(AF) Fly Over 40.000ft. Part 2 (end)

Fly Over 40.000ft. Part 2 (end)

fly-over-40-000ft

Author: Arisa Karamorita (@IM_Soshitaengs)

Main Cast: Tiffany Hwang/Stephanie Young & Choi Siwon

Support Cast: Park Jung Soo, Stessy, Hwang’s Family

Genre: Romance, Sad, Hurt.

Rating: G

Lenght: Two Shoot

Disclaimer: this fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. Cerita ini terinspirasi dari salah seorang pramugari Air Asia yang baru-baru ini tertimpa musibah. Sebelumnya cerita ini sudah pernah di post dengan cast Kim Taeyeon-Byun Baekhyun di wp “All The Stories is Taeyeon”. Jika menemukan cerita ini dalam cast yang berbeda, selama authornya masih Arisa Karamorita (@IM_Soshitaengs) maka bukan termasuk plagiat. Please enjoy and leave your comment^^.

Synopsis : disaat tiffany harus memilih antara kekasih atau karir terbangnya, dua hal yang menjadi hidupnya selama ini. sungguh pilihan yang sangat sulit hingga takdir yang berbicara tanpa harus memilih jalan mana yang akan tiffany ambil. Ini bukan sebuah dongeng antara pangeran dan puteri yang akhirnya hidup bahagia diakhir cerita. Ini hanyalah sepenggal kisah sederhana dari sejoli yang berharap memiliki akhir layaknya dongeng dimasyarakat. Tetapi takdir mahacinta sudah ditentukan.

Credit poster by Veokim @poster Channel. Big Thanks for Awesome poster ^^

– Fly Over 40.000ft –

Part sebelumnya…

“Aku percaya takdir cerita mahacinta tak akan salah. Lihatlah betapa indahnya cahaya langit 40.000 kaki yang mengalir di setiap kilau cincin kecil ini. It feels like a morning that we share together. Although as time passes, let’s not let go of our hands cause I want to be by your side forever. Always my darlS, my best friend, my enemy, and my patner in crime? No no no, my patner in life =) Let’s let this be our last love. I wish for that, who always made my life complete, my darlS♥.”

Pikiran Siwon tak fokus selama meeting berlangsung. Entah perasaan apa yang membuatnya susah untuk berkonsentrasi penuh. Dari tadi ia hanya memainkan ballpoint yang ia pegang. Materi presentasi dari perwakilan perusahaan tak sedikitpun dapat Siwon terima dengan baik. Ini sungguh bukan seperti dirinya.

Langkah Siwon melambat ketika melihat sosok yang sudah tidak asing lagi baginya. “Park Jungsoo?”

Tepat didepan pintu ruangan, sahabatnya berdiri dengan raut wajah pucat pasi, keringat membasahi setiap sudut pelipis wajahnya. Nafasnya memburu. Tangannya sedikit bergetar. Kedua bibirnya seakan membeku untuk mengucapkan sepatah dua patah kata.

– Fly Over 40.000ft –

“Astaga Park Jungsoo, apa kabar? Lama tidak—”

“Siwon-a…”

“ya?” Siwon menatap Jungsoo penuh tanda tanya.

“kau sudah lihat ponselmu?”

“ponsel? Aku baru selesai meeting…”

“pesawat apa yang dinaiki Tiffany hari ini?” potong Jungsoo tiba-tiba disaat Siwon belum mengakhiri jawabannya.

“kenapa tiba-tiba? Aku tak yakin pesawat mana, yang jelas pesawat itu berangkat sekitar satu jam yang lalu.”

“Tiffany… Tiffany…” Jungsoo ingin menyerah, namun kenyataan kembali mendesak.

– Fly Over 40.000ft –

Siwon berlari layaknya orang kesetanan. Napasnya memburu mengiringi setiap langkah yang ia ambil. Tubuhnya seakan melayang tanpa jiwa.

“aku tak tau harus memulainya dari mana. Ini akan terasa berat untukmu…”

Sampai di area parkir, Ia langsung memasuki mobilnya. Kakinya menginjak pedal gas begitu dalam hingga hanya dalam hitungan detik hanya kibaran debu yang tertinggal disana.

“Pesawat yang di naiki Tiffany… tigapuluh menit yang lalu dinyatakan hilang kontak. Tak ada yang dapat memastikan bagaimana keadaan semua penumpang yang ada didalamnya. Kau harus kuat, Siwon-a.”

Suasana bandara begitu ramai. Beberapa mobil ambulans disiagakan. Tak sedikit polisi, tentara, bahkan wartawan yang berlalu lalang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Siwon keluar dari mobil dan segera berlari menerobos keramaian yang ada disana. Pakaian yang semula masih melekat rapi kini menjadi tak beraturan.

Kaki Siwon berhasil menerobos kerumunan manusia-manusia yang berebut mengambil posisi untuk melihat daftar penumpang pesawat itu. Mata tajamnya mencoba berkonsentrasi mencari satu nama, berharap jika nama yang dicarinya tak ada dalam deretan nama yang terpampang.

‘Pramugari Stephanie Young’

Tubuh Siwon kaku tersengat syarafnya yang menegang. Kakinya terasa lemas. Kerasnya dorongan dari orang-orang yang juga ingin melihat daftar nama itu memaksanya untuk keluar dari kerumunan.

Otaknya masih belum bisa sepenuhnya menerima apa yang sebenarnya terjadi. Air mata yang semula tak menampakkan diri kini mulai mengaliri pipi Siwon yang penuh akan peluh keringat. Tangisan histeris orang-orang disekitarnya seolah menampar dan menyadarkan Siwon akan kenyataan.

Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, menekan tombol panggilan nomor 1. Suara yang beberapa waktu lalu mengeluarkan kalimat sayang kini berganti menjadi suara operator yang menyatakan jika nomor tersebut berada di luar jangkauan. Hati Siwon perih. Ia berharap untuk segera bangun dari mimpi buruk ini.

– Fly Over 40.000ft –

‘sayang apa kau ingat tempat ini? ukiran manis yang kau buat masih tergambar jelas disana. Pohon yang menjadi saksi bisu awal cerita kita. Apa kau tak merindukannya? Kau terbang terlalu jauh membuat tangan ini tak lagi sanggup menggapaimu. Sayang kapan pulang? Aku ingin melihat senyuman yang terlukis dari bibirmu.’

Siwon mengamati gambar ukiran pohon pada layar ponselnya. Satu tetesan dari sudut matanya ditangkap layar ponsel itu tepat pada tulisan nama ‘SY’, inisial nama asli Tiffany.

Pohon itu memang menjadi sejarah dalam perjalanan cinta mereka. Tepat dibawah pohon tersebut beberapa tahun silam, Siwon memberanikan diri berdiri dihadapan seorang gadis dengan kegugupan yang lebih besar daripada berhadapan dengan clien pada saat presentasi.

‘Terbang, bintang, awan dan apapun yang berhubungan dengan langit adalah hidupmu. Setidaknya sisakan sedikit tempat untukku agar aku bisa menjadi bagian dari hidupmu. Aku memang bukan lelaki yang penuh akan harta ataupun kekuasaan yang mampu memberimu segalanya. Aku juga bukan Park Si Hoo, aktor tampan dan terkenal yang selama ini mampu mendapatkan hatimu. Aku hanya seorang choi Siwon, lelaki biasa yang menginginkan satu tempat dalam hidupmu. Apakah tersedia sedikit tempat itu untukku?’

‘bukan lelaki sempurna yang penuh akan harta dan kekuasaan yang kuinginkan dalam hidupku, tetapi lelaki jujur yang mau bekerja keras dan berusaha. Hmm… terbang, bintang, langit dan awan memang hidupku. Namun jika boleh aku bercerita, akhir-akhir ini aku telah menemukan sesuatu yang baru dan ingin kumasukkan dalam bagian hidupku. Sesuatu itu adalah cahaya yang selama ini menuntunku menjadi orang yang lebih baik. Kau tau? Cahaya itu kini tengah berdiri dihadapanku dan meminta sedikit tempat dalam hidupku. Dia begitu bodoh, kenapa harus meminta sedikit tempat ketika aku sanggup memberikan tempat yang seluas-luasnya. Semoga ia tak besar kepala sekarang.’

“Siwon… Choi Siwon…”

Suara serak yang memanggil namanya memudarkan bayangan akan masa lalu yang terlintas. Siwon mengangkat kepalanya yang terasa berat. Matanya mencoba fokus menatap sosok yang baru saja keluar dari mobil, mereka adalah Michelle, kakak perempuan Tiffany bersama sang ayah. Dibelakang diikuti Leo, kakak kedua Tiffany bersama istrinya yang baru tiba dari Filiphina. Ia segera berlari dan menghampiri mereka.

Tangan dingin Michelle meraih tangan siwon yang tak kalah membeku. Siwon bisa merasakan jika tubuh wanita itu bergetar hebat.

“where Tiffany…? Where Our Tiffany –Tiffany dimana-?” suara Michelle begitu menusuk bagi Siwon. Keduanya matanya terpejam, bibirnya terasa beku untuk menjawab.

“Tiffany… Tiffany… adikku yang malang…”

Michelle seolah kehabisan tenaga untuk sekedar meraung meratapi kejadian yang menimpa adiknya. Ia begitu terpukul begitu mendengar kabar tentang kecelakaan pesawat yang melibatkan putrinya. Air mata tak henti-hentinya membanjiri setiap sudut wajah yang mulai menua itu. Dinginnya air mata calon kakak ipar Siwon seolah menembus dirinya hingga ketulang-tulang.

Leo dan istrinya juga begitu terpukul. Adik yang jarang mereka temui kini tak diketahui keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah mati. Tangan Maria, istri Leo, mencoba mengusap pelan punggug Leo, memberikan ketenangan kepada Suaminya yang masih shock dengan keadaan.

Ayah Tiffany yang sedari tadi terdiam di samping Siwon juga tak dapat menyembunyikan kesedihannya, hanya saja ia tak ingin menunjukannya. Ia menarik Michelle yang asih histeris kedalam pelukannya. Sebagai kepala keluarga sudah semestinya memang ia menjadi tiang dalam bersandar.

Jerit tangis Michelle semakin melemah seiring dengan pelukan Ayahnya yang tiba-tiba merenggang. Ia pingsan. Siwon dibantu Leo langsung membawa Michelle untuk mendapatkan penanganan.

Setelah menyerahkan Michelle kepada perawat yang ada, Siwon segera keluar dari aula ini. suara tangisan, histeris, kesedihan begitu mendominasi aula yang untuk sementara ini digunakan sebagai posko dan pusat informasi korban kecelakaan pesawat yang terjadi beberapa jam lalu.

Setelah pesawat dinyatakan hilang kontak, perwakilan tim pencarian menyatakan jika pesawat tersebut jatuh di perairan perbatasan antara Jepang-Korea. Hingga saat ini tim angkatan laut Korea dibantu tim dari berbagai negara asing masih melakukan pencarian.

Para keluarga korban diminta untuk tetap tenang menunggu infomasi lebih lanjut. Namun himbauan itu seolah menjadi angin lalu. Yang mereka inginkan hanya keluarga mereka kembali.

Tak ada satu katapun yang mampu meluapkan segala protes demo sedih dalam diri Siwon. Air mata seakan lebih banyak mewakilkan segala emosi jika dibandingkan dengan keluhan dalam bibir.

‘kau lihat sayang? kakakmu pingsan. Ayah dan kakak laki-lakimu sekuat tenaga menahan air matanya, tapi tetap saja kesedihan terlihat jelas dari wajahnya. Mereka sangat terpukul. Apa kau tak kasihan? Cepat pulang sayang, aku ingin memelukmu walau untuk yang terakhir kali.”

– Fly Over 40.000ft –

Siwon memandang lemah sebuah peti putih dihadapannya. Mata tajam yang dulunya begitu menarik perhatian kini berubah menjadi mata sayu tanpa energi, kantung matanya menggantung penuh kesedihan. Tangannya tak lepas dari peti tersebut. Ia bisa merasakan tubuh dingin Tiffany didalamnya.

Tiga hari setelah kecelakaan itu, tubuh Tiffany baru ditemukan dan teridentifikasi. Tubuhnya dikenali karena masih menggunakan seragam lengkap pramugari serta petunjuk dari cincin yang masih melekat di jari manisnya. Menurut tim identifikasi, cincin yang dipakai mirip dengan cincin yang diunggahnya dimedia sosial beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi. Cincin pemberian Siwon.

Disisi peti yang lain Michelle tak sedikitpun melepaskan pelukannya dari peti putih itu. Energinya sudah terkuras habis selama tiga hari ini. Ayah Tiffany yang dari kemarin masih mencoba tegar, kini sudah tak kuasa menahan air matanya. Sementara Leo yang didampingi istrinya hanya bisa memandangi peti putih adiknya dengan mata yang seakan lelah untuk kembali mengeluarkan bulir-bulir air mata.

“Tuan, mobil ambulan sudah siap untuk mengantarkan proses pemakaman nona.”

Ayah Tiffany mengangguk lemah. Sementara Michelle semakin mempererat pelukannya.

‘kau tau sayang? Inilah hal yang paling kutakuti selama ini. Aku takut kau terbang terlalu jauh. Aku takut tangan ini tak mampu menggapaimu lagi. Pada akhirnya kisah ini  meredup bersama takdir cerita mahacinta.”

– Fly Over 40.000ft –

Sedikit demi sedikit peti putih bersih itu tertutupi oleh tanah. Siwon mencoba untuk tegar dengan sisa-sisa energi dalam dirinya, layaknya sebuah karang yang dihempas sang ombak. Tubuhnya terasa berat untuk menyaksikan detik-detik alam yang akan memisahkan mereka berdua. Air mata yang dirasa sudah terkuras habis masih saja mengalir dari balik kaca mata hitam miliknya.

Tepat disampingnya, Jungsoo menepuk-nepuk bahu Siwon untuk memberikan sedikit kekuatan. Jika saja tak ada Jungsoo disana, mungkin ia akan lompat kedalam liang dihadapannya dan membiarkan tubuhnya terkubur oleh tanah. Meski terasa mengerikan, setidaknya jika bersama Tiffany semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

‘apa kau takut sendirian sayang? Jika kau meminta, aku akan menemani. Memberikan cahaya dan mengusir kegelapan yang menyelimutimu’

– Fly Over 40.000ft –

Wangi tubuh Tiffany masih melekat didalam kamar yang dimasuki Siwon. Kamar ini tidak terlalu besar namun memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang memasukinya. Jika saja peristiwa tragis itu tidak terjadi mungkin ini akan menjadi kamar miliknya juga kelak.

“Oppa, setelah kita menikah nanti, apa kau akan membawaku kerumah yang lebih besar dan mewah?”

“kenapa tidak? aku bekerja dan berusaha hingga sampai posisi ini hanya untuk pernikahan kita, hanya untukmu.”

“bukan rumah mewah yang kuinginkan. Aku mencintai rumahku, rumah sederhana namun menyimpan sejuta kenangan. Dari sana aku membangun mimpiku untuk terbang. Apa boleh aku meminta sesuatu?”

“tentu saja…”

“setelah kita menikah nanti, sebelum menempati rumah yang kau janjikan, bisakah kita tinggal dirumahku? Sebentar saja. Aku ingin bernostalgia sejenak, mengingat kenangan sebelum aku mengikat diri sepenuhnya denganmu. Aku tau seorang wanita yang sudah menikah haruslah menuruti dan mengikuti kemanapun suami pergi tapi untuk kali ini saja—“

“ide bagus. Lagipula aku mulai bosan tinggal dalam appartemen. Aku juga penasaran kenyamanan rumah yang kau ceritakan itu. Dari dulu aku ingin menginap tapi kau selalu melarangku, sungguh menyebalkan.”

“kau ingin tetanggaku menyebarkan gossip yang tidak-tidak huh? ‘seorang lelaki menginap dirumah gadis yang belum menikah’, arghh aku bisa gila.”

Tangannya menyentuh satu persatu bingkai-bingkai kecil yang terpajang di dinding, melukiskan potret masa lalu yang begitu indah.

“Siwon-a…”

pandangan Siwon beralih pada ayah Tiffany yang baru saja memasuki kamar.

“ada yang ingin kubicarakan. Aku tunggu di halaman belakang.”

“ye, Abeonim…”

– Fly Over 40.000ft –

“argh!!”

Siwon mendesah kesal lantaran deretan mobil-mobil didepannya tak kunjung bergerak. Tidak biasanya jalanan macet seperti ini. Suasana benar-benar tidak mendukung disaat ia sedang terburu-buru.

“kemarin perngacara Tiffany menemuiku. Aku ragu untuk mengatakan semuanya padamu. Sebelumnya, Tiffany memintaku untuk merahasiakan hal ini, mungkin ia akan memberitahumu secara langsung sebagai kejutan. Sayangnya waktu tak berpihak. Aku mencoba bertahan untuk menghormati keinginannya namun sekian lama aku menahannya membuatku semakin sakit.”

“katakan saja, abeonim. Nan gwenchanseumnida –aku baik-baik saja—…”

“pengacara itu membawa surat permohonan yang Tiffany ajukan sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“surat permohonan?”

“surat permohonan pengunduran diri dari maskapai penerbangan. Beberapa waktu lalu Tiffany sempat meminta solusiku untuk keluar dari pekerjaannya. Kau tau apa alasannya? Ia ingin fokus mengurusi pernikahan kalian nanti. Ia ingin menjadi wanita sempurna yang hanya mengurus uruan rumah tangga. Awalnya aku hanya tertawa, terbang adalah mimpinya jadi tak mungkin ia melepaskan mimpi itu begitu saja. Tapi ternyata ini bukan hanya gurauan semata, ia benar-benar ingin mengundurkan diri. Dan jika permohonan itu berlanjut, hari itu seharusnya menjadi hari terakhir ia melakukan penerbangan sebagai seorang pramugari. Nyantanya hari itu justru menjadi hari terakhir ia terbang dalam hidupnya.”

Siwon sudah tidak tahan menunggu, ia segera keluar dari mobilnya dan berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Mobilnya ia tinggalkan begitu saja.

Langkah kakinya berhenti pada hamparan hijau tanah yang bergelombang. Kehadiran Siwon disambut senyuman hangat dari sebuah potret yang memakai seragam pramugari, begitu cantik. Gundukan tanah dibawahnya masih belum mengering.

“kenapa… kenapa kau merahasiakannya dariku?” lirihan Siwon begitu lemah sampai nyaris tak terdengar.

“apa kau bahagia sekarang? Pergi bersama mimpimu, terbang jauh meninggalkan aku sendiri. apa kau bahagia, sayang? Seharusnya kau tau, tanpamu aku seperti sebuah pulau tak berpenghuni.”

‘jika aku kehilangan salah satunya, maka aku akan mati.’

Kalimat yang sempat diucapkan Tiffany saat mereka bersama kini kembali terngiang.

“jika saja aku tau kalau ucapanmu waktu itu bukan hanya barisan kata tanpa arti, maka aku tidak akan pernah menyuruhmu untuk berhenti terbang. Aku akan membiarkanmu mengabdi sebagai seorang pramugari seumur hidupmu jika kau mau.”

“tunggu aku… tunggu aku, sayang. Jika di kehidupan ini aku tak mampu memilikimu, maka dikehidupan berikutnya aku akan memilikimu seutuhnya. Kita akan bersama selamanya. Tak sedikitpun kubiarkan tanganmu lepas dari genggamanku. Seperti kalimat yang kau tulis sebelum kau terbang jauh, Although as time passes, let’s not let go of our hands cause I want to be by your side forever

– Fly Over 40.000ft –

-tiga tahun kemudian-

“apa kabar, sayang…”

Siwon meletakkan rangkaian bunga lily putih diatas gundukan hijau dihadapannya. Setelah kejadian tiga tahun silam, Siwon masih sering pergi ke makam Tiffany dengan membawa bunga lily dan menggantinya ketika bunga itu layu. Penyesalan dalam hidupnya adalah ia tak pernah melakukan hal demikian sewaktu Tiffany masih hidup.

“kenapa hanya dipandangi? Kau tak suka mawar itu?”

“bukan begitu. Aku hanya lebih menyukai lily putih.”

“kalau begitu buang saja. Aku akan membelikan lily putih nanti.”

“tidak! Sayang jika harus dibuang mengingat sangat susahnya menerima bunga dari orang yang tingkat kepekaannya jauh dibawah batas normal. Kau ingin membelikanku lily putih? Hmm… aku rasa baru akan menerimanya tahun depan.”

Sekilas tersungging senyuman dari bibir Siwon jika harus mengingat masa lalunya yang masih begitu jelas. Bahkan waktu tak mampu menghapuskan memori itu dari otaknya.

“kau tau, hari-hariku selama tiga tahun ini sangat sepi. Dunia begitu penuh warna tapi dimataku hanya sebuah dunia kelabu yang sunyi. Aku merindukanmu. Aku rindu wangi green tea dari tubuhmu. Aku rindu lengkung manis matamu. Aku rindu saat kau marah. Lelaki tidak peka ini rindu semua yang ada pada dirimu.”

Mata Siwon sedikit berkaca-kaca, air yang sudah menumpuk dipelupuk mata bersiap untuk menghujani wajah Siwon. Namun tangannya segera menghapus setiap tetesan kecil di sudut matanya.

“lihat betapa bodohnya diriku yang berusaha keras untuk tidak terlihat cengeng didepan rumahmu, sayang.”

“sebentar lagi aku akan membuka perusahaan sendiri. Berikan aku semangat, setidaknya datanglah ke mimpiku. Kau tau betapa sepinya tidurku karena akhir-akhir ini kau menghilang dari mimpiku? apa jangan-jangan kau nakal disana? Jangan pernah bermain dengan pilot itu lagi meskipun aku tak sedang disana. Sudah kukatakan berkali-kali jika hati ini akan mengontrolmu. Tunggu aku, sampai aku memilikimu kembali. Aku disini juga tak akan mengingkari janji kita, karena kau… kau adalah cinta pertama dan terakhir untukku.”

Siwon melangkah meninggalkan makam Tiffany diiringi daun-daun musim gugur yang berterbangan. Setiap jejak yang ia ciptakan begitu berat, ia ingin berada disana selamanya jika ia bisa.

Langkahnya terhenti saat melihat seorang anak kecil yang duduk didekat pintu masuk makam dengan sekeranjang bunga dihadapannya.

“apa bunga ini dijual? Aku ingin membelinya.”

“ahh… ye ahjussi. Ini adalah bunga lavender. Wangi bunga ini sangat harum, cocok digunakan sebagai hiasan dirumah anda.”

Siwon tersenyum sambil mengacak pelan rambut anak kecil itu. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil dihadapannya.

“siapa namamu gadis manis?”

“Stessy… Stessy imnida.”

Siwon membeku.

“Stessy… Jika nanti aku melahirkan anak perempuan, aku akan memberikan nama Stessy.”

“Stessy (read: Stesi)? Gabungan dari Stephanie dan Siwon? Hmm… aku rasa itu nama yang bagus.”

“Anio! Stessy itu gabungan dari Stephanie dan Park Si Hoo.”

“ya! Suamimu nanti adalah aku, maka ‘Si’ haruslah namaku. Kalau kau tidak setuju, menikah saja dengannya!”

“Ide bagus! Aku akan menikah dengan Park Si Hoo. Dan akan kubuat dirimu menjadi lelaki yang paling susah move on didunia ini.”

Siwon menunduk mengingat secarik kenangan yang melintas. Ia kembali tersenyum menatap gadis kecil dihadapannya.

“stessy… Namamu begitu cantik. Apa kau biasa sendirian disini? Mana teman-temanmu?”

Gadis itu menunduk, ekspresinya berubah menjadi sedih. Satu tetesan mengalir dari sudut matanya.

“aku tak punya teman. Semua teman-temanku menjauhiku karena aku tidak sekolah. Terlebih aku berbeda dengan mereka. Rambut ini, mata ini, mungkin mereka membenci itu semua. Aku ingin seperti mereka yang berambut dan bermata hitam.”

Siwon dapat merasakan kesedihan yang dirasakan anak kecil itu. Ia memang sering mendengar tentang tindakan pembulian dilingkungan sekolah Korea. Rambut pirang serta mata biru gadis ini sangat cantik, mana mungkin ini menjadi penyebab utama yang membuat ia dijauhi. Ia membelai lembut rambut anak itu, mengalirkan kehangatan yang begitu dalam.

“sst… berhentilah menangis. kau pasti bisa melanjutkan sekolahmu nanti. Rambut pirang serta mata birumu sangat cantik, tak ada alasan mereka untuk membenci itu semua.”

“aku tidak bisa. Aku hanya sorang anak adopsi, kedua orang tuaku sudah meninggal. Sedangkan dirumah, aku hanya tinggal bersama Ibu angkatku yang saat ini sedang sakit parah. Aku tidak ingin membebani Ibu.” Air mata kembali mengaliri wajah polos anak itu. Siwon sama sekali tidak menyangka jika dibalik tubuh mungil anak itu tersimpan sikap kedewasaan yang begitu mengagumkan.

“dunia ini penuh dengan sebuah kejutan. Kau hanya perlu menatap langit dan berdoa. Jika keinginanmu benar-benar tulus, maka kejutan yang indah akan menghampirimu.”

Tangan Siwon mengusap air mata dari pipi anak itu. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya.

“gunakan ini untuk membeli obat Ibumu.”

“Maaf. aku tidak bisa menerima ini, Ahjussi. Ini terlalu banyak. Ibu Angkatku selalu melarangku untuk menerima bantuan uang dari siapapun. Ia tidak ingin aku menjadi seorang pengemis.”

Siwon tersenyum, “siapa bilang kau pengemis. Bukankan sebelumnya Ahjussi sudah mengatakan kalau Ahjussi ingin membeli semua bunga ini?”

“Semuanya?”

Siwon hanya tersenyum dan mengangguk meyakinkan gadis kecil itu. gadis itu begitu bahagia, ia melonjak kegirangan.

Setelah itu ia pergi menuju mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan dengan keranjang yang penuh akan bunga. Sekretaris pribadinya yang sedari tadi menunggu menyambut kehadirannya sambil membukakan pintu mobil untuknya.

“sekretaris Jung…”

“ne, sajjangnim.”

“kau lihat anak yang disana? Namanya Stessy. Cari tau tentang anak itu dan berikan asuransi pendidikan untuknya sampai ia lulus di Universitas dan mendapatkan perkerjaan yang layak.”

“sajjangnim…?”

“aku tidak ingin menerima pertanyaan. Cukup lakukan apa yang kuperintahkan. Dan satu lagi, masukkan ia ke sekolah internasional agar ia tak merasakan adanya perbedaan dengan siswa Korea.”

“saya mengerti, sajjangnim.”

Senyuman terlukis dari bibir Siwon. Tidak biasanya ia sebahagia ini, seolah baru saja menemui seseorang yang selama ini ia rindukan.

Kau lihat sayang? Aku baru saja bertemu dengan anak yang bernama Stessy, sebuah nama yang kau bangga-banggakan akan menjadi nama anak kita nanti. Bolehkah aku menyebutnya reinkarnasi dari anak kita? Melihatnya begitu cantik membuatku semakin tak sabar untuk bertemu denganmu dikehidupan selanjutnya. Aku bosan hidup dalam jebakan ilusimu. Seolah-olah tangan ini sanggup meraihmu, nyatanya tak lebih dari sebuah fatamorgana. Itu sungguh penyiksaan yang begitu kejam, aku akan menghukumu nanti, diperabadian kita.

– End –

Gimana readers endingnya? Setelah baca cerita ini pasti udah tau dong ya cerita ini terinspirasi dari siapa. Jujur saja jiwa terasa digetarkan /yaelahh bahasanya/ setelah baca artikel kisah romantis pramugari Air Asia dengan kekasihnya, semoga beliau diberikan tempat yang terbaik ya, Amiin. Semoga keluarganya juga diberikan ketabahan dan kekuatan.

Untuk menghindari kesalahpahaman, cerita ini udah pernah di publish dengan judul yang sama dalam versi Baekyeon. Dan jika nanti ketemu sama cerita ini, selama authornya masih Arisa Karamorita (@IM_soshitaengs) maka bukan termasuk tindakan plagiat.

Jangan lupa tulis komentarnya ya readers. Komentar kalian sangat membantu untuk perkembangan author di karya berikutnya. Terimakasih^^

 

110 thoughts on “(AF) Fly Over 40.000ft. Part 2 (end)

  1. huhuhu T.T sdih bnget thor.. n nyesek bnget.. aq ska’ ff ny, dtngg ff slnjtny.. fighting…
    oy, aq sk’ kta2 ni thor.. “dunia ini penuh dengan sebuah kejutan. Kau hanya perlu menatap langit dan berdoa. Jika keinginanmu benar-benar tulus, maka kejutan yang indah akan menghampirimu.” ijin save y thor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s