(AF) Lion Heart Part 2

LION HEART PART II

Lion heart

Author                        : Kireynalice

Type               : Three Shoot

Genre             : Romance

Rating                        : PG 15+

Main Cast      : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast     : Find it your self :p

Disclaimer     : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja. Alur dan penokohan murni hasil pemikiran saya.

Thanks to Elsa Mardian, makasih buat koreksinya, sayang🙂 Nanti2 review-in ‘ep ep’ aku lagi ya!

Author’s POV

Kalau saja suasana hati Miyoung sedang baik, berkeliling kota pada malam hari mungkin akan terasa menyenangkan. Namun kenyataannya dia tidak sedang berjalan-jalan dan pria disampingnya ini tidak cukup menyenangkan untuk disebut sebagai teman. Dia tidak percaya kalau seorang Choi Siwon yang begitu teratur dan disiplin saat ini tengah mengendarai mobil layaknya pembalap kelas dunia. Miyoung harus mengendalikan otot rahangnya agar tetap terkatup sehingga mulutnya tidak berteriak.

Pria itu sendiri tampaknya tidak peduli pada apapun. Lampu hias yang berkelap-kelip dengan indah sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Melihat gelagat seperti itu terpaksa Miyoung harus memulai pembicaraan.

Uisa-nim, kita.. mau kemana?” Tanyanya ragu.

Siwon tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan. Dia hanya menjawab tanpa menoleh ke arah Miyoung sedikit pun.

“Tentu saja mencari apa yang kubutuhkan. Kau pikir kita akan pergi kemana?”

“Ah.. ne.” Setelahnya gadis berambut ikal itu tidak mengatakan apapun lagi. Sedikit sesal terselip dihatinya. Seharusnya dia tidak usah menanyakan apapun kalau jawabannya tidak pasti. Sebaiknya dia langsung menyimpan flashdisk itu ke ruangan Dokter Choi. Seandainya dia bersikeras menolak pekerjaan ini mungkin sekarang dia sedang menikmati segelas susu cokelat hangat di sofa apartemennya. Berbicara soal apartemen, darimana Choi Siwon ini tahu alamatnya?

“Turun.” Suara Siwon mengusik Miyoung dari pemikirannya.

“N.. ne..” Jawab Miyoung tergagap.

Miyoung segera melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun. Saat dia baru menjejakkan kedua kakinya dengan tegak ke tanah, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang lain.

Sejak kapan parkiran rumah sakit dicat kuning seperti ini? Sepertinya saat mengantar pulang pasien tadi pagi dindingnya masih berwarna putih.

Miyoung mendongak lalu mengerutkan kening saat matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Spanduk besar bertuliskan harga promo melon, telur dan ikan segar. Bukankah ini..

“Choi Uisa-nim, kita.. bukankah kita seharusnya pergi ke rumah sakit?”

“Memang tadi aku bilang begitu ya?”

Aniyo. Tapi.. flashdisk Anda tertinggal di IGD. Apa tidak sebaiknya kita ambil saja?” Tanya Miyoung lagi.

Siwon yang kesal dengan pertanyaan beruntun Miyoung berdecak, “Kita memang akan ke rumah sakit. Tapi aku tidak bilang kita langsung pergi ke sana kan?”

“Apa yang..”

“Sudahlah. Tidak usah banyak bertanya. Aku harus membeli sesuatu sebelum kembali ke rumah nanti.”

“Ah.. Ne.. Kalau begitu saya sebaiknya menunggu di sini saja.” Tawar Miyoung.

Ani. Kau harus ikut denganku. Aku belum pernah datang ke tempat semacam ini.”

“Tapi..”

Miyoung menunduk untuk menatap pakaiannya sendiri. Bagaimana tidak, mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan sementara dia hanya mengenakan kaus kebesaran, celana tidur dan sandal rumah berhiaskan boneka piglet di bagian penutupnya. Meskipun Miyoung cukup bersyukur ada mantel yang sedikit memperbaiki keadaan, tapi tetap saja. Dia masih cukup sadar untuk menyimpulkan bahwa pakaiannya tidak pantas.

“Sudahlah! Yang mau belanja itu kan aku, bukan kau. Kajja.” Siwon menarik tangan Miyoung dan dengan terpaksa gadis itu harus mengikutinya.

Dengan bibir yang mencucu dan hati yang terus menggerutu, Miyoung melangkah sesuai dengan tuntunan tangan Siwon. Miyoung yang tingginya hanya sebahu pria itu tersaruk-saruk mengikutinya. Tubuh Miyoung terasa seperti agar-agar. Selain lelah, dia juga kelaparan. Entah kemana tujuan pria ini sebenarnya. Mereka melewati stand elektronik, stand kebutuhan rumah tangga, lalu berhenti di stand kosmetik… untuk kemudian berjalan lagi, tentu saja. Saat mereka tiba di stand mie instan pria itu baru melepaskan tangan Miyoung.

“Miyoung-ssi, ramen jenis apa yang biasa dimakan oleh pria?” Tanya Siwon tiba-tiba.

“Mungkin yang bungkusnya berwarna hitam.” Jawab Miyoung asal.

“Memangnya ada ya ramen yang seperti itu?”

Rahang Miyoung terkatup karena gemas, “Kalau tidak percaya, Anda cari saja sendiri. Siapa tahu konsep terbaru ramen saat ini adalah membedakan rasa berdasarkan gender.”

Siwon mengangkat bahu dan memutuskan untuk mencari ramen yang Miyoung sebutkan tadi.

Sementara pria itu berkonsentrasi diantara tumpukan ramen beraneka rasa dan komposisi, Miyoung memilih untuk melihat-lihat ke stand lain. Kini dia sedang berada di tengah-tengah hamparan benda kebutuhan wanita. Mata cantiknya mengerjap saat melihat rak pajang dihadapannya. Rasa kantuknya sirna entah kemana. Tempat ini seperti surga yang khusus diciptakan untuk kaum hawa. Perlu berkali-kali Miyoung meyakinkan dirinya sendiri bahwa gedung ini adalah bagian dari kota tempatnya bekerja. Detik itu juga dia memutuskan untuk kembali ke tempat ini saat upah kerjanya dibayarkan awal bulan nanti.

Sesuatu yang terpasang di tubuh manekin bercahaya telah menarik perhatiannya. Kakinya tergerak untuk mengamati lebih dekat. Tangan Miyoung terulur untuk menyentuhnya. Benda itu sepotong gaun tidur berpotongan dada rendah berwarna merah muda. Bahannya pasti terbuat dari satin berkualitas tinggi karena terasa lembut dijemarinya. Bagian depannya dihiasi renda mawar yang sangat halus. Keseluruhan desain gaun tidur itu memberikan kesan cantik, menggoda, sekaligus romantis. Kalau dipakai, pasti akan cantik dan mewah. Gaun tidur ini terlihat begitu istimewa.

“Bagus, ya?” Tepat ketika Miyoung akan menyentuhnya dengan kedua tangan, suara mengganggu itu terdengar lagi.

Ne.” Kali ini Miyoung sependapat dengannya.

“Kau suka piyama tipis itu?”

“Itu bukan piyama dan ya, saya menyukainya.”

“Hmm.. kalau dilihat-lihat sepertinya cocok denganmu. Warna kulit dan rambutmu adalah perpaduan yang manis.”

Bravo! Seorang Choi Siwon ternyata bisa memuji juga.

Miyoung menatap wajah Siwon dan tersenyum. “Kamsahamnida. Suatu hari nanti saya juga akan membeli yang seperti ini. Gaun tidur yang cocok digunakan saat…” Miyoung menghentikan kalimatnya. Kenapa dia harus menjelaskan pemikirannya pada Siwon?

“Saat apa?” Tanya Siwon saat Miyoung hanya terdiam.

Aniyo. Tidak jadi.” Kilah Miyoung.

“Ah.. maksudmu saat malam pengantin?” Tebak Siwon tepat sasaran.

Aniyo!” Sanggah Miyoung terlalu cepat.

“Tidak usah menyangkal. Wajah merahmu tidak bisa berbohong. Tapi.. memangnya kau berencana untuk menikah dengan siapa?”

Rasa malu Miyoung lenyap seketika. Pria dihadapannya ini memang minta dihajar.  Choi Siwon mengajaknya melayang tinggi dengan pujian manis untuk kemudian menghempaskannya ke bumi.

Jhwesonghamnida, saya rasa itu bukan urusan Anda!” Jawab Miyoung ketus. Dia lalu berbalik dan meninggalkan pria itu.

Siwon mengejar Miyoung dan menyejajarkan langkah mereka. “Aish! Kau ini sedang PMS* ya?”

Miyoung membulatkan mata mendengar pertanyaan pribadi itu. “Aniyo!

Siwon mengangguk-angguk mengerti. Sepertinya dia telah mengambil kesimpulan atas hipotesisnya sendiri. “Sepertinya memang benar. Syukurlah..”

Waeyo? Saya yang mengalaminya kenapa Anda yang lega?”

Siwon menyeringai, “Kau selalu menggerutu sejak pagi ini. Kalau kau tidak sedang mengalaminya, berarti kau harus memeriksakan kondisi kejiwaanmu.”

Mworaguyo? Jadi Anda menyebut saya gila?!” Miyoung mendelik lalu mempercepat langkahnya agar terpisah dari Siwon. Tapi lagi-lagi pria itu berhasil menyusulnya.

“Kenapa kau selalu meninggalkanku? Sepertinya kau senang kalau aku tersesat.” Protes Siwon.

Miyoung berhenti melangkah lalu menoleh. “Begini, Choi Uisa. Saya sedang kesal dan untuk saat ini saya tidak mau berdebat dengan Anda. Jadi saya harap Anda dapat bekerjasama dengan saya.”

“Tentu. Setidaknya aku masih bekerja bersama wanita normal.” Ujar Siwon santai. “Miyoung-ssi, ramen yang kau sebut tadi tidak ada. Jadi aku membeli yang paling mahal saja. Menurutmu makanan apalagi yang cocok untuk dijadikan camilan saat lembur?”

Miyoung menghela napas. Sifat Choi Siwon ini sangat membingungkan. Begitu mudahnya dia mengganti bahan pembicaraan kembali ke masalah seputar “teman lembur”. Heol!

Miyoung melihat Siwon yang masih setia menunggu jawabannya. Dan hal itu menimbulkan sebuah ide di kepala Miyoung. Setidaknya dendamnya dapat sedikit terbalaskan.

“Ini. Yang biasa dipakai di malam hari.” Miyoung mengambil sesuatu dari rak dengan tangan kanannya lalu melemparkannya pada Siwon.

Dengan sigap Siwon menangkap benda itu dengan sebelah tangannya. “Apa ini?”

“Roti Jepang!” Jawab Miyoung sambil berlalu.

Siwon termenung di tempatnya. “Roti apa ini? Kenapa bungkusnya aneh sekali? Tidak transparan dan berwarna merah muda.” Gumamnya.

Pria itu membolak-balik benda yang Miyoung sebut sebagai ‘roti Jepang’ itu dan membaca tulisan di kemasannya.

“Anti kerut, anti bocor, 32 cm?” Sesaat kemudian dia baru menyadari benda apa yang dipegangnya.

“Ya! Hwang Miyoung!”

Miyoung yang ada di depannya menoleh ke belakang lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek.

“Aish!” Dengan segera Siwon melemparkan benda itu kembali ke rak pajang lalu mengusapkan tangannya berulangkali ke celananya dengan ekspresi jijik.

Miyoung yang melihatnya tertawa terbahak. Namun saat Siwon mengejarnya, gadis itu membelalakkan mata dan segera berjalan menjauh. Siwon mempercepat langkahnya untuk mencari Miyoung. Tapi sepertinya gadis itu terlalu malas untuk berlari sehingga Siwon dapat menemukannya dengan mudah. Dia berdiri di ujung stand dengan pandangan ke depan.

“Nah, kau tidak bisa lari kemana-mana la..” Siwon tidak menyelesaikan kalimatnya. Ternyata Miyoung bukan menyerah karena lelah, tapi dia termenung karena melihat kejadian di depan matanya.

“Miyoung-ssi, waegurae?

Miyoung tidak menjawab dan membiarkan Siwon melihat sendiri. Tampak di depan mereka beberapa orang wanita berseragam tengah merangkul pinggang seorang wanita hamil. Sepertinya wanita hamil itu adalah pegawai dari supermarket ini juga, terlihat dari seragam yang dikenakannya. Bagian bawah bajunya terlihat basah.

Otomatis Miyoung mendekat dan bertanya, “Annyeonghaseyo, saya Hwang Miyoung dan ini Choi Siwon Uisa. Kalau kami boleh tahu, apa yang terjadi?”

Salah seorang gadis bertanda pengenal Lee Sonkyu menjawab, “Anda seorang dokter? Ah.. Syukurlah..” Desahnya lega, “Kami baru selesai mengambil barang di gudang saat Eonni mengeluh sakit di bagian perutnya.”

Ne. Dan setelah itu tiba-tiba saja pakaiannya menjadi basah.” Tambah wanita yang lain.

Miyoung menoleh ke arah Siwon. “Uisa-nim.. Apa dugaan Anda sama seperti saya?”

Siwon mengangguk. “Meskipun begitu, kita harus tetap memastikannya. Tolong panggilkan ambulan. Nyonya ini harus segera dibawa ke rumah sakit.” Pintanya pada salah satu pegawai. “Apakah tempat ini memiliki ruangan yang tertutup?” Lanjutnya.

Pegawai yang Miyoung taksir berusia 30-an itu menganggukkan kepalanya. “Kami memiliki ruang ganti di bagian belakang gedung ini. Tidak terlalu luas tapi cukup bersih. Mari saya tunjukkan.”

Belum sempat Miyoung menyetujui, pegawai itu sudah menariknya dengan kekuatan mengesankan. Otomatis gadis itu menarik Siwon juga dan untuk kedua kalinya tangan mereka saling menggenggam.

Aroma jeruk yang segar dengan segera memenuhi indera penciuman Miyoung saat mereka tiba di sebuah ruangan.

“Apakah kita bisa menggunakannya?” Tanya pegawai itu.

“Tentu.” Jawab Miyoung.

Ibu hamil yang dipapah oleh pegawai lain menyusul masuk dan Miyoung segera membantunya untuk berbaring.

“Nyonya, apa perut anda berkontraksi?” Tanya Miyoung.

Wanita itu hanya mengangguk lemah. Keringat terlihat membasahi keningnya. Sebelah tangannya mencengkeram perut.

“Kapan perkiraan persalinan Anda?” Tanya Miyoung lagi.

Wanita itu menjawab dengan terbata, “Dokter.. mengatakan.. 2 minggu lagi. Tapi sejak pagi ini… perutku terus… berkontraksi. Arrgghhh… sakit!!” Jeritnya.

Mau tidak mau Miyoung menjadi panik. Tatapannya tertuju pada bagian bawah tubuh Nyonya itu. Miyoung menyingkap sedikit baju hamilnya untuk mengintip.

Uisa-nim, sepertinya Nyonya ini akan melahirkan.” Kata Miyoung.

Mwo?! Suruh dia menunggu. Kita tidak bisa melakukannya di sini.” Jawab Siwon.

“Arrggghhh…” Suara jeritan kembali terdengar.

Miyoung kembali mengintip lalu berdiri menghampiri Siwon. “Uisa-nim, tidak ada pilihan lain. Kita harus menolongnya.”

“Tidak! Ambulannya belum datang. Kita tidak memiliki alat apapun di sini.”

“Arrggghhh… aku… ada yang mau keluar… arrrgggghhhh!!!” Jerit Nyonya itu lagi.

Uisa-nim, cepat putuskan. Saya boleh melakukannya atau tidak?”

Siwon tidak menjawab. Dia masih memikirkan baik buruknya. Terlalu beresiko menolong persalinan di luar fasilitas kesehatan. Ditambah lagi tidak ada peralatan medis apapun di tempat ini.

Uisa-nim!” Desak Miyoung membuat Siwon mengangguk dengan terpaksa.

Miyoung mendesah lega sebelum meminta pegawai yang ada disana untuk membantunya. “Nyonya, kita akan melahirkan bayimu di sini. Aku akan membantumu. Kau percaya padaku, kan?” Tanya Miyoung yang wanita hamil itu jawab dengan anggukan. “Tolong bawakan aku beberapa helai kain bersih, selimut dan pakaian ganti untuk Nyonya ini. Ambil juga obat-obatan yang kalian miliki terutama kassa, cairan antiseptik dan alkohol.” Instruksinya.

Ne. Tapi kami tidak memiliki perlengkapan bayi di sini.”

Ghwenchanayo. Untuk sementara kita dapat membungkus bayinya dengan kain dan selimut.”

Setelah itu, semua orang mulai disibukkan dengan persiapan persalinan dadakan itu. Siwon sendiri memilih untuk menunggu di luar ruangan dan menelepon rumah sakit tempatnya bekerja untuk segera mengirimkan ambulan. Ia tidak tahu kenapa ia bisa berada di situasi secanggung ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menolong persalinan. Ingin rasanya Siwon menyalahkan Jung Soo dan permintaannya yang aneh. Tetapi seniornya itu tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini.

Siwon berjalan mondar-mandir seperti seorang suami yang sedang cemas menunggu proses persalinan istrinya. Berkali-kali dia melirik ke arah koridor berharap tim kesehatan segera datang. Saat mendengar suara tangisan bayi yang memekik kencang, Siwon menghela napas lega dan bersyukur dalam hati. Kekesalan yang sedari tadi memuncak di kepalanya perlahan luruh.

Siwon mendongak, lalu terdiam. Dari balik pintu yang perlahan-lahan terbuka, tampaklah seorang gadis bermantel paling indah yang pernah dilihatnya. Pemandangan itu begitu menyilaukan hingga membuat mata Siwon perih karena lupa berkedip.

Uisa-nim?” Sayup-sayup suara Miyoung terdengar. Namun, Siwon tidak memedulikannya. Tatapannya terpancang ke satu arah, sesosok gadis berkilau di pintu loker karyawan supermarket yang tengah menggendong bayi.

“Cantik, ya?” Suara Miyoung yang kembali terdengar menyadarkan Siwon.

“Ah? Ne? Mworagu?” Siwon tergagap. Ia mencoba untuk mengalihkan pandangan dari gadis di depannya, tetapi gagal. “Sudah selesai?” Akhirnya kalimat standar itu yang meluncur keluar dari mulutnya.

Sudut bibir Miyoung terangkat. “Ne. Karyawan yang lain sedang menemani Nyonya Song.”

“Nyonya Song? Siapa dia?”

“Ibu dari bayi ini.”

Siwon menatap bayi dalam gendongan Miyoung. Melihat sepasang pipi tembam, hidung mancung, dan bibir mungil itu membuat hatinya terasa hangat. Gadis itu benar. Bayi ini memang cantik.

Selama beberapa saat, terjadi keheningan yang canggung. Dalam kondisi normal, ini adalah saatnya bagi Siwon untuk memberi pujian atas apa yang telah Miyoung lakukan. Tapi Pria itu bahkan tidak tahu apa yang harus diucapkannya.

Miyoung pun tidak tahu harus bagaimana. Rasanya juga salah kalau bertanya “Mau menggendongnya?” pada seorang pria yang bukan ayah dari bayi ini dan telah menyeretnya secara paksa puluhan menit lalu. Jadi selama beberapa detik, mereka hanya bergerak-gerak gelisah di tempat masing-masing sementara beberapa orang petugas berpakaian hijau pupus dengan tanda pengenal mendekat ke arah mereka.

“Choi Uisa-nim, ambulannya sudah tiba.”

Siwon dan Miyoung menoleh bersamaan lalu bertukar pandang.

“Hmm.. ne.” Siwon mencari kata-kata yang tepat. “Baiklah.”

“Kalau begitu, saya akan memindahkan pasien ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.” Kata pria bertanda pengenal Goo Kwang Soo itu.

Begitu Siwon mengangguk, proses evakuasi dilakukan dengan cepat. Saat Miyoung bersiap untuk ikut bersama dengan tim kesehatan yang lain, tangan seseorang mencegahnya.

“Kau dan bayi itu naik mobilku saja. Tidak apa-apa kan?” Tanya Siwon membuat Miyoung terkejut.

Ne? Apakah tidak merepotkan Anda?” Tanya Miyoung.

“Aku senang bisa membantu.”

Miyoung hanya mengangguk dan membiarkan Siwon menghelanya sampai ke dalam mobil.

“Miyoung-ssi..” Panggil Siwon saat mobilnya mulai melaju.

Ne.”

“Bisakah kau bicara seperti biasa saja? Kau selalu menggunakan bahasa baku saat bersamaku.”

Miyoung sedikit terkejut menanggapi permintaan Siwon yang tiba-tiba itu. “Tapi.. Anda adalah atasan saya. Sudah seharusnya..”

“Memangnya ada aturan seperti itu, ya?” Potong Siwon.

Miyoung terdiam. Aturan secara tertulis memang tidak ada. Tapi bukankah menurut etika harus seperti itu?

“Kalau begitu aku akan membuat peraturan untuk kita. Selama kau hanya berdua denganku, tidak boleh ada 1 kata resmi pun yang terselip dalam pembicaraan kita. Dan kalau kau melanggarnya, akan ada hukuman untukmu.”

Ne?!” Miyoung terpekik.

“Aku anggap keterkejutanmu itu sebagai tanda persetujuan.” Putus Siwon sepihak.

Miyoung tidak sempat mengajukan protes atau pun menggerutu. Dalam hati dia bertanya-tanya mengenai perubahan sikap Siwon. Ada apa dengan atasannya yang dingin dan diktator itu? Apa dia melewatkan konsumsi obat rutinnya?

“Oe.. Oe..” Bayi dalam gendongan Miyoung menangis saat mereka berbelok di persimpangan.

“Sssh.. anak manis.. Kau haus, ya? Sebentar lagi kita sampai, Chagi..” Bujuk Miyoung sembari menepuk-nepuk punggung bayi itu lembut.

Siwon melirik ke arah Miyoung. Rambut hitam yang keluar dari ikatan ekor kudanya menutupi sebagian wajah Miyoung tetapi tidak dapat menyembunyikan rona kebahagiaannya. Wajah gadis itu berseri-seri. Kepalanya menunduk dan menatap lembut bayi mungil yang terbungkus selimut coklat itu. Miyoung terkekeh pelan ketika melihatnya mengerjapkan mata dan menjulur-julurkan lidah. Siwon terpesona pada cara Miyoung memperlakukan bayi itu. Sikapnya penuh kelembutan dan kasih sayang.

“Kau menyukai anak-anak?” Tanya Siwon.

Miyoung menoleh memandang Siwon. “Tentu saja. Mereka begitu suci dan tulus.”

“Apa itu juga yang menjadi alasanmu memilih profesi ini?”

Aniyo. Ada hal lain yang membuatku melakukannya. Hal paling utama di antara yang lainnya.”

“Apa itu?” Siwon merasa ingin tahu.

“Saya.. Eh.. aku.. tidak ingin ada bayi yang bernasib sama denganku.” Bisik Miyoung lirih.

“Maksudmu?”

“Kami tinggal di daerah pegunungan. Tidak ada fasilitas pendidikan atau kesehatan disana. Klinik terdekat saja harus ditempuh dengan berjalan kaki selama 3 jam. Karena itulah persalinan Eomma hanya dibantu oleh tabib desa. Halmonie mengatakan kalau Eomma mengalami perdarahan setelah aku lahir. Penduduk desa membawanya dengan tandu untuk meminta bantuan dokter. Sayangnya di tengah perjalanan Eomma meninggal. Aku seakan-akan menjadi penyebab kepergiannya. Semenjak itu Appa.. dia tidak lagi menginginkanku. Selama ini aku tinggal bersama Halmonie karena Appa pergi entah kemana dan tidak pernah kembali. Pertemuan pertamaku dengannya adalah saat upacara peringatan mendiang Haraboeji 3 tahun lalu.  Mungkin melihatku hanya akan mengingatkan Appa pada luka hatinya.”

Sejenak Siwon terpaku. Gadis di sampingnya ini mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang selalu ada di hatinya dan teramat disayanginya, dulu.

“Sejak saat itu aku bertekad untuk membuka klinik bersalin di desa kelahiranku. Tapi..” Miyoung berhenti lalu tersenyum kecut, “Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk itu.”

Siwon termenung meresapi perkataan Miyoung. Selama ini ia tidak begitu peduli pada apa dan bagaimana masa depannya. Ia hanya ingin bekerja di rumah sakit ternama, menempati posisi yang terhormat dan membanggakan. Apa yang ada di pikirannya hanya bekerja untuk memenuhi ambisinya. Sekarang setelah melihat Miyoung ia menyadari sesuatu. Membantu menyelamatkan nyawa seseorang adalah hal utama yang harus selalu dilakukannya. Seperti janjinya saat pengambilan sumpah bakti dulu.

Pemikiran itu menyibukkan dirinya sehingga ia tidak sadar kalau mereka sudah memasuki gerbang rumah sakit. Baru saat Miyoung melepas sabuk pengaman dan memanggilnya, Siwon tersadar.

“Mmm.. biar aku membantumu.” Kata Siwon seraya langsung turun lebih dulu.

Ketika mereka sampai di ruang gawat darurat, tanpa basa-basi lagi, Siwon masuk. Pria itu memberi penjelasan secara singkat pada dokter jaga disertai dengan instruksi tegas ala seorang Choi Siwon. Sementara itu, Miyoung terdiam selama beberapa saat di belakang Siwon karena tidak yakin harus bagaimana. Haruskah Miyoung ikut menangani bayi ini meskipun ini diluar jam kerjanya atau hanya diam menunggu?

Saat ia masih berada dalam dilema, Hyoyeon yang bertugas di ruang perinatologi** tiba-tiba muncul lalu terlonjak melihat Miyoung dan penampilannya.

Omona!” Serunya. Keranjang kecil berisi kain dan perlengkapan lain yang dipegangnya nyaris berceceran.

Setelah melempar senyum kaku, Miyoung menghampiri Hyoyeon yang berjalan ke arah salah satu tempat tidur.

“Aku diminta menyiapkan tempat tidur untuk bayi baru lahir. Tapi kenapa kau yang ada di sini?” Sungutnya sambil mengeluarkan satu persatu  benda yang dibawanya dari dalam keranjang lalu mulai memakaikan pakaian pada bayi itu. “Ya! Ini bukan bayimu kan?!” Pekiknya tertahan.

Miyoung berdecak, “Pabo! Punya pacar saja belum, bagaimana bisa hamil?”

Hyoyeon terkikik pelan. “Tapi.. kenapa kau bisa datang bersama Choi Uisa? Di tengah malam seperti ini dengan piyama, sandal tidur dan wajah yang lelah. Omo! Jangan-jangan kau dan dia..”

“Suster Kim?” Panggilan dari seorang pria yang Miyoung yakini sebagai suara atasannya memotong kalimat Hyoyeon. “Kalau sudah selesai, segera bawa bayi itu ke ruangan.”

Ne.” Jawab Hyoyeon seraya meraup bayi itu. “Kau berhutang penjelasan padaku.” Dia  lalu tersenyum penuh makna ke arah Miyoung sebelum melenggang pergi.

“Aku akan pergi menemui kepala shift ruang nifas. Tunggu aku di ruanganku.” Siwon berkata sebelum melangkah meninggalkannya.

Miyoung sebenarnya ingin menolak. Tapi seberapa kuat pun keinginannya untuk pulang, dia tidak mungkin menempuh perjalanan seorang diri di tengah malam dengan mengenakan piyama tidur, di saat sedang lelah juga kelaparan. Bisa dipastikan keadaan tidak akan jadi lebih baik. Yang paling mungkin terjadi adalah Miyoung pingsan sebelum sempat menyentuh tempat tidur lalu terbangun pada keesokan harinya di depan pintu karena kunci apartemennya masih berada di tangan Siwon.

Jadi, Miyoung memilih untuk menurut dan duduk di sofa ruang kerja pria itu walaupun tahu ia akan membuat beberapa karyawan dan petugas keamanan rumah sakit bertanya-tanya setelah melihat penampilannya. Dia akan menunggu pagi menjelang sampai waktu sudah cukup layak untuk pulang.

Tak lama berselang, Siwon masuk. Ia memandang heran Miyoung yang menatap sungguh-sungguh ke arah meja kerjanya. Setelah yakin Miyoung tidak sedang berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata, Siwon menghampirinya dan menyodorkan plastik berisi kotak putih.

Semerbak wangi makanan menguar dari dalam bungkusan membuat fokus Miyoung terpecah. Ia menatap bungkusan yang berbau menggoda itu lalu mendongak ke arah Siwon.

“Makanlah dulu,” Kata Siwon membuat Miyoung cepat-cepat mengangguk.

Miyoung menerima bungkusan itu lalu membuka kemasannya dan mulai makan. Siwon duduk di sampingnya dan memperhatikan. Saat mendatangi apartemen Miyoung tadi, dia sempat melihat mangkuk berisi sup di atas meja. Karena itulah Siwon memesan jajangmyeon mengingat mungkin saja gadis itu belum makan malam.

“Mm.. mashita.” Erang Miyoung di sela kunyahannya. Ia lalu mengangsurkan kotak itu kepada Siwon. “Mau?”

Siwon mendengus, “Aku yang membelinya.”

Miyoung memamerkan deretan gigi putihnya. “A.. ne.. Mianhe.”

Siwon mengambil sumpit dari tangan Miyoung, mengambil sejumput mie, menjejalkannya ke dalam mulut, lalu mengunyahnya sambil mengamati Miyoung. “Sebenarnya tadi aku memesan 2 porsi, tapi Han Uisa melihat dan langsung mengambilnya sebelum aku sempat menjelaskan.”

“Kenapa tidak bilang dari tadi.” Gumam Miyoung.

Siwon menoleh lalu mengangkat bahu. “Kau tidak mengidap penyakit menular, kan?”

Miyoung menggeleng tegas.

“Kalau begitu tidak masalah.” Kata Siwon acuh.

Miyoung mengerucutkan bibir. “Tapi kita sudah makan dari sumpit yang sama. Aish!”

Siwon mengerutkan kening. Memangnya apa yang salah dengan makan sepiring berdua? Toh mereka tidak melakukan perbuatan tidak senonoh.

“Ah.. pasti hal itu yang ada dipikiran gadis ini.” Batinnya.

“Kalau maksudmu soal ciuman tidak langsung, jangan khawatir. Kita tidak bertukar cairan atau sejenisnya. Jadi kurasa ini tidak dihitung.” Jelas Siwon.

Miyoung mengangguk-angguk, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil menyandarkan punggung. “Ya sudah. Mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi.”

Siwon berhenti mengunyah lalu memperhatikan. Pipi Miyoung bergerak-gerak karena mengunyah. Kalau dilihat-lihat semua hal tentang gadis ini begitu mungil dan menggemaskan.

“Jadi?” Tanya Siwon, mengalihkan pandangan dari Miyoung yang sedang menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Apa yang akan kau lakukan? Kau mau kuantar pulang sekarang?”

“Sepertinya aku akan menunggu pagi.” Putus Miyoung. “Tidak enak kalau ada yang melihat kita berdua di tengah malam begini.” Lanjutnya.

“Ah.. benar juga. Mungkin.. kau bisa pulang naik taksi?”

“Heol!” Umpat Miyoung.

Sementara Siwon tergelak, Miyoung mengamatinya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya bisa seakrab ini dengan atasannya padahal beberapa jam yang lalu pria ini menabuh genderang perang padanya.

Begitu Siwon menangkap pandangan Miyoung, tawanya terhenti. Selama beberapa saat mereka terdiam. Jemari kelingking yang bersentuhan, wajah yang berhadapan, mata yang bersitatap, membuat jarak diantara mereka semakin dekat.. tambah dekat.. sangat dekat.. hingga akhirnya.. mereka merasa canggung dan memalingkan wajah di saat bersamaan.

Miyoung menggigit bibir bawahnya sembari meruntuk tanpa suara sementara Siwon memejamkan mata sambil menyesali kebodohannya. Miyoung pasti mengira kalau dia adalah pria yang mudah terbawa suasana dan tidak pandai mengendalikan diri. Hilang sudah wibawanya di depan gadis itu.

Siwon berdehem pelan, “Lalu… sampai pagi… apa yang akan kita lakukan?” Tanya Siwon kemudian.

“Aku juga tidak tahu.” Jawab Miyoung jujur. Ia merasa mengantuk dan lelah, tetapi tidak bisa tidur. Atau lebih tepatnya tidak ingin tidur. “Flashdisk-nya sudah kau ambil?”

Siwon menepuk keningnya sendiri. Berbicara mengenai benda itu, ia jadi teringat akan sesuatu. Ia sama sekali melupakan Jung Soo yang tadi memintanya mengirimkan file melalui email. Siwon mengeluarkan ponsel. Panggilan tak terjawab dari seniornya itu menumpuk disana, disertai sebuah pesan Line yang berbunyi “Aku menginap. Tidur dikamarmu.”

Siwon menyeringai lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam.

“Aku menemukannya di..” Siwon menoleh ke kiri. Ucapannya terhenti saat melihat kepala Miyoung yang teranggut-anggut. Gadis itu tampaknya sudah terlalu lelah hingga tak sanggup lagi menahan kantuknya.

Ketika kepala itu hendak jatuh ke arah berlawanan, Siwon menangkapnya dan berhati-hati menyandarkan Miyoung ke bahunya. Setelah itu Siwon mengamati wajahnya. Sementara dalam mimpinya, Miyoung merasakan kecupan bibir dari seorang pangeran tampan.

**LH**

Suara pengumumam yang terdengar dari pengeras suara membangunkan Miyoung. Saat ia membuka mata, hari sudah cukup terang. Miyoung mengerjap lalu membenahi posisi duduknya. Sebuah jas hitam meluncur turun ke pangkuannya. Miyoung meraih benda itu dengan kening berkerut. Jas ini sepertinya milik Siwon, tetapi di sampingnya tidak ada siapa pun. Miyoung sedang bertanya-tanya saat melihat Siwon masuk dan melangkah ke arahnya dengan membawa dua gelas minuman yang mengepulkan asap dan sebuah kantung kertas.

“Darimana?” Tanya Miyoung dengan suara serak yang menurut Siwon cukup menggoda.

“Menelepon Kim Seonsaeng-nim.” Jawab Siwon sambil duduk di sampingnya. “Dan membeli ini.”

Miyoung menatap bungkusan berisi roti dan kopi yang disodorkan Siwon lalu tersenyum lebar. “Gumawo. Untuk makan malam, sarapan dan untuk jasnya juga.”

Siwon mengangguk lalu membuka plastik rotinya sendiri. Mereka pun makan dalam diam, menikmati suasana pagi yang tenang.

Mianhe..” Akhirnya Siwon mengucapkannya juga. Kata-kata yang seharusnya dia ucapkan sejak hari pertama Miyoung bekerja sebagai asistennya. “Untuk semuanya.”

Miyoung mengerjap-ngerjap, tidak mengerti. Siwon balas menatapnya lekat. Ia tahu gadis disampingnya ini adalah orang asing, tetapi ia merasa ingin menjelaskan permasalahannya. Siwon yakin Miyoung tidak memiliki niat buruk. Gadis ini hanya berada pada situasi yang rumit, di waktu yang tidak tepat, dan menempati posisi yang salah.

“Saat bekerja di tempat milik ayahku, aku juga memiliki asisten. Seorang wanita yang baik, lembut, dan perhatian. Kami sering menghabiskan waktu bersama bahkan di luar jam kerja sekali pun. Kau pasti sudah bisa menebak bagaimana kelanjutannya. Aku jatuh cinta padanya dan dia pun begitu. Sayangnya kakekku tidak menyetujui hubungan kami. Ia menawarkan sejumlah uang pada kekasihku dengan syarat dia harus meninggalkanku.” Jelas Siwon.

“Lalu apa hubungannya semua itu dengan permintaan maafmu?” Tanya Miyoung semakin bingung.

“Kekasihku pasti akan menolak. Setidaknya itulah yang ada dipikiranku.” Siwon mengambil napas sejenak, tangannya terkepal di pahanya. “Namun ternyata diluar dugaanku dia menyetujuinya. Gadis itu ternyata hanya mencintai apa yang ada padaku.”

Miyoung mendengarkan dengan tatapan tak percaya. Siwon menatap lurus ke depan. Seulas senyum miris tersungging di bibirnya.

“Sejak saat itulah aku menutup diri. Aku tidak mau terjerat dalam perangkap yang sama. Pertahanan diriku kubangun dengan sikapku dan kuharap itu bisa membuat orang-orang bersikap segan padaku.”

Siwon menoleh, lalu menatap Miyoung. “Sikapku mungkin terlalu cengeng untuk ukuran pria. Tapi beginilah aku.”

Miyoung melepaskan pandangannya dari Siwon, lalu menunduk. Ia sama sekali tidak menyangka alasan dibalik Sikap dingin Siwon akan sepelik ini.

Mianhe..” Bisik Miyoung lirih.

Sedikit banyak dia memahami perasaan Siwon. Perasaan dihianati dan diacuhkan oleh seseorang yang seharusnya bisa dijadikan sandaran.

“Kenapa kau meminta maaf padaku?” Tanya Siwon heran.

Miyoung mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Anggap saja sebagai perwakilan dari sesama wanita.”

Siwon tersenyum tipis. Kalau dihitung-hitung sudah berapa kali asisten barunya ini membuatnya tersenyum karena tingkah laku dan perkataannya yang tidak terduga?

“Jadi, kau sudah siap untuk pulang?” Tanya Siwon setelah menghabiskan kopinya.

Miyoung mengangguk lalu bangkit mengikutinya menuju parkiran. Waktu itu Miyoung pergunakan untuk memperhatikan postur tubuh Siwon. Selama ini dia hanya sempat mencibir menatap bagian belakang tubuh pria itu. Tapi ternyata punggungnya begitu tegap juga bidang, seakan menjadi simbol perlindungan dan kehangatan. Selain itu cara berjalannya juga memesona seperti model pria kelas dunia.

Karena terlalu asyik melamun, Miyoung menabrak punggung Siwon yang ternyata sudah berhenti untuk membukakan pintu mobil untuknya. Siwon menoleh lalu menatap Miyoung dengan dua alis terangkat.

“Masih mengantuk?” Tanya Siwon, membuat Miyoung tergugup karena suara lembutnya.

Ani.” Jawab Miyoung singkat.

Tadi malam saat masuk ke dalam mobil, Miyoung tidak memikirkan apa-apa selain gerutuan pada pria itu. Namun sekarang ia merasa sedikit gugup. Perlahan ia naik dan duduk di kursi sebelah Siwon.

“Pakai sabuk pengamannya.” Siwon mengingatkan membuat Miyoung meraih benda di pundak kanannya.

Siwon pun membawa mobil itu meninggalkan rumah sakit, kembali menuju apartemen Miyoung. Selama perjalanan mereka tidak bicara sama sekali. Siwon berkonsentrasi menyingkirkan sensasi aneh yang ditimbulkan Miyoung saat tertidur di bahunya semalam, sementara Miyoung berkonsentrasi untuk tidak menoleh ke arah Siwon.

“Sudah sampai.” Suara Siwon memecah keheningan.

Miyoung menatap ke luar jendela, “Ah.. Ne.. Gumawo.”

Selama beberapa saat mereka hanya duduk terdiam.

“Mmm.. Aku.. akan pergi bersama Park Uisa siang ini.” Kata Siwon. “Selama itu aku akan digantikan oleh Yoon Uisa.” Lanjutnya.

Ne. Semoga perjalananmu menyenangkan, Uisa-nim. Aku masuk dulu. Gumawo karena telah mengantarku pulang.”

Miyoung sudah bersiap untuk keluar dari mobil saat Siwon menahannya.

“Miyoung-ssi..”

**LH**

To Be Continued ^_^

 

*PMS  : Pra Menstrual Syndrom, gejala khas yang dialami wanita sebelum haid.

**Perinatologi           : Ruang rawat inap bayi baru lahir

95 thoughts on “(AF) Lion Heart Part 2

  1. cieee,,,ada yang terpesona gitu abis bantu ibu melahirkan😀
    mulai ada perasaan aneh” gitu. sikap keras siwon emang ada sebabnya tapi dia tiba” cerita sama miyoung itu ga nyangka..

  2. “sementara dalam mimpinya, miyoung merasakan kecupan bibir dari seorang pangeran tampan”
    nggak tau kenapa suka sama kalimat itu wkwkw. apa jangan jangan siwon cium miyoung ya hayoo ih daddy nakal wkwk😀
    itu ngapain manggil manggil miyoung lagi? siwon mau apa lagi?
    suka suka pokoknya suka banget authornim!! lanjutkaan yaa

  3. ciyeeee siwoooon pertama d kasih asisten tiff aj bawel bgt.. gemmes bgt thor liat sikapnya siwon..
    serru bgt deh nih cerita.. part 3 di tunggu selalu 😊

  4. Karakter siwon kok jadi berubah d part ini? Apa cma prasaan aku aja? Beda banget sama yg d part sblumnya… lebih suka siwo yg dingin dan galak kayk d part 1, but its okay… over all bagus dan pastinya slalu dtggu klanjuta nya… semangat author_nim 😘

  5. Ceritanya makin seru nih…. ngakak banget pas bagian tiffany ngelempar “roti jepang” ke siwon yg ternyata anti kerut anti bocor wkwkwk.. , siwon udah mulai tertarik ma tiffany ni, makin g sabar nunggu kelanjutannya…

  6. Wah.. Siwon Oppa sama Tiffany eonni kayak udh mulai tumbuh tuh kkkk😀
    Tumbuh apanya?? Benih benih cinta *eaaa*apasigajelas*
    Ditunggu kelanjutan kisah cintanya ya~ Sifany! Sifany! Sifany!🙂
    ternyata Siwon oppa sifatnya dingin karena pernah gagal menjalin hubungan ya…
    Fany eonni pengertian juga ya tentang Siwon oppa❤❤❤
    Dating! Dating! Dating!🙂 ')❤❤
    Next next next… part!
    Author Two Thumbs Up for You!!! Always support all

  7. Sifatnya siwon asa cepet bgt berubah ya.. atau emabg udag ada rasa sama fanynya atau gimana.. gaapa2 lah. Tapi bagus makin seru ceritanya next ya min ditunggu bgt nih

  8. wah sepertinya hubungan mereka akan berkembang menjadi lebih seru,,tapi aq ska banget kalo mereka bertengkar, cute2 gimana gitu, sekarang malah jadi canggung,.ditunggu next part nya thor, itu siwonnya mau ngomong apa yaa

  9. Waahh kagum bgt sama fany 😂😂😂 ikutan tegang nih wktu proses persalinan duhh untung ibu hamil itu ktmu sma sifany coba klo nggk… dan dri kjadian ini mereka malah jadi lebih deket, ciieee siwon udh mulai ngegodain fany haha, udh ngaku aja klo udh suka hihi 😀 gmna ya klnjutannya authornya bikin penasaran 😭😭 oke ditunggu 😊 *btw fany mimpi dicium pgeran ya? jgn” siwon diem” nyium fany lagii 😏😆

  10. Itu yang tiffany mimpi dicium, apakah dicium beneran kkk >< ohh ternyata itu tohh alasan siwon bersikap dingin selama ini😮 Siwon pa udah melunak, apakah seterusnya akan seperti ini? apakah nanti siwon pa bakal berubah jadi galak pas tiffany jadi asistennya di rumah sakit ? hmmm nextt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s