(AF) MY SECOND LOVE MY WIFE TWINNING

MY SECOND LOVE MY WIFE TWINNING

Part 5

1st ff

Author : @q2lovepink

Main Cast: Tiffany Hwang, Choi Siwon

Other Cast: Jessica Jung, Choi Sooyoung, Lauren Hanna, Kim Stella and Lee Donghae

Genre  : Sad, Romance, Marriage Life

Rating : PG (17+)

Length : Chapter

Disclaimer :

FF ini murni hasil pemikiranku, apabila ada kesamaan cerita, ataupun karakter tokoh adalah hal yang tidak disengaja.

So Happy Reading ;)

Siwon dan Tiffany berlari kecil di lorong rumah sakit guna mengejar ranjang yang mendorong tubuh lemah Lauren menuju ruang ICU. Tiffany tak henti – hentinya mengutuk dirinya yang lalai dalam menjaga Lauren. Air mata senantiasa mengalir deras dari pelupuk mata cantiknya. Pun begitu dengan Siwon, ia merasa dirinyalah penyebab dari kecelakaan yang menimpa putri tercintanya.

“Lauren-ah, baby! Bangunlah nak..! Aunty mohon jangan seperti ini! Jangan membuatku takut baby.” Tiffany tak melepaskan genggaman tangannya pada Lauren sejak masuk pintu rumah sakit.

“Maaf Tuan Nyonya, anda berdua tidak boleh masuk. Biarkan tim dokter yang menangani putri kalian. Sebaiknya anda berdua menunggu disini dan berdoalah untuk keselamatan putri anda.” Ujar seorang suster yang kemudian menutup pintu yang bertulisakan ‘ICU’.

“Oppa! Eonni! Apa yang terjadi dengan Lauren?” Sooyoung yang mendapat kabar buruk mengenai Lauren dari Siwon langsung tancap gas menuju rumah sakit.

“Entahlah, Youngie. Semuanya terjadi begitu cepat.” Jawab Siwon lemah.

“Aku tidak percaya ini terjadi pada keponakan kecilku. Baru dua jam yang lalu ia meneleponku dan menceritakan pengalaman bahagianya bersama kalian.” Sooyoung ikut mendudukan dirinya disamping Siwon. Sementara Tiffany hanya menatap kosong ke depan dengan berlinang air mata, mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan mantra untuk keselamatan Lauren.

Selang berapa lama Jessica dan Donghae juga ikut hadir disana. Melihat keadaan sahabatnya yang begitu terpuruk, mengiringnya untuk memberikan pelukan hangatnya.

“Uljima Fany-ah, percayalah semuanya akan baik – baik saja. Lauren adalah anak yang  kuat, ia pasti bisa melewatinya.” Ucap Jessica menenangkan Tiffany.

“Aku telah gagal Sica…. Aku telah gagal.. hiks…” lirih Tiffany dalam pelukan Jessica.

“Aniyo, kau sudah memberikan yang terbaik Fany. Ini semua hanya takdir, kau tidak boleh menyalahkan dirimu.”

 

Setelah 5 jam menunggu akhirnya tim dokter yang menangani operasi Lauren keluar dari ruang ICU dengan peluh yang memenuhi wajah mereka. Siwon dan Tiffany segera berdiri dari duduknya dan menghampiri sang dokter disusul oleh Sooyoung, Jessica dan Donghae.

“Bagaimana keadaan anak saya Uisa-nim?” Tanya Siwon cepat.

“Ia sudah melewati masa kritisnya, hanya saja sampai saat ini keadaannya masih koma. Kami tidak bisa memastikan kapan ia akan tersadar. Mianhae.” Jelas dokter itu, tangan kanannya menepuk pundak Siwon pelan dan berlalu pergi.

Lutut Tiffany terasa lemas, ia tidak bisa menopang tubuhnya lagi hingga akhirnya ia limbung dan pingsan.

“Fany-ah!!!”

 

**Sifany**

Sudah satu minggu sejak kecelakaan itu terjadi namun belum ada perkembangan sedikitpun pada Lauren. Siwon dan Tiffany tidak pernah absen untuk menjaganya, bahkan mereka melupakan semua kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan. Penampilan mereka pun terlihat berantakan, tidak ada niat dalam diri keduanya untuk mengurus diri mereka sendiri.

Sooyoung yang tidak tahan melihat keadaan Oppa dan Eonninya, terutama keadaan Lauren yang belum sadarkan diri, berniat untuk membuat perhitungan dengan Stella. Ia akan menemuinya siang ini juga.

Sooyoung berjalan cepat di sebuah gedung apartement mewah. Ia menekan bel dengan paksa dan tanpa jeda, seolah ia sudah tidak sabar untuk bertemu pemiliknya.

Begitu pintu terbuka, Sooyoung langsung menyembur masuk dan menarik kuat rambut stella. Amarahnya sudah mencapai puncak. Ia tidak akan lagi membiarkan wanita ini memporak-porandakan keluarganya.

“AW!! Apa yang kau lakukan hoh? Apa kau sudah gila? Kau masuk rumah orang dan berbuat kasar seperti ini! Aku akan melaporkanmu!” Teriak Stella kesakitan sambil memegang tangan Sooyoung agar terlepas dari rambutnya.

“Kau yang akan aku laporakan Stella! Kau sudah mencelakakan keponakanku.” Balas Sooyoung tak kalah keras.

“Aku tidak melakukan apapun. Itu hanya kecelakaan dan  kau tahu itu!”

“Ya, dan kau yang menyebabkan semuanya terjadi. Kau dalang dari semua kekacauan ini.!” Sembur Sooyoung.

“Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?” suara seorang pria dari arah dapur menginterupsi pertengkaran Stella dan Sooyoung.

Sooyoung tersentak kaget dengan apa yang dilihatnya, begitupun dengan pria tersebut. Mereka sama – sama membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Sooyoung? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya pria yang tak lain adalah Lee Donghae.

“Bukankah seharusnya itu pertanyaanku? Kenapa kau berada di apartement seorang wanita Oppa?” ujar Sooyoung balik bertanya. Sooyoung dan donghae memang sudah saling mengenal karena ketika itu Jessica dan Tiffany mengajak serta Sooyoung pada acara pameran yang diadakan Donghae.

“Ini adalah apartement adikku.” Jawab Donghae santai.

“Mwo?? Jadi wanita ini adikmu??” Sooyoung kembali membelalakan matanya tak percaya.

“Apa kau juga ikut andil dengan perbuatannya Oppa?” lanjut Sooyoung.

Donghae mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Sooyoung, sementara Stella hanya berdiri cemas jika Oppanya akan mengetahui semua perbuatan buruknya.

“Apa maksudmu Sooyoung? Ikut andil dalam perbuatan apa? Aku tidak mengerti.” Ucap Donghae dengan nada bingung. Ia memang tidak tahu menahu dengan apa yang telah dilakukan adiknya.

“Jadi kau sungguh tidak tahu Oppa? Adikmu yang telah mengakibatkan Lauren terbaring lemah sekarang. Dan perlu kau tahu lagi Oppa, ia juga telah menjebak Siwon Oppa dalam permainan busuknya.” Jelas Sooyoung dengan kilatan mata yang penuh kebencian.

“Op..Oppa.. k-kau jangan mendengarkannya, ia berbohong Oppa. Ia ti-tidak menyukaiku, makanya ia selalu berusaha memfitnahku.” Ucap Stella terbata-bata, ia sungguh takut dengan Oppanya.

“Oppa sangat mengenalmu Stella-ya. Oppa pikir kau telah berubah, ternyata Oppa salah.” Donghae menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya “Sooyoung aku minta maaf atas nama adikku, aku berjanji akan bertanggung jawab dan menyelesaikan semua permasalahan ini. Kau tidak perlu khawatir aku juga akan melakukan tindakan terhadap Stella.” Donghae meyakinkan Sooyoung agar ia menyerahkan semua urusan Stella padanya. Donghae sangat tahu apa yang harus ia lakukan terhadap Stella.

Sooyoung pergi dengan satu keyakinan pada dirinya. Ia percaya Donghae akan melakukan yang terbaik untuk masalah ini. Perasaannya sedikit lega sekarang.

 

**Sifany**

“Lauren baby, bangunlah nak! Pulanglah pada keluargamu. Kau belum pantas berada disini.”

“Mommy, apakah itu kau?”

“Ne, baby. Ini Mommy, apa kau senang bertemu denganku?”

“Yeay!! Aku sangat senang Mommy. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”

“Karena kau sudah bertemu dengan Mommy, sekarang kembalilah ke tempat asalmu, ne.”

“Shirreo! Aku masih ingin bersama Mommy. Aku takut Daddy akan menikah dengan wanita itu Mom.”

“Dengar baby, kalau kau masih disini terus semua orang yang kau sayangi akan merasa sedih dan kesepian. Selain itu Mommy juga yakin kau akan mendapatkan apa yang paling kau inginkan.”

“Jinjja? Apa itu Mommy?”

“Kau akan mengetahuniya setelah kau kembali nanti, sekarang pergilah! Temui Daddy dan Tiffany Aunty mu. Mereka sangat membutuhkanmu dan ingat! Kau harus membuat mereka bahagia, aratchi?”

“Ne, Aratchi. Love you Mom.”

“Love you too baby. Bye!”

 

“Lauren-ah, bukalah matamu. Jebal! Asal kau tahu baby, kau adalah salah satu alasan Aunty bertahan hidup. Sekarang jika kau seperti ini Aunty tidak tahu siapa yang akan menjadi tujuan hidup Aunty. Bangunlah baby! Aunty mohon. Aunty janji jika kau mau membuka matamu, kau boleh menyebutku Mommy sebanyak yang kau mau. Aunty juga akan selalu menemani tidurmu. Jebal Lauren-ah……” sepertinya air mata Tiffany tidak akan pernah kering, mereka masih betah berada di pelupuk mata cantik Tiffany dan akan keluar sebanyak yang mereka inginkan tanpa mengenal waktu, tempat dan kondisi apapun.

“Meskipun Lauren bukan anak kandungmu, kau merasa sangat kehilangannya kan? Kau begitu terpukul dengan kejadian ini. Sekarang kau bayangkan bagaimana perasaan Mommy mu ketika ia harus kehilangan Eonnimu. Terlebih ketika Mommy mu bertemu dengan putrinya yang satu lagi, ia malah membencinya. Hatinya pasti akan sangat hancur Fany-ah..” Jessica yang kebetulan berada disamping Tiffany, mencoba memberinya pengertian tentang perasaan Ny. Hae Ri yang juga mengalami hal yang sama dengan Tiffany.

“Tapi dia sudah meninggalkanku Sica-ya.”

“Arra! Tapi tidak bisakah kau memaafkannya? Mereka masih terlalu muda kala itu, dan yang kau butuhkan saat ini adalah kehangatan dari seorang ibu. Kau akan merasa nyaman berada dalam dekapannya. Kau adalah tujuan hidupnya sekarang. Jika kau tidak ingin kehilangan orang yang paling berharga untukmu lebih banyak lagi, pergilah padanya dan maafkanlah dia. Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali Fany-ah.”  Tiffany hanya termenung dengan penuturan panjang Jessica. ia masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya, namun hati kecilnya membenarkan ucapan sahabatnya tersebut.

 

**Sifany**

“Besok pagi Oppa akan mengirimmu ke China. Kau harus kembali menjalani therapy mu.”

“Shirreo! Oppa jebal…  jangan bawa aku ke tempat itu lagi. Aku tidak mau kembali ke tempat yang menyeramkan itu.”

“Itu adalah hukumanmu Stella. Oppa tidak ingin kau berbuat sesuatu yang lebih dari ini.” Ucap Donghae tegas.

“Oppa…. Aku mohon biarkan aku tinggal bersamamu.. aku mohon Oppa….” Stella terus memohon pada Donghae. Ia sangat tidak ingin Oppa nya membawanya kembali ke tempat yang hanya menangani pasien yang mengalami gangguan psikis.

Well, Stella pernah mengalami depresi berat setelah kehilangan ibu kandungnya. Selang satu tahun, ia juga kembali ditinggalkan oleh kekasih tercintanya. Stella menjalani therapy di salah satu rumah sakit kejiawaan di Negeri Tirai Bambu. Setelah tiga tahun menjalani therapy, Donghae mengira jika Stella telah sembuh. Ia pun kembali membawa pulang Stella hingga akhirnya Stella bertemu dengan Siwon yang sudah berstatus suami dari wanita cantik yang bernama Stephany. Sejak pertemuannya itu, Stella selalu mengganggu kehidupan rumah tangga Siwon dan Stephany, namun untungnya keutuhan cinta mereka tidak tergoyahkan dengan kehadiran Stella.

Pada suatu hari Donghae, Stella beserta keluarganya harus pindah ke Jepang karena  ada suatu hal, Sejak itulah Stella menghilang dari kehidupan Siwon. Kini ia kembali hadir untuk melanjutkan hasratnya memilki hati Siwon.

“Keputusan Oppa sudah bulat Stella! Tidak ada penolakan lagi.”

“Oppa……” Stella hanya menangis pasrah dengan keputusan Donghae. Ia terkurung di dalam kamar apartementnya. Donghae ingin menjauhkannya dari tindakan gila lainnya.

 

**Sifany**

Tiffany melangkah ragu menuju rumah yang baru kali pertama ia kunjungi. Setelah pikiran dan hatinya berdebat hebat sejak tadi malam, akhirnya Tiffany mau mengikuti kata hatinya. Dan disinilah ia sekarang, di rumah orang yang sangat dibencinya namun juga sangat dirindukannya. Tangannya terulur untuk menekan bel yang menempel disamping pintu yang cukup besar.

Ting Tong

Tiffany menghembuskan nafasnya berkali – kali mencoba menetralkan degup jantungnya yang berdetak sangat kencang. Seorang maid membukakan pintu dan menyambutnya ramah.

“Annyeong Ahjumma, bisakah aku bertemu dengan Ny. Hae Ri?” Tiffany memberikan senyum terbaiknya pada Ahjumma tersebut.

“Oh, Annyeong Nona. Silahkan masuk! Ny. Hae Ri sedang berada di ruang tengah. Saya akan segera memanggilnya. Bisakah saya tahu nama anda nona?”

“Mianhae Ahjumma, aku tidak bisa memberi tahukan namaku. Aku ingin memberinya kejutan. Bolehkah?”

“Terserah anda saja Nona, mari saya antarkan.” Maid itu pun mengantarkan Tiffany menuju ruang tengah tempat Ny. Hae Ri berada.

Mendengar suara langkah seseorang, membuat Ny. Hae Ri mendongakkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya ia tatkala matanya bertemu pandang dengan orang yang kini berdiri tepat dihadapannya.

“Fa…Fany-ah? Benarkah ini kau?” Ny. Hae Ri tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendapati Tiffany berada di rumahnya sekarang.

“N-ne… Nyon..eum.. aniyo..eum.. Mom..my..” ucap Tiffany terbata-bata, ia sangat ragu saat mengucapkannya.

Ny. Hae Ri sontak membelalakan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tiffany memanggilnya Mommy. Benarkah itu?

“Bi..bisakah k-kau mengulanginya lagi Fany-ah?”

Air mata Tiffany kembali menetes, dengan penuh keyakinan ia kembali memanggil kata yang belum pernah ia sebutkan sekalipun.

“Mianhae Mommy..hiks..” dengan perasaan bahagia yang meletup – letup dalam hatinya, Ny. Hae Ri memeluk Tiffany sangat erat seakan ia takut akan kehilangan putrinya untuk kedua kalinya.

Mereka menyalurkan semua perasaan rindu yang selama ini mereka pendam melalui pelukan hangat ini, hingga suara deringan ponsel Tiffany menginterupsi moment mereka.

“Yeoboseo…”

“Eonni cepatlah datang ke rumah sakit sekarang juga.”

 

**Sifany**

Suara derap langkah Tiffany terdengar jelas di sepanjang koridor rumah sakit. Sejak ia menerima telepon dari Sooyoung tadi, jantungnya terus berdetak cepat. Ia sangat khawatir dengan keadaan Lauren.

Sesampainya di pintu ruang inap Lauren, Tiffany segera masuk dan berlari menuju ranjang rumah sakit yang ditempati Lauren. Siwon sudah berdiri disamping Lauren dan tatapannya tak pernah lepas dari putrinya yang terbaring lemah.

“Oppa apa yang terjadi dengan Lauren? Apa ia baik – baik saja?”

“Entahlah Fany.. tiba-tiba mesin ini menunjukkan detak jantung Lauren yang sangat cepat.”

Saat Tiffany mengalihkan pandangannya dari Siwon, tanpa sengaja ia melihat jari-jari mungil Lauren bergerak perlahan.

“Oppa lihatlah! Tangan Lauren bergerak. Ia sudah sadar Oppa.”

Siwon mengikuti arah pandang Tiffany dan ia juga menyaksikannya. Semua orang yang berada disana ikut menangis bahagia tatkala  Lauren membuka matanya secara perlahan.

“Cepat panggil dokter Youngie!” Seru Siwon pada Sooyoung.

“Dad…Daddy… A..Aunty…” Ucap Lauren parau. Siwon dan Tiffany segera menghampirinya, Siwon mengecup pipi Lauren berulang kali.

“Lauren-ah, syukurlah kau sudah sadar nak.” Siwon tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya melihat Lauren membuka matanya.

“Daddy kenapa wajah Daddy berantakan sekali?”

Semua orang yang berada disana hanya tertawa mendengar pertanyaan polos Lauren, dan tidak lama berselang dokter yang menangani Lauren pun tiba guna memeriksa keadaan Lauren lebih lanjut.

“Bagaimana keadaannya Uisa-nim?” Tanya Siwon setelah dokter itu selesai memeriksanya.

“Keadaannya jauh lebih baik Tuan. Ini sungguh keajaiban.” Swon mendesah lega, bibirnya terangkat sempurna.

“Khamsahabnida Uisa-nim.”

“Cheonma”

Ny. Hae Ri merangkul bahu Tiffany dan itu membuat semua pasang mata terkejut. Menyadari hal itu Tiffany segera menjelaskan,

“Oke.. oke.. kalian tidak perlu menatapku seperti itu. Aku akan menjelaskan semuanya. Tadi pagi aku dan Mommy ku sudah berbaikan. Aku sadar, selama ini aku memang merindukan Mommy namun aku selalu berusaha membantahnya dan kekecewaanku terhadap kesalahan Mommy dulu membuatku gelap mata. Aku sangat berterimakasih pada teman terbaikku Jessica, karena dialah yang telah membuka mata serta hatiku. Thank you so much Sica-ah, I love you more.” Tiffany beralih memeluk Jessica dan disambut hangat oleh gadis berambut blonde tersebut.

“Love you too my mushroom, aku senang akhirnya kau mau mendengarkanku.” Balas Jessica. Ny. Hae Ri menghapus air matanya yang jatuh, ia sangat bahagia karena pada akhirnya Tiffany mau menerimanya kembali.

“Sepertinya setelah ini kita harus mengadakan pesta.” Saran Siwon, ia berjalan mendekati dua wanita cantik yang tengah berpelukan itu.

“Bagaimana menurutmu Fany-ah?” lanjutnya sambil berbisik di telinga Tiffany.

“Yak Choi Siwon! Kenapa kau mengganggu momentku bersama Fany!!!” Teriak Jessica kesal dan Siwon hanya mengangkat bahunya santai.

“Tiffany Aunty, apa kau tidak akan memelukku?” ucap Lauren manja.

“Oh tentu saja Aunty akan memelukmu baby, Aunty sangat sangat merindukanmu.” Tiffany segera menghampiri Lauren dan langsung memeluknya erat.

“Bogoshippo baby, jangan buat kami khawatir lagi, hm..”

“Ne, Aunty..”

 

**Sifany**

Setelah tiga minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Lauren di perbolehkan pulang. Ia sangat senang dapat kembali lagi ke rumahnya, karena selama berada di rumah sakit ia merasa bosan tidak dapat melakukan apapun selain tidur dan makan. Siwon membantu Lauren berjalan dengan tongkatnya, mengingat kakinya yang masih terluka akibat kecelakaan itu. Untung saja ia tidak mengalami patah tulang yang bisa mengakibatkannya lumpuh.

“Daddy, apa Tiffany Aunty akan tinggal bersama kita? Aku ingin Aunty yang merawatku.”

“itu tidak mungkin Lauren-ah, Tiffany Aunty bisa merawatmu tanpa harus tinggal bersama kita.”

“Wae, Dad?”

“Eung… itu… itu… karena…..” Siwon bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Lauren. Putrinya itu pasti akan memberikan pertanyaan – pertanyaan lainnya.

“Lauren baby!” Panggilan Tiffany menginterupsi perbincangan antara Siwon dan Lauren, Siwon merasa lega karena ia bisa terbebas dari pertanyaan Lauren tadi.

“AUNTY!!”  Lauren hampir saja berlari, tapi untungnya dengan sigap Siwon menahannya.

“Lauren, ingat kakimu masih terluka! Kau tidak boleh berlari, ara!” seru Siwon memperingati.

“Mian, Dad. Aku lupa.”

“Siwon Oppa, mianhae aku terlambat. Tadi ada sedikit masalah dengan mobilku.” Sesal Tiffany begitu sampai dihadapan Siwon dan Lauren.

“Gwenchana, kami juga baru keluar.”

Tiffany mensejajarkan tubuhnya dengan Lauren sembari mengelus rambutnya sayang, “Bagaimana kabarmu hari ini baby?”

“Mmmm aku sudah lebih baik Aunty, itu semua karena Aunty yang selalu merawatku.” Lauren mengalungkan tangannya di leher Tiffany lalu ia mencium kedua pipinya.

“Jinjja? Jadi kau menganggap Aunty sebagai perawatmu, begitu?” Tiffany mempoutkan bibirnya, ia pura – pura marah.

Ketika mereka sedang asyik bercanda, tiba – tiba Donghae datang menghampiri mereka. Ia ingin segera menyelaesaikan masalah adiknya dengan Siwon.

“Siwon-ssi, bisakah kita bicara sebentar?”

“Eoh, ne tentu saja. Fany-ah.. Lauren-ah.. kalian tunggu saja di lobby ne, kami tidak akan lama.”

“Ne, Oppa.”

“Ne, Daddy.”

Siwon dan Donghae pun pergi menuju kantin rumah sakit, sempat terjadi keheningan diantara mereka. Donghae bingung harus memulai pembicaraan darimana, begitu pun dengan Siwon, ia sudah mengetahui cerita mengenai Stella yang merupakan adik Donghae dari Sooyoung. Setelah beberapa menit terdiam. Donghae akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

“Ehem! Siwon-ssi aku ingin meminta maaf atas nama adikku Stella. Mungkin kau sudah mendengar ceritanya dari Sooyoung. Sungguh aku sama sekali tidak tahu menahu dengan tingkah laku Stella, jika saja kala itu Sooyoung tidak mengunjungi apartementnya mungkin hingga detik ini aku tidak akan mengetahuinya. Aku memang seorang kakak yang buruk karena tidak bisa menjaga adikku dengan baik, bahkan aku membiarkan dia berbuat sesuatu yang sudah diluar batas. Dia juga sudah sangat membuatmu menderita. Jeongmal mianhae Siwon-ssi.. jeongmal mianhae..” Donghae menundukkan kepalanya dalam, ia merasa malu untuk menatap Siwon.

“Donghae-ssi, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Aku hanya ingin Stella pergi dari kehidupanku dan tidak menggangguku lagi. Oh iya satu lagi, aku juga ingin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa tidak terjadi apapun antara aku dan dia pada malam itu.” Ucap Siwon tegas.

“Mengenai masalah itu kau tidak perlu khawatir Siwon-ssi, karena Stella sudah mengungkapkannya padaku. Ia bilang itu semua hanya permainannya agar kau mau menikahinya. Kau sama sekali tidak menyentuhnya sedikit pun.” Jelas Donghae mantap. Kini ia menatap Siwon dengan yakin seakan tidak ada keraguan dalam setiap ucapannya.

Siwon mendesah lega, ia sangat bahagia mendengarnya. Dengan begitu ia bisa meyakinkan Tiffany untuk bersedia menerimanya. Seulas senyum pun terukir pada wajah tampannya sehingga menampakkan dua lesung pipinya yang mempesona.

 

**Sifany**

Lauren dan Tiffany masih setia menunggu Siwon di lobby rumah sakit, sebenarnya Lauren sudah merasa bosan. Berulang kali ia mempoutkan bibir mungilnya karena terlalu lama menunggu Daddy nya. Ia juga tidak berhenti menggerutu kesal, sumpah serapah selalu terlontar dari mulutnya. Tiffany tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah keponakan kesayangannya ini. Ia sangat bersyukur Lauren bisa kembali kepelukannya.

Tak lama berselang , akhirnya orang yang sedari tadi ditunggu pun muncul. Senyum manisnya tidak pernah lepas sejak pernyataan Donghae tadi. Tiffany memicingkan matanya, ia bingung dengan ekpresi Siwon yang terlihat sangat bahagia.

“Oppa, gwenchana?” Tanya Tiffany begitu Siwon berada di hadapan mereka.

“Apa aku terlihat sakit?” bukannya menjawab pertanyaan Tiffany, Siwon malah balik bertanya sembari mengedipkan sebelah matanya.

“Kau memang sakit Oppa. Tingkahmu sangat aneh. Kajja baby kita pulang!” Tiffany segera menuntun Lauren pergi sebelum Siwon bertingkah lebih aneh lagi.

“Sebentar lagi kita akan hidup bersama Fany-ah. Aku pastikan itu.” Gumam Siwon pelan, lantas pergi menyusul Tiffany dan Lauren.

 

**Sifany**

Di kediaaman rumah mewah Siwon, Jessica dan Sooyoung tengah sibuk mempersiapkan pesta penyambutan Lauren. Mereka telah merencanakan sesuatu untuk mengerjai Siwon, Tiffany dan Sooyoung.

“Sica Eonni, apa semuanya sudah siap? Tadi Oppa mengirimku pesan, katanya mereka sudah menuju kesini.”

“Mwo??? Yak! Kenapa mereka cepat sekali? Youngie, ayo kita segera membereskannya.”

“Apalagi yang harus dibereskan Eonni, menurutku semuanya sudah rapi.”

“Aniyo.. aniyo… aku ingin semua ini terlihat sempurna.” Jessica terus sibuk dengan tangannya. Ia tidak mempedulikan ucapan Sooyoung yang memang sebenarnya ada betulnya.

“Aish.. dasar Ms. Perfect.” Gerutu Sooyoung pelan.

 

TING TONG TING TONG

“Ah, itu pasti mereka.” Sooyoung segera berlari menuju pintu, namun langkahnya terhenti dengan deheman keras Jessica.

“Ehem!!! Kau tidak boleh membuka pintunya Youngie.” Tegas Jessica dengan melipatkan tangannya di depan dadanya.

“Wae. Eonni?”

“Biarkan mereka menunggu lama sampai mereka kesal, lalu setelah itu mereka pasti akan memaksa masuk dan kita mulai kejutkan mereka. Otte?”Jessica mengangkat sedikit bibir dan alisnya.

“Ide yang bagus Eonni.”

“Kajja kita bersembunyi!”

Jessica dan Sooyoung mulai menjalankan rencana mereka. Sedangkan diluar sana Siwon sudah mulai kesal karena tidak ada satupun orang yang membukakan pintu untuknya.

“Aigoo…. Kemana orang – orang dirumah ini? Apa mereka semua tidak mendengar bel? Atau mereka sedang tidur? Aish…. Ini sungguh keterlaluan.” Siwon tidak berhenti mengomel, ia juga terus mondar – mandir sambil mengintip ke dalam melalui jendela besar rumahnya. Semuanya terlihat gelap dan sepertinya tidak ada tanda – tanda kehidupan di dalam sana. Siwon mengerutkan keningnya bingung, tidak biasanya keadaan rumahnya seperti ini.

“Oppa, kenapa kita tidak langsung masuk saja? Oppa pasti punya kunci cadangan kan?” Tiffany yang sedari tadi dibuat pusing dengan tingkah Siwon yang mondar – mandir mencoba menyarankan sesuatu pada pria tampan yang kini berdiri disampingnya.

“Justru itu aku lupa membawanya Fany-ah…”

Tiffany memutar bola matanya dan meghembuskan nafasnya kasar, ia sungguh kesal dengan Siwon. Bagaimana bisa ia melupakan kunci rumahnya. Seandainya tidak ada Lauren bersama mereka, mungkin Tiffany sudah memakinya.

“Ya sudah, coba Oppa buka pintunya. Siapa tahu saja pintunya tidak kunci.”

Siwon mengikuti saran Tiffany, dan benar saja pintunya tidak kunci. Hal ini membuat kadar kekesalan Siwon semakin bertambah, ia mengutuki siapapun yang telah ceroboh karena membiarkan rumahnya kosong dan tanpa dikunci pula.

Ketika mereka melangkah masuk, tiba-tiba saja Siwon mendapati keadaan rumahnya yang berantakan dan …. dan …..

“Oh God! Apa yang terjadi disini? Kenapa semuanya berantakan? Dan dimana sebagian perabotan rumahku?” Tiffany tidak kalah terkejut dengan Siwon, ia mentup mulutnya yang sempat terbuka dengan kedua telapak tangannya.

“Daddy, mungkinkah ada pencuri yang masuk? Tapi dimana Sooyoung Imo? Apa Imo diculik oleh pencuri itu?” pertanyaan Lauren sontak membuat Siwon menoleh padanya dan ia segera mencari Sooyoung beserta para maidnya. Pantas saja sejak ia memasuki gerbang rumahnya, tidak ada satupun maid yang berada di halaman depan. Siwon berfikir mungkin mereka sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Namun kenyataannya semuanya di luar dugaannya.

“Youngie… Youngie…!!! Dimana kau? Apa kau mendengarku?” Siwon terus berteriak keras, Tiffany tidak bisa menahan cairan bening yang menetes di pipinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Sooyoung.

Sementara dibalik lemari dua orang yeoja yang berselisih usia satu tahun itu, hanya bisa terkikik geli. Rencana mereka berhasil, Jessica mengedipkan sebelah matanya pada Sooyoung. Hana.. Dul…Set…

“WELCOME BACK LAUREN CHOI” Jessica dan Sooyoung keluar dari tempat persembunyiannya diiringi dengan suara terompet dan pita – pita yang berjatuhan dari atas.

Siwon, Tiffany dan Lauren hanya menganga melhat kemunculan Jessica dan Sooyoung. Bukannya senang, Siwon malah menghampiri meraka dengan wajah yang menyeramkan.

“YAAK!!! Apa yang kalian lukakan eoh? Apa kalian ingin aku terkena serangan jantung? Coba kalian lihat Tiffany! Dia sangat ketakukan!!”

“Mianhae, Oppa… kami hanya ingin membuat kejutan.” Lirih Sooyoung dengan menundukkan kepalanya.

Berbeda dengan Sooyoung, Jessica justru menantang kembali Siwon, “YAAKKKK!!! Seharusnya kau berterima kasih pada kami yang sudah susah payah menyiapkan pesta untuk kalian. Kenapa kau tidak bisa menghargai kerja keras orang lain, Eoh?”

Menyadari situasi yang akan semakin parah jika diteruskan, Tiffany bergegas menengahi Siwon dan Jessica.

“Oppa, sudahlah tidak apa-apa. Sebaiknya kita bersyukur karena ternyata semuanya baik – baik saja. Lagipula hari ini adalah hari yang bahagia untuk Lauren dan kita semua. Akankah lebih baik jika kita melupakan kejadian tadi dan merayakan kepulangan Lauren?” Damn!! Lagi – lagi Tiffany mampu meluluhkan hatinya. Ia menggenggam tangan Siwon guna menenangkan hatinya, dan itu berhasil. Siwon menatap manik mata Tiffany, ada kelembutan dan ketulusan yang terpancar disana. Tanpa dipaksa, seulas senyum terukir di bibir keduanya.

“Ehem! Tuan Choi yang terhormat dan Nona Hwang yang baik hati, bisakah kita mulai acaranya? Ingatlah! Ini acara yang aku buat untuk Laurenku, bukan untuk kalian berdua.” Jessica mendelik sebal pada Siwon dan Tiffany, lantas ia berlalu dari hadapan keduanya.

Semua orang yang berada disana hanya tertawa renyah melihat ekspresi kesal Jessica.

 

**Sifany**

Malam ini Tiffany dan Jessica memutuskan untuk menginap di rumah Siwon, mengingat hari yang sudah sangat larut. Hal ini tentu saja membuat Siwon seakan mendapatkan lotre sebanyak puluhan juta won. Hari ini ia mengalami banyak hal yang membahagiakan, mulai dari kepulangan Lauren, pernyataan Donghae hingga keberadaan Tiffany sepanjang hari.

Tiffany tengah menemani Lauren dikamarnya. Anak itu terlihat sangat lelap dalam tidurnya. Tiffany beranjak pergi dari ranjang milik Lauren setelah memastikan jika Lauren benar – benar telah terlelap. Sebelumnya, Tiffany terlebih dulu memberikan kecupan hangat di kening Lauren. Ketika ia hendak menutup pintu, Siwon menarik tangannya dan membawa Tiffany ke ruang kerjanya.

“Yak Oppa! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau sering sekali menarik paksa tanganku?” desis Tiffany tajam. Ia menurunkan volume suaranya agar tidak ada orang yang mendengarnya.

Begitu sampai, Siwon langsung mendudukan Tiffany di atas sofa yang terdapat di ruangan kerjanya, lalu ia ikut duduk disampingnya. Siwon memutar bahu Tiffany agar menghadap padanya dan ia menggenggam tangannya erat.

“Fany-ah dengarkan aku! Aku pernah memintamu untuk selalu mempercayaiku. Apa kau masih ingat?” Tiffany menganggukkan kepalanya.

“Hari ini aku mendapatkan berita yang akan membuatmu ikut lega jika mendengarnya. Tadi pagi Donghae sudah menceritakannya padaku. Kejadian malam itu di apartement Stella, semuanya hanya rekayasa dan Donghae menjamin jika Stella tidak akan berani lagi mengganggu kehidupanku.” Siwon sangat antusias ketika menceritakannya pada Tiffany. Namun Tiffany hanya membalasnya dengan tatapan datar.

“Lalu?” Tanya Tiffany tanpa ekspresi.

“Yaak! Kenapa responmu seperti itu? Apa kau tidak senang mendengarnya?”

“Memangnya aku harus bagaimana? Apa aku harus memelukmu dan menciummu seperti ini, eoh?” dan Tiffany pun tanpa sadar sudah melakukannya. Siwon terkejut dengan aksi Tiffany, namun sedetik kemudian ia tersenyum senang.

‘Ups! Tiffany pabo-ya.. apa yang sudah kau lakukan?’ Tiffany merutuki dirinya sendiri dalam hati.

Siwon meletakkan kedua tangannya di atas bahu Tiffany, lantas ia mendekatkan tubuhnya. Mata Tiffany membulat sempurna. Ia bersumpah bahwa saat ini jantungnya berpacu sangat cepat.

“Op…Oppa… a..apa yang akan kau lakukan?” entah kenapa Tiffany menjadi gugup dan terbata – bata. Ia sungguh sangat takut jika Siwon akan melakukan hal yang tidak diinginkannya. Terlebih lagi kini mereka hanya berdua di malam hari pula.

“Kau yang telah memulainya terlebih dulu Fany-ah…” bisik Siwon dengan sedikit mendesah. Siwon semakin mempersempit jarak diantara mereka, akan tetapi dengan sigap tangan Tiffany menahan pergerakan Siwon.

“Op..Oppa.. aku.. aku sangat mengantuk.. aku … aku harus segera pergi ke kamarku. Bye!” baru saja Tiffany akan bangkit, Siwon sudah menarik tangannya sehingga Tiffany kembali terduduk di atas sofa.

“Changkamman! Aku hanya ingin kau memelukku Fany-ah.. aku ingin tidur dalam pelukanmu. Bisakah?” Tiffany tampak berpikir sejenak, lalu ia pun mengangguk setuju.

“Baiklah, tapi dengan satu syarat! Kau tidak boleh melakukan macam – macam selain memelukku. Aratchi!”

“Aratchi, yakso.” Mereka pun saling melempar senyum bahagia.

 

**Sifany**

Jessica berulang kali membolak – balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya terus tertuju pada satu orang pria bernama Lee Donghae. Sudah tiga hari ini pria itu tidak meneleponnya ataupun memberinya kabar, dan tentu saja itu membuatnya frustasi.

“Aish… apa yang terjadi denganmu Oppa? Apa kau sudah melupakanku? Argggghhhhh….. aku bisa gila jika begini terus. Awas saja jika aku melihat wajahmu lagi, akan ku pastikan kau tidak akan selamat. Eerrrrggghhhhh…..” Jessica melempar – lemparkan semua benda yang ada di tempat tidur yang kini sedang ditempatinya. Ia benar – benar dalam keadaan kesal.

Kring…. Kring ……

Ponsel Jessica berdering, ia mengambil ponsel itu dengan malas. Namun ketika ia melihat nama yang tertera dalam layar touhscreennya, senyumnya langsung mengembang.

“Eoh? Kenapa bisa begini? Apa mungkin ini tandanya aku berjodoh dengannya? Kkkkk…

Ehem! Kau harus mengontrol dirimu Jung Jessica. jangan sampai kau terlihat lemah di depannya.” Jessica memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman sebelum menggeser tombol hijau pada ponselnya.

“Yeoboseo..” sapanya dingin.

“Hai sweety, apa kau merindukanku?”

“Aniyo! Untuk apa aku merindukanmu.”

“Jinjja? Tapi kenapa hatiku mengatakan ‘iya’?”

“Simpan rasa percaya dirimu itu Tuan Lee! Aku tidak ingin mendengarmu.”

“Baiklah, jika kau sudah tidak mau mendengarku lagi aku akan menutup teleponnya. Ann…”

“Andwe!!!!”

“Nde???”

“K-kau.. kau masih punya urusan denganku.”

“Urusan apa?”

“Eum… eum… YAAKK!!! Aku membencimu Lee Donghae!!!!”

“I Love You too… aku akan menjemputmu besok sore jam 5. Bye sweety!”

Klik. Donghae memutus sambungan teleponnya dengan Jessica yang masih terpaku ditempatnya. Gadis dengan rambut blonde itu masih tidak menyangka dengan apa yang barusan didengarnya. Namun tidak lama kemudian ia tersenyum – senyum sendiri dan melompat – lompat di atas tempat tidur.

“YEAAHHHH…… I’M SO HAPPY!!!!!”

 

**Sifany**

“Fany-ah apa kau sudah tidur?”

Zzzzzzzzz …………..

Huuuhhh….Siwon menghela nafas berat, bukankah tadi ia yang meminta Tiffany untuk menemaniya tidur? Kenapa sekarang keadaannya malah terbalik?

Tiffany tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk Siwon, seperti yang tadi sudah mereka sepakati. Kedua insan itu masih berada di ruang kerja Siwon. Sebenarnya Siwon telah menyarankan Tiffany agar mereka pindah ke kamar, akan tetapi Tiffany menolak dengan alasan ia tidak nyaman jika harus berdua di kamar dengan laki – laki itu.

Dalam posisi sedekat ini Siwon merasa puas bisa mengamati setiap lekuk wajah Tiffany. Ia membelai kening, hidung, pipi dan bibir ranum gadis yang kini tengah tertidur pulas dalam pelukannya. Siwon bersumpah dalam hati bahwa ia akan memastikan Tiffany menjadi miliknya seutuhnya tidak lama lagi.

“Yeppuda” bisiknya pelan.

Hembusan nafas Siwon yang tepat mengenai telinga Tiffany, membuat gadis dengan eyesmile itu menggeliat. Siwon segera menepuk – nepuk pelan punggungnya agar Tiffany tidak terbangun. Lalu ia kembali melingkarkan tangan Tiffany yang sempat lepas disekitar pinggangnya. Siwon memeluknya sangat erat seakan ia takut kehilangan gadis yang dicintainya untuk kedua kalinya. Dan entah kenapa Tiffany merasa nyaman dalam pelukan hangat Siwon.

 

**Sifany**

Matahari sudah menampakkan dirinya. Semua orang yang berada di kediaman keluarga Choi, terbangun dalam keadaan yang sulit diartikan. Jessica sangat antusias menyambut datangnya pagi ini. Lauren juga tersenyum bahagia karena begitu ia membuka mata, ia dapat kembali melihat kamar yang sudah sangat dirindukannya. Begitu pula dengan Sooyoung, ia sangat bersemangat menyiapkan sarapan untuk orang – orang yang disayanginya.

Ketika semua orang tengah bersorak gembira menyambut datangnya matahari, Siwon dan Tiffany masih asyik dengan alam mimpinya. Mereka sama sekali tidak terusik dengan suara – suara dari luar sana dan anehnya posisi mereka tidak berubah, masih sama dengan posisi semalam.

Lauren keluar dari kamarnya meskipun ia harus bersusah payah untuk berjalan. Ia bingung kenapa Aunty nya tidak membangunkannya, padahal biasanya Tiffany akan selalu berada disampingnya sebelum Lauren membuka matanya jika ia menginap di rumah Siwon.

“Omona! Lauren-ah.. kenapa kau berjalan sendiri? Seharusnya kau memanggil Imo, biar Imo yang menuntunmu.” Sooyoung segera berlari menghampiri Lauren begitu ia melihat keponakannya terpogoh – pogoh dalam berjalan.

“Sooyoung Imo, kenapa Daddy dan Tiffany Aunty tidak ada di kamarnya? Apa mereka sudah ada di meja makan?” Tanya Lauren tatkala Sooyoung menuntunnya menuruni tangga.

“Nde? Benarkah? Imo pikir mereka masih berada di kamarnya. Apa kau yakin Lauren-ah?”

“Ne, Imo. Aku sudah melihat ke kamar mereka, tapi kamarnya sudah rapi dan mereka tidak ada disana.”

“Aish… kemana mereka pergi?”

“Hai, Youngie! Hai, Lauren-ah! Eoh? Kau masih menggunakan piyama Lauren-ah? Apa kau membutuhkan bantuan Aunty untuk memandikanmu?” Jessica yang terlihat bahagia langsung menawarkan diri untuk memandikan Lauren. Sepertinya ia ingin membagikan kebahagiannya pada semua orang.

“Bolehkah?”

“Tentu saja baby. Kajja!”

“Eonni, apa kau melihat Siwon Oppa dan Fany Eonni? Lauren bilang mereka tidak ada dikamarnya.”

“Mollayo, mungkin mereka sedang lari pagi.” Jawab Jessica santai.

“Benar juga. Ya sudah, kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku.” Sooyoung kembali pada pekerjaannya menyiapkan sarapan, sedangkan Jessica membawa Lauren kembali ke kamarnya.

 

**Sifany**

“eungghhhh…” Tiffany melenguh sembari merenggangkan otot – ototnya. Awalnya ia sempat terkejut melihat pemandangan di depannya, namun pada akhirnya ia ingat dengan kejadian semalam.  Ketika Tiffany melihat jam yang terpasang di dinding, ia terlonjak kaget. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00.

Tidak biasanya ia bangun sesiang ini. Tiffany merutuki dirinya sendiri yang tidak menyadari bahwa matahari sudah mulai tinggi. Ia pun segera membangunkan Siwon.

“Oppa.. ireona! Oppa… ayo bangun kita sudah telat.”

“Berikan aku waktu 5 menit lagi Fany-ah”

“Tidak bisa Oppa! Cepat bangun! Semua orang pasti akan mencari kita.”

“Biarkan saja Fany, lagipula kita harus membalas perbuatan mereka kemarin.” Siwon kembali memejamkan matanya.

“Terserah kau saja Oppa, aku harus melihat Lauren.” Tiffany pergi meninggalkan Siwon yang masih bermalas – malasan di sofa.

Begitu Tiffany melangkah keluar, ia berpas – pasan dengan Jessica, Sooyoung dan Lauren yang tengah berada di meja makan yang memang terletak tidak jauh dari ruang kerja Siwon.

Tiffany menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menyapa mereka dengan kikuk,

“Eum.. oh hai semuanya!” belum sempat keterkejutan mereka dengan penampilan Tiffany yang masih sama dengan tadi malam keluar dari ruang kerja Siwon, tiba – tiba saja Siwon muncul di belakangnya sambil menguap.

“Kalian …………….” Jessica memicingkan matanya tajam.

“A-aniyo Sica-ya. Kau jangan salah paham! Ka-kami… kami… ha-hanya….”

“Kami berdua sudah dewasa Jung Jessica. jadi hilangkan semua pikiran negatifmu!” Siwon memotong ucapan Tiffany dan membalas tatapan tajam Jessica.

“Yakk!! Memangnya apa yang aku pikirkan tentang kalian? Selalu saja menuduhku.” Jessica mendengus kesal dan langsung melahap makanan yang ada di depannya.

“Oh iya Oppa, besok pagi Eomma dan Appa akan pulang. Eomma bilang semua rangkaian pengobatan Appa sudah selesai.” Sooyoung menjelaskan perihal kabar mengenai kepulangan orang tuanya dari Inggris pada Siwon, begitu ia duduk bergabung bersama mereka.

“Begitukah? Apa mereka meminta Oppa untuk menjemputnya?”

“Meskipun mereka tidak memintanya, kau harus tetap melakukannya Oppa.”

“Imo, apa itu artinya Halmoni dan Harabeoji akan hadir dalam pesta ulang tahunku?” Tanya Lauren antusias.

“Ne, tentu saja honey.”

“Yeahhhh…. Horeee..!!!” semua orang tersenyum senang melihat kebahagian Lauren

 

**Sifany**

Keesokan paginya sesuai janjinya pada Sooyoung, Siwon menjemput Tuan dan Nyonya Choi di bandara. Hanya Tiffany dan Lauren yang ikut serta, karena kebetulan Sooyoung sedang ada urusan lain. Nyonya Choi tampak bahagia ketika bertemu dengan anak sulung serta cucu kesayangannya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

“Oh bogoshippo Siwon-ah.” Ny. Choi langsung memeluk putranya erat.

“Nado eomma.” Ketika Ny. Choi melihat wanita yang berada disamping Siwon, ia sontak melepaskan pelukannya.

“Apakah kau Tiffany Hwang?”

“Ne, Ahjumma. Annyeonghaseo! Senang bertemu dengan anda.” Tiffany membungkukkan badannya hormat, kemudian ia memperlihatkan senyum indahnya yang membentuk bulan sabit.

“Aigoo kau cantik sekali nak, pantas saja kedua anak dan cucuku sangat menyukaimu.” Puji Ny. Choi seraya membelai lembut pipi mulus Tiffany.

“Nde??” Tiffany tentu saja bingung dengan pernyataan Ny. Choi. Apa selama ini mereka selalu menceritakan tentangnya pada orang tuanya?

“Yeobo, kau sudah membuatnya bingung. Fany-ah, kau abaikan saja ucapan istriku tadi ne.” ujar Tn. Choi menimpali.

“Eomma selalu saja seperti ini. Tidak pernah berubah.” Gumam Siwon pelan.

“Apa kalian semua sudah melupakanku?” Lauren yang merasa diabaikan oleh keempat orang dewasa tersebut mempoutkan bibir mungilnya.

“Aigoo cucuku tersayang.. bagaimana keadaanmu nak? Mianhae Halmonie tidak bisa menengokmu. Tapi Halmonie tidak pernah lupa untuk mendoakanmu, begitupun dengan Harabeoji.” Ny. Choi langsung menggendong Lauren dengan penuh kasih sayang. Hatinya begitu sakit melihat keadaan cucunya.

“Gwenchana Halmonie, aku merasa lebih baik karena Tiffany Aunty selalu merawatku.” Jawab Lauren senang.

“Jeongmal???”

“Ne, iya kan Dad?”

“Ah.. ne..”

Tiffany semakin menundukkan kepalanya, ia sangat malu berhadapan langsung dengan Tuan dan Nyonya Choi. Terlebih lagi mereka terus memujinya.

“Ehem! Apa kita akan terus tinggal disini?” pertanyaan Tn. Choi mampu membuat mereka sadar bahwa sedari tadi mereka terus berdiri di depan gerbang bandara. Dan mereka pun hanya tertawa konyol.

 

5 hari kemudian

 

Hari ini merupakan hari yang istimewa untuk Lauren, karena tepat pada hari ini ia menginjak usia 6 tahun. Keluarga Choi sudah mempersiapkan pesta untuknya nanti malam. Mereka sangat bahagia dalam menyambut pesta tersebut. Semuanya begitu bersemangat dan tidak ingin melewatkan moment ini. Namun sayang keadaan berbalik 180 derajat dengan dua sahabat ini. Mereka terlibat pertengkaran hebat karena suatu kesalahpahaman.

“TIFFANY!!!! Kau sungguh keterlaluan!!! Aku tidak percaya kau melakukan semua ini padaku!!!” Jessica datang menghampiri Tiffany sambil  berteriak keras dan membanting pintu rumah Tiffany.

“Ada apa Sica? Kenapa kau tiba – tiba marah padaku?” Tiffany yang tidak tahu menahu dengan permasalahannya hanya menatap bingung Jessica.

“Kau tidak perlu berpura-pura bodoh Tiffany Hwang!! Atau kau memang bodoh, eoh??” Tiffany semakin bingung dengan pernyataan Jessica.

“Sica-ya, tolong kau jelaskan padaku, aku sama sekali tidak mengerti.” Ucap Tiffany lembut, ia mencoba bersikap tenang.

“KAU!!! Sudah merebut Donghae Oppa dariku!! Apa Choi Siwon masih kurang untukmu?” Jessica tidak dapat menahan emosinya, ia menjulurkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Tiffany. Sontak saja Tiffany terkejut, ia merasa tidak pernah merebut Donghae dari Jessica..

“Aku tidak pernah merebutnya Sica. Bahkan tidak ada sedikitpun niat yang terselip di hatiku untuk mendekatinya.”

“Oh ya? Lalu apa yang kalian lakukan tadi di department store, eoh? Apa kau masih mau mengelaknya?”

“Kau salah paham Sica. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan.”

 

FLAHSBACK ON

Tiffany tengah berbelanja untuk perlengkapan pesta ulang tahun Lauren. Ketika ia tengah kesusahan membawa kantung belanjaan yang cukup banyak, ia tidak sengaja bertemu dengan Lee Donghae. Dan tanpa diminta pun Donghae dengan senantiasa membantu Tiffany. Karena hari sudah siang, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran yang terdapat di department store tersebut. Tiffany dan Donghae tampak menikmati kebersamaan mereka. Tanpa mereka sadari sepasang mata sedari tadi terus memperhatikan kedua insan tersebut. Dan ia semakin membulatkan kedua bola matanya tatkala Donghae membersihkan sisa makanan yang menempel di sekitar bibir Tiffany dengan ibu jarinya. Karena sudah tak kuasa lagi melihat adegan – adegan lainnya, ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.

 

FLASHBACK OFF

 

“Sica aku mohon percayalah padaku.” Tetesan – tetesan air mata mengalir di pipi Tiffany, ia sungguh tidak ingin persahabatannya dengan Jessica harus hancur hanya karena kesalahpahaman ini.

“Oke, kita akan buktikan nanti malam. Aku ingin mendengarkan pengakuannya langsung dari Donghae Oppa.” Ujar Jessica tegas, lalu ia pun melangkah pergi dari rumah Tiffany.

 

**Sifany**

Malam yang ditunggu pun tiba. Lauren sangat cantik dengan gaun pink nya, senyuman tidak pernah lepas dari bibir mungilnya. Meskipun kakinya masih belum sembuh, namun itu tidak mengurangi kadar kebahagiannya.

Siwon dan Tiffany dengan setia berdiri disamping Lauren hingga pesta usai. Siwon juga terlihat bahagia, berbeda halnya dengan Tiffany. Pikirannya masih tertuju pada permaslahannya dengan Jessica. Meskipun mereka berada di tempat yang sama, tetapi mereka sama sekali tidak saling bertegur sapa. Orang – orang yang mengenal mereka merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Tiffany dan Jessica. tidak biasanya mereka bersikap seperti ini.

Setelah pesta akan mencapai finish, Jessica meminta waktu pada semuanya untuk mengatakan sesuatu.

“Ehem! Mianhae jika aku merusak pesta ini. Lauren-ah bolehkah Aunty meminta waktu sebentar?” Lauren hanya menganggukkan kepalanya.

“Disini aku ingin membuktikan apa yang telah aku lihat tadi siang. Donghae Oppa, aku mohon tolong kau katakan perasaanmu yang sebenarnya!” Tiffany berdoa dalam hati agar Donghae mengatakan bahwa ia hanya mencintai Jessica.

“Apa maksudmu Sica?” Donghae yang menjadi target Jessica, bingung dengan permintaannya.

“Katakan saja Oppa! Dan aku harap kau akan mengatakan yang sejujurnya tentang perasaanmu. Apa kau mencintai Tiffany?”

Pertanyaan Jessica sukses membuat semua yang berada di pesta itu membelalakan matanya dan menatap Tiffany serta Donghae secara bergantian.

Donghae menundukkan kepalanya sejenak, lalu ia menjawab “Ne, aku mencintai Tiffany Hwang.”

 

 

 

TBC ……

 

 

 

Hai.. hai… readers!!! Jeongmal mianhaeyo.. aku baru bisa post part 5 nya sekarang. Ada beberapa kendala selama 1 bulan lebih kemarin. Mudah – mudahan 2 part berikutnya bisa cepat di post ya… btw di akhir part ini ada konflik lagi?? Hehe tenang aja konflik nya tidak akan lama kok, karena di part selanjutnya akan ada banyak kebahagiaan sebelum kita menuju part ending yang akan menjelaskan tentang alasan pelaku membunuh Stephany dan juga terungkapnya si pelaku tersebut. So keep RCL ya biar aku bertambah semangat nulisnya..

See you😉

 

 

 

 

 

83 thoughts on “(AF) MY SECOND LOVE MY WIFE TWINNING

  1. akhirnya lauren sembuh jg dan smuanya terungkap ttg stella. aihh sifany mmng manis😍 itu bnran ga sih donghae oppa suka tiff unnie? atau semua itu hanya bagian sandiwara? aduh penasaran bgt dg lanjutannya, ditunggu next part nya thornim.hwaiting!!😘

  2. Annyeong….
    Jujur nih aku rada “kedandapan” /panik baca nya, cz aku lupa part sebelumnya gmana ceritanya, hehe.. Mkalum ya scr reader anktn banyak.
    Sangat menantikan part selanjutnya. Gomawo

  3. Waduh..apa2an tuh donghae..
    Blang cinta sgla ke fany..psti dia mw ngerjai jessie tuh..
    Hti2 donghae ntar ngamuk tuh siwon nya..haha
    Dtnggu klnjutannya thor..

  4. lama banget thor di post nya, jadi agak2 lupa deh cerita nya. Donghae Oppa, kenapa bikin masalah baru lagi, padahal dikit lagi sifany bahagia. okeh, ini cerita. tanpa konflik gak menarik cerita nya. next part jangan lama2 yaa thor.

  5. Lah lah?? 😕 donghae kok?
    Aiissh..berharap cuma purapura doang deh..amin
    Yuhuuuu…sweet bgt dah sifany nya..hihihi😂 senyum2 sndiri jadinya 😊

  6. akhirnya masalah tentang stella sudah diluruskan, siwon dan fanny udh baikan dan lauran yg udh sadar dari koma😀

    Sempat kaget soal jessica yg tiba” marah ama fanny, tp ternyata itu hanya sandiwara untuk membuat surprise utk tifanny😀

  7. Akhir’nya lauren sadar juga dari koma’nya
    Dan akhirnya ketau’an juga kejahatan stella…
    Ya ampun sifany romantis bnget sich.. Heheheh
    Astaga apa bener donghae mencintai tiffany??? Makin seru ajah nih

  8. wah…wah…nih Hae cr perkara aj.wong siwon family udh hdp bhgia dgn smbuhny Lauren. bhkn Fany udh baikn n maafkn mommy.
    bhkn renc kedpn utk mrk(sifany) udh dirancang, eh.,tnyt ad aj ….tp inilh mgkin msh ujian utk mrk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s