(AD) Hello!

HELLO!

7739

Author : Allyn Veren

Genre : Romance, sad

Ratting : PG-17

Cats : Tiffany Hwang [Girls Generation] Choi Siwon [Super Junior]

Other cats : Lee Dong Wook | Jessica Jung | Im Yoon Ah as Choi Yoona | Kim Taeyeon | Park Jung Soo as Leetek | Nichkhun Horvejkul | Yoon Bora | Victoria Song

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, manajement and their self. I just borrow their name and character to support my story. The story is original by me, so Don’t  be a plagiator and dont copy this fan fiction without permission. Sorry if you got a typo and please keep RCL |

A/N : Fanfic ini terinspirasi dari lagunya Adele – Hello, Passenger – Let Her Go, Marron 5 – Won’t Go Home Withouth You dan beberapa potong imajinasi yang dipadukan jadi satu. Sekedar catatan, untuk tulisan bercetak miring merupakan flashback (kecuali saat percakapan via telepon)

AUTHOR POV’S

Tiffany menggenggam erat kemudi sambil mengawasi jatuhnya salju di Seoul lewat jendela mobilnya setelah dua tahun tak menikmati salju negeri itu. Sudah dua jam pula dia duduk dikursi kemudi tanpa melakukan pergerakkan yang berarti. Hanya mengawasi salju dan sebuah toko roti dengan papan putih besar bertuliskan Wonderland Cupcakes & Backery yang beberapa bagiannya mulai tertutupi salju.

Tiffany menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan saat menyadari apa yang dilakukannya. Rasanya sia-sia duduk menunggu seperti ini. Memangnya apa yang dia harapkan? Seorang pria diseberang sana datang menghampirinya? Jangan mengada-ngada, Tiffany!

Tiffany bersiap memasang seatbel saat dering telepon menginterupsi keinginannya yang hendak pergi. Lalu nama Nichkhun tertera dilayar touchsrceen tersebut.

“Hei, putri Hwang, kau dimana? Jangan katakan kau melupakan perayaan hari ini” kata Nichkhun dengan ketus lewat sambungan telepon.

Tiffany terkekeh, menertawai dirinya sendiri yang melupakan kumpulan sahabat yang menanti kepulangannya dari Kanada setelah dua tahun pergi.

“maaf, aku sedang dalam perjalanan. Apakah semua sudah siap?”

“yeah, sangat siap sampai kami lelah menunggumu. Cepatlah datang dan jangan lupa bawakan kami sesuatu yang lezat untuk dimakan karena semua berkumpul menunggumu!”

“ah, harusnya kalian yang membelanjakanku”

“ikuti saja aturannya, girl. Kau tamu dan kami perlu makan”

“terserahlah”

Nichkhun terkekeh, “jangan lupa, kawasan Pyeongchang-dong, rumah putih berlantai tiga de-“

“aku ingat, Khun!”

“ya sudah, jangan lupa juga pesanan kami”

Tiffany menatap layar ponselnya setelah sambungan telepon terputus. Apa-apaan ini? Dia baru saja tiba setelah penerbangan melelahkan dari Kanada bahkan belum sempat pulang untuk istirahat, tapi para sahabatnya yang mengatakan akan merayakan kepulangannya justru menunggu diberi makan. Heol!

Tiffany meletakkan ponselnya di jok samping lalu kembali fokus pada gedung dengan pernak-pernik lucu dipintu masuknya. Dia memijat pelipisnya karena gugup. Haruskah ia masuk kedalam? Tapi pasti akan sangat canggung apalagi jika dia bertemu dengan si pria di counter roti itu. Pria yang dicampakkannya dua tahun lalu. Tiffany meruntuki dirinya sendiri mengingat kenangan masa lalunya itu.

Itu juga salah-satu alasan kepergiannya dari Korea dan memilih pergi ke Kanada. Tiffany menimbang-nimbang apakah dia harus pergi atau sebaliknya. Tapi dia ingat ucapan Nichkhun yang meminta untuk membawa sesuatu yang lezat dan semua orang tahu bahwa toko roti yang menyediahkan berbagai jenis roti dari daratan Eropa itu adalah yang terlezat, setidaknya itu yang Tiffany rasakan. Bahkan dia bukan hanya jatuh cinta dengan roti Brioche dan roti bagel ditoko itu tapi juga dengan pembuat rotinya.

Seorang pria tinggi dengan tubuh atletis, wajah bak pangeran yang dihiasi mata elang yang sempurna, hidung mancung, rahang kokoh dan jangan lupakan dimple menawan dikedua sisi wajahnya. Tiffany kembali terpesona pada pria bernama Choi Siwon itu. Bahkan jauh dari dirinya sendiri, Siwon lebih jatuh cinta lagi. Hingga saat Tiffany mengkhianatinya, pria itu terpuruk dan sangat terluka.

Oke, itu bagian yang membuat Tiffany membenci dirinya sendiri.

Tiffany menarik nafas panjang sekali lagi lalu menghembuskannya perlahan agar dirinya merasa lebih rileks. Dia membuka pintu mobil kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah mantap menerobos salju untuk masuk kedalam Wonderland Cupcakes & Backery meski dirinya gugup setengah mati.

Bel dipintu berbunyi saat dia masuk. Aroma harum dari roti menyeruak masuk kedalam saluran pernapasannya. Harum dan lezat. Seperti biasa, tempat itu juga selalu ramai dengan pengunjung. Lalu Tiffany memandang lurus kearah tempat dibelakang counter roti, tempat para pembuat roti bekerja. Tapi sayang, pria yang dicarinya tidak ada.

Tiffany tak tahu harus kecewa atau justru bersorak riang karena disini tanpa Siwon. Dia memilih pergi melihat roti apa yang harus dibawanya pulang kerumah Taeyeon, tempat para sahabatnya yang kelaparan menunggu.

“Tiffany?” spontan Tiffany berbalik kearah suara dan dia terkejut mendapati seseorang yang sama ditakutkannya dengan melihat Siwon. Wanita didepannya memandang dengan datar tidak seperti pertemuan mereka yang biasanya selalu santai dan penuh tawa. Itu Yoona, adik Siwon sekaligus sahabatnya. Entah apakah Yoona masih menganggapnya sahabat atau tidak.

“Hei-Young, a-apa kabar?” suara Tiffany tetap canggung meski dia sudah berusaha terdengar santai.

“untuk apa datang kesini?” nada suara sinis itu membuat hati Tiffany menciut.

“aku hanya ingin membeli beberapa paket roti”

Yoona menatap dengan tatapan merendahkan, “Kupikir kau tidak akan berani mucul lagi, tapi ternyata kau tidak tahu malu yah”

Tiffany menghembuskan nafasnya mencoba tidak terpengaruh. “Aku minta maaf. Tapi aku datang untuk membeli roti”

“hanya itu tujuanmu? Apa kau tidak ingin bertemu kakakku dan meminta maaf?”

Tiffany kehilangan kendalinya. Dia hanya diam dan tidak tahu harus berbuat apa.

“aku sungguh menyesal” hanya itu yang wanita itu punya untuk melawan tatapan dingin dan nada sinis Yoona.

Dia memandang ke counter roti dengan pandangan kosong. “aku sungguh menyesal” ulangnya.

Yoona hanya menatap Tiffany tanpa ekspresi. Lihat, bahkan kebodohan Tiffany menghancurkan persahabatan mereka.

“katakan itu pada kakakku”

“Dimana kakakmu?” Yoona menatapnya sedikit terkejut. Didetik selanjutnya, Tiffany yang terkejut menyadari spontanitasnya yang diluar kendali.

Yoona tidak merespon. Dia berjalan angkuh kearah counter. Tapi dia harus ramah pada pengunjung meski orang itu adalah wanita yang menghancurkan hati kakaknya.

“apa yang ingin kau bawa pulang?” itu tidak ramah sama sekali meski Yoona sudah mencoba.

Tiffany maklum. Dia berjalan semakin mendekat dengan counter. Roti Bagel, Brilaly, Bolilo, Corn Rye Bread dan segala jenis roti eropa lainnya yang terlihat lezat.

“3 paket” Tiffany menunjuk semua roti yang diinginkannya.

Yoona dengan sigap membungkus semua roti itu kemudian dia menulis sesuatu dikertas kecil dan memasukkannya kedalam tas berisi semua roti pesanan Tiffany dan menyerahkannya kepada wanita itu. Dia membungkuk sopan meski ekspresinya tidak bersahabat.

“terima kasih sudah berkunjung”

“sama-sama, aku pergi Young”

Tiffany membuang nafas lega setelah keluar dari toko roti itu, seakan semua bebannya sirna. Dia menengadakan kepala keatas menikmati salju yang jatuh dan menjadi gundukan putih tebal disudut jalanan.

Wanita itu lalu melangkah buru-buru menerobos salju dan masuk kedalam mobilnya. Dia meletakkan bungkusan roti itu disamping jok bersama dengan ponselnya. Tapi sesuatu diatas paket roti itu menarik perhatian Tiffany.

Sepotong kertas kecil dengan deretan angka dan sebuah tulisan tangan yang Tiffany yakin ditulis Yoona.

Ini nomor ponselnya. Hanya untuk mengatakan maaf dan bukan untuk kembali menyakitinya.

Tiffany tersenyum senang. Dia melirik kearah toko roti itu.

Dan dia bergumam, “Aku tahu kau tetap dan akan selalu baik, Young”

 

oOo

 

Siwon baru saja sampai ditoko roti milik keluarganya saat audi putih Tiffany meninggalkan area Wonderland Cupcakes & Backery. Pria itu memarkir motor besarnya kemudian turun dan melangkah masuk kedalam toko.

Para pekerja membungkuk padanya dengan sopan. Meski keluarga Choi adalah pendiri sekaligus pengelolah toko ini, tapi Siwon dan Yoona tetap rendah hati dan ambil bagian dalam pekerjaan selayaknya pekerja yang lain.

“Aku bertemu Seung Gi, katanya dia akan menjemputmu” Siwon bersandar dipintu belakang counter dengan wajah yang berniat menggoda Yoona.

Tapi adiknya itu tidak merespon seperti dugaannya. Yoona hanya sibuk menyusun roti-roti kedalam tempatnya.

“dia sudah memberitahuku lebih dulu, Oppa”

Siwon tersenyum, “katakan padanya untuk mampir kerumah.”

“Yeah, dia akan datang”

Yoona memeluk baki kosong itu setelah selesai meletakkan semua roti sesuai tempatnya. Dia menatap Siwon dengan serius.

“tadi seseorang mencarimu”

Siwon mengkerutkan keningnya, “Siapa?”

Gadis itu tetap mempertahankan ekspresi serius diwajahnya meski dia sedikit khawatir untuk memberitahu Siwon. Tapi tetap harus dikatakan, bukan?

“Tiffany. Dia kembali, Oppa”

 

oOo

 

Ada secangkir kopi dan beberapa potong roti brioche yang harum dan pasti lezat disantap, tersaji diatas meja putih yang bersih. Siwon duduk dibalkon atas lantai dua toko rotinya. Menikmati aroma kopi dan nikmatnya roti buatannya sambil memandang jauh kearah kota Seoul terpampang. Bahkan dari jarak ini, dia bisa melihat kilauan Namsan Tower yang nampak indah.

Tangannya terulur menarik cangkir kopi dengan asapnya yang mengepul diudara. Setelah meniupnya sebentar, Siwon menyesap kopinya. Harum, hangat, manis. Dia suka sensasi minuman itu. Pria itu bahkan mengingat betapa dulu dia membenci kopi. Dia tidak suka minuman hitam pekat itu mengaliri tenggorokannya. Bahkan hanya untuk mencium aromanya, dia tidak sudi.

Tapi suatu waktu dimasa lalu, seorang wanita menawarinya kopi ketika hujan deras sedang turun. Kopi buatan wanita yang terlalu cantik dimata Siwon, bahkan sampai detik ini. Dia ingat betul bagaimana nikmatnya kopi pertama yang menggalir ditenggorokannya. Kopi buatan Tiffany Hwang.

Siwon tersenyum bodoh. Lalu meletakkan cangkir kopi dimeja sambil merapatkan mantelnya. Tiba-tiba dia sangat merindukan kopi buatan Tiffany. Ah, tidak. Dia tidak sepenuhnya merindukan espresso atau cairan hitam pekat lainnya, dia merindukan Tiffany.

Wanita itu juga sudah kembali. Setelah berhasil memporak-porandakan hati Siwon dua tahun silam. Dia kembali. Siwon tak tahu harus bahagia atau justru sebaliknya.

Dia menghentikan lamunannya lalu memilih menyantap roti diatas meja sebelum makanan dengan ragi yang empuk itu jadi dingin. Dia mengunyah pelan.

Dia juga ingat roti ini adalah kesukaan Tiffany. Wanita itu akan menampilkan wajah berbinar bila Siwon membawakan beberapa potong roti buatannya lalu menyuguhkannya dengan bangga dihadapan Tiffany. Mereka akan makan dan berbagi tawa bersama. Saling menyuapi, membersikan mulut dengan serbet masing-masing atau seperti yang pernah terjadi, mereka akan makan potongan roti terakhir bersama dan berakhir dengan ciuman mesra yang hangat.

Itu saat yang menyenangkan.

 

Pemanggang roti berdesis kasar dari dapur dibelakang counter. Hanya ada lampu suram disamping kulkas dan seorang pria tinggi yang sibuk berkutak didepan meja dapur sambil menyiapkan bahan-bahan terakhir untuk melengkapi adonan empuk yang dibuatnya. Mata elangnya menangkap arah jarum jam didinding. Pukul sepuluh lebih delapan menit.

Roti yang dipanggangnya pasti sudah matang. Pria itu mengambil sarung tangan besar bergaris-garis diatas meja dan melirik roti dari kaca mesin pemanggangnya. Dia mematikan mesin besar itu lalu mengeluarkan adonan roti yang sudah matang.

Harumnya menyeruk. Asap panas mengepul dari cela-cela roti itu. Pria itu tersenyum mendapati hasil buatannya yang sempurna. Dia meletakkan rotinya diatas meja dan melepas sarung tangannya. Dia terlalu senang dengan hasil karyanya, sampai tak sadar seseorang dengan tiba-tiba datang dan memeluknya erat dari belakang.

Pria itu terkejut dengan lilitan tangan mungil disekitar pinggang dan perutnya. Matanya menangkap cincin perak dijari manis tangan itu yang berhasil membuatnya tersenyum. Dia tahu siapa yang datang selarut ini dan memeluknya tiba-tiba.

“kau selalu mengejutkanku” guman si pria dengan senyum sumringan diwajahnya.

Dia mendengar wanita itu terkekeh lalu kepalanya menengok kekiri. Memperlihatkan senyumnya yang cantik. “aku suka memberi kejutan”

“tapi ini terlalu mengejutkan. Apa yang kau lakukan disini, tengah malam begini, Tiffany?”

“seharusnya aku yang menanyakannya, Siwon. Apa yang kau lakukan di dapur ini? Harusnya kau sudah cuci kaki, berdoa lalu tidur. Bukanya mengurus pemanggang dan roti-roti itu. Huh”

Siwon tersenyum sambil menjejakkan jari telunjuknya disekitar tangan dari wanita yang terus memeluknya erat. Dia berbalik cepat sambil melingkarkan tangannya disekitar pinggang Tiffany. Kini mereka hampir berpelukkan.

“Aku membuat sesuatu untukmu. Rencananya aku akan pergi ke apartemenmu setelah semua selesai, tapi kau justru datang disaat ini.”

Tiffany menatapnya aneh, “Ini pukul sepuluh lebih dan kau berniat pergi keapartemenku?”

Siwon mengendus. Mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik itu. Menatap tepat dimatanya. “karena kau sudah disini, rencana ku tidak jadi”

Tiffany bahkan bisa merasakan deru nafas pria didepannya. Menerpa dengan lembut pada wajahnya. Oke, dia mulai gugup.

“Ya sudah, kalau begitu lepaskan aku.”

Siwon tidak mau menurutinya. Dia memeluk Tiffany makin erat dan menyandarkan dagunya dibahu wanita itu. “Aku suka berdekatan denganmu”

“Eng-Siwon lepaskan. Bagaimana jika Yoona atau orang tuamu datang?”

“Mereka tidak mungkin datang dijam begini”

“kalau begitu lepaskan saja”

“tidak mau”

“kau ini pembangkang sekali”

“terserah padamu. Aku suka seperti ini”

Tiffany menyerah. Siwon keras kepala, sama seperti dirinya. Tapi saat ini juga sangat jarang didapatkan, jadi apa salahnya menurut? Lagipula dia suka saat pria itu akan mengelus punggungnya, mengelitik telinganya sampai Tiffany akan tertawa terpingkal-pingkal.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” bisik Siwon.

“pertanyaan yang mana?”

“tentang, apa yang kau lakukan disini? Ini sudah larut malam” Siwon melepaskan pelukannya, tapi tidak dengan tangannya yang tak pernah bosan melingkar disekitar pinggang wanita itu.

“aku hanya, yeah, memastikan apa kau sudah tidur atau tidak. Tapi cahaya dari dalam tempat ini membuatku bepikir bahwa kau masih sibuk didapur. Dan ternyata dugaanku benar.”

“hmm, lain kali jangan seperti ini, baby. Aku khawatir jika kau pergi dari apartemenmu ditengah malam dan datang kesini hanya untuk memastikan apa aku sudah tidur atau belum. Kau bisa meneleponku kapan saja”

“yeah, maafkan aku.”

Siwon melepaskan lilitan tangannya pada Tiffany. Dia beralih pada roti dimeja yang tadi dipanggangnya. Oh tidak, rotinya pasti sudah dingin.

“astaga” rotinya memang sudah dingin. Ah, rasanya pasti tidak akan senikmat saat masih hangat. Wajah Siwon membentuk ekspresi kecewa.

“Rotinya sudah dingin, rasanya pasti tidak akan seenak saat masih hangat”

Tiffany sadar mereka terlalu lama berbagi pelukan dan melupakan benda empuk itu. Tiffany mengambil secuil bagian roti itu dan memasukkannya ke mulut.

“rasanya enak” dia tersenyum mencoba menghibur Siwon. Dia tahu pria itu kecewa karena hasil buatannya kali ini terhampar diam dimeja dan jadi dingin.

“kau yakin?”

Tiffany mengangguk. Dia mengambil bagian lain dan menyuapinya pada Siwon. “bagaimana?”

Pria itu mengunyah pelan sambil memejamkan matanya sebentar lalu membuka kelopak indah itu saat selesai dengan kunyahannya. “yeah, meski tidak seenak saat masih hangat.”

“ini enak, Siwon”

Tiffany mengambil bagian yang lebih besar dan memakannya habis. Siwon terkekeh melihat tingkah wanita itu. Tiffany terlihat sangat menggemaskan dengan mulut penuh roti. Siwon mengulurkan tissue yang ada dimeja padanya saat wanita itu selesai dengan roti dimulutnya.

“kau bisa makan semuanya, ini memang dibuat untukmu.”

Tiffany menggeleng, “tidak, kita harus makan bersama”

Siwon menarik Tiffany hingga wanita itu duduk dipangkuannya. Mereka saling menyuapi dan tersenyum bahagia. Siwon hampir saja tersedak jika Tiffany tidak menyuguhkan air mineral padanya. Mereka kembali berbagi potongan roti yang lain sambil bergurau tentang hal-hal lucu.

Lalu saat potongan terakhir habis dalam kunyahan Tiffany, Siwon memberinya air mineral dan mendaratkan ciuman hangat dibibirnya. Pria itu memeluk Tiffany lebih erat begitu juga dengan wanita didepannya. Mereka menyudahi bagian romantis itu ketika merasa butuh oksigen untuk tetap bernapas. Mereka tersenyum bahagia dan mengakhiri sisa malam itu dengan saling memeluk satu-sama lain disofa kulit dilantai dua tempat itu. Sampai pagi menjemput mereka..

 

OOo

 

Kedatangan Tiffany benar-benar meramaikan rumah kediaman Taeyeon dan Leeteuk. Selain wanita itu, juga ada Nichkhun dan kekasihnya,Victoria serta Jessica dan Sooyoung. Mereka menyambut Tiffany dengan bahagia. Bahkan saat wanita itu masih berdiri diambang pintu, Sooyoung serta Jessica sudah berlari dan menghamburkan pelukan kencang padanya.

“Oh my Gosh! Hwang, Tiffany Hwang. Kya! Senang sekali melihatmu, kami sangat merindukanmu, kau tahu?” sorak Jessica begitu melepaskan pelukannya dari Tiffany.

“Aku juga sangat merindukan kalian” Tiffany kembali memeluk gadis didepannya dan satu lagi yang paling tinggi diantara mereka.

“Ngomong-ngomong apa yang kau bawa?” Sooyoung lebih tertarik dengan tas plasik putih berisi sesuatu yang besar yang dibawa Tiffany. Yeah, wanita itu memang lebih tertarik pada makanan.

“ayo kita masuk dan kau bisa tahu apa isinya” mereka masuk kedalam, tepatnya diruang tamu.

Nichkhun sedang menonton dengan manja bersama Victoria sementara pasangan Park sedang ada didapur mempersiapkan pesta penyambutan mereka atas kedatangan Tiffany.

“Wah, lihat sayang, Reporter cantik sudah kembali dari Kanada” seru Nichkhun saat melihat Jessica dan Sooyoung membawa Tiffany masuk.

Victoria menampilkan wajah bahagianya ketika melihat Tiffany. Dia melepaskan diri dari Nichkhun dan sama seperti Jessica serta Sooyoung, wanita itu menghamburkan pelukan rindu yang disambut baik oleh Tiffany sendiri.

“kau makin cantik saja, Tiffany”

“Yeah, terima kasih. Kau juga banyak berubah, Vic.” Tiffany melirik Nichkhun sebentar kemudian melanjutkan ucapannya, “kupikir kau sudah ganti pasangan, tapi ternyata kau masih tahan dengan pria Thailand itu yah”

“Ya, Tiffany! Apa maksudmu dengan ‘masih tahan dengan pria Thailand’?”

Tiffany melempar bantal sofa pada Nichkhun membuat pria itu meringgis. Tiffany mencemooh dan Nichkhun mengejek “gadis menyebalkan”

“kalian memang tidak pernah akur. Ya, Khun harusnya kau memperlakukan Tiffany dengan baik!”

Sooyoung tertawa menyaksikan kehebohan orang-orang didepannya. Jessica membela Tiffany dan mereka mengejek Nichkhun hingga pria itu cemberut.

“sudahlah” Victoria memeluk Nichkhun dan tersenyum manis. Dia tidak ingin pria itu cemberut karena ulah Jessica dan Tiffany.

“aku senang karena kau tidak seperti mereka” Nichkhun membalas pelukannya pada Victoria lalu mengejek Jessica dan Tiffany.

“Wah, Tiffany Hwang” Tiffany beralih keasal suara dan menemukan wanita dengan perut buncitnya dipintu dapur, sedang berjalan kearah ruang tamu tempat mereka berada.

“Tae..” seru Tiffany bahagia. Dia menyambut Taeyeon dan membawa wanita itu duduk bersama mereka. Leeteuk mengikuti setelahnya.

“Senang sekali melihatmu lagi, Tiff.” Tiffany tersenyum manis dan duduk disamping Taeyeon.

“kau tak pernah tahu betapa senangnya aku bisa kembali. Bagaimana kesehatanmu dan calon bayi kalian?”

“seperti yang kau lihat, Leeteuk Oppa menjagaku dengan sangat baik. Menurut perkiraan dokter, minggu ini aku akan melahirkan”

“wah, benarkah? Aku tak menyangka bisa jadi aunty secepatnya ini! Ku doakan semuanya berjalan dengan baik”

Mereka berkumpul lagi. Setelah dua tahun dengan kebersamaan yang sulit diraih, mereka akhirnya bisa bersama dan merayakan kepulangan Tiffany setelah sukses dengan karir reporternya di Kanada.

“Apa yang kau bawa, Tiff?” Sooyoung teringat dengan bungkusan yang dibawa Tiffany. Dia melirik ke meja tempat benda itu diletakkan, berharap agar isinya adalah makanan.

“itu pesanan Nichkhun. Makanlah”

“sebenarnya aku hanya bercanda, tapi ternyata kau memang sahabat yang baik. Tapi akan lebih baik lagi jika kau berhenti menghinaku, Arraseo?” kata Nichkhun yang disambut tawa renyah semuanya.

Sooyoung dan Nichkhun yang lebih dulu membuka bawaan Tiffany. Mereka mendapati tiga paket roti yang pasti lezat disantap apalagi cuaca sedang dingin begini. Sooyoung tak perlu berpikir panjang, dia mengambil roti yang menurut pandangannya paling menggiurkan dan memasukkannya dengan potongan besar kedalam mulut. Berbeda dengan Nichkhun, pria itu mengenal kotak roti didepannya.

Kotak berwarna coklat dengan corak polkadot itu berasal dari tempat yang sangat dikenalnya. Bahkan nama tempat, toko roti itu terpampang jelas dibungkusan plastik.

Wonderland Cupcakes & Backery.

Ini toko Siwon!

Yeah, Nichkhun yakin dia tidak salah. Matanya masih berfungsi dengan sangat baik. Dan bukan hanya dirinya yang sadar akan hal itu, Jessica dan Victoria juga menyadarinya.

Mereka spontan menatap Tiffany, bahkan tak menyentuh roti menggiurkan yang ada. Wanita yang ditatap itu sedang asik bercerita bersama Taeyeon.

“Tiffany?” Jessica melirik paket roti-roti itu saat Tiffany menatapnya.

“kau pergi ke Wonderland?” Nichkhun bertanya dengan nada terkejut. Dan semua pandangan tertuju pada Tiffany. Bahkan Sooyoung mulai menyadari situasi yang ada.

Tiffany tak tahu harus berkata apa. Dia hanya mengangguk. Tentu saja dengan spontan. Ingat tentang spontanitasnya yang berlebihan?

“Apa yang kau lakukan disana?” Jessica juga terkejut.

“Aku hanya membeli pesanan kalian.”

“apa kau bertemu Siwon?” tanya Jessica dengan hati-hati. Lalu Tiffany menggeleng.

“Aku hanya bertemu Yoona dan dia membungkuskan semua pesananku.”

Nichkhun berbisik pada Victoria yang menjadi salah satu yang terkejut, “Heol! Untung saja Yoona tak menendangnya keluar!”

 

oOo

 

Tiffany melihat pantulan dirinya dicermin. Dia berada ditoilet setelah meninggalkan orang-orang yang sedang makan. Wanita itu menghembuskan nafasnya yang seperti sedang mencengkram pernapasannya. Hingga tubuhnya gemetaran saat orang-orang diluar sana mengetahui kemana dia pergi sebelum sampai dirumah pasangan Park.

Tangan Tiffany menggenggam sesuatu dengan kasar. Kertas kecil yang disimpannya disaku mantel.

Kertas yang berisikan nomor ponsel Siwon.

Tiffany tak tahu lagi apa yang merasukinya begitu dia melihat deretan angka dikertas itu. Dia mengambil ponselnya disaku mantel yang lain dan buru-buru menekan seluruh angka itu dan menekan tombol pemanggil dilayar touchscreen itu.

Tersambung! Tiffany makin gemetaran saat nada tunggu terdengar. Mungkin ini terdengar gila, tapi Tiffany ingin meminta maaf. Dan entah kenapa keinginannya itu tumbuh begitu kuat disaat ini.

Tiffany mengetuk-ngetukkan sepatunya dilantai keramik. Dia terlalu gugup bilamana sambungan itu mungkin akan dijawab. Tapi sampai suara operator terdengar, Tiffany tak jua mendapat jawaban dari panggilannya. Dia mencoba sekali lagi, tapi nihil. Lagi-lagi hanya suara operator yang justru terdengar menyebalkan.

“Tiffany, cepatlah! Semua menunggumu dimeja makan!” Taeyeon tiba-tiba saja berterik hingga suaranya mampu masuk ketempat Tiffany berada.

“Yeah, aku segera kesana”

 

oOo

 

Bulir-bulir  air menetes dari tubuh Siwon saat pria itu menggosokkan rambutnya dengan handuk. Rambutnya berantakkan dan basah. Siapapun yang melihatnya saat ini pasti berpikir dia adalah pria terseksi yang pernah dilihat.

Siwon menggapai ponsel diatas ranjang. Tadi saat mandi, dia mendengar benda persegi panjang warna hitam itu berdering keras. Tapi masa bodoh baginya. Dia terlanjur basah dan hanyut dalam air shower yang rasanya mengangkat seluruh penat dibadan. Jadi dibiarkan saja sampai deringnya berhenti.

Siwon menggerutkan keningnya mendapati 2 panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. siwon adalah orang yang penasaran. Siapapun yang mengenalnya pasti tahu itu. Jadi tanpa pikir panjang dia langsung mencoba menghubungi kembali siapapun yang mencoba menelponnya. Tapi nomor yang dituju tidak aktif. Dia mencoba lagi dan hasilnya tetap sama.

Baiklah, cukup. Siwon melempar kembali ponselnya keatas ranjang dan beralih untuk pergi kearah balkon. Dia masih di Wonderland. Bahkan akan tetap ditempat itu. Ini bukan hanya sekedar bangunan minimalis yang merangkap menjadi toko roti, tapi lebih dari itu, ini sudah seperti rumah yang bahkan lebih nyaman dari rumahnya sendiri.

Siwon menghabiskan seluruh waktunya ditempat itu. Dia bahkan belajar membuat roti sejak usia 8 tahun bersama kakeknya yang sekarang sudah pergi ketempat lebih baik yang disebut Surga. Siwon yakin pria tua itu ada disana. Semua yang dilakukannya semasa hidup sangat baik, jadi Siwon juga yakin kakeknya melihatnya dengan bangga.

Berbeda dengan ayahnya. Siwon tak yakin pria itu akan ditempatkan dimana bila Tuhan memanggilnya pulang. Ayahnya keras kepala, pemaksa tapi juga seorang pebisnis yang terkenal. Dia sudah berulang kali membujuk agar Siwon mau terjun dengannya didunia bisnis, tapi siapa suruh sifat keras kepalanya menurun pada anaknya sendiri. Siwon bersikukuh tetap akan menjalankan toko roti itu sesuai dengan yang diamanatkan kakeknya. Jadi dengan segala pemberontakkan yang dilakukan, Siwon berhasil membuat ayahnya menyetujui keinginannya tersebut.

Kini pria itu berdiri dibalkon. Rambutnya terombang-ambing oleh angin malam. Syukurlah tidak ada badai salju seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini. Jadi Siwon bisa berlama-lama duduk dibalkon sambil memikirkan tentang wanita yang kembali lagi dihidupnya.

Apa yang harus diperbuat ketika mereka bertemu lagi? Siwon takut dia akan kehilangan pertahanan dirinya karena hanya Tiffany lah, dia bisa luluh lantak.

 

oOo

 

Bunyi roda koper terdengar jelas saat Tiffany menarik benda besar itu memasuki apartemennya. Dia menyeret langkah berat kearah kamar tidur lalu ketika sampai, dia melempar tubuhnya dengan kasar ke ranjang sambil memejamkan mata lelah.

Lampu kamar menyinar samar-samar dan beberapa perabotan masih terbungkis rapi dengan plastik. Bahkan sudah berdebu karena tak pernah dibersihkan.

Tiffany membuka matanya dengan malas lalu beranjak mengangkat tubuhnya dan duduk dikasur dengan kedua kaki dilipat. Dia memandang seluruh sudut kamarnya. Wanita itu memutuskan untuk mandi lalu membersihkan tempat ini. Tapi tiba-tiba saja bayangan kenangan masa lalu ditempat itu berputar dengan jelas dipikirannya. Dia ingat begitu banyak kebersamaan yang dibaginya bersama Siwon ditempat ini. Bahkan mereka hampir melangsungkan pernikahan jika saja skandal memalukan Tiffany tidak berbongkar ke publik. Dia pasti sudah hidup bahagia dengan Siwon. Yeah, jika saja dia bukan seorang reporter masalah itu pasti tidak akan begitu berpengaruh.

Dia ingat pertengkarannya dengan Siwon saat berita itu menyeruak ke media. Rasanya itu bagian pahit dari sekian kenangan manis keduanya.

 

Prang!

Vas bunga perak dikamar itu pecah berkeping-keping saat Siwon melemparnya kedinding. Pecahannya bahkan hampir mengenai sosok wanita didepannya yang wajahnya sudah basah dengan air mata. Tiffany menangis tersedu-sedu sementara Siwon menghembuskan nafasnya yang kasar sambil berkacak pinggang, menahan emosinya yang sedang meluap-luap.

Bagaimana tidak? Skandal memalukkan yang kini jadi perbincangan seluruh penjuru Korea menjadikan calon istrinya sebagai pemeran utama bersama seorang Produser stasiun Tv terkenal bernama Lee Dong Wook.

Hubungan gelap Reporter Hwang terbongkar ke Publik! Bagaiman dengan pernikahannya?

Rahasia dibalik suksesnya reporter Tiffany Hwang.

Reporter cantik yang diketahui menjalin hubungan rahasia bersama Produser Chaim Tv. Bagaimana reaksi calon suaminya?

Siwon sudah berulang kali menbaca topik memuakkan itu dimedia massa. Yang paling menyakitinya adalah kebohongan yang Tiffany buat untuk menutupi dirinya. Demi Raja Neptunus! dia benci sekali dengan Produser sialan bernama Lee Dong Wook itu.

“Apa ini yang kau lakukan, Tiffany? Kau mengkhianatiku!” teriak Siwon dengan suaranya yang serak. Pria itu menatap Tiffany dengan ekspresi kecewa diwajahnya.

Tiffany menunduk dalam meski tangisnnya sudah reda. Sungguh ini mimpi buruk. Sebentar lagi mereka akan menggelar pemberkatan pernikahan tapi berita itu menghancurkan seluruh rencana.

“Aku ingin memberitahumu, tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya. Sungguh, Siwon. Aku hanya mencintaimu!”

“Bagaimana aku bisa percaya yang kau katakan? Semuanya benar-benar berbanding terbalik dari yang bisa kulihat selama ini.”

Kini mata keduanya bertemu. Tak seperti tatapan yang selalu muncul saat mereka bersama, tapi tatapan kali ini adalah gambaran segala frustasi yang ada.

“Aku tak tahu apa lagi yang bisa kulakukan selain memohon maaf..”

Siwon lagi-lagi mengatur nafasnya yang tercekat. Frustasi, kecewa, marah dan juga cinta satu dalam luapan emosinya. Siwon mendekat pada Tiffany sementara wanita itu juga terlihat rapuh dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis.

“Aku tahu aku salah, aku pantas dibenci dan dicaci semua orang. Tapi tolong jangan tinggalkan aku..” suara Tiffany bergetar dan wajahnya terangkat menatap Siwon dengan segala keberanian. Dititik ini dia berani menggantungkan harga dirinya dan mengaku salah.

Siwon membuang pandang kearah lantai tempat mereka berpijak. Dia bisa luluh jika terlalu lama melihat mata indah Tiffany. Untuk pertama kalinya sejak dia jatuh cinta pada wanita ini, Siwon tak mau mengalah dan memaafkan. Hatinya terlalu sakit.

“kau tak hanya menyakitiku. Tapi kau juga mengkhianati kepercayaan orang tua dan keluargaku serta semua sahabatku. Kau tahu? untuk memperjuangkanmu didepan mereka, aku rela mempertarukan segalanya. Dan ini yang kau perbuat?”

Tiffany terisak lagi. Sementara Siwon mulai berjalan menjauh dan berdiri dijendela memandang keluar dengan pandangan nanar. Dia mengacak-acak rambutnya dan  Pikirannya kacau balau. Bukan hanya berita itu, tapi bagaimana dengan setumpuk undangan pernikahan mereka? Bagaimana dengan semua persiapan yang dilakukan? Seperti memperjuangkan sesuatu dengan sia-sia.

Siwon berbalik setelah hembusan nafas berat yang entah sudah berapa kalinya dihembuskannya.

“Kurasa kita tidak bisa bersama lagi.” Siwon berusaha mati-matian mengucapkan kata-kata itu meski rasanya seperti membela diri dengan pisau. Sungguh sakit sekali.

“kita tidak bisa bersama lagi” itu perkataan terakhir yang bisa Tiffany dengar ditengah tangisannya yang pecah ruah. Siwon keluar dari apartemen Tiffany dengan air mata yang jatuh membasahi wajahnya. Ini saatnya kisah bahagia itu berakhir.

Tiffany kembali terlempar pada realita saat dering ponsel mengacaukan lamunannya. Dia menggapai benda itu dengan malas lalu menbaca apa yang tertera disana.

Hei Hwang, kudengar dari Jessica kau kembali ke Korea, benarkah? Kurasa kita perlu bicara, jika kau mau besok temui aku di Coffe Shop dekat Chaim TV. Aku menunggumu. Oh yah, jangan lupa untuk mengabariku jika kau berniat untuk datang.

Tertanda dengan manis, mantan kekasihmu yang tampan, Lee Dong Wook.

Tiffany mengendus kasar mendapati Poduser Stasiun Tv itu yang mengiriminya pesan. Sejujurnya dia berharap itu Siwon. Tapi bagaimana mungkin Jessica bisa memberitahukan kepulangannya pada pria ini? . Tapi, Tiffany merasa harus menemuinya. Lagipula semua sudah berlalu dua tahun yang lalu. Jadi wanita itu berpikir ini saatnya memulai lagi dari awal.

 

oOo

 

“Sepertinya tidak ada yang berubah darimu..”

“Memangnya kau ingin aku berubah bagaimana?”

Dong Wook tertawa merendah, “tidak juga. Bagaimana kabarmu? Kudengar karirmu sukses besar di Kanada”

Tiffany meraih cangkir Espressonya dan meminum isinya sedikit. Dia menatap Dong Wook Lurus. “seperti yang bisa kau lihat, aku sendiri tak menyangka bisa menjadi reporter lagi di Negeri itu”

“kau memang seorang bintang, bukan? Tak masalah dimanapun itu, aku berharap yang kau jalankan selalu baik”

“terima kasih, Dong Wook” Tiffany tersenyum ringan begitu juga dengan pria didepannya.

Mereka saling memandang dengan pikiran yang menerawang. Membayangkan seperti apa pertemuan dan kedekatan mereka dimasa lalu.

 

Gemerutuk sepatu high heels Tiffany terdengar menggema dilorong kosong. Bahkan suara sepatu itu hampir bisa setera dengan suara derasnya hujan diluar sana. Langkahnya cepat dan tergesa-gesa menuju lift. Sementara ponselnya menempel ditelinga.

“aku baru saja sampai. Mian, hujan deras turun dan aku lupa bawa payung. Astaga, Bora. Aku bahkan sedang basah kuyup sekarang. Oh baiklah, lantai berapa? 12? Yep”

Tiffany sampai di lift dan segera menekan tombol lalu bersandar pada dinding metalik besi itu. Seorang diri dengan baju yang sudah setengah basah dan ponsel yang masih menempel ditelinganya.

“Apa kau bawa baju ganti, Tiff?” tanya Bora memastikkan.

Tiffany menggeleng dan mendesah, “Tidak”

“astaga, bagaimana mungkin kau akan interview dengan penampilan seperti itu? Kau pasti takkan diloloskan”

“lalu aku harus bagaimana?” tanya Tiffany frustasi.

Ayolah, dia sudah menghabiskan seluruh waktunya untuk mempersiapkan diri dengan interview untuk reporter hari ini dan apakah hanya karena baju basah dan penampilan kacau, err… memang mungkin tak bisa meloloskan mimpinya.

“ya sudah aku akan menemuimu, naiklah ke food court gedung ini. Aku akan meninggalkan pekerjaanku sebentar. Kurasa aku punya pakaian cadangan yang bisa kau gunakan”

“Yey, Thanks Bora”

“No problem. I can give you help when i can”

**

Oh My Gosh, Bora! Ini yang kau sebut pakaian yang bisa kugunakan? Ini lebih terlihat seperti baju tak selesai dijahit”

“Ayolah, Fany-ah. Kau mau pakai baju basah yang tak elit ini untuk interview berhargamu yang pertama dan kau mungkin berniat akan mengacaukannya. Lagipula hanya ini yang kupunya, aku tak mungkin melepas gaunku untukmu kan?”

Tiffany menatap black mini dress, atau mungkin lebih pantas disebut-super-black-mini-dress-itu dengan tak yakin. Huh! Pasti akan sangat tak nyaman dibaluti pakaian itu, pikirnya.

“ayolah, Tiff” rengek Bora.

Tiffany mendesah frustasi. Mau bagaimana lagi? Dengan terpaksa dia mengambil pakaian itu dari tangan Bora, sementara wanita didepannya malah bersorak.

“Yess, sekarang ganti saja bajumu lalu turun dibawah”

“kau jadi tim penilainnya kan?”

“tentu saja”

**

Gugup. Sangat gugup. Tiffany bahkan duduk kaku dengan seluruh lampu blitz dan kamera yang mengarah padanya. Plus, tatapan para tim penilaian yang rasanya mematikkan. Disana juga Bora duduk dengan senyum mengejek yang seperti mengatakan-kau-lucu-sekali-dengan-pakaian-itu.

Tim penilai untuk interview kali ini berisi orang yang punya peran penting dibagian ini. Selain Bora, ada juga seorang reporter senior yang terkenal bernama Kim Hyun Woo, dua orang pria berjas yang Tiffany tak tahu kenapa mereka ada disana, dan satu lagi yang kata Bora adalah orang paling berpengaruh dibidang ini, Pd Lee Dong Wook.

Tiffany berusaha fokus dengan wawancaranya kali ini. Dia mengembangkan senyum sekuat tenaga meski rasanya otot wajahnya sedang kaku mati. Bahkan super black mini dress ini juga membuatnya tak nyaman. Potongan bagian bawah terlalu rendah hingga tak menampik pemandangan mulus dari tiga per empat pahanya terlihat. Juga bagian atas yang terlalu mengekspos leher putihnya, jadi dengan sengaja Tiffany mengurai seluruh rambutnya untuk menutupi bagian yang bisa ditutupinya. Err.. ini sangat tak nyaman.

“Jadi,Miss Tiffany Hwang, kenapa kau ingin jadi reporter?”

Pertanyaan itu datang dari reporter Kim Hyun Woo. Tiffany menatapnya dengan wajah berbinar. Salah satu panutannya disini, memberinya pertanyaan dan mungkin saja kesempatan untuk mewujudkan mimpi Tiffany.

“karena aku suka menjadi seperti ibuku. Dulunya dia seorang reporter di California, tapi sekarang dia memilih untuk berhenti dari pekerjaan ini dan lebih baik mengurus keluarganya dan pindah ke Kanada”

“jadi ibumu reporter? Di California?” tanya salah seorang pria berjas yang punya badan besar dan jenggot kecil diwajahnya. Tiffany mengangguk.

“yeah”

“Apa hanya itu alasan untuk terjun kedunia ini?”

“kurasa.. aku terlalu menyukai dunia ini, terlepas dari sehebat apa ibuku. Aku suka dengan kepercayaan diri dan kecantikkannya saat melafalkan seluruh isi berita di Tv. Jadi saking aku menyukainya, aku tak punya alasan lain kenapa aku begitu menyukainya”

Semua diruangan itu tertawa, tak terkecuali Bora. Dia mengangkat jempolnya dan Tiffany merasa dia melakukan yang terbaik.

“Bagaimana menurutmu, Pd Lee? Tak adakah yang ingin kau tanyakan?”

Tiffany menatap Kim Hyun Woo dan berganti pada seorang produser yang duduk paling ujung, ah Lee Dong Wook. Tiffany yakin itu nama yang dikatakan Bora padanya.

Mereka bertatapan. Dan entah kenapa Tiffany merasa pandangan itu seperti menusuk sampai kehatinya. Membuatnya bergetar.

“Tidak ada. Kurasa kita akan bertemu lagi disesi wawancara berikutnya.”

Dan… pria itu tersenyum.

 

“permisi” kedatangan seorang pelayan menghantar Tiffany kedunia nyata. Mengibas seluruh khayalannya tentang masa lalu hingga hilang sepenuhnya.

Setelah meletakkan dua cangkir espresso dimeja, sang pelayan kembali pergi. Dong Wook yang pertama menyesap minumannya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Tiffany to the point. Dong Wook lagi-lagi tersenyum. Dulu senyum dan tatapan mata itu pernah membuat dunia Tiffany jungkirbalik. Tapi sekarang, semua terasa lebih seperti persahabatan.

Memang harusnya begitu kan? Sudah dua tahun berlalu, dan Tiffany menegaskan dirinya bahwa Dong Wook hanya bagian dari masa lalu.

Dong Wook berdecak, “Ckck, kau memang tak pernah berubah” lalu dia kembali meletakkan cangkir espressonya dimeja. “baiklah, begini. Ini tentang Jessica”

 

oOo

 

Tiffany memotong daging steaknya dengan kaku. Dia berusaha bersikap sopan didepan dua pria didepannya. Saat ini , dia sedang makan malam dengan Pd Lee dan seorang lagi pria gendut dengan jenggot diwajahnya yang waktu dulu jadi tim penilai saat wawancara pertamanya. Ternyata dia adalah asisten direktur bernama Kang Joon In.

“ratting yang sangat bagus, Nona Hwang” Kang Joon In mengangkat gelas wine miliknya. Berusaha mengajak Tiffany bersulang.

Wanita itu menerima dengan senang hati, sesenang perasaanya setelah berhasil menjadi reporter berita tadi siang, itu adalah acaranya yang pertama dan rattingnya sangat bagus.

Lee Dong Wook juga mengangkat gelasnya dan ketiganya bersulang. Kang Joon In tertawa terbahak-bahak entah karena apa setelah meminum sedikit wine. Lalu tanpa Tiffany duga, tangan besar dan kasar dari pria itu kini jatuh pada pahanya hingga menimbulkan sensasi tak nyaman plus terkejut.

Tiffany menunduk memperhatikan tangan kurang ajar itu yang kini sedang mengelus lututnya. Dia berusaha menyingkirkannya, tapi sialan pria itu tak berniat menjauhkan tangannya.

“ibumu pasti memang adalah reporter yang hebat.” Joon In tertawa lagi seiring dengan tangannya yang makin naik keatas. Membuat Tiffany bergidik ngeri. Dia menahannya, tapi Joon In malah bergerak dengan sebelah tangannya yang lain dan menggenggam kedua tangan Tiffany. Oh, demi permukaan bumi dan isinya!.. Tiffany ingin segera menendang pria itu, jika perlu sampai harus mematahkan tulang hidungnya.

Tapi dia tak bisa melakukan apapun. Sampai Dong Wook yang menyadari hal itu berdehem penuh wibawa. Dia melepas jasnya dan memberinya pada Tiffany.

“Tuan Kang Joon In..” panggilnya dengan berat. “singkirkan tanganmu dari Tiffany”

Tiffany mengangkat wajahnya dan menatap pria didepannya. Benar, hanya dengan gertakkan itu, Kang Joon In menjauhkan tangannya dan malah terlihat malu atas apa yang dilakukannya.

Suasana ini jadi canggung untuk ketiganya. Tiffany memilih untuk pamit ke toilet, meninggalkan dua pria itu. Tapi dia menahan tubuhnya sejenak dipintu ruangan dan ternyata dua pria didalam sana saling berdebat.

“apa kau sedang mencoba mempermalukan aku, Produser terhormat?”

“bukan aku, tapi kau yang mempermalukan dirimu sendiri”

Joon In berdecak. “apa kau menyukai, Tiffany Hwang?”

Tiffany berbalik dan memilih untuk tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Dia menekan telinganya kepintu, mungkin ini terdengar seperti menguping. Tapi bagaimana jika menguping tentang orang yang membicarakan dirimu? Tindakan ini tentu saja tidak salah.

“apa ini hal yang patut kau ketahui? Tolonglah Tuan Kang, dimana kehormatanmu?”

“APA KAU SEDANG MENCOBA MENGAJARI APA YANG HARUS KULAKUKAN?” Joon In berteriak.

“bisa dibilang begitu, karena kau tak tahu apa yang harus kau lakukan”

“dasar, brengsek”

Tiffany menjauhkan dirinya dari pintu saat mendengar bunyi hantaman keras. Siapa yang memukul siapa? Tiffany menahan dirinya yang mulai khawatir pada kedua orang didalam sana. Tapi tak mungkin untuk masuk dan melerai apa yang terjadi jika dirinya adalah sumber utama masalah.

Bunyi hantaman terdengar lagi, lalu Tiffany mendengar suara Joon In yang marah.

“Ambil semua kehormatan ini. Cih!”

Tiffany memegang gagang pintu dengan perasaan takut, khawatir dan cemas. Pasti Joon In -lah yang memukul Dong Wook. Tak lama terdengar langkah kaki mendekat ke pintu. Tiffany buru-buru menjauh. Lalu Dong Wook muncul dari pintu dengan sudut bibir berdarah. Tiffany mendekati sang produser dengan tatapan khawatir.

“apa yang terjadi PD Lee?”

Wajah mereka sangat dekat, dan begitu juga dengan tatapan mereka. Tiffany dengan penuh khawatir dan Dong Wook dengan tatapan lembutnya.

“tidak ada. Makan malam sudah selesai, sebaiknya aku mengantarmu pulang. Ayo”

Tiffany terkejut mendapati tangannya yang kini sudah berada dalam genggaman pria tinggi itu. Dong Wook menggenggam tangannya erat membuat Tiffany merasa jantungnya akan melompat keluar karena detaknya yang terlalu cepat.

Seperti yang dikatakan, Dong Wook akan mengantarnya pulang. Mereka berjalan ke bassment dan masuk kedalam kendaraan beroda empat itu. Tapi Dong Wook tak kunjung menyalahkan mesin mobilnya, membuat wanita itu menatapnya. Ternyata Dong Wook sedang membersihkan sudut mulutnya yang berdarah. Memang tidak parah, tapi entah kenapa itu membuat Tiffany sangat mengkhawatirkannya.

“biar ku bantu.” Dong Wook tersentak ketika tangan Tiffany terulur memegang sisi wajahnya. Pria itu terpaku.

“apa disini ada sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan lukanya?”

“aku punya alkohol dan kassa didalam sini” Dong Wook membuka tempatnya menaruh kotak P3K Mini. Lalu menyerahkannya pada Tiffany.

Wanita itu dengan sigap dan hati-hati membersihkan luka disudut bibir Dong Wook. Dan dengan semua tindakannya, pria didepan itu semakin terpaku dan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Tiba-tiba perkataan Joon In terngiang dikepalanya.

“apa kau menyukai, Tiffany Hwang?”

Pertanyaan itu juga yang kini ditanyakan pada hatinya.

“sudah selesai” Dong Wook tersadar saat Tiffany sudah selesai dengan pekerjaannya. Wanita itu menaruh seluruh botol alkohol, kassa dan plester dikotaknya dan kembali meletakkan semua itu pada tempatnya.

Dan didetik selanjutnya, merasa hanya terpaku pada satu sama lain hingga wajah keduanya makin mendekat. Dong Wook mencoba menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Tiffany dan pandangan pria itu hanya terfokus pada bibir Tiffany yang tampak indah dan merekah itu.

Tiffany merasa seperti tersengat saat bibir Dong Wook mencapai bibirnya. Mereka berciuman! Dengan lembut, penuh perasaan dan ketika Dong Wook mencoba untuk memperdalam ciumannya, luka disudut bibirnya menimbulkan sensasi menyakitkan hingga dengan terpaksa ciuman mereka terlepas begitu saja.

“auw..” erang Dong Wook sambil ujung jempolnya menyetuh sekitar luka disudut bibirnya. Tiffany tersadar.

“apa aku menyakitimu?” Tanya Tiffany terkejut dengan alasan kenapa mereka harus menghentikan ciuman itu.

Dong Wook memandangnya dengan wajah yang tersenyum. Lalu ketika pandangan mereka lagi-lagi bertemu, mereka tertawa menyadari apa yang baru saja terjadi.

“yeaah, Tiffany aku menyukaimu.”

Dan setelah bagian manis dari ungkapan Dong Wook itu, Tiffany merasa dunianya berputar dan berubah.

 

oOo

 

Mungkin cairan Espresso itu bisa saja menyembur keluar dari hidung Tiffany jika saja wanita itu tak segera menyumbat hidungnya dengan tissue. Ini reaksi yang mungkin berlebihan, tapi Tiffany menganggap ucapan Dong Wook lah yang terdengar mengada-ngada.

“kau berlebihan, Tiff”

“maaf, aku hanya terlalu terkejut”

“jadi bagaimana? Kau bisa membantuku kan?”

Dong Wook kini memohon. Tapi Tiffany tak tahu apakah ini masuk akal atau tidak.

“aku tak tahu. ini pasi akan sulit”

“Ayolah, Hwang. Hanya kau yang bisa membantuku, cukup yakinkan saja bahwa kita sudah tidak punya hubungan dimasa lalu. sudah begitu saja”

Tiffany ingin tertawa melihat wajah Dong Wook saat ini. Pria itu sangat lucu jika memohon begini. Dia menggulung tissue ditangannya dan melempar benda itu pada pria dihadapannya.

“apa hanya sekecil itu pemikiranmu, Pd Lee? Kau pikir Jessica akan jatuh cinta padamu setelah aku mengatakan yang kau inginkan?”

Dong Wook mengelus wajahnya, “Yeah, mungkin tidak. Tapi ini bisa sedikit membantuku. Kau tahu? alasan terbesar Jessica menolak berkencan denganku karena aku adalah masa lalumu. Aku yakin Jessica bisa menerimaku jika kau yang menjelaskan semuanya”

“Sebelumnya izinkan aku bertanya”

“apa itu?”

“sejak kapan dan bagaimana kau bisa mengenal Jessica? Bagian itu membuatku penasaran.”

Dong Wook tertawa dengan suara rendahnya, “aku akan menceritakannya, tapi kau harus berjanji agar tidak cemburu”

“tentu tidak, bodoh!”

 

oOo

 

langkah Siwon terseok memasuki sebuah Coffe Shop. Semalam dia tak bisa tidur dan akibatnya, rasa kantuk yang amat sangat menguasainya. Dan sebelum pekerjaannya terbengkalai, Siwon merasa butuh secangkir kopi untuk mengusir seluruh kantuknya.

cappucino, please” Kata Siwon ketika berhasil sampai ke counter dan memesan pesanannya. Saat menunggu pesanannya siap, tak disangka Siwon melihat sesuatu yang membuat kantuknya hilang.

Bagi Siwon, waktu rasanya berhenti ketika matanya melihat lagi wanita itu. Dengan senyum mengembang dan kecantikkan yang selalu tampak indah dimatanya.

Tiffany benar-benar kembali.

Tapi sesuatu yang membuat hatinya mencelos adalah ketika melihat darimana wanita itu bisa tertawa. Lee Dong Wook duduk didepan wanita itu. Dengan semangat menceritakan apapun yang Tiffany dengar hingga wanita itu tertawa.

“pesanan anda, Tuan” Siwon tersadar ketika pelayan yang tadi sudah ada dihadapannya dengan  gelas styrofoam berisi cappucino.

Siwon memberi beberapa lembar won pada sang pelayan dan pandangannya kembali pada Tiffany dan Dong Wook.

Apakah mereka sudah memutuskan untuk kembali bersama?. Batin Siwon.

Ohh, bukan hanya kantuknya yang hilang, tapi semangatnya juga ikut pergi. Siwon menarik langkah berat keluar dari tempat itu.

 

oOo

 

“kami bertemu pertama kali sejak kau meninggalkan Korea dan berita kencan kita waktu itu menyebar. Saat aku sedang frustasi diruanganku, seorang wanita menerobos masuk begiu saja. Lalu dia menamparku. Jujur, rasanya sakit sekali.” Dong Wook memegang sisi kiri wajahnya seolah rasa sakitnya masih membekas disitu.

“dia Jessica. Datang dengan amarah yang besar dan menuduhku sebagai perusak kebahagiaanmu dan calon suamimu, err… siapa namanya?”

“Siwon”

“Yeah, si Siwon itu. Lalu aku menyadari bahwa seharusnya berita itu tak membuat pernikahanmu gagal. Maka, aku menyusulmu ke Bandara berharap bisa mencegah segala sesuatu dan mungkin saja bisa menyelamatkan pernikahanmu”

“Tapi aku terlambat. Pesawamu pergi 15menit sebelum aku datang. Jadi aku pulang dengan lesu dan rasa bersalah yang menggerogoti hidupku. Aku mencoba membangun nama baikku ditempat aku bekerja dan didepan semua orang yang mengenalmu. Aku pergi menemui Siwon dan meminta maaf padanya. Dia memaafkanku, tapi tidak dengan Jessica. Aku berusaha meyakinkan sahabatmu itu bahwa kau dan aku sudah berakhir. Aku bahkan mencoba untuk mendekatinya berharap bisa menghubungimu untuk meminta maaf dan tanpa kusangka, intensitas pertemuanku dengan Jessica membuatku jatuh cinta padanya. Sampai ketika aku mengungkapkan perasaanku dan dia mengatakan dia takkan bisa menerimaku. Lagi-lagi dengan alasan, aku adalah masa lalumu.”

Dong Wook mengambil jeda dalam kalimatnya dengan sesekali menyesap espresso miliknya.

“aku yakin jika kau menjelaskan padanya, mungkin saja dia bisa menerimaku. Lagipula kau tahu sendiri, betapa baiknya aku kan?”

Tiffany tersenyum. Yeah, dia tahu seperi apa Dong Wook. Pria yang tak pernah menyerah, lembut dan baik hati. Bahkan ketika Tiffany memilih Siwon, pria itu tidak berniat untuk membunuhnya, bukan?

“akan kucoba, dan sisanya kau urus sendiri”

Dong Wook bersorak girang ditempatnya. “Yes! Terima kasih Tiffany, aku mengandalkanmu”

 

oOo

 

Entah kenapa bayangan Tiffany selalu muncul dipikiran Siwon. Bahkan mengganggu konsetrasinya saat bekerja.

“astaga, Oppa!” pekik Yoona sambil menarik tangan Siwon menjauh dari pemanggang. “kau hampir saja membakar tanganmu!” kata Yoona dengan khawatir.

Siwon melirik tangannya dan tersadar pada kenyataan. Sial! Ini karena terlalu banyak memikirkan kebersamaan Tiffany dengan Dong Wook tadi siang.

“kau kenapa, Oppa?” Yoona mengulurkan tangannya dan mengelap keringat didahi Siwon. Kakaknya itu tampak sedang tidak baik.

“aku tidak apa-apa”

Siwon melangkah keluar dari dapur tempatnya bekerja, diikuti Yoona dari belakang. Pria itu berhenti disisi counter dan menghembuskan nafasnya. Emosinya jadi tiba-tiba naik jika mengingat kebersamaan Dong Wook dan Tiffany. Arrg!

“Young, apa Tiffany benar-benar mencariku waktu itu?”

Kini Yoona yang menghembuskan nafasnya saat tahu kenapa kakaknya bersikap seperti ini.

“apa kau seperti ini karena memikirkannya?”

Siwon mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, “yeah” jawabnya lemah.

Sementara Yoona menatap kakaknya dalam diam. Tak dipungkiri memang, saat Tiffany meninggalkannya semua berubah. Siwon juga seperti jadi orang lain, dan ketika wanita itu kembali, Yoona tahu pertahanan kakaknya akan runtuh.

“apa kau masih mencintainya, Oppa?”

Siwon tersesat saat mencari jawabannya. apakah ia masih mencintai Tiffany? Wanita yang sudah memporak-porandakan hidupnya?

Lalu Siwon menatap lurus dan menjawab dengan lemah, lagi.

“kurasa aku takkan bisa berhenti mencintainya”

 

oOo

 

tayangan di Tv berhasil menyita seluruh perhatian Tiffany dari mangkuk serealnya. Wajahnya kini tersenyum melihat betapa lihai seorang reporter dilayar Tv itu. Bora tersenyum kearah kamera, seolah sedang tersenyum pada Tiffany sendiri. Wanita itu kini sedang semangat saat membawakan acara kuliner dan semuanya terlihat berjalan dengan baik. Tiffany merindukan, satu dari banyak sahabatnya ini. Sekali-kali mungkin Tiffany harus mengajaknya makan siang. Sebagai rekan seprofesi.

Tiffany melanjutkan menikmati serealnya dan memasukkan satu suapan besar pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tiffany dengan cepat mengangkat panggilan itu begitu melihat nama Taeyeon tertera disana.

“Hello, Nyonya Park”

Terdengar nada tawa Taeyeon yang khas, “jangan memanggilku Nyonya, itu membuatku terdengar lebih tua”

“sayang sekali aku lebih suka memanggilmu seperti itu.”

“ckck, dasar wanita keras kepala. Ya, Tiffany Hwang! Kau tahu aku sedang hamil kan? Turuti kataku jika kau tak ingin sebelah matamu memerah dan bengkak”

“Tsk. Kau ibu hamil yang banyak maunya. Ya sudah, aku takkan memanggilmu seperti itu lagi.”

“Thankyou. Oh yah, Tiffany, apa kau punya waktu besok? Aku ingin berbelanja perlengkapan untuk calon bayiku tapi Leeteuk Oppa sangat sibuk dikantornya, apa kau bisa menemaniku?”

“tentu saja bisa, aku akan menjemputmu besok”

“Wah, really thankyou princess. I’ll be waiting”

Setelah beberapa candaan manis, sambungan telepon lalu terputus. Tiffany menatap ponselnya sejenak dan kemudian dia teringat pada Siwon. Tiffany mengecek daftar panggilan dan menemukan nama kontak Siwon. Yeah, tidak ada salah mencoba jadi Tiffany menekan tombol pemanggil.

Namun kali ini dia lagi-lagi harus kecewa karena panggilannya tak digubris Siwon atau siapapun. Hanya ada suara operator yang menyarankan untuk mengirimkan pesan suara.

Tiffany menghela nafas. “Hello, Siwon. Kuharap kau selalu baik-baik saja. Aku mencoba menghubungimu beberapa waktu yang lalu saat kepulanganku dari Kanada, untuk mengatakan maafku padamu tapi kau tak sempat menjawabnya. Aku berharap kau bisa memaafkanku, memaafkan semua yang kulakukan padamu dimasa lalu. Aku ingin kita bertemu lagi tanpa canggung dan kau mampu menatapku lagi dengan senyummu seperti dulu. Sekali lagi, aku sangat menyesal karena telah menghancurkan hatimu, aku berharap Tuhan selalu menyertaimu.”

Lalu Tiffany mengakhiri pesan suaranya dengan detak jantung yang terlampau cepat.

 

oOo

 

Taeyeon bersyukur dia memanggil orang yang tepat untuk menemaninya berbelanja. Tiffany tetap setia bersamanya meski Taeyeon sendiri merasa dirinya terlalu banyak tingkah. Tiffany rela menenteng berbagai tas belanja dan mengekori Taeyeon kemanapun dia pergi.

Sebenarnya Taeyeon tak perlu lagi berbelanja karena Leeteuk dan keluarganya sudah membeli cukup banyak perlengkapan yang dibutuhkan menjelang saatnya dia akan melahirkan. Mungkin ini pembawaan janinnya, dia ingin membeli sepasang sepatu pink dan beberapa pasang pakaian dengan warna yang sama. Taeyeon punya firasat anak pertamanya adalah perempuan.

Mereka berhenti disalah satu restoran Chinesse dan memilih makan siang disana.

Tiffany menatap Taeyeon dengan takjub saat wanita itu menghabiskan makanannya dengan cepat. Sepertinya orang hamil memang butuh makan lebih banyak.

Tiffany memilih untuk makan makanannya dengan perlahan. Lalu tiba-tiba saja dia tertarik untuk bertanya pada Taeyeon.

“apa hamil itu berat?”

Taeyeon meminum soda digelasnya kemudian terkekeh atas pertanyaan Tiffany.

“jika berat maksudmu adalah kandungan ini, jawabannya adalah ya. Apalagi jika sudah mendekati masa bagimu untuk melahirkan. Tapi jika ‘berat’ yang kau maksud adalah menjalani masa kehamilan, maka jawabannya adalah tidak”

Tiffany mengangguk paham sambil mengunyah makanannya pelan-pelan. “aku tak pernah berpikir jika suatu hari aku akan hamil”

“mungkin karena kau belum menikah, jadi pikiran tentang perut buncit, dokter kandungan dan yang lainnya tak terbesit dipikiranmu. Tapi jika kau sudah menikah, aku yakin akan lain ceritanya”

Tiffany menghembuskan nafasnya. Jika saja dirinya dan Siwon memang benar-benar menikah dua tahun lalu, pasti kini dia sudah punya seorang atau bahkan lebih anak.

“Oh yah, ngomong-ngomong apa kau sudah bertemu Siwon?”

Tiffany menghentikan makannya dan menatap Taeyeon dengan ekspresi yang entah apa namanya. Dia ingin berbagi perasaan pada salah satu sahabatnya.

“tidak.” Lalu Tiffany melanjutkan, “Tae..? apakah menurutmu, Siwon masih bisa menerimaku?”

Taeyeon terbatuk-batuk ketika Tiffany menyelesaikan kalimatnya. Dia mengelap ujung bibirnya dengan serbet.

“uhm, mungkin saja ya, mungkin saja tidak.” Taeyeon minum sodanya sebentar, “jika dia masih mencintaimu, bisa saja dia menerimamu. Tapi jika tidak, yeah jawabannya tentu tidak.”

Taeyeon menatap Tiffany intens. “apa kau masih mencintainya?”

Tiffany mengangguk lemah, “aku merasa sangat bodoh karena pernah mengkhianatinya.”

“semua pernah melakukan kesalahan, Tiff. Jangan salahkan dirimu terlalu banyak. Aku tahu itu juga menyakitkan untukmu”

Senyum yang mengembang diwajah Taeyeon membuat Tiffany bisa sedikit menemukan semangat. Jika dia bisa bertemu Siwon, mungkin dia harus berjuang untuk membangun kembali semuanya.

“entah kenapa saat membicarakan Siwon aku jadi ingat dengan roti yang kau bawa dari tokonya. Apa kau bisa mengantarku kesana? Tiba-tiba saja aku ingin makan roti di Wonderland

 

oOo

 

Untuk kedua kalinya, Tiffany menginjakkan kakinya di Wonderland Cupcakes & Backery. Tak mungkin untuknya menolak keinginan Taeyeon jadi dia lebih memilih pergi sesuai dengan yang diinginkan Taeyeon. Toh, dia datang dengan alasan yang jelas.

Begitu masuk, Tiffany merasa waktu berhenti dikakinya. Saat matanya dan Siwon bertemu, entah apa namanya tapi Tiffany merasa kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Dua tahun berlalu dan Siwon tetap saja tampak tampan.

Taeyeon sudah berjalan lebih dulu kearah Counter dan berusaha menentukan pilihannya untuk dimakan. Semua roti itu tampak sangat lezat dan menggiurkan.

“Tiffany.”

“Siwon”

Mereka bergumam tanpa sadar karena terpaku kepada satu sama lain.

“Tiffany, roti yang mana yang menurutmu enak?”

Tiffany tersadar dengan panggilan Taeyeon. Dengan kaki yang lemas, dia berjalan mendekat ke Counter Lalu menunjuk semua roti kesukaannya untuk dimakan Taeyeon.

Tiffany tak tahu kemana seluruh selera makannya saat melihat Taeyeon makan semua roti itu seorang diri. Selain karena Tiffany lebih suka melihat betapa lahapnya Taeyeon menghabiskan semua roti itu, dia juga canggung dengan keberadaan Siwon disisi lain tempat itu.

Apakah pria itu sudah mendengar pesan suaranya? Tiffany meruntuki dirinya sendiri.

Tiba-tiba sepotong roti dalam genggaman Taeyeon jatuh begitu saja dan wajah wanita itu sudah berubah pucat entah sejak kapan.

“Omo, Tiff..” Taeyeon mengerang menyadarkan Tiffany bahwa wanita didepannya itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

Taeyeon memegang perutnya ketika rasa sakit itu menyerang. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat karena tak tahan dengan rasa sakit itu. Tiffany tak tahu harus berbuat apa. Apakah Taeyeon akan melahirkan? Yah Tuhan! Tiffany benar-benar melupakan bahwa Taeyeon memang mengatakan waktu melahirkannya dalam minggu ini.

“Astaga Tiffany, tolong aku..” pelanggan ditempat itu jelas-jelas bisa mendengar erangan Taeyeon.

“tarik nafas yang panjang Tae, aku akan membawamu kerumah sakit”

Tiba-tiba saja entah dari mana, Siwon muncul dibelakangnya dan dengan sigap menahan Taeyeon. Tiffany kini tampak kebingunan.

“Gil, tolong bantu aku” seru Siwon pada salah seorang pelayan disana.

Mereka membopong Taeyeon keluar dan Tiffany mengikuti dari belakang sambil membawa seluruh bawaan mereka.

“pakai mobilku saja..” seru Tiffany.

Untung saja salju tak turun hari ini meski dinginnya masih terasa. Jadi Siwon dan para pegawainya tak begitu kesusahan membawa Taeyeon. Wanita itu terus berteriak kesakitan.

“biar aku yang membawa mobil” Tiffany mengangguk dan segera menyerah kunci mobilnya pada Siwon dan mereka berangkat ke rumah sakit.

 

oOo

 

Tiffany tak tahu bagaimana caranya menghentikan detak jantungnya setelah bertemu Siwon. Sementara Taeyeon sudah berada diruang bersalin dengan Leeteuk. Tiffany sempat meneleponnya saat dalam perjalanan kemari.

Kini dirinya dan Siwon duduk dikursi tunggu dengan jarak yang tak cukup jauh dan tak juga cukup dekat. Hanya dibatasi satu kursi tunggu. Masing-masing berharap Taeyeon bisa melewati masa bersalinnya dengan baik-baik saja dan tak dipungkiri keduanya berpikir tentang apa yang harus dilakukan untuk bisa berhadapan satu sama lain.

Siwon teringat pesan suara yang didapatnya semalam. Pesan suara dari Tiffany itu rasanya membuat dunia terasa seperti Jungkirbalik.

“apa kau sudah mendengar pesan suaraku?” tiffany menemukan nada bergetar itu dalam suaranya saat bertanya. Dia hanya memandang lantai keramik dan tak berani menatap Siwon.

“yeah, aku sudah mendengarnya”

Lalu suasana kembali berubah jadi tegang dan cangung. Tiffany hanya memandang kakinya tanpa ingin bertanya lebih jauh. Siwon sudah mendengar pesan suaranya dan itu sudah lebih dari cukup.

Tiffany mengangkat wajahnya sejenak dan berusaha berpikir tentang keselamatan Taeyeon didalam sana. Dia berdoa agar sahabatnya itu dapat melalui proses bersalin dengan baik. Sementara Siwon tertegun melihat Tiffany yang sedang berdoa. Tak ada yang berubah dari wanita itu setelah dua tahun tak saling melihat satu sama lain. Siwon tak dapat menutupi bahwa dia sangat merindukan Tiffany.

Dia kini ingat betapa dulu dia sangat menggilai Tiffany. Siwon sudah jatuh cinta saat melihat siaran pertama dari berita yang di bawakan Tiffany dan dia berharap bisa bertemu dengan sang reporter itu secara langsung.

Lalu secara ajaib, keinginannya terkabulkan. Tiffany datang ke Wonderland untuk membeli roti. Katanya ada sahabat yang datang berkunjung saat dia masuk rumah sakit dan membawakan roti yang lezat itu dari Wonderland. Jadi Tiffany meminta alamat toko roti tersebut dan berharap dia bisa makan lebih banyak roti yang lezat itu lagi.

Kemudian Tiffany jadi lebih sering berkunjung ke Wonderland. Apalagi ternyata sahabatnya saat di tingkat ketiga SMA, Yoona adalah pemilik tempat itu dan tak bisa Tiffany sendiri pungkiri bahwa dia tertarik dengan Siwon, kakak Yoona. Walaupun dirinya sudah memiliki Dong Wook sebagai kekasih. Tapi Tiffany tak dapat menyembunyikan ketertarikannya pada Siwon, begitupun sebaliknya.

Sampai suatu kali Siwon mengantarnya pulang karena hujan deras dan terpaksa Siwon harus menahan dirinya sejenak di Apartemen Tiffany sambil menunggu agar hujan bisa reda. Lalu Tiffany memberinya secangkir Capucinno. Dan sejak saat itu, mereka lebih sering berbagi kesukaan masing-masing.

Dong Wook sadar ada yang berbeda dari Tiffany. Wanita itu sudah jarang memberinya kabar, tak pernah lagi menyusup masuk ke ruangannya atau berpura-pura meminta bantuan untuk siaran langsungnya-padahal Tiffany bisa menanganinya sendiri-dan yang lebih parah lagi, Dong Wook melihat Tiffany sering berpergian ke Wonderland.

Entah siapa yang mengkhianati siapa. Tapi yang jelas Dong Wook marah besar dan mereka bertengkar hebat. Tiffany memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Dong Wook. Tapi Dong Wook berkeras hati. Dia tak mau melepaskan Tiffany apapun yang terjadi. Lalu pria itu menawarkan kesepakatan yang tak bisa Tiffany tolak dan juga merupakan kesempatan yang Tiffany inginkan sepanjang karirnya sebagai reporter.

Tiffany akan jadi reporter utama untuk jangka waktu panjang dalam membawakan sebuah acara favorite musim itu. Dan hal yang paling Tiffany sesali didunia ini adalah menyetujui kesepakatan bodoh itu. Dia tetap jadi ‘milik’ Dong Wook dan sekaligus kekasih Siwon.

Sampai akhirnya Siwon melamarnya. Tiffany mengiyakan lamaran itu dan memilih untuk benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Dong Wook meski dengan resiko, dia akan kehilangan impiannya.

Tapi sial, seminggu menjelang pernikahan mereka, skandal hubungan Tiffany dan Dong Wook tersebar dimedia. Siwon dan orang tuanya marah besar, bahkan Yoona pun membencinya. Pernikahan itu akhirnya dibatalkan dan Tiffany dengan putus asa dan rasa bersalah memilih pulang ke Kanada.

Keheningan diantara mereka tiba-tiba pecah saat terdengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin. Tiffany segera berdiri dan memanjatkan rasa syukurnya pada Tuhan. Semoga Taeyeon dan bayinya baik-baik saja. Lalu pintu ruangan terbuka dan seorang suster keluar dari sana.

“Bagaimana keadaan Kim Taeyeon?” serbu Tiffany sambil menghampiri sang suster.

“dia baik-baik saja, Nona. Bayinya perempuan dan lahir dengan sehat”

Tiffany mengerjap dengan senang. Sahabatnya berhasil! Mereka pasti sangat bahagia, bahkan melebihi Tiffany sendiri. Sang suster berlalu meninggalkan Tiffany dan Siwon yang begitu senang dengan berita ini.

“ahh syukurlah, sekarang aku punya seorang keponakan yang pasti cantik! Yay!” kata Tiffany dengan senang. Pandangannya lalu tertuju pada Siwon dan tentu saja pria itu sama bahagianya dengan dirinya.

“aku akan cari minum. Kau pasti haus, tunggu disini” katanya dengan wajah penuh senyuman lalu berlalu meninggalkan Tiffany. Wanita itu menatap punggung Siwon yang mejauh dengan senang. Satu kalimat yang baru saja Siwon katakan padanya, membuat hatinya sangat merasa lega. Semoga semuanya akan baik-baik saja setelah ini.

 

oOo

 

“Ah, Kyeopta” Tiffany mengkaitkan jari telunjuknya pada kepalan tangan bayi mungil didepannya. Bayi pasangan Park itu terlihat sangat cute dan menggemaskan.

“tentu saja, Song Ah sangat lucu.” Kata Leeteuk.

“Park Song Ah, kau sangat lucu, seperti ibumu”

Taeyeon yang melihat itu terkekeh dari tempatnya berbaring. Dia kelelahan tapi juga sangat bahagia. Dirinya dan putrinya-yang dinamakan Leeteuk-Park Song Ah-berhasil melewati proses bersalin dengan baik. Leeteuk juga tetap berada disampingnya selama proses itu dan menggenggam erat tangannya seolah memberi kekuatan. Bahkan saat ini, pria itu tetap berada disampingnya dan berjanji akan menjaga semuanya.

Tiba-tiba pintu ruangan diketuk, lalu Siwon muncul dengan membawa tiga kaleng soda dan beberapa camilan untuk mereka nikmati bersama.

Anyyeong! Ahh, Hyung Chukae” sapa Siwon ketika masuk keruang rawat Taeyeon. Taeyeon dan Leeteuk menyambutnya dengan senang hati.

“terima kasih, Siwon-ah. Karena jika tanpamu kami tak tahu akan bagaimana”

Siwon tersenyum tulus pada Taeyeon dan Leeteuk. “aku sangat senang bisa membantu.”

Siwon lalu beralih pada bayi lucu didalam boks dan tentu saja, Tiffany yang tak menyadari kedatangannya disini. Siwon ingin melihat seperti apa anak Taeyeon dan Leeteuk.

Leeteuk berbisik, “apa mereka sudah berbaikan?”

Taeyeon hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. “kuharap begitu”

“Sangat Cantik”

Tiffany tersentak ketika mendengar suara yang begitu familiar untuknya. Lalu ketika menengok keasal suara, tampak Siwon yang sudah ada disampingnya.

Mereka tak saling menyapa satu sama lain dan lebih fokus pada makhluk munggil didepan mereka. Song Ah menguap dan mulutnya terbuka lebar dengan lucu. Siwon dan Tiffany memperhatikan itu, tertawa bersama. Sementara Taeyeon dan Leeteuk juga memperhatikan mereka dari ranjang tempat Taeyeon berbaring.

“kalian pasti lelah” Leeteuk membuka suara ketika dua orang itu bergeser dari boks bayi yang ditempati Song Ah. Mereka memilih duduk disofa dan menikmati soda yang sudah dibeli Siwon sebelumnya.

“Siwon? Bisakah aku meminta bantuanmu?” Tanya Taeyeon hati-hati.

Siwon menyelesaikan soda dimulutnya dan menautkan alis “apa itu?”

Taeyeon memandang Siwon dan Tiffany bergantian.

“bisakah kau mengantar Tiffany pulang? Aku tak bisa membiarkan sahabatku pulang selarut ini sendirian”

“tapi aku bawa mobil, Tae..” protes Tiffany. “aku.. baik-baik saja jika pulang sendiri”

Meski dalam hati Tiffany meruntuki dirinya setelah mengatakan kalimat itu.

 

oOo

 

Tiffany menekan kepalanya pada setir kemudi mobilnya dengan lesu. Dia tak beranjak sedikitpun dari tempat parkir Rumah Sakit. Dia ingin sekali diantar Siwon. Tapi terlalu takut dengan banyak kemungkinan yang bisa terjadi selama mereka dalam perjalanan. Mungkin akan canggung satu sama lain. Bahkan beberapa jam saat menunggu proses bersalin Taeyeon, mereka sangat canggung dan tak bisa bicara dengan nyaman satu sama lain. Jadi pasti juga keadaan yang sama akan terjadi selama mereka dalam perjalanan pulang.

Tiffany kini mengangkat wajahnya lalu melirik jam tangan miliknya. Benar ini sudah larut. Dia mendapati sekarang sudah pukul sepuluh lebih. Ternyata mereka menghabiskan waktu sangat lama dirumah sakit.

Memilih fokus, Tiffany menjalankan mobilnya meninggalkan area Rumah Sakit. Sebelumnya Siwon sudah lebih dulu pamit jadi mereka tak sempat bertemu lagi setelah itu. Ahh, Sial! Lagi-lagi Tiffany memikirkan Siwon.

Tidak. Dia harus fokus mengemudi. Jangan sampai hal buruk terjadi jika pikirannya sedang melanang buana kemana-mana. Tiffany memilih menyalahkan musik berharap dia bisa melupakan Siwon atau apapun yang mengganggunya.

Hello. Its me.

I was wondering

If after all these years you’d like to meet

To go over

Everything

They say that time’s supposed to heal yeah but i ain’t done much healing

Hello, can you hear me?

Im in California dreaming about who we used to be

When we were younger and free

I’ve forgotten how it felt before the world fell at our feet

Tiffany tersenyum pahit mendengar lirik lagu yang diputar dari pemutar musiknya. Seakan-akan lagu itu hanya ditujukan untuk perasaanya. Tiffany tetap mengemudi namun pikirannya jatuh pada setiap liriknya. Lagu itu seakan menghipnotisnya kembali kemasa lalu.

There’s such a difference between us

And a million miles

Helo from the other side

I must’ve called a thousand times

To tell you i’m sorry, for everything that i’ve done

But when i call you never seem to be home

Kenangannya tentang Siwon, bagaimana pria itu mempercayainya dan menatap matanya dengan tulus. Siwon yang selalu disampingnya, saat dia menangis, bahagia dan putus asa. Tiba-tiba saja semuanya berputar dalam pikirannya seperti sebuah adegan film yang mampu membuat Tiffany meneteskan air mata.

Hello from the outside

At least i can say that i’ve tried

To tell you i’m sorry, for breaking your heart

But it don’t matter, it clearly doesn’t tear you apart anymore.

Entah kenapa Tiffany merasa hatinya begitu sakit. Lagi-lagi air matanya menetes begitu saja dan rasa bersalah serta sesak didadanya makin menjadi.

Tiffany menepikan mobilnya disudut jalan dan menangis disana. Kebodohan dan rasa bersalah yang didapatnya terasa terlalu menyedihkan. Semua berubah seakan dunia membencinya dan orang yang di cintainya pun berubah. Tiffany hanya bisa menyalahkan dirinya selama bertahun-tahun dan berharap Siwon bisa menerima kenyataan ini dan baik-baik saja. Tapi Tiffany akhirnya menyadari keadaan ini justru membuatnya tersiksa.

Dia tak bisa tanpa Siwon. Mungkin terdengar bodoh, tapi itulah kenyataannya. Dia terlalu mencintai Siwon dan menyadari hal itu saat ini.

dia harus menemui Siwon. Yeah, harus.

Mereka takkan bisa terus berdiam begini. Tiffany harus menemuinya dan mengutarakan isi hati yang sesungguhnya. Berhenti jadi wanita egois! Dia tak ingin kehilangan Siwon lagi. Dia harus mendapatkan kembali kepercayaan dan cinta pria itu.

Tiffany menghapus air matanya lalu membanting stir memutar arah lalu melajukan kendaraan itu kearah Wonderland Cupcakes & Backery.

 

OOo

 

Siwon tersentak saat mendengar pintu tokonya digebrak. Dia segera meninggalkan dapur dan berlari keasal suara. Didetik selanjutnya, dia terkejut mendapati Tiffany yang ada didepannya. Siwon juga bisa melihat dengan jelas wajah Tiffany yang basah dengan air mata.

Siwon tak dapat berkutik. Dia hanya terpaku dengan kehadiran Tiffany yang nampak menyedihkan. Padahal mereka baru saja bertemu beberapa waktu yang lalu. dan wanita itu tampak tegar seperti biasa.

Tapi kali ini..

Ditengah keterkejutan Siwon, kini Tiffany justru berlari dan memberinya pelukan erat tak terduga. Wanita itu membenamkan wajahnya didada bidang Siwon dan menangis disana. Siwon tak dapat memberi respon dengan baik. Dia cukup terkejut dan tak tahu harus berbuat apa. Sampai disadar Tiffany terisak didadanya.

“aku bodoh..karena meninggalkanmu”

Entah apa namanya. Tapi Siwon merasa ada sesuatu yang membuncah didadanya saat Tiffany berkata demikian. Apakah ini alasannya dia datang dan memeluk Siwon sampai menangis? Siwon tak dapat berkutik ketika Tiffany semakin mengeratkan pelukannya dan airmata membasahi baju Siwon.

Tiffany kembali.

Kali ini bukan hanya kembali dari kepergiannya, tapi Tiffany kembali untuknya. Yah Tuhan!

“aku tak bisa kehilanganmu lagi. Ini terlalu menyedihkan ketika aku harus menjalani hidupku tanpamu. Aku mencoba untuk melepasmu tapi rasanya terlalu sulit. Aku ingin kembali kepelukanmu. Aku ingin bersamamu lagi, Siwon”

Cukup sudah. Siwon yang awalnya tak merespon karena terkejut, kini membalas pelukan Tiffany. Dia mengelus rambut halus milik wanita itu dengan telapak tangannya dan tangannya yang lain memeluk pinggang Tiffany dengan erat.

Dua tahun berlalu tapi rasa cinta itu masih sama. siwon tak dapat mengelak lagi dari kenyataan itu. Tiffany terlalu indah untuk dilupakan walaupun wanita itu pernah menghancurkan hatinya.

“tolong, kembalilah padaku. Aku akan menjaga hatimu. Aku takkan melukaimu”

Siwon tersenyum penuh haru mendengarnya. Tiffany benar-benar menyesali yang pernah dilakukannya.

“kau yang harus kembali padaku. Aku masih sangat mencintaimu, Tiffany”

 

oOo

 

“Ya! Choi Siwon..”

Tiffany tersenyum geli saat Siwon mencoba untuk menghapus air matanya. Pria itu meniup-niupkan matanya dengan gemas tapi malah membuat Tiffany merasa geli. Tiffany mencoba mnarik kepalanya menjauh dari Siwon, tapi pria itu tak melepaskannya. Dia menahan Tiffany untuk tetap duduk patuh dikursi sementara dirinya sendiri duduk dilantai sambil menghapus air matanya walau tindakan ini lebih tepat disebut untuk menggoda Tiffany.

“sekarang kau lebih cantik tanpa air mata.” Siwon menangkup wajah Tiffany dan menatap matanya dalam.

Tiffany tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengelus rahang kokoh Siwon. Ini seperti jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Sudah lama rasanya menatap satu sama lain. Tiffany hanya bisa memandang semua itu lewat kenangan tapi sekarang benar-benar nyata.

“aku tak menyangka kau akan datang padaku seperti ini. Ini membuatku tersanjung”

Siwon tertawa ketika melihat Tiffany yang mulai malu karena hal itu. Tiffany memukul pelan bahu pria itu, hingga tawanya berhenti.

“Aissh, kau ini..” Tiffany bangkit berdiri meninggalkan Siwon yang masih duduk dilantai. Pria itu berdecak gemas melihat Tiffany yang berjalan angkuh kearah dapur. Siwon tak perlu berpikir lagi dan memilih menyusul wanita itu.

Tiffany menyalahkan lampu dapur dan tersenyum sendiri. Tempat ini berisi banyak kenangannya dengan Siwon. Dan mulai saat ini, Tiffany akan meninggalkan lebih banyak lagi kenangan disana. Wanita itu terkejut ketika Siwon memeluknya dari belakang. Lihat, kebiasaan pria itu tak berubah sama sekali.

“aku berpikir untuk membuat banyak kenangan denganmu disini..” ujar Tiffany dengan senyum menggembang diwajahnya.

Siwon terkekeh lalu mendapat ide diotaknya. Pria itu membalikan tubuh Tiffany dengan cepat lalu mengangkat dan mendudukannya dimeja tinggi didapur itu. Tiffany terkejut dengan aksi Siwon kali ini. Jarak mereka sangat dekat hingga bisa merasakan harum nafas masing-masing. Dan seperti yang biasa Tiffany rasakan, jantungnya berpacu lebih cepat.

“kau mengejutkanku..”

“kau bilang kau suka kejutan”

Tiffany mengangguk dan tersenyum. “yeah, aku suka semuanya darimu”

Siwon mengelus rambut Tiffany dengan lembut. Beberapa helaian rambut wanita itu mencuat ke beberapa arah hingga siwon menyisipkannya dibelakang telinga wanita itu. Tangan Tiffany juga tak ragu memeluk leher pria itu dan menatap mata elangnya dalam-dalam.

“mungkin ini bodoh, tapi aku tak pernah bisa melepaskanmu meskipun kau pernah menyakitiku. Tapi yeah, aku mengakuinya..” Siwon membalas tatapan Tiffany, “aku masih sangat mencintaimu”

“Kurasa tentang rencanamu yang ingin membuat banyak kenangan disini harus dimulai dari sekarang..”

Siwon mendaratkan ciuman rindunya pada Tiffany dan disambut wanita itu dengan senang hati. Seolah ini adalah yang terakhir, mereka berciuman dengan dalam dan tak berpikir untuk mengakhirinya. Terlalu manis untuk berakhir. Tiffany menekan leher Siwon untuk semakin mendekat. Sementara Siwon menyusupkan jari-jarinya pada setiap helaian rambut Tiffany dan membelainya dengan lembut.

Setelah cukup lama berbagi kelembutan, mereka memilih untuk mengakhiri ciuman itu dan tertawa pelan kepada satu dan yang lain. Siwon menempelkan keningnya dengan kening Tiffany dengan senyum lebar yang menghiasi wajah masing-masing.

Mereka hendak berciuman lagi saat terdengar suara tercekat seseorang.

“Oppa..?”

Spontan saja, mereka mengalihkan pandangan keasal suara. Dan betapa terkejutnya mereka melihat Yoona berdiri kaku disana. Tiffany segera mendorong Siwon dan melangkah turun dari meja tinggi yang didudukinya itu.

“Yoona-ah..”

“apa yang terjadi disini?!” suara Yoona tercekat ditenggorokkannya dan terdengar serak. Yang benar saja! Dia terlalu terkejut dengan yang dilihatnya sebelumnya.

Mereka diam beberapa saat sampai akhirnya Siwon menggenggam tangan Tiffany dan menatap adiknya.

“aku dan Tiffany, kami kembali bersama”

Yoona tak tahu harus berbuat apa. Dia tiba-tiba meruntuki tindakannya yang memberikan nomor ponsel Siwon pada Tiffany beberapa waktu yang lalu. Yoona melirik tautan tangan Siwon dan Tiffany.

“kau pikir keluargaku akan menerimamu?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Yoona dan ditujukannya pada Tiffany. Meski Tiffany adalah orang baik dan pernah jadi sahabatnya, tapi Yoona bisa menjamin kalau keluarganya takkan bisa menerima Tiffany. Apalagi ayahnya orang yang keras kepala. Semua pasti akan berjalan sangat sulit.

Tiffany kehilangan keberaniannya ketika diperhadapkan pada situasi ini. Benar kata Yoona, memangnya orang tua dan keluarga Siwon akan menerimanya? Apa yang diperbuatnya dua tahun lalu pasti sangat berbekas dan tak bisa hilang begitu saja.

“Young, kumohon. Keluarlah, aku ingin bicara dengan Tiffany..”

Yoona menuruti Siwon begitu saja. Dia keluar dari dapur dan duduk diruang utama toko itu. Siwon menggenggam tangan Tiffany dan wanita itu menatapnya.

“kau benar-benar ingin kembali padaku kan?”

Tiffany mengangguk. “kita akan melewati semuanya bersama-sama. selama kau disampingku, aku yakin kita bisa melewatinya.”

 

oOo

 

“Jess, aku dan Siwon sudah kembali bersama”

Jessica hampir saja menyemburkan jus yang diminumnya. Apa yang Tiffany katakan? Kembali bersama Siwon? Bagaimana bisa? Jessica menatapnya dengan terkejut sementara Tiffany tersenyum karena tahu ekspresi ini yang akan didapatnya dari semua orang.

“kau serius, Tiff?”

Tiffany mengangguk. “Yeah.”

Jessica membuang nafasnya lega. Jujur saja dia juga ingin Tiffany dan Siwon kembali bersama. Mereka sangat cocok satu dengan yang lainnya. Selain itu, jika Tiffany bersama Siwon artinya si Produser tampan itu bukan lagi milik siapa-siapa. Jessica menepis pikirannya yang terakhir. Dia memeluk Tiffany kesenangan.

“ternyata kau kembali untuk mendapatkan cintanya yah?”

Tiffany tertawa dan Jessica melepaskan pelukannya.

“awalnya aku tak yakin bisa kembali bersamanya, tapi pada akhirnya semua berjalan seperti ini.” Tiffany meminum jusnya dan menatap Jessica dengan senyum yang coba ditahan.

“aku juga dapat pesan dari DongWook.”

Jessica menatap Tiffany dengan menautkan alisnya. “apa itu?”

Tiffany mengembangkan senyum menggodanya hingga membuat Jessica malu. Dia tertawa menyaksikan sahabatnya itu. Dia ingat dengan ungkapan Dong Wook yang mengatakan Jessica menampar pria itu saat beritanya dan Dong Wook menyebar. Tiffany tahu, Jessica benar-benar sahabat yang baik.

“katanya dia mengajakmu berkencan tapi kau tak mau.” Tiffany melanjutkan kalimatnya melihat ekspresi Jessica yang sudah bisa ditebak. “apa itu karena aku?”

Jessica memejamkan matanya sebentar. Dong Wook pasti mengatakan itu kepada Tiffany. Pria itu benar-benar membuat Jessica tak habis pikir. Awas saja kalau bertemu, katanya dalam hati.

“dengar, Jess”

Jessica memilih membuka matanya. Untuk apa menghindar? Toh memang karena masa lalu Dong Wook dan Tiffany-lah yang membuatnya enggan berkencan dengan pria itu.

“Dong Wook hanya masa laluku. Sekarang aku punya Siwon dan aku benar-benar akan berjuang bersamanya. Pria itu, maksudku Dong Wook, dia pasti benar-benar mencintaimu hingga harus menemuiku dan memintaku mengatakannya padamu. Terimalah dia jika kau juga menyukainya. Aku akan sangat senang jika kalian bisa bersama”

Jessica masih ragu-ragu. Meski Tiffany berkata demikian tapi tetap saja, kenyataan bahwa pria yang kini dicintainya pernah mencintai sahabatnya tak bisa dipungkiri. Jessica mengigit bibir bawahnya dengan gelisah. Lalu uluran tangan Tiffany pada tangannya dan senyum sahabatnya itu membuatnya luluh.

“dia.hanyalah.masa.laluku.” Tiffany tersenyum, “kau percaya padaku kan, Jess?”

Jessica kini menghembuskan nafasnya lega. Rasanya lebih baik dia harus mempertimbangkan ajakan kencan Dong Wook. Tiffany hanya menganggapnya masa lalu, jadi Jessica ingin memandang Dong Wook seperti apa pria itu saat ini.

“yeah, aku percaya padamu. Kau kan sahabatku.”

Tiffany tersenyum lalu menarik tangannya ketika ada dering diponsel pertanda ada pesan masuk. Senyumnya makin mengembang membaca pesan itu lalu dia melirik kearah pintu.

“lihat, siapa yang datang”

Jessica spontan saja mengikuti arah pandang Tiffany. Dan dia terkejut dengan kehadiran Dong Wook disana. Pria itu datang!

Dong Wook berjalan mendekat membuat Jessica terpana padanya. Pria itu sangat tampan bahkan matanya terlihat berbinar-binar saat menatap Jessica. Ohh, tatapan lembut dan tulus itu bisa membuat Jessica meleleh.

“aku pergi dulu. Kalian bicaralah.” Tiffany segera pamit meninggalkan kedua orang itu.

“apa kau tak ingin mempersilahkanku untuk duduk?”

Jessica lagi-lagi menghembuskan nafasnya tak percaya dan mencoba membuang pandang. Dong Wook malah berwajah cemberut dan tanpa menunggu jawaban Jessica, pria itu segera menarik kursi dan duduk.

“aku tak percaya kau meminta bantuan Tiffany..” kata Jessica tanpa mau menatap Dong Wook. Membuat pria itu semakin gemas padanya. Sikap angkuh dan sombong itulah yang membuatnya merasa jatuh cinta pada Jessica.

“jika tidak begitu, kita tak akan mungkin seperti ini”

“seperti ini apa?”

Dong Wook mengangkat lengkungan bibirnya keatas dan tersenyum manis pada Jessica yang masih saja tak mau menatapnya. Lalu seperti yang Tiffany lakukan sebelumnya pada wanita itu, Dong Wook juga mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jessica dengan hangat.

“menurutmu ini seperti apa?”

Demi tujuh lautan! Jessica gugup saat ini. Tapi perasaan bahagianya juga meluap-luap terlebih ketika Dong Wook memegang pipi kanannya dengan lembut agar wanita itu mau menatapnya.

“Jessica Jung, maukah kau berkencan denganku? Aku sungguh mencintaimu.”

Jessica mengembangkan senyum lebarnya karena bahagia. Dong Wook terkekeh melihatnya.

“aku mau.” Jessica mengangguk, “aku juga mencintaimu, tuan Produser.”

Tanpa diduga, Dong Wook berdiri dan mencium pelipinya singkat membuat orang-orang disekitar situ memandang kearah mereka. Tapi mereka tak peduli.

Benar kata orang. Jika kau sedang jatuh cinta, dunia terasa hanya milik berdua.

 

oOo

 

Siwon segera turun dari Audy putih milik Tiffany dan membukakan pintu sebelah untuk wanita yang baru saja keluar dari Cafe.

“sepertinya kau bahagia sekali..” tukas Siwon saat Tiffany sampai dihadapannya. Wanita itu serta merta langsung memeluknya, membuat Siwon kaget tapi tak berniat untuk menyia-nyiakan pelukan wanita yang sangat dicintainya itu.

“Choi Siwon..” gumam Tiffany sambil memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan pelukannya.

“hmm?”

“aku berhasil menyatukan mereka.” Ungkap Tiffany dengan senang.

Siwon mengerti maksudnya. Dia mengangguk dan merengkuh kembali wanita itu dalam pelukannya.

“kau melakukan yang terbaik. Sekarang ayo pergi”

Siwon mempersilahkan Tiffany masuk kemobil. Lalu dia memutar dan masuk dikursi kemudi.

“haruskah kita pergi kerumah sakit? Taeyeon mengabari kalau semua sahabatku ada disana..”

Kata Tiffany saat mereka dalam perjalanan. Dia ingin pergi, tentu saja. Tapi dia ingin bersama Siwon. Ini juga saat yang baik untuk mengatakan kepada semua orang bahwa pria ini sudah kembali padanya. Dia ingin membuktikan bahwa Tiffany yang dulu sudah berubah. Tentu menjadi Tiffany yang lebih baik dan takkan menyakiti hati Siwon atau siapapun.

“jika kau mau kita bisa pergi..”

Tiffany tersenyum senang begitu mendengar hal itu terlebih ketika tangan Siwon meraih tangannya dan sebelah tangan yang lain berada di stir kemudi.

“kita juga bisa pergi kerumahmu setelah itu..”

Siwon menatap Tiffany dengan alis menaut namun dengan senyum yang coba ditahannya. “maksudmu?”

“yeah, selain kepada sahabatku kita juga harus pergi menemui orang tuamu. Aku tahu ini akan sulit tapi aku yakin kita bisa melaluinya.”

“bagaimana dengan adikku?”

“Yoona? Aku yakin dia bisa menerimaku. Dia bahkan memberi nomor ponselmu saat aku datang ke Wonderland untuk pertama kalinya sejak pulang dari Kanada.”

Apa?

“Yoona memberi nomor ponselku?” tanyanya memastikan. Tiffany mengangguk dan membuat Siwon berdecak gemas mengingat adiknya itu.

“aku rasa dia memang ingin kita bersama.”

“jadi..?” Siwon menatap Tiffany sesekali dan juga fokus mengemudi.

“ayo temui semua orang dan yakinkan mereka bahwa kita kembali dan takkan berpisah lagi. Semua pasti akan baik-baik saja jika kita melaluinya bersama”

Tiffany terkesan dengan yang diungkapkan Siwon. Yeah, semua pasti baik-baik saja. Yah Tuhan, Dia sangat mencintai pria ini.

“tentang karir reporteku diKanada…” Tiffany mengambil jeda dan meremas tangan Siwon. Dia menatap pria itu dengan wajah berbinar bahagia.

“aku akan melepasnya. Dan hidup disini bersamamu..”

Siwon senang bukan kepalang. Dia makin mengeratkan tautan tangan mereka namun tak bisa menatap Tiffany lama karena sedang fokus mengemudi. Tapi dia tahu, Tiffany bisa melihat betapa bahagianya dia sekarang.

“yeah, mari kita mulai semuanya lagi. Dari awal…”

 

THE END

Hello readers, Kya! Mungkin kalian sudah mendengar lagu Adele yang Hello ini. Buat saya ini keren dan ternyata bisa jadi sumber inspirasi untuk para author, termasuk untuk saya pribadi. Hehe, fanfic ini sebenarnya untuk kalian yang menunggu kelanjutan The Touch Of Love. Fiuh! Jujur saja saya sebagai penulis, stuck banget untuk ngelanjutin ff itu karena banyak kendala belum lagi urusan sekolah yang sibuk dan tentu nggak bisa dikesampingkan. Tapi semoga saya bisa nulis lagi, karena tahun depan akan ada rencana untuk hiatus menginggat akan ada banyak sekali ujian dalam waktu yang tak singkat ditambah lagi persiapan untuk kuliah yg semoga saja bisa lancar *amin. So, saya mengharapkan readers sekalian memberi saran atau apapun dikolom comment. Semua comment kalian adalah sumber semangat untuk saya! Makasih semuanya :*

Anyway bolehlah kita berkawan, fb : Allyn (Marlin Tatambihe) / pin : 5b20e5f2

69 thoughts on “(AD) Hello!

  1. bagus ceritanya. bahasa yg digunakan mengalun indah. alurnya memang diakhir kurang nendang. klo ibarat makan tanpa buah yaah agak kurang. mungkin bs dibayar dg mbwt sekuel nya. untuk menegaskan gmn ending sifany n ortu siwon. but overall good job thor. i like it.

  2. Gak abis pikir kalo fany selingkuh dari siwon yg sebentar lagi akan menikah dan gak nyangka dany selingkuh dengan dong wook.ckckck………
    Tapi semua sudah masa lalu.dan pada akhirnya siwon dan fany kembalu bersama dan juga sica dan dong wook akhirnya bersama.
    Thor bikin sequelnya ya,soalnya saya penasaran apakah ortu siwon dan yoona merestui hubungannya siwon dan fany.ditggu ya thor,yang semangat ya thor.hwaiting author jjang.
    Keep writing thor.thanks buat author dan ffnya.
    Sifany 4ever♡♡♡♡♡

  3. Memgarukan sekali akhirnya sifany bisa kembali bersama meski kesalahan yg dilakukan tiffany menghancurkan hati siwon. sebenarnya kekuatan utama bersatunya mereka karen cinta mereka sendiri.
    Tak luput jg dr bantuan yoona yg ngasih no siwon, trus berkat taeyeon yg ngajak tiff ke wonderland dan akhirnya siwon bantu tiff bawa tae ke rs. Itu seatu takdir buat mereka.
    Sebenarnya yg dihianati disini dlunya kan dong wook ya, tp yah semuanya jd tersakiti.
    Tp untunglah mereka bersama kembali, dan dong wook akhirnya bisa eendapatkan cintanya, jessi mau jd kekasihnya…
    Suka deh ffnya thor, emg cocok banget lagunya bisa jd inspirasi buat di jdiin ff..
    Daebak

  4. Aigooo fany unnie enak banget ya, pernah punya pacar dua sekaligus gitu.
    sempet kecewa kenapa sifat fany unnie yg rela pertaruhkan hubungan dgn siwon oppa krn ditawari jabatan menggiurkan sam dongwook oppa u,u
    tapi ini story yg fresh dan bagus menurut aku.
    keep writing author ssi .
    kayanya sequel marriege life nya leh ugha nih hehe #peace

  5. Ahhhh sweet bangettttt.. Apalagi yang fany datang ke toko oppa, terus ada moment.. hihi lucu.. Tapi pas fany sama dongwook yang dulu juga cute, pas di mobil ^_^ Daritadi senyum senyum sendiri. Bener author endingnya belum klimaks -_- Sequel.. Boleh dong??? :v

  6. wahhh… still cool kok cerita ceeita dari blog ini. kalo ada sequelnya kek nya bakalan lebih bagua deh.. but itu cuma saran aja kok.. keep writing min. 사랑해 admin

  7. kok sepertinya endingnya sedikit janggal ya menurut saya? blm diceritakan proses mereka meyakinkan orang tua siwon yg ktanya uda trlanjur tdk suka dgn tiffany. tpi disamping itu ff ini bgus dan enak dibaca.

  8. tiffany kayak player deh, macarin 2 cowok ganteng sekaligus, aku jg mau, he..he…. walaupun siwon kecewa berat, tp untungnya dia mau nerims tiffany lagi…seneng deh kalau happy ending kayak gini..

  9. Akhirnya mreka kmbli brsma.. Berharap banget ni real. Pengen liat sifany bersatu. Mgkin nanti stlah wonpa kembli stlah wamil kita akn dpt kejutan kbar kbersamaan mrka.
    Semoga z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s