(AR) The Beautiful Suspects Part 2

The Beautiful Suspects Part 2

IMG_2187

Presented by: Youngwonie

Cast:

Choi Siwon |Tiffany Hwang

Supported cast:

Jessica Jung|Cho Kyuhyun|Lee Donghae|Im YoonA|Oh Sehun|Krystal Jung

Genre: Mystery, Soft Romance

Rating: PG 17

Length: Chaptered

Disclaimer: The cast are belong them self, but the story is mine. Don’t be a plagiator. Enjoy this story and don’t forget to comment. Your comment is oxygen to my finger and heart to write.

PS: Setiap paragraf awal adalah flashback saat Tiffany, Kyuhyun dan Jessica masih kuliah. Lihat tanggal yang tercantum di atasnya agar tidak bingung antara masa sekarang dan masa lalu.

 

—The Beautiful Suspects—

 

June 3rd 2010, 12.30 pm KST

“Itu—gila. Aku tidak mau melakukannya.” Protes Tiffany sambil terus berjalan melewati Kyuhyun yang kemudian mengejarnya. Kyuhyun menarik pergelangan tangan Tiffany. Membuat gadis itu berbalik menghadapnya.

Please, hanya kau yang bisa melakukan ini.” Kyuhyun kembali membujuk Tiffany. Kali ini disertai tatapan memohon.

Ini benar- benar gila. Pikir Tiffany. Ia tidak menyangka Kyuhyun akan memintanya menjadi kekasihnya. Ralat, pura- pura menjadi kekasihnya. Dengan tujuan membuat Yuri cemburu. Kyuhyun sudah lama menyimpan perasaannya untuk gadis itu. Tapi Yuri tak pernah menunjukkan ketertarikan pada Kyuhyun. Sebenarnya bukan hanya Kyuhyun, Yuri juga tidak menaruh perhatian pada pria lainnya. Ia terlalu fokus pada belajarnya agar beasiswa yang didapatkannya untuk kuliah di fakultas hukum Universitas Kyunghee bisa ia pertahankan.

Tiffany sudah mengatakan pada Kyuhyun agar mengatakan perasaannya langsung pada Yuri. Tapi Kyuhyun tidak setuju dengan ide Tiffany. Pasalnya, ia sendiri tidak yakin apakah Yuri akan menerimanya atau tidak. Dan Kyuhyun, tidak mau ditolak. Karena ia belum pernah ditolak oleh seorang gadis sebelumnya. Tidak ada yang pernah menolak pesona seorang calon pengacara handal yang tampan, kaya dan jenius seperti dirinya. Yah, kecuali sahabat- sahabatnya. Tiffany, Jessica dan Yuri. Karena mereka sudah terlalu mengenal Kyuhyun. Mereka tahu semua kekurangan pria tampan itu.

Tiffany tidak yakin ide Kyuhyun ini akan berhasil. Tapi melihat cara Kyuhyun meminta tolong padanya, Tiffany tidak bisa berkata ‘tidak’ lagi pada sahabatnya itu.

Tiffany mendesah. Namun selanjutnya ia mengatakan,”Baiklah. Aku bersedia.”

Mata Kyuhyun langsung berbinar.

“Oh,,, uri Miyoungie memang selalu bisa diandalkan.”

Kyuhyun memeluk erat Tiffany sampai gadis itu sesak nafas dan memukul- mukul dada Kyuhyun agar pria itu melepas pelukannya.

“Lep-pas! Kau hampir saja membunuhku, Kyu.”

“Maaf, aku terlalu bersemangat.” Ucap Kyuhyun setelah melepas pelukannya. Bibirnya masih menyunggingkan senyum saat mereka berjalan menuju kantin untuk menemui Yuri dan Jessica yang sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama.

Yuri sedang membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Sedangkan Jessica membolak- balik majalah Vogue yang baru saja dibelinya. Ia melirik ke arah Yuri sebentar sebelum berdecak kesal.

“Kemana sih mereka? Lama sekali.”

Yuri hanya mengangkat bahu menanggapi omelan Jessica. Detik berikutnya, dua orang yang ditunggu pun datang. Jessica langsung memasang wajah kesal sambil memelototi Kyuhyun dan Tiffany.

“Hai, girls.” Sapa Kyuhyun tanpa memperdulikan death glare yang diberikan Jessica. Ia melihat sekilas ke arah Yuri yang mendongak, membalas sapaannya dengan seulas senyum.

“Dengar, aku ingin mengumumkan sesuatu,” Ucapnya pada kedua sahabatnya itu.

Jessica yang awalnya kesal jadi menatapnya penasaran. Yuri pun tampak tertarik dengan apa yang akan dikatakan Kyuhyun.

“Cepat katakan, jangan buat kami penasaran.” desak Jessica. Sambil melipat lengannya di depan dada.

Kyuhyun menatap Tiffany di sampingnya. Tiffany mencoba membujuk Kyuhyun dengan tatapannya yang seolah mengatakan, ‘Ini tidak benar, Kyu. Batalkan saja!

Namun Kyuhyun tetap pada rencananya.

“Aku dan Tiffany—“ Ia memeluk pundak Tiffany dan merapatkan posisi mereka.

“Kami sudah jadian.”

Jessica dan Yuri melongo. Terlalu terkejut dengan pengakuan Kyuhyun.

“Kau serius?” tanya Yuri penasaran.

Kyuhyun mengambil tangan Tiffany kemudian menggenggamnya.

“Tentu saja. Iya kan, baby?” Kyuhyun lalu mengecup tangan Tiffany.

“Hmm.” Jawab Tiffany dengan senyum yang dibuat- buat untuk meyakinkan teman- temannya.

“Wah, aku tidak percaya. Ini sangat mengejutkan.” Ujar Yuri lagi.

Jessica yang terdiam sejak Kyuhyun mengumumkan kabar itu, tiba- tiba bangkit dari kursinya dan memeluk Tiffany.

“Selamat, Fany-ah.” Ucapnya. Ia juga memberi selamat pada Kyuhyun.

Yuri pun melakukan hal yang sama. Bahkan senyum Yuri saat mengucapkan selamat pada Kyuhyun dan Tiffany terlihat lebih tulus daripada Jessica. Reaksi yang ditunjukkannya tidak seperti harapan Kyuhyun yang mengira Yuri akan kecewa. Sebaliknya, Yuri tampak tidak terganggu karena berita itu. Tiffany justru kahawatir pada sikap Jessica yang berubah menjadi pendiam selama mereka makan siang. Jessica yang biasanya cerewet dan selalu antusias membahas apapun kini tampak tidak tertarik dengan obrolan mereka. Tiffany merasa ada yang salah. Nalurinya sebagai sesama wanita mengatakan, Jessica yang terganggu dengan hubungan palsu ini, bukan Yuri. Jessica yang menyukai Kyuhyun. Bukan Yuri.

***

 

April 12th 2015, 11:00 am KST

Mobil Donghae memasuki pelataran rumah Keluarga Jung. Siwon turun di depan rumah sementara Donghae memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ditunjukkan salah satu penjaga. Donghae menolak saat penjaga itu menawarkan untuk memarkirkan mobilnya. Ia tidak suka Wrangler JK kesayangannya dikendarai orang lain.

Sambil menunggu, Siwon menatap ke rumah mewah berlantai dua tempat Keluarga Jung tinggal. Rumah yang menjadi istana kebanggaan donatur  terbesar Universitas Kyunghee itu justru menjadi tempatnya meregang nyawa. Siwon berjalan ke arah selatan. Ia berhenti di tempat ditemukannya mayat  Jung Woohyun. Kemarin masih ada garis polisi di sana. Tapi siang itu semuanya sudah dibersihkan karena kasusnya sudah ditutup dan dianggap sebagai kasus bunuh diri.  Ia menatap ke atas, ke dinding  kaca ruang kerja Tuan Jung. Sekarang dinding kaca itu pun sudah diganti dengan yang baru.

Siwon menyipitkan matanya saat ia merasa seseorang menatapnya dari dalam ruangan itu. Dari siluet tubuhnya, Siwon yakin itu bayangan seorang wanita. Dan ia teringat pada Tiffany, istri Tuan Jung.

“Ternyata kau di sini.”

Donghae datang menghampirinya.

“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Donghae saat melihat raut muka serius Siwon.

“Tidak. Ayo kita ke dalam.”

Siwon mengajak Donghae ke pintu depan rumah itu. Sejenak ia mengalihkan tatapannya kembali ke atas, ke dinding kaca. Sosok itu terlihat menjauh dan menghilang.

Tiffany berbalik setelah melihat Siwon mengajak Donghae pergi. Ia yakin jaksa bermarga Choi itu melihatnya yang sedang berdiri di dekat dinding kaca karena tadi pria itu balas menatapnya. Tiffany memutuskan keluar dari ruang kerja mendiang suaminya dan turun untuk menemui Siwon dan rekannya. Saat ia baru menuruni tangga, kedua petugas dari kantor kejaksaan itu sedang dipersilahkan masuk oleh pelayan rumahnya.

Melihat kedatangan Tiffany, Siwon pun langsung menyapanya.

“Selamat  siang Ny. Jung.”

Dengan langkah anggun Tiffany menghampiri mereka.

“Selamat siang Jaksa Choi. Pasti ada hal yang penting sampai Anda datang mengunjungi kami.”

Tiffany mencoba bersikap baik sebagai tuan rumah. Tapi tatapan dinginnya pada Siwon menandakan bahwa ia tidak suka pria itu berada di rumahnya. Siwon lalu mengambil sebuah amplop dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Tiffany.

“Ini surat perintah penyidikkan dari atasan kami.” Ujar Siwon.

Tiffany mengerutkan keningnya. Ia membaca surat yang ada di amplop itu.

“Bukankah kasus kematian suamiku sudah ditutup?”

“Di sana tertulis jelas kalau ada anggota keluarga yang masih keberatan atas keputusan pengadilan dan meminta kami melanjutkan penyelidikan.” tandas Siwon.

Sebelum Tiffany sempat memprotes lagi, seorang gadis muncul dari dalam rumah.

“Aku yang memanggil mereka, Ny Jung.” Ucap gadis itu.

Dengan langkah anggun yang sama seperti Tiffany, gadis itu menghampiri mereka. Tiffany menatap Krystal, putri tunggal mendiang suaminya yang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’ itu. Krystal tersenyum ramah kepada Siwon dan Donghae, tapi tak menatap sedikit pun ke arah Tiffany.

“Selamat siang Jaksa Choi,”

“Selamat siang, Nn Jung. Ini rekanku Lee Donghae.”

Siwon memperkenalkan Donghae. Krystal membungkuk memberi salam.

“Sebagai pemilik rumah ini, aku memberi Anda izin untuk melakukan penyelidikan lanjutan.” Ucap Krystal pada Siwon. Ia melihat sekilas ke Tiffany. Lalu kembali menatap Siwon.

“Anda boleh memeriksa seluruh ruangan dan mengajukan pertanyaan pada seluruh penghuni rumah ini. Tidak terkecuali.” Lanjutnya. Ia menekankan kalimat terakhirnya.

“Terima kasih Nn. Jung. Kalau bisa, kami ingin ke ruang kerja mendiang ayah Anda terlebih dahulu.”

“Aku tidak keberatan. Dengan senang hati aku akan membantu agar pembunuh ayahku segera ditemukan.”

Krystal melirik ke Tiffany lagi.

“Mari, aku akan mengantar Anda berdua ke atas.”

Krystal berjalan duluan ke tangga. Diikuti Donghae dan Siwon. Saat melewati Tiffany, Siwon sempat melirik ke arah janda muda itu. Tiffany juga melihat ke arahnya. Tatapan mereka bertemu. Rasa tidak suka masih terlihat di mata Tiffany. Sedangkan Siwon, ia masih penasaran dengan sosok Tiffany. Wanita itu sangat dingin dan misterius. Berbeda dengan yang dikatakan Yoona kalau Tiffany Hwang adalah wanita yang ramah dan baik terhadap semua orang.

***

 

Siwon dan Donghae mulai meneliti ruang kerja Tuan Jung . Krystal pamit keluar agar mereka leluasa bekerja. Ruangan itu sangat rapi. Semua perabotan berada sesuai tempatnya. Bahkan kaca yang pecah pun sudah diganti dengan yang baru. Seperti yang sudah dilihat Siwon dari bawah tadi.

Siwon mengamati beberapa foto dari berkas file yang berisi data- data kasus kematian Tuan Jung yang berhasil dikumpulkan Lee Hyukjae dan tim-nya. Foto- foto itu diambil oleh tim investigasi dari kepolisian tepat setelah insiden itu.

“Kursi yang bergeser ke samping, sebagian gorden tertarik dan dinding kaca yang pecah.” Donghae menyebutkan keadaan yang tergambar dalam foto. Mereka membandingkan kondisi ruangan saat itu dan setelah insiden jatuhnya Jung Woohyun.

“Kalau ada seseorang yang menyerangnya, harusnya ada sidik jari atau jejak kaki pelakunya. Tapi polisi tidak menemukannya.” Lanjut Donghae.

“Kalau memang ingin bunuh diri, Tuan Jung seharusnya tidak perlu repot melakukan itu semua. Cukup menelan obat tidur dalam dosis tinggi. Lalu istrinya akan menemukan mayatnya keesokan harinya. Selesai. Tidak perlu ada keributan. Tapi Tuan Jung,TIDAK BERNIAT BUNUH DIRI.” Simpul Siwon.

“Lalu—adakah penjelasan untuk teka- teki ini? ” tanya Donghae.

Alih- alih menjawab pertanyaan Donghae, Siwon malah berjalan ke meja kerja Tuan Jung. Lalu duduk di kursinya.

“Malam itu Tuan Jung duduk di sini.”

“Karena insomnia yang dideritanya, Tuan Jung tak bisa tidur di malam hari. Jadi setiap malam ia akan bekerja sampai pukul 4 pagi.”tambah Donghae. Berdasarkan riwayat kesehatan Tuan Jung yang dipelajarinya dari berkas kasus itu.

“Ya. Orang- orang yang dekat dengannya pasti tahu kebiasaannya itu.”

“Lalu?”

“Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang membuatnya marah, atau—kesakitan.” Mata Siwon menyipit seolah membayangkan kejadian malam itu.

“Kalau dia marah, dia mungkin menghancurkan barang- barang yang ada di ruangan ini untuk melampiaskan kemarahannya. Ia juga mungkin memecahkan kaca jendela dengan benda keras dan semacamnya. Tapi—ia tidak akan melompat ke bawah sana.” Siwon menunjuk dengan tatapannya ke arah halaman tempat ditemukannya mayat  Tuan Jung.

“Seseorang bisa membunuh saat dia marah, bukan bunuh diri.”

“Jadi menurutmu saat itu Tuan Jung sedang kesakitan.” Donghae mengerutkan keningnya tanda ia sedang berpikir keras juga.”Dia diracun?” Donghae menebak.

“Itu dugaanku sementara ini karena Jung Woohyun tidak punya riwayat penyakit berat seperti orang tua yang seumurannya. Dia menjaga kesehatannya dengan baik. Dan malam itu, dia pasti merasa sangat kesakitan. Sehingga Tuan Jung terbangun dari kursinya dengan tiba- tiba yang menyebabkan kursinya bergeser ke samping.”

Siwon pun memperagakan apa yang dikatakannya. Ia bangun dengan mendadak sehingga kursi yang didudukinya bergeser ke samping persis seperti penjelasannya.

“Lalu ia kehilangan kendali. Ia memegang apapun yang bisa dijangkaunya. Karena itu gordennya tertarik.”

Donghae mengangguk- angguk membenarkan penjelasan Siwon.

“Lalu bagaimana caranya memecahkan kaca?”

Siwon dan Donghae menoleh ke arah Tiffany yang tiba- tiba bergabung bersama mereka di ruangan itu.

“Orang yang sedang sekarat  tidak akan bisa memecahkan dinding kaca itu. Apalagi kaca itu sangat keras karena kami memilih dari kualitas yang terbaik.” Lanjutnya.

Rupanya sejak tadi Tiffany menyimak hipotesis yang diungkapkan Siwon. Wanita itu kini menatap Siwon dengan tatapan menantang. Ia ingin tahu sejauh mana jaksa yang terkenal itu sanggup memecahkan misteri terbunuhnya suaminya.

Siwon tidak terpengaruh sedikitpun oleh tatapan Tiffany. Ia bergerak dari tempatnya berdiri ke sisi dinding kaca. Lalu mengetuk kaca itu.

“Dari kualitas terbaik, tapi bukan anti peluru.” Siwon menyeringai puas karena berhasil membuat sang nyonya besar membelalakkan matanya.

“Seseorang menembak kaca jendela ini dari luar dan membuat Tuan Jung terjatuh ke bawah.” Lanjutnya.

Namun Tiffany sepertinya punya pemikiran yang luas untuk terus menguji kemampuan analisa Siwon.

“Kalau seseorang menembaknya dari luar, bisa saja tembakannya mengenai tubuh suamiku. Orang itu sangat bodoh jika tidak memikirkan kemungkinan itu.” tantang Tiffany.

“Karena itu, si pelaku pasti sudah memikirkannya dengan matang. Pembunuhan ini sudah direncanakan dengan baik dan sempurna. Tuan Jung diracun dan dibuat terjatuh dari ruang kerjanya sendiri. Polisi akan mengira Tuan Jung bunuh diri dengan memecahkan dinding kaca lalu melompat ke bawah sana. Sesuai keinginannya.”

“Anggap saja analisamu benar, pelakunya adalah penembak jitu yang bisa memecahkan kaca itu tanpa mengenai tubuh suamiku. Itu artinya, tembakannya melesat ke arah lain. Harusnya ada bekas tembakan dan tentu saja proyektil pelurunya. Tapi polisi tidak menemukan benda itu saat melakukan investigasi di ruangan ini. Analisamu tidak terbukti Jaksa Choi.”

Sebelah alis Siwon terangkat mendengar pemikiran Tiffany. Ia tidak menyangka wanita itu bisa menyamai pemikirannya. Namun itulah sebenarnya tujuan Siwon. Memancing Tiffany berbicara. Karena ia yakin Tiffany tahu lebih banyak daripada yang dikatakannya di ruang interogasi kemarin.

Siwon menunjukkan seringaiannya.

“Bekas tembakannya ada Nyonya Jung.” Siwon mengatakan itu dengan sangat yakin. Kemudian ia berjalan ke arah Tiffany hingga posisi mereka berhadapan. Sangat dekat, hingga Siwon bisa mencium aroma parfum yang digunakan Tiffany. Merasa terintimidasi, wanita itu bergerak mundur. Menjauh dari tubuh Siwon dan tatapan pria itu yang seolah mengunci dirinya. Namun langkahnya terhenti saat punggungnya menabrak rak buku di belakangnya. Tiffany tersudut. Siwon terus bergerak ke arahnya. Tatapan mereka saling mengunci. Tiffany mencoba terlihat tenang dengan tatapannya yang dingin. Siwon menyeringai lagi. Matanya bisa berbohong, tapi Siwon dengan jelas bisa mendengar degup jantung Tiffany yang cepat dan tidak beraturan. Siwon memajukan wajahnya lebih dekat. Tiffany mengepalkan tangannya, bersiap melakukan perlawanan jika pria di depannya bersikap kurang ajar. Namun yang dipikirkannya tak terjadi. Siwon justru menoleh ke samping saat wajah mereka hampir bersentuhan. Mata Siwon tertuju pada satu titik di samping kepala Tiffany.

Secara refleks Tiffany pun menoleh ke titik itu. Sebuah lubang kecil yang terbentuk di salah satu buku besar yang terpajang di dalam rak di belakang tempatnya berdiri.

“Buku yang lain tidak berlubang. Hanya buku ini.” tandas Siwon.

“Donghae, periksa buku ini. Aku yakin ini bekas tembakan itu.” titah Siwon kemudian sebelum ia memutar tubuhnya menjauh dari rak buku dan  Tiffany. Wanita itu pun menyingkir saat Donghae mulai memeriksa lubang kecil di buku itu.

“Kau benar, ini bekas sebuah tembakan. Lubangnya tidak terlalu dalam. Berarti proyektilnya tidak tertanam dan harusnya jatuh di lantai dekat rak buku ini.” jelas Donghae.

“Polisi tidak menemukannya karena seseorang mengambilnya sebelum polisi datang.”

Mata Siwon menatap tajam ke arah Tiffany.

“Apa kau pikir aku yang melakukannya?”

“Anda adalah satu- satunya orang yang ada di TKP sebelum polisi datang. Dan Anda juga orang yang mempunyai kesempatan untuk meracuni Tuan Jung lebih dari siapapun.”

“Kau tidak bisa menuduhku tanpa ada bukti, Jaksa Choi.”

“Dengar, bekerja sama melakukan pembunuhan berencana bukan kejahatan yang ringan Nyonya Jung. Sebagai lulusan fakultas hukum Universitas Kyunghee, kau tentu tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan pengadilan kepada pelakunya.”

***

 

Eonnie, aku sudah di lobi.

Yoona mengetik pesan singkat di ponselnya. Tidak lama kemudian pesan balasan pun masuk.

Aku ke sana sekarang.

Yoona mengantongi ponselnya lagi setelah membaca pesan balasan itu. Ia baru saja melangkah ke tempat duduk di sudut ruangan saat seseorang menarik tangannya, membuatnya berbalik dan kaget setengah mati.

“Eonnie, berikan aku permen.”

Seorang wanita paruh baya menengadahkan tangannya di depan Yoona sambil merengek seperti anak kecil.

“Tapi—aku tidak bawa permen.” Jawab Yoona gugup.

Wanita tua itu tiba- tiba terisak dan menangis dengan keras. Yoona bingung.

Ahjumma, tolong jangan menangis. Nanti aku belikan permen untukmu ya. Tapi kau harus diam dulu.”

“Bohong, Eonnie tadi bilang tidak punya hiks, hiks, Eonnie jahat hiks hiks”

Yoona menatap sekeliling, tidak ada petugas yang berada di sekitar tempat itu. Ia tidak tahu caranya mendiamkan nenek itu. Nenek itu terus menangis sambil menutup matanya dengan kedua lengannya seperti anak kecil. Bahkan tangisannya semakin keras. Syukurlah orang yang ditunggu Yoona datang. Wanita berseragam serba putih itu menghampiri mereka.

“Ada apa Yoong?” tanyanya pada Yoona.

Ahjumma ini meminta permen padaku, Eonnie. Aku bilang aku tidak punya lalu dia langsung menangis. Aku tidak tahu cara mendiamkannya.”

Lalu Taeyeon, wanita yang dipanggil kakak oleh Yoona pun mengeluarkan sebuah lollipop dari saku jasnya.

Ahjumma, lihat, aku punya permen untukmu.” Katanya pada nenek tua yang sedang menangis itu. Lalu nenek itu menurunkan tangannya dan melihat lollipop yang dipegang Taeyeon. Seketika tangis nenek itu hilang berganti senyum bahagia. Ia mengambil lollipop dari tangan Taeyeon.

Jeongmal gumawoyo, yeppeun Eonnie.” Ucap nenek itu berterima kasih.

Nde,Jaljayo,,” jawab dokter cantik bernama lengkap Kim Taeyeon itu pada sang nenek.

Nenek itu pun pergi sambil bersenandung dan menjilati lollipopnya. Yoona mendesah lega.

“Bagaimana Eonnie bisa tahan menghdapi orang- orang seperti itu setiap hari?” tanya Yoona kemudian.

“Itu sudah menjadi tugasku, Yoong.” Jawab Taeyeon ringan.

“Baiklah, ini titipan Eonnie. Aku tidak bisa lama- lama karena waktu makan siangku hampir habis.” Ucap Yoona sambil menyerahkan satu karton berisi pakaian ganti milik Taeyeon.

“Terima kasih sudah membawakannya, Yoong. Sampaikan salamku pada Siwon dan Sehun. Aku juga minta maaf karena tidak bisa ikut makan malam untuk merayakan ulang tahun mereka.”

“Tidak perlu minta maaf. Masakkan saja kami makan malam yang enak saat pulang nanti.”

“Dengan senang hati.”

“Aku pasti bahagia kalau saja Eonnie yang menjadi kakak iparku.”

Pipi Taeyeon memerah mendengar ucapan Yoona. Ia memang sudah lama menaruh hati pada Siwon. Mereka bertetangga dan berteman sejak kecil. Taeyeon sendiri tidak tahu sejak kapan ia mulai suka pada Siwon. Tapi Siwon seperti tak melihat perhatiannya. Pria itu terlalu cuek dan hanya fokus pada pekerjaannya. Ia berharap suatu hari nanti Siwon bisa melihatnya sebagai seorang wanita. Bukan teman masa kecilnya saja.

“Kalau begitu aku pamit dulu Eonnie, aku harus kembali ke kantor. Sampai ketemu nanti malam.” Ucapan Yoona menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Sampai ketemu, Yoong. Hati- hati di jalan.”

Setelah memeluk Taeyeon, Yoona bergegas keluar dari lobi rumah sakit jiwa  itu. Ia terburu- buru sampai tak melihat seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Orang itu pun tak memperhatikan jalan karena sibuk menelepon. Akhirnya mereka bertabrakan.

Bruk! Prank!!!

Mereka bertabrakan cukup keras hingga keduanya tersungkur ke belakang.

“Auu,” Yoona merintih kesakitan karena pantatnya mendarat dengan keras di lantai. Tapi rintihannya terhenti saat melihat pria yang ditabraknya sibuk memunguti kepingan smartphone mahal miliknya yang bertebaran di depan Yoona.

“Oh, tidak!” pekik Yoona.

Pria itu mendongak saat mendengar suara Yoona. Ia tidak menjawab saat Yoona mengatakan hai. Pria itu hanya menatap Yoona dengan iris coklatnya yang gelap.

“A—ku minta maaf, Tuan.”

“Anda harus bertanggung jawab karena sudah merusak ponselku, Ahgassi.”

“Tapi, aku kan tidak sengaja. Lagi pula Anda yang sudah menabrakku.” Yoona mencoba membela diri. Ia tidak mau dipersalahkan begitu saja.

“Dengar, banyak data- data penting di ponselku ini. Kalau kau tidak mau bertanggung jawab, aku bisa saja menuntutmu karena sudah menimbulkan kerugian padaku.” Pria itu mulai kesal dan tampak sungguh- sungguh dengan ucapannya. Tapi Yoona tak gentar sedikit pun.

“Menuntut? Mentang- mentang kau seorang pengacara terkenal kau pikir bisa menuntutku begitu saja Pengacara Cho?”

“Kau kenal aku?” sebelah alisnya terangkat.

“Tentu saja, Tuan Cho Kyuhyun. Seorang pengacara senior sepertimu mungkin tidak mengenal aku. Jadi biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku Choi Yoona. Aku bekerja di kantor Kejaksaan Negeri Seoul. Aku juga juniormu di Kyunghee University. Kita berbeda 2 Angkatan.” Jelas Yoona.

Kyuhyun menautkan kedua alisnya.

“Jadi kita satu almamater, dan kau juniorku?”

“Ya, benar. Tapi walaupun Anda seniorku, aku tidak akan membiarkan Anda menuduhku begitu saja.” Yoona tetap pada pendiriannya kalau ia tidak bersalah.

“Lalu kau pikir siapa yang salah di sini Nona Jaksa Penuntut?”

“Kita buktikan lewat rekaman cctv. Kalau terbukti aku yang menabrakmu, aku janji akan memperbaikinya. Tapi kalau Anda yang salah, Anda harus meminta maaf padaku karena sudah menuduhku.” Tantang Yoona.

“Baiklah. Aku setuju.”

Kyuhyun dengan senang hati menerima tantangan gadis itu. Karena dia yakin dirinya tidak bersalah. Dan dia akan segera membuktikannya.

***

 

Appa, pembunuhmu akan segera ditemukan. Aku sudah menyewa jaksa terkenal untuk mengusut tuntas kasus kematianmu. Walaupun selama ini aku marah padamu karena menikahi wanita itu, aku tetap tidak rela kehilanganmu dengan cara seperti ini, Appa.” Gadis itu menyeka air matanya. Baru kali ini ia menangis untuk kematian ayahnya. Di depan semua orang ia berpura- pura tegar. Ia harus menutupi kerapuhannya agar tidak ada yang berani memanfaatkan kelemahannya. Ia harus melindungi diri dari kejahatan orang- orang di sekitarnya yang bisa mencelakainya kapan saja. Terutama ia harus waspada terhadap ibu tirinya. Ia yakin wanita itu ada hubungannya dengan kematian ayahnya.

“Walaupun pengadilan membebaskan wanita itu karena tidak ada bukti, Tiffany Hwang tidak akan bisa bebas dari kebenaran yang pasti akan terungkap. Dia yang  sudah membuat Bibi Jessie meninggalkan rumah kita. Dan sekarang, ia juga berhasil membuat  Appa meninggalkanku.” Krystal menyeka air matanya lagi.

“Nona, sudah waktunya pergi. Anda harus ke kampus sekarang.” Ucap supir Kim yang berdiri di sampingnya. Krystal mengangguk. Lalu ia berdiri.

“Aku pergi, Appa. Aku harus belajar agar bisa menggantikan posisimu. Aku tidak akan membiarkan kerja kerasmu mempertahankan perusahaan keluarga kita sia- sia.”

Ia membungkuk sekali di depan makam itu sebelum berjalan didampingi supir Kim ke tempat BMW M3– nya diparkir. Mobil sedan berwarna hitam itu pun melaju meninggalkan komplek pemakaman. Beberapa detik setelah itu, sebuah mobil mengikuti mereka. Pria yang berada di dalam mobil itu terlihat menghubungi seseorang.

“Dia baru saja keluar dari komplek pemakaman. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

Pria itu mengangguk paham setelah mendengar perintah dari orang yang berada di seberang telepon. Sadar lawan bicaranya tidak dapat melihat reaksinya, pria itu lalu menjawab.

“Baik. Laksanakan.”

Kemudian pria itu terus membuntuti mobil yang membawa Krystal. Dengan jarak beberapa meter di belakang mobil mewah itu, ia yakin pengemudinya tidak akan mencurigainya. Ia pikir ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Sampai sebuah sedan hitam lain menyalipnya. Pemuda tampan itu melebarkan matanya saat mobil yang melaju kencang tadi menabrak dengan keras bagian belakang mobil yang ditumpangi Krystal hingga mobil gadis itu terperosok ke jurang.

“Oh, sh*t” umpatnya. Ia langsung melajukan Bentley Continental yang dikendarainya dengan kecepatan penuh untuk mengejar mobil yang sudah menabrak mobil Krystal tadi. Ia sempat menghubungi 911 untuk mengirim ambulance ke tempat itu. Dan ia juga menghubungi seseorang yang menyuruhnya mengikuti putri Tuan Jung tersebut.

Hyeong, aku butuh bantuan. Ada yang berusaha mencelakai putri Tuan Jung. Rolls Royce Wraith warna  hitam menabrak mobilnya hingga masuk ke jurang. Aku sudah menghubungi ambulance. Mobil itu melaju ke arah selatan Seoul. Sepertinya menuju Incheon. Saat ini aku sedang berusaha mengejarnya.” Sehun setengah teriak saat menghubungi Siwon. Untungya ia sudah sering mengendarai mobil kakaknya itu, jadi ia sudah lincah menggunakan berbagai fitur yang mendukung kecepatan mobil sport mewah tersebut.

***

 

Siwon pikir Tiffany akan goyah karena ancamannya. Tapi wanita itu tidak bergetar sedikit pun.

“Aku pasti akan menemukan bukti itu, Ny Jung. Dan saat itu—“

Drrrt! Drrrt!

Sebuah panggilan menjeda kalimatnya. Dari Sehun. Siwon menugaskannya untuk mengawal Krystal karena khawatir si pembunuh juga mengincar putri tunggal Tuan Jung itu. Siwon menjauh dari Tiffany saat menjawab teleponnya.

“Ya, Sehunie. Lanjutkan saja tugasmu.  Jangan sampai kau lengah, mengerti?”

Setelah mendengar jawaban dari adik bungsunya itu, Siwon kembali menghadap wanita cantik yang kini menjadi salah satu tersangkanya dalam kasus kematian Tuan Jung.

“Nyonya Jung, aku masih belum tahu apa motifmu. Tapi, aku akan segera mencari tahu. Masa lalumu dan Pengacara Cho pasti ada hubungannya dengan kasus ini.”

Seketika itu mata Tiffany berkilat. Siwon menyeringai melihat perubahan di wajah Tiffany.

“Oh, aku melihat ketakutan di matamu sekarang. Jadi masa lalumu yang menjadi kelemahanmu?”

“Jangan coba- coba mengusik masa laluku, Jaksa Choi. Kau akan membayar mahal jika kau melewati batasmu.” Ancam Tiffany.

Drrrt! Drrrt!

Sebuah panggilan lagi. Siwon melihat ke ponselnya. Sehun menghubunginya lagi. Kali ini firasatnya tidak baik. Siwon langsung menjawab tanpa menjauh dari Tiffany.

Yeobosseo?”

Siwon langsung mendengar suara Sehun yang memberitahukan kecelakaan yang menimpa Krystal. Siwon mengurut pelipisnya.

“Donghae, cepat hubungi Lee Hyukjae untuk mengamankan jalan menuju Incheon. Sebuah Rolls Royce Wraith warna hitam. Sehun sedang mengejarnya.” titah Siwon segera setelah memutus sambungan teleponnya dengan Sehun.

“Baik.” Donghae langsung menghubungi temannya yang bekerja di Kepolisian.

“Apa yang terjadi? Aku mendengar temanmu menyebut Putri Tuan Jung.” Tanya Tiffany pada Siwon.

“Katakan apa yang terjadi Jaksa Choi. Ini menyangkut keselamatan Krystal kan?” desak Tiffany. Aneh. Siwon melihat kecemasan di wajahnya.

“Krystal Jung—mengalami kecelakaan. Mobilnya masuk ke jurang.” Jawab Siwon akhirnya.

Tiffany menutup mulutnya, Syok. Tubuhnya menegang.

“Anda tidak apa- apa, Ny Jung?” tanya Siwon khawatir. Ia mengguncang bahu Tiffany untuk menyadarkan wanita itu.

“Bagaimana keadaannya? Dia selamat kan?” ucap Tiffany setelah mulutnya kembali bisa bicara.

“Aku belum tahu. Kami akan ke TKP untuk memeriksanya.”

“Aku ikut.”

“Tidak, Anda tunggu saja di sini. Kami akan memberikan kabar  secepatnya.”

“Aku akan tetap pergi walaupun kalian tidak mengizinkanku.” Tiffany bersikeras.

“Baiklah. Terserah.”

***

 

Kyuhyun tersenyum puas setelah membuktikan kalau dirinya tak bersalah atas insiden tabrakan di lobi beberapa menit yang lalu. Mereka mendatangi petugas yang mengawasi kamera cctv di lobi dan meminta tolong petugas itu untuk melihat rekamannya.

“Sesuai kesepakatan, Anda harus memperbaiki ponselku, Nona Choi.”

“Baiklah. Berikan kartu namamu agar aku bisa mengantarkannya ke tempatmu setelah diperbaiki.” Yoona menengadahkan tangannya untuk menerima kartu nama Kyuhyun. Alih- alih mengambil kartu nama dari dompetnya, Kyuhyun malah tersenyum geli melihat kekesalan gadis itu.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Yoona tersinggung.

Kyuhyun melihat gadis di depannya itu cemberut.

“Kau harusnya menggunakan bahasa formal padaku, Nona Choi. Bagaimanapun juga aku adalah seniormu.”

Yoona menarik nafas. Berusaha mengontrol emosinya.

“Tuan Cho yang terhormat, bisakah kau memberikan kartu namamu padaku agar aku bisa mengantarkan ponselmu jika sudah selesai diperbaiki?”

“Itu lebih baik dari yang tadi.”

Kyuhyun lalu mengambil secarik kertas dari saku jasnya dan memberikannya pada Yoona.

“Berikan juga kartu namamu agar aku bisa menghubungimu. Untuk jaga- jaga agar kau tidak menipuku.”

Alis Yoona terangkat. Ia semakin kesal dengan sikap pria di depannya itu. Aku seorang jaksa yang terhormat. Mana mungkin aku akan menipumu. Batin Yoona.

“Ini kartu namaku. Aku janji akan menghubungimu setelah ponselmu selesai diperbaiki.” Ucapnya. Lalu Yoona melirik arlojinya dan pamit pada Kyuhyun.

“Aku sudah terlambat kembali ke kantor. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.”

Yoona membungkuk sekali sebelum pergi. Kyuhyun balas membungkuk padanya. Gadis itu berjalan ke pintu keluar menuju parkiran. Kyuhyun mengekorinya dengan tatapannya sampai gadis itu membelok dan tak terlihat.

“Keras kepala, tapi menggemaskan. Aku baru tahu dua sifat itu bisa ada dalam satu paket.” Gumam Kyuhyun. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. Melewati beberapa lorong yang sudah taka sing baginya. Dan akhirnya ia berhenti di depan sebuah ruangan.  Kyuhyun berdiri sejenak di depan pintu bercat  biru di depannya sebelum mengetuk pintu itu tiga kali.

Tok! Tok! Tok!

“Masuklah, Kyu.” Sebuah suara yang sangat halus terdengar  dari dalam. Sperti biasa, Dia selalu tahu kalau Kyuhyun yang datang mengunjunginya.

Kyuhyun pun masuk ke ruangan itu. Kyuhyun melihatnya berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah luar. Membelakanginya. Kyuhyun memasang seulas senyum saat Dia memutar kepalanya menghadap Kyuhyun.

“Bagaimana kabarmu?”

 

To be continued….

 

Annyeong,,,

Senang rasanya bisa kembali menulis buat blog yang menjadi langkah awal saya terjun ke dunia per ff-an. Terima kasih buat para Admin dan Author yang selalu mendukung saya untuk kembali menulis setelah vakum cukup lama. Terutama, Admin Choi Minri & Song Haneul serta Author Echa dan Neo Xenon. Juga para reader yang masih setia memberikan komentarnya di setiap ff yang saya buat. Terima kasih untuk kalian yang selalu memberi semangat dengan komentar- komentar yang lucu, penasaran, dan lain- lain yang saya yakin dengan tujuan yang baik. Mengapresiasi karya yang saya buat.

Kembali dengan genre Romance- Action- Mistery, saya harap ff TBS ini bisa menghibur reader semua seperti ff ‘Rain’ dan ‘The Thief’ yang pernah saya buat sebelumnya. Saran dan masukannya sangat saya harapkan untuk mengembangkan ff ini semenarik mungkin.

So, keep RCL. Read, Comment & Like this post.

With Love & Hug,

Youngwonie

 

103 thoughts on “(AR) The Beautiful Suspects Part 2

  1. Ow ow oww aku mencium bau bau Kyuna disini.. mudah-mudahan apa yang aku pikirin sesuai sama yg diceritain 😀
    Ck makin puyeng saya! Sebenernya ada apa sih? Siapa yg bunuh Tn. Jung? Kaitannya ama masa lalu itu apa? Dan… bisa gak itu si Jessica ditarik ke Korea? Mungkin bisa ngasih tau petunjuk buat aku..
    Terus.. nah ini nih! Siapa yg Kyuhyun besuk itu? Itu rumah sakit jiwa kan? Aigo aigoo~

  2. Penasaran apa keluarga jung punya musuh yang sebenernya emang benci sama mereka, jadi makin penasaran siapa orang jahat yang sebenernya,, lanjut ya thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s