(AR) Lil Choi’s First Love

Lil Choi’s First Love

Part 1

LCFL_POster3

@echa_mardian

Cast : Siwon Choi, Tiffany Hwang, Juno Choi (Daniel Hyunoo Lachapelle)

Other cast : KyuNa, Wooksica, Cho Hana (Cristina Fernandez Lee), Lee Lauren (Lauren Hanna Lunde), Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Genre : Comedy, Romance, Family

Rating : PG 15

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

 

 

 

 

Author POV

Terdengar dengkuran pelan khas seorang namja di dalam kamar yang serba putih itu. Ia masih tertidur lelap. Sama seperti yeoja cantik di sampingnya. Mereka berdua masih terhanyut dalam mimpi indah dan tidak terbangun sedikitpun oleh suara-suara gaduh yang berasal dari tempat cermin rias.

Suara-suara itu ditimbulkan oleh seorang anak laki-laki yang berusia 8 tahun. Sejak sepuluh menit yang lalu ia sibuk menyisir rambutnya yang telah diberi minyak rambut lalu membentuk helai-helai rambut hitam itu dengan berbagai gaya. Ia mencoba beberapa gaya seperti yang pernah dilihatnya di televisi. Jika merasa tak cocok ia akan segera menggantinya. Tangannya seolah tak lelah terangkat mengurus puncak kepalanya.

Nama anak itu adalah Juno. Choi Juno. Rambutnya yang hitam tebal adalah perpaduan antara rambut orangtuanya. Kulitnya putih lembut, hidungnya yang mancung serta mungil, bibir tipis dan lengkungan mata yang indah namun tajam. Ia memang dianugrahi wajah yang tampan dengan senyuman yang menawan. Meskipun usianya baru menginjak 8 tahun, Juno sudah mempunyai kepercayaan diri layaknya seorang remaja.

“Huft, kenapa rambutku tidak bisa dibentuk Mohawk?” desis Juno kesal seraya membanting sisir ke atas meja sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Sedetik kemudian ia menyesali dengan apa yang telah dilakukannya. Juno dengan cepat menoleh ke ranjang kedua orangtuanya dan menutup mulut.

Ia menggigit bibir bawahnya ketika melihat yeoja yang tadinya tertidur pulas, kini bergerak-gerak tak nyaman. Sepertinya suara bantingan sisir tadi telah membangunkannya. Yeoja itu adalah Ibunya, Tiffany Hwang.

Tiffany menggeliat di atas ranjang lalu menghirup udara dalam-dalam. Ia membuka mata indahnya kemudian kepalanya bergerak cepat mencari sumber suara. Juno mematung di depan cermin, bersiap-siap menghadapi omelan sang Ibu.

Hingga akhirnya tatapan Tiffany berhenti padanya. Juno langsung memasang senyum lebar yang lucu dan menggemaskan. Ia tahu bagaimana cara untuk membujuk Tiffany. Beruntung Tiffany membalas senyumannya.

“Good morning, My Queen!” ucap Juno lembut. Ia ingin sekali berseru namun takut namja di samping Ibunya terbangun. Namja tampan dengan rambut hitam persis sepertinya. Choi Siwon.

“Hei, good morning, Sweetheart. Apa yang kau lakukan? Kau bangun sepagi ini?” tanya Tiffany dengan suara serak. Ia memindahkan tangan Siwon yang berada di pinggangnya ke atas ranjang. Selanjutnya ia turun dari sana sambil memakai jubah kamar.

“Ng… aku bermimpi buruk, Mom! Jadi aku bangun terlalu pagi. Sorry, Mom. Aku mengganggu tidurmu,” ujar Juno.

Tiffany tersenyum. Ia menyanggul rambutnya sembarangan kemudian berjalan menghampiri putranya. Semakin dekat dengan Juno, Tiffany mencium sesuatu yang mencurigakan. Ia mengernyit menatap Juno ketika benar-benar sampai di samping kursi rias tempat Juno duduk.

Juno masih tersenyum lebar padanya.

“Kenapa rambutmu acak-acakan seperti ini? Dan…berminyak? Choi Juno, apa yang kau lakukan pada rambutmu? Dan kau beraroma vanilla seperti Daddy!”

Mendengar suara melengking istrinya, Siwon tersentak. Ia mendongak dan mengerang. Juno menggigit bibirnya lagi. Kali ini Ayahnya juga terbangun. Tiffany meraba-raba rambut Juno yang lengket karena terlalu banyak minyak.

“Ada apa?” terdengar Siwon bertanya dengan suara parau. Ia menahan tubuhnya dengan kedua siku di atas ranjang.

“Yeobo, lihatlah Juno! Ia memakai banyak sekali minyak rambutmu! Apa kau yang mengajarkan padanya?” tanya Tiffany tegas. Siwon mengernyit bingung kemudian menggeleng cepat.

Tiffany kembali menghadap Juno. Yeoja cantik berkulit putih itu melipat tangan di dada. Juno menaik-turunkan kedua alisnya, mencoba membujuk sang Ibu.

“Choi Juno, kenapa kau memakai minyak rambut Daddy? Kau ini masih—“

“8 tahun! Mom, aku tahu berapa usiaku. Mommy tidak perlu mengulang-ulangnya setiap kali mengomeliku. Aku hanya pakai sedikit, kok!” Juno membela diri.

“Sedikit katamu? Lihatlah, rambutmu lengket seperti permen kapas! Cuci lagi rambutmu!” tukas Tiffany.

Juno melihat bayangan dirinya di cermin dan cemberut. Tega sekali Ibunya mengatakan kalau rambutnya seperti permen kapas. Saat teringat sesuatu, Juno segera menoleh Tiffany.

“Aku memakai minyak rambut karena Mommy selalu menyisir rambutku ke belakang. Kata Moon Soo rambutku seperti Draco Malfoy di film Harry Potter. Aku ingin mengganti gayanya menjadi lebih keren, Mom.”

Tiffany mengerjap cepat. “Seperti siapa?”

Juno menghela napas berat lalu turun dari kursi. “Draco Malfoy. Apa Mommy tidak pernah menonton film? Ah, Mommy memang kuno. Pantas saja tidak bisa membuat model rambut yang baru untukku. Sudahlah, aku rapikan di kamar saja.”

Juno melenggang keluar kamar, meninggalkan Tiffany yang terperangah di tempatnya dan Siwon yang menahan tawa di tempat tidur. Tiffany tidak percaya Juno telah menyebut dirinya kuno. Siapa saja tahu kalau Tiffany adalah seorang fashionista. Ia mempunyai butik ternama dengan beberapa cabang di Korea Selatan serta pernah menjadi juri di sebuah reality show bertemakan fashion, lalu pagi ini putra kandungnya yang berusia 8 tahun menyebutnya kuno??!

“Hihihi.”

Tiffany membalikkan badan menghadap suaminya yang baru saja tertawa. Kontan Siwon langsung terdiam. Namja berlesung pipi itu berdehem lalu membuat senyuman manis persis seperti Juno tadi.

“Kau menertawakanku? Aish, jinjja! Kalian berdua sama saja. Sepertinya hanya Jino yang memihakku,” ucap Tiffany sengit.

Choi Jino adalah putra kedua mereka yang baru berusia 5 tahun.

Siwon bergegas bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Tiffany.

“A-aku tidak menertawakanmu. Sungguh! Aku hanya…hanya merasa lucu saja mendengar kau mengatakan rambutnya seperti permen kapas,” jelas Siwon.

Tiffany memutar bola matanya. “Yeah, my bad. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu,” Tiffany mengaku. Siwon mengangguk setuju. “Tapi, Yeobo. Tetap saja Juno tidak boleh mengatakan kalau aku kuno.”

Siwon tertawa kecil. Kedua tangannya memeluk pinggang Tiffany. “Mungkin ia hanya sedikit kesal. Sekarang kita lihat saja model apa yang ingin dibuat pada rambutnya.”

Tiffany tertawa kecil. Tak terasa anaknya kini tumbuh semakin dewasa. Padahal baru kemarin sepertinya Juno masih minta dininabobokan oleh dirinya atau Siwon. Juno sekarang sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar. Tetapi sifatnya jauh lebih tua dari usianya.

“Yeobo?” panggil Tiffany. Siwon yang akan mencium leher Tiffany kembali menarik kepalanya.

“Hmm?”

“Menurutmu kenapa Juno sangat memperhatikan penampilannya akhir-akhir ini? Kau tahu, ia juga memakai parfummu!”

Siwon menaikkan sebelah alisnya. “Jinjja? Mungkin ia hanya mencoba-coba saja. Lagipula tak ada salahnya jika Juno ingin bergaya sepertiku atau memakai parfumku. Itu artinya ia ingin terlihat sempurna seperti Ayahnya.”

Tiffany mendengus keras.

“Aigoo. Sifatmu yang ini juga kau turunkan padanya. Percaya diri sekali. Ckckck.”

Siwon terkekeh. Ia memeluk pinggang Tiffany lebih erat dan menggesek-gesekkan hidung mereka.

“Tapi kau menyukainya, benar kan?” bisik Siwon. Tiffany tersenyum sehingga matanya melengkung indah. Ia menarik wajah Siwon lebih dekat kemudian mengecup keningnya.

“Itu morning kiss untuk Tuan percaya diri. Sekarang aku ingin menyiapkan sarapan.”

Sebelum Tiffany sempat melonggarkan pelukan mereka, Siwon mendekapnya lebih erat. Tiffany tahu kalau Siwon tidak mudah dipancing begitu saja. Ternyata sebuah kecupan ringan di keningnya membuat namja itu gemas.

“Tuan percaya diri ini ingin mendapatkan yang lebih. Kau belum boleh kemana-mana!”

Tiffany merinding mendengar suara berat Siwon. ia terkukung dalam pelukan namja itu.

“Baiklah, aku mengerti. Pejamkan matamu, Tuan Choi.”

 

“Hallo! I’m Cho Hana, tetapi teman-temanku lebih senang memanggilku Honey. Aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke-7 dua hari yang lalu. Dan Dad memberiku satu buah sepeda gunung yang sangat keren! Jika nanti sampai di Seoul, aku akan langsung menaikinya. Aku akan membawa adikku juga. Oh ya, apa kalian ingin melihat adikku? Namanya Cho Kyungsan dan ia sedang tertidur pulas. Lihat!”

Seorang gadis cilik yang sedari tadi sibuk merekam dirinya sendiri dengan kamera recorder, kini mengarahkan benda tersebut kepada sosok laki-laki mungil yang tertidur di sampingnya. Nama gadis itu Hana. Cho Hana.

“Honey, jangan ganggu adikmu! Dan tolong pelankan suaramu. Penumpang yang lain sedang tidur,” desis yeoja yang duduk mengapit Kyungsan dan Hana. Hana terkekeh lalu mengarahkan kamera recorder kepada yeoja yang ternyata Ibunya itu.

“Dan ini adalah Super Mom! Dad biasa memanggil Mom dengan sebutan Weirdo. Aku tahu kenapa Dad memanggil Mom begitu. Karena Mom memang aneh hihihi. Mom adalah yeoja tercantik nomor 2 di muka bumi ini. Tentu saja aku yang di posisi pertama.”

Yeoja itu mendengus. “Jangan ikut-ikutan memanggil Mom dengan sebutan itu, Nona Cho. Sudah, matikan recorder itu!”

“Tapi Mom, aku belum selesai merekam. Aku harus merekam Dad dulu. Sebaiknya Mom lanjutkan membaca majalah itu,” ujar Hana lalu mengalihkan kamera recordernya ke arah yang berlawanan.

Yoona, Ibu dari Hana dan Kyungsan hanya mendesah panjang. Kelakuan putri sulungnya selalu membuatnya mengusap dada penuh kesabaran. Kini Hana sedang mengarahkan kamera recorder kepada seorang namja tampan berkulit pucat.

Hana tersenyum-senyum penuh kekaguman padanya. Mereka seperti buah pinang dibelah dua. Persis sekali! Hana mempunyai kulit pucat seperti namja itu, rambut coklat, bibir yang sedikit tebal, dagu, hidung, bahkan bulu matanya. Hanya satu kemiripan Hana dengan Ibunya, yaitu mata.

“And the last but not least, My Hero! Daddy Cho Kyuhyun yang super duper tampan! Aku rasa Daddy dulu adalah seorang pangeran dari negeri dongeng lalu menikah dengan Mommy. Lihatlah betapa tampannya Daddy-ku. Dad juga tidak pelit, tidak seperti Mommy. Ssstt, jangan sampai Mommy mendengarnya,” Hana merendahkan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.

Setelah puas merekam, Hana mematikan kamera recorder itu dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Kyuhyun dan Kyungsan masih tertidur lelap, sedangkan Yoona menyibukkan diri dengan membaca majalah fashion yang tersedia di dalam pesawat. Hana berdecak bosan. Ia melihat sekelilingnya, para penumpang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

“Mommy?” panggil Hana akhirnya.

“Hmm?” Yoona menjawab dengan dengungan tanpa menatap wajah memelas putrinya.

“Aku bosan. Bolehkah aku berkeliling?” tanya Hana setengah berharap. Yoona mendongak dari atas majalah lalu menatap lurus anaknya.

“No! Ini pesawat, Hana. Bukan departemen store,” ucap Yoona.

Hana cemberut. Anak itu memang tidak bisa diam. Di usianya yang ke-7, Hana masih belum tertarik dengan permainan atau barang-barang berbau feminine. Namun sebaliknya, Hana lebih menyukai permainan yang bersifat boyish. Terkadang Yoona melihat cerminan dirinya di dalam Hana. Tomboy, kerasa kepala dan sangat evil. Tetapi kecerdasan Kyuhyun menurun pada gadis cilik itu.

“Lebih baik kau tidur seperti Kyungsan,” saran Yoona. Hana menggeleng kuat. Ia melipat tangannya kemudian terdiam untuk sejenak.

“Mom?”

“Hmm, apa lagi?”

“Apakah nanti teman-teman di sekolah baruku akan menjahiliku juga seperti teman-temanku di London?” tanya Hana. Yoona tersenyum tulus sambil mengelus kepala Hana yang tertutup oleh topi baseball.

“Tidak akan. Eunyeon Eonnie akan menjagamu,” jawab Yoona lembut.

“Shirreo! Aku tidak ingin memanggil Eunyeon dengan sebutan Eonnie. Mom, Eunyeon hanya 5 bulan lebih tua dariku,” protes Hana. Yoona mendesah panjang. Hana memang selalu protes jika Yoona menyuruhnya memanggil Eunyeon, kakak sepupu Hana, dengan sebutan Eonnie.

“Baiklah, terserah padamu. Lagipula kenapa kau takut teman-temanmu berbuat jahil? Justru mereka yang seharusnya takut padamu, little Evil.”

 

“Aku berangkat, Mom!” ucap Juno pelan dan tidak bersemangat. Tiffany tahu kalau Juno masih kesal padanya perihal gaya rambut tempo hari. Siwon memberi kode Tiffany dengan matanya, meminta agar Tiffany mencegah Juno berangkat dengan bis sekolahnya. Jika Tiffany mengantar Juno ke sekolah dengan mobilnya, kemungkinan besar mereka bisa menghilangkan canggung diantara mereka.

“Changkamman! Juno-yah, baby, bagaimana kalau Mommy antar ke sekolah?” Tiffany berdiri dari kursinya. Mereka semua telah selesai sarapan dan Juno meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Tetapi Tiffany segera mencegahnya dengan memberi penawaran seperti itu, membuat Juno menghentikan langkah.

Juno menatap Tiffany dengan sorot mata datar. Siwon dan Jino yang masih duduk di kursi mereka hanya diam dan melihat.

“Baiklah, aku tunggu di teras,” jawab Juno setuju. Namun ia tidak tersenyum sedikitpun. Tiffany menghela napas berat. Tidak disangka anaknya mudah sekali merajuk seperti itu.

“Kau harus mencairkan suasana terlebih dahulu, Chagi. Kalau begitu, aku juga berangkat,” ucap Siwon kemudian mencium pipi Tiffany. Siwon juga memberikan ciuman di kening Jino.

“Hati-hati menyetir, Daddy!” seru Jino.

“Ne. Thank you my boy. Jangan nakal di sekolahmu. Arrachi?”

Jino mengangguk semangat.

Siwon kembali menatap wajah istrinya. “Good luck, dear.”

 

Tiffany tidak berhenti mencuri-curi pandang kepada putra sulungnya yang duduk santai di kursi samping kemudi. Juno terlihat santai dan tidak mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar mobil. Sesekali anak itu berdendang kecil, seolah-olah tidak mempedulikan tatapan Ibunya.

Sedangkan Jino bermain sendirian di jok belakang. Jino merupakan anak yang tidak banyak tingkah. Jino tidak pernah membantah perkataan Tiffany atau Siwon dan selalu penuh kasih sayang. Berbeda dengan Juno yang kini mulai berubah. Berubah dalam arti kata tidak lagi ‘manis’ seperti dulu.

Tiffany mengerti kalau semua yang terjadi pada kedua putranya adalah fase pertumbuhan. Tidak ada yang tahu bagaimana sifat Jino jika nanti sudah sebesar Juno. Mungkin ia lebih keras kepala dari Juno atau bahkan semakin manis. Namun Tiffany mencoba untuk menikmati perkembangan anak-anaknya.

“Ehem!” Tiffany berdehem, canggung. Ia ingin memulai permbicaraan terlebih dahulu. Diliriknya Juno yang sepertinya masih tidak peduli.

“Juno-yah, apa kau mendapatkan tempat duduk paling depan di kelas barumu ini?” tanya Tiffany dengan suara diriang-riangkan.

“Ani, aku duduk di tengah.”

“Kenapa begitu? Biasanya kau suka duduk paling depan,” komentar Tiffany. Ia memutar stir ke arah kiri. Mereka sudah sampai di komplek sekolah Juno.

“Aku ingin perubahan suasana,” jawab Juno singkat.

Tiffany mengangguk paham. “Uhm, arraseo.”

Juno merapikan rambut dengan tangannya di kaca spion dan gerakan itu tidak luput dari perhatian Tiffany. Ketika mobil mereka semakin dekat dengan sekolah, Juno semakin tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Tiffany berkata dalam hati, “Ada apa sebenarnya dengan Juno-ku?”

“Wah, sekolah Hyung besar sekali! Mom, aku juga ingin sekolah disini!” seru Jino seraya menempelkan wajahnya di kaca mobil.

“Nde, satu tahun lagi kau bisa sekolah disini, baby!” sahut Tiffany seraya membuka sabuk pengamannya. Juno membuka pintu mobil di sampingnya dan keluar. Melihat itu Tiffany pun bergegas keluar.

“Choi Juno, apa kau melupakan sesuatu?” panggil Tiffany penuh harap. Juno menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Ia berdecak pelan kemudian menghampiri Tiffany. Sekilas ia melirik teman-temannya yang memasuki gerbang sekolah.

“Ada apa lagi, Mom? Semua temanku sudah masuk. Aku takut terlambat,” gerutu Juno. Tiffany membungkukkan badan.

“Kau melupakan ciuman untuk Ratumu,” ucap Tiffany cemberut. Juno diam saja. Tampaknya ia juga merasa canggung.

“Hei, masih marah pada Mommy, ya? Baiklah, Mommy minta maaf. Jangan cemberut lagi, ne?”

Juno menggeleng. “Aku tidak marah. Aku hanya kesal. Mom telah mengejek rambutku.”

Tiffany tersenyum simpul. Ia mengelus pipi lembut putranya. “Mom adalah Ibu terburuk jika mengejek rambutmu lagi. I’m really sorry.”

Juno mengangkat wajahnya dan menatap teduh mata Tiffany. Tiffany mengedip. Juno sangat mirip dengan Siwon.

“Aku juga minta maaf, Mom.”

Tiffany tertawa kecil ketika akhirnya Juno memeluk lehernya. Juno tidak pernah bisa mendiamkan Tiffany untuk waktu yang lama. Juno mencium pipi Tiffany lalu melepaskan pelukannya.

“Kalau begitu, aku masuk dulu. Annyeong!”

Tiffany melambaikan tangan kepada Juno yang berlari masuk ke pekarangan sekolah. Ia menghela napas lega. Pada akhirnya Juno tidak akan tahan berlama-lama mendiamkannya. Mereka saling membutuhkan.

“Sekarang kita akan ke sekolah Jino. Kau siap, Sayang?” tanya Tiffany ketika sudah kembali duduk di belakang kemudi.

“Aku siap, Mommy! Aku selalu siap!”

 

“Hai, Lauren!”

Juno mengambil posisi duduk di samping Lauren, seorang gadis cilik yang sangat manis. Rambut gadis itu coklat brunette, matanya bulat jernih, serta bibir tipis yang mungil. Gadis cilik itu bernama Lee Lauren. Lauren tersenyum manis kepada Juno, teman sekelasnya.

“Hai, Juno!”

“Bagaimana liburanmu di Eropa? Pasti asyik!”

Lauren mengangguk semangat. “Asyik sekali, Jun! Aku berkunjung ke Menara Eiffel bersama Daddy dan Mommy! Menaranya benar-benar tinggi sekali!”

“Jinjja? Wah, sepertinya seru jika bisa kesana. Tapi aku tidak yakin apakah Mommy dan Daddy mengijinkanku pergi.”

Lauren menepuk-nepuk pundak Juno seraya tersenyum manis, membuat laki-laki kecil Choi itu terpesona.

“Coba saja minta pada orangtuamu. Jika prestasimu bagus di sekolah, mereka pasti akan mengabulkannya.”

Juno tersenyum cerah. “Benarkah?”

“Hmm!” Lauren mengangguk yakin.

“Kalau begitu, jika aku pergi kesana, maukah kau ikut bersamaku? Kau kan bisa menjadi pemanduku, Lauren!”

Lauren terkikik. Juno seringkali bersikap manis padanya, membuatnya merasa nyaman. Juno juga selalu menemaninya ke kantin, membaca buku di perpustakaan serta bermain di lapangan olahraga. Mereka berdua sama-sama peraih peringkat kelas tertinggi di kelas itu.

“Baiklah, Jun!”

Juno tersenyum lebar, membuat kedua lesung pipinya tampak jelas. Lauren terkekeh lagi.

“Kau sangat tampan jika tersenyum seperti itu,” puji Lauren malu-malu.

BLUSH

Pipi putih Juno merona merah. Sejujurnya, setiap kali Lauren memujinya, wajahnya akan memerah sampai ke telinga. Dan ia berharap Lauren tidak menyadari hal itu.

“La-Lauren juga sangat cantik,” balas Juno tersipu.

Mereka sama-sama tertawa. Inilah yang membuat Juno bersemangat di sekolah. Berada dekat dengan Lauren dan bermain bersama.

“Selamat pagi, Class!”

Tawa mereka berhenti ketika mendengar suara seorang wanita yang baru saja memasuki kelas. Itu wali kelas mereka, Park Jiyeon. Di sampingnya berdiri seorang siswi baru yang memakai seragam yang sama dengan mereka.

“Selamat pagi, Miss Park!” sahut murid-murid kelas itu.

“Class, hari ini kalian kedatangan seorang teman baru. Ia adalah murid pindahan dari Amerika. Selanjutnya, mari kita dengar gadis manis ini memperkenalkan dirinya.”

Juno memusatkan perhatiannya kepada murid baru yang berdiri dengan percaya diri di depan kelas. Benar kata Miss Park, gadis itu memang manis. Tapi sejauh ini, Lauren tetap yang paling manis menurutnya.

“Hallo, namaku Cho Hana. Kalian bisa memanggilku Hana atau Honey. Aku adalah murid pindahan dari New York. Aku bisa berbicara dengan dua bahasa, Hangul dan English. Aku pindah ke Seoul bersama orangtua serta adikku yang masih berusia 3 tahun. Aku senang bisa masuk ke sekolah ini sebab Ibuku bilang ini adalah sekolah terbaik. Aku harap kita semua bisa berteman. Terima kasih!”

“Selamat datang, Cho Hana. Mari kita berteman!” seru kelas serempak, menyambut teman baru mereka dengan ramah. Hana tersenyum simpul lalu menoleh pada Miss Park.

“Dimana kursiku, Miss Park?”

Miss Park membalas senyuman Hana dengan tak kalah manis lalu menunjuk sebuah kursi kosong di depan Juno.

“Nah, kau bisa duduk disana, Hana.”

“Thank you, Miss Park!”

“Fany-ah, mungkin anakmu sedang menyukai teman sekelasnya.”

Tiffany yang sedang menyeruput es cappuccino-nya langsung tersedak mendengar pendapat Taeyeon, sang sepupu. Ia segera menyeka sudut bibirnya yang terkena minumannya sendiri lalu menatap Taeyeon tanpa kedip.

“Mwo? Andwe!!”

Taeyeon terkekeh. “Waeyo? Kenapa kau begitu histeris? Mungkin teman sekelasnya itu cantik dan pintar—“

“Tetapi Pangeranku masih berusia 8 tahun, Kim Taeyeon! Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu. Aku hanya bingung mengapa sikapnya berubah akhir-akhir ini. Ia tidak lagi ingin bermanja-manja denganku,” Tiffany berujar. Sebenarnya pendapat Taeyeon mulai menghantui pikirannya.

“Sudahlah, Fany-ah. Masa dimana seorang anak bertambah dewasa dan berubah pasti akan datang. Kau harus menerima hal itu. Tetap berikan kasih sayang padanya agar ia tahu kalau kau dan Siwon selalu memperhatikannya,” tambah Taeyeon.

Tiffany hanya bergumam tak jelas sambil mengaduk-aduk minumannya. Tidak seperti biasa yang sepulang shopping ia pasti tertawa-tawa puas, kali ini ia selalu cemberut. Ditambah lagi dengan komentar Taeyeon yang membuatnya meradang. Ia belum ingin menerima kalau anak sulungnya memang mulai menyukai lawan jenis. Ya, pastinya tidak serius. Tetapi tetap saja Tiffany merasa diduakan. Ia…cemburu.

“Siwon Oppa?”

Tiffany tersadar dari lamunannya ketika mendengar panggilan Taeyeon. Wanita berambut coklat gelap itu menatap ke arah pintu restoran, membuat Tiffany ikut menolehkan kepala ke arah sana. Siwon baru saja masuk bersama dengan seorang pria yang sepertinya lebih muda darinya. Mereka tampak berbincang-bincang akrab selagi mengikuti seorang pelayan yang menunjukkan meja khusus yang mungkin telah dipesan sebelumnya.

“Wah, kebetulan sekali Siwon Oppa makan siang disini. Tunggu sebentar, Taenggo.”

Tiffany berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju meja Siwon dan juga rekan kerjanya tersebut. Wanita itu belum pernah melihat wajah baru yang kini bersama suaminya. Ia mempercepat langkahnya ke meja itu sebelum sang pelayan restoran memberikan menu makanan.

“Siwon Oppa!”

Mendengar suara yang sangat dikenalnya Siwon pun menoleh, begitu pula dengan rekan kerjanya. Siwon menaikkan kedua alisnya ketika melihat Tiffany berjalan mendekat. Ia pun tersenyum lalu bangkit dari kursinya.

“Hai, baby!” seru Siwon kemudian memeluk singkat tubuh istrinya. “Kau juga makan siang disini? Bersama siapa?”

Tiffany mendelik pada Taeyeon, membuat mata Siwon memandang ke meja Tiffany dan Taeyeon. Sepupunya itu melambai dan Siwon membalasnya. Tiffany tersenyum ramah kepada rekan kerja Siwon, si pria berkulit pucat dan mempunyai seringaian manis.

“Oh, Tiff. Perkenalkan, ini Cho Kyuhyun. Ia adalah direktur keuangan perusahaan kita yang baru. Dan Kyuhyun-ssi, wanita cantik ini adalah istriku, Tiffany.”

Siwon membuat perkenalan secara bersahabat. Tiffany dan Kyuhyun saling mengulurkan tangan diiringi kekehan renyah dari mulut mereka. Kyuhyun menggenggam tangan Tiffany dengan tegas dan mengangguk hormat.

“Selamat siang, Ny. Choi!”

“Selamat siang, Tuan Cho. Senang berkenalan denganmu. Aku harap kalian menikmati makan siang yang lezat disini.”

Tiffany memeluk pinggang Siwon dan pria itupun tersenyum bangga. Dimanapun pasangan ini berada, mereka tidak keberatan menunjukkan kemesraan mereka yang tak heran membuat pasangan-pasangan lain iri. Namun berbeda dengan Kyuhyun, ia hanya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepala. Jelas sekali ia membayangkan bagaimana reaksi istrinya jika dipeluk di depan umum.

“Oppa, kalau begitu aku menjemput Jino dulu. Jangan terlalu banyak memesan makanan berlemak tinggi, arraseo?”

Siwon mengangguk patuh. “Arraseo. Hati-hati di jalan.”

Setelah itu Tiffany membungkuk hormat kepada Kyuhyun yang dibalas pria itu dengan senyum ramah. Siwon mengawasi istrinya terlebih dahulu keluar dari restoran itu bersama Taeyeon sebelum memesan makanan bersama Kyuhyun. Tampak raut bahagia di wajah Siwon setelah kepergian Tiffany dan Taeyeon. Pemandangan itupun menarik perhatian Kyuhyun.

“Apakah selalu seperti itu?” tanyanya ringan. Siwon mendongakkan kepala dari daftar menu lalu memandang Kyuhyun. Masih ada segaris senyum di bibir Siwon.

“Nde?”

“Kalian selalu berbagi kemesraan di depan umum,” ujar Kyuhyun kemudian ia tertawa bersama Siwon. “Anda sangat mencintainya.”

Siwon mengangguk berulang kali. Tebakan Kyuhyun sangat benar. “Ya, setelah 10 tahun menikah dengannya, perasaanku tetap sama.”

“10 tahun? Apa kalian menikah di usia muda?” tanya Kyuhyun dengan nada tertarik.

“Ya, aku menikah di usia 23 tahun dan Tiffany 2 tahun lebih muda dariku. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Brown, aku memintanya untuk menikah denganku. Dan ia menerima tawaran itu dengan senang hati,” ujar Siwon. Selagi berbicara, wajahnya berseri-seri bahagia.

Kyuhyun menopang dagu dengan kepalan tangannya. “Wah, sepertinya Anda mempunyai masa muda yang sangat indah. Well, sama denganku. Aku pun menikah di usia muda dan kini kami dikaruniai dua orang anak.”

Siwon menjentikkan jarinya seraya terkekeh senang. “Aku juga. Dua orang anak laki-laki yang tampan.”

Kyuhyun menyeringai. “Haha. Itu artinya aku lebih unggul, Tuan Choi. Aku mempunyai satu orang putri yang sangat cantik dan satu orang anak laki-laki yang menggemaskan.”

Lalu keduanya tertawa, melupakan bahwa seharusnya mereka sudah memesan makanan dan minuman. Tetapi topik tentang keluarga memang sangat menyenangkan. Terlebih lagi jika menceritakan bagaimana bahagianya mempunyai anak-anak yang mereka cintai.

“Ya, aku mengaku kalah. Sejak dulu aku juga menginginkan seorang putri, begitupun dengan Tiffany,” ungkap Siwon.

“Nah, kenapa Anda tidak bekerja lebih keras sampai kalian mendapatkan seorang anak perempuan yang kalian idamkan?” goda Kyuhyun seraya menyandarkan tubuhnya di kepala kursi. Siwon pun tertawa.

“Baiklah, sepertinya kita harus segera memesan makan siang sebelum pembicaraan ini berubah konyol.”

 

Tiffany tidak sepenuhnya membaca majalah yang dipegangnya. Matanya sibuk mencuri pandang ke arah Juno yang kini tengah asyik bermain dengan ponsel barunya. Jari-jari mungil Juno menari lihai di atas touchscreen sembari sesekali terkekeh. Tiffany menyipitkan matanya, curiga. Kenapa Juno tersenyum-senyum seperti itu, tanya Tiffany dalam hati.

Tiffany langsung teringat kata-kata Taeyeon. Mungkin saja Juno sedang menyukai temannya dan sekarang mereka saling berkirim pesan. Tidak, Tiffany tidak ingin hal itu terjadi.

“Andweeee!!!”

Baik Juno maupun Jino yang tengah asyik bermain lego sendirian di depan televisi, terlonjak kaget mendengar teriakan Tiffany. Kini Tiffany dipandangi oleh dua pasang mata bulat itu. Jino beranjak dari mainannya dan menghampiri Tiffany yang duduk di sofa bersama Juno. Wajah anak bungsunya tampak khawatir. Berbeda dengan Juno yang justru kembali asyik dengan ponselnya.

“Ada apa, Mommy?” tanya Jino. Tiffany meletakkan majalah di pangkuannya lalu mengusap rambut si bungsu.

“Tidak apa-apa, baby. Mommy hanya terkejut melihat diskon Victoria Secret sampai 30 %!” bohong Tiffany dan Jino hanya menggaruk-garuk kepalanya. Tiffany melirik Juno lagi. Ia menggeram. Ada apa sebenarnya dengan ponsel baru itu?

“Choi Juno?”

Jari-jari Juno berhenti mengetik lalu ia menoleh kepada Ibunya. “Yes, Mom?”

Tiffany berdehem lalu melanjutkan kata-katanya. “Temani adikmu bermain.”

Juno mengernyitkan keningnya heran. Kenapa tiba-tiba Ibunya menyuruh bermain dengan Jino? Padahal sebelumnya Tiffany justru melarang sebab Juno pasti akan menggoda Jino sampai menangis.

“Aku tidak mau bermain dengan Jino!” tolak Juno. Jino mengamini dengan anggukannya.

“Benar, Mom. Hyung selalu merubuhkan lego yang sudah kususun,” timpalnya polos.

Tiffany terdiam. Benar juga, pikir Tiffany. Namun ia tetap mencari cara agar perhatian Juno tidak selalu ke ponselnya. Tiffany ingin Juno berdekatan dengannya dan menonton televisi bersama, bukan duduk di sofa yang sama tetapi berjarak 2 meter seperti ini!

“Apa kau sudah menyusun buku pelajaranmu untuk besok?” tanya Tiffany.

Juno menyeringai seolah-olah ingin mengatakan kalau Ibunya payah.

“Mom, besok adalah hari Sabtu.”

“Eoh?”

“Sudahlah, Mom. Jangan ganggu aku!” gerutu Juno lalu bangkit dari sofa. Tiffany terperangah dengan mulut terbuka sementara Juno kembali memainkan ponselnya seraya berjalan ke kamarnya. Kini tinggal Jino dan Tiffany di ruang televisi tersebut. Tiffany menghela napas berat kemudian menyandarkan tubuhnya. Mungkin ia harus ekstra sabar menghadapi pertumbuhan Juno.

“Apa kepala Mommy sakit lagi? Jino bisa memijitnya!” seru Jino seraya memanjat naik ke sofa. Jino merengkuh kepala Tiffany kemudian mencium kening wanita itu. Tentu saja perlakuan manis Jino membuat mood Tiffany kembali membaik. Ia memeluk pinggang anaknya dan mendekapnya erat.

“Untuk apa ciuman itu?” tanya Tiffany lembut.

“Aku pernah melihat Daddy melakukannya sebelum memijit kepala Mommy,” jawab Jino seraya memainkan rambut panjang Ibunya. Tiffany tertawa kemudian mengecup pipi Jino. Ia memandangi wajah putra bungsunya yang cenderung lebih mirip dengannya itu.

“Aigoo, pangeran Mommy manis sekali. Hmmh, apakah nantinya Jino akan seperti Hyung? Hyung sekarang sering mengabaikan Mommy, membuat Mommy sedih,” ungkap Tiffany sambil melengkungkan bibirnya, cemberut. “Apa nantinya Jino juga seperti Hyung?”

Kepala Jino menggeleng-geleng dengan cepat sehingga rambutnya yang sedikit panjang melambai-lambai. “Tentu saja tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengabaikan Mommy. Karena Mommy adalah Ratuku.”

“Owh, kau benar-benar sangat manis, Sayangku. I love you,” ucap Tiffany terharu. Ia mengecup pipi Jino dan berlama-lama disana. Jino merengkuh leher Tiffany dan terkikik senang.

I love you too, my Queen.”

 

Kyuhyun masuk ke dalam rumah dengan senyum yang sumringah sebab Kyungsan langsung berlari ke arahnya. Bocah cilik itu melompat ke pelukan sang Ayah kemudian menciumi wajahnya. Kepala Yoona menyembul dari balik pintu dapur, senang melihat kepulangan Kyuhyun yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Bagaimana kabar jagoan Daddy hari ini, hmm?”

Kyungsan menangkup wajah Kyuhyun dengan sepasang tangannya yang munngil. “Aku mem..bantu Mommy membuat cookies.”

“Really?” tanya Kyuhyun excited.

“Ya, lebih tepatnya membuat kekacauan di dapur,” tambah Yoona yang kini tengah berjalan menghampiri kedua pria yang sangat dicintai dalam hidupnya. Yoona mengambil alih tas kerja Kyuhyun dan mengecup pipi pria itu. “Bagaimana harimu di kantor?”

“Hmm, tidak terlalu sibuk. Jadi, Kyungsan-ku lagi-lagi menambah pekerjaan Mommy hari ini?”

Kyuhyun menciumi leher Kyungsan sementara Yoona tertawa di sampingnya. Kyungsan menarik-narik rambut Ayahnya karena merasa geli. Tawanya yang terbahak-bahak bagaikan musik indah yang menenangkan bagi Kyuhyun, membuat penatnya hilang seketika.

“Oh ya, dimana si evil kecil itu?” tanya Kyuhyun setelah puas menciumi Kyungsan. Kyungsan terkulai lemas di pundaknya sembari tertawa-tawa kecil.

“Sedang belajar di kamarnya. Sepertinya ia mulai malas makan malam lagi. Nanti aku akan memanggilnya untuk makan malam bersama,” ujar Yoona. Kyuhyun mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu panggil saja ia sekarang. Katakan padanya aku sudah pulang dan kita makan malam,” titah Kyuhyun.

“Oke.”

Yoona menuruti perintah suaminya dan naik ke kamar si sulung. Tak lupa ia menaruh tas Kyuhyun di kamar mereka terlebih dahulu. Sejak tadi sore Hana selalu asyik di kamarnya. Ia bahkan tidak menghiraukan cookies yang tadi dihidangkan Yoona untuknya. Entah apa yang dilakukan putri tomboy-nya itu.

Sampai di depan kamar Hana, Yoona mendorong pintu kamar yang memang sedikit terbuka itu. Ia melihat anaknya masih dalam posisi yang sama seperti 15 menit yang lalu saat ia memanggil untuk turun. Hana menelungkup di atas tempat tidurnya, menaikkan kedua kakinya ke atas dan mulut mungilnya sibuk menyenandungkan nyanyian. Yoona melihat ia menggambar sesuatu di atas buku gambarnya. Yoona berjalan diam-diam dan memperhatikan sketsa yang dibuat Hana. Keningnya mengernyit.

Sketsa wajah?

“Hana-yaa?”

Hana spontan membalikkan buku gambarnya dan duduk dengan sigap. Ia mendongak menatap sang Ibu namun tatapannya tampak protes.

“Ya Tuhan, Mommy mengagetkanku saja. Apa mengetuk pintu terlebih dahulu tidak berlaku untuk orang dewasa?”

Yoona bersidekap. “Apa yang sedang kau gambar? Hana, apa kau tidak bosan di kamar sejak pulang sekolah?”

Hana menaikkan bahunya. “Nope. Oke, aku akan turun sekarang. Lagipula perutku lapar.”

“Tapi kau belum menjawab pertanyaan Mommy. Apa yang sedang kau gambar?” ulang Yoona tegas.

“Bukan apa-apa, Mommy! Geez, kenapa ibu-ibu selalu ingin tahu?” Hana bergumam seraya memasukkan kembali buku gambar ke dalam tasnya. Yoona tahu kalau ia akan selalu kalah berdebat dengan si evil kecil ini. Akhirnya Yoona menyerah dan keluar kamar Hana terlebih dahulu.

“Lekas, Daddy sudah menunggumu di bawah!” seru Yoona sebelum benar-benar keluar dari kamar Hana.

 

Pagi itu sangat cerah. Tiffany tersenyum menatap meja makannya yang telah terhidang berbagai menu sarapan yang bergizi. Sosis dan telur untuk Juno, sereal gandum untuk Jino dan omelet untuk dirinya dan Siwon. Lalu Tiffany menengok keluar, memandang melewati dinding kaca menuju taman belakang. Siwon dan kedua anak mereka masih sibuk bergulat di atas rumput di dekat kolam renang. Mereka bertiga bangun pagi-pagi sekali untuk berolah raga, membiarkan Tiffany bekerja di dapur sendirian.

Tiffany menyanggul rambutnya sembarangan lalu berjalan keluar. Terdengar pekikan geli Jino yang diciumi oleh Siwon dan Juno tampak berusaha mencekik leher Ayahnya itu. Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepala. Beginilah di akhir pekan, Tiffany merasa sedikit terabaikan.

“Waktunya sarapan!” seru Tiffany seraya menyandarkan tubuhnya di dinding kaca.

“Yeeee sarapaaaan!” teriak Juno dan Jino penuh kemenangan. Mereka berusaha terlepas dari pelukan Siwon kemudian berpacu lari ke dalam rumah, tidak mempedulikan Tiffany yang berdiri disana. Tiffany cemberut. Pagi ini kedua anaknya belum memberinya pelukan dan ciuman. Melihat itu Siwon tertawa. Ia berjalan menghampiri istrinya dan berdiri sangat dekat. Tiffany masih cemberut ketika ia mendongak menatap Siwon.

“Kenapa Mommy cemberut seperti itu, hmm?” goda Siwon dengan menirukan mimik Jino. Tiffany mendengus kesal dan memukul dada bidang suaminya.

“Menyebalkan,” gerutunya. “Mereka tidak mempedulikanku.”

Siwon mengulurkan tangan untuk memeluk pinggang Tiffany. Ia membawanya mendekat hanya untuk memberikan kecupan manis di kening wanita cantik tersebut. Sejenak Siwon menikmati keharuman rambut Tiffany.

“Mereka peduli padamu, Baby. Buktinya mereka sangat senang mendengar sarapan yang kau buat telah siap. Aku juga selalu peduli padamu,” ujarnya.

Tiffany mengerjapkan matanya lambat-lambat. “Baguslah kalau begitu. Kalau begitu ayo kita masuk.”

“Tunggu!” desis Siwon. Ia memegangi wajah Tiffany dengan posesif. “Kau belum memberiku menu utama pagi ini.”

“Eoh—“

Tiffany tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Siwon sudah terlebih dahulu menciumnya. Ciuman singkat yang manis dan penuh cinta. Siwon memijit hidung bangir Tiffany sebelum meninggalkan wanita itu diluar sendirian. Tiffany tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya tertawa senang.

“Mommy, sarapan yang Mommy buat rasanya enak sekali! Aku sangat menyukainya!” puji Jino ketika Tiffany bergabung bersama mereka di meja makan. Siwon mengacak-acak rambut anak bungsunya lalu mengedip kepada Tiffany.

“Kamsahamnida, uri Jino-yaa!” ucap Tiffany tulus.

“Sarapanmu kan hanya sereal,” gumam Juno. Tiffany meliriknya.

“Bagaimana denganmu, Choi Juno? Apa kau menyukai sarapanmu pagi ini?” tanyanya sembari memotong omelet.

Juno hanya mengangguk singkat.

“Daddy?” panggil Juno. Siwon menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.

“Ya, Nak?”

“Bolehkan kita ke Paris? Aku ingin melihat menara Eiffel.”

Siwon dan Tiffany saling pandang. Kenapa tiba-tiba bocah itu meminta ke Paris?

“Apa itu menara Eiffel?” celetuk Jino. Mulutnya penuh dengan noda susu coklat.

“Teman sekelasku berlibur ke Paris bersama kedua orangtuanya. Ia bilang menara Eiffel itu sangat indah. Aku juga ingin kesana Dad,” tambah Juno. Tampaknya tidak ada satupun yang berminat menjawab pertanyaan si kecil Jino.

“Kita harus menunggu liburan selanjutnya, Jun. Lagipula Dad sedang sibuk di kantor,” jawab Siwon tenang. Mulut Juno langsung melengkung cemberut. Tiffany menatap wajah anaknya dengan sungguh-sungguh. Sepertinya Juno benar-benar ingin ke Paris.

“Baiklah,” ucap Juno akhirnya.

Tiffany tahu kalau ia jarang mengusulkan kepada Siwon untuk mengajak kedua putra mereka jalan-jalan keluar negeri. Tentu saja Juno merasa iri dengan teman-temannya. Tiffany kemudian menyentuh lengan Siwon dengan lembut. Sepertinya ia harus berbicara tentang hal ini kepada Siwon lebih serius lagi. Lagipula ia dan suaminya juga butuh liburan.

 

Juno keluar dari perpustakaan dengan membawa satu buah buku. Wajahnya tampak sumringah dan sepertinya sudah tidak sabar menemui seseorang di kelasnya. Sesekali bocah tampan itu membalas sapaan teman-temannya lalu terus melangkahkan kaki. Sesampainya di depan kelas, tanpa sengaja Juno menabrak seseorang yang juga membawa buku, namun bedanya buku anak itu lebih banyak.

“Oh, Hana? Maaf,” ucap Juno pada anak yang ditabraknya. Cho Hana tidak menjawab justru membungkuk mengambil buku-bukunya. Melihat itu Juno dengan tangkas membantu. Juno tak sengaja membaca judul-judul buku pinjaman Hana itu. Semuanya bertemakan lukisan atau seni menggambar.

“Thanks,” ucap Hana setelah memeluk buku-bukunya lagi. Juno hanya tersenyum kecil.

“Apa Hana suka menggambar?” tanya Juno. Hana mengangguk.

“Aku baru saja mulai menyukainya. Why?”

“Aku tidak pernah bisa menggambar padahal Mommy-ku adalah seorang designer.”

Hana tertawa, begitupun dengan Juno. Kali ini giliran Hana yang mengomentari buku yang dipegang Juno.

“Buku tentang perjalan ke Eropa? Kenapa Juno membaca buku itu? Juno ingin ke luar negeri ya?”

Juno mengangguk semangat. “Aku ingin sekali seperti Lauren yang berjalan-jalan ke luar negeri. Oleh karena itu dari sekarang aku harus membaca tentang Negara-negara disana.”

Hana tersenyum kecil lalu menengok ke dalam kelas. Ia melihat Lauren duduk disana bersama beberapa murid perempuan yang lain.

“Maksudmu, Lee Lauren yang itu?” tanya Hana seraya menunjuk ke dalam. Juno melirik arah jari telunjuk Hana dan seketika wajahnya merona merah muda.

“Ya,” jawabnya singkat. “Apa Hana akan ke perpustakaan mengembalikan buku itu?”

Hana mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya menjauh seraya melambaikan tangan pada Juno. “Sampai bertemu nanti saat jam pelajaran, Jun!”

Setelah mengucapkan kalimat itu Hana kembali berjalan menuju perpustakaan. Sesekali ia menghela napas berat dan memeluk buku-bukunya lebih erat.

 

Tiffany keluar dari butiknya, hendak menuju area parkir. Hari ini ia ingin pulang lebih cepat dan harus segera mengambil Jino di rumah sepupu Siwon, Choi Sulli. Tiffany memang sering menitipkan anak bungsunya itu kepada Sulli jika ia tidak bisa menjemputnya sekolah. Namun Juno sudah lama tidak berkunjung ke rumah Sulli karena ia lebih memilih diantarkan bus sekolah ke rumahnya.

“Nyonya Choi!”

Tiffany yang akan membuka pintu mobilnya, kembali menoleh ke belakang ketika sebuah suara menyerukan namanya.

“Oh, Nyonya Lee!”

Tiffany  cukup terkejut melihat siapa tamu tak terduga itu. Jessica Jung atau sekarang menjadi Nyonya Lee. Tiffany selalu mengingat seumur hidupnya kalau wanita itu adalah saingan terberatnya. Baik dalam hal pekerjaan dan cinta pertama mereka dulunya. Tiffany tidak ingin mengingat-ingat hal itu lagi.

Jessica berjalan mendekati Tiffany. Senyum tipis namun sedikit sinis terukir di wajahnya. Penampilannya yang glamor membuat Tiffany berjengit. Mereka sama-sama pemilik butik terkenal di Korea Selatan, tetapi penampilan Tiffany jauh berbeda dari Tiffany. Tiffany memang glamor, tetapi tidak semewah Jessica.

“Ada apa repot-repot mencariku kemari, Nyonya Lee?” tanya Tiffany dengan suara ramah dibuat-buat.

Jessica melipat tangan di dadanya lalu menatap lurus ke sepasang mata Tiffany. “Aku juga tidak tahu entah angin apakah yang membuatku kemari, Tiffany-ssi. Tetapi aku harus mencarimu untuk menanyakan sesuatu.”

Kening Tiffany mengernyit. “Sesuatu? Oke, katakan saja. Apa kau ingin tahu rancangan terbaru untuk musim dinginku?”

Jessica mendengus. “Hei, siapa saja tahu kalau rancanganku selalu menjadi yang terbaik di Korea Selatan. Jadi jangan singgung-singgung masalah fashion saat ini.”

Tiffany tertawa. Tepatnya tawa mengejek. Sampai kapanpun ia tidak akan setuju dengan pendapat Jessica yang satu itu.

“Ya, tertawalah sepuasmu. Yang jelas aku kemari untuk menanyakan hal yang lebih penting dari sekedar fashion.”

Tiffany menghentikan tawanya sedikit demi sedikit ketika wajah Jessica semakin berubah serius. Ia berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke mobil lalu mengedikkan bahu. “Benarkah? Sepertinya serius sekali.”

Jessica menghela napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan. “Tiffany-ssi, apakah Choi Juno itu putramu?”

Mendengar nama putranya keluar dari mulut seorang Jessica Jung, Tiffany terdiam. Wajahnya datar seketika. Darimana Jessica tahu nama anaknya? Selain masalah fashion, Tiffany dan Jessica tidak saling mencari tahu kehidupan pribadi masing-masing. Namun sekarang tiba-tiba Jessica menanyakan perihal Juno kepada Tiffany. Aneh.

“Y-ya, Choi Juno adalah anakku. Ada apa, Jessica-ssi?” tanya Tiffany dengan suara sedikit antusias.

“Ya Tuhan, ternyata memang anakmu. Apa kau tahu, anakmu kini telah menjadi topik obrolan utama anakku!? Dimana saja selalu saja membicarakan Juno, Juno dan Juno. Di meja makan, di kamar mandi, di atas mobil, sebelum tidur dan bahkan saat ia akan belajar. Apa anakmu sedang mendekati anakku, eoh?”

Tiffany terperangah dengan mulut setengah terbuka. Apa maksud wanita di hadapannya ini? Juno menjadi topik pembicaraan anak Jessica Jung? Memang siapa anaknya dan darimana mereka berteman?

Wait, wait!” Tiffany mengangkat sebelah tangannya. “Anak kita saling mengenal?”

“Ya, tentu saja, Nyonya Choi! Aku juga baru mengetahuinya semalam kalau mereka satu kelas tahun ini.”

“Apa? Mereka satu sekolah?!”

“Mereka satu sekolah dan satu kelas tahun ini. Apa kurang jelas?”

Tiffany menutup mulut dengan kedua tangannya. Ini tidak mungkin! Anaknya mengenal anak saingan terberat dalam hidupnya. Dan lebih mengejutkannya lagi, sepertinya mereka juga sangat dekat.

“Dan kau tahu, anakmu mengajak anakku untuk ke Paris melihat menara Eiffel bersama-sama suatu saat nanti! Demi Tuhan Tiffany Hwang, mereka baru 8 tahun!” Jessica sedikit berteriak seperti ingin menelan Tiffany yang berdiri terperangah di depannya.

“Yah! Kau kira aku tidak terkejut mendengar hal ini? Anakku bahkan tidak pernah menyebut-nyebut tentang anakmu, Jessica-ssi. Aku baru mengetahuinya darimu.”

Jessica mengangguk. “Baguslah kalau sekarang kau sudah tahu. Jadi kau bisa memperingati anakmu untuk tidak bergenit-genit pada anakku. Belum saatnya untuk mereka memikirkan lawan jenis.”

Ucapan Jessica menyinggung Tiffany, terlebih lagi mendengar nada ketus dari mulut wanita itu. Ia memajukan sedikit tubuhnya sehingga mereka berdiri dekat sekali.

“Jadi menurutmu anakku genit? JAGA BICARAMU, JESSICA JUNG! Anakku baru berusia 8 tahun dan ia belum mengerti caranya bergenit-genit seperti yang kau katakan!” sembur Tiffany.

Who knows?! Kau bisa saja menurunkan sifatmu kepadanya. Mungkin kau sudah lupa bagaimana dulu kau menggoda Dongwook suamiku sampai ia sempat hampir jatuh cinta padamu!”

“Cukuuup!” hardik Tiffany. Tentu saja ia ingat masa sekolah mereka dulu, dimana dirinya, Jessica dan Dongwook menjadi teman satu tim. Lee Dongwook yang tampan itu menjadi cinta pertama duo gadis Amerika yaitu Tiffany dan Jessica. Namun Jessica lebih beruntung dalam hal itu sebab ia yang mendapatkan cinta sang pujaan hati.

“Aku kira pembicaraan kita sudah selesai. Aku harap kau memperingati anakmu. Bukannya aku melarang mereka berteman, tetapi aku hanya ingin mereka berteman dengan normal,” lanjut Jessica lagi setelah menghela napasnya cukup panjang.

“Akan kulakukan dengan senang hati, Jessica-ssi. Memangnya siapa nama anakmu?”

 

“Lauren!”

Gadis cilik yang cantik itu menoleh ke belakang saat Juno memanggilnya. Senyum cantik yang selalu disukai Juno kini menghiasi wajah manis itu, membuat kaki Juno semakin cepat melangkah. Lauren sedang menunggu jemputan sopirnya di halaman sekolah, sedangkan Juno pulang dengan bis sekolah.

“Juno, ada apa?”

Juno mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Lauren. Buku yang tadi ia pinjam dari perpustakaan baru bisa diberikannya sekarang. Lauren menerima buku tersebut dan tersenyum lebar membaca judulnya.

“Aku meminjam buku ini di perpustakaan. Aku harap Lauren menyukainya.”

Lauren mengangguk. “Aku pasti menyukainya. Tetapi, apa Juno tidak ingin membacanya juga?”

“Lauren adalah pemanduku jika nanti kita ke Eropa bersama. Jadi, Lauren saja yang membacanya, ne!”

Lauren mengangguk setuju. Juno tampak semakin baik di matanya. Temannya itu selalu membuat hatinya senang dan terhibur. Tepat saat itu, sebuah mobil datang menghampiri mereka. Juno tersenyum masam, sudah saatnya mereka berpisah. Ia harus menunggu esok pagi untuk bisa melihat Lauren lagi.

“Aku pulang dulu, Juno-yaa! Sampai bertemu besok!” seru Lauren ceria ketika sopir Ayahnya membukakan pintu mobil. Juno melambaikan tangan dengan semangat, yang sepertinya juga sedikit berlebihan.

“Sampai bertemu besok, Lauren!”

Yang selanjutnya terjadi adalah Juno hanya bisa memandangi mobil mewah Lauren menjauh dari pekarangan sekolah. Dan setelah itu, masih ada senyum-senyum kecil yang tersisa di wajah tampannya. Ia senang Lauren menerima buku itu dengan antusias.

“Choi Juno, bis sekolahnya akan berangkat sebentar lagi. Apa kau tidak mau ikut?”

Suara di sampingnya membuat bocah laki-laki itu terkejut. Ia segera menoleh ke arah suara dan melihat Hana sedang tersenyum lebar. Juno hanya bisa tertawa kecil dan melongokkan kepala untuk melihat bis sekolah yang tengah berdiri di lapangan.

“Ya, tentu saja. Apa Hana juga pulang dengan bis?”

Hana mengangguk. “Hmm. Sepertinya Mommy masih berada di rumah sakit untuk mengantar Kyungsan.”

Juno dan Hana pun berjalan beriringan menuju bis sekolah. Cuaca yang sangat bagus sore itu membuat mereka nyaman berjalan di lapangan sekolah. Juno masih saja tersenyum-senyum mengingat peristiwa tadi.

“Jadi buku itu bukan untuk Juno baca sendiri?” tanya Hana. Ia memang melihat interaksi antara Juno dan Lauren.

“Hehe, aku memutuskan untuk meminjamkannya kepada Lauren saja. Oh ya, siapa itu Kyungsan?”

“Adikku. Ia baru berusia 3 tahun.”

“Benarkah? Aku juga mempunyai seorang adik laki-laki, tetapi lebih tua dari adikmu.”

Hana mengangguk paham. Ternyata masih ada persamaan dirinya dengan Juno. Dari kejauhan mereka melihat sebuah mobil asing masuk ke pekarangan. Juno mengangkat kedua alisnya. Sepertinya ia mengenal mobil itu. Mini cooper pink pastel dengan atap berwarna hitam. Mobil itu memperlambat lajunya lalu berhenti di dekat Juno serta Hana. Hana menahan tawanya mati-matian. Dari sekian banyak mobil mewah di Seoul yang pernah dilihatnya, inilah yang paling aneh.

“Choi Juno!”

Hana terdiam ketika melihat seorang wanita luar biasa anggun turun dari mobil itu. Apalagi wanita dengan rambut coklat ikal digerai sepinggang tersebut memanggil nama teman di sebelahnya.

“Mommy?”

Hana tersedak. “Jadi itu Ibumu? Wah, selera Ibumu sangat unik. Hihihi.”

Namun Hana berusaha menahan kekehannya ketika Tiffany sudah berada di dekat mereka. Entah kenapa Hana merasa dipandangi oleh Ibu temannya itu. Dan pandangan Tiffany tidak seramah pandangan Miss Jiyeon kepadanya.

“Ayo, kita pulang!”

Juno menatap wajah Ibunya dengan kening mengernyit. “Aku tidak tahu Mom punya waktu untuk menjemputku sekolah.”

Tiffany melipat tangannya di dada.

“Kebetulan Mom lewat sini, jadi tak ada salahnya menjemputmu.”

Juno mengangkat bahu. Kemudian ia menoleh ke arah Hana yang masih memandangi Ibunya.

“Oh ya, Mom! Perkenalkan, ini temanku Ch—“

“Mom sudah tahu. Gadis manis ini adalah teman dekatmu, kan?” potong Tiffany. Juno hanya tersenyum manis, membuat Hana tersipu malu. Tetapi hal itu tidak membuat Tiffany senang, justru uring-uringan. Ia cemburu melihat kedekatan anaknya dengan gadis manis yang dianggapnya Lee Lauren itu.

“Ingin ikut dengan mobil unik Mommy-ku? Setidaknya lebih imut dari bis sekolah,” Juno menawarkan tumpangan pada Hana.

“Ah? Andwe!” tukas Tiffany cepat, membuat kening Juno mengernyit dan tatapan tak mengerti dari Hana. Tiffany segera berdehem. Ia tidak boleh terlihat kekanakan di depan kedua bocah 8 tahun ini.

“Kenapa Mom? Hana adalah temanku. Ia adalah teman baru yang datang dari Amerika. Aku lupa mengatakannya kepadamu, Mom.”

Tiffany terdiam, setengah malu. Jadi, gadis manis ini bukan Lauren?

 

 

Tiffany POV

Astaga, Tiffany! Kau hampir saja mempermalukan anakmu di depan teman barunya hanya karena sifat posesifmu, aku meneriaki diri sendiri. Bodohnya aku yang tidak mendengar dengan benar perkataan Juno. Jadi gadis manis ini bukan Lauren? Lagipula bukannya aku bersikap tidak ramah kepada teman dekat Juno, tetapi ini adalah efek dari labrakan Jessica kepadaku. Aku tidak terima kalau wanita itu menuduh anakku bergenit-genit menggoda anaknya.

Tiba-tiba gadis manis di depanku itu mengulurkan tangan kurus dan putihnya. Senyumnya sangat lebar dan matanya bersinar-sinar cantik. Tanpa sadar aku membalas senyumannya.

“Hallo, Nyonya Choi. Perkenalkan namaku Cho Hana. Maaf tadi aku tidak langsung memperkenalkan diri sebab aku terlalu terpukau melihat mobil Anda.”

Apa-apaan gadis ini? Aku tidak tahu apakah harus menganggap ucapannya barusan adalah pujian atau ejekan. Setidaknya aku tetap tersenyum ramah.

“Oh, terima kasih, Hana-ssi.” Memangnya kenapa dengan mobilku?

“Jadi, apakah Hana boleh menumpang di mobil Mommy?” tanya Juno padaku. Ah sepertinya anakku ini ingin sekali Hana ikut dengan kami. Baiklah, tidak ada salahnya berbuat baik.

“Erm, tentu saja. Maaf soal tadi, Hana-ssi.”

Hana menggeleng lemah. “Tidak masalah, Nyonya Choi. Maaf aku merepotkan. Biasanya Mom menjemputku. Tetapi hari ini Mom harus ke rumah sakit mengantarkan adikku.”

“Oh, I see. Baiklah, bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan ini di mobil saja? Dan nanti Mom akan mentraktir es krim. Sounds good?”

“Es krim? Yeeeaaay!” sorak Juno dan Hana berbarengan. Aku tertawa kecil. Mereka lucu sekali, terutama putraku. Setidaknya ia senang dengan kehadiranku kali ini. Tetapi jangan terlalu senang, Choi Juno. Di rumah aku akan menanyaimu tentang gadis kecil bernama Lee Lauren itu. Huh!

 

 

Author POV

Setelah membelikan es krim kepada Juno dan Hana, Tiffany mengantarkan teman anaknya itu ke rumahnya. Sayang sekali Ibu Hana belum pulang ke rumah. Tetapi anak itu meyakinkan kalau ia sudah terbiasa sendiri, jadi ia akan baik-baik saja.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Tiffany terus memperhatikan raut senang di wajah Juno. Putranya itu sepertinya tidak tahu kalau ia sedang diawasi oleh Ibunya sendiri. Seorang wanita yang khawatir anaknya jatuh cinta pada anak dari saingan seumur hidupnya.

Juno segera berlari masuk rumah saat mereka akhirnya sampai. Tiffany sangat antusias ingin bertanya kepada Juno perihal Lauren, sampai ia lupa menjemput si bungsu ke rumah Sulli. Tiffany berencana untuk meminta Sulli mengantarkannya ke rumah atau jika gadis itu tidak sempat, nanti biar Siwon yang singgah kesana setelah pulang dari kantor.

“Choi Juno, Mommy ingin bicara empat mata denganmu!” seru Tiffany ketika Juno hendak menaiki tangga menuju kamarnya. Langkah Juno berhenti dan ia menoleh pada Tiffany.

“Berbicara empat mata?” tanyanya heran.

“Hanya antara kita berdua,” jelas Tiffany. Juno mengangguk polos seraya memainkan tali tasnya.

“Baiklah, Mommy.”

Tiffany meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memasang ekspresi tegas. Kening Juno mengernyit melihatnya.

“Choi Juno, apa kau mengenal Lee Lauren?”

Juno otomatis tersenyum lebar, mengabaikan kerut kesal di kening Tiffany.

“Tentu saja, Mom! Lauren adalah murid paling cantik di kelasku. Waeyo?”

Tiffany terperangah. Ternyata benar! Jessica menudingnya bukan tanpa alasan. Respon Juno saat mendengar nama Lauren memang menunjukkan kalau anak itu tertarik pada gadis kecil tersebut. Sebisa mungkin Tiffany menahan kekesalannya.

“Paling cantik katamu? Yah! Tugasmu adalah belajar dengan benar, bukannya memperhatikan gadis cantik di sekolah!” omel Tiffany. Sebelumnya ia belum pernah seperti ini kepada Juno. Tentu saja Juno tercengang melihat Ibunya. Memang apa salahnya menilai temannya yang cantik?

“K-kenapa Mommy semarah ini? Aku kan hanya mengatakan pendapatku. Lauren memang cantik,” ujar Juno membela diri.

“Ya, Mom percaya itu. Tetapi Mom tidak ingin kau memperhatikan hal itu lagi. Belum saatnya kau memikirkan hal lain selain belajar. Arraseo?”

Juno menundukkan kepala. Lalu tanpa mengucapkan apapun lagi, ia berlari menaiki tangga. Tiffany menghela napasnya dengan kasar. Lagi-lagi Juno merajuk. Ia harus bersiap-siap melihat aksi diam anak itu lagi.

Tapi Tiffany tidak bisa membiarkannya. Juno masih terlalu kecil untuk mengerti tentang hal yang berkaitan dengan perasaan. Ia tidak ingin melihat prestasi Juno turun. Sambil menghentak-hentakan kaki Tiffany masuk ke dapur. Saatnya membuatkan makan malam untuk keluarganya nanti.

 

Sudah beberapa hari ini suasana di meja makan keluarga Siwon kembali canggung. Tentu saja bersumber dari Tiffany dan Juno. Siwon sudah mengetahui masalah itu dari mulut Tiffany. Terkadang ia tidak habis pikir mengapa Tiffany dan Juno sering bertentangan. Siwon mengerti dengan kecemburuan istrinya kepada teman-teman dekat Juno, khususnya anak perempuan. Tetapi menurut Siwon, hal itu sangat wajar. Anaknya tampan dan pintar, tentu saja digemari oleh siswi-siswi di sekolahnya.

“Aku sudah selesai,” ucap Juno sebagai ucapan pamit kepada kedua orangtuanya. Tanpa menunggu jawaban mereka, Juno turun dari kursi meja makannya lalu beranjak ke kamar. Tiffany diam saja, sementara Siwon menghela napas panjang.

Honey, apakah kau tidak mencoba berbicara lagi dengannya?” tanya Siwon lembut. Tiffany mengedikkan sebelah bahunya.

“Putramu tidak mendengarkan kata-kataku. Jadi untuk apa aku mengulang-ulang nasehatku?” wanita itu bersikeras.

Siwon mengetuk-ngetukkan jari ke meja. Jino tetap menyantap makan malamnya di seberang Siwon. Siwon tidak ingin berdebat di meja makan, terlebih lagi di depan anak-anaknya. Ia tahu kalau berdebat dengan istrinya pasti akan membuat sedikit keributan.

“Kalau begitu kita bicarakan nanti saja setelah makan malam.”

 

 

Siwon POV

Tiffany masuk terlebih dahulu ke kamar sedangkan aku mengunjungi kedua putraku terlebih dahulu untuk memberikan mereka kecupan selamat malam. Jino cepat sekali terlelap, sementara itu Juno masih bermain dengan miniature pesawatnya. Ia duduk di atas kursi belajarnya dan tampak asyik—setengah kesal—bermain dengan mainannya. Aku menghampirinya dan menyandarkan tubuh di lemari belajarnya. Aku menatap wajah anak sulungku cukup lama sebelum melontarkan sebuah pertanyaan untuknya.

“Apa kau masih kesal dengan Mommy?”

Ia menggelengkan kepala.

“Lalu kenapa kau tidak memberinya ciuman selamat malam?”

Juno terdiam. Ia meletakkan mainannya di atas meja belajar.

“Dad rasa Mommy ingin kau memberinya ciuman selamat malam dan ciuman selamat pagi seperti biasanya.”

Juno mendongakkan kepalanya untuk menatapku. “Tetapi Mommy melarangku berteman dengan Lauren, Daddy.”

Mendengar nama itu barulah aku lebih mendekatinya. Tiffany berkata kalau gadis kecil bernama Lauren itu adalah perempuan yang akan membuat Juno melupakannya, ibunya sendiri. Terkadang Tiffany memang berlebihan jika menyangkut anak-anak.

“Benarkah? Coba ceritakan pada Dad, seperti apa Lauren, hm? Apa kalian berteman sangat dekat?”

Aku berjongkok di depan kursi Juno dan menggenggam kedua tangannya. Ia menatapku ragu-ragu. Aku mempercayai putraku, ia tidak pernah berkata bohong. Aku berharap ia jujur atas apa yang dirasakannya kepada gadis bernama Lauren itu.

“Apakah Dad berjanji tidak akan melarangku seperti yang dilakukan Mommy?”

Aku mengangkat sebelah tanganku dan mengepalkannya di depan wajah Juno. “Mari kita membuat perjanjian sebagai lelaki sejati.”

Senyum Juno merekah lalu meninju tanganku pelan dengan kepalan tangan kecilnya.

“Aku dan Lauren berteman baik. Ia sangat cantik dan pintar. Aku nyaman berteman dengannya, Dad. Jika ia tersenyum, ia akan tampak sangat cantik seperti Mommy. Aku selalu ingin bertukar cerita dengannya. Jika ia tidak masuk sekolah, aku akan merasa kesepian, walaupun masih banyak temanku yang lain. Dan Lauren sangat wangi, Dad.”

Aku tersenyum penuh arti. Sudah dapat kusimpulkan kalau anakku memang tidak dapat dipisahkan dari gadis kecil itu.

“Dad senang mendengarnya, Juno. Teruslah berteman dengannya,” ungkapku. Juno menatapku ragu.

“Tetapi, bagaimana dengan Mommy? Aku tidak ingin membohongi Mommy,” ujarnya sedih. Aku mengusap-usap bahu kecilnya yang suatu saat pasti akan kokoh sepertiku.

“Maka dari itu, jangan pernah berubah kepada Mommy. Dad tahu kau sudah semakin besar, kau pasti mempunyai rasa sedikit malu jika Mommy memanjakanmu di depan teman-teman. Tetapi Mommy melakukan itu karena ia sangat mencintaimu, juga mencintai adikmu. Tidak ada wanita di dunia ini yang memberikan cinta kepada kita sebesar yang diberikan seorang ibu. Jadi, jika kau ingin tetap berteman dengan Lauren, kau juga tidak boleh merubah sikap kepada Mommy. Dengan begitu, ada dua orang wanita yang kau jaga perasaannya. Arraseo?”

Juno terdiam dan menunduk. Tetapi aku rasa ia sangat mengerti apa yang kumaksud. Putraku adalah lelaki kecil yang sangat cerdas dan mempunyai hati yang lembut.

“Kau sangat mencintai Mommy, kan?”

Juno mengangguk berulang kali sebagai jawaban. Aku pun bangkit dan mengecup puncak kepalanya.

“Kalau begitu, pikirkan kata-kata Dad tadi. Selamat malam, S            ayang.”

Aku pun beranjak keluar. Dan sebelum aku menutup pintu kamarnya, ia memanggilku lagi.

“Aku juga mencintaimu, Dad. Good night.”

Aku tersenyum penuh arti. Lalu sebelum benar-benar pergi, aku membalas ungkapan hatinya. “I love you more, baby.

 

 

Saat memasuki kamar, aku melihat istriku sedang membolak-balikan album foto kedua putra kami. Aku pun segera bergabung dengannya di atas ranjang dan memberikan kecupan hangat di bahunya yang terbuka. Namun sepertinya ia lebih menikmati pemandangan yang dilihatnya di dalam album foto. Yaitu foto-foto Juno serta Jino.

Aku merangkul pinggang istriku dan meletakkan dagu di bahunya.

“Lihatlah betapa tampannya mereka. Juno sangat menyayangi Jino,” ucap Tiffany. Kami melihat foto yang menunjukkan Juno sedang tersenyum lebar sambil menggendong Jino yang masih berusia satu 30 hari.

“Sampai saat ini pun begitu, Honey.”

Tiffany tersenyum kecil. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk melirikku. “Apa mereka sudah tidur?”

Aku mengangguk. Ia memaksa menatap wajahku dan mengernyit saat melihat senyum kemenanganku.

“Kenapa tersenyum-senyum seperti itu? Apa yang kau bicarakan dengan Juno?”

“Aku tersenyum karena bahagia. Memangnya tidak boleh?” aku pura-pura merajuk. Ia memutar bola matanya.

“Sifat kekanak-kanakanmu kumat lagi, Choi Siwon.”

Dengan cepat aku merangkul pinggangnya dan mempersempit jarak diantara kami. Matanya yang indah mengerjap kaget.

Honey, jangan khawatir masalah Juno lagi. Aku tahu, kau hanya kesal karena tahu bahwa Lauren adalah putri Jessica. Tetapi anak itu tidak bersalah. Jika Juno nyaman berteman dengannya, biarkan saja.”

Tiffany menghela napas. Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku. Bibirnya mengerut, seperti anak kecil yang merajuk. Astaga, wanita ini membuatku lupa dengan rasa kantukku.

“Tetapi bagaimana jika Juno melupakanku dan lebih memilih bersama Lauren?”

Aku pun terkekeh. “Ya Tuhan, Honey. Kau berkata seolah-olah putra kita akan kawin lari! Berpikirlah positif. Mereka baru 8 tahun dan di otak mereka hanya belajar dan bermain. Juno tidak akan melupakanmu, percaya padaku. Ia sangat mencintaimu, Tiffany.”

Tiffany menatapku penuh makna. Aku yakin ia pasti mengerti. Sejak dahulu ia adalah wanita yang sangat pengertian dan penuh kasih saying, walau terkadang rasa cemburunya sedikit melewati batas. Tetapi oleh sebab itu aku menikahinya.

“Ya, aku harap kau benar. Sekarang mari kita tidur. Besok aku akan membuatkan sarapan special untuk kalian.”

“Ng…tapi bolehkah malam ini aku meminta yang special?”

 

 

Author POV

“Nah, hari ini kita akan menyantap makanan khas Eropa seharian. Berhubung kita belum sempat berlibur ke Eropa, lebih baik kita mencoba masakan-masakannya terlebih dahulu.”

Siwon dan Jino bersorak senang mendengar penuturan Tiffany. Mereka bertiga sudah bersiap di meja makan, sementara Juno belum turun dari kamarnya. Tiffany pun mendelik kepada sang suami.

“Kau yakin ia sudah bangun?” bisik Tiffany.

“Ya, tadi aku yang membangunkannya. Mungkin sebentar lagi ia turun,” Siwon balas berbisik. Tiffany menghela napas panjang. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukan keceriaan putra sulungnya di pagi hari.

Dan tak lama kemudian…

“Selamat pagi semua!”

Seruan lantang itu menarik perhatian Tiffany, Siwon dan Jino. Tampak Juno yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan senyum lebar menghiasi wajah tampan itu. Siwon mengedip diam-diam kepada Juno ketika anak itu sampai di meja makan.

“Wah, pantas saja aromanya sangat menggiurkan. Masakan Mommy pasti tak kalah enak dari tampilannya!” seru Juno lagi. Tiffany terdiam dan hanya dapat menatap Juno. Ia terlalu takjub dengan keceriaan anaknya itu.

Kemudian Juno berjalan mengitari meja makan kemudian menghampiri Tiffany. Siwon tersenyum simpul ketika Juno memeluk tubuh Tiffany dari samping kemudian berjinjit mencium pipi kiri sang Ibu. Tentu saja hal manis dan mendadak tersebut membuat Tiffany tercengang.

“Maaf, karena perutku sangat lapar karena masakan Mommy, aku sampai lupa morning kiss-mu. Hehe.”

 

Kyuhyun mengernyitkan kening melihat Yoona yang sejak tadi malam tampak tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa Yoona tidak mendapatkan apa-apa darinya, dan Yoona juga tidak menceritakan tentang kelucuan anak-anak mereka. Tentu saja ada tanda tanya besar di kepala Kyuhyun.

“Hei, istriku! Dari semalam aku perhatikan, kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Apa ada yang lucu atau menyenangkan?”

Yoona memasang wajah datar ketika menoleh pada suaminya. Ia berdehem kecil lalu tersenyum singkat. “Ehm, aku belum bisa mengatakannya. Lebih baik kupastikan dulu, setelah itu aku akan memberitahumu, oke?”

Kyuhyun terdiam sejenak, hanya untuk memikirkan apa ini ada hubungannya dengan mereka.

“Apa ini menyangkut kita?” tanya Kyuhyun penuh selidik. Yoona menyipitkan mata. Ia mendekat ke arah Kyuhyun seraya meletakkan sepiring sarapan yang telah disiapkannya sejak tadi. Dan CUP! Sebuah kecupan manis mendarat di bibir sang suami, membuat pria itu senang sekaligus bingung.

“Pokoknya nanti kuberitahu. Sekarang silahkan nikmati sarapanmu, Tuan Cho.”

Kyuhyun menghela napas, frustasi. Lebih tepat frustasi karena kemesraan mereka hanya berlangsung sekejap saja. Kyuhyun hanya memandangi Yoona yang kini kembali ke counter dapur untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Hana. Oh, bicara tentang Hana, gadis kecilnya itu masih belum turun dari kamarnya.

Honey, apa Hana sudah bersiap-siap?”

Yoona mendongak dan menatap Kyuhyun. “Sudah. Mungkin sebentar lagi ia turun. Nah, itu dia putri kesayanganmu!”

Belum lagi Yoona menyelesaikan jawabannya, tampak Hana sedang menuruni tangga. Ia berjalan sambil sesekali melompat-lompat riang menuju meja makan. Kyuhyun tersenyum penuh arti. Tak ada yang lebih bahagia baginya selain melihat Yoona, Hana dan Kyungsan tersenyum cerah di pagi hari. Tentu saja bukan tersenyum-senyum misterius seperti Yoona tadi.

“Sepertinya putriku senang sekali pagi ini,” komentar Kyuhyun seraya mengiris telur mata sapinya.

“Hmm,” gumam Hana sambil menganggukkan kepala. “Sekolah membuatku bersemangat.”

“Ooo jinjja?” Kyuhyun mengangkat kedua alisnya. Ia menoleh ke arah Yoona sekilas lalu kembali memandangi anaknya. “Itu bagus sekali. Daddy senang mendengarnya.”

Di tempatnya, Yoona tidak dapat menahan senyumannya lagi. Kini ia semakin yakin, kalau Hana memang mempunyai sumber penyemangat di sekolahnya. Tepatnya, di dalam kelas.

 

Pagi ini, sekali lagi Miss Park Jiyeon berdiri di depan kelas bersama seorang siswa baru. Anak lelaki sebaya Juno yang berambut hitam ikal. Ekspresinya tampak sedikit angkuh, namun terkesan cool. Seketika itu Juno tidak menyukainya.

“Selamat pagi, Class! Hari ini kalian kedatangan teman baru lagi. Namanya Kim Bobby dan ia adalah murid pindahan dari Filipina. Booby belum terlalu lancar menggunakan bahasa kita, jadi jika kalian harus membantunya. Mengerti?”

Juno mengangkat bahu tidak peduli, ia juga tidak berminat mengobrol dengan si anak baru.

“Miss Park, aku akan senang sekali membantu Bobby!”

Seruan itu membuat rahang Juno sedikit terbuka. Ia melihat Lauren tersipu-sipu setelah menimpali perkataan Miss Park. Apa Lauren senang ada siswa baru di kelas mereka, Juno bertanya dalam hati. Dan saat itu ia putuskan, ia semakin tidak menyukai Bobby.

 

Honey?” panggil Siwon ketika ia masuk ke dalam kamar. Ia baru saja pulang kerja tetapi tidak melihat siapa-siapa di ruang keluarga. Biasanya Juno dan Jino bermain disana dan Tiffany mengawasi dari meja sambil mengerjakan desaign pakaiannya.

“Oh, kau sudah pulang!” kepala Tiffany menyembul dari pintu kamar mandi. Siwon menyeringai lebar kemudian dengan cepat mengejar Tiffany, sebelum wanita itu masuk kembali ke dalam shower.

“Hei, boleh aku bergabung?” godanya. Dari balik pintu Siwon menebak, istrinya sedang tidak mengenakan apa-apa. Tanpa bisa dicegah, Siwon membuka pintu itu dan Tiffany membiarkannya. Dugaan Siwon salah, ternyata Tiffany masih mengenakan handuk yang melilit tubuh mungilnya.

“Kkkk, kau kecewa karena tidak sesuai dengan bayanganmu? Dasar pervert!” ledek Tiffany ketika melihat Siwon menghembuskan napas panjang. Siwon pun tergelak. Ia menarik pinggang Tiffany dan mencium bibirnya sekilas.

“Kau selalu bisa membaca pikiranku,” ucapnya. Tiffany tersenyum bangga.

“Kau pulang cepat hari ini. Ada apa?”

Siwon semakin erat memeluk istrinya. “Hanya ingin cepat-cepat bermesraan dengan Nyonya Choi.”

Tiffany menghadiahkannya tepukan di dahi. “Ya! Kau sudah tidak pantas menggombal seperti itu, Suamiku.”

Siwon berdecak. “Aigoo. Baiklah, akan kukatakan. Malam ini Kyuhyun mengundang kita makan malam di rumahnya. Kita harus mengajak Juno dan Jino juga.”

Tiffany menaikkan kedua alisnya. “Malam ini? Kenapa mendadak sekali?”

“Karena yang ingin dirayakan Kyuhyun baru terjadi hari ini. Ia berhasil memenangkan tender dalam rapat bersama perusahaan asing. Kini ia diperhitungkan untuk menjadi CEO baru di perusahaanku.”

“Jinjja? Wah, baiklah. Sepertinya kita harus membawakan kado juga.”

“Baiklah, terserah padamu Honey.”

Tiffany mengangguk seraya menepuk-nepuk lembut pipi Siwon, mengisyaratkan kepada suaminya itu untuk segera melepaskannya. Namun Siwon justru melakukan yang sebaliknya. Ia seolah-olah tidak ingin Tiffany pergi.

“Ada apa?” Tiffany bertanya.

“Temani aku mandi, ya?”

 

 

 

“Kau yakin akan memasak semuanya? Aku bisa memesannya dari restoran, Sayang.”

“Tidak perlu, Oppa. Aku bisa menyelesaikannya tepat waktu sampai tamu-tamu kita datang.”

Kyuhyun tidak dapat menahan senyuman lebarnya melihat Yoona yang bersikeras memasak semua makanan untuk makan malam bersama keluarga Siwon. Istrinya memang bisa diandalkan. Kyuhyun menghela napas. Karena ia tidak sedang mengerjakan apapun, ia berpikir sebaiknya membantu Yoona. Lantas ia mendekati istrinya itu.

“Apa yang bisa kubantu, Nyonya Cho?”

Yoona cukup kaget melihat Kyuhyun yang bersedia membantunya, alih-alih bermain dengan Hana atau Kyungsan. Memang kedua anaknya sedang asyik bermain di kamar Hana, tapi biasanya Kyuhyun pasti lebih memilih mereka.

“Ada apa dengan Suamiku? Kenapa tiba-tiba bersikap manis begini?” goda Yoona. Kyuhyun terkekeh.

“Aku hanya ingin menjadi suami yang baik. Tidak boleh?” balas Kyuhyun. Yoona menghadiahi sebuah kecupan di pipi kiri suaminya.

“Tentu saja boleh. Sekarang bantu aku memotong sayuran ini.”

 

 

Tiffany menengok sesekali ke jok belakang untuk memastikan Jino tidak memanjat ke jendela mobil. Anak bungsunya itu selalu mempunyai cara untuk melepaskan seat belt yang mengukung tubuh kecilnya. Saat itu ia melihat Juno yang sedang melamun. Pandangannya jauh ke luar jendela sambil sesekali menghela napasnya. Kening Tiffany mengernyit heran. “Jun, kau baik-baik saja?”

Juno mengalihkan pandangannya kepada Tiffany. “Ya, Mommy. Aku baik-baik saja.”

“Lalu kenapa wajahmu murung begitu? Kau tidak suka bepergian dengan Mommy dan Daddy?”

Siwon melirik Juno dari spion di depannya, memastikan perkataan Tiffany. Juno memang tampak tidak bersemangat sejak pulang sekolah tadi.

“Aku suka bepergian dengan Mommy dan Daddy,” jawab Juno pelan. Tiffany melirik Siwon sekilas lalu kembali duduk menghadap ke depan. Siwon pun bertanya padanya tanpa suara. Entah apa yang ditanyakan Siwon, Tiffany membalasnya dengan gelengan kepala.

“Eng… Juno-yaa. Cerialah. Tuan Cho mempunyai anak perempuan yang sebaya denganmu. Kau bisa bermain dengannya nanti, jadi kau tidak akan kebosanan. Oke?” Siwon memberitahu. Juno hanya mengangguk lemah, sementara Jino bertepuk tangan senang.

 

 

Kyuhyun membantu Yoona untuk mengurusi si kecil Kyungsan. Ia menyisir rambut coklat anaknya dengan telaten, sedangkan Yoona membantu Hana memakaikan gaun sederhananya. Hana tidak berhenti menggerutu selagi Yoona membenarkan letak gaun berwarna tosca itu di tubuhnya.

“Aku tidak suka memakai gaun,” gerutunya setiap sepuluh detik sekali. Yoona mengabaikannya. Bagaimanapun juga, Hana adalah anak perempuan. Yoona harus membuatnya menjadi gadis seutuhnya!

“Mom, dadaku sesak memakainya,” gerutuan baru pun keluar dari mulut mungil Hana. Yoona bertolak pinggang di hadapannya.

“Cho Hana, hentikan gerutuanmu itu! Gaun ini tidak sempit, mana mungkin dadamu menjadi sesak?” omel Yoona.

“Bukan karena ukurannya, Mom. Tapi warnanya membuat dadaku sesak. Norak sekali,” jawab Hana jengkel.

“Astaga, warna ini sangat manis Hana! Kau hanya mengada-ada agar tidak memakai gaun.”

“Mom!”

“Turuti perintah Mom kali ini. Kau ini anak perempuan, tidak mungkin memakai pakaian kasual pada acara makan malam ayahmu. Jadi bersikaplah baik dan jaga mulutmu. Oke? Sekarang ayo kita turun!”

Sudah hal biasa jika Yoona dan Hana beradu argumen. Mereka bagaikan minyak dan air, tidak cocok namun dapat hidup berdampingan. Hana sangat membutuhkan Ibunya, tentu saja. Ia hanya tidak satu selera dengan ibunya itu. Yoona keluar kamar terlebih dahulu, sementara Hana mematut dirinya sekali lagi di depan cermin.

“Warna gaun ini seperti rambut badut di taman sekolahku dulu. Uh, menyebalkan!”

Di ruang tamu, Kyuhyun dan Kyungsan sedang menunggu para perempuan bergabung dengan mereka untuk menyambut kedatangan keluarga Siwon. Melihat Yoona hanya turun sendirian membuat dahi Kyuhyun berkerut.

“Dimana Hana?”

Yoona menghela napas panjang saat duduk di samping putranya. “Masih di atas. Kau tahu, terkadang aku lelah berdebat dengannya. Apakah hal itu akan berlangsung sampai ia dewasa? Huft!”

Kyuhyun justru terkekeh mendengarnya. Ia tahu seperti apa watak gadis kecilnya sekaligus sangat mengenal istrinya. Kedua perempuan yang sangat berarti di dalam hidupnya itu memang sulit sekali menyatu.

“Sabarlah, baby. Meskipun begitu, Hana tetap menuruti perintahmu, kan?”

Yoona memberikan senyum kecil lalu mengangguk. Dan pada saat itu, gadis kecil yang menjadi perbincangan mereka itu turun. Wajahnya ditekuk saat kakinya menuruni tangga dengan lambat. Hana benar-benar tidak menyukai gaun yang dipakainya. Terlihat dari cara jalannya yang bermalas-malasan.

“Tersenyumlah, Sayang! Sebentar lagi keluarga Choi akan datang. Dan Tuan Choi memiliki seorang anak laki-laki seusiamu. Siapa tahu kalian bisa berteman,” ujar Kyuhyun seraya menarik tangan Hana mendekat. Hana mengangguk perlahan.

“Yes, Dad.”

 

 

Tiffany tertegun melihat pekarangan rumah yang dimasuki oleh mobil suaminya. Sepertinya ia tidak terlalu asing dengan rumah di hadapan mereka, walaupun tidak begitu ingat rumah siapakah itu. Jadi ia melirik Siwon sebelum mereka melepaskan seat belt.

Honey, ini rumah Cho Kyuhyun?”

Siwon mengangguk. “Ya. Kenapa heran begitu?”

“Sepertinya aku pernah kemari,” ujar Tiffany tak yakin.

“Bukankah ini rumahnya Hana?” celetuk Juno dari belakang. Kepalanya melongok di antara ayah dan ibunya untuk melihat rumah besar keluarga Cho melalui kaca depan.

“Ah, benar. Ini rumah teman sekelas Juno. Aku ingat telah mengantarnya kemari. Wah, jadi anak Tuan Cho adalah Hana? Kebetulan sekali!”

Juno melebarkan matanya ke arah Tiffany. “Jinjja?”

Siwon hanya dapat menatap kedua orang itu dengan bingung, sementara Jino mengeluh tidak dapat membuka seat belt-nya sendiri.

“Baiklah. Untuk lebih jelasnya, lebih baik kita turun dari mobil. Juno, bantu adikmu!” perintah Siwon.

 

 

Suara deru mobil memasuki halaman seolah memberi komando Kyuhyun dan Yoona untuk segera membawa kedua buah hati mereka menyambut para tamu di teras depan. Kyuhyun menggandeng tangan Hana yang masih bersungut-sungut karena gaunnya, sedangkan Yoona menyusul di belakang seraya membimbing tangan Kyungsan.

Hana masih menundukkan kepalanya ketika tamu-tamu ayahnya sampai di teras. Gaun itu membuatnya tidak nyaman. Ingin sekali rasanya ia kembali ke kamar lalu bermain game sepuasnya.

“Hana!”

Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang sangat dikenalnya, gadis kecil itu segera mendongakkan kepala. Matanya melebar ketika satu sosok sebaya dengannya melambaikan tangan dengan wajah cerah.

“Juno?”

***

Halloo readers! Maaf baru muncul lagi. Dan sekalinya muncul dengan update-an yang gak biasa saya buat. Mau coba-coba genre happy family ceritanya hehehe^^

Btw, ff ini khusus untuk adik tersayang saya yang nun jauh disana. Dia suka banget sama ff ini. I miss you, sist! Sehat selalu ya J

Okee ditunggu kelanjutannya…see u!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

119 thoughts on “(AR) Lil Choi’s First Love

  1. Keren ceritanya, karakter anak2 para tokoh bikin gemes jg bikin penasaran. Thor, ceritanya tolong dilanjutkan ya jd lbih seruu. Sukses bwt ff selanjutnya ya

  2. omo keren banget thor ff nya cerita anak” yg bikin gemes aja nieh🙂,, hemzz apa janga” kejutan dr yoong itu klw kyuna akan punya baby cho lg ne waww seru tuh hee

    yaa udh lama ne rasanya gak berkunjung nieh

  3. Tiffany cemburu anak nya sdah mulai menyukai anak perempuan lain hahahahaha… Cho hana kyk nya dia suka tuh ama juno bener gk tuh tpi juno nya ska sma lauren tpi lauren nya suka sma anak bru yg nma nya bobby astaga tpi klau msih kecil gni lucu bgt nanggepin saingan nya hihihihi

  4. Aaaaa, cho hana. Aku suka sama dia, wkwk. Semenjak aku liat chirstina sama daniel di acara show apa gitu lupa namanya, aku jadi suka sama mereka berdua, like it! Next chapter 2..

  5. choi family itu bisa bgt ngegabarin jadi keluarga harmonis, ttp TE O PE bt author sifany island, ceritanya kereeeen ga ngebosenin apalagi kalo genrenya ttg family kyk gini nih yg bisa ngebayangin bahagia ngt choi family

  6. Hehehe… senyum2 sendiri liat keseruan keluarga2 mereka sifany dan kyuna. Apalagi saat anak2 mereka udah mulai suka2 an kyak gini padahal kan msih kecil hehehe….
    Dan seperti biasa alurnya nggak bisa d tebak dan aku penasaran sma ending nya gmana?? Dan apakah akan adah konfik besar atau kecil2 sprti d atas?? D tunggu next nya ya hehe

  7. lucu banget choi juno, masih 8 tahun tapi kelakuannya emang kaya udah dewasa aja.
    emang gitu ya anak sekarang biasanya terlihat lebih tua dari umur sebenarnya, apalagi dia sudah memperhatikan penampilannya.
    dan ternyata juno memperhatikan penampilannya karena dia berteman dekat dengan lauren lee, juno ingin menarik perhatian lauren pantas saja tiffany merasa cemburu, sikap juno juga berubah terhadapnya karena tidak bersikap manis layaknya jino adiknya, yah karena umurnya masih 5 tahun dan dia sedang manis-manisnya dan lucu-lucunya
    jino juga bersikap lebih perhatian dan lebih penyayang apalagi kepada tiffany, dia juga mempunyai hati yang lembut, sikapnya lucu banget. dia juga anak yg penurut.
    ternyata lauren anak jessica saingan utama tiffany, pantas tiffany makin berang apalagi ternyata masa lalu mereka yg sempat mengalami cinta segi tiga antara jessica dongwook suaminya dan tiffany. belum terungkap juga bagaimana cerita masa lalu mereka
    hal wajar juga orangtua merasa khawatir melihat pertumbuhan anak-anaknya apalagi usia mereka masih 8 tahun, belum pantas untuk menyukai lawan jenis, atau memperhatikan lawan jenis lebih dari sekedar sahabat.
    cho hana juga sama nih dengan juno, cerdas, berbakat dan yg terpenting pandai merajuk padahal usianya masih 7 tahun.
    tapi yoona lebih paham dan memaklumi terhadap perasaan lauren yg sepertinya mulai menyukai sesuatu yg ada disekolahnya yoona bisa tau kalau lauren punya penyemangat di sekolahnya, tapi gimana tanggapan kyuhyun nanti ?
    suka banget dengan keharmonisan siwon dan tiffany disini, perlakuan romantisnya siwon ke tiffany juga so sweet banget
    siwon jadi suami yg sangat mencintai, memahami dan juga paling pengertian
    siwon juga menjadi ayah yg baik dan mengerti terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya terutama juno, mungkin karena mereka sama lelaki jadi lebih paham. siwon disini jadi penengah dan perantara antara istri dan kedua putranya jika ada sesuatu yg bikin istri dan anaknya tidak akur. peran penting dalam keharmonisan keluarga
    keluarga kyuhyun dan yoona juga harmonis banget, meskipun yoona dan hana sering bertentangan, kyuhyun paling protek ke hana sepertinya,meskipun yoona kerap berbeda pendapat dengan hana tapi disini yoona tetaplah paling mengerti perasaan hana.
    suka banget sama ff kak echa ini
    suka semua karakter castnya disini, masing masing menunjukan kekuatan karakternya sendiri
    banyak sih yg belum aku ungkapin tapi udah kepanjangan, kaya sinopsis aja
    yang pasti aku suka banget ffnya
    keren banget oen..
    daebak….

  8. Emesh bangeeet!
    Aiiih masih pada kecil tapi sikapnya ngikutin orang dewasa kkkk
    Itu yang jadi penyemangat Hana di sekolah Juno kah? Aigoo aigoo aigoo~
    Terus… astaga itu si Juno cemburu ama Booby? Kkk dasar bocah jaman sekarang..

  9. Seruuu!!! Sebenarya aku udh lama baca ff ini dr pertama kali di post, tapi baru bisa komen skrg hehehe. Choi Junonya lucu, Tiffanynya agak over. Hananya jg pinter. Maaf ya kak Echa baru bs komen

  10. Wah married life Sifany. q sk kemesraan n keharmonisan sert khngatsn mrk. sifany slg cinta n g malu tunjukkn cintany. bgt jg dgn ank mrk. terutm fany yg protektif am ankny juno n jino. ampe fany cmburu krn juno krg perhatian am mommyny.

    Juno lg sk am lauren yg notabenny ank jessica saingn berat dr jmn skloh huh….

    wah ini bkln seru krn ad hana jg yg mulai bertmn am juno n bhkn fany sk krn ank rekan siwon. lnjut penasaran bgmn ntr skp juno ke lauren hana???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s