(AF) TRAPPED INTO LOVE PART 3

TRAPPED INTO LOVE PART 3

trapped into love55

“Apa?”
Mi Young memutar badannya dan menatap Siwon dengan pandangan seakan-akan pria di hadapannya ini adalah seorang alien yang baru saja menggunakan bahasa yang tidak bisa dimengerti manusia.
“Aku akan membelimu.”
Siwon menatapnya dengan tajam, membuat Mi Young menahan napasnya. Pria itu tiba-tiba saja sudah berdiri dan berjalan menghampirinya, mengelilingi tubuh Mi Young yang berdiri dengan kaku. Ia memperhatikan gerak-gerik Choi Siwon melalui sudut matanya, menunggu detik-detik menegangkan yang mungkin akan terjadi.
“Berapa yang kau mau? Aku bisa memberikanmu harga yang lebih besar dari yang kuberikan kemarin.”
Mi Young mengernyitkan dahinya, baru kali ini Mi Young merasa sangat terhina begitu mendengar omongan pria sombong yang kini tengah memutarinya dengan santai, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia pikir dirinya apa? Dia bukanlah seorang pelacur yang akan menyerahkan tubuhnya untuk pria yang memiliki nafsu yang (sepertinya) tinggi seperti Choi Siwon. Oh, tentunya setelah peristiwa malam itu yang menohoknya.
“Aku bukanlah barang, Mr Choi. Kau tidak bisa membeliku seenaknya. Kau pikir aku ini wanita apa? Dengar, aku bukan seorang wanita yang bekerja dengan menjual tubuhku, well, tadinya. Jadi berapa pun kau membayarku, aku tetap tidak akan menerimanya.” katanya seraya meremas genggaman tangannya sendiri.
Siwon berhenti tepat di belakang tubuh Mi Young, memperhatikan helaian demi helaian geraian rambut panjang Mi Young yang berwarna hitam kecoklatan, “Apakah kau sudah selesai bicaranya? Sekarang giliranku untuk bicara.”
Ia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Mi Young. “Aku bisa memberikanmu seluruh isi dunia, bila kau bersedia menjadi milikku, jiwa dan raga.”
Mi Young menelan ludahnya, benar-benar merasa terintimidasi oleh perkataan maupun tindakan Choi Siwon saat ini. Baiklah, mungkin kata-kata memiliki seluruh isi dunia sangat menggiyurkan, tapi Hello, jiwa dan raga? Mi Young bukan perempuan serendah itu yang menjual tubuhnya untuk kesenangan duniawi yang bersifat semu! Mi Young memutar otak, dia harus menyerang pria ini kembali. “Apakah kau selalu membawa wanita kesini? Aku tidak bisa membayangkan berapa jumlah wanita yang telah kau tiduri di kantormu.” katanya sebelum membalikkan badan. Ia mendongak, menaikkan dagu dan menatap Choi Siwon yang terdiam.
Choi Siwon mengernyit dan menatap Mi Young dengan pandangan tak suka, dan pandangannya telah berubah total menjadi dingin, membuat bulu kuduk Mi Young seketika meremang. Oh, no, apakah ia salah bicara? Mi Young menalan ludahnya dengan gemetaran.
“Aku tidak pernah membawa wanita ke kantorku, Miss Tiffany. Kau,” Choi Siwon memajukan tubuhnya lalu berbisik tepat di sebelah telinga Mi Young, “adalah yang pertama.” ucapnya hampir menyerupai bisikan yang terdengar menyeramkan.
Dan setelah itu Mi Young merasa jantungnya hampir keluar dari tubuhnya. Rasanya degupan jantungnya kali ini benar-benar sulit dikontrol seperti anak remaja berusia 15 tahun yang cenderung memberontak, urak-urakan, dan menggebu-gebu, sampai-sampai membuatnya takut bilamana pria menyeramkan ini dapat mendengar debaran jantungnya.
Mi Young merasakan sebuah tangan tengah merengkuh tubuhnya untuk mendekat ke tubuh tinggi dan seksi Choi Siwon, lalu tangan yang lain tengah mengelus tengkuknya halus, membuatnya seketika memejamkan mata. Damn! Mi Young menelan ludah dengan pelan, merasakan getaran aneh di seleuruh tubuhnya begitu napas Choi Siwon menyerang daun telinganya. Dia menggigit bibir bawahnya, rasanya seperti ada kumpulan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
“I know you want me, Tiffany. Karena itu, ambil kembali cek itu, dan akan kuberikan selebihnya setelah ini.”
Mi Young membuka matanya dan berusaha untuk mengumpulkan segenap keberaniaannya untuk menatap mata tajam Choi Siwon dengan pandangan menantang. “Dalam mimpimu!” desisnya.
Setelah itu Mi Young melepaskan dirinya dari rengkuhan tubuh Siwon dan berjalan mengambil cek satu juta dollar yang diletakkan di atas meja depan sofa hitam. Mi Young menunjukkan cek itu dan merobeknya menjadi dua tepat di depan mata Siwon. Ia lalu tersenyum penuh kemenangan dan meletakkan cek yang telah robek itu pada tangan Siwon. “Urusan kita sudah selesai, Mr Choi Siwon. Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Selamat tinggal.”
Dengan langkah tergesa-gesa, Mi Young keluar dari ruangan sialan itu dengan harga diri yang tersisa. Oh bagaimana bisa ada seseorang yang berani-beraninya merendahkan dirinya sampai seperti itu! Mi Young cepat-cepat menuju lift, menekan tombol lalu membalikkan kepalanya menuju dua daun pintu besar yang tertutup. Mi Young tak bisa membantah bahwa ia masih bisa merasakan tangan pria itu yang membelai tengkuknya. Oh, memikirkan hal itu benar-benar membuatnya merinding setengah mati.
TING!
Begitu pintu lift terbuka, langkahnya terburu-buru memasuki lift lalu menekan tombol G dengan tangan yang masih gemetaran, tidak mempedulikan tatapan keheranan sekretaris pirang Choi Siwon. Pintu lift perlahan tertutup dan Mi Young tidak bisa melihat kedua daun pintu itu lagi. Mi Young menghela napas dengan berlebihan. Rasanya sulit melupakan tatapan tajam dan mengintimidasi dari sesosok Choi Siwon. Ia berusaha secepatnya keluar dari hotel mewah itu, tidak mempedulikan tatapan heran dari orang-orang yang ia lewati karena langkahnya yang terkesan terburu-buru. Atau mungkin karena penampilannya yang terlalu biasa.
Setelah sampai di depan gedung Brighton Hotel, Mi Young menengadahkan kepalanya ke arah gedung itu yang menjulang tinggi sambil mendesah, “Akan kupastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi, sekalipun di alam baka!”
Di sisi lain, Choi Siwon kini tengah duduk diam di sofa hitam kerjanya,menopang dagunya dengan kedua jarinya, memperhatikan sebuah cek yang telah dirobek menjadi dua yang tergeletak di atas meja kaca di depannya. Sudut bibirnya tiba-tiba sudah ditarik ke atas. Gadis itu tidak akan bisa lepas dari sosok Siwon, yang dapat memiliki segalanya yang ia mau.
“Menarik.” gumamnya seraya bangkit dari sofa, lalu keluar dari ruangannya.
Sekretaris pirangnya berdiri dan tersenyum bergitu Choi Siwon sudah keluar dari ruangannya.
“Sir, kau ada meeting dengan dewan direksi 10 menit la–”
“Cancel, please, Anna. Aku ada urusan.”
Anna menatap ragu Choi Siwon yang terus berjalan melewatinya dengan tatapan dingin miliknya, seakan-akan tak mempedulikan kehadiran Anna di sana yang diam-diam kecewa dengan sikap bosnya itu. “Uhm, Yes, Sir.” katanya lalu duduk kembali di kursinya, menggerutu dengan sebal karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menggoda atasannya.

*

Pintu ruangan itu terbuka, dan munculah Hwang Mi Young dengan sebuket bunga lili di tangannya, tersenyum menatap seorang wanita paruh baya yang tengah terbaring di rumah sakit dalam diam. Mi Young menghela napas, dia betul-betul sangat berharap ibunya dapat kembali sadar setelah kejadian minggu lalu di flatnya. Sejak ibunya terkena serangan jantung mendadak, beliau tidak pernah sadarkan diri, dan hal tersebut yang membuat Mi Young getar-getir memikirkan kesehatan ibunya, ditambah lagi biaya rumah sakit dan utang ibunya yang menumpuk. Dia sendiri heran, kenapa ibunya mempunyai hutang sangat banyak?
“Where have you been this whole time?”
Seorang perempuan berambut coklat tembaga seusia Mi Young sudah berada di depan pintu kamar mandi sambil mengetuk-ngetukkan sepatunya dengan muka masam. Matanya yang berwarna hijau terlihat sebal memandangi Mi Young yang hanya bisa meringis meminta maaf. “I’m sorry, Alex, aku baru pergi tadi.”
Alexis atau biasa dipanggil Alex adalah tetangga tepat di sebelah kanan flat milik Mi Young. Mereka sudah berteman dekat sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah. Sejak ibu Mi Young masuk rumah sakit, Alex adalah orang kedua setelah Mi Young yang rutin menjenguk Mrs Hwang setiap hari, setelah pulang dari kampus. Alex adalah sesosok perempuan yang sifatnya jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Mi Young yang bisa dibilang masih bau kencur di saat umurnya telah menginjak 20 tahun. Mereka kuliah di kampus yang sama namun berebeda prodi, Alex di prodi manajemen sedangkan Mi Young berada di prodi Seni Musik. Yeah, bagaimana tidak, musik adalah hidupnya. Menyanyi dan memaikan alat musik sudah menjadi makanannya sejak kecil, bahkan sejak ia masih berada di Korea Selatan.
Mi Young masuk dan meletakkan bunga lili yang baru dibelinya tadi di sebuah vas putih setelah keluar dari Hotel neraka Brighton. Hm, panggilan itu setidaknya sangat cocok bagi Mi Young. Dan dia yakin pemiliknya adalah jelmaan Lucifer.
“Kemana? Bertemu dengan Choi Minho?” Alex berjalan menghampiri Mi Young dan tersenyum menggoda sambil menyenggol bahu Mi Young.
“Bicara apa kau ini.” Mi Young membalikkan badan dan berjalan untuk meletakkan tasnya ke atas sofa, lalu duduk di sana. Tidak mungkin dia menceritakan cerita sebenarnya yang dialaminya hari-hari ini, tentang dia yang berencana untuk menjual dirinya dan perihal Lucifer dengan satu juta dollar-nya yang kini telah terbagi menjadi dua karena ia robek.
“Omong-omong soal Minho, apakah kau akan datang ke pesta ulang tahunnya besok lusa?” Alex ikut duduk di sebelah Mi Young.
“Yeah, dia menyuruhku untuk menyanyi di sana.”
Alex dengan semangat langsung menegakkan tubuhnya dan mencengkeram bahu Mi Young, “Seriously? Goodness, Mi Young, he has totally fallen for you!”
“Dan itu semua berkatmu Alexis Ellen Wright! Aku yakin ide gila itu pasti datangnya dari kau, apakah aku salah?” Mi Young memutar matanya sedangkah Alex hanya bisa mencengir tanda ia meng-iyakan pernyataan Mi Young. “Tapi aku juga berterima kasih padamu. Dia bilang, akan ada bayaran untuk menyanyi di sana.” katanya sambil tersenyum.
“Hey, siapa pun ingin mendengarkan suaramu yang indah, Mi Young. Hm, tapi, bagaimana pun juga, dia sudah jatuh hati padamu sejak pandangan pertama. Tidak kah kau ingat dulu, dia menyuruhku untuk mengenalkannya padamu. Matanya selalu berbinar-binar setiap menatapmu.”
Choi Minho dan Alex adalah teman di jurusan yang sama. Mereka berdua sering mendapatkan kelas yang sama karena memilih mata kuliah yang sama. Sejak itu mereka sering mengobrol dan menghabiskan waktu. Ketika Minho tahu bahwa Mi Young adalah teman dekat Alex, saat itu juga pria itu meminta Alex untuk mengenalkannya pada Mi Young.
“Hentikan omong kosong itu Alex, aku hanya menganggapnya teman, tidak lebih.”
“Tidak ada salahnya bukan untuk mencoba berhubungan dengannya?”
Mi Young memutar bola matanya dengan sebal, Alex sudah sering menyuruhnya untuk mencoba menjalin suatu hubungan dengan Choi Minho, tapi mau bagaimana lagi, Mi Young benar-benar telah menganggap Minho hanya sebagai sebatas teman. Dia tidak mungkin menjalin hubungan dengan orang yang tidak disukainya.“Daripada membicarakan tentang itu, apakah kau ada ide lagu apa yang harus aku nyanyikan di sana?”
“Dan daripada membicarakan soal lagu, bagaimana kalau kita mendiskusikan gaun apa yang akan kau pakai besok lusa, bagaimana?” Alex menatap Mi Young dengan ceria, dia begitu bersemangat bila sudah berbicara soal penampilan dan fashion. “Aku punya beberapa gaun yang kelihatannya cocok untukmu Mi Young.”
Mi Young lagi-lagi memutar bola matanya, “Alex, look, kita ini tidak sedang akan pergi ke acara prom night .” katanya sambil tersenyum geli melihat Alex yang terlihat sebal.
“Ah! Tidak seru! Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus memakai gaun yang kupilihkan, kau mengerti.”
Mi Young hanya terkikik geli melihat sifat sahabatnya itu, dan akhirnya berkata,“Yes, Ma’am.”

*

Lusanya, beberapa jam sebelum pesta ulang tahun Minho dimulai, Alex dengan sibuk mengobrak-abrik isi lemari pakainnya untuk memilih gaun apa yang pantas digunakan Mi Young. Mi Young hanya bisa duduk di kasur Alex sambil menyanyi dan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengarkan music yang dimainkan di iPod miliknya.
“Ya ampun Mi Young, kau harus berhenti mendengarkan lagu Justin Bieber. Maroon5 masih jauh lebih baik dari pada pria yang terlambat pubertas itu.” kata Alex masih memunggungi Mi Young, ikut mendengarkan Mi Young yang tengah menyanyikan lirik lagu As Long As You Love Me.
Mi Young memutar bola matanya dan mengerucutkan bibirnya, “Ini masih lebih baik daripada aku harus mendengarkan Anaconda.” katanya, lalu lagu itu berganti dengan lagu milik Ellie Goulding – Love Me Like You Do. “Anyways, aku akan menyanyi lagu ini nanti.” katanya, lalu mulai menyanyikan lagu dengan lirik romantis itu.
Alex membalikkan badannya sambil memegang sebuah dress hitam tanpa lengan dan mempunyai renda di bawahnya. Mi Young terpana begitu gaun itu sudah ada tepat di depan matanya.
“Kurasa gaun ini cocok untukmu. Cobalah.”
Mi Young mengangguk lalu mencoba gaun itu, berdiri di depan kaca super besar Alex yang letaknya tepat di sebelah kanan lemari. Mi Young memandangi sesosok gadis pendek dengan kulit putih pucat dan rambut hitam kecoklatan yang lurus –bahkan bisa dibilang sangat lurus, dengan bola mata yang bisa dibilang terlalu lebar untuk wajah mungilnya. Yah, itulah kenapa orang-orang sering salah mengira umur Mi Young menjadi 3-5 tahun lebih muda.
Alex tiba-tiba sudah berada di sebelah Mi Young ikut memandangi pantulan dirinya di cermin. “Sudah kuduga gaun ini akan cocok untukmu.” katanya tersenyum bangga memandangi Mi Young yang tengah menggerak-gerakkan badannya ke kanan dan ke kiri.
“Gosh, tidakkah menurutmu ini terlalu terbuka dan… pendek?” Mi Young mencoba untuk menurun-nurunkan bagian bawah dress itu yang hanya mencapai setengah paha Mi Young, menampilkan kulit putih Mi Young yang bahkan hampir menyamai putihnya salju.
“Goodness, Mi Young, gaun itu benar-benar cocok untukmu! Warnanya terlihat kontras dengan warna kulitmu. Sini, biar kudandani kau.”
Mi Young mengerucutkan bibirnya sambil memandangi sosok dirinya yang memang terlihat cocok dengan gaun milik Alex itu. Gaun tanpa lengan itu membuat leher dan tengkuknya terekspos, membuat Mi Young teringat kembali peristiwa di Brighton Neraka Hotel tadi, saat dimana Choi Siwon menyentuh tengkuknya.
Baiklah Mi Young, hentikan. Kau harus berhenti memikirkan laki-laki itu.
Setelah selesai meng-curly bagian bawah rambut dan mendandani Mi Young, Alex melongo melihat dandannya sendiri. Mi Young membuka matanya dan mendapati tatapan Alex yang tengah terpesona dengannya. “Apakah aku terlihat aneh?” katanya seraya menatap dirinya di cermin.
“Tidak, Mi Young, kau terlihat sempurna!” Alex bertepuk tangan merasa bangga dengan hasil kerja kerasnya. “Baiklah, sekarang sepatu.”
“Kumohon jangan beri aku hak lebih dari 7 cm, Alex! Kau tidak ingin melihatku jatuh bukan seperti kejadian perayaan Natal kemarin?” Mi Young bergidik ngeri mengingat peristiwa Natal yang terjadi di kampus waktu itu. Acara itu sangat formal sehingga mau tidak mau semua perempuan harus mengenakan sepatu ber-hak. Dan Mi Young, yang tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi tiba-tiba harus memakai dengan hak 10 cm. Gadis-gadis pesta pasti berpikir hak berukuran 10 cm adalah hak yang pendek, namun tidak dengan Mi Young. Sepanjang perayaan, dia berjalan ke sana kemari seperti seorang wanita yang baru saja melahirkan anak kembar 3(baik, ini berlebihan). Dan pada puncaknya, dia jatuh saat akan menuruni tangga. Untung saja saat itu hanya sedikit orang yang melihat peristiwa memalukan itu, kalau tidak, mungkin hari berikutnya Mi Young sudah tidak sanggup untuk berada di dunia ini lagi. Oh, baiklah, yang terakhir itu juga berlebihan.
Alex menghela napas lalu mengambil sepasang sepatu berhak tinggi berjenis Stiletto berwarna hitam pekat dan hak yang tidak terlalu tinggi. “Kurasa ini akan sangat cocok denganmu. Dan aku berani bertaruh kau tidak akan jatuh dengan sepatu ini.”
“Kuharap.”
Mi Young berdiri dari tempatnya setelah memakai sepatu indah milik Alex dan mencoba berjalan ke sana kemari, memastikan agar dia tidak jatuh kembali seperti kejadian mengerikan waktu itu. “Lumayan. Aku suka sepatumu, Alex. Ternyata tidak ada ruginya juga aku berteman denganmu!”
Alex mendengus sebal seraya memakai gaun merah marun yang akan dipakainya di pesta nanti, “Kau harus mentraktirku Chicken Tenders di tempat makan Mrs Eve minggu depan.”
Setelah mereka selesai, mereka berangkat menuju pesta ulang tahun Choi Minho yang bertempat di halaman rumah pria itu. Mi Young sudah duduk di sebelah Alex yang sedang mengemudikan mobil merek Vauxhall Corsa keluaran 2004. Mobil ini telah menjadi milik Alex in these past four years, hadiah ulang tahun dari orang tuanya yang saat ini berada di Dallas, Texas. Mi Young suka dengan mobil berwarna abu-abu ini, walaupun memiliki harga yang bisa dibilang murah, namun memiliki kualitas yang baik.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Alex memarkirkan mobilnya di jejeran mobil-mobil yang telah terparkir dengan rapi. Mi Young hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini sampai-sampai dia berpikir bahwa mereka mungkin menuju ke lokasi pesta yang salah. Deretan mobil mewah seperti Ferrari, Lamborghini, Ford, BMW, dan mobil dengan tipe jenis yang sama lainnya seharga jutaan dollas US tengah terparkir dengan rapi seakan-akan saat ini mereka berdua sedang berada di pameran mobil-mobil mewah di festival akhir tahun yang biasanya diadakan di Los Angeles oleh para Miliader dari seluruh penjuru dunia.
“Kurasa kita memiliki pemikiran yang sama saat ini, Mi Young.” Alex hanya melongo melihat banyaknya mobil mewah yang teparkir di sekitar mereka. Dan detik itu juga, mereka berdua merasa seperti bebek kumuh yang sedang berada di antara kerumunan angsa Kerajaan. “Aku bersyukur kita memakai pakaian yang benar saat ini.” katanya sambil menarik napas dalam.
Mereka berdua keluar dari mobil dan melangkah memasuki pintu gerbang rumah mewah Choi Minho yang dapat dilihat dari luar. Ada beberapa pelayan yang menyambut mereka ketika mereka masuk melalui gerbang besar, setelah mereka menyerahkan undangan pesta pada para pelayan yang memang sengaja ditempatkan untuk para tamu undangan.
Seketika itu juga Mi Young teringat perkataan Minho saat mereka bertemu di taman kampus.
“Kalau kau bertanya apakah kau akan mendapat bayaran, yes you will. Itu adalah sebuah acara yang well… cukup formal.”
Mi Young mendesah tertahan, merasa agak kesal saat Minho mengatakan bahwa pestanya cukup formal. Baiklah, Choi Minho, ini tidak cukup formal, melainkan sangat formal. Dia harus bisa menggunakan Bahasa Inggris dengan baik tanpa diksi yang begitu ambigu.
“Setelah tahu seberapa kaya dia, aku yakin kau tidak akan menolaknya lagi, iya kan Mi Young?” Alex tersenyum jenaka sambil menyenggol bahu Mi Young yang lebih pendek darinya, di saat mereka kini tengah berjalan di sepanjang taman luas dengan lampu-lampu yang biasa terlihat di wilayah Kerajaan United Kingdom.
Ugh, shit, Mi Young merasa mual melihat semua ini. Terlalu banyak orang. Dia jadi grogi sendiri, memikirkan bagaimana nasibnya nanti saat dia menyanyi di depan orang-orang yang memiliki mobil-mobil mewah tadi. Semoga saja kejadiaan saat perayaan Natal kemarin tidak dialaminya hari ini. Mi Young diam-diam berdoa dalam hati.
“Aku tidak menemukan Choi Minho.” Mi Young mengalihkan pembicaraan, merasa malas menjawab pertanyaan tidak mutu Alex.
Mi Young dan Alex kini telah sampai di lokasi utama pesta dirayakan. Betapa terkejutnya mereka saat melihat para tamu undangan yang ternyata sebagian besar berwajah Asia. Baru kali ini Mi Young merasa berada di kumpulan yang tepat. Dia terpaku, menemukan banyaknya orang memiliki ras yang sama dengannya.
Tapi yang paling menghebohkan adalah, di sana ada Scooter Braun (manager artis besar yang menangani Justin Bieber, Ariana Grande, Madison Beer dan lain-lain) beserta istrinya, dan Austin Mahone, penyanyi muda yang kini tengah naik daun. Begitu terkejutnya Mi Young sampai-sampai ia menutup mulutnya yang tengah menganga. Bagaimanapun juga, dia adalah fans dari Austin yang kini tengah berada di atas panggung kecil menyanyikan lagu “Say You’re Just A Friend”, dan sialnya itu adalah lagu favorit Mi Young sepanjang masa, dari Austin.
Sedangkan Alex, ia kini tengah sibuk memandangi dekorasi pesta yang mengarah seperti pesta kebun kalangan atas yang terkesan begitu mewah. Para tamu undangan semuanya memakai jas maupun tuxedo, sedangkan para wanita memakai gaun pesta dan tak sedikit dari mereka yang berkelap-kelip. Alex mengernyit, siapa gerangan sih Choi Minho temannya ini sampai-sampai mengadakan perayaan pesta ulang tahun ke 21 dan dihadiri oleh orang-orang penting, yang bahkan tak sedikit dari para tamu yang datang pernah mampir di acara telivisi.
“Alex, Mi Young!”
Mereka berdua kini menoleh ke arah suara yang tengah memanggilnya dan menemukan Choi Minho dengan setelan tuxedo formal dan dasi kupu-kupu yang tengah berjalan ke arah mereka dengan senyum lebar. “Hey, aku sangat senang kalian datang.” Dan tatapannya berhenti pada mata Mi Young. “Terlebih lagi kau, Mi Young. You look amazing tonight.”
Alex melirik Mi Young yang tersipu malu.
“Thank you, and happy birthday, Minho.” Mi Young memeluk singkat Minho dan tersenyum, begitu juga dengan Alex.
“Kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau memiliki relasi seperti ini dan tentunya rumah mewah ini.” Alex menaikkan salah satu alisnya dengan sebal, merasa dibohongi karena selama Minho kuliah, dia sama sekali tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia adalah orang yang sekaya ini. Kecuali iPhone 6 gold-nya.
Minho hanya tersenyum simpul, “Well, it’s just not good showing off what we got.” katanya bijaksana.
Alex hanya memutar matanya tidak peduli, “Terserah kau sajalah.” Dan mereka bertiga pun tertawa. Alex memilih untuk meninggalkan Mi Young dan Minho berdua dengan alasan ingin berkumpul dengan teman-teman kampusnya yang lain, yang sebenarnya alasannya adalah ingin membuat mereka berdua menjadi lebih dekat.
“Mi Young, bisakah kau ikut denganku sebentar? Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku. Mereka akan merasa senang bila aku mempunyai teman dengan bakat hebat sepertimu.”
Apa? Mi Young tersenyum paksa dan mengikuti punggung Minho dengan linglung. Rasanya seperti seorang pria yang akan mengenalkan calon istrinya pada keluarganya. Oh, ini menggelikan Mi Young. Hentikan.
Choi Minho membawanya mendekati seorang pria dan wanita paruh baya yang tengah berbincang-bincang, lalu seorang gadis yang terlihat lebih muda darinya dan punggung lebar pria tinggi yang membelakanginya. Mi Young mengernyit, merasa pernah melihat punggung itu. Satu keluarga itu menoleh ke arahnya begitu mereka berdua kini benar-benar berada di hadapan mereka.
Detik itu juga, jantung Mi Young berhenti berdetak melihat seorang pria dihadapannya ini yang tengah menaikkan satu alisnya dan menaikkan sudut bibirnya, ikut merasa terkejut juga dengan perempuan di hadapannya ini.
Hell no, itu… Choi Siwon?
Dan bagaimana bisa pria itu berada di sini? Di pesta Choi Minho! Mi Young tidak salah melihat sekarang.
“Mom, Dad, perkenalkan, dia Hwang Mi Young, perempuan yang kubicarakan yang akan menyanyi di acara nanti.” kata Minho lalu menoleh ke arah Mi Young yang bungkam. “Dan Mi Young, kenalkan, dia ayahku dan ibuku,” katanya sambil menunjuk ayah dan ibunya yang tengah tersenyum sopan. “Lalu dia Sulli, dia adik perempuanku,” ujarnya sambil menunjuk seorang perempuan cantik dengan rambut disanggul ke belakang, tersenyum manis pada Mi Young yang tak berkutik ketika Minho pada akhirnya mengenalkannya pada pria tinggi yang sedang menatapnya tajam.
“Dan dia Siwon, kakakku.”
Dan setelah itu dunianya langsung runtuh di bawah kaki Mi Young.
-TBC-

80 thoughts on “(AF) TRAPPED INTO LOVE PART 3

  1. Dah aku tebak pasti si Minho adiknya siwon
    Bener kan? Hahahaha
    Waktu baca part ini aku dah lupa sama part” yg sebelumnya jadi aku agak bingung hehehe
    Lanjut ne

  2. Awalnya ga kepikiran minho adiknya siwon eh tapi pas liat ada banyak mobil mewah sama rumahnya yg wow, langsung nyantol. Ternyataaa haha. Thorr seruuuu, ditunggu next part nyaa. Fighting👊✊

  3. suprise..trnyta takdir pertemukn lg sifany aplg siwon adk kakak min ho tmn kmpusnh. sngguh crt ini patut ditggu lnjutnny.
    syng agk pendek per partny…author jjang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s