(AR) Red Door Part 2

Red Door

1453289682163

Sifany Horror Story

@echa_mardian

Main cast : Choi Siwon, Hwang Tiffany

Other cast : Cho Kyuhyun, Im YoonA, Jung Jessica, Lee Dongwook, Park Leeteuk, Kim Taeyeon

Genre : Mystery, Hurt, Romance, Angst

Rating : PG 17+

Disclaimer :

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

“Big thanks untuk Manda Meilinda. Posternya sangat bagus dan memuaskan J

Part 2

 

 

Lobi tiba-tiba saja menjadi ruang makan bagi Tuan Song Hwan serta kedelapan tamunya. Tiffany tidak beranjak dari sisi Siwon sementara matanya tidak beranjak dari wajah sumringah pemilik motel tersebut. Pria jangkung tersebut menikmati makanannya sendirian di balik meja resepsionis, tampak tidak mengacuhkan suara petir yang bersahutan di luar sana. Tiffany menelan ludahnya dengan susah payah ketika matanya terpaku pada hidangan di atas meja.

Sekilas berbagai makanan yang berbahan dasar ayam, daging, lobak, kacang-kacangan, kentang, serta berbagai macam sayuran lainnya itu terlihat sangat menggiurkan bagi Tiffany. Tuan Song Hwan sepertinya sangat tahu kalau Tiffany tidak menyukai ikan dan sejenisnya. Jessica dan Yoona pasti kecewa karena mereka sangat menggilai seafood, pikir Tiffany.

“Makanan yang benar-benar lezat!” seru Yoona lalu menjilati telunjuknya dengan gaya sensual. Tentu saja ia hanya menunjukkannya kepada Kyuhyun. Kyuhyun pun membalasnya dengan kecupan singkat di rahang kiri gadis itu. Tiffany tersenyum pahit kemudian menunduk memperhatikan piringnya sendiri yang masih penuh makanan.

Tidak biasanya Yoona bersikap genit di depan kami, batin Tiffany. Ia mengaduk-aduk nasi dan potongan daging kuah karinya.

“Hei, kau harus menghabiskan makananmu,” tegur Siwon. Tiffany mengangkat kepalanya lalu menatap pria itu.

“Sepertinya kau sangat menikmati hidangannya,” gumam Tiffany. Kemudian ia melirik takut-takut pada Song Hwan yang berdiri cukup jauh dari mereka dan menarik Siwon agar mendekat. “Apa kau yakin makanan ini steril?” bisiknya di telinga Siwon.

Siwon tersenyum tipis. “Setidaknya aku tidak menemukan belatung atau serangga mati di dalam mangkukku.”

Siwon tidak bermaksud menakuti Tiffany, hanya menggodanya saja. Namun ia mendapatkan pukulan keras di belakang kepalanya. Tiffany memang tidak bisa diajak bergurau saat ini.

“Kau membuat selera makanku hilang lagi. Sial!” gerutunya. Siwon terkekeh. Ia bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi pertengkaran di dalam hidup mereka.

“Jangan lewatkan makan lagi hanya karena aku. Forgive me,” ucapnya kalem.

Tiffany mengabaikan Siwon. Pria itu ada benarnya. Bisa-bisa ia sakit di tempat menyeramkan seperti ini dan membuat teman-temannya semakin kerepotan. Tiffany pun memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya.

“Sepertinya kalian berdua sudah akrab,” terdengar Dongwook berkomentar. Ternyata sejak tadi ia, Jessica, dan Taeyeon memperhatikan mereka sambil terkekeh geli. Tiffany menatap mereka tajam.

Shut up!” desis Tiffany sebal.

Tiba-tiba langit kembali menggelegar, membuat kekesalan Tiffany menguap ditelan ketakutannya. Siang ini angin tidak berhembus, tetapi rasanya dingin sekali. Intensitas curah hujan tidak menyurut, bahkan semakin deras. Tiffany menghela napasnya. Kalau cuaca seperti ini terus, bisa-bisa mereka akan terjebak lebih lama.

Kegusaran Tiffany dapat dirasakan oleh Siwon. Pria itu kembali meliriknya dalam diam, mengabaikan obrolan teman-temannya yang lain tentang bagaimana lezatnya hidangan di hadapan mereka. Siwon sendiri sudah sangat tidak nyaman berada di motel ini. Lalu sembari berpikir, Siwon menatap pintu utama motel. Pandangannya menerawang keluar, dimana semua objek di depan bangunan terhalang oleh derasnya hujan. Yang dapat dilihat Siwon hanya air hujan dan uap yang ditimbulkannya.

“Ada apa, Siwon?”

Siwon menoleh cepat ke arah Leeteuk setelah pria itu berhasil membuyarkan lamunannya.

“Eng, Hyung. Sepertinya aku akan mencari bantuan. Kita tidak bisa hanya menunggu disini tanpa berusaha,” ujar Siwon serius. Tanpa disadarinya, semua mata kini mengarah pada Siwon. Suaranya memang sedikit keras yang membuatnya menjadi pusat perhatian.

Tiffany jelas senang dan mendukung ide Siwon. Senyumnya pun merekah.

“Aku setuju dengan Siwon!” tukas Tiffany kemudian memandangi wajah tiga sahabat perempuannya satu persatu.

Taeyeon, Jessica dan Yoona mengangguk ragu.

“Tapi…tidak ada jalan alternative, Siwon. Jalan menuju kota telah terhalang tanah longsor,” Dongwook berkata.

“Kita belum melihatnya dengan mata kepala sendiri, Hyung. Aku akan melihat keadaan disana atau jika keadaan tidak memungkinkan, aku akan kembali ke jalan menuju tampat Seohyun.”

Kyuhyun terkekeh, begitupun dengan dua pria lain.

“Siwon Hyung, jika kembali ke tempat Seohyun, kau akan sampai disana saat makan malam. Itu kalau kau menempuh jalan dalam cuaca yang baik-baik saja. Jika sekarang kau kesana, kau akan sampai larut malam. Kau tidak ingin mengambil resiko kan, Hyung?”

Tiffany mendecakkan lidah. “Daripada kita terkurung di tempat seperti ini, lebih baik aku sampai larut malam di kediaman Seohyun.”

Kyuhyun melempar pandangan tak senang pada Tiffany yang keras kepala.

Sesaat suasana hening. Kyuhyun kembali memandangi Yoona sambil mengelus pinggang kekasihnya tersebut. Sementara Tiffany menyelesaikan makanannya. Ia menyadari kalau sikap Kyuhyun mulai menyebalkan baginya. Siwon mendadak bimbang. Kyuhyun ada benarnya. Perjalanan dari tempat Seohyun kemarin menuju motel ini memakan waktu kira-kira 5 jam sebab jalanan yang tidak rata serta berlumpur. Apalagi disaat hujan deras seperti ini.

“Boleh aku tahu ada masalah apa disini?”

Suara dingin itu sukses membuat Tiffany dan yang lainnya terlonjak kaget. Kenapa tidak? Sosok tinggi jangkung dengan wajah tampak bodoh itu tiba-tiba saja berdiri di belakang Siwon tanpa satupun dari mereka menyadarinya. Tiffany tidak merasakan pegal di lehernya ketika mendongak menatap pemilik motel itu.

“Apa makanannya tidak enak?” tanya Song Hwan. Tiffany buru-buru menunduk menatap piringnya lagi.

“Tentu saja enak, Ahjusshi!” jawab Jessica seraya tersenyum. “Temanku hanya sedang berdiskusi mengenai cuaca diluar.”

Mata kelam Song Hwan menilik tamunya satu-persatu. Ada rasa penasaran tersirat disana. Kemudian ia menyeringai.

“Cuaca diluar sangat ekstrim. Aku sarankan pada kalian agar tetap berada di kamar masing-masing…seperti tamu lainnya.”

Siwon menyipitkan mata ke arah pria itu. “Seperti tamu lain? Apa maksudmu tamu-tamu yang mengurung diri di kamar sejak kami berada disini? Aku bahkan tidak yakin kalau kamar lain benar-benar penuh.”

Song Hwan menatap tajam Siwon.

“Bukankah teman-temanmu melihat anak perempuan di atas sana?” tanyanya dingin, kemudian matanya beralih menatap Jessica. “Benar kan, Nona Jung?”

Jessica menganggukkan kepalanya dengan ekspresi polos. Tiffany mengernyit heran.

“Kenapa dia tahu?” tanya Tiffany pada Jessica. Sahabatnya itu mengangkat bahu.

“Tadi kami sempat berbincang sedikit ketika membantunya memasak, Fany-ah.”

Tiffany ingat kalau tadi ia pingsan ketika teman-temannya membantu Song Hwan memasak. Tapi tetap saja rasanya begitu janggal melihat Jessica mengakrabkan diri dengan pemilik motel yang aneh itu.

“Aku bisa mengendarai mobil di sekitar sini untuk bertanya kepada warga apakah ada jalan lain menuju Seoul,” tukas Siwon lalu berdiri. Ia benar-benar serius dengan ucapannya.

Semua orang terdiam sebab Siwon dan Song Hwan saling menatap satu sama lain. Tiffany tahu kalau Siwon adalah pribadi yang pemberani. Sosok Song Hwan yang cukup misterius itu bukanlah halangan bagi Siwon untuk keluar dari tempat ini. Lalu Siwon menunduk untuk menatap Leeteuk.

“Hyung, apa kau ikut denganku?”

Leeteuk menatap Siwon ragu, lalu meminta pendapat pada teman-teman lainnya lewat tatapan mata saja. Sepertinya yang setuju dengan rencana Siwon hanyalah Tiffany.

“S-sebenarnya aku bisa saja ikut denganmu tapi…sepertinya ucapan Tuan Song ada benarnya.”

Tiffany mengangkat kedua alisnya. “Oppa, apa kau takut?”

Leeteuk menoleh cepat pada Tiffany. “Apa? Takut? Tsk, yang benar saja, Fany-ah. Untuk apa aku takut? Aku hanya tidak ingin mengambil resiko dan membuang-buang waktu.”

“Justru berdiam diri di dalam motel ini yang membuang-buang waktu! Kita tidak tahu pertolongan apa yang ada diluar sana jika hanya berdiam diri disini!” suara Tiffany mulai meninggi. Siwon mengusap bahu Tiffany dengan lembut.

Taeyeon, Jessica dan Yoona menatap Tiffany dengan gelisah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sepertinya.

“Sudahlah, biar aku saja,” ucap Siwon.

“Tidak, aku akan ikut denganmu kalau begitu.”

“Jangan, Tiffany. Kau seorang perempuan—“

“Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Menurutku sepertinya lebih aman diluar bersamamu daripada mengurung diri disini.”

Siwon menghembuskan napas berat. “Tiffany, akan lebih aman jika kau bersama Taeyeon, Jessica, dan Yoona. Kau bisa beristirahat di kamar.”

“Tapi Siwon—“

“Biar aku yang akan pergi bersama Siwon Hyung!”

Semua mata mengarah pada Kyuhyun. Lelaki tampan itu telah berdiri dan kedua tangannya berada di dalam saku celana. Ia sudah tampak percaya diri untuk ikut bersama Siwon, meskipun beberapa saat lalu ia sempat meragukan rencana sahabatnya itu. Siwon mengangguk lemah, setuju untuk membawa Kyuhyun.

Lalu Song Hwan akhirnya beranjak menjauh. Tiffany sempat mendengar pria itu menggerutu sambil mengucapkan, “Dasar keras kepala.”

Tiffany tidak peduli. Ia hanya berharap Siwon dan Kyuhyun kembali dengan membawa berita baik.

**

 

 

“Brengsek!”

Tiffany sedikit terkejut mendengar umpatan panas Siwon. Pria itu juga menendang roda depan mobil milik Leeteuk. Ia tidak peduli tubuhnya yang sudah basah kuyup akibat guyuran hujan lebat. Terang saja Siwon jengkel. Dua dari empat ban mobil Leeteuk bocor tersayat sesuatu yang tajam, seperti ada yang sengaja melakukannya. Leeteuk menatap mobilnya dengan wajah sedih. Sialnya ia hanya membawa satu ban cadangan.

“Bagaimana ini? Siwon, apa kau yakin kemarin roda mobilku baik-baik saja?” tanya Leeteuk.

“Tentu saja, Hyung.”

Lalu Kyuhyun keluar dari mobilnya. Wajahnya sama masamnya dengan Leeteuk.

“Mobilku mogok. Sepertinya aki bermasalah.”

Siwon mulai mengumpat lagi. Ia bertolak pinggang seraya menatap Kyuhyun. “Apa kau membawa dongkrak dan ban cadangan?”

“Hanya ban cadangan.”

“Siwon, kenapa kita tidak meminjam mobil Tuan Song saja?” tanya Leeteuk. Tangannya menunjuk sebuah mobil pick up tua yang terletak di samping motel. Siwon menatap ragu. Ia yakin mobil itu sudah berumur lebih dari 10 tahun dan sangat kotor. Siwon berdecak malas.

“Apa kau yakin pria itu bersedia meminjamkan mobilnya?”

“Coba saja, Hyung!” tukas Kyuhyun.

Para gadis serta Dongwook yang sejak tadi memperhatikan mereka dari teras ikut merasa gelisah, terutama Tiffany. Banyak sekali halangan untuk mereka pergi dari tempat ini. Dan kerusakan mobil Leeteuk serta Kyuhyun seolah melengkapi segalanya.

“Bagaimana sekarang?” tanya Tiffany saat Siwon, Kyuhyun dan Leeteuk kembali ke teras. Tubuh mereka seperti baru saja diceburkan ke kolam. Tiffany mengabaikan cetakan perut six pack yang terpampang jelas di tubuh Siwon, dan mencoba berkonsentrasi menatap wajahnya. Kilasan percintaan mereka di bawah shower kembali menggoda pikirannya. Damn it!

“Kalian masuklah! Aku akan meminjam mobil Tuan Song Hwan,” ujar Siwon tanpa menjawab pertanyaan Tiffany, tetapi secara tidak langsung ia telah menjelaskan maksudnya kepada gadis yang bertanya itu.

Semuanya mengikuti Siwon masuk ke motel. Tiffany tidak berkomentar apa-apa mengingat wajah Siwon yang serius. Mereka semua berjalan menuju meja resepsionis dan menyaksikan Tuan Song sedang mengusap leher kucing hitamnya dengan lembut. Taeyeon mengingat kucing yang tidak ramah itu.

“Maaf, apa kami boleh meminjam mobilmu?” Siwon bertanya to the point.

Tuan Song melepaskan kucingnya lalu memandangi Siwon. “Mobilku tidak memiliki banyak bahan bakar. Apa kau yakin ingin meminjamnya?”

Siwon menghela napas berat. Ia tidak tahu dimana tempat pengisian bahan bakar di tempat terpencil ini. Walaupun Tuan Song menunjukkan dimana mereka bisa mendapatkan bahan bakar, Siwon tidak yakin ia bisa menemukannya dengan mudah.

“Baiklah, kalau begitu apa kau memiliki dongkrak?”

Tuan Song terdiam sebentar, seperti sedang menimbang apakah Siwon adalah orang yang dapat dipercaya. Ia melirik sekilas pada Kyuhyun dan Leeteuk yang sama basahnya dengan Siwon, kemudian tersenyum tipis.

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Mereka semua membiarkan Tuan Song masuk ke dalam ruangannya. Tiffany langsung menarik sebelah tangan Siwon, membuat pria itu menatapnya.

“Siwon, kau harus mengganti rodanya dengan cepat, arraseo?”

“Ck, jangan mengaturku, Nona. Dan kau, lebih baik masuk ke dalam bersama yang lain sebelum membeku kedinginan disini.”

“Tapi aku ingin melihat—“

“Tidak. Kau harus kembali ke dalam. Kau boleh melihatku dari jendela.”

Tiffany bungkam. Entah mengapa ia ingin selalu berada di dekat Siwon. Bukan karena apa yang telah mereka lalui disini, tetapi karena aura yang dirasakannya jika berjauhan dengan Siwon sangat membuatnya tidak nyaman.

 

 

Tiffany POV

 

Tidak ada cara lain untuk membuat diriku sendiri nyaman. Aku memeluk diriku sendiri yang dilapisi mantel bulu tebal milik Jessica—sialnya aku tidak membawa mantel yang cukup tebal—dan berdiri di tepi jendela. Mataku tidak lepas memandangi ketiga lelaki di bawah sana sedang membantu Siwon mengganti roda mobil Leeteuk Oppa. Walaupun sebenarnya yang bekerja keras hanyalah Siwon, kurasa. Dongwook Oppa dan Kyuhyun hanya membantu Siwon dan Leeteuk Oppa sekedarnya.

Huft, melihat usaha Siwon di tengah hujan lebat begini membuatku pesimis ia akan menyelesaikannya sampai nanti sore. Ditambah lagi dengan dongkrak usang yang digunakan Siwon. Aish, aku ikut merasa kalut saat ini.

“Hendak kemana lagi, Jessica?”

Aku memutar tubuhku ketika mendengar suara Taeyeon memecah keheningan kamar. Taeyeon dan Yoona duduk di sofa sementara Jessica sudah berdiri di dekat pintu. Sebelah tangan kurusnya bertumpu pada handle pintu. Wajahnya tampak tidak peduli dengan pertanyaan Taeyeon.

“Apa Eonnie ingin mengetuk pintu kamar tamu lain lagi?” tanya Yoona. Aku masih memandangi Jessica.

“Tidak. Kalian tahu, aku bosan sekali jika disuruh menunggu seperti ini. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke belakang motel ini. Dongwook Oppa berkata kalau di bagian belakang motel ada berbagai hal menarik. Jadi aku tidak akan membuang-buang waktu duduk disini sampai mereka kembali,” jelas Jessica dengan nada suara menyebalkan, menurutku. Kenapa sih gadis ini selalu penasaran?

“Hal menarik katamu? Apa itu?” Taeyeon bertanya. Aku mendelik heran mengetahui ada nada penasaran tersirat dalam suaranya.

Jessica menyeringai. “Ya…kita tidak pernah tahu jika bokong manis kalian masih setia duduk di sofa lusuh itu,” ujarnya sarkatis. Lalu matanya beralih menatapku dingin. “Bagaimana denganmu? Tidak ada salahnya bersenang-senang sebelum pulang. Siapa tahu setelah Siwon Oppa mendapat bantuan kita akan langsung pulang.”

Aku tersenyum kecut. “No, thanks.”

Namun kulihat Taeyeon berdiri. “Kalau begitu aku ikut. Yoong, ayo!”

Mulutku terbuka kaget. “Taeyeon?”

Taeyeon mengangkat bahunya. “Aku juga bosan, Fany-ah. Kalau kau tidak ingin ikut, tidak apa-apa. Kau bisa menunggu mereka disini.”

Kemudian aku menatap Yoona, ingin tahu apakah ia akan menuruti ajakan Jessica dan Taeyeon. Aku tahu kalau gadis ini tidak akan tega membiarkanku sendirian di kamar Taeyeon yang cukup menyeramkan ini. Well, sebenarnya semua bagian motel ini menyeramkan bagiku.

“Yoona, kau akan tetap disini.”

Awalnya ekspresi Yoona tampak tidak nyaman, tetapi aku semakin dibuat terpana saat ia bangkit dan berdiri di samping Taeyeon. Apakah ketiga sahabatku sudah tidak waras?

“Eonnie, berjalan-jalan keluar tidaklah buruk. Kita bisa menyegarkan pikiran. Lagipula aku ingin sekali menghirup udara segar.”

 

 

 

Jadi disinilah aku. Berjalan beriringan dengan mereka dengan hati menggerutu. Aku tidak melepaskan tangan Yoona yang setia berjalan di sampingku, sedangkan Jessica dan Taeyeon memimpin di depan. Saat ini sudah lewat pukul 2 siang tetapi cuaca di luar tidak lebih baik. Para gadis ini mengatakan kalau mereka butuh penyegaran dengan berjalan-jalan di luar. Jika cuaca ekstrim begini, kira-kira penyegaran apa yang akan mereka dapatkan?

Aku melihat ke kanan dan kiri, masih tetap kaku dan dingin. Pintu-pintu tamu lain masih tertutup rapat seolah-olah tidak pernah dibuka selama puluhan tahun. Aku menahan getaran tubuhku ketika merasakan telapak kakiku semakin dingin menyentuh lantai.

Sial, kenapa aku bersedia ikut dengan mereka? Aku pun tidak tahu apakah lebih baik tetap sendirian di kamar atau ikut dengan para gadis keras kepala ini. Aku menatap ke bawah. Sesekali lantai yang kami pijak itu berderit. Aku penasaran sudah berapa lama bangunan ini berdiri.

“Dongwook Oppa tadi memberitahuku kalau di belakang motel ada taman bunga yang cukup terawat. Apa kau percaya itu, Taeng-ah?”

“Ya/tidak.”

Aku dan Taeyeon menjawab bersamaan. Jessica menoleh ke belakang dan mencibir kepadaku. Ya, setidaknya di suasana menegangkan seperti ini Jessica masih ada niat beradu argumentasi denganku.

“Fany-ah, cerialah sedikit. Aku yakin kau bisa melupakan mimpi burukmu itu setelah kita berada disana,” ujarnya.

“Semoga,” jawabku singkat, setengah berharap.

“Jadi, seperti apa mimpimu itu, Eonnie?”

Aku menoleh sebentar pada Yoona lalu menggeleng. “Aku tidak ingin mengingatnya, Yoong. Mimpiku benar-benar tidak biasa. Lagipula aku tidak mengingat semuanya.”

Yoona mengusap lembut punggung tanganku. “Tenanglah, Eonnie. Kami akan selalu di sampingmu.”

Aku mencoba menenangkan diriku sendiri setelah mendengar ucapan Yoona. Setidaknya ia lebih mengerti diriku daripada dua gadis di depanku sekarang. Yang dibutuhkan seseorang yang sedang tidak berdaya adalah persahabatan dan cinta, benar?

Tanpa kusadari kami telah sampai di lantai paling bawah. Jessica menunjuk ke arah sebuah pintu yang aku rasa menuju ke bagian belakang motel. Saat melintasi meja resepsionis aku bisa melihat kucing berbulu hitam itu duduk dengan tenang sementara matanya mengawasi kami berempat. Tuan Song itu tidak terlihat lagi.

“Wow, daebak! Aku berani bertaruh kalau lukisan ini sudah berusia hampir seratus tahun!”

Seruan Yoona membuatku menoleh padanya. Kami melewati sudut lobi menuju pintu belakang, dan disana terpajang sebuah lukisan berukuran besar di dindingnya. Seperti halnya dengan Yoona, Taeyeon dan Jessica juga tampak tertarik dengan lukisan tersebut. Mau tak mau aku ikut memperhatikan benda itu.

Kesan pertamaku adalah indah. Lukisan itu tidak mempunyai arti yang banyak, mungkin, tapi aku suka dengan pemandangannya. Perpaduan warnanya juga lebih natural dan tidak norak. Seperti sedang memandang alam senja yang jingga dan menenangkan hati.

Ditambah lagi dengan figure seorang gadis berambut hitam di dalamnya. Gadis yang tersenyum begitu cantik. Gadis yang…hei, gadis itu memiliki mata sepertiku. Aku mendapati diriku tertarik lebih dalam pada lukisan tersebut. Ya, matanya ikut tersenyum bersama bibirnya. Tiba-tiba saja aku ingin tahu siapa gadis di dalam lukisan ini.

“Oh, lukisan ini! Leeteuk Oppa berkata lukisan gadis eye smile ini juga ada di salah satu gudang tidak terpakai di motel. Tapi aku tidak tahu persis gudangnya dimana. Leeteuk Oppa hanya memberitahu kalau pintu gudangnya berwarna merah,” kata Taeyeon. Aku langsung menoleh kepadanya.

“Leeteuk Oppa mengatakan tentang lukisan ini kepadamu? Memangnya tidak ada pembicaraan lain?” sindirku padanya.

“Itu karena dia tahu kalau aku menyukai seni lukis dan menggambar!” tandasnya tidak terima. Aku terkekeh pelan. Taeyeon pasti tahu kalau aku hanya bergurau.

“Apakah kalian tidak merasa kalau gadis di dalam lukisan ini mirip dengan Tiffany?” ujar Jessica tiba-tiba. Ya, pemikiran kami sama.

Taeyeon dan Yoona diam sejenak kemudian menganggukkan kepala.

“Wajahmu pasaran, Hwang. Hihihi!”

“YAACK JESSICA JUNG!”

 

 

Author POV

 

“Jadi, ini ruangannya?”

“Sepertinya begitu, Yoong. Kau lihat, cat pintunya berwarna merah.”

Yoona mengangguk mendengar jawaban Jessica. Lalu Taeyeon yang terlebih dahulu menuruni tangga dan menyentuh pintu tersebut. Tiffany tidak bergerak dari tempatnya. Ia berdiri di tangga paling atas, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cemas. Suasana di bawah sana tampaknya tidak lebih baik dari suasana di luar ini. Kalaupun mereka ingin melihat taman bunga, tidak ada gunanya jika hujan masih turun dengan deras. Pilihan terakhir dan paling aman memang tetap tinggal di kamar.

“Hei, dengar. Menurutku kita tidak diperbolehkan sembarangan masuk. Aku berani bertaruh kalau di ruangan itu pasti banyak tikus, kalajengking bahkan ular!” seru Tiffany tiba-tiba, sebelum ketiga temannya melangkah lebih jauh.

Taeyeon, Jessica dan Yoona hanya diam menatap Tiffany.

“Ck, percayalah padaku. Lebih baik kita kembali ke kamar atau mungkin kita bisa melihat para lelaki memperbaiki mobil,” usul Tiffany pura-pura ceria.

Namun sepertinya gagasan gadis itu tidak diterima oleh ketiga gadis lainnya. Terbukti saat mereka tetap turun dan mendekati pintu tersebut. Tiffany mendesah pasrah. Ia sangat membenci keadaan ini, dimana ia tidak bisa mengontrol semua orang.

Kreeeek…

Suara derik pintu terdengar menggema di dalam gudang. Taeyeon masuk terlebih dahulu, disusul oleh Yoona. Ajaibnya, si penakut Jessica justru tampak kegirangan saat ini. Tiffany menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Tidak mungkin ia berdiri sendirian di tepi gedung motel itu. Tidak ada pilihan lain, akhirnya Tiffany ikut turun.

Udara dingin menusuk Tiffany semakin dalam. Gadis itu memeluk dirinya sendiri, menyesal karena tidak mengenakan mantel yang lebih tebal. Tiffany tidak dapat bohong bahwa dirinya gemetar ketakutan sekarang. Kakinya melangkah perlahan menuju pintu. Tiffany dapat melihat lampu pijar berwarna kuning menerangi ruangan gelap tersebut. Ia menelan ludah dengan susah payah. Kenapa tiba-tiba jantungnya memompa darah semakin cepat?

Sambil menggigiti bibir bagian bawahnya, Tiffany mendorong pintu merah yang masih terbuka sedikit. Kesan pertamanya terhadap ruangan itu sangatlah buruk. Kumuh, gelap, menyeramkan, dan sempit. Tiffany menggerutu dalam hati. Apakah pemandangan ini sangat menarik bagi teman-temannya?

Well, setidaknya Tiffany melihat satu keindahan yang terpajang di dindingnya.

“Benar, lukisan yang ada di lobi tadi juga ada disini. Memang sangat indah,” komentar Yoona.

Tiffany segera menghampirinya.

 

 

Tiffany POV

 

Hebat! Gadis di dalam lukisan ini memang benar-benar mirip denganku. Dagunya, struktur rahangnya, bibir serta hidungnya sama persis. Terutama sepasang mata yang ikut tersenyum bersama bibirnya tersebut. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni. Tetapi dengan melihat lukisan ini, aku bisa mulai menyukainya.

Perlahan tangan kananku terangkat. Entah kenapa, aku ingin sekali menyentuh lukisan ini, merasakan kasarnya permukaan kanvas yang berdebu tebal. Kira-kira berapa umur lukisan ini? Motel ini saja sudah sangat kuno, kemungkinan besar sama halnya dengan lukisan ini.

Akhirnya ujung-ujung jariku menyapu permukaan lukisan. Bisa kurasakan debunya bergesekkan dengan kulit halusku. Wah, tidak kusangka kalau lukisannya timbul. Catnya seperti bertumpuk-tumpuk di setiap torehan garisnya. Aku tidak mengerti tentang lukisan, tapi apakah ini disebut dengan lukisan 3D?

Jari-jariku menjalar menuju tubuh gadis di dalam lukisan. Mataku terpaku pada matanya. Meskipun aku masih mendengar sayup-sayup suara temanku di ruangan ini, aku masih bisa fokus pada lukisan di hadapanku.

Mata gadis di dalam lukisan seolah-olah sedang menatapku balik, sehingga membuatku terpaku. Aku seperti berhadapan dengan seseorang sekarang. Setidaknya karena kontak mata kami. Ini benar-benar konyol. Kenapa aku langsung memiliki semacam kontak batin dengan gadis di dalam lukisan ini? Apa karena aku menatap matanya dengan intens? Tetapi bukankah semua lukisan atau gambar seperti itu?

Lalu sesuatu yang aneh melandaku. Ini bukan perasaan mengerikan, lebih tepatnya terkejut. Tapi sepertinya sesuatu sedang berhembus di tengkukku.

Kepalaku menoleh dengan cepat ke belakang. Aku tidak melihat siapa-siapa melainkan ketiga temanku yang kini tengah mencari tahu isi sebuah lemari. Kembali kutolehkan kepala ke depan. Awalnya pandanganku tak fokus pada gadis di dalam lukisan, namun setelah titik pandangku telah sepenuhnya kesana, aku tercekat.

Bukankah gadis itu tadi tersenyum? Setidaknya sejak pertama kali aku melihatnya, gadis di dalam lukisan memang tersenyum. Tapi kenapa saat ini wajah gadis itu terlihat suram? Aku menelan ludah. Ini nyata karena lukisan yang kulihat masih sama seperti yang tadi.

Tiba-tiba pendengaranku terasa berdengung. Aku tidak lagi mendengar suara Taeyeon, Jessie dan Yoona. Yang terdengar hanya suara nafasku sendiri. Aneh, bahkah kepalaku tidak dapat menoleh ke belakang lagi! Ingin sekali aku menutup mata agar tidak bertatapan dengan wajah suram gadis di lukisan. Tetapi faktanya mataku tetap terbuka lebar! Ya Tuhan, ada apa ini?

…kau tidak seharusnya berada disini…pergilah! Cepat pergi!

Tubuhku membeku sempurna. Aku tidak mendengar suara lain kecuali nafasku sendiri, namun suara siapa yang baru saja kudengar?!

Kau tidak punya waktu lagi. Berlarilah secepat kau bisa! Bawa serta orang-orang yang kau sayangi. CEPAAAT!

Tiba-tiba pandanganku diserang oleh cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya misterius tersebut keluar dari dalam lukisan. Aku mengangkat tangan untuk menutupi wajahku, namun yang terjadi adalah diriku seperti dihisap kuat-kuat ke depan. Aku tidak tahu kenapa tubuhku tidak dapat bergerak sama sekali, padahal ketakutanku sudah melewati batas. Aku harus bertemu dengan Siwon dan memberitahukan hal ini!

Pusaran cahaya menarikku semakin kuat, sehingga aku tidak dapat menginjak bumi dengan sepenuhnya. Tubuhku terasa melayang ringan udara, terombang ambing seperti diputar oleh pusaran angin tornado. Mulutku terbuka untuk berteriak, akan tetapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Atau mungkinkah ini yang disebut dengan kematian?

**

 

Serba hitam dan putih. Seperti itulah pemandanganku sekarang. Saat aku membuka mata, aku seolah sedang berada di dalam televisi hitam putih yang menayangkan serial komedi Charlie Chaplin. Tetapi ini bukan komedi sedikitpun. Suasana yang kurasakan lebih mencengkam dan terasa sunyi.

Mungkin aku hanya bermimpi. Di dalam mimpi biasanya memang seperti ini. Tapi ruangan yang kulihat entah mengapa terasa familiar bagiku. Aku yakin kalau kini aku berada di sebuah kamar. Interior bahkan perabotannya tampak klasik meskipun yang tampak bagiku hanya warna hitam dan putih.

Lalu jantungku tercekat tatkala melihat sosok perempuan yang duduk membelakangiku di atas ranjang. Aku tidak menyadari keberadaannya sejak membuka mata tadi. Rambutnya dikepang dua lalu disampirkan ke depan. Melihat postur tubuhnya mengingatkanku pada seseorang, seseorang yaitu diriku sendiri.

Apakah mungkin? Ya, mungkin saja. Ini adalah mimpi jadi apa saja bisa terjadi. Aku sanggup melihat diriku sendiri kecuali….

“Oh, Istriku! Aku sudah menunggumu di bawah.”

Tubuhku membeku. Pintu kamar itu mendadak terbuka lalu sosok yang membuat saraf-sarafku menegang, masuk dengan santainya. Sosok perempuan yang kucurigai mirip denganku tadi langsung berdiri lalu saling berpelukkan dengan pria itu. Oh tidak, sepertinya aku tidak sanggup melihatnya.

Meskipun tubuhku gemetar ketakutan, aku memaksakan diri untuk melangkahkan kaki agar lebih dekat dengan sepasang insan yang berpelukkan erat tersebut. Tenanglah, Tiffany. Ini hanya mimpi dan semua yang kau lihat adalah khayalan. Aku mencoba menenangkan batinku.

Mataku terpaku pada mereka. Nuansa hitam putih yang menyelubungi membuat rona wajah mereka tidak terlihat. Mataku seolah enggan berkedip saat pria itu mengecup lembut bibir pasangannya.

Mustahil! Siapa yang mempermainkanku kali ini? Tidak mungkin diriku dan Siwon yang kini berada tepat di hadapanku, saling merangkul dan berciuman mesra layaknya sepasang kekasih yang mabuk kepayang!

“Oppa, aku sedikit kelelahan. Tidak perlu makan siang di bawah, ne? Kita bisa meminta pelayan mengantarkan makanan ke kamar.”

Aku menelan ludah. Apa perempuan ini benar-benar diriku?

“Ow, jadi kau masih kelelahan karena aktifitas kita semalam. Hm? Mianhae, jagiya.”

Keningku mengernyit hebat. Menjijikkan sekali! Lalu perempuan itu tersipu malu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.

“Oppa, jangan menggodaku.”

Siwon mengecup bibirnya lagi. “Kalau begitu, aku akan memanggil mereka. Tunggu sebentar, Miyoung-ah.”

Aku tercekat menatap Siwon. Siapa yang dimaksudnya dengan Miyoung? Nama itu sangat tidak asing di telingaku. Tapi dimana aku mendengarnya?

Tanpa kusadari Siwon dan perempuan yang dipanggilnya Miyoung itu kembali berpisah. Siwon membuka pintu kamar dan beranjak keluar. Aku harus mencari tahu dimana aku berada sekarang. Maka tanpa berpikir panjang aku mengikuti Siwon, membiarkan perempuan yang menyerupai diriku tinggal di kamar.

“Hei, hei! Tunggu, jangan tutup—“

Terlambat. Siwon telah menutup pintunya. Sial. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar? Dengan putus asa aku mencoba untuk meraih gagang pintu. Tetapi ajaibnya, tanganku tergantung di udara saat menyentuh benda tersebut. Aku termagu di tempat. Apa aku tidak bisa menyentuh benda disini? Mereka juga tidak melihat keberadaanku. Itu artinya…

Aku bisa menembus pintu kayu di depanku, kan?

“Ya, ini mungkin saja terjadi. Ini hanya mimpi,” gumamku merasa takjub.

Dengan seluruh keberanian yang kumiliki, aku mencoba menempelkan tubuhku ke pintu lalu mendorongnya ke depan. Sayangnya, kekuatanku terlalu berlebihan sehingga aku terjerembab ke depan.

 

 

Author POV

 

Tiffany menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam erat. Untuk sekian detik Tiffany enggan bangun. Tubuhnya masih pada posisi yang sama saat terjatuh di lantai tadi. Telinganya mengangkap suara-suara tawa serta obrolan normal dari orang yang berlalu lalang di sepanjang koridor. Tiffany merasakan kehadiran mereka, namun sebaliknya. Ia seperti kasat mata bagi mereka.

Tiffany memutuskan untuk berdiri. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lalu mengawasi siapa saja yang berjalan di koridor. Tiffany menelan ludah. Ternyata dirinya masih berada di dalam motel.

Namun ada yang aneh disini. Tiffany menelaah satu persatu dari awal. Sebelumnya ia berada di dalam gudang berpintu merah bersama sahabat-sahabatnya. Ia melihat lukisan gadis desa yang sangat mirip dengannya lalu…

Yang diingat Tiffany adalah ia sudah berada di alam mimpinya. Setidaknya hanya itu jawaban yang dapat disimpulkan Tiffany. Lalu jika bukan mimpi, apa yang terjadi padanya? Tiffany tidak mempercayai hal-hal gaib. Baginya ini adalah mimpi yang terasa seperti nyata.

“Aku tidak percaya ini,” bisik Tiffany lirih. Beberapa orang tamu berjalan melewati Tiffany sambil berbincang-bincang dan tertawa. Tiffany hanya diam membisu untuk beberapa menit.

“Apa maksud semua ini? Dan mengapa pria itu tadi memanggil nama Miyoung? Rasanya aku pernah mendengar nama itu.”

Tiffany berpikir keras. Otaknya tiba-tiba buntu saat diperlukan. Tiffany memang tidak sering mendengarnya, tetapi ia yakin pernah memiliki memori tentang nama tersebut. Lalu dari arah kanan, tepatnya dari tangga menuju ke lantai bawah, muncul sesosok pria yang menarik perhatian Tiffany. Pria itu berpenampilan sedikit mencolok diantara para tamu yang dilihat Tiffany.

Wajahnya sangat tampan. Derap langkah kakinya ringan namun tegas. Dari penampilannya terlihat kalau pria ini bukan orang biasa. Semakin dekat ke arah kamar Siwon dan Miyoung, semakin jelas pula Tiffany dapat melihat wajah pria itu. Sejenak Tiffany takjub. Rambutnya yang hitam dan tebal tersisir rapi ke belakang. Kemeja serta jas yang dikenakannya begitu rapi. Tubuhnya tidak setinggi Siwon, namun wajahnya benar-benar terukir sempurna. Sepasang mata yang teduh seolah senjata yang dapat menyihir para wanita. Hidungnya yang tinggi serta bibir yang tipis sangat cocok untuknya jika tersenyum. Seolah Tuhan menciptakan pria ini sambil tersenyum.

Tiffany masih terdiam di tempatnya ketika pria itu mengetuk pintu.

Tidak lama berselang pintu terbuka. Miyoung menyambut pria itu dengan senyuman lebar sekaligus terpukau. Tiffany tidak berhasil menutup mulutnya yang ternganga saat pria itu memeluk Miyoung dengan akrab.

“Donghae Oppa, ayo masuk!”

Kening Tiffany mengernyit. Donghae Oppa? Ia tidak pernah melihat pria itu sebelumnya di dunia nyata. Wajahnya pun masih asing bagi Tiffany. Lalu Tiffany memutuskan untuk kembali masuk untuk mengetahui apa yang akan terjadi di dalam. Sepertinya lebih baik mengawasi Miyoung saat ini.

“Tidak usah, Miyoung. Aku sudah memesan minuman sendiri. Sebentar lagi mereka akan mengantarnya ke kamar ini. Ngomong-ngomong, aku sudah bertemu dengan Jaewon di bawah. Ia sedang memesankan makanan untuk kita bertiga,” ujar Donghae saat Miyoung hendak menuangkan minuman untuknya.

Tiffany mencengkram kepala kursi. Siapa yang dimaksud Donghae dengan Jaewon? Yang memesan makanan ke pelayan adalah Si…tunggu! Apakah Siwon tidak bernama Siwon di mimpi ini?

“Ya, kebetulan kami belum makan siang. Oppa akan menginap juga di motel ini, kan?”

“Tentu saja. Kau tahu Miyoung-ah, perbaikan atap motel ini sangat menyita waktu dan uangku. Appa dan Eomma kita sudah mempercayakan usaha mereka ini padaku. Itu artinya aku harus benar-benar merawat tempat ini. Lagipula aku senang menginap di motel ini. Selain bisa melihat para tamu yang puas dengan fasilitas yang kuberikan, aku juga dapat melihat liburan bulan madu adikku satu-satunya ini.”

Jadi Donghae dan Miyoung adalah kakak beradik.

Tok tok tok

Tiffany ikut menoleh ke arah pintu. Mungkin pria bernama Jaewon telah kembali. Namun Tiffany tidak yakin sebab Donghae berseru agar orang yang baru saja mengetuk pintu itu masuk. Awalnya Tiffany sudah terlihat sedikit santai. Namun saat sepasang kaki kurus itu melangkah ke dalam, mau tak mau Tiffany memandangi wajahnya.

Tiffany merasa, jika ia memiliki penyakit jantung mungkin saat ini ia sudah kolaps. Bagaimana tidak?! Sosok yang baru saja masuk adalah seorang gadis bertubuh kurus, dengan rambut disanggul rendah, tungkai kaki yang panjang serta kepolosan wajah yang sangat dikenal Tiffany.

“Im Yoona!” teriak Tiffany tanpa sadar.

Namun gadis yang diyakini Tiffany sebagai Yoona itu tidak menoleh sedikitpun. Gerakannya seperti robot yang hanya terfokus pada minuman di atas baki aluminium lalu meletakkannya di atas meja. Tiffany mendesah frustasi sambil mendekati gadis berseragam pelayan tersebut.

Tiffany bertekad menyentuhnya.

Namun saat tangan Tiffany hampir menyentuh lengan kurus gadis itu, suara Miyoung menghentikannya.

Kamsahamnida, Hana-ssi.”

Tiffany terpaku dengan tangan yang masih terangkat ke udara. Ia bisa melihat gadis yang dipanggil dengan nama Hana tersebut tersipu malu setelah Miyoung berterima kasih padanya. Tiffany menyerah lagi. Lagipula ia tidak akan bisa menyentuh siapapun disini.

“Hana-ssi, apakah hari ini kau mendapatkan shift malam?” tanya Donghae dengan suara ramah. Aku melirik Donghae dan Hana bergantian. Tatapan pria itu sangat lembut, bahkan dibandingkan kepada adiknya sendiri. Hana tampak menundukkan kepala seraya meremas-remas tangannya. Kening Tiffany mengernyit. Ia mengira ‘Yoona’ tetap menjadi pasangan Kyuhyun Oppa di mimpi ini. Tetapi dari gelagat yang ditunjukkan Donghae, sepertinya pria itu menaruh perhatian kepada gadis manis bernama Hana itu.

Nde, malam ini saya menginap lagi disini, Tuan.”

Donghae menyeringai lebar. Tiffany yakin kalau pria itu sedang senang sekali.

“Kau tahu, Miyoung-ah? Hana-ssi adalah karyawan terfavorite bagiku. Ia sangat sopan dan patuh,” ujar Donghae lebih menyerupai bisikan.

Hana tidak mengangkat kepalanya sedikitpun.

“Sudahlah Oppa, Hana-ssi pasti harus mengerjakan tugasnya yang lain. Jangan menggodanya terus,” tukas Miyoung. Lalu ia menoleh pada Hana. “Benar kan, Hana-ssi?”

“Oh, n-nde. Kalau begitu, saya permisi.”

Hana keluar dari kamar itu dengan sedikit berlari. Sementara Donghae hanya terkekeh geli di kursinya. Tiffany sedikit jengkel dengan sikap Donghae. Bisa-bisanya ia menggoda gadis polos seperti Hana di depan adiknya.

“Oppa, jangan jadikan gadis itu korban sifat player-mu. Aku sangat menyukainya karena sepertinya dia adalah gadis baik-baik. Lagipula dia pernah mengatakan kalau dia sudah memiliki kekasih,” tegur Miyoung pada Donghae. Alih-alih menyerah, Donghae sepertinya merasa lebih tertantang.

“Benarkah? Kalau begitu, baguslah. Sainganku berarti hanya satu pria!” cetusnya senang.

Tiffany meringis tak percaya. “Really? Pria ini menyebalkan,” gerutunya.

“Oppa, aku serius.”

“Ck, sudahlah, Miyoung-ah. Aku hanya ingin menjadi teman dekatnya. Itu saja.”

 

 

Tiffany POV

 

Setelah itu pria yang mirip dengan Siwon, yaitu Jaewon, akhirnya datang diiringi beberapa pelayan yang membawakan troli penuh dengan menu masakan lezat. Aku hanya duduk di sudut ruangan, memperhatikan mereka berinteraksi. Jujur aku benar-benar merasa aku sudah tidak normal. Aku kebingungan di dalam mimpiku sendiri. Tapi apakah ini sungguh bisa dikatakan sebuah mimpi? Aku bahkan tidak tertidur di gudang.

Aku melihat wajah Jaewon, Miyoung dan Donghae bergantian. Siapa sebenarnya mereka? Dan mengapa aku harus hadir di ‘alam’ ini?

Ketika hatiku makin bertanya-tanya, terdengar derit pintu kamar yang terbuka dengan sendirinya. Aku berdiri di seberang ruangan memperhatikan pintu tersebut. Tidak ada siapa-siapa disana. Siapa gerangan yang membuka pintu?

Apa aku harus kesana untuk melihatnya? Siapa tahu pintu itu yang akan membawaku kembali pulang atau setidaknya tersadar dari mimpi konyol ini. Mimpi yang tidak mempunyai tujuan apa-apa serta menyebalkan. Aku tidak perlu takut, kurasa. This is just a dream, right?

Lalu akhirnya aku melangkahkan kaki ke pintu kamar. Ketiga orang yang tengah makan malam itu masih asyik mengobrol. Tentu saja mereka tidak bisa melihatku. Aku pun berdiri di luar kamar dan membiarkan pintu kamar itu tertutup di belakangku.

Sesaat aku mengira, aku telah kembali ke gudang dan bertemu sahabat-sahabatku. Tapi nyatanya, aku masih berada di mimpi ini. Bahkan yang semakin aneh, keadaan di luar sangat sepi. Tidak ada para tamu yang berlalu lalang seperti yang kulihat tadi. Dan semua jendela tertutup.

Aku menelan ludah. Rambut halus di tengkukku otomatis berdiri. Aku tidak ingin bermimpi hantu lagi. Ya Tuhan, aku harus kembali ke dalam kamar. Setidaknya aku aman bersama mereka. Ternyata keputusanku salah telah keluar dari kamar itu.

Dan saat aku berbalik, tubuhku tidak dapat menembus pintu, seperti yang kulakukan saat menyusul Jaewon. Aku juga tidak berhasil memegang gagang pintu. Oh shit, bagaimana ini? Aku tidak ingin mati konyol di mimpi ini!

Teng…teng…teng…

Tubuhku seperti dipeluk oleh ketakutanku sendiri tatkala dentang jam dinding menggema di seluruh koridor. Napasku terengah-engah saat dengan liarnya mataku menatap jam tersebut. Tepat pukul 12. Tunggu! Apa saat ini sudah tengah malam? Kenapa waktu cepat sekali berlalu?

Seperti belum puas menakutiku, suara burung hantu dan serangga malam pun bersahutan di luar sana. Aku tidak bisa terus menerus di koridor ini. Tapi apa yang harus kulakukan?

Tolooooong! Hiks. Jangan sakiti aku…aku mohon Sajangnim.”

Tubuhku menegang. Su…suara siapa itu? Aku berdiri kaku di depan pintu, menggunakan telingaku dengan lebih cermat. Suara tangisan lirih itu seakan terbawa oleh angin dan mendayu-dayu di telingaku. Sekali lagi tanpa rasa bosan, aku mengingatkan diri sendiri bahwa ini semua adalah mimpi. Tidak ada yang akan bisa mencelakaiku, benar?

Jika kau berteriak sekali lagi, aku tidak akan segan-segan mencekikmu, Sayangku.”

Oh…ada dua suara? Aku yakin ada dua suara karena yang baru saja kudengar adalah suara laki-laki, sedangkan yang tadi rintihan perempuan. Hatiku sedikit lega, itu artinya bukan suara hantu. Tapi suara-suara itu terdengar cukup dekat. Aku bahkan bisa mendengar getaran ketakutan di suara perempuan tadi.

Aku berjanji akan diam, Sajangnim. Asalkan kau melepaskanku. Hiks, jebal.”

Jantungku berdetak tak beraturan. Suara perempuan itu sangat menyayat hati. Dan sialnya terdengar tidak asing di telingaku. Apa aku harus mencari dimana sumbernya? Aku takut kalau perempuan ini benar-benar membutuhkan bantuan.

Kakiku melangkah ke ujung koridor, mendekati suara tangisan perempuan tersebut. Sekilas aku melirik pintu kamar 14, 15,16 dan akhirnya sampai di pintu 17. Suara tangisan terdengar sangat jelas di depan pintu ini. Selain itu aku juga mendengar suara desahan laki-laki yang bersahutan dengan suara isakan si perempuan.

Mengeranglah, Sayangku. Katakan kalau kau adalah milikku.”

Apa? Brengsek! Bukankah itu suara Donghae? Telingaku masih sehat jadi aku yakin suara yang baru saja terdengar adalah suara Donghae! Dan suara perempuan yang sepertinya kesakitan itu adalah…Hana?

Untuk sesaat aku masih berdiam diri di depan pintu kamar tersebut, menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Hana terus memohon pada Donghae agar tidak menyakitinya lagi, sedangkan nada suara Donghae menyiratkan kepuasan serta ancaman.

“Aku yakin Donghae memperkosa Hana. Ya. Ta…tapi bagaimana caranya aku menolong Hana?” desisku panik. Keringat dinginku mulai mengalir deras. Suara tangisan dan permohonan Hana memacu adrenalinku. Lalu kutatap pintu kayu yang ada di hadapanku.

Jika aku menerjangnya saja, apakah aku akan berhasil. Tiffany, kau harus mencobanya, batinku.

Aku sudah tidak tahan ingin membantu Hana. Entah apa cara yang akan aku gunakan nanti, mungkin aku bisa menjatuhkan benda-benda untuk menakuti Donghae. Semoga Tuhan bersamaku.

Namun seolah mengerti dengan niatku, pintu kamar 17 dengan ajaib terbuka dengan sendirinya. Bagaikan ada yang membantuku untuk memasuki kamar tersebut. Dengan penuh keyakinan aku pun melangkah masuk.

Dugaanku benar. Aku spontan memalingkan wajah ketika melihat tubuh telanjang Hana yang berada di bawah tubuh perkasa Donghae. Tentu saja Hana tidak dapat melepaskan diri meskipun memberontak sekuat tenaga. Tubuhku gemetar dikarenakan kemurkaan serta ketakutan yang mendominasi.

Siaaal! Tidak adakah manusia yang mendengar jeritan kesakitan gadis ini?!

Walaupun aku tidak terlihat oleh mereka, namun aku berusaha berkeliling kamar. Tentu saja untuk mencari sesuatu agar bisa memukul kepala pria brengsek ini! Aku butuh sesuatu yang keras dan kuat, setidaknya untuk membuat Donghae pingsan saja.

“Aku mohon hentikaaaaann!” teriak Hana histeris. Aku terlonjak kaget dan melihat ke arah ranjang lagi, melupakan benda yang keras yang sedang kucari. Lalu pemandangan disana membuat mataku terbelalak.

Donghae sedang mencekik Hana!

“Sudah kuperingatkan tutup mulutmu!” desis Donghae. Aku dengan jelas melihat kaki Hana kejang-kejang sementara tangannya berusaha melepaskan tangan pria yang menindihnya. Aku berjalan panik. Apa yang harus aku lakukan?

“HENTIKAN BRENGSEK! KAU BISA MEMBUNUHNYA!” teriakku seperti orang gila. Suaraku hilang seperti ditelan kegelapan. Donghae justru tertawa puas melihat Hana yang kesulitan bernapas.

Lalu aku menyambar sebuah lampu meja. Aku berharap bisa melumpuhkan Donghae dengan sekali pukulan. Tetapi seperti yang terjadi saat aku memegang gagang pintu, aku tidak bisa menyentuh lampu tersebut. Aaarrggh!

“Akh…hentikan…a..aku…akh…mo-mohonn!”

Hana masih menggelinjang kesakitan di bawah Donghae.

“Cih, kau kira aku akan melepaskanmu setelah kau mengadukan tentang percintaan kita kepada kekasih miskinmu itu? Kau harus mati.”

Aku tercekat. Donghae sepertinya sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencekik Hana. Dengan frustasi aku berteriak dan menendang ke arahnya, memukul-mukul dengan tanganku namun kenyataannya aku hanya menghantam angin.

Tangisku seketika pecah melihat Hana yang tidak berdaya. Matanya mengeluarkan cairan bening sedangkan mulutnya terbuka. Tubuhnya tidak lagi meronta. Aku bersimpuh di lantai, tepat di samping ranjang kematian itu. Entah apa alasan sebenarnya yang membuatku menangis. Rasa takut, rasa bersalah karena tidak bisa menolong Hana, atau apa karena aku membayangkan Yoona?

Aku mendongak, menatap tajam wajah bajingan yang kini telah mengenakan pakaiannya. Sekilas aku melihat rasa bersalah di sorot mata pria itu. Ia menutup mulutnya sementara dadanya turun naik karena sesak. Cih, apa dia menyesal telah membunuh Hana? Setelah memperkosanya lalu membunuh gadis polos ini lantas ia menyesal? Seandainya aku dapat memegang sesuatu, akan kucari pisau dan kutusukkan ke kepala bajingan ini!

“Bagaimana ini?” desahnya panik. “Aku benar-benar membunuhnya.”

“Kau idiot, jahanam, bejat! KAU MEMANG TELAH MEMBUNUHNYA!” raungku.

Aku tahu, percuma berteriak seperti ini. Donghae tidak mendengarnya.

Lalu sejurus kemudian, terdengar pekikan tertahan dari belakangku. Tubuhku rasanya kaku jadi sangat sulit kugerakkan dengan cepat. Tapi aku harus melihat siapa gerangan disana sebab Donghae tampak amat sangat ketakutan.

“Mi…Miyoung-ah? Jaewon-ah?”

 

 

Author POV

 

Tiffany segera berdiri. Ada perasaan lega di hatinya melihat kedatangan Miyoung dan Jaewon. Tiffany sendiri tidak tahu kenapa Miyoung dan Jaewon bisa berada di ambang pintu kamar 17 ini. Yang Tiffany tahu adalah Miyoung dan Jaewon melihat mayat Hana di atas ranjang serta Donghae yang berdiri penuh penyesalan di sana.

Miyoung dan Jaewon mendekati ranjang.

“Ya Tuhan!” pekik Miyoung seraya membekap mulutnya sendiri. Kemudian ia berpaling dan Jaewon langsung memeluknya. Jaewon menatap Donghae tak percaya.

“Hyung…apa yang terjadi? Apa dia mati?” desis Jaewon ngeri.

“Miyoung-ah, Jaewon-ah, kalian harus mendengarkanku dulu. G-gadis ini berusaha menggodaku. Sudah berkali-kali aku menolaknya. Tapi…tapi dia justru nekat membuka semua pakaiannya. Dia ingin bercinta denganku dan jika aku menolak maka…maka…dia akan membunuhku dengan pisau yang tadi dibawanya. Tentu saja aku harus membela diri. Aku tidak sengaja telah mencekiknya dan dia…dia seperti ini,” jelas Donghae dengan suara panik serta terbata. Miyoung menangis di pelukan Jaewon. Sama seperti Tiffany, mereka berdua tidak menyangka dengan pembunuhan yang dilakukan Donghae.

“BOHONG! JANGAN PERCAYA UCAPAN SI BRENGSEK INI! DIA TELAH MEMPERKOSA HANA!” Tiffany masih berteriak-teriak frustasi.

“Tapi kau telah membunuhnya Oppa! Kenapa kau melakukan ini kepada Hana?!” Miyoung berteriak dari dalam pelukan suaminya.

“Karena aku panik, Miyoung! Aku sungguh tidak sengaja!” bentak Donghae. Kedua tangannya menarik-narik rambut yang hitam tebal itu. Jaewon maju untuk menyelimuti tubuh Hana lalu kembali memeluk Miyoung.

“Tolong jangan bertengkar,” bisik Jaewon. “Hyung, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau telah membunuhnya dan jangan katakan kalau kau tidak akan bertanggung jawab!”

“Aku tidak mungkin bertanggung jawab! Reputasiku sangat berharga dan pengakuanku terhadap hal ini akan mencemarkan nama keluarga serta motel ini. Kita akan merahasiakannya, arraseo?”

Rahang Tiffany menganga lebar. Merahasiakannya? Me-ra-ha-sia-kan-nya? What the hell! Tiffany bersumpah akan membunuh pria itu jika bertemu dengannya di dunia nyata.

Mwo?” desis Jaewon. “Bagaimana cara merahasiakan hal sebesar ini? Hyung, tidak ada jalan lain kecuali bertanggung jawab!”

Tubuh Donghae gemetar saat ia melangkahkan kaki mendekati Jaewon kemudian sekonyong-konyong menyambar leher baju adik iparnya itu, membuat Miyoung terlepas dari pelukannya.

“Kau tidak berhak mengaturku! Jika kau takut akan dilibatkan dalam kasus ini, jangan khawatir. Anggap saja kalian tidak pernah menyaksikan hal ini. Paham?!” sembur Donghae murka.

Rahang Jaewon mengeras ketika tubuhnya didorong kembali untuk menjauh. Miyoung masih menangis bahkan semakin kuat. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat seseorang tewas di depan matanya.

“Lebih baik kalian kembali ke kamar. Biarkan aku yang mengurus ini semua!” usir Donghae seraya berjalan mendekati ranjang. Tiffany berdiri kaku dengan kedua tangan merapat di sisi tubuhnya. Tinjunya mengepal erat seolah hendak menghantam wajah Donghae.

Tiffany bisa melihat Jaewon menangkup wajah Miyoung dan memaksa istrinya itu untuk memandangnya.

Jagiya, kita harus segera ke kamar. Aku berjanji besok pagi kita akan keluar dari motel ini. Jangan takut, aku akan selalu di sisimu,” bisik Jaewon seraya mengelus pipi istrinya dengan mesra. Miyoung mengangguk cepat-cepat. Tiffany takut kalau perempuan itu mengalami trauma yang mendalam sebab melihat seseorang tewas di depan mata tersebut tidak sering terjadi seumur hidup.

Ingin sekali Tiffany mencegah Jaewon dan Miyoung untuk tidak pergi meninggalkan kamar nomor 17. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tiffany hanya bisa memandang nanar saat Donghae akan bersiap menggendong tubuh tak bernyawa Hana yang berbalutkan selimut tipis.

Lalu terdengar pekikan tertahan di ambang pintu. Tiffany segera menoleh, ia mengira kalau Jaewon dan Miyoung sudah benar-benar pergi. Donghae mendecakkan lidahnya dengan jengkel kemudian membalikkan tubuhnya.

“Apa lagi yang kalian tu—“

Ucapan Donghae berhenti total dan matanya terbelalak lebar. Sama halnya dengan Jaewon dan Miyoung, Donghae terkejut bukan main melihat kehadiran sosok lain di ruangan mereka. Sosok yang tidak mereka duga.

“LEE SEUL?” pekik Tiffany. Ya, ia ingat gadis kecil itu. Tiffany melangkah dengan cepat menuju pintu, tempat dimana gadis kecil itu berdiri membeku. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, tampaknya ia telah mendengar percakapan mereka sejak tadi. Pertanyaan yang bersarang di kepala Tiffany adalah; siapa gadis kecil ini dan darimana datangnya? Apa dia juga salah satu tamu motel?

Sesaat hening. Semilir angin malam pun tetap membuat tubuh Tiffany merinding. Suasana mencekam pun semaki pekat. Kengerian berkobar-kobar di sepasang mata bulat Lee Seul.

“Lee Seul-ah, k-kenapa kau bisa ada disini?” tanya Miyoung lembut. Bagaimana pun juga, Miyoung pasti akan menutupi pembunuhan ini dari gadis yang masih polos seperti Lee Seul.

“Tadi aku terbangun karena ingin buang air kecil. Lalu aku mendengar suara Eonnie menangis, jadi aku kemari.”

Langkah Donghae berderap cepat ke arah Lee Seul, Jaewon dan Miyoung. Dirinya tampak tak sabaran.

“Yaa! Siapa anak ini?!”

Lee Seul terlonjak kaget kemudian segera memeluk Miyoung, menyembunyikan tubuh munyilnya di balik kaki perempuan yang lebih tua itu.

“Lee Seul dan ibunya menginap di salah satu kamar motel ini, Oppa.”

“Kalau begitu cepat bawa dia pergi dari sini!”

“Tenanglah, Hyung. Kau tidak harus berteriak,” desis Jaewon marah seraya mendorong tubuh Donghae agar menjauh. Lalu Donghae menatap Lee Seul dengan sinis. Ia mengangkat jari telunjuk lalu menempelkannya di bibir.

“Dan kau, jangan katakan pada ibumu tentang perjalanan malammu ini, arraseo anak manis?” suara Donghae terdengar dingin dan menyeramkan.

Tiffany mendekap mulutnya. Pikirannya mulai terbuka tentang masalah ini. Dengan kehadiran Lee Seul, Tiffany melihat bahwa teka-teki ini akan terkuak satu persatu.

Dengan tatapan nanar serta energi yang mulai habis di dalam dirinya, Tiffany hanya dapat memandangi kepergian Miyoung, Jaewon serta Lee Seul.

“Ya Tuhan, apakah mimpi ini ingin menunjukkan kepadaku tentang misteri yang ada di motel ini? Jika Taeyeon mengatakan di motel ini ada pembantaian, apakah Donghae pelakunya?”

Donghae kembali ke ranjang dan menggendong tubuh Hana di pundaknya. Tiffany sudah membulatkan tekad untuk mengikutinya. Mungkin jika ia telah menguak satu persatu rahasia di motel ini, barulah ia sadar dari mimpinya. Lalu sambil mengabaikan ketakutan yang terus-terusan mengukung dirinya, Tiffany mengiringi langkah perlahan Donghae.

“Mari kita lihat adegan apa lagi yang akan ditunjukkan mimpi sialan ini padaku,” bisik Tiffany seraya menyeringai.

 

 

 

 

To be continued

 

Note:

Maaf yang sebesar-sebesarnya kalau ff ini lama. Banyak banget halangan untuk menulis akhir-akhir ini sampai saya tidak percaya diri lagi kalau saya bisa menjadi penulis yang baik atau tidak. Terima kasih untuk siapa saja yang masih menunggu kehadiran ff saya #deepbow

Part 3 akan menyusul. Sekedar informasi, part-part selanjutnya akan ada adegan sadis/NC yang mungkin akan saya protect. Buat yang punya hati lembut dan nggak tegaan, sebaiknya jangan dibaca ya. Takutnya saya nanti dikutuk kalian -,-

 

Doakan selesai secepatnya.

 

 

Author Echa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

140 thoughts on “(AR) Red Door Part 2

  1. alur ceritanya keren banget kak .. serasa gak pengen berhenti baca 😁 hihi
    Daebak lah buat authornya. makin kesini makin penasaran cerita misteri motel.. Ditunggu next chapternya kak Fightingg !!!

  2. Kyaa…lagi seru-serunya, taunya tbc, makin penasaran ma ceritanya….apa jangan-jangan yg ngelakuin pembantaian ntar pacarnya si hana, karna hana meninggal di motel itu…

  3. Gak donk saeng,bagus kok ceritanya,ya motelnya agak seram sihhh.hehehe….saya suka kok yg namanya thriller apalagi pemerannya sifany,makin saranghaeyo.
    Apa jgn2 jaewon dan miyoung adalah masa lalunya siwon dan fany ya,penasaran nih saeng?
    Motel yg penuh dengan misteri dan pembunuhan.
    Ditggu next partnya saeng.jjang saeng.fighting.
    Thanks ya saeng buat ffnya yg penuh misteri.

  4. Part ini lebih menegangkan kalo part 1’nya serem. Motelnya penuh misteri ‘n misterinya pun mulai terungkap. Apa jangan” donghae pelaku pembantaiannya?? Aduhhh sayang banget dehh huhuhu
    Ditunggu kelanjutannya
    Fighting…!!!

  5. Bentar lagi misteri bakalan terpecahkan satu2 nih.. udh ga sabar lg.. sebenrnya mereka siapa? Ko bisa mirip donghae ypona siwon sama fany sih.. next ka echa ditunggu bgtttt fighting and keep writing

  6. sebenernya gak rela donghae jadi sadis kaya gitu karakternya, gak kebayang tapi okelah hehe
    penasaran ko bisa tiffany masuk ke masa lalu cewe itu, trus yg dy temuin waktu itu apa jelmaannya jaewon, hoho penasaran, ditunggu kelanjutannya

  7. Akhirnya yang kunantikan hadir juga >.<
    Sepertinya eonnie sudah mulai ada chemistry nih dengan si horror, keren !!!
    Meskipun aku belum sampe merinding-merinding tapi gambaran suasana menakutkannya kena banget, ngeriiiiii …..
    Duh jadi malah semakin penasaran sama kisah motel tua itu, apalagi ngebayangin kira-kira ada yang bakal mati ga yah, atau siapa aja yang selamat atau jangan-jangan……….. ah eonnie bener-bener deh yang satu ini bikin gregetan !!!
    Semangat.. semangat… semangat…. eonnie buat lanjutin part selanjutnya !
    Hwaiting❤

  8. Serem sumpah…
    Fany eonni kayak jadi saksi bisu… ehh bukan deh, kayak ngeliat old movie gitu😸😅😅
    Donghae oppa jahat banget ya… penasaran bakal terjadi apa lagi… what will donghae oppa do??😯😮
    Trs itu ada Lee Seul?? Berarti…. akhhh…. kok jadi teka teki gini sih…😣😥😧
    But no problem jadi penasaran….
    Can’t wait for the next part… can’t wait for the released…😊☺😇
    Next next next…

  9. Ngegantung sih bacanya, pas lagi seruserunya, lgi penasarannya sama misteri lama dan cerita kelam motel ini ehh langsung to be continued..

    Ceritanya makin lama makin seru, makin buat penasaran . Benar-benar gak sabar tunggu cerita selanjutnya

    Kak echa semangat terus yah bikin ff2nya. Semoga cepat selesai nulis ffnya.
    Kak echa Hwaiting!!!^^J

  10. Semakin horor nih ff.
    Keren bnget kak. Jadi si dong hae plaku pembantaiannya? Jangan2 nanti si donghae ngebunuh semua penghuni motel itu untuk menutupi kejahatannya yg udah ngebunuh hana. Ya ampun ga kebayang gimana horornya kelanjutan nih ff.
    Semangat ngelanjutinnya kk^_^

  11. tbc itu bikin emosiiiiii……
    akhirnya stlah sekian lama menunggu pecah telur jg……
    apa donghae yg ngebntai?? trus songhwan? dia masih mencurigakan…. next next next

  12. Fany itu lagi dimana sih? Dalam mimpi atau dimana? Trus lee seul itu siapanya miyoung dan jaewon? Knp tiff cuma sendirian aja? Taeng dan yg lain knp ga muncul jg?

  13. Tunggu, sblom ak baca part2 nyampe selese kk jgn bilang klo yg nggrayangin bdnny pattini yg ngjelma jdi bang siwon it si pemilik motel ahjussi jangkung it kak 😒
    Soalny ak mencium sesuatu pas baca awal ini part 😏

  14. Kaan beneran gk kekirim -,-
    Keq gini deh yg bikin kesel kadang, udah panjang lebar ngocehin ini ff pas mo tekan kirim tiba2 jaringan berubah jdi ‘e’ alhasil gk kekirim ocehan ny -,-

    Pi intinya jgn lama2 y kak bikin pattini tersesat dimimpiny,takut kebablasan ntar -,-

  15. Mimpimu menyeramkan tiff 😂
    Semoga aja makin jelas misteri motelnya. Dan bisa keluar dari motel itu. Kan serem juga kalau harus tinggal disitu. Wkwk
    Btw aku sedikit bingung sih , jangan jangan temen temen tiffany yang lain kerasukan gitu 😅 atau cuman perasaan aku doang hahaha
    T.O.P lah ff ini .. Terbayar lah kalau lama nunggu sama ceritanya .. Thanks buat author yang udah ngeluangin waktunya buat nuliss ff keren ini 😁 keep writing kak

  16. udah lama ga buka ff ini tau2 udah ada part 3 nya
    jalan ceritanya masih belum bisa nebak .reinkarnasi apa yak .wkwkws
    penasaran juga sama si songhwan ini
    ajja ajja fighting un

  17. Eonni echa aku nunggu ff ini 4 bulan dan Eonni publish nya bulan januari dan aku bacanya bulan april ini udah lama banget. Okay aku semangat bacanya. Story ini keren ih ngena banget apalagi pas bacanya malem2 huuuuu ngena deh pokoknya. Semangat Eonni sayang😘

  18. huaaa…. seruu…
    tiffany hebat bisa mimpi kayak gtu dia bisa jadi cenayang wkwkwk. dan misterinya udah mulai terungkap sedikit nih disini. dan aku jga agak bingung kan yg d bunuh donghae hana knpa lukisannya itu gambar minyoung knp bkn hana?? pnsaran

  19. Alur ceritanya keren banget, misterinya udah mulai terungkap bikin penasaran,lagi asik asik baca tiba tiba tbc itu ngeselin di tunggu next part selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s