(AF) Gravity

Gravity

something always brings me back to you

girls_generation_snsd_time_machine_tiffany_by_rundevilrunjs-d51vhdq

Author : @zha_yurie

Cast : Choi, Hwang, Jung (you-know-who-they-are-lah!)

Support cast : Lee, Jung bungsu

Genre : Drama, Family, Romance, Marriage Life

Rating : PG 15

Disclaimer : Plagiator, go away!

 ***

Pukul delapan pagi, pesawat yang ditumpanginya akhirnya mendarat di Bandara Incheon. Dengan membawa lelah lantaran duduk selama hampir sepuluh jam lamanya di pesawat, ia mengikuti arus penumpang keluar. Sejenak ia menyempatkan diri mampir di toilet bandara. Penjemputnya sudah menunggu sedari tadi di ruang tunggu. Setidaknya ia harus memastikan tak ada yang salah dengan dandanannya.

“Hairstyle check. Lipstick check. Parfume check. Make-up check.” Ia bergumam riang sembari menilai dirinya sendiri di cermin.

Wajah cantik blasteran Amerika-Korea dengan eye-smile indah terpantul di sana. Setelah merasa seluruhnya telah di-check, ia beranjak keluar. Sudah tiga tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di negeri gingseng itu. Mendadak saja ia merasa asing saat keluar dari ruang kedatangan. Puluhan orang berderet dengan membawa spanduk bertuliskan nama. Di balik kacamata coklatnya ia mencari spanduk bertuliskan namanya.

Tidak butuh waktu lama sebelum ia menyadari keberadaan seorang pria tampan di tengah mereka. Tiffany Hwang tersenyum dan melangkah mantap.

“Sudah lama menunggu?”sapanya.

Pria itu, Choi Siwon, tersenyum. Kerinduan terbaca dengan jelas di matanya. “Tidak bisa dibandingkan dengan penantian tiga tahun,”ujarnya ringan.

Tiffany tertawa lalu segera mengalungkan lengannya, memeluk pria itu erat. “Ah, aku sungguh merindukanmu, Oppa,”bisiknya.

Siwon tersenyum. “Not as much as I do.”

“Jadi, bagaimana kau melewatkan tiga tahunmu tanpaku?”Tiffany membuka pembicaraan di dalam mobil yang melaju.

“Memangnya bagaimana? Selalu ada ruang kosong. Yang lainnya berjalan biasa-biasa saja. Aku terperangkap di ruang kerja, bertemu kolega bisnis, sesekali menghadiri pesta dan sisanya kuhabiskan dengan bernostalgia,”ujar Siwon, terfokus pada jalanan.

Tiffany tak menyahut selain tersenyum. Hatinya sudah tenang sekarang. Kerinduan pada kota Seoul membuat ia membuka kaca jendela mobil dan menikmati udaranya langsung. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, tapi ia bisa beristirahat beberapa saat lagi begitu tiba di rumah.

Aku selalu ingin kembali …

Tiffany memejamkan mata, menikmati angin yang nakal mempermainkan rambut coklatnya.

***

Sebelum memasuki pintu toko bunga itu, Lee Donghae berulang kali menarik napas dalam. Ia tahu usahanya mungkin akan sia-sia saja, seperti hari-hari sebelumnya, tapi tak ada salahnya mencoba, kan? Setelah menghabiskan lima menit hanya untuk mengumpulkan keberanian, ia melangkah masuk.

Aroma puluhan jenis bunga berebutan memenuhi rongga pernapasan begitu ia masuk. Ratusan pot bunga ditata rapi sementara beberapa orang hilir mudik, sibuk memilih bunga. Tapi Lee Donghae datang bukan untuk membeli bunga. Karena itu ia melewati saja pegawai yang menyapanya. Tujuannya adalah counter toko itu. Tepatnya, wanita yang berada di sana. Jessica Jung.

“Ya ampun, kau datang lagi rupanya!”sebuah suara menegurnya.

Donghae menoleh, nyengir tak bersalah pada seorang pegawai toko yang juga dikenalnya sebagai adik wanita itu: Krystal Jung yang selalu meringis kasihan melihatnya.

Teguran tadi membuat perhatian Jessica teralihkan. Alisnya bertaut saat Donghae menghampirinya.

“Hai,”sapa Donghae, tersenyum lebar.

Dengusan tak sabar diberikan sebagai balasan. Jessica jelas-jelas mengacuhkannya. Gadis cantik itu lebih memilih komputernya.

“Kau ada waktu siang ini?”tanya Donghae. “Aku dapat kupon makan siang gratis dari restoran langgananku. Rasanya sia-sia saja kalau tidak kugunakan. Ingin pergi denganku?”

“Aku tidak tertarik,”gumam Jessica tanpa menoleh.

“Berikan saja kuponnya padaku!”sela Krystal, nyengir jahil. Donghae mendelik kesal padanya.

“Jess..”

“Jangan berbicara denganku!”gumam Jessica dingin.

Krystal menertawakan Donghae secara terang-terangan. Ini bukan kali pertamanya pria itu ditolak. Tapi sorot mata Donghae menyiratkan tekad. Ketika ia menatap Krystal, dagunya tetap terangkat seolah berkata lihat saja siapa yang akan memohon nantinya.

***

“Well, tidak banyak berubah,”komentar Tiffany  begitu mereka masuk ke dalam rumah. Siwon menanggapi hanya dengan tawa kecil. Ia disibukkan dengan membawa masuk dua buah koper besar Tiffany . “Hanya saja terlihat jauh lebih rapi. Kau memilih pelayan yang tepat rupanya.”

“Ingin minum apa?”tawar Siwon sembari beranjak ke dapur.

“Kau tahu apa yang kuinginkan, oppa,”sahut Tiffany, mengedipkan mata sembari tersenyum.

Siwon terkekeh dan bergegas menyiapkan dua buah cangkir. Tiffany sudah mulai berkeliaran di ruang tamu, memeriksa lemari baca dan pajangan-pajangan di sana. Masih sama seperti kebiasaan lamanya.

Ketika Tiffany akhirnya mengenyakkan diri di atas sofa sembari menyalakan TV, Siwon datang dengan membawa dua cangkir greentea latte. Diserahkannya satu pada Tiffany sementara ia duduk di samping wanita itu.

“Hmmm,”desah Tiffany begitu lidahnya mencecap rasa minuman itu, “buatan tanganmu memang tak pernah terlupakan. Tidak sia-sia aku kembali ke sini. Bahkan latte ini pun membuatku merindukanmu.”

“Dasar kau ini,” Siwon tertawa memandangi Tiffany. “Kau makin pandai bicara rupanya.”

“Tentu saja,”sahut Tiffany acuh.

“Jadi, kau akan kembali?”tanya Siwon hati-hati setelah beberapa saat mereka dilingkupi hening.

“Menurutmu begitu?”balas Tiffany, tersenyum menggoda.

“Kalau begitu, kau tidak akan membawa hanya dua benda besar itu,”ujar Siwon, mengerling pada dua koper Tiffany yang diletakkan di dekat dinding.

“Hanya satu saja milikku sebenarnya. Yang satu itu untuk ….” Tiffany tak melanjutkan perkataannya. Ia berdehem canggung, mencoba menyembunyikan mendung yang tiba-tiba mengusik. Segera dihabiskannya isi cangkir lalu bergegas bangkit. “Jadi, kamar mana yang akan kugunakan?”

“Terserah sih. Sesukamu saja.”

Tiffany tersenyum lalu menyeret kopernya ke dalam kamar tidur utama di rumah itu. Memang dari dulu ia menggunakan kamar itu. Dan Siwon sama sekali tidak keberatan. Ia juga segera bangkit mengikuti Tiffany dan membantunya membawa koper yang satu.

“Bagaimana pekerjaanmu?”tanya Siwon, mengawasi Tiffany yang mulai membuka koper. Tidak banyak pakaian yang dibawa wanita itu. Lebih banyak bundel kertas dan kotak yang berisi make-up dan perhiasan. Tiffany mengeluarkan dua potong pakaiannya dan berjalan ke walking cabinet Siwon. Di sana sudah ada berlusin-lusin pakaian wanita, pakaiannya yang selalu disimpan Siwon.

“Kau bahkan sudah menyiapkan pakaian untukku,”ujar Tiffany begitu kembali, “sangat ingin memintaku kembali, ya?”

“Semoga kau suka,”ujar Siwon tersenyum.

Tiffany beranjak menghampiri Siwon dan memberinya sebuah kecupan. “Terima kasih, sayang. Tapi, aku juga sudah janji dengan adikmu untuk menjelajahi departemen store. Kami punya banyak waktu untuk itu, jadi sayang sekali pakaian-pakaian itu mungkin akan menganggur.”

“Tidak masalah, asal kau senang saja. Butuh bantuan dengan ini?” Siwon sudah membuka segel koper itu ketika Tiffany tiba-tiba menjatuhkan tas make upnya dan berlari merebut koper itu dari Siwon. Tapi karena sebagian resletingnya sudah terbuka, sebuah boneka barbie cantik terjatuh dari sana. Buru-buru Tiffany memungut dan menjejalkannya ke koper. Lalu tanpa memandang ke arah Siwon, ia segera mengamankan koper itu ke dalam lemari.

“Apa itu, Fany-ya? Kau masih menyimpan benda itu?”tanya Siwon lirih, terdengar cemas.

“Sepertinya aku harus mandi dulu.” Tiffany mengambil jubah mandi dari walking cabinet dan segera lenyap dari pandangan Siwon. Tak lama kemudian, suara aliran air terdengar nyaring.

Siwon menghela panjang, membawa tubuhnya ke atas kasur. Di dalam sana, Tiffany mungkin mulai menangis lagi. Suara air yang disetel penuh membuat rasa bersalah Siwon semakin menggelembung. Seharusnya ia tahu jika luka itu masih menyimpan bekas. Kedatangan Tiffany pasti bukan hanya sekedar ‘liburan’ seperti yang dikatakannya.

Sembari menunggu Tiffany selesai mandi, Siwon beranjak membereskan sisa barang wanita itu di kopernya. Bahkan wanita itu sepertinya lupa sudah menjatuhkan peralatan make-upnya tadi. Semuanya disusun Siwon di atas meja rias.

Saat itulah notifikasi pesannya berbunyi.

Kau tidak melewatkan sarapanmu, kan, Oppa? Sesibuk apapun dirimu, tetap jaga kesehatan! Aku tidak mau pulang dan menemui orang sakit di situ. Comeback to me soon, love.

Siwon tersenyum kecil lalu setelah dibaca tiga kali, pesan itu dihapusnya. Sekarang dan untuk beberapa hari ke depannya, ia harus fokus pada kehadiran Tiffany. Ia beranjak ke dalam walking cabinet dan mengambilkan handuk dan bathrobe untuk wanita itu.

***

“Menyerah sajalah, Oppa!” Krystal berujar tanpa dosa sembari asyik mengaduk-aduk pastanya. Ia tak mau pusing melihat wajah dongkol pria yang duduk di hadapannya itu.

“Kau merampok makan siangku dan memberikan nasehat konyol itu? Baik sekali dirimu, Krys,”dengus Donghae.

“Karena aku peduli padamu, Oppa. Ah, sebenarnya aku juga lebih senang kau dekat dengan kakakku. Ralat, aku senang kau menjadi kakak iparku. Tapi, demi kebaikanmu sendiri, menyerahlah,Oppa! Jessica eonni bukan orang yang gampang luluh hanya dengan kedatangan rutinmu itu. Sejujurnya, itu lebih menakutkan sih. Kau jadi terlihat seperti sasaeng fans. Aigoo, kenapa aku merinding?”

Sebisa mungkin Donghae menahan keinginannya melayangkan jitakan di kepala gadis cantik yang masih asyik makan itu. Ah, jika diperhatikan dia terlihat imut juga. Seandainya saja Jessica bersikap seperti ini padanya, tak apa. Ia akan senang hati menerima ocehan cerewetnya.

“Halo? Kau masih di bumi, Oppa?”

Suara Krystal seketika menghapus bayangan wajah Jessica dari benak Donghae.

***

Ketika Tiffany  keluar dari WC, Siwon sudah tak ada di kamar itu. Hanya ada memo di meja rias.

Aku harus kembali ke kantor. Ada urusan mendesak. Nomor panggilan restoran ada di dapur. Pesanlah sesuatu untuk makan siang. Maaf tidak bisa menemanimu.

Senang bisa melihatmu lagi, sayang.

Tiffany tersenyum kecil lalu segera saja kertas itu lenyap dalam remasan tangannya.

“Brengsek,”ia bergumam, menjatuhkan kertas itu ke dalam tempat sampah.

Saat Tiffany bercermin, ia segera menyadari jika matanya bengkak. Ah, ngomong-ngomong dia terperangkap di WC selama kurang lebih setengah jam. Tiffany menghela panjang lalu merongoh tas tangannya. Ada botol obat di sana. Perasaannya akan terus kacau kalau ia tidak menelan satu atau dua butir pil obatnya.

“Ya, Choi Yoona, jangan bilang kalau kau sedang sibuk saat ini!”Tiffany berujar riang pada ponselnya, setengah jam kemudian. Ia sudah selesai berbenah dan berhasil menyembunyikan kemuraman wajahnya dengan tata rias yang sempurna. Seperti kata Siwon tadi, ada list nomor telepon restoran delivery tapi ia sama sekali tak tertarik. Karena itu ia segera saja menghubungi Yoona. Ia tak heran mendengar gadis itu berseru senang. “Aku rindu masakan Korea yang lezat. Jemput aku, deer. Memang di mana lagi? Tentu saja di rumah oppamu.”

 

“Eonni, kenapa kau tidak tinggal di rumah kami saja?”tanya Yoona begitu mereka berdua berada dalam mobil. “Sooyoung sedikit marah karena tidak dikabari soal kedatanganmu. Kau akan berkunjung ke sana, kan?”

Tiffany menghela panjang, melempar pandangan ke luar jendela mobil. “Entahlah,”gumamnya.

“Apanya yang entah? Kau harus datang! Abeoji dan eomma akan sangat senang kalau kau datang.”

Tiffany  tak menyahut. Seluruh anggota keluarga Choi memperlakukannya dengan sangat baik. Tapi malangnya, ia sama sekali tak berdaya menerima semua perhatian dan kebaikan mereka.

“Kenapa? Ada masalah yang menganggumu, ya? Pekerjaanmu bermasalah? Jangan khawatir! Berani bertaruh, abeoji tidak akan segan membantu eonni.”

“Tidak apa-apa. Pengaruh jet-lag saja kurasa,”ujar Tiffany. Ia tersenyum pada Yoona. “Terima kasih, Yoona-ya…”

Yoona tertawa, “terima kasih apanya?”

“Karena sudah menyambutku dengan baik. Seharusnya aku tidak kembali, bukan?”

“Eih, kau ini ngomong apa sih, eonni? Tidak perlu sungkan begitulah. Toh, kita ini keluarga, kan?”

Keluarga? Tiffany menelan miris bersama senyum yang dipaksakannya. Benar, karena alasan itulah aku memutuskan untuk berhenti melarikan diri. Ada keluarga yang harus kulindungi. Keluarga kecilku.

***

Malam hari, ketika Siwon pulang ke rumahnya, sebuah kejutan manis telah menunggu. Temaram lilin dan wangi bunga segar mengambang di udara. Sesaat Siwon memikirkan gadisnya. Dulu dia sering memberikan kejutan seperti ini. Tak sabar melihat senyum cantik yang biasa menyambutnya, Siwon bergegas masuk.

Tapi senyum yang menyambutnya bukanlah senyum yang dirindukannya itu.

“Kenapa? Kau kelihatan kecewa,”sambut Tiffany mengernyit.

“Kecewa apanya?”sanggah Siwon segera. Dibiarkannya Tiffany membantu melepas pakaian kantornya. “Kau menyiapkan ini semua sendiri?”tanya Siwon lagi.

Meja makan dipenuhi hidangan yang menguarkan bau lezat, mencoba bersaing dengan wewangian segar yang dikeluarkan oleh rangkaian bunga segar di ujung meja.

“Yoona membantuku. Kami bekeliling departemen store seharian dan kupikir lebih baik menyiapkan ini untukmu,”ujar Tiffany senang. “Bagaimana pekerjaanmu? Kudengar sekarang Hyundai Group benar-benar berkuasa di dunia bisnis.”

“Tentu saja. Sooyoung tidak datang?”

“Dia bilang besok. Aku masih punya waktu yang cukup untuk dihabiskan di sini. Nah, duduklah!”

Dengan telaten, tidak seperti tampilan luarnya yang bossy dan high class, Tiffany sigap melayani Siwon. Diam-diam Siwon memuji wanita ini. Sejak kapan dia jadi begitu dewasa? Jejak cap tuan putri yang keras kepala dan manja sepertinya sudah lenyap total dari wanita ini.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku sangat cantik malam ini?”goda Tiffany, menyadari tatapan lekat Siwon.

“Aku hanya bertanya-tanya, sejak kapan kau menjelma menjadi nyonya rumah yang sempurna, Tiffany Hwang?”

Tiffany tertawa dengan anggun. “Bagaimana kalau kujawab, sejak aku menyadari bahwa aku tidak bisa melepas diri darimu, Choi Siwon?”

Siwon terenyak. Sebagai pria, ia bisa merasakannya dengan jelas. Ada binar cinta dan pengharapan dalam mata itu. Ia tahu bukan salah Tiffany memelihara binar itu, tapi bagaimana ia bisa mengendalikan diri di saat seperti ini? Tingkah wanita itu menyadarkannya betapa ia pernah mencintai Tiffany begtu dalamnya.

“Kau sepertinya masih menyimpan cinta besar itu, lady.”balas Siwon sembari menahan tangan Tiffany yang baru saja selesai menuangkan sop di mangkuknya. Ditatapnya wanita itu lekat-lekat, hendak mencari jawaban jujurnya.

Tiffany tersenyum. Dilepaskannya tangan Siwon. “Tentu saja,”ujarnya. “Mari makan!”

Makan malam mereka lewatkan bersama keheningan yang canggung. Tak banyak topik pembicaraan yang bisa mereka bicarakan setelah terjebak pertanyaan awkward tadi. Hanya sesekali saja mereka bertukar pandang.

“Kau bersenang-senang hari ini?”Siwon bertanya ketika mereka masuk ke dalam kamar, hendak beristirahat.

“Yoona selalu menyenangkan diajak berbelanja,”ujar Tiffany, mengerling setumpuk kantong belanjaan yang diletakkannya di dekat meja. “Tentu saja, kami bersenang-senang dan sekarang aku merasa sangat lelah. Kita istirahat sekarang?”

Siwon mengiyakan dan Tiffany segera berlalu ke WC. Beberapa menit kemudian, Tiffany keluar setelah berganti piyama. Siwon sedang membaca buku sambil bersandar di dashboard kasur saat wanita itu menyusup masuk ke dalam selimut di sampingnya.

“Matikan lampunya kalau kau selesai membaca, tuan,”ujar Tiffany sembari berguling membelakangi pria itu. Rasa lelahnya bertumpuk-tumpuk sekarang. Hanya tertidur yang diinginkannya sekarang ini. Tapi sebelum ia benar-benar terlelap, sentuhan Siwon terasa di ubun-ubun kepalanya. Tangan pria itu membelai rambutnya dengan lembut.

“Sleep well, dear.”

Tiffany memejamkan mata semakin rapat. Ia harus segera tertidur tanpa peduli pada pria itu.

***

Pukul satu dini hari, Krystal terbangun lantaran  rasa haus yang menderanya. Masih terkantuk-kantuk, ia berjalan menuju dapur. Berulang kali ia menguap lebar-lebar. Ini pasti gara-gara kemarin terlalu banyak makanan berlemak dan tidak banyak minum air putih.

Tiba di dapur, kantuk itu mendadak lenyap. Bahkan langkahnya tertahan. Meski hanya penerangan remang yang menyala, Krystal  bisa mengenali sosok wanita berambut panjang yang duduk terpekur di meja makan. Nyaris saja ia menjerit kalau tidak ingat bahwa kakaknya ikut tinggal bersamanya di apartemen itu.

Mwoya? Kenapa eonni di sini?”tegur Krystal. “Ini aku, adik bawelmu!”tambahnya cepat sebelum Jessica menjerit kaget.

“Tak bisa tidur?”tanya Krystal sembari menguap. Ia beranjak menuang air minum dan melahapnya rakus. Rasa hausnya terselesaikan bersamaan dengan kantuk yang perlahan memudar. Ia mengenyakkan diri di kursi yang berhadapan dengan kakaknya. “Kenapa? Kau bukan orang yang suka mengabaikan tempat tidur, eonni…

“Diamlah dan pergi tidur sana!”balas Jessica malas.

“Aku tidak mengantuk lagi,”ujar Krystal, kembali menguap.

“Kau menguap, bodoh,”tukas Jessica.

“Yeah, tapi tidak mengantuk lagi. Katakan ada apa, eonni? Aku tidak bisa tidur kalau tahu kau masih gelisah begini, tahu?”

Jessica menggulirkan mata. Krystal selalu cerewet dan itu kadangkala menyebalkan.

“Jangan membuatku terlihat seperti kakak yang tidak bisa mengurusi diri sendiri, Soojung.”

“Kau memang begitu. Selalu membuat orang cemas,”tukas Krystal tanpa merasa bersalah. “Donghae oppa selalu cerewet mengkhawatirkanmu. Kalau kau tak suka, setidaknya, tolonglah… jangan membuatnya harus mengkhawatirkanmu, eonni!”

“Aku tidak—”

“Kau melamun sepanjang waktu. Berapa kali kau dimarahi pelanggan karena ceroboh dua hari ini? Kau memang tidak bisa menyembunyikan kegelisahanmu, ya?”

“Aku mau tidur.” Jessica beranjak bangun segera.

“Karena Siwon oppa?”tanya Krystal sebelum Jessica benar-benar pergi.

Jessica menoleh, menatap Krystal dengan tatapan lurus. Mulutnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, tapi gagal. Ia menghela panjang dan memutuskan untuk masuk ke kamarnya.

“Sudah kuduga,”desah Krystal dongkol. “Kenapa kau hanya mau tahu pria itu saja, sih? Memangnya kau akan mati kalau tidak bersama dengannya?! Aish, apa yang sih yang kau lihat dari pria seperti itu?”Ia berteriak pada punggung Jessica.

BLAM! Pintu kamar tertutup dengan bantingan keras.

“Kau benar-benar bodoh, eonni! Apa yang kau harapkan darinya?! Kau mau terus-terusan hidup seperti ini?! Siapa kau, siapa dia, huh?!! Memangnya kau senang dipanggil—”

Pintu terbuka. Wajah dingin Jessica muncul.

“Satu kata lagi, Jung Soojung … satu kata lagi kau bicara, aku benar-benar tidak akan mengasihanimu lagi!”

“Memangnya aku kenapa? Aku hanya tidak suka kau selalu memikirkan pria brengsek itu! Aku begini karena aku peduli padamu, eonni! Kau dan dia tidak akan pernah bisa—”

Sebuah bantal melayang. Sukses mendarat di wajah Krystal sekaligus membungkam mulutnya. Gadis itu menjerit karena punggungnya terantuk pinggiran meja. Tapi pintu kamar Jessica sudah terbanting tertutup lagi.

“Aish, menyebalkan!”desis Krystal frustasi. “YAAAH, Jung Sooyeon! Kau menyebalkan sekali, tahu?!!”tambahnya dengan berteriak kencang.

Jessica sudah menyusup masuk dan bergelung dalam selimutnya. Ia masih bisa mendengar Krystal berteriak-teriak di luar. Astaga, bisa-bisa tetangga apartemen terbangun karena suara berisiknya!

Dulunya mereka tak pernah bertengkar seperti itu. Hanya sesekali iseng dan bercanda. Tapi sejak Jessica memutuskan untuk menerima pria itu dalam hidupnya, mereka kerap kali cekcok. Krystal tak menyetujui hubungan mereka sejak awal. Dan tiap kali memikirkan perkataan dan argumen Krystal, mau tak mau Jessica mengakui jika adiknya itu ada benarnya.

Siapa Choi Siwon dan siapa kau, Jessica?

Jessica berguling, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Tak peduli kata orang lain (mereka juga yang bilang cinta lebih buta dari orang buta sekali pun), ia tetap merindukan pria itu. Sangat merindukannya.

Sebuah desah frustasi lolos dari mulutnya. Sial sekali. Ia merindu sampai tak bisa tidur dan pria itu sama sekali tak memberinya kabar! Jessica meraih ponsel yang berjam-jam lalu selalu diceknya setiap saat. Puluhan pesan sudah dikirimnya, tapi tak satu pun balasan masuk. Ingin menelpon, tapi Siwon melarangnya.

Hanya seminggu saja, dear.

Jessica berguling lagi, memandangi dinding kamar yang sudah lama sekali tak ditempatinya. Yeah, ia baru kembali ke apartemen ini tiga hari lalu. Bahkan kopernya pun masih belum dibongkar.

Kurasa sebentar lagi aku akan gila, Choi Siwon.

Jam antik di ruang tengah berdentang dua kali. Jessica menyerah. Tidak mungkin Siwon menelponnya selarut ini. Bodoh sekali berharap. Ia meletakkan kembali ponselnya dan bersiap untuk tidur.

Lalu kemudian ponsel itu berdering. Nada dering yang khusus dipasangnya untuk Siwon membuat Jessica bergerak cepat hingga nyaris terjungkal dari ranjang. Siwon benar-benar menelponnya! Oh God!

“Oppa? Kenapa kau baru menelpon? Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa melewatkan hari tanpa kabar darimu. Oppa, kau baik-baik saja, kan? Oh, astaga… aku benar-benar tidak sabar menunggu seminggu mengerikan ini berlalu.”

Jessica masih ingin berbicara ketika menyadari Siwon tak menanggapi. Diperiksanya ID pemanggil di layar ponsel. Memang benar Siwon yang menelpon.

“Halo, Oppa?”

Tidak ada jawaban. Panggilan diputus.

Jantung Jessica berdegub tak karuan. Apa-apaan ini? Dengan membawa kegelisahan dan keheranan, ia mencoba terlelap. Kali ini ia ingin percaya saja pada pria yang dikenalnya selama tiga tahun itu. Toh saat mereka berpisah, Siwon bersungguh-sungguh meyakinkannya jika perpisahan itu tak kan lama. Dan tentu saja Jessica tak bisa menolak.

***

Tiga hari berlalu sejak kedatangan Tiffany, Siwon sudah mulai terbiasa dengan kehadiran wanita itu di sekelilingnya. Tiffany banyak berubah dan itu membuatnya semakin nyaman. Sayang sekali pekerjaan kantor selalu menyibukkannya. Tiffany juga tak mau membuang-buang waktu hanya berdiam diri di rumah tanpa Siwon. Dengan ditemani Yoona atau Sooyoung, ia menghabiskan banyak waktunya bersenang-senang di luar rumah.

Saat Siwon keluar dari WC, seperti biasa Tiffany sedang sibuk di dalam walking cabinet. Ia keluar dari sana tak lama kemudian dengan membawakan setelan kerja Siwon.

“Hari ini pakai biru tua saja. Kau bilang ada meeting penting dengan pemegang saham, kan? Ini akan terlihat sempurna untukmu!”ujar Tiffany sembari meletakkan setelan pilihannya di atas kasur.

“Terima kasih,”gumam Siwon.

Tiffany pagi itu nampak fresh meski tidak memakai makeup dan menyanggul rambutnya asal-asalan. Kantung mata bengkak yang selalu dikhawatirkan Siwon rupanya tak kelihatan di wajah itu lagi.

”Aneh. Kenapa akhir-akhir ini kau sering mengamatiku, Oppa?”

Sahutan Tiffany membuat Siwon segera tertawa. Ia tertangkap basah lagi. Lalu, kemudian sebuah dorongan menguasainya. Siwon bergerak mendekati wanita itu dan mengecup pipinya.

Tiffany bergeming terkejut. Tatapannya bertemu dengan mata Siwon. Pandangan teduh pria itu menyapanya. Tiffany tersenyum kecil lalu melepaskan tangan Siwon yang masih memegang bahunya.

“Berpakaianlah. Akan kusiapkan sarapan dan bekal makan siangmu!”ujarrnya  kemudian lalu beranjak keluar.

Siwon mengiyakan dan hanya menatap punggung wanita itu menjauhinya.

Tiga tahun tak bertemu rupanya telah banyak mengubah Tiffany. Siwon sampai berdecak takjub melihat betapa lincahnya wanita itu bekerja. Kotak makan siangnya, yang biasanya disiapkan oleh orang lain, sudah terisi dengan aneka makanan. Meski mereka kembali harus sarapan dengan american style, tetap saja Siwon takjub. Seingatnya wanita ini tidak begitu pandai memasak. Mereka pernah kelaparan hampir dua jam lamanya hanya karena Tiffany bersikeras ingin memasak. Setelah dua jam menahan keinginannya menelpon restoran, Tiffany akhirnya berhasil menyajikan dua piring nasi goreng kimchi. Siwon tersenyum geli mengingat itu.

“Aku mengambil kursus masak di Amerika,”jelas Tiffany tanpa diminta. “Yoona juga banyak mengajariku soal makanan Korea. Semoga kau suka. Ini pertama kalinya aku membuatkan bekal makan siang untukmu, bukan?”

Siwon mengangguk. “Bekal makan siang yang normal, ya. Dulu kau sering melakukan ini, kok. Hanya saja …”ia tak perlu melanjutkan. Tiffany sudah paham dan nampaknya tak ingin membahas itu lagi.

“Aku akan sibuk di kantor sampai sore. Apa rencanamu hari ini?”tanya Siwon kemudian.

“Ada tempat yang harus kukunjungi. Makanlah! Jangan khawatirkan aku. Yoona dan Sooyoung selalu siap mengantar. Oh ya, malam ini kurasa aku ingin mengunjungi orangtuamu.”

Satu suapan Siwon tertahan. “Mengunjungi mereka? Kau yakin?”

“Tiga tahun sudah cukup untuk melarikan diri. Aku sudah siap kembali,”sahut Tiffany riang. “Abeonim juga sudah berkali-kali memintaku berkunjung. Sudah bukan masalah lagi, kan?”

Tak tahu harus berkata apa, Siwon mengangguk saja dan kembali pada sarapannya.

***

I never wanted anything so much

than drown in your love and not feel your rain…

Saat para karyawan berdatangan untuk bekerja, mereka semua menegur wajah pucat Jessica. Mata panda yang ingin dihindarinya tak bisa dielakkan. Untung saja ia pandai memakai makeup hingga tidak begitu kelihatan menyeramkan.

Setelah sepagi ini kembali diomeli oleh Krystal (omelannya baru berhenti setelah Jessica melemparnya dengan sendok, nyaris kena mulutnya), Jessica memutuskan untuk tetap masuk bekerja. Toh, berdiam diri di apartemen hanya semakin membuat kegelisahannya menumpuk.

“Minumlah ini, eonni!” Krystal meletakkan dua botol vitamin di atas meja Jessica. Kakaknya yang sibuk mendata bunga yang baru tiba mendongak dan mengernyit. “Aku yang membelinya, bukan orang lain,”tambah Krystal cepat.

“Thanks,”ujar Jessica. “Kau lagi-lagi membuatku terlihat seperti seorang adik, Krys.”

Krystal hanya tertawa. “Aku akan mengantar pesanan dulu. Eonni, kalau kau tidak enak badan atau apalah, jangan segan menghubungiku, oke? Bagaimana pun aku tak suka kalau toko ini mendapat citra buruk hanya karena kau ceroboh.”

“Oke, oke. Itu tidak akan terjadi lagi,”sahut Jessica tak sabar.

Setelah Krystal pergi, dua orang karyawan yang tersisa juga diutusnya mengantar pesanan buket bunga untuk pesta. Hari itu pelanggan cukup sepi jadi Jessica merasa tak masalah menjaga toko seorang diri.

Saat ia sedang sibuk menyemprot bunga-bunga lily sambil memikirkan keanehan telepon Siwon semalam, pintu berdenting terbuka.

Gegas ia menyambut tamunya. “Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?”

Lee Donghae tersenyum lebar, kontras sekali dengan wajah judes yang langsung muncul di wajah Jessica. Wanita itu jelas-jelas merasa rugi sudah mencoba bersikap ramah dua detik lalu.

“Kemana karyawan yang lain?”tanya Donghae tak peduli pada wajah masam Jessica.

“Mereka bekerja, tahu?”balas Jessica kembali pada pekerjaannya semula. “Kenapa kau datang lagi, eoh? Memangnya kau tidak bekerja?”

Donghae nyengir. “Aku sedang bekerja, kau tak tahu? Pekerjaanku sekarang ini justru jauh lebih berat dari pada hanya duduk diam di belakang meja.”

Jessica melemparkan pandangan mencela. Tapi semakin masam wajah yang ditampilkannya, semakin lebar senyuman di wajah Donghae.

“Berusaha mendapatkan hatimu itu pekerjaan juga, Jess!”ujar Donghae, nyengir tak berdosa.

Jessica mendesis, nyaris saja menimpuk kepala pria itu dengan semprotan yang dipegangnya. “Dasar tak tahu malu! Sampai kapan kau mau menggoda wanita yang sudah jadi milik orang lain, eoh? Wanita lain masih banyak, Lee Donghae! Berhenti buang-buang waktu dan cari saja—”

“Memangnya kau milik siapa, eoh?”Donghae menukas dengan wajah serius.

Mereka bersitatap. Jessica bisa merasakan lesakan kemarahan dalam nada bicara Donghae, tapi pria itu sama sekali tidak berhak!

“Lupakan saja!”gumam Jessica, kembali sibuk dengan bunga-bunganya. Tapi Donghae yang sudah berhenti nyengir masih memandanginya lekat.

“Aku tidak akan menyerah, Jess!”

“Aku akan berpura-pura tidak mendengarmu,”balas Jessica.

“Sampai kau berhenti terobsesi pada pria brengsek itu…”

“Oh astaga, lihat siapa yang bicara!”Jessica menatapnya sinis. “Kusarankan kau pergi sekarang sebelum aku memecahkan pot bunga di kepala besarmu itu!”

“Choi Siwon bukan pria yang baik untukmu! Harus berapa lama kuberitahu sampai kau sadar, eoh?”

“Jadi, kau merasa kau sudah cukup baik untukku?”

“Aku peduli padamu, Jess, bahkan sejak kita masih kanak-kanak! Tidak bisakah kau lihat usahaku ini untuk menyelamatkan masa depanmu juga? Apa yang kau dapat dari mencintai pria itu?”

“Diam kau, Lee Donghae!” Mata Jessica sudah mulai memanas. Jemarinya mencengkram botol semprotan semakin erat.

“Kau tidak perlu merasa berterima kasih pada pria itu hanya karena … Oh, harusnya kau tahu kalau dia sengaja melakukan itu untuk mengelabuimu! Pria itu penipu brengsek yang sama sekali tak pantas kau jadikan pembelamu! Lihat apa yang dilakukannya sekarang! Dia memintamu pergi untuk sementara waktu? Omong kosong! Kau bahkan tak tahu apa alasannya dan hanya diam di sini menyiksa diri. Memangnya kau akan mati kalau tidak bersama dengan pria itu?”

Sebuah tamparan mendarat di wajah Donghae. Pria itu meringis kesakitan.

“Jess, aku tidak mau …”

Sebuah tamparan mendarat lagi. Tatapan mereka bersirobok. Napas Jessica terengah menahan kemarahannya.

“Pergi kau, Lee Donghae!”desis Jessica. Air mata kemarahan telah mengumpul di matanya, bersiap untuk meluncur turun.

Donghae menghela panjang, menyesali dirinya yang kelepasan bicara. Sudah jelas wanita itu akan merasa tersakiti.

“Baiklah, aku akan pergi,”gumamnya. “Sampai ketemu lain kali kalau begitu.”

“Jangan berani muncul lagi di depanku!”

“Kau tahu aku menyayangimu, Jess. Aku hanya berharap… kau tahu, masa kanak-kanak kita selalu indah, bukan? Aku peduli padamu. Aku tidak mau kau terluka. Aku tidak…”

“Kau tidak dengar aku menyuruhmu pergi, ya?!”Jessica berteriak marah. “Persetan dengan masa kanak-kanak … aku kehilangan orangtuaku saat kanak-kanak, remember? Kau bilang itu indah?”

Donghae menggeragap. “Bukan itu maksudku, Jess!”

Stop call me like that! Dan kalau kau tidak pergi dalam dua detik, kita akan bertemu di rumah sakit, Lee Donghae!”Tangan Jessica bergerak mencengkram pinggiran pot bunga terdekat.

Donghae tertawa kecil tanpa peduli tatapan mendelik Jessica. “Aku pergi kalau begitu!”ujarnya lalu beranjak mundur dengan perlahan. “Lebih baik bagimu melihatmu marah-marah dari pada hanya melamun menyedihkan, Jess! Kau masih punya aku. Remember it!

Jessica hanya mendengus dan mengusap airmatanya yang tadi mengalir. Pria bodoh itu seharusnya datang lebih awal. Peduli, katanya. Omong kosong! Dimana kau tiga tahun lalu saat aku membutuhkanmu, sialan? Jessica mengawasi pria itu dari balik kaca toko.

Kalau pria itu tak suka ada pria lain yang mendekatinya, mestinya sejak awal Donghae ada di sisinya. Bukannya menghilang lalu muncul lagi di waktu yang tidak tepat. Bodoh kau, Oppa! Seandainya kau tahu kesulitan apa yang harus kulewati tiga tahun lalu … andai kau tahu dan ada di sana …

Merasa pipinya kembali basah, Jessica buru-buru menyekanya. Efek berpisah dari Siwon membuat jiwa melankolisnya sering kambuh. Ketika mobil Donghae meninggalkan halaman toko, sebuah mobil lain datang. Seorang wanita turun dari sana, mengamati papan nama toko dan masuk.

***

Here i am and i stand so tall … just the way i’m suppossed to be…

Wanita itu pastilah baru pertama kali datang bertandang di tokonya. Jessica ingat semua pelanggan tokonya dan tidak pernah sekali pun melihat wanita  ini. Dandanannya menunjukkan dengan jelas jika ia berasal dari keluarga kelas atas. Tidak sulit menilai harga semua barang-barang yang dikenakannya. Toh selama ini Jessica juga sering menerima hadiah berupa tas, blouse atau sepatu branded mahal.

“Ada yang bisa saya bantu, nyonya?”sapa Jessica ramah.

Wanita itu melepas kacamatanya dengan gaya elegan terkesan angkuh. Pandangan mereka bertemu.

“Seikat tulip kuning, please,”ujar wanita itu tanpa membalas senyuman Jessica.

“Akan kusiapkan, nyonya.” Jessica berlalu ke sudut lain ruang itu. Ada puluhan batang tulip segar di sana. Tadinya ia berharap wanita judes itu menyibukkan diri dengan jenis bunga lain, tapi ia salah. Wanita itu mengikutinya.

“Berapa batang?”tanya Jessica canggung. Tiga tahun bergaul dengan Siwon membuatnya mengenali watak para wanita high class itu. Wanita di hadapannya ini pasti sama saja. Angkuh dan sok hebat hanya karena mereka punya banyak uang yang bisa mereka buang sesuka hati. Para wanita di rumah keluarga Choi sudah membuktikan itu.

“Dua puluh saja. Ah, kau bisa merangkainya, kan? Aku mau memberikannya untuk orang istimewa.”

Jessica mengiyakan dan segera sibuk memilih batang bunga. Sementara wanita itu sibuk melihat-lihat bunga lain yang berada tak jauh dari Jessica.

“Sudah berapa lama?”tanya wanita itu tiba-tiba.

Jessica mengernyit. Sesaat ragu apakah pertanyaan itu ditujukan padanya. “Maaf?”

“Ah, maksudku… sudah sejauh mana?”wanita itu tersenyum. Bukan senyum yang sesungguhnya. Mendadak saja Jessica merasa ada sesuatu yang berjumpalitan tak karuan di dasar perutnya. Siapa wanita ini?

“Aku tidak mengerti,”gumamnya, mengalihkan pandangan dari tatapan wanita itu.

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Siwon oppa?”wanita itu kembali mengulang. Terdengar ringan diucapkan. Tapi berani bertaruh, Jessica melihat ada kilatan aneh di mata wanita itu. Ah, tunggu dulu … bagaimana wanita ini bisa …

“Pasti sudah jauh, ya.”Wanita itu berujar lagi, kali ini tersenyum memandangi kumpulan bunga tulip kuning. “Kalian bahkan tinggal serumah. Aku menemukan banyak pakaian wanita di lemari. Bukan pakaian baru, jelas saja. Ada berpasang-pasang sepatu wanita. Mug couple di dapur. Dan tentu saja, seharusnya aku sadar melihat semua barang-barang tertata rapi di sana. Aroma wanita juga tercium jelas, mengambang di setiap sudut ruangan. Kupikir Siwon mendapatkan pelayan yang sangat ahli mengurus rumah. Tapi tidak mungkin dia membiarkan ahjumma  menyimpan belasan botol parfum dan kosmetik di dalam walking cabinetnya, kan? Bahkan membelikan puluhan jenis piyama tidur.”

Kali ini Jessica benar-benar lupa jika ia harus menyelesaikan pesanan pelanggan ini. Sungguh, siapa wanita asing yang tiba-tiba datang membicarakan hubungannya dengan Siwon?

Baru saja Jessica hendak menyuarakan pikirannya, wanita itu kembali menatap Jessica. Sebuah senyum lembut tersungging.

“Apa dia tidak memberitahumu? Aku Tiffany Hwang,”ujarnya, paham benar kebingungan yang terbentuk dalam tatapan Jessica. “Istri sah Choi Siwon. Nyonya muda Hyundai Group.” Sembari berujar begitu, ia memperlihatkan tangan kirinya. Ada cincin pernikahan yang tersemat manis di sana.

Jessica termangu shock. Rasa dingin yang aneh merambat cepat dari kaki hingga mencengkram jantungnya. Tiga hari lalu ia harus menerima perpisahan sementara yang menyesakkan. Dan sekarang seorang wanita tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai istri Siwon! Jessica refleks ingin menyanggah dengan sengit kalau saja ia tidak teringat bahwa wanita adalah wanita high class yang mungkin berasal dari keluarga seperti keluarga Choi. Kalimat Siwon saat memintanya berpisah sementara juga mendadak bergema di kepalanya. Berbahaya jika kalian bertemu di sini. Belum lagi dengan cincin di jari manis wanita ini. Lidah Jessica kelu.

Jika Jessica pucat dan nyaris seputih kapas, Tiffany sebaliknya malah bersikap santai. Seolah ia baru saja membicarakan soal cuaca saja.

“Kurasa bunganya sudah cukup. Kau tidak membungkusnya untukku?”tegur Tiffany, menyadari Jessica hanya menggenggam bunga tulip itu.

“N-nee…” Jessica bergerak gamang menuju meja counter. Selagi ia menyibukkan diri membungkus bunga itu dengan pikiran berkecamuk, Tiffany sibuk mengamati toko itu. Gerakan Jessica lambat sekali. Ada sejuta tanya yang muncul tiap kali ia bernapas. Pandangannya pun tak lepas mengawasi gerak-gerik Tiffany.

Aneh. Aneh. Astaga, ini tidak benar! Ini pasti hanya mimpi buruk! Ia mengenal Siwon selama tiga tahun ini. Pria itu tidak mungkin …

“Sudah berapa lama kau membangun toko ini?”tanya Tiffany lagi, terdengar biasa saja. Pandangan eye-smilenya bergerak menyapu tiap sudut ruangan yang dipenuhi bunga itu.

“Sudah setahun lebih,”balas Jessica kikuk.

Tiffany  mengangguk-angguk singkat. Pandangannya terhenti di plakat nama toko di belakang Jessica. Tanggal peresmian toko tercantum di sana.

“Hadiah darinya, kukira,”ujarnya skeptis. “Choi Siwon memang begitu. Selalu memberikan apapun yang diminta. Sayang sekali kau hanya menginginkan toko bunga. Tidak pernah berpikir meminta sesuatu yang lebih besar? Gedung apartemen misalnya, atau mungkin separuh sahamnya di perusahaan?”

Jemari Jessica menekuk tegang. “Aku tidak menginginkan kemewahan itu, kalau kau mau tahu, Tiffany-ssi!”ujarnya bergetar. Baru saja wanita yang mengaku istri sah Siwon itu menuduhnya mendekati Siwon karena kekayaan! Penghinaan macam apa ini?

Tiffany tertawa sarkas. “Wanita lain juga mengatakan hal serupa, tahu? Tapi pada dasarnya mereka sama saja. Tak ada bedanya denganmu. Oh ya, kau belum selesai membungkus bunganya?” Tiffany melirik arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. “Hari ini hari special, aku tak boleh terlambat,”jelasnya kemudian.

Masih dengan tangan gemetar menahan buncahan ketidak mengertiannya, Jessica menyelesaikan pesanan bunga itu. Simpul pitanya jadi sedikit berantakan karenanya. Tapi Jessica ragu wanita itu akan memperhatikannya jadi dibiarkan saja.

“Boleh aku bertanya satu hal?”ia memberanikan diri bertanya. Ketika Tiffany  menoleh dan siap mendengar, dengan menarik napas panjang Jessica melanjutkan, “kenapa kau meninggalkannya?”

Alis Tiffany bergerak ke atas. “Meninggalkan? Siapa? Aku?”

“Kau bilang kalau kau adalah istrinya. Aneh. Bagaimana bisa kau mengaku seperti itu seolah pernikahan adalah lelucon anak kecil.”

***

….but you on to me and all over me….

Lelucon anak kecil? Tiffany mendengus dongkol. Hilang sudah raut manis yang sengaja dipasangnya agar ia tak meledak marah. Masa bodoh dengan tata krama!

“Memangnya kau siapa? Berani-beraninya kau berbicara tentang pernikahanku …”Ia mendesis geram. “Kalau itu memang benar, kau mau apa? Kau pikir bisa seenaknya masuk dalam kehidupan kami seperti ini?!”Ia memekik di akhir kalimat.

“Siwon oppa tidak pernah menyebut-nyebut tentang pernikahannya. Tidak pernah sekalipun!”balas Jessica tak kalah nyaring. “Aku benar-benar terkejut. Tiga tahun aku mencintainya, lalu tiba-tiba saja hari ini kau muncul dan mengaku sebagai istrinya. Tidakkah menurutmu ada yang salah?”

“Sepertinya kau belum sadar. Siwon oppa mengacuhkanmu setelah aku datang, bukan? Sepertinya dia sudah sadar kemana kesetiaannya harus berlabuh!”sahut Tiffany sarkas.

Tiffany sadar jika kalimatnya barusan telah menyerang tepat sasaran. Ia melihat wanita itu mulai gamang dan ragu. “Tiga tahun katamu? Hah, omong kosong! Bagaimana bisa selama tiga tahun kau mencintai pria tanpa tahu apapun tentang kehidupannya? Kau yakin Siwon oppa mencintaimu?”serangnya lagi.

Di luar dugaan, Jessica mendongak, membalas tatapan Tiffany dengan dagu terangkat. “Siwon oppa mencintaiku.”Ia berujar, suaranya bergetar. “Aku percaya padanya. Sebaliknya, kau … aku tidak tahu apa motifmu, tapi sepertinya kaulah yang membuat hidupnya seperti itu. Tiga tahun yang lalu saat kami pertama kali bertemu, Siwon oppa adalah pria lemah. Dia kehilangan semangat hidupnya dan sangat menderita. Asal kau tahu saja, dia hampir membunuh dirinya tiga tahun lalu! Seorang pria. Tersedu-sedu dan menangis seperti wanita! Dan di mana kau saat itu, nyonya muda Hyundai?”

Rahang Tiffany berkedut geram. Pandangan matanya mendadak memburam bersamaan dengan rasa panas yang menjalari wajahnya.

“Berani-beraninya kau ….”ia mendesis, suaranya tak kalah gemetarnya dengan suara Jessica.

“Aku tidak tahu pasal apa yang sedang berlaku di antara kita, Tiffany-ssi… tapi sepertinya sudah cukup jelas bahwa kita mencintai pria yang sama. Memalukan memang. Tapi, bagaimana ini? Aku tidak akan menyerah dengan mudah.”

Dalam ketegangan yang aneh itu, sebuah luka telah tergores. Masing-masing di hati dua wanita yang mengukir nama pria yang sama. Jemani Tiffany mengepal gemetar. Bukan kata-kata Jessica barusan yang membuatnya goyah. Ia bahkan tidak mendengarnya. Karena mendadak saja, alasan kenapa ia meninggalkan pria itu berkecamuk hebat di pikirannya.

Tiga tahun lalu mereka mengalami luka kehilangan yang sama. Salah Tiffany meninggalkan pria itu dan melemparkannya dalam keterpurukan. Saat itu ia bahkan tak peduli betapa cemasnya keluarga Siwon, meminta dan menguatkannya. Tiffany  tahu, ia mengambil keputusan yang gegabah saat itu. Seharusnya ia tak menuruti egonya dan pergi meninggalkan Siwon.

Tiga tahun dilaluinya penuh pertimbangan. Ia berobat ke sana kemari, mencoba memperbaiki kembali semangat hidupnya yang patah. Lalu kemudian ia akhirnya siap kembali. Ingin diperbaikinya semua kesalahan dan luka yang pernah ia buat.

Namun, hari kedua ia mencoba menata hidupnya dan kembali ke pelukan Siwon, ia menyadari kesalahan besar yang lain. Saat ia meninggalkan Siwon tiga tahun lalu, seorang wanita lain datang dan masuk ke kehidupan Siwon. Dan wanita itu ada di hadapannya kini.

Jessica tak perlu berteriak tentang perasaannya pada Siwon. Tiffany  sudah tahu. Siwon juga mencintai wanita ini. Entah bagaimana.

“Berapa harganya?”Tiffany bertanya. Ia harus segera pergi dari sini sebelum Jessica melihat sisi lemahnya.

Jessica tak habis pikir. Terbuat dari apa perasaan wanita ini? Beberapa menit yang lalu mereka bertengkar tentang Siwon dan masalah serius tentang cinta. Dan sekarang, setelah ia berkeras kepala mengatakan akan terus mencintai suami Tiffany , bisa-bisanya wanita itu menanyakan … harga bunga? Jessica bahkan lupa tadinya hubungan mereka adalah penjual dan pembeli.

“Tidak usah,”ujarnya. Diserahkannya rangkaian bunga yang sudah jadi. “Toh, akan kau berikan untuk suamimu, kan? Toko ini miliknya juga, tidak mungkin aku memasang harga.”

Tiffany mendengus, kembali menikam Jessica dengan tatapannya. “Sayang sekali, seharusnya aku memesan yang lebih banyak,”ujarnya. “Ini untuk mendiang putriku. Aku datang dari Amerika untuk perayaan kematiannya yang ketiga.”

Tiffany menarik beberapa lembar uang seratus ribu won dari dompetnya dan meletakkannya di meja. Rangkaian bunga yang sudah selesai diambilnya lalu tanpa kata lagi ia bergegas keluar.

***

…you loved me cause i’m fragile

when i  thought that i was strong…

 

Ketika Siwon tiba, rumahnya nampak lenggang. Bahkan tak ada Tiffany yang menyambut. Untung saja ia teringat jika wanita itu mungkin sedang berkeliaran di departemen store bersama salah satu adiknya. Setelah mengganti pakaian kerja, Siwon beranjak ke dapur. Perutnya mulai keroncongan lantaran tak diisi saat siang tadi.

Sembari menunggu ramyeonnya matang, Siwon memeriksa ponsel. Aneh. Tak ada pesan dari Jessica. Biasanya sudah ada tiga puluh pesan masuk kalau ia memeriksa ponsel di sore hari seperti ini. Ah, ia merindukan wanita itu. Sungguh. Tapi masih ada tiga hari lagi.

Tiffany bilang ia hanya berlibur sebentar. Hanya seminggu. Pekerjaannya di Amerika juga menanti. Karena itu, Siwon bersumpah. Setelah seminggu itu berlalu, ia akan membawa Jessica berlibur. Menguncinya untuk terus berada di sisinya. Tidak seminggu, tapi mungkin sebulan. Karena itu ia berusaha keras untuk menahan kerinduannya. Biarlah urusannya dengan Tiffany beres. Kalau ia sampai melibatkan Jessica sebelum waktunya tiba, segalanya akan kacau balau.

Setelah selesai makan dan membereskan dapur, seseorang masuk ke dalam rumah. Pastilah Tiffany, pikir Siwon. Ia segera beranjak ke ruang tamu, hendak menyambut.

Tapi sayang sekali, Jessicalah yang datang. Siwon terperanjat kaget. Senang, rindu dan hasrat ingin memeluk wanita itu berjumpalitan hendak meluap keluar. Tapi, hey, bukankah mereka sudah sepakat?

“Jessie, kenapa kau …”

Jessica sudah berlari memeluk Siwon.  Dipeluknya erat leher pria yang masih termangu terkejut itu. Lalu detik selanjutnya, kerinduan mengalahkan tekadnya. Ia membalas pelukan itu, jauh lebih erat. Bisa dirasakannya kegelisahan Jessica dalam pelukan itu.

“Maaf, maaf… seharusnya aku tak memintamu …”bisik Siwon ketika wanita itu mulai terisak. “Oh astaga, sungguh … aku tidak bermaksud membuatmu menderita seperti ini. Maafkan aku…”

Butuh waktu nyaris sepuluh menit sebelum Jessica melepaskan diri dari Siwon. Matanya sembab dan terlihat sangat berantakan. Siwon mungkin bersumpah akan bunuh diri jika sekali lagi menempatkan Jessica dalam perasaan serupa.

“Maaf, aku tidak tahu kenapa jadi cengeng begini,”ujar Jessica, mengusap wajahnya dengan canggung. Kaos Siwon di bagian bahu basah lantaran airmatanya tumpah banyak di sana. Siwon meraih jemarinya, menggenggamnya lembut.

“Tidak apa-apa. Justru aku yang harus minta maaf. Tapi, kenapa kau datang tiba-tiba? Aku bisa menemuimu kalau …” Siwon menghentikan kalimatnya. Mendadak merasa konyol sendiri. Menemui? Bahkan menelpon saja sudah berusaha keras ditahannya.

“Oh, seharusnya aku menahan diri! Tapi, aku benar-benar tidak bisa tinggal diam setelah dia menemuiku…”sahut Jessica, semakin canggung. Bodoh. Bisa-bisanya ia kehilangan kendali dan menangis di pelukan Siwon!

“Siapa yang …”

Pertanyaan itu terputus lantaran pintu berderit terbuka. Lalu, sosok Tiffany  masuk. Sontak saja Jessica menarik diri dari Siwon. Tapi agaknya Tiffany sudah melihat mereka.

Namun, wanita itu rupanya tak peduli. Atau mungkin ada sesuatu yang jauh lebih menganggunya. Tiffany nampak lunglai saat ia masuk, mengganti sandal rumah dan berjalan lesu melewati mereka. Sebelum Jessica atau pun Siwon bereaksi atas kedatangannya, pintu kamar sudah dibanting tertutup.

“Ah… itu …” Siwon menghela panjang, langsung saja disergap gugup. Sementara Jessica tak melepas pandangan ke arahnya. Hal aneh, bukan? Tiga tahun mereka menjalin hubungan yang manis. Lalu tiba-tiba saja, setelah meminta kekasihnya menghilang selama seminggu, seorang wanita datang dan membanting pintu kamarnya.

“Seharusnya aku tak datang ke sini,”ujar Jessica. Saat ia nekat datang, ia tahu akan ada kemungkinan bertemu Tiffany  di rumah itu. Tapi ia harus memperjelas hubungan mereka! Hanya saja, mengingat bagaimana Siwon tak pernah mengatakan apapun tentang pernikahannya, tangan kasar yang mencoba mencengkram ulu hatinya kembali berulah. Perngkhianatan itu, bagaimana pun besarnya cinta yang dimiliki, tetap menjadi penggoncang nomor satu. Dan Jessica tak bisa berpura-pura kuat saat mengetahui kenyataan pahit itu.

“Aku sudah bersumpah akan menjelaskan semuanya padamu, sayang…”ujar Siwon. “Tapi, setelah seminggu… Hanya seminggu, ingat?”

Perasaan Siwon sendiri sudah bercampur aduk. Matanya berulang kali menatap ke arah kamar. Pertama kalinya ia melihat Tiffany sekasar itu setelah mereka bertemu. Tiffany pasti melihat Jessica. Begitu pula wanita kecintaannya ini. Nah, hendak dimulai dari mana penjelasannya itu? Kepada siapa harus dijelaskan terlebih dahulu?

“Aku tahu. Dia istrimu.” Jessica berujar, berusaha mengabaikan keterkejutan Siwon atas ucapannya barusan. “Aku hanya datang ingin memastikan sesuatu. Oppa, bisakah kau berjanji padaku? Setelah seminggu ini berlalu … kau akan kembali …padaku, bukan?”

Baby …”

“Berikan aku jaminan, Oppa… Kalau tidak…”Jessica menahan kalimatnya, mempertimbangkan kembali. “kurasa aku perlu membereskan barang-barangku sekarang.”

Lidah Siwon kelu. Ia tahu Jessica akan merasa dikhianati jika tahu tentang rahasia yang disembunyikannya itu. Tapi, ia sama sekali tak memperkirakan hari itu akan datang lebih cepat. Dan apa katanya tadi? Ingin membereskan barang-barangnya? Sekarang?

“Tidak… tidak… kau tidak bisa melakukannya, baby. Tidak sekarang!”sergah Siwon, dengan ceroboh ia memperlihatkan kepanikannya. “Dengar, mungkin kau sangat tersakiti… tapi demi Tuhan, aku tak pernah ingin menempatkanmu dalam posisi ini. Aku mencintaimu, Jessica. Sangat. Kau juga tahu itu, kan?”

Jessica geming. Netranya menatap Siwon, menerima semua ketulusan yang dilemparkan pria itu padanya. Ah, bodohnya dirimu, Jessica… bagaimana bisa seorang Choi Siwon yang mengkhianatimu ini berhasil mencuri hatimu sepenuhnya? Melihat Siwon memohon membuat Jessica mendadak teringat alasan kenapa ia bisa berada di rumah itu.

Jessica Jung seharusnya tak menyulitkan Siwon. Seharusnya ialah yang berlutut di depan pria itu. Memang kenapa jika Siwon menyembunyikan rahasia? Batin Jessica bergemuruh. Siapa kau, Jessica? Siapa kau sebelum Siwon menyelamatkanmu?

“Jessie…” Siwon masih menatap, memohon dengan cemas.

Jessica menghela panjang. Benar, seorang Jessica yang tahu diri seharusnya tak boleh cengeng. Siwon adalah pria yang telah menyelamatkannya dari maut, tiga tahun silam. Ketika ia nyaris saja dilemparkan ke jurang nista oleh seorang mucikari brengsek, Siwon menolongnya. Dibawanya Jessica yang gemetaran menangis setelah hidupnya dikoyak oleh segerombolan preman busuk. Diperlakukannya wanita itu dengan baik. Dirawat, dikasih dan akhirnya dicintainya. Tanpa Siwon, Jessica mungkin harus berkecimpung di dunia malam bersama aroma-aroma busuk para bandit kotor itu. Sudah untung Siwon mencintaimu, Jessica… meski ternyata hanya separuh hatinya yang menjadi milikmu… Tapi, itu sudah cukup menjelaskan, bahwa ia tak punya hak meminta keistimewaan pada Siwon, kan?

Lagipula, seperti yang selalu dikatakan keluarga Choi padanya, siapa dirimu, Jessica? Hanya wanita kotor yang menerima kemurahan hati putra chaebol itu. Gelembung sesak semakin lama semakin menghimpit Jessica. Pada akhirnya, ia mengangguk pasrah.

“Aku tahu, Oppa… aku tahu …”bisiknya, mati-matian berusaha menahan agar tak ada air mata lagi yang terjatuh. “Akan kutunggu penjelasanmu. Aku percaya. Akan kucoba percaya padamu …”

Siwon menarik Jessica ke dalam pelukannya, erat. Berulangkali dibisikkannya kata maaf. Isakan Jessica di bahunya membuat ia tak bisa mendengar isakan lain di balik pintu kamar.

***

“Kotak makan siangmu sedang kusiapkan,”ujar Tiffany  begitu ia bertemu dengan Siwon. “Aku menelpon sekretarismu dan bilang hari ini akan ada banyak jadwal meeting. Jadi kusiapkan saja. Ah, aku lupa memilihkan pakaian.” Tiffany beranjak tergesa ke dalam walking cabinet begitu sadar Siwon tadinya celigukan mencari pakaian yang biasa disiapkan di atas ranjang.

Selagi wanita itu sibuk memilih kemeja dan setelan jas, Siwon bergeming di tempatnya. Aneh sekali. Apa yang terjadi dalam semalam? Seingatnya Tiffany telah melihat Jessica dan pulang ke rumah dalam keadaan marah sampai membanting pintu. Nah, kenapa sekarang dia terlihat begitu ceria, seolah tak terjadi apa-apa? Kemana perginya Tiffany  yang sentimen, suka meledak marah bahkan pernah melabrak seorang model hanya karena ia genit menyapa Siwon? Aneh. Ada apa dengan wanita itu?

“Pakai ini saja. Bagaimana?” Tiffany muncul tak lama kemudian dengan membawa pakaian-pakaian Siwon.

Sembari menerima pakaian itu, mata Siwon tak lepas memandangi Tiffany. Jelas sekali ada yang aneh. Tidak biasanya Tiffany bersikap tenang begini setelah sesuatu mengganggunya. Dia ini putri emas boss grup besar, menantu kesayangan Hyundai Group dan pemilik saham-saham besar. Lebih normal jika dia memaki-maki atau berteriak-teriak marah, bukan? Setidaknya dia bertingkah seperti putri yang sesungguhnya.

“Aish, kau ini kenapa sih? Matamu mau keluar tuh! Kenapa?”tegur Tiffany akhirnya, risih dipandangi terus. “Ah, katakan saja. Kau ingin mengakui jika aku terlihat saaangat cantik, bukan? Atau, kau merasa tersentuh, karena aku akhirnya menjadi istri yang sesungguhnya untukmu?”

Siwon menghela panjang. Ditahannya tangan Tiffany yang masih memegang kemeja, tadinya ia sibuk mencocokkan kemeja itu dengannya.

“Tiffany… dengar, kau seharusnya mengatakan padaku kalau kau memiliki masalah. Kau diam dan bertingkah seperti ini justru membuatku takut!”ujarnya.

Tiffany mengernyit, memandangi Siwon seolah pria itu mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah alien Mars yang tengah menyamar menjadi pria tampan.

“Apa maksudmu? Kau aneh, Oppa… Ah, sudahlah! Kau membuatku merinding saja. Nah, pakai kemeja ini. Cocok sekali untukmu! Oh ya, bukannya ini kemeja yang pernah kubelikan untukmu di Milan? Kau masih menyimpannya rupanya!”

Sebenarnya itu adalah kemeja yang sama, yang dibelikan Jessica. Tapi Siwon tak perlu mengatakannya. Biarlah.

“Aku tahu ada yang terjadi kemarin. Kenapa, hmm? Kau kelihatan kurang baik saat pulang kemarin. Lalu semalam…”

“Tidak ada yang terjadi,”potong Tiffany tegas. Diserahkannya sebuah dasi yang dirasa cocok dengan kemeja yang tadi dipilihnya. “Aigoo, ini cocok sekali. Kau akan terlihat semakin tampan dengan ini.”

“Aku tahu kau marah. Dengar, kita harus berbicara tentang ini, Fany-ya…”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan,”ujar Tiffany tanpa memandang Siwon. Selembar baju kaos diserahkannya pada Siwon. “Aku membelinya kemarin. Bahannya bagus, kau akan nyaman memakainya.”

“Aku tahu sudah terlambat menjelaskannya. Tapi, kau harus tahu kalau dia …”

Jebal, diamlah!”Tiffany memekik parau. Netranya menatap dengan berkaca-kaca, “Hanya seminggu, Choi Siwon!”ia melanjutkan. “Hanya seminggu, demi Tuhan! Biarkan aku menjadi istri yang baik untukmu setidaknya sampai seminggu itu berakhir!”

Siwon terenyak. Ia bisa merasakan lesakan luka dan kemarahan Tiffany di balik tatapan mata itu. Tiffany mungkin masih seperti wanita lain; menyimpan kemarahan dan kegusaran serta kepedihan. Tapi wanita itu membungkusnya dengan rapi. Tapi Siwon sudah mengacak-acak perasaannya, membuat Tiffany mulai kehilangan kendali.

“Seharusnya aku marah padamu sejak awal…”wanita itu berujar, suaranya bergetar. “Kau pikir bagaimana perasaanku saat melihat pakaian wanita lain di kamar suamiku? Barang-barang yang bukan milikku … aroma yang bukan milikku … semuanya bergentayangan di rumah ini! Kupikir aku akan mati karena kehabisan oksigen karenanya. Tapi aku menahannya ….”

Siwon menghela panjang. Egonya terusik. Seorang wanita, yang pernah menjadi ibu untuk putri kecilnya, sedang berusaha keras menahan tangis di depannya. Astaga, Choi Siwon! Beraninya dirimu menempatkan diri dalam drama ini!

“Sejak kapan kau menyadarinya?”ia bertanya.

“Sejak kapan?”Tiffany tertawa sarkas. “Aku sudah mengenalmu selama sepuluh tahun. Bagaimana mungkin aku tidak segera menyadarinya? Bahkan sejam setelah menginjakkan kaki di rumah ini, kau telah membuat kemarahanku meluap, Choi Siwon. Tapi, aneh … aku bahkan tidak bisa memperlihatkannya padamu … Seperti orang bodoh… aku hanya bisa diam. Berpura-pura tak terjadi apa-apa. Bersikap manis sepanjang hari. Menyiapkan pakaianmu … oh astaga, bahkan seharusnya aku tahu wanita itu selalu mengerjakan pekerjaanku! Tiap kali aku melakukannya … rasanya sangat menjijikkan! Aku harus menahan diri untuk tidak muntah tiap kali membuka lemarimu dan menemukan pakaian wanita lain di sana! Tiap kali masuk ke dapurmu … aku harus …”

“Karena itu, kenapa kau memaksa dirimu?!”sahut Siwon sengit. Airmata Tiffany semakin mengusik egonya. “Kalau kau merasa sulit, seharusnya kau bilang dari awal! Untuk siapa kau menahan rasa mual dan jijikmu itu, eoh?! Tiffany Hwang yang kukenal … kau bukan wanita yang pandai bermuka dua, Tiffany …”

Mata Tiffany memincing tajam, menggoreskan luka yang semakin dalam di hati Siwon. “Keurae… aku juga tak tahu kenapa aku seperti ini …”ia berujar. “Akan konyol sekali kalau aku mengatakan untukmu, kan? Kita bahkan sudah tidak mencintai lagi… bodoh sekali aku! Tapi, menurutmu kenapa? Aku menelan semua pahit, menahan rasa jijik dan terus bertahan di sini … kalau harus kulakukan demi orang lain … hanya Lauren alasan yang kupunya, Choi Siwon!”

Siwon menghela panjang. Tangis Tiffany mulai lagi. Tiap kali ia mengucapkan nama itu, tak pernah ia tak bercucuran air mata.

“Tolong, jangan ucapkan nama itu lagi!”seru Siwon keras. “Jangan bahas dia kalau kau hanya akan membuat dirimu terlihat menyedihkan seperti ini!”

“Kenapa tidak?!”balas Tiffany , tak kalah melengkingnya. “Kenapa seorang ibu tidak boleh menyebut nama anaknya?! Hanya karena dia sudah menjadi abu? Atau karena aku yang membuatnya tak bisa tumbuh menjadi putri yang kau inginkan? Atau karena aku yang membuatnya kesakitan seperti itu? Atau karena aku yang telah membunuhnya? Atau karena aku …”

“DIAAAM!! HENTIKAN UCAPANMU ITU!!”Urat leher Siwon menyembul seketika bersama dengan teriakan marahnya. Demi Tuhan, Siwon benci melihat wanita itu menangis. Terlebih karena ia ikut andil dalam alasan kenapa tangisan itu ada.  “Jangan-pernah-menyebut-nama-itu-lagi!”

“Kenapa?”tukas Tiffany sengit.

“Karena aku tidak suka melihatmu terus menangis seperti pancuran air karenanya! Aku tidak suka kau terus menyalahkan diri karenanya! Oh, demi Tuhan, itu sudah tiga tahun lalu, Tiffany! Sampai kapan kau akan terus bertingakah seperti ini? Apa kau tidak berpikir betapa menderitanya anak itu karena kau hidup menyedihkan seperti ini? Jangan egois, jebal! Bukan kau satu-satunya …”

“Karena itulah …”Tiffany menukas tajam, tapi suaranya mulai melunak. “Karena itu berikan aku waktu dua hari lagi! Aku hanya perlu melakukannya selama seminggu ini! Aku hanya ingin berpura-pura kita hidup baik-baik saja selama seminggu. Kau sudah melihatnya, kan? Sejauh ini aku sudah melakukannya … Hanya perlu bertahan dua hari lagi … Kenapa kau justru merusakkannya seperti ini, bodoh?!” Di akhir kalimatnya, Tiffany memekik tajam lagi. Dilemparkannya semua pakaian Siwon yang masih ia pegang lalu segera ia beranjak pergi keluar dengan membanting pintu.

Ketika Siwon selesai berpakaian dan keluar dari kamar, Tiffany sudah selesai menata sarapan di meja. Wajahnya masih sembab, jelas saja. Tapi saat mereka bertatap, Tiffany tersenyum kecil. Kembali ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Merasa tak ada pilihan lain, Siwon memutuskan untuk menuruti permainan wanita itu. Meski ia belum sepenuhnya mengerti. Astaga, makhluk paling sulit dimengerti memang wanita! Beberapa menit lalu mereka saling berteriak marah sekarang lihatlah betapa manisnya wanita itu menyendokkan lauk untuk Siwon.

…but you touch me for a little while

do my fragile strength is gone…

Hari terakhir dari waktu seminggu yang mereka sepakati tiba. Jessica terbangun di pagi hari dan langsung mengingat hari itu. Seharusnya ia merasa senang dan berdebar-debar lantaran akan berkumpul kembali dengan Siwon; pria yang sangat ia cintai … pria yang telah merenggut habis cintanya … pria yang menawan hatinya …

Jessica menghela panjang, beranjak malas turun dari ranjang. Aneh. Kenapa ia justru merasa lemas, seolah tak menginginkan hari itu datang? Matahari di luar sudah bersinar cerah, tapi Jessica merasa harinya akan berlalu semuram enam hari yang ia lewati.

Siwon belum pernah memberinya kabar sejak pertemuan mereka. Nyaris membuatnya gila.

“Aku tidak bisa bekerja hari ini,” Jessica berujar saat ia mendapati Krystal di meja makan.

“Tanpa perlu kaukatakan. Tidak mungkin membiarkanmu bekerja dengan tampang seperti itu, eonni,”balas Krystal segera.

Jessica tidak menyahut. Ia menyelesaikan sarapan dan berbenah untuk keluar. Hari ini ia memutuskan untuk menikmati waktu sendiri di tempat yang tenang. Mungkin yang dibutuhkannya adalah sedikit udara segar.

Tapi sebelum ia sempat memakai high-heels, pintu apartemennya terbuka. Kening Jessica menyerngit melihat siapa yang masuk. Choi Yoona. Kegusaran seketika mengepungnya.

“Untunglah aku tiba tepat waktu,”ujar Yoona, sama sekali tak berusaha terdengar ramah. Ia melepas high heels dan melenggang masuk dengan santai.

Jessica menghela panjang, urung keluar rumah.

Chogiyo, kau tidak tahu kalau kau baru saja menerobos masuk ke rumah orang?”sergahnya mengikuti Yoona.

Yoona tersenyum mencemooh. “Tidak usah repot-repot mengajariku tata krama, Jessica-ssi. Bukankah kau sendiri juga menerobos rumah orang?”

“Apa maumu?”tanya Jessica tak sabaran. Pertemuannya dengan semua anggota keluarga Choi tak pernah berlangsung baik. Mereka memusuhinya, tentu saja.

“Kukira kau sudah bertemu dengan kakak iparku,”ujar Yoona, mengenyakkan diri di sofa dan memandang ke arah Jessica. “Sudah tahu kenapa kami tidak menerimamu?”

Rahang Jessica menegang. “Jadi, apa maumu sekarang?”

“Perlukah kuperjelas? Untuk kesekian ratus kalinya, Jessica-ssi, aku memintamu meninggalkan oppaku. Putuskan semua hubungan kalian, apapun itu!”

“Dan jika aku menolak?”balas Jessica angkuh.

Mata Yoona memincing geram. “Sudah kuduga berbicara denganmu tidak akan pernah berhasil. Bodohnya aku…”ia bergumam. “Kau masih tidak sadar diri, ya? Bagaimana bisa kau ingin hidup sebagai perempuan simpanan, eoh? Harga dirimu sudah kaubuang dimana?”

Jessica menghela panjang. Ia tahu itu. Sejak bertemu dengan Tiffany, ia selalu memikirkannya.

Choi Siwon membohonginya. Choi Siwon menyembunyikan alasan kenapa keluarga besarnya tidak bisa menerimanya.

Jessica pikir alasan mereka tak lebih karena ia berasal dari keluarga tak jelas dan tak selevel dengan status sosial mereka. Ia sudah terbiasa dengan pandangan menghina orang jika itu berhubungan dengan asal usul dirinya. Tapi ternyata lebih dari itu. Ia bukan hanya seorang wanita dari dunia kumuh yang tak pantas mengenakan  kemewahan keluarga itu. Tapi, ia juga adalah penganggu yang menyusup dalam pernikahan pangeran pewaris mereka. Perebut. Kekasih gelap. Tiap kali mengingat itu, hatinya selalu membara panas. Dulu ia membenci keluarganya hingga berulangkali kabur dari rumah lantaran ayahnya yang selalu berselingkuh. Ia benci pada pria seperti itu.

Dan sekarang, justru ia yang menjadi selingkuhan pria yang amat dicintainya. Menjijikkan sekali, bukan?

“Harga diriku adalah urusanku, Choi Yoona,”ia bersuara dengan gemetar. “Jangan mengguruiku tentang itu! Kalau tidak ada lagi yang ingin kaukatakan, tolong pergilah!”

Tatapan mereka bersirobok. Sama-sama memancarkan kekeras-kepalaan. Yoona menghela panjang, enggan beranjak.

“Status Tiffany eonni masih menantu Hyundai Group. Dan kami semua ingin dia kembali lagi ke dalam keluarga kami. Kau tidak tahu artinya apa? Kau harus mengalah, Jessica-ssi. Aku tahu kau mencintai kakakku, bagaimana pun menjijikkannya itu, tapi apa yang bisa kau lakukan sekarang? Kalau sampai Tiffany eonni menolak kembali karena keberadaanmu, kau pasti akan menerima akibatnya, Jessica-ssi…”

“Kau mengancamku, kalau begitu?”

Yoona membuka mulut hendak menjawab, tapi sebelum itu terjadi, pintu apartemen kembali terbuka. Jessica menoleh dengan kesal. Astaga, ia harus mengganti password! Kenapa semua orang suka menerobos masuk seperti ini?

Ia ingin mencela, tapi begitu ia melihat siapa yang datang, lidahnya kelu. Tiffany Hwang.

Eonni?”seru Yoona terkejut.

Oh, rupanya mereka tidak janjian datang ke sini. Jessica diam mengikuti gerakan Tiffany yang beranjak masuk meski tanpa dipersihlahkan.

“Bagaimana eonni bisa ke sini?”tanya Yoona.

“Sedikit kekuasan, tentu saja,”jawab Tiffany sembari menoleh pada Jessica. “Kau perlu mengganti passwordmu kalau begitu, Jessica-ssi… tapi selalu mudah mengetahuinya.”

“Lupakan itu. Kenapa kau datang ke sini?”balas Jessica.

Tiffany tersenyum kecil lalu menoleh pada Yoona. “Bisa biarkan kami berbicara, Yoong? Aku butuh privasi.”

“Tapi, eonni… dia ini…”

“Wanita yang tinggal bersama suamiku. Ya, aku tahu, Yoong. Jadi, tolong pergilah dulu! Biar kuselesaikan urusanku di sini.”

Yoona bangkit berdiri dengan berat hati. Setelah pamit pada Tiffany dan melemparkan pandangan mencela pada Jessica, ia keluar.

Tinggallah dua orang wanita itu yang terjebak dalam kecanggungan. Tiffany beranjak duduk di sofa dan menatap Jessica. Jelas-jelas wanita itu nampak sangat tak nyaman.

“Maaf karena datang tanpa memberitahumu,”ujar Tiffany. Nada suaranya melunak. “Aku akan berangkat ke Amerika malam ini, jadi kupikir kita harus meluruskan masalah kita. Duduklah, Jessica-ssi!”

Siapa pemilik rumah sebenarnya? Jessica mendengus lalu duduk berhadapan dengan Tiffany. Sebisa mungkin ia mengangkat dagu, tak ingin terintimidasi oleh Tiffany.

“Apa kau mencintainya?”tanya Tiffany segera. “Seberapa besar?”

Jessica tak menjawab. Hanya tatapannya yang bersirobok dengan eyesmile itu.

“Bagaimana denganmu?”balas Jessica balik bertanya.

Tiffany tertawa kecil. “Sepertinya kau sangat penasaran kenapa aku meninggalkannya. Pria itu tidak memberitahumu?”

“Menyebut namamu sekali pun tak pernah,”tukas Jessica tanpa belas kasih.

Senyum Tiffany meluruh, tergantikan dengan muram yang terlihat jelas. “Tentu saja… aku juga menghabiskan waktuku seperti itu… berpura-pura semuanya baik-baik saja, melupakan segala hal buruk yang pernah kami lalui… saling melupakan…” Tiffany melemparkan senyum datar pada Jessica.

“Cita-cita terbesarku adalah menjadi seorang ibu,”ujarnya. “Lalu malaikat kecil itu hadir dalam hidup kami. Semuanya jadi  terasa sangat sempurna. Lalu kemudian …” Tiffany menghela panjang sebelum melanjutkan dengan suara bergetar, “salahku … ini semua salahku! Seharusnya aku tak melepaskan tangannya hari itu. Seharusnya aku …”

Jessica tak ingin menanggapi. Batinnya sendiri teriris pilu melihat wanita di hadapannya berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Jadi, mereka kehilangan anak itu?

“Aku gagal menjadi ibu yang baik untuknya. Bagaimana bisa seorang ibu hanya diam melihatnya anaknya … anaknya dihantam …”

“Cukup, Tiffany-ssi!”sela Jessica tegas. “Aku tak mau mendengarnya lagi.”

“Oh, maaf…”Tiffany menyeka wajahnya, nampak sangat tertekan. “Kupikir aku sudah berhasil menangani traumaku.”

“Karena itu kau pergi?”

Tiffany mengangguk. “Aku tidak bisa melihat Siwon oppa sejak hari itu. Tiap kali berada di dekatnya, jeritan kesakitan Lauren selalu terdengar. Aku tidak bisa. Bahkan keluarga Choi pun menyerah terhadapku. Aku sudah gila. Aku sudah hilang akal. Aku menjadi sampah dan semacam itu.”

Jessica tercengang. Ia tahu anggota keluarga Choi tidak begitu baik padanya, masa pada Tiffany juga? Bukankah alasan mereka menolak statusnya adalah karena pria itu sudah beristri?

“Aku bukan wanita kuat, Jessica-ssi. Aku terlalu mudah menyerah dan kalah oleh rasa bersalahku.”

“Siwon oppa sangat terpuruk karenamu,”ujar Jessica dengan nada bergetar. Sungguh, ia benci membagi simpati dengan wanita ini!

“Aku tahu,”gumam Tiffany lirih. “Karena itu aku datang kembali. Tapi, sayang sekali ….” ia tersenyum miris, “aku sudah terlambat rupanya. Bagaimana kalian bertemu?”

“Well, itu …”Jessica menghela panjang. Haruskah ia menceritakannya pada istri pria yang dicintainya itu? Aneh sekali kedengarannya. “Dia menolongku dari beberapa orang jahat. Kami bertemu beberapa kali setelahnya dan memutuskan untuk berkenalan. Aku berhutang budi dan memutuskan untuk membalasnya dengan …” ia berhenti ketika tatapannya bertemu dengan mata Tiffany, “memberikan kenyamanan untuknya. Give and take. Dia menolongku dan aku membantunya melupakan masalah apapun yang membuatnya terlihat menyedihkan. Kami berkencan setelah itu.” Jessica mengakhiri kalimatnya dengan nada jengah.

Tiffany mengangguk-angguk kecil. Lucu sekali takdir yang mereka jalani.

“Baiklah. Terima kasih untuk seminggu ini,”ujar Tiffany kemudian. Ia tersenyum kecil.

Jessica mengernyit bingung.

“Kau memberiku waktu seminggu untuk menjadi istri yang baik untuknya. Seminggu yang kurasa cukup untuk menebus tiga tahun yang lalu. Terima kasih sudah membantunya, Jessica-ssi.” Tiffany berdiri, bersiap untuk pulang.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”tanya Jessica.

“Entahlah,”jawab Tiffany tanpa memandang ke arah Jessica. “Kau masih mencintainya?”

Jessica enggan menjawab. “Pertanyaan itu juga berlaku untukmu, Tiffany-ssi.”

“Kita mencintai orang yang sama kalau begitu,”ujar Tiffany skeptis, “atau mungkin … dulunya begitu.” Ia beranjak mendekati pintu sebelum berhenti karena teringat sesuatu. Tiffany menoleh. “Hubunganmu baik dengan keluarga Choi?”

“Tidak, tentu saja. Tapi apa itu masalah?”balas Jessica angkuh.

“Keberanian seperti itu yang tak kumiliki,”gumam Tiffany pelan. “Baguslah. Kau mungkin perlu bersiap-siap. Mereka bukan orang yang bisa diabaikan dengan mudah,”ujarnya, tersenyum datar.

Entah apa maksudnya. Tapi kalau ia mengatakan keluarga Choi mungkin tak akan tinggal diam, Jessica sudah tahu itu sejak dulu.

Langkah Tiffany lunglai begitu ia tiba di halaman gedung apartemen itu. Mobilnya terparkir cukup jauh dan ia mendadak merasa kepayahan yang sangat. Tak ingin mendadak terjatuh di tengah jalan, Tiffany segera menepi ke sebuah kursi taman. Perasaan bergemuruh itu masih bermain-main di hatinya.

Aneh. Sudah tiga tahun lamanya perasaan itu lenyap dan sekarang mendadak muncul begini… Apa yang akan kau lakukan, Tiffany?

Ia masih ingat saat pertama kali menyadari keberadaan barang-barang wanita yang bukan miliknya di rumah itu. Rasa panas yang membara di hatinya masih terasa jelas. Dipikirnya Siwon menyiapkan semua itu untuk dirinya. Tapi, bagaimana bisa ia mengabaikan fakta bahwa ada wanita lain yang tinggal di rumah itu sebelumnya? Tidak. Insting wanitanya masih berfungsi dengan baik.

Tiffany mengusap wajah ketika rasa panas itu semakin membara. Lucu. Mereka baru saja berbincang seperti kawan lama. Lebih lucu lagi, kenapa Siwon sama sekali tidak pernah mengungkit masalah ini? Pria itu bertingkah seolah mereka berpisah baik-baik, menyambutnya dengan riang dan berlagak seperti suami yang sempurna. Dan pada Jessica, pria itu berlagak seperti kekasih yang sempurna.

“Pria brengsek.”

Tiffany bangkit, enggan berlama-lama meski rasa panas itu masih berputar-putar di bawah kakinya. Tapi belum lagi ia melangkah, sesosok pria tertangkap netranya sedang berjalan ke arahnya. Choi Siwon.

“Oppa?”

Siwon mengernyit dengan wajah serius. Langkahnya lebar saat ia mengampiri Tiffany. Dipandanginya wanita itu bergantian dengan memandangi gedung apartemen. Tak perlu waktu lama untuk mengambil kesimpulan. Tiffany tak pernah punya teman yang tinggal di daerah ini. Semua orang yang disebutnya teman adalah penghuni distrik Gangnam. Alasan kenapa ia melihat Tiffany berada di daerah itu sudah jelas. Tanpa mengatakan apa-apa, Siwon menarik tangan Tiffany menuju mobilnya.

Tiffany tak memberontak. Dia tenang saja mengikuti Siwon, masuk ke dalam mobil dan diam saat pria itu memakaikan seatbeltnya. Pun ketika Siwon memutar kemudi, menjauhi tempat itu, tak seorang pun yang buka mulut.

Ketika mereka terjebak di traffic light merah, Siwon menoleh pada Tiffany.

“Kau menemuinya?”tanya Siwon langsung.

“Kau mematai-mataiku,”gumam Tiffany tak suka.

“Apa yang kalian bicarakan?”desak Siwon.

Tiffany menghela panjang, melepas pandangan ke arah luar jendela mobil. “Hanya sedikit nasehat.”

“Nasehat?”

“Hm. Dan sedikit ucapan terima kasih karena mau memberikan seminggu waktunya untukku.”

Siwon masih tercengang. Tiffany benar-benar berubah! Dia bahkan menjawab santai seolah mereka hanya membicarakan cuaca hari itu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”tanya Siwon. Traffic light sudah berubah warna. Ia kembali mengemudikan mobilnya.

“Memang apa lagi? Tentu saja kembali ke rutinitas lamaku. Dan kau,”Tiffany menoleh. “Kau ingin terus mempertahankan hubunganmu dengannya?”

“Apa yang salah dengan itu?”

“Keluargamu,”gumam Tiffany, kembali melempar pandangan ke arah jalanan. “Apa yang akan terjadi setelah kita bercerai? Mereka pasti tidak akan tinggal diam. Jessica bisa saja menjadi korban kali ini. Kau harusnya tahu, keluargamu cukup menyeramkan sebenarnya.”

“Jangan bilang kalau kau bersimpati padanya, Tiffany.”

“Karena aku tahu hidupnya tidak akan pernah mudah lagi setelah ini. Dia bertemu orang yang salah, mencintai orang yang salah dan hidup di jalan yang salah,”dengus Tiffany.

Siwon menghela panjang. Bingung. Sebenarnya apa isi kepala perempuan itu?

“Yoona akan melakukannya untukku,”sahut Tiffany santai. “Dia sangat membenci perempuan itu, bukan? Orangtuamu juga tak akan tinggal diam. Selama ini hubungan kalian berjalan mulus hanya karena kau masih terikat status denganku. Tapi, setelah perceraian, rasanya itu tidak akan sama lagi…”

“Jadi apa maumu sebenarnya?”

“Bercerai, tentu saja. Aku sudah menyiapkan dokumennya setahun sebelum berangkat ke sini.”

Siwon menghela napas berat. Sudah tiga hari ini perusahaannya bermasalah. Itu sudah cukup menyita waktu dan pikirannya. Sekarang ditambah lagi dengan masalah rumah tanggannya.

“Haruskah seperti itu? Kita bisa hidup…”

“Aku ingin bercerai. Kita sudah sepakat karena itu aku meluangkan waktu untuk datang kembali ke sini,”tukas Tiffany. “Aneh. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Choi Siwon? Kau menyembunyikan wanita itu dariku selama tiga tahun? Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu?”

“Aku juga tidak tahu,”desah Siwon. “Awalnya aku hanya … kasihan. Lalu, yah… bagaimana denganmu? Kau sudah bertemu laki-laki lain di sana?”

“Jessica kelihatannya sangat mencintaimu. Jangan sampai dia tahu kalau kau hanya kasihan padanya.”

“Dia tahu itu,”Siwon bergumam lirih.

Seharusnya ia memberitahu Jessica sejak awal. Tapi perempuan yang awalnya dikasihaninya itu memberikan ia perhatian dan kenyamanan yang tak bisa dilepasnya. Ia terjerat pada pesona wanita itu secara perlahan. Tak ingin kehilangan membuat ia memutuskan untuk tutup mulut dan membiarkan takdir bermain dalam hidup mereka.

“Kau pria brengsek,”gumam Tiffany dingin. “Aku benar-benar kasihan pada Lauren, terlahir dari ayah sepertimu…”

“Tiffany!”

“Aku membencimu, Choi Siwon….”desah Tiffany dengan nada datar. Ia melipat tangan, membungkus tubuhnya sembari bersandar di jok mobil. Perjalanan menuju rumah mereka masih akan memakan waktu yang cukup lama.

“Kau sudah berbicara dengan ayahku?”tanya Siwon, melirik Tiffany.

“Aku tidak mau berbicara tentang itu dengan mereka. Kau saja yang mengurusnya sendiri,”gumam Tiffany acuh.

“Ini tentang perceraian, Tiffany! Itu keputusanmu!”

“Keputusanku?” Tiffany mendengus, melemparkan tatapan tajam. “Benar, itu memang keputusanku. Tapi, kau pikir aku mau membersihkan semua kekacauan itu seorang diri? Aku bodoh sekali kalau melakukannya. Lagipula, bukankah itu cukup adil untuk kalian? Berselingkuh di belakangku… sepasang manusia busuk, brengsek…”

“Bagaimana denganmu?”tukas Siwon tajam. “Apa kau hidup bersih selama tiga tahun ini?”

Tiffany membiarkan jeda menyela. Dihelanya napas panjang, kembali melemparkan pandangan ke sisi kirinya.

“Aku hidup dalam harapan kosong. Kupikir kau akan datang mencariku. Tapi ternyata kau pun sudah menyerah. Ah, apa untungnya punya istri yang hanya bisa menangisi kematian putrinya? Wanita yang justru merebut pergi putrimu yang sangat berharga… menorehkan luka pada keluargamu yang terhormat… wanita gila sepertiku… Aku tidak heran kau bisa berpaling dengan mudah, Choi Siwon.”

“Kau tak seharusnya pergi dan berpikir bisa menanggung semua itu seorang diri!”seru Siwon kesal.

“Kau seharusnya mencariku kalau begitu…”balas Tiffany malas.

Siwon menghela panjang, enggan menanggapi. Pembicaraan ini tidak akan berhasil. Sifat keras kepala wanita itu masih sama. Sekali ia membuat keputusan, akan susah membalikkan keadaan.

“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka setuju?”tanya Siwon setelah berhasil melunakkan nada suaranya.

“Apapun yang terbaik untuk putri mereka, akan mereka lakukan. Aku tidak perlu memohon untuk meyakinkan mereka,”gumam Tiffany dengan mata terpejam.

Masalahnya sekarang ada di keluarga Choi. Dari pernikahan mereka lima tahun lalu, ada hubungan kerjasama perusahaan yang ikut terjalin. Toh, pada awalnya hubungan mereka juga adalah perjodohan politik. Hyundai Group mendapat keuntungan besar dengan menekan kerjasama dengan Emerald Group perusahaan keluarga Hwang. Jika kerjasama mereka dihapuskan, perekonomian Hyundai mungkin akan merosot tajam. Itulah tepatnya kenapa keluarga Choi enggan melepas Tiffany dari keluarga mereka.

Keputusan Tiffany untuk meninggalkan Korea tiga tahun lalu saja sudah memberikan efek buruk bagi Hyundai. Ny.Hwang yang amat sangat mencintai putri semata wayangnya itu membekukan beberapa kontrak kerjasama lantaran menduga putrinya diperlakukan tidak baik di keluarga itu. Jika nantinya mereka mendengar cerita yang sebenarnya, tentang Siwon yang mengkhianati pernikahan mereka, akibatnya sudah bisa dipastikan. Siwon menghela panjang.

“Kau tidak bisa menyembunyikan kebusukanmu itu selamanya, Choi Siwon…”gumam Tiffany.

“Aku akan tetap menghubungimu, jangan berganti nomor kontak tanpa sepengetahuanku!”ujar Siwon ketika mereka telah tiba di rumah.

“Baiklah,”balas Tiffany, beranjak masuk ke dalam kamar. Surat pengajuan perceraian pun sudah ia masukkan ke pengadilan. Sekarang ia perlu berkemas.

“Sebaiknya kau tidak lupa perayaan kematian Lauren lagi, Oppa…” Tiffany menyerahkan koper pink yang selama ini disembunyikannya di dalam lemari. “Aku menyiapkan barang-barang kesayangannya di sana. Kurasa sudah waktunya kau mengambil alih.”

Siwon mengangguk kecil. Ditatapnya Tiffany yang sibuk membereskan barang-barangnya. Perasaan aneh mulai bergemuruh di dasar perutnya. Benarkah mereka akan berpisah seperti ini? Kebersamaan mereka yang indah lima tahun lalu… benarkah akan berakhir seperti ini?

“Kau ibu yang baik, Tiffany…”ujar Siwon lirih.

Tiffany berhenti mengumpulkan pakaiannya dari lemari dan menoleh. Keningnya mengernyit mendapati pria itu menunduk sendu.

“Terima kasih untuk kebersamaan selama ini… untuk melahirkan Lauren… untuk bertahan di sisi pria brengsek sepertiku… untuk kembali padaku seperti ini… untuk memaafkan kesalahanku… terima kasih.”

Tiffany tersenyum kecil. “Kau juga akan menjadi ayah yang baik, Oppa… hanya saja, mungkin aku bukan istri yang cukup baik untukmu.”

Pada akhirnya kiita memilih jalan masing-masing…

Siwon beranjak mendekati Tiffany, memberinya pelukan erat, menciumi aroma wanita itu mungkin untuk yang terakhir kalinya..

“Maafkan aku… kukira aku sudah cukup baik untuk menjadi suamimu… maafkan aku, tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anakmu…”

Tiffany mengangguk, mati-matian berusaha menahan airmatanya lepas. Aku mencintaimu, Oppa..

“Kau akan jadi suami dan ayah yang baik suatu saat nanti…”bisiknya.

Lama mereka tenggelam dalam pelukan itu sebelum Siwon memutuskan untuk keluar, membiarkan Tiffany menyelesaikan pekerjaannya. Ia tahu wanita itu menangis dan tak ingin Tiffany terbebani dengan kehadirannya lebih lama lagi. Ia harus memberikan ruang pada wanita itu.

Lihatlah, hubungan indah mereka akan berakhir seperti ini… kau wanita yang mengagumkan, ibu yang baik dan istri yang menyenangkan, Tiffany… hanya saja, kita tak cukup baik untuk selalu bersama.

Samar-samar, Siwon bisa mendengar isak tangis dari dalam kamarnya. Ah, seandainya waktu bisa diputar kembali… kita tak perlu berpisah tiga tahun lalu… tak perlu ada cinta yang lain yang menyela kebersamaan kita…

Siwon menghela panjang, meleburkan keletihannya ke udara. Antara Tiffany dan Jessica, bagaimana ia bisa memilih jika keduanya memiliki porsi yang sama di hatinya kini? Dering ponsel menyela. Siwon merasakan bebannya semakin bertambah saat membaca nama Sooyoung di layar ponselnya.

Pulanglah ke rumah sekarang, Oppa! Abeoji sedang mengamuk.”

Siwon memijit kening. Surat pengadilan pasti sudah tiba di rumahnya. “Biarkan saja dulu.”

“Oh, baguslah… hanya perempuan itu yang menanggung semuanya sekarang.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak tahu? Abeoji mengirim orang, menyeret perempuan itu ke sini.”

Siwon menggeram marah. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berlari keluar, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan tiba di rumah keluarganya sepuluh menit lebih cepat dari biasanya.

“Ambil itu dan pergilah! Jangan pernah muncul lagi di depan anggota keluargaku!”

Siwon terperanjat terkejut mendengar teriakan lantang itu. Ia tahu apa yang terjadi. Bergegas, secepat yang diizinkan kakinya, ia berlari masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Seperti yang diprediksikannya, pusat kemarahan itu adalah sosok Jessica.

Wanita itu berdiri di hadapan Presdir Choi. Wajahnya sembab tapi ia masih mengangkat dagu angkuh.

“Abeoji!”tegur Siwon berang. Bisa-bisanya mereka menyerang Jessica seperti ini! Pengecut!

“Ah, akhirnya kau pulang juga. Harus dipanggil dengan cara seperti ini, ya?”balas Presdir Choi tanpa belas kasih. “Aku sudah muak mendengar berita tentang kalian! Perusahaan dengan dalam masa genting dan kau sebagai pewaris perusahaan, apa yang kau lakukan ini sebenarnya?!”

“Jessica, keluarlah!”pinta Siwon, menoleh cemas pada Jessica yang sedari tadi hanya menunduk diam.

“Keluarkan dia dari hidupmu juga!”kata Presdir Choi berang. “Jangan sampai aku melihat atau mendengar namanya disangkut pautkan dengan keluarga ini lagi!”

“Apa lagi masalahnya sekarang?”tanya Siwon tak kalah berang.

“Masalahnya adalah ini …” Ny.Choi menyahut, menyerahkan selembar kertas pada Siwon.

Surat dari pengadilan terkait sidang perceraian mereka.

“Kalian benar-benar bercerai?”tanya Ny.Choi tegas. “Karena perempuan ini?”

“Jessica, keluar!”pinta Siwon tegas.

Jessica mengangguk kecil sebelum membungkus sopan pada kedua orangtua Siwon. Keduanya membalas dengan dengusan kebencian yang terlihat jelas.

“Memalukan sekali! Kau akan mempermalukan keluarga kita dengan skandal ini, Choi Siwon! Apa yang harus kukatakan pada keluarga Hwang, eoh? Kau melepaskan putrinya karena perempuan jalang yang tak jelas itu? Kau kemanakan otakmu itu, brengsek?!”

“Jangan bicara soal omong kosong cinta itu di depanku, kau anak tengik!”

“Kontrak kerjasama perusahaan dengan keluarga Hwang sebentar lagi akan habis dan sekarang kau membuat masalah seperti ini! Bagaimana kau akan menanggung kerugian perusahaan nantinya?!”

“Ini akibatnya kalau kau tak mendengar petuah orangtua, Choi Siwon! Tiga tahun lalu seharusnya kau mendengar dan membuang perempuan itu  saja! Sekarang masalahnya sudah membesar begini, bagaimana kau akan menyelesaikannya?!”

Jessica menyandarkan tubuhnya di tembok. Teriakan-teriakan marah Presdir Choi masih terdengar jelas olehnya meskipun ia telah berada di luar ruangan. Umpatan kasar yang disematkan untuknya berulangkali menghantam perasaannya.

Sudah tiga tahun ia hidup di samping Siwon. Tiga tahun ia menyembunyikan status sebagai kekasih Siwon. Tiga tahun ia menerima semua cacian dari keluarga terhormat itu. Tapi, penderitaan tiga tahun yang berhasil ia lalui itu masih kalah dibandingkan hari ini.

Mereka bercerai. Semua karena kehadirannya. Keluarga Choi menyalahkannya.

Bayangan tentang keluarganya kembali menghantui Jessica. Ia ingat sekali neraka yang terbangun di rumahnya lantaran affair ayahnya. Ia melihat ibunya selalu menangis di setiap malam. Ia merasakan kemarahan tumbuh di nadinya.

Dan sekarang … ia membuat orang lain merasakan hal yang sama dengannya. Langkah Jessica lunglai tatkala ia menarik diri hendak meninggalkan rumah itu. Ia harus pergi segera. Agaknya akan butuh banyak waktu baginya untuk berpikir dan merenungi arti hubungannya selama ini.

***

Eonni, tidak bisakah kau berubah pikiran, eoh? Masih ada waktu untuk mengubahnya!” Yoona memohon, menatap penuh harap pada wanita yang menyembunyikan eyesmilenya di balik kacamata.

Lalu lalang di bandara semakin merayap padat. Ruang keberangkatan untuk penerbangan menuju Amerika sudah terbuka. Tapi Yoona masih enggan melepaskan troli bawaan Tiffany.

“Sekali lagi, maaf, Yoong… Aku tidak bisa.” Tiffany meraih tangan Yoona yang menggenggam erat pegangan troli lalu dilepasnya.

“Aish, jinjja… kenapa sulit sekali mengubah pendirianmu?”gerutu Yoona.

“Itu karena aku sudah terlebih dahulu mempertimbangkannya. Sudahlah, aku harus check-in. Kau pulanglah! Terima kasih sudah mengantarku.”

“Kenapa Siwon oppa belum datang?”Yoona kembali menggerutu.

Tiffany tersenyum kecil. Sudah setengah jam mereka menunggu kedatangan Siwon. Tapi sepertinya pria itu takkan muncul.

“Mungkin ada pekerjaan mendadak,”timpal Tiffany, enggan memperlihatkan kegelisahaannya.

Harusnya Siwon datang meskipun mereka sudah bercerai. Toh, anggap saja ini sebagai perpisahan mereka. Ia sendiri sudah bertekad takkan kembali menginjakkan kaki di Korea setelah ini. Kepingan hati Tiffany yang masih menyimpan nama Siwon berontak hebat. Hanya sekali ini ia ingin egois menginginkan keberadaan pria itu di sisinya. Untuk terakhir kalinya, sebelum kita berpisah secara resmi.

Tapi Siwon tak kunjung datang. Pengumuman peringatan untuk penumpang penerbangan menuju Amerika sudah bergema. Mau tak mau Tiffany harus segera check in.

“Aku akan mengunjungimu di Amerika nanti, eonni. Kita masih bisa bertemu, kan?”tanya Yoona.

Tiffany tersenyum. “Tentu saja. Mungkin adik ipar sudah tidak lagi, tapi selamanya kau akan menjadi sahabatku. Terima kasih untuk seminggu ini.”

“Maafkan aku, eonni… aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu… Maafkan kakakku yang brengsek itu…”

Tiffany menepuk bahu Yoona. Dilemparkannya pandangan ke arah gerbang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Siwon. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Tiffany beranjak setelah memberikan pelukan perpisahan pada Yoona.

Benar… sebaiknya seperti ini saja… Mengenakan kacamata membuat Tiffany tak perlu repot-repot menyembunyikan matanya yang memerah. Langkahnya tetap anggun berwibawa. Angkuh. Berhati dingin.

Ayahmu tak datang, Lauren sayang…

Tiffany mengenyakkan diri di kursi pesawat. Di sampingnya seorang laki-laki muda menatapnya penuh minat saat ia duduk. Tiffany hanya tersenyum kecil sebelum melemparkan pandangan keluar jendela.

Choi Siwon sudah memilih.

Tiffany ingin memperbaiki posisi duduknya. Perjalanan pulangnya masih panjang, ia harus merasa nyaman. Tapi, pandangan pria yang duduk di kursi sampingnya itu mulai mengusik. Apa-apaan dia? Tiffany menghela panjang, merongoh kantung mantelnya dan mengeluarkan sebuah cincin dari sana. Setelah mempertimbangkan sesaat, ia mengenakan kembali cincin pernikahannya.

Setidaknya ini akan menjagaku dari pria brengsek lainnya, Oppa…

***

set me free, leave me be…

I don’t wanna fall another moment into your gravity…

 

“Aku ingin kita menikah. Pernikahan yang sesungguhnya.”

“Bagaimana dengan keluargamu, Oppa? Mereka pasti tidak akan mengizinkan.”

“Berikan aku waktu untuk meyakinkan mereka, darling… Mulai sekarang, kau adalah satu-satunya oksigen yang kumiliki. Apalah artinya hidup tanpa hadirmu … Berjanjilah padaku, Jessica Jung, bahwa kau akan selamanya mendampingiku.”

Jessica masih ingat debaran yang berdentum di hatinya saat Siwon mengecup jemarinya hari itu. Mereka saling memiliki, berhari-hari setelah itu. Tak peduli omongan orang, mereka terus bersama.

Tapi kebersamaan dan keindahan melodi cinta itu rupanya hanya akan bertahan selama tiga tahun saja. Jessica meletakkan figura foto mereka saat liburan di Pantai Kuta ke dalam sebuah kotak besar. Kotak itu sudah penuh oleh figura lainnya. Sudah tak ada lagi figura mereka yang tersisa di rumah itu. Bahkan figura di atas meja kerja Siwon sudah diambilnya dan dimasukkan ke dalam kotak itu.

Setelah memastikan tak ada lagi yang tersisa dari figura maupun album, dengan helaan napas panjang, Jessica menutup kotak itu.

“Apa yang kaulakukan?”

Jessica menoleh. Siwon berdiri di ambang pintu dengan kening berkerut. Tentu saja dia akan terkejut melihat tumpukan kotak dan koper di kamarnya.

“Berbenah, tentu saja,”sahut Jessica,  kembali fokus pada pekerjaan terakhirnya: menyegel kotak berisi figura foto.

“Apa maksudmu berbenah?”tanya Siwon dengan nada meninggi. Ia menghampiri Jessica dengan langkah cepat. Dibukanya tutup kotak yang belum tersegel. Koper-koper diperiksanya. Semuanya berisi barang-barang Jessica. Siwon melemparkan tatapan marah pada wanita itu sebelum beranjak memeriksa lemari. Barang-barang Jessica sudah lenyap.

Dihelanya napas panjang lalu berbalik menghadap Jessica dengan berkacak pinggang. Tapi wanita itu menampilkan wajah seolah tak ada yang terjadi.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya, Jessica Jung!”

“Aku pindah mulai hari ini.”

“Pindah? Atas izin siapa?”

Jessica menghela panjang. “Ayahmu benar. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil.”

“Kenapa membawa-bawa pria tua itu lagi? Dengar, Jessie… aku tahu, aku salah karena menyembunyikan semuanya darimu. Tapi, kau tak perlu berkemas seperti ini. Ah, tidak… kata siapa kau boleh pergi sesuka hati? Bongkar kembali barang-barang itu!”

“Hubungan kita sudah berakhir, Choi Siwon,”sahut Jessica dingin.

Siwon menatapnya dengan tatapan dalam. Mulutnya bergerak hendak berucap sesuatu, tapi urung. Ia menghela panjang, gagal mengeluarkan suara.

“Aku yang memutuskannya kali ini, Oppa… Bukan ayahmu atau orang lain. Lagipula, bukankah itu memang seharusnya sudah terjadi? Sampai kapan pun hubungan kita tak akan berhasil. Di mata hukum atau pun norma masyarakat. Pikirkan sajalah, Oppa…” Jessica menghela, membuang pandang ke arah jendela yang terbuka. Tempat itu selalu jadi favoritnya di rumah ini. “Wanita mana yang mau hidup sebagai simpanan?”

“Kami sudah bercerai! Tidak ada yang menjadikanmu simpanan lagi, Jessie!”

“Sama saja,”gumam Jessica. “Aku akan pulang hari ini. Barang-barangku sudah kubereskan tapi tenang saja, aku tidak akan membawanya. Hanya berjaga-jaga, siapa tahu kau perlu membersihkannya. Jadi sekalian kukumpulkan semuanya saja.” Jessica bangkit dari duduknya, mengambil tas tangan, mantel dan koper yang paling besar. “Tapi, kurasa aku perlu membawa ini. Isinya hanya beberapa pakaian saja. Kartu, mobil dan perhiasanku kusimpan di tas ungu itu.”

“Aku tidak mengerti. Kita baik-baik saja sejauh ini, Jessie! Demi Tuhan, jangan asal mengambil keputusan seperti ini!”Siwon berteriak berang.

Tapi Jessica enggan mendengar. Ia menyeret kopernya menjauhi Siwon. Tapi pria itu bergerak cepat, membanting pintu kamar dan mencekal lengan Jessica hingga wanita itu mengaduh kesakitan.

“Bicarakan ini dulu denganku!”ujar Siwon tegas. “Kau tidak boleh …”

“Kau boleh menyembunyikan istri sahmu selama tiga tahun, berpura-pura tak ada yang terjadi… tapi, kenapa aku tidak? Saat kau berjanji ingin hidup bersamaku… bukankah itu keputusan yang asal-asalan? Bagaimana bisa kau menyembunyikan semua ini selama tiga tahun, eoh?”

“Aku akan menjelaskannya padamu, semua yang ingin kau tahu! Akan kuceritakan dari awal sampai tak kusisakan satu pun cerita! Kita sudah sepakat, bukan? Kau sudah berjanji untuk mendengarkanku, Jessie…”

“Dulunya, ya. Minggir, Choi Siwon!”

“Kenapa kau seperti ini?”

Jessica menarik napas panjang sebelum memberanikan diri menatap wajah Siwon yang sedari tadi dihindarinya. “Aku muak! Muak dengan semua sandiwara kita selama ini! Bersamamu aku adalah wanita beruntung, hebat dan memiliki semua hal yang diimpikan wanita. Tapi bersama orang lain, aku tak lebih dari wanita busuk, sampah, perebut dan jalang gila! Kusimpan semua sesak itu rapat-rapat darimu, Oppa… memang kau peduli bagaimana orang lain menatapku selama ini? Kau hanya tahu bagaimana aku selalu bersamamu! Orangtuamu, adik-adikmu, keluarga besarmu bahkan ahjussi penjaga gedung ini saja menatapku jijik!! Kupikir selama ini karena aku berasal dari keluarga rendahan…. bisa-bisanya tiga tahun kau bersandiwara, menyembunyikan alasan yang sebenarnya! Kau pikir aku akan tetap tinggal di sisimu?”

“Oke, aku minta maaf soal itu… aku minta maaf, sayang… dengar, aku tahu tahu seharusnya aku tidak melakukan itu padamu…”

Jessica menyeka wajahnya. “Seharusnya kau tak perlu menolongku hari itu, Oppa… Seharusnya kau jaga perasaan kasihan itu selamanya…. kita tak perlu terjebak dalam perasaan seperti ini! Demi Tuhan, aku tidak akan pernah lupa kebaikan yang kau berikan untukku, tapi tolong… biarkan aku pergi.”

Siwon mengusap wajah frustasi. “Sekarang siuasinya sudah  berubah, baby. Tiffany sudah pergi. Kami sudah bercerai. Aku akan segera mengumumkan pernikahan kita ke publik, apapun yang terjadi. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan sebenarnya!”

“Masalahnya adalah ini, Oppa…” Telunjuk Jessica mengarah ke dada kiri pria itu. Ia tertunduk, berusaha menyembunyikan tangisnya. “Hatimu adalah masalahnya! Oppa… sudah benarkah kita saling mencintai selama ini? Benarkah kau mencintaiku selama tiga tahun ini?”

“Kau ini bicara apa sih? Demi Tuhan, aku mencintaimu, Jessica!”

“Tidak. Kalau kau benar cinta, seharusnya kau bisa memberitahukan tentang Tiffany padaku. Perasaanmu selama tiga tahun ini bukan cinta, Oppa… kau hanya ingin aku terus berada di sisimu. Kau hanya tak ingin tempat yang dulunya dimiliki Tiffany itu kosong. Kau menempatkanku sebagai penggantinya. Bukan untuk dicintai, tapi dimiliki. Aku tidak bisa, Oppa. Aku tidak bisa membiarkan diriku membuat orang lain kehilangan cinta. Aku tidak bisa membuatmu menjadi laki-laki brengsek seperti ayahku. Aku juga tidak ingin ada wanita lain seperti ibuku, yang kehilangan cinta dan dunianya karena perempuan lain…”

Tatapan Siwon melunak demi menyadari sebentuk luka yang memborok dalam hidup kekasihnya itu. Kata-kata Jessica menamparnya.

Benarkah kau mencintainya? Dengan tulus?

Ucapan Tiffany kembali tergiang mengusik benaknya. Sungguh, bagaimana bisa dua wanita itu menanyakan hal yang sama? Apa memang semua wanita punya koneksi misterius sesama mereka? Rasanya gampang sekali mereka menyudutkan laki-laki.

Siwon geming mendengar isakan lirih wanita di hadapannya. Tiga tahun lalu ia mendengar hal serupa. Wanita di depannya ini begitu rapuh, nyaris retak. Luka kehilangan Tiffany mendorongnya membantu wanita itu. Salah siapa jika kemudian sesuatu yang lain mulai muncul di hatinya? Ia merindukan Tiffany. Dan wanita itu selalu ada di depannya, membersamainya, merawat dan melayaninya. Meski pun hanya sebagai bentuk balas budi, bagaimana ia bisa mengabaikannya? Berapa banyak cerita pria yang jatuh cinta pada pelayannya yang kau dengar? Pada titik ini, Siwon mendadak menemukan titik terang yang menghubungkan ia dengan para pria itu. Rasa kehilangan. Mereka sama-sama kehilangan kehangatan bernama cinta. Dan ketika ada wanita lain yang selalu bersama mereka, rasa kehilangan itu akan menjelmakan diri sebagai cinta. Jessica maupun Tiffany benar.

Menyadari Siwon tak berniat lagi menghalanginya, Jessica tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendorong tubuh Siwon menjauh darinya, menarik koper dan menghentakkan pintu lalu segera hilang di baliknya.

Kaki Siwon masih terpancang di tengah ruangan itu. Ia mendengar pintu depan yang terbuka lalu ditutup. Tapi ia justru membawa langkah, terduduk di atas kasurnya.

Apa yang akan kau lakukan sekarang, Choi Siwon?

***

I live here on my knees as I try to make you see

that you everything I think I need here on the ground

 

Oppa…”

Donghae menoleh dengan raut cemas di wajahnya. Jessica terlalu gampang ditebak jika ia dalam keadaan marah dan putus asa. Donghae bisa melihat itu dari jemarinya yang memegang cangkir dengan gemetar dan gelisah. Tahu jika wanita itu butuh pikir panjang sebelum memutuskan untuk berbicara, Donghae memilih diam menunggu.

“Apa kau membenciku, oppa?”tanya Jessica kemudian, lirih dan bergetar. Sama sekali enggan menatap Donghae dan hanya menekuri cangkir kopinya.

Donghae tertawa, “Membencimu? Aku? Apa sekarang bagimu kata cinta sama dengan benci? Kenapa kau berpikir seperti itu, Jess? Kukira kau sudah tahu pasti, sedari dulu hanya kau yang kucinta…”

Jessica mengulum senyum tipis. “Karena itulah … karena kau mencintaiku… sebegitu besarnya, sampai-sampai kau rasa cukup untuk membuatmu membenciku… apa pernah?”

“Mencintaimu sangat besar hingga berubah menjadi kebencian?”ulang Donghae dengan lirih.

Jessica mengangguk. Diteguknya isi cangkir kopi dengan gerakan yang lambat.

“Apa  kau pernah?”tanya Donghae balik.

“Sekarang, ya,”ujar Jessica. Cangkirnya bergetar saat ia meletakkannya di meja. “Aku mencintainya … sangat… kupikir aku akan mati hanya jika aku telah memberikan semua cintaku untuknya … ah, tidak… memang akan kuberikan seluruh hidupku untuknya. Bahkan lebih dari pada diriku sendiri, aku mencintainya.”

Hati Donghae mencelos. Ia tahu kemana arah pembicaraan mereka ini. Wanita di hadapannya menunduk, tapi ia masih bisa melihat air yang membasahi pipinya.

“Aku … kupikir, mencintainya saja akan cukup. Aku rela mendengar semua cacian orang. Mereka mengataiku, mencaci, mencela hingga rasanya tak ada lagi ruang untuk bernapas …. aku rela. Asal aku mendapatkan cintanya.”

“Dan sekarang? Cinta itu masih sama?”

Jessica membekap wajahnya, terisak.

Sama? Bagaimana bisa cinta itu masih sama? Selama Siwon mencintainya, ia bisa bertahan dengan semua celaan orang. Selama Siwon berada di sisinya, ia tak masalah harus bersembunyi dari publik. Selama ia masih mendapat cinta pria itu …

Tapi, sekarang sudah tak sama lagi.

“Aku membencinya,”ujar Jessica di sela isakannya. Donghae mengulurkan tangan, merengkuh wanita itu ke dalam rangkulannya. Selama bermenit-menit, wanita itu hanya menangis. Menumpahkan semua lukanya.

****

But you neither friend nor foe though I can’t  seems to let you go

But one thing that I still know is that you keeping me down

 

Tiffany sedang sibuk menggoreskan pensil di atas kertas sketsa saat ponselnya berdering. Dihelanya napas panjang, enggan lantaran pekerjaannya diganggu. Tapi demi mengetahui siapa yang menelpon, Tiffany segera meletakkan pensil dan menerima panggilan itu.

“Ya?”

“Dia pergi.”

Tiffany menghela panjang, beranjak menuju jendela besar di depan meja kerjanya. Lalu lalang kesibukan kota San Fransisco dengan mudah dinikmatinya di sana. Kadangkala kalau jenuh ia sanggup berlama-lama berdiri di sana.

“Jadi?”

“Aku tidak tahu. Dia pergi. Begitu saja.”

“Apa yang kau inginkan dari dia, Oppa?”

Tidakkah ini lucu? Choi Siwon menelponnya untuk melaporkan kehilangan kekasihnya! Yang benar saja!

“Entahlah. Aku tidak tahu, Fany-ya…”

“Kau mencintainya? Sudah kau tanyakan pada hatimu, seberapa besar kau mencintainya, Oppa?”

Hening menyela membuat perhatian Tiffany terfokus pada kesibukan kota di bawah jendelanya.

“Aku membutuhkannya.”

“Biarkan dia memilih, Oppa. Jessica bukan wanita bodoh. Ia tahu apa yang dipilihnya, meskipun itu mungkin menyakitinya.”

“Kau bersimpati padanya, Tiff…”

“Aku tahu dia tidak nyaman dengan hubungan kalian. Apa kau tahu teror yang selama ini diterimanya dari keluargamu? Dua bulan lalu saat kau pergi ke Milan, apa kau tahu dia hampir meninggal karena adikmu bercanda mendorongnya masuk ke kolam renang? Apa kau tahu surat-surat kaleng yang ditulis dengan darah selalu datang rutin ke rumah kalian? Bagaimana dengan teror dari ayahmu? Toko bunga yang kau bangun untuknya itu… apa kau tidak pernah memeriksa seberapa parah kerusakan yang sering terjadi di sana?”

Hening lagi. Tiffany bisa menebak keterkejutan Siwon di seberang sana.

“Biarkan dia memilih, Oppa. Jangan menyakitinya lagi!”

“Kau berbicara seolah membicarakan adik perempuanmu!”

Tiffany tersenyum kecil. “Aku membicarakan diriku sendiri, Oppa. Entahlah… kurasa kami tidak jauh berbeda. Kau tidak tahu itu?”

“Tiffany…”

“Kami, para wanita, terkadang lebih memilih bungkam untuk menyelamatkan hubungan dengan pria yang kami cintai. Meskipun terkadang hubungan itu tidak berakhir dengan baik. Karena sesuatu bernama batas itu tetap ada, Oppa. Aku kalah oleh ketakutanku, dia kalah oleh rasa bersalahnya. Kami sama saja, kalau kau mau pikir itu.”

“Apa yang kau bicarakan dengan Jessica sebenarnya, Tiffany? Kau membuatnya berpikir lebih baik meninggalkanku?”

Sebuah tangan besar baru saja bergerak meremas hatinya. Tiffany tersenyum kecut. Rasa sakit itu masih nyata rupanya.

“Menurutmu begitu?”tanyanya. “Sayang sekali, kupikir aku hanya memberinya sedikit nasehat untuk berhati-hati dengan pria yang selama tiga tahun lamanya menyembunyikan fakta bahwa ia adalah seorang ayah!”

“Tiffany!

“Lepaskan dia, Choi Siwon. Sebelum kau berhasil meyakinkan dirimu tentang cinta itu, jangan memintanya kembali.”

Tak ada sahutan di seberang. Tiffany menghela panjang sebelum memutuskan sambungan telepon. Lebih baik seperti ini, Choi Siwon.. Ia memejamkan mata, menikmati saat-saat kenangan masa lalu menjadi film pendek di dalam kepalanya. .

Kali ini cinta itu berarti belajar melepasmu… entah sampai batas waktu kapan… seperti tiga tahun ini, kembali aku akan menunggu, melukiskan wujudmu dalam sketsa awan… menanti cinta itu berganti wujud: menjadi kebersamaan, jalinan rasa yang enggan putus.

 

something always brings me back to you…

it never takes too long…

***the end***

 

Author’s Note :

Annyeonghaseyo, yeorobun! Jinjja oraenmanida! Berapa bulan saya hiatus dari peredaran FF ini, ya? Ampuni daku dan segudang kesibukan yang selalu meneror. Jangankan FF, draft novelku saja terbengkalai😥

Oke, karena akhirnya FF ini dipost, saya merasa harus menyampaikan beberapa hal. Pertama, terkait FF saya sebelumnya (We do Believe) dengan berat hati saya menghentikan penulisan FF itu. *deepbow* Alasannya? Penyakit penulis yang sering meneror : feel lenyap. Mungkin rasanya seperti drakor yang ratingnya anjlok ya… Karena itu, mohon maaf sekali lagi karena nggak bisa dilanjutin.

Kedua, mungkin setelah ini akan butuh berbulan-bulan lagi untuk muncul di dunia FF. Saya mo hiatus lagi. FF ini bela-belain saya tulis demi memunculkan permohonan maaf pada pembaca yang sudah saya PHPin di We Do Believe. Terima kasih sudah mau membaca tulisan absurd saya, dear reader!

Ketiga, saya nulis ini gegara lagu Gravity yang dicover mbak Jess itu. Inspirasi dari sana, langsung kebut nulis dan taraa… butuh sebulan lebih  untuk menuntaskan FF ini. -_-‘

Keempat, mungkin cuma sampai empat poin saja deh omongan penyela saya ini. Pokoknya, terima kasih seluas cakrawala buat semua pembaca saya. Mohon nggak kapok membaca yang absurd kayak tulisan saya ini. Maaf juga ya, kalau selama ini bikin sebel kalian dengan kemoloran saya. Maaf, maaf, maaf. *deepbow sampai kejedor* Mudah-mudahan pesannya nyampe sama pembaca.

Sampai ketemu di lain kesempatan. Keep reading! Kritik dan saran manis kalian ditungu selalu! Contact me : ig @yuriezhafiera  twit : @zha_yurie WA : 081362127819 Fb: Zakiyah Yurie Zhafiera.

Geonganghaseyo, yeorobun!

72 thoughts on “(AF) Gravity

  1. Gak tau mw gimna, tp ni ff sukses buat prsaan q kacau balau, dpet bngt feel ny wktu bca ni ff, kren bnget. Ud gtu gak kbyang lgi, crtany bkal kya’ gni, aplgi endingny. Kren.. kren.. seru jg’ .. Tiff ny kuat bnget dsni.. dtnggu krya slnjtny thor, saat stlah hiatus.. fighting..

  2. Hah ff absurd? Kenapa author biasa beranggapan seperti itu hah? 😂😤
    Sumpah thor,ajegilee… udh mah ff nya pake otp favorite,haesica-sifany,bikin nangis,merinding bacanya,serasa perasaan aku itu diaduk2 pas baca ff ini..,berasa ngerasain perasaan tiffany sama jessica disini,duh siwon oppa aku jadi pengen ngasah piso deh 😂🔪,feel nya ngena banget,apalagi ini terinspirasi lagu gravity,aduh kenapa harus gravity?,huahhahhahahhaa 😂😂😂😂😂
    Tanggung jawab loh thor😂,kece gilaaaaa i love you lah author😘,terus berkarya yah? Ditunggu ff selanjutnya^^ 파이팅!

  3. Biasanya aku bukan seorang penggemar ff bergenre angst, tapi mungkin pengecualian untuk ff ini. Two thumbs up buat authornya, feel nya dapet banget bener-bener kebawa emosi. Siwon is such a jerk. Jadi disini tiff kena depresi karena anaknya meninggal, ide cerita di ff ini ga pasaran, dan menarik untuk diikuti. Untung cuma oneshot ga sampe chapter kalo gak pasti udah dibuat penasaran sama ff ini haha goid job deh buat authornya ditunggu karya selanjutnya. Keep writing,hwaiting! ^^

  4. Pas buka ini blog dan liat ad tulisan GRAVITY langsung aja dibuka, kirain cuman sekedar judulny aja yg sama ama lagu kesukaan GRAVITY, ternyta emng terinspirasi dri it lagu. 😂

    Duuuhhhh, feel ny ngena bgt -,-
    Tapi sayang gk happyend ya. Ceritanya emng pas bgt ma laguny, gila, sumpah. Kereen thor!!

    yak, pada hiatus semua authorny, makin sepi dong blog ny. -,-
    Pi klo emng hiatus ny karena kesibukan gk papa sih, soalny author kan juga punya keseharian sama kyk yg lain punya kesibukan lain yg lebih diprioritas kan. See u well, semangat thor!! semoga tali silaturahmi ny ttp jalan y disosmed lain.😂

  5. Sad ending yaa? Hmm sedihh siwon banyak amat cwenya udh tiff eh jess lagi ujung”nya tiff ama jess milih buat tinggalin siwon tobat deh

  6. Lagunya Mbak Jess emang inspiring banget. Ditambah ada ff begini, makin sedih lah lagu gravity itu.
    Ffnya sukses bikin saya keep scroll down sampe akhir. Authornya daebak!

  7. i dunno.. rasanya nyesek tau bacanya:’
    emesh sama siwon oppa sungguh 😭 kasihan tiff unniee hueeee dan jessi unnie juga hngg😢 tapi jess unnie kembali ke haeppa. but tiffany unnie? dia yg paling terluka 😭 siwon oppa arghhhh ditunggu ff lainnya,hwaiting!!

  8. Kesel sama siwon disini arrrgghhhh… gak suka sifatnyaaa 😑😑😑 author hebat buat aku pen ngebejek siwon disini… awrr.. aku suka ff nya tapi gak suka karakter siwon disini 😭😭😭 trus berkarya thor !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s