(AR) Magic Kiss, Superb Lips Part 2

Magic Kiss, Superb Lips Part 2

magic kiss

Author : @echa_mardian

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Other Cast : Im YoonA, Jung Jessica, Kim Taeyeon, Cho Kyuhyun

Genre : Fantasy,Family, Romance, Comedy

“Thanks to blog Ardiana Rose for the magical spell.”

 

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission. 

-First Kiss and Dangerous-

Yoona membuka matanya perlahan dan meringis menahan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Ia mengerjap-ngerjap linglung, bingung dengan keadaannya saat ini. Ia berada di pinggir hutan, tepatnya tertidur di bawah sebuah pohon ek besar. Tiba-tiba keningnya mengernyit, bingung. Bagaimana ia sampai ke tempat ini? Seingatnya tadi ia berada di pesta topeng Nichkhun untuk menjalankan rencanya kepada pria itu. Namun semua itu gagal sebab ada seseorang yang sepertinya dengan sengaja menghalangi niatnya.

Yoona duduk tegak ketika menyadari hal tersebut. Ia ingat sekarang! Tadinya ia diseret oleh pria berkulit pucat itu dan selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi. Gadis itu melebarkan matanya, mencoba memandang berkeliling. Sial, gelap sekali! Apa ia sudah kembali ke dunia sihir putih atau masih di dunia manusia? Jika di dunia sihir putih, itu tidak mungkin. Karena Yoona tidak pernah merasa kembali pulang. Lagipula ia harus pulang melalui pintu tempat ia masuk tadi.

Dengan sedikit ketakutan, Yoona mengedarkan pandangannya. Sepi, gelap dan berasap. Yoona perlahan berdiri. Perasaannya tidak nyaman. Ini bukan dunia manusia dan jelas-jelas bukan dunia sihir putih. Hutan di belakangnya tidak senyaman hutan dunia sihir putih. Yoona segera melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Ia takut kalau ia berada di tempat yang tidak aman.

Seandainya saja ia masih menggunakan sapu terbangnya seperti dulu, saat ini ia pasti sudah memanggil benda ajaib yang kini hanya diletakkan di lemari sapu itu. Tetapi Yoona dan kakak-kakaknya sudah tidak diperbolehkan menaiki sapu terbang sebab pengikut Damnitri bisa dengan mudah menemukan mereka. Karena udara 15 meter di atas mereka tidak dilindungi mantra pelindung Fidelius.

Yoona bergidik ketika mendengar lolongan serigala yang berasal dari dalam hutan. Ia mempercepat langkahnya menjauhi tempat itu, sambil sesekali melihat ke belakang. Yoona merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Hawa di sekitarnya sangat dingin tetapi kenapa ia berkeringat? Yoona tidak tahu apa yang sedang terjadi tetapi ketakutan semakin mengecamnya. Boot Yoona menginjak ranting-ranting serta daun-daun kering, membuat langkahnya terdengar begitu mendesak.

“Taeyeon Eonnie, Sica Eonnie, aku membutuhkan kalian. Apa kalian bisa mendengarku? Tiffany Eonnie, aku butuh pertolonganmu,” gumam Yoona dengan suara gemetar.

Yoona tidak melihat apapun di hadapannya. Suasana benar-benar gelap dan cahaya bulan yang temaram tidak membantunya sama sekali. Sampai saat ini ia tidak tahu siapa yang telah membawanya ke tempat mengerikan seperti ini. Yoona mencoba melihat berkeliling lagi, tidak ada bangunan sama sekali. Hanya hutan dan bukit-bukit kecil.

Gadis itu mengumpat ketika kakinya tersandung oleh akar beringin yang dilewatinya. Beruntung ia masih bisa mengendalikan tubuhnya jadi ia tidak sempat terjatuh. Seketika Yoona merasakan ada yang melintas di hadapannya. Dengan cepat ia mendongak dan menatap lurus ke depan.

Dan kali ini Yoona bisa terjungkal ke belakang tanpa tersandung apapun. Gadis itu gemetar hebat. Di depannya ada sekelompok penyihir berjubah hitam serta memakai tudung yang menutup kepala mereka. Hanya satu orang yang tidak memakai tudung sehingga Yoona dapat dengan jelas melihat wajahnya. Yoona menahan napas. Ia sepertinya mengenali pria yang tidak memakai tudung itu.

Wajahnya pucat, bibir yang sedikit tebal, hidung mancung serta sepasang telinga sedikit lebar. Pria yang menariknya keluar dari pesta Nichkhun!

Siapa mereka, tanya Yoona dalam hati. Dari penampilan mereka Yoona tahu kalau mereka pastilah penyihir. Namun tidak ada penyihir dunia sihir putih yang berpenampilan mengerikan seperti mereka. Jantung Yoona berdegup semakin kencang. Perasaannya kacau begitu pula pikirannya. Tatapannya terpaku pada sepasang mata hitam pria pucat di hadapannya.

“Selamat datang, Kim Yoona. Selamat datang di dunia kami!” suara pria pucat itu terdengar membahana di sekitar mereka. Pria itu merentangkan kedua tangannya lalu menyeringai. Seringaian paling licik yang pernah dilihat Yoona.

“Siapa kalian? Kenapa aku bisa berada disini?” desis Yoona.

Pria pucat yang lebih tinggi dari Yoona itu melangkah maju, semakin dekat dengan Yoona. Otomatis Yoona mengambil langkah mundur perlahan.

“Perkenalkan, namaku Cho Kyuhyun. Kau berada di dunia kami yang mungkin belum pernah kau kunjungi. Atau tidak pernah dalam pikiranmu akan datang ke tempat ini. Tetapi sekarang aku mendapatkanmu, Kim Yoona.”

Yoona tidak mengedip sama sekali, terlalu terkejut mendengar perkataan pria bernama Cho Kyuhyun ini. Tempat yang tidak pernah akan dikunjunginya? Yoona menelan ludah dengan susah payah. Tidak mungkin! Ia tidak mungkin berada di tempat ini. Yoona merasa aliran darahnya berhenti ketika penampilan mereka memang menegaskan kalau sekarang ia berada di dunia sihir hitam.

Kyuhyun menjentikkan jarinya sekali, membuat tubuh Yoona terseret ke depan. Yoona tidak dapat menahan kakinya yang mendadak melemah. Dalam sekejap ia sudah berada di dalam dekapan Kyuhyun!

Yoona merasakan dinginnya hawa pria di hadapannya. Kyuhyun memegang pinggang Yoona dengan tangan kirinya dan tangan kanannya membelai pipi gadis itu. Yoona merinding. Pria ini penyihir atau vampire? Tubuhnya benar-benar dingin! Yoona menantang tatapan Kyuhyun. Ternyata pria itu mempunyai sepasang mata coklat.

“Kau pasti bingung kenapa bisa berada di tempat ini? Ckckck kasihan sekali kucing kecil Kim ini,” cemooh Kyuhyun.

“Apa maumu?” Yoona berhasil menemukan suaranya, meskipun terdengar payah dan gemetaran. “Apa kau pengikut Damnitri?”

Mendengar Yoona dengan berani menyebut nama Damnitri, wajah Kyuhyun semakin pucat. Selain itu Yoona dapat melihat sekelompok penyihir hitam di belakang Kyuhyun mulai gelisah.

Rahang Kyuhyun mengeras. Ia meremas pinggang Yoona lebih keras, membuat gadis itu meringis. Ada kemarahan di sorot mata Kyuhyun. Yoona tidak tahu mengapa Kyuhyun tampak semarah itu hanya karena ia menyebut nama Damnitri. Namun jika Kyuhyun adalah pengikut Damnitri, seharusnya Kyuhyun tidak semarah itu.

“Jangan sebut namanya di depanku. Apa kau mengerti?”

Yoona mengerjap. Kyuhyun berbicara dengan nada penuh kebencian yang amat sangat. Sekali lagi ia menilik mata pria itu. Ya, sepertinya Kyuhyun benci jika mendengar nama Damnitri. Lalu jika ia bukan pengikut Damnitri, mengapa ia menangkap Yoona? Setahu Yoona musuhnya di dunia sihir hitam hanyalah wanita itu.

“L-lalu apa maumu?” Yoona memberanikan diri bertanya.

Kyuhyun menyeringai lagi. Wajahnya semakin dekat ke wajah Yoona, membuat hidung mereka bersentuhan. Yoona menahan napas. Apa yang dilakukan pria ini?

“Kau…bisa membantuku untuk menangkapnya.”

 

Taeyeon dan Jessica tidak bisa tidur sama sekali. Mereka sibuk berjalan mondar-mandir di depan cermin ajaib. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kembalinya si maknae dan hal itu membuat si kembar ketakutan setengah mati. Dan Tiffany masih belum mengabari mereka sama sekali! Terang saja sebagai anak sulung, Taeyeon dan Jessica stress memikirkan mereka.

Sesekali Jessica naik ke lantai paling atas namun pintu Gettrugh terus menolak membawanya ke rumah Nichkhun. Dengan kata lain, pintu itu tiba-tiba tidak berfungsi. Sepertinya sudah dipreteli mantra jahat dari luar. Jessica tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Kenapa kedua adiknya tidak bisa dilacak sama sekali?

Taeyeon bersikap lebih tenang dari Jessica. Si sulung itu hanya bisa mengusap-usap kepala Jessica sementara tangannya yang lain masih bergerak di atas peta sihir mereka, mencari-cari dimana keberadaan Tiffany serta Yoona.

Taeyeon mendesah lega ketika peta sihir menunjukkan kalau Tiffany masih berada di tempatnya kemarin. Lagipula Tiffany berada di dalam pengawasan Cassandra. Jika terjadi sesuatu yang buruk di dunia manusia untuk Tiffany, Cassandra akan langsung mengetahuinya. Tetapi Yoona! Gadis itu tidak dalam lindungan siapapun karena tujuan mereka memanglah tidak baik sama sekali.

“Taenggo, kau yakin cermin ajaib kita tidak rusak?” tanya Jessica dengan suara parau. Ia duduk lemas di salah satu kursi yang berada di depan cermin ajaib. Taeyeon berdiri di sampingnya dan tidak melepaskan pandangan dari peta sihir.

“Cermin ajaib itu masih berfungsi dengan baik, Sica. Tetapi tidak bisa melacak dimana Yoona berada. Kalau Tiffany, kita tidak bisa menghubunginya terlebih dahulu sebab ia sedang mengerjakan tugasnya! Harus dia yang memanggil kita, Sica.”

Jessica merengek cemas. “Lalu dimana Yoona? Bahkan peta sihirmu tidak menunjukkan titik keberadaannya!”

“Aish, tenanglah Jessica! Kau pikir aku tidak mencemaskan dimana adikku, eoh? Aku takut ia tidak berada di dunia manusia seperti yang kita pikirkan.”

Jessica terdiam mendengar kalimat Taeyeon. Lalu gadis itu ikut berdiri di samping Taeyeon, menatap tajam ke arah peta yang terdapat banyak titik di dalamnya. Peta itu berwarna kuning kusam dan terdapat nama Taeyeon, Jessica dan Tiffany di atasnya. Nama Yoona tidak ada! Itu artinya Yoona tidak lagi di bawah perlindungan mantra Fidelius. Jessica mengangkat wajahnya ngeri. Jika nama Yoona tidak ada di dalam peta, lantas sedang berada dimana adik bungsunya itu?

“Taenggo-yaa! Bisakah kita menggunakan sapu terbang untuk mencarinya? Aku mohon! Aku takut ia berada di tempat yang tidak seharusnya!” desak Jessica seraya mengguncang-guncang tubuh Taeyeon.

“Ck, kita tidak bisa, Jessica! Kau tahu sendiri Cassandra sangat melarang kita menggunakannya. Mantra pelindung hanya berfungsi 15 meter dari tanah yang kita pijak. Dan itupun hanya berlaku di dunia sihir putih,” ujar Taeyeon.

Jessica menunduk dalam. Bahunya terguncang. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa adik kesayangannya jika tidak berada di tempat yang aman. Ditambah lagi kekuatan Yoona tidak sehebat mereka berdua. Sihir Yoona masih di tahap yang sangat mudah terkalahkan.

Taeyeon menghela napas berat lalu memeluk Jessica. Adik kembarnya itu langsung saja menumpahkan airmata di pundaknya. Taeyeon berusaha menenangkan Jessica dengan mengusap-usap punggung gadis cantik itu.

“Kalau begitu, mari kita berkonsentrasi. Kita harus melacak suara Yoona. Hanya kita yang bisa menyelamatkan keluarga kita, Sica.”

Jessica mengangguk. “Tapi bagaimana jika tidak berhasil? Cermin ajaib yang sakti saja tidak bisa melacaknya.”

Taeyeon mendesah cemas. “Tidak ada jalan lain. Kita harus menemui Cassandra untuk meminta bantuan.”

 

Entah mengapa, tiba-tiba Tiffany tersentak dari tidurnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke dalam penglihatannya. Tiffany membuka selimutnya dan memandang keluar jendela. Ugh, sudah pagi? Tiffany menggeliat di sofa tempat ia tertidur lalu merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Gadis itu tercenung sejenak. Kenapa perasaannya tidak nyaman sama sekali? Matanya beralih pada Siwon. Pria itu masih tampak seperti semula. Ya, tentu saja, Tiffany pabo! Jelas-jelas Siwon sedang sekarat. Ia memperhatikan wajah Siwon lebih seksama. Jika pria itu baik-baik saja, lalu kenapa perasaannya tak nyaman?

“Apa…aku harus menciummu sekarang, Pangeran?” gumam Tiffany.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Apakah mencium Pangeran Siwon sebelum menggosok gigi adalah tindakan yang sopan? Tiffany memukul kepalanya sendiri. Mengapa ia harus memikirkan hal itu? Lagipula mulutnya kan tidak bau. Tiffany tersenyum kecil seraya mengabaikan perasaannya yang masih tidak nyaman.

Kali ini harus berhasil, ucap Tiffany dalam hati. Bukannya begitu. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugas ini dan melaporkannya kepada Raja. Maka Tiffany pun menghampiri ranjang Siwon dan duduk di tepinya.

“Huft, kau membuatku seperti wanita penggoda, Pangeran. Tch, aku sendiri tidak percaya kalau ciumanku dapat menyembuhkanmu,” gumam Tiffany seraya mengelus rambut Siwon.

Baiklah ini saatnya, batin Tiffany. Ia membasahi bibirnya terlebih dahulu. Huh, rasanya mendebarkan sekali sehingga menutupi perasaan tak nyaman yang ia rasakan sebelumnya. Tiffany tidak ingin mengulur waktu lagi. Ia segera menundukkan wajahnya kemudian semakin lambat menuju wajah Siwon. Awalnya ia memang percaya diri, tetapi setelah terlalu dekat dengan pria itu, debaran jantungnya menggila.

Jarak wajah mereka semakin dekat. Tiffany mulai menutup matanya ketika ujung hidung mereka bersentuhan. Tiffany berhenti sejenak hanya untuk menghirup udara bebas di dekatnya. Setelah merasa cukup siap, Tiffany bergerak lagi. Ia siap menyaksikan apa yang akan terjadi nanti.

Awalnya bibir Tiffany hanya menyentuh bibir tipis Siwon sedikit saja. Ia berlama-lama disana seraya menahan debaran jantung yang mungkin akan meloncat keluar. Tiffany tidak menggerakkan bibirnya, hanya menempelkan bagian tubuhnya yang lembut itu. Ia membuka sebelah matanya untuk mengintip Siwon.

…….

…….

Siwon tidak bereaksi apa-apa. Pria itu masih tidak bergeming seperti semula. Tiffany pun menarik wajahnya kembali. Entah mengapa bibirnya tiba-tiba terasa kering. Ciumannya beberapa detik lalu sungguh buruk. Jika ketiga saudarinya melihat, mereka pasti tertawa terpingkal-pingkal.

Tapi seharusnya Siwon bangun seperti apa yang dikatakan Cassandra. Walau bagaimanapun yang tadi dilakukannya adalah ciuman. Tiffany menggigit bibirnya, bimbang. Haruskah ia melakukannya lagi? Tiffany teringat ia pernah menonton film romantis bersama Nichkhun di bioskop. Disana ada kissing scene antara kedua pemainnya dan Nichkhun mengatakan kalau adegan itu dilakukan dengan sepenuh perasaan. Tiffany berpikir lagi. Memangnya ciuman itu harus dengan perasaan? Matanya menatap wajah Siwon. Bagaimana caranya mencium Pangeran ini sebab ia belum mempunyai perasaan apapun?

“Ah, hanya satu ciuman saja kenapa aku tidak bisa? Aish!”

Tiffany kini memegang kedua sisi wajah Siwon. Seandainya saat Siwon terjaga, pasti ia akan ketakutan melihat sorot mata tajam Tiffany. Ekspresi gadis itu sangat hiperbola seperti akan mencium dengan menggebu-gebu padahal ia hanya bisa melakukan satu kecupan kecil saja.

“Aku akan menciummu lagi dengan benar. Kali ini kau harus bangun, arraseo?” gumam Tiffany.

Lalu, ia kembali mendekatkan wajah mereka. Tentu saja hanya Tiffany yang mendekat. Tiffany menutup matanya lalu menurunkan kepalanya sedikit lebih cepat. Ia menempelkan bibirnya lebih kuat lalu membuka mulutnya sedikit. Tiffany tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan namun dengan sendirinya bibirnya menyesap bibir bawah Siwon. Tiffany menahan napas dan bertahan melakukan ciuman itu sedikit lebih lama.

Oh Lord, ternyata rasanya cukup menyenangkan, batin Tiffany.

Bibir Siwon hangat, kulitnya juga lembut dan beraroma maskulin. Tiffany melepaskan ciumannya lalu menatap mata Siwon yang tertutup untuk beberapa detik. Ia mengerjap heran. Kenapa Siwon masih belum bergerak?!

“YAH! SIAPA KAU?? APA YANG KAU LAKUKAN PADA KEKASIHKU?!”

Bagai tersambar petir, Tiffany terlonjak duduk. Lalu ia berdiri dan membalikkan badan secepat mungkin. Matanya melebar melihat seorang gadis muda yang berdiri di ambang pintu kamar Siwon. Gadis itu berambut hitam, lebih tinggi dari Tiffany dan berwajah hati. Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Sekarang apa? Tiffany curiga kalau gadis yang kini tengah melotot padanya adalah…kekasih Siwon.

 

Yoona meringkuk di antara akar pohon ek raksasa sambil memeluk dirinya sendiri. Matanya tak lepas dari Kyuhyun yang berdiri tidak jauh darinya. Beberapa saat lalu, pria itu memerintahkan pengikutnya untuk pergi, tetapi Yoona tidak tahu betul apa perintahnya. Saat ini yang ada dipikirkannya hanyalah jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Yoona tidak habis pikir, mengapa di alam ini tidak ada sedikitpun cahaya matahari. Sudah beberapa jam berlalu akan tetapi masih gelap seperti malam hari.

Yoona memegangi perutnya yang tiba-tiba keroncongan. Sial, kenapa ia harus merasa lapar disaat genting seperti ini? Yoona mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Perutnya memang tidak kenal kompromi jika sedang kelaparan. Well, Yoona memang selalu kelaparan.

Sementara itu Kyuhyun masih terdiam memandangi langit. Entah apa yang dipandanginya hingga seserius itu. Matanya tidak berkedip melihat kepulan awan hitam pekat yang ada di atas sana. Ia seolah-olah sedang mencari petunjuk kemana arah yang akan diambilnya setelah ini.

“Yah! Tuan Telinga Besar! Apa kau tidak ingin memberiku makan?”

Mendengar suara nyaring Yoona membuat Kyuhyun mengerucutkan mulutnya, kesal. Ia membalikkan tubuhnya perlahan sehingga berhadapan dengan Yoona. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca dan kedua tangannya memeluk perut. Kyuhyun berjalan mendekatinya.

“Bukan bermaksud untuk menyinggungmu, tapi apakah kau makhluk hidup yang membutuhkan makanan? Aku dengar penyihir jahat tidak membutuhkan makanan atau snack lainnya,” ujar Yoona ragu-ragu.

“Apa katamu?” suara Kyuhyun terdengar berbahaya. Ia berjalan semakin mendekat kemudian berjongkok di depan Yoona. Yoona tidak melepaskan kontak matanya dengan Kyuhyun. Pria itu memang sedikit menakutkan karena auranya yang berbahaya, namun ketampanannya menghapus segalanya.

“Aku lapar. Itu saja!” tukas Yoona praktis.

Rahang Kyuhyun tampak mengeras. Kini sebelah tangannya terulur ke depan lalu menyandarkannya pada batang kayu, tepat di samping kepala Yoona. Ia menyeringai licik, memperlihatkan deretan giginya yang sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Yoona mengernyit heran.

“Tuan Telinga Besar, kenapa gigimu menjadi taring semua?” tanya Yoona polos. Kyuhyun mendengus.

“Berhenti memanggilku seperti itu atau aku akan menggigitmu, Manis.”

Yoona menggerutu. “Maaf.”

Kyuhyun menatap Yoona dari atas kepala hingga ke pahanya, lalu kembali menatap wajah cantik Yoona. “Jika aku tidak membutuhkanmu, aku akan menghabisimu sekarang juga.”

Yoona mendengus. “Berani sekali kau mengatakan hal itu! Kau tahu, aku mempunyai tiga orang kakak yang sangat hebat. Mereka bahkan mendapat tugas khusus dari sang Raja. Bahkan aku mempunyai seorang penjaga yang sangat ditakuti di duniamu ini.”

Mata Kyuhyun sedikit menyipit. Sepertinya selain menyebalkan. Yoona juga bermulut besar. Lihat saja, dengan mudah ia mengatakan sedikit rahasia tentang dirinya dan ketiga kakak perempuannya. Seharusnya tugas dari sang Raja tidak boleh diketahui oleh siapapun, apalagi jika sampai terdengar ke telinga Damnitri.

“Sekarang beri aku makanan!”

 

Tiffany menghembuskan napasnya dengan kasar dan menyandarkan tubuh di belakang pintu apartemennya. Baru saja ia mengalami pagi yang sedikit menyulitkannya. Bahkan bisa dikatakan nyaris mengerikan. Kekasih Siwon yang bernama Shim Ji Hye itu menyerang Tiffany dengan cekikan kuatnya, membuat Tiffany kesulitan bernapas. Beruntung Ny. Choi segera melerai mereka.

Andai saja ia bisa menggunakan kekuatan menghilangnya saat hal itu terjadi. Tiffany mendesah kecewa. Ciuman pertamanya sudah terlaksana tetapi sepertinya Siwon belum bereaksi. Tiffany justru mendapat serangan tak terduga dari gadis beringas itu. Jika gadis Shim itu tinggal di dunia mereka, pasti sudah dijadikan penarik kuda oleh peri hutan.

“Cassie, aku membutuhkanmu!” rengek Tiffany seraya menyisir rambut hitamnya dengan jari-jari tangan.

POP!

Tiffany terlonjak, kaget bukan main ketika Cassandra tiba-tiba hadir di depannya. Tiffany memang tidak heran dengan kebiasaan Cassandra yang suka muncul sesuka hatinya, namun untuk saat ini jantung Tiffany terlalu sensitive. Ia menatap tajam ke arah Cassandra yang kini tengah merapikan letak topi kerucutnya. Ingin sekali gadis itu mencekik Cassandra, namun ditahannya. Lagipula mustahil ia mencekik penyihir hebat sekaligus konyol seperti wanita itu.

Cassandra akhirnya menyadari tatapan tajam Tiffany lalu terkekeh melihat gadis itu melipat tangannya di dada, bibirnya mengerucut seperti gadis cilik yang sedang merajuk. “Ada apa, Tiffeny?”

“Ck, bisakah kau muncul dengan cara baik-baik? Maksudku, kau tidak perlu muncul begitu saja tepat di depan hidungku!” omel Tiffany. Aneh memang, tetapi Cassandra sering mendapatkan omelan dari kakak beradik Kim.

“Ah, sorry. Tapi sepertinya nasehat itu juga berlaku untuk salah satu gadis Kim,” sindir Cassandra tak mau kalah.

Tiffany tidak dapat menjawab. Ia tahu Cassandra tidak akan kalah berdebat dengannya.

“Apa ada masalah?” tanya Cassandra. Kali ini raut wajahnya lebih serius. Untuk menjawab pertanyaan Cassandra, Tiffany pun mengangguk. Ia berjalan ke kamarnya, diikuti Cassandra.

“Aku sudah menciumnya,” ucap Tiffany dan membalikkan tubuhnya mendadak. Cassandra berhenti tepat di depannya, bingung. Tiffany menghela napasnya berat kemudian kembali melanjutkan, “Tetapi tidak berhasil. Pangeran Siwon masih tak sadarkan diri, Cassie! Apa kau yakin aku adalah yang terpilih?”

Cassandra mengusap-usap dagu runcingnya dan matanya sedikit menyipit. Tiffany tahu kalau wanita tersebut sedang berpikir. Jadi ia masih menunggu penjelasan lebih lanjut. Tentu saja Cassandra tahu lebih banyak tentang tugas ini.

“Apakah kau mencium bibirnya?” tanya Cassandra. Tiffany mengerjap.

“T-tentu saja! Tidak mungkin aku mencium hidungnya!” tukasnya cepat.

Cassandra berdecak lalu melangkahkan kaki mengelilingi kamar yang belum dihuni Tiffany itu. Ia melipat tangannya di belakang, kemudian memandang keluar jendela. Tiffany duduk di tepi ranjangnya, ikut berpikir. Ia mengingat lagi ciuman yang ia lakukan tadi. Dan tidak ada yang salah, sepertinya.

“Aku rasa waktu kita belum tepat.”

Tiffany mengernyitkan kening. “Apa maksudnya itu?”

Cassandra memutar tubuhnya menghadap Tiffany. Ia mengangkat bahu kurusnya. “Mungkin kita harus menunggu sampai Pangeran genap berusia 30 tahun. Itu artinya…hmm besok? Sebab ia menemukan cinta sejatinya di usia tersebut.”

Tiffany terperangah. Jadi harus menunggu sampai Pangeran mencapai usia yang telah tertulis di takdirnya? Kenapa ia tidak diberitahu sebelumnya. Dan omong kosong apa lagi itu tentang cinta sejati? Tiffany membeku seketika. Pangeran Siwon akan bertemu dengan cinta sejatinya di usia 30 tahun. Itu artinya…

Sementara itu Cassandra mengutuk dirinya sendiri karena hampir saja membeberkan rahasia yang belum boleh diketahui Tiffany. Alasan sebenarnya memang seperti yang telah disebutkannya, yaitu Siwon akan bangun saat cinta sejati menciumnya tepat di usia 30 tahun. Hanya beberapa jam lagi dari sekarang. Mengapa harus dirahasiakan dan menyuruh Tiffany mencium Pangeran Siwon dari sekarang? Tujuannya adalah agar Tiffany jatuh cinta pada Siwon. Namun sepertinya itu tidak berhasil.

“Ehem! Tiffeny, bagaimana kalau kau terus mencium Pangeran? Tidakkah menurutmu ia sangat tampan? Apa jantungmu tidak bergetar ketika menciumnya?” selidik Cassandra, berusaha tampak santai.

Tiffany berpikir sejenak lalu memutuskan untu menggeleng. “Aku tidak merasakan apa-apa. Dan aku tidak akan menciumnya terus-menerus. Demi Tuhan, Cassie! Aku hampir saja dicekik sampai mati oleh manusia karena tugas ini!”

Mendengar itu Cassandra justru terkekeh. Kekehan khas penyihir. Tiffany berdecak kesal seraya melipat tangannya di dada. “Ya ya ya, teruslah tertawa, Sang Ketua!” sindirnya sengit.

“Jangan marah, Tiff. Kau bisa melakukan tugas ini. Apa yang kau maksud adalah kekasihnya? Setahuku kekasihnya itu tidak mempedulikan keadaan Pangeran lagi. Jadi jangan khawatir. Sainganmu tidak terlalu berat,” ujar Cassandra, sesekali menggaruk rahangnya.

“Saingan? Memangnya aku ingin mendapatkan cinta Pangeran? Cassie, aku masih penasaran apa maksud cinta sejati yang kau utarakan tadi. Katakan padaku yang sebenarnya!” tuntut Tiffany.

Cassandra mengembungkan pipinya lalu menggeleng cepat. Ia tidak boleh mengatakannya sekarang sebab Tiffany bisa saja menolak takdirnya. Cassandra ingin semuanya berjalan apa adanya, tanpa paksaan terhadap Tiffany. Mereka memang telah dijodohkan oleh Raja, tetapi semuanya masih tergantung perasaan masing-masing.

“Aku hanya salah bicara, Tiffeny!” tukas Cassandra. Tiffany mendengus lalu membuka mulutnya hendak menyampaikan protes, namun Cassandra segera menawarkan sesuatu yang tidak dapat ditolak gadis itu. “Bagaimana kalau sekarang kita lihat keadaan ketiga saudarimu?”

 

Suasana di ruang keluarga rumah Kim tampak sepi dan suram. Tidak terdengar lagi ocehan-ocehan Yoona atau teriakan Tiffany disana. Kini, hanya tinggal dua orang gadis yang duduk di lantai, bersila sambil memejamkan mata mereka. Sejak kemarin tidak satupun makanan atau minuman masuk ke dalam perut mereka. Mereka, Taeyeon dan Jessica, masih berkonsentrasi menyatukan kekuatan mereka untuk melacak keberadaan Yoona.

Bulir-bulir keringat membasahi kening serta rambut hitam mereka. Mengeluarkan kekuatan mereka sebesar ini sangat menguras tenaga. Mereka harus mengosongkan pikiran mereka tentang hal lain, dan hanya terfokus pada Yoona. Mulut mereka juga tidak berhenti melafalkan mantra, sementara cahaya lilin yang diletakkan di antara mereka bergoyang-goyang tertiup angin.

Dan ketika Taeyeon mendengar Jessica bernapas kasar serta perasaan tak nyaman yang menyelimutinya, ia pun membuka mata. Tatapannya langsung jatuh pada gadis di hadapannya.

“Oh, Sica.”

Taeyeon mendesah cemas ketika merangkak menuju saudari kembarnya. Ia sangat cemas saat ini melihat kondisi Jessica yang menurun drastis. Dalam waktu beberapa jam saja mereka menyatukan kekuatan, tubuh Jessica langsung melemah. Diantara mereka berdua memang Jessica yang tidak terlalu kuat. Dari hidungnya keluar darah segar dan pekat. Taeyeon rasa karena Jessica benar-benar mengerahkan seluruh tenaga untuk mengeluarkan kekuatannya.

Taeyeon tidak menemukan apapun untuk menyeka darah dari hidung Jessica, jadi ia menyekanya dengan ibu jarinya. Jessica sedikit terkejut merasakan permukaan kulit Taeyeon yang hangat dan serta merta membuka matanya. Matanya mengerjap beberapa kali baru setelah itu dapat melihat wajah Taeyeon dengan jelas.

“Taenggo.”

“Sica, kau berdarah. Lebih baik kau istirahat dulu, ne! Aku akan mengambilkan ramuan Medicious untuk mengembalikan tenagamu,” ujar Taeyeon lembut. Jessica menggeleng lalu mencengkram tangan Taeyeon.

“Aku tidak ingin berhenti, Taenggo. Jika kita lengah aku takut tidak dapat menemukan maknae!” tukas Jessica tegas, meskipun suaranya gemetar.

Taeyeon menatapnya cemas. Ia tahu ini tidak akan berhasil. Sebab setelah berjam-jam berkonsentrasi, mereka hanya melihat bayangan hitam serta burung-burung hantu buruk rupa yang berterbangan. Tidak ada sama sekali petunjuk dimana keberadaan Yoona bahkan suaranya sekalipun!

“Aku takut ia memang berada di dunia sihir hitam,” akhirnya Jessica mengeluarkan pikiran buruknya. Ia terisak pelan di lengan Taeyeon. Sejujurnya, Taeyeon juga tidak sanggup berdiri saat ini. Ia takut tidak bisa menemukan Yoona. Kini mereka tinggal berdua, tanpa Cassandra apalagi Tiffany. Tetapi Taeyeon tidak ingin memperlihatkan besarnya rasa takut itu sebab ia harus menyemangati Jessica.

“Sica, kalau begitu kita harus mencarinya sekarang. Siapkan dirimu dan bawa sapu terbang kita. Aku akan melindungimu dalam pencarian ini,” putus Taeyeon tiba-tiba. Jessica mengangkat kepalanya dan menilik kedua manik mata saudarinya.

“K-kau serius? Kita akan menggunakan sapu terbang kita lagi tanpa memberitahu Cassandra?”

Taeyeon berdecak. “Kau memang aneh. Bukankah kau yang mengusulkan kita menggunakan sapu terbang? Tenang saja. Cassandra…tidak akan marah.”

Jessica tersenyum penuh arti. “Kau memang kakak terbaik, Kim Taeyeon.”

“Dan kau adik yang aneh, Kim Jessica.”

Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing lagi bagi mereka. Serentak mereka menolehkan kepala ke sumber suara, serta cahaya yang sedikit terang. Ada perasaan yang melambung di hati keduanya ketika menyadari kalau benda itu berfungsi kembali, cermin ajaib! Suara dan cahaya cermin ajaib membuat kekuatan mereka mendadak pulih. Dengan kecepatan luar biasa mereka berdiri dan tersenyum lebar mendengar suara seseorang dari sana.

“Kims, where are you girls?! Yah! Kenapa disana gelap sekali?!”

Jessica segera menghampiri cermin ajaib sementara Taeyeon menjentikkan tangannya seraya mengucapkan mantra Lightos, sehingga ruangan kembali terang sebab semua tirai terbuka lebar. Taeyeon menyusul Jessica untuk menghadapi cermin ajaib mereka, lebih tepatnya menghadapi Tiffany yang bersungut-sungut di tempatnya.

“Tiff!” seru Taeyeon dan Jessica dengan semangat yang sedikit berlebihan.

“Hallo you two! Hei, dimana adik kesayanganku? Apa dia masih tidur?” balas Tiffany.

Taeyeon dan Jessica saling melempar pandang. Bagaimana cara memberitahu Tiffany kalau Yoona telah menghilang sejak kemarin? Gadis itu sepertinya belum menyelesaikan tugasnya kepada Pangeran Siwon.

“Yah! Aku merindukan si nakal itu. Tolong panggilkan dia,” rengek Tiffany.

Taeyeon berjalan lebih dekat. Raut wajahnya yang serius membuat Tiffany heran. “Tiffy, ada yang harus kami sampaikan padamu.”

Tiffany terdiam sejenak. Kenapa Taeyeon tiba-tiba berubah serius? Apakah ada hubungannya dengan ketidakhadiran Yoona?

“Kau membuatku cemas, Taenggo. Memangnya ada apa?”

“Yoona…menghilang.”

Alis Tiffany sukses menyatu. Ia lebih mendekat pada cerminnya disana dan menatap Taeyeon lekat-lekat. “Menghilang? Apa maksudmu dengan menghilang?”

“K-kemarin ketika ia menyusup ke rumah Nichkhun, mantan kekasihmu, tiba-tiba ia tidak terlacak lagi. Kami kehilangan jejaknya. Bahkan pintu Gettrugh tidak bisa digunakan untuk menjemputnya.”

Hati Tiffany mencelos. Kepalanya menggeleng lemah. Jadi, apa karena itu perasaannya pagi ini tidak nyaman? Apa ada hubungannya dengan menghilangnya Yoona? Sebelum bertanya lebih lanjut, Cassandra yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Tiffany segera menghampiri. Ia ikut berdiri di depan cermin sehingga Taeyeon dan Jessica dapat melihatnya dengan jelas.

“Apa maksud kalian? Kalian tidak bisa melacak dimana Yoona berada? Dan apa tujuan anak itu ke dunia manusia? Seingatku kalian belum meminta izinku!” sembur Cassandra.

Ini masalah serius. Jika Yoona tidak terlacak, besar kemungkinan ia tidak berada di dunia manusia atau di dunia sihir putih. Mengingat saat ini adalah masa-masa genting Damnitri—karena sebentar lagi Tiffany akan mendapatkan kekuatannya—tentu saja penyihir jahat itu sedang berkeliaran bersama pengikutnya. Ditambah lagi ia pasti akan memperluas daerah kekuasaannya.

“Maafkan kami, Cassie. Awalnya kami hanya ingin mengerjai mantan kekasih Tiffy. Tetapi, k-kami tidak tahu akan begini jadinya,” ungkap Jessica.

Cassandra bergumam cemas.

“Tunggu aku. Aku akan kesana sebentar lagi. Dan ingat! Jangan sekali-kali bertindak tanpa sepengetahuanku!” tegas Cassandra.

Ia mengetuk cermin ajaib dan benda itu pun berubah seperti sedia kala. Tiffany masih termenung di tempatnya. Ia lebih mencemaskan keadaan Yoona saat ini dibandingkan keadaan Pangeran. Cassandra menghampiri Tiffany dan menepuk lembut pundaknya.

“Aku pergi dulu, Tiff. Panggil aku seperti biasa jika kau membutuhkanku.”

Tiffany langsung mencengkram tangan Cassandra, cukup kuat sehingga membuat Cassandra terkejut. “Aku harus mencari adikku. Dia pasti dalam bahaya, Cassie!”

“Tidak, Tiff. Konsentrasimu tidak boleh terpecah. Kau harus menyelesaikan tugas ini terlebih dahulu, baru kau mendapatkan kekuatan untuk melawan siapapun di dunia sihir hitam. Kau mengerti maksudku? Jika kau bersikeras pergi sekarang, kau akan melawan kekuatan jahat dengan tangan kosong. Kau akan dimusnahkan seperti memusnahkan seekor tikus.”

Tiffany menahan cairan hangat yang berlinang di pelupuk matanya. Bagaimana ia berkonsentrasi jika Yoona mungkin saja dalam keadaan bahaya?

Cassandra mengelus lengan Tiffany. “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan Yoona. Tapi selama ada aku, aku akan berusaha melindungi kalian. Tiffany, selesaikan tugasmu lalu cepatlah menyusul kami. Arraseo?”

Tiffany tersenyum getir. Selain senang Cassandra selalu ada untuk melindungi mereka, ia juga senang saat wanita itu menyebut namanya dengan benar.

 

Kyuhyun hanya memandangi gadis yang tengah makan dengan lahap di depannya. Ia heran, mengapa Yoona tidak takut ataupun mencoba melarikan diri. Gadis ini termasuk gadis pemberani, pikir Kyuhyun. Dalam kurun waktu satu minggu ini ia harus berhasil meracuni Yoona agar tidak mendapatkan perlawanan dari gadis itu.

Sebenarnya Kyuhyun hanyalah seorang penyihir hitam setengah serigala yang ingin mencari dimana Damnitri untuk membalaskan dendamnya. Ia tahu kalau Damnitri terus mencari keberadaan Kim bersaudara selama 20 tahun terakhir. Oleh karena itu ia mencoba mencari salah satu dari mereka, mengikuti salah satu dari keempatnya, tetapi tidak tahu gadis mana yang lebih diinginkan Damnitri. Ia menyimpan dendam sejak beberapa bulan lalu, ketika orangtuanya…

“Wah, daging rusa ini sangat lezat!” seru Yoona, membuyarkan lamunan Kyuhyun. “Kau yakin tidak ingin makan? Aku tidak tahu kalau kau ini kanibal atau penghisap darah, tetapi cobalah sedikit daging rusa panggang ini! Memangnya kau tidak lelah menjagaku terus?”

Kening Kyuhyun mengernyit hebat. “Apa katamu? Menjagamu? Cih!”

Yoona justru terkekeh. Sejak awal ia memang takut melihat Kyuhyun, terlebih lagi saat mengetahui kalau ternyata ia berada di dunia sihir hitam. Namun ia menaruh keyakinan pada Tiffany dan saudarinya yang lain. Tiffany sudah ditakdirkan menjadi penyihir hebat, jadi Yoona tidak merasa terlalu cemas. Lagipula ia percaya kalau sebentar lagi Tiffany akan mendapatkan kekuatannya tersebut. Ditambah lagi, Cassandra juga harus diperhitungkan. Yoona tidak merasa sendirian. Dan setelah dilihat-lihat, Kyuhyun tidak sekejam perkiraannya. Sebab Kyuhyun hanya menggunakan dirinya sebagai umpan Damnitri. Ia tidak akan membunuh Yoona disini.

“Kau membutuhkanku, Tuan Cho. Benar, kan?” tukas Yoona lagi lalu menjilat satu persatu jari tangannya. Kyuhyun meliriknya dengan jijik.

“Oh ya, kalau boleh aku tahu, untuk apa kau ingin menjadikanku umpan? Apa kau membenci Damnitri? Memangnya dia telah berbuat jahat apa kepadamu? Kalau begitu kita berada dalam satu pihak. Maksudku, hanya di bagian membenci Damnitri saja. Kita sangat berbeda. Aku penyihir putih sedangkan kau penyihir hitam. Tetapi aku tidak mengerti, mengapa penyihir dunia hitam sepertimu membenci Damnitri? Itu artinya ia benar-benar tidak pandang bulu dalam mencari—“

“DIAM!” raung Kyuhyun.

Yoona langsung mengatupkan mulut. Matanya tercengang ke arah Kyuhyun, sedikit cemas ketika melihat warna mata Kyuhyun berubah drastis. Yoona menelan ludah. Apa ia salah bicara? Yoona rasa tidak. Pria ini saja yang tidak mempunyai rasa humor.

“Kau…tutup mulut lebarmu itu atau kalau tidak aku yang akan menghabisimu disini! Kalau kau tidak berhenti bicara, aku tidak peduli lagi dengan penyihir yang kau sebut namanya itu asalkan aku dapat membunuhmu! Kau mengerti?!”

Yoona mengangguk cepat. Huft, pria ini bisa menakutkan juga, desahnya dalam hati. Kyuhyun kembali duduk di dekat api unggun, masih menghindari tatapan Yoona. Sejenak mereka terdiam. Hanya terdengar suara-suara serangga malam yang bersarang di hutan. Yoona merapatkan jubahnya ke seluruh tubuh, berusaha menahan dingin.

Yoona terus memandangi Kyuhyun. Ada raut kesedihan yang mendalam di wajah tampan yang pucat itu. Yoona mencoba berkonsentrasi, penasaran dengan apa yang sedang dalam pikiran Kyuhyun. Ia ingin tahu, apa motif sebenarnya pria ini menyanderanya. Namun, sama seperti sebelumnya, Yoona tidak dapat berkonsentrasi untuk membaca pikiran Kyuhyun. Jangankan melakukan itu, menggunakan kekuatan dan mantranya saja tidak bisa.

Kekuatan penyihir kecil seperti Yoona memang tidak berpengaruh di dunia sihir hitam. Dan ada satu kondisi lagi dimana ia tidak bisa membaca pikiran. Hanya kepada satu kelompok tertentu dan tentu saja belum pernah dicobanya.

Gadis itupun berdehem keras. “Tuan Cho, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan menatap lurus tepat ke mata Yoona. Baru kali ini ia bertemu dengan gadis yang super cerewet, keras kepala sekaligus pemberani seperti Yoona.

“Aku rasa aku tahu siapa sebenarnya dirimu,” ujar Yoona tanpa menunggu terlebih dahulu jawaban Kyuhyun. Kyuhyun menyipitkan matanya.

“Kau adalah penyihir hitam berdarah serigala. Apakah aku benar?” tebak Yoona ragu-ragu.

Kyuhyun mengerjapkan matanya. Oh, satu lagi sifat baru Yoona yang diketahuinya. Gadis itu cerdas!

“Kau tahu darimana?” tanyanya dingin. Kedua mata Yoona melebar. Ia juga tidak menyangka tebakannya benar.

“Jadi aku benar? Well, aku tahu dari kulitmu yang pucat dan dingin, telinga serta gigimu. Dan juga, aku…tidak bisa membaca pikiranmu. Penyihir putih tidak bisa membaca pikiran penyihir setengah serigala.”

Kyuhyun mendengus lalu memutuskan untuk menghampiri Yoona. Gadis itu terdiam duduk di atas potongan kayu pohon ek sementara matanya tak lepas mengawasi Kyuhyun. Derap langkah Kyuhyun di atas tanah sedikit membuat Yoona waspada. Selanjutnya Kyuhyun duduk di samping Yoona, pandangannya sepenuhnya untuk gadis itu.

“Lalu apa lagi yang kau ketahui tentang kami?”

Yoona termagu sejenak. Ia pernah membaca buku tentang penyihir setengah serigala serta akibat buruk terkena gigitannya. Buku itu ia baca sekitar beberapa tahun yang lalu dari perpustakaan kecil Tiffany.

“Kalian…t-telah dikutuk tidak mempunyai keturunan dari penyihir lain. Kalian hanya mempunyai keturunan dari jenis yang sama. Jika kalian melanggarnya, k-kalian akan musnah dan kelompok kalian juga akan terkena kutukannya. Lalu, penyihir putih atau hitam lain yang kalian ajak bercinta akan hamil dalam waktu yang singkat sekaligus mengubahnya menjadi manusia serigala jika dalam emosi tertentu. A-aku tidak salah, kan?”

Kyuhyun menatap mata Yoona dalam. Ternyata Yoona tahu banyak tentangnya. Ia harus hati-hati memperhitungkan gadis itu.

“Oleh sebab itu kau harus menjaga sikapmu, Nona Kim. Kami juga terkenal dengan menyiksa korban secara berkelompok dan tanpa belas kasihan,” tambah Kyuhyun, membuat Yoona merinding sekujur tubuhnya.

“T-termasuk korban p-perempuan?” tanyanya terbata.

Kepala Kyuhyun mengangguk pelan dan berbahaya. “Bahkan anak kecil.”

 

Aku harus berhasil menyembuhkan Pangeran demi menyelamatkan Yoona, batin Tiffany saat berdiri di depan pintu unit apartemen Siwon. Ia memberanikan diri menekan bel pintu itu lagi, menunggu dengan sabar seseorang dari dalam. Jika Tiffany akan berhadapan lagi dengan kekasih Siwon, Tiffany akan mencari cara untuk melawannya. Lagipula ia mempunyai sebuah kue tart sederhana. Itu sebagai alasannya masuk ke apartemen ini lagi, untuk merayakan ulang tahun Siwon.

Yang ada di pikiran gadis itu sekarang adalah membuat Pangeran segera sadar. Bagaimanapun caranya, Pangeran Siwon harus membuka matanya dan dari sanalah Tiffany mendapatkan kekuatan barunya, yaitu untuk melawan Damnitri. Tiffany sangat membutuhkannya saat ini, mengingat Yoona mungkin sedang dalam bahaya. Meskipun ia percaya pada Cassandra dan kedua kakaknya, tetap akan sulit jika Yoona berada di dunia sihir hitam. Kekuatan penyihir putih tidak sehebat di dunia mereka sendiri.

Seolah tidak mengiraukan tata krama, Tiffany terus memencet bel. Ia tahu saat ini sudah hampir tengah malam, Ny. Choi pasti telah tertidur. Justru itu yang diperlukan Tiffany sekarang. Tepat pukul 12 malam, Pangeran Siwon genap berusia 30 tahun dan itu kesempatannya!

Clik.

Denting pintu terbuka membuat Tiffany menurunkan tangannya dari bel pintu. Ia berdiri tegak serta memasang wajah ramah. Semoga yang ada di hadapannya nanti adalah Ny. Choi.

Dan permintaan Tiffany terkabul. Wanita itu berdiri di depan Tiffany dengan raut wajah mengantuk. Tiffany tersenyum, memperlihatkan eye smile nya yang menawan. Ny. Choi membuka pintu lebih lebar kemudian mendekati Tiffany, meskipun ia sedikit heran mengapa gadis itu membawa sebuah kue tart.

“Tiffany-ssi?”

Tiffany membungkukkan tubuhnya dengan hormat. “Selamat malam, Nyonya Choi. Bolehkah aku masuk? Aku ingat kalau tanggal 7 April adalah hari ulang tahun Siwon-ssi.”

Ny. Choi termagu untuk sementara ketika Tiffany mengutarakan tujuannya. Ia senang sekaligus penasaran apa hubungan anaknya dengan gadis cantik di hadapannya. Jika mereka memang teman dekat sejak dulu, seharusnya Ny. Choi tahu. Tetapi ia rasa tidak tepat menanyakan hal itu sekarang.

“Tiffany-ssi, aku sangat senang kau mengingat hari ulang tahun Siwon. Jeongmal kamsahamnida. Silahkan masuk.”

Tiffany tersenyum lega saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit apartemen Siwon. Ny. Choi menutup kembali pintu depan lalu menyusul Tiffany yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar Siwon. Untung saja Shim Ji Hye sudah pulang tadi sore, kalau tidak Ny. Choi akan menyaksikan lagi gadis baik hati itu dicekik.

Tiffany berjalan perlahan menuju sofa yang kemarin didudukinya. Ia harap Shim Ji Hye tidak muncul secara tiba-tiba lagi. Jika itu terjadi, mungkin Tiffany akan berani menendangnya. Biarlah ia disebut sebagai gadis ambisius yang ingin mendapatkan kekuatannya dengan cepat, tetapi ia memang membutuhkannya. Tiffany butuh keluar dari dunia manusia dan membantu mencari Yoona.

“Tiffany-ssi, maafkan atas sikap Ji Hye tadi kepadamu. Seharusnya aku dengan cepat melerainya. Apa sekarang kau tidak apa-apa, Tiffany-ssi?”

Tiffany tersenyum ramah seraya menggelengkan kepala. “Jangan dipikirkan lagi, Nyonya Choi. Aku tidak apa-apa. Mmm, kalau boleh aku tahu, sudah berapa lama mereka berhubungan?”

Ny. Choi mengajak Tiffany untuk duduk. Tiffany meletakkan kue tart kecilnya di atas nakas lalu menghadap Ny. Choi. Sepertinya wanita itu hendak bercerita lagi.

“Mereka resmi menjadi sepasang kekasih 6 bulan lalu, tepat sehari sebelum kecelakaan Siwon. Ji Hye tidak terlalu sering mengunjungi Siwon, jadi aku tidak terlalu mengenalnya. Aku dengar dari sahabat-sahabat Siwon yang membesuk kemari, Ji Hye merupakan model Siwon. Ji Hye juga mempunyai mantan kekasih yang masih mengejar-ngejarnya. Mantan kekasihnya itu tidak menyukai Siwon. Aku…aku tidak ingin mengambil kesimpulan buruk atas kecelakaan yang menimpa Siwon, tetapi biasanya anakku tidak suka ugal-ugalan di jalan.”

Tiffany mengernyitkan kening. Ia tidak bodoh untuk menyadari apa yang terselubung dari kecelakaan Siwon. Bisa jadi mantan kekasih Ji Hye yang mencelakai Siwon! Tiffany mengerjapkan mata, menyadari kalau ia sudah berpikiran negative. Jika Taeyeon mengetahuinya, kakaknya itu pasti sudah memukul kepalanya.

“Eng…Siwon mendapatkan saingan yang berbahaya…sepertinya,” Tiffany membisikkan kata terakhir agar Ny. Choi tidak mendengar.

Ny. Choi mendesah berat. “Jika Siwon sadar, aku ingin ia mengakhiri hubungannya dengan Ji Hye.”

Tiffany mengangkat kedua alisnya. “Nde? Oh, jadi Anda tidak menyukai Ji Hye?”

Ny. Choi menggeleng enggan. Tiffany melirik Siwon. Ya, menurutnya Pangeran tidak cocok mempunyai pendamping beringas seperti Ji Hye. Ditambah lagi, Ji Hye suka mencekik.

“Ah, sebentar lagi waktunya tiba. Sebaiknya aku ke dapur. Sebenarnya aku sedang menyiapkan…ehm sedikit perayaan untuk ulang tahun Siwon. Aku senang kau juga disini bersama kami, Tiffany-ssi. Tolong temani Siwon sebentar, ne!”

Tiffany mengangguk semangat. “Tapi, apakah Anda tidak perlu bantuan?”

Ny. Choi melambaikan sebelah tangannya. “Tch, tidak perlu Tiffany-ssi. Bantu saja aku menjaga Siwon. Aku keluar dulu.”

Tiffany melirik jam dinding ketika Ny. Choi keluar kamar. Lima menit lagi! Gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyuman senangnya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, ia pun menghampiri ranjang Siwon.

“Hai, kita bertemu lagi. Kali ini kau harus bangun. Arraseo?” ucap Tiffany seolah-olah Siwon akan menyahutinya.

Tiffany tercenung saat kembali menatap wajah Siwon. Kenapa ia merasa wajah itu semakin tampan? Nichkhun bahkan jauh lebih tampan, tetapi menurut Tiffany, Siwon mempunyai kharisma yang tidak dimiliki mantan kekasihnya itu. Tangan Tiffany perlahan terulur untuk mengelus rahang Siwon. Rahang itu sedikit kasar sebab tidak dicukur untuk beberapa hari.

Tiffany mulai menikmati elusannya ketika teringat perkataan Cassandra tadi siang. Pangeran Siwon akan menemukan cinta sejatinya tepat saat ia berusia 30 tahun. Dan Tiffany akan mendapatkan kekuatannya saat ia mencium sekaligus menyembuhkan tepat di hari yang sama. Tanpa tedeng aling, Tiffany kembali menarik tangannya.

Apakah itu artinya takdir mereka berkesinambungan? Apakah yang dimaksud Cassandra dengan cinta sejati Pangeran adalah…dirinya? Tiffany menelan ludah. Apa Tuhan terlalu mencintainya sehingga ia mendapatkan takdir yang sangat luar biasa di hidupnya? Menjadi penyelamat dunia sihir putih sekaligus menjadi cinta sejati Pangeran.

“Bagaimana ini?” gumam Tiffany. Matanya berkaca-kaca menatap ke arah Siwon. “Jika memang benar aku cinta sejatimu, siapa yang bisa membantuku untuk menumbuhkan rasa cinta itu? Apakah aku harus meminum ramuan Amorius terlebih dahulu?”

Tiffany melirik jam dinding lagi. Tersisa dua menit sebelum pukul 12 malam tepat! Tiffany pun mempersiapkan dirinya. Sebisa mungkin ia mengingat adegan ciuman yang pernah ia tonton. Ah, memalukan sekali, gerutu Tiffany dalam hati. Ia pun meletakkan sebelah tangannya di sisi kepala Siwon, kemudian perlahan merendahkan kepalanya. Matanya menatap sendu ketika wajah mereka semakin dekat. Sekali lagi ia akan melakukan ciuman mendebarkan ini. Ya, Tiffany akui kalau ciuman pertamanya sangat mendebarkan. Sebab ia belum pernah melakukannya kepada siapapun.

Tepat satu menit sebelum pukul 12 malam, bibir mereka bertemu. Tiffany mendiamkannya sejenak, membiarkan deru napas mereka menyatu. Entah mengapa rasa bibir Siwon sekarang lebih memompa jantungnya lima kali lebih cepat. Tiffany memejamkan matanya semetara jantungnya berdentum-dentum di dada Siwon.

Lalu ia membuat gerakan lebih dalam. Secara insting, Tiffany menutup rapat matanya. Seolah mendapat komando, bibirnya bergerak membuka, membuat bibir Siwon ikut terbuka! Tiffany tidak dapat berkonsentrasi sepenuhnya mengingat sepertinya ciuman kali ini lebih intens. Awalnya Tiffany melumat bibir bawah Siwon dan menyesapnya lembut.

Sambil menahan desahannya, Tiffany terus mencium Siwon. Sebelah tangannya meremas rambut di sisi kepala pria itu, sedangkan tangannya yang lain mencengkram bed sheet. Semakin lama ciuman mereka semakin menggebu. Ups, lebih tepatnya ciuman Tiffany. Tentu saja Siwon tidak bisa membalasnya.

Tanpa disadari Tiffany, jam dinding telah menunjukkan pukul 12 malam lewat 2 menit. Tiffany mulai menikmati ciumannya, meskipun sesekali ia berhenti untuk menghirup udara lebih banyak tanpa melepaskan bibirnya dari Siwon.

Namun, Tiffany merasa sesuatu yang janggal. Ciumannya kini terasa penuh dan mendapatkan respon. Dengan enggan Tiffany membuka matanya perlahan.

DEG!

Tiffany tidak percaya dengan penglihatannya. Mata Siwon terbuka, meskipun tidak selebar matanya. Kening Siwon tampak sedikit mengernyit tetapi anehnya pria itu membalas ciuman Tiffany. Tanpa berpikir panjang, Tiffany melepaskan ciuman mereka yang begitu lekat tersebut.

Sambil menyeka bibirnya sendiri, matanya tidak lepas dari tatapan Siwon. Astaga, a-apakah aku berhasil, jerit Tiffany dalam hati. Ia tidak berhalusinasi atau mabuk karena ciuman panas yang baru saja dilakukannya. Ia benar-benar melihat mata pria itu sekarang!

Ada keheningan yang sangat memalukan bagi Tiffany. Bibirnya mungkin sedikit sembab dan merah, sama seperti Siwon. Tapi Tiffany tidak peduli akan hal itu. Yang penting kini adalah Siwon telah membukanya dan sadar! Itu artinya, Tiffany berhasil!

Gadis itu menghembuskan napas dan mencoba menenangkan dirinya. Ia melirik kue tart yang sejak tadi diletakkan di atas nakas. Dia atas kue tersebut berdiri lilin angka 30. Tiffany tersenyum miring.

‘Aku harus mencoba kemampuanku,’ batinnya. Dengan sekali jentikan jari dan mengabaikan tatapan heran Siwon, Tiffany melafalkan sebuah mantra. Ia tahu kalau ia dilarang melakukan sihir, tetapi ia sudah berhasil dengan tugasnya!

Inflameous!” bisiknya.

Ssssrrh! Mata Tiffany melotot hebat seakan-akan bola matanya akan melompat keluar. Ia berhasil! Lilin angka 30 itu sudah berhiaskan api! Sebelumnya Tiffany tidak bisa membuat api kecil itu. Tiffany menahan dirinya untuk tidak berteriak kesenangan. Ia sudah mendapatkan kekuatan baru! Artinya ia bisa mencari Yoona sekarang juga!

Ketika Tiffany akan bangkit dari tepi ranjang, sebuah tangan kokoh dan hangat mencengkram pergelangan tangannya. Sangat kuat! Tiffany menunduk dan mendapati Siwon-lah yang menggenggam tangannya. Matanya tampak berkaca-kaca.

“S-siapa k-kau?” suaranya terdengar serak dan gemetar.

Mulut Tiffany terkatup. Tatapan Siwon sangat menuntut dan posesif. Tentu saja Siwon ingat kalau gadis asing ini baru saja menciumnya dengan menggebu-gebu dan mengabaikan dirinya setelah itu. Siwon tidak ingin melepaskan sebelum pertanyaannya terjawab.

“A-aku…a-ku adalah Tiff—“

“Siwon-ah??”

Ucapan Tiffany terhenti saat terdengar suara Ny. Choi di belakangnya. Mata Siwon berputar lemah ke arah Ibunya. Ada kerinduan dan kehangatan disana. Sementara itu Ny. Choi—dengan topi kerucut khas ulang tahun di atas kepalanya serta memegang terompet kecil—langsung duduk di sisi ranjang yang lain dari Tiffany.

Tiffany bisa melihat airmata yang mengalir sangat deras di pipi Ny. Choi. Bibirnya bergetar hebat. Ia tidak percaya akan melihat kondisi Siwon saat ini. Ditangkupnya wajah Siwon dan mengelusnya lembut. Siwon ikut menangis. Matanya yang sayup menatap Ibunya penuh kasih sayang.

Sejenak Tiffany tercenung melihat mereka. Ia tidak melepaskan cengkraman tangan Siwon yang masih membelenggunya erat. Meskipun saat Ny. Choi menelungkup di atas tubuh Siwon dan memeluknya erat, pria itu tetap mencengkram tangan Tiffany.

Ny. Choi menangis tersedu-sedu, menumpahkan kelegaan serta kerinduannya pada putra semata wayangnya. Suasana yang tadinya menegangkan bagi Tiffany, seketika berubah menjadi mengharukan. Sekitar 5 menit, Ny. Choi memeluk Siwon. seakan-akan jika ia melepaskannya, Siwon akan kembali sekarat.

“Eomma, aku sangat merindukanmu.”

Tangis Ny. Choi semakin menjadi mendengar ungkapan Siwon.

“Eomma juga sangat merindukanmu, Nak. Ya Tuhan, terimakasih atas keajaiban ini! Kau memberikan keajaiban di hari ulang tahunnya! Huhuhuuuu!” isak Ny. Choi.

Tiffany meneteskan airmata haru. Dulu ia pernah merasakan bagaiamana hangatnya pelukan sang Ibu. Siwon beruntung masih memiliki kedua orangtuanya, meskipun pasti Siwon sudah menganggap kalau Ayahnya telah tiada.

Merasa sudah cukup lama memeluki Siwon, akhirnya Ny. Choi duduk tegak. Matanya terpaku pada cengkraman Siwon di pergelangan tangan Tiffany. Lalu ia menatap kedua orang di depannya itu. “Tiffany-ssi, akhirnya Siwon bisa melihat kita lagi.”

Siwon memutar lagi arah pandangnya pada Tiffany. Keningnya mengernyit seolah-olah masih menuntut penjelasan pada gadis manis itu. “Tiffany? Kau…mengenalku?”

Tiffany mati akal. Apa yang harus dikatakannya? Sepanjang apapun kisah bohong yang akan dirangkainya, pria itu pasti semakin bingung sebab memang mereka tidak saling kenal. Tiffany melirik Ny. Choi yang juga tengah menatapnya.

“Kau tidak mengingat Tiffany-ssi?” tanya Ny. Choi lembut. Tanpa menoleh pada Ibunya Siwon pun menggeleng pelan.

“Siwon-ssi, mungkin kau memang lupa. Kau baru saja sadar dari tidur panjangmu. Ja-jadi wajar saja saat ini aku masih bingung siapa aku.”

Rahang Siwon mengeras. “Sekarang aku sadar sepenuhnya dan aku memang tidak pernah melihatmu. Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kau menciumku?”

Terdengar suara terkesiap ngeri dari Ny. Choi. Wanita itu menutup mulutnya dan memandang tak menyangka pada Tiffany. Sial, Tiffany terjebak! Tidak mungkin ia menggunakan kekuatannya saat ini. Dirinya kini sama halnya dengan bocah 5 tahun yang baru saja menyadari kemampuan sihirnya. Bisa-bisa ia meledakkan tempat ini!

“C-ceritanya panjang sekali, kini bukan waktu yang tepat. Aku mohon, lepaskan tanganku dulu, Pange—maksudku, Siwon-ssi!” Tiffany mencoba memohon.

Namun Siwon tidak semudah itu melepaskannya. Baginya hal ini sangat aneh. Ia masih ingat bagaimana arwahnya melayang-layang, tersesat dalam kegelapan, dan tiba-tiba ia terbangun serta merasakan cahaya terang kembali lalu mendapati bibirnya sedang dilumat oleh gadis asing nan cantik ini. Tentu saja hal bodoh jika ia melepaskannya tanpa sebuah penjelasan.

“Tidak akan,” ucap Siwon tajam.

Tiffany meringis. Apa boleh buat. Ia harus menggunakan mantra yang tepat untuk membuat Siwon dan Ibunya membebaskannya. Mungkin mantra…Paralizzare? Ah, tidak! Tiffany menggelengkan kepala tanpa sadar. Jika ia menggunakan mantra pelumpuh itu, bisa-bisa ia dihukum oleh Raja.

“Siwon-ssi, Ny. Choi, aku berjanji akan menjelaskan jika Siwon-ssi melepaskan tanganku. Lagipula kita belum meniup lilin ulang tahunmu,” kilah Tiffany.

Ny. Choi menatap ragu pada Siwon. “Tiffany-ssi benar, Siwon-ah. Dan kau belum sembuh total. Bagaimana bisa kau mencengkramnya begitu kuat padahal kau baru sadar setelah 6 bulan lamanya.”

“Entahlah,” jawab Siwon lemah. Ia mengamati wajah Tiffany lebih teliti. “Aku ingin melepaskannya tetapi tubuh dan pikiranku menolak.”

Tiffany tercengang. Oh Lord, apa takdir ‘cinta sejati’ sudah datang ke dalam pikirannya, batin Tiffany was-was. Ia tidak bisa meladeni tanya jawab ini sekarang sebab ia harus tahu dimana Yoona sekarang!

“Baiklah, aku akan menjelaskan. Tapi aku mohon, kalian jangan kaget mendengarnya.”

Ny. Choi dan Siwon terdiam.

Tiffany menghelas napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan. “Aku adalah Kim Tiffany. Maaf Ny. Choi, aku…sebenarnya aku—bukanlah teman Siwon-ssi.”

Tatapan Siwon semakin tajam sementara Ny. Choi mengerjap bingung.

“Aku…adalah seorang…erm…pe-peny—“

“YAH! LAGI-LAGI KAU, PEREMPUAN JALANG!”

Tiffany terkejut bukan main, termasuk Siwon. Sedangkan Ny. Choi langsung berdiri dari duduknya. Ya, seseorang yang menginterupsi mereka adalah Shim Ji Hye, kekasih Siwon yang suka mencekik.

Gadis itu memegang sebuah kado besar di tangannya. Tatapannya sangat murka dan keji kepada Tiffany. Ia bahkan tidak peduli dengan sadarnya Siwon. Diletakkannya dengan hati-hati kado besar tersebut di atas lantai, kemudian ia menghampiri ranjang Siwon dengan tergopoh-gopoh.

“Ji Hye-yaa?” desis Siwon, terkejut.

Mendengar Siwon memanggil namanya, amarah gadis itu pun kembali turun. Matanya langsung berkaca-kaca. Namun saat ia melihat Siwon mencengkram tangan Tiffany, emosinya kembali terpancing.

“Yah! Lepaskan tangan Oppa dari perempuan penggoda ini!” teriak Ji Hye seraya mengarahkan jari telunjuknya kepada Tiffany. Tiffany menggeram, berusaha mengontrol emosinya sendiri. Enak saja gadis ini selalu memanggilnya seperti itu!

“Ji Hye-ssi, tolong jaga kata-katamu. Tiffany-ssi bukan seperti yang kau katakan. Dia adalah gadis baik!” sela Ny. Choi.

Ji Hye melipat tangannya di dada sembari mendengus kasar. “Huh, lihat Oppa! Bahkan Ibumu membela perempuan murahan ini.”

Mendengar itu Siwon menggeram. “Ji Hye-yaa. Kau tidak berhak menghina tamuku seperti itu. Kau juga tidak berhak membicarakan Ibuku dengan nada tidak sopan seperti itu. Sekarang minta maaf pada Ibuku dan Tiffany-ssi!”

Ji Hye menurunkan tangannya dengan tegas. Ia menatap Siwon tak percaya.

“Apa? Oppa membela perempuan ini? Apa hubungan kalian, eoh? Bisa-bisanya Oppa berselingkuh di saat Oppa sakit. Sejak kapan Oppa sadar dan berhubungan dengan perempuan murahan ini? Apa selama ini Oppa hanya pura-pura koma?”

Siwon tidak punya kekuatan untuk membentak Ji Hye. Ia menahan kemarahannya sampai-sampai dadanya nyeri. Ji Hye belum berhenti sampai disana. Emosinya semakin memuncak ketika tangan Siwon masih menggenggam erat tangan Tiffany.

“Ini semua gara-gara kau, dasar murahan!”

Grep.

Tiffany menahan teriakannya saat rambutnya ditarik kencang oleh Ji Hye. Gadis itu memang beringas. Siwon dan Ny. Choi tersentak kaget. Siwon pun melepas tangan Tiffany agar bisa melindungi gadis itu, sementara Ny. Choi juga menghampiri. Tetapi kemarahan Tiffany lebih berbahaya. Ia berdiri secepat kilat, melafalkan mantra dengan benar seraya mengarahkan telapak tangannya menghadap Ji Hye.

“Paralizzare!”

Zzzzppp.

Ji Hye membelalakkan mata, mulutnya terbuka lebar dan…tubuhnya lumpuh. Dalam sekejap tubuhnya ambruk ke lantai.

Tiffany pun tidak bergerak lagi setelah itu. Sedikitpun!

Siwon membeku di tempat dan tanpa sadar bisa duduk dari tidurnya. Sedangkan Ny. Choi menahan napas, berada tepat di samping Ji Hye yang terkapar, dan menatap Tiffany tanpa kedip. Lalu, dalam hitungan detik, wanita itu pingsan. Terbaring di samping tubuh Ji Hye yang lumpuh terkena kutukan Tiffany.

Waktu bagaikan terhenti. Tiffany merinding membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya dari Raja karena telah melafalkan mantra, hal yang sudah menjadi larangan baginya. Siwon menatap Tiffany dengan mata berair. Pandangannya terpaku pada tangan Tiffany yang masih terulur ke depan.

“A-apa yang kau lakukan pada Ji Hye? Siapa kau sebenarnya? JAWAB!”

 

Pemandangan di depan mereka lebih mengerikan dari 20 tahun yang lalu, dimana pasangan Kim berjuang melindungi keempat putrinya dari serangan Damnitri. Pemukiman yang ada dulu disana kini berubah menjadi tanah tandus yang hanya ditunggui oleh binatang-binatang buas. Bukit-bukit terlihat gundul dan berasap, sepertinya habis terbakar. Tak ada sisa pepohonan.

Taeyeon dan Jessica tidak melepas genggaman tangan mereka, sementara tangan mereka yang lain masing-masing masih memegang sapu terbang. Kedua mata cantik itu berair membayangkan kemana lagi akan melangkah. Sedangkan Cassandra tak kalah cemas berdiri di samping mereka. Dunia sihir hitam memang sangat sulit dilacak.

Terdengar Cassandra menghela napas berat, membuat dua bersaudari Kim menoleh padanya. “Ada apa, Cassie?” Taeyeon bertanya.

“Aku rasa Yoona tidak diculik oleh Damnitri.”

Taeyeon dan Jessica mengerjap. “Apa maksudmu?” kini Jessica yang angkat bicara.

Cassandra tampak berpikir keras. Ia mempunyai bayangan kalau Yoona tidak berada di tangan Damnitri. Sebab penyihir jahat itu pasti akan langsung menunjukkan ancamannya untuk memancing Taeyeon dan Jessica agar menyerahkan Tiffany. Cassandra menatap langit gelap berawan di atas mereka. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Damnitri di sekitar tempat mereka berdiri, meskipun ini masih daerah kekuasaannya.

Lalu Cassandra merasakan sesuatu yang lain. Bukan tentang Yoona, tetapi tentang Tiffany. Ia merasa terpanggil. Apa ada sesuatu yang terjadi di dunia manusia? Namun kenapa Tiffany tidak memanggilnya, hanya rasa kekhawatiran Cassandra yang memanggil.

Cassandra menatap si kembar lalu berdehem tak nyaman. “Eung, Taenggo, Jessie, sepertinya adikmu membutuhkan bantuanku.”

Jessica hampir menghambur memeluk Cassandra. “Kau sudah bisa merasakan Yoona?”

“Bukan, bukan. Maafkan aku. Maksudku, Tiffany. Sepertinya dia butuh bantuan. Atau…astaga! Apa dia sudah menyelesaikan tugasnya?!”

Taeyeon dan Jessica benar-benar tidak bisa mengutarakan apapun. Mereka hanya menatap Cassandra tanpa kedip. Cassandra tersenyum sekilas. Saat ini telah lewat pukul 12 malam, jadi ia rasa Tiffany memang telah berhasil. Ia harus segera menjemput Tiffany sebab hanya gadis itulah yang dapat membantu mereka mencari Yoona.

Serta merta Cassandra mengeluarkan peta sihir Taeyeon dari saku jubahnya lalu melafalkan mantra pada potongan kertas lusuh tersebut. Dan selanjutnya, Cassandra menyerahkannya kepada Jessica dan Taeyeon.

“Mungkin peta ini lebih bermanfaat sekarang. Kalian lanjutkanlah pencarian. Peta ini akan membawa kalian ke tempat yang lebih mendekati Yoona. Aku sudah memantrainya dengan kekuatan yang pernah dimiliki Tiffany, yaitu berpindah tempat. Sebut nama Yoona dan kalian akan sampai disana. Sementara itu aku akan menjemput Tiffany. Jangan sampai kalian terpisah. Mengerti?”

 

Tiffany berhasil menyadarkan Ny. Choi kembali. Ia merasa bertanggung jawab atas reaksi terkejut wanita itu. Tetapi ia membiarkan Ji Hye masih terkapar di tempatnya. Kini, Ny. Choi duduk di salah satu sofa di dalam kamar Siwon, menatap Tiffany dengan tatapan ngeri. Sedangkan Siwon duduk di samping sang Ibu. Karena ciuman Tiffany, sekarang Siwon benar-benar sembuh total.

Membuat Tiffany berhutang banyak sekali penjelasan.

“Seperti yang telah kalian lihat,” Tiffany mulai membuka pembicaraan. Ia berdiri di ambang jendela dan menghadap mereka, mencoba tidak kabur dari situ untuk menyelamatkan adiknya. Tiffany berpikir ia harus menyelesaikan masalah ini satu persatu.

“Aku… bukanlah manusia biasa. Aku—seorang penyihir.”

Ny. Choi menutup mulut dengan sebelah tangannya. Airmatanya berlinangan. Siwon tercekat di tempatnya, memandang Tiffany tajam. Gadis cantik di hadapannya adalah…penyiihir?! Ia tidak sedang koma, kan?

“Aku diutus oleh Raja dunia sihir putih untuk menyelamatkan nyawa Pangeran Siwon, putranya. Ny. Choi, aku rasa Anda juga mempunyai hutang penjelasan pada putramu. Aku harap Anda masih mengingat Raja kami.”

Siwon menoleh cepat ke arah sang Ibu. Wanita itu sudah tidak bisa menahan tangisannya. Beliau menangis dalam diam, membuat Siwon semakin bingung. Jelas saja Siwon terkejut bukan main. Selama ini ia tidak tahu siapa Ayahnya dan tiba-tiba seorang gadis aneh yang mengaku datang dan membuka semua rahasia itu.

“Ny. Choi, aku ditakdirkan untuk menolong Pangeran Siwon. Yang Mulia Raja sangat menyayanginya. Yang Mulia terus berupaya untuk mencari penyembuhan bagi Pangeran dan aku adalah penyihir terpilih. Kini Pangeran Siwon sudah kembali pada Anda. Aku harap Anda…bersedia memaafkan Yang Mulia Raja. Yang Mulia memang bersalah pada Anda karena sebenarnya ada yang melakukan fitnah pada Anda. Yang membunuh istri pertama Yang Mulia Raja adalah penyihir jahat bernama Damnitri. Kini, Yang Mulia Raja merasa sangat bersalah pada Anda. Aku mohon, tolong maafkan beliau.”

Ny. Choi gemetar. Ia teringat kembali akan masa lalunya yang baru saja diungkapkan Tiffany. Semua yang didengarnya seolah-olah hanya dongeng lama di telinganya. Tiffany melirik Siwon. Pria itu tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Pangeran Siwon, maafkan aku telah lancang menciummu. Sebab hanya dengan cara itu aku dapat menyembuhkanmu. Mungkin semua ini tampak seperti mimpi, tetapi percayalah Pangeran, saat ini dirimu telah seperti sedia kala. Aku harap penjelasan dari Ibumu akan membuat segalanya jelas. Untuk itu, aku rasa semuanya telah tuntas. Aku sudah membuka cerita ini. Aku harus pergi sebab adikku membutuhkanku.”

“Tunggu!”

Seruan Ny. Choi yang tiba-tiba membuat Tiffany membeku. Tidak ada kemarahan di dalam nada suaranya, namun sebaliknya. Suara itu penuh dengan penderitaan dan ketakutan. Tiffany masih berdiri di tempatnya, menunggu Ny. Choi kini yang tengah berjalan menghampirinya.

“Tiffany-ssi, apa yang harus kulakukan?” isak Ny. Choi. Beliau langsung merengkuh Tiffany ke dalam pelukan, membuat Tiffany terdiam. “Aku telah menghilangkan ingatanku tentang pria itu, pria yang kucintai sekaligus pria yang telah membuatku tersakiti. Aku telah menganggapnya tidak pernah ada.”

Siwon menelan ludah. Ia rasa ini sangat sulit untuk Ibunya. Tiffany mengelus punggung Ny. Choi dengan lembut. Sebagai seorang perempuan, Tiffany juga dapat merasakannya. Mungkin memang dulu Ny. Choi dan Raja saling mencintai. Tetapi cinta mereka sangat terlarang sebab Raja tidak mungkin menikahi manusia biasa seperti Ny. Choi. Lagipula dulu Raja mempunyai seorang istri!

“Eomma, bisakah menceritakannya padaku?” pinta Siwon lemah. Tiffany menatap Siwon dan Ny. Choi membalikkan tubuh menghadap putranya. Mata Siwon tampak merah menahan airmata. Seumur hidup ia belum pernah mendengar cerita tentang Ayahnya.

“Maafkan Eomma, Nak. Selama ini Eomma merahasiakannya padamu. Kau bukanlah anak yang tidak mempunyai Ayah. Tetapi jika Eomma menceritakannya, Eomma takut kau tidak bisa menerimanya dan membenci Eomma,” ungkap Ny. Choi seraya menahan isakannya.

Siwon terpana. “Apa maksud Eomma? Apa Ayah yang Eomma maksud sama seperti yang telah dikatakan Tiffany?”

Tiffany tidak berani bergerak atau bersuara sedikitpun. Ia pun menunggu cerita yang sebenarnya keluar langsung dari mulut Ny. Choi. Wanita itu mendesah berat sebelum memulai ceritanya.

“Siwon-ah, seperti yang telah Eomma ceritakan padamu, dulu Eomma adalah seorang pendaki gunung. Eomma sering menghabiskan akhir pekan dengan mendaki sendirian. Eomma merasa disanalah kebebasan Eomma, jauh dari hiruk pikuk kota. Dan saat itu, Eomma bertemu dengannya. Dengan Ayahmu yang merupakan seorang…seorang penyihir, Nak. Ia mengatakan kalau namanya adalah Jun Jin.”

Mata Siwon mengerjap cepat, tidak menyangka dengan apa yang telah didengarnya. Namun Siwon tetap diam dan menunggu kenyataan apa lagi yang akan dituturkan sang Ibu. Sementara Tiffany masih bergeming di tempatnya, terlalu khawatir semua ini akan berjalan lebih lama dari perkiraannya. Ia harus segera memanggil Cassandra! Tapi bagaimana jika kedua orang ini melihat kedatangan Cassandra? Mereka pasti akan lebih histeris.

“Eomma jatuh cinta padanya, begitupun sebaliknya. Ia menyatakan cintanya saat Eomma akan meninggalkan pegunungan itu. Ia jujur tentang siapa dirinya, Siwon-ah. Tetapi semua itu tidak penting bagi Eomma. Eomma menerima Ayahmu apa adanya. Sampai disaat ia menyakiti hati Eomma….Eomma sulit memaafkannya.”

Siwon menunduk menatap kakinya.

“Nyonya Choi, Yang Mulia Raja telah melakukan kesalahan saat itu. Beliau tidak tahu kalau Damnitri berada di balik semuanya,” Tiffany memberanikan diri untuk menyela.

“Tiffany benar.”

Seolah-olah tempat itu terguncang oleh gempa dahsyat, ketiga manusia itu terlonjak kaget. Tiffany menoleh cepat ke arah suara, suara yang sangat dikenalnya. Ia khawatir keterkejutan Nyonya Choi dan Siwon semakin menjadi. Tetapi untung saja, mereka berdua bisa mengendalikan rasa terkejutnya.

“Cassie…,” gumam Tiffany lega.

Cassandra berdiri tak jauh dari pintu kamar Siwon, menjulang tinggi disana dengan jubah tua yang biasa dipakainya, lengkap dengan banyak kalung di leher serta topi kerucut yang penuh tambalan. Tiffany segera berjalan menghampiri seniornya, sementara Siwon masih mengernyit hebat. Ia tidak menyangka sama sekali, setelah koma sekian lama akan disuguhkan kenyataan tidak masuk akal ini.

“S-siapa kau? Mengapa muncul tiba-tiba di kamarku?” seru Siwon. Ia berdiri di depan Ibunya seakan-akan ingin melindungi wanita tersebut dari bahaya yang mungkin saja akan dilakukan Cassandra.

“Aku adalah Cassandra, penyihir putih utusan Ayahanda Pangeran Siwon. Selain itu, aku adalah pelindung Kim bersaudari.”

Siwon melirik Tiffany. “Apa gadis itu salah satunya?”

Cassandra mengangguk penuh wibawa. “Benar. Tiffany adalah putri ketiga. Pangeran Siwon, suatu kehormatan bagiku bertemu denganmu.”

Siwon tidak ingin dipuja saat ini, ia masih penasaran dengan siapa gerangan Ayahnya serta Tiffany, gadis yang telah menyelamatkan hidupnya. Perlahan Siwon maju, mendekat ke arah kedua penyihir itu. Tatapannya terpaku pada Tiffany yang bersembunyi di balik bahu Cassandra.

“Pangeran Siwon, Nyonya Choi, izinkan kami pergi untuk sementara. Kami masih mempunyai urusan penting. Setelah itu—“

“Kalian tidak akan kemana-kemana sebelum membawaku ke tempat pria itu!”

 

 

Yoona tidak banyak bicara bahkan bergerak setelah Kyuhyun memperingatinya. Ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan pria itu dari jarak yang tidak terlalu dekat. Mereka berada di sebuah goa, dimana Kyuhyun bertemu dengan makhluk-makhluk ‘sejenisnya’. Ada 2 makhluk yang Yoona tahu adalah manusia serigala, sama seperti Kyuhyun. Kedua makhluk itu sesekali melirik Yoona dengan seringaian buas ketika berbicara serius dengan Kyuhyun. Tampaknya mereka sangat patuh kepada pria pucat itu.

“Jadi, bukan gadis ini yang diincar Damnitri?” tanya Kyuhyun dengan suara pelan. Salah satu dari rekannya mengangguk.

“Benar, Tuan. Yang sangat ditunggu Damnitri adalah putri ketiga Kim. Dan yang menjadi sandera kita adalah putri keempat Kim.”

Kyuhyun mengumpat pelan. Ia tidak tahu harus dimana mencari putri ketiga Kim yang dimaksud kawanannya. Lalu tiba-tiba sebuah ide mendarat di otaknya. Ia tidak perlu repot-repot memancing kedatangan kakak Yoona, sebab Yoona sudah berada di tangannya. Sudah pasti saudarinya yang lain sedang mencari dimana adik bungsu mereka. Kyuhyun menyeringai licik. Kemudian ia mengisyaratkan kepada kedua rekannya untuk pergi.

“Kalau begitu, pergilah! Aku akan mengurus semuanya sendiri. Kalian tetap awasi dimana kelompok Damnitri berada. Secepat mungkin kita akan menghabisi mereka.”

Kedua rekan Kyuhyun saling pandang.

“Tuan, bagaimana jika Damnitri dan pasukannya mengalahkan kita?” tanya salah satunya ragu-ragu. Kyuhyun menatap tajam dan matanya berkobar semerah darah. Ia paling benci mendengar kata kalah. Dengan amarah yang menggelegak, Kyuhyun menarik kerah jubah kedua rekannya dengan mudah kemudian mengangkatnya ke udara.

Yoona membelalakkan mata melihat kekuatan Kyuhyun. Jelas kedua rekannya itu jauh lebih besar!

“Aku-tidak-akan-kalah. Apa kalian mengerti?! Setelah wanita keparat itu membunuh kedua orangtuaku, jangan harap ia bisa berkuasa di dunia sihir hitam ini karena aku akan menghancurkannya terlebih dahulu!” raungan Kyuhyun menggema di goa kelam tersebut.

Lalu dengan sekali hentakan, Kyuhyun melemparkan kedua tubuh rekannya ke mulut goa. Ia menyeringai sinis melihat kedua rekannya berdiri dengan susah payah, membungkuk hormat padanya lalu lari terbirit-birit. Yoona tidak melihat mereka lagi dalam sekejap. Lari mereka sangat kencang, persis seperti serigala.

Yoona tidak bergerak sedikitpun dari batu yang didudukinya. Harus diakuinya kalau saat ini Kyuhyun semakin menyeramkan. Dalam keremangan cahaya Yoona dapat melihat sepasang mata merah darah pria itu. Sepasang mata yang kini mengawasinya. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Ia duduk sambil memeluk lututnya sendiri.

Perlahan Kyuhyun berjalan mendekatinya. Yoona terpaku, mendadak ia tidak bisa bergerak cepat. Layaknya disihir menjadi patuh, Yoona hanya menunggu Kyuhyun untuk datang padanya. Kyuhyun berjongkok di depan Yoona, mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Sejenak Kyuhyun menatap mata Yoona tanpa kedip.

Yoona merasa pikirannya berputar-putar tanpa ia komando. Mulai dari canda tawanya bersama ketiga kakaknya, pertemuan dengan Cassandra, kunjungannya ke pesta Nichkhun, serta perjalanan singkatnya bersama Kyuhyun. Semua itu terputar seperti sebuah rol film. Yoona tidak tahu mengapa ia terbayang hal-hal itu. Apakah Kyuhyun sedang menyelami ingatannya?

Beberapa menit kemudian terdengar Kyuhyun berdecak lalu tersenyum sinis.

“Jadi, ketiga kakakmu sangat menyayangimu, eoh. Aku rasa saat ini mereka panik sampai mati kehilanganmu,” gumam Kyuhyun. Tangannya membelai sisi kanan wajah Yoona.

Yoona bergidik ketika merasakan dinginnya tangan Kyuhyun.

“Jangan seenaknya menyentuhku!” desis Yoona. Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. “Kakak-kakakku dan Cassandra akan segera menemukanku bahkan sebelum kau menemui Damnitri.”

Kyuhyun berdiri lalu tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat keras sehingga membangunkan kelelawar-kelelawar liar yang bergantung di langit-langit goa. Bahkan binatang malam yang liar itu berteriak kasar kepada Kyuhyun yang telah mengganggu mereka. Yoona mencengkram kakinya lebih kuat. Andai saja ia mempunyai kekuatan menghilang seperti Tiffany, pasti ia akan segera keluar dari situasi mencekam ini.

“Kalau begitu, panggil mereka. Itu yang paling kutunggu-tunggu, Kim Yoona!” bentak Kyuhyun.

“Tidak.”

Kyuhyun terkejut mendengar bantahan tegas Yoona. Pria itu tidak habis pikir, mengapa gadis itu selalu membantahnya. Sudah pasti sikap Yoona tidak membantu meredakan kemarahan Kyuhyun sama sekali. Pria itu mencengkram leher jubah Yoona dan mendekap tubuh kurusnya dengan erat. Yoona mengerjap kaget.

“Tidak ada yang pernah membantahku. Jadi, lakukan apa yang kuperintahkan kalau kau masih sayang dengan nyawamu. Dan apa kau pikir aku takut pada saudari-saudarimu? Cih!”

“Kau meremehkan kami ya? Jangan berpikir mereka terlebih dahulu sebab kau juga sedang berhadapan dengan salah satu Kim disini,” ujar Yoona dengan suara lebih tenang dari sebelumnya. Otaknya mulai berputar mencari jalan keluar. Ia mencari-cari kelemahan Kyuhyun, kelemahan manusia srigala yang pernah dibacanya.

Kyuhyun terkekeh mendengar penuturan Yoona. Ia mencengkram leher Yoona dengan jari-jari tangannya yang mulai mengeluarkan cakar tajam. Yoona berdesis perih.

“Kau menantangku? Sebenarnya apa yang bisa kau lakukan, eoh? Mengeluarkan kelinci dari dalam topi? Hahaha! Jangan sok menantangku, Kim Yoona!”

Yoona menelan ludah. Ia mempunyai sebuah ide, ide yang sangat gila. Hal itu muncul begitu saja dalam pikirannya karena ia sangat benci kepada Kyuhyun saat ini. Yang diinginkannya adalah Kyuhyun musnah dan ia pun bisa lari dari dunia sihir hitam ini. Namun ia berpikir kalau idenya cemerlang sekaligus idiot.

Ia tidak akan bisa merenggut kembali apa yang harus dikorbankannya demi ide gila ini.

Sejurus kemudian, bahkan sebelum Kyuhyun menghela udara, Yoona sudah menempelkan bibirnya tepat di bibir pria itu.

 

 

-Deathly sacrifice-

 

 

Siwon belum bisa bertanya apapun kepada Cassandra dan Tiffany sebab mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ia pun begitu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana rupa Ayahnya yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Ia bahkan berpikir kalau Ayahnya sudah tiada. Siwon tumbuh menjadi remaja dan pria yang mandiri. Beruntung Ny. Choi selalu ada untuk putra tunggalnya itu.

Sekilas Siwon melirik Tiffany. Mereka kini berjalan di sebuah hutan, tatkala sebelumnya Cassandra memerintahkan Siwon untuk menutup mata. Awalnya mereka berada di pelataran parkir apartemen, dan saat Siwon membuka mata, mereka sudah berada di tengah hutan. Siwon tidak mempunyai ide sedang berada dimana mereka sekarang. Tetapi tentu saja Cassandra dan Tiffany tahu.

Siwon melihat kemurungan di mata Tiffany. Ia menebak pasti ada hal berbahaya yang sedang dipikirkan gadis itu. Siwon teringat ucapan Tiffany saat di apartemennya. Adiknya sedang dalam bahaya dan gadis itu harus cepat bertindak. Siwon ingin tahu, keadaan bahaya apa yang dimaksud.

“Ehem!” Siwon berdehem, mengundang perhatian kedua perempuan yang berjalan di dekatnya.

“Ada apa, Pangeran? Ada yang Pangeran butuhkan saat ini?” tanya Cassandra penuh hormat.

Siwon menatap Tiffany yang wajahnya masih murung.

“Aku ingin tahu, apa yang terjadi pada adik Kim Tiffany. Keadaan bahaya apa yang kalian maksudkan?” tanya Siwon lembut.

Tiffany telah menyelamatkan nyawanya. Lalu sekarang tidakkah terlalu egois jika ia memaksa kedua orang ini untuk mempertemukannya dengan sang Ayah sementara ada seseorang yang harus mereka selamatkan nyawanya? Siwon tidak akan membiarkan hal itu begitu saja. Ia pria yang mempunyai hati dan tahu balas budi.

Dilihatnya Tiffany menundukkan kepala.

“Aku sendiri tidak bisa membayangkan bahaya apa yang sedang mengancam adikku,” gumamnya lalu terisak. Siwon menelan ludah. Ia tidak tahu menahu tentang dunia sihir sebelumnya tetapi ia bisa membayangkan betapa mengerikannya dunia itu. Ia kira dunia sihir hanya ada di dalam televisi atau dongeng belaka.

Apapun itu, yang jelas di mata Siwon kini adalah kegundahan Tiffany. Posisinya sekarang adalah Pangeran dunia sihir putih, itu berarti ia dihormati dan dipatuhi oleh siapapun di dunia ini. Siwon rasa kedua perempuan itu terpaksa menuruti perintahnya dan mengorbankan adik Tiffany untuk sementara.

Kejam sekali kau, Choi Siwon, batin Siwon. Ia bisa bertemu kapan saja dengan sang Ayah sedangkan Tiffany bisa saja kehilangan adiknya jika tidak segera ditolong.

“Kim Yoona kini sedang berada di dunia sihir hitam, Pangeran. Sepertinya ia diculik oleh penyihir jahat. Dua gadis Kim lainnya sedang berusaha mencari Yoona, tapi sepertinya belum terlacak karena Hamba sama sekali belum mendapatkan pertanda dari mereka,” jelas Cassandra singkat.

“Diculik oleh penyihir jahat?” entah mengapa Siwon merinding. Ia masih belum percaya sudah terlibat dalam dunia ini. Namun walau bagaimanapun juga, ia adalah bagian di dalamnya. Ia mempunyai darah penyihir di dalam tubuhnya.

Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di benak Siwon. Ia menatap Cassandra dengan tatapan ngeri.

“Ada apa lagi, Pangeran?”

Bibir Siwon bergetar. Jika benar ia seperti apa yang dipikirkannya sekarang, kenapa tidak ada tanda-tanda selama ini?

“Ada apa, Pangeran? Katakanlah!”

“Apakah aku…mempunyai kekuatan sihir seperti kalian?”

 

Taeyeon dan Jessica hampir putus asa melihat tidak ada sama sekali tanda-tanda keberadaan Yoona di peta ajaib. Mereka berhenti di bawah pohon ek seraya mengawasi sekitar. Mereka tidak ingin berhadapan dengan makhluk-makhluk buas dunia sihir hitam saat ini. Bukan karena mereka takut, tetapi karena tenaga mereka yang hampir habis.

Suara burung hantu bersahutan di tengah-tengah hutan. Keringat telah bercucuran dari pori-pori si kembar itu. Jessica menggenggam erat tangan Taeyeon. Mereka sangat membutuhkan Cassandra saat ini. Taeyeon melafalkan sebuah mantra dengan menyebutkan nama Cassandra di dalamnya. Matanya terpejam erat pertanda konsentrasi penuh. Ia sedang mengirimkan pertanda kepada Cassandra.

“Taenggo, apakah Yoona akan baik-baik saja?” isak Jessica.

Taeyeon membuka lagi matanya kemudian mendesah. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. Taeyeon menatap Jessica lalu menggeleng.

“Kali ini aku tidak bisa menjawabnya,” jawab Taeyeon jujur. Jessica menundukkan kepalanya dalam dan memeluk pinggang Taeyeon erat. Taeyeon sendiri tidak dapat menahan airmatanya lagi. Ia balas pelukan Jessica dan menumpahkan kegundahannya.

Tidak ada lagi tempat mereka mengadu. Mereka berada bukan di tempat yang seharusnya dan tidak tahu apa yang akan datang menyerang. Bisa saja sekelompok penyihir hitam atau hewan buas datang menamatkan riwayat mereka.

“Sica, lebih baik kita memanggil Cassie lagi. Hanya dia yang bisa kita harapkan sekarang. Dan tentu saja, kita akan memanggil Tiffany.”

 

Goa yang sunyi serta mencekam itu menjadi saksi bagaimana pergumulan Yoona dengan Kyuhyun. Kyuhyun menahan dirinya agar tidak mencabik-cabik tubuh gadis itu. Rasa itu terkalahkan dengan hasrat baru yang selama ini hanya dirasakannya kepada makhluk sejenis dengannya. Sisi hewani Kyuhyun bangkit hanya karena ciuman dan gigitan yang dilakukan Yoona.

Kyuhyun menggeram dan mengerang, sementara tangannya membantu Yoona melepaskan pakaian yang membelenggu gadis tersebut. Keempat taring Kyuhyun tampak mengkilat, siap untuk memangsa Yoona. Namun kelembutan yang dilakukan Yoona membuat semua itu tertahan.

Baru sekali dalam hidupnya, Yoona membelai lawan jenisnya sedemikian rupa. Ia melakukan ini untuk suatu tujuan yang sudah pasti akan menghancurkan Kyuhyun. Ia berani menghadapi resiko apa saja yang akan datang mengancamnya, tetapi yang jelas ia akan menghancurkan pria itu terlebih dahulu. Yoona tahu kalau Kyuhyun pada dasarnya adalah hewan, jadi ia berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkannya.

Yoona sudah hampir melepas seluruh pakaiannya ketika ia melihat mata Kyuhyun berkilat merah. Ia juga bisa mendengar gigi pria gemeletukkan untuk menahan nafsunya. Yoona tidak akan menyerah secepat itu. Ia kembali membelai rahang Kyuhyun dengan gerakan lembut dan paling menggoda. Kepala Kyuhyun bergerak-gerak resah, kedua tangan yang mengepung tubuh Yoona kini mengepal erat, dan kedua kakinya menegang. Napas mereka sama-sama memburu.

“Hh…aku tahu, k-kau menginginkanku. Apa kau seorang pengecut?” desis Yoona lalu menggigit lembut cuping telinga Kyuhyun yang semakin panjang.

Tatapan Kyuhyun sangat menusuk pada Yoona. Ia takjub mengapa gadis yang kini berada di bawahnya tidak takut sama sekali. Padahal tubuhnya telah melakukan perubahan, hampir menyerupai serigala seutuhnya.

“Ayo, Cho Kyuhyun. Tunjukkan kalau kau jantan. Bukankah kau akan menantang Damnitri? Jika meniduriku saja kau tid—“

Kyuhyun benci tantangan. Ia tidak bisa berpikir panjang jika ada seorang gadis cantik menggodanya. Dengan keras dan kasar Kyuhyun melumat mulut Yoona, membuat gadis itu tersentak. Yoona memejamkan mata menahan betapa menyakitkannya ciuman Kyuhyun. Taring-taring Kyuhyun menancap di dagu dan bibirnya selagi Kyuhyun menciumnya penuh nafsu.

Ini pertarungan, batin Yoona. Sebelum Kyuhyun menghancurkannya, ia harus bisa membuat pria itu bercinta dengannya!

Dengan tenaga yang masih dimilikinya, Yoona mencari-cari pinggang Kyuhyun. Airmatanya keluar deras karena menahan rasa sakit. Yoona sedikit kesulitan mencapai pinggang Kyuhyun sebab pria itu menempel erat di tubuhnya.

“Ngh…,” erang Kyuhyun. Tanpa sengaja ia mencicipi darah Yoona. Jantungnya terasa berhenti berdetak, tubuhnya menegang sementara aliran darahnya tiba-tiba berhenti. Serta merta ia melepaskan ciumannya, mengakibatkan darah segar mengalir deras dari tepi bibir Yoona. Ia menatap Yoona lekat-lekat.

Rasa darah itu….Kyuhyun menelan ludah memikirkannya. Rasa darah Yoona mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Seseorang yang rela mati karena melindunginya.

Di tempatnya, Yoona pun tercengang. Perlahan kilatan merah di mata Kyuhyun memudar, taringnya memendek, serta cuping telinganya yang berangsur-angsur kembali seperti semula. Yoona tercekat panik. Bukan ini yang diinginkannya. Meskipun seluruh tubuhnya sakit bukan main, ia harus segera menghancurkan Kyuhyun. Satu-satunya yang membuat Kyuhyun musnah adalah bercinta dengannya.

Tetapi perubahan Kyuhyun membuat Yoona was-was. Ada apa dengan pria itu? Yoona mengeratkan pelukannya di pinggang pria itu sekaligus menghangatkan dirinya yang hampir telanjang. Kyuhyun menurunkan pandangannya ke tubuh Yoona, kemudian mengangkat kepalanya lagi. Ia menggeleng perlahan.

“Aku tahu…aku tahu maksudmu,” desis Kyuhyun. Rahangnya berdenyut kencang. Sorot matanya melembut saat melihat luka-luka di wajah Yoona akibat taringnya. Perlahan tapi pasti, sebelah tangannya mengelus luka-luka tersebut, membuat Yoona meringis kesakitan.

“Gadis bodoh. Sebelum kau bisa memusnahkanku, kau telah mati terlebih dahulu,” geram Kyuhyun. Ada perasaan mendalam di lubuk hatinya ketika merasakan darah manis Yoona di mulutnya. Perasaan itulah yang tiba-tiba mencegah hasrat liarnya.

“A-ada apa denganmu?” gumam Yoona. Dadanya masih naik turun karena sesak.

“A-aku tidak bisa melakukannya lagi. Kekasihku…dulu…Hana…”

Kali ini Kyuhyun lebih terdengar seperti orang terisak. Ia bangkit dengan kecepatan halilintar dan duduk di mulut goa, meringkuk disana seperti seorang anak kecil yang sedang menantikan hukuman dari Ayahnya. Yoona membenahi pakaiannya dengan kikuk seraya menahan perih yang luar biasa di bibirnya. Ia lupa kalau taring Kyuhyun telah menancapkan racunnya disana.

Setelah berpakaian seperti sedia kala, Yoona memberanikan diri mendekati Kyuhyun. Ajaib memang, perasaan bencinya berubah seketika saat melihat pria itu rapuh. Pria itu berhenti menyakitinya sebelum bercinta membuat Yoona berpikir keras. Apa yang menghalanginya menyetubuhi Yoona?

Yoona bersimpuh di samping Kyuhyun, menunggu pria itu mengangkat kepalanya. Ia tidak menyangka Kyuhyun bisa terisak seperti sekarang.

“Jangan kembali lagi ke dalam kehidupanku, Im Hana. Aku mohon.”

Yoona tertegun. Kyuhyun memanggilnya dengan nama apa? Apakah Hana itu adalah kekasih pria ini? Lalu kenapa tadi ia menyebutkan ‘dulu’?

“Kau sudah pergi dari kehidupanku. Aku tidak akan membiarkanmu kembali karena Damnitri akan memusnahkanmu lagi. Aku mohon, pergilah Hana!”

Di sebuah lembah tidak berpenghuni dan pohon-pohonnya telah tumbang, terlihat sekelompok penyihir hitam dengan tubuh-tubuh raksasanya, kecuali satu wanita yang berpakaian hitam dan hijau zamrud serta mengenakan sebuah tiara di puncak kepalanya. Wanita itu memegang erat tongkat berkepala naga. Matanya memicing melihat beberapa tempat di bawah lembah. Seringaian sangat jahat muncul di wajahnya yang pucat bagaikan mayat.

Wanita itu adalah Damnitri, Ratu Kegelapan.

Bentuk hidungnya yang runcing, dagu yang panjang, sepasang mata sangat sipit, serta bibir tipis yang menyiratkan kelicikan tampak jelas di wajahnya. Ia dikelilingi penyihir-penyihir berwajah seram, lebih seram dari makhluk penghisap kenangan sekalipun, dan bertubuh kekar. Jelas sekali kalau mereka adalah pelindung wanita bernama Damnitri tersebut.

Damnitri menyunggingkan senyuman ketika bola kristal di tangannya berpendar merah, memberi tanda akan sesuatu yang sangat penting baginya. Matanya yang sipit melebar sementara bibirnya berkomat-kamit melafalkan mantera. Tanda merah itu adalah tanda yang dinanti-nantinya selama puluhan tahun. Akhirnya ia akan segera mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Wahai pengikutku! Sebentar lagi kita akan berpesta!” teriaknya memecah hening kegelapan.

“HAHAHAHAHA!” sambutan tawa para pengikutnya membahana lebih keras. Satu diantara mereka justru menghampiri sang Ratu Kegelapan, wajahnya pun tampak bingung.

“Mohon ampun Yang Mulia, tetapi apa Yang Mulia yakin kalau itu adalah tanda kedatangannya? Kenapa dia tiba-tiba berada di dunia hitam?” pria itu bertanya takut-takut. Damnitri mendongakkan kepala. Ia terlalu senang untuk marah kepada pria yang meragukan tanda-tanda di bola kristalnya.

“Sepertinya ada sesuatu yang membawanya ke tempat ini. Sesuatu yang dicuri oleh musuh kecilku yang lain. Ha! Mereka pikir sangat mudah untuk melawanku, ya? Hahahaha!”

 

Siwon tidak tahu dimana lagi dirinya sekarang. Seingatnya tadi Cassandra dan Tiffany tiba-tiba menariknya ke sebuah angin berputar dan ia pikir mereka akan terbang atau semacamnya. Akan tetapi mereka menghilang dalam sekejap mata, sama seperti sebelumnya. Belum habis rasa takjub Siwon, kini ia terdampar di sebuah tempat yang gelap dan tepat berada di atas tubuh Tiffany. Cukup lama bagi Siwon untuk mengangkat tubuh kekarnya. Hatinya menolak sebab ia terjebak tatapan meneduhkan gadis canti di bawahnya.

Tiffany teringat akan ciuman yang dilakukannya saat Siwon tidur dan itu sangat memalukan. Apalagi Siwon menatapnya penuh minat. Wajah mereka hanya berjarak 5 senti, membuat Tiffany dapat merasakan nafas maskulin Siwon menerpa wajahnya.

“Ehem!” deheman Cassandra memecah kesunyian. Siwon segera bangkit dari posisinya dan menarik tangan Tiffany hingga berdiri.

“Lain kali jaga keseimbanganmu, Siwon-ssi.”

Siwon menahan senyumannya ketika melihat Tiffany berbicara seraya menepuk-nepuk dedaunan yang melekat di jubahnya.

“Kim Tiffany! Jaga bicaramu! Dan kau harus memanggilnya Yang Mulia!” Cassandra memperingati. Siwon mengibaskan tangan di udara.

“It’s okay, Cassandra. Aku jauh lebih senang jika tidak ada embel-embel itu.”

Cassandra diam tak berkomentar. Tiffany mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba menerka-nerka mereka sedang berada dimana. Sesaat sebelum mereka berpindah tempat, ia dan Cassandra mendengar panggilan Taeyeon dan Jessica melalui semilir angin yang melewati mereka. Sepertinya mereka sangat membutuhkan bantuan.

“Dimana mereka?” gumam Tiffany. Ada kegundahan yang tak kunjung hilang dari nada suara maupun raut wajahnya. Siwon terus memperhatikan hal itu. Seandainya ia dapat membantu Tiffany.

Cassandra melafalkan mantera Frugare, yaitu mantera yang digunakan untuk melacak keberadaan seseorang. Mulut wanita itu terus berkomat-kamit sementara Tiffany dan Siwon berdiri tenang di sampingnya. Sayup-sayup Tiffany mendengar sesuatu di belakang mereka. Ia segera menolehkan kepalanya kesana, tepatnya ke arah hutan kecil yang tak jauh dari mereka berdiri.

Suara-suara gemerisik dedaunan itu terdengar semakin jelas, bahkan Siwon juga mendengarnya. Mereka berdua menatap ke arah hutan, sedangkan Cassandra masih berkonsentrasi dengan manteranya. Tiffany menahan napas tatkala melihat dua sosok dengan tinggi tubuh sama dengannya, muncul mendadak di depannya. Dua sosok yang sangat dikenalnya itu hadir setelah bergerak sangat cepat dari dalam hutan.

Mereka adalah kakak kembarnya, Taeyeon dan Jessica. Mantera Cassandra berhasil menyeret mereka ke tempat ini.

Langsung saja kakak beradik Kim itu saling berpelukkan. Tiffany memeluk Taeyeon dan Jessica sekaligus. Ia menggenggam erat bagian belakang jubah kedua kakaknya tersebut dan menenggelamkan wajahnya diantara lengan mereka. Begitupun dengan Taeyeon dan Jessica. Masing-masing meletakkan dagu di bahu Tiffany.

Cassandra dan Siwon hanya bisa menonton pertemuan mengharukan itu. Sebenarnya dengan menghilangnya Yoona membuat keadaan mereka seperti ini. Apalagi saat ini mereka bertemu di tempat yang sangat tidak mereka inginkan. Hati mereka belum lega sepenuhnya jika keberadaan Yoona belum ditemukan.

“Apa kalian mendapatkan petunjuk dimana Yoona berada?” tanya Tiffany disela isaknya.

“Kami belum mendapatkan apa-apa, Tiffy. I’m sorry!” ucap Jessica.

“Tapi kita akan menemukannya. Pasti. Kekuatan kita bertiga akan menemukan maknae,” tambah Taeyeon menenangkan.

Terdengar seseorang berdehem di balik punggung Tiffany. Ketiga gadis cantik itupun melepaskan pelukan. Taeyeon dan Jessica menatap Siwon bingung. Untuk sesaat mereka tidak mengenali siapa pria asing berpakaian seperti manusia biasa berdiri di dekat Cassandra.

“Apa kalian melupakan aku?” sindir Cassandra. Taeyeon dan Tiffany tersenyum kaku.

“Siapa dia?” Jessica justru menanyakan siapa gerangan si pria asing.

Dan sebelum Cassandra membuka mulut, Siwon sudah maju dua langkah untuk mendekati Tiffany dan kedua saudarinya.

“Perkenalkan, namaku Choi Siwon.”

Hanya dalam hitungan dua detik, Taeyeon dan Jessica terperangah hebat. Mereka tidak menyangka kalau pria asing itu adalah Pangeran Dunia sihir putih yang telah disembuhkan Tiffany. Kemudian secara serentak, Taeyeon dan Jessica pun membungkukkan badan cukup lama.

“Maafkan kelancangan kami, Yang Mulia. Kami terlalu sibuk dengan urusan kami sehingga melupakan Yang Mulia.”

“Senang akhirnya bertemu dengan Yang Mulia Pangeran.”

Siwon merasakan kehangatan melihat keramahan Kim bersaudari. Ia mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan kepada Taeyeon dan Jessica agar segera berdiri kembali. “Senang bertemu dengan kalian. Dan jangan panggil aku Pangeran. Cukup Siwon saja. Arraseo?”

Taeyeon dan Jessica mengangguk paham. Bagaimanapun juga perkataan Pangeran adalah perintah.

 

Yoona mencengkram dadanya kuat-kuat. Ia merasakan sesuatu yang sangat hangat dan nyaman mengisi kekosongan hatinya saat ini. Ada apa ini? Di tengah rasa sakitnya menahan perasaan takut dan fisiknya yang terluka, tiba-tiba ada kenyamanan yang meredakannya. Yoona berharap kalau perasaan ini ada hubungannya dengan ketiga kakaknya.

“Taeyeon Eonnie, aku merindukan pelukanmu. Jessica Eonnie, aku merindukan suaramu yang merdu dan menenangkan. Tiffany Eonnie, apa kau baik-baik saja? Aku sangat merindukan usapan tanganmu di kepalaku. Hiks, cepat temukan aku Eonnie.”

Yoona berbicara sendiri. Ia memejamkan matanya sementara tubuhnya meringkuk di antara dua batu besar yang ada di dalam goa. Mulutnya masih mengeluarkan darah segar. Sepertinya racun yang ada di taring Kyuhyun sudah menjalar di sekitar mulut dan wajah Yoona. Wajahnya memang sedikit membiru, namun Yoona adalah gadis yang kuat. Terlebih lagi ia mempunyai semangat yang optimis tentang ketiga kakak serta Cassandra.

Entah dari mana munculnya, Kyuhyun tiba-tiba hadir di depan Yoona. Ia menekuk satu lututnya untuk bertumpu di tanah goa yang basah. Taringnya sudah kembali normal dan matanya tidak lagi memerah. Setelah bertengkar dengan Yoona tadi, Kyuhyun memang menghilang sebentar untuk menenangkan dirinya. Lebih tepatnya, menenangkan hasrat liarnya yang menginginkan Yoona.

Dan Yoona tidak bisa kabur kemana-mana sebab Kyuhyun telah memantrai gadis itu dengan mantera Manete, membuat tubuh Yoona menempel erat pada dua batu besar di belakangnya.

Kyuhyun mengamati wajah Yoona berlama-lama. Kembali teringat olehnya sosok Im Hana, kekasihnya sejak ia kecil. Gadis itu kini telah tewas dan Damnitri-lah penyebabnya. Darah Yoona mengingatkan Kyuhyun pada Hana. Dan sebentar lagi gadis itu pasti tewas jika Kyuhyun tidak cepat menetralkan racunnya.

Perlahan Kyuhyun menyentuh wajah Yoona. Ia tidak terkejut merasakan dinginnya permukaan kulit Yoona. Seperti korban-korban gigitan manusia serigala lainnya. Mungkin dalam tiga puluh menit ke depan, Yoona akan berubah menjadi manusia serigala. Itupun jika Kyuhyun menyelematkannya. Jika tidak, Yoona tidak akan tertolong.

“Aku harus menggigitmu lagi,” bisik Kyuhyun. Ia tidak yakin kalau Yoona mendengarnya. Yoona mulai gemetar hebat.

Kyuhyun mengecup kening Yoona sebelum turun ke wajah gadis itu. Napas Yoona tersengal dan Kyuhyun bisa merasakannya dengan jelas. Ia juga bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Yoona. Kyuhyun menyesal telah berbuat seperti itu kepada Yoona hanya karena kebenciannya terhadap Damnitri. Seharusnya ia menangkap Tiffany, bukan Yoona. Dan mendapati kemiripan darah Yoona dengan kekasihnya yang telah tewas, membuat Kyuhyun semakin menyesal.

Selanjutnya Kyuhyun mencium Yoona, tepat dimana pusat racunnya menyebar, yaitu mulut gadis itu. Kedua tangannya menangkup wajah Yoona, tidak mempedulikan erangan kesakitan yang memilukan. Penawar racun biasanya lebih menyakitkan dari racun itu sendiri. Kyuhyun menyesap bibir atas dan bawah Yoona, berusaha menarik kembali racun yang bersarang disana. Kaki Yoona menegang menahan kesakitan yang luar biasa. Tangannya mencengkram kedua bahu Kyuhyun.

Tubuh Yoona mulai memanas tatkala Kyuhyun semakin menyesap racun tersebut. Rasa sakit yang dirasakan Yoona menghentak-hentak ke seluruh pembuluh darahnya. Jari-jarinya, kedua matanya, kedua telinganya, lehernya dan bahkan perutnya merasakan gejolak panas yang sama. Yoona berusaha berteriak atau melolong, tetapi Kyuhyun masih menahan mulutnya.

Dan tiba-tiba, Yoona mendengar suara yang mirip dengan suara Kyuhyun. Suara berat itu memasuki ruang kepalanya.

Tenanglah, sebentar lagi kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan membuatmu mati, Yoona. Kita akan berakhir sama.

“Maafkan aku. Tetapi aku harus melakukan ini sebagai penawar racunmu. Dan aku…tidak bisa menolak pesonamu.”

Kyuhyun telah dibutakan oleh hasrat hewaninya. Menyentuh Yoona seintim itu membuatnya lupa dengan konsekuensi yang akan ditanggungnya setelah ini. Dulu ia memang tidak berhasil meniduri kekasihnya, namun sekarang…

Ia telah diambang kehancurannya sendiri.

 

“Bolehkah aku memegang tanganmu, Tiffany?”

Tiffany, yang sedang berjalan di samping Siwon, terkejut mendengar permintaan dari pria itu. Taeyeon, Jessica dan Cassandra pura-pura tidak mendengar di depan mereka. Tiffany tidak tahu mengapa Siwon tiba-tiba meminta hal itu. Ia tahu kalau mereka berjalan di dalam kegelapan. Tetapi Cassandra jelas-jelas telah melafalkan mantera Lightum, sehingga jalanan yang mereka pijak bercahaya. Apakah itu kurang bagi Siwon?

“Aku hanya ingin memegang tanganmu. Apakah itu salah? Lagipula…, bukankah aku ini Pangeran? Kau harus menuruti perintahku,” gumam Siwon tanpa rasa bersalah.

Mwo? Apa dia mulai memanfaatkan status barunya, batin Tiffany. Namun sepertinya Siwon termasuk tipe keras kepala. Ia masih saja menampung tangan kanannya, menunggu sambutan tangan kiri Tiffany. Ia memang telah menyukai gadis itu, entah sejak kapan. Seperti yang terjadi pada insan-insan yang jatuh cinta, mereka tidak tahu kapan getaran itu datang.

Akhirnya Tiffany mengulurkan tangannya yang langsung digenggam erat oleh Siwon. Ada seringaian lebar di wajahnya. Tiffany tertegun. Entah mengapa ia berpikir Siwon akan berada dalam keadaan bahaya jika nanti Damnitri menemukan mereka. Apa Damnitri akan mengenali Siwon sebagai Pangeran dunia sihir putih?

Tiffany menatap lurus ke depan, mengabaikan aliran hangat yang tercipta dari tautan tangan mereka, mencari-cari sumber cahaya atau suara yang mungkin mencurigakan di sekililing mereka. Ia berharap segera menemukan Yoona. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika Yoona dalam keadaan bahaya dan bahkan membahayakan nyawanya. Apa gunanya ia mempunyai kekuatan baru yang menurut Cassandra sangat menakjubkan jika tidak dapat menyelamatkan adiknya sendiri?

Di tengah-tengah pemikiran gusarnya, tiba-tiba Tiffany merasakan nyeri yang sangat hebat di dadanya. Genggaman tangannya semakin kencang, membuat Siwon tersentak. Tiffany melenguh kasar sehingga ketiga perempuan yang berjalan di depan mereka bisa mendengarnya. Siwon menahan tubuh Tiffany yang mendadak akan tumbang ke tanah. Mereka berempat tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Tiffany.

Siwon menumpu tubuh Tiffany di tanah. Gadis itu terus mengerang kesakitan seraya mencengkram erat jubah bagian dadanya. Taeyeon dan Jessica bersimpuh di antara Siwon dan Tiffany, sementara Cassandra berlutut di depan mereka. Tiffany memejamkan matanya erat-erat. Ia melihat sebuah bayangan hitam di pikirannya seiring dengan sakit yang amat sangat di dadanya.

“Akh….!” erang Tiffany. Siwon, Taeyeon dan Jessica serentak memandang Cassandra. Wanita itu belum berkata apa-apa, melainkan hanya memandang Tiffany intens. Perlahan Cassandra meraih tangan Tiffany lalu menggenggamnya. Ia ikut memejamkan mata layaknya sedang ikut merasakan apa yang dirasakan Tiffany. Bulir-bulir keringat muncul di kening Tiffany.

Taeyeon dan Jessica tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, namun tiba-tiba saja rasanya kekuatan yang mereka miliki sedikit demi sedikit pulih. Mereka mulai bisa mendengarkan suara-suara lain di sekitar mereka berada. Taeyeon dan Jessica saling pandang. Energi mereka juga rasanya tidak sehampa sebelumnya.

Aneh.

Bukankah jika penyihir dunia sihir putih berada di dunia lawan, kekuatan dan energi mereka berkurang?

“Cassie, ada apa ini?” desak Taeyeon. Jessica menatap resah sekelilingnya, kemudian akhirnya ikut menatap Cassandra.

Wanita itu tidak mempedulikan pertanyaan si kembar. Ia membuka matanya lalu terperangah melihat Tiffany. Siwon terus merangkul tubuh Tiffany. Ia satu-satunya yang tidak mengerti sihir dan dunianya disini. Jadi ia tidak berkomentar apa-apa selain menenangkan Tiffany.

“Kekuatannya sudah sepenuhnya ia miliki. Itu artinya, Damnitri sudah berada di dekat kita. Wanita licik itu mengincar Tiffany. Cepat persiapkan diri kalian!”

Kata-kata itu bagaikan komando bagi si kembar. Mereka tercekat untuk sejenak kemudian bergegas berdiri. Dengan cepat mereka menghampiri Cassandra.

“Benarkah ini Cassie? Mengapa semuanya terlalu cepat? Kita bahkan belum menemukan Yoona!” desis Jessica. Cassandra menatap lurus ke dalam mata coklatnya.

“Kekuatan Tiffany telah memanggil semua kekuatan baik di alam semesta. Apa kalian merasakan energi kalian seperti sedia kala? Itu adalah pengaruh dari kekuatan baru Tiffany. Ia kini menguasai mantera dan sihir apapun di luar kehendaknya. Inilah saatnya, seorang penyihir hebat yang telah ditunggu-tunggu selama berabad-abad. Adik kalian telah mendapatkan anugerah ini sejak di dalam kandungan. Bahkan ia sendiri tidak bisa menolak takdirnya. Sekarang persiapkan diri kalian!” Cassandra membuat jeda untuk sesaat dan mengedarkan pandangan ke sekelililingnya. Taeyeon dan Jessica menahan napas. “Damnitri sudah berada sangat dekat dengan kita. Aku akan menyembunyikan Pangeran Siwon.”

Taeyeon dan Jessica masih memperhatikan Cassandra. Wanita itu mengambil sesuatu dari dalam kantong jubahnya dan berlutut di sebelah Siwon. Sebuah botol sangat kecil berada di dalam genggamannya.

“Yang Mulia Pangeran, hamba minta lepaskan Tiffany sekarang juga dan minumlah ramuan ini.”

Siwon mengernyitkan kening. Jelas ia bingung mengapa disuruh meminum cairan berwarna hijau pekat di dalam botol bening itu. Bukankah mereka seharusnya membantu Tiffany yang masih mengerang kesakitan?

“R-ramuan apa itu?”

“Yang Mulia Pangeran, hamba mohon, minumlah! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Damnitri sedang dalam perjalanannya kemari dan ingin membunuh kita semua. Hanya Tiffany yang bisa menyelamatkan kita!”

Siwon melepaskan rangkulannya secara terpaksa karena melihat kesungguhan di mata Cassandra. Ia menerima botol bening tersebut dan membuka tutup kayu di atasnya. Siwon menatap Cassandra sekilas.

“Itu adalah ramuan Shados. Yang Mulia tidak akan terlihat setelah meminum ramuan ini,” jelas Cassandra singkat. Taeyeon dan Jessica saling membelakangi. Mereka sama-sama mengawasi setiap sisi lingkungan mereka, siapa tahu nanti ada musuh yang muncul tiba-tiba dan menghambur ke arah mereka!

Saat berbalik ke arah Siwon, mereka bisa melihat pria itu sudah mulai menghilang. Mulai dari kaki, pinggang, tangan hingga akhirnya kepala. Siwon tidak tampak sama sekali secara kasat mata, hanya berbentuk bayangan di tanah. Taeyeon dan Jessica tahu apa maksud Cassandra. Ia ingin melindungi pria itu, setidaknya karena pria itu adalah Pangeran.

Kini tinggalah Tiffany yang bertumpu dengan lutut dan kedua tangannya di tanah. Napasnya masih tersengal dan kepalanya menunduk dalam.

“Apa tubuhnya baik-baik saja menerima kekuatannya sendiri, Cassie?” tanya Jessica khawatir.

“Aku tidak tahu,” hanya jawaban itu yang bisa diberikan Cassandra.

Sreek. Sreeeek.

Mereka bertiga terlonjak waspada. Entah darimana datangnya, beberapa penyihir berjubah hitam muncul di hadapan mereka. Tubuh mereka dua kali lebih besar dari Taeyeon, Jessica dan Cassandra. Mereka semua memakai tudung yang serupa. Atmosfer semakin kelam di sekitar mereka. Taeyeon dan Jessica mendapati tubuh mereka gemetar. Ketika menyelamatkan anak-anak bertuah, mereka tidak setakut ini. Hawa yang mereka rasakan sangat berbeda. Kali ini terasa lebih jahat, mencekam dan mematikan.

Tiba-tiba Cassandra merasakan udara di sekelilingnya berubah sedingin es. Begitu pula seperti yang dirasakan Taeyeon dan Jessica. Cassandra tidak berkedip melihat ke depan. Disana terdengar desis-desis seperti ular serta menyeruaknya rombongan penyihir hitam yang tadi datang. Mereka semua menepi bak membentuk sebuah jalan menuju Cassandra dan Kim bersaudari.

Dan pada saat itulah, mereka melihat kembali wanita yang telah menghancurkan keluarga serta dunia mereka dulu.

Damnitri.

 

 

“Yang Mulia, tidakkah seharusnya kita segera bertindak? Cassandra dan Kim bersaudari sedang dalam bahaya! Bahkan mereka bisa saja menemukan Pangeran Siwon!”

Sang Raja tetap bersikap tenang, meskipun kini ia tengah melihat keadaan genting di kolam kenangan. Kolam itu memperlihatkan bagaimana suasana yang sedang berlangsung di tempat Damnitri dan Cassandra. Sang Raja juga bisa melihat keadaan Tiffany yang masih berlutut tak berdaya di tanah. Sementara Damnitri telah hadir di hadapan mereka.

Beberapa petinggi istana sihir bergerak-gerak resah di belakang raja. Mereka mengkhawatirkan keadaan Cassandra dan Kim bersaudari. Terlebih lagi Siwon masih berada disana. Damnitri bisa saja melihat keberadaan Siwon jika khasiat ramuan itu sudah habis.

Namun mereka tetap tidak bisa bergerak jika sang Raja belum memberikan perintah apapun.

Tiba-tiba Raja pun tersenyum tipis. Ia mengangkat tangan kanannya seraya menghadap ke penyihir petinggi para dewa.

“Tenanglah semuanya. Yakinlah bahwa Tiffany akan mengatasi semua ini. Petinggi sihir Demon?”

“Hamba, Yang Mulia!” Seorang penyihir dengan tubuh sangat kekar maju satu langkah.

“Panggil Dewa Kematian dan sediakan satu nyawa.”

Petinggi sihir Demon tampak mengernyitkan kening. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi, untuk siapa?”

Sang Raja tersenyum tipis di balik kumis dan janggutnya. “Untuk siapa saja yang mengorbankan miliknya di peperangan itu.”

 

 

Good to see you again, guys!

Gimana? Ada yang tegang? Saya pun tegang -,-😀

FYI, ada satu tokoh yang hmm bisa dikatakan cukup penting akan tewas dalam pertarungan sihir di part ending. Mungkin ada dari kalian yang suka banget sama dia huhuhu (saya juga suka dia hiks hiks). Semoga Magic Kiss Superb Lips ini berkenan di hati kalian yaa :*

Ditunggu aja part 3 atau endingnya😉

 

 

 

 

 

107 thoughts on “(AR) Magic Kiss, Superb Lips Part 2

  1. Ulala~ kenapa harus ‘cut’ tiba-tiba sih bikin gregetan aja kak echa..
    Siwon udah mulai sweet-sweet an sama Fany kkk
    Aah terus KyuNa gimana? Oemji mudah-mudahan Kyuhyun bisa nyembuhin Yoona ye… tapi omong-omong KyuNa bisa hidup bareng kan? Maksud saya jadi sepasang kekasih gitu, bisa kan? Huwee bisain dums~ terus… apa Yoona juga bakalan jadi setengah serigala gegara gigitan Kyuhyun tadi? Gpp deh asalkan mereka bisa bareng :3

  2. Waaaahh.. Suka nih sama sifat cassandra.. Aku imagine nya cassandra itu yuri 😂😂😂 eeyy tiffany nafsu amat nyium siwon /ggg.. Wkwkwkk siwon baru kali pertama liat tiffany aja udah demen aee.. Cuitt cuitt… Waahhh yoona sama kyuhyun waahh 😱😱.. Sukaa juga part ini sukaa 👍

  3. bikin greget nih, kenapa malah distop sampai sini sih. kan bikin penasaran jadinya
    siwon udah mulai suka sama tiffany nih ye, fany juga pengin banget nyium siwon
    berasa kayak drama nih, overall keren banget, aku suka

  4. Mkin seru n pnsaran. akhirny fany bs slesaikn tgsny dgn mbwt siwon sdr. takdir br utk keduany. bhkn siwon ikt dlm dunia mrk utk ikt bnt fany n sdrny. tp rasa cinta dlm hati mrk tmbuh dgn perlhn.
    sesak rsny lht jessica sgt khwtr akn yoona ampe tak prdulikn drny. tae yg sll bs menenangkn sica jg berush utk tng.

    kadihn yoona dlm bhya bhkn bs sj meninggl. tp ap yoona jg akn betubh sprt kyu? tol slmtkn yoona dia tlh tggung resiko yg ancm nyawany.

    fany tunjukkn kekuatanmu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s