(AF) The Choi’s Girl

THE CHOI’S GIRLS PART 1
TCG

 Author : @zoey_loe

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Support Cast : Im Yoona – Kim Taeyeon – Kwon Yuri – Lee DongHae – Park Jung Soo – Choi Min Ho

Length : Chapter

Genre : Family, Romance and Comedy

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!

Okey!! Happy reading and keep RCL please…….

PROLOG

“Pergilah” Wanita itu mendorong dada bidang pria tinggi didepannya.

“Tidak akan” Tolak nya dengan suara tegas. Dia berusaha meraih lengan wanita itu tapi dengan cepat wanita berambut cokelat terang menghindar dengan gerakan cepat.

“Pergilah, ku mohon” Pinta nya dengan wajah memelas.

“Kenapa kau tidak pernah ingin memperjuangkan cinta kita, berlari berlari dan berlari yang selalu kau lakukan” Bibir pria itu mengeluarkan erangan yang cukup kuat, membuat wanita dihadapannya meringis ketakutan.

“Karena itu yang aku bisa, keluarga mu mengancam ku akan mencabut semua biaya pengobatan Daddy jika aku masih berhubungan dengan mu.” Isakan kecil lolos dari mulutnya “A..aku harus membiarkan mu pergi” Dengan cepat dia menghapus air mata dengan jari lentik nya yang akan jatuh dipipi tirusnya.

Pria itu maju beberapa langkah, mempersempit jarak antara dia dan kekasihnya “Kita lari saja. Kau dan aku” Pria tampan itu meraup wajah mungil kekasihnya.

“Kau gila. Orang tua mu memiliki banyak kaki tangan dan mereka pasti akan menemukan kita. No, i can’t” Wanita itu melepas kedua tangan kekasihnya yang menempel diwajahnya “Pergilah, aku baik baik saja”

“Tapi kita sudah melakukan itu” Ucap sang pria dengan ragu, itu yang dimaksudnya adalah bercinta. Dia mengusap wajahnya prustasi.

“I’m pregrant! You’re going to be a Daddy” Wanita itu ingin mengucapkan kalimat itu tapi dia menggeleng keras dan menelan kembali kalimat yang ingin dia lontarkan tadi. Dia mengangkat tangannya yang memegang benda putih dengan satu garis merah “Look!! Negatif, aku tidak hamil” ucapnya dengan senyuman lebar.

Pria itu langsung merengkuh tubuh mungil kekasihnya dan menangis dirambut panjang yang tergerai milik kekasihnya “Sorry, I Love you forever” bisiknya sebagai ucapan terakhir, wanita itu ikut menangis. Menangis tersedu sedu.

 

“Sayang. Jangan membenci Daddy mu karena dia meninggalkan kita. Sesungguhnya, Mommy lah yang meminta nya untuk pergi tanpa memberitahu kehadiranmu. Kau milik Mommy sayang, hanya milik Mommy” Wanita itu mengelus perut nya yang masih rata sembari menangis, kekasihnya sudah pergi dari kehidupannya.

 

 

 

 

BAB 1 – INTRODUCTION

 

“Terimakasih untuk bantuan nya, sayang” Ucap wanita yang sudah berkepala tiga, dia masih tampak terlihat muda diumurnya yang sekarang.

“Apa aku benar benar membantu Mommy?” Tanya gadis kecil berusia enam tahun, dia memiringkan kepalanya untuk melihat Ibu nya yang sibuk menata meja makan. Mereka berdua baru saja selesai membuat sarapan, walaupun anak nya tidak banyak membantu tapi dia tidak merepotkan atau mengacau.

Wanita cantik bermata indah itu berjalan menghampiri putri kecil nya yang duduk dengan mantap diatas kursi tinggi di konter dapur. Dia meletakkan kedua tangannya disisi wajah mungil itu “Sangat dan apa Mommy bisa meminta bantuan mu lagi, sayang?”

“Tentu bisa, apa itu?” Dia menatap kedalam mata Ibu nya yang memancarkan cinta untuknya.

“Panggilkan Daddy dan ketiga Unnie mu. Karena sarapan sudah siap” Sang Ibu mengangkat tubuh kecil putri nya dan mendaratkan nya dilantai dengan aman.

Putri nya menatap dengan tatapan keraguan “Aku takut Unnie akan marah karena mengganggunya” dia menunduk lesu.

Ibu nya menarik dagu putrinya agar menatap kearahnya “Hey, bilang ini perintah Mommy. Jika mereka membentak mu, Mommy tidak akan memberikan bagian sarapan untuk mereka”

Putrinya menjauh dari sang Ibu “Oh Mommy terlihat kejam” dia pun tertawa geli “Baiklah, aku akan memanggil Daddy dan Unniedeul”

“Good girl” Ibu nya meninggalkan kecupan manis di kening putrinya dan putrinya berlari kecil untuk menjalankan tugas yang diberikan sang Ibu.

 

 

 

TIFFANY POV

Hay… perkenalkan Aku Tiffany Hwang, Aku berusia tiga puluh lima tahun dan aku seorang designer lumayan terkenal bahkan beberapa artis memakai pakaian rancangan ku. Aku memiliki suami tertampan dan termanis di Korea ini bernama Choi Siwon. Dia seorang CEO diperusahaan Hyundai Group milik keluarganya dan aku seorang Ibu dari empat anak, semua nya perempuan. Aku akan memperkenalkan ke empat putri ku pada kalian, karena mereka sangat berbeda satu sama lain tapi mereka semua putri termanis yang aku punya walaupun terkadang membuat telinga mengeluarkan asap karena kelakuannya.

Si sulung bernama CHOI SOO JI berusia lima belas tahun. Dia berada di kelas satu sekolah menengah atas dan ya dia yang paling kami khawatirkan saat ini karena mulai beranjak menjadi seorang remaja. Kami terlalu memanjakan nya sejak dia masih kecil, well sampai sekarang apapun yang dia inginkan harus benar benar terwujud. Sedikit bithcy, pemarah, sangat keras kepala dan tidak bisa di lawan, aku saja Ibu nya tidak bisa melawan apa yang keluar dari mulut pintar nya, dia sangat pintar bicara tapi selebih nya dia anak yang baik dan sedikit penurut sekarang.

Putri kedua ku bernama CHOI EUN JI berusia tiga belas tahun. Dia berada di kelas dua sekolah menengah pertama. Tidak terlalu banyak tentang putri ku yang satu ini, dia seorang wanita yang sangat cuek, jarang berbicara tapi kalau sudah bicara sangat pedas. Novel dan gadget teman setia nya, kalau tangannya sudah menggengam gadget atau novel jangan harap dia akan perduli dengan sekitar, untuk dipanggil saja dia sangat susah untuk menjawab. Dia seorang fangirl salah satu boyband terkenal dikorea, kamarnya penuh dengan poster poster boyband itu. Dia tidak terlalu terbuka padaku tapi sebisa mungkin aku menyempatkan untuk mengobrol dengannya, walaupun hanya dibalas anggukan atau gelengan saja.

Putri ketiga ku bernama CHOI YOUNG JI berusia sebelas tahun tahun. Dia berada di kelas satu sekolah menengah pertama. Dia satu satunya putri ku yang cerdas, seharusnya dia masih berada di taman kanak kanak tapi ketika melihat Eun Ji masuk ke sekolah dasar dan dia harusnya masih berada di taman kanak kanak untuk satu tahun lagi. Dia menolak dan ingin berada disekolah yang sama dengan Eun Ji jadi kami mengusahakannya masuk ke sekolah dasar dan diterima dengan baik karena otak cerdas nya. Young Ji tidak seperti wanita pada umumnya, dia berpenampilan dan bersikap seperti laki laki sangat tidak terlihat sisi feminimnya. Aku sangat menyesal karena saat mengandungnya berharap jika dia adalah bayi laki laki tapi ternyata dia seorang perempuan. Walaupun bersikap seperti laki laki dia sangat penyayang dan paling dekat dengan Siwon. Ya, suamiku sangat menginginkan anak laki laki tapi kami tidak mendapatkannya. Young Ji yang paling sering diajak Siwon ngegym, memancing atau menonton pertandingan olahraga. Mereka banyak memiliki kesukaan yang sama dan sangat cocok satu sama lain.

Si Maknae, bernama LAUREN CHOI berusia enam tahun. Dia berada di kelas satu sekolah dasar, anak termanis dan penurut yang aku punya. Dia paling dekat dengan ku, disaat ketiga Unnie nya sibuk dengan kegiatan sekolah dan kegiatan diluar sekolah hanya dia anak yang paling setia menemani aku. Aku tahu, karena dia masih terlalu kecil untuk mempunyai kegiatan seperti Unnie nya, apapun itu aku sangat senang karena dia selalu berada disisi ku. Lauren sangat menyayangi ketiga Unnie nya walaupun Soo Ji dan Eun Ji tidak terlalu perduli dengannya, beda dengan Young Ji yang sangat menyayangi Lauren, bahkan dia selalu membela Lauren ketika Lauren sedang diganggu oleh Soo Ji dan Eun Ji. Lauren sangat dekat dengan Young Ji, aku tahu dijauh lubuk hati mereka, keempat putriku saling menyayangi satu sama lain karena mereka saudara, ya saudara. Oke kita harus ganti topik sekarang…

 

 

Ini lah kesibukan keluarga ku setiap weekend, aku disibukkan untuk membuat sarapan dan anak anak berolahraga dihalaman belakang bersama Siwon. Tidak dengan Lauren, dia dengan setia membantuku membuatkan sarapan. Sebenarnya bukan membantu hanya menemani aku mengobrol dan sesekali aku menyuruhnya mengambil gula atau garam dan dengan lucunya dia mencicipi gula dan garam agar tidak salah mengambil.

Sekarang aku menyuruhnya memanggil Daddy dan ketiga Unnie nya untuk sarapan tapi dia sedikit ragu. Aku tahu dia takut, karena Unnie nya selalu memaki dan berteriak ketika Lauren memaksa mereka. Tapi aku senang, Lauren tidak menolak ketika aku menyuruhnya padahal dia sangat takut.

Aku masih menata meja makan besar ini sampai sebuah tangan besar bertengger di pinggang ku, dari aromanya aku sudah tahu siapa yang berada dibelakang ku.

“Good Morning, cintaku” sapa nya dengan manis, dia menenggelamkan kepalanya dileherku. Membuatku bergidik karena geli.

“Selamat pagi juga. Sarapan sudah siap dan segeralah duduk dikursi mu Mr.Choi” aku masih menyibukkan menata meja walaupun sebenarnya aku sudah tidak berkonsentrasi untuk melakukannya karena perlakuan Siwon yang semakin nakal.

Dia memutar tubuh ku perlahan dan menggenggam lengan ku dengan kuat “Aku ingin makanan pembuka terlebih dahulu” oh aku sangat tahu apa yang dia maksud.

Aku melingkarkan tangan ku dilehernya dan mengangkat kepala ku untuk melihatnya yang sedikit lebih tinggi dari aku “Kau mendapatkannya Mr.Choi” aku mendaratkan dengan lembut bibirku diatas bibir tipisnya, awalnya aku hanya akan memberikan kecupan ringan diatas bibirnya tapi dia menahan tengkuk ku dan melumat bibirku dengan lembut tapi dalam dan seperti tidak bisa berhenti untuk melumatnya, aku pun membalasnya tanpa ragu karena aku juga membutuhkannya seperti dia membutuhkan aku.

 

“Oh Tuhan. Daddy, Mommy ini masih pagi dan kalian sudah bermesraan” Oh itu Soo Ji, dengan cepat aku menarik diri dan melepaskan ciuman Siwon. Aku tersenyum canggung pada putri sulung ku dan Siwon langsung duduk dikursinya, mengabaikan putrinya yang sedang mencibir.

“Daddy tidak perlu malu, aku tidak melihat semuanya” aku tahu dia sedang menggoda Siwon yang hanya menunduk malu sedari Soo Ji masuk kemeja makan.

“Tutup mulut, Soo Ji dan duduk lah dikursimu” Akhirnya Siwon bersuara, dia sedikit membentak tapi Soo Ji hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Dan setelah itu semua putri ku sudah berada dimeja makan dan siap untuk sarapan bersama. Ini jarang kami lakukan jika dihari sibuk dan weekend adalah benar benar momen untuk keluarga.

 

 

 

AUTHOR POV

 

“Young Ji, Mommy sudah membuat beberapa menu tapi kenapa kau hanya menyantap serpihan roti itu, hoh?” Tiffany menatap Young Ji yang sedang lahap menyuapkan sereal kedalam mulut nya.

Young Ji menautkan kedua alisnya “Eh? Serpihan roti?” Dia menatap mangkuk besar didepannya dan pindah menatap Tiffany “Please Mom, ini sereal bukan serpihan roti”

Yes, I know. Kenapa kau suka sekali mamakan nya, padahal itu tidak membuat perut mu kenyang” Tiffany tahu Young Ji sangat menyukai sereal untuk sarapannya, tapi anak nya seakan tidak bosan untuk menyantap nya setiap pagi bahkan sebelum tidur.

“Karena aku suka” ucap nya singkat, melanjutkan makannya kembali dan mengabaikan tatapan Tiffany yang sedang menatap nya dengan amarah.

 

“Daddy tidak lupa kan dengan janji itu kan?” Soo Ji membuyarkan lamunan Siwon, sedari tadi Daddy nya hanya diam dan menyantap sarapannya dengan tenang.

Siwon mengangkat matanya dan menatap Soo Ji “Tidak” balasnya.

“Janji? Janji mwo?” Tanya Tiffany, dia terlihat bingung dengan perbincangan putri sulung dan suaminya.

“Oh jadi Daddy belum memberitahu Mommy” matanya menyipit menatap Tiffany seakan meremehkannya “Daddy berjanji membelikan aku Samsung S6 EDGE dalam minggu minggu ini” Senyum kegembiraan terukir diwajah cantiknya. Wajah si sulung perpaduan antara Siwon dan Tiffany.

“Benarkah itu?” kali ini Tiffany bertanya pada Siwon meminta kejelasan. Siwon hanya membalasnya dengan anggukan kecil.

“Bukan kah bulan lalu kau baru membelikannya Iphone 5S dan sekarang akan membelikannya yang baru lagi?” Tiffany menggeleng tak percaya, Siwon benar benar memanjakan si sulung.

“Memang kenapa? Apa itu salah, Mom?” Tanya Soo Ji tanpa rasa dosa.

“Sangat salah. Itu sama saja membuang buang uang, Soo Ji. Iphone itu belum rusak kan? Kenapa harus membeli yang baru lagi?” Tiffany menatap Soo Ji dengan garang, dan Soo Ji menatap Tiffany, tidak mau kalah.

“Memang nya harus menunggu rusak baru dibelikan yang baru. Itu tidak harus, Mommy. Selagi Daddy dapat membelikan nya untuk ku itu tidak masalah bukan?” Soo Ji meletakkan dagu nya diatas tanganya yang terkepal, benar benar santai.

Lihat, aku selalu kalah jika berbicara dengan anak ini “Ya, terserah kalian saja” Tiffany mengalah lagi, dia kehabisah kata kata jika sedang berdebat dengan Soo Ji.

Inilah yang mereka selalu lakukan jika sudah berkumpul, perdebatan silih berganti. Tiffany selalu mengomel untuk anak anak nya demi kebaikan mereka. Memang benar, orang tua terus mengomel karena mereka menyayangi anak anak nya, bukan karena dia benci. Itulah fakta nya..

 

Baru lima menit Tiffany berhenti mengomel, pemandangan didepannya membuat mulutnya ingin mengomel lagi, kali ini Eun Ji yang ingin di tegur.

“Eun Ji, kau bisa meletakkan ponsel dan melanjutkan sarapan mu. Ini masih pagi untuk memantau boyband kesukaanmu” sebenarnya Tiffany sudah menangkap beberapa menit yang lalu kalau Eun Ji tengah sibuk dengan ponsel ditangannya tapi Tiffany membiarkannya dulu, berharap putrinya akan meletakkannya tapi ternyata tidak.

Mata nya lepas dari ponsel ditangannya “Aku tidak. Ini Grammy” senyum kecil tampak dibibir tipisnya, bibir Tiffany yang dimiliki Eun Ji “Grammy akan pulang besok”

Soo Ji dan Young Ji bersorak dengan gembira, sudah satu bulan Ny.Choi pergi ke Amerika untuk mengurus perusahaan baru mereka. Tuan Choi sudah meninggal dua tahun yang lalu, jadi Siwon dan Ibu nya yang mengurus perusahaan tersebut.

Bunyi bising dari sendok yang bertabrakan dengan lantai membuat suasana hening. Tiffany melihat kearah putri kecil disamping nya yang sedikit pucat “Maaf Momy, tangan ku sedikit licin” Lauren menunduk untuk mengambil sendok yang terjatuh dibawah meja tapi dengan cepat Tiffany menangkap tubuh nya.

Tiffany menggelengkan kepalanya “Mommy akan mengambilkan yang baru untuk mu” bangkit dari kursinya, Tiffany berjalan kearah dapur. Beberapa menit kemudian dia sudah berada di meja makan dan menyodorkan sendok pada Lauren.

“Thank you, Mommy” gumam Lauren, suaranya bergetar. Tiffany menyadari ketakutan yang Lauren rasakan.

 

“Hey, gadis Amerika. Kau sangat pendiam sekali pagi ini” Ucap Soo Ji sengit. Ketiga Unnie nya memanggil maknae gadis Amerika karena wajahnya tidak sama seperti mereka bertiga, wajah Lauren lebih dominan seperti gadis Amerika tidak berwajah Korea seperti Unnie nya, bahkan nama mereka saja berbeda.

“Songsenim bilang, tidak boleh bicara ketika sedang makan” balas nya lembut. Lauren mencoba menampilkan senyumnya tapi sepertinya gagal.

Gotjimal, kau nampak gugup setelah mendengar Grammy akan pulang” kata Eun Ji dingin, menatap tajam kearah Lauren.

“Kesalahan mu masih tidak termaafkan Lauren, Grammy masih-“ belum selesai Soo Ji berbicara Tiffany berteriak untuk menghentikan topik pembicaraan.

“Soo Ji, Eun Ji, Hentikan. Sudah berapa kali Mommy peringatkan, jangan pernah membahas masalah itu. Apa kalian mengerti?” Tiffany terlihat sangat marah pada kedua putrinya, Siwon menatap Tiffany tidak percaya. Tiffany selalu marah besar setiap topik ini diperbicarakan.

 

 

***

Malamnya, Siwon menemani keempat putri nya mengerjakan tugas sekolah nya di ruang tengah rumah mewah nya. Sedangkan Tiffany sedang mandi, mood nya sedang tidak baik dan Tiffany tengah berendam untuk memperbaiki mood nya.

Sembari menemani anak anak nya, Siwon mengerjakan pekerjaan kantor dengan notebook miliknya. Sesekali dia melirik kearah anak anak nya untuk memeriksa mereka, dan kali ini Siwon menangkap Eun Ji tengah menggenggam ponsel nya.

“Eun Ji, apa tugas mu sudah selesai?” tegur Siwon pelan. Semua mata melihat kearah Eun Ji dan yang ditegur masih menekuni layar ponsel nya.

“Sudah, Daddy. Tidak begitu banyak tugas” jawabnya, matanya masih tidak terlepas dari layar ponsel.

“Apa matamu tidak lelah menatap ponsel terus menerus?” kini Siwon menutup notebook nya, pekerjaan nya bisa dilanjut besok dikantor.

“Tidak, ini mengasyikan” balasnya singkat. Siwon menghembuskan nafas kasar, putri nya yang satu ini benar benar kecanduan internet.

 

 

Lima belas menit kemudian. Soo Ji dan Young Ji sudah selesai dengan tugas nya, tinggal Lauren yang masih mengerjakan tugas sekolahnya.

“Pergilah ke kamar dan tidur” perintah Siwon pada ketiga anak nya. Dengan patuh Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji berjalan ke kamar mereka masing masing. Rumah Siwon dan Tiffany sangat besar dan memiliki banyak kamar, sehingga anak anak nya mendapatkan kamarnya sendiri.

Setelah ketiga anak nya sudah tidak terlihat, Siwon mengalihkan perhatiannya pada si maknae “Apa masih banyak?” Siwon menunduk untuk melihat buku yang sedang Lauren tulis.

“Tinggal beberapa baris lagi, Dad. Jika Daddy sudah mengantuk, aku tidak apa sendirian disini” kata Lauren. Dia tahu Siwon sudah mengantuk karena tertangkap menguap beberapa kali sejak menemani mereka mengerjakan tugas.

Siwon menjalan kan jarinya diatas rambut Lauren “Daddy akan menunggu mu, lanjutkan”

Lauren mengangguk dan melanjutkan tugas nya. Beberapa menit kemudian Lauren sudah selesai dengan tugasnya dan merapikan buku buku nya dibantu oleh Siwon memasukkan kedalam tas nya.

“Terimakasih, Daddy” gumam Lauren, dia memberikan senyuman manis nya untuk Siwon.

Kajja, kau harus segera tidur” Siwon mengamit tangan mungil nya dan berniat mengantarnya ke kamar Lauren.

“Daddy, tidak pernah menggendong ku lagi” ucap Lauren, memecah keheningan ketika mereka menaiki satu persatu anak tangga.

“Kau sudah besar, Lauren” Siwon menunduk untuk melihat Lauren yang berada dibawahnya sedang menatapnya.

“Tapi Daddy menggendong Young Ji Unnie, setiap kali bermain basket” Lauren merasa setelah kejadian dua tahun silam itu, Siwon seperti menjaga jarak dengannya. Tidak pernah menggendongnya, menciumnya bahkan mengajak nya untuk bercanda. Apa Daddy nya juga membenci nya seperti Grammy yang sangat membencinya saat ini.

Tanpa membalas ucapan Lauren, Siwon menarik Lauren kedalam pelukannya dan Lauren dengan senang hati melingkarkan kaki nya dipinggang Siwon, tangannya melilit leher Siwon dan kepala nya bersandar dibahu besar nya.

“Sudah lama sekali ya, Daddy. aku merindukan saat seperti ini” Lauren berkata dibahu Siwon, tersenyum dengan manisnya. Memang benar, sudah lama sekali Siwon tidak menggendong nya, memeluknya bahkan mencium nya pun sudah sangat jarang dilakukan.

Siwon tidak menjawab, dia tertegun mendengar penuturan gadis kecil yang berada dipelukannya. Dia terus berjalan menyusuri lorong untuk mencapai kamar Lauren. Siwon menurunkan Lauren didepan pintu kamarnya, Lauren menatap Siwon dengan kecewa. Dia masih ingat, dulu Siwon selalu mengantarnya sampai dia terbaring dengan nyaman diatas tempat tidur nya, membetulkan letak selimut, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang tapi malam ini Lauren tidak mendapatkannya.

“Masuk dan tidur” perintah Siwon lembut tapi terdengar aneh ditelinga Lauren.

Lauren mengangguk dan menarik tangan Siwon, mengecup punggung tangan nya “Selamat malam Daddy” dengan kesusahan dia membuka pintu besar kamarnya dan masuk kedalam.

Siwon masih mematung didepan kamar Lauren, mengusap punggung tangannya yang baru saja mendapatkan perhatian dari Lauren. Dia anak yang manis, tapi entah kenapa hati Siwon selalu ingin menjaga jarak dengan anak itu, apa karena- ah lupakan…

 

 

Siwon mendorong pintu kamar, dia berjalan memasuki kamarnya. Melihat Tiffany yang berbaring memunggunginya. Siwon mengernyit, ini baru jam delapan tiga puluh. Apa istrinya sudah tidur?

Ketika Siwon duduk ditepi tempat tidur dan mendaratkan jari jari panjangnya diatas lengan Tiffany, istrinya memutar tubuh untuk melihat Siwon.

“Apa aku mengganggu mu?” Tanya Siwon dengan suara lembut.

Tiffany bergeser, memberi ruang agar Siwon ikut berbaring bersama nya “Tidak, aku belum tidur.”

Siwon merebahkan punggung nya diatas tempat tidur dan menarik Tiffany kedalam pelukannya. Dengan senang hati Tiffany melingkarkan tangan nya dipinggang Siwon dan kepala nya bersandar dengan nyaman diatas dada bidang Siwon.

“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Apa yang kau fikirkan? Berbagilah dengan ku, sayang” Siwon menggosok punggung Tiffany naik turun, membuat istrinya nyaman.

“Aku merasa khawatir” gumam Tiffany, sangat pelan lalu dia menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan.

“Khawatir?” Siwon menarik dagu Tiffany agar melihat kearahnya.

“Ya, mengkhawatirkan Lauren” Tiffany mengangkat tangannya dan meletakkannya diatas dada Siwon.

“Lauren? Ada apa dengan nya?” Siwon semakin bingung, apa yang dimaksud dengan mengkhawatirkan Lauren? Apa sesuatu terjadi padanya?

“Kepulangan Eomma. Itu yang membuatku khawatir pada Lauren” Tiffany mempererat pelukannya dan membenamkan kepalanya didada Siwon.

“Eomma tidak akan menyakitinya” Suara Siwon berubah menjadi tegas. Pelukannya pun sedikit mengendur.

“Tapi itulah yang Eomma lakukan pada Lauren. Menyakitinya dengan ucapan dan sikap yang dia tunjukan pada Lauren” Tiffany merasakan Siwon yang mulai melemah dan dia menarik diri dari pelukan Siwon.

“Kenapa kau selalu mengkhawatirkan Lauren terus menerus? Bahkan kau tidak seperti itu kepada Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji” Siwon bangkit dan duduk menyandarkan tubuhnya ditempat tidur.

“Jika Eomma bersikap baik pada Lauren seperti dia bersikap kepada Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji. Mungkin aku tidak akan sekhawatir ini, Siwon” Tiffany sedikit meninggikan suaranya dan Siwon melotot kearahnya.

“Demi Tuhan, Lauren masih berumur empat tahun saat itu dan dia tidak membunuh Appa, itu kecelakaan. Tapi Eomma selalu menyebutnya seorang pembunuh ketika marah pada Lauren. Berkali kali aku mencoba menjelaskan tapi Eomma balik marah kepadaku dan selalu mengungkit-“ Tiffany tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika isakan kecil lolos dari bibir tipisnya “Kau pun semakin menjaga jarak dengannya, aku menyadari itu” Tiffany menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya “Tapi aku tidak akan berhenti menyayanginya, dia putriku. Lauren akan tetap menjadi putriku seburuk apapun kenyataannya”

Tiffany berbalik dan merebahkan tubuhnya, memunggungi Siwon, menarik selimut sampai ketenggorokannya. Siwon membisu, dia hanya dapat menatap Tiffany. Bahu istrinya mulai bergetar, Siwon tahu Tiffany sedang menangis tanpa suara. Siwon merasa bersalah tapi kesal juga dengan Tiffany, karena terlalu berlebihan menyayangi Lauren dan menurut Siwon itu salah, sangat salah.

 

Siwon mengangkat tangan untuk memijit keningnya yang sedikit terasa pusing, topik ini selalu menguras emosinya. Memorinya kembali mengingat kejadian dua tahun silam, yang merubah segala atas pandangannya pada Lauren.

 

 

 

“Siwon, kau dimana?” Tanya pria paruh baya, tapi nampak masih terlihat tampan dan gagah.

“Aku dijalan, Appa. Menuju sekolah Lauren untuk menjemputnya” Siwon mengurangi kecepatan, salah satu tangannya menggenggam ponsel yang berada ditelinga kirinya.

“Sesungguhnya kau tidak perlu, karena aku sudah berada didepan gedung sekolahnya” Tuan Choi melirik keluar jendela, memastikan kalau belum ada anak anak yang menghambur keluar gedung.

“Tapi aku sudah hampir dekat, Appa”

“Dan aku lebih dulu sampai disini, jadi mengalah saja dengan orang tua” Tuan Choi terkekeh. Dia sangat menyayangi keempat cucu nya, tidak ada yang dibedakan, tidak ada yang diistimewakan semua nya mendapatkan kasih sayang yang sama darinya, tanpa terkecuali Lauren.

“Baiklah, aku mengalah untuk mu” Siwon tertawa pelan dan menunggu Tuan Choi mengakhiri panggilannya.

“Appa tutup dulu, sepertinya jam pulang sudah tiba” Tuan Choi melihat beberapa anak yang mulai keluar dari gedung sekolah tersebut dan bersamaan dengan itu Siwon sampai didepan sekolah Lauren dan memarkirkan mobil Audi hitam milik nya dibelakang mobil Tuan Choi yang terparkir diseberang jalan. Siwon hanya ingin melihat Lauren yang benar benar aman pulang bersama Ayahnya.

“Nde, Appa” dan Klik telepon terputus.

Tuan Choi keluar dari dalam mobilnya, agar Lauren dengan mudah menemukannya. Sebenarnya Tuan Choi merasa sedikit khawatir, karena dia memakirkan mobil nya diseberang jalan. Seharusnya dia berada tepat didepan gedung sekolah Lauren agar mempermudahnya, Lauren tidak perlu menyebrang jalan untuk menghampirinya tapi sudah terlanjur. Tuan Choi hanya perlu melihat wajah anak anak seusia Lauren yang berhambur keluar bersama orang tua yang mendampinginya, mencari dimana cucu nya berada. Tidak beberapa lama dia melihat cucu nya yang sedang mengedarkan pandangannya kesegala arah, pasti mencari orang yang dikenalnya yang akan menjemputnya.

“Lauren… disini” teriak Tuan Choi sambil melambaikan tangannya.

Binar dimata Lauren menunjukkan kebahagian yang luar biasa, karena jarang sekali Tuan Choi dapat menjemputnya dan ini yang sangat dia tunggu. Lauren tersenyum lebar dan balas berteriak “Granddaddy” melambaikan tangannya dengan semangat.

Tanpa melihat kesekitar lagi, Lauren menyebrang jalan dengan semangat dan senyum tidak pudar dari wajahnya.

“Oh Tidak..” pekik Tuan Choi mengulurkan tangannya, memberitahu Lauren agar segera menjauh dari sana. Tapi Lauren tidak mendengarkan teriakan Tuan Choi dia masih terus berjalan, Siwon mulai keluar dari dalam mobilnya dengan cemas.

“Oh Lauren, AWAS!!!” Tuan Choi berlari untuk menarik Lauren agar tidak tertabrak truk yang semakin dekat tapi sebagai gantinya Tuan Choi yang tertabrak truk tersebut. Tubuhnya terpelanting jauh.

Lauren terkejut dengan tangannya yang tiba tiba ditarik oleh Tuan Choi dan tubuhnya terhuyung huyung, belum hilang rasa terkejutnya kini dia dibuat lebih terkejut dengan kejadian didepan matanya. Tanpa sadar dia berteriak dengan histeris begitu pula dengan Siwon.

Berlari secepat kilat, Lauren dan Siwon menghampiri Tuan Choi yang tertelungkup diaspal. Kepalanya berlumuran darah tapi matanya masih terbuka. Siwon dengan sigap membalik tubuh Tuan Choi dan meletakkan diatas pahanya.

“Kau seharusnya berhati hati saat menyebrang, Lauren” maki Siwon, yang melihat Lauren terduduk disampingnya menggenggam erat tangan Tuan Choi.

“Maafkan aku, Daddy” matanya mulai basah dan isakan mulai terdengar.

“Sssst!!” Tuan Choi mengangkat tangannya untuk menghentikan Siwon “Jangan memarahinya, nak. Lauren tidak bersalah” Tuan Choi mulai terbatuk batuk dan darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Lauren, jangan menangis sayang. Granddaddy baik baik saja” gumamnya, suaranya seperti sedang menahan sakit “Siwon. Appa tahu kau Ayah terbaik, jaga anak anak mu dan Lauren. Dia malaikat yang Tuhan kirimkan untuk keluarga kita. Jangan menyia-nyiakannya, Nak.”

“Appa, bertahanlah. Kita akan kerumah sakit sekarang” Siwon mengabaikan ucapan Ayahnya, tapi ucapan itu selalu melekat dikepala Siwon.

Ada beberapa petugas yang membantunya mengangkat tubuh Tuan Choi ketika ambulan datang, Lauren menangis semakin kencang ketika mata Tuan Choi perlahan tertutup. Dia merasa sangat bersalah, semuanya karena kecerobohannya, dia sangat takut dan membutuhkan sebuah pelukan tapi dia tidak mendapatkan itu dari Siwon, seseorang yang berada disisinya saat ini. dia masih terlalu kecil untuk mengalami hal semacam ini.

 

 

Siwon berlari secepat yang dia bisa ketika petugas rumah sakit membawa Ayahnya masuk kedalam ruang ICU, tanpa memperdulikan Lauren yang masih berada disisinya. Lauren masih terlihat ketakutan, dia hanya berjalan sangat pelan sambil menangis. Untung saja ada seorang perawat yang berbaik hati, membawanya ketempat duduk yang berada didepan ruang ICU dan Siwon berada disana berjalan mondar mandir tidak bisa diam. Siwon sudah menghubungi Ibunya dan Tiffany mengenai kabar ini saat dijalan tadi dan bisa dipastikan sebentar lagi mereka akan sampai kerumah sakit.

 

Tidak membutuhkan waktu lama, Tiffany sampai kerumah sakit dan pemandangan pertama yang dia lihat Lauren yang menunduk menangis tersedu sedu sedangkan Siwon berdiri jauh dari Lauren. Seharusnya Siwon memeluk Lauren yang nampak ketakutan, itu yang Tiffany fikirkan.

Berlari menghampiri Lauren, Tiffany membawanya kedalam pelukannya. Dia menghujani Lauren dengan kecupan kecupan penuh kasih “Gwencana, hmm.” Tiffany berusaha menenangkan Lauren yang semakin menangis kencang. Dia tahu cerita kejadian ini dan sudah dipastikan Lauren merasa takut sekarang karena melihat semuanya secara langsung.

Tiffany mendengar derapan sepatu yang menyentuh lantai mulai mendekat dan dia bisa menebak kalau itu ibu mertuanya. Tiffany memutar tubuhnya untuk memastikan dan benar itu Nyonya Choi, wajahnya dipenuhi air mata. Dia langsung menghambur kepelukan Siwon dan Siwon menenangkan Ibunya.

Tiffany sedikit marah pada Siwon yang menenangkan Ibu nya, sedangkan dia tadi tidak berusaha menenangkan Lauren yang jelas jelas membutuhkannya. Tiffany sendiri masih mendekap Lauren dalam pelukannya, tangis Lauren pun tidak terdengar lagi.

Ruang ICU terbuka dan seorang pria tua mengenakan baju serba putih keluar dari balik pintu, dia melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya dan membuang nafas kasar sebelum membuka mulutnya untuk bicara. Dilihat dari wajahnya, dia akan menyampaikan berita buruk.

Oh tuhan.. tidak, ku mohon jangan!!

“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi nyawa Tuan Choi tetap tidak dapat terselamatkan, pendarahan dikepalanya tidak dapat dihentikan. Kami minta maaf” Dokter itu sedikit membungkukkan tubuhnya.

Nyonya Choi histeris, dia menangis meraung raung dipelukan Siwon. Lauren mengangkat kepalanya untuk melihat Tiffany.

“Mommy, kenapa dokter itu meminta maaf? Apa yang terjadi pada GrandDaddy?” Tanya Lauren pelan, suara nya sedikit serak.

Tiffany tidak membalas ucapannya, dia menarik kepala Lauren agar bersandar dibahunya. Tiffany pun mulai bergetar, dia takut anak nya mengalami trauma karena kejadian ini. dengan sayang Tiffany menjalankan tangannya dipunggung Lauren, memberi jawaban melalui sentuhannya kalau semuanya akan baik baik saja walaupun Tiffany tahu tidak akan baik baik saja apalagi Tuan Choi tidak dapat diselamatkan.

Tiffany terkejut ketika seseorang menarik Lauren dari pelukannya, menariknya dengan kuat sehingga Tiffany terpisah dari Lauren. Mata nya terbuka lebar ketika melihat Nyonya Choi menyeret Lauren dengan sangat kasar, Tiffany terperangah melihatnya. lebih terkejut lagi ketika Siwon hanya diam bagaikan patung.

“Eomma” panggil Tiffany, tapi tidak ada respon “Eomma, tolong hentikan” Tiffany mulai berlari menyusul Nyonya Choi yang membawa Lauren dengan kasar. Siwon pun mulai bereaksi mengikuti Tiffany.

Disudut ruangan yang sepi, Nyonya Choi melepaskan Lauren dengan kasar “Kau pembunuh” kata pertama yang dilontarkan Nyonya Choi untuk anak berusia empat tahun.

“Pembunuh, pembunuh, pembunuh” Nyonya Choi menggenggam erat kedua sisi tubuh Lauren dan mengguncangkan tubuhnya sangat kuat, membuat wajah Lauren menjadi pucat pasih.

“Kau pembunuh kecil, sialan” Nyonya Choi mendorong tubuh Lauren kelantai, Lauren tersungkur dilantai dingin rumah sakit.

Nyonya Choi menekuk kedua kakinya, mensejajarkan levelnya dengan Lauren “Aku membencimu, aku tidak ingin melihat mu lagi, kau pembunuh.” Teriaknya pada Lauren. Lalu Nyonya Choi menutup matanya dan tangannya terangkat untuk menutup kedua telinganya.

Lauren menangis, dia merangkak kearah Nyonya Choi “Grammy, maafkan aku. Tolong maafkan aku, jangan membenciku, ku mohon” ucap Lauren disela isakanya, mencoba meraih tangan Nyonya Choi tapi Nyonya Choi mendorongnya lagi.

Tiffany menangis melihat Lauren yang memohon pada Nyonya Choi, dia ingin menarik Lauren tapi Siwon menahan tubuhnya.

Lauren mencoba mendekati Nyonya Choi lagi, dia tidak menyerah, dia menginginkan Nyonya Choi memafkannya “Grammy” bisiknya.

“Menjauhlah, pergi yang jauh. Kau bukan cucuku” Nyonya Choi perlahan berdiri, benar benar menjauh dari Lauren.

Lauren menggeleng cepat, dia menahan kaki Nyonya Choi “Grammy, Maafkan aku”

Nyonya choi mengabaikan nya, dan berusaha melepaskan kaki nya yang digenggam erat oleh Lauren. Tapi tidak berhasil, dia menunduk dan menarik tangan kecil itu lalu tangannya terangkat bersiap memberi pukulan dipipi Lauren.

Sebelum tangan itu mendarat dipipi Lauren, Tiffany menangkapnya dengan cepat “Jangan sakiti Lauren, Eomma. Jika Eomma ingin melampiaskan kemarahan itu, lakukan saja padaku” Tiffany berdiri dihadapan Nyonya Choi dan memberikan pipinya.

“Cih!! Kau bahkan rela mengorbankan dirimu demi pembunuh kecil ini” Nyonya Choi tertawa singkat.

“Lauren bukan pembunuh, Eomma. Ini murni kecelakaan” Tiffany menatap tajam kearah Nyonya Choi.

“Ya, tapi dia penyebab dari kematian suamiku” Nyonya Choi melirik kearah Lauren dan kembali menatap Tiffany “Bawa pergi pembunuh sialan itu, aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak mau dia berada dipemakaman suamiku” Nyonya Choi berlenggang meninggalkan Tiffany dan Lauren yang masih meringkuk dilantai rumah sakit.

Tiffany meraih Lauren, terduduk dilantai yang sama dengan putrinya, memeluknya dengan erat “Mommy, Grammy membenciku. Grammy bilang aku bukan cucu nya” Lauren kembali menangis dipelukan Tiffany. Putrinya yang paling ceria berubah menjadi anak yang cengeng.

“Anyio, Grammy tidak benar benar mengatakannya, sayang. Dia sedang emosi” Tiffany mencoba memberi dukungan untuk Lauren. Tapi yang Tiffany tahu Nyonya Choi benar benar membenci Lauren, dari awal Lauren berada digendongannnya ketika lahir Nyonya Choi tidak begitu menyukainya dan kejadian ini akan membuat alasan kebencian itu semakin jelas.

Dan lagi lagi yang dapat Siwon lakukan hanya berdiri diam seperti patung. Tidak berusaha untuk meredahkan permasalahan. Tiffany marah pada Siwon, marah juga dengan Nyonya Choi yang menyalahkan Lauren atas kecelakaan ini. dan yang Tiffany lakukan mulai saat ini adalah memperketat perlindungannya pada Lauren dan memberi perhatian lebih. Karena setelah ini tidak ada lagi yang akan memanjakannya karena GrandDaddy nya sudah tidak ada, Grammy yang tidak menyukainya sekarang benar benar membencinya dan Daddy yang harus nya melindunginya kini mengabaikannya. Hanya ada Tiffany yang berdiri untuk Lauren, tidak ada lagi.

 

 

Siwon merebahkan kembali tubuhnya dan mendekat kearah Tiffany, memeluk pinggang istrinya dan mencium rambut Tiffany. Sebesar apapun pertengkaran mereka, tapi ketika tidur Siwon selalu memeluknya atau menggenggam erat tangan Tiffany sampai mereka terlelap. Pertengkaran mereka tidak pernah berjalan lama, malam mereka bertengkar, paginya mereka sudah kembali berbagi keromantisan. Ini mengapa rumah tangga mereka bertahan lama, karena dapat mengendalikan ego masing masing.

Ketika Siwon memeluk pinggangnya, Tiffany meletakkan tangannya diatas tangan Siwon dan mereka beranjak menuju alam mimpi, berharap dapat bermimpi indah.

 

 

***

TIFFANY POV

Aku terbangun dengan cahaya matahari yang menerpa wajahku, rasanya hangat walaupun mengganggu pengelihatan ku. Kulirik tempat tidur disamping ku, sudah kosong. Dengan cepat aku melemparkan pandangan ku ke jam yang bertengger didinding. Oh Tuhan sudah pukul tujuh lewat sepuluh!!

Aku menajamkan pendengaranku, tidak ada aktifitas didalam kamar mandi. Oke, mungkin dia sudah berada dibawah. Aku mengambil langkah cepat untuk mencuci muka, menyikat gigi dan menggelung rambutku, semuanya aku lakukan dengan cepat. Aku bangun terlambat pagi ini, rasanya tidak pantas seorang istri dan Ibu bangun dijam seperti ini dihari senin.

Sedikit berlari kecil aku menuruni tangga, menuju meja makan. Kim Ahjumma pasti sangat sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Biasanya aku lah yang membantunya, tapi pagi ini aku tidak.  Aku terkejut ketika melihat meja makan, hanya ada Soo Ji dan Eun Ji. Dimana Young Ji, Lauren dan Siwon?

“Hey Girls” sapaku riang. Karena kedua putriku terlihat murung  dan tidak bersemangat menyantap sarapannya.

“Tidak biasanya Mommy bangun sesiang ini” Ucap Soo Ji. Menatapku dengan tatapan tidak percaya dan Eun Ji ikut menatap ku juga.

“Ada beberapa pekerjaan dan membuat Mommy tidur larut” Aku memberikan senyuman terbaikku pada mereka, tapi tatapan mereka tidak lepas dariku. Apa yang mereka lihat?

“Mata Mommy terlihat bengkak” Eun Ji menilaiku, dia menggigit semangka tapi matanya tetap kearahku.

“Kurang tidur” balasku singkat. Aku tersenyum kaku, takut jika kedua putriku mengetahui kalau aku semalam menangis karena bertengkar dengan Daddy nya.

“Tapi terlihat seperti habis menangis” Oh anak ini benar benar meneliti wajahku. Aku menggeleng cepat dan menyuruhnya untuk cepat menghabiskan sarapannya. Seperti biasa mengalihkan pembicaraan dan untung saja Eun Ji maupun Soo Ji tidak membantah. Good Girls!!

Ternyata Lauren sudah di jemput bis sekolahnya lebih pagi. Aku tidak menyapanya pagi ini, bahkan semalam aku tidak memberinya kecupan selamat tidur untuk putri kecilku itu. Tiba tiba aku merindukannya, aku akan menjemputnya untuk menebus semuanya. Siwon dan Young Ji seperti biasa pergi ke gym, Siwon akan dapat omelan dari ku lagi karena membawa putriku ketempat gym. Memang tidak salah jika wanita pergi berolahraga tapi aku tidak ingin putriku memiliki otot lengan besar seperti laki laki. Oh No… Young Ji ku akan menjadi wanita yang manis pada waktunya nanti.

Aku berjalan keluar untuk mengantar Soo Ji dan Eun Ji menuju mobil yang terparkir didepan rumah. Kim Ahjussi yang akan mengantar mereka. Kim Ahjussi dan Kim Ahjumma adalah sepasang suami istri yang sudah sangat lama bekerja untuk membantu keluarga kami. Kami pun sudah menganggap nya seperti anggota keluarga kami sendiri.

Berjalan sambil merangkul Soo Ji dan Eun Ji membuatku terharu, tidak menyangka mereka sudah sebesar ini. Rasanya baru kemarin aku mengandungnya tapi sekarang mereka sudah dapat diajak bertengkar hahah tidak maksudku sudah dapat diajak bicara dengan baik, bahkan tinggi tubuh kami sudah hampir selevel, gen Siwon lebih banyak. Semua anak anak ku memiliki tubuh tinggi kecuali Eun Ji, Daddy bilang ketika aku seusia mereka, tubuhku tidak setinggi ini.

“Mommy, Give me a car, hmm?” permintaan Soo Ji membuyarkan lamunanku. Apa? Dia ingin mobil? NO!!

No. Kau baru lima belas tahun, Soo Ji” aku mencubit hidung mancungnya “Nanti ketika umur mu tujuh belas tahun, oke?” Aku mencium pipinya singkat, dan bibir Soo Ji cemberut.

“Tidak bisa mengendarai mobil tapi ingin punya mobil. Tsk!!” gumam Eun Ji dingin. Soo Ji memberi tatapan pada Eun Ji seakan dia bilang tutup mulut atau aku akan menyumpalnya dengan sosis favorite mu..

“Sudah, kalian harus segera pergi” Aku melerai tatapan mereka dan menarik Soo Ji dalam pelukan ku, aku mengernyit. Dia harum sekali, tidak seperti biasanya.

“Hey, kau harum sekali. Berapa banyak kau memakai parfum?” aku melepas pelukan kami dan menatapnya.

“Ah benarkah” dia mengendus lengan kanan dan kirinya “Aku memakai sedikit lebih banyak dari biasanya” Soo Ji tersenyum kaku dan pipinya memerah. Ada apa dengannya?

 

“Gadis centil” Aku mencibir. Memeluk Eun Ji dan mereka mulai masuk kedalam mobil.

“Baik baik disekolah Soo Ji Unnie, Eun Ji Unnie” Aku sedikit menunduk dan melambaikan tangan. Mereka pun membalas nya dan mobil mulai melaju dan perlahan mulai menghilang.

Aku kembali masuk kedalam dan merapikan meja makan, piring piring kotor ini harus segera dicuci. Aku sedikit santai pagi ini dan dibutik tidak terlalu banyak pekerjaan. Well, aku bisa datang siang.

Belum selesai dengan piring piring kotor ini tapi aku mendengar bunyi berisik motor dari depan rumah dan aku tahu siapa orang itu. Oke, kita tunggu dia dan apa yang akan dilakukannya ketika masuk nanti?

Bunyi derap kakinya semakin jelas dan sepertinya dia menuju kearahku dan grep… tangan besarnya mengelilingi pinggangku dan pipiku terasa hangat karena kecupannya.

 

 

SIWON POV

Setelah ngegym itu adalah hal yang paling menyenangkan, tubuh terasa segar. Seperti biasa hanya Young Ji yang bersedia diajak ketempat gym. Soo Ji dan Eun Ji menolak mentah mentah ketika aku mengajak nya ngegym. Biasanya kami ketempat gym tiga kali dalam satu minggu, tapi jika sibuk hanya dapat satu kali dalam satu minggu.

Young Ji sudah aman disekolahnya, kebetulan tempat gym kami tidak begitu jauh dari sekolah. Aku berjalan kedalam rumah, sudah terlihat sepi, anak anak pasti sudah pergi sekolah juga. Tapi aku yakin Tiffany masih dirumah, karena ini masih terlalu pagi untuk dia pergi ke butik. Tadi pagi aku meninggalkannya sendirian ditempat tidur, Tiffany tidur sangat pulas sehingga aku tidak tega membangunkannya hanya untuk berpamitan.

Benarkan, istriku masih dirumah dan dia sedang mencuci piring membelakangi ku. Apa dia menyadari kepulangan ku?

Dengan santai aku berjalan mendekatinya dan melingkarkan kedua tangan ku dipinggangnya, lalu mendaratkan kecupan manis dipipi kanan nya.

“Hey, Mommy. Selamat pagi” Aku mencium pipinya lagi. Menciumnya seperti tidak bisa berhenti, Tiffany pasti memiliki magnet yang membuatku terus menerus ingin menempel padanya.

“Pagi juga Daddy” dia tidak bergeming dengan kecupan yang aku berikan. Masih sibuk dengan pekerjaanya yang hampir selesai.

“Aku ingin kopi” pintaku pada Tiffany. Aku menyandarkan dagu ku dibahunya.

“Akan aku buatkan. Bersiap siaplah, kau harus pergi kekantor bukan?” Tiffany melepas sarung tangan karet berwarna pink dan berbalik menghadapku “Apa sudah sarapan?” tanyanya. Mata kami saling pandang, tidak melepaskan satu sama lain.

“Sudah, terimakasih” Aku mendaratkan bibirku diatas bibir tipisnya “Baiklah aku akan bersiap siap dan aku ingin kopi sebelum pergi kekantor” aku menangkup wajahnya, bibirnya menipis karena sebuah senyuman.

“Ya pergilah untuk bersiap siap dan aku pastikan kau akan mendapatkan kopi” Tiffany mendorong dadaku, berjalan menuju mesin kopi. Melirik sebentar kearahku dan kami melempar senyum.

Aku berjalan mundur menaiki anak tangga, hanya untuk memandangnya. Kami bertingkah seperti remaja bodoh yang sedang dimabuk cinta, benar benar memalukan.

Aku sudah mandi ditempat gym tadi, jadi hanya butuh mengganti pakaian dan menata rambut. Yup, sudah rapih, tinggal dasi yang belum terpasang.

“Sayang, tolong pakaikan dasiku?” pintaku. Tanpa jawaban dia menghampiri ku dan mengambil alih dasi yang melilit di tanganku.

Ketika Tiffany sedang sibuk memakaikan dasiku, aku menarik pinggangnya agar lebih dekat dan tanganku naik turun dipinggangnya.

“Jauhkan tangan nakal itu, Siwon” Tiffany marah tapi tangannya masih menyimpulkan dasiku.

Bukannya menjauh, aku menurunkan tangan ku tepat diatas bokongnya “Oh Tuhan, Apa kau tidak punya telinga?” Tiffany terlihat geram, kepalanya terangkat untuk melihat ku.

“Aku punya” Jawabku sambil memegang telinga sebelah kiri.

“Jika kau punya, gunakan dengan baik” dia menyelesaikan dasiku yang sedikit lagi rapih dan chaa… selesai. Dia menepuk dasiku dua kali.

“Nah, sudah rapih dan terlihat tampan” pujinya. Tiffany berlalu kemeja makan yang dimana sudah ada dua cangkir kopi diatas meja, aku pun mengikutinya dari belakang.

“Terimakasih untuk dasi dan kopinya” ucapku lembut. Tiffany hanya mengangguk pelan dan kami pun menyesap kopi bersamaan. Diam sejenak, Tiffany sibuk memainkan cangkir kopinya, sedangkan aku sibuk memandanginya.

“Jika kau ingin membahas perihal semalam, aku tidak ingin membahasnya. Karena menurutku itu sudah selesai” Ucapnya memusnakan keheningan diantara kami.

“Siapa yang ingin membahasnya, aku tidak” diam lagi. Aku menyesap kopiku, hmm kopi buatan Tiffany benar benar enak.

“Eomma akan sampai sore nanti, apa kau ingin ikut menjemputnya?” sebenarnya aku sudah tahu apa jawaban  Tiffany, hubungan Eomma dan Tiffany merenggang setelah kecelakaan itu. Mereka hanya bicara seperlunya, tidak seperti dulu yang amat sangat dekat.

“Aku ingin dirumah saja, menyiapkan makan malam” raut wajahnya terlihat lebih santai.

Arraseo. Eomma hanya satu minggu dikorea dan setelah itu dia harus kembali keAmerika” Aku memulai pembicaraan dengan serius. Aku membenarkan posisi duduk ku agar lebih nyaman “Dan Eomma akan mengajak anak anak pergi ke Jeju. Ke villa kami yang didekat pantai”

“Ya, tapi Eomma tidak akan mengajak Lauren” Tiffany menghela nafas kasar dan menyandarkan tubuhnya dikursi.

“Kita bertiga akan menyusul. Tapi setelah aku menyelesaikan semua pekerjaan ku dan kosongkan jadwalmu” Aku menyampaikan pada Tiffany informasi yang Eomma berikan padaku dalam perbincangan kami semalam ditelpon, tapi tidak pada anak anak karena ini kejutan buat mereka.

“Apa Eomma setuju dengan rencana ini? dengan kita menyusul kesana?” Tiffany menarik tubuhnya, tangannya bertumpu diatas meja.

Aku menggenggam tangan Tiffany dan menjalankan ibu jariku dipunggung tangannya “Eomma tidak keberatan. Kita akan pergi berlibur, sudah lama bukan?”

Tiffany tersenyum, senyuman favorite ku “Ya, Sudah lama sekali” Aku membawa tangannya kemulutku dan berlama lama disana. Tiffany pernah bilang kalau dia menyukai ketika aku mencium tangannya dan dengan senang hati aku melakukannya hanya untuk nya “Dan tolong rahasiakan ini dari anak anak” Aku mengingatkannya.

Tiffany hanya mengangguk, dia berdiri dari kursinya dan duduk diatas pangkuanku, memeluk leherku dengan erat. “Terkadang kau bersikap seperti Ahjussi menyebalkan tapi disisi lain kau adalah suami termanis yang aku miliki. Hanya untukku, kau hanya milikku” Ucapnya panjang lebar ditelingaku.

Aku menariknya menjauh “I’m always yours, Tiffany Choi. Forever yours” bisikku didepan bibirnya, jarak kami hanya beberapa inci. Dengan gerakan cepat Tiffany menabrakan mulutnya dengan mulutku, membuatku terkejut. Beberapa detik kami terhanyut dalam ciuman kami dan Tiffany melepaskannya lebih dulu.

“Apa kau ingin aku tinggal dirumah saja?” godaku, aku mengusap rahangnya dengan perlahan.

ANDWAE!! Kau harus pergi kerja” Tiffany memukul dadaku dan beranjak dari pangkuanku.

Aku menarik tangannya dan membawanya keatas, kekamar kami “Ayo kita bekerja dikamar saja hari ini, hanya berdua”

NOE BYUNTAE…

 

 

BAB 2 – MOTHER CARE

 

AUTHOR POV

Young Ji duduk dengan gelisah dikursinya, keringat mulai mengalir dari sisi kepalanya, kedua tangannya berada diatas perutnya. Teman sebangkunya Lee Yul menyadari kegelisahan Young Ji. Pria manis itu menyodorkan kertas dan ada tulisan tangannya disana.

“Young Ji, kau nampak gelisah. Ada apa?” Young Ji melihat kearah Lee Yul sebentar dan kembali kekertas tersebut.

Young Ji ingin bicara langsung pada Lee Yul tapi tidak mungkin karena Songsenim sedang menjelaskan didepan kelas. Jadi, Young Ji membalas surat itu.

“Perutku sakit. Berapa lama lagi pelajaran Oh Songsenim ini selesai?” Young Ji mendorong kertas putih itu kearah Lee Yul. Walaupun mereka duduk dikursi paling belakang, mereka sangat berhati hati karena kursi paling belakang biasanya mendapatkan pengawasan lebih ketat.

”Lima menit lagi, bersabarlah” Lee Yul mendorong pelan kertasnya, matanya menatap kearah depan, pura pura memperhatikan.

Setelah membaca balasan Lee Yul, Young Ji mendengus kesal. Lima menit tapi terasa sangat lama sekali untuk nya.

 

YOUNG JI POV

Kenapa sakit perut ini datang disaat guru terkiller itu sedang mengoceh didepan. Apa dia tidak lelah dua jam pelajaran hanya dihabiskan untuk mengoceh? Oh Tuhan… benar benar menyebalkan.

Perutku sakit sekali seperti diinjak injak beberapa orang. Oke, berlebihan tapi ini benar benar menyakitkan. Aku tidak memakan apapun yang membuat perutku sakit, tadi Daddy membawaku ketempat biasa kami sarapan setelah ngegym dan aku memakan makanan yang sama, yang sering aku pesan direstoran itu.

Aissh, Lee Yul bilang lima menit lagi tapi kenapa lama sekali. Rasa nya aku ingin berteriak dengan keras untuk menyuruh Oh Songsenim segera keluar tapi aku menahannya dengan keringat yang semakin deras mengalir disisi wajahku.

TET.. TET… TET…

Akhirnya, aku bangkit dari kursiku dan berlari secepat yang aku bisa tanpa memperdulikan pria tua dengan rambut yang mulai menipis, dia menatap ku seperti ingin marah karena mendahuluinya keluar kelas. Ah, aku benar benar tidak perduli, aku harus segera ke toilet. Sangat bersyukur karena toilet hanya berjarak dua blog dari kelasku. Toilet tidak begitu penuh ketika aku masuk kedalam, hanya ada dua orang yang sedang merapikan diri. Aku mendorong pintu dibilik pertama dan menguncinya.

Aku mengangkat rok seragamku dan mendorong turun celana pendek serta pakaian dalamku. Mataku membelalak dengan sempurna ketika melihat…. Oh Tidak, aku mengerjap beberapa kali dan pengelihatanku masih sama. Darah, ya itu darah. Aku berdarah, dengan cepat aku menarik pakaian dalam dan celana pendek yang aku pakai, merapikan rok ku seperti semula.

Sakit diperutku tiba tiba berkurang tapi rasa cemas mulai menghampiriku. Tubuhku melemas, aku terduduk diatas toilet, ketakutan berkecamuk, apa yang terjadi padaku?

Mommy, aku butuh mommy sekarang. Menarik ponsel dari saku kemeja ku, kemudian menekan speed dial yang langsung terhubung pada Mommy. Tersambung, bagus. Tapi Mommy tidak menjawabnya dengan cepat, bunyi dering nya masih memenuhi telingaku dan akhirnya.

“Mommy” Panggilku dengan cepat. Suaraku terdengar panik.

“Ya, ada apa gadis cantik?” biasanya aku akan protes jika Mommy memanggilku seperti itu, aku tidak menyukai panggilan itu. Jeongmal!!

“Mommy dimana? Aku membutuhkan Mommy?” bisikku, gumpalan ditenggorokan ini membuatku melemah.

“Dijalan, ingin menjemput Lauren” Suara Mommy lebih terdengar serius dan aku sedikit lega karena sekolah kami berempat berada di perkomplekan yang sama “Kau kenapa, Young Ji aah?”

“Mommy tolong datang kesekolah. Aku di toilet dan aku benar benar membutuhkan Mommy” aku memohon pada Mommy.

“Apa yang terjadi? Kau tidak buang air dicelana bukan?” Nada bicaranya terdengar seperti sedang mengejekku. Mommy bisa bisa nya berfikir seperti itu disaat aku sedang ketakutan setengah mati.

“Aku tidak bisa memberitahu Mommy lewat telepon, tapi kumohon datanglah Mom, hmm?” isakan kecil akhirnya keluar dari mulutku, tapi aku menahannya agar tidak terdengar jika aku akan mulai menangis.

“Baiklah, Mommy akan datang. Sudah masuk perkomplekan sekolah, tidak akan lama oke?”

Sangat lega mendengarnya, aku tidak dapat berkata kata lagi. Aku ingin menangis sekarang, aku benar benar takut. Telepon terputus dan aku meletakkan kembali ponsel didalam saku. Rasa hangat terasa sedang mengalir diantara kedua pahaku sangat deras. Oh tuhan, itu pasti darah lagi. Apa aku mengidap penyakit mematikan? Tidak tidak… air mataku mulai mengalir dengan deras, aku termasuk sulit menangis tapi kali ini air mata dengan mudahnya mengalir.

 

***

TIFFANY POV

Aku menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Khawatir mulai aku rasakan setelah Young Ji menelpon. Putri terkuat ku yang sangat jarang sekali menangis, kini dia menangis saat ditelpon tadi. Dan apa? Dia berada ditoilet dan membutuhkan aku? Apa yang sebenarnya terjadi pada Young Ji?

Aku memutar roda kemudi ke kiri, seharusnya aku memutarnya kekanan. Tapi aku mendahulukan Young Ji yang sangat membutuhkan aku saat ini.

Aku memarkirkan mobil BMW mini cooper putih milikku dihalaman parkir sekolah tempat Eun Ji dan Young Ji menuntut ilmu. Aku keluar dari dalam mobil tergesa gesa. Young Ji membutuhkan aku, tadi saat aku memanggilnya gadis cantik dia tidak mencoba protes sedikitpun, yang terdengar dari suaranya hanya ketakutan yang amat sangat.

Sedikit berlari saat masuk kedalam gedung, seingatku letak kelas Young Ji berada dilantai dua, aku sudah berada didepan kelasnya, tapi aku tidak mengetahui dimana letak toilet sekolah ini. banyak siswa dan siswi yang berlalu lalang di lorong ini, tapi aku sungkan untuk bertanya. Aku mencoba menelpon Young Ji dan dengan cepat dia mengangkatnya.

“Young Ji, Mommy sudah berada didepan kelasmu. Dimana toiletnya?” aku perlahan lahan berjalan, sambil menacari dimana toilet tempat Young Ji menyembunyikan dirinya.

“Dua blog dari kelasku, Mommy” suaranya terdengar pilu, oh sayang, aku melangkahkan kaki ku dengan cepat dan aku melihat pintu cokelat tertutup dengan tulisan toilet dan dibawahnya ada gambar seseorang memakai rok, ya ini pasti toiletnya.

“Ya, Mommy menemukannya sayang.” Aku menarik knop pintu toilet tersebut, tidak ada orang dan munculah gadisku dengan wajah sedihnya. Ada bekas airmata yang mulai mengering dipipinya.

“Mommy” Young Ji berlari dan memeluk pinggangku, membenamkan wajahnya diperutku.

Sebentar aku membiarkannya tenang terlebih dulu, aku menggosok gosok punggungnya naik turun dan akhirnya dia sedikit lebih santai.

“Apa yang terjadi, sayang?” aku mengangkat wajahnya dan Young Ji mendongakan wajahnya. Mata kami bertemu.

“Mommy, aku berdarah” tangisnya pecah lagi. Aku berlutut agar tubuh kami sejajar.

Aku memeriksa lengan, siku dan lututnya “Dimana yang berdarah?” tapi aku tidak melihat darah ditubuhnya. Aku menautkan alisku, dahiku bererut. Berdarah? Young Ji menangis hanya karena dia terluka? Itu mustahil, karena dia pernah terjatuh dari sepeda dan mendapatkan banyak luka tapi dia tidak menangis. Tapi kali ini dia menangis dengan pilu, sebenarnya apa yang terluka?

Dia menunduk, terlihat sangat ketakutan. Aku menarik dagunya “Mana yang berdarah? Tunjukan pada Mommy?”

Dengan ragu ragu dia mengangkat tangan kananya dan perlahan mendaratkannya diatas kemaluannya, Young Ji masih tetap menunduk.

Oh Tuhan, aku tahu yang Young Ji maksud. Soo Ji dan Eun Ji juga sudah mengalami hal ini tapi mereka menanggapinya dengan sikap dewasa karena mereka sudah lebih tahu dibanding Young Ji yang masih sangat polos.

Aku tertawa sebentar dan lalu tersenyum. Young Ji mengangkat kepalanya untuk menatapku. Ekspresi wajahnya terlihat tidak suka “Mommy tertawa disaat aku sedang ketakutan, mungkin saja aku terkena penyakit mematikan sekarang”

Aku tertawa lagi, Oh Young Ji kau benar benar polos, nak. Apa Soo Ji dan Eun Ji tidak menceritakan pengalaman mereka ini pada Young Ji, sehingga putriku yang polos tidak tahu apa apa tentang hal yang akan dialami semua wanita ketika mereka mulai beranjak dewasa.

Aku menarik tangannya dang menggenggamnya erat, lalu aku cium punggung tangannya cepat “Young Ji ku, itu bukan penyakit berbahaya, sayang. Itu adalah fase dimana seorang wanita akan beranjak dewasa, itu tidak berbahaya. Kau baik baik saja, percaya pada Mommy”

Raut wajahnya masih terlihat bingung, aku tahu dia masih mencerna ucapanku. Kau anak ku yang paling cerdas tapi kau tidak paham tentang hal yang semacam ini. keterlaluan!!

“Tapi perutku sakit sekali, Mommy. Dan darahnya terus mengalir tanpa henti” ucapnya lembut, jika sedang bersikap seperti ini dia tidak terlihat seperti gadis tomboy.

“Ya, itu memang salah satu gejalanya. Dan darah itu akan terus mengalir selama satu minggu dalam satu bulan. Itu namanya datang bulan, semua wanita pengalami itu, nak.” Wajahnya terlihat lebih santai dari sebelumnya, dia sudah mulai mengerti sepertinya.

“Kau tidak bisa menyebut dirimu laki laki lagi sekarang. Datang bulan ini buktinya” Ucapku mengingatkan dia. Karena Young Ji selalu membual kalau dirinya laki laki dan Lauren kerap kali disuruhnya memanggil dia dengan sebutan Oppa dan lebih geramnya lagi Young Ji sering memanggil kedua Unnie nya dengan sebutan Noona. Tsk!! Anak itu benar benar. Tapi Siwon tidak pernah memarahinya, dia hanya tertawa mendengar semua itu, beda denganku yang selalu mengomel.

“Aku sudah menyadari jika aku seorang wanita” Young Ji terlihat kesal. Aku mengangguk setuju. Bagus!!

“Mommy, aku ingin pulang. Kaki, pinggang dan perutku terasa sakit” rengek Young Ji, membuat aku tersenyum. Akhirnya dia bisa bersikap manja juga, Young Ji tidak pernah bersikap manja seperti ini padaku , hanya dengan Siwon dia melakukannya.

Aku berdiri dan menarik lengannya “Kajja”

 

***

AUTHOR POV

Tiffany sedang membantu Kim Ahjumma memasak untuk makam malam, dia sibuk mengiris lobak dan tofu menjadi potongan kecil. Tiba tiba Tiffany teringat Young Ji, dia belum memeriksa keadaannya lagi setelah membawa putrinya pulang. Tapi Tiffany sudah memberinya obat herbal penghilang rasa sakit ketika dia sedang datang bulan, Tiffany berharap obat itu manjur juga untuk mengurangi rasa sakit pada Young Ji.

Tiffany melirik arlogi ditangan kirinya, sudah pukul lima dua puluh dan jam tujuh nanti Ny.Choi sudah berada dirumahnya. Tiffany harus memeriksa anak anaknya yang lain, apa mereka sudah mulai bersiap siap untuk menyambut Grammy nya yang sudah lama tidak bertemu.

Tiffany membuka pintu kamar Young Ji, kamar bernuansa putih memenuhi pengelihatannya. Dia melihat Young Ji sedang memangku gitar miliknya, ada Lauren duduk dihadapan Young Ji dan Eun Ji sibuk dengan ponsel miliknya, duduk dengan mantap disofa putih yang berada dikamar. Lihatlah betapa fokus nya Eun Ji, dia tidak menoleh ketika aku masuk.

Tiffany berjalan menuju tempat tidur, dan tempat tidur bergerak ketika dia duduk ditepinya “Apa sudah lebih baik?” Tiffany mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Young Ji tapi putrinya menangkap tangannya.

“Sangat. Terimakasih Mummy” Young Ji menirukan  suara Lauren ketika memanggil Tiffany. Bukan Mommy tapi Mummy. Tiffany yang tadiny akan marah karena penolakan Young Ji, kini tertawa lepas mendengar ucapannya.

“Oh Mommy senang mendengarnya. Kalian harus siap siap untuk menyambut Grammy”

“Apa harus memakai pakaian resmi?” Suara Eun Ji membuat semua mengarahkan pandangan padanya. Tetapi yang dipandang tidak berkutik , dia masih asyik dengan ponselnya.

“Tidak. Ini hanya Grammy, tidak ada yang lain. Pakailah pakaian yang sopan”

“Tapi Mommy sering memakai lingeri” Celetuk Eun Ji. Young Ji dan Lauren terkikik pelan, ketika wajah Tiffany mulai terlihat kesal.

“Yakk!! Itu kan jika sedang tidur Eun Ji aah” marah Tiffany pada Eun Ji. Tiffany memutar matanya beberapa kali. Eun Ji meletakkan ponsel dipangkuannya dan menatap Tiffany.

“Tetap saja itu juga tidak sopan” Tuturnya, tangannya dilipat didepan dada “Aku tidak terlalu menyukai ketika Mommy memakai pakaian sexy, seharusnya Mommy memakai pakaian seusia Mommy. Ingat Mom, Mommy sudah memiliki empat putri” empat jari Eun Ji terangkat diudara, tatapannya tidak terlepas dari Tiffany.

“Tidak salah jika wanita berumur masih ingin terlihat fashionable dan perlu kau ingat, Mommy seorang designer. Well, penampilan itu number one” Tiffany membuang nafas kasar, tangannya pun dilipat didepan dada. Lihat!! Dia jarang sekali berkomentar, tapi ketika dia mengutarakan opininya sangat pedas sekali.

“Aku tetap tidak menyukainya. Karena teman teman ku bilang Mommy lebih terlihat seperti Unnie kami”

Tiffany tertawa mendengar penuturan Eun Ji “Itu karena Mommy terlihat sangat awet muda kan?” Tiffany mengeluarka jurus  aegyo nya, matanya mengerjap beberapa kali.

“Mommy” protes Eun Ji yang terlihat tidak suka melihat aegyo nya Tiffany.

Tiffany berjalan mendekati Eun Ji dan merangkulnya “Kau tahu sayang, Mommy juga berharap bisa menjadi Unnie untuk kalian” kepala Eun Ji yang bersandar dibahu Tiffany terangkat untuk melayangkan protes tapi Tiffany mencela nya lebih dulu “Disaat kalian mempunyai masalah dan tidak bisa membaginya dengan siapapun atau ingin berbagi cerita, Mommy siap menjadi pendengar yang baik. Bukan sebagai seorang Ibu tapi seorang kakak atau teman. Karena ada beberapa pembicaraan yang tidak bisa kalian ceritakan secara terbuka pada orang tua. Tapi Mommy akan berusaha dapat bersikap seperti itu” Tiffany menyelesaikan pidatonya. Entah apa anak anaknya akan mengerti dengan kesepakatan yang baru saja dibuatnya. Tiffany berharap seperti itu, anaknya dapat terbuka dengannya walaupun waktu bertemu mereka tidak banyak.

“Tapi Mommy akan marah jika itu tidak sesuai dengan apa yang Mommy inginkan” Ucap Soo Ji yang baru saja masuk kedalam kamar.

“Mommy memang selalu marah” celetuk Eun Ji yang mendapatkan pukulan dari Tiffany dilengannya.

“Apa maksudmu, Soo Ji?” Tiffany tidak paham dengan apa yang Soo Ji ucapkan barusan.

“Maksudku, jika Mommy tidak suka kami melakukan sesuatu hal, tapi kami tetap melakukannya dan kami bercerita padamu. Mommy akan tetap marah juga kan?” Kata Soo Ji menempatkan tubuhnya disamping Tiffany.

Sure” balas Tiffany dengan cepat.

“Mommy marah karena sayang” Lauren yang hanya diam kini mulai bersuara.

Yes, it’s true baby” Tiffany menjentikkan jarinya diudara, sangat setuju dengan apa yang Lauren ucapkan.

“Tapi Mommy terus mengomel sepanjang hari, telingaku panas dan Mommy akan cepat tua jika mengomel terus menerus” Soo Ji bicara seperti ini karena dia paling sering terkena omelan Tiffany, bisa dikatakan setiap waktu. Karena Soo Ji tidak mandiri seperti adik adiknya, kamarnya paling berantakan diantara yang lain, lemari pakaiannya pun sama. Dan Soo Ji tidak pernah menyusun sendiri buku pelajaran yang akan dibawa besok kesekolah. Semenjak masuk kesekolah menengah atas dia mulai menyusun sendiri buku buku nya, biasanya Tiffany yang melakukan itu semua tanpa sepengetahuan Siwon.

“Itu karena kau belum bisa mengurus dirimu dengan sangat baik, Mommy akan terus mengomel sampai kau benar benar berubah” Tiffany mencubit hidung Soo Ji dengan main main.

“Pembicaraan kita tutup dulu dan kalian harus segera bersiap siap” perintah Tiffany. Bangkit dari sofa dan berjalan keluar kamar, meninggal kan keempat putrinya didalam kamar Young Ji.

 

***

“Grammy…” pekik Soo Ji, Eun Jii dan Young Ji ketika mereka melihat Ny.Choi masuk kedalam rumah.

Ketiganya memeluk pinggang Ny.Choi “Aigoo, sangat menyenangkan mendapat pelukan seperti ini sehabis jetlag” Ny.Choi memberi kecupan dikening  pada ketiga cucunya secara bergantian.

“Grammy, apa Grammy membelikan pesanan ku?” Tanya Young Ji to the point.

“Young Ji, itu tidak sopan” tegur Siwon yang berada dibelakang mereka, sedang menarik koper milik Ny.Choi “Grammy baru saja sampai dan kau sudah menagihnya oleh oleh” lanjut Siwon.

“Siwon, Gwencana. Mereka masih anak anak” Ny.Choi mengusap punggung Young Ji dan mereka berjalan masuk kedalam ruang tengah.

“Eomma, annyeonghaseo. Senang melihat Eomma tetap cantik dan sehat” sapa Tiffany yang baru saja turun dari kamarnya, Ny.Choi menarik Tiffany kedalam pelukannya.

“Ya, terimakasih nak. Kau juga tetap terlihat segar, sepertinya pekerjaanmu dan cucu cucuku tidak membuat mu terlalu lelah” Ny.Choi mengangkat tangannya dan meletakkannya dipipi Tiffany. Menantunya semakin cantik walaupun disibukkan dengan butik dan keempat putrinya. Ny.Choi tahu betapa tidak mudahnya mengurus anak anak.

“Begitulah Eomma. Eomma ingin istirahat atau makan malam lebih dulu?” Tawar Tiffany dengan lembut. Tiffany melihat wajah Ny.Choi yang kelelahan tapi terselip kebahagiaan. Itu pasti karena bertemu dengan cucu cucu nya.

“Aku ingin berbincang bincang. Sangat merindukan kalian” semuanya mulai mengambil tempat, bersiap untuk melepas rindu.

“Tiffany, dimana Lauren?” Tanya Siwon yang duduk disamping Tiffany. Sejak dia pulang tadi, tidak melihat Lauren yang menyambutnya.

“Itu dia” Tunjuk Young Ji kearah tangga “Lauren kemarilah, Grammy sudah pulang” teriak Young Ji bersemangat.

Lauren turun perlahan, nampak ragu ragu. Ketika sudah sampai dibawah dia langsung membungkuk sopan “Annyeonghaseo Grammy, sangat senang bisa bertemu Grammy lagi”

“Ya” hanya itu balasan dari Ny.Choi.

Lauren tidak terkejut, dia sudah sering mendapat respon seperti itu. Walaupun Ny.Choi bersikap acuh padanya, Lauren tetap menyayanginya dan dia juga sangat merindukan Ny.Choi. lauren juga ingin mendapatkan peluk, cium seperti yang Ny.Choi berikan kepada ketiga Unnie nya. Tapi sepertinya itu hanya mimpi untuk nya. Lauren mengambil tempat diantara Siwon dan Tiffany, dia tidak bergabung duduk didekat Ny.Choi dan ketiga Unnie nya. Lauren cukup tahu diri kalau dia tidak diinginkan oleh Grammy nya.

 

“Grammy tidak akan lama berada di Korea.  Jadi Grammy akan mengajak kalian pergi berlibur” Ny.Choi membuka pembicaraan, memberitahu rencana untuk membawa cucunya kerumah pantai mereka yang berada di Jeju.

“Wow.. itu keren, kemana kita akan pergi kali ini, Grammy?” tanya Soo Ji antusias.

“Tidak begitu jauh. Kita akan ke JeJu, Villa dekat pantai” sorak gembira dari ketiga cucunya memenuhi ruangan, kecuali Lauren yang hanya terdiam ditempatnya.

“Kita pergi naik kapal pesiarkan?” seru Young Ji, dia ingat mereka baru sekali berlibur kesana dan waktu itu mereka sekeluarga pergi menggunakan kapal pesiar milik pribadi.

“Kau lupa, Grammy mabuk laut” Eun Ji mencoba mengingatkan Young Ji yang sudah berkhayal naik kapal pesiar untuk pergi keJeju nanti.

“Grammy bisa naik pesawat dan kita naik kapal pesiar seperti waktu itu” Young Ji tidak mau kalah. Dia benar benar menginginkan naik kapal untuk ke Jeju, baginya naik kapal lebih menyenangkan dari pada naik pesawat.

“Kita akan naik pesawat karena kita hanya pergi berempat” Ny.Choi menengahi dua saudara yang sedang berdebat.

“Berempat?” pekik Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji bersamaan.

“Kenapa Lauren tidak ikut?” tanya Young Ji, semangatnya mulai pudar mengetahui adik tersayangnya tidak ikut.

“Lauren ikut. Kami akan menyusul” Siwon angkat bicara untuk menjelaskan.

“Kalau begitu, aku juga akan menyusul pergi bersama Daddy, Mommy dan Lauren” balas Young Ji. Dia sangat perduli dengan Lauren, apa yang dia dapatkan, Lauren juga harus mendapatkannya, begitupun sebaliknya.

“Jangan sayang, pergilah bersama Grammy, Soo Ji Unnie dan Eun Ji Unnie. Kami menyusul karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu, sedangkan Lauren masih membutuhkan Mommy. Jadi Lauren akan menyusul berama Mommy dan Daddy” Terang Tiffany. Young Ji sangat keras kepala, tapi Tiffany berharap dia akan mengerti kali ini.

“Tapi Daddy, Mommy dan Lauren benar benar akan menyusul kan?”

“Ya, sayang. Kami juga butuh berlibur” Tiffany tersenyum. Sangat senang, putrinya mau mengerti. Biasanya Young Ji tidak akan merubah apa yang sudah diucapkannya. Jika dia berkata iya tidak akan berubah menjadi tidak, itulah putrinya Young Ji.

Mendengar itu Young Ji mengajak kedua Unnie nya untuk high five, akhirnya mereka dapat berlibur bersama lagi, karena sudah lama sekali mereka tidak pergi berlibur karena kesibukkan Siwon dan Tiffany.

“Mommy bilang kau sakit. Tapi sekarang tidak terlihat sedang sakit” ucap Siwon. Tadi Tiffany menelponnya kalau dia tidak jadi pergi kebutik karena harus membawa pulang Young Ji yang sakit. Tapi yang Siwon lihat, Young Ji baik baik saja.

Tiffany tertawa mengingat kejadian ditoilet sekolah Young Ji tadi pagi. Putri nya polos sangat polos “Ceritakanlah pada Daddy dan Grammy” Tiffany menyuruh Young Ji menceritakan semuanya, tapi sepertinya Young Ji enggan bercerita. Dia terlihat malu dengan wajah yang mulai memerah.

Tiffany pun mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal seujung kukupun. Young Ji hanya menunduk ketika Tiffany bercerita dan semua orang yang berada diruangan itu tertawa.

“Omona… Kau sudah mulai beranjak menjadi seorang gadis, nak. Bersikaplah layaknya seorang perempuan” Kata Ny.Choi sambil mengusap kepala Young Ji dengan sayang.

“Aku tidak janji. Karena aku lebih nyaman memakai jeans dan T-shirt, dari pada gaun gaun aneh itu”  raut wajah Young Ji dibuat nya semenjijikan mungkin.

“Kau bilang gaun gaun aneh. Mommy akan lebih banyak membuatkan mu gaun kalau begitu” Ya, beberapa gaun putrinya adalah rancangan Tiffany. Dia sangat senang membuatkan gaun untuk anak anaknya.

“Mommy” Protes Young Ji. Dia tidak bisa tidak memakai gaun gaun yang dibuat Tiffany karena Tiffany selalu mengancamnya jika Young Ji tidak mau memakai gaun ketika Tiffany menyuruhnya.

 

“Siwon, bagaimana perkembangan mengemudi Soo Ji?” Tanya Ny.Choi dengan santai.

Tiffany terkejut mendengar pertanyaan Ny.Choi barusan “Mengemudi?” Tiffany mengulang ucapan Ny.Choi, dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Ya, mengemudi. Soo Ji meminta dibelikan mobil, jadi aku menyuruh Siwon untuk mendaftarkan Soo Ji kesekolah mengemudi.” Ny.Choi menangkap keterkejutan diwajah cantik Tiffany “Oh sesange, jangan bilang kau tidak tahu tentang hal ini, Tiffany?”

“Aku memang benar benar tidak tahu, Eomma dan kau” Tiffany menunjuk kearah Siwon yang duduk disamping Lauren “Sejak kapan ini? kenapa kau merahasiakannya dariku? Hoh?”

“Sudah satu bulan lebih Soo Ji sekolah mengemudi dan sudah bisa dikatakan dia hampir mengusai cara mengemudi dengan baik dan benar. Aku merahasiakannya karena takut kau akan melarangnya” Siwon nampak sedikit gugup karena jika Tiffany sudah marah, dia akan habis habisan kena semburan kemarahan dan barang barang yang Tiffany lempar kearahnya.

“Tentu saja aku melarangnya. Soo Ji baru lima belas tahun. Dia belum bisa mengendarai mobil karena dia belum mendapatkan SIM” Tiffany benar benar marah pada Siwon dan Ny.Choi yang selalu memanjakan anak anak nya. Bukan Tiffany tidak suka tapi ini sudah melampaui batas.

“Tidak harus tujuh belas tahun juga, asal dia sudah mahir mengemudi itu sudah lebih dari cukup” bela Ny.Choi. Soo Ji tidak berkata apapun, tapi dilubuk hatinya dia berharap Daddy dan Grammy nya dapat membujuk Mommy nya yang super duper overprotektif ini.

“Tetap tidak bisa Eomma. Aku tidak akan mengizinkannya” Tiffany tidak ingin mengalah, Ny.Choi dan Siwon harus berada dipihaknya. Bahwa Soo Ji belum pantas mengendarai mobil, apalagi memiliki mobil sendiri. Tidak itu tidak akan terjadi.

Tiffany tahu teman Soo Ji sudah ada beberapa yang memiliki mobil sendiri, itu karena orangtua mereka memiliki kekuasaan.  Sehingga mereka mengizinkan anak anaknya mengendarai mobil diusia lima belas tahun ini. Tiffany juga menyadari Ny.Choi mengizinkan Soo Ji karena dia memiliki kekuasaan yang sama, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu dan membahayakan nyawa Soo Ji atau orang lain, apa itu bisa diatasi dengan kekuasaan juga?

“Aku yang akan membelikannya mobil dan aku juga yang akan bertanggung jawab” ucap Ny.Choi dengan nada menantang.

“Tapi dia putriku. Aku yang menentukan apa yang harus dan apa yang tidak harus dia lakukan”

“Dia cucuku. Sudahlah Tiffany, aku juga tidak akan melepaskannya jika dia belum mahir mengemudi” Ny.Choi mulai kesal karena Tiffany tidak mau menyerah. Menurut Ny.Choi, Tiffany terlalu mengekang anak anaknya, terlalu banyak batasan.

“Oke, jika Eomma akan tetap mengizinkannya mengemudikan mobil tapi Soo Ji hanya boleh mengemudikan mobilnya diperkomplekan ini tidak kesekolah dan tempat lainnya”

“Mommy, itu keterlaluan” Soo Ji berteriak, tidak setuju dengan apa yang Tiffany ucapkan. Apa apaan hanya di perkomplekan, Mommy benar benar kuno..

“Menurut atau tidak sama sekali?” Tiffany balik berteriak.

 

 

TIFFANY POV

Aku menyemprotkan krim lebih banyak ketelapak tanganku. Kerut diwajahku pasti akan sangat terlihat, hari ini aku banyak sekali mengomel. Aissh menyebalkan. Benar yang dibilang anak anak, marah terus menerus akan membuat kita terlihat semakin tua. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak ingin marah sebenarnya, merekalah yang memancing emosiku.

Aku masih kesal dengan informasi Soo Ji belajar mengemudi dan akan segera dibelikan mobil. Oh Tuhan, itu berlebihan menurutku. Siwon dan Eomma benar benar memanjakannya. Tidak ada yang berpihak padaku, bahkan Siwon mendukung kemauan Soo Ji secara diam diam. Keterlaluan, lihat saja, aku akan memukul kepala mu Choi Siwon.

Baru saja dibicarakan, dia sudah datang. Oh Choi Siwon, come here baby. Aku memberinya senyuman termanis ketika dia berjalan kearahku dengan percaya diri, dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.

Hahah kemarilah sayang…

Dia memelukku, wow gerakannya lebih cepat dari pada aku dan plak… plak…
Aku memukul belakang kepalanya dua kali dan menggigit bahunya. Siwon menjerit kesakitan, rasakan itu.

“Aissh!! Appo” Siwon berteriak sambil mengusap kepalanya, tepat dimana aku memukulnya “Tidak seharusnya seorang istri memukul suaminya seperti itu”

“Tidak seharusnya seorang suami menyimpan rahasia kepada istrinya. Bukannya kita sudah berjanji untuk saling terbuka satu sama lain?” Aku menjinjit untuk memukul kepalanya lagi tapi Siwon menarik kedua tangan ku dan menguncinya dibelakang tubuhku.

“Satu pukulan dibalas dengan satu ciuman. Otte?” wajah Siwon sudah berada dekat dengan wajahku hanya beberapa inci. Dasar pria pandai merayu, dia sangat pandai membuatku tidak marah padanya, tapi kali ini aku tidak akan terpengaruh.

SHIRO!!” Aku berteriak didepan wajahnya, dan mengunci rapat rapat mulutku.

“Kau tahu, aku masih mengingat percintaan kita tadi pagi dan aku menginginkannya lagi, sayang” tangannya yang lain mulai menggosok gosok punggungku. Aissh sial..

Ya aku juga mengingatnya, percintaan paksa yang kau lakukan sebelum kau berangkat kerja pagi tadi. Dan boleh aku katakan itu percintaan luar biasa kami setelah anak anak tumbuh besar. Oh Tuhan, apa yang aku bicarakan.

Aku memejamkan mataku dan menunduk sangat dalam, wajahku pasti mulai memerah. Siwon benar benar penggoda “Heh? Lagi?” suaraku keluar sangat kecil seperti desahan. Astaga!!

 

SIWON POV

“Heh? Lagi?” oh Tuhan, kenapa suaranya terdengar sangat seksi ditelingaku. Aku hanya mengangguk untuk menbalas ucapannya.

Aku mencium dengan lembut dirahangnya dan berlama lama disana, Tiffany sedikit bergidik “Tapi kita baru melakukannya pagi tadi” Tiffany mundur beberapa langkah, tapi aku menarik pinggangnya dan tubuh kami menempel. Mata kami bertemu.

“Pekerjaan dikantor membuat ku stress dan aku membutuhkan mu” Aku berbisik ditelinganya, berusaha untuk menggodanya.

“Tapi aku sedang marah dengan mu, sangat marah, benar benar marah. Pokoknya aku marah” dia berontak untuk melepaskan diri dari pelukanku tapi tidak berhasil. Karena aku mendekapnya dengan kuat, tidak akan membiarkannya lari.

Aku mengecup sudut bibirnya “Aku tahu kau menginginkannya, menginginkan aku juga” Aku menyeringai kearahnya, sebelum dia protes aku lebih dulu membungkam mulutnya dengan mulutku. Perlahan aku berjalan membawanya ketempat tidur kami, dengan mulut yang masih bertautan. Dengan hati hati aku meletakkan tubuh mungilnya diatas tempat tidur.

 

 

AUTHOR POV

Siwon memeluk tubuh polos Tiffany dengan erat, tangannya naik turun dipunggung Tiffany, nafas mereka masih terengah engah. Siwon menarik tangan Tiffany, menggenggamnya dan meletakkannya diatas dada bidangnya.

Kepala Tiffany terangkat untuk menatap Siwon “Bisakah kau membujuk Eomma untuk membatalkan niatnya membelikan Soo Ji mobil?”

Siwon mengecup kening Tiffany cepat “Tidak, sayang. Aku tidak bisa. Kau harus melihat Soo Ji mengendarai mobil, aku tidak akan mengizinkannya jika dia belum paham bagaimana cara mengemudi”

“Tapi tetap saja itu berbahaya diusianya yang baru menginjak lima belas tahun” Tiffany bingung harus dengan cara apa lagi agar dapat membujuk Siwon. Jujur, dia sangat khawatir dengan putri sulungnya. Apa dia harus menyerah dan membiarkan Soo Ji yang baru berusia lima belas tahun mengendarai mobil.

“Jangan terlalu mengkhawatirkannya, hanya perlu mengawasinya” Siwon menarik dagu Tiffany keatas, mensejajarkan wajahnya lalu memberikan kecupan ringan diatas bibir tipis Tiffany.

“Kau selalu memanjakannya” Tiffany memukul dada Siwon pelan.

“Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anak anak ku” Tiffany mengangguk dan tersenyum bahagia. Siwon menempelkan bibirnya dengan bibir Tiffany dan melumatnya dengan perlahan, bersamaan dengan itu hujan turun dengan sangat deras. Siwon menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi tubuh polos mereka dan mulai memejamkan mata, mempererat pelukan mereka dan berusaha tidur.

 

 

***

“Mummy” dari suara dan cara anak ini memanggilnya, Tiffany sudah dapat menebak siapa yang sedang berlari menghampirinya. Hanya putri bungsunya yang memanggilnya dengan Mummy, aksen inggris nya benar benar kental. Tiffany sangat suka ketika Lauren memanggilnya seperti itu, beda dari yang lain.

“Sayang” Tiffany mengangkat tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Pagi pagi sekali Tiffany harus pergi kebutik karena ada jadwal temu dengan pelanggannya. Sehingga dia tidak bisa sarapan bersama Siwon, Ny.Choi dan keempat putrinya.

Tiffany mendudukan Lauren diatas meja kerja yang ada diruangannya dan Tiffany duduk dihadapannya “Ada apa Mommy menyuruh aku datang kemari. Sangat aneh, karena biasanya Mommy tidak suka jika aku datang ke butik”

Tiffany tidak pernah menyuruh keempat putrinya datang kebutik jika sedang sibuk merancang busana yang akan siap dijahit  untuk pelanggannya, karena anak anak nya sangat mengganggu. Apalagi Lauren, dia banyak berceloteh membuat konsentrasi Tiffany buyar.

Tiffany tertawa singkat “Unniedeul akan berkemas untuk pergi berlibur sore ini, kau pasti akan kesepian. Kebetulan Mommy juga sangat kesepian. Well, tidak salah kalau kita saling menemani”

Lauren menangkup wajah Tiffany “Aku tidak keberatan. Aku akan melakukan apapun yang membuat Mommy senang” Lauren tersenyum senang. Tiffany mengernyit, tidak biasanya Lauren dapat tersenyum disaat Ny.Choi pulang, tapi sekarang Lauren tersenyum sepanjang waktu.

“Sepertinya gadis kecil Mommy, sedang senang?” Lauren mengangguk “Apa yang membuatmu tersenyum sepanjang waktu, hoh? Tell me baby” Tiffany mencubit hidung Lauren main main.

“Mommy tahu, tadi Grammy menjemputku” Tiffany tahu itu, karena Kim Ahjussi sedang sakit dan Tiffany berbohong kalau dia sedang banyak pekerjaan.

“Walaupun aku tahu, Grammy menjemputku bukan karena kemauannya sendiri” ada kekecewaan dari suaranya, tapi senyumnya terus menghiasi wajah imut Lauren “Tapi apapun itu aku sangat senang dapat berada sedekat itu dengan Grammy. Grammy juga membelikan aku es krim vanila. Mulai sekarang aku akan menyukai es krim vanila. Bukan hanya stroberry, vanila juga akan menjadi rasa favoritku” Lauren mengakhiri ceritanya dengan sangat gembira. Beberapa kali dia menyapu bibir atas dengan lidahnya, masih merasakan betapa lezatnya es krim vanila yang dibelikan Grammy nya.

Tiffany menelan ludah nya dengan susah payah, ketika mendengar es krim stroberry. Itu mengingatkannya pada seseorang, Tiffany menepis fikiran itu “Oh sayang, Apa kau bahagia nak?” Tiffany menarik Lauren untuk memeluknya.

“Sangat” balasnya dengan lembut.

 

 

***

Tiffany mengamit tangan mungil Lauren dan berjalan menyusuri bandara untuk mencari keberadaan Ny.Choi dan ketiga putrinya. Tiffany melirik Lauren disampingnya yang terlihat diam, tidak seperti dibutiknya beberapa jam yang lalu, Lauren mengoceh tanpa henti. Apa dia lelah karena terus mengoceh? Maldo andwae…

“Hey, ada apa?” Tiffany menggoyangkan tangan Lauren yang ada digenggamannya, membuyarkan lamunan Lauren.

Lauren menengadahkan kepalanya “Mommy, Apa kita benar benar akan menyusul Grammy dan Unniedeul?” Oh jadi ini yang dia takutkan..

“Iya, sayang. Kita akan menyusul” Jawab Tiffany lembut, Lauren tersenyum mendengarnya.

Mata Tiffany menangkap sosok yang dicarinya, dia menarik Lauren untuk berlari kecil. Tiffany melambaikan tangannya kearah mereka.

“Mommy” panggil Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji.

“Dimana Daddy?” Tanya Soo Ji yang tidak melihat Siwon berada disekitar Tiffany.

“Daddy masih di Busan, jadi dia tidak bisa datang untuk mengantar” Ketiga putrinya terlihat kecewa.

“Daddy kalian benar benar gila kerja” Celetuk Ny.Choi yang berdiri debelakang Soo Ji.

“Siwon sedang menyelesaikan pekerjaannya agar dapat dengan cepat menyusul ke Jeju untuk berlibur” Jelas Tiffany, Siwon bekerja dengan keras akhir akhir ini. pulang larut malam sudah menjadi rutinitasnya.

“Lauren, kau benar benar tidak ingin ikut bersama kami?” Tawar Young Ji, dia masih berharap Lauren pergi bersama sama dengannya.

“Tidak bisa” sela Eun Ji “Dia merepotkan” ucapnya Dingin.

“Kalian pergilah. Lauren akan menyusul bersama Daddy dan Mommy” Tiffany cepat cepat angkat bicara. Tidak ingin Soo Ji dan Eun Ji memojokkan Lauren.

Pemberitahuan keberangkatan pun memenuhi bandara, Tiffany lega. Setidaknya pembicaraan ini tidak berlanjut lama “Baik baik disana selama Mommy belum ada. Jangan nakal, jangan bertengkar dan menurut pada Grammy. Arratchi?” Tiffany memeluk Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji bergantian.

“Nde..” jawab mereka serempak.

“Eomma, tolong jaga mereka. Pukul saja jika mereka nakal” Tiffany tertawa, tidak serius dengan ucapannya. Mana mungkin dia membiarkan seseorang memukul anak anaknya. Dia tidak akan membiarkannya, walaupun itu Grammy nya. Karena Tiffany tidak pernah memukul anak anak nya sedikitpun.

“Aku tidak akan memukulnya, tapi langsung melemparkannya kelaut” balas Ny.Choi dengan bercanda juga.

“Sampai jumpa Lauren. Unnie sangat menunggu kedatangan mu, cepatah menyusul huh?” kata Young Ji, dia memeluk Lauren singkat.

“Nde. Selamat berlibur Grammy, Soo Ji Unnie, Eun Ji Unnie, Young Ji Unnie” Lauren melambaikan tangannya. Ny.Choi, Soo Ji, Eun Ji dan Young Ji mulai berjalan menuju pintu penerbangan.

 

 

***

Tiffany tersadar dari kantuknya, mendengar klik dari pintu rumah mereka. Dia hampir tertidur disofa tadi, dengan sigap Tiffany berjalan kearah pintu sembari melirik jam casio ditangan kirinya. Pukul sepuluh, sangat telat.

Siwon sudah masuk kedalam dan mereka berjalan untuk menghampiri satu sama lain. Ketika sudah dekat, Siwon mencium ringan bibir Tiffany “Terimakasih, karena selalu menungguku”

Tiffany meraih tas dan jas kantor milik Siwon “Tidak perlu berterimakasih, Itu sudah tugasku. Well, makan atau mandi?” tanya Tiffany dengan lembut. Siwon terlihat sangat kelelahan, pasti dia melewatkan makan malamnya lagi.

“Apa aku boleh memilih makan terlebih dahulu. Sangat kelaparan” Siwon melepas dasi dan membuka dua kancing teratas kemaja  yang dipakainya.

“Tentu boleh. Ayo” Tiffany menarik lengan Siwon membawanya kemeja makan. Menarik kursi dan mempersilahkan Siwon untuk duduk. Siwon tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari istrinya.

“karena aku sudah makan, jadi kau makan sendirian. Gwencana?” Tiffany mendekatkan mangkuk nasi dan beberapa piring kecil berisi lauk.

“Hmm Gwencana” Siwon tersenyum lalu menyuapkan suapan pertama kedalam mulutnya. Tiffany yang duduk dihadapannya hanya memperhatikan Siwon makan dengan lahapnya, dia benar benar kelaparan.

“Apa kau melewatkan makan siang mu juga, kau terlihat sangat kelaparan?” Tanya Tiffany yang melihat Siwon sangat lahap menyantap makananya. Apa karena dia lapar atau masakannya yang enak?

“Aku tidak menikmati makan siang dengan baik, karena sembari menangani beberapa dokumen” Keluh Siwon. Tiffany merasa kasihan melihat Siwon bekerja terlalu keras.

“Jangan terlalu keras bekerja, makanlah jika waktunya makan. Kau bisa sakit” Tiffany mengambil tangan Siwon yang bebas dan mengusap lembut dengan ibu jarinya.

“Aku ingin cepat menyusul putriku” Gumam Siwon disela kunyahannya.

Tiffany mencibir, lalu menarik tangannya dan melipatnya diatas meja “Tsk.. sudah aku duga. Jika aku yang berada diposisi mereka, apa kau akan sekeras ini bekerja agar cepat menyusulku, huh?”

“Aku tidak akan menyelesaikannya tapi aku langsung meninggalkan pekerjaanku agar dapat menyusulmu dengan cepat” Siwon tertawa ringan, Tiffany pun tersenyum mendengar rayuan Siwon “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Aku sudah meminta Yoona untuk mengosongkan jadwalku untuk beberapa hari kedepan. Ya, jadi aku selesai. Aku sudah siap untuk berlibur” jawab Tiffany dengan santai.

“Satu rapat lagi yang harus aku hadiri besok, setelah itu kita pergi” Siwon menekan mulutnya dan mengintip kearah Tiffany.

“Besok?” Tiffany terkesiap. Sangat cepat untuk menyusul, tapi dia senang mendengarnya.

“Ya, kita harus mulai berkemas besok. Sorenya kita akan terbang ke Jeju”

Tiffany hampir melompat dari kursinya mendengar ucapan Siwon “Jangan beritahu anak anak, Kita akan memberinya kejutan” Tiffany mengangguk setuju. Senyumnya terukir sangat lebar diwajahnya, sangat cantik.

 

TBC…..

 

Hai hai….

Aku datang membawa cerita baru disini. Ini cerita sedikit berbeda dari cerita yang aku buat sebelumnya. Maaf kalau di part ini tidak begitu menarik karena masih perkenalan tokoh dan belum masuk ke konflik inti. Tenang, masih banyak tokoh dan konflik yang akan aku keluarkan dipart berikutnya. Anggap aja ini pemanasan yaa heheh

Well, please tinggalkan komen kalian sebagai bentuk dukungan semangat untuk aku dan berikan banyak cinta untuk cerita ini. Ghamsanamida *bungkuk sembilan puluh derajat*

 

 

50 thoughts on “(AF) The Choi’s Girl

  1. wow!! tiff pnya 4 putri?? tp apakah lauren bkn putri mereka?
    lucu bgt pas tiff care sama keempat putrinya.. apalagi ktika putri ketiganya mengalami masalah wanita utk pertama kalinya.. hihihi

  2. wehh??? tiffany punya 4 putri hihihi eh tapi kenapa ny.choi tidak suka dengan lauren? siapa laurem sebenarny hm? ahh next part pasi kejawab,,

  3. Haha.. lucu pas young ji ngalamin dateng bln
    Seneng bgt pas liat tiffany sm 4 ank’a ngobrol di kmr
    Apalagi pas moment2 sifany’a haaddoooohh.. bikin iri
    Klo baca marriage life kya gini selalu b’harap jd kenyataan *hihihi
    Tp liat lauren kasian dia merasa terasingkan untung ada young ji & fany
    Btw Kaya’a ada sesuatu nh di masa lalu’a fany
    Trus pas inget es krim stobery ntuh knp tuh??
    Cpet2 yaa thor next part’a
    Hehe..
    Hwaiting!!!

  4. Wahhh…seru bnget critanya thor…
    Pih agak sdih juga dri q liat lauren…
    Kan gak slah dia juga kakeknya ninggal…
    Prah ni neneknya…smpek.blang lauren pmbnuh…
    Siwon juga jga jrak ma lauren…
    Unnie2 nya pun sma lauren bgtu…
    Cma young ji yg syang ma lauren…
    Mdah2an mreka smua sgera mmprlkukan lauren dengN baik…
    Dtnggu klnjutannya thor…

  5. Masih penasaran sama awal ceritanya. Tiffany dan siwon awalnya dijodohin kan ya? Trus wanita yg ada diawal cerita itu sebenernya siapa sihh? Aishhh penasarannn,- Ok, nextnext!

  6. Oalahh..ngakakk pas young ji datng bulan 😁😂
    Hebat, sifany masih aja romantis kyak pngantin baru pdhal udh tua 😂 *dijitak sifany*😭
    Keren thor, ini mah jd one shoot jg pantes, tp ada next part yaa syukur dah *ah apaan sih*

  7. Tu yg di prolog ceritanya siapa sih, agak bingung, tp keren ceritanya kesian lauren juga untung sh ada youngji yg ngebelain selain tiff, next part

  8. Tiffany selingkuh, lahirin lauren, siwon ngejauh, ny. Choi jg nyalahin lauren atas kmatian suaminya, okee piks!! Lauren kasian banget, dia anaknya sapa sih?? Donghae?? Minho?? Atw leeteuk?? Tiff selingkuh psti ada sebabnya (abaikan sok tau saya) wajib ditunggu nihh, next cepettttt thorrr ^_^

  9. Sifany romantis bangett sihh kaya pengantin baru gtu hm lauren kasian ya disalahi trus sama nychoi pdhl kan itu kecelakaan trs dilanjut ya thor yg cepattt

  10. Penasaran sama masalalu mereka,apakah ada alasan selain penyebab kematian tuan choi yg membuat nyonya choi begitu membenci lauren?

  11. Masih agak bingung sih tentang lauren ada bau2 yang mencurigakan, hihi…
    ada apa dengan Ice cream strawberry?? Makhlum masih awal2 jadi lumayan bikin penasaran, secara keseluruhan ini keren… semoga yang nulis diberi kelancaran ya, hehe..
    fighting!!!

  12. Lanjut thor aku penasaran kenapa siwon segitunya sama lauren. Terus soal es krim strawberry itu tiffany inget sama siapa ya. Keep writing and hwaiting!!!

  13. ada sesuatu antara lauren sm keluarga choi sebenarnya siapa si lauren itu kok mrk semua jaga jarak. kasihan si lauren msh kecil uda diperlakuin kaya gt dilanjut ini keren 👍👍👍

  14. Aduh capek aja ya… kasian Lauren, magnae tapi selalu kena masalah😢 Kok Soo ji sama Eun ji ga kayak Young ji sih baik ke Lauren😨😵
    Tiffany eonni lebih berperi keibuan disini
    Siwon oppa jangan gitu kali sama Lauren kasihan masih kecil😣
    Tapi tetep seru kok awal aja konfliknya banyak kayak gini gimana next part ga ke bayangan girls!
    Semoga dipercepat next partnya
    Author fighting~

  15. aku lupa udah pernah komen disini atau enggak. tapi aku baca kayak asing kayak pernah tau ‘-‘
    pokoknya suka authornim! sifany anaknya 4?? omayaaa!! tapi kasian lauren diperlakukan gitu sama halmoninya. si kakak2nya gitu juga lagi. lebih2 siwon sbg daddy nya eh malah kek gitu kan kasiaaan… suka pokoknya authornim! mana udah ada part 2 lagi huehehe.. good job!!

  16. Menghadapi 4 org anak..cewek smua lgi…Tifanny yg sabar y…Lauren jga yg tabah y..mskipun yg care cma mommy n young ji…

    Penasaran ma prolog nya…

  17. nice story….rasanya nyesek banget pas scence dirmh sakit ,wktu siwon yg g peduli ma lauren, trus ny.choi yg nyebut lauren pembunuh, pdhl kn lauren masih kecil n g tau apa2…..

  18. sedih banget pas baca cerita tentang lauren yang dimarahin sama Grandmmy padahal kan masih kecil.

    penasaran sama yang di prolog itu siapa ?

  19. Saatnya review, aku udah baca ff ini sampe habis.. dan aku bakalan ngasih komentar-komentar di setiap partnya..
    Part 1 ini semua masih bayang-bayang ya wkkwkw semua masih perkenalan dan aku terkejut dengan tiffany dan siwon yang punya 4 anak wawww banyak banget dan yang tertua aja umur 15 tahun, mereka nikah umur yang muda sekali, untuk part awal aku suka dengan bahasa nya, dan kenapa Ny. Choi seperti itu sama lauren, kasihan :”)

  20. Daebak sifany pny 4 putri yg cantik dgn karakter yg beda2. khdpn klrg yg harmonis y kdg ad perdebatan kcl. aplg kisah ttg Lauren yg sukses bikin q baperT_T
    utk author thanks g bwt q ikt syg am Lauren….
    two 👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s