(AR) Lil Choi’s First Love

Lil Choi’s First Love

 LCFL_POster3

Part 2

@echa_mardian

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Im Yoona, Cho Kyuhyun

Daniel Hyunoo Lachapelle as Choi Juno

Christina Fernandez Lee as Cho Hana

Lauren Hanna Lunde as Lee Lauren

Other cast : Jessica Jung, Lee Dongwook, Kim Myungsoo, Kim Bobby (OC)

Genre : Family, Friendship, Comedy, Romnce

Rating : PG 15

Disclaimer :

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiffany sangat senang berkenalan dengan Yoona. Sikap Yoona yang ramah membuatnya nyaman, terlebih lagi dengan obrolan mereka yang cocok satu sama lain. Siwon senang dengan suasana yang diciptakan para istri, sedangkan ia dan Kyuhyun juga sudah berteman dekat di kantor. Jino dan Kyungsan bersama-sama menghabiskan pasta mereka, membuat wajah-wajah mungil itu kotor oleh saus tomat. Tiffany dan Yoona membiarkannya.

Sementara itu, Juno dan Hana tidak berbicara satu sama lain. Bukannya mereka tidak senang bertemu disini, tetapi karena masih ada yang mengganjal hati mereka. Ternyata bertemu dengan Hana disini masih belum membangkitkan semangat Juno. Ia masih mengingat kejadian di sekolah hari ini. Sedangkan Hana masih kesal dengan gaunnya.

“Juno-yaa, kenapa tidak menghabiskan steak-nya?” tanya Tiffany. Juno menoleh pada Tiffany yang duduk di sampingnya.

“Aku sedang menghabiskannya, Mom.”

“Hana-yaa, bukankah kalian berteman di sekolah? Ajaklah Juno mengobrol. Kalian juga bisa bermain berdua setelah ini,” ucap Yoona dengan senyum jahil pada anak sulungnya. Hana menatap ibunya lalu menelan ludah. Ia berharap ibunya tidak membuatnya malu di depan Juno.

“Bukankah Mom pernah berkata kalau kita tidak boleh makan sambil bicara?” ucap Hana polos.

Siwon dan Tiffany tergelak.

“Aish, kau ini,” desis Yoona. Hana hanya menyeringai jahil.

“Hana, aku sudah selesai makan. Ibumu bilang kita boleh bermain. Kajja!”

Hana mengangguk semangat. Mereka berdua melompat dari kursi masing-masing. Siwon mengisyaratkan pada Tiffany agar membiarkan mereka. Yoona tetap memandangi kedua bocah itu menghilang di balik dinding ruangan dengan senyum misterius di wajahnya. Ia tahu kalau anaknya sedang senang.

“Aku tidak menyangka kalau Hana berteman dengan Juno di sekolah,” ujar Kyuhyun.

“Ya, Tiffany tidak pernah mengatakannya,” timpal Siwon.

“Sebenarnya aku tidak menyangka kalau Hana adalah anakmu, Kyuhyun-ssi. Saat itu ia mengatakan kalau ibunya sedang ke rumah sakit, lantas aku dan Juno mengantarnya pulang.”

“Ya, waktu itu Hana mengatakan padaku kalau ia diantar oleh Aunty mobil pink.”

Keempat orang dewasa itupun tertawa.

 

 

Juno terkagum-kagum melihat koleksi gambar yang dibuat Hana. Temannya itu memang sangat berbakat. Hana membuat apa saja, dan pahlawan-pahlawan favorite Juno masuk diantaranya. Hana tersipu malu setiap kali Juno melontarkan pujian. Untuk pertama kalinya mala mini, Hana menemukan mood-nya kembali.

“Siapa yang mengajarimu menggambar?” tanya Juno. Mereka kini duduk di teras kamar Hana. Hana mengistirahatkan diri di ayunan berbentuk setengah lingkaran, sementara Juno duduk di atas mobil mainan sporty racer milik Kyungsaan. Mereka bersama-sama memandangi langit bertabur bintang. Ternyata malam ini sangat indah, batin Hana.

“Sepertinya malam ini tidak begitu menyenangkan untuk Hana? Ada apa?”

Hana tidak menyangka dengan pertanyaan yang diberikan Juno. Pipinya semakin merona karenanya. Haruskah ia mengatakan kepada Juno kalau warna gaunnya…

“Apa menurutmu warna gaun ini konyol? Aku…tidak nyaman memakainya,” tanpa bisa ditahannya pertanyaan itu terlontar begitu saja. Juno mengamati gaun yang dipakai Hana lalu menyeringai.

“Mm…aku suka tosca. Memangnya Hana tidak suka ya?”

Hana terpaku melihat Juno. Pernyataan temannya itu entah mengapa membuat perasaannya sedikit lega. Perlahan seringaian senang terukir di wajah manis Hana. Ia mengangguk berulang kali seraya mengayunkan kakinya dengan cepat di udara. Mungkin setelah ini ia juga akan belajar menyukai tosca.

**

 

“Terima kasih atas makan malam yang lezat dan waktunya, Kyuhyun-ssi.”

“Sama-sama, Siwon-ssi. Kami sangat senang kalian bersedia datang.”

Selagi Siwon dan Kyuhyun saling mengucapkan terima kasih, Tiffany dan Yoona berpelukkan erat. Mereka sudah menukarkan nomor ponsel satu sama lain serta media social lainnya. Tiffany bahkan berencana menjadikan Yoona pelanggan di butiknya. Jino yang berada di gendongan Siwon, melambai-lambaikan tangan pada Kyungsan. Sepertinya mereka berdua sudah menjadi teman baik.

“Sampai bertemu besok, Juno.”

Juno mengangkat bahu dengan malas. “Sebenarnya aku tidak terlalu bersemangat ke sekolah.”

“Kenapa?” Hana dengan cepat bertanya. Ia tidak menyukai perkataan Juno.

“Entahlah. Aku…tidak menyukai anak baru itu mendekati Lauren.”

Hana tidak bertanya lagi. Ia sudah cukup mengerti dengan perasaan Juno. Oh, jadi Lauren? Bisakah ia dekat dengan Juno seperti Lauren? Juno kemudian tersenyum tipis pada Hana kemudian mendongakkan kepalanya menatap Yoona dan Tiffany yang mendekat. Yoona menghampiri Juno lalu mengusap-usap rambutnya.

“Hei anak tampan. Bisakah Aunty meminta sesuatu padamu?” tegur Yoona seraya membungkukkan sedikit tubuhnya. Juno melirik Tiffany. Ibunya itu tersenyum manis dengan pose melipat tangan di dada.

“Ya, Aunty. Apa itu?”

“Tolong jaga Hana di sekolah. Hana memang sedikit temperamental, tapi hatinya sangat sensitive. Hana juga pandai menggambar, kalian bisa menggambar bersama. Oke?” tutur Yoona seolah-olah disana tidak Hana. Mata gadis kecil itu membulat sempurna, terkejut bercampur kesal pada ibunya.

“Mom! Aku bisa menjaga diriku sendiri!” serunya memberengut. Yoona dan Tiffany hanya tertawa kecil.

“Tapi kan kau anak perempuan. Wajar saja kalau Juno melindungimu,” tambah Yoona santai. Hana tidak berani melirik Juno. Ia menghentakkan kakinya satu kali lalu berbalik pergi. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya, membuat Kyuhyun terpana.

“Cho Hana! Kau belum memberi salam perpisahan pada Tuan dan Nyonya Choi!” panggilnya. Siwon menyentuh bahu Kyuhyun dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Kyuhyun-ssi.”

Yoona semakin yakin tentang anaknya. Ia membalikkan tubuh menghadap Tiffany. Semoga Tiffany bisa menanggapi anak sulungnya dengan bijaksana. “Maaf jika Hana bersikap tidak sopan, Tiffany-ssi, Siwon-ssi.”

“Aku mengerti, Yoona-ssi. Mungkin ia malu kepada Juno,” timpal Tiffany.

Juno menyambar tangan Yoona lalu merekahkan senyuman. “Tentu saja, Aunty. Aku akan menjaga Hana.”

 

 

 

Setelah keluarga Choi pergi, Yoona langsung naik menuju kamar Hana. Kyuhyun mengerti, mereka berdua membutuhkan waktu sendiri. Ia mengajak Kyungsan ke dapur untuk membantunya membersihkan meja makan. Padahal sebenarnya Kyuhyun ingin tahu apa yang terjadi pada anak perempuannya.

Yoona mengetuk pintu kamar Hana, namun sesuai dugaan, gadis kecil itu tidak membukakan pintu untuk ibunya. Lantas Yoona membukanya tanpa izin. Hana sedang duduk di lantai, menghadap jendela kamarnya dan bersandar pada tempat tidur. Gaun sudah terlepas dari tubuhnya, digantikan piyama berwarna kuning cerah. Yoona tersenyum simpul. Ia pun berjalan mendekati Hana.

“Kesal pada Mommy, hmm?”

Hana menolak menatap Yoona. Bibirnya melengkung, cemberut.

“Apa yang Mommy katakan itu salah?” Yoona bertanya lagi.

Kali ini Hana menggelengkan kepala. Segaris senyum muncul di wajah Yoona.

“Mommy tahu, kau menyukai Juno.”

Kepala Hana dengan cepat menoleh pada Yoona. Tatapannya tampak terkejut, malu, dan gugup. Yoona bergerak lebih dekat dan duduk di hadapan Hana. Yoona terkadang tidak percaya bahwa anak perempuannya kini tumbuh semakin besar. Sejak kecil Hana memang anak yang tidak mudah diatur, namun Yoona tahu kalau hatinya sangat lembut. Hana mudah tersentuh, tetapi tidak dengan mudah mengekspresikannya.

“Hana-yaa, Honey, kau sudah 7 tahun saat ini. Kau sangat cerdas untuk anak seusiamu. Kau bisa sekelas dengan anak yang lebih tua darimu. Mommy dan Daddy sangat bangga padamu. Untuk itu, Mommy harap, sikapmu bisa lebih baik.”

Hana menundukkan kepala.

“Tidak usah terkejut kenapa Mommy menebak kau menyukai Juno. Mommy pernah melihat sketsa wajah anak laki-laki yang kau beri nama C. Juno. Maaf, saat itu Mommy sedang membersihkan kamarmu dan melihat kertas sketsamu berserakan di atas tempat tidur. Jadi, Mommy melihat-lihat sedikit.”

Hana masih tidak menjawab. Yoona menghela napas seraya mengusap dengan sayang rambut anaknya. Sifat merajuknya benar-benar mirip Kyuhyun.

“Tapi…Juno hanya ingin menjadi teman dekat Lauren.”

Yoona mengernyit dengan pernyataan tiba-tiba dari Hana. Ia akan memanfaatkan keadaan ini untuk lebih dekat dengan putrinya.

“Lauren? Apa ia teman sekelasmu?”

Hana mengangguk. “Lauren adalah teman dekat Juno, Mom. Juno tadi berkata kalau ia tidak suka ada anak baru yang mendekati Lauren. Ia tidak bersemangat ke sekolah, dan itu membuatku sedih. Ditambah lagi saat Mom meminta padanya untuk menjagaku. Aku malu.”

Yoona memeluknya. Ia tidak tahu bagaimana sepenuhnya perasaan Hana. Mungkin terlalu jauh jika memikirkan anaknya sudah jatuh cinta, mengingat usia mereka masih sangat muda. Tetapi namanya juga anak-anak. Jika bersahabat dengan satu orang, pasti tidak akan rela berbagi dengan anak lain.

“Jadi kau sedih karena Juno tidak bersemangat ke sekolah? Kalau begitu, jadilah penyemangatnya. Mom yakin kalau putri manis Mom dan Daddy ini adalah energy pill bagi teman-temannya.”

Hana melepaskan rangkulan Yoona lalu menatap mata indah cerminan dirinya itu.

“Bagaimana caranya?”

“Cho Hana adalah gadis manis yang ceria dan selalu mempunyai energi untuk menghibur teman-temannya. Tetaplah berada di dekat Juno agar ia tidak merasa kesepian. Kau bisa mengajarinya menggambar dan makan eskrim bersama.”

Hana berpikir sejenak lalu perlahan mengulum senyum manisnya.

“Tapi Mommy berharap, semangatmu untuk belajar tidak berubah. Menyukai teman laki-laki adalah wajar, tapi jangan berlebihan. Kau masih 7 tahun. Tidak ingin melihat Daddy marah, kan?”

Dengan cepat Hana menggeleng.

“Kalau begitu, jadikan Juno sahabatmu. Bertemanlah sebanyak-banyaknya agar kau merasa nyaman di sekolah. Arraseo?”

Hana langsung memeluk Yoona lagi. Yoona tertawa senang. Menasehati Hana seperti membawanya pada puluhan tahun yang lalu, dimana Eomma-nya dengan bijak memberitahu kalau menyukai Kyuhyun di kelas 2 sekolah dasar bukanlah saat yang tepat.

**

 

Perjalanan Jessica mengantar Lauren pagi ini tidak membuat wanita itu jengkel seperti biasa. Pasalnya, Lauren tidak lagi berbicara banyak. Jessica tahu jika mulut mungil itu sudah mengoceh, paling tidak ia pasti akan  menyebut nama Choi Juno minimal 5 kali. Kini Lauren terkesan asyik dengan dirinya sendiri.

“Lauren, Mommy ingin bertanya sesuatu.”

Lauren menoleh pada Jessica kemudian mengerjap. “Mommy ingin bertanya apa?”

“Hmm…apa kau tidak berteman lagi dengan Choi Juno?” tanyanya hati-hati. Meskipun ia ragu tetapi rasa penasaran mengusik hatinya.

“Aku masih berteman dengan Juno. Meskipun Mommy melarangku untuk tidak dekat lagi dengannya, tapi Juno adalah teman yang baik, Mom.”

Jessica berdehem. Sebenarnya ia tidak tega melarang Lauren berteman dekat dengan Juno. Tapi masalahnya, ia tidak ingin berurusan dengan Tiffany. Semua orang yang mengenal mereka tahu, bahwa Perfectionist Lady dan Ice Queen tidak pernah akur sejak dulu.

“Juno memang teman yang baik. Tapi ibunya sangat pemarah, Lauren.”

Sekali lagi Lauren mengerjapkan mata bulatnya. Mata yang sangat mirip dengan sang Ayah. “Tapi, Mommy kan juga pemarah.”

Jessica melirik Lauren tak percaya. Mulutnya terbuka ingin membalas perkataan Lauren, namun diurungkannya ketika mereka hampir sampai di sekolah. Jessica terpaksa menahan dirinya sampai nanti Lauren pulang sekolah. Anaknya itu harus tahu, orangtua marah bukan pertanda buruk. Mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak.

Dan menurut Jessica, Lauren tidak berteman dekat dengan Juno adalah yang terbaik.

 

 

 

Juno tidak beranjak dari tempat duduknya meskipun bel istirahat sudah berbunyi. Ia memilih untuk memakan bekal makan siangnya di kelas saja. Hari ini lagi-lagi Lauren sibuk bermain dengan Bobby, hanya sesekali menegurnya. Dan itu membuat Juno semakin tidak bersemangat. Burger dan kentang goreng kesukaannya pun tidak disentuh. Matanya masih terpaku pada kursi Lauren yang kosong. Biasanya pemilik kursi itu makan siang bersama dengannya. Namun kini ia ditinggal sendirian.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk. Juno mengangkat kedua alisnya ketika menyadari sosok itu adalah Hana. Mereka sama-sama tersenyum. Hana masuk dengan membawa sekotak crayon serta buku sketsa kebanggaannya.

“Kenapa Juno sendirian saja?” tanya Hana seraya duduk di kursinya berada tepat di depan Juno.

“Aku sedang malas keluar. Hana-yaa, ayo makan siang bersama!”

Hana tersenyum cerah. Ia pun mengangguk semangat seraya membalik kursi menghadap Juno. Dengan begitu antusias Hana mengeluarkan bekal makan siang dari dalam tas lalu meletakkannya di atas meja. Ajaibnya, mereka berdua sama-sama dibekali burger dan kentang goreng oleh ibu masing-masing.

Sesaat Juno dan Hana saling melempar pandangan, kemudian tertawa serempak beberapa detik setelahnya. Hana tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya melihat perubahan sikap Juno dalam hitungan menit. Sebelumnya ia mengintip dari luar, melihat betapa murungnya Juno ketika Lauren pergi keluar kelas bersama Bobby. Hana langsung teringat nasehat Yoona.

Jadilah energy pill untuk Juno. Hana melakukannya. Ia berjanji di setiap kesempatan akan melakukan apa yang dikatakan ibunya. Sebab satu hal, yaitu tidak ingin melihat Juno kehilangan semangat.

“Apa burger dan kentang goreng adalah kesukaan Juno?” tanya Hana sambil mengunyah potongan daging burgernya.

Juno mengangguk. “Nde, aku sangat menyukai burger. Mommy selalu membuatkannya pada Minggu pagi, terkadang juga untuk bekal makan siang. Apa Hana juga begitu?”

“Aku lebih suka mie instan, tapi Mommy selalu mengomeliku. Sebenarnya Mommy tidak pernah berhenti mengomel,” jawab Hana polos. Kening Juno mengerut sementara kedua pipinya membulat oleh makanan yang belum dikunyah.

“Mommy bilang terlalu banyak makan mie instan itu tidak baik,” ujar Juno. Ia berpikir ibu Hana ada benarnya. “Kenapa Mommy kita sama-sama suka mengomel? Apa semua Mommy memang begitu?”

Hana mengangkat bahu cuek. “Sepertinya begitu, tapi aku tidak yakin. Mungkin Mommy Lauren tidak.”

Juno terdiam saat Hana menyebut nama Lauren, membuat Hana menyesal saat itu juga. Tadi pagi ia melihat Lauren yang diantar ibunya. Mereka benar-benar akrab, saling peluk dan memberikan ciuman mesra.

Untuk beberapa saat suasana justru menjadi hening. Semangat Juno untuk menghabiskan makan siangnya kembali menurun. Hana berpikir keras. Salahnya telah membawa topik Lauren pada saat mood Juno tidak stabil.

“Oh ya, Juno-yaa! Apa Juno pernah bermain games starcraft?” tiba-tiba Hana teringat permainan favorite-nya bersama sang ayah. Kening Juno mengernyit.

“Tidak. Aku hanya pernah bermain Mario Bross atau Tetris.”

Mata Hana langsung berseri-seri. Ayahnya pernah berkata, jika merasa bosan atau badmood, nyalakan laptopnya dan mainkan starcraft sampai menang berkali-kali. Ia sering bertanding dengan Kyuhyun jika ayahnya itu sedang tidak sibuk. Dan kini tak ada salahnya mengajak Juno bermain dengannya. Siapa tahu Juno akan kembali ceria seperti biasa dan menjadi saingan barunya dalam war games tersebut.

“Aku sering mengalahkan Daddy jika kami bermain bersama. Dan Juno tahu tidak, aku akan kembali bersemangat belajar setelah memenangkan pertandingan! Permainannya benar-benar seru!” ujar Hana menggebu-gebu.

Melihat ekspresi excited di wajah Hana serta nada suaranya yang meninggi, Juno rasa permainan itu memang benar-benar seru. Ia mencondongkan tubuh ke depan, semakin mendekat pada Hana.

“Apa karena itu nilai Hana selalu tinggi?”

“Hmm, itu salah satunya.”

“Kalau begitu, ajari aku, ne! Aku ingin melihat permainannya.”

Hana hampir menelan utuh sisa burger di tangannya karena terlalu senang. Tapi ia menahan diri dengan tersenyum penuh makna.

“Baiklah. Datanglah ke rumahku sepulang sekolah. Aku akan meminta Mommy membelikan pizza untuk cemilan.”

Juno mengangguk penuh semangat. Ia melupakan Lauren, meskipun tidak sepenuhnya. Sebab baru saja akan berbincang lagi dengan Hana, Lauren memasuki kelas bersama Bobby. Mereka terkekeh bersama sambil melangkah serentak ke dalam. Hana ikut menoleh ke arah pandangan Juno yang terdiam di tempat.

“Halo, Hana! Halo, Juno!” sapa Bobby.

“Haloooo!” jawab Hana lalu tersenyum ramah.

“Juno-yaa, aku sudah mengembalikan buku yang Juno pinjamkan ke perpustakaan. Bukunya benar-benar bagus!” ujar Lauren. Ia ceria seperti biasanya.

“Benarkah? Baguslah,” balas Juno sekenanya. “Apa Lauren tidak makan siang?”

“Hmm, kami baru saja selesai makan siang di kantin. Mommy tidak sempat membuatkan bekal untukku,” jawab Lauren dengan nada yang sedikit rendah.

Bobby berdehem untuk menarik perhatian Juno. Dan keinginannya terkabul. Juno kini menatapnya datar, kentang goreng terabaikan begitu saja di dalam mulutnya.

“Juno, Hana, aku dan Lauren berencana akan memancing sore ini di kolam ikan rumahku. Apa kalian berminat untuk ikut?”

Mendengar itu Juno dan Hana menoleh. Yang ada di dalam pikiran Hana ‘Tidak, sore ini aku dan Juno akan bermain Starcraft di rumahku.’

Sedangkan Juno berpikir keras. Ia ingin sekali ikut, tetapi sudah berjanji pada Hana. Namun membayangkan Bobby akan semakin dekat dengan Lauren membuatnya gusar. Matanya melirik Lauren ragu. Kenapa Lauren tidak ikut mengajaknya juga?

“Maaf, Bobby. Aku dan Juno—“

“Kami ikut!” potong Juno cepat seraya berdiri dari duduknya. Tentu saja Hana terperangah. Apa Juno terkena amnesia mendadak sehingga melupakan janji yang mereka buat beberapa saat lalu? Lauren mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum kaku, sedangkan Bobby tampak senang.

“Baiklah, nanti akan kuberikan alamat rumahku.”

**

 

“Apa? Pergi memancing? Sejak kapan kau menyukai kegiatan membosankan itu?” tanya Tiffany ketika mendapat telepon dari Juno. Ia masih berkutat dengan beberapa kertas kosong di atas mejanya untuk dibuat pola baru ketika Juno menelepon. Kebetulan siang itu Sulli sudah berada di rumah bersama Jino saat Juno pulang sekolah, jadi Tiffany tidak perlu buru-buru pulang.

“Aku tidak menyukainya, Mom. Aku hanya ingin bergabung dengan temanku.”

Tiffany menyambar pensil lalu memutar benda itu dengan jari-jari lentiknya. “Siapa saja yang akan memancing?”

Juno terdiam sejenak, seperti mengingat-ingat. Tiffany tetap menunggu jawaban putra sulungnya seraya membuat garis-garis halus di atas kertas kosong.

“Bobby, Hana dan…ya, hanya mereka. Kami akan memancing di rumah Bobby.”

“Oh, Hana juga ikut?”

“Hmm.”

Tiffany mendesah lega. “Baiklah kalau begitu. Tapi pastikan kau akan menghubungi Aunty Sulli setelah acara memancingmu selesai. Arraseo?”

“Oke, Mom. I love you!” seru Juno senang. Ada segaris senyum mengembang di wajah cantik Tiffany.

I love you too, Choi Juno. Jangan nakal dan memancinglah dengan benar. Sekarang berikan teleponnya kepada Aunty.”

Tak perlu menunggu waktu lama, Tiffany mendengar suara halus adik iparnya menyapa. “Nde, Eonnie?”

Honey, apa Jino menghabiskan makan siangnya?” tanya Tiffany lembut. Selain mencintai anak-anaknya, ia juga sangat menyayangi Sulli. Bagaimana tidak? Sulli selalu bersedia mengasuh Jino bahkan Juno saat Tiffany masih sibuk bekerja di butik.

“Lagi-lagi ia menyisakan kentang gorengnya, Eonnie. Lalu ia memaksaku untuk menghabiskannya. Eonnie kan tahu, aku sedang dalam program diet.”

Mau tak mau Tiffany tertawa mendengar protes adik iparnya.

“Kalau begitu, kau harus lebih rajin berolahraga setelah ini.”

“Hahaha, terima kasih nasehatnya, Kakak ipar!”

 

 

 

“Mommy tidak mengerti, kenapa kau tiba-tiba ingin pergi memancing? Bukankah kau tidak suka hal-hal yang membosankan?”

Hana tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Yoona. Ia duduk manis di kursinya sambil sesekali menggoda Kyungsan yang diletakkan di tengah-tengah dirinya dan Yoona yang sedang menyetir. Yoona melirik Hana yang tidak menjawab pertanyaannya.

“Cho Hana, apa Juno juga ikut?”

“Hmm,” jawabnya singkat. Yoona membulatkan mulutnya tanpa suara. Baiklah, sekarang ia mengerti kenapa Hana juga ingin bergabung.

“Lauren juga ikut, Mom.”

Yoona menoleh lagi. “Oh, benarkah? Bukankah itu bagus? Kalian menjadi lebih akrab.”

Hana tidak menjawab. Gadis manis itu justru menghela napas dalam diam. Sesungguhnya ia sangat membenci kegiatan yang hanya duduk santai, menunggu umpan dimakan ikan, lalu menariknya sekuat tenaga. Beruntung kalau yang didapat memang ikan, kalau tidak? Hana selalu berpikir tidak ada yang mengasyikkan dari kegiatan tersebut.

“Apa benar ini rumahnya?” tanya Yoona setelah mereka sampai di tujuan. Ia membaca alamat yang diberikan Hana di ponselnya lalu melirik gerbang di depan. Benar, kata Yoona dalam hati. Belum sempat Yoona menekan klakson mobilnya, pintu gerbang itu sudah terbuka dengan sendirinya. Oh, otomatis? Yoona mengangkat kedua alisnya ke arah Hana. Rumah di hadapan mereka sungguh besar, lebih besar dari rumah mereka. Sepertinya Bobby berasal dari keluarga kaya.

“Aku tidak tahu kalau Bobby mempunyai halaman seluas taman kota di New York,” ujar Hana lalu terkekeh. Yoona mendelik padanya.

“Jangan gunakan mulut pedasmu itu pada teman-temanmu, ‘lil evil!” tegur Yoona. Ia harus menghentikan kebiasaan menyindir anak sulungnya.

“Oke, Mom.”

Mobil Yoona berhenti di dekat tangga teras rumah. Tampak beberapa pelayan keluar dari dalam, tentu saja untuk menyambut tamu. Yoona sedikit takjub melihat kemewahan yang ada di rumah teman anaknya ini. Mereka disambut bagai tamu kerajaan. Dan saat Yoona dan Hana sudah berada di luar mobil, tiga orang anak kecil keluar dari sana, diikuti oleh seorang pemuda tampan.

“Hana-yaa!” seru Juno dan seorang gadis kecil yang ternyata Lauren ketika menghampiri Hana. Yoona tetap berdiri di samping mobil sebab Kyungsan masih berada di dalam.

“Oh, apakah Hana terlambat?” tanya Yoona ramah. Ia bisa melihat wajah keempat anak kecil itu menatapnya semua, termasuk pemuda tampan yang usianya mungkin awal 20-an.

“Tidak, Aunty. Juno juga baru saja datang diantar oleh Aunty nya!” jawab anak laki-laki yang Yoona yakin adalah Bobby.

“Benarkah, Juno? Memangnya dimana ibumu?” tanya Yoona seraya mengacak rambut Juno.

“Mommy masih bekerja, Aunty!” jawab Juno ceria.

“Oh, arraseo. Hmm, kau pasti Lauren. Dan yang tampan ini adalah Bobby,” tebak Yoona penuh perhatian. Kedua anak itu mengangguk semangat. Yoona sangat menyukai anak-anak, terlebih lagi jika melihat Hana berkumpul bersama teman-temannya. Tiba-tiba terdengar deheman dari pemuda tampan yang sedari tadi berdiri di belakang mereka. Yoona menegakkan tubuhnya kemudian membungkuk sekilas.

Annyeong, Im Yoona imnida.”

“Kim Myungsoo imnida. Aku adalah Paman Bobby. Mereka akan memancing denganku hari ini,” ujar pemuda tampan berlesung pipi itu ramah.

“Kalau begitu, aku titip Hana padamu, Myungsoo-ssi. Dan juga anak-anak lainnya.”

“Baiklah, jangan khawatir.”

**

 

“Pertama-tama, periksa apakah alat-alat pancing kalian sudah lengkap. Yang kalian pegang adalah Rod atau Joran. Kalau kalian merasa itu terlalu berat, aku bisa menggantinya dengan yang lebih ringan. Dan yang kedua, perhatikan apakah penggulung, senar pancing, pelampung, umpan, kail serta timah pemberatnya telah terpasang dengan baik atau tidak. Jika kalian tidak menemukan salah satunya di alat pancing kalian, silahkan ambil di kotak pancing. Sejauh ini ada yang kalian ingin tanyakan?”

Juno, Hana dan Lauren saling senggol. Sejujurnya mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Uncle L atau Myungsoo. Pemuda itu mengajari mereka seolah-olah mereka sudah berusia 15 tahun. Hanya Bobby yang tampaknya paling bersemangat. Jelas sekali kalau ia dan pamannya sering melakukan kegiatan ini.

Tiba-tiba Lauren mengangkat tangan. “Uncle L, apa fungsi alat-alat itu? Kenapa umpanku juga berupa ikan? Bukankah nanti ikan itu tidak akan memakan temannya sendiri?”

Myungsoo menghela napas berat. “Lauren, ikan-ikan yang ada di kolam tidak memakan teman mereka. Mereka hanya akan tertarik pada bentuk dan warna umpan itu.”

“Tetapi tetap saja, Uncle L. Setelah ikan-ikan itu mendekat, mereka pasti mengamati dan bertanya-tanya kenapa mereka sama persis,” tambah Juno.

“Jika mereka memakan umpan berbentuk ikan plastik itu, berarti ikan juga termasuk karnivora? Apa aku salah?” Hana ikut menyahut.

Myungsoo memejamkan mata. Sabar L, ucapnya dalam hati. Ia sudah mengatakan pada Bobby kalau mengajak teman-temannya memancing adalah ide buruk. Myungsoo tidak begitu menyukai anak-anak, terlebih lagi anak-anak cerewet seperti Juno, Hana dan Lauren. Ia menyanggupi permintaan Bobby sore ini hanya karena tidak ingin keponakannya itu mengadu pada kakaknya, serta karena kekasihnya yang tak lain adalah wali kelas mereka.

“Anak-anak, ikan tidak pernah mengamati dan bertanya-tanya,” ujar Myungsoo penuh kesabaran. “Ah, sudahlah. Sekarang lihat saja aku memancing.”

Myungsoo tidak ingin membuang waktunya menjelaskan langkah-langkah memancing kepada ketiga teman baru keponakannya. Ia pun melempar ujung senar pancingnya ke tengah kolam kemudian duduk dengan santainya di kursi yang sudah tersedia. Bobby menoleh pada ketiga temannya.

“Uncle memang sedikit pemarah. Ia juga tidak sabaran. Jadi kalian, lihat saja caraku memancing.”

“Baiklah, Bobby!” seru Lauren semangat. Bibir Juno mengerut tak suka.

Jadi, Juno, Hana dan Lauren mengikuti gerak-gerik Bobby. Mereka melempar kail seperti yang dilakukan Bobby. Lauren dan Hana sempat terhuyung saat melakukannya. Mungkin terlalu berat untuk mereka. Namun Bobby dengan gesit memegangi kedua tangan Lauren agar ia tidak terjatuh. Hana yang hanya terhuyung sedikit, kembali berdiri tegak. Ia tidak mengharapkan Juno membantunya, sebab ia tahu, dengan melihat Bobby dan Lauren saja Juno sudah merasa tidak bersemangat.

“Sekarang kita harus menunggu sampai senar pancing ini tertarik oleh ikan-ikan,” jelas Bobby lagi seraya duduk di kursinya. Myungsoo mendengus malas. Ia berharap cepat-cepat mendapatkan ikan dan menyudahi acara memancing ini.

“Hanya duduk begini apa serunya,” gumam Hana. Juno yang duduk di sampingnya menoleh.

“Hana, maafkan aku, ne! Karena aku, kita tidak jadi bermain starcraft,” ucap Juno menyesal. Ia juga menyesal sudah datang kesini. Ia mengira Lauren akan berbicara dengannya lebih banyak, tetapi justru kebalikannya. Lauren semakin terpesona dengan keahlian memancing Bobby dan tidak berhenti memuji rumahnya.

Rumah Bobby benar-benar besar dan banyak permainan yang bisa mereka nikmati. Kolam renang dengan berbagai permainan air, kolam ikan, bioskop pribadi, aula yang disulap menjadi ruangan musik yang meriah, serta banyak lagi. Mereka memang sempat menjelajahi rumah Bobby sebelum beranjak ke kolam ikan ini.

It’s okay, Jun. Kita bisa bermain kapan-kapan,” jawab Hana kalem. Ia menatap lurus ke depan, dimana pelampung pancingnya mengambang di kolam yang tenang. “Apa menurut Juno aku akan mendapatkan ikan?”

Juno ikut melihat ke depan, mengabaikan Lauren yang terkikik geli ketika mendengar cerita pengalaman memancing yang dikisahkan Bobby saat ini. “Entahlah.”

“Hei, Juno! Apa kau pernah memancing sebelumnya?”

Hana ikut menoleh pada Bobby ketika anak itu menanyai Juno. Juno menggeleng dengan polosnya. Ia memang belum pernah memancing. Kata Tiffany memancing sangat membosankan, sedangkan Juno belum bertanya bagaimana pendapat Siwon. Melihat jawaban Juno, timbullah senyuman puas di wajah Bobby.

“Memancing itu menyenangkan! Apalagi di sungai. Benar kan, Uncle?”

Kini Bobby meminta persetujuan Myungsoo namun pemuda itu hanya menjawab dengan gumaman malas. Bobby kembali menatap Lauren kemudian berkata keras-keras. “Aku pernah mendapatkan ikan yang beratnya hampir 10 kilo waktu memancing di laut! Aku dan Uncle menariknya dengan susah payah. Lauren-ah, kapan-kapan ikut bersamaku ke laut, ne!”

“Laut itu berbahaya, Lauren!” tibaa-tiba Juno berseru. Ia tidak suka melihat Bobby terus-terusan mencari perhatian.

“Tetapi disana banyak ikan untuk dipancing!” balas Bobby.

“Anak-anak seusia kita seharusnya memancing di kolam saja,” Juno masih tidak mau kalah. Lauren dan Hana bahkan menatap dua anak laki-laki itu bergantian. Bagaimana Juno tersulut emosi dan Bobby yang merasa jengkel membuat Hana dan Lauren menggeleng-gelengkan kepala.

“Hei, sudah sudah! Keributan yang kalian timbulkan akan membuat ikan-ikanku lari!” akhirnya Myungsoo berdiri dan memperingati. Ia tidak habis pikir mengapa anak-anak sulit sekali diatur. Kontan saja keempat anak itu langsung terdiam. Juno menyesal dalam hati, mengapa ia bersedia ikut kemari.

 

 

Setelah lama menunggu, akhirnya pancingan Lauren tersentak ke dalam kolam. Senar pancingnya menegang kemudian bergerak liar kesana kemari. Melihat itu Bobby segera membantu Lauren. Tentu saja Myungsoo selalu mengawasi di samping mereka. Juno dan Hana memperhatikan pancingan Lauren dengan penuh minat, sebab dari tadi mereka belum mendapatkan apa-apa.

“Waaah, sepertinya aku mendapatkan ikan yang besar, ya! Hahaha!” Lauren bersorak senang sementara Bobby mengambil alih pancingannya. “Bobby kuat sekali! Ayo, Bobby! Ayo tarik ikannya!”

Myungsoo hanya berdecak ketika melihat keponakannya berlagak di depan Lauren. Ia tahu kalau sebenarnya ikan yang terpancing cukup besar, dan kekuatannya tidak akan terlawan oleh Bobby. Namun Myungsoo memutuskan untuk memperhatikan sikap sok pahlawan keponakannya. Ia berdiri di belakang anak-anak tersebut.

“Uuuugggh!” geram Bobby seraya memutar penggulung pancingan. Ia menariknya dengan sekuat tenaga, teknik yang gegabah menurut Myungsoo.

Juno memperhatikan dengan seksama di tempatnya. Melihat Bobby menarik pancingan dengan tak sabaran, sedangkan Lauren terus menyemangatinya dengan suara kencang, membuat Juno tidak ingin terkalahkan. Ia pun menghentakkan kakinya, berjalan menuju Bobby, dan tanpa berpikir panjang menyambar pancingan milik Lauren. Bobby menepis tangannya cukup kasar.

“Sini, berikan padaku! Aku bisa menariknya!” seru Juno. Bobby menolak mentah-mentah. Ia tidak membiarkan Juno menyentuh pancingan Lauren, sementara senarnya masih berputar-putar liar di kolam.

“Kau tidak akan bisa, Choi Juno! Minggir sana!”

“Aku pasti bisa! Berikan padaku!”

“Tidak. Aku yang akan menarik ikannya untuk Lauren!”

“Ini sangat mudah. Aku juga bisa menariknya!”

“Jangan sentuh! Minggir kau, Juno!”

Kedua bocak lelaki itu saling meneriaki satu sama lain. Pancing dan ikan terlupakan, kini hanya tersisa pertengkaran keduanya. Juno dan Bobby sama-sama tidak ingin mundur. Tentu saja perbuatan itu akan dianggap Lauren sebagai anak yang lemah. Juno juga ingin diberi semangat seperti itu oleh Lauren oleh karena itu ia berusaha mati-matian mengambil alih pancingan Lauren.

Saat melihat wajah kedua anak itu mulai memerah, Myungsoo pun bertindak. Sudah habis waktunya untuk menjadi sok jagoan. Lalu sepertinya Myungsoo terlambat. Sebab di tengah-tengah perebutan pancing milik Lauren, Juno tak sengaja menginjak tepian kolam yang licin kemudian dalam sekejap mata tubuhnya terlempar ke dalam kolam!

Hana dan Lauren memekik, sedangkan Bobby terperangah kaget. Lalu, alih-alih membantu, Hana justru mendekati Bobby dan merenggut pancing milik Lauren dengan kasar. Bobby yang masih terkejut melihat Juno terjatuh ke kolam, kehilangan keseimbangan. Merasa ia juga akan melayang ke bawah, dengan cepat menyambar ujung jaket Hana.

Dan BYUUUURRR….

Myungsoo dan Lauren berdiri di pinggir kolam, dengan mulut yang sama-sama menganga lebar. Kini mereka hanya dapat melihat ketiga anak yang tengah berjuang berenang ke tepian kolam.

Matilah aku, batin Myungsoo.

**

 

Yoona duduk tanpa berkomentar apa-apa di sofa ruang keluarga, sedangkan Kyuhyun berjalan mondar-mandir di hadapan Hana yang basah kuyup. Hana tidak beruntung sore itu. Setelah berhasil keluar dari kolam ikan sedalam 2 meter, ia segera menghubungi Yoona agar segera dijemput. Yoona terkejut melihat gadis kecilnya basah kuyup dan sedikit bau amis, namun sebelum sempat memarahinya di rumah, ternyata Kyuhyun sudah pulang dari kantor.

Alhasil, Kyuhyun melotot tidak percaya melihat keadaan anaknya. Tentu saja air kolam berlumut dan dipenuhi kotoran ikan. Yoona tahu jika Kyuhyun sudah melotot begitu, Hana harus mempersiapkan mental. Ini tidak akan mudah bagi Hana.

“Jadi, apa yang menyebabkan tubuhmu basah kuyup dan berbau tidak sedap begini? Apa lagi kenakalan yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun. Suaranya sedikit keras dan tegas. Yoona melirik Hana yang kini menundukkan kepala, seolah-olah jika melihat wajah ayahnya mimpi buruknya akan datang.

“Kau tidak akan menjawab?” Kyuhyun semakin terdengar mengintimidasi. Hana perlahan mengangkat kepala. Yoona dapat melihat beberapa helai lumut yang sudah mengering diantara rambut putrinya.

“Aku…terjatuh ke dalam kolam ikan, Daddy. Aku marah pada teman yang mendorong Juno jatuh kesana.”

Kening Kyuhyun mengernyit hebat. “Juno? Choi Juno maksudmu?”

Hana mengangguk.

“Kenapa temanmu mendorongnya ke kolam? Apa mereka bertengkar?” Kyuhyun bertanya lagi.

“Mereka bertengkar memperebutkan pancing Lauren. Juno terpeleset dan jatuh. Aku tidak terima, Daddy. Lalu aku maju untuk membela Juno tapi aku juga terpeleset jatuh.”

Kyuhyun menghela napas berat. Ia melirik Yoona yang tersenyum menenangkan di tempatnya. Melihat keadaan Hana yang masih basah kuyup membuatnya iba. Kyuhyun tak habis pikir dengan sifat terlalu berani putri sulungnya. Hana berkata ia maju untuk membela Juno, yang berarti ia tidak takut bertengkar sekalipun dengan anak laki-laki.

Ha….haa…haaattchiuuu!”

Mata Kyuhyun melebar, sedangkan Yoona segera menghampiri Hana dengan wajah khawatir. Anak itu mulai bersin-bersin di tempat duduknya. Seketika itu Kyuhyun merasa bersalah karena tidak membiarkan Hana berganti pakaian terlebih dahulu.

**

 

“Hyung, apa sup ayamnya enak? Aku yang membantu Mommy membuatnya!”

Juno mengangguk dan tersenyum pada adik kecilnya. Di luar hujan lebat, ditambah lagi dengan kejadian terceburnya Juno ke kolam, maka sup ayam adalah menu yang tepat untuk makan malam. Siwon belum pulang dari kantor, jadi Juno dan Jino hanya ditemani Tiffany. Setelah meletakkan dua porsi sup ayam di atas meja untuk dinikmati kedua putranya, Tiffany pun duduk mengawasi mereka. Ia tidak ikut makan bersama anak-anaknya melainkan menunggu Siwon terlebih dahulu.

“Jadi, apa yang terjadi tadi? Aunty bilang kau diantar pulang oleh paman Bobby dalam keadaan basah kuyup dan berlumut.”

Juno mengerucutkan bibir. Ia takut jika mengatakan yang sebenarnya, Tiffany akan mendiamkannya lagi. Tetapi hati kecilnya tidak bisa berbohong, karena ia tahu ini adalah kesalahannya. Ia ceroboh. Jino mencoba memberikan satu suap sup kepada Tiffany, yang hanya dibalas senyuman oleh ibunya tersebut.

“Choi Juno, Mom masih menunggu jawabanmu,” tegur Tiffany. Wajahnya sangat serius. “Kau tidak bertengkar, kan?”

Juno semakin menundukkan kepala. Tiffany tahu tebakannya tidak salah. Kini ia harus membuat Juno mengatakan yang sebenarnya.

“Kau benar-benar bertengkar? Choi Juno, selama ini Mom belum pernah mendengarmu bertengkar. Katakan apa yang sebenarnya terjadi?!” suara Tiffany mulai meninggi. Jino menatap Tiffany takut-takut.

“Mom akan bicara dengan ayahmu kalau kau tidak juga membuka mulut! Kau belum pernah melihat ayahmu marah, kan?” ancam Tiffany. Tatapannya tidak lepas dari putranya yang masih berusia 8 tahun tersebut.

Merasa tertekan, Juno pun mengangkat kepala. Ia benar-benar tampak menyesal dan merasa bersalah kepada ibunya. “I’m sorry, Mom. Aku…memang bertengkar. Itu karena Bobby selalu merasa paling hebat. Ia selalu menarik perhatian Lauren dengan cara pamer! Aku tidak suka orang yang pamer.”

Rahang Tiffany terbuka karena kaget namun tidak bisa berbicara apa-apa untuk beberapa detik. Bertengkar, Lauren, dan pamer? Tiga kata itu seakan-akan menohok Tiffany. Otaknya dengan cepat menyusun tiga kata tersebut dan hasilnya membuat ia semakin jengkel dan kecewa dengan Juno.

“Apa katamu? Kau bertengkar demi Lauren dan kau masih bisa berkata kalau Bobby lah yang pamer??” desis Tiffany tajam. Juno ingin sekali mengecil saat ini sebab ibunya sangat menyeramkan saat marah.

“Choi Juno, kau tahu betapa marahnya Mom mendengar semua ini? Kau bertengkar hanya karena tak suka Bobby menarik perhatian Lauren? Juno, sudah berapa kali Mom katakan untuk bersikaplah seperti anak-anak seusiamu! Mom melarangmu memikirkan tentang Lauren lagi dan fokus pada pelajaran. Kau mengecewakan Mom, Juno. Kau berbohong pada Mom tentang siapa saja temanmu yang ikut memancing, dan kau pulang dalam keadaan basah kuyup akibat bertengkar. Apa kau sadar kalau perbuatanmu salah?”

Juno menundukkan kepala. Ia sadar betul betapa kecewanya Tiffany. Ia tidak ingin Tiffany marah, tapi sebagai konsekuensi perbuatannya, inilah yang didapatnya. Tiffany masih menatap Juno dengan pandangan nanar. Tidak menyangka kalau Juno berani berbohong padanya. Dan darahnya mendidih ketika mengetahui Lauren-lah yang menjadi alasan pertengkaran.

Mianhae, Mommy. Hiks, jeongmal mianhae.”

Tiffany tertegun mendengar Juno menangis. Sudah berapa lama ia tidak menyaksikan kelemahan Juno, ia lupa. Juno jarang sekali menangis dan tampak rapuh. Tiffany masih kecewa karena alasan putranya berubah hanya karena seorang gadis kecil. Ingin sekali ia merengkuh tubuh Juno ke dalam pelukannya, tapi ia harus tegas. Juno harus menyesali perbuatannya.

Jino menatap iba pada kakaknya, kemudian turun dari bangku. Ia menghampiri Juno lalu mencoba melihat wajah Juno yang tertunduk dalam. Mata Jino ikut berkaca-kaca saat berbalik menatap ibunya. Tiffany melirik Jino, anak bungsunya yang mempunyai hati selembut peri itu. Kenapa jadi begini, batin Tiffany.

“Mommy, Hyung belum menghabiskan sup ayamnya. Jangan memarahi Hyung lagi. Hukum Jino saja tapi biarkan Hyung makan dulu,” mohon Jino. Bibirnya melengkung sedih membuat pertahanan Tiffany ikut goyah. Tiffany bangkit dari duduknya lalu menarik Jino kembali duduk.

“Mommy tidak akan menghukum Hyung ataupun Jino. Ayo, cepat makan lagi,” bujuk Tiffany pada Jino. Lalu tanpa menatap Juno, Tiffany menambahkan. “Juno, habiskan makananmu lalu masuk ke kamar.”

 

 

Siwon pulang lebih lama dari biasanya. Di luar masih hujan lebat, mengakibatkan Siwon sedikit menggigil ketika memasuki rumah. Beruntung Tiffany telah menyiapkan air hangat untuk mandi. Setelah membereskan pakaian kotor suaminya, Tiffany beranjak ke dapur untuk menghangatkan makan malam.

Pikirannya masih dipenuhi oleh Juno. Ia merasa bersalah karena terlalu keras pada anak itu, terlebih lagi memarahinya saat makan. Tiffany mematikan kompor saat mendengar langkah kaki Siwon mendekat. Pria itu memakai piyama serba maroon senada dengan Tiffany, rambut yang masih basah dan tampak segar sehabis mandi. Di lehernya tergantung sebuah handuk kecil yang berguna untuk mengeringkan rambut. Siwon menarik salah satu kursi kemudian duduk menunggu Tiffany meletakkan makan malam untuknya.

Siwon memperhatikan mimik wajah sang istri. Tidak ceria seperti biasanya, bahkan kali ini lebih murung. Sampai Tiffany duduk di sampingnya, Siwon masih mengamati apa yang salah. Merasa Siwon hanya diam saja, Tiffany pun melirik pria itu. Kedua alisnya terangkat.

“Ada apa?” tanya Tiffany datar.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa? Kau terlihat murung begitu,” komentar Siwon. Ia mengambil semangkuk nasi yang disodorkan Tiffany.

“Oh, begitu ya? Makanlah dulu, nanti akan kuceritakan.”

Siwon memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya dan menggelengkan kepala. “Tidak, aku ingin mendengarnya sekarang. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Tiffany menghela napas berat. Ia tahu Siwon tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia menggigit bibirnya, membuat Siwon terpaku pada gesture seksi itu.

Hey babe.”

“Hm, yup?” Siwon segera menyadarkan dirinya agar tidak tergoda oleh perbuatan Tiffany. Ia mengalihkan pandangan ke mata Tiffany dan menelan makanannya dengan susah payah.

“Apa menurutmu aku terlalu keras kepada Juno?”

Ujung-ujung alis Siwon menyatu. “Hm, bagaimana ya?”

“Kau tidak tahu atau merasa tidak enak padaku jika menjawab ‘iya’ ?” sindir Tiffany. Siwon meletakkan sendoknya lalu menangkup wajah Tiffany dengan gemas.

“Hei, aku masih memikirkannya. Kenapa berkata seperti itu? Ada apa sebenarnya? Kau tampak kesal sekali, Sayang.”

Tiffany menghembuskan napas kasar. Tidak seharusnya ia merasa begitu sensitive. Mungkin rasa kesalnya terhadap Juno tadi masih menggerogoti hatinya.

“Maafkan aku, aku hanya bingung. Apa kau tahu, hari ini Juno bertengkar dengan temannya sampai tercebur ke dalam kolam ikan. Dan semua itu gara-gara Lauren.”

Alis Siwon kini terangkat tinggi. “Bertengkar sampai tercebur ke kolam gara-gara Lauren? Apa Juno baik-baik saja?”

Tiffany mengangguk. “Ia baik-baik saja.”

Siwon terkekeh, membuat Tiffany terheran-heran. Reaksi Siwon tidak terduga. Ia justru mengira Siwon akan membangunkan Juno dan menasehati anak itu. Tetapi Siwon terkekeh? Ia pikir ini lelucon?

“Kau tidak marah? Honey, yang benar saja! Juno tidak pernah bertengkar seumur hidupnya dan sekarang ia berubah menjadi anak temperamental hanya karena putri tunggal Jessica Jung itu!” seloroh Tiffany dengan suara meninggi. Siwon mengusap-usap lengan Tiffany, mencoba menenangkannya.

“Aku mengerti, sangat mengerti. Aku hanya tak habis pikir, kenapa ia bisa sampai bertengkar. Coba ceritakan padaku keseluruhan ceritanya.”

“Singkat saja. Putra sulungmu itu marah saat teman barunya yang bernama Bobby, pamer di hadapan Lauren. Juno tidak ingin Bobby lebih dominan darinya. Maka ia mencoba melawan Bobby agar tidak pamer lagi kepada Lauren. Belum lagi ia berbohong padaku sebelum berangkat memancing. Saat kutanya dengan siapa saja ia pergi, ia menyebutkan nama temannya tapi tidak mengatakan kalau Lauren juga ikut. Itu artinya ia takut kalau aku melarangnya pergi. Kau tahu kan kalau Juno tertarik pada Lauren? Padahal aku sudah memperingatinya agar tidak memikirkan hal-hal yang belum sepantasnya dipikirkan bocah 8 tahun. Sekarang katakan padaku apakah aku terlalu keras memarahinya atau terlalu posesif,” tutur Tiffany dengan beberapa kali tarikan napas.

Siwon paham sekarang. Juno memang bersalah kali ini, tetapi ia pun mengerti apa yang dilakukan Juno adalah sifat alami anak-anak. Siwon memandang ragu istrinya, membuat Tiffany semakin resah. Tiffany menepis kedua tangan Siwon dari lengannya.

“Kau tidak sependapat lagi denganku, ya kan?” tukasnya ketus.

“Aku tidak mengatakan itu.”

“Tapi kau diam. Artinya kau tidak sependapat denganku. Mengertilah, Choi Siwon, yang aku lakukan adalah semata-mata karena aku ingin anakku tumbuh sebagai pemuda yang baik dan pintar nantinya.”

Setelah mengatakan hal itu Tiffany berdiri dari kursinya dan berbalik meninggalkan Siwon. Tentu saja pria itu terperangah. Ia segera mengejar Tiffany. Istrinya merajuk dan sepertinya kali ini sangat kesal.

“Hei, dengarkan aku!” Siwon menarik tangan Tiffany dengan lembut sebelum wanita itu mencapai anak tangga. “Aku sependapat denganmu, Fany-ah. Aku tahu Juno bersalah karena telah berbohong padamu. Ia juga tidak seharusnya bertengkar dengan temannya. Aku akan berbicara dengannya besok. Tetapi kau tidak boleh terus-terusan posesif padanya. Juno tahu kalau kau pasti akan melarangnya pergi oleh sebab itu ia berbohong. Ia telah berjanji padaku untuk tidak akan menyakiti perasaanmu dengan tetap berteman dengan Lauren.”

Tiffany lagi-lagi menepis tangan Siwon, lebih kasar. “Jadi kau menuduhku sebagai penyebab ia berbohong? Apakah kau tidak mengerti perasaanku? Juno dekat dengan anak Jessica Jung, orang yang selalu kuhindari sejak dulu. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Juno dan Lauren menjadi teman dekat karena Jessica Jung akan terus menghantuiku!”

Siwon terhenyak. Ternyata tidak berubah, benar-benar tidak berubah. Siwon menelan bulat-bulat rasa kecewanya. Tetapi sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, ia tidak akan membiarkan masa lalu itu terus tersimpan menjadi dendam di dalam hati istrinya tersebut. Siwon menatap Tiffany, mata wanita itu berkaca-kaca.

“Baiklah, sepertinya permasalahanmu bukan hanya Juno. Kau harus jujur padaku, Tiffany. Apakah kau masih mengingat cinta pertamamu?” suara Siwon berubah sedingin es. Tiffany menelan ludah.

“T-tentu saja tidak. Kenapa kau merubah topik pembicaraan?”

“Aku tidak merubah topik pembicaraan, tetapi kau yang mengarahkannya kesana. Kau terang-terangan mengungkapkan bahwa Jessica masih menghantuimu. Sadarlah Tiffany, masa lalumu tidak benar-benar pahit. Jessica tidak pernah bersalah padamu karena sejak awal Lee Dongwook memilihnya. Justru kau lah yang hadir sebagai orang ketiga diantara mereka. Beruntung aku datang dan menyadarkanmu kalau aku yang selama ini mencintaimu, bukan Lee—“

“Cukup, Siwon!”

Siwon terdiam. Airmata Tiffany sudah turun dengan derasnya. Siwon hanya mengatakan yang sebenarnya, ia tidak bermaksud menyakiti hati Tiffany atau mengingatkan kembali bagaimana masa lalunya. Tiffany kini telah menyesali perbuatannya dulu. Dan perasaan itulah yang membuatnya tidak sempurna sebagai wanita yang dicintai Siwon. Ia benci hal yang tidak sempurna.

“Haruskah kau mengungkit itu kembali? Aku tidak membenci Jessica karena telah berhasil menjadi istri dari cinta pertamaku, tapi aku benci kalau aku pernah hampir merusak hubungan mereka. Aku terlihat jahat sekali di mata orang lain.”

Tiffany beranjak dari hadapan Siwon dengan membawa kesedihan serta airmatanya. Siwon hanya bisa memandangi Tiffany yang semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu kamar mereka. Perutnya masih bergejolak lapar tetapi ia tidak berselera lagi.

 

 

Siwon POV

Aku tahu dulu Tiffany sangat tergila-gila pada Lee Dongwook. Dongwook adalah pemuda paling tampan di sekolahnya dulu yang membuat Tiffany dan Jessica harus bersaing, padahal setahuku mereka berteman sebelumnya. Dongwook memang ramah kepada siapa saja, membuat Tiffany salah paham. Kesalah pahaman dan rasa percaya diri Tiffany-lah yang membutakan matanya kalau Dongwook sebenarnya menyukai Jessica. Namun Tiffany tidak menyerah, ia bahkan mencoba beberapa kali menyelip dalam hubungan kedua temannya itu. Alhasil, ia sendiri yang menyakiti dirinya.

Aku yang saat itu hanyalah seorang senior yang diam-diam menyukainya, mencoba selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun. Beruntung Tiffany menerima keberadaanku, meskipun pada awalnya ia hanya menganggapku seorang kakak untuknya. Aku selalu memberikan perhatian padanya karena aku tahu, Dongwook hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Tidak lebih.

Dongwook tidak bersalah, sebab menurutku cinta tidak dapat menentukan korban yang dipilihnya. Aku menjadi saksi betapa terpuruknya Tiffany saat Dongwook menegaskan kalau hanya Jessica yang ada di hatinya dan meminta Tiffany untuk tidak menyakiti Jessica. Well, aku menenangkan Tiffany semalaman dan ia menghabiskan sekotak tissue untuk menghapus airmatanya.

Aku menghela napas berat lalu bangkit dari kursi meja makan. Tiffany harus tahu kalau aku tidak pernah menganggapnya jahat. Aku sudah melupakan masa lalu itu, mungkin Dongwook serta Jessica juga demikian. Tiffany bersikap tegas pada Juno mungkin hanya karena ia masih merasa malu terhadap Jessica. Selain bersaing dalam dunia bisnis yang mereka kelola sekarang, menurutku tidak ada alasan lain lagi untuk saling membenci.

Saat memasuki kamar aku melihat Tiffany meringkuk dengan kedua bahu yang bergetar. Apa ia menangis karenaku? Sampai kapanpun aku tidak rela melihatnya menangis karena diriku. Aku pun menghampirinya dan memeluk tubuhnya dalam dekapan hangat. Aku menciumi belakang lehernya sangat lembut.

“Maafkan aku, baby. Jangan menangis lagi, lebih baik pandangi aku. Lihatlah wajah penuh penyesalanku ini. Apa aku terlihat jelek, hm?” bujukku.

Bahunya masih bergetar dan menolak untuk membalikkan badannya. Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu kembali tertawa Tiffany Hwang. Sejak dulu pun aku tidak pernah menyerah.

Baby, mau mendengar kisah cintaku dulu? Aku tidak menganggapnya cinta pertama, tapi cinta sejati.”

Tiffany tidak menjawab, tapi bahunya sudah tidak bergetar lagi. Aku yakin ia mendengarkanku.

“Aku bertemu dengan gadis yang kusukai saat kami duduk di bangku sekolah menengah. Ia tidak menyadari kalau aku selalu mengawasinya. Ia termasuk salah satu siswi popular di sekolah, ya sebenarnya sama sepertiku. Tetapi aku tidak terlalu menonjolkan diri. Ia adalah gadis tercantik dan paling bersemangat yang pernah kutemui. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menjadi temannya, mengiriminya pesan, dan mengikuti organisasi apa saja yang diambilnya. Aku mencoba menjadi sosok sahabat yang selalu ada untuknya meskipun aku tahu ia mulai menyukai pemuda lain.”

Tiffany bergerak perlahan lalu membalikkan tubuhnya, menghadapku. Airmatanya setengah kering. Ia menatapku lekat dan meletakkan tangannya di dadaku.

“Sampai suatu saat ia menanyakan pendapatku, bagaimana tipe perempuan yang sangat disukai para pemuda. Tentu saja untuk menarik perhatian pemuda lain itu. Aku memberitahunya tipeku, bukan tipe kebanyakan pemuda. Aku melakukan itu hanya untuk melihatnya sempurna di mataku, bukan di mata pemuda yang disukainya. Terbukti saat pemuda yang disukainya ternyata tidak balas menyukainya. Kasih sayang yang kurasakan untuknya sangat tulus, sehingga aku bertahan ketika ia selalu bercerita tentang pemuda lain. Aku tidak pernah mencoba menghalangi usahanya untuk menarik perhatian pemuda yang disukainya, namun takdir berkata lain. Ia tetap kembali padaku. Meskipun awalnya ia menolakku karena masih mencintai pemuda yang tak membalas cintanya, aku tetap menunggunya. Sebab aku tidak menganggapnya buruk, cinta tidak pernah buruk. Gadis itu hanya perlu menyadari bahwa seseorang tidak boleh memaksakan cinta.”

Tiffany memejamkan matanya sehingga sebulir airmata kembali lolos dari mata cantiknya. Aku menghapusnya perlahan lalu kembali melanjutkan, “Cinta itu adalah sesuatu yang tulus kau lakukan. Aku tulus menunggunya agar ia melihatku, menyadari kehadiranku, tanpa mematahkan semangatnya saat menyukai pemuda lain. Buah manis kesabaranku adalah akhirnya mendapatkan cintanya, menikah dengannya dan memiliki dua orang putra yang sangat tampan. Gadis itu kini menjelma menjadi seorang istri dan ibu yang mencintai keluarganya.”

“Bagaimana menurutmu cerita cintaku? Aku tidak ingin menyebutnya cinta pertama, tetapi cinta sejati. Terdengar lebih sempurna. Dan menurutku gadis ini tidak jahat, sama sekali. Ia hanya bertindak ambisius karena cinta, sama sepertiku yang bertindak bodoh demi cinta. Lalu aku berpikir, kami adalah pasangan yang sangat serasi.”

Aku terkejut karena Tiffany menubruk tubuhku cukup kuat hanya untuk membalas pelukanku. Aku kira tangisannya akan berhenti, tetapi justru semakin kencang. Tanganku mengelus rambut halusnya dengan penuh kasih sayang.

“Jangan menangis terus. Jika besok matamu bengkak, Jino akan menertawaimu,” godaku. Ia memukul dadaku cukup keras sebagai balasannya.

“Ini semua gara-gara kau Choi Siwon! Kau membuatku terharu. Maafkan aku, hiks!”

Aku tertawa kecil lalu memeluknya lebih erat. Rasakan detak jantungku Tiffany. Setiap debarannya masih menyerukan cinta untukmu.

Baby, aku hanya ingin kau melupakan masa lalu. Jika kau terus mengingatnya, kau akan selalu menganggap Jessica adalah musuhmu. Percayalah, ia tidak membencimu karena masa lalu kalian. Bukankah dulu kalian berteman baik? Menurutku ia bertentangan denganmu karena masalah kalian berdua belum terselesaikan. Kau masih merasa bersalah padanya, dan ia masih bertanya-tanya apakah kau masih menyukai suaminya,” ungkapku.

“Benarkah begitu?” tanya Tiffany ragu.

“Hanya pendapatku.”

Tiffany tidak berkata apa-apa lagi selama beberapa menit. Kubiarkan agar ia memahami kata-kataku. Aku berharap ia tidak lagi menganggap dirinya jahat terhadap Jessica, Dongwook ataupun terhadapku.

Perlahan ia menarik wajahnya kemudian menatapku intens. Aku bersikap setenang mungkin padahal aku masih merasakan debaran menyesakkan setiap kali ia berinisiatif untuk menciumku terlebih dahulu. Aku menahan kepalanya agar menikmati ciumannya lebih lama lagi.

“Aku mencintaimu, Choi Siwon. Terima kasih telah berbagi cerita denganku.”

**

 

Author POV

“Apa yang kau pikirkan?”

Jessica menoleh pada Dongwook saat suaminya itu bertanya. Mereka akan bersiap-siap tidur tetapi sepertinya Jessica masih memikirkan beberapa hal sehingga membuatnya melamun. Dongwook mendekati Jessica lalu meraih kedua tangan istrinya tersebut. “Biar kutebak, apa ini masalah Lauren?”

Jessica tertawa kecil. “Ya, tebakanmu benar.”

“Kau masih melarangnya berteman dengan putra Tiffany? Ayolah, honey, mereka masih anak-anak.”

Jessica menghembuskan napas berat lalu tersenyum miris. “Aku kekanak-kanakan, ya? Aku tidak membenci Tiffany, apalagi anaknya. Kau tahu, Choi Juno itu tampan, persis suami Tiffany menurutku. Dari yang diceritakan Lauren, Juno juga sepertinya teman yang baik.”

Dongwook mengangguk paham. “Lalu? Apa yang membuatmu melarang Lauren berteman dekat dengan Juno?”

Jessica menggigit bibir bawahnya, pertanda ragu. “Aku belum siap untuk kembali berhubungan dengan Tiffany. Ia pergi begitu saja setelah apa yang terjadi pada kita bertiga. Aku ingin ia mengatakan sejujurnya bahwa ia sudah baik-baik saja dan menerima hubungan kita. Tidak menghindariku dan menganggapku musuh. Aku masih beranggapan kalau ia membenciku sampai sekarang. Oleh sebab itu, aku juga menghindarinya.”

“Aku rasa itu karena kau masih peduli padanya. Aku tahu kalau kau tidak meragukan cintaku, tetapi kau hanya ingin hubunganmu dan Tiffany baik seperti dulu. Apa aku salah?”

Jessica tidak menjawab.

“Kalian masih saling peduli. Tetapi sifat kalian yang sama-sama keras kepala membuat segalanya buruk. Aku hanya berharap ini tidak mempengaruhi pergaulan anak-anak kita. Entah sampai kapan kau dan Tiffany akan bermusuhan, hanya Tuhan yang tahu. Tetapi sangat tidak adil bagi Lauren dan Juno.”

Dongwook meninggalkan satu kecupan manis di kening Jessica sebelum masuk ke dalam selimutnya. Jessica masih duduk berpikir sambil bersandar di kepala ranjang. Permusuhannya dengan Tiffany memang tidak adil bagi anak-anak mereka. Tapi… huft, sudahlah. Lebih baik aku tidur.

**

 

Setelah mencuci wajah dan menggosok gigi, Juno beranjak ke kamar orangtuanya. Ia berharap Siwon dan Tiffany bangun, meskipun sekarang masih pukul 6 pagi di hari Sabtu. Juno ingin meminta maaf pada Tiffany dan mengatakan kalau ia menyesali perbuatannya kemarin. Juno sadar kalau ibunya benar. Bersikap seperti anak berusia 8 tahun mungkin akan terasa lebih normal. Daripada berharap lebih dari seorang teman perempuan yang terkadang menyulut emosi serta pertengkaran. Juno tidak pernah seperti itu sebelumnya, jadi pengalaman pertama benar-benar menyadarkannya.

Cinta seorang ibu tidak pernah menimbulkan pertengkaran, pikir Juno.

Saat pintu kamar berhasil dibuka, Juno melihat kedua orangtuanya masih tidur dengan lelap. Siwon memeluk Tiffany dari belakang, dan ibunya itu mendekap erat tangan sang ayah yang melingkar di perut. Juno mengulum senyum. Sebuah pemandangan yang sangat indah baginya.

Juno memutuskan untuk menutup kembali pintu kamar Siwon dan Tiffany. Rumah terasa sepi jika semua orang masih tertidur. Lalu Juno teringat Jino. Mungkin membangunkan adiknya dan mengajaknya berolah raga pagi ini tidak ada salahnya. Setelah itu mereka akan membuatkan sarapan sederhana untuk Siwon dan Tiffany. Juno menjentikkan jari. Ide yang sangat bagus!

Ia bergegas ke kamar Jino yang berada di samping kamar kedua orangtuanya. Juno membuka pintunya dengan agresif lalu pemandangan Jino sedang merapikan tempat tidur menyambut pandangannya.

“Jino-yaa, kau sudah bangun!” sapa Juno lalu berjalan ke dalam. Kamar adiknya jauh lebih rapi dari kamarnya sendiri. Juno bisa melihat lego dan semua mainan terletak di tempatnya. Juno bahkan tidak menemukan miniature Lord Voldemort yang dilemparnya ke lantai minggu lalu karena kesal setelah menonton film Harry Potter. Seenaknya saja telah membunuh Saverus Snape, tokoh favorite-nya. Sebelumnya Juno juga mematahkan kepala miniature Bellatrix Lestrange karena telah menyiksa Hermione Granger. Lagi-lagi karena film.

“Tadi aku terbangun karena ingin buang air besar. Setelah itu aku tidak bisa tidur lagi, Hyung. Apa Hyung juga sedang sakit perut?” ujar Jino.

“Tidak, Jino. Apa kau sudah selesai? Ayo kita lari pagi!”

“Lari pagi? Yeay, baiklah!” seru Jino seraya melompat senang. “Apa Daddy sudah siap?”

“Hanya kita berdua saja. Daddy dan Mommy masih tidur. Mari kita buat kejutan untuk mereka. Kita buatkan telur mata sapi dan sosis.”

“Kita akan memasak? Horeee!” sekali lagi Jino menyambutnya dengan semangat. Anak itu memang selalu bersemangat. “Ayo, Hyung! Aku sudah tidak sabar!”

**

 

Yoona keluar dari kamarnya lalu mencari Kyuhyun di kamar Hana. Semalaman Kyuhyun tidak tidur. Ia berjaga di samping tempat tidur Hana karena anak itu jatuh sakit. Hana terserang demam cukup tinggi setelah tercebur ke dalam kolam. Seorang dokter sudah datang dan memeriksa kondisi Hana tadi malam, dan Kyuhyun telah menebus resepnya. Tidak sampai disitu, Kyuhyun juga menjaga Hana semalaman. Pasalnya Hana sering mengigau dan menangis jika sedang sakit.

Kyuhyun sedang serius memainkan game yang ada di ponselnya ketika Yoona masuk. Yoona menghampiri Hana yang masih tidur nyenyak lalu menyentuh keningnya. Sepertinya panas tubuh putrinya sudah turun. Kyuhyun masih tidak melepaskan pandangan dari permainan yang digenggamnya. Yoona tersenyum lalu merebut ponsel suaminya secara halus.

Yoona menaikkan sebelah alisnya ketika Kyuhyun menatapnya protes. Tapi sedetik kemudian ia mengerti. Pria itu mengusap matanya yang terasa sangat berat. Kepalanya sedikit pusing karena terus menunduk selama permainan berlangsung.

“Sebaiknya kau tidur. Biar aku yang menjaga Hana,” ujar Yoona.

Kyuhyun menyentuh kening Hana lalu menghela napas lega. “Panasnya sudah turun. Syukurlah,” ucap Kyuhyun. “Tapi aku tidak bisa tidur lagi sepertinya. Bolehkah aku sarapan dan minum secangkir kopi?”

Yoona melipat tangan di dada. “Kau harus tidur, Tuan Cho. Aku tahu kau tidak tidur tadi malam. Aku tidak ingin mendengarmu mengeluh karena sakit kepala, maka sebaiknya kau tidur.”

Kyuhyun melenggang santai mendekati Yoona, kemudian mencengkram lembut kedua lengan kurusnya. “Baiklah, Nyonya Cho. Aku akan tidur jika kau memberikan morning kiss-mu sekarang.”

Wanita di hadapannya tidak dapat membantah. Demi kesehatan Kyuhyun—agar ia bersedia untuk tidur—Yoona pun merengkuh leher pria itu lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Kyuhyun berdesis tak rela saat Yoona menyudahinya.

“Sepertinya aku akan mimpi indah. Bangunkan aku jika Hana mulai merengek kesakitan lagi,” ujar Kyuhyun lalu mengecup kening Yoona. Yoona mengangguk setuju lalu membiarkan Kyuhyun keluar kamar sendirian.

Sebagai suami dan ayah yang baik, Yoona pikir Kyuhyun telah memenuhi kriteria tersebut. Ia duduk di sofa tunggal yang tadi ditempati Kyuhyun lalu memeriksa seluruh tubuh anaknya. Keringat telah membasahi hampir seluruh tubuh Hana. Sepertinya obat yang diberikan dokter tadi malam bagus untuknya. Yoona berharap demam Hana akan pulih siang ini.

“Mom…”

Mata Hana terbuka perlahan selagi Yoona membuka celana training yang dipakainya. Celana dan bajunya lembab oleh keringat.

“Maaf honey, apa Mom membangunkanmu?” tanya Yoona lembut. Ia mengelus rambut si sulung.

“Aku haus,” jawab Hana singkat. Bibir dan mulutnya kering.

“Oh, tunggu sebentar.”

Yoona mengambilkan segelas air mineral yang sudah tersedia di atas nakas lalu membantu Hana meminumkannya. Melihat Hana yang biasanya aktif dan sekarang terbaring lemah membuat Yoona tidak seceria biasanya menyambut pagi hari.

“Mana Daddy?” tanya Hana.

“Mom menyuruhnya tidur. Daddy menjagamu semalaman,” jawab Yoona.

Hana melengkungkan bibir. Matanya yang sedikit cekung tampak bersedih.

“Aku minta maaf, Mommy. Lain kali aku tidak akan mencampuri urusan orang lain lagi.”

Yoona tersenyum tipis lalu mengelus tangan Hana. “Memangnya urusan siapa yang kau campuri?”

Hana menggigit bibir. “Urusan Juno, Bobby dan Lauren. Jika aku membiarkan mereka, mungkin aku tidak akan terjatuh ke dalam kolam.”

Kali ini Yoona membalasnya dengan tawa renyah. “Baiklah, Nona Cho. Mom memaafkanmu. Tapi kau harus bersungguh-sungguh dengan janjimu.”

“Tapi Daddy bagaimana? Apa Daddy memaafkanku?”

Yoona mengedikkan bahu kurusnya. “Daddy tidak marah padamu. Ia hanya terkejut melihat kenapa kau pulang dalam keadaan seperti kemarin.”

“Mom bohong, Daddy pasti marah.”

Yoona mengelus tangan Hana dan mengecupnya. “Hana-yaa, Mom sudah menceritakan semuanya kepada Daddy. Mom sudah memberitahu siapa itu Lauren dan Bobby. Mom juga memberitahu kalau kau sangat menyayangi Juno sehingga kau nekat membelanya.”

Mendengar kalimat terakhir membuat mata Hana membulat sempurna. “Mom mengatakan kalau aku menyayangi Juno?”

“Hana, yang Mom maksud adalah menyayangi dalam arti sebagai sahabat. Daddy mengerti hal itu,” Yoona meluruskan. Hana justru cemberut. Ia tidak ingin ayahnya salah paham dan menganggapnya dewasa sebelum waktunya.

“Membela teman adalah hal biasa, Nak. Tapi jangan sampai merugikan diri sendiri.”

Hana mengangguk lemah. Ia menatap Yoona manja. “Mom, bolehkah aku menghubungi Juno? Aku takut Juno juga sakit.”

“Tapi ini masih pagi, Hana.”

“Juno pasti sudah bangun,” ucap Hana seraya mengangkat kedua bahunya sekilas. “Atau Mom hubungi Mommy-nya saja.”

Yoona menyerah. Ia tahu Hana tidak akan berhenti meminta sampai keinginannya terkabul.

“Baiklah.”

Yoona berdiri lalu meninggalkan kamar Hana sebentar. Ponselnya tertinggal di kamar dan ia harus menghubungi Tiffany sesuai permintaan anaknya. Yoona sangat berharap Juno tidak terserang demam seperti Hana, sebab Tiffany pasti akan sangat kerepotan mengingat ia adalah seorang wanita karir. Yoona hanya kebetulan seorang ibu rumah tangga biasa, jadi ia bisa mengurus Hana sepenuhnya tanpa beban pekerjaan yang tertunda.

Sampai di kamar Yoona melihat Kyuhyun sudah mendengkur, tertidur pulas. Yoona hanya mendecakkan lidah. Ia sudah menebak kalau suaminya itu mengantuk berat. Sebelum mengambil ponselnya yang terletak di atas meja rias, Yoona mengecup kening Kyuhyun sekali lagi. Pria itu tampak sangat lucu jika sedang mendengkur. Yoona tidak tahu sejak kapan ia mulai terbiasa dengan dengkuran sang suami. Yang jelas, Yoona semakin mencintainya dari hari ke hari meskipun dengkuran Kyuhyun semakin berjaya.

**

 

Drrt drrt…

Bunyi meja kayu bergetar membangunkan Tiffany. Ia membuka matanya perlahan dan mencari-cari arah suara bising itu dengan bingung. Benda itu, ponselnya, masih berputar ke kiri dan kanan karena getaran panggilan masuk. Dengan malas Tiffany mencoba meraih ponselnya lalu membaca nama si pemanggil.

“Yoona?” gumam Tiffany serak. Tanpa menunggu lama, Tiffany langsung menjawabnya. “Yobosaeyo?”

“O, Tiffany-ssi. Apa aku mengganggu tidurmu?” sahut Yoona dengan nada suara segan. Suara Tiffany khas orang bangun tidur, tepatnya terpaksa bangun tidur.

“Oh tidak, aku baru saja bangun,” demi membuat Yoona lega Tiffany berbohong. “Ada apa, Yoona-ssi?”

“Ehm, begini. Hana memintaku untuk menghubungimu. Ia ingin tahu apakah Juno sakit atau tidak. Mungkin kau sudah tahu kalau kemarin mereka jatuh ke kolam. Hana terserang demam tadi malam. Jadi ia khawatir Juno juga begitu,” jelas Yoona.

Tiffany menggeser tangan Siwon yang masih melingkari perutnya dan duduk. Ia menyibakkan rambutnya yang kusut ke belakang dan mencoba memahami penjelasan Yoona. “Hana terserang demam? Omo, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

“Sekarang panasnya sudah sedikit turun. Mungkin setelah sarapan akan lebih baik.”

“Syukurlah kalau begitu. Oh, Juno baik-baik saja, Yoona-ssi. Terima kasih sudah bertanya.”

Tiffany pikir Juno harus mengetahui soal Hana. Bagaimanapun juga Hana telah membelanya, meskipun Juno tidak meminta.

“Baiklah, kalau begitu akan kusampaikan pada Hana. Titip salamku untuk suamimu, Tiffany-ssi.”

“Ya, sampaikan juga salamku pada Kyuhyun. Dan semoga Hana cepat sembuh. Salam cium untuknya.”

“Terima kasih, Tiffany-ssi. Annyeong.”

Klik.

Tiffany menaruh ponselnya kembali ke atas nakas. Untung saja Juno tidak terserang demam, batinnya. Tetapi sejak memarahinya tadi malam, Tiffany belum melihat kondisi anak itu. Apakah Juno baik-baik saja atau justru sama seperti Hana.

Baby, siapa yang meneleponmu?”

Terdengar suara serak milik Siwon di balik punggung Tiffany. Wanita itupun membalikkan badan kemudian tersenyum. “Yoona. Ia menanyakan keadaan Juno sedangkan Hana jatuh sakit.”

Kening Siwon mengernyit. “Benarkah? Kasihan Hana.”

Tiffany mengangguk. Lalu saat ia akan memberi kecupan selamat pagi untuk suaminya, hidungnya menangkap bau aneh. Kepalanya berhenti sebelum bibirnya menyentuh bibir Siwon. Siwon cemberut.

“Ada apa?”

“Apa kau tidak mencium bau aneh. Seperti bau hangus.”

Tiffany mengendus-endus lebih tajam. Bau itu semakin pekat. Ia yakin memang ada sesuatu yang terbakar. Siwon juga menciumnya. Keduanya saling pandang dengan ujung alis menyatu. Dan tak lama kemudian, bau itu disusul oleh pekikan Jino yang samar-samar. Seperti alarm kebakaran yang memperingati keduanya, Siwon dan Tiffany langsung melompat dari tempat tidur dan berkejaran ke sumber suara.

Di dapur, dua bocah laki-laki itu sedang panik. Juno sudah mematikan kompor dan menyiram air pada telur dan sosis yang telah menghitam di atasnya. Mereka sibuk mengipas asap yang mengepul sambil terbatuk sesekali. Tapi hasilnya tetap nihil. Bahkan teriakan Jino telah membuat kedua orangtua mereka turun dengan tergesa-gesa.

Tiffany terperajat sambil memegangi dadanya sementara Siwon menarik kedua putranya menjauh dari kompor. Juno dan Jino menundukkan kepala, tak berani menatap ayah ataupun ibu mereka. Siwon memeriksa kompor dan menahan tawanya saat melihat makanan yang hangus serta tergenang air.

“Apa-yang-telah-kalian-lakukan?” tanya Tiffany dengan sangat jelas. Kedua tangannya berada di pinggul.

“Maafkan kami, Mommy. Hyung dan aku ingin membuatkan sarapan untuk Daddy dan Mommy. Tapi kami menghanguskannya,” jawab Jino dengan kepala tetap menunduk.

Juno tidak berani membuka mulut sebab masih merasa bersalah atas kejadian kemarin. Sekarang ia juga mengacaukannya. Juno putus asa.

“Sudahlah, yang penting kalian tidak apa-apa,” Siwon mendekat kemudian mengusap kepala Juno dan Jino. “Baby, mereka tidak terluka. Jangan memarahi mereka,” ujar Siwon kepada Tiffany. Ia sengaja tidak mengeraskan suara di kalimat terakhir agar Juno dan Jino tidak merasa bersalah.

Tiffany menghela napas. “Baiklah. Mom memaafkan kalian. Dan terima kasih telah berusaha membuatkan sarapan.”

Juno mengangkat kepala lalu tersenyum ragu. Tiffany membalas senyumannya saat Juno memberanikan diri untuk mendekat.

“Mom, aku juga ingin meminta maaf tentang kejadian kemarin. Aku berjanji tidak akan membohongi Mom lagi. Apa Mom akan menghukumku hari ini? Aku siap menerimanya,” ungkap Juno penuh sesal.

Tiffany melirik Siwon. Pria itu mengedipkan sebelah mata sebelum pergi sambil menggendong Jino. Siwon memutuskan untuk memberi waktu Tiffany dan Juno untuk berdua saja.

“Mom tidak akan menghukummu. Cukup buktikan janjimu untuk tidak berbohong lagi,” ujar Tiffany bijak. Juno mendongak menatap wajah teduh ibunya.

“Benarkah?”

Tiffany dengan yakin memberi jawaban dengan anggukkan. Kontan saja Juno menghambur ke depan dan memeluknya! Ia begitu senang karena Tiffany memaafkannya. Tiffany membungkukkan tubuhnya lalu memberi kecupan hangat di puncak kepala Juno. Juno pun membalas dengan mengecup pipi Tiffany.

“Mommy, I love you so much.”

Tiffany tertegun. Ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali Juno mengucapkan kata-kata itu. Kini Juno mengucapkannya kembali, membuat perasaannya melambung tinggi. Tiffany menangkup wajah Juno lalu menggesekkan hidung mereka.

I love you more than anything in this world, baby.”

Sebelah alis Juno terangkat, bermaksud membuat wajah jahil. “Melebihi cinta Mom kepada Daddy?”

Tiffany pura-pura berpikir. Tentu saja ia tidak bisa memilih salah satu diantaranya. Siwon, Juno dan Jino, mendapatkan cinta dalam porsi yang sama.

“Hmm, ya. Sepertinya begitu,” jawab Tiffany. Jika Siwon dan Jino mendengarnya, pasti mereka akan protes. Tiffany dan Juno pun tertawa bahagia. Pagi mereka kembali seperti semula. Cerah dan penuh cinta.

Sampai akhirnya tawa Tiffany berhenti saat tiba-tiba teringat dengan telepon Yoona beberapa saat lalu. Ia harus memberitahu keadaan Hana.

“Oh ya, baby. Sepertinya kau harus membesuk Hana. Yoona Aunty memberitahu kalau Hana terserang demam.”

**

 

Ting tong

Suara bel rumah membuat Kyuhyun yang baru saja selesai mandi segera turun dari kamarnya. Ia tidak ingin mengganggu Yoona yang tengah menyuapi makan siang untuk Hana dan Kyungsan sekaligus. Kyuhyun membukakan pintu dan cukup terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

Tiffany dan Juno.

“Selamat siang, Ahjusshi!” ucap Juno ramah. Matanya melengkung indah persis seperti Tiffany.

“Selamat siang, Kyuhyun-ssi. Kami kemari untuk melihat keadaan Hana,” Tiffany menjelaskan maksud kedatangannya seraya mengangkat satu keranjang buah apel merah ke hadapan Kyuhyun.

“Wah, kalian tidak perlu repot-repot. Kalau begitu, silahkan masuk. Ayo, Jun!” sahut Kyuhyun. Ia membuka pintu lebih lebar agar Tiffany dan Juno segera masuk.

“Tadi pagi Yoona menghubungiku dan mengatakan kalau Hana sakit. Jadi, Juno memintaku untuk mengantarnya kemari,” ujar Tiffany seraya terus berjalan menuju ruang tamu.

“Ya, Hana jatuh sakit setelah kejadian di rumah temannya kemarin. Apa Juno baik-baik saja?” balas Kyuhyun seraya melirik Juno.

“Aku sangat baik, Ahjusshi!”

“Kalau begitu, mari kuantar ke kamar Hana. Ia pasti senang melihat kalian.”

Juno melangkahkan kaki dengan tidak sabar mendahului kedua orang dewasa di belakangnya. Tiffany menyipitkan mata melihat tingkah Juno. Kenapa tiba-tiba tak sabaran begitu, tanyanya dalam hati. Juno sampai di depan pintu kamar Hana yang sedikit terbuka lalu mengetuknya pelan. Ia bisa melihat Yoona, Hana dan Kyungsan di dekat tempat tidur. Hana duduk bersandar di tempat tidurnya, sementara Kyungsan bermain dengan mobil-mobilannya di kaki Hana. Yoona duduk di samping tempat tidur, sepertinya baru selesai menyuapi makan siang untuk anak-anaknya.

Annyeonghasaeyo, Aunty!”

Wajah Hana seketika merah padam. Benarkah Juno yang berdiri di ambang pintu kamarnya sekarang? Bagaimana ini, pikirnya panik. Rambutnya kusut dan ia belum mandi dari pagi. Pasti berantakan dan bau. Sedangkan Yoona bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Juno dengan senyum ramah. Ia pun tidak menyangka saat melihat Tiffany dan Kyuhyun muncul di belakang Juno.

“Tiffany-ssi, Juno-yaa! Kenapa tidak memberitahu terlebih dahulu jika ingin kemari? Silahkan masuk,” sambut Yoona. Juno melesat melewati Yoona dan langsung menghampiri temannya yang terbaring lemah. Kalakuan Juno masih dalam pengawasan Tiffany. Sepertinya Juno memang senang datang kesini, batin Tiffany.

“Juno terus meminta diantar kemari, membuatku lupa memberitahumu terlebih dahulu,” ujar Tiffany seraya memberikan sekeranjang apel kepada Yoona.

Ketika ketiga orang dewasa itu masih bercengkrama di pintu kamar, Juno sudah duduk manis di sofa tunggal yang ditempati Yoona tadi. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Juno memberikan sebuah miniature ke tangan Hana. Hana termenung sesaat, sampai senyuman manis Juno menyadarkannya. Ia mengalihkan perhatian sejenak untuk benda yang kini berada di tangannya. Yang ada di kepalanya kini adalah miniature perempuan berpakaian abu-abu dengan jubah hitam, serta rambut coklat yang tebal. Keningnya mengernyit lalu memandang Juno lagi.

“Dia adalah Hermione Granger, tokoh favoriteku di film Harry Potter. Aku menghadiahkannya untuk Hana karena menurutku Hana mirip dengannya. Hermione adalah seorang sahabat yang rela berkorban dan cerdas. Hermione sering terlibat masalah hanya untuk membela Harry Potter dan Ron Weasley. Meskipun ia seorang perempuan tetapi ia pemberani seperti dua sahabat laki-lakinya itu. Bukankah Hermione mirip dengan Hana?” tutur Juno menjelaskan.

Hana tersenyum lemah. Reaksi jantungnya atas pujian Juno bahkan sama seperti ketika ayahnya yang memuji jika nilai-nilainya bagus. Hana merasa senang sekali. Ia menatap Juno penuh terima kasih.

Thank you so much, Juno. Aku bahkan belum pernah menonton Harry Potter,” hanya itu yang bisa dikatakan Hana.

“Hana harus menontonnya. Aku akan menemani Hana menonton Harry Potter agar aku bisa menjelaskan siapa saja mereka,” kata Juno pamer.

Lalu terdengar deheman di belakang Juno. Tiffany dan Yoona akhirnya bergabung dengan mereka, tapi Kyuhyun memutuskan untuk keluar. Tiffany tidak dapat menahan senyuman melihat miniature Hermione Granger kesukaan Juno ada di tangan Hana. Ia tidak tahu kalau Juno membawanya kemari.

Tunggu, apa Juno memberikannya untuk Hana? Mustahil. Juno sangat menyukai miniature itu, bahkan ia akan memarahi Jino jika menyentuh koleksinya. Dan sekarang benda itu justru berada di tangan Hana? Banyak pertanyaan yang muncul di benak Tiffany sampai Kyungsan membuyarkan lamunannya.

“Aunty, dimana Jino Hyung?”

Tiffany mengusap kepala Kyungsan lalu menjawab ,”Jino Hyung bermain dengan Daddy-nya di rumah, Kyungsan-ah.”

Kyungsan membuat wajah cemberut yang membuat Yoona dan Hana tertawa.

“Mom, bolehkah aku menemani Hana disini? Aku ingin belajar bermain starcraft,” pinta Juno tiba-tiba. Hana tidak dapat menyembunyikan senyuman senangnya mendengar permintaan itu.

“Juno-yaa, Hana sedang sakit. Bukan saatnya mengajak Hana bermain,” nasehat Tiffany lembut. Yoona melirik Hana. Ia tahu anaknya juga berharap.

“Aku sudah baik-baik saja, Aunty.”

“Nah, Mom bisa dengar kan? Mom atau Daddy bisa menjemputku nanti sore sebelum makan malam. Aku berjanji akan bersikap baik disini,” pinta Juno lagi seraya membuat tanda V dengan jari tangannya.

Yoona mencubit pipi Juno dengan gemas. Jelas saja ia mengizinkan Juno bermain dengan Hana. Setidaknya Hana akan merasa jauh lebih baik.

Gwaenchana, Tiffany-ssi. Hana juga sepertinya ingin Juno untuk tinggal,” timpal Yoona.

“Hmm, baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk bersikap baik dan tidak rewel, Choi Juno.”

Juno bersorak penuh semangat. Lagi-lagi membuat kening Tiffany mengernyit. Ada apa dengan Juno? Ia bersemangat sekali bahkan memberikan mainan kesayangannya kepada Hana. Juno bukan tipe yang suka berbagi apalagi dengan hal-hal yang sangat disukainya.

Sampai akhirnya Tiffany mengecup kening Hana dan pamit pulang, wanita itu masih memikirkan Juno. Juno bahkan tidak menoleh padanya lagi karena asyik mengobrol dengan Hana. Padahal sebenarnya Juno bisa memeluk dan menciumnya sebagai ucapan hati-hati di jalan. Tetapi tidak. Justru Yoona yang memeluknya hangat sebelum melepasnya pulang.

Tiffany menyetir sambil terus berpikir. Seketika ia teringat bagaimana sikap Juno saat sibuk bertukar pesan dengan Lauren. Juno sering mengabaikannya. Tiffany menggigit bibir, resah dan gelisah. Apakah ini terulang kembali?

“AAAH, CHOI JUNO! KAU MASIH 8 TAHUN TAPI CEPAT SEKALI BERPINDAH HALUAN. APA SEKARANG KAU MENYUKAI CHO HANA??!” teriak Tiffany frustasi.

Dan wanita itu sadar, kali ini masalah Juno lebih serius dari sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

**

Author Echa disiniiiiiii😀

Di cut ah :p

Well, siapa yang gemes sama Juno? Itu anak bener-bener deh ya -,- btw, dia nggak dewasa sebelum waktunya kok. Saya harap dialog yang digunakan Juno sesuai dengan umurnya ya. Anak-anak jaman sekarang memang kebanyakan seperti itu. Dalam FF ini Juno dan yang lainnya bukan suka-sukaan dalam arti cinta, tetapi nyaman sebagai sahabat. Kita sebagai orang dewasa juga kadang cemburu kan kalau sahabat kita diambil orang? Wkwkwk curhat :p

Jujur, tokoh favorite saya sendiri di FF ini adalah Cho Hana. Dia tipe keras kepala berhati lembut, cuek plus jahil. Hihihi

Oke, di chapter selanjutnya akan ada kegalauan Tiffany, Kyuhyun, Jessica menyangkut anak-anak mereka. Karena mereka bertiga jadi tukang ikut campur masalah Juno, Hana dan Lauren. Saya nggak tahu pasti sampai chapter berapa FF ini, yang penting readers harus selalu memberi feedback. Kalau boleh saya minta kritik saran dan idenya.

Sampai ketemu lagi di chapter 3 *kecup readers satu-satu*

 

Ps: Dear adekku Song Haneul, keinginan kamu bakal terkabul di FF ini :*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

91 thoughts on “(AR) Lil Choi’s First Love

  1. wkwkwk si jino cepet banget berpindah hati,,pengen liat jeti baikan,,semoga di chapter selnjutya mereka baikan n punya rencaana buat jiodohin jino ama lauren,,seneng ama anak yang dua itu,,next chapnya semoga cepet di lanjutt

  2. kelakuan anaknya neng pany ama bang siwon, ckckck..
    umur segitu anak2 kan emang mudah untuk teralihkan perhatiannya. kagum sama se2orang yg dirasa cantik, pintar dan enak diajak ngobrol pasti terjadi. mau ga mau para orang tua pasti “ikut campur” sama masalah mereka. awal2nya lbh setuju kalo juno sama lauren. tapi makin dirasa2 makin jatuh hati sama hana. semoga akhir2nya fany sama yoona bisa besanan. eh.. masih lama ya?

  3. Yup,prsis bgt dah ama sikap anak jman sekarg,hehe.
    •Seneng deh liat juno deket ama hana,dan ngakak saat juno pindah haluan bikin fany frustasi. Sebenernya pengen jga ada moment2 ortunya d dlem cerita, dan berharap klo nanti juno diceritain smpe dewasa juga, hihihi.
    Semngat thor,dtunggu next partnya.

  4. Ya amplopp… kita samaan thor, di ff ini fav characterku jg hana #tosss ceritanya sweet2 gimanaaaa gitu, ehh tp part tntang flashback msalah JeTi and dongwook bikin baper masa, mewek gw thor, intinya keren, wlaupun aq jg kurang tau gmana gaya bicara bocah 7-8 thn kyak gimana, tp ttep ngefeel, next!!! Ditunggu banget klanjutannya ^_^

  5. hahaha
    cukup memuaskan dgn alur dan bahasa mereka.
    aku suka sifat keibuan fany,yoona,and enjes.
    duh bangkyu jd kepo gitu ya… and itu myungsoo kok gak di critain gmn penyesalan y dan ngejelasin smua y k ortu mereka?
    tapi aku pengen d next chap moment sifany y lebih agak lama lg y…
    romantis gmn gitu …
    so cekidot and LOVE U:*
    tolong sampaikan salamku buat Song Haneul y…
    and thanks bangetbuat km yg udh bikin ff ini @echa_mardian ♥♡

  6. Woahhh akhirnya selesai juga bacanya, haha. Padahal lagi uts, masih aja sempet baca ff. Abisnya penasaran bgt sih ama cerita si lil choi yg ini, haha. Aku ga punya kritik maupun saran, menurutku ini udah bener-bener hebat bgt! Semangat terus buat ngelanjutin ffnya ya kak echa, fighting!!

  7. Makin lucu aja anak2 ini. Semoga dengan bertmannya anak2 mereka, hubungan tiff dan jess bisa lebih baik. Semangat trus lanjutinnya kak, ditunggu

  8. haha yes!! samaan sama kak echa🙂 cast favorit aku cho hana😉 duhh gemes sama juno, pengen tak cubit” pipinya hihihi banyak chapter juga gak apa” kak,, hihihi

  9. ommona junoyaaa~
    ka echa maapin baru sempet comment di chapt iniii :”)
    ceritanya ringan+romantis+manis, padahal sebenernya aku awal berharap lebih banyak sifany moment tp ternyata gaterlalu banyak sifany moment di ff ini pun aku tetep semangat baca. gemesss bgt sm juno yg protektif. tapi lebih jatuh cinta sm sifat jino yg lembut duuh jino saranghaeeee❤ *jd pedopil* .
    lanjutkan ff menggemaskan ini ka!!!
    lestarikan spesies juno dan jino/loh.
    hwaitinggggg

  10. Duh anak-anak ini bener-bener bikin gemes!! Apalagi juno sama hana yang sepertinya udah mulai saling suka >.< *kalianberduaingetumurplease…….. Hahaha
    Cast'nya disini banyak, tapi jadi ringan mungkin karena banyak anak-anak manisnya disini, aku jadi ga sulit menghafal ♡
    Jessie sama Tiffa baikan gih!! Ga nebak-nebak kalo ternyata masa lalu mereka begitu eonn, lucu, hahaa. Cara siwon ceritainnya sweet banget padahal ceritanya cukup berat, hahha. Secara tiff jadi orang ke3 diantara wook-sica trus siwon yang cintanya hampir bertepuk sebelah tangan, lmao #sifany♡
    Ayooo eonnie semangat ke part selanjutnya, kasian si imut jino pasti nunggu biar dia dibanyakin muncul dipart berikutnya *fansberatjino* hihii♡
    Hwaiting eonnie…!!!!!!!! *kisskiss

  11. Wahh… si jino sangat cepat berpindah hati..
    Fany sm sica cptan baikan dong..
    Trnyta dulu cinta siwon hampir bertepuk sebelah tangan..
    Di tunggu kelanjutannya kak echa..

  12. Entah kenapa lebih suka juno sama lauren.. Semoga hub. Tica jadi baik dan ga musuhan lg soalnya mereka jrg banget musuhan kalo di ff2 kkk antimainstream kali ya.. Next eonni, di part selanjutnya diharapkan banyakin sifany partnya ya.. Hehehe

  13. kak echa percaya gk masa iya ak org yg ke75 baca ne ff -,-
    ahhhh kasian bgt sih ak ny -,-

    ak juga greget ama si hana kak masih kecil juga pi udh pake acara merah2 an pipi pula wkt dipuji juno. wkwkkk
    tpi sedikit kesel ma laurent masa iya sih karena sibobby dia langsung gk deket gtu ma juno. kasian juno -,- coba kak echa bikin laurent jelos deh kak liat keakraban ny juno ma hana. hahaaa
    greget juga soalny liat silaurent ihhh..
    dan jangan bikin si laurent suka ma sibobby y kak,ak gk suka ma bobby. bener kata juno dia tukang pamer -,-.
    dichapter 3 gk usah panjang2 y kak. hihii
    kasian kak echa pegel ngetikny trus ak baca ny juga gk selese2. wkwkkkkk
    btw, see u kakak. sampe berjumpa didlm mimpi *eehh dipart selanjutny maksudny. hahaa

  14. Hahaha Juno lucu bangettttt, pengen punya anak kek gitu :v
    Ohhh jadi masa lalu Jetiwook kaya gitu.. Kasian ke anak anak mereka -,-
    Ayolah next chapternya kak Echa.. Haha penasaran gimana para orang tua yang khawatir anaknya mulai suka sama lawan jenis.. Hihihi😀

  15. huahaha iya bener ih, cemburunya juno itu bkn krn cinta”an tp krn ga ingin sahabatnya lebih deket ke org lain yg baru dikenal nya,like me xD lol *lah jadi ikutan curhat😂 aduh juno syg jan buat mommy mu galo dong 😂😂😂 berharap jeti ntar bisa baikan lagi :3 ahh ff ini bener” seru >< ga sabar pen baca lanjutannya, tiff unnie yg bakalan posesif lg dan wonppa yg dg senang hati memberitahu tiff unnie 😍 ditunggu lanjutannya kak echa,hwaiting!!

  16. Jadi aku tau knapa tiffany dan jessica kayak gitu.
    Kerana menyangkut masalah mereka yg lalu.
    Tpi aku lebih suka melihat juno sama hana 😙.
    Lanjut yaa

  17. uwww so kyut. tapi aslinya lebih suka juno lauren daripada juno hana wkwkkw.. tapi gpp sih tetep bagus jalan ceritanya. unyu aja ngebayangin anak kecil udah suka sukaan. semangat lanjutinnya authornim

  18. Wahh makin ribet nihh…. masalahnya juno cepet bgt pindah ke lain hati, jgn labil dong juno wkwkwk
    Dan sini sifany so sweet bget ya walaupun harus bertengkar dlu baru romanyu an. Dan liat perjuangan nya siwon buat dapetin fany so sweet bget. Dan berharap kisah juno hana lauren nggak seribet orang tua mereka ya hehe…
    Next d tunggu ya

  19. makan malam keluarga choi dan keluarga cho, kalau mereka sudah lebih tua umurnya mungkin makan malam itu bukan menjadi perayaan untuk keberhasilan kyuhyun, tapi untuk mendekatkan juno dan hana. sayang mereka masih kecil
    tapi itu membuat yoona makin yakin jika hana memang menyukai juno seperti dugaanya, terbukti dengan sikap malu-malunya hana ketika didepan juno.
    seneng lihat keakraban kedua keluarga itu.
    juno makin tidak bersemangat, tapi untung saja hana bersedia jadi pill energy untuk juno, meskipun juno belum sepenuhnya bisa ceria karena kesedihannya yg d acuhkan lauren karena ada bobby.
    menarik di usia anak anak mereka udah tau saling menyukai, hana menyukai juno dan juno menyukai lauren, tapi sepertinya sekarang lauren jadi lebih menyukai bobby. dasar emang mereka cerdas dan cerewet, memancing saja mereka bertanya dan menarik kesimpulan sendiri terhadap pertanyaan mereka akibat kemarahan tiffany pada juno menimbulkan kembali masa lalu tentang kisah orangtuanya dulu, ternyata cinta pertama tiffany memang bertepuk sebelah tangan. dongwook memang mencintai jessica dan tiffany hanya salah faham dan trlalu percaya diri. tapi ternyata siwon lebih miris disini dia sangat mencintai tiffany dengan tulus dan selalu sabar serta selalu berada disisi tiffany untuk menjadi pendengar, penasehat dan juga tempat tiffany bersandar. sungguh indah dan mengharukan.
    jadi sebenarnya disini tiffany masih merasa malu dan merasa bersalah terhadap dongwook sica, dan juga merasa tak sempurna untuk siwon karena masa lalu itu. sedangkan jessica sebenarnya tidak membenci tiffany tapi hanya mengimbangi sikap fany padanya. padahal mereka masih saling peduli, malah jessi ingin hubungan mereka baik seerti dulu.
    kagum banget sama siwon dan dongwook, mereka memang suami yg paling mencintai istrinya, pengertian dan sangat bijaksana. terutama siwon yg memang dari dulu sudah sangat mencintai tiffany. so sweet banget, bikin terharu.
    kyuhyun memang sosok ayah yg baik juga, meskipun dia pemarah. dia bahkan meunggui putrinnya yg sakit semalaman.
    meskipun sakit, hana masih sempat menghawatirkan juno. hana memang bener-bener menyukai juno.
    ada-ada saja kelakuan juno jino, niat bikin kejutan sarapan tapi malah bikin kekacauan. tapi kejadian itu juga bikin juno dan tiffany akhrinya kembali membaik.
    dan tiffany mulai gelisah kembali memikirkan juno yang ternyata sangat senang dan antusias ketika bersama hana, mulai galau lagi nih takut juno kembali mengacuhkannya.
    makin seru ff’y kak echa ini
    aku makin suka kak
    daebak…

  20. Hahaha Juno seneng banget bikin mommy ketar-ketir ih astagaaa…
    Lagian perhatiannya Juno sbg sahabat gak ke Lauren gak ke Hana bikin salah sangka siih.. udah gitu Tiffanynya suka mikir yg gak gak lagi haha
    Eiiyy sumpah gak bisa berhenti nyengir nih kak echa gegara last scene nya. Tanggung jawab ih! 😂😂😂
    Kalo dibikin sampe gede seru kali nih kak.. udaaaah besanin aja Sifany ama Kyuna!
    Dan omong-omong tokoh favorit aku disini juga Cho Hana… kalo Juno bikin gregetan nih bocah bikin gemezz haf..
    Penasaran gimana reaksi Kyuhyun kalo tau anaknya begitu..

  21. Choi family ini mengingatknku akn royal family SNSD. ad 3 family di dlmny Kwon,Kim,n Choi. n q setuju krn dlm usia mrk mulai tumbuh rasa pershbtn n kenyamanan dl berteman. yg skrg terjd dgn Juno, Hana n lauren adl hl sprt itu. tp tak hny ank mrk tp ortu mrk jg terlibt krn ini utk kbaikn mrk.
    para ortu sll berikn pngertian akn skp ank mrk dgn logika ug bnr.

    Utk ank2 mrk sll dgrkn ap yg ortu mrk ktkn krn mrk masih sgt bth bimbingn n kasih syg ortu.

    Crt ini bnyk beri kita contoh kehdpn klrg. authorny hebat….👍👍👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s