(AR) Lil Choi’s First Love Part 3

Lil Choi’s First Love
LCFL_POster3

Part 3

@echa_mardian

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Im Yoona, Cho Kyuhyun

Daniel Hyunoo Lachapelle as Choi Juno

Christina Fernandez Lee as Cho Hana

Lauren Hanna Lunde as Lee Lauren

Other cast : Jessica Jung, Lee Dongwook, Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Kim Bobby (OC)

Genre : Family, Friendship, Comedy, Romance

Rating : PG 15

Disclaimer :

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yoona sedang memotong-motong kentang serta wortel ketika Kyuhyun berjalan mondar-mandir di depannya. Tentu saja tingkah sang suami menarik perhatiannya. Yoona pun menghentikan aktifitasnya lalu menghela napas kasar. Ia merasa terganggu dengan keberadaan Kyuhyun yang tidak bisa diam.

Seriously, apa kau tidak mempunyai kegiatan lain selain berjalan mondar-mandir?” sindir Yoona terang-terangan. Kyuhyun berhenti melangkah dan menghadap istrinya.

“Apa kegiatanku ini mengganggumu?”

“Sangat.”

“Huft!” desah Kyuhyun. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang. Mimik wajahnya tampak begitu khawatir. Yoona menunggu pria itu berbicara. Tampaknya ada yang membuat Kyuhyun tak nyaman untuk menyampaikan isi hatinya.

“Ada apa?” tanya Yoona setelah diam sejenak.

“Hey babe, apa kedua anak itu masih bermain? Apa mata mereka tidak lelah di depan laptop sejak tadi? Hana kan sedang sakit.”

Oh, Yoona tahu masalahnya. Ternyata Kyuhyun memikirkan keadaan di kamar Hana sehingga ia gelisah seperti sekarang. Yoona pun kembali memotong sayurannya dengan santai.

“Hana sudah jauh lebih baik, Suamiku. Juno pun bersikap baik. Biarkan saja mereka,” ujar Yoona tanpa mengalihkan pandangan ke arah Kyuhyun. Kyuhyun mengerjap berkali-kali sebelum menghampiri Yoona.

“Tapi…Juno itu anak laki-laki,” ucapnya sengit.

Yoona melirik Kyuhyun sekilas. “Memangnya kenapa kalau laki-laki?”

“Kau bertanya kenapa? Anak kita perempuan dan Juno adalah anak laki-laki,” Kyuhyun menahan suaranya agar tidak meninggi histeris. Yoona meletakkan pisau kemudian melipat kedua tangannya di dada.

“Oppa, kau berkata seperti itu seolah-olah sangat berbahaya jika Juno dan Hana hanya berdua di dalam kamar. Mereka masih sangat muda. Yang mereka tahu adalah bermain dan mengobrol.”

Kyuhyun mendengus pelan. “Aku tidak bermaksud seperti itu,” sangkalnya. “Aku hanya ingin melihat keadaan putriku. Tapi jika masih ada Juno disana, aku tidak leluasa.”

“Ckckck, kekanakan sekali. Jika ingin melihat keadaannya, ya sudah jangan berlebihan.”

Yoona mengambil pisaunya lagi, kali ini memotong-motong brokoli menjadi bagian kecil. Kyuhyun menumpukan satu tangannya di meja dapur dan satu lagi tetap bertengger di pinggangnya. Sejujurnya ia tidak bisa mengatakan pada Yoona bahwa ia sedikit terganggu dengan keberadaan Juno yang cukup lama di kamar anak gadisnya. Jika ia mengatakan yang sejujurnya pada Yoona, kemungkinan besar ia yang disalahkan.

“Aku tidak tahu mereka sedekat itu,” ucap Kyuhyun gelisah. Yoona mengerling. Dulu ia berpikir akan memberitahu Kyuhyun perihal sketsa wajah Juno yang ditemukannya di atas tempat tidur Hana. Namun setelah melihat sikap Kyuhyun saat ini, Yoona mengurungkan niat.

“Mereka memang cukup dekat sebelum bertemu pada acara makan malam disini,” jelas Yoona.

“Benarkah? Putriku sekarang benar-benar tidak peduli padaku,” gerutu Kyuhyun. Tatapannya tampak sedih.

“Kenapa kau berpikiran seperti itu? Tentu saja Hana peduli padamu,” Yoona menyanggah.

“Lalu kenapa ia tidak menceritakan padaku siapa saja teman dekatnya di sekolah? Ia bahkan berteman dekat dengan putra rekan kerjaku. Dan hanya kau yang diberitahu, benar kan?”

Kyuhyun jelas tak terima. Yoona meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri pria yang sedang gelisah itu. Dengan santai ia menepuk-nepuk sebelah pundak Kyuhyun.

“Sekarang akui saja. Kau cemburu pada Juno, ya kan Sayang?”

Kyuhyun menoleh kepada Yoona dengan gerakan cepat. Istrinya itu menggodanya dengan ekspresi jahil, persis yang sering digunakan Hana. Kyuhyun mengerjap berulang kali, malu telah tertangkap basah. Tetapi sebagai seorang kepala rumah tangga, ia harus penuh wibawa. Ketahuan oleh istri kalau merasa cemburu pada teman dekat anak bukanlah hal keren.

“Cih, cemburu? Yang benar saja,” tepisnya dengan gaya congkak. Yoona menaikkan sebelah alisnya.

“Kalau kau jawab iya juga tak masalah. Aku tidak akan menertawakanmu,” sindir Yoona halus. Kyuhyun melihat dengan jelas bibir Yoona makin menipis, menandakan kalau ia menahan senyum. Pria itu tak dapat membela dirinya. Memang sejak dulu, Yoona selalu dapat menebak apa yang ia rasakan, termasuk jika sedang cemburu.

 

 

 

“Wow, permainan ini benar-benar cool! Hana benar-benar hebat. Aku bertaruh Daddy-ku pun bisa Hana kalahkan!”

Pipi Hana bersemu merah mendapat pujian dari Juno. Mereka baru saja selesai bermain starcraft, seperti yang dijanjikan Hana pada Juno. Juno cepat belajar. Ia dapat mengimbangi pertandingan setelah diajari sekitar 15 menit oleh Hana. Hana bangga pada Juno sebab sahabat barunya itu sangat cerdas. Sama seperti dirinya.

“Aku bisa saja mengajari Choi Ahjusshi, tetapi apa Tiffany Aunty mengizinkannya?” tanya Hana seraya menutup laptopnya. Kini mereka duduk berhadapan di lantai, dengan beberapa potong pizza yang diberikan Yoona sebagai cemilan.

“Tentu saja Mommy mengizinkan. Orang dewasa juga perlu bermain games, Hana. Tapi Daddy lebih suka berolah raga.”

“Daddy-ku lebih suka bermain games, sampai terkadang Mom mengomelinya.”

Mereka berdua terkekeh. Juno senang menghabiskan waktu bersama Hana. Ternyata menjadi diri sendiri, tidak perlu berusaha menjadi yang terhebat, dan banyak tertawa membuatnya lebih bersemangat. Jika bersama Lauren, Juno tidak merasa sebaik ini. Juno memiringkan kepala menatap Hana. Wajah sahabatnya itu masih sedikit memerah. Ia pikir Hana masih demam.

Perlahan, tangannya terulur menyentuh kening Hana. Tentu saja Hana membeku.

“Suhu tubuh Hana sudah normal, tetapi kenapa wajahnya masih memerah?” tanya Juno heran. Keningnya mengernyit, berpikir.

Hana menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Tapi aku senang bisa sembuh secepat ini. Terima kasih sudah menemaniku, Juno.”

Juno tersenyum penuh arti. “Aku juga ingin berterima kasih pada Hana. Berkat Hana aku bisa menguasai hal yang belum pernah kucoba.”

Hana mengangguk. Lalu ia melihat Juno mengambil ponsel di saku celananya. Hana bahkan belum diizinkan memiliki ponsel oleh Yoona. Yoona tidak ingin Hana terpengaruh media sosial yang akan berdampak buruk pada pelajarannya. Hana masih memperhatikan Juno. Mungkin ia akan menghubungi orangtuanya, meminta segera dijemput. Hana kecewa seketika. Ia masih ingin bersama Juno, setidaknya sampai jam makan malam.

“Hmm, apa Hana tahu istilah selca?” tiba-tiba Juno bertanya. Hana langsung menggeleng.

“Apa itu?”

Self camera. Mengambil foto oleh diri sendiri. Mau mencobanya?”

Juno mengacungkan ponselnya. Hana kira ia akan menghubungi orangtuanya, ternyata mengajaknya berfoto bersama. Jadi Juno mengajaknya foto bersama? Hana juga pernah diajak Kyuhyun melakukan selca. Ia hanya baru tahu kalau istilahnya adalah selca.

“Baiklah.”

“Oke. Satu…dua…cheese!”

Klik.

Hana tidak tahu apakah wajahnya akan terlihat aneh atau tidak di dalam foto yang baru saja diabadikan Juno. Juno melihat hasilnya dengan semangat, kemudian tertawa puas setelahnya. Tentu saja Hana penasaran. Ia merebut ponsel yang digenggam Juno dan segera melihat hasilnya.

“Hahaha! Kenapa Hana menutup mata seperti orang tertidur? Hahaha lucu sekali!”

Wajah Hana semakin merah padam, mungkin seperti udang yang direbus. Bibirnya melengkung, cemberut. Juno terlihat tampan, tetapi Hana justru memejamkan mata. Mungkin tadi ia tidak fokus.

“Yaaa! Hapus foto ini dan ulangi sekali lagi! Aku harus terlihat bagus, Juno-yaa!” seru Hana malu.

“Tidak, ini sudah bagus. Aku akan memperlihatkannya kepada Mommy. Hahaha!”

“YAAA!”

“Aku suka dengan foto ini, Hana-yaa. Hana terlihat manis walaupun sedang sakit. Hehe!”

**

 

Tiffany merapikan selimut Jino sampai ke dada anak bungsunya itu. Jino dengan sikap menurut melipat kedua tangannya di atas perut. Tak lupa Tiffany mengajaknya berdoa terlebih dahulu sebelum tidur nyenyak malam ini. Seperti biasa, Jino mengucapkan doa yang sama setiap malamnya : semoga besok ada makanan enak, semoga besok teman-teman tidak menjahiliku, semoga besok Mommy tidak memasukkan brokoli ke bekal makan siangku—meskipun Tiffany tetap memberinya sayuran itu—, dan semoga besok Juno Hyung tidak berbuat nakal lagi kepada Mommy.

Mereka berdua tertawa selesai berdoa. Tiffany membungkukkan tubuhnya untuk mengecup kening serta bibir Jino. Jino menahan pundak Tiffany sebelum wanita itu sempat menegakkan kembali punggungnya. Tiffany menatap mata Jino yang berbinar indah terkena sinar lampu.

“Ada apa, Pangeranku?” tanyanya mesra.

“Mommy, tadi di sekolah Hyejung mengatakan sesuatu pada Jino,” jawab Jino dengan suara manjanya. Tiffany mengelus pipi gembul Jino penuh kasih sayang.

“Apa yang dikatakan Hyejung padamu, baby?”

Jino memainkan rambut Tiffany yang terurai di dekat wajahnya. “Hyejung baru saja mendapatkan adik bayi. Namanya Hyekyung. Hyejung berkata pada Jino sangat menyenangkan menjadi seorang Oppa. Nanti jika sudah besar, Hyejung bisa menjadi superhero untuk adiknya. Seperti Captain America, Mom! Junsu dan Albert juga mempunyai adik perempuan. Hanya Jino yang tidak punya.”

Tiffany tersenyum kikuk. Apa maksud anaknya itu adalah…

“Mommy, bisakah Mommy memberikan adik perempuan untuk Jino? Kalau Mommy tidak bisa, Junsu bilang minta saja kepada Daddy.”

 

 

Tiffany POV

Astaga anak-anak jaman sekarang! Apa mereka pikir membuat bayi seperti mesin fotokopi? Jino menatapku penuh harap sambil terus memainkan rambutku. Tidak, ia tidak boleh meminta yang macam-macam. Ia sama sekali belum mengerti tentang bayi dan sejenisnya. Kurasa aku harus berbicara serius dengan orangtua Junsu dan Hyejung. Anakku terlalu polos untuk dipengaruhi masalah bayi.

Ya Tuhan, aku belum ingin menambah satu anak lagi! Meskipun Siwon juga pernah mengutarakannya, tetapi aku belum siap. Aku ingin fokus dulu pada pekerjaanku. Sebentara lagi ada fashion show musim semi di Seoul dan butuh kerja keras untuk mempersiapkannya.

“Mommy…tidak bisa memberikannya, ya?” suara Jino terdengar kecewa. Aku memegang kedua tangannya lalu memberikan kecupan lembut pada masing-masingnya.

“Jino-yaa, saat ini Mom dan Daddy sangat sibuk dengan pekerjaan. Mom belum bisa memberikanmu adik bayi. Jika Mom mengabulkan permintaanmu, perhatian Mom akan berkurang untukmu dan juga Hyung,” jelasku mencoba bijaksana.

Kedua alis Jino terangkat. “Jinjja? Jino tidak mau itu terjadi, Mom.”

Aku tersenyum. Jino memang sangat mudah ditakuti, hihihi.

“Oleh sebab itu, Mom belum bisa mengabulkannya. Maafkan Mommy, my Prince.”

Jino memeluk leherku dan mengecup pipi kananku. Aku tertawa senang. Ah, Jino memang lebih romantis dibandingkan kakaknya. Dulu Juno tidak semesra ini kepadaku. Aku bahkan yang selalu memanjakannya.

“Aku mencintai Mommy!” ucapnya. Aku selalu menyukai nada suara manjanya. Sebagai hadiah terakhir aku mengecup bibirnya sekali lagi kemudian mematikan lampu meja. Aku memastikan ia menutup matanya sebelum aku meninggalkan kamar. Aku membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka lalu beranjak menuju kamar Juno.

Sekarang aku harus berhadapan dengan yang lebih keras kepala. Dan aku mempunyai beberapa pertanyaan untuknya.

Pintu kamarnya masih terbuka saat aku datang. Aku mengetuk pintu itu dan Juno—masih asyik bermain dengan laptop di atas tempat tidurnya—menoleh ke arahku. Ia tersenyum cerah lalu duduk. Aku membalas senyuman manis itu dan menghampirinya.

“Apa kau sudah selesai belajar?” tanyaku lalu duduk di sampingnya.

“Sudah, Mom. Apa Jino sudah tidur?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk lalu melirik layar laptopnya. “Sedang apa? Games lagi?”

“Ya, Mom. Aku sedang mengasah kemampuanku bermain starcraft agar aku bisa mengalahkan Hana!”

Aku mengangguk paham. Jadi ia terus bermain starcraft karena Hana? Oke, sepertinya aku harus bertanya sekarang.

“Hana teman yang baik, ya?” pancingku.

Juno menyilangkan kedua kakinya di depan dan menatapku ragu. “Ya.”

Kenapa menjawab singkat seperti itu? Dan kenapa wajahnya berubah tegang tiba-tiba? Bukankah aku sudah bersikap sebiasa mungkin?

“Akhir-akhir ini kau selalu membicarakan Hana, Juno-yaa. Oleh karena itu Mom bertanya. Jangan tegang begitu,” ujarku. Lalu ia tersenyum canggung.

“Bukan begitu, Mom. Aku hanya takut Mom melarangku lagi kali ini,” jawabnya pelan. Aku terpana. Tentu saja aku tidak akan melarangnya berteman dengan Hana. Apa kata Siwon nanti jika aku melarang Juno berteman dengan anak rekan kerjanya di kantor?

“Juno-yaa, kenapa berpikiran buruk begitu kepada Mommy?” protes Tiffany.

Mendengar itu Juno tersenyum cerah. “Jadi Mommy tidak akan melarangku bersahabat dengan Hana? Thank you, Mom!”

Juno memelukku leherku erat seraya menciumi pipiku. Aku hanya dapat tersenyum bahagia.

“Hana adalah teman yang baik, Mom. Aku berharap bisa terus berteman dengannya sampai kami dewasa,” ungkap Juno. Sepertinya ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Senyum langsung menghilang dari wajahku. Kenapa tidak? Anakku bahkan sudah memikirkan hubungan jangka panjang dengan sahabat barunya!

Aku memegang kedua lengan Juno dan menatapnya serius. “Juno-yaa, kau boleh bersahabat dengan Hana. Tapi jangan berpikiran macam-macam selain itu. Ingat, kau masih—“

“Delapan tahun. Mom, aku tahu! Jangan marah-marah terus Mom, nanti Mom cepat tua seperti Taeyeon Aunty,” Juno bersungut-sungut.

Mwo? Aish, kau ini.”

 

 

Author POV

Akhirnya Tiffany kembali ke kamarnya sambil menggerutu. Ia mengabaikan Siwon yang sedang duduk di atas ranjang sambil membaca buku, lalu melesat ke kamar mandi. Siwon mengernyit bingung. Kali ini apa lagi, tanyanya dalam hati. Siwon menutup bukunya dan memutuskan untuk menyusul Tiffany. Istrinya kini tengah membersihkan wajah dengan berbagai macam alat kosmetiknya. Siwon menyandarkan tubuh di konsen pintu kamar mandi sambil melipat kedua tangan di dada. “Kenapa istriku yang cantik ini menggerutu? Apa ada masalah lagi dengan Juno?”

Tiffany melirik Siwon. Wajahnya kini penuh dengan krim pembersih. “Dua-duanya,” jawabnya singkat.

Kedua alis Siwon terangkat. Dua-duanya berarti Jino juga masuk hitungan. Merasa ini adalah topik baru, Siwon pun mendekati istrinya. Sebisa mungkin ia menahan seringaiannya.

“Aku lebih penasaran dengan apa yang diperbuat Jino sampai kau menggerutu begitu, baby.”

Tiffany mendesah lalu menyunggingkan senyuman. “Sebenarnya bukan karena Jino, tetapi teman-temannya. Bagaimana bisa teman-temannya menyuruhnya…ck, lupakan.”

Kini Siwon mengernyit. Sayang sekali ia tidak bisa melihat rona merah yang muncul di kedua pipi istrinya. “Teman-teman Jino menyuruh apa?”

Tiffany menggeleng. “Tidak, bukan apa-apa. Hanya ocehan anak kecil yang akan membuatmu heran.”

Tiffany tidak ingin membahas itu sekarang. Bisa-bisa Siwon semakin bersemangat mengompori Jino. Bukannya tidak menginginkan anak perempuan, tetapi Tiffany merasa belum siap hamil lagi. Usianya kini masih terbilang muda, masih banyak waktu ke depannya.

“Jadi kau tidak ingin mengatakannya?” tanya Siwon, setengah berharap. Tiffany melotot padanya, membuat pria itu mengangkat kedua tangan. “Baiklah, aku menyerah. Lalu, ada apa dengan Juno?”

Tiffany membasuh wajahnya terlebih dahulu, mengusapnya lembut dengan handuk kecil, lalu menatap Siwon. Siwon tersenyum, terkagum-kagum akan kecantikan wajah polos tanpa riasan itu.

“Seperti biasa, Juno bermain-main lagi dengan perasaanku. Aku bisa lega karena ia sudah tidak mengidam-idamkan Lauren lagi. Tetapi sekarang ia mempunyai teman dekat baru.”

Mwo?”

“Ya, Siwon. Kau tahu, sekarang Juno dekat dengan Hana. Sangat dekat sampai-sampai anak itu sudah merencanakan masa depan dengan Cho Hana!” jawab Tiffany antusias.

Siwon tergelak. Tiffany terheran-heran melihatnya. Siwon sedang menertawakan Tiffany atau Juno? Tiffany menepuk lengan berotot Siwon cukup keras sebagai pembalasan.

“Yaak Choi Siwon! Apanya yang lucu?”

Siwon memijit hidung bangir Tiffany dengan gemas. “Kau cemburu lagi padanya, Honey. Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku tahu kemana perginya pembicaraan ini.”

Mulut Tiffany terbuka karena kaget. Tentu saja kaget karena tuduhan Siwon yang seratus persen benar! Setelah itu Siwon melenggang santai ke kamar mereka. Tiffany tidak tinggal diam. Ia segera menyusul Siwon.

“Tunggu dulu, Mister!” seru Tiffany kemudian berdiri di depan Siwon untuk menghalanginya. “A-aku tidak cemburu pada Hana.”

Sebelah alis Siwon terangkat tinggi. Wajahnya mendekati wajah Tiffany sampai pucuk hidung mereka bersentuhan.

“Kau bohong. Matamu tidak bisa berbohong padaku, Nyonya Choi yang posesif,” ucap Siwon seraya menyentuh pertemuan alis Tiffany dengan jari telunjuknya.

No, I’m not!” Tiffany menyangkal. Siwon mendecakkan lidahnya.

“Sudahlah, mari kita tidur.”

“Tidak. Kita belum sele—“

CUP!

Sebuah kecupan di bibir membuat Tiffany langsung bungkam. Siwon menatapnya penuh kelembutan.

“Kita sudah selesai, Sayang. Biarkan Juno bersahabat dengan Hana. Oke? Ayo, aku tidak sabar ingin memelukmu saat tidur.”

**

 

 

Semakin hari Juno dan Hana semakin dekat. Bahkan kini Juno tidak terlalu memikirkan kenapa Lauren menjauh. Sebab disaat ia merasa sedih, Hana-lah yang selalu ada. Apa saja mereka lakukan berdua. Mulai dari belajar, membaca buku di perpustakaan, mendiskusikan film Harry Potter atau starcraft, serta makan siang.

Lauren yang mulanya menganggap Bobby lebih keren daripada Juno, kini sedikit merasa bosan. Pasalnya, Bobby terus menerus pamer kepadanya. Lauren bahkan sering memandang iri kepada Juno yang tertawa lepas dengan Hana. Dulu ia juga begitu dengan Juno.

Pulang sekolah, Lauren pun mencari ibunya di walking cabinet. Wajah lucunya tampak cemberut.

“Mommy, aku ingin bicara.”

Jessica yang sedang asyik memilih-milih gaun yang akan dijadikan perpaduan model baru rancangannya, melirik Lauren sambil terkekeh.

“Kau sudah bicara, Sayang.”

Lauren menghentakkan kaki. “Aku serius, Mom!”

Jessica menghela napas. “Baiklah. Maafkan Mommy. Ada apa?”

“Mommy, gara-gara Mommy melarangku dekat-dekat dengan Juno, sekarang Juno sudah punya sahabat yang baru. Juno bahkan tidak pernah mengajakku makan siang bersama lagi!”

Jessica menatapnya serius. “Lauren-ah, lagi-lagi Juno? Biarkan saja Juno bersahabat dengan anak lain. Kau tidak boleh menyalahkan Mommy.”

“Tapi gara-gara Mommy melarangku, kan?” Lauren bersikeras menyalahkan Jessica.

“Baiklaaaah, Mommy yang salah. Sekarang apa yang bisa Mommy lakukan?” Jessica menyerah.

“Buat aku dan Juno bersahabat lagi seperti dulu.”

Mendengar itu Jessica justru tertawa. Mana mungkin ia memenuhi permintaan Lauren. Ia meletakkan baju-baju yang dipegangnya kemudian berjongkok di depan Lauren.

“Lauren-ah, kalau masalah itu hanya kau yang bisa mengatasinya. Tidak mungkin Mommy yang menyatukan kalian lagi.”

“Apa Mommy takut dengan Mommy Juno? Mommy bilang Mommy-nya pemarah.”

Jessica menghela napas. “Tidak, Nak. Mommy tidak takut dengan Mommy Juno.”

Lauren cemberut. Ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, membuatnya kesal sepanjang waktu. Jessica tidak dapat melakukan apa-apa. Mungkin memang lebih baik tidak terlalu dekat dengan Juno. Ia takut, Tiffany akan melibatkan anaknya hanya karena masa lalu mereka. Dan Jessica tidak ingin Lauren tersakiti hatinya.

“Memangnya kau tidak berteman dengan Bobby lagi?” Jessica bertanya seraya mengelus rambut Lauren. Lauren mengangguk namun wajahnya tetap cemberut.

“Bobby tidak asyik seperti Juno. Juno juga lebih pintar.”

“Mungkin Bobby juga sama pintarnya dengan Juno jika kau lebih mengenalnya lagi.”

“Tidak, Mommy! Ya sudahlah, Mommy tidak bisa membantu.”

Jessica tercengang melihat kekesalan Lauren dan kemudian berlari meninggalkannya. Ia tidak mengerti, apa istimewanya Juno bagi anaknya itu.

**

 

“Selamat pagi, Class!”

“Selamat pagi, Miss Park!”

Park Jiyeon masuk ke dalam kelas dengan membawa beberapa lembar amplop di tangannya. Ia meminta Juno, selaku ketua kelas, membagikan amplop-amplop tersebut kepada teman-temannya. Juno melakukannya dengan baik dan teman sekelasnya menerima dengan teratur. Setelah menyelesaikan tugasnya, Juno kembali duduk kemudian memandangi amplop dengan stempel resmi sekolah.

“Amplop yang kalian pegang adalah surat pemberitahuan serta selembar surat lampiran dari kepala sekolah. Begitu sampai di rumah, harap langsung diberikan kepada orangtua kalian. Mengerti?”

“Mengertiiii, Miss Park!”

Hana mengangkat tangan tinggi-tinggi, membuat perhatian kelas tertuju padanya.

“Ya, Hana?”

“Miss Park, ini surat pemberitahuan tentang apa?”

“Ini tentang pemberitahuan camping yang akan diadakan untuk kelas 2, 3 dan 4. Jadi, pihak sekolah membutuhkan izin dari orangtua kalian.”

Mendengar kata camping, Juno dan Hana yang bersorak terlebih dahulu. Diikuti oleh siswa lain. Imajinasi Juno langsung membuncah, membayangkan akan berpetualang di alam bebas, seperti kisah Harry Potter dan kedua sahabatnya dalam misi pencarian Horcrux.

Hana pun seperti itu. Hana yang pada dasarnya adalah anak tomboy dan menyukai tantangan, sangat tidak sabar menunggu masa camping yang baru saja disebutkan Miss Park. Di dalam hutan pasti ada sungai atau telaga, lalu binatang-binatang yang belum ia lihat sebelumnya. Pasti sangat menyenangkan!

Berbeda halnya dengan Lauren. Membayangkan berada di kegelapan saja membuatnya ketakutan. Belum lagi banyaknya nyamuk yang akan menggigitinya. Tetapi ia ingin ikut, sebab ia tidak ingin dijuluki pengecut oleh teman-temannya.

“Kalau begitu, simpan amplop itu di tas kalian, dan kita akan memulai pelajaran.”

**

 

Hana membantu Yoona membersihkan meja setelah makan malam. Ia mengumpulkan piring-piring kotor lalu mengantarkannya kepada Yoona untuk langsung dimasukkan ke dishwasher. Yoona memperhatikan tingkah anak sulungnya yang akhir-akhir ini selalu riang. Apa mungkin karena Juno?

“Mom, aku punya surat pemberitahuan dari sekolah yang harus ditandatangani. Apa aku boleh mengambilnya sekarang?”

Yoona mengangguk. “Tentu saja. Ambillah dan perlihatkan kepada Daddy.”

Hana tersenyum lebar kemudian berlari menuju kamarnya. Yoona mengeringkan tangannya sebelum menemui Kyuhyun di ruang keluarga. Sehabis makan malam pria itu langsung menonton televisi.

“Hai, siapa tadi yang berlari?” tanya Kyuhyun ketika Yoona duduk di sampingnya.

“Siapa lagi kalau bukan putrimu,” jawab Yoona santai seraya melipat kakinya dengan anggun. Kyuhyun merangkul pundak Yoona dengan mesra sementara istrinya itu hanya memusatkan perhatian ke televisi di hadapan mereka.

“Hana selalu bersemangat. Sama sepertimu saat seusianya,” kata Kyuhyun sambil tersenyum mengenang.

Yoona menoleh ke arah Kyuhyun dan menatapnya penuh arti. “Benarkah? Jadi kau memperhatikan aku juga, ya?”

Kyuhyun menaikkan kedua alisnya. Ia berdehem penuh wibawa, tetapi Yoona tetap menganggap kalau suaminya mendadak gugup.

“T-tentu saja. Siapa yang tidak akan memperhatikan gadis hiperaktif sepertimu. Kau kan aneh.”

Mata Yoona menyipit. “Aku hiperaktif hanya di depanmu, Evil.”

Sudut bibir Kyuhyun berkedut menahan senyum kemenangan. Ia tahu itu. Sejak pertama kali mereka bertemu di sekolah dasar, Yoona sudah menarik perhatiannya. Jauh sebelum Yoona terang-terangan berlagak sok dewasa mengakui kalau ia menyukai Kyuhyun.

Kyuhyun mengecup pundak Yoona dengan lembut. “Sebenarnya kau tidak perlu hiperaktif begitu hanya demi menarik perhatianku, Weirdo. Kecerdasan dan wajah manismu pun telah membuatku tertarik.”

Yoona tertawa pelan. “Aku senang mendengarnya.”

Mendengar jawaban yang datar begitu, Kyuhyun cemberut. “Yaa! Mana ucapan terima kasihmu? Setidaknya kau harus menciumku.”

Yoona menoleh cepat dan menatapnya tajam. “Simpan dulu keinginanmu. Hana sebentar lagi turun menghampiri kita.”

Baru saja Kyuhyun akan membuka mulutnya hendak berbicara, terdengar suara derap kaki Hana yang cepat, dengan kata lain berlari. Lalu dalam sekejap, Hana hadir di hadapan kedua orangtuanya. Napasnya tersengal. Tentu saja karena ia berlari naik turun tangga.

Hana menyerahkan sebuah amplop kepada Kyuhyun dan duduk di sofa lain.

“Pemberitahuan apa, Honey?” tanya Yoona sementara Kyuhyun langsung membukanya.

“Tentang camping, Mom!” jawab Hana ceria.

Camping?” gumam Kyuhyun. Kemudian ia membaca surat yang telah terbuka di tangannya.

Yoona ikut melongokkan kepala membaca surat tersebut. Hana tidak berhenti tersenyum, membayangkan keseruan yang akan terjadi minggu depan, tepatnya saat mereka berkemah. Sebelumnya Hana pernah berkemah meskipun di belakang rumah, bersama dengan Patrick, Rose, Shaun dan Johnny. Saat itu ia baru duduk di kelas pertama sekolah dasar di Amerika sana. Jadi sedikit banyak Hana memiliki pengalaman tentang memasang tenda.

“Berkemah selama tiga hari di Nanji Camps?” ucap Kyuhyun seraya menatap Hana. Yoona tersenyum, sepertinya ia setuju. Namun ekspresi Kyuhyun membuat Hana ragu.

“Yes, Daddy. Daddy bisa menandatangani surat izinnya sekarang karena Miss Park bilang akan dikumpulkan besok,” jelas Hana.

“Tunggu, tunggu!” tukas Kyuhyun cepat. Yoona menoleh ke arah suaminya. Kenapa tidak langsung menjawab ‘iya’ saja. Tidak mungkin Kyuhyun tidak mengizinkannya, kan?

“Ada apa?” tanya Yoona.

“Tiga hari lama sekali, Hana-yaa. Siapa saja yang akan mengawasi kalian?”

“Guru-guru dan wakil kepala sekolah juga ikut, Dad.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Hana belum pernah pergi dari rumah barang sehari pun. Bahkan ia selalu menolak jika diminta Nenek atau Kakeknya untuk menginap. Kini Hana akan pergi berkemah selama 3 hari dan sepertinya putri sulungnya itu senang sekali.

Gwaenchana, Oppa. Lagipula mereka pergi beramai-ramai,” bisik Yoona. Kyuhyun melirik Yoona sekilas lalu kembali menatap mata putrinya.

“Apa…ehem…anak Tuan Choi juga ikut?” tanya Kyuhyun seraya berdehem.

“Choi Juno? Tentu saja. Juno berkata ayahnya pasti akan mengizinkannya,” jawab Hana.

Yoona menggigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak tersenyum. Sepertinya ia tahu mengapa Kyuhyun ragu memberikan izin. Dasar Ayah protektif!

“Apa tenda laki-laki dan perempuan berdekatan? Jika jaraknya berdekatan apalagi boleh dalam satu tenda, Daddy tidak akan mengizinkan kau pergi. Arraseo?”

Kening Hana mengernyit. Ia tidak mengerti maksud Kyuhyun. Sementara Yoona mencubit pinggang suaminya cukup keras, membuat pria itu meringis kesakitan. Ketika Kyuhyun memberikan pandangan protes, Yoona melotot padanya.

“Jadi, apa aku harus menanyakannya dulu kepada Miss Park?” tanya Hana polos.

“Tidak perlu, Sayang. Kami mengizinkanmu pergi. Jika Dad tidak mau menandatangani, Mommy yang akan melakukannya,” ujar Yoona menenangkan. Kemudian ia menoleh kepada Kyuhyun yang terperangah. “Benar kan, Daddy?”

**

 

“Apa ini?” tanya Tiffany ketika Juno menyodorkan surat pemberitahuan kepadanya.

“Surat izin dan pemberitahuan camping, Mom! Mom atau Dad harus menandatanganinya,” jawab Juno bersemangat.

Tiffany meninggalkan pekerjaannya—sejak tadi ia sibuk menggambar sketsa baru—sementara kemudian mengambil surat yang diberikan Juno. Siwon belum pulang dari kantornya, jadi Juno memberikannya kepada Tiffany saja. Lagipula ia sudah tidak sabar.

Juno melihat-lihat hasil goresan tangan Tiffany selagi menunggu ibunya itu selesai membaca surat. Seketika ia teringat Hana yang pintar sekali menggambar. Juno berpikir untuk mulai belajar menggambar dengan ibunya agar nanti ia bisa memperlihatkannya kepada Hana.

“Jadi berkemah selama 3 hari ya,” gumam Tiffany lalu meletakkan kembali surat itu di atas meja. Juno menatapnya dengan wajah berseri-seri. “Tapi kau belum pernah jauh dari Mom—maksud Mommy, kau tidak pernah menginap di luar rumah selama itu.”

Juno memutar bola matanya, mengingat-ingat. “Hmm, aku pernah tidur di rumah Sulli Aunty.”

“Hanya setengah hari dan setelah itu kau merengek minta pulang,” Tiffany mengingatkan dengan nada penuh kemenangan.

“Tapi saat itu aku masih sekolah taman kanak-kanak,” Juno membela dirinya.

“Tetap saja!” bantah Tiffany. “Memangnya ini wajib diikuti?”

Juno menggeleng. “Aku lupa menanyakannya kepada Miss Park. Tapi sepertinya semua temanku ikut. Hana, Lauren bahkan Bobby juga pasti ikut. Izinkan aku, Mom. Pleeeeaassee!”

Tiba-tiba tiga nama yang baru disebutkan Juno berputar-putar di kepala Tiffany. Hana, Lauren dan Bobby. Tiffany langsung berdiri dari duduknya. Ia bertolak pinggang, membuat Juno bingung. Ibunya tidak akan memarahinya hanya karena surat izin ini, kan?

“Kau tidak boleh ikut.”

Waeyo, Mom?” tanya Juno terkejut dan kecewa.

“Karena kau pasti akan bertengkar lagi disana.”

“Aku tidak akan bertengkar lagi, Mom. Kenapa Mom tidak percaya padaku?”

“Mom percaya padamu, tetapi tidak percaya pada anak yang bernama Bobby itu.”

Bibir Juno melengkung cemberut. Ia tidak menyangka kalau Tiffany tidak akan mengizinkannya. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia masih mempunyai Siwon. Biasanya Siwon akan membelanya, apalagi menyangkut acara sekolah.

Juno tidak ingin berdebat lagi dengan Tiffany. Lantas ia mengambil kembali suratnya lalu berbalik pergi. Melihat sikap anaknya yang tiba-tiba dingin, kening Tiffany mengernyit hebat.

“Kenapa kau pergi begitu saja?” tanya Tiffany.

Juno menghentikan langkah lalu kembali berbalik menghadap ibunya. “Mom tidak mengizinkanku. Jadi aku akan menunggu Daddy.”

Mwo?”

 

 

 

“Jadi, surat apa ini?” tanya Siwon saat Juno menyerahkan surat izinnya kepada sang ayah. Siwon mengantar Juno tidur, sedangkan Tiffany mengawasi mereka di ambang pintu seraya bersidekap. Tiffany ingin tahu apakah Siwon akan mengizinkan Juno atau tidak.

Juno melirik Tiffany sekilas lalu kembali memandang Siwon. “Bacalah, Dad.”

Siwon tersenyum tipis lalu membuka surat. Juno berharap Siwon dapat mengerti keinginannya. Lagipula alasan Tiffany melarangnya pergi sangat tidak adil. Juno sudah berjanji tidak akan bertengkar lagi. Ia sangat mendambakan pergi berkemah, tentu saja anak itu kecewa dengan jawaban ibunya.

“Oh, berkemah ya? Pasti menyenangkan.”

Ucapan Siwon membuat dua reaksi bertolak belakang pada ibu dan anak tersebut. Juno berseru ‘yes!’ sementara Tiffany melangkah cepat mendekati tempat tidur Juno, untuk segera menghakimi kedua laki-laki itu.

“Kau mengizinkannya?” tanya Tiffany pada Siwon.

Siwon mengangguk santai. Ia kembali menyerahkan surat izin tersebut pada Juno kemudian mengusap rambut anaknya. “Ya, Sayang. Tentu saja aku mengizinkannya. Aku ingin Juno menjadi anak yang mandiri serta menghargai lingkungan.”

Tiffany menghela napas kasar. “Honey, tapi Juno tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari satu hari.”

“Mom, aku bisa melakukannya. Aku sudah besar.”

Tiffany menghadapnya. “Tapi anak yang bernama Bobby itu juga ikut. Kalian pasti akan bertengkar lagi.”

“Sudah kukatakan aku tidak akan bertengkar lagi dengannya. Kenapa Mom tidak percaya padaku?” suara Juno terdengar memohon. Siwon menyentuh tangan Tiffany lalu meremasnya lembut, membuat Tiffany mengurungkan niat untuk beradu argumen lagi dengan anaknya.

“Dad akan menandatangani surat itu. Mommy juga akan mengizinkan jika kau berjanji bersikap baik. Oke? Nah, sekarang tidurlah. Dad akan membawa surat ini dan menyerahkan padamu besok pagi.”

Juno mengangguk mendengar ucapan Siwon. Siwon mengecup keningnya lalu berdiri, sejajar dengan Tiffany. Akan tetapi Juno enggan berbaring terlebih dahulu sebelum mendapatkan kecupan selamat malam dari ibunya.

Siwon berdehem canggung lalu membisikkan sesuatu kepada Tiffany dan keluar dari kamar terlebih dahulu. Tiffany merengkuh kepala Juno dan meninggalkan kecupan ringan di kening putra sulungnya tersebut.

“Selamat malam.”

“Selamat malam, Mom. Have a nice dream!”

 

 

 

Tiffany naik terlebih dahulu ke tempat tidur, disusul Siwon yang tadi masih membersihkan diri di kamar mandi. Siwon tersenyum simpul melihat istrinya merajuk. Tentu saja penyebabnya adalah surat izin yang kini terletak di atas nakas. Siwon memeluk mesra Tiffany namun wanita itu mengelak.

“Apa kau marah padaku karena memberi izin kepada Juno?”

Tiffany diam saja. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil membolak-balik halaman majalah fashion dengan sangat antusias.

Honey, Juno hanya pergi berkemah selama 3 hari. Jangan bersikap seolah-olah ia meminta izin untuk merantau jauh. Berkemah sangat bermanfaat, Sayangku.”

Tiffany berdecak sebal lalu mendelik kepada Siwon. “Aku tahu itu. Aku hanya tidak ingin Juno bertengkar lagi dengan anak bernama Bobby itu.”

“Kau tidak berbohong?”

Tiffany tidak menjawab. Bahkan ia menghindari tatapan Siwon. Kemudian Siwon menangkup wajahnya dengan lembut, membuat wanita itu menatapnya.

“Aku tahu kau hanya takut melepaskannya pergi dari rumah. Kau pasti tidak rela Juno pergi selama beberapa hari karena kau masih memanjakannya. Honey, putra kita adalah anak yang cerdas. Apa kau ingin ia tidak tumbuh menjadi anak pemberani? Aku percaya kalau ia tidak akan bertengkar lagi dengan siapapun. Dan kau juga harus mempercayainya, hm!”

Tiffany menghela napas. Perkataan Siwon tepat sasaran. Ia memang tidak bisa jauh dari Juno, meskipun hari-hari mereka selalu diwarnai oleh pertengkaran. Tiffany khawatir jika nanti Juno kelaparan, kedinginan, atau bahkan sakit saat disana. Saat semua itu terjadi, Tiffany maupun Siwon tidak berada di dekat Juno. Hal itu yang menyebabkan Tiffany paranoid.

“Sudahlah. Acara itu pasti akan diikuti juga oleh beberapa guru serta kepala sekolah mereka. Juno pasti akan baik-baik saja,” lanjut Siwon lagi. Tiffany menatapnya sendu lalu mengangguk pasrah. Sejujurnya ia masih sedikit bimbang. Namun seperti biasa, ia tidak bisa membantah nasehat Siwon.

“Aku mencintaimu, Juno Mommy.”

Tiffany tertawa kecil dan membuat Siwon tak tahan untuk mengecup bibir bawahnya dengan lembut.

“Aku juga mencintaimu, Jino Daddy.”

**

 

 

Di pagi yang cerah itu, Tiffany, Jessica, Kyuhyun dan Yoona mengantar anak masing-masing ke sekolah sekaligus menghadiri rapat orangtua siswa menyangkut acara camping yang akan mereka lakukan. Juno, Hana, Lauren dan Bobby tampak sangat senang serta antusias. Ini pertama kalinya mereka berkemah bersama.

Miss Park berdiri canggung di depan kelas, entah apa yang menyebabkan guru muda nan cantik itu bersikap demikian. Namun tatapan matanya jelas sekali mengarah kepada pemuda yang duduk di bangku Bobby. Siapa lagi kalau bukan Kim Myungsoo atau lebih akrab dipanggil Uncle L oleh keponakannya.

“Ehem!” Miss Park berdehem untuk mengatasi kegugupannya. “Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Saya harap Tuan dan Nyonya dalam keadaan baik pagi ini.”

“Setidaknya sebelum anakku pergi melaksanakan kemah konyol ini,” gerutu Kyuhyun di tempatnya. Untung suara pria itu sangat kecil namun tetap saja terdengar oleh Yoona yang duduk di sampingnya. Yoona menghadiahkan sebuah tamparan pelan di lutut suaminya. Ia sendiri masih heran mengapa Kyuhyun bersedia repot-repot ikut ke sekolah Hana.

“Seperti yang sudah kita semua ketahui bahwa hari ini adalah hari pertama acara berkemah di Nanji Camps. Kami dari pihak sekolah ingin berterima kasih atas izin dan pengertian Tuan dan Nyonya untuk mempercayai kami melakukan kegiatan yang bermanfaat ini. Kami berjanji akan menjaga dan melatih para murid dengan baik. Untuk itu, saya Park Jiyeon, mewakili seluruh staf sekolah guna mengucapkan terima kasih.”

Miss Park membungkuk hormat di depan kelas lalu kembali berdiri tegak dengan senyum sumringahnya yang manis.

Tiba-tiba saja Jessica mengangkat tangan. Seluruh perhatian tertuju padanya, terutama Tiffany. Tidak pernah terlintas di pikirannya akan bertemu Jessica disini. Ketika mereka hampir bertabrakan di pintu kelas tadi, keduanya sama-sama canggung. Jarak tempat duduknya dengan Jessica cukup jauh maka ia dapat melihat dengan mudah wajah wanita itu.

“Ya, Nyonya Lee?”

“Maaf Miss Park, apakah kami para wali boleh ikut berkemah?”

Pertanyaan Jessica membuat Yoona menahan tawa. Mungkin Jessica adalah tipe orangtua yang sangat protektif.

“Ikut?” Miss Park tampak terkejut sekaligus heran. “Ehm, maaf Nyonya Lee, sepertinya hal itu tidak diizinkan oleh kepala sekolah.”

Jessica mengangkat bahu. “Putriku tidak pernah jauh dariku dan aku pun tidak terbiasa jauh darinya. Maklum saja, Lauren adalah anak tunggal. Sebelum tidur ia harus melakukan perawatan tubuh bersamaku, lalu meminum susunya, selanjutnya aku akan membacakan dongeng untuknya.”

Tiffany mendengus pelan. Ternyata Jessica sangat memanjakan putrinya.

“Dan diluar sana pasti banyak sekali nyamuk. Kulitnya pasti akan memerah dan gatal-gatal. Miss Park, aku tidak sanggup membayangkannya,” lanjut Jessica dengan wajah dramatis.

“Nyonya Lee, sepertinya Anda terlalu melebih-lebihkan,” komentar salah satu wali murid. Jessica mengangkat bahu tak peduli.

“Maaf jika aku menjawab, tetapi Nyonya Lee seharusnya tidak perlu khawatir. Aku rasa pihak sekolah pasti akan mengatasi hal tersebut. Mengenai perawatan tubuh, minum susu serta dibacakan dongeng, mungkin Miss Park bisa membantunya. Benar kan, Miss Park?” Yoona angkat bicara lalu melempar senyum ramah pada Jessica.

Miss Park Jiyeon tersenyum lembut. “Benar, Nyonya Cho. Nyonya Lee tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga Lauren tetap melakukan apa yang biasanya ia lakukan setiap malamnya.”

Jessica diam saja. Sejujurnya ia masih tidak rela melepaskan Lauren untuk beberapa hari yang singkat itu.

Dan sekarang giliran Kyuhyun yang mengangkat tangannya.

“Miss Park, apakah pihak sekolah bisa meyakinkan kami kalau tenda anak laki-laki dan anak perempuan dipisah?” tanya Kyuhyun sebelum dipersilahkan oleh guru muda di depan kelas.

Yoona menepuk keningnya atas pertanyaan konyol suaminya.

“Y-ya, aku juga ingin memastikan hal itu!” sahut Tiffany. Kyuhyun melirik ke arah Tiffany lalu tersenyum kaku. Ia kembali menatap ke depan.

Mendengar pertanyaan itu Miss Park tersenyum kecil. “Tentu saja, Tuan Cho, Nyonya Choi. Kami tidak mengizinkan anak laki-laki dan anak perempuan tidur dalam satu tenda.”

Semua wali murid saling mengobrol ringan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Miss Park memandangi mereka dan tanpa sengaja bertatapan lagi dengan Myungsoo. Pemuda tampan itu tampak menggerak-gerakkan mulutnya tanpa suara, seolah sedang menggoda Park Jiyeon. Gadis itu hanya melotot singkat lalu kembali berdehem gugup.

“Apa masih ada pertanyaan?” tanya Miss Park Jiyeon kepada seluruh isi kelas. Merasa semuanya sudah jelas, wali murid hanya diam saja.

“Baiklah, kalau begitu mari kita bersama-sama ke lapangan untuk memeriksa barang-barang bawaan anak-anak. Saya harap barang-barang mereka tidak terlalu banyak agar tidak merepotkan.”

 

 

 

 

Oh my God, Mommy! Aku tidak ingin membawa semua ini! Banyak sekali, Mommy!” rengek Lauren kepada Jessica ketika ibunya tersebut meletakkan tiga tas besar di samping bus. Juno dan Hana yang berada di dekatnya hanya menahan tawa. Juno dan Hana masing-masing membawa satu tas ransel. Di dalamnya sudah cukup perlengkapan selama 3 hari. Namun sepertinya Lauren akan menginap selama 1 bulan.

“Lauren-ah, di dalamnya ada semua perlengkapan yang kau butuhkan selama disana. Yang paling penting adalah pakaian, obat-obatan, peralatan mandi, selimut, bantal, sepatu, sandal, makanan-makanan ringan dan jaket musim dingin. Mommy tidak ingin kau kekurangan satupun, Sayang.”

Lauren menepuk dahinya. “Mommy, tetapi sepertinya pakaianku terlalu banyak.”

Jessica akan membuka mulutnya lagi ketika terdengar tawa Tiffany yang baru saja bergabung dengan Juno. Tentu saja hal itu menarik perhatian Jessica. Ia mendelik ke arah Tiffany.

“Maaf, apa kau sedang menertawaiku?” Jessica menanyainya. Tiffany mengangkat bahu.

“Tidak. Aku hanya takjub melihat bagaimana kau merepotkan anakmu sendiri, Jessica-ssi.”

Juno dan Lauren menatap ibunya masing-masing.

“Merepotkan? Tiffany-ssi, aku sama sekali merepotkan anakku. Aku justru membuatnya nyaman bepergian.”

Tiffany bersidekap. Sejujurnya ia tidak setuju dengan perlengkapan super banyak yang akan memberatkan Lauren.

“Apa kau tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya Lauren jika menyeret tiga tas besar itu sendirian? Kau tidak mengharapkan para guru yang membawakannya, kan?”

Giliran Jessica mengangkat bahu. “Bukannya itu tugas mereka?”

“Tugas mereka hanya membimbing anak-anak dan mengawasinya.”

“Tapi jika ada salah satu murid yang kesulitan dengan barang bawaan mereka, para guru pasti membantu. Kau boleh bertanya pada Miss Park, Fany!”

“Tapi para guru bukan pelayan, Jessie!”

Jessica mematung, begitu juga dengan Tiffany. Bukan karena perdebatan yang kembali muncul diantara mereka, namun karena nama panggilan yang biasa mereka gunakan ketika mereka sekolah dulu.

Tiffany tidak tahu betapa rindunya ia dipanggil ‘Fany’ oleh seseorang bernama Jessica Jung ini. Begitupun sebaliknya. Tidak ada lagi yang pernah memanggilnya ‘Jessie’ sejak pertengkaran itu terjadi.

Lalu, sebuah suara menginterupsi kecanggungan mereka. Miss Park datang bersama Myungsoo dan Bobby. Miss Park tampak terkejut melihat tiga tas besar yakni milik Lauren.

“Maaf, Nyonya Lee. Sepertinya tiga tas perlengkapan ini terlalu banyak,” ujar Miss Park hati-hati. Jessica menghela napas lalu menyerah.

“Oke, oke, baiklah. Aku akan menguranginya.”

Tiffany membawa Juno sedikit menjauh dari Lauren serta Hana. Tiffany melempar senyum ramah pada Yoona dan Kyuhyun yang sedang berbicara dengan Hana, lalu memandang anaknya sendiri. Tiffany mencengkram lembut kedua pundak Juno.

“Mom tidak ingin kau bertengkar lagi. Arraseo?”

Juno mengangguk patuh. “Mom tidak usah khawatir.”

Tiffany menangkup wajah anaknya dengan lembut. “Seandainya para orangtua diizinkan ikut.”

Juno menaikkan kedua alisnya, heran. “Mom tidak bisa ikut. Mom pasti mempunyai banyak sekali pekerjaan. Lalu bagaimana dengan Jino? Aku hanya pergi selama 3 hari, Mom.”

Tiffany memeluk serta mengecup puncak kepala Juno. “Ya, Mom tidak bisa. Jaga kesehatanmu disana. Berlatihlah dengan baik dan jadi anak yang pemberani.”

“Tentu saja, aku kan anak Choi Siwon Daddy, hihihi.”

Tiffany ikut terkekeh. Ia bersyukur memiliki Juno di dalam hidupnya.

Sementara itu, Kyuhyun dan Yoona sedang memastikan keadaan Hana. Jelas saja anak itu sangat bersemangat. Yoona tidak khawatir sama sekali sebab ia percaya putri sulungnya adalah anak mandiri. Namun Kyuhyun masih saja khawatir jika nanti Hana berada di tenda laki-laki, lebih tepatnya Juno.

Kyuhyun cemburu.

“Apa kau ingat dengan pesan Daddy? Jangan bergabung dengan anak laki-laki setelah jam 5 sore!”

Hana mengehela napas berat. Sementara Yoona hanya menahan senyum gelinya.

“Daddy sudah mengulanginya sebanyak 27 kali,” keluh Hana. Kyuhyun tampak tidak peduli.

Yoona merapikan ikat rambut Hana sambil berkomentar, “Honey, Daddy hanya sedang cemburu.”

Kyuhyun terperangah mendengarnya, sedangkan Hana mengernyitkan kening. Sebenarnya ia tidak begitu mengerti apa arti kata cemburu.

“Baiklah, Cho Hana. Kau sudah siap, sekarang lebih baik masuk ke dalam bis dan pilih tempat dudukmu. Teman-temanmu sudah banyak yang mendapatkan tempat duduk,” ujar Yoona sebelum Kyuhyun mencetuskan protes.

Hana menoleh pada Juno. Sepertinya anak itu juga sudah selesai berbicara dengan ibunya. Juno berlari menghampiri Hana lalu tersenyum polos kepada Kyuhyun dan Yoona. Yoona mengelus rambut Juno sementara Kyuhyun tersenyum masam.

“Kami berangkat, Mom!”

Tanpa menunggu jawaban para orangtua mereka, Hana dan Juno masuk ke dalam bis. Diikuti oleh Lauren, Bobby serta Miss Park. Total bis ada 3, dibagi menurut kelas masing-masing. Kini Tiffany, Jessica, Yoona, Kyuhyun dan Myungsoo berdiri sejajar sambil memandangi kepergian bis yang mengangkut anak-anak mereka. Jessica tampak masih khawatir. Bagaimana jika nanti Lauren menangis di malam hari?

“Jangan terlalu khawatir, Nyonya Lee. Kekasih—ehm, maksudku, Miss Park pasti akan menjaga Lauren dengan baik,” ujar Myungsoo mencoba menenangkan Jessica. Wanita itu menatapnya.

“Terima kasih. Apa kau Ayah Bobby? Wah, muda sekali.”

“Bukan, Nyonya Lee. Aku adalah pamannya. Orangtua Bobby tidak berada di Seoul saat ini. Kalau begitu, saya permisi.”

Jessica mengangguk lalu Myungsoo beranjak pergi. Jessica kembali menatap bis yang semakin menjauh. Tetap saja, ia tidak rela anaknya pergi dengan perlengkapan seminim itu. Baiklah, hari ini adalah hari Jumat. Itu artinya ia bisa mengambil cuti akhir pekan. Lagipula ia adalah bos di tempat kerjanya.

“Aku akan menyusul mereka!”

Tanpa disangka, Kyuhyun, Yoona dan Tiffany juga mendengar seruan bersemangat Jessica.

“Kau tidak akan menyusul mereka, Jessica-ssi!” tukas Tiffany. Jessica menatapnya acuh lalu berjalan ke mobilnya sendiri. Tiffany terburu-buru menyusul di belakang.

Sejujurnya, Tiffany juga memiliki keinginan yang sama.

“Kau tidak berhak melarangku. Aku akan meminta Dongwook Oppa untuk kesana. Kami bisa menginap di hotel dekat sana, bukan?”

Tiffany berjalan menuju mobilnya sendiri. Kebetulan diparkir tepat di samping mobil Jessica. Tiffany memasang kacamata hitamnya lalu membuka pintu mobil.

“Ide yang sangat konyol, Jessica-ssi.”

**

 

 

“Apa aku tidak salah dengar? Tiffany, itu adalah ide yang sangat konyol! Juno mungkin saja akan malu jika kita mendirikan kemah di sekitar sana hanya untuk mengawasinya!”

“Tetapi aku sangat penasaran bagaimana acara anak-anak berlangsung. Aku mengkhawatirkan Juno-ku.”

Siwon tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia berjalan mendekati Tiffany yang berdiri di depan meja kerjanya lalu memegang kedua pundak wanita itu. Tiffany masih memandangnya dengan ekspresi memelas.

Baby, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Juno akan baik-baik saja dan aku bisa pastikan kalau nanti ia akan bersenang-senang dengan temannya. Lagipula ia adalah anak laki-laki. Aneh sekali jika kita masih mengawasinya dalam acara sekolah.”

“Ck, tapi…”

Cup.

Sebuah kecupan ringan membungkam mulut Tiffany. Siwon tidak akan marah dengan sifat protektifnya namun tidak menutup kemungkinan kalau pria itu merasa jengkel. Tiffany mengerjapkan matanya lambat-lambat.

Jika tadi ia mengatai Jessica konyol, sekarang hal itu terjadi padanya. Di dalam perjalanan pulang dari sekolah Juno, Tiffany berpikir kalau ide Jessica boleh dicoba. Di sekitar sana pasti ada hotel. Siwon hanya melebih-lebihkan dengan mengatakan mereka mungkin akan mendirikan tenda disana.

“Aku ingin istriku berpikiran positif dan lebih sabar. Jika kau mencintai Juno, biarkan anak itu tumbuh menjadi manusia yang pemberani serta mandiri. Jika kita selalu mengawasi atau mengaturnya, ia akan merasa terkekang. Apa kau ingin Juno seperti itu, hm?”

Tiffany menggeleng. Siwon pun tersenyum lalu memeluknya erat. Tidak ada tantangan yang lebih mengasyikkan daripada melunakkan sikap keras kepala istrinya.

“Bagaimana kalau malam ini, kau, aku dan Jino makan malam diluar? Sounds good?”

**

 

 

“Sepertinya nafsu makanku hilang jika Hana tidak di rumah.”

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dirinya masih mengenakan pakaian kantor lengkap. Bahkan dasinya masih terikat erat di lehernya. Yoona mengalihkan pandangan kepada sang suami, lalu memutuskan berhenti menyusun pakaian di lemari.

Kaki jenjang Yoona melangkah mendekati tempat tidur. Ia bisa melihat Kyuhyun memejamkan mata. Yoona tersenyum tipis kemudian duduk di samping Kyuhyun. “Kita tidak terbiasa jauh darinya. Aku juga merasa seperti itu.”

Kyuhyun membuka matanya dan menatap Yoona. Ia bergerak cepat untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Yoona sebelum wanita itu mengelak. Tetapi Yoona menanggapinya dengan senyuman tulus.

“Tapi kau terlihat biasa saja,” komentar Kyuhyun sambil mencubit dagu istrinya.

“Aku tidak berlebihan sepertimu. Hana pergi untuk kepentingan sekolah dan ia pasti kembali lagi. Semua demi kebaikannya.”

Kyuhyun menghela napas.

“Aku tahu itu. Yang aku risaukan adalah Hana bersama teman-temannya.”

Yoona mengernyit. Tangannya mulai mengelus rambut tebal Kyuhyun. “Apa yang kau risaukan?”

Kyuhyun tampak berpikir sejenak, membayangkan betapa senangnya Hana bermain dengan Juno. Tidak, ia harus melupakan kecemburuannya. Tapi sepertinya Yoona terlalu jeli.

“Ah, aku tahu. Lagi-lagi kau takut Hana bermain bersama Juno atau anak laki-laki lainnya?”

Kyuhyun terdiam, tidak dapat menyangkal.

“Ckckck, Oppa. Jangan kekanak-kanakan begitu. Jika Hana tahu, dia pasti akan menertawakanmu.”

Kyuhyun tidak suka dengan nada mengejek istrinya. Meskipun ia menikmati sentuhan Yoona di wajahnya, hatinya masih terasa terusik. Kyuhyun membiarkan Yoona melepas ikatan dasi di lehernya. Yoona benar-benar istri yang baik, tak ada yang melebihinya, menurut Kyuhyun. Hanya saja wanita itu terkadang usil dengan menggoda titik terlemah Kyuhyun.

“Setelah Hana pulang dari sana, aku akan mengatakan kalau ayahnya adalah seorang pencemburu berat. Sama ketika kau dan aku remaja, kau tidak mengizinkan satupun teman laki-lakiku mendekat setelah kita resmi berpacaran. Kau bahkan menghapus nomor telepon mereka semua dari ponselku.”

Kyuhyun menengadah menatap wajah Yoona. “Itu karena temanmu laki-laki semua, Nyonya Cho! Bagaimana bisa gadis manis sepertimu bersikap seperti laki-laki dan sedikit sekali memiliki teman perempuan, ck.”

Wanita itu tersenyum tipis. “Ya, sampai-sampai ibumu tidak menyetujui putra tunggalnya ini menikah dengan gadis tomboy sepertiku.”

Kyuhyun mengerjap. Bagaimana mungkin Yoona mengingatkan kenangan itu lagi saat ini? Pria itu segera duduk di samping Yoona, menatap wanita itu dalam. Yoona menyunggingkan senyuman tapi Kyuhyun tahu kalau wanita itu terpaksa.

“Kenapa tiba-tiba sekali mengangkat topik itu? Aku tidak suka membicarakannya lagi, baby.”

“Oke, maafkan aku.”

Yoona menghindari tatapan penuh cinta Kyuhyun. Jika selama ini mereka bahagia dnegan pernikahan yang mereka jalani, namun sebenarnya Yoona masih menyimpan rasa sedih jauh di dasar hatinya. Kyuhyun menangkap kesedihan itu lagi dari mata istrinya, lantas menangkup wajah mungil tersebut. Mereka bertatapan dalam diam untuk beberapa detik.

“Dengar, aku mohon kau tidak memikirkan hal itu lagi. Eomma sangat mencintai Hana dan Kyungsan, begitu pun kepadamu. Beliau hanya terlalu gengsi mengakuinya. Lagipula siapa yang tidak akan mencintai wanita yang telah merawat kedua cucu serta putranya dengan baik, hm?” ujar Kyuhyun lembut. Yoona menatapnya penuh haru.

“Meskipun kau tomboy dan aneh, tetapi kau mampu menyayangi ibuku seperti kau menyayangi mendiang ibumu. Kau pantang menyerah saat ibuku mengusirmu berkali-kali setelah kau mengantarkan makanan untuknya. Kau tahu, beliau tetap memakan masakanmu meskipun secara diam-diam. Aku dan ayah sampai tidak dapat mencicipinya.”

Yoona tertawa sumbang. Ya, ia mengingat masa-masa sulit ketika mereka berpacaran dulu. Menjalin kasih dengan seorang lelaki yang memiliki kasta berbeda dengan dirinya memang sangat sulit di awal. Namun karena keteguhan cinta mereka, akhirnya semua berjalan baik-baik saja sampai sekarang.

Kyuhyun mencium Yoona dengan sangat lembut. Walaupun singkat, namun ia bisa merasakan cinta yang begitu besar disana. Sesaat mereka bertatapan dalam jarak dekat.

“Untuk apa ciuman itu?” tanya Yoona tersipu.

“Karena kau mengatai aku kekanakan.”

“Memang benar, kan? Kau juga mengatai aku aneh.”

“Ck, sudahlah. Sayang, perutku lapar. Bagaimana kalau kita makan malam diluar saja?”

**

 

Hana menyeka keringat di keningnya setelah selesai mendirikan tenda bersama 3 temannya yang lain. Dirinya tersenyum puas melihat hasil kerja mereka. Hana bersyukur sebab teknik memasang tenda dengan benar masih dapat diingatnya. Apalagi dikerjakan bersama teman-teman dengan suasana ceria. Jadi, kelompok Hana adalah kelompok murid kelas 2 pertama yang dapat mendirikan tenda.

“Yeah! Kelompok kita berhasil mendirikan tenda lebih awal! Miss Park pasti akan memberikan nilai yang tinggi!”

Hana memutar tubuhnya dan melihat Lauren sedang melompat kegirangan. Oh, Hana sampai lupa bahwa Lauren juga berada di kelompok yang sama dengannya. Tetapi sejak tadi Hana tidak melihat Lauren ikut andil dalam kelompok.

“Lauren, kemana saja? Aku tidak melihatmu daritadi,” komentar Hana.

“Benar. Lauren daritadi hanya duduk saja melihat kita bekerja,” sahut Ji Eun.

“Seharusnya Lauren tidak mendapatkan nilai dari Miss Park,” tandas Cha Suk, diiringi anggukan setuju dari Mi Seo.

Lauren menunduk menatap tanah. Teman-temannya benar, ia tidak pantas mendapatkan nilai tinggi. Bukan karena ia malas membantu, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lauren juga tidak terbiasa bekerja keras seperti itu, apalagi setelah menyelesaikannya keringat akan bercucuran.

Lalu Hana mendekati Lauren. Ia tersenyum tulus seraya mengusap pundak kanan temannya itu. Lauren pun mendongakkan kepala, lega melihat senyuman Hana.

“Tidak apa-apa, Lauren. Nilai kelompok adalah nilai Lauren juga.”

Lauren tersenyum penuh arti. “Terima kasih, Hana.”

Lauren tidak tahu kalau sebenarnya Hana berhati lembut, bertolak belakang dengan perilakunya yang tomboy. Sementara ketiga temannya yang lain bersungut-sungut protes.

“Cho Hana, Lee Lauren!”

Hana dan Lauren menolehkan kepala mereka untuk mencari sumber suara. Ternyata Miss Park, berdiri tak jauh dari mereka. Di belakangnya ada Juno serta Bobby. Hana tidak tahu mengapa Juno dan Bobby bersama ibu guru mereka, yang jelas ia sangat senang melihat Juno melambaikan tangan.

“Apa kalian ingin ikut mencari kayu bakar?”

 

 

 

“Waaah, ternyata berada di dalam hutan sangat menyenangkan! Aku merasa seperti Harry Potter yang tersesat di Forbidden Forest!” seru Juno senang. Kepalanya sibuk mendongak ke atas, memandangi burung-burung yang berterbangan saat mendengar langkah kaki keempat anak serta ibu guru mereka.

Miss Park memasukkan potongan-potongan kayu bakal ke keranjang yang digendong di punggungnya.

“Tapi kita tidak tersesat, Jun!” tukas Bobby. Anak itu memegang satu ranting kayu untuk menyingkirkan rumput-rumput tinggi yang menghalangi jalannya dan Lauren.

Juno tidak menanggapi perkataan Bobby, melainkan memperhatikan Hana yang telaten membantu Miss Park. Juno pun segera menghampiri mereka, membantu Miss Park memasukkan kayu-kayu kering ke dalam keranjang.

“Apa Miss Park bisa menggendongnya sendiri? Kalau tidak, aku bisa membantu,” Juno menawarkan dirinya dengan tulus. Bagaimanapun Miss Park adalah seorang perempuan. Juno mengingat pesan ayahnya untuk selalu membantu perempuan yang kesulitan.

Miss Park tersenyum senang lalu mengacak rambut Juno.

“Tidak perlu, Jun. Keranjang ini tidak terlalu berat,” jawabnya.

“Miss Park, kenapa tidak mengajak Uncle L saja kesini? Pasti dia sangat senang membantu Miss Park.”

Miss Park berdehem gugup. “A-apa maksudmu, Bobby?”

“Bukankah Miss Park dan Uncle L-ku adalah sepasang kekasih? Aku melihat foto kalian di wallpaper handphone Uncle L,” jelas Bobby dengan polosnya.

Miss Park terpaku, apalagi kini keempat pasang mata mungil itu menatapnya penuh minat. Kayu-kayu kering pun terabaikan di tanah sebab Juno dan kawan-kawan lebih penasaran dengan cerita Bobby.

“Wajah Miss Park merona merah,” komentar Hana.

“Apa Miss Park memakai blush on terlalu tebal?” Lauren bertanya lalu terkikik.

Miss Park segera memalingkan wajahnya lalu kembali menyibukkan diri menyusun kayu kering itu di dalam keranjang. “Apa yang kalian bicarakan? Ayo, cepat! Kita harus segera kembali ke tenda.”

Selanjutnya hanya ada bisik-bisik diantara keempat anak itu. Namun Miss Park mengabaikannya. Juno dan Bobby membantu Miss Park menaikkan keranjang ke gendongan, kemudian berjalan mengiringi ibu guru mereka tersebut. Hana berjalan bersama Lauren di belakang, sambil sesekali mengagumi sungai-sungai kecil yang mengalir.

“Hati-hati, disini sedikit licin anak-anak!” terdengar Miss Park memperingati.

Juno menoleh ke belakang untuk mengawasi kedua teman perempuannya. Matanya bertemu dengan mata Lauren dan mereka saling tersenyum. Di sampingnya, Hana hanya membuang pandangan ke arah lain. Baginya saat ini pemandangan sungai lebih indah.

Juno kembali menoleh ke depan dengan raut wajah sedikit murung. Maksud hatinya tadi ingin tersenyum kepada Hana, tetapi temannya itu justru menoleh ke arah lain. Juno melompati batu berlumut yang menghalangi jalan mereka. Batu itu pasti sangat licin, batinnya.

Lalu setelah berhasil melompatinya, Juno kembali menoleh ke belakang. Ia harus memperingati Hana dan Lauren atau kalau tidak…

“AAAAHHH!!!”

**

 

 

“Bagaimana keadaannya, Jiyeon-ssi?”

“Lauren sudah tidak menangis lagi, Sajangnim.”

“Syukurlah. Minta teman-temannya menemani. Sebaiknya Lauren beristirahat saja, tidak usah bergabung untuk acara nanti malam.”

Miss Park mengangguk dan Kepala Sekolah pun meninggalkannya. Gadis muda itu menghela napas. Lauren tergelincir karena menginjak batu berlumut. Beruntung anak itu tidak terkilir. Namun luka-luka di kakinya cukup untuk membuat anak itu menjerit histeris.

Hana duduk menemani Lauren di dalam tenda. Ia turut menyesal sebab tadi lengah menjaga Lauren. Seandainya tadi ia tidak membuang pandangannya karena Juno tersenyum kepada Lauren, mungkin ia bisa memegangi teman barunya itu agar tidak terjatuh.

Miss Park duduk di samping Hana lalu mengelus kepala Lauren. “Apa kaki Lauren masih sakit?” tanyanya. Lauren mengangguk lemah.

“Sedikit, Miss Park.”

“Apa Lauren ingin tidur? Kami akan menjaga Lauren disini.”

Lauren berpikir sejenak. Sejujurnya ia sedikit mengantuk karena tadi menangis cukup lama. Tapi tiba-tiba ia merindukan ibunya. Biasanya disaat ia menangis, Jessica selalu ada untuk memeluknya.

“Miss Park, bolehkah aku memelukmu?”

**

 

Jessica tidur dengan resah. Matanya tidak mengantuk sama sekali. Bagaimana bisa ia tidak dengan nyenyak sedangkan putrinya berada di tengah alam bebas sekarang. Bagaimana jika nanti Lauren digigiti nyamuk atau serangga, bermimpi buruk atau yang lebih menakutkan, dikejar beruang, harimau atau ular?

“Aaaah andweee!” serunya tak tahan.

Kontan saja lelaki di sampingnya terkejut. Padahal suaminya tersebut baru saja memejamkan mata setelah lelah seharian bekerja di kantor. Lee Dongwook menyalakan lampu di atas nakas dan menatap wajah Jessica yang penuh kecemasan.

“Ehm, ada apa, baby? Kenapa berteriak?”

Jessica menoleh ke samping dengan enggan. “Oppa, kenapa kau tidak mengizinkan aku menyusul Lauren? Aku sangat merindukannya sekarang.”

Dongwook menghela napasnya.

“Karena tidak ada orangtua murid yang berbuat seperti itu. Lauren akan baik-baik saja. Para guru dan teman-temannya ada disana. Kita akan ditertawakan semua orang jika menyusul Lauren.”

Jessica merajuk. “Tapi aku mempunyai feeling kalau Lauren tidak baik-baik saja.”

Dongwook tersenyum tipis lalu merengkuh tubuh istrinya. “Pikiranmu berlebihan, Sayang. Sekarang ayo kita tidur. Aku juga merindukanmu, kau tahu.”

Dongwook mengecup tepi bibir Jessica lalu membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya. Jessica memukul pelan dada bidang di hadapannya.

“Kau juga berlebihan.”

Dongwook hanya meresponnya dengan tawa kecil.

**

 

Semua murid dan para guru telah berkumpul di sekitar api unggun, kecuali Hana dan Lauren. Hana sengaja tidak ikut sebab ia tidak ingin meninggalkan Lauren sendirian. Miss Park sesekali melihat keadaan mereka. Jarak api unggun dan tenda memang tidak terlalu jauh, jadi Hana masih bisa menonton teman-temannya bernyanyi dari depan tendanya.

Hana memanfaatkan waktunya dengan menggambar sketsa. Yoona membelikannya seperangkat alat menggambar baru sebelum berangkat ke perkemahan. Tangan Hana menari-nari di atas buku gambarnya dengan lincah seiring dengan senyuman manis terukir di wajah manisnya.

Ia menggambar sebuah sketsa wajah anak laki-laki. Sketsa yang menjadi kesukaannya akhir-akhir ini. Hana tidak tahu mengapa setiap melihat hasil sketsanya, hatinya langsung berbunga-bunga.

“Hana!”

Buku gambar itu hampir saja terlepas dari cengkramannya saat ia mendengar suara anak laki-laki yang baru saja dipikirkannya. Hana bergegas menyembunyikan buku tersebut lalu menoleh ke arah suara. Juno dan Bobby berjalan menghampirinya.

Sebisa mungkin Hana memasang ekspresi santai di wajahnya. Tapi sejak kapan Juno dan Bobby akrab begitu?

“Juno, Bobby!”

Juno tersenyum lebar kemudian duduk di samping Hana, sementara Bobby berusaha mengintip ke dalam tenda.

“Bobby memintaku untuk menemaninya melihat keadaan Lauren,” ujar Juno menjelaskan kedatangannya.

“Hana, bagaimana keadaan Lauren? Apa sekarang dia sedang tidur?” Bobby bertanya kepada Hana, mengabaikan ucapan Juno.

“Lauren sudah tidur sejak tadi, Bobby.”

Bobby duduk di hadapan Juno dan Hana, melipat kedua kakinya lalu menghela napas berat. “Kasihan, Lauren. Pasti rasanya sakit sekali terkena ranting dan duri-duri itu.”

Hana mengangguk setuju. Juno yang tadinya melihat Hana memegang sesuatu, kini mencari-cari keberadaan benda itu yang seolah lenyap dalam sekejap.

“Tadi Hana memegang apa? Sepertinya buku gambar.”

“Eoh? Hmm, ya.”

“Hana sedang menggambar apa?”

Wajah Hana merona merah. Untung saja saat ini gelap jadi Juno dan Bobby tidak akan menyadarinya. Lantas gadis manis itu hanya menggelengkan kepalanya.

Mereka terdiam cukup lama, hanya untuk mendengarkan nyanyian-nyanyian sumbang dari para guru di lingkaran api unggun. Hana, Juno dan Bobby sibuk dengan pikiran masing-masing. Hana menatap langit malam yang saat itu bertabur banyak bintang. Berkemah memang pengalaman baru yang mengasyikkan baginya. Ia bisa lebih mengenal alam.

“Api unggun itu sangat membosankan. Tidak ada permainan yang menarik,” tiba-tiba Juno berbicara.

Bobby mengangkat kedua alisnya.

“Bukankah tadi kau bilang kalau acaranya tidak seru karena tidak ada Hana?” tandas Bobby.

Juno mengerjapkan mata berulang kali lalu menyamarkan kegugupannya dengan tawa yang cukup keras. Ia tertawa sendiri sementara Hana dan Bobby menatapnya dengan aneh. Hana tidak tahu harus berkata apa, tetapi ia ikut tertawa bersama Juno. Meskipun rasanya ia masih bingung.

“Juno? Apa itu suara Juno?”

Tiba-tiba Lauren keluar dari tenda, mengagetkan ketiga temannya. Juno dan Bobby dengan sigap membantu Lauren keluar. Lauren berjalan tertatih karena tulang keringnya semakin kaku. Lauren duduk di samping Juno dan berhadapan dengan Bobby.

Oh my God, kakimu memar! Ini memar, benar kan?” seru Bobby histeris setelah melihat keadaan kaki Lauren. Lauren mengangguk sedih.

“Apa rasanya sakit sekali?” tanya Juno. Lauren menatapnya dengan mata sendu.

“Sakit sekali, Jun. Sepertinya memar ini semakin besar. Aku sendiri takut melihatnya,” ujar Lauren murung.

“Sebaiknya kembali lagi ke dalam dan tidur,” Hana menyarankan. Ia tidak bisa semanis dan selembut kedua teman laki-lakinya dalam memberikan perhatian.

“Tadinya aku ingin tidur, tapi mendengar suara Juno aku jadi ingin bergabung dengan kalian. Juno, temani aku, ne.”

Juno mengangguk. Bagaimanapun Lauren adalah sahabatnya. Lagipula disini juga ada Hana.

“Sepertinya besok aku tidak akan kemana-mana. Aku takut ditinggal sendirian,” ungkap Lauren lagi. Ketiga temannya saling pandang.

“Biar aku yang menjaga Lauren!” ucap Bobby penuh keyakinan. Lauren menatapnya bimbang. Sejujurnya ia mengharapkan orang lain yang berkata seperti itu. Namun tampaknya Bobby yang lebih bersemangat.

“Tapi…,” ucap Lauren lalu menunduk.

Juno, Hana dan Bobby menunggu.

“…aku ingin Juno yang menjagaku.”

Hana terdiam, sedangkan Bobby termagu. Jelas sekali kedua anak itu merasa kecewa. Hana melirik ke arah Juno, penasaran dengan reaksi anak itu. Tapi Juno sama seperti mereka. Diam.

“Lauren-ah,” gumam Bobby lirih. “Kenapa harus Juno?”

Lauren mengangkat kepalanya lalu memejamkan mata. Sepertinya ia malu dengan apa yang akan dikatakannya.

“Karena aku menyukai Juno.”

Cup.

Hana dan Bobby mematung dengan mata melebar. Sementara Juno yang baru saja mendapat kecupan di pipinya, langsung pucat pasi. Matanya menatap Lauren tanpa kedip, mulutnya sedikit terbuka karena terlalu kaget. Lauren kembali menundukkan kepala, tentu saja malu.

Hana menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya, tetapi sepertinya lebih buruk ketika kucing peliharaannya mati. Ia ingin sekali menangis namun sebisa mungkin menahannya. Menangis hanya untuk orang lemah, pikirnya.

Tiba-tiba Bobby berdiri. Kepalanya menunduk menatap kakinya sendiri.

“Aku pergi dulu. Good night.”

 

 

 

 

 

 

Cut!

Hiks hiks hiks. Kasian Hana dan Bobby, ngerasa cemburu tapi nggak ngerti cemburu itu apa. Hahaha!

Btw, maaf yaa readers kalau saya suka lama ngepost ff nya. Mungkin karena kebandelan saya untuk mencoba berbagai jenis genre. Jadi pas lagi bikin ff yang satu ini, kepikiran untuk bikin ff yang lain. Alhasil, ff part awal saya lebih banyak dari yang selesai. Kadang ngeliat file ff hiatus di laptop rasanya pengen cium mba Yoona saking gemesnya #lhooo

So, doakan saya selalu supaya ff-ff yang masih harus dilanjutkan itu segera terselesaikan. Dan makasih dukungannya buat ff Red Door. Saya nggak nyangka kalian suka ff iseng itu. Tetap tunggu kelanjutannya, ya! (doakan saya berani ngelanjutinnya) wkwkwk.

 

Bye.

Salam cium, Echa.

71 thoughts on “(AR) Lil Choi’s First Love Part 3

  1. Sweet life bgt. Lihat para ortu yg bingung mikirin anak mereka…
    Lihat anak2 mereka yg cute. Brharap real. D tunggu ya next part jd nggak sabar nih hehe

  2. ketawa lihat sikap cemburunya tiffany sama kyuhyun hehehehehe😀
    Tipe orangtua yg sayang banget sama anaknya dan yg paling hebat siwon sama yoona yang bisa meluluhkan hati pasangan masing2😀
    Jessica sama tiffany juga masih gengsi nih mau minta maaf, kalau udah akur pasti makin seru hihihihi🙂
    Ditunggu part selanjutnya😀

  3. Kyaaa anak” ini lucu amat hihi masih kec udah cmburu”an hahaha hana mah apa cuma bs perjuangin juno sendiri bobby juga hm ditunggu next partnya yaaa

  4. Duhhhh nyonya choi protektif bgt ma juno, sekecil it aj segtu amat jelos ny gmna klo ntar juno udh smp punya pacar bisa bisa mati berdiri si babang siwon ngadepin istruny. Hahaa

    Ehhh, it si laurent, ingat umur sayang, gk usah kisseu kisseu ama pangeran ny choi bisa retak ntar bumi dibuat t org klo taw. Ahhh penasaran ma tindakan pattini lo taw, kasih taw pattini y kak echa ini berita. Ak mau lihat perang antara nyonya choi ama nyonya lee. HAhaaa

  5. Ya ampiun.. msh kcl udh cinta2’an hahaha.. unyu bgt sh, jd iri *loh
    Ga ank ga ortu sm2 sweet
    Jessica psti lngsng histeris pas ank2 pada pulang dr camp
    Haha..
    Next thor
    Di tunggu ^^

  6. Tiffany ama Jessica gak jauh beda yeee… masih ngemanjain anak-anaknya. Haaa pengen liat mereka akur deh😦
    Ah ternyata hubungan KyuNa gak selancar yang aku kira. Ternyata mereka pernah ngalamin masa-masa sulit toh… sempet terenyuh tadi pas bagian reminding! Tapi sekarang Ny.Cho udah bener-bener nerima Yoona kan? Ah aku jadi penasaran masa lalu KyuNa dilewatin apa aja 😁
    Ciyeee Hana & Bobby cemburu. Juno bingung. Lauren malu…
    Oemji bocah-bocah ini.. duh kak saya bener-bener pengen liat merea versi dewasa nya.
    Apa yang bakal Sifany Kyuna Wooksica lakuin buat anak-anaknya yg terlibat cinta monyet berkedok persahabatan ini heuheu

  7. Daebakk!! Ceritanya baguss!! Aku mau lihat JeTinya baikan, pas terakhir itu lucu bgt anak2 pada saling suka😃😂😁 maaf ya kak Echa baru bisa komen, aku udh baca ff ini dr lama. Ditunggu chapter selanjutnya!!!

  8. wah sk bgt nih crt. msh sputar ank2 mrk. mlht keakrabn n perhatian juno n hana bikin kita damai. yg mrk pkrkn bgmn bermain dgn nyaman satu sm laenny.
    lucu lht protektifny jeti n kyu.Aplg JeTi q hrm mrk bs baikn n bertemn baik lg.
    OMO lauren cium Juno, bobby n hana g sk. jgn2 mslh perasaan udh dlm hati mrk. tpkn mrk msh kcl utk pkrkn hal itu. ap mgkin mrk udh temikn kenyaman n perlindungn dlm bertemen…..lnjut…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s