(AR) The Beautiful Suspect Part 6

The Beautiful Suspects Part 6

SIFANY_TBS_POSTER2

Author: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon |Tiffany Hwang

Supported cast:

Jessica Jung | Lee Donghae | Cho Kyuhyun | Im YoonA | Lee Hyukjae | Kim Taeyeon

| Oh Sehun | Krystal Jung

Genre: Mystery, Action, Soft Romance

Rating: PG 17

Length: Chaptered

Disclaimer: The cast are belong them self, but the story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

Warning: Typo

—The Beautiful Suspects—

Flashback.

“Thanks for your help, Dad. Sorry to make you bother. Now it’s no longer needed. Bye.”

Tiffany memutuskan sambungan teleponnya. Ayahnya baru saja mengabarkan kalau pendaftaran Yuri di salah satu kampus di California sudah diterima. Seharusnya berita yang disampaikan ayahnya membuatnya senang, kalau saja Yuri masih ada. Tapi berita itu justru membuat Tiffany semakin sedih. Ditatapnya note milik Yuri yang ditemukannya di kamar asrama mereka. Buku bersampul kulit itu sudah selesai dibacanya semalam. Yuri menuliskan semua peristiwa penting hidupnya di dalam buku itu. Dari buku itu, Tiffany mengetahui siapa laki- laki yang menghamili Yuri. Ia juga tahu kalau Jessica sudah menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Dan, ia juga tahu kalau sebenarnya Yuri juga diam- diam menyukai Kyuhyun. Tapi ia tak pernah menunjukkan perasaannya karena merasa tak sebanding dengan Kyuhyun.

Aku akan mengatakan perasaanku pada Kyuhyun saat aku lulus dengan nilai terbaik dan diterima  di kantor pengacara terkenal di Seoul.

Tulis Yuri dalam bukunya. Tiffany memeluk erat buku itu dan meneteskan air matanya. Ia menghapusnya lalu bangkit dari duduknya. Saat itu dilihatnya Kyuhyun berjalan di lorong kampus. Tiffany langsung berlari menghampirinya.

“Kyu!!!” panggilnya.

Namun Kyuhyun terus berjalan dengan langkah panjang.

“Kyu!!!” panggil Tiffany sekali lagi.

Ia memegang pergelangan tangan pemuda itu setelah berhasil mensejajarkan langkahnya. Kyuhyun pun berhenti dan menatap Tiffany.

“Kenapa kau menghindariku?” tanya Tiffany.

Kyuhyun membuang pandangannya. Ia mendesah kesal lalu menarik tangannya hingga terlepas dari pegangan Tiffany.

“Kau marah padaku?” tanya Tiffany lagi.

“Ya, aku marah padamu. Kalau saja aku tidak mendengarkanmu dan tetap menikahi Yuri waktu itu, mungkin dia tidak akan bunuh diri. Dia pasti masih berada di sini sekarang.” Teriak Kyuhyun.

“Jadi kau menyalahkanku?”

Kyuhyun diam.

“Dengarkan aku, Kyu. Kau tidak tahu—“

“Aku tidak mau mendengar lagi, Tiff. Cukup. Biarkan aku sendiri.”

Kyuhyun pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan Tiffany. Air matanya menetes lagi. Dilihatnya punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Setelah Yuri meninggal, Kyuhyun menjauhinya, Jessica pun jarang terlihat di kampus bahkan ia tidak pulang ke asrama. Tiffany sendirian. Kesepian tanpa sahabat- sahabatnya lagi.

***

“Ini—“ Jessica membeku setelah membaca buku harian Yuri yang diserahkan Tiffany padanya.

“Kau puas sekarang, Jessie?” cibir Tiffany.

“Kau tahu, Yuri begitu mencintai anaknya. Dia memiliki impian untuk membesarkan anaknya sendiri dengan kasih sayang. Dia akan menjadi ibu yang kuat. Yang siap melindungi anaknya. Dengan menyuruhnya menggugurkan kandungannya, secara tidak langsung kau sudah menyuruhnya untuk mengakhiri hidupnya.”

“Aku sudah meminta tolong ayahku untuk mendaftarkan beasiswa untuknya di LA. Dan pengajuannya diterima. Tapi semuanya tidak berguna sekarang. Semua karenamu dan juga kakakmu yang br*ngs*k itu.”

Jessica gemetar mendengar kemarahan Tiffany.

“Aku—tidak bermaksud—menyuruhnya bunuh diri. Aku hanya tidak ingin anaknya kelak bernasib sama sepertiku, Tiff.”

“Tapi lihat sekarang, Jessie. LIHAT APA YANG TERJADI SEKARANG!!!” bentak Tiffany.

Jessica semakin ketakutan melihatnya.

“Yuri sudah tidak ada. Kyuhyun menyalahkanku. Dan kau, satu- satunya orang yang aku harapkan ada di sampingku untuk mendukungku ternyata adalah penyebab semua kekacauan ini.”

Tiffany mengambil buku harian Yuri dari tangan Jessica dengan kasar.

“Aku akan berusaha menuntut keadilan. Jung Woohyun harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan kau, Jessica Jung, sebaiknya jangan menghalangi jalanku.”

Setelah mengatakan itu, Tiffany pergi meninggalkan rumah keluarga Jung. Saat sampai di halaman depan rumah itu, Tiffany berbalik dan menatap rumah besar itu.

“Aku akan kembali saat aku lebih kuat. Aku pasti akan menghukummu, Jung Woohyun.” Tekad Tiffany.

Flashback end.

***

 

“Dia akan menginap di sini?” seru YoonA.

Siwon mengangkat alisnya.

“Agar aku bisa memastikan keselamatannya. Apa itu salah?” jawabnya.

YoonA melipat tangan di depan dadanya. Menunjukkan keberatannya atas tindakan Siwon.

“Oppa kan bisa mengirim orang untuk berjaga di rumahnya.”

Siwon mengerjapkan matanya. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya tadi.

“Yoong benar.” Ujar Donghae,”Sebenarnya tidak perlu membawa Nyonya Jung kemari. Kita bisa mengirim orang untuk mengawasi keadaannya di rumahnya.”

Hyukjae mengangguk setuju dengan pendapat YoonA dan Donghae. Siwon menatap ketiga orang itu bergantian.

“Baik, kalian memang benar. Aku tidak sempat terpikir hal itu tadi. Dan aku sudah terlanjur membawanya kemari. Kita tidak mungkin mengirimnya pulang sekarang kan?“

“Hanya malam ini. Besok pagi dia harus kau kembalikan ke rumahnya.” Tandas YoonA.

 

Di salah satu kamar, Tiffany duduk di atas ranjang. Memperhatikan Taeyeon yang sedang mengambil pakaian di dalam lemari yang ada di kamar itu.

“Kau bisa memakai ini. Aku harap ukurannya pas.” Taeyeon memberikan salah satu pakaian yang dipilihnya dari dalam lemari. Sebuah dress polkadot selutut berbahan katun.

Tiffany menerima pakaian itu dari Taeyeon.

“Terima kasih, Nona—“

“Taeyeon. Kim Taeyeon.” Jawab Taeyeon.

Tiffany mengernyit, “Kau bukan keluarga Choi?”

“Kami sudah seperti keluarga.”

“Oh, kau pasti kekasih Jaksa Choi, benarkan?”

“Tidak. Aku—bukan kekasihnya.” Bantah Taeyeon.

Tiffany tersenyum melihat kegugupan Taeyeon saat menjawab pertanyaannya. Ia bisa menebak kalau sebenarnya Taeyeon suka pada Siwon.

“Kau butuh bantuan untuk mengganti gaunmu?” tanya Taeyeon kemudian. Mengalihkan pembicaraan.

“Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Kalau begitu aku akan keluar. Selamat beristirahat—“

“Tiffany.”

“Selamat malam, Tiffany-ssi.”

“Selamat malam, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon pun keluar dari kamar itu. Tiffany menatap sejenak dress tanpa lengan yang tadi diberikan Taeyeon. Setelah itu, ia berdiri berjinjit dan membuka resleting gaun di punggungnya. Ia mulai melepaskan gaun maroon itu dari tubuhnya dan menggantinya dengan dress pemberian Taeyeon. Selesai mengganti pakaiannya, Tiffany duduk di depan meja rias. Menatap refleksinya di dalam cermin. Matanya tertuju pada satu titik di bahu kirinya yang sedikit terekspos. Ia meraba bagian yang berwarna biru agak kehijauan yang kontras dengan kulitnya yang putih. Tiffany meringis. Bekas luka itu masih terasa nyeri. Meskipun rasanya tidak seberapa dibanding  luka- luka lain yang tersebar di beberapa titik di punggungnya.

Tiffany lalu melepas sanggul rambutnya yang agak berantakan. Membiarkan rambut hitamnya terurai. Menutupi bekas luka di bahunya. Ia tidak ingin penghuni rumah itu melihat bekas lukanya. Terutama Siwon. Ia tidak ingin pria itu mengasihaninya lagi. Cukup sampai dia menangis dipelukan pria itu tadi.

Tiffany mengingat kejadian itu. Bagaimana cara Siwon memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut. Mengalirkan kehangatan padanya. Ia tidak tahu kenapa Siwon melakukan itu. Yang dirasakannya hanya kenyamanan saat Siwon memeluknya. Kenyamanan yang sudah lama tak dirasakannya.

Tok! Tok! Tok!

Tiffany menghadap pintu saat mendengarnya diketuk pelan.

“Ini aku. Kau belum tidur kan?”

Suara Siwon terdengar dari balik pintu.

“Masuklah.” Ucap Tiffany setelah memastikan sekali lagi kalau bekas lukanya benar- benar tak terlihat.

Siwon membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia sudah mengganti tuksedonya dengan kaos hitam berlengan panjang dan celana jins. Penampilannya terlihat santai. Tidak seperti yang biasa Tiffany lihat. Siwon membawa sebuah nampan di tangannya. Ia meletakkan nampannya di atas meja rias. Secangkir teh hijau dan beberapa potong sandwich berada di nampan itu.

“Aku hanya ingin memberikan ini.” kata Siwon.

“Terima kasih, Jaksa Choi—untuk semuanya.”

Siwon menatap Tiffany. Keadaan wanita itu sudah terlihat lebih baik. Ia merasa keputusannya membawa Tiffany ke rumahnya adalah benar. Dengan Tiffany berada di dekatnya, Siwon bisa merasa tenang.

“Istirahatlah, Nyonya Jung. Aku ada di luar jika kau membutuhkan sesuatu.”

“Bisakah kau berhenti memanggilku Nyonya Jung?”

Siwon mengernyit heran.

“Panggil saja Tiffany.” Tiffany menjawab kebingungan Siwon.

“Oke. Tiffany.” ulang Siwon. Ia tersenyum. Senang. Dengan mengizinkan Siwon memanggil namanya, bukan Nyonya Jung, berarti Tiffany sudah mulai membuka dirinya.

“Emm, boleh aku tanya satu hal?”

“Apa?”

“Apa alasanmu menikah dengan Tuan Jung?” Tiba- tiba Siwon ingin menanyakan hal itu.

Tiffany terdiam.

“Aku yakin harta bukanlah alasannya. Apakah cinta?” desak Siwon. Ia begitu penasaran. Ditatapnya wanita di hadapannya itu dengan intens. Tiffany mendadak mengalihkan wajahnya dari Siwon. Kebiasaan yang dilakukannya saat gugup. Siwon sudah hafal dengan  gesture tubuh Tiffany. Dan ia terus menatap wanita itu untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya.

“Aku rasa hal itu bukan urusanmu.” Jawab Tiffany sambil menyelipkan rambutnya di sela telinga kirinya. Berusaha meredam kegugupannya. Lalu dilihatnya Siwon bergerak mendekat padanya sambil memicingkan mata.

Siwon berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Tiffany yang masih duduk di bangku meja rias.

“Apa yang—“

Pertanyaan Tiffany terhenti saat Siwon menyentuh bahunya. Tepat pada bekas lukanya yang terlihat karena Tiffany menyelipkan rambutnya tadi.

“Apakah ini bekas luka?”

Tiffany terkejut. Tangannya refleks menyingkirkan tangan Siwon dari bahunya. Ia menatap tajam pada Siwon sebelum berdiri dari posisinya dan berbalik memunggungi pria itu.

Siwon menegakkan tubuhnya lagi. Tersadar atas perbuatannya.

“Maaf, aku tidak bermaksud—“

“Keluarlah. Aku ingin istirahat.” Ucapan tegas Tiffany memotong permintan maaf Siwon.

Siwon menatap punggung Tiffany dengan perasaan menyesal. Seharusnya ia tidak menyentuh Tiffany sembarangan seperti tadi. Tiffany terlihat sangat marah padanya.

“Tolong maafkan aku. Seharusnya aku tidak menyentuhmu.” Sesal Siwon. Namun Tiffany mengacuhkannya. Masih dengan posisi membelakangi Siwon, Tiffany memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya.

Apakah  Tiffany merasa ketakutan?

Siwon merasa bersalah bercampur khawatir. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini selain meninggalkan Tiffany sendiri.

“Selamat malam—Tiffany.” ucap Siwon sebelum melangkah keluar dari kamar itu.

Di ruang tengah, dilihatnya Donghae dan Hyukjae tertidur pulas di atas karpet. Siwon tersenyum getir. Merasa iri melihat kedua temannya yang bisa tertidur dengan nyenyak meski di atas lantai sekalipun. YoonA juga sudah masuk ke kamarnya sejak tadi. Taeyeon mungkin sudah bergabung dengannya. Namun dugaannya terbantahkan saat Taeyeon keluar dari dapur dengan membawa dua cangkir kopi.

***

 

“Masih belum bisa menghilangkan insomnia-mu?”

Siwon menggeleng.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya.”

Lalu menyeruput kopinya dan menatap jauh ke arah pemandangan kota Seoul yang terhampar di hadapannya. Siwon dan Taeyeon sedang berdiri di balkon lantai dua. Tempat Siwon sering menghabiskan waktu di malam hari karena insomnia-nya.

Taeyeon menatapnya dari samping. Gurat kelelahan tampak di wajah tampan sahabatnya itu. Siwon memutar kepala menghadap Taeyeon. Tatapan mereka bertemu.

“Jangan menatapku seperti itu, Taeng.”

“Kenapa? Takut terpesona padaku?” goda Taeyeon.

Siwon tersenyum miring.

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku tidak mau membuatmu semakin patah hati.”

“Aku sudah biasa dengan perasaan itu. Jadi biarkan saja.”

Siwon merenung. Tidak ada persahabatan sejati antara pria dan wanita. Pepatah itu memang benar. Seperti yang terjadi antara Taeyeon dan dirinya. Tapi untungnya, mereka bisa mengatasi itu. Hubungan baik mereka sebagai sahabat lebih penting daripada perasaan cinta yang suatu saat bisa berubah. Dan ia selalu berharap Taeyeon bisa menemukan orang yang bisa membalas perasaan cintanya.

“Oh ya, terima kasih karena sudah meminjamkan pakaianmu pada Nyonya Jung.” ucap Siwon mengalihkan pembicaraan.

Taeyeon mengangguk.

“Aku dengar kau menyelamatkannya dari percobaan pembunuhan. Apakah nyawanya benar- benar terancam sehingga kau harus membawanya kemari?”

“Selama pelaku penembakan itu belum tertangkap, nyawanya mungkin masih dalam bahaya.”

Taeyeon menatap Siwon dengan tatapan menyelidik.

“Tapi kau tidak pernah membawa klienmu ke rumah ini sebelumnya. Apakah dia istimewa?”

Siwon tidak langsung menjawab. Ia sendiri tidak mengerti dengan tindakannya yang impulsif. Itu seperti bukan dirinya. Tiffany bahkan bukan kliennya.

“Kau—menyukainya?” tanya Taeyeon hati- hati.

Siwon berpikir sejenak. Lalu mengangkat bahu.

Molla. Aku pikir aku hanya terobsesi padanya karena kasus ini.”

Taeyeon terus memperhatikannya saat menjelaskan perasaannya.

“Aku begitu penasaran dengan sosoknya yang misterius. Dia membangun tembok yang kokoh di depan wajahnya sehingga aku tidak bisa membaca pikirannya. Padahal aku sangat membutuhkan keterangan darinya karena dia adalah saksi kunci. Dia bersikeras tidak mau mengungkap kejadian malam saat insiden terbunuhnya Tuan Jung. Tapi setelah insiden di aula tadi, dia mulai membuka dirinya. Menunjukkan sisi lain dari sosok Nyonya Jung yang selama ini disembunnyikan di balik keangkuhan yang selalu ditunjukkannya. Dia menjadi begitu rapuh, putus asa, dan berharap hidupnya segera berakhir. Mungkin hidupnya tidak semudah yang semua orang bayangkan. Menjadi istri dari pria yang lebih pantas menjadi ayahnya, mempunyai anak tiri yang begitu membencinya, dan entah masalah apa yang terjadi dengan adik iparnya yang sekaligus sahabatnya itu. Belum lagi pembunuhan yang menimpa suaminya dan tiba- tiba ia juga menjadi sasaran percobaan pembunuhan.”

“Aku tentu merasa berempati padanya. Dia—terlihat sangat kesepian. Aku merasa harus melindunginya.” Lanjutnya.

Taeyeon menggenggam tangan Siwon. Memberikan dukungan untuknya.

“Ikuti saja kata hatimu. Kalau kau memang harus melindunginya, lakukanlah. Jika hal itu bisa membuat hatimu tenang. Aku percaya padamu, Wonnie.”

“Gumawo, Taeng-ah.

“Kalaupun nanti kau benar- benar jatuh cinta padanya, aku rasa itu normal. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Mungkin sosok wanita seperti dia yang bisa menyentuh hati seorang Jaksa Choi yang keras dan sulit dijangkau.” Cetus Taeyeon. Walaupun matanya berkilat karena rasa cemburu.

Siwon hanya tersenyum dan mengangkat bahu menanggapi omongannya. Dia tidak mau terlalu memikirkan perasaannya. Apalagi ia baru saja melakukan kesalahan yang membuat Tiffany marah dan mungkin tidak ingin bertemu dengannya. Siwon jadi teringat tentang bekas luka di pundak Tiffany yang saat itu dilihatnya. Apakah luka itu akibat kekerasan yang dilakukan seseorang padanya? Apakah Tuan Jung yang melakukannya? Siwon sangat penasaran.

***

 

Sehun mengerjap- ngerjapkan matanya. Masih dengan mata terpejam dan setengah sadar ia menyingkirkan tangkai- tangkai bunga yang menimpa wajahnya. Sedangkan orang yang melemparkan benda- benda itu sedang cekikikan melihat ekspresi lucu Sehun. Akhirnya Sehun membuka matanya. Lalu bangkit dari posisi tidurnya dan menatap sengit orang yang tadi melemparinya dengan bunga- bunga itu.

Ya!!!  Kau pikir aku ini mayat yang akan dikuburkan? kenapa kau melempariku dengan bunga- bunga ini?” protesnya.

“Aku sudah berteriak- teriak dari tadi untuk membangunkanmu. Tapi kau terus tertidur seperti mayat.” Tukas Krystal. Orang yang tadi melempari tangkai- tangkai bunga ke wajah Sehun. Pemuda itu hanya mendengus kesal menanggapi pembelaan Krystal. Ia lalu melihat arlojinya.

“Sudah jam 8 lebih. Berarti tugasku sudah selesai.” Ujar Sehun. Ia berdiri dan memunguti tas selempang dan topinya dari atas meja dan mengenakannya.

“Kau mau kemana?” teriak Krystal.

“Tugasku bukan hanya menjagamu Tuan Puteri, aku juga harus kuliah.” Jawab Sehun cuek sambil melangkah menuju pintu keluar ruangan Krystal.

Changkamman!” cegah Krystal.

“Ada apa lagi?” Sehun berbalik menatap kesal pada Krystal.

“Belikan aku sarapan dulu. Setelah itu kau boleh pergi ke kampus.”

Sehun berjalan mendekat ke ranjang Krystal. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap tajam pada gadis itu.

“Hey, dengar. Aku ditugaskan Hyeong untuk menjagamu. Bukan menjadi pesuruhmu, Nona Jung.” Desis Sehun.

“Jadi jangan coba- coba bersikap seperti tuan puteri di depanku. Arra?

Sehun menyendul kening Krystal dengan tangannya sebelum berbalik dan meninggalkannya. Otomatis Krystal melotot pada Sehun.

YA! Choi Sehun, awas kau. Akan kulaporkan pada Hyeong-mu kalau kau bersikap kurang ajar padaku.”

Sehun tidak memperdulikan ocehan Krystal. Walaupun gadis itu terus melempari punggungnya dengan tangkai- tangkai bunga dari pot di samping ranjangnya.

Krystal mendengus kesal setelah pintu ruangannya tertutup dan Sehun benar- benar pergi. Ia menatap miris pada tangan kirinya yang di gips dan kakinya yang masih belum bisa digerakkan. Ia merasa bosan terus berada di ruangan itu. Kedatangan Sehun semalam sebenarnya membuatnya senang. Sikap pemuda itu yang usil dan selalu menganggunya setidaknya membuatnya terhibur.

Krystal melirik jam dinding di ruangannya. Pukul 8.30. Biasanya Tiffany sudah datang menjenguknya dan membawakan makanan dari rumah. Tiba- tiba ia membayangkan makanan yang selalu dibawakan Tiffany untuknya. Makanan- makanan itu terlihat enak dan menggoda. Tapi karena gengsi, Krystal tidak pernah sekalipun mencicipinya. Bahkan menyentuhnya. Tapi kali ini perutnya lapar. Dan ia bosan dengan makanan yang disediakan rumah sakit. Makanan itu masih terbungkus rapi di atas meja sebelah ranjangnya.

“Harusnya aku senang kalau wanita itu tidak kemari, kan?” gumam Krystal.

Anehnya, ia merasa kehilangan. Selain Tiffany, tidak ada keluarga yang secara rutin mengunjunginya. Teman- teman kampusnya memang pernah datang, sehari setelah dia di rawat di ruangan itu dan mereka tidak pernah datang lagi. Krystal merasa kesepian. Setidaknya jika Tiffany datang, ia bisa melemparkan kekesalannya pada ibu tirinya itu.

“Tunggu, apa aku merindukannya?” Krystal menggelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin. Ingat Krystal, dia adalah pembunuh ayahmu dan penyebab kehancuran keluargamu.” Krystal mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya seperti mantera.

Tidak mau larut dalam pikirannya, Krystal pun meraih remote tv di atas nakas dan mulai menyalakannya. Krystal menggota- ganti channel untuk mencari acara musik yang disukainya. Namun tangannya terhenti saat melihat acara berita. Ia memperhatikan dengan seksama berita penyerangan di aula kampus Universitas Kyunghee yang ditayangkan oleh channel tersebut. Krystal terbelalak saat penyiar berita menyebutkan nama Tiffany dan Siwon yang hampir menjadi korban insiden itu. Ia melihat foto- foto mereka setelah kejadian itu berlangsung. Dan ia pun semakin terkejut saat melihat sosok Jessica juga tampak dalam foto- foto itu.

“Jessie Aunty?”

***

 

Tiffany melirik sekeliling rumah dengan ekor matanya. Tapi sepertinya tidak ada orang lain selain dirinya dan YoonA.

“Siwon Oppa dan yang lainnya sudah berangkat pagi- pagi tadi.” ujar YoonA. Seperti mengetahui pikiran Tiffany.

“Oh,” jawab  Tiffany canggung. Ia pun kembali menyantap makanan yang sudah disiapkan YoonA. Mereka duduk berhadapan di meja makan. Tak ada yang memulai percakapan sampai mereka menyelesaikan sarapan. Tiffany merasa sikap YoonA yang sekarang berbeda dengan sikapnya semalam saat mereka bertemu di depan aula kampus. Saat itu senyumnya hangat ketika menyapa Tiffany. Kali ini, YoonA terkesan dingin padanya.

“Kau merasa terganggu dengan keberadaanku, YoonA-ssi?” tanya Tiffany to the point saat YoonA sedang membantu mengganti perban di kakinya.

“Sejujurnya, ya.” Jawab YoonA sambil melepas kasa yang melingkar di pergelangan kaki Tiffany.

Tiffany mengangkat sebelah alisnya.

“Kenapa? Aku pikir dulu kau menyukaiku.”

“Aku memang menyukaimu, Sunbaenim. Sampai sekarang. Tapi aku tidak suka kau dekat dengan Oppa-ku.”

“Maksudmu?”

Tiffany meringis saat YoonA memberikan cairan antiseptik pada lukanya.

“Tidakkah kau sadar kalau kalau kalian saling menyukai?”

Tiffany membuang nafas.

“Itu tidak mungkin. Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

YoonA mulai mengikat kaki Tiffany dengan perban yang baru.

“Tatapan mata kalian tidak bisa berbohong. Kalian saling tertarik tapi tak menyadarinya.”

Tiffany menatap YoonA yang tampak serius dengan ucapannya.

“Sebelumnya Siwon Oppa tidak pernah bersikap impulsif saat bekerja. Dia selalu profesional. Tapi padamu, dia bersikap lain. Dia terlalu berlebihan dan terbawa perasaan.”

YoonA membereskan peralatan P3K yang baru dipakainya.

“Sudah selesai. Di tas itu ada pakaian ganti untukmu.” YoonA menunjuk tas karton yang berada di atas ranjang.

“Terima kasih banyak, YoonA-ssi.”

“Jangan berterima kasih padaku. Siwon Oppa yang menyuruhku melakukan ini. Dia juga yang membelikan baju ganti itu untukmu.”

Tiffany tertegun.

“Sudah kubilang dia menyukaimu, Sunbaenim.” Jelas YoonA. Walaupun ia mengucapkannya dengan nada kecewa. Lalu ia pamit keluar dari kamar yang ditempati Tiffany.

 

***

 

“Anda memanggilku, Kapten?” ucap pemuda berumur 24 tahun yang baru saja memasuki ruangan kantor Hyukjae. Ia terlihat bingung saat melihat Siwon dan Donghae juga berada di ruangan itu.

“Duduklah, Joonmyun-ssi.” titah Hyukjae.

“Nde.”

Kim Joonmyun duduk di kursi berhadapan dengan Hyukjae. Sekilas ia menatap Siwon yang duduk di kursi samping Hyukjae dan Donghae yang berdiri di dekat jendela. Lalu pandangannya beralih ke Hyukjae lagi.

“Joonmyun-ssi, apa barang- barang ini milikmu?” tanya Hyukjae setelah mengeluarkan sebuah senapan, sarung tangan, jaket, serta topi dan masker yang terbungkus plastik bening di atas mejanya.

Joonmyun mengerutkan kening.

“Bagaimana Anda bisa berpikir benda- benda itu milikku? Bukankah itu adalah milik pelaku penembakan di kampus Kyunghee semalam?”

Hyukjae menatap Joonmyun ke dalam matanya.

“Itu artinya aku berpikir kau adalah pelaku penembakan itu, Kim Joonmyun-ssi.” Tandas Hyukjae.

“Apa maksud Anda, Kapten?”

Hyukjae mengakkan posisi duduknya. Tatapannya masih ke mata Joonmyun.

“Semalam, setelah terjadi penyerangan di aula kampus Universitas Kyunghee, kau berada di sana bergabung dengan tim investigasi. Padahal, kau tidak ikut bersama kami saat berangkat dari sini. Aku masih ingat kemarin kau minta izin pulang lebih awal. Jadi, bagaimana kau bisa berada di sana?”

Joonmyun terlihat tenang dan menjawab pertanyaan Hyukjae dengan penuh keyakinan.

“Aku menyusul ke sana setelah mendapat kabar dari Minho Sunbae.”

“Jadi Minho memanggilmu?”

Nde, Kapten.”

“Jam berapa tepatnya Minho menghubungimu?”

“Pukul dua puluh lebih empat puluh menit. Aku kebetulan sedang berada di dekat daerah itu. Jadi aku segera ke sana setelah mendapat telepon.”

“Kami sampai di Kyunghee pukul dua puluh tiga lima. Berarti kau tiba setelah kami sampai di sana?”

Nde.

Hyukjae menautkan alisnya. Tatapannya pada Joonmyun seperti elang yang siap menyantap mangsanya.

“Lalu kenapa Kim Minseok dan Kyungsoo yang berjaga di gerbang depan tidak melihatmu? Padahal hanya itu satu- satunya akses yang bisa dilewati untuk masuk ke dalam kampus. Bagaimana caramu masuk tanpa melewati mereka?”

Joonmyun membeku. Wajahnya memucat. Tubuhnya terlihat tegang.

“Aku juga punya bukti video yang direkam Kim Minseok selama proses investigasi di gerbang depan. Dari pukul dua puluh tiga puluh sampai pukul dua satu lima puluh, pintu gerbang universitas Kyunghee disterilkan. Kalau kau memang datang ke sana antara waktu tersebut, harusnya kedatanganmu terekam dalam video itu. Kami sudah memutar ulang videonya sampai tiga kali, tapi kami tidak melihatmu masuk melewati gerbang itu. Secara ‘ajaib’ kau sudah berada di dalam aula dan bergabung bersama tim investigasi.” Jelas Hyukjae.

“Apakah kau bisa menjelaskan hal ‘ajaib’ itu pada kami, Kim Joonmyun-ssi?”

Joonmyun semakin pucat. Keringat dingin mulai bercucuran di sekitar wajah tampannya.

“Kalau kau tidak bisa menjawabnya, aku bisa membantumu untuk mengingatnya.” Ujar Siwon.

“Setelah melakukan penembakan, kau keluar dari pintu darurat yang ada di lantai dua yang menuju halaman belakang aula. Lalu kau membuang senjata dan perlengkapan yang kau gunakan ke dalam tong sampah yang ada di sana. Setelah itu kau berjalan memutar ke  depan aula, lalu masuk  dan bergabung bersama tim investigasi. Semua orang saat itu sedang sibuk dan fokus untuk mencari si penembak sehingga tidak ada yang menyadari kejanggalan karena keberadaanmu.”

“Sampai saat Minho menyebutkan namamu.” Sambung Hyukjae.

“Saat itulah aku mencurigaimu. Dan kecurigaanku padamu semakin besar karena kau juga ikut dalam tim investigasi di TKP kasus kematian Tuan Jung. Dimana ada anggota yang berkhianat telah menyembunyikan proyektil peluru yang seharusnya ditemukan di tempat itu.”

Donghae yang tadinya berdiri di dekat jendela mendekat ke meja bergabung dengan Siwon dan Hyukjae. Ia menyodorkan sebuah map di atas meja dan menatap Joonmyun.

“Dari riwayat hidupmu, kau punya keahlian di bidang IT. Tidak sulit untukmu meretas sistem keamanan. Termasuk sistem keamanan di rumah Tuan Jung dan Universitas Kyunghee. Kau juga punya sertifikat dengan nilai sempurna dalam pelatihan menembak jarak jauh. Berkas- berkas ini semakin memperkuat dugaan kami bahwa kau adalah pelaku penembakan itu, Joonmyun-ssi.” Tambah Donghae.

“Sebaiknya kau mengaku sekarang.”

Joonmyun menunduk. Ia tidak punya pilihan lain selain mengakui perbuatannya. Ketiga orang di depannya itu sudah mengetahui fakta keterlibatannya.

“Aku—hanya diperintahkan untuk menembak. Aku tidak tahu kalau akhirnya aku dilibatkan dalam rencana pembunuhan.” Jawabnya kemudian.

Siwon, Donghae dan Hyukjae tidak melepaskan pandangan dari pria yang beberapa tahun lebih muda dari mereka itu. Dari tatapan matanya, mereka tahu kalau Joonmyun tidak berbohong.

“Siapa yang menyuruhmu? Dan kenapa kau mau melakukannya?” cecar Siwon.

Joonmyun menatap ragu padanya.

“Seorang—wanita misterius.”

Siwon, Donghae dan Hyukjae terkejut dengan pengakuan Joonmyun. Mereka menatap Joonmyun meminta kepastian dari pemuda itu.

“Awalnya, aku mendapat telepon dari seseorang. Dia bilang padaku kalau dia akan memberikan imbalan yang besar kalau aku mau melakukan pekerjaan untuknya. Aku pikir dia hanya orang iseng yang ingin mengerjaiku. Jadi aku abaikan saja telepon itu. Tapi keesokan harinya, aku menemukan uang tunai sebanyak dua puluh juta won di depan rumahku. Orang itu pun menelponku lagi dan mengulangi perkataannya sebelumnya.” Joonmyun memulai ceritanya.

“Dia menyuruhku melakukan penembakan di rumah Tuan Jung. Awalnya aku menolak. Aku beralasan kalau aku tidak bisa melakukannya. Tapi ternyata dia tahu semua hal tentang diriku. Selain tempat tinggalku, dia tahu pekerjaanku, keahlianku, bahkan semua detil tentang keluargaku pun dia tahu. Dia juga tahu aku sedang butuh uang banyak untuk mendaftarkan adikku ke universitas. Dia terus memaksa dan meyakinkanku kalau aku tidak akan melukai siapapun karena tujuan penembakan itu hanyalah untuk meneror Tuan Jung. Akhirnya aku menyetujuinya dan melakukan pekerjaan itu untuknya. Tapi ternyata pilihanku salah. Tuan Jung tewas. Secara tidak langsung aku telah membantu menghilangkan nyawa seseorang.”

Joonmyun menunduk setelah menyelesaikan ceritanya. Terlihat penyesalan dari raut wajahnya.

“Bagaimana dengan penembakan di aula kampus universitas Kyunghee?” tanya Siwon melanjutkan interogasinya.

“Tiga hari sebelumnya, aku mendapat paket berupa uang tunai sebanyak 50 juta won, senapan, peta Universitas Kyunghee dan line-up detil area pesta di aula kampus itu. Serta foto Nyonya Jung. Lalu aku mendapat telepon lagi dari wanita itu dan dia menjelaskan apa saja yang harus kulakukan.”

“Lalu kau juga melakukan perintahnya.” Sambung Siwon.

“Aku tidak punya pilihan lain, Jaksa Choi. Kalau aku tidak melakukannya, dia mengancam akan berbuat sesuatu pada adik perempuanku.”

“Kau takut pada ancamannya?”

“Sudah kubilang dia tahu segalanya tentangku dan keluargaku. Dia selalu mengawasi kami. Tentu saja dia bisa mencelakai adikku kapan saja. Aku tidak mau itu terjadi. Lagi pula ini yang terakhir, katanya. Dan tidak akan ada korban lagi seperti Tuan Jung.”

Siwon mengerutkan keningnya. Pengakuan Joonmyun membuatnya berpikir keras untuk menebak siapa wanita misterius itu.

“Apakah dia hanya memberi perintah lewat telepon?” Tanya Hyukjae selanjutnya.

Nde. Dia hanya memberikan perintah lewat telepon. Tapi kami pernah bertemu saat dia meminta proyektil peluru yang aku ambil dari rumah Tuan Jung.”

“Bagaimana ciri- ciri wanita itu?”

Joonmyun menerawang. Mencoba mengingat- ingat.

“Tingginya antara 162 sampai 165 cm. Kulitnya putih. Tubuhnya juga ramping. Dia memakai hoodie dan celana serba hitam. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena waktu itu dia mengenakan kacamata hitam dan masker.”

“Apa tidak ada ciri- ciri khusus yang kau ingat dari wanita itu?”

Joonmyun menggeleng.

“Hanya itu.”

Siwon menghela nafas. Ternyata wanita itu sangat pintar menyembunyikan dirinya.

“Kapan tepatnya kau bertemu dengan wanita itu?”

“Tanggal 14 April. Pukul 5 petang. Di pinggir sebuah hutan di selatan Seoul. Dan—aku  melihat sebuah makam di tempat itu.”

“Makam?” ulang Hyukjae.

Nde. Kalau tidak salah, nama yang tertera di papan nisannya adalah Kwon—“

Joonmyun berusaha mengingat.

“Kwon Yuri?” tebak Donghae.

“Benar, Kwon Yuri.”

***

 

Krystal mengaduk-aduk Jjajangmyeon di depannya. Sehun yang dari tadi memperhatikannya merasa kesal. Ia memukul kepala Krystal dengan sumpitnya. Krystal tersadar dan melotot pada Sehun yang cekikikan tanpa dosa.

YA!” protes Krystal.

“Kenapa kau tidak memakannya? Katanya kau kelaparan. Kalau tahu kau hanya mengaduk- aduknya, aku tidak akan repot- repot membelikannya.” Balas sehun.

Krystal menghela nafas.

Mian, aku jadi tidak berselera makan setelah menonton berita di TV. Oh ya, apa kau sudah dapat kabar dari Hyeong– mu soal kejadian semalam?”

Sehun mengangkat bahu.

“Aku sudah mencoba meneleponnya. Tapi tidak diangkat. Kau mengkhawatirkan ibu tirimu?” Sehun menatap Krystal penuh selidik.

Anni. Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya penasaran karena aku melihat bibiku ada dalam foto yang ditayangkan berita di TV.” Elaknya. Lalu menyuapkan Jjajangmyeon ke mulutnya. Sehun hanya tersenyum melihatnya.

“Aku sudah selesai.” Ucap Sehun kemudian.

“Kau mau pergi sekarang?”

“Neh. Aku harus pulang lalu pergi ke kampus. Aku kembali karena tidak tega melihatmu mati kelaparan. Tapi, aku tidak yakin dokter mengizinkanmu memakan Jjajangmyeon. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau terjadi apa- apa padamu ya.”

“Yang sakit itu tangan dan kakiku, bukan ususku. Kau tidak perlu khawatir.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku pergi dulu. Jangan rindukan aku, ne.

Mwo? Kau percaya diri sekali.”

Sehun tertawa, lalu mengacak rambut depan Krystal sebelum berlari ke pintu dan keluar.

“YA!!!” protes Krystal. Ia merapikan rambutnya dengan kesal sebelum melanjutkan makannya. Saat itu pintu ruangan terbuka lagi. Ia pikir Sehun kembali untuk menggodanya. Ia sudah bersiap- siap melemparkan buket bunga yang diambilnya dari nakas. Namun tangannya terhenti saat melihat orang yang muncul dari balik pintu. Seorang wanita cantik masuk dan tersenyum lembut padanya.

“Jessie—Aunty?” ucap Krystal terbata- bata.

“Krystal,” balas Jessica. Ia berjalan mendekat ke ranjang Krystal lalu memeluk keponakannya dengan erat.

“Bagaimana kabarmu, sayang? Aunty sangat merindukanmu.”

Krystal membeku. Masih tak percaya dengan kedatangan Jessica.

“Kenapa kau diam saja, sayang?” tanya Jessica setelah melepas pelukannya.

Krystal tiba- tiba meneteskan air matanya.

“Aku masih belum percaya kalau ini nyata.” Ucapnya.

“Ini nyata. Aunty benar- benar ada di sini.”

Jessica memeluk Krystal lagi.

“Aku merindukanmu, Aunty. Kemana saja Aunty pergi?”

Miane, Krys. Aku baru bisa menemuimu sekarang. Aku janji aku tidak akan pergi lagi.”

***

 

“Aku tidak menemukan data apapun yang berhubungan dengan kasus Tuan Jung dari ponsel ini.” ucap Sehun saat menyerahkan ponsel Kyuhyun yang sudah selesai diperbaikinya kepada YoonA.

YoonA mengambil benda itu dan mengamatinya sesaat. Lalu tatapannya kembali ke Sehun dan tersenyum lembut pada adiknya.

Gumawoyo, Sehunie. Aku akan memberitahukannya pada Siwon Oppa setelah dia pulang nanti.” Ucapnya.

Sehun hanya mengangguk.

“Kau sudah sarapan? Kalau belum, aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” Tawar YoonA.

“Tidak usah, Noona. Aku sudah sarapan bersama Krystal di rumah sakit.”

YoonA mengangkat alisnya.

“Maksudmu, Nona muda Jung itu?”

“Hmm.” Jawab Sehun singkat.

“Aku tidak tahu kalau kau akrab dengannya.”

“Sebenarnya tidak juga.” Sehun menggaruk tengkuknya. Bingung. YoonA menatapnya penuh selidik.

“Semalam waktu aku menungguinya, kami sedikit mengobrol.”

“Mengobrol?”

“Sudahlah, Noona. Itu bukan hal penting yang harus kita bahas sekarang kan? Oh ya, aku ingin tahu soal kejadian semalam. Bagaimana Hyeong bisa menjadi sasaran serangan itu?” Sehun berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Choi Sehun. Kau tidak sedang melakukan pendekatan pada gadis itu kan?” YoonA menatap tajam padanya.

Sehun jadi kebingungan.

“Aku hanya mencoba berteman dengannya. Kenapa Noona jadi sewot begitu.”

YoonA menghela nafas.

“Aku bingung kenapa para pria di rumah ini jadi tertarik pada wanita yang berasal dari keluarga Jung.”

“Maksud Noona apa? Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah. Jangan dipikirkan. Aku harus bersiap- siap pergi ke kantor. Kau juga mau berangkat kuliah kan?”

Nde.

“Kalau begitu cepatlah mandi dan bersiap- siap. Aku akan mengantarmu ke kampus.”

Sehun mengangguk patuh. Lalu ia bergegas menuju kamarnya untuk bersiap- siap. Sedangkan YoonA menghampiri Tiffany di kamarnya. Saat itu Tiffany sudah mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi. YoonA tersenyum miring saat melihat pakaian yang dibelikan Siwon sangat cocok di tubuh Tiffany. Wanita itu terlihat anggun seperti biasa.

“Supirmu sudah datang. Aku akan membantumu berjalan keluar.” Ucap YoonA.

Tiffany mengangguk. YoonA lalu memapahnya keluar dari kamar. Sampai di luar, supir Tiffany yang sudah menunggu langsung membukakan pintu untuknya.

“Maaf sudah merepotkanmu, YoonA-ssi. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Ucap Tiffany sebelum memasuki mobilnya.

“Aku senang bisa membantu. Hati- hati di jalan.” Jawab YoonA.

Tiffany pun naik ke dalam mobilnya.

“Apa kita langsung ke rumah, Nyonya?” tanya supirnya.

“Tidak. Antar aku ke tempat biasa.”

“Baik.”

Mobil Tiffany pun melaju meninggalkan rumah Siwon. YoonA yang masih berdiri di depan rumah menghubungi seseorang dengan ponselnya.

“Ikuti dia. Tapi jangan terlalu mencolok.” Ucapnya pada seseorang di seberang line.

Lalu sebuah sepeda motor melaju mengikuti mobil mewah milik Tiffany. Ternyata supir Tiffany menyadari keberadaan motor tersebut.

“Ada yang mengikuti kita, Nyonya.” Ucap si supir.

“Biarkan saja. Itu pasti orang yang ditugaskan Jaksa Choi untuk mengawalku. Kita tetap pergi ke tempat tujuan semula.” Jawab Tiffany santai.

“Baik, Nyonya.”

***

 

“Selama empat tahun, Jessica terkurung dalam sel di salah satu rumah sakit jiwa di Osaka.” Ucap Kyuhyun memulai ceritanya.

Dilihatnya Tiffany yang duduk di sampingnya. Tiffany tidak balas menatapnya. Matanya memandang lurus ke depan. Ke arah danau. Mereka berada dalam mobil Kyuhyun yang diparkir di bawah pohon di tepi danau. Tiffany menyuruh supirnya pulang setelah Kyuhyun sampai di tempat itu.

“Setelah kau pergi dari rumahnya hari itu, Jessica menghubungiku. Dia terdengar sangat frustasi. Dia mengajakku bertemu di tempat latihan menembak. Aku pun menyetujui permintaannya. Malam itu aku menunggu dia di tempat biasa kami latihan. Sayangnya, sampai tengah malam  Jessica tidak datang. Aku pun menghubunginya karena penasaran. Dia mengangkat teleponnya, tapi yang kudengar adalah suara jeritan minta tolong darinya. Dia seperti sedang diseret oleh beberapa orang. Aku segera menuju ke rumahnya karena khawatir pada keadaannya. Karena waktu itu tengah malam, aku tidak berani masuk ke rumahnya. Aku memarkirkan mobilku di depan rumahnya. Lalu aku mencoba menghubunginya lagi. Sayang sekali saat itu ponselnya sudah tidak aktif. Aku pun menunggu sampai pagi. Berharap Jessica keluar dari rumah itu dan menemuiku. Tapi dia tidak pernah keluar. Dan sejak saat itu dia menghilang.”

“Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku saat itu?”

“Aku masih marah padamu. Jadi aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri keadaan yang menimpa Jessica.”

“Lalu bagaimana caramu menemukannya?”

“Aku mencari tahu tentang Jessica dari beberapa sumber yang aku temui secara rahasia. Dari situlah aku tahu kalau sebenarnya Jessica bukanlah adik kandung Jung Woohyun. Jessica bisa dibesarkan di rumah itu karena kemurahan hati Nyonya Jung, ibu Jung Woohyun. Sejak dulu Jung Woohyun tidak menyukai keberadaan Jessica. Pria itu sering menyiksa Jessica secara fisik maupun verbal. Tapi dia bersikap seolah sangat menyayangi Jessica di depan orang banyak demi menjaga citranya. Dia sangat busuk.”

Rahang Kyuhyun mengeras mengingingatkan kebenciannya pada Jung Woohyun.

“Baru setelah menjadi pengacara pribadinya dan mempunyai koneksi dengan orang- orang kepercayaannya, aku pun berhasil menemukan Jessica di Jepang setahun yang lalu.”

“Setahun yang lalu? Bukankah saat itu kita masih bersama?”

“Ya, saat itu kesalahpahaman di antara kita sudah berakhir dan kita bersatu untuk membawa Jung Woohyun ke pengadilan atas kejahatannya pada Yuri dan mahasiswi lain yang dimanfaatkannya untuk memuaskan nafsu biadabnya. Kau pun sedang fokus dan bersemangat untuk mengumpulkan bukti yang kita perlukan. Karena itu aku tidak ingin mengganggumu dengan kabar menyedihkan yang menimpa Jessica. Aku berencana untuk memberikan kejutan padamu setelah membawa Jessica kembali ke sini. Tapi, aku malah dikejutkan dengan rencana pernikahanmu dengan Jung Woohyun.” Suara Kyuhyun bergetar saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Lalu ia menatap Tiffany lekat- lekat.

“Kenapa kau melakukan itu, Tiffany? Kenapa kau harus menikah dengan pria br*ngs*k itu?” tuntut Kyuhyun.

“Kenapa kau baru menanyakannya sekarang? Kenapa kau tidak mencegahku saat itu? Kenapa kau tidak berani mengatakan padaku kalau kau juga mencintaiku?” Tiffany balik mencecar Kyuhyun dengan pertanyaan- pertanyaannya.

“Kalau saja kau berani selangkah saja menghampiriku dan memberikan harapan pada perasaanku, mungkin kita sudah bersama saat ini.” Tiffany menundukkan wajahnya. Menunjukkan kekecewaannya.

Kyuhyun ingin membelai rambut Tiffany untuk mengalirkan perasaannya, tapi ia menarik tangannya kembali. Ia merasa tidak pantas melakukannya pada wanita yang sudah dikecewakannya itu.

“Saat itu, aku terlalu terkejut dan kecewa dengan keputusanmu. Aku terlalu angkuh untuk mendengarkan alasanmu. Aku terlalu patah hati.”

Lama mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing- masing. Sampai akhirnya Tiffany menegakkan kepalanya dan mengusap bulir air mata yang sempat menetes di pipinya.

“Semua sudah terlambat, Kyu. Tidak ada gunanya kalaupun aku mengatakan alasannya saat ini.”

“Kau benar. Sekarang sudah tidak ada gunanya.”

Kyuhyun meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya.

“Sudah lima tahun sejak kepergian Yuri. Jung Woohyun pun sudah tidak ada di dunia ini lagi. Bisakah kita bertiga memperbaiki hubungan persahabatan kita? Bisakah kau memaafkan Jessica dan kembali menyayanginya?”

Tiffany menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun.

“Aku tidak tahu. Biarkan waktu yang menjawabnya, Kyu. Untuk saat ini, aku tidak bisa percaya pada siapapun. Terlebih setelah aku menjadi target dari percobaan pembunuhan.”

Kyuhyun menyipitkan matanya,”Kau tidak mencurigai Jessie sebagai pelakunya kan?”

“Selama pelakunya belum ditemukan, tentu saja aku mencurigai orang- orang dekat yang kemungkinan membenciku. Termasuk Jessica.” Tandas Tiffany.

 

To be continued…

104 thoughts on “(AR) The Beautiful Suspect Part 6

  1. Aku sangat sangat sangat penasaran siapa orang misterius itu yang menyuruh joomyun untuk melakukan misi misteriusnya.
    author….jangan lama lama dipublisnya. Semangat thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s