[Re-Post] If Only

If Only

if only

Author: Elsa Mardian (@echa_mardian)

Cast: Siwon Choi, Tiffany Hwang

Other cast: Im Yoon Ah, Kim Taeyeon, Jung Jessica

Genre: Romance, Tragedy, Sad

Rating: PG-17

if only

 

Bisakah Tuhan memberiku kesempatan kedua?

 

 

 

 

 

Author POV

 

KRIIIIIIIIIING

Woody, wake up!”

Tiffany menciumi leher dan telinga tunangannya, Choi Siwon. Namun pria itu tidak bergeming, hanya sekedar bergumam panjang. Tiffany tidak mudah menyerah. Ia menindih tubuh Siwon yang dua kali lebih besar darinya dan menggelitiki leher pria tampan tersebut. Sesekali Tiffany menggigit cuping telinga Siwon dengan bibirnya. Hasilnya tetap nihil.

Baby, please wake up. Kau harus menghadiri rapat jam 9 pagi ini,” bisik Tiffany di telinga Siwon.

“Engh…ehm, nde,” gumam Siwon. Matanya tetap tertutup rapat. Tiffany menghela napas panjang. Ia menatap Siwon beberapa detik lalu sebuah ide muncul tiba-tiba di kepalanya.

“Dan sekarang pukul 8.30 pagi, Tuan Choi. Jadi, cepat banguuuun!” geram Tiffany tepat di lubang telinga Siwon.

Kontan saja Siwon terlonjak kaget. Ia langsung terduduk dari tidurnya, sedangkan Tiffany tertawa terpingkal-pingkal di samping pria itu. Siwon melihat ke arah jam wakernya dan ternyata masih pukul 7.30 pagi. Siwon menatap tak percaya pada tunangannya yang baru saja mengerjainya, kemudian balik menindih tubuh wanita tersebut.

Tiffany masih tertawa saat Siwon telah berada di atas tubuhnya. Ia menikmati pemandangan cantik di bawahnya, seorang bidadari yang berwujud Tiffany Hwang. Kenapa Siwon menganggapnya bidadari?

Karena Tiffany adalah seorang wanita rendah hati dan tulus yang ditemuinya dua tahun lalu di sebuah acara amal yang diadakan kantornya. Saat itu Tiffany adalah seorang mahasiswi tingkat akhir sekaligus pemain flute cukup terkenal di Seoul. Ia menjadi salah satu music pengiring bagi anak-anak UNICEF yang melakukan paduan suara.

Siwon dan Tiffany saling tertarik pada pandangan pertama. Mereka terlibat obrolan ringan dan basa-basi hingga ke tahap yang lebih serius. Siwon yang tidak terlalu suka dengan music, mencoba menyukai hal itu karena Tiffany adalah seorang musisi. Sedangkan Tiffany terpikat dengan kelembutan serta pesona Siwon.

Mereka sama-sama mengagumi dan tidak perlu waktu lama untuk mereka saling menyatakan perasaan. Siwon dan Tiffany pun memulai hubungan serius mereka. Selama 2 tahun berpacaran, Siwon merasa ia adalah pria paling beruntung mempunyai kekasih seperti Tiffany. Tiffany sangat penyabar, tulus, pintar memasak dan cantik sebagai bonusnya. Meskipun Siwon adalah seorang businessman yang sangat sibuk dan tidak begitu menyukai music serta terkadang tidak peka, Tiffany tetap mencintainya. Karena menurut Tiffany, jika mencintai seseorang, kita juga harus mencintai kelemahan orang itu disamping kelebihannya.

Dan bulan lalu Siwon pun meminta Tiffany menjadi calon istrinya. Siwon juga meminta Tiffany untuk tinggal bersama sebab ia ingin setiap saat melihat kehadiran Tiffany. Tiffany menyanggupinya. Ia memang tidak bisa menolak permintaan Siwon, walaupun sebenarnya Tiffany merasa Siwon sedikit tidak mengerti perasaannya.

“Ternyata kau membohongiku lagi, Mushroom. Sepertinya aku harus menghukummu,” bisik Siwon, memegangi kepala Tiffany. Tiffany masih berjuang menahan tawanya.

Baby, kenapa aku harus mendapatkan hukuman padahal aku sudah membangunkanmu?”

“Karena kau sudah berbohong,” jawab Siwon. Matanya berkilat-kilat penuh kekaguman memandangi wajah polos Tiffany.

Tiffany membasahi bibirnya, gugup. “Arra, arra. Apa hukumannya?”

Siwon menyeringai lalu menurunkan wajahnya, membuat ujung hidung mereka bersentuhan. “Good morning kiss.”

Baby, itu bukan hukuman. Itu adalah kebiasaan rutinmu,” ucap Tiffany dengan pipi merona. Siwon mengecup tepi bibir Tiffany sekilas.

Jinjja? Hmm, bagaimana kalau mandi bersama?” Siwon menggelengkan kepalanya agar hidung mereka bertabrakan.

“Kau tidak lihat aku sudah membasahkan rambutku? Berarti aku sudah selesai mandi, Tuan Choi Siwon.”

Siwon berdecak lalu menggigiti dagu Tiffany dengan lembut, membuat wanita itu merinding. Tapi ia suka sensasinya.

“Kalau begitu, bercinta lagi denganku. Otte?” Siwon berbisik sangat pelan.

Tiffany menatap sendu pada Siwon yang sepertinya sangat romantis pagi ini. Tangan Tiffany terangkat untuk mengelus rahang Siwon yang ditutupi oleh jambang halus.

“Tidak bisa.”

Siwon cemberut. “Waeyo?”

I’m on my period, Woody.”

“Kemarin tidak.”

“Kemarin memang tidak. Tapi pagi ini, ya.”

Siwon mendesah panjang, kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi. Ia bangkit dari atas tubuh Tiffany dan berjalan ke kamar mandi. Tiffany hanya berdecak. Ia sudah terbiasa dengan sifat suka cemberut Siwon.

“Huft! Dia merajuk lagi,” gumam Tiffany pasrah. Kemudian ia ikut turun dari ranjang dan keluar dari kamar.

 

 

Siwon sudah bersiap-siap ke kantor saat ia menemui Tiffany di dapur. Tinggal 30 menit lagi waktunya sebelum menghadiri rapat direksi di kantor. Untung saja Tiffany sudah mempersiapkan semua keperluan kantornya serta sarapan di ruang makan. Siwon bersyukur mempunyai calon istri seperti Tiffany.

“Kau tidak ikut sarapan, Mushroom?” tanya Siwon lalu menggigit sandwich tunanya. Ia melihat Tiffany masih sibuk di dapur.

“Nanti saja bersama Yoona di tempat les,” jawab Tiffany. Ia masih berkonsentrasi memotong wortelnya.

“Oh! Baby? Apa kau serius? Mana gelas kopiku yang biasanya? Kenapa menggantinya dengan mug ini?”

Siwon baru menyadari kalau gelas kopinya berubah menjadi mug menggemaskan berbentuk wajah Woody di film animasi Toy Story. Tiffany memang menganggap kalau wajah Siwon sangat mirip dengan tokoh animasi tersebut. Hal itu sering dijadikannya bahan godaan untuk Siwon.

“Kemarin aku ke mall menemani Yoona dan Jessie lalu tiba-tiba melihat mug lucu itu. Aku membelinya dua. Yang biru untukmu, dan yang pink tentu saja untukku,” jawab Tiffany lalu tertawa pada diri sendiri.

Siwon hanya menggeleng-gelengkan kepala. “Hmmmh, baiklah my princess.”

Tiffany meniupkan ciumannya dari jauh untuk Siwon kemudian mengedip. Siwon berdecak. Kalau saja ia tidak segera menghadiri rapat pagi ini dan Tiffany bebas datang bulan, dia pasti akan….

“Awww!!”

Siwon kaget mendengar jeritan Tiffany. Ia meletakkan mug kopi serta korannya di atas meja, kemudian berjalan cepat ke dapur. Tiffany sedang meringis memegangi jari telunjuk kirinya. Siwon melihat darah segar menetes ke lantai, berasal dari jari telunjuk yang digenggam Tiffany.

Baby, gwaenchanha? Aish, jarimu terluka.”

Siwon menarik tangan kiri Tiffany lalu menatap mata indah yang melengkung jika tertawa atau tersenyum itu.

“Terkena pisau,” ucap Tiffany lemah.

Siwon menarik tangan Tiffany ke atas dan memasukkan jari telunjuk Tiffany ke mulutnya. Tiffany hanya berdesis merasakan kehangatan mulut Siwon. Siwon menghisap darahnya lalu membuangnya ke wastafel yang ada di dapur.

“Bagaimana bisa kau seceroboh ini?” gumam Siwon. Tiffany hanya mengerucutkan bibirnya seperti gadis berumur 5 tahun.

“Cepat kau obati, aku takut ini akan infeksi. Arraseo?”

Nde, arraseo.”

Siwon menghela napas. Sudah saatnya ia berangkat ke kantor, kalau tidak ia akan terkena macet. Siwon mengecup ringan luka di jari telunjuk Tiffany kemudian mencium pipi kanannya.

“Aku berangkat. Jangan lupa obati lukamu dan sarapan dengan Yoona.”

Tiffany tertawa sambil mengangguk paham. Siwon memang sangat cerewet mengingatkan dirinya.

“Aku tidak akan lupa, Woody. Kau hati-hati di jalan, ne?”

 

 

Siwon mengendarai mobilnya di jalan raya bersama dengan mobil-mobil lain. Pagi ini ternyata ia tidak terjebak macet. Syukurlah. Jadi Siwon hanya membutuhkan waktu 25 menit ke kantornya. Di tengah perjalanan, tepatnya saat Siwon berhenti di deretan lampu lalu lintas, ia melihat sebuah pertengkaran seorang supir taksi dengan seorang pengendara mobil pribadi. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Siwon. Kemungkinan si supir taksi yang telah menabrak mobil pribadi itu.

“Ck, ada-ada saja,” gumam Siwon kemudian menginjak gas mobil setelah melihat lampu merah berganti warna hijau.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Siwon. Pria itu membaca nama pengirimnya. Tiffany. Sambil terus mengemudi, Siwon menyempatkan diri membaca pesan tersebut. Apalagi yang akan disampaikan tunangannya, padahal mereka baru beberapa menit berpisah.

Siwon baby, hwaitiiing “b^^d” ini adalah emoticon terbaruku. Apakah mirip bbuing bbuing? Hehe  :* nanti beritahu aku jika rapatmu berjalan lancar, ne?

Siwon terkekeh. “Aish, dia benar-benar menggemaskan.”

 

 

Di apartemen mereka, Tiffany menunggu pesan balasan dari Siwon. Ia tidak ingin Siwon gugup saat presentasi di rapat direksi nanti. Tapi mengharapkan Siwon membalas pesannya adalah hal yang paling mustahil. Pria itu tidak akan membuang-buang waktu untuk hal-hal kecil seperti itu. Namun bagi Tiffany, hal-hal sekecil itu adalah berharga.

Tiffany meninggalkan ponselnya di atas meja makan dan beranjak ke kamar. Hari ini ia akan ke tempat les yang dimiliki oleh Yoona, sahabatnya. Tiffany sudah 4 tahun mengajar disana, bersama dengan Jessica dan Taeyeon. Malam ini adalah perayaan 4th Anniversary tempat les Yoona, The Romantics. Jadi ia harus datang lebih awal kesana.

“Padahal aku ingin mengundang Siwon Oppa,” gumam Tiffany saat ia mengemas baju ganti serta peralatan lain ke dalam tas. Walaupun Tiffany mengerti kalau Siwon adalah orang yang super sibuk di kantor, Tiffany ingin sekali pria itu hadir di acara-acara pentingnya.

Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Tiffany hanya mengenakan make up ringan. Ia memeriksa sekali lagi baju ganti serta semua peralatan music di dalam tas, kemudian pergi. Ia tidak sadar kalau ponselnya tertinggal di atas meja makan.

 

 

Siwon sampai di kantornya tepat waktu. Bahkan masih ada waktu 5 menit sebelum rapat dimulai. Siwon bertemu dengan Park Junjin, teman sekantornya, ketika sama-sama memasuki lift menuju ruang rapat. Pria tampan berambut coklat gelap itu tak henti-hentinya tersenyum, membuat Siwon heran.

“Ada apa denganmu? Sepertinya sedang senang sekali,” komentar Siwon sambil membaca file di tangannya.

“Tentu saja. Kau tahu, Siyoung memberiku kabar bahagia pagi ini,” ujar Junjin antusias. Siwon tersenyum.

“Memangnya kabar bahagia apa?”

Junjin memegang kedua lengan Siwon dan mengguncangnya sedikit kencang. “Aku akan menjadi seorang Appa. Seorang Appa, Siwon!”

Siwon kontan tertawa, ikut merasakan kebahagiaan temannya. “Jeongmal? Wah, chukae, Junjin-ssi. Aku turut bahagia mendengarnya. Sampaikan salamku untuk istrimu.”

Nde, gomawo, Siwon-ssi. Hmm, aku sangat bahagia saat ini. Ternyata istriku sudah hamil 5 minggu.  Wah, apapun akan kulakukan untuk bisa menyenangkan hati siapa saja hari ini,” ungkap Junjin. Siwon melihat wajah Junjin jauh lebih berseri daripada biasanya.

Kira-kira seperti apa rasanya di posisi itu? Siwon membayangkan dirinya sendiri berada di posisi Junjin. Menikah dan mempunyai anak dari wanita yang dia cintai, yaitu Tiffany. Tiffany adalah wanita yang tepat untuk Siwon, ia sudah menetapkan itu di dalam hatinya. Ia tidak akan mencari wanita lain dan sesegera mungkin setelah segalanya siap, ia akan melamar Tiffany, menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya hingga akhir hidupnya.

“Siwon-ssi, apa kau mau kugantikan saat presentasi nanti?” tawar Junjin tiba-tiba.

Siwon tergelak. “Ani, kau tak perlu melakukannya karena sesenang itu.”

“Oh, baiklah!” tukas Junjin polos.

 

Tiffany menyantap sarapan omelet dan daging asap bersama Yoona serta Taeyeon. Jessica tidak bisa bergabung dengan mereka karena suaminya sedang di rumah. Berbeda dengan Taeyeon. Suaminya Park Leeteuk sedang berada di China untuk urusan bisnis. Sedangkan Kyuhyun, tunangan Yoona, juga berada di luar kota bersama Pamannya. Jadi sampai malam ini, Tiffany, Yoona dan Taeyeon adalah ‘gadis’ sehari.

“Ah, aku rindu GameKyu-ku.”

Tiffany dan Taeyeon saling pandang dan tersenyum.

“Kau pikir aku tidak merindukan si Bebek? Tapi tadi pagi ia memberitahuku kalau nanti malam ia akan pulang, agar bisa melihat pertunjukkan kita,” ujar Taeyeon menyinggung soal suaminya.

Yoona makin cemberut. “Kyu pulang dua hari lagi. Ugh, menyebalkan. Padahal malam ini adalah 4th Anniversary The Romantics.”

“Tenanglah, Yoongie-yah. Kau tak sendiri,” hibur Tiffany, lebih tepatnya menghibur diri sendiri. Sepertinya Siwon juga tidak akan datang malam ini. Itu semua karena Siwon terlalu sibuk bekerja, jadi Tiffany tidak berani mengajaknya.

“Memangnya Siwon Oppa tidak akan datang?” tanya Yoona. Tiffany mengunyah potongan omelet sambil menggelengkan kepala.

“Aku tidak tahu. Sebenarnya aku belum mengajaknya,” jawab Tiffany.

“Aeih, itu kau sendiri yang salah,” tukas Taeyeon.

Tapi Taeyeon tidak tahu bagaimana sifat Siwon. Laki-laki itu bisa sehari semalam berada di kantor jika sudah memasuki hari weekend ini. Ditambah lagi dengan rapat yang dihadirinya. Siwon bahkan sering melupakan makan serta istrahat!

“Fany Eonnie, lebih baik kau memberitahunya. Nanti malam kan pertunjukkan flute spesial darimu dan anak-anak didik kita,” saran Yoona.

Tiffany mengangguk. Mungkin Yoona benar. Yang penting memberitahunya terlebih dahulu. Jika Siwon tetap tidak datang, Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa.

“Baiklah, aku akan menghubunginya nanti. Sekarang dia sedang menghadiri rapat di kantornya,” ujar Tiffany.

‘Itu juga jika ia bersedia datang,’ tambah Tiffany dalam hati. Ternyata kerisauan Tiffany terbaca oleh kedua sahabatnya. Tiffany bukan termasuk tipe pemurung dan pelamun seperti pagi ini. Jadi perubahan sedikit saja akan membuat orang-orang di sekitarnya bertanya-tanya.

“Fany-ah, ada masalah apa?” tanya Taeyeon.

“Eoh? Hmm?” gugup Tiffany.

“Eonnie, kami perhatikan daritadi kau melamun terus. Apa yang kau pikirkan?” sambung Yoona.

Tiffany menyamarkan kegugupannya dengan tawa. Ia mudah sekali ditebak oleh Yoona, Taeyeon ataupun Jessica. Namun bagaimana bisa Siwon tidak bisa? Apa pria itu tidak peka sama sekali? Tiffany merenung. Kenapa semua pertanyaan tentang ketidakpekaan Siwon selama ini muncul di kepalanya? Apa itu tandanya Tiffany sudah muak?

Lihatlah saat ini! Apa salahnya Siwon meluangkan sedikit waktu untuk membalas pesannya tadi pagi? Tiffany hanya tersenyum kepada kedua wanita yang masih menatapnya lalu mencari ponsel di dalam tas. Tiffany mengernyit.

“Dimana ponselku?” tanyanya pelan.

“Mwo? Apa yang kau cari?” tanya Taeyeon.

“Ponselku. Tidak ada di dalam tas. Apa aku meninggalkannya di apartemen? Aish, tidak mungkin aku kembali pulang?”

 

“Selamat Tuan Choi! Presentasi Anda di hadapan Tuan Lee Soo Man membuahkan hasil yang bagus. Dia sangat puas dengan materi yang Anda jelaskan dan setuju dengan kontrak yang kita ajukan. Terima kasih, Tuan Choi!”

Siwon balas membungkuk kepada Wakil Presdir Song Woo Hyun. Sudah menjadi tugasnya untuk berprestasi di bidang yang digelutinya sekarang. Siwon sangat berdedikasi di perusahaan ini, jadi ia melakukan yang terbaik yang dia miliki. Tak heran Siwon menjadi salah satu Manager ‘kesayangan’ oleh Presiden Direktur Ny. Shim.

“Siwon-ssi, aku rasa sebentar lagi kau akan diangkat menjadi salah satu Direktur di perusahaan ini. Aku mendukungmu!” komentar Junjin saat mereka bersama-sama menuju ruangan masing-masing setelah rapat selesai. Siwon hanya menanggapi komentar Junjin dengan tawanya.

Memang ia hanya seorang manager marketing, namun tidak menutup kemungkinan Ny. Shim akan menaikkan jabatannya, mengingat prestasi-prestasi yang telah Siwon berikan selama 4 tahun ini. Siwon tersenyum kepada Yuri, sang sekretaris, lalu masuk ke dalam ruangannya. Kini ia mempunyai waktu bersantai 30 menit sebelum makan siang.

Tiba-tiba Siwon teringat dengan Tiffany. Ia ingat pesan yang dikirimkan kekasihnya itu tadi pagi agar memberitahunya jika rapat berjalan lancar atau tidak. Siwon mengambil ponsel yang diletakkannya di dalam laci meja kerja sebelum pergi ke ruang rapat tadi. Lalu, tanpa sengaja Siwon menyenggol frame foto Tiffany dan PRANG! Foto itu jatuh ke lantai sehingga membuatnya pecah berkeping-keping.

DEG!

Siwon tertegun. Ia memegangi dadanya. Kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang? Perasaannya jadi tidak menentu. Dipandanginya foto Tiffany untuk sejenak, kemudian barulah ia membungkuk untuk membersihkannya.

Aigoo, mianhae Mushroom. Aku tidak sengaja,” Siwon berbicara sendiri.

Di saat Siwon sedang teliti memilih kepingan-kepingan kaca frame foto Tiffany, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Ia mendongakkan kepala.

“Masuklah, Yuri!” seru Siwon yang sudah bisa menebak siapa yang mengetuk pintu ruangannya. Pintu kayu itupun terbuka dan benar saja, Yuri berdiri disana. Ia heran melihat Boss-nya sedang berjongkok memilih pecahan kaca.

“Eoh, Sajangnim? Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Siwon terkekeh. “Aku tidak sengaja menjatuhkan foto ini. Ceroboh sekali aku ini,” ujar Siwon. Yuri masuk dan mendekat.

“Sajangnim, baru saja sekretaris Ny. Shim meneleponku. Beberapa direktur dan Ny. Shim menunggu Anda di ruangan Presdir kita. Sepertinya mereka ingin menyampaikan kabar baik untukmu, Sajangnim,” ujar Yuri.

Jinjja?”

Nde. Biarkan saya yang membersihkan ini, Sajangnim.”

Siwon berdiri dan merapikan jasnya. Ia juga berpikir ini adalah kabar baik. “Kalau begitu, mohon bantuanmu membersihkannya, Yuri-ssi.”

“Nde, Sajangnim.”

 

“Yoongie-yah, sepertinya aku ke kantor Siwon Oppa saja. Ponselku tertinggal di apartemen dan aku tidak bisa menghubunginya.”

“Kau bisa meminjam ponselku, Eonnie.”

“Tidak usah. Aku juga ingin mengajaknya makan siang. Lagipula jarak kantornya ke The Romantics tidak begitu jauh.”

Yoona mengangguk paham.

“Kalau begitu pakailah mobilku, Fany-ah. Ini kuncinya.”

Tiffany tersenyum menerima kunci mobil dari Jessica. “Gomawo, Jessie. Kalau begitu, aku pergi dulu sebentar. Bye!”

Tiffany melirik jam tangannya. Jam 11.35 waktu setempat. Ia masih mempunyai banyak waktu untuk ke kantor Siwon. Dengan mengemudikan mobil BMW Mini Cooper milik Jessica, Tiffany segera berangkat menuju kantor Shim Corp.

“Rapatnya pasti sudah selesai. Mungkin Siwon Oppa mengirimkan pesan padaku. Aish, kenapa aku ceroboh sekali meninggalkan ponselku di apartemen?”

Tiffany melajukan mobil pelan-pelan. Ia tidak begitu mahir menyetir dan tak ingin membuat kerusakan di mobil Jessica. Tadi ia berpikir bagus juga menerima penawaran Jessica untuk memakai mobilnya karena jika naik taksi akan menghabiskan lebih banyak waktu. Jika Siwon tahu ia sedang mengemudikan mobil saat ini, Siwon pasti tidak akan berhenti mengomel. Pria itu tahu kalau Tiffany sangat payah dalam hal mengemudi.

“Yap, sebentar lagi sampai,” ujar Tiffany kesenangan. Ia tidak menyangka dirinya bisa mengemudi dengan mulus di jalanan yang sedang padat siang ini.

Sampai akhirnya, ada sebuah motor yang menyalip jalanan Tiffany, membuat wanita itu kehilangan konsentrasinya. Tangannya membelok ke segala arah mengakibatkan keributan kecil dari beberapa pengemudi lain. Sebagian menyumpahi si pengendara motor yang ugal-ugalan, sebagian lagi protes dengan mobil Tiffany yang tiba-tiba berhenti mendadak. Wanita itu hampir saja menabrak pembatas jalan jika tidak cepat menginjak rem!

Tangan Tiffany mencengkram kuat kemudi. Keringatnya bercucuran dan matanya memandang liar ke depan. Napasnya terengah-engah dan ia tidak mendengar suara klakson dari mobil-mobil lain di belakangnya. Tentu saja mereka protes karena Tiffany berada di bahu kanan jalan raya.

Kejadian itu cepat sekali. Tiffany mengira ia akan kehilangan nyawanya saat itu. Dalam hati ia bersyukur karena bisa berhenti dengan cepat.

Agasshi, gwaenchana?” tanya seorang Ahjussi yang mengetuk kaca mobil. Tiffany segera melepaskan sabuk pengaman dan turun dari mobil. Ia membungkuk berulang kali kepada para pengemudi lain di belakangnya.

Jwesonghamnida!” ucap Tiffany menyesal.

“Yang penting kau tidak apa-apa, Agasshi. Berhati-hatilah menyetir, ne!”

Nde, kamsahamnida Ahjussi.”

 

Tiffany POV

Setelah menenangkan diriku beberapa saat, akhirnya aku bisa melanjutkan perjalananku ke kantor Siwon Oppa dengan selamat. Setelah ini aku bersumpah tak ingin lagi mengemudikan mobil. Jika bukan kita yang menabrak, kita yang akan ditabrak. Begitulah hukum jalanan. Semoga saja Siwon Oppa bersedia mengantarkanku kembali ke The Romantics.

Annyeong, Yuri-ssi!”

Seorang gadis manis yang sedang berkutat dengan komputernya mendongak ketika aku menyapanya. Dia adalah Kwon Yuri, si gadis ramah dan baik hati yang telah menjadi sekretaris Siwon Oppa selama 1 tahun ini.

“Tiffany-ssi! Annyeonghasaeyo! Bagaimana kabarmu?” balas Yuri ramah. Namun setelah menatapku selama 5 detik lebih lama, ekspresi Yuri berubah menjadi heran. Ia berjalan mendekatiku.

“Tiffany-ssi, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali,” kata Yuri.

Hah? Jinjja? Tubuhku memang masih dingin dan sedikit gemetar akibat kejadian tadi. Aku tersenyum pada Yuri agar ia tidak mencemaskanku.

“Ah, aku tidak sakit, Yuri-ssi. Hmm, apa Siwon Oppa sudah selesai rapat?”

Yuri masih terlihat sangsi, namun ia cepat-cepat menjawab. “Tuan Choi sudah selesai rapat, tapi ia dipanggil lagi oleh Bu Presdir. Tiffany-ssi, kau benar tidak apa-apa? Tubuhmu gemetaran.”

Oke, sepertinya Yuri benar-benar mengkhawatirkanku.

“Yuri-ssi, tadi aku hampir mengalami kecelakaan. Tapi aku sungguh tak apa-apa. Hmm, bolehkah aku meminta segelas air?”

“Oh ya, air! Tunggu sebentar, Tiffany-ssi. Lebih baik kau menunggu Sajangnim di dalam ruangannya. Nanti aku akan mengantarkan air untukmu,” ujar Yuri. Aku mengangguk dan menuruti perintah gadis itu. Aku harap Siwon Oppa segera datang.

 

 

Siwon POV

“Selamat, Siwon Choi. Malam ini kita akan mengadakan makan malam bersama dengan para direktur lain untuk meresmikan pengangkatanmu.”

Kata-kata Bu Presdir masih terngiang-ngiang di telingaku saat aku keluar dari ruangannya. Akhirnya kerja kerasku selama ini membuahkan hasil. Aku diangkat menjadi Direktur Shim Corp cabang Inggris! Itu artinya aku akan tinggal disana dan memimpin anak perusahaan Shim Corp. Di Inggris! Yeah! Aku harus membagi kebahagian ini dengan Tiffany-ku. Aku akan segera menghubunginya setelah ini.

Sampai di depan ruanganku, Yuri langsung berdiri. Sebelum aku sempat membuka mulut, Yuri mendahuluiku.

“Sajangnim, Tiffany-ssi sedang menunggu Anda di dalam,” ucapnya.

Jinjja? Kenapa dia tidak menelponku dulu?” gumamku. “Kamsahamnida, Yuri-ssi.”

Kebetulan Tiffany sudah ada disini. Aku segera masuk ke ruanganku dan melihatnya duduk sambil menundukkan kepala di sofa. Aku tersenyum lalu melangkahkan kakiku mendekatinya.

“Oppa—“

Saat ia mendongak, entah kenapa aku tergoda untuk langsung mencium bibirnya. Aku menciumnya dengan kuat, dalam namun tidak terlalu lama. Aku ingin ia merasakan kebahagiaan yang sedang kurasakan saat ini lewat ciumanku. Setelah menciumnya, aku memberi kecupan singkat di bibir tipis itu lagi. Kemudian memandangi wajahnya yang cantik itu. Tiffany menggigit bibir bawahnya dan masih belum membuka mata. Sepertinya ia menyukai ciuman mendadak dariku. Hehe.

“Kenapa tidak memberitahuku kau kesini?” tanyaku sembari duduk di sampingnya. Ia memutar tubuhnya ke arahku. Disana aku baru melihat jelas kalau wajah Tiffany sedikit pucat.

Mianhae, Oppa. Ponselku tertinggal di apartemen, jadi aku tidak bisa menghubungimu. Aku dengar kau dipanggil oleh Bu Presdir, memangnya—“

Belum selesai Tiffany bicara, aku sudah menangkup wajahnya. Astaga, kenapa tubuhnya dingin sekali? Apa dia sakit? Kutatap matanya dalam-dalam dan saat itu aku merasa ia menelan ludah.

Baby, apa kau sakit?”

“Eoh? A-ani. Tubuhku tidak panas!” sanggahnya.

“Tubuhmu memang tidak panas, tapi dingin sekali. Katakan padaku, apa yang terjadi? Siapa yang mengantarmu kesini?”

Ia melepaskan cengkraman tanganku. “Dengan mobil Jessica. Maksudku, Jessica yang mengantarku. Ehm, Oppa, sudahlah! Aku tidak apa-apa, aku juga tidak sakit. Aku kesini hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu.”

“Sesuatu? Apa itu?”

“Malam ini ada perayaan 4th Anniversary tempat les milik Yoona. Aku akan mengiringi paduan suara anak-anak didikku. Aku harap kau bisa datang dan melihatnya. Yoona juga akan merasa terhormat jika kau datang. Otte? Kau bersedia?”

Aku terdiam. Malam ini aku juga mempunyai acara. Bahkan menurutku acaraku dengan Bu Presdir jauh lebih penting dari hanya sekedar perayaan ulang tahun The Romantics. Ck, aku belum memberitahu Tiffany perihal kenaikan jabatanku. Jika ia tahu, pastilah ia tidak akan mengajakku menonton pertunjukkannya.

Mianhae, baby. Sepertinya aku tidak bisa,” jawabku jujur.

Sebenarnya aku tidak suka melihat wajah kecewa Tiffany. Aku seolah-olah menjadi pria paling buruk di dunia. Aku segera menggenggam tangannya—yang juga dingin sekali—dan menariknya mendekat.

Baby, kau tahu? Presdir Shim baru saja mengumumkan kenaikan jabatanku menjadi Direktur cabang perusahaannya di Inggris. Malam ini semua direktur akan berkumpul untuk merayakan dengan makan malam bersama. Sebenarnya aku ingin segera memberitahumu, tapi ternyata kau sudah ada disini. Aku juga tidak tahu kalau kau akan sibuk malam ini. Padahal aku akan mengajakmu bersamaku,” jelasku. Aku harap ia mengerti.

“Direktur di cabang perusahaannya di Inggris? Oppa! Aku sangat senang mendengarnya!”

Tanpa diduga Tiffany melompat ke arahku dan memelukku leherku erat. Aku senang ia tidak kecewa karena aku tidak bisa menghadiri pertunjukkannya. Kubenamkan wajahku di keharuman rambut hitamnya dan menciumi leher putih kesukaanku. Aku sangat mengagumi gadis ini.

“Kau tidak kecewa? Baby, jika acaraku sudah selesai, aku akan ke The Romantics secepatnya. Acaramu mulai pukul berapa?”

“8 malam, Oppa. Mungkin selesai pukul 10 malam. Apa kau masih mempunyai waktu?”

Aku memutar bola mataku, berpikir. Aku berharap nanti malam aku bisa melihat pertunjukkannya, namun setelah acaraku selesai tentunya!

“Hmm, akan kuusahakan.”

 

 

Tiffany POV

Aku tidak sanggup pulang sendiri. Oleh karena itu aku meminta Taeyeon dan Jessica menjemputku ke kantor Siwon Oppa. Aku meminta maaf berulang kali kepada dua sahabatku itu sebab telah merepotkan mereka. Kali ini aku duduk di samping kemudi Jessica sementara Taeyeon mengemudikan mobilnya sendiri. Aku menceritakan kepada Jessica bagaimana kejadian di jalan yang kualami sebelum sampai ke kantor Siwon Oppa.

Aku sengaja berbohong kepada Siwon Oppa kalau Jessica lah yang mengantarku kesana. Aku tidak ingin dia cemas. Dan semoga saja Yuri tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Siwon Oppa. Bisa-bisa ia marah besar padaku.

Aku senang mendengar kabar baik darinya. Jika benar ia menjadi Direktur baru di Inggris, otomatis ia akan tinggal disana. Bagaimana denganku? Aku tidak mungkin ikut dengannya karena pekerjaanku disini, di Korea. Sedangkan Siwon Oppa belum melamarku untuk menjadi istrinya! Aku menghela napas panjang. Mungkin malam ini kami harus membicarakannya.

“Fany-ah?”

Nde, Jessie?”

Jessica melirikku sekilas. Tatapannya sama dengan tatapan Yoona dan Taeyeon saat menanyaiku di café tadi pagi.

“Kau pasti melamun seperti sekarang saat mengemudi tadi. Benar, kan?” tebaknya.

Ani. Aku tidak melamun!” sanggahku.

“Jujur saja. Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Ceritakan padaku.”

Aku tersenyum padanya dan menggeleng. Aku tidak ingin Yoona, Taeyeon ataupun Jessica tahu tentang keraguanku akan Siwon Oppa. Siwon Oppa adalah pribadi yang baik, mencintaiku dan mempunyai masa depan yang cerah. Hanya saja ia sedikit egois tapi—

Ah, sudahlah!

“Jessie, aku hanya sedikit kecewa Siwon Oppa tidak dapat hadir malam ini. Ia mempunyai acara lain,” jawabku ringan.

“Jinjja? Hmm, sayang sekali. Hei, jangan bersedih! Tetap tampilkan yang terbaik, ne!”

 

Author POV

10 menit lagi penampilan Tiffany akan dimulai. Semua anak yang tergabung dalam paduan suara sudah berkumpul. Tiffany berdiri tepat di samping mereka. Wanita itu berharap, saat tirai merah di hadapannya terbuka, ia bisa melihat sosok Siwon duduk diantara para penonton. Tapi sepertinya semua itu mustahil.

“Tiff Noona?”

Tiffany menunduk melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Seketika ia tersenyum, memamerkan eye smile yang begitu cantik.

“Sehun-ah. Waeyo? Apa kau gugup?” Tiffany berjongkok agar bisa mensejajari tingginya dengan bocah kecil bernama Sehun itu. Sehun tersenyum manis lalu menyodorkan setangkai bunga mawar merah kepada Tiffany.

“Noona sangat cantik malam ini. Aku sangat mengagumi Noona. Semoga nanti penampilan kita bagus, Noona!” ujar Sehun penuh semangat. Tiffany mengambil bunga pemberian Sehun lalu memeluk bocah 8 tahun itu singkat. Sehun adalah murid kesayangan sekaligus yang paling dekat dengannya. Bahkan Sehun pernah menyatakan cinta kepada Tiffany!

Gomawo, Sehun-ah. Noona juga mengagumi Sehun. Nanti Sehun harus bernyanyi dengan bagus. Arraseo?”

Sehun mengangguk semangat. “Noona, bolehkah aku meminta sesuatu?”

“Hmm, apa itu?”

Tiba-tiba pipi chubby dan putih Sehun merona merah. “Ng….jika nanti acara kita selesai, maukah Noona mencium pipiku? Aku iri dengan Baekhyun yang dijanjikan ciuman oleh Taeyeon Noona.”

Kontan saja Tiffany tertawa. Ia mengelus rambut halus Sehun dan terang-terangan mengangguk.

“Baiklah. Selesai acara kita nanti, aku akan mencium kedua pipimu. Aku akan menciummu di depan Taeyeon dan Baekhyun. Otte?”

Sehun melompat-lompat kegirangan. Ia kembali ke barisan paduan suaranya tanpa berkata apa-apa lagi, namun segaris senyum lebar masih terlihat di wajah tampan bocah itu. Tiffany kembali berdiri dan matanya langsung menangkap pemandangan yang sangat…ehm membahagiakan.

Taeyeon sedang berpelukkan mesra dengan suaminya Leeteuk. Lalu Yoona ada di sudut lain, bersama Kyuhyun. Mereka sedang berciuman lekat saling melepas kerinduan. Ternyata Kyuhyun membohongi Yoona. Ia hanya ingin memberikan kejutan untuk tunangannya itu. Tiffany mengambil napas panjang. Bukan karena ia gugup dengan penampilannya yang sebentar lagi akan dimulai, tapi karena ia iri dengan sahabat-sahabatnya.

“Huft! Sepertinya hanya aku yang ‘gadis’ malam ini,” gumam Tiffany frustasi.

 

Siwon melihat arlojinya. Jam 21.50. Ia teringat Tiffany mengatakan kalau kemungkinan acara 4th Anniversary selesai jam 22.00. Jadi Siwon masih punya waktu untuk bertemu Tiffany, tapi bukan menonton pertunjukkannya. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.

Acara makan malam pengangkatan dirinya menjadi direktur baru berjalan dengan lancar. Untung saja acara itu tidak berlangsung lama. Siwon bersyukur ia bisa menyenangkan hati Bu Presdir di acara tersebut mengingat beliau-lah yang telah berjasa kepadanya.

Siwon menginjak rem ketika lampu lalu lintas menyala merah. Ia menggoyang-goyangkan kaki tanda tak sabar. Tiffany pasti mengerti dengan keterlambatannya. Bagi Siwon, pekerjaannya lebih penting dari apapun. Sebab dulu ia hanyalah seorang karyawan biasa dan berkat kerja keras, ia dapat mencapai kesuksesan seperti sekarang. Tujuannya bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk Tiffany.

Siwon bertekad ingin membeli sebuah rumah besar untuk dirinya dan Tiffany tinggali. Mempunyai jabatan dan harta yang cukup. Menikah dan mempunyai banyak anak. Siwon suka tertawa sendiri jika memikirkannya. Ia bahagia Tiffany-lah alasannya untuk menjadi seseorang yang sukses.

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di kaca mobil di samping Siwon. Pria itu segera menoleh. Ternyata seorang Nenek penjual bunga. Bunga yang dijualnya masih banyak. Siwon menjadi iba karenanya. Dengan segera membuka kaca mobilnya.

“Maukah kau membeli bunga mawar ini, Nak? Nenek sudah berjualan sejak pagi tetapi belum ada satupun orang yang membeli. Belilah bunga-bunga ini untuk kekasihmu. Pasti dia akan sangat senang,” ujar si Nenek.

Siwon tidak tega melihat sang Nenek yang berdiri gemetar di luar mobilnya. Ia bisa membanyangkan bagaimana lelah dan sedihnya Nenek tersebut. Lalu tanpa berpikir panjang Siwon mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan kepada Nenek penjual bunga.

“Kalau begitu, aku beli semuanya, Halmonie.”

“Owh! Tapi uangmu banyak sekali, Nak.”

Siwon tersenyum tulus. “Gwaenchana, Halmonie. Sekarang pulanglah, Halmonie. Sudah malam dan sepertinya akan turun hujan.”

Nenek itu tersenyum. Ia memberikan satu buket bunga mawar kepada Siwon, kemudian masih belum ingin pergi dari sana.

“Nak, berikanlah bunga-bunga ini kepada kekasihmu. Cintai dia dan berilah dia kenyamanan. Dia sangat mencintaimu. Jangan biarkan dia menangis di belakangmu. Jika kau sangat mencintainya, berikanlah dirimu kesempatan kedua untuk menunjukkan sisi yang lebih baik dari ini. Dia berhak mendapatkan cinta tulus darimu. Selamat malam, Nak.”

Siwon menatap punggung Nenek tersebut yang pergi menjauh. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Sejurus kemudian terdengar suara-suara klakson yang ramai di belakangnya. Ternyata lampu merah telah berganti hijau, menandakan kalau kendaraan-kendaraan dapat melanjutkan perjalanan.

Siwon melirik bunga-bunga segar yang terletak di jok sampingnya. Tiffany menyukai bunga mawar merah. Ia pasti senang dan tidak kecewa saat melihat Siwon datang. Pria itu menambah kecepatan mobilnya. Dalam hatinya berharap Tiffany masih berada disana.

 

 

Tiffany POV

Semua acara telah selesai. Para keluarga dan kerabat anak-anak didik kami berkumpul di belakang panggung. Termasuk orang-orang terdekat pendidiknya. Yoona masih bergelayut manja dengan Kyu Oppa, Taeyeon dan Leeteuk saling bergenggaman tangan serta Lee Dongwook yang masih saja menempel pada Jessie.

Hanya satu orang laki-laki yang menemaniku. Yaitu Oh Sehun. Bocah tampan dengan rambut pendek coklatnya. Ia masih memandangiku penuh minat. Sepertinya ia akan menagih janjiku untuk menciumnya. Apalagi tadi Taeyeon sudah mencium Baekhyun di depan kami.

“Jadi, bukankah tadi Noona sudah berjanji kepadaku?” tiba-tiba terdengar suara halus Sehun. Aku menunduk menatapnya.

“Baiklah. Pastikan kalau Taeyeon dan Baekhyun melihat kita,” bisikku padanya. Pipinya merona merah muda sambil menahan senyum. Aigoo, andaikan anak ini dua puluh tahun lebih tua, aku akan lebih memilihnya daripada Siwon. Hahaha! Just kidding guys :p

Aku melihat Baekhyun melintas di depan kami dan saat itu aku langsung mendaratkan kecupan manis di pipi Sehun. Baekhyun yang melihat itu bertepuk tangan senang dan aku bisa melihat wajah Sehun yang makin merah padam. Hahaha jinjja aegyoooo!

“Wah, Sehun-ah! Akhirnya kita mendapatkan ciuman dari Noona-Noona kesayangan kita!” sorak Baekhyun.

Aeiiiih dasar anak kecil yang cepat dewasa -_____-

Gomawo, Tiffany Noona! Suatu saat aku akan merebutmu dari tangan Siwon Hyung!” seru Sehun. Aku hanya menganga takjub. Bagaimana anak sekecil ini mempunyai pikiran seperti itu? Ck, ini pasti pengaruh dari serial-serial drama yang sering ditonton oleh ibu-ibu mereka.

Jeongmal? Siapa yang berani merebut Tiffany Noona dariku?”

Aku terkejut mendengar suara yang baru saja menginterupsi kami. Kembali kutegakkan tubuh seperti semula dan mendapati Siwon sudah berada di hadapanku. Sehun dan Baekhyun mendongakkan kepala mereka demi melihat wajah Siwon.

“Siwon Oppa?”

Nde, ini untukmu.”

Siwon Oppa memberiku satu buket mawar merah dengan senyuman manis hadir di wajah tampannya. Biasanya aku selalu kagum melihat lesung pipi yang hadir mengiringi senyuman itu, tapi sekarang aku tidak merasakan apa-apa. Aku mengernyit, aneh sekali.

Baby, hei?” Siwon Oppa menyentuh lenganku. Aku tersentak dan langsung tertawa gugup. Lantas aku menerima bunga pemberiannya. Entah mengapa suasana kami menjadi canggung dengan diperhatikan oleh dua orang bocah laki-laki berumur 8 tahun. Aku melihat Sehun dan Baekhyun saling pandang dan saling menyikut satu sama lain.

“Mereka aneh sekali,” bisik Baekhyun dengan suara yang bisa dikatakan tidak pelan sedikitpun. Siwon Oppa ikut melirik mereka.

“Kau benar. Mereka tidak seromantis Yoona Noona dan Kyu Hyung. Apa mereka benar-benar sepasang kekasih?” balas Sehun dengan wajah sangat polos.

Aku menggigit bibir. Aish, apa-apaan anak-anak ini? Aku jadi merasa tidak enak kepada Siwon Oppa. Siwon Oppa kan tidak suka dengan anak-anak cerewet.

“Eng… Sehun-ah, Baekhyun-ah, apa orangtua kalian tidak kemari?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Kedua bocah itu serentak menggelengkan kepala.

“Appa dan Eomma sangat sibuk. Mereka bahkan tidak mempunyai waktu untuk satu sama lain. Sebentar lagi Nanny (pengasuh) akan menjemputku,” jawab Sehun.

“Aku juga begitu. Appa pergi ke Malaysia sejak bulan lalu dan Eomma jarang berada di rumah. Jadi aku hanya tinggal bersama Nanny,” Baekhyun menimpali.

Aku sangat prihatin mendengarnya. Ternyata kurangnya kasih sayang di rumah tidak membuat mereka tidak mengenal apa itu cinta. Buktinya ia bisa mengomentari bagaimana canggungnya diriku dengan Siwon Oppa. Mereka tahu kalau aku dan kekasihku dalam keadaan yang kurang harmonis.

“Ehem! Tiffany-ah, kajja kita pulang. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu.”

 

 

Author POV

“Ehem! Tiffany-ah, kajja kita pulang. Aku ingin membicarakan hal penting denganmu.”

Siwon menatap lurus kepada Tiffany dan wanita itu tahu kalau arah pembicaraan Siwon pasti akan serius. Tiffany mengangguk.

Nde, Oppa.”

Kemudian Tiffany berjongkok di depan Sehun dan Baekhyun. Tiffany mengeluarkan satu tangkai bunga pemberian Sehun tadi dan tersenyum manis.

“Sehun-ah, gomawo. Bunga ini lebih special bagiku. Ssstt, ini hanya rahasia kita berdua saja, ne?” bisik Tiffany. Siwon sudah berdiri tidak sabar.

“Nde, Noona. Sampai bertemu minggu depan saat latihan,” ucap Sehun.

“Dan Baekhyun, gomawo sudah mengobrol denganku dan Sehun. Jaga kesehatanmu, arraeseo? Kau juga ya, Sehun-ah. Aku tidak ingin mendengar kalian sa—“

“Fany-ah, palli!” tukas Siwon. Tiffany mendongak lalu kembali berdiri.

Mianhae, Oppa. Aku hanya ingin berterima kasih kepada mereka,” jawab Tiffany sedikit kesal. Apa salahnya Siwon menunggu lebih lama? Apa yang membuatnya menjadi tak sabaran seperti ini? Dia bahkan tidak menonton pertunjukkan!

“Kalau begitu, Noona pulang dulu. Annyeong!

Annyeong, Tiffany Noona!”

Siwon menarik tangan Tiffany yang bebas karena tangan yang satunya lagi memegangi buket bunga. Tiffany tidak senang dengan sikap Siwon. Dimana sopan santunnya? Walaupun Sehun dan Baekhyun masih sangat muda, tapi sikap Siwon harus menjadi panutan.

Tiffany menarik tangan Siwon agar pria itu berhenti. Tiffany tidak ingin pergi begitu saja. Ia harus pamit kepada ketiga sahabatnya serta para pemain band yang sudah menemani mereka. Tanpa mereka pertunjukkan malam ini tidak akan menjadi hebat.

Jika dengan sahabat-sahabat Tiffany, Siwon pasti menunjukkan sikap baiknya. Ia mengikuti langkah Tiffany menghampiri Yoona, Kyu, Taeyeon, Leeteuk, Jessica dan Dongwook. Siwon cukup mengenal mereka. Bahkan mereka sekali-sekali pergi makan malam bersama.

“Hei, guys. Sepertinya aku pulang terlebih dahulu. Mianhae,” ucap Tiffany kepada ketiga sahabatnya.

Mwo? Eonnie, mari kita minum champagne dulu,” kata Yoona.

Mianhae, Yoong. Siwon Oppa ingin pulang sekarang. Sepertinya dia ingin berbicara sesuatu yang penting denganku.”

“Kalau begitu, baiklah. Kita bisa minum champagne kapan-kapan,” sela Taeyeon. Ia bisa melihat kegusaran di wajah Tiffany.

“Sampai bertemu besok, baby!” ucap Jessica. Mereka bertiga bergantian memeluk Tiffany. Yoona, Taeyeon dan Jessica tidak mengerti perasaan apa yang melanda mereka. Yang jelas semakin hari mereka semakin mencintai Tiffany.

 

 

Setelah mengobrol sebentar dengan Kyuhyun, Leeteuk dan Dongwook, Siwon menarik tangan Tiffany untuk segera keluar. Ia ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan wanita yang dicintainya itu. Sekaligus ingin berbagi kebahagian yang sedang dirasakannya saat ini. Siwon membawa Tiffany ke sebuah resto bernama Champ Ailee untuk merayakan malam mereka dengan meminum wine.

“Diluar hujan. Kenapa tidak di rumah saja, Oppa?” Tanya Tiffany saat menatap sekilas ke luar jendela resto.

“Aku ingin kita disini. Kau lihat, suasananya sangat romantis,” jawab Siwon santai. Tiffany diam saja. Ia masih memegangi setangkai bunga yang diberikan Sehun. Sedangkan buket bunga dari Siwon tertinggal di dalam mobil.

“Bagaimana acara makan malammu, Oppa?” tanya Tiffany membuka pembicaraan. Siwon menyesap winenya lalu tersenyum.

“Sangat menyenangkan, baby. Akhirnya aku bisa meraih posisi direktur utama di cabang Inggris. Bu Presdir mengatakan kalau aku sudah dapat pergi satu minggu lagi. Beliau memberiku fasilitas berupa mobil, apartemen, dan keperluan-keperluan lainnya. Aku sangat dipercaya dalam tugas baru yang kuterima, Fany-ah. Jadi aku menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Dan untuk itu aku membutuhkan dukungan darimu,” ujar Siwon.

Tiffany senang mendengarnya. Ia bisa membayangkan betapa bangganya diri Siwon. Semua kerja kerasnya selama ini terbayar. Tiffany menatap pria itu lagi. Tidak ada tanda-tanda Siwon ingin bertanya bagaimana pertunjukkan di The Romantics berlangsung. Ia masih sibuk tersenyum-senyum sendiri membayangkan akan pindah ke Inggris.

“Lalu?”

Siwon menatap Tiffany. “Lalu? Mwo?”

“Bagaimana denganku? Dengan kita?” Tiffany mulai menajamkan nada suaranya.

Hal itu membuat Siwon tergelak. Ia piker selama pembicaraan tadi Tiffany sudah mengerti apa maksudnya!

Aigoo, Fany-ah. Tentu saja kau harus ikut denganku! Kau adalah calon istriku dan tidak mungkin aku meninggalkanmu disini!” tegas Siwon.

Tiffany mendengus kasar. “Lalu bagaimana dengan pekerjaanku, Oppa? Aku tidak bisa meninggalkan The Romantics!” ia bersikukuh.

Siwon tertegun. Baru kali ini Tiffany membantah perkataannya. Siwon juga belum pernah melihat Tiffany semuak ini. Ia rasa ada sesuatu yang mengganggu kekasihnya.

Baby, gwaenchana?” bisik Siwon. Ia tidak ingin memancing perhatian pengunjung lainnya.

“Tidak, aku tidak baik-baik saja!” tukas Tiffany. Kemudian ia berdiri dan pergi dari sana. Siwon masih terpana namun dengan cepat mengejar Tiffany. Ia tidak mengerti kenapa Tiffany tiba-tiba berubah. Apa karena siklus menstruasinya? Tiffany memang selalu sensitive jika dalam masa periodenya, begitulah pikiran Siwon.

“Tiffany, berhenti! Ada apa denganmu?” suara Siwon mulai meninggi saat merenggut tangan Tiffany untuk berhenti. Mereka sudah berada di luar resto. Tiffany tidak peduli jika ia kebasahan oleh air hujan. Hatinya sudah tidak bisa menampung kekesalan yang selama ini disebabkan keegoisan Siwon.

“Kenapa kau seperti ini? Kau marah padaku? Dengar, Fany-ah. Tak lama lagi aku ingin kita menikah dan mau tak mau kau harus tinggal denganku.”

Tiffany merenggut tangannya dari cengkraman Siwon. “Menikah katamu? Oppa, aku saja tidak yakin kau mencintaiku dengan tulus atau tidak! Apa kau pernah mendengarkan kata-kataku? Apa kau pernah peduli dengan semua kegiatanku? Apa kau pernah meluangkan waktumu untuk mendengarkan keluh kesahku? Oppa, selama ini selalu saja aku yang mengalah padamu. Selalu saja aku yang mengerti dengan kesibukanmu. Aku tidak pernah memaksakan kehendakku padamu. Bahkan disaat aku ketakutan setengah mati, aku tidak mengatakan apa-apa padamu! Kau bahkan tidak peduli dengan orang-orang yang kusayangi. Dan sekarang seenaknya saja kau menyuruhku pergi bersamamu?”

 

 

Siwon POV

Aku tak dapat membuka mulutku. Aku tidak mempunyai pembelaan diri. Semua yang keluar dari mulut Tiffany benar adanya. Seolah-olah terbentur benda yang sangat keras, kini aku sadar kalau aku adalah pria yang sangat brengsek. Aku menelan ludah melihat Tiffany menangis terisak di hadapanku. Aku sangat membenci airmatanya keluar hanya karena kebodohanku selama ini. Terkutuklah aku Tuhan!

Aku mencoba meraih lagi tangannya, namun ia menepis. Aku lihat ia masih menggenggam erat setangkai bunga mawar yang dipegangnya dari tadi.

Baby, tentu saja aku mencintaimu. Aku sangat memujamu—“

“Aku tidak butuh pujaan, Choi Siwon! Aku hanya butuh pengertian darimu!”

“Kau tidak suka dipuja? Lalu, kenapa bunga dari pemujamu tidak lepas dari genggamanmu barang semenit? Sedangkan bunga pemberianku kau taruh di dalam mobil. Dari siapa? Apa bocah kecil tadi? Apa ketulusan tidak terbaca olehmu? Dengan apa lagi harus kubuktikan cintaku? Maaf jika selama ini aku terlalu sibuk, tapi itu semua kulakukan demi masa depan kita, Tiffany!”

Tiffany menggeleng. Airmatanya terus mengalir tanpa henti. Oh Tuhan! Bisakah ia berhenti menangis dan membicarakan kesalahpahaman ini baik-baik?

“Kau sangat egois, Oppa. Kau juga kekanak-kanakan. Kau cemburu dengan anak kecil berusia 8 tahun? Cih.”

Aku juga bisa muak Tiffany. Kenapa dia tidak bisa berbicara dengan kepala dingin? Sebagian orang yang berjalan di bawah payung yang melewati resto memandangi kami. Aku melihat sekelilingku, membalas tatapan mereka dengan tajam. Tak ada yang perlu kalian tonton. Shit!

“Fany-ah, lebih baik kita pu—“

Aku kehilangan Tiffany. Ia sudah tidak berdiri di hadapanku lagi melainkan berjalan menjauh. Ia berjalan di bawah hujan yang semakin deras dengan hanya mengenakan gaun berpotongan pendek seperti itu. Demi Tuhan! Ia bisa sakit!

“Tiffany!” panggilku seraya mengejarnya. Mendengar teriakanku, langkahnya semakin cepat dan bahkan kini ia berlari. Sepertinya ia ingin lari dariku. Ada apa dengannya? Apa kesalahanku baginya sangatlah besar? Aku tidak peduli dengan dinginnya air hujan yang kini membasahi tubuhku. Aku bisa membayangkan betapa kedinginannya Tiffany saat ini.

“Berhenti, Tiffany! Kau bisa sakit!” teriakku. Jarak kami cukup jauh karena Tiffany termasuk seorang pelari yang cepat bahkan saat memakai high heels. Sial! Tubuhku terlalu lelah untuk mengejarnya di tengah hujan begini. Namun perasaan bersalahku tidak menahan kaki ini untuk berlari. Aku harus segera mendapatkannya, kalau tidak Tiffany bisa celaka berlarian di tepi jalan raya seperti ini.

Pandangan mataku sedikit samar sebab terpaan hujan sangat derah di wajahku. Tapi aku bisa melihat dari kejauhan kalau sebuah taksi berhenti di tepi jalan dan Tiffany masuk ke dalamnya! Baiklah, sekarang apa maunya?

“Tiffany Hwang! Aish!” raungku kesal ketika melihat taksi yang ditumpanginya pergi. Aku berlari berlawanan arah sekarang. Aku harus cepat-cepat mengejar taksi itu dan menghentikannya. Tiffany tidak boleh lari dariku. Aku benar-benar brengsek tidak meminta maaf padanya.

Aku sangat bersalah padamu, Tiffany.

Saat aku mencapai mobilku, aku pun langsung menyetir gila-gilaan. Sepertinya Tiffany memerintahkan agar supir taksi itu mengebut. Jangan seperti ini padaku, Tiffany! Kau tidak tahu betapa khawatirnya diriku sekarang.

Aku menginjak pedal gas semakin dalam, berharap mobilku bisa menyusul taksi itu. Aku tidak peduli dengan klakson-klakson protes dari pengendara mobil lain. Taksi itu semakin dekat denganku. Aku menekan klaksonku berkali-kali untuk memperingati si supir taksi, namun ia malah semakin kencang. Shit!

Lalu, entah darimana datangnya mimpi buruk itu. Sebuah truk melintas di perempatan jalan lampu lalu lintas. Truk besar pengangkut ikan itu tidak bisa berhenti, begitu pula dengan taksi yang ditumpangi Tiffany. Kakiku sontak menginjak rem, sementara mataku terpaku pada pemandangan di hadapanku.

Taksi tersebut berbelok-belok kehilangan arah, mungkin karena supir taksinya terkejut dengan kemunculan truk besar itu. Terdengar suara sangat keras sekali, entah itu suara teriakan para pejalan kaki, suara air hujan, suara decitan ban, suara tabrakan atau bahkan suara jantungku sendiri.

Kedua kendaraan itu beradu keras dan dalam sekejap taksi yang ukurannya tiga kali lebih kecil daripada truk, terpental berguling-guling di jalan raya. Aku menahan napas. Tatapanku terhalang oleh airmata. Tubuhku gemetar hebat sementara orang sudah berbondong-bondong menghampiri taksi tersebut.

 

 

Author POV

Dalam beberapa detik saja, jalanan dipenuhi oleh kerumunan manusia. Sebagian dari mereka membantu dua orang yang terjepit di dalam taksi, sebagian lagi hanya melihat saja. Kecelakaan yang cukup parah, mengingat truk tersebut juga berhenti karena benturan yang sangat hebat. Tapi supir truk baik-baik saja. Ia juga ikut turun membantu korban kecelakaan.

Siwon berjalan tertatih-tatih ke arah kerumunan. Dan hujan pun berhenti secara tiba-tiba. Ia menyeret kakinya yang berjalan gemetar. Tubuhnya mati rasa. Taksi itu, taksi yang dikejarnya, taksi dimana Tiffany berada, sekarang dalam posisi terbalik dan mengeluarkan asap hitam mengepul. Siwon menyeruak diantara kerumunan.

Beberapa orang telah berhasil mengeluarkan supir taksi dari kenderaan itu. Sekarang mereka sedang berusaha keras mengeluarkan Tiffany yang benar-benar terjepit. Siwon segera berlari menghampiri mereka.

“T-Tiffany…”

Siwon melihat tubuh Tiffany berlumuran darah dari kepala sampai ke dada. Hanya bagian itu yang muncul dan terlihat. Setengah badan Tiffany terjepit antara bangku dan atap taksi. Siwon tidak peduli dengan kaca yang melukai dirinya ketika masuk ke dalam taksi. Beberapa orang ikut membantu Siwon.

Siwon berhasil memasukkan setengah tubuhnya ke dalam taksi yang terbalik, memeluk tubuh Tiffany dengar hati-hati, kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tubuh yang sudah lemah tersebut. Siwon tidak mau berpikiran negative terlebih dahulu. Ia yakin Tiffany masih bersamanya. Tiffany masih baik-baik saja.

“Ayo kita tarik! Hana…deul..set!”

Siwon yang satu-satunya memegangi Tiffany, menggeram ketika tubuhnya diseret keluar dari dalam taksi. Wajahnya terkena pecahan kaca saat para penolong membebaskan mereka. Siwon melihat Tiffany yang sudah tak sadarkan diri di dalam dekapannya. Siwon menyeka darah dan serpihan kaca dari wajah kekasihnya. Tangannya gemetar hebat dan tangisannya menyesakkan dada. Ia tidak percaya Tiffany mengalami semua ini.

Baby, ireona…mushroom, jebal. Maafkan aku. Buka matamu, Fany-ah. Buka matamu. Lihat, kau sudah tidak apa-apa. Kita sudah baik-baik saja. Ireona…Baby…my Mushroom, aku mohon buka matamu,” isak Siwon.

Tiffany tidak membuka matanya. Lukanya lebih parah dari supir taksi. Kepala Tiffany tidak berhenti mengalirkan darah segar. Sepertinya bocor setelah terkena benturan keras ketika taksi tadi terguling-guling. Siwon mendekapnya erat. Tubuh Tiffany sangat dingin. Entah karena hujan atau sudah tak bernyawa.

“Cepat panggilkan ambulance!” teriak salah satu Ahjumma di kerumunan.

 

Siwon POV

Hari ketiga setelah kepergian Tiffany aku masih meringkuk di kamar. Kecelakaan mengenaskan yang telah merenggut nyawa kekasihku itu masih terbayang-bayang di ingatanku. Jika saja aku tidak mengejarnya saat itu, jika saja aku tidak membuat hatinya terluka, jika saja aku tidak egois, jika saja….

“AAAAAAARRRGGGHHH!”

Aku berteriak frustasi. Penampilanku sudah sangat kacau. Rambut dan jambang kubiarkan memanjang. Aku kehilangan rasa lapar, aku tidak ingin bertemu siapa-siapa termasuk keluargaku. Aku tidak peduli dengan mereka terlebih lagi diriku. Semua terjadi karena kesalahanku. Aku yang menyebabkan kematian Tiffany. Aku yang menyakiti hatinya, aku yang mengejar taksinya, aku yang membuat taksi itu tertabrak oleh truk.

Semuanya adalah kesalahanku. Aku pantas dihukum. Aku pantas mati.

Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke meja rias yang selalu dipakai Tiffany. Aku melihat-lihat isi lemari pakaiannya. Saat pintu lemari itu kubuka, hidungku langsung menyergap wangi khas Tiffany. Wangi apel segar yang selalu kukagumi. Aku rindu mencium lehermya yang beraroma apel segar. Dimana lagi harus kutemui gadis seperti Tiffany-ku.

Aku mengambil salah satu bajunya dan membawanya ke tempat tidur. Aku memeluk erat pakaian itu. T-shirt kebesaran berwarna pink kesukaan Tiffany. Ia sering tidur dengan hanya menggunakan T-shirt ini saja. Ia tahu kalau aku suka melihatnya dengan baju kebesaran, oleh karena itu ia sering memakainya.

Tiffany, kembalilah padaku. Aku sangat mencintaimu. Entah kenapa tiba-tiba semua hal teringat olehku. Terutama kata-kata Nenek penjual bunga yang kutemui malam itu. Nenek penjual bunga benar. Aku tidak boleh memaksakan semua kehendakku pada Tiffany. Tiffany berhak kucintai dengan tulus seperti dirinya mencintaiku. Pasti ia sering menangis di belakangku karena aku terlalu egois padanya. Aku bodoh, aku brengsek! Ini bukanlah kesuksesan yang kumaksud. Aku memang berhasil mencapai impianku, namun aku gagal meraih kebahagiaan wanita yang kucintai.

Jika Tuhan memberiku kesempatan kedua dalam hidup ini, aku berjanji akan merubah segalanya. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku rela menukarkan kebahagiaanku demi Tiffany. Namun apakah semua itu akan terjadi? Tuhan pasti sudah membenciku. Tuhan membenciku karena keegoisanku. Tuhan membenciku karena membuat wanita setulus Tiffany menangis.

Airmataku tak berhenti sampai aku memejamkan mata. Aku siap jika Tuhan juga mengambil nyawaku. Bahkan aku senang jika itu terjadi. Itu artinya aku bisa bertemu lagi dengan Tiffany, wanita yang selamanya akan kucintai.

Aku siap Tuhan, menghadapi apapun yang akan terjadi.

 

Hey Woody….ireonaaa!!

Aku tersenyum mendengar suara itu lagi. Suara yang sangat kurindukan. Ternyata Tuhan mendengar doaku. Aku sekarang sudah berada di Surga, tempat yang sama dengan Tiffany. Tetapi kenapa mata ini sulit sekali untuk kubuka?

“Oppa, ayo bangun! Jam 9 nanti kau akan menghadiri rapat di kantormu. So, you better wake up now!”

Aku ingin sekali tertawa. Kantor apa yang ada di Surga? Apa Tiffany ingin bermain-main denganku? Apa dia juga merindukanku? Aku merindukannya setengah mati.

“Hmmh, sepertinya aku harus menggelitikmu.”

Lalu saat itu aku merasakan sesuatu yang geli di pinggang dan perutku. Jinjja! Dia benar-benar menggelitikku. Wanita ini sedang ingin bermain-main rupanya. Perlahan aku membuka mataku, sedikit terkejut menerima cahaya terang yang mengelilingiku. Hal pertama yang kulihat adalah wajah itu. Rambut hitam sedikit ikal, mata yang indah, bentuk hidung yang lucu, bibir atasnya yang tipis, serta kulit seputih susu. Dia Tiffany Hwang-ku.

Good morning, my baby Woody boy,” ucap suara serak Tiffany. Ia menelungkup di atas tubuhku, mengenakan T-shirt yang semalam terus kupeluk.

Senyumku langsung membeku. Cha…changkamman! Semalam? Mengapa Tiffany memakai T-shirt yang kupegangi semalam? Aku menggerakkan kepalaku dengan bingung ke kanan dan ke kiri. A…apa? Aku berada di kamarku. Dengan keadaan dan situasi yang sama seperti semalam.

Aku menatap wajah Tiffany yang berada tepat di atasku. Aku bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajahku. Apa aku di Surga atau Tiffany yang kembali ke kehidupanku? Aku segera bangkit , membuat Tiffany terjungkal ke sisi kanan tempat tidur. Ia tertawa kecil melihat keterkejutanku. Aku langsung menjaga jarak dengannya. Ini tidak benar. Aku masih hidup, aku masih seorang manusia! Ta…tapi siapa wanita yang sangat mirip dengan Tiffany ini?

“Oppa? Kau kenapa?”

Dia berbicara padaku! Jadi dia melihatku dan aku bisa melihatnya. Dia…manusia? Tadi aku merasakan sentuhannya, merasakan berat tubuhnya padaku, jadi dia bukan makhluk halus. Aku meraba-raba tubuhku sendiri. Aku pun nyata!

“Siwon Oppa? Kenapa melihatku seperti melihat hantu? Haha, Oppa kau lucu sekali! Wajahmu persis seperti Woody,” gelak Tiffany.

Aku semakin menjauh darinya. Ini benar-benar mustahil. Tiffany sudah tiada, tidak mungkin dia yang berdiri di hadapanku saat ini. Aku memang ingin bertemu lagi dengannya, tetapi bukan dengan cara mustahil seperti ini. Aku ingin dia yang sebenarnya! Tiffany berjalan mendekatiku. Tawanya berubah menjadi ekspresi khawatir sebab aku terkesan menghindar darinya.

Ya Tuhan, apa dia benar-benar Tiffany-ku? Atau kau telah menjawab doaku yang meminta kesempatan kedua untuk mencintainya lagi? Aku menelan ludah.

“Siwon Oppa, kau mulai membuatku takut. Katakanlah apa yang terjadi? Kenapa kau ketakutan melihatku? Ini aku, Tiffany.”

Sosok yang kukira hantu tadi ternyata Tiffany sungguhan. Tiffany-ku! Ia berdiri sangat dekat denganku. Dan seperti yang kurindukan, wangi apel segar tiba-tiba tercium dari tubuhnya. Aku mengangkat tanganku, mencoba menyentuh wajah cantik itu.

Tubuhnya tidak sedingin saat kupeluk di malam kejadian kecelakaan. Tubuhnya sekarang hangat dan lembut, seperti biasa. Jariku menelusuri rahangnya, mencari-cari kebenaran apakah dia telah kembali padaku. Ya, aku semakin yakin kalau Tiffany nyata. Tuhan mendengar doaku tadi malam.

Ini artinya kesempatan kedua untukku.

“Oppa?”

Aku menarik tubuh Tiffany dan langsung kudekap erat. Aku tak ingin melepaskannya. Aku berjanji akan terus berada di dekatnya. Ini adalah kesempatan kedua atau mungkin kesempatan terakhir untukku. Aku harus membuktikan kalau aku benar-benar berubah. Tiffany balas memeluk pinggangku. Ia terkikik geli saat aku menciumi lehernya.

Dia masih menakjubkan. Dia masih sangat pas di tubuhku.

Terima kasih, Tuhan!

“Oppa, sampai kapan kau akan memelukku? Kau bisa terlambat ke kantor,” ujarnya. Aku tersenyum di permukaan kulit lehernya.

“Tunggu sebentar lagi. Aku masih merindukanmu, Mushroom.”

Jinjja? Aigoo, Oppa. Semalam aku tidak tidur karena melayani ‘kerinduan’mu itu. Sekarang kau harus mandi agar tidak terlambat ke kantor. Bukannya pagi ini kau harus menghadiri rapat?”

Aku menatap lembut wajahnya. Percakapan ini mirip dengan percakapan kami pagi itu. Dia membangunkanku agar aku tidak terlambat pergi bekerja. Rambutnya pun basah, berarti dia sudah mandi. Aku ingat kalau pagi itu ia mengatakan kalau ia sedang dalam masa periode bulanannya.

“Pasti kau tidak ingin menemaniku mandi?” tanyaku sekedar hanya untuk mengetesnya. Tiffany memukul pelan dadaku.

“Tentu saja tidak! Aku sudah mandi. Apa kau tak lihat kalau rambutku basah? Lagipula aku akan membuat sarapan dulu. Cepatlah, aku tunggu kau di dapur.”

Tepat sebelum Tiffany membalikkan tubuh, aku menarik tangannya sehingga ia kembali ke pelukanku. Matanya berkilat-kilat kesenangan. Ia bisa saja dengan mudahnya menjadi seorang seducer jika sedang dalam ‘mood’. Aku menangkup wajah Tiffany seakan-akan tidak pernah puas memandanginya.

Saranghae. Jeongmal saranghaeyo,” ucapku penuh ketulusan. Aku menciumnya.

Bibirnya lembut dan manis. Tiffany mencengkram lenganku sedikit kencang karena aku menciumnya sangat lekat. Aku hanya diam di bibirnya untuk beberapa detik, menikmati Surga-ku disana. Kemudian aku membuat gerakan, melumat bibir Tiffany sepenuh hati. Ia tersenyum, aku bisa merasakannya. Aku bertanya-tanya, apa yang dirasakannya sekarang? Apakah saat ini ia menyimpan kekesalan terhadapku?

Aku menyesap bibir bawahnya cukup lama dan enggan melepas. Ia adalah candu bagiku, selalu begitu. Sepertinya hari ini aku harus selalu berada di dekatnya sampai nanti malam. Karena jika malam ini sama seperti malam itu, aku akan berusaha menggagalkan kecelakaan yang merenggut nyawanya.

“….Siwon Oppa, kau belum menyikat gigimu,” desah Tiffany setelah melepas ciumanku. Aku tersenyum tanpa merasa bersalah.

Mianhae, Baby. Aku benar-benar merindukanmu,” ungkapku. Tiffany memperlihatkan eye smilenya kepadaku.

“Aku senang mendengarnya. Kalau begitu, mandilah. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu,” ucapnya.

Aku mengangguk patuh.

 

 

Aku mematut diri di depan cermin kamar mandi. Aku telah berpakaian rapid an siap menghadapi hari ini. Tuhan telah memberiku kesempatan kedua. Jadi aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Aku tidak akan membiarkan kecelakaan itu terjadi. Tidak hanya itu. Hari ini kupastikan Tiffany tidak merasa kecewa dengan sikap egois sialanku ini.

Breakfast is ready, Mister Handsome!” Tiffany menyambutku riang dari dapur. Ia sedang sibuk disana, sementara sandwich tuna, kopi serta Koran pagiku sudah tersedia di atas meja makan. Mataku terpaku pada mug baru berupa wajah Woody si koboy dalam film animasi Toy Story. Mug yang dibelinya saat pergi berbelanja dengan Yoona serta Jessica.

“Kau tidak sarapan?” aku bertanya walau aku sudah tahu apa jawabannya.

“Nanti saja. Aku akan sarapan bersama Yoona di tempat les. Hehehe. Oh ya, apa kau suka mug kopimu yang baru?”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku suka sekali. Mmm, biar kutebak! Jika aku mendapat mug berwarna biru, kau pasti membeli yang warna pink juga.”

Tiffany tertawa. Suara tawa yang sangat merdu di telingaku. Aku berharap ia akan tetap bahagia selamanya. Aku menunduk dan tatapanku beradu dengan sarapan yang sudah disiapkan Tiffany. Lebih baik aku memakannya. Lagipula perutku sangat lapar. Apakah satu potong ini sanggup mengganjal perutku?

Ah, yang penting makan saja. Kalau masih kurang aku bisa membeli makanan di jalan. Ditambah lagi—

“Aaawww!”

Aku tersentak kaget. Teriakan Tiffany mengagetkanku. Astaga, aku lupa yang satu itu! Suara ringisannya bagaikan alarm bagiku untuk mengingat kalau ada insiden kecil di dapur. Jarinya tersayat pisau.

Aku segera menghampirinya di dapur. Pemandangan yang sama, persis déjà vu. Aku benar-benar kembali ke pagi itu.

“Kau harus lebih hati-hati,” gumamku lalu membasuh jarinya ke air kran wastafel. Maafkan aku yang lengah untuk insiden kecil ini. Aku tidak ingat sama sekali.

“Oppa, aku baik-baik saja. Apa sarapanmu sudah habis? Kalau begitu lebih baik kau cepat berangkat. Aku takut kau nanti terjebak macet,” ujar Tiffany. Aku masih memegangi tangannya.

“Fany-ah, bolehkah aku tinggal di apartemen ini bersamamu untuk hari ini saja? Kau jangan kemana-mana, temani aku. Otte?” aku berusaha membuatnya tidak curiga dengan sikap protektifku.

Andwe! Rapat ini sangat penting dalam karirmu. Kau sendiri yang mengatakannya padaku, Oppa.”

“Tapi—“

Cup.

“Ssstt, kau tidak pernah bermalas-malasan seperti ini. Apalagi tidak menghadiri rapat penting. Lagipula, malam ini aku mempunyai jadwal,” ujar Tiffany setelah mengecup bibirku sekilas.

Aku tahu. Pasti acara 4th Anniversary. Kenapa dia tidak mengundangku saat itu? Dan sekarang sepertinya Tiffany juga enggan melanjutkan kata-katanya. Apa dia tidak berani mengundangku?

“Jadwal? Jadwal apa?” tanyaku. Aku harap dia bersedia mengatakannya. Jika ia tidak mengatakannya sekarang, ia pasti akan ke kantorku nanti siang karena ponselnya tertinggal di apartemen ini. Lalu, apa yang seharusnya aku perbaiki?

Ah, aku tahu!

Baby, akhir-akhir ini aku sering melihatmu lebih rajin berlatih flute. Apa jadwalmu berhubungan dengan itu?” tanyaku lembut.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “Hmm, nde. Sebenarnya malam ini ada perayaan ulang tahun The Romantics, tapi aku tidak yakin kau bisa da—“

“Aku akan datang. Siapa bilang aku tidak akan datang?” aku menyela lalu tersenyum manis. Tiffany menatapku takjub.

“Mwo? Tapi bukankah biasanya kau sibuk sampai malam jika ada rapat di kantor?” Tiffany ragu-ragu bertanya. Aku memeluk pinggangnya dan menabrakkan hidungku dengan hidungnya.

“Besok masih ada waktu, Mushroom. Lagipula aku tidak akan melewati pertunjukkan spesial tunanganku,” jawabku santai. Lalu aku mencium bibirnya yang masih terbuka itu.

Changkamman! Oppa, darimana kau tahu kalau aku akan menampilkan pertunjukkan spesial?”

Oops! Aku menebak terlalu jauh. Tiffany belum mengatakan apa-apa tentang pertunjukkan nanti malam, terang saja dia heran mengapa aku tebakanku tepat.

“Eh…ani. Sudah pasti kau akan melakukan pertunjukkan spesial jika latihanmu serajin itu. Benar, kan?”

Tiffany mengangguk pelan. Sepertinya ia senang sekali. “Baiklah, kalau begitu acaranya dimulai dari pukul 8 sampai 10 malam.”

Nde, arraseo. Sekarang mari kita obati lukamu,” ucapku.

“Biar aku sendiri, Oppa. Jika 5 menit lagi kau belum berangkat juga, kau akan terkena macet di jalan.”

Tiffany benar. Jangan sampai karena ingin merubah keadaanku dengannya, aku melepaskan kesempatan bagus di kantorku. Aku ingat rapat hari ini adalah penentuan bagiku untuk menjadi direktur di cabang Shim Corp yang terletak di Inggris.

“Oke. Mushroom, nanti jangan lupa sarapan dengan Yoona. Satu lagi, jangan lupa membawa ponselmu. Arraseo?”

“Hahaha, Oppa! Kau cerewet sekali. Nde, aku akan mengingat kedua hal itu. Hati-hati menyetir, ne?”

 

Aku mengalami hal yang sama saat mengemudikan mobil menuju kantor. Apa yang kulihat di pagi itu, tampak sama saat ini. Bahkan aku ingat dengan mobil-mobil lain yang berada di jalan yang sama denganku. Dari kejauhan aku melihat lampu lalu lintas. Ya, aku akan berhenti disana. Aneh sekali rasanya mengalami déjà vu seperti ini. Aku seperti seseorang cenayang yang berkeliaran di jalanan.

Aku berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah. Aku langsung teringat sesuatu. Jika sekarang aku menoleh ke samping kanan, aku akan melihat pertengkaran antara supir taksi dengan pemilik mobil pribadi. Kontan saja aku menolehkan kepalaku.

Benar, tidak berbeda sedikitpun. Aku melihat pertengkeran diantara mereka. Si supir taksi tidak ingin mengalah. Aku baru menyadari kalau dalam hari itu aku melihat dua orang supir taksi yang tidak mempunyai ketertiban di jalan raya. Yang satu supir taksi yang kulihat sekarang, dan yang satunya lagi…..

Ah, aku tidak ingin mengingatnya! Terlalu menyakitkan bagiku. Aku perhatikan wajah supir taksi di seberang jalan itu sekilas. Sepertinya masih terbilang muda. Oleh karena itu dia dengan seenaknya saja manabrak mobil pribadi milik Ahjussi itu.

Aku menekan pedal gas ketika lampu merah berganti menjadi hijau, menandakan kendaraan bermotor sudah bisa melanjutkan perjalanan.

Drrrrttt drrrrtt

Sebuah pesan. Tentu saja dari Tiffany.

Siwon baby, hwaitiiing “b^^d” ini adalah emoticon terbaruku. Apakah mirip bbuing bbuing? Hehe  :* nanti beritahu aku jika rapatmu berjalan lancar, ne?

Aku tersenyum. Aku merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi ini karena mencintai dan dicintai Tiffany. Aku pun mengetik pesan balasan untuknya. Aku ingat pagi itu aku mengacuhkannya.

Gomawo, my Mushroom. Neomu saranghae. Jangan sering-sering mengirimiku emoticon terbarumu ini. Bisa-bisa aku kembali pulang karena gemas denganmu hahaha! Jangan lupa pesanku tadi, ne :^)

Aku harap dia tidak kecewa padaku.

Neeeee, aku mengerti Mister! :*

Aku kembali menaruh ponselku dan berkonsentrasi pada jalan yang kutempuh. Setidaknya aku sudah merubah moodnya menjadi bagus pagi ini.

Seperti yang sudah kutahu, aku tiba di kantor sebelum jam rapat dimulai. Aku berpapasan dengan orang-orang yang sama di pagi itu. Suasananya, obrolannya bahkan aktifitas-aktifitas kecil lainnya. Aku menghafal langkahku sendiri dan mengingat-ingat siapa saja yang akan kutemui nanti. Nah! Park Junjin. Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya di dalam lift. Junjin sedang bahagia saat ini sebab istrinya sedang mengandung anak mereka. Aku turut senang untuk mereka.

Saat aku masuk ke dalam lift, ternyata Junjin sudah berada disana. Langkahku melambat ketika wajah lesunya. Ia tidak seceria pagi itu. Aku tersenyum padanya dan dia membalasnya dengan tenang. Aku bertanya-tanya dalam hati. Seingatku pagi itu aku yang terlebih dahulu masuk lift. Dan wajahnya tidak selesu ini.

“Selamat pagi, Junjin-ssi!” sapaku.

“Selamat pagi, Siwon-ssi!” balasnya tak bersemangat.

Aku mengernyit. Apa mungkin ia belum diberitahu istrinya tentang kehamilan itu?

“Engh…ada apa Junjin-ssi? Kau tampak lesu sekali,” aku harus menanyakannya.

“Eoh?” Junjin terkejut. Ia langsung tertawa kecil dan memasang senyum palsu. “A…ani. Gwaenchana.”

Tidak, dia berbohong. Jelas sekali ia sedang menyembunyikan sesuatu. Seperti sesuatu yang sangat menyakitkan. Apa yang terjadi padanya?

“Junjin-ssi, kita ini teman. Dan kita akan terlibat dalam rapat yang sama setelah ini. ceritakanlah padaku, ada apa sebenarnya? Wajahmu benar-benar lesu,” bujukku.

Junjin menghela napas. Ia menghadap padaku dan tebakanku benar. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Tidak ada seorang pria ke kantor dengan wajah lesu serta mata berlinangan airmata seperti Junjin! Apa dia menahan tangisannya?

“Siwon-ssi. I..istriku dia—“

Eoh?

“Istrimu? Kenapa dengannya?” Seharusnya Junjin bahagia. Pasti dia akan memberitahuku kalau istrinya sedang hamil. Tapi mengapa ia bersedih?

“Dia…keguguran. Kami kehiangan bayi kami, anak pertama kami, Siwon-ssi.”

MWO??? Apa aku tidak salah dengar? Istri Junjin keguguran? Aku terpaku di tempat. Kenapa keadaan Junjin tidak sesuai dengan sebenarnya? Yang aku alami sejak tadi pagi, semuanya sama. Lalu apa yang terjadi pada Junjin?

“Kau serius?” tanyaku tajam. Junjin menatapku sendu.

“Siwon-ssi, untuk apa aku berbohong padamu? Istriku tergelincir di kamar mandi dan ia keguguran. Padahal kami tidak tahu kalau ternyata dia sedang hamil. Aku terkejut melihat darah yang keluar dari alat kelaminnya. Ia sedang hamil 5 minggu, Siwon-ssi. Kami kehilangan bahkan sebelum kami menyadarinya,” ungkap Junjin. Ia menyeka airmatanya yang sedikit mengalir.

Siwon menelan ludah. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Selama ini Siwon tahu Junjin dan Siyoung telah menanti-nanti kehadiran buah hati. Mereka harmonis dan tetap bersabar menunggu berkah dari Tuhan. Dan apa yang terjadi sekarang? Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya ada calon anak di perut Siyoung, lalu tiba-tiba tanpa mereka sadari, satu nyawa itu kembali diambil Tuhan.

“Lalu…kenapa kau disini, Junjin-ssi? Bukankah kau seharusnya menemani istrimu di rumah sakit?” tanyaku heran.

Junjin menatapku dengan sorot mata heran sekaligus kesal. Aku mengerjap polos. Apa aku salah bicara? Dia memang seharusnya berada di samping istrinya saat ini. Lagipula Junjin hanya notulis rapat sementara aku yang mempresentasikan. Aku bisa meminta bantuan Lee Sungmin untuk menggantikan tugas Junjin.

“Siwon-ssi, kenapa kau bertanya seperti itu? Jelas-jelas aku adalah presenter dalam rapat nanti. Kau sendiri yang memintaku menggantikan posisimu. Apa kau tidak ingat, kemarin kau mengatakan padaku kalau kau belum siap untuk rapat in? Kau memintaku mempresentasikan bahan yang sudah kita rundingkan kemarin dan kau memilih menjadi notulis saja. Siwon-ssi, aku datang ke kantor pagi ini hanya untuk memenuhi janjiku padamu, karena aku menghargaimu yang selama ini sudah banyak membantuku. Lagipula Siyoung dijaga oleh orangtua kami. Aku akan pulang segera setelah rapat selesai.”

Aku membeku di tempatku berdiri. A…aku adalah notulis rapat? Otakku dengan cepat berputar mencari alasan dari semua ini. Keadaan Junjin terbalik dengan yang terjadi pagi itu. Sedangkan bersama Tiffany, semua hal terjadi seperti bagaimana sebelumnya. Aku mulai bingung dengan apa yang harus kulakukan. Segalanya terasa tidak benar. Semoga ini bukan pertanda buruk bagiku dan Tiffany.

“Siwon-ssi, gwaenchana? Keluarlah dari lift, kita sudah sampai. Kau akan ke ruanganmu dulu atau langsung ke ruang rapat?”

Aku mendongak dan melambaikan file-file yang sedari tadi kugenggam. Aku ingat sebelum rapat, terlebih dulu aku ke ruanganku untuk menaruh ponsel. Aku pikir sekarang butuh ponselku daripada apapun, sebab aku harus menghubungi Tiffany sesering mungkin. Aku tidak ingin kehilangan kontak dengannya.

“Aku langsung ke ruangan rapat saja. Kajja, kita bersama-sama!”

 

Sebagian dari diriku masih takjub dengan apa yang sedang terjadi. Tebak apa? Bu Presdir terkesan dengan presentasi yang kami lakukan di hadapan Tuan Lee SooMan. Pria itu setuju dengan penawaran serta kontrak yang perusahaan kami ajukan. Tapi semuanya bukan berterima kasih kepadaku. Melainkan kepada Junjin.

Kebahagiaan yang kudapatkan di hari itu sekarang milik Junjin. Ia mendapatkan jabatan baru dan memimpin cabang perusahaan di Inggris. Aku ikut senang, mengingat ia baru saja mendapatkan kemalangan dalam hidupnya. Aku berjalan gontai menuju ruangan kerjaku dan melihat Yuri duduk di kursi kerjanya.

“Selamat Sajangnim, aku dengan rapatnya berjalan lancar!” ucap Yuri. Aku hanya tersenyum tipis.

Ne, kamsahamnida.”

Aku masuk ke ruanganku tanpa menoleh lagi kepada Yuri. Aku segera mengambil ponsel yang kusimpan di saku jas dan tanpa tedeng aling langsung menghubungi nomor Tiffany. Sambil menunggu panggilanku terjawab, mataku terpaku pada frame foto Tiffany yang terletak di atas meja. Aku menelan ludah. Sekarang aku mengerti kenapa saat itu benda tersebut terjatuh olehku. Ternyata sebuah  pertanda buruk yang kualami malamnya. Aku menggelengkan kepala dengan gerakan cepat seolah-olah mengusir memori buruk di dalam ingatanku.

“Tiffany, jawablah telfonku,” gumamku gemas. Kenapa Tiffany tidak kunjung menjawab panggilanku? Apa yang sedang dilakukannya? Aish! Kekesalanku semakin bertambah ketika mendengar tanda pesan suaranya.

Aku mematikan ponselku kemudian keluar ruangan. Sepertinya Tiffany tidak membawa ponsel. Apa ia tidak ingat pesanku tadi pagi? Ah, aku harus ke the Romantics. Aku takut ia menyusulku kemari. Ada perasaan paranoid padaku jika memikirkan Tiffany dengan kendaraan. Walaupun katanya hari itu ia ke kantorku dengan diantar Jessica, tapi tetap saja ia ada di dalam kendaraan. Tunggu! Tadi pagi pastilah ia juga berangkat dengan taksi atau dijemput temannya! Aish, untung saja itu tidak terpikirkan olehku? Kalau tidak pasti akan menjadi beban pikiran olehku di ruang rapat.

“Yuri-ssi, aku keluar sebentar. Jika ada yang mencariku, katakan saja aku keluar untuk urusan keluarga,” titahku pada Yuri.

Nde, arraseo Sajangnim.”

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk berada di jalanan menuju tempat les dimana Tiffany bekerja. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kantorku. Di tengah perjalanan aku terus menghubungi ponsel Tiffany, namun hasilnya sama. Tidak ada jawaban. Aku menekan pedal gas lebih dalam, tak sabar ingin mencarinya di the Romantics.

Oh Tuhan, lindungilah langkahku dan langkahnya! Aku sangat khawatir saat ini. Aku berjanji akan membuatnya lebih bahagia dan menghabiskan waktu lebih sering bersama. Tuhan sudah memberiku kesempatan kedua, maka aku adalah orang bodoh jika menyia-nyiakannya.

Sampai di the Romantics, aku segera keluar dari mobil dan masuk ke bangunan berlantai dua tersebut. Kakiku berlari menuju ruang pengajar karena siapa tahu Tiffany sedang berada disana. Jantungku berdegup kencang tanpa alasan. Apa sebenarnya yang kutakutkan? Padahal waktu kematian Tiffany bukan siang hari seperti ini! konyol!

Aku mengetuk pintu ruangan staff setelah tiba di depannya. Aku terus mengetuk dengan tidak sabar. Ini adalah jam makan siang, mungkin saja Tiffany sedang beristirahat.

CLEK

Pintu terbuka dan aku tidak melihat Tiffany di hadapanku, melainkan Taeyeon. Mataku dengan liar memandang ke dalam. Tidak ada siapa-siapa!

“Oh? Siwon Oppa?”

“Taeyeon-ssi, dimana Tiffany?” aku langsung menanyainya. Tidak peduli dengan ekspresi heran sahabat tunanganku itu.

“Fany masih gladi resik di aula? Ada apa, Oppa?”

Aku menghela napas lega. Syukurlah Tiffany masih disini. Aku takut ia benar-benar menyusulku seperti hari itu. Aku tersenyum kepada Taeyeon sambil menepuk bahunya dua kali. Tidak baik membuatnya heran seperti ini.

Gwaenchana, Taeyeon-ssi. Kalau begitu, aku akan ke aula. Bukankah sekarang saatnya makan siang? Kenapa masih bekerja?” ujarku. Istri dari Park Leeteuk itu tersenyum manis.

“Oh, ne. Aku sedang menunggu Yoona, Tiffany dan Jessica. Tapi sepertinya mereka masih membenahi aula bersama anak-anak. Kalau begitu, aku juga akan kesana bersamamu. Kajja!”

Aku mengangguk setuju. Taeyeon berjalan di depanku menuju ruang aula. Nanti malam perayaan ulang tahun the Romantics akan diadakan disana. Aku sudah tak sabar melihat penampilan Tiffany malam ini. Ia selalu tampak menawan jika bermain flute, mengenakan dress cantik dengan rambut disanggul anggun. Sebenarnya Tiffany merubah-ubah penampilannya di setiap pertunjukkan, tapi aku paling menyukai style yang kusebutkan tadi. Hehehe.

“Fany-ah, lihat siapa yang datang!” seru Taeyeon saat kami memasuki aula. Aku melihat Tiffany membalikkan tubuhnya dan terkejut melihatku. Ia sangat cantik dengan celana training dan T-shirt kebesaran di tubuhnya. Oh sedang latihan rupanya! Aku melihat Jessica sedang berlatih vocal tak jauh dari Tiffany berdiri dan Yoona yang sibuk mendekorasi panggung bersama beberapa anak-anak serta staff lainnya.

“Siwon Oppa?!” seru Tiffany seraya berjalan cepat ke arahku. Aku merentangkan tangan ingin memeluknya, tapi Tiffany dengan cepat mengelak. Ia tertawa kecil membuat eye smile nya terlihat jelas.

Waeyo? Kau tidak ingin memelukku?” tanyaku sambil pura-pura cemberut. Ia mengaitkan tangannya di lengan kiriku.

“Bukannya begitu, Woody. Disini banyak anak didikku. Aku takut kita memberi contoh yang tidak baik untuk mereka,” alasan Tiffany.

Mwo?” ucapku protes. Apa aku harus mengatakan padanya kalau ada diantara anak didiknya yang bertingkah seperti orang dewasa? Sudahlah, biarkanlah Sehun tetap seperti itu -_-

“Ck, Oppa. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau rapat dengan—“

“Aku merindukanmu, Mushroom. Aku ingin menghabiskan siang ini denganmu,” selaku. Aku sangat tulus mengatakan ini dan aku harap ia mempercayaiku. Tiffany menatapku dengan senyum kecil di bibirnya. Ia tampak tersanjung serta senang.

“Yah, jangan bergurau!” desisnya.

“Aku tidak bergurau sama sekali. Aku benar-benar merindukanmu, Tiffany Hwang. Kajja, kita pergi makan siang berdua!”

Tiffany memelukku sekilas tapi aku tidak melepaskannya untuk beberapa detik. Kami hanya tertawa menyadari peringatan yang Tiffany katakan tadi sudah tidak berlaku lagi. Kini semua mata melihat ke arah kami.

Aigoo, kalian ini,” kata Jessica seraya menghampiri kami. Ia berjalan bersama Taeyeon, sedangkan Yoona masih di atas panggung untuk menyuruh anak-anak didiknya makan siang ke belakang panggung.

Annyeong, Sica-ssi!” ucapku. Sebelah tanganku masih terkait di pinggang Tiffany.

Annyeong, Oppa. Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu,” balas Jessica.

“Baik. Mianhae, apakah aku mengganggu jam latihan kalian?”

Aniya. Sebentar lagi kami juga akan makan siang,” jawab Jessica seraya mengibaskan tangannya di udara. Saat itu Yoona, maknae dari kelompok mereka sekaligus pemilik tempat ini bergabung dengan kami. Ia sedikit membungkuk dan aku pun membalasnya.

“Erm, Yoona-ssi. Bolehkah aku meminjam Tiffany untuk beberapa jam? Aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Tapi tenang saja. Akan kupastikan ia tetap hadir di acara nanti malam,” ujarku. Yoona, Jessica dan Taeyeon tertawa kecil, sedangkan Tiffany menunduk malu.

“Tentu saja boleh, Oppa. Apa kau tahu, sejak pagi ia kebingungan karena ponselnya tertinggal di apartemen. Ia selalu panik jika tidak bisa memantau keadaanmu,” Yoona berbicara diselingi tatapan-tatapan menggoda kepada Tiffany.

Aku melihat wajah Tiffany sudah memerah layaknya kepiting laut yang matang direbus. Benarkah ia selalu mengkhawatirkanku? Dan benar saja, ia meninggalkan ponselnya. Aish, benar-benar pelupa gadisku ini.

“Kalau begitu, kami akan pergi sekarang,” ucapku.

“Nde, Oppa. hati-hati menyetir!” balas Taeyeon.

“Jangan lupa kembalikan Tiffany pada kami sekurang-kurangnya jam 7 nanti karena acara akan dimulai jam 8 malam!” Jessica mengingatkan.

Arraseo. Annyeong!”

Aku menarik tangan Tiffany keluar dari aula. Ia tidak berhenti tersenyum dan tersipu sejak tadi. Apa ia benar-benar sesenang itu? Aku mengacak-acak rambutnya dengan gemas.

“Oppa, memangnya kau akan mengajakku kemana? Penampilanku tidak serasi denganmu,” katanya saat kami memasuki mobilku.

“Makan siang di tepi pantai. Otte?”

 

 

Kami sampai di sebuah restoran seafood tepi pantai setelah 20 menit di dalam mobil. Cuaca sedikit mendung dan wajar saja jika nanti malam akan turun hujan. Aku dan Tiffany memesan beberapa menu makanan tapi tidak memesan ikan. Aku tahu ia alergi dengan ikan laut. Aku menyadari kalau Tiffany tidak lepas memandangiku. Ia masih tersenyum-senyum senang.

“Kenapa kau selalu tersenyum? Apa wajahku mirip Woody lagi?” godaku. Ia menggelengkan kepala.

“Bukan itu, Oppa. Aku masih heran sekaligus senang dengan sikapmu yang tiba-tiba romantis seperti ini. Ada apa sebenarnya? Apa hasil rapatnya memuaskan?” ungkapnya.

“Hmm, hasilnya sangat memuaskan. Junjin mendapatkan jabatan baru dan aku tetap disini,” aku berhenti sejenak. Jika saat ini aku hanya seorang notulis, kemungkinan Tiffany juga tahu aku hanya seorang notulis. “Ya, seperti itulah.”

Tiffany tersenyum bangga sambil menepuk-nepuk lenganku. “Aku bangga pada Woodyku. Dari awal aku sudah yakin kalau kau bisa menjadi notulis yang hebat, Oppa.”

Nah! Benar, kan?

Pesanan kami pun datang. Tiffany yang memimpin doa sebelum kami makan. Aku memandangi wajah cantiknya ketika membacakan doa. Begitu bercahaya dan menyejukkan hatiku. Wanita seperti inilah yang akan membuatku bahagia seumur hidup. Aku bersyukur tidak menjadi presenter dalam rapat tadi. Kalau tidak, aku akan dipindahkan ke Inggris dan Tiffany belum tentu akan bersedia ikut denganku.

Tapi sekarang ia makan sedikit dari biasanya. Saat kutanya, dia hanya mengatakan kalau melihatku makan saja dia sudah kenyang. Hahaha, dia selalu bisa menghiburku.

Aku harap sampai malam ini semua akan baik-baik saja.

 

 

Gomawo, Oppa, untuk siang ini. Pikiranku rileks sekali setelah makan siang dan jalan-jalan denganmu. Sebaiknya kau kembali ke kantor sekarang.”

Nde, arraseo. Aku akan ke kantor dulu, setelah itu akan langsung menghadiri acaramu malam ini.”

Tiffany menarik dasiku hingga wajah kami berdekatan. Ia memberikan ciuman lembut di bibirku yang tentu saja langsung kuperdalam. Aku memegangi tengkuknya agar ia tidak cepat-cepat melepaskan ciuman. Aku menyesap bibir bawahnya dengan lembut dan melumatnya secara perlahan. Aku bisa merasakan senyuman Tiffany di bibirku.

Saranghae, Choi Siwon,” desah Tiffany setelah ciuman kami akhirnya terlepas. Aku mencium pipi kanannya cukup lama dan lekat.

Nado. Salamku untuk teman-temanmu,” ucapku. Tiffany mengedipkan sebelah matanya dan membuka pintu mobil.

“Hati-hati menyetir, ne! Nanti jangan sampai terlambat!”

“Oke, Mushroom!”

 

Inilah malamnya. Malam mengenaskan seumur hidupku. Tapi aku berjanji akan merubah segalanya. Beruntung aku tidak mendapatkan jabatan yang diberikan Bu Presdir kepada Junjin. Dulu aku memang selalu berambisi untuk posisi itu, namun sekarang hal itu tidak begitu penting bagiku. Saat ini dan selamanya Tiffany adalah tujuan hidupku.

Aku berangkat dari apartemen dari pukul 19.30 malam. Tiffany pasti senang melihatku hadir sebelum acara dimulai. Aku berpakaian sederhana, hanya kemeja sutra berwarna pink pastel dan celana jeans hitam. Di tengah perjalanan menuju the Romantics, aku berhenti di toko bunga pinggir jalan.

Aku parkir di bahu jalan dan setelah itu keluar dari mobil. Aku masih ingat malam itu aku membeli satu buket bunga mawar merah dari seorang Nenek di perempatan lampu lalu lintas. Saat itu sudah lewat dari jam 19.30 waktu setempat. Jadi mustahil bagiku untuk bertemu dengannya nanti di tempat yang sama. Padahal sebenarnya aku sangat penasaran dengan perkataannya malam itu.

Nenek itu berkata seolah-olah ia tahu bagaimana hubunganku dengan Tiffany. Aku jadi tak habis pikir. Sejak menemukan Tiffany pagi ini dalam keadaan sehat dan tidak terjadi apa-apa, hidupku berubah 180 derajat! Aku bisa merasakan cintaku yang ternyata melebihi apapun kepadanya. Coba saja sejak dahulu aku seperti ini.

Saat akan memasuki toko bunga, tanpa sengaja aku menabrak seseorang dengan cukup keras, menyebabkannya terjerembab ke aspal. Aku terkejut lalu dengan cekatan mengangkat tubuh itu. Ternyata seorang wanita tua yang menurutku tidak baik berjalan-jalan sendirian tanpa ditemani keluarganya itu.

Ch…changkamman! Aku tertegun ketika melihat pakaian lusuh wanita tua ini. Terlebih lagi dengan sebuket bunga yang dipegangnya. Sepertinya aku mengenali wanita ini. Aku sedikit menunduk untuk melihat wajahnya karena ia tidak kunjung mendongakkan kepala. Bukankah…bukankah ia…Nenek penjual bunga?

Entah mengapa jantungku berdegup sangat kencang ketika benar-benar melihat wajahnya. Ya, benar! Ia adalah Nenek penjual bunga. Nenek itu kini memandangku dengan senyum kecil di wajahnya. Aku tidak dapat bicara untuk beberapa saat.

“Kita bertemu lagi, Nak. Bagaimana semuanya berjalan? Apakah kau baik-baik saja?” tegurnya.

Aku semakin terkejut. Ba…bagaimana ia tahu kalau kita pernah bertemu? Maksudku, pengulangan waktu yang kualami tentu saja hanya aku yang mengetahuinya. Tapi Nenek ini tahu kalau ia pernah bertemu denganku. Aku merasa ngeri sesaat. Ada apa dengan diriku atau dunia ini yang sudah tidak benar?

“Jangan bingung, Anakku. Kau masih berada di dunia nyata. Hanya aku yang tak nyata,” tambah Nenek itu. Aku tercekat.

M..mwo? Apa maksud Halmonie? Halmonie tahu apa yang terjadi pada diriku?” tanyaku dengan suara tertahan. Nenek itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Nde. Kau sudah senang akhirnya mendapatkan apa yang kau inginkan?” tanya Nenek tersebut dengan nada setenang mungkin.

Aku menelan ludah. “A-aniyo. Halmonie, aku…aku masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Tiffany, tunanganku, kembali padaku pagi ini. Dia sehat dan tidak terluka sedikitpun.”

Lalu Nenek penjual bunga itu tertawa. Cukup keras namun anehnya tidak ada seorangpun yang menyadari ( kami berada di depan toko dan di jalan itu banyak orang lalu lalang ). Aku melihat ke kanan dan ke kiri. Mereka semua tidak peduli dengan kami.

“Itu bagus, kan? Bukankah itu yang kau inginkan? Kekasihmu kembali ke sisimu lagi?” tanya Nenek penjual bunga dengan sarkastis.

Aku tidak berani menjawab. Aku memang menginginkan itu semua. Tapi aku tidak ingin melihat Junjin kehilangan calon bayi mereka serta aku masih bingung kenapa bukan aku yang mendapat jabatan baru di perusahaan tempatku bekerja, walau sebenarnya sekarang aku tidak tertarik lagi. Aku hanya penasaran.

“Kau sendiri yang meminta keadaan terbalik dari yang sebenarnya, Anakku. Apa kau masih tak senang Tuhan telah mengabulkannya? Jangan terlalu serakah, Nak. Sekarang tugasmu masih ada sampai pukul 22.30 malam ini. Kau harus mencegahnya sebelum terjadi.”

Aku belum bisa membuka mulutku. Tuhan telah mengabulkan permintaanku? Kapan aku telah memintanya?

“Jangan beli bunga di toko ini. Harganya sangat mahal. Lebih baik kau berikan bunga-bunga ini kepada kekasihmu. Ia pasti sangat senang.”

Nenek penjual bunga itu memaksaku memegang bunga-bunga dari tangannya. Kemudian ia menepuk pundakku dua kali sambil berkata, “kau memintanya malam itu. Bodoh sekali kau melupakannya. Kalau begitu, selamat tinggal. Jangan sampai kita bertemu lagi.”

Aku berusaha membuka mulut untuk memanggil Nenek yang sudah berbalik meninggalkanku. Tapi mulut serta kakiku sulit untuk kugerakkan. Anggota tubuhku melawan pikiranku sendiri. Aku bagaikan patung batu yang memandangi Nenek itu semakin jauh berjalan. Ia melenggang santai dan sedikit demi sedikit tubuh kurusnya mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Nenek tersebut seperti berjalan menuju cahaya terang di hadapannya, tidak peduli dengan orang-orang sekitar. Anehnya lagi hanya aku yang menyadari keberadaan Nenek dan cahaya tersebut!

Aku merinding. Seketika, bagaikan tersambar petir yang sangat cepat, Nenek itu pun menghilang bersamaan dengan redupnya cahaya! Tubuhku terhuyung seakan-akan baru lepas dari jerat yang sangat ketat. Aku berpegangan pada tiang lampu di dekat sana karena takut tumbang tiba-tiba. Keringatku bercucuran dari dahiku.

Aku tidak bermimpi, aku yakin itu! Bunga mawar yang sama dengan malam itu sekarang berada di tanganku. Bunga-bunga ini nyata. Tapi siapa sebenarnya Nenek itu? Tentu saja tidak ada manusia yang dapat menghilang seperti dia!

Aku mulai memahami perkataan makhluk tersebut. Dia mengatakan kalau aku sendiri yang memintanya malam itu. Sekarang aku baru mengingatnya. Aku mengerti.

Jika Tuhan memberiku kesempatan kedua dalam hidup ini, aku berjanji akan merubah segalanya. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Aku rela menukarkan kebahagiaanku demi Tiffany.

Itulah yang kupinta pada malam sebelum kehadiran Tiffany dalam hidupku lagi. Aku menyatakan kalau aku rela menukarkan kebahagianku demi Tiffany. Memang itulah yang terjadi. Aku tidak mendapatkan jabatan baru yang sebelumnya untukku. Aku juga tidak berbahagia dengan kehilangan calon bayi Junjin. Namun Tuhan memberi Junjin pengganti kehilangannya, yaitu jabatan itu.

Jika dipikirkan kembali memang terdengar gila. Hal bahagia berubah menjadi menyedihkan, begitu pula sebaliknya. Aku mencoba berdiri tegak kemudian memandangi bunga mawar segar pemberian makhluk yang menyamar menjadi Nenek itu. Tinggal satu lagi kejadian buruk yang semestinya berubah menjadi menyenangkan. Dan inilah yang terpenting!

Aku ikut bertepuk tangan dengan para penonton lain di aula itu. Aku duduk di bangku deretan paling depan, sehingga Tiffany dapat melihatku. Penampilannya dengan anak-anak paduan suara sangat memukau dan terdengar sangat merdu di telingaku. Suara-suara itu merasuk ke dalam batinku yang entah mengapa membuatku damai. Tiffany menggandeng tangan Sehun yang berdiri di dekatnya, kemudian mereka membungkuk hormat bersama-sama kepada penonton.

Kami para penonton masih bertepuk tangan kagum dengan pertunjukkan yang mereka suguhkan beberapa saat yang lalu. Anak-anak asuhan The Romantics memang sangat berbakat, terutama pengajar-pengajar mereka. Tiffany, Taeyeon, Jessica dan Yoona. Wanita-wanita itu yang telah berjasa ikut mengembangkan bakat murid-muridnya.

Acara telah selesai. Aku segera ke belakang panggung untuk menemui Tiffany-ku. Ia masih bergembira dengan Sehun dan Baekhyun di depan meja rias. Aku bisa melihat Tiffany meletakkan bunga-bunga pemberianku tadi di atas mejanya. Di sudut-sudut lain backstage aku juga melihat Yoona, Taeyeon dan Jessica bersama pasangan mereka masing-masing. Semua orang berbahagia seperti sebelumnya. Bedanya sekarang, aku lebih rinci melihat keadaan sekitarku. Sebelumnya aku bahkan tidak memperhatikan mereka.

“Siwon Hyung! Bagaimana penampilan kami!” seru Sehun penuh semangat.

“Apakah suara kami bagus? Jangan-jangan Hyung hanya memperhatikan Noona!” sahut Baekhyun. Aku tertawa seraya mengacak-acak rambut kedua pria kecil itu. Aku berjongkok di hadapan mereka, sedangkan Tiffany hanya tersenyum-senyum memperhatikan kami.

“Kalian semua daebak. Tanpa terkecuali! Kelak kalian akan menjadi penyanyi terkenal,” pujiku pada Sehun dan Baekhyun, membuat rona merah di pipi mereka.

Jinjja, Hyung? Wah, kamsahamnida! Aku juga berharap seperti itu!” tukas Baekhyun senang. Aku mengangguk tegas. Lalu aku melihat Sehun mendongak kepada Tiffany. Ia mengambil bunga mawar yang ada di saku depan jasnya, kemudian menyodorkannya kepada Tiffany.

“Noona, ambillah bunga ini sebagai ucapan terima kasih dan kagumku padamu. Sebenarnya aku ingin memberinya tadi sebelum pertunjukkan dimulai, tapi saat melihat Hyung memberimu bunga yang lebih banyak, aku jadi tidak percaya diri,” ungkapku.

Aku dan Tiffany saling pandang. Perasaan pria kecil ini tidak berubah. Ia masih mengagumi kekasihku. Aku tersenyum kepada Tiffany dan mengedipkan mata. Melihat itu Tiffany langsung mengambil bunga pemberian Sehun.

Gomawo, Sehun-ah. Walaupun kau hanya memberiku satu tangkai, tapi rasa senangku sama dengan sebuket bunga mawar pemberian Siwon Oppa,” ujar Tiffany. Sehun tersenyum polos. Baekhyun yang berdiri di samping Sehun menyikut sahabatnya itu.

“Sehun-ah, bukankah tadi kau ingin meminta Tiffany Noona mencium pipimu?” tanya Baekhyun polos. Aku dan Tiffany menahan tawa, sedangkan Sehun menunduk malu. Anak-anak ini memang sangat lugu.

Baby, sebaiknya kau turuti permintaannya,” bisikku di telinga Tiffany.

Nde,” balas Tiffany.

Tiffany menarik Sehun mendekat kemudian mencium kedua pipi bocah tersebut. Aku bisa melihat Sehun menahan napas karena terlalu senang. Ia memandangi Tiffany penuh minat sementara wajahnya benar-benar memerah.

Mianhamnida, Siwon Hyung! Gomawo, Tiffany Noona! Aku… pergi dulu. Kajja, Hyunnie!” tukas Sehun dan menarik tangan Baekhyun untuk pergi dari sana. Aku masih tertawa melihat tingkah Sehun dan Baekhyun, sampai akhirnya Tiffany mencium pipiku cukup lama.

Aku berhenti tertawa dan menatap wajah Tiffany dengan mata yang kurasakan berbinar-binar.

“Dan untuk apa itu?” tanyaku lembut. Tiffany mengalungkan tangannya di leherku, tidak peduli dengan anak-anak serta staff yang masih tersisa di backstage.

“Ucapan terima kasihku padamu. Neomu kamsahamnida, my Woody. Untuk pagi ini, siang ini dan khususnya malam ini. Aku bahagia sekali,” ungkapnya.

Terima kasih Tuhan! Aku berhasil membuat Tiffany bahagia. Walaupun waktu kecelakaan itu hampir tiba, aku tidak terlalu khawatir. Sebab Tiffany ada di genggamanku sekarang. Aku memeluk pinggang Tiffany cukup erat dan mencium keningnya.

“Itu sudah menjadi tugasku untuk membahagiakanmu. Neomu saranghae,” ungkapku tulus. Tiffany menggigit bibir bawahnya.

“Lalu, kau pikir aku tidak mencintaimu?” godanya. Aku tertawa lega kemudian ia menutup tawaku dengan ciuman tiba-tiba. Awalnya aku terkejut namun tidak menolaknya. Tentu saja aku tidak menolaknya! Aku bahkan memperdalam ciuman kami. Bibirnya membalas lumatanku dengan lembut. Aku suka tekstur dan wanginya. Tiffany benar-benar terasa manis sekaligus menakjubkan. Tidak ada yang lebih bahagia daripada memeluknya, menciumnya serta mencintainya.

Aku berlama-lama menciumnya. Aku menciumnya seperti tidak ada lagi hari esok. Aku mereguk kemanisan di mulutnya secara berulang-ulang. Jika kami menarik napas untuk mengambil oksigen, bibir kami tidak terlepas sedikitpun. Aku merasakan hasratku mulai menanjak apalagi merasakan sentuhan tangan Tiffany di punggung serta leherku.

Tiffany adalah Surga-ku.

“Ehem! Ng…Fany-ah! Tiffany?”

Mendengar suara itu, otomatis Tiffany melepaskan ciuman kami. Aku ikut menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata Taeyeon, Leeteuk, Jessica, Dongwook, Yoona dan Kyuhyun telah berdiri di dekat kami. Tepatnya menonton apa yang sedang kami lakukan. Aku berdehem penuh wibawa, sedangkan mereka menahan senyuman. Kecuali Kyuhyun, tunangan Yoona. Aku dengar dari Tiffany, Kyuhyun ini sangat jahil. Pantas saja ia tidak berhenti tersenyum lebar padaku.

“Erm.., ne, Taeyeon? Ada apa?” tanya Tiffany gugup. Ia masih menutup mulutnya. Mungkin malu dengan bibirnya yang sedikit membengkak karena kucium dengan menggebu-gebu.

“Tidak apa-apa. Kami hanya ingin mengajak kalian pergi minum untuk merayakan suksesnya acara ini,” jawab Taeyeon.

 

“Kenapa kita tidak ikut dengan mereka saja, Baby?”

“Aku sedang ingin berdua saja denganmu, Oppa. Kajja, kita pulang.”

Tiffany menolak ajakan Taeyeon dan yang lainnya untuk pergi minum bersama. Padahal tidak ada salahnya bergabung bersama mereka. Tapi Tiffany sepertinya sedang ingin bermanja-manja denganku. Baiklah, aku juga sudah tidak sabar.

Kami sampai di apartemen bertepatan dengan jam saat aku dan Tiffany ke Champ Ailee. Betapa bahagianya diriku akhirnya dapat menghindari kecelakaan tersebut. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, sementara Tiffany ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Aku melipat tangan di belakang kepalaku dan menatap langit-langit. Di luar hujan turun dengan lebatnya, membuat memori buruk itu kembali terngiang-ngiang di kepalaku. Aku menggeleng-geleng dengan cepat, seakan-akan ingatan itu bisa terusir dari dalamnya.

Mulai dari malam ini, semuanya akan lebih baik. Aku sangat bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan kepadaku. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan Tiffany. Melihatnya bahagia seperti itu, rasanya aku tidak membutuhkan apa-apa lagi. Ternyata dialah yang membuat hidupku sempuran, bukan harta bahkan jabatan.

“Ng…Siwon Oppa?”

Aku langsung duduk ketika mendengar Tiffany memanggilku. Ia sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi, terlihat khawatir. Aku menghampirinya.

“Ada apa, baby?” tanyaku seraya menangkup wajahnya. Ia memandangiku dengan tatapan ragu dan khawatir.

“Si…Siwon Oppa, aku…aku—“

Kenapa lagi ini? Kenapa dia seperti orang ketakutan seperti itu?

“Katakanlah, ada apa? Kau kenapa?” desakku.

Kemudian ia menangis. Airmatanya jatuh di pipinya yang lembut. Hatiku mencelos. Apa terjadi sesuatu yang buruk? Aku menangkup wajahnya lebih erat.

Baby, katakan cepat! Kau kenapa?”

Lalu ia tersenyum ragu-ragu. Betapa membingungkan! Ia mengangkat tangannya dan baru kusadari ia memegang sesuatu. Apa itu? Mataku melebar. Bukankah itu…testpack?

“Oppa, aku positif hamil.”

Kali ini aku sungguh tercengang luar biasa. Mataku saja tidak berkedip memandangi Tiffany. Ia hamil? Ba..bagaimana bisa?! Ini diluar dugaanku. Kami memang tidak hanya sekali melakukannya jadi tidak menutup kemungkinan ia bisa hamil. Tapi, semua ini terasa sangat janggal.

“Oppa, aku takut kau tidak menerimanya. Akhir-akhir ini aku selalu mual dan nafsu makanku berkurang. Jujur saja, tadi pagi aku tidak sarapan bersama Yoona. Dan siang tadi saat makan siang denganmu, aku memuntahkan kembali semuanya saat permisi ke toilet. Mianhae, Oppa. Aku tidak memberitahumu sebelumnya.”

Aku masih menatapnya tak percaya. “Fany-ah, baby, bukankah kau sedang datang bulan? Ke-kenapa kau bisa hamil?”

Tiffany mengernyitkan kening. “Datang bulan? Aniyo. Kapan aku mengatakannya? Darimana kau tahu? Mana mungkin aku hamil saat sedang datang bulan. Silly!”

Omo, aku lupa kalau sekarang semuanya terbalik. Jadi, Tuhan menggantikan kematian Tiffany pada saat itu dengan calon bayi kami saat ini. Kematian dan kehidupan baru. Aku tersenyum bahagia dan tanpa terasa airmataku mengalir. Semakin lama semakin deras. Aku tidak malu menangis di depan Tiffany.

Sungguh Tuhan memberiku kehidupan yang sangat patut kusyukuri setiap detiknya.

Aku masih memegangi wajah Tiffany saat menundukkan kepala. Tangisanku tidak dapat berhenti. Ini airmata bahagia. Tidak ada sedikitpun kesedihan di dalam hatiku. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.

“Oppa, gwaenchana? O-oppa, jika kau tidak menginginkan bayi ini maka—“

Silly, pabo! Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku sangat menginginkannya. Bahkan lebih dari hidupku. Oh, Tiffany! Aku bahagia sekali!” racauku lalu memeluk tubuhnya erat.

Jinjja, Oppa? Oppa gomawo!”

Aku melepaskan pelukan dan menciumi wajahnya bertubi-tubi. Tiffany tertawa kegelian dengan tingkahku. Hidupku sempurna, hidupku sempurna! Aku terus mengulangi kalimat itu dalam hati. Aku tak sanggup lagi berkata-kata demi mengungkapkan kebahagiaanku. Hanya satu cara yang bisa melengkapi kesempurnaan ini.

Pernikahan. Ya, aku akan menikahi wanita luar biasa ini. Aku akan menjaga hidupnya dengan hidupku, menjalin cintanya dengan cintaku, serta mencintai calon anak kami. Darah dagingku.

“Saat ini aku hanya mampu mengucapkan aku mencintaimu, Tiffany Hwang. Aku sangat sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini, Choi Siwon.”

 

 

-End-

 

 

 

 

 

 

Cuap-cuap!

Annyeong readers^^ Echa disini!

Udah pernah nonton film If Only belum? FF ini terinspirasi dari film itu. Awalnya mau bikin sama persis, tapi tokoh utama cowoknya mati L hiks! Nah, oleh sebab itu saya improve semuanya. Tanggung-tanggung improve, saya bikin versi sendiri aja deh. Hahaha yang penting mengkhayal! Hahaha #abaikan

Untuk itu, selamat membaca readers tercintah! Semoga suka, ne! Makasih juga buat dukungan untuk FF-FF saya sebelumnya *bow*

Diminta saran dan kritikan yang membangun. Sampai jumpa di FF selanjutnya! Kalau punya ide cerita, boleh dong bagi-bagi hehehe😀. Papay^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

74 thoughts on “[Re-Post] If Only

  1. Idihhh, daebakkk! Aku kira ffnya masih ada kelajutannya, eh gataunya cuma oneshoot.. Tapi bener” keren thorr, aku kira fany eonni itu beneran meninggal, dan ada kembaran fany eonni gitu, eh gataunya keajaiban datang, haha. Next fanfic selanjutnya ya thor.. hihihi^_^

  2. Bahagia banget mereka bisa kembali bersama.. Kirain udah mau end pas tiffany meninggal, eh ternyata siwon di kasih kesempatan kedua… Syukur deh kalau gitu, akhirnya mereka happy ending🙂

  3. Huuuiiihhhh untungnya itu cuma mimpi jd siwon oppa bisa memperbaiki kesalahannya pdhl aku udah sedih banget dikirain beneran Tiff meninggal. Finally akhir yg jd favorit aku…happy ending. Siffany daebak!

  4. Hihi di repost nihh, tetep dpt feel nya udh pasti klo ff nya kereenn bgt, woody and mushroom miss bgttt 💑❤😂😂 mau lagii kangen ff eonni yg oneshoot smpk pnjng sgini wkwkwkk 😄😄😄 okay ditunggu deh new ff nya lagi😊 btw ff yg kolaborasi *eh* xD ff nya keren eon ditunggu jga itu klnjutannya😍😘

  5. Hyaaaaaayyyy…. kak echa lega sumpah!!! Aku berharap itu si siwon cuma mimpi ternyata beneran mimpi. Senangnyaaaaaaah 😂😂😂 aku binging koment apa lagi selain seneng dan lega. Pokoknya sukses dah buat ini! semangat juga kak! Ayook cepetan update lagi ff buatan kk hehehe 😍

  6. kerennnn….. pas tiffany udh dinyatakan meninggal udh deg deg’an gimana kelanjutan hidupnya siwon. ehh ternyata siwon cuma mimpi,terus kabar bahagianya tiffany hamil yeayy..🙋🙌
    maaf baru coment thor soalnya pembaca baru disini

  7. Daebak🙂 Keren ceritanya. Kata katanya bikin kayak ngerasain sendiri kejadiannya.
    Happy, Sad, ada semua lengkap deh apalagi “ROMANTIS” -nya dapet banget
    Siwon oppa yang tadinya cuek sama Tiffany eonni tiba – tiba protective banget😀
    lucu banget haha^^ Saranghae<3<3<3

  8. deuuuuuuuuuuuuuh pagi2 dkasih hot kiss awawawwww :*
    woody choi hhhhhh
    sweet bgt dah ini pasangan! emg sll sweet sih kkkkk
    tp sebel bgt sm wonpa! ga peka bgt! aq jg muak kaia tiff klo wonpa gt trs! romantis tp ga peka! ~_~
    oooooooooooh jd ksempatan kdua itu bnr2 brguna bgt! tp keadaan trbalik gt. kn jrg2 ada ksempatan k2 happy ending. biasa’a malah yg dkasih ksempatan k2’a yg meninggal😥 ini mh engga😀
    bgus lh d ksempatan k2 ini wonpa bnr2 intropeksi diri🙂 tp ksian istri;a junjin keguguran😥 yg sbr yah smoga scpt’a dpt baby lg😉
    syukurlah akhir’a wonpa jg bkal pny baby>O< ga sbr pgn cpt liat baby'a psti kyute bgt!!❤

  9. keren nomunomu daebak,,,huuffttt,,,bner2,,1000jmpol deh buat author elsa fellnya dpet bnget n alurnya jgn d tnya,,terhanyut bnget aqidah bca nya,,,

  10. Setelah fany meninggal dlm kecelakaan,hidup siwon sangat berantakan dan terpuruk sekali,
    kasian sekali siwonnya.
    Namun dibalik semua itu,siwon diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahnnya,sekaligus fany dinyatakan positif hamil.chukae fany momy dan dady siwon.
    Saeng elsa,unnie ampai baca 2 kali lohhh.
    Abisnya awalnya kirain sad ending dgn meninggalnya tiffany,ehhh…..happy ending.
    Aiggo…..senangnya fany gak jadi meninggal.
    Thanks banget buat saeng elsa dan ffnya.
    Saeng elsa jjang,hwaiting.keep writing:-)
    SIFANY 4ever♡♡♡♡♡

  11. yeey…happy ending, untung aja siwon dikasih ksempatan kedua untuk mncegah kecelakaan yg dialami tiffany….siwon pasti bahagia bisa sama tiffany, apalagi ditambah ma calon aegy….

  12. Wah anugrah ta terhingga ini krn siwon diberi ksmptn utk perbaiki dri. sungguh bnr2 g bisa terbnyngkn n hal itu ubh sikp siwon. cintai fany dgn tulus n menjgny slmny. jnji siwon utk sll ad bg fany.
    hampir aj q g mw lnjutun bc krn fany hrs meninggal

    daebak utk autrhorny…

  13. Kirain fanny beneran meninggal hehe. Gak tau kenapa sebel aja kalau sad ending wkwk ..
    Keren thor . . Suka banget karakter siwon disini 😁
    Untung siwon masih dikasih kesempatan , coba kalau engga pasti nyesel banget dan pasti ff nya sad ending 😂 Keep writing kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s