(AF) The Wills Part 2

THE WILLS

Part 2

 

 The wills cover

Author : @q2lovepink

Main Cast: Choi Siwon, Tiffany Hwang and Jung Jessica

Other Cast: Im YoonA, Cho KyuHyun, Lee Donghae and Kim Taeyeon

Genre  : Romance, Hurt, and Family

Rating : PG (17+)

Length : Chapter

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku, apabila ada kesamaan cerita, ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak disengaja.

So Happy Reading ;)

 

 

Headline news

12 0ktober 1991

Sebuah mobil sedan hitam jatuh kedalam jurang sedalam 15 m di daerah Gimcheon. Dugaan sementara penyebab dari kecelakaan tersebut ialah akibat sang pengendara kehilangan kendali di saat tengah menyetir dijalanan yang licin karena hujan yang lebat tadi malam. Sang pengendara yang diketahui bernama Hwang Chae Rim, tewas seketika di tempat kejadian. Sementara penumpang lain yang diyakini putrinya yang diperkirakan berusia 5 tahun, dinyatakan selamat meskipun mengalami luka – luka yang cukup berat di sekujur tubuhnya. Pihak polisi masih menyelidiki penyebab utama dari kecelakaan maut ini.

“sampai kapan kau akan terus membaca berita itu Hyunmin-ah? Kau hanya akan melukai dirimu sendiri.”

“Oh, Kau sudah pulang yeobo? Bagaimana keadaannya?” bukannya menjawab pertanyaan suaminya, wanita paruh baya itu malah balik bertanya.

“Sekarang keadaannya sudah mengalami banyak peningkatan. Semoga saja ia bisa segera kembali dan menyelesaikan semuanya.”

“Ne, aku harap juga begitu.”

“aku tidak percaya ini sudah berlalu selama 24 tahun, dan kita masih belum menemukan apapun.”

“Yakinlah yeobo, kebenaran  akan selalu menang.”

“Ya, hanya saja waktu terus mempermainkan kita.”

“Selama kita masih hidup, tidak akan ada yang boleh mengganggu kehidupan mereka.”

“tentu saja.”

 

**Sifany**

Jessica termenung seorang diri di sebuah ruangan yang sangat gelap, hanya sedikit cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela yang tertutupi gorden. Ia menangis pilu seraya memegangi dadanya yang terasa begitu sakit. Cobaan dan tanggung jawab yang harus dipikulnya terlalu berat untuk ia tanggung seorang diri. Hanya di tempat inilah ia bisa mengeluarkan semua rasa sesaknya tanpa harus menyulitkan orang lain. Dan di tempat ini pulalah ia akan menjadi Jessica Hwang yang sesungguhnya. Tanpa kepura-puraan, tanpa topeng yang mengubahnya menjadi seorang Jessica yang kuat dan dingin. Ia adalah sosok yang rapuh, sosok yang membutuhkan topangan seseorang yang bisa merangkulnya dan membuatnya berdiri tegak. Namun itu semua hanyalah sebuah khayalan. Khayalan yang selalu diimpikannya setiap malam.

Sudah dua jam ia terpengkur dalam tangisan, kini waktunya ia kembali pada Jessica Hwang dengan ruh yang berbeda. Ruh yang akan mengubahnya menjadi Jessica Hwang yang tangguh. Ruh yang akan menuntunnya untuk melindungi orang – orang yang dicintainya. Jessica memperbaiki penampilannya yang kacau. Ia memasang senyum palsunya dan melangkah keluar dengan langkah yang angkuh. Lantas ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat.

To : Kim Taeyeon

Taeyeon-ssi, tolong segera persiapkan pertemuanku dengan tuan Lee Donghae. Aku akan segera kesana sekarang.

Dengan penuh harapan dan keyakinan ia melajukan mobilnya menuju suatu tempat.

 

**Sifany**

Tiffany tengah sibuk dengan persiapan acara fashion shownya yang akan diadakan 3 hari lagi. Ini merupakan acara fashion show pertamanya, untuk itu ia ingin menampilkan yang terbaik dari yang terbaik. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 KST, Saking sibuknya ia sampai melupakan makan siangnya dan itu membuat penyakit lambungnya kembali kambuh. Tiffany meringis kesakitan, YoonA tidak ada bersamanya. Ia sedang membeli beberapa bahan yang masih kurang. Tiffany mencoba berdiri, namun rasa sakit yang menyerang bagian perutnya, membuatnya tidak sanggup bergerak. Tangan kanannya mencoba menggapai ponsel yang berada di atas meja di samping kirinya. Karena jarak ponselnya yang cukup jauh, mengakibatkan Tiffany menjatuhkan barang – barang yang juga berada di atas meja tersebut. Tiffany semakin meringis kesakitan. Ia sudah tidak kuat lagi. Nafasnya tercekat, ia tidak mampu berteriak untuk sekedar meminta tolong. Cairan bening lolos dari matanya. Rasanya sangat sakit.

“Aarrgghhh.. to-tolong a-aku…” ringis Tiffany. Namun suaranya yang sangat pelan, tidak mampu di dengar oleh siapapun. Disaat ia akan tersungkur ke dasar lantai, seorang pria dengan sigap menahannya.

“Tiffany-ssi gwenchana?” pria itu mengguncang – guncang tubuh Tiffany yang sudah tidak sadarkan diri. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera membopangnya menuju mobilnya yang terparkir di depan butik. Dengan penuh kekhawatiran, ia menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, tak peduli dengan suara – suara klakson yang memprotesnya karena telah mengganggu jalan mereka dan bahkan hampir membuat pengendara lain mengalami kecelakaan.

Sesampainya di rumah sakit, pria yang memiliki tubuh atletis itu setengah berlari dengan Tiffany yang berada dalam gendongannya. Ia berteriak – teriak memanggil dokter, menciptakan keributan disana.

“Ada apa tuan? Apa yang terjadinya dengan nona ini?” Tanya salah satu perawat yang menghampirinya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Aku menemukannya dalam keadaan pingsan. Tolong segera periksa ia suster. Aku tidak ingin terjadi apa – apa padanya.”

“Apa anda keluarganya?”

“Ne, aku keluarganya.”

“Baiklah, sebaiknya anda tunggu disini saja tuan, biarkan kami memeriksa keadaan nona ini.”

“Ne, arraseo.”

Siwon orang yang menemukan Tiffany dalam keadaan tidak sadarkan diri, mengusap wajahnya frustasi. Ia sungguh mencemaskannya. Rasa penasaran pun hinggap dalam hatinya.  Siwon duduk dengan resah memandangi pintu yang sejak 15 menit yang lalu membawa tubuh Tiffany masuk kedalamnya.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pintu itupun terbuka dan muncullah dokter yang tadi menangani Tiffany. Siwon segera menghampirinya dengan menampakkan wajah panik yang sedari tadi tidak hilang dari wajah tampannya.

“Dokter, bagaimana keadaannya? Apa ada sesuatu yang buruk yang menimpanya?” sang dokter hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan Siwon.

“Apa anda suaminya tuan?” terang saja Siwon tercengang dengan pertanyaan tersebut. Entah jawaban apa yang harus diberikannya.

“A..aku..aku…um..”

“Gwenchana, ia baik – baik saja tuan, mungkin ia melupakan jam makannya, sehingga penyakit lambungnya kembali kambuh.” Untuk kedua kalinya Siwon tercengang. Penyakit lambung? Sejak kapan? Dan kenapa ia begitu bodoh melupakan jam makannya? Batin Siwon.

“Bolehkah aku melihatnya dok?”

“tentu saja, silahkan!” tanpa menunggu waktu lama, Siwon bergegas masuk ke ruangan tempat Tiffany dirawat. Wanita itu tengah terbaring lemah dengan selang infus yang menempel pada lengan kirinya. Siwon berjalan perlahan dan kemudian duduk di kursi yang terdapat di samping ranjang rumah sakit. Secara reflek, tangan kanan Siwon secara perlahan menyusuri lekuk wajah Tiffany. Meskipun terlihat sangat pucat, namun tak dapat dipungkiri gadis yang masih memejamkan matanya tersebut masih terlihat cantik. “yeppuda,” gumamnya.

 

**Sifany**

YoonA tampak sangat kesulitan membawa 5 buah kantung belanjaan di tangan kanannya dan 4 buah kantung belanjaan di tangan kirinya. Ia menyeret langkahnya menuju parkiran mobil. Peluh – peluh membasahi wajah cantiknya. Tampak terlihat jelas sekali jika ia sangat kelelahan.

Dengan mengerucutkan bibir tipisnya, ia menggurutu sebal. Kenapa di saat – saat seperti ini tidak ada yang bisa menolongnya? Tidak berselang lama dari gerutuannya, seorang pria tampan berwajah pucat menghalangi jalannya.

“Hei, butuh bantuan?” YoonA otomatis mendongakkan kepalanya yang sedikit menunduk. Matanya membulat sempurna tatkala mendapati pria yang beberapa waktu lalu mengunjungi butiknya dan mengaku sebagai salah satu karyawan di perusahaan ayahnya yang juga telah mengenalnya.

“K-kau? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau menguntitku?” Tanya YoonA kesal.

“Hahaha.. apa tidak ada pekerjaan lain selain menguntit nona?” ucapnya menggoda yang semakin membuat YoonA kesal.

“Maaf tuan, sudah kubilang aku tidak mengenalmu. Jadi sebaiknya kau minggir dan jangan halangi jalanku.” Pria yang tak lain adalah Cho KyuHyun itu semakin melebarkan senyumnya melihat ekpresi kesal YoonA. Bukannya berlalu dari hadapan gadis itu, ia malah semakin mendekatinya.

“Yak!! Apa yang akan kau lakukan?”

“Menurutmu?”

 

**Sifany**

Jessica menatap lurus pada pria yang kini duduk di hadapannya. Tak sedikitpun senyuman yang terukir di wajah cantiknya. Ia justru menatapnya dengan tatapan dingin khasnya. Entah apa yang kini tengah dipikirkannya, yang ada dalam otaknya saat ini adalah cara menyelamatkan perusahaannya. Merasa tidak mendapat respon apapun dari gadis dingin ini, Lee Donghae mendehem keras.

“EHEM!! Apa kita akan terus berdiam diri seperti ini Jessica-ssi? Apa yang sedang kau pikirkan, eoh?” Donghae menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Ia bertanya dengan nada yang sangat tenang.

“Aku hanya sedang berfikir apakah keputusanku benar untuk menerima kerjasama ini.” Donghae mengernyit heran.

“Wae? Apa kau tidak yakin padaku?”

“ne, aku belum mengenalmu. Jadi wajar saja jika aku harus hati – hati terhadapmu. Aku takut jika kau akan berbuat curang.  Untuk itu aku ingin memperingatkanmu tuan! Jika kau melakukan kecurangan, maka aku tidak akan segan – segan mengulitimu.” Bukannya takut dengan ancaman Jessica, Donghae justru malah tertawa geli.

“Hahaha kau ini lucu sekali Jessica-ssi. Siapa yang merasuki pikiranmu itu, eoh? Aku sudah bertahun – tahun menggeluti dunia bisnis jadi pengalamanku lebih banyak darimu. Dan harus kau tahu nona, aku tidak suka berbuat curang. Percayalah!” Donghae sedikit mencodongkan tubuhnya pada Jessica, memberinya tatapan lembut untuk meyakinkan bahwa ucapannya benar. Gadis berambut blonde itu tersentak dengan aksi Donghae, namun ia tidak ingin goyah. Ia harus tetap waspada.

 

**Sifany**

Tiffany membuka matanya perlahan, samar – samar ia melihat ruangan yang serba putih dan benda – benda yang tak dikenalinya. Setelah kesadarannya terkumpul penuh, ia menoleh kearah kiri dan mendapati seorang pria tengah tertidur disamping kiri ranjangnya dengan kepala yang menunduk diatas tumpuan kedua tangannya. Tiffany mencoba mengingat – ingat kejadian sebelumnya, dan ia baru menyadari bahwa beberapa jam yang lalu perutnya terasa sakit sekali hingga membuatnya tak mampu bergerak dan selanjutnya semuanya berubah menjadi gelap. ‘Apa mungkin ia yang menolongku dan membawaku kemari?’ Tanyanya dalam hati.

Pergerakan Tiffany sukses membuat Siwon terbangun. Siwon mengangkat kepalanya seraya mengucek kedua matanya. Tanpa bisa dicegah, sebuah senyuman tulus terukir di bibir tipis Siwon tatkala melihat gadis yang sedari tadi dikaguminya, telah membuka matanya. Tiffany tertegun menatapnya. Ada ketulusan yang terpancar dari kedua mata elang Siwon. Selama beberapa detik mereka hanya bertatapan dalam diam, hingga Tiffany tersadar dan segera memalingkan wajahnya. Tak dapat dipungkiri, ada sedikit rona merah yang memenuhi pipi mulus Tiffany, ia menghela nafas gugup berharap Siwon tidak menyadarinya.

“Syukurlah kau sudah sadar Tiff. Kau membuatku khawatir setengah mati.” Tiffany sontak menolehkan kepalanya begitu mendengar perkataan Siwon. Bukan hanya terkejut dengan kalimat terakhir yang dilontarkannya, melainkan juga dengan panggilan Siwon terhadapnya.

“K-kau memanggilku apa?” Tanyanya terbata.

“Wae? Apa aku salah? Sudah seharusnya kita mengakrabkan diri Tiff,” Tanggap Siwon santai. Ia sama sekali tidak merasa memiliki kesalahan dengan apa yang telah diucapkannya. Tiffany hanya membisu, tak tahu kalimat apa yang harus dilontarkannya untuk mengelak ucapan Siwon. Alih – alih membalasnya, Tiffany malah mengajukan pertanyaan lain.

“Ba-bagaimana kau bisa membawaku kemari?”

“Aku hanya kebetulan lewat dan aku memutuskan untuk mampir ke butik kalian. Tetapi tak disangka aku menemukanmu dalam keadaan tidak sadarkan diri, jadi tanpa pikir panjang aku langsung membawamu ke rumah sakit.” Tiffany mengangguk mengerti, lalu detik berikutnya suasana kembali hening.

 

**Sifany**

KyuHyun telah berhasil mengambil semua kantung belanjaan dari tangan mugil YoonA. Dan tentu saja YoonA tidak terima. Ia terus berteriak – teriak dan berusaha merebut kembali dari tangan KyuHyun, namun tenaga yang ia miliki tidak sebanding untuk melawannya. Sampai akhirnya ia menyerah dan mengikuti pria yang selalu membuatnya kesal itu menuju tempat yang bukan menjadi tujuan utamanya.

“KyuHyun-ssi, pintu keluarnya di ujung sana. Kenapa kau membawaku kesini?”YoonA yang telah ketinggalan beberapa langkah di belakang KyuHyun, berlari kecil untuk menyeimbangi langkahnya.

“Aku yakin kau pasti sangat lapar YoonA-ssi, jadi sebaiknya kita mencari makan dulu.”

“Tidak bisa. Unnie pasti sudah menungguku.”

“Keluarkan ponselmu, tekan nomornya dan beritahu ia kalau kita akan pulang terlambat.” YoonA membuka mulutnya tak percaya. Kenapa pria ini mudah sekali memerintahkannya? Dengan enggan, YoonA mengambil ponselnya dari dalam tas birunya dan mulai menghubungi Tiffany. Dua panggilan tidak mendapat jawaban.

“Aishh kemana unnie? Kenapa ia tidak mengangkat teleponku?” YoonA mencoba sekali lagi dan hasilnya tetap sama. Dengan kesal ia melempar ponselnya kedalam tas seraya menghentakkan kakinya. Ketika ia hendak melangkah, suara dering ponselnya menghentikannya.YoonA antusias mengangkatnya, namun tatkala ia akan menekan tombol hijau, nama yang tertara bukanlah Tiffany.

“Yeo-yeoboseo?” sapanya ragu.

“Youngie, ini aku Tiff Unnie. Apa kau sudah sampai butik?” sekali lagi YoonA menatap layar ponselnya. Apa ia tidak salah dengar? tapi suara khas ini memang milik kakaknya. Perasaan tidak enak mulai menjalari tubuhnya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia menggunakan ponsel orang lain?

“Unnie kau dimana? Apa kau baik – baik saja?” nada suara YoonA mulai khawatir. Terdengar suara tawa ringan disebrang telepon.

“Kau tenang saja Yoong, aku tidak apa – apa. Hanya saja saat ini aku tidak sedang berada di butik.”

“Mwo?? Lalu kau dimana unnie? Apa yang terjadi denganmu? Dimana ponselmu?”

“Sudah ku katakan aku tidak apa – apa Yoong, sebaiknya kau langsung pulang dan jangan khawatirkan aku. Arraseo!”

“Unnie bagaimana aku tidak mengkhawatirkanmu? Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaanmu.” Tiffany terdengar menghela nafas berat.

“Oke. Dengar, sekarang aku sedang berada diluar. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Mengenai ponselku, aku meninggalkannya di butik. Kau puas?”

“Keunde unnie..”

“Sudahlah Yoong, aku tutup teleponnya ne, jangan katakan apapun pada Jessie unnie. Arraseo! Bye.”

“Unn….”

Tuuuuttttt……

YoonA mengerucutkan bibirnya setelah Tiffany memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak membuat KyuHyun tersenyum geli sekaligus penasaran.

“Wae?”

“Mollayo, kajja kita pergi saja!” gadis dengan tubuh kurus itu berjalan cepat mendahului KyuHyun menuju restoran. Sepertinya ia memang lapar.

 

**Sifany**

“apa kau yakin YoonA tidak akan curiga?”

“Hm, meskipun ia sangat cerewet tapi aku yakin ia tidak akan mengorek – orek masalahku. Kecuali Jessie unnie.”

Setelah mengakhiri teleponnya bersama YoonA, Tiffany dan Siwon terlibat perbincangan ringan. Siwon masih duduk di tempatnya, sementara Tiffany ia duduk dipinggiran ranjang rumah sakit menghadap kearah Siwon. Tiffany memang meninggalkan ponselnya di butik, maka dari itu tadi ia menggunakan ponsel milik Siwon. Jadi tidak salah jika tadi YoonA tidak mengenali nomor panggilan yang tertera di layar ponselnya.

“Diantara kalian bertiga sepertinya Jessica memiliki watak yang lebih keras. Apa tebakanku benar?” Tiffany menyuapkan satu sendok bubur kedalam mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Siwon.

“Ne, itu benar. Mungikn karena unnie ingin melindungi kami.” Ya, Siwon membenarkan perkataan Tiffany dengan menganggukkan kepalanya. Ia juga tahu itu.

“Apa kalian pernah saling menyakiti?” tampaknya Siwon ingin berlama – lama mengobrol dengan Tiffany, buktinya ia terus mengajukan pertanyaan padanya tanpa henti.

“Aniyo.”

“baguslah, aku senang mendengarnya. Aku harap itu tidak akan pernah terjadi.” Tiffany memicingkan matanya, merasa ada sesuatu yang ganjal dengan kalimat terakhir ayah tirinya.

“Apa maksudmu, Siwon-ssi? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?” selidiknya.

“Bukankah itu harapan yang baik? Kau juga pasti mengharapkannya kan?” Tiffany mengangguk pelan meskipun dalam hatinya ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan pria ini.

“Oh iya Siwon-ssi, sebaiknya kau segera pulang. Aku tidak ingin orang – orang dirumah curiga pada kita.” Tiffany mengangkat  kakinya keatas ranjang, ia ingin kembali berbaring.

“Lalu bagaimana denganmu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini.”

“Aku sudah baikan Siwon-ssi, lagipula disini banyak perawat yang akan membantuku.” Siwon menghela nafas pasrah, apa yang dikatakan Tiffany memang ada benarnya. Jika ia tidak pulang sekarang mereka akan curiga, terlebih Jessica, ia pasti akan menebak jika Siwon dan Tiffany kembali bersama.

“Baiklah aku akan pulang. Istirahatlah  Tiff, jaga dirimu baik – baik.” Entah apa yang merasuki Siwon, ia mengusap kepala Tiffany dengan sayang sebelum melangkah keluar dan itu sukses membuat Tiffany terpaku sekaligus merasa aneh karena tidak mengelak saat Siwon melakukannya.

 

**Sifany**

Sebuah mobil audi putih memasuki perkarangan rumah keluarga Hwang dengan seorang gadis yang berada dibelakang kemudi. Setelah mematikan mesinnya, gadis itu lalu melepaskan seatbelt yang melekat pada tubuhnya dan membuka pintu kemudian keluar dengan memasang wajah yang penuh beban. Ia ingin segera sampai dikamarnya dan membenamkan tubuhnya di dalam bathtub kesayangannya. Setidaknya hal itu bisa membuat beban pikirannya berkurang.

Ia berjalan cepat tidak ingin ada orang yang bertemu dengannya karena itu akan menghambat langkahnya untuk segera sampai di kamarnya. Namun sepertinya nasib baik tidak berpihak padanya. Baru saja ia membuka pintu utama rumahnya, ia harus dipertemukan dengan orang yang paling ingin ia hindari saat ini. nyonya Hwang.

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini Jessica? apa semuanya berjalan baik?” nyonya Hwang berusaha bersikap lembut padanya, tidak ingin terjadi keributan lagi diantara mereka. Jessica justru merasa geli melihat sikap ibunya yang tidak biasa. Ia melipat tangan di depan dadanya dan menatap ibunya dengan penuh selidik.

“Apa eomma sedang sakit hari ini? atau ada sesuatu yang mengganggu eomma, hm?” Tanya Jessica dengan nada yang menyindir.

“Jessie, eomma bertanya baik – baik padamu. Kenapa kau tidak menghargainya, eoh?” inilah alasan Jessica tidak ingin bertemu dengan ibunya detik ini. perdebatan. Ia tahu ia yang memulainya, tapi hal itu memang tidak mampu ia cegah.

“Sudahlah eomma, aku lelah. Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Tanpa mempedulikan tatapan tidak suka ibunya, Jessica melangkah melewati  nyonya Hwang. Ia bergegas naik ke atas.

Siwon yang kebetulan baru tiba, melihat semua adegan yang kini sudah biasa ia saksikan di rumah ini. ia tersenyum tipis begitu mata nyonya Hwang menangkap sosoknya yang tengah berdiri di samping mobilnya. Siwon lalu menghampirinya dan menyapanya hangat.

“Selamat malam Soo Na-ya! Sepertinya kau bertengkar lagi dengan putrimu.”

“Ne, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi putriku yang satu itu.” Ucapnya sedikit manja.

“Kau tidak perlu khawatir Soo Na-ya, aku yakin ia pasti akan berubah. Ermm.. ayo kita masuk! Diluar sangat dingin.” Siwon merangkul bahu nyonya Hwang menuntunnya untuk masuk.

 

**Sifany**

Mendengar suara pintu kamar disebelahnya terbuka, YoonA yang tengah asyik membaca novel di atas ranjangnya, langsung melompat dan berhambur keluar untuk menemui kakak sulungnya. Sudah seharian ini ia tidak bertemu dengannya bahkan berbicara melalui telepon pun tidak dilakukan.

“Unnie, kau sudah pulang?” tanyanya begitu ia berada di ambang pintu kamar Jessica.

“Hm,” jawab Jessica seadanya.

“Bolehkah aku masuk sebentar? Aku ingin bicara denganmu.”

“Youngie, aku sangat lelah. Aku ingin segera istirahat. Jadi lain kali saja ne,” ada raut kekecewaan yang terpatri di wajah cantik YoonA. Ingin sekali rasanya YoonA menceritakan perihal pertemuannya dengan KyuHyun pada Jessica. tetapi sepertinya ia harus mengubur keinginannya untuk sementara. Seandainya Tiffany ada disini, ia pasti akan dengan senang hati mendengarkan ceritanya. YoonA menghembuskan nafas berat dan melangkah keluar dari kamar kakak yang sangat disayangi dan diseganinya itu.

Setelah kepergian YoonA, sesuai tujuan utamanya Jessica langsung masuk ke dalam kamar mandi yang berukuran 7×6 m yang berada di dalam kamar tidurnya. Ia melepas semua pakaiannya yang terasa lengket pada tubuhnya. Lalu ia masuk kedalam bathtub yang sudah terisi air hangat dan sabun juga dengan sentuhan aroma teraphy. Rasa lelah dan penat hilang seketika begitu ia menenggelamkan kepalanya di bawah air selama beberapa detik. Seiring ia menyemburkan kepalanya ke permukaan, rekaman percakapan itu kembali terputar dibenaknya.

“Mereka sangat berbahaya. Kau harus waspada Jessica-ssi. Ini semua kulakukan demi kalian. Aku tidak ingin kalian dihancurkan oleh orang – orang yang ingin merebut perusahaan Appa-mu. Mereka ingin memanfaatkanmu, untuk itulah mereka mendekatimu. Percayalah padaku. Kumohon!”

“Aku bahkan belum lama mengenalmu. Bagaimana bisa aku mempercayaimu!”

“Aku tahu, tapi tolong ikuti semua perkataanku.”

“Mengikuti perkataanmu? Cih, aku bahkan tidak yakin siapa musuhku sebenarnya. Bisa saja itu adalah kau!”

“Baiklah, terserah padamu Jessica-ssi. Aku hanya ingin memperingatimu. Jika kau tidak bisa percaya padaku, ikutilah apa kata hatimu. Ia yang akan menuntunmu pada jalan benar.”

 

“ne, aku belum mengenalmu. Jadi wajar saja jika aku harus waspada terhadapmu. Aku takut jika kau akan berbuat curang.  Untuk itu aku ingin memperingatkanmu tuan! Jika kau melakukan kecurangan, maka aku tidak akan segan – segan mengulitimu.”

“Hahaha kau ini lucu sekali Jessica-ssi. Siapa yang merasuki pikiranmu itu, eoh? Aku sudah bertahun – tahun menggeluti dunia bisnis jadi pengalamanku lebih banyak darimu. Dan harus kau tahu nona, aku tidak suka berbuat curang. Percayalah!”

 

‘Appa, aku tahu kita tidak pernah dekat. Tapi untuk kali ini tolong beri aku jawaban atas semua pertanyaan ini. muncullah dalam mimpiku dan katakan apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkan keluarga kita.’ Jessica bergumam lirih dan airmata kembali lolos melewati pipinya.

 

**Sifany**

Pagi ini Tiffany sudah diperbolehkan untuk pulang. Ia hanya harus beristirahat dan menjaga pola makannya. Ketika Tiffany tengah membereskan barang – barangnya, Siwon tiba – tiba muncul di depannya. Sudah bisa diprediksi jika ia akan datang, tapi tidak disangka jika Siwon akan datang lebih awal bahkan bisa dikatakan ini terlalu pagi untuknya.

“Kau akan pulang?”

“Ne,”

“Butuh tumpangan?”

“Aniyo, aku akan naik taksi.”

“Andwe! Bagaimana jika terjadi sesuatu di jalan?” Tiffany sontak menghentikan aktifitasnya tatkala mendengar ucapan Siwon. Kenapa pria ini jadi protektif terhadapnya? Batin Tiffany.

“Ada apa denganmu Siwon-ssi? Kau tidak memiliki kewajiban untuk mengkhawatirkanku.”

“Kenapa tidak? Kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Jadi aku juga harus melindungimu.” Tiffany membuka mulutnya tak percaya. Pria ini sudah gila, bagaimana bisa ia terang – terangan mengatakan bahwa ia sudah menjadi bagian dari keluarganya. Ya, meskipun faktanya memang seperti itu. Tapi Tiffany tidak ingin mengakuinya.

“Siwon-ssi, bisakah kau tidak mengatakan hal itu lagi di depanku?”

“Wae? Itu kenyataannnya Tiff, sudah waktunya kau menerimanya.”

“Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa.”

“Bisakah kau memberi tahuku alasannya?”

“Jika kau berada diposisiku, apakah kau akan menerima jika eomma mu menikah dengan pria yang lebih muda darinya? Bahkan kalian menikah hanya dalam waktu 3 hari setelah kepergian appa.”

“Kami menikah karena wasiat dari Appa mu. Itu sama sekali bukan keinginanku.”

“Aku tidak percaya dengan wasiat itu dan kau tidak tahu seperti apa eomma ku!” tanpa sadar Tiffany berteriak pada Siwon, dan Siwon mengernyit hebat dengan kalimat terakhir Tiffany.

“Apa maksudmu Tiff? Apa yang tidak aku ketahui dari istriku?” Siwon berjalan mendekati Tiffany, Tiffany tersentak dengan ucapannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya gugup.  Karena tak melihat ada benda yang berada di depannya, Siwon terhuyung ke depan dan otomatis menabrak tubuh Tiffany hingga mereka jatuh ke atas ranjang dengan posisi Siwon berada di atasnya.

Selama beberapa menit mereka diam tak bergerak. Siwon menatap lurus kedalam manik mata Tiffany yang menurutnya sangat indah. Begitupun dengan Tiffany, ia tak mampu mendorong tubuh Siwon dari atas tubuhnya. Secara perlahan, Siwon menurunkan kepalanya, dan Tiffany tercekat dengan tindakan Siwon. Bibir mereka akhirnya bertemu, Siwon sendiri tidak tahu kenapa ia begitu saja melakukannya. Ia hanya ingin mengikuti kata hatinya. Pada awalnya Tiffany terkejut, pikiran dan hatinya berperang hebat. Ia bisa saja menolak ciuman Siwon, namun entah mengapa ia malah membiarkannya.

 

**Sifany**

“Aish.. sebenarnya kemana perginya unnie? Ia belum juga menampakkan batang hidungnya. Aigoo kenapa ia ceroboh sekali, ia bahkan meninggalkan ponselnya. Bagaimana ini? aku tidak bisa menyelesaikan desain ini seorang diri.” Sejak tiba di butiknya, YoonA tidak menemukan sosok kakak keduanya. Ia kebingunan dengan pekerjaan yang masih menumpuk disana sini. Ini sudah lewat 2 jam dari waktu biasanya mereka tiba di butik. YoonA hanya memandangi sebuah kain yang masih berupa potongan yang akan dijadikannya gaun malam untuk acara fashion show nanti. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat dengan kain ini, karena biasanya Tiffany lah yang selalu membuat pola nya. YoonA hanya membantu memberikan ide atau memberikan beberapa aksesoris pada desain yang sudah jadi. Berulang kali YoonA membuang nafas kasar, waktunya tinggal 2 hari lagi sementara pekerjaannya masih banyak yang belum selesai. Ia sungguh frustasi. Untuk menghilangkan rasa penatnya, YoonA memutuskan untuk mencari makanan keluar. Ia ingin membeli beberapa cemilan untuk menemaninya bekerja. Langkahnya terhenti tatkala ia melihat sebuah mobil audi hitam berhenti tepat di depan butiknya. Seorang pria dengan setelan kantor keluar dari mobilnya. Ia memutari mobilnya kearah kanan untuk membukakan pintu penumpang yang berada di samping kemudinya. YoonA sangat mengenal siapa pria itu, dan betapa terkejutnya ia tatkala melihat penumpang yang keluar dari mobil tersebut. YoonA membuka mulutnya dan segera menutupnya kembali dengan kedua tangannya. Matanya membulat sempurna, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tiffany Hwang kakaknya keluar dari mobil Choi Siwon ayah tirinya di pagi hari pula? Apa yang terjadi dengan mereka? YoonA mengingat kembali kejadian kemarin ketika Tiffany menghubunginya dengan nomor yang tidak dikenalnya. Apakah mungkin kemarin juga mereka pergi bersama? YoonA juga baru menyadari jika Siwon berangkat lebih awal tanpa sarapan bersamanya dan juga ibunya. Yang ia ketahui Siwon tengah terburu – buru untuk menghadari rapat. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Siwon mengantarkan kakaknya yang entah ia jemput dimana.

Tidak berbeda dengan YoonA, Tiffany juga terkejut mendapati adiknya tengah memandangi dirinya bersama Siwon. Tiffany mengira saat ini YoonA pasti sedang focus dengan pekerjaanya jadi ia tidak akan menyadari kedatangannya bersama pria yang telah mencuri ciuman pertamanya. Sementara Siwon, ia hanya bersikap santai. Yang ia hadapi saat ini adalah YoonA bukan Jessica. jadi ia bisa menghadapinya dengan mudah.

Tiffany melangkah gugup menghampiri adik kesayangannya. Ia bingung jawaban apa yang harus ia berikan padanya. Sembari menggigit bibir bawahnya, Tiffany menggenggam erat rok yang ia pakai. Ia juga tidak berhenti menarik nafas dan membuangnya dengan susah payah. Jarak yang hanya beberapa meter terasa jauh dirasakan Tiffany. Ia begitu bodoh mengiyakan tawaran Siwon untuk mengantarnya. Beruntung Jessica tidak berada disini, jika itu terjadi, sudah dipastikan ia akan mengeluarkan taringnya dan juga cakarnya untuk mengintimidasi Siwon.

Tiffany kini sudah berada dihadapan YoonA yang tengah menunggu penjelasan darinya. YoonA melirik sekilas kearah Siwon yang masih berdiri disamping mobilnya. Sepertinya pria berlesung pipi ini belum enggan untuk membuka suaranya sebelum Tiffany memberi penjelasan terlebih dulu.

“Y-Youngie… ki-kita bicara di dalam saja ne,” YoonA mengangguk setuju dan ia sudah melupakan rasa lapar yang tadi melandanya.

“Apa kau akan berdiri disana terus Siwon-ssi?” Tanya YoonA sebelum ikut masuk bersama Tiffany.

“Ah, mian.” Siwon mengikuti mereka masuk kedalam butik. Walau bagaimanapun ia juga harus ikut menjelaskan apa yang telah terjadi dengannya bersama Tiffany.

 

**Sifany**

Seperti biasa Jessica sering kali pergi lebih awal sehingga ia jarang menghabiskan waktu bersama keluarganya dalam satu meja. Ia lebih memilih sarapan diluar atau menyuruh Office Boy nya untuk membawa makanan ke ruangannya. Saat Jessica tengah menikmati makanannya, Taeyeon masuk dengan membawa sepucuk surat untuk atasannya. Surat itu dimasukkan kedalam sebuah amplop kecil putih yang bertuliskan, to : Jessica Hwang. Di sudut kiri atasnya terdapat tulisan ‘sangat penting.

Jessica mengernyitkan alisnya dan menatap Taeyeon untuk meminta jawaban. Taeyeon yang mengerti dengan tatapan Jessica hanya mengidikkan bahunya. Ia sendiri tidak tahu siapa pengirim surat tersebut. Ia mendapatkannya dari security yang berjaga di bawah gedung.

Dengan ragu Jessica membuka amplopnya dan mengeluarkan selembar kertas yang berisi tulisan tangan yang tidak terlalu panjang. Perlahan Jessica membacanya,

 

Anakku Hwang Jessica, mungkin kau akan terkejut ketika membaca surat dariku.

Sudah waktunya kau mengetahui semuanya.

Aku ingin sekali bertemu denganmu untuk menceritakan semuanya.

Datanglah ke Dangju besok,

Aku akan menunggumu disana

Carilah alamat yang aku lampirkan di bawah surat ini       

 

Jessica hanya melongo bingung, tak tahu siapa pengirim surat ini. terlebih setelah ia membaca kalimat kedua dan ketiga. Cerita apa yang tidak diketahuinya? Rahasia apa lagi yang masih tersimpan untuknya?

Jessica mengusap – usap wajahnya kasar. Frustasi dengan semua masalah yang harus ia pikul. Masalah satu belum selesai, muncul lagi masalah baru. Ia juga bingung apakah ia harus percaya pada si pengirim surat ini?. Apa mungkin ia hanya ingin menjebaknya? Oh God, siapa dia sebenarnya? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jeritnya dalam hati.

“Sajangnim, apa anda baik – baik saja?” oh iya, Jessica lupa jika Taeyeon masih berdiri di depan mejanya.

“Eoh? Ah…Ne, aku baik – baik saja. Terima kasih Taeyeon-ssi, kau boleh kembali ke tempatmu.”

“Ne, baiklah.” Taeyeon pergi meninggalkan ruangan Jessica. kini ia kembali sendiri, memikirkan semua persoalan yang begitu pelik. Persoalan yang penuh teka- teki. Entah kapan ia akan menemukan kepingan – kepingan jawabannya. Jessica bangkit dari kursinya menuju jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota. Jari – jari lentiknya meraba – raba jendela, matanya yang sendu tertuju pada langit biru seolah ia ingin terbang bebas ke angkasa. Bisakah ia melakukannya? Gadis yang dikenal dingin dan penuh kharisma ini, tidak mampu lagi mempertahankan ketegarannya. Ia sudah rapuh. Ia tidak sanggup lagi bertahan lebih lama.

“Tolong keluarkan aku dari sangkar ini! kumohon!” lirihnya pilu dengan deraian air mata.

 

**Sifany**

“Kenapa unnie tidak mengatakannya padaku? Apa unnie sudah tidak menganggapku sebagai adik lagi, eoh?”

“Youngie-ah aku tahu bagaimana reaksimu dan juga Jessie unnie jika kalian tahu kalau aku masuk rumah sakit lagi. Makanya aku tidak ingin memberitahu kalian.” Tiffany menundukkan kepalanya merasa bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada YoonA.

“Aishh unnie, untung saja Siwon-ssi menemukanmu. Bagaimana jika ia tidak ada? Apa yang akan terjadi padamu? Huft, aku harap setelah kejadian ini unnie lebih berhati – hati menjaga kesehatan unnie. Aku tidak ingin hal ini terulang kembali.” Beginilah YoonA, ia akan sangat cerewet jika sudah menyangkut kesehatan kakaknya. Tiffany tersenyum haru mendengarnya, tanpa aba – aba ia langsung memeluk tubuh kurus YoonA.

“I Love you my saengie,”

“Aigoo… kenapa unnie jadi manja begini, eoh?”

Siwon hanya memandang takjub pada keduanya. Betapa mereka saling menyayangi. Pantaskah kasih sayang mereka ternodai? Haruskah mereka mendapatkan luka goresan yang akan sangat pedih untuk mereka tanggung? Memikirkannya saja rasanya begitu sakit. Tapi apa yang mampu dilakukannya? Ia sendiri tidak tahu kemana angin akan membawanya terbang? Ke tempat yang indah-kah? Atau justru akan terseret kedalam jurang yang sangat dalam? Entahlah.

“Siwon-ssi, gomawo kau sudah menyelamatkan unnie-ku.” Ucapan terima kasih YoonA membawa kembali Siwon ke alam sadarnya.

“Tidak perlu sungkan YoonA-ya, itu sudah menjadi kewajibanku.” Pandangan Siwon beralih pada Tiffany. YoonA yang menyadari tatapan tidak biasa mereka, merasa yakin jika diantara mereka telah terjadi sesuatu. Namun ia lebih memilih diam menunggu kesiapan mereka untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

“Baiklah, karena kakakmu sudah baik – baik saja aku akan kembali ke kantor. Tolong kau perhatikan dia Yoong. Dokter menyarankan kakakmu untuk lebih banyak istirahat dan tidak melupakan jam makannya. Aku yakin kau lebih memahaminya daripada aku.” Siwon beranjak dari sofa putih seraya mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja kayu persegi empat yang tersedia di butik mereka untuk menjamu tamu. Penuturan Siwon semakin meyakinkan hatinya. Ada apa dengan Tiffany unnie dan Siwon-ssi? Kenapa Siwon-ssi sangat memperhatikan unnie? Batinnya. YoonA hanya tersenyum canggung menanggapi ucapan Siwon. Ia pun mengantar pria yang telah menikahi ibunya itu sampai depan pintu. Siwon berlari kecil menuju mobilnya. Setelah memasang seatbeltnya, Siwon kembali menoleh kearah YoonA yang masih setia menunggunya. Entah kenapa ia berharap Tiffany-lah yang berdiri disana. Siwon melambaikan tangannya sebelum benar – benar menginjak pedal gas dengan kecapatan sedang.

 

“Apa yang telah kita lakukan Siwon-ssi? Ini tidak benar.”

“Aku tahu ini salah Tiff, tapi harus kuakui jika akhir – akhir ini aku selalu memikirkanmu.”

“Mwo? Kau tidak boleh melakukannya Choi Siwon! Buang jauh – jauh pikiranmu tentangku!”

“Aku sudah berusaha Tiff, tapi aku tetap gagal. Aku tidak bisa mencegah perasaan ini muncul dalam hatiku.”

“Kau gila Choi Siwon! Kau ayah tiriku! Kau tidak boleh mengkhianati eomma!”

“Tapi aku tidak mencintainya!”

“Lalu kenapa kau mau menerima pernikahan ini, eoh?”

“Ini semua karena surat wasiat sialan itu! Aku terpaksa harus terkurung bersama wanita yang tidak aku cintai!”

“Jangan pernah menyalahkan Appa! Ini semua bukan kesalahannya! Aku yakin eomma-lah yang berada dibalik semua ini.”

“Mwo? Apa maksudmu Tiff?”

“Mollayo, ini masih menjadi teka – teki untukku.”

 

“Unnie, ada apa? Kau baik – baik saja kan?” suara YoonA menghenyakkan ingatan Tiffany pada kejadian beberapa jam yang lalu. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan adiknya yang sudah berdiri di depan mejanya.

“Ah, Yoong. Apa Siwon-ssi sudah pergi?” Tanya Tiffany mengalihkan pembicaraan.

“Ne, dia baru saja pergi. Apa Unnie yakin tidak ada yang ingin unnie bicarakan lagi denganku?” tampaknya YoonA masih penasaran dengan gelagat aneh Tiffany yang tidak seperti biasanya.

“Youngie-ah, apa menurutmu aku menyembunyikan sesuatu darimu, hm?” YoonA menggeleng ragu.

“Baguslah kalau kau berfikir begitu. Ayo kita selesaikan pekerjaan ini. waktu kita tidak banyak.” Tiffany mengambil gunting, pensil serta penggaris dari laci mejanya dan mulai membuat pola untuk gaun malamya.

‘aku tahu kau berbohong unnie,’ gumam YoonA dalam hati.

 

**Sifany**

Jessica berjalan anggun disebuah gedung yang sudah sangat lama tidak pernah dikunjunginya. Semuanya masih sama tidak ada yang berubah. Perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, mall, tempat wisata, penginapan bahkan restoran ini memang milik ayahnya. Namun ia sangat jarang menginjakan kakinya di gedung yang berlantai sepuluh ini. hubungannya dengan ayahnya memang tidak terlalu dekat, tuan Hwang selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan sehingga ia tidak memperhatikan perkembangan ketiga putrinya. Tanggal ulang tahun mereka saja ia tidak ingat. Menyedihkan sekali. Tidak pernah ada perayaan ulang tahun ataupun perayaan lainnya dalam kehidupan keluarga mereka. Ironis bukan?

Disaat anak – anak yang lain menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya, mereka harus menguburkan keinginan mereka dengan berdiam diri di rumah atau mencari udara segar di luar untuk sekedar menghilangkan rasa rindu mereka terhadap sentuhan seorang ibu dan ayah. Harta yang melimpah tidaklah cukup bagi mereka. Karena bukan itulah yang mereka harapkan.

Sesampainya di depan meja sang sekretaris, Jessica membuka kacamata hitam yang bertengger manis di atas hidung mancungnya. Ia membungkuk hormat sebelum menyapanya.

“Annyeonghaseo, apakah tuan Choi ada di ruangannya?” tanyanya sesopan mungkin.

“Ne, beliau ada diruangannya nona. Maaf jika saya lancang, bolehkah saya tahu nama anda nona?” wajar bukan jika seorang sekretaris bertanya seperti itu pada tamu yang tidak dikenalnya? Ia tidak ingin melakukan kesalahan dalam mengambil tindakan.

“Tentu saja, aku Jessica Hwang. Katakan padanya kalau aku ingin bertemu dengannya.” Bagaikan ditampar puluhan kali, sang sekretaris langsung tersentak dan menunduk malu. Bagaimana bisa ia tidak mengenali putri tuan Hwang.

“Ba-baiklah nona. Mianhae aku sempat tidak mengenali anda.” Ucapnya dengan penuh penyesalan.

“Gwenchana. Itu bukan masalah bagiku.” Ya, tentu saja karena ia sendiri tidak pernah merasa sebagai putri dari mendiang CEO Hwang In Ha yang sangat terkenal ini.

Tak ingin tamunya menunggu lama, Go Hye Sun sang sekretaris bergegas menuju ruangan Choi Siwon atasannya.

Tok tok tok

“Masuk!” seru suara di dalam sana.

Siwon yang tengah menandatangani beberapa dokumen mendongakkan kepalanya tatkala Go Hye Sun menghampirinya.

“Sajangnim, nona Jessica Hwang ingin bertemu dengan anda. Ia sudah menunggu di luar.” Bagai disambar petir di tengah lapangan tanpa pelindung apapun, Siwon sontak berdiri tegak. Seorang Jessica Hwang ingin bertemu dengannya dan ia sendiri yang menemuinya? Apa ia sedang bermimpi? Angin apa yang membawanya kemari?

“Sajangnim,”

“eoh, ye persilahkan ia masuk Hye sun-ssi.”

“Baik sajangnim,” Go Hye Sun membuka pintu ruangan Siwon lebih lebar untuk memberi jalan pada Jessica.

“Gomawo,” ujar Jessica tulus sebelum Hye Sun menutup pintunya.

Kini di ruangan yang di penuhi hiasan – hiasan antik itu hanya tinggal Jessica dan Choi Siwon. Mereka saling melempar tatapan ingin tahu. Jessica berjalan mendekat kearah meja yang terdapat beberapa foto keluarganya juga benda – benda milik ayahnya.

“Ternyata kau tidak berniat mengubah tempat ini Choi Siwon? Wow daebak!” nada suaranya masih tetap sinis seperti biasa.

“Aku tidak ingin mengubah apapun yang bukan milikku.” Tegas Siwon masih berdiri di tempatnya tanpa ingin menghampiri Jessica.

“Uh… aku terkesan.” Ucapnya di buat – buat.

“Cepat katakan kepentinganmu Jessica! kau tidak mungkin menemuiku hanya untuk sekedar mengecek apa tempat kerja appa mu telah berubah atau belum kan?” Jessica mendelik, ia melangkah mendekati Siwon dengan sorot mata yang penuh dengan keingintahuan.

“Jelaskan apa tujuanmu masuk kedalam keluargaku! Siapa orang yang berada dibelakangmu Choi Siwon?”

 

**Sifany**

“Kau sudah menemukan apa yang kita butuhkan?”

“….”

“bagus! Terus awasi mereka! Aku ingin semuanya segera berakhir.”

“….”

“Berhati – hatilah Myungsoo-ah! Aku sangat mengandalkanmu.”

 

 

“KyuHyun-ssi tunggu sebentar! Anda tidak bisa masuk sekarang.” Hye Sun mencegah KyuHyun yang hendak masuk ke dalam ruangan Siwon.

“Wae Hye Sun-ssi?”

“Tuan Choi sedang ada tamu. Kelihatannya sangat penting.” Mulut KyuHyun membentuk huruf ‘O’ meskipun dalam kepalanya ia bertanya – tanya siapa tamu yang menemui Choi Siwon. Namun ia tidak ingin terlihat seperti orang yang selalu ingin tahu dengan urusan orang lain jika ia bertanya pada Hye Sun siapa tamu tersebut.

“Baiklah, Hye Sun-ssi. Kalau begitu aku akan kembali lagi nanti.” KyuHyun pergi meninggalkannya dengan pertanyaan yang masih tertera di keningnya.

Siapa orang yang menemui Siwon Hyung? Ah, sial aku tidak sempat melihatnya.’ Umpat KyuHyun dalam hati. ‘tunggu! Aku bisa menunggunya sampai ia keluar. Iya itu pemikiran yang bagus.’ Lanjutnya.

 

**Sifany**

“Appa aku mohon percayakan semuanya padaku. Aku bisa mengatasinya sendiri. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku adalah pria hebat.”

Seorang pria tampan tengah berdebat hebat dengan sang ayah. Ia tidak terima dengan keputusan ayahnya.

“Apa kau jatuh cinta padanya, hah?”

“Nde?? Ah.. a-aku..”

“Jangan pernah libatkan perasaanmu dalam dunia bisnis! Ingat itu!” sang ayah sangat murka mengetahui putranya yang kini sedang jatuh cinta.

“Ta-tapi appa…”

“Tidak ada bantahan! Ikuti semua peraturan appa!

“Mwo?? Appa aku sudah bosan dengan semua peraturanmu. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri tanpa campur tanganmu!”

“Oh begitu ya? Jika kau berani melangkah, maka kau akan menanggung semua akibatnya Lee Donghae! Lee Hyuk Jae tidak pernah main – main. Cangkam itu!”

Inilah kelemahan Lee Donghae, jika ayahnya sudah mengancam ia tidak akan sanggup bergerak meskipun hatinya memberontak dan kebahagiannya harus menjadi korban.

 

**Sifany**

YoonA tidak berhenti memperhatikan sikap Tiffany yang terlihat gelisah. Sejak kepergian Siwon, ia tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Sering kali Tiffany menghela nafas dan membuangnya kasar. Bicara pun hanya seadanya. Kerutan – kerutan di dahinya sangat terpampang jelas. Haruskah Jessica mengetahuinya? Tidak, akhir – akhir ini ia selalu disibukkan dengan urusan kantornya. Bahkan ia sudah jarang berkumpul dan berbagi cerita dengan kedua adiknya seperti hari – hari sebelumnya.

“Unnie, ini sudah malam. Ayo kita pulang!” seru YoonA memecah keheningan.

“Eoh? Benarkah? Aigoo.. aku sama sekali tidak menyadarinya.” Tiffany menepuk dahinya pelan. Ia segera membereskan barang – barangnya yang masih berserakan di mana – mana.

“tentu saja unnie tidak menyadarinya. Sejak tadi unnie terus melamun.” Gadis bereyesmile itu menghentikan kegiatannya seketika setelah mendengar kalimat adik bungsunya. Benarkah aku selalu melamun? Oh tdak, apa yan terjadi denganku? Pikirnya.

“Sudahlah unnie, kajja! Kita harus segera pulang. Aku akan membantu membereskan barangmu.” Tanpa menunggu jawaban Tiffany, YoonA segera mengambil alih apa yang tadi  Tiffany kerjakan yang sempat tertunda akibat pernyataan yang keluar dari mulutnya. Tiffany menahan tangan YoonA sebelum mereka beranjak dari butik.

“Yoong, mianhae.”

“Untuk?”

“Untuk sikapku mungkin.” YoonA mencoba tersenyum ceria guna menenangkan hati kakaknya.

“Gwenchana, aku tahu Unnie pasti sangat lelah. Jangan khawatirkan aku ne,” Gadis ceria bertubuh kurus itu melingkarkan lengannya pada lengan kanan Tiffany. Mereka berjalan dengan harapan semua peristiwa buruk yang singgah dalam kehidupan mereka akan segera berlalu.

 

**Sifany**

Malam ini Jessica memilih untuk pulang lebih awal dari biasanya, ia berdiri di balkon kamarnya seorang diri memandang langit yang gelap tanpa bintang – bintang yang meneranginya, seolah mereka ikut merasakan kepedihan gadis berusia 29 tahun ini. pikirannya melayang tiada arah. Ingin rasanya ia ikut bersama angin malam yang akan membawanya pergi jauh dari kehidupannya yang kelam. Tanpa terasa setitik air lolos dari matanya. Kini ia membiarkannya jatuh bersama dengan semua bebannya.

Disisi lain, Tiffany juga tengah berusaha melepaskan pikirannya yang telah mengganggu serta  menyita waktunya. Ia duduk bersandar pada pagar tembok balkonnya. Berbeda dengan Jessica, aliran sungai kecil mengalir deras melalui pipi mulusnya. Tiffany tidak sekokoh kakaknya. Ia lebih rapuh. Hatinya terlalu lemah untuk menerima luka yang lebih banyak lagi. Surat wasiat ayahnya, kelakuan kotor ibunya, ungkapan perasaan Siwon, dan terakhir ia telah berciuman dengan ayah tirinya sendiri. Ia merasa sama buruknya dengan ibunya. Ia telah mengkhianati pernikahan suci mereka. Tiffany memukul – mukul dadanya. Nafasnya begitu sesak. Meskipun hanya sebuah ciuman, namun ia merasa dirinya telah kotor. Kenapa ia harus memilki perasaan yang sama dengannya? Kenapa harus Choi Siwon? Kenapa pernikahan mereka harus terjadi? Kenapa surat wasiat itu harus ada? ARRRGGGGHHHHH!!!!!! Tiffany menjerit dalam hati. Rasanya begitu sakit. Tidak, ini terlalu menyakitkan. Ini lebih dari kata sakit. Jari – jari tangannya terangkat mengambil sejumput rambut lalu menariknya frustasi. Ia menekukkan kakinya dan meletakkan kepalanya diatas kedua lututnya. Tiffany menangis tersedu – sedu ditemani malam yang redup.

 

**Sifany**

Hari yang dinantikan Tiffany dan YoonA akhirnya tiba. Fashion show dilaksanakan di salah satu ballroom hotel milik tuan Hwang. Pada awalnya mereka menolak, namun hanya inilah satu – satunya hotel terbaik yang pantas untuk pertunjukkan perdana mereka.

Beberapa model dan pengisi acara sudah siap di belakang panggung. YoonA tampak gugup, berulang kali ia menghembuskan nafasnya seraya menautkan jari – jari tangannya. Tiffany yang menyaksikan adiknya mondar – mandir tak karuan merasa terganggu. Ia lantas berdiri dan menghentikan aksi YoonA. Tiffany menarik tangannya untuk menuntunnya duduk bersamanya. Sangat terlihat jelas di wajah cantiknya, jika gadis berusia 24 tahun itu tengah gelisah. Bukan hanya karena acara Fashion Shownya, tetapi juga karena sang kakak sulung belum hadir hingga detik ini.

Tiffany menggenggam tanganya, mencoba memberinya ketenangan. Ia berusaha menunjukkan sikap tenang di depan adiknya. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia juga sangat cemas bahkan sangat kacau berantakan.

“Unnie, apa kau yakin Jessie unnie akan hadir?” Tanya YoonA cemas.

“Aku sudah meneleponnya, ia akan mengusahakannya Yoong.” Jawab Tiffany setenang mungkin. “Ayo kita keluar! Acara akan segera dimulai.” Lanjutnya dengan tidak melepaskan genggaman mereka.

Tatkala kedua gadis cantik itu akan menempati tempat duduk mereka di depan panggung, mata Tiffany tidak sengaja menangkap sosok pria yang telah menghancurleburkan pertahanannya. Tiffany mengalihkan pandangannya ketika pria bertubuh atletis itu membalas tatapannya. Tiffany tidak ingin menangis lagi disini, sudah cukup ia mengeluarkan semua rasa pahit yang terlanjur ditelannya. Sejak kemarin, Tiffany selalu menghindarinya. Ia takut jika pria itu akan kembali membuatnya luluh tak berdaya. Ia takut jika lubang di hatinya akan kembali menganga, Tiffany belum siap menerima luka baru. Ia tidak sanggup mengobatinya. Ia tidak ingin jatuh terlalu dalam pada pesona seorang pria bernama Choi Siwon. Tidak! ia tidak akan membiarkan Siwon mencabik – cabik lagi pikirannya. Ia akan membangun lagi pertahanannya. Cukup satu kali ia melakukan kesalahan.

 

**Sifany**

Suara tangisan pecah di sebuah rumah sederhana yang jauh dari perkotaan. Rumah itu terlihat asri dengan berbagai pohon dan bunga yang tumbuh disekililingnya. Udara yang segar, nyanyian burung yang akan selalu terdengar di pagi hari serta ikan – ikan yang menari di dalam air kolam yang jernih. Semua orang yang berkunjung ke tempat ini pasti akan langsung jatuh cinta dengan pemandangan yang disajikannya. Pesawahan dan pegunungan terpampang jelas dengan segala keindahannya. Semua itu seharusnya dirasakan oleh gadis ini, namun tidak untuk saat ini. ia justru harus disuguhkan dengan cerita yang menyayat hatinya lebih dalam lagi. Kenyataan yang tidak pernah diketahuinya selama bertahun – tahun. Kenyataan yang lebih kejam dari apa yang pernah dialaminya. Sebuah rahasia yang tersimpan rapi bahkan tidak ada celah untuk siapapun mengetahuinya.

Ini merupakan awal cerita dari lembaran baru yang akan ditulisnya. Ia akan melindungi semua miliknya. Ia akan menjadi sosok  yang kuat demi mempertahankan keluarganya. Ia akan mencari keadilan dan mengembalikan apa yang telah hilang selama ini. ‘nama sang ibu’.

 

 

To be continued …..

 

77 thoughts on “(AF) The Wills Part 2

  1. Makin keren ceritanya,itu siapa yg ngirim surat ke jessie,lalu rahasia apa yg blum terkuak. Penasaran bgt… .gak sabar nunggu next partnya.
    tiffany pasti dilema berat…

  2. kalo boleh nebak, ini ceritanya ibunya tiff ternyata bkn ibu yg selama ini mereka tau kan? ayahnya tiff pasti blm meninggal jugak hmmm… (kalo salah mampusloh-_-)
    anyway jijik banget pas ada kalimat kalo nyonya hwang manja manjaan sama siwon eww.. dan momen sifany akhirnya adaaaaa!!! yeaaayyy!!
    ff ini udah lama banget sampe lupa ceritanya-_- chapter depan banyakin sifany nya ya authornim hehehe..
    cepet terbongkar lah semua rahasia ini. ff nya daebak! semangat ngelanjutinnya!!

  3. Wah makin penasaran aja nih,keren thor….sepertinya benih2 cinta antara siwon n tiffany mulai ada deh,,makin seru…siapa ya yg ditemuin jessica….

  4. Lanjut thorr!!!!.keren abis nih ff.semakin kesini konflikny smakin banyak. Knpa donghae bisa ngomong kya gitu ke jessica?terus juga siapa yg ngasih surat ke jessica ??dan untuk siwon sama tiffany gimana?? Ohh noo…ini pasti bakalan keren bgt chapther selanjutnya.
    Nextt Thor.FAIGHTING!!

  5. Makin penasaran lagi sama cerita ini…
    Yang kirim surat ke Jessie eonni siapa sih??
    Benerkan Siwon oppa ada perasaan 💞💞💓💓💓 sama Tiff eonni
    Tiffany eonni juga suka sama Siwon oppa??😰😰
    Nextt partt ditunggu
    Author DAEBAKKK

  6. haishhh tbc pulak,, sosok yg kuat itu pasti jessica,, dan tiffany dan choi siwon, mereka saling suka,,tapi siapa sebenarnya siwon?? dan lee donghae? next part authornim😉

  7. Njirrr, leh uga Siwon ini jadi ‘ayah tiri’ 3wanita cantik yaowohhh.
    Nikah sama ibu.. Emang itu beneran ibu kandung 3wanita itu? Apa bukan? /wah pitnah dateng nih/

    Ayoo semangat eon part 3:*

  8. part 2 ini malah bikin bingung thor, banyak teka-teki yg bermunculan sepertinya
    tapi juga ada suatu rahasia yg mulai terungkap, namun masih tetap membingungkan untuk di mengerti.
    siapa sebenarnya hwang cae rim yg tewas dlm kecelakaan mobil dan putrinya itu ?
    banyak yg membingungkan, keluarga donghae juga sepertinya punya rencana jahat.
    terlepas dr rahasia-rahasia yg belum terungkap, perkembangan perasaan siwon terhadap tiff mulai tumbuh dan setia kali tiff dlm masalah selalu ada siwon disampingnya yg menyelamatkannya…
    siapa yg mengirim surat ke jessie itu dan menyebut anakku, isi suratnya juga membingungkan.
    dan setelah jessie mengunjungi alamat yg di sebutkan itu terungkap tentang nama sang ibu, msh blm jelas maksudnya.
    jd penasaran banget sm lanjutannya thor..

  9. Waduh.. jd bngung
    Itu yg krm surat ke jessie sopo?? Mungkinkah tuan hwang msh idup??
    Ga tau jg dh
    Cieee udh ada sifany moment
    Aaahhhh.. akhirnya
    Lanjut ah

  10. Hwang chae rim itu siapa sih?siapa yg mengirim surat untuk sica,?aiggo……byk amat sih rahasia dikeluarga hwang.what…..penyakit lambung fany kambuh dan pingsan,untung ada siwon yg kebetulan lwt dan mampir dibutiknya fany,dan segera dibawa kerumah sakit.siwon mencium fany,first kissnya fany……hore……sifany moment.
    Nah tuh kan siwon ada perasaan ama fany.
    Kyknya dikeluarga donghae ada niat buruk terhadap keluarga hwang deh.
    Ok deh,thor next aja ya.penasaran banget nextnya
    Jjang thor.hwaiting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s