(AF) Lion Heart Part 1

LION HEART PART I

Lion heart

Author                        : Kireynalice

Type               : Three Shoot

Genre             : Romance

Rating                        : PG 15+

Main Cast      : Hwang Mi Young, Choi Siwon

Other Cast     : Find it your self :p

Disclaimer     : Karakter tokoh hanya fiktif belaka dan dikembangkan menurut plot cerita. Kesamaan ide cerita merupakan hal yang tidak disengaja.

Note : Special thanks to Manda. Makasih posternya, saengi🙂

Miyoung’s POV

Setengah berlari aku memasuki halaman rumah sakit. Sapaan ramah seorang petugas keamanan yang menyambut kedatanganku hanya kubalas dengan lambaian tangan. Tidak ada waktu untuk sekedar mengucapkan “Annyeong” atau berbasa-basi. Aku harus cepat. Aku terlambat!

Sebenarnya semua ini bukan murni kesalahanku. Kepala ruangan kami baru menghubungiku 1 jam sebelum acaranya berlangsung. Masih dengan style rumahan dan segudang kegiatan pribadi lainnya, wanita mana yang bisa menembus kemacetan Gangseo dalam waktu 30 menit?

Pintu ruangan yang kayunya diimpor dari negara tropis itu sudah tertutup saat aku tiba di depannya. Hal ini menandakan kalau pertemuannya sudah dimulai. Setelah memastikan rambut dan seragamku rapi, aku mengetuk sebanyak 3 kali.

“Masuk!” Suara tegas terdengar dari dalam ruangan, membuatku meraih pegangan pintu dan sedikit melakukan gerakan mendorong untuk membukanya. Dan begitu aku masuk semua mata tertuju padaku. Ya Tuhan, ternyata pertemuan ini dihadiri oleh para petinggi rumah sakit juga! Hwang Miyoung.. semoga kau tidak mendapat surat peringatan setelah ini.

Jhwesonghamnida, Seonsaeng-nim. Saya terjebak macet.”

“Eoh.. Ghwenchanayo. Silahkan duduk.“ Profesor Kim yang memimpin rapat mempersilahkanku masuk tanpa menyebut namaku. Lagipula, tidak mungkin dia tahu. Aku hanya karyawan biasa disini. Jadi mengenalku adalah hal yang tidak perlu dan tidak penting.

Aku memandang ke semua penjuru mencari-cari kursi yang harus kutempati sampai Yoona melambaikan tangannya padaku.

Mian, aku terlambat.”

Ghwenchana. Siapa suruh mengadakan rapat mendadak seperti ini. Kita mau datang saja sudah untung.” Hyoyeon yang duduk di belakangku menjawab asal.

“Ya! Jaga bicaramu! Kalau ada yang mendengar bisa gawat. Aku tidak mau mendapat teguran lagi.” Taeyeon yang merupakan kepala shift kami menimpali dengan bisikan sementara Hyoyeon dan Yoona hanya terkikik pelan.

“Memangnya apa yang dibahas tadi?” Tanyaku pada Taeyeon.

“Biasa. Evaluasi bulanan, tapi kali ini lebih serius.  Jadi, pihak direksi memutuskan untuk melakukan mutasi.” Jelas Taeyeon.

“Mutasi? Maksudnya pindah bagian?”

Ani. Hanya pergantian asisten dokter saja. Sepertinya ada dokter yang merasa tidak puas dengan hasil pekerjaan kita.”

“Hasilnya sudah diumumkan?”

“Belum. Petugas yang baru akan diberitahukan oleh kepala ruangan masing-masing.”

Hyoyeon dan Yoona menghentikan tawa mereka.

“Kabar buruk.” Ujar Hyoyeon.

“Hmm.. buruk sekali.” Timpal Yoona setuju. “Kita seperti keluar dari kandang serigala dan masuk ke kandang singa.”

Setelah itu aku tidak terlalu menyimak apa yang mereka bicarakan. Aku perlu mengasingkan diri sejenak untuk menenangkan jantungku yang bergemuruh karena berlari tadi. Aku tidak terlalu menyukai topik pembicaraan mengenai kesalahan jenis apa saja yang sudah kami lakukan. Memikirkan bahwa aku masih harus bekerja sebagai asisten dokter sepanjang sisa tahun ini saja sudah membuatku pening apalagi membahas masalah lain.

Saat aku mengarahkan pandangan ke depan, tanpa sengaja mataku bertemu dengannya. Mata beriris cokelat dengan sorot yang tajam. Dia terus menatapku. Keningnya berkerut seperti sedang melakukan penilaian. Mau tidak mau aku jadi salah tingkah. Memang, ada yang salah ya dengan penampilanku?

**LH**

Mwo?!” Pekikku tertahan dengan mata membulat.

Yuri, kepala ruangan kami, mengerutkan dahi. “Apa perlu bereaksi seperti itu?” Tanyanya sambil menaikkan alis.

“Katakan lagi, Eonni. Siapa dokternya?”

“Choi Siwon Uisa.” Ulang Yuri.

Mataku terpejam. Kedua telapak tanganku secara spontan menangkup kepala untuk menggambarkan keterkejutan.

Setelah enam bulan terbebas dari ancaman kediktatoran yang hampir membunuhku akhirnya mimpi buruk ini menjadi kenyataan. Kenapa aku harus bekerja bersamanya? Dari sekian banyak manusia di bumi ini kenapa harus pria itu yang menjadi atasanku?

Tidak.. Tidak.. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku ingin selamanya berada dalam zona amanku.

Eonni, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Aku bahkan bersedia mengambil long shift setiap minggu atau berjaga saat natal nanti, tapi kumohon ubah keputusanmu.” Pintaku memelas.

Yuri menghela napas, “Tidak bisa. Semua petugas sudah menjadi asisten dokter yang lain. Hanya kau yang belum.”

“Tapi aku memang bukan perawat. Aku tidak bisa melakukannya.” Protesku.

Aigoo.. jangan merendah begitu. Aku tahu kau pasti bisa.”

“Aduh.. masalahnya bukan itu. Aku bukannya tidak mau mendapat tugas tambahan. Bagaimana kalau ditukar dengan dokter yang lain saja, eoh? Ayolah, Eonni. Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan selain kau.”

“Aku mohon tolonglah aku, Miyoung-a. Tidak ada yang bersedia menjadi asistennya.” Bujuk Yuri lagi.

“Kalau yang lain tidak mau, kenapa aku harus mau? Semua itu terjadi karena ulahnya sendiri. Siapa yang tahan pada sikap galaknya.”

“Ayolah, Miyoung. Diantara karyawan senior lainnya hanya kau yang belum menikah. Bebanmu tidak seberat kami.”

“Kenapa kau jadi membawa-bawa masalah pribadi? Lagipula apa hubungannya antara statusku dengan Choi Uisa?”

“Kau kan tahu Choi Uisa itu seperti apa. Dia bahkan bangun sebelum ayam berkokok.”

Aku mendengus kasar, “Kalau ayamnya betina, tentu saja sampai kapanpun tidak akan berkokok.”

Mianhe, Miyoung-a. Surat tugasnya sudah dibuat. Kau harus bekerja dengannya mulai besok.”

“Terserah. Yang jelas, aku akan menghadap bagian kepegawaian dan mengajukan keberatan.” Kataku seraya berjalan meninggalkan ruangan. Tak kuindahkan suara panggilannya yang memintaku kembali. Aku harus cepat sebelum ia kembali menahanku.

Sudah 5 tahun aku bekerja dalam diam. Semua peraturan dan ketentuan yang berlaku kujalani dengan setulus hati. Jangan kira aku akan menerima saja diperlakukan seperti ini. Tunggu saja. Jangan panggil aku Hwang..

“Miyoung!” Terdengar seseorang memanggil namaku.

Aku berhenti lalu menoleh, “Eoh? Soo Yeon-a? Kau sudah masuk? Kupikir kau mengambil cuti tahunanmu.”

Ani. Kemarin hanya izin 1 hari saja. Aku berencana untuk mengajukannya saat resepsiku nanti.”

“Oh.. begitu. Kau mau kemana?” Tanyaku pada Soo Yeon yang memegang bak instrumen dengan sebelah tangannya.

“Mengantar sample ke laboratorium. Huh.. Aku kira calon pengantin akan diberi dispensasi.” Kelakarnya. “Kau sendiri mau kemana? Kenapa terburu-buru begitu? Ada pasien yang perdarahan lagi?”

Aku berdecak, “Bukan. Aku akan pergi ke kepegawaian.”

“Kepegawaian? Untuk apa?”

“Nasib baik sepertinya sedang enggan berpihak padaku, Soo Yeon-a. Aku ditunjuk menjadi asisten Choi Uisa?”

“Choi Uisa? Maksudmu Choi Uisa yang terlalu disiplin, galak, angkuh dan dingin itu?” Mata Soo Yeon terbelalak.

“Memangnya ada Choi lain lagi di rumah sakit ini.” Jawabku tanpa minat.

“Bagaimana bisa?”

Molla. Yuri Eonni mengatakan alasan yang tidak masuk akal. Karena itulah aku akan menemui Nyonya Cha.”

Soo Yeon menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekeliling kami dan mengecilkan suaranya, “Ya! Kau harus menolak. Bagaimanapun caranya. Kau masih ingat korban terakhirnya, kan?” Kata-Kata Soo Yeon mengingatkanku pada tragedi 6 bulan lalu.

Saat itu perawat yang menjadi asisten Dokter Choi mengundurkan diri diiringi derai air mata karena tidak tahan dengan sikap atasannya. Padahal dia adalah karyawan teladan dan rajin. Dokter yang pernah dibantu olehnya selalu memujinya. Ya.. sebenarnya hampir semua terkecuali Dokter Choi itu. Dia memang aneh, bukan?

Kami berjalan bersama sampai di persimpangan. Aku melambaikan tangan pada Soo Yeon yang mengucapkan ‘Hwaiting‘ tanpa suara sebelum melangkah ke ruang Administrasi. Ketika masuk ke ruangan Nyonya Cha, aku nyaris berbalik dan bersembunyi.

Pria itu, yang kukenali dari suaranya, berdiri di meja di depanku. Sepertinya mereka tidak menyadari kedatanganku. Aku berdiri merapat ke dinding belakang menunggu Nyonya Cha selesai.

Dokter Choi sedang berdebat dengannya. Nada suaranya tinggi dan terdengar tegas. Dengan cepat aku menangkap inti pembicaraan mereka. Ia sedang berusaha menukar asistennya dengan perawat lain. Siapa saja asalkan tidak dengan asistennya yang baru.

Oh.. seperti itu.

Tapi.. Tunggu dulu! Sepertinya ada yang janggal di sini. Tadi dia bilang apa? Asistennya yang baru? Asisten.. Baru.. Asis.. Heol! Maksudnya aku?!

Aku sama sekali tak percaya keinginannya untuk menukar rekan kerja bisa sama denganku. Seharusnya yang layak menolak itu aku, bukan dia. Yang bertingkah seenaknya dan semena-mena kan dia. Akulah calon korbannya di sini.

Choi Siwon masih mengeluarkan argumennya. Secara sepintas aku mendengarnya menyebut “bukan perawat”, “melahirkan” dan… apa? “tidak kompeten”?!

Jadi dia menganggap kalau aku yang seorang bidan ini tidak berkompeten dalam membantunya menangani pasien, begitu? Pria itu, awas ya!

“Miyoung-ssi, ada perlu apa kemari?” Nyonya Jang yang baru saja masuk menyapaku. Secara otomatis Nyonya Cha dan ‘dia’ menoleh. Choi Siwon sedikit terkejut saat melihatku.

Kenapa? Karena orang yang kau bicarakan ternyata ada dibelakangmu, eoh?

“Choi Uisa, Anda juga disini?” Sapa Nyonya Jang, “Wah.. kalian berdua sungguh tim yang solid.” Lanjutnya.

Dokter Choi mengacuhkan sapaan Nyonya Jang lalu kembali pada kegiatannya membujuk Nyonya Cha. Tapi wanita berusia 40 tahun itu bersikeras untuk mempertahankan pendiriannya.

“Kalau begitu lupakan saja. Terima kasih banyak atas bantuan Anda.” Katanya sarkatis. “Tapi jangan salahkan aku jika rumah sakit ini kehilangan 1 karyawannya lagi.” Lanjutnya sebelum berlalu melintasiku tanpa menoleh sedikitpun. Hentakan kakinya terdengar cepat dan kasar.

Nyonya Cha menarik napas dalam sebelum mulai bicara, “Aku tahu apa yang kau inginkan, Miyoung-ssi.”

Jhwesonghamnida, Nyonya. Bukankah Anda dengar sendiri apa yang Choi Uisa katakan tadi? Saya tidak berkompeten melakukan tugas itu.”

“Itu masalah mudah. Kau bisa belajar dari temanmu yang lain.”

“Tapi…”

“Ini adalah keputusan direksi, Miyoung-ssi. Pergantian asisten dokter memang terjadi setiap awal tahun, tapi karena satu dan lain hal kami memutuskan untuk mempercepatnya.”

“Saya tahu, Nyonya Cha. Saya tidak keberatan melaksanakan tugas itu. Hanya saja kalau saya dipasangkan dengan Choi Uisa sepertinya kami tidak akan bisa bekerja sama dengan baik.”

“Cobalah dulu, Miyoung-ssi. Kalau kau menolak, kau akan dianggap melalaikan tugas. Sanksinya akan sangat berat. Kau bisa di-skors atau bahkan dirumahkan.”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimanapun juga aku membutuhkan pekerjaan ini. Haruskah aku mengikuti aturan yang ditetapkan atau menuruti keinginanku? Kuakui aku jadi dilema.

**LH**

Aku mengalihkan pandangan dari tiang infus ke arah sesosok pria berusia 29 tahun bertubuh tinggi, berkalungkan stetoskop, berambut rapi, yang sedang berdiri di depanku. Namanya Choi Siwon, seorang dokter umum lulusan fakultas kedokteran ternama di Eropa. Benda yang tersampir di lehernya itu adalah salah satu hadiah kelulusan yang selalu ia bangga-banggakan. Dan ya… aku adalah asistennya, tentu saja.

“Kau datang terlambat saat staff meeting kemarin.” Kata Siwon tanpa mengalihkan pandangan dari catatan perkembangan pasien di tangannya.

Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Merasa tidak perlu menjawab aku hanya mengangguk tanpa suara.

Suara Siwon terdengar lagi, “Aku tidak ingin hal itu kembali terulang. Kau sudah melakukan kesalahan pertamamu. Kuharap kau bisa memanfaatkan kesempatanmu dengan baik.”

Lagi-lagi aku menjawab dengan anggukan.

“Jawab aku, Hwang Miyoung-ssi!”

Ne. Jhwesonghamnida.” Akhirnya aku terpaksa mengeluarkan suara juga.

Siwon mengangguk-angguk puas, lalu melintasi pintu kamar rawat 401. Pada kesempatan itu, aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya keras-keras. Tangan kiriku memegang buku catatan sementara tangan kananku masih setia menggenggam pena. Jemariku terasa pegal karena terlalu cepat menulis.

Tiba-tiba saja Siwon menghentikan langkahnya hingga aku nyaris menabrak punggung pria itu. “Aku akan menemui Park Uisa. Kau boleh kembali ke ruang jaga. Aku ingin catatan kemajuan pasien yang sempurna. Selesaikan hari ini. Aku akan melihatnya nanti.” Setelah mengatakan perintahnya, Siwon kembali melanjutkan langkah.

Sambil menatap kesal punggung Siwon, aku mencibir. Atasanku itu memang terkenal karena sikapnya yang dingin dan menyebalkan. Dia memintaku untuk datang pukul 06.30 setiap harinya. Kami baru selesai memeriksa pasien setelah berkeliling seolah instalasi rawat inap ini hanya seukuran lapangan futsal, membacakan catatan perkembangan pasien, dan menemaninya bertemu direktur rumah sakit. Aku bahkan belum sempat makan pagi karena tidak sempat memasak dan harus mengejar bis pertama.

Terkadang, aku menyesali keputusanku menerima tugas ini. Aku memang mendapat bonus tambahan dari rumah sakit tempatku bekerja. Meskipun penghasilan adalah salah satu variabel penting dalam hidup, tapi kemudian aku tersadar apa yang menjadi alasan teman-temanku menolak bekerja sebagai asisten dokter ini. Aku harus melakukan segala yang diperintahkannya dengan cepat, tepat dan akurat.

Aku kembali menatap Dokter Choi yang saat ini sudah berbelok di ujung koridor lalu mulai berjalan dengan kepala yang tertunduk. Sesampainya di ruang jaga aku meletakkan tumpukan kertas ke atas meja. Sepertinya aku harus lembur sore ini. Aish! Ini semua gara-gara Choi Siwon itu. Kenapa dia selalu menyuruhku memperbaiki status pasien? Memangnya aku ini mahasiswi tingkat akhir yang sedang konsultasi pada dosen pembimbingnya?

Kriiiiiiing…

Telepon ruang jaga yang berdering membuatku tersentak dari dunia lamunan. Aku yang saat itu merasa begitu terkejut tidak bisa melakukan apapun selain mengelus dada untuk menenangkan jantungku yang berdegup kencang.

Kriiiiiiing…

Sekali lagi telepon berdering, tapi tetap tak membuatku bergeming. Aku terlalu malas untuk berdiri dan menjawabnya. Apa benda itu tidak bisa beristirahat sebentar saja? Kemana perginya ‘makhluk-makhluk’ yang hari ini dinas bersamaku? Pasti sekarang mereka sedang asyik mengobrol di ruang tindakan. Jinjja!

Greeeet…

Suara pintu yang terbuka membuat kepalaku secara otomatis mendongak. Terlihat Yoona yang masuk membawa botol berisi cairan infus dan kertas hasil pemeriksaan pasien. Kepalaku kemudian menunduk untuk kembali menulis.

“Ya! Jamur kering! Dasar autis! Telepon berdering pun acuh saja!” Kata Yoona sambil menaruh botol infus di atas meja.

“Habis aku bosan menjawab. Sebentar-sebentar ada yang menelepon. Paling-paling juga perawat dari ruang sebelah.”

“Ya sudah jawab saja. Apa susahnya?” Katanya lagi.

“Biar saja. Lagipula teleponnya sudah berhenti berdering. Kalau penting mereka pasti akan menelepon lagi.”

Yoona hanya berdecak menanggapi jawabanku.

“Kau habis dari mana?” Tanyaku.

“Dari apotek.”

“Hmm… Aku jadi curiga. Akhir-akhir ini kau jadi sering pergi ke sana.”

“Kau ini tahu saja. Ada seorang namja yang sedang kuincar!” Jawab Yoona dengan seringaian khasnya. “Apa yang sedang kau kerjakan?”

Aku menjawab pertanyaannya dengan menunjukkan hasil tulisanku.

“Eoh? Menyalin status pasien lagi?”

Aku hanya mengangkat bahu. “Molla. Yang jelas tingkahnya semakin menyebalkan.”

“Tapi kalau diperhatikan, tanpa menyertakan sikap dingin dan angkuhnya, Choi Uisa itu tampan juga.”

“Tampan? Tampan itu yang suka dipakai untuk membersihkan beras, ya?”

“Aish! Itu tampah! Aku serius, Eonni. Coba kau dekati dia. Siapa tahu kalian berjodoh.”

“Mwo? Ya! Aku masih cukup sadar untuk memilih. Lebih baik memakan semangkuk ikan daripada harus menikah dengannya.”

Yoona tersenyum misterius. “Hati-hati, Nona. Survey membuktikan 7 dari 10 wanita menikahi pria yang mereka benci.”

“Kau benar. Dan aku termasuk dalam 3 orang lainnya.”

Yoona tertawa sebelum mengambil sesuatu dari saku seragamnya. “Aku bisa ikut gila kalau terus membicarakan pria itu denganmu. Ini. Aku bertemu dengan Kim Seonsaeng-nim tadi. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu. Katanya flashdisk ini milik Choi Uisa. Dia akan mengambilnya sepulang kerja nanti.”

Dengan berat hati aku menerima benda itu dan mengamatinya. Kalau memang ini miliknya, kenapa dia tidak mengambilnya sendiri ke Profesor Kim? Selain itu bukankah seharusnya Profesor Kim tidak mengenalku? Ternyata Choi Siwon benar-benar serius tentang memeriksa hasil pekerjaanku. Memangnya aku tidak tahu kalau flashdisk ini hanya alasannya untuk dapat bertemu denganku dan memarahiku? Dasar singa jelek!

**LH**

Author’s POV

Angin yang berhembus cukup kencang membuat Miyoung semakin merapatkan mantelnya. Cuaca Gangseo akhir-akhir ini memang kurang bersahabat. Tangan dan kaki Miyoung sampai terasa dingin karenanya. Belum lagi perutnya sedikit kram menjelang periode bulanannya.

Dengan perlahan gadis itu berjalan menyusuri trotoar. Lengah sedikit saja bokongnya bisa mendarat dengan mulus di tanah karena menginjak tanah yang licin. Inilah repotnya tinggal di tempat yang jauh dengan tempat bekerja. Setiap harinya Miyoung harus menunggu bus di halte depan rumah sakit untuk menempuh perjalanan selama 1 jam dan setelah itu dia masih harus berjalan selama 15 menit. Belum lagi hari ini dia pulang terlambat karena menyelesaikan tugas tambahan dari Siwon. Alhasil dia baru menginjakkan kaki di kamar sewaannya saat petang menjelang.

Miyoung membuka pagar dan memasuki halaman apartemennya. Tempat itu berupa bangunan 4 lantai yang mengelilingi parkiran yang cukup luas. Miyoung menyapa beberapa penghuni yang berpapasan dengannya sebelum menaiki tangga lalu berbelok menuju kamarnya yang terletak di ujung lantai dua. Setelah berganti pakaian, Miyoung duduk di sofa kecil depan televisi dan bersiap untuk menikmati sup ayam yang dibelinya di kedai seberang halte. Dia berharap hangatnya kuah sup dapat membuat rasa dinginnya sedikit berkurang.

Duk.. Duk.. Duk..

Tiba-tiba terdengar gedoran di pintu sehingga membuat Miyoung terlonjak. Gadis itu menoleh ke arah pintu yang tampak bergetar.

Nuguseyo?” Teriak Miyoung, tetapi tidak ada jawaban. Gedoran itu malah terdengar semakin keras. “Changkammannyo!”

Miyoung segera menggapai mantel dan membungkus tubuh dengannya. Sambil tersandung-sandung ia berderap ke pintu dan mengintip. Namun, ia tidak bisa melihat apapun dari lubang kecil disana.

Miyoung beringsut ke belakang pintu. Setelah memastikan penampilannya cukup layak untuk menerima tamu, Miyoung membuka pintu dan mengintip keluar.

Ne..”

“Hwang Miyoung-ssi?”

Hal pertama yang dilihat Miyoung adalah sepatu hitam yang tampak mahal. Pandangannya naik ke celana jeans hitam, lalu kemeja biru yang digulung sampai siku, dan akhirnya wajah familiar yang sedang menatap ke arahnya.

Mata Miyoung melebar begitu mengenali sosok dihadapannya. Pria itu adalah atasannya, Choi Siwon, hanya saja wajahnya 10 kali lebih menakutkan.

Annyeong!” Sapa Siwon dengan nada sedingin es.

A.. Annyeonghaseyo.,” Miyoung menyeringai. “Kenapa.. Anda datang kesini, Choi Uisa-nim?”

Siwon mendengus tak percaya, “Kenapa?” Ulangnya sinis. “Dimana flashdisk milikku?”

Miyoung segera menelan ludah. Sekarang ia benar-benar yakin kalau keberuntungan tidak lagi berpihak padanya. Pria ini tampak siap meledak kapan saja.

“Kim Seonsaeng-nim mengatakan kalau dia menitipkan benda itu padamu.” Kata Siwon.

“Ah.. Ne.. Jhwesonghamnida. Saya.. lupa.”

“Lupa? Kau pasti sengaja melakukannya!” Tuduh Siwon.

Mworaguyo?” Sahut Miyoung tak terima. “Jhwesonghamnida, tapi saya tidak serendah itu. Saya selalu bersikap profesional terhadap pekerjaan saya. Saat saya akan menemui Anda, ada pasien baru yang datang. Jadi saya membantu Suster Kwon untuk menanganinya.”

Alis Siwon terangkat, “Terserah! Aku tidak peduli dengan urusanmu. Tolong serahkan flashdisk itu sekarang juga.”

Selama beberapa saat, Miyoung hanya membuka mulut dan mengatupkannya lagi karena kehilangan kata. Melihat itu Siwon semakin menatapnya tajam.

“Mmm.. Changkamannyo..” Kata Miyoung akhirnya sambil perlahan menutup pintu. Namun, Siwon lebih cepat. Ia menahan pintu dengan tangannya.

“Aku tidak mau menghabiskan tenagaku untuk mengetuk pintumu lagi.”

“Kalau begitu silahkan masuk, Uisa-nim.” Gadis itu menggeser tubuhnya agar Siwon bisa masuk.

Miyoung menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan tergopoh menuju kamarnya. Setengah melompat ia memburu benda di atas meja belajar lalu mulai mengaduk-aduk isinya. Dia hanya ingin Siwon cepat pulang kemudian kembali menikmati makan malamnya yang tertunda.

Sementara Miyoung mencari, Siwon membanting tubuhnya di sofa lalu memijat keningnya perlahan. Detik berikutnya, ponselnya bergetar. Kepala Siwon serasa akan pecah begitu melihat nama yang tertera dilayarnya.

Siwon menerima panggilan itu. “Ne, Hyung?”

“Siwon-a, kau dimana?” Sahut pria diseberang sana, membuat tangannya berhenti memijat.

Siwon ragu harus menjawab apa. Kalau ia menjawab yang sebenarnya, selain merepotkan dan memakan waktu, dia pasti akan dianggap tidak kompeten.

“Di.. Emm.. Aku sedang di supermarket. Ya.. supermarket.”

“Ya!” Lawan bicara Siwon terdengar kesal, “Aku kira kau sudah pulang. Aku sedang dalam perjalanan menuju rumahmu, tapi kau malah berbelanja.”

Mianhe.” Kata Siwon, “Kalau kau sudah sampai langsung masuk saja ke dalam. Passwordnya masih sama seperti dulu. Aku akan segera kembali.”

“Baiklah, aku menunggumu. Hei.. kau punya ramen tidak?”

“Mmm.. aku rasa tidak. Wae?”

“Kau ini! Ramen itu makanan wajib setiap pria lajang Korea.” Protes Jung Soo.

“Kalau kau lapar, hangatkan saja bulgogi yang ada di kulkas. Kurasa masih tersisa beberapa potong.”

Jung Soo terdengar mendesah. “Kau ini memang terlalu lama tinggal di negeri orang, Choi Uisa. Jadi budayamu sendiri kau lupakan. Kau tidak bisa menyebut dirimu lembur sebelum merasakan sensasi memakan ramen di tengah malam. Dasar payah! Begitu saja tidak tahu. Saat kau kembali, bawakan aku beberapa bungkus ramen dan makanan ringan lainnya. Kalau tidak, kau akan kuadukan pada Seonsaeng-nim.” Ancamnya.

“Baiklah. Akan kuusahakan.” Kata Siwon lalu segera memutuskan pembicaraan sebelum seniornya semakin banyak bicara.

Siwon mengedarkan pandang ke apartemen Miyoung yang tidak terlalu besar, bergaya minimalis dengan interior didominasi warna merah muda dan oranye. Di dekat kursi yang dia duduki terdapat lemari dan meja berlaci berwarna senada. Foto-foto Miyoung saat berpose sendiri maupun bersama temannya dipajang di atasnya, di dalam figura kayu warna-warni. Saat itu tanpa sengaja ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 20.30. Siwon mendongak, lalu memandang ke arah kamar Miyoung yang pintunya terbuka. Gadis itu sudah terlalu lama mencari.

Sedetik berselang, suara Siwon yang memanggilnya kembali terdengar di telinga Miyoung. Miyoung memejamkan mata rapat-rapat seraya menyesali nasibnya. Ketika panggilan Siwon mulai berubah menjadi teriakan, Miyoung memberanikan diri untuk berhadapan lagi dengan Siwon. Perlahan dia keluar dari kamarnya. Dengan hati berdebar Miyoung berjalan mendekat. Tubuhnya seperti membeku saat melihat pemandangan di depannya. Siwon masih duduk ditempatnya semula dengan kaki yang mengetuk-ngetuk lantai tak sabar. Miyoung menahan napas. Ia merasa tidak lagi berada di apartemennya yang nyaman. Ia merasa seperti sedang berada di sarang penyamun.

“Mana?” Tanya Siwon setelah melihat Miyoung tidak membawa benda apapun selain tasnya.

Miyoung menunduk. Tatapannya kembali bertemu dengan sepatu mengkilat Siwon yang seakan turut prihatin untuknya. Ia tidak tahu harus bagaimana.

Siwon mendesah. “Dengar. Aku tidak punya banyak waktu. Aku membutuhkannya sekarang.”

“Mmm.. itu.. flashdisknya ada di tas ini..”

Tanpa basa-basi Siwon merebut tas Miyoung dan mulai melihat isinya. Tangannya kemudian merogoh setiap celah didalamnya, tapi kemudian keningnya berkerut setelah menyadari kalau benda yang dicarinya tidak ada. Disana hanya ada dompet, kartu tanda pegawai Miyoung dan beberapa kosmetik yang tidak Siwon ketahui namanya.

“Mana? Kenapa tidak ada?”

Miyoung meringis, paham benar kekesalan Siwon. Pria itu pasti mengira kalau dia telah mempermainkannya. Namun, sebelum Miyoung sempat menjelaskan apapun, Siwon sudah membanting tasnya ke sofa.

“Kau sengaja membuatku marah, ya?!” tanyanya geram, membuat Miyoung merapat ke dinding.

“Bu.. bukan begitu, ini..” Miyoung mencuri pandang ke arah Siwon yang menunggu penjelasannya dengan mata berkilat-kilat. “Saya memasukkannya ke dalam tas saat menerimanya dari Yoona. Ketika akan pulang, saya berganti pakaian dan berniat untuk memberikannya pada Anda dalam perjalanan. Lalu pasien itu datang dan.. Omona!”

Mwo?” Sahut Siwon.

Jhwesonghamnida, Uisa-nim. Saya rasa.. flashdisk itu tertinggal di IGD.”

WHAT THE..” Siwon menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dadanya terasa sesak karena menahan amarah. Kepalanya pun terasa nyeri. Selama beberapa saat, pria itu memejamkan mata erat-erat mencoba untuk mengendalikan diri.

Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa semua ini menjadi begitu rumit? Ia pikir cukup dengan menemui Miyoung dan mengambil flashdisk semua urusannya sudah selesai. Kalau tahu begini Siwon tidak akan meminta Profesor Kim untuk menitipkannya pada Miyoung dan langsung meminta Jung Soo untuk menyimpannya. Awalnya dia takut pria itu lupa membawanya. Tapi sekarang dia menyesali keputusannya. Mengingat kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi membuat kepalanya semakin berdenyut. Bagaimana tidak, ada dokumen penting di dalamnya yang harus dia baca sebelum melakukan perjalanan ke Jepang besok siang.

Tidak ada jalan lain. Dia harus membawa gadis itu bersamanya.

“Kau,” Siwon menggapai tangan Miyoung, “Ikut aku.”

Sebelum Miyoung sempat memutuskan, Siwon sudah menariknya, mengunci pintu apartemen Miyoung dengan cepat lalu mendudukkannya di kursi penumpang.

**LH**

To Be Continued ^_^

80 thoughts on “(AF) Lion Heart Part 1

  1. galak bngt sih siwon, tpi seru deh kyknya soalnya kan blm pernah baca nih yg critanya kyk gini. smangat ya buat tiffany salama menghadapi siwon.
    nextttttt bro

  2. Annyeong kireynalice-ssi….
    Yeay..!! My fav author is back… setelah sekian lama aku menunggu karya mu terbit, selepas baby..baby..babby yg menggemaskan dan mengesankan, (bner ga ya? Atau aku yg ga up to date) aku blm baca ff diatas, tapi dah ga sabar to say hello 😆 (mumpung lg ada kuota dgn fasilitas gadget yg bagus, jd ga ngadat, koneksi lancarrr..)
    aku yakin karya ini tidak mengecewakan, aku pasti komen lagi klo ada sesuatu yg mungkin ga sesuai harapan. Terus berkarya, figthing…!! Dan gomawo kireynalice-ssi..

    • iya, setelah baby3 memang baru ff ini yg dibuat. jaraknya juga lumayan jauh. biasa lah..kerjaan datengnya ga berenti2 #sok sibuk.
      mudahan2 ceritanya ga mengecewakan & sesuai harapan ya. saran perbaikannya ditunggu🙂

  3. entah mengapa suka karakter siwon yang begini, cool!! hahaha untuk tiffany eonnie sabar aja ya haha.. ceritanya keren, di tunggu lanjutannya..

  4. Aiggo…..siwon galak amat sih,kasian fanynya.
    Yg sabar ya fany.bagus kok thor ffnya.next ya thor
    Ditggu part nextnya.yg semangat ya.jjang thor.
    Hwaiting.

  5. Serius kepengen cepet2 liat kelanjutannya ceritanya, lagi seru-serunya baca eh udah to be continued aja. Next partnya ditunggu ya thor, please jgn lama-lama.
    Semangat terus ya thor buat ff nya

  6. aigoooo meski dokter tampan jgn galak bgt kali dad, kasian mommy.
    errrrr sabar ya mom….
    hummpptt kira2 gmna kdpanny klo sikap siwon am miyoung gini trus ?
    bsa2 gk ad yg mw jd asistenny lg utk kdpanny

    next part

  7. asik asik choi uisaa.. jadi ini temanya benci benci cinta? e eeeh.. daddy choi jangan galak galak ya sama mommy. entar cakepnya ilang loh wkwk /slap
    keren authonim! sudah ada part duanya lagi hehe. semangat terus!!

  8. Ya ampun sifany ribut cuma grgr flashdisk ㅋㅋㅋㅋ kayaknya hubgn mereka bkl berawal dri sebuah flashdisk 😄 seru nih pertama” saling benci eh lama” cinta pasti haha nggak kbyng gmna galaknya siwon pasti serem kyk singa bhuha pass nih judulnya lion heart ciieeehh oke ditunggu part slnjutnya😊

  9. wahh gimana tuh flashdisknya siwon? kalo g ketemu gimana? seru, seru, tIffany disini asisten dokter sekligus bidan ya author (?), Keliatan disini siwon banyak maunya kkkk~ penasaran sama nasib tiffany dan proses mereka saling jatuh cinta #eaaaa nextt !

  10. Yaaahhhhh, knpa ak baru menyadari ad ff keren yg terlewatkan ya? Kmna aj coba ak ny slama ini. Duuhhh *tepok jidat

    Jdi penasaran gimana ceritanya merekaa berdua bisa jadian ntar klo dri awal sama sama benci gini. Hahaa
    Ff ny kak kirey keren2 ya bahasanya enak. Hihii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s