(AR) Red Door Part 1

Red Door

  

Author : @echa_mardian

Sifany Horror Story

Main cast : Choi Siwon, Hwang Tiffany

Other cast : Cho Kyuhyun, Im YoonA, Jung Jessica, Lee Dongwook, Park Leeteuk, Kim Taeyeon

Genre : Horror, Romance, Angst

Rating : PG 17+

Disclaimer :

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

“Special for Elisa Ruth Septiyani.”

 

 

Warning : TYPO and blood!!!

 

 

Author POV

“Fany-ah? Hwang Tiffany?!”

Gadis itu tersentak ketika salah satu sahabatnya berteriak tepat di telinga kanannya. Gadis yang bernama Tiffany tersebut menatap tajam ke arah si pemanggil. Ia terkejut sekaligus kesal karena lamunannya diganggu.

“Hey, Jung! Bisakah tidak berteriak memanggilku? Aku tidak tuli!” hardik Tiffany. Jessica Jung memutar bola matanya, tidak merasa takut sedikitpun terhadap Tiffany.

“Kau benar-benar menyebalkan, Fany-ah! Sudah lima menit aku mengoceh tetapi kau sama sekali tidak memperhatikanku. Aish!”

Tiffany terdiam. Baiklah, ia yang bersalah. Tidak seharusnya ia melamun saat si cerewet Jessica bercerita.

Tiba-tiba pintu mobil di samping Tiffany terbuka, membuat dua gadis cantik yang sejak tadi duduk di dalamnya menoleh. Satu orang gadis lagi masuk ke dalam mobil. Rambutnya sedikit basah, begitu pula bajunya.

“Bagaimana, Yoong?” Tiffany langsung bertanya.

“Syukurlah, Eonnie. Masih ada empat kamar kosong!” jawab gadis kurus yang bernama Yoona itu tersenyum cerah. Tiffany dan Jessica langsung menengadahkan tangan di udara.

Thanks Lord!” seru mereka serentak.

Lalu Yoona, Tiffany dan Jessica pun keluar dari dalam mobil. Tiffany langsung dapat melihat kelima temannya yang lain berdiri di pintu bangunan yang merupakan Motel. Disana ada Taeyeon dan empat orang laki-laki. Mereka semua tidak berani keluar dari bangunan itu karena takut kebasahan. Hujan memang turun sangat lebat.

Kim Taeyeon adalah gadis yang paling tua diantara Tiffany, Jessica dan Yoona. Gadis bertubuh mungil tersebut nyaman dalam rangkulan sang kekasih, Park Leeteuk. Tiffany mengalihkan pandangannya ketika Yoona ditarik oleh seorang pria berkulit putih pucat yang bernama Cho Kyuhyun. Dan Jessica tidak mau kalah. Ia langsung memeluk kekasihnya, Lee Dongwook.

Hanya tinggal satu orang pria yang masih berdiri disana, namun Tiffany tidak ingin repot-repot memperhatikannya. Dia adalah Choi Siwon. Ketika semua temannya berpasang-pasangan, Siwon dan Tiffany justru saling menghindar. Tiffany sibuk memperhatikan tangan Kyuhyun yang tidak lepas dari pinggang Yoona dan hatinya merasa teriris-iris.

Haruskah mereka berdua memperlihatkan kemesraannya di hadapanku? batin Tiffany.

“Untunglah masih ada empat kamar yang kosong. Kalau tidak kita akan mati kedinginan di jalan,” ujar Leeteuk.

“Untung katamu? Jika kalian ingin tidur berpasang-pasangan, seharusnya kalian mencari lima kamar kosong!” tukas Tiffany tajam.

Mereka semua saling berpandangan, kecuali Siwon yang terlihat masih tidak peduli.

Kedelapan pemuda tersebut masuk ke dalam Motel dan bertemu dengan seorang pria bertubuh kurus kering yang berdiri di belakang meja. Jessica dan Yoona mempererat rangkulan mereka kepada kekasih masing-masing, karena tiba-tiba suasana berubah suram dan dingin.

Tiffany melirik jam dinding yang tergantung di dekat meja resepsionis. Jam 1 malam. Tsk, terang saja suasananya mencekam. Apalagi Motel itu tampak tidak terlalu bersih dan suram. Tiffany bertanya-tanya berapa banyak ruangan kamar yang ada disini.

“Empat kamar di lantai dua. Ini kuncinya!” ucap pemilik Motel.

Semuanya terdiam sejenak mendengar suara dingin pria tersebut. Tubuhnya sangat jangkung, melebihi Siwon dan Dongwook. Wajahnya sangat pucat dan memiliki ekspresi sinis dari matanya. Tubuhnya yang kurus kering seolah-olah akan hancur jika terbentur sesuatu. Rambutnya hitam tapi tidak terlalu lebat. Mata yang memancarkan kesinisan itu tampak seperti garis jika dilihat dari jauh.

Pria itu bernama Song Hwan.

“Ehm, Ahjusshi. Apakah tidak ada satu lagi kamar kosong?” Tiffany menginterupsi aksi diam teman-temannya. Tiffany tahu, teman-temannya terdiam bukan karena masalah pembagian kamar yang diprotes Tiffany, tetapi mereka terlihat takjub melihat sosok Song Hwan Ahjusshi.

“Sayangnya tidak ada, Agasshi.”

Tiffany menggerutu. Leeteuk dengan sigap mengambil empat kunci kamar dan mengajak teman-temannya berbicara.

“Baiklah. Ini kunci kamar kalian,” ujar Leeteuk sambil memberikan masing-masing kunci kepada Dongwook, Kyuhyun lalu Siwon. Ketiga pasang manusia yang sedang dimabuk cinta tersebut tampak sumringah dan bersemangat, kecuali Tiffany dan Siwon.

Siwon sendiri tidak peduli seandainya Tiffany menolak sekamar dengannya. Ia juga tidak peduli gadis itu akan tidur dimana. Yang jelas ia sangat lelah menyetir dan ingin segera beristirahat.

“Yah! Apa kalian benar-benar tidak mempedulikanku?!” protes Tiffany sebal. “Taeyeon-ah, berbagi kamarlah denganku! Biarkan Leeteuk Oppa tidur di sofa.”

Leeteuk merangkul pinggang Taeyeon semakin erat. “Shirreo! Mana mungkin kau tidur bersama kami.”

“Aish, aku tahu kau tidak ingin diganggu. Tapi tahanlah hasratmu malam ini saja!” rutuk Tiffany. Taeyeon tampak bimbang sekaligus malu. Tiffany mendesah. Tak ada gunanya membujuk Leeteuk Oppa. Walaupun tidak ada satupun dari mereka yang telah menikah, hubungan mereka sudah seperti suami istri. Apalagi Dongwook dan Jessica. Bahkan tanpa diminta pun, Tiffany pasti akan menolak tidur sekamar dengan mereka. Karena ‘hubungan’ mereka yang paling menggebu-gebu diantara yang lainnya.

“Eonnie bisa tidur denganku. Biarkan Kyuhyun Oppa bersama Siwon Oppa saja. Otte?”

Semuanya menoleh ke arah Yoona. Kyuhyun jelas-jelas terkejut dan tampak tidak terima. Siwon mengangkat kedua alisnya, tampak bosan dengan pembicaraan ini.

“Ch-chagiya, jangan seperti itu! Kenapa kau tidak ingin bersamaku? Aku ingin berdua saja denganmu. Tenanglah, Siwon Hyung pasti bisa menjaga Tiffany. Benar kan, Siwon Hyung?”

Tiffany merasa sangat terpukul. Kyuhyun memang tidak bisa dipisahkan dari Yoona. Ironis sekali nasibku, batin Tiffany. Sedangkan Yoona masih terlihat bingung. Di satu sisi ia merasa kasihan dengan Tiffany, di sisi lain ia tidak sanggup menolak permintaan kekasihnya.

“Ck, sudahlah. Aku ingin beristirahat!” tukas Siwon tiba-tiba. Ia berjalan menuju tangga dan tidak peduli lagi dengan pembicaraan tersebut.

***

Suara hujan terdengar semakin keras. Tiffany bergidik ngeri saat berjalan di lorong menuju kamarnya. Ia merapatkan mantel yang dipakainya dan berjalan sedikit cepat. Semua temannya sudah memasuki kamar masing-masing, hanya tinggal Tiffany yang masih menyusul Siwon.

“Kamar nomor 13? Tch, yang benar saja,” Tiffany bergumam resah. Sebelum masuk ke kamar itu, Tiffany menoleh ke sekelilingnya. Sepi, hanya terdengar suara hujan dan suara napasnya sendiri. Tiffany menatap ke ujung lorong, tempat dimana tangga berada. Ia baru menyadari kalau kamarnya terletak paling jauh dari tangga.

Tanpa menunggu waktu lebih lama, ia memutar handle pintu dan tertegun karena pintu itu terkunci. Tiffany menahan napas. Ia tidak salah kamar, kan? Tadi Leeteuk mengatakan kalau ia dan Siwon mendapat kamar nomor 13. Tidak mungkin Leeteuk berdusta.

Tiffany memutar handle pintu lebih cepat. Aish, ini gara-gara Siwon yang meninggalkannya begitu saja.

Entah karena hembusan angin atau memang perasaannya saja, Tiffany bergidik merasakan tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Ia menoleh dengan cepat ke belakang. Keadaan masih sepi seperti tadi.

Tiffany menggedor-gedor pintu. Ia tidak peduli tamu-tamu yang lain terganggu. Ia takut Siwon tidak membukakan pintu untuknya. Pria itu memang tidak mempunyai perasaaan.

“Yah! Choi Siwon-ssi! Buka pintunya!”

CLEK

Pintu terbuka dan Siwon berdiri di hadapan Tiffany. Ekspresi wajahnya tampak datar seperti biasa. Tiffany menatapnya tajam. Pria itu tidak menggubris Tiffany dan kembali ke dalam. Tiffany segera masuk dan mengunci pintu setelahnya.

Hangat. Mungkin Siwon sudah mengatur penghangat ruangan sebelum ia masuk tadi. Pria itu telah melepas sepatu dan kemejanya, menyisakan celana panjang dan baju kaus tipis di tubuh berototnya. Tiffany mengarahkan pandangan ke kamar yang berukuran sederhana tersebut. Pencahayaannya redup dan hanya terdapat satu tempat tidur.

Gadis itu terperangah. Hanya ada satu ranjang dan pria berkaki panjang itu sudah berbaring disana. Lama Tiffany tertegun di tempatnya. Ia tidak mau satu ranjang dengan pria itu. Tidak mau!

Lalu, jika tidak ingin satu ranjang dengan Siwon, Tiffany harus tidur dimana? Sofa yang tersedia sangat kecil dan sepertinya juga kotor. Ia tidak mungkin tidur disana. Siwon yang harus turun dari ranjang itu! Ia harus mengalah kepada seorang gadis!

Tiffany berjalan mendekati ranjang dan menuding Siwon dengan tangannya.

“Siwon-ssi, bangun! Aku ingin tidur di ranjang ini.”

Siwon diam saja. Ia masih menutup mata dengan lengannya yang dilipat di atas wajahnya.

“Siwon-ssi!”

“Tidur saja, tak ada yang melarangmu. Kau lihat ranjang ini bisa memuat 2 orang, walaupun sangat sempit,” ujar Siwon tenang tanpa merubah posisinya.

Mulut Tiffany terbuka kaget. “Apa katamu? Shirreo! Kau harus tidur di sofa itu!”

Mendengar perintah Tiffany, Siwon menjauhkan tangannya dari wajahnya. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Tiffany. Cukup lama Siwon menatapnya. Mata pria itu merah, menandakan rasa kantuknya yang amat sangat.

“Kau tahu? Aku sudah membayar biaya kamar ini dan kau menyuruhku tidur di sofa lusuh itu?”

Tiffany mendengus. “Oh, jadi kau yang membayar biaya kamar ini? Baiklah, aku akan membayar uangmu dua kali lipat! Itu sangat mudah bagiku.”

Siwon menggeram. Ia berdiri dengan gerakan sangat berbahaya dan menangkap tangan Tiffany yang akan merogoh dompet di dalam tasnya. Tiffany tersentak tatkala merasakan cengkraman kuat Siwon di tangannya. Wajah mereka sangat dekat dan Tiffany merasakan deruan napas Siwon menerpa wajahnya.

“Berhentilah menyombongkan diri di hadapanku, Nona Hwang. Tidak semua hal bisa kau tantang dengan uangmu,” desis Siwon.

Siwon merenggut kembali tangannya dengan kasar, membuat Tiffany terhuyung. Tiffany menunduk ketika Siwon akhirnya menyerah dan berjalan ke sofa. Pria itu memberi alas sofa tersebut dengan kain selimutnya kemudian berbaring. Ia memejamkan matanya, tidak peduli dengan Tiffany yang masih berdiri kaku.

***

Yoona baru saja keluar dari kamar mandi. Ia bersyukur di Motel yang sederhana ini ternyata mempunyai air hangat. Yoona mendapati Kyuhyun sedang asyik bermain PSP di atas ranjang. Yoona tersenyum sambil menghampiri Kyuhyun.

“Oppa tidak mandi?” tanya Yoona. Kyuhyun menghentikan permainannya demi menghadapi Yoona. Ia menarik pinggang Yoona dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya. Yoona tidak dapat berbuat apa-apa selain tersipu malu.

“Besok saja, Chagi. Hmm, kau wangi sekali.”

Kyuhyun sibuk menciumi leher Yoona sementara gadis itu memandangi hujan yang turun dengan lebatnya melalui jendela kamar. Jendela itu tampak berembun dan mengeluarkan uap dingin.

“Kenapa tubuhmu gemetar? Kau kedinginan?” tanya Kyuhyun lembut.

Nde. Oppa, suasana Motel ini sedikit menyeramkan. Aku merasa tidak nyaman. Bisakah besok pagi kita pulang saja?”

Kyuhyun meletakkan dagunya di pundak Yoona. “Chagi, kau tahu sendiri kalau kita singgah di Motel ini karena jalan menuju Seoul tertutup oleh tanah longsor. Aku rasa hujan tidak akan berhenti sampai 3 hari ke depan. Memangnya kenapa? Kau tidak nyaman bersamaku, ya?”

Yoona tersenyum kecil lalu membalikkan tubuhnya. Kini ia mengalungkan tangan di leher Kyuhyun dan berhadapan.

“Bukan begitu, Oppa. Tentu saja aku nyaman bersamamu. Maksudku, aku tidak nyaman dengan suasana Motel ini. Kau lihat saja, Oppa! Aku tidak melihat tamu-tamu lain selain kita berdelapan.”

Kyuhyun berdecak lalu tertawa. Ia mengecup hidung Yoona dengan mesra. “Itu karena sekarang sudah lewat tengah malam. Sudahlah, Chagi. Kau tidak perlu takut sebab aku akan selalu di sampingmu.”

Yoona mengangguk. Itu yang ia sukai dari Kyuhyun. Pemuda itu selalu bisa menenangkan hatinya. Yoona merasa nyaman dan tenang jika berada di dekat pemuda yang telah 3 bulan ini menjadi kekasihnya. Terlebih lagi jika pemuda itu bernyanyi. Yoona sangat mengagumi suara indah Kyuhyun.

Perlahan Kyuhyun menempelkan bibirnya ke bibir Yoona. Ia makin mempererat pelukannya di pinggang kurus gadis itu. Ciuman mereka berubah dari manis menjadi menggebu-gebu. Suasana dingin dan redupnya cahaya menjadi faktornya. Kyuhyun sangat mencintai Yoona. Ia bahagia akhirnya bisa menjadikan gadis itu miliknya. Walaupun Yoona berasal dari keluarga sederhana dan sudah tidak mempunyai Ibu, keluarga Kyuhyun dengan besar hati menerima Yoona sebagai kekasih Kyuhyun. Hanya saja Yoona sering merasa tidak percaya diri jika berdampingan dengan pewaris tunggal Cho Corp yang terkenal seantero Korea Selatan itu.

Cha-changkamman,” ucap Yoona setelah melepaskan ciuman Kyuhyun. Pemuda itu menatapnya bingung.

Wae?”

Yoona menggigit bibir bawahnya. Terlihat jelas kalau saat ini pipinya bersemu merah.

“Lebih baik kita istirahat,” ucapnya.

Kyuhyun tersenyum. Ia mendaratkan kecupan singkat di kening lebar Yoona lalu mengangguk.

Kyuhyun turun dari ranjang dan mematikan lampu. Ia kembali berbaring di samping Yoona dan memeluk gadis itu dari belakang. Mereka tidur menghadap jendela yang sengaja dibuka tirainya agar ada cahaya yang masuk. Yoona sebenarnya belum mengantuk. Ia memikirkan sesuatu yang sejak tadi pagi mengganggunya.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Kenapa tadi pagi kau menolak satu mobil dengan Tiffany Eonnie? Dia kan temanmu sejak kecil, seharusnya kau berlaku baik padanya.”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap Yoona. “Apa maksudmu? Aku bersikap baik padanya!”

Yoona menggeleng lemah. Ia membalikkan badannya dan lagi-lagi mereka berhadapan. Yoona dan Kyuhyun saling bertatapan sejenak.

“Oppa, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

Kyuhyun mengangguk singkat.

“Jika ada gadis lain yang mencintaimu melebihi aku, siapa yang akan kau pilih?”

Kyuhyun menangkup wajah mungil Yoona dan mendekatkan ke wajahnya.

Pabo, tentu saja aku memilihmu! Yang penting bagiku adalah perasaanku terhadap gadis yang kucintai, bukan sebaliknya. Walaupun kau menjauh dariku, aku akan tetap mengejarmu. Arraseo?”

***

Leeteuk menghampiri Taeyeon yang berdiri menghadap ke jendela. Sejak 5 menit yang lalu ia berdiri disana, memandangi derasnya air hujan yang turun. Leeteuk memeluknya dari belakang. Ia juga menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut yang telah disiapkan di kamar ini.

“Kau belum mengantuk?” tanya Leeteuk.

“Belum, Oppa. Jika kau mengantuk, tidurlah dulu. Kau pasti lelah menyetir.”

“Aku tidak akan tidur jika kekasihku masih terjaga seperti ini. Lihatlah, matamu masih terbuka lebar.”

Taeyeon tertawa. Ia menghela napasnya sambil bersandar ke tubuh Leeteuk.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Aku bahagia sekali akhirnya melihat Seohyun dan Yonghwa menikah. Tetapi mengapa mereka memilih menikah di pedesaan seperti ini. Jika mereka menikah di Seoul, pasti kita tidak akan jauh-jauh datang kesini,” ujar Taeyeon. Leeteuk tertawa mendengarnya, membuat sepasang lesung pipi manis terlihat di wajah tampannya.

Aigoo, Ahjumma Taeng, jangan mengeluh terus. Seharusnya kau bersyukur karena pergi ke pernikahan Seohyun membuat kita berakhir menginap disini. Di Seoul aku tidak bisa berduaan denganmu seperti ini,” kelakar Leeteuk. Taeyeon memukul lengan kekasihnya itu.

“Kau juga sepertinya sengaja membuat Siwon Oppa dan Tiffany tidur dalam satu kamar. Mereka di kantor sudah seperti Tom and Jerry. Sekarang aku yakin kalau mereka berdua pasti sedang Perang Dunia ketiga,” kata Taeyeon, sedikit khawatir mengingat keadaan sahabatnya.

Leeteuk tertawa. Ia membalikkan tubuh Taeyeon dan memeluknya dari depan. “Sudahlah, jangan khawatirkan Siwon dan Tiffany. Lagipula Siwon tidak pernah menyakiti perempuan. Sama sepertiku.”

Taeyeon membuat pelukan mereka melonggar dan mencibir pada Leeteuk. “Yang jelas Siwon Oppa tidak suka pamer sepertimu.”

Leeteuk menaikkan alis, tidak terima dengan tuduhan Taeyeon. “Aku hanya suka pamer jika di depanmu.”

Taeyeon menahan senyum. “Kau bohong.”

Aniya. Aku memang hanya pamer di depanmu. Saat ini aku juga ingin pamer padamu,” bisik Leeteuk.

“Apa itu?”

“Aku akan memamerkan padamu kalau aku adalah pencium ulung.”

Duar duar duar.

Wuuusssshhh.

Taeyeon bergidik saat Leeteuk baru memulai ciumannya. Ia menarik wajahnya menjauh dan mengerjap. Tiba-tiba kamar menjadi gelap dan terdengar petir serta gemuruh langit yang begitu keras. Terdengar Leeteuk bersumpah serapah karena ia belum menikmati ciuman mereka.

“Listriknya mati. Mungkin karena petir,” ucap Taeyeon. Leeteuk menyelimuti tubuh Taeyeon dengan selimut lalu meraba-raba ke atas meja di dekat sofa. Seingatnya tadi ia meletakkan ponselnya disana.

“Tetap disana, Taeng-ah. Aku akan mencari lilin dulu!” perintah Leeteuk. Gadis itu mengangguk. Setidaknya berdiri di dekat jendela lebih baik daripada di tengah-tengah kamar yang gelap gulita.

Taeyeon termasuk gadis pemberani. Ia tidak mudah percaya dengan hal-hal mistis misalnya hantu. Menurut Taeyeon itu hanya dongeng semata. Namun kalau boleh Taeyeon jujur, ia merasakan hawa aneh dan tidak biasa di sekelilingnya.

Matanya memandang keluar, kemudian terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Tepat dari jendela kamar itu, Taeyeon melihat sebuah bukit kecil dengan sebatang pohon beringin raksasa di kakinya. Di setiap dahan pohon itu tergantung kain hitam yang sudah lusuh serta koyak-koyak. Hati kecilnya tersentak kaget, tidak percaya dengan keberadaannya sekarang.

Taeyeon menelan ludah. “Tidak mungkin.”

Yang dapat Taeyeon lakukan hanyalah memeluk dirinya sendiri.

***

Dongwook turun dari atas tubuh Jessica dan keduanya mendesah puas. Pria itu merangkul tubuh berkeringat gadis cantik itu dan menciumi wajahnya berkali-kali. Jessica tersenyum sambil mengelus rahang kekasih tampannya.

“Kau benar-benar kekasihku yang hebat,” bisik Jessica. Dongwook tersenyum bangga.

“Tentu saja. Kau yang membuatku hebat,” balas Dongwook. Ia menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung lancip Jessica.

Baby, tidakkah Motel ini sangat seram menurutmu? Lihat saja pemiliknya, misterius sekali. Aku tidak pernah melihat pria sejangkung itu,” ujar Jessica.

Duar duar duar.

Wuuuusssh.

Baru saja Jessica mengungkapkan kekhawatirannya tentang Motel itu, tiba-tiba kamar menjadi gelap gulita setelah suara petir yang menggelegar dan angin yang berhembus kencang. Jessica bersembunyi di balik selimut dan Dongwook mendudukkan tubuhnya di kepala ranjang.

Aigoo, listriknya mati.”

Baby, cepat nyalakan lilin. Aku takut!” seru Jessica dari balik selimut. Dongwook berdecak lalu keluar dari dalam selimut yang melindungi Jessica.

Arraseo.”

Pria berkulit putih itu memakai celananya dan mengambil ponsel yang diletakkannya di atas nakas. Ia menyalakan ponselnya untuk memberikan cahaya. Gelap sekali, membuat Dongwook meraba-raba seperti orang buta.

“Tck, dimana letak lilinnya?” gumam Dongwook. Jessica pun menyalakan ponselnya lalu cepat-cepat mengenakan baju. Ia melirik sekilas ke layar ponsel dan memberengut.

“Disini bahkan tidak ada signal.”

***

“Jangan coba-coba keluar dari kamar ini!” teriak Tiffany sambil mencengkram tangan kanan Siwon. Siwon tidak tahu dimana ia bisa melihat wajah Tiffany karena ruangan benar-benar gelap. Saat listrik padam dan suara petir bersahutan, Tiffany langsung menghambur ke sofa, menindih pria itu dengan keras. Terang saja pria itu kesakitan karena tungkai kaki Tiffany yang kurus itu menendang dadanya.

DUAR!

“Aaaaaaahh!”

Sekali lagi terdengar petir dan jagad raya terang akibat cahayanya. Disanalah Siwon menggunakan kesempatan melihat wajah Tiffany.

“Dengar! Di dalam kamar ini tidak ada lilin. Jadi aku harus menemui pemilik Motel ini untuk memintanya. Kau tetap saja di atas ranjang!”

Shirreo! Aku takut, pabo!”

“Ck, apa yang kau takutkan? Dasar manja! Lepaskan! Aku tidak nyaman berada dalam ruangan gelap seperti ini.”

Shirreo, aku ikut denganmu. Jebal!”

Siwon mendesah panjang. Gadis ini benar-benar keras kepala. Tapi Siwon percaya kalau gadis ini benar-benar ketakutan. Sebab tubuh Tiffany bergetar hebat dan ia tidak berhenti menangis.

“Sudahlah, jangan menangis. Pinjam ponselmu!”

“Untuk apa?” tanya Tiffany disela isaknya.

“Tentu saja untuk menerangi jalan!”

Tiffany merogoh saku mantel dan memberikan ponselnya kepada Siwon. Siwon merenggutnya dengan cepat dan menekan salah satu tombolnya. Awalnya Siwon hanya melihat sekilas ke arah layar ponsel Tiffany, tetapi ada sesuatu yang membuatnya kembali memperhatikan benda tersebut.

Tiffany memasang foto Kyuhyun di wallpaper ponselnya.

Siwon terdiam sejenak. Jadi benar tebakannya selama ini. Tiffany Hwang mencintai sahabat kecilnya, Cho Kyuhyun.

“Yah! Kenapa kau tiba-tiba diam seperti itu? Ayo keluar dari kamar ini! Kumpulkan semua teman-teman kita!” desis Tiffany.

Siwon mulai melangkahkan kaki keluar kamar dan Tiffany tidak melepaskan lengan Siwon. Siwon membimbing Tiffany dengan hati-hati. Jika mereka salah melangkah, bisa-bisa mereka berdua terjatuh. Tiffany menoleh ke belakang dengan waspada. Suasana gelap dan suara lebatnya hujan membuat Tiffany makin gentar. Tidak dapat dipungkiri kalau Motel ini benar-benar seram jika dalam keadaan gelap gulita.

Kreeeek

Siwon membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu menapakkan kaki keluar. Lantai yang mereka pijak terasa luar biasa dingin, padahal mereka mengenakan kaus kaki serta sandal. Tiffany bergidik karena tengkuknya merinding. Cepat-cepat ia melepaskan ikatan di rambut hitamnya yang tebal.

Siwon bernapas lega ketika melihat Leeteuk, Dongwook dan Kyuhyun juga berada di luar kamar mereka. Pintu kamar masing-masing terbuka, tetapi tidak ada yang beranjak dari situ. Siwon bergegas menarik Tiffany menuju kamar Kyuhyun dan Yoona, begitupun yang lain.

Tiffany segera bergabung dengan para gadis yang juga berkejaran ke kamar Kyuhyun dan Yoona. Ia mendapati Yoona dan Jessica juga gemetar hebat seperti dirinya, kecuali Taeyeon.

“Motel apa ini yang tidak menyediakan lilin di kamar. Ck! Aku akan menemui pemiliknya!” ucap Dongwook.

“Aku ikut denganmu!” sahut Siwon dan Leeteuk kompak.

“Baiklah. Kyuhyun-ah, tolong jaga gadis-gadis disini!” perintah Dongwook. Kyuhyun mengangguk tegas.

Siwon POV

Aku, Leeteuk Hyung dan Dongwook Hyung turun melewati tangga dengan hati-hati. Baru kali ini aku berada di dalam ruangan yang gelap gulita. Aku terus mengarahkan cahaya ponsel Tiffany ke lantai, takut menginjak sesuatu. Ada satu hal yang mengganggu pikiranku.

Kenapa tamu-tamu yang lain tidak keluar padahal listrik padam? Apa mereka sudah terlelap? Atau di kamar mereka sudah tersedia lilin atau lampu cadangan? Ah, mungkin karena kami tamu baru, jadi belum mendapat fasilitas yang cukup.

Saat kami melangkahkan kaki turun dari anak tangga yang terakhir, tiba-tiba Leeteuk Hyung terlonjak mundur, membuatku tersentak kaget. Bukan hanya itu saja. Lompatan Leeteuk Hyung bersamaan dengan jeritan kucing yang membuat darahku berdesir. Aku mengarahkan cahaya ponsel Tiffany ke depan. Ternyata seekor kucing hitam sedang berteriak marah kepada kami.

“Kucing sialan! Membuatku kaget saja!” umpat Leeteuk Hyung. Itu karena ia sibuk mengarahkan cahaya ponselnya ke depan, bukan ke bawah.

Kajja, kita cari pemilik Motel ini. Siwon, kira-kira dimana Ahjusshi itu?” tanya Dongwook.

“Cari saja di meja resepsionis, Hyung!” jawabku. Bodoh!

“Oh ya, tentu saja.”

Dongwook Hyung berjalan paling depan. Kami sudah sampai di meja resepsionis dan tidak ada siapa-siapa disana. Aku mengarahkan cahaya ponsel ke segala arah. Sepi.

DUAR DUAR DUAR!

Sekali lagi terdengar suara gemuruh dari langit. Tampaknya hujan semakin menjadi-jadi. Aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi lobi motel itu sementara Leeteuk Hyung dan Dongwook Hyung sibuk berteriak memanggil pemilik Motel ini. Mereka juga menekan bel beberapa kali.

Wuuusssh.

Aku memicingkan mata. Apa itu tadi? Kakiku seketika membeku. Ada sekelebat cahaya putih yang melintas di depanku, diiringi dengan hembusan angin yang cukup kencang. Aku terus mengarahkan cahaya kesana.

Mwo? Tidak ada jalan lagi di depanku. Ternyata aku berdiri di dekat tembok paling ujung. Tanpa kusadari ternyata aku sudah berada jauh dari Leeteuk Hyung dan Dongwook Hyung di resepsionis.

Tapi…cahaya apa itu yang kulihat?

Ugh! Sial! Bau apa ini? Seketika perutku mual mencium bau busuk yang tiba-tiba. Bau sekali, seperti bangkai! Aku menutup hidung dan mulutku lalu bergegas kembali ke meja resepsionis.

“Aish, Leeteuk-ah! Kau kentut ya?! Astaga bau sekali!”

Oh, ternyata di meja resepsionis ini juga tercium bau busuk. Dan demi Tuhan, baunya lebih menyengat disini!

“Jangan asal menuduh! Aikh, bau sekali!” tukas Leeteuk.

Aku memencet bel dengan tidak sabar. Kemana pria bernama Song Hwan itu? Tidakkah ia tahu kalau ada pelanggannya yang sedang kepanikan saat ini?

Aku memandang keluar pintu masuk Motel yang sedikit terbuka. Hujan masih turun dengan lebatnya dan petir terus menyambar. Aku yakin listrik Motel ini padam karena sambaran petir yang sangat kencang tadi.

“Hyung, bagaimana kalau kita saja yang memeriksa fuse listriknya?” ajakku.

“Yah, itu ide bagus!” sambut Leeteuk.

Keadaan gelap seperti ini tidak dapat dibiarkan. Aku sendiri tidak bisa tidur dalam gelap dan kedinginan. Apalagi gadis cerewet dan sombong itu. Ia sudah terbiasa manja dan seenaknya sendiri, membuatku makin tak nyaman beristirahat.

Derap langkah kaki kami terdengar menggema di lobi itu. Aku menyorot seluruh permukaan dinding untuk mencari dimana letak fuse listrik Motel ini. Mungkin fuse listrik otomatis putus agar tidak terjadi kebakaran akibat arus pendek yang disebabkan sambaran petir.

Kami berpencar mencari dimana letak fuse tersebut. Biasanya benda itu dipasang di dinding luar atau—

“Ada yang bisa kubantu?”

Author POV

Ketiga pria itu kontan terlonjak kaget karena kehadiran Song Hwan yang tiba-tiba, berdiri di depan pintu masuk Motel dengan lentera di tangannya. Siwon, Leeteuk dan Dongwook terdiam sejenak, mengatur detak jantung mereka yang tidak beraturan.

Song Hwan berjalan mendekati mereka dan tersenyum tipis. Tetapi bagi Siwon dan kawan-kawan, senyuman tersebut lebih mirip dengan seringai.

“Kulihat kalian membutuhkan sesuatu.”

“Yah, Ahjusshi benar sekali! Kami membutuhkan lilin atau lampu lentera. Apakah Ahjusshi tidak melihat saat ini seluruh ruangan gelap gulita?” sahut Dongwook sedikit emosi. Diantara mereka semua memang Dongwook yang paling temperamental. Bahkan melebihi Tiffany dan kekasihnya sendiri, Jessica.

Song Hwan berjalan melewati mereka. Siwon, Leeteuk dan Dongwook mengikuti pria itu. Mereka kembali ke meja resepsionis dan bersyukur bau busuk yang menyengat tadi sudah lenyap. Siwon mengawasi gerak-gerik Song Hwan di balik meja resepsionis. Pria itu membuka lemari penyimpanan barang di belakangnya, bergerak lambat-lambat saat meletakkan beberapa batang lilin di atas meja. Siwon, Leeteuk dan Dongwook saling pandang.

“Yang benar saja, Ahjusshi! Ada empat kamar yang kosong tetapi kau hanya memberi 3 lilin?” suara Leeteuk membahana di lobi. Song Hwan menatap Leeteuk lekat-lekat.

“Hanya itu yang tersisa.”

***

Siwon dan Kyuhyun duduk di sofa sementara Tiffany dan Yoona berbaring di atas ranjang. Siwon memutuskan kalau ia mengalah saja dan menumpang di kamar Kyuhyun. Awalnya Kyuhyun menolak, tetapi Yoona memaksanya untuk setuju. Yoona tidak tega melihat Tiffany ketakutan. Mengingat mereka kekurangan lilin, jadi Kyuhyun terpaksa menyetujuinya.

Lagipula Tiffany adalah temannya sejak kecil.

Tiffany memandangi Yoona yang sudah tertidur lelap. Ia sama sekali tidak mengantuk. Tiffany mengutuk dirinya sendiri karena tidak membawa obat tidurnya. Sekarang sudah lewat jam 2 pagi dan Tiffany tidak ingin besok hari ada lingkaran hitam di bawah mata indahnya.

Tetapi bagaimana caranya tidur dalam keadaan seperti ini? Tiffany melirik ke arah sofa, tempat dimana Siwon dan Kyuhyun duduk menunggui mereka. Cahaya lilin ternyata berhasil membuat keduanya mengantuk.

Tiffany memandangi Kyuhyun diam-diam. Hanya dengan begini ia bisa mengagumi pria yang dicintainya itu tanpa ketahuan oleh Yoona. Tak ada harapan lagi bagi Tiffany untuk mendapatkan cinta Kyuhyun, meskipun keluarga mereka saling mengenal dengan baik. Kenyataannya Kyuhyun lebih memilih gadis sederhana seperti Yoona.

Ia akui Yoona memang cocok untuk Kyuhyun. Terlebih lagi Yoona juga bersikap ramah padanya. Tetapi yang namanya cinta tetap cinta.

Tiffany pun mulai mengantuk. Suara hujan lebat tidak lagi mengusik rasa kantuknya. Ia juga butuh tidur.

Tiffany POV

Aku membuka mataku dengan perlahan. Masih gelap. Memangnya aku tidur berapa lama? Kenapa masih gelap seperti ini? Apakah batang lilin itu sudah habis? Aku mencoba meraba-raba sisi kanan ranjang itu sambil memiringkan posisi tubuh.

Kosong dan dingin.

Aku tercekat. Tubuhku terasa beku dan jantungku berdebar lebih cepat. Dimana Yoona? Bukankah tadi aku tidur di sampingnya? Aku menggerakkan bola mata tanpa memutar kepala ataupun tubuhku. Aku terlalu takut sekaligus kaku untuk melakukannya.

Dalam sekejap tubuhku merinding merasakan dingin yang luar biasa. Aku menelan ludah dan aku pikir keringat sudah mulai keluar melalui pori-pori kepalaku. Aku bergidik. Ada sesuatu yang bernapas di tengkukku. Aku bisa merasakan hembusan napas hangat dan desahan tepat di belakang tubuhku.

Bibirku bergetar. Aku berusaha keras agar bisa bersuara dan memanggil Yoona, Siwon atau Kyuhyun Oppa. Tapi hasilnya? Nihil! Aku seolah-olah menjadi orang bisu. Aku tidak berani membalikkan tubuhku untuk mengetahui siapa yang sedang bernapas keras disana.

Tiba-tiba terdengar ranjang yang sedang kutempati berderak. Dari sudut mataku aku bisa melihat sesuatu bergerak ke arahku. Aku memejamkan mata kuat-kuat. Tidak! Ini tidak nyata! Aku hanya bermimpi buruk. Sebenarnya aku sekarang sedang tidur nyenyak, bermimpi indah bersama Kyuhyun Oppa, dan kembali ke Seoul.

Hoossh hooosssh.

Grrrrrr….

Aku mencengkram alas ranjang erat-erat. Ough! Mendadak tubuhku terasa berat. Berat sekali! Napasku tiba-tiba tersengal dan sesak. Aku membuka mulut untuk bernapas. Deruan napas yang tadi berada di belakangku, kini terasa sekali berada di atas tubuhku.

Hoossh hoosh.

Desahan napas itu makin mendekat ke wajahku. Aku mulai mencium bau anyir yang sangat busuk. Oh Tuhan, apa ini? Ada makhluk yang sangat anyir sedang menindih tubuhku!

Jika aku membuka mata, kupastikan aku akan mati di tempat. Sementara mulutku hanya bisa terbuka tanpa bisa berbicara apalagi berteriak. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku semakin berat dan tertekan jauh ke dalam ranjang.

Airmataku mengalir deras. Aku semakin sulit bernapas, sesak dan amat sangat takut. Tuhan, tolonglah aku! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Aku bisa menghitung jeda napasku sendiri. Sengalanku terdengar jelas di telingaku.

Grrrr….

Hoossh hoooshh…

Aku sudah tak tahan lagi. Makhluk ini semakin bernapas keras di wajahku. Aku menggeram sebelum mengerahkan seluruh tenagaku untuk berteriak.

“AAAAAAAARRRRGGGHH!”

***

Author POV

“Ini Eonnie, minumlah.”

Yoona menyodorkan satu botol air mineral kepada Tiffany. Tiffany menerimanya dan langsung meneguk cairan itu sampai habis. Kyuhyun duduk di tepi ranjang, memandangi Tiffany dengan tatapan sendu. Sedangkan Siwon masih duduk di sofa, tidak melepaskan pandangannya dari gadis yang baru saja bermimpi buruk itu.

“Aku tidak ingin tidur lagi,” rengek Tiffany sambil memeluk lututnya sendiri. Yoona melirik Kyuhyun sekilas, kemudian bergerak mendekati Tiffany.

“Eonnie, kau hanya bermimpi buruk. Aku akan berada di sampingmu terus. Jadi tidurlah. Kalau perlu, peganglah tanganku agar aku tidak beranjak pergi,” ujar Yoona lembut.

Tiffany menatap Yoona sesaat lalu mengangguk. Pantaskah ia membenci gadis ini?

“Kalau begitu, mari kita tidur lagi. Aku benar-benar mengantuk!” tukas Siwon kemudian menguap lebar di sofa.

Baby, kau juga tidur. Biar aku yang menjaga kalian berdua,” ucap Kyuhyun kepada Yoona. Yoona tersenyum senang. Setidaknya Kyuhyun juga bersedia menjaga Tiffany, teman masa kecilnya.

Tiffany berbaring, dengan Yoona yang merangkul longgar pinggangnya. Yoona sudah memejamkan matanya, sementara Tiffany tidak berani untuk kembali tidur. Bayangan dan suara-suara itu masih jelas terngiang di kepalanya. Tiffany menatap melewati jendela kamar. Hujan masih turun dengan lebatnya dan petir serta gemuruh tidak henti-hentinya menghiasi langit malam.

Tiffany merindukan rumahnya, dimana ia bisa memeluk Ayahnya dengan erat. Ayahnya yang memiliki perusahaan tempat mereka semua bekerja saat ini pasti sangat khawatir dengan keadaan putri tunggalnya itu. Tiffany dan kawan-kawan memang bekerja di perusahaan tekstil Tuan Hwang. Mereka berdelapan meminta izin dua hari di akhir pekan untuk menghadiri pernikahan salah satu rekan kerja mereka, Seohyun.

Tapi tidak disangka perjalanan pulang mereka terhambat karena hujan yang sangat deras mengakibatkan tanah longsor. Beruntung Leeteuk menemukan motel tua yang terletak di dekat hutan Chamdong ini.

Dan disinilah mereka. Di dalam motel tua yang menyeramkan. Namun setidaknya lebih baik jika menginap di dalam mobil.

***

“Sial! Sudah pagi begini kenapa hujan masih belum reda juga?” Dongwook mengumpat seraya masuk ke dalam kamar Kyuhyun-Yoona. Mereka semua berkumpul disana, menunggu Siwon dan Leeteuk mengambil sarapan di bawah.

Taeyeon yang berdiri di tepi jendela menatap langit yang sama gelapnya dengan langit senja. Kadar hujan tidak berkurang sedikitpun. Yoona masih setia menemani Tiffany di ranjang, sementara Kyuhyun, Dongwook dan Jessica duduk di atas sofa.

“Fany-ah, kau sudah tidak apa-apa?” tanya Jessica khawatir. Tiffany tersenyum singkat.

“Aku baik-baik saja, Jessie.”

“Syukurlah. Untung saja hanya mimpi buruk,” timpal Jessica lagi. “Tapi apa kalian semua tidak merasa seram disini?”

Ani,” jawab Taeyeon cepat. Jessica cemberut.

“Sebenarnya kau tidak perlu berkomentar, Taeng-ah. Kau kan tidak percaya hantu!” tukas Jessica. Ia bergelayut manja di lengan Dongwook.

Tak lama kemudian Siwon dan Leeteuk datang. Mereka membawa 8 kotak mie instan sudah siap saji. Mereka semua menjauh dari ranjang untuk bersama-sama duduk di sofa. Hanya Tiffany yang menolak untuk makan. Mereka tidak begitu mempedulikan Tiffany karena perut mereka sendiri sangat kelaparan. Terlebih lagi di cuaca yang dingin seperti ini.

Siwon belum memakan mie instannya dan mendekati Tiffany. Ia duduk di tepi ranjang agar berhadapan dengan gadis itu. Siwon meletakkan mie untuk Tiffany lalu menatapnya tajam.

Sadar dipandangi oleh Siwon, Tiffany pun menoleh. Mereka saling pandang sekitar beberapa detik dan akhirnya Siwon berdehem.

“Tak usah balas menatapku dengan mata sembabmu itu. Sekarang makanlah,” ujar Siwon.

“Aku tidak lapar,” jawab Tiffany ketus.

“Tidak mungkin. Kau belum makan sejak siang kemarin. Makanlah mie ini,” Siwon menyodorkan mie ke arah Tiffany.

“Aku bilang aku tidak lapar. Apa kau tuli?” suara Tiffany mulai meninggi.

Kontan saja keenam orang lainnya menoleh pada mereka. Siwon kembali meletakkan mie instan itu di meja nakas dan menjauh. Berdebat dengan Tiffany saat perutnya lapar memang tidak ada gunanya.

Tak ada yang berani membantah Tiffany. Gadis keras kepala dan temperamental. Ia dan Siwon tidak pernah akur satu sama lain. Mungkin karena Siwon tidak pernah patuh padanya. Kalaupun Siwon patuh, itu hanya karena Tuan Hwang. Semua orang tahu itu.

Beberapa menit kemudian mie instan sudah membuat perut mereka kenyang. Doongwook memutuskan untuk mencari pemilik motel dan bertanya apakah ada jalan alternative lain untuk mereka kembali ke Seoul. Siwon, Kyuhyun dan Leeteuk ikut bersamanya.

Kini tinggal Tiffany, Yoona, Jessica dan Taeyeon yang masih tetap berada di dalam kamar. Jessica masih kesal dengan listrik yang masih padam. Ponsel mereka tidak akan bertahan lebih lama jika tidak dicharge.

“Aku pernah mendengar berita buruk di daerah ini,” Taeyeon tiba-tiba bersuara. Tiffany, Yoona dan Jessica menatapnya.

“Berita buruk?” tanya Yoona. Taeyeon mengangguk. Ekspresinya sangat serius, membuat ketiga temannya saling pandang. Taeyeon bukan tipe wanita yang suka bergurau dalam keadaan serius seperti ini.

“Kalian ingin mendengarnya?” Taeyeon tampak ragu sesaat.

“Nde,” jawab Jessica.

Yoona, Jessica dan Tiffany mengawasi Taeyeon yang berjalan mendekati mereka. Gadis berambut hitam itu memainkan jari-jari tangannya sementara ekspresi wajahnya tampak khawatir. Taeyeon duduk di tepi ranjang, menatap satu persatu wajah ketiga gadis itu.

“Disini pernah terjadi pembantaian.”

Kontan saja Tiffany, Jessica dan Yoona mengerjap kaget.

“Ada enam orang pembantai yang masuk ke dalam Motel ini. Mereka sebenarnya perampok, namun mereka tak segan-segan membunuh jika para korbannya melakukan perlawanan. Mereka membuang mayat para korban ke sebuah bukit yang terletak tak jauh dari sini. Di kaki bukit itu terdapat sebuah pohon beringin raksasa dan di dahannya diikatkan kain-kain hitam. Masyarakat setempat yang mengikat kain-kain hitam tersebut. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan rasa bela sungkawa mereka.”

“Ketua kelompok itu bernama Pil Ho. Ia mati bunuh diri 3 bulan setelah melakukan pembantaian tersebut. Kelima rekannya mati satu persatu dengan cara yang mengenaskan dan tidak diketahui apa penyebabnya. Hanya itu yang aku tahu,” lanjut Taeyeon.

Suasana seketika hening. Ketiga gadis lainnya tidak berani beranjak dari ranjang. Kaki mereka yang tadinya menggantung ke bawah, kini telah mereka tekuk di atas ranjang dan saling merapat.

“Darimana kau mengetahui cerita itu? Mengapa kau yakin kalau di Motel inilah pembantaian itu terjadi?” selidik Tiffany. Tidak dapat dibohongi, ia paling tidak tahan mendengar cerita-cerita menyeramkan itu.

“Aku melihat bukit itu dari jendela kamar kita. Kalau kalian tidak percaya, lihatlah.”

Hanya Yoona yang berani turun dari ranjang. Ia melakukan apa yang diperintahkan Taeyeon. Yoona memegang tepi jendela tatkala matanya melihat bukit dengan sebatang pohon beringin di kakinya yang tak jauh dari mereka.

“Nde, aku melihat bukit itu.”

Tiffany dan Jessica menelan ludah. Taeyeon menghela napas. “Aku tahu cerita ini dari Nenekku. Ketika aku tahu kita akan melewati desa ini, aku khawatir. Dan menginap di Motel ini tidak pernah terlintas di benakku sama sekali.”

“Apa kita harus memberitahu Oppadeul?” tanya Yoona. Ia kembali duduk di samping Tiffany.

“Lebih baik menceritakannya pada mereka dan segera pergi dari sini! Aku yakin masih ada penginapan lain di desa ini!” sambar Jessica. Suaranya gemetar sama seperti tubuhnya.

“Tetapi diluar masih hujan lebat, Jessie!” tukas Tiffany putus asa.

Entah karena cerita yang baru saja mereka dengar atau karena angin yang berhembus lebih kencang, tiba-tiba suhu di dalam kamar itu membuat mereka bergidik. Dingin sekali. Yoona, Tiffany dan Jessica saling berpegangan satu sama lain, sementara Taeyeon mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar.

Tenang dan hening.

Taeyeon turun dari ranjang, memutuskan untuk melihat-lihat. Ia memeluk tubuh mungilnya dan berjalan menuju jendela. Gadis itu menatap bukit yang terhampar di depan matanya.

“Semoga arwah mereka tenang di sisi Tuhan,” gumam Taeyeon pelan sekali.

BRUK!

“Aaaarrrhh!!!”

Taeyeon terlonjak kaget mendengar suara benturan keras diikuti oleh teriakan melengking ketiga gadis yang lain. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Yoona, Tiffany dan Jessica saling berangkulan. Tak jauh dari mereka, ada seekor kucing hitam yang menggeram dari atas lemari. Mata hijau kucing tersebut menatap Taeyeon dengan tajam. Kucing hitam yang langsing tersebut berdesis-desis marah.

“Dasar kucing sialan! Mengagetkan saja!” teriak Jessica melengking.

“Sssssshhttt…” desis kucing hitam tersebut kemudian melompat ke loteng yang kebetulan terbuka di atasnya.

Yoona mengusap-usap dadanya. “Huft, aneh sekali. Ada kucing berkeliaran tetapi aku tidak melihat tamu lain di Motel ini.”

Tiffany menoleh ke arah Yoona. Ia sependapat dengan gadis itu.

“Aku juga berpikir seperti itu, Yoong. Kenapa aku tidak melihat satupun dari mereka keluar dari kamar? Padahal pemilik Motel itu berkata hanya kamar kita yang kosong.”

Jessica mengangguk-angguk setuju.

“Bagaimana kalau kita ketuk pintu kamar mereka? Kita pura-pura bertanya sesuatu. Siapa tahu kita mendapatkan teman lain di Motel ini. Semakin banyak teman, suasana menyeramkan mungkin tidak terlalu terasa,” usul Jessica.

“Mwo? Kau ingin mengganggu istirahat orang ya?” Taeyeon menginterupsi.

“Ck, kalau kau tidak ingin ikut ya sudah. Fany-ah, Yoong-ah, kalian ikut?”

***

Jika membutuhkan sesuatu, tunggu sebentar. Aku kembali satu jam lagi. Satu jam lagi? Yang benar saja! Dasar jangkung idiot!”

“Yah, jaga kata-katamu, Dong Wook-ah!”

Leeteuk membaca kembali memo yang ditulis Song Hwan untuk para tamunya. Kemudian ia mengutuk sesuatu seraya memandang sekeliling. Hanya ada satu set kursi tamu di lobi Motel yang sepi itu. Ia pun mengajak Dongwook, Siwon dan Kyuhyun untuk duduk disana.

“Aneh sekali, kenapa tamu-tamu yang lain tidak keluar dari kamar mereka?” celetuk Kyuhyun.

“Mungkin mereka semua adalah pasangan. Suasana hujan dan dingin seperti ini pasti mereka nikmati di ranjang bersama,” jawab Dongwook. Kyuhyun dan Siwon tertawa kecil.

“Eiiih, pikiranmu selalu mesum ya. Tch!” desis Leeteuk lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Siwon menolak untuk duduk. Ia teringat dengan apa yang dilihatnya di sudut ruangan tadi malam ketika mencari lilin. Siwon kembali ke sudut itu. Barulah ia menyadari disana ada sebuah lukisan besar yang letaknya memang tidak terlihat jika kita berdiri di depan meja resepsionis.

Siwon berjalan mendekati lukisan berukuran 150×200 itu. Lukisan seorang gadis berkepang dua dan sedang tersenyum. Rambutnya berwarna hitam pekat dan matanya membentukan lengkungan indah. Deretan giginya telah menguning karena lukisan itu pasti sudah berumur puluhan tahun. Selain seorang gadis, di dalam lukisan itu juga tampak sebuah bukit dan sebatang pohon besar di belakangnya. Gadis itu memegang sehelai daun edelweiss dan sepertinya ia sangat bahagia dilukis saat itu.

“Yeppeodda,” gumam Siwon.

Namun ada sesuatu yang mengusik hatinya. Wajah tersenyum gadis di dalam lukisan terasa sangat familiar baginya. Siwon terheran-heran sendiri memikirkannya. Tidak mungkin. Tidak mungkin ia menganggap gadis ini mirip dengan Tiffany Hwang hanya karena eye smile nya!

“Hyung!”

Siwon menoleh saat Kyuhyun memanggil namanya. Siwon mengangguk lalu beranjak dari sana dan menghampiri ketiga laki-laki lain.

“Hei, bagaimana kalau kita berkeliling di Motel ini? Aku bosan menunggu disini dan malas kembali ke kamar. Otte?” Dongwook mengusulkan.

***

“Sica Eonnie, apa kau yakin?”

“Gwaenchana, Yoong-ah. Siapa tahu mereka juga membutuhkan teman mengobrol.”

Taeyeon hanya menggeleng-gelengkan kepala sedangkan Tiffany menunggu di belakang mereka. Mereka berada di depan sebuah kamar, tepatnya kamar tamu-tamu lain. Jessica berdehem pelan kemudian mengayunkan tangannya untuk mengetuk pintu kayu tersebut.

Tok tok tok

Yoona, Tiffany dan Taeyeon diam menunggu sementara Jessica masih menempelkan kepalan tangannya di pintu. Tiffany menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia seakan-akan sedang berada di sebuah kastil kosong yang berusia ratusan tahun. Tiffany bergidik, tidak tahu apa alasannya. Ia melangkah lebih dekat ke arah Yoona dan Taeyeon.

“Motel ini benar-benar seram,” gumam Tiffany pada Taeyeon.

“Aku berpikir juga begitu,” balas Taeyeon muram.

Jessica kini menempelkan telinganya di daun pintu kayu di hadapan mereka. Keningnya mengernyit sebab tidak mendengar suara apa-apa selain napasnya sendiri. Setidaknya jika mencuri dengar seperti ini ia bisa mendengar beberapa suara. Tetapi ini hening, seperti tidak ada kehidupan di dalam sana. Jessica menarik lagi kepalanya lalu berbalik menghadap ketiga gadis lain. Ia mengangkat bahu dan menggeleng.

“Aneh sekali. Padahal aku mengetuk berulang kali. Tidak mungkin mereka tidak mendengarnya. Aku rasa di dalam tidak ada orang,” ungkap Jessica.

“Tetapi Pak Tua Jangkung itu berkata kalau hanya kamar kita yang kosong. Itu artinya ada orang di kamar lain,” sambar Tiffany cepat.

Keheningan kembali menguasai sekeliling mereka. Taeyeon mengedarkan pandangannya. Koridor tempat mereka berdiri tampak dua kali lebih suram dari sebelumnya. Dingin udara mengepung mereka. Yoona memeluk sebelah tangan Taeyeon sementara Tiffany dan Jessica saling berpegangan tangan. Aura disana sudah tidak nyaman lagi.

“Erm, Jessica. Sepertinya kita urungkan saja niatmu itu. Lebih baik kita kembali ke kamar,” putus Taeyeon dan hanya dijawab Jessica dengan anggukan cepat.

Lalu keempat gadis cantik itu membalikkan tubuh mereka, hendak memutar arah. Namun apa yang mereka dapatkan? Mereka berbalik hanya untuk berhadapan dengan seorang anak kecil yang tingginya kira-kira 110 senti. Tepat di depan mereka, dengan wajah pucat dan lingkaran mata hitam yang tebal.

“AAAAAARRHH!”

Tiffany mencengakram tangan Yoona dan Jessica yang berdiri mengapitnya. Mata hitam anak itu tepat ke arahnya. Tiffany gemetar dan juga merasakan hal yang sama di sisi kanan dan kirinya.

Hening dan dingin. Rambut anak itu berantakan, namun pakaiannya rapi serta bersih. Wajahnya saja yang membuat keempat gadis itu terkejut. Kulit bocah yang ternyata perempuan itu putih pucat, lebih pucat dari Taeyeon. Ia berdiri diam dengan kedua tangan yang mengapit tubuhnya.

Taeyeon memberanikan diri membuka mulut. Meskipun mereka bingung darimana datangnya gadis kecil ini, tetapi mereka yakin ia juga merupakan tamu disini.

“Ngh…hai, gadis kecil! Siapa namamu?” tanya Taeyeon ramah. Namun tidak dipungkiri ada getar ketakutan di suaranya.

Gadis kecil itu membuat jeda sejenak dan matanya tidak beranjak dari Tiffany. Yoona dan Jessica mau tak mau ikut melirik Tiffany. Tiffany menelan ludah. Tatapan gadis kecil itu tidak biasa.

“Lee Seul.”

Keempat gadis cantik itu saling bertukar pandang.

“Kau menginap di kamar mana?” tanya Yoona memberanikan diri.

Tangan Lee Seul terangkat menunjuk kamar yang tadi diketuk Jessica. “Aku tinggal disana.”

“Dimana Ibumu?” tanya Taeyeon lagi. Kali ini Lee Seul tidak menjawabnya. Ia melangkah ke depan pintu kamar di dekat Jessica, tetapi tatapannya belum beralih dari Tiffany. Terang saja Tiffany merasa terganggu. Ia paling benci jika ada seseorang yang belum dikenalnya menatapnya seperti itu.

“Bolehkah kutahu kenapa kau menatapku seperti itu, Lee Seul?” tanya Tiffany akhirnya. Nada suara Tiffany sedikit dingin dan kasar.

“Lebih baik kalian segera pergi dari tempat ini.”

Sejenak mereka terdiam. Tiffany berusaha menarik tangan Jessica agar segera pergi dari hadapan anak itu. Namun sepertinya, ketiga sahabatnya itu enggan berpisah dengan gadis cilik tersebut. Lebih tepatnya mereka masih penasaran.

“K-kenapa kau menyuruh kami pergi?” Taeyeon bertanya. Yoona memegang erat tangan gadis yang lebih tua darinya itu.

“Karena…disini banyak sekali hal jahat,” jawab Lee Seul dengan suara gemetar.

***

“Wah, aku tidak menyangka kalau Motel ini mempunyai ruang bawah tanah. Tetapi, kenapa gemboknya digantung begitu saja di pintu?”

Siwon mengamati pintu ruang bawah tanah yang baru saja dibicarakan Kyuhyun. Mereka kini berdiri di teras samping Motel dan melihat tangga menurun dan sebuah pintu kayu berwarna merah maroon di bawahnya. Sudah dapat dipastikan kalau pintu tersebut adalah pintu ruang bawah tanah. Siwon mengerling Leeteuk dan Dongwook.

“Aku ingin melihat-lihat ke dalam. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik!” tukas Dongwook seraya melangkahkan kakinya. Namun saat Dongwook akan melangkah lebih jauh, Leeteuk menahannya.

“Mwo? Kau tidak ingin ikut? Ya sudah!”

“Bukan begitu, Wook. Tidak sopan memasuki ruangan itu tanpa izin kepada pemilik Motel ini terlebih dahulu,” ujar Leeteuk tenang. Siwon mengangguk setuju.

“Ck, dia kan tidak ada disini. Lagipula kita menginap di Motel ini tidak gratis. Tamu adalah raja, Teukie. Kau ikut atau tidak?” kata Dongwook keras kepala.

Ketiga pria lainnya saling pandang, meragu. Sebenarnya mereka pun penasaran, tetapi tidak seagresif Dongwook. Dongwook tidak suka menunggu lama. Ia mendesah panjang kemudian melangkah turun.

“Kalau kalian tidak ikut, ya sudah. Dasar pengecut!” gerutunya sambil lalu.

“Aku bukan pengecut. Aish, baiklah. Aku ikut!” tukas Kyuhyun. Harga dirinya merasa tertantang.

Siwon dan Leeteuk tidak dapat mencegah Kyuhyun yang kini sama kerasa kepalanya dengan Dongwook. Siwon dan Leeteuk tidak mempunyai pilihan lain yaitu mengikuti mereka.

Kreeeeek.

Dari bunyinya, sepertinya pintu itu sudah sangat lama. Beruntung belum habis dimakani rayap. Siwon berjalan paling belakang jadi ia bisa mengawasi gerakan teman-temannya. Tampak Kyuhyun meraih sakelar lampu dan menekannya. Dalam sekejap ruangan yang gelap itu mendapatkan penerangan meskipun sedikit redup.

Siwon memandang berkeliling. Tidak banyak perabot disana. Hanya terdapat bangku-bangku kayu yang sepertinya sudah lapuk, sarang laba-laba dimana-mana, beberapa meja kayu, lampu-lampu meja yang rusak serta alat-alat usang lainnya. Mereka bergidik merasakan hawa dingin yang mencekam. Siwon membiarkan pintu merah itu terbuka sebab dapat menambah penerangan mereka.

“Kenapa si jangkung itu tidak mempergunakan ruangan ini dengan lebih layak? Maksudku, ruangan ini cocok untuk bermain tenis meja,” komentar Dongwook.

“Mungkin permainan itu tidak begitu diminati pengunjung,” balas Leeteuk yang sibuk mengamati sebuah lampu meja yang tudungnya telah koyak.

“Kalau begitu jadikan saja tempat menyimpan anggur atau sejenisnya,” sahut Kyuhyun. Pria tampan itu duduk di salah satu meja kayu.

Siwon tidak ikut berkomentar. Ia sibuk mengelilingi ruangan yang tidak lebih besar dari dua buah kamar motel itu. Karena penerangan tidak sampai ke sudut-sudut ruangan, jadi Siwon tidak bisa memastikan benda-benda apa saja yang tak sengaja ditendangnya. Siwon juga tidak peduli. Yang dipedulikannya hanyalah sebuah lukisan yang tergantung di salah satu dindingnya.

Pria itu tidak dapat berkata banyak. Lukisan yang dilihatnya sekarang sama persis dengan lukisan yang tadi dilihatnya di dalam motel. Lukisan gadis dengan mata eyesmile, namun ukurannya setengah lebih kecil. Siwon bertanya-tanya di dalam hati, siapa gadis yang ada di dalamnya.

Semakin ia melihat lukisan itu, ia merasa si gadis di dalam lukisan sangat mirip dengan Tiffany.

“Wah, lukisan yang sangat klasik. Taeyeon pasti menyukainya,” tiba-tiba Leeteuk berdiri di belakang Siwon dan menepuk bahunya. Ia tahu kalau kekasihnya sangat menyukai seni lukis klasik seperti lukisan ini.

“Lukisan ini ada dua. Yang tergantung di dinding lobi ukurannya lebih besar,” ujar Siwon.

“Mungkin lukisan ini milik keluarga Tuan Song,” ucap Leeteuk asal. Siwon bergumam setuju.

“Hmm, mungkin benar.”

“Kalau begitu, ayo kita keluar. Tidak ada yang menarik disini!” seru Dongwook bosan. Terdengar Leeteuk mendengus sebal.

“Ya. Kita ke kamar saja sambil menunggu Tuan Song kembali,” timpal Kyuhyun. Ia berjalan terlebih dahulu menaiki tangga menuju pintu merah. Dongwook menarik tangannya lagi.

“Kau saja, Kyu. Aku ingin melihat-lihat tempat lain. Lagipula gadis-gadis itu pasti sedang asyik bergosip untuk menghilangkan suntuk mereka. Siapa yang ikut denganku?”

Tiffany POV

Jika boleh aku jujur, saat ini perutku lapar sekali. Aku juga sangat tidak nyaman dengan tubuhku sendiri. Keringat telah membuat kulitku terasa lengket dan semoga saja tidak bau. Aku tahu Yoona, Jessica dan Taeyeon sempat mandi semalam sebab kamar mereka mempunyai kamar mandi yang bersih, tidak seperti kamar mandi di kamarku yang dindingnya penuh lumut. Semalam saja aku tidak sempat mencuci wajahku sebelum naik ke atas tempat tidur. Aish, kenapa nasibku sial sekali?

Lebih baik aku mandi terlebih dahulu baru setelah itu meminta makanan kepada para lelaki itu. Memikirkan mereka mengingatkanku kepada Siwon. Aku menyesal telah membentaknya tadi. Padahal maksudnya baik untuk memberiku sarapan. Tetapi tidak mungkin aku mengungkapkan penyesalanku kepada teman-temanku. Bisa-bisa mereka menertawakanku.

“Yoona, aku ingin mandi disini. Kamar mandi di kamarku kotor sekali,” aku memberitahu Yoona.

“Baiklah, Eonnie. Mau kusiapkan air hangat?” gadis itu tersenyum tulus seraya berdiri. Aku membalas senyumnya kaku. Sepertinya ia memang baik terhadapku. Mungkin sudah waktunya aku melupakan Kyuhyun Oppa.

“Nde. Gomawo, Yoona-yaa.”

“Cheonmaneyo, Eonnie.”

“Aku ingin mengambil pakaian gantiku dulu ke kamar.”

Yoona mengangguk. Sebelum keluar aku sempat melirik Jessica dan Taeyeon yang sedang duduk di dekat jendela. Mereka sedang asyik membaca majalah sambil sesekali berbicara satu sama lain. Aku menggelengkan kepala heran. Apa mereka tidak terpengaruh dengan perkataan Lee Seul tadi? Lagipula semuanya gara-gara Jessica yang sok berani mengetuk pintu kamar orang lain.

Sebelum keluar kamar aku melihat Yoona beranjak ke kamar mandi. Sekali lagi aku berada di koridor berlantai dingin itu. Cepat-cepat aku langkahkan kaki menuju kamarku dan Siwon. Meskipun diriku masih berhalusinasi kalau ada seseorang yang mengikutiku di belakang, aku mengabaikannya. Aku pernah mendengar cerita kalau dalam keadaan takut, kita bisa berhalusinasi macam-macam, terutama merasa diikuti seseorang.

Kreeek.

Aku berhasil membuka pintu kamar dan bergegas masuk ke dalamnya. Aku sengaja tidak menutup pintu agar tidak merasa sendirian di kamar. Lagipula aku akan mengambil tasku secepat kilat lalu keluar lagi. Aku memang selalu membawa pakaian ganti kemana-mana sebab takut terjadi sesuatu yang tidak terduga. Seperti sekarang ini.

Tepat saat tanganku meraih tas yang kuletakkan di atas ranjang, telingaku menangkap suara derap langkah lain di ruangan ini. Aku tidak tahu seberapa cepat tubuhku memutar arah, namun yang pasti bagiku, dalam sekejap sosok lain telah hadir di hadapanku. Sosok yang tak lain adalah teman sekamarku.

Choi Siwon.

Ia menyandar pada pintu kamar yang tertutup dan matanya menatapku lembut. Aku membeku di tempat, seolah tersirih oleh tatapannya. Seumur hidup ia belum pernah menatapku seperti ini. Ada apa dengannya? Dan bukannya ia sedang bersama teman-temannya untuk menemui Tuan Song Hwan?

Entah apa yang menahan tubuhku tetapi aku hanya berdiri kaku sementara Siwon berjalan ke arahku. Mata kami tidak lepas saling memandang. Ternyata matanya sangat bagus jika tidak mengerut seperti setiap kali menatapku. Bibirnya yang tipis itu sedikit melengkung ke atas, menandakan kalau ia sedang tersenyum padaku.

Siwon tersenyum padaku? Hei, ada apa dengannya?

“S-Siwon…ada apa? A-aku hanya ingin mengambil baju ganti dan mandi di kamar Yoona,” ujarku terbata.

Siwon tertawa kecil. “Mengapa jauh-jauh ke kamar Yoona. Silly? Kamar mandi kita tidak kalah bersih. Lihatlah.”

Aku menggeleng. “Tidak. Semalam aku sudah melihatnya.”

Siwon berdecak kemudian berjalan menghampiri pintu kamar mandi. Ia membukanya lebar-lebar lalu mengedikkan kepalanya ke dalam. Lagi-lagi ia tersenyum padaku.

“Lihatlah. Kamar mandi ini cukup bersih untuk Nona cantik sepertimu, Fany-ah.”

Aku sedikit gugup saat berjalan menghampiri kamar mandi. Tidak biasanya Siwon bersikap baik dan lemah lembut kepadaku. Namun begitu aku menghargai niat baiknya kali ini. Cukup sudah aku membentaknya tadi pagi. Aku melongokkan kepala ke dalam kamar mandi dan seketika mengernyit hebat.

Tidak mungkin aku salah lihat. Semalam setelah bertengkar dengan Siwon, aku memutuskan untuk mencuci wajahku. Tetapi langsung kuurungkan niat itu ketika melihat betapa kotornya kamar mandi disini. Akhirnya aku kembali ke tempat tidur dalam balutan pakaian yang sampai saat ini masih kukenakan.

Tapi sekarang semuanya berbeda. Kamar mandi itu tampak cukup sempurna. Wastafel dan lantai kamar mandi tampak bersih bahkan tercium aroma wangi. Aku mengernyit heran. Apa mungkin semalam aku sudah sangat lelah dan mengantuk? Apalagi aku bertengkar dengan Siwon.

“Bagaimana? Bersih, kan? Jadi kau mandi disini saja. Biar aku menjagamu disini.”

Aku menoleh pada Siwon yang berdiri di sampingku. Yang benar saja ia berniat menjagaku. Dia tidak sedang mabuk, kan? Atau kerasukan jin baik hati? Ia tidak pernah sebaik ini sebelumnya. Sikapnya ini menimbulkan rasa sesal padaku karena telah membentaknya tadi pagi. Apa ia tidak akan menertawakanku jika sekarang aku meminta maaf padanya?

“Ehm…Siwon-ssi, m-maafkan aku soal tadi pagi. Aku tidak sengaja membentakmu.”

Akhirnya aku meminta maaf padanya. Ia tersenyum lembut kemudian menganggukkan kepalanya.

“Aku mengerti, Tiffany. Maaf jika aku selalu membuatmu kesal. Aku hanya tidak ingin jatuh terlalu dalam untuk menyukaimu.”

Aku mengerjap. Untuk menyukaiku? Apa maksudnya itu? Matanya tidak berkedip menatapku dan baru kusadari ia mempunyai sepasang manik mata yang paling indah yang pernah kulihat.

“Tiffany, aku…menyukaimu. A-ani, sepertinya aku jatuh cinta padamu.”

E-eoh? Apa aku sedang bermimpi? Aku tidak ingin bermimpi lagi setelah kejadian tadi malam. Tetapi apakah ini mimpi indah atau mimpi buruk? Aku tidak pernah membayangkan ungkapan cinta dari satu-satunya pria yang selalu membuatku kesal. Setiap hari di kantor kami tidak pernah sekalipun akur. Ada-ada saja yang membuat kami bertentangan, bahkan hanya masalah kecil.

Entah berapa lama kami saling terdiam, lalu aku merasakan salah satu tangannya mengelus rambutku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku bisa melihat caranya memandang, sama dengan sorot mata Kyuhyun Oppa saat memandang Yoona. Penuh cinta dan ketulusan. Tidak ada gadis yang tidak terpesona oleh perlakuan itu, termasuk aku!

Well, terutama aku!

Aku belum pernah berkencan sebelumnya sebab aku selalu mengharapkan Kyuhyun Oppa menjadi kekasihku. Aku menyukai Kyuhyun Oppa sejak kami di sekolah dasar. Awalnya aku berpikir itu hanyalah cinta monyet, namun ternyata perasaan itu semakin kuat seiring bertambahnya usia kami.

Dan saat aku bertemu Siwon, aku berpikir kalau Siwon adalah pria yang paling arogan dan sinis di dunia. Aku tidak menyukainya sejak pertama kali kami bertemu. Ia tidak pernah sependapat denganku, ia tidak pernah memuji seperti pria lain, dan ia pernah mengatakan ia tidak akan menyukaiku seumur hidupnya.

“J-jangan mempermainkanku, Siwon-ssi. Aku tahu kita saling membenci,” ungkapku. Lantas aku mendapati daguku dipegang olehnya.

“Satu hal yang harus kau ketahui, Fany-ah. Aku tidak pernah membencimu. Aku mengatakan hal itu karena aku merasa kau sangat jauh dalam jangkauanku. Kau layaknya seorang putri raja, sedangkan aku hanya karyawan biasa. Aku tidak mempunyai apa-apa untuk membahagiakanmu. Aku tidak seperti Kyuhyun, pemuda yang kau cintai. Jadi, aku memilih bersikap dingin kepadamu hanya untuk menghilangkan perasaanku kepadamu. Tetapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak bisa menghilangkannya. Justru sekarang semakin mendalam. Hatiku menyuruhku untuk melindungimu di tempat ini, oleh sebab itu aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Maafkan aku, Tiffany. Selama ini aku telah membuatmu membenciku.”

Aku tertegun mendengar penuturannya. Kini kedua tangan Siwon menangkup wajahku dan menyandarkan keningnya di keningku. Jadi selama ini ia menyukaiku diam-diam dan bahkan ia tahu kalau aku menyukai Kyuhyun Oppa. Apa sikapku terlalu jelas di mata orang-orang atau hanya Siwon yang mungkin selalu mengawasiku?

Hatiku melunak setelah mendengar ini. Aku menatap wajahnya lembut. Betapa bodohnya kami selama ini telah bersikap saling membenci. Maksudku, Siwon yang paling bodoh. Jika ia menyukaiku, mengapa ia harus memikirkan status kami? Seharusnya ia bersikap lebih dewasa.

Sesaat mata kami saling bertemu. Aku bisa melihat kilatan cairan bening di matanya. Wajah kami semakin dekat sebab aku bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa wajahku. Entah ini perintah hatiku atau hanya reflek, aku pun memejamkan mata. Kedua tangannya juga membelai rahangku dengan lembut.

Tubuhku bergetar tatkala bibirnya menempel di bibirku. Harus kuakui rasanya sangat menakjubkan! Jujur saja, ini adalah ciuman pertamaku. Siwon tidak melakukan apa-apa lagi selain menempelkan bibir kami. Apa ia tidak berniat menciumku lebih lanjut?

Ya Tuhan, lagipula mengapa aku diam saja? Aku belum menyatakan perasaanku dan kini pasrah saja saat ia menciumku. Aku tidak boleh seperti ini! Aku harus meyakinkan diriku terlebih dahulu sebelum memberi respon. Dan ketika aku merasakan ia akan melumat bibirku, aku pun langsung melepaskan diri. Tanganku mendorong dadanya perlahan. Ia membuka matanya dan tampak sangat mabuk kepayang.

“S-Siwon…, aku harus segera mandi. Nanti kita bicarakan lagi.”

Apa? Tiffany kau sangat-sangat bodoh! Kenapa kata-kata itu yang kau ucapkan, aku meneriaki batinku sendiri. Mungkin aku terlalu malu. Jika Siwon benar-benar mencintaiku, ia harus menunggu sampai aku siap. Kulihat ia tersenyum canggung lalu menganggukkan kepala.

“Masuklah, aku akan menjagamu di luar pintu.”

Author POV

Tiffany masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Jantungnya berdegup sangat kencang, melebihi helaan napasnya. Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman. Ia tidak tahu apa alasannya ia tersenyum. Entah karena ciuman atau ungkapan cinta Siwon. Tiffany mengingatkan dirinya sendiri untuk segera mandi agar Siwon tidak menunggunya lama.

Namun ia harus memikirkan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Pengakuan Siwon membuat Tiffany berpikir keras dan lebih menggunakan ‘hati’. Ia tahu selama ini bukan Siwon saja yang dingin kepadanya, tetapi sifatnya sendiri juga sangat buruk pada pria itu. Tiffany tidak pernah bersikap sopan kepada Siwon dan terkadang meremehkannya.

Tiffany menghela napas. Jika ia bersikap baik, mungkin saja Siwon tidak sedingin itu kepadanya. Apa yang kita lakukan kepada orang lain pasti mendapatkan balasan yang hampir sama. Tiffany menepis pikiran itu terlebih dahulu sebab ia harus segera menyalakan shower dan menyabuni tubuhnya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan tubuh berkeringat.

Gadis cantik berkulit putih bersih itu melepaskan satu persatu pakaiannya. Untung ada handuk baru yang terlipat di atas wastafel. Tiffany menyalakan shower setelah mengatur air panasnya. Ia tidak bisa mandi dengan air dingin dalam cuaca seperti ini. Tiffany pun teringat Yoona. Gadis itu pasti sudah mempersiapkan segalanya untuk Tiffany mandi.

Tak lama kemudian Tiffany sudah berdiri di bawah siraman shower, membiarkan pikirannya luntur bersama air yang membasahi tubuh sintalnya. Tiffany mendongakkan kepala, menikmati aliran air yang lembut menerpa wajahnya. Tiffany tidak tahu berapa lama lagi mereka akan terjebak di dalam motel ini. Saat ini seharusnya mereka sudah sampai di Seoul, menikmati akhir pekan mereka bersama keluarga dan kembali ke kantor esok harinya. Tetapi kenyataannya mereka justru terkurung dalam motel seram yang mempunyai banyak keanehan.

Tiffany meraih sabun cair yang terletak di mirror box. Ia berharap semua yang tersedia di kamar mandi ini steril. Namun betapa terkejutnya Tiffany saat ia merasakan tangan lain menyentuh pundaknya. Dengan cepat ia membalikkan badan.

Butuh waktu sepersekian detik bagi Tiffany untuk menyadari hal ini nyata. Entah darimana dan sejak kapan, Siwon berdiri di belakangnya. Tiffany menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Kenapa ia tidak mendengar suara pintu terbuka atau derap langkah Siwon? Apa karena suara air yang cukup keras?

Tiffany tersentak ketika menyadari sesuatu. Ia tidak mengenakan apapun! Kedua tangannya reflek menutupi tubuhnya, tetapi Siwon lebih cepat. Pria itu menahan kedua tangan Tiffany dan menyandarkan tubuh polos itu ke dinding. Tiffany merasa napasnya tercekat di kerongkongan, membuatnya sulit bernapas apalagi berteriak. Namun sebenarnya ia tidak mempunyai niat untuk berteriak.

Tiffany tidak ingin munafik. Ia juga menginginkan Siwon berada di dekatnya. Perasaan mendamba setelah ciuman mereka tadi masih ada, terutama Siwon. Sejak Tiffany mulai menutup pintu untuk mandi, ia bergerak resah setiap detiknya. Sebagai seorang pria normal ia tidak bisa menghilangkan pikiran-pikirannya tentang bagaimana keadaan Tiffany di dalam. Apa yang dilakukan gadis itu sebelum mandi, sabun beraroma apa yang digunakannya, shampoo apa yang akan melumuri rambut indahnya, dan masih banyak hal lain yang cenderung erotis.

Siwon mengelus rahang Tiffany, tidak peduli dengan pakaiannya yang telah basah kuyup oleh siraman air shower. Matanya menatap intens. Tiffany dapat melihat gairah di mata Siwon, menusuknya tajam bagaikan ingin mengetahui isi kepalanya saat ini. Kemudian tangan Siwon menangkup wajah Tiffany cukup erat, membawanya semakin dekat ke jarak yang paling intim.

Tiffany bernapas pendek-pendek.

“Fany-ah, aku sangat mencintaimu. Aku mohon, biarkan aku memlikimu…”

Desahan Siwon membuat tengkuk Tiffany merinding. Hasratnya sendiri tak kalah besar. Dengan cepat ia membalas rangkulan Siwon, meletakkan kedua tangannya di pinggang pria itu.

“Siwon…ini tidak benar,” desis Tiffany. Siwon menyeringai.

“Cinta selalu benar, Fany-ah. Aku tahu kau juga menyukaiku dan juga mencintaiku. Kau hanya malu untuk mengungkapkannya.”

Tiffany menelan ludah. Ia tidak tahu apakah tebakan Siwon benar atau tidak. Lagipula ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Siapa yang bisa berpikir dengan benar disaat ada seorang pria yang menerobos masuk ke kamar mandi disaat tubuh kita tidak mengenakan apa-apa dan basah kuyup?

Siwon menutup jarak diantara mereka dan melumat bibir Tiffany. Ciuman mereka tidak seperti tadi. Kali ini lebih dalam serta menggebu-gebu. Siwon seperti sedang melahap Tiffany. Tangannya bergerak ke segala arah, mengelus kulit selembut satin gadis itu. Tiffany membiarkan dirinya mengerang. Ia sungguh tidak dapat menahan hasratnya yang sengaja dibangkitkan Siwon.

Mendengar erangan Tiffany, Siwon semakin menggila. Ia mempreteli pakaiannya sendiri, memperlihatkan otot-otot di tubuhnya yang mengeras karena gairah. Tiffany mengalungkan tangannya di leher Siwon, takut limbung di atas kakinya sendiri. Siwon benar-benar menghilangkan akal sehatnya.

Dalam sekajap keadaan mereka sama. Tiffany tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tetapi hatinya tidak ragu sedikitpun untuk menyerahkan segalanya untuk Siwon. Mungkin Siwon telah membuatnya jatuh cinta dalam sekejap, atau perasaan itu telah ada sejak dulunya tetapi ia tidak menyadarinya.

Mereka pun melakukan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Mereka tidak mempedulikan dimana mereka berada, tidak peduli apakah mereka bisa mengendalikan diri sendiri dan tidak peduli pada teman-teman mereka diluar sana. Semua itu tertutup oleh kendali hasrat yang besar.

***

“Kenapa Tiffany Eonnie lama sekali?” gumam Yoona yang sedari tadi duduk sendirian di ranjang sambil membaca buku yang dibawanya dari Seoul. Sementara itu Taeyeon dan Jessica masih duduk di posisi mereka semula.

“Eonnie, kenapa Tiffany Eonnie lama sekali? Ia bilang padaku hanya ingin mengambil pakaian gantinya!” seru Yoona kepada Taeyeon dan Jessica.

“Mungkin ia memutuskan untuk mandi di kamarnya sendiri,” jawab Taeyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.

Yoona mengedikkan bahu. “Aku rasa tidak. Ia mengatakan padaku kalau kamar mandinya kotor sekali.”

“Kalau begitu jemput saja dia di kamarnya. Siapa tahu dia tertidur disana!” tukas Jessica.

Yoona menghela napas. Mungkin Jessica benar, Yoona harus menyusul Tiffany. Di saat tidak ada para pria yang melindungi mereka, Yoona merasa harus melindungi Tiffany dan dua Eonnie lainnya. Terlebih lagi Tiffany yang mengalami hal buruk dari semalam. Yoona pun bangkit dan berjalan keluar kamar. Ia sempat mendengar Jessica mengumpat kepada hujan yang terus menerus turun dengan lebat.

Yoona membuka pintu dan melongokkan kepala keluar. Seperti sebelumnya tidak ada siapa-siapa. Suasana semakin mencekam, padahal waktu belum mencapai siang hari. Ternyata mendung di luar memberi dampak buruk ke dalam motel. Bangunan itu semakin terasa dingin dan suram.

Gadis berleher panjang itu memberanikan diri menyeret langkahnya keluar. Ia tidak habis pikir apa yang membuat para pria lama. Apa yang dikerjakannya di bawah sana? Apa mereka sudah berhasil menemui Tuan Song pemilik motel dan jalan alternative menuju Seoul?

Setelah sampai di depan kamar Tiffany, Yoona segera membuka pintu. Bunyi derit pintu memecah keheningan kamar, namun sedetik kemudian terdengar suara shower menyala sayup-sayup di telinganya. Yoona terdiam di ambang pintu untuk sesaat. Jika shower menyala itu artinya Tiffany sedang mandi. Yoona hanya bisa menggeleng heran. Mengapa tadi menyuruhnya menyiapkan air hangat jika ingin mandi di kamar mandi sendiri?

Yoona tidak ingin memanggil Tiffany dan lantas menutup pintu lagi. Lebih baik menunggu Tiffany di kamar.

***

“Tidak ada jalan alternative? Yang benar saja!”

“Jadi kita tidak akan keluar dari tempat ini sebelum hujan reda? Damn!”

Song Hwan hanya mengedikkan bahu setelah mendengar omelan pelanggannya. “Aku hanya mengatakan kebenaran. Jadi lebih baik sekarang kalian kembali ke kamar dan tunggulah makan siang dariku.”

Kyuhyun mendengus. “Ya, setidaknya kami tidak makan dengan mie instan lagi,” sindirnya.

Song Hwan tidak berkata apa-apa lagi selain mengawasi keempat pemuda yang kembali naik ke lantai dua. Ia menelengkan kepalanya kemudian mengeluarkan seringaian yang sulit diartikan. Ada senyum tipis di wajah tirusnya. Ia mengambil pisau daging yang terletak di atas meja resepsionis tersebut lalu kembali ke dapur, ingin memulai kegiatannya memasak untuk makan siang para tamu.

Tepatnya 8 orang tamunya.

“Hallo, ladies!” seru Dongwook ketika pintu kamar Kyuhyun-Yoona terbuka. Kebetulan Jessica yang membukakan pintu. Wanita itu langsung memeluk kekasihnya sekilas sementara tiga pria lain melewati mereka.

Tiffany duduk di tepi jendela sambil mengeringkan rambutnya. Matanya langsung tertuju kepada Siwon yang memasuki kamar paling terakhir. Siwon tidak menoleh sedikitpun padanya dan memilih duduk di salah satu sofa. Tiffany masih mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil seraya menyembunyikan semburat merah di pipinya. Percintaan singkat sekaligus hebat mereka beberapa saat lalu masih teringat jelas di benak Tiffany. Tiffany berpikir mungkin Siwon masih malu mengungkapkan yang sebenarnya di depan teman-teman mereka oleh sebab itu ia menghindari tatapan Tiffany.

Tiffany akan menanyai Siwon setelah mereka hanya tinggal berdua. Kejadian di kamar mandi tadi benar-benar mereka lakukan secara sadar dan tergesa-gesa, sebab Siwon berkata ia ingin kembali bergabung bersama para pria untuk menunggu Tuan Song di lobi. Tiffany merasa sangat puas dan tentu saja tidak menyesal. Ia yakin kalau dirinya juga menyukai Siwon. Tiffany mendengus, menyadari dirinya telah termakan karma cinta. Ia terlalu membenci Siwon selama ini hingga tidak menyadari kalau perasaan itu telah berbalik arah.

“Fany-ah, ada apa?”

Pertanyaan Taeyeon membuat Tiffany tersadar. Kini semua pasang mata menatapnya heran, tidak terkecuali Siwon. Tiffany membalas tatapan Siwon yang kembali lagi sedingin es itu.

“Apa?” Tiffany balik bertanya.

“Kau mendengus berulang kali,” komentar Taeyeon lagi.

“Ya, seperti kuda,” sambung Dongwook kemudian mendapatkan pukulan ringan di dadanya oleh Jessica.

Tiffany menggelengkan kepala lalu berdehem gugup. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tidak ingin Siwon menyadari perubahan raut wajahnya.

“Jadi, informasi berguna apa yang kalian dapatkan dari Tuan Song? Kenapa lama sekali?” tanya Taeyeon.

“Pria itu bilang tidak ada jalan alternative lain menuju Seoul. Kita terjebak disini,” jawab Kyuhyun lemas. Tangan Yoona menggenggam tangannya erat, membuat pria tampan itu tersenyum penuh arti.

“Omo, aku tidak ingin terjebak selama berhari-hari disini,” rengek Jessica.

Mereka semua terdiam. Intensitas hujan diluar sana memang tidak berkurang, bahkan sesekali bertambah lebat disertai angin badai. Tiffany memeluk dirinya sendiri tatkala matanya menerawang jauh ke arah bukit. Ia bisa melihat bukit dan pohon yang dimaksud Taeyeon tadi. Jika benar cerita yang dikisahkan Taeyeon tadi, Tiffany ingin tahu bagaimana penggalan lengkapnya.

“Oppa?” bisik Yoona kepada Kyuhyun. Kyuhyun yang duduk di sampingnya mendekatkan telinga ke arah kekasihnya.

“Hmm?”

“Ada tamu lain di motel ini. Kami melihatnya,” ujar Yoona dengan suara pelan. Kyuhyun mengangkat kedua alisnya.

“Jinjja? Wah, setidaknya masih ada makhluk hidup selain kita di tempat ini,” kelakar Kyuhyun.

“Yoona benar. Ada seorang gadis kecil yang menginap di kamar nomor 7. Tetapi kami tidak melihat orangtuanya,” sambung Jessica.

Leeteuk dan Siwon saling pandang. Mereka mengira tidak ada orang lain di motel ini. Tuan Song juga tampak terlalu misterius. Tanpa sengaja pandangan Siwon beradu dengan sorot mata Tiffany. Ia mengernyit dalam. Kenapa Tiffany menatapnya setajam itu? Apa wanita itu ingin membentaknya lagi seperti tadi pagi?

“Hey, bagaimana kalau kita kembali mengetuk pintu kamar lain? Kita bisa makan siang bersama dengan mereka jika mereka mau,” usul Dongwook. Jessica mengangguk semangat. Pada dasarnya ia dan kekasihnya sama saja.

Leeteuk dan Kyuhyun mengangguk setuju, tetapi Taeyeon dan Yoona tidak bereaksi apa-apa.

“Kalau begitu, ayo! Aku penasaran kenapa mereka semua tidak keluar dari kamar masing-masing. Apa mereka tidak lapar?” gerutu Dongwook seraya membantu Jessica berdiri dari sofa. Begitu pula dengan pasangan Kyuhyun-Yoona dan Leeteuk-Taeyeon. Mereka berjalan mengikuti Dongwook-Jessica keluar dari kamar.

Kini, hanya tinggal Siwon dan Tiffany di dalam kamar. Mereka duduk disana dengan dua pikiran yang jauh berbeda. Sangat berbeda.

Siwon POV

Sebenarnya ada apa dengan gadis ini? Ia mengulitiku dengan tatapan tajamnya. Bahkan mungkin ia tidak berkedip sedikitpun. Apa yang ada yang salah padaku? Yang pasti aku tidak berbuat salah padanya. Bahkan niatku memberinya sarapan tadi pagi adalah hal yang baik. Gadis ini saja yang terlalu membenciku. Seumur hidup tidak ada perempuan yang berani-beraninya membentakku. Hanya gadis ini yang berani melakukannya.

Aku…tidak menyukainya.

Aku tidak tahu kenapa aku merasakan hal ini. Tetapi aku membencinya karena ia juga membenciku. Mungkin jika ia bersikap lebih manis, sopan, tidak suka menyombongkan uangnya, dan tidak suka memberi perintah seenaknya, aku…akan menyukainya. Ah, apa yang kupikirkan? Ia bahkan tidak akan menyukai sedikitpun tentangku.

Lantas aku segera berdiri. Tidak nyaman rasanya jika hanya berdua dengan Tiffany di dalam kamar ini. Lebih baik mengikuti teman-temanku keluar. Lalu ketika aku melangkahkan kaki, suara Tiffany mencegahnya.

“Tunggu!”

Aku membalikkan tubuh dan mendapati gadis itu berjalan ke arahku. Aku bisa melihat rambut hitamnya masih basah dan mengeluarkan aroma segar buah-buahan. Yang benar saja, ia keramas di cuaca sedingin ini. Ck, benar-benar tuan putri.

“Ada apa denganmu, Choi Siwon?”

Pertanyaannya sukses membuat alisku mengerut. “Ada apa denganku? Apa maksudmu?”

Tiffany tampak terkejut. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya menyipit. “Kau masih berpura-pura tidak mengerti? Jangan bersandiwara lagi, Siwon-ah. Tidak ada teman-teman disini.”

Aku cukup terkejut mendengarnya memanggil namaku. Suaranya pun terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit bergetar. Aku menatap matanya lekat-lekat. Apa yang dikatakannya tadi? Bersandiwara? Apa maksudnya?

“Tiffany-ssi, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu? Aku tidak bersandiwara,” kataku jujur.

Aku bisa melihat kekecewaan sekaligus ketakutan di sorot mata Tiffany. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Semakin lama matanya semakin berair. Aku tersentak. Apa yang telah kuperbuat sehingga ia tampak ketakutan seperti ini?

“Hei, hei. Ada apa? Tolong katakan padaku ada apa sebenarnya? Sejak aku memasuki kamar ini aku sadar tatapanmu padaku. Kau mengintimidasiku dengan matamu itu, Tiffany-ssi. Kau membuatku merasa bersalah,” ungkapku.

Lalu setetes airmata mengalir di pipinya. “Kau benar-benar tidak mengingatnya? Atau kau hanya ingin mencelakaiku? Kau hanya ingin mempermainkanku dan menikmati tubuhku dengan kata-kata rayuanmu itu, eoh? Kau benar-benar bajingan Choi Siwon!”

Aku tersentak kaget, sangat kaget. Kini ia menangis di depanku sementara aku masih berpikir keras atas kata-katanya tadi. Sebut aku aneh atau apapun tetapi aku sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Tiffany.

Mempermainkan? Mencelakai? Dan menikmati tubuhnya? Demi Tuhan, aku tidak mengerti sedikitpun!

Namun kerapuhannya membuatku lemah. Aku memberanikan diri memegang kedua pundaknya yang masih berguncang hebat. Tetapi belum sempat aku menenangkannya, ia sudah menepis kasar tanganku. Aku menelan ludah.

“Tiffany-ssi, aku tidak mengerti apa yang kau katakan!”

PLAK

Pipiku terasa kebas dan panas. Gadis ini menamparku tanpa bisa kuhindari. Aku menatapnya tajam, mulai kesal dengan sikapnya. Ia tidak boleh seenaknya kepadaku lagi. Ia harus belajar menghormatiku, menghormati orang lain.

“Kau—“

“Kau benar-benar bajingan, Choi Siwon! Seharusnya aku tidak mempercayai kata-katamu! Seharusnya aku tidak terhasut rayuanmu. Apa sekarang kau puas, eoh? Kau puas telah berhasil mengambil kegadisanku?!!!”

Hening.

Aku tidak bisa mendengar suara lain selain dengungan kata-kata Tiffany. Jika aku bisa keluar dari tubuhku saat ini, pasti aku bisa melihat wajahku yang sepucat kertas. Aku berpikir apakah aku yang bermimpi atau gadis ini yang sudah kehilangan kewarasannya. Omong kosong apa yang dibicarakan Tiffany? Mengambil kegadisannya?

Hahaha. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Sudah bisa kupastikan kalau Tiffany memang sudah tidak waras. Apa ia menuduhku telah…memperkosanya? Geez, kira-kira kapan aku melakukannya? Sejak pagi aku hanya mengikuti ketiga temanku menyusuri motel sialan ini, memperhatikan lukisan klasik dan menyeramkan lalu kembali ke kamar ini. Aku tidak pernah lepas dari rombongan teman-temanku!

“Setengah jam yang lalu kita bercinta di bawah shower dan kau memutuskan untuk keluar terlebih dahulu. Semoga kau mengingatnya, Choi Siwon!” desisnya lagi. Aku masih berdiri membeku melihatnya pergi dari hadapanku, keluar dari kamar mungkin untuk menyusul teman-teman kami.

Aku termagu seperti sebuah patung bodoh. Mataku tak lepas dari sosok gadis yang kini menghilang di balik pintu. Aku merasakan panas pada nafasku sendiri. Benarkah aku tidak sedang bermimpi? Lalu kenapa semuanya terasa semu bagiku. Tiffany sungguh mengada-ada. Apa ia stress karena tidak bisa keluar dari tempat ini? Tetapi tidak dengan memfitnahku seperti ini!

Dituduh telah bercinta dengannya adalah sebuah fitnah besar!

Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus meluruskan hal ini. Tiffany pasti sedang berhalusinasi dan pikirannya kacau. Aku tidak akan membiarkannya berpikiran buruk seperti itu terus apalagi jika teman-teman kami mengetahuinya. Lantas aku pun segera melangkahkan kaki keluar kamar untuk menyusulnya.

“Tiffany-ssi, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi!” seruku saat berada di depan pintu kamar. Aku menarik pergelangan tangan gadis yang tengah membelakangiku itu. “Aku mohon kau jangan salah paham, tetapi aku tidak pernah kembali ke kamar setelah sarapan tadi.”

Aku terdiam karena Tiffany juga tidak bergerak sedikitpun. Hening. Baru kusadari kalau hanya kami yang berada di lorong ini. Tidak ada siapa-siapa selain kami berdua dan keheningan yang suram. Hanya terdengar suara hujan yang mendayu-dayu di luar. Aku diam tak berkutik, sementara tanganku masih menggenggam pergelangan tangan Tiffany.

Kemana mereka? Kemana ketiga pasangan yang lain? Bukankah tadi mereka bilang ingin bertemu dengan tamu-tamu lain?

Aku merasakan tangan Tiffany bergerak di genggamanku. Ia membalikkan tubuhnya perlahan lalu pandangan kami bertemu. Gadis itu berhenti menangis, digantikan sorot ketakutan di matanya. Lama kami terdiam. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Tetapi aku yakin kami berdua sama-sama bertanya-tanya kemana perginya teman-teman kami. Apa mereka berhasil memasuki salah satu kamar?

“Dimana mereka?” tanyaku pada Tiffany.

“Kau menanyakan hal yang tidak kuketahui. Lepaskan tanganmu dariku!” desis Tiffany.

Aku menggeleng. Permasalahan kami belum selesai jadi aku tidak akan melepaskan tangannya. Justru aku semakin menggenggamnya erat.

“Tiffany-ssi, aku perlu meluruskan satu hal. Kau telah mendengar alasanku, kan? Aku tidak pernah kembali ke kamar setelah sarapan. Aku pergi bersama ketiga pria lainnya untuk menyusuri motel ini. Jika kau tidak percaya, silahkan tanya mereka! Mungkin kau hanya berhalusinasi.”

Tiffany membulatkan matanya. Ia menatapku penuh kengerian seolah-olah aku ini makhluk jahat. Aku berkata yang sebenarnya! Memangnya apa yang terjadi pada gadis ini sampai-sampai ia berhalusinasi telah bercinta denganku? Hohoho, apa dia diam-diam menyukaiku? Tidak mungkin sebab kami selalu bertengkar seperti tikus dan kucing.

Airmatanya kembali mengalir deras. Jujur aku khawatir padanya. Ia bersikap seakan-akan halusinasinya benar. Dalam sekejap kulihat tubuhnya limbung kemudian terhuyung ke belakang. Dan sebelum aku sempat menangkap tubuhnya, ia telah jatuh ke lantai. Meratap sambil memegangi kepalanya.

Author POV

Butuh waktu cukup lama untuk Siwon menenangkan Tiffany. Mereka mengabaikan terlebih dahulu kemana perginya keenam teman yang lain. Siwon memberanikan diri untuk memeluk Tiffany, meskipun pada awalnya Tiffany membentak serta memberontak. Siwon tahu ada yang tidak beres pada Tiffany. Tiffany telah mengatakan hal yang sangat mustahil dan menyeramkan.

Ya, bagi Siwon sangat menyeramkan ketika kita mengira telah bercinta dengan seseorang yang sama sekali tidak berada di tempat kejadian saat itu. Tetapi Tiffany sangat yakin dengan kejadian erotis yang dialaminya di kamar mandi tadi. Kalau bukan Siwon, siapa lagi? Pria itu memang Siwon dan Tiffany dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ia tidak mungkin sedang berhalusinasi seperti yang dituduhkan Siwon!

Tidak mungkin ia bercinta dengan makhluk halus yang menyerupai Siwon!

“Lalu, siapa?” isak Tiffany. Siwon mengelus rambut hitam wanita itu.

“Tiffany-ssi, sepertinya kau butuh istirahat. Ayo, kuantar ke kamar. Setelah itu aku akan mencari mereka.”

Tiffany mendorong tubuh Siwon sekuat tenaga sehingga membuat tubuh kekar itu terjungkal. Siwon menatap Tiffany takjub.

“Jangan menyentuhku lagi, Siwon-ssi! Kau pikir aku percaya dengan kebohonganmu? Kau menuduhku berhalusinasi sementara kejadian tadi benar-benar nyata kurasakan. Kau menyatakan cintamu padaku dan aku mempercayai hal itu. Kau membuatku terbuai dan dengan mudahnya bersedia saat kau…kau—menggerayangi tubuhku!”

Siwon tersentak. Perkataan Tiffany seperti sebuah pukulan besar di kepalanya.

“Demi Tuhan, Tiffany Hwang! Aku tidak pernah melakukan hal tak bermoral seperti itu! Aku tidak kembali ke kamar setelah sarapan. Apa kau mengerti ucapanku? Aku-tidak-kembali-ke-kamar!” tegas Siwon.

Tiffany termenung. Ia memeluk lututnya sendiri dan tatapannya kosong ke arah lantai kayu yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat. Keyakinan Siwon bahwa ia tidak kembali lagi setelah sarapan membuat sekujur Tiffany bergetar ngeri. Jika benar Siwon tidak kembali ke kamar, lantas siapa yang tadi mengajaknya bercinta?

Wanita itu memegangi kepalanya yang berdenyut kencang. Apa benar semua itu hanya halusinasi? Tiffany menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak ada halusinasi yang senyata itu. Lagipula seumur hidup ia tidak pernah mengalaminya. Walaupun ia mengalami halusinasi hebat kali ini, ia tidak akan membayangkan pria yang selalu sinis kepadanya.

“Tiffany-ssi, kau membuatku khawatir. Tetapi aku tidak berbohong kepadamu. Aku tidak tahu apa yang kau bayangkan sehingga—“

“CUKUP!” bentak Tiffany. Matanya telah dipenuhi oleh cairan bening yang sebentar lagi pasti akan meluncur membasahi pipinya lagi. Siwon duduk termagu di lantai.

“Lupakan saja jika kau masih bersikeras membantahnya!” tukas Tiffany tajam lalu berusaha berdiri. Siwon dengan cepat menyambar lengannya dan membantunya agar berdiri tegak. Namun lagi-lagi Tiffany menepisnya dengan kasar. Ia merasa jijik terhadap pria itu. Terlebih lagi jijik kepada dirinya sendiri.

Siwon kembali mengedarkan pandangan. Kemana perginya keenam teman mereka? Pikirannya bercabang antara mencari teman-teman mereka serta menenangkan Tiffany. Tiffany berhasil menegakkan tubuhnya lalu kembali masuk ke kamar Kyuhyun-Yoona. Siwon terpaksa membuntuti Tiffany. Ia masih butuh penjelasan apa yang sebenarnya telah terjadi pada gadis itu.

Sadar Siwon mengikutinya, Tiffany menoleh. Tatapannya sangat tajam, seperti seseorang yang sangat membenci. Siwon menelan ludah. Sikap apa yang harus diambilnya untuk mengatasi masalah dengan Tiffany? Ia sendiri tidak merasa melakukan kesalahan apapun, terutama menyetubuhi gadis itu. Walaupun selama ini Siwon menghindari Tiffany, tetapi ia tidak akan pernah menyakiti gadis itu. Tidak akan pernah.

“Tiffany-ssi, kau membuatku serba salah. Apa kau masih menyangka kalau akulah yang melakukannya padamu? Apa kau pikir aku sebejat itu?”

Tiffany menyeka airmatanya. “Aku hanya ingin bangun dari mimpi buruk ini Siwon. Untuk apa aku mengarang cerita seperti itu. Kau tahu, ini adalah aib. Aku jijik dengan diriku sendiri. Tapi aku benar-benar mengalaminya dan…kau adalah pelakunya.”

Siwon menggenggam rambutnya cukup erat. Tampak sekali kalau ia mulai frustasi. Dengan kata apa lagi ia harus meyakinkan Tiffany kalau ia tidak kembali ke kamar setelah sarapan?!

“Dengar, Tiff. Aku rasa kau butuh istirahat. Aku tidak ingin memperpanjang masalah yang tidak kulakukan. Bukannya aku tidak peduli, tetapi aku tidak mengerti dengan halusinasimu. Aku—“

“Cukup, Siwon-ssi. Jangan kau lanjutkan lagi. Kau hanya semakin menyakitiku!” tukas Tiffany tajam. Siwon bungkam dengan mata sendu. Tiffany benar-benar terlihat rapuh dan kacau. Ia memutar tubuhnya dan menghampiri ranjang, tidak peduli lagi dengan Siwon.

Ia akan mencoba tidur. Ia akan melupakan kejadiaan di kamar mandi tadi dan juga Siwon. Ia akan melupakan hal-hal itu untuk selamanya.

Siwon menghela napas dalam-dalam. Mungkin ia juga harus beristirahat. Ia berjalan ke arah pintu dan menutupnya alih-alih keluar dari kamar. Terus terang, saat melihat kerapuhan di mata Tiffany membuat hatinya tersentuh. Ia tidak tega meninggalkan Tiffany sendirian.

Perlahan Siwon mendekati ranjang dan menarik kursi plastik ke sampingnya. Siwon duduk dalam diam, tidak ingin Tiffany menyadarinya. Ia menatap bahu kurus yang kini turun naik akibat tangisannya. Siwon termenung. Sampai saat ini ia masih mencerna kejadian yang disampaikan Tiffany.

Ada apa sebenarnya, batin Siwon. Apa yang membuat kejadian itu menimpa Tiffany? Apa karena rasa benci Tiffany kepadanya atau ada faktor aneh lainnya? Siwon mengusap wajahnya dengan telapak tangannya  yang dingin. Ia juga berharap kalau semua ini hanyalah mimpi buruk.

Tiffany POV

“Miyoung-ah, bertahanlah. Aku akan datang menyelamatkanmu. Miyoung-ah, percayalah aku akan mengorbankan hidupku untukmu karena aku benar-benar mencintaimu. Aku sangat mencintaimu!”

Suara-suara itu terus mengelilingiku. Bukankah aku berada di kamar Kyuhyun Oppa setelah bertengkar dengan Siwon tadi? Tapi kenapa saat ini aku berada di tengah-tengah hutan dengan pepohonan serta semak-semak liar? Aku menoleh kesana kemari, berharap melihat celah jalan keluar. Tidak ada satupun. Aku berdiri di sudut yang buntu!

Tak lama kemudian aku mendengar lagi suara-suara gema itu. Suara lelaki yang sepertinya sedang mengiba dan memohon.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Jika mereka melakukannya, aku pastikan nyawa taruhannya. Bertahanlah Miyoung-ah. Aku tahu kau adalah gadis yang kuat.”

“Oppaaaa!!! Tolong aku!!! Aku mohon selamatkan aku dari mereka!!!”

Aku tersentak mendengar sahutan suara lain. Suara seorang wanita. Wanita itu menjerit-jerit serta meminta pertolongan. Aku menutup telingaku rapat-rapat, sehingga membuat kedua sisi kepalaku kebas. Aku tidak peduli. Aku tidak ingin suara-suara itu mengusik pikiranku. Aku harus keluar dari hutan ini sesegera mungkin lalu mencari teman-temanku. Aku harus mencari mereka!

“Bertahanlah Miyoung-aaah!”

“Oppa, jangan biarkan mereka menyakiti kita!”

Aku menggeram keras. Suara-suara itu seperti sedang mengejar kemana kakiku melangkah. Aku pun mendongakkan kepala dan mengerahkan seluruh tenagaku untuk berteriak.

“DIAAAAAAAMMM! AKU MOHON JANGAN GANGGU AKU!”

Tiba-tiba tubuhku terasa terguncang hebat. Aku pikir telah terjadi gempa bumi. Aku bertahan pada kakiku sendiri sementara tubuhku gemetaran. Keringatku mengalir deras di setiap pori-pori tubuhku. Aku memejamkan mata erat, pasrah dengan keadaan. Aku sendiri tidak tahu apakah ini kenyataan atau hanya mimpi buruk belaka.

Aku benar-benar lelah dengan semua kesialan yang menimpaku.

Lalu sejurus kemudian, aku mendengar suara yang entah mengapa sangat menenangkan batinku. Aku mendengar suara itu seperti mengalun lembut di telingaku. Aku mencoba menenangkan diri sejenak, memeluk diriku sendiri dan menundukkan kepala dalam-dalam.

“Tiffany, bangunlah. Tiffany, kau bermimpi buruk.”

Mataku seperti hendak melompat keluar saat aku meregangkan kelopak mataku. Aku tidak berada di dalam hutan itu lagi, melainkan di dalam kamar Kyuhyun Oppa. Tubuhku menelentang dan mataku terpaku pada langit-langit kamar. Deru napasku memacu seiring aliran deras keringat di keningku. Aku merasa bibirku kering, kerongkonganku panas, dan tubuh pegal-pegal.

Kali ini mimpi buruk apa lagi? Aku bahkan sangat takut untuk tidur kembali.

“Minumlah.”

Satu kata itu membuatku menoleh ke arah samping. Ada Siwon disana, memegangi segelas air mineral dengan wajah khawatir. Aku menatapnya lekat. Jadi suara yang membangunkanku tadi adalah suara Siwon? Kenapa pria ini selalu berada dekat denganku di saat-saat sulit? Apa ia sedang menjagaku?

“Tiffany, duduklah.”

Aku menurut saat ia membantuku duduk dan menyandarkan tubuhku ke kepala ranjang. Ia membantuku minum karena sepertinya ia tidak sabar menunggu sampai aku menerima air pemberiannya. Tak tanggung-tanggung, aku langsung menghabiskan semuanya. Dalam sekejap tubuhku terasa menghangat. Aku menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

Cukup lama aku duduk sambil memejamkan mataku. Namun aku masih bisa merasakan tatapan Siwon yang tak lepas dariku. Aku bersyukur ia tidak ikut keluar bersama yang lain dan memilih untuk menjagaku disini. Sejujurnya, aku tidak ingin ia berbohong lagi. Aku tidak akan menertawakannya jika ia mengaku telah mengajakku bercinta. Permainannya sangat hebat meskipun itu kali pertamaku, dan aku yakin ia pun begitu.

Lalu apa yang membuatnya terus mengelak?

Oh, aku tahu! Apa ia takut jika nanti aku hamil dan mau tak mau ia harus menikahiku?

Aku membuka mata dan melihatnya masih menatapku. Sejenak kami bertatapan dalam diam. Baru kusadari tangannya menggenggam sebelah tanganku.

“Kau bermimpi buruk lagi, ya?”

Aku hanya mengangguk singkat.

“Kenapa kau selalu bermimpi buruk?” aku mendengarnya bergumam.

“Apa yang kau lakukan disini? Aku kira kau bersama yang lain,” ujarku pelan.

“Tidak, aku tidak mencari mereka. Aku…menjagamu disini dan tanpa sengaja tertidur. Aku terbangun karena kau berteriak,” jawabnya.

Benar, ia menjagaku.

Sekali dalam hidupku, aku mencoba tersenyum tulus padanya. “Gomawo, Siwon-ssi.”

Ia menatapku penuh arti dan sedetik kemudian langsung menundukkan pandangannya. Aku tidak tahu kenapa ia selalu menghindar jika bertatapan denganku. Aku teringat dengan ungkapannya sebelum kami bercinta di kamar mandi. Aku mengerti.

“Siwon-ssi, apa sekarang kau bisa berkata ju—“

“Yah! Rupanya kalian disini!”

Ucapanku terpotong karena Leeteuk Oppa dan Taeyeon baru saja memasuki kamar. Otomatis aku dan Siwon menoleh ke arah pintu. Kedua temanku itu menghampiri kami. Taeyeon menatapku dalam diam, sementara Leeteuk Oppa hanya tersenyum tipis.

“Dimana yang lain?” tanya Siwon.

“Oh, mereka masih di bawah. Tadi saat kami berkeliling, pemilik motel ini menawari kami makan siang. Tetapi ia berkata kalau makanannya belum matang semua. Jadi, para gadis dan Kyuhyun membantu di dapur. Apa Tiffany baik-baik saja?”

Siwon menoleh padaku, membiarkan aku sendiri yang menjawab pertanyaan Leeteuk Oppa.

“Aku baik-baik saja, Oppa. Hanya mimpi buruk seperti biasa,” jawabku sekenanya.

“Kau bermimpi buruk lagi?” Taeyeon bertanya. Aku mengangguk dan balik menatapnya. Saat itu juga aku menyadari kalau wajah Taeyeon sedikit lebih pucat. Biasanya gadis itu memang pucat, tetapi sekarang melebihi normal.

“Taeyeon-ah, wajahmu pucat sekali. Apa kau tidak enak badan?”

Taeyeon justru tersenyum kaku. “Tidak sama sekali, Fany-ah. Aku bahkan merasa sangat segar.”

To be continued

 

 

Hihihi… sukses gak seremnya? Saya penulis yang sedang mencoba aneka rasa genre nih. Minta kritik membangun dan sarannya, guys…

Sampai ketemu di chapter berikutnya. Maaf kalo nanti agak lama hihihi

 

-echa-

 

 

153 thoughts on “(AR) Red Door Part 1

  1. Setelah sekian lama gk baca ff sifany akhirnya bisa baca lagi..
    Dapet recomen dari temen yg sesama sifany shipper, dia bilang red door ff nya keren banget ceritanya.. ternyata bener..
    Bagus min ceritanya, bener” merinding ngebacanya ^^
    Hwaiting minn ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s