(AR) And It`s Love

FF Sifany  Poster -And It`s Love

Title: And It`s Love

Author: @janisone

Main cast:  Tiffany Hwang – Choi Si Won

Support cast: Jessica Jung – Lee Dong Hae

Length: Oneshoot

Genre: Married Life

Rating: 16

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan. Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

Happy reading!

Hadiah Teruntuk :

  • Patmayanti Kartini
  • Rhia Rhio
  • Qiyya Arvey

(Admin)

 

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata pernikahan? Dua manusia yang saling mencintai? Menjalani hari-hari yang indah bersama? Hidup dengan orang terkasih dan anak-anak yang lucu? Beruntung sekali kalau begitu. Namun sayang, tidak semua kehidupan pernikahan seindah yang kita bayangkan.

Pagi menjelang. Usai mandi dan berpakaian, Tiffany langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini dia akan membuat pancake sebagai menu. Tak butuh waktu lama, pancakenya sudah matang. Tangan kanannya meraih dua buah piring. Pada masing-masing piring ia letakkan pancake dengan siraman madu dan buah strawberry diatasnya. Aroma harum dari daging pancake bercampur madu itu berpadu dengan aroma coffee yang baru ia letakkan disisi salah satu piring. Kemudian disusul dengan segelas cokelat hangat ditangannya.

Wanita cantik berusia 25 tahun itu tersenyum. Menyaksikan hidangan paginya yang tampak sangat menggugah selera.

Dari arah tangga, muncul sesosok pria yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Tiffany spontan berdiri dan mempersilahkan orang tersebut untuk duduk.

Beberapa menit berlalu. Dua insan itu memilih menikmati sarapan pagi mereka dalam diam-seperti biasa. Walau bagi Tiffany keadaan ini sungguh tidak nyaman tapi dia tetap berusaha untuk menerimanya. Toh, dia tahu kalau CEO tampan bernama Choi Si won itu tidak menyukainya.

Tiffany menggigit daging pancakenya. Sesekali diliriknya Si won dengan ekor matanya. Mereka adalah pasangan suami-istri. Hubungan suci ini  sudah berlangsung selama dua tahun. Tapi hubungan keduanya sama sekali tidak terlihat sebagai pasangan suami-istri pada umumnya. Tentu aneh, bukan? Kenapa ikatan ini bisa berlangsung selama dua tahun?

Drrtt Drrtt Drrtt

Bunyi ponsel itu mengagetkan Tiffany. Dengan cepat diraihnya benda persegi panjang tersebut sebelum membuat seseorang merasa terganggu.

“Yeoboseyo, halmoni…” Si won melirik Tiffany sekilas.

“Ne, aku sedang sarapan. Si won Oppa?…” Tiffany melirik Si won yang sudah kembali dengan sarapannya.

“Ne. Si won Oppa juga sarapan dirumah…”

“Nanti siang? Aniyo, halmoni. Aku tidak begitu sibuk hari ini. Ne, arrasso. Aku akan kesana. Ne…”

Tiffany meletakkan ponselnya begitu usai. Si won bangkit dari kursinya setelah menyambar jas dan tas kantornya.

Tiffany memilih meninggalkan sarapannya. Dia ikut berjalan menuju pintu depan untuk mengantar Si won. Sebenarnya Tiffany tidak perlu melakukan ini. Si won tidak pernah menyuruhnya. Dia lakukan pun tidak ada respon apa-apa dari pria itu. Bahkan mengucapkan sepatah kata pun tidak.

“Hati-hatilah menyetir, Oppa…” Tiffany berseru pelan. Si won mulai menyalakan mesinnya dan melaju. Tanpa membalas bahkan menoleh pun tidak ia lakukan.

“Hah…” Wanita dengan kemeja cokelat dan rok diatas lutut itu menghela nafas. Bukan sikap pria itu yang membuatnya lelah. Tapi dia yang tidak bisa membenci pria itu.

***Sifany***

Langkah kaki Tiffany menyusuri bangsal rumah sakit. Sesekali ia melirik jam yang terpasang cantik dilengan kirinya. Untung saja dia belum terlambat dari waktu yang disebutkan. Sebenarnya dia juga heran kenapa orang tersebut mengajaknya bertemu disini. Kenapa tidak dirumah atau ditempat lain saja?

Begitu menemukan ruangan yang dimaksud, wanita dengan rambut digulung keatas itu mengetuk pintu. Ia kemudian masuk setelah dipersilahkan oleh yang punya ruangan.

“Annyeong haseyo….”

Tiffany menyapa ramah tiga sosok perempuan yang ada didalam. Ada Ibu mertuanya, nenek dari suaminya dan tentunya seorang dokter muda nan cantik bername-tag Im Yoona.

“Ada apa, Eommonim, Halmoni?…” Tanya Tiffany sembari mendekat. Pasangan Ibu mertua dan menantu itu terlihat menghela nafas. Perempuan yang ia panggil Eommonim tadi bangkit. Mendekati Tiffany dan mengusap bahunya pelan.

“Fany-ah…”

“Ne, Eommonim …” Tiffany menatap wajah perempuan itu.

“Maaf jika kami membuatmu merasa tersinggung. Kami membawamu kesini untuk memeriksakan kondisimu pada dokter…” Tiffany masih memperhatikan wajah itu. Kali ini dengan dahi yang berkerut.

“Ne? Memangnya ada apa denganku, Eommonim?….”

Tiffany tak mengerti. Dia sangat tahu kalau dua perempuan itu begitu menyayanginya. Selama dua tahun mereka menjadi sebuah keluarga, dia bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang keduanya. Tapi kenapa mereka  mendadak seperti ini? Seingatnya dia tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang kesehatannya.

“Tidak ada apa-apa. Kita hanya akan memeriksa kondisimu. Apakah baik-baik saja atau tidak. Jangan cemas, ini tidak akan lama…”

Tiffany melirik perempuan yang lebih tua dan masih duduk dikursinya.

“Lakukan saja…” Perintahnya dengan memalingkan wajah. Tiffany makin tidak mengerti.

“Mari. Sebelah sini, Tiffany-ssi…”

Tiffany menoleh ke arah suara. Tampak olehnya  dokter cantik itu menunjuk sebuah ranjang yang tertutup oleh tirai berwarna putih.

Tiffany memperhatikan ruangan dimana kini ia berada. Terlihat olehnya gambar-gambar reproduksi wanita serta gambar Ibu hamil dan menyusui. Tiffany mengernyit. Dia sedang berada diruangan dokter kandungan?

***Sifany***

Si won masuk kedalam rumah orang tuanya dengan terburu-buru. Dia mendapat telfon dari Oemmanya yang mengharuskannya datang saat itu juga. Yang mengakibatkan ia dengan terpaksa meninggalkan pekerjaan. `Sepenting apakah urusan ini?` Batinnya kesal.

“Silahkan masuk, Tuan…”

Si won memasuki ruang keluarga. Tampak olehnya disana sang nenek tengah mengatur nafas. Mungkin orang itu baru selesai meluapkan emosinya dengan penuh amarah. Disofa lain, tampak olehnya sang Oemma menangis dengan kedua tangan yang menutupi wajah. Dan terakhir, matanya melihat Tiffany menangis dengan wajah tertunduk dan tangan yang memegang kuat tali tasnya.

“Ada apa, Halmoni?…”

Plak!

Pertanyaan Si won dijawab dengan tamparan keras dari neneknya. Si won tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya mengusap pipinya dan menatap sang nenek dengan pandangan meminta penjelasan. Apa maksud orang itu menamparnya tiba-tiba?

“Benar-benar tidak berguna! Apa maksudmu memperlakukan Tiffany seperti ini? Hah? Kau benar-benar berengsek, Si won. Siapa yang mengajarkanmu untuk bersikap seperti ini?!”

Si won menatap garang Tiffany yang masih menangis disofa. Apa wanita itu mengadukan semua sikap dan perilakunya selama ini?

“Kami menunggu selama ini untuk melihat keturunan keluarga Choi lahir, tapi itu tidak akan pernah terjadi karena kau tidak pernah menyentuhnya. Jika kau tidak menginginkan pernikahan ini, katakan sejak awal. Dengan begitu kau tidak akan pernah menyakiti perempuan seperti ini…”

Suara nenek Si won  melemah. Dia terduduk disofa dan menangis. Sungguh, dia tidak percaya dengan kenyataan ini. Selama dua tahun ini pasangan cucu dan cucu menantunya itu terlihat baik-baik saja. Meski dia merasa ada sedikit kecanggungan saat keduanya bersama tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau hubungan keduanya akan seburuk ini.

“Oemma tidak tahu harus berbuat apa. Coba kau pikir, bagaimana reaksi keluarga Tiffany jika mereka mengetahui hal ini? Kau benar-benar memalukan…”

Nyonya Choi menatap anaknya marah. Tentu saja. Dia tahu seperti apa perasaan Tiffany. Dia juga seorang wanita.

“Oemma, cobalah untuk mengerti posisiku….”

“Memangnya kenapa denganmu? Kau sudah beruntung mendapatkan istri sepertinya…” Marah nenek Si won.

“Tapi Halmoni…”

“Cukup!” Pekik Halmoni.

“Aku tidak mau tahu. Mulai sekarang kau harus memperlakukan Tiffany dengan baik atau kau akan ku coret dari silsilah keluarga ini!”

Si won sontak menatap tajam Tiffany yang masih menangis. Ck, sebenarnya siapa wanita itu hingga keluarganya begitu  menyayanginya?

***Sifany***

“Akhh…”

Tiffany memekik tertahan. Air matanya mengalir deras saat menyadari kalau kini ia tengah diseret paksa oleh Si won masuk ke rumah mereka.

“Akhh…” Si won mendorong Tiffany keatas ranjang. Wanita itu tampak meringis memegang pergelangan tangannya yang memerah karena kuatnya genggaman Si won.

Tiffany mengangkat wajahnya. Matanya membulat saat mendapati Si won tengah melepas kemejanya.

“O-Oppa…”

Tiffany bergetar. Cukup takut melihat bagaimana pria itu menatapnya sekarang. Tiffany menundukkan wajahnya. Tak mau melihat Si won  yang mulai naik keatas ranjang dan mendekatinya.

Sret!

“Argh!”

Tiffany memekik ketika tiba-tiba Si won menarik bajunya hingga robek. Spontan ia menutupi bagian dadanya yang terekpos dengan kedua tangannya.

Si won tersenyum sinis melihatnya. Dia bergerak lebih dekat. Lalu diraihnya dagu Tiffany agar mata itu menatapnya.

“Setidaknya kau memiliki tubuh yang bagus…” Ujar Si won memperhatikan tubuh Tiffany. Tiffany menepis tangan yang menyentuh dagunya itu. Lalu berdiri memungut sobekan bajunya dan segera beranjak keluar. Tapi niatnya gagal karena Si won sudah menarik tangannya.

“Lepaskan, Si won!”

Si won tertawa. Baru kali ini wanita itu memanggilnya dengan nama dan nada penuh amarah seperti ini.

“Wae, bukankah kita harus memberikan seorang bayi untuk penerus keluarga ini, hm?…”

Tangan dan mata Si won menelusuri setiap lekuk wajah Tiffany. Baru disadarinya kalau semua ini benar-benar indah. Kenapa dia mengacuhkannya selama ini? Si won menatap Tiffany yang terdiam dan gemetar. Apa yang dipikirkan wanita itu sekarang?

“Lepaskan, Oppa. Jebal…”

Tiffany memohon sambil berusaha melepaskan tangannya dari Si won. Tapi sepertinya usahanya sia-sia karena pria itu dengan mudah membantingnya kembali keranjang. Menindihnya dan mulai menciuminya.

“Eummhp…”

Tiffany berusaha berteriak. Tangannya memukul lengan kekar yang tengah mengunci tubuhnya. Menyuruh pria itu untuk menghentikan aksinya. Tiffany tidak hanya kesulitan untuk bergerak dan bernafas. Dia juga kesakitan karena pria itu menciuminya dengan sangat kasar.

Ciuman yang awalnya panas dan kasar itu perlahan berubah lembut. Si won terlihat sangat menikmatinya. Tiffany sempat terbawa suasana tapi dia tidak boleh terlena. Merasa punya kesempatan, dengan segera ia mendorong tubuh Si won hingga keduanya terduduk.

Plak!

Tiffany menampar wajah Si won. Bukannya marah pria itu malah tersenyum sambil memegangi pipinya yang baru ditampar Tiffany.

“Ck! Kau tidak perlu jual mahal, Tiffany. Aku tahu kau sudah menantikan saat-saat seperti ini, hm?…”

“Eoh!” Tiffany menjawab dengan nafas yang memburu.

“Aku sangat berharap bisa menjadi istri yang baik untuk suamiku. Melakukan semua kewajibanku untuk menyenangkan hatinya. Tapi perlu kau ketahui Si won, tidak dengan cara seperti ini…” Tegas Tiffany. Si won lagi-lagi tersenyum melihat bagaimana cara wanita yang biasanya lembut itu menatapnya tajam penuh amarah.

“Kau terlihat lebih manis dengan tatapan seperti ini…”

Tiffany menepis tangan Si won yang baru menyentuh pipinya. Dia bersiap untuk bangkit dari duduknya tapi lagi-lagi Si won menahannya.

“Kau yang membuatku seperti ini. Kau juga yang membuatku dimarahi oleh Oemma dan Halmoni. Tidakkah kau harus bertanggung jawab?…” Si won menatap Tiffany intens. Bulir-bulir  bening itu kembali mengalir dari mata indahnya.

“Lepaskan aku, Oppa. Jebal…” Tangis Tiffany memohon. Namun Si won menatapnya dengan sangat bergairah.

“Tidak akan!”

***Sifany***

Tiffany masuk ke kediaman mewah keluarga Choi. Ditangannya ada setermos soup yang sudah ia siapkan untuk nenek Si won. Sejak hari itu, dia belum mengunjungi keluarga ini. Apalagi dia mendengar kesehatan perempuan itu menurun akhir-akhir ini.

“Tiffany?…” Tiffany membungkuk sekilas memberi hormat.

“Mianhe, Eommonim. Aku baru sempat berkunjung…” Nyonya Choi tersenyum dan merangkul pundak Tiffany.

“Gwenchana…” Wanita paruh baya itu menghela nafas sejenak. Jujur, dia sangat kasihan dengan menantunya itu.

“Oemma tahu kalau kau sangat sibuk dengan butikmu. Lagi pula, halmoni hanya kurang enak badan. Bukan masalah besar…”

“Gwenchanayo, Eommonim. Aku tidak begitu sibuk dibutik jadi aku masih punya waktu…” Nyonya Choi tersenyum lembut. Andai putranya tahu betapa ia sangat beruntung memiliki Tiffany yang cantik dan baik ini, pasti keluarganya sangat bahagia.

“Kajja, halmoni pasti senang melihatmu datang…” Ajaknya.

Tiffany mengangguk. Keduanya langsung menuju kamar yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Eommonim, lihat siapa yang datang…”

Choi Halmoni menoleh. Senyumnya mengembang begitu melihat siapa yang dimaksud. Namun hanya sesaat senyum itu berubah. Dia masih merasa kurang enak dengan Tiffany setelah mengetahui bagaimana cucunya memperlakukan wanita cantik itu.

“Halmoni tidak senang melihatku datang?…”

Tiffany bertanya setelah duduk disisi ranjang. Membuka termos berisi soupnya. Nyonya Choi juga tak tinggal diam. Dia mengambil mangkok yang baru dibawakan Ahn Ahjumma dan memberikannya pada Tiffany.

“Eommonim akan merasa jauh lebih baik setelah memakan soup buatan Tiffany…”

Tiffany tersenyum menanggapi ucapan Ibu mertuanya. Kembali diliriknya sang nenek yang sudah duduk dari posisinya.

“Bagaimana hubungan mu dengan Si won?…”

“Kami baik…”

Tiffany menjawab cepat. Berharap kedua perempuan yang kini bersamanya itu ikut senang. Tapi yang terjadi semuanya malah terdiam. Choi halmoni menghela nafas dan membuang muka.

“Kami tidak akan memaksamu lagi…” Tiffany menatapnya dengan dahi berkerut.

“Kau boleh mencari pria yang lebih baik untukmu…” Tambah Nyonya Choi menjelaskan. Sebenarnya sangat berat bagi keluarga mereka jika Si won dan Tiffany harus berpisah. Itu merupakan sebuah aib bagi keluarga terhormat seperti mereka. Tapi mereka juga tidak akan membuat keduanya hidup seperti ini lagi. Semua orang berhak bahagia.

***Sifany***

Butik bergaya minimalis dengan logo T&J dipintu masuk itu terletak dikawasan pertokoan elit di Gangnam. Butik tersebut memproduksi pakaian wanita dengan konsep klasik tapi tetap modern. Diperuntukkan bagi perempuan dari kalangan menengah keatas. Terdapat pakaian casual untuk dipakai sehari-hari, pakaian kantor yang elegan serta beragam dress yang simple namun terlihat mewah. Selain itu, mereka juga memproduksi sepatu, beberapa desain dompet serta tas dan parfum.

“Ne. Gumawoyo, Jung woo-ssi. Kami tidak akan mampu melakukan semua ini tanpamu. Desain? Kami sudah menyiapkan semuanya. Hanya menunggu stagenya jadi dan hari H-nya. Pastikan kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, aratchi?…”

“Ne…”

Wanita berambut cokelat kemerahan yang tergerai itu menutup telfonnya. Tangannya kembali sibuk merapikan kertas-kertas yang bertebaran diatas meja. Setelah selesai, diambilnya dua gelas coffee yang tadi ia pesan melalui pegawainya.

Waktu hampir menunjukkan jam makan siang. Namun sepertinya dia belum berniat untuk mengisi perutnya selain dengan coffee yang kini ia bawa menuju meja yang tak jauh darinya. Dimeja itu, seorang wanita berambut hitam duduk. Rambutnya dikuncir satu dengan poni yang menutupi keningnya.

“Ingin coffee?…” Jessica menawarkan. Sosok itu menoleh. Diterimanya gelas itu dan mulai meneguknya.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk melamun, Tiff. Banyak yang harus kita persiapkan untuk fashion show kita…” Jessica menatap sahabatnya lembut. Yang dibalas dengan senyum yang tak kalah lembut dari Tiffany.

“Mian…”

Hanya itu yang diucapkan Tiffany. Sebenarnya dia juga tidak enak pada Jessica. Akhir-akhir ini dia sering melamun dan tidak berkonsentrasi pada pekerjaan. Padahal fashion show mereka tinggal dua minggu lagi.

“Kau masih memikirkannya?…”

Tiffany menatap Jessica sekilas. Sebelum pandangannya ia alihkan keluar melalui dinding kaca besar itu. Melihat orang-orang yang sibuk berlalu-lalang.

“Memikirkan apa maksudmu?…”

“Malam itu. Malam dimana Choi Si won merenggut kesucianmu dengan…”

“Dia suamiku, Jessie…” Tiffany memotong ucapan Jessica. Tentu dia tidak suka dengan bahasa wanita itu yang terdengar kasar. Jessica memutar bola matanya.

“Dan sayangnya dia tidak pernah menganggapmu sebagai istrinya. Come on, Tiff. Berhenti menjadi wanita bodoh. Kau berhak bahagia…”

“Aku bahagia…” Sela Tiffany cepat. Jessica menatap dua bola mata Tiffany. Tahu Jessica sedang mencari pembenaran dari ucapannya, dengan segera Tiffany mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Dia hanya butuh waktu untuk menerimaku, Sica-ya…” Lirihnya.

Ya, Tiffany meyakini itu. Wajar jika Si won tidak menyukainya karena mereka dijodohkan. Yang dari awal ia tahu kalau Si won sama sekali tidak menerima pernikahan ini.

“Tapi sampai kapan? Tiga tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun?…” Tiffany terdiam. Jujur, dia juga tidak tahu sampai kapan. Tapi ia percaya, saat itu pasti datang.

“Oh ya, kau sudah bersiap? Besok kita harus ke Jepang…”

“Jepang?…” Tiffany ingat. Ada hal yang perlu mereka lakukan di negeri sakura itu sebelum fashion show mereka di gelar.

***Sifany***

Si won  masih betah duduk dimeja kerjanya. Tangannya mengetuk-ngetuk permukaan meja sambil sesekali melirik arlojinya. Jujur saja, pekerjaannya sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Tapi dia masih tetap berada disini untuk menunggu seseorang.

Tiffany? Si won tersenyum kecil. Percaya atau tidak, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Akhir-akhir ini dia selalu ingin melihat wanita yang selalu ia acuhkan itu. Entahlah, sejak malam itu dia merasa sangat bahagia bisa memilikinya walau tahu mungkin wanita itu sedikit terluka.

Sebenarnya, Si won juga tidak akan seperti ini kalau wanita itu tidak menghindarinya. Jika biasanya Tiffany selalu menunggunya pulang bekerja, menemaninya sarapan dan makan malam meski tanpa obrolan namun sekarang berbeda. Setelah malam itu, Tiffany terkesan menghindarinya. Wanita itu sudah tertidur saat ia pulang dan sudah berangkat kerja saat  dia sarapan.

Tiffany bukan sepenuhnya menghindar. Namun dia memiliki kesibukan yang bisa membantunya untuk menghindari Si won.

Dan sekarang, Si won tengah menunggunya. Biasanya jika ia berlama-lama di ruang kerjanya, Tiffany akan datang untuk mengantarkan secangkir coffee berikut kudapannya.

Tok Tok

Si won terkesiap. Dia segera memperbaiki duduknya dan mulai mengetik sesuatu pada komputer.

Tiffany masuk. Langkahnya mendekati meja Si won. Lalu diletakkannya cangkir coffee yang ia bawa diatas meja.

“Coffee-nya, Oppa…”

“Hm…” Si won menyahut singkat tanpa menoleh. Tiffany hanya tersenyum maklum. Biasanya juga seperti ini.

“Eum, Oppa…”

Si won mengalihkan pandangannya pada Tiffany. Biasanya sehabis mengantar coffeenya Tiffany akan segera keluar. Apa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan? Apa itu?

“Ada yang ingin ku katakan…” Si won terdiam sesaat.

“Katakan saja…” Tiffany mengangguk singkat.

“Aku harus ke Jepang untuk mengurus sesuatu sebelum fashion show kami…” Si won masih diam, menunggu Tiffany menyelesaikan ucapannya.

“Aku boleh pergi?….” Tanyanya pelan dengan menatap wajah pria itu. Si won kembali pada komputernya.

“Itu pekerjaanmu, terserah kau saja….”

Tiffany tersenyum kecil. Kecewa? Tentu saja. Dia tidak keberatan jika Si won melarangnya pergi. Setidaknya pria itu memperhatikannya. Tapi sepertinya percuma dia berharap.

“Ne. Gumawoyo, Oppa…”

Tiffany keluar dan pintu pun tertutup. Si won menghentikan aktivitas mengetiknya dan menghela nafas kasar. Apa sebaiknya yang harus ia perbuat sekarang? Semoga Tiffany pergi bukan untuk menghindarinya karena kejadian beberapa hari yang lalu.

***Sifany***

Jessica memperbaiki tatanan rambutnya selagi Tiffany mengambil undangan di dashboard mobil. Mobil mereka sudah terparkir didepan sebuah butik di kawasan Sibuya itu. Tujuan mereka kesini adalah untuk mengundang pemilik butik tersebut agar bersedia datang menghadiri fashion show mereka.

“Tiff, menurutmu dia tidak akan mengusir kitakan?…” Jessica tampak cemas.

“Dia tidak akan melakukan itu terhadapku tapi, aku tidak yakin denganmu…”

“Fany-ah…” Jessica merengek manja. Tiffany tersenyum dan menggandeng wanita cantik itu masuk.

“Berdoa saja kalau dia sudah memaafkanmu….”

Jessica cemberut sambil terus melangkah bersama Tiffany. Keduanya memasuki butik yang dipenuhi oleh pakaian-pakaian casual nan elegan itu. Jessica menggenggam lengan Tiffany erat.

“Ya, pegawai disudut sana memperhatikanmu…”

Jessica melempar death glarenya kearah yang dimaksud Tiffany. Perempuan muda asli Jepang itu segera mengalihkan pandangannya. Tentu saja dia terkejut melihat Jessica dan Tiffany kembali ke tempat mereka.

“Aish, mengganggu sekali…”

Gerutunya sebelum ditarik Tiffany pergi. Mereka menemui seorang pegawai yang baru saja selesai melayani pembeli. Perempuan muda itu terlihat terkejut melihat kedatangan keduanya. Terlebih gadis berambut cokelat kemerahan itu. Bukan apa-apa. Mereka sama-sama dari Korea jadi dia ingat dengan jelas bagaimana wanita itu dulu datang dan memaki bos mereka.

“Selamat datang. S-senang melihat kalian kembali…” Sapanya sedikit gugup. Dia merasa lebih tenang saat melihat senyum Tiffany.

“Maaf jika pertemuan pertama kita membuatmu merasa tidak nyaman. Kami datang untuk bertemu Soo young-ssi. Apa dia ada?…”

“Soo young Unnie? Ne, dia baru saja datang. Mari, ikut saya…”

Perempuan itu membawa Tiffany dan Jessica ke lantai dua menuju ruangan bos mereka. Jessica merasa cukup gugup ketika menginjak lantai itu untuk kedua kalinya. Andai dulu dia bisa menahan emosi, pasti pertemuan kedua ini lebih baik, bukan?

“Tenanglah. Lagi pula kenapa kau merasa bersalah sekali? Bukankah biasanya kau memang selalu bersikap semaumu?…”

“Tapi ini berbeda, Tiff. Dia orang Korea dan lebih parahnya lagi ternyata dia adik kelasku saat SMA…”

“Silahkan masuk, Agasshi. Nyonya Choi menunggu didalam…”

“Ne. Gamsahamnida….”

Perempuan muda itu pergi meninggalkan Tiffany serta Jessica yang masih enggan masuk.

“Gwenchana…” Tiffany mengetuk pintu dan mereka pun masuk. Seorang perempuan tinggi dengan blazer biru muda menyambut mereka dengan senyum lebar.

“Aku cukup terkejut mendengar kalian datang. Kenapa tidak mengabariku dulu, Tiffany-ssi? Setidaknya kita bisa mengobrol santai diluar…”

“Gwenchana. Kami hanya berkunjung sebentar…” Soo young tersenyum lalu melirik Jessica yang tersenyum canggung disebelah Tiffany.

“Hai, Soo young-ssi. Senang kita bisa bertemu lagi…”

Soo young tertawa. Dia ingat bagaimana dulu gadis itu datang dan mencaci-makinya. Beberapa waktu lalu Tiffany dan Jessica  sempat muncul dibutiknya. Pemicunya adalah bahan mereka yang tertukar. Bahan untuk desain utama Tiffany dan Jessica tertukar dengan bahan yang harusnya untuk butik Soo young. Jessica yang terlanjur emosi datang sambil marah-marah dan menuduh Soo younglah yang menukar bahan tersebut. Padahal sudah jelas itu kesalahan dari tempat mereka membeli bahan.

“Senang juga melihatmu kembali, Jessica-ssi. Mari, silahkan duduk…”

Tiffany dan Jessica duduk di sofa dalam ruangan itu. Pegawai perempuan tadi muncul dengan tiga cangkir teh hijau hangat ditangannya.

Soo young mempersilahkan tamunya untuk mencicipi minumannya.

“Apa ada masalah lain?…” Soo young bertanya.

“Aniyo, Soo young-ssi. Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktumu…” Soo young mengibaskan tangannya.

“Aniyo. Aku senang melihat kalian datang….” Tiffany menyerahkan undangan ditangannya.

“Fashion show kami akan segera digelar. Kami harap, kau bersedia untuk datang. Setidaknya kita bisa memulai pertemanan yang baik, bukan?…” Soo young menerima undangan tersebut dengan senang hati.

“Aku senang mendengarnya. Dan aku pasti akan datang…” Janjinya. Tiffany tersenyum penuh terima kasih.

“Tunggu, ku dengar suamimu adalah Choi Si won. Aigo, kau pasti wanita paling beruntung diseluruh Korea. Bukan begitu, Jessica-ssi?…”

Jessica yang terkejut ketika Soo young tiba-tiba menyebut namanya spontan mengangguk.

“Tentu. Dia adalah ratu…” Tiffany tersenyum kecil lalu menyesap tehnya.

“Eum, untuk hal yang terjadi beberapa waktu lalu, aku minta maaf. Waktu itu aku hanya sedang…emosi, yah begitulah…” Soo young tertawa kecil.

“Aku sama sekali tidak terganggu, Jessica-ssi. Kita dulu satu sekolah, bagaimana mungkin aku tidak tahu bagaimana dirimu? Terlebih jika bertemu Dong hae Oppa…”

“Kau juga mengenal Dong hae Oppa?….” Tiffany bertanya senang. Soo young mengangguk semangat yang dibalas tatapan tak suka Jessica.

“Bisa kita berganti ke topik yang lebih bermutu? Aku ingin tahu bagaimana kau bisa memulai bisnis disini…” Tiffany dan Soo young tersenyum menggoda ditempat masing-masing.

“Tentu. Aku akan menceritakannya dengan senang hati….”

***Sifany***

Si won melempar Koran paginya. Dari tadi tidak ada satu hal pun yang menarik untuk dilakukan. Bahkan berbaring saja dia resah.

“Aish!” Si won tampak menggerutu dan mengacak rambutnya. Kenapa wanita itu harus berangkat dihari liburnya?

Si won melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Berjemur dengan matahari pagi sepertinya akan membuatnya merasa lebih baik. Dia juga tidak tahu kenapa malah memikirkan Tiffany disaat seperti ini. Yang jelas, saat tubuh mereka menyatu pada malam itu, dia merasa sangat bahagia bisa memilikinya.

“Hah!”

Si won mengusap wajahnya. Ada apa sebenarnya dengan dirinya. Kenapa dia begitu sulit tanpa Tiffany padahal biasanya dia baik-baik saja. Apa dia mulai menyukainya?

Kalau dipikir-pikir, tidak ada yang salah dari wanita berdarah campuran Korea-Amerika itu. Dia baik dan pandai dalam pekerjaannya. Sebagai bukti, Tiffany sukses dengan butiknya dan cukup diperhitungkan sebagai  desainer muda terbaik di Korea ini. Dalam urusan pekerjaan rumah tangga dia juga bisa diandalkan. Wanita itu memiliki sense yang bagus  dalam mengatur rumah. Masakannya juga enak. Soal kecantikan? Haruskah dipertanyakan lagi? Dia memiliki wajah yang sangat cantik dengan mata yang indah. Hidung yang agak mancung, dagu yang lancip, kulit yang putih bercahaya, rambut hitam yang lembut, tubuh yang wangi dan…

Si won segera bangkit dari duduknya. Kepalanya menggeleng kuat.

“Ok, Si won. Cukup! Hentikan sebelum kau benar-benar menginginkannya!”

***Sifany***

Tiffany sudah menatap layar ponselnya sejak satu jam yang lalu. Menunggu telfon atau setidaknya pesan dari seseorang yang sangat  ia rindukan. Tapi sepertinya percuma, selama dua tahun pernikahan mereka, apa pernah pria itu menghubunginya? Kalau ada  acara yang harus dia hadiri bersama Si won pun, sekretaris pria itulah yang akan menelfonnya. Dia sebenarnya ingin saja menelfon tapi dia takut jika ia sampai mengganggu.

Tok Tok

Tiffany menoleh kearah pintu kamar hotel tempatnya menginap. Siapa yang bertamu?

“Tiff, ini aku…” Terdengar suara dari luar.

“Sica? Masuklah…” Suruh Tiffany. Tak lama muncul sosok Jessica dan langsung naik keranjang Tiffany.

“Ada apa?…” Tiffany bertanya. Menanyakan kedatangan sahabat baiknya itu ke kamarnya malam-malam seperti ini.

“Wae, aku tidak boleh tidur disini?….”

Jessica merengut. Tiffany dan Soo young sudah cukup membuatnya kesal seharian ini. Tiffany tersenyum dan meletakkan ponselnya dimeja nakas. Lalu menarik selimutnya untuk berbaring bersama Jessica yang sudah berbaring disebelahnya.

“Kau menunggu telfon dari Si won?…” Tiffany tersenyum kecil.

“Anni…” Jawabnya pelan seraya menatap langit-langit kamar. Jessica yang juga dengan aktivitas yang sama segera berbaring menghadap Tiffany.

“Aktingmu buruk sekali, Mrs. Choi…” Tiffany tersenyum mendengar panggilan itu. Jessica melipat tangannya seraya mencibir kesal.

“Aku tidak mengerti dengan pria bodoh itu. Setelah mengambil keperawananmu dia tetap mengacuhkanmu seperti biasa?…” Tiffany menghela nafas dan menatap sahabatnya.

“Dia suamiku, Jessie…” Tiffany menekankan kalimat itu sekali lagi. Berharap lain kali Jessica tidak akan mengulanginya.

“Eoh, dan kau sangat bodoh karena mau menjadi istri dari pria macam dia. Keluarganya saja sudah setuju jika kalian berpisah. Kenapa kau masih ingin mempertahankannya? Apa dia pernah memperlakukanmu dengan baik? Tidak! Apa dia pernah menganggapmu ada? Tidak! Apa dia pernah menganggapmu sebagai istrinya? Mungkin saja hanya pada malam itu…”

Tiffany menghela nafas mendengar semua ucapan Jessica. Mungkin benar, dia adalah orang yang bodoh karena mau tersakiti seperti ini. Tiffany bukannya tidak sakit dan terluka. Namun dia merasa kalau dia hanya perlu bersabar. Dia yakin suatu saat nanti Si won pasti akan bisa menerimanya. Semoga saja.

“Tiff…”

“Tidurlah, Sica-ya. Sudah malam….” Suruh Tiffany. Dia mulai menyelimuti tubuhnya dan memunggungi Jessica.

“Huh, selalu saja Si won yang dibela…” Sungut Jessica sebal dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.

***Sifany***

Si won memperhatikan wanita paruh baya yang sedang menghidangkan sarapan untuknya. Jika tiga hari ini dia membuat sarapannya sendiri atau memilih sarapan diluar, berbeda dengan pagi ini. Secara tiba-tiba Oemmnya datang dan menyiapkan sarapan untuknya. Dan apa yang kini terhidang dihadapannya? Lasagna dan coffee. Membuatnya teringat dengan seseorang saja.

“Semalam Tiffany menelfon dan meminta Oemma menyiapkan sarapan untukmu…” Jelas Nyonya Choi mengambil tempat dikursi. Si won hanya diam dan mulai memakan sarapannya.

“Katanya kau sering menyuruhnya untuk menyiapkan lasagna. Sejak kapan kau menyukainya?…”

Si won hanya diam. Dia memilih menikmati makanannya dari pada menjawab pertanyaan sang Oemma. Sejujurnya, Si won dulu tidak menyukai lasagna. Namun menu ini adalah makanan pertama yang disajikan Tiffany untuknya. Dan entah rasa lasagna  itu memang enak atau karena Tiffany yang membuatnya dia jadi menyukainya. Sebenarnya bukan hanya lasagna, semua makanan yang dibuat Tiffany pasti enak dilidahnya.

“Apa rasanya aneh?…” Nyonya Choi bertanya karena anaknya hanya terdiam. Si won tersenyum seraya menggeleng.

“Aniyo, Oemma. Ini cukup enak…” Si won kembali menikmati lasagnanya dengan tenang. Nyonya Choi tampak menghela nafas. Pikirannya tertuju pada hubungan anak dan menantunya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Tiffany?…” Si won menghentikan suapannya sejenak.

“Kami baik, Oemma…” Jawabnya dengan senyum. Berharap Oemmanya tidak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi.

“Kau yakin?…”

“Setidaknya dia minta izin ke Jepang  dengan baik-baik padaku…”

“Kalau dia benar-benar ingin pergi?…” Si won menatap Oemmanya tak mengerti.

“Maksud Oemma?…” Nyonya Choi kembali menghela nafas.

“Halmoni sudah memberikan kebebasan pada Tiffany. Dia boleh tetap tinggal atau pun pergi…”

Si won terdiam. Jujur dia terkejut. Apa mungkin Halmoninya melakukan hal itu jika mengingat betapa ia sangat berharap pada pernikahan mereka selama ini? Belum lagi mengingat reputasi keluarga mereka. Tapi bagaimana kalau wanita yang belakangan mulai singgah dihati dan pikirannya itu benar-benar pergi?

“Sebenarnya ini sangat berat bagi kami. Kami sudah menyayangi Tiffany seperti keluarga sendiri. Akan sangat berat jika melepasnya. Apalagi jika harus melihatnya bersama pria lain. Aigo, memikirkannya saja Oemma ingin pingsan…” Nyonya Choi beralih menatap putranya. Memohon.

“Si won-ah, tidak bisakah kau memperlakukan Tiffany dengan semestinya? Dia wanita yang baik, Si won-ah. Akan sangat jahat jika kita memperlakukannya seperti ini…”

Perempuan itu kembali menghela nafas. Dia mengangguk. Dia tidak boleh memaksakan kehendaknya. Kebahagiaan keduanya jauh lebih penting dari apapun.

“Tapi ini yang terbaik. Kalian tidak bisa terus seperti ini. Tiffany berhak bahagia begitu pula denganmu…”

Si won masih terdiam. Benar-benar tidak bisa membayangkan jika apa yang Oemmanya katakan itu akan terjadi. Beberapa hari ini saja tanpa wanita ia kacau apalagi kalau Tiffany sampai pergi darinya?

“Kapan Tiffany pulang, Oemma?…”

“Katanya besok…”

***Sifany***

“Sekretaris Kim, tolong urus pertemuanku dengan Gangsan Group besok lusa. Dan laporan dari Manager Han, tolong serahkan padaku…”

“Baik, Sajangnim…” Sekretaris Kim keluar usai menerima perintah dari sang atasan. Bersamaan dengan itu seorang pria lain masuk ke ruangan Si won.

“Sepertinya kau cukup sibuk…”

Kepala Si won terangkat. Dia tersenyum kecut melihat siapa orang itu. Tamu yang tak diundang tersebut langsung duduk di sofa dengan senyum sinis dan angkuhnya. Si won kembali pada file ditangannya.

“Untuk apa kau datang?….” Pria itu tertawa singkat. Sepertinya suara dingin Si won terdengar cukup lucu ditelinganya.

“Kau akan memberikan apa yang aku pinta?…” Si won tersenyum sinis. Siapa dia dan siapa orang itu?

“Aku meminta Tiffany…”

“Tsk!” Si won berdecak. Dia sudah menduganya.

“Maaf Tuan Lee, tapi sepertinya kau salah alamat…” Pria bermarga Lee itu kembali tertawa dan mengangkat kakinya ke atas meja. Duduk santai seperti penguasa di ruangan itu.

“Aku membiarkanmu memiliki Tiffany bukan untuk menyakitinya, kau tahu?…”

“Kalau aku memberikannya padamu, tidakkah itu lebih menyakitinya? Dia menyukaiku Dong hae-ssi, bukan kau…”

Tegas Si won dengan menekankan kata-katanya. Salah satu alasannya mempertahankan pernikahannya selain karena keluarganya adalah pria itu. Dia dan Dong hae adalah rival sejak kecil. Mereka selalu bersaing untuk menentukan siapa yang terbaik dalam hal apapun. Hubungan keduanya makin buruk saat Tiffany muncul. Dimana Dong hae menyukai Tiffany sementara Tiffany lebih memilih Si won.

“Ck, katakan saja kalau kau mulai menyukainya…”

“Aku memang menyukainya!” Si won menegaskan ucapannya. Dua pria itu saling menatap tajam. Tak lama kemudian Dong hae tertawa. Lalu bangkit untuk merapikan jasnya.

“Baguslah. Ku harap kau tidak menyia-nyiakannya. Kalau itu terjadi, aku akan mengambilnya darimu. Bagaimana pun caranya…” Peringat Dong hae sebelum meninggalkan ruangan itu beserta Si won dengan langkah santai. Si won tersenyum sinis.

“Dasar tidak tahu malu…”

***Sifany***

Tiffany menyeret koper dengan sebelah tangan yang ia masukkan dalam saku coatnya. Dia sudah berpisah dengan Jessica beberapa detik yang lalu. Urusan mereka di jepang sudah selesai. Tiffany mempercepat langkahnya untuk menyetop taxi yang lewat.

“Tax….” Tiffany menghentikan langkahnya saat matanya mendapati sosok yang tak asing baginya. Meski terkesan kaku tetap saja terlihat cool.

Tiffany tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia berlari kecil menghampiri pria itu dan memeluknya.

Si won terkesiap. Meski dia terkejut dengan aksi wanita itu tapi dia tetap tenang. Lagi pula, akan terlihat aneh jika seorang suami menolak pelukan dari istrinya. Siapa yang tidak kenal dengan pasangan ini di Korea? Sebagai pasangan pengusaha dan desainer terkenal tentu banyak yang mengenal keduanya.

Tiffany melepas pelukannya setelah sekian detik. Dia tersenyum meski tahu kalau ia sudah bersikap lancang pada pria itu. Tapi dia tidak ingin memikirkan apapun sekarang. Seorang Tiffany adalah orang yang selalu berpikir positif.

“Kau datang menjemputku, Oppa?…” Tanyanya senang. Si won berdehem seraya memperbaiki jasnya yang sedikit tidak rapi karena pergerakan Tiffany tadi.

“Eoh…” Jawabnya singkat.

“Ommonim yang menyuruhnya?…” Si won menatap wajah cantik itu. Terlihat tidak keberatan kalau Si won menjemputnya atas perintah seseorang.

“E…eoh…” Jawab Si won lagi. Gengsi mengakui kalau ia datang kesini atas keinginan sendiri.

Tiffany mengangguk. Dia tidak keberatan apapun alasan Si won. Yang jelas pria itu sudah meluangkan waktunya  dia sudah sangat senang.

“Gumawoyo, Oppa. Kau sudah mau meluangkan waktumu untuk menjemputku. Mianhe, kau pasti sibuk…”

“Gwenchana, aku sedang tidak banyak pekerjaan…” Jawabnya. Tiffany tersenyum menatap wajah tampan itu. Dia sangat senang karena Si won menjemputnya. Apalagi saat mendengar suaranya.

Si won berdehem. Jujur, dia sedikit salah tingkah dengan ulah wanita itu sekarang.

“Wae?…” Tanya Si won sembari mengusap tengkuknya. Tiffany tersenyum dan menggeleng.

Tak mau keadaan super canggung ini berlanjut, Si won segera menuju mobilnya dan membuka pintu untuk Tiffany. Tiffany terdiam, biasanya pria itu tidak akan melakukan hal ini jika tidak disaksikan oleh keluarganya.

“Kau ingin menginap disini?…” Si won bertanya karena wanita itu masih berdiri ditempatnya. Tiffany masih saja terdiam saat Si won mengambil alih kopernya dan memasukkannya kedalam bagasi.

“Tiffany?…”

“Eoh…” Tiffany tersenyum dan mengangguk. Dengan cepat dia masuk ke mobil dan memakai seatbeltnya. Ada apa dengan pria itu hari ini? Apa sesuatu terjadi selama ia di Jepang?

***Sifany***

Si won memperhatikan kumpulan orang-orang yang tengah menonton fashion show yang sedang berlangsung disalah satu pusat perbelanjaan di Seoul Itu. Tak terkecuali beberapa model dan dua orang wanita yang tengah berlenggok diatas catwalk. Melambaikan tangan sekaligus membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Gemuruh tepuk tangan dan buket bunga dipersembahkan sebagai penghargaan atas suksesnya pagelaran acara tersebut.

Klik!

Si won mematikan TV-nya usai sang reporter menyampaikan liputan. Senyum kecil tergambar diwajah Si won. Ikut senang karena acara tersebut berlangsung sukses. Setidaknya ini semua terbayarkan dengan kerja keras Tiffany dan Jessica selama ini.

Si won tersentak, dia benar-benar telah jatuh pada wanita itu. Akhir-akhir ini pikirannya hanya tertuju pada Tiffany dan Tiffany.

Tok Tok

Pintu ruangan Si won terbuka cepat bersamaan dengan munculnya sekretaris Kim.

“Maaf, Sajangnim. Saya baru saja mendapat telfon dari Oemma Anda…” Katanya dengan wajah panik.

“Oemma?…” Tanya Si won.

“Ne. Beliau menyuruh saya untuk menyampaikan kabar kalau istri Anda, Nyonya Choi baru saja dibawa kerumah sakit…”

“Mwo?…” Si won sempat terdiam untuk beberapa saat. Tiffany dirumah sakit? Dia bahkan baru saja melihat wanita itu semenit yang lalu. Bagaimana mungkin dia bisa berada dirumah sakit?

“Ne. Nyonya Choi tiba-tiba pingsan setelah wawancara…”

Tanpa menunggu lagi, Si won dengan cepat menyambar jasnya dan pergi. Tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.

***Sifany***

Langkah panjang Si won menuju ruang rawat Tiffany tampak tenang. Walau ia sangat khawatir namun ia harus tetap bersikap tenang seperti biasa. Si won menemukan  ruangan yang tadi disebutkan perawat. Dengan pelan ia meraih knop pintu dan masuk. Ada Oemma dan neneknya juga disana.

Si won menghampiri Oemmanya disisi ranjang Tiffany. Matanya memperhatikan wajah Tiffany yang tertidur. Lalu beralih pada neneknya yang baru ia sadari tengah menangis.

“Ada apa, Oemma?….” Si won bertanya pelan. Nyonya Choi mengusap hidungnya kemudian menarik nafas dengan pelan.

“Dia kelelahan dan pingsan…” Si won menyadari suara Oemmanya bergetar. Tak lama kemudian wanita itu memeluknya dan menangis. Membuat Si won makin tidak mengerti.

“Tiffany hamil, Si won-ah. Apa yang harus kita lakukan?…”

Nyonya Choi bertanya seraya memukul pelan dada putranya. Si won tersentak. Jujur dia sangat kaget tapi entah kenapa disaat yang bersamaan dia tersenyum. Mata Si won beralih pada Tiffany yang tertidur lelap diranjang. Benarkah sekarang wanita itu sedang mengandung anaknya? Darah dagingnya?

Si won menenangkan Oemmanya yang masih menangis. Setelah merasa membaik, dilepaskannya pelukan mereka dan menuntun Oemmanya untuk duduk kembali dikursi.

“Kenapa kalian menangis, bukankah selama ini kalian sudah menantikannya?…” Si won bertanya. Wajar jika ia merasa bingung dengan reaksi yang ia lihat sekarang. Ia tahu betapa dua perempuan itu begitu mendambakan kehadiran seorang bayi dikeluarga mereka.

Nyonya Choi yang mendapat pertanyaan itu menghentikan tangisnya. Diraihnya tangan Si won dan menatap mata anaknya lembut.

“Si won-ah…”

“Ne, Oemma…”

“Apa dia anakmu?….” Si won melongo. Apa maksud dari pertanyaan itu?

“Maksud Oemma?…” Dahi Si won berkerut hebat kala mengucapkan pertanyaan itu.

“Halmoni-mu khawatir, kau tidak pernah menyentuhnya, bisa saja kalau itu bukan-”

“Astaga, Oemma. Bukankah kalian mengenal Tiffany dengan sangat baik? Apa menurut kalian dia akan melakukan hal seperti itu?…”

Nyonya Choi mengangguk. Dia tersenyum dan beralih menggenggam jemari Tiffany.

“Oemma mengenalnya. Sangat-sangat mengenalnya. Dan Oemma percaya kalau janin yang dikandungnya adalah darah dagingmu. Fany-ah, cepatlah bangun. Kau ingin mendengar kabar baik, bukan? Aigo, kau pasti senang karena sekarang kau adalah calon Oemma…”

Si won meninggalkan Oemmanya yang masih mengenggam tangan Tiffany. Ia mendekati neneknya dan memberi salam. Sejak hari dimana dia ditampar sang nenek mereka belum pernah bertemu. Perempuan itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Tiffany yang kini selimutnya diperbaiki oleh Nyonya Choi.

“Sebaiknya Halmoni pulang dan istirahat…”

“Tidak perlu, aku akan menjaganya disini…”

“Tapi sebaiknya halmoni pulang, Oemma juga. Biar aku yang menjaga Tiffany disini…” Dua wanita itu saling pandang dalam diam.

“Kau yakin?…” Tanya Nyonya Choi. Pria itu hanya menjawab dengan anggukan namun terkesan tegas dan pasti.

***Sifany***

Sejak beberapa menit yang lalu Si won hanya menatap Tiffany. Memperhatikan wajah itu dengan seksama. Berharap kalau mata indahnya akan segera terbuka. Tapi sepertinya wanita itu masih terlelap dalam tidurnya.

Perhatian Si won beralih pada bagian perut Tiffany. Entah kenapa dia sangat senang saat mengetahui kalau didalam sana ada janin yang tengah berkembang. Darah dagingnya. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana perasaan bahagianya sekarang.

Jari-jari Tiffany perlahan bergerak. Matanya terbuka perlahan dan objek yang pertama ia lihat adalah Choi Si won.

Tiffany menggerakan bola matanya untuk memperhatikan sekeliling. Dia kemudian mengetahui kalau dia sedang berada dirumah sakit dan hanya ada Si won bersamanya diruangan ini.

“Kau cukup  berbaring jika tidak sanggup…” Suruh Si won saat Tiffany mencoba untuk duduk. Wanita itu tersenyum lalu bersandar dikepala ranjang.

“Kau menemaniku disini, Oppa?…”

Si won berdehem dan membuang mukanya. Kenapa dia menjadi sangat kikuk? Padahal itukan hanya sebuah pertanyaan sederhana. Mungkin senyum wanita itu yang membuatnya cukup tegang.

“Hm…”

“Gumawo, kau pasti sibuk. Aku baik-baik saja, Oppa. Kau bisa kembali kekantor sekarang…”

Si won menatap Tiffany. Wanita itu tampak menunduk sambil memainkan selimutnya. Tidak tahukan wanita itu kalau Si won sangat ingin bersamanya sekarang?

“Oemma dan Halmoni menyuruhku untuk menjagamu…” Tiffany mendongak. Jadi dua perempuan itu juga baru dari sini?

“Aku baik-baik saja, Oppa. Aish, Jessica dan Soo young berlebihan sekali. Kenapa mereka harus membawaku ke rumah sakit dan merepotkan banyak orang…” Gerutunya pelan. Seingatnya dia hanya pingsan karena kelelahan.

“Kau mau kemana?..” Tanya Si won cepat saat Tiffany akan  turun dari ranjang. Tiffany yang merasa aneh dengan sikap tiba-tiba pria itu terdiam.

`Sebenarnya siapa yang sakit?` batinnya. Menanyakan sikap aneh pria itu.

“Sebaiknya aku pulang saja, Oppa…”

“Tapi kau masih butuh istirahat…” Tiffany mengusap tengkuknya. Merasa belum terbiasa dengan sikap perhatian Si won.

“Aku istirahat dirumah saja, Oppa. Disini sedikit tidak nyaman…”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan mengurus administrasinya. Kau tunggu disini saja…” Si won keluar begitu kalimatnya usai. Tiffany menelengkan kepalanya. Apa terjadi sesuatu? Kenapa pria itu tampak sangat aneh dari hari ke hari?

***Sifany***

“Morning…”

Jessica menyapa riang lalu meletakkan barang-barang bawaannya dimeja makan. Tiffany yang sedang mengambil air putih dari kulkas ikut melirik barang yang dibawa sahabatnya itu.

“Apa itu?…” Tiffany  mendekat dengan mug ditangannya. Jessica dengan semangat mengeluarkan barang bawaannya dari kantong plastik.

“Kemana suamimu?…”

“Si won Oppa?…” Tanya Tiffany. Entahlah, pria itu sudah pergi sebelum ia bangun.

“Ke kantornya, mungkin?…”

“Mwo?!” Jessica bertanya kaget.

“Hei, dia pergi bekerja saat kau baru semalam keluar dari rumah sakit?…”

“Astaga, Jessie. Jangan berteriak. Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kemarin Dokter tidak mengatakan kalau aku terserang penyakit ganas, bukan?…”

Jessica memutar bola matanya lalu mendudukkan bokongnya dikursi dengan kasar. Ditatapnya Tiffany yang kini juga menatapnya dengan alis yang menyatu.

“Dia tidak mengatakan apa-apa padamu?…”

“Apa?…” Tanya Tiffany balik. Jessica menepuk kening lebarnya.

“Oh my God. Kenapa ada pria sepertinya didunia ini?!” Erangnya marah. Tiffany yang masih belum mengerti makin bingung melihatnya.

“Ada apa sebenarnya, Sica-ya? Kau membuatku bingung…”

“Aku membuatmu bingung? Aku dan seluruh orang dimuka bumi ini malah lebih bingung. Kau hamil, Tiff! Sementara pria yang katanya suamimu itu tidak mengatakan  apa-apa? Bahkan sekedar memberitahu kondisimu sekarang saja tidak?…”

Tiffany terdiam. Hamil? DIA???

“Lihatlah betapa menyedihkannya hidupmu. Ck, aku ragu apakah dia akan mengakui kalau itu adalah anaknya atau tidak…”

Tiffany tidak mendengarkan apapun ocehan Jessica. Dia hanya terdiam memikirkan dirinya yang kini tengah berbadan dua. Si won memang tidak mengatakan apapun padanya tentang hal ini. Tapi dia bisa merasakan kalau sikap suaminya agak berubah. Lebih perhatian.

Dua wanita itu menoleh ketika mendengar langkah kaki seseorang. Tak lama muncul sosok Si won dengan kantung plastik ditangannya.

“Kau sudah bangun?…” Tiffany bangkit saat Si won mendekat ke tempatnya. Pria itu menyerahkan kantong plastik berwarna putih ditangannya dan Tiffany menerimanya.

“Aku membelikanmu bubur. Semoga kau suka…” Ucap Si won dengan senyum ringan. Dua wanita itu saling lirik dalam diam.

“Aku harus kembali ke kantor. Istirahatlah.  Beritahu aku kalau kau menginginkan sesuatu…”

Si won pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Tiffany tidak melakukan apapun selain tersenyum menatap bubur ditangannya. Jessica yang melihat itu tersenyum dan berdecak pelan.

“Ck, lihatlah betapa menyedihkannya dirimu…” Ucapnya lalu kembali mengeluarkan barang-barang dari kantong plastiknya. Ada susu dan vitamin untuk wanita hamil. Dia juga membawa beberapa sayuran dan buah yang akan sangat baik dikomsumsi oleh Tiffany saat ini. Tapi sepertinya Tiffany lebih memilih buburnya.

***Sifany***

Sudah berulang kali Tiffany berganti posisi. Sejak tadi tidak ada satu posisi pun yang membuatnya nyaman. Si won yang berada disebelahnya pun menoleh. Tentu dia khawatir sebab sekarang sudah larut tapi Tiffany masih terjaga.

“Kau tidak bisa tidur?…”

“Ne?…” Kaget Tiffany.

“Gwenchanayo, Oppa…” Tiffany merasa tak enak. Pasti Si won tidak bisa tidur karena dirinya yang selalu gelisah sejak tadi. Si won duduk dari posisinya.

“Kalau kau ingin sesuatu katakan saja….” Tiffany menatap pria itu. Benarkah yang ia dengar?

Si won tersenyum kecil menyadari raut terkejut diwajah Tiffany. Tentu wanita itu merasa aneh dengan perubahan perilakunya.

“Mian, seharusnya aku bersikap baik padamu sejak awal. Tapi aku tidak pernah melakukannya…” Sesal Si won.

“Tidak perlu berkata seperti itu, Oppa. Aku baik-baik saja…”

Si won menatap Tiffany yang tengah tersenyum memperlihatkan eye-smilenya. Si won benar-benar menyesali kebodohannya setiap melihat senyum tulus itu.

“Jadi, sekarang kita harus bersikap sebagai pasangan suami istri pada umumnya. Kau tidak perlu canggung atau malu lagi padaku. Lakukan dan katakan apapun yang kau mau…”

Tiffany ingin menangis. Tapi dia tetap memperlihatkan senyum terbaiknya. Dia mendekat dan memeluk Si won. Sangat berterima kasih atas semua ini. Si won tersenyum dan mengusap rambut panjang Tiffany.

“Kau ingin aku memelukmu saat tidur?…” Tiffany mengangguk.

“Baiklah. Kita akan memulai kebiasaan baru mulai sekarang…”

Tiffany tersenyum dalam dekapan hangat yang selama ini ia rindukan. Begitu pula dengan Si won. Jika Tiffany merasa sangat bahagia, dia lebih dari kata sangat itu.

***Sifany***

Seperti hari-hari biasanya, Tiffany menyiapkan semua keperluan Si won selagi suaminya mandi. Mulai dari dalaman, kemeja, jas dan dasi. Jika biasanya Tiffany memilih untuk turun setelah menyiapkan semua itu, pagi ini berbeda. Ia tetap berdiri ditempatnya dengan senyum yang terus terukir diwajah cantiknya.

Kepala Tiffany menoleh begitu pintu kamar mandi terbuka. Muncullah Si won sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.

Langkah Si won mendekati Tiffany yang berdiri disisi ranjang. Seperti biasa, semua keperluannya sudah siap.

“Eum, Oppa…” Si won memperhatikan Tiffany yang tampak malu-malu. Wanita itu menggaruk tengkuk mulusnya.

“Ya?…”

“Apa aku boleh memakaikan kemeja dan dasimu?….” Tiffany bertanya seraya menatap mata Si won. Lama tak ada jawaban. Wanita itu menunduk dengan menggigit bibir bawahnya.

“Mianhe, aku…”

“Tentu saja boleh….”  Ucap Si won kemudian. Tiffany mendongak. Matanya berbinar-binar indah melihat senyum yang diberikan pria itu.

Tak mau menunggu lama, segera diraihnya kemeja putih dengan brand ternama yang sudah ia siapkan. Dipakaikannya kemeja itu dengan hati-hati dan mulai mengancingkannya.

Si won memperhatikan wajah istrinya. Tidak bisa dipungkiri, dia senang melihat mata Tiffany yang begitu indah. Belum lagi wajah cantik dengan senyum manisnya.

“Apa aku boleh bertanya?…” Tiffany mendongak sembari tangannya mengancingkan bagian atas kemeja Si won.

“Apa?…” Si won mendekat untuk membisikkan sesuatu ditelinga Tiffany.

“Ini keinginanmu atau bayi kita?…”

“Ne?…”

Wajah Tiffany memerah malu karenanya. Si won tersenyum saja. Dia benar-benar minta maaf karena telah menyakiti hati perempuan ini sebelumnya. Dia berjanji akan mencintai Tiffany dengan sepenuh hatinya. Menjaga pernikahan mereka sampai akhir. Bukan karena keluarganya. Bukan juga karena Lee Dong Hae. Namun karena cintanya yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Tiffany meraih dasi sapphire blue diranjang. Mulai disimpulnya benda itu hingga terlihat begitu sempurna saat Si won kenakan. Mata Tiffany menatap dada bidang Si won lalu wajahnya. Dia tidak bisa untuk  tidak memuji ketampanan pria itu.

“Kau sangat tampan, Oppa….” Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bisa Tiffany hentikan. Tapi dia tidak akan meralatnya. Toh, semua itu adalah kenyataan.

Si won tertawa pelan seraya keduanya tangannya memeluk pinggang ramping Tiffany.

“Jadi sekarang, kau sudah berani menggodaku?…”

Wajah Tiffany memerah. Dengan cepat ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari pandangan Si won.

“A-aniyo, Oppa. Aku tidak bermaksud begitu…” Si won terkekeh. Ditariknya wanita itu lebih dekat dan mendekapnya hangat.

“Terima kasih untuk pujiannya. Kau juga cantik, sangat cantik…” Si won balas memuji. Tentu dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Tiffany tersenyum haru dalam dekapan hangat itu. Hatinya terasa meletup-letup. Sangat gembira ketika pria yang dia cintai itu memuji dirinya.

***Sifany***

Tiffany mendorong trolinya menuju susunan susu formula yang biasa dikonsumsi oleh ibu hamil. Diambilnya dua kotak sebelum memutuskan pergi dari tempat itu. Namun langkahnya terhenti saat seseorang tiba-tiba menutup matanya dari belakang.

“Nuguseyo?…” Tanya Tiffany waspada.

“Apa gunanya aku menutup matamu kalau kau boleh mengetahuinya?…” Tiffany akhirnya tersenyum lega. Dia mengenal suara itu.

Tiffany berbalik saat orang tersebut melepas tangannya.

“Dong hae Oppa? Apa yang kau lakukan disini?…” Pria itu melipat tangannya.

“Percaya atau tidak, aku ada disini karena kau disini…”

“Aish!” Tiffany memukul lengan Dong hae pelan.

“Simpan gombalanmu untuk wanita lain, Oppa…” Dong hae tertawa saja.

“Kau sudah selesai?…”

Dong hae memperhatikan troli Tiffany yang hampir penuh. Lihatlah, pria bodoh itu membiarkan wanita yang dicintainya membawa belanjaan sebanyak ini seorang diri.

“Aniyo. Aku masih harus membeli coffee untuk Si won Oppa…” Dong hae menatap Tiffany.

“Aku cemburu…”

“Ne?…”

“Aku bilang aku cemburu. Ingat, jika kau sedang bersama seorang pria jangan pernah membicarakan pria lain dihadapannya, arasso?…”

Tiffany tersenyum geli dan segera mendorong trolinya. Dong hae yang melihat itu mengikuti Tiffany dan mengambil alih troli tersebut. Tiffany hanya tersenyum dan mengikutinya. Dong hae berdecak. Dari sekian banyak jenis coffee yang ada di dunia ini kenapa coffee yang disukai pria itu harus sama dengannya?

Dong hae memperhatikan Tiffany yang tampak asyik mengambil beberapa bungkus coffee ukuran besar. Dari pancaran matanya, dia tahu kalau Tiffany sangat bahagia. Sebenarnya ada perasaan kecewa dalam  dirinya tapi dia tidak boleh egois. Kebahagiaan Tiffany jauh lebih penting. Lagi pula dia juga sudah merelakannya jika Tiffany bahagia. Tentu saja.

“Oppa, kau suka coffee yang mana? Aku akan membelikannya untukmu…”

Tiffany mendongak karena tak mendengar jawaban apapun.

“Oppa?…”

“Dong hae Oppa?…” Tiffany menguncang pelan lengan Dong hae.

“Eoh, wae?….” Tanya Dong hae cepat. Tiffany yang melihat raut terkejut diwajah pria itu tersenyum.

“Kau lucu sekali, Oppa…” Tawa Tiffany. Dong hae menghela nafas melihat bagaimana wanita itu menertawakan dirinya.

“Kalau aku lucu kenapa kau lebih memilih Si won?…” Gumannya pelan.

“Ne?…” Tanya Tiffany  yang memang kurang mendengar gumanan itu.

“Aniyo, ada apa?…” Tiffany mengingat apa yang tadi ia tanyakan pada pria itu.

“Ah,  itu, Oppa suka coffee yang mana? Aku akan membelikannya…”

“Tidak perlu. Kalau kau sudah selesai, ayo ku temani menuju kasir. Sekalian ku antar pulang….”

“Tidak perlu, Oppa. Aku masih menunggu seseorang…”

“Seseorang? Nugu?…” `Siwon?` pikirnya.

“Stephany!”

Tiffany dan Dong hae menoleh begitu mendengar seseorang berteriak. Tampak oleh mereka Jessica mendekat dengan senyum dan langkah anggunnya. Dong hae yang melihat gaya gadis itu mencibir.

“Tidak usah sok cantik…” Jessica yang mendengar itu mendelik tajam.

“Maaf, Tuan Lee. Kau bicara padaku?…” Tanyanya tak suka. Dong hae membalas sinis.

“Menurutmu?…”

“Mwo?…” Jessica bersiap menendang kaki Dong hae namun Tiffany mencegahnya.

“Hentikan, Sica-ya. Kalian selalu saja bertingkah kekanak-kanakan seperti ini setiap bertemu. Semakin lama, kalian semakin cocok , arra?…”

“What?!”

Jessica memekik kaget hingga beberapa Ibu-ibu melihat kearah mereka. Dong hae yang menyadari itu mencibir. Dia biasanya sangat tenang dan berwibawa. Namun jika melihat gadis itu dia bisa menjadi sangat emosian.

“Ck, masih banyak wanita cantik diluar sana, Fany-ah…” Jessica tampak sangat tidak terima dengan pernyataan pria itu.

“Mwo? Hei, jadi maksudmu aku tidak cantik, begitu? Ya! Makanya jangan gunakan mata ikan itu dikepalamu. Aish, aku benci ikan!” Jessica berteriak kesal.

Tiffany yang berada diantara keduanya menggelang. Keduanya memang kerap kali bertingkah seperti ini.

“Sebenarnya kau teman macam apa? Kenapa kau baru datang saat Tiffany sudah selesai? Kau pasti terlalu lama berdandan, bukan? Atau pangeranmu terlambat datang hingga kau telat bangun?…”

“Mwo?…” Jessica bersiap memukul kepala Dong hae dengan handbagnya. Namun aksinya terhenti saat  mendengar suara Ibu-ibu dibelakang mereka.

“Aigo, aigo. Dia kasar sekali. Ck ck, dasar gadis jaman sekarang…”

“Eoh, dengan suaminya saja dia sekasar itu, bagaimana-”

“Ya! Ahjumma!” Pekik Jessica marah. Ibu-ibu itu menjauh dan mulai mencari belanjaan mereka masing-masing. Tak mau berurusan dengan gadis itu.

Dong hae tertawa puas melihatnya.

“Kajja, Fany-ah. Kalau lama-lama disini kau bisa stress dan kehamilanmu akan terganggu…”

“Mwo? Justru kau yang harus pergi. Masih saja mengganggu istri orang…” Dong hae menatap Jessica tajam. Gadis itu menelan ludah.

“Mworagu?…” Tanya Dong hae. Nadanya sangat dingin membuat Jessica takut. Dengan segera ia mendekati Tiffany dan menggandeng lengannya.

“Tiff, apa aku baru mengatakan sesuatu?…” Tiffany hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Si won Oppa…” Jessica dan Dong hae yang tengah beradu tatapan tajam ikut menoleh kearah pandang Tiffany.

“Kalau sudah selesai kita pulang…” Ucap Si won. Sebelum pergi sempat diliriknya Dong hae yang  melemparkan senyum sinis kearahnya.

“Mianhe. Aku pergi sekarang, Sica-ya. Oppa, aku titip Jessica…”

“Hm, hati-hatilah…” Seru Dong hae. Jessica tersenyum mempersilahkan Tiffany pergi. Namun ia kembali mencibir kesal saat bertatapan dengan pria disebelahnya.

***Sifany***

Tiffany duduk tenang dikursinya. Matanya sesekali melirik Si won yang tengah menyetir. Kenapa dia merasa kalau suasana ini cukup canggung?

“Ada yang ingin kau tanyakan?…” Tiffany akui kalau ia cukup terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Ne? Ah, itu. Kenapa Oppa bisa ada disana?…”

“Aku dalam perjalanan pulang dari kantor. Karena aku ingat kalau kau akan ke supermarket hari ini jadi aku berencana untuk menjemputmu…” Tiffany mengangguk. Ya, dia memang minta izin pada Si won untuk keluar saat sarapan tadi pagi.

“Tapi aku tidak tahu kalau kalian juga bersama Dong hae…”

“Aniyo, Oppa. Kami hanya kebetulan bertemu …”

Si won tersenyum mendengarnya. Sebenarnya Tiffany tidak perlu menjelaskan apapun. Dia tahu Tiffany tidak akan macam-macam diluar sana. Tapi tetap saja dia agak kesal karena istrinya itu bersama rivalnya. Namun ia sadar, ia tidak seharusnya bersikap berlebihan. Terlebih pada Tiffany.

***Sifany***

“Ya! Dong hae! Lee Dong hae!”

Jessica berteriak kesal karena kesulitan menyamakan langkahnya dengan pria itu.

“Ini bukan catwalk, Nona Jung. Berjalanlah lebih cepat…”

“Mwo?…” Sungguh, Jessica sudah tidak tahan untuk melempar handbagnya hingga mendarat dikepala pria itu.

Dong hae berbalik ketika tidak mendengar teriakan gadis itu lagi. Senyumnya terukir ketika mendapati Jessica yang tampak menahan amarahnya yang siap meledak.

“Menggemaskan sekali…” Jessica mengepalkan tangannya.

“Mworagu?!” Pria itu terkekeh.

“Aniyo. Oh ya, kau lapar? Bagaimana kalau kita mencari makanan?…” Jessica mengerjap pelan.

“Lee Dong hae, kau sadar kalau wanita didepanmu ini bukan Tiffany Hwang?…”

“Tentu. Kau Jessica Jung, bukan?…”

Dong hae memasukkan tangan kedalam saku celananya. Kemudian berbalik mendahului gadis itu. Jessica yang ditinggalkan tersenyum sendiri sebelum memutuskan untuk ikut.

***Sifany***

“Wah, sepertinya sangat lezat…”

Jessica menatap kagum sepiring pasta yang baru disajikan pelayan. Tak mau menunggu lama, ia pun segera meraih garpu untuk menikmati menunya tersebut. Mengikuti Dong hae yang sudah menyantap pesanannya sejak tadi.

“Jess…”

“Hm?…” Jessica menjawab dengan mulut yang penuh makanan.

“Bagaimana menurutmu keadaan Tiffany?…” Jessica mendongak. Sesaat dia bertanya pada diri sendiri. Apa pria dihadapannya itu masih mengharapkan Tiffany?

Jessica meneguk minumannya sebelum menjawab pertanyaan Dong hae.

“Dia bilang dia bahagia. Kalau dulu aku sangat sangat meragukan kebenarannya. Tapi jika melihat keadaannya sekarang, aku percaya kalau dia bahagia. Kau tahu? Dia menangis sepanjang hari hanya karena betapa bahagianya ia mengandung anak Choi Si won. Ck, wanita yang malang…”

Dong hae mengangguk saja. Dia ikut senang dengan kebahagiaan wanita yang disukainya itu.

Jessica memicingkan matanya lalu menatap Dong hae curiga.

“Hey, kau tidak ada rencana untuk merusak hubungan mereka, bukan?…”

“Maksudmu?…” Dong hae tak mengerti. Jessica mendekat lalu berbisik.

“Bisa sajakan, kau berencana untuk mencelakai Si won atau janin Tiffany?…” Dong hae hanya mampu terdiam untuk beberapa saat. Sebelum sebelah tangannya memukul meja hingga gadis itu mengumpat karena terkejut.

“Mwo? Ck, dasar wanita. Berpikirlah lebih realistis. Kau pikir ini drama televisi?…” Sebalnya. Gadis itu hanya mengangguk santai.

“Syukurlah, aku tahu kau tidak sejahat itu…” Ucapan itu menimbulkan guratan bingung diwajah Dong hae. Namun tak lama kemudian berganti dengan sebuah senyuman.

“Memangnya kau mengenalku sejauh mana?…”

“Ne?…”

Jessica mendongak. Menanyakan maksud dari pertanyaan pria itu. Tapi sepertinya ia sadar kalau pernyataannya sendirilah yang membuat pertanyaan tersebut keluar dari mulut Dong hae. Jessica menggigit bibirnya. Tegang.

“Eum, itu…Sungguh, kau jangan salah paham. Aku tidak…”

Dong hae mengangguk dan mengibaskan tangannya. Tanda gadis itu tidak perlu mencari alibi untuk menutupi kebohongannya.

“Aku tahu kalau kau sudah menyukaiku sejak lama…” Jessica mengerjap.

“Mwo?!”

***Sifany***

Tiffany mengelus perutnya yang masih tampak rata dengan senyum haru. Sejujurnya, ia masih belum percaya dengan kenyataan ini. Namun air matanya seolah menandakan betapa ia sangat bersyukur atas kehadiran janin tersebut dirahimnya.

“Baby-ya, gumawo. Mommy harap, kau akan tumbuh dengan baik dan sehat. Kau ingin bertemu Daddy? Tenang saja, tidak lama lagi kau akan melihatnya. Kau tahu, Daddy-mu sangat tampan dan pintar. Eum, dia memang tidak banyak bicara. Walau sedikit kaku dan dingin, tapi Mommy menyukainya. Oh ya, kau tahu tidak? Dulu, Daddy tidak menyukai Mommy…”

“Ehm? Kau bertanya kenapa?…” Tiffany mendongak menatap langit-langit kamar. Ia tampak berpikir.

“Molla, mungkin Mommy kurang cantik untuknya. Mwo? Kau bilang Mommy sangat cantik? Kekeke, gumawo. Mommy akan berusaha untuk selalu cantik setiap detiknya. Bahkan saat marah pun Mommy akan bersikap anggun…”

“Hehe, Mommy juga tidak tahu bagaimana caranya. Tapi asal kau dan Daddy bersama Mommy, Mommy-lah yang paling cantik, benarkan?…” Tiffany mengangguk dengan senyum menghiasi wajahnya.

“Eoh, Mommy sangat bahagia. Sekarang Daddy sangat baik pada Mommy. Kau tahu kenapa?…” Kening Tiffany berkerut.

“Kau tidak tahu? Bohong…” Tiffany tersenyum lebar menyaksikan dirinya yang tampak aneh karena berbicara seorang diri direfleksi cermin.

“Jjinja? Kau benar-benar tidak tahu? Kau ingin Mommy beri tahu? Jjeongmal? Eum, tapi sebelum Mommy beritahu, Mommy ingin minta sesuatu padamu…”

“Kau bertanya apa itu? Ehm, bisakah kau membuat Daddy terus seperti ini? Mommy ingin Daddy-mu terus baik seperti ini pada Mommy. Agar Mommy bisa bersandar terus padanya dan kami bisa menjaga dan menyayangimu selamanya…”

“Jjinja? Kau bersedia? Gumawo…”

“Eum? Kau sudah ingin tahu jawabannya? Baiklah, Mommy akan beri tahu jawabannya…”

Tiffany memejamkan matanya dan menarik nafas pelan. Tangannya tetap mengelus lembut perutnya dengan bibir yang terus tersenyum bahagia.

“Karena kau, sayang. Ini semua berkat kehadiranmu. Gumawoyo. Tumbuhlah dengan baik. Mommy dan Daddy menunggumu. Love you…”

Tifany tersenyum sendiri menyadari apa yang tengah ia lakukan. Kalau orang lain melihatnya pasti orang itu akan berpikir kalau dia tidak waras. Tapi Tiffany sangat menikmatinya. Setidaknya dia bisa berbagi cerita dengan calon buah hatinya.

Si won yang menyaksikan adegan itu dari balik pintu ikut tersenyum. Dia memilih untuk kembali turun. Tidak ingin mengganggu Tiffany yang tengah asyik dengan calon bayi mereka. Bayi mereka? Si won tersenyum. Dia juga sudah tidak sabar untuk melihatnya.

***Sifany***

Si won memperhatikan potongan gambar yang ditampilkan pada tembok halaman samping dari proyektor disebelahnya. Sudah sejak satu jam yang lalu dia asyik menyimak apa yang ditampilkan disana. Dokumentasi acara pernikahannya dua tahun lalu.

Si won tersenyum memperhatikan teman-temannya yang memberi ucapan selamat. Belum lagi harapan mereka yang terdengar aneh dan berlebihan untuk pernikahannya dan Tiffany.

Putaran video itu sampai keacara inti. Dimana tampak seorang pria paruh baya yang tengah menuntun gadis cantik ditangan kanannya. Seseorang yang membuat Si won begitu bahagia akhir-akhir ini.

Senyum pria itu terukir, baru ia sadari kalau saat itu Tiffany begitu cantik  dengan gaun pengantinnya yang indah dan mewah.

“Choi Si won, apa kau bersedia menerima Tiffany Hwang sebagai istrimu? Selalu mencintai dan menjaganya. Menemaninya disaat sehat maupun sakit. Dalam keadaan suka maupun duka. Sampai maut memisahkan?…”

“Ya, saya bersedia…”

Si won tersenyum kecut. Dia tidak pernah menepati janji itu. Bahkan dia hampir melupakannya.

“Selamat. Sekarang kalian sudah menjadi pasangan suami istri. Pengantin pria, kau boleh mencium istrimu…”

Si won memperhatikan adegan itu sembari mengingat. Apa ia mencium Tiffany sebelumnya?

Gemuruh tepuk tangan terdengar. Taburan bunga pun menghunjani kedua pasangan yang berbahagia itu. Dimana sang pengantin pria tengah mendaratkan ciuman lembut dibibir sang bidadari. Namun hanya sepersekian detik keduanya menghentikan ciuman itu dan tersenyum palsu kearah tamu dan keluarga mereka.

Si won tersenyum kecut menyadari betapa buruknya ia dulu.

Si won menoleh saat menyadari ada sosok lain yang berdiri disebelahnya.

“Tiffany?…” Si won bangkit untuk menghampirinya.

“Kenapa keluar? Kau tahu disini sangat dingin?…” Si won menyampirkan jaketnya pada Tiffany lalu membawanya untuk duduk dikursi yang sama.

“Oppa…”

“Ya?…”

Tiffany tersenyum sembari matanya melihat dirinya dan Si won yang tengah tertawa bersama para sahabat yang datang memberi ucapan selamat.

“Oppa tahu betapa tegangnya aku saat itu? Aku pikir, Oppa tidak akan menciumku…” Si won ikut melihat putaran video itu dengan senyum kecut.

“Halmoni akan melemparku jika saat itu aku tidak melakukannya…” Tiffany mengangguk singkat.

“Mianhe, aku tahu Oppa terpaksa melakukannya…”

“Sstt, itu dulu tapi sekarang?….” Si won menatap mata Tiffany. Meyakinkan wanita itu kalau ia benar-benar sudah berubah sekarang.

Bibir Tiffany tersenyum. Ia mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Si won yang dibalas hangat oleh pria itu.

“Harusnya aku yang minta maaf. Pasti berat bagimu melalui dua tahun ini. Aku memperlakukanmu dengan sangat buruk…”

“Gwenchana, aku tidak keberatan. Semua itu wajar ku terima karena aku masuk dalam kehidupanmu dengan tiba-tiba. Dan sekarang aku bahagia karena Oppa sudah mulai bisa menerimaku tapi…”

Si won menjauhkan tubuhnya untuk menatap wajah Tiffany. Ada semburat keraguan diwajah cantiknya.

“Ada apa?…”

“Ehm, apa Oppa juga akan bersikap seperti ini setelah bayi ini lahir?…”

Si won terdiam. Dia ingat pembicaraan Tiffany dengan calon bayi mereka beberapa jam yang lalu.

“Maksudmu?…” Tiffany menggigit bibir bawahnya. Dia takut Si won merasa tersinggung atas pertanyaannya barusan.

“Ehm, mianhe, aku…” Si won tersenyum. Diraihnya kedua tangan Tiffany dan digenggamnya dengan hangat.

“Hei, tatap aku…” Suruh Si won lembut. Tiffany menurut.

“Aku memang tidak memperlakukanmu dengan baik selama ini. Aku tahu kau terluka dan sakit. Aku tidak menyukaimu, tapi itu dulu. Dan sekarang, apa ada alasan kenapa aku harus membenci wanita yang akan melahirkan anakku? Wanita yang ku cintai?…”

Tiffany tidak bersuara. Ia hanya terdiam menatap wajah Si won. Seakan tidak percaya dengan pernyataan pria tersebut.

“Tidak, Tiffany. Sudah cukup aku menjadi pria brengsek selama ini. Aku tidak ingin menjadi orang yang lebih jahat lagi. Mulai sekarang, aku akan selalu memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya. Kau istriku, ibu dari anakku dan ratu di istanaku…”

Si won tersenyum sendiri. Sejak kapan dia bisa berkata manis dan gombal seperti ini?

Tiffany tersenyum dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya.

“Gumawo…” Lirihnya terisak. Si won tersenyum seraya menghapus air mata Tiffany dengan jari tangannya.

“Sudahlah. Sekarang kita hanya perlu melihat kedepan. Jangan menangis lagi. Nanti bayi kita ikut sedih kalau Mommy-nya terus menangis…”

Tiffany mengangguk dengan senyum dan air mata bahagia.

“Gumawoyo, Oppa…”

***Sifany***

“Ah, kyeopta…”

Jessica berseru kagum melihat box yang akan ditempati bayi Tiffany dan Si won nanti. Usia kehamilan Tiffany sudah menginjak bulan ke-8. Tinggal menunggu sedikit lagi sampai dunia bertemu dengan sang bayi.

“Ya! Bantu aku memasang ini…” Teriak Dong hae yang tengah menggantungkan mainan didinding kamar. Jessica yang tengah asyik mendengus. Pria itu selalu saja mengganggu.

Jessica mendekat  ke tempat Dong hae.

“Ambilkan lem…”

Jessica memberikan lem yang diminta Dong hae. Pria itu kini menempel huruf-huruf yang bertuliskan BABY didinding bagian tengah.

“Ck! Kau bertindak seperti kau Ayah dari bayi ini saja…”

“Mwo?…”

“Eoh? Kau mendengar sesuatu? Aku tidak mengatakan apapun…” Ucapnya pura-pura tak tahu apa-apa lalu meninggalkan Dong hae. Memilih melihat perlengkapan bayi lainnya. Ruangan ini dicat oleh Si won dengan warna biru muda. Perlengkapannya sendiri pun kebanyakan warna langit tersebut. Menurut Si won warna ini akan cocok untuk calon bayi tampan mereka. Ya, keturunan yang sempurna untuk penerus keluarga ini.

“Kalian merasa lelah?…” Jessica dan Dong hae yang sibuk dengan urusan masing-masing menoleh.

“Omo! Fany-ah, kenapa kau ke atas? Dimana Si won?…”

“Si won Oppa sedang menyiapkan meja makan…” Jawab Tiffany ringan. Dong hae yang kebetulan sudah selesai memastikan hasil kerjanya sebelum mendekati Tiffany.

“Gumawoyo, Oppa. Kau seharusnya tidak perlu membeli box dan perlengkapan lainnya…”

“Gwenchana. Aku dengar dari Jessica kalian belum menyiapkannya jadi apa salahnya aku membeli semua ini. Anggap saja ini sebagai hadiahku untuknya….”

Tiffany tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

“Sudah ku bilang, dia bertindak seperti dia adalah Ayah dari bayi ini….” Dong hae mendelik mendengar bisikan Jessica pada Tiffany. Gadis itu dari tadi selalu menguji kesabarannya.

“Mworagu?!”

“Tiff, kajja. Aku sudah lapar…” Jessica langsung menggandeng Tiffany pergi. Tak mau mendengar apapun dari pria itu.

***Sifany****

“Kalian sudah selesai? Duduklah…”

Si won mempersilahkan Tiffany dan Jessica duduk. Membiarkan Dong hae mengurus dirinya sendiri. Dong hae tidak keberatan. Toh, dia tidak begitu suka dengan  pria itu.

Jessica bertopang dagu dengan sebelah tangannya. Tersenyum simpul memperhatikan Si won dan Dong hae bergantian. Pemandangan yang tidak terlalu buruk mengingat biasanya dua pria itu selalu adu kekuatan otot.

Sejak SMA, Jessica memang sudah mengenal Si won dan Dong hae. Jadi dia sudah mengenal bagaimana sifat keduanya jika bertemu. Berbeda dengan Tiffany yang baru muncul sejak dua tahun yang lalu. Waktu itu, Tiffany kembali ke Korea setelah menyelesaikan sekolah fashionnya di Paris. Jessica yang memang sudah mengenal Tiffany sejak kecil menyambutnya dan memperkenalkannya pada teman-temannya.

Saat itulah, Dong hae mengenal Tiffany dan mulai menyukainya. Namun semuanya hancur ketika Tiffany sudah dijodohkan. Terlebih lagi pria itu adalah musuhnya, Choi Si won.

“Percayalah, aura seperti ini tidak nyaman untuk Tiffany dan kandungannya…”

Si won dan Dong hae saling melempar senyum sinis. Tiffany yang memang tidak mengerti apa-apa melirik ketiganya.

“Waeyo, Sica-ya?…” Gadis itu tertawa pelan.

“Gwenchana…” Ucapnya dan memilih menyiapkan mangkoknya.

“Fany-ah, coba ini. Meski kau tidak menyukai ikan tapi kau harus banyak mengkonsumsinya karena baik untuk kandunganmu…”

Si won melirik Dong hae yang tengah meletakkan potongan daging ikan dimangkok Tiffany. Namun dia tidak  mengatakan apa pun selain hanya menyaksikannya.

“Aish, dasar ikan…”

“Mwo?…” Dong hae melirik gadis disebelahnya.

“Aku tidak mengatakan apa-apa…” Ucapnya ringan. Dong hae menghela nafas dan kembali makan. Dia tahu ada orang yang tidak menyukainya disini. Tentu saja. Lagi pula dia tidak ingin membuat keributan karena takut mengganggu kenyamanan Tiffany.

“Apa tidak ada ikan untukku? Kenapa tidak ada yang menawariku ikan?…” Jessica merengek manja. Dong hae melirik gadis disebelahnya.

“Kau juga sedang hamil? Aku tidak tahu…” Dong hae tersenyum seraya melirik kearah Tiffany yang tengah menutup mulutnya menahan tawa. Mereka terlihat senang menggoda gadis itu.  Jessica meletakkan sumpitnya kasar.

“Apa yang boleh makan ikan hanya wanita hamil?…” Sebalnya.

“Memangnya kau ingin ikan yang mana?…” Dong hae bertanya. Jessica mengernyit. Kurang paham dengan maksud pria itu.

“Mwo?…” Tanyanya.

“Kau ingin ikan yang mana?…”

Ulang Dong hae seraya menatap wajah Jessica. Tunggu, sepertinya Jessica mengerti sekarang. Jessica terlihat mengepalkan tangannya sebal. Sementara Tiffany tidak bisa untuk tidak tertawa menyaksikan adegan dihadapannya.

“Kalian sangat lucu, Sica-ya. Sungguh. Bukan begitu, Oppa?…” Tiffany meminta pendapat Si won.

Pria itu mendongak dan tersenyum kecil.

“Tentu. Kenapa kalian tidak menikah saja?…” Dong hae tertawa singkat mendengar usulan Si won. Sementara Jessica disebelahnya tampak mengumpat kesal.

“Hei, nona Jung. Kau mau menikah denganku?…”

Jessica menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa pria itu bertanya secara tiba-tiba? Jessica menatap Tiffany  yang duduk dihadapannya. Dong hae tidak mungkin salah menyebut namanya, bukan?

“Lee Dong hae, Tiffany ada disana…” Cicitnya pelan.

“Arra. Yang aku tanyakan itu kau bukan Tiffany…”

“N-ne?…” Jessica menelan ludah. Ya Tuhan, mukanya pasti memerah sekarang. Malunya.

“Kau…serius?…” Tanya Jessica memastikan.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?….”

`Tentu saja, bodoh! Kau tidak terlihat serius sama sekali` Batin Jessica melihat sikap santai pria itu. Tapi Dong hae memang orang yang seperti itu. Dan ia tahu itu.

“Kau melamarku dengan cara seperti ini? Tidak romantis sekali…” Keluhnya. Dong hae mengangkat bahunya acuh.

“Ya sudah, kalau tidak mau…”

Dong hae kembali melanjutkan suapannya begitu pula Si won. Sementara Jessica hanya terdiam ditempat. Matanya bertemu dengan mata Tiffany yang tersenyum lembut kearahnya.

***Sifany***

Si won menuruni tangga sambil mengacak rambutnya. Langkahnya menuju taman samping rumah. Dimana disana Tiffany sedang menggendong bayi mereka untuk berjemur dibawah sinar matahari pagi.

Tiffany menoleh saat menyadari sosok Si won mendekat kearah mereka. Wanita dengan tanktop putih dan jeans itu tersenyum.

“Kau mencium sesuatu yang aneh, sayang? Aigo…”

Si won tertawa singkat dibuatnya. Dia tahu kalau dia baru bangun dan belum mandi. Tapi ia juga yakin kalau dia sama sekali tidak bau.

Si won memeluk Tiffany dari belakang. Diletakkannya dagunya pada bahu kiri Tiffany untuk menatap mata kecil yang juga ikut menatapnya.

“Pagi…” Sapa Si won dengan senyum hangat. Bayi tampan itu menggeliat dalam gendongan Tiffany. Tangan mungilnya terangkat untuk menggapai wajah sang Mommy.

“Aigo! Jjinja yeoppota…” Seru Tiffany kagum. Si won ikut tersenyum bahagia melihat putra kesayangannya itu. Bayi mereka sudah berusia 3 bulan. Sejak kelahiran sang bayi, Si won merasa kalau hidupnya benar-benar lengkap. Dia tidak memerlukan apapun selain Tiffany dan bayi mereka.

“Ayo, sebaiknya kita masuk. Matahari sudah mulai tinggi…”

Tiffany mengangguk setuju. Dengan sengaja ia langsung berbalik dan meninggalkan Si won seorang diri dihalaman samping itu.

“Ok, fine…”

Si won mengangkat tangannya sambil tersenyum. Kehidupan rumah tangga mereka sudah jauh berubah harmonis. Ada Tiffany dan Chris yang selalu menemani harinya serta keluarga besar yang selalu ada untuk mereka. Nenek dan kedua orang tua Si won cukup sering berkunjung untuk melihat perkembangan Chris. Tak ketinggalan Jessica dan Dong hae yang akan segera melangsungkan upacara pernikahan mereka bulan depan. Soo young juga menyempatkan dirinya untuk bertemu dengan bayi tampan itu disela kesibukannya dinegeri sakura.

Terkadang, Si won sempat mempertanyakan alasan kenapa ia tetap mempertahankan pernikahan mereka pada dua tahun awal pernikahan. Alasan pertama karena keluarganya? Si won bisa saja menentang tapi ia tidak melakukannya. Ia menolak pernikahan tapi tetap melakukannya.

Kedua, karena Lee Dong hae? Dia dan Dong hae adalah rival sejak kecil. Jelas dia tidak akan membiarkan Dong hae menang sekalipun. Lalu kenapa ia tidak pernah rela jika Dong hae bersama Tiffany? Awalnya, Si won berpikir kalau itu hanya tentang persaingan mereka selama ini dalam menentukan siapa yang paling hebat. Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai sadar. Kenapa dia tidak merelakan Tiffany untuk Dong hae? Jawabannya adalah karena cinta. Seseorang tidak akan membiarkan orang yang ia cintai diambil orang lain, bukan?

Kalau dia mencintai Tiffany sejak awal, kenapa ia harus bersikap kejam? Apa mungkin karena Tiffany adalah wanita yang dicintai musuhnya? Bukan! Dia hanya terlalu gengsi dan tidak tahu bagaimana harus memulai.

Si won melangkah ringan mengikuti keduanya memasuki rumah. Mereka harus segera bersiap sebab nanti siang mereka akan melakukan sesi wawancara dengan salah satu majalah bisnis ternama.

***Sifany***

Seperti jadwal yang telah disusun sebelumnya, beberapa orang tampak sibuk diruang tengah rumah Si won dan Tiffany. Beberapa kru dan reporter tampak mulai bersiap. Mereka sangat menantikan wawancara exclusive tentang keluarga kecil Choi yang baru mendapatkan seorang putra itu.

Disudut ruangan, terlihat Si won tengah berbincang hangat dengan seorang fotographer sebelum wawancara mereka dimulai. Tiffany juga terlihat sibuk menata makanan dimeja untuk para tamu mereka. Sementara si kecil tengah bermain diatas kereta bayinya ditemani seorang reporter pria.

“Sepertinya dia sudah siap untuk wawancara. Dari tadi dia tidak berhenti mengoceh dan meraih mic-ku…” Tukas reporter tampan itu ketika Si won mendekat.

“Jjinjayo? Dia memang sangat aktif sekarang…”

Si won memangku bayinya yang berusia 3 bulan itu setelah duduk disofa. Semuanya mulai bersiap. Seorang fotographer dengan cameranya, reporter dengan mic dan lembar-lembar pertanyaannya. Seorang cameraman yang bertugas merekam gambar untuk diunggah disitus resmi mereka juga sudah siap. Sementara beberapa kru yang lain tampak menyimak wawancara exclusive itu sambil menikmati hidangan  yang tadi sudah disiapkan Tiffany.

“Baiklah, sepertinya kita sudah siap untuk mulai…” Ujar reporter berkaca mata itu setelah Tiffany bergabung. Begitu semuanya siap, pertanyaan pertama pun diajukan.

“Pertanyaan pertama adalah, bagaimana perasaan kalian sekarang?…” Reporter itu memandang Tiffany dan Si won yang tersenyum bergantian.

“Kalau ditanya mengenai perasaan, tentu kami sangat bahagia. Menikmati hari-hari kami sebagai orang tua bersama bayi yang lucu sangatlah menyenangkan…” Si won menjawab pertanyaan itu dengan senyum lebar. Sementara Tiffany tampak ikut tersenyum disebelahnya.

“Benarkah? Haha, kami bisa melihatnya dari wajah kalian. Sangat cerah dan penuh kebahagiaan…” Ungkapnya senang. Tiffany menundukkan kepalanya seraya mengucapkan terima kasih.

“Gamsahamnida…”

“Setelah menikah dan memiliki anak, kalian menjadi semakin dekat, bukan?…” Reporter itu menatap Tiffany. Meminta wanita cantik itu untuk menjawab pertanyaannya kali ini.

“Ah, ye. Itu benar. Kami berusaha untuk lebih menahan diri dan ego masing-masing. Tidak hanya demi putra kami, tapi juga untuk keharmonisan hubungan kami…”

“Aigo. Kau pasti sangat bahagia memiliki orang tua seperti mereka, Chris-ah…”

Semua orang yang menyaksikan wawancara itu tertawa. Bayi berusia tiga bulan yang akrab dengan panggilan Chris Choi itu menatap orang-orang disekelilingnya bergantian. Si won melirik Tiffany dan tersenyum kearahnya. Sang reporter yang melihat itu tertawa menggoda.

“Maafkan aku, Tuan dan Nyonya Choi tapi, sepertinya aku harus memutus tatapan kalian untuk sejenak. Fotographer kita baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya beberapa hari yang lalu, aku takut dia tidak bekerja dengan baik hari ini…”

Suara tawa kembali terdengar dari semua orang yang berada diruangan itu. Tak terkecuali orang yang menjadi bahan candaan. Fotographer itu tersenyum sembari membidik Chris yang tampak senang dipangkuan Si won sambil memainkan jemari Tiffany.

“Banyak orang diluar sana yang sangat iri dengan kalian. Bagaimana mungkin kalian begitu beruntung? Tidak hanya untuk karir bahkan dalam percintaan pun kalian sangat sukses. Apakah ada rahasianya?…”

“Jjeongmalyo? Sepertinya itu sangat berlebihan. Tapi sebenarnya, pernikahan kami tidaklah seindah apa yang orang lihat…”

Semua kru tampak fokus, baik yang sedang bekerja atau pun yang hanya duduk sambil menikmati makanan dan wawancara itu.

“Benarkah? Bisakah kalian berbagi sedikit saja?…” Tanya reporter itu penasaran.

“Pada tahun-tahun awal pernikahan kami sampai sekarang, aku begitu banyak mendapat pujian. Bagaimana aku bisa mendapatkan wanita secantik Tiffany dan membuatnya mencintaiku. Jujur, aku tidak melakukan apapun untuk membuatnya mencintaiku…”

“Benar. Anda sudah begitu sempurna jadi istri Anda pasti sangat mencintai Anda…” Sang reporter menimpali membuat semua orang kembali tertawa.

“Tiffany-ssi, apa yang membuat Anda mencintai seorang Choi Si won?…”

Tiffany yang mendapat pertanyaan itu tampak terkejut. Namun tak lama ia tersenyum sembari menyampirkan rambut hitamnya ke bahu kanannya.

“Ah, itu. Aku juga tidak tahu. Hanya saja, saat kami dipertemukan untuk sebuah ikatan pernikahan, aku mencoba untuk menerimanya. Aku percaya Tuhan dan keluargaku akan selalu memberikan yang terbaik. Semakin lama aku merasa nyaman walau kami tidak saling bertegur sapa. Bagiku, menyiapkan semua keperluan dan membuatkan makanan untuknya, itu sudah cukup….”

“Jadi, apa Anda cemas jika suami Anda tidak pulang ke rumah?…”

“Ne, tentu saja. Aku seorang wanita dan aku istrinya. Aku ingin tahu apakah dia makan dengan baik atau apakah dia baik-baik saja…”

“Biarku tebak, Anda pasti khawatir jika suami Anda bersama wanita lain…”

Orang-orang kembali tertawa melihat wajah memerah Tiffany. Si won yang menyaksikan itu tersenyum lembut.

“Sejujurnya, itu adalah kekhawatiran terbesarku…” Aku Tiffany malu-malu. Si won menggenggam tangan Tiffany yang ada dipangkuannya.

“Tapi seburuk apapun awal pernikahan kami, aku tidak pernah menghianatinya. Tentu saja…” Tiffany menatap Si won lembut yang dibalas hangat oleh pria itu.

“Lalu, apa harapan kalian untuk keluarga kecil kalian ini?…”

Tiffany menatap Si won. Meminta pria itu menjawab. Otomatis sang reporter pun ikut mengarahkan pandangan serta mic-nya pada Si won.

“Sama seperti harapan semua keluarga. Aku hanya ingin hidup bersama istri dan putra kami. Aku tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi dikemudian hari. Tapi yang pasti, susah atau pun senang, suka mau pun duka, kami akan melaluinya bersama…”

“Wooahh….”

Para kru bersorak menggoda. Pasangan itu tampak tersenyum malu. Tiffany menatap Si won dan tangannya menggenggam jemari mungil Chris yang masih setia duduk dipangkuan suaminya.

“Aku tahu kalau aku banyak melukainya dan sudah seharusnya aku mengobati luka itu. Semua orang berhak untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik, bukan? Mohon doanya untuk kebahagian keluarga kami…”

“Tentu, itu pasti. Semua orang yang menyaksikan dan membaca hasil wawancara ini akan memberikan doanya untuk kalian…”

“Ne, gamsahamnida…”

“Terima kasih sudah berbagi bersama kami dalam wawancara exlucive ini. Sebagai reporter tentu aku ingin bertanya lebih tapi aku takut kalian tidak akan nyaman. Hyung, bagaimana kalau kita mengambil foto keluarga bahagia ini?…” Tanyanya melirik kearah sang fotographer.

“Tentu saja. Ini akan menjadi cover halaman depan…” Jawab sang fotographer setuju.

“Baiklah, mulai bersiap…”

Si won menggendong Chris ditangan kirinya lalu bangkit dengan tangan kanannya membantu Tiffany untuk berdiri. Keduanya berdiri berdampingan dengan Chris yang ada diantara keduanya.

“Ok, kita mulai. Bersiap…”

Fotographer itu memberi aba-aba. Mata Chris ikut melihat pria yang bersuara cukup keras yang ada dihadapannya. Tangannya masih sibuk memainkan tangan kedua orang tuanya yang berada diperutnya. Seorang kru lain ikut mengambil foto itu dengan sudut yang berbeda.

“Chris, lihat kesini. Hana-dul-set…”

Klik !

Kilatan blitz camera membuat mata kecil dan bening bayi itu melebar. Ia tampak terkejut dengan cahaya terang tersebut.

“Hahaha, sepertinya ia cukup terkejut…” Ucap sang reporter tertawa. Begitu pula dengan semua orang yang ada disana.

“Aigo, my baby boy. Gwenchana?…”

Tiffany mengambil alih Chris kedalam gendongannya. Dia tidak ingin anaknya ketakutan mendengar tawa semua orang mengenai ekpresi wajahnya tadi. Tapi sepertinya bayi itu tenang-tenang saja. Dia bahkan ikut tertawa dengan menggemaskan ketika Si won mencubit hidung mancungnya.

“Kalian ingin lihat gambarnya?…”

Fotographer itu mendekati Si won dan Tiffany untuk memperlihatkan hasil jepretannya. Pasangan itu mengangguk setuju. Mata keduanya tertuju pada gambar yang ditunjukkan.

“Kalian tampak serasi, Tuan…”

“Tentu…”

Si won merespon cepat dan pasti. Tiffany menatapnya lalu tersenyum manis penuh terima kasih. Dia bahagia sekarang karena Si won benar-benar sangat baik, peduli dan perhatian padanya. Apapun yang terjadi sebelumnya ia tidak peduli. Yang pasti sekarang dia akan berusaha untuk menjadi istri dan Oemma yang baik bagi suami dan putra mereka. Selain itu memang sudah tugasnya, ini juga merupakan balasan atas apa yang ia terima dari suaminya.

Jika Tiffany sangat berterima kasih, Si won merasa ia lebih pantas melakukannya. Ini merupakan penebus kesalahannya karena tidak memperlakukan Tiffany dengan baik sejak awal. Beruntung wanita itu tetap mencintainya. Coba kalau tidak? Dia bisa gila.

“Semuanya, tidakkah sekarang waktunya kita pulang?…”

Fotographer itu berseru menggoda karena  keduanya sejak tadi hanya saling pandang penuh arti. Sadar dengan hal itu Si won dan Tiffany pun mengalihkan pandangan mereka seraya tertawa.

“Aniyo. Kalian tidak boleh pergi sebelum makan malam…”

THE END

Thanks buat kak Echa yang udah bantuin bikin judulnya. Maaf kalau ada typo dan ditunggu RCL-nya. Bye ^_^

 

101 thoughts on “(AR) And It`s Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s