(AR) Intense Part 1

Intense

By Elsa Mardian

 1448022363800

Main cast :

Hwang Tiffany as Hwang Tiffany

Choi Siwon as Choi Siwon

Cho Kyuhyun as Vampire Cho

 

Supporting cast:

Im Yoon Ah as Hwang Yoon Ah

Jung Jessica as Hwang Jessica

Kim Taeyeon as Hwang Taeyeon

Jung Krystal as Hwang Krystal

Genre : Fantasy, Romance, AU

Rating : PG 17

Disclaimer:

“Fanfiction ini saya persembahkan khusus untuk my lovely sister, Nindy Zulyanti. Selamat ulang tahun yang ke-21, sweety. Much love for you.”

Prolog

 

Rambut kuning keemasan panjangnya meliuk-liuk diterpa angin saat sepasang kaki jenjangnya terus melangkah lebih cepat. Sesekali ia menoleh ke belakang sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia mengisyaratkan kepada dua gadis di belakangnya untuk berlari lebih cepat. Tanah yang mereka pijak masih sedikit basah bekas hujan semalam. Embun-embun dari rerumputan membasahi ujung jubah ketiga gadis remaja itu.

“Hei, tunggu kami!”

“Kalian berlari seperti manusia. Cepatlah sedikit!”

“Aish, baiklah kalau begitu!”

Detik itu juga, kedua gadis itu muncul di samping kiri dan kanan gadis yang mengejek mereka berlari seperti manusia. Tentu saja kecepatan mereka melebihi batas wajar manusia normal.

“Jangan meledek kami seperti manusia lagi, Taenggo! Manusia adalah makhluk lemah, kami lebih kuat, tentu saja.”

“Haha, baiklah Jessie!” ucap gadis berambut kuning keemasan bernama Taeyeon atau lebih suka dipanggil saudari-saudarinya dengan Taenggo. Kemudian tatapan Taenggo jatuh pada gadis berambut merah di samping Jessica.

“Hei, Tiff. Masih ada darah di sudut bibirmu.”

Gadis berambut merah menatap terkejut ke arah Taenggo lalu buru-buru menyeka tepi bibirnya. Ia tidak merasa terluka pagi ini atau minum bersama Neneknya. Lalu saat menyadari kalau Taenggo telah menggodanya, gadis berambut merah itu menjentikkan jari yang baru saja menyeka tepi bibirnya. Kontan saja gumpalan kental berwarna merah itu melenting ke pipi Taenggo.

Jessica terkikik.

“Apa menurutmu darah termasuk jenis selai? Sialan kau, Taenggo. Aku sudah tidak menyentuh cairan menjijikkan itu lagi!” gerutu gadis berambut merah.

Taenggo menyeka selai stroberi di pipinya sampai bersih lalu terkekeh. “Sepertinya aku harus bertanya kepada Kakek kenapa kedua adikku sangat temperamental.”

Jessica dan gadis berambut merah itu—Tiffany—hanya mendengus sebal. Taenggo memang selalu saja menggoda mereka, tetapi berlaku penuh kasih sayang kepada kedua adik mereka yang lainnya.

Mereka telah memasuki area pemakaman. Jessica dan Tiffany berjalan terlebih dahulu ke dalam, sementara Taeyeon berdiri sejenak di pintu gerbang pemakaman tersebut. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Sedetik kemudian ia telah berhasil membuat perisai berwarna bening yang bertujuan untuk menghalangi niat siapa saja untuk memasuki area pemakaman.

Well, Taenggo tidak ingin pertemuan keluarganya terganggu oleh kehadiran manusia biasa.

“Sekarang kau yang lambat!” teriak Jessica jauh di depannya.

Taenggo hanya terkekeh lalu melesat secepat kilat hingga sampai lagi di samping kedua adiknya dalam sekejap mata. Kini mereka sampai di sebuah kuburan yang tampak lebih mewah dari kuburan lainnya. Jessica dan Tiffany mengalihkan pandangan kepada Taenggo.

“Kenapa?” Taenggo bertanya.

“Kenapa kau bertanya kenapa? Bukankah biasanya kau yang memanggil Kakek?” tuntut Tiffany.

“Ya Tuhan, kalian kan juga bisa melakukannya! Kalian sudah berusia 170 tahun tetapi masih takut kepada Kakek, ckckck.”

“Diam kau! Cepatlah, aku ingin cepat-cepat menyampaikan undangan ini lalu pulang dan tidur!” tukas Jessica.

Sambil menghela napas panjang, Taenggo maju selangkah mendekati nisan lalu mengetuknya seperti mengetuk sebuah pintu. Jessica dan Tiffany menunggu sambil bersidekap.

Lalu Taenggo melangkah mundur ketika tanah di samping nisan bergetar. Ketiga gadis itu memandangi tanah tersebut dengan posisi berdiri sejajar. Semakin lama, tanah yang bergetar tersebut menjadi tandus dan membentuk retakan-retakan besar. Selanjutnya seperti sihir yang bekerja, tanah tandus yang membentuk lingkaran berdiameter 2 meter tersebut lenyap, menyisakan sebuah lubang besar. Jessica dan Tiffany saling pandang.

“Jessie, apakah jika kita sudah tua kita juga akan tinggal di tempat seperti ini?” bisik Tiffany.

“Kau dan aku akan menjadi seperti Kakek. Kita semua begitu, Tiff. Cobalah menerima kenyataan,” balas Jessie murung.

“Oh!” seruan seseorang membuat ketiga gadis itu menatap ke dalam lubang. Tanpa menunggu lebih lama sebuah kepala menyembul dari dalam lalu menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya yang putih bersih.

Laki-laki dewasa tampan, berkulit sangat pucat, rambut hitam legam, hidung bangir yang terukir indah serta sepasang telinga agak runcing. Laki-laki yang memakai jubah sama persis seperti ketiga gadis itu tampak sangat bersahabat.

“Cucu-cucu manisku sudah datang. Ayo, cepat masuk! Kita minum wine bersama.”

 

 

**

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Intense

 

 

Author POV

 

Menjadi penulis terkenal dan juga tampan memang tidak mudah. Ketika semua orang berpikir seorang penulis fiksi itu berpenampilan culun dan ketinggalan jaman, namun pria ini justru sebaliknya. Wajahnya yang sangat tampan itu sangat mulus tanpa jerawat atau masalah kulit lainnya. Rambut hitam legam yang sedikit panjang, hidung mancung bahkan terlalu lancip, hingga bibir yang terukir tipis membantah semua persepsi bahwa penulis fiksi itu jelek. Dengan kacamata yang selalu bertengger di hidungnya, pria ini, Choi Siwon, tampak begitu cerdas. Memang itulah kebenarannya.

Choi Siwon baru saja menginjak usia 30 tahun. Seperti kebanyakan pria lajang dan sukses lainnya, Siwon tinggal sendirian di salah satu apartemen kota Seoul. Kesibukannya sehari-hari adalah menjadi editor di sebuah majalah terkemuka. Namun ia tidak begitu mencintai pekerjaan tersebut. Baginya tidak ada pekerjaan yang menarik dan patut dicintai di dunia ini selain menulis novel fiksi.

Malam itu Siwon baru saja pulang dari kantornya. Ia sempat singgah di supermarket untuk membeli bahan-bahan makanannya sehari-hari. Pria tampan berlesung pipi itu membalas sapaan ibu-ibu muda yang berpapasan dengannya. Ia melenggang penuh percaya diri ke dalam bangunan apartemen. Beberapa ibu muda disini memang sangat mengidolakan Siwon. Mereka bahkan mengoleksi novel-novel karya Siwon meskipun tidak menyukai ceritanya sama sekali. Yang mereka harapkan hanyalah sebuah tanda tangan serta senyuman manis dari penulisnya langsung.

Siwon melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Masih pukul 7 malam. Sepertinya ia masih bisa menulis satu bab untuk novel barunya. Setelah sekian lama terserang writer’s block—penyebabnya adalah kucing Persia kesayangannya mati—akhirnya sekarang Siwon mempunyai ide brilian lagi untuk melanjutkan kisah The Lady and Centaures miliknya.

Beberapa gadis cantik yang berpapasan dengannya menarik perhatian Siwon barang sebentar saja lalu ia kembali mengalihkan perhatiannya pada yang lain. Bukannya Siwon mengacuhkan mereka, namun ia memiliki trauma tersendiri pada makhluk berparas cantik nan seksi. Tentang traumanya yang memalukan, Siwon tidak ingin mengingat-ingatnya kembali.

Pria bertubuh tinggi tegap dan proposional itu masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka di hadapannya. Lift itu kosong. Siwon lekas menekan tombol lantai 16, tempat dimana kamar apartemennya berada.

Selagi menunggu lift sampai di lantai 16, Siwon memeriksa beberapa e-mail yang sejak tadi menunggu untuk dibacanya. Ada beberapa dari perusahaan penerbit, teman editor serta beberapa model yang mencoba mendekatinya. Siwon hanya dapat menggelengkan kepala tatkala membaca dua diantara model itu menyatakan cinta padanya.

Sorry girls, ucap Siwon dalam hati.

Lalu lift berhenti di lantai 5. Siwon mendengar suara pintu lift berdenting namun anehnya pintu itu tidak terbuka secepat biasanya. Siwon menegakkan kepala menatap lurus ke depan. Mendadak ia merasakan hawa di dalam lift mulai dingin. Siwon menoleh ke kanan dan kiri berulang kali, sepertinya tidak ada sumber pendingin di dalam ini. Dan pada akhirnya pintu lift itu terbuka, Siwon terpaku.

3 orang gadis luar biasa cantik memasuki lift. Dua bertubuh tinggi dan memiliki rambut coklat keemasan—warna rambut yang menakjubkan sekaligus langka bagi Siwon—serta satu orang lagi berambut hitam legam dan berwajah pucat. Sebenarnya ketiga gadis itu memang pucat. Namun ekspresi dingin di wajah mereka membuat Siwon termagu. Ia belum pernah melihat ketiga gadis itu selama ia tinggal disini.

Mungkin penghuni baru, batin Siwon.

Sambil mengabaikan hawa dingin yang melingkupinya, Siwon bergeser ke sudut belakang lift, membiarkan ketiga gadis itu berdiri di depannya. Siwon memperhatikan gadis berambut hitam itu tanpa dikehendakinya. Ia dapat melihat wajah cantik itu dari samping. Rambutnya yang sedikit jatuh ke samping membuat pemandangan Siwon semakin indah. Pria itupun mengerjapkan mata. Apa yang dipikirkannya?

Akhirnya lift kembali bergerak setelah si gadis berambut hitam menekan tombol 17. Itu artinya mereka berada satu lantai di atas Siwon. Siwon mencoba berdiri dalam hening. Lagipula mereka tidak saling mengenal.

“Eonnie, aku rasa kau lebih cantik dengan warna rambut ini.”

“Krys benar, Eonnie. Jika Eonnie ingin mengalahkan Kim Tae Hee dengan rambut ini, aku rasa ia tertinggal jauh.”

“Jangan berbicara begitu, Yoong. Tiffany Eonnie tidak ingin menjadi artis. Benar kan, Tiff Eonnie?”

Siwon dapat mendengar Tiffany tertawa kecil. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang saat melihat lengkungan mata gadis itu dari samping. Mungkin jika ia bisa melihatnya dari depan, semua akan tampak lebih indah.

Jadi namanya Tiffany, ucap Siwon dalam hati.

Tiba-tiba ponsel Siwon berdering, pertanda sebuah pesan singkat yang masuk. Siwon kelabakan membuka pesan tersebut agar deringannya berhenti, namun terlanjur sebab perhatian ketiga gadis di hadapannya sudah tertuju padanya.

Pandangan Siwon tertumbuk dengan Tiffany. Gadis itu menatapnya tanpa ekspresi, sementara kedua gadis cantik lainnya kembali melihat ke depan dengan tubuh menegang. Siwon tidak terlalu memperhatikan gesture tubuh mereka. Tatapannya hanya tertuju pada gadis berambut hitam dan kulit pucat yang bernama Tiffany.

Siwon yang biasanya tidak menyukai gadis cantik, kini justru tak mampu mengalihkan pandangannya dari gadis yang memiliki tatapan dingin tersebut. Bahkan ketika gadis itu kembali menghadap ke depan, Siwon masih enggan melepaskan pandangannya.

Selanjutnya suasana terasa hening. Tidak ada obrolan singkat dari kedua gadis berambut coklat keemasan. Hawa dingin yang dirasakan Siwon terasa semakin kental. Pria itu menggenggam erat tali kantong-kantong belanjaannya saat lift mendekati lantai 16. Sudah saatnya ia pergi.

TING!

Dentingan pintu lift yang terbuka memberi aba-aba pada Siwon untuk melangkah keluar dari sana. Sebelum ia mengucapkan permisi pada gadis-gadis tersebut, gadis berambut hitam dan salah satu gadis lainnya memberi jarak untuk dilewati Siwon. Siwon menyeret langkah keluar dan tanpa sengaja tangannya bertabrakan dengan tangan si gadis berambut hitam.

Siwon tidak menoleh ke belakang lagi. Telinganya menangkap suara pintu lift tertutup lalu bernapas lega. Sepertinya berada di dalam lift tadi sangat menyesakkan dadanya. Sampai saat ini pun Siwon masih merasakan betapa lemah dirinya. Tetapi gadis itu sangat menarik perhatiannya. Siapakah gerangan gadis bernama Tiffany tersebut?

 

 

Tiffany POV

 

Aku melangkah perlahan bersama kedua adik kembarku, Yoona dan Krystal. Jantungku masih berdegup tak karuan. Bukan karena merasa cemas penampilan baruku ini akan diprotes oleh Taenggo dan Jessica, melainkan karena pria yang mempunyai sorot mata tajam di lift tadi.

Aku memandangi tangan yang tadi bersentuhan dengannya dan termenung. Aku berharap dia baik-baik saja sekarang. Tidak seharusnya pria itu bersentuhan denganku. Sore ini aku telah mengorbankan banyak orang dengan sengaja. Dan pria yang bersama kami di lift tadi bukanlah salah satunya.

Tapi kenapa aku begitu memikirkan lirikan matanya?

“Tiff Eonnie, ada apa?”

Pertanyaan Yoona menyadarkanku dari lamunan. Aku menatapnya.

“Kenapa Eonnie memandangi tangan Eonnie? Apa energi yang Eonnie hisap dari penata rambut tadi masih terasa?” giliran Krystal yang bertanya.

Lantas aku tersenyum kaku.

“Tidak, Krys. Aku justru merasa prihatin pada penata rambut tadi. Tetapi sebenarnya bukan inginku menghisap energinya,” jawabku kalem. Yoona menghela napas lalu mengalungkan tangan di leher adik kembarnya.

“Terkadang aku ingin merubah sedikit kekuatan kita. Maksudku, kita ini vampire modern yang menghisap energi manusia yang kita sentuh. Tapi aku tidak ingin orang yang tidak bersalah menjadi korban.”

Aku membenarkan ucapan adikku di dalam hati. Ya, seandainya saja.

“Yoongie benar. Seperti minggu lalu saat dia menyentuh Donghae Oppa, pria itu langsung pingsan bahkan sebelum menciumnya. Benar kan, Yoong?” timpal Krys lalu kami menyaksikan wajah Yoona memerah.

“Diam kau, Krys!” desis Yoona kesal seraya menjauhkan tubuh mereka. Krystal tetap saja mendekati Yoona dan memeluk pinggangnya posesif, membuatku tergelak dengan tingkah mereka. Adik kembarku selalu mempunyai cara membuatku terhibur.

Maka aku langsung berdiri di tengah-tengah mereka, merangkul lengan keduanya kemudian kupeluk erat. Dengan serentak Yoona dan Krystal mengalungkan tangannya di pinggangku. Kami terus berjalan menuju kamar nomor 108, tempat dimana aku tinggal untuk sementara.

“Eonnie yakin tidak apa-apa? Aku tahu Eonnie mendadak banyak pikiran,” ucap Yoona dengan mimik wajah penuh aegyo.

“Hmm, aku tidak apa-apa. Nah, kita sudah sampai.”

Krystal membukakan pintu untuk kami. Aku mempersilahkan mereka untuk masuk terlebih dahulu. Sebenarnya aku tahu kami bertiga akan mendapatkan kejutan malam ini. Instingku mengatakan kejutan kali ini tidak terlalu parah seperti minggu lalu. Tapi tetap saja aku tidak suka kejutan.

Sampai di dalam aku dapat mendengar si kembar berteriak kesenangan. Ya, itu mereka. Pasti mereka datang untuk mengabari sesuatu seperti minggu lalu. Aku pernah menyarankan pada mereka untuk menjadi burung hantu saja sebab aku tidak melihat pekerjaan lain yang mereka lakukan selain mengantarkan pesan. Dan aku mendapatkan sebuah pukulan di bokongku atas kejengkelan mereka.

“Hmm, kalian lagi,” keluhku setelah melihat si kembar memeluk mereka satu persatu.

Taenggo dan Jessie, dua kakakku. Seharusnya aku senang, namun moodku terlalu buruk hari ini.

“Yaack! Apa kau benar-benar tidak senang melihat kami datang?!” seru Jessie tidak terima. Aku melepaskan mantel dan syal yang sejak tadi mengukung tubuhku dan melemparnya sembarangan ke atas sofa ruang tamu.

“Aku senang melihat kalian datang, tetapi tidak dengan maksud kedatangan kalian kesini,” jawabku terus terang. Aku menggulung lengan sweater sampai siku lalu beranjak ke dapur. Jessie hanya mencibir padaku tetapi Taenggo mengikutiku di belakang.

“Tiff, maaf jika kau tidak menyukainya. Tapi ini pesan dari Papa. Kau harus pulang akhir minggu ini karena semuanya telah dipersiapkan dengan matang. Calon suamimu sudah berkali-kali mendatangi rumah kita untuk bertemu denganmu. Tapi karena kau memohon pada Papa untuk memberimu waktu, maka kami tidak memberikan alamatmu disini. Bukankah Papa sudah mengalah?”

Aku mengurungkan niat untuk mengambil gelas kosong yang tersusun di lemari, kemudian membalikkan tubuhku menghadap Taenggo. Demi Tuhan, gadis ini adalah kakak yang sangat kucintai. Namun karena pesan sialan itu aku jadi menganggapnya menyebalkan.

“Taenggo, dengar! Pertama, aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mengenal Tuan Cho…Cho…ah whatever! Aku tidak akan menikah dengan vampire kuno yang masih menghisap darah. Kedua, aku mencintai pekerjaanku disini. Aku ingin menjadi seorang model terkenal, Taenggo! Ketiga, aku masih ingin menemani kedua adik kembarku di dunia manusia ini. Mereka mencintai sekolah mereka meskipun setiap detiknya mereka harus berhati-hati tidak menyentuh teman-temannya. Apa kau tidak mengerti betapa sulitnya menjadi seorang vampire? Meskipun kita vampire modern sekalipun, tetapi tetap saja jika orang-orang tahu kita semua akan dijauhi! Dan sekarang Papa memaksaku untuk menikah dengan anak sahabatnya dengan alasan anak sahabatnya itu akan segera naik tahta. Brengsek!”

“Tiffany!”

Aku belum puas. Taenggo seolah-olah menjadi tempat pelampiasanku atas semua kekesalanku hari ini.

“Maaf, Taenggo. Tapi aku benar-benar kesal hari ini,” ucapku akhirnya. Aku tahu Taenggo tidak seharusnya mendapatkan omelan dariku. Aku mengambil satu gelas kosong, mengisinya dengan air kran lalu menegaknya sampai habis.

Aku benar-benar mendambakan menjadi seorang model di dunia manusia. Bagiku pekerjaan yang tidak banyak bicara dan sedikit angkuh itu sangat keren. Lagipula Mama dan Nenek sangat mendukung keputusanku. Kami pun memiliki uang yang sangat banyak. Tidak masalah bagiku untuk menghabiskannya disini bersama kedua adik kembarku. Di samping itu, disini banyak energi yang siap dihisap dibandingkan tinggal di dunia vampire.

Taenggo mendekatiku lalu mengelus puncak kepalaku. “Memangnya apa yang membuatmu kesal hari ini?”

Aku menunduk menatap lantai kemudian mengedikkan sebelah bahu. “Aku ditolak oleh salah satu agensi karena rambutku berwarna merah tak wajar. Mereka kurang ajar, kan, seenaknya mengatakan warna rambutku merah tak wajar. Dan mereka mengatakan kalau aku kelebihan berat badan, padahal berat badanku tak jauh berbeda dari Yoona.”

“Oleh sebab itu kau mewarnai rambutmu dengan warna…ini?”

Aku cemberut menatap Taenggo. “Kau berkata seolah-olah warna rambutku menjijikkan.”

Taenggo buru-buru menggeleng. “Tidak, tentu saja tidak.”

“Jangan berbohong. Nada bicaramu seperti itu.”

Taenggo memutar bola matanya. “Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke ruang tamu dan membicarakan masalah ini baik-baik.”

 

 

Author POV

 

“Jadi…”

Tiffany, Jessica dan si kembar Yoona Krystal duduk dalam diam tanpa mengalihkan pandangan dari si sulung, Taeyeon.

“…maksud kedatanganku dan Jessica kesini adalah untuk menyampaikan pesan dari Papa. Papa ingin Tiffany pulang akhir pekan ini untuk persiapan pernikahannya dengan Tuan Cho Kyuhyun, putra tunggal King Joseph. Kita semua tahu kalau King Joseph adalah sahabat baik Papa, jadi mustahil untuk membantah perintah ini. Tiffany, aku mohon padamu untuk pulang. Aku tidak ingin Papa yang menjemputmu sendiri kesini dan mengurung kita selamanya di rumah.”

Tiffany menelan ludah sementara saudarinya yang lain saling pandang dengan bimbang.

“Apa ada syarat lain agar aku bisa membatalkan pernikahan itu?” tawar Tiffany. Ia masih ingat pesan Papa minggu lalu. “Kalau tidak salah Papa memberikan satu syarat padaku jika aku memang ingin menolak perjodohan konyol ini.”

“Oh,” tukas Jessica. “Ya, aku ingat. Tapi itu mustahil, Tiff.”

Tiffany mengernyitkan kening. Selain gemas dengan syarat yang ia lupakan, gadis itu juga kesal dengan sikap pesimis Jessica.

“Kenapa mustahil?”

“Karena syaratnya adalah…”

**

 

 

Sarapan pagi ini adalah roti gandum, telur mata sapi dan sosis panggang. Tiffany tahu kedua adiknya sangat menyukai makanan itu. Taeyeon dan Jessica langsung pulang semalam setelah berdebat dengan Tiffany. Setidaknya perdebatan itu menghasilkan sebuah kesepakatan yang mungkin saja menguntungkan Tiffany, meskipun kemungkinannya hanya dibawah 30 persen.

“Jadi Eonnie benar-benar ingin melakukan syarat itu?”

“Tapi bagaimana caranya?”

Tiffany menghela napas berat mendapati pertanyaan dari kedua adiknya.

“Aku sendiri tidak tahu. Yang aku tahu malam itu adalah bagaimana caranya menolak pernikahan dengan Cho…Cho… sial, kenapa aku selalu lupa namanya?”

“Cho Kyuhyun, Eonnie. Pangeran Cho,” ralat Yoona tersenyum.

“Ya, orang itu. Aku heran kenapa Papa memilihku sebagai kandidat. Setidaknya masih ada dua anak gadisnya yang lebih tua dariku,” gerutu Tiffany sambil mengiris-iris sosisnya menjadi bagian kecil.

“Mungkin karena Eonnie yang paling cantik?” cetus Yoona.

“Tidak, aku tidak setuju. Aku juga cantik, kok!” sanggah Krystal lalu mengedip-ngedipkan matanya sok manis. Tiffany tertawa.

“Atau karena Tiffany Eonnie yang paling kuat? Tiffany dapat menghisap energi banyak manusia sekaligus bahkan hanya lewat tatapan matanya. Benar?”

“Ya, kau benar Yoong. Tapi itu jika Tiffany Eonnie sedang marah.”

“Tidak, Krys. Tiffany Eonnie bisa melakukannya kapan saja ia inginkan, bukan hanya saat marah.”

“Sudahlah, kita jangan membahasnya sekarang. Kalian tidak ingin moodku kembali buruk, kan? Aku hanya ingin memikirkan bagaimana mendapatkan kekasih dalam satu minggu. Kekasih yang dapat mengalahkan Cho Kyuhyun dalam pertarungan pedang. Jika kita tidak mendapatkan yang ahli pedang, aku bisa mengajarinya. Jadi, please, bantu aku.”

Yoona dan Krystal terdiam. Syarat yang sangat mustahil diwujudkan menurut mereka ternyata menjadi senjata pamungkas untuk kakaknya. Di dunia manusia modern seperti saat ini sudah jarang ditemukan seorang pria yang ahli pedang. Kalaupun ada, pria itu harus bersedia menjadi kekasih Tiffany.

“Ayo, mulai hari ini kita melakukan misi pencarian calon kekasih untuk Tiffany Eonnie yang ahli pedang serta beladiri. Baiklah, aku akan menuliskan nama-nama yang kukenal!” seru Yoona semangat.

“Kau benar, Yoong. Tapi jangan tulis nama-nama pria yang kau sukai. Kau mau mereka benar-benar jatuh cinta pada Eonnie?” tandas Krystal.

“Tentu saja tidak.”

Tiffany takjub melihat kedua adiknya yang penuh semangat. Ia tahu kalau si kembar ini juga berniat bolos sekolah hanya untuk membantunya. Tiffany tersenyum dalam diam. Jika kedua kakaknya sangat patuh pada perintah Papa, ia tetap bersyukur memiliki dua makhluk menggemaskan berada dalam tim yang sama dengannya.

 

 

 

 

“Baiklah, Eonnie. Dengarkan baik-baik, okay. Aku akan membacakan nama-nama kandidatku.”

Tiffany mengangguk patuh. Ia duduk sambil menyilangkan kaki di atas sofa, sementara kedua adiknya berdiri di hadapannya, memegang sebuah buku catatan dan pena di tangan mereka.

Krystal mendapatkan giliran pertama.

“Kandidat pertama dariku adalah Bruce Felton, vampire tampan dari Irlandia. Aku bertemu dengannya di pesta leluhur Hwang bulan lalu. Bruce sempat berkata padaku bahwa Tiffany Eonnie sangat cantik. Tapi aku ragu jika ia bisa menggunakan pedang.”

Tiffany mengedikkan bahu. “Tidak masalah. Catat nomor teleponnya, Krys. Next!”

“Oke. Kandidat selanjutnya adalah Thomas Ye. Sebenarnya vampire dari Taiwan ini menyukai Yoona, tapi siapa tahu setelah melihat Eonnie ia juga jatuh hati,” ujar Krystal lalu menatap Yoona. Yoona terperangah. Tentu saja ia ingat dengan pemuda tampan yang satu itu.

“Krystal, jangankan memegang pedang, aku mengajaknya berbicara saja ia sudah terkencing-kencing karena gugup!” tukas Yoona murung.

Tiffany tidak dapat menahan senyumnya.

Next!” seru Tiffany.

Krystal berdehem lalu melanjutkannya. “Terakhir aku mencalonkan nama Kim Heechul. Kalian pasti ingat vampire sekaligus polisi muda yang satu itu. Sepertinya ia ahli bela diri. Aku pernah memergokinya mencuri-curi pandang pada Tiffany Eonnie saat kita bertiga bertemu dengannya di café Nyonya Oh.”

Tiffany mengangguk setuju meskipun ia tidak tahu kalau Heechul diam-diam mencuri pandang padanya. “Baiklah, nanti kita temui Heechul. Yoona, giliranmu sekarang!”

Yoona mengangkat buku catatannya sembari menyeringai senang. Sepertinya ia tidak ingin kalah dari Krystal.

“Aku hanya memiliki dua orang kandidat sebab aku tidak bisa mengingat yang lainnya. Oke, yang pertama adalah Nichkhun Horvejkul, vampire asal Thailand yang kutemui saat kita berlibur kesana beberapa bulan yang lalu. Aku terpesona melihat ketampanannya dan ia juga berkata padaku kalau ilmu bela dirinya sudah sangat professional. Jadi, aku mencantumkan namanya.”

Krystal mendengus. “Pria itu hanya pamer padamu, Yoong.”

Yoona mengerjap. “Ya mana aku tahu.”

Tiffany berdehem. “Oke, catat saja nomor teleponnya. Mungkin Nichkhun itu bisa menyelamatkanku,” ujarnya asal. “Lalu, siapa kandidat terakhirmu?”

Yoona menggigit bibir bawahnya lalu melirik Tiffany dan Krystal bergantian. Ia sangat tidak yakin dengan pilihannya yang satu ini sebab intensitas pertemuan mereka bisa dikatakan hanya sekejap mata. Namun entah mengapa tiba-tiba pria itu muncul begitu saja dalam pikiran Yoona.

“Aku harap Eonnie tidak menertawaiku.”

Kening Tiffany mengernyit. “Waeyo?”

“Karena menurutku, pria tampan yang kita temui di lift kemarin sepertinya bisa membantumu, Eonnie.”

 

 

Tiffany POV

 

Aku tertegun. Pria tampan yang mereka temui di lift kemarin? Apa yang dimaksud Yoona adalah pria berambut hitam dengan kacamata yang bertengger di hidung itu? Aku baru ingat kalau semalam bertemu dengan seorang pria yang sukses membuat jantungku berdebar tak karuan.

Heol, kenapa kau mencalonkan orang yang tidak kita kenal untuk Eonnie?” Krystal menanyai Yoona.

“Hmm, aku juga tidak tahu. Semalam aku sempat melihatnya melirik Eonnie dengan tatapan tidak biasa, meskipun kita berdua juga melotot padanya, Krys! Dan apakah kau tidak lihat tubuhnya yang begitu sempurna? Pasti ia rajin berolah raga dan bela diri. Maaf jika aku mengada-ada, tapi aku suka melihat caranya menatap Tiffany Eonnie,” jelas Yoona.

Jadi Yoona juga memperhatikan pria itu. Aku menyandarkan tubuhku ke kepala sofa. Pilihan terakhir Yoona seketika membuatku kalut. Aku…suka saat pria itu menatapku sekaligus takut menyakitinya. Lagipula kami tidak saling mengenal. Mustahil aku meminta bantuan padanya untuk bertarung dengan Cho Kyuhyun, seorang vampire yang masih menghisap darah. Tidak ada laki-laki yang rela berkorban sebesar itu untuk gadis yang baru dikenalnya.

“Eonnie, menurutku pria yang tinggal di gedung yang sama dengan kita adalah pilihan terbaik. Kalian bisa bertemu sesering mungkin untuk mendiskusikan hal ini. Tidak ada salahnya mencoba,” ujar Yoona lembut. Krystal menghela napas di sampingnya.

“Tapi, dia benar-benar orang asing bagi kita. Dia juga bukan seorang vampire. Kita baru dua minggu tinggal disini, Yoong. Apa kau yakin dia bisa membantu?”

“Jangan khawatir, Eonnie!” ucap Krystal segera. “Kita masih mempunyai Heechul, Bruce, dan Nichkhun sebagai cadangan.”

Aku berpikir lebih keras. Tidak, pria itu tidak akan kulibatkan dalam masalah ini. Ia menatapku seperti tadi malam mungkin karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. Wajar saja jika dipandangi oleh seseorang yang baru pertama kali melihat kita, kan? Aku tidak akan menganggapnya berlebihan. Dan Yoona harus tahu bahwa pria yang membantuku harus seorang vampire.

“Sebaiknya jangan, Yoong. Aku takut nyawanya akan terancam karena membantuku,” jawabku lemah. Yoona pun tampak sedikit kecewa. “Kalau begitu, kita temui Heechul saja. Hanya dia yang berada di dekat sini.”

Setelah berkata seperti itu, aku pun bangkit dan beranjak ke kamar, meninggalkan Yoona dan Krystal yang saling pandang.

“Oh ya!” kepala Tiffany menyembul dari dalam kamar. Kedua adiknya menoleh kesana. “Ada yang melihat kalungku?”

“Kalung apa?” sahut Yoona dan Krystal bersamaan.

“Kalung pemberian Mama saat ulang tahunku yang ke-199.”

Yoona dan Krystal saling pandang. Mereka benar-benar lupa.

“Astaga, kalung berliontin maroon, girls!”

“Oh, kalung itu! Eonnie, kalung itu sedang tergantung di leher Krystal. Kemarin dia memakainya untuk menarik perhatian—“

“Kembalikan segera, Hwang Krystal!” seru Tiffany lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Krystal memberi tatapan membunuh pada saudari kembarnya.

“Dasar mulut got.”

 

 

Author POV

 

Siwon bangun sambil menggerutu. Ia baru tidur selama 2 jam setelah bergelut dengan pikirannya untuk menyelesaikan satu bab novel. Dan saat ini ia dibangunkan oleh suara bel yang tak sabaran dari tamu yang seingatnya tidak diundang. Siwon merasa tidak memiliki janji dengan siapapun, begitu juga dengan jadwal pekerjaan mendesak di pagi hari. Hari ini Siwon akan ke kantor pukul 2 siang, jadi seharusnya ia bisa tidur puas pagi ini.

Bunyi bel terus berlanjut sementara Siwon menyeret langkahnya menuju pintu. Kepalanya pening akibat terbangun mendadak. Dan ketika ia merasa gendang telinganya nyaris pecah karena bunyi bel, ia telah mencapai gagang pintu.

Clek.

Pintu berayun ke dalam dan Siwon melongokkan kepala ke luar. Matanya masih menyipit, seperti direkatkan oleh lem super kuat. Ia juga lupa memakai kacamatanya, membuat sosok di hadapannya saat ini menjadi seperti bayang-bayang semu.

Nugusaeyo?” tanyanya serak.

Tamunya ada dua orang. Siwon tidak tahu siapa mereka dan juga tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas, tapi ia dapat memastikan kalau tamunya adalah perempuan.

“Aku Hwang Yoona dan ini adik kembarku, Hwang Krystal.”

Siwon berdiri tegap dan memiringkan kepala. Ia mengingat-ingat apakah ia mempunyai teman bernama Yoona dan Krystal. Rasanya tidak.

“Maaf, apa kita saling mengenal?” tanya Siwon tanpa basa-basi.

“Tidak,” jawab keduanya serentak.

Siwon terdiam sebentar. Lucu sekali kedua gadis ini, pikirnya. Mereka tidak saling kenal namun kedua gadis ini mengunjunginya. Tentu saja mereka punya tujuan. Jika mereka masih menjawab tidak, Siwon pastikan akan membanting pintu di depan hidung mereka saat ini juga.

“Lalu,” ucap Siwon penuh kesabaran. “Apa yang membuat kalian datang kemari?”

“Kami ingin meminta bantuanmu, Oppa tampan. Hihihi.”

 

Siwon POV

 

Oke, ini tidak benar. Pertama, mereka telah membangunkan tidur lelapku. Kedua, mereka meminta bantuan padaku padahal kami baru saja bertemu. Dan ketiga, ia memujiku tampan. Apa maksudnya? Apa mereka ingin merayuku? Aku akan meluruskan hal ini kepada mereka. Aku butuh istirahat karena semalam begadang sampai pagi dan tidak berniat membantu gadis-gadis belia asing seperti mereka.

“Apa kita akan berbicara di depan pintu terus? Tetangga Oppa pasti akan berpikiran buruk,” celoteh salah satu dari mereka. Kalau tidak salah gadis yang bernama Hwang Yoona. Sepertinya dia yang dominan berbicara sejak tadi.

“Yaa, kami ingin masuk. Ini benar-benar emergency, kau tahu.”

Dan sepertinya gadis yang bernama Hwang Krystal ini kurang sopan.

“Baiklah, tapi jangan lama-lama,” ucapku menyerah. Aku membuka pintu lebih lebar dan membiarkan mereka masuk. Mimpi apa aku tadi sampai kedatangan tamu tak diundang. Jika mereka laki-laki aku akan terang-terangan mengusir. Tapi demi citra baikku di lingkungan ini, aku tetap ramah kepada mereka.

Setelah mempersilahkan mereka berdua duduk di ruang tamu, aku permisi ke kamar untuk mengambil kacamata. Tidak nyaman jika kami mengobrol tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuk wajahnya. Tapi samar-samar aku bisa melihat warna rambut mereka yang mencolok. Seperti warna emas.

Tunggu, sepertinya aku pernah melihat warna rambut itu. Tapi dimana?

Aku menyambar kacamata persegi di atas nakas lalu memakainya. Masa bodoh dengan mencuci wajahku terlebih dahulu. Setelah gadis-gadis itu pergi aku akan kembali ke tempat tidur.

Kakiku melangkah cepat menuju ruang tamu lalu menemukan mereka tengah memandangiku heran. Langkahku otomatis berhenti saat pandangan kami beradu. Aku bahkan belum mencapai sofa sebelum menyadari kalau ternyata aku benar-benar pernah melihat rambut coklat keemasan itu. Bukankah mereka adalah gadis-gadis yang kutemui di lift semalam? Meskipun aku tidak mengingat dengan jelas wajah mereka, aku ingat warna rambut aneh itu serta postur tubuh mereka.

Aku menelan ludah, gugup. Saat ini ada dua orang gadis luar biasa cantik duduk di sofa ruang tamuku. Aku tidak tahu apakah ini anugerah atau justru musibah. Yang kutahu adalah tubuhku sedikit gemetar sekarang.

“Yoong, Oppa ini tidak menggosok gigi atau membasuh wajahnya terlebih dahulu. Jorok sekali. Apa kau yakin dia orang yang tepat?” aku mendengar Krystal berdesis pada Yoona.

Dia bilang apa?!

“Hush, diamlah Krys. Biarkan aku yang mengurus ini,” balas Yoona. Tidak sadarkah mereka aku masih berdiri disini?

Sebelum aku mengomeli kedua gadis ini—yang ku yakini kalau mereka masih anak sekolah—Yoona membuka mulut terlebih dahulu.

“Oppa, kenapa tidak duduk? Aku janji setelah menyampaikan permintaan ini, kami akan segera pergi. Karena jika kami menghilang begitu lama, Tiffany Eonnie akan marah,” ujarnya lembut.

Aku masih ingat dengan nama itu. Tiffany…Tiffany…Tiffany. Kenapa namanya sangat indah? Aku masih mengingat setiap lekuk wajahnya. Semalam aku tidak tahu seperti apa wajahku ketika menatapnya berlama-lama. Tapi, apa urusan kedua adiknya kesini?

“Duduklah, Oppa. Anyway, namamu siapa?” tukas Krystal. Aku duduk di sofa, mencoba untuk nyaman. Selama ini aku sibuk menghindari gadis-gadis berparas cantik, lalu sekarang justru aku dihadapkan langsung dengan mereka. Tenang Siwon, ini akan baik-baik saja, batinku.

“Choi Siwon. Ehem. Boleh kutahu bantuan apa yang kalian inginkan? Apa kalian ingin aku menandatangani novel yang baru saja kalian beli?”

Oke, aku terlalu percaya diri. Tapi sepertinya mereka bahkan tidak tahu apa maksudku. Mereka mengernyitkan kening lalu menggeleng. Aku mengangguk paham.

“Lalu apa?”

“Begini. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menyelamatkan kakakku. Namanya Hwang Tiffany. Kami penghuni baru di kamar 108 jadi wajar saja kita belum saling mengenal. Aku tahu ini terdengar konyol, tetapi aku ingin Oppa menyelamatkan Tiffany Eonnie agar terbebas dari perjodohannya.”

Penuturan Yoona membuatku membeku. Ini adalah hal yang sangat aneh untuk orang yang baru saling kenal. Biar kusimpulkan. Jadi, gadis manis yang kulihat semalam butuh bantuan untuk terbebas dari perjodohannya? Hahaha, bolehkah aku tertawa? Maksudku, biasanya hal seperti ini terjadi hanya dalam novel-novel romansa atau drama televisi.

“Papa kami menjodohkannya dengan seorang pemuda yang tidak dicintainya. Kami tidak tega melihatnya menderita. Jadi, kami mohon Oppa dapat berpura-pura menjadi kekasihnya. Jika tidak, ya sudah. Kami akan mencari laki-laki lain,” Krystal menambahkan.

Sebelah alisku terangkat. “Kau memanggil ayahmu dengan sebutan Papa?”

Wow, ini tidak biasa! Aku tidak pernah bertemu dengan orang Korea yang memanggil ayahnya dengan sebutan Papa.

“Eung…karena kami keturunan Latin,” jawab Krystal kikuk. Aku mengangguk paham. “Jadi bagaimana?”

Aku membenarkan letak kacamataku yang sedikit miring karena tadi memakainya dengan terburu-buru.

“Biar kujelaskan satu hal, gadis berambut keemasan—“

“Warna rambut kami berbeda, actually. Apa kau tidak lihat rambutku coklatnya lebih pekat?” sela Krystal kesal.

Ups, apa gadis yang satu ini mudah sekali terpancing emosinya?

“Demi Tuhan, Krys! Apa hal ini perlu dibicarakan sekarang?” desis Yoona kesal. Krystal mengangkat bahu seenaknya.

Sorry.”

Aku berdehem lalu kembali melanjutkan ucapanku. “Dengar. Aku tidak mengenal siapa kalian. Kita hanya bertemu satu kali, itupun dalam tempo singkat. Hal yang harus kalian pahami adalah aku…tidak terbiasa bergaul dengan gadis cantik. Maksudku, aku…aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Jadi aku tidak yakin apakah bisa membantu kakakmu.”

Yoona dan Krystal terdiam. Mereka menatapku dengan ekspresi wajah berbeda. Krystal tampak sangat kesal sedangkan Yoona kecewa. Hei, aku berhak menolak, kan?

“Kalian tidak marah, kan?” tanyaku hati-hati. Sejujurnya aku merasa sedikit tidak enak hati.

“Tentu saja kami marah! Seandainya kau tahu betapa bingungnya kakakku saat ini. Baiklah, kalau itu keputusanmu. Ayo, Yoong! Lebih baik kita meminta bantuan Heechul saja!”

Aku mendesah berat. Kulihat Yoona menahan tangan Krystal yang menariknya untuk bangkit, kemudian menatapku sendu. Oh tidak. Aku tidak tahan jika ada yang menatapku memelas seperti ini.

“Siwon Oppa, tadinya kukira kau menyukai kakakku.”

Seperti ada sesuatu yang membenturkan kepalaku, aku tercekat mendengar ucapan Yoona.

“Aku meminta bantuanmu bukannya tanpa alasan. Tadi malam aku bisa melihat tatapanmu pada Tiffany Eonnie begitu intens. Aku pernah menonton film romantis tentang seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang gadis saat pertama kali bertemu. Dan tatapannya persis seperti yang kau lakukan terhadap Tiffany Eonnie. Ternyata aku salah menilainya. Siwon Oppa, pikirkan lagi permintaan kami. Jika tidak ada yang bersedia membantu Tiffany Eonnie, hidupnya pasti akan…menderita.”

 

 

Author POV

 

“Hohoho, jadi gadis pilihan Ayah itu bersikeras untuk menentang perjodohan ini? Memangnya dia sudah memiliki kekasih?”

“William berkata kalau anak gadisnya itu akan membawa seorang kekasih yang akan menerima tantangan darimu untuk duel. Ayah rasa dia benar-benar tidak ingin menikah denganmu, Nak. Bagaimana kalau saudarinya yang lain saja?”

Pemuda tampan berkulit pucat itu, Cho Kyuhyun, meletakkan sebuah pedang di atas meja kayunya sambil terkekeh. Kedua iris hitam pekat matanya menatap sang Ayah, Joseph Cho. Ada sinar geli di sorot mata Kyuhyun seolah sedang menertawakan tawaran pria tersebut.

“Ayah, bagaimana bisa Ayah menawarkan saudarinya sementara gadis bernama Tiffany itu menantangku? Tidak, aku tetap pada pilihanku. Dengan senang hati aku akan melakukan tantangan itu. Berduel untuk memperebutkan seorang gadis, terdengar sangat menarik, bukan?”

Joseph Cho menghela napas. Sejujurnya ia tidak terlalu memaksakan perjodohan ini, mengingat sifat Kyuhyun yang keras kepala. Namun sudah saatnya anaknya itu menikah dan menggantikan dirinya sebagai King of Vampire Kingdom. Dan sesuai perjanjian masa kecil dirinya dengan Hwang William, maka akhirnya perjodohan ini pun terwujud.

“Baiklah kalau seperti itu keinginanmu, Anakku. Akhir pekan ini keluarga Hwang akan datang ke istana dan ikut bergabung dalam pesta leluhur. Ayah harap kau dan Tiffany bisa lebih dekat,” ujar Joseph Cho sebelum beranjak meninggalkan anaknya.

Kyuhyun mengangguk lalu menyeringai di balik punggung Joseph. Ketika ayahnya menghilang di balik pintu kamarnya, Kyuhyun kembali meraih pedang kesayangannya. Sejak kecil ia sudah mahir berduel, bahkan mengalahkan pengawal-pengawal ayahnya saat ia masih kanak-kanak.

Pemuda itu terbahak membayangkan pertarungan antara dirinya dengan kekasih Tiffany yang akan terjadi. Hasilnya sudah dapat dipastikan, pikir Kyuhyun. Kekasih Tiffany pasti akan mati di tangannya.

**

 

Tiffany bersungut-sungut mengingat kejadian beberapa menit lalu. Ia mendatangi Heechul seorang diri karena kedua adiknya menghilang entah kemana. Pria yang sedikit lebih tua darinya itu ternyata sedang menikmati waktu liburnya dengan bermain selancar di laut terdekat. Tiffany mencarinya kesana dan menyaksikan betapa cool-nya laki-laki itu meliuk-liuk di atas ombak yang melaju menuju pantai.

Tiffany mengawasi Heechul dari balik kacamata hitamnya. Pria itu sudah lama tinggal di dunia manusia, tentu saja sudah terbiasa dengan sinar matahari. Tiffany pun seperti itu. Mereka adalah vampire modern yang tidak terpengaruh oleh sinar matahari serta tanda salip sekalipun. Tetapi melihat sikap Heechul bak seorang Cassanova—berselancar untuk pamer pada para gadis yang histeris menunggunya di tepi pantai, memperlihatkan tubuhnya yang sudah kecoklatan terkena sinar matahari serta abs nya yang seksi—membuat Tiffany merasa keputusannya salah untuk memilih Heechul. Ternyata laki-laki itu seorang player.

Dan saat Heechul bertemu Tiffany, pria itu justru semakin berada di atas awang-awang. Taringnya yang sudah dikikir seakan tumbuh kembali saat membalas senyuman kecil gadis bermata indah itu. Semua orang tahu kalau Tiffany adalah gadis dingin yang jarang sekali tersenyum.

Namun sikap terlalu percaya diri Heechul terlanjur membuat Tiffany hilang rasa. Agar perbincangan tidak mengarah pada ‘misi mencari kekasih gadungan’, Tiffany berkata pada Heechul bahwa ia hanya sekedar lewat di pantai tersebut dan kebetulan melihat Heechul disana. Untung saja laki-laki itu percaya. Tiffany bersyukur Krystal dan Yoona tidak ikut sebab ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kedua gadis itu buka mulut.

Tiffany turun dari mobilnya, masih dengan suasana hati yang sama. Ia berharap Taeyeon atau Jessica tidak datang lagi hari ini untuk memperburuk keadaan. Tiffany terus berpikir selagi melangkahkan kakinya masuk ke gedung apartemen. Masih ada dua kandidat lagi yang sayangnya tidak berada di Korea. Tiffany menghela napas berat.

Seandainya ia mempunyai banyak teman pria disini. Kenyataannya, mereka semua hanya ingin menggerayangi tubuhnya atau sebaliknya, tidak berani mendekatinya. Mereka sudah menyerah saat menyentuh tangan Tiffany karena energi mereka yang terhisap. Kalau pun ada seseorang yang menarik perhatian Tiffany, gadis itu tidak ingin mengambil resiko dengan mengencaninya. Seperti Donghae yang telah menjadi korban Yoona.

Tiffany sengaja menaiki tangga darurat karena ia melihat banyak anak kecil masuk ke dalam lift. Ia tidak ingin di dalam kondisi hatinya yang sedang tidak stabil ini justru tidak sengaja menghisap energi anak-anak yang tidak berdosa.

Lagipula Tiffany memiliki kecepatan serta kekuatan yang jauh lebih cepat dari sebuah lift. Dalam hitungan detik ia sudah sampai di depan pintu kamarnya, tentu saja tanpa terlihat oleh orang lain.

Tiffany memasuki apartemennya setelah mengetahui kalau pintu depan tidak terkunci. Itu artinya Yoona dan Krystal sudah berada di dalam.

“Aku pulang!” Tiffany berseru. Ia meletakkan kunci mobil di dalam keranjang pernak-pernik lalu mendengar suara langkah kaki di lantai kayu, menuju ka arahnya. Yoona muncul beberapa detik kemudian, dengan wajah sumringah berseri-seri.

Tiffany menatap Yoona. “Kau kenapa?”

Yoona meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya erat. “Eonnie, aku sudah mendapatkan laki-laki yang akan menjadi pahlawanmu!”

Mata Tiffany melebar. Apa maksud Yoona dengan sudah mendapatkan laki-laki yang akan menjadi pahlawanmu? Apa kedua adik kembarnya pergi diam-diam pagi ini untuk menjamput Nichkhun atau Bruce yang telah mereka rekomendasikan? Tiffany masih menahan tangan Yoona, antara khawatir dan berdebar.

“Siapa?”

“Eonnie akan melihatnya sendiri. Ayo!”

Tiffany pasrah saat Yoona menariknya ke ruang tamu. Ia tidak mempunyai ide siapa laki-laki yang dilibatkan adik-adiknya. Jika laki-laki itu adalah Nichkhun atau Bruce, Tiffany mungkin masih bisa bernapas lega. Tiffany hanya berharap Taeyeon dan Jessica tidak mengetahui tentang misi ini, kalau tidak mereka pasti tertawa terpingkal-pingkal.

Tanpa Tiffany sadari kalau mereka telah melewati sekat ruang tamu. Mata Tiffany tertuju pada seorang laki-laki yang duduk membelakanginya. Tanpa dikomando jantungnya berdegup lebih kencang. Dengan hanya melihat bagian belakang tubuhnya saja, ditambah aroma yang sangat asing, Tiffany yakin kalau lelaki itu bukanlah Nichkhun atau Bruce.

Napasnya tercekat. Jangan-jangan…

“Siwon Oppa, inilah kakakku. Hwang Tiffany!”

Laki-laki itu, Choi Siwon, segera berdiri dari duduknya setelah mendengar panggilan Yoona. Krystal duduk di salah satu kursi santai dekat balkon, melempar senyum jenaka pada Tiffany. Namun Tiffany sibuk memandangi Siwon, orang yang tidak pernah disangkanya akan datang kemari.

Untuk sesaat suasana terasa dingin, sama seperti tatapan mata Tiffany. Tentu saja Siwon dibuat kikuk. Laki-laki itu berdiri kaku dengan tangan bertautan di depan tubuhnya. Tiffany memandangi Siwon dari kepala sampai kakinya. Laki-laki itu memang tampak sempurna, meskipun berpenampilan sedikit kuno. Setidaknya tatapan mata Siwon mampu membuat pikiran Tiffany semakin berkecamuk.

“Siapa dia?” tanya Tiffany pada Yoona. Suaranya sedingin es, membuat Siwon menelan ludah. Benar dugaannya, keputusan untuk membantu Yoona dan Krystal adalah kesalahan.

“Erm…namanya Choi Siwon, seorang editor. Apa Eonnie lupa? Semalam kita satu lift dengannya,” jawab Yoona lembut.

Tiffany menatap Siwon lebih intens. “Kau yang menyuruh mereka memanggilmu Oppa?”

Siwon menggeleng kencang. “T-tidak, tentu saja tidak. Aku…aku juga heran mengapa mereka langsung memanggilku Oppa.”

Tiffany mendesah berat. Sepertinya keadaan saat ini lebih buruk dari kedatangan kedua kakaknya.

**

 

 

Siwon POV

 

Sejak awal memasuki apartemen ini aku memiliki sebuah firasat. Selain hawa dingin yang kurasakan saat melewati pintu depan, aku sedikit takjub kalau apartemen ini semuanya terdiri dari kayu. Lantai dan dinding semuanya dari kayu. Dan lagi mereka adalah perempuan, kenapa aku tidak menemukan satupun cermin di sekitar sini? Benar-benar aneh.

Seperti tadi malam, aku kembali terkagum-kagum oleh gadis bernama Tiffany ini. Kulitnya yang sepucat kertas tampak begitu angkuh. Aku menertawai diriku di dalam hati. Kemana perginya Choi Siwon yang dulu menghindari gadis-gadis cantik? Kini aku justru duduk di depan salah satu yang istimewa.

Ya, aku menyebutnya istimewa sebab Tiffany tampak tidak seperti gadis-gadis cantik yang dulu mengecewakanku. Ia bahkan tidak tertarik padaku, aku yakin itu. Apakah ia benar-benar membutuhkan bantuanku untuk menjadi kekasih gadungannya?

Jika tadinya aku merasa kasihan saat Yoona berkata Tiffany akan menderita apabila menikah dengan calon suaminya, kini aku justru beranggapan kalau laki-laki itulah yang akan menderita jika perjodohan itu terlaksana.

“Jadi, apa Yoona dan Krystal sudah mengatakan semuanya padamu?”

“Tentang perjodohanmu? Ya, sudah.”

“Bagus. Apa kau bisa bela diri?”

Aku ingat penjelasan Yoona tadi bahwa aku harus melakukan duel pedang dengan calon suami Tiffany agar perjodohan dibatalkan. Masalahnya adalah…

“Siwon-ssi, apa kau bisa bela diri?” Tiffany mengulangi pertanyaannya dengan nada jengkel. Aku pun menggeleng. Ya, aku tidak bisa bela diri apalagi melakukan duel pedang. Seumur hidup aku bahkan tidak pernah menyentuh benda itu.

Tiffany memijit pelipisnya. Kuperhatikan jari-jari lentik yang berhiaskan pewarna kuku maroon yang kontras dengan kulit pucatnya. Ia benar-benar sangat cantik, mungkin melebihi tokoh utama di dalam novelku.

“Tidak ada pilihan lain, Siwon-ssi. Aku akan mengajarimu.”

Aku mengerjapkan mata. “Kau bisa bela diri dan menggunakan pedang.”

“Hanya sedikit. Tapi aku hanya akan mengajarimu menggunakan pedang.”

 

 

 

Gadis ini terlalu merendah. Jelas-jelas ia sudah sangat mahir menggunakan pedang namun tetap saja mengakui dirinya masih amatir. Lalu aku disebut apa? Pecundang?

Kami berlatih tidak menggunakan pedang sungguhan, tetapi sebuah kayu lonjong yang cukup berat. Tiffany berkata kayu ini mempunyai berat yang kurang lebih sama dengan sebilah pedang. Tetap saja aku tidak dapat menggunakannya.

Dan selama latihan berlangsung, ia hanya membimbingku secara verbal. Ia mempraktekkan bagaimana cara menggenggam gagang pedang dengan baik melalui pedangnya sendiri. Ia tidak mengizinkanku untuk sekedar menyentuhnya. Sejujurnya aku menyukai skinship, baik kepada keluarga ataupun teman. Namun kebiasaanku itu tidak kugunakan kepada teman-teman perempuanku. Aku takut mereka salah paham.

Tiffany benar-benar gadis angkuh. Aku belum melihatnya tersenyum. Caranya berbicara dan memberi perintah persis seperti guru biologi di sekolahku dulu. Ia mengayunkan pedang kayu di tangannya dengan sangat lihai. Dia menebas ke bawah kiri, ke atas kanan serta berputar sesuai arah jarum jam. Sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikan kemana arah Tiffany menebas pedangnya, melainkan sibuk memperhatikan lekuk-lekuk tubuh di balik balutan katun spandex yang dikenakannya.

Seharusnya Tiffany melihat dirinya di cermin betapa seksinya ia saat ini. Tiffany hampir mendekati sempurna, kurasa. Tidak ada cela di wajah maupun tubuhnya. Kulitnya pun terlihat begitu bersinar walaupun pucat meskipun di sela tersembunyi sekalipun. Wajar saja aku melihat bagian-bagian tertentu sebab Tiffany saat ini mengenakan pakaian yang mengekspos tubuhnya.

BUK!

Aku terkejut bukan main tatkala pukulannya mengenai pinggangku. Kontan saja aku berteriak kesakitan setelah melempar pedang kayuku. Aku bersimpuh di lantai sambil mencengkram pinggangku yang mati rasa karena pukulannya. Demi para dewa, mengapa ia memukulku?

“Bangunlah!” perintahnya dingin. Aku mendongak dan melihat ekspresi datar di wajahnya.

“Pukulanmu luar biasa menyakitkan, Nona Hwang!” gerutuku.

“Memangnya aku menyuruhmu melamun sambil melotot padaku begitu? Kita sedang dalam latihan keras, Sir.”

Aku berusaha berdiri dan menghadapnya. Anehnya ia melangkah mundur meskipun ia tetap memasang ekspresi wajah datar. Aku tidak mengerti mengapa ia begitu menjaga jarak. Apa dia adalah tipe gadis cantik yang berharga diri tinggi. Tetapi jika ia terlalu berlebihan begini aku bisa menganggapnya takut kepada laki-laki.

Omong kosong apa ini, Siwon. Dia sama sekali tidak takut padamu karena kau baru saja kena pukulan telak darinya, batinku untuk diri sendiri.

“Kalau begitu ajari aku kuda-kuda dasar. Tidak mungkin kau langsung mengajariku teknik pedang kalau dasarnya saja aku tidak tahu. Tubuhku masih kaku, Tiffany-ssi.”

Ia mengerjapkan matanya.

“Tunjukkan padaku posisi kaki dan tangan untuk kuda-kuda. Beginikah?”

Aku melebarkan kedua kaki dan mengepalkan kedua tanganku. Aku tahu posisi ini aneh, seharusnya ia mengoreksi. Akan tetapi ia hanya diam memandangiku. Ada kebimbangan di sorot matanya.

Astaga, apa salahnya ia menyentuhku sedikit saja? Seharusnya ia telah memegang kedua tanganku saat ini dan membetulkan posisi tangan untuk kuda-kuda dasar. Tetapi ia diam bagaikan patung.

Aku kembali berdiri tegak kemudian meraih kedua tangannya. Ia menatapku tercekat. Kenapa ia sangat terkejut seolah-olah aku sedang menusuknya dengan sebilah pisau? Tapi setidaknya aku melihat ekspresi baru di wajahnya.

“Siwon, j-jangan menyentuhku…”

Aku mengernyit. Kusadari kini aku berani mengganggam kedua pergelangan tangannya. Kulitku dan kulitnya bersentuhan. Ya Tuhan, tubuhnya sedingin es. Apakah ini normal? Badannya bahkan tidak mengeluarkan keringat sepertiku. Mataku terpaku pada matanya. Aneh, matanya berubah menjadi hitam pekat.

Tetapi Tiffany tetap cantik. Baru kali ini setelah sekian lama, aku kembali berani pada makhluk berparas cantik, yang kuharap tidak akan pernah mengkhianatiku lagi. Apa yang kupikirkan? Aku hanya diminta menjadi kekasih gadungannya. Aku tidak boleh mengharapkan lebih dari itu. Lagipula sepertinya Tiffany tidak tertarik pada pria kutu buku sepertiku.

Oh, memikirkan ini tiba-tiba membuatku lemah. Lemah tak berdaya. Seolah-olah ruh ku ditarik paksa keluar. Cengkramanku pada Tiffany melemah. Aku tidak tahu apakah aku terlalu lelah karena berlatih pedang atau karena kekurangan cairan. Pandanganku perlahan tidak fokus, samar-samar, lalu…

Aku hanya melihat kegelapan.

 

 

Author POV

 

“Wah, aku tidak tahu aku merindukan tempat ini setelah benar-benar berada disini!”

Yeah, me too. Cepatlah, Yoong. Kita harus menemui Papa, Mama dan Nenek untuk memberitahukan hal ini.”

Yoona mengejar Krystal yang berlari menuju pekarangan kastil sederhana milik keluarga mereka. Kastil yang mereka sebut rumah, tempat dimana mereka dilahirkan dan tumbuh bersama. Berada di dunia vampire kembali membuat hati si kembar menghangat. Mereka memang jarang pulang mengingat kesibukan sekolah di dunia manusia. Ditambah lagi dengan Tiffany yang sudah sangat nyaman hidup terpisah dengan orangtua mereka.

Beberapa pelayan menyambut dengan gembira kedatangan si kembar. Disusul oleh Taeyeon dan Jessica yang menyusul mereka ke beranda depan. Taeyeon dan Jessica memeluk kedua adik kembarnya dengan erat, kemudian bertanya apa yang sedang dilakukan Tiffany sekarang.

What? Kalian tidak bergurau, kan?”

“Tidak, Taenggo Eonnie. Yoona benar-benar merekomendasikan pria itu untuk menjadi kekasih sementara Tiffany Eonnie. Dan yang lebih mengejutkan, pria bernama Siwon itu melakukannya secara suka rela,” jelas Krystal.

Taeyeon dan Jessica saling pandang. Jujur saja mereka sangat khawatir. Lebih tepatnya mengkhawatirkan pria bernama Choi Siwon itu.

“Mungkin ia menyukai Tiffany,” simpul Jessica. Yoona tersenyum puas, membuat Jessica gemas padanya. “Ini semua gara-gara ide konyolmu, Yoong.”

“Kenapa Eonnie menyalahkanku? Seharusnya kita semua mendukung keputusan Tiffany Eonnie,” Yoona membela diri.

“Baiklah, aku mengerti. Sekarang ayo kita ke ruangan Papa. Kita harus memberitahu Papa sebelum Tuan Cho itu datang.”

Yoona dan Krystal terperajat. “Tuan Cho akan datang?”

“Ya, Papa tiba-tiba mengundangnya makan malam. Papa juga menyuruh koki untuk menyiapkan minuman khusus untuk dirinya dan juga Cho Kyuhyun itu. Sepertinya ingin membicarakan acara perjodohan minggu ini.”

 

 

Tiffany POV

 

Laki-laki ini sungguh keras kepala! Aku tidak dapat mencegahnya saat ia mencengkram tanganku dengan erat, sebab aku sibuk menenangkan jantungku sendiri yang berdegup kencang. Sentuhannya membuat pikiranku kacau dalam sekejap. Tatapan matanya membuat emosiku tak stabil. Lalu inilah akibatnya.

Aku terpaksa membopong tubuhnya kembali ke apartemenku. Tidak masalah bagiku untuk terbang di senja hari seperti ini sambil menggendong tubuhnya. Aku rasa ia akan pingsan dalam waktu yang cukup lama. Ia menyentuhku serta menatapku dengan sangat intens dan juga lama. Aku pastikan kalau lebih dari separuh energinya berpindah padaku.

Tidak ada pilihan lain. Aku membaringkannya di atas sofa ruang tamu apartemenku. Kutatap wajahnya yang berkeringat. Hari ini pasti sangat melelahkan untuknya. Aku pun duduk di sofa yang menghadap padanya.

“Kau harus segera bangun atau kalau tidak Yoona dan Krystal akan menyalahkanku,” gumamku murung.

Aneh sekali keadaanku saat ini. Aku begitu mencemaskannya. Maksudku, selama ini aku belum pernah merasakan jantung yang berdebar tak karuan, pikiran tidak fokus, serta mencemaskan seseorang secara berlebihan. Tetapi pria ini melakukannya berulang kali. Aku tahu bukan kehendaknya membuatku bingung, tetapi auranya yang melakukan hal tersebut.

Dan apa maksudnya menarikku mendekat tadi? Ia bersikap seolah-olah hendak menciumku. Aku belum pernah berciuman seumur hidupku. Sebab aku memang tidak pernah memiliki kekasih.

Aku menghembuskan napas dengan resah. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk membuatnya bangun? Sepertinya tidak ada. Huft!

 

 

Author POV

 

“Jadi Tiffany benar-benar memiliki kekasih? Kenapa kalian tidak pernah memberitahu?”

Yoona dan Krystal mengangguk serentak.

“Itu karena Tiffany Eonnie orang yang sangat tertutup, Papa. Kami juga baru tahu,” jawab Krystal.

“Benar, Papa. Mereka juga sepertinya saling mencintai dan tidak dapat dipisahkan,” tambah Yoona.

William Hwang menggelengkan kepala. “Kalian jangan terlalu melebih-lebihkan. Tiffany tidak boleh mencintai manusia biasa sebab mereka berbeda. Suatu saat pria itu pasti akan ketakutan pada Tiffany.”

“Tapi, Papa…”

William memutar kepalanya untuk menoleh kepada Jessica. “Ya, Jessica?”

“Bukankah jika Tiffany memiliki kekasih yang mampu mengalahkan Cho Kyuhyun dalam duel pedang, perjodohan ini dibatalkan?” Jessica melanjutkan.

Pria berambut hitam legam serta kelimis itu tertawa mendengar penuturan Jessica, membuat anak keduanya itu cemberut.

“Memangnya ada manusia biasa yang bisa mengalahkan Cho Kyuhyun? Kalian belum tahu saja kehebatan pemuda itu. Akhir pekan ini kita semua akan tahu, siapa yang pantas menjadi suami Tiffany,” jelas William. Ia masih terkekeh ketika kembali duduk di kursi kebanggaannya. Taeyeon, Jessica, Yoona dan Krystal berdiri sejajar di depan meja pria itu, menunggu perintah berikutnya.

“Tapi jika kekasih Tiffany itu mampu mengalahkan Cho Kyuhyun, apa yang akan Papa lakukan?” Sepertinya Taeyeon belum merasa lega dengan pembicaraan ini. Mereka beradik kakak sama-sama memiliki rasa simpati untuk Tiffany.

William tampak emosional untuk sesaat, lalu memutuskan untuk menghela napasnya dengan kasar.

“Jika Cho Kyuhyun kalah, Tiffany akan kunikahkan dengan manusia biasa itu. Tapi dengan satu syarat!”

Jessica menggerutu dalam hati. Kenapa Papa suka sekali memberi syarat?

“Apa itu, Papa?” si kembar bertanya serentak.

William menyeringai penuh kemenangan. “Pria itu harus bersedia menjadi salah satu dari bangsa kita.”

Taeyeon, Jessica, Yoona dan Krystal serentak membulatkan mata. Setelah sekian lama mereka tidak membicarakan hal ini lagi, dan tiba-tiba Papa mereka membawanya ke permukaan. Untuk mengubah manusia biasa menjadi salah satu dari bangsa mereka, lebih tepatnya menjadi vampire, memerlukan ritual khusus.

Vampire yang menginginkan manusia biasa menjadi bagian dari hidupnya, harus menggigit manusia biasa tersebut diiringi oleh beberapa vampire lainnya yang merapal mantra dari kitab leluhur Vampire Latin, nenek moyang mereka. Hwang bersaudari hanya mendengar cerita ini dari Kakek Hwang yang tinggal di dalam kuburannya, serta dari Nenek Hwang yang sesekali bercerita. Mereka sama sekali belum pernah melihat secara langsung bagaimana ritual itu berlangsung.

“Papa, bukankah ritual itu sudah tidak dilakukan lagi abad ini?” tanya Taeyeon hati-hati.

“Tidak dilakukan lagi bukan berarti sudah dihapuskan, Putri Sulungku.”

“Tapi Nenek pernah mengatakan padaku, jika jiwa manusia itu tidak terlalu kuat, mereka tidak akan biasa menerimanya dan tidak ada pilihan lain selain…mati,” sambung Yoona berbisik. Ia ngeri membayangkan ritual itu.

“Tepat sekali, Nak. Nah, sekarang lebih baik kita tidak membicarakan hal ini dulu. Aku yakin Yoona dan Krystal dapat menyampaikan pesan ini dengan baik kepada Tiffany. Dan jika boleh memberi saran, sebaiknya ia segera menyerah dan menerima perjodohan ini.”

Tok tok tok

Suara ketukan pintu membuat suasana menegang menjadi sedikit surut. Pintu terbuka tanpa komando lalu Mama mereka masuk. Mama mereka, Yoonhae, termasuk wanita paling cantik di bangsa mereka. Kulitnya yang masih kencang dan terawat, membuat yang melihat berpikir kalau beliau adalah kakak Taeyeon.

Yoonhae memberi kecupan sayang di bibir suaminya lalu tersenyum kepada anak-anak gadisnya.

“Mari turun ke ruang makan. Tamu kehormatan telah datang dan menunggu. Sayang sekali ya, Tiffany-ku tidak bisa hadir.”

**

 

 

Siwon akhirnya terbangun saat Tiffany hampir membaca ulang majalah di tangannya sebanyak 15 kali. Laki-laki itu menatap Tiffany meskipun pandangannya buram karena tidak memakai kacamata. Siwon masih merasa tubuhnya lemah. Bahkan untuk sekedar mengangkat tangannya saja butuh usaha keras.

“Kau sudah bangun rupanya,” ucap Tiffany. Ia meraih kacamata Siwon lalu memberikannya ke tangan laki-laki itu. Tentu saja tanpa bersentuhan. Kasihan Siwon yang baru saja terbangun.

“Apa aku pingsan?” Siwon bertenya seraya memakai kacamatanya.

“Ya, begitulah,” jawab Tiffany ringan.

“Ck, memalukan sekali,” Siwon mengeluh seraya menyusun bantal sofa di belakang kepalanya. Ia belum cukup kuat untuk duduk.

It’s okay, Siwon-ssi. Mungkin kau kelelahan,” ucap Tiffany, menyembunyikan rasa bersalahnya.

“Ya, aku memang kurang tidur. Maafkan aku, Tiffany-ssi. Aku memang tidak bisa diandalkan untuk masalah ini, oleh sebab itu kau boleh saja meninggalkanku. Yang aku tahu hanyalah buku dan buku.”

Tiffany menatap laki-laki yang menolak menatapnya itu. “Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.”

Siwon mendengus pelan. Ia malu terhadap Tiffany. Ia berpikir kalau nantinya Tiffany sama seperti gadis-gadis cantik yang lain. Setelah mengetahui kalau Siwon hanyalah jenius yang ketinggalan jaman, kuno, serta mudah gugup, mereka pergi meninggalkannya begitu saja. Siwon semakin tidak percaya diri.

“Aku hanya…takut berharap.”

Ungkapan singkat dari Siwon membuat Tiffany melunak.

“Kau tahu, Tiffany-ssi? Selama ini tidak ada perempuan yang benar-benar setia terhadapku. Mereka hanya memanfaatkan kesuksesanku, terutama uangku. Mereka mengandalkan kecantikan untuk mendekatiku lalu pergi setelah menguras deposito-ku. Setelah itu aku sadar sepertinya aku lebih baik sendiri.”

Tiffany menatapnya sendu. Ternyata laki-laki ini sering disakiti kaum perempuan.

“Aku turut menyesal mendengarnya. Tapi tidak semua perempuan itu gila harta, Siwon-ssi.”

Siwon mengangguk. Ia tersenyum pahit ketika membalas tatapan Tiffany. “Ya, aku tahu.”

Tiffany menyodorkan segelas teh gingseng yang dibuatnya tadi untuk Siwon. Siwon menyambutnya dengan senang hati lalu menyesapnya perlahan.

“Terima kasih. Uhm, dimana kedua adikmu?”

“Mereka pergi ke rumah orangtuaku. Mungkin malam baru kembali.”

“Oh, begitu. Apa kau ingin kita kembali berlatih? Aku rasa beberapa menit lagi aku sanggup berjalan.”

Tiffany menggeleng ringan. “Tidak, Siwon-ssi. Sebaiknya kau istirahat. Aku tidak ingin kau sakit. Kita bisa melanjutkannya besok.”

Siwon tidak dapat menyembunyikan senyum senang di wajahnya. Rona merah itu muncul di kedua pipinya tanpa ia sadari. Terang saja kening Tiffany mengernyit menyadarinya.

“Ada apa?”

Siwon mengedikkan bahu. “Tidak. Hanya saja…kau tampak lebih mempesona jika banyak tersenyum dan perhatian seperti ini. Gomawo.”

Tiffany tertegun. Ia bahkan tidak menyadari kalau dirinya banyak tersenyum seperti apa yang dikatakan Siwon. Ia tidak ingin menerima rayuan saat ini, meskipun tanpa terelakkan wajahnya pun ikut memerah.

“Kalau kau merasa sudah cukup kuat, sebaiknya kembalilah ke apartemenmu sekarang juga. Besok kita bertemu lagi.”

Perasaan berbunga-bunga dalam hati Siwon mendadak luruh seiring dengan suara Tiffany yang kembali dingin. Gadis itu beranjak menuju dapur, meninggalkan Siwon tertegun.

**

 

 

Semua anggota keluarga Hwang telah berkumpul di meja makan untuk menjamu kedatangan Cho Kyuhyun, kecuali Tiffany dan si kembar. Semua tahu kalau Tiffany memang tidak datang sejak awal, akan tetapi si kembar membuat Mama mereka rusuh. Sang Mama meminta mereka mengganti pakaian yang ‘ala kadarnya’ itu dengan gaun malam indah yang telah disiapkan.

Krystal lebih mudah diatur, berbeda dengan Yoona. Gadis cantik dengan sepasang mata teduh itu tidak menyukai warna gaun kuning gading yang dipilihkan sang Mama. Ia lebih menyukai gaun sutra selutut yang lebih sopan dari gaun kuning gading tersebut. Namun waktu terus berjalan. Tidak mungkin acara makan malam tertunda hanya karena sikap rewel Yoona.

“Kau memang anak yang keras kepala,” gerutu Yoonhae sambil menyematkan peniti di bagian belakang gaun Yoona. Dari semua anak gadisnya, Yoona memiliki ciri fisik yang hampir mirip dengannya.

“Jika kau terus seperti ini, kau tidak boleh lagi tinggal bersama Tiffany.”

“Mama, Tiffany Eonnie lebih pengertian daripada Mama. Ia akan membelikan apa saja yang aku inginkan—ouch! Mama menusukku!”

“Karena kau tidak bisa diam! Tenanglah sedikit Hwang Yoona!” tegur sang Mama.

Sementara itu di meja makan, Kyuhyun dan William mengisi waktu dengan berbincang-bincang ringan. Kyuhyun memuji kecantikan Taeyeon, Jessica serta Krystal yang sudah duduk di kursi masing-masing. Kakek dan Nenek Hwang saling melempar gurauan untuk cucu-cucu mereka. Di tengah-tengah mereka ada Krystal yang duduk dengan nyaman. Terkadang kasih sayang Kakek dan Nenek untuk si kembar membuat Taeyeon dan Jessica iri. Buktinya saat ini, kedua gadis tertua itu hanya mengetuk-ngetuk gelas dengan bosan.

“Maaf membuat kalian menunggu!”

Suara Yoonhae mengambil perhatian semua orang. Kyuhyun mengalihkan pandangannya kepada ibu dan anak yang sedang berjalan menghampiri meja makan. Matanya menajam saat melihat satu lagi anak gadis William yang tanpa disangka sangat cantik. Anak gadis lainnya bahkan saudari kembarnya sendiri tidak memiliki kecantikan seperti Yoona, menurut Kyuhyun. Dalam persepsinya, Yoona adalah anak gadis William yang paling cantik.

Yoona duduk berhadapan dengan Kyuhyun. Wajahnya tampak sedikit tidak peduli bahwa pemuda di hadapannya adalah tamu kehormatan. Memberi salam pun ia enggan. Kyuhyun memiringkan kepala untuk mengamati wajah Yoona lebih seksama.

Tentu saja ia sudah diperlihatkan foto Tiffany yang menurutnya sangat cantik. Sama seperti saudarinya yang lain. Tapi tetap saja, hari ini ia dihadapkan oleh fakta yang menyenangkan. Tiffany tidak berada di tengah-tengah mereka akan tetapi, penggantinya jauh lebih menarik bagi Kyuhyun.

“Halo, Hwang Yoona? Benarkah itu namamu?” sapa Kyuhyun. Yoona menatapnya datar.

“Benar sekali,” jawabnya singkat. Hanya dua kata yang padat dan tegas, sudah cukup bagi Kyuhyun. Ia tersenyum puas lalu kembali mengarahkan pandangannya kepada William.

“Kalau begitu mari kita mulai makan malam ini.”

 

 

Yoona melepas rindu pada kamarnya yang sudah cukup lama ditinggalkannya. Ia memiliki kamar yang berbeda dengan Krystal, begitupun dengan ketiga kakaknya. Yoona beristirahat sebentar setelah jamuan makan malam yang membosankan, sebelum nanti kembali ke apartemen Tiffany. Yoona sudah amat sangat penasaran dengan hasil latihan Tiffany bersama Siwon.

Gadis itu sedang berguling-guling di atas ranjang dengan mengapit boneka rilakuma kesayangannya ketika terdengar suara langkah kaki dari balkon. Yoona terdiam. Suara langkah itu perlahan tetapi teratur. Yoona segera duduk dan mengerling tajam ke arah balkon kamarnya.

Mustahil kedua kakaknya menjahilinya sebab mereka diwajibkan menemani Papa dan Mama di bawah, sedangkan rombongan Pangeran Cho sudah pergi beberapa menit yang lalu.

Yoona memutuskan untuk melangkah mendekati balkon. Pintunya yang sengaja dibuka membuat tirai putih yang melekat disana melayang-layang di udara. Kamarnya berada di lantai paling puncak kastil, jadi tidak mungkin Taeyeon, Jessica atau bahkan Krystal mengendap-endap sampai kesini.

“Hohoho, merasa penasaran, Sweety.”

Yoona tercekat di tempat mendengar suara sedingin es itu. Sebelum ia sempat mengelak, tubuhnya direngkuh dari belakang. Yoona bisa merasakan sebuah tangan melingkari lehernya. Sosok itu melewatinya bagaikan bayangan, namun Yoona yakin kalau sosok itu adalah seorang laki-laki. Dan dari suaranya…

“C…Cho Kyuhyun?”

Terdengar tawa kecil dan misterius tepat di telinganya. Yoona menelan ludah. Ia tidak percaya dengan situasi ini. Semula ia mengira Kyuhyun hanya iseng selalu menebar senyuman padanya saat makan malam tadi. Tetapi apa yang terjadi sekarang? Kyuhyun menyelinap ke kamarnya dan menyergapnya seperti seorang penculik.

Tidak ingin diintimidasi, Yoona memutar tubuhnya secepat kilat, membuat tangan Kyuhyun terpelintir. Tapi pemuda itu sepertinya tidak kalah tangkas. Ia menangkap kedua tangan Yoona dan membuat gadis itu terlempar ke dalam pelukannya. Yoona terkesiap. Jika kekuatannya sebagai seorang vampire muda selalu dipuji oleh Kakek dan Nenek, maka kekuatan Kyuhyun berada beratus tingkat di atasnya.

Kyuhyun memeluk tubuh Yoona dengan posesif, dengan seringaian tampan di wajahnya. Yoona mengutuk dirinya dalam hati yang menganggap pemuda itu lebih tampan jika sedang menyeringai.

Yoona tidak dapat memberontak sebab kedua tangannya terkunci di dada Kyuhyun.

“Aku adalah vampire yang ahli bela diri, membaca pikiran, terbang, berburu, dan segala macam olah raga di dunia ini. Jadi kekuatanmu adalah seujung kuku bagiku. Dan terima kasih telah menganggapku tampan ketika menyeringai. Kau ingin aku melakukannya lebih sering?”

Yoona segera menggelengkan kepala. Pemuda ini mendominasinya. Tunggu, bukankah pemuda ini sangat menginginkan perjodohan dengan Tiffany? Lantas apa yang sedang dilakukannya sekarang?

“Kau akan segera menikah dengan Tiffany Eonnie jika kau berhasil mengalahkan kekasihnya. Lalu apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Yoona.

Pesona wajah tampan yang pucat di hadapannya, membuat gadis itu gentar juga.

Nothing, aku hanya ingin bermain-main denganmu. Aku menganggapmu cantik, kau tahu.”

Yoona tidak membalas ucapan Kyuhyun.

“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Thank you, perhaps?”

“Untuk apa aku mengucapkan terima kasih? Aku tidak memintamu memujiku,” jawab Yoona lalu melengkungkan bibirnya.

Kyuhyun membasahi bibirnya ketika melihat bibir Yoona melengkung lucu. Ia mendekati wajah Yoona dan mengabaikan kecemasan di mata gadis tersebut.

“Tenang saja, aku hanya ingin menyicipi bibir ini. Kau pasti akan menyukainya.”

**

 

 

Tempat itu gelap, Siwon tidak bisa melihat apa-apa. Apa ia berada di dalam goa? Sepertinya memang begitu. Tempat yang ia pijak terasa lembab, begitu pula dengan udara di sekitarnya. Siwon meraba-raba dinding berbatu di sampingnya, mencoba mencari setitik cahaya di sekitar. Suara tetesan air menggema di penjuru goa tersebut.

Siwon merinding. Dimana ia sebenarnya? Bahkan ia tidak melihat ada kehidupan disini.

Tiba-tiba terdengar kepakan sayap di atasnya. Tidak hanya satu, tapi ramai. Suara kepakan sayap itu terdengar semakin ramai, diiringi suara binatang mencicit. Siwon bersandar pada dinding batu, merasakan hangat napasnya sendiri. Di tempat sedingin ini tetap saja membuatnya berkeringat.

Lalu tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak sebuah sinar merah menyala. Semakin lama sinar itu semakin besar. Siwon mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Jika itu jalan keluar, ia akan memacu larinya sekencang mungkin.

Selanjutnya tubuh Siwon dibuat terpaku oleh suara tawa yang memenuhi goa tersebut. Suara tawa perempuan. Siwon menajamkan matanya menatap sinar merah, dari sanalah sosok perempuan yang tertawa itu muncul. Sinar itu telah menerangi setiap sudut goa, namun sosok perempuan itu mengenakan jubah bertudung.

“S…si-siapa disana? Keluarkan aku dari tempat ini!” teriak Siwon. Lalu sosok itu tertawa lagi. Hanya berselang sekejap mata, sosok itu sudah berada di hadapan Siwon secara mengejutkan. Tubuh Siwon didorong keras ke dinding batu dengan kedua tangan yang mencengkram erat leher laki-laki itu.

“Apa…apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!”

Perempuan itu menyeringai. Siwon tercekat ketika melihat dua pasang taring panjang di bawah tudung. Siwon juga dapat melihat rambut hitam legam perempuan tersebut terurai ke depan. Siwon mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk melepaskan tangan perempuan itu. Ia menggenggam erat kedua tangan yang mencengkram lehernya kemudian melepaskan sekuat tenaga. Siwon yakin bisa mendorong perempuan ini meskipun ia tidak terlalu yakin dengan kekuatannya sendiri. Namun rasa takut telah menambah energinya.

Saat Siwon berhasil memegang kedua tangan perempuan itu, Siwon menangkap kilau liontin yang tergantung di lehernya. Liontin lonjong berwarna maroon. Kilau liontin tersebut membuatnya lengah. Si perempuan kembali mencengkram leher Siwon dan kali ini berhasil memanjat tubuh lelaki itu.

Tanpa dapat dicegah, perempuan itu menempelkan taringnya di leher Siwon. Siwon tercekat bukan main merasakan sakit yang luar biasa. Keempat taring perempuan itu telah menancap dengan sempurna di leher Siwon.

“AAAAAAHHHHH!”

 

 

To be continued…

74 thoughts on “(AR) Intense Part 1

  1. Keren abis ceritanya nih..
    Btw adegan endingnya itu cuma mimpi siwon doang kan? Atau jangan2 bakalan kejadian nanti.-.
    Ditunggu banget update-an nya yaa🙂

  2. yeeaaah.. ka echa kmbali dg ff fantasy..
    m’f bgt bgt bgt ka baru smpt coment hehe
    ceritanya menarikkk.. ak kira siwon jg jd bangsa vampir ato makhluk fiktif lainnya.. trnyata jd manusia biasa.. di tunggu bgt part 2 nya ka..

  3. Kyu pilih yoong aja gausab pilih fany hahaha fany buat siwon ajalah. Ditunggu next partnyaa, yg bagian ending itu mimpi atau nyata? Kalau nyata itu siapa ya yg isap siwon? Hm

  4. Wihhh…
    Vampir nihh ceritanya jd inget twilight nihh wkkkwkw…
    Dan siwon d gigit siapa ya? Trus dia di jd vampir apa enggak?? Waduhh penasaran nihhh…
    D tunggu next part ya

  5. What….i cant belive tiffany is vampire,ooo…no….
    Fany jadi vampire,kepikir pingin nonton twilight hehehe……
    Wow….ternyata tiffany memiliki kekuatan dan kecepatan dalam hitungan detik dan kekuatan menghisap energi.kacian,siwon takut akan cinta,
    karena traumanya pernah dikhianati….kalo fany pasti setia ama siwon.
    Apakah siwon mampu melawan kyuhyun vampire?
    Ada apa dengan kyuhyun dan yoona?
    Siapa yang menggigit siwon?
    Apakah fany yg gigit siwon?
    Aiggo….unnie jadi penasaran nih saeng,jadi ingin baca part 2nya.
    Thanks buat saeng dan ffnya.
    Saeng elsa daebak and hwaiting.

  6. Keren thor
    ceritanya hwang family itu vampire modern ya hehehehe🙂
    Itu siapa yg gigit siwon ?? Apa tiffany ?
    Penasaran
    langsung ke part selanjutnya😀

  7. DEMI APA SIWON SEORANG PENULIS?
    Baru di ff aja udah seheboh gini yak, apalagi beneran aduhhh gakukuuh /maaf.abaikan.efekditinggalwamil/

    Keren begete idenya eon. Jarang banget Siwon-Tiffany ‘keluar’ dari zona nyamannya /asek bahasa uee/. Memang luvluv lah buat Eonni Echa inii:*

  8. siwon berprofesi sbg editor di sebuah majalah tetapi juga sebagai penulis buku fiksi… ( saya jd ingat Kim Shin Hyuk di drama She Was Pretty)…
    Damn!!!tiffany vampireeeeeee???
    bagaimana mereka bisa bersatu??? mana tiff mau dijodohin lgi…

  9. Omooo??!! Fany kaya sia lee yg di untouchable webtoon.. keren udah lama ngayal ada sifany versinya. Gomawo ka echa udah mau bikin khayalan aku jd kenyataan ?! Muachh #kissandhug

  10. Jadi vampire’nya itu tiff sementara siwon manusia, lucu eonn lucu. Apalagi dengan siwon yang kutu buku dan aga kaku mesipun tetep tampan. Tiff bisa menghisap energi manusia, sayang sifany’nya jadi ga banyak skinship, hihii
    Kyuhyun Vs Siwon disini sih kaya Dinosaurus Vs Ayam, tapi who knows. Apalagi kyuhyun udah beralih gitu sama yoona, kira-kira mereka jadi duel ga yah, ga kebanyang kalo tetep jadi duel eonn, kesian tiff. hahaa
    Cuma two shoot sih eonn , jadi berasa cepet padahal seru. Aku baca next part’nya dulu deh *kisskiss

  11. ini keren kalo biasanya cerita vampire nya yg cowo eh skrg ganti cewe yaa meski ada kyu yg ttp jd peran vampire tp jujur keren ceritanya alurnya bagus suka.

  12. Whoaaa siwon beda disini. Dia jadi orang ‘biasa’.. penulis? Mwehehe ngebayanginnya lucu >< sweet couple banget. Kak echa selalu deh bikin saya gak bisa move on dari couple setan ini hihihi
    Yaa mudah-mudahan aja Kyuhyun jadinya ama Yoona. Tapi… Yoona kan masih sekolah ya? Trs gimana dong 😣

  13. Waaa jarang-jarang aku baca genre begini biasanya yang sweet sweet mulu wkwk, aku ngebayangin siwon dengan gayanya yang mungkin bisa dibilang jadul, soalnya gak bisa lepas dari kacamata, disini siwon jadi editor biasanya jadi ceo, karakter yang menarik.. dan tiffany dengan jadi vampire modern itu sangat waww, cantik banget ehehe, aku suka sama karakter-karakternya disini.. dan ada kyuhyun juga, tetep dengan ke evilannya ehehehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s