tangannya. Tiffany baru saja selesai mengikat tali gaun tidurnya ketika pria itu menghampiri.

Tiffany menerima gelas yang disodorkan Si won dan meminumnya hingga setengah. Setelah selesai, diletakkannya gelas itu di meja nakas lalu naik ke ranjang. Si won mengikutinya. Dia duduk di hadapan Tiffany yang bersandar di kepala ranjang.

“Apa hari ini terasa melelahkan?”

Tiffany menatap Si won kesal. Pria itu tertawa. Jelas saja Tiffany kesal dengan pertanyaannya. Istrinya itu tidak melakukan apa-apa yang membuatnya merasa lelah. Tapi ia tahu, ada hal yang mengganggu pikiran wanita cantik itu.

Si won meraih tangan kanan Tiffany. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap punggung telapak tangan sang istri.

“Katakan, apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

Tiffany hanya diam.

“Fany-ah, sejak kapan kau tidak terbuka seperti ini, hm?”

Tiffany menatap mata Si won. Dia merasa lebih baik setelah menatap mata pria itu.

“Oppa.”

Hm?”

Si won bergerak lebih dekat padanya. Ia menunggu. Tiffany menundukkan wajahnya. Tak ingin memperlihatkannya pada Si won.

“Aku…”

“Hm?”

“Aku, ah, ottokke?”

Si won tertawa dibuatnya. Tingkah istrinya sungguh menggemaskan. Tiffany berbaring dan menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut. Meninggalkan Si won yang masih belum berhenti untuk tersenyum.

Wae, kau ingin mengatakan sesuatu?”

Terlihat Tiffany mengangguk di bawah selimut.

“Katakan saja, hm?”

Si won menunggu cukup lama sampai Tiffany kembali bersuara.

“Aku, akan mencobanya.”

Kening Si won berkerut. Mencoba? Mencoba apa?

“Fany-ah, bicaralah yang jelas, okay? Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”

Dengan ragu, Tiffany menyingkirkan selimutnya. Bisa ia lihat jika Siwon menunggu jawaban darinya.

Tiffany menggigit bibirnya. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dipikirannya. Setidaknya untuk hal yang satu ini.

“Fany-ah,”

Tiffany menghela nafas. Ia mendekat dan memeluk leher Si won. Pria itu diam saja. Membalas pelukan wanita yang dicintainya itu dengan hangat dan menunggu apa yang begitu sulit untuk ia ungkapkan.

“Aku minta maaf atas semua keegoisanku selama pernikahan kita. Keluargamu pasti menunggu dengan kesal. Aku, sudah memikirkannya dan kurasa, aku akan mencoba.”

Terjadi jeda untuk beberapa detik. Si won tahu jika Tiffany mencoba untuk menarik nafas agar ia merasa lebih tenang.

“Aku, akan mencoba untuk hamil dan melahirkan.”

Si won terdiam. Wajar jika dia terkejut. Namun dia tidak berkomentar. Dia hanya mempererat pelukannya pada Tiffany.

“Terima kasih.”

Tiffany menggeleng. Dilepaskannya dirinya dari Si won.

Aniyo. Akulah yang pantas untuk berterima kasih. Terima kasih untuk tetap mencintaiku yang egois dan keras kepala.”

Si won tersenyum. Tiffany ikut tertawa seraya menghapus air matanya yang keluar.

“Aku cengeng, ya?”

“Aku menyukainya.”

Tiffany tersenyum. Si won meraih tissue dan menghapus sisa air Tiffany.

“Tidak perlu menangis. Aku mencintaimu dengan semua yang ada pada dirimu. Terima kasih karena mau hidup bersamaku. Dan juga, terima kasih untuk keputusan sulit yang telah kau buat.”

Keduanya saling pandang dan berbagi senyuman. Si won meraih tangan Tiffany lalu berujar…

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Ne?”

Wajah Tiffany bersemu merah. Terang saja ia terkejut dan malu dengan pertanyaan itu. Terlebih setelah melihat senyuman konyol suaminya.

Tangan Si won terangkat untuk menarik tali gaun tidur Tiffany. Menyadari hal itu, dengan cepat Tiffany menahan tangan Si won yang sudah berhasil meraih tali gaun tidurnya.

Wae?” Si won menatap Tiffany heran.

“Aku sedang kedatangan tamu bulanan. Kurasa Oppa harus menunggu hingga lima hari ke depan.”

Mwo?”

Si won memasang mimik wajah yang sangat menyedihkan. Tiffany tertawa sebelum mengecup pipi Si won.

“Selamat tidur, Oppa.”

Tiffany mulai berbaring. Si won akhirnya tersenyum. Kemudian ikut berbaring dan memeluk wanita itu dengan hangat.

 

***Sifany***

 

Semua keluarga dan teman dekat menyambut baik keputusan Tiffany. Semenjak Tiffany hamil, Si won tidak pernah keluar dari rumah jika bukan untuk bekerja. Dia bukannya bersikap berlebihan mengingat Tiffany sekarang sedang mengandung buah cinta mereka. Namun dia tidak bisa meninggalkan Tiffany karena kondisinya tidak cukup baik.

Tiffany sulit sekali untuk makan. Dia tidak mau memasukkan apa pun ke mulutnya karena juga akan dimuntahkan. Ketika usia kandungannya memasuki bulan ketiga, Tiffany sangat drop hingga harus menggunakan infuse selama beberapa hari. Namun Tiffany sama sekali tidak pernah mengeluh karena Si won selalu disisinya. Jika melihat kondisi Tiffany separah ini, Si won mungkin tidak akan mengizinkan Tiffany untuk hamil lagi.

Menginjak bulan ke empat, mual Tiffany perlahan mulai hilang. Jika sebelumnya ia tidak mau makan, di bulan keempat dimana jantung bayinya mulai berdetak, Tiffany kembali bersemangat untuk makan. Si won dan teman-temannya sampai kewalahan memenuhi nafsu makannya.

“Kau ingin sesuatu?”

“Aku, ingin daging-”

“Baiklah.”

Si won langsung mematikan telfonnya. Dia dalam perjalanan pulang kerumah dari kantor. Ia menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membelikan keinginan Tiffany. Si won memilih daging sapi kualitas baik. Begitu mendapatkannya, ia segera pulang karena Tiffany pasti sudah menunggu.

Tiffany turun ke dapur begitu Kim Ahjumma mengatakan jika Si won sudah kembali. Dia mendekati  pantry dimana Si won sibuk dengan belanjaannya.

“Fany-ah, lihat ini. Tenderlion, marbling, beef, semuanya untukmu.”

Tiffany menutup hidungnya. Dengan melihatnya saja ia sudah mual apalagi mencium aromanya?

Tiffany berbalik menuju ruang tengah. Si won yang tak mengerti ikut meninggalkan dapur untuk menyusul Tiffany.

Wae, kau tidak enak badan?”

Si won ikut duduk di sofa bersama Tiffany. Wanita itu memasang wajah sedih.

“Oppa, aku ingin daging.”

Tiffany merengek sembari menarik lengan Si won.

“Tentu. Aku tahu. Aku sudah membelikan yang banyak untukmu. Semuanya kesukaanmu, bukan?”

“Bukan itu. Aku ingin daging yang lain.”

Si won memegang tangan Tiffany, menenangkannya.

“Yang lain? Apa? Daging ayam?”

Tiffany menggeleng.

“Melon.”

Si won terdiam untuk beberapa detik. Daging apa? Si won menghirup nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya. Tenang. Sabar.

Tiffany merengut. Dia baru saja membuka akun SNS-nya dan mendapati Sunny memposting fotonya yang sedang makan buah melon bersama si kembar.

“Sunny sedang makan melon bersama si kembar. Aku ingin melon juga.”

Si won mengangguk. Untung saja yang memperlakukannya seperti ini hanya Tiffany.

“Apa kita tidak memiliki melon dirumah?”

Tiffany mengangguk.

“Tapi aku ingin yang dimakan Sunny.”

“Itu tidak mungkin, Fany-ah. Butuh waktu berhari-hari jika harus mengirimnya dari Dubai ke Seoul. Aku akan membelikannya, okay?”

Si won mencoba membujuknya. Tiffany menggeleng.

“Aku hanya ingin melon yang dimakan Sunny, Oppa.”

Mata Tiffany berkaca-kaca. Itu artinya dia sangat menginginkannya.

Si won merogoh saku celananya dan mencari kontak Sunny. Sekian detik ia menunggu sampai suara di seberang sana terdengar.

“Ne, Oppa. Waeyo?”

“Hm, begini. Sebenarnya ini agak sedikit memalukan.”

Si won menoleh kearah Tiffany. Wanita itu menatapnya penuh harap.

“Aku ingin meminta bantuanmu, Sunny-ah.”

“Apa itu?”

Sunny terlihat penasaran dengan bantuan yang dimaksud Si won. Ia tengah bersantai di sofa sembari menemani si kembar bermain.

“Itu, Tiffany baru saja melihat foto yang kau up-load bersama si kembar.”

“Ah, ye. Kenapa dengan foto itu?”

Sunny menunggu.

“Tiffany, dia menginginkan melon yang kalian makan.”

Omo. Jjinja?”

Wanita berambut sebahu itu tertawa sembari mengawasi putra-putrinya yang asyik bermain. Ia tidak bisa untuk tidak tertawa setelah Si won menjelaskan apa yang telah terjadi.

“Apa kalian masih memilikinya?”

Kembali terdengar suara Si won di seberang sana.

Kurom. Eun-kyu Unnie membelinya dan mengirimkan beberapa.”

Sunny melirik potongan buah melon sisa si kembar di atas meja. Kakak perempuan tertuanya itu membeli melon jenis Yubari dari jepang kemudian mengirimnya dan tiba siang tadi.

“Aku akan mengirimkannya hari ini juga, Oppa.”

Jjeongmalyo? Gumawo, Sunny-ah. Maaf merepotkanmu.”

Gwenchanayo, Oppa. Anak kalian anak kami juga. Aku akan menelfon jasa pengiriman luar negeri sekarang. Eoh. Ne.”

Sunny menutup telfonnya. Hani menatap sang Ibu ketika ia tertawa seorang diri. Gadis kecil berusia 4 tahun itu mendekati Ibunya.

“Hani-ah, Fany Aunty menginginkan buah melon kita. Kau ingin membaginya?”

“Fany Aunty?”

Eoh.”

Sunny mengangguk sembari merapikan anak rambut putrinya. Sang putra pun mendekat.

Gwenchanayo, Oemma. Fany Aunty sangat baik dan cantik. Dia boleh meminta semuanya.”

Sunny tertawa melihat tingkah putra kecilnya itu. Ketika pesta ulang tahun Se hoon beberapa bulan lalu, memang terjadi sebuah interaksi manis antar keduanya. Terlebih ketika Tiffany ikut mengantar mereka ke bandara. Dari situ, siapapun bisa melihat jika Tiffany sebenarnya sudah pantas menjadi seorang ibu.

Ne, Oemma. Aku sayang kedelapan Aunty seperti Oemma.”

Aigo. Anak-anak Oemma pintar sekali. Poppo.”

Dua malaikat manis itu mencium pipi Sunny sayang. Sunny pun membalasnya dengan penuh cinta.

Mulai saat itulah, Sunny yang tinggal di Dubai, Soo young di Jerman, dan Jessica di California rutin mengirimkan makanan serta buah-buahan khas setempat. Terlebih Yoona, Tae yeon, Yuri, Hyo yeon dan Seo hyun yang notabene tinggal di Seoul. Mereka siap membantu Tiffany jika membutuhkan sesuatu.

Dengan bantuan teman-temannya, Tiffany bisa menjalani kehamilan pertamanya dengan lancar. Hingga tiba waktu melahirkan, semuanya cemas di tempat masing-masing. Mereka tahu betapa sulitnya Tiffany diawal kehamilan, jadi mereka berharap Tiffany bisa melahirkan dengan lancar dan mengasuh bayinya dengan baik.

Tepat pukul dua dini hari, Tiffany melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi seberat 3,2 kg dan panjang 52 cm itu lahir normal dan diberi nama Choi Hyun-no atau Chris Choi.

Semua keluarga dan para sahabat bersuka cita. Mereka mengirimkan hadiah dan ucapan selamat dengan berbagai cara. Tiffany pun terlihat bahagia karena ia telah menjadi seorang ibu. Walau masih tergolong ibu muda, namun ia mampu memandikan bayinya dengan baik. Dia bahkan rela untuk tidak tidur saking ia sangat suka memperhatikan putra mungilnya.

Namun semua suka cita itu berubah duka. Pada hari ketiga pasca melahirkan, Tiffany tiba-tiba bertingkah aneh dan tidak wajar. Jika awalnya Tiffany mengasuh bayinya dengan antusias, namun semakin lama ia merasa bosan. Dia tidak punya waktu untuk diri sendiri karena sang bayi. Terlebih di malam hari. Ketika ia mulai menutup mata melepas lelah, bayi itu terbangun dan mengganggunya. Dan yang lebih parah lagi, semua orang mengabaikannya. Tidak hanya keluarga dan sabahat dekat, suaminya saja pulang ke rumah lebih cepat hanya karena merindukan si bayi. Jelas kenapa ia merasa cemburu dan jengkel.

Di hari berikutnya, kelakuan Tiffany semakin membuat Si won heran.  Istrinya itu menolak untuk menyusui Chris. Ia bahkan menangis hanya karena tidak suka mendengar suara tangis bayi di dekatnya.

Si won sudah bicara pada teman-temannya dan berkonsultasi pada dokter. Menurut hasil diagnosa, Tiffany mengalami sindrom baby blues. Sindrom ini biasanya terjadi karena si ibu mengalami perubahan hormon ketika ia hamil dan pasca melahirkan. Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron serta hormon lainnya yang di produksi oleh kelenjar tiroid menyebabkan ibu sering mengalami rasa lelah, depresi dan penurunan mood. Terlebih Tiffany dulunya tidak menyukai anak-anak. Kemungkinan hal itu masih menakutinya. Namun Si won bisa bernafas lega karena menurut dokter dan informasi dari teman-temannya, sindrom ini akan hilang dalam dua atau tiga minggu.

Si won memperbaiki letak selimut Tiffany. Istrinya itu tertidur setelah menangis karena tidak ingin benda apapun yang berhubungan dengan anak-anak di kamar mereka. Semua baju dan perlengkapan bayi lainnya sudah di pindahkan ke kamar lain. Yang tersisa hanya box bayi. Si won tidak memindahkan benda itu dengan alasan ia tidak bisa mengangkatnya seorang diri.

Si won tersenyum kecil seraya menggenggam tangan Tiffany dengan hangat. Jujur saja, Si won adalah orang yang paling terluka melihat Tiffany seperti ini. Ia tahu betapa beratnya bagi Tiffany diawal kehamilan dan melahirkan. Betapa Tiffany sangat menunggu untuk menimang buah hatinya. Melihatnya dengan kondisi seperti sekarang sungguh menyiksa. Ia ingin Tiffany segera sembuh hingga mereka bisa menikmati waktu yang hangat bersama putra mereka.

“Cepatlah kembali seperti semula, hm? Bayi kita merindukanmu.”

Si won mengecup kening Tiffany kemudian keluar dari kamar. Ia menuju kamar Chris dimana Yoona tengah memberi anak itu susu formula. Semenjak Tiffany mulai bertingkah aneh, Yoona memang memutuskan untuk tinggal di sini demi menjaga Chris. Kim Ahjumma tidak bisa selalu mengurus Chris karena harus mengurus pekerjaan rumah.

“Bagaimana Fany Unnie?”

“Dia tidur.”

Si won duduk di ranjang sembari memperhatikan putranya yang meminum susu dengan lahap. Dia kasihan pada bayinya tersebut karena tidak bisa menyusui pada Tiffany. Terlebih bermanja-manja dan digendong sang Ibu.

Yoona yang menyadari bagaimana perasaan kakak sepupunya itu tersenyum.

Gwenchana, Oppa. Fany Unnie juga pasti merindukan bayinya. Dia akan segera sembuh.”

“Kata dokter, butuh dua minggu lagi untuknya bisa membaik. Ini bahkan baru empat hari, aku rasa aku akan gila.”

“Itu menurut dokter. Jika Fany Unnie merindukan bayinya dan bayi ini membutuhkan ibunya, apa Tuhan akan diam saja?”

Si won menatap Yoona penuh terima kasih. Dia sangat beruntung memiliki adik sekaligus sahabat yang baik. Yang selalu ada dan menguatkannya.

“Terima kasih, Yoong.”

“Soo young Unnie kembali ke Korea besok lusa. Mereka akan menghadari acara peringatan kematian kakeknya Kyung ho Oppa sekaligus menegok Chris dan Fany Unnie.”

Si won mengangguk.

“Baiklah.”

“Tetap kuat, Oppa. Fany Unnie dan Chris mengandalkanmu.”

“Hm. Sekali lagi terima kasih.”

“Chris sepertinya sudah tidur. Oppa kembalilah ke kamar. Aku akan tidur bersama Chris.”

Si won membantu Yoona merapikan tempat tidur dan selimut bagi Chris. Anak berkulit putih dengan lesung pipi itu tersenyum dalam tidurnya.

“Selamat malam, sayang. Berdoalah agar Mommy-mu cepat sembuh, hm?”

 

***Sifany***

 

Annyeong haseyo.

Soo young masuk dengan beberapa paperbag di tangannya. Sepertinya beragam hadiah untuk Chris juga Tiffany. Dibelakang, terlihat suaminya menggendong Hana.

Omo. Jjinja kyeopta.”

Soo young tak bisa menahan dirinya begitu melihat Chris yang berada digendongan Yoona. Segera diletakkannya tas dan beberapa paperbag berisi hadiahnya untuk mengambil Chris dari Yoona. Bayi tampan itu tidak menangis ketika berada digendongan orang baru.

“Wah, jjinja yeoppota. Oppa.”

Soo young berseru senang. Langsung ditunjukkannya wajah bayi mungil berkulit putih bersih itu begitu Kyung ho mendekat. Mata Hana melihat bayi lain yang digendong Mommy-nya.

Otte, Hana-ya, tampankan?”

Anak berusia satu tahun dua bulan itu tertawa. Tangannya bergerak untuk meraih wajah Chris.

“Kyaa!”

Yoona dan Soo young berteriak kompak ketika Hana menarik hidung Chris dengan kelima jari tangan kanannya. Soo young segera menjauhkan Chris dari putrinya. Mereka tertawa.

Ya, kau tidak bisa mencubit bayi yang baru berumur kurang dari seminggu, arasso?” Peringat Soo young gemas pada putrinya. Yoona tertawa dan meminta Hana dari Kyung ho.

Omo. Hana-ya, kau ingat Aunty? Aigo, kau tumbuh dengan cepat, ya?”

“Dimana Si won?”

Kyung ho bertanya setelah ia duduk di sofa bersama Soo young yang asyik dengan Chris.

“Si won Oppa menemani Fany Unnie jalan-jalan di sekitar taman agar ia tidak bosan.”

Soo young sontak mengangkat wajah. Dari raut muka dan pancaran matanya jelas ia sangat mencemaskan keadaan Tiffany.

“Bagaimana dengan Tiffany, Yoong? Apa keadaannya sudah membaik?”

Yoona menghela nafas. Lalu mengambil tempat di single sofa. Kemudian mendudukkan Hana di pangkuannya.

“Masih belum terlalu baik. Tapi sudah ada sedikit kemajuan. Unnie tahukan jika mood-nya selalu berubah? Kemarin Fany Unnie tidak apa-apa ketika aku membawa Chris bermain di hadapannya. Aku dan Si won Oppa sangat lega karena kami pikir kondisinya sudah membaik. Namun tadi saat sarapan, Chris tiba-tiba menangis karena haus. Aku sedang membuatkan susu formula ketika Fany Unnie juga memangis karena tidak suka mendengar tangisnya.”

Kyung ho dan Soo young hanya terdiam. Mereka ikut prihatin dan berharap Tiffany segera membaik.

“Hyo yeon Unnie juga akan datang sebelum jam makan siang. Tetaplah di sini sampai sore, Unnie.”

Eoh. Tenang saja.”

“Kalian sebaiknya istirahat, Unnie. Aku sudah siapkan kamar.”

Aniyo. Aku ingin bersama Chris dulu. Oppa, jika kau lelah dan ingin tidur, pergilah.”

Gwenchana. Aku akan berkeliling saja. Kalau sudah mengantuk aku akan tidur.”

***Sifany***

 

Seperti penjelasan dokter, keluarga adalah sosok paling penting untuk kesembuhan Tiffany. Sebab itu, Si won selalu berada di sisinya dan membantunya untuk tetap memperhatikan bayi mereka. Walau Tiffany tidak akan menyukai, Si won percaya dia harus melakukannya. Dia harus bertindak cepat jika ingin Tiffany segera membaik. Sebelum kondisinya berubah menjadi lebih parah hingga ia tidak menginginkan bayi mereka. Sebelum gejala ini berubah menjadi stress hingga depresi.

Otte? Dia tampan, bukan?”

Mata Tiffany memperhatikan bayi yang tertidur lelap di atas ranjang dengan bantal dikedua sisinya. Si won merangkul Tiffany. Dia tidak ingin Tiffany berlama-lama dengan kondisi seperti ini. Dia juga harus bertindak jika ingin Tiffany segera pulih. Hingga mereka bisa merawat bayi mereka bersama-sama.

“Lihat, dia memiliki bibir yang sama denganmu.”

Mata Tiffany bergerak memperhatikan bibir merah bayi itu. Sang bayi tersenyum dalam tidurnya.

Jjinja?”

Tiffany bertanya. Seolah tak percaya jika bayi itu mewarisi bibirnya.

Kurom. Jika dia terbangun dan matanya terbuka, kau juga akan tahu jika mata kalian sama indahnya.”

Tiffany mendongak untuk menatap Si won. Pria itu membalas tatapannya dan tersenyum lembut. Tiffany kembali menunduk dan memeluk Si won.

“Oppa, aku lelah. Aku ingin tidur.”

“Tentu. Ayo, kita ke kamar.”

Si won merangkul Tiffany keluar dari ruangan itu. Di ruang tamu, terlihat Yoona tengah mengobrol dengan dua orang wanita.

“Unnie, Tae yeon Unnie dan Sica Unnie berkunjung.”

Tiffany mengedarkan pandangannya dan tersenyum pada dua wanita itu.

Karena khawatir Tiffany akan kelelahan, mereka memilih mengobrol di kamar.  Tiffany akhirnya melupakan rasa lelahnya dan asyik bercanda dengan para sahabat. Mereka menghabiskan waktu santai bersama. Kehadiran Jessica membuat mereka lebih ceria dari biasanya. Jessica memang memiliki agenda di Seoul minggu depan. Namun ia mempercepat kedatangannya karena ingin melihat kondisi Tiffany.

“Kemarin aku bertemu Soo young. Kau sudah bertemu dengannya?”

Jessica yang sedang mengupas apel bertanya. Sambil mengunyah daging buah apelnya, Tiffany yang duduk di ranjang mengangguk.

Eoh. Dia berkunjung dua hari yang lalu bersama Hyo.”

“Ku dengar mereka akan tetap disini sebulan kedepan.” Tae yeon berujar.

Ne. Katanya Kyung Ho Oppa memiliki pekerjaan disini.”

Tae yeon tersenyum. Dia senang melihat Tiffany sudah kembali ceria. Namun tetap saja, wanita itu lupa jika ia telah memiliki seorang bayi. Sebagai teman, Tae yeon sangat prihatin atas kondisi Tiffany sekarang. Kenapa ia malah sakit setelah ia mulai membuka hati untuk anak-anak hingga memilikinya?

“Akh!”

Tiffany memegang dadanya yang terasa perih. Dia memang sering merasakannya hingga membuatnya sangat tidak nyaman.

Wae?” Cemas dengan kondisi sahabatnya, Tae yeon pun bertanya. Jessica ikut menatapnya khawatir.

“Apa terasa nyeri? Ini karena kau tidak menyusui. Kau harus menyusui agar bayi dan dirimu tetap sehat, Fany-ah.”

Tiffany sontak menatap Tae yeon tajam. Seolah kalimat yang baru terucap itu sangat menyinggungnya.

“Apa yang kau bicarakan?”

Jessica menggigit bibirnya. Dia takut terjadi sesuatu antara keduanya. Tae yeon tahu jika Tiffany marah namun dia ingin Tiffany segera membaik. Dia tidak ingin Tiffany terus seperti ini dan mengabaikan kehadiran putranya.

“Fany-ah, aku tahu ini sulit untukmu. Tapi cobalah untuk menerimanya dengan perlahan. Ingat, kau sekarang seorang ibu. Kau memiliki bayi yang harus kau utamakan.”

“Kim Tae Yeon!”

“Sadarlah, Tiffany! Kau hanya menyiksa bayimu dan semua orang, arra?”

Mwo?”

Tiffany terlihat sangat tidak suka dengan keadaan sekarang. Ia berusaha mengontrol dirinya karena ia tidak ingin semakin sakit. Ia juga sudah lelah dengan semua ini. Dia memiliki seorang bayi tapi dia tidak bisa berada di dekatnya.

“Fany-ah,”

Jessica mendekat untuk menenangkannya. Namun Tiffany melempar mereka dengan bantal. Diusirnya dua wanita itu untuk menjauh darinya.

“Keluar. Aku tidak ingin melihat kalian.”

“Fany-ah,”

“Keluar!”

Tiffany memekik kuat. Kepalanya perlahan menunduk lalu menangis kencang.  Dia tidak tahu dengan apa yang telah ia lakukan.

Tae yeon mendekat untuk memeluknya. Tiffany balas memeluknya dan menangis kencang di perut wanita itu.

“Maafkan aku. Maafkan aku.”

Gwenchana. Gwenchana. Kami tidak marah sama sekali, hm?”

Tae yeon menepuk pundak Tiffany halus. Jessica mengusap air matanya yang mengalir jatuh dan segera keluar. Si won dan Yoona yang mendengar teriakan Tiffany pun mendekat.

“Ada apa? Kenapa Tiffany berteriak?”

“Unnie, ada apa dengan Fany Unnie?

Jessica tidak menjawab. Mereka hanya diam mendengar dua wanita di dalam sana menangis bersama.

Yoona menurunkan sendok dari mulutnya ketika Tae yeon muncul di dapur. Si won dan Jessica ikut menatapanya.

“Bagaimana Tiffany?”

“Dia sudah tidur.”

Tae yeon menarik kursi kemudian duduk. Jessica memberikannya segelas air mineral.

“Tolong maafkan Tiffany, Tae yeon-ah. Dia tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”

Gwenchanayo, Oppa. Kami sudah berteman selama lima belas tahun. Teriakan dan cacian bukanlah masalah. Terlebih dengan kondisinya sekarang. Aku hanya berharap Tiffany cepat sembuh. Dia pasti merindukan bayinya.”

“Bukankah kemarin dokter datang?” Jessica bertanya pada Si won. Pria itu mengangguk.

“Lalu, apa katanya?” Tanya Tae yeon penasaran.

“Sudah lebih baik.” Yoona menjawab dan Si won melanjutkan.

“Kata dokter tidak perlu buru-buru. Walau bagaimana pun juga Tiffany seorang Ibu jadi, dia pasti memiliki kontak batin dengan Chris. Karena itu, dia tidak akan berdiam diri. Dia juga pasti berusaha dengan kuat untuk bisa berada di dekat Chris.”

Semuanya mengangguk. Mereka meyakini itu. Meski terlihat tidak suka namun adakalanya Tiffany juga memperhatikan tingkah laku putranya dari jauh. Walau itu hanya hal kecil tapi mereka optimis jika Tiffany akan sembuh lebih cepat.

 

***Sifany***

 

Tangis bayi terdengar dari kamar Tiffany dan Si won. Chris tidur di kamar mereka karena Si won menginginkannya. Masih dengan piyamanya, pria itu dengan cepat bangun untuk menenangkan jagoan kecilnya. Sementara Tiffany masih meringkuk nyaman di ranjang empuknya. Tidak peduli dengan bayi tak berdosa itu.

Si won mendekati Tiffany yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Disingkapnya selimut tebal yang menutupi sebagian wajah cantik itu.

“Fany-ah,” Panggil Si won lembut. Mata itu terbuka pelan meski terkesan di paksakan.

“Chris menangis, kau tidak  ingin menyusuinya?”

Tiffany kembali menutup matanya.

“Oppa, rasanya aneh dan menggelikan. Lagi pulakan ada susu formula. Minta Kim Ahjumma saja yang menyiapkannya.” Suruh Tiffany dengan mata yang masih terpejam.

“Asi seorang ibu jauh lebih baik, Fany-ah. Kau ingin anak kita tumbuh sehat bukan?”

“Oppa, susu formula yang dijual di supermarket juga bagus. Kalau tidak pemerintah tidak akan mengeluarkan izin jual produk itu.”

Si won memperhatikannya dalam diam. Sadar jika Si won marah atas sikapnya, Tiffany pun duduk. Wajahnya menunduk dengan tangis yang siap keluar. Mood dan emosinya memang sering kali berubah. Tapi setidaknya kondisi Tiffany sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Mianhe.”

Gwenchana. Aku akan turun dan membuatkan susunya. Kau kembalilah istirahat.”

Si won menghilang dari balik pintu. Tiffany mendongak dan menyesali perbuatannya. Dia bukannya tidak ingin melakukan apa-apa. Dia juga ingin menggendong bayinya. Tapi apa yang harus ia lakukan jika mendengar tangis bayi itu saja membuatnya takut?

 

***Sifany ***

 

Tiffany keluar dari kamar mandi lengkap dengan bathrobe warna putih membalut tubuh polosnya. Langkahnya menuju lemari pakaian terhenti ketika menyadari sesuatu di atas ranjang.

Eoh, dia di sini?”

Tiffany bertanya pada diri sendiri. Ia kemudian naik ke atas ranjang memperhatikan Chris yang terbangun  dan sesekali tersenyum.

“Ah, kyeopta.”

Tiffany mencubit gemas pipi anaknya. Namun senyum indahnya memudar ketika menyadari suatu hal.

Aish! Dasar anak tidak tahu balas budi. Kau tahu, Mommy yang menderita karena hamil dan melahirkanmu. Kenapa kau malah lebih mirip Choi Si won?”

Tiffany protes. Kenapa hanya mata dan bibir anak itu yang mirip dengannya? Namun bayi berusia kurang dari dua minggu itu tidak mengerti dengan ucapan wanita berambut hitam yang ada di hadapannya. Dia hanya tersenyum seolah Mommy-nya yang cemberut itu tengah mencoba berakting cute di hadapannya.

Prot!

Tiffany menajamkan indera penciumannya.

Augh! Oh My Gosh! Chris, what are you doing?!” Kesal Tiffany seraya menutup hidungnya. Anak itu poop.

“Ahjumma!”

Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Tiffany. Yoona memang sudah kembali ke rumahnya karena Si won tidak ingin terlalu merepotkan gadis itu.

Ne, Nyonya.”

“Chris poop, ganti popoknya.”

Kim Ahjumma mengangguk mengerti. Setelah mengambil celana dan diapers merek ternama yang baru, Kim Ahjumma segera menggantinya. Wanita paruh baya itu tersenyum. Dari sudut matanya, dia bisa melihat Tiffany berdiri sambil menutup hidungnya dengan radius 3 meter dari tempatnya dan sang bayi.

“Kau tidak merasa jijik, Ahjumma?” Tanya Tiffany heran. Kalau dia yang ada disana,  dia pasti sudah muntah-muntah sejak tadi.

“Ini hanya kotoran anak kecil Nyonya. Lagi pula, Tuan muda Chris-kan anak Nyonya sendiri, harusnya Nyonya tidak merasa seperti itu.”

Tiffany memutar bola matanya tak peduli.

“Tetap saja namanya kotoran.” Gumannya.

“Kalau sudah selesai letakkan Chris dalam kereta bayi lalu bawa ke taman belakang. Aku ada di sana.” Suruh Tiffany bersiap untuk mengganti baju. Ahjumma mengangguk dengan senang hati. Untuk pertama kalinya, Tiffany ingin bersama Chris.

Tiffany memandangi wajah damai Chris yang tertidur pulas. Cahaya matahari yang pagi itu tampak cerah seolah tidak sanggup mengganggu tidur nyenyaknya. Apalagi sekarang mereka tengah duduk di sebuah pohon rindang nan sejuk.

Tiffany bingung. Kenapa dari dulu dia tidak menyukai anak kecil padahal mereka sangat suci bak malaikat seperti ini. Tiffany menggeleng cepat. Tidak! Ini karena Chris masih bayi. Coba kalau sudah bisa berjalan dan bicara. Pasti sangat merepotkan sekaligus menyebalkan. Dan kenapa juga dia bersama bayi itu disini?

“Huft!”

Tiffany menghembus nafasnya dengan kasar lalu bangkit dari duduknya. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh pot bunga yang terletak di sebelahnya dan…

Oh no! Chris!”

Tiffany terlambat. Pot bunga itu menghantam wajah super tampan putranya dan meninggalkan luka di keningnya.

Si won masuk ke kamar setelah mengantar dokter yang menangani Chris keluar. Dia tersenyum sinis melihat wanita yang sejak tadi hanya menangis disisi ranjang.

“Kenapa menangis, bukankah ini yang kau inginkan?”

Tangis Tiffany terhenti. Kalimat dingin itu sanggup membuat tangis yang sejak tadi susah ia hentikan terhenti seketika.

“Oppa, apa yang kau bicarakan?” Tiffany tak mengerti. Apa maksud pria itu?

“Tidak perlu pura-pura. Kau sengaja melakukannya, bukan? Astaga Tiffany, aku tahu kau tidak menyukainya tapi aku tidak menyangka kalau kau akan bertindak sekeji ini.”

Mwo? Oppa, kau pikir aku sengaja?”

Tiffany benar-benar tidak percaya jika Si won akan menilainya serendah itu. Dia seorang ibu. Dia yang mengandung dan melahirkannya. Dan karena kecerobohannyalah anak itu terluka. Tidak tahukah pria itu kalau dia sangat menyesal?

“Choi Si won. Harusnya kau tahu kalau aku orang yang melahirkannya. Jika aku tidak pernah menginginkannya, aku sudah menyingkirkannya dari dulu sejak tahu kalau dia tumbuh di rahimku!”

“Lihatlah, kau bahkan sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahmu.”

“Cukup, Si won!” Pekik Tiffany menutup kupingnya. Dia tidak ingin mendengar apapun saat ini.

Ne. Aku benci dia, aku benci kau dan aku benci kalian. Kau puas?!”

Tiffany berlari keluar dari kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Tidak percaya jika Si won akan berkata sejahat itu terhadapnya.

Si won menghela nafas berat. Dia terduduk lemah di ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menyesali dirinya yang telah membentak hingga membuat Tiffany menangis. Dia tahu dia sudah keterlaluan. Walau Tiffany sedang dalam kondisi tidak baik tapi dia yakin kalau Tiffany tidak bermaksud menyakiti buah cinta mereka.

 

***Sifany ***

 

Tiffany memejamkan matanya ketika mendengar suara derap langkah kaki mendekati ranjang. Langkah kaki itu tidak terdengar lagi dan berganti dengan sebuah tangan yang melingkar di perutnya.

“Maaf.”

Si won memeluk wanita yang kini berbaring memunggunginya itu.

“Aku terlalu emosi melihat Chris terluka. Aku membentakmu dan berkata kurang pantas. Maafkan aku.”

“Aku tahu kau menyayanginya. Hanya saja kau tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Terlebih dengan keadaanmu yang sekarang. Tidak perlu terburu-buru. Dengan berjalannya waktu, kau juga akan terbiasa.”

“Dia buah cinta kita, Fany-ah. Tidakkah kau ingin memberikan seluruh waktu dan hidupmu untuknya? Semua orang tua melakukan hal yang sama. Mereka hanya hidup untuk anak-anak mereka.”

Si won mengangkat kepalanya untuk memperhatikan wajah cantik istrinya. Pria itu tersenyum lembut. Ditariknya selimut hangat mereka hingga sebatas leher Tiffany.

“Tidurlah, jika itu membuatmu merasa lebih baik.”

Si won memberikan kecupan singkat pada pelipis Tiffany. Wanita itu tersenyum kecil sebelum memutuskan untuk benar-benar tidur.

 

***Sifany***

 

Tiffany menyingkap gorden berwarna putih di hadapannya lalu mengintip dari jendela kamar. Ia mendesah kecewa. Si won, pria itu baru saja berangkat ke kantor. Tanpa pamit dan mengecup keningnya. Apa Si won masih marah? Setahunya pria itu semalam baik-baik saja. Ya, walau dia mengacuhkannya.

“Oee…Oee…”

Tiffany dengan cepat menoleh ke atas ranjang. Dia terlihat takut. Chris menangis!

“Ah, oetteokke.

Tiffany panik bukan main. Dia tidak ingin mendengar tangis bayi yang menyebalkan. Ia ingin segera menjauh dari sana. Namun ia tidak melakukannya. Entah kenapa, ia malah mendekat. Meraih sebuah majalah fashion miliknya lalu mengipas-ngipas Chris agar anak itu diam. Tapi bukannya diam, tangisnya malah makin menjadi-jadi.

Tangan Tiffany gemetar dan berusaha untuk menyentuh lengan bayi itu. Namun dia terperanjat karena sang bayi menangis semakin kencang dan menangkis tangannya. Perkataan Si won semalam teringat olehnya. Ya, dia seorang Ibu dan Chris adalah anaknya. Tapi, apa yang harus ia lakukan?

“C-chris, diamlah, eoh? Daddy-mu sedang ke kantor, Ahjumma juga ke supermarket jadi tidak ada yang akan menenangkanmu.”

“Oee….Oee …”

Tangis itu makin hebat saja. Tiffany pun  tidak tega melihatnya. Haruskah dia melakukan sesuatu? Tapi apa?

“Oh, bagaimana kalau ku buatkan susu saja.”

Tiffany memutuskan untuk membuat susu. Dia sama sekali tidak yakin jika harus menyusui bayi itu jadi menyiapkan susu formula merupakan pilihan tepat.

Dengan cepat, Tiffany melesat ke dapur. Proses pembuatan susu ini menjadi sangat lama karena dia tidak tahu susu apa yang biasa dikonsumsi Chris. Belum lagi air yang harus ia gunakan. Apakah air panas atau air dingin? Pilihan Tiffany akhirnya jatuh pada air hangat. Bukan apa-apa, hanya mengandalkan instingnya sebagai seorang Ibu.

Secepat mungkin Tiffany kembali berlari menuju kamar. Sudah tidak terdengar lagi suara tangis Chris. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya?

“Chris!”

Tiffany melompat ke atas ranjang. Seolah mengerti dengan panggilan panik sang Mommy, bayi berkulit putih dengan mata mirip ibunya itu pun menggerakkan dua bola matanya menatap Tiffany. Bayi itu tersenyum membuat Tiffany mendesah lega. Syukurlah bayi itu baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu, bisa-bisa dia dimarahi hebat lagi oleh Si won.

 

***Sifany***

 

Tiffany berbaring di sebelah Chris. Tangannya masih memegang botol susu karena Chris belum mau melepasnya.

Aigo, ternyata kau sangat haus, ya?”

Tiffany terus memperhatikan Chris yang masih asyik menghisap botol susunya. Sesaat, Tiffany terdiam. Apa salahnya dia melakukan hal ini sejak dulu? Meski merasa direpotkan tapi tetap saja melihat senyumnya adalah hal yang tak tergantikan.

Tiffany sadar, dia harus berubah. Mungkin selama ini dia telah banyak menyakiti bayinya. Bagaimana jika saat sudah besar nanti anaknya protes dan tidak mau mengakuinya sebagai Ibu karena tidak pernah memperhatikannya. Kemarahan Si won semalam saja membuatnya takut apalagi anak ini nantinya.

Andwae!”

Tiffany menggeleng. Dia akan gila jika anak yang dia lahirkan sendiri membencinya.

“Maafkan Mommy, Chris. Mulai sekarang, Mommy akan lebih memperhatikanmu.” Tiffany mengecup bibir mungil bayinya sekilas.

I Love You.”

Si won tersenyum penuh syukur dari balik pintu. Pemandangan janggal yang dilihatnya sejak seminggu terakhir. Kini, Tiffany sedang bercanda dengan Chris. Dan anak itu tersenyum dengan riang serta tangannya ikut menggapai wajah dan rambut sang Mommy. Dia senang karena kondisi Tiffany semakin membaik setiap harinya.

Si won kembali menutup pintu. Tidak mau mengganggu moment indah tersebut.

Coffee-nya, Tuan.”

Kim Ahjumma meletakkan secangkir coffee di meja makan. Si won duduk dan mulai menyesapnya.

“Apa yang terjadi hari ini?”

Si won tampak penasaran. Kim Ahjumma tersenyum.

Mollayo. Yang jelas seharian ini mereka hanya bermain dan tertawa. Apalagi tadi siang Nona Yoona, Nona Jessica dan Nona Yuri juga berkunjung. Jadinya rumah sangat ramai.”

Si won tersenyum. Syukurlah, mungkin ini adalah hikmah dari kecelakaan yang menimpa Chris kemarin. Dia juga berharap agar Tiffany bisa kembali pulih sepenuhnya.

 

***Sifany***

 

“Chris sudah tidur?”

Tiffany mengangguk saja ketika Si won mendekati ranjang. Tentu saja dia masih merasa canggung berdekatan dengan Si won setelah pertengkaran mereka kemarin.

“Mau di bawa ke mana, Oppa?”

Tiffany terlihat heran saat Si won  menggendong Chris pergi.

“Mengantarnya ke dalam box, bukankah dia sudah tidur? Apa kalian tidak lelah bermain seharian?”

“Jangan Oppa, biar Chris di sini saja. Aku ingin tidur bersamanya.”

Si won sangat tersentuh sampai air matanya ingin keluar. Namun dia berusaha kuat untuk menahannya. Ini pertama kalinya Tiffany meminta Chris untuk tidur bersama mereka. Jadi dia harusnya tersenyum karena bahagia.

“Padahal aku ingin tidur denganmu. Ah, aku cemburu.” Si won berujar dengan nada pura-pura kecewa.

Ne?” Kaget Tiffany. Dia tersenyum malu sebelum akhirnya memukul paha pria itu dengan bantal.

Shiro! Aku ingin tidur dengan Chris. Letakkan di sini.” Pinta Tiffany. Si won menurut dan ikut berbaring disisi Chris yang tertidur lelap.

“Wah, kyeopta.” Ucap Tiffany saat anak itu tersenyum dalam tidurnya.

“Kau baru tahu kalau dia lucu? Aigo, aku dulu juga selucu ini saat masih bayi.”

Tiffany meledak dalam tawanya. Sangat-sangat tidak percaya dengan statement suaminya itu.

“Bohong, aku dengar dari  Eommonim tidak. Hanya halmoni yang mengatakan Oppa lucu.”

Aish! Enak saja. Oemma bohong waktu itu.”

Jjinja? Tapi aku percaya. Buktinya sampai sekarang masih  jelek saja.”

Mwo?” Si won terlihat tak terima dengan candaan itu.

“Lalu kenapa kau mau dengan orang jelek ini?” Tanya Si won agak sewot.

Molla. Dulu Oppa memang lucu dan tampan, tapi sekarang lebih tampan Chris. Bukan begitu Chris, kau setuju dengan Mommy?”

Tiffany menggengam erat jari mungil Chris. Bayi itu tak menjawab karena asyik dalam mimpi indahnya.

“Lihat, Chris tidak setuju. Berarti Daddy-nya lebih lucu.”

“Ini karena Chris sedang tidur.”

“Setidaknya dia bisa tersenyum sebagai jawaban, bukan?”

Tiffany berdecak sebal. Kenapa malah suaminya yang bersifat kekanak-kanakan seperti ini?

“Fany-ah,”

Hm?”

“Besok Oemma dan Halmoni akan berkunjung.”

Jjinja?”

Hm. Kau tidak keberatan, bukan?”

“Tentu saja tidak. Aku tahu aku sudah sangat keterlaluan. Maaf.”

Tiffany merasa sangat bersalah terhadap keluarga Si won karena tidak bisa menjaga Chris seperti selayaknya seorang Ibu sejak awal. Si won tersenyum lembut.

Aniyo. Kau tidak bersalah. Kau hanya terlalu takut hingga semua ini terjadi. Gwenchana, semua sudah baik-baik saja.”

Tiffany membalas tatapan dan senyuman hangat Si won ketika pria itu menggenggam jemarinya. Dia bersyukur memiliki Si won yang selalu berada disisinya walau apapun yang terjadi. Bahkan disaat sakit, Si won tetap mencintainya. Dia sangat berterima kasih kepada Tuhan karena bertemu jodoh yang tepat.

Wae?”

Si won mendekat untuk menghapus air mata Tiffany yang mulai mengalir jatuh. Tiffany menggenggam tangan Si won dan tersenyum.

“Tidak, aku hanya khawatir kalau halmoni akan mencekikku gara-gara benda itu. Mereka pasti marah jika melihat kondisi Chris.”

Tiffany menunjuk bekas luka yang sudah mengering di kening Chris.

“Tapi aku akan menerimanya karena itu bentuk dari kelalaianku. Aku pasti Mommy yang buruk untuknya. Mulai sekarang, aku akan berubah. Aku akan menjadi orang pertama yang melindungi dan menjaganya.”

Tiffany tersenyum seraya mengusap kepala Chris dengan sayang. Si won ikut senang dan melakukan hal yang sama dengan meletakkan tangannya di atas tangan Tiffany.

“Aku senang mendengarnya. Tapi, kenapa?”

“Kenapa?” Tiffany tampak berpikir. Sedetik kemudian ia tersenyum.

“Karena aku seorang ibu.”

Si won tersenyum menatap wajah cantik itu. Akhirnya, Tiffany kembali dan mereka bisa memberikan Chris kasih sayang yang sempurna.

Gumawo.”

Ucapan itu membuat Tiffany tersenyum. Tangannya beralih untuk menggenggam tangan Si won.

“Aku yang harusnya berterima kasih, Oppa. Kau telah berbuat banyak untukku selama ini.”

Keduanya saling pandang cukup lama. Mereka baru berpaling saat tertawa diiringi air mata bahagia. Si won menghembuskan nafas lega. Dia berharap kondisi Tiffany tidak kembali memburuk sampai kapan pun.

 

***Sifany***

 

Tiffany terbangun oleh suara tangis dari ruangan di sebelah kamarnya. Dia dengan cepat bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan tangannya. Kegiatan itu ia percepat begitu tangis tersebut semakin kencang.

Sementara di kamar Chris, Si won berusaha menimang putranya agar tidak menangis lagi. Untung saja semalam Yoona datang dan menginap jadi dia merasa sangat terbantu.

“Ssst, iya sayang. Sebentar lagi susunya datang, hm? Yoona Aunty sedang membuatnya.”

“Oppa, kenapa Chris menangis kencang sekali?”

Tiffany tiba-tiba masuk. Wanita itu dengan cekatan mengambil Chris dari gendongan Si won.

“Aigo. Babyya, Kau haus? Mianhe, Mommy terlalu lelap tidur hingga tidak sadar kau sudah bangun.”

Tiffany menarik tali gaun tidurnya kemudian duduk di atas ranjang. Dia menyusui Chris dengan hari-hati. Tangannya menggenggam jemari kecil itu hangat sembari bibirnya bersenandung kecil.

Si won? Pria itu hanya mematung di tempatnya. Ia bahkan tidak bisa bersuara saking terkejutnya pagi ini. Apa yang terjadi? Apa Tiffany sudah benar-benar pulih seperti semula? Benarkah? Jadi apa yang terjadi kemarin dan semalam bukan bersifat sementara?

“Oppa,”

Yoona yang berlari dari dapur dengan cepat masuk ke kamar Chris. Jelas ia harus buru-buru karena takut Chris semakin haus.

Wae, Oppa? Dimana Chris?”

Yoona memperhatikan kakak sepupunya yang bertingkah aneh. Si won bahkan tidak menjawabnya.

“Oh, Yoong, kau disini?”

Yoona seketika menoleh kearah ranjang. Matanya melebar begitu menyadari apa yang tengah terjadi di depan matanya.

Yoona melirik Si won.

“O-Oppa,”

Yoona tidak mampu berkata-kata. Ini sangat mengejutkan dan pastinya sangat melegakan. Tiffany benar-benar sudah sembuh? Semalam dia memang bergegas kesini karena mendapat telfon dari Si won bahwa keadaan Tiffany sudah sangat baik. Awalnya, dia pikir perubahan Tiffany semalam hanya sementara. Namun, jika sedrastis ini, artinya dia harus menyampaikan kabar baik ini kepada semua sahabatnya.

“Oppa, kenapa Chris berada di sini? Bukankah seharusnya dia di kamar kita?”

Ne?” Kaget Si won. Tiffany menatap suaminya yang bereaksi agak berlebihan itu.

“Ah itu, Chris sangat tampan jadi aku selalu merindukannya dan mengajaknya tidur bersamaku.”

Yoona menjawab.

Tiffany mencibir kemudian tersenyum. Ia tahu jika Yoona membawa Chris ke kamar ini karena takut suara tangis Chris akan mengganggunya dan membuatnya tak nyaman seperti sebelum-sebelumnya.

“Pembohong.”

Ne?”

“Aku tahu semua yang terjadi, Yoong. Maaf dan terima kasih. Aku tahu kalian melalui waktu yang berat karena aku.”

Tiffany menatap mata Yoona lama. Yoona tersenyum lalu mengusap air matanya yang mengalir jatuh. Segera ia membuang muka lalu meninju Si won yang juga tampak cengeng di sebelahnya.

“Menangis tidak cocok untukmu, Oppa.” Komentarnya.

Si won tertawa dan memeluk adik sepupunya itu yang di balas dengan hangat oleh Yoona. Si won sangat berterima kasih pada Tuhan karena doa mereka telah dikabulkan.

 

***Sifany***

 

“Hati-hati, sayang. Pegang tangan Mommy.”

Tiffany dengan antusias menemani Chris bermain. Putranya telah memasuki usia dimana ia sudah bisa berjalan dengan lincah. Tentu saja itu moment yang tidak akan ia lewatkan.

Si won dan para sahabatnya sudah bercerita bagaimana dulu ia ketika mengalami baby blues syndrome. Dia juga menyadari semua yang terjadi karena ia sendiri yang mengalaminya. Jujur saja, semua itu bukan keinginan Tiffany. Ibu mana yang ingin melewatkan satu detik saja perkembangan sang buah hati? Dia beruntung memiliki suami dan teman-teman yang selalu bersamanya hingga ia bisa sembuh lebih cepat.

Tiffany bukan tipe orang yang suka mengeluh dengan kondisinya. Dia yakin ada pelajaran penting dari peristiwa itu. Toh, keadaan sudah kembali seperti seharusnya. Dia hanya perlu untuk menjaga dan mendidik putranya lebih baik dari apa pun.

Tit Tit!

“Chris, Daddy pulang. Ayo, kita sambut Daddy.”

Anak itu menepuk tangannya dan tertawa dengan lucu. Tiffany ikut tertawa lalu menggendong Chris yang menggemaskan di gendongannya.

Begitu mereka tiba di ruang tamu, Si won pun muncul dengan sebuah bingkisan kecil di tangannya.

“Daddy pulang.”

“Selamat datang, Daddy. Apa hari ini terasa melelahkan?”

Tiffany bertanya seolah mewakili Chris. Si won mencium Chris dan Tiffany bergantian.

“Tidak karena kalian.”

Tiffany menatap suaminya lalu tersenyum. Si won mengambil alih Chris sebelum mereka menuju sofa.

“Anak Daddy sudah bisa berjalan dengan baik, hm?”

Kurom. Mommy mengajariku dengan baik. Besok giliran Daddy yang harus menemaniku, aratchi?”

Si won tertawa mendengarnya.

Arasso. Karena besok weekend, Daddy akan di rumah seharian.”

Kim Ahjumma muncul dengan secangkir coffee di tangannya.

“Oppa sudah makan malam?”

Aniyo. Aku ingin makan bersama istriku.”

“Ng? Istrimu yang mana?”

Si won menatap Tiffany tajam. Wanita itu hanya tertawa dan mengambil Chris dari Si won. Kim Ahjumma tersenyum mendengar obrolan suami-istri tersebut.

“Ahjumma, apa makan malamnya sudah siap?”

“Sebentar lagi, Nyonya. Nona Im ingin menu tambahan jadi saya akan menyiapkannya.”

“Yoona?” Ulang Tiffany. Matanya sontak tertuju pada Si won. Pria itu hanya mengangkat bahu.

“Bukankah Yoona selalu menginap saat akhir pekan?”

“Tapi dia selalu mencuri Chris dariku.” Rajuknya.

“Kau bisa bersamaku.”

Si won mengedipkan matanya menggoda yang dibalas dengan cubitan dari istrinya. Tiffany cemberut. Dia berharap waktu cepat berlalu agar Chris akan selalu menjadi miliknya. Ya, Yoona akan menikah kurang dari dua bulan lagi.

Terdengar suara pintu terbuka. Yoona masuk seraya mengucapkan salam.

“Aku datang, Oppa, Unnie. Aigo. Chris, Aunty merindukanmu.”

Yoona melepaskan tas selempangnya lalu duduk di sebelah Tiffany. Tangannya mengelus pipi anak itu kemudian menciuminya berulang kali. Si won dan Tiffany tersenyum memperhatikan keduanya.

“Wah, Chris cepat sekali besar, ya? Bahkan bulan depan kau sudah berusia satu tahun.”

Tiffany tersenyum di sebelahnya. Si won juga terlihat bahagia. Rasanya baru kemarin dia menemani Tiffany selama hamil dan melahirkan. Namun sekarang bayi mereka akan genap berusia satu tahun.

Tiffany sebenarnya tidak memiliki rencana apa-apa untuk ulang tahun pertama Chris. Mengingat bayi itu masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa rasanya belum pantas jika mereka mengadakan sebuah pesta. Namun Yoona bersikeras jika Tiffany harus mengadakan sebuah acara sebagai kenang-kenangan bagi Chris ketika ia besar nanti. Tiffany pun tidak punya pilihan ketika semua sahabatnya sudah mendapatkan kabar tersebut dan sepakat untuk datang. Terutama Choi Min ho. Adik dari Si won itu akan pulang dan bertemu dengan Chris untuk pertama kalinya.

“Unnie, kau pasti lelah mengurusnya seharian. Berikan padaku.”

“Kau pasti lebih lelah setelah bekerja, Yoong.”

“Eiyy, bekerja di butik milik sendiri sama sekali tidak melelahkan, Unnie. Ayo, Chris. Kau merindukan Aunty? Aigo, kau tampan sekali.”

Yoona langsung menggendong Chris dan membawanya ke lantai atas. Tiffany tidak mencegahnya. Dia tahu jika Yoona menyayangi Chris dengan sangat baik.

“Fany-ah?”

“Oh, ne, Oppa. Sebaiknya kita ke kamar. Aku akan menyiapkan air mandimu.”

Keduanya bangkit. Sebelum beranjak Si won meraih bingkisan di sofa. Tiffany memperhatikannya.

“Apa itu?”

“Hadiah.”

Si won menyerahkan bingkisan berwarna pink pucat itu. Tiffany hanya menatapnya tanpa meraihnya. Dari merek mahal yang tertera di bingkisan itu ia tahu jika isinya adalah satu set perhiasan.

Wae?”

Si won bertanya. Dia tahu jika Tiffany tidak pernah meminta barang-barang mewah seperti ini. Dia hanya ingin menyenangkan hati istrinya.

“Sepertinya kau menyiapkan banyak hadiah untuk calon menantu perempuanmu.”

Sindiran ketus itu disambut tawa oleh Si won. Dirangkul Tiffany untuk membawanya ke lantai atas. Ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Tiffany. Membuat wajah wanita itu bersemu merah dan menghadiahkan pukulan manja di dada bidang pria itu.

Setelah makan malam dan mengobrol santai di ruang tamu, Si won dan Tiffany kembali ke kamar untuk tidur. Chris bersama Yoona jadi jelas malam ini hanya milik mereka.

Si won tidak lepas memandangi wajah cantik istrinya ketika wanita itu memasangkan kancing piyamanya. Walau selalu melihatnya dengan jarak sedekat ini setiap hari, namun ia tidak pernah bosan. Wajah polos tanpa make up itu jelas sangat cantik di matanya.

“Oppa”

“Hm?”

Si won menjawab dengan sangat lembut. Bibirnya tersenyum dengan tangan yang memeluk pinggang Tiffany.

“Tidak terasa, Chris akan berusia satu tahun, bukan?”

“Hm. Waktu memang cepat berlalu.”

Tiffany menggigit bibirnya. Kepalanya mendongak untuk menatap wajah Si won yang lebih tinggi darinya.

“Oppa”

“Iya, sayang. Aku disini.”

Keduanya saling menatap dan tersenyum.

“Bagaimana menurutmu dengan seorang putri yang cantik?”

Kening Si won berkerut.

“Kenapa dengan seorang putri yang cantik?”

Si won balik bertanya. Dia memang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud.

Tiffany menundukkan wajahnya yang memerah. Si won yang menyadari ekpresi malu-malu istrinya itu menunggu dengan penasaran.

“Kita sudah memiliki Chris, bukankah akan lebih baik jika kita memiliki seorang putri juga?”

Lama tak ada respon. Air muka Tiffany seketika berubah setelah melihat bagaimana raut wajah Si won yang tak menunjukkan ekpresi apa-apa. Terlebih ketika pria itu menjauh darinya.

“Oppa,”

Tiffany mengikuti Si won.

“Tidak, Fany-ah. Aku tidak bersedia.”

Wae?”

Tiffany bertanya. Dia memang sudah pernah menanyakan hal ini namun Si won selalu mengabaikannya.

“Aku ingin seperti yang lainnya, Oppa. Kau lihat betapa manisnya Ji yeon? Hana, Aleyna, Hani dan Si young juga sangat bagus di foto bersama ibu mereka.”

Si won menatap Tiffany. Jujur, dia juga ingin menambah anak lagi. Namun ia tidak bisa.

“Oppa,”

“Aku tidak mau, Fany-ah. Aku tidak akan memiliki seorang putri darimu.”

“Lalu maksudmu, kau akan memiliki putri dari wanita lain?”

Mwo? Demi Tuhan, Tiffany! Apa yang kau bicarakan?!”

Si won marah. Tiffany mendengus sebal.

“Tiff, ku mohon mengertilah. Aku tidak sanggup melihatmu menderita seperti dulu lagi. Kau ingat bagaimana kondisimu di awal kehamilan? Kau sangat drop sampai harus bedrest. Belum lagi pasca melahirkan,”

Si won menggeleng. Mengingat semua itu membuatnya takut.

“Tidak. Aku tidak bisa.”

“Tapi tidak semua kehamilan sama, Oppa. Kau ingat betapa Hyo juga kesulitan ketika mengandung putra sulungnya? Tapi dia bahkan tidak seperti wanita hamil ketika mengandung putrinya Si young.”

“Tapi bagaimana jika kondisimu lebih parah?”

Tiffany terdiam sesaat.

“Ya sudah.” Putus Tiffany. Diambilnya bantal lalu keluar dari kamar. Si won yang tidak menyangka hal itu akan terjadi tidak berbuat apa-apa selain hanya terbengong seperti orang bodoh. Apa yang sedang dilakukan istrinya itu?

“Tiffany!”

Yoona tengah merapikan bantal dan selimut Chris ketika pintu tiba-tiba terbuka. Ia mendapati Tiffany masuk dengan  wajah cemberut juga sebuah bantal di pelukannya. Tak lama, Si won pun muncul.

`Mereka bertengkar?` Pikirnya.

“Fany-ah, ku mohon. Jangan lakukan ini, okay?”

“Tinggalkan aku, Oppa. Aku membencimu.”

Si won duduk disisi ranjang. Berusaha untuk memegang tangan Tiffany. Setelah saling diam untuk beberapa detik, Si won mengangguk. Ia menghela nafas.

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan.”

Jjeongmal?”

Yoona dapat melihat raut wajah Tiffany berudah drastis. Terlihat sangat bahagia. Memangnya apa yang ia minta dari Si won?

“Tapi tidak sekarang.”

Si won menggenggam tangan Tiffany lebih erat sebelum wanita itu bersuara untuk protes.

“Kita butuh waktu untuk berkonsultasi kapan waktu terbaik, Tiff. Banyak yang harus kita pertimbangkan nantinya. Untuk saat ini, cukup untuk Chris, kau dan aku. Setelah Chris berumur dua tahun, kita bisa mewujudkannya.”

Jjinja?”

Tiffany bertanya senang. Matanya berkaca-kaca pertanda haru. Kebersamaan dan kekompakan bersama sepasang putra-putri terbayang di benaknya.

Si won mengangguk seraya merapikan anak rambut Tiffany.

“Tentu saja. Sekarang kita kembali ke kamar, hm?”

Tiffany mengangguk kemudian turun dari ranjang. Yoona bersedekap menatap sebal kearah keduanya.

“Ada apa dengan tatapan itu?” Si won bertanya. Tiffany ikut menatap gadis berpiyama merah muda di dekat box Chris.

“Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian lalukan disini? Chris baru saja tidur. Kau malah berisik dan bertengkar di sini. Ingin menunjukkan kalau kalian itu pasangan yang manis walau pun sedang bertengkar? Dasar tukang pamer!”

Gadis itu cemburu? Tiffany tersenyum bersama Si won. Si won mendekati box untuk mengambil Chris.

Yoona menahannya.

“Oppa, mau di bawa kemana? Chris bersamaku malam ini.”

“Sepertinya kau harus sendiri malam ini. Chris akan bersama kami.”

Wae?” Yoona protes tak terima.

“Oppa, kita sudah berjanji, bukan? Kau akan meminjamkan Chris padaku di akhir pekan.”

“Enak saja, kau pikir anakku barang yang bisa di pinjam. Kalau mau, kau buat saja sendiri.”

Tiffany hanya tersenyum melihat wajah kesal Yoona. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Si won sudah membawa dirinya dan Chris keluar dari kamar.

Yoona berdecak sebal dan duduk bersila di ranjangnya.

“Aish! Oppa, kita lihat saja nanti. Anakku akan jauh lebih tampan dari anakmu!” Yoona mengepalkan tangannya.

“Fighting!”

 

***Sifany***

 

Tiffany kembali ke kamar setelah menyiapkan makan malam bersama Kim Ahjumma. Ia menghampiri putranya yang tertidur lelap di dalam box.

Baby, kenapa kau selalu tidur sejak tadi, hm?”

Tiffany mengelus kulit pipi putranya yang halus. Namun jarinya yang menyentuh bagian itu terhenti ketika menyadari kulitnya seperti terbakar. Ya Tuhan, bayinya demam!

Siwon langsung pulang ke rumah begitu mendengar dari Tiffany jika Chris terserang demam. Ketika ia sampai, Tae yeon dan suaminya juga sudah tiba.

Tiffany memperhatikan dokter yang merupakan suami dari Tae yeon memeriksakan kondisi putranya di sebelah Si won. Tae yeon merangkul wanita itu dan membawanya untuk duduk di sofa.

Gwenchana. Bayi terbiasa untuk deman karena daya tahan tubuhnya masih lemah. Itu artinya tubuh si kecil sedang berperang melawan bibit penyakit.”

Tiffany mengangguk pertanda ia mengerti dengan penjelasan Tae yeon. Namun wajarkan jika dia khawatir?

Otokke? Acaranya lusa sementara Chris deman.”

Gwenchana. Suhu tubuhnya masih normal. Kita cukup mengompres lalu memakaikannya baju tidur yang hangat. Panasnya akan turun dalam beberapa jam dan Chris bisa kembali sehat besok. Selalu cek suhu tubuhnya dengan thermometer ketika ia terbangun. Tapi jika suhunya makin tinggi, segera hubungi kami.”

Suami Tae yeon menjelaskan. Si won memperbaiki letak selimut putranya kemudian ikut bergabung bersama yang lain di sofa.

“Aku tidak tahu kenapa aku begitu khawatir padahal ini hanya demam biasa.”

“Tentu saja karena dia putramu, Oppa.” Tandas Tae yeon disambut tawa yang lain. Tak terkecuali Si won sendiri.

“Jessica akan tiba lusa bersama Min ho. Mereka memintaku untuk mengatakannya  padamu.”

Eoh. Gumawo.”

“Apa semuanya sudah siap? Aku melihat ruang keluarga sudah berubah indah sewaktu menuju kesini.”

Tiffany dan Si won saling tersenyum.

“Siapa lagi kalau bukan Yoona dan calon suaminya itu?”

Tae yeon melirik suaminya lalu tertawa.

“Wah, sepertinya mereka akan jadi orang tua yang baik, ya?”

Suami Tae yeon menatap Si won yang duduk tepat di hadapannya.

“Aku bukannya ingin membanggakan adikku, Si won-ssi. Tapi aku yakin dia orang yang cocok untuk mendampingi Yoona.” Tukas pria tinggi bekulit putih itu tenang.

Si won mengangguk.

“Yoona juga sangat mencintainya. Aku yakin jika mereka akan bahagia. Kalau begitu hubungan kita akan semakin dekat, bukan? Adik sepupuku akan menikah dengan adikmu.”

Ne, itu benar.”

“Kalau begitu kami pulang sekarang, Fany-ah. Hanya ada Tae young dan Ji yeon di rumah.”

“Omo. Kenapa kalian tidak membawanya?”

Tiffany ikut berdiri untuk mengantar pasangan sahabatnya ke arah pintu.

Gwenchana. Ji yeon sedang tidur jadi aku tidak ingin mengganggunya. Kami akan datang lusa, ok?”

Ne. Hati-hatilah saat menyetir, Oppa.”

Eoh.”

Tae yeon dan suaminya menghilang di balik pintu. Tiffany mendekati ranjang dan merapikan baju putranya. Si won ikut duduk disisi bayi mereka.

Tiffany menggenggam jemari dari tangan mungil sang bayi dengan hangat.

“Aku tidak tahu kenapa aku sangat khawatir, Oppa. Apa semua ibu merasakan hal yang sama ketika bayi mereka sakit?”

“Tentu saja. Jika seorang anak sakit, Oemmanya akan merasakannya, begitu pula sebaliknya. Bahkan jika bisa, Oemmanya akan menggantikan sakit anaknya.”

Tiffany mengangguk. Matanya menatap bayi tampan yang tertidur itu.

“Benar. Andai aku bisa menggantikan rasa sakitnya. Rasanya sangat menyakitkan melihatnya seperti ini. Tapi aku sangat bersyukur karena memilikinya.”

Tiffany mengangkat wajahnya untuk menatap Si won.

“Sebelumnya, aku tidak pernah tahu jika menjadi seorang ibu akan semenakjubkan ini. Gumawoyo, Oppa. Karena kau aku bisa menjadi seorang wanita yang sempurna.”

Si won melihat bulir air mata mengalir dari pelupuk mata indah itu hingga mengalir jatuh dipipinya. Pria itu tertawa.

“Hei, kenapa harus menangis, hm?”

Tiffany mengusap air matanya. Si won bergerak lebih dekat untuk  memeluknya hangat.

“Akulah yang paling berterima kasih. Aku menjadi pria beruntung yang memilikimu dan Chris.”

Kalimat itu membuat air mata Tiffany kembali jatuh. Entah kenapa dia menjadi sangat mudah untuk menangis sekarang. Namun dia tahu kalau itu terjadi karena ia bahagia. Bahagia karena Si won dan kehadiran bayi mereka yang menggemaskan.

Si won sangat bahagia sekarang. Ia adalah seorang suami dan Ayah bagi bayi yang sangat tampan. Ia sangat menghargai proses bagaimana Chris hadir bersama mereka. Untuk itu, ia akan berusaha menjadi suami dan Ayah terbaik bagi keluarganya.

Tiffany menyesali dirinya yang tidak menyukai anak-anak sejak awal. Bahkan ia sampai harus menyakiti putranya sebelum bisa menyayanginya dengan tulus. Untuk itu, ia bertekad untuk menjadi ibu yang akan selalu melindungi putranya apapun yang terjadi. Menjadi sebuah keluarga yang selalu bersama dan saling menjaga satu sama lain. Bersama Si won, dia akan menjaga dan membesarkan putra mereka dengan sebaik-baiknya. Dan juga, calon putri mereka nantinya.

 

THE END

 

Hai redears, apa kabar? Lama tak jumpa, ya?

Ff ini aku persembahkan buat kalian semua. Awalnya, ff ini adalah sequel untuk ff Embarassed Memory. Tapi karena beberapa alasan aku ganti. Dan untuk bagian OT9, maaf kalo ada yang baper. Ga usah dibawa serius, ini cuman fiksi. Sebagai sone, kita semua pasti tahu jika hubungan mereka baik-baik aja.

Maaf kalo banyak typo, ya. Ditunggu RCL-nya.

Terima kasih ^_^

82 thoughts on “(AR) Baby Blue Syndrome

  1. wowowowo it’s daebakk!!! dan sifany momentny itu loh yang bikin envy, sweet as always :-* dan berharap hubungan jessica dan mereka berdelapan bener” terjalin baik didunia nyata juga hihihi😉 good job authornim dan see ya next ff😉

  2. Wihh sweet bgtt. Author janisone emg yg paling bisa deh bikin ff sifany yg sweet2 dengan konflik ringan. Suka bgt sama ffnyaaa apalagi dengan tema yg jarang dijadikan ff (baby blue syndrome) daaaan … of course bcs theres ot9. Ditunggu karya2 selanjutnya

  3. kyaaa!!!lucu sekali appa siwon and eomma pany,
    kasian sih chris yg jarang dikasih asi sama fany.baper juga pas ada jessinya thor,
    tapi tetep ok kok alur ceritanya baguss..
    faighting!!

  4. Kyaaaa…daebakk! Bayi sifany 3,2 kg? Kecil y?! Hahahaha #ditaboksiwon😀
    Hahaha gereget dehh pas tiff bikin susu formula, untung bkan pke air mendidih 😁😂

  5. Bagus ffnya kok thor.apalagi yg paling terakhirnya,fany udah sembuh total dari sindrom baby bluesnya.syukur deh.jadi fany tidak takut sama chris an juga bisa menyusui chris.
    Daebak thor.suka banger ama ffnya.ditggu ffnya lainnya.tetap semangat ya thor.jjang thor.

  6. awuh fff apa ini.?
    thor.aku smpe brkli”dibuat trharu .alurnya kelen pk bgt.
    aplgi pas.ngbhs sica.brsa lngkap .pkonya
    ff mu daebaaaaaaak.

  7. huuum siwon nya sabar banget ya ngadepin tiff yg kek gitu. serius itu kasihan bayinya😦
    tapi gpp as long as endingnya happy aku bakalan bahagia huahahaha😀 suka deh pokoknya! good job authornim!!

  8. ahhh suka ceritanyaa. 😍
    kasian chris nyaa huhuu.. kirain bakal sad ending ternyata engga haha pokonya ditunggu ya karya selanjutnya thor. 😊

  9. duhhh jadi bayangin sifany bakal real life kaya gini kasian baby kris sabar yah
    daddy sabar banget ngadepin mommy yang lagi baby blue
    bikin sequelnya author

  10. huwaaaaaaa kenapa mereka selalu look a like real ?? 😍
    siwon selalu jd suami sabar buat tiffany yg keras kepala
    baby Chris beruntung bgt punya mommy daddy kaya merekaa
    good author 👍

  11. waaa admin jani back lg dg marriage life yg bnr” sweetable ><. siwon oppa sllu menjadi suami siaga ☺😍😍kkk ditunggu ff lainnya, paiting!!

  12. Sifany,,,bener” bikin ngiri dehhhh….
    Pingin banget punya suami kyk siwon oppa..dah dabar n pengertian lagi, penuh kasih sayng pulaaa…
    Berkat suami ,keluarga, teman” nya ..akhirnya syndrom itu hilang dg sendirinya….
    Apalagi dg kedtngn sica , tambah sempurna ot9, gw hrp di dunia nyata mreka ttp menjalin hubungan yg baik…ttp persaudaraan yg gk akan terpisahkan hiksz…
    Cerita yg sangat indah, chuwaeee…..

  13. Widiwwww, keren banget thor. Terharu, kzl, semuanya satu waktu baca ff ini. Siwon suami masa depan idaman banget hahahha…..
    Tiffany kok bisa ya ngalamin sindrom kek begituan?
    Overall, keren banget thorr, sukak banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s