(AF) I’m With You Part 2

Im With You Part 2 [ End ]

Im With You Cover

Author: LeA

Cast:

Choi Siwon & Tiffany Hwang

Supported cast:

Suho, Chaerim (OC), Taeyeon. Kyuhyun

Genre: Romance, family

Rating: PG17+

Length: Twoshoot

Disclaimer: The story is mine. Sebelumnya cerita ini pernah aku posting di FB dengan cast Yoona dan Donghae.  Enjoy Reading and don’t be a plagiator.

 

Sinopsis : Siwon berada diantara dua pilihan, antara ambisi dan kebahagiaannya. Ketika pilihan – pilihan itu harus diputuskannya dalam sekejap mata, dapatkah Siwon menentukan?

 

***

 

Senandung kecil mengalun dari bibirnya di pagi yang cerah ini.  Jemari wanita setengah baya itu begitu telaten merangkai berbagai jenis bunga diatas oasis diruang tamu, sesekali ia menggunting daun – daun atau kelopak yang rusak.

Begitu seriusnya Ia melakukan pekerjaan itu hingga tidak menyadari bahwa dua orang lelaki berdiri dihadapannya.

“Omo !” wanita setengah baya itu memegangi dadanya terkejut.

“Siwon-ya… S-Suho?” Nyonya Choi menatap baik – baik kedua lelaki itu. Ia mempertajam pandangannya, ternyata benar, semua ini bukan mimpi. Siwon anaknya dan Suho cucunya berdiri didepan sana. Siwon memakai kemeja dan dasi rapih sepentara Suho… Nyonya Choi hampir saja terkena serangan jantung kala mengamati penampilan Suho yang sungguh menggelikan. Anak itu masih memakai piyama, memeluk boneka bebek berwarna kuning, rambut acak – acakan juga sisa – sisa peta mimpinya semalam masih menyangkut disekitar bibir. Juga Nyonya Choi bisa menduga Suho baru saja bangun tidur, Matanya masih terlihat bengkak dengan kotoran mata yang menyangkut di sudut kelopaknya. Oh my…

“Siwon-ya.. kenapa? Apa yang kau bawa itu?” Nyonya Choi gelagapan. Ia benar – benar speechless menatap penampilan anak dan cucunya yang sungguh jomplang. Dan lagi, Siwon menjinjing sebuah tas bergambar boneka. Nyonya Choi mulai curiga isi tas itu adalah perlengkapan Suho.

“K-kau baru saja diusir atau apa?” Nyonya Choi meminta penjelasan. Suho menguap lalu meringis kearah nyonya Choi yang dengan terpaksa membalas tatapan Suho dengan senyuman.

“Eomma, aku ingin minta tolong. Aku ingin menitip Suho, dia harus pergi sekolah.” Jelas Siwon.

“Tunggu.” Interupsinya,”Dimana Eommanya?”

Siwon memutar otaknya sebentar, “Tiffany… dia berangkat pagi pagi sekali ke rumah Taeyeon… ada urusan penting.” Bohong Siwon, padahal jelas – jelas otaknya belum menghapus memori tentang kejadian semalam.

“Omo.. omo.. ada urusan penting apa dia sampai sampai meninggalkan anaknya?” Nyonya Choi menerka – nerka, “Atau jangan – jangan, Tiffany ingin kembali shooting? Pergi pagi pulang pagi… apakah seperti itu? hah ! ini tidak bisa dibiarkan ! Kau harus mencegahnya Siwon-ya.” Nyonya Choi panik sendiri. Sementara didepan sana, kepala Siwon mulai berdenyut mendengar prasangka Eommanya yang tidak beralasan.

“Entahlah, nanti kutanyakan lagi. Oh ya, aku harus berangkat sekarang juga. Suho belum mandi dan sarapan, nanti jam sembilan dia harus masuk sekolah.” Pesan Siwon terdengar semena – mena.

“Aigo.. aigoo… baiklah, sebenarnya  Eomma  senang sekali menemani Suho hari ini, tapi kau juga harus ingat, pastikan Tiffany tidak sampai menelantarkannya ! Lihat baru ditinggal sebentar saja anaknya sudah seperti ini. Betapa mengerikannya wajah tampan cucuku.” Nyonya Choi berdecak prihatin. Kedua tangannya menjulur kearah Suho. Anak itu mengerti isyarat pelukan, memeluk halmoninya.

Siwon menghela napas. Setelah ini Ia harus memikirkan cara untuk membujuk Tiffany kembali..

……….

Dari ambang pintu Taeyeon menatap Tiffany yang termenung sejak semalam. Taeyeon begitu dikejutkan oleh kedatangan Tiffany yang tiba – tiba. Wajah Tiffany begitu murung dan sedih, Taeyeon sudah bisa menduga bahwa ini pasti menyangkut pertengkaran rumah tangganya yang entah sudah episode keberapa, Taeyeon lupa. Tiffany tidak banyak bicara dari semalam, bahkan pagi ini adik sepupunya itu menolak untuk memakan apa pun. Selagi membawa sarapan, Taeyeon masuk kekamar Tiffany, menaruh nampan diatas meja lalu duduk disamping wanita itu.

“Makan dulu lah.” Taeyeon mengelus lengan Tiffany. Tiffany membalas tidak berselera. Ia kembali menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tiffany ikut serta menyandarkan kepalanya dipermukaan kayu itu malas.

“Ternyata pernikahanku harus berakhir dengan cara seperti ini.” ungkap Tiffany lesu.

Taeyeon menggidikkan bahu, bingung harus berkata apa. Dari penuturan Tiffany semalam tentang asal mula pertengkarannya dengan Siwon, Taeyeon mencerna sesuatu.

“Kurasa dalam hal ini Siwon juga tidak bisa disalahkan. Siwon punya tanggung jawab atas perusahaannya, kau tidak boleh secepat itu mendesaknya. Seharusnya kaulah yang semestinya yakin bahwa Siwon tidak mungkin meninggalkan kalian.” Taeyeon berhenti ketika Tiffany menyela dengan tatapannya.

“Kalau dikepalanya kami adalah yang terpenting, seharusnya dia bisa langsung memutuskan !” tukas Tiffany tiba – tiba, “Aku membiarkannya memilih tapi dia tidak bisa memutuskan !”

“Memangnya seandainya Siwon  memilih tinggal bersamamu dan Suho, pertanyaan apa lagi yang akan meluncur dari kepalamu itu? Mungkin begini : Apa nanti aku akan di-madu?”

“Mwo?” Tiffany tergelak merasa lucu dengan penuturan Taeyeon, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang mendidih.

“Aku yakin Siwon akan memutuskannya sendiri tanpa kau suruh ! Tapi semua ada waktunya Tiffany. Siwon butuh memikirkan cara untuk menghindari chaerim lalu menjelaskan secara gamblang bagaimana Ia melakukan hal itu sejelas – jelasnya agar kau tidak bertambah uring – uringan, kalau dia hanya memutuskan seperti keinginanmu tanpa solusi menghentikan chaerim, kau juga pasti tidak akan sepenuhnya yakin.”

Tiffany memalingkan wajah, setelah itu Ia membisu.

“Ayolah Tiffany, pikirkan lagi keputusanmu itu.  Kau sudah banyak berkorban sampai sejauh ini. Lalu hanya karena wanita rubah itu kau justru menyia – nyikan pengorbananmu, begitu?” Taeyeon semakin gemas karena Tiffany tidak menyanggahnya sedikitpun. Taeyeon memikirkan kata – katanya sekali lagi, “Tidak semudah itu kalian berpisah Tiffany… Baiklah anggap saja kau bisa melupakan Siwon, tapi bagaimana dengan Suho. Kau tidak mungkin membawanya kan? Suho adalah aset masa depan keluarga Choi. Kalau pun setelah kalian berpisah, kau berhasil memboyong Suho,  keluarga mereka tidak akan tinggal diam, Siwon dan keluarganya akan mencarimu sampai ke lubang semut dan setelah itu hidupmu tidak akan tenang.” Taeyeon berhenti sejenak, ia tahu dugaan ini terdengar sadis bagi Tiffany, tapi adiknya itu harus mencamkan, “Kau siap menyerahkan Suho kepada mereka?

“Bahkan Suho lahir kedunia ini atas permintaan mereka, jadi.. aku bisa apa?”

Taeyeon berdecak gemas, “Oke, kau memang tidak bisa apa – apa, tapi  coba pikirkan ini. Pikirkan saat kau mengandung sembilan bulan, bersalin tiga hari tiga malam di rumah sakit, menjalankan program ASI ekslusif selama dua tahun, mengorbankan karir keartisanmu yang bahkan Ayahmu saja sampai mengibarkan bendera putih ketika mencoba menghentikan ambisimu itu, tapi Suho… bayi sekecil itu terlalu gampang meluluhkan cita – citamu yang setinggi langit.”

“Lalu menurutmu? Aku harus memohon – mohon agar Siwon memilih kami? Agar pengorbananku tidak sia – sia?”

“Tidak begitu juga.” Bantah Taeyeon. “Kau harus berpikiran dewasa, jangan bersikap kekanak – kanakan.”

Tiffany mengernyit tidak terima, “Kekanak – kanakan?”

“Nde, menurutmu istilah apa yang pantas untuk menyebut seorang istri yang kabur dari rumah, menelantarkan suami dan anaknya ?” tantang Taeyeon.

“S-siapa yang kabur dari rumah ?” sangkal Tiffany, “Aku hanya muak melihat wajahnya ! lalu apa salahnya mengungsi kemari?!”

Taeyeon bergeleng – geleng, “Aigooo lihat tingkahmu, ck.” Dan agaknya Taeyeon sudah tidak berdaya mengikis kepala batu Tiffany.

…………..

Belum selangkah Siwon memasuki ruangan gelap yang dipenuhi banyak lampu, dua wanita pirang berpakaian seksi menyambutnya, salah satu wanita disamping kanannya bertingkah agak keterlaluan. Ia menyesaki dadanya yang seperti bola ketubuh Siwon. Lelaki itu menggeram frustrasi, Ia mengangkat sebelah tangannya selagi mundur selangkah, isyarat penolakan itu jelas terpampang, untunglah kedua wanita tadi mengerti. Mereka menggidikkan bahu kecewa setelah akhirnya berbalik mencari mangsa lain.  Seperti inilah kehidupan disalah satu beer house terkemuka.

Siwon memicing, pandangannya memutar mencari – cari sosok wanita itu. Lampu temaram yang berkelarlap – kerlip begiitu menghalangi fokusnya namun begitu Siwon terus melangkah tidak perduli bahwa Ia baru saja menyenggol pasangan kekasih yang tengah bercumbu atau apa. Siwon mengumpat berkali – kali ketika tidak kunjung menemukan chaerim, telinganya bisa robek berlama – lama mendengar hentakan musik memekakan telinga, juga jantungya, musik keras itu juga serasa mengoyak dari dalam.

Wanita yang duduk dipojok meja bar menarik perhatian Siwon. Rahang lelaki itu mengeras menatap sosok itu yang tengah menikmati beer cocktail dengan santainya. Buru – buru Siwon menghampiri.

“Oh sudah datang rupanya.” Sambut Wanita itu meletakkan gelas beernya.

Siwon menarik kursi disamping Chaerim. Wanita itu tersenyum senang, “Kau mau pesan apa?”

“Tidak usah.” Tolak Siwon, “Aku ingin berbicara langsung ke- inti.” Jelasnya yang sudah tidak tahan berlama – lama.

Chaerim memajukan wajahnya percaya diri, “Ok silahkan, apa kau sudah memutuskan untuk menerima tawaran ayahku?”

“Sayangnya tidak.” Putus Siwon. Wajah Chaerim berubah cemas namun begitu Ia mencoba bersikap setenang mungkin, “So?”

“Aku tidak takut dengan ancamanmu.”

Chaerim tertawa remeh, “Sepertinya aku perlu mempertegasnya. Kalau berita itu beredar, kalian akan mengalami kerugian. Dan jika kalian mengalami kerugian terus – menerus maka perusahaanmu  bisa collaps. Kau jangan egois Siwon-ssi.”

“Lakukan sesukamu. Aku bukan orang bodoh yang hanya tinggal diam. Dan ingat aku tidak seperti ayahku dulu yang sering kalian jadikan sapi perah sewaktu memimpin perusahaan.” Peringat Siwon menegaskan.

“Oh ya?” Tatapan Chaerim bagaikan mengejek, “Kita lihat nanti sampai dimana keberanianmu. Ketika keadaan benar – benar mendesak kau pasti akan memohon – mohon padaku untuk mengembalikan nama baik perusahaanmu melalui media dibelakangku.” Wanita itu menyeringai, “Jadi sebelum terlambat, bukankah sebaiknya kau mencintaiku saja seperti dulu?”

Siwon tergelak, “Kau benar benar berubah. Kau bukan lagi Chaerim yang lugu seperti dulu, sosok Chaerim sebelum ayahmu yang menjadi orang kepercayaan diperusahaanku berhianat, yang justru dengan pekerjaan barunya sebagai petinggi media, dia berbalik melakukan pemerasan.” Jelasnya membekukan bola mata Chaerim,

“Dan satu lagi,” tambah Siwon, “Seandainya aku jatuh kedasar jurang, itu jauh lebih baik dari pada harus tinggal di daratan bersama wanita sepertimu.”

“Jadi kuperingatkan padamu..” tatapan Siwon menajam,  “Mulai saat ini anggap kita tidak saling mengenal. Selamat tinggal.”

Siwon beranjak meninggalkan Chaerim. Lelaki itu berjalan tenang menerobos perkumpulan orang – orang didalam beerhouse yang tengah berjoget ria. Dalam hitungan jari punggung Siwon menghilang ditengah kegelapan.

“Kurang ajar !” Chaerim meggebrak meja, tangannya bergerak bebas menyingkirkan lalu menebas dalam sekejap mata sebuah gelas dan botol anggur diatas meja. Beling – beling menghantam lantai mengundang perhatian pengunjung lain. Chaerim tidak perduli. Ia sibuk menggeram seorang diri. Siwon benar – benar mempermainkan, sekaligus mempermalukannya secara tidak langsung !

Kepalan tangannya meninju meja, “Shitt !” Umpat chaerim nyaris gila.

………

Siwon menahan pintu dengan tangannya ketika Taeyeon hendak menutup pintu apartemen miliknya sekali lagi. Taeyeon mendesah frustasi, tangan Siwon bisa saja terjepit pintu kalau ia tidak buru – buru melihat. Taeyeon menarik gagang pintu dengan gerakan terpaksa, melebarkan ruang terbuka diantara mereka dan membubuhi sepercik nasehat dengan berkata, “Aku sudah membujuknya berkali – kali Siwon-sii. Dan hasilnya tetap sama.”

“Maebhu.”

Mata Taeyeon membulat sempurna. Hal yang tidak terduga terjadi didepan matanya. Siwon… berlutut…

“Ooo-oke masuklah dulu.” Taeyeon menunjuk – nunjuk ruang tamu apartemennya, wanita itu benar – benar canggung menghadapi sikap Siwon yang menyembahnya seperti ini.

“Err, tunggu sebentar.” Taeyeon bergegas masuk kedalam. Taeyeon tidak sempat lagi memastikan Siwon sudah berdiri atau belum. Didalam pikirannya, ia harus cepat – cepat memaksa Tiffany menyudahi drama membingungkan ini.

“Tiffany cepatlah temui dia.” Bujuk Taeyeon, sementara Tiffany terdiam memeluk bantal.

“K-kau tidak benar – benar berpikir untuk berpisah kan?” Taeyeon memastikan ragu menatap Tiffany yang tiba – tiba meneteskan air mata.

Tiffany menyeka anak sungai dikedua belah pipinya, menatap Taeyeon penuh keyakinan, “Berpisah bukanlah sesuatu yang buruk. Perpisaan  ini punya hikmah tersendiri, setidaknya aku bisa terbebas dari mereka. Tidak ada lagi Siwon, keluarga Choi dan… Suho. Bukankah itu berarti aku bebas melakukan segalanya? Aku bisa kembali melanjutkan karier keartisanku seperti dulu. Aku bisa menerima tawaran bermain drama sebagai pemeran utama yang dulu sempat gagal. Sutradara itu tidak akan memarahi dan memecatku begitu saja karena aku sedang hamil, iyakan?” ucap Tiffany meminta persetujuan.

Taeyeon bungkam, tenaganya terkuras hanya untuk memikirkan kata – kata Tiffany.

“Kau bahagia karena ‘hikmah’ itu?”

Tiffany mengangguk…

“Lalu kenapa menangis?”

Kosong dan senyap. Situasi yang paling dibencinya ketika berbicara empat mata dengan orang lain. Tiffany sudah menunjukkan kekalahannya di mata Taeyeon. Tiffany tertangkap basah, karena secara tidak langsung Ia mengakuinya.

“Jangan bertindak seperti pengecut. Ayo, temuilah dia.” Perintah Taeyeon tanpa basa basi,

“……..”

“Kau temui dia atau aku yang akan menariknya kemari !”

Tiffany mengangkat wajahnya. Dan Taeyeon menganggap bahwa isyarat tersebut ialah tanda persetujuan.

Tidak sampai satu menit Tiffany duduk berhadapan dengan Siwon di ruang tamu. Belum ada tanda – tanda yang menunjukkan bahwa Tiffany akan memulai pembicaraan lebih dulu.

“Semalam aku belum memutuskan apa pun dan kau sudah pergi.” Siwon membuka pembicaraan, Tiffany mendongak. Tiffany mulai gelisah ditempat duduknya ketika Siwon berjalan mendekatinya. Lelaki itu mengambil tempat disamping Tiffany, meskipun Ia mengetahui Tiffany tidak nyaman atas perlakuannya, Siwon memutuskan untuk membangun tatapan mereka. Menemukan mata Tiffany yang sembab, rasa bersalah itu seketika menyerangnya. Ia ingin memperbaiki semua. Siwon sudah berjanji tidak akan lagi membuat Tiffany menangis detik ini.

“Kurasa kau tidak perlu memutuskan sesuatu untukku. Aku bisa memutuskannya sendiri, saat ini.”

Tiffany memutar arah pandangnya dan berhenti tepat di manik mata Siwon.

“Apakah belum terlambat? Meski pun semalam kau  berkata bahwa tidak ingin mendengar apa pun lagi dariku, aku akan tetap mengatakannya.” Tatapan Siwon menajam tampak serius dengan ucapannya,  “Tiffany… hidup bersamaku.”

Ketika Tiffany tidak bereaksi, tangan Siwon menggenggam kedua tangan Tiffany yang tergeletak didalam pangkuan. Wajah lelaki itu tampak tenang seolah diantara mereka tidak terjadi apa – apa. Mungkin hanya Tiffany yang merasakan debaran kencang didalam jantungnya.

“Maukah kau melanjutkan perjalanan hidupmu bersamaku… dan Suho?”

Bibir Tiffany yang terkatup akhirnya membuka, “Lalu bagaimana dengan Chaerim? Lalu perusahaanmu?”

“Aku sudah memikirkan sebuah cara.” Pangkas Siwon.

“Mwo?” Tiffany menyelidik bingung. Jangan – jangan benar, Siwon memilih dua – duanya. Siwon memilih tinggal bersama keluarga kecilnya tapi disatu sisi Ia menginginkan Chaerim untuk menyelamatkan perusahaannya dari isu. Tiffany agak tersentak oleh dugaannya sendiri. Jadi benar, sebentar lagi dirinya akan dimadu?

“Jangan berpikir macam – macam.” Peringat Siwon seolah bisa membaca isi kepala Tiffany, perempuan itu terkesiap, Ia tampak gamang sewaktu berhadapan lagi dengan sorot mata ketajaman lelaki dihadapannya.

“Dengarkan aku baik – baik.”

Lelaki itu menimbang – nimbang usai menghela napas, meski pun wajah Siwon cukup meyakinkan tapi dimata Tiffany Siwon belum bisa menyembunyikan keresahannya, “Selama ini Choi Group selalu dijadikan bulan – bulanan ancaman media, aku ingin mengubahnya. Aku tidak ingin mengikuti jejak ayahku yang membungkam isu media dengan uang. Kau tahu? Selama ini terdapat jurang pemisah antara Choi group dan publik, sehingga apabila beredar isu buruk mengenai Choi group, publik dengan mudah mempercayainya dan membuat seolah – olah hal yang salah menjadi benar.”

“Lalu?”

Gurat permohonan terpancar dari wajahnya, genggaman tangan Siwon mengencang penuh harap, “Aku akan melakukan penggiringan opini publik, kau harus membantuku membangun citra positif Choi group. ”

“Maksudnya?”

“Aku tahu kau sangat pandai berakting.” Siwon beragan – angan menyusun skema. Tiffany mencerna apa yang baru saja ditangkapnya,  “Jadi… kau menyuruhku berpura – pura didepan publik?”

“Tidak bukan begitu.” Ralat Siwon, “Kau harus melakukan kegiatan sosial atas nama Choi group. Jadilah social brand Choi group.”

“Social brand?”

“Pokoknya yang seperti itu, kau pasti mengerti kan? Selama ini tidak ada yang mau seperti itu karena ibu presdir sebelummu alias ibuku sangat pemilih dan manja, jadi ayahku tidak pernah memikirkan ini untuk membangun citra perusahaan.” Jelas Siwon, “Hal itulah yang membuat kami tidak memilki citra yang baik di tengah masyarakat, jadi berbagai media dengan mudah memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungan. Bagaimana pun publik adalah pangsa pasar kami, jadi apabila publik sudah tidak bersimpati lagi maka Choi group akan mengalami kerugian, apalagi jika sudah menyangkut lini bisnis yang berhubungan dengan konsumsi masyarakat, itu akan sangat berpengaruh. Sekarang yang terpenting ialah membangun simpati publik, maka apabila isu negatif itu menyebar, publik tidak akan langsung mempercayainya.”

Tiffany tampak berpikir. Dengan segenap permohonan, Siwon menarik genggaman tangan Tiffany menuju dekapannya, “Tiffany, maukah kau melakukannya untukku?”

…………..

Seminggu ini tulang Tiffany benar – benar remuk. Sebisa mungkin Ia tersenyum ketika berdiri dihadapan beratus penghuni panti, mulai dari panti jompo, panti asuhan, hingga sekolah luar biasa yang menampung anak – anak yang berbeda dengan anak – anak lainnya. Sekarang ini adalah puncaknya, Choi Group mengadakan acara amal di sebuah yayasan sosial di Seoul mengumpulkan masyarakat dari berbagai wilayah untuk menerima santunan. Berpidato memberi sambutan,  membagi – bagikan makanan, selimut, obat – obatan sudah menjadi kebiasaan rutin Tiffany. Bahkan tubuhnya terbiasa melakukan gerakan penyerahan benda, yang biasanya Tiffany membagikan seluruh sumbangan itu secara langsung dengan kedua tangannya. Sesekali Ia membantu mendorong anak kecil yang duduk diatas kursi roda lalu mengajaknya tertawa. Tiffany hampir dijuluki sebagai peri nasional, bahkah kepopulerannya hampir menyaingi aktris terkenal sekelas Han Ga In.

Para wanita paruh baya sedang mengelilingi Tiffany yang tengah melakukan demo memasak. Tiffany memperlihatkan kepada mereka cara membuat dan menghias puncake. Tiffany sendiri harus mengikuti kursus memasak demi menunjukkan kemampuannya didepan semua orang, anggaplah ini merupakan salah satu permintaan Siwon untuk menarik pehatian masyarakat. Entah sudah berapa banyak modal yang dikeluarkan perusahaannya demi membangun pencitraan seperti ini. Tapi setidaknya hal itu lebih berbobot dibandingkan sebuah perusahaan yang harus membayar media agar berhenti menyebar isu negatif tanpa bukti.

“Lihat dia.. kau yakin nak dia benar – benar mertuamu?” seorang ahjumma berbisik bisik. Tiffany berhenti mengocok adonan kue, menatapnya sebentar.

“Apakah dia salah kostum?”

Tiffany menolehkan pandangannya kearah seseorang yang dimaksud sang ahjumma. Seseorang diujung sana yang berkipas – kipas dibawah payung biru yang digenggam oleh pengawal berpakaian serba hitam dibelakangnya. Bukan sesuatu yang baru ketika mereka sibuk berdesas – desus mengenai Nyonya Choi. Mungkin karena penampilan mertuanya yang sangat berkelas, memakai kaca mata hitam dan kalung berlian, membuatnya tampak mirip sedang menghadiri arisan sosialita dibanding acara amal. Tiffany menatap sekelilingnya, menghela napas tidak perduli. Perlahan Ia mengerti maksud perkataan Siwon beberapa waktu lalu. Nyonya Choi tidak pandai menarik simpati publik, mungkin butuh waktu yang lama untuk meminta beliau menyederhanakan pakaiannya.

“Tapi ngomong ngomong dia bukan mertua yang kejam kan?” prasangka itu lagi – lagi menghujam Tiffany. Ini sudah kesepuluh… tidak, sudah dua puluh kali pertanyaan seperti itu melayang – layang di pikirannya.

“Eommonim sangat baik padaku. Ahjumma tidak usah hawatir.” Jawab Tiffany menyungginggkan senyum termanisnya.

Ahjumma beruban itu menepuk punggung Tiffany bangga, “Omoo.. kau memang wanita yang cantik dan  baik, kapan aku bisa punya menantu sepertimu?”

Tiffany lagi – lagi membalas dengan senyuman. Hanya itu, Tiffany cukup bisa menjaga lisannya agar tidak banyak bicara. Tiffany mengantisipasi jangan sampai peringai anggunnya luntur dimata orang – orang. Lagipula seperti inilah gambaran yang diinginkan Siwon. Ngomong – ngomong berbicara tentang lelaki itu, Tiffany ingin sekali mematahkan tulangnya. Gara – gara Siwon Tiffany harus melakukan semua ini… tersenyum sepanjang hari, meladeni aspirasi orang – orang dan lain sebagainya.

“Eommaaa…” suara bocah kecil melengking dalam pendegaran Tiffany. Tiffany menoleh kebawah dan menemukan Suho tengah menerobos kerumunan ahjumma.

“Eomma tadi Suho main bola sabun yang besaaaarrr sekali.” Ucap Suho berseri seri, tangan mungilnya bergerak bebas menyapu udara.

“Oh jinja, kau senang? Tanya Tiffany.

Suho tersenyum memperlihatkan gigi susunya, Ia mengangguk, “Ne, aku punya banyak teman disini. Tadi aku juga bermain tanah dengan mereka tapi Halmoni memarahiku, kata halmoni aku tidak boleh main kotor, telur cacing dimana – mana.” Ungkap Suho. Tiffany manggut – manggut mengerti Kadang Nyonya Choi terlalu over protective padahal Tiffany tidak pernah melarang Suho melakukan sesukanya. Bahkan jika anak itu bermain di selokan, terserah.

“OMo lihat itu, dia tampan sekali !” kerumunan ahjumma mulai heboh, begitu pula orang orang disekitarnya. Tiffany mendongak penasaran, apa sekiranya yang membuat meraka hilang kontrol seperti itu.

Seorang lelaki memakai dengan setelah jas rapih membelah kerumunan yang terkagum kagum menatapnya. Sejumlah pengawal berpakaian hitam ikut mengikuti dibelakang lelaki Itu.

‘Apan – apaan dia? Dasar sok keren.’ Umpat Tiffany dalam hati. Siapa lagi si tukang tebar pesona. Dialah Choi Siwon. Berbeda dengan kebanyakan orang, Tiffany menatap sinis lelaki itu tidak mau ambil pusing berlama lama menyaksikan tingkahnya yang menyebalkan.  Bagaimana tidak, Tiffany harus berpenampilan seperti pembantu dan lelaki itu dengan gampangnya datang mengenakan jas mahal. Dia sedang meledeknya atau apa..

“Annyeong haseyo, naneun Choi Siwon imnida.”

Baiklah Tiffany benar benar kesal. Karena Choi Siwon berada diatas panggung dan berbicara menggunakan michrophone, perhatian orang orang beralih kepadanya termasuk para ahjumma yang tadinya sedang memasak. Tiffany mencebik melihat ekspresi wajah mereka yang melongo kearah panggung acara amal.

“Aku kesini ingin menemui istriku yang cantik.” Sontak ucapan itu mengundang teriakan peserta acara amal yang sebagian besar ahjumma.

“Itu APPA! Appaaa…” teriak Suho heboh, Siwon tampak mencari cari suara anaknya itu. Ia pun menyambung, “Dan putera kecilku disana.” Ucapnya lagi dan kali ini semua perhatian tertuju kearah Suho dan… Tiffany. Tiffany menengok kesana kemari. Terpaksa menebar senyum. Didalam hati kesal setengah mati.

“Suho-ah. Maukah kau membantu Appa, mengawal Eomma kesini ?” pinta Siwon dari atas panggung.

“Siap!” hormat Suho ala militer. Tiffany tergelak, mereka berdua benar – benar menggelikan.

Suho meraih tangan Tiffany menarik – nariknya menuju panggung. Tiffany sempat menolak namun ketika pengawal Siwon dikuti peserta amal bertepuk tangan, Tiffany merasa terdesak. Mau tidak mau Ia menurut.

Tiffany sudah berdiri didapan Siwon. Meskipun Tiffany tesenyum didepan semua orang tapi tidak dihadapan Siwon. Tiffany memasang wajah datar.

“Tiffany- ya.” Teriakan heboh kembali terdengar. Suara Siwon yang mendayu dan lembut menjadi penyebabnya.

Siwon maju selangkah meraih tangan Tiffany, sementara tangan satunya lagi memegang michrophone, “Mianhae, membuatmu lelah sepanjang hari.”

“Untuk pengorbananmu selama ini.” Siwon tersenyum mencium punggung tangan Tiffany. Tentu siapa yang tidak meleleh menerima perlakuan seperti itu, tapi bukan Tiffany namanya kalau membiarkan Siwon menaklukkannya dengan mudah.

“Akhir akhir ini aku membuatmu sibuk dan kita jarang bertemu. Mungkin kau sedang kesal padaku.” Lagi – lagi bunyi speaker yang meledak ledak mengundang teriakan para ahjumma seolah olah mereka sedang menonton drama secara live.

“Siapa bilang aku kesal kepadamu.” Untuk kali ini Tiffany tidak bisa menahan senyumannya, tapi lelaki yang disenyuminya justru menatapanya tajam.

“Aku serius Tiff.”

“Aku juga.” Tiffany menggedikkan bahu.

“Aku tidak akan membuatmu menangis lagi.” Ujarnya, seperti biasa para ahjumma bersorak sorai.

“Anggaplah aku percaya.” Tiffany mengangkat kedua alisnya, “Lalu?”

“Lalu aku akan menjagamu dan keluarga kecil kita sampai kau benar – benar percaya.”

“Lalu?”

“Aku tidak akan meninggalkan kalian..”

“Lalu?”

Siwon terdiam.

“Lihat disana, aku membawa banyak bunga.”

Alis Tiffany bertaut. Pandangannya mengikuti fokus Siwon. Dan betapa terkejutnya Tiffany menemukan sebuah mobil bak terbuka terparkir didepan sana, dibagian baknya dipenuhi oleh rangkaian bunga mawar merah, sejumlah balon dan spanduk bertuliskan ‘Let my kisses be the words of love that I don’t say’

Tanpa Tiffany sadari bibir Siwon berpindah mengecup keningnya. Seperti biasa kumpulan ahjumma yang tidak kenal umur itu mulai berjingkrakan.

“Kau gila.” Umpat Tiffany.

“Memangnya aku tidak boleh jadi gila karenamu?”

“Cieeee…” kali ini mereka bertepuk tangan. Wajah Tiffany memerah bagaikan kepiting rebus, perempuan itu mati kutu dibuatnya.

“Tinggallah disampingku lebih lama.” Siwon tersenyum sekilas kemudian berlutut didepan Tiffany. Tiffany mulai canggung dengan keadaan ini. Ia menatap sekitar. Tiba – tiba jantungnya berdetak diluar batas kewajaran.

Siwon mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. Sebuah kotak beludru merah. Siwon membuka kotak itu dan menyodorkannya dihadapan Tiffany.

“Anggaplah aku sedang melamarmu untuk kedua kalinya.”

Tiffany mengamati sebuah cincin perak didalam kotak itu. Bukankah… dan seketika Tiffany teringat akan cincinnya malam itu yang terpaksa Ia kembalikan kepada Siwon sebelum minggat kerumah Taeyeon.

Siwon meraih tangan kiri Tiffany, memakaikan cincin itu dijemari manisnya.  Tiffany berdiri tanpa kata. Otaknya mati suri dalam sekejap mata.

“Saranghae Tiff.”

“Salanghae, Tiff.”

Perhatian Siwon dan Tiffany teralihkan. Mereka terlalu fokus berdua sehingga tidak memperhatikan bocah kecil yang juga berdiri diatas panggung. Dan sekarang bocah itu, Suho meniru niru tindakan dan ucapan Appanya. Suho ikut berlutut dihadapan Tiffany sambil mengungkapkan kata cinta layakanya orang dewasa.

Suho tersenyum menjejali Siwon dengan giginya yang berjejer rapih. Siwon mengacak rambut anak itu, lalu berdiri menggendongnya.

“Eomma saranghaeyoo.” Ucap Siwon dengan michrophonennya sekali lagi. Lalu Siwon menggeser benda itu kedepan mulut Suho.

“Eomma t-salanghaeyooooo.” Suaranya yang sedikit cadel mengundang tawa banyak orang, termasuk Tiffany yang tergelak menyaksikan tingkah konyol dua orang lelaki dihadapannya itu.

Para ahjumma didepan sana kegirangan sendiri. Tampak juga ditiap sudut panggung, pengawal – pengawal  Siwon sibuk mendokumentisikan peristiwa itu. Tiffany sedikit curiga menatap tingkah pengawal Siwon, pasti ada sesuatu…

Usai turun dari panggung, Tiffany menatap Siwon penuh selidik. Suho sendiri sudah bermain entah kemana.

“Apa ini salah satu caramu untuk mengantisipasi isu perselingkuhan dengan SCR itu? dengan bertingkah sok romantis begini didepan orang banyak. Aku benar kan?”

Siwon berpindah merangkul pundak Tiffany, “Nde kau memang benar tapi tidak sepenuhnya.”

Tiffany mengernyit bingung.

Siwon menaik turunkan kedua alinya penuh arti, “Kau pasti mengertikan istilah, sambil menyelam minum air?”

“M-mwo?” Tiffany memukul dada Siwon pelan. Wajahnya berapi – api. Siwon mencapit hidung Tiffany gemas yang langsung ditanggapi dengan tepisan merajuk.

Ponsel Siwon berderit.  Siwon merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda persegi panjang yang menyala nyala. Ia menggeser tombol on lalu meletakkan ponselnya ketelinga kanan. Beberapa detik Siwon terdiam oleh pembicaraan seseorang diseberang sana. Senyum diwajahnya luntur dalam hitungan jari. Tiffany sontak menguping sedikit demi sedikit apa yang tengah dibicirakan lelaki itu. Dan kalau tidak salah Donghee menyebut nama Chaerim.. Chaerim, ada apa lagi dengannya?

“Kecelakaan?” Tiffany terperangah mendengar kabar itu meluncur dari bibir—merah—Siwon. Mungkinkah…

……………………….

Setelah menerima telepon dari Changmin ahjussi, Siwon lantas beranjak ke rumah sakit. Tiffany tidak mau tinggal diam karena penasaran dengan keadaan Chaerim yang katanya baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Awalnya Siwon  hendak menolak bertemu chaerim namun  hal ini menyangkut masalah kemanusiaan, tidak dapat dipungkiri bahwa Chaerim adalah temannya, suka atau tidak suka setiap orang harus memberikan dukungannya moril dan materil kepada siapa saja temannya yang baru saja mengalami musibah, dan anggapan itu sudah tertanam dikepalanya sejak dulu.

Usai berputar – putar mengitari koridor rumah sakit akhirnya mereka sampai di ruangan tempat chaerim di rawat usai mendapatkan penangananan dari tim medis semalam. Tiffany tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika Siwon mendorong pintu ruang rawat diikuti Tiffany dibelakangnya. Tiffany terpekik Spontan mengundang tatapan isyarat Siwon menghunus kearahnya. Tiffany lalu membungkam mulutnya dan mencoba bersikap setenang mungkin.

Sejak tadi Tiffany tidak berhenti mengamati seorang pasien yang berbaring diatas ranjang perawatan. Tiffany nyaris tidak mengenali bahwa wanita yang  berbaring disana adalah Chaerim.

Bagaimana tidak, wajah Chaerim sebagian besar dililit oleh perban, pun hampir tujuh puluh lima persen tubuhnya juga begitu. Kaki kanannya di gips sedangkan luka ditangan kirinya ialah yang paling ringan, disana tampak luka jahitan  yang di perban.

“Siwon-ssi..” ucap seseorang. Siwon langsung mengenalinya, beliau adalah Nyonya Shim Ibu Chaerim. Siwon membungkuk hormat disusul Tiffany.

Nyonya Shim menatap prihatin keadaan anaknya. Wanita setengah baya itu mempersilahkan tamunya menempati bangku samping ranjang.

“Chaerim-sii.” Panggil Siwon parau. Wajah Chaerim yang sebagian besar dililit perban menyulitkan Siwon melihat ekspresi wajah wanita itu. Namun satu hal yang pasti, Chaerim memalingkan wajah.

“Chaerim-ah, ada Siwon disini, kau tidak boleh membuang muka seperti itu.” nasihat Nyonya Shim lembut.

Chaerim memutar pandangannya, menatap sang Eomma lalu Siwon, “Kau lihatkan? Aku hancur. Lalu apa kau senang?” nada bicara wanita itu terdengar sinis. Siwon mengernyit tidak mengerti, “Maksudmu?”

“Melihat keadaanku seperti ini, Aku tidak ada apa – apanya dibanding Tiffany.” Chaerim menengok Tiffany sekilas. Dengan rambut yang tergelung seperti itu, Tiffany bagaikan princess di negeri dongeng sedangkan dirinya?

“Chaerim, aku kesini bukan untuk membanding – bandingkanmu, aku kesini untuk melihat keadaanmu.” Jelas Siwon.

“Sekarang kau sudah lihat kan keadaanku? Lalu apa dengan kedatanganmu kemari kau akan menikahiku? Tidak kan?! Bahkan sebelum kecelakaan ini kau sudah menolakku mentah mentah ! Dan kecelakaan ini terjadi karena aku tidak bisa berhenti memikirkanmu ! Aku membalap mobilku seperti orang gila dan kecelakaan tersebut menimpaku !” Chaerim menahan kata katanya membiarkan Siwon merenung.

“Sekarang pergilah.” Usir Chaerim datar. Tiba – tiba perempuan itu menangis. Siwon tersentak bingung dengan keadaan ini.

Chaerim terdiam sejenak menenangkan diri, “Mianhae… mianhae… anggaplah aku yang terlalu keterlaluan, aku yang selalu menyulitkamu. Aku takut kehilangmu Siwon-ya. Dulu ayah kita adalah sepasang sahabat, begitu pula aku denganmu. Kau tahu kehilanganmu ialah mimpi buruk bagiku.” Chaerim sesangguk. Sementara Siwon menekuk wajahnya, tidak tega melihat Chaerim yang seperti ini.

“Minggu depan aku akan berangkat ke amerika untuk melakukan operasi perbaikan tubuhku yang hancur jadi… mulai sekarang kuucapkan selamat tinggal, lupakan soal issu itu, aku tidak akan menyuruh media memberitakan yang tidak tidak tentang perusahaanmu.”

Nyonya Shim, mengelus bahu Siwon, “Siwon-ya, Atas nama Chaerim, Eomma memohon maaf.”

Wajah pucatnya juga menatap Tiffany, “Dan…”

“Tiffany imnida.” Ujar Tiffany memperkenalkan diri.

“Oh, Tiffany-ssi, tolong maafkan Chaerim dan jangan lupa doakan untuk kesembuhannya,” Nyonya Shim tersenyum tipis.

“Nde, kami pasti akan mendoakannya.” Tiffany menundukkan kepalanya sopan. Sementara itu Siwon hanya terdiam, matanya tidak kunjung berhenti menekuri keadaan wanita dihadapannya.

………………….

“Eommaaa… Appaaaa…” teriak Suho dari ruang tengah. Nyonya Choi berteriak dari dalam agar Suho tidak berlari sekencang itu. Halmoni Suho itu tengah sibuk mempersiapkan makan malam untuk mereka di meja makan bersama bibi Han pelayan keluarga Choi yang sudah bekerja sekitar sepuluh tahun.

Siwon menyambut Suho, menggendong anak itu dan membawanya kedalam. Tiffany tidak berkata apa – apa, Ia langsung masuk kedalam kamar yang khusus disediakan untuknya dan Siwon. Tiffany sebenarnya ingin langsung pulang ke apartemen mereka, tapi berhubung karena harus menjemput Suho, Tiffany terpaksa mendatangi rumah mertuanya itu.

Tiffany melemparkan tubuhnya diatas ranjang, sontak tubuhnya memantul –mantul seperti bola. Ia menatap langit – langit kamar. Tiffany mendesah pelan.

“Tiffany-ya,  kenapa langsung tidur? ayo makan dulu.” Nyonya Choi berdiri diambang pintu. Perhatian Tiffany teralihkan.

“Nde Eomma sebentar lagi.” Jawab Tiffany bangun dari ranjang. Tampak Nyonya Choi sudah menghilang dari ambang pintu. Tiffany mencoba berdiri, tiba – tiba kepalanya serasa berputar – putar. Tiga hari ini Tiffany kerap kali merasakan pusing menimpa kepalanya, menghilang tiba – tiba, kambuh lagi… mungkin selama ini tenaganya terlalu diforsir oleh berbagai kegiatan amal perusahaan yang tiada henti.

Menggunakan separuh tenaganya, Tiffany akhirnya duduk didepan meja makan bersama Siwon, kedua mertuanya dan Suho. Tuan Choi dan Siwon sibuk bercakap – cakap mengenai rekan bisnis mereka sedang Tiffany sibuk dengan makanannya, tapi makanan sebanyak ini tiba – tiba membuat selera makan Tiffany pudar. Tiffany mengaduk – aduk supnya tanpa berniat menyuapi mulutnya sendiri, Tiffany fokus kearah pusaran sendok supnya, bahkan Suho yang memakan makanannya dengan sedikit belepotan luput dari perhatian Tiffany.

“Aihh menantuku, kenapa hanya menggerayangi makanan itu? tidak biasanya..” Nyonya Choi menyela, Tiffany tersentak dari lamunannya dan menemukan bahwa perhatian orang – orang tertuju kearahnya. Tiffany menatap makanannya sendiri, utuh. Makanan itu belum ada yang disentuhnya padahal biasanya Tiffany sedikit rakus jika menghadapi makanan lezat seperti ini.

Nyonya Choi mulai hawatir, “Apa kau sakit? Kelihatannya kau kelelahan dan.. yak Siwon-ya! Ada apa dengan Tiffany? kau terlalu sibuk akhir – akhir ini ! lihatlah Tiffany jadi kurang perhatian seperti itu, aigoooo.” Sembur Nyonya Choi.  Siwon terkesiap karena sebenarnya Siwon pun sudah menangkap tanda – tanda aneh mengenai Tiffany sejak tadi, hanya saja Siwon memilih diam.

“Ani, Gwenchana.” Sangkal Tiffany, “Mungkin aku hanya butuh istirahat.”

“Omo, kalau begitu istirahatlah, tapi habiskan dulu makanannya, meskipun hanya sesuap.” Pinta nyonya Choi, “Dan menginap saja disini.”

“Eh?” Tiffany terkejut atas tawaran itu, “T-tidak usah Eommonim, lebih baik aku pulang sajaa, iya kan Oppa?” Tiffany meminta persetujuan. Siwon menatap Tiffany dan Eommnanya bergantian. Lelaki itu mulai bingung menghadapi isyarat pemaksaan keduanya…

“Nde Eomma, kami sebaiknya pulang.” Putus Siwon akhirnya menyetujui permintaan Tiffany. Siwon mengambil cara aman. Tiffany pasti akan kesal setengah mati kalau permintaannya tidak dipenuhi, berbeda dengan sang Eomma yang tampaknya menurut saja dengan keputusan mereka.

…………….

Ditengah perjalanan pulang , Tiffany tidak henti hentinya menatap jendela mobil dari kursi penumpang samping kemudi, membelek lampu – lampu gedung di luar sana, atau sekedar mengamati pekerja yang berlalu – lalang dipinggir jalan. Suho yang berada dipangkuannya berceloteh tanpa henti, biasanya Siwon yang akan menanggapi celotehan anak itu selagi fokus berkemudi, sedangkan Tiffany memilih diam.

“Tiff,” panggil Siwon yang dijawab Tiffany dengan gumaman. Disaat mobil yang dikendarainya tertahan oleh lampu merah, Siwon memastikan keadaan Tiffany, menyentuh kening Tiffany dengan punggung tangannya.

“Gwenchana ?” tanyanya, Tiffany mengangguk pelan, “Entahlah, tiba – tiba aku bosan.”

Siwon memandangnya.

“Aku bosan dengan semua ini.” Tiffany tersenyum… miris.

“Maksudmu?”

“Aku ingin pergi ketempat yang bisa menghiburku.” Tukas Tiffany memutar pandangannya kearah Siwon, “Bagaimana kalau berjalan – jalan sebentar di Cheonggyecheon stream.”

“Tapi Tiffany bukankah kau sedang ti—“

“Aku kan sudah bilang, aku baik baik saja Oppa.” Bujuk Tiffany meyakinkan, “Aku hanya butuh menenangkan diri, sebentar.”

Siwon menghela napas pasrah. Lampu lalu lintas berubah menjadi kuning, dua detik setelahnya  berganti menjadi hijau. Berpuluh kendaraan tampak melaju pelan menembus perempatan jalan. Siwon menarik pedal gasnya, segera Ia mengarahkan kemudinya menuju tempat yang diinginkan Tiffany.

Mereka tiba di sungai Cheonggyecheon lima belas menit kemudian. Sungai ini memiliki dua buah jalanan dikedua sisinya sedangkan ditengah kedua jalanan itu mengalir sebuah sungai yang dihiasi karya seni, patung, jembatan , air mancur dan pertunjukan laser di malam hari.  Suho tersenyum senang berada ditengah – tengah Siwon dan Tiffany, menggandeng tangan mereka dan mengayun – ayunkannya diudara. Sepasang mata anak kecil itu berseri – seri menatap air mancur disamping jalan yang berwarna warni.

“Eomma boleh aku main?” Suho mendongak, anak itu tersenyum memohon.

Tiffany mengusap kepala Suho, “Ne bermainlah sepuasnya tapi jangan jauh – jauh, arrasseo?”

Suho mengangguk senang, “Ara !”

Usai memastikan persetujuan Siwon dan Tiffany, Suho lantas berlari menerobos angin malam, anak itu berlari meniru gaya pesawat terbang yang berbelok kesana – kemari. Suho tertawa – tawa sendiri, entah apa yang anak itu tertawakan namun tingkah Suho yang menggemaskan itu nampaknya telah mengundang banyak perhatian gadis – gadis cantik yang datang menghampiri sekedar mencubit pipinya yang cubby. Kelihatannya Suho memang suka tebar pesona, anak itu tersenyum kepada semua orang, persis seperti Siwon.

Tiffany menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Hanya itu. Tiffany bahkan tidak menatap Siwon sama sekali. Siwon tahu ada yang salah dengan perempuan itu sejak pulang dari rumah sakit. Siwon tidak ingin hawa kecanggungan itu menimpa keheningan diantara mereka, Siwon berdehem pelan, “Mungkin ada sesuatu dihatimu yang ingin kau katakan padaku…” terkanya sedikit ragu. Tiffany menepis keraguan itu dengan berkata, “Ada beberapa…”

Siwon menatap penuh harap, menunggu kata – kata Tiffany selanjutnya.

“Aku ingin mengatakannya tadi… tapi mungkin agak tidak pantas karena orang yang ingin kubicarakan sedang terkena musibah.”

“Siapa? Chaerim ?”

“Nah, berhubung kau sudah menyebut namanya jadi kita lanjutkan saja.” Tatapan Tiffany menerawang, “Sebenarnya aku sedikit trauma melihatmu dengan chaerim apa pun keadaannya, apalagi saat dirumah sakit kau kelihatan menyesal sekali atas kecelakaan yang menimpa Chaerim…”

Tiffany bergeleng sesal, menatap Siwon bimbang, “Aku tidak kuat menahannya lagi, mungkin aku terdengar egois tapi  melihat kalian berdekatan… itu sangat menggangguku Oppa.”

“Kami sudah tidak menjalin hubungan seperti yang kau maksud.”

“Aku tahu… “ Tiffany bergidik, “Boleh kutahu memangnya kalian sedekat apa ?”

Siwon menghela napas, Ia tidak ingin mengingat – ngingat lagi hanya saja karena ini permintaan Tiffany, Siwon menyanggupi. Lelaki itu memberi jeda sebelum menceritakan, “Aku dan Chaerim… Awalnya sebatas hubungan kakak adik kemudian kami semakin dekat. Chaerim sering di bully karena orang-orang menganggapnya buruk rupa jadi aku selalu datang menyelamatkannya. Tapi semenjak ayahnya menduduki posisi penting di media itu, Chaerim berubah, Ia melakukan operasi plastik, selain wajah karakternya pun berubah seratus delapan puluh derajat.” Ungkap Siwon, “Aku prihatin padanya dan sekarang Chaerim harus mengalami ini semua tapi sudahlah, tidak ada untungnya membicarakan orang yang sedang kesusahan.”

Siwon menangkup wajah Tiffany, menatap bola matanya yang berkilap – kilap didekat air mancur,  “Aku tidak ingin membicarakan masa laluku, aku ingin fokus membicarakan masa depanku.”

Sesuatu menghangat didalam tubuh Tiffany, sensasi yang nyaris menerbangkan tubuhnya keangkasa, tepat setelah Siwon mengatakan ingin fokus terhadap masa depannya, manik lelaki itu tidak berhenti menatap matanya, kedua lutut Tiffany serasa lemas menghadapi tatapan itu.

Jangan salahkan pikiran kotor Tiffany kalau saat ini juga Ia ingin sekali memangut bibir merah Siwon yang lembab itu… hanya saja berhubung mereka sedang berada ditempat umum, Tiffany hanya sebatas berjinjit setelahnya menciumi kedua pipi lelaki itu bergantian.

“Baiklah, kalau begitu fokuslah dengan masa depanmu.” Tiffany tersenyum meyakinkan, kedua lengannya bergelayut diseputar leher Siwon.

Siwon menarik pinggang Tiffany, memeluk perempuan itu dengan segala kehangatan ditubuhnya. Tiffany membalas pelukan Siwon, menyusupkan wajahnya dan bersandar diatas bahu lelaki itu. Tiffany memejamkan mata, bunyi percikan air sungai menghantarkan kedamaian tersendiri ditengah malam yang dingin  ini.

“Eomma, Suho juga ingin dipeyukkk.” Sepasang tangan mungil memeluk kaki Tiffany dari belakang. Tiffany tersentakmelepaskan pelukan mereka. Tiffany berbalik dengan hati – hati. Ia menemukan Suho melipat kedua tangannya dengan wajah cemberut.

Tiffany membungkuk lalu mengacak rambut anak itu gemas, “Bagaimana ini pangeran kecil kita ngambek.”

“Apa dia meminta jatah pelukan? Tidak ada jatah untukmu sayang.” Siwon menimpali. Wajah Suho berkerut – kerut seolah meminta Tiffany mengasihaninya. Sontak wajah Suho yang memelas berganti ekspresi menjadi sumringah ketika Tiffany beranjak memeluknya.

“Appaaa gendong, gendong !” pinta Suho melompat – lompat kecil dibawah kaki Siwon. Anak itu merengek – rengek tanpa henti. Lantas Siwon mengambil alih tubuh mungil Suho keadalam gendongannya. Suho tersenyum senang, tangan mungilnya langsung berkalung diseputar leher Siwon.

Malam itu mereka berjalan – jalan disepanjang sungai Cheonggyecheon. Melihat pemandangan dan saling bertukar kata, tersenyum dan tertawa hingga Suho tertidur didalam gendongan Siwon, dan mereka akhirnya memutuskan pulang kerumah. Dan malam itu menjadi malam terindah dimulainya kehidupan baru keluarga kecil pasangan Choi Siwon dan Hwang Tiffany.

………………….

Kehidupan mereka terus berjalan, namun hidup tidak selamanya berjalan mulus. Buktinya acara amal hari ini benar – benar sial. Tiffany harus menaggung malu karena berdiri seperti patung didepan banyak orang. Ini semua gara – gara Siwon, harusnya suaminya itulah yang berpidato tapi entah bagaimana alasan kesibukan atau apa, Siwon melakukan pembatalan semena – mena di acara itu. Al hasil Tiffanylah yang harus mengisi kekosongan. Tiffany harus memberi sambutan berupa pidato menggaantikan Siwon, padahal Tiffany tidak memiliki persiapan apa pun. Semua orang menganggap bahwa Tiffany mewakili suaminya tapi sebenarnya tidak begitu. Yang sebenarnya Siwon kabur dari acara itu.

Tiffany membuka pintu apartamennya. Dengan perasaan kesal Ia melempar sepatunya kesembarang arah. Tiffany berjalan menghentak – hentakkan kakinya. Baru selangkah menginjak ruang tengah, lampu apartment yang tadinya redup menyala tiba – tiba.

“Kejutaannn !!!!”

Kini ruang tengah apartemennya dihiasi oleh pita pita cantik, balon warna warni tergantung dimana mana dan spanduk besar bertuliskan selamat ulang tahun juga terpajang besar sekali dipermukaan dinding. Tiffany terperangah menatap satu  persatu manusia dihadapannya. Nyonya Choi, ibu mertuanya tampak berdiri digarda terdepan. Disana ada Suho, Taeyeon dan… Siwon. Tiffany tersulut, bagaimana mungkin lelaki itu ada disini?!

“Saengil Chukkae Menantuku !” seru nyonya Choi datang memeluk Tiffany. Tiffany hanya manggut – manggut menerima pelukan itu. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

“Saengil Chukkae Eomma !!” Suara cadel Suho menghentak Tiffany. Lantas Tiffany tesenyum dan berjongkok memeluk Suho. Jadi hari ini hari ulang tahunnya, bahkan Tiffany tidak terlalu memperhatikan… Rupanya  Acara yang berakhir tragis itu  berimbas kepada Tiffany  yang melupakan hari ulang tahunnya sendiri.

“Saengil Chukkae adikku tersayang..” Kini giliran Taeyeon yang datang memeluknya. Tiffany hampir menangis ketika memeluk kakak perempuannya itu.

“Oh yaa, sekarang mari kita langsung tiup lilin.”girang nyonya Choi disambut oleh anggukan setuju dari semua orang. Mereka lalu mendorong Tiffany menuju  meja makan yang sudah digeser dan kini meja itu berpindah ke ruang tengah. Tiffany menatap kue dan lilin berbentuk angka 28 itu terharu, namun perhatiannya berpaling ketika seorang lelaki berkemeja putih datang mendekatinya. Kedua tangan lelaki itu bersembunyi dibalik punggung.

Tiffany memutar bola matanya melihat senyum Siwon yang tanpa dosa. Dihatinya masih membumbung rasa kesal akibat Siwon yang batal menghadiri acara amal dan menyulap Tiffany menjadi tampak bodoh dalam sekejap mata. Untunglah berbekal kemampuan aktingnya Tiffany masih bisa mengendalikan situasi kala itu.

“Tiffany mianhae atas kekacauan hari ini. Kau lihat sendiri kan, kami semua sibuk menyiapkan kejutan untumu.” ujarnya. Tiffany menaggapi dengan wajah datar.

“Khusus untukmu pemakluman itu tidak berlaku. Hmm aku tidak semudah itu menerima kata maafmu, harus ada sesuatu yang setimpal.” Tiffany tersenyum penuh arti. Sebelah alis Siwon terangkat, bingung.

“Bagaimana kalau…” Tiffany menimbang – nimbang selagi meletakkan jarinya didepan dagu, “Anggaplah begini, aku akan memaafkanmu kalau kau… mengatakan cinta kepadaku setiap hari.” Tiffany tersenyum tanpa bisa mengendalikan seburat merah dipipinya.

Siwon memandanginya dengan sorot mata keteduhan yang membuat Tiffany semakin salah tingkah, “Setiap hari terlalu biasa, bagaimana kalau setiap detik? saranghae, saranghae, saranghae-yo Choi Miyoung.”

“Saengil chukkae istriku.” Siwon menarik tangannya yang berada dibelakang punggung, menyerahkan rangkaian bunga mawar  yang tersembunyi, menyodorkannya kearah Tiffany.

Tiffany meraihnya dengan malu – malu. Tiffany menahan napasnya, sebisa mungkin agar tidak terdengar berantakan.

Siwon maju selangkah, memeluk Tiffany dan berbisik, “kaulah yang terbaik istriku sayang, terima kasih sudah merawatku dan Suho selama ini.”

Senyum Tiffany merekah seperti orang gila, seluruh tubuhnya bereforia menyambut kalimat Siwon yang memabukkan.

“Lihatlah dunia serasa milik berdua, kita semua dilupakan.” Salah seorang diantara mereka menimpali. Itu suara Taeyeon.

“Suho, jangan minta adik dulu yaa, Eomma dan Appamu masih betah bermanja – manja.” Taeyeon berjongkok menepuk bahu Suho, wajahnya prihatin.

Adik Suho? Tiffany tertawa basa basi, ”Aigoo ada ada saja kau ini ! Tidak mungkinlah aku ham—“

“Hueekkk”

Semua perhatian orang orang tertuju kearah Tiffany yang membekap mulutnya sendiri. Tiffany menengok kesana kemari, tiba tiba mereka semua terdiam didalam prasangka masing – masing. Ruangan yang tadinya ramai bertukar suasana menjadi hening maksimal.

“Oh yaaa bukankah sekarang waktunya tiup lilin ?” Usai menelan mentah mentah kepahitan didalam tenggorokannya, Tiffany mencoba berakting layaknya semua baik – baik saja, Tiffany adalah satu satu orang yang kegirangan sendiri termasuk Suho tentu saja yang tidak tahu apa apa. Orang orang itu sibuk berspekulasi, mungkin…

“Nde, Tiffany benar, bagaimana kalau tiup lilin?” Siwon ikut menyela. Siwon gelagapan akibat  ketidaknyamanan yang mengusik karena selain Tiffany, tatapan orang – orang itu juga menghunus kearahnya.

Nyonya Choi dan Taeyeon akhirnya setuju mengikuti usul Tiffany. Mereka mulai berkumpul didekat Tiffany yang sudah bediri didepan kue tart dan lilin yang menyala.

Tepuk tangan mengiringi lagu ucapan selamat ulang tahun. Tiffany menatap satu persatu wajah kebahagiaan disekitarnya. Nyonya Choi yang paling bersemangat dalam hal ini. Suho, anak itu berjingkrak – jingkrak  didalam gendongan Taeyeon. Tetap ya.. dimana mana suara Eonninya yang satu itu adalah yang paling nyaring sejagad, tapi yang mengherankan Suho tidak merasa terganggu. Mungkin sewaktu hamil Suho, Tiffany sudah terbiasa dengan teriakan Taeyeon, jadi telinga Suho sudah disetel otomatis.

Dan Siwon, lelaki itu tidak bernyanyi, Ia hanya bertepuk tangan kecil tapi… Tiffany tidak tahu apa yang membuat jantungnya berpacu ketika Siwon justru memperhatikannya dengan senyum samar yang misterius juga tatapannya yang teduh itu… sorot mata yang  memancarkan sejuta makna.

“Sekarang ucapkan keinginanmu dan tiup lilinnya.” Perintah Taeyeon menggebu – gebu.

Tiffany menautkan  kedua tangannya, memejamkan mata penuh harap. Keinginan Tiffany hanya satu yaitu membuat mereka tersenyum seperti ini selamanya.

Pejaman mata Tiffany terbuka, lalu Tiffany membungkukkan tubuhnya hendak menjangkau tart berhias lilin lilin cantik itu diatas meja.

Tiffany menarik napas tapi… gejolak berbeda menghantam dari dalam, spontan mulut Tiffany terbekap oleh kedua tangannya sendiri.

Pandangan Tiffany menyapu sekitar, bagaikan maling tertangkap basah.

“Huekkk..”

Lagi lagi hening…

Tiffany meniup lilin lilin itu menggunakan segenap kekuatannya. Tiffany pikir mereka akan bertepuk tangan seperti tadi, namun kenyataannya tidak.

“Apakah… Jangan jangan menantuku hamil ?!” Nyonya Choi berseru tiba – tiba yang menyulap keadaan menjadi gempar.

“Woaahh benar – benar kabar bahagia !” girangnya tidak terkontrol.

Taeyeon menambahi. Ia  bertanya kepada Suho penuh minat, “Suho-ah, kau ingin punya adik bayi?”

Suho dengan wajah polosnya mengangguk dengan mata berseri seri, “Suho suka adik bayi !” ucapnya girang.

“Ini tidak mungkin, aku selalu rutin meminum pilnya.” Tiffany bergumam tanpa sadar.

“Ya ampun, kalau memakai cara seperti itu bisa saja kau lupa.” Taeyeon menimpalinya.

Sibuk berpikir ditengah ketidakpercayaan, tatapannya yang kaku lurus kedepan. Tiffany panik setengah mati namun tenaganya habis terkuras,  tubuhnya terlalu lemas bahkan untuk menyanggah omongan mereka.

“Berarti benar.. OMO !!!” satu kesimpulan dari Nyonya Choi menggema.

Tiffany menatap Siwon bingung harus berbuat apa. Tiffany pikir mereka terlalu cepat menarik kesimpulan. Meskipun didalam hatinya Tiffany mulai bimbang pasalnya gejala seperti ini sama persis dengan yang dirasakannya dulu ketika mengandung Suho. Apalagi Ia juga sering mual – mual akhir – akhir ini, memuntahkan cairan aneh terutama dipagi hari. Dan Tiffany baru saja mengingat bahwa ini sudah bulannya tapi…

Siwon mengacak rambut Tiffany dan tersenyum hangat, “Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi terima kasih.”

Dan ucapan Siwon yang satu itu sukses menerbangkan jiwa Tiffany menembus langit ke-tujuh. Siwon memang tidak banyak bicara sejak tadi… apakah mungkin karena Siwon sudah bisa merasakan kehadiran janin mereka?

Pikiran Tiffany mengabur kala jemari Siwon menangkup wajahnya kedepan, lelaki itu ikut memangkas jarak diantara mereka lalu mendaratkan kecupannya yang mendalam dipermukaan kening Tiffany. Perasaan Tiffany membuncah. Kalau saja tubuhnya granat,  Tiffany yakin pasti sudah meledak. Untunglah Tiffany manusia, namun begitu perasaan ini terlalu menyiksa. Tiffany memeluk tubuh suaminya erat. Siwon lagi lagi mendaratkan kecupan di kedua pipi Tiffany yang memerah.  Tidak dapat dipungkiri bahwa sentuhan Siwon dengan mudah menjalarkan ketenangan didalam tubuh Tiffany yang meluap luap. Sekarang Tiffany tidak lagi resah karena kehadiran sang jabang bayi yang tiba – tiba, meskipun Tiffany terkejut tapi Ia bahagia. Setidaknya disisinya, Siwon akan selalu melindungi mereka.

Semua orang tertawa bahagia dan bertepuk tangan merayakan pesta ulang tahun spesial dengan kado terindah yang dianugrahkan Tuhan kepada mereka. Kehidupan baru…

Kalau memang seperti itu yang terjadi Tiffany tidak bisa berbuat apa – apa. Hmm rasanya baru kemarin mereka menikah. Rasanya baru kemarin Siwon mengucapkan janji dihadapan pendeta dan Tuhan. Setelah pendeta melakukan pemberkatan Tiffany telah sepenuhnya menjadi milik Siwon, begitu sebaliknya. Keluarga mereka pun menyatu dengan mudah, saling mengenal dan tertawa bersama – sama.

Waktu serasa cepat berlalu, tapi Tiffany bersyukur bahwa mereka melewatinya bersama – sama, mengarungi hidup berdua, berbagi kebahagiaan dan kepedihan, mengukir berjuta kenangan yang tidak lekang oleh waktu. Didalam hidupnya,  Tiffany merasa beruntung ditakdirkan menjadi seseorang pendamping pria bernama Choi Siwon dan Suho, malaikat kecil yang lahir ditengah tengah mereka.

Dan satu lagi malaikat didalam rahim Tiffany…

______________The End_______________

 

45 thoughts on “(AF) I’m With You Part 2

  1. Yeaayyyy happyy endinggg🙌🙌🙌🙌🙌
    Kasiann Chaerim nyaaa ..
    Tapii gpp yg penting siwon blik ke ffany lagii ,,,
    Pass bgt moment nyaa fanny ultah di kasih baby hihihi..
    Di tunggu yaa ff lainyaaa

  2. aaaahhhh paling suka kalo happy ending kaya gini manis bgt sukaaaaaa,dibikin lg cerita sebagus ini yaahh wahai writer-nim heheheheeh kereeeeeennn

  3. Suho lucu amat sii.. Siwon said; saranghae tiff Suho said; salanghae tiff :v ngakak sumpeh😀😀 syukurlah happy ending😀 keep writing thor!!

  4. Ayeey.. Cerita nya seru bgt thor 😀😁
    Haduh ngakak pas siwon tbar pesona di acara amal, kasian beud ama ppani😁😁😂 happy endiiiing 🎉

  5. Yeayy suka deh sama cerita yang genre nya gini awwww so sweet banget keluarga sifany emang ya apalagi anaknya suho hihihi. Daebak gomawo thor… Ditunggu karya yang lainnya

  6. asyikkk happy end :,) :,) hamilnya tiffany jadi kado yang luar biasa spesial hihihi turut prihatin sama nasibnya si chaerim hmm see yaa next ff authornim ^^🙂

  7. endingnya sweet..
    kehamilan tiffany jd kado terindah buat ulang tahunnya..
    untunglah siwon bs mengambil cara terbaik utk menyelematkan perusahaannya sekaligus mempertahankan pernikahannya.
    dtnggu krya selanjutnya

  8. Ternyata happy and….
    Pengen baca yg flasbacknya sebelum suhp lahir dan pas fany halil suho kan siwon msaih dg chairim… Sequel thor versi flasback…

  9. Yeayyy happy ending 😄 duhh keluarga mereka bner” so sweet, suho nya cute 😊 daebak thor 👍
    Ditunggu karya” selanjutanya ya, fighting ^^

  10. Akhirnyaaaa…..
    Happy Ending juga nih crita…
    Syukur deh siwon bisa mngtasi mslah nya ma chaerim dan ayahnya…
    Mna kenak krma lgi tuh chaerim…hahaha
    Dtnggu klnjutannya thor

  11. Akhirnyaaaa…..
    Happy Ending juga nih crita…
    Syukur deh siwon bisa mngtasi mslah nya ma chaerim dan ayahnya…
    Mna kenak krma lgi tuh chaerim…hahaha
    Dtnggu karya2 lainnya thor…

  12. Keren keren keren lah pokoknya…😍
    Dari yang sad gimana gitu eh sekarang akhirnya happy😁
    Aku kira cerita ini bakal sad ending teryata happy ending
    Suho punya adik ya yeay!!
    Fany eonni bosa lega ya sekarang
    Siwon oppa akhirnya menjadi manly di part terakhir👊👍

  13. yeahhh happy ending 👍seneng bgt…
    aigoo stlh skian panjang kisah rumit rumah tangga mereka akhirny kelar jga

    ommo suho unyu bgt sihh aplg skrng mw ad dedek bayiny..
    good job dh karya kamu. next ff dtunggu

  14. Kasian chaerimnya lagian dia jahat sihhhh.. so sweeeeettt bgt aku baper hueeeee suho bakalan punya dede bayi lagi nih alhornya sifanynya happy ending yeayyy!!

  15. Tadinya kirain sifany bakal cerai,ternyata enggak.
    Kasian,chaerim kecelakaan,abisnya jahat sih,mengganggu rumah tangganya sifany.
    Senangnya suhu sebentar lagi punya adik bayi.
    Akhirnya happy ending thor.suka banget ama ffnya thor.tetap semangat thor.keep writing thor.

  16. Tadinya kirain sifany bakal cerai,ternyata enggak.
    Kasian,chaerim kecelakaan,abisnya jahat sih,mengganggu rumah tangganya sifany.
    Senangnya suho sebentar lagi punya adik bayi.
    Akhirnya happy ending thor.suka banget ama ffnya thor.tetap semangat thor.keep writing thor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s