(AF) BEAUTIFUL GOODBYE

BEAUTIFUL GOODBYE

A

Author: @zoey_loe

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast:  All member Girls Generation – All member Super Junior

Length: Oneshoot

Genre: Romance and sad (may be)

Rating: 15

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan. FF ini murni hasil kerja keras ku!!Okey!! Happy reading and keep RCL please…….

 

Seorang wanita cantik tengah menonton TV duduk menyilangkan kedua kakinya di sofa putih besar. Tangannya menangkup cangkir yang berisi kopi. Dia menonton acara konferensi pers sebuah drama yang ditunggu tunggu Netizen, karena salah satu pemainnya adalah visual dari Boy Band Super Junior. Yep!! Choi Siwon. Aktingnya tidak diragukan lagi, bahkan drama yang dia mainkan ratingnya selalu bagus.

Wanita cantik bermata indah itu pun tersenyum ketika pria tampan berlesung pipi, terpampang jelas dilayar TV nya. Rambut rambut halus yang tumbuh disekitar wajahnya, membuat wanita itu bergidik geli. Dia tidak menyukai rambut rambut halus yang menutupi wajah tampan pria itu, apalagi ketika pria bertubuh tinggi itu menggesekkan dagu nya kewajah nya, membuatnya geli setengah mati. Tapi apa boleh buat, Siwon tidak akan mencukurnya karena itu tuntutan peran.

Wanita cantik yang tengah tersenyum manis ini bernama Tiffany Hwang dengan nama korea Hwang Mi Young. Dia salah satu member Girls Generation, Girl Band papan atas yang terkenal di korea. Bukan hanya Korea, mungkin Asia. Siapa sih yang tidak mengenal Girl Band dengan 9 wanita cantik bak bidadari yang tidak memiliki cela sedikitpun. Oh.. Oke, kita melupakan sesuatu. Anggota nya sudah berkurang, bukan 9 tapi 8. Kalian pasti tahu dengan insiden yang menimpa Girl Band tersebut, kita tidak akan membahasnya sekarang, mari kita fokus pada kedua insan ini.

Siwon dan Tiffany sudah menjalin hubungan selama empat tahun. Mereka semakin dekat ketika sering menjadi partner kerja, bahkan mereka menjadi ikon dibeberapa merk terkenal dan saat itulah mereka menjadi sangat dekat, dengan susah payah Siwon mendapatkan hati Tiffany, dan akhirnya memutuskan untuk berkencan.

Awalnya tidak ada yang tahu dengan hubungan mereka, member Super Junior dan SNSD pun tahu setelah hubungan mereka berjalan tiga bulan dan agensi mengetahui nya setelah dua tahun mereka bersama. Siwon maupun Tiffany benar benar menutup rapat soal hubungannya.

Banyak cara SMent membuat statment agar hubungan Siwon dan Tiffany tidak tercium publik dengan membuat berita dating Tiffany dengan salah satu memper 2PM Nichkhun Horvejkul. Berita itu juga untuk mendongkrak popularitas kedua agensi tersebut. Kedua agensi sudah mengaturnya sedemikian rupa hingga semuanya nampak begitu nyata dimata penggemar. Setelah satu tahun lebih berkencan, SM pun mengumumkan bahwa hubungan Nichkhun dan Tiffany telah berakhir.

Siwon dan Tiffany sering bertengkar ketika Tiffany dan NichKhun dikonfirmasi berpacaran, ada saja yang mereka ributkan. Saling cemburu satu sama lain tapi mereka bisa melewati semuanya itu. Siwon dan Tiffany sebenarnya tidak menyetujui statment yang dibuat SM, tapi melewati beberapa argument akhirnya mereka mengalah, lagi pula itu hanya rekayasa bukan nyata.

Empat tahun itu waktu yang cepat, tapi juga terkadang berjalan lambat ketika masalah menghampiri hubungan mereka. Empat tahun tidak berjalan mulus, ada saja masalah yang datang, terakhir ketika Siwon menyetujui bergabung dengan acara We Got Married tanpa sepengetahuan Tiffany terlebih dulu, mereka bertengkar…

 

FLASHBACK ON

 

“Kenapa Oppa tidak bilang padaku?” marah Tiffany, tangannya menyilang didepan dadanya.

“Kau tahu, betapa sibuknya kau akhir akhir ini? Reality show mu dan pemotretan dengan model gay itu sudah menyita waktu mu. Kau tidak memiliki  waktu lagi untuk kita bicara” ucap Siwon panjang lebar, ada terselip nada cemburu disana. Dia menatap Tiffany, tapi Tiffany tidak melihat kearahnya.

Ucapan Siwon sepenuhnya benar, mereka sudah jarang berkomunikasi. Tiffany benar benar sibuk dan melupakan Siwon.

“Ya, aku salah. Mian” ucapnya cuek, setengah hati mengucapkan kata maaf.

“Aku akan tetap syuting acara itu, aku sudah menandatangani kontraknya” gumam Siwon, memegang kedua sisi bahu Tiffany.

“Ya, silahkan. Model itu sangat cantik dan tinggi, Oppa pasti akan berpaling dengan nya” Tiffany menunduk lesu, dia tidak ingin Siwon menyentuh wanita lain, mencium wanita lain. Tapi inilah publik figur, dampak berkencan dengan seorang aktor, member Boy Band yang diinginkan banyak wanita. Tiffany harus menerima konsekuensinya, begitu pula dengan Siwon. Walaupun terkadang masih dihinggapi rasa cemburu.

Siwon menangkup wajah mungil Tiffany “Dengarkan aku, aku tidak akan berpaling. Hanya kau, hanya ada kau Tiff. Dan perlu kau tahu aku tidak menyukai wanita yang tinggi, tinggi mu begitu pas untuk ku. Kita sangat melengkapi bukan?” Siwon menggoda Tiffany, mencubit hidungnya dengan gemas.

Tiffany memukul dada Siwon pelan “Aku tidak pernah bisa marah dengan Oppa begitu lama” ucap Tiffany, Siwon mengecup kening Tiffany dan mereka berpelukan sangat erat. Siwon membungkus tubuh mungil Tiffany dan Tiffany menempelkan kepalanya didada Siwon.

 

FLASHBACK OFF

 

 

 

Tiffany masih terpaku melihat Siwon dilayar kaca, senyum konyol terukir diwajahnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

Beberapa menit kemudian, Siwon berbicara tentang karakternya didrama itu, Tiffany memperhatikannya. Sampai tidak ada satu detik pun yang tertinggal. Diakhir ucapannya, Tiffany terbatuk batuk mendengarnya, kebetulan dia tengah menyesap kopinya.

“Ini drama terakhir ku, sebelum aku wamil”

Deg… aku tidak salah dengar bukan? Wamil? Kapan? Kenapa dia tidak membicarakannya padaku?

 

Tiba tiba matanya memanas, mematikan TV dengan tergesa gesa, Tiffany berlari kekamarnya. Tidak ada siapapun didorm, dia sendirian disini.

Tiffany menarik kotak tissue ketempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ucapan Siwon berputar putar dikepalanya, sangat jelas. Apa apaan dia? Kemarin Tiffany sibuk dan Siwon memang selalu sibuk, dan Tiffany tidak mempunyai jadwal apapun lagi. Hanya persiapan untuk solo debutnya. Dia ingin menghabiskan waktu dengan Siwon ketika mereka free, tapi Siwon sudah mulai disibukkan dengan dramanya membuat mereka sulit bertemu dan setelah ini Siwon akan pergi wamil. Oh betapa sedihnya Tiffany mendengar kabar itu, kenapa Siwon tidak memberitahunya. Padahal minggu lalu mereka bertemu dan kemarin malam Siwon menelponnya. Tapi tidak ada sedikitpun Siwon membicarakan tentang dia yang akan pergi wamil.

Dia benar benar marah pada Siwon, lagi lagi dia harus menjadi orang yang kesekian untuk mengetahui hal apapun yang Siwon lakukan.

 

Setengah jam berlalu, Tissue sudah berserakan dilantai, bertebaran dimana mana. Matanya sudah bengkak, oh betapa menyedihkannya Tiffany malam ini!!

Tiba tiba meja disamping tempat tidurnya bergetar, Iphone 6s milik nya melantunkan lagu I wont give up milik Jason Miraz, menandakan Siwon lah yang menelponnya. Berkali kali ponsel nya berbunyi dengan orang yang sama tetapi Tiffany tidak mengindahkannya. Dan akhirnya ponsel nya tidak berisik lagi, orang diseberang sana menyerah. Tapi satu menit kemudian bunyi pesan masuk memenuhi pendengaran Tiffany.

Karena penasaran, Tiffany menyibakkan selimutnya, air mata masih menggenang dipelupuk matanya. Pengelihatannya buram karena air mata, Tiffany menghapus dengan punggung tangannya dan membuka pesan itu.

“Sialan baby, kenapa kau tidak mengangkat teleponnya? Aku tahu kau menonton konferensi pers itu dan marah mendengar ucapan terakhirku. Aku akan ke sana dan kita akan bicara”

Tanpa ingin membalasnya Tiffany meletakkan ponsel nya ditempat semula.

Tiffany tidak ingin bertemu Siwon, dia ingin sendiri dan dia sangat marah pada Siwon. Bingung, apa yang harus Tiffany lakukan jika Siwon datang? Mengunci pintu kamar, itu yang pertama kali harus dilakukan.

Tiffany berjalan cepat ke pintu tapi sayang dia terlambat. Seseorang masuk kedalam kamarnya, dengan gerakan secepat kilat Tiffany memutar tubuhnya dan melompat ke tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut.

“Ya Tuhan.. kekacauan macam apa ini?” tanya nya, Tiffany sedikit lega mendengar suara itu. Ternyata Sooyoung bukan Siwon.

Perlahan Tiffany membuka selimutnya, masih berbaring. SooYoung berjalan mendekati tempat tidur “Kau menyeramkan, seperti monster” ejek SooYoung yang melihat betapa kacaunya Tiffany. Dengan mata sembab, hidung merah dan rambut kusut seperti sangkar burung.

Tiffany menangis dengan keras, memeluk pinggang SooYoung dan Sooyoung mengusap punggung nya, menenangkan Tiffany “Berhentilah menangis Fany aah, mau sampai kapan kau menangis? Sampai dia pergi wamil?”

Tiffany menggelengkan kepalanya, masih memeluk pinggang Sooyoung “Bangun dan rapikan kekacauan ini. Siwon Oppa didepan, menunggu mu” SooYoung melepaskan tangan Tiffany yang melingkar di pinggangnya. SooYoung tahu permasalahan Siwon dan Tiffany, maka dari itu dia berusaha membuat mereka dapat berbicara dengan baik.

Tiffany mengangkat kepalanya untuk melihat SooYoung “Tidak, aku tidak ingin bertemu. Suruh dia pulang saja” Tiffany berbalik memunggungi SooYoung dan menutup tubuhnya dengan selimut, tapi belum sampai menutupi seluruh tubuhnya, Sooyoung menarik selimut sampai terjatuh kelantai.

“Hadapilah dan bicarakan dengan baik baik” geram SooYoung, meletakkan tangannya dipinggang.

“Bukan urusan mu” marah Tiffany, mengacuhkan SooYoung dan memeluk bantal guling favoritenya.

“Kalian saudara ku dan itu akan menjadi urusanku juga” kesal SooYoung. Dia berjalan keluar kamar Tiffany dan membuka pintu, SooYoung bergumam tidak jelas. Tiffany tidak bisa mendengar apa yang tengah SooYoung bicarakan.

 

Beberapa menit kemudian SooYoung sudah tidak ada didalam kamar dan Siwon lah yang berada dikamarnya sekarang. Melihat tissue bertebaran dilantai, selimut yang terjatuh dilantai dengan Tiffany yang meringkuk diatas tempat tidur bernuansa pink.

Perlahan Siwon berjalan ketempat tidur Tiffany, mengambil selimut dan menutupi tubuh Tiffany. Terkejut Tiffany membuka mata dan matanya dengan mata Siwon bertemu. Dengan cepat Tiffany menutup kembali matanya sangat rapat, Siwon tersenyum simpul melihat tingkah Tiffany. Berjalan memutar ranjang untuk berhadapan dengan Tiffany karena sekarang posisinya memunggungi Siwon. Tapi ketika Siwon hampir sampai didekat sisi Tiffany, tapi Tiffany membalik tubuhnya kesisi lain memunggungi Siwon lagi. Siwon terlihat prustasi, menjalankan jari jari besarnya dirambut, dia duduk ditepi tempat tidur.

“Mari kita bicara, jangan seperti ini. kumohon” pinta Siwon, menggenggam lengan Tiffany dan dengan spontan Tiffany menghindar, sedikit menjauh dari Siwon.

“Baiklah jika kau ingin tetap seperti itu. Aku pergi, selamat tinggal” dengan enggan Siwon berdiri tapi belum berniat untuk pergi. Siwon ingin tahu reaksi Tiffany, tapi Tiffany tidak menghiraukannya. Siwon pun berjalan, ketika langkah kedua lengan nya ditangkap sepasang tangan mungil.

“don’t go Oppa, please” teriak Tiffany. Siwon memutar tubuhnya dan matanya bertemu sepasang mata indah milik Tiffany. Mata yang biasanya memancarkan kebahagiaan, kini hanya ada kesedihan disana dengan air mata yang terus mengalir.

Siwon naik keatas ranjang menangkup wajah Tiffany dan menghapus air mata yang jatuh di pipi Tiffany dengan ibu jarinya “jangan menangis” pinta Siwon lembut, ibu jari nya mengusap pipi Tiffany dengan sayang.

Tiffany menghambur kepelukan Siwon, menangis dengan kencang “Oppa jahat” Tiffany memukul bahu Siwon keras “Kenapa aku selalu mengetahuinya ketika orang lain juga tahu. Aku ingin, aku lah orang pertama yang tahu” ucap Tiffany disela tangisnya, tangannya masih melayang memukul Siwon.

Siwon menangkap kepala Tiffany ketika Tiffany ingin melepaskan pelukannya “Iya aku minta maaf”

Hening cukup lama, tangis Tiffany pun mulai reda, dia sudah mulai tenang sekarang “Kapan Oppa akan pergi?” tanya Tiffany, suaranya serak. Mereka masih berpelukan, dagu Tiffany bersandar dengan nyaman dibahu Siwon.

“Satu minggu setelah drama selesai” Tiffany mulai terisak lagi, Siwon membuat pola melingkar di punggung Tiffany, menenangkan gadisnya.

“Jika aku meminta Oppa untuk tidak pergi, apa Oppa akan melakukannya?” gumam Tiffany.

“Mian, aku akan tetap pergi” Siwon menghela nafas panjang, Tiffany pun melakukan hal yang sama.

“Oh Tuhan, dua tahun Oppa. Bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan cinta kita?” Tiffany mulai menangis lagi, Siwon merasa berdosa membuat gadisnya menangis begitu pilu.

“Semuanya akan baik baik saja, kita bisa melaluinya” ucap Siwon tenang. Memikirkan jauh dari Tiffany membuat pertahanannya runtuh. Siwon meneteskan air mata, lalu menghapusnya cepat. Sedangkan Tiffany masih menangis senggugukan di pelukan Siwon.

 

 

***

Tiffany terbangun dengan kepala nya yang sakit seperti ada puluhan batu yang menimpa kepalanya. Belum lagi mata nya yang bengkak dan merah seperti ikan mas koki, rambutnya yang indah sudah tidak terlihat bentuknya seperti tidak disisir berminggu minggu, sangat kacau.

Berjalan seperti zombie keluar kamarnya, Tiffany mendengar kesibukan didapur. Matanya menyipit untuk melihat siapa saja yang ada disana, oh semua sahabatnya ada disana. Sudah terlambat untuk menghindar. Hanya perlu hadapi, Tiffany!!

Semua mata tertuju pada Tiffany, tapi dia bersikap acuh dan mengambil dua sendok , lalu memainkannya, menutup kedua matanya dengan sendok itu.

“Hmm baunya enak, aku lapar” gumam Tiffany, matanya tertutup oleh sendok yang dia pegang.

“Bisakan kau mencuci muka, menyikat gigi mu lalu kembali lagi kemeja makan ini” pinta Taeyeon, melihat betapa kacaunya Tiffany. Dia sudah mendengar cerita dari Sooyoung dan dia paham.

Tidak menjawab, Tiffany mengerucutkan bibirnya. Meletakkan sendoknya dengan kasar, beranjak dari meja makan dan kembali kekamarnya.

 

“Oh Tuhan, aku terkejut melihat Fany Unnie pagi ini” ucap Yoona, setelah Tiffany menghilang dari meja makan. Biasanya Tiffany yang paling rapih ketika dimeja makan pada pagi hari. Tapi sekarang? Sungguh sulit dipercaya.

“Dia sedang prustasi” sela Hyoyeon, lalu menyuapkan sesendok penuh sereal kedalam mulutnya.

“Ya, karena Siwon Oppa tidak memberitahunya sejak awal” timpal SooYoung, mulutnya penuh dengan sandwich yang dia buat.

“Tiffany ku yang ceria sepertinya akan menghilang untuk hari ini”  gumam Sunny lesu, dia sedang mengoleskan roti selai kacang dan strobery untuk Tiffany dan Taeyeon sibuk membuat sup untuk teman temannya.

Tidak ada pembicaraan tentang Tiffany beberapa menit kedepan, mereka sibuk membicarakan jadwal untuk hari ini. Tiffany pun sudah masuk kemeja makan, tampak sedikit rapih dengan rambut yang tersanggul asal dan matanya masih terlihat sembab.

“Makanlah Fany ahh” Taeyeon menyodorkan sup yang dia buat tadi, masih hangat.

“Gomawo TaeTae” Tiffany tersenyum, matanya melengkung seperti bulan sabit.

Menyuapkan sup kedalam mulutnya, mata nya terpejam “jinja mashita. Well, jam berapa kita on air diradio?” tanyanya, dia seperti Tiffany yang biasa tapi pagi ini keceriaannya sangat dipaksakan, semua member merasakan itu.

“Sore dan jadwal kita terpisah. Kita terbagi menjadi dua kelompok untuk dua radio yang berbeda” jelas Yuri, Tiffany hanya mengangguk. Berarti ada beberapa jam kosong.

Semalam dia meminta Siwon untuk menemaninya sampai tertidur dan pagi ini Tiffany belum mendapatkan pesan apapun dari Siwon, mungkin Tiffany akan menghubunginya nanti.

“Unnie makanlah, nanti sup nya dingin” SeoHyun yang melihat Tiffany melamun dan hanya mengaduk aduk sup nya pun menyadarkan Tiffany, membangunkannya dari lamunan itu.

“Hoh, nde” hanya itu yang keluar dari mulut Tiffany, lalu melanjutkan makannya.

“Apa kau tidak ingin bicara pada kami?” Yuri memberikan teh panas untuk Tiffany.

“Tanpa aku cerita pun kalian sudah tahu” balasnya dengan malas, tiba tiba dia tidak berselera untuk makan.

“Fany aah, satu tahun sembilan bulan memang terlihat lama. Tapi karena kesibukan, semuanya akan berjalan dengan singkat. Percayalah” Taeyeon yang duduk disampingnya menggenggam tangan Tiffany dengan lembut.

“Tapi aku akan merindukannya, Tae. Bagaimana dengan mu dulu? Ketika Leeteuk Oppa wamil. Apa yang kau rasakan?” Tiffany meletakkan dagu nya ditangan kanan nya, menunggu jawaban Taeyeon.

“Ya, aku juga merindukannya, sangat. Kami hanya bisa berkomunikasi di akhir pekan dan itu tengah malam. Aku rela tidak tidur hanya untuk menunggunya menelponku” Taeyeon tersenyum malu, mengenang semua momen nya dulu bersama Leeteuk ketika kekasih nya pergi wamil.

“Tapi Fany aah, hubungan jarak jauh itu terkadang menyenangkan. Kita bisa terus menerus saling merindukan, hanya ada kata cinta dan moment romantis yang selalu kita bahas. Ya, terkadang pertengkaran kecil pun datang. Leeteuk Oppa lebih khawatir padaku, takut jika aku berpaling, padahal aku lebih takut, takut jika cinta nya mulai pudar. Seiringnya sedikit waktu yang kami punya, tapi lihat kami baik baik saja. Walaupun semakin lama dia disana, semakin sulit kami berkomunikasi. Tapi semuanya akan baik baik saja, percayalah Tiffany” Taeyeon mengakhiri ceritanya, menepuk punggung Tiffany pelan.

“Unnie tenang saja, Siwon Oppa hanya wamil bukan menikah dengan wanita lain. Jadi jangan terlarut dalam kesedihan terlalu lama. Dengar apa yang Taeyeon Unnie bilang, semuanya akan baik baik saja. Tergantung bagaimana kita menjaga hati dan dia menjaga hatinya. Hanya perlu berfikir positif” tambah Yoona, dia menunjuk kepala nya dengan jari telunjuk panjangnya.

Tiffany terkejut dengan penuturan Yoona, gadis ini lebih memiliki pemikiran dewasa dari pada Tiffany.

“Kau tidak sedih Yoong, dua minggu lagi pujaan hatimu akan pergi wamil” tanya Tiffany, dia tidak melihat kesedihan atau apapun diwajah Yoona. Gadis kurus itu nampak tenang.

“Sedikit, kami masih bisa berkomunikasi walaupun tidak sesering biasanya dan bisa bertemu ketika dia libur” balas Yoona, sangat santai. Tiffany hanya berdecak kagum mendengar penuturan Yoona.

“Sudah pembicaraan ditutup, masalah pribadi kita simpan dulu. Sekarang mari kita menyenangkan SONE” pekik Taeyeon, dan mereka berteriak dengan yel yel mereka..

 

Tiffany berfikir, ucapan Taeyeon dan Yoona ada benarnya. Hanya perlu menjaga hati dan berfikir positif. Tapi apa Siwon bisa menjaga hatinya? Tiffany akan membicarakan hal ini dengan Siwon, ketika mereka bertemu. Entah kapan!!

 

 

***

Jam delapan malam Tiffany baru sampai dorm, semua jadwal sudah selesai untuk hari ini. di dorm hanya ada Tiffany, Yoona, SeoHyun dan Sunny. Member lain sibuk dengan jadwal individu.

Masuk kedalam kamarnya, Tiffany berbaring ditempat tidur besarnya. Tangannya menutup mata indahnya, membuang nafas kasar dan Tiffany merindukan Siwon. Ini sangat terasa ketika dia tengah sendirian. Siwon belum menghubunginya hari ini, tadi Tiffany mencoba menghubunginya tapi tersambung ke voicemail.

Ponsel nya berbunyi dengan nyaring, dia tahu siapa penelpon itu. Cepat cepat disambar ponsel nya dan menggeser layarnya.

“Tiff baby, merindukan mu. Sangat merindukan mu” kalimat pertama yang Tiffany dengar.

Tiffany tersenyum sebelum membalas ucapan Siwon “Aku juga, sangat merindukan Oppa” balas nya.

“Apa yang gadisku lakukan? Apa sudah makan?” tanya Siwon lembut, penuh perhatian.

“Aku dikamar, sendiri, merindukan Oppa dan aku sudah makan. Bagaimana dengan Oppa?” Tiffany menutup mulut dengan tangannya cepat, dia bilang merindukan Siwon, lagi. Oh Tiffany, kau selalu lepas kendali. Tiffany memukul kepalanya.

Siwon mengulum senyum disebrang sana “Aku didorm sendirian. Kau hanya mengatakan merindukan ku tapi kau tidak berniat untuk menemuiku, Tsk!!”

“Seharusnya Oppa yang datang menemuiku” Tiffany duduk dari posisi berbaringnya, memeluk boneka woody kesayangannya.

“Aku bisa menjemputmu sekarang, dan membawa mu keapartemen kita. Tapi aku takut tidak bisa terbangun lagi jika tidur tepat disampingmu. Tidurku selalu nyenyak bersamamu dan aku ada syuting pagi pagi sekali” kata Siwon, ada nada kecewa yang terselip disana. Dia merindukan Tiffany, ingin mendekapnya dan tidur diranjang yang sama dan berpelukan sampai tertidur.

“Ya, tidak perlu. Oppa pasti lelah, hanya pergilah untuk istirahat setelah ini” bohong, Tiffany berharap Siwon ada didekatnya saat ini.

“Kau juga perlu istirahat, Tiff baby. Apa besok kau libur?” tanya Siwon.

“Ya, aku free dan lusa jadwal padat. Goodbye stage dan fansign” Tiffany bersandar dikepala tempat tidur.

“Bagus, gunakan waktumu untuk beristirahat. Walaupun sebenarnya aku ingin kau ke lokasi syuting. Menemaniku”

“Shiero” jawab Tiffany cepat “Aku tidak dapat menyimpan cakarku, melihat Oppa menyentuh wanita lain. Jadi, sebaiknya aku tidak harus berada disana”

Siwon terkekeh mendengarnya “Oke oke. Bersihkan tubuhmu dan pergi tidur. Satu lagi mimpikan aku”

“Memimpikan mu selalu Choi Siwon” ucap Tiffany selembut mungkin.

“Beri aku ciuman, ciuman yang panjang” pinta Siwon, Tiffany tersenyum malu. Wajahnya merona dan dia mengarahkan bibir merah mudanya kelayar ponsel dan membuat bunyi kecupan yang panjang.

“Oke terimakasih. Good night Tiff baby”

“Sama sama, selamat tidur Oppa” dan telepon pun terputus.

Tiffany memeluk ponsel nya dan tersenyum lebar, betapa dia mencintai pria ini. meletakkan ponsel nya dimeja samping tempat tidur, Tiffany bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah, menyikat gigi dan mengganti baju dengan piyama tidurnya.

 

 

 

Ditempat lain, Siwon tengah gelisah diatas tempat tidurnya. Dia sudah bersiap untuk tidur, sangat lelah hari ini. tapi anehnya, mata nya tidak mau terpejam dan dikepalanya berputar Tiffany yang sedang tersenyum dan tertawa bagaikan sebuah video yang tengah berputar. Menutup kepalanya dengan bantal, bukannya menghilang tapi semakin jelas terlihat Tiffany yang tersenyum cerah kearahnya.

Dengan kesal, Siwon berdiri dan meraih kunci mobilnya. Dia akan menemui Tiffany dan bersiap mengambil resiko apapun. Mengendarai mobil sendiri, belum lagi paparazi yang berkeliaran di jam seperti ini. Siwon menepisnya, dia tidak perduli dan dia benar benar merindukan gadisnya, Tiffany Hwang.

Jarak dorm nya ke dorm milik SNSD hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, tidak terlalu jauh. Siwon mengambil kesempatan yang dia punya, nanti ketika dia menjalankan wajib militer, dia tidak bisa sebebas ini untuk bertemu Tiffany. Seperti yang dia inginkan, well dia harus memanfaatkan keadaan yang ada.

Dengan hanya menggunakan training dan kaos putih polos, Siwon masuk kedalam Audi R8 miliknya. Pakaian yang dia kenakan tidak mengurangi sedikitpun ketampanan nya. Dia tidak memakai topi atau masker, sangat terburu buru sampai lupa dengan dua benda penting itu.

Kurang dari tiga puluh menit, Siwon sudah sampai didepan dorm SNSD. Jalanan tampak lenggang, sangat bersyukur, keadaan benar benar membantunya. Dengan tidak sabaran Siwon menekan bel, yang awalnya sopan menjadi tidak sopan dan tidak sabaran. Keempat kalinya dia menekan bel dan bunyi langkah kaki dari dalam sedikit membuatnya tenang.

Pintu terbuka dan munculah Tiffany dari balik pintu dengan piyama pink yang kebesaran, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat cantik. Raut wajahnya yang kesal berubah menjadi terkejut, bibir tipisnya berbentuk huruf O yang sangat besar.

Tidak ingin membuang waktu, Siwon berjalan masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Menangkup wajah Tiffany dan menangkap mulut Tiffany dengan mulutnya, memagutnya, merasakan setiap sudut bibir Tiffany tanpa sisa. Ciuman yang menggebu gebu dampak rindu yang melanda, Tiffany yang terkejut sedikit melemah dan bergabung dalam permainan yang Siwon ciptakan. Memegang erat lengan besar Siwon.

Tiffany merasakan persediaan oksigen nya hampir habis, dia melepasnya dan memukul dada Siwon “Oppa, bagaiman jika member lain melihat?” marah Tiffany, tapi masih tersenyum, senyum bahagia.

Siwon menggelengkan kepalanya, tadi Tiffany tidak menolak bahkan dia ikut bergabung dalam cumbuan manis itu, lalu kenapa dia marah sekarang?

“Mereka harus membiasakan itu, sayang” Siwon sedikit menggodanya.

Ada rona merah muda dikedua pipinya “Oppa gila” ucap Tiffany bercanda.

“Gila karena mu” Siwon menangkup wajah Tiffany lagi dan kening mereka bertemu.

 

“Apa yang membuat Oppa datang tiba tiba?” mereka berpelukan sekarang, Tiffany menempelkan wajahnya didada Siwon. Menghirup wangi sabun, parfum dan Siwon. Bau yang enak…

“Aku tidak bisa tidur karena merindukan mu” Siwon mencium rambut Tiffany, wangi shampo yang Tiffany pakai memenuhi rongga hidungnya. Aroma mu membuatku gila…

Lihatlah mereka berdua, baru kemarin malam bertemu walaupun hanya beberapa jam. Tapi malam ini sudah saling mengungkapkan rindu seperti tidak bertemu berbulan bulan.. Tsk!! Tsk!!

 

Ketika mereka masih larut dalam pelukan hangat, Yoona memergoki mereka yang masih berpelukan, mendekap satu sama lain. Yoona terkejut melihat pemandangan didepannya dan mata mereka bertiga bertemu.

“Oh mian, aku kira ada keributan apa tadi. Ternyata Siwon Oppa datang, maaf sudah mengganggu” membungkuk dengan sopan, Yoona berlari kecil meninggalkan Siwon dan Tiffany.

Siwon dan Tiffany melempar tawa melihat tingkah Yoona yang konyol. Siwon menggiring Tiffany masuk kedalam kamar Tiffany “Sebaiknya kita masuk, sebelum ada yang melihat kita lagi” Siwon tertawa kecil.

Tiffany mendongakan kepalanya untuk melihat Siwon “Oppa akan tinggal?” tanyanya, dia sangat berharap Siwon tinggal dan tidur bersamanya malam ini.

“Ya, aku akan tinggal” Siwon mengecup puncak kepala Tiffany.

Mereka sudah berada didalam kamar, menutup pintu dan menuju tempat tidur. Berbaring, Tiffany menempel pada tubuh Siwon, menyandarkan kepalanya dilengan berotot Siwon dan memeluk pinggangnya. Benar benar nyaman…

 

“Oppa” panggil Tiffany pelan, Siwon membalasnya dengan gumaman.

“Apa Oppa akan tetap mencintaiku? Ketika berhubungan jarak jauh nanti?” tanya Tiffany, tangannya memainkan kaos Siwon.

“Aku akan tetap mencintaimu, sampai kapanpun dan ku mohon jangan meragukan itu” Siwon benar benar mencintai Tiffany. Hubungan empat tahun yang mereka jalani terkadang Tiffany meragukannya, takut akan kehilangan. Tapi Siwon selalu menjadi penguat dalam hubungan mereka, yang membuat Tiffany kembali berpikir posistif tentang hubungan mereka.

“Aku takut Oppa tidak mencintaiku lagi dan berpaling kewanita lain” bisiknya, dia benar benar takut jika itu terjadi.

“Kau lah yang aku takutkan. Banyak pria yang menginginkan mu, Tiff dan kau bebas. Sedangkan aku menjalankan tugas, jangankan memikirkan wanita lain, memikirkan mu saja akan sangat sulit” Siwon mengendurkan pelukannya.

“Aku hanya menginginkan Oppa, tidak dengan yang lain” Tiffany mempererat pelukannya.

“Jadi berhenti untuk meragukan hubungan kita, hmm” Siwon mengigit lengannya, Tiffany merintih kesakitan.

“Mian. Aku hanya takut kehilangan Oppa” Tiffany mencium pipi Siwon singkat, sangat manis.

“Aku yang takut kehilangan mu, gadisa nakal” Siwon mencubit hidung Tiffany, mereka tertawa dan mempererat pelukan satu sama lain.

“Aku tidak ingin pagi datang dengan cepat” Ucap Siwon, mengambil tangan Tiffany dan menggenggamnya meletakkan didada nya.

“Nado” Tiffany mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman manis dibibir Siwon.

Siwon menggesekan dagunya dipipi Tiffany, spontan Tiffany menghindar tapi Siwon menangkapnya dengan cepat.

“Oh Tuhan, Oppa hentikan. Ini menggelikan” betapa kegeliannya Tiffany, sampai sampai air mata keluar dari sudut matanya. Dia tertawa keras dan berusaha untuk menghindar tapi nihil Siwon lebih kuat darinya.

Mendengar nafas Tiffany yang terengah, Siwon menghentikan aktifitasnya “Oke baby, kali ini kita benar benar akan tidur” Tiffany mengangguk patuh, matanya juga sudah terasa berat. Siwon mencium keningnya lama. Lalu mereka memejamkan mata dan mulai terlelap.

 

 

***

 

Paginya didorm SNSD pukul delapan sudah sibuk dengan aktivitas masing masing. Ada beberapa member yang duduk dimeja makan. Sedangkan Sooyoung sibuk mencari kamera canon miliknya.

“Yuri yaa, kau terakhir meminjam kameraku. Dimana kau meletakkannya?” geram SooYoung diambang pintu kamarnya. Yuri sedang dimeja makan bersama Yoona dan Taeyeon.

“Tiffany yang meminjamnya, coba kau tanyakan padanya” Yuri menunjuk kamar Tiffany yang masih tertutup rapat.

Sooyoung berjalan dengan kesal ke kamar Tiffany. Ketika Yoona ingin memberitahu sesuatu, tapi terlambat Sooyoung sudah membuka pintu kamar Tiffany dengan kasar dan berteriak.

“Fany aah” teriak SooYoung, ketika pintunya terbuka lebar, Sooyoung terkejut melihat pemandangan yang tengah dia lihat saat ini.

Siwon yang memeluk pinggang Tiffany, sedangkan Tiffany memunggungi Siwon. Posisi mereka seperti sendok dan garpu.

Sooyoung terkejut setengah mati, ini pertama kalinya Siwon menginap di dorm mereka. Biasanya hanya berkunjung dan pulang.

Mendengar teriakan Sooyoung, Tiffany langsung terjaga, cepat dia bangun. Tidak ingin melihat lebih lama pemandangan itu, Sooyoung menutup pintunya kembali.

“Yak!! Kenapa kalian tidak bilang jika Siwon Oppa menginap” marah SooYoung, berjalan kemeja makan dan mengambil tempat disamping Yoona.

“Aku tidak tahu kalau Siwon Oppa menginap” kata Taeyeon, dia benar benar tidak tahu. Semalam setelah dari radio, dia harus berlatih vokal untuk persiapan album solonya. Dan pulang langsung masuk kedalam kamar tanpa memeriksa keadaan dorm, Taeyeon juga tidak melihat mobil Siwon dampak mengantuk berat.

“Aku tahu” bisik Yoona, dia menunduk “Aku baru akan memberitahumu, tapi kau lebih cepat membuka pintunya”

“Tidak biasanya Siwon Oppa menginap” Ucap Yuri melihat kearah kamar Tiffany.

“Mereka akan terpisah, jadi benar benar memanfaatkan waktu untuk bertemu” balas Taeyeon, dia tengah membuat kimbab untuk sarapan.

“Tapi Yoona nampak biasa saja” sela Yuri, dia melihat Yoona yang tidak terlalu harus bertemu setiap saat, padahal Donghae dua minggu lagi akan wamil.

“Kau tahulah, Siwon Oppa dan Tiffany seperti tidak akan pernah terpisahkan. Beberapa jam tidak bertemu saja mereka seperti ikan yang tidak bertemu air” SooYoung mengacak ngacak rambutnya dengan kasar. Dia takut kalau semalam ada paparazi yang melihat Siwon masuk ke dorm tengah malam dan keluar pada pagi hari. Oh Tuhan, itu akan menjad berita terheboh…

 

 

Didalam kamar, Tiffany melirik jam dan membangunkan Siwon “Oppa irona” Tiffany menggoyangkan lengan Siwon.

“Oh Tiff, beri aku waktu lima menit lagi untuk mengumpulkan semua nyawaku” Siwon memeluk Tiffany, membuat Tiffany kembali berbaring.

“Jam berapa sekarang?” tanya Siwon parau, matanya masih terpejam.

“Jam delapan” gumam Tiffany.

“Astaga” Siwon langsung duduk tegak ditempat tidur, Tiffany sedikit terlempar kesamping karena Siwon melepaskan pelukannya begitu saja.

“Seharusnya aku sudah berada dilokasi syuting dan ponsel ku tertinggal didorm, Aissh..” Siwon bangkit dari tempat tidur dan mengulurkan tangannya, membantu Tiffany untuk bangun.

 

Siwon menarik Tiffany berjalan keluar kamar dan sesampainya diluar Siwon ditatap  empat pasang mata. Merasa tidak enak Siwon menggaruk tengkuknya, Tiffany hanya menunduk tidak berani menatap kearah teman temannya.

“Hai girls” sapa Siwon, senyum yang sangat terpaksa dan dibuat buat “Aku minta maaf telah lancang menginap disini tanpa meminta izin kalian terlebih dulu” ucap Siwon sangat menyesal.

“Gwencana Oppa” balas Taeyeon, mencairkan suasana yang begiru canggung.

“Hanya jangan mengulainya lagi Oppa, kau tahu betapa takutnya aku jika ada paparazi yang melihat” nada SooYoung terdengar marah, menatap Siwon dengan geram. Dia sudah lupa tujuan awal nya untuk mencari kamera miliknya.

“Aku janji, ini akan menjadi yang terakhir” Siwon tersenyum, kali ini benar benar tulus tanpa dipaksakan.

“Baiklah aku pulang dulu, semoga hari kalian menyenangkan” Siwon melambaikan tangannya lalu berjalan menuju pintu, Tiffany mengikutinya dari belakang.

Ketika sampai didepan pintu, Siwon berbalik menghadap Tiffany. Menggenggam erat tangan Tiffany lalu menciumnya “Saat aku terbangun, membuka mata dan melihat mu. Itu adalah pagi yang indah, aku ingin kau lah orang pertama yang aku lihat ketika bangun tidur. Begitupun sebaliknya” bluss… pipi Tiffany merona merah, dia menunduk malu.

Siwon mengangkat dagu Tiffany “Aku pergi dulu, gunakan waktu libur mu untuk beristirahat dan hanya memikirkan ku”

“Akan aku lakukan, selamat bekerja Oppa” Tiffany berjinjit dan mencium pipi Siwon.

“Terimakasih, sangat manis” Siwon mengusap pipi Tiffany dengan ibu jarinya, dengan berat hati berjalan membuka pintu. Tiffany masih melihatnya dari pintu, baru beberapa langkah Siwon berjalan, dia berbalik dan mencium bibir Tiffany singkat tapi manis.

“Saranghae” ucap Siwon lalu berlari menuju mobilnya dan benar benar pergi. Melihat mobil Siwon yang sudah menghilang dari pandangannya Tiffany pun menutup pintu dan berjalan menuju meja makan.

 

Tiffany duduk disamping Taeyeon, mengambil kimbab dan memasukkan kedalam mulutnya. Menyadari keempat sahabatnya tengah menatapnya seperti meminta penjelasan. Tiffany pun balas menatap mereka.

“Mwo? Wae?” gumam Tiffany.

“Gaya berpacaran mu benar benar american style” mulut Yuri berdecak dan mengucapkan kata daebak beberapa kali.

“Aku tidak sebebas itu” balas Tiffany tidak suka, Yuri terlalu mengambil kesimpulan dengan cepat.

“Tapi kalian tidur bersama Fany aah” balas Yuri lagi. Taeyeon, Sooyoung dan Yoona hanya diam. Begitulah Yuri selalu ingin tahu.

“Kami hanya tidur bersama dan berpelukan. Hanya itu” Tiffany menatap Yuri dengan tatapan mematikan. Yuri selalu ingin mengorek informasi sampai ke akar akarnya. Ya dia perduli padamu, Fany ahh…

“Dan berciuman” tambah Yoona, menutup mulut dengan tangannya cepat.

“Kau mengintip” kali ini tatapan Tiffany pindah ke Yoona.

“Kalian berciuman ditempat yang tidak tepat dan aku tidak mengintip Unnie. Tapi tidak sengaja melihat” kata Yoona membela diri, Tiffany mencibir dan mengambil kimbab keduanya.

“Keunde Fany aah, kau benar benar hanya tidur dengan Siwon Oppa? Kalian tidak melakukan” Sooyoung menggantung ucapannya.

“Melakukan apa?” kemana arah pembicaraan Sooyoung? Pikir Tiffany.

“Oh kau tahu apa yang aku maksud, Fany aah” Sooyoung kesal dengan sikap sok polos nya “Tiffany, ayolah kita sudah dewasa”

Oh Tiffany tahu kemana arah pembicaraan ini “Kami sudah sering bepergian dan tidur bersama tapi demi Tuhan kami tidak akan pernah melakukan hal itu sebelum kami benar benar terikat”

“Daebak!!” pekik Sooyooung “Aku salut dengan Siwon Oppa yang dapat menahan gairah nya padamu” Sooyoung menepuk nepuk tangannya. Sooyoung merasa, Siwon benar benar menghormati Tiffany. Mereka sering tidur bersama tapi Siwon tidak pernah menyentuh Tiffany. Laki laki sejati yang patut dipertahankan.

Tiffany mengangguk sambil mengunyah kimbabnya “Itu alasan utama aku mencintainya” ucap Tiffany bangga.

 

 

***

2 minggu kemudian…

Taeyeon dan Tiffany sedang menonton TV, tapi Tiffany tidak terlalu fokus pada TV. Fikirannya melayang pada kejadian tiga hari lalu, ketika Tiffany dan member SNSD harus pergi kejepang. Tiffany dan Siwon bertengkar dan tiga hari tidak ada tegur sapa. Tiffany sangat tersiksa dengan situasi ini. tiga hari tanpa mendengar suara Siwon, tidak bertemu dengan pria itu membuatnya seperti di neraka. Tiffany sudah berkata jujur tapi Siwon tidak mempercayainya, Siwon sudah tersulut rasa cemburu yang berlebihan.

 

FLASHBACK ON

“Kau satu penerbangan dengan Nichkhun? Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Siwon dengan marah diseberang telephon.

“Aku tidak tahu, aku baru mengetahuinya ketika didalam pesawat” Tiffany benar benar tidak tahu, Sunny lah yang memberitahunya kalau mereka satu penerbangan dengan 2PM.

“Kau benar benar tidak tahu atau menutupinya lagi dariku?” ini akibat pernah berbohong pada Siwon, dia akan selalu mengingatnya. Tiffany pernah satu acara dengan Nichkhun dan dia tahu, tapi tidak memberitahunya pada Siwon. Cemburunya pada Nichkhun terkadang tidak masuk akal makanya Tiffany menutupinya dari Siwon. Tapi untuk yang kali ini Tiffany benar benar tidak tahu.

“Aku benar benar tidak tahu, Oppa” gumam Tiffany. satu kali berbohong, Siwon akan sulit percaya padanya.

“Suara mu meragukan, kenapa kau selalu menutupinya dariku, Tiffany?” suaranya naik satu oktaf.

“Percayalah Oppa, kali ini aku tidak menutupinya” Tiffany tidak tahu harus berkata apa lagi agar Siwon percaya padanya.

“Teruslah berbohong dan selamat bersenang senang” klik.. Siwon menutup telepon nya begitu saja.

Dengan kesal Tiffany melemparkan ponsel nya ketempat tidur hotel tempat mereka menginap.

 

Keesokan harinya Siwon menghubungi Tiffany sepuluh kali panggilan masuk dan semua dari Siwon. Tiffany tidak mengangkatnya, dia sibuk latihan dan rekaman untuk Asia tour tahun ini. dia berada dijepang bukan untuk berlibur tapi bekerja.

Ada satu voicemail, Tiffany membukanya..

“sepertinya kau benar benar sedang bersenang senang di Jepang dengan pria itu. Maaf jika aku mengganggu”

Tiffany memukul kepalanya, kenapa dia tidak memeriksa ponsel nya sejak tadi. Masalah akan semakin rumit jika seperti ini. dia mencoba menghubungi Siwon tapi ponsel nya mati. Menelpon manager nya pun tidak mendapatkan jawaban.

Mood Tiffany selama di Jepang benar benar tidak bagus, disaat member lain berkumpul dengan member 2PM untuk makan malam, dia lebih memilih keluar bersama Taeyeon dan Yoona. Nichkhun adalah rival bagi Siwon jadi beginilah cemburunya Siwon.

 

FLASHBACK OFF

 

 

Sepulang nya dari Jepang pun mereka masih belum ada perkembangan. Siwon masih mematikan ponsel nya. Mau menemui Siwon, Tiffany bingung harus kemana? Dia tidak mendapatkan informasi dari prianya.

Taeyeon yang melihat Tiffany menatap kosong kearah TV pun menegurnya, tapi Tiffany tidak mendengar. Lalu Taeyeon menepuk pundaknya.

“Memikirkan kekasihmu?” tanya Taeyeon, ketika kesadaran Tiffany sudah kembali.

“Anyio” bohongnya, Tiffany menggelengkan kepalanya cepat.

“Jangan berbohong” Taeyeon tahu Tiffany masih memikirkan cara agar dapat bicara dengan Siwon.

“Kami belum berbaikan, Tae” adu Tiffany lesu, Taeyeon orang pertama yang tahu pertengkaran mereka saat di Jepang.

“Siwon Oppa akan pulang ke dorm nya, sore nanti. Temuilah dia Fany aah” Tiffany langsung melihat kearah Taeyeon dengan semangat.

“Pasti Leeteuk Oppa yang memberi informasi” Taeyeon mengangguk, mengiyakan “Oh kau benar benar sahabat yang baik, thank u so much boo” Tiffany memeluk Taeyeon, memberikan kecupan dikedua pipinya.

“Tapi kau harus datang keacara musik besok, kau tahu aku masih gugup untuk tampil seorang diri di panggung” Taeyeon melepas pelukan Tiffany dan menatap Tiffany penuh harap.

“Tentu, aku akan datang. Karena aku fans nomor satumu” mereka high five dan tertawa bersama.

 

Beberapa menit kemudian pintu dorm terbuka, Yoona yang muncul dari balik pintu. Berlari menghampiri Tiffany dan Taeyeon, dia tengah menangis kencang.

“Yoona, Wae?” Tiffany langsung menangkap Yoona kedalam pelukan nya, Yoona menangis kencang.

“Donghae Oppa sudah pergi ke camp untuk wajib militer” ucapnya, disela tangisnya yang sangat pilu.

“Ku kira kau wanita yang kuat, tapi kau menangis juga” ejek Tiffany. Taeyeon memukul lengan Tiffany untuk berhenti menggoda Yoona.

“Aku tidak akan menangis jika aku bisa mengantar nya, tapi Kim Sajangnim melarangku datang” Yoona menghapus air mata dengan punggung tangannya “Aku tidak bisa mengucapkan salam perpisahan untuknya” Yoona menangis lagi.

“Sudah, berhentilah menangis. Donghae Oppa akan menghubungi mu nanti. Uljima woori Yoongie” Taeyeon mencoba menenangkan Yoona yang ada dipelukan Tiffany.

Tiffany langsung berfikir, bagaimana jika nasibnya sama seperti Yoona. Dilarang untuk datang mengantar Siwon, pasti dia juga akan menangis seperti ini, sangat menyedihkan.

Ketika Yoona mulai tenang, Taeyeon dan Tiffany mulai menghiburnya. Yoona bisa melupakan apapun jika ada makanan lezat. Jadi Taeyeon mulai memasak makan siang untuk mereka. Tiffany dan Yoona mencoba untuk membantu tapi Taeyeon bukan terbantu malah menambah pekerjaannya. Dua gadis itu benar benar pengacau.

 

***

Jam enam sore Tiffany sampai didepan dorm Super Junior. Dia memakai hoddie abu abu milik Taeyeon, bahkan topi pun dia pinjam dari Taeyeon.

Tiba tiba dia gugup, menarik nafas dalam dalam Tiffany menekan bel. Tidak butuh waktu lama, pintu dorm terbuka dan Leeteuk yang menyambutnya.

“Annyeonghaseo Oppa” Tiffany membungkuk hormat. Sebelum datang kesini Tiffany lebih dulu menghubungi Leeteuk untuk memastikan Siwon benar benar ada disana.

“Wow, kau datang lebih cepat dari yang aku kira” Leeteuk mempersilahkan Tiffany masuk.

“Ya, aku ingin semuanya selesai dan jelas” gumam Tiffany “Dimana dia?” tanya Tiffany, dia mengedarkan pandangannya kesisi dorm tapi tidak melihat Siwon. Dorm nampak sepi, member Super Junior sibuk dengan kegiatan individu.

“Dia diteras belakang, temuilah” Leeteuk mendorong Tiffany, agar cepat berjalan untuk menemui Siwon.

“Sekali lagi terimakasih untuk bantuannya, Oppa” Leeteuk mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban. Tiffany membungkuk sekali lagi, lalu berjalan pergi.

 

Berjalan menyusuri lorong, akhirnya Tiffany sampai diteras belakang. Siwon tengah duduk bersandar dikursi malasnya, matanya terpejam dan ada satu botol wine dan gelas disampingnya.

Dia minum? Tiffany mengernyitkan alisnya. Melangkah dengan hati hati agar Siwon tidak mengetahui kedatangannya, dan Tiffany sudah sampai didekat Siwon, dia mencium pipi Siwon secepat kilat.

Siwon membuka matanya cepat, duduk tegak dikursi malasnya. Baru saja dia berharap Tiffany datang dan sekarang harapan itu menjadi kenyataan, tapi dia masih marah pada Tiffany.

“Pulanglah, aku lelah” ucap Siwon dingin, dan melenggang pergi meninggalkan Tiffany.

Tiffany mengejarnya dan menangkap lengan Siwon “Seseorang pernah bilang padaku. Kita harus bersikap dewasa untuk menghadapi masalah dan bicara dengan baik. Well, mari kita bicara sekarang dan kita selesaikan semua kesalahpahaman” Siwon tertegun. Ini kata katanya yang selalu dia pakai jika Tiffany marah padanya dan sekarang kata kata itu diputar untuknya.

Siwon tidak bergerak, Tiffany mengayunkan lengan Siwon dan dia berbalik menghadap Tiffany “Oke kita bicara dan aku ingin kau jujur” Siwon menariknya untuk duduk di kursi malas yang dia duduki tadi, mereka duduk saling berhadapan.

“Aku sudah bicara jujur tapi Oppa tidak percaya juga. Menyedihkan” Tiffany menunduk lesu.

“Coba kau tatap aku dan jelaskan semuanya” Siwon menangkup wajah Tiffany untuk melihatnya.

“Aku benar benar tidak tahu kalau kami satu penerbangan, Sunny yang memberitahu ku ketika kami sudah berada didalam pesawat. Aku sudah ingin memberitahu Oppa, tapi Oppa sudah lebih dulu menelpon dan marah marah” Tiffany menggenggam tangan Siwon yang tengah memegang wajahnya.

“Tapi kau tidak mengangkat telepon ku keesokan harinya?” tanya Siwon, tangannya pindah menggenggam lutut Tiffany.

“Aku sudah bilang bukan, kalau aku ke Jepang untuk kerja yang sangat menyita waktu. Jadi hari itu ponsel jauh dari jangkauan ku” jelas Tiffany “Percayalah Oppa, hmm?”

Siwon hanya diam dan menatap Tiffany tajam “Aku tidak berbohong Oppa, aku sudah bicara dengan jujur” Siwon masih diam.

Tiba tiba Siwon menangkup wajah Tiffany lagi dan mencium kedua mata indahnya “Matamu tidak pernah berbohong, maafkan aku”

Tiffany tersenyum “Karena aku tidak pandai berbohong padamu” Tiffany menghambur, memeluk leher Siwon.

“Oh Tuhan, betapa aku mencintai gadis pendek ini” Ucap Siwon dileher Tiffany, dia tertawa geli.

“Oppa” protes Tiffany. Siwon selalu saja memanggilnya dengan kekurangan yang Tiffany punya. Tapi entah kenapa Tiffany menyukainya, berarti Siwon tidak hanya mencintai kelebihannya saja tapi kekurangan Tiffany juga.

“Aku mencintaimu” bisik Siwon.

“Aku lebih mencintaimu” Tiffany balik berbisik.

“Aku sangat lebih mencintaimu” ucap Siwon didepan wajah Tiffany.

“Aku sangat sangat lebih lebih mencintaimu” balas Tiffany tidak mau kalah dan memeluk Siwon lagi.

 

 

***

“Fany aah, kau benar benar tidak mau kami antar?” Tanya Taeyeon lagi. Tiffany datang keacara musik untuk mendukung Taeyeon dan sekarang acara sudah selesai.

“Tidak. Siwon Oppa akan menjemputku” Tiffany mendekatkan bibir nya di telinga Taeyeon.

“kau serius?” Taeyeon menarik kepala nya untuk melihat Tiffany.

“Iya, aku serius” ucap Tiffany sembari menganggukan kepalanya “Pergilah Kim Taeyeon, aku tahu jadwal mu sangat padat” Tiffany mendorong Taeyeon pelan.

“Telepon aku jika kau sudah sampai dorm dengan selamat, Arraseo?” Taeyeon sedikit ragu meninggalkan Tiffany sendiri, apalagi Siwon akan menjemputnya. Menurut Taeyeon itu sangat beresiko.

“Jangan khawatir” Tiffany mengusap lengan kecil Taeyeon “Aku akan menghubungi mu nanti, pergilah!!”

“baiklah, aku pergi dulu. Sampai ketemu nanti malam di dorm, gadis amerika” Taeyeon memeluk Tiffany dan mengecup pipi kanan nya. Tiffany berdecak mendengar ucapan Taeyeon.

 

Sudah dua puluh menit Tiffany menunggu, tapi Siwon belum juga datang. Tiffany mengetuk ngetukkan kaki nya di lantai, sudah bosan menunggu. Tiffany duduk di lorong dekat lift, tidak begitu banyak orang disana, hanya ada beberapa staf yang lalu lalang dan sesekali menyapa Tiffany.

Ponsel di genggaman Tiffany tiba tiba bergetar, dengan semangat dia langsung membuka pesan masuk tersebut.

“Maaf, sayang. Sepertinya aku tidak bisa menjemput mu, aku masih harus syuting. Kau tidak marah kan?”

bahu Tiffany merosot dan menghembuskan nafas dengan kasar, dia kecewa, sangat kecewa. Sudah lama menunggu tapi hasil nya zonk..

Aku marah, sangat marah. Kau tahu!! Kesal nya mengomel dalam hati.

“Gwencana Oppa, aku akan pulang dengan TaeYeon”

Tiffany berbohong, sesungguhnya dia kebingungan harus pulang dengan siapa. Menghubungi manager nya berarti dia harus menunggu lagi, dia sudah lelah menunggu. Tiffany bersandar didinding tempat dia duduk, memejamkan mata indahnya, meletakkan ponsel di samping nya dekat dengan kopi yang dia beli tadi untuk nya dan untuk Siwon. Kebetulan diluar sedang hujan, sangat pas untuk minum kopi hangat. Tapi sepertinya keinginan Tiffany gagal untuk minum kopi hangat dengan kekasihnya.

 

 

Tiffany hampir melompat karena terkejut, seseorang menendang kaki nya. Ketika Tiffany membuka mata dan melihat siapa orang yang menendang kaki nya, dia mencibir “Yaak!! Kau tidak sopan sekali”

Mendengar teriakan Tiffany, orang tersebut hanya memejamkan matanya tetapi dia tersenyum jahil dan kaki nya masih menendang kecil kaki mulus Tiffany “MIN HO YAA…” teriak Tiffany lagi dan melayangkan tinju ke lengan keras Min Ho.

Orang yang dengan jahil menendang kaki Tiffany adalah Choi Min Ho member boyband Shinee kebetulan mereka bernaung di agensi yang sama dan ya cukup dekat, semakin dekat karena Min Ho memiliki hubungan dengan Yuri teman satu grup Tiffany.

Min Ho melipat tangan nya didepan dada “Noona, seharusnya kau berterimakasih padaku. Karena aku membangunkan mu, kau tertidur tadi”

Tiffany menegakkan tubuhnya “Kau tahu, aku tidak tidur. Tsk!! Cara membangunkan mu payah sekali, pantas Yuri sering memarahi mu” Tiffany tertawa kecil.

Min Ho menempatkan tubuhnya disamping Tiffany “Aku punya cara tersendiri untuk membangunkan Yuri dan pastinya berbeda dengan yang aku lakukan pada Noona tadi” Tiffany hanya menggelengkan kepalanya.

“Kalau aku tebak, pasti Noona sedang menunggu jemputan pangeran Audi. Right?” tebakan yang tepat Min Ho..

“Tadi iya, sekarang tidak. Dia tidak bisa menjemputku” ucap Tiffany lesu.

“Well?” Min Ho memiringkan kepalanya kesatu sisi untuk melihat Tiffany.

“Aku bingung, harus pulang dengan siapa. Minta jemput dengan manager Oppa, itu artinya aku harus menunggu lagi. Aku lelah menunggu” Tiffany menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.

“Ikutlah dengan ku, aku akan mengantar Noona pulang” Min Ho bangkit dari tempat duduk nya.

Tiffany mendongakan kepalanya “Kau serius?” mata nya menatap Min Ho tidak percaya.

“Aku serius, kajja” tanpa aba aba, Min Ho menarik lembut tangan Tiffany. Dengan gerakan cepat Tiffany meraih ponsel dan kopi yang ada disampingnya.

 

 

 

“Aku membawakanmu kopi karena kau telah memberi tumpangan untukku.” Suara Tiffany seperti tidak yakin dan lembut saat dia bicara. Karena kopi tersebut sesungguhnya bukan untuk Min Ho melainkan untuk Siwon.

“Terima kasih,” jawab Min Ho dengan tersenyum

Tiffany mengangkat gelas kopinya hingga ke mulutnya, menyesap sedikit sesaat matanya menatap Min Ho yang sedang fokus pada jalan.

“Jika Noona ingin mendengar musik, aku berjanji itu semua terserah Noona” Min Ho mengingatkannya. Dia tidak melihat kearah Tiffany tapi tersenyum pada ujung bibirnya.

“Terima kasih. Percaya padaku, aku mengingatnya. Aku baik-baik saja sekarang. Kau bisa mendengarkan sesuatu jika kau ingin.”

Tiffany bergeser pada tempat duduknya dan memaksakan dirinya untuk tetap menjaga matanya ke jalan bukan ke Min Ho, dongsaeng disamping nya memang nampak begitu tampan dengan kaos hitam ketat dengan jeans biru yang menggantung dipinggulnya. Tapi tetap Siwon-nya lebih tampan.

“Jadi apa rencana mu hari ini? apa kau memiliki rencana?” tanya Tiffany.

Min Ho mendesah “Tidak, aku tidak memiliki rencana apapun untuk sisa hari ini. Wae? Apa Noona ingin ditemani kesuatu tempat?”

“Oh, tidak.” Tiffany mengibaskan tangannya diudara “Aku hanya bertanya”

Hening sebentar, dan Min Ho bertanya lagi “Jadi bagaimana Noona dengan Siwon Oppa?”

Apa yang dia tanyakan? “Kami baik. Telah begitu sejak lama. Perasaanku kepadanya tidak akan berubah.”

Tiffany tidak akan menanyakan perihal hubungan Min Ho dengan Yuri. Tanpa ditanya pun Tiffany sudah tahu kalau mereka baik baik saja karena Yuri sering menceritakan hubungannya dengan member lain.

Sebelum Min Ho dapat mengatakan apapun lagi Tiffany mencondong ke depan dan menyalakan radio. Dia menemukan siaran country pada radio satelit dan kembali menyandarkan kepalanya di kursinya.

Dua puluh menit dalam diam terlewat, sebelum ponsel Min Ho berdering. Nama Yuri muncul di layar dashboard. Iphone nya ini sudah terprogram di mobil milik nya. Min Ho hanya melirik nya lalu mengklik tombol tolak dan radio kembali memutar lagi.

Tiffany terperangah melihatnya “Hey, kau bisa mengangkat telepon nya dan berbicara. Aku tidak akan mendengar pembicaraan manis kalian” Tiffany berbicara dengan lembut, Min Ho tidak menjawab. Apa dia tidak mendengar ucapannya karena musik?

Tiffany menatap Min Ho yang masih fokus dengan jalan “Kalian sedang bertengkar?” tanya Tiffany dengan hati hati.

“Pertengkaran kecil. Dan aku tidak ingin menunjukkan pertengkaran kami di depan Noona” Min Ho melirik Tiffany sebentar lalu kembali ke jalan.

“Mian, aku tidak tahu” balas Tiffany menyesal. Dia jadi tidak enak, kehadiran nya di dalam mobil Min Ho pasti akan menambah masalah hubungan sahabatnya. Karena Min Ho mengabaikan panggilan Yuri.

 

Min Ho menepikan mobil nya didepan gedung SM, Tiffany meminta Min Ho untuk mengantarnya kesini bukan ke dorm nya.

“Noona benar, tidak ingin aku antar ke dorm?” tanya Min Ho, dia hanya ingin memastikan kalau Tiffany benar benar memiliki tujuan ke kantor SM. Min Ho merasa Tiffany tidak ingin diantar ke dorm karena tidak enak dengan Yuri.

“Aku benar benar memiliki beberapa urusan disini, jangan khawatir dan terimakasih atas tumpangannya Min Ho. Semoga permasalahan kau dan Yuri cepat terselesaikan” Tiffany tersenyum manis dan menepuk bahu Min Ho dua kali. Lalu keluar dari mobil tersebut, menundukkan kepalanya untuk melihat Min Ho didalam “Terimakasih sekali lagi”

“Terimakasih juga” balas Min Ho. Mereka saling melempar senyum.

 

***

“Jadi hanya itu yang kau inginkan?” tanya pria paruh baya, kepala nya bersandar di sofa besar dan jari panjangnya menggosok gosok dagu nya.

“Ya, buat aku dan Siwon bekerja sama lagi setelah dia pulang dari wamil nanti dan jika itu berhasil aku akan benar benar pindah ke agensi mu, Kim Young Min Sajangnim” Ucap nya tegas, bahu nya dibuat tegap dan duduk dengan serius dihadapan CEO SM itu.

“Haha, kau tenang saja Liu Wen. Aku akan mengabulkannya” Kim Young Min tertawa puas setelah mendengar penuturan Liu Wen.

“Aku tahu, kau mencintai Siwon. Tapi apa kau tahu jika Siwon sudah menjalin hubungan dengan Tiffany Hwang?” tanyanya, matanya menyipit menatap wanita jangkung dihadapannya.

“Aku mengetahuinya, dan Tiffany tidak ada apa apa nya untukku. Dia bukan saingan yang sepadan” balas Liu Wen dengan sombong nya, ekspresi jijik terbit di wajahnya ketika menyebut nama Tiffany.

 

 

Liu Wen berjalan dengan anggun ketika keluar dari ruangan Kim Young Min, memakai kaca mata hitam nya kembali dan berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka.

Dia baru saja tiba di Korea dan mendatangi Kim Young Min untuk merencanakan kesepakatan dan ada sedikit pekerjaan. Setelah dari sini rencana nya dia ingin membuat kejutan untuk Siwon dengan datang ke lokasi syuting nya, Liu Wen sudah mendapatkan alamat dimana Siwon akan syuting, dia mendapatkan informasi dari menager Siwon, Kim Hyun Woo.

Senyum nya terus terukir diwajahnya membayangkan dia akan bertemu Siwon tidak lama lagi, tapi ketika Liu Wen sedang asyik dengan lamunan nya, seseorang bersuara berat memanggil namanya dan dia tahu siapa orang itu. Bibirnya terukir senyum yang sangat lebar ketika melihat siapa yang berada dihadapannya saat ini.

“Siwon” panggilnya, dan langsung melompat kepelukan Siwon.

Siwon yang awalnya sedikit terkejut, lama kelamaan sedikit santai dan membalas pelukan Liu Wen “Kapan kau datang? Dan ada keperluan apa kau datang ke kantor ini?” tanya Siwon sembari melepas pelukannya.

“Beberapa jam yang lalu dan aku ingin menanyakan lokasi syuting mu pada staff” bohong nya, tapi Siwon tidak menangkap kebohongan itu karena Liu Wen sudah menyusun semua rencana dengan matang.

“Hey, kau bisa menelpon ku tanpa repot repot datang ke tempat ini” Siwon menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar Liu Wen yang datang ke kantor ini hanya untuk menanyakan alamat lokasi syutingnya.

“Aku ingin memberimu kejutan” Liu Wen bergelayut manja di tangan besar Siwon.

“Sayangnya, aku sudah selesai. Aku tidak ada syuting lagi untuk hari ini” Siwon mencoba melepaskan pegangan Liu Wen tapi gagal, wanita itu sangat kuat melilitnya.

“Ahh sayang sekali, kalau begitu temani aku makan malam sebagai gantinya. Otte?” Liu Wen mencari berbagai macam cara untuk bersama sama dengan Siwon malam ini karena besok siang dia sudah harus terbang ke Jeju untuk pemotretan.

Tidak ada jawaban dari Siwon, pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu “Ayolah Siwon, besok aku sudah harus pergi” bujuk Liu Wen lagi, wanita yang pantang menyerah.

“Baiklah, Kajja” Siwon tidak sampai hati untuk menolak permintaan wanita yang sudah dianggapnya sahabat ini, sudah lama juga mereka tidak bertemu dan mengobrol.

 

***

Tiffany memasuki gedung SM dengan santai, sebenarnya dia tidak memiliki urusan apapun di kantor ini. hanya saja Tiffany tidak ingin Min Ho mengantarnya ke dorm, apalagi Min Ho sedang memiliki konflik bersama Yuri dan menurut Tiffany tidak tepat untuk Min Ho mengantarnya ke dorm. Untung saja Taeyeon berada disini, mereka bisa pulang bersama dan makan malam terlebih dahulu sebelum kembali ke dorm. Tiffany sedikit berlari ketika memasuki lift, lift meluncur dengan cepat dan membawa nya kelantai yang dia tuju. Saat pintu lift terbuka, mata Tiffany membulat dengan sempurna melihat Siwon dengan Liu Wen yang bergelayut manja dilengan nya. Rasa nya Tiffany ingin menutup lift itu kembali dan turun berlari menjauhi pria nya. Tapi yang Tiffany lakukan adalah menghampiri dua orang tersebut. Siwon juga terkejut melihat Tiffany, beda dengan Liu Wen yang semakin mempererat lilitannya dan tersenyum dengan senang.

“Hai Oppa, yang aku tahu kau sedang sibuk syuting sehingga tidak bisa menjemputku” sindir Tiffany dengan nada setenang mungkin, padahal jantungnya sedang berdetak dengan sangat kuat karena menahan emosi.

“Aku baru saja selesai dan maaf soal itu” Siwon mencoba melepas lilitan Liu Wen dan berhasil, dia berjalan mendekati Tiffany tapi Tiffany berjalan mundur menjauhi Siwon.

Siwon melihat kearah Liu Wen yang sedang menatap mereka “Bisa kau tunggu dibawah, aku akan menyusul” ucap Siwon lembut pada Liu Wen.

“Bisa, asalkan kau menepati janji mu untuk makan malam dengan ku” Liu Wen menatap Tiffany dengan tatapan tidak sukanya sedangkan Tiffany menautkan alisnya ketika mendengar kata makan malam.

Siwon hanya mengangguk pada Liu Wen dan menarik Tiffany ke tangga darurat dan menutup pintunya.

“Pembohong, Oppa lebih memilih makan malam dengan wanita itu daripada menjemputku. Aku menunggu mu seperti orang bodoh, kau tahu.” sembur Tiffany.

“Maaf dan aku tidak berbohong. Aku baru saja sampai dikantor dan tanpa sengaja bertemu Liu Wen”

“Bohong” sela Tiffany “Mana mungkin dia berada dikantor ini kalau bukan dengan mu”

Siwon menarik bahu Tiffany dan menggenggam nya kuat, Tiffany mencoba menjauh tapi Siwon mempererat “Demi Tuhan, aku tidak berbohong. Dia memiliki urusan disini dan aku bertemu dengannya didepan lift, lalu kau keluar dari sana. Seakan akan kami bersama, padahal baru beberapa menit yang lalu kami bertemu”

“Kau membiarkan dia menyentuhmu dan kalian akan pergi makan malam. Pergiah dan jangan pernah kembali” Tiffany berteriak dan mendorong tubuh Siwon agar menjauh. Tiffany berlari keluar, Siwon tidak berusaha untuk mengejarnya karena dia juga memiliki janji bersama Liu Wen.

Siwon mengambil keputusan untuk menepati janji nya pada Liu Wen dan menyelesaikan masalah nya dengan Tiffany.

 

***

Selesai makan malam bersama Liu Wen, Siwon langsung menghubungi Tiffany untuk menyelesaikan masalah, tapi ponsel Tiffany mati. Dengan gerakan cepat dia menuju dorm SNSD, tapi Tiffany tidak berada disana. Siwon sudah mulai prustasi, dimana kekasihnya? Tiffany marah besar dan Siwon tahu itu.

Siwon tidak ingin kembali ke dorm nya, jadi dia memutar arah menuju Apartemennya. Sekarang baru jam delapan malam, mungkin Tiffany sedang pergi bersama temannya. Karena itu yang biasa Tiffany lakukan jika mereka sedang bertengkar. Mencari pelarian untuk melupakan masalah.

Siwon masuk keApartemen dengan ponsel yang masih digenggamannya, dia belum menyerah untuk menghubungi Tiffany. Siwon mencoba menghubungi Taeyeon ketika dia sampai didalam kamarnya. Di dering kedua teleponnya diangkat oleh Taeyeon.

“Tae, apa Tiffany sedang bersama mu?” Siwon menempatkan tubuhnya diatas tempat tidur dan dia merasa ada seseorang dibawahnya. Di tarik selimut yang menutupinya dan seseorang yang sedang dicarinya ada dibalik selimut itu, tidur meringkuk dengan pulas.

“Oppa, apa kau mendengar ku?” Taeyeon yang sedari tadi bicara dan Siwon tidak meresponnya pun mencoba menegur Taeyeon.

“Hoh, maaf mengganggu Tae. Tapi aku sudah menemukan gadisku.” Ucap Siwon, senyum kecil terukir dibibir tipisnya.

“Nde, Oppa gwencana” Beberapa detik kemudian telepon terputus…

Siwon melepas sepatu dari kakinya dan ikut bergabung bersama Tiffany. Masuk kedalam selimut dan menarik Tiffany agar mendekat padanya, Siwon mencium puncak kepala Tiffany dan memejamkan matanya, memeluk Tiffany lebih erat. Dia sangat takut kehilangan gadis nya.

 

 

Tiffany menggeliat kecil, tapi tubuhnya tidak dapat bergerak. Perlahan dia membuka matanya, menyipit untuk melihat siapa yang berada dihadapannya. Tadi setelah keluar bersama Taeyeon, Tiffany tidak ingin pulang ke dorm karena Siwon pasti akan datang kesana untuk menemuinya dan dia memutuskan pergi ke Apartemen mencoba bersembunyi disana tapi sepertinya dia gagal. Siwon menemukannya disini dan sedang memeluknya dengan erat seperti tidak akan melepaskan Tiffany.

Tangan Tiffany terangkat untuk menjelajahi wajah Siwon, tapi diurungkannya ketika bayangan Siwon bersama Liu Wen beberapa jam yang lalu berputar dikepalanya. Tiffany pun meletakkan tangannya diatas dada Siwon dan mendorongnya kuat.

Siwon langsung terjaga ketika Tiffany mendorong dada nya dengan kuat, pelukannya pun terlepas. Kini Tiffany sedikit menjauh dan memunggungi Siwon. Perlahan Siwon mendekat dan memeluk pinggang Tiffany dari belakang, Tiffany tidak memberontak. Bagus!!

Siwon meletakkan dagunya dibahu Tiffany yang terbuka, Tiffany mengenakan tanktop pink dan hotpant. Siwon memberi beberapa kecupan dibahu nya tapi Tiffany tidak bergeming. Siwon mencoba menggoda Tiffany dengan mencium leher Tiffany, tapi lagi lagi tidak ada respon dari Tiffany.

Siwon tertawa “Kau sangat menggemaskan ketika kau sedang cemburu seperti ini” tangannya bermain diatas lengan Tiffany.

Tiffany berbalik dan menyipitkan matanya “Tidak ada yang lucu, kenapa kau tertawa?” marah nya, menatap Siwon dengan tatapan mematikan.

Siwon meraup wajah Tiffany “Ini baru gadis Amerika ku yang pemarah, kau hanya diam seperti tadi rasanya sangat aneh”

Tiffany menarik lepas tangan Siwon yang berada disisi wajahnya “Aku membencimu”

“Aku mencintaimu” balas Siwon.

“Pergilah, aku membenci mu” Tiffany mendorong Siwon agar menjauh darinya.

“Aku ingin tetap disini bersamamu” Siwon menarik paksa Tiffany dan memeluknya erat. Tiffany merapat dan mau tidak mau menempelkan pipinya didada Siwon.

“Tidak ada yang lain, Tiffany. Hanya kau”

“Tapi dia menyukai mu” Tiffany mendongakkan kepalanya untuk menatap Siwon.

“Aku tidak. Aku hanya mencintaimu, sayang” Siwon menggosok gosokkan tangannya keatas dan kebawah di punggung Tiffany. Dan merasakan Tiffany sedikit lebih santai.

“Lepaskan aku Oppa, aku belum mandi dan pastinya bau keringat” Siwon maupun Tiffany, tidak ada yang ingin melepaskan satu sama lain.

“Dan ya, kau hanya sedikit berbau tidak sedap” bohong Siwon, menggoda Tiffany dan Siwon mengernyitkan hidungnya.

Tiffany mencibir “Jam berapa sekarang?” tanya Tiffany.

“Jam sebelas” Siwon mencium diatas kepalanya dan Tiffany meremas pinggang Siwon “Jangan mandi, ini sudah tengah malam. Nanti kau sakit”

“Tapi Oppa bilang aku berbau tidak sedap” kata Tiffany melengkungkan bibirnya cemberut.

“Aku hanya bercanda, cintaku. Kau harum, bahkan sangat” Siwon menghujani wajah Tiffany dengan ciuman ringan.

Seketika Tiffany tertawa dan Siwon merasa senang bisa membuat Tiffany tersenyum setelah terjadi sedikit kekacauan malam ini yang baru saja mereka alami.

 

 

***

 

2 bulan kemudian…

Dalam waktu dua bulan ini, Siwon dan Tiffany hanya bertemu lima kali. Siwon benar benar sibuk dengan dramanya, belum lagi lokasi syuting yang begitu jauh. Membuat mereka sulit untuk bertemu. Dramanya sudah berakhir dan Siwon akan fokus pada gadisnya, tapi Tiffany sibuk dengan persiapan solo debutnya, belum lagi menghadiri fashion week dalam minggu ini. sekarang Siwon lah yang uring uringan karena sulit untuk bertemu kekasihnya.

Siwon baru saja bangun dari tidur panjangnya, karena Tiffany tidak bisa diajak berkencan. Jadi Siwon memilih tidur, dia tertidur setelah makan siang dan sekarang sudah jam tujuh malam, perutnya pun sudah protes untuk diisi.

Siwon berada diapartemennya. Oh bukan, tapi apartemennya dengan Tiffany. Mereka membelinya dua tahun lalu, tempat mereka untuk menghabiskan waktu melepas rindu. Karena dorm bukanlah tempat yang tepat untuk mereka. Siwon dan Tiffany butuh privasi, itu sudah pasti karena mereka sudah dewasa.

Mengambil Iphone nya, Siwon berjalan keluar kamar mencari sesuatu yang dapat dimakan untuk mengisi perutnya. Dilemari pendingin Siwon mengeluarkan nasi dan kari instan, lalu dia memanaskannya.

Sambil menunggu makanannya hangat, Siwon akan menghubungi Tiffany. Setelah percakapan mereka ditelepon tadi siang, Tiffany akan menelpon Siwon kembali tapi Siwon tidak mendapatkan itu. Dengan tidak sabaran dia menekan nama Tiffany, telepon langsung tersambung dan dengan cepat Tiffany menjawabnya. Diseberang telepon  ada nada cemas terselip disuara Tiffany, tapi Siwon marah pada Tiffany “Kau mengikar janji, kemana saja kau?” ucapnya dengan sengit.

Tiffany menautkan alisnya “Aku? Harusnya aku yang bertanya. Oppa kemana saja?” Tiffany bingung, dia sudah mengirimkan beberapa pesan dan mencoba menghubungi Siwon tapi tidak ada feedback dan membuat Tiffany cemas.

“Kau tidak menghubungi ku” gumam Siwon.

“Oh Tuhan, sekarang periksa ponsel mu, Oppa” kesal Tiffany. Siwon menghubunginya, Tiffany menduga Siwon sudah membaca pesannya. Tapi Tiffany salah, Siwon menelpon untuk memprotesnya. Siwon yang ceroboh…

Siwon menarik telepon dari telinga nya dan mulai menggeledah benda persegi itu. Yep, benar ada pesan masuk dari Tiffany..

Pesan pertama…

“Oppa aku baru akan pergi, selamat beristirahat” ada dua emoticon cium yang diberikan Tiffany.

Pesan kedua, Tiffany seperti ingin mengecek keadaan Siwon karena tidak membalas pesannya…

“Oppa, apa kau baik baik saja? Apa kau sedang tidur? Telepon aku jika kau bangun nanti.”

Isi pesan ketiga, keempat dan seterus nya berisi kekhawatiran, kemarahan dan tidak sabaran.

 

Siwon memukul keningnya, betapa bodohnya dia. Siwon sebenarnya melihat ada notifikasi pesan dan panggilan masuk tapi dia tidak memeriksanya lebih dulu, itulah sifatnya yang selalu terburu buru dan tidak sabaran.

“Mianhae Tiff baby, aku tidak memeriksanya tadi” ucap Siwon sangat menyesal “Aku tidur setelah makan siang dan baru bangun ketika perutku sangat kelaparan” lanjutnya.

“Oppa sudah makan?” tanya Tiffany penuh perhatian, dia tidak ingin membahas masalah pesannya. Dari suara Siwon bicara, Tiffany sudah tahu kalau pria nya baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

“Sedang menyiapkan makan sekarang” balas Siwon. Mencengkram Handphone ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan nasi dan kari yang sudah hangat.

“Apa yang Oppa makan?” tanya Tiffany lagi.

“Nasi dan kari. Oh ya, apa kau tidak akan keApartemen?” tanya Siwon penuh harap.

“Oppa mian, Yoona sedang demam. Tidak ada orang hanya ada aku dan Yuri, jadi aku tidak bisa meninggalkannya.” Tiffany ingin berada disana dengan Siwon, mengingat waktu kebersamaan mereka hanya tinggal satu minggu lagi.

“Gwencana baby, sampaikan pada Yoona agar cepat sembuh” Siwon mulai meletakkan nasi dan kari didalam piring besar.

“Nde, akan aku sampaikan” Tiffany tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai mata.

“Tapi besok kau tetap harus pergi denganku, karena itu tidak bisa dibatalkan. Eomma akan marah padamu” Siwon mengingatkan Tiffany. Makan malam bersama keluarganya, mungkin ini akan menjadi makan malam terakhir setelah itu Siwon akan pergi wamil.

“Oppa tenang saja, aku sudah mengaturnya” Tiffany mendengar suara decapan mengunyah, Siwon sudah mulai makan sepertinya “Oppa sedang makan, jangan banyak bicara jika tidak ingin tersedak”

Oh itu, kata kata Siwon untuk Tiffany jika dia terus berbicara ketika mereka tengah makan bersama, Siwon tertawa mendengar penuturan Tiffany “Datanglah keapartemen jam lima, kita akan pergi bersama dari sini” ucap Siwon ketika mulutnya kosong.

“Sip. Aku akan menutup teleponnya, karena aku harus mandi. Selesaikan makan mu, Oppa. Nanti kita bicara lagi”

“Oke, mandi yang bersih. I love u Tiff baby” Siwon menunggu balasan dari Tiffany.

“I love u too Mr.Choi” Tiffany terkkik lalu menutup telepon.

Siwon melanjutkan makannya sampai habis, tidak ada yang tersisa, dia benar benar kelaparan.

 

 

***

Keesokan harinya, jam lima sore Tiffany sudah mengendarai mobilnya. Untuk sampai ke Apartemennya butuh waktu empat puluh lima menit, itu kalau jalan sedang bersahabat, jika tidak bisa satu jam Tiffany sampai apartemennya.

Tiffany hanya membawa high heels chanel warna hitam miliknya, diapartemen dia meninggalkan beberapa gaun dan pakaian santai, make up dan beberapa perhiasan pun ada yang di tinggal diApartemennya, jadi Tiffany tidak perlu repot repot membawa ini dan itu.

Tadi ketika dia pergi, Yoona masih terbaring di tempat tidurnya, untung saja SooYoung dan Seohyun tidak memiliki kesibukan apapun hari ini. jadi Tiffany cukup lega meninggalkan adik kesayangannya itu.

Jalanan sore ini benar benar padat, berhubung ini hari sabtu, banyak orang yang menghabiskan sabtu malamnya diluar bersama keluarga, teman atau kekasih. Tapi sialnya sore ini diguyur hujan yang cukup lebat.

Siwon sudah dua kali menghubunginya sepanjang jalan ini, dia menghawatirkan Tiffany dan menyuruhnya untuk berhati hati dan tidak mengebut mengendarai mobilnya. Tiffany sedikit risih karena Siwon yang menelpon terus menerus membuatnya tidak fokus untuk menyetir tapi Siwon balik memarahinya, karena Tiffany nekat membawa mobilnya. Siwon menyuruh Tiffany meminta antar manager nya. Tiffany tidak ingin merepotkan orang lain untuk urusan pribadinya, itu prinsip Tiffany.

Setelah satu jam lebih sepuluh menit Tiffany melintasi jalan licin dan padat akhirnya dia sudah sampai didepan gedung tinggi apartemen mewah. Memarkirkan mobilnya di parkiran pribadi mereka. Dengan kekuasaan yang dipunyai Ayah Siwon, mereka bisa membeli Apartemen ini tanpa ada yang mengetahui bahwa mereka berdua sering keluar masuk gedung apartemen ini. mereka pun memiliki lift kusus, untuk mencapai lantai teratas dimana apartemennnya berada.

 

Tiffany sudah sampai didepan pintu apartemennya, tangannya terangkat untuk menekan password, tapi pintu tiba tiba terbuka, Siwon langsung menariknya kedalam.

“Kau membuatku khawatir” Siwon menangkup wajah Tiffany, lalu memberikan kecupan dipipi Tiffany berkali kali.

“Aku disini Oppa” Tiffany melepaskan pegangan Siwon diwajahnya, lalu dia berjalan kedalam kamar untuk meletakkan kotak sepatunya. Siwon mengikutinya dari belakang, ada dua kamar tidur disini tapi mereka memakai satu kamar tidur, kamar tidur bersama.

“Jam berapa kita harus pergi, Oppa?” tanya Tiffany, dia tengah mengeluarkan gaun dalam lemarinya dan menyiapkan beberapa perhiasan yang akan dia pakai.

“Jam tujuh” jawab Siwon singkat. Dia duduk ditempat tidur, memperhatikan Tiffany yang nampak sibuk.

Tiffany melirik jam ditangan kirinya, oh ini sudah jam enam lima belas mereka tidak punya banyak waktu “Bersiap siaplah Oppa, kita tidak punya banyak waktu” Tiffany bersedekap, bersandar pada lemari. Dia belum melihat kesiapan sedikitpun pada Siwon.

Bibir Siwon melengkung cemberut “Aku ingin kau yang menyiapkan pakaian untuk ku” Tiffany berdecak sebal, manja nya Siwon sedang ON.

Membuka lemari besar disebelah lemari pakaiannya Tiffany mengeluarkan celana khaki berwarna hitam dan kemeja berwarna biru soft, tidak begitu formal dan tidak terlihat santai juga.

“Igo, pakailah” Tiffany menyodorkan pakaian yang dia siapkan untuk Siwon kepangkuan pria itu “Bersiaplah dikamar lain karena aku juga ingin bersiap” perintah Tiffany.

“Arraseo” dengan kesal Siwon berjalan keluar kamar, dia juga ingin bersiap, tidak ingin terlambat karena Eomma nya akan mengomel.

 

 

Dua puluh lima menit kemudian mereka sudah rapih, Siwon memakai setelan yang Tiffany pilihkan untuk nya. Rambutnya dibiarkan menutupi keningnya. Ini bukan model rambut favorit Tiffany, kekasihnya terlihat kurang tampan dengan model rambut itu, Tiffany lebih menyukai rambut Siwon yang tersisir rapih kebelakang. Tapi apa boleh buat, ini sudah menjadi kemauan pria itu, Tiffany sedikit senang setelah drama itu berakhir Siwon mencukur bulu bulu halus disekitar wajahnya, sangat bersih tidak tersisa sedikitpun.

Tiffany sendiri mengenakan dres bermotif polkadot berwarna biru tua, berlengan panjang dan dres nya menggantung dibawah lututnya. Make up yang tidak begitu tebal dengan lipgloss berwarna pink, sangat cantik, rambutnya dibiarkan tergerai mengenai punggungnya. Siwon menyukai rambutnya yang tergerai bebas seperti in. Mereka sudah rapih, sudah siap untuk pergi sekarang.

 

 

Mobil yang Siwon kendarai sudah memasuki perkomplekan elit, rata rata yang tinggal disini adalah CEO dan artis artis papan atas. Pintu pagar menjulang tinggi menutupi rumah mewah keluarga Choi, pintu pagarnya otomatis.

Turun dari mobil, mereka menaiki tangga untuk mencapai pintu raksasa, Siwon menutkan jari jarinya pada Tiffany. Pintu terbuka perlahan, Tn dan Ny. Choi menyambut mereka dengan gembira. Ny.Choi memeluk putra sulungnya, lalu Tn.Choi tapi tidak lama, sudah dua minggu mereka tidak bertemu.

Tiffany membungkuk hormat “Annyeonghaseo Appa, Eomma. Senang bisa bertemu kalian lagi”

Ny.Choi meraih Tiffany kepelukannya “Terkadang aku menyesal memiliki putra dan calon menantu seorang publik figur, membuatku sangat sulit untuk bertemu” Ny.Choi menarik tubuhnya dan melihat Tiffany tertawa ringan mendengar ucapannya.

Tiffany mendapat pelukan hangat dari Tn.Choi lalu Tn.Choi menarik Tiffany untuk masuk kedalam, menuju meja makan. Siwon dan Ny.Choi saling merangkul dibelakang Tn.Choi dan Tiffany.

“Appa, dimana Jiwon Unnie?” tanya Tiffany, melihat sekeliling rumah, dia tidak melihat adik perempuannya Siwon. Kenapa Tiffany memanggilnya Unnie, karena Jiwon dua tahun lebih tua darinya.

“Dia masih dikamarnya, sebentar lagi pasti turun” mereka mulai mengambil tempat dimeja makan besar. Disana sudah tersedia menu makanan yang banyak dan membuat air liur menetes.

Tidak lama, Jiwon keluar dari kamarnya, berlari kecil menuruni anak tangga. Dengan cepat dia memeluk leher Siwon dan mencium pipinya cepat, benar benar merindukan Oppa nya. Lalu dia berpindah untuk memeluk Tiffany singkat. Jiwon mengambil tempat disamping Ny.Choi, makan malam pun dimulai, Tn.Choi yang memimpin doa malam ini.

“Fany ahh, Eomma selalu menyukai pakaian yang kau pakai setiap kali bertemu dengan kami” Ny.Choi membuka percakapan “Tapi tidak dengan pakaian yang kau pakai ketika menghadiri acara acara musik di TV ataupun event dan lain lain. Pakaian mu hampir membuat jantung Eomma lepas, kau tahu” Ny.Choi menggeleng gelengkan kepalanya dan meletakkan tangannya diatas letak jantungnya.

“Eomma, itu lah style yang sedang populer saat ini” sela Jiwon, Tiffany hanya tersenyum malu. Siwon dan Tn.Choi saling tatap dan memustuskan hanya menjadi pendengar.

“Arro, tapi pakaian yang terbuka dimana mana membuatku khawatir. Kau harus berhati hati memakainya Fany ahh, kau juga Jiwon” Tiffany dan Jiwon saling tatap dan hanya mengangguk setuju.

“Untung saja Eomma mu tidak menjadi designer” ucap Tn.Choi, melempar tatapan ke Siwon dan Jiwon tertawa setuju dengan ucapan Appa nya. Mereka semua tertawa tidak memperhatikan wajah kesal Ny.Choi.

 

Diam sejenak, mereka pun mengganti topik pembicaraan.

“Siwon, apa yang akan kau lakukan untuk beberapa hari kedepan, sebelum kau pergi wamil?” tanya Tn.Choi setelah meneguk air minumnya.

“Aku ingin meminjam rumah pantai, dan mengajak Tiffany kesana. Bolehkah Appa?” Tiffany menatap Siwon terkejut. Siwon tidak membahas apapun, apalagi mengajaknya pergi. Kenapa dia tidak membicarakannya dulu padaku? Siwon tidak membalas tatapan Tiffany, dia menatap Tn.Choi dengan khawatir.

“Pakailah, itu rumah mu juga. Kapan kau akan pergi? Appa bisa memberitahu pengurus rumah untuk menyiapkan semuanya” Tn.Choi meletakkan sendok sup yang dia pegang.

“Senin pagi kami akan berangkat dan pulang pada Kamis pagi” kali ini Siwon menatap Tiffany, ekspresi terkejutnya belum pudar.

“Pergilah, gunakan waktu kalian sebaik mungkin” Tn.Choi menepuk punggung putra nya. Tn.Choi bisa memahami Siwon sudah dewasa, tidak perlu dilarang atau diberi batasan apapun karena dia sudah tahu mana yang harus dia lakukan mana yang tidak dan Tn.Choi sangat mempercayai putranya.

“Gomawo Appa” ucap Siwon melanjutkan makannya.

“Kau tidak ingin menghabiskan waktu bersama kami juga, Siwon?” ada sedikit nada cemburu pada suara Ny.Choi.

“Yeobo, kau lupa kita akan berangkat ke Jepang hari senin” Tn.Choi mengingatkan istrinya.

“Aku ingat, tapi aku ingn mereka ikut bersama kita juga ke Jepang” ucap Ny.Choi lesu.

“Eomma, di Jepang banyak yang mengenali kami. Itu tidak akan mungkin untuk kami pergi. Jangan sedih, setelah pulang dari rumah pantai, kita punya satu hari untuk menghabiskan waktu bersama.” Siwon memberikan senyum termanisnya dan kesedihan diwajah Ny.Choi sedikit berkurang.

“Eomma pegang janji mu” balas Ny.Choi.

 

Setelah makan malam mereka tidak langsung pulang. Mereka mengobrol, berbagi cerita. Benar benar menikmati waktu keluarga. Tiffany sendiri sudah sangat dekat dengan keluarga Choi, walaupun awalnya Ny.Choi tidak merestui hubungannya karena Tiffany berdarah Amerika, apalagi orang Amerika adat nya sangat berbeda dengan orang korea, sikap nya pun tidak memiliki sopan santun pada orang yang lebih tua. Tapi melihat Tiffany, tidak seperti orang Amerika pada umumnya. Tiffany lebih memiliki sopan santun, hormat pada orang yang lebih tua dan selalu membungkuk sopan walaupun Tiffany sering berteriak tapi Tiffany wanita yang cantiknya bukan hanya diluar tapi juga didalam. Tn dan Ny. Choi sangat menyayangi Tiffany seperti mereka menyayangi Siwon dan Jiwon bahkan Tiffany sangat manja pada kedua orang tua Siwon.

 

Jam sebelas malam, Siwon dan Tiffany sudah sampai didepan dorm milik SNSD. Mobil Tiffany masih tertinggal diparkiran apartemen mereka, itu Siwon yang akan mengurusnya nanti. Dia tidak mau mengambil resiko membiarkan Tiffany mengendarai mobilnya sendirian dan ini sudah larut malam.

Tiffany belum berniat untuk turun, dia masih duduk manis ditempatnya menunggu Siwon untuk bicara. Dia belum menjelaskan pada Tiffany tentang kepergiannya kerumah pantai, lusa.

“Kau marah padaku?” akhirnya Siwon membuka suara, sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan bicara seperlunya saja.

“Anyio. Seperti biasanya Oppa selalu merencanakan sesuatu tanpa memberitahuku terlebih dulu. Membuatku seperti orang bodoh tadi” tidak ada pembicaraan, tidak ada rencana dan tiba tiba mereka akan pergi lusa. Itulah kebiasaan Siwon yang Tiffany tidak suka.

“Mian, aku juga tidak merencanakannya. Ketika melihat Appa, aku langsung ingat rumah pantai nya. Sekali lagi aku minta maaf” Siwon mengambil tangan Tiffany dan menggenggamnya erat, mata mereka bertemu dan saling melempar senyum.

“Well, kau setujukan kita akan pergi kesana?” Siwon menarik dagu Tiffany dengan ibu jari dan telunjuknya.

“Tentu. Siapa yang akan menolak pergi kerumah pantai bersama pangeran tampan ini” Tiffany menangkup wajah Siwon dan mendaratkan bibirnya diatas bibir Siwon dengan lembut, hanya sebuah kecupan.

Siwon menarik Tiffany kedalam pelukannya, mencium bahu Tiffany yang sedkit terekspos. Aroma favoritenya..

“Beristirahatlah, lusa kita akan bertemu. Aku akan menjemputmu dan bawalah pakaian seperlunya” Siwon menyindir Tiffany. Dia sangat mengenal kekasihnya, Tiffany yang sangat repot jika pergi kemanapun. Terlalu banyak yang dibawa.

Tiffany menarik diri dari pelukan Siwon “Karena kita akan kerumah pantai, mungkin aku hanya akan membawa beberapa bikini saja” goda Tiffany dengan sangat genit.

Mata Siwon melebar “Jinja? Woaah…”

“Tsk!!” Tiffany memukul lengan Siwon “Itu hanya akan menjadi hayalan Oppa. Aku tidak akan membawa bikini, Tidak!!” Tiffany mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkannya kekanan dan kekiri.

“Gwencana. Aku sudah pernah melihat mu memakai bikini, bahkan aku memiliki fotomu. Wleek” Siwon menjulurkan lidahnya pada Tiffany.

“Aku akan menghapusnya nanti” Tiffany melipat tangan didepan dada nya, nampak kesal.

“Sayangnya aku sudah mengcopy nya” Siwon tertawa keras.

“Oppa” pekik Tiffany marah.

 

Ketika Tiffany akan keluar dari mobil, Siwon menarik lengannya. Siwon meletakkan salah satu tangannya kepipi Tiffany, merengkuh dengan perlahan untuk menatapnya “Selamat malam, gadis Amerika ku yang cantik. Tidur yang nyenyak dan sampai ketemu lusa” hati Tiffany berbunga bunga, dia hanya dapat tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ini lah Siwon yang selalu membuatnya merasa dicintai setiap hari, membuat hidupnya sempurna.

 

***

Minggu malam…

Yoona yang tengah duduk mantap, kaki panjangnya menyilang diatas tempat tidur, di kamar Tiffany. Dia sedang menonton Tiffany yang berlari kesana kemari seperti robot, ada dua koper besar dan satu tas kecil dilantai. Tadi Yoona melihat Tiffany pulang dengan membanting pintu dan berjalan sedikit sempoyongan. Yang Yoona tahu Tiffany pergi untuk menghadiri fashion week, tapi kenapa dia pulang dalam keadaan mabuk? Yoona belum menanyakan itu, dia hanya mengikuti Tiffany sejak Tiffany pulang dan disinilah Yoona dikamar Tiffany menonton Tiffany yang terlihat sibuk.

Sore tadi Tiffany pergi ke Seoul fashion week disalah satu butik ternama, setelah acara selesai dia bertemu dengan teman teman Amerika nya, jadi mereka memutuskan untuk pergi makan malam. Sudah lama mereka tidak berkumpul dan keluar.

Dua jam menghabiskan waktu dengan teman temannya, Tiffany mulai lupa waktu. Dia minum, ketika dia selesai meneguk wine kelimanya, kepala nya mulai pusing dan lebih sial Siwon menghubunginya. Menanyakan Tiffany sudah mempersiapkan barang barang yang akan dibawa besok. Tiffany tersadar, dia melupakan itu, belum seujung kuku pun yang dia persiapkan. Memutuskan teleponnya dan Tiffany pamit pulang.

Inilah Tiffany, sekarang dia sedang terengah engah berlari kesana sini, mengambil perlengkapan mandinya, dan pakaian yang akan dia bawa. Kepalanya masih pusing, tapi sekuat tenaga dia menahannya, ya walaupun dengan jalan yang seperti zombie.

“Unnie, sebenarnya Unnie mau kemana?” tanya Yoona, dia semakin penasaran ketika melihat Tiffany yang memasukkan banyak pakaian kedalam koper. Seperti akan pergi lama dan jauh.

Oh Tuhan, aku belum memberitahu mereka.. Tiffany masih bungkam, dia akan menjelaskannya nanti. Setelah packing nya selesai.

Tiffany masih berjalan mondar mandir untuk mengambil barang barang yang dia perlukan. Tiba tiba badannya terhuyung, dengan cepat Yoona berlari dan menangkap tubuh Tiffany.

“Unnie” pekiknya, ketika dia sudah menangkap tubuh Tiffany.

“Gwencana Yoong” Tiffany mencoba tegak kembali, memijit kepalanya.

“Ada apa?” Taeyeon yang baru saja pulang berlari kedalam kamar Tiffany yang mendengar teriakan Yoona.

“Fany Unnie hampir terjatuh tadi” Adu Yoona pada Taeyeon.

Taeyeon berjalan mendekati Tiffany, dan mengangkat tangannya untuk menyentuh kening Tiffany “Kau sakit?” badannya tidak panas batin Taeyeon dan dia mencium bau anggur ketika Tiffany bernafas “Kau mabuk Fany aah” oke ini bukan pertanyaan tapi pernyataan.

“Hoh” gumam Tiffany pelan. Dia duduk diatas tempat tidur, Taeyeon dan Yoona mengikutinya.

Tiffany mendengar bunyi derap kaki menuju kamarnya. Ya, akan ada sahabatnya lagi yang akan masuk kedalam kamarnya dan itu Sooyoung. Bersiaplah untuk menjawab seribu pertanyaan dari fake leader jangkung ini…

“Apa yang kalian ributkan?”  tanya Sooyoung ketika sampai diambang pintu, menguap dan mengusap matanya. dia sedang tidur dan terganggu.

“Omo, Fany aah. Kau mau pergi kemana?” Sooyoung terkejut yang melihat dua koper besar yang berada dilantai. Dia masuk kedalam kamar dan menarik kursi besi, duduk dihadapan tiga gadis itu.

Tiffany tidak menjawab, sedangkan Sooyoung menunggu penjelasannya. Taeyeon dan Yoona menatap Tiffany dengan tatapan ayo cepat jelaskan semuanya..

 

“Besok pagi aku akan pergi, selama tiga hari. Bersama Siwon Oppa” katanya, Tiffany menunduk memainkan buku buku jarinya.

“Bulan madu?” celetuk Sooyoung asal.

“Bukan” Tiffany mengibaskan tangannya diudara “Perjalanan seperti biasa, Siwon Oppa ingin menghabiskan tiga hari bersama ku. Sebelum dia pergi” lanjutnya.

“Kemana kalian akan pergi, kali ini?” tanya Sooyoung, dia benar benar ingin tahu secara mendetail. Lihatlah siapa yang leader disini?

“Aku tidak tahu dimana, tapi itu sebuah rumah pantai” Tiffany mendongakan kepalanya, matanya menatap Sooyoung yang terlihat gelisah.

“Ya, ini bisa dibilang bulan madu karena kalian hanya pergi berdua” Sooyoung membuang nafas kasar, Taeyeon dan Yoona masih diam. Taeyeon belum angkat bicara, membiarkan Sooyoung berbicara lebih dulu, dia tidak mau menghakimi Tiffany.

“Kami memang selalu berdua. Jangan khawatir kami sudah dewasa dan ini bukan perjalanan pertama kami. Well, ini sudah biasa” kata Tiffany, menenangkan SooYoung dari kegelisahannya.

“Karena kalian dua orang dewasa, itu yang aku khawatirkan. Oh Tuhan, kau tahu lah apa yang aku maksud. Berdua, disebuah rumah pantai, didalam ruangan tertutup. Tidak mungkin kalian tidak terbawa suasana” bentaknya, menekan mulutnya menjadi garis keras.

“Kami bisa menahan gairah kami, jika memang kami sudah tidak dapat menahannya, aku akan hati hati. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku” Tiffany mengusap lengan Sooyoung, memberitahunya jika semuanya akan baik baik saja.

Sooyoung berdiri untuk memeluk Tiffany “Tetaplah berhati hati” bisiknya “Kau bau anggur, kau mabuk ya?” Sooyoung melepas pelukannya, Tiffany tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan pipinya bersemu merah padam “Dasar tukang mabuk” Sooyoung menjitak kepalanya, Tiffany meringis pura pura kesakitan.

 

 

Tiffany yang gelisah ditempat tidurnya, bergerak pindah posisi untuk mencari tempat yang nyaman. Tapi nihil, dia belum merasa nyaman, dia tidak bisa tidur.

“Fany aah, jika kau terus bergerak. Aku akan kembali kekamarku” ancam Taeyeon, dia geram. Tadi Tiffany meminta menemaninya tidur dikamarnya tapi sekarang dia membuat Taeyeon terkejut berkali kali karena kegelisahannya.

“Oh Tae, andwae” Tiffany menarik tangan Taeyeon mencegahnya untuk pergi.

“Apa kau memkirkan sesuatu?” Taeyeon tidur terlentang mengikuti Tiffany.

“Anyio, bantalnya kurang nyaman” bohong Tiffany.

“Gotjimal” Taeyeon tahu Tiffany tengah berbohong.

“Tae” panggil Tiffany, Taeyeon tidak menjawab. Dia hanya melirik kearah Tiffany.

“Sebenarnya aku tidak terlalu excited untuk perjalanan besok, menurutku itu akan menjadi perjalanan menyedihkan.” Tiffany memutar tubuhnya untuk menghadap Taeyeon. Siwon dan Tiffany sudah sering melakukan perjalanan seperti ini, tapi kali ini rasanya akan beda. Semacam perjalanan perpisahan.

“Fany aah, hanya perlu untuk dinikmati dan buang jauh jauh tentang kepergiannya. Pikirkan saja kalau perjalanan ini, perjalanan yang sama seperti yang sering kalian lakukan” Taeyeon juga memutar tubuhnya, jadi mereka saling berhadapan sekarang.

“Tapi aku tidak bisa” Tiffany menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Harus, kau harus” Taeyeon menarik tangan Tiffany yang menutupi wajahnya “Jika kau ingin perjalanan itu menjadi menyenangkan, ikuti kata kataku” lanjut Taeyeon dan Tiffany hanya diam meresapi ucapan Taeyeon.

 

 

***

Tiffany sudah rapih, barang barang yang akan dia bawa sudah diletakkan diruang tengah dekat pintu masuk. Kini dia sedang menikmati sarapan dengan member lain. Tidak ada pembicaraan tentang kepergiannya, dia juga tidak ingin membicarakan itu. Lima belas menit berlalu bel di dorm berbunyi, Tiffany melirik jam baby G pink yang menempel ditangan kiri nya. Jam delapan lima belas, telat lima belas menit jika itu Siwon yang datang.

Tiffany berdiri dari kursi nya, belum sepenuh nya berdiri tapi SooYoung menghentikannya.

“Biar aku yang buka” Tiffany tidak menjawab, dia duduk kembali dan itu artinya dia membiarkan SooYoung yang membuka pintu.

“Fany aah, pangeran berAudi mu sudah datang” pekik SooYoung, tangan nya dilipat didepan dadanya.

Tiffany menoleh kesumber suara, di belakang SooYoung, Siwon berjalan mengikuti nya menuju meja makan. Siwon sangat tampan mengenakan T-shirt polos putih dan Jeans hitam yang menggantung dipinggulnya. Ada kaca mata yang menempel dikerah T-shirt nya.

“Tiffany, tutup mulut mu. Kau hampir meneteskan air liur” goda Yuri, yang melihat Tiffany hanya melotot melihat Siwon dengan mulut sedikit terbuka.

Member lain tertawa, Siwon pun ikut tertawa mendengar godaan Yuri untuk kekasihnya. Tiffany mendengus kesal tapi muka nya merona.

“Sepertinya persediaan makanan kalian akan sedikit aman, karena aku akan meminjam babi kecil kalian selama tiga hari. Bolehkan?” Siwon sudah berdiri dibelakang kursi yang ditempati Tiffany.

Semua yang ada disana terkikik, lagi lagi Tiffany dibuat kesal.

“Pinjamlah, aku mengizinkan nya, Oppa. Tapi tolong kembalikan babi kami dengan utuh ya” kali ini sang Leader, Taeyeon yang bicara. Tapi setelah itu dia tertawa keras melihat ekspresi kesal diwajah Tiffany.

“Makanan kami masih tidak aman karena dua shikshin ini masih tertinggal” Yuri menunjuk Yoona dan SooYoung yang sedang menghabiskan sarapan mereka. Lagi lagi tawa keras memenuhi ruangan, mereka sengaja menciptakaan suasana ceria pagi ini, tidak ingin melihat Tiffany bersedih untuk liburan perpisahan nya dengan Siwon.

“Aku janji, akan mengembalikannya dengan utuh kamis siang. Kalau begitu aku harus membawa babi kecil ini segera pergi” Siwon mengulurkan tangannya untuk membawa Tiffany, tapi dengan marah Tiffany menepis tangan Siwon. Kesal dengan godaan godaan yang Siwon berikan dan teman temannya.

“Baiklah Girls, kami pergi dulu” Siwon melambaikan tangannya, dan menautkan jari jarinya pada jari jari lentik Tiffany.

“Sampai ketemu kamis siang Girls” Tiffany melihat kearah teman temannya. SooYoung dan Taeyeon mengikuti mereka, ingin mengantar nya sampai depan pintu.

“Kau yakin, semua ini barang barang yang akan kau bawa?” Siwon terkejut melihat dua koper besar berwarna pink dan satu tas kecil.

“Nde, wae?” seperti tidak tahu kesalahannya, Tiffany bertanya seakan tidak tahu apa maksud dari ucapan Siwon.

“Terlalu banyak membawa barang, kau tau” cibir Siwon. Membawa koper koper itu, dan Tiffany menjinjing tas kecil nya.

“Oppa jaga Tiffany kami dengan baik dan tolong hati hati” gumam SooYoung lembut. Dia masih khawatir, padahal Tiffany dan Siwon sudah sering pergi bersama dan tidur bersama kenapa dia masih mengkhawatirkan hal itu.

“Ya, aku janji” Siwon memeluk SooYoung cepat, dia sendiri dan SooYoung sudah seperti saudara. Siwon selalu memperlakukan SooYoung seperti dia memperlakukan Jiwon.

“TaeTae, aku pergi dulu. Jangan tidur dengan member lain selagi aku tidak ada, dan satu lagi tetap jaga kesehatan mu. Arraseo?” oh lihatlah, siapa yang kakak disini. Taeyeon hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Tiffany pun memberinya pelukan hangat dan kecupan basah dipipi Taeyeon, betapa dia mencintai gadis mungil ini.

“Jangan terlalu menghawatirkan aku, dan selamat syuting drama mu” Tiffany memberikan pelukan dan ciuman kilat dipipi SooYoung.

Dan mereka berjalan ke mobil, Taeyeon dan Sooyoung hanya memperhatikan dari pintu. Sampai mobil Audi milik Siwon menghilang dari pandangan mereka.

 

 

 

 

“aku sedikit lega meninggalkan mu, mereka benar benar menyanyangi mu” ucap Siwon, matanya tidak terlepas dari jalanan.

“kami saling menyayangi” balas Tiffany. Dia bersandar di kepala kursi mobil, semalam tidur nya tidak benar benar nyenyak. Dia terbangun setiap satu jam sekali, sangat melelahkan.

Perjalanan panjang menuju rumah pantai, mereka harus menempuh waktu empat jam untuk sampai kesana. Mata Tiffany tiba tiba mengantuk, tapi tidak enak meninggalkan Siwon mengendarai mobil sendiri.

 

 

***

Hari pertama – pukul 12.10

“Hei, tukang tidur. Wake up” Siwon mengusap pipi Tiffany dengan ibu jarinya “Wake up baby, kita sudah sampai”

Tiffany menggeliat dibawah sentuhan Siwon “Oh mian Oppa, aku tertidur” Tiffany mengusap mata dengan punggung tangannya, rambutnya sedikit kusut. “Pasti perjalanan nya sangat membosankan” Tiffany menatap Siwon dan meletakkan tangannya diatas tangan Siwon yang ada diatas lutut nya.

“Anyio, ada radio ini yang menemani” Siwon menjalankan tangannya diatas rambut panjang Tiffany, merapikannya.

“Tidur ku tidak nyenyak semalam” Tiffany mengadu, bibir nya mengerucut dengan lucu.

“Arro, kantung mata sesksi ini sudah menunjukan kalau babi kecil ku kurang tidur semalam” Siwon mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan diatas mata indah Tiffany.

Tiffany langsung menghambur kepelukan Siwon, memeluk lehernya dengan erat.

“Ayo kita nikmati liburan berharga kita, tidak ada yang lain hanya kita berdua dan selalu berdua” gumam Siwon, tangan nya naik turun dirambut Tiffany.

Tiffany hanya mengangguk dan membenamkan wajahnya dileher Siwon. Siwon merasakan lehernya basah, gadisnya menangis. Akhir akhir ini Tiffany mudah sekali menangis, Siwon mengusap punggunya dengan sayang, tidak ada pembicaraan. Hanya berpelukan dan diam itu sudah sangat nyaman.

 

 

Setelah merapikan barang barang mereka, Siwon mengajak berkeliling rumah. Betapa terkejut nya Tiffany, rumah sebesar ini hanya ada satu kamar dan itu sangat besar. Semua sisi kamarnya terbuat dari kaca yang langsung menghadap ke laut, sangat indah. Siwon membuka cerita bahwa rumah ini adalah tempat orang tua nya berbulan madu, rumah ini juga menjadi tempat berlibur terdekat ketika musim panas tiba. Ini pertama kalinya Siwon mengajak Tiffany ke tempat ini, Siwon tidak ingin mengambil perjalanan jauh yang harus menghabiskan banyak waktu. Dia benar benar memanfaatkan waktunya untuk bersama sama Tiffany.

Mereka makan siang, sudah lewat makan siang sebenarnya. Mereka terlalu asyik berkeliling hingga melupakan makan Siang. Jam tiga mereka baru mengisi perut, Siwon yang memasak karena urusan dapur Tiffany masih sangat kacau dan Siwon memaklumi itu.

Dan sekarang mereka sedang berjalan di pantai tanpa alas kaki, Siwon merangkul Tiffany agar lebih dekat dengannya. Hanya ada bunyi deburan ombak yang saling bertabrakan, angin bertiup dengan kencang. Untung Tiffany sudah mengikat rambutnya, jadi dia tidak terlalu disibukkan untuk merapikan rambutnya. Siwon sesekali mencium rambut Tiffany, menghirup aroma favorite nya. Tiffany berbau lemon sangat segar..

Siwon mengajak Tiffany untuk duduk dibawah pohon kelapa yang menjulang tinggi, Tiffany menyandarkan kepalanya di bahu kekar Siwon, dan tangan Siwon bertengger nyaman di pinggang Tiffany.

“Aku sangat menyukai pantai, ini indah” kata Tiffany, mata nya terpejam. Berulang kali dia menghirup udara dan membuangnya.

“Nado, mari kita tinggal disini. Tempat nya cocok dengan ku, tidak akan ada yang mengganggu” Siwon mencium kening Tiffany lagi, entah sudah berapa kali dia mencium kening itu ketika mereka berada disini.

Tiffany mengangkat kepalanya, menatap Siwon dengan tatapan tidak suka “Tsk!! Itu mau Oppa”

Siwon menangkup wajah Tiffany “Hei, aku serius. Jika kau benar benar suka dengan suasana disini, aku akan meminta Appa memberikan rumah ini untuk kita dan anak anak kita, nanti”

Tiffany terperangah mendengar ucapan Siwon, mulutnya keluh, mata nya berkedip berulang kali.

“Setelah aku pulang wamil, aku ingin melamarmu, ingin menikahimu, menghabiskan sisa hidup ku dengan mu, membesarkan anak anak kita dan jika kau ingin meneruskan karir mu kau tetap bisa aku tidak akan melarangnya. Aku tahu kau mencintai profesimu dan jika kau ingin membuka butik aku siap mendukung mu tapi ku mohon jangan menghindar lagi, mari kita hadapi pernikahan bersama sama” Siwon menyelesaikan pidatonya, ini lamarannya yang kedua kali. Tiffany pernah menolak nya tahun lalu dan kali ini Siwon berharap Tiffany sudah berubah pikiran.

Siwon mengambil tangan Tiffany dan menggenggamnya “Bicaralah, kau membuat ku takut” ucapnya, yang melihat Tiffany hanya membisu sambil menatapnya dengan tatapan tak percaya.

“Apa ini tidak terlalu cepat?” suaranya serak, tiba tiba suara Tiffany menghilang.

“Oh Tuhan, kau selalu bicara seperti itu” Siwon mengacak rambut nya, menarik kedua sisi bahu Tiffany agar menatapnya “Dengarkan aku, kita sudah berkencan empat tahun Tiff, dan aku akan wamil kurang lebih dua tahun. Kurang lama apa lagi? Kita sudah semakin dewasa” Suara nya terdengar kesal.

“Aku akan memkirkannya” bisik Tiffany.

“Hanya itu yang bisa kau katakan, Tsk!! Sangat mengecewakan” Siwon berdiri, dan berjalan begitu saja meninggalkan Tiffany.

Tiffany dengan cepat mengejar Siwon, berlari kecil untuk menyeimbangi Siwon. Tapi dia selalu tertinggal, Siwon sangat cepat. Tiffany memanggil Siwon berkali kali, tapi Siwon mengacuhkan nya. Berlari dengan kencang Tiffany memeluk pinggang Siwon dari belakang dan Siwon otomatis menghentikan langkahnya.

“Oppa” Tiffany menguatkan pelukannya ketika Siwon ingin melepaskan diri.

“Aku takut” gumam Tiffany, Siwon masih diam. Masih menunggu Tiffany bicara lebih banyak lagi “Bagaimana dengan penggemar mu, begitu juga dengan penggemar ku. Kau tidak ingin mengecewakan mereka bukan?”

Siwon akhirnya memutar tubuhnya menghadap Tiffany, menggenggam lengannya “Kita belum pernah mencoba nya Tiff, kita beritahu mereka soal hubungan kita dan lihat reaksi nya. Walaupun awalnya mereka tidak bisa menerima hubungan kita, lama kelamaan mereka akan menerimanya, apalagi melihat kita bahagia. Lihat Sungmin dan Saeun, banyak penggemar yang menentang mereka tapi setelah melihat mereka bahagia satu sama lain penggemar akan luluh, Tiff. Ayolah hanya jangan selalu melihat sisi negatif” Siwon mengguncang guncang tubuh Tiffany pelan.

“Tapi apa yang akan terjadi nanti, kau tetap ada disisi ku?” tanya Tiffany penuh harap.

“Aku akan ada disisi mu selalu, aku janji. Percayalah” nada suara Siwon melembut, tidak seperti tadi yang nampak tinggi.

“Apa ini sebuah lamaran? Tsk.. tidak romantis sekali” Tiffany mengalungkan tangannya dileher Siwon, hidung mereka bertemu.

“Akan ada lamaran yang sesungguh nya jika kau menerimaku” Siwon memegang punggung Tiffany, menyeimbangkan tubuh mereka.

“Aku menunggu yang sesungguhnya” gumam Tiffany diatas bibir Siwon.

“Segera Mrs.Choi” Siwon menarik bibir Tiffany dengan mulut nya, mereka berciuman dengan lembut, pelan tapi dalam dan penuh cinta. Dibelakang mereka matahari mulai terbenam, berwarna oren dan gelap sangat indah..

 

 

 

***

Hari kedua – pukul 17.00

“Oppa…” panggil Tiffany, menunduk memegang lutut nya. Nafas nya pendek pendek.

Siwon berlari mundur untuk melihat Tiffany “Ayo lari lagi, baru lima menit dan kau sudah lelah. Aissh payah sekali” Siwon berjalan pelan agar Tiffany dapat menyusulnya.

“Itu kenapa semua orang memanggil mu kuda, kau cepat sekali berlari. Berlari lah dengan lambat Oppa, tunggu aku” Tiffany mulai mengejar Siwon lagi, mereka sedang jongging dibibir pantai.

“Itu kenapa kau dipanggil babi. Makan mu banyak, badan mu berisi tapi jarang berolahraga. Lari lebih cepat lagi, Tiffany” Siwon masih berjalan, Tiffany sudah mulai dekat. Tangannya terulur berharap Siwon menariknya tapi Siwon pura pura tidak tahu.

“Oppa” marah Tiffany, dia tidak meneruskan larinya.

Siwon tertawa melihat Tiffany yang kelelahan berlari dicampur marah, keringat memenuhi wajah nya, poni nya lembab oleh keringat. Kecantikannya tidak berkurang, Tiffany semakin terlihat cantik dan ya seksi dengan keringat yang mengucur disisi wajahnya.

“Oke, kemarilah cintaku” Siwon mengulurkan tangannya untuk Tiffany, dengan tersenyum kecil Tiffany berlari menghampiri Siwon dan menangkap tangannya. Siwon menariknya cepat, mendekap tubuh kecil Tiffany yang penuh keringat.

“Oppa, lepas. Aku berkeringat” Tiffany mendorong dada Siwon tapi Siwon mempererat nya.

“Inilah aku yang mencintai mu di segala sisi. Bahkan aku juga menyukai aroma angin yang keluar dari pantat ini” Siwon menampar pantat Tiffany main main.

“Oh my god, Oppa kau jorok sekali. Menjjikan” Tiffany mengeluarkan ekspresi gelinya, melepaskan diri dari pelukan Siwon dan berjalan mundur agar Siwon tidak dapat menangkapnya.

Tiffany masih berjalan mundur menghindari Siwon, ketika Siwon akan menangkapnya Tiffany sudah tergelincir masuk kedalam air. Siwon tertawa terbahak bahak, melihat Tiffany yang terduduk di air pantai yang dangkal.

“Berhentilah tertawa, Oppa. Bantu aku berdiri” Tiffany mengangkat kedua tangannya, agar Siwon dapat menariknya berdiri.

“Bangunlah sendiri, aku tidak ingin basah” Siwon mundur beberapa langkah, dan menyelesaikan tawanya.

“Nappeun” Tiffany menampar air, membuat air itu mengenai wajahnya.

Siwon semakin menambah tawanya, melihat Tiffany yang semakin basah. Tiba tiba Tiffany memekik sangat kencang.

“Oh Tuhan, Oppa. Tolong aku, ada yang mengigit kaki ku” Tiffany teriak sangat histeris, dengan cepat Siwon menghampiri Tiffany. Meletakkan tangan kanan nya dibawah lutut Tiffany dan baru akan meletakkan tangan kiri nya di punggung Tiffany, tapi Tiffany mendorongnya sangat kuat. Membuat Siwon terlentang didepan Tiffany, tubuhnya basah kuyup. Lebih dari Tiffany.

Kali ini Tiffany yang tertawa untuk Siwon, memegang perut nya ketika dia tertawa puas. Seperti seekor macan, Siwon menergap tubuh Tiffany, membuat posisi Tiffany terjepit dibawah tubuh kekarnya. Mereka masih berada di tepi jadi air nya masih dangkal, Tiffany tidak akan tenggelam.

Siwon mengunci tangan Tiffany disisi kepalanya, muka Tiffany pucat “Oppa, apa yang kau lakukan?” tanya nya cemas.

“Balas dendam. Aku akan mencium mu sampai kau kehabisan nafas” Siwon tersenyum evil, perlahan lahan mendekatkan wajah nya dengan wajah Tiffany.

Tiffany menutup mulut nya rapat rapat, seakan tahu apa yang Tiffany lakukan. Siwon menyerang leher Tiffany, mencium nya disana, berlama lama disana. Melihat Tiffany yang sudah membuka mulutnya, Siwon bersiap menangkap bibir tipis itu. Tapi terhalang ombak yang menerjang Tiffany, mengenai wajahnya membuat Tiffany terbatuk batuk karena air masuk ke dalam hidungnya. Siwon langsung mengangkat tubuh Tiffany, memeluknya. Tiffany masih batuk, dada nya terasa sesak, sulit untuk bernafas.

Siwon menepuk nepuk bahu Tiffany “Mian, aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aissh ombak itu benar benar mengganggu” umpat nya, tangannya terus menepuk bahu Tiffany.

“Gwencana, kau salah mengambil tempat” Tiffany mengangkat kepalanya untuk menatap Siwon, kalau dia baik baik saja.

“Baiklah, kita cari tempat yang aman dan nyaman. Otte?” Siwon mengedipkan mata nya sededuktif mungkin.

Mendorong dada Siwon, Tiffany berdiri dengan cepat “Aku lebih butuh mandi sekarang” Tiffany berjalan meninggalkan Siwon, sangat berhati hati untuk berdekatan dengan Siwon. Takut Siwon mulai bergairah karena suasana yang sangat intim.

“Mandi bersama sepertinya ide bagus” Siwon menyusul Tiffany, tangan besar nya bertengger di leher Tiffany.

“Andwae, menjauhlah Oppa” Tiffany berlari memasuki rumah dan Siwon mengejarnya.

 

 

Tiffany sudah selesai mandi, sekarang dia duduk dengan santai disebuah ayunan kayu disamping rumah. Dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Siwon datang, ditangan kanan nya ada secangkir coklat panas untuk Tiffany.

Menempatkan tubuhnya disamping Tiffany lalu dia menyodorkan cangkir berwarna putih itu “Ini, minumlah”

“Gomawo Oppa” Tiffany mengambil gelas dari tangan Siwon dan menyesapnya “Hmm hangat” Tiffany menyerahkan kembali cangkir ke tangan Siwon. Handuk putih berada di pangkuannya.

“Maaf atas kejadian tadi, aku tidak bermaksud seperti itu” ucapnya, nada bicaranya benar benar sangat menyesal. Siwon membahas kejadian dipantai tadi.

Tiffany mengoyang goyang kan kakinya yang tidak menyentuh tanah, kepalanya miring kesatu sisi untuk melihat Siwon “Sudah aku bilang tidak apa apa, aku tahu Oppa tidak mungkin ingin melukai ku”

“Gomawo, Saranghae” gumam Siwon lembut.

“Terimakasih juga, aku mencintai mu” Tiffany menangkup wajah Siwon dengan kedua tangannya, memberi ciuman di kening Siwon, turun kepipi kanan nya dan ketika Tiffany ingin mendaratkan bibir nya dipipi kiri Siwon tapi Siwon memutar posisi nya menghadap Tiffany dan bibir mereka bertemu.

“Kyaa!! Oppa itu pelanggaran” teriak Tiffany, lalu menghujani bibir Siwon dengan kecupan manis dan kecupan yang kelima sedikit lama.

Mereka tertawa senang, Siwon merangkulnya dan Tiffany menyandarkan kepalanya dipundak Siwon.

“Oppa, coklat panasnya” pinta Tiffany dengan manja.

Siwon mendekatkan bibir cangkir kemulut Tiffany dengan pelan dan Tiffany mengeluarkan desahan nikmat, dia sangat menyukai coklat panas.

Siwon menyodorkan lagi coklat panas ke mulut Tiffany dan Tiffany protes kalau dia sudah tidak ingin meminumnya tapi Siwon memaksa dengan menahan kepala Tiffany dan menempelkan cangkir ke mulut Tiffany.

“Oppa, hentikan” Tiffany memukul tangan Siwon yang menahan kepalanya.

“Minumlah lagi, kau terlihat sangat kedinginan” untuk yang kesekian kalinya Siwon memaksa Tiffany untuk minum, Tiffany hanya pasrah membuka mulutnya. Siwon tertawa melihat itu dan Tiffany ikut tertawa bersama Siwon.

 

 

Udara malam semakin dingin, Siwon membawa Tiffany masuk kedalam. Mereka saling berpegangan tangan.

“Apa yang ingin babi ku makan untuk malam ini?” Siwon melirik Tiffany dari bahunya.

“Babi mu ini ingin makan ramen” Tiffany tersenyum lebar, menampakan gigi putihnya. Matanya menghilang, sungguh cantik.

“Ayolah Oppa” Tiffany menarik tangan Siwon, tahu kalau Siwon tidak setuju dengan apa yang ingin Tiffany makan “Hanya malam ini. Aku janji”

“Oke” Siwon setuju, mereka sudah sampai di conter dapur. Tiffany duduk manis disana sedangkan Siwon sibuk membuat ramen.

“Oppa curang. Oppa sering makan ramen dengan porsi besar. Lalu kenapa aku tidak boleh” bibir nya melengkung cemberut, tangannya diletakkan dibawah dagu.

“Kau jarang berolahraga dan ramen tidak sehat jika kau mengonsumsinya terlalu sering. Kau akan gemuk nanti” Siwon mulai memanaskan air dipanci berwarna emas, sesekali melihat Tiffany yang ada dibelakang nya.

“Oppa tidak suka ya, aku gemuk?” Tiffany mengetuk ngetukan jari dipipinya.

“Apapun yang ada didirimu aku menyukainya” ucapan Siwon membuat pipi Tiffany merah seperti tomat “Bahkan jika tubuhmu seperti ikan hiu ditahun mendatang, aku akan tetap mencintaimu”

Untung saja Siwon tengah memunggungi nya, kalau tidak Siwon akan melihat wajah Tiffany yang bersemu merah seperti tomat.

Tiffany berdecak sebal “Tidak seperti hiu juga, Oppa. Itu berlebihan” bibir nya mengerucut.

Siwon melihat itu dan mendekati Tiffany, menjepit bibir Tiffany diantara jari telunjuk dan ibu jarinya “Baiklah, kau bukan ikan paus tapi pink piggy yang seksi”

Lagi lagi Siwon memujinya. Mungkin pipi ini sudah benar benar seperti warna tomat, oh Tuhan!!

Tiffany melepaskan jepitan tangan Siwon dibibirnya “Cepatlah Oppa, aku sudah sangat lapar”

Siwon menggelengkan kepalanya tidak percaya “Kau sudah pandai memerintah ya sekarang” Tiffany menjulurkan lidahnya dan Siwon kembali ke ramen nya.

 

 

“Cha… makanlah sayang” Siwon meletakkan panci ramen diatas meja conter, tepat dihadapan Tiffany.

“Oppa tidak makan?” Tiffany mengambil sumpit dan memberinya untuk Siwon.

“Makan. Kau terlebih dahulu, karena ini spesial untuk mu” ucap Siwon, senyum nya terukir diwajah tampannya. Dimple nya tampak jelas dikedua pipi nya.

Tiffany mendengus, lalu mencicipi ramen nya. Sudah lama sekali dia tidak makan ramen, sangat sulit makan ramen dijadwal comeback mereka kemarin, belum lagi untuk persiapan solo debut nya.

Siwon mengarahkan Iphone nya kearah Tiffany, dia merekam Tiffany yang sedang menikmati ramen nya. Bahkan Tiffany tidak menyadari itu..

Tiffany tersadar dia makan seorang diri, apa yang Siwon lakukan?

“Oppa, sedang apa? Kenapa tidak makan?” Tiffany melihat Siwon yang menggengam Iphone nya, mengarah kearahnya, tapi dia belum sadar juga apa yang sedang Siwon lakukan.

“kau terlihat seksi ketika sedang makan ramen” kata Siwon santai.

Oh jadi ini yang dia lakukan, menikmati pemandangan, memperhatikan aku makan. Kenapa aku tidak menyadari itu? Tiffany pabo.

Tiffany mengambil tutup panci yang ada didekat tangannya, menutupi wajahnya nya dengan itu. Dia malu, ternyata Siwon memperhatikannya sejak tadi.

“Tiffany, jangan tutupi dirimu. Aku sangat senang melihat mu sedang makan, jadi biarkan aku melihat mu” Siwon menarik tangan Tiffany yang menggenggam erat tutup panci.

“Oppa membuat ku malu” Ucap Tiffany, dia tersenyum tapi tidak mencapai matanya.

“Kau cantik dan lanjutkan makan mu” perintah Siwon. Tiffany pun memulai makan nya lagi, tapi kali ini sedikit canggung karena dia tahu Siwon sedang memperhatikannya tapi lama kelamaan dia tampak rileks. Menganggap Siwon tidak ada, dan dengan senang hati Siwon melihat Tiffany makan sampai habis, dia melupakan perut nya yang lapar. Melihat Tiffany makan saja sudah membuatnya kenyang.

 

 

***

Hari ketiga – pukul 07.00 pagi

Tiffany menggeliat kecil dibalik selimut putih yang dia pakai, tangan nya mencari cari sesuatu disampingnya. Tempat tidur nya terasa kosong, hanya ada dia disana, dengan gerakan cepat Tiffany membuka matanya. Dia melihat hanya ada selimut dan bantal yang menemaninya, lalu dimana Siwon?

Tiffany turun dari tempat tidur dan memeriksa kamar mandi. Tapi kosong, tidak ada Siwon disana. Tiffany mulai panik, tidak seperti biasanya Siwon meninggalkan Tiffany ditempat tidur sendirian. Walaupun Siwon lebih dulu terjaga dia dengan senang hati menunggu Tiffany sampai kekasihnya bangun. Tapi pagi ini Siwon tidak ada ditempat tidur.

Berlari dengan tergesa gesa menyusuri lorong dan menuruni anak tangga, dilihat nya tidak ada Siwon disana. Didapur, diruang tengah, ruang tamu, beranda samping rumah tapi Tiffany tidak menemukan Siwon. Tiffany cemas setengah mati, keringat bercucuran diwajahnya sehabis berlari lari mengelilingi rumah besar ini.

“Siwon Oppa, Oppa..” Tiffany berteriak histeris memanggil Siwon. Apa dia sudah pergi meninggalkan ku? Tidak ada salam perpisahan lagi? Pria jahat…

Air matanya mulai turun dipipi mulusnya, dia ketakutan setengah mati. Takut jika Siwon benar benar pergi meninggalkannya sendirian disini.

Tiffany berjalan dengan lesu, kembali ke kamar. Air mata nya masih mengalir dikedua pipinya, sesekali dia menghapus dengan punggung tangannya. Dia menunduk dan membuka knop pintu perlahan.

“Hey dari mana saja?” Tiffany mengangkat kepalanya mendengar suara itu, pandangannya buram karena air mata. Dihapus air mata yang menggenang dimata indahnya dan dia bisa melihat dengan jelas Siwon nya sedang duduk diatas tempat tidur.

Lagi lagi air matanya turun, Tiffany berlari dan memeluk Siwon sangat erat, sampai sampai membuat pria itu sulit untuk bernafas. Tangis Tiffany pecah, dia menangis senggugukan. Siwon bingung melihat Tiffany, apa sebenarnya yang terjadi? Dia bertanya dalam hati.

“Sssttt!! Don’t cry baby, ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Siwon lembut, tangannya bermain di punggung Tiffany, menenangkannya. Punggung Tiffany basah oleh keringat, apa yang gadisku lakukan?

“Aku takut” Tiffany menetralkan suaranya, tangisnya masih terdengar “Oppa tidak ada disampingku ketika aku bangun, aku tidak menemukan Oppa dimanapun. Aku kira Oppa meninggalkan ku”

Oh jadi ini yang membuat gadisnya menangis tersedu sedu “Oh Tuhan, Tiffany. Maafkan aku, kau pasti sangat cemas.” Siwon mencium rambut Tiffany “Aku terbangun jam lima pagi dan tidak bisa kembali tidur. Aku pergi kebalkon dan maaf untuk meninggalkan mu sendirian ditempat tidur” Siwon menarik diri dari pelukan Tiffany, menghapus air mata Tiffany dengan ibu jari nya dan mencium pipi Tiffany dengan sangat manis.

Tiffany melewatkan balkon untuk mencari Siwon, betapa cerobohnya dia. Tiffany terlalu panik tadi.

“Kajja kita kepantai, buat istana pasir dan menulis nama kita disana. Kita belum melakukan itu sejak kita berada di sini” terdengar kekanak kanakan memang, tapi inilah salah satu ritual jika kita berada dipantai. Bukan begitu?

“Ayo” balas Tiffany, tersenyum senang. Siwon menarik lengannya, dan mereka keluar menuju pantai lewat belakang rumah.

 

 

Satu jam Siwon dan Tiffany main di pantai. Membuat istana pasir dan menulis nama mereka diatas nya. Mengubur tubuh mereka masing masing didalam pasir, sesekali mereka main kejar kejaran hingga membuat mereka kelelahan, baju nya sedikit basah terkena percikan ombak.

Sekarang mereka sedang duduk dengan santai, berstirahat dengan minuman jeruk kaleng. Tiffany duduk menekuk kaki nya dan tangannya memeluk kaki nya erat. Siwon yang duduk disebelah kiri Tiffany melihat dengan jelas tatto dibawah ketiak nya. Tiffany mengenakan kaos hitam tanpa lengan, jadi tatto itu terlihat sangat jelas.

Siwon mengambil Iphone milik Tiffany yang tergeletak didekatnya dan mengambil foto tatto Tiffany, bunyi klik kamera nya membuyarkan lamunan Tiffany. Dia langsung menolehkan kepalanya untuk melihat Siwon.

“Ingin menjadi paparazzi hmm?” sindir Tiffany, merampas Iphone nya yang berada di tangan Siwon.

“Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas bentuk tatto itu, bukan hanya di foto saja” wajah Siwon sangat puas, senyum nya terukir diwajah tampannya.

“Terimakasih untuk memilihkan tatto yang cantik dan mengizinkan aku untuk menatto nya disini. Terlihat seksi bukan?” Tiffany menunjuk Tattonya dan mengedipkan mata nya genit, lalu dia tertawa lepas.

“Bagaimana aku tidak mengizinkannya, ketika seseorang merengek seperti seorang bayi setiap hari padaku” ucap Siwon, mengingat Tiffany selalu menghubunginya hanya membicarakan soal dia ingin membuat tatto ditubuhnya.

“Tapi kau menyukai nya kan, Oppa. Ini semua atas persetujuan dan pilihan darimu” Tiffany menyenggol lengan Siwon dengan lengan nya.

Tiffany yang melihat Taeyeon membuat tatto dibelakang telinganya pun tergiur untuk membuat tatto dibagian tubuhnya. Taeyeon lah yang merekomendasikan tempat dimana tubuh Tiffany ingin di tatto dan memilihkan beberapa jenis tulisan dan gambar. Dengan meminta persetujuan Siwon terlebih dulu barulah Tiffany menujukkan beberapa contoh gambar dan memperlihatkannya pada Siwon. Toujours Belle sudah memikat hati Tiffany dan untungnya Siwon menyukai nya juga dan tidak mempermasalahkan letak tatto tersebut.

“Sudah aku bilang aku menyukai apa yang ada padamu” Siwon ingin menyentuh tatto Tiffany tapi dengan cepat Tiffany menangkap tangan Siwon, Siwon mendengus kesal “Simpan lah foto yang aku ambil tadi, itu terlihat bagus dan kau tidak boleh meng-upload nya ke instagram. Arraseo?”

“Ya, aku menyukai foto yang Oppa ambil. Terimakasih” Tiffany mencium pipi Siwon, meninggalkan bunyi dan basah disana.

“Ayo kita masuk, mandi dan sarapan” Siwon mengamit tangan Tiffany. Mengajak nya untuk berdiri.

“Aku masih ingin disini. jika Oppa ingin masuk dan mandi, pergilah. Aku akan menyusul nanti” Tiffany menarik tangannya yang berada di genggaman Siwon.

“Aku sudah sangat berkeringat dan ingin mandi. Gwencana, jika kau sendirian disini?” Tanya Siwon ragu. Mata mereka bertemu.

Tiffany menangkap wajah Siwon dengan kedua tangannya “Gwencana, sejak kita berada disini. Oppa tidak pernah membiarkan aku sendiri. Well, mandilah. Aku akan menyusul” Tiffany mencium kening Siwon lama.

“Baiklah, nikamati waktumu. Hanya untuk memikirkanku” Tiffany mengangguk dan Siwon mengacak rambutnya penuh cinta.

Siwon berjalan ragu masuk kedalam, beberapa kali dia melihat kebelakang untuk melihat Tiffany. Melihat itu Tiffany memberinya senyum terbaik yang dia punya, memberitahu Siwon kalau dia akan baik baik saja selama Siwon berada didalam.

Ketika Siwon sudah menghilang dari pandangannya Tiffany merebahkan tubuhnya diatas pasir, terasa kasar dan hangat. Matahari sudah mulai naik, ini yang Tiffany tunggu. Dia ingin berjemur sebentar dan menikmati pemandangan indah. Dia menghapal setiap sudut nya, ini adalah hari terakhir dia berada disini, entah kapan dia bisa ketempat indah ini lagi.

Terbaring dengan nyaman, dia memainkan Iphone nya. Membuka akun instagramnya dan senyum aneh pun terukir diwajah Tiffany. Lama jari lentiknya menari diatas layar “Cha selesai haha” dia tertawa puas. Entah apa yang habis dia lakukan..

 

25 menit kemudian..

Tiffany masih terbaring, matahari menyorot sangat terang tepat diatas nya. Satu tangannya terangkat untuk menutup matanya. Ketika dia akan terlelap, seseorang bertubuh tinggi berada diatasnya. Dari aromanya Tiffany tahu kalau itu Siwon, dia hanya diam menunggu apa yang akan Siwon lakukan untuknya.

Tiba tiba Siwon sudah berada diatas nya, tapi tidak menindihnya. Siwon menopang tubuh dengan dua lengan besar nya disisi kepala Tiffany. Ckrek ckrek ckrek

Tiffany membuka matanya lebar ketika Siwon membenamkan kepala nya di leher Tiffany “Oppa” protes Tiffany, mendorong dada Siwon tapi tidak ada pergerakan. Ckrek ckrek ckrek

“Tolong jangan menyuruh aku untuk berhenti. Aku tidak akan melewati batas” ucap Siwon disela sela aktifitas dileher Tiffany. Ckrek ckrek ckrek

Tiffany tidak menjawab, dia bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini. Seperti ada getaran aneh yang dia tidak tahu apa ketika Siwon berada diatas nya, seintim ini.

“Apa kau memakai sunblock? Aku tidak ingin matahari membakar kulit mu” Siwon berpindah kesisi lain leher nya, Tiffany memiringkan kepalanya memberikan aksen untuk Siwon. Ckrek ckrek ckrek

“Hmm Ya, aku memakainya” dengan susah payah Tiffany mengucapkan kata itu, nafas nya tersenggal.

Kini wajah Siwon berada didepan wajah Tiffany, jarak nya sangat dekat dan posisi mereka jika dilihat dari jauh seperti sedang bercinta padahal mereka sedang tidak melakukan itu.

Tiffany menangkup wajah Siwon dan memberikan kecupan ringan diatas bibir Siwon. Ckrek ckrek ckrek

“Sudah cukup Mr.Choi. aku harus mandi” ucap Tiffany diatas bibir Siwon. Tangannya kini bertengger nyaman dileher Siwon dan kaki nya melilit disekitar pinggang Siwon.

Siwon menundukkan kepalanya, memagut bibir merah muda milik Tiffany. Ciuman yang menggebu gebu dan sangat menuntut, Tiffany membalas ciuman itu dengan susah payah karena Siwon benar benar menyita asupan oksigennya.

“Aku akan membawa mu kedalam, hanya tetap diam” perintah Siwon, mengangkat tubuh Tiffany, menggendong nya ala bridal style.

Dengan senang hati Tiffany melingkarkan tangannya dileher Siwon dan menempelkan pipinya didada bidang milik Siwon. Benar benar nyaman…

Awalnya Siwon membawa Tiffany tanpa beban tapi ketika menaiki tangga untuk masuk kedalam rumah dia mulai gemetar dan Tiffany menyadari itu.

“Turunkan aku Oppa, kau bergetar” Tiffany terkekeh memukul dada Siwon main main.

“Sepertinya selama berada disini berat badan mu sudah naik sepuluh kilo” ejek Siwon, dia mulai berjalan. Menerjang pintu agar terbuka.

“Itu karena aku bahagia berada disini” Tffany mencium dada Siwon yang terbalut T-shirt ketat yang dipakainya.

“Kalau begitu kita tinggal disini saja” Siwon menurunkan Tiffany, mereka sudah berada didalam rumah. Didekat anak tangga menuju lantai atas.

“Aku ingin tapi untuk saat ini sepertinya tidak akan mungkin” Tiffany memeluk pinggang Siwon dan Siwon merengkuh tubuh mungil Tiffany.

“Pergilah mandi, kau bau keringat” Siwon merubah arah pembicaraan, dia tidak ingin melihat Tiffany bersedih dihari terkahir mereka berlibur “Aku akan membuat sarapan untuk kita. Cepatlah mandi” Siwon menjauhkan tubuhnya, agar Tiffany bergerak pergi mandi.

“Lima menit lagi, biarkan seperti ini” Tiffany menempelkan tubuhnya pada Siwon lagi. Dan mereka saling merengkuh satu sama lain, lama dalam posisi itu.

 

Pukul 19.00

Sejak siang tadi hujan turun dengan deras, sampai sekarangpun hujan tak kunjung reda. Jadi Siwon dan Tiffany hanya menghabiskan hari terakhinya ditempat tidur, berbagi pelukan hangat, bertukar cerita, mengenang moment yang mereka lalui sesekali diselingi air mata, Tiffany lah yang sering menangis hari ini. Siwon pun ikut menangis ketika melihat Tiffany dengan pilunya menangis didepannya.

Mereka baru keluar kamar sore hari melewatkan makan siang jadi mereka mendouble nya dengan makan malam. Tiffany sedang mandi dan Siwon didapur sedang membuat kopi untuknya dan teh manis untuk Tiffany. Matanya melihat keluar pada jendela kaca yang terbuka, angin sangat kencang dan petir saling bersahutan, tiba tiba dia merasakan tidak hanya ada dia dan Tiffany disini tapi ada orang lain. Apa mungkin perasaannya saja? Terbawa suasana hujan yang cukup mengerikan.

 

Siwon membawa kopi dan teh yang dia buat keruang tengah dan meletakkan nya diatas meja. Dia membaringkan tubuhnya, menunggu Tiffany. Mengambil Iphone nya, membuka akun twitter dan instagram nya. Ketika melihat akun mlik Tiffany dia terkejut, profil instagram nya photo tatto milik Tiffany yang Siwon ambil tadi pagi ketika mereka dipantai.

Siwon langsung duduk melihat itu, dengan kesal dia berlari menaiki anak tangga. Dia ingin membicarakannya pada Tiffany, kekasihnya itu melanggar janji. Sesampai nya didepan kamar, Siwon mengetuk pintu itu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Siwon menerobos masuk, untung nya pintu kamar tidak dikunci. Mengedarkan pandangannya, dia tidak menemukan Tiffany disana. Siwon menajamkan pendengarannya, seperti ada yang bersenandung didalam kamar mandi. Pasti itu Tiffany, pikirnya.

Dengan gerakan lambat, Siwon berjalan kearah kamar mandi, pintu nya sedikit terbuka. Siwon memanggil Tiffany beberapa kali dari depan pintu, dia tidak melihat kedalam tapi Tiffany tidak menjawab padahal sudah tidak terdengar Tiffany yang sedang bernyanyi. Hanya ada suara hujan yang bertabrakan dengan atap.

Karena penasaran, apa yang Tiffany lakukan? Siwon menjulurkan kepala nya dari pintu dan melihat Tiffany sedang berendam di bathub, tubuhnya tertutup busa hanya kepala dan kakinya yang terlihat. Pantas Tiffany tidak mendengar panggilannya, dia sedang memakai earphone, mata nya terpejam, kepalanya bersandar dengan nyaman.

Siwon tersenyum jahil, dia mengendap ngendap masuk kedalam dan membungkuk didepan Tiffany, wajahnya semakin dekat dengan Tiffany, dia berniat ingin menciumnya. Tapi tangan yang menopang tubuhnya dipinggir bathup tidak mau bekerja sama, tangannya tergelincir karena busa yang licin dan terjadilah kepala Siwon yang masuk kedalam bathub tempat Tiffany berendam dan sepenuhnya tubuh Siwon masuk kedalam. Bathub nya cukup besar, sangat cukup untuk mereka berdua.

Spontan Tiffany melepas earphone nya dan melihat kekacauan yang terjadi. Oh Tuhan, Siwon berada didalam bathub yang sama dengan nya.

“AAAAARRRRRRGGGHHHH!!!” Tiffany berteriak sangat kuat, menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.

 

 

 

Disinilah mereka sekarang, berada diruang tengah saling melempar tatapan kebencian satu sama lain. Tangan nya bersedekap didepan dada, mereka berdiri saling berhadapan. Kepala Tiffany sedikit terangkat untuk melihat Siwon yang berada jauh lebih tinggi diatasnya.

“Aku tidak suka dengan sikap Oppa” ucap Tiffany lantang, mata nya tidak lepas dari Siwon.

“Aku sudah memanggil mu berkali kali dan kau tidak menjawab, salah mu juga membiarkan pintu kamar mandi terbuka” bela Siwon, ini sepenuh nya bukan salah Siwon. Tiffany memberinya jalan untuk masuk.

Tiffany menunduk, memajamkan mata nya dan mengigit bibir bawahnya. Ya, dia lupa menutup pintu karena terburu buru ingin masuk kedalam bathub yang sangat menggiurkan “Oke, itu kelalaianku dan aku salah. Tapi kenapa Oppa masuk kedalam bathub, huh?”

“Sudah aku bilang, tanganku tergelincir Tiffany” Siwon mengangkat kedua tangannya, menunjukan pada Tiffany kalau kesalahan itu karena tangannya yang tidak bisa diajak bekerja sama.

“Bohong. Oppa begitu senang ketika berada didalam bathub” tangan Tiffany berada dipinggulnya, menatap kesal kearah Siwon.

“Siapa yang tidak senang, bisa berada dalam satu bathub dengan mu” Siwon menangkap bahu Tiffany menariknya lebih dekat.

“Dasar byuntae” Tiffany memukul dada Siwon kuat.

“Byuntae karena mu” Siwon tersenyum menggoda, Tiffany membuat ekspresi jijik diwajahnya dan menjauh dari Siwon.

Siwon menangkap Tiffany lagi, agar dia tidak bergerak menjauhinya “Kau melanggar janji, sudah aku bilang jangan mengupload foto yang aku ambil di akun mu. Kenapa kau melakukannya?”

“Aku tidak mengupload nya, aku hanya mengubah photo profil. Itu berbeda bukan?” Tiffany mengangkat bahunya dengan santai.

“Tetap saja sama, semua orang akan melihat photo itu. Oh Tuhan itu benar benar” Siwon Tidak melanjutkan ucapannya.

Tiba tiba terdengar bunyi benda jatuh dan seperti seseorang menginjak ranting pohon, spontan Tiffany langsung melompat kepelukan Siwon.

“Oppa, apa ada mahkluk lain yang tinggal disini?” gumam Tiffany, membenamkan wajahnya di dada Siwon.

“Ya, ada” bisik Siwon di telinga Tiffany “Keluarga drakula, aarrrr” Siwon menggigit leher Tiffany dan Tiffany berteriak melarikan diri dari Siwon. Siwon mengejarnya dan terjadilah acara kejar kejaran didalam ruangan. Ckrek ckrek ckrek

 

 

Siwon dan Tiffany sudah bersiap untuk tidur, Siwon duduk menyilangkan kedua kaki nya diatas tempat tidur menunggu Tiffany. Beberapa menit kemudian Tiffany masuk kedalam kamar, dia menghampiri Siwon dan duduk dihadapannya.

“Oppa, belum tidur?” tanya nya, meletakkan kedua tangannya di lutut Siwon.

“Aku menunggu mu” balas Siwon, tangannya sudah berada dipinggang Tiffany.

“Tiga hari yang begitu singkat, bukan begitu?” Tiffany tersenyum kearah Siwon, meremas remas lututnya.

“Ya, tapi berkesan dan menyenangkan” Siwon menempelkan hidungnya dengan hidup mancung Tiffany.

Hening sejenak, sibuk dengan pikiran masing masing…

“Oppa, bagaimana jika ditahun mendatang kita tidak bisa bersama sama lagi? Atau kita sudah tidak saling mencintai lagi atau kau yang-” Siwon meletakkan jari telunjuknya diatas bibir Tiffany, raut wajahnya seketika berubah, nada suaranya terdengar ketakutan.

“Ssstt… tidak ada cerita buruk malam ini, aku hanya ingin mendengar cerita indah” tangan Siwon naik turun dipinggang Tiffany.

Tiffany mengangkat tangannya untuk meraih wajah Siwon “Aku tidak bisa berhenti mencintaimu” bisik Tiffany.

“Aku juga, aku sangat mencintaimu Tiffany Hwang. Betapa aku tergila gila karena mu” tanpa jeda Tiffany menarik wajah Siwon kearahnya dan mengambil bibir itu dengan lembut. Mereka saling mengungkapkan cinta lewat ciuman manis yang sedang mereka lakukan. Air mata Tiffany tumpah, pipi Siwon basah terkena air mata Tiffany yang dengan deras nya mengalir bagaikan sungai kecil. Siwon terhanyut dalam suasana dan ikut menangis bersama Tiffany. Dia sudah tidak malu malu lagi untuk mengeluarkan air matanya didepan gadis nya.

 

Kamis pagi…

Siwon dan Tiffany berjalan keluar rumah, tangan nya saling berkaitan. Ketika sampai didekat mobil, Tiffany memutar tubuhnya untuk melihat rumah itu.

“Rumah yang sangat indah. Aku ingin Oppa membawaku lagi kesini” tatapan nya pindah ke Siwon yang sedari tadi memperhatikannya. Dari tempat yang sering mereka kunjungi, Siwon baru dua kali mengajak nya kerumah yang dekat dengan pantai dan rumah ini yang sangat indah dan nyaman. Tiffany ingin kembali kesini lagi, lagi dan lagi.

Siwon merangkulnya, tanpa menunggu komando Tiffany menyandarkan kepala nya dengan manja “Aku akan membawamu kembali kesini lagi, nanti. Bila perlu kita ajak teman teman kita”

“Ide yang bagus, pasti akan lebih menyenangkan” Tiffany memejamkan matanya, menghirup aroma Siwon.

“Apa sekarang kau senang?” tanya Siwon pelan.

Tiffany mengangkat kepalanya “Sangat, bagaimana dengan Oppa?”

“Sangat senang. Terimakasih untuk tiga hari yang menyenangkan ini cintaku” Siwon mencium puncak kepala Tiffany.

“Aku yang berterimakasih. Terimakasih telah memberiku cinta yang tiada habisnya, aku sangat mencintaimu” Tiffany berjinjit hanya untuk memeluk leher Siwon dan membenamkan wajahnya disana.

“Aku juga mencintaimu” bisik Siwon ditelinga Tiffany. Siwon sangat sering mengucapkan kata itu, tapi setiap kali mendengarnya hati Tiffany tetap selalu bergetar seperti saat pertama Siwon mengucapkan kata itu padanya.

 

 

Diperjalanan mereka menghabiskan waktu untuk bercanda, menjahili satu sama lain dan bernyanyi ketika lagu favorite mereka mengalun didalam mobil. Bergoyang seperti sedang menonton konser musik, tertawa lepas tanpa beban. Tidak terasa empat jam lewat begitu cepat, ketika memasuki jalan terakhir mereka sudah hampir sampai. Disanalah mereka mulai terdiam membisu, tidak ada tawa atau apapun sangat sunyi.

Siwon menginjak rem nya ketika sudah sampai didepan dorm SNSD. Tiffany menatap keluar jendela, belum tergerak untuk turun.

Siwon meletakkan tangan nya diatas paha Tiffany “Kau benar tidak mau mengantarku mencukur rambut ini?” Siwon mengambil segumpalan rambut dengan tangan satunya.

“Tidak, aku ingin itu menjadi kejutan” Tiffany masih belum melihat kearah Siwon.

“Baiklah, aku bisa minta antar Jiwon. Aku akan pulang kerumah menghabiskan waktu bersama mereka” cerita Siwon, dia merasakan perubahan sikap pada Tiffany.

Tiffany tidak menjawab, Siwon menark dagu Tiffany agar melihat kearahnya. Ketika mata mereka bertemu, Siwon melihat mata Tiffany yang sudah basah.

“Jangan menangis” Siwon menghapus air matanya lembut “Sudah cukup untuk bersedih” Siwon menariknya, menenangkan Tiffany yang mulai menangis dengan kencang.

“Hanya Oppa yang aku punya disini dan sekarang Oppa akan pergi” gumam Tiffany disela isakan nya. Ya, keluarga nya berada jauh di Amerika hanya ada Siwon dan sahabat satu grup nya yang menemani Tiffany tapi sekarang Siwon akan pergi dan teman temannya akan sibuk dengan jadwal individu mereka, yang membuat nya akan sulit bertemu. Tiffany merasa hampa setelah ini..

“Kau masih memiliki teman teman yang juga menyayangi mu, mereka akan menjaga mu. Kau tidak akan kesepian” Siwon mengusap rambut panjang Tiffany yang tergerai bebas.

“Tapi tetap saja, rasanya akan beda” Tiffany menarik nafas dalam.

“Ya, aku mengerti. Berhentilah menangis, aku sakit jika melihat mu menangis seperti ini” Siwon melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah Tiffany.

“Mian, ini karena aku terlalu mencintai mu” Tiffany menghapus air matanya.

“Hapus air mata itu, jika kau sudah lebih tenang kita masuk kedalam” Siwon menunggu Tiffany yang tengah merapikan dirinya, menghapus sisa sisa airmatanya.

Tiffany sudah tampak sedikit lebih baik “Oppa, kajja” ajaknya.

Siwon keluar dari mobil lebih dulu, memutari mobilnya untuk membuka pintu untuk Tiffany keluar. Lalu Siwon mengeluarkan barang barang milik Tiffany dan membawanya masuk kedalam dorm. Tiffany menekan password dan bunyi klik pertanda pintu sudah terbuka, mereka pun masuk kedalam.

Sampai didalam Tiffany menemukan Taeyeon, Yoona dan Sunny yang tengah menonton TV, ada beberapa cemilan yang berserakan diatas meja panjang.

“Helloo….” teriak Tiffany ketika teman temannya tidak menyadari kedatangannya.

“Fany aah” pekik Taeyeon girang.

“Aku ingin mengembalikan babi kalian. Aku mengembalikannya dengan utuh seperti ketika aku meminjamnya. Kalian boleh memeriksanya” ucap Siwon main main.

“Terimakasih untuk mengembalikan babi kami tepat pada waktunya, betapa kami merindukan babi kami ini” ucap Taeyeon lalu berlari untuk memeluk Tiffany.

“Unnie, Oppa. Kalian tidak membawa oleh oleh untuk kami?” tanya Yoona, melihat tidak ada nya bungkusan menarik yang dibawa Siwon maupun Tiffany.

“Mianhae, kami tidak berjalan kemanapun hanya menghabiskan waktu dirumah. Tapi aku janji, kita akan kesana mengajak kalian dan member Super Junior untuk berlibur. Kau pasti menyukai pantai nya Yoong” jelas Siwon panjang lebar.

Yoona mengedipkan mata berapa kali dan tersenyum “Woaah jinja, aku menunggu untuk itu” Yoona menepuk tangan kegirangan.

“Ya, kita atur jadwal nanti setelah aku pulang wamil” ucap Siwon dengan ragu, dia melirik arloji nya “Baiklah, aku harus pulang dan terimaksih sudah memberi izin meminjam babi ini. Sampaikan salam ku untuk yang lain” Siwon sedikit membungkuk.

“Selamat menjalankan wamil Oppa, kau akan terlihat lebih tampan ketika pulang nanti. Sampai ketemu dua tahun mendatang” ujar Sunny, membalas salam Siwon.

Siwon hanya tersenyum menanggapi ucapan Sunny. Taeyeon, Yoona dan Sunny mengangkat tangannya memberi hormat pada Siwon. Siwon membalasnya dengan setengah bercanda.

Siwon dan Tiffany berjalan berdampingan menuju pintu, Siwon berhenti sejenak ketika pintu sudah berada dihadapannya.

“Aku pulang dulu dan sampai ketemu dihari sabtu. Aku sangat berharap kau datang untuk melihat rambut baru ku” kata Siwon tidak serius, dengan kata lain dia ingin Tiffany datang untuk mengantarnya.

Tiffany hanya mengangguk dan tersenyum manis. Siwon memeluk tubuhnya singkat dan keluar lalu pergi. Tiffany mengintip dibalik jendela dan membuang nafas kasar.

 

“Hey” Taeyeon datang dari arah belakang dan memukul bahu Tiffany.

Tiffany berbalik dengan terkejut “Tae, kau membuatku serangan jantung” ucap nya, memegang dadanya karena terkejut.

Taeyeon hanya tertawa melihat itu “Bagaimana? Apa tempatnya indah?” tanya Taeyeon penasaran, mereka masih berdiri didekat jendela.

Tiffany mengeluarkan Iphone miliknya dari saku celana jeans yang dia pakai “Sangat indah Tae, lihat” Tiffany menunjukkan beberapa foto pemandangan rumah pantai tersebut dan foto foto nya bersama Siwon.

“Kalian terlihat sangat bahagia” komentar Taeyeon yang melihat foto Siwon bersama Tiffany yang tengah tertawa kearah kamera.

“Ya, kami sangat bahagia. Tempat yang menyenangkan, Siwon Oppa berjanji akan mengajak kita semua kesana” katanya dengan senang.

“Pipi mu merah Fany ahh, apa kalian-“ Taeyeon menggantung ucapannya.

Seakan tahu apa yang dimaksud Taeyeon, Tiffany pun menggeleng cepat “Tidak, kami tidak” gumam nya terbata bata.

“Arro, aku hanya menggoda mu haha” Taeyeon tertawa puas, Tiffany berdecak sebal. Mereka pun melihat foto foto dan video yang ada di Iphone Tiffany.

 

***

Jumat malam – kediaman keluarga Choi

Tn. Dan Ny. Choi, Siwon dan Jiwon tengah berbaring dengan nyaman diatas tempat tidur king size, seharian ini keluarga kecil itu menghabiskan waktu bersama sama. Melakukan apa yang belum sempat mereka lakukan karena kesibukan masing masing.

Besok adalah hari dimana Putra sulung mereka akan pergi untuk wajib militer, kurang lebih dua tahun mereka tidak akan bertemu. Mungkin sesekali Siwon dapat hari libur nya atau orang tuanya yang berkunjung untuk menemuinya.

“Eomma, apa aku masih terlihat tampan dengan model rambut seperti ini?” Tanya Siwon, tangannya tidak berhenti menyentuh rambutnya yang hanya tinggal sedikit itu.

Ny.Choi menyentuh pipi putra nya “Dengan model apapun, kau masih terlihat tampan anak ku” ucapnya dengan penuh kasih sayang.

“Tapi aku tidak percaya diri” gumam Siwon, terlihat sedikit prustasi. Karena baru pertama kali memotong rambut nya seperti para tentara pada umumnya.

“Itu karena Oppa belum terbiasa. Kau tetap tampan, Oppa. Percayalah, Tiffany akan tetap mencintaimu dengan model rambut itu” kini Jiwon yang mengutarakan pendapatnya.

“Bagaimana kemajuan hubungan kalian? Kau dan Tiffany?” tanya Tn.Choi, dia yang paling mengharapkan Siwon dan Tiffany cepat kejenjang yang lebih serius dan permanen.

“Aku melamarnya ketika kami dirumah pantai” bisik Siwon sangat pelan.

“LALU!!!” Ucap orang tua dan adik nya bersamaan. Lihat? Betapa ingin tahunya mereka…

“Aku bilang akan melamarnya ketika aku pulang dari wajib militer dan ya dia setuju walaupun kami belum merencanakan apapun didua tahun mendatang” cerita Siwon pada mereka yang hanya mengangguk anggukan kepalanya.

“Kenapa kau tidak menikahinya sebelum pergi wamil? Seperti Sungmin?” tidak hanya Tn.Choi, Ny.Choi pun ingin Siwon cepat menikahi Tiffany.

“Tidak bisa Eomma, itu terlalu cepat. Tiffany masih ingin-“ belum selesai Siwon menyelesaikan ucapannya, Ny.Choi mencela nya dengan cepat.

“Apa? Tiffany masih ingin mengurus karir nya. Oh Tuhan, kalian itu sudah semakin tua dan seharusnya diumur kalian yang sekarang ini sudah memiliki dua anak, mungkin.” Ucap Ny.Choi dengan nada kesal.

“Yeobo, jangan terlalu memaksa. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan menasehati bukan memaksa. Bersabarlah sebentar lagi hmm” Tn.Choi meraih tangan Ny.Choi agar istri nya sedikit lebih tenang.

“Eomma, Appa mianhae. Aku berjanji, akan membawa Tiffany masuk kedalam keluarga ini setelah wajib militer nanti” Siwon memeluk Ny.Choi yang berbaring disebelahnya.

“Tepati janji itu” kata Ny.Choi dengan ketus.

 

Setengah jam berlalu mata mereka pun mulai lelah dan akhirnya terlelap. Tapi tidak dengan Siwon, mata nya masih terbuka dengan lebar tanpa lelah. Dilihatnya jam yang menggantung didinding, sudah jam sebelas malam, Siwon mengambil Iphone nya tapi tidak ada pesan apalagi telepon dari Tiffany.

Siwon beranjak pelan dari tempat tidur nya tidak ingin mengganggu keluarganya yang tengah tidur dengan pulas. Membuka pintu dan berjalan keluar kamar, Dia ingin menghubungi Tiffany, kemana wanita itu tidak memberinya kabar seharian ini.

Dikira sudah cukup jauh dari kamar, Siwon mulai menghubungi Tiffany. Sudah tersambung tapi Tiffany tidak langsung mengangkatnya, dideringan kelima telephone nya diangkat.

“Oppa, ada apa?” sahut Tiffany dengan lembut.

“Ada apa?” Siwon mengernyitkan alisnya “Kemana kau seharian ini? Kenapa tidak menghubungiku?” suara Siwon naik satu oktaf.

“Aku tahu Oppa sedang menikmati waktu bersama Appa, Eomma dan Jiwon Unnie, jadi aku tidak ingin mengganggu. Mereka tidak mengganggu ketika kita berada dirumah pantai” balas Tiffany, dia tahu Siwon marah tapi Tiffany tidak ingin marah juga pada Siwon karena itu akan berdampak buruk.

“Tapi setidaknya kau mengirimku pesan, walaupun hanya satu kali” sepertinya Siwon tidak mau kalah, menurutnya Tiffany tetap salah. Tidak memberinya kabar

Mau tidak mau Tiffany yang mengalah “Ya, aku minta maaf” Tiffany menghembuskan nafas berat “Kenapa Oppa belum tidur? Bukan kah besok Oppa harus bangun pagi?” tanya Tiffany, merubah topik pembicaraan.

“Aku tidak bisa tidur, aku ingin tidur disampingmu” gumam Siwon, nada nya sudah berubah menjadi lembut.

“Kita sudah memiliki waktu bersama selama tiga hari dan itu benar benar full dan Oppa masih belum puas? Tsk…” Tiffany berdecak tapi dia tersenyum.

“Aku tidak pernah merasa puas dengan mu. Aku ingin kau setiap hari, bersama ku” terdengar nada serius dari mulut Siwon.

Tiffany terdiam mendengar penuturan Siwon..

“Ya, akan datang waktunya dimana kita akan selalu bersama setiap hari. Aku juga menantikan saat saat itu” tidak dipungkiri, Tiffany juga ingin Siwon setiap waktu berada didekatnya, menghabiskan waktu bersama sama sepanjang hari tanpa rasa bosan.

“Aku juga sangat menantikan itu, jangan pernah bosan untuk menunggu ku Tiffany”

“Terimakasih karena Oppa tidak pernah bosan menunggu ku. Well, sekarang aku yang akan melakukan itu untuk mu” Tiffany sangat mencintai pria ini, dia merasakan hidupnya begitu sempurna ketika mereka bersama.

“Tapi, kau benar akan datang kan besok?” tanya Siwon takut, karena Tiffany terlihat ragu kemarin saat Siwon menyuruhnya untuk datang mengantarnya.

“Ya, aku akan datang. Aku ingin lihat seberapa tampannya kekasihku dengan rambut barunya” goda Tiffany.

“Aku akan mengirim fotoku jika kau penasaran”

“Tidak, jangan” tolak Tiffany “Aku ingin melihatnya besok. Aku akan datang, tunggu aku”

“Baiklah aku akan menunggu mu besok. Sangat berharap”

“Tidurlah Oppa dan sampai ketemu besok” Ucap Tiffany disebrang telepon.

“Ya, aku mencintai mu Tiffany Hwang”

“Mencintai mu selalu Choi Siwon” Klik.. telepon pun terputus.

Siwon kembali kekamar dan sepertinya setelah mendengar suara Tiffany tidur nya akan lebih nyenyak..

 

 

***

Tiffany nampak gelisah ketika dia tengah merapikan barang barang nya setelah berlatih untuk debut solo nya. Dia beberapa kali kena tegur ketika latihan, tidak fokus jadi banyak melakukan kesalahan. Tubuhnya memang disini, tapi fikiran nya tertuju pada Siwon. Pukul sebelas ini Siwon akan pergi dan sekarang sudah pukul sepuluh tiga puluh, dia mempunyai waktu setengah jam lagi, tidak banyak.

Ketika Tiffany memeriksa tas nya, Iphone nya tidak ada. Ya, dia ingat. Iphone nya sedang di charger di dorm karena terburu buru dia meninggalkannya. Betapa cerobohnya dia..

Tiffany berjalan tergesa gesa menuju lift, ketika sampai didepan lift dia bertemu dengan CEO baru SMent Kim Young Min yang kebetulan juga akan turun kelantai dasar.

“Mau kemana kau, Tiffany?” Tanya nya dengan suara lantang, melihat Tiffany yang terburu buru membuatnya curiga.

“Hmm aku, aku akan bertemu Siwon. Aku ingin mengantarnya” jawab Tiffany gugup, dia melihat kelantai, tidak menatap wajah yang selalu penuh amarah milik Kim Young Min.

“Mwo?” pekiknya, membuat Tiffany lebih menundukan kepalanya karena takut.

“Andwae. Aku tidak mengizinkannya, tetaplah berada disini jangan berani berani untuk pergi” hardiknya, nada nya tidak lembut bahkan sangat kasar.

“Hanya sebentar Sajangnim, aku mohon” dengan keberaniannya Tiffany menatap wajah itu, benar benar tidak ada kelembutan disana, CEO nya yang baru ini benar benar berbeda dengan paman nya Sunny. Lee Soo Man, CEO SM yang lama.

“Tidak” jawabnya dengan cepat, lalu tanpa menoleh kearah Tiffany dia masuk kedalam lift, pintu lift pun tertutup.

Tiffany berjalan dengan lesu dan penuh kekecewaan, menempatkan tubuhnya disalah satu kursi yang ada di lorong. Air mata nya lolos, dia bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Melarikan diri juga tidak akan membantu karena orang orang Kim Young Min pasti sudah mengawasi nya saat ini. nasib kita sepertinya akan sama Yoong!!

Otak nya masih mencari cara bagaimana juga dia harus bertemu Siwon, tapi Tiffany belum menemukan ide apapun dan lebih menyedihkannya lagi Iphone nya tertinggal. Diliriknya jam sudah pukul sebelas kurang lima belas, Tiffany semakin gelisah, air mata nya tidak berhenti mengalir.

Tiffany mendengar bunyi derap kaki, dia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan rambut panjang yang tergerai. Derap kaki itu semakin dekat dan seperti nya berhenti tepat dihadapannya.

Itu seorang pria, Tiffany melihat dari sepatu yang dipakainya. Pria itu membungkuk dan mata mereka bertemu.

“Tiffany” panggilnya, ketika pria itu mengintip dari balik rambut panjangnya “Kenapa kau masih disini? Kau tidak mengantar Siwon Hyung?”

Tiffany mengangkat kepalanya, setelah tahu siapa pria yang ada didepannya saat ini “KyuHyun Oppa” panggilnya, suara nya serak karena menangis “Aku tidak diizinkan keluar untuk mengantar Siwon Oppa, bantu aku. Jebal” Tiffany menarik tangan KyuHyun dan mengoyang goyangkannya.

KyuHyun melirik jam ditangannya “Kita hanya punya sedikit waktu, kajja” KyuHyun menarik tangan Tiffany, tapi Tiffany menariknya kembali.

“Bagaimana dengan Kim Sajangnim?” Tiffany takut jika KyuHyun ketahuan membawa nya keluar dari gedung ini.

“Kita lewat pintu belakang. Ayolah, kita tidak punya banyak waktu lagi” KyuHyun menarik tangan Tiffany lagi dan Tiffany mengikuti kemana KyuHyun akan membawanya asalkan dia dapat bertemu Siwon.

 

 

***

Siwon yang juga sedang gelisah menunggu kedatangan Tiffany, tapi dia belum melihat tanda tanda kedatangan kekasihnya itu. Berkali kali Siwon menghubungi Tiffany tapi tidak ada jawaban, padahal sepuluh menit lagi dia akan pergi. Dia memakai hodie hitam dan menutupi kepalanya, Siwon akan membuka penutup kepalanya ketika Tiffany datang.

Banyak fans nya yang datang untuk mengantar kepergiannya, bahkan media dan wartawan pun berkumpul disana. Siwon sesekali memberi senyuman manis kearah penggemarnya, mengajak mereka bicara dan berfoto tapi rasa gelisah juga tak kunjung berkurang malah semakin bertambah. Ada beberapa member Super Junior yang datang, Leeteuk, Kangin dan Heechul.

Mata Siwon masih sibuk mencari cari keberadaan Tiffany, tapi tak juga mendapatkannya. Seakan tahu keresahan temannya Leeteuk menelpon Taeyeon dan menanyakan Tiffany.

“Kau mencari Tiffany?” bisik Leeteuk ditelinga Siwon.

“Hmm, dia bilang akan datang tapi sampai sekarang aku belum melihat nya” jawab Siwon, melihat jam. Lima menit lagi..

“Aku tadi menelpon Taeyeon, dia bilang Tiffany pergi untuk berlatih. Apa Kim Sajangnim menahannya seperti dia menahan Yoona ketika DongHae pergi wamil” Leeteuk mengangkat bahunya.

Kim Young Min menahan Yoona? Aku tidak tahu

“Tapi kenapa dia tidak mengangkat telepon ku atau memberi kabar apapun itu” Siwon mulai geram, jika memang benar Kim Young Min dalang dari semua ini, dia akan meminta Appa nya untuk menarik saham nya lagi.

“Molla, kita tunggu saja masih ada sedikit waktu” ucap Leeteuk menepuk bahu Siwon.

 

Siwon sudah harus pergi sekarang, Tiffany belum juga datang. Benar benar perpisahan yang menyedihkan. Siwon memeluk Kangin, Leeteuk dan Heechul diiringi air mata, dia masih mengharapkan kedatangan Tiffany walaupun harapannya sangat tipis.

“Kau tidak menangis karena Tiffany tidak datang bukan?” goda Heechul ketika mereka saling berpelukan.

“Haha anyio, aku menangis karena harus berpisah dengan mu” Siwon mengeluarkan tawa yang sangat dibuat buat, matanya melihat sekeliling dan masih tidak menemukan Tiffany.

“Baik baiklah disana” Heechul memukul bahu nya pelan dan Siwon hanya mengangguk pelan.

 

Siwon mulai berjalan kearah mobil yang akan membawanya ke camp, dia melambaikan tangannya  untuk para penggemarnya dan beberapa awak media. Sedih nya dia simpan dalam dalam, Tiffany benar benar tidak datang. Dia tidak ingin berharap lagi, tapi hati nya tidak bekerja sama. Dia masih berharap Tiffany datang. Sesekali dia melihat kebelakang berharap Tiffany berada disana tapi nihil.

Siwon melangkahkan kakinya dengan ragu ketika akan memasuki mobil, sekali lagi dia melihat kesegala arah untuk mencari Tiffany tapi dia tidak mendapatkannya. Tiffany benar benar tidak datang, Siwon masuk kedalam mobil dan duduk dikursi paling belakang, menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.

Mobil mulai bergerak dengan pelan, mungkin ini lah cara mereka perpisah. Siwon membuka penutup kepalanya, padahal dia ingin tahu apa komentar Tiffany tentang rambutnya sekarang, dia tidak bisa menunjukkan itu secara langsung pada Tiffany.

Mobil berjalan sedikit cepat. Oke Siwon, hanya relakan untuk itu!!!

Siwon berkali kali membuang nafas kasar dan tiba tiba mobil berhenti dengan mendadak, dia tidak memperdulikan itu.

“Apa ada yang mengenal wanita yang tengah berlari itu?” teriak sang supir yang melihat dari kejauhan seorang wanita tengah berlari dibelakang mobil.

Siwon masih acuh, dia tidak mendengarkan ucapan supir itu.

“Oh itu Tiffany SNSD”

“Iya itu Tiffany”

“Kenapa dia mengejar mobil ini?”

Kata beberapa orang yang ada didalam mobil itu, Siwon yang mendengar nama Tiffany yang disebut, dengan gerakan cepat dia membuka matanya dan melihat kebelakang.

Matanya berkaca kaca. Benar, itu Tiffany, Tiffany nya, kekasihnya datang.

“Beri aku waktu lima belas menit” pinta Siwon dan langsung melompat keluar mobil.

Dia berlari menghampiri Tiffany, wanita itu terlihat kelelahan mengejar mobil. Saat sudah dekat Tiffany memeluk Siwon erat, Siwon membalas pelukan Tiffany, sedikit menganggkatnya, kaki Tiffany sudah tidak menyentuh tanah ketika Siwon meraih untuk memeluknya. Tangis Siwon dan Tiffany pecah, mereka menangis tersedu sedu. Semua mata yang ada disana melihat mereka dan menjadi santapan para wartawan yang tidak segan segan mengambil gambar mereka.

Lama dalam posisi itu Siwon menurunkan Tiffany dan menarik tubuhnya untuk melihat Tiffany. Menangkup wajahnya dan menghapus sisa sisa air mata yang ada dipipinya.

“Aku kira kau tak datang” gumam Siwon. Semua orang yang melihat saling berbisik, ada hubungan apa sebenarnya mereka?

“Maaf karena aku terlambat” Tiffany menggenggam erat pinggang Siwon.

“Kau merubah warna rambutmu?” Siwon melihat warna rambut Tiffany yang diombre dengan warna cokelat terang, tangannya pindah untuk menyentuh rambut Tiffany.

“Hoh, dan Oppa sangat tampan dengan potongan rambut baru. Aku menyukainya” balas Tiffany tersenyum sangat lebar.

Bunyi klakson mobil mengejutkan mereka, itu pertanda waktu mereka tidak akan lama lagi. Siwon mengangguk kearah mobil.

“Jaga hatimu, jangan biarkan pria lain menyentuhmu” ucap Siwon sangat manis, wajah mereka sangat dekat.

“Hanya ada aku difikiran mu, tidak wanita lain” Tiffany mengangkat tangannya, meletakkannya diatas dada Siwon “Hati ini, hanya untuk ku. Selalu untukku”

“Hmm, tunggu aku” Siwon menarik tubuh Tiffany agar lebih dekat dengannya.

“Aku akan menunggu mu” balas Tiffany dan mereka berpelukan satu kali lagi, air mata nya tumpah lagi dan lagi.

Siwon melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Tiffany, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang, Tiffany memejamkan matanya merasakan sentuhan Siwon. Semua orang yang ada disana berteriak, entah itu teriakan untuk  apa dan kilatan lampu blits dimana mana. Ciuman Siwon turun pada kedua buah mata indah milik Tiffany, mata itu masih meneteskan air mata dan menempel dibibir Siwon. Kali ini pipi mulus Tiffany yang mendapat perhatian dari kecupan Siwon, dia berlama lama dipipi Tiffany dan yang terakhir bibir Tiffany, mereka melupakan beribu ribu pasang mata yang tengah memperhatikannya. Siwon hanya memberikan kecupan ringan dan lama disana namun penuh cinta.

“Selamat tinggal, jaga diri Oppa baik baik” kata Tiffany lembut.

“Jangan banyak menangis, matamu sudah sangat bengkak” Siwon mulai melepaskan Tiffany.

“Arraseo, pergilah My soldier” Tiffany mendorong tubuh Siwon pelan, agar pria itu segera berjalan menjauh.

Siwon berjalan mundur dan bibirnya berucap tanpa suara “Saranghae” lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Nado” balas Tiffany dengan genit.

Siwon masuk kedalam mobil, tapi dia masih berdiri didekat pintu hanya untuk melihat Tiffany, mereka saling melempar senyum sampai mobil itu benar benar menjauh. Saat mobil yang membawa Siwon sudah menghilang dari pandangannya, semua wartawan menyerbu Tiffany, mendekatinya. Tiffany yang tadinya akan pergi sekarang tidak bisa berjalan. Dia dikepung, bukan hanya wartawan tapi juga penggemar Siwon yang berada disana.

Tiffany dilontarkan beberapa pertanyaan tapi tidak satupun yang dia jawab, dia hanya menunduk berharap ada yang membawa nya keluar dari situasi mengerikan ini. dia mendengar beberapa cacian seperti “beraninya kau menyentuh Oppa ku” oke itu biasa, bagaimana dengan yang ini “kau tidak pantas bersama Oppa kami, carilah pria lain” benarkah itu? Apa dia tidak pantas bersama Siwon, apa itu yang mereka lihat? Dan satu lagi, ini benar benar kasar “kau wanita jalang penggoda” Oh Tuhan, tutup mulut jika kalian tidak tahu apapun. Itu benar benar menyakitkan..

Air mata Tiffany akan tumpah mendengar cacian itu, betapa bodohnya dia yang secara terang terangan mengejar mobil Siwon. Kenapa dia tidak membiarkannya saja, Tiffany tidak melihat sisi negatifnya karena dia berharap bisa mengucapkan selamat tinggal untuk Siwon dengan pantas.

Tiffany merasakan tubuhnya dirangkul, dia melihat dari bahunya dan betapa terkejutnya. Itu Tn.Choi oh Tuhan ini akan menambah masalah untuknya. Tiffany tidak menolak ketika Tn.Choi menggenggam erat bahunya dan membawanya keluar dari kerumunan itu. Setengah berlari Tn.Choi membawa Tiffany masuk kedalam mobilnya, didalam sana ada Ny.Choi raut wajahnya sangat cemas.

Dia menyentuh tubuh Tiffany “Gwencana Fany ahh? Kau tidak terluka, kan?” ucap nya penuh khawatir.

Tiffany menangkap tangan Ny.Choi dan menggenggamnya “Gwencana Eomma, aku baik baik saja. Appa, Gomawo” Tiffany membungkuk kearah Tn.Choi

“Jika tadi mereka melukai menantu ku, aku akan menuntut mereka semua” marah Ny.Choi, mata Tiffany melebar, dia terkejut. Menantu? Eomma lupa, Aku belum menjadi menantunya. Tiffany tidak membenarkan ucapan Ny.Choi dia hanya tersenyum meyakinkan kalau dia baik baik saja.

“Ini berkat Appa yang datang dengan cepat untuk menyelamatkan ku” Tiffany memeluk Tn.Choi “Terimakasih sekali lagi, Appa” Suara nya gemetar, dia mulai menangis lagi.

“Uljima, jika kau merasa kesepian datanglah pada kami” Tn.Choi menenangkan Tiffany, mengusap bahunya dengan sayang.

“Sering seringlah main kerumah Fany aah, walaupun Siwon tidak ada” Ny.Choi mengusap rambut panjang Tiffany. Sejak Siwon membawa Tiffany kerumah, mereka mulai menyanyangi Tiffany dan semakin dekat dengan seiringnya waktu.

“Appa, Eomma jeongmal gomawo. Aku sangat bersyukur memiliki Siwon dan kalian” Tiffany mengusap air mata nya yang jatuh dari sudut mata dengan punggung tanganya.

“Aku akan sangat senang jika kau lah yang menjadi menantu kami” balas Ny.Choi dan Tn.Choi mengangguk setuju.

Tiffany tersenyum malu, pipi nya merah. Orang tua Siwon sudah memberinya lampu hijau untuk hubungannya, sebenarnya sudah lama tapi tidak sejelas saat ini. Tiffany sangat senang dapat diterima dikeluarga yang super baik dan penyayang seperti keluarga Choi. Keluarga nya jauh tapi Tuhan memberikan pengganti nya, yang tidak kalah sangat menyayangi Tiffany. Dia sangat bersyukur untuk itu..

 

 

***

Dua hari kemudian…

Tiffany tengah meringkuk seperti janin didalam kandungan, satu hari setelah Siwon pergi dia terkena demam tinggi dan disinilah dia sekarang. Hanya terbaring lemah ditempat tidur bersama selimut dan bantal yang setia menemaninya.

Tadi siang Taeyeon sudah membuatkannya Sup dan membelikannya beberapa macam obat tapi Tiffany tidak menyentuhnya sama sekali, dia tahu kalau Taeyeon melihat semua ini sahabatnya akan marah padanya. Dan benar ketika sore Taeyeon pulang untuk mengambil beberapa barang dan melihat keadaan Tiffany, sahabatnya marah melihat sup yang tidak tersentuh dan obat yang tidak diminum satupun. Melihat itu Taeyeon kesal setengah mati, dia sudah membujuk Tiffany tapi Taeyeon gagal. Dia pergi meninggalkan dorm dalam keadaan marah dan Tiffany sangat menyesal.

Sekarang baru pukul enam sore, dikamarnya sangat dingin. Padahal dia sudah mengatur suhu kamarnya sehangat mungkin tapi Tiffany tetap merasakan kedinginan yang luar biasa. Seharian ini dia tidak mandi, hanya mencuci muka dan menyikat gigi. Rambutnya tidak disisir dengan rapih, terlihat sangat berantakan, badannya merah karena suhu badannya yang tinggi.

Kepalanya sedikit pusing, semenjak kabar hubungannya dengan Siwon tersebar luas, akun instagramnya penuh dengan berbagai macam komentar. Banyak yang merestui hubungan mereka, dan banyak juga yang menghujatnya, Tiffany pusing membaca komentar komentar itu.

SM memberikan penjelasan pada Netizen bahwa hubungannya dengan Siwon sudah berjalan lima bulan berarti jika di hitung hitung Tiffany menjalin hubungan dengan Siwon setelah dua bulan putus dengan Nichkhun. Disinilah Netizen banyak menghujatnya dengan makian yang sangat tidak enak didengar. Mereka tidak tahu yang sebenarnya terjadi, jika mereka tahu pasti mereka akan membuka mata dengan lebar dan mulut yang berbentuk seperti huruf O.

Sejak Siwon wamil dia belum menelpon Tiffany, hanya mengirim pesan satu kali dan dia hanya mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja. Apanya yang baik baik saja? Aku tidak baik saat ini, aku sekarat dan lebih sedihnya dia tidak mengetahui itu. Tiffany menghembuskan nafas kasarnya, dia merindukan Siwon. Dia ingin Siwon berada disini, merawatnya saat dia sakit seperti yang sering pria itu lakukan. Tapi itu akan hanya menjadi harapannya saja.

Tiffany bangun dari tempat tidur, dia harus ke kamar mandi sekarang juga. Berjalan sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, ketika dia sampai didepan pintu kamar mandi tiba tiba dia mendengar Iphone nya berdering dan dia tahu siapa penelpon itu. Dia berlari kearah Iphone nya berada, melupakan kepala nya yang pusing dan urusannya dengan kamar mandi.

“Oppa….” panggilnya dengan nada semanja mungkin.

“Tiff baby, aku merindukan mu” ucap Siwon lantang.

“Nado Oppa” balas Tiffany, nada suaranya kali ini terdengar sedih.

“Kau sedang sakit, right?” Tiffany terkejut, dari mana Siwon tahu? Pikirnya.

“Dari mana Oppa tahu?” bukannya menjawab dia malah balik bertanya.

“Taeyeon mengkhawatirkan mu, sayang. Kenapa kau tidak makan dan minum obat yang diberikan Taeyeon, hmm?” oh… jadi Taeyeon sudah menjadi tukang pengadu sekarang, dia tidak berpihak padaku lagi. Tiffany sedikit kesal pada Taeyeon.

“Aku ingin Oppa disini, hanya Oppa lah obat yang paling manjur” ucap Tiffany menggoda Siwon, tapi dia serius dengan ucapannya.

“Aku akan berada disisimu jika aku bisa. Tapi sayangnya kali ini aku tidak bisa” terdengar kekecewaan yang keluar dari mulut Siwon.

“Gwencana. Oppa sudah menelpon saja, sepertinya aku sudah lebih baik sekarang” Ya, itu benar. Kepalanya yang sakit tidak terasa lagi saat ini, walaupun tubuhnya masih sangat panas.

“Kau sudah semakin pandai menggoda” kata Siwon gemas, jika mereka sedang bertatap muka mungkin Siwon sudah mencubit hidung Tiffany karena gemas.

Tiffany hanya tersenyum sambil menggigit ibu jarinya.

“Sebenarnya apa yang membuat mu sakit? Berhentilah membaca komentar komentar tidak penting itu” Siwon tahu Tiffany seringkali memeriksa akun nya hanya untuk membaca komentar komentar yang ada dan kebanyakan mereka menghujat Tiffany yang dengan mudahnya berpindah hati dari Nichkhun ke Siwon, sesungguhnya mereka tidak tahu apa apa, tidak tahu yang sebenarnya terjadi diantara Siwon, Tiffany bahkan NichKhun.

Tiffany ketahuan, dia harus mengelak “Aku sakit karena merindukan Oppa”

“Berhenti untuk main main, aku serius” Siwon marah dan nada nya sedikit membentak.

Tiffany terdiam mendengar itu, dia menarik nafas dan membuang nya “Ya, aku membacanya dan mereka semua menghujatku. Kau tahu betapa sakitnya ketika mereka bilang aku wanita penggoda yang hanya menginginkan uang mu dan satu lagi mereka bilang aku tidak pantas untuk mu. Aku sudah menyadari itu sejak lama, kau terlalu bersinar untuk ku tapi kau terus mengejarku, memberi perhatian padaku dan hatiku luluh. Aku mencintai mu sepuluh kali lipat dari sebelumnya dan itu semakin bertambah seiringnya kita bersama” isakan kecil lolos dari bibir tipis Tiffany.

Siwon mendengar itu, kekasihnya menangis “Itu karena kau hanya melihat komentar negatif, banyak yang mendukung kita, Tiff. Jangan terlalu memikirkan mereka, karena kita lah yang menjalani semuanya. Dan kau lah yang terlalu bersinar untuk ku Tiffany, jangan pernah lagi berfikir kalau kau tidak pantas berada disisiku, kita memiliki kekurangan dan saling melengkapi. Mereka hanya melihat kita dari luar tapi mereka tidak mengenal kita dari dalam. Ku mohon, jangan terlalu memikirkan hal itu, kau akan sakit terus menerus jika seperti itu”

Tiffany menangis lebih keras “Aku ingin memeluk Oppa. Oh Tuhan, aku sangat mencintai Oppa” ucap Tiffany pelan.

“Berjanjilah untuk tidak menangis lagi, kau tahu betapa inginnya aku memeluk mu ketika kau sedang menangis seperti itu”

“Aku tidak bisa berjanji untuk itu, karena aku lebih gampang menangis sekarang” Tiffany menghapus air mata dengan jari jari nya.

“Dasar cengeng” ejak Siwon main main.

Tiffany baru akan membalas ucapan Siwon tapi pintu kamarnya terbuka dan Yoona yang berada dibalik pintu.

“Unnie, ada Ny.Choi datang. Dia di meja makan menunggu mu” kata Yoona, dia menunjuk arah meja makan.

“Eh? Siwon Eomma?” tanya Tiffany, dia nampak terkejut. Iphone nya masih menempel ditelinganya.

“Yep, cepatlah keluar. Aku akan menemaninya selagi Unnie bersiap siap” ucap Yoona, lalu menutup pintu kamarnya dengan pelan.

“Oppa, apa kau?” Tiffany mendengar Siwon yang tengah tertawa kecil disebrang telepon.

“Ya, aku yang meminta Eomma datang untuk memeriksa keadaan mu” Siwon nampak santai, tidak dengan Tiffany. Dia benar benar sudah merepotkan banyak orang hanya karena demam nya.

“Tsk.. Oppa membuatku merasa tidak enak pada Eomma” Tiffany mulai berjalan untuk menyisir rambutnya.

“Kenapa? Eomma ku juga Eomma mu”

“Tetap saja, aku membuatnya repot” rambutnya sudah rapih dan sekarang dia merapikan piyama nya yang sedkit kusut, menyemprotkan sedikit parfum.

“Cepat, temuilah Eomma. Jangan membuatnya menunggu” perintah Siwon.

“Hmm, makanlah dengan baik Oppa. Aku menyayangi mu”

“menyayangi mu juga” telepon terputus.

Tiffany meletakkan Iphone nya dan cepat cepat keluar kamar, wajahnya bersemu merah dia merasa lebih sehat dari sebelumnya.

Ketika dia sudah berada diluar kamar, Tiffany melihat Ny.Choi sedang berbincang bincang dengan Yoona dan tertawa. Apa yang sedang mereka bicarakan? Tiffany penasaran dan berjalan lebih cepat lagi.

“Eomma” panggil Tiffany, memeluk Ny.Choi dari belakang dan mendaratkan kecupan manis dipipi kiri Ny.Choi. lalu Tiffany mengambil tempat disamping nya.

Ny.Choi menyentuh kening Tiffany “Kening mu panas, tapi wajahmu tidak terlihat seperti sedang sakit, Tiffany”

“Itu karena dia sudah meminum obat yang tepat, Siwon Oppa pasti baru saja menghubungi nya. Bukan begitu Unnie?” celetuk Yoona, mengedipkan sebelah matanya kearah Tiffany. Tadi ketika Yoona masuk kedalam kamar Tiffany dan melihat ponsel yang menempel ditelinga Tiffany dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya dari sanalah Yoona menebak bahwa Tiffany sedang bicara dengan Siwon di telepon.

“Yoona, kau membuat pipi nya merah haha” Ny.Choi tertawa sangat keras melihat ekspresi Tiffany, begitupun Dengan Yoona.

“Ah sepertinya aku harus pergi sekarang, aku ada pemotretan sore ini. kalau begitu aku pergi dulu Unnie, Ny.Choi” Yoona membungkukan badannya sesopan yang dia bisa. Dia belum terlalu dekat dengan Ny.Choi mereka hanya beberapa kali bertemu.

 

 

“Makanlah, habiskan semuanya Tiffany” Ny.Choi membawakan Tiffany krim sup dengan irisan daging asap dan bubur semuanya masih hangat.

Tadinya Tiffany tidak lapar sedikitpun, tapi ketika dia mencium aroma makanan yang dibuat Ny.Choi air liurnya terbit dan perutnya merasakan lapar yang sangat parah. Tiffany mengambil sendok dan menyendokkan krim sup kedalam mulutnya.

“Eomma, ini benar benar lezat. Terimakasih, maaf karena aku merepotkan mu” Tiffany mengambil suapan kedua, dia akan menghabiskan semuanya. Ini sangat sayang untuk tidak dihabiskan.

“Jangan sungkan sungkan, jika kau perlu apapun telepon saja Eomma. Apa kau mengerti?” Ny.Choi menumpukan kedua tangannya diatas meja, memperhatikan Tiffany yang sedang makan dengan lahap nya.

“Hmm arraseo. Saranghae” ucap Tiffany, menatap Ny.Choi dengan senyum manisnya.

“Nado” Ny.Choi menyentuh pipi Tiffany “Setelah ini minum obat mu, Eomma sudah mencari obat dengan susah payah. Siwon meminta Eomma mencarikan obat berwarna pink agar kau mau meminumnya. Tsk.. “ Ny.Choi menggeleng gelengkan kepalanya.

Tiffany jadi teringat Siwon, walaupun Siwon kesal ketika Tiffany hanya akan meminum obat yang berwarna pink tapi dengan sabarnya dia mencarikan obat untuk Tiffany. Dan sekarang Eomma dari pria yang sangat dia cintai yang mencarikan obat itu untuknya.

“Sekali lagi terimakasih, Eomma. Aku tahu kenapa Siwon Oppa sangat mencintai Eomma, karena Eomma sangat luar biasa dan aku bisa merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu” mata Tiffany berkaca kaca. Dia tidak ingat bagaimana cara ibu nya dulu memberikan kasih sayang untuknya karena dia masih sangat kecil untuk mengingat semuanya. Tapi ketika dia bergabung bersama SNSD dia mulai merasakan kasih sayang seorang ibu dari semua ibu sahabatnya dan sekarang dia mendapatkan kasih sayang dari ibu kekasihnya. Tiffany sangat bersyukur mendapatkan kasih sayang yang berlipat ganda.

“Cepat habiskan, kau masih butuh istirahat” suasana berubah haru ketika Ny.Choi melihat mata Tiffany yang mulai memerah, dia mengusap bahu Tiffany dengan sayang. Tiffany wanita yang sangat ceria tapi dia juga mudah sekali rapuh. Itu yang Ny.Choi nilai untuk Tiffany.

 

 

***

Satu minggu kemudian…

Tiffany masih terlelap dalam mimpi indahnya, tiba tiba pintu kamarnya dibuka dengan kasar dan teriakan memenuhi telinganya.

“Fany aah” panggil Taeyeon.

“Unnie, irona” Yoona membangunkan Tiffany dengan paksa.

Tiffany hanya menggeliat kecil dan berniat untuk kembali tidur, dia masih sangat mengantuk. Latihannya semalam benar gila gilaan yang membuat tubuhnya kelelahan.

“Oh Unnie, bangun dan lihat ini. keadaan darurat” Yoona mengguncang guncangkan tubuh Tiffany dengan sangat kuat.

Tiffany duduk, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul. Dia membuka matanya dengan susah payah.

“Lihat ini” Taeyeon memberikan Ipad miliknya pada Tiffany.

Mata Tiffany langsung membulat sempurna ketika melihat artikel itu “SIWON DAN TIFFANY SEDANG BERCINTA DIPANTAI” tulisan itu sangat jelas, dicetak dengan huruf besar dan tebal. Dibawahnya ada beberapa foto Siwon dan Tiffany dengan posisi, Ya jika orang yang melihat memang seperti sedang bercinta. Tapi mereka tidak melakukan itu, hanya sebuah ciuman panas dan sangat intim tidak lebih.

Keringat dingin keluar dari tubuh Tiffany, tangannya gemetaran “Oh Tuhan, ka..mi kami tidak melakukan itu” ucap Tiffany terbata, dia menelan ludah dengan susah payah, bahkan bernafas pun sangat sulit dia lakukan saat ini.

Yoona meraih gelas berisi air putih dimeja lalu memberikan gelas itu pada Tiffany “Unnie, minum dulu. Kau terlihat pucat” Tiffany menerimanya dengan tangan gemetar, meminum setengah dari air itu. Yoona mengambil gelas dari tangan Tiffany.

“Sepertinya mereka memergoki kalian ketika Siwon Oppa menginap didorm kita. Lihat” Taeyeon menunjuk layar ipadnya. Ada foto Siwon yang berdiri didepan pintu dorm SNSD dan foto kedua pintu dorm yang terbuka, ada Tiffany disana. Paparazzi ini juga mengikuti mereka sampai kerumah pantai.

“Ini dari scandal news, mereka akan mendapatkan keuntungan besar karena mengeluarkan berita ini. dan lebih pintarnya lagi mereka mengeluarkannya setelah hubungan kalian dikonfirmasi” Yoona menutup matanya dan menggigit bibirnya. Dia sangat gelisah mendengar kabar ini.

“Aku takut. Bagaimana dengan Siwon Oppa?” Tiffany menggigit kuku jarinya, suaranya mendesah ragu ragu.

“Fany aah jang terlalu memikirkan bagaimana Siwon, komentar komentar ini banyak yang mengucilkan mu” Taeyeon sudah mulai kesal, Tiffany lebih mengkhawatirkan Siwon dari pada dirinya sendiri “Kau bilang itu pulau pribadi, bagaimana bisa paparazzi seperti itu, bisa masuk kesana?” tanya Taeyeon.

Tiffany menunduk memainkan kuku jari jari tangannya “Siwon Oppa menyuruh semua penjaga pergi selama kami disana dan hanya ada kami berdua” Tiffany menatap sahabatnya dengan ragu.

“Unnie, kalian hanya memikirkan kesenangan kalian tanpa melihat dampaknya” Yoona mengacak rambutnya prustasi “oke, ini kelalaian yang harus diselesaikan” Yoona mengambil tangan Tiffany dan menggenggam nya erat. Memberikan dukungan melalui sentuhannya.

“Tadi manager Oppa menelpon, kau tidak boleh kemana mana. banyak wartawan yang menunggu mu dan mungkin Kim Young Min sajangnim akan datang menemui mu hari ini” Wajah Tiffany semakin pucat mendengar penuturan Taeyeon.

Taeyeon menangkap ketakutan yang Tiffany rasakan “Kami disini Fany aah, jangan takut kau tidak sendiri” Tiffany memeluk kedua sahabatnya. Entah kenapa air matanya tidak jatuh, dia terlihat tegar padahal sangat ketakutan setengah mati.

 

 

Tiffany sudah mandi, sudah lebih rileks walaupun masih dilingkupi rasa ketakutan. Dia menghidupkan Iphone nya, semalam dia sengaja mematikannya karena lelah, dia ingin tidur dengan nyenyak tanpa gangguan sedikitpun.

Ketika sudah hidup, banyak pesan yang masuk dan beberapa voicemail salah satunya dari Ny.Choi. dengan gerakan cepat dia menelpon kembali, Tiffany menebak Ny.Choi pasti sudah tahu soal berita yang sedang beredar saat ini dan Ibu kekasihnya sedang khawatir.

“Eomma”

“Fany aah” panggil mereka bersamaan.

“Kau baik baik saja nak? Kau dimana?” tanya Ny.Choi penuh kekhawatiran, Tiffany terkesiap mendengarnya.

“Aku di dorm dan aku baik. Eomma jangan khawatir” Tiffany memaksakan senyumnya, didalam hatinya dia sedang tidak baik baik saja.

“Aku tahu kalian tidak melakukannya” Ny.Choi menarik nafas panjang dan menelan ludahnya.

“Demi Tuhan, kami tidak melakukannya Eomma. Kami hanya berciuman, tidak lebih” ucap Tiffany. Dia malu harus membicarakan ini karena ini sangat pribadi menurut Tiffany. Tapi apa boleh buat, semua orang sudah melihatnya.

“Aku tahu. Semuanya akan baik baik saja, Siwon Appa sedang mengurus semuanya.” Tiffany tidak terkejut, pastinya Tn.Choi akan melakukan hal itu karena ini menyangkut putranya.

“Hmm gomawo Eomma. Maaf jika kami selalu membuat masalah” Tiffany memberi penekanan dikata terakhir.

“Jangan bicara seperti itu, tidak ada manusia yang tidak memiliki masalah, nak. Kita berjuang bersama menyelesaikan masalah ini” ini yang Tiffany butuhkan, penyemangat. Tiffany benar benar merasakan nasehat seorang ibu.

Mereka sedikit berbincang bincang dan Ny.Choi mengakhiri panggilannya. Ternyata Siwon belum mengetahui kabar ini, mungkin belum sampai ketelinga orang orang yang berada disana. Tiffany sedikit lega, dia berharap Siwon tidak tahu tentang masalah yang ada di Seoul, karea itu pasti akan mengganggu konsentrasi Siwon.

Tidak lama Iphone nya berdering lagi dan itu Kim Young Min. CEO baru SM itu memakinya habis habisan, dia tidak mengetahui perjalanan Tiffany dengan Siwon dan dia sangat marah. Tiffany tidak hanya menerima makian tapi juga cacian yang sangat pedas membuat hatinya terasa sakit, dia ingin menangis tapi ditahannya sekuat tenaga. Tapi ketika Kim Young Min membawa ibu nya dalam masalah ini, Tiffany tidak bisa menahan air mata nya lagi. Kenapa semua orang selalu menyalahkan ibu nya ketika dia berbuat kesalahan. Demi Tuhan, ini murni kesalahan nya.

Tiffany tidak ingin berlarut larut untuk menangis, dia mematikan handphone nya. Dia butuh pencerahan, Tiffany keluar kamar untuk bertemu dengan sahabat sahabatnya. Ternyata mereka sedang berkumpul diruang tengah, Tiffany mengernyitkan alisnya. Apa mereka tidak ada yang memiliki jadwal hari ini? semua terlihat santai duduk dan berbaring disana.

Sooyoung menolehkan kepalanya ketika mendengar bunyi derap kaki “Aku kira, kau hanya akan mengurung dirimu dikamar berhari hari” ucap nya ketus.

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa” Tiffany menyandarkan punggung nya disofa, kebetulan ada satu yang kosong “Kalian tidak memiliki jadwal hari ini?” tanya Tiffany santai. Semua member saling melirik satu sama lain.

“Kau tidak tahu atau pura pura tidak tahu” Sooyoung sedikit kesal, tatapannya memancarkan kebencian “Kami terkurung didorm kami sendiri”

Tiffany baru sadar, mereka berada disini karena scandal nya. Pasti diluar sana banyak wartawan, Tiffany menyesal untuk itu, karena kesalahannya semua member terkena imbasnya “Aku minta maaf” bisik Tiffany.

“Aku sudah memperingatkan mu berkali kali Tiffany, berhati hatilah. Tapi lihat kalian bahkan bercinta dipantai. Tsk!!” Tiffany terkesiap mendengar ucapan Sooyoung. Kenapa dia bicara seperti itu, dia tidak tahu yang sebenarnya.

“Kami tidak bercinta” Tiffany membela diri, dia ingin berteriak tapi suaranya sulit sekali untuk keluar karena menahan tangis.

“Kalian hampir melakukannya” pekik Sooyoung, tangannya diletakkan dipinggang.

“Sooyoung hentikan” sela Taeyeon “Ini bukan sepenuhnya kesalahan Tiffany. Oke ini bisa dibilang dia kurang beruntung kali ini” member lain tidak ada yang bersuara, hanya ada suara Taeyeon, Sooyoung dan Tiffany.

“Ini akibat kau selalu membelanya” marah Sooyoung pada Taeyeon.

“Kalau bukan kita siapa lagi, Tiffany yang disalahkan dalam hal ini dan dia butuh tempat berlindung. Kita lah yang harus melindungi dia, Soo” Taeyeon tidak ingin member lain berfikir kalau dia selalu membela Tiffany, fakta nya ini yang selalu dia lakukan untuk member lain juga.

Sooyoung tidak membalas ucapan Taeyeon, dia hanya menarik nafas dengan kesal.

“Aku akan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, agar kalian dapat melakukan kegiatan kalian lagi” gumam Tiffany, matanya memerah, suaranya serak. Dia menahan tangis.

“Bukan kau yang akan menyelesaikan masalah ini, tapi keluarga Choi. Kau hanya duduk manis menunggu hasilnya” balas SooYoung cepat “Dan kalian akan menimbulkan masalah baru yang membuat orang menerima dampak kesalahan kalian” Sooyoung berdiri dan masuk kedalam kamarnya, menutup pintunya dengan keras.

“Jangan diambil hati Fany ahh, mungkin dia sedang datang bulan” kata Hyoyeon mencairkan suasana yang tampak panas didalam ruangan itu.

“SooYoung unnie marah karena aku menghabiskan makanan nya pagi ini” Yoona terkekeh sangat geli, mau tidak mau semua orang yang melihatnya ikut tertawa geli. Tiffany hanya tersenyum kecil, ucapan Sooyoung masih terngiang dikepalanya. Apa yang Sooyoung bicara itu benar benar dari hatinya, kalau Tiffany hanya bergantung pada keluarga Choi dan selalu menimbulkan masalah. Tiffany akan menyelesaikan masalah nya sendiri, dia sudah berniat untuk itu.

 

 

***

Keesokan harinya, ketika sore hari Tiffany sudah rapih dengan kemeja pink dan jeans putih nya, wajahnya dipoles senatural mungkin. Dia akan menghadapi semua masalah nya, ingin mengurusnya sendiri. Dia akan meminta agensi nya untuk mengadakan konferensi kecil untuk menyelesaikan semua kesalahpahaman artikel murahan itu. Tiffany tahu semuanya tidak akan berjalan dengan mulus, tapi dia akan mencoba nya. Kalian akan tahu betapa kejam nya dunia entertaiment itu jika kalian sudah memasukinya, tidak ada teman semuanya musuh dan suka membalikkan kebenaran. Itulah faktanya…

Sebelum pergi Tiffany menghidupkan ponsel nya, dari kemarin dia tidak mengaktifkan nya sama sekali. Karena banyak pesan masuk ataupun telepon yang sangat mengganggunya. Ada satu pesan masuk dari Siwon dan itu baru lima menit yang lalu.

“Memikirkanmu dan sekarang aku punya masalah yang sangat besar untuk dihadapi. Ingin kau ada di sini.”

Apa masalah yang sedang dihadapinya? Apa Siwon sudah mengetahui foto mereka yang sedang tersebar luas…

“aku akan memberimu masalah yang lebih besar, jika aku berada disana”

Baru saja pesan terkirim di layar muncul, ponsel nya berdering. “Bagaimana aku bisa menghubungimu jika kau terus mematikan ponselmu?” Tuntut Siwon.

Tiffany tersenyum. “Selamat sore juga untukmu.” Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aku menginginkan kau” bisik Siwon. “Aku ingin tidur disamping mu seperti malam malam sebelumnya.” Tiffany merasa denyutan akrab dihatinya hanya mendengar suara Siwon.

“Oppa tidak membereskan masalah kecilmu?” tanya Tiffany.

“Itu bukan masalah kecil dan ya, aku akan membereskannya.” Tiffany tiba-tiba merasa resah.

“Aku akan merindukan mu” kata Siwon. “Aku akan sibuk sepanjang hari.” Tiffany mendengar nada kecewa yang keluar dari mulut Siwon.

“Oke, aku harus pergi sekarang” kata Tiffany dengan suara tenang.

“Bye, Tiff baby”

 

Tiffany mendengar helaan nafas berat dan kemudian telepon terputus. Tiffany menutupnya dan memasukkan ke dalam sakunya. Tiffany hanya ingin didalam kamarnya dan mengubur kepalanya di bawah bantal namun dia memaksa diri melewati pintu.

Tiffany menyelinap melewati teman temannya, yang sibuk memasak ekstra dan mengintip melalui lingkaran jendela kaca dari pintu. Di depan Dorm dipenuhi dengan orang-orang yang mengobrol. Hebat, pikir Tiffany, Siwon sedang menikmati harinya, sementara Tiffany harus mendengar cacian dari beberapa orang galak dan orang-orang yang selalu ingin tahu. Tiffany tidak cemburu. Tidak.

 

Tiffany masih nekat menyelinap keluar, padahal segerombolan reporter berada didepan dormnya. Dia berlari kecil menuju mobil. Tiffany berpaling dari mobilnya dan menemukan dirinya menghadapi seorang wanita pirang tinggi kira- kira seusia dengannya. Sebelum Tiffany bisa melangkah ke satu sisi, sebuah tangan melayang dan menamparnya keras di pipi. Tiffany tersentak dan tangannya sendiri naik untuk melindungi wajahnya tapi sayang dia terlambat.

“Pelacur” pekiknya pada Tiffany.

Tiffany melangkah mundur, mengusap pipinya yang kesemutan. Suasana tiba tiba menjadi hening.

“Tinggalkan dia sendiri. Dia milikku.” Tiffany sudah menebak, siapa yang sedang dibicarakan wanita pirang ini.

“Benar.” Tiffany berbalik.

Ini menjadi pedih, Orang gila yang bodoh. Sebelum Tiffany berjalan dua langkah untuk menjauh dan mengabaikannya, dia merasa pukulan di atas bahunya dan terhuyung ke depan.

“Astaga!” bentak Tiffany dan mengepalkan tinjunya.

Ada jeritan melengking dari suatu tempat, bukan dari Tiffany, dan kemudian tempat itu gempar. Tiffany berbalik dan melihat salah satu reporter memegang pergelangan tangan wanita berambut pirang itu. Dia mengguncangkan pisau dari jari-jari si pirang. Tiffany menyaksikan pisau itu berputar jatuh ditanah. Gila, pikir Tiffany.

Ketika kesadaran kembali, bahwa reporter itu sudah mendapatkan ceritanya, Tiffany menghela napas berat.

“Tiffany” Yuri muncul di depannya dan mengambil lengannya, menariknya keluar dari kekacauan dan masuk ke dorm. Hanya setelah Yuri meletakkan jari-jarinya di punggung Tiffany dan menunjukkan darah, Tiffany menyadari dia telah ditusuk.

“Oh Tuhan” Tiffany teriak histeris dan bergetar. Yuri menyeret bangku dengan kakinya, mendudukkan Tiffany dan melepaskan kemejanya. Sooyoung datang mengamuk kearahnya.

“Sebenarnya ada kegaduhan apa? MWOO? Yul apa yang kau lakukan?”

Tiffany melirik, melihat kesedihan di wajah Sooyoung dan tahu itu untuknya. Sooyoung marah pada Tiffany karena dia perduli dan menyayangi Tiffany.

“Kapan ini terjadi?” Mulut Sooyoung membentuk garis keras.

“Demi Tuhan, Soo. Tidak bisakah kau melihat darah? Seseorang menikam Tiffany.”

“Apa?” Sooyoung nampak sangat terkejut. Member lain mulai mendekati Tiffany.

“Dia menusukku?” Tiffany masih belum bisa percaya.

“Aku akan menelepon polisi. Bagaimana dengan ambulans?” tanya Yoona yang panik melihat darah dikemeja Tiffany.

“Tidak” kata Tiffany cepat. “Tidak dua-duanya.”

“Tapi dia menusukmu” teriak Taeyeon.

“Please. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak ingin kau menghubungi siapapun. Ini tidak terlalu parah, ya kan?” Tiffany mencoba menenangkan semua sahabatnya, padahal dia sendiri takut setengah mati ketika tahu bahwa dia kena tikam.

“Jangan khawatir” Yuri meyakinkan dirinya. “Dia mengenai tulang belikatmu.”

“Oh Tuhan” Tiffany mengerang saat Yuri memegang selembar handuk di atas lukanya.

Punggung Tiffany sakit sekarang. Berdenyut-denyut. Air mata mengalir di mata Tiffany dan dia berkedip. Apa ini yang Tiffany dapatkan untuk mengencani Siwon?

“Aku tahu bahwa mata pelajaran kesehatan dan keselamatan tentu akan berguna.” Yuri mengedipkan mata.

“Ini hanya membutuhkan beberapa penanganan kecil. Tanganmu tetap di sini.” Yuri menarik lengan Tiffany ke dadanya dan ke atas bahunya, dan kemudian mengangkat kotak obat dari dinding. “Sebenarnya kau mau kemana? Nekat sekali kau pergi keluar dorm”

“Aku ingin menyelesaikan sesuatu, dan orang orang yang berada diluar dorm tidak sebanyak kemarin, jadi aku pikir cukup aman untuk keluar.”

“Tsk!! Kau terlalu percaya diri. Aku tahu kau tidak tertarik pada rumah sakit, kan?” Tiffany menggelengkan kepalanya.

Tiffany telah menolak untuk pergi ke rumah sakit ketika member lain menyuruhnya. Tiffany melengkungkan tulang belikatnya saat Yuri memberikan sapuan antiseptik di seluruh punggungnya.

“Kelihatannya ini pertama kalinya seseorang melakukan itu padamu.” Jari Yuri menyentuh luka Tiffany.

“Kecelakaan kecil dan sesungguhnya aku sangat takut” kata Tiffany.

“Ini tidak terlalu buruk. Aku hanya akan mengamankan tepi lukanya.”

“Dan kenapa kau mengatakan itu?”

“Kita harus meyakinkan pasien. Kau salah satu pasien pertamaku.” Ucap Yuri bangga, ternyata dia ahli juga dalam bidang menangani luka “Oh ya. Untuk memastikan stripnya tetap di tempat, aku akan melekatkan lagi dua garis sejajar pada luka untuk tetap kering. Tidak boleh mengangkat benda berat, apa kau mengerti?”

Tiffany mengerang. “Jujur saja, itu tidak terlalu buruk.”

Selain mencoba untuk menenangkan Tiffany, Yuri sebenarnya mengkhawatirkan sahabatnya “kau sebaiknya pergi istirahat, kembalilah kekamar mu”

“Aku baik-baik saja, Yul. Aku hanya terkejut.”

 

 

***

Kabel telepon dorm sudah dicabut, bel pintu terputus, namun ponsel Tiffany tetap di dekatnya. Tiffany tidak akan memberitahu Siwon, tapi dia mengirimkan satu pesan.

Aku baik, tapi rindu padamu…

 

Siwon tidak menelepon atau mengirim pesan. Tiffany mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Siwon tidak tahu apa yang telah terjadi, namun kekecewaannya tumbuh ke titik dimana dia tenggelam perlahan-lahan secara fisik dan emosional.

Tiffany menghabiskan hari berikutnya di dalam kamarnya, menjauh dari jendela dan mengabaikan semua ketukan di pintu. Dia tidak mendengar apapun dari Siwon. Bagaimana bisa Siwon tak tahu apa yang terjadi? Tiffany curiga Kim Hyun Woo manager nya Siwon berada di balik semua ini, dia akan memastikan Siwon tak tahu Tiffany telah ditusuk. Atau Tiffany hanya membuat alasan? Ketika dia berpikir terlalu banyak itu seperti angin puyuh yang sedang berputar di kepalanya, merusak semua pikirannya.

Tiffany duduk di tempat tidur ketika dia mendengar gedoran keras di pintu. sahabatnya atau orang yang dia rindukan? Sejak kemarin Tiffany hanya mengurung diri didalam kamar tidak membukakan pintu untuk siapapun. Tiffany pergi untuk memeriksa di lubang pintu. Nadi Tiffany melonjak. Siwon tampak marah sekali. Mata gelap dan pandangan muramnya mengatakan semuanya. Pasti Siwon baru saja mengetahuinya.

Tiffany membuka pintu. Saat mulut Siwon menganga melihat wajah Tiffany yang sangat pucat, Tiffany mengulurkan tangan, mencengkeram kerah dan menarik tubuh Siwon ke dalam.

Tas Siwon jatuh dari tangannya saat dia meraih Tiffany.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya.

“Ya, sekarang aku baik baik saja.” Siwon memutar tubuh Tiffany dan menghela napas panjang. Tiffany berbalik untuk menghadapnya.

“Kau mengubahku menjadi tak bisa bicara” keluh Siwon.

“Oppa sudah mengetahui semuanya?” tanya Tiffany, Siwon menanam ciuman di seluruh wajah Tiffany.

“Hmm, aku sudah mengetahui tersebarnya foto kita dirumah pantai dan aku ingin cepat pulang. Tapi tidak semudah itu untuk pulang. Maaf aku tidak datang dengan cepat, ini pasti sangat berat untuk mu” Tangan Siwon bergerak ke atas sisi punggung Tiffany dan kemudian ke pinggangnya sehingga dia bisa menarik tubuh Tiffany kearahnya.

Siwon mengangkat tangannya ke wajah Tiffany dan meluncurkan ibu jarinya di pipi Tiffany. “Dan sekarang kau terluka. Aku tidak bisa percaya ada orang gila yang menikammu.”

“Ini tidak serius, Oppa.” Gumam Tiffany.

Siwon mengetuk dahinya ke dahi Tiffany. “Tentu saja serius. Dia menancapkan pisau di punggungmu. Ya Tuhan Tiffany, dia bisa saja membunuhmu.”

“Tapi aku didepan mu, Oppa dan aku baik baik saja” Tiffany tersenyum mencapai matanya.

“Ayo, kita pergi kerumah sakit untuk memeriksa luka mu” Siwon bergumam dileher Tiffany, ketika memeluknya.

“Shieroyo” bibir Tiffany melengkung cemberut. Siwon yang tahu Tiffany sangat segan dengan rumah sakit pun mengacak rambut Tiffany dengan sayang.

Kepala Siwon terangkat “Ya tuhan, kau membuat ku terkena serangan jantung. Jangan mengurung diri lagi dikamar ini, semua orang mengkhawatirkan mu. Appa dan Eomma, kau tidak membukakan pintu untuk mereka juga. Anak durhaka” Siwon menyentil kening Tiffany.

Tiffany mengusap keningnya “Mianhae, jeongmal mianhae” Tiffany berjinjit untuk memeluk leher Siwon dan menangis dengan kencang disana. Dia benar benar merindukan Siwon, ada nya Siwon disisi nya membuat dia melupakan semua masalah yang sedang menimpa nya.

“Menangislah, keluarkan semuanya, sayang. Aku disini, kita akan selesaikan semuanya” Siwon menjalankan jari jari nya dirambut Tiffany yang tergerai bebas.

 

Setelah pertemuan mereka, Siwon dan Tiffany mendatangi gedung SM dan meminta untuk mengadakan konferensi pers sebagai penjelasan semua yang terjadi. Siwon tidak memiliki banyak waktu, dia harus cepat menyelesaikan masalah dan akan kembali ke camp, meninggalkan Tiffany dengan tenang karena masalah yang terselesaikan. Namun kecemasan masih menghampirinya, sewaktu waktu fans gila bisa menyerang Tiffany lagi. Maka dari itu, dia meminta beberapa orang penjaga bertubuh besar untuk menjaga dan mengawasi Tiffany. Awalnya Tiffany tidak setuju dengan orang orang bertampang seram untuk menjaganya, tapi dengan perdebatan kecil akhirnya Tiffany menyetejuinya.

Semua masalah selesai, Siwon menceritakan segala yang terjadi difoto foto yang beredar dengan keterangan yang tidak akurat dan sekarang semuanya jelas, semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiffany dan Siwon sudah bisa bernafas lega sekarang, tidak ada lagi wartawan yang akan berkumpul didepan dorm maupun gedung SM, karena semuanya sudah terselesaikan.

 

 

***

27 Juli 2017…

Sudah satu tahun delapan bulan Siwon menghabiskan waktunya di camp, perasaannya terbelah antara kegembiraan dan penderitaan. Berharap dia cepat kembali bersama Tiffany, begitupun Tiffany sangat menantikan kepulangan Siwon. Selama kurang lebih dua tahun komunikasi mereka sangat sedikit, Tiffany kesepian untung saja ada Choi yang lain menemani hari harinya. Choi Min Ho, Yep salah satu member Shinee dan ya dia paling tampan dan memiliki abs yang membuat wanita meneteskan air liurnya ketika melihat nya, itu yang Tiffany fikirkan tentang Min Ho. Tiffany menekan password dorm nya. beberapa menit kemudian, Tiffany berada di dalam. Dan Handphone nya berdering, tadi Min Ho berkata akan menghubunginya setelah mereka sampai di dorm masing masing. Tiffany dan Min Ho baru saja bertemu di sebuah restoran untuk makan malam.

Tiffany melirik Handphone nya, tidak ada nama Min Ho dilayar nya apa Min Ho memakai nomer lain? “Halo, tampan” kata Tiffany dengan nada yang sangat gembira. Itu dapat dikatakan panggilan sayang Tiffany untuk Min Ho.

“Bagaimana kau tahu ini aku?” oh Tuhan, ini Siwon Oppa bukan Min Ho..

Tiffany mengernyitkan alisnya lalu menutup matanya dan membukanya lagi “Oh, ternyata Oppa.”

“Dasar penyihir. Kau tidak diizinkan memanggil orang lain seperti itu. Bisa saja dia seorang pendeta.”

“Aku memanggilnya sayang dan dia hanya menelpon pada hari Rabu dan Minggu.” Siwon tertawa mendengar lelucon Tiffany dan kemudian berhenti. “Kau tidak serius, kan?”

“Serius, ah tidak. Ya serius” balas Tiffany dan dia terkekeh geli.

“Gadis nakal” Siwon merasakan belitan cemburu. “Kau tidak merindukan ku ya?” Siwon menangkap suara Tiffany yang tidak gembira ketika mengetahui bahwa Siwon lah yang menelponnya.

Ada jeda singkat sebelum Tiffany menjawab. “Aku merindukan mu, Oppa.” Jawab Tiffany, hanya dimulut tidak dari hati.

“Pembohong.”

“Aku serius”

Siwon merasa ada tarikan pada hatinya saat dia mendengar suara Tiffany yang sangat berbeda. “Aku akan kembali nanti, kau sepertinya lelah.”

Sekarang ada jeda dari Siwon sebelum dia melanjutkan. “Kau perlu tidur yang cukup. Aku akan menghubungimu dalam beberapa hari, Tiff baby. Baik-baiklah.”

“Oppa juga.” Siwon merasa kecewa, hanya itu yang keluar dari mulut Tiffany. Tidak ada kata cinta untuk kali ini. Siwon hanya ingin berfikir positif, mungkn Tiffany sedang lelah..

 

 

Tiffany duduk diatas tempat tidurnya, memukul dada nya berkali kali. Sepertinya hati nya sedang rusak, bisa bisa nya dia bersikap acuh pada Siwon dan menantikan telepon dari Min Ho. Apa apaan ini?

Tiffany juga tidak dapat mengerti hati nya sendiri. Dia merindukan Siwon dan menunggu kepulangan Siwon yang tinggal beberapa minggu lagi. Tapi dia mulai nyaman dengan kedekatannya dengan Min Ho, sejak Min Ho putus dari Yuri, dia mulai mendekati Tiffany hanya untuk mendapatkan kabar mantan kekasihnya yang masih dia cintai. Tapi Min Ho dan Tiffany semakin dekat, tidak terlihat seperti sunbae dan hobae. Mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja dimabuk cinta.

Tidak.. Tiffany tidak berpaling, dia masih mencintai Siwon. Mungkin sekarang dia sedang berada dititik yang bernama dilema. Ya, mungkin itu. Dia mencintai Siwon tapi dia merasa nyaman bersama Min Ho. Mungkin karena Min Ho lebih sering menghabis kan waktu dengannya, mengisi kekosongan hatinya yang sudah lama tidak Siwon singgahi.

Tiffany meringkuk, menutupi tubuhnya dengan selimut dan mencoba tidur dalam keadaan hatinya yang kacau. Dia berharap setelah bangun nanti, hatinya sudah kembali normal…

 

 

***

Besoknya, Tiffany baru saja selesai latihan untuk persiapan birthday party nya yang akan diadakan tiga hari lagi. Ketika dia keluar dari ruangan, tiba tiba sepasang tangan kokoh menarik lengannya, Tiffany terkejut dan kemudian dia tersenyum setelah mengetahui siapa orang yang menarik lengannya. Min Ho yang menariknya dan membawa keatas atap gedung SM, Tiffany tidak menanyakan apa maksud Min Ho membawanya keatas. Dia hanya mengikuti nya dengan senang hati.

Ketika mereka sudah sampai diatap, Min Ho mengajak Tiffany untuk duduk diatas sebuah karpet tebal berwarna hitam merah dan ditengah nya ada satu botol anggur putih dengan dua gelas ditambah beberapa makanan kecil.

“Ada perayaan apa ini?” Tanya Tiffany ketika menempatkan bokong nya diatas karpet.

“Tidak ada. Hanya ingin minum dan aku perlu teman. Noona tidak keberatan kan? Menemaniku minum?” Min Ho menatap Tiffany penuh harap. Dia tersenyum ketika Tiffany menganggukan kepalanya.

Hening, tidak ada yang bicara setelah menyesap anggur. Min Ho membuka mulutnya tapi tidak ada kata yang keluar. Tiffany duduk dengan tangan gelisah, rambutnya berantakan karena angin yang bertiup sangat kencang dan senyum gugup di bibirnya. Min Ho mendesah.

“Katakan sesuatu yang bagus atau apapun” kata Tiffany.

“Aku ingin..” gumam Min Ho, menggantung ucapannya.

“Ingin apa?”

“Ingin membuat Noona bangga padaku” gumamnya. “Ingin menunjukkan padamu kalau aku sudah berubah.” Lanjut Min Ho. Dia melirik kearah Tiffany lalu berpaling untuk melihat langit.

“Kau mabuk ya” Tiffany meninju lengan Min Ho kuat “Seharusnya kau katakan itu pada Yuri” Tiffany tertawa.

“Noona, kau sangat cantik jika tertawa seperti itu. Mata mu melengkung dengan indah” puji Min Ho yang menatap Tiffany tanpa berkedip.

Tiffany menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan Min Ho. Dia menatap Min Ho ragu ragu dan dengan gerakan cepat Min Ho meremas jari jari Tiffany yang berada dipangkuannya. Kepalanya menunduk untuk memastikan bahwa tangan Min Ho berada diatas tangannya, lalu Tiffany mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Min Ho yang gelap tengah menatapnya dengan intens.

“Min Ho” Tiffany menegurnya, tapi Min Ho tetap menatap Tiffany.

Min Ho mendekat kearah Tiffany, mempersempit jarak antara mereka. Aneh nya Tiffany tidak menghindar, dia tetap diam di tempatnya. Min Ho semakin mendekat, hanya beberapa inci lagi jarak yang tesisa. Min Ho mengangkat tangannya memegangi tengkuk Tiffany dan spontan Tiffany memejamkan matanya. Min Ho lebih dekat hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing masing.

Bibir Min Ho sudah mendarat diatas bibir tipis Tiffany, ketika merasakan kelembutan diatas bibirnya, Tiffany membuka matanya dengan lebar. Dan dia melihat Min Ho tengah menciumnya. Tiffany mengulurkan tangannya dan mendorong dada Min Ho.

“Andwae. Kita tidak seharusnya melakukan ini” Tiffany memegangi bibir dengan jari jarinya dan dia teringat Siwon. Matanya memanas..

“Oh Noona, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan ini” Min Ho berdiri dan mengusap rambutnya dengan prustasi.

“Kau tidak sepenuhnya salah Min Ho, aku juga salah disini. Aku menyesal tidak mencegah mu” Tiffany berdiri mengikuti Min Ho, dia menarik lengan Min Ho agar melihat kearahnya “Dengarkan aku. Kita sama sama sedang kesepian, dan kita butuh seseorang. Tapi kita melewati batas”

“Noona, aku malu berdiri dihadapan mu saat ini” Min Ho menjauh dan berusaha menghindar dari Tiffany.

“Oh Tuhan, Min Ho jangan seperti ini.” Tiffany menariknya lagi “Bersikap lah seperti biasa, tidak ada yang terjadi diantara kita” Tiffany menatap mata Min Ho, seperti sedang memohon.

“Noona, aku sangat menyesal” Min Ho menarik Tiffany kepelukannya. Tiffany membalas pelukan itu, dia tahu Min Ho sedang kalut karena hubungannya dengan Yuri. Begitupun dengannya, Tiffany sangat menyesal dan berdosa pada Siwon.

“Lupakanlah. Karena aku sudah melupakannya” Tiffany menepuk punggung Min Ho beberapa kali.

 

 

***

Tiffany sudah berada didalam kamarnya, lengkap dengan pakaian tidurnya. Dia baru saja memejamkan matanya, ketika ponsel nya berdering dan itu Siwon yang menelponnya. Tiffany membuka matanya, tiba tiba dia ingin menangis dipelukan Siwon. Setiap kali dia memikirkan Siwon, kejadian diatap bersama Min Ho berputar dikepalanya dan membuatnya merasa bersalah teramat dalam.

“Hey.. Ada apa?” kata Siwon khawatir. Mendengar Tiffany menangis senggugukan.

“Tidak…aku mau” Tiffany megap-megap.

“Apa?” andai Siwon berada didekatnya, dia ingin mengulurkan tangan untuk mengusap wajah Tiffany.

“Aku bermimpi buruk” bisik Tiffany. Dia berbohong, dia harus melupakan kejadian itu “Aku bermimpi aku akan kehilanganmu, Oppa. Oh Tuhan, jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku.” Ucap Tiffany disela isakan kecilnya.

Dan yang kedua Siwon akan menarik Tiffany ke dalam pelukannya. “Tidak apa-apa, Baby. Aku ada di sini.” Siwon mencoba menenangkannya.

“Kau milikku.”

“Aku milikmu” kata Siwon.

“Oppa sangat berarti bagiku.” Gumpalan di tenggorokan Tiffany sulit untuk ditelan. Tiffany pikir dia tidak akan pernah bisa dipercayai Siwon lagi jika kekasihnya mengetahui kejadian itu. Tiffany kembali menangis.

“Uljima. bukan kah aku sudah bilang, kau tidak boleh menangis jika aku tidak ada”

“Aku merindukan Oppa” tangis nya mulai reda, dia menghapus air mata yang jatuh dipipi dengan jari jari lentiknya.

“Aku akan pulang beberapa minggu lagi, tunggu aku” Siwon menarik nafas panjang, dia sudah tidak sabar ingin pulang.

“Aku akan menunggu”

“Tidurlah, sayang. Kau tidak akan bermimpi buruk lagi setelah ini, percaya padaku” Siwon meyakinkan Tiffany.

“Terimakasih, Oppa. Mianhae, saranghae” mianhae? Siwon mengerutkan alisnya. Apa ada yang salah atau Tiffany membuat kesalahan?

“Nado” balas Siwon singkat dan mematikan sambungannya.

 

Tadi Tiffany ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi dia takut. Takut jika Siwon akan pergi meninggalkannya, karena Siwon sangat membenci penghianatan. Tiffany akan mengubur semuanya, tidak akan terjadi apapun jika dia menyimpan rahasia ini rapat rapat. Lagi pula itu bukan ciuman atas dasar cinta, tapi pelampiasan hati yang sedang kesepian. Tiffany akan MELUPAKANNYA!!

 

 

 

 

***

19 Agustus 2017…

“Nde?” Tiffany sedikit berteriak lalu menutup rapat mulutnya “Eomma mian” Tiffany sedang berbicara dengan Ny.Choi ditelepon.

“Jadi, Siwon Oppa sudah pulang tadi siang dan Eomma baru saja dari apartemen untuk makan malam bersama?” Tiffany mengulang ucapan Ny.Choi, dia masih tidak bercaya.

“Ya. Siwon bilang kau tak datang karena sedang sibuk, sayang sekali padahal aku menantikan kedatanganmu. Ini makan malam perdana kita setelah Siwon wamil”

Lagi lagi Tiffany dibuat terkejut, dia menarik nafas dalam “Mianhae Eomma, aku ada beberapa urusan tadi” bohong Tiffany. Sesungguhnya dia tidak tahu jika Siwon sudah pulang dan mengadakan makan malam. Siwon tidak memberitahunya, bahkan mereka sudah lama tidak berkomunikasi. Mereka terakhir bicara ketika Tiffany berbohong pada Siwon, menyembunyikan rahasianya.

“Hubungilah lah putraku, dia terlihat kacau sekali dan banyak melamun. Apa kalian sedang ada masalah?” tanya Ny.Choi penasaran.

Masalah? “Kami baik baik saja, Eomma. Mungkin Siwon Oppa sedang tidak enak badan”

“Ya, mungkin saja. Fany ahh, Eomma harus menutup telepon mu sekarang. Gwencana?” Ucap Ny.Choi terburu buru, sepertinya sedang ada urusan.

“Oh nde, maaf jika aku mengganggu Eomma” balas Tiffany dengan menyesal.

“Tidak, tidak sama sekali. Selamat malam” Ny.Choi mengakhirinya.

Tiffany menyandarkan kepalanya disofa yang ada dikamarnya. Kenapa Siwon tidak mengajaknya makan malam? Oke, itu tidak masalah. Mungkin dia merindukan keluarganya, tapi tidak memberi tahu Tiffany dengan kepulangannya, itu keterlaluan. Belum lagi, Siwon yang tidak menghubunginya sejak malam itu dan lebih menyedihkannya lagi, Siwon tidak mengirimkan ucapan atau hadiah dihari ulang tahun Tiffany. Tahun lalu, Siwon menyempatkan untuk pulang dan itu kejutan manis yang Tiffany dapat. Dia mengira akan dapat kejutan seperti itu lagi, tapi tidak ada. Jangankan kejutan, ucapan pun tidak dia dapatkan. Sangat menyedihkan bukan?

Dia mengambil ponsel nya dan menghubungi Siwon, tapi tidak ada jawaban dari Siwon. Tiffany pun kesal dan bernekat untuk pergi keapartemennya. Ini baru jam sepuluh, tidak masalah.

 

***

Diapartemennya, Siwon sedang duduk tegap dan serius. Ditangannya ada sebuah file.
Siwon mengerang. Dia tidak ingin membaca lagi, tapi tidak bisa berhenti. File itu berisi bagaimana Tiffany pergi keatap bersama Min Ho. Bergandengan tangan dan berciuman, semuanya lengkap dengan foto foto yang sangat jelas. Kertas kertas itu remuk dalam genggamannya. Ada juga Tiffany yang bertemu degan Nichkhun di Malibu beberapa minggu lalu. Ya, Siwon menyuruh seseorang untuk memantau Tiffany, ketika gadisnya mulai bersikap acuh padanya. Bukan Siwon tidak percaya pada Tiffany, dia ingin tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi pada Tiffany. Kesimpulannya, sayang sekali Tiffany telah gagal menjaga hatinya. Siwon pernah memikirkan itu akan terjadi.

Sakitnya pengkhianatan Tiffany begitu kuat, Siwon pikir jantungnya sudah meledak. Dia berbaring di Sofa dan berteriak dalam kesedihan.

 

 

***

Tiffany menekan dirinya sendiri terhadap pintu, melewati kayu biru mengkilap. dia hampir jatuh saat pintu dibuka. Tiffany menyusuri lorong melewati ruang depan, jantungnya berdebar begitu keras di dadanya.

Tiffany berharap untuk melihat jantungnya meledak keluar dari tulang rusuk dan melompat ke tangan Siwon. Dimana itu seharusnya berada.

Tiffany menemukan Siwon berdiri sendirian di ruang tamu, kemeja linen berkerutnya setengah-terselip di celana chinos-nya. Ketika Tiffany melihatnya, dia merasakan tarikan yang begitu kuat, dia tersandung. Tiffany ingin bergegas dan memeluknya, tapi tatapan sengit di mata Siwon menahannya.

“Apa yang kau inginkan?” Suara Siwon terdengar dingin dan tenang.

Tiffany terkesiap mendengarnya “Aku ingin bertemu denganmu, Oppa. memastikan jika Oppa baik-baik saja” kata Tiffany. Tangannya gemetar dan dingin, dia menyembunyikan tangannya kebelakang.

“Tentu saja aku tidak baik-baik saja.”

Tiffany bisa mendengar denyut nadinya berdetak hebat di kepalanya. Merasakannya bergema melalui seluruh tubuhnya. Lututnya bergetar di bawah celana jeans-nya. “Aku tidak tahu, jika Oppa sudah kembali dan makan malam bersama Appa dan Eomma tanpa memberitahuku” kata Tiffany, kecewa.

Siwon mengambil langkah ke arahnya dan kemudian berhenti. “Kenapa kau tidak mengakuinya?” Kata Siwon to the point.

“Demi Tuhan, Tiffany. lakukan hal yang terhormat dan mengakuinya. Itu adalah cara yang buruk, dia lebih pantas menjadi adik mu dari pada selingkuhan mu. tapi setidaknya katakan yang sebenarnya sekarang.” Siwon berteriak didepannya.

Tiffany ketakutan, Apa yang Siwon bicarakan adalah dia dengan Min Ho? Siwon tahu? Oh Tuhan… “Itu..” kata Tiffany, lidahnya kelu. “Aku tidak tahu apa yang Oppa bicarakan” Tiffany mencoba mengelak.

Ruangan itu terbakar. Semuanya terbakar. Paru-parunya terbakar. Tiffany tidak bisa bernapas. Setiap bagian dari dirinya berkata lari, tapi dia membuat dirinya tetap tinggal.

“Betapa menjijikannya ketika dengan pasrahnya kau menerima ciuman dari bocah itu” Mata Siwon seperti granit, yang menyembunyikan Tiffany dari pandangan. Siwon berdiri dengan tangan terlipat di dada.

Mulut Tiffany menganga, dia mengambil nafas panjang dan menelan. Siwon sudah mengetahui nya, dari siapa? Berita nya sangat cepat sampai.. “Aku tidak berniat mengkhianatimu” kata Tiffany.

“Aku tahu kau berbohong. Kau bilang padaku, kau takut kehilangan ku tapi apa? Kau menghianatiku, Tiffany. Aku tahu ketika kau menangis ditelepon, itu bukan karena mimpi buruk tapi kau merasa bersalah padaku”

Tiffany tidak berpikir dia pernah merasa begitu sakit. Dia gemetar pada titik keruntuhan.

Siwon pikir  Tiffany mencintainya, tapi dia tidak. Jika dia pernah mencintai Tiffany, sekarang dia tidak. Semua yang pernah Siwon inginkan dari Tiffany adalah kesetiaan dan kepercayaan, dan dia pikir Tiffany akan membiarkan dia kecewa seperti orang lain.

“Kau menggunakan seseorang ketika itu cocok denganmu” kata Siwon.

“Aku tidak pernah seperti itu.”

“Jadi bagaimana kalian bisa hanya berdua diatap?” tanya Siwon terang terangan. Matanya tidak ada kelembutan, kebencian yang terpancar disana.

Tiffany merasa cahaya kemerahan menyapu pipinya. “Kami sering menghabiskan waktu berdua dan aku kira dia hanya ingin mengobrol seperti biasa.”

“Lihat kan? Kau bahkan tidak pernah menceritakan kedekatan mu dengan bocah itu.” Siwon tidak menyebut nama Min Ho, dia menggunakan bocah itu sebagai gantinya.

“Tapi aku tidak membicarakannya dengan mu karena kami hanya membicarakan permasalahannya dengan Yuri.” Tiffany merasa dia harus duduk.

“Kau pembohong” teriak Siwon, menyemburkan kata-kata itu keluar seperti peluru.

“Pembohong. Pembohong. Pembohong.”

Tiffany tersentak pada setiap kata yang Siwon ucapkan.

“Aku tidak pernah ingin berbohong padamu. Aku hanya takut kehilangan mu, jika aku mengatakan semuanya”

“Bullshit. Kau berbohong tentang Nichkhun, saat kita jauh kau tidak pernah terbuka denganku Tiffany. Tidak heran jika semua orang mengatakan kau tidak pantas dengan ku. Memang kita tidak dapat berdiri bersama.”

Tiffany menyusut di bawah gencarnya serangan, Tapi dia tidak akan lari. “Oppa, kita memiliki sesuatu di sini. Tolong jangan lakukan ini.”

Siwon tertawa. “Kita tidak punya apa-apa. Sepanjang waktu itu aku pikir kau adalah hal nyata pertama yang aku temui, hanya saja kau palsu seperti yang lainnya. Lebih buruk daripada yang lain.”

Siwon melotot padanya. “Kau berbohong padaku dan kau berbohong pada dirimu sendiri.” Suara Siwon dingin dengan penghinaan.

“Oppa” pinta Tiffany.

“Pergilah, Tiff. Larilah lagi, sama seperti yang selalu kau lakukan.”

Tiffany tersentak, tapi dia tidak bisa membiarkan ini begitu saja. “Aku tidak berniat untuk menyakitimu, Oppa. Aku kesepian, aku butuh seorang teman dan ya aku melampaui batas karena membiarkan dia menyentuhku. Demi Tuhan, aku menyesal”

“Kau bisa membicarakannya denganku, tapi sebagai gantinya, kau lari. Pergi ke Malibu. Kau bahkan tidak mencoba menghubungiku. Aku tidak bisa berpikir. Aku pikir kau sudah bersenang senang dan melupakan ku.”

“Aku tidak pernah ke Malibu.” Tiffany tidak tahu apa yang Siwon bicarakan. Dia pergi keluar negeri, tidak ke Malibu tapi California dan ya dia bertemu Nichkhun, hanya kebetulan.

Siwon tertawa singkat. “Masih juga berbohong? Aku menyewa detektif karena aku begitu khawatir perubahan sikap mu. Aku akan membiarkanmu berpikir semuanya berakhir jika kau menceritakan semuanya padaku. Sebaliknya kau yang mendatangiku tapi tidak berniat untuk menceritakan yang terjadi.”

Tiffany menggeleng. “Oppa, mengapa aku datang ke sini untuk bicara denganmu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau bilang pada Eomma jika aku sibuk dan tidak bisa ikut bergabung makan malam bersama kalian dan itu membuatku terkejut”

“Dan kau sudah tahu kan alasannya sekarang”

Tiffany tidak bisa memberitahunya lagi, Siwon tidak mau mengerti. Tiffany mengambil langkah ke arahnya dan Siwon mundur.

“Jangan sentuh aku. Aku tidak ingin kau dekat-dekat denganku. Kau beracun. Pergi saja. Aku tidak pernah ingin melihatmu lagi. Aku tidak pernah ingin mendengar namamu lagi. Kau sudah mati. Bantu aku. Sana pergi selesaikan apa yang sudah kau mulai di atap.” Tidak ada yang bisa lebih menyakiti hati Tiffany lagi.

Pintu terbanting. “Oh, apa aku mengganggu sesuatu?”

Tiffany dan Siwon berbalik untuk melihat Liu Wen berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan jubah putih yang biasa Tiffany pakai, diikat longgar di sekitar pinggulnya. Liu Wen melangkah tanpa alas kaki ke sisi Siwon dan menaruh tangannya di lengan Siwon.

“Bak mandi sudah penuh” dia berbisik di telinga Siwon. “mandilah.”

Tiffany mengambil napas dalam-dalam. Rasanya seperti napas terakhir yang pernah dia ambil. Apa yang wanita itu lakukan diApartemen mereka? Apa wanita itu datang untuk makan malam bersama? Tiffany ingin marah tapi ditahannya, dia akan mengalah untuk kali ini karena dia berada diposisi yang salah.

“Apakah Oppa masih menyimpan tasku?” Tanya Tiffany dengan suara kecil. Dia meninggalkan tas nya satu minggu yang lalu setelah pulang dari Amerika.

Siwon berjalan ke lemari yang menyangga DVDnya, menyambar tas kulit hitam, berbalik dan melemparkannya ke arah Tiffany. Itu mengenai Tiffany tepat di wajah dan jatuh ke lantai.

Tiffany mengambilnya dan memegangnya erat ke dadanya, pipinya serasa tersengat. “Terima kasih.”

Berjalan keluar, tahu Siwon membencinya, salah satu hal yang paling sulit yang pernah Tiffany lakukan. Dia berjalan lurus  dan terus berjalan sepanjang perjalanan kembali ke lift. Itu butuh waktu lima belas menit. Dan setiap langkah dia terluka. Setiap langkah menghancurkan bagian dari dirinya.

 

***

Tiffany membuka pintu dormnya dan aroma yang sedap dari makanan menghantamnya. Dia tidak perduli, membuka pintu kamarnya. Ketika Tiffany membawa tubuhnya ketempat tidur, dia menemukan Taeyeon di sana sedang memainkan Ipadnya.

“Hei, sudah sangat malam dan kau baru pulang? Kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon.

“Baik” Tiffany berbohong dan sekilas sentakan rasa sakit melalui dirinya.

“Apa yang terjadi pada wajahmu?” Tasnya telah meninggalkan goresan merah panjang dari mata ke dagu. Dia tahu Siwon tidak bermaksud menyakitinya, tapi kenyataannya adalah dia sudah menyakitinya, lebih buruk dari serangan itu.

“Sebuah ranting mengenaiku.”

“Kelihatannya parah.” Taeyeon menyentuh dipinggir goresan dipipi Tiffany.

“Tidak begitu buruk” Tiffany menjauhkan wajahnya dari tangan Taeyeon.

“Well, dari mana saja kau? Kau tidak menjawab pertanyaan ku yang satu itu” Tanya Taeyeon, saat mereka merebahkan tubuhnya ditempat tidur.

“Ada sesuatu yang ingin aku urus.” Tiffany ingin menangis, tapi Taeyeon pasti akan curiga.

“Dengan Siwon?”

“Tidak.” Hati Tiffany seakan sedang diremas begitu keras hingga dia kira dia bisa meringkuk dan mati.

Taeyeon kemudian mengulurkan tangannya kepada Tiffany “Kemarilah gadis Amerika ku. Kau tampak seperti membutuhkan pelukan” tanpa ragu, Tiffany berlari kecil dan menghambur kepelukan Taeyeon. Sahabatnya yang satu ini selalu tahu kesedihannya dan tanpa ragu Tiffany menceritakan awal permasalahannya pada Taeyeon sampai menemui Siwon diApartemen dan Liu Wen yang berada disana. Semuanya Tiffany ceritakan tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.

 

Tiffany kembali ke atas tempat tidurnya ketika Taeyeon keluar dari kamarnya, menutup pintu dan roboh, meluncur ke bawah saat kakinya menyerah. Taeyeon ingin menemani Tiffany tapi Tiffany meminta Taeyeon meninggalkan nya karena dia juga butuh waktu untuk sendiri.

Dia menatap foto foto di dinding dan menatapnya, matanya dipenuhi air mata. foto Siwon dan Tiffany yang tersenyum bahagia. tak ada Siwon. Siwon bukan miliknya lagi.

Hati Tiffany terasa seperti di robek di dalam dadanya, tercabik-cabik. Tiffany meringkuk seperti bola dan menenggelamkan wajahnya di lengannya. Mengetahui bahwa Siwon juga terluka membuat ini jadi lebih buruk. Jika ada satu hal yang Tiffany cita-citakan dalam hidup, itu adalah tidak akan dengan sengaja menyakiti orang lain, karena Tiffany tahu seperti apa rasanya. Tiffany seharusnya tetap sendirian. Tak satupun dari ini akan terjadi. Tiffany pikir dia bisa merubah hidupnya dan dia salah.

Apa yang bisa dia lakukan sekarang? Lari? Tindakan yang biasa dia lakukan. Tapi kali ini, tidak ke Amerika. Ke desa atau kota lain. Mulai dari awal lagi. Bersembunyi. Karena jika Tiffany harus bertemu ayahnya, itu akan menghancurkannya.

Jari-jari Tiffany meluncur ke lehernya dan menyentuh bintang yang dibelikan Siwon pada ulang tahunnya tahun lalu. Tiffany mengusapnya seolah-olah itu mampu melakukan sihir, dan kemudian menariknya lepas. Tiffany mencoba untuk membuangnya tapi tangannya tidak membiarkannya. Rantai itu mengitari jari-jarinya dan Tiffany bertanya-tanya apakah itu pertanda dia tidak harus menyerah. Tiffany menghela napas.

Ketika Tiffany melihat sisi dindingnya yang ditutupi oleh pesan cinta yang Siwon kirimkan untuk nya saat Siwon berada di camp, Tiffany membeku. Saat dia mengupasnya satu per satu, dan membaca apa yang Siwon tulis untuknya—Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu. Aku merindukanmu—Tiffany.

memikirkan apa yang sudah hilang darinya dan betapa banyak Siwon membencinya dan betapa buruknya menjadi dibenci daripada tidak dicintai. Tiffany membawa semua pesan itu pada dirinya sendiri. Ketika Tiffany bertindak jauh, dia sudah menyakiti Siwon, membuatnya lebih mudah bagi Siwon untuk percaya yang terburuk. Siwon mencintainya dan Tiffany mengecewakannya.

 

 

***

Beberapa hari setelah kejadian menyedihkan itu, seperti biasa Tiffany hanya mengurung dirinya dikamar. Dia ingin lari, tapi kemana? Terlaru sering untuk lari.

Tiffany sangat ingin menelpon Siwon, tapi Tiffany menebak Siwon akan mengumpat pada nya lagi dan tidak mendengarkan kata-katanya, Tiffany memutuskan untuk diam dan menenangkan diri.

Ketika Tiffany sibuk dengan pikirannya, Handphone nya berbunyi dan penelpon itu adalah manager Siwon. Tiffany tergoyahkan ketika mengingat sikap kasar menager Siwon. Tapi Tiffany terlalu bersemangat, hatinya memantul seperti kangguru.

“Tiffany, ini aku. Aku punya sesuatu yang penting untuk kuberitahu padamu.” Tanpa kau beritahu, aku sudah tahu kalau itu kau, pria kasar..

“Apa?” Tiffany berusaha bersikap acuh, sesungguhnya dia membenci manager Siwon. Dia penghalang di hubungan Siwon dan Tiffany, ya bisa dibilang dia kaki tangannya Kim Young Min.

“Siwon ingin bertemu dengan mu. Dia ingin bicara”

“Jadi?” Tiffany terhenyak kembali ke bumi.

“Datanglah ke Dorchester pukul sepuluh malam ini. Siwon ada sebuah wawancara perdana di sana. Tanyakan tentang aku di resepsionis.”

Tiffany seakan melambung berpikir untuk melihat Siwon lagi. Tiffany mandi dan mencuci rambutnya, mengenakan rok denim dan atasan linen pink pucat. Sebagian kecil dirinya berharap Siwon akan memaafkan nya dan meraup Tiffany ke dalam pelukannya.

 

 

***

Setelah pulang dari wamil, Siwon mendapat tawaran sebuah iklan bersama istri virtualnya di acara We Got Married yaitu Liu Wen. Mereka memang sudah sangat akrab setelah reality show tersebut, Tiffany pun sangat cemburu jika Siwon berdekatan dengan wanita jangkung itu. Kalau menurut Siwon rivalnya adalah Nichkhun, dan Tiffany adalah Liu Wen.

Siwon menerima telepon dari manager nya yang mengatakan dia ingin melihat Siwon dan Liu Wen malam ini jam sembilan, di bar di Dorchester, hotel tempat tinggal Liu Wen. Siwon mengajak Liu Wen untuk makan dulu di Paviliun. Liu Wen menghabiskan seluruh waktu makan mengoceh tentang rumahnya di Malibu dan betapa Siwon sangat bosan mendengar ocehannhya.

Siwon tidak ingin apapun. Dia minum sebagian besar botol anggur dan mereka sudah minum sampanye sebelumnya. Siwon sudah cukup pusing tapi dia tidak mabuk.

Manager Siwon masuk saat mereka berjalan keluar. Dia melihat bagaimana Siwon membawa jaketnya, melihat tangannya yang di genggam erat oleh Liu Wen dan mencoba untuk tidak tersenyum. Liu Wen menyeringai begitu lebar.

“Aku perlu bicara dengan Liu Wen.” Hyun Woo menarik Liu Wen ke satu sisi. “Bagaimana keadaannya?”

“Kami akan pergi ke kamarku, memangnya kau pikir bagaimana keadaannya?”

“Tiffany dalam perjalanan ke sini. Ada ide bagaimana kita bisa meyakinkan dia bahwa itu sudah selesai di antara mereka?”

Mata Liu Wen mengeras. “Bagaimana kalau aku mendorongnya di tepi jurang?”

Hyun Woo terkekeh. “Kau tidak perlu melakukannya sejauh itu. Biarkan dia melihat kalian di tempat tidur bersama-sama pasti sudah cukup.”

“Bagaimana kita akan mengatur itu?”

“Berikan aku salah satu kuncimu. Ketika Tiffany tiba, aku akan menyuruhnya naik ke atas. Aku akan meneleponmu dan biarkan teleponmu berdering sekali. Tahan Siwon agar tidak menjauh sampai saat itu.”

Hyun Woo melihat arlojinya. “Dua puluh menit. Dia tidak akan terlambat.”

Liu Wen terus memunggungi Siwon dan menyerahkan salah satu kuncinya pada Hyun Woo.

 

 

***

Tiffany menuju ke meja resepsionis di Dorchester seperti yang diperintahkan dan diarahkan ke ruang tunggu. Hyun Woo duduk membaca majalah dan meminum apa yang kelihatan seperti sampanye. Dia berdiri saat Tiffany berjalan.

Tiffany ragu-ragu. “Apa Siwon Oppa baik-baik saja dengan semuanya?”

Hyun Woo tersenyum. “Dia di Suite Harlequin, menunggumu.”

Hyun Woo menawarkan kunci pada Tiffany. “Dia ingin aku kesana? Apa kau yakin?”

“Pergilah ke atas. Kau akan menyukai suitenya.”

Saat Tiffany naik ke lift, dia bertanya-tanya apakah semuanya akan baik- baik saja sekarang. Tiffany membayangkan dirinya dalam pelukan Siwon, mendengar Siwon mengatakan jika dia memaafkannya. Tubuh Tiffany bersemangat, kesemutan dari ujung jari- jarinya hingga ke pusat jantungnya. Ini adalah cinta. Tiffany sangat mencintainya.

Tiffany tidak bisa melihat mengapa mereka tidak harus memulainya lagi. Tiffany harus minta maaf karena dia berpaling ke pria lain. Itu adalah sebuah kesalahan, tapi dia takut dan bereaksi berlebihan. dia bisa membuat Siwon mengerti, Jika dia tidak melakukan kebodohan itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi, Tiffany akan bersama dengannya dan Siwon akan percaya padanya.

Tiffany mengetuk pintu. Meskipun Hyun Woo telah memberinya kunci, dia tidak ingin masuk begitu saja. Tidak ada yang menjawab, sehingga Tiffany membiarkan dirinya masuk. Musik disetel dengan keras. Aneh. Siwon tidak menyukai musik keras. Tiffany menarik napas saat dia berjalan melalui lobi cermin. Dia tidak bisa percaya ini adalah sebuah kamar hotel.

“Oppa?” Serunya.

Tiffany melewati ruang makan dan kamar mandi. Siwon tidak ada di ruang duduk yang panjang, jadi dia berjalan ke pintu lain. Satu pintu yang terbuka. Satu-satunya yang terdengar musik. Satu-satunya dengan Siwon di dalamnya.

Di seberang ruangan, Siwon berdiri memakai boxer hitam di sebelah tempat tidur besar. Di tempat tidur, bersandar seorang Liu Wen yang memakai lingerie.

Ketika Siwon melihat Tiffany, matanya terbuka lebar. Dia tampak seolah membeku sama seperti yang Tiffany rasakan. Hanya saja Liu Wen sedang bergerak, meraih Siwon.

Tiffany melarikan diri ke lift. Dia memukul-mukul tombol dan pintu terbuka seketika. Sesuatu telah robek dalam dirinya. Kerusakan itu terlalu parah. Siwon sudah move on. Sangat cepat..

Turun di lobi Tiffany melihat Hyun Woo berdiri di dekat pintu keluar. Dia menyeringai saat Tiffany berjalan mendekatinya. Hyun Woo sudah menunggunya. Jari Tiffany gatal untuk menampar wajahnya. Sebaliknya, Tiffany malah menyerahkan kartu kunci.

“Kenapa kau tidak memberitahuku saja?” Tanya Tiffany.

“Siwon ingin memastikan kau mendapat pesannya.”

Sebuah semburan kepedihan berkobar di antara mata Tiffany pada pikiran bahwa Siwon yang menyiapkan ini. Tapi kalau Siwon yang melakukannya, kenapa dia tampak begitu terkejut melihat Tiffany?

“Aku menelepon saat kau menuju lift dan mengatakan bahwa itu saatnya untuk memulai pertunjukan.”

Hyun Woo menatapnya ke atas dan ke bawah seolah-olah Tiffany adalah sesuatu yang menjijikan. Tiffany tidak mengerti sedikitpun tentang semua ini.

“Kau mengatur semuanya hanya untuk menyakitiku?”

“Sudah berakhir, Tiffany. Selesai. Kau tidak benar-benar berpikir bahwa kau bisa memainkan peran menjadi keluarga bahagia dengan Siwon, kan?” Hyun Woo tersenyum. Yang Tiffany lihat hanyalah gigi yang berderet rapih.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauh. Apa kau pikir kau akan menikah, punya anak, dan hidup bahagia selama-selamanya? Kau hanyalah satu orang dalam antrean panjang. Siwon akan menjadi mega-bintang dan kau…kau tidak sebanding dengannya.” Kenapa dia bicara seperti itu, dia terlalu mengatur. Sama seperti pamannya, Kim Young Min. Mereka sama sama suka mengatur kehidupan orang lain seakan akan mereka Tuhan.

“Kau bukan Tuhan, kau tidak berhak mengatur hidup kami” kata Tiffany. “Aku manusia yang punya perasaan. Aku punya hak seperti—”

“Kau akan menjadi ibu macam apa? Kau bahkan tidak mempunyai ibu. Anak kecil saja tidak menyukai mu. Kau bahkan tidak tahu seperti apa kehidupan keluarga yang normal. Siwon tidak memerlukan orang seperti kau.” Lagi lagi Ibu nya yang dibawa dalam masalah.

Tiffany tersentak. “Kenapa kau begitu kejam? Apa yang telah aku lakukan padamu?”

“Inilah apa yang telah kau lakukan pada Siwon.” Tiffany sudah yakin, Hyun Woo sialan ini pasti mengetahui semua masalahnya dengan Siwon.

Tiffany menelan ludah. Ini semua hanya membuang-buang waktu. Tiffany merasa seolah-olah dia telah diracuni, ditusuk, terkubur dalam gempa bumi dan kemudian tenggelam oleh gelombang pasang berikutnya. Dia mulai bergerak melewati Hyun Woo dan kemudian berubah pikiran. Tiffany tidak perlu menamparnya untuk membalas perbuatannya.

Hyun Woo tertawa singkat. Dan Tiffany meradang. “Aku ingin tahu apakah mereka akan tertarik pada kenyataan bahwa kau menyimpan banyak pakaian dalam wanita?”

Tiffany merasakan kepingan kecil kesenangan karena menghapus senyum dari wajah pria jahat itu. Hyun Woo membuka mulutnya. Tapi Tiffany berbicara lagi sebelum pria itu bisa bicara.

“Tapi aku bukan orang jahat. Aku tahu yang benar dari yang salah. Aku tahu bagaimana menyimpan rahasia. Aku mungkin bukan apa- apa dalam sudut pandangan duniamu tapi aku pantas mendapatkan rasa hormat seperti halnya orang lain. Dalam hidupku, aku belum pernah kejam pada siapa pun seperti kau kejam padaku.” Tiffany berjalan pergi.

 

 

***

“Keluar dari kamar mandi, Siwon.” Liu Wen terus menggedor pintu tapi Siwon tidak akan keluar sampai dia memakai pakaian kembali. Dia berpakaian cepat, berusaha mencari tahu apa yang baru saja terjadi. Dari mana Tiffany datang? Siwon hampir tidak pernah bisa mempercayai matanya. Karena itulah dia berdiri di sana melongo seperti orang idiot saat melihat Tiffany.

Tiffany. Oh sial.

Ya Tuhan, mata Tiffany ketika dia melihatnya dan Liu Wen. Siwon duduk di tepi bak mandi, kepalanya di tangannya, mencoba untuk berpikir.

“Siwon, buka pintu.” Bagaimana Tiffany bisa masuk ke suite?

“Siwon, keluarlah.”

Semuanya mulai masuk akal. Siwon telah dipermainkan oleh seorang ahli. Dia dijebak dengan sempurna. Itu semua dilakukan untuk menembus pertahanannya. Pasti Hyun Woo yang memberikan kunci pada Tiffany. Bagaimana lagi caranya dia bisa masuk? Siwon menggertakkan gigi saat dia berpikir bagaimana Liu Wen dan Hyun Woo telah mengatur dirinya ke dalam situasi ini. Itulah apa yang mereka telah bicarakan saat Hyun Woo menarik Liu Wen ke samping, bagaimana mengatur semua ini. manusia pembohong.

Siwon memikirkan tentang wajah Tiffany saat dia berdiri untuk beberapa momen mengerikan di ambang pintu. Beberapa detik membentang menjadi jam. Dia melihat goresan panjang di pipi Tiffany, dan menyadari dia yang melakukan itu ketika dia melemparkan tasnya, tapi yang jauh lebih buruk adalah rasa sakit di mata Tiffany. Tiffany menyakitinya, tapi Siwon seharusnya tidak balas menyakitinya. Dia tidak akan menyakiti Tiffany seperti ini.

“Siwon. Apa kau akan tetap berada didalam sana”

Lebih parahnya lagi, seakan ada cacing kecil menggerogoti dirinya. Bagaimana jika Tiffany telah mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dia memang tidak berniat menghianati Siwon, dia kesepian dan benar dia membutuhkan teman.

“Siwon? Apa kau baik-baik saja?” Siwon berdiri dan membuka pintu. Liu Wen berdiri di sana dengan senyumnya. Senyumnya terhenti saat melihat wajah Siwon.

“Ada yang tidak beres?” Tanya Liu Wen.

“Bagaimana kau bisa mengatur waktunya begitu tepat?”

“Waktu apa?”

“menjebakku, kau wanita jahat.” Lanjut Siwon kembali ke kamar tidur.

“Jangan marah.” kata Liu Wen.

“Pergilah.” Yang bisa dia pikirkan adalah Tiffany

 

 

***

Tiffany berjalan ke dorm nya mengendarai mobilnya sendiri, para pasangan bahagia sesekali lewat berjalan sambil bergandengan tangan. Tiffany mendidih dengan kemarahan, kemarahannya berubah bersamaan dengan setiap beberapa meter dia mengendarai mobilnya. Marah dengan Liu Wen, karena orang-orang seperti dia selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Marah dengan Hyun Woo, karena dia mempermainkan Tiffany seperti orang bodoh. Dan marah dengan Siwon karena tidak memiliki keyakinan pada dirinya.

Tiffany kembali pada tengah malam, denyut nadinya berpacu. Dorm nampak begitu sepi. Kepala Tiffany berputar, dia merasa gelisah, gugup, nyaris diambang berteriak. Taeyeon memintanya menelepon untuk membiarkan dia tahu bagaimana perkembangannya dengan Siwon, tidak peduli jam berapa. Hanya saja bagaimana Tiffany bisa? Hanya Taeyeon yang mengetahui semua permasalahan yang sedang Tiffany hadapi. Awalnya dia tidak ingin membagi nya dengan siapapun, tapi dia butuh tempat untuk mencurahkan semua isi hatinya.

Tiffany mengambil tumpukan catatan yang telah Siwon tulis dan memasukkannya ke dalam saku, bersama dengan Iphonenya. Mengambil kunci mobilnya, Tiffany melihat ke sekeliling kamarnya untuk yang terakhir kali dan menutup pintu. Tiffany belum jauh mengemudi sebelum dia terpaksa berhenti.

Dia berbelok ke pinggir jalan dan mematikan mesin, terengah-engah saat kepedihan datang bergelombang, melonjak dari hatinya, menimpa tubuhnya, membuat dirinya terguncang dan limbung. Tiffany ingin seseorang untuk memeluknya dan memberitahunya bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak ada seorangpun.

Siwon mencintainya, dia tahu Siwon mencintainya, tapi sekarang tidak. Sebaliknya, Siwon melakukan hal terburuk yang dia bisa untuk menunjukkan betapa dia membenci Tiffany. Tiffany menyandarkan kepalanya pada roda kemudi. Apa yang akan dia lakukan?

Ketika sudah menenangkan diri, Tiffany melaju keluar dari Seoul tanpa tujuan di kepalanya. Dia pikir semakin jauh dia mengemudi, semakin baik pula perasanya, tapi hal itu malah menumbuhkan rasa kesia-siaan di hidupnya yang meratakan pikirannya. Mungkin memiliki rumah dan semua isinya tidak seharusnya menjadi jalan Tiffany yang lain.

Gagasan bahwa siapa pun pernah bisa mencintainya atau akan mencintainya, kemungkinannya sama seperti dirinya melakukan perjalanan ke ruang angkasa. Dia telah memberikan hatinya pada Siwon dan Siwon menghancurkannya.

Dan dia marah pada Siwon karena itu seharusnya tidak seperti itu. Belum lagi, rasa sakit di dadanya yang membuatnya tidak mampu mengemudi. Dia tidak aman di jalan. Dia tidak ingin menyakiti siapa pun. Berhenti di tempat parkir Burger King, Tiffany meringkuk di kursi belakang, matanya terbuka lebar, takut bila dia tidur, dia mungkin tidak akan pernah bangun.

 

Di pagi hari, Tiffany membeli sebotol air dari restoran dan membawanya kembali ke mobil. Tidak ada yang mengenalinya karena dia memakai topi baseball milik Yuri dan masker. Dia tidak menginginkan apapun untuk dimakan. Tidak lapar. Tiffany mundur keluar dari tempat parkir, dan dia meletakkan kakinya di pedal gas dan bergerak maju.

 

 

***

Siwon membaca koran sambil duduk di luar di teras Apartemennya. Liu Wen telah terbang kembali ke China. Siwon berharap tidak pernah melihatnya lagi. Dia sudah pasti tidak akan pernah setuju untuk bekerja dengannya pada pekerjaan lain.

Siwon mendapatkan pesan dari Taeyeon yang menjelaskan semua yang terjadi antara Tiffany dan Min Ho. Taeyeon juga menjelaskan kalau Tiffany tidak pergi ke Malibu melainkan California. Dan tentang Nichkhun, Tiffany hanya bertemu tidak sengaja ketika dia berada disebuah pusat belanja. Tiffany bahkan menolak saat NichKhun mengajaknya makan Siang karena dia benar benar menghormati kecemburuan Siwon.

Siwon menggegam erat Iphone nya, dia mendidih. Untuk kedua kalinya dia dijebak, Ya Siwon meminta pada manager nya untuk menyewakan detektif. Dan Siwon mulai paham Siapa dalang dari semua masalah ini.

Dan saat Siwon membaca ulang, dia menyadari bahwa dengan tidak mempercayai Tiffany, dia membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Siwon mencoba meneleponnya, namun ponselnya mati, telepon dorm tidak tersambung. Dia melaju ke Dorm SNSD dengan jantung berdebar-debar dan kemudian menekan jarinya pada bel interkom. Suara Taeyeon menjawab.

“Aku mencari Tiffany. Apa dia ada?”

“Tidak. Dia tidak ada. Aku tidak melihat nya kembali setelah dia berpamitan ingin menemui mu” jawab Taeyeon lesu, dia masih berdiri dibalik pintu, tanpa menyuruh Siwon untuk masuk kedalam.

Siwon mendorong pintu terbuka, Dia menerobos masuk ke dalam dan bergegas ke kamar Tiffany. Dia tahu Tiffany tidak ada, namun dia harus melihatnya sendiri.

“Apa yang Oppa lakukan?” Taeyeon mengikuti langkah Siwon. Siwon mengabaikannya. Dia membuka lemari, laci, lemari pakaian, tapi semuanya kosong.

“Tiffany pergi, tidak ada satu pun barang yang tersisa” mata Siwon menatap Taeyeon penuh ketakutan.

Tangan Taeyeon terangkat untuk menutup mulutnya, dia juga begitu terkejut mendengar ucapan Siwon “Maldo andwae, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Sehingga membuat Tiffany pergi” mata Taeyeon memerah menahan tangis.

“Dia menyakiti ku tapi aku lebih menyakitinya karena tidak mempercayai kebenaran yang dia ucapkan” Siwon menyandarkan tubuh besarnya dilemari pakaian Tiffany.

Taeyeon pergi kekamarnya untuk menelpon, Siwon tidak tahu siapa yang akan Taeyeon hubungi saat ini. Sementara Taeyeon pergi kekamarnya, Siwon berjalan ke tempat tidur.

“Oh Tiffany, di mana kau?” Bisiknya.

Dia berlutut di tempat tidur, menjatuhkan wajahnya dan menghirup. Dia masih bisa mencium aroma Tiffany. Sabun yang dia pakai, sampo beraroma lemon. Tangannya meluncur ke bawah bantal, menariknya lebih dekat dan dia merasakan logam terhadap pergelangan tangannya. Dia menarik tangannya dan melihat bintang perak. Itu kalung yang Siwon berikan setahun yang lalu ketika Tiffany berulang tahun. Tiffany meninggalkannya? Itu artinya Tiffany sudah melepaskan nya. Bantal jatuh dari jari-jarinya. Ketika Siwon bangkit dan berbalik menghadapnya, Siwon menggenggam kalung itu di kepalan tangannya.

“Apakah kau sudah tahu di mana Tiffany?” Tanya Siwon, saat pintu terbuka. Taeyeon menggeleng dan bahu Siwon merosot.

“Kapan terakhir  kali kau bertemu dengan Tiffany?” Siwon duduk dan kemudian bangkit lagi. Dia mulai panik.

“Dia pergi menemuimu malam itu, dia bilang manager mu menyuruhnya datang atas perintah mu.” Taeyeon memulai cerita.

“Hyun Woo?” tanya Siwon dan menyaksikan mereka berdua bertukar pandang.

“Ya, Tiffany sangat bersemangat ingin bertemu dengan mu. Berharap kalian dapat kembali bersama, dia sangat menyesal dan Tiffany sadar, Oppa lah cinta sejatinya” kata Taeyeon.

Siwon merasakan segalanya runtuh di sekelilingnya, seolah-olah dia berdiri di tengah gempa bumi sementara bangunan hancur di bawah kakinya.

“Tiffany kesal karena kau berpikir dia pergi ke Malibu bersama Nichkhun. Malam itu saat kau menyuruh nya datang, Dia ingin menjelaskan semuanya padamu kebenaran yang terjadi karena yang detektif sewaan mu katakan semuanya salah dan sejak itu aku belum melihatnya. Dia seharusnya menelepon dan memberitahu apa yang terjadi, tapi dia tidak. Aku berharap kalian bersama-sama, tapi sepertinya aku salah.”

“Oh Tuhan..” Kaki Siwon menyerah dan dia jatuh ke tempat tidur.

“Tiffany tidak menjawab teleponnya” kata Taeyeon. “Aku sudah mengirim pesan tapi dia tidak membalas.”

Taeyeon menggenggam tangannya sendiri. “aku khawatir tentang dia, tapi aku tidak tahu dia pergi kemana.”

“Ke mana dia pergi? Apa Oppa tahu ke mana Tiffany pergi sebelumnya?” Tanya Taeyeon.

Siwon bersemangat. Tiffany terakhir pergi kerumah pantai bersamanya dan California atau Malibu beberapa minggu lalu. Siwon melompat berdiri.

“Mungkin California atau Malibu. Aku bisa mencarinya.”

“Oppa, sudah aku bilang Tiffany tidak pergi ke Malibu. Apa yang detektif mu katakan adalah bohong” Taeyeon ikut berdiri didepan Siwon.

“Ya” kata Siwon dengan suara suram. “dia bisa melakukan hal itu.”

“Apa Oppa menjalin hubungan dengan Liu Wen?” tanya Taeyeon dengan hati hati.

“Tidak, kami tidak memiliki hubungan apapun.” Jawab Siwon dengan tegas.

“Tiffany sangat kecewa ketika melihat Liu Wen berada diApartemen kalian” Taeyeon bergumam dengan lesu, teringat ketika Tiffany menceritakan semuanya dengan hati yang terluka.

“Malam itu dia baru saja datang ke Korea dan membutuhkan penginapan. Dia menginap di Apartemen tapi aku piulang ke dorm” melihat Liu Wen yang mengenakan jubah mandi nya dan berada didalam kamarnya pasti membuatnya salah paham, Siwon menyesal. Dia tidak memperdulikan hati kekasihnya lagi pada saat itu karena emosi yang sudah membuncah.

 

 

***

Siwon datang kerumah manager nya dan menggedor pintu nya beberapa kali. Ketika Hyun Woo membuka pintu, Siwon menerobos masuk ke dalam.

“Aku baru saja akan meneleponmu. Aku sudah mendapat telepon dari MBC. Kau pasti sudah mengesankan mereka, Siwon. Mereka ingin kau memerankan-“ Hyun Woo berhenti.

Siwon memelototinya.

“Apa kau tidak senang?” Tanya Hyun Woo

Siwon tertawa singkat. “Aku bertanya-tanya mengapa mereka memilihku.”

“Karena kau seorang aktor berbakat?”

“Apakah kau tahu peran sialannya? Dan perlu kau ingat aku bukan aktor besar yang berbakat, aku salah satu member Boy band” Siwon berjalan tidak bisa diam.

“Ada apa denganmu sekarang?” Tanya Hyun Woo.

“Aku butuh nama tempat tinggal Tiffany di Malibu.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus menemukannya. Aku salah. Dia datang ke Dorchester untuk menjelaskan semuanya hanya saja aku tidak memberinya kesempatan.”

“Lupakan dia, Siwon. Kau sedang menuju ke atas, bukan ke bawah.”

Siwon berhenti bergerak. Ada keheningan panjang sebelum dia bicara.

Hyun Woo tidak mengatakan apa-apa, namun Siwon melihat rahangnya yang menegang.

“Aku tahu! Aku benar-benar tahu, kau menjebak ku. kau membiarkan Tiffany naik dan melihatku berada didalam kamar hotel dengan Liu Wen.” Siwon bergetar oleh amarah.

“Kami—” Hyun Woo memulai.

“Kau dan Liu Wen yang mengaturnya. Aku bertanya-tanya mengapa dia tidak bicara apapun saat kami tiba di kamar. Kau luar biasa, kalian berdua.” Siwon menggelengkan kepalanya dengan bingung.

“Kau biarkan aku berpikir Tiffany mengkhianatiku. Bukankah kau menginginkan aku bahagia?”

“Kau bahagia dengan Liu Wen.”

“Tidak, kau yang bahagia jika aku dengan Liu Wen. Apa yang kau dapatkan dari itu, hoh? Dia akan masuk agensi paman mu jika kau bisa membuat dia menjadi kekasihku?”

“Kau bertingkah gila. Kau harus tenang, Siwon. Mungkin semua ini adalah untuk yang terbaik. Tiffany jelas tidak setia, dia—”

“Di mana dia tinggal di Malibu?” Tuntut Siwon.

“Aku tidak yakin.”

“Berikan padaku nomor telepon detektif itu.”

“Dengar, jika dia tidak ingin ditemukan, dia tidak akan kembali ke tempat yang sama.”

Siwon melangkah maju dan Hyun Woo mundur.

“Berikan padaku nomor sialan itu.”

“Aku tidak mempekerjakan siapa pun.”

“Mwo?” Pekik Siwon.

“Tidak ada gunanya” jelas Hyun Woo santai. “Dia—” Siwon mengepalkan tinjunya.

Hyun Woo tidak tahu seberapa dekat dia akan membutuhkan gigi baru.

“Kau berbohong padaku. Kau mengenakan biaya untuk sebuah perusahaan penyelidik swasta yang tidak pernah kau sewa? Benar. Itu dia. Kita selesai.”

Siwon berjalan lambat dan kemudian kembali. “Kau tahu hal apa yang benar-benar gila? Kupikir kau temanku. Kupikir setidaknya aku bisa mengandalkan agensiku.”

“Aku selalu bertindak untuk kepentingan terbaikmu,” desak Hyun Woo.

“Berhenti berpura-pura. Kau bertindak untuk kepentingan terbaikmu. Selalu. Kau monster sama sepert Kim Young Min.”

Siwon melangkah sehingga wajahnya seinci dari wajah Hyun Woo. “Bilang pada paman mu, aku tidak akan membalas perbuatannya padaku dan Tiffany. Tapi kita selesai, aku dan Tiffany tidak akan berada diAgensi ini lagi”

Kemudian Siwon bergegas pergi.

Tapi begitu dia berdiri di luar rumah Hyun Woo, dia tidak tahu ke mana harus pergi. Dia begitu yakin Hyun Woo akan memberinya alamat, dia tidak berpikir di luar itu. Dia kembali ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

 

Siwon tidak tahan untuk mengendarai mobilnya. Dia memutuskan menepikan mobilnya. Siwon menunduk ke roda kemudi dan mulai menangis. Ini salahnya. Dia tahu Tiffany seperti apa. Tiffany lari dari masalah karena dia takut kehilangannya. Tiffany tidak ingin menghadapinya, namun terlepas dari semua itu, Tiffany mencoba untuk bicara padanya, dua kali. Yang pertama Siwon melemparkan tas padanya, melukai wajahnya yang cantik dan menyuruhnya untuk pergi dan menyelesaikan apa yang dia mulai.

Tiffany masih belum menyerah pada Siwon. Tapi di waktu lain, Tiffany masuk ke kamar hotel dan melihatnya bersama Liu Wen.

Ya Tuhan, apa yang dia lakukan?  Siwon tidak bisa tahan untuk memikirkan orang lain selain dia memeluk Tiffany, mencintainya. Siwon telah menghancurkan satu-satunya hal baik yang dia punya. Aku mencintainya. Dia memikirkan tentang saat-saat dia memeluk Tiffany dan mencoba untuk menghidupkan kembali momen-momen itu, tapi mereka lolos dari jari-jarinya seperti tali sutra. Dia menyedihkan.

Siwon duduk tegak dan menatap ke depan. Ponsel berdering dan dia menyeretnya dari sakunya. Bukan Tiffany.

“Halo” gumamnya.

“Bagaimana kabarmu, Siwon?” Tanya Ayahnya.

“Aku baik.”

“Aku mendapat telepon.” Jantung Siwon yang bekerja terlalu keras meluncur.

“Dari Tiffany” kata Tn.Choi.

“Apa?” Air es bergelombang melalui pembuluh darah Siwon.

“Mengapa dia menghubungi Appa? Kapan?” tanya nya bertubi tubi.

“Beberapa hari yang lalu. Eomma mu sedang tidak ada jadi dia bicara pada Appa.”

“Apa yang dia katakan?” Siwon mendengar keragu-raguan dalam suara Ayahnya.

“Tentang berpisahnya kalian, aku sedih mendengarnya. Apa yang terjadi antara kalian? Apa yang bisa Appa lakukan agar kalian kembali bersama?”

“Tiffany pergi dan aku harus menemukannya” Siwon menghembuskan nafas kasarnya.

“Dia seorang wanita dewasa, Siwon. Dia pergi untuk memulai kehidupan baru, ingin melupakan mu tapi dia tidak bisa.”

“Appa, katakan padaku kemana Tiffany pergi?” Siwon mendesak Tn.Choi

“Dia dirumah pantai tempat kalian terakhir berlibur. Pergilah kesana, dan bawa menantuku pulang”

“Oh Tuhan.. Appa terimakasih, aku akan membawanya pulang. Aku janji”

 

 

***

Tiffany duduk di atas pasir, menatap laut berwarna hijau lumpur. Cuaca sangat menyedihkan, langitnya bernuansa abu-abu. Tiffany berharap dia bisa menghapus awan dan menemukan semburat biru kecil.

Sekarang mulai gerimis dan burung-burung camar terbang menjauh. Tiffany menarik jarinya yang kedinginan ke dalam lengan sweter pink nya. Apakah dia sudah berusaha cukup keras untuk menempatkan segala sesuatu dengan benar? Dia pikir begitu. Dia meletakkan tangannya di saku dan mengeluarkan gumpalan catatan yang telah Siwon kirimkan untuknya. Beberapa lipatan yang cekatan dan Tiffany merubahnya menjadi sebuah perahu kecil. Dia melemparkannya ke laut.

Lima belas menit kemudian, ada perahu kertas kuning tergeletak di pasir. Air telah menjangkau beberapa dari mereka dan membanjirinya. Dia menyaksikan gelombang-gelombang datang dan bertanya-tanya apakah itu air yang sama yang terus-menerus terdorong kembali ke pasir, mencoba merangkak naik ke pantai sebelum menyusut. Segera, itu akan mencapai semua kapal kertas kecil dan kemudian akan mencapai Tiffany. Mungkin dia harus membiarkan laut menelan dirinya dan segala sesuatu yang salah dengannya.

Ada kenyamanan yang aneh dengan tidak memiliki apapun yang tersisa. Koper dengan sisa-sisa pakaiannya berada di bagasi mobil. Dia masih memiliki Iphone nya. Tiffany mengeluarkannya dari sakunya. Dia tidak menghidupkannya selama berhari-hari. Dia menekan tombol kecil di bagian atas dan menghapus panggilan tak terjawab dan pesan tanpa memeriksanya.

Dia tidak lagi tertarik pada apa yang orang katakan.

Tiffany mengetik satu pesan, tapi tidak mengirimkannya.

Untuk Siwon Oppa,

Maaf kita kehilangan satu sama lain.

Pink piggy mu

Tiffany menghapus emoticon ciumnya.

Kemudian meletakkannya kembali. Dia menempatkan Iphone tegak di pasir diantara dirinya dan gelombang. Setelah beberapa saat, lampu pada layar mati. Beberapa perahu kertas yang lain berjuang dalam gelombang.

 

 

 

Bahkan dengan tubuh Tiffany yang memunggunginya, Siwon tahu itu adalah Tiffany. Siwon tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika Tiffany tidak ada di sana. Pikiran bahwa dia datang terlambat hampir melumpuhkan dirinya. Siwon berjalan di bagian puncak pantai sampai berada tepat di belakang Tiffany yang melihat ke bawah dari sebuah bukit pasir. Tiffany tidak akan mendengarnya di atas kegaduhan laut. Tiffany dikelilingi oleh segitiga kertas kuning dan ponselnya berdiri tegak di pasir di depannya. Siwon mengambil ponsel dari sakunya dan mengetik pesan.

Tiffany tersentak ketika ponselnya menyalah. Untuk beberapa saat, dia hanya duduk di sana, dan kemudian Siwon melihatnya meraih dengan sangat lambat dan mengambilnya.

Larilah bersamaku…

Dia menunggu untuk melihat apa yang akan Tiffany lakukan. Siwon benar-benar tidak ingin lebih basah lagi. Dia mengirim pesan lagi.

Sekarang!!!

 

Tiffany berbalik. Pada momen berhentinya jantung yang sangat singkat, Siwon pikir dia melihat senyum di wajah Tiffany yang kemudian menghilang. Saat Siwon berjalan ke arahnya, Tiffany bangkit berdiri. Siwon ingin lari dan menarik Tiffany ke dalam pelukannya tetapi dia takut Tiffany akan mendorongnya pergi. Itu apa yang pantas dia dapatkan. Siwon berdiri di depannya. Dia memiliki begitu banyak dalam dirinya yang ingin dia katakan, dan sekarang dia menemukan dirinya tidak bisa bicara.

Tiffany berkedip, dan dia masih ada di sana. Siwon mengulurkan tangannya dan membuka jari-jarinya. Ingin menyentuh tapi diurungkannya.

“Maaf” katanya.

Tiffany tidak bisa mengatakan apakah air di wajah Siwon datang dari matanya atau dari air hujan.

Siwon membuka tangannya yang lain dan di sana terletak bintang perak yang Tiffany ditinggalkan di bawah bantalnya.

Dia maju selangkah lebih dekat, dan Tiffany beringsut mundur. Tiffany melihat bahu Siwon sedikit merosot, dan kemudian dia menegakkan tubuh dan menatap langsung ke arahnya.

“Aku datang untuk menyelamatkanmu” kata Siwon. “Aku siap untuk membunuh naga, mengusir bajak laut dan mencekik rumput laut.”

Tiffany berpikir sejenak. “Bagaimana kalau melawan hiu?”

Siwon menarik bibirnya menjadi garis tegas. “Eh, tidak. itu tidak dalam tugasku. Jika kau bertemu seekor hiu, kau yang menghadapinya sendiri.”

Siwon mengambil langkah lebih dekat dan kali ini Tiffany berdiri di tempat.

“Jadi, apa kau sering datang ke sini?” Tanya Siwon.

“Hanya ketika aku perlu diselamatkan, tapi jika kau tidak bisa menghadapi hiu, mungkin kau tidak ada gunanya bagiku.”

“Aku hanya bercanda tentang hiu. Panggil dia keluar. Aku tidak akan pernah membiarkan apapun menyakitimu.”

“Kau tidak bisa menjanjikan itu, Oppa.”

Siwon menarik kerah baju Tiffany dan mengusap air hujan dari matanya.

“Kalau begitu aku berjanji aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Aku tahu aku mengecewakanmu dan aku minta maaf. Aku seharusnya mempercayaimu.”

“Bagaimana dengan Liu Wen?”

Tiffany menatap lurus ke arahnya. Tatapan Siwon tidak berkedip dari tatapannya.

“Dia sudah kembali ke China.”

“Jadi, apa—?”

“Aku tidak berkencan dengannya, Tiff. Dia dan Hyun Woo yang mengaturnya sehingga kau menemukan kami. Aku mendengar dering telepon dan kukira itu adalah sinyal untuk—” Siwon berhenti.

“Tapi Oppa akan melakukan itu.”

Siwon menunduk. Tiffany melihat rasa malu di wajahnya. Tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya.

“Mengapa Hyun Woo melakukan itu? Apa yang telah aku lakukan?” Tanya Tiffany.

“Tidak ada. Kau tidak melakukan apapun. Kupikir Liu Wen bilang pada Hyun Woo dia akan bergabung ke SM jika dia memasangkan kami bersama lagi. Aku bahkan tidak menyukai Liu Wen. Maafkan aku. Tolong katakan padaku kau memaafkanku.”

“Mengapa Oppa berada didalam kamar dengannya jika Oppa tidak menyukainya?” Siwon mengangkat kepalanya.

“Karena aku terluka, karena aku ingin melupakanmu, karena tanpamu aku lemah.”

“Aku tidak ingin seseorang yang lemah.”

“Kau membuatku kuat.” Tiffany mendengar maksud tersembunyi dalam suaranya. “Aku sudah melakukan satu hal yang baik. Aku memecat Hyun Woo. Dia tidak punya hak untuk memanipulasiku seperti itu, tapi yang lebih penting lagi dia tidak punya hak untuk menyakitimu.” Siwon melarikan tangan ke rambutnya yang basah.

Tiffany tersenyum kecil.

“Hyun Woo sudah keterlaluan, Tiff. Dia hampir mengorbankan segala sesuatu yang aku sayangi.” Siwon menatapnya, matanya redup.

Siwon melihat ke arahnya, bayangan hitam di bawah matanya, putus asa di seluruh wajahnya.

“Biarkan aku membawamu kedalam, membuatmu hangat dan kering. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini, Tiff. Aku…” Dadanya terangkat. “Aku takut untuk menyentuhmu karena jika kau berjalan menjauh dariku, aku tidak akan pernah bisa meninggalkan pantai ini.”

Tiffany tahu dia yang harus melakukan langkah pertama. Hanya satu gerakan yang dia ingin lakukan sejak pesan itu muncul di ponsel dan berbalik untuk melihat Siwon berdiri di depannya. Tiffany membuka tangannya dan cahaya di mata Siwon meledak menjadi api yang indah. Siwon jatuh ke pelukannya.

“Maafkan aku” isaknya. “Aku mengacaukannya, dan aku kira aku kehilanganmu.” Dia mencengkeram begitu erat, Tiffany hampir tidak bisa bernapas.

Siwon menekan wajahnya ke rambut Tiffany, kemudian mengangkat kepalanya dan mengangguk ke arah air.

“Perahu-perahu kecil apa itu?”

“Catatan yang Oppa kirim dan Oppa tempel di dindingku.”

“Oh, Tuhan. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi, aku janji.”

Dia memegang kepala Tiffany di tangannya dan menatap matanya. “Katakan bahwa kau memaafkanku.” Lanjutnya.

“Apakah Oppa benar-benar mau menaklukkan Hiu?”

“Dalam sekejap.” Ucap Siwon sombong.

“Bahkan jika ada satu yang melompat-lompat menyusuri pantai, sekarang?”

Siwon berhenti. “Tidak ada satupun yang melompat-lompat ke pantai sekarang, ya kan?”

Tiffany memeriksa melalui atas bahunya. “Tidak.”

“Maka ya, pasti.”

“Oke, kalau begitu” kata Tiffany. “Aku memaafkanmu, jika Oppa memaafkanku karena kebodohan ku.”

“Tapi aku tidak seharusnya—”

Tiffany meletakkan jarinya di bibir Siwon. “Maafkan aku.”

Siwon tersenyum. “Aku memaafkanmu.”

Kemudian Siwon menciumnya, menyapu bibirnya dengan ragu- ragu terhadap bibir Tiffany berulang-ulang sampai Tiffany menggigitnya dengan giginya untuk membuatnya berhenti. Siwon mengerang, Siwon mencium dan menggoda, mendaratkan ciuman di seluruh wajahnya, menjilati hujan sampai kepala Tiffany semendung langit.

“Aku mencintaimu aku mencintaimu aku mencintaimu aku mencintaimu” bisiknya, memeluk Tiffany erat.

“Hanya empat kali?”

“Aku kehabisan napas. Ketika kita berciuman, kau mengisap semua udara dari paru-paruku.”

Siwon menghapus setetes hujan dari hidungnya. “Tapi ketika aku bersamamu, aku merasa sangat hidup. Kurasa aku tidak ingin berakting lagi. Aku ingin menjadi diriku. Aku ingin melakukan sisa hidupku denganmu. Aku ingin membantu membuat hidupmu menjadi apa yang kau inginkan. Di atas segalanya, yang aku inginkan adalah membuatmu bahagia.” Siwon membelai pipinya.

“Maukah kau membiarkanku mencoba untuk membuatmu bahagia?” ulang Siwon.

“Oh Tuhan, Oppa.” Tiffany menelan isaknya.

Siwon tersenyum. “Hal pertama yang akan aku lakukan adalah membuat hujan berhenti.”

“Dan bagaimana—oh.” Tiffany tertawa saat hujan mereda. Siwon membungkuk.

“Hal kedua yang akan aku lakukan adalah menyediakan transportasi yang menyenangkan menuju kedalam rumah. Di punggungku.”

Tiffany melompat dan Siwon terhuyung.

“Hei, aku tidak melemparkan diri padamu. Aku benar-benar berhati- hati” kata Tiffany sambil tertawa.

Siwon memegangnya erat-erat dan mulai berlari-lari kecil menuju rumah. Pada saat mereka sampai, dia melambat untuk berjalan dan hujan sudah berhenti.

“Apa hal ketiga yang akan Oppa lakukan?” Tiffany meluncur turun dari punggungnya.

“Membuat langit menjadi biru.”

Tiffany mengangkat alisnya dan mereka tertawa bersama.

 

Ketika pintu terbuka di depan mereka, Siwon menurunkan Tiffany. Tiffany menarik napas gemetar dan Siwon mencengkeram tangannya.

“Apa kau ingin rumah ini menjadi rumah kita?” tanya Siwon. “Kita bisa mencari tempat yang lain, memilihnya bersama-sama?”

Jantung Tiffany membengkak hingga nyaris pecah. “Rumah adalah di mana pun kau berada. Ini adalah rumah yang indah, Oppa dan aku akan suka tinggal di sini. Apalagi karena aku benar-benar tidak memiliki tempat tinggal saat ini. Aku meninggalkan dorm.”

“Masih ada Apartemen kita.” Tiffany menatapnya dan tersenyum lebar.

Siwon tertawa saat mereka naik dan masuk kedalam kamar “Mandi, tidur atau hadiah ulang tahun?” Tanya Siwon.

“Hadiah?”

Siwon mendengus. “Aku akan mencoba untuk tidak marah bahwa kau lebih suka memiliki hadiah daripada meringkuk ketempat tidur denganku. Itu ada di ruang musik.”

Dia meraih tangan Tiffany, menariknya menyusuri koridor dan membuka pintu. Lantainya ditutupi dengan kertas coretan, semuanya kecuali satu tempat di samping piano di mana potongan persegi kayu lapis diletakkan. Di tengah papan terletak sebuah kotak besar, dibungkus dengan begitu berantakan, Tiffany tahu Siwon yang melakukannya sendiri. Tiffany bertanya-tanya apakah itu sudah ada sejak malam dia melarikan diri ketempat ini? Apa Siwon berniat mengajak nya kembali ketempat ini?

Tiffany berlutut dan merobek kertas untuk membuka sebuah kardus besar berisi boneka babi pink raksasa dan tiga anak nya yang lucu lucu. Didada boneka babi pink itu ada huruf besar SFF. Tiffany tersenyum, itu artinya SiFany Forever.. oh Tuhan, dia sudah lama sekali menantikan boneka babi pink ini dan Siwon memberikan untuk nya, hadiah ulang tahun yang sudah terlewatkan beberapa minggu. Mulut Tiffany kering dia tidak bisa berkata apapun, dia hanya memeluk boneka barunya dan senyum tidak luntur diwajah cantiknya.

Siwon duduk di depan piano, menggerakkan jari-jarinya di atas tombol dan kemudian mulai bermain. Setelah beberapa bar, dia mulai menyanyi dan Tiffany berbalik untuk menatapnya. Suaranya mengirimkan getaran ke tulang belakang Tiffany dan membungkus dirinya dalam pelukannya.

Siwon menatapnya sambil bernyanyi dan Tiffany harus mengedipkan kembali air matanya. Itu adalah lagu ciptaan Siwon Don’t Leave Me, lagu tentang kehilangan, tentang dia dan Tiffany. kesalahan yang mereka buat dan betapa dia tidak tahu apa mereka akan pernah menemukan satu sama lain lagi.

 

I didn’t comfort your smallest disappointments or sadness

I’m sorry, I’m sorry baby..

We’re locking eyes today and I have something to tell you

I wish this was a dream, if this a dream, stop right there

Don’t leave me, don’t leave me

I call out to you even in my sleep, I’m still hurting…

 

Saat nada terakhir yang bergema menjadi samar dan berhenti, Tiffany berdiri dan berjalan untuk berdiri di belakang Siwon. Dia menyelipkan tangannya di atas bahu Siwon dan menyilangkannya di atas dadanya.

“Kuharap Oppa menemukan anjingmu yang hilang” bisiknya dan Siwon bergidik. “Dan kau sedikit tidak selaras di bagian terakhir. Membuatku sangat terganggu.” Untuk sesaat, Tiffany mengira Siwon menangis dan kemudian menyadari bahwa Siwon tertawa. Ketika Tiffany menilai suaranya.

“Kau adalah orang paling kejam yang pernah kukenal,” katanya, cemberut.

Siwon berputar dan membenamkan wajahnya di dada Tiffany, melingkarkan tangannya di pinggang Tiffany. “Meskipun kau adalah orang yang paling kejam yang kukenal, aku masih mencintaimu.” Dia mencium kening Tiffany.

“Dan meskipun Oppa tidak bisa bernyanyi dengan merdu, aku mencintaimu” jawab Tiffany.

Siwon mencium lembut di hidungnya.

“Oppa bisa bernyanyi lagi jika Oppa suka” kata Tiffany. “Oppa pasti akan lebih baik dengan berlatih.”

“Apa saran kecil itu berlaku untuk semuanya?” Siwon menggigiti telinga Tiffany dan Tiffany meringis.

“Oppa bisa jadi lebih baik” kata Tiffany dan menjerit ketika Siwon menggigitnya lebih kuat.

“Tidak ada lagi rahasia” bisik Siwon.

“Oppa tahu segalanya tentangku.” Dan itu benar, pikir Tiffany.

“Dan kau tahu segalanya tentangku” kata Siwon.

“Dan aku masih mencintaimu. Sungguh menakjubkan.” Balas Tiffany.

Siwon mencium lehernya. “Aku ingin mengajakmu berlibur. Ke suatu tempat yang tidak ada hujan. Kemana kau ingin pergi? Pilihlah di mana saja di dunia.”

“Gurun Gobi.”

“Pilih tempat yang lain di dunia ini.”

Tiffany ragu-ragu. “Hawaii?”

Siwon mengangkat pandangannya dari leher Tiffany. “Aku tidak akan mengecewakanmu, sayang. Aku ingin memberimu dunia.”

“Aku hanya menginginkan Oppa. Oppa adalah duniaku.”

Tiffany bisa merasakan jantung Siwon berdebar keras di bawah tangannya.

“Tiffany?”

Siwon menatap matanya. Siwon merayap ke lantai dan berlutut di depannya, memegang tangannya.

“Aku ingin menemukan tempat yang tepat untuk melakukan hal ini, momen yang sempurna. Aku mengacaukannya saat mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu dan aku tidak ingin ini menjadi salah juga. Hanya saja aku menyadari bahwa aku tidak perlu menemukan momen yang sempurna karena kau yang membuat momen menjadi sempurna. Jadi…Tiffany Hwang, Hwang Mi Young, wanita yang aku cintai lebih dari hidupku, bersediakah kau melakukan kehormatan yang sangat besar untuk menjadi…orang yang akan memasakkanku sesuatu yang lezat untuk dimakan, yang akan menghiburku ketika aku sedih, yang akan mengatakan tidak padaku dan bersungguh-sungguh, yang akan memelukku saat tidur setiap malam, mungkin setiap malam yang lain, yang akan mencintaiku selama-lamanya—sial, aku lupa apa yang akan kukatakan sekarang.” bahu Tiffany bergetar saat dia tertawa.

“Oh ya, itu dia. Maukah kau menikah denganku?”

Siwon menatap dengan mata gelapnya yang indah dan Tiffany menelan ludah.

Oh Tuhan. “Ya.”

Siwon tersenyum, senyum indah khasnya dan air mata menggenang di mata Tiffany. Siwon berdiri dan menciumnya. Sebuah belaian manis lembut bibirnya terhadap bibir Tiffany. Ketika Siwon menegakkan tubuh, matanya bersinar.

“Aku mencintaimu. Kita akan sangat bersenang-senang. Kita bisa berhenti di Las Vegas di tengah perjalanan ke Hawaii dan menikah” katanya terburu-buru dengan bersemangat. “Tidak ada pers, tidak ada gangguan. Hanya kita.”

“Bagaimana dengan keluarga ku? Bagaimana dengan keluarga Oppa?”

“Mereka akan menyukai Vegas. Mereka bisa ikut bersama kita, hanya saja tidak ke Hawaii. Aku menginginkanmu untukku sendiri, disana.”

“Bagaimana dengan teman teman kita?”

“Aku juga akan menerbangkan mereka.”

Tiffany tertawa. Siwon menariknya keluar dari ruangan menuju tangga..

“Kau detak jantungku, udara di paru-paruku. Kau membuatku merasa aman. Aku tidak ingin hidup tanpamu. Aku ingin menghabiskan hidupku membuatmu bahagia. Aku ingin kita bertambah tua bersama-sama dan ketika kita mati, aku ingin kita mati dalam pelukan masing-masing, karena aku tidak bisa hidup di dunia tanpa ada kau di sisiku.”

“Oppa tidak menyisakan apapun untuk ku ucapkan.” Tiffany meraih dan mengelus pipi Siwon.

“Aku ingin—”

Tiffany meletakkan jarinya di bibir Siwon. “Itu bukan berarti aku tidak ingin mengatakan sesuatu. Aku mencintaimu, Siwon Oppa. Aku tidak pernah berpikir aku bisa mencintai siapapun sebesar ini, dan aku membutuhkanmu juga. Jalanku yang lain membawaku padamu. Akhirnya aku ada di tempat dimana seharusnya aku berada.”

“Di tempat tidurku dan di kamar mandiku dan—”

“Jangan bilang di dapur” kata Tiffany padanya.

“Dalam hatiku.” Siwon tersenyum.

 

***

 

 

EPILOG

 

Seorang anak kecil yang tampan dengan mata bulat yang sangat bersinar tengah berlari kecil menendang bola nya kesana dan kemari, sedangkan gadis dewasa dan gadis kecil tengah duduk bersila dan meraup pasir untuk membuat kastil pasir dipinggir pantai.

Melihat anak lelaki yang berlari sangat aktif membuat nya takut, jika bola itu jatuh diatas kastil pasir yang tengah dibuat nya “Letakkan itu. Sekarang” teriaknya, tapi anak itu nampak acuh. Masih menendang bola dengan lihainya.

“Mommy tidak harus memberitahumu dua kali.” Karena sudah diperingatkan berkali kali akhirnya dia menendang bola untuk yang terakhir kalinya “Jangan…oh Tuhan…maksudnya…” Tiffany menyaksikan bola melayang di udara dan mendarat di bangunan kastil pasir setengah-jadi. Gadis kecil didepan nya menyilangkan tangan mungilnya didepan dada dan memberengut kesal.

“Mommy tidak menyebut itu yang namanya meletakkan sesuatu.” Tiffany nampak sedikit kesal, anak itu bukan meletakkan tapi menendang sangat kuat.

“Ke sini…Tidak,  Mommy bilang ke sini, bukan turun ke air.” Tiffany menyuruh nya mendekat untuk memperbaiki kekacauan yang di buat anak laki laki nya itu tapi bukan mendekat dia malah menjauh dan turun kedalam air.

Siwon yang sedang berbaring dengan santai mengenakan kacamata hitamnya pun terganggu dengan teriakan istri tercinta untuk putranya “Daniel, lakukan apa yang diperintahkan. Ke sini.” Siwon menghela napas berat.

Anak laki laki bernama Daniel pun menurut, tapi ketika dia melewati gadis kecil dengan usil tangannya memainkan rambut panjang gadis itu yang tergerai bebas “Jangan ganggu rambut Lauren. dia akan menggigitmu jika kau melakukan itu.”

Selang beberapa detik, gadis kecil yang memiliki eyesmile berdiri dan menarik celana boxer yang dipakai Daniel. Lauren bermaksud membalas keusilan Daniel “Lauren, berhenti berusaha menarik turun celana Oppa.” Pekik Tiffany.

“Daniel!”

“Lauren!”

Tiffany berbalik menghadap Siwon dan mengangkat alis. Sesaat kemudian mereka mengejar kedua anaknya sepanjang ombak. Tiffany menangkap Daniel si lima tahun ke dalam pelukannya dan naik ke bahunya. Siwon melakukan hal yang sama dengan Lauren si tiga tahun. Kedua anaknya menjerit dengan tawa.

Setelah mereka kelelahan menunggangi kuda berkaki dua mereka, Daniel dan Lauren diletakkan di atas selimut untuk makan hidangan piknik yang telah Tiffany siapkan.

“Apa ini sebabnya makanan ini disebut sandwich?” Tanya Lauren, mengambil butiran pasir yang menempel di salah satu sandwich yang dia jatuhkan.

Tiffany mengambilnya dari tangannya dan memberikan padanya sandwich yang lain.

“Bukan, seorang pria bernama Earl of Sandwich yang menemukannya ketika dia terlalu sibuk bermain kartu untuk berhenti memakan makanan yang layak.” Jelas Tiffany

“Mommy, apa kau tahu segalanya?” Tanya Daniel.

Tiffany tertawa. “Ya dan Mommy tahu yang terbaik.”

“Jika kau tahu segalanya, apa yang sedang kupikirkan?” Tanya Siwon, menggerakkan tangannya di atas kaki Tiffany.

“Oppa berpikir betapa beruntungnya dirimu yang memiliki seorang istri dan dua anak yang luar biasa lezat.”

“Kita tidak lezat” kata Lauren.

“Cokelat yang lezat.” Bertindak serempak, Siwon dan Tiffany menelentangkan kedua anak nya dan meniup dengan keras di perut mereka yang menggeliat.

“Lezat” kata Tiffany dan Siwon.

“Grammy” jerit Daniel.

“GrandDaddy!” gema Lauren.

Tiffany mendongak dan melihat Tn dan Ny Choi memegang es krim.

“Siapa yang ingin melihat ubur-ubur?” Tanya Tn.Choi.

Tiffany menggigil kembali ke dada Siwon dan dia melingkarkan lengannya di tubuh Siwon ketika mendengar kata ubur ubur, dia sangat geli dan takut dengan hewan satu itu selain serangga. Daniel dan Lauren berjalan pergi bergandengan tangan dengan GrandDaddy-Grammy mereka dan Siwon mencium leher Tiffany.

“Aku mencintaimu” bisiknya.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga cinta pantai ini.” Siwon mempererat pelukannya pada tubuh Tiffany.

“Di sini bisa saja menjadi akhir tapi malah menjadi permulaan bagi kita. Kau tidak keberatan liburan di sini, kan?” mereka berada di Hawaii, tempat mereka berbulan madu.

Tiffany berbalik dan mengusap jarinya di atas bibir Siwon. “Aku akan pergi ke mana pun denganmu.”

“Apa aku membuatmu bahagia?”

“Ya.”

“Bisakah kau memaafkanku sesuatu?”

“Eh…ya.”

Siwon tersenyum. Dia membawa tangannya dari balik punggung Tiffany dan menggantungkan sepotong rumput laut di depan wajahnya. Tiffany menjerit dan bergegas mundur menjauh dari selimut.

“Oppa—” pekik Tiffany ketakutan.

“Jangan di depan anak-anak.” Ucap Tiffany ketika Siwon akan menciumnya.

Tiffany berbalik. Daniel dan Lauren sedang menyusuri pantai, tapi dari sudut matanya dia melihat Siwon melompat kearahnya. Dia menjepit tubuh Tiffany ke bawah dan menciumnya dan menciumnya.

Mereka adalah orang terakhir yang meninggalkan pantai. Air laut merayap semakin dekat ke tempat mereka duduk..

 

 

Inilah kehidupan Siwon dan Tiffany yang sekarang, Siwon sudah tidak menjadi publik figur, dia bergabung bersama Ayah nya untuk mengurus perusahaan mereka. Sedangkan Tiffany, membuka butik yang baru berjalan tiga tahun. Keluarga mereka semakin lengkap dengan kehadiran dua buah hati yang lucu dan cerdas. Tiffany sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang, walaupun dulu banyak sekali rintangan yang harus mereka lalui untuk mencapai tempat yang sekarang. Mereka bahagia hidup dibalik layar, tanpa campur tangan orang lain, tanpa wartawan yang selalu membuat berita yang tidak akurat, sekarang mereka bebas. Hanya ada mereka dan keluarganya.

Tiffany selalu ingat kata kata yang Ny.Choi berikan untuknya

Tidak ada manusia yang tidak memiliki masalah..

Selalu ada pelangi setelah hujan badai.

Dan ya sekarang Tiffany mendapatkan pelangi yang sangat indah, lebih indah dari apapun. Dia tidak menginginkan apapun lagi, semua nya sudah cukup, dia sangat bahagia memiliki orang orang terkasih disekitarnya…

 

 

 

THE END…

 

 

 

 

Haloo… readers…
gimana? Puas ga bacanya? Sengaja dibikin oneshoot biar feels nya lebih berasa hihi..
sedih Daddy udah pergi wamil, berharap setelah pulang nanti dia bener bener bakal ngelamar Mommy *semoga* ga ngebayangin kalo kisah ini bener bener jadi kenyataan *itu sih maunya*

Terimakasih buat Army, Nicky dan Dewi yang udah kasih ide cerita. Udah kasih support buat ngebikin ini ff, terimakasih juga Nicky untuk poster yang keren ini. kalian emang best friend…

Terimakasih untuk Min Ri yang bersedia ngepost tepat dimana Daddy pergi wamil…
terimakasih juga untuk readers, komentar kalian sangat ditunggu. Karena itu sangat membangun untuk saya…

Okey… bhaayy…

84 thoughts on “(AF) BEAUTIFUL GOODBYE

  1. whoooaaa congratss millo byak yg suka jd baper dn dbikin up n down.hasil kerja kerasmu di apresiasi dg baik.GOOD JOB BOO..!! Yeokshiii Miloo Jjang! trnyata byak yg merasakan ap yg aq rasakan pas ngebaca ni novel kkk ^^

  2. Daebak 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
    Keren bangett thor goodjob deh min
    Sampe baper gini , ikutan nangis pas siwon kecewa sama tiff
    Pokoknya up down up up down feelnya dapet banget thor
    Berharap semoga jadi di kehidupan nyata bakalan kaya gitu
    Ditunggu ff yang lainnya thor 😄😄😄😃😃

  3. AHHHHHHHHHH gilaaaaaa seru sekaliiiiiiiiiiiiii😀
    Berharap ni ff nyata, kalo KhunFany setting and SiFany real… Hihihi #don’tBASH
    Hahaha terlalu berharap.. :v

  4. Aaaaaa kak emil baper bacanya,ini bikin ngarep pake banget abis daddy wamil langsung ngajak mommy nikah terus bikin daniel sama lauren yang asli wkwk,ditunggu next projectnya kak😀

  5. ooooohhhh my god’s daebak kereeeeeeeeennnn parahnya dari baper baperan daddy mau wamil kelar wamil berantem lamaran punya ank and happy ending bnr bnr daebak 👍👍👍👍 dr yg awal baca ngeliat bakalan bosen bacanya krn puaaaaaaaaaaaaannnnnnjaaaaaaaannnggg bgt but finally heppy ever after huaaa keren *kecupsbasah

  6. Sedih bgt ya pas lagi panas panasnya masalah hubungan fany ma siwon hmm feel nya berasa banget dah hehe ffnya bgs ga bs blg apa apa lgi deh

  7. Aigooo baper bgt ak bcany, aplg saat fany mg.ejar mobil yg mbawa siwon wamil 😦😦😦
    Tp syukurlh smya masalah yg mnimpa mereka bsa dselesaikan meski dg cara yg myakitkan dhlu
    Dan.. Ak jd tambah jengkel am liy wen + young min

    Puasssssss bgt bcany.
    Seru hhee plus baper

    Sma. Amiennn siwon daddy bneran ngelamar fNy mommy stlh 2th kdpan

    Next ff sifanyny dtunggu lg

  8. puas bgt bacanya,,,, dari awal backstreet ampe nikah punya anak…. ff komplit
    d tunggu ff yang lain…. berharap tiff yang kuat jangan sedih trusss

  9. Wuahhh…
    Nihhhh ff terpanjang yg pernah aku baca. Nggak bosen kok soalnya d setiap ada scene sifany selalu ada lucunya,senengnya,galaunya,romance nya semuanya ada dan itu yg bikin seru. baru baca juga hehe gpp lahh daripada nggak sama sekali. Keep writing d tunggu karya selanjutnya…

  10. Gak bosan2nya ff yg ini,unnie udah baca berulangkali.hehehe……;-)
    Kenapa sih siwon ampai gitu banget bikin fany sedih dan menangis terus.fany kan bukan sengaja karena kiss ama juniornya Minho,itu dikarenakan fany kesepia kasih sayang siwon.
    Siwon juga sih,napa juga kemakan kelicikan dan jebakan oleh menejernya,ampai tidak mau mendengar penjelasan dari fany,seharusnya siwon percaya ama fany.
    Akhirnya,happy ending dan siwon melamar fany, hidup bahagia dgn kedua buah hatinya.
    Thanks buat saeng dan ffnya juga,saeng daebak.
    Unnie suka ff ini,ada konflik,sad, and romance.
    Saeng jjang and hwaiting.
    Sifany 4ever♡♡♡♡♡

  11. Yaaahhh.. daebaaakkk
    Keren thor
    Jempol lah pkok’a
    Biarlah smua crita ff yg ada di SI ini mnjadi kenyataan
    Ammmiiinnnn…
    Cius dh imagine’a maen bgt
    Berasa real
    Aahhh SIFANY sweet bgt
    Bnr2 tergila2 sm nh couple

  12. Gak bakal bisa move on dari ff ini. Bikin ketagihan asli thor, udah bolak balik baca ff ini tapi gak pernah bosen. Beautiful banget ff nya. Lima belas jempol deh buat author. Berharap fanfic ini real dikehidupan nyata Sifany.

  13. Q pengen ini bkn hanya sebuah cerita..tp menjadi KENYATAAN..semoga dlm kehdupn nyata bs terjadi..ok bgt crtnya..akhrnya bersatu jg q pikir bkln pisah gara2 org ketiga..tp untung happy ending…bt SIWON OPA cpt plg wamil y lgsg lamar TIFFANY UNIE..good job

  14. Dae to the bak, DAEBAK!!!
    konfliknya naik turun, aku sukaa thor ><
    puas sama sifany momentnya, luar biasa sweet. Jinjja aku sampe iri :')
    Happy ending yeah! Tapi kok aku pengen moment first nightnya ya :'v wkwk pengen ada nc nya lol
    But, nice ff!

  15. Huaaaa rasanya nano nano
    Awal2 part bikin diabetes saking sweetnya 😂💕 ,kesini2nya udh mulai ada konflik,tapi untungnya happy ending💕 huaaaa perfect sekali lah,keren,kece,cuco pokok nya
    Semoga mereka REAL aamiin 👼

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s