(AF) Lion Heart Part 3 (End)

LION HEART PART III

Lion heart

Author           : Kireynalice

Type               : Three Shoot

Genre        : Romance

Rating     : PG 15+

Main Cast      : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast     : Find it your self :p

Disclaimer     : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot

cerita. Kesamaan ide merupakan hal yang tidak disengaja.

Note                : Thanks to “editor” sekaligus author kesayanganku, Elsa Mardian, untuk tambahan idenya🙂

 

Miyoung’s POV

Siwon membawa mobilnya meninggalkan rumah sakit kembali menuju apartemenku. Selama perjalanan kami tidak berbicara sama sekali. Aku berusaha sekuat tenaga menahan leherku agar tidak menoleh ke arahnya.

“Sudah sampai.” Suara Siwon memecah keheningan.

Aku menatap ke luar jendela.

Eh.. sudah sampai ya? Kenapa cepat sekali?

“Ah.. Ne.. Gumawo.”

Selama beberapa saat kami hanya duduk terdiam. Aku terlalu bingung untuk mengatakan apapun. Sekedar mengucapkan ‘selamat tinggal’ saja aku ragu.

“Mmm.. Aku.. akan pergi bersama Park Uisa siang ini.” Kata Siwon. “Selama itu aku akan digantikan oleh Yoon Uisa.” Lanjutnya.

Ne. Semoga perjalananmu menyenangkan, Uisa-nim. Aku masuk dulu. Gumawo karena telah mengantarku pulang.”

Akhirnya untaian kata itu berhasil keluar dengan mulus tanpa tersendat dari bibirku. Saat aku sudah bersiap untuk keluar dari mobil, panggilan Siwon menahanku.

“Miyoung-ssi..”

Suara itu membuatku meremang. Ada getaran aneh yang merasuk ke dalam dadaku. Jantungku berdebar kencang mengantisipasi kata-kata Siwon selanjutnya. Mungkinkah pria ini akan mengatakan kalau dia..

“Kuncimu.” Lanjut Siwon.

Aku memejamkan mata menyesali kebodohanku. Bisa-bisanya aku memikirkan hal yang tidak mungkin itu. Dengan canggung tanpa melihat wajah Siwon, aku mengambil kunci apartemen dan keluar dari mobil dengan cepat. Hwang Miyoung pabo!

**LH**

Bugh..

“Terlalu pelan, Yoona.”

Bugh..

“Yang keras.”

Bugh..

“Lebih keras lagi.”

BUGH!!

“AWW!! YA! Kau berencana membunuhku, ya?!” Ringisku sembari mengusap-usap punggung.

“Aish! Bukannya kau sendiri yang menyuruhku untuk memijat dengan keras?!” Jawab Yoona.

“Aku memintamu untuk memijat punggungku, bukan me-mu-kul-ku.”

“Aku juga sudah melakukan yang kau inginkan. Tapi kau terus memintaku untuk menambah kekuatan.” Protes Yoona. “Ya sudah. Aku tidak mau memijatmu lagi.” Lanjutnya.

Aigoo.. jangan marah begitu.. hanya kau yang bisa membantuku. Aku tidak bisa menjangkaunya. Ayolah, Yoona-ya. Kumohon.. Eoh?” Bujukku sambil meraih tangannya dan mengarahkannya ke punggungku.

Yoona masih mengerucutkan bibirnya meski mulai memijat lagi. Kali ini lebih kencang dibanding sebelumnya, mungkin karena rasa kesalnya padaku.

“Keundae.. Eonni, apa yang kau lakukan sampai badanmu sakit seperti ini?”

Suara sendawa lolos dari mulutku. “Upss.. Mian. Aku kurang tidur. Selain itu aku tidur dengan posisi duduk.”

Yoona bergumam, “Hmm.. Aneh! Eonni adalah jenis manusia yang dapat tertidur dengan mudah. Kenapa bisa kurang tidur?”

Aku bersendawa lagi, “Ada sesuatu yang harus kuurus.”

Yoona berdecak pelan, “Ck.. paling-paling juga menonton drama sampai tertidur di sofa depan televisi.” Cibirnya.

“Terserah kau saja. Yang penting sekarang kau lanjutkan memijat punggungku.”

“Iya, cerewet! Aku juga sedang melakukannya.”

“Enak saja memanggilku se..”

Suara kikikan di pintu memotong ucapanku. Secara spontan aku dan Yoona saling berpandangan sebelum mendongak ke arah pintu yang terbuka.

Eoh? Soo Yeon dan Hyoyeon? Apa mereka salah masuk ruangan?

“Kau kenapa, Miyoung-a? Kenapa Yoona memijat punggungmu?” Tanya Soo Yeon seraya duduk di kursi seberang kami.

“Badan Miyoung Eonni sakit. Sepertinya masuk angin.” Yoona mewakiliku menjawab sambil terus melakukan kegiatannya.

“Apa yang kalian tertawakan?” Tanyaku.

“Menakjubkan, Miyoung-a!” Jawab Soo Yeon.

“Apanya yang menakjubkan? Kalian dipindah tugaskan ke ruangan ini?”

Aish! Bukan itu.” Jawab Hyoyeon.

“Lalu apa? Kenapa kalian kemari?” Tanyaku lagi.

“Aku dan Hyoyeon berencana untuk mengajak kalian makan kue beras saat istirahat. Dalam perjalanan kemari, Hyoyeon bertabrakan dengan Choi Uisa!” Cerita Soo Yeon antusias.

Omona! Lalu dia memarahimu?” Tanyaku cemas.

Hyoyeon menggeleng. “Ani. Justru itu yang aku herankan. Aku menabraknya cukup keras sampai kertas yang dia pegang berhamburan. Tapi dia malah meminta maaf dan tersenyum padaku. Wajahnya terlihat manis sekali.”

Yoona mengerutkan keningnya, “Kau yakin itu Choi Uisa? Kalian tidak salah lihat?”

“Jangankan kau, aku saja yang melihatnya secara langsung tidak percaya.” Ujar Soo Yeon.

“Benar! Selain itu dia terlihat lebih santai dan ceria. Wajahnya pun memancarkan aura kebahagiaan.” Tambah Hyoyeon.

“Aneh.. Kenapa tiba-tiba singa galak itu berubah baik pada semua orang?” Gumamku pelan. “Mencurigakan sekali.”

“Hoy.. hoy.. yang mencurigakan itu kau! Kau bahkan belum menjelaskan kejadian semalam padaku.” Tuntut Hyoyeon.

Heol! Kenapa si biang gosip ini masih ingat? Kukira dia tidak akan membahas soal itu.

“Kejadian? Kejadian apa?” Tanya Yoona.

Ani! Tidak ada yang terjadi, Yoona-ya. Hyoyeon hanya terlalu melebih-lebihkan.” Elakku.

“Melebih-lebihkan apanya? Kau tahu kan kalau aku mengambil long shift?” Tanya Hyoyeon yang Yoona jawab dengan anggukan kepala. “Kemarin malam, aku melihat Miyoung dan Choi Uisa bersama!” Lanjutnya.

MWO?!” Soo Yeon dan Yoona terpekik lalu menatapku.

“Miyoung datang memakai pakaian tidur dengan wajah lelah di tengah malam!” Tambah Hyoyeon lagi.

Eonni, jadi kau..” Yoona menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan.

Im Yoona, berlebihan sekali reaksimu!

A… ani.. ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Semua itu hanya kebetulan saja.” Jelasku. Tapi sepertinya tidak ada yang mau mendengarkan.

“Jadi itu alasannya kenapa Choi Uisa meneleponku..” Ujar Yoona.

Eoh? Dia meneleponmu?” Kali ini giliran Hyoyeon yang terkejut.

Ne. Dia memintaku mengirimkan alamat Miyoung Eonni. ‘Aku sangat membutuhkannya, Yoona-ssi. Beritahukan padaku segera. Sekarang juga!’ Itu yang dia katakan saat meneleponku.” Jelas Yoona menirukan suara Choi Siwon.

“Dasar pria porselen! Disaat mendesak seperti itu saja masih meminta dengan nada memerintah. Tidak sopan sekali!” Gerutuku.

“Justru itulah yang menjadi ciri khas dari seorang Choi Siwon. Nada tegas dan memerintahnya yang penuh dengan karisma.” Puji Yoona dengan pandangan menerawang.

“Saat ini bukan hal itu yang penting, Yoona-ya.” Kata Hyoyeon membuat gadis berperawakan tinggi itu menyeringai.

“Jadi.. Choi Uisa meminta alamat Miyoung pada Yoona sehingga dia bisa menemui Miyoung untuk mengajaknya berkencan?” Tanya Soo Yeon.

Eh? Kenapa jadi begini? Calon pengantin itu.. bukannya membantu malah memperkeruh suasana.

“Binggo! Kau cerdas sekali, Soo Yeon-a. Kesimpulan yang bagus.” Puji Hyoyeon.

Aigoo.. Ternyata kau benar-benar termakan ucapanmu sendiri, Eonni!” Ejek Yoona. “Kau bilang tidak mungkin jatuh cinta padanya, tapi ternyata kalian menghabiskan malam bersama. Sampai masuk angin pula!” Lanjutnya.

“Y.. YA! Aku pergi bersamanya untuk mengambil flashdisk yang tertinggal. Tapi di tengah perjalanan kami mengalami kejadian di luar dugaan itu. Aku panik setengah mati, tapi sekarang kalian malah mengolok-olokku.”

“Bisa saja flashdisk itu hanya alasan agar dia bisa bertemu denganmu.” Cecar Soo Yeon.

“Benar juga! Siapa tahu dia menyimpan perasaan yang terpendam padamu, Eonni!” Tambah Yoona.

Aku berdecak pelan, “Dalam waktu sehari? Yang benar saja!”

“Jangan pernah meremehkan kekuatan cinta, Miyoung-a. Kau tidak akan pernah tahu kapan, dimana dan pada siapa rasa itu muncul.” Ujar Soo Yeon.

“Kalau pun ada istilah cinta pada pandangan pertama, kurasa itu tidak akan pernah terjadi padanya.” Kilahku.

“Keundae, Miyoung-a, apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya?” Desak Hyoyeon.

“Tentu saja tidak! Coba kalian pikir. Choi Siwon itu kan galak, angkuh, dingin dan juga sombong. Apa mungkin aku jatuh cinta padanya?” Tanyaku yang mereka bertiga jawab dengan gelengan kepala.

“Seharusnya tidak.” Kata Hyoyeon. “Hanya orang aneh yang melakukannya.”

“Tapi, kalau Miyoung ini termasuk orang aneh itu, bagaimana?” Canda Soo Yeon yang membuat kami tertawa.

“Sudah.. sudah! Bukankah kita mau makan bersama? Kajja.” Ajakku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Tapi teman kita yang istirahat di jam pertama belum datang. Kita harus menunggu mereka kembali dulu, Eonni.” Ingat Yoona.

“Iya, ya. Benar juga.”

“Ya sudah. Aku dan Hyoyeon akan mengambil dompet dulu. Saat istirahat nanti kami akan menjemput kalian.” Putus Soo Yeon.

“Kau mau pergi ke loker? Aku ikut, Eonni. Kebetulan aku akan ke laboratorium.” Kata Yoona. “Kutinggal dulu ya, Eonni.” Pamitnya sambil mengedipkan sebelah mata padaku.

Dasar genit! Pasti dia mau menggoda karyawan baru laboratorium itu. Ada-ada saja!

Setelah kepergian mereka, kuputuskan untuk melihat instruksi yang dokter berikan pada catatan perkembangan pasien. Semuanya harus kupersiapkan dengan baik agar tidak kebingungan saat pertukaran shift nanti. Ketika melihat tulisan tangan Dokter Choi, tanpa sadar jariku menyusuri goresan pena yang ditorehkannya di atas kertas berwarna putih itu. Tulisannya begitu rapi dan teratur seakan menggambarkan ketegasannya dalam bertindak. Tiba-tiba saja hatiku berdesir. Eh.. kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini?

Kalau Miyoung ini termasuk orang aneh itu, bagaimana?

Kalimat Soo Yeon tadi terngiang kembali di telingaku. Apa aku termasuk orang aneh? Orang aneh yang men.. mencintai..

Omona! Andwe.. andwe.. andweee!!!!

**LH**

Genap 7 hari berlalu semenjak kepergiannya ke Jepang. Berarti sudah selama itu pula aku menjadi asisten Yoon Uisa. Dokter pengganti ini memang tidak sekaku dan setegas Siwon. Dia bekerja dengan santai dan tidak terburu-buru. Hal itu juga yang menyebabkanku memiliki sedikit waktu luang. Aku bisa pergi bersama rekan yang lain sepulang kerja. Seperti yang kulakukan saat ini. Kami sedang berada di restoran dekat…

“Ya! Hwang Miyoung!” Teriakan seseorang membuyarkan lamunanku.

Eoh? Apa yang kau katakan tadi?”

Taeyeon berdecak pelan. “Kau ini kenapa? Kalau kuperhatikan akhir-akhir ini kau sering merenung. Apa yang kau pikirkan?”

“A.. apa maksudmu? Aku… hanya sedang memikirkan akan memesan minuman apa.” Jawabku.

Taeyeon mengangkat sebelah alisnya. “Sudah jelas tertangkap basah masih mengelak juga. Kau kan sudah memesan orange juice.”

Pabo! Seharusnya kau mencari alasan lain yang lebih masuk akal, Hwang Miyoung.

“Emm.. Taeyeon-a?”

“Hmm..”

“Kapan Kibum Oppa kembali?”

“Suamiku bilang sekitar 8  hari lagi. Kenapa?”

Ani. Hanya ingin tahu.” Jawabku.

Sebenarnya aku mencari alasan untuk bertanya saja. Kim Kibum, suami Taeyeon, menjadi perwakilan dari rumah sakit tempatnya bekerja untuk mengikuti pelatihan di Jepang. Tempat, waktu dan hari kegiatannya sama dengan..

“Choi Uisa..”

Deg!!!

Jantungku seperti akan melompat dari tempatnya saat mendengar nama pria itu disebut.

N.. ne? Mworagu?” Tanyaku terbata.

Taeyeon tersenyum sebelum berkata, “Aku dengar dia terserang flu. Kasihan sekali dia. Sendirian, di negeri orang dan dalam keadaan sakit.”

Omo! Dia sakit?

“La.. lalu aku harus bagaimana? Di.. dia kan sudah dewasa dan seorang dokter. Dia pasti tahu harus melakukan apa.” Kataku pura-pura tak acuh.

Taeyeon mengangkat bahunya, “Kukira kau perlu tahu. Sekedar mengirim pesan untuk menanyakan keadaannya saja kan tidak apa-apa.”

Aku memandang Taeyeon yang saat ini tengah melihat-lihat daftar menu di tangannya. “Mmm.. Aku.. aku ke toilet dulu.” Pamitku yang Taeyeon jawab dengan anggukan.

Selesai dengan urusan pribadiku, aku memilih untuk berdiri di balkon. Kulayangkan pandang mataku ke atas. Mendung tebal menggantung di langit pertanda hujan lebat akan segera turun. Sudah sejak 30 menit yang lalu suara gemuruh terdengar memenuhi langit. Apakah Seoul akan segera mengalami musim penghujan? Lalu kalau disini hujan, Tokyo bagaimana? Apa disana hujan juga? Hey! Kenapa aku jadi memikirkan soal itu? Meski di sana sedang hujan salju sekalipun apa peduliku?!

Tapi.. apa benar aku tidak peduli? Apa aku yakin akan acuh saja? Dia sedang sakit, sendirian, di luar negeri.  Tim kesehatan yang lain mungkin mendampinginya, meskipun begitu dia pasti membutuhkan dukungan moral.

Kalau aku mengirim pesan padanya bagaimana? Mungkin bunyi kalimatnya ‘Annyeonghaseyo, Uisa-nim. Aku dengar anda sakit.’ Ya.. sepertinya begitu saja.

Eh.. bagaimana kalau dia salah menempatkan intonasi? Bisa-bisa dia mengira aku mengejeknya. Selain itu belum tentu maksudku tersampaikan dengan jelas.

Kalau kutelepon saja bagaimana? Mengganggu tidak ya? Tapi kalau tidak sekarang kapan lagi. Bisa-bisa dia sudah pulih sebelum aku sempat mengucapkan ‘cepat sembuh’. Apa yang harus kulakukan?

Aku menghitung dengan jari tangan kiriku. Hubungi.. jangan.. hubungi.. jangan.. hubungi..

Aduh.. kenapa harus berhenti di pilihan ‘hubungi’? Bagaimana ini?

Fiuhhh… tenang Hwang Miyoung. Dia kan atasanmu. Wajar saja kalau kau menghubunginya sekedar untuk menanyakan kabar. Baiklah.. tidak ada salahnya mencoba. Dengan mengesampingkan rasa malu, kuraih ponsel dari dalam tas lalu mencari kontak ‘Choi Siwon’ untuk selanjutnya menekan tombol hijau.

Tuuuttt… Tuuuttt…

Yeoboseyo?”

Omo! Panggilanku langsung dijawab pada nada kedua! Apa yang harus kukatakan?!

Yeoboseyo?!”

Klik!

Secara reflek aku menekan tombol merah dan menggenggam ponselku dengan erat di depan dada. Ah.. Ottoke.. Kenapa aku gugup sekali?

Sedetik berselang ponselku bergetar panjang diiringi lagu favoritku menandakan adanya panggilan masuk. Disaat seperti ini siapa yang menghubungiku? Apa dia tidak tahu kalau aku sedang gelisah?

Mataku membelalak saat membaca tulisan di layarnya. Choi Siwon Uisa?! O.. omo! Bagaimana ini?

Ayolah Hwang Miyoung.. kumpulkan keberanianmu. Sekarang atau tidak sama sekali!

Yeoboseyo..” Cicitku pelan saat teleponnya tersambung.

Ne, Yeoboseyo.” Suara seorang pria terdengar dari seberang sana. Itu suara Siwon hanya saja sedikit lebih berat. Mungkin karena hidungnya yang tersumbat.

“Mmm.. Uisa-nim.. ini saya. Hwang Miyoung.”

Pabo! Tentu saja dia tahu. Choi Uisa kan menyimpan nomer ponselmu!

Eoh.. ada apa kau meneleponku?” Tanya Siwon datar.

“Saya.. mendengar kalau Anda terkena flu. Jadi saya..”

Ghwenchana.” Kata Siwon memotong kalimatku. “Aku bisa mengatasinya. Lagipula itu hanya masalah kecil saja. Kenapa harus diperbesar?”

Aku menelan ludah. Sepertinya keputusanku untuk menghubunginya adalah sebuah kesalahan.

Ah.. ne.. Jhwesonghamnida..”

“Miyoung-ssi, aku sibuk. Aku harus menutup teleponnya sekarang.” Nada suara Siwon terdengar kesal dan dingin. Apa dia marah karena aku sudah mengganggunya?

Ne. Semoga Anda..”

Klik!

Belum sempat aku mengucapkan kalimat perpisahan, Siwon sudah menutup teleponnya lebih dulu.

Jantungku berdebar sangat kencang. Hatiku hancur dalam sekejap. Dasar singa jelek! Dokter diktator! Dingin! Kaku! Menyebalkan! Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa dia tidak tahu kalau untuk meneleponnya aku harus mengumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki? Apa dia tidak tahu kalau sikapnya itu membuatku kecewa? Tahukah dia kalau aku.. aku.. aku peduli padanya!

Tidak.. dia tidak bersalah. Kaulah yang menggantungkan harapanmu terlalu tinggi, Hwang Miyoung. Hanya karena kau sempat menghabiskan waktu bersamanya, kau lantas mengira kalau kalian sudah saling mengenal. Kau yang terlalu percaya diri! Kau yang terlalu berharap.

Bodoh.. Bodoh.. Bodoh!!

“Miyoung-a? Apa yang kau lakukan disini? Pesanan kita sudah datang. Ayo kita makan sebelum.. Ya.. kau kenapa?” Taeyeon yang entah sejak kapan berada disampingku membalikkan tubuhku. “Waegurae? Kenapa kau menangis?”

Aku menggelengkan kepala. Tentu saja Taeyeon tidak akan percaya meskipun aku mengatakan ‘tidak apa-apa’ sementara air mata membasahi pipiku. Kumohon.. untuk kali ini saja berhentilah mengalir. Aku tidak ingin Taeyeon tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan bodohku padanya.

“Taeyeon-a.. aku.. ingin pulang..”

**LH**

Sakit hati? Pasti. Marah? Mungkin. Sedih? Tentu saja. Apa masih perlu ditanyakan lagi? Sikapnya yang penuh dengan kehangatan membuatku merasa terbang ke awan sekaligus terlempar ke dasar jurang. Tapi hidup harus terus berjalan, bukan? Entah esok atau lusa aku pasti akan melupakannya. Yang membedakan hanya masalah waktunya saja. Sebentar atau lama. Satu hal yang harus kujadikan sebagai pelajaran adalah jangan pernah menggantungkan harapan terlalu tinggi karena peluang untuk kecewa selalu terbuka lebar untukmu. Sepertinya pepatah yang mengatakan kalau cinta itu buta ada benarnya juga. Dia akan datang tanpa ancang-ancang dan pergi tanpa kau sadari. Dia hanya dimiliki oleh orang yang terpilih meski rasa itu tak pernah memilih.

Satu minggu yang lalu sebuah surat undangan berwarna kuning keemasan dengan pita merah dibagian sampulnya sampai di tanganku. Benar, itu adalah undangan pernikahan Soo Yeon yang pestanya akan digelar di sebuah ballroom hotel ternama. Satu lagi bukti bahwa aku tidak seharusnya menyalahkan cinta. Pada suatu hari dia bisa membuatmu terluka, tapi di satu waktu dia bisa memberimu bahagia.

“Akhirnya Soo Yeon Eonni menikah juga.” Kata Yoona setelah membaca undangan di tangannya.

“Hmm..” Gumamku.

“Tinggal Eonni satunya lagi yang belum.” Celetuknya.

“Maksudnya aku?”

Yoona tertawa terbahak mendengarnya.

“Kau tega sekali menertawakanku, Im Yoona!” Ujarku bernada protes.

Mianhe, Eonni. Aku tertawa karena melihat ekspresimu.” Sahut Yoona, rona merah masih tersisa di pipinya.

“Ekspresi lucu sekaligus memprihatinkan maksudmu?” Sungutku kesal.

Aigo.. jangan marah, Eonni. Aku yakin sebentar lagi kau akan mendapatkan pangeran pujaan hatimu. Kau itu cantik dan manis. Hanya pria gila yang akan mengacuhkanmu.” Puji Yoona.

Aku tersenyum miris, “Tidak usah merayuku berlebihan seperti itu. Kau sendiri tahu aku tidak pernah berkencan.”

“Aku serius, Eonni. Mungkin hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.”

Aigo.. Uri Yoongie, bijaksana sekali. Entahlah.. aku.. sedikit putus asa.” Ujarku.

“Ck, aku bingung dengan sikapmu, Eonni. Aku sudah mendaftarkanmu ke acara kencan buta itu, tapi kau tidak mau. Kukenalkan pada teman sekolah menengahku, tapi kau menolak. Lama-lama kau akan kusuruh untuk.. Ah.. Matta!” Pekik Yoona ditengah-tengah omelannya.

“Apa? Kali ini saran apalagi yang akan kau berikan padaku?” Tanyaku meledek.

“Kau harus berhasil mendapatkan rangkaian bunganya, Eonni.” Jawab Yoona sambil tersenyum lebar.

“Rangkaian bunga apa?”

Yoona memutar bola matanya, “Tentu saja rangkian bunga pengantin. Mana mungkin rangkaian bunga turut berduka cita!”

Heol! Memangnya aku bodoh sampai bisa kau tipu dengan mitos semacam itu?” Sahutku gemas.

“Jangan remehkan hal semacam itu, Eonni. Kau juga tahu kalau Soo Yeon Eonni memenangkan bunga milik Tae Yeon Eonni dan kau lihat apa yang terjadi? Selisih pernikahan mereka hanya 6 bulan!”

Aku tahu itu sungguh tidak masuk akal. Mana mungkin nasib seseorang ditentukan dari rangkaian bunga kecil itu? Tapi.. perkataan Yoona ada benarnya juga. Saat itu hanya Soo Yeon yang rela berdesak-desakkan dengan gadis lajang lainnya. Dengan semangat dia melompat dan berhasil mendapatkan benda yang diincarnya. Sebulan setelah itu dia mengatakan kalau ada pria yang sedang dekat dengannya dan 7 minggu kemudian Soo Yeon mengatakan kalau mereka akan segera menikah. Kalau begitu kurasa tidak ada salahnya juga menguji sejauh mana keberuntunganku. Baiklah.. aku harus mencoba. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Semoga saja aku berhasil melakukannya.

Entah karena hatiku yang hancur atau perasaanku yang tidak sabar untuk menjalankan misi itu, detik demi detik berdetak terasa semakin lambat  membuatku tersiksa dalam penantian. Setiap pagi yang kulakukan pertama kali setelah bangun tidur adalah melihat kalender. Kegiatan rutinku setiap selesai mendampingi dokter memeriksa pasien adalah melirik jam tangan. Seperti ada sesuatu yang kutunggu. Menunggu apa? Aku pun tak tahu. Hingga pada akhirnya hari bersejarah ini tiba, perasaanku seperti meledak-ledak. Mengapa? Hah.. aku sudah mengatakan kalau aku pun tak tahu bukan?

Aku merapikan ujung gaun terusan berwarna merah yang membalut tubuhku. Sebenarnya aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Terlalu manis, feminin dan terbuka. Bagian atasnya yang tanpa lengan membuat pundakku terlihat. Dasar Yoona! Kenapa dia harus memilih baju ini sebagai seragam kami? Belum lagi sepatu dengan hak yang tingginya menjulang. Seandainya tidak memalukan aku pasti akan menggantinya dengan sandal jepit.

Aku menyemangati diriku sendiri. Bukan hal sepele itu yang harus kupikirkan. Inilah saatnya bagiku untuk berjuang. Semangat, Hwang Miyoung! Kau hanya perlu melompat lebih tinggi, kalahkan gadis-gadis itu dan dirimu akan segera melepas masa lajang.

Acara intinya mungkin akan digelar sebentar lagi setelah para tamu, termasuk aku, selesai memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Berbicara soal ucapan selamat, aku jadi teringat akan sesuatu. Im Yoona.. kemana gadis itu sekarang? Katanya dia tidak akan meninggalkanku sendiri. Pasti sekarang dia sudah tenggelam di dalam kuali pasta kacang! Ck, ya sudah. Terpaksa aku harus menemui kedua mempelai seorang diri. Setelah menarik napas panjang, aku memutuskan untuk mendekati Soo Yeon. Gadis itu terlihat cantik menggunakan.. Hanbook?!

HEOL! Kenapa aku bisa tidak tahu kalau Soo Yeon memakai gaun pengantin tradisional untuk resepsinya?! Kenapa si rusa itu tidak mengingatkanku? Apa dia juga tidak tahu? Kalau begini apa mungkin ada acara pelemparan bunga?! Aduh.. Jung Soo Yeon, kenapa kau mengubah konsep pernikahanmu secara mendadak?

“Miyoung-a.. Kau cantik sekali!” Puji Soo Yeon saat aku tiba dihadapannya.

Aku hanya tersenyum kaku, “Chukae, Soo Yeon-a! Kuharap kau selalu bahagia.”

Gumawo. Segera susul aku, ne?” Kata Soo Yeon yang kubalas dengan anggukan pelan.

“Doakan saja.”

“Pasti. Siapa tahu setelah ini akan ada kejutan yang menantimu.” Soo Yeon mengedipkan sebelah matanya.

Setelah sedikit berbasa-basi, perlahan tapi pasti aku segera menjauh dari keramaian dan memilih mengambil minuman untuk menenangkan diri.

Sambil menyesap cairan merah muda yang terasa segar di tenggorokanku, benakku berteriak. Apa alam tidak merestui rencanaku? Kenapa susah sekali mendapatkannya? Demi Tuhan, umurku sudah 27.. eh.. tidak. Umurku sudah 28 tahun ini.

“Aku tahu apa yang kau lakukan, Miyoung-ssi.”

Suara bisikan seorang pria membuatku menoleh dengan cepat. Mataku menangkap senyum jahil pada seraut wajah yang cukup lama tidak kulihat. Aku pasti berkhayal. Dia tidak mungkin ada di sini setidaknya untuk 4 hari ke depan. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, hampir tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Tapi wajah itu masih tetap ada di hadapanku.

“Choi Uisa?!” Ujarku dengan nada tinggi karena terkejut.

Wajah dihadapanku itu tersenyum lebar.

“Apa yang Anda lakukan di sini?” Tanyaku heran.

“Tentu saja untuk menghadiri pernikahan teman. Kau… pasti ingin mengambil bunga pengantinnya, kan?” Tebak Siwon.

Aku terperangah. Bagaimana dia bisa tahu tentang rencanaku?

“Kenapa kau menuduhku begitu?” Tanyaku menyembunyikan malu.

“Karena aku melihatmu termenung sambil menatap Soo Yeon-ssi yang terlihat menawan dengan hanbook-nya.” Jawab Siwon dengan senyum yang memerlihatkan lesung pipinya.

Aku terdiam. Pipiku pasti sudah merah saat ini. Samar-samar terdengar suara seorang pembawa acara berjas merah dari atas podium yang mengumumkan kalau acara pelemparan bunga akan dimulai.

Aduh.. aku harus bersiap untuk maju. Tapi bagaimana dengan raja singa dihadapanku ini? Dia pasti akan memberikan komentar aneh. Tidak apa-apa. Lakukan semuanya semi masa depanmu. Kau tidak boleh kalah dengannya Hwang Miyoung. Semangat!

“Permisi, Choi Uisa. Saya harus segera ke pelaminan.” Kataku.

“Pelaminan? Untuk apa? Kau kan sudah bersalaman dengan Soo Yeon dan suaminya tadi.”

Aish! Pria ini! Kenapa dia selalu ingin tahu urusan orang lain? Dan bukannya menyingkir, dia malah membuatku terpojok ke meja cocktail.

“Kenapa kau menghalangi jalanku?” Protesku ketus.

“Kau.. berniat untuk menangkap bunga pengantin Soo Yeon ya?”

Aku mengatupkan rahangku kuat-kuat karena gemas. “Kalau sudah tahu kenapa bertanya?!”

“Ck.. Kau tidak perlu melakukannya karena jodohmu bisa saja ada di depan mata.” Bisik Siwon lagi.

Aku tertegun mendengarnya. Apa maksud pria ini?

“Miyoung-a..” Panggilnya.

Miyoung-a? Kenapa dia memanggilku begitu? Memangnya sejak kapan hubungan kami menjadi dekat? Bukankah saat terakhir bertemu dia hanya memintaku untuk menggunakan bahasa informal? Bahkan beberapa hari yang lalu dia memutuskan sambungan teleponku secara sepihak.

“Aku… menyukaimu.” Lanjut Siwon.

Kalimat terakhir yang diucapkannya lagi-lagi membuatku terkejut. Aku salah tingkah seketika. Mataku melirik ke kanan dan kiri berharap menemukan Yoona atau teman lain agar dapat melarikan diri.

“Ja.. jangan bercanda, Uisa-nim.” Sahutku antara terkejut dan gugup.

“Aku serius. Kejadian malam itu membuatku menyukaimu. Sudah sejak beberapa hari yang lalu aku ingin menyatakan perasaanku padamu. Tapi pelatihan itu menghalangi niatku.”

Aku terdiam lagi. Choi Siwon masih memandangiku dan tersenyum.

“Ta.. Tapi.. Kau.. menjawab teleponku dengan dingin.”

Siwon menggaruk tengkuknya, “Waktu itu.. aku malu. Sebenarnya aku juga berniat untuk menghubungimu, tapi ternyata kau meneleponku lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku gugup, tapi nada bicaraku malah terdengar kasar di telingamu.” Jelasnya.

“Kenapa… kau bisa menyukaiku?”

“Karena kau berbeda.” Jawab Siwon singkat. Sorot matanya berbinar dan senyuman seperti enggan beranjak dari wajahnya.

Aku hanya menelan ludah. Semua ini jauh diluar dugaanku. Choi Siwon terlalu sulit ditebak dan mudah berubah-ubah. Aku tidak yakin bisa menjadikannya sebagai sandaran hati.

“Bagaimana?” Tanya Siwon lalu beringsut semakin mendekatiku.

“Bagaimana apanya?” Aku malah balik bertanya.

“Kau mau menjadi kekasihku?” Tanya Siwon lagi, menatap lurus ke wajahku.

Aku menggigit bibir masih tidak tahu harus menjawab apa. Aku tak pernah mengira Choi Siwon Uisa yang selalu bersikap dingin, disiplin dan diktator kini menaruh hati padaku.

“Miyoung-a, jawab aku.” Pintanya sembari memegang pergelangan tanganku.

“Untuk teman wanita kedua mempelai yang masih lajang, kami harapkan kehadirannya di depan pelaminan.” Suara pembawa acara terdengar lagi.

Aku melepaskan pergelangan tanganku dari genggaman Siwon sebelum melenggang penuh percaya diri meninggalkannya yang masih menanti jawaban dariku. Sampai di depan pelaminan, aku mengatur posisi. Berdasarkan tips yang kudapat dari testimoni di dunia maya, aku harus berdiri di tengah. Tidak terlalu depan atau belakang sehingga daya jangkauanku cukup luas.

Eonni!” Panggilan seorang wanita yang kuyakini sebagai Yoona membuatku menoleh.

“Eoh? Hyoyeon-a? Kau kemana saja? Kenapa tadi tidak ada?” Kataku saat melihat Hyoyeon. “Kau juga!” Tegurku seraya menunjuk Yoona. “Aku mencarimu sejak tadi.”

Yoona terkikik pelan. “Makanan disana enak sekali, Eonni. Kau kan tahu kalau aku tidak bisa mengingat apa pun saat mulutku sedang mengunyah.”

“Eoh. Aku baru datang bersama Taeyeon dan melihat Yoona mengambil pasta satu piring penuh. Begitu mendengar pengumuman, aku langsung menariknya kemari.” Jelas Hyoyeon.

“Enak saja! Aku tidak serakus itu, Eonni.” Protes Yoona.

“Aish! Sudahlah! Kalian ini berisik sekali!” Ujarku menengahi, “Tapi.. kenapa Taeyeon datang bersamamu? Memangnya Kibum Oppa kemana?”

“Kibum Oppa kan sedang ke luar negeri. Taeyeon bilang dia baru akan pulang minggu depan.” Jawab Hyoyeon.

Minggu depan? Berarti suami Taeyeon masih ada di Jepang? Lalu.. kenapa Siwon ada di sini? Bukankah seharusnya mereka kembali di waktu yang sama? Apa dia..

“Ssstt.. Eonni, berhentilah melamun! Acaranya sudah mau dimulai.” Yoona menyenggol lenganku dengan sikunya.

Kami semua kemudian berkonsentrasi pada Soo Yeon yang bersiap melempar bunganya. Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. Tentu saja. Pernikahan impian bersama dengan pangeran tercinta, siapa yang tidak akan bersuka cita?

Pembawa acara memberikan aba-aba bagi kami, para gadis lajang, untuk bersiap-siap.

Satu.. Dua.. Tiga..

Rangkaian bunga dilempar ke belakang lalu melayang di udara. Dengan hati berdebar aku melompat sembari mengarahkan kedua tanganku setinggi-tingginya hingga.. HAP!

Suara tepuk tangan dan sorak sorai terdengar memenuhi ruangan. Soo Yeon menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan dan Yoona tersenyum lebar saat melihat gadis yang beruntung mendapatkan bunganya. Sementara aku hanya tersenyum tipis lalu menoleh ke belakang, menatap Siwon yang tersipu, dengan tangan yang menggenggam rangkaian bunga pengantin.

**LH**

THE END ^_^

 

Tell me why..

Jadi.. gimana hubungan Siwon dan Miyoung selanjutnya? Silahkan dibayangkan sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing :p

See you!

54 thoughts on “(AF) Lion Heart Part 3 (End)

  1. Annyeong Kireynalice-ssi..
    Mianh, aku dah baca tapi baru komen sekarang.
    Puas sma karya mu, lama banget karyanya terbit. Btw nih lion heart ga da sequelnya yak? (Diih, ngarepph bgt sayanya yak) ditunggu ya kisah2 Mommy n Daddy selanjutnya, semoga sehat selalu. Gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s