(AF) Because Of Love

Title : Because of Love

FF Sifany (Because of Love) Poster

Author : @janisone

Main cast :  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support casts : Jessica Jung – Im Yoona – Lee Dong Hae

Length : Oneshoot

Genre : Married Life

Rating : 15

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan. Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading!

“Ini resep obatnya. Jangan lupa untuk diminum dan istirahatlah yang teratur, Halmoni”

Perempuan tua itu tersenyum. Tangan keriputnya terulur untuk meraih kertas bertuliskan resep yang diserahkan sang dokter cantik.

“Terima kasih, dokter. Aku pasti akan segera sembuh setelah meminum obat yang kau berikan”

Dokter cantik berusia 29 tahun itu tersenyum. Menampilkan sebuah eye-smile nan menawan diwajah putih bersihnya.

“Ne, Halmoni. Jangan sampai kita bertemu lagi disini, aratchi?”

Keduanya tertawa. Halmoni itu bangkit dari duduknya. Tak lupa membungkukkan sedikit badannya sebagai salam hormat.

Tiffany, si dokter cantik itu tersenyum lembut. Tidak seharusnya perempuan itu melakukan hal yang akan membuat pinggangnya sakit.

“Sekali lagi terima kasih, dokter. Ku doakan semoga kau menjalani kehidupan yang bahagia”

Senyum manis sekali lagi terukir diwajah Tiffany.

“Aku akan mengantar Halmoni keluar”

Perempuan tua itu dengan cepat mengibaskan tangannya. Tanda Tiffany tidak perlu melakukan hal tersebut.

“Aniyo, dokter. Putriku sedang menunggu diluar. Jadi Anda tidak perlu melakukannya”

“Jjinjayo?”

Perempuan tua itu mengangguk.  Mulai berbalik dan keluar dari ruangan Tiffany.

Tiffany tersenyum begitu pintu ruangannya tertutup. Diliriknya jam tangan yang terpasang dipergelangan kirinya. Sudah hampir jam 5 sore ternyata. Wanita itu pun bangkit dari kursinya. Ia akan bersiap untuk pulang ke rumah.

Tiffany yang akan melepas jas putih ditubuhnya menoleh ketika pintu kembali terbuka. Seorang perawat masuk dan menghadap Tiffany.

“Maaf, dokter Hwang. Anda masih memiliki satu pasien lagi”

Tiffany mengerutkan keningnya.

“Bukankah Halmoni tadi yang terakhir?” Perawat itu tersenyum.

“Saya akan menyuruhnya masuk, dokter” Ujarnya segera berlalu. Tiffany tampak menghela nafas dan kembali duduk dikursinya. Menunggu sang pasien terakhir tersebut muncul.

Kepala Tiffany terangkat. Matanya mendapati seorang pria berperawakan tinggi masuk dan mendekati mejanya.

Tiffany tersenyum hangat seperti biasa.

“Silahkan duduk, Tuan” Suruh Tiffany ramah. Pria itu menurut kemudian duduk dikursi yang tersedia.

“Uhm, boleh saya tahu apa keluhan Anda, Tuan?” Pria berparas tampan itu memegang bagian dadanya.

“Aku…sering merasa sesak, dokter”

“Sesak nafas?” Tiffany bangkit. Didekatinya kursi pria itu lalu meletakkan tangannya diatas dada bidang sang pria.

Pria itu tersenyum menyadari posisi sang dokter yang sangat dekat dengannya. Bukan hanya aroma segar yang memabukkan, dia bahkan bisa merasakan nafas hangat dokter cantik itu diwajahnya.

“Jantungmu berdetak sangat cepat, Tuan”

Tiffany bisa merasakannya bahkan tanpa stetoskop.

“Aku sering mengalaminya. Jantungku selalu berdetak cepat dan tidak normal. Aku bahkan terkadang tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan. Pikiranku selalu terpusat pada satu hal. Semakin lama, semakin kuat”

Tiffany mengangguk.

“Apa kau tahu penyebabnya, Tuan?”

Tiffany menatap mata pria yang memiliki wajah tampan sempurna itu. Yang dibalas dengan tatapan lembut dan senyum manis si pria.

“Tentu. Karena yang menyebabkannya adalah kau, dokter” Ujarnya dengan senyum menggoda.  Tiffany mendesis sebelum akhirnya memukul dada pria itu pelan.

“Oppa! Berhentilah menggangguku!”

Pria yang tak lain adalah Choi Si won, suaminya itu tertawa pelan. Tangannya meraih tangan Tiffany. Mendudukkan wanita itu persis dipangkuannya.

“Itu benar, Fany-ah. Kau yang membuat jantungku berdetak. Lebih dan lebih cepat”

Tiffany mencibir. Namun tak bisa dipungkiri kalau ia merasa tersanjung mendengar pengakuan Si won barusan.

Tiffany memilih bangkit dan menjauh. Akan terjadi hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan jika ia berlama-lama dengan posisi seperti itu. Dilepaskannya jas putih yang sejak pagi selalu dikenakannya.

“Bukankah aku sudah katakan kalau Oppa tidak perlu menjemputku? Aku membawa mobil sendiri hari ini”

“Aku sudah menyuruh sopir Kim membawanya”

Tiffany menatap Si won. Pria itu ikut bangkit dan tersenyum lebar.

“Aku sudah mereservasi tempat untuk makan malam romantis disebuah restoran. Kau ingin ikut?”

“Aku ingin tahu, apa aku bisa menolak?”

Si won tertawa singkat. Didekatinya Tiffany dan merangkul pinggang wanita itu mesra.

“Tentu saja tidak”

***Sifany***

Tangan kanan Tiffany memotong daging steak dipiringnya. Begitu terpotong, diangkatnya garpu dari tangannya yang lain lalu mulai mengunyahnya dengan tenang. Dan ketika ia mendongak, saat itu pula ia mendapati Si won tengah memandanginya.

“Uhm, kenapa Oppa tidak makan?”

Si won tersenyum dengan tangan yang terlipat diatas meja.

“Entahlah. Aku merasa sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan”

Tiffany mencibir dengan senyum manis diwajahnya. Tentu saja dia merasa senang. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Ia memiliki sebuah permintaan yang sejak satu bulan lalu belum dipenuhi oleh Si won. Sekeras apa pun dia berusaha dan meminta, tetap saja pria itu tidak memberikannya.

Tiffany mulai memasang senyum termanisnya. Matanya berbinar indah menatap Si won.

“Oppa, aku akan menyuapimu” Kening Si won berkerut. Dia tahu arti dari senyuman wanita itu.

“Aku tidak yakin akan menerimanya atau tidak. Aku bisa merasakan ada maksud dari tindakan ini”

Tebakan Si won memang benar. Tapi Tiffany tidak peduli. Ia kembali memotong dagingnya lalu menyuapi Si won. Dan tidak mungkin juga kalau Si won menolak suapan dari istri tercinta.

“Yes! Oppa menerimanya” Tiffany berseru gembira. Si won tersenyum saja sebelum meneguk winenya.

“Tidak ada alasan bagiku menolak suapan seorang bidadari” Kemudian Si won menatap mata Tiffany.

“Dan itu tidak akan mengubah keputusanku” Tegasnya.

“Oppa, kami hanya pergi selama satu bulan, eoh?” Wanita itu memohon dengan wajah memelas. Rahang Si won mengeras karenanya.

“Hei, satu bulan kau bilang hanya? Aku saja tidak pernah meninggalkanmu selama dua hari penuh dan kau ingin meninggalkanku selama itu? Mustahil!”

Tiffany menghela nafas. Tentu saja dia kecewa. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Si won mengizinkannya untuk pergi.

Dua minggu lagi, ikatan dokter dari rumah sakit mereka akan melakukan kegiatan penyuluhan dan pengobatan gratis pada masyarakat di pedalaman yang sangat membutuhkan sarana dan prasarana untuk berobat. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun agar terciptanya masyarakat Korea yang sehat.

Tiffany belum pernah pergi sekali pun setelah tiga tahun ia bekerja karena Si won tidak mengizinkan. Pokoknya dia tidak peduli. Dia benar-benar ingin ikut tahun ini. Dia harus menggunakan kesempatan ini untuk membantu masyarakat dengan kemampuan yang ia miliki.

“Oppa, istrimu pergi untuk kegiatan amal dan kemanusiaan. Bukankah menolong sesama itu keharusan?”

Tiffany tetap berusaha. Si won mengangguk saja.

“Kau sudah melakukannya selama jam kerjamu dirumah sakit”

“Tapi Oppa-” Wajah Si won berubah serius.

“Tidak, Tiff. Disana tidak ada bandara. Kau harus menempuh perjalanan selama 8 jam dengan bus untuk menuju kesana. Belum lagi listrik, jaringan telepon, internet, apa mereka punya?”

“Mereka punya. Dokter Lee sudah melakukan survey ke lokasi dua bulan yang lalu. Disana ada listrik bahkan jaringan telepon dan internet”

“Disana tidak ada hotel, Tiff”

“Akan sangat aneh jika disana ada hotel bintang lima. Lagi pula kami memang tidak berencana menginap di hotel. Tujuan kami adalah mendekati masyarakat dan memberi mereka penyuluhan serta pengobatan. Jadi kami akan menginap dirumah penduduk”

Wajah Si won makin menegang.

“Mwo? Tinggal dengan mereka? Hei, mereka itu tinggal di perkampungan yang jauh dari kata steril. Kau yakin ingin hidup dengan mereka? Bagaimana kalau kau menderita penyakit kulit? Dan untuk mandi, sebagian rumah mereka tidak memiliki kamar mandi, mereka mandi di sungai”

Mulut Tiffany terbuka. Tidak percaya dengan sikap Si won yang sangat berlebihan.

“Itu terdengar menarik. Aku belum pernah mandi di sungai sebelumnya” Mata Si won melotot tajam.

“Dan pria-pria disana akan berjejer dipinggir sungai untuk melihatmu mandi!”

Tiffany meletakkan pisau dan garpunya sebal.

“Oppa, banyak yang harus mereka kerjakan dari pada hanya melihatku mandi”

Si won bungkam dan kembali pada piringnya.

“Pokoknya tidak!” Putus Si won pasti. Tiffany mendengus.

“Aku benci Oppa” Si won tersenyum menahan tawanya.

“Aku tidak yakin” Ucapnya santai dan itu sangat menyebalkan bagi Tiffany. Aish!

***Sifany***

Mata indah Tiffany menatap sendu coffee ditangannya. Sekarang sudah waktunya makan siang dan dia masih memikirkan cara agar Si won mengizinkannya untuk pergi.

“Pagi, Unnie”

Seorang gadis tinggi dengan rambut sebahu dan seragam yang sama muncul. Dia Yoona. Salah satu sahabatnya dan dokter anak dirumah sakit itu.

“Ada apa, Unnie melamun?”

“Anni”

Yoona memperhatikan wajah lesu sahabatnya. Sepertinya ia tahu apa yang membuat Tiffany semuram ini.

“Si won Oppa belum mengizinkan Unnie untuk pergi?” Tebak Yoona. Anggukan Tiffany membuat gadis itu mendapat jawaban.

“Mwo? Aish! Jjinja! Pria itu benar-benar aneh. Dia tidak mengizinkan Unnie pergi hanya karena disana pedesaan bukan perkotaan?”

Tiffany menyesap coffee-nya. Tentu saja itu salah satu alasan Si won melarangnya pergi.

“Hi, guys. Ada apa? Sepertinya serius sekali”

Gadis lain yang juga dengan seragam sama muncul. Jessica Jung, seorang dokter spesialis kandungan.

“Ah, kami baru selesai operasi. Rasanya melelahkan sekali” Keluhnya dan terduduk lesu dikursi yang tersisa. Tiffany menatapnya dengan wajah terkejut.

“Omo! Ibu yang tadi tidak bisa melahirkan secara normal?” Tanyanya.

“Eoh. Bayinya terlilit tali pusar. Detak jantung bayinya juga semakin menurun jadi sulit untuk melahirkan secara normal” Yoona menjawab.

“Apa Ibu dan bayinya baik-baik saja?”

“Hm. Bayi dan Ibunya hanya perlu istirahat” Balas Jessica. Tiffany mengangguk mengerti dan kembali diam.

“Hei, ada apa?” Jessica bertanya seraya tangannya meraih gelas coffee milik Tiffany lalu meneguknya. Dokter spesialis penyakit dalam itu hanya menjawab singkat.

“Gwenchana”

“Si won Oppa belum mengizinkan Fany Unnie untuk pergi ke Dangju” Yoona menerangkan.

“Jjinja? Woah, derita wanita yang sudah menikah”

Jessica dan Yoona terkikik dengan ejekan itu. Sementara Tiffany melayangkan tatapan tak suka pada keduanya.

“Ya! Berhentilah menertawakanku!”

“Haha, mianhe. Kami hanya merasa ini lucu hingga cocok menjadi bahan tertawaan” Kikik Jessica.  Yoona tambah terkikik geli mendengarnya.

“Sica-ya, Dong hae Oppa mengizinkanmu pergi?”

Tiffany menatap gadis berambut cokelat itu. Jessica mengangguk.

“Hm. Awalnya memang tidak mengingat aku selalu ikut ambil bagian tiga tahun belakangan. Tapi akhirnya dia mengerti. Lagi pula, kita pergi untuk menolong orang lain, bukan?”

Tiffany mengacak rambutnya frustasi.

“Aish! Andai saja Si won Oppa berpikir seperti itu” Keluhnya. Jessica dan Yoona kembali tersenyum.

“Coba saja untuk memintanya setiap hari. Si won pasti bosan lalu mengizinkanmu”

Tiffany menggeleng, tak sependapat dengan Jessica.

“Dia bukan tipe orang yang seperti itu” Ya, dia sangat mengenal Choi Si won.

Yoona tiba-tiba menjentikkan jarinya ketika mendapat sebuah ide.

“Ah, Unnie. Aku akan membantumu” Seru Yoona tiba-tiba mengagetkan dua temannya. Tiffany dan Jessica menatapnya penasaran.

“Caranya?”

Yoona menggerakkan telunjukknya. Mengisyaratkan keduanya untuk mendekat. Kemudian ia membisikkan sesuatu. Setelahnya, Tiffany dan Jessica kembali ke tempat mereka semula.

“Kau yakin kalau ini akan berhasil?” Tanya Tiffany tak yakin. Yoona mengangkat bahunya.

“Tidak ada salahnya jika kita mencoba”

***Sifany***

Langkah kaki Tiffany menuju beranda samping rumah. Dimana disana Si won tengah bersantai ditemani majalah bisnis, secangkir coffee serta gemericik air dari waterwall disisi kanan rumah mereka.

“Sore”

Tiffany mengecup pipi Si won kilat sebagai salam. Tanpa minta izin terlebih dahulu ia langsung duduk diatas pangkuan Si won yang tengah bersandar dipunggung sofa.

Si won tersenyum melihatnya.

“Apa itu?”

Perhatian Si won tertuju pada paper bag yang ada ditangan Tiffany. Wanita cantik itu tersenyum manis. Dia mendekat untuk membisikkan sesuatu ditelinga Si won.

Mata Si won mengerjap dengan mulut terbuka.

“Jjinja?” Tanyanya senang. Tiffany mengangguk manis.

“Kenapa tidak dipakai sekarang? Aku ingin melihatnya”

Tiffany meninju lengan pria itu.

“Eih, ini masih siang, Tuan Choi” Tangan Si won memeluk pinggang Tiffany possesif.

“Apa bedanya dengan siang atau malam?” Seringainya menggoda. Tiffany menggeleng pasti.

“Pokoknya tidak! Aku akan memakainya nanti malam saja”

Tiffany bangkit dan segera masuk kedalam rumah. Si won tersenyum lalu kembali pada majalahnya.

Tiffany yang menapaki anak tangga menuju kamar mereka berhenti. Dia berpaling  kebelakang untuk melihat Si won. Wanita dengan jeans dan kemeja putih itu  mengernyit. Kenapa Si won tidak mengikutinya?

Dengan ragu, Tiffany melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sesampainya didalam, dia terkejut. Ada sebuah benda diatas ranjang yang sama persis dengan yang ia bawa.

“Aish!”

“Otte?”

Besoknya, Yoona bertanya dengan penasaran. Jam makan siang sudah tiba. Para dokter kini tengah  menikmati makan siang di cafetaria rumah sakit.

Tiffany menggeleng lemah.

“Dia melakukannya tapi tetap tidak mengizinkanku pergi”

“Aish! Dasar namja!” Yoona tampak menggerutu sebal. Andai pria itu ada dihadapannya sekarang pasti sudah ia siram dengan kuah soupnya.

“Si won bahkan lebih update tentang hal itu dari pada kita. Kalian ingatkan, lingerie limited edition yang belum dilaunchingkan saja ia bisa memilikinya untuk Tiffany”

Keduanya mengiyakan dalam diam ucapan Jessica. Itu lah Choi Si won.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita harus berangkat minggu depan”

Tiffany menghembus nafas frustasi. Yoona meneguk air mineralnya sebelum tersenyum. Sepertinya ide lain sudah muncul dikepalanya.

“Baiklah, kita ke rencana berikutnya”

***Sifany***

Audi hitam yang dikemudikan Si won berhenti tepat dihalaman sebuah rumah mewah. Pria tampan itu keluar dari sisi kemudi lalu membukakan pintu mobil untuk Tiffany.

“Benar, Oemma mengajak kita makan siang?” Si won bertanya sembari melangkah bersama Tiffany menuju pintu masuk.

“Kenapa Oppa tidak percaya padahal kita sudah tiba disini?”

Tiffany masuk lebih dulu. Si won masih berpikir dibelakang. Bukannya ia tidak percaya, hanya saja ini terasa janggal. Kenapa acara ini terkesan mendadak? Bahkan Appanya saja sekarang masih berada diluar kota.

Si won masuk ke rumah orang tuanya. Ketika akan menutup pintu matanya melihat mobil scirocco berwarna putih terparkir di halaman. Kenapa tadi dia tidak menyadarinya?

“Jadi si rusa jelek itu juga disini?”

”Annyeong haseyo, Eommonim”

Tiffany menyapa hangat Nyonya Choi yang tengah sibuk menata makanan dimeja makan. Perempuan paruh baya itu meninggalkan pekerjaannya dan langsung mendekati sang menantu.

“Aigo, selamat datang, sayang. Oemma merindukanmu”

Keduanya berbagi sebuah pelukan hangat. Dekapan yang baru berlangsung beberapa detik itu harus terlepas ketika tiba-tiba Yoona berteriak.

“Hah, Imo! Lobsternya menjepit jariku!” Yoona histeris didepan pantry. Kim Ahjumma yang berada paling dekat dengan cepat membantu gadis itu sebelum ia kesakitan lebih lama.

“Omo, apa kau terluka, Yoona-ya?” Tanya Nyonya Choi cemas. Yoona meringis sembari memegang telunjuknya yang memerah karena jepitan dari capit si lobster yang sudah berhasil ditangani Kim Ahjumma. Untung saja jarinya tidak putus.

“Aniyo, Imo. Hanya sedikit nyeri” Nyonya Choi meniup telunjuk Yoona dengan hati-hati.

“Syukurlah kau baik-baik saja”

“Sudah agak baikan?” Tiffany ikut memegang telapak tangan sang sahabat. Yoona mengangguk.

“Aku mau tersakiti seperti ini hanya demi kau, Unnie” Tiffany tersenyum penuh terima kasih.

“Oemma, aku datang”

Tiga perempuan itu saling lirik dan dengan cepat memberi kode satu sama lain untuk menjauh. Tiffany membantu Kim Ahjumma, Yoona sibuk entah apa sementara Nyonya Choi menyambut putranya.

“Aigo, anakku. Oemma merindukanmu”

Si won tersenyum dipelukan hangat sang ibu.

“Aku juga, Oemma”

“Benarkah? Oemma tahu itu”

Pasangan Ibu dan anak itu tertawa. Tak mau menunggu lama, Nyonya Choi segera menyuruh Si won mengambil tempat dimeja makan.

“Duduklah, makanan hampir siap” Suruh Nyonya Choi.

Si won mengangguk sementara matanya tertuju pada sosok yang tengah asyik didekat wastafel. Penasaran dengan apa yang gadis itu lakukan, Si won pun memilih mendekat. Begitu sampai, pria itu tersenyum mengejek.

“Sudah ku duga, kau tidak bisa melakukan apa pun selain makan. Dari pada membantu Tiffany kau lebih memilih bermain dengan lobster ini?”

Yoona mengabaikan pria itu. Ditinggalkannya lobster itu dan segera duduk dikursinya. Dia tidak mau berdebat dengan Si won yang menyebalkan. Diabaikan seperti itu, Si won hanya mengangkat bahu lalu segera menyusul.

“Yeobo, kita kesini untuk makan siang. Duduk saja dikursimu. Kim Ahjumma yang akan menyiapkannya”

Mendengar itu, Nyonya Choi dan Kim Ahjumma tersenyum. Sedangkan Yoona tampak mencibir sebal. Sikap berlebihan Si won pada Tiffany terkadang membuatnya iri.

“Gwenchanayo, Oppa. Ini tidak begitu merepotkan”

“Kenapa Oemma mengajak kami makan siang mendadak seperti ini?”

“Hm?” Sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, Nyonya Choi, Tiffany dan Yoona saling pandang. Si won ikut memperhatikan ketiganya.

“Uhm, aniyo. Oemma hanya merindukan kalian. Appamu baru pulang lusa jadi Oemma sedikit bosan dirumah”

Si won merespon dengan anggukan pelan. Walau sebenarnya dia kurang yakin dengan jawaban sang Oemma.

“Ayo, makanlah selagi hangat”

Suruh Nyonya Choi ketika semua telah siap dimeja makan. Si won mulai menikmati makan siangnya. Tak terkecuali dengan yang lain. Ditengah acara makan siang itu, Yoona melirik Nyonya Choi. Memberinya sinyal agar segera melaksanakan rencana mereka. Paham dengan kode itu, Nyonya Choi mengangguk.

“Eum, Fany-ah, Oemma dengar kau akan ikut ke desa Dangju di Boseong untuk memberikan penyuluhan kesehatan serta membantu pengobatan  masyarakat disana”

Si won mengangkat wajahnya. Tiffany tersenyum.

“Ne, Eommonim”

“Jjinja? Aigo, Oemma bangga sekali padamu. Kau tidak hanya cantik tapi juga memiliki hati yang baik karena mau membantu sesama yang membutuhkan. Kami beruntung memilikimu. Bukan begitu, Si won-ah?”

“Tentu saja. Aku sangat beruntung memiliki Tiffany”

Tiga perempuan itu menghela nafas lega. Yoona kembali memberi kode pada Nyonya Choi.

“Oemma dengar kalian akan berangkat minggu depan. Oemma tahu itu pasti sulit tapi Oemma senang karena kau melakukan tugas mulia”

Tiffany kembali tersenyum manis disebelah suaminya.

“Ne. Gumawoyo, Eommonim”

“Tiffany tidak akan pergi ke Dangju, Oemma”

Kalimat Si won membuat ketiganya menoleh ke arah pria itu.

“Mwo? Wae, bukankah harusnya kau bangga jika Tiffany pergi?”

“Itu benar, Oppa. Lagi pula Fany Unnie pergi untuk membantu orang lain” Yoona ikut bersuara. Kontan saja tatapan tajam Si won langsung mengarah padanya.

“Kau tidak perlu ikut campur, rusa jelek. Jika aku tahu kalau makan siang ini ada hubungannya denganmu, kau akan menerima akibatnya”

Yoona terbatuk dan dengan cepat meneguk air mineral yang disodorkan Tiffany.

“Oppa, apa yang kau bicarakan? Makan siang ini Imo yang merencanakannya. Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku?”

“Kuromnyo. Oemma meminta kalian kesini karena Oemma merindukan kalian” Ulang Nyonya Choi sekali lagi. Dia tidak ingin putra dan keponakannya itu bertengkar.

Sementara ditempatnya, Tiffany terlihat murung dan mengunyah makanannya dengan setengah hati. Rencana kedua, gagal total!

***Sifany***

Si won baru saja selesai berolah raga dan mandi. Ia ingin segera turun untuk sarapan atau pun menikmati coffee-nya.

Pria tinggi dengan celana training dan kaos putih itu mendekati meja makan. Dahi Si won berkerut hebat, tidak ada apa pun diatas meja selain vas bunga. Bahkan air putih pun tidak tersedia.

Kepala Si won celingak-celinguk mencari keberadaan Tiffany. Apa yang dilakukan istrinya itu sampai belum menyiapkan sarapan dihari weekend yang bebas ini?

Karena tidak kunjung melihat Tiffany, Si won memutuskan untuk mencarinya. Butuh waktu sekitar dua menit bagi Si won untuk mengetahui keberadaan sang istri. Wanita itu tengah menikmati matahari pagi dihalaman belakang. Berbaring diatas gelaran tikar ditemani jus serta buah.

“Seorang istri menikmati matahari pagi dan tidak menyiapkan sarapan untuk suaminya?”

Si won menyingkirkan buah dan jus lalu meletakkannya diatas rerumputan. Kemudian berbaring disebelah Tiffany dengan menopang kepalanya dengan tangan. Matanya ikut memperhatikan apa yang dilihat sang istri. Biasa, beberapa item fashion favoritnya yang sebentar lagi akan sampai ke rumah mereka.

“Tas yang ini sepertinya cocok untukmu”

Si won menunjuk sebuah tas berwarna merah muda pada salah satu halaman. Tiffany dengan cepat membalikkan majalahnya. Dia tidak akan mempedulikan pria itu.

Si won tersenyum menahan tawanya. Sejak pulang dari rumah orang tuanya beberapa hari lalu, Tiffany memang selalu mengacuhkannya.

“Sepertinya ada yang sedang melakukan aksi protes. Mogok bicara, eoh?” Si won menggoda seraya tangannya mencolek pinggang Tiffany. Wanita itu menepis tangan usil dipinggangnya.

“Jangan bicara padaku, Oppa. Aku sedang marah padamu!” Peringatnya.

“Wae? Karena aku tidak mengizinkamu pergi ke desa bernama Dangju itu?”

Tiffany menatap Si won

“Oppa, memangnya apa yang salah dengan pergi ke desa bernama Dangju itu?”

Si won menatap Tiffany sejenak. Membuat wanita itu bertanya dalam hati apa maksud dari tatapan teduh pria itu. Si won mengecup kening Tiffany.

“Aku akan masuk dan menyiapkan sarapan” Ucapnya kemudian bangkit. Si won sepertinya benar-benar tidak ingin mengungkit pasal kegiatan yang ingin diikuti istrinya itu lagi. Tiffany mencibir kesal.

“Ck. Aku menyesal menikah dengan seorang Choi Si won!”

“Aku mendengarnya” Sahut Si won yang baru menjauh beberapa langkah.

“Karena Oppa punya telinga” Balasnya sinis. Si won berbalik dan menatapnya serius. Tak peduli Si won merasa tersinggung atau bagaimana, Tiffany mendengus dan kembali pada majalahnya.

Dihari berikutnya, sikap acuh Tiffany masih berlanjut. Dia tidak tersenyum bahkan hanya bicara seadanya.

“Fany-ah, dimana kau menyimpan kaos kakiku?”

“Dilaci paling bawah”

“Kemejaku?”

“Dilemari”

“Jas?”

“Disana. Lihat saja dibagian kanannya”

“Dalamanku?”

Tiffany yang sibuk dengan peralatan make-upnya didepan cermin mengeram kesal. Tak suka jika kegiatannya selalu diganggu oleh Si won.

“Oppa! Bahkan dimana letak dalamanmu kau tidak tahu?” Sebalnya. Si won hanya mengangkat bahu.

“Memang aku tidak tahu. Bukankah selama ini kau yang menyiapkan semuanya?”

Si won yang hanya berbalut handuk putih itu dengan cepat berpakaian. Ia ada meeting pagi ini tapi Tiffany sama sekali tidak mau membantu. Masih terkait dengan izin ke Dangju-nya.

Tiffany merapikan blousenya lalu bangkit. Sekali lagi diperhatikannya riasan wajahnya dicermin.

“Aku pergi” Ucapnya tanpa melihat kearah Si won. Si won yang tengah mengancingkan kemejanya hanya tersenyum.

“Masih marah ternyata. Gwenchana, memangnya dia sanggup berapa lama untuk tidak menatapku dan mengucapkan cinta pada seorang Choi Si won”

Si won tersenyum seorang diri dan mulai bergegas agar ia tidak terlambat.

***Sifany***

Lima hari lagi mereka akan berangkat. Yoona dan Jessica serta beberapa dokter dan perawat lain yang akan pergi ke Dangju sudah melakukan berbagai persiapan. Baik mengenai surat perizinan dan sebagainya. Beberapa perlengkapan medis beserta obat-obatan yang nantinya pasti akan diperlukan juga sudah siap.

Tiffany yang ikut menyaksikan kesibukan didepan matanya hanya bisa melihatnya dengan pandangan iri. Andai ia bisa ikut serta, pasti akan sangat menyenangkan.

“Ah, aku akan kesepian”

Yoona yang sedang memasukkan beberapa peralatan pribadinya tersenyum.

“Mana mungkin Unnie kesepian dirumah sakit sebesar ini” Timpalnya dengan tawa. Jessica mengangguk membenarkan.

“Jika kau kesepian, kau bisa meminta Si won menemanimu bekerja”

Dua gadis itu asyik cekikikan sementara Tiffany mendengus.

“Yeah, dan dia hanya akan membawa masalah disini dengan menyuruh setiap pasien laki-laki pulang” Sahutnya malas.

“Sepertinya, apa pun yang kita lakukan, Si won tetap tidak akan mengizinkanmu untuk pergi”

Yoona mengangguk setuju. Sebenarnya, tidak ada yang mengerti dengan pemikiran Si won. Semua orang juga tahu, pria tinggi dan murah tersenyum itu sangat aktif dalam kegiatan amal dan kemanusian. Dia sering memberikan bantuan dana pada orang atau organisasi baik dalam dan luar negeri. Bahkan Si won akan ikut menjadi relawan ketika ada sebuah bencana menimpa suatu daerah jika waktunya memungkinkan. Hal ini tidak mengherankan mengingat keluarga Choi memang sering terlibat dalam kegiatan semacam ini. Karena itu jugalah, Yoona yang juga berasal dari keluarga tersebut memiliki sifat yang sama.

Namun yang membuat mereka bertanya sekaligus terheran adalah, kenapa Si won selalu melarang Tiffany untuk ikut ambil bagian? Jangankan menjadi relawan, menjadi dokter dirumah sakit saja Si won terpaksa mengizinkannya mengingat Tiffany sudah menghabiskan waktunya untuk belajar selama hampir 10 tahun. Bagaimana Tiffany belajar keras untuk sekolah kedokteran dan mengambil program spesialis. Jika tidak memikirkan hal itu, Si won hanya akan membiarkan istrinya untuk tetap dirumah.

“Mungkin dia takut saat pulang nanti istrinya tertular penyakit kulit” Timpal Yoona tiba-tiba sembari tertawa.

“Jjinja? Ku pikir karena dia tidak sanggup berpisah terlalu lama” Tandas Jessica pula.

“Itu ada benarnya juga. Tapi yang paling benar adalah, dia takut kalau ternyata pria-pria Dangju lebih tampan darinya”

“Hahaha” Kedua gadis itu tertawa puas. Tiffany menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar kesal. Dia tidak akan bicara pada Si won mulai hari ini!

***Sifany***

“Kalau begitu, terima kasih untuk waktu kalian. Kita akan membahas hal ini dikantorku lusa. Jika tidak ada masalah, kerja sama ini akan berlangsung dengan lancar”

“Baik. Terima kasih, Tuan Choi”

Si won berjabat tangan dengan Presdir Kang dan sekretarisnya. Mereka saling berpamitan lalu meninggalkan ruangan disalah satu restoran tradisonal Korea tersebut. Begitu hampir mencapai pintu keluar, tiba-tiba Si won berpas-pasan dengan Direktur Park. Teman baik Appanya dan juga Direktur rumah sakit tempat Tiffany bekerja.

“Sebuah kehormatan bertemu denganmu disini, Tuan Choi” Sambut Direktur Park ramah. Si won menuangkan minuman untuknya.

“Aniyo, Direktur Park. Harusnya aku yang merasa seperti itu” Keduanya mengangkat gelas masing-masing lalu bersulang.

“Ku dengar, istrimu Tiffany juga akan ikut ambil bagian dalam kegiatan yang akan diselenggarakan rumah sakit kami”

Si won tampak terdiam sesaat.

“Direktur Park, itu-” Pria paruh baya itu tertawa.

“Kau patut bangga memiliki istri yang tidak hanya cantik wajah namun juga hatinya. Aku sangat kagum pada sosoknya. Aku yakin akan banyak warga Dangju yang merasa terbantu dengan kegiatan ini. Kau tahu apa yang sering pasien katakan jika dokter yang menangani mereka Tiffany? Hanya dengan melihat senyumnya saja penyakit mereka akan hilang dalam sekejab”

Direktur Park kembali tertawa. Si won hanya tersenyum kecil sembari mengusap tengkuknya.

“Memang agak berlebihan tapi itulah yang terjadi. Pantas saja kau terlihat sangat bahagia karena melihatnya setiap hari”

Direktur Park mengangkat gelasnya, menahan Si won untuk bersuara.

“Kita bersulang untuk kesuksesan kegiatan tahun ini”

Si won mengangkat gelasnya dengan ragu. Sial, kenapa mulutnya terasa terkunci? Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa untuk membantah pria paruh baya itu. Apa susahnya mengucapkan kalimat kalau dia sebenarnya tidak mengizinkan Tiffany pergi? Aish!

***Sifany***

“Oppaaaa!”

Kedatangan Si won langsung disambut teriakan histeris Tiffany. Wanita cantik itu menghampirinya diteras rumah dan memberinya sebuah peluhan erat.

“Oppa, jjeongmal gumawoyo. Aku mencintaimu. Mmuach”

Tiffany mengecup bibir Si won singkat. Tangannya masih bergelayut manja dileher suaminya. Si won menghela nafas. Dia tahu arti dari ciuman dan sikap manis ini.

“Wae?” Si won bertanya. Ingin mendengar langsung apa yang membuat wajah sang istri begitu bersinar.

“Aku mendapat telfon dari rumah sakit. Mereka bilang aku akan ikut serta dalam kegiatan kali ini. Direktur Park sendiri yang mengatakannya atas persetujuanmu. Oppa, benarkah itu? Kyaa, aku senang sekali”

“Benarkah? Kau senang meninggalkanku selama itu?”

“Ne?” Tiffany menurunkan tangannya dan menatap Si won heran.

“Oppa, ada apa denganmu?”

“Tidak ada. Aku hanya lelah saja”

Pria itu melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya dan segera masuk. Tiffany masih diam diteras. Apa ada yang salah? Bukankah dia sendiri yang menyetujuinya?

Tiffany sangat bahagia dengan kenyataan bahwa dia akan ikut serta dalam kegiatan tahun ini. Dia sudah kembali seperti semula. Istri yang perhatian, manis dan baik. Tapi sepertinya giliran Si won yang bermasalah. Namun Tiffany tidak ambil pusing, dia harus tetap bersikap baik agar Si won tidak berubah pikiran.

“Kyaaaa! Unnie, Jjinja? Kau tidak bercanda?” Yoona bersorak girang di koridor rumah sakit.

“Ya! Kecilkan suaramu” Peringat Jessica dengan menepuk bokong gadis itu gemas.

“Woah, daebak. Aku tidak menyangka kalau ini akan terjadi. Ku pikir Unnie akan ikut dengan cara kabur”

“Aniyo, Si won Oppa mengizinkanku. Direktur Park sendiri yang memintanya”

“Jjinja?” Yoona masih tidak percaya. Memang terlalu sulit untuk dipercaya.

Jessica tersenyum membayangkan bagaimana pertemuan Si won dan Direktur Park.

“Mungkin dia merasa segan dengan Direktur Park. Ada baiknya juga mereka bertemu. Sebuah keberuntungan untukmu, Fany-ah”

Tiffany mengangguk senang diantara kedua sahabatnya. Tiffany dan Yoona masih asyik berceloteh sementara Jessica memperhatikan keganjilan yang ia lihat pada tubuh Tiffany.

“Kalau begitu, ayo. Kita harus mengemas beberapa barangmu, Unnie” Ajak Yoona bersemangat.

“Ne”

“Tunggu!” Jessica menahan langkah keduanya.

“Waeyo, Unnie?” Yoona menatap Jessica yang masih memperhatikan tubuh Tiffany.

“Wae, Sica-ya?” Tanya Tiffany pula. Ikut heran dengan apa yang dilakukan gadis dihadapannya.

“Tiff, kau hamil!”

Untuk sesaat, tidak terdengar suara apa pun. Sekeliling mereka begitu sunyi. Bahkan angin pun enggan berhembus melewati ketiganya.

Tiffany menelan ludahnya yang terasa kering. Matanya mengerjap beberapa kali.

“Mwo?” Tanyanya pelan, nyaris berbisik. Yoona ikut memperhatikan bentuk tubuh Tiffany.

“Jjinjayo, Unnie? Apa kau hamil?” Yoona bertanya. Tiffany menggeleng. Tangannya terkepal tanda ia sangat terkejut dan gugup. Dia tidak mungkin hamil, bukan?

“Anni. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku juga tidak mual dipagi hari”

“Tidak semua perempuan mengalami gelaja yang sama. Lagi pula, ini bidangku, aku tahu mana wanita hamil dan yang tidak”

Tiffany menjilat bibirnya. Gugup. Bukan soal janin itu tapi mengenai izin ke Dangju yang sudah ia dapatkan dengan susah payah. Jika kehamilannya terjadi sekarang, itu artinya dia akan kehilangan kesempatan tersebut.

“Sebaiknya kita ke laboratorium sekarang, ayo”

Tiffany dan Jessica berjalan dibelakang Yoona. Jessica merangkul sahabatnya yang terlihat gelisah. Dia jelas tahu apa yang paling dikhawatirkan Tiffany. Jika Tiffany sampai benar-benar hamil, Si won pasti tidak akan menginzinkannya pergi.

Setelah menghabiskan waktu dengan cemas dan menunggu, Jessica akhirnya keluar dengan sebuah amplop ditangannya. Tiffany dan Yoona yang menunggu gelisah segera menghampirinya.

“Otte?” Tanya Yoona tak sabar.

Jessica menatap Tiffany dengan sebuah senyum bak malaikat miliknya.

“Positif”

Tiffany memejamkan matanya. Jessica dan Yoona terdiam. Mereka tahu kalau Tiffany bahagia dengan kehadiran janin itu. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.

Yoona memeluk Tiffany dari samping.

“Gwenchana. Unnie, tidak perlu cemas. Ada kami yang akan menjagamu”

Tiffany membaca hasil lab yang dibawa Jessica. Sesaat dia menghela nafas.

“Ku harap, kalian tidak akan memberitahu Si won Oppa”

***Sifany***

Hari yang dinanti pun tiba. Para dokter dan perawat akan berangkat ke Dangju hari ini. Perjalanan ini akan memakan waktu 8 jam dengan bus. Ada tiga kendaraan besar yang siap berangkat pagi itu. Satu mobil box yang berisi obat-obatan dan dua bus. Bus dengan logo rumah sakit akan membawa para tenaga medis yang ikut serta kecuali Tiffany, Yoona dan Jessica.

Si won menyewa sebuah bus khusus untuk Tiffany. Bus mewah dengan fasilitas lengkap dan interior mewah itu sebenarnya membuat Tiffany tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati fasilitas seperti itu jika dokter lain mendapatkan bus yang biasa saja. Lagi pula, mereka akan pergi ke pedesaan. Bukan sedang melakukan tour keliling kota. Namun dia tidak punya pilihan. Dia boleh naik atau tidak sama sekali.

Yoona berbaring disofa sambil menonton TV dan memainkan ponselnya. Dibelakangnya terdapat lemari pendingin yang berisi minuman segar yang akan mereka butuhkan nanti. Disisi kiri, terlihat Jessica tengah merapikan ranjang agar saat diperjalanan nanti mereka bisa tidur. Ngomong-ngomong, dimana Tiffany? Wanita itu masih berada diluar bersama Choi Si won.

“Semua kebutuhanmu sudah aku siapkan. Pakaian, make-up, makanan, vitamin, semuanya. Ingat, jangan sesekali melanggar apa yang sudahku sebutkan sebelumnya”

Tiffany yang bersandar dibadan bus mengangguk.

“Ne, Oppa. Aku akan mengingatnya” Bagaimana dia akan lupa jika Si won sudah mengatakannya puluhan kali?

Si won menatap wajah Tiffany lama. Jujur saja, dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak ingin Tiffany ikut dalam perjalanan ini.

“Waeyo, Oppa?” Tiffany tersenyum dan menggenggam kedua tangan Si won.

“Aku sudah besar, Oppa. Tidak seharusnya kau mencemaskanku seperti ini. Aku bersama para doker terbaik di Seoul. Mereka pasti akan menjagaku dengan baik”

Yoona menggeser gorden berwarna gold yang menutupi seluruh jendela. Didapatinya Si won masih bersama Tiffany.

“Unnie, sudah waktunya berangkat” Seru Yoona setelah membuka sedikit bagian jendela. Ia segera menghilang dari balik jendela setelah mata tajam Si won menatapnya.

“Eoh. Oppa, aku berangkat sekarang” Pamit Tiffany. Si won kembali menatapnya dalam diam. Dia tahu kalau Si won masih berat melepasnya untuk pergi.

“Oppa…”

Si won menghela nafas. Ditariknya Tiffany lebih dekat. Bibirnya mengecup bibir Tiffany. Cukup lama sampai dia akan mengingatnya selama satu bulan kedepan.

“Aku akan merindukanmu” Bisik Si won. Tiffany mengangguk. Dia juga akan sangat merindukan Si won nantinya.

“Aku juga. Jaga kesehatanmu, Oppa”

Si won mengangguk. Keduanya segera berjalan menuju pintu masuk.

“Telfon aku begitu kau sampai, arasso?” Tiffany mengangguk.

“Doakan agar kami baik-baik saja, Oppa”

“Kami?” Ulang Si won. Tiffany terkesiap. Dia hampir saja salah bicara.

“M-maksudku kami, ya kami semua” Jawabnya sembari menujuk kedua bus.

“Aku tidak peduli dengan mereka, yang penting kau baik-baik saja”

Yoona yang mendengar itu ingin sekali melempar wajah Si won dengan ponselnya. Tapi dia menahan diri.

“Oppa, jangan bicara seperti itu. Jika terjadi sesuatu padaku, merekalah orang pertama yang akan membantu”

Si won mengangguk saja. Sekali lagi dipeluknya Tiffany dengan erat.

“Hati-hatilah. Aku mencintaimu” Bisiknya sembari mengecup leher Tiffany. Indera penciumannya menghirup dan menikmati aroma tubuh wanita itu untuk kesekian kalinya pagi itu.

“Hm”

Tiffany balas mengecup pipi Si won lalu masuk dan menempati sofa yang sama dengan Yoona. Mobil box yang berisi obat-obatan berangkat lebih dulu, disusul dengan bus rumah sakit kemudian bus yang ditumpangi Tiffany, Yoona dan Jessica. Ketiga kendaraan itu pun perlahan namun pasti bergerak meninggalkan halaman rumah sakit.

“Bye, Oppa!” Teriakan Yoona terdengar dari dalam. Terlihat sangat senang melihat wajah frustasi Si won.

“Oppa, annyeong!”

“Ya! Berisik!”

Jessica memukul lengan gadis itu hingga dia merengut dan diam. Tiffany tersenyum kecil melihatnya. Kepalanya sekali lagi menoleh ke belakang.

Ditempatnya, Si won terus memperhatikan bus yang membawa Tiffany menjauh. Dia harus melihat benda itu sebelum benar-benar menghilang. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana kehidupannya setelah ini.

Si won mengusap wajahnya. Semoga satu bulan ini dia hanya akan tertidur dan baru terbangun saat hari dimana Tiffany kembali.

***Sifany***

Perjalanan sudah menempuh waktu selama 5 jam. Para tenaga medis itu berhenti untuk makan siang disebuah rumah makan di kota Boseong. Tak lupa mereka juga menikmati berbagai makanan yang terbuat dari teh khas Boseong. Memang bukan rahasia lagi jika Kabupaten Boseong terkenal dengan perkebunan tehnya.

Setelah puas menikmati makanan dan panorama sekitar, bus kembali bergerak ketempat yang dituju. Semakin jauh, suasana tenang makin terasa. Tidak ada bangunan megah apalagi keramaian. Dari kejauhan terlihat perbukitan yang dipenuhi oleh tanaman teh yang indah bertingkat.

Puluhan kilometer berikutnya, perkebunan teh berganti dengan pepohonan, sawah serta rumah-rumah penduduk yang sederhana. Jauh dari kesan kota yang modern, bukan berarti tempat itu kehilangan pesonanya. Justru disinilah letak keistimewaannya. Rumah penduduk disepanjang jalan yang tidak beraspal serta perkebunan yang dikelilingi oleh perbukitan. Udara pasti sangat segar dan bersih untuk dinikmati.

Meninggalkan Jessica yang sudah jauh ke alam mimpi, Tiffany dan Yoona terus takjub menatap kawasan perkampungan dan rumah-rumah penduduk yang mereka lewati. Sepanjang perjalanan keduanya memang selalu menyibukkan diri untuk berdiskusi tentang apa saja yang harus mereka lakukan selain mengabdi untuk masyarakat. Mereka harus jalan-jalan ketempat yang indah dan menikmati kuliner setempat. Sepertinya akan sangat menyenangkan.

“Omo! Kyeopta!”

Seruan kagum Yoona tak terbendung ketika mereka memasuki perkampungan tempat mereka akan mengabdi dan tinggal. Dihalaman sebuah rumah warga, sekelompok anak-anak terlihat bermain bersama.

“Ya, berhenti tersenyum seperti itu. Ayo, bersiap. Sebentar lagi kita sampai”

Beberapa dokter dan perawat lain juga ikut membereskan tempat mereka. Bus sudah berhenti. Beberapa penduduk juga sudah berkumpul diluar untuk menyambut kedatangan mereka. Itu artinya mereka harus segera turun.

“Sleeping princess, wake-up. Pangeranmu tidak ada disini jadi percuma menunggu, aratchi?”

Tiffany meraih selimut Jessica dan merapikannya. Jessica menggeliat memperhatikan sekeliling. Sepertinya mereka sudah sampai.

“Uh, dimana Yoona?” Tanyanya dengan suara serak dan mata yang masih setengah terpejam.

Tiffany tersenyum. Tangannya terulur menunjuk keluar jendela. Jessica melebarkan bola matanya.

“Mwo? Dia sudah bermain dengan anak-anak itu? Cepat sekali mereka akrab” Herannya. Tapi dia tidak perlu jawaban Tiffany. Karena dia tahu pasti jika Yoona sangat menyukai yang namanya anak-anak. Anak-anak pun juga sangat menyukainya. Lihatlah, mereka bahkan bermain dan tertawa bersama layaknya orang yang sudah saling mengenal sejak lama.

“Ayo, turun. Sepertinya mereka membuat acara untuk menyambut kita”

“Eoh”

Penyambutan yang diadakan memang tidak meriah. Hanya beberapa kata sambutan dari kepala desa dan dokter Lee selaku Humas dari rumah sakit sekaligus ketua panitia kegiatan ini. Kepala Desa setempat mewakili warganya mengaku senang dan berterim kasih atas perhatian dari rumah sakit di Kota besar untuk warga mereka yang memang membutuhkan perhatian khususnya dibidang kesehatan. Para dokter pun berjanji akan bekerja dengan sepenuh hati membantu permasalahan kesehatan yang dihadapi warga.

Acara dilanjutkan dengan makan malam yang dibuat secara swadaya oleh Ibu-Ibu. Walau sederhana tapi mereka sangat menikmatinya dengan kehangatan dan keakraban yang langsung terasa. Tidak hanya dengan anak-anak, para Ibu-ibu pun sangat welcome terhadap para dokter dan perawat. Mereka sangat mengagumi kecantikan para dokter tersebut. Salah satu Ahjumma juga sering menambah porsi makanan meski mereka mengatakan sudah kenyang. Dan para tenaga medis itu pun tahu siapa yang paling bahagia sekarang.

Setelah makan malam, mereka diberi tahu oleh kepala desa mengenai tempat dimana mereka akan tinggal selama berada di desa ini. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, para dokter dan perawat akan berbaur dengan penduduk dengan menginap dirumah-rumah warga.

Dengan pertimbangan Tiffany yang tengah hamil muda, dokter Lee mengatur agar Tiffany, Yoona dan Jessica sebagai sebuah kelompok. Mereka mendapat tempat dirumah sang kepala desa. Ketiganya diminta untuk tinggal disana karena pasangan itu hanya tinggal berdua. Putri pasangan itu sudah menikah dan tinggal terpisah jadi tidak akan menjadi masalah.

“Istirahatlah, Agasshi. Ahjumma tinggal dulu”

“Ne. Gamsahamnida Ahjumma”

Ketiganya membungkuk seraya mengucapkan terima kasih. Lalu kembali berdiri tegak dan memperhatikan kamar yang akan mereka tempati. Tidak terlalu besar memang. Dikamar itu hanya ada sebuah lemari pakaian dengan sebuah meja serta kasur.

Setelah membereskan barang bawaan masing-masing dan membersihkan diri dikamar mandi, mereka mulai menyiapkan kasur dan siap untuk tidur. Mereka mengambil posisi dengan Yoona berada diantara Tiffany dan Jessica.

“Aku penasaran apa komentar Si won Oppa jika dia melihat kamar ini” Ujar Yoona dan mendapat anggukan dari Jessica. Tiffany yang awalnya tersenyum tiba-tiba terdiam. Sepertinya dia lupa akan sesuatu.

“Omo! Aku lupa menelfon Si won Oppa!” Jeritnya tertahan. Dengan cepat Tiffany duduk untuk meraih tas miliknya. Lalu ditemukannya ponselnya dengan puluhan panggilan tak terjawab. Dengan cepat ditelfonnya Si won.

“Ya!”

Tiffany menjauhkan ponsel itu dari kupingnya begitu tersambung. Kemudian me-loud speakernya. Tentu saja dengan tujuan agar mereka semua mendengar ocehan si cerewet Choi Si won.

“Kau tahu aku sudah berkali-kali menghubungimu? Bukankah sudah ku katakan, telfon aku begitu kau sampai? Kau bahkan tidak menjawab telfonku!”

Rentetan pertanyaan sekaligus omelan itu membuat ketiganya tersenyum.

“Mianhe, Oppa. Aku lupa menghubungimu”

Si won bangkit dari kursinya. Dia tidak salah dengarkan? Seorang istri lupa akan suaminya?

“Mwo? Lupa? Sebegitu menyenangkannyakah tempat itu sampai kau tidak ingat lagi pada suamimu?”

Yoona dan Jessica berusaha menahan tawa mereka agar tidak terdengar oleh Si won.

“Oppa, kenapa kau bicara seperti itu. Aku hanya terlalu sibuk dan lelah karena itu aku lupa menghubungimu. Oppa tidak perlu cemas, aku baik-baik saja”

Tiffany mendengar helaan nafas Si won. Cukup lama pria itu diam sampai akhirnya bersuara lagi.

“Benar kau baik-baik saja?”

“Eoh. Aku baik-baik saja”

“Aku tidak tahu makanan seperti apa yang ada disana. Tapi pilihlah makanan yang baik, bersih dan sehat”

“Ne, Oppa juga. Jangan terlalu sibuk dan makanlah tepat waktu”

Si won tersenyum mendengarnya.

“Kalian sedang apa?”

“Kami sedang bersiap untuk tidur”

“Apa ranjangnya nyaman?” Ketiganya saling lirik sejenak.

“Ranjang? Kami tidur dikasur Oppa”

“Mwo? Dikasur tipis maksudmu? Tiff, itu tidak nyaman dan kau belum pernah tidur dikasur sebelumnya”

“Sepertinya hangat dan nyaman, Oppa. Apalagi kami bersama”

Si won memijat pelipisnya. Dia tidak bisa membayangkan Tiffany tidur dilantai dengan kasur yang tipis. Andai dia bisa berada disana dan memeluk Tiffany.

“Yoona disitu?”

Yoona terkejut ketika Si won menyebut namanya. Mengerti arti dari pertanyaan itu, Tiffany segera menyerahkan ponselnya pada Yoona.

“Ne, Oppa. Waeyo?”

“Pastikan Tiffany tidur ditengah. Dan ingat, jangan sampai tangan atau kakimu menindih tubuhnya, arasso?”

Yoona melongo hebat mendengarnya. Peringatan macam apa itu?

“Hei, kau mendengarkanku?”

“Bahkan jangkrik diluar sana mendengar suara cerewetmu ini!” Sebal Yoona yang disambut tawa tertahan dari Tiffany juga Jessica.

“Berikan telfonnya pada Jessica”

Sesuai permintaan, Yoona pun mengoper ponsel itu pada Jessica yang berbaring disisi kirinya.

“Ne, Oppa. Ini aku”

“Tolong jaga Tiffany dengan baik. Jangan biarkan siapa atau apa pun mengganggunya”

“Tidak perlu khawatir, Oppa. Percaya saja pada kami”

Hm, gumawo” Jessica mengembalikan ponselnya pada Tiffany.

“Tidurlah, Oppa, ini sudah malam. Besok kau harus bekerja”

“Aku ragu apakah aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini” Keluhnya sembari naik dan bersandar dikepala ranjang.

“Kenapa tidak? Oppa harus tidur dengan cukup agar tidak sakit”

“Bukankah itu lebih baik? Aku akan dirawat oleh dokter cantik”

Si won tersenyum seorang diri. Pikirannya melayang pada pertemuan pertama mereka  tujuh tahun lalu. Ketika itu, Si won tengah demam. Oemmanya menelfon Yoona untuk datang dan memeriksakan kondisinya. Namun saat itu, Yoona harus menyelesaikan perlengkapan berkas untuk program pendidikan spesialis dokter anak yang akan ia ambil. Karena berkas Tiffany sudah selesai lebih dulu maka, dia meminta Tiffany menggantikannya. Mulai saat itulah, mereka bertemu, saling mengenal hingga perasaan cinta tumbuh satu sama lain.

“Tapi dokter ini tidak gratis, aratchi?”

“Tentu saja. Aku akan memberikannya imbalan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun selain aku”

“Jjinja? Apa itu?”

“Cintaku” Jawaban itu membuat jantung Tiffany berdebar. Diwajahnya tergambar senyuman yang membuat Yoona dan Jessica gemas.

“Gumawoyo, Oppa. Aku mencintaimu”

“Aku juga mencintaimu”

“Aish!” Yoona tidak tahan lagi. Dengan cepat direbutnya ponsel Tiffany.

“Oppa, kau tahu betapa lelahnya perjalanan kami? Sekarang sudah malam dan waktunya istirahat. Jika kau ingin mengobrol besok saja, okay? Bye!”

“Ya-!”

“YA!”

Si won terduduk kesal karena sambungannya diputus begitu saja. Dan saat dia kembali menghubungi Tiffany, ponsel itu sudah tidak aktif.

“Kau akan menyesal, Im Yoona!”

***Sifany***

Pagi dimulai dengan munculnya sinar matahari. Kicauan burung menambah indahnya pagi di desa Dangju nan asri disalah satu kecamatan di Boseong tersebut. Hari ini pula kegiatan pertama mereka akan dilaksanakan. Penyuluhan serta pelayanan kesehatan akan dilakukan di balai desa. Jadwal mereka akan berlangsung hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Hari lainnya, bisa dilakukan untuk membantu kegiatan warga baik dirumah maupun diperkebunan.

“Sarapan yang lezat, Ahjumma, Ahjussi. Gamsahamnida”

Ketiganya kompak berterima kasih pada keluarga Kim yang telah menghidangkan makanan sederhana namun nikmat.

“Sama-sama, Agasshi. Kami harap kalian bisa bekerja dengan baik hari ini”

Kim Ahjussi segera pamit menuju balai desa untuk menyiapkan tempat dimana kegiatan akan diadakan. Tiffany dan Yoona membantu Ahjumma untuk membawa piring kotor ke belakang untuk dicuci. Tiba-tiba Jessica muncul.

“Ya! Jangan melakukan pekerjaan rumah, Tiff. Kau sedang hamil”

“Omo. Aku lupa” Yoona berseru. Kim Ahjumma yang baru muncul dengan nampan berisi gelas terkejut.

“Jjeongmalyo? Tiffany Agasshi sedang hamil?” Tiffany tersenyum kecil mengiyakan.

“Kalau begitu sebaiknya Agasshi istirahat saja. Mencuci piring sebanyak ini pasti akan melelahkan”

“Gwenchanayo, Ahjumma”

Tiffany menolak. Namun wanita paruh baya itu sudah menariknya dengan lembut dan menempati posisi Tiffany semula untuk mencuci piring.

Jessica mendorong Tiffany agar menjauh dari mereka.

“Biar kami saja yang mencuci semua piring-piring ini. Kau sebaiknya ke kamar. Si won Oppa pasti sudah menghancurkan barang-barang dirumah kalian karena kau tidak mengangkat telfonnya” Tiffany mengangguk saja.

“Kalau begitu aku permisi dulu, Ahjumma”

“Tentu, Agasshi”

Kim Ahjumma mempersilahkan Tiffany pergi dengan wajah yang agak heran mendengar nama Si won yang disebut Jessica. Yoona yang mengerti tertawa lalu berujar.

“Suaminya yang menyebalkan, Ahjumma” Katanya hingga menimbulkan tawa. Tanpa membuang waktu lagi, mereka mulai mencuci piring. Banyak yang harus dilakukan di hari pertama ini.

***Sifany***

Para dokter dibantu perawat dan aparat desa sibuk melayani masyarakat desa yang datang. Warga terlihat antusias untuk memanfaatkan kesempatan dimana mereka bisa mendapatkan penyuluhan kesehatan serta pengobatan secara gratis. Bahkan yang tidak mengeluh sakit apa-apa pun banyak yang datang. Kapan lagi mereka bisa bertemu dengan kumpulan dokter-dokter cantik dan tampan yang diikuti dengan kemampuan yang cerdas? Dari Seoul pula.

“Ah, kyeopta. Siapa namamu?” Anak berusia 7 tahun itu tersenyum senang saat tangan lembut Yoona mengelus halus wajahnya.

“Sarang”

“Sarangie? Aigo. Nama yang cantik” Puji Yoona sembari ia memakai sarung tangan. Sebenarnya anak itu tidak mengeluh apa-apa. Dia masuk bersama Ibunya yang sedang ditangani Jessica. Karena anak kecil itu terus memperhatikannya yang menangani pasien anak sejak tadi, Yoona pun memanggilnya untuk mendekat.

Setelah memberinya obat cacing, Yoona juga memeriksa mata dan gigi anak tersebut.

“Sekarang dokter akan melihat gigimu. Ayo, buka mulutmu, Aa”

Anak itu melakukan apa yang diperintahkan. Dia belum pernah memeriksakan giginya pada dokter sebelumnya. Selain tidak ada dokter karena rumah sakit sangat jauh dari desa mereka, dia juga takut merasa sakit. Sebab, dari yang ia dengar, dokter itu adalah orang yang menakutkan. Tapi karena Yoona, sepertinya dia tidak akan takut jika harus dioperasi sekalipun.

“Ah, gigimu bagus dan rapi. Matamu juga sehat”

“Oemmaku selalu memberiku makanan sehat. Tidak mahal dokter, hanya sayuran sisa tempat Oemma bekerja dipasar. Tapi semuanya masih bagus”

Yoona tersenyum miris mendengarnya. Sayuran sisa?

“Karena kau masih kecil semua tampak baik-baik saja. Tapi kau tetap harus menjaga kesehatanmu dengan makanan sehat dan pola hidup yang baik. Rajin berolah raga juga, aracthi?”

“Ne”

Yoona meraih sebuah kotak vitamin yang mengandung banyak ekstra sayuran untuk anak-anak seusia Sarang.

“Ini. Dicampur dengan minuman atau bubur yang disiapkan Oemmamu, ne?”

Anak itu mengangguk dan menerimanya dengan senang hati.

“Gamsahamnida, dokter cantik” Ucapnya seraya membungkuk sopan. Yoona tersenyum lebar lalu memeluknya dengan gemas.

“Kandunganmu sehat, Nyonya Oh. Karena sebentar lagi sudah memasuki bulan ke 8, sebaiknya jangan melakukan pekerjaan berat. Kami tidak melarang Anda untuk bekerja. Namun istirahatlah yang banyak dan konsumsi makanan sehat dan susu. Tidak perlu khawatir, kami membawa banyak susu dan vitamin untuk Ibu hamil  serta menyusui. Nanti setelah selesai, Anda boleh memintanya pada dokter Choi yang bertugas dimeja paling ujung”

“Tsk!”

Tiffany berdecak begitu mendengar Jessica. Dia benci wanita itu sekarang. Lama-kelamaan, Jessica semakin mirip dengan Si won. Dia kesini untuk melayani masyarakat yang ingin berobat. Bukan mencatat nama pasien yang masuk lalu kemudian memberi mereka obat sesuai dengan resep yang diberikan

Drrtt Drrtt Drrtt

Yoona memutar kepalanya kearah meja Tiffany.

“Aish! Jjinja! Padahal dia baru menelfon 15 menit yang lalu” Gerutunya sebal. Tentu saja dia tahu jika yang menelfon Tiffany adalah Choi Si won.

Tiffany meraih ponselnya.

“Perawat Nam” Tiffany memanggil seorang perawat laki-laki yang sedang mengobrol dengan beberapa warga.

“Tolong gantikan aku sebentar, ne?”

“Baik, dokter”

Tiffany meninggalkan keramaian itu. Langkahnya menuju sawah yang ditanami padi oleh warga tak jauh dari balai desa.

“Ne, Oppa”

Tiffany menjawab setelah dia duduk disebuah bangku kayu. Matanya menatap hamparan padi yang luas didepan mata. Juga perbukitan yang dipenuhi oleh tanaman teh dikejauhan.

“Tiff, dimana kaos kakiku?”

“Oppa, tadi kau bertanya dasimu dan sekarang kau bertanya tentang kaos kaki?”

“Memangnya salah siapa aku kelimpungan seperti ini? Selama ini kau yang menyiapkan semua keperluanku jadi wajar kalau aku tidak tahu”

“Bukankah beberapa waktu lalu Oppa juga pernah bertanya?”

Si won terdiam. Matanya melihat semua pintu lemari dan cabinet yang sudah ia buka. Yah, dia tahu dimana tempatnya. Hanya saja terlalu merepotkan mengerjakan semuanya seorang diri.

Oppa melihat lemari tempat aku menyimpan jasmu?”

Si won melirik lemari berwarna putih gading disisi kanan kamar.

“Hm”

“Ada laci dibawahnya. Kaos kaki Oppa ada disana”

Si won berjongkok untuk membuka laci tersebut. Beberapa kaos kakinya tersusun rapi dengan warna yang berbeda.

“Sudah kau temukan, Oppa?”

“Hm”

Si won mengambil sepasang kaos kaki berwarna abu-abu lalu kembali bangkit setelah menutupnya kembali.

“Oppa tidak menyuruhku memakaikannya, bukan?”

“Andai saja aku bisa”

Tiffany tersenyum mendengarnya.

“Oppa sudah sarapan?”

“Anni”

“Jangan lupa makan dengan teratur, aratchi?”

“Entahlah, tidak ada yang menyiapkannya jadi aku malas sekali”

“Jangan begitu, Oppa. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika terjadi sesuatu padamu. Kau tidak boleh sakit”

“Setidaknya itu lebih baik. Kalau aku sakit, istriku yang cantik akan segera pulang” Tiffany mendesah pelan.

“Kalian sedang apa?”

“Hari ini adalah hari pertama kami disini. Sekarang kami sedang melayani masyarakat yang datang untuk berobat. Mereka sangat bersemangat, Oppa. Aku senang karena mereka ramah dan menyambut kami dengan baik”

“Memang sudah seharusnya seperti itu” Komentar Si won singkat.

“Oppa”

“Hm?”

“Aku merindukanmu”

Si won tersenyum senang mendengarnya. Lebih dari apa pun, Si won bahkan sangat merindukan sang istri.

“Aku juga sangat merindukanmu. Kau ingin aku datang kesana?”

Tiffany menggeleng cepat.

“Andwae! Oppa hanya akan membuatku repot nantinya” Si won menghela nafasnya.

“Jangan lupa jaga dirimu”

“Oppa juga”

Hm

“Unnie!”

Tiffany menoleh ketika mendengar suara Yoona. Benar saja, gadis itu melambai kearahnya dan memintanya untuk datang.

“Oppa, Yoona sepertinya butuh bantuan. Aku tutup telfonnya dulu, ne?”

Klik! Telfon terputus. Si won bahkan tidak sempat mengucapkan kalimat selamat tinggal.

Pria itu melempar ponselnya keatas ranjang dan mulai memakai kemejanya. Ini bahkan baru hari pertama ia tanpa Tiffany. Bagaimana dengan satu bulan ke depan? Benar-benar menyebalkan.

***Sifany***

Tiffany membungkuk pada Kim Ahjumma ketika ia bertemu perempuan itu di dapur.

“Agasshi? Kenapa Agasshi terbangun ditengah malam seperti ini?” Kim Ahjumma bertanya cemas seraya mendekat.

“Aniyo, Ahjumma. Aku hanya ingin mengambil air minum saja”

“Benarkah? Kalau begitu akan Ahjumma ambilkan”

Tiffany melihat perempuan paruh baya itu bergegas menuju meja makan untuk mengambil segelas air minum. Lalu memberikannya pada Tiffany.

“Ini, Agasshi”

Tiffany menerimanya. Dia merasa tidak nyaman karena sudah merepotkan.

“Apa Agasshi menginginkan sesuatu?”

“Ne?” Tiffany mengangkat wajahnya.

Kim Ahjumma tersenyum.

“Kita sama-sama perempuan, Agasshi. Ahjumma pernah mengalami hal yang sama. Jika Agasshi menginginkan sesuatu, katakan saja. Ahjumma akan membuatkannya”

Tiffany diam. Sebenarnya ada alasan kenapa ia bisa terbangun dan pergi ke dapur malam-malam seperti ini. Awalnya, dia ingin meminta bantuan Jessica dan Yoona. Namun dia tidak tega membangunkan keduanya. Mereka pasti lelah setelah bekerja seharian.

“Sebenarnya, aku ingin sekali makan bubur kacang merah” Suara Tiffany perlahan menghilang. Dia terlalu malu untuk mengatakannya. Terlebih mereka tidak memiliki hubungan apa-apa dan baru beberapa hari saling kenal.

Kim Ahjumma tertawa. Merasa lucu melihat wajah malu-malu Tiffany. Ditariknya sebuah kursi lalu meminta Tiffany untuk duduk.

“Duduklah, Agasshi. Ahjumma akan membuatkannya”

Tiffany tersenyum hangat pada Kim Ahjumma. Perempuan itu sungguh seorang Ibu yang baik untuk anaknya. Jika Oemmanya masih ada dan jika Oemma mertuanya ada disini, mereka juga pasti akan melakukan hal sama seperti yang Kim Ahjumma lakukan.

“Pasti berat menjalani kehamilan pertama disini tanpa kehadiran suami. Kami berterima kasih atas ketulusan hati Agasshi untuk membantu  kami meski Agasshi dalam keadaan seperti ini”

Ahjumma mulai menyiapkan bahan-bahan. Untung saja dia masih memiliki kacang merah sisa acara jamuan bulan lalu.

“Apa suami Agasshi tahu tentang kehamilan Agasshi?”

Tiffany menggeleng lemah.

“Aniyo”

Kim Ahjumma tampak kaget. Dia merasa kasihan sekali pada wanita cantik itu.

“Ahjumma yakin Agasshi memiliki alasan untuk tidak memberitahunya.  Tiga bulan pertama sangat penting. Berhati-hatilah, Agasshi”

“Ne”

Tiffany meraba perutnya yang masih rata. Tentu dia harus berhati-hati. Berhati-hati agar bayinya tumbuh dengan baik. Dan berhati-hati agar Si won tidak mengetahui hal ini sampai kegiatan mereka selesai.

***Sifany***

Waktu berjalan dengan cepat dan tidak terasa. Dua minggu berlalu namun mereka merasa baru kemarin tiba dan disambut dengan hangat oleh penduduk desa. Warga desa yang ramah membuat mereka seperti berada dirumah sendiri.

Yoona senang sekali karena hari ini cucu Kim Ahjumma akan mengajak mereka jalan-jalan keliling desa. Melihat-lihat rumah penduduk, sawah, bukit serta sungai. Tiffany dan Jessica juga tidak kalah antusias.

“Camera, check. Ponsel, check. Minuman, check. Roti, check. Handuk, check. Sepertinya semua sudah siap”

Jessica sekali lagi memeriksa kelengkapan barang yang akan mereka bawa dihalaman depan. Setelah dirasa cukup, segera ditutupnya ransel tersebut lalu memberikannya pada Yoona yang baru selesai mengikat tali sepatu sneakersnya.

Gadis kurus dengan rambut tergerai itu mengerutkan keningnya.

“Kenapa aku?” Tanyanya. Seolah tak suka mendapat tugas membawa ransel tersebut.

“Ya! Kau ingin Tiffany yang membawanya?” Yoona cemberut.

“Bagaimana dengan Unnie?”

Yoona masih terlihat tidak ingin membawa ransel tersebut. Namun dia tetap mengambil dan memakainya.

“Aku akan memotret nanti jadi kau saja yang bawa ini”

Yoona mengerucutkan bibirnya. Dia yakin kalau Tiffany bersedia membawa ransel itu jika tidak dilarang Jessica.

“Fany-ah, kau sudah siap?”

“Changkamman!”

Terdengar derap langkah kaki mendekat. Pintu kamar bergeser dan Tiffany pun muncul dengan sepasang sepatu kets berwarna pink ditangannya. Segera dipakainya sepatu tersebut sembari mereka menunggu cucu Kim Ahjumma muncul.

“Halmoni!”

Dihalaman, mereka melihat seorang anak laki-laki berlari mendekat. Kim Ahjumma pun muncul dari pintu belakang.

“Aigo, Min ho-ya” Kim Ahjumma menyambut cucunya dengan sebuah pelukan sayang. Setelah itu diajaknya sang cucu mendekat ketempat tiga dokter cantik yang berjejer menunggu mereka.

“Min ho-ya, ini dokter Choi, dokter Jung dan dokter Im”

Min ho tersenyum lebar seraya membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Annyeong haseyo. Choi Min ho Imnida”

Yoona menutup mulutnya menahan tawa. Jelas saja dia mengingat Si won begitu mendengar marga anak itu. Sadar dengan hal itu, Jessica menyikutnya pelan. Tak ingin bocah sekecil itu merasa tak nyaman karena sikap Yoona barusan.

“Senang bertemu denganmu, Min ho-ya”

Tiffany memberikan tangan kanannya. Min ho menatapnya kemudian dengan senang hati membalas jabat tangan halus itu.

“Woah, kau juga manis dengan lesung pipi ini, ne?”

Jessica menyentuh lesung pipi anak itu. Tiffany menatapnya lalu tersenyum. Jelas saja dia teringat akan Si won.

“Annyeong, Min ho-ya. Aigo, neomu kyeopta”

Yoona mencubit pipinya gemas dan langsung menggandeng tangannya.

“Min ho-ya, tolong ajak para dokter ini jalan-jalan, ne? Jangan terlalu jauh atau ke tempat yang berbahaya, aratchi?”

“Ne”

“Kalau begitu kami permisi, Ahjumma” Pamit Jessica. Kim Ahjumma mengangguk mempersilahkan mereka berangkat.

Mereka mulai meninggalkan halaman rumah keluarga Kim. Kaki-kaki jenjang itu melayang ringan dijalanan desa selebar tiga meter yang dipenuhi dengan bebatuan kecil. Maklum saja, jalanan disepanjang desa ini belum teraspal. Untung saja udara tidak panas hingga mereka tidak perlu cemas dengan debu yang akan mengganggu.

Dikanan-kiri jalan, berjejer beberapa rumah penduduk yang sangat sederhana. Bahkan Tiffany bisa melihat dengan jelas beberapa rumah yang kurang layak untuk ditempati. Sepertinya pembangunan di desa ini memang jauh tertinggal. Mungkin letaknya yang sangat jauh dari ibu kota kabupatenlah penyebabnya.

Lima belas meter kemudian hamparan sawah nan luas menyambut mereka. Kim Ahjussi dan Kim Ahjumma pernah bercerita kalau pertanian dan perkebunan didesa mereka sangat menjanjikan karena tanahnya yang subur. Namun sayang, pemilik lahan yang luas itu bukan warga sekitar. Mereka hanya bertugas untuk menanam, merawat serta memanen. Hasilnya akan dibagi dengan sang pemilik lahan sesuai dengan kesepakatan. Karena alasan inilah, warga tidak terlalu sejahtera. Selain bekerja disawah, beberapa ibu-ibu juga bekerja sebagai pemetik teh di kota Boseong.

“Selamat pagi, dokter. Kalian ingin berkeliling desa?”

Seorang Ahjussi yang hendak menuju sawah menyapa mereka ketika berselisih dijalan. Tiffany, Yoona dan Jessica membungkuk singkat.

“Selamat pagi, Ahjussi. Ne, kami akan berkeliling desa untuk menghirup udara segar” Ahjussi itu tersenyum senang.

“Ne. Warga kami juga sering melakukannya. Itu bagus untuk kesehatan dan murah. Tapi desa kami hanya seperti ini tidak ada yang spesial. Kalau begitu silahkan lanjutkan”

Ketiganya kembali membungkuk saat Ahjussi itu pamit. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan pikiran masing-masing tentang desa ini. Tiffany memperhatikan fasilitas disepanjang jalan. Untung saja listrik sudah dialiri walau baru dirasakan warga setahun terakhir. Jadi untuk penerangan tidak ada  masalah. Beberapa rumah juga terlihat memiliki TV dan perlengkapan elektornik lainnya meski bisa dihitung dengan jari.

“Kemarin dokter Kang dan perawat Nam juga berkeliling. Mereka bahkan menangkap belut disawah”

“Jjinja?” Tiffany spontan merespon. Yoona dan Jessica seketika saling lirik.

“U-unnie, kau tidak menyuruh kami untuk turun kesawah dan menangkap belut-belut itu, bukan?” Tanya Yoona khawatir. Tiffany cemberut.

“Wae? Sepertinya itu akan menyenangkan” Komentarnya.

“Bermain dilumpur memang menyenangkan. Tapi kau sedang hamil muda, sebaiknya jangan” Tiffany mendesah kecewa mendengar larangan Jessica.

“Dokter Choi menyukai belut?” Tiffany menatap kedua sahabatnya sebelum menatap Min ho dengan senang hati.

“Ne” Jawabnya pasti. Anak itu tersenyum.

“Aboeji mengambilnya dari sawah kemarin. Sepertinya masih ada dirumah. Aku akan mengantarnya ke rumah Halmoni nanti sore”

Yoona dan Jessica hanya tersenyum melihat Tiffany yang begitu senang dan memeluk Min ho.

Desa kecil yang dikeliling perbukitan itu tampak subur. Tiffany, Jessica dan Yoona terlihat sangat menikmati waktu mereka. Mereka melintasi sawah, perkebunan sayur dan buah. Perkebunan teh hanya bisa mereka saksikan dari kejauhan karena letaknya yang tinggi dan jauh. Ketika melewati persawahan lagi, seorang Ahjumma memanggil mereka untuk mampir dan makan siang. Tanpa penolakan mereka datang dan menikmati roti serta makan siang bersama warga desa yang ramah tersebut.

Setelah makan, Min ho kembali mengajak ketiganya berkeliling. Tujuan terakhir mereka adalah ke sungai yang terdapat didalam hutan pinus tak jauh dari tempat mereka sekarang. Mereka tidak perlu khawatir karena hutan tersebut bersih, tertawat dan sering dijadikan warga bahkan muda-mudi untuk menghabiskan waktu bersama.

“Kita sudah sampai”

Mereka memperhatikan sekeliling, mereka sudah berada ditengah-tengah hutan dengan pohon pinus yang menjulang tinggi serta berjejer rapi. Tepatnya, dipinggir sebuah sungai. Sungai kecil selebar tak kurang dari tiga meter itu terlihat sangat indah. Air sungai mengalir lancar. Airnya juga jernih hingga ikan, rerumputan dan bebatuan kecil didasar sungai terlihat jelas. Tempat itu terlihat makin indah dengan pemandangan alam sekitar yang menghijau.

Byurr

“Kyaa!”

Anak-anak pun ramai mandi disana karena sungai tidak terlalu dalam. Hanya sekitar satu meter. Itu pun ditengah-tengah sungai. Hutan ini juga dikelilingi sawah dimana para orang dewasa bekerja. Jadi aman bagi anak-anak untuk bermain.

“Wah, ada dokter cantik dari Seoul!”

Teriak salah satu anak laki-laki. Kontan saja perhatian seluruh temannya mengikuti arah pandang anak itu. Mereka ikut bergantian menyapa dan memanggil satu persatu nama dokter-dokter cantik tersebut.

Tiffany, Jessica dan Yoona sangat senang melihat bagaimana anak-anak desa bermain dengan riang.

“Wah, airnya dingin sekali” Seru Yoona begitu mencelupkan tangannya dibibir sungai.

“Bagaimana jika kita mengambil foto?” Usul Jessica lalu menyiapkan camera digitalnya. Gadis itu sejak melangkah dari rumah Kim Ahjumma tadi memang tidak bosan mengabadikan setiap hal yang mereka lihat dan lakukan dengan cameranya.

Yoona dan Tiffany mendekat untuk mengambil posisi. Setelah itu, Yoona ikut mengambil ponselnya. Mereka mulai berselfie ria dengan sungai dan hutan sebagai backgroundnya. Tak lupa mereka juga mengambil foto anak-anak yang sedang mandi, warga yang sedang beraktivitas disawah dan pemandangan alam yang indah.

“Wah, yeoppota”

Sembari Yoona dan Tiffany asyik melihat hasil gambar mereka, Jessica beralih mendekati anak-anak yang sejak tadi ikut memperhatikan apa yang mereka lakukan.

“Hai, bagaimana jika kita mengambil foto bersama?”

“NEEE!!!” Anak-anak itu bersorak. Dengan senang hati, anak-anak itu mengambil pose yang lucu dan mengundang tawa.

Tiffany tersenyum melihat tawa riang anak-anak desa yang begitu ceria. Tumbuh didesa itu tidak buruk. Bahkan lebih menyenangkan karena dekat dengan alam dan lingkungan.

“Aku kesana sebentar” Pamit Tiffany. Dia tidak tahan untuk bergabung bersama Jessica yang sudah asyik bermain siram-siraman dengan anak-anak desa.

Yoona baru akan menyimpan ponselnya ketika sebuah telfon masuk ke ponselnya.

“Si won Oppa?” Tak mau menunggu, segera diangkatnya telfon itu.

“Ne, Oppa”

“Kalian sudah bangun?”

“Hm”

“Bagaimana keadaan Tiffany?” Terlihat Yoona mendengus.

“Oppa! Kau menelfonku, harusnya kau menanyakan kabarku terlebih dahulu” Protesnya merengut. Si won tersenyum saja. Dia sudah beberapa kali menelfon Tiffany tapi tidak aktif.

“Kau bisa mengangkat telfonku itu artinya kau baik-baik saja” Yoona mencibir. Kakak sepupunya itu memang keterlaluan.

“Sudah sarapan?” Tanya Si won. Kali ini lebih lembut.

“Hm” Jawaban itu terdengar terpaksa. Si won tahu itu.

“Baguslah. Kalian sedang apa? Apa dihari libur kalian juga bekerja melayani warga yang butuh pengobatan?”

Yoona melirik kearah Tiffany yang asyik bermain siram-siraman dipinggir sungai. Sebuah senyum jahil tersungging dibibirnya. Dengan sengaja diloudspeakernya ponsel miliknya  hingga Si won mendengar teriakan dan tawa khas anak-anak.

“Kenapa berisik sekali?”

Si won menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Bukan karena suara berisik itu, namun karena dia tidak mendengar apa-apa lagi. Benar saja, telfon tersebut terputus.

“Mwo? Dia mematikan telfonku?”

Si won bersiap akan menelfon lagi. Namun sebuah video call masuk. Dari Yoona.

Annyeong

Si won melihat wajah cantik gadis itu memenuhi layar ponselnya. Seperti biasa, Yoona begitu menawan meski wajahnya tanpa make up sekali pun. Dia juga bisa menyaksikan pepohonan yang menghijau dengan sinar matahari yang cerah.

“Sepertinya kalian menikmati weekend yang menyenangkan. Ngomong-ngomong, dimana Tiffany?”

Yoona tersenyum seraya memperbaiki letak rambutnya yang diterbangkan angin.

“Ah ye, ini hari libur dan kami sedang menikmati udara disekeliling desa.  Oppa ingin tahu kami sedang berada dimana? Ta da!

Yoona mengarahkan camera ponselnya kearah sungai. Dimana anak-anak asyik mandi dan bermain siram-siraman. Terlihat juga dua orang wanita yang bisa Si won pastikan adalah Jessica dan istrinya, Tiffany.

“Kalian sedang apa ditempat seperti itu? Hei, suruh Tiffany menjauh sekarang juga!” Yoona tidak mendengarkan perintah itu.

“Kami hanya bermain, Oppa. Awalnya kami juga ingin membawa baju ganti tapi karena memikirkan Fany Unnie kami membatalkannya”

“Mwo?”

Yoona berusaha kuat menahan tawanya melihat wajah kesal Si won.

“Min ho-ya. Kesini”

Yoona memanggil Min ho. Anak yang sudah bertelanjang dada dan basah kuyup itu naik kedaratan dan mendekat.

“Oppa, kau tahu ini siapa?”

Si won dapat melihat anak laki-laki kira-kira berusia 9 tahun itu. Jelas saja dia tidak tahu.

“Dia adikmu, Oppa. Sepupuku juga

“Mworagu?”

Si won benar-benar tak percaya dengan apa yang gadis itu lakukan. Gadis itu benar-benar konyol dan membuat emosinya naik. Sementara itu, Yoona sudah sakit perut karena terlalu asyik tertawa. Namun ia segera berhenti karena takut Si won makin kesal.

“Namanya Choi Min ho. Mungkin saja dia adikmu. Lihat, kalian memiliki lesung pipi yang sama. Kalian juga terlihat mirip”

Si won sangat ingin mencerca gadis itu dengan kalimat-kalimat pedasnya. Namun dia menahan diri karena anak kecil itu. Jika dilihat baik-baik, anak itu memang memiliki lesung pipi. Tapi tetap saja mereka tidak mirip.

“Dokter, Ahjussi ini siapa?”

Mendengar pertanyaan itu, Yoona kembali tertawa puas sementara Si won berdecak. Anak itu memanggilnya apa?

“Ah, ini Choi Si won Ahjussi. Suami dari dokter Tiffany. Dia juga kakak sepupu dokter”

“Ah, begitu. Annyeong haseyo, Ahjussi. Aku Choi Min ho

“Hm. Min ho. Senang bertemu denganmu” Balas Si won seadanya.

“Ahjussi pasti khawatir dengan dokter Tiffany karena dia sedang ha-“

Yoona cukup cepat tanggap. Sebelum Si won mendengar kalimat lengkap anak itu, dia dengan cepat menutup mulutnya. Sedang wajahnya memasang sebuah senyum paksa dengan mata yang mengisyaratkan agar anak itu diam.

“Min ho-ya, tidakkah menurutmu kau ingin bergabung dengan teman-temanmu, hm?”

“Ne. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat tinggal, Ahjussi”

Min ho segera berlari mendekati sungai. Yoona menghela nafas lega dibuatnya.

“Ada apa dengan kalian?”

“Eoh? Aniya” Gelengnya pelan. Si won ingin bertanya tapi dia tidak melakukannya. Lebih baik dia bicara dan melihat wajah istrinya.

“Panggil Tiffany” Perintahnya.

“Omo! Oppa, kau mengatakan sesuatu?”

“Im Yoona!”

“Oppa, Oppa! Omo. Sepertinya sinyal kurang baik disini. Aku akan tutup telfonnya dulu, ne?”

“YA!”

“Hahaha!” Yoona tertawa puas membayangkan bagaimana wajah Si won kini.

“Yoong!” Tiffany memanggil.

“Ah, ye” Yoona mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam saku cardigannya.

“Kita pulang sekarang, Unnie?” Tanyanya pada Tiffany.

“Ne. Sebentar lagi sore. Kita sebaiknya pulang untuk menyiapkan makan malam”

Sementara itu dirumahnya, Si won terlihat sangat kesal. Gadis itu pasti akan menerima akibatnya.

***Sifany***

Ruangan berukuran 6 x 5 meter itu dipenuhi oleh lemari dan rak yang penuh dengan buku. Tidak hanya kumpulan buku motivasi, novel atau pun majalah. Ruangan ini bahkan lebih didominasi oleh buku tentang kedokteran dan bisnis sesuai profesi sang pemilik.

Si won duduk dikursi dan membuka beberapa buku yang ada dimeja. Biasanya, ia selalu menemani Tiffany belajar disini. Terlebih ketika dia akan mengikuti ujian.

Mereka menikah empat tahun yang lalu. Saat itu, Tiffany masih berada ditahun terakhir program pendidikan spesialis dokter yang ia ambil. Sebenarnya, Tiffany belum ingin menikah. Ia hanya akan menikah ketika dia sudah menyandang gelar dokter spesialis. Namun Si won terus meyakinkannya dan akan membantunya dalam belajar.

Pernikahan dilangsungkan awal april dengan bunga sakura yang mekar dimana-mana. Hingga sekarang, mereka baik-baik saja meski pertengkaran kecil sering terjadi. Untuk momongan, mereka belum memilikinya karena masing-masing sibuk dengan pekerjaan.

Mata Si won beralih pada rak-rak yang dipenuhi buku. Menghabiskan waktu disini adalah salah satu cara yang ampuh untuk mengatasi kerinduannya pada wanita yang telah mencuri hatinya tersebut.  Bahkan ia sering ketiduran dan terbangun ketika pagi datang. Si won sangat berharap agar waktu cepat berlalu dan Tiffany kembali padanya.

***Sifany***

Pagi ini para dokter tidak memiliki agenda apa pun dibalai desa. Jika yang lain memilih ke kebun atau pun ke sawah, berbeda dengan Tiffany, Jessica dan Yoona. Ketiganya akan berbelanja ke pasar menemani Kim Ahjumma. Jaraknya sekitar dua kilo meter, sebab itu mereka harus naik bus sebagai alat transportasi. Tidak hanya mereka, beberapa warga lain juga ikut bersama mereka.

“Unnie, aku tidak pernah ke pasar sebelumnya. Ku rasa akan menyenangkan” Ungkap Yoona.

“Aku juga belum pernah pergi ke pasar sebelumnya. Semoga saja tidak terlalu panas”

Ahjumma-Ahjumma yang bersama mereka tersenyum mendengar obrolan dokter dari Seoul itu. Salah satu diantaranya berseru.

“Bukankah dokter Choi sedang hamil? Aigo, setengah hari yang ia habiskan dipasar akan melelahkan”

Tiffany tersenyum saja.

“Aigo. Andai saja putraku sudah besar aku pasti akan menikahkannya denganmu, dokter” Timpal seorang Ahjumma yang duduk paling ujung. Mereka tertawa kompak.

“Jangan terlalu banyak bermimpi. Dokter Seoul ini tidak akan mau dengan pria dari desa kita. Apalagi putramu, arasso?” Sambung Ahjumma lain. Ahjumma tadi merengut sebal sementara yang lain tertawa.

“Aniyo. Jika kami merasa cocok dan memang berjodoh, kami pasti akan menerimanya” Timpal Jessica. Tiffany dan Yoona mengangguk membenarkan. Obrolan dalam perjalanan menuju pasar itu terasa sangat akrab dan bersahabat.

Hingga tak terasa, bus sudah tiba disebuah pasar tradisional yang cukup ramai. Acara membayar ongkos bus berlangsung lama. Para Ahjumma ingin membayarkan ongkos ketiganya, sementara Yoona menolak dan ingin membayar ongkos para Ahjumma. Sayangnya, sopir yang juga masih keluarga Kim Ahjussi itu menolak uang Yoona. Jadi kesimpulannya, ongkos kali ini, gratis.

“Gamsahamnida, Ahjussi” Ucap ketiganya kompak ketika bus yang tampak tua itu kembali untuk mencari penumpang lain. Para Ahjumma pun mulai bubar untuk membeli belanjaan masing-masing.

“Selamat berbelanja, dokter”

“Ne” Akhirnya, hanya ada mereka bertiga dan Kim Ahjumma yang masih berdiri disana.

“Ayo, Agasshi. Sebaiknya kita masuk”

“Ne”

“Aku yang bawakan keranjangnya, Ahjumma”

Yoona berjalan bersama Kim Ahjumma didepan. Sementara Tiffany dan Jessica mengikuti keduanya dari belakang. Berbelanja di pasar memang tidak seperti di supermarket. Sayuran dan daging memang segar namun kondisi pasar yang memang kurang tertata rapi membuat siapa pun kurang nyaman. Terlebih saat melewati kios penjual ikan dan ayam, Jessica harus menyeret Tiffany menjauh jika tidak ingin wanita itu pingsan karena mual.

Mereka tiba dikios penjual sayur-mayur. Yoona sangat senang karena disana dia bertemu Sarang dan Ibunya. Setelah membeli dan mengobrol tentang keadaan Ibu Sarang mereka pun pamit.

“Dokter, ini” Sarang memberikan jepit rambut berwarna hijau pada Yoona. Gadis kecil itu tersenyum ketika dipeluk oleh Yoona.

“Cantik sekali. Gumawo, Sarang-ah”

Mereka pun pergi untuk membeli keperluan lain. Mencium aroma masakan yang dijajakan penjual makanan, Tiffany sudah tidak tahan. Bahkan Yoona yang tidak sedang hamil pun sudah tidak sabar untuk mencicipi jajanan pasar tersebut.

“Kita pilih yang mana, Unnie?”

Sementara Yoona dan Tiffany sibuk memperhatikan makanan apa saja yang akan mereka beli, Jessica yang sedang menemani Ahjumma memilih bumbu dapur mendekat untuk menghentikan kegiatan keduanya.

“Ya! Kalian ingin membeli makanan disini?” Bisiknya dengan mata mendelik.

Tiffany menghela nafas.

“Jessie, please. Kau tidak akan menemukan kios yang steril disini. Apa salahnya membeli makanan disini. Penjualnya juga ramah dan bersih”

Yoona ikut mengangguk. Dia sudah sangat lapar dan ingin makan sepuasnya.

“Please, Unnie. Jangan seperti Si won Oppa” Timpalnya kemudian. Jessica tak memperdulikannya.

“Mungkin akan baik-baik saja jika kita yang memakannya, tapi Tiffany? Dia harus mengkonsumsi makanan yang baik agar bayinya sehat”

Yoona menghela nafas. Hilang sudah kesempatannya.

“Tapi Sica-ya”

Tiffany menatap berbagai menu yang dijual seorang Ahjumma didepan mereka. Terdapat banyak jajanan yang sepertinya lezat. Jessica tidak tega melihatnya. Tiffany pasti juga mengidam. Tidak ada pilihan lain selain mengizinkannya jika dia tidak ingin berakibat pada bayi Tiffany dikemudian hari.

“Aish! Jjinja! Pokoknya ini terakhir kali kita ke pasar!”

Tiffany dan Yoona saling lirik. Keduanya tersenyum lebar dan dengan cepat memilih berbagai makanan yang mereka suka dan inginkan. Jessica memukul lengan Yoona. Tentu dia gemas melihat wajah sumringah gadis itu.

“Kau ingin yang mana lagi, Unnie?”

“Itu”

Tiffany menunjuk semangkuk penuh mandoo. Yoona mengangguk dan dengan cepat memasukkan beberapa mandoo kedalam kantong plastiknya.

Hidung Tiffany mencium aroma buah semangka. Entah karena dia sedang hamil, aroma semangka itu tercium sangat harum. Saat dia menoleh, ternyata seorang Ahjussi penjual buah disebelah mereka sedang membelah buah semangka untuk seorang pembeli.

Mengerti arti dari perilaku sahabatnya itu, Jessica pun mendekati si penjual semangka. Tiffany tersenyum senang dibelakangnya.

“Ada yang bisa saya bantu, Agasshi?”

“Ah, aku ingin bertanya. Berapa harga semangka ini, Ahjussi?”

“Perkilonya 10 ribu won, Agasshi”

“Omo. Kenapa mahal sekali?”

“Ini bukan semangka dari desa ini, Agasshi. Mereka baru memulai masa tanam jadi belum panen. Kami datang dari perkebunan didesa dekat pegunungan Jiri. Lagi pula, ini semangka kualitas terbaik, tentu harganya sangat mahal”

Jessica mengangguk saja. Ia meminta bantuan penjual itu untuk memilih semangka yang paling baik. Sesaat kemudian, dua buah semangka yang sudah diberi tali oleh si penjual agar mudah dibawa sudah berada ditangannya.

“Yakin semangka ini maniskan, Ahjussi?” Penjual itu tertawa.

“Tentu, Agasshi. Ini semangka kualitas baik. Aromanya harum, warnanya merah cerah. Sangat manis”

Jessica mengangguk. Penjual memang seperti itu bukan? Tapi sepertinya Ahjussi itu tidak berbohong, buktinya potongan semangka yang tadi dia belah terlihat persis seperti yang ia ucapkan.

“Kalian berasal dari mana, Agasshi?”

Sambil mencari kembaliannya, Ahjussi itu bertanya. Selama dia berjualan dipasar ini, dia memang tidak pernah melihat Jessica dan dua wanita cantik yang bersamanya.

“Kami dari Seoul”

“Seoul? Aigo. Itu jauh sekali” Ahjussi itu memberikan kembaliannya.

“Terima kasih, Agasshi. Selamat menikmati semangkanya”

“Ne”

Jessica membawa dua buah semangka yang cukup berat itu. Tiffany menghampirinya.

“Wah, sepertinya manis” Serunya tak sabar.

“Kau tidak ingin yang lain? Kita bisa membelinya selagi masih disini”

“Aku melihat minuman yang dicampur dengan beberapa sirop, es juga susu disana. Terlihat sangat segar, Unnie” Yoona yang sudah selesai dengan jajanannya berkata.

“Itu semua menggunakan pewarna dan pemanis buatan. Tidak boleh”

Yoona cemberut. Tiffany merangkulnya seraya tersenyum.

“Gwenchana, ini sudah lebih dari cukup” Ucapnya kemudian.

“Kalian sudah selesai?”

Kim Ahjumma yang tadi pamit mencari gula dan madu kembali. Setelah memastikan semuanya lengkap dan tidak ada yang tertinggal, mereka pun segera mencari bus untuk pulang.

***Sifany***

“Hei, tersenyumlah sedikit. Kau tampak kusut sekali”

Si won meneguk coffee yang dibawakan Dong hae untuknya. Keduanya tengah menghabiskan waktu makan siang di sebuah cafe tak jauh dari kantor Si won.

“Kau tahu ini sudah berapa lama, Hae? Dua minggu! Ck, aku bahkan bisa gila memikirkan dua minggu lagi tanpa Tiffany”

Dong hae tersenyum saja dikursinya.

“Gwenchana. Satu bulan itu tidak lama. Buktinya, dua minggu terakhir kau baik-baik saja, bukan?”

Si won kembali meneguk coffee-nya. Siapa bilang dia baik-baik saja? Dia tidak bisa bekerja atau bahkan tidur dengan nyenyak karena mengkhawatirkan Tiffany yang jauh darinya.

“Aku selalu menelfon Jessica. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Tiffany dan bayi kalian baik-baik saja”

Si won mengangguk saja. Dia tahu kalau Tiffany tahu menjaga dirinya. Tapi tetap saja dia khawatir. Tunggu, sepertinya ada yang aneh dengan kalimat Dong hae barusan.

Si won merasa sangat yakin setelah mengingat kembali kalimat itu. Terlebih setelah melihat bagaimana terkejutnya Dong hae atas kalimatnya sendiri.

Dong hae memejamkan matanya. Dia tahu kalau dia sudah salah bicara.

“Kau barusan mengatakan apa?” Tuntutnya meminta kejelasan.

“Anni-anni. Aku tidak mengatakan apa-apa” Sanggah Dong hae. Namun mata tajam yang menatap  kearahnya membuat pria itu tidak punya pilihan.

“Baiklah. Sehari sebelum mereka berangkat, Jessica menyadari sesuatu yang berbeda pada Tiffany. Karena dia dokter kandungan tentu dia tahu bagaimana bentuk tubuh wanita hamil. Mereka memeriksanya ke laboratorium dan hasilnya, positif”

Si won rasanya ingin sekali terjun dari Seoul Tower saking marahnya setelah mendengar penjelasan Dong hae. Istrinya hamil sementara dia tidak  diberitahu? Malah pergi ke tempat yang jauh dari pusat kota.

“Kau pasti tahu alasan kenapa Tiffany tidak memberitahumu. Dia takut kau tidak akan mengijinkannya pergi ke Dangju”

“Tentu saja! Aku bodoh jika mengijinkannya pergi dengan kondisi seperti itu!” Bentak Si won. Dong hae hanya menghela nafas.

“Aku akan menjemputnya”

“Hei!” Dong hae menahan tangan Si won sebelum pria itu bangkit.

“Ku mohon jangan seperti ini, Si won-ah. Coba kau bayangkan bagaimana perasaan Tiffany jika kau menjemputnya. Dia sangat ingin ikut dalam kegiatan ini sementara kau selalu melarangnya. Tiffany sudah terlanjur pergi, setidaknya biarkan dia untuk kali ini saja”

Si won melepas tangannya dari Dong hae. Dihirupnya oksigen banyak-banyak agar ia tetap merasa tenang.

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Yoona dan Jessica akan menjaga Tiffany seperti halnya dirimu. Dia akan baik-baik saja. Kau hanya perlu untuk tidak mengganggunya sepanjang hari karena telfonmu”

“Mwo?”

Si won tampak sangat kesal. Jadi semua orang menganggap telfonnya mengganggu Tiffany?

“Percayalah. Ini semua untuk kebaikan Tiffany dan calon bayi kalian”

Si won berkacak pinggang sambil menarik nafas dalam-dalam. Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa saking marahnya.

Hal ini terus mengganggu Si won sepanjang hari. Dikamarnya, ia terlihat bimbang. Ia tidak tahu harus bagaimana. Jika ia mengikuti kata hatinya, sudah lama dia bertindak. Ia jelas kecewa dengan fakta bahwa Tiffany merahasiakan kehamilan itu darinya. Dan dia membiarkan istrinya pergi dengan keadaan seperti itu?

“Aish! Aku bisa gila!”

Si won meremas rambutnya. Matanya beralih pada ponselnya yang terletak diatas meja. Ingin Si won menelfon Tiffany untuk menanyakan kabar wanita itu. Tapi sepertinya sudah terlalu malam. Tiffany pasti sedang beristirahat.

“Baiklah. Setidaknya aku harus menunggu”

***Sifany***

“Wae, Unnie?”

Yoona mendekati Tiffany sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sejak kembali dari pasar kemarin, wanita itu memang terkesan lebih diam dan selalu memegang ponselnya. Tiffany menarik nafas lalu membuangnya dengan pelan.

“Yoong, kau merasa ada yang aneh tidak?”

Yoona  mengerutkan keningnya lalu duduk berhadapan dengan Tiffany.

“Soal?” Tanyanya ingin tahu. Apa keanehan yang dimaksud Tiffany?

“Si won Oppa belum menelfonku sejak kemarin siang” Mulut Yoona terbuka lebar.

“Jjinja?” Tanyanya tak percaya. Direbutnya ponsel Tiffany dan melihat panggilan masuk. Memang tidak ada panggilan dari Si won sejak kemarin. Yoona mengerutkan keningnya. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa gerangan yang membuat kakak sepupunya itu seperti ini?

“Mungkin dia sibuk, Unnie. Selama ini dia selalu mengganggumu, mungkin sekarang pekerjaan menyita semua waktunya” Yoona mengembalikan ponsel itu pada Tiffany.

Tiffany mengangguk. Semoga Si won baik-baik saja.

“Hm, mungkin kau benar”

Tiffany meletakkan ponselnya dimeja nakas. Seketika ia menoleh cepat, terkejut karena tiba-tiba Yoona mencolek pinggangnya. Terlihat Yoona sedang memasang wajah manis menggodanya.

“Wae?” Tiffany bertanya.

“Ternyata cukup membosankan jika tidak mendengar kecerewetan seorang Choi Si won” Keduanya tertawa. Tepat saat itu Jessica masuk dengan nampan berisi susu ditangannya.

‘Tiff, kau harus minum susunya” Serunya begitu mendekat. Tiffany menatapnya tak suka.

“Tapi ada `Si won` yang lain disini” Sinis Tiffany. Yoona terkikik geli dibuatnya.

“Jangan cerewet. Ikuti saja perintahku atau aku akan mengatakan semuanya pada Si won”

Tiffany dengan cepat meminum susunya. Dia tidak mau Si won mengetahuinya dan menjemputnya paksa. Ini sudah separuh jalan. Hanya tinggal dua minggu lagi mereka disini.

“Gumawo, Sica-ya” Gadis berambut cokelat itu tersenyum manis.

“Ayo, sebaiknya kita tidur”

“Ne”

Tiffany dan Yoona berseru kompak dan mulai menyiapkan kasur berikut selimut serta bantal masing-masing. Namun kegiatan mereka terhenti ketika Ahjumma memanggil dengan panik. Penasaran dengan apa yang terjadi dengan cepat ketiganya keluar dari kamar.

“Ada apa, Ahjumma?”

Yoona bertanya. Mereka melihat seorang wanita paruh baya berada diluar tak kalah panik dengan Kim Ahjumma.

“Itu Baek Ahjumma, dia datang karena putrinya sekarang kesakitan ingin melahirkan”

“Jjinja?” Jessica merespon cepat.

“Kita harus cepat, Agasshi. Suaminya sudah membawanya ke balai desa”

“Ah, ne”

Jessica masuk untuk mengambil cardigannya. Dia yang sibuk seketika berhenti  ketika menyaksikan Yoona dan Tiffany juga sibuk memakai mantel dan sweater mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” Jessica bertanya membuat Yoona menatap kearahnya.

“Apalagi, kita harus bergegas untuk menolong putri Baek Ahjumma”

“Siapa yang menyuruh kalian ikut. Ini hanya tugasku”

“Wae, tugas kita semua disini sama, Sica-ya” Tukas Tiffany. Jessica memakai kaos kakinya dengan cepat.

“Aku akan pergi dengan perawat Nam dan dokter Han. Pastikan kalian sudah tidur saat aku kembali, aratchi?”

Gadis itu pergi dan dengan cepat menutup pintu. Tiffany dan Yoona saling pandang dalam diam. Sesaat kemudian keduanya tersenyum kecil dan mulai melepas mantel serta sweater yang baru mereka kenakan.

“Perhatian dan kasih sayang yang berlebihan ternyata sangat menyebalkan” Sungut Yoona. Tiffany tertawa saja. Dia sudah terbiasa akan hal itu karena Si won.

***Sifany***

“Ah, menenangkan sekali”

Yoona merentangkan tangannya sembari menghirup udara sore. Ia, Tiffany dan Jessica sedang menghabiskan waktu dengan menikmati sinar jingga dilangit Dangju. Puas udara segar memenuhi rongga hidung dan paru-parunya, gadis kurus itu bergabung dengan Tiffany dan Jessica yang duduk diatas bangku. Mereka juga terlihat menikmati suasana sore yang menawan itu.

“Sejujurnya, Dangju jauh lebih baik dari desa-desa yang kita kunjungi sebelumnya” Jessica berkomentar. Yoona yang ada disebelahnya mengangguk. Penasaran, Tiffany pun menatap keduanya.

“Jjinja?”

“Eoh” Yoona menjawab dan melanjutkan.

“Desa ini jauh lebih baik, Unnie. Setidaknya masyarakat tidak kelaparan. Aku masih ingat ketika pertama kali mengikuti kegiatan ini. Tempatnya sangat jauh dan kekurangan air bersih”

“Bahkan saat itu tidak ada jaringan telefon” Tambah Jessica. Tiffany mengangguk mengerti.

“Ingat saat kita ke Pulau Bijindo? Disana tidak ada alat transportasi dan jaringan telfon tapi kita bisa makan ikan dan hasil laut sepuasnya” Kenang Jessica.

“Belum lagi ketika kami mengunjungi desa perbatasan, sangat mengerikan dimana penduduk menolak kedatangan dan bakti kami. Tapi setidaknya kami bisa melakukan tugas sampai akhir walau penuh kecemasan” Tambah Yoona.

“Tapi kurasa kalian tidak akan kesulitan beradaptasi” Yoona melambaikan tangannya bangga.

“Awalnya tentu saja terasa canggung. Namun aku senang karena ada Sica Unnie yang membantuku. Aku masih ingat ketika dia memberiku air minumnya padahal aku tahu dia juga haus”

Yoona mengingat kisah tiga tahun lalu ketika pertama kalinya mereka ikut dalam kegiatan semacam ini. Air matanya menggenang karena haru. Jessica merangkulnya hangat. Tak mau ketinggalan, Tiffany pun ikut memeluknya.

“Dan kau menghabiskannya walau tahu dia mungkin belum minum, eoh?”

“Akh!”

Yoona berteriak ketika Tiffany menjewer kupingnya. Air matanya jatuh. Bukan karena jeweran ditelinganya tapi karena ikatan antara mereka bertiga yang bergitu erat.

“Ku harap kita akan terus bersama sampai tua, Unnie. Bahkan sampai ke anak-anak kita” Kalimat Yoona membuat mereka tersenyum dalam diam.

“Tentu” Jessica bersuara.

“Mungkin akan terjadi sedikit kesalahpahaman dan masalah dikemudian hari. Wajar jika kita memilih menjauh satu sama lain untuk sementara waktu. Namun itu bukanlah hal yang bisa menghapuskan ikatan kita. Masalah yang datang hanya akan lebih memper-erat hubungan ini. Berjanjilah untuk terus bersama walau apa pun yang terjadi, aracthi?”

Yoona menitikkan air mata. Tiffany mengangguk dan menyeka air matanya. Dia sangat berharap pada Tuhan jika persahabatan mereka tidak akan pernah putus walau apa pun yang terjadi.

Jessica ikut menghapus air mata dengan jemari tangannya.

“Kajja, sebaiknya kita kembali dan membantu Kim Ahjumma menyiapkan makan malam”

“Ne”

Tiffany dan Yoona bangkit. Jessica merapatkan sweaternya lalu merangkul kedua pinggang sahabatnya. Ketiganya tersenyum lebar dan berjalan beriringan menuju rumah Kim Ahjumma. Ketika jarak mereka tinggal tiga meter dengan pekarangan rumah keluarga Kim, Jessica pun berucap.

“Hanya yang paling cepat yang dapat porsi makan malam lebih, aratchi?”

Dengan sengaja, Jessica segera menarik Tiffany. Berlari meninggalkan Yoona yang terlihat shcok dan tidak terima dibelakang.

“Unnie, andwae!”

**Sifany***

“Tidak terasa hampir satu bulan berlalu, bukan? Desa kami akan kembali sepi tanpa kalian semua”

Semuanya tersenyum mendengar ucapan Kim Ahjussi. Malam itu, semua dokter dan perawat berkumpul untuk makan malam bersama. Karena hanya tinggal beberapa hari lagi, mereka harus lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

“Itu benar, waktu memang cepat berlalu dan kita tidak bisa mengulangnya. Terima kasih atas kerja sama yang baik ini, Ahjussi. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi para dokter dan tenaga medis dirumah sakit kami”

Semua mengangguk setuju dengan ucapan dokter Lee.

Ditengah acara tersebut, Tiffany terkejut ketika sebuah telfon masuk. Dari Si won!

Tiffany segera menjauh dari tempat itu setelah pamit pada Yoona dan Jessica.

“Oppa! Oppa kenapa kau baru menelfonku?! Kau tahu aku menunggunya sejak kemarin? Aku merindukanmu”

Tiffany benar-benar tidak bisa menahan diri. Dia yang tadinya antusias terdiam saat menyadari pria diseberang sana tak bersuara sedikit pun.

“Oppa” Panggil Tiffany. Cukup cemas dengan keadaan Si won. Terdengar helaan nafas berat pria itu.

Si won masih mengontrol dirinya. Dia tidak ingin memarahi Tiffany saat ini walau menurutnya dia bisa melakukan apa saja. Termasuk membawa wanita itu pulang.

“Gwenchana?”

Pertanyaan itu membuat Tiffany sedikit lega. Sepertinya ada yang aneh dengan suaminya. Sejak kemarin pria itu tidak menghubunginya. Dan ketika menelfon, hanya diam dan bertanya `gwenchana?`

“Oppa, kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” Jelas terlihat kecemasan dalam nada suaranya.

“Eoh. Aku baik-baik saja. Kau?”

Tiffany makin tidak nyaman. Dia bisa merasakan suara pria itu bergetar.

“Oppa, kau menangis?”

Dikamarnya, Si won tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ditangannya terdapat hasil lab pemeriksaan Tiffany yang ia temukan dilaci meja rias.

“Oppa…”

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Fany-ah? Kau benar-benar membuatku merasa bersalah. Kau tahu?” Si won menarik nafas sejenak.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengarnya. Kau benar-benar membuatku menjadi Appa yang buruk. Aku harusnya tahu saat dia hadir dalam kehidupan kita

Tiffany menunduk. Dia merasa sangat bersalah. Si won pasti kecewa.

“Mianhe. Aku terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. Harusnya aku memberitahumu tapi aku takut kalau-”

“Gwenchana. Aku harap, kau akan baik-baik saja. Kau belum tidur?”

“Sebentar lagi, Oppa”

“Hubungi aku kapan pun kau butuh”

“Hm. Sekali lagi aku minta maaf, Oppa”

“Tidak masalah selama kau berjanji akan berhati-hati”

“Ne” Angguk Tiffany.

“Oh ya, bisa kau berikan telfonnya pada Jessica? Ada hal yang perlu aku bicarakan dengannya”

“Jessica? Ne”

Tiffany mengedarkan pandangannya kearah sekelompok orang yang asyik tertawa bersama itu. Tak mau menunggu, segera ia beranjak dan menghampiri Jessica dengan menepuk pundak gadis itu.

“Eoh, Fany-ah. Wae?”

“Si won Oppa ingin bicara padamu”

“Hm?”

Jessica mengambil ponsel yang disodorkan Tiffany. Disuruhnya wanita itu untuk duduk kemudian ia menjauh untuk menjawab telfon Si won.

“Ne, Oppa. Waeyo?”

***Sifany***

Helaan nafas terus terdengar dari mulut Tiffany. Wanita itu sejak tadi lebih sering terdiam. Dia juga tidak berkonsentrasi pada pekerjaan. Bahkan, dia memberikan obat diare pada pasien deman dan flu. Untung saja saat itu Yoona melihatnya. Coba kalau tidak?

Yoona dan Jessica tentu merasa heran dengan tingkahnya. Tapi mereka tidak sempat bertanya karena kesibukan masing-masing. Malamnya, ketika bersiap untuk tidur, mereka pun bertanya.

“Sepertinya terjadi sesuatu. Apa itu?”

Jessica memulai. Tiffany sibuk memainkan jemarinya seraya menatap langit-langit kamar. Sesaat dia menghela nafas.

“Si won Oppa sudah tahu kalau aku hamil”

“MWO?!”

Tiffany menutup kupingnya saat Yoona berteriak. Jessica yang paling ujung memukul Yoona dengan bantalnya.

“Ya! Kecilkan suaramu. Bagaimana kalau Kim Ahjussi dan Ahjumma terbangun?”

Yoona dengan cepat duduk dari posisinya.

“Jjinjayo, Unnie? Si won Oppa sudah tahu?” Tanyanya lagi. Tiffany menjawab dengan anggukan.

“Bagaimana reaksinya?” Jessica ikut bertanya.

“Dia sangat tenang dari apa yang aku bayangkan”

“Jjinja?” Yoona dan Jessica saling lirik tak yakin.

“Hm. Dia hanya menyuruhku untuk berhati-hati dan tetap mengkonsumsi makanan yang baik”

Kening Yoona berkerut. Belum terbiasa dengan sikap Si won yang tiba-tiba berubah.

“Eih. Tidakkah ini aneh? Tidak biasanya Si won Oppa seperti ini. Apa karena ini tentang bayi kalian?”

Semuanya diam. Ikut memikirkan ada apa sebenarnya dengan seorang Choi Si won.

“Gwenchana, ini lebih baik dari pada dia memaksa menjemput Tiffany. Sebaiknya kita tidur. Besok kita masih banyak pekerjaan”

Keduanya mengangguk setuju. Lagi pula malam juga sudah larut. Bagi Tiffany sendiri, dia memang masih merasa janggal dengan reaksi yang ditunjukkan Si won. Namun dia tahu kalau suaminya itu akan lebih mementingkan dirinya dan bayi mereka. Mata Tiffany beralih menatap kalender yang tergantung didinding kamar. Bibirnya tersenyum manis sebelum memejamkan matanya untuk tidur.

***Sifany***

Tiffany menghembus nafas setelah menghirupnya dalam-dalam. Matanya menatap pemandangan sekitar desa dan langit malam. Tidak lama lagi, dia akan meninggalkan tempat ini dan kembali bersama Si won. Dia pasti akan merindukan suasana desa yang tenang ini.

“Fany-ah”

“Hm?”

“Aku merindukanmu” Senyum lembut terukir diwajah cantik Tiffany. Senang sekaligus berbunga-bunga mendengar kalimat Si won.

“Aku juga, Oppa. Bahkan sangat”

“Aku lebih banyak”

Tiffany tertawa kecil. Lama keduanya kembali terdiam. Si won memang tidak seperti dulu. Dia tidak terlalu sering menelfon. Nada bicaranya juga terkesan lebih tenang dan sabar.

“Oppa dirumah?”

Si won duduk dibed sofanya lalu menyalakan TV. Dia baru saja pulang dari rumah orang tuanya untuk makan malam.

“Hm. Membosankan sekali tanpamu disini”

“Kenapa tidak keluar mencari udara segar. Oppa bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan, mungkin?”

Si won mengangkat kakinya dan berselonjor disofa.

“Seperti?” Tanyanya. Ingin tahu apa hal menyenangkan yang dimaksud.

“Eum…menggoda yeoja seksi?”

Terdengar tawa Si won memenuhi kamar berdesain modern minimalis tersebut.

“Wae? Ku dengar wajar jika para suami sesekali berselingkuh”

Si won berdecak mendengarnya. Sayangnya dia bukan tipe pria yang seperti itu.

“Haruskah aku melakukannya?”

“Silahkan saja jika Oppa mau”

“Dan jika aku melakukannya, kau juga akan mencari pria lain disana. Begitu maksudmu?” Giliran Tiffany yang tertawa.

“Tentu saja. Kenapa hanya Oppa yang boleh bersenang-senang?”

`Ck. Silahkan saja jika kau ingin aku menggusur desa bernama Dangju itu`

Si won membatin. Dia tidak ingin berbicara kasar karena takut bayi mereka akan mendengarnya. Waktu makan malam bersama orang tuanya tadi, Si won sudah bercerita tentang  kabar kehamilan Tiffany. Sama seperti Si won, mereka juga terkejut. Terlebih Nyonya Choi. Raut wajahnya seperti tengah menyesali sesuatu. Tapi Si won tidak sempat bertanya karena Oemmanya lebih dulu menceramahinya tentang apa saja yang harus ia lakukan sebagai calon Ayah.

“Bayi kita baik-baik saja?” Tiffany meraba perutnya. Tersenyum.

“Hm. Aunty-nya yang cerewet itu menjaganya dengan sangat baik” Si won tersenyum lega.

“Sampaikan ucapan terima kasihku pada Jessica. Jika dia dan Dong hae menikah nanti, aku akan mengurus semua biaya upacara pernikahan, pesta sampai bulan madu mereka”

“Omo, Oppa. Kau baik sekali. Tapi sepertinya Jessica tidak akan menerimanya. Kau pasti tahu dia orang yang seperti apa”

Si won menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Katakan apa yang dia inginkan, aku akan memenuhinya. Tapi dia harus menjamin kalau kau dan bayi kita baik-baik saja sampai kalian kembali. Dua hari lagi, bukan?”

“Hm” Terdengar Si won menghela nafas lega.

“Akhirnya” Tiffany tersenyum dibuatnya.

“Waktu tidak akan terasa lama jika kita menunggu dengan sabar, Oppa”

“Kau benar” Si won melirik jam tangan yang melingkar dilengan kirinya.

“Sudah malam. Kau sebaiknya istirahat”

“Ne. Oppa juga. Semalam malam”

“Malam”

Tiffany menutup telfonnya dan tersenyum. Jessica yang baru masuk ke kamar meliriknya.

“Wae?”

“Aniyo” Jawabnya kemudian bangkit.

“Apa semuanya sudah siap?” Jessica mengangguk.

“Setelah sarapan kita masih memiliki jadwal dibalai desa. Hanya semacam acara perpisahan dengan warga desa”

“Yoona?”

“Yoona sedang membuatkan susu untukmu. Aku akan membantu Kim Ahjumma dan beberapa Ibu-Ibu membuat hidangan untuk besok. Kau sebaiknya tidur setelah Yoona mengantarkan susunya”

“Sica-ya. Ini malam terakhir kita disini. Bisakah kau bertoleransi sedikit saja. Eoh?” Tiffany memohon. Setelah berpikir sejenak, Jessica akhirnya mengangguk.

“Pakai mantelmu” Tiffany tersenyum senang.

“NE!”

***Sifany***

Tepuk tangan mengiringi kepala desa, Kim Ahjussi ketika dia menaiki panggung sedernaha yang dibangun secara bersama oleh warga. Semua warga berkumpul dibalai desa untuk menghadiri acara perpisahan antara dokter-dokter dari Seoul dan warga setempat.

Kebanyakan dari penduduk yang datang menitikkan air mata ketika sang Kepala desa menyampaikan pidatonya.

“Awalnya, kita memang bukan siapa-siapa. Kita tidak saling mengenal satu sama lain. Satu jam begitu cepat membuat kita saling mengenal layaknya keluarga. Satu bulan pun tak terasa sudah berlalu. Terima kasih atas semua bakti dan kerja keras kalian selama mengabdi di desa kami. Semua perbuatan baik ini akan mendapatkan balasan yang baik pula dikemudian hari. Terima kasih”

Kim Ahjussi membungkukkan badannya selama beberapa detik. Disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

Acara dilanjutkan dengan salam-salamam. Beberapa Ibu-ibu tak bisa membendung tangis mereka.

“Aigo, kenapa kalian hanya datang satu bulan? Tinggallah disini, Agasshi. Kami akan menjaga kalian dengan baik”

Jessica tersenyum mendengar ucapan istri dari salah satu aparatur desa itu.

“Gamsahamnida, Ahjumma. Jujur saja, kami ingin tinggal lebih lama disini. Namun kami masih memiliki tangung jawab atas pekerjaan dan keluarga kami. Terima kasih untuk satu bulan yang hangat ini”

“Jika kalian memiliki waktu luang datanglah untuk berkunjung. Kami akan menyambut kalian dengan senang hati”

“Gamsahamnida, Ahjumma” Ucap Yoona dan perawat Nam bersamaan.

“Tiffany Agasshi?”

Tiffany menolah ketika seorang Ahjumma memanggil namanya. Perempuan beusia 49 tahun itu mendekat dengan dua wadah plastik berbalut kain cokelat ditangannya.

“Ini obat herbal dan beberapa makanan lainnya. Baik untuk kandunganmu, Agasshi” Tiffany menerimanya dengan senyum haru.

“Semoga dia tumbuh dengan baik dan berhati mulia seperti orang tuanya”

Tiffany menatap perempuan itu penuh terima kasih lalu memberinya sebuah pelukan hangat.

“Gamsahamnida, Ahjumma”

“Anak-anak, jangan nakal dan selalu dengarkan orang tua kalian, aratchi?”

“NEE!”

“Belajar dan sekolah dengan rajin. Jika sudah besar dan sukses kita akan bertemu di Seoul, aratchi”

“NEEE!!!”

Sarang dan anak-anak lain berteriak kompak lalu berhambur memeluk Yoona. Mereka seolah tidak ingin melepas kepergian dokter cantik dan ramah itu.

Usai mengambil foto dan kalimat-kalimat perpisahan lainnya, bus yang datang satu jam lalu pun siap berangkat. Rombongan  dokter dan perawat sibuk membalas lambaian tangan, senyuman serta teriakan para penduduk agar mereka kembali. Terlebih anak-anak yang mengejar bus ketika alat transportasi besar itu bergerak meninggalkan desa.

Setelah bus menjauh dan suasana kembali tenang, semuanya terdiam. Mereka sibuk dengan diri sendiri. Tersenyum puas karena mereka meninggalkan kesan baik bagi desa yang telah mereka kunjungi.

Daun-daun pepohonan melambai diterpa angin seolah ikut mengucapkan selamat jalan. Burung-burung pun saling bersahutan mengiringi bus dengan logo rumah sakit terbaik di Korea tersebut. Sebuah niat baik yang diiringi dengan kerja keras yang nyata akan berakhir seperti yang diharapkan.

***Sifany***

Sebuah BMW putih berhenti didepan sebuah rumah dikawasan elit itu. Dong hae turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Tiffany.

“Ini weekend jadi Si won tidak kemana-mana. Aku sudah menelfonnya dan dia bilang dia dirumah”

“Gumawoyo, Oppa”

Jessica ikut turun dan memberikan koper Tiffany.

“Kau lelah?”

“Sedikit”

“Gwenchana. Kau sudah tiba dirumah dan istirahatlah”

“Ne”

Tiffany membalas lambaian tangan Jessica sebelum membuka pintu gerbang rumahnya. Dengan senyum dan hati yang berdebar, wanita itu menyeret kopernya menuju pintu masuk. Dia yakin Si won akan terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba ini. Dia memang sengaja mengatakan kalau mereka menunda kepulangan mereka selama dua hari.

Tiffany memperhatikan sekeliling rumah. Masih sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Tak mau menunggu lebih lama lagi, dengan perlahan telunjuk Tiffany memencet bel. Butuh waktu satu menit lebih menunggu sampai daun pintu terbuka.

***Sifany***

“Pemandangan di sekitar pulau ini sangat indah. Air lautnya bersih ditambah dengan hijaunya pepohonon. Pihak pengelola juga menawarkan fasilitas resort yang sangat nyaman dan berkelas. Dipastikan, liburan Anda bersama orang terkasih akan sangat mengesankan”

Kepala Si won manggut-manggut mendengar reporter perempuan berambut pendek itu menyampaikan liputannya tentang sebuah pulau nan indah dan romantis di Selandia baru.

“Sepertinya akan menyenangkan jika aku dan Tiffany kesana”

Si won tersenyum aneh membayangkannya. Lamunan konyolnya pun terganggu oleh bunyi bel. Si won melirik jam tangannya. Jam empat sore. Dia tidak ingat akan menerima tamu. Dan siapa yang datang?

Tak mau tamunya menunggu terlalu lama, Si won pun bangkit. Dipakainya sandal rumah lalu mematikan TV. Kaki panjangnya melangkah pasti menuju pintu utama. Matanya melirik kearah intercom. Meski tidak melihat siapa-siapa disana, Si won tetap membukan pintu. Jika ada orang iseng mengganggunya pasti akan menerima akibatnya. Dan ketika pintu terbuka, matanya mendapati seorang wanita tengah berdiri dengan sebuah koper disisi kanannya.

Alis Si won terangkat.

“Maaf, Anda siapa dan ada apa kemari?”

Wanita itu menggigit bibir bawahnya.

“Mm, aku…Tiffany. Aku istri dari pemilik rumah ini”

Alis Si won bergerak menyatu.

“Benarkah?” Tiffany menyampirkan rambutnya yang tergerai karena diterbangkan angin.

“Ne”

Si won bersedekap lalu bersandar didaun pintu. Memperhatikan penampilan wanita modis itu dari ujung kaki sampai rambut. Semuanya tampak rapi dan bersih. Tapi sepertinya ada sesuatu yang terlihat aneh.

“Menurutmu, istri macam apa yang pergi meninggalkan suaminya lalu kembali dengan kondisi seperti itu?”

Tiffany memegang perutnya yang masih rata.

“Mianhe, harusnya aku mengatakannya sejak awal”

“Dan saat kembali pun tidak memberitahu suaminya?” Tanya Si won lagi. Tiffany menunduk.

“Mianhe, aku hanya ingin memberi kejutan”

Tiffany menyesal. Dia tahu Si won pasti marah karena ia berbohong. Bukan hanya tentang kehamilannya namun juga tentang kepulangannya dari Dangju.

Si won yang sejak tadi menatapnya tajam akhirnya tersenyum.

“Aku terkejut” Ucapnya pelan. Tiffany mendongak dan mendapati Si won bergerak kearahnya. Sedetik kemudian dia sudah berada dalam pelukan hangat Si won. Dekapan hangat dan menenangkan yang ia rindukan selama ini akhirnya bisa kembali ia rasakan.

Tiffany menghapus air mata dengan jemarinya.

“Mianhe, Oppa” Suaranya bergetar. Si won mengusap kepala serta punggung istrinya agar ia merasa lebih tenang.

“Gwenchana. Tapi setelah ini kau tidak akan bisa kemana-mana lagi”

***Sifany***

Setiap hari dihabiskan Tiffany untuk beristirahat. Setelah kembali dari Boseong, dia sempat sakit meskipun hanya demam ringan. Namun itu berhasil membuat Si won mengomel hebat dan tidak beranjak darinya barang semenit pun. Setelah ia pulih dan kembali sehat, dia tidak boleh melakukan apa pun tanpa seizin Si won. Terlebih lagi dengan kondisinya yang tengah berbadan dua. Dia tetap harus beristirahat dirumah tanpa ada pekerjaan yang mengganggu. Itu perintah!

“Selesai, berbalik”

Tiffany yang berbaring memunggungi Si won berbalik mengikuti perintah pria itu. Dia yang berbaring dipangkuan Si won berganti posisi menghadap pria tampan itu. Si won membuang cotton bad ditangannya dan menggantinya dengan yang baru. Setelah memperbaiki posisi kepala Tiffany dipangkuannya kembali dibersihkannya telinga sang istri.

Tiffany menghela nafas. Untuk membersihkan kedua telinganya yang dia yakin tidak kotor itu saja Si won butuh waktu satu jam.

Tiffany bergidik geli ketika Si won meniup telinganya.

“Oppa!” Rengeknya tak suka.

Si won hanya tersenyum. Setelah membersihkan lubang telinga Tiffany, Si won meraih sebuah sapu tangan. Dibasahinya dengan air hangat kemudian meremasnya. Dengan hati-hati, dibersihkannya daun telinga hingga bagian belakang telinga wanita cantik itu.

Si won bukannya khawatir dengan kuman atau apa pun yang menempel disekitar tubuh istrinya. Dia hanya terlalu merindukan wanita itu. Jadi dia akan melakukan apa saja agar mereka bisa selalu berdua seperti sekarang.

“Selesai”

“Jjinja?”

Tiffany bersorak senang. Akhirnya. Wanita dengan hotpants denim dan kaos putih kebesaran itu bangkit. Wajahnya yang tersenyum senang tiba-tiba berubah setelah Si won hanya menatapnya dalam diam.

Tiffany kembali duduk dibed sofa.

“Wae, apa masih belum selesai?” Tanyanya.

“Kuku-mu”

Tiffany memperhatikan kukunya.

“Oppa, kuku ku baik-baik saja. Oppa ingatkan kemarin aku dan Yoona ke nail art salon untuk membersihkannya. Kau juga yang menjemputku”

Tiffany menerangkan sembari menunjukkan kuku tangannya. Terlihat putih bersih tanpa warna kutek yang kurang baik untuk perkembangan janinnya.

“Berbaringlah. Dan letakkan kaki-mu disini” Perintah Si won.

“Oppa, kau bukan pelayanku. Lagi pula kau juga yang menggosoknya jika kita mandi bersama”

“Jadi kau ingin berbaring atau tidak?”

Tiffany mendengus. Dengan terpaksa akhirnya dia menghempaskan tubuhnya dan meletakkan kakinya dipangkuan Si won.

“Hati-hati, Fany-ah. Kau sedang hamil”

“Oppa, bukankah wanita hamil tidak boleh stress?”

Si won mengangguk. Tentu saja dia tahu akan hal itu.

“Karena itu Oppa, jangan lakukan hal ini. Kau membuatku tidak nyaman”

“Jangan mencari alasan. Aku melakukan semua ini agar kau merasa nyaman. Bukankah wanita hamil itu ingin dimanja?”

“Kau sudah cukup repot dengan pekerjaan dan meladeni nafsu makanku ditengah malam. Kau tidak harus melakukan semua ini, Oppa. Aku bisa menjaga tubuhku dengan baik”

“Gwenchana. Tubuhmu juga milikku jadi tidak ada salahnya jika aku juga menjaganya”

Tiffany akhirnya hanya memilih diam dan menerima setiap perlakuan Si won. Hanya buang-buang energy jika ia tetap melawan Si won.

Tiffany memperhatikan Si won yang membersihkan kuku serta kakinya dengan hati-hati. Dalam hati Tiffany sangat berterima kasih karena memiliki Si won sebagai suaminya. Pria yang mencintainya dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

“Kau ingin mengatakan kalau kau mencintaiku?” Si won tiba-tiba bersuara. Tentu dia tahu jika sejak tadi pandangan Tiffany tak lepas darinya.

Tiffany tersenyum. Kepalanya mengangguk sembari tangannya bersedekap.

“Eoh” Jawabnya pasti. Si won tersenyum dan  menatapanya.

“Katakan saja, aku siap mendengarnya”

“Aku mencintaimu”

Tiffany mengucapkannya tanpa ragu. Kalimat itu membuat keduanya saling pandang untuk beberapa detik. Kemudian berbagi senyuman.

“Aku juga. Bahkan sangat”

Tiffany tersenyum haru kemudian mendekat. Dikecupnya bibir Si won singkat dan kembali ke posisinya semula.

“Hanya itu?” Tanya Si won.

“Untuk sekarang, kurasa aku hanya bisa memberikan itu” Jawabnya cuek. Si won berdecak kemudian kembali membersihkan jari-jari kaki Tiffany. Sesaat kemudian, sebuah senyum jahil terpasang diwajahnya. Dengan pelan dan pasti digelitikinya telapak kaki Tiffany hingga wanita itu menjerit karena geli.

“Kyaaa!”

***Sifany***

Rumah Si won dan Tiffany ramai pagi ini. Ada Jessica dan Yoona juga kedua orang tua Si won. Namun Tuan Choi harus pergi ditengah obrolan karena dia memiliki acara lain. Para dokter cantik itu asyik menceritakan pengalaman mereka selama di desa Dangju. Sementara Nyonya Choi sibuk menceritakan kekacauan anaknya selama ditinggal Tiffany diikuti tawa bahagia Yoona.

“Pasti lucu sekali melihatnya secara langsung. Haha”

Si won menendang kaki Yoona dengan sengaja. Jelas ia sebal karena gadis itu selalu menertawakannya.

Nyonya Choi menatap Si won tak suka. Paham dengan arti tatapan itu, Si won meminta maaf pada Oemmanya. Tapi tidak terhadap sang adik sepupu.

“Siapa nama pasangan kepala desa tempat kalian tinggal?”

“Kim Ji pyo Ahjussi dan Hye ra Ahjumma” Yoona menjawab.

“Ah, Oemma dan Appa sangat berterima kasih pada mereka. Juga untuk semua masyarakat disana karena sudah menjaga kalian dengan sangat baik”

Semuanya mengangguk setuju.

“Kim Ahjussi dan Kim Ahjumma orang yang sangat baik, Imo. Imo tahu tidak, Kim Ahjumma bahkan membuatkan bubur kacang merah ditengah malam karena Fany Unnie menginginkannya”

Si won menatap Tiffany yang disambut anggukan wanita itu. Si won menggenggam jemari istrinya dengan  sayang.

“Benarkah? Aigo, melegakan sekali” Ungkap Nyonya Choi senang.

“Ne. Mereka memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Menyenangkan sekali bisa pergi kesana bersama-sama” Komentar Jessica. Nyonya Choi mendesah.

“Tapi kalau tahu Tiffany hamil sejak awal, Oemma tidak akan mengizinkannya pergi”

Semuanya saling pandang. Apa maksudnya? Sadar dengan situasi itu, Nyonya Choi berseru.

“Menurut kalian, kenapa tiba-tiba Si won bertemu dengan Direktur Park?”

Mulut semuanya terbuka. Nyonya Choi tersenyum.

“Jadi Oemma yang merencanakannya?” Tanya Si won seolah tak percaya. Nyonya Choi mengangguk kalem.

“Walau bagaimana pun juga, Oemma tahu jika Tiffany ingin pergi. Itu sebuah pekerjaan mulia jadi tidak ada salahnya. Oemma meminta Appamu menelfon Direktur Park dan ya, semuanya terjadi”

Si won tidak dapat berkata apa-apa. Dia tidak bisa marah karena pengakuan tersebut datang dari Oemmanya. Jika dipikir-pikir lagi tidak ada gunanya juga dia marah. Toh, semua sudah terjadi dan Tiffany pun sudah kembali dengan kondisi yang baik.

Mata Si won memperhatikan 4 perempuan yang tampak saling bercerita itu dengan senyum. Ada kepuasan tersendiri melihat orang terdekat dan dicintainya saling akur.

“Oh ya, bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?”

Semua tatapan langsung tertuju pada Jessica. Mereka juga menginginkan jawaban gadis itu.

“Lusa aku dan Dong hae Oppa akan mengunjungi wedding organizer untuk membahas konsep dan segala macamnya. Ku rasa, aku akan menjalani hari-hari yang melelahkan” Keluhnya. Semua yang ada disana tersenyum.

“Banyak orang yang akan membantumu, sayang. Jangan terlalu cemas” Pesan Nyonya Choi bijak.

“Ne. Gamsahamnida, Eommonim”

Yoona tertawa lalu tangannya merangkul bahu Jessica. Sebuah seringaian menggoda tergambar diwajah cantiknya.

“Itu benar, Unnie. Pengantin wanita tidak boleh kelelahan, bukan begitu, Unnie?”

Tiffany mengangguk mantap. Jessica mencubit pinggang Yoona hingga gadis itu memekik. Si won dan Oemma-nya hanya tersenyum melihat tingkah ketiganya.

“Jika kalian sudah memutuskan konsep yang cocok, hubungi aku. Aku akan mengurus semuanya”

Mulut Yoona terbuka lebar. Matanya menatap Si won yang masih setia duduk disisi Tiffany.

“Oppa, jadi maksudmu, kau akan membiayai seluruh pernikahan Sica Unnie? Oppa, aku juga mengurus Fany Unnie dengan baik salama di Dangju. Kau tahu itukan?”

“Jadi kau mengharapkan imbalan?”

Yoona menelengkan kepalanya. Lalu meringis kecil.

“Bukan seperti itu maksudku tapi-”

“Aku sudah membelikanmu mobil apa masih kurang?”

“Mobil itu hadiah ulang tahunku. Aku tidak pernah memintanya karena kau yang menjanjikannya. Dan itu tiga tahun lalu, Oppa”

Yoona masih terlihat tak terima karena ia tidak mendapatkan apa-apa. Si won memang sengaja membuat gadis itu kesal sebagai aksi balas dendam. Selama di Dangju Yoona selalu menutup telfonnya bersama Tiffany.

“Fany-ah, sebaiknya kau istirahat di kamar”

Tiffany tersenyum seraya bangkit dari duduknya. Si won membantunya karena usia kandungan Tiffany sudah menginjak usia 6 bulan.

“Eommonim, aku ke kamar dulu”

“Eoh. Istirahatlah. Oemma akan pulang bersama Yoona dan Jessica”

Semuanya mulai bersiap meninggalkan ruang tengah itu. Yoona meraih tasnya dengan cemberut. Kesal karena Si won mengacuhkannya. Nyonya Choi tersenyum seraya merangkul putri dari kakak perempuannya itu.

“Aigo, dia masih gadis kecil yang manja. Ingat, kau juga akan segera menikah, aratchi?”

Yoona mendesah dalam rangkulan sang Imo. Jessica hanya tersenyum.

“Ayo, sebaiknya kita pulang sekarang”

***Sifany***

Setelah mandi, Tiffany memilih bersantai dibalkon sambil menikmati mentari pagi yang menghangatkan. Kehamilannya sudah memasuki usia bulan ke sembilan. Sesuai dengan prediksi dokter, Tiffany akan melahirkan dalam minggu ini. Tidak hanya Si won dan Tiffany, keluarga keduanya juga sangat menantikan kelahiran bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut.

Seperti wanita yang hamil tua pada umumnya, Tiffany sering merasa lelah. Perutnya juga sering kram. Beruntung dia memiliki Si won yang selalu siaga untuknya. Oh ya, kemarin mereka baru saja menyelesaikan pemotretan. Bukan untuk dikomersilkan sebenarnya. Hanya sebagai bentuk terima kasih atas janin tersebut dan dokumentasi pribadi.

Mengenai persiapan, mereka tidak terlalu sibuk. Untuk perlengkapan bayi, mereka hanya membeli beberapa baju dan kaos kaki sebab ketika mereka mengadakan acara baby shower dibulan ke tujuh, mereka sudah menerima banyak perlengkapan bayi sebagai hadiah.

Untuk kamar, Tiffany tidak pernah berencana untuk membuatkan kamar calon bayi mereka. Ia hanya akan memerlukan box bayi dan meletakkannya dikamar mereka. Selain merasa aman, Tiffany rasa itu juga tidak akan merepotkan jika bayinya terbangun ditengah malam.

Kepala Tiffany menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Tampak olehnya Si won masuk dengan segelas susu dan sepotong roti.

“Oppa sudah sarapan?”

“Hm” Si won mengangguk. Dia duduk disebelah Tiffany setelah meletakkan nampannya dimeja.

“Minumlah”

Si won memberikan gelas susu dan Tiffany meminumnya. Belum habis, Tiffany mengembalikan gelasnya pada Si won. Si won menatapnya serius.

“Sampai kapan kau terus seperti ini, Fany-ah. Habiskan susunya”

Tiffany mengeleng. Matanya menatap Si won dengan ekpresi memohon. Pria itu menghela nafas.

“Tapi kau harus menghabiskannya. Kau ingin bayi kita tumbuh dengan sehat, bukan?”

“Oppa, aku meminumnya tiga kali sehari selama 9 bulan ini. Awalnya aku merasa baik-baik saja, tapi sekarang, aku pusing hanya dengan mencium aromanya”

Si won diam saja. Dia mengerti. Tiffany pasti bosan meminumnya setiap hari. Dia juga sudah berusaha mengganti rasa susu yang dikonsumsi Tiffany sesuai anjuran dokternya agar Tiffany tidak bosan. Namun tetap saja, Tiffany sangat rewel dan terkadang mereka harus beradu mulut.

Si won memilih membiarkannya kali ini. Toh, Tiffany sudah berusaha menghabiskan setengahnya.

“Kau ingin roti?”

“Eoh”

Si won membuang aluminium voil yang membungkus roti lalu memberikannya pada Tiffany. Untuk roti pun, Tiffany tidak ingin bahan dan rasa yang sama setiap hari.

Tiffany mengunyah rotinya dengan tenang. Si won memperhatikannya dengan ungkapan terima kasih dan doa. Terima kasih karena Tuhan telah memberikannya wanita seperti Tiffany Hwang dan berdoa agar persalinan berjalan lancar.

Sebagai seorang pria, Si won mungkin tidak akan pernah mengerti bagaimana sakitnya melahirkan. Untuk itu, dia bertekad akan selalu ada disisi Tiffany kapan pun. Mencintainya lebih dari sebelumnya dan menjaganya dengan sepenuh hati. Serta membesarkan dan mendidik putra mereka bersama-sama.

Tiffany menoleh ketika Si won mengusap kepalanya. Dia tersenyum melihat wajah pria itu. Dia tahu, Si won sangat mengkhawatirkan proses persalinannya. Tentu ada alasan disetiap tingkah laku yang ditunjukkan. Nyonya Hwang, Oemmanya meninggal setelah melahirkan dirinya. Si won sangat takut jika kejadian itu terulang. Karena alasan inilah, Si won selalu melakukan yang terbaik untuknya. Pria itu akan melakukan apa saja agar ia merasa nyaman selama kehamilannya.

Tiffany menyandarkan kepalanya didada Si won. Dipeluknya pria itu sebagai pengganti kalimat-kalimatnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka sudah melakukan yang terbaik selama ini. Dia yakin kalau semuanya akan berjalan lancar.

“Kuat dan berjuanglah untukku dan bayi kita, hm?”

Tiffany mengangguk dalam pelukan hangatnya.

***Sifany***

Burung berkicau nyaring menyambut datangnya pagi. Setelah mandi dan sarapan, Tiffany menyibukkan diri berkemas dikamar. Hari ini, Si won akan mengajak mereka keluar. Tiffany tidak tahu kemana tujuan mereka sampai harus menginap dan membawa beberapa baju ganti.

Begitu pakaian untuk mereka bertiga selesai dengan keperluan lainnya, Tiffany memilih turun. Dibawah, dia melihat Chris, putranya yang sudah menginjak usia 11 bulan sedang dipasangkan sepatu oleh Si won.

“Aigo, anak Mommy tampan sekali”

Tiffany mendekat dan mencium Chris dengan sayang. Si won yang melihat itu tersenyum. Begitu juga bayi tampan yang menggemaskan itu.

“Tentu saja, siapa dulu Appanya” Ucap Si won bangga. Tiffany hanya mencibir sebal.

“Apa pakaiannya sudah selesai dikemas?” Tiffany mengangguk.

“Ok. Kalau begitu kalian tunggu dimobil. Aku akan naik untuk mengambil koper”

“Kita akan kemana Oppa?” Tanya Tiffany menghentikan langkah Si won. Pria itu tersenyum.

“Nanti kau juga akan tahu” Ucapnya kemudian naik ke lantai atas. Tiffany menghela nafas. Ditatapnya Chris yang menatapnya sambil mengulum jemarinya.

“Daddy-mu menyebalkan sekali, bukan?” Anak itu tertawa saja. Tangannya terulur untuk menggapai wajah Tiffany. Tiffany pun meraihnya dan menciuminya dengan gemas.

Perjalanan mereka sudah ditempuh sekitar 5 jam. Setelah makan siang, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Semakin lama, Tiffany tidak bisa tidur. Setiap jalan yang mereka lewati atau pun pemandangan yang terlihat seolah pernah ia lihat. Terlebih setelah mereka melewati Boseong dan Suncheon. Benar, bukankah ini jalan menuju…

“Oppa”

Tiffany menatap Si won yang sibuk mengemudi. Pria itu tersenyum.

“Dangju” Ujar Si won seolah berbisik. Tiffany menatapnya tak percaya. Si won akan mengajaknya menginap di Dangju? Si won akan mengajak putra mereka menginjak desa?

“Oppa”

Tiffany tidak bisa berkata-kata. Ini terlalu mustahil. Si won tidak akan melakukan hal semacam itu, bukan?

Tiffany terkejut ketika tangan Si won menggenggam jemarinya. Keduanya saling pandang sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

“Bagaimana pun juga, Chris pernah tumbuh disana. Kurasa tidak ada salahnya jika kita membawanya untuk berkunjung. Lagi pula, warga desa pasti ingin bertemu dengannya”

Tiffany tersenyum sembari menitikkan air mata. Dia tidak menyangka Si won memiliki pemikiran seperti itu. Namun yang pasti dia sangat bangga dan senang.

“Mereka pasti senang melihat kita datang”

“Tentu”

Si won menginjak pedal gasnya lebih dalam. Perjalanan menuju Dangju akan terasa menyenangkan.

***Sifany***

Tiffany menutup pintu mobil setelah ia turun. Sejak beberapa menit yang lalu, dia tidak berhenti untuk bingung dan heran. Desa ini sudah berubah. Pemandangan dan alam sekitar masih sama. Namun rumah-rumah penduduk?  Semua fasilitas seperti klinik, apotek, bank dan lainnya juga lengkap.

“Oppa, apa yang terjadi?” Tiffany bertanya begitu Si won berdiri disampingnya.

“Appa dan Oemma sangat berterima kasih karena warga disini menjaga kalian dengan baik. Mengingat perusahaan keluarga kita bergerak dibidang real estate, apa salahnya. Kita bekerja sama dengan beberapa lembaga dan pemerintah untuk membangun desa ini”

Tiffany masih tidak percaya. Jadi selama ini, Si won dan orang tuanya diam-diam membangun desa ini agar lebih maju? Tiffany tersenyum penuh syukur. Warga desa pasti senang tinggal dirumah mereka yang baru dan layak tersebut.

“Dokter cantik sudah datang!”

Terdengar teriakan seorang anak, Min ho. Ia kemudian berlari mendekat disusul beberapa orang dewasa. Kim Ahjussi dan Ahjumma serta putri dan menantu mereka.

“Min ho-ya” Tiffany memeluknya sekilas.

“Aigo, kau makin tampan dan tinggi, hm?” Anak itu tersipu malu.

“Selamat datang Agasshi dan Tuan Choi. Kami senang mendengar kabar jika kalian akan berkunjung” Sambut Kim Ahjussi ramah.

“Gamsahamnida, Ahjussi” Ucap Si won. Tiffany menatap Kim Ahjumma kemudian memeluknya.

“Ahjumma” Kim Ahjumma memeluk wanita itu dengan hangat.

“Ahjumma senang kau melahirkan dengan sehat dan selamat, Agasshi”

“Dimana adik bayinya, dokter. Aku ingin melihatnya”

“Ah, dia masih tidur. Ahjussi akan mengambilkannya” Kata Si won.  Dibukanya pintu mobil dan menggendong Chris keluar. Kim Ahjumma langsung menggendongnya. Semua orang menatap bayi berkulit putih yang terlelap itu dengan senang.

“Aigo, tampan sekali” Seru Kim Ahjumma senang.

“Ne. Seperti Appanya” Ucap putri Kim Ahjumma seraya mengelus pipi Chris. Si won yang mendengar itu tersenyum bangga. Tiffany menyikutnya sebal.

“Ayo, sebaiknya kita masuk. Kalian pasti butuh istirahat” Ujar menantu Kim Ahjumma. Mereka mengangguk setuju.

“Yoona dan Jessica sedang dalam perjalanan” Si won berujar ketika mereka membuka sepatu untuk masuk. Tiffany menatap Si won tak percaya.

“Jjinja?” Tanyanya bahagia. Si won tersenyum lalu menggandeng tangan Tiffany.

“Ayo, sebaiknya kita masuk”

***Sifany***

Balai desa terlihat meriah dengan panggung dan beberapa balon serta hiasan lainnya. Sebuah spanduk bertuliskan kalimat `Selamat Datang Kembali` juga terbentang indah disisi atas panggung. Tempat itu semakin ramai dengan banyaknya warga yang datang untuk menghadiri acara peresmian desa mereka yang serba baru.

Bupati Boseong, Direktur Park, orang tua Si won serta beberapa orang dari lembaga pemerintahan juga datang untuk menghadiri  undangan tersebut. Mereka berharap, akan ada desa-desa berikutnya yang akan mendapatkan perhatian demikian baiknya dari berbagai kalangan agar pembangunan desa-desa tertinggal lebih cepat.

Si won menghirup udara yang benar-benar segar dan bersih pagi itu. Dia terbangun dan matanya langsung disuguhkan dengan hamparan sawah serta perbukitan yang indah. Matahari pun bersinar cerah setelah semalam hujan turun menyisakan genangan air dimana-mana.

“Benar-benar menakjubkan, bukan?”

Si won berbalik. Tiffany mendekat dan merapatkan sweaternya.

“Berencana untuk tinggal disini, Tuan?”

Si won tersenyum dan merangkul wanita itu sayang.

“Suka bukan berarti aku ingin tinggal disini, Nyonya”

Tiffany mengangguk. Dari kejauhan terlihat warga desa yang sudah kembali beraktivitas di sawah dan perkebunan.

“Oppa”

“Ya?”

“Aku ingin tahu, kenapa kau selalu melarangku untuk ikut dalam kegiatan amal?”

Si won terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

“Wae?” Tiffany menunggu jawaban.

“Sebenarnya, itu alasan yang sederhana”

Tiffany mendongak untuk menatap mata Si won.

“Seperti?”

“Aku tidak ingin  kau pergi karena aku tidak suka kau memperhatikan orang lain”

Kening Tiffany berkerut.

“Ng?”

“Kau milikku, Fany-ah. Aku tidak ingin kau menyentuh orang lain. Tidak suka kau mencemaskan orang lain. Terlebih menghabiskan waktu bersama orang lain selain aku”

Tiffany tidak bisa berkata-kata. Alasan-alasan itu membuatnya tak percaya.

“O-Oppa…”

“Semua ini karena cinta. Aku mencintaimu jadi, kurasa kau tidak butuh penjelasan lagi. Terima kasih telah mau hidup bersamaku dan melahirkan putraku. Aku tahu itu sulit. Tapi aku berjanji, cintaku akan bertambah setiap harinya. Hanya untukmu”

Tiffany tersenyum haru. Jika cinta yang ia dapatkan dari Si won bertambah setiap harinya maka cinta yang ia berikan untuk sang suami pun akan bertambah dua kali lipat disetiap harinya.

Tiffany mengalihkan pandangannya kearah perbukitan.

“Jika apa yang Oppa lakukan adalah karena cinta, bagaimana denganku?”

Kalimat itu membuat Si won menatap sang istri yang berdiri disampingnya.

“Aku melakukan semua ini juga karena alasan yang sama. Aku mencintai pekerjaanku. Aku tidak perlu menggambarkan bagaimana rasanya ketika melihat senyum bahagia orang yang memerlukan bantuan karena aku yakin Oppa mengetahuinya. Tapi yang pasti, aku senang dimana aku berguna untuk orang lain”

Si won tersenyum ditempatnya. Tentu dia tahu bagaimana rasanya membantu orang yang membutuhkan. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Si won menoleh untuk menatap wajah cantik yang tersenyum menikmati udara segar desa Dangju itu. Dia bergerak lebih dekat dan merangkulnya.

“Jadi, apa yang kau inginkan?” Mendengar itu, Tiffany tertawa kecil.

“Semua terserah pada suamiku. Aku bisa tetap tinggal dirumah atau pergi melakukan tugasku sebagai dokter”

Si won mengangguk dengan helaan nafas yang cukup panjang.

“Baiklah. Kita bisa membahasnya setelah kembali ke Seoul” Tiffany menatap Si won tak percaya.

“Jjinja?” Tanyanya senang. Si won mencubit hidungnya gemas.

“Lalu, apa rencanamu berikutnya?”

Tiffany memperhatikan taman yang dulunya dipenuhi semak belukar kini berubah menjadi taman bermain bagi anak-anak. Jessica dan Dong hae terlihat asyik menemani anak-anak desa Dangju bermain.

“Mungkin akan sulit membagi waktu jika aku bekerja di rumah sakit seperti sebelumnya. Aku ingin membuka praktek dan semua masyarakat Korea yang tidak mampu bisa datang ketempatku kapan pun mereka mau” Ya, itu adalah cita-cita Tiffany sejak awal. Si won disebelahnya mengangguk.

“Aku juga berpikir itu lebih baik karena kita bisa mempekerjakan dokter dan perawat”

Mata Tiffany menatap Si won tak percaya. Benarkah Si won akan melakukannya?

“Aku berjanji akan membagi waktuku dengan baik. Kapan aku harus bekerja dan kapan aku ada untuk suami dan putraku”

“Tentu tapi, untuk mewujudkan semua itu, ada syaratnya”

Tiffany menatapnya kaget. Pria itu mendekat dan meraba perutnya yang rata.

“Setelah putriku berusia dua tahun” Tiffany mematung ditempatnya. Apa? Melahirkan, lagi?

“Oppa” Tiffany ingin bersuara, yang Si won tahu kalau wanita itu akan mencari alasan.

“Aku yakin aku tidak akan memiliki kesempatan jika kau sudah sibuk dengan pekerjaanmu. Aku akan merealisasikannya begitu mendengar kabar baik.  Dan begitu dia berusia dua tahun, Tiffany Hospital akan mulai beroperasi. So?”

Si won menunggu. Tiffany terlihat menggigit bibirnya, berpikir. Setelah beberapa saat ia akhirnya mengangguk.

“Terlihat tidak ikhlas sekali” Komentar Si won. Tiffany menatapnya.

“Bukan begitu. Hanya saja, akan terasa merepotkan nantinya”

Si won menggenggam tangan Tiffany dengan hangat. Mengatakan jika ia akan selalu berada disisi wanita itu.

“Ingat, kau memiliki Choi Si won. Kau tidak perlu takut, aracthi?”

Tiffany tersenyum penuh terima kasih. Dia sangat beruntung terlahir ke dunia ini dan bertemu dengan Si won.

“Kau tahu kenapa aku begitu mencintaimu, Oppa?”

“Karena aku juga mencintaimu”

Keduanya saling pandang penuh makna. Tiffany tersenyum haru. Ia mendekat. Dipeluknya Si won dengan erat yang dibalas dengan senang hati oleh Si won. Tiffany tidak bisa berkata-kata. Tuhan sangat baik padanya karena memberikan orang-orang yang mencintainya dengan tulus. Mungkin semua ini merupakan pengganti cinta yang hilang dari sang Oemma untuknya semenjak ia kecil.

“Aish! Imo, lihat putramu. Dia menyebalkan sekali”

Semua orang tertawa melihat Yoona yang kesal karena Si won. Jelas saja gadis itu kesal sebab dia hanya ditinggal sendiri sementara Tiffany dan Si won serta Jessica dan Dong hae berkeliling desa. Tapi bukan salah siapa-siapa juga dia tidak bisa ikut. Dia sendiri yang memilih untuk bermain bersama Chris serta Sarang dan adik laki-lakinya.

Semua orang terlihat penuh suka cita dan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama. Mengingat kebersamaan mereka yang tak akan berlangsung lama jadi mereka harus memaksimalkannya. Karena besok-besok akan sulit memiliki waktu dimana mereka dapat berkumpul bersama.

THE END

 

111 thoughts on “(AF) Because Of Love

  1. *speechless* udh deh,jujur kalo baca ff disini gabisa komen apa2 abis keren2 semua :’) legaaaaa lah happy ending,uuuuuu gemes bgt sama siwon oppa,idaman bgt sih :’v </3 ,ngakak bgt pas siwon bilang mau ngurusin pernikahan haesica nanti,wkwk :') ♡♡ aigoo makasih thor udh selipin haesica :* muachhh,yoona hahaha jd korban kekesalan siwon mulu.POKOKNYA T.O.P BEGETE ♥♥ lafflaff

  2. waktu pertama baca sempat bingung kira si pria tampan yg sakit itu baru mau pertama kali bertemu fanny ee ternyata suamiistri😀
    siwon sweet bgt saking takutnya jau dari fanny sampai” setiap hari di telfonin ..
    pokoknya nih pasangan berdua emang benar” sweettt… bikin iri aja

  3. siwon memang suami yg sangat protektif dan teguh pendirian banget, konsisten pula dengan ucapannya. terbukti berbagai cara dilakukan tiffany mulai dari rayuan manis, bantuan dr nyonya choi dan yoona pun dilakukan bahkan sampai tiffany merajuk beberapa haripun, siwon tetap tidak mengizinkan tiffany ke dangju.
    siwon banyak memberikan berbagai alasan, memngingat desa dangju termasuk pedalaman tentu tidak akan ada bandara ataupun hotel disana. karena siwon sangat bergantung dan membutuhkan tiffany, siwon juga menjadikan segala keperluan sehari-hari seperti letak pakaian dan lainnya sebagai senjata untuk tidak mengizinkn tiffany ke dangju.
    tapi ternyata tiffany dapat izin ke dangju juga meskipun itu karena keterpaksaan siwon yg tidak bisa menjawab ucapan direktur park yg pintar berkata-kata dan tidak memberikan siwon kesempatan berbicara. dan hebatnya ternyata pertemuan itu juga terjadi berkat campur tangan tuan dan nyonya choi. keluarga choi memang dasarnya punya jiwa sosial yg tinggi.
    kabar kehamilan tiffany memang sempat membuat gelisah, tap untungnya jessica dan yoona adalah sahabat yg sangat setia dengan merahasiakan kehamilan tiffany dari siwon.
    luar biasanya siwon sampai menyiapkan segala keperluan dan fasilitas yg lengkap untuk tiffany selama di dangju, yah kecuali perlengkapan yg ada di desa dangju.
    saking terlalu ovenya siwon, dia bahkan setiap hari menelpon bahkan beberapa menit sekali hanya untuk menanyakan keperluannya atau juga karena memang merindukan tiffany, tapi dengan usilnya yoona selalu memutuskan sambungan tlp mereka.
    jessica dan yoona memang sangat perhatian dan sungguh menjaga tiffany dan bayinya dengan baik, bahkan jessica yg terlalu over protektif ke tiff. jess seakan jd pengganti siwon selama di dangju.
    meskipun dirahasiakan tetap saja kehamilannya diketahui siwon karena fonghae kelepasan bicara, tapi untungnya donghae bisa mencegah siwon untuk tdk menjemput tiffany dan membuat siwon jd lebih sabar utk tdk mnlp tiff sesering mungkin.
    kebayang gimana kecewa dan sedihnya siwon mendengar kehamilan tiff, bahkan dia merasa jd appa yg buruk. yah memang karena dirinya sendiri dan juga keegoisan tiffany.
    jetiyoon disini juga memiliki ikatan kasih sayang yg tulus dan sangat indah, apalagi ketika mereka menceritakan pengalaman bakti mereka. mereka d dangju juga selalu saling menjaga dan saling memperhatikan.
    ungkapan terima kasih dan juga syukur siwon memang ga main-main, dia sampai membiayai pernikahan haesica karena sica menjaga tiffany dengan baik dan pulang dengan keadaan utuh dan selamat. bahkan keluarga siwon juga ikut berperan dallam pembangunan desa dangju untuk kesejahteraan masyarakat disana karena rasa terima kasih dan syukur mereka karena telah menjaga dan memperlakukan tiffany dan semua staff RS dengan sangat baik.
    yg paling utama aku suka terhadap perlakuan serta cinta dan kasih sayang siwon ke tiff, siwon sangat mencintai, menjaga dan memperlakukan tiffany dengan penuh kasih sayang. sikap protektif siwon memang berlebihan tapi itusemua di lakukakknya karena sangat mencintai tiffany.
    ga bisa di ungkapkan deh gimana indahnya kisah mereka di ff ini, sifany begitu saling mencintai dan mereka merasa bersyukur dan berterima kasih terhadap tuhan karena mereka bisa saling mencintai dan meiliki.
    so sweet and so romantic
    keren banget ffnya, author @janisone emang selalu bikin ff yg manis tentang sifany couple..
    daebak….

  4. Meskipun very very longshot, tapi FF ini asli so sweet banget!
    Punya suami kayak Siwon adalah impian setiap wanita, dan pria sejenis itu cuma one in a million..
    Duh, author, bikin khayalanku ke mana2 nih. Tanggung jawab ya kalo aku terlalu delusional milih cowok gara2 bayangin nemu yg se-spesies kayak Siwon 😁😁😁

  5. Awalnya aku kira siwon tau duluan kalo tiffany hamil, makanya tiffany ga dikasi ikut T.T puas banget deh baca ff ini, aduhhhh luv bangettttt❤❤❤❤❤❤ ditunggu karya selanjutnya, hwaiting^^)/

  6. Happy END
    DAEBAK.. jinja DAEBAK
    type ideal bgt nh oppa, ampun dh
    Ga tau knp klo baca ff mreka tuh suka berimajinasi sndiri
    Apalagi klo udh genre marriage life
    OMG
    Bnr2 kluarga yg menyenangkan
    Lucu.. koplak lah pkok’a
    Sweet ^^

    Di tnggu karya2 daebak lainnya
    Hwaiting

  7. Waaahhh, sweet banget ceritanya siwon bikin ngiler .g aku suka ceritanya, dengan karakter siwon yang sangat protektif.. Penggambarannya juga bagus, ditunggu thor ff selanjutnya.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s