(AR) Magic Kiss, Superb Lips Part 1

Magic Kiss, Superb Lips 

magic kiss

Author : @echa_mardian

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon

Other Cast : Im YoonA, Jung Jessica, Kim Taeyeon, Cho Kyuhyun

Genre : Fantasy,Family, Romance, Comedy

“Thanks to blog Ardiana Rose for the magical spell.”

 

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission. 

 “Fany-ah, mari kita berpisah. Aku rasa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku…benar-benar minta maaf padamu.”

Sosok pria tinggi dan tampan itu berdiri tegap di depan seorang gadis yang jauh lebih rendah darinya. Kata-kata tadi diucapkannya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan si gadis. Sementara gadis itu hanya tersenyum tipis penuh ketulusan. Baginya ucapan pria itu biasa saja. Bahkan gadis itu ingin sekali mengabaikannya.

“Hmm, bolehkah aku tahu apa alasanmu memutuskanku, Oppa?”

Pria yang ditanya tergagap. Ia tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan alasan itu kepada si gadis. Lagi-lagi ia takut gadis di hadapannya tersinggung.

“Itu karena…karena…eung..”

“Katakan saja, Oppa. Jangan gugup seperti itu. Aku tidak akan marah padamu.”

Sejenak pria itu tampak ragu. Namun lambat laun gadis itu akan tahu. Jadi, ia memilih untuk mengatakannya saja.

“Aku…harus menikah dengan gadis pilihan orangtuaku, Fany-ah.”

 

 

-Kims-

 

Matahari telah terbit sejak 2 jam yang lalu akan tetapi seorang gadis cantik bernama Tiffany masih terlelap dalam belaian mimpi-mimpi indahnya. Ia tidak berniat sedikitpun untuk bangun dan menolong saudari-saudarinya di dapur guna menyiapkan sarapan. Hari ini ia berencana tidur sepuasnya tanpa menghiraukan siapapun atau apapun.

Tetapi saudari-saudarinya—si kembar Taeyeon dan Jessica serta maknae mereka, Yoona—tidak membiarkan Tiffany melakukan rencana itu. Mereka mempunyai jadwal yang lebih penting dari hanya sekedar tidur.

“Kakak ketigaaaaaa!!!”

Tiffany merengut dan masuk ke dalam selimutnya, mengubur tubuhnya dalam-dalam ketika mendengar teriakan melengking si maknae. Yoona pasti ingin membangunkannya. Tiffany baru setengah sadar saat mendengar derap kaki yang cukup cepat menuju kamarnya. Sial, Tiffany lupa mengunci kamarnya semalam. Jadi gadis kurus itu pasti langsung melompat ke atas ranjangnya.

“Ireonaaaaa!”

Benar saja. Dalam sekejap tubuh Tiffany terguncang hebat karena hentakan yang sangat keras di atas ranjangnya. Siapa lagi kalau bukan Yoona! Gadis berambut hitam pekat itu—sama seperti Tiffany—tidak hanya menjatuhkan diri di atas ranjang, ia juga melompat-lompat seperti seorang anak kecil yang melompat di atas trampoline. Kontan saja membuat tubuh Tiffany terguncang kesana kemari.

“Ba-ngun-Eon-nieeee!!!” teriak Yoona lagi.

“YAAAAAAAHHH!” bentak Tiffany seraya duduk dari tidurnya. Rambutnya yang hitam tebal mencuat kemana-mana. Matanya masih sedikit bengkak akibat tidur terlalu larut malam. Bukannya takut, Yoona justru menyeringai jahil. Ia terhenyak duduk di samping Tiffany kemudian membuat wajah polos seperti anak yang tidak berdosa.

“Tiffy Eonnie, kita harus segera sarapan karena hari ini kita mempunyai rapat penting dengan Sang Ketua,” ujar Yoona lembut seraya merapikan rambut Tiffany. Tiffany mendesah malas ketika mendengar kata rapat dari mulut Yoona. Hal yang paling mengerikan sekaligus membosankan baginya.

“Bisakah aku tidak hadir kali ini saja? Aku benar-benar lelah dan masih mengantuk, Yoongie!” keluh Tiffany.

“Siapa suruh kau tidur pukul 4 pagi? Eonnie, kau tidak bisa alfa dalam pertemuan kali ini sebab Sang Ketua perlu berbicara denganmu. Sekarang ayo gosok gigi dan cuci wajahmu dulu sebelum sarapan. Si kembar yang cerewet itu sudah menunggu di dapur. Sejak setengah jam yang lalu mereka tidak berhenti mengom—“

“YOONA, KAMI MENDENGARMU!!!”

Yoona dan Tiffany terkekeh mendengar teriakan serentak dari dua gadis yang sedang berada di dapur. Meskipun jarak kamar Tiffany dengan dapur adalah dua lantai, Yoona lupa kalau Taeyeon dan Jessica bisa mendengar suara sejauh apapun.

“Hmm, baiklah. Sepertinya kita memang harus buru-buru. Eonnie, cepatlah sedikit. Aku akan turun terlebih dahulu agar mereka tidak mengomeliku lagi hihihi.”

Tiffany mengangguk. Terpaksa menuruti perintah adiknya daripada kedua gadis yang lebih tua itu menariknya turun ke bawah. Yoona turun dari ranjang, diikuti Tiffany. Tanpa berkata apa-apa lagi Tiffany langsung menuju kamar mandi sementara Yoona masih memandangi berkeliling.

“Aigoo, kamarmu berantakan sekali, Tiffy. Aku harus membersihkannya,” gumam Yoona.

Lalu, tanpa sepengetahuan Tiffany yang kini sedang di dalam kamar mandi, Yoona menjentikkan jarinya ke arah ranjang dan tersenyum. Dalam hitungan detik, kamar Tiffany kembali seperti sedia kala. Ranjang tertata rapi dan barang-barang lain terletak di tempatnya semula. Tidak ada lagi bantal dan baju yang berserakan dimana-mana. Pokoknya sangat bersih dan rapi.

“Eonnie, kamarmu sudah kubersihkan!”

“Oke, thanks darling!”

Yoona turun ke dapur. Ia bersenandung riang seraya melompati anak tangga kayu satu-persatu. Suasana rumah yang sangat sepi tidak membuat keriangan Yoona menurun. Baginya berada di rumah dengan ketiga saudarinya sangatlah menyenangkan. Lagipula rumah itu selalu tampak sepi.

Rumah mereka terbuat dari kayu. Diluar terlihat sangat rapuh dan menyeramkan sebab kurangnya sinar matahari yang masuk ke dalam sana. Namun jika masuk ke dalam rumah mereka, siapa saja akan terkesima. Interior yang terkesan gothic tetapi indah, dengan lukisan-lukisan kucing serta anjing di dindingnya. Rumah berlantai 3 tersebut memiliki cerobong asap di atasnya. Di masing-masing lantai terdapat dua kamar. Rumah itu tidak besar dan tidak pula kecil, sangat pas untuk keempat gadis tersebut.

Jangan pikir mereka tinggal di tengah-tengah kota atau di kota besar. Meskipun mereka bergaya modis dan unik, mereka sangat jauh dari kehidupan kota yang hiruk pikuk dan penuh dengan kesibukan. Rumah mereka terletak di tengah-tengah hutan, entah dimana rimbanya.

Mereka memang gadis-gadis yang tidak biasa, dilihat dari gaya serta letak tempat tinggal mereka. Belum lagi kebiasaan mereka yang sangat aneh. Bisa mendengar suara dari kejauhan serta membersihkan ruangan dengan hanya menjentikkan jari bukanlah hal biasa. Itu adalah beberapa contoh keanehan gadis-gadis ini. Lebih tepatnya mereka adalah…

“Kim Yoona, dimana Tiffy? Kenapa tidak menyeretnya turun?” tanya seorang gadis berambut hitam pekat sepinggang. Poni yang biasa menutupi keningnya kini sedikit tersibak karena keringat. Kim Jessica.

“Dia masih—“

Tring!

“Hei, aku disini, Sisters!”

Ketiganya—Taeyeon, Jessica dan Yoona—terlonjak kaget ketika salah satu kursi kosong di meja makan tiba-tiba ditempati sosok cantik yang tak lain adalah Tiffany. Ya, ia baru saja muncul disana, tanpa berjalan dari kamarnya.

“Kim Tiffany, berhentilah hilang dan muncul tiba-tiba di hadapan kami!” raung Taeyeon, gadis tertua berambut hitam sebahu. Tangannya yang sedang memegang gagang teko gemetaran.

“Sorry. Aku kira kalian menyuruhku buru-buru turun,” ucap Tiffany membela dirinya. Yoona menahan senyuman.

“Baiklah, sekarang ayo kita sarapan!” tukas Jessica.

“Ayo ayo ayooo!” Yoona menyahut gembira.

Taeyeon menjentikkan jarinya dengan gaya anggun kemudian makanan-makanan yang baru saja selesai dimasaknya melayang dengan sempurna menuju meja makan, dimana ketiga adiknya menunggu. Yoona menyesap bibir bawahnya saat memandangi satu persatu menu yang mendarat perlahan ke atas meja.

“Oh, sepertinya nikmat sekali. Oh Lord, aku mencintai kakak pertamaku,” gumam Yoona pelan sekali. Mendengar itu Taeyeon tersenyum lebar.

“Aku juga mencintaimu, Maknae.”

“Hanya Taenggo?” Jessica cemberut kepada Yoona dari seberang meja. Yoona meniupkan ciuman jauh untuk kakak keduanya.

“Tentu saja aku juga mencintaimu, Eonnie!” seru Yoona. Jessica pun terkikik. Tiffany diam-diam cemberut selagi Taeyeon bergabung dengan mereka.

“Ya ya ya, kalian bertiga membuatku seperti saudari tiri,” batin Tiffany.

Yoona, Jessica dan Taeyeon tersenyum diam-diam. Tentu saja mereka bisa mendengar suara batin Tiffany.

“Dan kami sangat mencintai si centil dan nakal Tiffy!” seru ketiga saudarinya serentak. Kontan saja Tiffany mendongak dan tertawa haru. Ya, mereka saling mencintai. Tiffany bersyukur ketiga gadis itu selalu ada untuknya.

“Baiklah. Mari kita berdoa terlebih dahulu. Yoona, kau yang pertama!” perintah Taeyeon.

Mereka berempat pun saling berpegangan tangan di atas meja bundar tersebut. Mata mereka terpejam dan senyuman manis terukir di masing-masing wajah cantik itu. Taeyeon, Jessica, Tiffany dan Yoona. Empat gadis luar biasa dengan kemampuan supranatural yang mereka miliki.

Kim Taeyeon, si sulung bertubuh mungil. Mata bulat, hidung dan bibir yang mungil, serta rambut hitam sebahu. Rambut hitam pekat adalah ciri khas Kim bersaudari. Hanya saja Tiffany yang memiliki rambut ikal, ketiga gadis lainnya berambut lurus. Taeyeon sangat dewasa, memperhatikan kepentingan serta keselamatan adik-adiknya dan seorang teladan yang sangat patut ditiru. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri demi Jessica, Tiffany dan Yoona.

Ada lagi Kim Jessica, saudari kembar Taeyeon. Fisik mereka tidak terlalu mirip, begitu pula dengan watak yang mereka miliki. Jessica adalah gadis tegas yang dingin, sensitive dan tidak suka kelalaian, namun ia memiliki hati yang sangat lembut. Tak jarang ia sering berbeda pendapat dengan Taeyeon mengenai hal mendidik kedua adik mereka. Jessica lebih sering mengomel dibandingkan Taeyeon.

Si kembar mempunyai pendengaran yang sangat menakjubkan. Mereka bisa mendengar suara bermil-mil jauhnya jika dalam keadaan konsentrasi penuh. Akan tetapi mereka tidak menggunakan hal itu setiap saat.

Anak ketiga yaitu Kim Tiffany atau sering dipanggil Tiffy oleh ketiga saudarinya. Tiffany tidak seberuntung Taeyeon, Jessica ataupun Yoona, dimana ketiga gadis itu mempunyai cukup banyak kemampuan dalam hal magis. Tiffany justru hanya mempunyai satu kemampuan, yakni berpindah tempat dalam tempo satu kejapan mata saja. Ketiga saudarinya pun tidak mempunyai kemampuan tersebut, hanya Tiffany seorang. Hal itu terkadang membuat Tiffany sering berkecil hati. Ia sering bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa membaca pikiran, menerbangkan benda-benda, atau memiliki pendengaran yang tajam seperti ketiga saudarinya.

Dan terakhir adalah Yoona. Si maknae yang jahil namun selalu menjadi penyemangat kakak-kakaknya. Ia sangat ahli menerbangkan benda, mempunyai kekuatan seperti laki-laki serta membaca pikiran dengan cukup baik. Yoona sangat dekat dan akrab dengan Taeyeon, Jessica maupun Tiffany. Sejak ia kecil, ia tidak pernah melihat sosok kedua orangtuanya. Namun Taeyeon selalu bisa menggantikan tempat itu di dalam hati Yoona.

Selama 20 tahun mereka menjadi yatim piatu, selama itulah Taeyeon mengurus ketiga saudarinya. Kedua orangtua mereka tewas terbunuh oleh sihir jahat Damnitri, ratu kegelapan yang telah memporak-porandakan dunia sihir putih yang tentram dan damai. Itu terjadi puluhan tahun yang lalu.

Taeyeon melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kedua orangtuanya tewas. Dibunuh secara mengenaskan oleh Damnitri beserta pengikutnya menggunakan mantra kematian atau ParaKer Curse. Beruntung saat itu seorang penyihir hebat dan baik hati bernama Cassandra menyelamatkan keempat putri pasangan Kim.

Taeyeon, Jessica, Tiffany dan Yoona adalah para penyihir dari dunia sihir putih. Mereka tumbuh menjadi gadis-gadis cantik dengan kemampuan sihir yang dilatih Cassandra. Mereka memanggilnya Sang Ketua. Karena mereka berbeda, mereka tidak tinggal serta berbaur dengan masyarakat lain. Ada alam tersendiri yang dikhususkan untuk orang-orang seperti mereka. Dan yang pasti, berada jauh dari jangkauan Damnitri serta pengikut-pengikutnya sebab Cassandra sudah melindungi keempat gadis ini dengan mantra Fidelius, yaitu mantra yang membuat objeknya tidak bisa ditemukan.

“Jadi, dia mencampakkanmu?”

Setiap pasang mata menatap Tiffany setelah mendengar pertanyaan Jessica. Sedangkan yang ditanya terperangah sejenak. Sebenarnya ia tidak perlu kaget lagi sebab ketiga saudarinya bisa memantau urusannya kapan saja lewat cermin ajaib yang mereka miliki di dalam rumah ini. Apa saja yang dilakukan Tiffany serta orang lain, bisa dipantau melalui cermin ajaib peninggalan ibu mereka yang digantung di ruang keluarga.

“Kalian sudah tahu semuanya tapi masih saja menanyaiku. Dasar tukang intip! Dan dia tidak mencampakkanku. Dia harus menikah dengan gadis pilihan orangtuanya,” ujar Tiffany kesal. Ia melanjutkan kunyahannya.

“Tentu saja kami sudah tahu. Tetapi kami ingin mendengarnya langsung dari mulutmu,” bujuk Taeyeon.

Tiffany mengangkat bahu. “Aku kan sudah mengatakannya. Dia harus menikah dengan gadis pilihan orangtuanya,” ulang Tiffany, mulai malas membahas kisah percintaan singkatnya.

Yoona mendelik. “Akukahuamaanasanna.”

“Hey, Yoong. Telan dulu makananmu!” tegur Jessica. Yoona buru-buru menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.

“Aku tahu apa alasannya, Eonnie. Orangtua Khun Oppa tidak setuju dengan gadis yang asal usulnya tidak jelas seperti Tiffany Eonnie. Aish, mungkin mereka merasa keluarganya yang paling  hebat sedunia. Ck, menyebalkan!”

Ketiga kakaknya terdiam setelah mendengar ucapan Yoona. Terutama Tiffany. Hatinya tidak sedih karena berpisah dengan Nichkhun, pria yang sudah dua bulan bersamanya. Akan tetapi karena alasan orangtua Nichkhun yang baru saja dikatakan Yoona. Khun adalah manusia biasa yang jatuh cinta kepada Tiffany. Namun tidak untuk keluarganya. Mereka melihat Tiffany begitu rendah karena tidak mempunyai orangtua bahkan tidak diketahui dimana tinggalnya. Nichkhun yang awalnya menentang pendapat kedua orangtuanya, entah mengapa menjadi berada di pihak yang juga memandang Tiffany seperti itu. Tiffany tahu alasannya, tetapi malas mengungkapkannya. Lagipula cintanya kepada Khun juga tidak terlalu mendalam.

“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku sudah muak mendengar nama pria itu.”

“Lebih baik Eonnie menjadikan Pangeran dunia sihir putih sebagai suami!” celetuk Yoona.

“Huss, Yoong. Tidak ada yang tahu dimana Pangeran dunia sihir putih sekarang!” tukas Taeyeon. Tiffany memutar bola matanya. Sampai kapan saudari-saudarinya ini berhenti membahas tentang pria dan cinta. Lagipula keberadaan Pangeran itu hanya mitos di dunia mereka.

“Tiffy, sebaiknya kau harus membalas pria itu. Seenaknya saja menghina keluarga kita. Keluarga kita memang tidak lengkap, tetapi bukan berarti mereka menjadikannya alasan untuk memisahkan anaknya darimu. Ya, sebenarnya aku sangat bahagia akhirnya kalian berpisah,” ujar Jessica, mengabaikan celotehan Yoona dan Taeyeon.

“Aku setuju dengan Jessica Eonnie! Mari kita beri pelajaran untuk Khun. Buat dia gatal-gatal seharian atau tertawa selama satu bulan. Otte?” seloroh Yoona. Matanya berbinar-binar jika sudah menyangkut kejahilan.

Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menusuk-nusuk kuning telurnya dengan garpu. “Terserah kalian. Aku hanya ingin menonton saja hihihi.”

Ketiganya ber-high five ria dan tidak berhenti terkikik. Terang saja membuat Taeyeon terheran-heran.

“Taenggo, berikan aku serbuk Moron Floo untuk membuat ramuannya, ne!” pinta Jessica.

“Taenggo Eonnie, tolong restui rencana kami!” sambung Yoona.

“Restui kepalamu!” semprot Taeyeon pada Yoona. Kemudian ia berbalik pada Jessica. “Sica, kau ingin membuat bocah tengik itu gatal-gatal selama satu bulan dengan bubuk Moron? Apa kau gila?!”

Jessica mengedikkan bahu tidak peduli. “Kalau begitu satu minggu saja, Taenggo.”

Taeyeon terdiam. Ia melirik Tiffany yang sedang tersenyum-senyum imut di seberang meja. Jelas sekali Tiffany menganggap ide kedua saudarinya itu brilian. Lalu Taeyeon berpikir lagi. Pria seperti Nichkhun memang harus diberi pelajaran karena telah menyakiti perasaan adiknya.

“Tidak, Sica. Jadikan saja dua minggu. Nanti malam kita buat ramuannya.”

 

Empat gadis cantik itu berjalan menyusuri hutan menuju sebuah gua tempat pertemuan mereka dengan Sang Ketua, yaitu Cassandra. Tiffany dan Taeyeon berjalan paling belakang, sementara Jessica menggandeng Yoona di depan mereka. Kesunyian hutan tersebut tidak membuat keempat gadis itu takut ataupun gentar. Justru sebaliknya. Yoona dan Jessica sesekali menyapa burung yang hinggap di ranting, Taeyeon yang mengejar katak lalu tertawa terbahak-bahak, serta Tiffany yang sibuk menghindari serangga. Ia sangat membenci serangga.

“Kira-kira apa yang akan disampaikan Cassandra nanti?” Tiffany bertanya-tanya seraya melemparkan pandangan pada Taeyeon.

“Aku tidak tahu, Tiffy. Apa menyangkut hubungan percintaanmu yang baru saja kandas?”

Tiffany melayangkan pukulan ringan di lengan kanan Taeyeon, sementara kakaknya itu tertawa puas. Cassandra bisa saja mengetahui hal itu, mengingat ia adalah seorang penyihir putih yang sangat hebat. Tetapi biasanya pertemuan yang jarang sekali mereka lakukan ini hanyalah sekedar memberitahu dimana posisi Damnitri sekarang atau membicarakan perkembangan kekuatan yang mereka miliki.

“Kenapa Cassandra tidak mengunjungi rumah kita saja? Dia lebih memilih goa yang gelap dan banyak nyamuk itu sebagai tempat pertemuan. Tidak elit sama sekali,” gerutu Jessica.

Yoona mengangguk-angguk setuju.

“Siapa yang tidak elit sama sekali, Nona Jessie?”

Sontak keempatnya terlonjak kaget ketika sebuah sosok tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Seorang wanita berkulit sedikit coklat, lebih tinggi dari Yoona, memakai topi kain berbentuk kerucut yang sudah robek di beberapa bagian, serta jubah hitam yang lusuh. Wanita itu memakai lipstick yang paling merah menurut Tiffany. Lingkaran matanya lebih hitam dari pertemuan mereka sebelumnya. Tiffany bertanya-tanya apakah penyihir wanita itu tidur yang cukup atau tidak.

“Omo! Cassandra! Kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak!” seru Yoona.

“Aish, seperti Tiffany saja yang suka hilang timbul sesukanya,” gerutu Taeyeon.

“Yah!” sembur Tiffany pada si sulung itu.

Sedangkan Jessica hanya menggaruk-garuk kepalanya, merasa bersalah kepada Cassandra karena telah mengatakan wanita itu tidak elit sama sekali. Cassandra, penyihir putih yang baik hati, telah hadir di hadapan mereka. Jadi mereka tidak perlu bersusah payah menemuinya di goa yang telah ditentukan.

“Cassie, kenapa tidak menunggu kami di goa?” tanya Tiffany penasaran.

Cassandra berjalan mendekati mereka sambil menyingsingkan jubahnya lebih tinggi. “Karena aku mendengar seseorang menggerutu tentang tempat pertemuan itu,” sindirnya seraya mengerling pada Jessica.

“I’m so sorry, Cassie. Aku hanya heran saja kenapa kau ingin bertemu di goa,” ucap Jessica.

Cassandra menghela napas. Kemudian ia mengangkat tangannya, menjentikkannya beberapa kali lalu dalam sekejap, sebuah tikar piknik dan satu keranjangnya muncul di dekat kaki mereka. Cassandra tersenyum bangga kemudian menunjuk tikar yang telah terbentang itu.

“Bagaimana kalau disini saja? Cukup elit, bukan? Kita bisa piknik sambil mendengar suara aliran sungai dan kicauan burung. Aku juga tadinya berpikir, goa itu tempat yang sangat tidak berkelas. Ayo, kita duduk.”

Taeyeon dan Tiffany saling pandang dengan penuh kejengkelan, sementara Yoona serta Jessica telah duduk mengikuti Cassandra.

“Dasar penyihir aneh,” Tiffany tidak bisa menahan batinnya bersuara.

“Ehem. Aku bisa mendengarmu, Tiffeny!” tukas Cassandra.

“Yah! Namaku Tiffany, bukan Tiffeny!” ralat Tiffany sedikit kesal. Cassandra memasang ekspresi whatever sembari membenarkan posisi duduknya. Kini mereka telah duduk di atas tikar dan di tengah-tengah mereka masih terletak keranjang piknik yang bentuknya unik serta manis.

Untuk sesaat mereka tidak berbicara apa-apa, sementara Yoona tidak bisa melepas pandangan dari keranjang piknik tersebut. Jelas sekali ia merasa lapar lagi. Cassandra berdehem keras, sok berwibawa. Kebiasaan yang selalu ditunjukkannya di depan keempat gadis Kim. Kini perhatian mereka terpusat pada penyihir wanita itu. Jika dilihat dari sikap dan gelagatnya, tidak ada yang akan percaya bahwa wanita yang sedikit konyol itu adalah penyihir hebat.

“Jadi, kita berkumpul disini untuk membicarakan sesuatu hal yang penting, terutama untuk Tiffeny,” Cassandra mulai berbicara dan membuat jeda. Otomatis tatapan mereka beralih pada Tiffany. “Aku harus menyampaikan sebuah tugas penting untukmu, Tiffeny.”

Tiffany mendesah kemudian mengangguk. Meskipun hatinya menggerutu karena wanita itu selalu memanggilnya Tiffeny.

“Tapi sebelumnya, aku dengar kau baru saja putus dari pria beralis mata tebal itu. Siapa namanya? Nichune?” seloroh Cassandra dengan mata berbinar-binar. Alis matanya yang hampir tak terlihat itu diangkat setinggi mungkin hingga menghilang di kening lebarnya.

“Astaga, Cassie. Cukup namaku saja yang kau ubah. Namanya Nichkhun!” ralat Tiffany. Bukannya merasa bersalah, Cassandra justru terkekeh.

“Jadi benar kau putus dengannya? Kalau begitu baguslah. Tugasmu akan lebih mudah.”

Taeyeon, Jessica dan Yoona saling pandang. Sementara Tiffany menunggu apa yang akan disampaikan Cassandra dengan napas tertahan. Ia tidak pernah mendapatkan tugas, begitu pula dengan Yoona. Hanya Taeyeon dan Jessica yang pernah mendapatkannya. Itupun tugas yang tidak terlalu berbahaya. Mereka diperintahkan untuk menyelamatkan anak-anak bertuah yang dikurung oleh pengikut Damnitri di gunung batu Doom yang terletak bermil-mil jauhnya dari Korea Selatan. Taeyeon dan Jessica memang berhasil menyelamatkan anak-anak bertuah, namun Jessica harus lumpuh total karena terkena mantra Paralizzare dari pengikut Damnitri. Butuh satu minggu untuk Taeyeon, Tiffany dan Yoona membuat ramuan Saluciotum yaitu ramuan penyembuh korban yang terkena mantra pelumpuh tersebut.

“Satu pertanyaan lagi, Tiffeny! Apa kau pernah berciuman?” tanya Cassandra tiba-tiba.

“Nde?” Tiffany terkejut. Wajahnya kontan merona merah. Dari sudut-sudut matanya, ia bisa melihat Taeyeon, Jessica dan Yoona menatapnya penuh minat.

“Pernah atau tidak?” Cassandra bertanya lebih tegas.

“Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa ada hubungannya dengan tugasku?” Tiffany membalikkan pertanyaan.

Cassandra mengangguk yakin. “Jawab saja pertanyaan Sang Ketua ini, hehe.”

Taeyeon menyikut Tiffany. “Jawab saja,” bisik Taeyeon.

Tiffany menghela napas. “Belum.”

“Mwooo?” teriak Taeyeon, Jessica dan Yoona tidak menyangka. Cassandra hanya tersenyum lalu mengangguk-angguk kecil.

“Aku memang belum pernah berciuman sebelumnya. Mungkin itu salah satu penyebab Khun Oppa memutuskanku. Aku selalu menolak jika ia ingin menciumku. Jangan tanyakan apa alasannya! Aku hanya takut berciuman dengan manusia. Siapa tahu mereka membawa virus yang membahayakanku!” tutur Tiffany tanpa ditanya.

“Lalu apa yang membuatmu bertahan dengannya?” tuntut Jessica.

Tiffany terdiam sebentar lalu mengangkat bahu. “Hanya ingin tahu bagaimana rasanya berkencan dan menonton bioskop.”

Taeyeon, Jessica dan Yoona terkekeh. Tiffany tetaplah Tiffany, gadis sembrono yang selalu penasaran.

“Sudahlah, kita kembali ke topik!” Cassandra menginterupsi pembicaraan mereka. “Apakah kalian pernah mendengar kisah Pangeran dunia sihir putih?”

Kali ini keempat gadis Kim terdiam. Hanya terdengar suara kicauan burung dan aliran sungai yang tentram. Tentu saja mereka pernah mendengar mitos tentang Pangeran tampan dari dunia sihir putih. Sebenarnya hal itu belum terbukti kebenarannya sebab ada yang mengatakan kalau Pangeran tersebut berdarah setengah manusia. Lebih jauh dari itu, keempat gadis Kim memang tidak tahu apa-apa lagi. Mitos itu memang tabu untuk diperbincangkan.

“Bukankah itu hanya Mitos, Cassie?” tanya Taeyeon.

“Tentu saja bukan!” tukas Cassandra. “Pangeran itu memang ada dan sekarang ia sedang sekarat!”

Rahang Taeyeon, Tiffany, Jessica dan Yoona serentak turun. Mereka terperangah untuk beberapa detik. Jadi, mitos itu benar?

“Pangeran itu memang setengah manusia. Dulu, Raja dunia sihir memiliki hubungan asmara dengan seorang pendaki bernama Choi Shin Hye. Walaupun pertemuan mereka sangat singkat, tetapi akhirnya Shin Hye mengandung anak Raja. Sebelum Raja mengetahui kalau Shin Hye mengandung benihnya, Damnitri datang untuk mengacau. Damnitri menyamar menjadi Shin Hye dan membunuh istri pertama Raja. Hal itu membuat Raja murka pada Shin Hye dan ia pun tidak ingin lagi mengenal Shin Hye,” ujar Cassandra.

“Lagi-lagi Nenek sihir jahat itu! Apa yang membuatnya merusak hubungan mereka?” tandas Yoona kesal.

“Tentu saja untuk menghancurkan Raja dan menguasai dunia sihir putih. Tapi sayang sekali, Damnitri harus menghadapiku terlebih dahulu untuk membunuh Raja dan petinggi sihir lainnya. Kalian tahu kan, aku adalah seorang penyelamat. Hahahaha!”

Taeyeon, Jessica, Tiffany dan Yoona serentak memutar bola mata mereka.

“Jadi, saat ini Pangeran setengah manusia itu berusia kira-kira 30 tahun. Namanya Choi Siwon. Ia sama sekali tidak tahu kalau Ayahnya adalah Raja dunia sihir putih. Aku tidak tahu apakah ia juga memiliki kekuatan sihir atau tidak. Aku tidak bisa mendeteksi jika seseorang itu tidak berdarah sihir murni. Yang kutahu, Choi Siwon adalah seorang pemahat patung yang cukup terkenal di dunia manusia.”

“Lalu, apakah sampai saat ini Raja tidak tahu kalau ia mempunyai seorang putra?” tanya Tiffany. Ia merasa sedikit iba kepada Pangeran Siwon.

“Ia sudah tahu. Tetapi kondisi membuatnya bertahan untuk tidak mempertanyakan hal itu kepada Shin Hye, sebab Shin Hye sudah sangat membencinya karena tuduhan pembunuhan terhadap istri pertamanya.”

Sejenak mereka terdiam. Tiffany kembali memikirkan apa tugasnya. Tadi Sang Ketua mengatakan kalau Siwon sedang sekarat. Apa tugasnya adalah untuk menyembuhkan Pangeran Siwon?

“Jadi, apa tugasku?”

Cassandra tersenyum tulus seraya menatap lekat mata Tiffany.

“Tiffeny, kau adalah penyihir yang terpilih untuk menyembuhkan Pangeran Choi Siwon. Sebab hanya kau penyihir abad 21 ini yang pernah memiliki hubungan emosional dengan manusia. Dan lagi, kau belum pernah berciuman. Bibirmu masih perawan. Sejauh ini apa kau mengerti?”

Taeyeon, Jessica dan Yoona menutup mulut. Sementara Tiffany melototkan matanya. Tidak, ia tidak mengerti! Apa-apaan Cassandra?! Tiba-tiba ia menceritakan tentang Pangeran dunia sihir putih yang benar-benar ada dan mengumumkan kalau Tiffany adalah satu-satunya penyembuh Pangeran Siwon itu! Dan apa hubungannya dengan bibir Tiffany yang masih perawan?!

“Omo! Ini sungguh mengejutkanku! Cassie, apa hubungannya dengan ciuman Tiffany?” Taeyeon hampir saja berteriak.

“Pangeran Siwon hanya bisa sembuh jika penyihir terpilih menciumnya. Ciuman itu akan memulihkan kembali luka-luka yang dialaminya. For your information, Pangeran mengalami kecelakaan parah enam bulan yang lalu dan ia koma sampai sekarang.”

“Sudah 6 bulan berlalu tetapi kau baru mengatakannya sekarang?” tanya Tiffany.

“Karena selama 6 bulan itu Raja sendiri yang mengutus orang-orangnya ke dunia manusia dan mereka tidak berhasil. Akhirnya aku turun tangan dan mencari penyebabnya. Kalian tahu, tidak mudah untuk membantu manusia setengah penyihir. Dan ternyata Pangeran hanya bisa disembuhkan oleh seorang penyihir terpilih. Kaulah orangnya, Tiffeny.”

Tiffany terhenyak di tempatnya. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa dia adalah penyihir terpilih yang harus menjalani tugas ini. Memberi ciuman penyembuh untuk sang Pangeran. Apakah ia sanggup? Ia sendiri tidak mempercayai dirinya.

“Selama kau melakukan tugas itu, kau akan tinggal di apartemen yang telah kusediakan. Apartemen itu bersebelahan dengan apartemen yang ditempati Pangeran Choi Siwon. Pangeran dirawat oleh Shin Hye di apartemennya, bukan di rumah sakit,” lanjut Cassandra.

“Memangnya kau sudah melihat keadaan Pangeran Siwon?” tanya Yoona.

“Tentu saja sudah. Aku sangat ahli menyamar. Aku menyamar menjadi suster yang membantu Shin Hye merawat Pangeran.”

“Kenapa aku harus tinggal di dunia manusia? Tidak bisakah aku pulang ke rumahku setiap malam?” tuntut Tiffany.

Selama berhubungan dengan Khun, Tiffany selalu menolak diantar pulang karena ia hanya perlu menghilang dalam sekejap mata untuk sampai di rumahnya.

“Tidak, tidak, tidak. Kau harus berada di dekat Pangeran setidaknya sampai ia pulih benar. Jangan membantahku! Besok kau harus ikut denganku menemui Raja. Kau harus diberi restu terlebih dahulu.”

Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Menemui Raja? Hal yang belum pernah dilakukannya seumur hidup. Sementara Taeyeon dan Jessica pernah menemui Raja satu kali sebelum mengemban tugas mereka dulu.

“Dan satu lagi. Kau tidak boleh menggunakan kekuatan menghilangmu di dunia manusia. Tugas ini menuntutmu untuk fokus. Mengerti?”

“Aku…tidak tahu harus berkata apa,” gumam Tiffany. Jessica mengelus rambutnya dengan sayang.

Honey, kami mendukungmu. Kau pasti bisa!” ucap Jessica.

“Nde, Tiffy. Lagipula, tugasmu menyenangkan sekali,” goda Taeyeon.

“Diam kau, Ahjumma!” desis Tiffany.

Sementara itu, Yoona melirik Cassandra. Perutnya tidak bisa diajak kompromi selagi keranjang piknik masih terletak manis di depan mereka. “Sang Ketua, bisakah kita mulai piknik sederhana ini?”

 

Tiffany melamun sambil terus mengiris akar kaktus dan memasukkannya ke dalam panci tanah liat yang sedang mendidihkan ramuan di dalamnya. Ia menghela napas berat selagi meremukkan taring ular di atas meja. Pukulan tangan Tiffany untuk meremukkannya sangat berlebihan sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Kontan saja mengundang perhatian ketiga saudarinya.

“Tiffy, remukkan taring ular itu dengan benar!” tegur Taeyeon. Tiffany mendongak dan mengerjap bingung.

“Nde?”

“Eonnie, kau tidak meremukkan taringnya, tapi menghancurkannya!” seru Yoona seraya mengangkat tangan Tiffany. Benar saja. Taring ular yang sudah mengering itu hancur di telapak tangan Tiffany. Tiffany menggigit bibirnya. Tidak disangka kekuatannya sangat berlebihan jika melamun.

“Oops, sorry. Aku akan meremukkan taring yang baru.”

Tiffany bangkit dari bangkunya kemudian berjalan ke lemari penyimpan bahan-bahan ramuan. Mereka berempat sedang membuat ramuan gatal-gatal, seperti yang telah direncanakan tadi pagi. Tentu saja ramuan itu untuk Nichkhun. Tapi tampaknya Tiffany tidak berkonsentrasi. Ia sibuk memikirkan tugas pertama yang diberikan Cassandra padanya.

“Satu buah taring ular cobra yang sudah diremukkan, akar kaktus, lendir katak hijau bertanduk, ginjal kambing dan terakhir, bubuk Moron Floo. Yoona, apa saja yang sudah kau masukkan?” tutur Jessica yang sedang mengaduk-aduk ramuan di dalam air mendidih.

“Sudah semuanya kecuali taring ular cobra yang sudah diremukkan,” jawab Yoona cepat. Kemudian ia berbalik pada Tiffany yang kembali ke bangkunya dengan sebuah taring ular cobra yang baru. “Tiffany Eonnie, berkonsentrasilah sedikit! Apa yang kau pikirkan?”

“Tidak ada,” jawab Tiffany singkat. Kali ini ia meremukkan taring ular dengan benar kemudian memasukkannya ke dalam adukan ramuan yang sedang mendidih. Taeyeon yang sedang mencatat beberapa mantra di meja lainnya menatap lurus pada Tiffany. Ia tahu kalau adiknya itu tengah memikirkan tugas pertamanya.

“Sudahlah, Tiffy. Tugasmu tidak begitu sulit. Sebenarnya kami ingin sekali membantumu, tetapi apa daya, kami memang tidak menjadi yang terpilih,” ujar Taeyeon.

Tiffany tersenyum. “Aku hanya berpikir, apakah aku bisa berpisah dengan kalian atau tidak. Sang Ketua menyuruhku untuk tinggal disana. Tidak mungkin aku bisa menemui kalian setiap saat.”

Taeyeon, Jessica dan Yoona saling pandang mendengar ungkapan tersebut. Mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing dan berjalan mendekati Tiffany. Sejak dulu Tiffany tidak pernah jauh dari ketiga saudarinya. Meskipun ia mempunyai kekuatan menghilang, Cassandra melarangnya melakukan itu selama ia menjalankan tugas pertama ini. Dan itu membuat Tiffany tersiksa.

Tiffany menyambut pelukan ketiga saudarinya dalam waktu yang bersamaan. Taeyeon berada paling atas jadi ia bisa memeluk ketiga adiknya sekaligus. Mereka saling melempar tawa dan sesekali mengecup puncak kepala Tiffany. Tak ada yang lebih bahagia daripada momen ini menurut anak ketiga gadis Kim itu. Taeyeon, Jessica dan Yoona adalah sumber kekuatannya.

“Kami akan selalu mendoakanmu, Tiffy. Meskipun kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu, kita kan bisa berkomunikasi lewat cermin ajaib,” hibur Taeyeon.

“Benar, Tiffy. Lakukan yang terbaik untuk Pangeran. Kau harus berhasil seperti kami dulu,” tambah Jessica.

Tiffany menganggukkan kepalanya yang terletak di bahu Yoona.

“Aku akan melakukan yang terbaik,” bisiknya.

“Eonnie, aku akan selalu mengawasimu. Aku akan selalu menunggu sampai waktunya kau kembali ke rumah,” ungkap Yoona dengan suara serak.

“Ah, Yoong. Kau membuatku terharu. Aku mencintaimu. Aku mencintai kalian!”

Mereka kembali tertawa tanpa memperhatikan keadaan sekitar, termasuk ramuan yang seharusnya tidak boleh berhenti diaduk.

 

 

 

 

 

 

 

-Ready?-

 

 

Tiffany terpaku melihat kastil megah di hadapannya dengan mulut setengah terbuka. Bangunan tua dan kuno itu tampak sangat besar namun mempunyai kesan menyeramkan. Tiffany bergidik ngeri. Apa tempat ini benar-benar istana sang Raja? Ternyata jauh lebih baik rumahnya. Meskipun jauh dari kata megah, rumahnya terlihat sangat antik dan asri. Tiffany memperhatikan 6 orang pengawal yang berdiri di depan gerbang. Ermm, sebenarnya mereka bukan manusia. Tiffany yakin kalau mereka adalah makhluk setengah kuda serta srigala. Tingginya saja mencapai 2,5 meter!

Cassandra menoleh pada Tiffany lalu tersenyum lebar melihat gadis itu tidak berhenti terperangah.

“Kau takut pada Horsolf?” tanya Cassandra tiba-tiba. Tiffany menoleh dengan cepat.

Horsolf?” ulangnya.

“Mereka,” Cassandra menunjuk para penjaga pintu. “Mereka adalah makhluk sensitive dan pembenci wanita, terutama wanita cantik. Oleh karena itu cepat pakai tudungmu. Aku tidak ingin kau masuk ke kastil sang Raja sambil berkejar-kejaran dengan mereka seperti Taeyeon dan Jessica saat itu.”

Tiffany mengangguk patuh. Ia memakai tudung jubahnya dan membiarkan rambut hitamnya terurai ke depan. Tiffany melirik Cassandra sekali lagi. Sedetik kemudian keningnya mengernyit heran.

“Cassie, kenapa kau juga memakai tudungmu?” Tiffany mempertanyakan aksi Cassandra yang juga menutupi kepalanya dengan tudung.

Cassandra mengangkat bahu dengan gaya angkuh. “Kau pikir hanya kau yang cantik. Sudahlah, jangan banyak komentar. Ayo, berjalan di belakangku!”

Tiffany memutar bola matanya. Sampai kapanpun sikap seenaknya Cassandra tidak akan hilang. Ia memulai langkahnya, tepat di belakang Cassandra. Ada perasaan ngeri dan dingin saat Tiffany mendekati para Horsolf. Tiffany mendongak sedikit agar ia bisa mengintip bagaimana rupa makhluk tersebut.

Wajahnya manusia dengan moncong serigala. Cuping telinganya runcing, persis seperti makhluk buas tersebut. Setengah tubuhnya, yakni dari perut ke kaki adalah tubuh kuda. Sebelah tangan mereka memegang sebuah tombak dan tangan lainnya memegang sebuah perisai baja.

Tiffany kembali menunduk, menatap sepatu botnya. Jika ia berlama-lama menatap wajah Horsolf maka perutnya akan mual.

“Kami ingin bertemu dengan Yang Mulia,” Tiffany bisa mendengar suara tegas Cassandra.

Dan tepat saat itu, dua Horsolf membungkuk padanya. Tiffany cukup terkejut melihatnya. Cassandra memang dihormati dimanapun ia berada. Tapi hanya di dunia sihir putih sebab ia sangat ditakuti sekaligus dibenci di dunia sihir hitam.

Bicara tentang dunia sihir hitam, sampai sekarang Tiffany dan saudari-saudarinya tidak tahu dimanakah tempat itu. Dan tentu saja, mereka tidak ingin tahu.

“Ayo, Tiffeny!” ucap Cassandra kemudian.

Tiffany kembali berjalan di belakang Cassandra dengan sedikit terburu-buru. Ia hanya takut makhluk-makhluk sangar itu mengikutinya. Sambil mengatur napasnya, Tiffany berjalan di samping Cassandra.

“Cassie, mereka takut padamu ya! Waaa, daebak!”

“Sssstt, kita sudah memasuki lingkungan kastil. Jangan bicara kecuali Raja dan petinggi sihir lainnya menanyaimu. Kau paham?” desis Cassandra. Tiffany mengangguk kuat.

“Bukalah tudungmu!” perintah Cassandra. Tiffany melakukan perintah Cassandra lalu merapikan rambutnya.

Barulah Tiffany bisa melihat isi kastil ini. Ternyata sangat jauh berbeda dari penampilan luarnya. Tiffany menyipitkan mata karena mendapatkan cahaya berkilau yang berlebihan dari lantai serta tiang-tiang besarnya. Semuanya terbuat dari kristal! Sangat jernih dan berkilau. Tiffany mendongakkan kepalanya ke atas dan terkagum-kagum saat melihat atap yang begitu tinggi. Ada awan-awan kecil di atas kepalanya.

Apa ini replika surga, batin Tiffany. Kastil Raja dunia sihir putih memang sangat menakjubkan. Ada beberapa lukisan yang terpajang di dindingnya. Banyak tokoh disana, ada yang sendirian, berpasangan serta berkelompok. Semuanya tersenyum tulus. Tampan-tampan dan cantik-cantik. Tiffany menebak kalau mereka adalah penyihir-penyihir terdahulu atau anggota kerajaan.

Dan saat matanya melihat sebuah lukisan dengan objek yang sangat dikenalnya, mata gadis itu membulat sempurna. Taeyeon dan Jessica? Benarkah itu mereka? Untuk memastikannya, Tiffany berhenti mengikuti langkah Cassandra dan berlari mendekati lukisan tersebut. Ia menajamkan penglihatannya untuk meneliti apakah benar itu adalah lukisan Taeyeon dan Jessica.

“Wah, Taenggo dan Jessie Eonnie! Hebat sekali ada lukisan mereka disini!” seru Tiffany.

Taeyeon dan Jessica saling berpegangan tangan di dalam lukisan tersebut. Mereka mengenakan gaun panjang putih yang sama dan tersenyum lebar. Lukisan itu terlihat sangat nyata seperti aslinya. Kira-kira apa yang membuat lukisan mereka ada di kastil Raja?

“Kalau kau berhasil menjalankan tugasmu, lukisanmu juga akan dipajang di kastil ini.”

Tiffany terlonjak ketika mendengar suara bass di belakangnya. Ia segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Cassandra tidak berdiri seorang diri. Ia bersama seorang penyihir tua berjanggut sangat panjang hingga menyentuh lantai. Tiffany mengerjap kaget.

“Perkenalkan. Namaku Jong Hyu, penasehat kerajaan.”

Tiffany membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. “Saya Kim Tiffany.”

Penasehat Jong tersenyum melihat gesture Tiffany. Dalam sekejap ia bisa menebak bagaimana karakter gadis itu.

“Bolehkah aku bertanya, Penasehat Jong?” tanya Tiffany setelah berdiri tegak. Pria itu mengangguk lemah. “Kenapa lukisan dua saudariku ada disini? Dan apa maksud perkataan Anda tadi?”

“Oh, jadi kau penasaran, ya. Hmm, baiklah. Akan kuberitahu. Lukisan-lukisan di dalam kastil ini adalah lukisan para pahlawan dari dunia sihir putih. Dengan adanya lukisan mereka disini, mereka akan mendapatkan berkat dari Yang Mulia.”

Tiffany mengangguk paham. Taeyeon dan Jessica pernah menyelamatkan anak-anak bertuah satu kali, oleh sebab itu mereka mendapat penghargaan dari Raja dengan memajang lukisan ini di kastil. Tiffany tersenyum bangga.

“Kalau begitu, ayo ikuti aku. Yang Mulia sudah menunggu di singgasananya,” ucap Penasehat Jong.

Saat Penasehat Jong memimpin jalan mereka, Cassandra berjalan di depan Tiffany. Sesekali ia melirik pada gadis berambut hitam tersebut. Tiffany tidak terlalu mempedulikan Cassandra sebab ia sibuk memperhatikan interior kastil dan terkagum-kagum dalam hati. Kastil ini sangat patut menjadi tempat tinggal sang Raja. Sayang sekali ia tidak mempunyai anggota keluarga lain selain petinggi-petinggi sihir. Satu-satunya keturunan yang Raja miliki hanya Pangeran Siwon.

Tiba-tiba Tiffany teringat sesuatu. Ia belum sempat bertanya pada Cassandra apakah Pangeran Siwon sudah mempunyai kekasih atau belum. Itu penting! Karena Tiffany akan kesulitan untuk menjalani tugasnya jika ada kekasih Siwon di sampingnya.

“Pssstt,” desis Tiffany. Cassandra menoleh padanya dan mengangkat alis. “Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Nanti saja. Kita hampir sampai,” Cassandra balas berbisik.

“Tapi ini pen—“

“Kita sudah sampai!” seruan Penasehat Jong membuat Tiffany bungkam. Pria berjanggut putih panjang itu membalikkan badannya dan heran melihat mulut Tiffany yang terbuka. “Ya, Nona Tiffany? Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?”

Tiffany segera menutup mulutnya lalu tersenyum canggung. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak ada, Penasehat Jong.”

Setelah itu Tiffany baru menyadari kalau kini mereka berdiri di depan sebuah pintu yang amat tinggi. Puncaknya mencapai langit-langit kastil yang berawan. Tiffany mendongak dan bergumam wow berkali-kali. Detik selanjutnya Tiffany mendengar suara derik pintu kayu yang menggema di seluruh sudut kastil. Pintu kayu berukiran klasik itu terbuka perlahan, menguak apa yang ada di baliknya.

Tiffany tidak berani berkedip demi menyaksikan apa yang dilihatnya di dalam. Ruangan yang amat megah itu tampak luar biasa. Banyak awan putih yang mengisi ruangan tersebut namun tidak menghalangi setiap penghuninya yang duduk disana. Tiffany bahkan tidak bisa melihat lantai karena semuanya tertutupi awan. Hanya ada satu jalur menuju singgasana Raja. Di samping kiri dan kanan terisi penuh dengan kursi-kursi emas yang melayang di udara. Tentu saja kursi-kursi itu memiliki penghuninya. Tetapi mereka kini tengah berdiri dan melipat tangan di perut. Semuanya mempunyai gaya seperti Penasehat Jong.

Tiffany tidak sanggup menggerakkan kakinya untuk melangkah mengikuti Penasehat Jong serta Cassandra. Tangannya berkeringat dingin ketika melihat tatapan semua pasang mata mengarah padanya. Terutama tatapan sang Raja yang kini duduk tenang di singgasananya. Sebelah tangannya berpegangan pada tongkat emas berkepala phoenix.

Sejauh matanya memandang kepada Raja, ternyata sang Raja sangatlah tampan. Meskipun wajahnya ditumbuhi janggut hitam, justru memberi kesan berwibawa padanya. Tiffany menelan ludah. Apa ia sanggup berhadapan dengan Raja?

“Tiffeny!” desis Cassandra sambil membelalakkan matanya.

Terpaksa Tiffany menyeret langkahnya. Ruangan itu luar biasa dinginnya atau hanya karena perasaan gugup Tiffany saja. Ia memperhatikan kakinya saat berjalan. Ia bagaikan berjalan di atas awang-awang. Tiffany memberanikan dirinya untuk melirik para petinggi sihir yang dilewatinya. Tiffany mendesah lega. Mereka semua tersenyum pada Tiffany.

“Yang Mulia, hamba datang bersama Cassandra dan Nona Kim Tiffany!” ucap Penasehat Jong sambil menundukkan kepalanya. Sang Raja mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum.

“Terima kasih, Penasehat Jong. Silahkan kembali ke kursimu.”

Tiffany tersenyum di dalam hati mendengar suara tenang dan menyejukkan sang Raja. Penasehat Jong pun berjalan ke arah salah satu kursi petinggi sihir yang kosong tepat di dekat singgasana Raja. Ia terbang untuk duduk di kursinya. Tiffany hanya bisa berdecak kagum. Ia melirik Cassandra yang berdiri tenang di sampingnya. Terang saja Cassandra bisa bersikap tenang seperti itu. Ia pasti sudah sering ke kastil ini, pikir Tiffany.

“Jadi, benar kata Cassandra. Kau adalah gadis yang memiliki mata tercantik, Anakku.”

Mata Tiffany melebar, gugup. “Ye?”

Raja tersenyum lagi. Oh, betapa ramahnya. Tiffany memberikan kedipan terima kasih pada Cassandra kemudian kembali menatap sang Raja.

“Terima kasih, Yang Mulia!” ucapnya.

Sang Raja pun berdiri dengan bertumpu pada tongkatnya. Tiffany melipat tangannya di perut, seperti yang dilakukan Cassandra dan para petinggi sihir lainnya.

“Aku rasa kau telah mengetahui apa tugasmu karena aku telah mengutus Cassandra. Apakah ada yang ingin kau tanyakan sebelum mendapatkan sidang perestuan dari kami, Kim Tiffany?”

Tiffany terdiam sebentar. Tentu saja ada yang ingin ditanyakannya, bahkan lebih dari satu! Tetapi Tiffany rasa momennya tidak cocok. Tugas ini sepertinya sangat penting dan tidak ada yang ingin membuang-buang waktu.

“Tidak ada, Yang Mulia.”

Sang Raja mengangguk. “Kalau begitu, kami yang akan memberimu beberapa pertanyaan.”

Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan setiap petinggi sihir yang ada disana membuka buku bersampul emas yang sedari tadi ada di tangan mereka. Cassandra melirik Tiffany, memastikan penyihir muda itu baik-baik saja.

“Kim Tiffany! Berapa usiamu saat ini?” tanya Penasehat Jong. Ia memegang buku bersampul emas serta pena bulu. Sikapnya sedikit tegas daripada sebelumnya.

“24 tahun, Penasehat Jong!” jawab Tiffany singkat.

Kemudian ia melihat Penasehat Jong menuliskan sesuatu di bukunya. Tiffany mengernyit. Apa sudah waktunya mereka melakukan sidang perestuan?

“Kim Tiffany! Apakah kau sudah mengalami jatuh cinta?” tanya seorang petinggi sihir yang berwajah bulat yang kursinya di belakang Penasehat Jong.

“Erm…hanya satu kali dan itu tidak terlalu mendalam,” jawab Tiffany gugup. Lalu pria itu menulis di bukunya seraya menahan senyuman. Tiffany melirik Cassandra yang kini tengah berpandangan dengan Raja.

“Satu lagi, Kim Tiffany. Untuk memastikan bibirmu masih suci dari sentuhan lawan jenis, kau harus meminum ramuan yang akan kami berikan.”

Wajah Tiffany kontan memerah. Kenapa pertanyaan mereka sampai ke hal-hal memalukan seperti itu? Tidakkah mereka terlalu ingin tahu? Lagipula Cassandra bisa memberitahu mereka.

Seseorang memberikan gelas berkaki panjang yang terbuat dari kristal kepada Cassandra. Tiffany bisa melihat cairan bening di dalamnya. Cassandra mendekat pada Tiffany dan mengulurkan gelas tersebut.

“Minumlah ramuan ini seteguk saja. Jika kau berbohong, ramuan Truthos ini akan berubah warna menjadi hitam,” ujar Cassandra. Tiffany menerima gelas tersebut lalu cemberut.

“Aku tidak berbohong, Cassie. Tapi, ya sudahlah.”

Tiffany meneguk ramuan itu sedikit saja lalu mengembalikan gelas tersebut pada Cassandra. Tiffany memegangi lehernya saat ramuan itu turun melalui kerongkongannya. Dingin luar biasa! Padahal ketika ia meneguknya tadi ramuan itu terasa hangat. Cassandra mengangkat gelas itu setinggi yang ia biasa agar dapat dilihat semua pasang mata, termasuk sang Raja. Mereka hening sekitar 10 detik. Tidak terjadi apa-apa pada ramuan tersebut.

“Ia jujur, Yang Mulia!” ucap Cassandra.

Sang Raja mengangguk.

“Kim Tiffany, seperti yang telah kau ketahui. Aku mempunyai seorang putra yang bernama Choi Siwon. Saat ini ia sedang terbaring koma di apartemennya sejak 6 bulan yang lalu. Dan takdirmulah yang membawamu pada tugas ini. Takdirmu menjadi Yang Terpilih sudah ada sejak kau lahir ke dunia. Karena kau adalah Yang Terpilih, kau memang tidak pernah diberikan kekuatan lebih seperti ketiga saudarimu. Alasannya adalah takdirmu akan merubah dunia sihir putih ini. Oleh karena itu, Cassandra tidak pernah lepas darimu dan saudari-saudarimu. Kim Tiffany, hanya informasi itu yang boleh kau ketahui terlebih dahulu. Apa ada pertanyaan?”

Jangankan bertanya, bernapas saja Tiffany sangat sulit saat ini! Apa ia tidak salah dengar? Takdirnya akan merubah dunia sihir putih ini? Apa maksudnya? Kenapa kalimat itu terdengar begitu…spesial?

“Petinggi sihir Amora?” panggil sang Raja.

“Hamba, Yang Mulia!” sahut suara lembut dari seberang kursi Penasehat Jong. Tiffany menyipitkan mata. Bukankah itu penyihir perempuan? Kenapa janggutnya panjang seperti penyihir laki-laki?

“Jelaskan dengan rinci apa tugas yang harus dilakukan Kim Tiffany!”

“Mungkin ia kelebihan hormon,” batin Tiffany lalu menahan tawa. Cassandra langsung menyikutnya.

“Ssshh, jaga pikiranmu. Mereka bisa mendengar bahkan melihatmu secara tembus pandang,” desis Cassandra sedikit jengkel karena suara batin Tiffany.

“Mwo? Omo!” jerit Tiffany tertahan.

“Ehem!” penyihir wanita yang bernama Amora itu berdehem keras dan menatap Tiffany. Tak ada yang bisa dilakukan gadis itu selain menahan napasnya. “Kim Tiffany, setelah melakukan perestuan, kau akan diantar Cassandra ke dunia manusia. Selama disana kau tidak boleh menggunakan kekuatan, yaitu menghilang, membuat ramuan dan melafalkan mantra. Tugasmu tidak berlangsung sekali, tetapi berkali-kali. Pangeran Siwon tidak bisa sembuh secara instan karena darah manusia cukup kental di dalam tubuhnya. Ia juga tidak mempercayai sihir dan semacamnya. Oleh sebab itu, kau harus melakukan tugas ini sebaik mungkin.”

Tiffany merasa wajahnya kini berwarna merah muda.

“Dan aku rasa kau sudah tahu bagaimana caranya mencium seseorang meskipun kau belum pernah melakukannya. Jika masih ragu, aku akan memberikan pelajarannya padamu secara pribadi,” tambah penyihir Amora.

Dan kini Tiffany merasa wajahnya berwarna merah tua.

“T-tidak perlu, Penyihir Amora. A-aku bisa melakukannya!” tukas Tiffany sangat gugup.

“Kalau begitu, Cassandra akan mengantarmu ke kolam kesucian. Kau harus mandi terlebih dahulu dan kembali lagi kesini untuk sidang perestuan,” ujar penyihir laki-laki lain.

Tiffany mengangguk patuh. Ia membungkuk bersama Cassandra lalu berbalik menuju pintu masuk tadi. Tiffany tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun ia percaya pada semua penyihir yang ada disini, terutama jika Cassandra selalu berada di dekatnya.

Sang Raja menunggu Tiffany dan Cassandra benar-benar meninggalkan ruangan itu dulu sebelum kembali berbicara dengan tenang.

“Penyihir Amora?”

“Hamba, Yang Mulia!”

“Aku menyukainya. Aku berharap ia bisa menjalankan tugasnya dengan benar. Sekarang, tuliskan namanya di samping nama putraku di buku Takdir Cinta yang kau miliki.”

Penyihir Amora, yaitu penyihir Cinta, hanya dapat tersenyum manis.

“Dengan senang hati, Yang Mulia.”

 

Yoona memutar-mutar sebuah botol kecil di telapak tangannya. Botol kecil itu adalah ramuan khusus yang mereka buat untuk Nichkhun. Yoona sendiri yang mendapat tugas dari kedua kakaknya untuk memasukkan ramuan itu ke dalam minuman Nichkhun. Yoona sangat bersemangat melakukannya, mengingat ia juga menaruh kekesalan pada pria itu.

Tetapi ia harus menahan kejahilannya untuk sementara sebab sebentar lagi Cassandra dan Tiffany pulang ke rumah. Yoona tidak tahu apakah Tiffany masih boleh menginap semalam lagi di rumah mereka atau tidak. Ia memutar kepalanya, mencari-cari sosok si kembar.

“Kemana perginya mereka?” gumam Yoona.

Ia pun bangkit. Biasanya Taeyeon dan Jessica sedang berlatih menghafal mantra di kamar mereka pada jam seperti ini. Dan biasanya, Yoona sedang bermain dengan para kelinci, beruang serta burung-burung di hutan. Yoona menghela napas panjang. Tanpa disadarinya ternyata ada baiknya mempunyai kegiatan seperti manusia. Menjadi penyihir yang tidak mempunyai kegiatan apa-apa terkadang membuat Yoona bosan.

Kreeeek.

Yoona terlonjak mendengar derit pintu rumahnya. Ia menjentikkan jarinya dan membuat sebuah buku tebal melayang-layang di udara, bersiap untuk dilayangkan kepada orang yang membuatnya kaget.

“Kami dataaang!”

Yoona menghela napas panjang lagi. Ia kira penyelundup atau penyihir jahat, ternyata Cassandra dan Tiffany. Cassandra menatap buku yang melayang-layang di samping Yoona sementara Tiffany melangkah masuk ke ruang keluarga.

Perlu beberapa detik untuk Yoona demi melihat rona wajah Tiffany. Kakaknya itu tampak jauh lebih bersinar dan…

“Ya Tuhanku, kau sungguh cantik, Eonnie!” ucap Yoona.

Bruk!

Buku tebal yang tadinya melayang akhirnya berhasil dijatuhkan kembali oleh Cassandra. Yoona segera menghampiri Tiffany, masih dengan ekspresi terkagum-kagum. Rambut Tiffany berubah menjadi sedikit ikal di bagian bawah, kulitnya semakin putih dan bersinar dan matanya…Yoona berkata dalam hati, jika ia seorang laki-laki, ia pasti akan menjadikan Tiffany kekasihnya sekarang juga.

“Yoongie, jangan memandangiku seperti itu. Aku malu.”

Yoona terkekeh. Lalu ia memperhatikan bibir Tiffany yang kini berwarna merah terang. “Hoho, bibirmu sangat menggoda, Eonnie. Eii, Cassie!”

Cassandra melipat tangan di depan dada. “Ada apa, Yoong?”

“Terima kasih telah membuat Eonnie-ku semakin cantik.”

“Itu bukan karenaku, tetapi karena ia mandi di kolam kesucian.”

Yoona melengkungkan bibirnya dengan jahil. “Oooh. Kalau begitu kapan-kapan kau juga harus mandi disana, Cassie!”

Tiffany mati-matian menahan tawanya lalu menampar pelan lengan Yoona. Yoona mengerjap polos sementara Cassandra menahan dirinya untuk tidak memantrai Yoona menjadi seekor Rusa betina.

“Tiffy!”

Tiffany mengenali seruan itu. Ia mendongak, begitu pula dengan Cassandra dan Yoona. Taeyeon dan Jessica turun dengan tergopoh-gopoh. Sama dengan reaksi yang ditunjukkan Yoona saat melihat Tiffany tadi, Taeyeon dan Jessica tidak memungkiri kecantikan yang dimiliki adiknya sekarang.

“Omo! Aku yakin Pangeran Siwon akan terkesima jika melihatmu,” komentar Jessica.

“Itu juga kalau aku berhasil,” tandas Tiffany.

“Eee, jangan bicara seperti itu. Kau harus berhasil, Tiffy!” Taeyeon menyemangati.

Cassandra pun segera berada di tengah-tengah mereka. “Baiklah. Sekarang waktunya Tiffeny melakukan tugasnya dan—“

“Cassie, bisakah kau menyebut namaku dengan benar?” sela Tiffany gemas.

“Ck, itu kan masalah kecil. Lidahku sudah terbiasa mengucapkan nama itu,” Cassandra membela diri. “Jadi, aku berharap kalian terus mengawasinya melalui cermin ajaib yang kalian miliki. Aku bertindak sebagai pelindung disini, jika sewaktu-waktu ada yang mengancam keselamatan kalian, khususnya Tiffeny. Setelah mengantar Tiffeny ke dunia manusia, aku akan kembali kesini untuk memberitahu kabar penting untuk kalian bertiga. Mengerti?”

“Ndeeeee.”

 

Tiffany memeluk dirinya sendiri dan berjalan menyusuri lorong apartemen yang telah disewakan Cassandra untuknya. Ia mencari unit dengan nomor 408, tepat di samping unit 407, yang tak lain adalah milik Pangeran Siwon. Tiffany memandangi pintu 407 itu ketika melewatinya. Ia sudah sangat ingin melakukan tugasnya agar ia cepat kembali. Tetapi ia kembali teringat ucapan Penyihir Amora. Tugas ini tidak selesai secara instan.

Tiffany membuka pintu apartemennya sendiri lalu masuk. Ia berpikir lagi. Jika tidak secara instan, itu artinya ia harus mencium Pangeran Siwon berulang-ulang. Seketika wajah Tiffany memerah. Mencium pipi pria saja ia tidak pernah, apalagi mencium bibirnya secara berulang-ulang! Tiffany mengipas tangannya di depan wajah. Huft!

Suasana kamar yang rapi, wangi dan nyaman menyambut kedatangan Tiffany. Ternyata cukup luas jika hanya ia yang menempati. Sebuah ranjang king size, ruang tengah dan dapur. Kamar mandinya terletak di dalam kamar tidur. Kamar itu serba putih dengan perpaduan warna pink di dinding kamar tidur.

Tiffany tersenyum. Kondisi yang cukup memuaskan. Lalu perhatiannya terpusat pada sebuah cermin besar yang dipajang di dinding tepat berhadapan dengan ranjang. Tiffany berjalan menghampiri ranjang tersebut dan memperhatikan ukiran yang dipahat sempurna di tepinya. Persis seperti cermin ajaib di rumahnya. Tidak salah lagi. Ini pasti cermin ajaib untuk menghubungkannya dengan ketiga saudarinya.

Dengan jari-jari lentiknya yang mahir, Tiffany mengetuk cermin itu sebanyak tiga kali. Hasilnya? Cermin tersebut beriak seperti air, mengeluarkan sinar putih menyilaukan kemudian dalam hitungan beberapa detik bayangan di cermin tidak lagi bayangannya, melainkan bayangan Jessica dan Taeyeon.

“Eoh, kau sudah sampai?”

“Nde. Dimana Yoona? Apa Cassie sudah kembali ke rumah?”

Jessica dan Taeyeon serentak menggeleng.

“Yoona sedang bersiap-siap ke dunia manusia untuk mencampuri ramuan yang kita buat ke minuman Nichkhun hihihi,” ujar Jessica. Tiffany tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa.

“Tetapi kami harus pastikan dulu Sang Ketua pergi,” tambah Taeyeon. Tiffany mengacungkan ibu jarinya. Sebetulnya ia tidak terlalu peduli pada Khun oleh karena itu ia ikut mendukung ide jahil saudari-saudarinya. Hitung-hitung sebagai hiburan.

“Kalau begitu, kabari aku setelah Yoona selesai melakukan tugasnya. Atau biar aku saja yang menghubungi kalian. Oke?”

“Oke! Tiffy, hati-hati disana. We’ll miss you, baby.”

I’ll miss you too. Love ya! Bye!”

“Oh ya, Tiffy! Nikmati tugasmu!” goda Jessica dengan kerlingan mata yang sangat membuat Tiffany jengkel.

“Yah!!” teriak Tiffany. Sebelum ia membalas ucapan Jessica, cermin di hadapannya telah berubah menjadi normal kembali. Pasti Jessica segera memutuskan koneksi diantara mereka. Tiffany hanya bisa mendengus kesal.

“Huft, aku pasti akan merindukan mereka,” gumam Tiffany. Ia berbalik lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tiffany menghela napas berat. Kakinya pun melangkah keluar kamar kemudian menuju ruangan sederhana yang mempunyai kompor gas, lemari es serta alat-alat dapur lainnya. Tiffany menghela napas lagi untuk kesekian kalinya.

“Mati aku. Aku tahu alat-alat ini tetapi tidak bisa menggunakannya. Kalau begini aku bisa mati kelaparan,” gumam Tiffany.

Harapan Tiffany satu-satunya adalah Cassandra. Cassandra berjanji akan berkunjung sesering mungkin untuk memeriksa keadaan Tiffany serta melengkapi kebutuhannya. Sayang sekali Tiffany tidak diberi akses oleh Cassandra untuk menghubunginya. Hanya ada cermin ajaib untuk Tiffany menghubungi ketiga saudarinya.

“Coba kulihat berapa uang yang diberikan Cassie,” kata Tiffany kemudian merogoh saku jaketnya. Sebelum berpisah tadi Cassandra juga memberikan sejumlah uang kepada Tiffany untuk berjaga-jaga.

“Mwo? Hanya 3,000 won? Yang benar saja! Aish, si nenek sihir itu!!!”

 

Cassandra sudah kembali ke rumah Kim bersaudari. Taeyeon menghidangkan teh beraroma melati untuknya. Kemudian ia bersama kedua adiknya duduk berhadapan dengan Cassandra di meja makan mereka. Cassandra menyesap tehnya lambat-lambat dan dengan gaya yang dianggun-anggunkan. Sesaat Taeyeon, Jessica serta Yoona saling pandang. Mereka sendiri mempunyai tugas khusus setelah ini, khususnya Yoona sebab ia yang akan pergi ke dunia manusia.

Tetapi tentu saja mereka menunggu Cassandra benar-benar pergi.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Cassie?” tanya Jessica tak sabar. Cassandra menilik mata coklat putri kedua itu dengan seksama.

“Oh, ya. Untung saja kau mengingatkan. Ehem, jadi kita mulai dari mana yaa?” balas Cassandra.

Taeyeon dan Yoona serentak menaikkan alis mereka.

“Ah, aku ingat! Aku ingin memberitahu kalian sesuatu,” kata Cassandra akhirnya. “Ini tentang Tiffany dan tugasnya. Apa kalian tahu bagaimana ia bisa menjadi yang terpilih?”

Ketiga kepala hitam di hadapan Cassandra menggeleng serentak.

“Tentu saja kalian tidak tahu. Baiklah, aku harap kalian dapat menjaga rahasia ini dari Tiffany.”

Kini ketiga kepala hitam itu mengangguk.

Well, Tiffany sudah ditakdirkan sejak dalam kandungan ibu kalian untuk menjadi penyihir yang hebat. Bahkan lebih hebat dari sang Raja. Oleh karena itu Raja menginginkan Tiffany untuk menjadi jodoh putranya yang lahir 30 tahun lalu. Takdir Tiffany memang tidak dibuat-buat sebab darahnya cocok dengan Pangeran Siwon. Lalu, jika nanti Tiffany telah menyelesaikan tugasnya menyembuhkan sang Pangeran, kekuatannya akan datang saat itu juga. Tiffany…bisa mematikan mantra Damnitri sekalipun. Kekuatannya akan ditakuti oleh Damnitri oleh sebab itu hingga sekarang ia terus mengincar kalian,” tutur Cassandra.

Taeyeon, Jessica, dan Yoona terperangah kaget.

“Apa itu sebabnya ia tidak mempunyai kekuatan lain selain menghilang?” Taeyeon tidak sabar untuk bertanya.

“Tepat sekali. Karena kekuatan yang lebih hebat dan sempurna sudah menunggunya setelah tugas ini selesai.”

“Lalu, kenapa baru sekarang ia dipertemukan oleh Pangeran Siwon?” giliran Jessica bertanya.

“Seperti yang kita tahu, Pangeran adalah manusia berdarah setengah penyihir, jadi sulit dideteksi. Takdir Tiffany sendiri menuliskan bahwa ia akan mendapatkan kekuatannya setelah mencium cinta sejatinya. Tiffany mempunyai ciuman penyembuh yang kita belum pernah tahu. Sebab ia tidak mungkin menciumku atau kalian, benar kan? Aku sudah tahu kekuatannya sejak pertama kali menyelamatkan kalian dari Damnitri malam itu. Tetapi sang Raja memerintahkan padaku agar aku tutup mulut. Sebab akan berbahaya bagi Tiffany jika Damnitri tahu kekuatannya. Dan yang terakhir, karena Pangeran Siwon sudah sampai pada batas umur takdir cintanya yang telah tertulis di kitab Penyihir Amora. Disana disebutkan bahwa Pangeran Siwon akan bertemu dengan cinta sejatinya pada usia 30 tahun yang tepat jatuh pada tanggal 7 April. Itu artinya 2 hari lagi.”

Taeyeon, Jessica dan Yoona masih terhenyak setelah mendengar fakta mengenai saudari kandung mereka. Setiap hari Tiffany berada di samping mereka, tetapi mereka tidak tahu kalau sebenarnya Tiffany adalah calon penyihir hebat di dunia sihir putih.

“Cassie, bolehkah aku bertanya?” tiba-tiba Yoona bersuara.

“Apa itu, maknae?”

“Kenapa kau menyebutkan nama Tiffany Eonnie dengan benar jika ia tidak berada disini?”

Cassandra tertawa keras. “Aku hanya suka menggodanya saja, Yoong!”

“Eiiih kau ada-ada saja, Cassie.”

 

Tiffany merapikan kerah blouse yang dikenakannya dan menyisir rambut hitam panjangnya dengan jari-jari tangan yang lentik. Ia berdiri di depan pintu 407 sejak lima menit yang lalu. Di tangannya ada satu buket bunga Aster yang sangat indah. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia gugup untuk menghadapi sang Pangeran, terutama untuk menciumnya! Sejak dulu Tiffany tidak membiarkan Nichkhun atau pemuda lain untuk menciumnya. Terlebih lagi ia tidak mudah jatuh cinta.

Dan yang Tiffany takutkan sekarang adalah jika nanti Siwon marah padanya. Atau kekasihnya marah pada Tiffany! Gadis itu menepuk keningnya. Ia lupa bertanya pada Cassandra apakah Pangeran telah mempunyai kekasih atau belum. Kemaren ia selalu menunda pertanyaan tersebut.

Tiffany menggigit bibir.

“Aku tidak peduli. Yang jelas, aku harus menyelesaikan tugas ini. Aish, kenapa jantungku berdegup kencang sekali?”

Tiffany mengangkat tangan lalu menekan belnya. Saatnya bersandiwara. Hanya butuh 2 menit baginya menunggu dan pintu di hadapannya sudah terbuka. Tiffany mempersiapkan senyumnya seramah mungkin. Dalam hitungan detik ia telah berhadapan dengan seorang wanita yang lebih tinggi darinya.

Wanita itu tampak begitu anggun meskipun usianya mungkin sekitar 55 tahun. Wajahnya tirus, mata hitam yang sendu, rambut hitam tetapi tidak sehitam Tiffany, dan hidung yang mancung. Ada kerutan di ekor matanya serta di leher, tetapi tetap tidak mengurangi kecantikan alami yang dimiliki wanita tersebut.

Tiffany menebak wanita itu pasti Ny. Choi. Choi Shin Hye.

“A-annyeonghasaeyo, Ny. Choi!” ucap Tiffany seraya membungkukkan tubuhnya. Wanita di hadapannya membalas hormat Tiffany meskipun ia masih bingung siapa Tiffany.

“Annyeonghasaeyo.”

Tiffany mengulurkan sebuket bunga di tangannya kepada Ny. Choi. “Perkenalkan, namaku Kim Tiffany. Aku…t-teman Choi Siwon.”

Kening Ny. Choi mengernyit. Ia memandangi wajah cantik Tiffany dengan senyum ramah. Sebelumnya ia belum pernah melihat Siwon mempunyai teman secantik gadis itu.

“Oh, begitu. Aku Choi Shin Hye, ibu Siwon. Silahkan masuk, Tiffany-ssi!”

Ny. Choi membuka pintu lebih lebar agar Tiffany bisa masuk. Tiffany mengangguk kecil kemudian masuk terlebih dahulu sementara Ny. Choi menyusul di belakangnya. Tiffany merasakan kehangatan yang lembut saat tiba di ruang tengah yang cukup luas tersebut. Tiffany menghentikan langkah disana untuk menghadapi Ny. Choi.

“Sebelumnya jangan tersinggung, tetapi aku tidak tahu kalau Siwon berteman denganmu. Apa kau seorang modelnya atau teman kuliahnya dulu?” tanya Ny. Choi.

Tiffany memutar bola matanya, berusaha mencari jawaban yang tidak mencurigakan. Lalu ia tersenyum manis kepada Ny. Choi.

“Ng…aku adalah teman sekolahnya dulu. Aku ragu jika ia masih mengingatku atau tidak. Tetapi saat aku kembali ke Seoul setelah lama tinggal di California, aku mendengar kabar kalau ia sakit. Jadi, aku kesini untuk melihat keadaannya,” ujar Tiffany, mencoba setenang mungkin menceritakan kebohongannya.

Mendengar hal itu Ny. Choi mengangguk paham. Tiffany bisa melihat kelelahan di mata wanita itu. Pasti ia sangat menderita melihat anaknya terbaring koma selama berbulan-bulan. Tiffany semakin penasaran mengetahui bagaimana keadaan Siwon.

“Siwon masih koma, Tiffany-ssi. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Tidak ada dokter yang mampu menyembuhkannya. Kini aku hanya bisa berdoa dan selalu berada di sampingnya,” ujar Ny. Choi dengan suara bergetar. Tiffany mendekatkan tubuh pada wanita tersebut dan mengusap-usap lengannya dengan lembut.

“Kita harus terus berdoa, Ny. Choi. Aku pun disini ingin menemani kalian. Aku akan membantu semampuku,” kata Tiffany.

Ny. Choi menatapnya. Jelas ia heran sebab gadis tak dikenal di hadapannya berniat membantu mereka. Ny. Choi bertanya-tanya apa hubungan Tiffany dengan Siwon.

“Ng…kalau begitu, bolehkah aku melihat keadaannya sekarang?” pinta Tiffany.

“Tentu saja. Ada seorang suster di dalam tapi ia hendak pulang. Mari, Tiffany-ssi!”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Tiffany mengikuti langkah Ny. Choi menuju sebuah kamar yang terletak tiga meter dari ruang tamu. Tiffany memegang buket bunganya lebih erat. Kegugupannya semakin menjadi-jadi. Dan saat Ny. Choi membuka pintu kamar Siwon, Tiffany menahan napasnya.

Di dalam tampak seorang pria terbaring di atas ranjang berukuran king size. Di tubuhnya terpasang berbagai macam slang serta berbagai macam benda medis yang tidak dikenali Tiffany. Gadis itu berkali-kali menelan ludahnya sendiri sembari berjalan mendekati ranjang pria itu. Apa yang harus dilakukannya? Tidak mungkin Tiffany langsung menelungkup di atas tubuh Pangeran Siwon lalu menciumnya!

Setelah berada tepat di samping ranjangnya, Tiffany mengamati dengan seksama rupa sang Pangeran. Tiffany tersenyum kecil. Jika selama ini ia membayangkan Pangeran itu sangat tampan, well, bayangannya benar. Pria di dekatnya hampir mendekati kriteria Pangeran yang ada di dalam pikirannya.

Entah apa yang mendorong Tiffany, tiba-tiba ia terpaku menatap bibir tipis Siwon. Mendadak Tiffany merasakan kalau bibirnya kering ketika memikirkan nantinya ia akan mencium bibir itu. Kira-kira bagaimana rasanya. Tiffany bertanya dalam hati.

“Kau ingin minum apa, Nak?”

Tiffany tersadar dari lamunannya ketika mendengar pertanyaan Ny. Choi. Tiffany menoleh dengan gugup ke arah wanita itu. “Mmm, teh hangat saja. Kamsahamnida.”

Ny. Choi tersenyum. “Baiklah. Kalau begitu, aku tinggal sebentar.”

Tiffany menganggukkan kepalanya dengan sopan. Ia melihat Ny. Choi berjalan pelan keluar kamar, meninggalkannya bersama Pangeran Siwon. Tiffany menempati sofa kosong yang terletak tak jauh dari ranjang kemudian kembali mematut wajah Pangeran Siwon. Tubuh pria itu kurus, rambutnya hitam lebat dan tidak terlihat otot-otot di lengannya. Persis seperti seorang pria penyakitan, pikir Tiffany.

Kemudian Tiffany menampar pelan mulutnya sendiri. Tidak seharusnya ia mengejek Pangeran. Siapa tahu saat ia sembuh, ia menjadi pria paling gagah yang pernah dilihat Tiffany. Tiffany menghembuskan napas berat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya terlebih dahulu. Tetapi Cassandra sempat mengatakan kepadanya kalau ia harus mengenali terlebih dahulu bagaimana Pangeran Siwon serta Ibunya. Tiffany tidak boleh terlalu agresif menjalankan tugas yang diembannya saat ini.

Tak lama berselang, saat Tiffany masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Ny. Choi kembali ke dalam kamar. Ia membawakan secangkir teh hangat serta biscuit. Tiffany menganggukkan kepalanya penuh hormat serta terima kasih. Setelah itu Ny. Choi duduk di sofa lain, berdekatan dengan Tiffany.

“Silahkan diminum, Tiffany-ssi!” ucapnya ramah.

“Kamsahamnida, Nyonya Choi.”

Untuk sesaat mereka saling diam. Suara-suara peralatan medis seakan-akan musik pengiring kebisuan mereka. Tiffany menyesap sedikit tehnya seraya melirik Ny. Choi yang tengah memandangi Siwon dengan mata berkaca-kaca. Tiffany menggerutu dalam hati. Seandainya ia bisa membaca pikiran dan batin seperti ketiga saudarinya, saat ini pasti ia tahu apa yang ada di pikiran Ny. Choi.

“Nyonya, gwaenchana?” tanya Tiffany hati-hati.

Terdengar desahan dari mulut wanita berambut hitam pekat tersebut.

“Terkadang aku lelah menunggunya, Tiffany-ssi.”

 

Taeyeon, Jessica serta Yoona tidak mengalihkan pandangan mereka dari cermin ajaib yang tengah memperlihatkan sebuah keadaan di dalamnya. Sebuah pesta topeng yang diselenggarakan di kediaman Horvejkul, yaitu tak lain adalah rumah Nichkhun. Sepertinya pesta topeng tersebut untuk merayakan pertunangan Nichkhun dengan gadis pilihan orangtuanya.

Yoona mendengus jijik. Ia tidak sabar masuk ke dunia manusia melalui pintu Gettrugh—pintu yang digunakan Taeyeon, Jessica, Yoona untuk ke dunia manusia jika Tiffany tidak bisa membantu mereka berpindah tempat—dan mengacaukan pesta topeng Nichkhun. Tangannya sudah gatal-gatal ingin segera mencampurkan ramuan ajaib yang mereka buat khusus untuk pemuda tampan tersebut.

“Yoongie, jangan lupa campurkan ramuan itu dengan minumannya sambil melafalkan mantra Rognusius,” terdengar Taeyeon mengingatkan si maknae. Yoona mengacungkan ibu jarinya dengan percaya diri, sehingga membuat Jessica mendengus. Mendengar itu Yoona langsung meliriknya.

“Waeyo? Eonnie meragukanku?” Yoona cemberut.

“Tepat sekali!” jawab Jessica lugas. Kening Yoona mengernyit dalam.

“Memangnya kenapa kau meragukanku?”

Jessica mendesah kemudian merapikan poni adiknya. “Karena kau selalu salah mengucapkan mantra. Cobalah untuk berkonsentrasi, Yoong. Jangan sampai kejadian 2 tahun lalu terjadi lagi dimana kau melafalkan mantra ReinFrogus padahal seharusnya Rognusius. Kau telah membuatku berubah menjadi katak karena kesalahanmu itu,” celoteh Jessica.

Taeyeon tidak segan-segan mengeluarkan tawanya sementara Yoona hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Memang saat itu sepenuhnya kesalahan Yoona. Ia dan Tiffany sedang dalam percobaan mantra baru bersama Cassandra tetapi si maknae itu salah melafalkan mantra. Alhasil Jessica yang menjadi korban karena terkena mantra Reinfrogus—merubah seseorang menjadi katak—dan Tiffany harus komat-kamit melafalkan mantra penangkalnya.

“Aku berjanji tidak akan salah lagi, Eonnie. Tetapi jika Nichkhun itu berubah menjadi katak, aku sih senang-senang saja. Bagaimana menurutmu, Taeyeon Eonnie?”

Taeyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, heran kenapa keusilan Yoona tidak kunjung habis.

“Sudahlah. Sekarang saatnya kau berangkat. Ingat perkataan Jessica, kau harus berkonsentrasi dan yang paling penting, berhati-hatilah!” tukas Taeyeon seraya menggandeng tangan Yoona menuju lantai paling atas rumah mereka. Jessica mengikuti di belakang.

Sampai di depan pintu kayu berwarna merah yang mereka namai pintu Gettrugh, Yoona memasukkan botol kecil ramuannya ke dalam saku jubah. Jessica membantunya memasang topeng setengah wajah padanya, sementara Taeyeon merapikan kostum adiknya itu. Yoona tersenyum senang karena merasa sangat disayang. Ah, ia merindukan Tiffany di saat-saat seperti ini.

“Yoona, kau harus berhati-hati. Jangan tegur atau membalas sapaan orang lain. Got it?” titah Jessica.

Yoona memberi gesture hormat kepada Jessica. “Siap!”

“Kalau begitu, pergilah. Kami akan mengawasimu melalui cermin ajaib,” ujar Taeyeon lalu mengelus pipi lembut Yoona.

“Hmm! Arraseo. Doakan aku, Sisters. Bye!”

Taeyeon dan Jessica sedikit mundur sedangkan Yoona memegang gagang pintu sambil memejamkan mata. Tekadnya sangat bulat untuk mengerjai Nichkhun, hihihi.

Nichkhun’s house,” bisik Yoona kemudian menempelkan tubuhnya perlahan ke pintu berwarna merah tersebut. Jangan pikir pintu Gettrugh digunakan dengan cara membukanya. Tidak perlu repot-repot seperti itu! Kita hanya perlu menyebutkan kemana tempat yang ingin kita tuju, kemudian berjalan ‘menembus’ benda tersebut dan ulala! Kita akan sampai di tempat tujuan.

Itulah yang saat ini terjadi pada Yoona. Ia membuka matanya dan tersenyum lega saat menyadari kalau kini ia berada di dalam ruangan yang penuh dengan manusia memakai berbagai macam kostum serta topeng. Yoona bersorak di dalam hati. Akhirnya ia sampai di rumah Nichkhun.

Gadis itu ikut mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar musik upbeat memasuki gendang telinganya. Ia memandang berkeliling, berusaha mencari sosok Nichkhun. Tadi ia melihat di cermin ajaib, pria itu memakai kostum Mickey Mouse dengan topeng setengah wajah ditambah hidung besar berwarna merah. Dasar konyol, gerutu Yoona di dalam hati. Ia heran kenapa dulu Tiffany bersedia menjadi kekasihnya.

Yoona terus mengedarkan pandangan. Ia melihat ke segala arah seraya menghindari orang-orang yang berdansa gila-gilaan di sekitarnya. Yoona mengingat titah kedua kakak kembarnya agar tidak mempedulikan sapaan orang asing. Dan akhirnya Yoona mendapatkan siapa yang dicarinya.

Nichkhun sedang berdansa dengan seorang gadis berkostum Cat Woman. Yoona menggeleng-gelengkan kepala. Pria itu tampak asyik sendiri. Sepertinya ia tidak terlihat risau setelah putus dengan Tiffany. Yoona makin geram dibuatnya. Ia harus mencari cara untuk mengajak Nichkhun minum bersama.

Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya. Kali ini Yoona mencari meja makanan dan minuman. Ia akan mengambil dua gelas minuman dan mengajak pria itu mengobrol sambil minum. Uhm, terdengar sempurna oleh Yoona. Tidak butuh waktu lama untuk Yoona menemukan meja tersebut.

Ia bergegas berjalan kesana seraya menghindari ajakan pemuda-pemuda mesum untuk berdansa bersama. Sedapat mungkin gadis itu tidak melepaskan pandangannya pada meja tersebut. Yoona beruntung karena di meja itu tidak ada siapa-siapa sebab minuman memang diantarkan oleh pelayan kepada para tamu. Sampai di dekat meja, Yoona memandang berkeliling, memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Sebelah tangannya menyusup ke saku jubahnya dan mengambil botol kecil yang sedari tadi tersimpan aman disana. Ia membuka tutup botol yang terbuat dari kayu itu kemudian mengambil segelas sirup leci.

Rognusius,” bisik Yoona lalu meneteskan ramuan ajaib sebanyak dua kali. Dalam sekejap ramuan itu larut bersama minuman.

Yoona tidak dapat menahan senyumannya. Telah terbayangkan olehnya bagaimana Nichkhun menggaruk-garuk tubuhnya selama dua minggu karena ramuan ini. Yoona mengangkat gelas tersebut dan gelas untuknya sendiri kemudian berbalik. Waktunya pertunjukkan, hihihi.

Yoona masih melihat Nichkhun di tempat semula, kali ini berdansa dengan gadis lainnya. Sok keren sekali. Untung saja kakakku tidak begitu mencintaimu, batin Yoona kesal.

Lalu, ketika Yoona mulai melangkahkan kaki menuju Nichkhun, ada sepasang tangan yang menarik sebelah lengannya hingga otomatis gelas yang telah diracuninya jatuh ke lantai! Yoona membalikkan tubuhnya, terkejut! Bunyi gelas pecah tidak terlalu menarik perhatian sebab dikalahkan oleh suara musik yang keras. Yoona terperangah melihat pecahan gelas di lantai kemudian segera mengangkat wajahnya.

What the— Siapa yang berani-berani menarik tangannya!

Tepat ketika Yoona ingin meraung kepada seseorang itu, tubuhnya justru semakin di dekap erat. Kontan saja gelas yang lain di tangannya ikut terjatuh. Yoona tidak berhenti terkesiap. Kini ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap tajam seseorang itu.

“Apa-apaan k—“

“Yah! Aku telah mencarimu kemana-mana! Ternyata kau disini. Sekarang ayo ikut aku, Soojungie!”

Yoona mengerjap kaget. Soojungie? Pria pucat di hadapannya ini memanggilnya Soojungie. Shit! Yoona rasa pria itu salah orang.

“Soojungie? Maaf, Mister! Aku rasa kau salah orang. Dan terima kasih telah menumpahkan minumanku! Lepaskan!” bentak Yoona.

Pria itu—berkulit putih, hidung mancung, bibir sedikit tebal serta sepasang telinga yang mungkin sedikit besar dari yang seharusnya—menyeringai kepada Yoona. seringaian yang sangat percaya diri.

“Mana mungkin aku salah orang. Ayo, ikut aku!”

“M-mwo? Yah! Lepaskan!”

 

“Menurutmu apa yang membuat cermin ajaib ini tiba-tiba menghitam? Apa di pesta itu sedang mati lampu?”

Taeyeon mengangkat bahunya untuk menjawab pertanyaan Jessica. Ia juga tidak tahu mengapa cermin ajaib mereka tiba-tiba memperlihatkan bayangan hitam di saat Yoona sedang mencampuri sirup leci dengan ramuan. Setelah menghitam cermin itu tidak memperlihatkan apa-apa lagi selain bayangan Taeyeon dan Jessica, seperti cermin biasa.

“Molla. Sebelumnya tidak pernah mati tiba-tiba begini,” gumam Taeyeon. Ia maju dan mendekati cermin tersebut lalu mengetuknya berkali-kali. Aneh, tetap saja bayangannya dan Jessica yang terlihat disana.

“Aneh sekali, Sica.”

“Cermin ini tidak mungkin rusak, Taenggo! Benar, kan?”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Ya, cermin ajaib mereka selalu berfungsi dengan benar. Tetapi kenapa mendadak tidak berguna di saat mereka sedang mengawasi Yoona? Taeyeon mulai khawatir. Apa terjadi sesuatu pada adiknya itu?

Jessica tahu apa yang sedang dipikirkan Taeyeon. Ia ikut cemas. Ada apa dengan Yoona?

“Taenggo, apa kita harus menyusulnya?” Jessica bertanya dengan suara kaku.

“Jangan dulu, Sica. Kita tunggu Yoona sekitar 30 menit lagi. Jika ia tidak pulang, kita harus menyusulnya ke dunia manusia,” jawab Taeyeon mencoba tenang.

Terdengar Jessica berdecak cemas di belakangnya. Gadis itu tiba-tiba mendekat pada cermin ajaib lalu menjentikkan tangannya berulang kali.

Reparo! Reparo!” teriak Jessica kepada cermin ajaib. Ia mengucapkan mantra untuk memperbaiki benda itu dengan tak sabaran. Taeyeon segera menahan tangan kembarannya itu.

“Aku bilang kita harus menunggu, Kim Jessica!”

 

“Erm, Nyonya Choi. Jika Anda sudah mengantuk, tidurlah. Aku akan menemani Siwon disini. Lagipula, aku tinggal di apartemen sebelah. Jadi tidak masalah jika aku menemaninya. Bolehkah?”

Ny. Choi menatap Tiffany sejenak. Tiffany memang tidak tampak berbahaya sama sekali, akan tetapi akan aneh rasanya kalau ia meninggalkan Siwon berdua saja dengan gadis asing. Tiffany tersenyum tulus kepada wanita yang tengah bimbang tersebut kemudian mengusap lembut telapak tangannya.

“Nyonya Choi, percayalah padaku. Aku akan menjaganya dengan baik. Anda juga perlu istirahat,” tambah Tiffany lebih meyakinkan.

Akhirnya Ny. Choi tersenyum. Tidak ada gunanya ia mencurigai gadis baik seperti Tiffany. Ada ketulusan di sorot mata gadis itu yang membuat Ny. Choi luluh. Ia pun menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, Tiffany-ssi. Terima kasih atas kebaikan hatimu. Kalau begitu, panggil aku di kamar sebelah jika kau membutuhkan bantuan,” ujar Ny. Choi seraya berdiri dari duduknya.

Tiffany mengangguk lagi seraya mengawasi wanita itu berjalan keluar kamar. Tiffany mendesah berat. Kembali teringat olehnya ungkapan hati Ny. Choi beberapa saat lalu. Wanita itu menyatakan kalau terkadang ia lelah menunggu keajaiban datang. Ia lelah menunggu putra satu-satunya kembali sadar. Namun ia harus menghadapi semua ini seorang diri. Tiffany hanya diam seribu bahasa selama Ny. Choi berbicara. Tiffany pun tahu sedikit demi sedikit tentang Siwon, sekaligus tentang pertanyaannya yang belum sempat ia ajukan kepada Cassandra.

Yaitu tentang Siwon yang ternyata memang telah mempunyai kekasih.

Tiffany mendesah lagi. Kini ia memandangi wajah Siwon dengan tatapan sendu. Ini mungkin akan menyulitkannya. Ny. Choi berkata kalau Siwon telah mempunyai seorang kekasih yang dikencaninya. Namun Ny. Choi tidak tahu mengapa kekasih Siwon tidak menjaga Siwon sesering mungkin. Hanya itu yang Tiffany tahu. Ia juga tidak ingin bertanya lebih banyak karena merasa belum sepantasnya.

Perlahan Tiffany berjalan menghampiri ranjang. Siwon terlelap begitu damai. Kedua matanya tertutup rapat. Tiffany tidak menyangka kalau pria yang di dekatnya kini adalah seorang Pangeran dunia putih yang selama ini hanya dianggap mitos. Perawakannya memang cocok jika menjadi seorang pangeran. Lihat saja kakinya yang begitu panjang, batin Tiffany.

“Apa aku harus mulai menciumnya sekarang?” Tiffany bertanya pada diri sendiri.

Ia berpikir lagi. Sebaiknya memang sekarang sebab ia tidak tahu kapan lagi bisa mempunyai kesempatan berdua saja seperti ini. Tiffany duduk di tepi ranjang dengan hati-hati, berusaha tidak menyenggol satupun alat-alat medis.

Gadis itu menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Aneh sekali aura yang ditimbulkan pangeran ini, batin Tiffany. Tiba-tiba ia merinding membayangkan seperti apa ciuman pertama dalam hidupnya. Bahkan selama berpacaran dengan Nichkhun—yang mungkin sekarang sudah gatal-gatal—Tiffany tidak merasa segugup ini.

“Aku akan menciumnya sekarang. Tiffany, ingat, kontrol emosimu!” bisik Tiffany.

Perlahan tapi pasti, Tiffany menunduk. Kedua tangannya bertumpu pada tepi ranjang agar nanti tubuhnya tidak menimpa tubuh lemah Siwon. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan ciuman yang seperti apa! Ia dan ketiga saudarinya memang tidak pernah melakukan hal tersebut.

Tiffany memejamkan matanya dengan lembut saat wajah mereka semakin dekat. Tiffany bisa mencium aroma obat dari tubuh Siwon. Hawa panas mulai menerpa wajahnya. Tiffany berusaha untuk menahan dirinya agar tidak membuka mata saat ini. Ia takut akan mundur jika melihat jarak wajah mereka yang semakin intim.

Tepat saat bibir Tiffany akan menyapu lembut bibir Siwon, terdengar erangan terkejut di ruangan itu. Dengan refleks Tiffany kembali menarik wajahnya dan berdiri tegap, layaknya seorang tentara yang dibentak oleh atasannya. Tiffany tidak mengedipkan matanya sedikitpun ketika melihat ternyata Ny. Choi yang kembali lagi ke kamar. Wanita itu memeluk sebuah selimut dan tatapannya sangat aneh kepada Tiffany.

“A…N-Ny. Choi. J-jangan salah paham. T-tadi ada sesuatu di wajah Siwon dan aku… aku mencoba untuk membuangnya.”

Ny. Choi hanya tersenyum kaku kemudian mengulurkan selimut yang dibawanya kepada Tiffany. “Gwaenchana, Tiffany-ssi. Aku mengerti. Kalau begitu, selamat malam.”

Tiffany menggigit bibir bawahnya setelah Ny. Choi keluar lagi dari kamar Siwon. Huft! Sepertinya malam ini waktunya kurang tepat. Tiffany harus mencari cara lain.

 

Hallooooo readers😀

Ijinkan saya berbagi imajinasi lagi dengan kalian. Kali ini dengan tema yang belum pernah saya jamah. Jadi, mohon maaf jika banyak kekurangan. Jujur, saya ingin menulis segala jenis genre agar nanti tahu dimana letak banyaknya kekurangan saya. Saya juga mohon minta kritik dan sarannya diisi di kolom komen ya untuk evaluasi diri aja hehe. Soalnya saya paling suka baca komen readers :*

Sekali lagi maaf jika banyak kekurangan di dalam cerita ini. Tunggu part 2 nya yaa! Untuk yang temenan sama saya di BBM, Line atau WA, dipersilahkan untuk kepo-in part 2 nya hahahakk!

109 thoughts on “(AR) Magic Kiss, Superb Lips Part 1

  1. Jarang2 baca ff fantasi
    Koplak jg nh crita’a
    Ngebayangin tampang’a tiffy pas kepergok mo cium wonpa hahahaa.. *ngakak
    Oh ada kyuna jg yaa
    Seru
    Next ah

  2. Ah sial sial sial.. hahaha padahal dikit lagi itu~ Ny. Choi bisa aja ganggunya ><
    Kak echaaaaa~ aah aku emang selalu suka sama tema cerita yang kamu tulis! Aku pikir 4 bersaudara itu semacam vampire oh ternyata penyihir. Wow. Aku gak sabar moment Sifany nya :3 aku pengen baca adegan Fany nyium Siwon /plak/ haghaghag
    KyuNa juga udah ketemu di part ini.. yampun selalu deh mereka tuh nyempil-nyempil semaunya~
    Tapi aku curiga itu cermin ajaibnya kenapa bisa jadi gelap gitu? Apa pengaruh daminitri?

  3. Waaaa saya suka saya suka sama karakter yang ada di ff ini.. Feelnya dapet banget.. Apalagi bagian yoona ngedumelin kakak kembarnya bhakakakkakak.. Siwon kenapa bisa koma gitu ._. Dan greget banget dikit lg padahal si fany nyium 😂😂. Oke aku mo lanjutt

  4. wuah berbau fantasi nih ceritanya, suka suka
    jalan ceritanya seru, kocak, gak sabar sama sifany momennya
    penyihir biasanya mah buruk rupa, jahat, tapi ini cantik hahaha

  5. Sumph ini fantasy yg keren n psti romantis uk q bc.^_^
    Taengsic ank kembr wah q setuju bgt krn q sdr terkdg hrs jeli mata klo lht mrk bhkn melebihi yoonyul.
    Lht yoona gemes bgt jahilny itu yg q sk ha…ha…
    Fany gmn pangeran Siwon tmpn kn? pstiny bhkn hmpir aj klo g ad ibuny siwon. tng fany msh ad wktu…hwaiting..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s