(AF) The Wills Part 3

THE WILLS
Part 3

The wills cover

Author : @q2lovepink
Main Cast: Choi Siwon, Tiffany Hwang and Jung Jessica
Other Cast: Im YoonA, Cho KyuHyun, Lee Donghae and Kim Taeyeon
Genre : Romance, Hurt, and Family
Rating : PG (17+)
Length : Chapter
Disclaimer :
FF ini murni hasil pemikiranku, apabila ada kesamaan cerita, ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak disengaja.
So Happy Reading😉

 

FLASHBACK ON

Seoul 1991

Hwang Suk Jin beserta para perawat berlari kecil mendorong ranjang rumah sakit yang mengangkut seorang anak kecil berusia 5 tahun. Tuan Hwang sangat mencemaskan putri sulungnya. Walau bagaimana pun ia tetap putrinya, penerus perusahaannya kelak.

Bocah perempuan yang diketahui bernama Jessica Hwang, di bawa masuk kedalam ruang UGD. Ia mengalami luka yang cukup parah pasca keceakaan mobil yang menewaskan ibunya. Hwang Suk Jin mendesah frustasi. Ia tidak menyangka jika pertengkarannya bersama istrinya sebelum kecelakaan naas itu terjadi, akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk. Ia menyalahkan dirinya sebagai orang yang telah merenggut nyawa Hwang Chae Rim. Jika sesuatu yang lebih buruk menimpa pula putrinya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Hwang Suk Jin dan Hwang Chae Rim terlibat pertengkaran hebat. Keduanya mempermasalahkan perihal putri – putri mereka. Hwang Suk Jin ingin memiliki seorang putra untuk melengkapi keluarga mereka. Namun dengan usia dan kondisi Hwang Chae Rim yang tidak memungkinkan untuk hamil lagi, istrinya tersebut menolak permintaan suaminya. Ia berkilah jika kehamilannya nanti akan berdampak buruk pada anak mereka jika sudah lahir. Sementara Hwang Suk Jin bersikukuh untuk tetap memiliki putra yang akan meneruskan perusahaannya.  Pertengkaran pun tak terelakan lagi, Hwang Chae Rim membawa pergi Jessica yang kala itu terus merengek meminta ikut bersama ibunya. sedangkan Tiffany yang masih berusia 2 tahun, tetap bersama Hwang Suk Jin. Ia tidak ingin putrinya yang sedang demam harus mengikuti ibunya dalam keadaan marah. Dan tanpa diduganya kecelakaan maut itu akan menimpa orang – orang yang sangat dicintainya.

Hwang Suk Jin menangis menyesali keegoisannya. Jika seandainya ia tidak memaksa istrinya untuk hamil lagi, mungikn sekarang istrinya masih berada disisinya. Kini ia hanya bisa pasrah dan berdoa untuk keselamatan putrinya.

Suara heels menggema memenuhi koridor rumah sakit. Seorang wanita cantik nan elegan berjalan anggun untuk menemui seseorang yang merupakan suami dari sahabatnya. Ia berdiri tepat di depan pria yang kini tampak sangat rapuh. Wanita itu pun mensejajarkan tubuhnya guna melihat wajah sang pria lebih jelas lagi.

“Suk Jin-ah, gwenchana?” Tanyanya ramah dengan nada sedih. Hwang Suk Jin mendongakkan kepalanya untuk menatap sang pemilik suara.

“Soo Na-ya?” Hwang Suk Jin langsung menghambur kedalam pelukan Soo Na. mereka memang dekat mengingat Soo Na adalah sahabat Chae Rim. Sejak Hwang Suk Jin berpacaran hingga menikah dengan Chae Rim, Soo Na selalu berada di tengah – tengah mereka. Ia mengetahui semua kisah yang terjadi pada kedua sahabatnya ini. ia pulalah yang selalu menjadi sandaran mereka jika tengah memilki masalah. Soo Na mengusap – usap punggung Suk Jin mencoba memberinya ketenangan. Suk Jin menangis pilu di bahu Soo Na. saat ini sahabatnya lah yang ia butuhkan. Ia menumpahkan seluruh penyesalan, kesedihan dan rasa sakitnya di bahu hangat Soo Na.

“Menangislah Suk Jin-ah, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. aku tidak menyangka Chae Rim akan meninggalkan kita begitu cepat. Ia adalah sahabat terbaikku, aku sangat menyayanginya, hiks..” Mereka berdua menangis sejadi – jadinya di ruang tunggu rumah sakit, mencurahkan rasa sedih mereka kehilangan orang yang mereka cintai.

 

**Sifany**

Setelah menunggu selama 3 jam proses operasi, dokter yang sedari tadi ia nantikan akhirnya keluar dari ruangan yang menurut beberapa orang sangat menakutkan. Dokter tersebut keluar dengan peluh yang bercucuran di wajah keriputnya. Ia tersenyum lega karena operasi berjalan lancar, namun ada satu hal yang membuatnya menyesal.

“Dokter bagaimana keadaan putri saya?” Hwang Suk Jin langsung menghampiri sang dokter tak sabar ingin segera mengetahui keadaan putrinya.

“Syukurlah, putri anda bisa melewati masa kritisnya. Hanya saja….” Dokter itu menggantungkan kalimatnya.

“Hanya saja apa dokter?” Tanya Soo Na penasaran.

“Ia mengalami benturan hebat, sehingga memungkinkan ia akan mengalami amnesia sementara.” Jelas dokter itu dengan nada penyesalan.

“Mwo? Amnesia?” Suk Jin melangkah mundur, ia tidak percaya putrinya yang masih sangat kecil harus mengalami amnesia. Ia kembali menyalahkan dirinya. Soo Na berusaha menenangkannya lagi.

“Dokter apa itu akan berlangsung lama?” sambung Soo Na seraya memeluk Suk Jin.

“Tergantung bagaimana kondisinya nyonya. Saya sarankan sebaiknya ia tidak mengetahui apapun tentang kejadian ini dan jangan biarkan dia stress. Berikan ia perhatian dan jika bisa jangan beritahu padanya jika ibunya sudah meninggal. Meskipun suatu saat nanti ingatannya akan kembali, karena usianya yang masih belia, ia tidak akan mengingat bagaimana dan apa yang telah menimpanya sekarang. Itupun tergantung bagaimana kalian bisa menjaga rahasia ini darinya.” Papar sang dokter panjang lebar, membuat Suk Jin dan Soo Na tertegun.

 

**Sifany**

Dua bulan setelah kecelakaan tragis itu terjadi, keadaan Jessica berangsur membaik. Ia menjalani kehidupan yang baru. Demi kelangsungan hidup kedua putrinya, Hwang Suk Jin menikah dengan Soo Na agar mereka tidak merasa kehilangan ibu kandungnya. Jessica yang masih amnesia tinggal bersama Hwang Suk Jin dan Soo Na. sementara Tiffany, ia terpaksa harus tinggal bersama adik dari Chae Rim, Park Hyunmin agar ia bisa melupakan bagaimana wajah asli ibunya. Seluruh foto Chae Rim yang berada di kediaman Hwang, terpaksa di bakar agar tidak membuat bingung Jessica dan Tiffany. Hwang Soo Na kini berperan sebagai ibu kandung mereka menggantikan posisi sahabatnya.

1 tahun dari pernikahan mereka, Soo Na melahirkan seorang putri cantik bernama Hwang YoonA. Jessica sangat antusias menerima kehadiran adik barunya. Berbeda dengan Hwang Suk Jin, ia merasa tidak pernah menyentuh Soo Na sedikitpun. Ia menikahi Soo Na hanya demi kedua putrinya. Ia tidak mencintainya sama sekali. Suk Jin tidak ingin menodai cinta sucinya terhadap Chae Rim. Ia berjanji akan terus mencintainya hingga mereka dipertemukan kembali di alam yang berbeda.

Setelah 5 tahun berada dalam asuhan Park Hyunmin dan suaminya, Tiffany kembali tinggal bersama Hwang Suk Jin. Selama mereka tinggal berjauhan, sesekali Hwang Suk Jin dan Jessica  mengunjunginya. Setiap kali Tiffany bertanya mengenai ibunya. Mereka selalu berkilah jika ibunya tengah bekerja di luar negeri sehingga ia harus dititipkan pada bibinya .

Suatu hari, ketika Park Hyunmin berkunjung untuk menemui kedua keponakannya, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Hwang Soo Na dengan seseorang melalui telepon. Ia tersentak dengan apa yang telah didengarnya. Fakta yang baru saja diketahuinya, sangat mengikis hatinya. Soo Na adalah dalang dibalik kecelakaan kakaknya, Hwang Chae Rim. tak sanggup menahan air matanya, Park Hyunmin berlari meninggalkan kediaman Hwang. Ingin sekali rasanya ia membongkar kedok orang yang telah ia anggap sebagai kakaknya ini, namun ia tidak berdaya. Ia tidak memiliki bukti yang kuat untuk mengungkapkan kejahatannya.  Sandiwara ini terus berlangsung hingga sekarang.

 

FLASHBACK OFF

 

Begitu acara selesai, Tiffany dan YoonA berniat untuk meninggalkan tempat fashion show yang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Mulai dari para designer terkenal, pengusaha hingga pakar fashion sekalipun. Baik Tiffany maupun YoonA, tersenyum lega. Akhirnya penantian dan perjuangan mereka dapat terbayarkan dengan hasil yang memuaskan.

Tiffany berjalan terlebih dahulu menuju parkiran. YoonA meminta izin untuk ke toilet. Ketika ia hendak membuka pintu mobilnya, sebuah tangan kekar menghalanginya. Tiffany sontak menolehkan kepalanya. Ia mendesah kesal tatkala melihat orang yang telah menghalangi jalannya ialah orang yang sangat ingin ia hindari.

Choi Siwon menarik paksa tangan Tiffany ke tempat yang tidak dapat dilihat orang lain. Ia kesal dengan sikap acuh Tiffany terhadapnya. Ia tidak tahan dengan situasi ini. Meski bagaimanapun mereka harus berbicara agar semuanya tampak lebih jelas.

Setibanya di sudut parkiran yang sepi, Tiffany menghempaskan genggaman tangan Siwon. Ia enggan untuk menatap matanya. Tiffany takut hatinya akan kembali mengalah pada perasaan terlarangnya.

“Jangan pernah menyentuhku lagi CHOI SIWON!” desisnya tajam.

“Kita harus bicara Tiff. kau boleh marah padaku, meneriakiku, atau bahkan memukulku asalkan jangan menghindariku seperti ini. aku sungguh tidak tahan Tiff, aku tidak bisa membiarkanmu terus menerus menjauh dariku.” Siwon mencoba menggapai bahu Tiffany, namun gadis itu kembali menghempaskannya.

“Cukup Choi Siwon! Aku tidak akan membiarkanmu mengacak – acak lagi pikiranku! Sekarang pergilah dari hadapanku!” Tiffany mundur selangkah, ia mati – matian menahan airmatanya agar tidak jatuh.

“Aku mohon Tiff, mengertilah! Aku tahu ini salah. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Aku tulus mencintaimu Tiff,” akhirnya kalimat itu terlontar dari mulut Siwon, membuat Tiffany diam membeku. Cairan bening pun lolos begitu saja tanpa bisa dicegah.

“Kau gila CHOI SIWON!!! Kau ayah tiriku!! Bagaimana bisa kau MENCINTAIKU??!!!” Tiffany berteriak histeris. Tubuhnya terguncang. Airmata pun membanjiri pipinya.

“AKU memang GILA!!! Aku gila KARENAMU!!!” baru saja Tiffany akan membuka mulutnya, suara ponsel menginterupsinya. Tiffany bergegas mengangkatnya seraya menyeka aliran sungai yang mengalir deras melewati pipinya.

“Ye, Yoong?” Tiffany mengatur suaranya agar tidak terdengar serak.

“Unnie, kau dimana? Kenapa unnie menghilang lagi?”

“oh mianhae Yoong, aku akan segera kesana. Ada sesuatu yang tertinggal. Kau tunggu sebentar, ne.”

“hm, baiklah.”
Setelah mengakhiri sambungannya dengan YoonA, Tiffany beranjak pergi tanpa mempedulikan keberadaan Siwon.

“Tunggu Tif, urusan kita belum selesai.”

“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan tuan Choi, permisi!” Tiffany benar – benar pergi meninggalkannya. Siwon hanya mampu mengacak rambutnya frustasi.

 

**Sifany**

Mobil yang dikendarai Tiffany dan YoonA tiba secara bersamaan dengan mobil Jessica. ketiganya bertemu pandang setelah keluar dari mobil mereka masing – masing. Tiffany memasang wajah masamnya karena kecewa dengan ketidakhadiran Jessica tanpa kabar. YoonA yang lebih sabar, mencoba untuk menyapa kakak sulungnya.

“Unnie, kau darimana? Kenapa unnie tidak hadir dalam acara kami?” YoonA mengerucutkan bibirnya seperti biasa. Ia berharap kakaknya akan mengatakan alasannya tidak dapat hadir. Namun harapannya tidak terwujud. Jessica justru berlalu dari hadapan mereka tanpa meminta maaf sedikitpun. YoonA dan Tiffany terperangah. Ada apa dengan Jessica? kenapa ia bersikap acuh?

Merasa tidak dihargai, Tiffany segera menyusul Jessica yang hendak masuk kedalam  rumah. Ia menarik tangannya, sehingga Jessica berbalik arah menghadapnya.

“Apa begini sikapmu terhadap adikmu yang kecewa karena ketidakhadiranmu, hm?”

“Lepaskan tanganku Tiff, kau tidak tahu apa – apa.” Jessica kembali membalikkan badannya namun ditahan oleh Tiffany.

“Kalau begitu jelaskan padaku apa yang terjadi denganmu!” ucap Tiffany tegas. Ia dapat melihat ada sorot keterpurukan dari sepasang mata Jessica. ia mencoba menyelaminya, namun Jessica segera memalingkan wajahnya.

“Sudahlah Tiff, aku sangat lelah. Aku ingin istirahat.” Jessica memelas, meminta pengertian adiknya.

“Oke, kali ini aku akan melepaskanmu. Tapi tidak untuk besok.”

“Hm,” Jessica mengangguk setuju, lantas ia menghilang dari pandangan Tiffany.

YoonA menghampiri Tiffany yang tengah memandang kepergian Jessica. ia menepuk bahu Tiffany pelan. “Sepertinya Jessie unnie sedang menghadapi masalah yang cukup berat.” Ujarnya.

“Ne, aku juga berfikir begitu, Yoong. Sudahlah ayo kita masuk! Udara diluar sangat dingin.”

 

Di dalam kamar, Jessica membungkus tubuhnya dengan selimut. Lagi – lagi ia menangis. Ia masih tidak percaya dengan fakta yang baru saja diketahuinya. Jessica kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di desa Dangju.

 

“Lalu kenapa selama ini imo menghilang? Kenapa Imo baru mengatakannya sekarang, eoh?”

“Maafkan Imo nak, Imo tidak punya keberanian untuk menghadapimu. Kala  itu Soo Na memergoki Imo tengah menguping pembicaraan mereka. Ia sangat marah dan mengejar Imo. Imo terus berlari dari kejarannya dan juga anak buahnya. Lalu Imo terjatuh ke dalam jurang. Mereka mengira jika imo sudah mati. Tapi untungnya ada seseorang yang menyelamatkan Imo. Ia membawa Imo kembali ke rumah kami. Untuk itulah kami bersembunyi dari Soo Na. Jika ia tahu Imo masih hidup, ia akan membunuh Imo.

“Jessica anakku, samchon ingin kau menyelamatkan keluargamu. Samchon sudah mengutus seseorang untuk membantumu. Bersikaplah baik padanya. Hanya Kau dan dia yang bisa melindungi adik dan hak kalian.”

 

Jessica bangkit dari tempat tidurnya. Ia mematut dirinya di depan cermin. Menyeka air matanya dan tersenyum kecut. “Kau akan menerima akibat dari semua perbuatanmu Hwang Soo Na. Cih, bahkan kau tidak pantas menyandang nama keluargaku.”

 

**Sifany**

Tiffany keluar dari kamarnya dengan pakaian santai. Hari ini weekend, jadi ia tidak akan pergi ke butik. Tiffany berjalan menuju kamar Jessica. ia harus tahu hal apa yang membuat kakaknya berubah aneh akhir – akhir ini.

Tok tok tok

Tidak ada sahutan. Tiffany mencoba sekali lagi.

Tok tok tok

Karena masih tidak mendapat jawaban, Tiffany mencoba membuka pintunya. Beruntung pintunya tidak terkunci. Ia melangkah masuk mengaggumi setiap sudut kamar Jessica yang bernuansa biru-putih. Kamarnya kosong. Tempat tidurnya juga sudah rapi, itu menandakan jika sang pemilik kamar telah pergi. Tiffany mengerutkan dahinya, di hari libur begini kemana kakaknya pergi? Ini juga masih terhitung pagi. Tiffany kembali keluar. Ketika ia menuruni anak tangga, suara keributan terdengar jelas di halaman belakang. Tiffany lekas berlari. Dari suara yang ia dengar, itu adalah suara YoonA dan Jessica.

“Apa yang kau lakukan, eoh?!! Kau tidak lihat bajuku kotor karena ulahmu!!!” Jessica berteriak keras pada YoonA. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apapun kesalahan adiknya, dengan bijak Jessica selalu memaafkannya. Tiffany semakin heran dibuatnya. Siwon yang tengah membaca Koran di ruang tengah pun ikut berhambur ke tempat kejadian, kecuali Hwang Soo Na. Sejak semalam ia tidak pulang.

“Unnie, mianhae. Aku tidak sengaja.” Sesal YoonA pelan. Tadi ketika Jessica tengah duduk di kursi taman belakang, YoonA menjahilinya dengan mengagetkannya dari belakang. Karena dorongan dari YoonA terlalu keras, mengakibatkan Jessica terjembab jatuh ke tanah. Ia memang tidak terluka, namun bajunya menjadi sedikit kotor. Itulah yang membuatnya marah.

“Maaf? Kau sengaja melakukannya kan? Katakan saja kalau kau ingin melukaiku seperti yang eomma mu lakukan pada kami!!!” YoonA terlonjak kaget. Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Jessica.

“Unnie, apa maksudmu?”

“Aku-mem-benci-mu-YoonA.” Jessica pergi meninggalkan YoonA yang berdiri terperangah. Begitupun dengan Tiffany dan Siwon. Tiffany makin penasaran dengan sikap Jessica. ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.

Tanpa mempedulikan tangisan YoonA dan panggilan Siwon, Tiffany berjalan cepat menyusul Jessica ke dalam kamarnya. Ia menggebrak pintu keras.

“Unnie, apa yang terjadi denganmu, Eoh? Kenapa kau bersikap kasar pada Youngie?!!!” Tak dapat menahan emosinya, Tiffany secara tidak sadar berteriak pada Jessica.

“Ia pantas mendapatkannya Tiff,” jawab Jessica santai sambil mengganti bajunya yang kotor.

“Mwo?! Unnie cepat katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!!!” Tiffany memaksa Jessica untuk menghadap padanya. Ia menatapnya tajam. Jessica menghela nafas kasar.

“Baiklah, tapi aku harap kau tidak menyesal mendengarnya Tiff.”

 

Tiffany menangis sesenggukan. Ia begitu kesulitan mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Jessica. bagaimana mungkin rahasia ini tersimpan rapat selama 24 tahun. Yang paling ia sesalkan, orang yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandungnya adalah justru orang yang telah membunuh kebahagian keluarganya. Ia juga menyesal karena YoonA bukanlah adik kandung mereka.

“Unnie dalam hal ini Youngie tidak bersalah apapun. Tidak sepatutnya Unnie membencinya.”

“Ia akan menjadi senjata untuk Soo Na menyingkirkan kita Tiff, kau harus sadar itu.”

“Unnie, aku sangat mengenal Youngie. Ia tumbuh bersama kita, ia tidak mungkin melakukan kejahatan seperti yang eomma nya lakukan.”

“Tapi kita harus tetap waspada Tiff,”

Srek

“Youngie??” tanpa keduanya sadari, YoonA tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka. Hati YoonA sakit bagai teriris pisau. Ia tidak menyangka kenyataan yang harus ia terima begitu pahit. Terlebih mengetahui bagaimana tabiat asli ibunya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri dan juga pada kedua kakaknya. YoonA berlari kencang keluar rumahnya. Tiffany dan Jessica mengejarnya di belakang. Mereka tidak ingin YoonA mengetahuinya dengan cara seperti ini. terutama Tiffany, ia sangat tahu betul bagaimana perasaan YoonA. Tiffany tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa adiknya. Ia terus berteriak memanggilnya.

“Youngie!! Aku mohon berhenti! Dengarkan penjelasanku!! Youngie!!” YoonA tidak menghiraukan teriakan kakaknya, ia menyebrangi jalan besar. Tanpa di duga, sebuah mobil truk sedang melaju kencang. Tiffany menahan nafas, matanya membulat sempurna. Ia memekik keras.

“Youngie AWAS!!!!”

“ARRGGGHHHH!!!!!” tepat saat mobil itu akan menyentuh tubuh YoonA, Tiffany mendorongnya. YoonA tersungkur ke tepi jalan. Sementara Tiffany, tubuhnya terpental sejauh 3m. darah segar mengalir deras dari bagian belakang kepalanya. Jessica, YoonA dan juga Siwon yang juga ikut mengejar YoonA tercekat. Tiffany tidak lagi bergerak, matanya tertutup, wajahnya pucat, dan bibirnya membiru. Darah terus mengalir dari sekujur tubuhnya.

Jantung Jessica berhenti berdetak, Ia seolah membeku tak mampu berjalan. Setitik air turun dari matanya. Semua orang yang berada disekitar tempat kejadian, sudah mengeremuni Tiffany. Siwon berlari menembus kerumunan orang – orang tersebut. Ia meraup tubuh lemah Tiffany lalu memeluknya erat. Mengguncang – guncangkan tubuhnya berharap Tiffany akan sadar.

“Tiff, aku mohon buka matamu. Ayo buka matamu Tiff, BUKA MATAMU!!! Ahhhhh!!!”

 

**Sifany**

Operasi sudah berjalan selama 5 jam, namun belum ada tanda – tanda dokter akan membawa kabar baik. Jessica terkulai lemas di kursi tunggu. Siwon mondar – mandir cemas, sedangkan YoonA, ia tidak berhenti menyalahkan dirinya.

Jessica sangat ketakutan. Ia takut Tiffany akan meninggalkan dirinya juga. Ia tidak sanggup membayangkan hidupnya tanpa Tiffany. Ia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi. Tanpa bisa cegah, cairan bening kembali membasahi pipinya. Tatapannya kosong, pikirannya melayang. Ia bahkan tidak mempedulikan penampilannya yang sangat kacau saat ini. yang ia inginkan hanyalah Tiffany kembali dalam keadaan yang utuh.

Beberapa perawat terlihat keluar masuk membawa alat – alat medis. Nemun tidak ada satupun yang memberikan kabar mengenai keadaan Tiffany saat ini. Jessica, YoonA dan Siwon masih setia menunggu. Ketika mereka tengah fokus dengan pikiran masing – masing, tiba – tiba seorang perawat keluar menghampiri mereka dengan wajah cemas.

“Pasien tidak berhenti mengeluarkan darah, keadaannya semakin kritis. Jika diantara kalian ada yang memiliki golongan darah A-, kami harap kalian bisa mendonorkannya untuk pasien karena persediaan darah di rumah sakit kami telah habis.” Tutur perawat itu cemas.

“Ambil saja darahku suster. Sebanyak apapun yang kalian butuhkan, aku siap memberikannya untuk adikku.” Jessica mengajukan diri. Ia memang memiliki darah yang sama dengan Tiffany.

“Baiklah, anda bisa ikut denganku nona.” Jessica mengikuti suster tersebut ke ruangan lain untuk diambil darah. Ia tidak peduli sekalipun harus menghabiskan darahnya asalkan Tiffany  bisa selamat.

Setelah kepergian Jessica, Siwon memberanikan diri untuk bertanya pada YoonA. Ia beralih duduk disamping gadis bertubuh kurus itu. “YoonA-ya, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Aku tidak pernah melihat kalian seperti ini sebelumnya.”

“Mianhae Siwon-ssi, ini masalah keluarga kami. Aku belum bisa menceritakannya padamu. Aku juga masih syok dengan kejadian ini. kau mau mengerti kan?” YoonA kembali menghapus airmata yang jatuh begitu saja, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang telah menyelamatkannya. Siwon menghembuskan nafas pasrah. Ia tidak ingin memaksa YoonA menceritakan hal yang sebenarnya. Siwon tidak ingin membuatnya bertambah sedih.

 

**Sifany**

7 jam sudah terlewati, akan tetapi masih belum ada tanda – tanda pintu itu akan terbuka. Ketiganya semakin resah, tidak ada satupun diantara mereka yang berniat pergi walaupun hanya untuk sekedar membeli makanan ataupun minuman.

Jessica menggigiti kukunya cemas, YoonA meremas – remas ujung kaosnya, sementara Siwon bolak – balik duduk-berdiri.

5 menit.. 10 menit.. 15 menit.. 20 menit.. dokter yang sedari tadi dinantikan pun akhirnya keluar. Ia membuka masker dan sarung tangan yang tadi digunakannya untuk mengoperasi Tiffany.

“Bagaimana keadaan adikku dok?” Tanya Jessica tak sabar.

“Meskipun operasinya berjalan alot, tapi syukurlah ia bisa diselamatkan. Kita masih harus menunggu perkembangannya setelah ia sadar.” Seiring dokter menjelaskannya, Tiffany dibawa keluar dari ruang UGD menuju ruang inap. Ada perban yang membelit kepalanya dan juga bagian tubuh lainnya. Wajahnya sepucat kertas. Tidak ada senyuman yang tersungging di bibir mungilnya. Jessica berjalan mendekatinya, ia menggenggam erat tangan Tiffany yang terasa dingin. “Tiff, bangunlah. Jangan tinggalkan aku.” Lirihnya pilu.

YoonA tidak berani menghampirinya, ia begitu ketakutan. Siwon merangkulnya dari samping, mengajaknya untuk ikut bersama mereka, namun YoonA menggeleng lemah. Ia merasa tidak pantas berada disamping Tiffany. Mengetahui kakaknya selamat dari maut, sudah cukup membuatnya lega.

“Pergilah Siwon-ssi. Temani kedua kakakku. Saat ini aku tidak bisa berada di dekat mereka.” YoonA melepaskan tangan Siwon yang bertengger di bahunya lalu berjalan mundur.

“Wae YoonA?”

“Belum saatnya kau mengetahuinya. Aku yakin kau orang yang baik. Aku titipkan mereka padamu.” Dan selanjutnya YoonA menghilang dari hadapan Siwon.

 

**Sifany**

Sudah 2 minggu dari kecelakaan yang hampir menewaskannya, Tiffany masih belum juga sadarkan diri. Siwon dan Jessica selalu setia menemaninya. YoonA hanya mampu menunggunya di halaman rumah sakit. Ia masih belum berani menyapa Jessica. sejak awal mereka membawa Tiffany ke rumah sakit, tidak sekalipun kedua gadis berbeda usia ini saling pandang. Jessica selalu memalingkan wajahnya dari YoonA. Ia enggan menatap matanya. Sesekali YoonA masuk jika Jessica tidak berada di tempat. Ia hanya menunggu kabar dari Siwon. Ya, Siwon selalu memberitahu perkembangan Tiffany pada YoonA setiap saat.

Hwang Soo Na masih belum mengetahui tragedy yang menimpa keluarganya. Ia sedang berada di luar negeri. Entah apa yang tengah dilakukannya.

Hari ini kabar baik tengah menghampiri mereka. Tiffany telah menggerakan jari – jarinya, pertanda ia akan sadar. Jessica memencet tombol yang berada disamping ranjang Tiffany untuk memanggil dokter. Perlahan mata Tiffany mulai terbuka, Siwon dan Jessica menunggunya dengan penuh harapan. Setelah matanya terbuka sempurna, sebuah kenyataan menyesakkan hati mereka.

“Dimana aku?” ucapnya parau.

“Tiff, syukurlah kau sadar. Kami sudah lama menunggumu.” Jessica duduk di tepi ranjang rumah sakit yang ditempati Tiffany. Ia mengerutkan alisnya bingung karena Tiffany tidak menatapnya. Tatapan Tiffany berbeda, terlihat kosong dan tidak terarah.

“Jessie Unnie? Kau kah itu? Apa aku berada dikamarmu? Kenapa semuanya terasa gelap?”

JDARRRR!!

Bersamaan dengan pertanyaan Tiffany, halilintar menggelegar bersahutan menyempurnakan suasana kelam di ruangan yang serba putih ini. tubuh Jessica menegang. Kenyataan pahit apa lagi ini?

“Unnie jawab aku!! Kenapa semuanya gelap??? Apa yang terjadi denganku??” satu demi satu setitik air jatuh dari mata Jessica. ia menoleh pada dokter meminta penjelasan. Siwon berdiri mematung. Ia tidak sanggup mendengar pernyataan dokter yang tidak diharapkannya.

“karena benturan yang sangat hebat pada kepalanya, memungkinkan syaraf pada matanya rusak sehingga ia tidak dapat melihat lagi.” Petir kembali menggema. Lutut Jessica sudah melemah tak mampu menopang tubuhnya lagi, ia hampir saja jatuh. Beruntung Siown segera menangkapnya dan memeluknya. Tiffany menjerit histeris. Ia tidak terima dengan kenyataan yang harus diterimanya.

“TIDAAAKKKK!!!!! Kau bohong!!!! Aku tidak mungkin buta!!! Kembalikan mataku!!! Kembalikan penglihatanku!! Arrrgghhhhh!!!!” suara tangisan pun pecah. Jessica tidak bisa mengontrol dirinya untuk bersikap tegar. Ia juga tidak sanggup menenangkan Tiffany yang terus menjerit histeris. Siwon beralih memeluk Tiffany, namun ia menberontak. “Lepaskan AKU!!! Kenapa kalian tidak membiarkanku mati saja jika akhirnya aku tidak bisa melihat, eoh?! Aku tidak ingin hidup lagi!!! Biarkan aku mati!! AAAHHH… LEPASKAN AKU!!!”

“Tiff, tenangkan dirimu. Aku mohon.” Siwon bersusah payah menenangkanTiffany, namun ia tidak dapat dikendalikan hingga dokter memutuskan untuk menyuntikkan obat penenang pada lengannya. Akhirnya Tiffany tertidur dengan sisa – sisa airmata yang membekas pada pipinya.

 

**Sifany**

YoonA berlindung di sebuah kantin yang terdapat di dalam rumah sakit. Hujan deras mengguyur kota Seoul. Petir masih menggelegar keras. Tidak ada seorang pun yang berani keluar. Jalanan tampak sepi. YoonA menyesap coffee late-nya untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tulangnya. Ia tidak sabar menunggu kabar dari Siwon. 10 menit yang lalu, Siwon mengirimnya pesan untuk bersabar karena ia harus mengurus sesuatu sebelum menemuinya. YoonA mengetuk – ngetukkan jarinya di atas meja. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk. Namun ia segera menyingkirkan pikiran buruknya. Selang berapa menit, Siwon akhirnya muncul. YoonA bangkit dari kursinya dan tersenyum tipis. Ia mempersilahkan Siwon untuk duduk terlebih dahulu.

Keheningan terjadi. Lidah Siwon mendadak kelu. Ia bingung bagaimana cara mengatakannya. YoonA yang mengetahui raut bingung pada wajah Siwon, berinisiatif untuk memulai bertanya.

“Siwon-ssi semuanya baik – baik saja kan?” YoonA mencoba bersikap tenang meskipun hatinya dirundung rasa khawatir.

“Eum..eum..itu..itu..” Siwon sungguh tidak sanggup mengatakannya. Merasa penasaran, YoonA mendesaknya untuk berbicara.

“Siwon-ssi cepat katakan apa yang terjadi. Jangan membuatku penasaran.” Desak YoonA.

“Kau.. yakin akan mendengarnya?” YoonA mengangguk pasti. Siwon menarik nafas gugup lantas menghembuskannya kasar.

“Tiffany… ia …. Ia… tidak bisa melihat. Ia buta.” Siwon merendahkan suaranya di akhir kalimat. YoonA tersentak. “Mwo?!!!” pandangannya tiba – tiba kabur, semuanya menjadi gelap dan ia langsung tak sadarkan diri.

“YOONAAA!!!!”

 

**SIfany**

Siwon memandangi wajah damai Tiffany yang terlelap akibat pengaruh obat penenang. Tidak bisa dibayangkan bagamana perasaannya ketika bangun nanti. Hidup tanpa bisa melihat tentu sangat menyakitkan. Siwon mengelus lembut rambut Tiffany. Jari – jarinya menelusuri setiap lekuk wajah Tiffany yang tidak tertutup perban. Ia sedikit membungkuk untuk mengecup kedua mata indah Tiffany. Mata ini yang selalu membuatnya terkagum – kagum. “Apapun yang terjadi dengan matamu, aku akan tetap mencintaimu Tiff.” Bisik Siwon seraya menaikan selimutnya hingga atas dada Tiffany.

 

Setelah mendengar kabar dari Siwon tadi malam, YoonA memberanikan diri bertemu Jessica, ia ingin menebus kesalahannya dengan menjadi mata bagi Tiffany. Jessica tengah membeli makanan di kantin. Sejak Tiffany sadar, ia belum memasukkan apapun kedalam mulutnya. Perutnya kosong keroncongan. Jessica berfikir ia harus kuat untuk menjaga Tiffany. Ketika Jessica membalikan badannya, ia bertatapan dengan YoonA. Jessica berniat untuk mengabaikannya, namun YoonA menahannya.

“Unnie, izinkan aku untuk berbicara.” Pinta YoonA sesopan mungkin.

“Sebaiknya kau pergi YoonA. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Baru saja Jessica akan melangkah, YoonA menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Jessica yang membuatnya terperangah. Untungnya suasana di kantin masih sepi karena waktu masih pagi. Beberapa pengunjung dan pelayan di kantin menatap heran pada keduanya. Jessica mengisyaratkan YoonA untuk berdiri, namun YoonA tetap tidak bergeming. Ia justru malah terisak.

“Unnie aku mohon maafkan aku. Kau boleh saja membenciku dan juga eomma. Tapi tolong izinkan aku untuk merawat Tiffany unnie. Biarkan aku yang menggantikan matanya. Hiks.. aku mohon Unnie.. biarkan aku merawatnya. Hiks.. hiks..” nafasnya berhembus tak beraturan karena terisak. Jessica mendongakkan kepalanya menahan airmatanya agar tidak jatuh. Alih – alih menangis, ia menyemburkan kemarahan pada YoonA.

“Kau tahu!!! akibat dirimu Tiffany harus kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Kau telah merenggut kebahagiaannya. Kau membuat hidupnya tidak sempurna!!” YoonA memegang kedua kaki Jessica memohon ampunan. Ia tahu semua ini karena kesalahannya, jika saja ia bisa menggantikan posisi Tiffany sekarang, ia pasti akan melakukannya.

“Unnie aku tahu permohonan maafku tidak bisa mengubah semua yang sudah terjadi. Tapi setidaknya tolong biarkan aku merawatnya unnie. Biarkan aku menebus kesalahanku.” Jessica menggoyang kakinya agar terlepas dari genggaman YoonA.

“Lepaskan tanganmu  YoonA!! Apa kau ingin membuatku malu, eoh?” YoonA menggelengcepat.

“Aku tidak akan melepaskanmu jika unnie tidak mengizinkanku.” Secara reflek, Jessica mendorong tubuh YoonA hingga ia terjembab ke belakang. Jessica menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak bermaksud melakukannya. Jessica bergegas pergi meninggalkan YoonA yang berteriak memanggil namanya.

“Unnie tunggu!! Aku mohon izinkan aku!!!! Unniee!!!” YoonA menjerit keras tak peduli dengan tatapan beberapa pasang mata yang mencemoohnya. Tetapi ada juga diantara mereka yang merasa iba. YoonA masih terduduk di atas lantai yang dingin. Tangannya memegang kuat dadanya yang terasa sakit. Ia tak sanggup lagi berdiri. Kekuatannya telah sirna dimakan luka yang ganas.

 

**Sifany**

Donghae berjalan tegap dengan setelan kantor berwarna biru tua dan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. Tidak sedikit karyawan wanita yang berdecak kagum melihatnya. Bahkan diantara mereka ada yang berbisik – bisik menanyakan siapa sosok pria tersebut.

Setibanya ia di depan lift, Donghae menekan tombol naik. Begitu pintu lift terbuka, ia masuk dan kembali menekan tombol pada angka 5 tempat tujuannya.

TING

Pintu lift kembali terbuka. Donghae melangkah keluar lalu berjalan menuju meja sang sekretaris.

“Annyeonghaseyo,” sapanya ramah. Taeyeon yang tengah berkutat dengan beberapa berkas, sontak mendongakkan kepalanya.

“Eoh, Donghae-ssi? Annyeong. Ada yang bisa saya bantu tuan?”

“Apa nona Jessica ada diruangannya?” Taeyeon melirik sekilas kearah ruangan Jessica, “Maaf tuan, sudah berhari – hari sajangnim tidak masuk. Adiknya mengalami kecelakaan jadi ia harus menemaninya di rumah sakit.” Donghae terlonjak kaget.

“Benarkah? Lalu dimana rumah sakitnya? Apa anda tahu nona?”

“St.Mary Seoul Gangnam hospital tuan.”

“Baiklah terima kasih nona.” Donghae lantas melesat cepat menuju rumah sakit tempat Tiffany dirawat.

 

**Sifany**

Tiffany menggeliat pelan, ia lupa jika usahanya untuk membuka mata akan sia – sia saja karena ia tetap tidak akan bisa melihat apapun. Tiffany kembali menutup matanya.

“Tiff, kenapa kau menutup kembali matamu, hm?” Jessica mencegah pergerakan Tiffany.

“Untuk apa Unnie? Semuanya akan percuma kan?” ucap Tiffany putus asa. Jessica mencoba untuk tidak menangis. Ia harus bisa membuat Tiffany bangkit lagi.

“Oke, terserah kau saja. Yang penting sekarang kau makan ne,” ia menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Tiffany. Gadis itu tidak bergeming. Ia enggan membuka mulutnya.

“Oh ayolah Tiff, makanlah sedikit saja.” Bukannya mengikuti permintaan Jessica, Tiffany malah berbaring membelakanginya. Jessica mendesah kecewa. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara membujuk adiknya. Tepat saat Jessica akan meletakkan mangkuknya di atas meja nakas, Siwon memberinya isyarat untuk menyerahkan semuanya pada dirinya. Ia mengambil alih mangkuk dari tangan Jessica lalu duduk di depan Tiffany.

“Hey, apa kau mendengarku?” Tiffany tahu itu adalah suara Siwon. Ia semakin  terluka mendengarnya.

“Untuk apa kau kemari? Apa kau ingin mengejekku?” ketusnya dan berbalik arah menghadap Jessica. Siwon tidak gentar, ia akan terus membuat Tiffany luluh dan mengembalikannya menjadi Tiffany yang dulu.

“Jika aku ingin mengejekmu, aku tidak akan tinggal disini selama berhari – hari. Aku bahkan melupakan urusan kantorku yang sudah menumpuk demi menjagamu.” Tiffany tersentak. Ia mengubah posisinya menjadi terlentang.

“Kau tidak boleh melakukannya Choi Siwon! Itu adalah perusahaan Appa-ku. Jangan sampai kau membuatnya bangkrut.” Siwon tersenyum tipis, ia mengedipkan sebelah matanya pada Jessica.

“Kalau kau tidak ingin perusahaan Appa-mu bangkrut, turutilah perintahku! Makan bubur ini atau aku tidak akan pernah pergi ke kantor sebelum kau mau membuka mulutmu.” Tiffany terperangah, bagaimana bisa seorang Choi Siwon mengancamnya dan anehnya ia tidak bisa berkutik. Tiffany terpaksa mengikuti kemauan Siwon dan mulai menghabiskan makanannya.

Untuk pertama kalinya, Jessica tersenyum tulus pada Siwon. “Gomawo Choi Siwon.” Siwon membalasnya dengan menampakkan lesung pipinya.

 

**Sifany**

Donghae mencari – cari kamar inap Tiffany. Menurut resepsionis yang ia temui di depan, Tiffany dirawat di kamar VVIP nomor 104. Namun ia tidak menemukan siapapun disana. Kamarnya kosong. Donghae mencoba mencarinya di taman belakang, dan benar saja mereka tengah berada disana. Siwon dan Jessica menemani Tiffany menghirup udara segar sesuai saran dokter. Tiffany duduk di atas kursi rodanya. Kakinya ikut terluka dan belum bisa digunakan untuk berjalan. Tiffany sempat menolak dibawa keluar seperti ini, namun berkat rayuan dan seribu cara Siwon, ia akhirnya mengalah. Dan disinilah mereka sekarang.

Donghae mendekati mereka dan menyapanya hangat. Jessica sontak terkejut mendapati Lee Donghae berada di rumah sakit ini. ia tidak menyangka jika pria ini akan menyusulnya kemari.

“hai, maaf aku lancang datang kemari dan tidak memberitahumu. Aku sangat terkejut mendengar berita ini dari sekretarismu. Jadi tanpa pikir panjang aku langsung datang kesini. Aku turut prihatin atas apa yang menimpa adikmu.” Siwon mendelik sebal mendengar penuturan Donghae. Ia tahu siapa pria yang kini berada disampingnya.

“Sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas perhatianmu Donghae-ssi. Aku juga minta maaf karena tidak bisa fokus dalam proyek kita. Aku… tidak bisa meninggalkan adikku.” Tukas Jessica menyesal.

“Aku mengerti Jessica-ssi. Kau tidak perlu khawatir. Mengenai proyek kita, biar aku yang menanganinya.”

“Sekali lagi terima kasih. Aku pecayakan semuanya padamu.” Mata Siwon membelalak sempurna. Ia tidak habis pikir kenapa Jessica menyerahkan urusan perusahaannya pada Lee Donghae orang yang dicurigainya selama ini.

“Jessica apa kau sadar apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa menyerahkannya begitu saja pada orang asing.” Siwon tentu saja murka. Ia marah dengan kecerobohan Jessica.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan Siwon. Kau tidak perlu khawatir. Lee Donghae adalah klienku, jadi ia bukan orang asing lagi.” Siwon semakin terkejut. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi.

“Jadi kau yang bernama Choi Siwon? Senang bertemu denganmu Mr. Choi.” Donghae berusaha bersikap ramah meskipun Siwon menatapnya tajam.

“Apa yang kau inginkan Lee Donghae?” Tanya Siwon to the point.

“Apa maksudmu Siwon-ssi? Aku sama sekali tidak mengerti.” Siwon menarik kerah kemeja Donghae dan memberinya tatapan mematikan.

“Aku peringatkan padamu Lee Donghae, jangan pernah mengganggu kehidupan kami.” Desisnya tajam.

“Wow! Aku sungguh takut dengan ancamanmu. Kita lihat saja siapa yang akan menang.” Balas Donghae dengan nada melecehkan. Ia menepis tangan Siwon dari kerah kemejanya. Jessica gerah dengan situasi ini. ia mengambil alih pertengkaran mereka.

“CUKUP!!! Kalian tidak seharusnya bertengkar disini. Ini rumah sakit bukan tempat untuk kalian saling unjuk gigi.” Teriak Jessica. Tiffany yang tidak tahan dengan suara – suara keras mereka, menutup telinganya dan menjerit histeris.

“HENTIKAN!!! Haruskah kalian berdebat didepanku, eoh?!!! Unnie aku tidak ingin menjadi bebanmu. Kau tidak perlu mengorbankan pekerjaanmu demi aku. Aku tidak ingin menjadi benalu dalam kehidupan kalian.. pergilah dari hadapanku sekarang juga!!! Aku tidak butuh kalian semua!! PERGIIII!!!!” daya tahan tubuh Tiffany belum sepenuhnya pulih, ia tak sanggup menerima tekanan berat, dan akibatnya ia kembali tak sadarkan diri. Ketiga orang yang tadi berdebat, panik melihat keadaan Tiffany, mereka merasa bersalah terutama Siwon dan Jessica. Siwon mengutuk dirinya yang tidak menyadari keberadaan Tiffany. Dengan sigap ia mengangkat tubuh lemah Tiffany ke ruang inapnya.

 

**Sifany**

Tiffany meminta perawatnya untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke kamarnya. Saat ini ia sedang tidak ingin bertemu dengan semua orang. Tiffany masih terisak seorang diri. Matanya sudah membengkak akibat menangis terlalu lama.

 

Karena takut suasana akan semakin buruk dengan kehadirannya, Jessica menyuruh Donghae untuk pergi. Kini tinggal ia dan Siwon yang berada di ruang tunggu. Siwon mendesah frustasi. Ia menyesal karena tidak dapat mengontrol emosinya.

“Choi Siwon, kenapa kau melakukannya, hm? Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu tadi?”

“Maafkan aku Jessie, aku tidak dapat mengendalikan emosiku.” Siwon meyakinkan Jessica jika ia benar – benar menyesal.

“Aku tahu apa tujuanmu Siwon. Aku tahu semuanya.” Siwon langsung menoleh cepat. Ia mengerutkan keningnya dan tatapannya mengisyaratkan seolah ia bertanya ‘apa maksudmu?’

Jessica berdehem, mengatur nafasnya sebelum menuturkan penjelasannya pada Siwon.

 

Flashback On

“Nak, samchon sengaja melibatkan Siwon dalam kasus ini. ia adalah orang yang bisa diandalkan. Samchon sangat mengenalnya. Ketika Appa-mu menyuruhnya untuk menikah dengan Soo NA, samchon mendukungnya. Ia akan melindungi hak kalian. Siwon sangat handal dalam berbisnis. Itulah mengapa Suk Jin begitu mempercayainya. Dengan kecerdasan dan kepribadiannya, Samchon yakin ia dapat menyelamatkan kalian dari perbuatan licik Soo Na dan sekutunya.” Setelah mendengar cerita masa lalunya dari Park Hyunmin, Jessica memilih untuk menenangkan pikirannya dengan duduk di atas batu besar dekat kolam ikan. Park Chansung yang lebih dikenal dengan sebutan sekretaris Park, menghampiri keponakannya. Ia ikut duduk disebelahnya dan menceritakan perihal Siwon.

“Tapi kenapa harus menikah dengan eomma, Samchon? Dan siapa sekutu yang samchon maksud?”

“Kalau ia menikah dengan salah satu diantara kalian, kedudukannya tidak akan kuat nak. Semua orang hanya tahu jika Soo Na adalah nyonya besar Hwang. Jadi dengan menikah dengannya, maka Siwon bisa ikut berkuasa. dan mengenai sekutunya, samchon masih belum yakin. Siwon masih menyelidikinya.” Jessica mengangguk mengerti. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena telah berfikiran buruk pada Siwon.

“Samchon, jadi Appa sudah tahu keburukan Soo Na?”

“Begitulah, nak.”

“Lalu kenapa Appa membiarkannya mengelola harta kami? Dan kenapa Appa tidak menceraikannya?” Jessica semakin penasaran dengan fakta yang telah terkuak. Ia harus mengetahuinya sampai akarnya sekalipun.

“Nak, Appa-mu baru mengetahuinya beberapa hari sebelum ia pergi. Dan jika ia menceraikannya, ia takut Soo Na akan mencelakai kalian. Kami belum punya bukti yang kuat untuk melawannya.”

“Lantas kenapa Soo Na mau menerima pernikahannya dengan Siwon?” Park Chansung tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Jessica. sifat cerewetnya sama persis dengan Chae Rim.

“Menikahi Siwon adalah keuntungan besar baginya. Ia bisa dengan leluasa menikmati hasil jerih payah Siwon. Soo Na tidak mengerti apapun dalam hal bisnis. Kemampuan Siwon untuk memajukan perusahaan, menjadi bonus untuknya. Ia mengira jika Siwon mudah diperalat olehnya.” Sekarang Jessica sudah mengerti semuanya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

“Samchon, terima kasih untuk semuanya. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Kalian adalah keluarga kami yang masih tersisa. Aku harap kita dapat berkumpul bersama lagi tanpa ada pengganggu.” Park Chansung memeluk Jessica erat. Kini ia lega karena terlepas dari beban yang selama ini telah membelenggunya.

 

Flashback Off

 

**Sifany**

Tiffany sudah diperbolehkan pulang, namun ia masih harus mengontrol kesehatannya satu bulan sekali. Wajahnya memancarkan keterpurukan. Ia tidak pernah tersenyum lagi, bahkan ia hanya membuka suaranya jika perlu saja. Dengan penuh kesabaran, Jessica mendorong kursinya rodanya menuju kamar yang telah ia tinggalkan hampir 1 bulan. Siwon tidak dapat menemaninya karena ada urusan kantor yang tidak bisa ia tinggalkan. YoonA juga sudah tidak tinggal bersama mereka lagi. Ia merasa dirinya tidak layak untuk menginjakkan lagi kakinya di rumah tempat ia tumbuh besar menjadi seseorang seperti sekarang. Rumah ini tampak lebih suram. Tidak ada lagi canda tawa, kehangatan dan juga cahaya bagi Tiffany. Ia seolah berada di dalam sebuah gua yang gelap, sendirian tanpa orang yang menemani. Hidupnya kini akan terasa hampa. Menikmati indahnya mentari di pagi hari pun tidak akan bisa ia lakukan lagi. Baginya semua waktu adalah malam. Tidak ada lagi perbedaan. Tak terasa setitik air jatuh satu per satu menyentuh punggung telapak tangan kirinya. Ia enggan untuk menyekanya, seakan air itu dapat mewakili perasaannya saat ini.

“Tiff, apa kau…”

“Unnie tolong tinggalkan aku sendiri.” sela Tiffany cepat.

“Baiklah, jika kau butuh sesuatu panggil aku, ne.” tidak ada jawaban. Jessica menghela nafas pasrah meninggalkan kamar Tiffany.
**Sifany**

Malam telah tiba. Siwon menemui Jessica di meja makan. Gadis dengan tinggi 157 cm ini, tengah menekuk kepalanya dalam. Ia hanya memainkan sendoknya tanpa berniat untuk memakan makan malamnya.

“Jess, bagaimana keadaan Tiffany?” Jessica sedikit mendongakkan kepalanya lalu menekuknya kembali.

“Ia masih mengurung diri di kamarnya. Aku sudah kehabisan cara Swon.” Lirihnya pelan. Berkali – kali Jessica membujuk Tiffany, namun hasilnya sia – sia. Tiffany tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

“Biar aku yang mencobanya.” Ujar Siwon yakin.

“Nde?” Siwon mengambil langkah panjang untuk segera tiba di kamar Tiffany. Ia mengetuk pintunya puluhan kali. Tiffany masih tidak mau membukanya.

“Tiff, aku akan mendobrak pintu ini dalam hitungan ketiga.” Geram Siwon tertahan. Tiffany tetap tidak bergeming membuat Siwon terpaksa mendobrak pintunya. Gadis yang kini tengah duduk diatas kursi rodanya, tidak terkejut dengan tindakan Siwon. Ia malah mengacuhkannya. Perlahan Siwon mendekati Tiffany, ia berjongkok di hadapannya.

“Tiff, tidakkah kau merasa  kasihan pada kakakmu? Jika kau menyayanginya dan tidak ingin membebaninya, tolong jangan buat ia sedih karena sikapmu yang seperti ini. kami semua sangat peduli padamu Tiff. Jangan pernah berfikiran bahwa kau adalah benalu bagi kami. Itu sama sekali tidak benar. Kau adalah harta yang paling berharga Tiff. Terutama untuk kakakmu. Hanya kau yang ia miliki saat ini. apa jadinya jika ia harus hidup dengan seseorang yang menganggapnya tidak ada. Hatinya sakit, ia lebih menderita melihatmu mengabaikannya. Jadi aku mohon, jangan menjauhkan dirimu lagi dari kami.” Aliran sungai deras membanjiri wajah pucat Tiffany. Ia menangis sesenggukan. Tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya naik turun tak beraturan. Siwon memeluknya hangat. Tubuh Tiffany sangat dingin. Ia menumpahkan seluruh airmatanya di bahu hangat Siwon. “Aku belum siap menerima kenyataan ini Siwon. Aku belum siap.. hiks… tolong bantu aku.. bantu aku mengatasi ketakutanku.. hiks..” Tiffany meracau disela isakannya. Siwon mengusap punggungnya sayang, menyalurkan kekuatan padanya.

Lama mereka dalam posisi ini hingga tanpa bisa dicegah Tiffany tertidur dalam pelukan Siwon akibat kelelahan menangis. Siwon mengangkat tubuh Tiffany dengan sangat hati – hati seakan ia adalah benda yang mudah rapuh. Siwon membaringkannya diatas tempat tidur dan menyelimutinya. Ia berlama – lama memandangi wajah gadis yang dicintainya.

“Mimpilah yang indah Tiff,” bisiknya pelan lalu mengecup keningnya lembut.

 

Siwon menuruni anak tangga hendak memberitahu Jessica perihal Tiffany. Namun baru saja ia menginjak anak tangga ke-5, ia mendengar suara teriakan keras dari arah ruang tamu. Siwon sontak berlari menuju sumber suara. Setibanya ia disana, ia langsung membelalak tatkala menyaksikan istrinya menampar Jessica.

PRAK

Pipi Jessica seketika memerah akibat tamparan keras dari Hwang Soo Na. ia memegangi pipinya yang terasa sakit.

“Berani sekali kau mengusirku Hwang Jessica!!!!” pekik Hwang Soo Na. Jessica tertawa miris, ia menatap tajam Hwang Soo Na.

“Karena mulai detik ini akulah yang berkuasa disini.”

“Mwo???”

 

 

To Be Continue……..

 

 

Huft… nyelesaiin part 3 ampe harus ngelap keringat (hehehe just kidding😉 ). Akhirnya sebagian misteri sudah mulai terkuak… semoga bisa menebus rasa penasaran para readers.

Untuk part berikutnya, mungkin aku harus mencuri – curi waktu untuk menulis lanjutannya dikarenakan tugas yang sudah menumpuk. So di tunggu aja ya.. see u ^^

 

 

79 thoughts on “(AF) The Wills Part 3

  1. Rasanya gue Pengen teriak , TBC… TBC … Kenapa disaat yang tidak tepat . Ah mianhae thor ini dampak ff ini terlalu keren . Gue pengen bisa nulis dan bikin ff tapi kok susah banget yak .. Oke ini daebak banget thor keren deh ..

  2. disaat semuanya udh mulai terbongkar, tiff unnie malahan jadi buta😭 kasian batt sm tiff unnie, untung siwon oppa sllu punya seribu cara buat bujuk tiff unnie. yoong unnie kemana eoh? dia hnya korban ibunya sndiri disini:( jahat batt ya sona tskk!! donggae oppa perannya jahat ya disini😔jessie unnie im agree with you, usir aja tuh sona jahat ckck ah ga sabar nunggu lanjutannya penasaran batt😢 ditungu part 4 nya thor,hwaiting!!

  3. kyaaa~~ makin seruuu .akhirnya satu persatu mulai terbongkar, tapi Kasian tiffanya pas udh kebongkar dianya malah buta huhu kasian😦 kasian juga yoona jadi dimusuhin sama jessica padahal dia ngga tau apa apa tentang masalahnya.
    ditunggu part selanjutnya yah thor fighting :*

  4. Masalah udh mulai terbongkar tapi tiffany malah jadi buta kasiann aku ampe nangis lho thor😭 jessica yg kuat yahh, mungkin karena kejadian ini siwon ma tiff jadi makin deket .
    Ditunggu kelanjutannya thor jangan lama” yaa😉

  5. Hyaah dasar hwang soona merusak keluarga hwang aja nih! Tapi kasihan juga ya yoongie harus pindah dari rumah gara2 gak enak hati sama kakaknya :((
    Btw, siwon baik banget ya rela nikah sama soona walaupun hatinya buat tiff dan dia jg lindungin keluarga hwang.. Tiff please open ur heart for siwon
    Buat auhtor yg semangat yaa lanjutinya hehe^^

  6. Waah maksud kata2 jessica apa ya tuhhh pas deket mau tbc?
    Haduh fany unnie malah buta trs persaudaraan jetiyoon jadi retak :”’) konfliknya dapet bgt tapi semoga aja bisa terselesaikan secepatnya.
    Semoga bisa segera update yaa di sela-sela kesibukannya😀

  7. Wah ternyata yoona bukan adik kandung yah. Songong banget sih Soona. Apa jangan2 Donghae itu sekutu si Soona ya? Soalnya bapaknya Donghae kan ngelarang dia jatuh cinta sama Jessica. Waaahhh. Makin runyam

  8. jujur aku malah berharap bahwa pamannya yang jahat yang pengen nguasain harta keluarga juga wkwk #plakk ditambah curiga sama donghae. makin seru!! for the chapter 4 please update soon!! hehe

  9. akhirnya terjawab sudah,tp yang menyedihkan tiffany malah kehilangan penglihatannya😥😥 dan yoona pergi dari rumah😥 masih belum terjawab siapa dan maksud donghae sebenarnya hmm next part authornim😉

  10. bacanya dagdigdug 😂 masalah udah ketauan semoga jessica ga gegabah 😪 tiifany buta yaampun 😢 yoona pergi kemana 😢 dan donghae pasti dia mau berbuat jahat 😒 makin seru ahhhhhh 😲 next semangat thor 💪

  11. Wiisss kget wktu bca flashback yg ngungkpin klo soo na bukan ibu kndung jeti dan yoona juga ternyata bukn adik kndung jeti kasihn bgt liatnya apalagi fany yg tbtb buta hiks sedih bgt ceritanya 😢berharap siwon bisa cpt” nyelesain smua biar bisa kluarga hwang bhgia sifany juga bisa bersatu 😊🙏tu donghae juga bikin penasaran smga dia baik ya trus bisa sma jessie😊 next part ditunggu😊😍

  12. kerenn abiss thorrrr..gk bisa berkata apa apa lagi sama ff yang satu ini.akhirnya semua terbongkar sudah.knpa tiffany harus buta ?? ohh ayolah jessi cepat2 usir monster sona itu !! kesian yoona yg terus disalahkan sama jessi.sampe akhirnya dia pergi dari rumah…

  13. Ff na bgus
    Msalah nya mulai terkuak.. dsini ff nya sedih sma menegangkan..
    Ksihan tiff buta.. apa yoona bkal donorkan mtanya buat tiff?
    Emm jessie frustasi dengan msalah yg trus mnrus dteng..
    Knapa siwon benci am dongek?
    Ditunggu part selanjtnya🙂
    Fighting !!😀

  14. aduh uri bias kenapa jadi buta di part ini…….. btw aku sedikit ngeluarin air mata thor pas yoona minta maaf sama jessica huhuhuhu, seneng juga masalahnya udah terkuak disini dah udah ketauan juga alesan siwon disuruh nikahin hwang sona semoga ini happy ending ya thor cause i hate sad ending in sifany wkwk ditunggu next chapternya thor🙂

  15. Keren banget! Aku suka deh sm alurnya, walaupun kadang ngebacanya agak bingung, tp BEST banget dah buat ff ini.
    Dilanjut ya thor part 4 nya, aku always stay di blog ini. Semangat ya thor! Ditunggu loh 🤗

  16. Oooo bgtu toh crita’a
    Pantesan aja
    Kasian mereka
    Knp harus buta ooh no..
    Happy end please
    Buat onnie bisa liat lg thor
    Huuaaaa.. T.T
    Siwon oppa hwaiting!
    Author hwaiting
    Di tnggu slnjut’a

  17. Ternyata hwang chae rim,oemma kandungnya sica dan fany,dan yoona anaknya soo na,kasian yoonanya.ohhh…..no…..fany kecelakaan wkt menyelamatkan yoona dan mengalami kebutaan, poor fany,hiks…hiks….hiks…..ternyata siwon orng yg akan membantu dan menyelamatkan keluarga hwang dari kelicikan soo na.
    Wow…..makin seru aja nih thor.ok deh thor,next.
    Jjang thor.hwaiting.

  18. oh ternyata hwang chae rim eomma Jessica & Tiffany dan Yoona bukan adik kandung Sica & Tiffany.
    sedikit demi sedikit rahasianya terkuak

  19. Ini pncak mslh n cobaan hdp klrg hwang. terutm jessica yg mrs ini adl tggung jwbny. kbnrn yg mgubh hdp mrk. knytaan yg mkin pelik terutm tiffany yg buta krn kclkaan n yoona yg tnyt bkn sdr mrk.
    smg siwon n jessica bs atasi n lindungi klrg hwang.
    jessica hwaiting……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s