TIME WILL BROUGHT US TOGETHER 2

TIME WILL BROUGHT US TOGETHER
© Elsa Mardian & Song HaneulPublish by Sifany Island

wpid-twbut.jpg 

Ω Time Will Brought us Together Ω
PART 2 by Elsa Mardian

“Begitu banyak waktu yang terlewat tanpa kebersamaan kita. Melupakanmu adalah hal tersulit. Siapa yang tahu takdir seseorang. Seberapa kuat kita melawan waktu untuk saling menjauh. Takdirlah yang menentukan akhir dari kisah ini.”

 

Author POV

 

Yoona tidak bergeming dari tempatnya untuk beberapa detik. Matanya tidak lepas memandangi sosok mungil yang berada di dalam gendongan Kyuhyun. Ada perasaan aneh yang menyelimuti relung hati Yoona. Juno pun membalas pandangan Yoona dengan bingung. Sebagai anak kecil yang polos, tentu saja ia senang gadis cantik seperti Yoona memandanginya. Juno pun menarik sudut-sudut bibir mungilnya kemudian membentuk senyuman manis, meskipun sedikit canggung.

“Noona, maafkan aku, ne!” Juno kembali meminta maaf. Kyuhyun hanya mendengus malas.

Melihat keramahan senyum Juno, mau tak mau mengundang sebuah senyum manis juga di wajah Yoona. Saat itu Kyuhyun terpaku. Meskipun Yoona tidak tersenyum untuknya, namun jantungnya berdebar kencang melihat pemandangan indah tersebut.

“Seharusnya Noona yang meminta maaf padamu, Juno. Namamu Juno, benar kan?”

Juno mengangguk semangat. Matanya yang tadinya sendu kini mulai sedikit cerah, membuat Yoona yakin kalau anak itu baik-baik saja. Kyuhyun berdehem, menginterupsi. Ia tidak ingin terpesona kepada gadis yang baru sekitar sepuluh menit lalu dilihatnya. Yoona meliriknya dengan pandangan tak suka. Jelas sekali mereka sama-sama merasa jengkel.

“Sepertinya kami harus pergi. Aku ingin memeriksa tubuh anak ini, memastikan apa ada tulang yang patah atau memar. Jika terjadi apa-apa padanya, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun,” ujar Kyuhyun hanya untuk membuat Yoona semakin kesal.

Yoona mendengus kasar. Ia tidak percaya kenapa ada pria seperti Kyuhyun.

“Kenapa kau berlebihan sekali, Tuan? Bukannya menjernihkan keadaan, kau bahkan semakin membuatku khawatir. Juno sendiri bilang kalau ia tidak apa-apa!” tukas Yoona.

Juno mengangguk lambat-lambat. Tatapannya sedikit takut pada Kyuhyun sebab ia baru saja membela orang asing.

Kyuhyun berdehem lagi. “Kalau begitu, ya sudah. Dasar gadis aneh. Kajja, Juno. Kita pulang!”

Yoona terperangah. Ia hanya bisa berdiri mematung di dekat mobilnya sementara Kyuhyun membawa Juno menuju mobilnya sendiri. Juno menoleh dan tersenyum ke arah Yoona kemudian melambaikan tangan mungilnya. Yoona mengerjap senang. Perasaannya sukses dibuat campur aduk oleh anak laki-laki yang berusia 5 tahun itu. Tangan kanan Yoona reflek membalas lambaian tangan Juno.

Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Juno dan anak itu dengan sigap langsung menaiki mobil mewah milik pria yang dipanggilnya Samchon tersebut.

“Pasang sabuk pengamanmu!” ucap Kyuhyun. Juno menurutinya. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Kyuhyun kembali melirik ke mobil Yoona dan terkejut melihat gadis itu ternyata masih berdiri disana, memandangi mereka. Kyuhyun mengakui kalau Yoona adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya. Walaupun menurutnya Miyoung juga sama cantiknya. Namun, ada aura Yoona yang membuatnya enggan melepas pandangan.

Kyuhyun menampilkan seringaian khas miliknya pada Yoona sebelum memasuki mobil kemudian menyetir pergi. Rasa heran Yoona masih belum habis demi melihat sikap Kyuhyun. Ia pun memutuskan untuk kembali masuk mobilnya dan melanjutkan perjalanan.

“Tch, baru kali ini aku melihat laki-laki seangkuh dia. Lagaknya seperti anak konglomerat saja. Benar-benar menyebalkan!” gerutu Yoona sebelum kembali menstater mesin mobil.

Sementara itu di dalam mobil Kyuhyun, Juno masih tersenyum-senyum sendiri membayangkan gadis yang baru saja bertemu dengan mereka. Senyuman Yoona membuat Juno senang. Kyuhyun menyadari hal itu. Ia melirik sekilas kepada Juno lalu tersenyum lebar.

“Hei, senyuman apa itu?” tanya Kyuhyun. Juno menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Noona itu cantik sekali ya, Samchon?” kekehnya.

Kyuhyun mendengus. “Kenapa kau masih saja mengingatnya? Dia kan hampir mencelakakan kita. Punggungku saja masih sakit.”

Juno mengelus-elus lengan Kyuhyun. “Sabarlah, Samchon. Nanti aku akan membantu mengoleskan krim pijat di punggungmu.”

Kyuhyun mengacak-acak rambut Juno dengan gemas. Selain pintar, anak itu juga baik hati.

“Ah, aku lupa menanyakan namanya!” celetuk Juno.

“Nugu?” Kyuhyun bertanya.

“Nama Noona Cantik tadi, Samchon. Aku lupa menanyakan siapa namanya,” jelas Juno.

“Yah, lagi-lagi gadis itu! Tidak perlu namanya, Juno-yah. Kita tidak akan bertemu dia lagi,” Kyuhyun cemberut. Juno menghela napas.

“Arraseo,” ucap Juno akhirnya. Ia memandang keluar jendela dan menikmati pemandangan yang dilaluinya. Juno senang jika Kyuhyun menjemputnya pulang dan membawanya ke rumah majikan Ibunya tersebut. Walau terkadang akhirnya Miyoung mengomel karena Juno akan bermain seharian dengan Kyuhyun. Tiba-tiba Juno tersentak mengingat sesuatu. Pagi tadi ia telah berjanji kepada Miyoung kalau akan menunggu Ibunya itu atau Tuan Hwang yang menjemputnya. Segera Juno menoleh kepada Kyuhyun yang masih berkonsentrasi menyetir.

“Samchon?”

“Ehm, apa lagi?”

“Apa Eomma yang menyuruh Samchon menjemputku? Karena tadi pagi Eomma berpesan kalau aku harus menunggunya atau Harabeoji yang menjemput,” ujar Juno.

Kyuhyun bungkam sejenak. Sejujurnya, Miyoung tidak tahu kalau Kyuhyun diam-diam menjemput anaknya. Kyuhyun pun sudah berniat kalau kali ini ia harus dapat bermain dengan Juno. Jika ia meminta izin terlebih dahulu kepada Miyoung untuk mengajak Juno bermain, dapat dipastikan Miyoung akan melarangnya.

“Samchon?”

“Engh…nde. Ibumu sedang sibuk mengurus tanaman, jadi ia meminta tolong padaku untuk mengantarmu pulang ke rumah kalian. Mmm, Juno-yah, biar aku temani sampai Ibumu pulang dari rumahku. Aku…mempunyai permainan baru. Otte?”

Mata Juno melebar senang. “Jinjja? Apakah Samchon juga akan mengajak Harabeoji bermain game nanti?”

“Mmm, lebih baik kita berdua saja. Aku takut Kakekmu itu bukannya bermain, tetapi malah tidur. Hihihi.”

“Hihihi.”

²² TWBUT²²

 

Miyoung memandang langit yang mulai gelap dan udara semakin terasa dingin. Bukan karena hari telah beranjak senja, melainkan sepertinya akan turun hujan lebat. Terlihat dari gumpalan besar awan hitam di atas langit. Miyoung saat ini bisa bernapas lega sebab Ayahnya yang akan menjemput Juno. Miyoung tidak bisa meninggalkan kebun Ny. Cho sebab masih banyak yang harus dibereskannya di dalam rumah kaca tersebut.

Sore itu Miyoung tidak bekerja sendirian. Ada Yoo Ja Ya Ahjumma yang menemaninya. Ja Ya Ahjumma adalah kepala pelayan keluarga Cho selama bertahun-tahun, bahkan semenjak Kyuhyun masih di dalam perut Ibunya. Wanita tua itu sangat menyayangi Miyoung. Hal itulah yang membuat Miyoung nyaman bekerja di rumah keluarga Cho.

“Miyoung, anakku. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Ja Ya Ahjumma.

“Tentu, Ahjumma. Apa itu?” balas Miyoung sambil terus mengisi tanah ke dalam pot.

Ja Ya Ahjumma tersenyum.

“Kau sangat cantik, mandiri dan cerdas. Apakah…tidak ada namja yang dekat denganmu?”

Mendengar pertanyaan itu, tangan Miyoung berhenti bergerak. Ia menatap lurus ke arah Ja Ya Ahjumma yang berdiri tepat di hadapannya. Miyoung tahu wanita itu perhatian padanya. Miyoung pun tahu kalau Ja Ya Ahjumma sama seperti Ny. Cho. Mereka berdua selalu saja menanyakan pertanyaan yang sama akhir-akhir ini. Terlebih sejak Kyuhyun sering bermain dengan Juno.

“Jangan tersinggung, Nak. Aku hanya menyayangkan kalau wanita sebaik dirimu belum memiliki pendamping. Juno juga membutuhkan seorang Ayah untuk bisa mengajaknya bermain dan memberinya kasih sayang.”

Miyoung tersenyum miris. Benar dugaannya. Pasti maksud Ja Ya Ahjumma adalah Kyuhyun. Kepala Miyoung menggeleng seraya melemparkan senyuman manis pada wanita di hadapannya.

“Ahjumma, aku tahu itu. Tetapi aku rasa aku bisa mengatasinya sendiri. Lagipula masih ada Appa. Aku sudah melalui ini selama 5 tahun Ahjumma dan aku sudah terbiasa. Aku menikmati mengurus anakku sendirian,” ungkap Miyoung lembut.

Ja Ya Ahjumma mendesah panjang. Wanita muda di depannya memang keras hati.

“Arraseo, Miyoung-ah. Mianhae.”

“Eiii, gwaenchanayo, Ahjumma. Terimakasih telah memperhatikanku.”

Miyoung telah berbohong, terutama pada hatinya sendiri. Alasan Miyoung sebenarnya bukan sepenuhnya seperti apa yang baru saja ia tuturkan. Hatinya masih terikat pada satu pria. Meskipun ia telah berusaha melupakannya. Kenyataan yang didapat Miyoung adalah, semakin kuat ia melupakan Siwon, semakin besar perasaan rindunya. Dan pada akhirnya Miyoung hanya bisa menyerah dengan hatinya sendiri.

 

²² TWBUT²²

 

“Wah, hujannya lebat sekali! Tapi dimana Kakekmu, Jun? Kau bilang ada Kakek di rumah.”

“Molla. Apa Kakek pergi berlayar lagi?”

“Tidak mungkin. Sekarang cuaca sedang buruk untuk pergi berlayar.”

Juno tidak menemukan Tuan Hwang di dalam rumah. Mereka berdua menemukan rumah dalam keadaan kosong. Miyoung tentu saja masih di rumah keluarga Cho dan Tuan Hwang mungkin sedang berada di suatu tempat. Kyuhyun sudah tidak sabar untuk menantang Juno bertarung dalam permainan baru yang baru saja ia beli. Tetapi mengingat anak itu baru saja pulang sekolah dan lelah, Kyuhyun menyuruhnya untuk makan dan beristirahat sejenak.

Kyuhyun sangat menyayangi Juno. Ia telah mengenal Juno sejak anak itu lahir ke dunia ini. Mereka juga cocok satu sama lain. Juno pun menganggap Kyuhyun seperti seorang sahabat baginya, bukan Ayah. Sebab sosok Kyuhyun yang mengajarkan padanya bagaimana menjadi seorang anak laki-laki tunggal yang kuat. Meskipun Juno menderita penyakit diabetes yang mungkin tampak lemah oleh teman-temannya, Kyuhyun mengajarkan ketegaran pada Juno. Kyuhyun tidak pernah bersikap penuh iba padanya dan bahkan bersikap seolah-olah Juno adalah anak yang sehat.

“Samchon tidak ikut makan?” tanya Juno lalu mengunyah sup jagungnya lagi.

“Jangan khawatir. Tadi siang aku makan ramen dan masih ada cadangannya di dalam perutku,” jawab Kyuhyun. Ia sibuk memilih-milih kaset yang tempo hari dibelinya sementara Juno makan dengan tenang di meja makan.

“Jadi perut Samchon bisa menyiapkan cadangan makanan? Apa seperti unta yang menyediakan cadangan air di punuknya? Hihihi,” goda Juno lalu terkekeh sendiri.

Kyuhyun menatap garang padanya namun Juno tidak pernah takut.

“Kau menyamakan aku dengan unta, eoh?”

“Tidak, kok!”

“Ck, sudahlah. Cepat habiskan makananmu. Aku sudah tidak sabar ingin bermain. Kali ini kau pasti kalah olehku. Hahaha!”

Juno mencibir.

Kyuhyun telah menyiapkan kaset yang akan dimainkannya bersama Juno. Semua persiapan telah berada di tempatnya, tinggal menunggu satu pemain yang masih menyelesaikan makannya. Kyuhyun duduk di lantai dan bersandar di sofa yang terletak di belakangnya, dan saat itu sadar kalau punggungnya terasa sakit.

“Akh,” erang Kyuhyun sambil meluruskan punggungnya. “Sial, kenapa baru terasa sakit sekarang?” gumamnya kesal.

“Apa punggung Samchon sakit sekali? Tunggu sebentar, aku akan ambilkan krim pijit milik Harabeoji di kamarnya!”

Juno melompat turun dari kursi meja makan. Saat ia berniat lari ke kamar Kakeknya, Kyuhyun kembali berseru.

“Hei, habiskan dulu makan siangmu!”

“Aku sudah kenyang, Samchon. Changkamman!”

Kyuhyun membiarkan Juno berlari ke kamar Tuan Hwang. Ia pun membuka sweater dan kemeja, menyisakan kaos putih di tubuhnya. Kyuhyun mencoba menggapai punggungnya sendiri dengan tangan dan menekan bagian yang sakit. Rasa sakit terbentur aspal ternyata tidak main-main. Apalagi tadi benturannya agak keras sebab Juno juga menimpa tubuhnya.

Ah, ini semua gara-gara gadis itu, rutuk Kyuhyun dalam hati.

“Samchon! Aku mendapatkannya!” Juno berseru seraya menghampiri Kyuhyun. Ia berdiri di sebelah Kyuhyun dan menatap bingung pria yang hampir sama tinggi dengannya saat duduk itu. Kyuhyun mengerti maksud diam Juno. Ia pun membuka kaosnya yang membuatnya bertelanjang dada.

“Nah, kalau seperti ini aku bisa dengan mudah mengoleskannya,” ucap Juno yang berdiri di belakang punggung Kyuhyun. Bocah itu duduk di sofa sementara punggung Kyuhyun menghadapnya. Ia segera mengoleskan krim kental berwarna bening itu di punggung Kyuhyun secara merata dan melakukan pijitan dengan tangan mungilnya. Kyuhyun tersenyum lebar.

“Hei, jagoan kecil. Ternyata kau pintar memijat. Siapa yang mengajarkan?”

“Eomma. Eomma kan sering memijat Harabeoji. Kata Harabeoji, pijatan Eomma nyaman sekali. Apa Samchon ingin dipijat Eomma juga?”

Kyuhyun berdecak. “Aish, kau ini. Tidak mungkin Ibumu yang pemarah itu bersedia memijitku. Auch! Hwang Juno, sakit sekali!”

Juno sengaja menekan punggung Kyuhyun lebih keras lalu terkikik mendengar pria itu meringis kesakitan. “Samchon tidak boleh menyebut Eomma pemarah. Eomma tidak akan marah jika Samchon tidak nakal.”

“Arra arra arra!”

Tepat saat itu, terdengar bunyi bel menggema ke dalam rumah. Juno menghentikan pijitannya dan mendongak. Kyuhyun menoleh ke belakang.

“Juno-yah, mungkin itu Kakekmu. Cepat buka pintunya! Di luar sedang hujan lebat,” seraya Kyuhyun. Juno mengangguk semangat.

Ia berdiri lalu berlari ke pintu depan rumahnya. Rumah mereka tidak besar, bahkan hanya terdiri dari ruang tamu yang dekat dengan meja makan, dapur serta tiga kamar tidur. Pekarangan mereka hanya cukup untuk dua mobil saja, walaupun Tuan Hwang dan Miyoung tidak mempunyai kendaraan.

Juno membuka pintu dan bersiap melihat kehadiran Kakeknya di teras. Saat pintu terbuka, Juno merinding ketika angin kencang menerpa tubuh mungilnya. Ia mengenakan jaket namun masih saja merasa dingin. Juno mengerjapkan matanya dan mendongak. Mata bulat anak itu mengerjap-ngerjap karena merasa aneh. Sebab saat ini wujud Kakeknya tidak kekar seperti biasa, namun kurus tinggi serta berambut panjang.

Ermm, ternyata bukan Tuan Hwang, melainkan….

“NOONA???”

“JUNO???”

 

Yoona POV

Nah, ini dia alamatnya. Rumah Tiffany Hwang terletak di samping penginapan Paradise. Aku membaca tulisan yang ada di map yang kupegang berulang kali, memastikan kalau alamatnya benar. Aku tersenyum senang. Akhirnya aku menemukanmu, Eonnie.

Mobilku berbelok melewati penginapan dan memarkirkannya tepat di depan rumah yang kuyakini rumah Tiffany Eonnie. Ada sebuah mobil lagi disana. Berarti penghuni rumahnya sedang di dalam. Aku melihat keluar mobil melalui kaca depan. Ck, kenapa tiba-tiba hujan lebat sekali? Aku lupa kalau payungku tidak ada di dalam mobil. Jadi aku harus berlari ke teras rumah. Untuk sejenak aku termenung melihat rumah sederhana yang tampak asri itu. Rumahnya tidak terlalu besar, ada sebatang pohon besar di depannya dengan dua buah ayunan yang terikat di dahannya. Aku menghela napas kemudian membuka pintu mobil. Selanjutnya aku berlari menuju teras rumah bercat putih tersebut.

Hujan lebat mengakibatkan rambut dan sweaterku basah. Belum lagi rasa dinginnya yang menusuk. Tubuhku menggelenyar, entah karena kedinginan atau kegugupan demi bertemu Tiffany Eonnie. Tanpa menunggu lama, tanganku terangkat ke bel kecil yang bertengger manis di samping pintu kayu dan menekannya.

Inilah saatnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya. Aku harap Tiffany Eonnie masih mengenaliku. Hubungan kami baik-baik saja, meskipun Eomma telah berbuat jahat padanya. Jika sekarang boleh memilih, aku akan membela Tiffany Eonnie daripada siapapun yang mencoba menjatuhkannya.

Klek.

Aku mendengar kunci pintu diputar. Aku membeku di tempat. Telingaku dapat menangkap suara degup jantungku sendiri. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana senangnya hatiku sekarang. Penantianku selama 5 tahun untuk bertemu lagi dengannya akan selesai. Tiffany Eonnie, aku akan membawamu kembali.

Mataku terpaku pada pintu yang berayun di hadapanku. Eoh, pintunya terbuka sendiri atau bagaimana? Aku tidak melihat siapa-siapa. Tidak, aku salah. Aku kira pemilik rumah ini seorang anak kecil atau aku memang salah rumah. Pandangan lurusku turun beberapa senti ke bawah dan seketika mataku melebar.

Anak ini? Ada apa denganku? Kenapa aku melihatnya lagi?

Aku tidak salah lihat. Aku masih hafal bentuk mata bulat, mulut mungil serta rambut hitamnya. Ia juga masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang kutemui beberapa menit yang lalu.

“NOONA???”

“JUNO???”

Kami saling menunjuk satu sama lain. Juno terperangah melihatku lalu lima detik kemudian tersenyum lebar. Aku pun melakukan hal yang sama. Kami tertawa pelan untuk beberapa saat. Aku rasa aku memang salah rumah. Tunggu? Apa ini rumahnya?

“Juno-yah, kita bertemu lagi, ne! Jadi, ini rumahmu?” tanyaku. Ia melepaskan tangannya dari handle pintu dan menghampiriku. Tubuh mungilnya tampak gemetar kedinginan.

“Benar, Noona Cantik. Ini adalah rumahku. Noona Cantik mencariku ya? Hihihi, kalau boleh tahu siapa nama Noona Cantik?”

Aigoo, anak ini pintar sekali. Aku mengulurkan tangan padanya dan tangan mungilnya segera menyambut tanganku. Tangannya begitu kecil di dalam genggamanku.

“Namaku Im Yoona. Panggil aku Yoongie Noona.”

“Kalau begitu panggil aku Juno. Kata Eomma, Juno artinya anak yang tampan. Karena aku tampan seperti Appa, hihihi.”

Aku berdecak gemas lalu mengacak rambutnya. “Eomma Juno benar sekali. Juno memang tampan. Erm, apa Eomma Juno ada di dalam? Bolehkah Noona bertemu dengannya? Ada beberapa hal yang ingin Noona tanyakan,” ujarku sambil berjongkok agar tinggi kami sejajar.

“Eomma masih bekerja di rumah Cho Halmonie. Sedangkan Harabeoji tidak ada di rumah. Hanya Samchon yang menemaniku disini,” jawab Juno.

Aku mengernyit. Samchon? Ya Tuhan, aku lupa. Jika ada Juno, itu artinya laki-laki menyebalkan itu juga ada disini. Haruskah aku pergi sekarang juga agar tidak bertemu dengan laki-laki temperamental itu?

“Juno-yah, kenapa lama sekali? Tubuhku kedinginan—“

Aku kira aku akan terjungkal ke belakang atau semacamnya. Aku segera berdiri dan menutup mataku cepat. Laki-laki itu lagi! Tiba-tiba ia muncul entah darimana dan berdiri di belakang Juno hanya dengan…celana panjang saja! Aku sempat melihat wajah kagetnya sebelum menutup mataku.

Dasar laki-laki tak tahu malu!

“Yah! Kau lagi! Kau penguntit ya??!” aku bisa mendengarnya berteriak.

Ini tidak bisa dibiarkan. Jika ia tidak malu dengan penampilannya sekarang, aku akan membuka mataku. Lagipula pemandangan seperti ini sudah biasa bagiku jika melihat para tahanan di dalam sel. Hanya saja, hanya saja, terasa berbeda jika dengan laki-laki berkulit pucat ini.

“Apa katamu?” tantangku. Sebisa mungkin aku memandang wajahnya, tidak ke bagian tubuhnya yang terekspos. “Jangan percaya diri, Tuan. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau tinggal disini. Aku hanya mencari—“

“Kyuhyun Samchon tidak tinggal disini, Yoongie Noona. Ia hanya menamaniku,” Juno menyelaku.

Oh, jadi ini juga bukan rumahnya? Hah, benar-benar keterlaluan laki-laki ini! Apa maksudnya membentakku dan menuduhku sebagai penguntit?

“Jangan berbohong, gadis aneh! Jika kau tidak mengikuti kami, bagaimana bisa kau sampai kesini, eoh? Apa maumu sebenarnya? Oh! Apa kau ingin menculik Juno?!”

Aku terperangah hebat. Laki-laki yang bernama Kyuhyun ini sukses membuat amarahku naik ke ubun-ubun. Ia manarik Juno masuk ke dalam rumah dan menatapku tajam, sedangkan Juno tampak kebingungan. Argh, haruskah aku mencekik laki-laki itu saat ini juga?!

“Juno, jangan dekat-dekat dengannya! Kau tahu, penculik jaman sekarang sering berkedok wanita cantik. Ia bermulut manis dan—“

“CUKUP! BISAKAH KAU DIAM ATAU AKU AKAN MELEMPAR WAJAHMU DENGAN SEPATUKU??!”

Hening.

Dadaku turun naik karena emosi yang hampir saja melemahkan diriku. Aku berteriak kepada Kyuhyun seolah-olah menyemburkan api benci padanya, seperti api naga yang siap menghanguskan musuhnya. Baik Kyuhyun maupun Juno termagu menatapku. Aku mengerang sambil memegangi kepala.

Mimpi apa aku semalam. Oh ya Tuhan! Laki-laki bernama Kyuhyun ini menyulitkanku.

“Juno-yah, mianhae. Noona tidak bermaksud berteriak,” ucapku pada Juno. Aku tidak peduli Kyuhyun itu tersinggung.

Juno melepaskan pelukan Kyuhyun kemudian menghampiriku lagi. Ia menggamit tanganku dan tersenyum. “Gwaenchana, Noona. Apa Noona kedinginan? Ayo masuklah. Akan kubuatkan teh hangat.”

Aku melirik Kyuhyun yang kini bersidekap. Wajahnya tampak lebih santai dari sebelumnya. Tch, jika ia masih berani menuduhku yang tidak-tidak, aku akan benar-benar melempar sepatuku ke wajahnya.

“Tidak usah, Juno-yah. Noona akan melanjutkan perjalanan lagi. Noona perlu bertemu dengan seseorang. Nah, sekarang kau masuk saja, ne! Udara sangat dingin, nanti kau demam. Arraseo?”

Juno tampak enggan melepas tanganku. Sebenarnya aku ingin menuruti permintaannya untuk masuk ke dalam rumah. Aku memang butuh sedikit kehangatan. Tetapi melihat Kyuhyun ada di dalam sana membuat moodku hancur. Bisa-bisa aku bertengkar lagi dengannya alih-alih menghangatkan diri.

Juno melepaskan tanganku dan tersenyum. “Kalau begitu, hati-hati di jalan, Yoongie Noona. Aku harap kita bertemu lagi!”

“Aku juga berharap begitu. Annyeong!”

Kyuhyun masih menatapku ketika aku membalikkan badan. Aku tidak peduli dengannya. Ugh, sepertinya aku harus menghubungi Yuri Eonnie di kantor, apakah alamat yang diberikannya benar atau tidak. Bagaimana bisa aku tersesat disini? Jika hujan tidak juga berhenti, aku tidak akan bisa pulang ke Seoul.

Aku berlari menembus hujan menuju mobilku. Aku bergegas memasukinya dan melihat Juno masih berdiri di depan pintunya, menatap khawatir padaku. Hmm, andai saja Kyuhyun tidak bersamanya. Aku penasaran apa hubungan Juno dengan Kyuhyun. Juno memanggilnya Samchon, itu berarti Kyuhyun adalah Pamannya. Sangat disayangkan Juno mempunyai Samchon gila seperti dia.

 

Kyuhyun POV

 

Oke, aku merasa bersalah padanya. Tidak seharusnya aku menuduhnya macam-macam. Ia adalah gadis elegan dan cantik. Benar-benar cantik. Ada apa denganku beberapa menit yang lalu, menuduhnya sebagai penculik yang berniat jahat pada Juno? Ck, aku benar-benar menyebalkan.

Aku menghampiri Juno dan menariknya masuk, tetapi Juno menolak. Sepertinya Juno ingin memastikan gadis itu pergi terlebih dahulu. Aku tetap berdiri di belakang Juno sambil memandangi gadis itu masuk ke mobilnya.

Sebenarnya siapa yang dicari gadis berambut coklat panjang itu? Ia bukan warga desa ini kurasa. Apa ia dari Seoul? Aku melihat nomor kendaraannya. Benar, plat mobilnya adalah kode kota Seoul. Ia tidak bisa pulang ke Seoul dalam cuaca seperti ini. Lagipula hari semakin senja. Ia akan bermalam di jalan jika memaksa pulang sekarang.

“Samchon, sepertinya mobil Yoongie Noona mogok!”

Seruan Juno menyadarkan lamunanku. Aku menunduk menatapnya. “Mwo?”

“Sepertinya mobil Yoongie Noona mogok. Lihatlah!”

Aku mengalihkan pandanganku lagi ke mobil gadis yang dipanggil Yoongie Noona oleh Jun itu. Deruan starter mobilnya terdengar berulang kali, namun mesinnya tidak kunjung menyala. Aku terdiam sejenak dan mempelajari apa yang sedang berlangsung.

Mesin mobilnya berdengung-dengung akan tetapi tetap tidak menyala. Ya, Juno benar. Mobil gadis itu mogok. Aku mendengus sambil tertawa kecil. Nasibnya kurang beruntung.

“Samchon, bisakah Samchon membantu Yoongie Noona? Aku kasihan padanya,” pinta Juno dengan puppy eyesnya yang selalu bisa meluluhkan hatiku.

“Mwo? Shirreo!”

“Samchon, ayolah! Bukankah Samchon selalu mengajarkan padaku untuk saling tolong menolong? Setelah ini aku berjanji akan mengalah dalam permainan. Samchon bisa menang dariku,” bujuknya.

Jelas-jelas aku bukan laki-laki seperti itu. Eii, Hwang Juno, kenapa berpikir seperti itu? Kesannya aku kekanakkan sekali.

“Baiklah, baiklah. Tapi kau tidak perlu mengalah seperti itu, Juno-yah. Tunggu sebentar. Aku akan memakai bajuku dulu dan mengambil payung.”

Apa boleh buat! Aku bergegas ke dalam dan mengambil bajuku. Baru kusadari kalau permukaan kulitku telah dingin karena diterpa angin. Gara-gara adu mulut dengan gadis itu sampai aku tidak sadar kalau sebenarnya aku kedinginan. Aku telah memakai kembali kaos dan kemejaku. Sampai di pintu, Juno menyambutku dengan payung di tangannya. Ia tersenyum lebar padaku.

“Kau tunggu di dalam dan tutup pintunya. Angin kencang ini tidak baik untukumu. Aku akan membawa Yoongie Noona-mu itu kesini,” ujarku padanya. Ia mengacungkan dua jempolnya sambil mengangguk semangat.

Aku keluar kemudian menutup pintu. Huft, setelah pertengkaran kecil tadi aku harap ia mengerti dengan niat baikku sekarang. Ralat, bukan niatku, melainkan niat baik Juno. Nanti ia pikir aku mengalah padanya. Huh, tidak sudi.

Aku menghampiri mobilnya dan segera berdiri di samping pintu mobilnya yang masih berdengung-dengung itu. Aku mengetuk kaca mobilnya, berharap ia akan membuka pintu mobil dan bersedia masuk ke rumah bersamaku.

Clek.

Aku berdehem gugup ketika ia membuka pintu mobilnya dan keluar. Aku memberi ruang untuknya menutup pintu mobil kemudian dengan gerakan cepat ia berdiri di sampingku. Sangat dekat denganku.

Kami berada di bawah payung biru milik Juno yang ternyata hanya cukup untuk dua orang saja. Untung saja tubuh gadis ini kurus. Ia mendongak sedikit untuk menatap mataku. Aku rasa aku menahan napas. Gadis ini tergolong tinggi, tidak seperti Miyoung. Aku dan Miyoung saja tidak pernah berdiri sedekat ini.

Degup jantungku menggila ketika indra penciumanku menangkap aroma bunga segar dari tubuhnya. Mungkin aroma itu tercium biasa saja jika di udara normal. Namun sekarang gadis ini sedikit basah dan angin kencang berputar-putar di sekeliling kami, membuat aroma parfumnya lebih menarik dan…seksi.

Kami terpaku sejenak, tidak peduli dengan air hujan yang turun semakin lebat. Aku tersesat di matanya, begitu pula dengan gadis itu. Kemudian ketika aku tak tahan untuk mengerjap sebab mataku mulai perih, ia mengalihkan pandangannya ke rumah Juno. Aku mendengar gadis itu berdehem.

“Ehem…engh.. a-aku rasa mobilku mogok,” ucapnya pelan.

“Ya, aku tahu. Juno memintaku untuk membawamu kembali ke rumah.”

Ia melirik arloji berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangan kurusnya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah penginapan. Tunggu! Apa ia berpikir akan menginap disana?

“Apa penginapan itu masih menerima tamu? Tidak mungkin aku pulang dalam cuaca seperti ini. Mobilku juga tidak bisa diajak bekerja sama,” keluhnya.

Aku menyembunyikan senyumku yang akan keluar. “Aku rasa masih ada kamar kosong untukmu. Ingin kuantarkan kesana? Atau kau ingin menginap di rumah Juno saja? Sebentar lagi Ibunya pulang.”

Ia tersenyum kecil. “Aku menginap di Paradise saja. Tunggu sebentar, aku akan mengambil barang-barangku dulu.”

Ia kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku tersenyum-senyum sendiri. Ada apa dengan kami? Tadinya kami bertengkar seperti Tom dan Jerry, dan sekarang aku akan mengantarnya ke penginapan dengan menggunakan payung. Hah, romantis sekali!

Beberapa saat kemudian akhirnya ia keluar lagi. Tangannya mengapit sebuah map dengan stempel kepolisian disana. Aku terperangah memandangnya. D-dia polisi? Matilah kau Cho Kyuhyun! Ternyata kau telah berurusan dengan polisi!

“K-kau seorang polisi? Jeongmalyo?”

Gadis itu terkekeh. “Wae? Kau tidak menyangka ya? Aku seorang detektif, Tuan Kyuhyun.”

“Panggil aku Kyuhyun, Detektif Yoona. Kajja, aku antar ke penginapan itu.”

²² TWBUT²²

 

 

Miyoung POV

“Apa? Appa tidak menemukan Juno? Tapi ia sudah berjanji akan menungguku atau Appa yang akan menjemput!”

Tetapi menurut orang-orang yang tinggal di sekitar sekolah, tadi mereka melihat seorang laki-laki berkulit pucat dan berambut coklat yang menjemput Juno. Sebelumnya juga sempat terjadi keributan kecil. Youngie-yah, kemana Appa harus mencari Juno? Siapa pria yang menjemputnya itu?”

Aku menggigit bibir bawahku, ragu. Pria berkulit pucat dan berambut coklat? Aish, pasti Cho Kyuhyun. Tentu saja Appa tidak berpikiran kesana sebab hanya akulah yang tahu bagaimana evilnya namja satu itu. Kemana lagi si Kyuhyun itu melarikan anakku? Kini aku sudah sampai di halte terdekat rumah keluarga Cho, hendak pulang. Tetapi tadi sebelum aku keluar dari rumah itu, aku tidak melihat mobil Kyuhyun di garasi.

Apa ia membawa Juno ke rumahku?

Youngie-yah, kenapa kau diam saja?” suara Appa di seberang line menyadarkanku.

“Oh, Appa, mianhae. Sepertinya aku tahu siapa yang menjemputnya. Tenanglah, Appa. Pasti Cho Kyuhyun yang menjemput Juno. Ia memang suka sekali menculik anakku. Lebih baik Appa pulang sekarang, ne! Siapa tahu mereka di rumah. Apa Appa membawa payung?”

Apa kau yakin Kyuhyun yang menjemputnya? Kalau memang benar, syukurlah. Ne, Appa membawa payung. Appa akan pulang sekarang. Pekerjaanmu sudah selesai?

“Sudah, Appa. Dan aku sedang menunggu bis saat ini. Kalau begitu, sampai bertemu di rumah, Appa. Annyeong!”

Klik.

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Belum ada satupun bis yang lewat, membuatku harus menunggu lebih lama. Aku berdiri di tepi halte dengan memegang erat gagang payungku. Pandanganku jauh ke depan, menerawang. Aku kembali teringat pertanyaan Jaya Ahjumma. Juno memang membutuhkan figur seorang Ayah. Seorang Ayah yang akan melindungi dan menjadi sahabat baginya.

Selain itu, Ayah yang dibutuhkan Juno juga harus orang yang kucintai. Aku tahu kalau kriteria itu hanya milik Siwon Oppa. Aku menghela napas berat. Entah sampai kapan aku bertahan dengan kondisi seperti ini. Aku harap Juno lebih kuat dariku karena kekuatan anakku lah yang akan membuatku lebih tegar.

Kemudian sebuah suara menginterupsi lamunanku. Aku menoleh ke samping, tepat ke arah suara. Aku tersenyum melihat sepasang kekasih yang berdiri tak jauh dariku. Tangan sang laki-laki merangkul bahu gadisnya yang kedinginan, meskipun aku tahu sepertinya gadis itu malu.

Ah, pasangan muda. Kenapa aku melihat mereka? Tanpa bisa dicegah ingatanku melayang pada hari itu, hari dimana aku menyerah pada Siwon Oppa.

 

Flashback

Author POV

 

“Apa kau tidak kedinginan? Aish, kenapa kau sangat keras kepala, Siwon-ssi? Kau bisa sakit!”

Siwon menggelengkan kepalanya, membuat percikan-percikan air hujan mengenai wajah Tiffany. Tiffany merasa sedikit jengkel melihat betapa keras kepalanya Choi Siwon. Sudah beberapa minggu terakhir Siwon terus mengikutinya. Meskipun ia lelah sepulang dari kantornya, laki-laki itu masih saja menyempatkan diri bertemu Tiffany di toko bunga Paman Lee tempat Tiffany bekerja.

Seperti malam ini, Tiffany keluar dari toko bunga tempatnya bekerja tepat pukul 10 malam. Hujan turun dengan derasnya membuat gadis itu gemetar kedinginan. Untung saja jarak toko bunga dengan flat-nya tidak begitu jauh, jadi Tiffany masih bisa berjalan kaki.

Namun saat ia melangkahkan kaki keluar toko, lagi-lagi ia menemukan Siwon yang sedang menunggunya di teras. Pria itu tidak menggunakan payung atau apapun untuk melindunginya dari hujan. Tiffany menatapnya heran untuk sesaat. Benar-benar pria nekat, pikir Tiffany.

Siwon bisa nekat seperti ini jika menyangkut Tiffany. Pria itu tidak bisa melupakan senyuman manis Tiffany saat pertama kali bertemu dengannya di toko ini. Tiffany membuat batinnya tersiksa jika gadis itu belum menjadi kekasihnya. Oleh karena itu Siwon terus dan selalu mengejarnya, sehingga terkadang membuat Tiffany terheran-heran.

“Bagus kalau aku sakit,” jawab Siwon ringan. Kening Tiffany mengernyit hebat.

“Mwo? Kau menginginkan sakit? Aku rasa kau sudah benar-benar sakit, Siwon-ssi!”

Siwon menyeringai konyol. Ia mengusap wajahnya yang basah. “Nona Hwang, jelas-jelas kau yang membuatku sakit. Kau harus bertanggung jawab, eoh.”

Tiffany menghela napas berat. Siwon tidak berhenti tersenyum sejak tadi.

“Aku tahu kau juga menyukaiku, Tiffany Hwang.”

Tiffany terpaku mendengar tebakan Siwon yang tepat mengenai hatinya. Benar, ia mengingkari hatinya sendiri. Tetapi perasaan takutnya lebih kuat dibandingkan rasa suka itu sendiri. Bisa dikatakan mereka saling jatuh cinta. Memang indah menurut Siwon, namun berbeda dengan Tiffany. Saat ia memikirkan perasaannya untuk Siwon, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatinya menyerah.

‘Jika aku mencintai pria ini, apakah aku pantas untuknya? Apakah keluarganya yang kaya raya itu bersedia menerima gadis penjual bunga sepertiku, yang Ayahnya bekerja sebagai seorang pelayar kapal ikan?’batin Tiffany.

“Siwon-ssi, jangan suka mengada-ada. A-aku sama sekali tidak menyukaimu. Apa yang membuatmu berpikir kalau aku menyukaimu?” bantah Tiffany, membohongi hatinya.

“Sorot matamu,” jawab Siwon praktis dan penuh percaya diri.

Mulut Tiffany terbuka kemudian tertutup lagi. Ia tidak tahu harus memakai bantahan apalagi sekarang. Keyakinan Siwon membuatnya mati langkah. Demi menghindari pria itu, Tiffany bergegas membuka payungnya. Ia tidak menoleh ke arah Siwon sedikitpun saat berjalan melewati pria itu. Dan yang ia tahu selanjutnya adalah Siwon mengikutinya di belakang.

“Pulanglah, Siwon-ssi! Jebal!” pinta Tiffany seraya membalikkan tubuhnya dengan cepat.

BRUK

Tanpa sengaja Tiffany menabrak Siwon yang ternyata berada tepat di belakangnya. Tubuhnya limbung dan terhuyung. Beruntung Siwon dengan cepat memeluk pinggangnya. Tiffany mengerjap kaget ketika menyadari tubuh mereka begitu dekat. Napas Tiffany memburu di dada Siwon, sementara kening pria itu terkena payung Tiffany.

Tiffany tidak bisa mengatur detak jantungnya. Ia tidak bisa bergerak dalam rangkulan pria itu.Siwon menyembunyikan senyum kemenangannya. Tentu saja Siwon bisa merasakan degup jantung Tiffany yang begitu keras. Irama itu sangat indah menusuk ke dada Siwon.

“Ehem, bisakah kau meninggikan payung ini sedikit lagi agar aku tidak kehujanan?”

Karena Tiffany tidak bergerak sedikitpun, terpaksa Siwon yang melakukannya. Ia menggenggam tangan Tiffany yang memegang payung, kemudian mengangkatnya lebih tinggi. Siwon menunduk, ingin melihat wajah gadis yang dicintainya. Siwon beruntung karena ada lampu jalan yang menyinari wajah cantik itu.

Tak ada pembicaraan antara mereka sekitar 3 menit. Namun 3 menit itu terasa sangat panjang. Ditambah lagi dengan keadaan mereka saat ini. Berada di bawah payung yang sama sementara air hujan semakin deras turun ke bumi. Siwon menyukai wangi tubuh Tiffany, lebih harum dibandingkan bunga-bunga yang dijualnya.

“Hei, sampai kapan kau akan menunduk terus? Lihat aku, please.”

Tiffany menggeleng, membuat Siwon berdecak gemas. Kemudian ide jahilnya pun muncul. Siwon mengangkat payung lebih tinggi, setinggi yang ia mampu, sehingga tangan Tiffany tersentak ke atas. Otomatis Tiffany mendongak, berusaha menyeimbangkan tegak tubuhnya. Kakinya berjinjit tetapi sepertinya Siwon tidak akan menghentikan aksinya sampai Tiffany bersedia memandang wajahnya.

“Aku bisa melihat wajahmu memerah, Tiff. Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi. Sudah cukup menghindariku, arraseo?”

Tiffany menelan ludah. Tangannya masih di dalam genggaman Siwon. Sedangkan tangan Siwon yang lain makin erat merangkul pinggangnya. Tiffany mencari-cari keseriusan di mata Siwon, dan memang hal itulah yang tersirat disana. Siwon bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Siwon mencintai Tiffany, begitu pula sebaliknya.

“Bagaimana jika aku terus menghindarimu? Apa kau tidak lelah? Siwon-ssi, masih banyak yeoja yang menginginkanmu menjadi pendamping mereka. Mereka jauh lebih pantas dan sepadan denganmu. Apa kau tidak malu mempunyai kekasih penjual bunga sepertiku? Sudahlah, Siwon-ssi. Kau hanya membuang-buang waktumu,” ujar Tiffany. Ia menahan airmata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.

Siwon menatapnya lembut. “Aku tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentangku. Aku tidak membutuhkan yeoja yang sepadan denganku karena hatiku memilihmu. Aku yang akan menjalani kisah hidupku, termasuk cintaku, bukan mereka. Panggil aku egois, tapi aku benar-benar tidak peduli. Aku menikmati saat aku menunggumu, aku menikmati saat kau memberengut kesal karena sikap keras kepalaku, dan aku menikmati saat cintaku terus bertambah ketika melihatmu. Aku tidak pernah lelah, Tiffany. Setidaknya sampai kau bersedia jujur padaku kalau kau juga mempunyai perasaan yang sama.”

Tiffany tidak dapat lagi menahan airmatanya. Ia seorang diri di kota ini. Ia takut, bukan kepada Siwon. Tetapi ia takut tidak bisa bertahan jika suatu saat nanti Siwon terpaksa pergi meninggalkannya. Ia tidak bisa membaca apa yang terjadi di masa depan—tentu saja—tetapi ia meragukan hubungan mereka jika akhirnya nanti terjalin.

“Katakan kalau kau jatuh cinta padaku,” ucap Siwon dengan nada tegas namun ada kelembutan disana. Tiffany tidak bergeming apalagi mengucapkan hal yang diperintahkan Siwon. Siwon menyeringai. Wajahnya semakin menunduk sehingga jarak antara wajah mereka semakin sempit.

“Kalau begitu, katakan kalau kau tidak memiliki perasaan apa-apa padaku, dan jangan melepaskan pandanganmu dari mataku saat kau mengatakannya,” bisik Siwon.

Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Perintah Siwon yang kedua lebih sulit. Mata tajam pria itu menyesatkan jalan pikirannya. Hembusan napas maskulin pria itu membuatnya gugup luar biasa. Jangan ditanya lagi bagaimana dentuman jantungnya saat ini. Melebihi tempo dentuman jantung setelah ia melakukan lari cepat!

“Katakan, Tiffany!” Siwon semakin mendekati wajahnya.

“A-aku…aku…ti..ti—“

Meskipun Siwon sedikit kecewa dengan apa yang mungkin akan dikatakan Tiffany, ia tidak menyerah. Pandangan matanya semakin tajam dan mengintimidasi.

“Kau, apa?” bisik Siwon pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena suara hujan menyelubungi mereka.

“Aku…,” lidah Tiffany terasa kelu. “Aku…jatuh cin-ta padamu…Choi S-Siwon.”

Wajah Siwon berhenti mendekati wajah Tiffany, tetapi sukses membuat ujung hidung mereka bersentuhan. Pandangan mata Tiffany tidak lagi fokus. Siwon tidak peduli. Yang dipedulikannya hanya satu hal sekarang, yaitu ungkapan gadis itu.

“Kau…mencintaiku. Lihat, aku menang. Sekarang kau milikku, Tiffany Hwang.”

Mata Tiffany mengerjap bingung. Namun ketika mulutnya akan terbuka ingin mengutarakan protes dengan pernyataan Siwon, pria itu dengan cepat menciumnya! Tangan Siwon menarik payung dari tangan mereka lalu membuangnya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah gadis yang kini tengah diciumnya.

Tak ada yang bisa dirasakan Tiffany selain kehangatan yang mengaliri seluruh tubuhnya. Kehangatan yang berasal dari ciuman dalam yang diberikan Siwon. Tiffany mencengkram kemeja Siwon sementara pria itu sedang membujuk bibirnya untuk ikut memagut.

Tiffany tidak bisa membalas ciuman Siwon karena akal sehatnya mendadak hilang. Tiffany pikir ia gila saat ini, gila karena Siwon. Mereka berciuman di bawah siraman air hujan, tidak peduli dengan cuaca dingin bahkan orang-orang yang menyaksikan mereka. Seperti kata Siwon, ia tidak peduli. Siwon hanya mempedulikan gadisnya saat ini.

“Aku bahagia karena aku mencintaimu, Tiffany. Neomu saranghae,” desah Siwon di bibir Tiffany ketika ciuman mereka terlepas. Dada Tiffany turun naik. Rasanya begitu sesak. Sesak karena kebahagiaan dan juga ciuman Siwon. Kening mereka menempel satu sama lain dan Siwon bisa melihat bibir Tiffany yang masih terbuka. Ia tersenyum kemudian meninggalkan kecupan manis di kedua mata Tiffany yang tertutup.

 

Flashback end

“Agasshi? Apa kau ingin naik atau tidak?”

Seruan kondektur bis membuyarkan lamunan indah Miyoung. Ternyata ada sebuah bis yang telah berhenti tepat di depan halte. Miyoung mengangguk dan segera menutup payungnya, lalu memasuki bis yang sepi penumpang tersebut. Miyoung ingin cepat-cepat sampai di rumahnya dan melihat keadaan Juno. Untuk sementara, seperti biasa, Miyoung harus menyimpan kenangan-kenangan indahnya bersama Siwon, pria yang mencintai sekaligus telah menyakiti perasaannya.

²² TWBUT²²

 

 

“Mobil siapa ini? Aku tidak tahu kalau Kyuhyun mempunyai mobil jenis ini,” gumam Miyoung saat melihat mobil asing di depan rumahnya. Namun ia tidak memusingkan hal itu. ia ingin cepat-cepat melihat wajah Juno.

“Eomma pulaaang! Juno-yah!”

“Eommaaaaa!!!”

Miyoung bernapas lega ketika mendengar sahutan lengking dari putranya. Juno ternyata benar ada di rumah. Bocah tampan itu berlari menghampiri Miyoung kemudian memeluknya erat. Miyoung mengelus rambut Juno untuk kemudian menciumnya. Miyoung balas memeluk Juno dan menepuk-nepuk lembut punggung anak itu. Untuk sesaat Miyoung mendesah lega. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa melihat Juno sehari saja.

Selagi mereka berpelukkan, Tuan Hwang keluar dari kamarnya. Pria itu telah memakai jaket tebalnya, sepertinya sangat kedinginan.

“Kyuhyun baru saja pulang. Ia memastikan Appa pulang terlebih dahulu sebelum pergi. Ia juga meminta maaf telah menjemput Juno tanpa sepengetahuanmu, Youngie-yah.”

Miyoung melepaskan pelukan anaknya dan berdecak. Ia mencubit pipi Juno dengan gemas.

“Pasti ia menculikmu untuk bermain game lagi. Benar, kan?”

“Tadinya kami memang ingin bertanding Eomma, tetapi rencana kami gagal,” jawab Juno jujur. Miyoung mengernyit.

“Kalau Kyuhyun sudah pulang, lantas mobil siapa yang parkir di depan?”

Tuan Hwang mengangkat bahu lalu bersama-sama dengan Miyoung memandangi Juno, meminta jawaban.

“Juno-yah, mobil siapa itu?” Miyoung kembali bertanya.

“Itu mobil Yoongie Noona, Eomma. Ia adalah teman baruku yang cantik sekali! Yoongie Noona menginap di penginapan Paradise. Tadinya aku ingin mengundangnya menginap disini, tetapi kata Samchon ia menolak. Tahu tidak Eomma? Yoongie Noona adalah seorang detektif dari kota Seoul. Eomma, aku ingin memperkenalkan Eomma padanya! Yoongie Noona benar-benar cantik! Rambutnya panjang dan parfumnya sangat wangi! Tetapi bagiku tetap lebih cantik Eomma!” celoteh Juno sambil menggerak-gerakkan tangannya. Miyoung dan Tuan Hwang tertawa melihat tingkah Juno. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya Juno sangat menyukai teman barunya itu.

Miyoung berlutut dan mengelus rambut Juno. “Jinjjayo? Eomma penasaran ingin melihatnya juga. Hmm, apa kita harus mengundangnya untuk makan malam?”

Mata Juno melebar. Tentu saja ia senang mendengar penawaran Miyoung. Lantas kepalanya mengangguk penuh semangat.

“Eomma, aku akan senang sekali jika Eomma dan Harabeoji mengundang Yoongie Noona untuk makan malam bersama! Aku ingin lebih dekat dengannya, Eomma! Kajja, kita ke penginapan! Aku sudah tidak sabar mengundangnya!”

Tuan Hwang mengacak-acak rambut Juno. “Aigoo, sepertinya cucu Harabeoji sudah mulai menyukai yeoja.”

Juno terkikik sambil menutup mulutnya. Melihat itu mata Miyoung menyipit. Ia memegang kedua bahu Juno dan mengguncangnya sedikit.

“Yah, kau menyukai wanita lain selain Eomma ya?” Miyoung pura-pura cemberut. Juno berdecak seperti orang dewasa lalu mengelus-elus bahu Miyoung.

“Ck, Eomma. Jangan cemberut seperti itu. Aku tidak akan mencintai wanita lain selain Eomma. Dalam hatiku hanya ada Eomma, Hwang Miyoung.”

Miyoung tersenyum manis. Ia tidak bisa menggambarkan perasaan bahagianya dengan kata-kata. Yang dapat dilakukannya hanya memeluk erat tubuh mungil di hadapannya. Juno adalah segalanya bagi Miyoung.

“Aihh, lagi-lagi kalian bertingkah seperti sepasang kekasih. Youngie-yah, lekaslah ganti pakaianmu sebelum kau masuk angin!”

“Arraseo, Appa.”

 

²² TWBUT²²

“Jadi, kau belum bertemu dengannya?”

Yoona menghela napas resah. “Belum, Oppa. Tapi besok aku akan melanjutkan pencarian lagi. Mungkin temanku salah memberikan alamatnya. Tapi tadi saat aku menghubunginya, ia bilang tak ada yang salah. Jadi, semuanya belum pasti bagiku.”

“Oh begitu,” respon Siwon. “Kalau begitu, beristirahatlah, Yoongie. Kau pasti lelah.”

Yoona tersenyum kecil. Senang karena Siwon mulai menunjukkan perhatian sebagai kakak untuknya. “Nde, Oppa. Gomawo. Lalu, kapan kau akan pulang?”

“Besok. Aku mengambil penerbangan pukul 2 siang. Yoongie-yah, aku benar-benar menunggu berita baik darimu.”

Yoona mengangguk meskipun ia tahu Siwon tidak dapat melihatnya. “Aku sedang berusaha, Oppa. Doakan aku, ne! Bye, Oppa!”

Klik.

Yoona termenung di tepi tempat tidur penginapan itu. Ia masih bisa mendengar kegundahan dalam suara Siwon. Yoona mendesah panjang. Matanya menerawang keluar jendela, menatap hujan yang masih turun dengan lebatnya. Yoona menatap jam dinding, pukul 7 malam. Ia harus menunggu berjam-jam lamanya hingga pukul 7 pagi dan melanjutkan perjalanan.

Gadis itu kembali membuka file yang berisikan data Tiffany Hwang dan membacanya. Ia sudah melakukan hal itu berulang kali. Aneh saja rasanya, mengingat Yuri mengatakan kalau alamat yang diberikannya benar sedangkan yang tinggal disana adalah seorang anak kecil bersama Ibu serta Kakeknya.

Yang Yoona tahu nama Tiffany yang sebenarnya adalah Miyoung. Selain itu tidak ada informasi lain lagi yang didapatnya.

“Huft, padahal desa ini tidak terlalu besar. Kenapa sulit sekali mencari Tiffany Eonnie?” gumam Yoona sambil menarik-narik pelan rambut panjangnya. Tubuhnya memang lelah, namun semangatnya masih besar untuk menemukan wanita yang dicarinya.

Kruk kruk krukkkk

Yoona menggigit bibir ketika perut ratanya bergemuruh kelaparan. Gadis itu meraba perutnya dan mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia makan. Ah, ternyata tadi pagi. Dirinya sendiri takjub bagaimana seorang shikshin sepertinya melupakan jam makan siang. Yoona menutup kembali map yang terletak di atas ranjang dan berdiri. Saatnya makan malam, mungkin penginapan ini juga menyediakan makanan.

“Sebaiknya lupakan sejenak masalah ini dan bergeraklah mencari makanan, Im Yoona!” tukas Yoona untuk diri sendiri.

Gadis bertubuh kurus itu menyelimuti tubuh atasnya dengan pashmina berwarna kuning cerah yang sangat berlawanan dengan suasana malam. Rambut panjang dan sedikit bergelombang ia biarkan tergerai indah. Yoona segera turun ke lantai satu dan menemukan pemilik penginapan, Ny. Eom Yun, sedang menata meja makan bersama anak gadisnya, Minji. Yoona tersenyum lebar. Kebetulan sekali.

“Selamat malam!” ucap Yoona kepada ibu dan anak yang sedang sibuk itu. Mereka serempak menoleh kepada Yoona dan tersenyum ramah.

“Eoh, Yoona-ssi. Selamat malam. Tadinya Minji akan memanggilmu untuk makan malam, ternyata kau sudah turun lebih dulu. Mianhae,” ucap Ny. Eom Yun menyesal.

“Gwaenchanayo. Jadi, aku boleh makan bersama kalian? Mobilku mogok jadi tidak bisa keluar untuk mencari kedai terdekat,” ujar Yoona.

“Aigoo, tentu saja kau harus bergabung dengan kami. Lagipula diluar hujan deras, bisa-bisa nanti kau demam, Yoona-ssi.”

Yoona tersenyum penuh terimakasih. “Tetapi, apakah tidak masalah jika mobilku terletak di rumah Juno? Aku belum meminta izin orangtuanya.”

“Aku rasa tidak masalah, Eonnie. Keluarga Juno sangat baik,” Minji yang menjawab. Yoona menoleh ke arah gadis yang berusia 12 tahun itu. Minji berbicara dengan Yoona sambil terus menata piring, sendok dan gelas di atas meja.

“Jinjjayo? Tetapi, tadi aku melihat hanya Juno dan pria itu, maksudku, Kyuhyun-ssi. Aku kira Kyuhyun adalah Ayahnya. Aku tidak melihat Ibu dan Kakek Juno,” ujar Yoona.

Ny. Eom Yun mendesah. Ia menatap Yoona dengan sorot mata sendu. “Juno tidak mempunyai Ayah, Yoona-ssi. Ia hanya tinggal dengan Ibu dan Kakeknya.”

Yoona mengangkat kedua alisnya. “T-tidak punya Ayah? Oh, aku tidak tahu.”

“Meskipun Juno tidak mempunyai Ayah, tetapi ia selalu ceria. Padahal ia sering diejek oleh teman-teman di sekitar sini karena tidak mempunyai Ayah. Ia juga selalu diteriaki dengan sebutan anak haram oleh mereka,” lanjut Minji.

“Minji-yah, jaga kata-katamu!” tukas Ny. Eom Yun tajam, merasa tidak enak dengan Yoona.

“Mianhae, Eomma. Aku hanya mengatakan apa yang kudengar,” ucap Minji pelan. Yoona tersenyum canggung.

“Gwaenchana, Ny. Eom Yun. Aku mengerti,” Yoona membela Minji. Ia tertegun sejenak. Kembali terbayang olehnya bagaimana Juno tersenyum dan tertawa. Yoona terenyuh. Ia tidak menyangka dibalik wajah tampan dan cerianya, anak itu menanggung ejekan dari teman-temannya.

“Apa Ibunya tidak menikah lagi?” Yoona mendapati dirinya semakin penasaran dengan kehidupan Juno. Ia berdiri di samping meja, sementara Minji ke dapur untuk mengambilkan makanan yang akan mereka santap sebentar lagi.

“Hwang Miyoung tidak ingin menikah lagi. Padahal ia sangat cantik dan baik hati. Aku heran kenapa ia tidak ingin menikah lagi. Setahuku banyak pria yang menyukainya. Dan sepertinya Miyoung juga dekat dengan pria yang tadi bersamamu, yang bernama Kyuhyun itu. Miyoung bekerja di rumahnya. Ayah Miyoung juga tidak pernah memaksa anaknya untuk menikah lagi,” jelas Ny. Eom Yun.

Yoona sudah membeku sejak lima detik yang lalu, ketika mendengar nama Ibu Juno yang disebutkan wanita itu. Ny. Eom Yun berhenti mengoceh saat melihat wajah Yoona yang tiba-tiba pucat. Wanita itu menyentuh lengan Yoona yang terbungkus baju lengan panjangnya.

“Yoona-ssi, gwaenchana?”

Bibir Yoona bergetar. “S-ssiapa nama Ibu Juno? Bisakah Nyonya mengulanginya?”

“Hwang Miyoung. Wae?”

Yoona menunduk menatap lantai. Ia tidak tahu harus menangis bahagia atau menertawai kebodohannya sehari ini. Seharusnya ia percaya dengan alamat yang diberikan rekannya di kantor. Semua ini gara-gara pertengkarannya dengan Kyuhyun yang membuat Yoona kehilangan akal.

Tepat saat Yoona ingin membuka mulut hendak bertanya lebih lanjut, terdengar bunyi bel yang menggema ke dalam. Yoona menutup kembali mulutnya.

“Minji-yah, tolong bukakan pintu! Siapa tahu kita kedatangan tamu yang ingin menginap!” seru Ny. Eom Yun pada putrinya. Minji bergegas keluar dan berlari ke arah pintu. Yoona kembali mengambil perhatian Ny. Eom Yun yang tadi sempat terganggu.

“Ny. Eom Yun, sebenarnya aku adalah seorang detektif dari kepolisian Seoul. Tujuanku ke desa ini adalah untuk mencari seseorang,” ujar Yoona serius. Ny. Eom Yun mengangkat kedua alisnya.

“Detektif? Yoona-ssi seorang detektif? Wah, daebak! Aku tidak menyangka!” seru Ny. Eom Yun seraya mengguncang-guncang lembut tubuh Yoona. “Tadinya aku berpikir kau adalah seorang model atau aktris, Yoona-ssi. Sebab kau cantik sekali. Aku yakin jika kau lebih lama menginap disini, banyak pemuda yang akan—“

“YOONGIE NOONA!!!”

 

Miyoung POV

“Eomma, nanti biarkan aku dan Yoongie Noona memakai payung yang sama, ne! Eomma dan Yoongie Noona kan sudah dewasa, jadi tidak muat jika dengan satu payung!”

Aku hanya berdecak mendengar ocehan putraku. Kami berjalan hati-hati di atas permukaan aspal di depan rumah menuju penginapan Paradise milik Ny. Eom Yun. Juno sejak tadi terus memaksa untuk segera menjemput teman barunya yang bernama Yoongie itu. Mendengarnya begitu semangat menceritakan bagaimana kecelakaan kecil serta keributan antara Yoongie dan Kyuhyun membuatku penasaran, seperti apa gadis itu. Pasti Yoongie adalah gadis pemberani, sebab hanya orang-orang seperti itulah yang bisa membuat Tuan Muda Cho kalah telak.

Tapi sepertinya putraku menyukai Yoongie. Aigoo, kenapa aku merasa cemburu seperti ini.

“Aku akan menceritakan kepada Samchon kalau Yoongie Noona makan malam bersamaku. Hihihi!” Juno berbicara sendiri lalu terkikik.

Ada apa sebenarnya dengan anakku? -___-

“Yah, Hwang Juno! Kenapa kau genit begini, eoh? Kau menyukai gadis itu ya?”

“Eomma, Yoongie Noona sangat cantik. Tentu saja aku menyukainya,” jawab Juno dengan suara polosnya. Ia mempercepat langkahnya, membuatku tertinggal sedikit jauh.

Aish, di umur 5 tahun saja ia sudah mengenal rasa suka begini, sampai-sampai melupakanku. Bagaimana jika nanti ia beranjak dewasa? Bisa-bisa ia hanya memikirkan kekasihnya saja. SHIRREO!!!

Aku bergegas menyusul Juno. Ia sudah menutup payungnya lalu bisa kulihat ia merapikan rambutnya dengan tangan. Biar kutebak, ia pasti ingin terlihat tampan dan rapi di depan Yoongie itu. Juno, pikirkan perasaan Eomma, Nak. Eomma tidak ingin diduakan.

“Kenapa setiap rumah meletakkan bel yang tidak bisa dijangkau oleh anak berusia 5 tahun? Huft, menyebalkan!” gerutu Juno.

Giliran aku yang terkikik. Aku melipat payungku dan meletakkannya di samping payung Juno.

“Biar Eomma yang menekan belnya,” kataku kemudian berdiri di depan pintu. Juno melompat-lompat disampingku.

“Palli Eomma! Aku sudah tidak sabar!” seru Juno.

“Sssshh, Juno-yah, sabarlah sedikit. Dan jaga suaramu. Tidak boleh berteriak-teriak di rumah orang. arraseo?”

Juno memajukan bibirnya tetapi kepalanya mengangguk patuh. Aku tidak ingin anakku bersikap kurang sopan saat bertamu, walaupun aku percaya anakku tidak akan senakal itu. Jadi, akupun menekan bel.

Tiga detik, lima detik, tujuh detik…

Kami dengan sabar menunggu di depan pintu. Aku khawatir Ny. Eom Yun sudah mengajak Yoongie makan malam. Juno pasti kecewa jika itu terjadi. Aku menunduk memandang wajah Juno yang berseri-seri. Tanpa sadar aku tertawa kecil. Matanya sangat mirip dengan Siwon Oppa jika sedang berkilat-kilat semangat seperti itu.

Kreeeek.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatianku. Aku menoleh ke depan dan mendapati Minji berdiri dengan senyuman ramah untuk kami.

“Juno-yah, Miyoung Eonnie!”

“Minji Eonnie! Aku ingin bertemu Yoongie Noona dan mengajaknya makan malam!” tanpa dikomando Juno langsung berseru seperti orang tak sabaran.

“Kebetulan ia sedang di meja makan. Masuklah!” ucap Minji. Juno mengangguk cepat dan berlari ke dalam, tanpa menghiraukanku lagi. Minji terkekeh. Aku menggigit bibir, merasa segan. Kenapa Juno sulit sekali kunasehati? Ia tidak mematuhi perintahku tadi. Buktinya ia berteriak memanggil Yoongie Noona di dalam.

“Mianhae, Minji. Eonnie tidak tahu kenapa Juno bersemangat sekali menemui teman barunya. Ia jadi berteriak-teriak di penginapanmu. Mianhae,” ucapku seraya sedikit membungkukkan badan. Aku takut tamu-tamu lain terganggu oleh suara Juno.

“Gwaenchanayo, Eonnie. Tapi teman baru Juno memang cantik sekali. Kalau begitu, ayo kita masuk Eonnie!”

Aku mengikuti Minji ke dalam. Jarak ruang tamu dan ruang makannya tidak terlalu jauh. Aku bisa mendengar dengan jelas suara Juno dan sahutan dari Ny. Eom Yun. Aku segera memasuki ruang makan. Aku harap Yoongie dan Ny. Eom Yun tidak terganggu oleh Juno.

“Eoh, Miyoung-ah!” seru Ny. Eom Yun ketika melihatku masuk. Ada seorang gadis memakai pashmina kuning bersamanya, tetapi membelakangiku. Sepertinya ia sedang berbicara dengan Juno.

“Jwesonghamnida, Nyonya Eom.”

Ada debaran aneh di dadaku ketika gadis yang bernama Yoongie itu akhirnya membalikkan badan, menghadapku. Rambutnya yang panjang tergerai melayang di udara karena gerakannya yang terlalu cepat. Jarakku dengannya hanya 5 meter, tetapi sorot matanya padaku sangat menusuk.

“Eomma, ini dia Yoongie Noona! Bagaimana, cantik kan?”

Aku tersentak dan terhuyung ke belakang. Ya Tuhan!

 

Yoona POV

“Jwesonghamnida, Nyonya Eom.”

Suara itu! Meskipun telah lama berlalu tetapi suara lembut dan seraknya masih segar dalam ingatanku. Aku merasa tubuhku sedikit kaku dan kubiarkan Juno yang mengoceh di depanku. Aku harus segera membalikkan badan dan melihat pemilik suara yang selama ini kucari.

Lalu, aku mematung menatapnya.

“Eomma, ini dia Yoongie Noona! Bagaimana, cantik kan?”

Perlu beberapa detik untuk membuatnya tersentak dan sadar kalau aku, Im Yoona, sedang berdiri di hadapannya. Mata indahnya membulat sempurna dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Beruntung Minji segera memegangi lengannya.

Aku tidak tahu bagaimana rupaku sekarang. Aku rasa wajahku semakin pucat seperti melihat hantu saat ini. Tiffany Hwang, masih sama seperti yang dulu. Hanya kini ia lebih tampak keibuan. Inilah saat yang kunantikan selama ini. Entah sejak kapan airmataku berlinangan, menghalangi pandanganku. Akhirnya aku menemukan wanita yang sampai saat ini dicintai Siwon Oppa.

Aku hampir berhasil, Tuhan!

Butuh waktu lama untuk kami mengeluarkan suara, sementara Ny. Eom, Juno serta Minji menatap kami bingung. Tentu saja mereka tidak tahu ada kisah diantara kami. Sampai sebuah suara menginterupsi dan menyadarkanku.

“Yoongie Noona, Eomma, kalian kenapa tiba-tiba diam? Noona, apa Noona menangis?”

Aku harus mendekati dan memeluknya saat ini juga. Takkan kubiarkan Tiffany Eonnie pergi lagi dari kehidupan Siwon Oppa. Perlahan aku mengatur langkahku berjalan mendekatinya. Ia masih diam tak bergeming.

“T-Tiffany Eonnie?”

Apa ia bisa mendengar suaraku? Ia mengerjapkan matanya. Aku berjalan semakin mendekat padanya, hingga jarak kami hanya tinggal beberapa senti saja. Matanya berkaca-kaca, menatapku tak percaya.

“Yoo…Yoona-yah.”

Aku tertawa lega, namun airmataku sukses mengalir. Aku mengulurkan tanganku untuk meraba wajahnya. Hatiku mencelos. Masih kurasakan kelembutan yang sama.

“Tiffany Eonnie, benarkah ini dirimu? A-aku tidak tahu harus berkata apa.”

Aku menariknya ke dalam pelukanku dan mendekapnya erat. Aku melepaskan tangis di bahunya. Aku tidak peduli ia tidak membalas pelukanku. Aku rasa ia masih shock. Aku mengelus-elus punggungnya. Apa yang dilaluinya selama 5 tahun ini? Apakah ia begitu menderita dan sakit hati sehingga menghilang seperti ditelan bumi? Apa ia kuat membesarkan Juno tanpa kehadiran seorang suami? Aku ingin tahu semuanya.

Tiba-tiba aku terdiam mengingat Juno. Ya Tuhan, pantas saja aku merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat anak itu! Matanya mengingatkanku pada Siwon Oppa. Juno adalah putra Siwon Oppa, tentu saja! Aku semakin mempererat pelukanku pada Tiffany Eonnie, dan kini ia membalasnya.

“Eonnie, akhirnya aku menemukanmu.”

²² TWBUT²²

 

 

Author POV

Suasana di ruang tamu rumah Miyoung mendadak hening seketika karena kedatangan Yoona. Tuan Hwang memang tidak mengenal siapa Yoona, tetapi Miyoung pernah menceritakan kalau Yoona adalah adik tiri Siwon. Tuan Hwang membiarkan kedua perempuan itu duduk saling berhadapan di kursi ruang tamu, sementara ia membawa Juno masuk ke kamarnya. Juno tidak boleh mendengarkan percakapan mereka.

Yoona tidak melepaskan pandangannya dari wanita yang lebih tua darinya itu. Tak henti-hentinya Yoona bersyukur kepada Tuhan sebab wanita yang dicarinya kini duduk di hadapannya. Siwon pasti senang dan antusias mendengar kabar baik darinya nanti.

Miyoung mengalihkan tatapannya pada Yoona dan mendesah panjang mengetahui kalau gadis itu terus menatapnya. Ia tidak menyangka kalau Yoongie Noona yang dimaksud Juno adalah Yoona, salah seorang yang ia sayangi di masa lalu. Sebenarnya rasa sayang itu masih ada hingga sekarang, Miyoung telah menganggap Yoona sebagai adiknya sendiri. Dulu Yoona sangat dekat dengannya. Bahkan Siwon sempat protes kenapa Miyoung lebih memperhatikan Yoona daripada dirinya.

Namun kini semuanya telah berbeda. Hubungan Miyoung dan Siwon telah kandas. Terlebih lagi, Ibu mereka—tepatnya Ibu Yoona—sangat membenci Miyoung.

“Untuk apa kau kesini, Yoona-yah?” tanya Miyoung lembut.

“Tentu saja untuk mencarimu, Eonnie. Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mencari dimana kau berada,” jawab Yoona dengan suara lemah.

“Lalu? Apa yang ingin kau lakukan setelah ini? Yoona-yah, semuanya hanya masa lalu. Jangan mengingatku lagi!” tukas Miyoung.

Kepala Yoona menggeleng perlahan.

“Apa yang Eonnie bicarakan? Semuanya memang masa lalu, tetapi masa lalu yang belum terselesaikan! Eonnie pergi begitu saja tanpa mengungkap kebenarannya.”

Miyoung mendengus. “Percuma, Yoona. Tak ada yang mempercayaiku. Kau pikir aku bisa bertahan seorang diri, tanpa orang yang kucintai? Aku hanya seorang manusia biasa, Yoona-yah. Dan aku juga mempunyai hak untuk bahagia.”

Miyoung merasa matanya kembali panas. Menyinggung masa lalunya sama saja menyiram air asam di atas luka hatinya. Perih sekali dan Miyoung tidak ingin kembali ke masa itu.

“Aku tahu semuanya. Aku tahu…kebenarannya, Tiffany Eonnie. Jangan khawatir,” ucap Yoona tiba-tiba.

Miyoung menatap lurus ke mata Yoona. Gadis itu tersenyum tulus. Tangannya yang panjang menggamit tangan Miyoung kemudian meremasnya lembut. Miyoung merasakan kasih sayang sekaligus ketenangan disana.

“A-apa maksudmu?”

“Tiffany Eonnie, aku percaya kalau kau tidak bersalah. Bukan kau saja korban dalam masalah ini, tapi aku dan Siwon Oppa juga. Kau harus kembali. Seperti yang kau bilang, kau berhak bahagia. Sangat berhak. Eonnie, aku mohon, berjanjilah akan ikut denganku setelah aku menceritakan yang sebenarnya terjadi kepadamu. Siwon Oppa…sangat merindukanmu, Eonnie.”

Miyoung tertunduk. Entah mengapa nama Siwon kini sangat membuatnya gemetaran sekarang. Ia tidak tahu apakah Yoona jujur atau berbohong. Selama ini ia telah bersembunyi dengan memakai nama aslinya, tetapi Yoona tetap menemukannya. Miyoung tidak lagi hidup sebagai Tiffany. Tiffany hanyalah masa lalunya yang hidup di Seoul sebagai pedagang bunga.

“Eonnie, Siwon Oppa harus mengetahui tentang Juno. Juno adalah darah dagingnya. Dan Juno juga pasti senang jika ia tahu ternyata Ayahnya masih—“

“Juno tidak boleh bertemu dengannya!” sela Miyoung tajam.

Mulutnya terkatup, kaget. Miyoung kini memberinya tatapan tajam. “A-apa maksudmu, Eonnie? Bukankah Juno adalah anak Siwon Oppa?”

Miyoung menepis tangan Yoona lalu menggeleng. “Yoona-yah, Juno memang anaknya, tapi ceritakan apa yang kau tahu terlebih dahulu dan jangan menyinggung soal Juno saat ini. Aku mohon padamu.”

Yoona terdiam sejenak. Ia menghormati Miyoung seperti ia menghormati Siwon. Tetapi baginya Tiffany lebih penting saat ini. Yoona mengangguk patuh. Ia meletakkan tangan di atas pangkuannya dan menghela napas berat. “Baiklah.”

²² TWBUT²²

 

Sepasang kaki panjang melangkah memasuki sebuah rumah super megah yang dijaga oleh beberapa pria berseragam serba hitam. Derap kakinya yang tegas mengundang perhatian siapa saja yang mendengarnya. Para pengawal serta maid di rumah itu serentak membungkuk hormat melihat kedatangan pria tersebut. Sebagian dari mereka bergegas menghampiri pria yang tak lain adalah Choi Siwon itu, guna membawakan tas serta kopernya.

Siwon, pria gagah dan mempunyai charisma yang kuat. Tubuhnya yang tinggi tegap serta pundak yang kokoh menyiratkan kalau ia adalah seseorang yang kuat dan tangguh. Wajahnya tampan, mempunyai sorot mata yang dingin dan bibir tipis yang sewaktu-waktu bisa melontarkan ucapan sinis.

Sudah lama sekali ia tidak berada di dalam rumah ini. Semua kenangannya ada disini. Kenangan indah bersama mendiang Ibunya serta kenangan pahit ketika ia pergi meninggalkan Negara ini. Segalanya masih tersimpan rapi dalam memori Siwon. Kini ia hanya menunggu waktu karena memang waktulah yang akan menjawab semuanya.

Siwon melangkah menuju ruang keluarga rumahnya. Disana telah berdiri dua orang yang lebih tua darinya. Mereka sama-sama tersenyum lebar melihat Siwon berjalan mendekat. Siwon tidak balas tersenyum. Yang dapat dilakukannya hanyalah menghampiri mereka dan menunjukkan kalau dirinya telah kembali.

“Selamat datang kembali, Putra kebanggaanku, Choi Siwon!”

“Abeoji.”

Siwon langsung memeluk tubuh pria yang merentangkan tangan untuknya. Pria tua dengan rambut putih yang hampir mendominasi kepalanya itu adalah Choi Kiho, Ayahnya. Siwon memejamkan mata sambil terus mendekap tubuh itu cukup erat. Ia merindukan Ayahnya.

“Aku sangat merindukanmu, Siwon-ah.”

“Nado, Abeoji.”

Choi Kiho mengelus punggung Siwon dan menepuk-nepuknya pelan.

“Aku senang kau bersedia kembali lagi ke rumah kita,” ungkap sang Ayah. Siwon hanya mengangguk kecil sambil mempererat pelukannya. Ia tidak mempedulikan wanita yang sedari tadi berdiri di samping Ayahnya. Siwon takut, jika melihat padanya, ia akan kembali menjadi dirinya yang dulu. Bodoh dan temperamental.

“Siwon-ah, apa tidak ingin memeluk Eomma? Apa kau tidak merindukan Eomma?”

Siwon tertegun mendengar ucapan wanita itu. Tuan Choi melepaskan pelukan Siwon dan menoleh kepada wanita yang ternyata istrinya. Siwon menatap wanita itu datar, lebih seperti menaruh dendam di sorot matanya. Gerahamnya berdenyut ketika wanita itu mendekat lalu memeluknya.

Dentuman jantung Siwon menjadi-jadi. Sulit sekali menampilkan sebuah senyuman sekalipun untuk wanita itu. Bayang-bayang gadis yang dicintainya menghantui jika berhadapan dengan Ibunya, atau lebih tepatnya Ibu Yoona.

“Mianhae, Yoona tidak berada di rumah saat ini. Ia mendapatkan tugas keluar kota. Jadi, tidak bisa menyambut kedatanganmu,” ujar Ny. Choi setelah mereka tidak berpelukkan lagi.

Siwon menyembunyikan senyuman ketika mendengar perkataan wanita itu. Tidak perlu diberitahu, Siwon pun mengerti. Tidak mungkin Yoona berada di rumah sementara ia sedang mencari keberadaan Miyoung.

“Gwaenchana. Aku mengerti dengan pekerjaannya. Sekarang, aku permisi ingin ke kamar. Aku rasa aku butuh banyak istirahat. Sampai bertemu saat makan malam.”

²² TWBUT²²

Miyoung termenung di tepi jendela. Ia menghapus airmata yang sesekali jatuh melewati dagunya. Kini ia tahu semuanya. Pertemuan dengan Yoona merupakan titik cerah atas belenggu hatinya selama ini. Apa yang telah diceritakan Yoona adalah kebenaran dan semua fakta itu telah terungkap.

 

Flashback

“Malam itu, ketika aku melihat Eomma bersama seorang pemuda yang bernama Oh Jung Hyun. Tadinya aku berpikir, pemuda itu adalah teman Siwon Oppa. Tetapi setelah aku melihat gelagat aneh mereka berdua, terlebih lagi Eomma memberinya sejumlah uang, maka aku curiga. Aku mencuri dengar pembicaraan mereka. Saat itulah aku tahu, kalau Eomma mempunyai niat jahat terhadapmu, Eonnie.

Jung Hyun setuju untuk melakukan rencana kotor itu. Ia meminta sisa uangnya setelah berhasil menjebakmu. Aku ingin sekali mencegahnya, tetapi apa yang bisa dilakukan oleh gadis lugu sepertiku? Aku hanya bisa belajar dan mengurung diri di kamar.

Tetapi malam itu, setelah Jung Hyun pergi untuk menjalankan rencananya, aku pun berniat untuk mengikutinya. Meskipun aku tidak tahu apa rencanya Jung Hyun dan Eomma, tapi aku bisa mencium aroma kejahatan disana. Sejak dulu aku tahu kalau Eomma tidak menyukai Eonnie. Beliau hanya berpura-pura manis di hadapan Siwon Oppa.

Namun, langkahku terhenti di depan pintu karena Eomma memergokiku. Eomma memaksaku untuk mengatakan apa yang kudengar darinya dan Jung Hyun. Eomma memukulku tanpa ampun. Beliau mengancam akan mengusirku jika aku membuka mulut. Eomma saat itu berkata, kalau Jung Hyun adalah kekasih gelap Eonnie. Eomma memberinya uang agar tidak mengganggu hubungan Eonnie dan Siwon Oppa. tetapi aku tidak percaya! Aku tahu betapa liciknya Eomma.

Jadi, aku tetap di kamar. Aku berusaha menghubungi Siwon Oppa tetapi Oppa sangat sibuk di kantornya. Akhirnya aku hanya diam menunggu.”

Miyoung menelan ludah. Ia ingat malam dimana ia kedatangan tamu yang tak dikenal. Seorang pemuda berambut gondrong yang menyekapnya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius, tepat disaat ia membukakan pintu. Ternyata pemuda itu bernama Jung Hyun.

“Sampai beberapa jam kemudian, aku mendengar teriak-teriakan dari bawah kamarku. Aku tahu itu adalah suara Siwon Oppa dan Eomma. Aku tidak bisa keluar karena Eomma mengunciku dari luar. Aku hanya mendengar teriakan-teriakan Siwon Oppa saja. Siwon Oppa sangat marah kala itu. Dari ucapannya ia tidak percaya kalau selama ini Eonnie telah berbohong dan berkhianat padanya. Aku panik karena aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Sementara itu, aku mendengar Eomma terus mengambil perhatian Siwon Oppa. Beliau berpura-pura terkejut dengan apa yang telah Eonnie lakukan. Dan saat itu Eomma menyarankan agar Siwon Oppa meninggalkan gadis yang…yang…”

“Lajutkan, Yoona. gwaenchana,” ucap Miyoung. Yoona mengangguk.

“Ia mengatakan seharusnya Siwon Oppa meninggalkan gadis murahan dan mudah tidur dengan siapa saja seperti Eonnie. Aku tidak mengerti apa maksudnya saat itu. tetapi aku tahu kalau sebutan itu sangatlah buruk. Lalu, Siwon Oppa percaya pada Eomma. Hatiku ikut hancur mendengar Oppa menangis. Aku harus tahu apa yang telah terjadi. Apa yang telah dilakukan Jung Hyun padamu.”

Miyoung meneteskan airmatanya. Ia ingat saat terbangun dari obat bius yang telah membuatnya tidak sadar selama satu jam, ia telah terbaring di atas ranjangnya sendiri, bersama pemuda yang tadi mencelakainya. Ia dan pemuda itu, Jung Hyun, sama-sama tidak mengenakan pakaian. Miyoung memeriksa tubuhnya dengan panik. Aneh dan melegakannya , tubuh Miyoung tidak cedera sedikitpun. Jika ia diperkosa, akan terasa sakit di bagian kewanitaannya. Tetapi tidak sama sekali.

Belum habis rasa bingung Miyoung, tiba-tiba orang yang tidak diharapkan masuk ke kamarnya. Siwon dan Ny. Choi. Mereka bertiga sama-sama terkejut melihat keadaan saat itu. Siwon dan Miyoung hanya bisa saling bertukar pandangan saat itu. Miyoung merasa tubuhnya mati rasa, terlebih lagi saat Siwon menatapnya lekat dan penuh kebencian.

Sesekali Siwon berdesis marah dan melirik Jung Hyun yang tertidur pulas di samping Miyoung. Miyoung dan Jung Hyun berada dalam satu selimut, tanpa pakaian. Dan saat itu, pertama kali dalam hidupnya, Siwon menunjuknya tepat di wajah sambil berkata,

“Kau benar-benar gadis murahan. Aku tidak bisa menerima pengkhianatanmu ini, Tiffany Hwang.”

 

Flashback end

 

Miyoung ingat betapa menyedihkannya malam itu. Siwon menolak untuk bertemu dengannya selama berhari-hari setelahnya. Miyoung frustasi karena merasa ia dijebak oleh pemuda bernama Jung Hyun. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia menghubungi Ayahnya dan pria itu tidak tega membiarkan Miyoung kembali sendiri. Tuan Hwang dengan setia menjemput anak tunggalnya.

Namun sebelum ia pulang ke Ilsan, Miyoung berusaha untuk menemui Siwon lagi. Tetapi tetap saja Siwon menolaknya. Siwon tidak percaya padanya. Yang didapat Miyoung dan Ayahnya adalah penghinaan dari Ny. Choi.

Miyoung menghela napas berat. Ia berterima kasih kepada Yoona karena telah menceritakan semua itu. Yoona pun telah menjelaskan kebenarannya kepada Miyoung. Ia menghabiskan waktunya untuk mencari dimana keberadaan gadis yang dicintai Siwon itu. Dan Miyoung sangat menghargai kerja keras Yoona tersebut.

Masalah ini Siwon pun sudah mengetahuinya. Bagi Miyoung itu sudah cukup, sebab ia tidak ingin bertemu Siwon lagi saat ini. Luka di hatinya belum mengering.

“Eomma?”

Miyoung membalikkan tubuhnya dan mendapati Juno berdiri tak jauh darinya sambil megusap-usap mata. Anak itu sudah bangun ternyata.

“Selamat pagi, Pangeranku!” seru Miyoung sambil merentangkan tangan. Juno segera berlari untuk memeluk Miyoung.

“Selamat pagi, Eomma! Dimana Yoongie Noona? Aku kira Yoongie Noona menginap disini,” ujarnya seraya memandang berkeliling kamar Miyoung.

“Yoongie Noona menginap di penginapan Paradise. Tapi nanti ia berjanji akan kesini.”

Juno tersenyum cerah. Terlebih lagi sekarang adalah akhir pekan yang selalu dinantikannya. Ia mempunyai teman baru dan Miyoung tahu kalau Juno sangat menyukai si teman baru, Yoona. Miyoung tertawa di dalam hati. Apa ini artinya Kyuhyun mempunyai saingan baru? Sepertinya Yoona bukanlah tandingan Kyuhyun.

“Waaah, pagi yang cerah! Setelah seharian kemarin hujan lebat, sekarang sepertinya cuaca sudah mengizinkanku berlayar lagi!”

Miyoung dan Juno saling pandang mendengar Tuan Hwang berbicara sendiri di ruang makan. Mereka bergegas keluar kamar dan menghampiri pria yang lebih tua tersebut. Tuan Hwang tampak lebih rapi dengan beberapa pakaian yang telah disetrika di tangannya.

“Appa…hendak kemana?” tanya Miyoung heran.

“Ikut dengan kapal Jae Ho-ssi. Dia dan awak kapalnya akan pergi memancing ikan pari selama satu minggu,” jawab Tuan Hwang dengan wajah berseri-seri.

“Bukankah Harabeoji baru 4 hari di rumah? Biasanya satu minggu di rumah lalu kembali berlayar lagi,” komentar Juno.

“Ini karena Jae Ho-ssi yang mengajak Harabeoji. Apa kau tahu ikan pari? Ikan itu sudah langka di perairan kita. Oleh karena itu Harabeoji sangat bersemangat, Juno!” jelas Tuan Hwang, masih dengan nada antusias yang sama.

Miyoung berdecak. Ia tahu kalau Ayahnya sangat kecanduan memancing. Dan jika Tuan Hwang sudah bersemangat pergi ke lautr, tidak ada yang bisa mencegahnya.

“Youngie, ikut Appa. Appa ingin membicarakan sesuatu,” ucap Tuan Hwang. Miyoung mengangguk paham. Tuan Hwang membawanya jauh dari Juno, sementara anak itu bergegas ke kamar mandi. Miyoung tahu apa yang ingin dibicarakan Ayahnya. Kedatangan Yoona telah menimbulkan banyak pertanyaan di benak Tuan Hwang sebab masih segar dalam ingatannya bagaimana Ibu Yoona mengusir mereka.

“Apa yang kalian bicarakan semalam? Apa gadis itu datang untuk mengancammu?” Tuan Hwang bertanya.

“Tentu saja tidak, Appa. Yoona adalah gadis baik. Ia tidak seperti Ibunya. Ia bahkan memintaku untuk kembali ke Seoul,” jawab Miyoung. Ia tidak ingin Tuan Hwang berpikiran buruk tentang Yoona.

Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Andwe! Kau tidak boleh ikut dengannya! Kau tidak akan kemana-mana, Hwang Miyoung!”

Miyoung menempelkan telapak tangannya di dada sang Ayah dan tersenyum menenangkan. “Tenanglah, Appa. Aku tidak mempunyai niat untuk kembali kesana. Aku…tidak akan kembali pada pria itu.”

Tuan Hwang menghela napas. Ia menatap lurus ke mata putri semata wayangnya. Masih ada rasa penasaran di mata lelaki tua itu.

“Youngie-yah, apa masih ada lagi yang dibicarakan Yoona?”

Miyoung terdiam. Untuk saat ini sebaiknya Tuan Hwang tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan tadi malam. Itu karena Miyoung tidak ingin membebani pikiran Tuan Hwang yang akan berada di laut selama satu minggu. Jika beliau sudah pulang, barulah Miyoung menceritakannya.

“Tidak ada, Appa.”

Tuan Hwang mengangguk. Ia percaya putrinya baik-baik saja meskipun mata wanita itu sedikit membengkak akibat menangis semalaman. Lalu Miyoung bergerak ke dapur untuk menyiapkan sarapan sementara Tuan Hwang masuk ke kamarnya. Ia senang melakukan kegiatannya sendiri seperti mempersiapkan baju serta peralatan berlayarnya.

Miyoung berangkat ke rumah keluarga Cho satu jam lagi. Mungkin ia akan membawa Juno bersamanya. Kyuhyun pasti senang melihat Miyoung membawa serta Juno. Miyoung bertanya-tanya permainan apa lagi yang akan ditularkan pria itu kepada anaknya.

Di tengah kesibukannya memasak, Miyoung berhenti sejenak karena suara bel menginterupsi pekerjaannya. Ia berpikir tamunya pasti Yoona. Miyoung bergegas menghampiri pintu rumah dan membukanya.

“Selamat pagi, Nyonya!”

“Hmmh, ternyata kau. Aku kira siapa. Kenapa pagi-pagi seperti ini sudah tersesat di rumahku, Cho Kyuhyun?”

 

²² TWBUT²²

 

“Aku kan sudah mengirimkan alamatnya kepadamu. Kenapa lama sekali menuju kemari? Oppa, aku berbohong kepadanya untuk tidak memberitahumu. Jadi, jika kau dalam perjalanan ke tempat ini, cepat hubungi aku agar aku segera pergi dari sini.”

“Sebentar lagi aku berangkat, Yoongie-yah. Kau pikir aku tidak sabar bertemu dengannya? Apa ia baik-baik saja?”

Yoona tersenyum sambil memotong-motong daging asap yang ada di piring sarapannya. “Ne, dia baik-baik saja. Aku senang melihatnya, Oppa. Ia masih anggun seperti yang dulu.”

Yoona memang mengatakan dimana Miyoung berada kepada Siwon, tetapi ia memegang satu janjinya untuk tidak mengatakan perihal Juno. Ia menghormati keinginan Miyoung untuk merahasiakan ini. Lagipula, jika Siwon nanti sampai di tempat ini, tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Biarkan Siwon mengetahui sendiri tentang Juno, putranya.

“Kalau begitu, hati-hati di jalan. Aku juga akan bersiap-siap pulang siang ini, Oppa. Annyeong.”

“Annyeong. Yoongie-yah, jeongmal gomapta.”

Yoona tidak membalas ucapan Siwon lantas langsung mematikan ponselnya. Tugasnya untuk menemukan Miyoung atau lebih dikenalnya sebagai Tiffany kini telah selesai. Ia akan kembali ke Seoul siang ini juga untuk menghindari kecurigaan Miyoung. Jadi, saat Siwon sampai ke tempat ini, Yoona telah pergi.

“Yoona-ssi, apa kau menikmati sarapanmu?”

Yoona tersenyum ramah kepada Ny. Eom Yun yang berjalan melewati meja makan. Sepertinya wanita itu akan keluar rumah. Ia memegang sebuah keranjang untuk membawa barang belanjaannya.

“Sarapan buatanmu enak sekali, Ny. Eom Yun. Kamsahamnida,” ungkap Yoona tulus.

“Kalau begitu, aku ingin ke pasar sebentar. Kalau perlu apa-apa, Minji ada disini. Silahkan lanjutkan makan siangmu.”

Yoona mengangguk. “Hmm, Nyonya Eom. Sebenarnya siang ini aku akan kembali ke Seoul. Setelah sarapan aku akan mengemasi barang-barangku. Lagipula, sepertinya hari ini cerah. Jadi aku harus segera pulang.”

“Baiklah Yoona-ssi. Sejujurnya aku ingin kau lebih lama disini.”

Yoona tertawa renyah. Ya, sejujurnya ia juga menginginkan hal itu. Ia ingin lebih lama berada disini sehingga jika nanti Siwon dan Miyoung bertemu, ia bisa menyaksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri.

Aku harap Tiffany Eonnie bersedia menerima Siwon oppa kembali, batin Yoona. Ia terus menikmati sarapannya sambil sesekali menonton berita di televisi yang sedang menyala. Selain pemilik penginapan yang ramah, Yoona juga senang dengan kenyamanan tempat ini. Andai nanti ia mempunyai waktu luang, ia akan kembali kesini.

Tiba-tiba Yoona teringat sesuatu. Dan entah kenapa Yoona memikirkannya. Yoona sendiri heran. Ia hanya mendesah panjang demi memikirkan pria yang kemarin telah membuat perasaannya campur aduk.

“Aish, kenapa tiba-tiba aku memikirkan si Cho yang kasar itu?” gumam Yoona resah.

 

 

Sementara itu di rumah Miyoung, Juno heran melihat kehadiran Kyuhyun di meja makan mereka. Jarang sekali, bahkan tidak pernah, Kyuhyun bergabung bersama keluarga Hwang saat sarapan. Kyuhyun tetap menyantap sarapannya dengan santai sedangkan Juno tak lepas memandanginya.

“Cepat habiskan sarapanmu, Juno. Kau belum diberi insulin pagi ini,” Miyoung memperingatkan anaknya. Juno mengangguk paham.

“Baik, Eomma. Tapi, bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Samchon?” tukas Juno. Kyuhyun mengerling padanya.

“Ingin bertanya apa?”

“Kenapa Samchon tiba-tiba ada di rumahku? Apa Samchon ingin mengajakku bermain game? Atau Samchon ingin mengajakku jalan-jalan? Mianhae, aku sedang ingin bermain dengan Minji Noona,” ujar Juno.

Kyuhyun dan Tuan Hwang terdiam, sedangkan Miyoung mengernyit.

“Bermain dengan Minji? Jadi tidak ingin ikut dengan Eomma ke rumah Samchon?” Miyoung meyakinkan. Juno praktis menggeleng.

“Ani. Aku ingin bermain di penginapan dengan Minji Noona dan tentu saja Yoongie Noona. Hihihi,” Juno terkekeh dengan kalimatnya sendiri.

Kyuhyun berdehem keras setelah mendengar nama Yoona dari mulut mungil anak itu. Miyoung dan Tuan Hwang hanya meresponnya dengan senyuman. Miyoung senang jika Juno menyukai Yoona karena ia sendiri juga menyayangi gadis itu.

“Kalau begitu…ehm, aku akan disini menemanimu. Aku malas pulang. Bolehkan, Ahjussi?” kata Kyuhyun seraya meminta izin Tuan Hwang.

“Tentu saja boleh. Aku setuju Kyuhyun-ssi menemani Juno di rumah sebelum Miyoung pulang. Jadi, Juno-yah. Bermainlah dengan Kyu Samchon di rumah, ne!”

Tuan Hwang mengusap-usap kepala Juno. Kyuhyun menyeringai penuh kemenangan ke arah si bocah kecil. Juno mencurigai sesuatu, tetapi ia tidak ingin mengeluarkan pendapatnya disini terlebih dahulu.

“Kyuhyun-ssi, jangan lupa untuk mengingatkannya makan siang. Aku sudah menyiapkannya. Panaskan terlebih dahulu makanannya, arraseo? Dan satu lagi. Jangan buat anakku kelelahan,” tutur Miyoung. Kyuhyun berdecak.

“Tidak perlu kau katakan aku juga mengerti. Ck. Cerewet sekali,” gerutu Kyuhyun. Miyoung tahu kalau Kyuhyun paham. Karena tidak ada pria lain yang sangat menyayangi anaknya melebihi Kyuhyun. Ia hanya khawatir Kyuhyun lupa.

 

Yoona POV

Setelah sarapan, aku menemui Minji di kamarnya. Aku bertanya padanya dimana bengkel terdekat. Aku akan kesana untuk meminta bantuan montirnya sebelum aku pulang ke Seoul. Minji memberi alamatnya kepadaku dan ternyata hanya berjarak 50 meter dari penginapan ini. Syukurlah. Aku harus segera ke bengkel itu.

Aku keluar dari penginapan dan berpikir untuk mengunjungi Tiffany Eonnie, Tuan Hwang serta Juno. Aku ingin menyapa mereka sebentar. Lagipula aku masih merindukan Tiffany Eonnie.

Langkahku terhenti ketika melihat mobil lain di depan rumah Tiffany Eonnie. Aku langsung mengenal mobil itu, tepatnya pemilik mobil mewah tersebut. Cho Kyuhyun. Aku penasaran apa hubungan Kyuhyun dengan Tiffany Eonnie. Terlebih lagi saat melihat kedekatan Kyuhyun dengan Juno. Jika Kyuhyun adalah paman Juno, aku tidak pernah tahu kalau Tiffany Eonnie mempunyai saudara.

Ah, biarkan saja. Jangan hanya karena Kyuhyun aku membatalkan niat untuk mengunjungi Tiffany Eonnie. Aku pun melanjutkan langkahku menuju rumah sederhana itu. Ternyata rumah Tiffany Eonnie lebih indah dilihat di pagi hari begini. Banyak tanaman yang mengelilingi pekarangan rumahnya serta pot-pot gantung di teras. Sejak dulu Tiffany Eonnie memang menyukai bunga.

Baru saja aku akan melangkahkan kaki masuk ke pekarangan, tiba-tiba pintu depan terbuka. Mataku disambut oleh pemandangan yang lebih indah dari bunga yang ada disana. Tiffany Eonnie.

Aku langsung tersenyum lebar padanya dan ia yang terlebih dahulu menghampiriku. Kami berpelukkan sejenak. Aku masih tidak percaya bisa melihatnya lagi. Sebuah kenyataan yang membahagiakan bagiku.

“Yoona-yah, apa kau sudah sarapan?” tanya Tiffany Eonnie. Aku mengangguk.

“Tentu saja sudah. Ny. Eom membuatkan daging asap untukku. Hmm, Eonnie hendak kemana? Sepertinya rapi sekali,” ujarku.

“Aku harus pergi bekerja, Yoong. Mari kita bertemu nanti sore. Kau masih disini kan?”

Aku terdiam. Apa yang harus kujawab? Tidak mungkin aku memberitahunya kalau siang ini aku akan pulang sebab Siwon Oppa sedang menuju kesini? Ia masih menatapku penuh perhatian, sampai sebuah suara menginterupsi kami.

“Yoongie Noona!!!”

Juno berlari ke arah kami. Aku melepas rangkulanku dari Tiffany Eonnie dan merentangkan tangan untuk Juno. Anak itu sangat mirip dengan Siwon Oppa. Caranya tersenyum, keramahannya serta sorot mata yang dimilikinya. Ia masuk ke dalam pelukanku dan mendekapku erat.

“Selamat pagi Juno! Bagaimana kabarmu pagi ini?”

“Tentu saja baik. Apa tidur Noona nyenyak semalam?”

Aku mengangguk sambil terus tersenyum. Pada dasarnya aku sangat menyukai anak laki-laki. Ani ani, aku mencintai mereka. Kelak nanti saat aku berumah tangga, aku melahirkan bayi laki-laki.

“Kalau begitu, ayo kita bermain! Aku sarapan banyak pagi ini jadi aku mempunyai banyak tenaga untuk bermain seharian,” celoteh Juno.

“Ingat Juno, kau tidak boleh terlalu lelah!” aku mendengar Tiffany Eonnie langsung menyela anaknya. Juno bergumam tak jelas lalu mengangguk malas. Aku mengernyit. Kenapa Juno tidak boleh terlalu lelah?

“Hwang Miyoung, bukankah sudah saatnya kau pergi? Nanti kau ketinggalan bis!”

Aku langsung menoleh ke arah suara yang berasal dari teras rumah. Aku mengerjap. Sebenarnya aku sudah tahu ia ada disini, tetapi kenapa melihat wajah evil-nya itu jantungku terasa berdebar lebih keras? Ah, mungkin karena aku masih kesal dengannya.

“Baiklah, Kyuhyun-ssi. Tolong kau jaga anakku, ne! Dan jangan ganggu temanku ini. Arraseo?”

 

Author POV

Siwon tidak berhenti tersenyum saat menyetir dalam perjalanannya menuju tempat tinggal Miyoung. Ia masih mempunyai banyak waktu untuk sampai disana. Siwon sangat berterima kasih kepada Yoona yang telah mengembalikan semangat hidupnya. Yoona patut mendapat kasih sayangnya sebagai seorang kakak, meskipun bukan kakak kandung. Sejak kecil Yoona selalu patuh pada apa kata orang-orang di sekitarnya. Ia juga sangat menghormati Siwon meskipun pada awalnya Siwon tidak menyukai kehadiran Yoona dan Ibunya di rumah.

Sekarang Siwon menyadari kalau Yoona tidak seburuk Ibu tirinya.

Tiba-tiba terdengar deringan ponsel yang terletak di dashbor mobil. Siwon segera mengambil benda itu dan melihat satu pesan masuk dari Yoona. Ia tersenyum.

Oppa, aku lupa memberitahumu kalau mobilku mogok. Aku harap mobil ini sudah bisa berjalan lagi sebelum kau sampai disini. Hati-hati menyetir!

“Ck, ada-ada saja gadis ini. Kenapa ia ketakukan jika aku sampai disana sebelum ia pergi? Lambat laun Tiffany pasti tahu kalau dialah informanku,” gumam Siwon.

Siwon kembali mengingat Tiffany. Setiap kali ia menyebut nama itu, darahnya selalu berdesir menahan kerinduan. Tuhan telah memberinya kesempatan kedua untuk kembali kepada Tiffany dan mengobati luka yang dulu ditorehkannya. Terima kasih kepada Yoona atas semua ini. Siwon memang belum menghukum Ibu tirinya tersebut, sebab selama ini ia sibuk menghukum dirinya sendiri. Dan kini, ia harus bertemu dengan Tiffany dalam waktu dekat dan menjelaskan semua kesalahpahaman. Tiffany yang menjadi korban utama kedengkian Nyonya Choi serta korban kebodohan Siwon.

Andai saja malam itu ia mendengarkan penjelasan Tiffany. Andaikan malam itu ia mempercayai satu-satunya gadis yang ia cintai. Siwon menghela napas. Ia memilih-milih memori di kepalanya untuk menghibur diri. Tentu saja memori bahagia mereka.

 

Flashback

Dua orang insan yang saling mencintai saling berpelukkan di atas tempat tidur dan menatap keluar jendela. Suara hujan di tengah malam yang kelam itu menjadi musik indah di telinga mereka. Siwon dan Tiffany masih merasakan degup jantung mereka yang super cepat. Tiffany terlalu malu menatap mata kekasihnya, sedangkan Siwon tidak berhenti tersenyum. Keringat di tubuh mereka belum kering, tetapi selimut tebal itu ditarik hingga dada. Tiffany masih malu setengah mati.

Siwon meniup telinga kiri Tiffany, membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Siwon lalu menyeringai jahil dan mengecup kening Tiffany.

“Aigoo, wajahmu memerah. Kyeopta.”

“Aish, bisakah tidak menggodaku?”

Siwon tersenyum manis. Ia mempererat pelukannya di tubuh kurus kekasihnya.

Mereka kembali terdiam untuk beberapa menit. Tiffany benar-benar lelah dan perih. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya. Ia tahu kalau seharusnya mereka tidak melakukan hal ini sebelum mereka menikah. Akan tetapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Ia tidak menyalahkan Siwon sepenuhnya, sebab ia pun tidak menolak.

“Kau menyesal?” sebuah pertanyaan menyadarkan Tiffany.

“Menurutmu? Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Aku tidak menyalahkanmu,” jawab Tiffany.

Siwon duduk dari tidurnya, membuat selimut mereka meluncur turun. Mata Tiffany melebar dan dengan kecepatan kilat kembali menarik selimut itu hingga di bawah dagunya.

“Aku berjanji akan selalu berada disampingmu, apapun yang terjadi. Tiffany, kita pasti akan menikah,” ungkap Siwon tulus. Tiffany menelan ludah. Tatapan Siwon menggelitik dadanya. Ia menegakkan tubuh sehingga bersandar pada kepala tempat tidur. Tangan mereka masih terkait satu sama lain.

“Jangan suka memberi janji jika nanti kau tidak bisa menyanggupinya, Oppa.”

Siwon berdecak. Ia merapatkan duduknya di samping Tiffany, berhadapan. Sebenarnya Tiffany tidak meragukan cinta dan kesetiaan Siwon, sebab pria itu memang tidak pernah mengecewakannya. Tangan kanan Siwon terangkat untuk mengelus rambut yang menempel di kening Tiffany.

“Aku lebih baik mati jika tidak menepati janjiku.”

“Ya! Jangan bicara seperti itu. aish!” desis Tiffany sebal. Siwon terkekeh keras hingga pundaknya terguncang.

“Kalau begitu kau harus percaya padaku.”

Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengangguk. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman indah. Siwon masih saja terpesona dengan gadis itu. apapun yang dilakukannya! Siwon pun teringat sesuatu. Kedua tangannya terangkat untuk melepaskan kalung yang membelenggu lehernya selama 20 tahun ini. Sebuah kalung dengan liontin salib.

“Ambillah. Pakai ini dan kau akan merasa selalu di dekatku.”

Tiffany menerima kalung pemberian Siwon. Ia melihat ukiran di salib itu. CS untuk Choi Siwon.

“Ini kan milikmu,” kata Tiffany polos. Siwon mencubit hidungnya dengan gemas.

“Sekarang menjadi milikmu, Tiffany Hwang.”

Tiffany mengerutkan hidungnya kepada Siwon lalu menyerahkan kalung itu kembali. “Pakaikan di leherku.”

“Dengan senang hati, Princess.”

Sekali lagi Siwon menyentuh kulit putih yang lembut itu. Tangannya melingkar di leher Tiffany, mengaitkan ujung-ujung kalung tersebut sehingga menggantung sempurna di leher putih Tiffany.

“Perfect. You and this necklace,” puji Siwon sepenuh hati. Tiffany mengulum senyum.

“Gomawo, Oppa. Neomu saranghae.”

Hati Siwon bergetar mendengar pengakuan itu. Mereka saling bertukar pandang untuk beberapa detik dan Siwon mengutuk dirinya sendiri saat ia kembali menginginkan gadis itu. Tiffany tidak tahu kalau gairah Siwon terpancing hanya karena ungkapan sederhana itu. Ia bahkan mengecup kening Siwon dan berlama-lama menghirup aroma maskulin rambut kekasihnya tersebut.

Siwon memejamkan mata dan menggeram. Ia tidak mampu memikirkan apapun lagi. Yang ia tahu hanyalah hasrat dan cintanya. Siwon tersenyum gugup pada Tiffany dan memandangi bibir merah muda di depan matanya.

“Baby?” gumam Siwon serak.

“Hmm?”

Tiffany dapat melihat rahang Siwon berkedut.

“Bolehkah aku menciummu?”

Tiffany menaikkan kedua alisnya. Siwon sudah menciumnya lebih dari seratus kali tanpa izin dan sekarang pria itu meminta izin padanya terlebih dahulu? Dan seingat Tiffany, baru beberapa jam yang lalu Siwon mengajaknya bercinta tanpa meminta izin. Tiffany tidak bisa menolaknya memang karena ia juga menginginkan Siwon.

“Haruskah kau meminta izinku dulu? Siwon. I’m yours.”

 

Flashback end

 

Siwon menghembuskan nafas kasar ketika mendengar suara klakson yang menyeretnya kembali ke dunia nyata. Lampu lalu lintas di depan mobilnya telah menyala hijau, menandakan bahwa mobil-mobil dapat melanjutkan perjalanan.

“Ck, kenapa Ilsan itu jauh sekali. Aku ingin cepat sampai,” gerutu Siwon sambil menginjak pedal gasnya lebih dalam.

²² TWBUT²²

 

Yoona melirik jam tangannya setiap satu menit sementara Juno masih duduk dengan manis di sampingnya. Sebentar lagi Yoona akan mengepak semua pakaiannya dan membayar tagihan penginapan, tetapi mobilnya belum selesai diperbaiki. Yoona menatap tajam pada pria yang kini tengah membungkuk di atas mesin mobilnya. Ada sedikit rasa jengkel di hati Yoona.

Bagaimana tidak? Kyuhyun memaksa untuk memperbaiki mobil Yoona. Ia mengusir kembali montir-montir yang datang ke rumah Miyoung dan berlagak kalau ia mengerti tentang mesin. Montir-montir itu pun angkat kaki dari rumah Miyoung sementara itu Juno hanya tertawa menyaksikan mereka. Kini, hanya mereka bertiga yang tinggal di rumah. Tuan Hwang telah berangkat ke laut dan Miyoung telah sampai di rumah keluarga Cho.

“Yak! Cho Kyuhyun-ssi! Sebenarnya kau bisa memperbaikinya atau tidak? Kau sudah berdiri disana sejak satu jam yang lalu tetapi kenapa belum memberi perintah apa-apa padaku?!” teriak Yoona yang duduk bersama Juno di tangga depan rumah. Kyuhyun menegakkan tubuhnya lalu berbalik menghadap Yoona.

“Kau memang tipikal orang kota, sangat tidak sabaran. Tunggulah sebentar lagi!”

Kyuhyun kembali berbalik menghadap mesin mobil. Sekilas tampak seringaian jahil di wajahnya. Kyuhyun tidak berbohong tentang kepandaiannya memperbaiki mesin mobil, tetapi ia berbohong kalau ia sedang membantu Yoona.

Sementara itu Yoona menghentak tanah dengan kaki panjangnya. Ia khawatir jika menunda perjalanannya beberapa jam lagi, ia akan menginap di tengah jalan. Terlebih lagi tiba-tiba langit mendadak mendung kembali. Cuaca yang tadi pagi sangat cerah kini berubah total. Padahal belum pukul 10 pagi.

“Noona, bagaimana kalau kita jalan-jalan di tepi laut selagi menunggu Samchon? Aku akan memegangi tanganmu, Noona. Otte?”

Yoona sedikit terkejut mendengar penawaran dari Juno. Anak itu berbicara layaknya seorang pemuda yang ingin mengajak gadis yang dicintainya pergi berjalan-jalan. Terlebih lagi matanya yang berbinar penuh harapan.

Kyuhyun yang mendengar itu otomatis membalikkan tubuhnya, meletakkan kedua tangan di pinggang seraya memberi tatapan tajam pada Juno. Namun Juno sepertinya tidak peduli pada Kyuhyun.

“Noona…tidak mau ya?” wajah Juno memelas.

“Ehm…b-baiklah. Tapi, hanya sebentar saja. Oke?”

Juno melompat ke tanah cukup tinggi karena terlalu semangat. Tampak jelas kalau Juno sangat menyukai Yoona. Tanpa babibu, Juno langsung menggamit tangan kanan Yoona lalu menggenggamnya erat. Ia mendongak tajam dan Yoona sangat senang melihat senyuman yang tampil di wajah keponakannya itu.

“Kajja!” seru Juno.

“Berhenti kalian!”

Kontan saja langkah Yoona dan Juno terhenti ketika mendengar teriakan Kyuhyun. Kyuhyun bergegas menghampiri dan bertolak pinggang di depan mereka. Yoona memberi tatapan jengkel serta muak. Kenapa Kyuhyun selalu merusak keadaan?

“Kalian tidak boleh kemana-mana. Hei, bocah kecil! Memangnya kau tidak lihat aku sedang bersusah payah memperbaiki mobil Yoona? Dan seenaknya saja kalian meninggalkanku sendiri. Itu tidak adil!” protes Kyuhyun. Yoona mengerjap tak percaya.

“Kyuhyun-ssi, kenapa kau mengomel kepada Juno? Kami kan hanya ingin berjalan-jalan sebentar,” ujar Yoona.

“Benar, Samchon. Kenapa Samchon melarang kami? Samchon kekanak-kanakan sekali,” komentar Juno polos.

“M-mworagu?” Kyuhyun terbata.

“Juno benar. Kau kekanak-kanakan sekali,” sambung Yoona geli.

Kyuhyun mendengus kesal. Bibirnya bergerak-gerak tanpa bersuara. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Noona, kajja!” Juno pun menarik tangan Yoona dengan tidak sabar.

“Baiklah, baiklah.” Yoona mengikuti langkah kecil Juno. “Kalau begitu, kami pergi dulu, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun tidak terima Juno lebih mendapatkan perhatian dari Yoona. Ia mencampakkan handuk kecil yang sedari tadi dipegangnya ke tanah. Kemudian Kyuhyun berjalan cepat menyusul mereka.

“Aku tidak akan melanjutkan pekerjaanku. Aku ikut dengan kalian!”

Yoona terperangah. Ia tidak menyangka ada pria sangat menyebalkan seperti Kyuhyun.

“Panggil lagi montir-montir itu dan mari kita ke tepi pantai. Haha!”

Yoona masih berdiri di tempatnya dengan amarah yang mendidih di ubun-ubun kepalanya. Kyuhyun berjalan mendahului mereka sambil bersiul senang. Sementara itu Juno berdecak prihatin melihat sikap Kyuhyun. Ia menggoyang-goyangkan tangan Yoona yang ada di tangannya.

“Maafkan Samchon, Noona. Terkadang Samchon memang kekanak-kanakan. Huft!”

 

Kyuhyun POV

Aku tidak ingin Juno mengambil kesempatan ini berdua saja dengan Yoona. Bocah itu tahu bagaimana caranya membuatku kalang kabut. Kini aku tetap berjalan di samping Yoona sementara bocah itu tidak berhenti mengajaknya bicara.

“Lihat! Ada yang menjual es krim. Apa Juno mau es krim?”

Aku menoleh ke arah Juno ketika Yoona menawarinya es krim. Aku bisa melihat tatapan ragu di wajah anak itu. Ho ho Hwang Juno. Awas saja kau menyetujuinya. Aku akan laporkan kepada Ibumu.

“Noona sangat menyukai eskrim. Kau pasti juga menyukainya kan? Ayo kita beli!” ajak Yoona lagi. Juno menatap bimbang ke arahku kemudian tersenyum gugup.

“B-baiklah, Noona.”

Aku mengerjap. “Mwo? Yak! Hwang Juno! Kau dilarang makan eskrim! Apa kau ingin kejadian seperti dulu terulang lagi?!” tanpa sadar aku langsung menyembur marah.

Yoona terkejut sedangkan Juno menundukkan kepalanya.

“Cho Kyuhyun-ssi, kenapa kau memarahi Juno? Haissh, kau benar-benar pria paling kasar yang pernah kutemui!” bentak Yoona.

Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak bermaksud memarahi Juno. Aku hanya takut tubuhnya tidak menerima es krim yang dimakannya nanti. Anak 5 tahun ini mengidap diabetes mellitus dan Yoona tidak tahu itu. My bad!

“Yoona-ssi, maaf sebelumnya. Tetapi Juno tidak bisa mengkonsumsi makan-makanan manis. Dia…sakit.”

Yoona terdiam sejenak. Matanya yang bulat indah beralih kepada Juno. Juno memberinya anggukan kepala ringan tanda membenarkan perkataanku. Aku tahu kondisi Juno memprihatinkan, tetapi aku bahagia melihat anak itu ceria. Dan aku maklum jika teman baru seperti Yoona masih menyayangkan kondisi Juno.

“Kalau boleh aku tahu, Juno sakit apa?” tanya Yoona padaku dengan suara pelan.

“Diabetes mellitus tipe 1, Yoona-ssi.”

Aku bisa melihat Yoona menelan ludah. Ia tersenyum getir kepada Juno.

“Noona, walaupun aku sakit dan Eomma rutin menyuntikkan insulin kepadaku, tetapi aku merasa tetap segar bugar. Karena aku selalu mematuhi kata-kata Eomma. Aku pernah masuk rumah sakit satu kali dan tertidur cukup lama hanya karena memakan kue tart buatan Kwon Ahjumma. Saat itu aku lapar dan lupa kalau Eomma melarangku makan kue tart,” celoteh Juno. Yoona mengelus puncak kepalanya.

“Oleh karena itu kau harus selalu menjadi anak yang patuh. Mianhae, tadi Noona tidak tahu.”

“Gwaenchana, Noona!”

Aku berdesis ketika melihat senyum lebar di wajah Juno. “Aigoo, senyummu itu sangat memuakkan.”

Juno merong padaku. Hanya karena Yoona ia berani melawanku. Tsk, awas saja anak ini.

Tes…tes…

Aku sedikit bergidik merasakan sesuatu yang dingin mengenai telingaku. Eoh? Hujan?

Zzzzzrrrssss…..

“Wah, hujan lebat! Noona, cepat kita berteduh!”

Belum sempat aku memberi komando, Juno lagi-lagi mendahuluiku. Ia dan Yoona berlari menuju sebuah pondok di dekat kami dan berteduh di terasnya. Aku segera berlari menghampiri mereka. Aish, kenapa tiba-tiba hujan lebat? Rencana kami untuk ke pantai pun gagal.

“Cuaca memang sulit sekali ditebak,” aku mendengar Yoona bergumam.

“Noona, padahal aku ingin sekali mengajak Noona bermain. Noona, bagaimana kalau kita bermain game di rumahku sampai Eomma pulang?”

Aku menatap tajam pada Juno. Ia menggantikan posisiku dengan gadis ini? Wah, ini tidak bisa dibiarkan! Hanya aku yang bisa bermain dengan Juno!

“Hwang Juno, apa-apaan kau ini? Apa kau melupakanku sekarang?” tanyaku sengit. Yoona tersenyum jahil padaku.

“Kau kenapa cemburuan sekali? Aku juga bisa bermain game dengan cukup baik,” ujar Yoona. Kemudian ia menoleh kepada Juno. “Tapi sayang sekali Noona tidak bisa, Juno-yah.”

Wajah Juno langsung cemberut dan itu sebuah kepuasan batin bagiku.

“Waeyo? Kenapa Noona tidak ingin bermain denganku?”

“Karena Noona harus pulang siang ini. Setelah mobil Noona bisa dinyalakan lagi, Noona akan pulang ke Seoul.”

Aku membeku di tempat. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sebab gadis ini adalah orang asing, lalu kenapa aku harus merasa tidak rela mendengarnya mengatakan kalau ia akan pulang ke Seoul?

“Mwo? Aku kira Noona akan menginap disini dalam waktu yang lama. Memangnya orang yang Noona cari sudah ditemukan?”

Yoona tersenyum manis. Kepalanya mengangguk pelan. “Ne, Noona sudah menemukannya. Juno-yah, seandainya Noona bisa lebih lama lagi disini. Tetapi pekerjaan Noona di Seoul tidak bisa ditinggalkan. Juno mengerti, kan?”

Aku berdehem keras untuk mengambil perhatiannya. Benar saja, ia menoleh padaku. Cukup lama ia memandangiku dan damn! Kenapa lagi-lagi jantungku berdebar tak karuan?

“Cho Kyuhyun-ssi, terimakasih atas kesediaanmu menemaniku. Meskipun kau menyebalkan, tetapi aku tetap berterima kasih,” ucapnya lalu membungkuk.

Aku salah tingkah. Sepertinya Yoona adalah gadis yang sulit ditaklukan. Selain profesinya sebagai seorang detektif, ia pun mempunyai sifat yang dingin, tegas sekaligus…lembut. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta padanya?

“Yoona-ssi?”

“Hmm?”

“K-kapan kita bisa bertemu lagi?”

²² TWBUT²²

 

Author POV

“Pulang ke Seoul? Jinjjayo?”

“Nde, Eomma. Noona meninggalkan nomor ponselnya untuk Eomma. Noona bilang, ia akan kesini lagi jika mempunyai kesempatan. Huft, padahal aku ingin bersamanya terus.”

Miyoung menggigit bibir. Kenapa Yoona pergi tanpa memberitahunya? Padahal ia telah berusaha pulang lebih cepat dari rumah keluarga Cho. Miyoung juga belum ingin berpisah dengan Yoona. Masih banyak yang ingin ditanyakannya. Miyoung melirik Juno, anak itu tampak tidak bersemangat.

“Ada apa dengan wajah itu?” tanya Miyoung tergelak.

Juno menggeleng lemah. Ia menghembuskan napas berkali-kali sambil sesekali membuat kedua mobil di tangannya bertabrakan.

“Eomma, bolehkah aku menghubungi Yoongie Noona untuk mengucapkan selamat pagi, selamat siang dan selamat malam padanya?” tanya Juno. Wajahnya yang putih tiba-tiba merona merah seperti boneka Pikachu.

“Ada apa denganmu? Jangan katakan kalau kau menyukai Yoona?” tanya Miyoung merasa geli sekaligus luar biasa heran. Juno menggeleng cepat sekali seolah-olah ingin menanggalkan kepalanya dari leher.

“Ani. Yoongie Noona kan teman baruku!”

Miyoung berdecak gemas. “Baiklah. Sekarang mandilah dulu. Eomma akan menyiapkan makan malam untuk kita berdua.”

Juno mengangguk patuh lalu meninggalkan Miyoung di ruang tamu sendiri. Miyoung melirik jam tangannya. Sudah pukul 6 senja. Ia harus segera masuk ke dapur untuk membuat santapan malam mereka. Kembali seperti biasa, hanya berdua dengan Juno. Miyoung sudah sangat terbiasa, namun tak dapat dipungkiri sesekali ia juga merasa kesepian.

“Aish, aku lupa membeli beras!” gumam Miyoung ketika sadar kalau persediaan beras di dapur sudah habis. Terpaksa ia harus membelinya ke mini market terdekat. Diluar masih gerimis, jadi Miyoung bisa meninggalkan Juno di rumah sebentar dan membeli beras kesana.

“Juno-yah!” panggil Miyoung di depan pintu kamar mandi.

“Ne, Eomma?” sahut putranya.

“Eomma akan ke mini market sebentar. Jangan bukakan pintu untuk orang asing. Arraseo?”

“Arraseoyo, Eomma!”

²² TWBUT²²

 

“Aish, tidak kusangka hujannya semakin lebat. Ck, bagaimana ini? Juno pasti ketakutan di rumah,” gumam Miyoung sembari mempercepat langkahnya. Ia telah mendapatkan apa yang dibelinya di mini market tadi tetapi setelah keluar dari sana, hujan lebat langsung menyambutnya.

Miyoung tetap menyusuri jalan menuju rumahnya dibawah payung berwarna merah muda itu. Payung itu hanya melindungi dari kepala hingga lututnya, sementara tubuhnya bagian bawah telah basah kuyup. Hujan memang benar-benar lebat. Jika ada yang menemani Juno di rumah, Miyoung pasti akan berteduh untuk sementara dulu.

Beruntung jarak mini market dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Miyoung merinding merasakan sensasi dingin yang tiba-tiba membalut tubuhnya. Ia harus segera sampai di rumah dan menyalakan penghangat ruangan.

Lalu, ketika Miyoung hendak menyeberang jalan menuju gang rumahnya, terdengar suara klakson yang memecah keheningan senja. Miyoung memejamkan matanya dan berhenti tepat di tengah jalan. Pandangannya terhalang oleh kabut hujan yang sangat tebal. Oleh karena itu ia tidak melihat mobil yang sedang melintas.

Miyoung merasakan jantungnya tanggal dari tempatnya. Ia berpikir ia telah menjadi arwah saat roda-roda mobil itu berdecit dan berhenti tepat di sampingnya. Tinggal 10 sentimeter lagi jarak antara Miyoung dengan mobil tersebut.

Ada keheningan mengerikan selama beberapa menit. Miyoung pun membuka matanya dan menyadari kalau kantung beras yang tadi dipegangnya jatuh ke aspal. Miyoung mendesah sedih. Ia benar-benar sial sore ini. Untung saja ia tidak tertabrak mobil di dekatnya itu.

Merasa bersalah, Miyoung membalikkan tubuhnya ke arah mobil dan melihat lampu depan mobil menyala terang ke arahnya, sehingga ia tidak bisa melihat pengendara mobil tersebut. Miyoung menarik ujung-ujung bibirnya lalu tersenyum kaku. Miyoung membungkukkan tubuhnya berulang kali tanpa menghiraukan pengemudi itu turun dari mobilnya.

“Jwesonghamnida Tuan, saya tidak melihat-lihat ketika menyeberang. Sekali lagi, maafkan saya!” seru Miyoung kemudian menegakkan tubuhnya kembali.

Kemudian, entah apa yang dirasakan Miyoung, tiba-tiba ia mendengar suara petir menggelegar di telinganya, padahal tidak ada apa-apa di langit yang hitam kini. Ia terkejut di dalam dirinya sendiri sementara matanya melotot ke arah pria yang sekarang tengah berdiri tepat di depannya.

Pria itu tinggi, berambut hitam, mempunyai sorot mata elang yang tajam dan basah kuyup.

Bukan tubuh Miyoung saja yang kaku, tetapi juga jantungnya. Ia seperti mati beku hingga tidak merasakan debaran jantungnya lagi. Kedua tangannya mengepal erat memegangi tangkai payung. Pria itu memberikan tatapan yang sama padanya. Mereka bagaikan dua patung yang saling berhadapan. Beberapa detik kemudian Miyoung mendengar otaknya memberi perintah agar segera melangkahkan kaki, menjauhi pria tersebut. Tetapi anggota tubuhnya menolak!

Pria itu tidak mempesonanya, melainkan mengintimidasinya dengan tatapan. Semakin lama sorot matanya semakin melembut lalu kakinya bergerak perlahan mendekati Miyoung. Miyoung masih tidak bisa bergerak.

Miyoung mengerjap cepat ketika sebelah tangan pria itu terangkat untuk menyentuh pipinya. Miyoung bergidik. Tangan itu sedingin es, bahkan mungkin lebih. Ujung-ujung jarinya yang mengeras mengelus pipi Miyoung. Bibir pria itu bergerak-gerak, namun tidak kunjung mengeluarkan suaranya.

Miyoung menelan ludah saat kedua tangan pria itu kini menangkup wajahnya. Airmatanya telah banyak berlinang sementara hatinya terus mengutuk sebab belum juga beranjak dari hadapan pria itu.

Lalu, pria itu tertawa kecil. Tepatnya tertawa lega, seolah-olah terlepas dari beban berat hidupnya selama ini. Hati Miyoung mencelos ketika mendengar suara pria yang selama ini dirindukan sekaligus dibencinya.

“Aku menemukanmu, Tiffany Hwang.”

 

 

 

To be continued

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

135 thoughts on “TIME WILL BROUGHT US TOGETHER 2

  1. akhirnya mereka ketemu juga..
    penasaran sama reaksi tiffany, nerima atau bakalan nolak siwon ya..?
    kasihan tiffany, gara2 mama nya yoona, dia tersiksa. siwon nya oon juga, gag percaya n gag mau dengerin tiffany. pantes tiffany segitunya sakit hati.

  2. finally ff ini d post juga. udah jamuran nunggu kelanjutanya…
    tp semua kebayar saat baca wuaahhhh, akhirnya sifany ketemu jga heheheh….
    smoga fany mau balikan lg sma siwon #hope hehehe…
    d tunggu kelanjutanya yaaa

  3. kenapa aku merasa scene terakhir itu intense bangeeet.. macam film2 thriller.. hahahaa.. merinding lho bacanyaaa..
    good job part 2 nyaa.. keren habis.. kak echa selalu bisa nyritain yoonfany dgn sangat maniis.. lanjuuut..

  4. AAAAHHH KAMPRETT KENAPA TBC NYA DISITUUU. thor pls penasaran bangett. jangan lama lamaa. dan ga nyangka ibunya yuna jahat banget. ditunggu yg ketigaa

  5. Aaaaaa, akhirnya meraka berdua bertemu jugaa.. Tapi gimana ya respond fany eonni nantinya? Terus, gimana dgn juno? Penasarannnn, next chapter secepatnya ya thor.. I’ll be waiting..

  6. aaa!! ketemu!! daddy ketemu mommy wuuu!!! gk sabar next part. famy nerima siwon gak ya? atau juno jd gak suka sama siwon? authornim, semangat next part mya ya. cepetan di publish hehe. semangat!!

  7. Huhu akhirnya bisa bc ff juga, msih bnyk bgt stok ff nya, hehe 😄 duuhh sifany akhirnya ketemu jga😂 smga rasa benci fany hilang dgn rasa cintanya ya🙏jahat bgt eommanya yoona 😡 kan ksihn fany nya 😢 duuhh keren lah ff nya smangat nglnjutinnya 😊

  8. Wktu baca flashback yg ciuman di bwh hujan deras itu aku jadi keinget scene di naughty kiss>< pdhl mereka dulu so sweet batt yaa😥 ahh tp akhirnya mereka bertemu, brhrp batt mereka baikan😭 kasian ya juno kecil" kena penyakit itu😥 kyknya kyuppa sdh ada feel sama yoong unnie😍 kkk ditunggu lanjutannya unnie, hwaiting!!

  9. Seseoraaanggg kill me please -___-…
    Miris bngt sih aku ny knpa baru taw klo ini ff udah ad part 2 ny -,- dan yg makin nyes ny lagi udah hmpir sebulan dipublish dan ak ny baru mau baca. Haadeeuuuhh!!! #tepokjidat.

    Ya udah gk papa deh, bca dulu deh ah. Ntar dikomen lg.

  10. Hannjeer pertemuan yoongi ma tippa dramatis ye, kak echa part selanjut ny bikin babang siwon sulit ngrebut hatiny tippa lagi y kak, bikin tippa jual mahal. Mahal beneran y kak biar bang siwon taw rasa tuh. Hahaa
    pensaran bgt ma eomma ny yoongie knpa dia jahat gtu kak?
    O iya, di sini gk ad jessie y kak? Hehee

    ya udah deh, ditunggu part 3 ny y kak. Janji deh gk bakal ketinggalan lgi baca ny -,-.

    • kayaknya ini bocah mesti gue tabok, telat muluuu *keluar asep di idung*
      iyaaa kk mahalin tiffany gak pake diskon. part 3 yg bikin haneul tersayang.. tenang, kita berdua suka jessie kok. tp belum tau jd peran apa hahaha wleeek

  11. Widih eonnie part ini bikin aku merinding. Banyak tanda tanya di part 1 , dan di part 2 terjawab. Kisah kelam yang dialami miyoung itu kejam, sungguh terlalu ibunya yoona, untung ada yoona yg dulu jadi saksi bisu, dan skrng dia udh bisa kasih tau keberannya ke tiff. Dan juno yang manis ternyata punya diabetes diusianya yg bahkan masih kecil, dia jadi ga bisa menikmati makanan” manis seperti anak kecil kebanyakan, malangnya baby juno😦
    Aku suka dibagian dimana tiff ngerasa cemburu karena juno suka banget ke yoona, trus kyu yang juga keliatan cemburu ngeliat keakraban juno-yoona. Tapi entah dia cemburunya lebih kesiapa, juno/yoona, Hahaa. Membingungkan tapi seru, mereka dibuat bingung sama anak usia 5 thn. Lol
    Duh eonnie itu kisah flashback’nya sifany romantis bangeeeeeet, berawal dari hujan, dan bahkan di part akhir mereka akhirnya ketemu lagi dibawah guyuran air hujan, so sweet’nyaaaaaa. Suka suka suka ♡
    Penasaran sama kelanjutannya, tiff bakal kasih tau tentang juno ke siwon ga yah.
    Semangat terus nulisnya kalian berduaaaaaaa *kisskiss

  12. pertemuan pertama kyuhyun dan yoona mereka malah adu mulut, sikap kyuhyun juga tergolong menjengkelkan tapi juno menyukai yoona yg memang sebenarnya adalah imonnya, meskipun yoona hampir menabraknya.
    bisa di tebak ternyata keluarga cho beserta kepala pelayan rumah tangga cho menyayangi miyong dan sepertinya memang ingin miyong bersatu dengan kyuhyun. tapi lega ternyata miyong belum membuka hatinya karena memang sudah terisi oleh siwon, padahal memang kyuhyun dekat dengan juno, salut banget dibalik sifat evilnya kyuhyun ternyata yg banyak mengajari juno berbagai hal dan menyayangi juno dengan tulus, kyuhyun juga jadi sosok sahabat untuk juno.
    melihat bagaimana keras kepala dangigihnya siwon mengejar tiffany dulu, sayang banget mereka akhrinya harus berpisah, itu karena amarah yg membutakannya
    kasihan banget juno masih kecil tapi dia harus merasakan jarum suntik setiap harinya karena penyakit diabetesnya.
    tapi juno memang anak yang kuat dan pintar, dia masih tetap ceria dan terlihat sehat, meskipun sebenarnya dia sakit. dia juga mendapatkan hinaan dr teman teman sebayanya, tapi dia ternyata tetap kuat walaupun hatinya sedih
    untunglah ny.oem menceritakan semuanya pada yoona, dan miyong akhirnya bertemu dengan yoona
    akhirnya masalah yang membuat siwon berpisah dengan tiffany terungkap, semuanya memang atas kejahatan ny.choi ibu tiri siwon dan ibu kandung yoona. jahat banget. padahal yoona dan miyong juga dekat dan saling menyayangi.
    siwon padahal berjanji pd tiffany kalau dia lebih baik mati drpd tidak menepati janjinya yg akan menikah dengan tiffany dan akan selalu bersama tiffany. tapi dia malah menyakiti tiffany dengan percaya pd fitnah ny.choi yg menjebak tiffany dengan jung hyun
    kyuhyun dan selalu bertengkar setiap bertemu, padahal hati kyuhyun dan yoona sepertinya sama berdebar tak karuan kalau mereka bertemu
    entah kyuhyun cemburu juno yg bersikap layaknya pria dewasa ke yoona atau dia hanya merasa tersaingi karena yoona akrab banget dengan juno dan juno lebih memilih mengajak yoona berjalan jalan dari pd maen game dengan kyu. yoona mulia selalu memikirkan kyuhyun begitupun sebaliknya.
    jika yg hampir menabrak miyong itu bikin miyong kaku baik raga dan jantungnya, pasti itu siwon
    karena pria itu juga berkata akhinya menemukan tiffany hwang, yakin banget deh. tapi gimana rekasi miyong selanjutnya ?
    apa miyong nanti akan cepat lari atau malah membawa siwon bersama ke rumahnya dan mempertemukan siwon dengan juno anaknya, yg bahkan siwon tidak mengetahui kehadiran juno. buah cintanya dengan miyong
    aku suka part siwon dan tiffany yg akrinya menjadi kekasih dan berciuman dibawah siraman hujan, romantis dan pas siwon dan tiffany pertama kalinya bercinta itu juga manis
    suka juga karakter pintar juno dan ungkapan kasih sayang miyong juno
    nunggu juga gimana kelajutan siwon miyong juga kyuhyun yoona, terus gimana nanti juno pas ketemu siwon.pasti siwon kaget terharu dan merasa kembali bersalah apalagi juno mengidap diabetes
    penasaran banget jadinya
    ff ini emang keren dan bagus banget, part 1 ditulis song haneul, dan part 2 ini sama kak echa tapi ga keliatan ditulis sama 2 author berbeda. dan nyambung banget. hebat pokonya bisa bikin ff keren ini. imajinasinya sama sama jalan bikin tulisan bagus gini
    ff ini emang daebak…
    song haneul sm kak echa emang daebak…

  13. Ya ammppuuuuunnnn Authornim kpn ini part 3 nya dilanjuutttt……. Udh nyampe bc berkali kali nih…… Tp g bosen jg sih sm ceritanya 😄😄

  14. Aahhhh.. oh my GOD
    Lg seru2 eh tbc
    Akhir’a mreka ketemu lg
    Astagaaa knp jd g yg deg2’an
    Mi apa nih ff bgus bgt
    Maap yaa thor baru comment di part2
    Abis’a saking seru’a jd maen labas aja
    Haha..
    Sekali lg mian ya thor
    Di tnggu next part’a ^^
    Seru.. seru.. seru..

  15. Hahaha…..juno cute banget deh.akhirnya siwon bertemu juga dengan fany.kenangan sifany 5 thn yg lalu,benar2 so sweet moment.makin seru aja storynya authornim.ditggu lanjutannya authornim tetap semangat ya dan keep writing authornim.
    Good luck authonim.Authornim jjang.sifany jjang.

  16. ini crt hrs lnjut krn bnyk kbnaran yg terungkp.siwon hrs th klo dia pny ank bhkn ank itu kg skit. miyoung g bisa tutupi lg klo appa juno msh ad,sesuai do’a juno klo dia ingin ktm dgn appany. dihindari justru takdir jg yg pertmukn sifany lg scr tak sengja. ush yoona g sia2 smg mrk kmbli bersama n yoona bisa berikn pljrn utk ibuny.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s