(AF) The Wills Part 1

THE WILLS

Part 1

The wills cover

Author : @q2lovepink

Main Cast: Choi Siwon, Tiffany Hwang and Jung Jessica

Other Cast: Im YoonA, Cho KyuHyun, Lee Donghae and Kim Taeyeon

Genre  : Romance, Hurt, and Family

Rating : PG (17+)

Length : Chapter

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku, apabila ada kesamaan cerita, ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak disengaja.

So Happy Reading ;)

“Perkenalkan! Ia adalah suami baru eomma.”

“Mwo? Suami baru?” ketiga putrinya terlonjak kaget ketika sang eomma memperkenalkan suami barunya yang jauh lebih muda darinya.

“Eomma!! Appa baru saja meninggal dan kau malah memperkenalkan suami barumu?” sang putri sulung Hwang Jessica, tak percaya dengan apa yang telah terjadi 1 menit yang lalu.

“Apa ini yang menyebabkan Appa meninggal? Appa mengetahui perselingkuhanmu dan ia terkena serangan jantung?” tambah Hwang Tiffany putri keduanya.

“kenapa eomma tega melakukannya?” sang maknae Hwang YoonA ikut menimpali.

“Diamlah! Kalian akan segera tahu jawabannya.” Nyonya Hwang Soo Na ibu mereka, mempersilakan namja yang lainnya yang merupakan pengacaranya untuk ikut duduk bersama mereka. Sementara namja yang tadi diperkenalkann sebagai suami barunya hanya menunduk dalam tak berani menatap ketiga putri istrinya.

Suasana menjadi semakin tegang tatkala pengacara itu mengeluarkan secarik kertas dari tas hitam yang dibawanya.

“Saya akan membacakan surat wasiat yang ditulis langsung oleh tuan Hwang Suk Jin sebelum beliau meninggal.” Ucap sang pengacara memulai pembicaraan. Jessica, Tiffany dan YoonA menatap tajam kearah tiga orang yang tengah duduk dihadapan mereka secara bergantian. Mereka merasa akan terjadi sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Ehem! Saya Hwang Suk Jin menulis surat wasiat ini dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Saya telah menugaskan pengacara Jae Suk untuk membacakannya tiga hari setelah kepergianku. Adapun isi dari surat wasiat ini adalah sebagai berikut:

  1. Istriku Hwang Soo Na harus menikah dengan orang kepercayaanku Choi Siwon.
  2. Choi Siwon akan menjadi CEO menggantikan posisiku.
  3. Seperempat dari hartaku, akan saya berikan kepada ketiga putriku Hwang Jessica, Hwang Tiffany dan Hwang YoonA dengan syarat mereka harus berhasil memajukan anak perusahaanku yang berada di Daegu.
  4. Istriku Hwang Soo Na dan Choi Siwon berhak mengatur seluruh hartaku.
  5. Jika ada yang membantah ataupun menuntut surat wasiat ini, maka ia tidak berhak untuk mendapatkan apapun.

Demikian surat wasiat ini saya buat dengan segala kesadaran dan segala pertimbangan yang telah saya putuskan.” Pengacara Jae Suk memperlihatkan isi surat itu kepada ketiga putri Hwang Suk Jin guna meyakinkan mereka akan keasliannya.

“Ini tidak adil! Kalian pasti telah mempermainkan kami!” Tiffany tampaknya tidak terima dengan keputusan ayahnya.

“Eomma! Ini semua pasti rencanamu kan? Appa tidak mungkin melakukannya!” Jessica naik pitam. Ia juga tidak bisa menerimanya.

“Cukup Jessica!! eomma tidak seburuk itu! Eomma sangat mencintai Appa mu. Kalian lah yang telah memaksanya untuk melakukan semua ini. apa kalian tidak sadar, selama ini kalian selalu berfoya – foya, menghabiskan uang Appa mu, kalian bahkan tidak pernah memikirkan kami. Apa pantas jika Appa mu mempercayakan perusahaan ini pada kalian, heuh? Jawab!!”

“Mianhae eomma,” lirih YoonA pelan.

“Selama ini hanya Siwon lah yang selalu berada disamping Appa mu, ia juga telah berjasa banyak terhadap perusahaan kita. Kalian seharusnya malu padanya! Wajar saja jika Appa mu memberikan perusahaannya pada orang yang lebih dipercayainya, dan itu bukan kalian!” nyonya Hwang juga tidak mampu menahan emosinya, terlebih Jessica dan Tiffany telah menuduhnya.

Jessica sudah tidak tahan lagi, ia berlalu meninggalkan semuanya. Kenyataan ini terlalu pahit baginya. Ia tidak bisa berfikir apa – apa saat ini.

“Unnie, kau mau kemana?” Tanya YoonA cemas, ia pun segera menyusulnya. Sedangkan Tiffany ia masih betah di tempat duduknya menatap namja yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

“Aku ingin bertanya satu hal padamu eomma. Bukankah Appa menyuruh pengacaranya untuk membacakan surat wasiat ini tiga hari setelah kepergiannya? Lalu bagaimana eomma tahu jika Appa menyuruh eomma untuk menikah dengannya?” tatapan tajam Tiffany tidak berubah. Ia tetap tertuju pada namja yang diketahuinya bernama Choi Siwon.

“Sebelum Appa mu meninggal, ia terlebih dulu membicarakannya dengan eomma. Pada awalnya eomma menolak, namun kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Appa mu kan? Ia mengatakan jika ini semua demi kebaikan kita. Choi Siwon adalah namja yang sangat baik, appa mu sangat menyayanginya. Pernikahan ini bukanlah untuk kebahagian eomma, tapi untuk kita semua Tiff,” cairan bening jatuh setetes demi setetes dari mata nyonya Hwang, ia tidak sanggup menahannya lagi.

“Apa ia tidak mampu bicara? Aku juga ingin mendengar jawaban darinya.” Siwon perlahan mendongak dan ia bertemu pandang dengan Tiffany.

“Aku…aku…”sebelum Siwon dapat melanjutkan kalimatnya, nyonya Hwang terlebih dulu menyelanya.

“Sudahlah Tiff, jangan terlalu memaksanya. Ia belum terbiasa dengan kita.” Tiffany tidak mengalihkan pandangannya dari Siwon.

“Aku tidak tahu apa rencanamu Siwon-ssi. Tapi aku berharap kau tidak menghancurkan kehidupan kami.” Ia beranjak dari duduknya dan mendelik sekilas pada eommanya sebelum ia benar – benar pergi dari ruangan itu.

Setelah kepergian Tiffany, Siwon memberanikan diri untuk membuka suara. “Nyonya Hwang, sepertinya aku tidak akan pernah diterima disini.”

“Kau tidak perlu khawatir Siwon-ah, mereka hanya belum bisa menerima kenyataan ini. aku sangat mengenal mereka. Lambat laun mereka pasti akan mengerti, dan satu hal lagi, mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi bisakah kau tidak memanggilku nyonya? Eum..maksudku kau tidak perlu memanggil dengan sebutan yeobo atau semacamnya. Hanya cukup panggil dengan namaku saja. Aku rasa itu akan terdengar lebih nyaman mengingat status kita sekarang.” Siwon tampak berfikir sejenak, namun beberapa detik kemudian ia mengangguk setuju.

 

**Sifany**

“Unnie, apa unnie sudah tahu sebelumnya tentang pernikahan ini?”

“Aniyo,” YoonA dan Jessica yang tidak tahan dengan keadaan di bawah tadi lebih memilih berdiam diri kamar sang sulung. Mereka tidak habis pikir bagaimana bisa ini terjadi.

“Jadi mereka melakukannya tanpa sepengetahuan kita?”

“Seperti yang kau lihat Yoong,”

“Keundeu Unnie, aku belum bisa menerima Appa baru  dirumah ini.” YoonA menundukkan kepalanya sembari memain – mainkan jemarinya. Mereka tengah duduk berdampingan di atas tempat tidur Jessica dengan bersandar pada kepala ranjang.

“Apa kau pikir aku juga akan menerimanya?” YoonA menggeleng lemah, ketika mereka asyik dengan pikiran mereka masing – masing tiba – tiba pintu terbuka dan Tiffany muncul dibaliknya. Ia berjalan cepat dan ikut menghempaskan tubuhnya disamping YoonA.

“Apa yang kau lakukan dibawah? Apa kau berbicara dengan mereka? Cih aku bahkan tidak sudi menatap mereka.” Tanya Jessica tanpa memandang Tiffany.

“Aku hanya ingin tahu apa alasan mereka menikah,” jawab Tiffany datar.

“Bukankah alasannya sudah jelas unnie, appa yang menginginkan mereka untuk menikah.” YoonA ikut berkomentar, Tiffany menolehkan kepalanya menghadap YoonA. Ia sedikit mengangkat salah satu alisnya dan YoonA menatapnya bingung.

“Wae? Itu memang benar kan?”

“Apa kau mempercayainya Yoong? Aku bahkan tidak yakin dengan surat wasiat itu.” Tiffany kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Ia sendiri masih bingung apakah ia harus percaya pada semua yang baru saja terjadi.

“Waktu yang akan menjawab semuanya, sekarang kembalilah ke kamar kalian! Aku ingin istirahat.” Tanpa mempedulikan tatapan heran dari kedua dongsaengnya, Jessica membaringkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut.

“Yak! Unnie!! Kita belum selesai bicara.”

“Pergilah Tiff! Aku lelah.” Perintah Jessica dibalik selimutnya.

“Aish jinjja.. kau ini. ayo Yoong kita pergi! Unnie kita ini tidak akan pernah bangun jika sudah bertemu dengan tempat tidurnya.” Tiffany sengaja agak meninggikan suaranya agar Jessica bisa mendengarnya, namun orang yang dimaksud sama sekali tidak meresponnya membuat Tiffany semakin kesal dan segera berlalu dari kamarnya.

 

**Sifany**

Hwang Suk Jin merupakan seorang pengusaha sukses di negeri gingseng. Perusahaannya ia beri nama Hwang In Ha Group, sejak awal berdiri 35 tahun yang lalu, Hwang Suk Jin selalu berusaha untuk menjadikan perusahaannya menjadi perusahaan yang besar dan sukses. Dan berkat kerja kerasnya sekarang semuanya terbukti, Ia bahkan  juga memiliki  cabang di Jepang, Amerika dan Eropa juga beberapa kota di Korea serta beberapa daerah di Seoul.

Hwang Suk Jin sangat mengharapkan kehadiran seorang putra, namun pada kenyataannya sang istri hanya mampu memberinya tiga orang putri yang sangat cantik. Sebenarnya ia juga menyayangi ketiga putrinya, akan tetapi keinginginannya untuk memilki seorang putra sangatlah besar. Sehingga ia sering melakukan perjalanan bisnis ke berbagai Negara dan meninggalkan keluarganya. Ia tidak ingin menyakiti istrinya karena rasa kecewanya dan ia juga tidak mampu menyalahkan takdir.

Itulah yang menyebabkan ketiga putrinya kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Nyonya Hwang juga lebih sering menghabiskan waktunya di luar bersama teman – teman relasinya. Jessica, Tiffany dan juga YoonA memang difasilitasi dengan harta yang berlimpah, namun mereka kehilangan kasih sayang .

Setelah ketiganya beranjak dewasa, mereka mulai berubah menjadi gadis pembangkang dan tidak peduli terhadap kedua orang tuanya. Keadaanlah yang membuat mereka seperti itu. Meskipun begitu, ikatan persaudaraan diantara mereka sangatlah kuat. Mereka saling melindungi dan bahkan tidak akan pernah membiarkan salah satu dari mereka tersakiti oleh siapapun.

Hingga kejadian tadi malam merubah segalanya.

 

**Sifany**

Pagi ini tidak biasanya ketiga putri Hwang pergi di pagi buta tanpa menikmati sarapan mereka bersama pasangan pengantin baru ini. Jessica memilih untuk segera berangkat ke Daegu. Sementara Tiffany dan YoonA yang memang sejak awal tidak tertarik dengan dunia appanya lebih memilih untuk pergi ke butik yang mereka bangun sendiri 3 tahun yang lalu.

Siwon dan nyonya Hwang hanya bisa pasrah menghadapi mereka. Terlebih untuk Siwon, ia harus ekstra sabar untuk mengambil hati ketiga putri tirinya.

“Kau harus bersabar Siwon-ah, aku yakin suatu hari nanti mereka pasti akan menerimamu,” nyonya Hwang menggenggam tangan Siwon memberinya keyakinan.

“Ne, aku akan berusaha.” Ucapnya dengan senyuman yang sedikit ragu.

“Baiklah, bukankah ini hari pertamamu menjadi CEO? Kau pasti bisa melakukannya Siwon-ah. Aku akan selalu mendukungmu.”

“Ne, gomawo. Soo Na-ya. Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik – baik.” Siwon mengambil tas dan kunci mobilnya lalu ia melangkah menuju mobilnya yang sudah terparkir di halamannya. Siwon tidak berani melakukan hal yang biasa dilakukan oleh kebanyakan suami terhadap istrinya sebelum berangkat kerja. Untuk itulah ia ingin segera pergi dan untungnya nyonya Hwang mau mengerti dan tidak menuntutnya apapun.

“Hati – hati Siwon-ah!” nyonya Hwang berseru dan melambaikan tangannya setelah Siwon melajukan mobilnya.

Selama perjalanan menuju kantornya, Siwon terus berfikir apa yang harus ia lakukan dengan kehidupan barunya. Apakah ia mampu mendapat kepercayaan dari para karyawannya? Apa yang akan orang – orang pikirkan tentang statusnya kini? Yang paling menjadi bebannya ialah bagaimana cara ia menghadapi ketiga putri tirinya.  Ketika ia sibuk berkutat dengan pikirannya, tiba – tiba pandangannya teralihkan oleh sosok orang yang sangat dikenalnya tengah berjalan dengan membawa dua kantung plastik yang ia yakini berisi makanan. Well, tentu saja ia sangat yakin mengingat mereka tidak makan apapun sebelum pergi. Siwon memutuskan untuk menghampirinya, setidaknya ia harus mencoba berbicara dengan salah satu dari mereka.

Setelah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Siwon keluar dan berlari menyusul yeoja tersebut. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan saat ini.

“Tiffany-ssi!” merasa ada yang memanggil namanya, Tiffany berbalik dan terkejut mendapati Siwon tengah berdiri dibelakangnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku, eoh?”

“Aniyo. Aku tidak sengaja melihatmu. Bisakah kita berbicara sebentar?”

“Mwo?? Jika kau mencoba untuk mencari perhatianku, jangan harap Siwon-ssi karena aku tidak akan pernah menerimamu.” Ketika Tiffany hendak menyebrang, tiba – tiba ada sebuah mobil yang melaju cepat kearahnya. Untung saja Siwon dengan sigap menariknya sehingga mobil tersebut tidak sempat menabraknya. Selama beberapa detik mereka tetap pada posisi saling bertatapan. Tangan Siwon melingkar sempurna pada pinggang Tiffany, tidak ada satu pun diantara mereka yang berniat untuk beranjak ataupun memutuskan kontak mata mereka. Hingga sebuah suara menginterupsi interaksi keduanya.

“Agasshi gwenchana?” suara tersebut sontak menyadarkan mereka. Siwon segera melepaskan tangannya dan berdiri kikuk, begitupun dengan Tiffany. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan hatinya.

“Nan gwenchana, anda tidak perlu khawatir. Gomawo.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Tiffany-ssi wajahmu sangat pucat. Sebaiknya kita istirahat dulu di café sana.” Siwon menunjuk sebuah café yang berada disebrang jalan.

“Ah, ne. aku rasa itu lebih baik.”

“Kajja!”

 

**Sifany**

Sejak tiba di kantornya, Jessica tidak berhenti gelisah. Ia terus mondar – mandir di ruangannya mencari cara agar perusahaan ini bisa mendapatkan kesuksesan seperti yang appanya inginkan. Memang perusahaan yang kini ia pegang masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan Hwang In Ha Group. Oleh karena itulah Jessica harus bekerja keras untuk mencapai target agar ia dan kedua dongsaengnya bisa mendapatkan kembali hak mereka.

Ini merupakan tantangan terberat baginya, namun ia juga bertekad akan menaklukan semua tantangan yang diberikan appanya kepadanya. Ya, ia yakin ia pasti mampu melakukannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap focus pada perusahaannya saat ini, tidak akan ada hal lain yang boleh mengganggunya.

Dengan langkah yang mantap Jessica keluar dari ruangannya.

“Sanjangnim,” seorang yeoja cantik dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi dan berambut blonde menghentikan langkah Jessica yang hendak memasuki lift.

“Ne, Taeyeon-ssi. Waeyo?” Taeyeon sekretaris Jessica sekaligus orang kepercayaannya melangkah menghampiri atasannya dengan membawa beberapa berkas untuk diserahkan kepadanya.

“Aku hanya ingin menyerahkan berkas ini pada anda. Beberapa perusahaan yang ingin melakukan kerjasama dengan perusahaan kita ingin bertemu langsung dengan anda. Mereka bilang anda yang harus mengatur jadwalnya.

“Eoh? Kenapa seperti itu? Ada berapa perusahaan yang mengajukannya?”

“Sampai detik ini baru 3 perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan kita.”

“Baiklah, gomawo Taeyeon-ssi. Kau atur saja jadwalnya. Aku harus pergi dulu,”

“Ne, sanjangnim.” Jessica kembali melangkahkan kakinya menuju lift, setelah pintunya terbuka ia masuk dan menekan tombol paling bawah. Di dalam sana ia termenung sendiri memikirkan semua kejadian yang menimpa keluarganya. Tak terasa setetes cairan bening jatuh mengenai pipinya. “Appa, sebenarnya apa yang kau inginkan?” batinnya. Sebelum ada yang melihatnya, ia kembali menghapus air matanya dengan gerakan cepat.

 

**Sifany**

Siwon dan Tiffany masih berdiam diri di sebuah café yang sejak 20 menit yang lalu mereka kunjungi. Namun hanya keheningan yang mereka ciptakan. Tidak ada satu pun yang berani membuka suara. Siwon terus menyesap coffe late nya, ia bingung darimana ia harus memulai bicara. Sementara Tiffany, ia sibuk dengan pikirannya yang merasa aneh dengan kejadian yang beberapa menit lalu terjadi.

Merasa bosan dengan situasi ini, Siwon akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

“Tiffany-ssi gwenchana?”suara bass Siwon berhasil menyentaknya kembali ke alam sadarnya.

“Eoh? Ah, ne.” Siwon tersenyum simpul melihat ekspresi kaget Tiffany.

“Apa kau ingin menambah minumanmu?”

“Sudah kukatakan jangan mencoba mencari perhatianku!” Tiffany kembali menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Siwon dan itu kembali membuatnya semakin berkecil hati. Siwon menghembuskan nafasnya kasar, tak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengambil hati putri kedua Hwang tersebut. Ia mengacak rambutnya frustasi dan mencoba untuk menatap manik mata Tiffany, mencari sedikit sisi kebaikan yeoja tersebut yang mungkin dimilikinya.

Tiffany terkejut dengan tindakan tiba – tiba Siwon yang langsung mengunci tatapannya. Ia terjebak disana, tak mampu bergerak ataupun mengeluarkan suara. Siwon menatapnya sangat dalam, sehingga membuat Tiffany tak sanggup untuk berpaling dari tatapannya sampai sebuah bunyi ponsel menginterupsi keduanya. Tiffany tersentak dan segera mencari ponselnya yang terus berdering di dalam tas kecilnya. Setelah mendapatkatnya, ia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya dan langsung menggeser tombol hijau kemudian menempelkannya pada telinga kanannya sebelum si penelopon mengamuk.

“Yeob…”

“YAKK!!! Unnie!!!! Kau dimana???? Apa kau tahu aku sudah sangat KELAPARAN!!!!” Tiffany menjauhkan ponselnya, tak mau jika gendang telinganya harus rusak hanya karena mendengar teriakan YoonA.

“Mianhe Yoong, tadi ada sedikit masalah di jalan.” Tiffany melirik sekilas kearah Siwon.

“Nde? Apa unnie baik – baik saja?”

“Ne, kau tidak perlu khawatir. Aku akan segera kembali.”

“Baiklah, hati – hati ne.”

“Hm, bye!”

KLIK

Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Tiffany menatap tajam pada Siwon.

“Kau lihat? Karena ulahmu aku harus melupakan dongsaengku yang tengah kelaparan. Dan aku harap setelah ini kau tidak akan pernah lagi menggangguku. Permisi!”

Tiffany menyambar kantung plastik yang tadi dibawanya dan berlalu meninggalkan Siwon yang masih termangu di tempatnya dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut yeoja yang tadi sudah menemaninya minum coffee.

apa sesulit itu untuk mereka menerimaku?’ batinnya.

 

**Sifany**

TING, suara pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk kedalam sebuah gedung minimalis dengan aksen klasik namun masih ada sentuhan modern di beberapa sudutnya. Ya tentu saja, butik ini dibangun oleh dua orang dengan karakter dan tipe yang berbeda.

Jessica masuk dengan langkah yang anggun. Merasa ada bayangan yang menghampirinya, YoonA yang tengah menggambar sketsa langsung mendongakkan kepalanya dan kedua alisnya langsung berkerut karena bingung dengan kedatangan unnie nya yang mendadak.

“Jessie unnie?”

“Wae? Apa kau tidak suka dengan kedatanganku?” Jessica duduk di sofa yang tersedia di ruangan YoonA dan Tiffany dengan menyilangkan kedua kakinya.

“Aniyo, aku hanya terkejut kenapa unnie datang kemari di jam yang terbilang masih pagi. Bukankah seharusnya unnie berada di kantor?” YoonA berjalan mendekati Jessica dan ikut duduk dihadapannya.

“Apa ada masalah yang mengganggumu unnie?” melihat dari garis wajah Jessica, YoonA bisa menebak jika kakak sulungnya ini tengah menghadapi permasalahan yang sulit.

“Mollayo Yoong,” Jessica bersandar di kepala sofa dan sedikit memijit pelipisnya, ketika ia sadar dengan meja yang tak berpenghuni di depannya, ia kembali menegakkan tubuhnya.

“Youngie, dimana Tiffany? Seingatku kalian pergi bersama, benar kan?” Jessica mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dongsaengnya yang lain.

“Tiffany unnie sedang mencari makanan untuk kami. Unnie tahu sendiri kan kami belum makan apapun sejak meninggalkan rumah.” YoonA mengerucutkan bibirnya, Jessica melirik jam yang melingkar di tangan kirinya dan ia terlonjak kaget melihat jarum jam yang menunjukkan Pukul 09.05 KST.

“YAK!! Hwang YoonA!! Bagaimana bisa kalian belum makan apapun hingga detik ini! aish jinjja.. lalu sejak kapan Tiffany pergi?”

“Itulah yang jadi masalahnya unnie, Tiffany unnie sudah pergi sejak satu setengah jam yang lalu dan sampai sekarang ia belum kembali. Unnie bilang ada sedikit masalah tadi di jalan.” YoonA menjelaskan kapan dan apa yang membuat Tiffany hingga kini belum kembali. Baru saja Jessica akan membuka mulutnya, tiba – tiba orang yang sedari tadi diperbincangkan muncul dihadapan mereka.

“Tiffany apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau baru tiba, eoh?” Jessica bangkit dan menghampiri Tiffany yang masih terkejut dengan keberadaan Jessica di butiknya. Sebenarnya bukan keberadaan Jessica yang menjadi masalah, namun ia takut jika Jessica akan memberinya seribu pertanyaan hingga ia harus terpaksa mengatakan pertemuannya dengan Siwon dalam perjalanannya kembali ke butik. Dengan gerakan cepat Tiffany menghindari tatapan Jessica yang akan membuatnya tak mampu untuk berbohong. Ia mengalihkan perhatiannya pada YoonA dan memberikan bungkusan makanan padanya. Jessica berbalik dan menatap kedua dongsaengnya. Ia tidak tega mengganggu mereka yang sepertinya sudah sangat kelaparan. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, dan itu terasa aneh baginya.

“Tiffany, YoonA, kenapa kalian tidak memesan makanan siap saji? Kalian hanya tinggal meneleponnya dan mereka akan mengantarkan pesanan kalian.” Tiffany dan YoonA saling pandang. Benar juga, kenapa hal itu tidak terpikirkan oleh mereka. Alih – alih menjawab pertanyaan Jessica, Yoona hanya memberikan senyuman terbaiknya.

“Kami lupa unnie, saking laparnya kami sampai tidak memikirkan hal itu.” Jessica menghela nafas berat, ia tidak ingin memperdebatkannya lagi. Masalah dengan pekerjaannya lebih menyita perhatiannya saat ini.

“Makanlah! Aku tidak ingin mendengar kalian mengeluh sakit,” ucapnya tulus. Tiffany terharu mendengarnya, ia menarik tangan Jessica untuk ikut bergabung bersama mereka.

“Dan kami tidak ingin mendengar unnie mengomel karena kami sakit,” balas Tiffany. Mereka pun tertawa bersama.

 

**Sifany**

Diruangan yang sepuluh menit lagi akan dihadiri oleh seluruh pemegang saham, seorang namja tampan berperawakan tinggi nan kekar tengah menghembuskan nafasnya puluhan kali. Ia sangat gugup untuk mempimpin rapat pertamanya ini, sekaligus rasa takut yang terus menghantuinya sejak kemarin malam. Berkali – kali ia mengganti posisi duduknya juga berkali –kali pula ia membuka  berkas yang akan digunakannya untuk persentasi dihadapan para pemegang saham.

Cklek, pintu terbuka menampakkan sesosok namja paruh baya dengan senyuman yang mengembang di wajah keriputnya. Siwon bernafas lega, setidaknya sosok tersebut dapat sedikit mengurangi rasa cemasnya.

“Oh syukurlah anda sudah datang sekretaris Park. Aku sungguh sangat gugup.”

“Tenanglah Siwon-ah, aku yakin kau pasti mampu melakukannya.” Ujar sekretaris Park meyakinkannya. Ia menarik kursi di samping Siwon dan duduk di atasnya.

“jinjja? Kenapa anda begitu yakin sekretaris Park?” Siwon menatapnya ragu.

“Karena aku tahu kemampuanmu, Siwon-ah.” Namja yang kini sudah menginjak usia kepala 5 itu memegang lembut bahu Siwon seraya memberikan senyum tulusnya agar namja yang jauh berbeda usia dengannya itu merasa yakin.

“Ne, khamsahamnida sekretaris Park.”

Waktu yang sedari tadi dicemaskan Siwon pun akhirnya tiba. Seluruh pemegang saham telah hadir di ruangan yang berukuran 7 x 5 m tersebut. Tak sedikit dari mereka yang ingin menjadi saksi persentasi pertama Choi Siwon sebagai seorang CEO. Ada yang meragukannya, namun ada pula yang sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki namja berlesung pipi itu. Well, mereka sudah mengenal Siwon sejak 5 tahun yang lalu dan selama itu pula ia selalu menunjukkan kinerja yang sangat luar biasa. Itu lah mengapa tuan Hwang mempercayakan perusahaannya pada Siwon.

Siwon berdiri dari kursinya, ia telah siap untuk mempersentasikan hasil pemikirannya untuk kemajuan Hwang In Ha Group. Siwon menyalakan layar proyektornya dan muncullah beberapa gambar serta artikel – artikel yang berasal dari ide – ide cemerlangnya. Dengan lihai Siwon menjelaskan tujuan dan maksud dari ide yang ia tuangkan kedalam aplikasi power point yang dibuatnya semalam. Beberapa dari pemegang saham terkagum – kagum dengan kelihaian Choi Siwon. Mereka tidak menyangka jika namja yang masih sangat muda untuk ukuran seorang CEO, mampu memberikan gagasan yang begitu brilian, cerdas dan menjanjikan.

Riuh tepuk tangan terdengar menggema di ruangan tersebut begitu Siwon menyelesaikan persentasinya. Siwon merasa terharu dengan sambutan hangat yang diberikan oleh para pemegang saham.

Setelah semua peserta keluar dari ruangan, seseorang yang juga memliki peranan penting di Hwang In Ha Group tampak tergesa – gesa menerima panggilan telepon yang terus berdering di saku jasnya. Ia segera mencari tempat yang aman sebelum mengangkat teleponnya. Begitu menemukannya ia langsung menggeser tombol hijau.

“Yeoboseo tuan,”

“Bagaimana penampilannya?”

“Seperti yang kita prediksikan, ia menampilkan yang terbaik tuan,”

“Bagus! Biarkan ia mencapai puncaknya, setelah itu kita akan mengambil keuntungan darinya. Hahahaha….”

“Ne, tuan.”

“Baiklah akan kututup teleponnya, kau awasi ia terus,”

“Saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan tuan,”

“Baik, aku mempercayakan semuanya padamu.”

KLIK

Orang tersebut tersenyum kecut setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan atasannya. Lalu ia pun melangkah pergi dari tempat persembunyiannya.

 

**Sifany**

Setelah kembali dari ruang rapat, Siwon terlihat menghembuskan nafas lega. Ia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan yang hangat dari para pemegang saham. Usahanya untuk meyakinkan mereka ternyata tidak sia – sia. Siwon berdiri dari duduknya dan berjalan kearah jendela besar disebelah kiri mejanya yang memperlihatkan keindahan kota Seoul yang terpampang jelas dari lantai 10 tempat kini ia berpijak. Siwon memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat yakin akan mampu menaklukan tantangan ini, kecuali satu, ‘meluluhkan hati ketiga putri tirinya.’ Siwon mendesah frustasi. Jika ia tidak bisa mendapatkan hati mereka, itu akan mempersulit jalannya. Setidaknya ia harus mendapatkan salah satunya.

Ketika Siwon tengah asyik dengan pikirannya, seorang namja berwajah pucat namun tetap terlihat tampan melangkah mendekati namja yang kini membelakanginya. Karena tidak mendapat respon, namja yang dikenal bernama Cho KyuHyun itu pun berdehem keras.

“Ehem!! Lihatlah apa yang terjadi dengan CEO kita, eoh?”

Mendengar suara yang cukup keras yang tidak asing lagi baginya, membuat Siwon akhirnya menoleh ke belakang.

“Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk Kyu?” walaupun Siwon sudah terbiasa dengan kebiasaan KyuHyun yang selalu masuk tanpa izin, namun tetap saja ia merasa terganggu. Ia hanya takut jika KyuHyun masuk ketika ia melakukan suatu hal yang tidak boleh diketahui oleh siapapun.

“Aku rasa pendengaranmu sedang bermasalah Hyung.” Jawab namja yang terpaut usia 2 tahun lebih muda dari Siwon itu santai. Lantas kemudian ia beranjak menuju kursi kebesaran Siwon.

“Wow! Ternyata kursi ini memang luar biasa. Kau pantas mendapatkannya Hyung.”

“Gomawo, ini semua juga berkat dukunganmu Kyu.” Siwon menepuk bahu KyuHyun sekilas, ia tulus mengatakannya.

“Well, bagaimana jika malam ini kita rayakan bersama, hm?”

“Apa kau bercanda? Kau lupa dengan statusku sekarang? Aku bukan lagi seorang lajang yang bisa bebas pergi kemanapun lagi.” Siwon menghempaskan tubuhnya di sofa putih tempat menjamu tamu yang ingin megunjunginya.

“Oh, mianhae Hyung. Aku lupa! Sekarang kau sudah memliki sebuah keluarga yang sempurna.” KyuHyun mengikuti Siwon duduk disampingnya.

“Mungkin bagi semua orang terlihat seperti itu, tapi kenyataannya berbeda. Aku tidak diterima disana.”

“Kau tidak perlu khawatir Hyung, ini baru permulaan. Aku yakin dengan kegigihanmu suatu saat nanti kau pasti bisa menaklukan mereka. Terlebih lagi mereka adalah seorang yeoja.” Ujar KyuHyun yakin dengan senyum evilnya. Siwon memutar bola matanya mendengar ucapan namja yang sudah dikenalnya sejak 2 tahun lalu itu.

“Aku tidak sepertimu, Kyu. Aku bukanlah seorang penakluk yeoja.” Balas Siwon kesal dan beranjak menuju kursi kebesarannya.

“Hahahaa tapi kau sudah menaklukan nyonya besar kita Hyung,” Siwon menghentikan langkahnya setelah mendengar kalimat KyuHyun barusan. Ia sedikit menolehkan kepalanya sambil berucap, “Jaga ucapanmu Kyu! Aku tidak seperti yang kau pikirkan.”

 

**Sifany**

Jessica tampak tengah sibuk menganalisa semua file – file perusahaan sejak ia kembali dari butik dongsaengnya. Dalam file – file tersebut diketahui fakta bahwa saham perusahaan yang dikelolanya kini masih berada jauh dibawah target yang harus dicapainya.

Yeoja yang dikenal dengan tatapan dinginnya itu memijat – mijat pelipisnya yang terasa penat. Bagaimana ia harus keluar dari segala permasalahan ini? pikirnya. Tanpa ia sadari, Taeyeon yang sedari tadi memanggilnya berjalan mendekatinya. “Jessica sanjangnim?” sahut Taeyeon untuk kesekian kalinya yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari orang yang dipanggilnya. Ia masih focus dengan file yang diperiksanya, sehingga ia tidak menyadari kehadiran sekretarisnya. Taeyeon berdiri tepat dihadapannya, namun sepertinya Jessica tetap tidak bergeming hingga suara Taeyeon yang sedikit melengking mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

“Eoh, Taeyeon-ssi. Sejak kapan kau disini? Kenapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?” Tanya Jessica sedikit tak terima karena menurutnya sikap Taeyeon yang tiba – tiba masuk keruangannya adalah tindakan yang tidak sopan.

“Mianhae sanjangnim, aku sudah mengetuk pintu berulang kali dan aku juga sudah memanggil anda puluhan kali, namun anda sama sekali tidak menyahutnya. Jadi aku terpaksa langsung menghampiri anda.”

“Jeongmal?” Jessica sedikit merasa bersalah, “Mmm baiklah apa yang ingin kau sampaikan padaku?” lanjutnya mengalihkan pembicaraan.

“ini adalah jadwal yang sudah aku susun untuk pertemuan anda dengan beberapa calon klien kita. Pertemuan pertama, anda akan bertemu dengan pewaris perusahaan Hi-tech company. Aku sudah menghubunginya, dan ia setuju untuk bertemu dengan anda dua hari dari sekarang pukul 02.00 siang nanti.”

“Mwo dua hari dari sekarang? Aishh.. kenapa secepat itu? Aku bahkan belum mempersiapkan apapun.”

“anda tidak perlu khawatir sanjangnim, ia bilang ia tidak ingin pertemuan yang formal, jadi anggap saja ini hanya makan siang biasa. Itu yang ia katakan padaku.” Ujar Taeyeon santai.

“Nde? Apa maksudnya? Tapi tetap saja Taeyeon-ssi, aku tidak ingin terlihat bodoh dihadapannya. Aku harus tunjukkan jika aku juga mampu bersaing dengan perusahaan Appa.” Jessica memberikan tatapan keyakinannya pada Taeyeon, yang membuatnya mengangguk setuju.

“Anda pasti bisa sanjangnim,”

“Ne, aku harap begitu.”

 

**Sifany**

“Unnie, apa kau sudah berhasil menghubungi Jessie Unnie?” Tifany yang tengah focus dengan kemudinya, hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan YoonA.

“Kenapa tidak kau saja yang meneleponnya Yoong, aku sedang menyetir.”

“Aku hanya malas mendengar ocehannya jika ia tidak terima dengan ajakan kita.” Ucap YoonA pelan setengah berbisik. Tiffany mendesah pasrah, ia kemudian menghentikan mobilnya di bahu kiri jalan tidak mau mengambil resiko jika terjadi kecelakaan akibat ia menggunakan telepon sembari menyetir.

Satu detik, dua detik ….. sepuluh detik, masih tidak ada jawaban. Tiffany mulai menyerah, ketika ia akan menekan tombol merah, sebuah suara menghentikannya.

“Yak! Unnie! Kenapa kau baru mengangkatnya?” teriak Tiffany kesal.

“Waeyo, Tiff? Kalau tidak ada hal yang penting aku akan menutup teleponnya.”

“Yak! Changkamman!! Mmm… apa unnie akan makan malam di rumah?” Tanya Tiffany ragu, ia melirik sekilas kearah YoonA yang juga tengah gugup dengan apa jawaban yang akan diberikan Jssica.

Hening, tidak ada jawaban.

“Unnie.. gwenchana?” masih tidak ada jawaban, namun beberapa detik kemudian terdengar helaan nafas dari seberang telepon sebelum ia membuka suara.

“Pulanglah! Kalian tidak perlu menungguku. Aku akan pulang terlambat. Pastikan kalian makan dengan baik, aratchi?” seperti biasa jika sudah menyangkut masalah kedua dongsaengnya, Jessica akan sangat protektif.

“Baiklah, tapi unnie juga harus janji tidak akan melupakan makan malam unnie dan jangan pulang terlalu larut,” timpal Tiffany tak kalah protektif.

“Ne, arraseo. Bye!”

“Bye,”

Klik. Tiffany memutuskan sambungannya dan kembali menyalakan mesin mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan sedang.

“Jadi Jessie Unnie tidak akan ikut makan malam bersama kita?”

“Hm,”

“Lalu apa yang akan kita lakukan?”

“Maksudmu?”

“Unnie.. kita pasti akan satu meja bersama namja itu.”

“Lalu?”

“Aish.. apa unnie akan bersikap biasa saja?”

“Mollayo. Sudahlah Yoong, kita bicarakan ini nanti. Aku tidak ingin kau mengganggu konsentrasiku.” YoonA mendengus kesal, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus ke depan. Tiba – tiba …..

Ciiittt….. ciiittt…..

“AArrgggghhhh…..”

Tiffany membanting stirnya ke kanan berusaha menghindar dari mobil yang tiba – tiba menyebrang dari arah sebelah kirinya. Beruntung tidak terjadi tabrakan diantara mereka. Hanya suara decitan mobil yang terdengar menggema di jalanan yang cukup sepi itu.

YoonA dan Tiffany masih syok. Mereka terus menghembuskan nafas mencoba menetralkan degup jantung mereka yang berdetak cepat akibat kejadian tadi. Tiffany yang terlebih dulu tersadar sontak mengalihkan perhatiannya pada si maknae.

“Yoong, kau tidak apa – apa?” Tiffany merasa cemas melihat peluh dingin yang bercucuran dari pori – pori kulit wajah YoonA. Terlihat jelas sekali jika YoonA sangat syok. Tangan kanan Tiffany mengelus – elus punggungnya mencoba memberinya ketenangan. Sementara tangan kirinya mengusap peluh YoonA yang masih bercucuran.

Tok..tok..

Suara ketukan di jendela mobil samping YoonA, menyentak kedua yeoja cantik tersebut. Tiffany memicingkan matanya merasa megenali sosok tersebut. Setelah meyakini siapa orang yang mengetuk jendela mobilnya, Tiffany segera keluar dan membanting mobil pintu dengan cukup keras.

“Kau? Apa kau berniat membunuh kami, eoh?” sembur Tiffany begitu berhadapan langsung dengan namja yang menjulang tinggi melebihi dirinya. Sontak saja namja tersebut membelalakan matanya mendengar tuduhan Tiffany yang sama sekali tidak beralasan.

“Bukanhkah seharusnya itu pertanyaanku? Kau yang menerobos lampu merah Tiffany-ssi. Jadi ini semua adalah kesalahanmu.” Tiffany tersentak dengan pernyataan orang yang tak lain adalah Choi Siwon itu. Ya, ia benar. Dalam kasus ini Tiffany-lah yang bersalah.

“Aku.. aku… “

“Sudahlah, apa kalian baik – baik saja?”

“Nde?”

“Aku akan mengantar kalian pulang.” Kini giliran Tiffany yang membelalakan matanya.

“Mwo??? Kami tidak butuh tumpanganmu CHOI SIWON! Kami bisa pulang sendiri.” Tolak Tiffany keras.

“Kau tidak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini Tiffany-ssi. Tidakkah kau memikirkan keselamatan YoonA?” Tiffany kembali tersentak. Kenapa dalam situasi ini ucapan Siwon selalu benar? Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti ajakannya.

“Baiklah, tapi ini bukan berarti aku sudah menerima kehadiranmu Choi Siwon.” Siwon memutar bola matanya, “Terserah,” ia lalu membalikkan badannya dan menyerahkan kunci mobilnya pada KyuHyun yang kebetulan ikut menumpang pulang padanya.

“Kau pakailah mobilku, dan jangan lupa untuk menjemputku besok pagi.”

“Ne, arraseo.” Tatapan KyuHyun tak beralih dari YoonA yang terlihat sangat pucat. Entah mengapa ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Siwon yang menyadari hal itu, sedikit memajukan tubuhnya dan berbisik, “Jangan harap kau bisa mendekatinya Kyu.” KyuHyun sontak menatapnya bingung, namun Siwon tidak mempedulikannya. Ia berlalu dari hadapannya dan berjalan menuju mobil Tiffany. Setelah memastikan kedua saudari itu duduk nyaman di jok belakang, Siwon langsung menancap gas meninggalkan KyuHyun yang masih berdiri kebingungan.

 

**Sifany**

Jessica menghentikan langkahnya begitu matanya menangkap sesosok orang yang sangat dikenalnya tengah bergandengan mesra dengan seorang namja yang ia yakini berusia 60an. Ya, sosok itu adalah Hwang Soo Na, eommanya sendiri. Jessica memang sudah sering menyaksikan pemandangan ini sejak ia berusia 15 tahun. Itulah yang menyebabkannya sangat membenci eommanya. Menurutnya, eomma nya adalah seorang pengkhianat dan appa nya adalah orang yang paling bodoh yang selalu percaya pada mulut manis yeoja itu. Ingin sekali rasanya ia menghampiri dan melabraknya untuk sekali saja, namun niat itu selalu diurungkannya karena ia tidak ingin terjadi suatu hal buruk yang menimpa dirinya, Tiffany serta YoonA. Jessica hanya mampu memendamnya sendiri dalam hati.

“ini sudah 14 tahun aku melihatmu seperti ini eomma. Ternyata kau tidak pernah berubah. Kau bahkan baru saja menikahi namja yang jauh lebih muda darimu. Apa ia masih belum cukup untukmu, eoh?” lirih Jessica pelan.

“Sanjangnim? Gwenchana?” suara Taeyeon mengalihkan perhatiannya.

“Ah, ne. kajja kita harus segera pergi. Aku tidak ingin Tiffany dan YoonA menyerangku karena pulang larut.” Taeyeon hanya terkekeh mendengarnya, sebelum Jessica melangkah pergi ia kembali melihat pemandangan buruk yang ada di depannya. Kedua orang itu kini tengah bermesraan di dalam mobil yang semakin membuat Jessica merasa jijik. Tak ingin berlama – lama lagi berada di tempat yang akan membuat darahnya semakin mendidih, Jessica langsung menyeret Taeyeon untuk segera pergi.

 

**Sifany**

“Youngie, minumlah ini!” Tiffany menyodorkan air mineral pada YoonA. “Maafkan unnie, ne. gara – gara kecerobohan unnie, kita hampir saja celaka.”

“Aniyo. Ini juga kesalahanku unnie. Aku yang telah membuyarkan konsentrasi unnie.” Tiffany tersenyum tulus padanya. Siwon yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari balik kaca mobil depannya, terpaku melihat senyuman indah yang baru kali pertama membuat dirinya diam tak berkutik. Untuk menetralkan perasaannya sekaligus mendapat perhatian dari mereka, Siwon berdehem keras.

“Ehem! Oh iya, apa kalian sudah makan?”

“Itu  bukan urusanmu.” Jawab Tiffany ketus.

“Oke. Aku hanya bertanya saja Tiffany-ssi, tadi eomma mu bilang jika ia ada urusan mendadak malam ini. jadi ia tidak bisa makan malam bersama. Bukankah akan lebih baik jika kita mencari tempat makan mengingat hari sudah semakin malam?” Tiffany dan YoonA tampak berfikir sejenak. Di satu sisi mereka tidak ingin bedekatan dengan Siwon, namun di sisi lain mereka juga sudah sangat kelaparan. Terlebih lagi insiden tadi mampu menguras energi mereka. Kedua saudari itu saling pandang, Tiffany mengedikkan bahu nya tatkala YoonA bertanya dengan bahasa tubuhnya. Siwon masih setia menunggu jawaban mereka. Hingga akhirnya YoonA berbisik pada Tiffany, “Unnie, perutku sudah sangat lapar.”

“Nde?” Tiffany menghela nafas berat, ia pun terpaksa menerima tawaran Siwon.

 

**Sifany**

Tidak ada pembicaraan apapun selama ketiga orang itu makan malam di sebuah café yang mereka temukan di tengah perjalanan.  YoonA sibuk dengan makanannya, sedangkan Siwon diam – diam melirik kearah mereka dan tersenyum senang dalam hati. Satu langkah telah berhasil ia lewati, ini merupakan awal yang baik untuk rencana selanjutnya.

“Apa kalian ingin menambah makanannya?” Siwon mencoba memecah keheningan. Tiffany sontak mendongakkan kepalanya menatap namja yang sedang melipat tangannya di atas meja. Alih – alih menjawab pertanyaan Siwon, yeoja dengan rambut pirangnya itu malah balik bertanya. “Tadi kau bilang eomma ku pergi karena ada urusan mendadak. Apa kau tahu kemana ia pergi?”

“Aniyo,”

“Tch, yang benar saja. Sebagai seorang suami kau sama sekali tidak tahu kemana dan apa yang sedang dilakukan istrimu di malam hari? Ironis sekali.” Ketus Tiffany dengan nada mencibir. Siwon meletakkan sendok dan garpunya di atas meja. Kata – kata Tiffany tadi sungguh membuatnya tersinggung.

“Apakah setiap suami harus mencampuri urusan istrinya? Menurutku itu sangat egois.” Timpal Siwon tak kalah ketus.

“Jika itu akan berdampak buruk terhadap kehidupan rumah tangga mereka, jawabannya adalah ‘iya’. Tidak sepantasnya seorang istri pergi disaat suaminya pulang ke rumah. Aku tidak akan pernah mentolerir hal itu.” YoonA menggantungkan makanannya yang hampir masuk kedalam mulutnya, sementara Siwon tertegun dengan penuturan Tiffany yang seolah pernah mengalami pengalaman pahit dalam berumah tangga.

 

FLASHBACK ON

3 tahun yang lalu

Tiffany terbangun setelah 3 jam ia tertidur di kamar milik Jessica. ia memandang ke sekeliling kamar, sepi. Tidak ada suara ataupun bayangan seseorang. Tiffany pun bangkit dan mencari – cari unnie serta maknae nya. “Huft, lagi – lagi mereka meninggalkanku,” gumamnya. Karena merasa bosan dan tubuhnya terasa lengket, Tiffany memutuskan untuk pergi berenang di halaman belakang rumahnya. Ia beranjak ke kamarnya untuk mengambil handuk dan peralatan renang lainnya. Lalu dengan malas, ia berjalan perlahan menuruni tangga yang berbentuk huruf “A” yang langsung terhubung pada ruangan keluarga di kediaman mewahnya. Ketika ia melewati kamar tamu di sebelah kanan dapur bersihnya, ia mendengar suara desahan seorang yeoja yang ia yakini milik eomma nya. Seketika tubuh Tiffany menegang. Apa yang tengah dilakukan oleh yeoja yang dipanggilnya ‘eomma’ itu? Seingatnya, appa nya tengah melakukan perjalanan bisnis ke negeri bambu selama satu minggu. Entah sejak kapan buliran cairan bening mengalir dari mata indahnya. Tiffany segera menghapusnya dengan kasar. Ia berjalan cepat menuju kamarnya tanpa membuat suara sedikitpun. Mengunci diri dan menangis sejadi – jadinya. Sejak saat itu, Tiffany tidak mau lagi percaya pada eomma nya. Ia tidak ingin menjadi pengkhianat sepertinya. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, untuk tetap menjaga kepercayaan orang yang akan menjadi suaminya kelak.

 

FLASHBACK OFF

“Unnie, gwenchana?” suara lembut YoonA membuyarkan lamunannya.

“Ah, ne. apa kau sudah selesai Yoong? Kita pulang sekarang ne,” YoonA hanya mengangguk patuh. Sebelum pergi meninggalkan café tersebut, Siwon meletakkan beberapa lembar won di atas bill nya. Well, sempat terjadi perdebatan antara Tiffany dan Siwon dalam memutuskan siapa yang harus membayar tagihan makanan mereka. Tiffany bersikeras ingin membayarnya sendiri, begitu pun dengan Siwon, sebagai namja ia harus bersikap gentle dengan membayar semua makanan yang dipesannya serta yeoja yang ikut bersamanya. Dan pemenangnya adalah Siwon. Entah kenapa Tiffany harus kembali mengalah untuk ketiga kalinya dalam satu malam.

 

**Sifany**

Keesokan paginya, baik Siwon, Tiffany maupun YoonA tidak ada satu pun yang berani membahas tentang kejadian semalam. Mereka lebih memilih bungkam daripada harus mendapat ribuan pertanyaan dari Jessica dan juga nyonya Hwang. Untungnya mereka bertiga tiba sebelum Jessica dan nyonya Hwang kembali, jadi mereka bisa bernafas lega tanpa harus mendapat tatapan aneh dari kedua orang yang berbeda usia tersebut.

Keheningan terjadi dalam suasana sarapan pagi ini. mereka begitu tenang dan larut dalam pikiran masing – masing. Ini adalah kali pertama mereka makan dalam satu meja bersama. Ya, hal ini tidak mungkin akan terus mereka hindari bukan?

YoonA merasa bosan dengan situasi yang canggung seperti ini. ia memutuskan untuk memulai pembicaraan.

“Eomma, kenapa eomma pergi tanpa ditemani Siwon-ssi tadi malam?” pertanyaan YoonA sontak menyentak keempat orang yang tengah asyik menyantap sarapan mereka. Nyonya Hwang tersenyum kikuk sebelum meminum air putih yang tersedia di depannya. Ia berdehem pelan dan menghembuskan nafasnya gugup.

“YoonA-ya Siwon-ah pasti sangat kelelahan kemarin, eomma tidak berani memintanya untuk menemani eomma. Akankah lebih baik jika ia beristirahat di rumah? Dengan begitu ia bisa lebih fit untuk bekerja hari ini.” Tiffany dan Jessica hanya tersenyum kecut menanggapi jawaban nyonya Hwang. Mereka tahu apa yang sebenarnya telah ia lakukan dibelakang suami barunya. Siwon menyadari perubahan raut muka kedua saudari Hwang itu, ia menautkan alisnya bingung berusaha mencari jawaban dari sikap mereka, terlebih dengan jawaban yang diberikan Tiffany padanya di café kemarin malam.

“Tch, kenapa kau harus menanyakannya Yoong? Bukankah eomma kita sudah biasa melakukannya? Bagiku itu bukan hal yang aneh.” Tukas Jessica santai setelah ia selesai memasukkan suapan terakhir sandwichnya.

“Apa maksudmu Jessie?” Tanya nyonya Hwang tak terima dengan ucapan yang dilontarkan putri sulungnya.

“Obseo. Ehm.. aku sudah selesai, aku harus segera pergi.” Jessica menggeser kursinya kebelakang lantas menyambar tas dan juga coatnya.

“Tunggu Jessie! Eomma belum selesai bicara!”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan eomma!” sebelum Jessica melangkahkan kakinya, Tiffany terlebih dulu menghentikannya.

“Unnie, aku ingin bicara denganmu!”

“Ada apa lagi Tiff? Aku sedang terburu – buru.”

“Aku akan ikut bersamamu. Yoong, kau pergilah sendiri! Nanti aku akan menyusulmu.”

“Ne,” ucap YoonA tak mampu membantah.

“Apa – apaan ini! kenapa tidak ada seorang pun di rumah ini yang menghormatiku!!”

Nyonya Hwang yang sudah tidak tahan dengan sikap acuh putri – putrinya, berteriak keras seraya menggebrakan meja.

“Eomma cukup! Biarkan aku bicara dengan unnie! Kau hanya akan memperburuk keadaan.” Tanpa sadar, Tiffany ikut berteriak menanggapi amarah eomma nya.

“Mwo?? Berani sekali kau berteriak pada eomma!” Tiffany tidak peduli lagi dengan teriakan nyonya Hwang, ia segera menyeret Jessica keluar rumah. Seketika suasana di ruangan itu berubah menjadi tegang. Siwon maupun YoonA tidak berani membuka suara.

apa ini yang selalu terjadi dalam keluarga mereka?’ batin Siwon.

Nyonya Hwang menghela nafas berat, lantas ia menghempaskan tubuhnya kasar pada kursi yang tadi ditempatinya. Nafasnya memburu menahan emosi. YoonA mengutuk dirinya dalam hati karena ia-lah yang  telah membuat pertengkaran ini. dalam keadaan seperti ini, Siwon bingung harus berbuat apa. Ia lebih memilih untuk segera pergi ke kantornya.

“Eung.. Soo Na-ya, sepertinya aku juga harus segera ke kantor. Kau tidak apa – apa kan?” Tanya Siwon ragu, ia takut akan ikut terdampak dengan amarah istrinya.

“Ne, gwenchana. Mianhae untuk kejadian tadi Siwon-ah.”

“Tidak apa – apa, Aku bisa mengerti.”

“Gomawo.” Siwon mengelus tangan kanan Hwang Soo Na sekilas sebelum ia benar – benar meninggalkan rumah yang tidak pernah tenang itu.

 

**Sifany**

“Unnie, apa kau tahu sesuatu tentang eomma diluar sana?” Jessica tidak menggubris pertanyaan Tiffany yang duduk disamping kemudinya. Ia tetap focus pada jalanan di depannya.

“Unnie, jawab aku!” Jessica memejamkan matanya sebentar sebelum ia menepikan mobilnya secara mendadak, membuat Tiffany hampir terpental jika saja ia tidak memakai seatbelt nya.

“Yak! Apa kau sudah gila unnie!!”

“Apa kau sudah siap mendengarnya Tiff?” Tanya Jessica tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan yang sangai ramai oleh orang – orang yang hilir mudik untuk melakukan aktivitas mereka di pagi hari.

“Nde?” jantung Tiffany berdegup kencang, apa selama ini dugaannya benar jika sesungguhnya Jessica juga sudah mengetahui perselingkuhan eomma nya.

“Aku tidak dapat menghitung berapa kali aku menangkap basah eomma tengah berkencan dibelakang appa. Ini sungguh menyakitkan Tiff, aku tidak ingin membaginya bersamamu terlebih lagi pada YoonA.”

DEG

Ternyata kenyataan ini lebih pahit dari yang Ia duga.

“Se-sejak kapan unnie mengetahuinya?”

“Sejak 14 tahun yang lalu.” Tak ingin terlihat rapuh di depan Tiffany, dengan sekuat tenaga Jessica menahan air matanya agar tidak jatuh.

“Mwo??? Jadi eomma telah melakukannya selama itu? Tch, aku pikir itu hanya terjadi beberapa kali.” Tiffany menggelengkan kepalanya tak percaya, Jessica sontak menoleh ketika ia mendengar kalimat terakhir dongsaengnya. Ada sesuatu yang ganjal dalam ucapannya.

“Apa maksudmu Tiff? Apa kau juga mengetahuinya?”

“Ne, aku telah mengetahuinya 3 tahun yang lalu unnie. Eomma bahkan melakukan hal menjijikan itu di rumah kita.” Tiffany kembali mengingat kenangan buruk itu dengan rasa jijik.  Jessica membulatkan bola matanya, ia tidak menyangka jika Tiffany juga telah mengetahui perbuatan keji eomma nya bahkan di rumahnya sendiri.

“K-kau… kenapa kau tidak mengatakannya padaku Tiff?”

“Seperti hal nya dirimu unnie, aku tidak ingin membaginya.” Kedua mata indah Tiffany sudah tidak kuat lagi membendung cairan yang sebentar lagi akan meluncur deras. Jessica segera memeluknya, inilah yang ia takutkan. Melihat kerapuhan orang yang paling dicintainya.

 

**Sifany**

Sejak kejadian tadi pagi, suasana di rumah mewah itu kembali suram. Tidak ada aktivitas apapun yang mereka lakukan. Bahkan suara langkah kaki pun jarang sekali terdengar. Mereka lebih memilih mengunci diri di dalam kamar masing-masing. Siwon mendengus bosan, sampai kapan ia harus bertahan dengan keadaan seperti ini. alih – alih mengusir rasa bosannya, Siwon beranjak menuju halaman belakang kediaman keluarga Hwang yang luasnya bisa mencapai tiga kali lipat dari apartement yang dulu ia tempati sebelum menikah dengan istri mendiang Hwang Suk Jin. Malam ini ia kembali ditinggal sendiri. Sebenarnya itu tidak masalah baginya, mengingat ia sama sekali tidak mencintainya. Ia hanya terpaksa menikahinya untuk tujuan tertentu.

Saat ia menginjakkan kakinya di tepian kolam renang, matanya tak sengaja  menangkap sesosok yeoja yang tengah duduk di sebuah batu besar dekat pohon yang menjulang tinggi. Yeoja itu hanya mengenakan dress putih pendek dilengkapi dengan cardigan selutut dan sandal rumah berwarna pink berkepala kelinci. Sangat sederhana namun tetap cantik, di tambah dengan rambut panjangnya yang bertebangan terbawa angin. Sesekali ia merapikan rambutnya yang menganggu penglihatannya pada obyek yang sedari tadi dipandanginya, bintang – bintang yang berkelip di atas langit yang gelap. Entah apa yang dipikirkan yeoja itu, yang jelas Siwon sangat menikmati pemandangan yang ada di depannya. Setidaknya ia telah berhasil menghapus rasa bosannya.

Tiffany, yeoja yang telah mengalihkan perhatian Siwon, bangkit dari duduknya dan berjalan kearah tempat Siwon berdiri. Ia terperanjat tatkala bertatapan langsung dengan namja yang memiliki lesung pipi itu. Ya, Tiffany memang berjalan dengan kepala yang menunduk, sehingga ia tidak menyadari keberadaan Siwon. Ketika ia akan hendak meninggalkannya, Siwon dengan sigap menghalangi jalannya. Tiffany menatapnya dengan tatapan tidak suka. Siwon tidak peduli. Ia malah menyeret yeoja itu menjauh dari pintu masuk. Tiffany beberapa kali mencoba menepisnya, namun kekuatan Siwon jauh lebih besar. Ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan namja yang kini sudah menjadi ayah tirinya itu.

“Lepaskan aku Choi Siwon-ssi! Apa yang kau inginkan?” setelah merasa cukup jauh dari rumahnya, Siwon melepaskan genggaman tangannya pada tangan Tiffany. Ia menatap mata yeoja itu lembut, yang sontak membuat Tiffany melangkah mundur.

“Wa-waeyo?” Tanya Tiffany gugup.

“Bisakah kau berbagi cerita denganku?”

“Nde?” Tiffany tertawa ringan, apa – apaan ini? apa namja ini salah meminum obat? Kenapa ia tiba – tiba memintanya untuk berbagi cerita? Ini sungguh tidak masuk akal.

“Aku tidak ingin berbagi cerita apapun denganmu. Lagipula, siapa kau? Kenapa kau berani sekali memintaku seperti itu, eoh?” Tiffany hendak kembali meninggalkannya dan lagi – lagi Siwon mencegahnya.

“Tiffany-ssi aku mohon! Aku merasa asing disini. Setidaknya biarkan aku menjadi temanmu. Aku yakin kau adalah orang yang berhati lembut, aku bisa melihat itu dari matamu.” Sejenak Tiffany terperangah dengan kata – kata Siwon, namun ia segera tersadar.

“Simpan keyakinanmu yang berlebihan itu tuan Choi. Aku bukanlah orang yang seperti kau pikirkan.” Sanggah Tiffany.

“Baiklah aku ralat ucapanku tadi. Tapi tolong katakan padaku apa yang selalu eomma mu lakukan diluar sana?” Tiffany melipat kedua tangannya di depan dada dan melangkah mendekati Siwon.

“Oh, jadi kau penasaran dengan eommaku? Apa kau mulai menyukainya Choi Siwon-ssi?” Siwon menggeram berusaha menahan emosinya.

“Aku bertanya baik – baik nona Hwang, jadi tolong jawab saja pertanyaanku.”

“Kau akan mengetahuinya, jika kau lebih jeli tuan Choi.” Tiffany menggantungkan jawabannya dan kini ia benar – benar meninggalkan Choi Siwon yang masih termenung di tempatnya.

 

**Sifany**

Hari ini adalah hari dimana Jessica akan bertemu dengan calon kliennya. Jujur saja ia sangat gugup. Taeyeon terus berupaya menyemangati atasannya itu dengan meyakinkan dirinya bahwa ia adalah seorang Hwang Jessica yang tidak pernah gentar dengan apapun. Jessica sangat berterima kasih bisa memiliki sekretaris seperti Taeyeon yang selalu mengerti akan dirinya dan tidak pernah mengeluh dengan semua perintahnya yang mungkin saja bisa berlebihan.

Untuk mengatasi rasa gugupnya, Jessica sudah tiba di restoran tempat pertemuannya dengan pewaris Hi-Tech 15 menit lebih awal dari waktu yang ditentukan. Dengan begitu ia bisa berlatih terlebih dahulu sebelum bertemu langsung dengan kliennya.

Ting

Suara pintu restoran berdenting menandakan ada pengungjung baru yang datang, awalnya Jessica tidak mempedulikannya, akan tetapi setelah orang itu menghampirinya dan duduk tepat di depannya secara otomatis Jessica menolehkan kepalanya pada orang tersebut.

“Hai, kau pasti Hwang Jessica kan?” sapa nya tanpa menggunakan bahasa formal.

“Mianhae tuan, aku tidak mengenal anda. Jadi sebaiknya anda pergi sebelum aku memanggil pemilik restoran ini untuk mengusir anda.” Jessica merasa jengkel dengan sikap namja yang tiba – tiba duduk di depannya dan berlaku tidak sopan menurutnya.

“Uuhh.. ternyata kau sensitive sekali nona. Perkenalkan namaku Lee Donghae. Aku adalah perwakilan dari Hi-Tech company yang akan bekerja sama dengan perusahaan anda.” Jessica tersentak kaget setelah namja yang hampir saja diusirnya memperkenalkan dirinya sebagai perwakilan dari Hi-Tech company, dan itu berarti ia adalah pewaris tunggalnya. Jessica memperbaiki posisi duduknya lebih tegap dan rasa gugupnya kembali muncul.

“Mi-mianhae.. a-aku tidak tahu,”

“Gwenchana, aku sudah terbiasa menghadapi yeoja sepertimu. Jadi kau tidak perlu sungkan ne,”

“Mwo?”

 

**Sifany**

Sepanjang malam hingga saat ini, Siwon terus memikirkan ucapan Tiffany. Ia harus lebih jeli agar bisa mengetahui apa yang sudah diperbuat istrinya dibelakangnya. Berulang kali ia mengetukan jarinya di atas meja. Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga Hwang? Kenapa mereka seolah menyimpan sebuah misteri? Pertanyaan itu terus berputar dalam kepala Siwon. Dan hingga detik ini, ia belum bisa mengoreknya. Sebuah ketukan pintu memecahkan pikirannya. Setelah Siwon menyuruhnya masuk, muncullah sekretaris Park dengan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.

“Bagaimana kabarmu Siwon-ah?” ucapnya ramah seperti biasa.

“Seperti yang anda lihat sekretaris Park.” Siwon beranjak dari kursinya dan ikut duduk bersama orang yang sudah ia anggap sebagai paman baginya.

“Ne, aku tahu kau pasti sangat lelah Siwon-ah. Tapi kumohon, bertahanlah! Kau pasti akan segera menemukan jawabannya.”

“Jeongmal? Aku bahkan tidak yakin dengan diriku sendiri.” Sekretaris Park hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Siwon.

“Baiklah, aku datang kemari hanya untuk melihat keadaanmu. Sekarang aku harus pergi.”

“Nde? Kenapa cepat sekali? Anda bahkan belum meminum apapun.”

“Lain kali aku pasti akan berkunjung lagi untuk memantaumu,” ucapnya seraya berjalan menuju pintu ruangan Siwon, namun sebelum ia membuka knop pintu, ia kembali membalikkan tubuhnya dan berkata, “Yakinlah nak! Hanya kau satu – satunya orang yang mampu melakukannya. Aku sangat mempercayaimu.” Setelahnya, ia menghilang dari hadapan Siwon.

 

**Sifany**

KyuHyun yang secara diam – diam mencari tahu tentang keluarga Hwang, memberanikan diri mengunjungi butik milik Tiffany dan YoonA. Dengan modal keyakinan yang dibawanya, ia melangkah masuk dan berjalan santai seolah ia telah mengenal lama sang pemilik. YoonA yang kebetulan sedang memasang beberapa aksesoris pada pakaian hasil rancangan barunya, terlonjak kaget mendapati KyuHyun tengah berdiri tegap di sampingnya.

“A-anda siapa?” ada nada ketakutan yang tersirat dalam suara yang keluar dari mulut manis YoonA. KyuHyun hanya tersenyum geli melihat ekspresi YoonA. Tanpa menjawab pertanyaannya, ia dengan berani duduk di sofa berbentuk ‘U’ yang menghadap langsung pada yeoja yang memilki tubuh lebih tinggi dari unniedeul-nya itu.

“YAK!! Aku bertanya padamu tuan! Dan siapa yang memberimu izin untuk duduk disana?” teriak YoonA kesal.

“Kau tidak perlu khawatir YoonA-ssi, aku bukanlah orang jahat.” YoonA semakin terperangah begitu namja tersebut menyebut namanya. Darimana ia mengetahuinya? Pikir YoonA. Melihat reaksi kebingungan dari yeoja yang sudah mencuri perhatiannya sejak kejadian malam itu, KyuHyun pun berdiri dan memperkenalkan dirinya.

“Perkenalkan namaku Cho KyuHyun! Aku adalah salah satu karyawan di perusahaan appa mu. Kita pernah bertemu sebelumnya ketika Choi Siwon appa tiri mu hampir saja menabrak mobilmu dan juga unnie mu. Apa kau masih ingat?” kala itu YoonA memang tidak terlalu memperhatikan keadaan disekitarnya, ia masih syok sehingga tidak menyadari keberadaan Cho KyuHyun. Jadi wajar saja jika ia tidak mengingatnya.

“Mian, aku tidak ingat.” KyuHyun mendesah kecewa, tetapi ia tidak menyerah. Masih banyak seribu cara yang ia miliki untuk mendekati sang maknae dari keluarga Hwang.

 

**Sifany**

Menghadapi orang seperti Lee Donghae, sungguh membuat Jessica kewalahan. Ia harus ekstra sabar menanggapi semua perkataan dan juga tingkah lakunya. Jika saja ia bukan orang yang mungkin bisa menyelamatkan perusahaannya, tentu Jessica sudah menendang namja itu ke jalanan.

Lee Donghae terus saja menguji kesabarannya. Ingin rasanya Jessica mengakhiri pertemuannya, namun sepertinya namja satu ini tidak mudah untuk menyerah. Berbagai cara Jessica lakukan untuk segera pergi dari hadapannya, tetapi semua usahanya sia – sia. Selalu ada saja percakapan yang dibuat Donghae untuk menahan Jessica agar tetap menemaninya. Hingga sebuah panggilan yang berasal dari ponsel Lee Donghae mengharuskannya untuk segera pergi. Jessica bernafas lega, akhirnya ia bisa terbebas dari namja aneh dan menyebalkan ini. ia berpura – pura memasang senyum padanya begitu Donghae akan berpamitan pulang.

“Jessica-ssi, mianhae. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Ada sedikit masalah di kantor, jadi aku harus segera pergi.” Ujar Donghae dengan rasa bersalah yang menurut Jessica sangat berlebihan.

“Oh ne, gwenchana. Sebaiknya anda segera pergi Donghae-ssi, mungkin mereka sangat membutuhkan anda.” Jawab Jessica dengan nada yang dibuat – buat sesopan mungkin.

“Ne, Gomawo. Aku janji lain waktu kita akan membahas lagi kerjasama kita tanpa ada gangguan dari siapapun.” Jessica sontak membelalakan matanya, ia belum menyetujui kerjasama mereka tapi namja itu malah dengan mudahnya mengatakan jika mereka akan kembali bertemu dan membahasnya. Aish.. cobaan apa lagi ini? Jessica merogoh tasnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Taeyeon.

“Yeoboseo.”

“Taeyeon-ssi pastikan klien berikutnya tidak akan membuatku stress!”

“Ne, sanjangnim.”

KLIK

Jessica mengakhiri sambungannya dan berlalu meninggalkan restoran yang sedari tadi telah membuatnya gerah.

 

**Sifany**

Dua minggu sudah Siwon menyandang status sebagai suami dari Hwang Soo Na menggantikan posisi Hwang Suk Jin juga sekaligus menggantikan posisinya sebagai CEO. Hingga saat ini tidak ada perubahan apapun yang signifikan yang ia dapatkan. Ketiga putri Hwang masih bersikap dingin terhadapnya, dan yang lebih parah istrinya tidak pernah berada dirumah. Siwon sangat yakin itulah yang menyebabkan keluarga ini tidak pernah harmonis.

Malam ini Siwon menghadiri sebuah undangan pernikahan salah satu temannya di sebuah hotel terkenal di kota Seoul. Tanpa diduganya Tiffany juga berada di pesta yang sama dengannya. Ia mengenakan dress hitam yang membentuk lekuk tubuhnya dengan rambut yang terurai indah serta make up yang tidak terlalu tebal. Tak dapat dipungkiri, Siwon terpukau dengan penampilan Tiffany. Ia bergegas menghampirinya untuk sekedar menyapanya. Tiffany tengah berbincang dengan beberapa tamu lainnya dengan posisi membelakanginya. Siwon menyentuh bahunya lembut.

“Tiffany-ssi, apa kau datang sendiri?” suara yang sudah sangat dikenalnya, sedikit membuatnya terkejut. Tiffany memutar tubuhnya dan pandangannya langsung terkunci oleh tatapan lembut Siwon. Untuk beberapa saat, mereka diam tak bergerak. Orang – orang disekeliling mereka seolah hanyalah sebuah patung yang terpajang disebuah pameran besar.

Setelah kesadarannya kembali, Tiffany mengerjapkan mata indahnya dan suasana canggung tercipta diantara keduanya. “A-pa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?” Siwon tertawa renyah mendengar pertanyaan Tiffany.

“Ini adalah pesta pernikahan temanku Tiffany-ssi, jadi jangan selalu berpikiran buruk tentangku.” Seketika Tiffany merasa gugup dan juga merasa bersalah karena telah menuduh Choi Siwon mengikutinya. Kenapa harus pertanyaan itu lagi yang keluar dari mulutnya?

“Ah, ye. mianhae” Tatkala Tiffany memandang kearah lantai atas hotel tempat pesta ini berlangsung, ia melihat eomma nya keluar dari sebuah kamar dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Mereka terlihat sangat bahagia, nyonya Hwang bergelayut manja pada lengan sang namja. Tch, Tiffany tersenyum kecut dengan air mata yang coba ia tahan untuk tidak jatuh. Siwon yang merasa heran dengan perubahan raut wajah Tiffany, hendak menoleh kearah pandang Tiffany. Namun dengan sigap Tiffany menahannya.

“Siwon-ssi bisakah kau mengantarku pulang? Kepalaku terasa pusing.” Dahi Siwon berkerut hebat, apa ia tidak salah dengar? Tiffany memintanya untuk mengantar ia pulang? Merasa tidak mendapat respon dari lawan bicaranya, Tiffany pun berniat untuk meninggalkannya.

“Yak! Changkamman! Aku akan mengantarmu.” Tiffany tersenyum palsu, ‘ini bukanlah waktu yang tepat untuk kau mengetahui semuanya Siwon-ssi’ batinnya.

 

**Siffany**

Selama perjalanan menuju kediamannya, baik Siwon maupun Tiffany hanya terdiam tak mengeluarkan suara sedikitpun. Siwon sengaja menyalakan musik yang terdapat di dasbor mobilnya untuk menemani keheningan mereka. Sesekali ia melirik kearah Tiffany yang tampak sedih dan gelisah. Siwon tidak berani menanyakannya, ia tidak ingin merusak moment yang yang tidak terduga ini.

Setibanya di halaman luas keluarga Hwang, Siwon turun terlebih dulu berniat untuk membukakan pintu bagi Tiffany. Namun ia kalah cepat, Tiffany telah membuka pintunya sendiri. “Gomawo Siwon-ssi,”

“Cheonma,” ketika Siwon akan menutup pintu mobilnya, sebuah panggilan keras sukses membuat kedua insan itu terperanjat.

“TIFFANYYYY!!!!!”

Seorang yeoja berjalan cepat menghampiri mereka dengan mimik wajah yang bisa membunuh siapapun.

“Apa maksud semua ini, eoh? Apa kau berkencan dengannya?” semburnya tanpa basa – basi.

“Unnie, dengarkan aku! Kami tidak sengaja bertemu di pesta Sulli. Siwon-ssi mengantarku pulang karena aku merasa tidak enak badan.” Bela Tiffany.

“Cepat masuk kedalam Tiffany! Aku ingin bicara dengannya!”

“Keunde unnie…”

“Aku bilang masuk!!!!” tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi, Tiffany lebih memilih mengikuti perkataan unnie-nya.

Kini hanya tinggal Jessica dan Siwon yang berada di beranda dengan saling melempar tatapan tajam.

“Aku tidak tahu apa rencanamu menikahi eomma-ku. Tapi perlu ku peringatkan padamu Choi Siwon, jangan pernah mencoba mendekati Tiffany! Jika kau berani melakukannya, akan kupastikan kau akan angkat kaki dari rumah ini.” ancam Jessica tak main – main. Ia menjulurkan jari telunjuknya tepat di depan mata Siwon.

“Jika aku angkat kaki dari rumah ini, maka kalian lah yang akan menyesal.” Balas Siwon dengan menipis jari telunjuk Jessica yang masih terjulur padanya. Ia lantas menjauh dari hadapan Jessica meninggalkannya yang masih terpaku dengan kepalan tangan yang semakin kuat.

 

**Sifany**

“Unnie, dimana Jessie unnie? Apa ia tidak ikut sarapan dengan kita.” YoonA yang baru saja turun dari kamarnya, heran tidak mendapati Jessica di meja makan.

“Mollayo, mungkin ia ada urusan penting Yoong.” Jawab Tiffany tanpa menoleh pada YoonA. YoonA yang sadar ada sesuatu yang terjadi pada unniedeulnya, memilih untuk diam tak ingin mencampuri urusan mereka lebih jauh lagi. Selanjutnya acara sarapan mereka kembali diselimuti keheningan.

Drrttt … drrttt ….

Suara ponsel yang berasal dari saku jas Siwon, memecah keheningan diantara mereka. Begitu melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Siwon bergegas menjauh dan menggeser tombol hijau tanpa menunggu waktu lama.

“Yeoboseo,”

“…….”

“Mwo??? Segera cari cara agar Hi-Tech Company membatalkan kerjasama mereka dengan anak perusahaan kita.”

“……”

“Bagus. Aku serahkan semuanya padamu.”

KLIK

“Apa sebenarnya yang kau rencanakan Choi Siwon?”

 

 

TBC

Hai readers, aku kembali dengan cerita yang bertema ‘hurt’. Entah kenapa aku selalu dapat ide cerita seperti ini. di part pertama aku sengaja membuat ceritanya sedikit abu – abu. Mungkin di part berikutnya akan terkuak apa sebenarnya yang menjadi misteri di dalam kehidupan keluarga Hwang dan apa pula motif Siwon menikahi istri Hwang Suk Jin. So, kritik dan saran sangat ditunggu untuk kelangsungan part selanjutnya. See you ^^

 

 

 

 

80 thoughts on “(AF) The Wills Part 1

  1. ahh masih gantung semuanyaa,, knp eomma hwang bersaudara seperti itu? dan siwon,,apa yg ingin dilakukan pada kluarga hwang? dan dua orang yg berhubungan lewat telfon saat rapat pemilik saham usai? ahh menantikan part 2ny biar semuanya jelass😉 😉 see yaa😉

  2. Ihhhhhh asli nya kepo bangt sma nih ff.. knp siwon nikah sama tante2 beranak 3. Mending sama anaknya aja waks.. lagian ayahnya bikin warisan knp ga jodohjn aja sifanynya aigoo next ya min ditungfu bgt nih

  3. Wahwaahh ini nih ff yg beda dri yg lain, penasaran bgt, konfliknya juga bgus, ini tu yg jhat siapa?? Nggk nyangka juga siwon bkln jdi ayah tirinya fany , Duuhh berharap deh hwang bersaudara bisa tegar ya and buat fany ciiee yg kayknya bkal ada ehem” sma siwon duhh suka bgt apalagi couple”nya suka smua 😊 good job lah thor 😹😹 ditunggu sangat ini!! 😀

  4. Siwon kok mau ngebatalin ketja sama antara hitech ama anak perusahaan hwang ? Emg ada yg salah atau siwon disini karakternya jahat dan memiliki niat lain dibalik nikahin soo na? Hmm penasaran bgt deh ditunggu lanjutannua

  5. Sumpah penasaran sama kelanjutan ceritanya
    So many secrets di sini hehe^^
    😨😨😨😵😵
    Oh no Siwon oppa jadi daddynya Tiffany eonni??
    Kok Siwon oppa seleranya sama aunty aunty sihhh cekkkk😧😧😧😧
    Next part….

  6. baru baca ff ini sebenernya lama bgt udah gk baca ff sifany kangen bgt sm mrk😦 siwon-ah apa kau melakukan sesuatu yg buruk pd mrk? please jgn eh wkwkkw

  7. Knp msti nikah sm ny. Hwang
    Nnti sifany gmn?
    Kaya’a tn. Hwang msh idup n sngaja ksh pelajaran buat ank2’a ataauuu.. ah ga tau dh
    Lnjut aja

  8. Knp msti nikah sm ny. Hwang
    Nnti sifany gmn?
    Kaya’a tn. Hwang msh idup n sngaja ksh pelajaran buat ank2’a ataauuu..
    Trus kok siwon bgtu !
    ah ga tau dh
    Lnjut aja

  9. What……siwon menikah dengan nyonya hwang soo na,jadi appa tirinya tiga bersaudara hwang.
    Napa juga sih,siwon nikah ama nyonya hwang, apa maunya siwon sih,dan apa yg kau inginkan siwon???curiga deh ama karyawan perusahaan group hwang,kyknya ada penghianat deh dan kenapa siwon mau membatalkan krj sama perusahaan hi tech dengan anak perusahaan group hwang,sebenarmya apa yg kau rencanakan siwon dan apa niatmu masuk dikeluarga hwang dengan menikahi nyonya hwang?hore…..ada couple haesica.penasaran banget nih dengan sifany haesica dan juga kyuhyun yoona?dari part 1 udah suka ceritanya apalagi konfliknya,seru banget thor.daebak thor.lanjut aja ya thor.jjang.
    Ok thor,next ya.hwaiting.

  10. Oke nih crt krn dr awl udh mnguras emosi. mmg terkdg kmewahan tdk sll identik dgn kbhgiaan justru konflik srg timbul krn mngabaikn klrg dmi harta. ini trjd dgn hwang family yg kbhgiaan n kharmonisan klrg seakn tdk mw ad dlm klrg mrk. mgkin slnjutny akn lbh gmblang ttg bgmn mrk. next psti seru…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s