(AF) Ik Hou Van Jou

Ik Hou Van Jou

ik hou van jou 

Author: ayuhwang

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Genre: drama, romance, hurt

Rating: 17

Disclaimer: semua cast milik Tuhan YME. Aku hanya meminjam nama mereka untuk memudahkan imajinasi aku dan kalian semua. Happy reading!!! Jangan lupa meninggalkan saran dan komentarnya. Hamsa Hamnida😉

“maafkan aku yang selalu menjadi diriku. Aku seperti ini saat kau mengenalku, berpisah denganku, bahkan setelahnya”

Hari ini aku menangis sejadi-jadinya. Salah satu hari dari sekian hari yang akan selalu aku ingat dalam hidupku. Berlari kencang ke gereja terdekat, membenamkan diri dalam kesendirian dan kehampaan hingga hari esok datang. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk yang dikirim tuhan untuk memberikan sedikit rasa pahit dalam tidur nyenyakku.

Seperti halnya ketika ayahku meninggalkan rumah, saat ibuku depresi, dan saat ayahku kembali dengan kabar duka yang teramat menyakitkan. Aku tidak akan menanyakan kenapa ini terjadi padaku, hanya bertanya kapan sakit yang terasa menyesakkan dada ini akan berakhir. Namun kali ini, untuk pertama kalinya aku bertanya kenapa semua ini harus terjadi? Bukan karena memprotesMU, hanya berusaha menguatkan hati karena semakin lama entah karena apa hati ini begitu lemah. Rasanya sangat sakit, teramat menyakitkan.

@apartemen 23.35 PM, Amsterdam

“oppa, bisakah kau memelukku lebih lama lagi?” aku memeluknya lebih erat, sangat erat. Bahkan kalau Tuhan mau mengabulkan doaku, aku ingin waktu berhenti hanya untukku, untukku dan dia yang akan aku lepaskan besok.

“kenapa, hm? Akhir-akhir ini kau aneh tiffany. Sejak kembali dari korea dua minggu lalu sikapmu sangat manja. Biasanya aku yang berjuang mati-matian mendapatkan perhatian seorang calon sineas handal” ucapnya sambil terkekeh

“aku begitu tidak memperhatikanmu, eoh? Mian. Apapun kesalahanku, mian”

“ya, sejak kapan kau berubah melankolis seperti ini? aku mencintaimu, sangat mencintaimu apapun yang ada dalam dirimu bahkan kesalahan-kesalahanmu”  ucapnya diiringi senyuman terbaiknya

Ya, lelaki lurus, normal dan baik hati ini entah kenapa bisa terjebak mencintai gadis paling egois sepertiku. Siapa yang akan menyangka mahasiswa hukum universitas Amsterdam pindahan korea yang terkenal pendiam, baik hati, tampan dan lurus itu menjalani hari-hari kuliahnya bersama seorang wanita yang dalam seluruh hidupnya mengikuti kata hatinya, semaunya sendiri, dan teman dari adiknya sendiri.

Aku tersenyum balik dan dia mengecup bibirku singkat satu kali. Bukan, dua kali. Bukan, tapi tiga kali.

“oppa” rengekku. “aku sedang tidak ingin melakukan itu” aku mengerti maksud dibalik senyumnya kala menciumku. “Aku hanya ingin kita menghabiskan malam ini berdua dan melakukan kegiatan yang menyenangkan berdua sebelum kau kembali ke korea besok” aku tidak bisa menyembunyikan nada kecewa saat menyebutkan korea.

“owh, jadi karena itu kau sangat manja akhir-akhir ini. aku kira kau menggunakan ganja. Aku kan ke korea hanya dua minggu. Tapi ngomong-ngomong, apa hal itu tidak menyenangkan?” bagaimana dia masih bisa menggodaku disaat seperti ini

“choi siwon, walau aku peminum dan kadang merokok. Dua hal yang sudah aku hentikan saat kau memintanya. Dari dulu aku tidak pernah memakai barang itu meski itu dibolehkan di Negara ini dan hal itu, baru kita lakukan kemarin. Aku ingin melakukan hal lain yang belum kita lakukan sebelumnya” jawabku tanpa menatap matanya, tak sanggup, hanya memainkan kancing bajunya.

GREP, dia mengencangkan pelukannya “kajja”.

Siwon oppa, lelaki baik itu menarik tanganku meninggalkan apartemen. Menghabiskan malam melakukakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Mengganggu orang-orang yang berpacaran hingga kita dilempari sepatu, berolahraga malam hingga badan basah karena keringat, dan memutari kota Amsterdam hanya ingin mencari masakan korea yang masih buka dengan berjalan kaki, hingga melihat matahari terbit di kanal perariran Amsterdam.

***

@taman universitas Amsterdam 09.20 PM

Satu jam lebih aku hanya duduk diam didampingi satu-satunya sahabat baikku di korea yang ikut melanjutkan studinya di negeri kincir angin ini, nichkhun buck horvejkhul. Pemuda berkebangsaan Thailand ini mengambil jurusan sejarah dan begitu menggilai gadis yang kini tengah asyik bercengkrama dengan teman-temannya tak jauh dari  jangkauan mata kami berdua, Victoria. Sampai sekarang aku tidak pernah paham kenapa dia bisa begitu telaten mengejar gadis asal cina itu dari semester pertama hingga kini kami hampir menyelesaikan studi. Masih ingat dalam ingatanku saat ia mengatakan padaku tentang victoria setelah aku menceritakan tentang siwon padanya. Dia sampai menangis di depanku hingga aku tidak yakin bahwa ia menangis karena victoria. Karena setauku dia bukan tipe lelaki lemah.

“kau merokok lagi? Siwon sudah tidak melarangmu?” tanyanya memecah keheninngan.

“siwon sudah tidak bersamaku” jawabku singkat sambil terus menyesap puntung rokokku yang sepertinya akan habis

“bukannya baru dua minggu lalu kalian saling mengucap ik hou van jou(aku mencintaimu) di bandara?” tak ada ekspresi kaget atau apapun, tetap menatap Victoria dengan intens. Dia tahu bagaimana aku terkadang tanpa harapan kala bercerita tentang hubunganku dengan siwon.

“begitulah, bukankah kita sama-sama mencintai orang lurus dari keluarga normal? Beraninya kita mencintai mereka”

Victoria mungkin mencintai nichkhun. Bagaimana mungkin seorang wanita tidak akan luluh dengan perjuangan gigih pemuda penuh ketulusan? Tapi gadis itu selalu mengatakan bahwa keluarganya tidak akan menerima nichkhun karena nichkhun adalah anak yatim piatu yang tidak akan memberikan hubungan keluarga perbesanan yang indah.  Keluarga victoria adalah keluarga normal yang tentunya menginginkan anaknya menikah dengan anak dari keluar normal juga.

“memang apa salahnya? Itu cinta, giving from God. Setidaknya kau pernah memiliki cintamu. Aku?” jawabnya masih tetap menatap gadis cina itu.

Nichkhun tidak sepertiku yang entah kenapa terlalu hopeless dengan cintaku padahal sudah jelas cintaku tidak bertepuk sebelah tangan sepertinya. Terlalu dekat dengan keluarga orang yang kucintai membuatku sadar diri dan mengerti kenapa hubunganku ini tidak akan berlanjut ke jenjang yang bernama pernikahan.

“sudahlah, aku benar-benar tidak ingin membahas ini. bagaimana kalau kita minum?” ajakku

***

@apartement 11.45 PM

Nichkhun membopongku berjalan sehabis menghabiskan berbotol-botol anggur. Sesampainya kami di depan pintu apartemen aku melihat dia, lelaki lurus itu. oh, aku baru ingat, ini sudah dua minggu.

Terlihat tatapan siwon oppa begitu marah, frustasi, dan apapun itu yang tidak bisa dikategorikan baik tergambar di wajahnya. Pria dingin itu akan marah dalam diam, kecuali untuk hal ini, merokok dan mabuk.

“aku sebaiknya pulang dulu. Anyeong siwon si, tiffany” nichkhun melepaskanku begitu saja dan dengan seenaknya pergi meninggalkanku tersungkur. Aku yakin penampilanku terlihat amat mengerikan sekarang.

Hening beberapa saat setelah nichkhun pergi.

“kau mengganti password apartemen kita dan tidak bisa dihibungi. Lebih mengejutkan lagi kau mulai minum dan merokok lagi. Mengerikan sekali. Apa yang sedang kau perbuat tiffany hwang?” ucapan siwon oppa di akhiri dengan teriakan hingga membuatku terlonjak dan berusaha untuk bangkit.

aku membuka pintu apartemen. “kalau berteriak di rumah saja, tidak enak dengan tetangga”. Kami memasuki apartemen dan bersiap melanjutkan argumen.

“jangan berlagak tidak terjadi apa-apa. Kau sudah tahu jauh sebelumnya seharusnya kau tahu hubungan ini terlarang. Bagaimana kalau mereka mengetahuinya? akan menjadi masalah.” Ucapku parau disertai sendawa di bagian akhir. Membuat orang pemarah itu menatapku jijik atau entahlah, aku tak begitu bisa berpikir sekarang, kepalaku terlalu pusing.

Byur..

Tunggu. Siwon oppa menyeretku ke kamar mandi dan mengguyurku dengan air. Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya, dari ekspresinya dia marah. Aku terlalu pusing untuk mendengar apa yang dikatakannya.

***

Terbangun di pagi hari dan merasakan seperti terhantam batu besar di bagian kepalaku. Memandang sekeliling dan mendapati siwon oppa tertidur disampingku, memelukku. Membuatku berusaha mengingat kejadian tadi malam.

Kami masuk apartemen… adu argumen… aku tertidur… tunggu-tunggu, ada adegan dimana dia menyeretku ke kamar mandi..lalu..ehm.. sebelumnya dia benar-benar marah padaku…sepertinya ada adegan dimana aku dan dia saling bicara… akh entahlah, kepalaku pusing.

“sudah bangun?” Suaranya membuyarkan lamunanku. “Aku akan menyiapkan sarapan dan minuman hangat ya?” wajah siwon oppa benar-benar cerah. Kemana perginya wajah pemarahnya tadi malam? Pikirku.

“aku-“

CUP

“jangan banyak bicara!” ucapnya dengan senyuman lagi

Beberapa saat kemudian dia kembali dengan nampan berisi roti dan segelas jeruk hangat. dia hanya melihatku makan dengan tatapan itu, penuh kekaguman dan senyum mengembang. Sedangkan aku hanya sesekali meliriknya tanpa tahu harus berkata apa.

“oppa yang mengganti bajuku tadi malam?” tanyaku di sela-sela makanku

“nde. Maafkan aku karena menyirammu. Kau benar-benar menyebalkan tadi malam. Kau tahu kan betapa aku membenci rokok dan alcohol?”  aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku sambil tetap mengunyah makananku.

“tapi kenapa memakai kemejamu oppa? aku kan punya kemeja sendiri?”

“sama saja, bukankah kita sering bertukar kemeja” benar juga, ini pertanyaan bodoh.

Kuliah di perfilman di shool of art Amsterdam, jangan membayangkan aku akan memakai rok kemana-kemana bak wanita feminim seperti sahabatku seohyun kesukaan keluarga choi. Memakai kemeja atau kaos, topi, dan celana lusuh menjadi fashionku sehari-hari. Tipe idaman adalah lelaki gondrong tampan yang mungkin berprofesi sebagai sineas ataupun orang-orang yang bergelut dalam bidang sastra. Kenyataannya, aku jatuh cinta dan terperagkap dengan lelaki sangat rapi, wangi, dan berambut cepak yang bercita-cita menegakkan hukum di korea, sangat ironi terlebih aku yakin aku juga sangat jauh dari tipenya.

“kau melamun?” tanya siwon oppa

“tidak. Ehm.. appa dan oemma-“

CUP

Astaga, apa yang dilakukannya. Aku hanya bisa menatapnya penuh tanda tanya. Lelaki dingin yang tadi malam baru meneriakiku tiba-tiba berubah manis?

“kau-“

CUP

“oppa-“

CUP

“ya-“ aku benar-benar tidak percaya. “aku sedang makan oppa” ucapku dengan nada tinggi.

“kau sedang makan. Jadi jangan banyak bicara lagi atau aku akan meminta morning kissku lagi”

Aku sedang tidak ingin berdebat dengannya di saat seperti ini. duduk saling menatap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Bagaimana orang serius seperti dia bisa seperti ini, seolah mengelak dari kenyataan.

***

Siwon oppa mendudukkanku di tepi tempat tidur sambil mengeringkan rambutku. Walau terlihat masih marah dia menatapku dengan tatapan itu, tatapan penuh cinta.

“ik hou van jou choi siwon” kataku. Sejenak siwon oppa terdiam lalu melanjutkan mengusap-usap rambutku dengan handuk. “kau tadi begitu marah karena aku merokok dan minum lagi. Kau tidak ingat hmm? Aku begini saat kita pertama berkenalan di depan kanal amsterdam-“

“kau mabuk. Jangan banyak bicara!”

“Kau membantuku berjalan sempoyongan dengan dalih kau merasa harus menolong sahabat dari adikmu. Padahal selama aku berteman dengan sooyoung kau tak pernah sedikitpun mau berurusan denganku. Aww..appo.. kau menarik rambutku oppa”rengekku

“mian” jawabnya singkat dan aku tetap melanjutkan perkataanku

“ Kau malah baik dengan seohyun. Kenapa aku begitu mencintaimu hingga mendengar berita ini pun aku tidak bisa marah padamu karena aku tahu kau tidak akan pernah menjadi milikku. Aku dan kau adalah dua dimensi yang berbeda dan aiish.. apa yang kau lakukan?” aku memukulnya, “Aku sedang tidak ingin bercinta dengamu” bisa-bisanya dia membuka kancing bajuku, dasar pervert.

“kau yang pervert-“ katanya seolah dia tahu pemikiranku. “aku hanya mau mengganti bajumu yang basah” aku tak tahu lagi harus memasang muka dimana. Aku hanya pasrah. Dia menanggalkan bajuku dan menggantinya dengan kemejanya.

“Aku tahu aku bukanlah impianmu oppa” kataku saat dia menyelimutiku. “tapi aku terlalu takut kehilanganmu hingga meminta penjelasanmu saja aku tak sanggup. Aku yakin hatimu juga sedang berperang hebat.” aku melihat matanya dalam dan aku yakin dia membenarkan kalimatku. “jadi bukankah akan lebih baik jika kita berpisah sekarang?aku takut. Aku takut tidak sanggup melepasmu nanti”.

Aku sudah terbiasa ditinggal oleh orang-orang yang seharusnya berada di sisiku. Ayahku meninggalkanku dua kali dan ibuku yang menyusul ayahku saat mengetahui ayahku meninggal. Lalu jika sudah terjadi seperti ini? apa aku punya hak untuk memenjarakan orang yang secara tiba-tiba begitu penting dalam hidupku?

“tidurlah” hanya itu yang diucapkannya. Dia menciumku lama walau aku tak berusaha merespon ciumannya. Setidaknya sekarang aku tahu aku benar dan aku harusnya tahu apa yang harus aku perbuat.

***

Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengan lelaki lurus itu. dia sibuk mengurus penelitian di den haag dan aku sudah mengingat apa yang terjadi malam itu. dia sendiri bimbang karena kehidupan ini, dengan orang seperti aku yang tidak pernah sedikitpun tercatat dalam daftar impiannya.

Seohyun adalah tipe gadis idealnya, perempuan rumah yang dapat dibanggakan ke kolega-koleganya nanti dan aku tidak akan pernah bisa berdiam diri di rumah sementara impianku adalah membuat film-film documenter dari berbagai dunia. Aku harus pergi, itulah yang aku lakukan sekarang, walaupun tiap malam aku harus mendengar dengkuran nichkhun yang membuatku terjaga hampir tiap malam.

@apartemen nichkhun

“belum tidur? tadi siwonmu menelfon lagi. Dia benar-benar yakin kau berada di apartemenku. Feelingnya yang tepat benar-benar membuatku akan gila karena dia terus-terusan menanyakanmu padaku dan aku harus selalu berbohong padanya” nichkhun duduk disampingku. Kami menonton film trilogy batman untuk yang kesekian kalinya. Sahabatku yang lebih mirip tipe idealku ini begitu menyukai manusia kelelawar dan aku begitu mengagumi Nolan, perpaduan yang tidak sengaja cocok.

“teruslah berbohong” aku sedang malas berbicara banyak

“dia bahkan mengancamku kalau sampai aku melakukan sesuatu padamu”

CUP

“nichkhun si, apa yang kau lakukan?” tanyaku masih dengan nada sama sekali tidak antusias setelah dia mencium pipiku

“aku hanya ingin tahu apa yang dilakukannya saat tahu aku menciummu”

Haakh.. anak ini benar-benar. Akhirnya aku menoleh padanya. “kau akan berbohong bahwa aku tidak ada disini jadi kau tidak perlu menceritakan ciumanmu. Walau aku tidak yakin kau bisa berbohong padanya”

Nichkhun mengaduh saat aku melemparkan remote padanya. “lihat sendiri cristian balemu yang suaranya berubah-ubah itu. aku mau tidur saja”

Saat aku akan beranjak dari sofa, dia menarik tangaku untuk duduk. “disini saja. Aku tahu kau tidak bisa tidur. baiklah aku akan berhenti bicara”

Aku tersenyum mendengarnya. sahabatku ini tidak pernah salah dalam memahamiku. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya dan kita tak bicara sedikitpun sampai kita bisa tertidur.

***

@apartemen siwon oppa dan aku

Wajah penuh kejutan tak bisa aku sembunyikan kala aku melihat banyak orang saat aku memasuki apartemenku saat aku harus mengambil revisi naskah skenarioku. Aku pikir siwon oppa belum kembali tapi ternyata dia sudah kembali bahkan membawa segudang orang-orang korea pengisi hari-hari SMAku.

“fany a, kau datang? Syukurlah. Aku bingung tidak  bisa menghubungimu? Kau tahu darimana kami disini? Nichkhun tidak kau ajak?” seluruh keluarga choi dan seohyun menghampiriku, menanyakan berbagai macam pertanyaan, dan memelukku. Aku merindukan saat seperti ini. saat-saat mempunyai keluarga yang utuh dan menyanyangiku.

“nichkhun sedang sibuk penelitian” jawabku pendek

Disaat aku kehilangan seluruh keluargaku. Aku mempunyai tiga orang sahabat yang selalu mendukungku bagaimanapun dinginnya aku pada mereka. Dibesarkan dengan keluarga seperti itu, aku tak pernah tahu bagaimana harusnya supaya mempunyai sahabat banyak dan disukai banyak orang. Aku dan nichkhun yang sama-sama berasal dari keluarga tidak utuh bisa bersahabat dekat dengan seohyun dan sooyoung yang mempunyai keluarga utuh dan normal, sangat indah.

Siwon oppa, walau dia satu-satunya kakak sooyoung. Dia tidak pernah mencoba dekat dengan kami, begitu dingin dan jauh. Hanya seohyun yang mengenalnya karena mereka sunbae hoobae saat di SMP.

Selama berkumpulnya kami di apartemen. Siwon oppa dan aku hanya sesekali saling menatap, kami terdiam. Hubungan tiga tahun ini tidak pernah diketahui oleh mereka dan akan berakhir dalam kondisi yang sama.

“aku harus pulang” membicarakan pernikahan sahabatmu dengan mantan kekasihmu bukan sesuatu yang enak didengar bukan? “bukankah besok kita akan jalan-jalan bersama? Aku akan memberi tahu nichkhun juga. Pasti akan menyenangkan besok”

“baiklah anak oemma. Hati-hati di jalan ya” nyonya choi memelukku dan menciumku. Aku berpamitan dengan semua dan keluar apartemen.

Di tengah perjalanan pulang tanganku tiba-tiba ditarik oleh oleh lelaki itu, yang tak menyapaku sama sekali selama aku di apartemennya, lebih tepatnnya apartemen kami.

“kau mau apa? Lepaskan aku!”

“mengantarmu” aku hanya berdecak sebal mendengar jawabannya.

“kau berbohong apa pada keluargamu untuk mengantarku?”

“masuk” aku selalu tidak mengerti dengan jalan pikiran orang di depanku

“aku bisa pulang sendiri. Berhenti seolah-olah kita masih bersama dan berhenti mengganggu nichkhun” aku menatapnya tajam dan penuh amarah tapi dia malah menatapku dengan tatapan itu, penuh cinta.”kita sudah berakhir” tatapan itu selalu saja meluluhkan segalanya

“aku tidak pernah menganggap kita berakhir. kapan kita mengakhirinya?” kenapa dia bisa santai disaat seperti ini

“oppa,,,,” kataku lirih

Lelah sekali hingga rasanya aku ingin terjatuh di tempat aku berpijak saa itu juga. Lelah menghadapi tingkah aneh lelaki dihadapanku. Dia seolah sangat mencintaiku hingga tak mau melepasku padahal dia sudah mengetahui bahwa dia dijodohkan diri dengan seohyun jauh sebelum aku mengenalnya. Kenyataan yang baru aku ketahui saat aku ke korea beberapa waktu lalu. Lelaki itu, menjadikanku wanita hina karena memacari calon suami sahabatnya sendiri.

“mianhe..mianhe..” dia memelukku, jenis pelukan yang selalu membuatku merasa sangat nyaman hingga rasanya aku ingin tertidur di pelukan itu.

“kau jahat oppa. sangat jahat”  gerutuku dalam gendongannya. Dia menggendongku dan memasukkanku ke mobil. Sepertinya aku akan tertidur, mata ini terasa sangat berat dan tidak mengerti sejak kapan air mata yang selalu aku sembunyikan dari jenis manusia manapun akhir-akhir ini aku tunjukkan padanya.

***

“oppa” teriakku pada pada lelaki paling tampan diantara kerumunan orang berjas hitam itu. Bergegas dari Shool art univercity ke amsterdam university. Ingin segera menemui pria paling tampan pengubah hidupku.

“wae?” aku langsung menghampur ke pelukannya sebelum menjawab pertanyaannya.

“aku dapat nilai A di mata kuliah film documenter. Ini semua karenamu oppa. mmmuuuach”

“iuh..kalian menjijikkan” nichkhun ternyata sedari dari melihat kami

“nichkhuuuun..i love you, I love you, I love you” aku memeluk sahabat terbaikku ini sambil berlonjak-lonjak

“oke oke. Apa yang membuatmu sebahagia ini?” tanyanya setelah kegiranganku mulai mereda.

“film dokumenterku tentang hukum di korea mendapat nilai tertinggi” jawabku tanpa menghilangkan deretan gigi putihku

“owh, film yang menampilkan pacar tanpanmu ini membuatmu mendapat hasil terbaik” goda nichkhun pada siwon oppa. owh, aku hampir lupa kalau sedari tadi oppa tersenyum melihat kedekatanku dengan nichkhun.

“kau sering sekali menodongkan kamera padaku tapi yang kau pakai milik siwon? menyedihkan sekali diriku” perkataannya membuatku tersenyum. lihat saja apa yang akan aku perbuat untukmu nichkhun.

“owh sudahlah…aku akan mentraktir kalian berdua. Otte?” betapa beruntungnya aku berada di sisi dua pria tampan yang sangat menyanyangiku. Aku tidak akan melupakan pemberianmu ini tuhan.

“berangkat” seru mereka berdua bersama-sama. Aku menggandeng kedua tangan lelaki kesayanganku ini di sisi kanan kiriku. Mereka berdua tertawa lebar melihat tingkahku yang kadang kekanakan.

Mendapat nilai maksimum di salah satu tugas mata kuliahmu tentu sudah menjadi barang biasa bagi kami bertiga, terlebih siwon oppa yang seolah dilahirkan untuk mendapat nilai tertinggi dalam belajarnya. Aku dan nichkhun tentu bukan mahasiswa bodoh karena sebagai orang yang lahir tidak dalam kondisi kaya raya kami masuk ke universitas eropa dengan beasiswa. Tapi mendapat nilai maksimum atas kerja keras yang juga maksimum itu terasa melegakan dan membahagiakan.   

Aku, siwon oppa, dan nichkhun menjadi sahabat baik di negeri bunga tulip ini. berapapun aku mengatakan I Love you pada nichkhun, siwon oppa justru akan tersenyum melihat persahabatan kami.

***

Bertahun-tahun hidup bersama, kami menjadi asing di tempat ini. kami semua berkumpul, mengenang masa sekolah, masa bersama, dan masa bahagia. Kami tertawa dan bercanda ria. Dari jauh, kami adalah sekumpulan satu keluarga bahagia. Tapi saat mendekat, ada sebuah missing di dalamnya. Lubang yang hanya tiga orang yang tahu diantara kita semua. Hanya aku, lelaki itu, dan nichkhun.

“Ok peter, see you next evening” ucapku pada salah satu temanku paling usil di kelas sinematografi.

Kami tidak sengaja saling bertemu saat aku, keluarga choi(aku rasa seohyun akan lebih baik aku masukkan sekalian, bukankah dia akan menjadi bagian keluarga choi?), dan nichkhun jalan-jalan di amsterdam

“kau akan bertemu dengannya nanti malam?” lelaki ini begitu mengejutkan berada di belakangku saat semua orang sedang asyik berfoto ria.

“yes, and it’s not your business”

“gadis ini, berulang kali aku bilang aku tidak menyukainya. Dia terlalu terlihat mencintaimu” tatapan itu, tatapan paling menggemaskan bagiku, tatapan dingin cemburu seorang choi siwon.

“aku hanya akan menonton film bersama, film JJ. Abrams terbaru rilis. Lagipula, tenang saja karena aku tidak akan menikahinya” jika kata-kataku benar-benar terdengar, dia pasti mengerti maksudku dan memilih diam. Seenaknya dia melarangku bertemu temanku sedangkan dia sendiri bahkan akan menikah.

Sepanjang perjalan liburan reuni ini, menyenangkan sekali menggoda calon pasangan suami istri ini.

“ayo calon suami istri berfoto berdua saja. Sini aku yang fotokan”

“seohyun, siwon oppa jangan dibiarkan makan sendiri”

“siwon oppa tidak ingin memakaikan jas pada seohyun, dia kedinginan”

Lontaran kalimat-kalimat yang akan ditanggapi sorakan oleh taeyon dan nichkhun memang tidak hanya menyakitkan untuk lelaki itu, tapi juga untuk hati ini. tapi bukankah akan lebih tidak berasa menyakitkan jika luka yang terganga itu kita obati dengan menekan luka itu sendiri? Hal itu mungkin hanya nichkhun yang paling mengerti. Dia juga menjadi actor hebat hari ini. Entah karena memang tidak mau tahu dengan urusan kami atau dia memahami apa yang aku inginkan. Dia benar-benar berlagak menjadi orang yang tidak tahu apa-apa.

Sedangkan choi siwon selalu memampang wajah penuh amarah di depanku setiap aku memulai berceloteh ria menggunakan dia dan seohyun sebagai bahan perbincangan yang patut di perbincangkan.

“aku benar-benar menginginkan siwon mendapat gadis terbaik” ucap nyonya choi padaku.

Kami sekarang sedang menyusuri kanal dengan menggunakan perahu. Walau aku tidak mengerti kenapa nyonya choi secara tiba-tiba membicarakan anaknya yang tidak begitu aku kenal, setidaknya itu yang kami perlihatkan di depannya. Tapi setelah kalimat selanjutnya aku mengerti bahwa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di depanku ini mengerti semua yang terjadi.

“nak, kau anak baik pasti kau juga akan mendapatkan lelaki yang baik juga” ucapnya sambil mengelus pipiku. “seohyun adalah sahabatmu, dia gadis yang baik, anggun, penurut, dan calon ibu rumah tangga yang baik. Bukankah dia akan sangat cocok sebagai istrinya siwon?” Matanya sarat akan permohonan.

“bagaimana oemma-?”

“oemma tahu. Naluri seorang ibu. Aku telah menjadi oemma kalian lama” jawaban singkat itu benar-benar membenamkan aku dalam kenyataan yang sebenarnya telah kuketahui. Tapi ini terasa sangat dekat dan jelas.

Kalimatnya syarat akan berjuta makna. Bahwa seharusnya aku tidak menyakiti seohyun yang notabene adalah sahabatku sendiri dan sebaik-baiknya aku yang pantas menjadi istri putranya hanyalah seohyun. Sebelum sampai ke tepi sisi kanal pemberhentian, aku sudah mengerti bahwa choi siwon harus kuhilangkan dari kehidupanku, Out Of My System.

***

@apartemen nichkhun

Menghabiskan malam dengan mengurung diri di kamar nichkhun sebenarnya bukanlah hal yang biasa aku lakukan. Setelah dari gereja untuk menangis sejadi-jadinya, aku kembali ke apartemen nichkhun di malam hari. Melihatku kembali dalam keadaan amat berantakan membuat nichkhun yang sebenarnya terlihat bersiap mengomeliku berhenti memampang wajah marahnya. Bukankah dia sahabat yang paling mengerti aku?

Dia membawaku ke kamar, menidurkanku dan membuatkan vanilla latte. Saat aku bertanya kenapa ia tidak membuat espresso kesukaanku, aku tak menyangka jawabannya begitu bijak.

“kau selalu minum espresso karena tahu kehidupan itu memang pahit. Kau harus mencoba sesuatu yang baru, yang terasa manis agar kau juga tahu kalau dunia ini manis. Selamat malam tiffany hwang” aku tersenyum mendengar jawaban tak terduga dari sahabatku ini. Dia mencium keningku sebelum meninggalkan kamar dan menutup pintu.

Tengah malam aku keluar kamar dan mematikan televisi yang sepertinya belum sempat nichkhun matikan karena tertidur. Tertidur pulas seperti malaikat tanpa dosa membuatku menyunggingkan senyum melihatnya tapi seketika itu juga merasa sedih karena melihat dia masih saja terus tertidur dengan memegang foto di tangannya. Begitu bodohnya orang yang tidak menerima cinta nichkhun. ketika membalikkan foto itu, aku menemukan fakta teramat mengejutkan. Tak kalah mengejutkan dari kekasihmu yang akan menikah dengan sahabatmu.

Merenung sepanjang malam dan bagaimanapun aku berpikir, jalannya aku memang aku berpisah dengan lelaki itu, harus. Melihat nichkhun membuatku berpikir, apa yang selama ini aku lakukan seharusnya segera aku selesaikan.

“aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang selama ini terbengkalai karena masalahku dengan siwon oppa. Tunggu saja” ucapku pada nichkhun yang tertidur pulas

This time for nichkhun, itulah yang aku pikirkan.

***

“what? Cina? untuk apa akau kesana?” nichkhun menatapku tak percaya setelah dia mendapati aku berkemas-kemas.

“liburan” jawabku santai

“liburan? Untuk apa kau kesana? Kau kan masih harus menyelesaikan tugas akhirmu? Kau saja belum menjelaskan kenapa tiba-tiba kau menghilang dari jalan-jalan. Oemma bilang kau harus ke kampus. Setauku kau tidak akan pulang dalam keadaan semengerikan kemarin kalau itu cuman masalah kampus” tanyanya bertubi-tubi “dan aku melihat ada yang aneh dari oemma. Pasti kalian menyembunyikan sesuatu, tiffany???”

“nde nichkhun si” aku menyuruhnya duduk di sampingku. “kau kan tahu keluarga ayahku ada di Cina, aku ingin kesana, itu saja. Perjalananku ke thailand juga akan membantuku dalam tugas akhir dan soal oemma, aku dan beliau baik-baik saja, itu hanya perasaanmu”

“lalu bagaimana jika siwon bertanya?”

“jawab saja. Lagipula kau tidak pernah bisa bohong kan dengannya” dia sedikit terkejut saat aku mengatakannya. “kau pikir aku tak tahu kau selama ini jadi informannya”

“lalu sejak kapan kau peduli dengan keluarga ayahmu?” dia mengalihkan pembicaraan. Pertanyaannya benar-benar membuatku tercekat. Dia paling memahamiku bukan? Hingga bagaimana hubunganku dengan keluarga ayahku yang sangat hampar pun dia tahu. Dia mengalihkan pembicaraan dengan tepat.

“sudahlah kau terlalu banyak tanya, urus saja victoriamu itu” ucapku mengelak

“kau mengalihkan pembicaraan”, hei..kau yang melakukannya duluan, pikirku

“ani. Kau yang mengalihkan pembicaraan” aku terus melanjutkan kegiatan berkemasku

“kau tak mau mengaku.hmm?” o’o matilah aku, dia akan mulai menggelitikiku. Aku benar-benar tidak tahan dengan gelitikannya. Aku segera melarikan diri dan kami berakhir dengan kejar-kejaran dan tawa yang memenuhi apartemen yang didekor secara klasik ini.

***

@Univercity of Amsterdam

Selama berhari-hari nichkhun dikejar-kejar oleh siwon, tentu saja masalah tiffany yang menghilang begitu saja. Biasanya nichkhun akan berada di sisi siwon tapi tidak kali ini, setelah tiffany menceritakan nyonya choi. Tiffany benar, siwon harus keluar dari kehidupan tiffany. bukan hanya untuk kebaikan bersama tapi karena memang dilihat dari sisi manapun seorang calon jaksa cerdas seperti siwon sangat tidak cocok berdampingan dengan wanita paling seenaknya sendiri seperti tiffany.

“come on nichkhun si, aku benar-benar gila karena tidak mendengar kabar ataupun melihatnya”

“come on siwon si, lupakanlah tiffany. kau akan menikah, remember?”

“aku hanya ingin tahu dimana dia dan apa yang dilakukannya. Setidaknya beri aku kabar tentangnya”

“dia baik-baik saja, dia sedang di Cina menyelesaikan tugas akhirnya” nichkhun akhirnya menyerah. Percuma, dia tidak akan bisa berbohong ataupun menutupi sesuatu dari siwon.

“cina?”

“ya, dan jangan tanya kenapa karena aku sendiri tidak tahu?lupakan sahabatku siwon si. kau tahu betapa egoisnya dirimu? Mencintai sahabatku tapi menikah dengan sahabatku yang lain”

—sifany—

Melelahkan sekali menyelesaikan tugas akhir ini. jika bukan karena nichkhun, mungkin aku sudah menyerah. Senja, waktu yang paling indah dari sekian waktu. Menikmatinya sendirian di negeri tirai bamboo setelah mendengar semua kisah indah yang berakhir memilukan dari keluargaku dan keluarga sahabatku. Hanya kunjungan singkat sebenarnya, tidak berniat menghabiskan waktu yang lama.

Sebuah kebenaran yang tak pernah kudengar dari appa dan oemma selama ini. Mereka ternyata menikah atas dasar cinta, tapi tidak dengan dasar restu orang tua. Oemmaku begitu bodoh mencintai orang yang benar-benar bejat karena menelantarkan anak-anaknya. Tapi atas dasar itu juga oemma bisa begitu bertahan menahan semua kelakuan appa. Cinta appa yang salah jalan membuat keluargaku berantakan tak terurus, meninggalkan kami atas dasar cinta.

Oemma berasal dari keluarga baik-baik yang secara sadar masuk dalam kehidupan appa yang seorang petualang. Perbedaan pandangan, pemikiran, dan semuanya membuat rumah tangga yang awalnya baik semakin lama kian memburuk. Terlebih seluruh keluarga yang tidak memihak membuat keluargaku semakin terpuruk.

“jangan salahkan appa atau oemmamu, mereka hanya terjebak dalam situasi dan waktu yang salah” ucap bibiku berkali-kali. Mungkin beliau tahu betapa aku tidak memikirkan appa dan oemma karena bagiku merekalah yang bersalah atas hancurnya hidupku.

“siwon?” aku menemukannya duduk tampan di tempat tunggu bandara. Bagaimana orang ini masih terlihat begitu tampan saat wajah kusutnya sangat terlihat

“kita perlu bicara” kita mengucapkan kalimat itu bersamaan

“aku tidak akan marah lagi padamu oppa. aku mengerti kenapa kau memilih seohyun” aku memulai pembicaraan dengan menghela nafas besar terlebih dahulu. Aku tahu pembicaraan ini tidak mudah tapi tetap harus ada konklusi tak peduli berapa lamapun

“tidak. Kau tidak tahu tiffany”

“ya, aku tahu. Seohyun adalah gadis yang memang cocok mendampingimu. Dia…”

“alasanku tidak pada seohyun. Alasanku semua padamu”  aku? Kenyataan apa lagi ini?. aku menatapnya, tapi dia tetap menatap ke depan lalau lalang orang bandara yang sibuk dengan kesibukannya sendiri

“pernahkah terbesit dalam pikiranmu tentang pernikahan kita?”

“maksudmu?” mengapa lelaki ini menanyakan hal ini padaku?

“aku..”

“kau tidak pernah memikirkannya tiffany, bahkan sedikitpun. Bagaimana aku akan menikah dengan wanita yang bahkan sebelum semua ini dimulai sudah pesismis dengan cintanya? Kau tahu kenapa aku membiarkan orang tuaku menjodohkanku? Karena kau tidak pernah mau hubungan kita diketahui orang lain kecuali nichkhun. dari awal kau selalu mengisyaratkan bahwa kita tidak pernah mempunyai masa depan”

Sejenak aku terdiam dengan segala ucapannya, kenyataan yang pahit betapa tanpa harapannya diriku dengan lelaki ini.

“ribuan kali aku berusaha membuat hubungan kita tak hanya kesenangan belaka tapi kau selalu berdiri disitu, stagnan, dan tak beranjak, tanpa harapan. Aku jauh-jauh mengejarmu ke belanda. Aku mencintaimu jauh sebelum kita di Belanda. Aku perlu meyakinkan diriku matang-matang sebelum akhirnya aku yakin pada hatiku. Kau bertanya kenapa waktu SMA aku selalu mengabaikanmu? Itu semua karena aku terlalu tertarik pada gadis aneh sahabat adikku yang terlihat sangat manis pada saat SMA” jeda sejenak dia tertawa. “Aku harus menghindarimu karena dilihat dari sisi manapun kau bukan tipeku dan sekarang setelah jauh dari korea dan setelah bertahun-tahun kau justru membuktikannya”

Kalimat yang paling sering aku dengar dari telingaku sendiri. Begitu memilukannya kisah kami dan ternyata itu semua karenaku? Akulah pemeran utama dalam drama ini? bukan dia yang sedang duduk disampingku. Dia yang terlihat begitu rapuh disampingku meneteskan air matanya tanda menyerah sepertinya.

“aku tidak akan memaksamu lagi. Pesawatmu akan berangkat, kalau kau ingin hubungan kita tetap berjalan. Ayo kita berjuang bersama bukan seperti ini. dan kalau kau memang menginginkan ini berakhir, kau bisa pulang ke belanda sekarang atau kau bisa ikut aku ke seoul”

“aku ikut ke seoul” jawabku mantap

—sifany—

Pernikahan berjalan dengan khitmad. Semua terasa damai dan bahagia, tak terkecuali aku. bahkan aku menitikkan air mata bahagia kala melihat siwon dan seohyun saling mengucap janji suci. Melegakan memang, aku tidak apakah jalan yang aku ambil ini benar atau salah. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang mengatakan bahwa memang seharusnya siwon bersama seohyun. Dalam hidup terkadang sebuah keputusan bukan sekedar benar dan salah, semua benar- dan semua mengandung resiko, itulah yang aku pelajari.

Setelah dari cina aku tahu dengan jelas, akan jadi seperti apa hubunganku dengan manusia lurus itu. cintaku tak ubahnya cinta orang tuaku. Bukan hanya itu, setelah aku menemukan foto yang peluk nichkhun waktu itu aku mulai sadar betapa aku menyayangi dan membutuhkan seorang nichkhun dalam hidupku.

Ya, nichkhun. sahabatku itu memeluk foto masa kecil kami yang di belakangnya tertulis “the way I felt then and the way I feel now is the same. Always and forever”. Bukan hanya puluhan kali aku mendengarnya. sejak kecil aku sering mendengarnya bilang bahwa ia mencintai seorang wanita cantik yang dia akan jadikan ibu dari anak-anaknya kelak. Dia tidak pernah mau bilang siapa wanita paling beruntung itu tapi sejak kuliah, dia tidak pernah menyebutkan wanita itu. justru victoria yang selalu dibicarakannya. Aku tidak menyangka gadis itu adalah aku. Kenapa lelaki ini begitu pengecut? Bodohnya dia memendam perasaan begitu lama?

“jangan menangis! kau masih punya aku jika memang tidak ada lagi orang yang bisa kau ajak untuk menikah” gurau nichkhun disela-sela kami bertepuk tangan

“aku menangis karena bahagia. Aku merasa kisah cintaku bias dijadikan film yang bagus”

“aiisshh, pikiranmu hanya di film mulu. Jangan lupa kau membuat dokumenterku untuk tugas akhirmu dan sebagai artis di filmmu, kau harus membayarku”

CUP

“bagaimana? Apa bayarannya cukup?”

Apa aku terlalu berlebihan? Sepertinya begitu jika melihat ekspresi sahabatku yang satu ini. wajah dan telinganya memerah karena aku menciumnya, di bibir. Terlalu bersemangat dan bahagia mungkin. aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintai nichkhun karena rasanya beda dari cintaku dengan siwon oppa. hanya saja, aku merasa aku bisa hidup tanpa siwon tapi tidak pernah bisa jauh dari sahabatku yang tampan ini. siwon oppa memang aku jadikan objek penelitianku untuk salah satu mata kuliah yang paling aku sukai tapi di final testku aku memakai sahabatku, nichkhun. Bahkan aku rela ke cina hanya untuk mencari tambahan data untuk dokumenterku. Ayah nichkhun berasal dari cina, sama seperti ayahku.

Seperti yang telah aku bilang, aku menyayanginya dan membutuhkannya. Sekarang, bagiku itu saja sudah cukup.

“biasa saja. tidak pernah dicium wanita cantik ya?” godaku padanya

“e..e..enak saja” dia terlihat begitu malu dan mengalihkan pandangannya kea rah lain.

Aku belum ingin mengatakan padanya bahwa aku mengetahuinya. Sepertinya terlalu cepat jika aku melakukannya mengingat aku masih berusaha menghilangkan cintaku pada pengantin pria yang tak jauh ada di hadapanku itu. kisah ini akhirnya diakhiri dengan kata Happily Ever After. Mungkin hanya ada sedikit orang yang tersakiti dalam cerita ini, aku dan pengantin pria tampan itu, tapi kami yakin luka ini bisa disembuhkan.

“selamat oppa. semoga kau dan seohyun awet dan selalu bahagia sampai tua nanti” ucapku padanya. Dia memberikan senyum terindahnya padaku. Kami berpelukan sebagai ucapan selamat, lebih tepatnya ucapan selamat tinggal.

—sifany—

“aku akan ikut ke seoul oppa untuk menghadiri pernikahanmu” ucapku saat di bandara waktu itu

Siwon oppa tersenyum dalam tangisnya. Akupun tak kuat menahan tangisku yang juga pecah seketika itu juga di bandara. Kami berpelukan dalam waktu yang lama. Sangat lama dan tanpa mengucapkan kalimat apapun. aku rasa itu adalah pelukan terakhir kami sebelum lelaki itu resmi menjadi milik sahabatku.

“jangan lupakan aku. maafkan apa yang telah terjadi pada kita. kata nichkhun masa lalu bukan untuk dilupakan tapi untuk dimaafkan. Aku akan menjadi bagian masa lalumu”

Hanya anggukan kepala sebelum dia akhrinya menjawabku “masa laluku yang paling indah. kau adalah masa laluku yang paling indah tiffany hwang” dan dia mempererat pelukannya.

Seolah tidak mengindahkan jutaan mata yang mungkin sedang menatap kita aneh. kami berpelukan menyalurkan segala perasaan yang tersisa. Siwon oppa sesekali mencium puncak kepalaku, ciuman terakhir dari seorang choi siwon yang hangat dan penuh kasih sayang

END

Hai,

Bagaimana? Ehmmm.. mianheo aku buatnya sifany tidak bersatu dalam cerita ini.

Biasa, kalau lagi buntu ngelanjutin cerita sequel. Akhirya bikin oneshoot geje deh, hehehe..

Btw terimakasih banget bagi yang udah komen n ngasih saran di fanfic ku yang manapun. Aku snagat mengapresiasinya, love you all!!!

Keep comment so I can repair my stories!!!

Thanks and I love you!!!

65 thoughts on “(AF) Ik Hou Van Jou

  1. Akhirnyaaaaa nemu jg ff dg latar belakang holland ^_^ negara impian aq dari kecil tau thor😀
    Ceritanya kerreeennn, wlaupun gk sama siwon aq ngliatnya sneng jg :v good job lahh, ditunggu karya selanjutnya!

  2. Merasa aneh sih krna author buat endingnya khunfany padahal mereka bru saja putus, knpa castnya nggak dibalik aja thor biar bisa SiFany endingnya,, tp gak apa2 aku suka banget sama ceritanya thor. Keren, nggak tertebak..
    Ada beberapa kalimat yg kekurangan kata dalam cerita ini thor, maaf ya aku dari tadi cuma mengkritik aja..

    Semangat terus yah thor buat ff nya,, makasih udah mau buat ff sifany nya
    🙂

    Aku tau thor buat ff itu nggak mudah, but
    Fighting and keep writing thor^^J

  3. Sukaaa jalan ceritanyaa!! Soalnyaa jaranh banger nemu ff yg giniihehehe
    Mkerennn, aku suka yg ginii akhirnyabtkterkiraa.
    Mangatt teruss buat ff nyaa!!! 😍😊😊😊

  4. huuu sedih why khunfany endingnya hiks TT.. tapi gapapasih masih keren kok. suka jaman sifany pacaran bertolak belakang but mengena deh hubungannya wkwkkwk😀 daebak!! ditunggu karya selanjutnya

  5. Huwaaa, kok kayanya sad ending yaa? Aku kira nantinya sifany bersatu, eh gataunya fany eonninya sama khun oppa-_- Gpp sih, ditunggu sequelnya🙂

  6. Huuu nyesek thor bacanya,nyeseknya sampe ke hati kk.. tapi gk apa2 sih klo endingnya khunfany,toh jg cuma ff lagian nickhun jg sahabat lama tiffany jadi udh ngerti bgt sama tiff,setidaknya jadi sahabat seumur hidup gk apa2lah. FF ini cocok dijadikan film sama kyk pikiran tiff di ff ini yg pikirannya hanya ke film haha. Pokoknya ff nya daebak!! Kata2nya jg bagus2 , bahkan kata2 bijaknya aku copy thor hihi *izin copy kata2nya ya thor*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s