(AF) We do Believe

We do Believe

we do believe

Author : @zha_yurie

Cast : Choi Siwon-Tiffany Hwang-Lee Donghae-Jessica Jung-Lee Seunggi-Im Yoona-Kwon Yuri

Genre : AU, Family, Marriage-life, Friendship, Romance

Rating : PG16

Disclaimer : Seperti yang selalu ada di pembukaan ff, cast bukan milik saya (jelas!) dan blablabla … ini orginal keluar dari batok kepala dalam bentuk ide. Yang mo plagiat, mending minggat sana deh!

Note :

Finally, i come out, yeoreobun! *ala Taeyeon* Ini saya hidangkan lagi ff marriage-life dengan segala konflik di dalamnya. Mempersembahkan cast favorit saya : Sifany-Haesica. Jeti dan Soshi. Happy reading!

Pernikahan ini…

Untuk keluargaku, bukan untukku.

 

 

 

 

PROLOG

Langit sedang gelap dan angin berhembus kencang.

Ia berdiri di sana, menyambut angin malam yang menerpa tubuhnya dengan merentangkan kedua tangan. Ia memejamkan mata, seolah menikmati tiap helaan lembut angin itu. Namun, sungai kecil yang terbentuk di wajahnya memperlihatkan sisi lain dalam diamnya itu. Ia tidak sedang menikmati keindahan malam seperti yang lain. Ia justru tersiksa.

Wanita itu membuka mata dengan perlahan saat sapuan angin mulai berkurang. Perlahan,ia mengalihkan pandangan ke bawah. Kesibukan para manusia 25 meter di bawah tempatnya berdiri itu semakin bertambah.

Selain kesibukan para manusia itu,tepat di bawahnya hanyalah sebuah lahan kosong berbatu.Pasti akan menyakitkan jika ia terjatuh ke sana. Kedua tangannya bergetar saat ia maju dan mencengkram kuat besi pagar pembatas itu. Dingin dan menakutkan.

Tapi,bukankah dengan begini,ia hanya perlu sakit sekali untuk menghilangkan semua lukanya?Bukankah ia hanya perlu merasakan dingin dan ketakutan itu sekali sebelum membekukan semua deritanya?Ia mencengkram pagar pembatas semakin kuat lalu memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya,seiring dengan itu kakinya melangkah maju,menginjak pagar pembatas.

Ini akan menyakitkan.Ia tahu itu.Tapi,ia sudah terlalu lama merasakan kesakitan yang mungkin lebih parah dari itu.Ini tidak akan ada apa-apanya.

Tuhan…Aku ingin terbang…

Aku ingin bebas…

Sekali lagi,kaki yang satunya ikut naik berpijak di pagar pembatas.Ini saatnya…

Tapi,belum lagi ia melompat turun dan membekukan akhir cerita hidupnya,sebuah suara kecil yang bergetar menahannya.

“Eomma…”

Ia membuka mata dan menoleh. Seorang anak laki-laki sedang menatapnya dengan pandangan berair. Mata yang menyorotkan ketakutan itu sedang berkaca-kaca. Tangan mungilnya menggenggam erat boneka dolphin,seolah ia ingin menyalurkan sebagian ketakutannya di sana.

Wanita itu menunduk,memandang ke bawahnya.Ia perlu terjun untuk mulai terbang. Demi Tuhan,ia ingin terbang…

“Eomma…Please…jangan pergi! Jangan tinggalkan aku,eomma! Eomma…Please! Apa aku sudah menyakiti eomma? Apa aku sudah jahat pada eomma?Mi—mianhae,eomma…Mianhae..tapi,please jangan tinggalkan aku,eomma!”

Malaikat kecilnya terisak.Ia memejamkan mata rapat. Demi Tuhan,malaikat kecil itu tidak bersalah apa-apa! Bulir-bulir airmatanya terjatuh lagi. Isakan tangis di belakangnya semakin memilukan. Perasaannya tercabik. Kenapa justru malaikat kecil itu yang datang memohon? Ia tiba-tiba menyadari bahwa masalahnya tidak pernah sesederhana yang ia bayangkan. Kedua lututnya lemas. Ia terjatuh.

***

PART  1

 

Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Mohon tinggalkan pesan anda setelah bunyi berikut…”

Tiffany Hwang menarik napas panjang sebelum berbisik lirih pada telpon genggamnya.

“Oppa,kau dimana? Apa kau sudah makan? Jaga kesehatanmu baik-baik,oppa. Dan bisakah kau pulang ke rumah malam ini? Ada sesuatu yang harus kuberitahukan langsung padamu. Segera balas pesanku, please!”

Ia menggigit bibirnya dengan resah. Sudah puluhan kali panggilan dialihkan ke mailbox. Pesannya selalu sama. Tapi, ia belum juga mendapat balasan. Tiffany Hwang kembali menghela napas panjang dan menyimpan kembali ponselnya. Sudah sebulan … ia melirik figura foto yang terpasang di atas TV di ruangan itu. Foto pernikahan. Mereka terlihat sangat bahagia di sana. Tapi, sekarang ia merasa kehilangan.

Tiffany menyandarkan punggung di sandaran sofa. Matanya menatap kosong ke arah TV layar lebar di depannya. Pikirannya mulai bimbang. Haruskah ia menyalakan benda itu untuk mencari tahu kabar suaminya?

Belum lagi ia melakukan apapun, bunyi pintu terbuka mengalihkan perhatiannya dengan segera. Seorang wanita berumur yang anggun dalam balutan mantel bulu mahal baru saja masuk melalui pintu apartemennya. Tiffany segera bangkit dan membungkuk memberi salam pada wanita itu, ibunya. Ah, sebenarnya wanita yang masih terlihat muda itu bukan ibu kandungnya. Tapi bagit Tiffany, ia sangat menyayangi istri sang ayah sama seperti ia dulunya menyayangi ibu kandungnya. Toh hubungan mereka memang sangat baik. Segala cerita tentang kekejaman ibu tiri tidak pernah terbukti di keluarga mereka.

“Kau sendiri lagi? Apa dia belum pulang?”tanya nyonya Hwang, menyadari hanya Tiffany seorang yang berada di ruangan itu.

Tak ada tanggapan berlebihan dari Tiffany. Ia hanya membalas dengan senyum kecil dan menyibukkan diri dengan menyimpankan mantel ibunya.

“Aku akan membuatkan teh. Di luar pasti sangat dingin, kan?”ujarnya kemudian.

“Ya,salju semakin menebal. Tapi, ibu tahu malam ini ibu sudah berjanji akan mengunjungimu. Tidak seperti seseorang, aku bukan orang yang gampang lupa pada janjinya!”balas Nyonya Hwang datar. Tiffany hanya tersenyum kecil menanggapinya lalu beranjak menuju ke dapur.

Pernikahannya dengan Choi Siwon bukanlah pernikahan dimana kedua orangtua mempelai saling tersenyum bahagia. Tidak. Tiffany tahu benar bahwa ibu dan terlebih ayahnya tidak begitu menyukai pernikahannya yang baru memasuki usia 2 tahun itu.

Tidak ada yang salah dari Siwon. Mereka tidak menyukainya bukan karena harta. Siwon sangat mapan dan mampu memberikannya fasilitas hidup yang mewah sama seperti yang ia dapatkan dari orangtuanya sebelum mereka menikah. Mereka tidak menyukainya bukan karena sikap dan tingkah laku. Siwon seorang namja yang sangat sopan dan pengertian. Dan karena kelembutan dan keramahannya ia bisa membuat orangtua Tiffany mengizinkan mereka menikah meski mereka tidak begitu menyukainya. Tidak ada yang salah sebenarnya.

Kecuali kenyataan bahwa Siwon adalah seorang namja tampan dengan senyum terbaik yang dikagumi dan diidolakan oleh banyak gadis Korea. Benar,suaminya adalah seorang selebriti, bintang Hallyu yang membuat jutaan orang bertekuk lutut di depannya.

Profesilah yang membuat Tn& Ny.Hwang sering menyindirnya di depan Tiffany. Seperti malam ini. Tiffany menghela napas panjang selagi ia mengaduk teh untuk ibunya. Malam ini ibunya akan berceloteh banyak mengenai kesibukan menantunya itu.

“Apa kau tidak pernah menonton TV akhir-akhir ini, Fany-ya?”sambut sang ibu begitu Tiffany kembali ke ruang keluarga.

“Tidak. Aku cukup sibuk dengan butikku, eomma. Tidak ada waktu untuk menonton TV,” balasnya dengan berusaha agar terdengar ringan. Itu memang benar. Kali ini setidaknya ia tidak berusaha berbohong. Ia memang sangat sibuk dengan butik yang ia kelola bersama sahabatnya sejak dua bulan terakhir.

Tiffany Hwang mengawali karirnya dengan menjadi seorang model. Ia menggeluti dunia modelling itu sejak di bangku SMA. Dan ia memang pantas melakukannya. Lalu, setelah 4 tahun melewatkan waktu berjalan di atas catwalk di berbagai negara,ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah sekolah fashion di Prancis. Ia lulus dengan nilai terbaik dan dengan cepat,butik yang ia kelola segera melejit masuk ke daftar butik ternama. Hasil karyanya diminati banyak orang, termasuk para bintang TV. Ia mulai menjelajah keluar negeri memamerkan hasil karyanya di atas catwalk. Di salah satu fashion show itulah ia bertemu dan akhirnya jatuh cinta pada Siwon. Tiffany tersenyum miris mengingat itu. Sudah 3 tahun sejak pertemuan pertama itu.

“Sayang sekali kau melewatkan drama kesukaanmu.”

Tiffany segera kembali ke kehidupannya yang tengah berlangsung. Ia tertawa ringan menanggapi ibunya. Sudah jelas, bukan ini maksud ibunya. Tapi,meski demikian ia tidak bisa menyangkal bahwa ia diserang perasaan cemas. Ada apa gerangan? Apakah mungkin suaminya terlibat masalah lagi?

“Siwon menyedot banyak perhatian media akhir-akhir ini,” lanjut Nyonya Hwang tenang dan berwibawa. Tiffany diam saja,menunggu ibunya menyelesaikan kalimatnya, “semua berita membahasnya. Apa kau benar-benar tidak tahu?”

“Sudah kukatakan tadi, aku sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk gosip murahan seperti itu!”

“Dasar … Kau pasti sengaja menyibukkan dirimu. Ibu mengenalmu dengan sangat baik, Fany-ya! Sudah berapa lama Siwon tidak pulang?”

Tiffany menghela napas agak kasar. Ia sudah tidak suka kalau ibunya mulai mencampuri urusan rumah tangganya seperti ini.

“Eomma, kami baik-baik saja. Please, berhentilah mencemaskanku! Dengan sikap eomma begini, itu hanya akan membuatku gelisah dan mulai meragukan suamiku, so please just stop this, oke?”

Ada jeda yang menyela. Nyonya Hwang menatap Tiffany datar. Garis wajahnya memperlihatkan bahwa ia sangat tidak menyukai pembelaan Tiffany.

“Tiffany Hwang, kau mungkin tidak mengerti, tapi kami hanya ingin melindungimu,nak! Kau itu satu-satunya harapan dan pewaris ayahmu, hanya kau yang membuat kami bekerja keras dan melakukan semua ini. Kau yang harus berhenti berpura-pura baik-baik saja! Oke,selama ini kami bisa tahan dan membiarkan kalian. Tapi,kali ini … please,bukalah matamu, sweety! Ini persis seperti apa yang kami takutkan 3 tahun lalu!”

Tiffany baru mau buka mulut membantah ibunya,tapi sebelum itu terjadi Nyonya Hwang telah meraih remote dan menyalakan TV. Mau tidak mau Tiffany menoleh dan melihat apa yang ada di layar TV. Seolah mengiyakan kemarahan dan tuntutan ibunya,layar TV sedang menayangkan berita infortaiment yang rupanya sedang panas dibicarakan. Tiffany menatap nanar ke arah depannya. Inilah tepatnya kenapa ia sangat jarang menyalakan TV. Ia tidak ingin berita seperti itu mengoyahkan kepercayaannya.

“Apa kau benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai ini? Seluruh Korea bahkan membicarakan ini sedangkan kau, istrinya, tidak tahu apa-apa? Bagaimana bisa seperti itu?”

Tiffanyg menghela napas pelan, “Sebenarnya sudah tiga hari ini aku tidak keluar rumah, eomma. Aku juga tidak menyalakan TV dan tidak membaca internet,” ia bergumam lirih.

“Kenapa? Apa kau punya masalah?”

“Tidak … Hanya saja aku merasa sedikit kurang sehat untuk beraktifitas keluar rumah.”

Nyonya Hwang menghela napas panjang melihat kekeras kepalaan Tiffany.

“Sudah 2 hari seperti ini,”ujar Nyonya Hwang kemudian, “Ayahmu sampai pingsan di Tokyo sana,” Tiffany menoleh cepat ke arah ibunya, jelas sekali ia mengkhawatirkan ayahnya. Tapi Nyonya Hwang masih tetap menatap lurus ke arah TV dan mengabaikan wajah cemas Tiffany, “dia nyaris stroke,kau tahu? Ini sangat memalukan. Nama perusahaan sampai terbawa-bawa segala. Inilah yang ibu benci dari dunia suamimu. Mereka mengorbankan banyak hal untuk berita skandal memalukan seperti ini. Ibu harap kau sudah mengerti, nak. Sudahi saja! Ini hanya akan menyakitimu dan ibu tidak akan memaafkan siapapun yang berani membuatmu menangis kesakitan seperti ini,”

Nyonya Hwang mendekati Tiffany dan menyeka lembut airmata yang telah mengalir di wajah putrinya itu. Tiffany tidak merespon sentuhan itu. Pandangannya masih nanar menatap ke layar TV.

Ia sudah pernah sekali dihadapkan pada masalah ini. Suaminya sudah pernah terlibat skandal sperti ini sebelumnya dan ia bisa memaafkannya karena memang itu hanyalah salah paham. Tapi, sekarang… layar TV menampilkan dengan jelas sebuah rekaman kamera CCTV sebuah hotel. Ia melihat suaminya sedang menggandeng seorang wanita muda masuk ke dalam sebuah kamar. Mereka melemparkan senyum dan tawa. Dan membuat dada Tiffany tiba-tiba nyeri… Meskipun pada rekaman wajah mereka diblur, dari cara berpakaian, tertawa bahkan caranya melangkah ia tetap mengenal wanita itu. Sangat mengenalnya.

Nyonya Hwang memeluk putrinya erat. Tidak bisa dielakkan lagi. Pelukan hangat itu membebaskan kepura-puraan Tiffany. Ia membiarkan dirinya menumpahkan airmata lebih banyak dan terisak. Rasanya sakit sekali.

Apa yang salah? Kenapa harus seperti ini? Bukankah mereka saling mencintai? Benar,tapi Tiffany tak bisa memungkiri bahwa dalam dua bulan terakhir ini Siwon telah berubah. Perhatian dan kasih sayangnya mulai berkurang. Mereka kehilangan moment bersama. Siwon bahkan membiarkan Tiffany merayakan ulangtahun pernikahan mereka seorang diri, bertemankan kesunyian dan airmata. Ada apa dengan suaminya? Selama ini ia telah berusaha keras untuk tidak meragukan sedikit pun komitmen mereka. Tapi, berita itu mengacaukannya. Bagaimana pun,ia hanyalah seorang wanita biasa. Mudah tersakiti dan mudah kehilangan kepercayaan.

Sayup-sayup,di sela isakannya,Tiffany masih mendengar suara pembawa acara di TV itu.

Sampai saat ini baik pihak agensi Siwon maupun agensi model nona Y  belum memberikan tanggapan apapun mengenai skandal ini. Namun,skandal besar ini telah membawa pengaruh besar dalam hidup dan popularitas Siwon.

Aigoo,sangat mengecewakan! Aku sangat tidak menyangka seorang penyanyi sepertinya bisa melakukan skandal seperti itu…

…Aku sangat mengidolakan Siwon oppa,tapi rasanya sekarang terlalu berat untuk menerima kenyataan ini…

…Dia sama sekali tidak pantas menjadi idola. Dia bisa merusak moral banyak anak dengan skandal seperti ini…

…Semua orang pasti terkena skandal. Tidak ada idola Hallyu yang sedang terkenal yang tidak mendapat masalah.Ini pasti akan berlalu. Aku kecewa,tapi aku akan tetap mendukung Siwon oppa! Aku akan tetap menjadi penggemarnya dan akan percaya padanya. Ini mengecewakan,tapi saranghaeyo,oppa!”…

Percaya? Bukankah itu adalah kekuatan cinta yang mereka miliki selama ini? Tiffany mulai memikirkan itu dalam tangisnya. Dari semua sumber kekuatan dalam membangun hubungan itu, mereka memilih ‘percaya’ sebagai kekuatan cinta mereka. Mereka telah berhasil mempertahankannya selama ini. Tapi,kenapa tali itu tiba-tiba terlepas? Tiffany terisak. Mungkin karena ia dan Siwon jarang mengencangkannya.

***

Plak!

Tiffany buang pandang. Perasaannya benar-benar sesak dengan pemandangan di hadapannya. Siwon bergeming meski sudah berulang kali terkena tamparan ayah Tiffany. Ia bahkan bisa melihat ujung bibir suaminya itu berdarah. Tapi,Siwon masih tetap berlutut di depan ayah mertuanya.

“Bicaralah! Kenapa kau hanya diam saja?! Apa kau ini bisu?!” Teriakan penuh kemarahan tuan Hwang menggema.

Tapi,Siwon hanya menunduk.

“Oppa…” Tiffany berbisik lirih. Rasa kecewa sekaligus kesal karena Siwon hanya diam membuat emosinya semakin bercampur aduk.

“J-jusunghamnida,abeoji!”ujar Siwon.

PLAK! Satu tamparan lagi di pipi kanannya.

“Abeoji!” Tiffany berseru cemas. Bagaimanapun, ini sudah kelewatan. Ia menghela napas kasar lalu memandangi suaminya, “katakan sesuatu, oppa! Apa kau hanya akan diam begini?!”

“Apa maksud diammu ini berarti kau tidak menyangkal berita itu? Kau benar-benar masuk ke kamar hotel dengan wanita itu dan mengkhianati putriku?!”

“Aku benar-benar kecewa denganmu,Choi Siwon!” Nyonya Hwang yang sedari tadi duduk angkuh di sofa ikut mendesis marah.

Siwon masih bergeming. Ia tetap diam berlutut di hadapan kemarahan ayah mertuanya itu.

Tuan Hwang menghela napas kasar, berusaha mengontrol amarahnya yang sudah memuncak.

“Media dan infortaiment tidak henti-hentinya menyebut namamu sepanjang waktu! Internet penuh dengan berita tentang dirimu! Mereka menyebutmu laki-laki kurang ajar, brengsek, tidak tahu malu, tidak bermoral dan sama sekali bukan idola yang patut dicontoh oleh anak-anak generasi kita! Apa ini yang kau berikan pada putriku? Dua puluh delapan tahun aku merawatnya, mengasihinya dan memberikan seluruh hidupku untuknya… apa ini balasan setelah kau tiba-tiba mengambilnya dariku?! Kau pikir aku membesarkan putriku untuk disakiti oleh laki-laki sepertimu?!”

Tubuh Tiffany bergetar mendengar pembelaan ayahnya. Laki-laki yang tak lagi muda itu juga bergetar menahan amarahnya. Matanya bahkan berkaca-kaca.

“Siapa perempuan itu?!” tanya Tn.Hwang.

Tiffany kembali menoleh, memandangi suaminya dengan perasaan bercampur aduk antara iba, marah dan kecewa.

“Apa kau tidak mendengar ayah mertuamu bertanya?!”suara Nyonya Hwang melengking keras. “Katakan siapa perempuan yang kau bawa ke hotel itu!”

“Kenapa kau tidak  mengatakannya,oppa?” Tiffany ikut bergumam lirih.

Siwon hanya menunduk. “Mianhae…”

Tuan Hwang mendesah keras. Urat marahnya sudah berdenyut sedari tadi. Kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa penyakit jantungnya kembali kumat. Ia  melemparkan tongkat berjalannya ke lantai lalu menjatuhkan diri di sofa.

“Terserah!”tukasnya tak sabaran, “Aku tidak akan mengurusmu lagi! Segera, angkat kakimu dari halaman rumahku! Mulai sekarang, aku akan mengambil putriku kembali! Kau,pulanglah!!”

Tangan Tiffany mengepal dengan gemetar. Oh Tuhan, benarkah ini jalan yang harus dipilihnya?

“Andwaeyo, Abeoji, kumohon! Berikan aku waktu untuk menyelesaikan ini…Tolong,jangan membuat kami bercerai! Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Aku akan menebus kesalahanku! Abeoji…”

Tuan Hwang buang muka.

“Pergi sekarang!”

Siwon masih memohon,tapi kedua mertunya benar-benar sudah murka. Tiffany menghela napas lalu menarik Siwon keluar. Tapi pria itu bersikukuh untuk tetap berada di sana hingga Tiffany kewalahan menyeretnya.

“Aish, jebal jangan seperti ini, oppa!”seru Tiffany frustasi begitu mereka tiba di luar rumah. Napasnya tersengal gara-gara kelelahan memaksa Siwon.

“Fany-ya…”

“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membelamu, maaf,”tukas Tiffany tanpa memandang ke arah Siwon.

“Bukankah kita sudah berjanji untuk saling percaya?”ujar Siwon putus asa.

Tangan Tiffany mengepal kuat, “Ne. Tapi, kali ini kau benar-benar kelewatan, oppa! Aku ingin percaya padamu sekali saja, tapi bagaimana aku bisa percaya kalau kau tak mengizinkan aku mempercayaimu, eoh? Saat kau tak pernah memberiku kabar selama sebulan, saat kau lebih mementingkan pekerjaan dan profesionalisme konyolmu itu, saat kau meninggalkanku demi fans tololmu yang gila itu, saat kau bahkan tak mengangkat teleponku … kau pikir aku bisa semudah itu percaya padamu?! Astaga, seharusnya sedari dulu aku menyadari ketidak beresan ini…”

“Kita sudah membahas ini sebelumnya, Fany-ya… Semuanya akan baik-baik saja,tolong percayalah. Aku akan mengurus skandal ini dan memastikan berita tidak keluar lagi, karena itu tolong berikan satu kesempatan lagi untukku, eoh?”

Tiffany mendesah berat. Sungguh,ia sudah lelah!

“Bukan omongan orang yang kutakutkan, oppa …”lirih Tiffany, “aku bahkan tak peduli mereka mau mencaci, mengumpat atau menfitnah sekalipun. Bukan membungkam omongan orang yang perlu kau lakukan, oppa. Ani, aku tidak butuh itu. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan sekarang adalah bertanya pada hatimu. Apa rasa cinta itu masih ada untukku, eoh?”

“Fany-ya …”

“Aku tidak butuh ucapan apapun, oppa! Cinta bukan hanya sekedar omongan yang bisa kau latih sepanjang hari. Aku bukan penggemarmu yang akan menjerit histeris hanya karena kau bilang mencintaiku. Seharusnya kau tunjukkan bahwa kau masih mencintaiku dan aku masih bisa mempercayaimu! Kalau kau mencintaiku, untuk apa kau membawa perempuan lain ke hotel, eoh? Bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kau menikamku seperti ini?!!”

Siwon bungkam. Suara Tiffany yang bergetar, jeritan yang keluar dari lubuk hatinya hingga airmata yang terus mengalir… oh Tuhan, terkutuklah ia yang tak bisa mempertahankan wanita ini.

“Kurasa kita memang butuh waktu untuk merenungi semua ini, oppa,”lanjut Tiffany. “Aku benar-benar menyesal dan meminta maaf karena sudah gagal menjadi istri yang baik untukmu. Maaf.”

Kepercayaan adalah tali pengikat mereka. Dua tahun bahtera berjalan karena simpul kuat itu masih terjalin. Dan sekarang, karena satu kesalahan fatal yang dilakukannya, tali itu terlepas. Siwon terpekur dalam sepanjang sisa harinya. Tali itu tak pernah mengendur, tapi ialah yang memotongnya dengan kejam.

***

 

 

 

Sebuah apartemen, Cheondamdong, Gangnam-gu, Seoul.

08.00 AM KST

Kamar bernuansa laut itu terdengar ceria oleh suara tawa sepasang ibu-anak. Beginilah rutinitas harian mereka. Tinggal berdua di apartemen tanpa menggaji pelayan membuat wanita itu, Tiffany Hwang, harus melakukan semua pekerjaan ibu rumah tangga seorang diri. Ia bangun sebelum alarm pukul lima berdering. Ia akan membereskan rumah yang berantakan karena tidak sempat dibereskannya semalam, lalu mencuci pakaian dan menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang mereka.

Tiffany menikmati kesibukannya sebagai ibu sekaligus wanita karir. Terlebih karena putra semata wayangnya itu tumbuh menjadi anak cerdas yang mandiri. Karenanya Tiffany tak pernah merasa kerepotan mengurus rumah, pekerjaan dan anaknya.

“Nah, kau sudah rapi,”ujarnya begitu selesai menyisir rambut putranya. “Aigoo…Minhyun-ku semakin tampan hari ini! Ayo,kita sarapan dulu!”

“Ne, eomma!”sahut Minhyun sembari bangkit mengambil ransel sekolahnya yang sudah ia siapkan di atas meja belajar.

Di meja makan Tiffany sudah menata sarapan mereka. “Kita sarapan American-style hari ini. Tidak apa-apa, kan?”sambut Tiffany saat Minhyun tiba di dekatnya.

“Gwaenchanayo, eomma.”

“Aigoo, kau memang anak yang cerdas!” Tiffany berseru gemas sembari mencubit pipi putranya itu, “Gomawoyo, sudah terlahir sebagai anakku!”

Rutinitas sarapan selalu menjadi momen penting bagi Tiffany. Karena di saat seperti itulah ia bisa memandangi putranya sepuas hati. Tiap tingkah Minhyun memberinya tambahan energi hingga ia bisa melanjutkan kegiatan hariannya dengan bersemangat.

“Eomma sudah menyiapkan kotak bekalmu. Nanti,kau makan siang bersama Kim ssaem-nim saja,ya? Eomma akan menjemput setelah pekerjaan eomma selesai.”

“Ne,eomma!”sahut Minhyun patuh.

Tiffany tersenyum lebar dan mengecup puncak kepala Minhyun dengan penuh sayang.

***

Minhyun melambaikan tangan saat ibunya masuk kembali ke mobil. Beginilah hari-hari yang ia jalani. Pagi-pagi setelah sarapan, Tiffany akan mengantar ke playgroup dan di sanalah ia menghabiskan waktu di sekolah bersama dengan teman-teman. Jika teman-temannya pulang sebelum siang, Minhyun masih tinggal menghabiskan waktu makan siang bersama Kim Taeyeon, sahabat Tiffany sekaligus guru kelas Minhyun. Nanti saat sore, Tiffany baru bisa datang menjemputnya. Itupun terkadang ia harus menginap di rumah Taeyeon kalau Tiffany tiba-tiba ada tambahan job.

Tiffany mendesah pelan saat bayangan Minhyun mulai menghilang dari kaca spion mobilnya. Ia sebenarnya ingin menghabiskan banyak waktunya bersama putra semata wayangnya itu, tapi sejak perceraian 4 tahun lalu, ia semakin sibuk dengan butiknya.

“Annyeong, Fany eonni!”

Tiffany membalas sapaan Im Yoona, sahabat sekaligus partner kerjanya.

“Sudah ada kabar dari Presdir Kwon?”tanya Tiffany selagi mereka masuk ke dalam ruang kerja. Puluhan manekin bertebaran di ruangan itu. Sebagiannya adalah hasil rancangan Tiffany yang belum selesai. Kertas-kertas sketsa dan dokumen butik juga ikut meramaikan tempat itu. Bahkan potongan-potongan contoh kain tak ketinggalan berjejalan di atas meja bundar yang besar, tempat Tiffany menggambar.

“Mereka menyetujui permintaan kita. Wakil perusahaan akan datang ke sini hari ini atau besok,”jawab Yoona, mengekori Tiffany masuk ke dalam ruangan. “Oh ya, eonni … apa kau masih ingat dengan Sunny eonni?”

“The shorties itu? Tentu saja aku ingat. Kenapa memangnya?”

“Kau tahu kalau dia sudah memegang posisi di agensi pamannya, kan? Kemarin dia menghubungiku dan menawarkan kerjasama.”

Tiffany mengerutkan kening mendengar informasi terakhir tadi, “Agensi? Maksudmu, SM Entertaiment? Mereka mau menggunakan brand kita untuk artis mereka?”

Yoona mengangguk dengan bersemangat, “Itu sangat bagus,kan? Prospek artis mereka sangat bagus, eonni. Hampir semua brand yang menjadi sponsor mereka melejit dengan sukses. Sebenarnya, Sunny eonni menawarkan ini karena pertemanan kita dulu. Kau tahu, mereka membutuhkan sponsor fashion untuk beberapa idol barunya. Ini kesempatan yang sangat langka, eonni! Biasanya orang-orang yang berebut menjadi sponsor, kita malah ditawari.”

Tiffany menghela napas, “Entahlah. Bahkan tanpa mensponsori mereka kita bisa tetap menjual produk kita dengan sangat baik,”ujarnya datar. Tangannya telah sibuk membolak-balik kertas sketsa desain yang kemarin belum sempat ia periksa ulang.

“Aku mengerti kau tidak begitu suka dengan dunia entertaiment dan popularitas seperti mereka, tapi kita harus bertindak profesional,kan? Ya,aku tidak bisa memaksamu, sih, tapi aku ingin mempertimbangkan tawaran itu, eonni.”

Tiffany menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti Yoona karena ia telah larut dalam pekerjaannya. Yoona tidak memiliki pilihan lain selain mulai menyibukkan dirinya juga.

Sejak perceraian itu, Tiffany memang terkesan anti dengan dunia entertaiment. Terang saja, dunia para idol itulah yang telah memberinya luka yang mendalam.

***

Bandara Internasional Incheon sesak oleh lautan manusia yang tiba-tiba menyerbu. Puluhan kamera-kamera besar berseliweran di depan pintu kedatangan. Spanduk-spanduk berisi ucapan selamat datang dan beberapa ungkapan cinta  terlihat ramai dijunjung ratusan manusia yang berdesakan di sana. Mereka menunggu seseorang.

Tepat ketika pintu kedatangan terbuka, mereka mulai ribut, saling menyikut dan saling mendahului. Semua orang ingin menjadi yang terdepan untuk melihat kedatangan sang idola. Jerit histeris menggema bercampur dengan puluhan blitz kamera yang menyala serentak, tertuju pada satu titik.

Choi Siwon tersenyum gentle pada mereka. Dengan langkah tegap dan tenang ia berjalan melewati kerumunan fans dan wartawan yang mendesak mendekati.  Puluhan bodyguard sudah disiapkan untuk mengamankannya. Meski demikian,jumlah orang yang hadir dan desakan kuat mereka membuat sederetan pertanyaan yang saling bersahutan terdengar jelas olehnya. Tapi,ia tidak menanggapi selain senyuman hangat.

“Choi Siwon-ssi, apa kau benar-benar akan memulai comeback di Korea kembali?”

“Bagaimana dengan World Tour anda tahun ini?”

“Apa anda yakin bisa kembali memenangkan K-Chart untuk comeback ini?”

“Setelah sukses di Prancis,dimana target anda selanjutnya?”

“Choi Siwon-ssi,tolong bicaralah!”

“Ribuan penggemar anda sudah menunggu kedatangan anda selama ini,apa ada sesuatu istimewa yang akan anda berikan untuk mereka?”

“Kami minta komentar anda,Siwon-ssi!”

Teriakan-teriakan para wartawan itu berbaur dengan jeritan penggemarnya. Siwon mempercepat langkahnya keluar dari bandara.

Ia tak bisa menghirup udara Seoul dengan tenang. Padahal, sejak 4 tahun lalu ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki kembali di kota itu. Setelah mobil yang membawanya ke kantor agensinya melaju membelah jalan kota barulah ia bisa bernapas dengan tenang.

“Seoul berubah banyak,” ujarnya ringan seraya memperhatikan sekelilingnya.

“Tentu saja. Persaingan dunia entertaiment juga bertambah. Kau harus mempersiapkan comebackmu dengan sempurna kalau kau tidak ingin jatuh pamor di Korea!” komentar Yoon Jaejoong, managernya. Siwon tidak menanggapi ucapan itu, “Banyak boyband dan girlband yang bermunculan dan mereka hampir menguasai tangga lagu Korea. Kau harus menjadikan mereka sebagai sainganmu,”lanjut Jaejoong lagi.

“Penggemarku masih banyak,tenang saja!” balas Siwon santai.

“Ya, ya …aku tahu itu. Tapi kau harus berhati-hati kali ini. Berhentilah membuat masalah! Kau bahkan didepak dari agensimu karena skandal.”

Raut wajah Siwon mendadak berubah saat Jaejoong mengatakan itu. Tapi,ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengar itu.

“Bagaimana persiapan fansmeeting di Lotte? Sudah beres?” tanyanya. Jaejoong mengangguk.

“Kita akan tiba di sana 20 menit lagi, istirahatlah dulu. Setelah itu kita menuju ke kantor agensi untuk membicarakan agendamu!”

Siwon menggumamkan kata iya dengan pelan lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Ia memang bermaksud untuk istirahat.

***

“Tiffany eonnie, apa kau masih sibuk?”

Tiffany mendongak dari kertas sketsanya.Yoona sedang memandangnya dengan penuh harap.

“Waeyo? Kau ingin mengajakku makan siang di luar?”

Yoona mengangguk, “Bagaimana? Tapi, sebenarnya bukan aku yang menawarimu. Sunny eonni yang mengundang kita.”

“ Sunny?” Tiffany mengernyit. Well,rupanya pendekatan bisnis. Ia sudah pengalaman masalah itu.

“Undangan makan siang untuk pertemanan saja, eonni!” tukas Yoona seolah mengerti dengan pikiran Tiffany. “Meskipun Sunny eonni sangat berharap kita bisa bekerja sama, dia juga profesional. Dia tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berteman. Jadi, kau tidak keberatan,kan?”

“Gadis itu selalu begitu, keras kepala sekali,”gerutu Tiffany tak jelas. “Apa ada maksud tertentu?”

“Aigoo, eonni ini! Sudahlah, ayo bergegas! Perutku sedari tadi keroncongan, tahu!” Yoona menarik lengan Tiffany dengan paksa.

“Yah,Yoona-ya,aku masih harus menyelesaikan 3 gaun untuk koleksi musim panasku!” Tiffany menggumam pasrah. Yoona mengabaikannya,tentu saja.

***

Acara fansmeeting berlangsung lancar meski ada sedikit keributan karena orang-orang yang berdesakan. Pihak Agensi Siwon mengumumkan agenda comeback Siwon setelah 4 tahun memulai debut karirnya di Prancis. Para penggemar menyambut antusias sehingga tidak heran lagi melihat antrian panjang di salah satu pusat perbelanjaan itu.

Siwon tidak pelit pada penggemarnya. Ia melayani mereka dengan ramah dan senyuman manis. Acara fansign itu sudah berjalan 2 jam tapi antrian masih panjang. Para yeoja itu sepertinya tidak ingin kehilangan moment mendapat tandatangan pertama Siwon sejak kembali dari Prancis atau berfoto bersamanya.

“Apa kau akan meluncurkan album baru minggu ini,oppa?”

Siwon tersenyum sebelum menjawab, “Ne. Siapa namamu?”

“Park Hye mi imnida!”

Dengan lancar dan terlatih,tangan Siwon menggoreskan tanda tangannya yang berharga di atas poster fotonya yang disodorkan oleh gadis di depannya itu. Lengkap dengan pesan singkatnya.

“Park Hye mi,gomawo sudah menunggu comebackku! Tetap berikan cinta dan dukunganmu,ne?”

“Ne, tentu saja, oppa! Siwon oppa, himnae!”

Siwon tertawa melihat gadis itu memberinya love-sign dengan lengan membentuk love di atas kepalanya. Si gadis berlalu dengan wajah puas dan ceria. Gadis di belakangnya telah maju mendekati meja Siwon. Tapi, belum sempat Siwon menunduk untuk menandatangi kertas yang disodorkan padanya, sebuah sosok yang melintas beberapa meter dari tempatnya tanpa sengaja tertangkap penglihatannya.

Siwon mengabaikan para penggemarnya dan mengikuti pergerakan orang itu. Wanita itu tidak melihatnya, tapi dengan kaca pembatas yang tembus pandang Siwon melihatnya meski hanya sekilas sebelum sosok itu masuk ke dalam sebuah restaurant.

“Siwon-ssi?”

Siwon tersentak mendapat teguran itu. Ia buru-buru minta maaf dan meneruskan acaranya meski sesekali ekor matanya melirik ke arah restaurant itu.

Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Bahkan walaupun telah memutuskan untuk menghindari masa lalunya, saat melihat sosoknya kembali, ia tidak bisa menyangkal bahwa ia merindukannya. Yeoja itu, mantan istrinya, Tiffany Hwang.

“Hyung, bisakah kau carikan informasi tentang Tiffany?” pintanya selagi ia sudah duduk tenang di atas mobil yang melaju membawanya ke kantor agensi mereka.

Jaejoong mengernyitkan kening, “Untuk apa?”

“Tidak … Hanya saja,aku ingin tahu bagaimana dia melewatkan  4 tahun hidupnya terakhir ini. Bisa,kan?”

Jaejoong menghela napas panjang, “ Jangan bilang kau mau membuat masalah lagi! Tiffany juga tidak akan suka kalau kau memata-matainya seperti ini. Memangnya kau mau dia mengamuk padamu? Aku tidak mau terlibat kalau sudah seperti itu!”

“Aish,jinjja! Aku hanya ingin tahu! Lagipula, jangan biarkan ia tahu kalau kau mencari tahu tentangnya, itu mudah, kan?”

Jaejoong mendesis dan melemparkan pandangan ‘mudah-dengkulmu!’. Tapi, Siwon mengabaikannya.

***

Tiffany melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia terlalu asyik bekerja sehingga lupa waktu. Ditambah lagi dengan Sunny yang memaksanya makan siang dan mengobrol panjang lebar. Sudah hampir malam saat Tiffany akhirnya keluar dari butiknya. Ia memang sudah meminta maaf tidak bisa menjemput Minhyun tapi tetap saja ia merasa telah menjadi ibu yang buruk.

Sebelum pulang ke apartemen, Tiffany menyempatkan diri singgah di toko mainan dan icecream untuk membawakan oleh-oleh permohonan maaf untuk Minhyun. Beberapa saat sebelum ia tiba di gedung, Taeyeon menelpon. Tadi Tiffany juga sudah meminta tolong Taeyeon menjaga Minhyun di apartemennya sebelum ia datang. Taeyeon tak keberatan karena selain ia memang tidak ada pekerjaan,ia membutuhkan perpustakaan pribadi Tiffany untuk mencari sesuatu.

“Ada apa? Apa Minhyun sudah tidur? Aku sudah hampir sampai. Tinggal 3 blok lagi!”

Helaan napas panjang menyiratkan kelegaan terdengar. Tiffany mengernyit.

“Kalau begitu cepatlah, Fany-ya! Badan Minhyun panas sekali! Dia demam dan tadi …”

KLIK. Tiffany memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak dan segera menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam. Minhyun jarang sakit sebelumnya dan biasanya jika sekali dua kali itu ia sakit,penyakitnya bukan penyakit ringan. Tiffany bergegas naik ke apartemennya tanpa membuang waktu sedikit pun.

“Dimana Minhyun?” tanya Tiffany cepat begitu ia masuk ke dalam apartemen. Taeyeon memberinya jalan sehingga Tiffany bisa melihat Minhyun yang nampak pucat dan menggigil tertidur di sofa.

“Minhyun-a…” Tiffany meraba kening Minhyun dengan panik. Sangat panas.

“Dia mulai batuk sejak siang tadi. Suhu badannya tiba-tiba naik sejam yang lalu. Dia tidak mau kubawa ke rumah sakit. Dia bahkan menolak pindah ke kamarnya karena mau menunggumu!” jelas Taeyeon yang juga nampak cemas.

Tiffany menggenggam erat jemari mungil Minhyun dan menempelkannya di pipinya.

“Minhyun-a…ibu sudah datang! Mianhae,aegi-ya!” bisiknya dengan suara yang mulai bergetar.

“Ayo,Fany-ya,bawa Minhyun ke rumah sakit sekarang!” Teguran Taeyeon menyadarkan Tiffany. Ia buru-buru bangkit dan perlahan menggendong Minhyun.

“Biar aku yang menyetir!” ujar Taeyeon cepat saat mereka tiba di basement gedung. Dengan dipenuhi rasa terima kasih, Tiffany menyerahkan kunci mobilnya.

“Minhyun-a,bangunlah,aegi-ya! Apa itu sangat sakit,eoh?”

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Tiffany tak henti mengajak Minhyun berbicara.

“Eomma…” bibir Minhyun mulai bergerak pelan.

“Ne, eomma di sini,aegi-ya! Gwaenchana,kau akan baik-baik saja! Gwaenchana!”

“A…Appa…”

Tiffany tertegun menatap buah hatinya itu.Kenapa tiba-tiba bibir mungil itu menyebut kata itu? Ia mempererat pelukannya.

“Gwaenchana…kau tidak apa-apa,aegi-ya!” bisiknya.

Dokter langganan keluarga Tiffany segera menangani Minhyun begitu mereka tiba di rumah sakit. Tiffany gelisah terus menunggu Dokter Joon menyelesaikan pemeriksaannya. Ia bisa melihat kesakitan yang dialami oleh Minhyun.

“Ini demam yang sering menyerang anak-anak, nona Hwang! Kondisi kesehatan Minhyun kurang stabil sehingga dia gampang sakit di tengah perubahan cuaca begini. Ditambah lagi dengan tekanan dari dalam, Minhyun jadi sakit begini. Tapi,kondisinya tidak terlalu parah. Kami sudah memberi obat penurun panas dan sekarang Minhyun sudah tidur. Tidak apa-apa, nona Hwang, dia pasti akan baik-baik saja!” ujar dokter Joon setelah pemeriksaannya selesai.

Tiffany menghela napas lega. Ia mengelus-elus rambut Minhyun dengan penuh sayang.

“Tekanan dari dalam itu, apa maksudnya, dokter?” tanya Taeyeon pelan. Tiffany juga mendongak,menunggu jawaban.

“Kurasa, Minhyun membutuhkan kasih sayang seorang laki-laki. Di usianya yang sekarang,anak-anak memang lebih cenderung membutuhkan ayahnya. Tapi Minhyun…” Dokter Joon tidak menyelesaikan kalimatnya. Sebagai dokter langganan keluarga Hwang,ia juga tahu pasti mengenai rumah tangga Tiffany yang hancur. “Aku akan menuliskan resep obatnya, nona Hwang! Minhyun sebaiknya istirahat banyak! Saya permisi dulu!” ujarnya segera.

Tiffany mengangguk lemah. Perasaannya telah kacau mendengar jawaban itu. Bahkan sebelum dokter Joon memberitahunya ia juga telah menyadari kerinduan Minhyun selama ini. Tapi,tetap saja..Ia merasa sakit melihat anaknya harus terbaring sakit begini karena keegoisannya.

“Mianhae,aegi-ya…” lirihnya pelan.

Taeyeon tersenyum miris melihat mendung di wajah sahabatnya itu. Ia tahu pasti bagaimana perasaan Tiffany sekarang.

“Apa kau tidak ingin memberitahu ibumu, Fany-ya? Dia juga pasti mengkhawatirkan Minhyun!” ujarnya hati-hati.

“Eomma mungkin sibuk,” gumam Tiffany, “dan memberitahunya kalau Minhyun sakit akan membuatnya mengomeliku habis-habisan, lebih baik jangan beritahu dia!” lanjutnya. Ia menoleh ke arah Taeyeon, “terimakasih sudah menjaganya untukku,Taeyeon-a. Kau sudah seperti ibu untuk anakku!”

“Aigoo,kenapa kau sungkan sekali sih? Aku ini teman baikmu,Tiffany Hwang! Dan anakmu juga adalah anakku,kau mengerti?”

Tiffany tertawa kecil. Ia suka melihat Taeyeon mengguruinya seperti itu.

“Aku mengerti,saeng-nim!” balasnya meledek. Taeyeon manyun kemudian tertawa kecil juga.

“Ngomong-ngomong,bagaimana pekerjaanmu?” tanya Taeyeon beberapa saat kemudian.

“Berjalan lancar dan lebih baik. Astaga, besok aku harus tanda-tangan kontrak di SM! Kalau Minhyun sakit seperti ini,bagaimana aku ke sana?”

Taeyeon mengernyit mendengar nama yang tadi disebutkan Tiffany, “SM? Kau mau bekerja sama dengan agensi artis itu?”

Tiffany mengangguk putus asa, “Yoona memohon padaku. Ah, biarlah…Ini juga adalah bagian dari bisnis.”

“Kita bisa meminta Minhyun di rawat di rumahku saja,kan? Biar aku yang merawatnya!”

“Tidak usah. Kau kan harus mengajar, aku hanya akan merepotkanmu lagi!”

Taeyeon mendecak pelan, “Bukankah aku sudah bilang tidak apa-apa? Lagipula, besok sekolahku libur,aku bisa menjaga Minhyun sampai siang. Asal kau tidak pulang malam lagi sih. Atau kalau kau menolak bantuanku,kenapa kau tidak sekalian menghubungi ibumu untuk meminta seorang pelayannya untuk membantumu menjaga Minhyun?”

“Pilihan kedua itu mengerikan. Tidak, aku tidak mau! Eomma tidak perlu tahu masalah ini. Dia sudah terlalu jauh ikut campur masalah keluargaku!” sergah Tiffany cepat.

“Kalau begitu,biar aku yang merawat Minhyun sehingga kau bisa menyelesaikan kontrakmu dan ibumu tidak perlu tahu. Oke,call?”

Tidak ada pilihan lain,Tiffany mengangguk.

***

Tiffany mengecup kening Minhyun agak lama sebelum ia pamit pada anaknya itu untuk bekerja.

“Jadilah anak baik,eoh? Jangan merepotkan Taeyeon imo! Eomma akan kembali lebih cepat. Kau mau apa? Eomma akan membelikannya untukmu!”

“Gwaenchana,eomma. Kau sudah membelikan mainan baru kemarin.”

“Ah,begitu,ya? Baiklah,nanti kalau kau sudah sembuh,eomma akan mengajakmu jalan-jalan kemanapun kau mau,bagaimana?”

Mata coklat Minhyun berbinar senang, “Benarkah,eomma?” Tiffany mengangguk pasti, “janji?”

“Janji! Tapi,Minhyun harus rajin minum obat dan segera sembuh,oke?”

Minhyun mengangguk cepat. Tiffany mengacak rambutnya gemas lalu merapikan selimut Minhyun.

“Eomma berangkat dulu,ne? Taeyeon-a,aku titip Minhyun!”

Tiffany mempercayai Taeyeon dengan baik. Mereka sudah berteman baik sejak lama dan dengan meninggalkan Minhyun bersama Taeyeon,Tiffany merasa tenang.

***

Siwon bersenandung riang. Tak ada yang istimewa sebenarnya sehingga dia terlihat begitu ceria,tapi fakta bahwa ia masih menempati posisi atas di dunia entertaiment Korea setidaknya telah memberinya ketenangan dan harapan. Ia tentu harus berusaha keras dan sebaik mungkin. Koneksi yang cukup bagus disertai dengan prestasi dan bakat alami yang dimilikinya membuat ia mudah saja bergabung di salah satu perusahaan entertaimen besar Korea.

Sepuluh menit yang lalu ia dimintai menunggu di ruang meeting. Mereka akan membicarakan kesepakatan kontrak dan memilih tawaran-tawaran iklan serta drama. Banyaknya tawaran kontrak kerjasama membuktikan bahwa popularitasnya belum pudar. Ah, dia, kan sang superstar Choi Siwon yang pandai mengubah segala hal menjadi peluang.

Sepuluh menit dihabiskannya sendiri; membuka-buka website dan mengunjungi fancafe serta berinteraksi dengan penggemarnya. Managernya, Jaejoong, belum datang juga. Perwakilan perusahaan pun belum menampakkan batang hidung.

“Apa-apaan ini?” Siwon menggerutu pelan, menyadari bahwa ia sudah sendiri di ruang itu dalam waktu yang cukup lama, “bisa-bisanya mereka menyuruh superstar sepertiku menunggu di ruangan sumpek begini!”

Baru saja ingin menghubungi Jaejoong dan menyemprotnya dengan omelan, pintu ruangan mendadak terbuka. Managernya yang selalu mengenakan kacamata itu muncul di sana.

“Aish, apa-apaan kau ini, hyung? Kenapa menyuruhku menunggu di sini lama sekali? Memangnya apa yang kau …”

Kalimat itu terhenti bersamaan dengan derap ketukan high heel terdengar memasuki ruangan itu. Wajah kesal Siwon lenyap seketika, tergantikan dengan ketegangan dan keterkejutan yang mendominasi wajahnya.

Dua orang wanita memasuki ruangan itu. Yang paling depan adalah Lee Sunny, Presdir SM Entertaiment yang sudah beberapa kali ditemuinya. Dan yang kedua, berjalan dengan anggun dan sorot mata berwibawa, adalah Tiffany Hwang.

Siwon mencelos begitu tatapan mereka bertemu selama dua detik. Tifffany segera menghentikan kontak mata itu dan mengangguk sopan pada Jaejoong. Ekspresinya datar, seolah kehadiran Siwon di sana tak ada bedanya dengan keberadaan AC.

“Ini Tiffany Hwang, CEO T&Y Fashion. Kau pasti sudah mendengar banyak tentang dia, kan?”ujar Sunny. “Kita akan bicarakan kontraknya sekarang. Tiffany-ssi, silahkan duduk!” Tiffany mengangguk kecil dan mengikuti Sunny. “Siwon-ssi, apa yang kau lakukan? Kau ingin berdiri di situ semalaman?”tegur Sunny, menyadari sosok Siwon masih tak beranjak.

Siwon terperanjat dan dengan linglung ia mengambil posisi duduk; tepat berhadapan dengan Tiffany.

“Sebelum membicarakan kontrak, bagaimana kalau kalian saling mengenal dulu?”usul Sunny, memandangi Tiffany dan Siwon bergantian.

“Aku ada janji penting sejam lagi, Sunny-ssi. Artinya, aku sangat menghargai kalau pembicaraan ini tidak perlu berpanjang lebar. Lagipula, aku sudah cukup mengenalnya. Bagaimana kalau langsung membicarakan kesepakatan saja?”

“Kesepakatan apa?”sela Siwon, bersuara tegas dengan tatapan lurus tertuju pada Tiffany.

Yang dipandangi tersenyum kecil, tak gentar dan bersikap seolah Siwon sama biasanya dengan pelanggan yang sering ditemuinya.

“Kesepakatan bisnis, Choi Siwon-ssi. Kau membutuhkan sponsor yang bisa memberikan pakaian bagus untukmu. Dan aku membutuhkan orang yang tepat untuk menjual produkku. Bukankah itu sudah jelas?”tukas Tiffany.

“Karena kami berdua berteman cukup baik …”sambung Sunny, “kontrak ini didasarkan pada hubungan itu juga.”

“Memangnya tidak ada sponsor lain?”tukas Siwon, masih menatap lurus pada Tiffany. “Kenapa harus dia?”

Tiffany tersenyum sinis, “Benar juga … kenapa mereka tidak memberimu sponsor yang lebih baik, eoh? Aku benar-benar penasaran tentang itu, Sunny-ssi.”

“Yang lebih baik apanya? Kau pikir aku akan meminta padamu kalau ada yang lebih baik?”tukas Sunny.

Siwon menghela panjang. Tiba-tiba dipertemukan seperti ini dengan Tiffany membuat pikirannya blank. Empat tahun berlalu dan ia belum banyak mengetahui tentang Tiffany sejak perpisahan mereka. Tentu saja ia merasa senang, toh mereka berpisah bukan karena ia tak mencintai Tifany lagi. Tapi tetap saja … bagaimana jika nanti ia justru membuat wanita itu kembali tersakiti? Bahkan luka yang diberikannya dulu mungkin belum sembuh.

“Eih, sudahlah … Aku bukan orang yang suka menarik ucapanku sendiri, Fany-a … Ayo, kita tanda tangan kontraknya saja, oke?”desak Sunny.

Tiffany tak menjawab. Dibukanya kembali berkas kontrak itu. Menerima kesepakatan ini berarti kembali membuka kesempatan bertemu dengan Siwon. Hidupnya sudah cukup tenang selama empat tahun tanpa kehadiran Siwon. Bagaimana bisa ia membiarkan pria itu mengusiknya tiba-tiba seperti ini? Tiffany tetap diam, sibuk berpikir dan tak peduli jika Siwon diam-diam mengawasinya.

Kehidupan Siwon jelas jauh lebih baik setelah mereka berpisah. Skandal memalukan itu memang meruntuhkan karirnya, tapi hanya sesaat. Ia bisa bangkit dengan segera dan kembali diterima di masyarakat. Melihat cara pria itu tersenyum di depan kamera membuat Tiffany berpikir, mungkin ayahnya benar, bahwa ia sudah tak berarti lagi di dunia Siwon. Bahwa Siwon telah sepenuhnya berpaling. Buktinya, pria itu tak pernah menanyakan kabarnya, tak pernah sekalipun mencoba mengontaknya. Lalu tiba-tiba saja mereka bertemu dan dipaksa terlibat dalam satu bisnis.

“Tiffany-ssi? Bagaimana? Kau ingin melanjutkan kontrak ini, kan?”tanya Sunny, samar-samar memasuki alam pikir Tiffany.

Pria itu, yang telah mencampakkan dan melupakan keluarganya, harus tahu bahwa aku pun baik-baik saja. Tiffany membatin yakin. Ia harus membuktikan bahwa Siwon pun sama tak berartinya untuk dia.

“Baiklah,”ia berujar kemudian, “kita tanda tangani kontraknya!”

Dengan girang, Sunny menyerahkan pulpen. Sebelum menggoreskan tanda tangan, Tiffany melirik Siwon. Ada kecemasan yang sempat terbaca olehnya. Nampak Siwon keberatan, tapi itu membuat Tiffany semakin ingin membuktikan bahwa ia telah melupakan cerita mereka. Maka dengan mantap, tanda tangan berharga ratusan juta won itu tergoreskan.

“Karena klien kali ini orang penting, aku yang akan bertanggung jawab langsung untuk semua proyeknya,”ia menambahkan, menatap datar pada Siwon. “Jadi kau tak perlu khawatir, Sunny-ssi, tidak akan ada karwayanku yang mengecewakanmu!”

“Oh astaga, aku sangat tersanjung, Tiffany-ssi. Baiklah, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Dan kau, Siwon-ssi, bekerja samalah dengan baik, oke? Tiffany-ssi sangat profesional dalam pekerjaannya. Karena dia sendiri yang akan turun tangan langsung, kau juga harus berusaha melakukan yang terbaik. Jangan sampai membuatku malu dengan merusak profesionalisme itu, arasseo?”

Siwon tak menyahut. Ia diam saja saat bertanda-tangan. Dan saat mereka berjabat tangan, selain tatapannya yang lekat, ia tak mengatakan apa-apa lagi.

“Hyung,” Siwon memanggil Jaejoong setelah ruang meeting itu hanya menyisakan mereka berdua, “katakan padaku, apa yang baru saja terjadi, eoh?”tanyanya lirih.

Jaejoong menghela panjang. Satu-satunya orang yang memahami dengan jelas masalah Siwon mungkin hanya dia. Lihatlah, hanya karena bertemu dengan Tiffany, pria itu langsung kacau begitu.

“Kau baru saja menerima kesepakatan bisnis,”jawabnya kalem.

“Dengan siapa?”gumam Siwon lirih.

“CEO T&Y Fashion, Tiffany Hwang. Dan kalau tidak salah, kontrak itu akan membuat kalian bertemu beberapa kali. Ia akan mensponsori setiap kegiatanmu. Dari atas sampai bawah, semua penampilanmu akan menjadi tanggung jawabnya. Kau akan sering-sering bertemu di tempat pemotretan. Ada lagi yang mau tanyakan?”

Siwon terdiam selama beberapa saat sebelum membuka mulut, “dia baik-baik saja, kan, hyung?”

“Hm? Apa maksudmu?”

“Tiffany … baik-baik saja, kan? Kenapa dia melibatkan diri dengan dunia entertaimen ini? Bukankah dia membencinya? Dan tadi … dia bertingkah seolah aku hanya klien biasa. Seolah kami tidak pernah … entahlah. Tapi melihatnya seperti itu, artinya dia baik-baik saja, kan?”

“Aku tahu akan sulit bagi kalian, tapi inilah profesionalisme,bung!” ujar Jaejoong menanggapi helaan napas panjang Siwon.

Siwon tak menyahut. Tapi agaknya ia tak keberatan dengan jawaban itu.

***

Yoona meletakkan secangkir teh hangat di meja Tiffany. Sejak kembali dari perusahaan agensi Sunny, Tiffany tak pernah berbicara sepatah kata pun padanya. Yang dilakukan oleh CEOnya itu hanya duduk bersandar malas-malasan di kursinya. Bahkan mungkin sekarang pun ia tak sadar jika Yoona mengamatinya.

“Eonni …”panggil Yoona khawatir.

Tak ada tanggapan. Jelas sekali jika Tiffany sedang tenggelam dalam lamunan panjangnya. Mengingat jika wanita itu adalah tipe periang, sudah pasti kali ini ia terlibat masalah yang sangat serius. Tak bisa menahan rasa penasaran, Yoona mengetuk meja dengan jemarinya.

“Apa kau baik-baik saja, eonni?”tanya Yoona.

Tiffany tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum canggung sambil bertanya-tanya sejak kapan Yoona ada di sana?

“Apa kau sudah menyelesaikan desain yang kuminta?” tanyanya mengalihkan.

“Sudah. Aku sudah mengirimnya ke pabrik untuk diselesaikan. Eonni, apa yang sudah terjadi? Kenapa kau murung begini, eoh?”

Tiffany tertawa kecil. “Murung bagaimana, eoh? Aku begini karena kelelahan. Ngomong-omong, terima kasih tehnya!”

“Eonni, kau tidak pandai berbohong, tahu?”tukas Yoona. “Ada masalah apa, eoh? Bukan karena pertemuan di perusahaan Sunny eonni, kan?”

Tiffany tak menjawab. Yoona adalah satu dari sedikit orang yang tahu mengenai pernikahannya dengan Siwon. Dan seperti yang dikatakan Yoona, ia memang tidak pandai membohongi Yoona. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu sudah banyak tahu tentangnya.

“Ceritakan padaku, eonni!”

Tiffany menghela panjang, “Yoona-ya … aku menandatangi kontrak itu. Aku sudah melakukan hal yang benar, kan?”tanyanya pelan.

“Tentu saja! Kenapa? Kau menyesal?”

“Tidak … tapi aku hanya takut jika melakukan hal yang salah. Aku akan baik-baik saja, kan?”

Yoona menghela, “Tiffany eonni, kau adalah perempuan kuat! Memang apa masalahnya mengambil tantangan baru, eoh? Jangan khawatir, apapun yang terjadi, aku akan selalu di sisimu, eonni! Kau kan punya pendukung yang hebat, jadi jangan cemaskan apapun, oke?”

Tiffany tertawa. “Baiklah. Terima kasih, Yoong-a …”

Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya. Apapun yang akan terjadi, ia harus menghadapinya. Meski tentu saja ia merasa terusik. Kehadiran Siwon kembali dalam hidupnya telah merampas ketenangan itu.

***

“Miyoung-a … kau tahu kalau aku sangat mencintaimu, kan?”

“Selamanya, kau akan menjadi penyempurna hidupku.”

“Orang lain boleh menggilaiku, tapi kegilaanku hanya untukmu seorang, my Stephany.”

“Bukankah kau sangat beruntung, Mrs.Choi? Dari jutaan orang yang gila-gilaan menyerukan cinta padaku, hanya kau seorang yang berhasil mendapatkanku. Raga dan jiwaku, hanya kaulah yang memilikinya.”

 

Pukul dua dini hari, Tiffany terbangun dari tidurnya. Sudah dua hari tidurnya tak pernah nyenyak. Bayangan Siwon terus datang meneror, bahkan di alam bawah sadar sekalipun. Dan tiap kali ia terganggu oleh mimpi masa lalu, Tiffany beranjak dari kasur. Tidak ada gunanya mencoba terlelap kembali. Satu-satunya yang bisa menghibur adalah saat ia menghampiri Minhyun dan mencoba mencari ketenangan dalam bayangan wajah mungil itu.

Apa yang akan terjadi jika Siwon tahu mengenai Minhyun? Tiffany mengelus pelan wajah malaikat kecilnya itu. Hidung dan rahang Siwon tercetak jelas di wajah itu.

“Maafkan eomma, sayang …” Tiffany berbisik, mengenggam jemari mungil putranya dan terisak di sana.

Hidupnya akan kacau, ia tahu itu dengan pasti. Memikirkan jika Siwon kelak memaksa bertemu dengan putranya membuat beban Tiffany semakin bertumpuk. Inilah poin yang paling memberatkan. Bisakah ia memperkenalkan Siwon pada putranya? Bisakah pria itu menerima putranya?

***

“Halmeoni, eomma sudah datang!”

Tiffany tersenyum senang mendengar teriakan cadel Minhyun yang menyambutnya. Setelah mengganti high heels dengan sandal rumah, ia segera memeluk Minhyun dan memberinya kecupan hangat.

“Apa eomma merasa lelah?”

Tiffany tersenyum, “Tentu saja tidak. Kau baru saja menyuntikkan pil energy  untuk eomma!”

Minhyun terkekeh geli saat Tiffany menggelitiki perutnya dengan gemas.

“Apa eomma sudah lama berada di sini?”tanya Tiffany begitu ia menemukan sosok ibunya yang sedang duduk santai di sofa.

“Sudah sekitar 20 menit yang lalu, tapi itu adalah waktu yang berharga untuk menghabiskan waktu bersama cucuku tanpa gangguanmu,kan?”

Tiffany tersenyum kecil melihat kedekatan ibunya dengan Minhyun. Bukan hanya ia yang memiliki cinta yang besar untuk Minhyun.

“Apa ada sesuatu yang penting,eomma? Bukankah seharusnya eomma masih di Kyoto? Bagaimana kabar abeoji?”

Tiffany telah selesai bersalin pakaian dan kembali bergabung bersama ibu dan anaknya di ruang keluarga.

“Minhyun-a,halmeoni ingin berbicara berdua dengan ibumu dulu. Bisakah kau beristirahat lebih cepat,dear?”

Minhyun yang tadi asyik menggambar di bukunya mengangguk tanpa keberatan.Ia membereskan peralatan belajar dan mainannya dengan dibantu oleh Tiffany.

“Have a nice dream, honey!” bisik Tiffany saat memberikan kecupan selamat malam pada Minhyun.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Nyonya Hwang yang memulai pembicaraan mereka setelah Minhyun masuk ke dalam kamarnya.

“Baik-baik saja, eomma. Tidak ada masalah dengan itu. Kami baru saja tekan kontrak dengan perusahaan untuk iklan. Tapi, bukan masalah pekerjaan yang membuat eomma sengaja datang ke sini,kan?”

Nyonya Hwang tersenyum tenang lalu menyesap teh hijaunya.

“Apakah perusahaan yang kau maksud itu SM Entertaiment?”

Pertanyaan itu diucapkan dengan tenang dan santai tapi cukup keras untuk menohok hati Tiffany. Jangan bilang ibu juga tahu bahwa Siwon ada di agensi itu…

“Apa kau masih butuh agensi seperti itu untuk mengiklankan produkmu?” Tiffany membuka mulut hendak menanggapi,tapi belum lagi itu terjadi, Nyonya Hwang sudah mendahuluinya, “kalau kau sibuk seperti itu, kenapa tidak memberitahuku bahwa Minhyun sakit?”

Oh God! Tiffany hanya tersenyum kecil. Seharusnya ia tahu ibunya selalu punya koneksi untuk tahu keadaan di rumahnya.

“Minhyun merindukan appanya,bukan? Kalau dokter Joon tidak segera memberitahuku, sampai kapan kau akan mencoba menyembunyikan ini dari ibu? Apakah salah jika ibu juga mengkhawatirkan cucu ibu?”

Tiffany bergerak gelisah. Well,sekarang ia merasa bersalah.

“Eomma…”

“Tidak apa. Minhyun sudah sembuh. Lagipula ,ibu datang karena hal lain. Mengenai Minyun … Bukankah seharusnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengenalkannya pada ayahnya?”

Napas Tiffany tercekat. “Eomma!”

“Bukan Siwon,”desah Ny.Hwang sembari menyesap pelan teh, “tentu saja bukan bajingan seperti dia!”

Itu lebih buruk!

“Eomma, aku belum bisa mengambil jalan seperti itu. Minhyun masih belum mengerti!”

“Sayangnya, ya, kau harus segera melakukannya. Apa kau tidak mengerti maksud dr Joon? Minhyun tidak hanya sakit fisiknya,tapi perasaan dan kerinduannya yang lebih sakit! Minhyun membutuhkan seorang laki-laki dewasa, Tiffany!”

“Tapi, bukan sekarang, eomma!”

“Lalu kapan,eoh? Sampai Minhyun kembali jatuh sakit? Kau ingin anakmu benar-benar harus membuktikan hasil keegoisanmu ini? Setelah Minhyun sekarat mencari appanya baru kau ingin membuka hidup baru?!”

Tiffany menahan emosinya sekuat yang ia bisa. Ibunya sangat keras kepala,ia tahu itu.

“Aku tidak ingin mengambil langkah yang salah,eomma!”

“Sudah 4 tahun, Tiffany! Tidak bisa lebih dari itu, nak! Berhentilah egois dan pikirkan masa depan Minhyun juga! Apa kau tidak tahu sudah seberapa sering Minhyun menangis karena diejek teman-temannya karena ia tidak memiliki ayah?”

Hati Tiffany mencelos. Ia tidak tahu ,tapi ia selalu dihantui dengan ketakutan itu.

“Tanyakan pada Taeyeon kalau kau ingin tahu seperti apa kesulitan yang dilalui Minhyun dan kau akan tahu seberapa besar keegoisanmu!”

***

Tiffany berada di tengah suara blits kamera yang terus bersahutan. Teriakan PD dan cameraman juga silih berganti terdengar. Ada banyak orang yang hilir mudik menimbulkan keriuhan di sekitarnya. Tapi, Tiffany merasa kosong. Raganya berada di tempat itu, tapi jiwanya melanglang pergi.

Di samping Tiffany, Yoona sibuk mengawasi para aktor itu berpose. Oh, wajar saja dia terlihat sumringah begitu. Salah seorang dari mereka, sang pemeran utama dalam drama tak lain adalah kekasihnya, Lee Seunggi. Mengagumi pria itu nampak profesional di depan kamera sesaat membuat Yoona lupa bahwa alasan Tiffany terlihat murung akhir-akhir ini juga ada di depannya.

“Astaga, kenapa dia begitu tampan?”Yoona menggumam kecil ketika Seunggi menatap dan menghadiahkan sebuah kerlingan untuknya. “Eonni, kau tahu … eonni?”

Tiffany tersentak, linglung sesaat saat mendengar suara Yoona. “Eoh, kenapa?”

“Kau melamun lagi, eonni,”desah Yoona prihatin. “Kenapa kau datang ke sini kalau sedang tidak sehat, eoh? Bukankah kubilang lebih baik kalau kau istirahat saja?”

“Supaya kau bisa bersenang-senang dengan kekasihmu dan melupakan pekerjaan di sini? No way. Aku tahu pasti apa yang akan terjadi kalau membiarkanmu bekerja sambil berkencan. Tidak ada yang akan selesai dengan baik!”tukas Tiffany.

Yoona tertawa, mengiyakan tanpa pikir panjang. Tapi tawanya mendadak lenyap saat ia kembali melihat ke arah para aktor itu. Choi Siwon sedang menatap mereka, tepatnya menatap Tiffany. Meski hanya sekilas, Yoona menemukan kesenduan yang nyata dalam tatapan itu. Semacam perasaan rindu? Entahlah. Kalau saja Yoona tidak tahu alasan kenapa mereka bercerai, ia akan mengartikannya seperti itu. Tapi, kenapa pula Siwon menyimpan perasaan seperti itu jika ia mencampakkan istrinya?

“Eonni, pulanglah lebih dulu!”ujar Yoona kemudian, “kali ini kau bisa mempercayakan sisa pekerjaan ini padaku. Aku tidak akan meladeni Seunggi oppa, sumpah!”

Tiffany mengernyit bingung, “ada apa denganmu, eoh? Sudahlah, aku baik-baik saja. Tinggal sepuluh menit lagi, kan?”

Yakin jika Tiffany tetap nekat, Yoona memilih diam. Meski khawatir, melihat Tiffany sudah berusaha terlihat baik-baik saja, setidaknya bisa menenangkannya sedikit. Tiffany eonni bukan wanita lemah, batin Yoona.

“Baiklah, sekarang kita ambil foto couple!”seru sang fotographer lantang.

“Aku paling tidak suka bagian ini,”gumam Yoona. “Ah, sepertinya lebih baik aku keluar sebentar, eonni …”ujarnya kemudian. PD-nim baru saja mengarahkan para pemain utama untuk bersama pasangan masing-masing. Tiffany hanya tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya yang pencemburu itu.

Sayang sekali, perasaan aneh yang membuat Yoona meninggalkan tempat itu juga bergejolak di batin Tiffany. Siwon sedang berpose dengan lawan mainnya di sana. Begitu dekat dan terlihat intim. Aneh sekali, kenapa aku peduli dengannya? Tiffany menghela panjang lalu memutuskan untuk menyibukkan diri dengan deretan pakaian-pakaiannya. Lagipula ada hal yang lebih menganggu pikirannya.

“Oke, kita break dulu sebentar! Good job, Siwon-ssi, Chaerin-ssi!” seruan lantang itu mengembalikan Tiffany pada alam sadarnya. Ia juga segera membenahi beberapa pakaiannya dan kembali ke ruang pakaian untuk mengambil pakaian lain lagi.

Tiffany menghembuskan napas berat saat ia telah sendiri di ruangan penuh pakaian itu. Sejak tadi ia tidak bisa focus sama sekali. Ia terus teringat dengan Minhyun. Ucapan ibunya semalam ternyata memang bukan sekedar omongan belaka. Taeyeon sudah membenarkannya setelah ia memaksa.

Minhyun membutuhkan seorang ayah dan ibunya memaksanya untuk menikah kembali. Tapi, ia belum menemukan seorang pun. Selama empat tahun ini hatinya masih tertutup untuk hubungan percintaan apapun itu. Fokusnya hanya untuk Minhyun.

“Apa kau lelah?”

Tiffany tersentak mendengar suara itu menghampirinya. Keningnya mengernyit tak suka menyadari bahwa pemilik suara itu adalah seorang Choi Siwon.

“Kau tidak menjawabku. Sudah lama tidak bertemu, apa begini caramu menyapaku?”

Masih terkejut dengan sapaan Siwon seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, Tiffany tertawa kecil.

“Lalu, sapaan seperti apa yang kau harapkan,Siwon-ssi? Apakah aku harus tersenyum manis padamu dan mengatakan  ‘Annyeong, Siwon oppa, oraenmanida!’, apa begitu yang kau inginkan? Memangnya ada alasan yang membuatku harus melakukannya?!”

Tiffany tidak menggubris reaksi Siwon. Ia segera menyibukkan diri dengan lusinan pakaiannya dan berpura-pura tidak menyadari keberadaan Siwon.

Selang beberapa menit diacuhkan, Siwon berdehem pelan berusaha untuk menarik perhatian Tiffany.

“Ada yang perlu kubicarakan denganmu!” ujar Siwon berusaha untuk terdengar tenang. Tiffany tidak menggubrisnya. “Sangat penting,Tiffany!”

“ Aku tidak menemukan alasan yang membuatku harus beramah tamah denganmu, jadi berhentilah mengusikku,Siwon-ssi!” balas Tiffany dingin.

Siwon menghela napas berat. Tidak ada pilihan lain, ia harus blak-blakan. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka, ia mendekat pada Tiffany dan menyentakkan lengan wanita itu hingga mereka bersitatap dengan jarak yang sangat dekat. Berada di balik set pakaian membuat mereka tertutupi dari pandangan staff.

“Siwon-ssi, apa yang kau lakukan?”desis Tiffany, terkejut sekaligus geram di saat yang sama. Tidakkah pria ini terlalu kasar pada wanita?

“Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Jawab aku, Tiffany Hwang … alasan apa yang membuatmu harus menyembunyikan anakku?”

Untuk sesaat itu, Tiffany merasa jantungnya sempat berhenti bekerja. Tatapan tajam Siwon yang menyiratkan luka menuntut sebuah  jawaban. Jika saja ia mendapat tatapan yang sama empat atau lima tahun lalu, mungkin ia akan langsung luruh dan menumpahkan tangis di pelukan pria itu. Tapi, demi luka yang ditimbulkan Siwon untuk keluarga kecilnya … demi kesakitan yang ditinggalkan Siwon … Tiffany membalas tatapan itu tak gentar.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku membicarakan Hwang Minhyun, putraku! Aku tahu kau sangat kecewa padaku, tapi apa kau bisa melakukan itu padaku, eoh? Aku masih punya hak atas putraku!”

Tiffany tersenyum sinis. “Begitu,ya? Benar … aku sengaja tidak memberitahumu supaya kau tahu bagaimana rasanya dibohongi, diacuhkan dan dikhianati. Sekarang kau sudah tahu, jadi … kau berencana merebutnya dariku?”

Siwon terenyak dalam. Saat ia mengetahui fakta itu, egonya terusik. Seharusnya Tiffany tidak merahasiakan itu darinya, kan? Bagaimana pun, anak itu adalah anaknya. Darahnya mengalir bersama darah anak itu. Seperti yang tadi dikatakannya, ia memiliki hak atas anak itu. Tapi setelah menyudutkan Tiffany seperti ini, kenapa ia justru merasa semakin terkekang? Apalagi saat menyadari ada kabut mendung dalam tatapan Tiffany. Bukankah alasan mereka berpisah adalah karena kesalahan yang dilakukannya? Pegangan Siwon di lengan Tiffany perlahan mengendur. Ia menghela panjang, memutuskan kontak mata mereka dan berujar lirih.

“Biarkan aku bertemu dengannya, Tiffany-ssi.”

Tiffany tertawa sarkas. “Kenapa aku harus menuruti kata-katamu,eoh?”desisnya,  “Minhyun sudah melewatkan hidupnya selama 4 tahun tanpa ayah. Tidak akan ada bedanya dengan tahun-tahun berikutnya. Aku tak peduli bagaimana caramu mengetahui tentang dia, tapi perlu kuberitahu, Siwon-ssi, tidak seorang pun bisa mengambilnya dariku. Berhentilah merengek bahwa kau adalah ayah kandungnya! Aku yakin, Minhyun juga tidak akan bangga memiliki ayah sepertimu!”

“Bicaramu terlalu kasar, Tiffany-ssi!”

Tiffany membuang pandang, enggan menerima tatapan Siwon.

“Kau pikir dengan menyembunyikan statusnya dariku bisa membahagiakan Minhyun? Apa kau tahu seberapa sering dia menangis karena diejek oleh teman-temannya hanya karena kau mengatakan dia tidak memiliki ayah? Apakah itu membuatmu pantas mengasuh Minhyun?!”

Belum cukup sehari ia mendengar tuntutan serupa. Tiffany mengepalkan jemarinya, mati-matian berusaha untuk tidak terlihat rapuh.

“Kau rupanya mematai-matai keluargaku!”desis Tiffany tajam.

“Kau yang membuatku melakukannya. Baguslah kulakukan, kau tidak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi, kan?” balas Siwon dingin.

“Begitu,ya? Ya, kau benar…”desah Tiffany. Ia mengambil jeda dan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Memang aku melakukan kesalahan telah membohongi Minhyun selama ini. Tapi itu sudah berlalu,Siwon-ssi. Jangan berharap kau bisa menggunakan kesalahanku itu sebagai senjatamu merebut Minhyun dariku!”

Siwon mengernyit tak mengerti. Jika saja wanita itu mau menatapnya, mungkin ia bisa mencari penjelasan dalam tatapan matanya. Seperti yang biasa ia lakukan empat tahun lalu. Tapi Tiffany memang sengaja menghindarinya.

“Aku akan segera menebus kesalahanku itu. Jadi, kau tidak perlu repot-repot melibatkan dirimu lagi. Tidak akan kuizinkan kau menganggu Minhyun dengan cara apapun!”

“Dia darah dagingku, Tiffany, apapun yang kau lakukan untuk menutupinya … dia tetap anakku! Sampai mati pun dia tetap anakku!”tukas Siwon.

“Kalau dia menganggapmu sebagai ayahnya … ya, memang. Tapi, bagaimana kalau dia akan memanggil ayah pada orang lain, eoh? Tidak perlu repot-repot memikirkan kami, Siwon-ssi … kau punya banyak agenda yang lebih penting, bukan? Tapi kalau kau tak keberatan, supaya kau berhenti merengek … aku tidak keberatan menerimamu kedatanganmu di pesta pernikahanku. Akan kukirimkan undangannya untukmu, Choi Siwon-ssi. Tentu saja kalau kau punya waktu untuk menghadirinya.” Tiffany mengakhir kalimatnya dengan suara lirih. Sedikit saja ia menambah desibel suaranya, Siwon akan tahu jika sedari tadi sebenarnya ia menyembunyikan tangis.

Tapi Siwon sendiri terlalu terkejut untuk menyadari itu. Seperti dipaksa terjun dari sebuah tebing curam, ia berdiri gamang dengan seluruh persendian lemas.

Apa katanya tadi? Tiffany … akan menikah?

***

Preview Next Chapter :

Selalu ada awal yang baru di saat sebuah catatan berakhir…

“Eomma, aku bertemu ahjussi yang sangat baik!”

………………

“Maaf kalau tidak sesuai dengan impianmu. Tapi, would you marry me, Tiffany Hwang? Be my breath from now and so on, be my only children’s mom, be a grandmother for my grandchild. Would you, my Stephany?”

“Minhyun-a … apa kau ingin bertemu dengan appa?”

“Mulai sekarang Minhyun tidak akan mengenal pria lain yang dipanggilnya ayah selain aku. Jadi, kau tidak perlu mengatakan apapun tentang masa lalumu. Itu sudah cukup, kan?”

“Eomma, siapa ahjussi itu? Kenapa dia menangis? Bukankah eomma bilang hari ini semua orang harus berbahagia?”

Choi Siwon mungkin harus berhenti berharap. Bukankah ini adalah bagian dari luka yang diberikannya untuk mereka?

Seharusnya kau datang memohon lebih cepat, Choi Siwon …

Masa lalu seharusnya tetap menjadi masa lalu. Kita memang sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan masa lalu satu sama lain. Tapi, biarkan aku bertanya satu hal … apa kehadiran wanita itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa di masa depan kelak?

“Namanya Hyeri, oppa. Bukankah dia cantik? Lihat, dia bahkan mewarisi mata dan hidungmu.”

***

Cuap-cuap Author

Dear readers tersayang … lama tak jumpa kitee *ups, kayak ada yang nyari saja* maaf,maaf harus hiatus lamaa banget. Alasannya pasti sibuk kuliah syalalalala. Kalau ada waktu senggang, saya biasa sih nulis ff. Cuma penyakit molor itu masih sering kambuh. Kalau boleh dikata, sebenarnya sudah ada 3 draft ff Sifany yang baru sy tulis, sayangnya belum ada selesai trus bingung juga mau dibawa kemana tuh alur cerita. *lagi tersesat di labirin cerita yang ribet* Nantilah kalau ada kesempatan bakal diselesaiin dan dishare *ngomong-omong, yg sy maksud itu genre thiller-action, jadi sy nggak tega kalau alurnya asal-asalan, hihi*

Ff ini sendiri sebenarnya adalah draft novel yang sudah lama menjamur. Karena sudah nggak mood dijadiin novel jadilah dirombak sana sini dan taraaaa… jadilah ep-ep! Mengenai sampai part berapa, saya belum bisa bilang ya, yang jelas ini chapter-an lah. Pokoknya, masih banyak konflik. Mohon sabar dan setia menunggu sampai akhirnya kita bertemu dengan ‘the end’ ya ….

Biar kata Korsel-Korut lagi konflik, saya tetap akan pakai cast favorit *apa sih?* Sifany, jjang!! Dan juga … meskipun sudah break up, saya tetap dukung Seunggi-Yoona *huaaa, heart break saya maah!* Dan tentu saja, Jessica masih hidup dan ada di ff saya (harus)! *Yang nggak suka Jessica pasca pemecatan tempo hari, mohon maaf yee… ini ff yang buat adalah orang yang masih dukung dia, jadi tolong jangan bashing*maaf, ngelantur!*abaikan ini*

Pokoknya, kritik dan saran ditunggu! RCL is my pill energy, yeoreobun!😀😀

Apheurodo manhi-manhi saranghaejuseyo!

with love, @zha_yurie

128 thoughts on “(AF) We do Believe

  1. wahwaahh.. keren thor., hampir jamuran ini nunggu ff author pasca/? Secret wktu itu hehee.. lanjutkan! jngan lamaa lama yah unnie sayangg.. #hwaiting..!! semangat teruus yak.. :*

  2. wah keren bangt. disisni entah siapa yang harus disalahkan . masih terdapat banyak misteri di dalam cerita ini, semoga di part selanjutnya da flassback tentang cerita mereka berdua. minhyun, wanita berinisial Y dan… next part

  3. Welcome back author zha……….. *tebarbunga*
    Senang akhirnya ada yang lain setelah “secret” meskipun aku ketinggalan karena baru baca “we do believe”. Hikksss
    Dan setelah baca sepertinya aku menemukan ciri khas dari author zha, yaitu buat cerita yang ngena banget ke hati, istilahnya jaman skrng itu nyesek, huuaaaa ini keren zha. Karena apa yang dirasakan sama tokoh dalam cerita yg km tulis itu kerasa banget. Feel’nya dapet.. TOP
    Aku penasaran sama part selanjutnya, sepertinya akan ada orang ke 3 diantara sifany. Seperti secret dulu selalu dibuat penasaran dan tanda-tanya. Tapi aku suka >.<
    Semangat terus author zha tulis part 2'nya trus update soon yah, hihiii *biglove*

  4. Omo !! Siapa hyeri ??
    Siwon knp gampang bgt ngelepasin fany..
    Aduh kyknya makin rumit konfliknya ..
    Semoga mreka bisa balikan tnpa org ketiga yaa

  5. Wooahh,daebak thor ceritanya, kok siwon tega ma fany sih, apkh ad alsn d balik it,pnsaran bget apa bner siwon selingkuh?? Next part smkin seru yaa thor..

  6. Mau nangis bacanya…
    Siwon oppa jahat😈😠 kasian Tiffany eonni tau!
    *maaf terlalu terbawa emosi*
    Tiffany eonni sama minhyun u,u
    Tiffany eonni kenapa harus menikah lagi??
    Kenapa ga kasih kesempatan Siwon oppa untuk bilang ke Minhyun?? Next part!

  7. Mau nangis bacanya… Siwon oppa jahat😈😠 kasian Tiffany eonni tau! *maaf terlalu terbawa emosi* Tiffany eonni sama minhyun u,u Tiffany eonni kenapa harus menikah lagi?? Kenapa ga kasih kesempatan Siwon oppa untuk bilang ke Minhyun?? Next part!

  8. Ok fix untuk skrng yg pertama adlh konflik
    Greget dh sm next chap’a
    Mudah2 ada sweet’a nnti, yah walaupun sdikit2
    Sifany jjang!!
    Jgn lama2 ya thor hihihi..

  9. ahhh konflik kayak gini yang bikin greget bacanya
    gemes sama alur ceritanya, aku ngerasa pingin masuk ke ceritanya terus ngelurusin apa yang gak bener tapi kalo aku masuk ya gak seru ceritanya hehehe
    keren temanya, aku suka sama konflik batinnya

  10. konflik hati yg berat krn yg dipermainkn bkn ap2 tp hati. siwon sprt pengecut yg tdk mw tnggung jwb akn klrgny, istriny tiffany. tp justru yg lbh q tkutkn lg siwon pny ank lg dr wanita lain. sprtiny perjlnn cinta sifany msh pnjang. aplg udh ad minhyun smg mrk bs mnekn egois msg2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s