(AF) Secret Part 4

Secret Part 4

Secret

cover22

Just never trust anyone…

Author : @zha_yurie

Cast : Choi Siwon-Tiffany Hwang

Jung Jessica, Lee Donghae

Im Yoona, Kim Taeyeon, Kwon Yuri

Rating : PG16

Genre : Friendship, Marriage Life

***

Mata itu mengerjap. Sinar menyilaukan menembus pandangan. Agak kesusahan ia berusaha menerima cahaya itu masuk dalam pandangannya. Lalu seraut wajah tergambar sempurna. Wajah cantik yang memandanginya cemas.

“Kau … kau sudah sadar, Oppa?”

Ia mendengar wanita itu berbicara. Suaranya bergetar. Hey, kenapa dia menangis? Choi Siwon mencoba menggerakkan tubuhnya. Sakit. Ah ya, itulah kenapa dia berada di ruangan serba putih itu. Tapi pertanyaan penting sekarang, siapa wanita yang memandanginya dengan mata berkaca-kaca ini?

“Si-siapa kau?”

“Oppa … kau tidak mengenaliku?”

Ya, karena itu aku bertanya! Siwon meringis kesakitan. Tapi tak sempat lagi ia memperhatikan gadis itu. Yang ditahunya, dalam semenit kemudian segerombolan orang berjas datang memeriksanya.

“Namamu adalah Choi Siwon … pewaris Jaeshin Group.”

Ia mengangguk pelan. Tak tahu bagaimana harus menanggapi. Tapi melihat bagaimana wajah cemas wanita paruh baya itu membuat ia mengurungkan niat untuk bertanya. Biarlah ia mempercayai mereka.

“Lalu … dia?”ia bertanya, menunjuk pada seorang gadis yang mengenakan pakaian rumah sakit yang sama dengannya.

Kedua orangtuanya bertukar pandang.

“Dia … Tiffany Hwang. Kau tidak mengenalinya?”

Siwon mengerutkan kening, mencoba menggali sesuatu dari ingatannya. Wajah itu mulai terasa familiar, tapi … ia tak bisa menemukan apapun. Pada akhirnya ia menyerah dan menggeleng.

“Ah bagaimana bisa kau melupakannya, Nak,”ibunya mengeluh pelan. Diraihnya tangan gadis itu lalu mendekatkannya pada Siwon. “Dia ini tunanganmu, calon istrimu.”

Siwon tak tahu apa-apa. Seperti lembaran kosong, tak setoreh tinta pun ditemukannya dalam ingatan. Tapi ketika gadis itu tersenyum padanya, Siwon memutuskan untuk mengabaikan lembaran kosong itu. Senyum cantik itu … Mata yang juga tersenyum … Siwon balas tersenyum.

Tuhan, benarkah gadis menawan ini adalah calon istrinya?

“Annyeong, oppa …”

Kalau benar, bisakah ia jatuh cinta sekali lagi padanya?

***

Pukul tujuh lewat lima belas menit. Lee Seunggi keluar dari kamarnya, mengenakan piyama tidur dengan wajah kusut serta rambut yang acak-acakan. Masih terkantuk-kantuk ia beranjak ke dapur. Meminum segelas air hangat dan menyalakan coffe-maker. Hari ini ia free-schedule, jadi tak masalah masih bersantai-santai di pagi hari. Sembari menunggu bijih kopinya diolah, ia menyalakan TV lalu mencari roti di kulkas. Biasanya ia akan sarapan pukul delapan di lokasi syuting, tapi karena hari ini ia kedatangan tamu maka sarapan sandwich akan disiapkannya bersama secangkir kopi.

Tapi rencana itu agaknya berbuntut gagal. Karena selagi ia menyiapkan sayuran, sebuah headline berita menarik perhatiannya.

Skandal Jaeshin Group, Hubungan cinta masa lalu rumit antara Presdir Choi Siwon dan pewaris Emerald Corp, Jessica Jung.

Keruntuhan Emerald Corp dan kemunculan Safetech, adakah hubungan masa lalu dengan Jaeshin Group?

Seunggi terperangah, melupakan sayuran dan mengabaikan coffe makernya yang berdenting.

Babyyy!!”ia berteriak. “Im Yoona! Cepat bangun dan lihat ini!!”

Sebuah hubungan asmara lama telah terkuak mempertaruhkan rumah tangga Jaeshin Group. Sebuah foto telah dirilis Dispacth menyatakan hubungan istimewa yang terjalin antara Presdir Jaeshin Group, Choi Siwon dan pewaris Emerald Corp, Jung Jessica yang saat ini menjadi perwakilan Safetech untuk Jaeshin. Kedatangan Jessica setelah tujuh tahun meninggalkan Korea menimbulkan tanda tanya besar. Benarkah hanya bertujuan bisnis semata? Media berhasil merekam beberapa moment kebersamaan mereka baru-baru ini. Pasangan ini dilaporkan kembali bertemu dan nampaknya telah menikmati waktu yang menyenangkan. Sementara ini pihak Jaeshin maupun Safetech belum memberikan tanggapan atas skandal pemimpin mereka. Benarkah ada hubungan cinta segitiga dalam masa lalu mereka, Tiffany Hwang-Choi Siwon-Jessica Jung? Pihak sekolah SMA Haneul telah membenarkan bahwa Presdir Choi Siwon dan nona Jessica Jung pernah menjalin hubungan asmara hingga tamat sekolah. Bahkan dikabarkan mereka telah mempersiapkan pesta pernikahan! Kegagalan pernikahan dan menghilangnya Jessica Jung tujuh tahun silam mulai dikaitkan dengan kebangkrutan Emerald Corp. Lantas bagaimana kelanjutan kisah asmara masa lalu ini saat mereka bertemu sebagai rekan kerja di Jaeshin Group? Tetap nantikan kabar selanjutnya dari kami.

Hubungan cinta segitiga masa lalu. Kecelakaan putra pewaris Jaeshin Group. Hilangnya putri pewaris Emerald Corp yang bangkrut. Pernikahan kapal pesiar mewah  Jaeshin Group.

Kecelakaan misterius Choi Siwon dan Tiffany Hwang … benarkah karma cinta terlarang?

Pasca kecelakaan misterius, pernikahan meriah mantan calon pengantinnya, kemana Jessica Jung?

Siapa dalang sebenarnya kasus kecelakaan Choi Siwon, tujuh tahun silam?

Headline media pagi itu memuat berita yang sama. Skandal asmara Siwon-Jessica. Hubungan Jaeshin-Emerald. Kembali semuanya kacau balau. Berita begitu mudah tersebar. Dari media sosial, media cetak, hingga percakapan mulut ke mulut. Mulailah spekulasi muncul. Pihak Jaeshin dicekat.

Untuk sebuah keluarga chaebol, skandal semacam itu sudah jelas memalukan. Tidak heran melihat harga saham kembali bergejolak. Aneka opini muncul. Tapi segala kekacauan itu tak akan sebanding dengan badai berkecamuk di hati Tiffany.

Siwon menghela napas panjang-panjang. Sudah beberapa hari pikirannya kusut masai. Masalah beruntun menimpa keluarganya, cukup kuat untuk dijadikan alasan kenapa ia sampai membutuhkan obat penenang. Tapi tak ada beban yang lebih buruk daripada pengkhianatan. Setidaknya begitulah yang Siwon rasakan. Sudah bertahun-tahun ia memimpin Jaeshin. Skandal demi skandal sudah silih berganti menerpanya. Tapi Jaeshin masih berdiri tegak.

Namun ketika ia harus menghadapi rumah tangganya sendiri, kakinya mulai goyah.

Tidak cukup dengan skandal itu, tim kejaksaan pun ikut campur. Siwon baru saja bersiap-siap untuk menghadiri rapat darurat petinggi Jaeshin saat sekertarisnya datang menghadap. Beberapa orang dari kejaksaan juga ikut masuk menerobos ke dalam ruangannya.

Siwon terenyak dalam ketika berlembar-lembar bukti manipulasi saham yang dilakukan Jaeshin sejak sepuluh tahun lalu disodorkan padanya. Tentu saja bersama berkas tuntutan dari Jessica Jung sebagai pewaris sah Emerald Corp. Siwon tak tahu dari mana asalnya bukti-bukti itu muncul. Tapi yang dipahaminya dengan pasti adalah bahwa bahaya besar tengah menghadang mereka. Investigasi kejaksaan pasti menimbulkan gejolak media. Dan disanalah pokok masalah mereka. Tinggal menunggu waktu sampai rapat umum pemegang saham digelar. Ia terperosok lemas di kursinya.

“Harus saya katakan, Presdir, kalau masalah ini tidak selesai sebelum rapat umum, besar kemungkinan pemegang saham akan mengalihkan hak kepemilikan. Artinya …”

“Ya, aku tahu!”tukas Siwon, gerah. Jaeshin Group mungkin akan lepas sepenuhnya dari keluarga Choi. “Pertama, kita perlu mengurus tuntutan kejaksaan. Aku harus bertemu dengan Jessica Jung. Tolong atur waktu pertemuannya.”

“Baik, Presdir!”

Siwon merenggut dasinya, bersandar letih di sandaran kursi. Saat itulah pandangannya tertuju pada figura foto di meja. Melihat senyum Tiffany dan tawa Danny justru semakin membuat letihnya mendera-dera. Segera diambilnya figura itu dan diletakkan ke dalam laci. Belum saatnya untuk kembali pada mereka.

***

“Jaeshin Group terlibat kasus korupsi dan penipuan sepuluh tahun lalu. Ada dokumen rahasia yang mencatat tentang kecurangan besar itu. Dan kau tahu siapa korbannya? Emerald Corp, perusahaan keluarga Jessica Jung.”

“Omo, omo. Jadi berita itu benar?”

“Tentu saja. Mereka bangkrut karena Jaeshin melakukan permainan kotor pada mereka. Presdirnya bunuh diri karena hutang yang melilit. Tapi, itu belum seberapa. Masih ada luka lain yang lebih besar.”

Dua pasang telinga yang sedang mendengarkan segera mendekat antusias. Masa bodoh dengan pelanggan yang hilir mudik. Terlalu banyak gosip yang harus mereka tuntaskan hari ini.

“Jessica Jung  dan Choi Siwon, sebulan sebelum kejadian itu mereka berdua telah memesan WO untuk pernikahan mereka. Bahkan dari apa yang kudengar, Jessica bahkan tidak tahu mengenai penipuan itu sampai sehari menjelang pernikahannya. Tapi, bagaimanapun itu sudah terlambat karena mereka sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan.”

“Omo, omo!”

“Kenapa terdengar sangat ironis,ya?”

“Apa kau masih mau mendengar yang lebih mengejutkan? Pernikahan mereka dibatalkan bukan karena masalah perusahaan sama sekali.”

“Lalu?”

“Kau akan terkejut mendengarnya,” ia menarik napas panjang, memberi jeda. “ Tiffany Hwang.”

“Apa maksudmu? Apa itu benar-benar cinta segitiga? Omo!”

“Ya, tapi ini sangat buruk. Sebelumnya mereka berdua bersahabat dekat. Tapi, setelah pesta lajang selesai, Jessica Jung mendapati sahabat baiknya itu tidur bersama calon suaminya. Ah, membayangkannya saja aku merasa sangat ngeri.”

“Omo omo! Benarkah berita itu?”

“Tentu saja. Makanya Jessica Jung sangat membenci Tiffany. Lagipula siapa yang tidak marah jika sudah seperti itu,eoh? Orang yang selama ini kaupercayai tenyata diam-diam menusuk dari belakang. Ih, aku ngeri memikirkannya.”

“Tapi, bagaimana jika itu hanya kecelakaan? Mungkin mereka mabuk.”

“Ya, itu mungkin saja. Tapi, apa kau bisa menanggung rasa sakitnya? Terlebih setelah kejadian itu, Tiffany tidak meminta maaf padanya. Ia justru mengakui jika ia menyukai Siwon dan sengaja melakukannya.”

“Omo! Ahh, kenapa ceritanya jadi mengerikan begitu sih? Memangnya dia itu manusia? Bagaimana ada orang yang bisa setega itu?”

“Itulah kenapa sekarang aku merasa sangat simpati pada Jessica. Walaupun sekarang ia terlihat begitu mengerikan, kurasa ia wajar bersikap seperti itu. Mungkin saja ini caranya balas dendam pada semua luka itu.”

“Benar juga. Apalagi setelah ia menghilang Siwon malah menikahi Tiffany. Ah, aku jadi kasihan padanya.”

“Tapi, selama ini Tiffany terlihat sangat baik,ya? Apa mungkin orang seperti dia melakukan hal itu?”

“Memangnya kalau dia baik berarti dia tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk? Menurutku, itu hanya topeng yang dikenakannya. Orang yang sudah berbuat kejahatan seperti itu pasti dihantui rasa bersalah sepanjang hidupnya, jadi tentu saja ia harus menggunakan topeng itu untuk menutupinya.”

 

Topeng?

Jadi aku mengenakan topeng selama ini?

Tiffany gemetar membendung air matanya. Ia tertohok. Sangat dalam. Dan ia gagal memenangkan egonya. Airmatanya jatuh, meluncur begitu saja. Ketika ketiga karyawan itu menyadari keberadaannya, ia bergegas menghapus air mata dan beranjak meninggalkan mereka. Ia bahkan tak bisa memarahi mereka. Karena, ia sendiri tak bisa menampik cerita itu.

***

Tiffany menghela letih. Diletakkannya kembali ponsel pink itu. Tak ada gunanya. Di saat ia menerima segala beban mental itu dan harus mendengar gosip-gosip tak mengenakkan dari para karyawan, Siwon tak juga menjawab panggilannya.

“Fany-yaa!”

Seruan itu membuat Tiffany menoleh. Taeyeon baru saja tiba dengan membawa cemas dalam wajahnya. Kalau saja ia tak tahu jika seminggu ini Taeyeon berada di Canada, mungkin ia sudah kesal pada sahabatnya itu. Tapi syukurlah ia datang, meski terlambat. Tiffany amat sangat membutuhkannya sekarang.

“Apa yang terjadi sebenarnya, dear? Kau tampak pucat sekali. Kau tidak sakit, kan?”

Taeyeon segera duduk di samping Tiffany, mengamati wajah sahabatnya itu dengan cemas. Saat itu juga Tiffany menyadari jika Taeyeon tak datang sendiri. Yoona juga baru saja masuk ke dalam ruang keluarga itu. Sekilas Tiffany dan Yoona bertemu pandang. Tapi segera Tiffany mengalihkan tatapannya. Yoona juga nampaknya tak ingin mendebat.

“Kau pasti sangat tertekan. Aku benar-benar minta maaf tidak mengetahui ini, Fany-ya … Apa yang terjadi sebenarnya, eoh?”

“Entahlah, Tae-ya…” suara Tiffany bergetar.

“Aigoo… apa yang bisa kulakukan untukmu, dear?”Taeyeon beranjak, memeluk Tiffany hangat.

Detik itu juga, tangisan Tiffany meledak. “Etteokhae, Tae-ya? Apa yang harus kulakukan?”

“Jangan khawatir, kami ada di sini, Fany-ya. Kami akan mendukungmu.”

“Semuanya benar-benar kacau. Apa yang harus kulakukan kalau Jaeshin bangkrut, Tae-ya? Apa yang akan terjadi dengan Danny-ku? Dia bahkan belum sekolah. Aku hanya akan membuat hidupnya menderita! Eotteokhae?”

“Ssst, jangan bicara seperti itu! Kata siapa Jaeshin akan bangkrut, hah? Siwon oppa pasti tidak akan tinggal diam!”

Isakan Tiffany semakin menjadi-jadi.

Yoona dan Taeyeon bertukar pandang resah.

“Yuri eonni tidak bisa membantu banyak. Jaeshin membutuhkan banyak sumber dana. Dengan keadaan saham yang merosot seperti itu, rasanya memang hampir mustahil untuk bisa bertahan.”ujar Yoona berbisik, setelah Tiffany tak lagi berada di tengah mereka.

Keadaan Tiffany benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya semakin kurus dan kantung matanya menghitam. Sudah bisa dipastikan jika ia juga mengalami gangguan tidur yang parah. Untung saja Taeyeon berhasil membujuknya untuk istirahat.

“Aish, jinjja… kenapa bisa seperti ini?” Taeyeon menghela, resah. “Bagaimana dengan Siwon oppa?”

“Kudengar kalau sudah seminggu dia tidak pulang ke rumah. Dia mengurung diri sepanjang hari di ruang kerjanya. Choi Ahjussi kemarin dilarikan ke RS karena serangan jantung. Semuanya kacau,”balas Yoona lirih.

“Benar-benar tidak ada solusi,ya? Bagaimana kalau menjual asetnya?”

“Itu tidak akan cukup menutupi. Siapa yang mau membeli saham yang sudah anjlok seperti itu? Ya, sebenarnya itu bisa terjadi sih… tapi pilihannya juga sangat buruk.”

Taeyeon menatap Yoona antusias. “Apa itu?”

“Memohon pada Safe-tech. Tepatnya, pada Jessica eonni.” Ujar Yoona ragu. “Tapi, kurasa Tiffany eonni tidak akan melakukannya.”

Taeyeon yang tadinya terkejut mendengar ucapan Yoona mendadak terlihat serius memikirkan sesuatu.

“Yah, bagaimana kalau ada orang yang sengaja melakukan ini?”tanyanya antusias. “Mungkin ada orang yang bermaksud jahat dan…”

“Orang seperti itu banyak sekali, eonni,”potong Yoona. “Jaeshin Group adalah perusahaan raksasa. Bagaimana mungkin mereka tidak memiliki pesaing? Tapi, mereka juga adalah perusahaan yang kuat. Tidak mudah melakukan penghancuran seperti itu pada Jaeshin. Kalaupun ada orang yang sengaja melakukannya, dia pasti sangat bekuasa. Kekacauan akhir-akhir ini benar-benar sangat parah. Melihat bagaimana saham Jaeshin sampai anjlok berat, pasti yang melakukannya orang yang memiliki kekuasaan besar.”

“Itu dia! Pasti dia yang melakukan ini! Siapa lagi yang bisa menyebarkan skandal itu kalau bukan Jessica?”

Yoona nyaris tersedak oleh minumannya. “Omo, kenapa kau kejam sekali menuduhnya seperti itu, eonni?”

“Dia memang bisa melakukan apapun.”Tukas Taeyeon ringan.

“Lalu motifnya apa? Dendam pada sahabat sendiri? Sangat tidak masuk akal. Cemburu, ingin merebut Siwon? Lupa, ya, kalau dia sudah bertunangan dengan Donghae oppa? Harta kekayaan? Bahkan tanpa merebut Jaeshin pun dia sudah sangat kaya. Untuk apa dia repot-repot melakukannya?”

Taeyeon menghela panjang, terlihat bingung sesaat lalu memutuskan untuk menyesap minumannya.

“Entahlah,”gumamnya mengambang. “Kita tidak bisa mempercayai perempuan seperti itu. Setelah apa yang dilakukannya pada Tiffany dulu… memangnya sulit bagi dia untuk melakukannya sekali lagi? Kau tidak tahu iblis seperti apa yang hidup di kepalanya. Aku tidak tahu motifnya apa, tapi kalau kau meminta pendapatku, memang dia di balik kekacauan ini.”

“Eih, pikiranmu berlebihan sekali, eonni!”tukas Yoona. Ia telah memilih untuk menyimpan resah itu secara terpisah.

Ia tak pernah ragu kalau Jessicalah yang berada di balik kekacauan ini. Tapi, bagaimana ia bisa berbicara? Hubungannya dengan Tiffany sudah renggang sejak perbincangan mereka terakhir kali. Sebenarnya ia juga tak sampai hati muncul di hadapan Tiffany hari ini. Tapi Taeyeon memaksa. Lagipula perempuan satu itu juga tak tahu apa-apa. Cukuplah masalah Jaeshin menyibukkan pikiran mereka, tak perlu ditambah-tambah lagi.

***

Kemerosotan harga saham Jaeshin nampaknya telah membawa Jaeshin pada era baru. Rapat pemegang saham utama telah dijadwalkan akan digelar terkait dengan skandal Jaeshin baru-baru ini.

Hingga kini investigasi Kejaksaan masih berlangsung. Meski  demikian belum ada pihak yang memberikan komentar mengenai masalah ini.

Bunyi kliik terdengar. Melenyapkan wajah pembaca berita dari layar kotak itu. Sebuah helaan panjang terdengar. Jessica menoleh, menatap Donghae dengan tatapan tak bersahabat. Sementara pria itu pura-pura sibuk dengan gadgetnya.

“Oppa, kau tidak dengar aku bertanya?”ulang Jessica, menaikkan volume suaranya.

“Aku dengar,”gumam Donghae tanpa menoleh.

“Jadi, kenapa kau menyebarkan  informasi itu tanpa persetujuanku?”tukas Jessica. Oh beruntunglah Donghae ia sedang menggunakan bantuan selang oksigen jadi ia selamat dari pukulannya.

“Sudah tertulis dalam rencana kita, Sica. Aku hanya mempercepatnya.”

“Kubilang, lakukan secara perlahan! Bukan seperti ini!”

Donghae mendongak, melepaskan desah panjang. “Sudah terjadi, Sica. Lagipula, aku sudah memberitahu Siwon. Kaulah yang harus berhenti bersikap baik-baik saja. Biarkan mereka tahu semua lukamu selama ini!”

Rahang Jessica mengeras. Tatapan menusuknya perlahan memburam, dicemari oleh genangan air di sana.

“Jadi … kau juga berencana mengumumkan bahwa sebentar lagi aku akan mati?”

“Oh Sica … please, jangan seperti ini! Aku melakukan ini untuk kebaikanmu juga!”

Jessica menghela panjang, buang muka.

“Jaeshin akan segera tamat. Skandal ini terlalu berat untuk mereka tanggung. Aku yang akan mengambil alih permainan ini mulai sekarang. Kau cukup istirahat saja di sini.”

Jessica tak menjawab. Pun tak bereaksi saat Donghae meraih jemarinya.

“Kita perbaiki semuanya, oke?”bisik Donghae lirih. “Aku tahu ini menyakitimu, tapi cukup sekali ini saja kau tahan. Setelah itu mereka akan tahu dan tidak lagi menyakitimu. Masa lalumu akan tertebus. Choi Siwon. Tiffany Hwang. Sahabat-sahabatmu. Keluargamu. Putramu. Kita sudah hampir sampai, Sica …”

Masih banyak yang ingin dikatakan Donghae, tapi tetesan air telah jatuh di wajah itu. Ia menghela dan memilih menelan kembali kata-katanya.

“Siwon meminta untuk bertemu denganmu. Tapi tidak usah khawatir. Aku yang akan menemuinya,”ujar Donghae beberapa saat kemudian.

“Apa yang ingin kau katakan padanya?”

“Tentu saja apa yang sudah kaurencanakan.”

***

“Daddy!!”

Tiffany yang sedang termenung resah di kamarnya tersentak mendengar teriakan Danny. Siwon pulang? Bergegas ia bangkit. Agak panik memeriksa penampilannya di cermin. Kantong mata bengkak. Rambut kusut. Wajah kusam. Berantakan sekali. Tiffany meringgis ngeri lalu segera masuk ke WC. Mendadani diri secepatnya, memakai pakaian tidur terbaik dan tak lupa menyemprotkan parfum.

“Mommy! Daddy membelikanku mainan baru!”seruan Danny menyambut kemunculannya di ruang tengah.

Segera ia tersenyum. Menyadari bahwa sosok Siwon benar-benar nyata. Meski terlihat kusut dan berantakan, Siwon ada di hadapannya. Nyata. Berusaha menahan buncahan emosi dan kerinduannya, Tiffany mendekat.

“Kau pulang, Oppa …”ia berbisik lirih.

Siwon tersenyum, memberikan pelukan untuk wanita itu.

“Maaf …”

Tiffany mengangguk kecil, menyeka ujung matanya dan beralih pada Danny.

“Sweetheart, bagaimana kalau kau bermain dengan ahjumma dulu, eoh? Mommy perlu bicara dengan Daddy.”

“Shilheooo!”seru Danny cemberut, “aku juga kangen Daddy! Aku mau main dengan Daddy!”

“Nanti ya, sayang,”ujar Siwon menimpali. “Daddy harus mandi dulu. Bau nih. Pergilah dengan ahjumma dulu, ya …”

Dengan wajah cemberut, Danny mengalah. Tersentak-sentak kakinya meninggalkan ruangan itu.

“Maaf karena baru bisa pulang,”bisik Siwon ketika akhirnya mereka berdua.

Gwaenchana, Oppa. Kenapa wajahmu kusam begini? Makanmu baik, kan? Seharusnya kau memberi kabar, Oppa! Aku mengkhawatirkanmu setiap saat! Berita-berita TV dan media cetak … mereka mulai berbicara hal konyol! Aku … di saat kau bahkan tak memberiku kabar … oh, aku sungguh …”

Siwon segera mendekap Tiffany. Membiarkan tangis istrinya itu teredam di pelukannya. Mungkin seharusnya ia tak mengabaikan keluarga meski di tengah kritis seperti ini.

***

Setelah mandi dan berbenah, Siwon mendapati Tiffany sudah menunggunya di atas sofa kamar mereka. Resah dan kecemasan tak bisa tertutupi lagi di wajah itu. Sontak mengingatkan Siwon pada masalah Jaeshin. Ia lalu beranjak duduk di hadapan Tiffany.

“Kau pasti sudah mendengar berita,”ujar Siwon. “Jaeshin sedang sekarat, Tiffany.”

Tiffany tak menjawab selain mengangguk kecil. Meskipun ia telah mengambil jalan aman dengan memberitahu Siwon terlebih dahulu, tetap saja ia resah luar biasa. Memang ia tak pernah bisa tenang. Tidak dengan kehadiran Jessica dan juga Yoona. Oh, bagaimana jika perempuan itu memberitahu Siwon?

“Aku sudah bertemu dengan Donghae untuk membicarakan tuntutan itu,”ujar Siwon lagi.

Seketika Tiffany menoleh padanya. “Apa … jadi, bagaimana …”

“Dia tidak mau menarik tuntutannya,”lirih Siwon. “Tapi, dia bilang akan membantu kita. Setidaknya dalam rapat pemegang saham nanti.”

Jantung Tiffany tak lagi berdetak normal. Kabar terakhir ini jelas lebih mengejutkannya.

“Dia ingin membantu?”tanyanya.

Siwon mengangguk. “Dengan membeli saham cabang Fashion.”

Kali ini Tiffany tak bisa menahan diri untuk tak terperangah. Oh tidak … mimpi buruk apa ini?

“Jadi, apa yang kau lakukan, Oppa? Menjual aset Jaeshin? Kepada perempuan itu?”kejarnya cepat.

Siwon menoleh, mengamati wajah kalut Tiffany. “Aku tidak punya pilihan lain, Tiffany. Hanya dia yang …”

“Kita bisa mencari bantuan lain, Oppa! Kita bisa melakukan hal lain dari pada menyerahkan aset padanya! Kalau perlu …  jual saja apa yang bisa dijual. Aku bisa melepaskan asetku. Mobil, rumah, barang-barang seperti tas dan sepatu, kalau perlu sekalian dengan perhiasanku … ditambah tabungan di deposit … itu bisa menutupi kerugian saham, kan, Oppa?”

Oh tidak … matanya mulai berkaca-kaca. Siwon merutuk dalam hati. Bagaimana bisa membiarkan wanitanya menangis seperti ini?

“Tidak perlu, Tiffany. Masalah ini bukan tentang kekurangan dana dan harga saham yang merosot. Tapi … ini tentang kita. Apa kau tidak mengerti apa yang dibicarakan media? Kita sedang berhadapan dengan Emerald Corp. Kita tidak butuh dana dari pihak lain. Karena yang berada di hadapan kita adalah wanita itu. Bahkan aset milyaran tak akan berarti sebelum tuntutan kejaksaan dibatalkan.”

“Jadi …”

“Masih belum terlambat untuk menempuh jalan kekeluargaan. Kita akan buat kesepakatan dengan Jessica.”

Oh tidak …

“Oppa …”

“Aku sudah menyetujuinya. Besok, jangan lupa untuk hadir di sana.”

Lepas berkata begitu, Siwon beranjak. Meninggalkan Tiffany yang termangu di tempatnya. Apa yang baru saja didengarnya? Siwon memberikan tempat di Jaeshin untuk Jessica? Siwon … menjual saham milik Tiffany … pada Jessica? Tanpa persetujuannya? Sebuah desah kesakitan terdengar. Tiffany mencengkram dadanya, erat. Luka dan kesakitan di sana semakin lama semakin besar. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak kehilangan napas.

“Semudah itu kau menyerah, Oppa?”

Siwon yang sudah masuk ke dalam selimut seketika membatalkan niatnya untuk tidur. Ia menyibak selimut lalu duduk menatap Tiffany.

“Kau tahu sendiri, kan, abeonim berusaha mati-matian membesarkan Jaeshin. Kejayaan turun menurun ini … apa kau ingin menghancurkannya di tanganmu? Kau tahu kalau kau tidak boleh melakukannya, kan, Oppa? Kau harusnya terus berjuang dan melakukan cara lain!”

“Aku hanya memberinya Jaeshin Fashion,”ujar Siwon. Entah kenapa, melihat wajah kalut Tiffany membuat nada suaranya keluar tidak dengan kelembutan. Wanita itu sungguh ketakutan. Mungkin bukan hanya tentang Jessica yang mengusik Tiffany. Siwon bisa melihatnya dalam sinar mata itu. Ketakutan akan kehilangan … bukan hanya keluarga, tapi juga Jaeshin.

“Kau tidak boleh melakukannya, Oppa! Sekarang dia hanya ingin meminta Jaeshin Fashion. Tapi besok-besok dia pasti akan mengacau lagi! Lihatlah, oppa … kita tidak bisa kalah dengan cara seperti ini. Dia itu …”

“Kita tidak akan terjebak dalam situasi ini kalau kau berkata jujur sejak awal, Tiffany!”

Tiffany bungkam seketika. Ekspresi dingin Siwon mendadak mengulitinya. Lalu ia kembali pada hari itu. Ketika ia dengan tersedu-sedu memberitahu Siwon bahwa alasan mereka membatalkan pernikahannya dengan Jessica adalah karena niat jahat Emerald Corp. Dari wajah Siwon, ia bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu mengingat dengan jelas apa yang sudah dikatakannya.

“Kalau kau masih ingat bagaimana kau menjelaskan hubungan Jaeshin dengan Jessica sebaiknya kau diam saja, Tiffany.”

Siwon rasanya ingin mencabik-cabik apapun yang bisa digapainya. Asal ia tak melihat wajah putus asa itu menatapnya.

“Oppa …”

Suara itu bergetar memanggilnya. Malaikat, teman hidup, orang kepercayaan … ibu dari anaknya, Tiffany Hwang.

“Aku tidak tahu harus menghadapimu bagaimana, Tiffany …”desah Siwon tanpa menoleh. “Bahkan kebenaran yang kau percayai itu tak lebih dari kebohongan. Sudah berapa banyak kau membohongiku?”

Isakan mulai terdengar.

“Kita sudah berjanji untuk saling jujur satu sama lain dan tidak menyimpan rahasia apapun …”

“Karena aku takut, oppa! Setiap hari aku ketakutan oleh kebohongan itu! Tiap kali aku memikirkannya … aku tidak bisa kehilangan kau, oppa. Aku tidak bisa melepasmu!”

Bahu itu berguncang selagi tubuhnya terperosot jatuh bersimpuh di lantai. Isakan-isakan berikutnya tak lagi tertahan.

Siwon beranjak dari kasur dan menghampiri Tiffany. Bohong jika hatinya tak tersayat pilu melihat wanita itu menangis sesegukan. Ia telah hidup bertahun lamanya, mencinta dan menyayangi serta mengarungi badai bersama Tiffany. Wanita yang menangis itu adalah ibu yang berharga. Yang telah mengizinkan benihnya tumbuh di tubuhnya dan merenggang nyawa demi melahirkan putranya. Dan sekarang ia melihat wanita itu begitu rapuh. Hanya karena mereka ditarik pada kisah masa lalu.

Siwon berjongkok di sisi Tiffany. Agak ragu disentuhnya bahu itu. Karena Tiffany masih menangis, ia membantunya berdiri.

“Berhentilah menangis. Aku akan mengatasi masalah ini, jadi tidak usah khawatir!”ujarnya, berbisik. Ia lalu menuntun Tiffany ke kasur dan menyelimutinya.

“Tidurlah! Kau tidak boleh terlihat berantakan di rapat besok!”

Selesai menyelimuti Tiffany, Siwon beranjak tapi jemari Tiffany menahannya. Sorot mata itu memperlihatkan permohonan yang dalam. Tapi dengan halus, Siwon melepaskan genggaman itu.

“Tidurlah …”ia berbisik lirih, lalu beranjak pergi tanpa menoleh lagi.

***

Ketika menghadiri rapat pengalihan saham, Tiffany sedikit berharap bisa melihat Jessica. Karena satu-satunya harapan yang dimilikinya adalah belas kasih wanita itu. Meski nyatanya ia sendiri meragukan harapan itu. Jessica tanpa ampun memporak-porandakan Jaeshin, bagaimana ia akan luluh dengan permohonan musuh lamanya? Tapi setidaknya ia harus mencoba … kalaupun ia perlu berlutut, mungkin akan dipertimbangkannya…

Tapi harapan itu pupus karena hanya Donghae yang datang mewakili Jessica. Suasana hening yang aneh sepanjang rapat pun luput dari perhatian Tiffany. Ia hanya duduk lemas di kursinya, memandangi berkas kesepakatan ditanda-tangani di depannya. Jaeshin Fashion kini menjadi milik Jessica. Dan Emerald Corp menangguhkan tuntutannya. Dua hal yang membuat Tiffany tak bisa memilih senang atau menangis. Sama-sama buruknya.

Ia tengah melewati koridor menuju ruang kerjanya, selepas menghadiri upacara serah terima kuasa itu, saat ia berpapasan dengan Donghae.

“Selamat siang, nyonya Choi!”sapa Donghae riang.

Tiffany terlalu kacau untuk menggubrisnya. Karena itu ia melewatkan saja. Tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik.

“Yah, Lee Donghae!!”panggilnya berseru.

Yang dipanggil menghentikan langkah dan menoleh. Tiffany segera mendekat.

“Bisakah kau memberitahu tunanganmu itu untuk berhenti bermain-main?!”tukas Tiffany segera, kasar dan tak peduli pada kernyitan di kening Donghae.

“Memang kenapa dengan Jessica?”balas Donghae tenang. “Kami hanya …”

“Sebenarnya sampai kapan kalian mempermainkan Jaeshin, eoh? Sampai kapan dia mencoba mempermainkanku?! Perempuan itu … dia sedang tertawa sekarang, kan? Menikmati wine di atas kekacauan yang dibuatnya … sejak kapan dia berhenti menjadi manusia, eoh?”

Suara Tiffany mulai bergetar. Kelelahan. Kecemasan. Ketakutan. Keputus-asaan. Semuanya timpang tindih membebani bahunya dalam waktu yang sama.

Donghae tersenyum, menghela panjang.

“Dia hanya melakukan apa yang errr… apa ya? Kupikir kau tahu alasannya,”ujarnya.

“Dia benar-benar menyimpan dendam? Memangnya apa salahku, eoh? Apa kesalahanku begitu besarnya? Kenapa dia harus melakukan semua ini?!”

Suara Tiffany semakin meningkat intentitasnya. Masa bodoh dengan airmata yang sudah mendesak di pelupuk matanya. Kemarahan itu perlu penyaluran sekarang.

“Entahlah, Fany-ya … kau tak bisa mengukur luka orang lain dengan mudah.”

“Kekanak-kanakan sekali. Jadi ini perkara luka masa lalu? Dia masih terobsesi pada Siwon oppa? Masih ingin merebutnya? Apa dia harus memilih jalan seperti ini? Ah, oppa … tolong, hentikan dia! Jebaal!”

“Jangan menyerah terlalu cepat, Fany-ya,”tukas Donghae serius. “Jessica tidak pernah bisa tidur nyenyak selama bertahun-tahun selama ini. Kalau kau menyerah dengan cepat, tidakkah itu akan membosankan?”

Tiffany terperangah. “Oppa …”

“Aku mengasihanimu, sebagai orang yang pernah mencintaimu. Tapi aku jauh lebih mengasihaninya, sebagai orang yang sekarang mencintainya. Kau terluka, Fany-ya … tapi lukamu tak seberapa dibandingkan dengannya. Karena itu, bertahanlah sedikit lagi. Supaya ia bisa membayar luka dan kau bisa memahaminya.”

“Oppa … dia bahkan mengubahmu … kau benar-benar berpihak padanya?”isak Tiffany.

Donghae tersenyum. “Hebat, bukan? Dia memengaruhiku. Bahkan membuat cintaku berpaling sepenuhnya.” Ditepuknya bahu wanita itu. “Jangan biarkan malam-malam terburuknya berlalu tanpa harga. Bertahanlah sedikit lagi.”

Selagi tetesan air kembali membasahi pipi wanita itu, Donghae beranjak berlalu. Meninggalkan luka baru untuk Tiffany. Bahkan pria yang dulu dibuatnya menangis memohon-mohon itu telah berbalik memusuhinya. Siapa lagi yang bisa membantunya? Tiffany lunglai menarik langkahnya ke ruangan. Harus ada yang menghentikan Jessica. Siapapun itu …

***

Terlepas dari krisis yang belum lepas sepenuhnya dari Jaeshin, Siwon tetap melakukan rutinitasnya. Bekerja dan terus berusaha. Ia tengah melakukan kunjungan di departemen store Jaeshin saat tak sengaja melihat sosok Jessica. Mungkin ia tak perlu menghentikan langkah dan mengamati mereka. Tapi saat itu Jessica sedang bersama Yoona. Di salah satu butik khusus VIP mereka. Mengingat bahwa Yoona adalah sahabat istrinya dan Tiffany tak menyukai Jessica, Siwon memutuskan untuk menghampiri mereka.

“Hai, ladies!”sapanya.

Jessica segera tersenyum meski kernyitan terlihat di keningnya. Sementara Yoona, benar-benar terkejut.

“Omo, kenapa kau bisa ada di sini, oppa?”tanya Yoona.

“Hanya kebetulan lewat dan melihat kalian. Ngomong-ngomong kalian sepertinya dekat,”ujar Siwon.

“Begitulah,”sahut Jessica, kembali sibuk memilih gaun-gaun mewah. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang kakak saat adiknya akan menikah. Ah, bagaimana dengan ini, Yoong-a?”

Ia memperlihatkan sebuah gaun hijau pastel yang berhiaskan intan permata. Sama sekali tak terganggu dengan raut tak setuju Siwon. Atau bahkan memperhatikan wajah khawatir Yoona.

“Kami sudah memilih gaun pengantin dan sedang mencari gaun pengiring pengantin,”ujar Jessica, menoleh pada Siwon. “Tiffany pasti terlalu sibuk untuk menemani Yoona, hm?”cemoohnya.

“Eonni, sudahlah …”sela Yoona, tidak enak hati.

“Aku bahkan tidak tahu kau akan menikah,”ujar Siwon, tersenyum kecut pada Yoona.

“Tiffany pasti lupa memberitahumu. Bagaimana mungkin dia tidak peka begitu,”sambar Jessica, menggerutu.

Siwon menghela panjang. “Im Yoona, aku harus bicara denganmu!”ujarnya.

Yoona menoleh pada Jessica sebelum mengangguk.

“Jadi, kau sudah mengenalnya jauh sebelum dia datang?”tanya Siwon segera begitu ia berdua bersama Yoona.

Pertanyaannya dijawab dengan anggukan kecil. Jelas terlihat wanita itu tak nyaman dengan topik perbincangan mereka. Jemarinya yang memegang cangkir teh bergerak gelisah. Tatapan Siwon terlalu tajam mengawasi, seolah ingin membuka isi kepalanya.

“Kenapa kau tidak …”

“Kupikir lebih baik Tiffany eonni yang menceritakannya,”potong Yoona.

Siwon menghela panjang. “Kau pura-pura tak mengenalnya di pesta perusahaan beberapa waktu lalu. Ah tidak … apa Tiffany tahu kau berteman baik dengannya? Setelah apa yang dilakukan perempuan itu pada Jaeshin, kau mempersilahkannya memilihkan gaun pengantinmu?”

“Tiffany eonni sibuk,”elak Yoona. “Aku tidak mau merepotkannya.”

“Ini bukan pasal merepotkan, Im Yoona!”tukas Siwon. “Aku hanya tidak bisa terima sahabat baik istriku malah menusuknya dari belakang seperti ini. Atau jangan-jangan kau sudah berada di pihak perempuan itu?”

Yoona tak menjawab. Disesapnya isi cangkir dengan pelan. Bimbang untuk memberitahu Siwon. Ia bahkan tak punya kekuatan itu.

“Aku hanya tak mau merusak persahabatan kami sejak SMA, oppa…”jawab Yoona kemudian.

“Tapi kau tidak menyangkal apa yang pernah dilakukannya, kan?”

“Itu masa lalu, Oppa. Kurasa kalian sudah mengatasinya. Tidak ada masalah berarti sekarang ini, kan? Jaeshin sudah mulai beroperasi normal, bukankah itu saja sudah cukup?”

“Entahlah, Yoona. Meski terlihat sudah mulai normal … tapi perasaan Tiffany …”

“Juga perasaan Jessica eonni,”tukas Yoona. “Mata uang selalu memiliki dua sisi, Oppa. Hanya karena Tiffany adalah wanitamu yang paling berharga, tidak sepantasnya kau menutup mata dari orang lain.”

Selagi Siwon tertegun, Yoona menarik napas dalam. Baiklah, sepertinya ia akan terus mengatakannya sampai akhir.

“Kau hanya mendengar cerita masa lalumu dari satu pihak, Oppa. Dan karena itu Tiffany eonni, kau lantas menyalahkan siapapun yang melawannya. Tidak, Oppa … orang lain juga terluka. Bahkan mungkin lebih buruk dari luka istrimu,”gumamnya lirih.

“Apa maksudmu? Cerita yang kudengar itu juga kebohongan?”

Oke, sudah cukup. Yoona melirik arlojinya. “Ah, sudah hampir jam makan siang. Aku harus pergi sekarang, Oppa. Jessica eonni sudah menungguku dan sebentar lagi Seunggi oppa akan datang. Kalau kau bisa berpura-pura tidak melihatku bersama Jessica eonni hari ini, kau juga bisa berpura-pura pembicaraan barusan tidak pernah terjadi. Ah, sudah ya. Aku pergi dulu!”

Bergegas Yoona beranjak. Meninggalkan Siwon dengan tergesa-gesa. Kalau berbicang lebih lama, bisa-bisa ia kembali menyulut masalah baru.

***

“Bagaimana mungkin kau gegabah menyerahkan asetku sesuka hatimu, Choi Siwon?!!”

Gelegar kemarahan tuan besar Choi terdengar. Buru-buru istrinya mengenggam tangannya, berusaha menahan agar ledakan marah itu tidak membuat napasnya kembali sesak.

“Sudah kuperingatkan untuk menjauhkan perempuan itu dari Jaeshin, kenapa kau malah mengundangnya masuk?!!”

Tiffany yang berada di luar ruangan itu hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ia tahu situasi yang mereka hadapi amat buruk. Tapi seperti yang dikhawatirkannya, pilihan Siwon untuk mengambil keputusan sendiri membuat masalah semakin runyam. Ayah mertuanya yang sebenarnya masih perlu dirawat karena penyakit jantungnya, datang tanpa pemberitahuan begitu mendengar bahwa Siwon sudah menandatangi surat perjanjian dengan Emerald Corp.

“Kalau abeoji berada di posisiku, apa yang akan anda lakukan?”

“Memang apa lagi, eoh? Seharusnya kau mengusir dan tidak membiarkannya datang kembali! Begitu seharusnya Presdir sepertimu melindungi Jaeshin! Sekarang kau malah menghancurkannya!”

“Sepertinya abeoji lupa tentang tuntutan kejaksaan. Apa yang harus kita lakukan dengan semua bukti manipulasi itu? Apa menendang Emerald Corp semudah itu? Setelah menghancurkan mereka sepuluh tahun lalu, apa sekarang kau akan melakukan langkah yang sama, abeoji? Kenapa kau terus-terus menyalahkanku sementara ini semua adalah buah kejahatanmu di masa lalu! Jaeshin tidak akan terlibat masalah pelik seperti ini kalau sejak awal kau membina perusahaan yang bersih, abeoji.

Jemari Tuan Besar Choi mulai menekuk tegang.

“Sudahlah, yeobo. Sudahlah. Kita akan membicarakan ini lain kali!”sela Nyonya besar Choi, cemas. Kesehatan suaminya jelas-jelas masih belum stabil.

“Akan ada rapat umum pemegang saham akhir bulan ini. Apa kau sudah siap melihat hasil dari ulahmu?!”seru Tuan besar Choi. Matanya masih melotot memandang Siwon di hadapannya.

Siwon terpekur. Ia tahu itu dengan pasti. Sekretarisnya sudah memberitahunya semalam. Masih ada pergolakan dalam badan Jaeshin. Tapi, Siwon sudah terlanjut menelan pil pahit bernama kekecewaan itu. Kenapa semua orang berusaha menutupi kebenaran yang sesungguhnya? Kenapa ia harus berkecimpung dalam kebohongan ini?

Nyonya besar Choi memutuskan untuk mendorong kursi roda suaminya sebelum pertengkaran mereka semakin memanas. Sementara Siwon terduduk di kursinya dengan pikiran yang sama peliknya.

Ia tahu posisi keluarganya sebagai pemegang saham utama semakin terjepit. Tapi bukan hanya itu yang membuatnya merasa sangat tak berdaya. Percakapannya dengan Yoona kemarin, jauh lebih mengusik.

Siapa yang berbohong? Kenapa juga semua orang harus membohonginya?

Kenapa Tiffany ….

Ah, bisakah ia mempercayai wanita itu di saat seperti ini?

***

“Sica, aku pulang!”Donghae berseru sembari masuk meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur. Sosok Jessica tidak terlihat. Mungkin sedang mandi, pikirnya.

Ia lalu mengeluarkan semua belanjaannya yang cukup banyak. Perempuan itu yang mengatakan ingin memasak besar. Mungkin ingin merayakan keberhasilan mereka mendapatkan saham Jaeshin Fashion. Atau sebagai perayaan awal atas keruntuhan rezim Choi di Jaeshin Group.

“Sica?”panggil Donghae, beberapa saat setelah menyelesaikan persiapan di dapur.

Tak ada sahutan. Segera insting Donghae membuatnya bergegas ke kamar. Mencari ke setiap ruangan dengan panik. “Jessica? Dimana kau?”

Kecuali satu ruangan, semuanya sudah diperiksa oleh Donghae. Karena tak menemukannya dimana-mana, ia mendekat ke pintu ruang pribadi Jessica dan mengetuknya pelan.

“Sica? Apa kau di dalam?”

Tak ada sahutan. Dan itu memang aneh sedari tadi. Karena meskipun berada di dalam ruangan itu, Jessica pasti tahu kalau ia datang. Tak ingin berpikir panjang lagi, Donghae segera membuka pintu dan masuk.

Jessica ada di sana. Di ruangan yang dipenuhi oleh foto-foto dan kenangan Siwon. Di lantai marmer yang dingin itu, terkulai lemas. Dengan darah yang bercipratan mengotori wajah dan pakaiannya.

***

Seunggi belum sepenuhnya memarkir mobil dengan baik, tapi Yoona sudah keluar dengan tergesa-gesa. Pria itu hanya bisa berteriak memperingatkan, meski kekasihnya itu sudah tak mendengarnya. Segera ia memarkir dan mengunci mobil lalu bergegas menyusul Yoona. Wajah kekasihnya itu amat sangat pucat setelah mendengar kabar dari pria bernama Donghae.

Sebenarnya, Seunggi sangat kesal pada siapapun pria itu. Tadinya ia sedang menikmati waktu luang berdua dengan Yoona di tengah kepadatan waktu mereka, tapi hanya karena sebuah telepon, wanita itu langsung menariknya pergi. Belum lagi sepanjang perjalanan yang dilakukan Yoona hanya terus mengecek ponsel dan mendesaknya untuk menyetir cepat.

“Oppa!”Yoona berseru cepat begitu mereka masuk ke dalam apartemen.

Donghae baru saja keluar dari kamar utama bersama dengan seorang dokter wanita.

“Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?”desak Yoona cepat.

“Syukurlah cepat ditangani. Nona Jung harus banyak beristirahat, Lee Donghae-ssi. Saranku bebaskan dia dari pekerjaan kantor untuk sementara waktu. Sudah kukatakan dari dulu, kan, orang sepertinya tidak bisa bekerja dan memaksakan diri terlalu keras,”ujar dokter itu.

“Apa keadaannya sudah stabil?”tanya Yoona lagi.

Dokter Seohyun mengangguk. “Hanya butuh istirahat lebih,”ujarnya. “Tapi pertahanan tubuhnya semakin melemah. Kalau dia terus memaksakan diri bekerja seperti itu, aku takut dia tidak bisa bertahan lebih lama.”

“Oh God…”Yoona limbung. Beruntung Seunggi sigap merangkulnya.

Dokter cantik itu pamit untuk pulang. Selagi Donghae mengantarnya, Yoona beranjak masuk ke dalam kamar. Jessica terbaring di kasurnya, kembali mengenakan masker oksigen untuk membantu pernapasannya. Wajah yang biasa terlihat angkuh itu tampak pucat, seolah darah berhenti mengalir di sana.

Terhunyung oleh kecemasan, Yoona meraih tangan Jessica dan menggenggamnya. Selain untuk menyalurkan kehangatan persaudaraan, ia juga bermaksud menegarkan dirinya.

“Apa yang terjadi, oppa?”tanya Yoona begitu Donghae masuk dan duduk di sisi sebelah Jessica. “Kenapa bisa kolaps seperti ini lagi?”

“Aku tidak tahu,”lirih Donghae. Tatapannya lurus ke arah wajah yang cintainya. “Kurasa karena aku membiarkan bekerja terlalu keras.”

“Sudah kukatakan dari dulu, kalau kau tidak seharusnya membiarkan eonni melakukan semua itu! Oh, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang… lihatlah, kenapa dia begitu pucat, Oppa?”

Mulailah isakan Yoona terdengar. Seunggi yang tadinya ingin menawarkan permusuhan pada pria di hadapan kekasihnya itu mau tak mau beralih simpati. Sebagai seorang pria, ia bisa memahami dengan jelas sorot mata Donghae ketika menatap Jessica. Sebenarnya ia tak mengerti ada masalah apa di antara mereka, tapi melihat bagaimana cara Yoona tersedu-sedu menggenggam dan menangisi wanita itu membuat ia memilih diam.

“Bagaimana dengan Jaeshin?”tanya Yoona, beberapa saat setelah Seunggi berhasil menenangkan tangisannya. Ketiganya duduk berhadapan di sofa kamar Jessica. Menunggu wanita itu terbangun.

“Aku akan mengurus semuanya,”desah Donghae letih. Sedari tadi pandangannya terus tertuju pada Jessica.

“Ekhem,”Seunggi menyela. “Maaf, tapi kenapa pembicaraan kalian terlalu … berat? Baby, aku hanya tahu kau dikontrak brand-ambrassor di Jaeshin. Kau tidak perlu terlibat masalah internalnya, kan?”

Yoona bertukar pandang resah dengan Donghae.

“Emm… kurasa, kau tak perlu tahu itu. Ini masalah perusahaan,”jawab Donghae.

“Kau melibatkan kekasihku!”tukas Seunggi. “Kau pikir aku tidak tahu betapa mengerikannya masalah yang melibatkan keluarga chaebol?”

Oppa, sudahlah! Kita datang untuk menjenguk orang sakit, kenapa malah emosi begini sih?”sela Yoona. Sebelum kata-kata Seunggi semakin kasar. Pria itu … meski terlihat amat manis, kalau sudah disangkut pautkan soal kekasihnya ia akan berubah over-protektif.

Baby, kau menyalahkanku?”

“Bukan begitu, oppa! Oh God, seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini!”

Seunggi mengerjap. Entah karena pengaruh kecemasan Yoona atau apa, baginya kata-kata wanita itu barusan amat menusuk perasaannya.

“Apa maksudmu? Supaya kau bisa memiliki kesempatan dengan …”

“Ekhem!!” Donghae menyela cepat. “Bisakah kau menghargai kekasihku yang sedang beristirahat? Bertengkarlah di luar, jebal!”

Seunggi dan Yoona sama-sama menghela panjang. Kecemasan itu rupanya terlalu besar hingga membuat mereka ikut-ikutan kacau.

“Kau tahu sendiri kalau Jessica eonni adalah kakakku yang berharga, Oppa,”desah Yoona letih. “Kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya … aku mungkin akan ikut lemah. Karena dialah aku bisa berada di sisimu sekarang. Karena itu … dia adalah orang yang sangat berharga dalam  hidupku. Mustahil aku hanya tinggal diam sementara dia begitu terluka.”

“I’m sorry, baby…”lirih Seunggi.

Donghae masih terpekur. Percakapan sepasang kekasih itu sama sekali tak didengarnya. Ia fokus memandangi Jessica. Mengawasi napasnya yang lemah. Dan detak mesin EKG yang menderu-deru. Pertanda bahwa waktu mereka tak banyak lagi. Karena itu ia memutuskan untuk mengakhirinya segera.

***

“Choi Siwon, kita harus berbicara.”

Siwon yang baru saja pulang dari meeting rutin mingguan, terheran-heran mendapati Donghae sudah menunggu di depan ruangannya. Terlebih karena pria itu baru saja memanggilnya ‘Choi Siwon’ tanpa embel-embel  Presdir, di saat mereka masih berada di kantor.

“Sebagai kolega bisnis atau …”

“Sesama pria,”sela Donghae, datar. “Ini tentang Jessica dan Tiffany.”

Kening Siwon mengerut. Ada ketidaksukaan yang muncul tiba-tiba saja saat mendengar nama istrinya disebut oleh pria lain. Seolah pria itu jauh lebih mengenal kekasihnya dibandingkan ia.

“Aku sibuk, Lee Donghae. Dan juga, bukankah seharusnya masalah itu sudah selesai? Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan. Apalagi sekarang?”

“Kebenaran yang tersembunyi.”

Sesaat Siwon goyah. Tapi kembali terbayang wajah lesu dan letih Tiffany. Wanita itu sudah terlalu banyak menderita. Ia menghela.

“Aku sudah tahu apa yang perlu kutahu. Jangan menggoyahkanku.”

“Walaupun kau hanya mengetahui kebohongan?”

Langkah Siwon tertahan. Sebuah suara ribut berdenging di telinganya. Kemarin Yoona, sekarang Donghae. Kenapa semua orang mendadak terlalu ikut campur dalam keluarganya? Ia menghela kasar lalu menoleh.

“Jadi, kau ingin mengatakan kalau wanita yang sudah menemani hidupku selama tujuh tahun adalah pembohong? Atas dasar apa kau berharap aku mempercayai omonganmu, eoh?”

“Kau amnesia, tujuh tahun lalu. Dan sejak itu kau hanya tahu apa diberitahu orang lain padamu. Kau bersikap bahwa kau adalah orang yang benar dan siapapun yang menyalahimu adalah pihak yang salah. Kau bahkan tak sadar, ada orang yang terluka karena pilihanmu, Choi Siwon. Selama tujuh tahun hidupnya, ia hanya bisa mengawasimu dari jauh. Menelan semua derita, menyiksa batin hingga membuatnya terlihat sangat menyedihkan.” Donghae menghela, membiarkan jeda menyelinap selagi ia menata hatinya. “Di saat kau melangsungkan pernikahanmu yang meriah, ia sedang berjuang melewati masa kritisnya. Kau mungkin tidak akan pernah mengerti, tapi kau hampir membunuhnya, Choi Siwon. Ah, tidak … kau memang sudah membunuh satu nyawa.”

Kening Siwon mengerut. Abaikan dulu dengingan ribut di kepalanya. Wajah Donghae sama sekali tak terlihat berbohong. Ia tahu pria itu bersungguh-sungguh. Lihat, matanya bahkan berkaca-kaca.

“Dia melewati semuanya seorang diri. Kehilangan keluarga. Kehilangan sahabat. Kehilangan calon pengantin. Kehilangan janin … dan sekarang … mungkin akan kehilangan hidupnya juga. Kau bilang kalau aku terlalu mencampuri urusanmu?” Donghae mendengus tertawa mencemooh. “Sayang sekali, ia yang kau hancurkan hidupnya itu adalah bagian dari diriku. Bagaimana aku bisa tinggal diam, eoh?”

“Tunggu dulu … tadi kau bilang …”

“Ne!”seru Donghae, sudah dikendalikan oleh amarah sepenuhnya. “Perempuan itu adalah Jessica Jung! Kau mungkin tidak bisa memahami kesakitannya karena hidupmu terlalu bahagia selama ini.”

“Kau bilang dia kehilangan ja…”

“Janinnya? Anakmu? Yeah, dan kau yang membunuhnya.”

Siwon berdiri kaku. Bingung harus bagaimana menanggapinya. Dengingan di kepalanya semakin menggila.

“Ke.. kenapa kau memberitahukan ini padaku?” Susah payah ia mengeluarkan kata-katanya.

Donghae tersenyum miris. “Bukan apa-apa. Mungkin juga tidak akan mempengaruhi hidupmu. Tapi hanya sekedar memberitahumu, satu-satunya hal yang perlu kau sesalkan dalam hidupmu adalah mengenal wanita itu, Choi Siwon. Kalau saja kalian tidak bertemu sebelumnya, dia pasti tidak akan sesakit itu! Seperti orang bodoh, setiap hari memaksakan hidup dengan mengingat kenangan manisnya, menangis dan terisak hanya untuk pria yang sama sekali tidak mengingatnya!! Pria brengsek sepertimu seharusnya tak perlu hadir dalam hidup Jessica, Choi Siwon…”

“Kau … itu semua … bohong, kan?”

“Aku juga berharap itu hanya bohong semata.”

Donghae tak mengatakan apa-apa lagi. Selagi Siwon masih termangu shock, ia berbalik pergi. Selesai sudah … ia akhirnya membuka mulut. Jessica mungkin tidak akan suka dengan pilihannya. Tapi masa bodoh. Perempuan itulah yang seharusnya berhenti menyiksa diri sendiri.

***

“Dia kehilangan janinnya …”

Tiffany yang sedang berhias melirik Siwon dari cermin di hadapannya. Pria itu lagi-lagi terlihat murung, bersandar di dashboard ranjang dengan wajah muram.

“Siapa?”tanyanya sembari mengoleskan lipstik merah bata di bibirnya.

“Jessica.”

Tubuh Tiffany mendadak tegang. Diturunkannya lipstik dan menoleh.

“A-apa maksudmu? Memang dia sedang hamil? Wah … mereka bahkan belum menikah …”

Tiffany mencoba untuk tertawa. Tapi ekspresi Siwon tetap datar. Bahkan ia seolah bukan dirinya. Mulailah hawa dingin menerpanya. Oh Tuhan, apa lagi sekarang?

“Dia bilang … janin itu adalah anakku, Tiffany.”

Oh God … Tiffany terhunyung, nyaris menabrak cermin. Beberapa botol produk perawatan tubuhnya terjatuh.

“Oppa …”

“Hari itu adalah hari pernikahan kita.”

“Oppa …”

“Dia bahkan mencoba bunuh diri.”

“Oppa …”

“Aku yang menyakitinya.”

“Oppa!!”

Siwon mendongak. Menatap wajah pucat Tiffany yang mulai bercucuran keringat. Ketakutan wanita itu jelas sekali.

“Katakan padaku, Tiffany … apa benar wanita seperti itu yang pantas kita benci? Apa sudah benar perlawanan kita? Apa sudah benar yang selama ini kalian katakan padaku?!!”

Mati-matian Tiffany mempertahankan napasnya agar tak tersengal. Oh Tuhan, ada apa ini? Bagaimana dia tahu … Oh Tuhan, apa yang harus dilakukannya? Tatapan Siwon menusuknya, terlalu dingin untuk bisa dilawannya.

“Rupanya benar. Aku menerima kebohongan selama ini.”

Siwon beranjak dari kasur. Tanpa menoleh pada Tiffany, ia keluar dari kamar. Suara bedebum pintu nyaring terdengar. Membuat Tiffany terlonjak kaget dan segera, lemas terisak.

***

“Nyonya … anda harus makan sedikit saja …”

Tiffany bergeming. Rasa lapar sudah lama hengkang dari dirinya. Ia tak peduli apapun sekarang. Tumpukan dokumen dan data jauh lebih menarik baginya. Siwon tak pernah pulang lagi. Dan itu bukan alasan untuk diam saja. Tiffany terpuruk pastinya, tapi ia sudah memutuskan untuk berjuang mempertahankan Jaeshin. Bagaimana pun caranya. Hanya dengan begitu ia bisa mengusir Jessica selamanya.

“Mommy … kau akan datang, kan? Besok kami mengadakan festival di sekolah …”

Tiffany sedang memakai sepatunya dengan tergesa-gesa saat Danny menghampirinya. Keribetan itu bertambah sekarang. Mata memohon anaknya menggoyahkan. Tapi segera ia menunduk, memberikan kecupan sayang untuk Danny.

“Akan kuusahakan, sayang…”bisiknya, lalu berlalu tergesa-gesa. Masih banyak pemilik saham yang harus ditemuinya sebelum rapat umum tiba.

“Jangan memaksakan dirimu.”

Tiffany sedang sibuk memberikan laporan saat suara berat itu terdengar. Dan pria yang duduk di kursi Presdir itulah yang mengatakannya. Pria yang dirindukannya … yang telah tumbuh kumis tipis di wajahnya … yang semakin tirus wajahnya … yang semakin kurus … yang tidak memakai dasi dengan rapi … yang …

“Pulanglah dan beristirahat!”

Suaranya dingin. Bahkan tak mendongak menatapnya.

“Aku ingin membantu, oppa …”Tiffany berujar lirih.

Siwon menghela panjang lalu berujar tanpa repot-repot memandang ke arah Tiffany.

“Bantu aku dengan tidak muncul di hadapanku untuk sementara waktu, Tiffany Hwang …”

Jemari Tiffany gemetar, mencengkram ujung roknya. Tapi sebisa mungkin ia tersenyum tegar.

“Baiklah …”ujarnya lirih, nyaris bergetar. “aku pergi dulu. Saranghae, oppa… aku akan menunggumu, sampai kapanpun.”

Langkahnya yang berat bergerak teratur meninggalkan ruangan itu. Siwon menghela panjang, melepaskan kacamatanya dan bersandar di kursi.

Amarah. Rasa bersalah. Letih. Semuanya bertumpuk, menjatuhkan beban berton-ton di atas kepalanya. Bohong kalau ia tak merindukan perempuan itu. Bohong jika ia tak ingin berlari memeluk dan mencari ketenangan dalam pelukannya. Choi Siwon menginginkan Tiffany sebagai sandarannya sekarang.

Tapi tiap kali keinginan itu muncul, bayangan wajah Jessica tiba-tiba mengusik. Ia telah meminta orang untuk mencari tahu tentang keadaan wanita itu. Dan Donghae memang benar. Wanita itu sedang sakit, meski belum ada keterangan sakit apa yang dideritanya. Ia juga sudah meminta agar masa lalunya diselidiki. Keadaan benar-benar tak menguntungkan untuknya saat ini. Bagaimana ia bisa menyelamatkan Jaeshin dari skandal itu? Sementara ia sendiri tak menyangkal kebenarannya.

Di saat semua masalah itu bertubi-tubi menyerang, Siwon merasa telah tiba di puncak letih itu. Hingga pikiran untuk menyerah kerap menghampiri. Ia meraih ponsel, dan menghubungi salah satu kontaknya.

“Tolong …  biarkan aku bertemu dengan Jessica. Aku perlu berbicara dengannya,”ia berbisik lirih ketika bunyi pesan suara terdengar. Mungkin sudah ada puluhan pesan serupa yang dikirimnya. Tapi tak satupun terjawab. Seolah mereka telah lenyap begitu saja setelah memberinya kebingungan dan keresahan.

***

“Yoona-ssi, besok kau ada pemotretan dengan majalan Ceci. Jangan sampai telat datang, ya!”

“Ne, aku ingat kok!”balas Yoona sembari fokus dengan jalanan di depannya. Ia baru saja pulang dari lokasi syuting dan karena Seunggi juga sedang sibuk, jadilah ia yang menyetir sendiri.

Begitu selesai parkir, ia bergegas menuju apartemennya. Ia harus mengunjungi Jessica. Bahkan niatnya ia ingin menginap di sana. Mungkin kehadirannya bisa membujuk wanita itu untuk tidak bekerja dulu. Setelah sadar dari pingsannya, Jessica tetap bersikukuh untuk bekerja dengan alasan situasi pelik tidak akan selesai sebelum mereka memenangkan posisi di rapat umum pemegang saham.

Kekeraskepalaan seperti itulah yang tidak bisa dibiarkan. Yoona mengecek arloji bersamaan dengan desis pintu lift terbuka. Masih dengan langkah bergegas ia berjalan menuju unit apartemennnya.

Tapi segala ketergesaan itu tertahan saat ia masuk ke dalam apartemen. Seseorang sudah menunggunya di ruang tamu.

Tiffany Hwang.

Eonni ...”

Tadinya Yoona ingin memprotes bagaimana wanita itu bisa masuk ke dalam apartemennya tanpa izin. Tapi yang duduk di sofanya itu adalah nyonya muda Jaeshin. Meski ia sudah memberitahu penjaga apartemen bahwa ia tidak boleh mengizinkan siapapun masuk, kekuasaan wanita itu terlalu besar. Toh, salahnya sendiri kenapa belum mengganti kode keamanannya.

“Kenapa datang tanpa memberitahuku dulu, eonni?”tanya Yoona, beranjak duduk di hadapan wanita itu.

“Ada yang ingin kutanyakan.”

Wanita di hadapan Yoona itu tetap terlihat anggun dan berwibawa seperti biasa. Tapi Yoona tahu dibalik wajah yang tersapu make-up itu ada beban dan kedukaan yang tersimpan lama. Dan ia juga berperan dalam menciptakan luka itu. Yoona menghela panjang.

“Katakan saja.”

***

Hari kelima setelah terjatuh di kamar pribadinya, Jessica sudah kembali sehat untuk bertemu dengan publik. Mereka harus menghadiri beberapa pertemuan dengan petinggi Jaeshin sebelum rapat umum pemilik saham diselenggarakan. Jessica baru saja selesai mandi dan berbenah saat Donghae mengetuk pintu kamarnya.

“Seseorang mencarimu.”

Dengan wajah angkuh yang tak terlihat sehat, Tiffany sudah duduk di sofa ruang tamu Jessica.

“Kenapa dia ada di sini?”tanya Jessica, berbisik pada Donghae.

Pria itu hanya menggidikkan bahu. “Temui dia. Aku menunggumu di luar,”ujarnya.

Jessica menghela panjang. Donghae tertawa kecil sembari menepuk bahu Jessica, memberinya dukungan. Setelah Donghae pergi, Jessica beranjak menghampiri Tiffany.

“Wah, kau cukup terlambat,”cemooh Jessica. “Sudah pasti posisi sebagai nyonya muda Jaeshin membuatmu bisa dengan mudah menemukanku.”

Thanks to Yoona,”balas Tiffany, datar.

Dan di sinilah mereka berdua. Duduk berhadapan di ruang tamu.

“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan, nyonya Choi? Aku harus menghadiri pertemuan dengan beberapa petinggi Jaeshin. Kau tahu maksudku, kan? Rapat umum pemegang saham tidak lama lagi akan digelar. Kuharap kau juga sudah bersiap-siap untuk hari itu.”

“Sepertinya kau benar-benar melakukannya, Jessica, ”tukas Tiffany.

Jessica tertawa kecil. “Lalu?”

“Siwon oppa tidak pernah pulang ke rumah,” Tiffany menarik napas panjang sebelum melanjutkan,  “Dia tidak makan dengan baik dan sama sekali tidak memperhatikan kesehatannya. Setiap hari ia bekerja hingga tak bisa tidur dengan benar, mati-matian mencoba memperbaiki kekacauan. Mertuaku dilarikan ke rumah sakit dan aku bahkan membuat putra tunggalku menangis di hadapanku karena tidak menghadiri festival sekolahnya. Keluarga Jaeshin menyalahkanku dan mereka menyelamatkan diri masing-masing. Taeyeon … Yoona … mereka berpaling sekarang. Dan aku … kalau bukan mengingat bahwa aku masih punya urusan denganmu, aku pasti sudah mengakhiri hidupku. Kau sudah berhasil, Jessica … Apa yang kau inginkan selama ini … semuanya terkabul, bukan? Rapat pemegang saham besok lusa … akan membuat Siwon oppa kehilangan Jaeshin. Perusahaan yang bertahun-tahun lamanya dipertahankan keluarganya … akan segera berpindah tangan. Pria itu mungkin akan mengacuhkanku selamanya juga. Putraku pun menolak berbicara denganku sekarang. Hidupku sudah hancur, Jessica …”

“Lalu?”Jessica menyahut dingin. Seolah tak ingin peduli dengan airmata Tiffany yang sedari tadi meleleh.

“Lalu apa katamu?”tukas Tiffany. “Kalau kau masih memiliki hati nurani, bukankah seharusnya kau berhenti bermain-main sekarang? Kau sudah mendapatkan keinginanmu, jadi kumohon berhentilaah!”

“Kau menyerah semudah ini?”ledek Jessica.

Tiffany meremas jemarinya yang gemetaran. “Apalagi yang kau inginkan, eoh? Apa semua kekacauan ini belum cukup? Apalagi yang kau mau, Jung Jessica?!!”

“Entahlah,”gumam Jessica. “kurasa ini memang terlalu lemah. Aku belum puas, Tiffany. Sampai Jaeshin hancur berkeping-keping… sampai kau menangis darah … sampai anakmu memohon-mohon padamu agar tidak meninggalkannya … sampai Choi Siwon melepaskanmu … sampai kau terbuang, disia-siakan, dihina dan dibenci semua orang! Barulah saat itu akan memikirkan permohonanmu. Jadi, datanglah lain kali memohon padaku!”

“Kau sudah mendapatkan semua itu, bukan? Apa kau tidak melihat sekarang aku sedang memohon padamu?”

Jessica bergeming. Menatap wanita yang telah meruntuhkan wibawanya itu dengan tatapan datar. Tujuh tahun lalu … ia adalah wanita itu. Hancur. Rapuh. Kehilangan segalanya.

“Jadi, kau ingin mengakui kesalahanmu sekarang ini? Apa kau benar-benar sudah siap melepas Siwon dan anakmu?”ia membuka suara, sebisa mungkin tidak terdengar gemetar.

Tiffany tak menjawab. Tapi jawabannya sudah jelas.

“Pulanglah!”Jessica berujar lagi. “Kalau kau ingin memperbaiki kesalahanmu, seharusnya kau datang padaku hari itu, tujuh tahun yang lalu. Kau tahu sendiri, kan, aku tidak suka berhenti sebelum pekerjaanku selesai. Eojjeojyo? Kau sepertinya sudah terlambat …”

“Kau benar-benar … seburuk inikah dirimu, Jessica?”

“Jangan pura-pura tak tahu, Tiffany. Dari semua orang yang hidup di dunia ini, aku yakin kaulah yang paling mengerti kesalahan apa yang kaulakukan hingga aku sangat ingin menghancurkanmu!”

Tiffany bungkam.

“Ah, kau hanya membuang-buang waktuku. Bersiaplah, kau harus tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan perusahaan sekaligus, Tiffany!” Jessica bangkit, merapikan roknya dan bermaksud beranjak meninggalkan tempat itu.

Tapi sesuatu menahan langkahnya. Terjadi begitu saja. Kepalanya berdenging, pandangan berkunang-kunang dan ia merasakan kakinya goyah, nyaris tak menapak di tanah lagi. Lalu dalam sepersekian detik berikutnya, napasnya tersengal.

“Je.. Jessica… ada apa? Ke-kenapa …”

Menyaksikan Jessica terhunyung, gemetaran mencari pegangan, membuat Tiffany blank seketika. Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba dan ia belum lagi bergerak dan tersadar saat bunyi pintu terbuka terdengar.

Jessica masih berjuang, menahan napasnya yang sesak. Tepat ketika ia terbatuk dan menyemburkan darah segar, sepasang tangan merengkuhnya kokoh. Samar-samar, sebelum kesadarannya lenyap, Jessica mencium aroma Donghae yang begitu dekat. Ah, lagi-lagi …pria itulah yang menyelamatkannya.

“Dia sudah begini sejak tujuh tahun lalu,”ujar Donghae datar. Jessica kembali harus berbaring dengan menggunakan alat bantu pernapasan dan masih belum sadar.

Tiffany yang berdiri beberapa meter di belakang mereka tidak merespon. Ia sendiri masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Terlebih saat mengingat bagaimana Jessica menyemburkan darah segar dari mulut dan hidungnya.

“Dokter bilang kondisinya semakin memburuk bahkan ia sudah divonis,”lanjut Donghae lagi, lekat memandangi wajah Jessica. “Seperti yang kau lihat, dia sebenarnya sedang sekarat, Fany-ya …”

Oh God! Tiffany mencengkram mantelnya erat. Kenapa perasaannya jadi buruk begini.

Donghae menoleh, menatap datar pada Tiffany. “Pulanglah,”ujarnya. “Membuatnya terlihat menyedihkan di matamu hanya akan menambah penderitaannya. Sudah cukup kau menyakitinya, Fany-ya …”

“Oppa …”

“Jangan memaksakan dirimu memberi simpati. Pulanglah, kumohon!”

***

Pukul dua dini hari, Tiffany terbangun. Jelas dirasanya matanya yang bengkak karena semalaman menangis. Ia baru saja tidur sejam saat menyadari seseorang berada di tengah kegelapan kamarnya.

“Oppa?”ia bertanya memastikan.

Siluet tubuh yang sedang mengambil sesuatu dari dalam lemari itu menoleh. Jantung Tiffany berjumpalitan tak karuan. Oh lihatlah … pria itu kembali!

“Tidurlah lagi …”ujar Siwon, “aku hanya mengambil beberapa pakaianku. Besok lusa akan ada rapat umum pemegang saham. Kau tidak lupa itu, kan?”

Tiffany kembali diguyur aneka rasa. Oh, ia sungguh merindukan pria itu dan ingin berlari memeluknya! Tapi, melihat betapa dinginnya sikap Siwon … dikuburnya dalam-dalam hasrat itu. Kembali Tiffany harus menelan kepahitan.

“Oppa …” ia memanggil lirih, berusaha agar suaranya tak terdengar bergetar. “Kau makan dengan baik, kan?”

Tidak ada jawaban selain gumaman pelan. Dan bagi Tiffany itu adalah jawaban tak pasti, artinya Siwon juga tak tahu apa dia makan dengan baik atau tidak. Kecemasan itu semakin gila mencengkramnya. Pantas saja jika tubuhnya semakin kurus dan lemas begitu …

“Setidaknya kau harus menjaga kesehatanmu, oppa …”

“Aku tidak sakit. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”

Siwon menutup lemari setelah memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas yang dibawanya.

“Kau tidak tinggal? Danny merindukanmu, Oppa …”

“Katakan padanya aku juga merindukannya, tapi pekerjaanku belum selesai. Sampai kejelasan tiba, aku tidak bisa bersenang-senang. Tidurlah lagi. Aku akan tidur di kantor.”

Begitu saja. Bahu Tiffany kembali lunglai. Tanpa mendekat padanya seinci saja. Tanpa kecupan manis. Tanpa pelukan. Bahkan tanpa tatapan! Mati-matian ia menahan tangisnya. Ia sudah terlalu banyak menangis hari ini.

Pagi hari, Tiffany menikmati sarapannya bertemankan sepi dan sendiri. Danny juga tak berada di sana. Dengan kondisi keluarganya yang kacau, Tiffany merasa menitipkan Danny pada Sooyoung jauh lebih baik. Ah, memang siapa yang bisa menenangkannya sekarang? Michelle sang kakak, tempatnya mengadu dulu? Tidak. Michelle terlalu jauh dan sibuk. Taeyeon yang dulu setengah mati membelanya … Yoona yang sudah berlari ke sisi Jessica … Yuri yang bahkan tak lagi mengirim kabar …

Lalu, tiba-tiba saja bayangan wajah Jessica terlintas. Kembali terputar ulang dalam ingatannya. Saat-saat dimana Jessica kesakitan dan tersedak menyemburkan darah. Tiffany menghela panjang.

Seorang pelayan menghampiri dan menyodorkan ponsel padanya. Agak malas Tiffany menerima. Kalau saja itu bukan telepon dari orang suruhannya, mungkin ia sudah menolak.

“Presdir Choi membuat janji pertemuan pribadi siang ini. Sumberku mengatakan kalau itu adalah pertemuan dengan nona Jung.”

Tiffany meremas jemarinya resah. Jadi, mereka akan bertemu?

“Kapan dan dimana?”tanyanya cepat.

***

Yoona sedikit lega saat Jessica tidak menolak kedatangannya bersama semangkuk bubur hangat.

“Aku yang memasak ini, eonni…”ujarnya, berusaha riang.

Jessica tersenyum kecil dan menerima sendok yang disodorkan Yoona.

“Di mana Donghae oppa?”tanyanya sembari mengaduk bubur.

“Katanya harus mengurus masalah skandal kemarin. Sudahlah, aku yakin Donghae oppa akan melakukan yang terbaik. Eonni, makanlah …”

“Kau tak bekerja?”tanya Jessica lagi, lalu memasukkan suapan pertamanya.

“Aku meminta cuti. Bagaimana rasanya? Tidak buruk, kan?”

“Enak,”ujar Jessica. “Kau pasti sudah sering memasak untuk Seunggi.”

“Ah, bukan begitu … itu kan hanya bubur.”

Jessica tidak menanggapi, ia sudah cukup sibuk mengunyah. Belum lagi dengan pikiran-pikiran yang menganggunya.

“Jangan mengambil cuti terlalu lama. Mereka akan bertanya-tanya dan menimbulkan masalah baru lagi. Aku baik-baik saja.”

Tidak ada tanggapan selain anggukan kecil. Toh Jessica juga tak membutuhkan jawaban.

Selesai sarapan, Yoona tetap menemani Jessica di kamarnya. Meski masih lemah dan harus membawa tabung infusnya kemana-mana, Jessica tetap terlihat fit. Bahkan ia menolak untuk kembali berbaring di ranjang setelah mandi. Ia malah ngotot duduk di sofa dan mengikuti perkembangan kasus melalui berita.

“Beritahu Donghae oppa … aku akan masuk kantor besok,”ujarnya dengan pandangan lurus ke layar TV. Wartawan belum mendapatkan tambahan bahan berita baru. Pihak Jaeshin semakin terpojok. Mereka bahkan tak mengadakan konferensi pers. Mau tak mau itu membuat Jessica memikirkan Siwon. Pria itu pasti sangat terguncang.

“Dokter bilang kau masih harus istirahat, eonni.” Yoona menyodorkan jeruk yang sudah dikupasnya.

“Rapat umum pemegang saham Jaeshin akan digelar. Siwon akan kehilangan Jaeshin hari itu juga. Aku harus hadir di sana.”

“Tapi, eonni …”

“Tidak apa-apa,”tukas Jessica. “Aku baik-baik saja. Toh, aku sudah membuat janji. Kau tahu kalau aku tak bisa mengingkarinya, kan?”

Yoona memilih diam. Percuma mencoba mendebat Jessica. Dalam keadaan sakit begini saja masih keras kepala. Satu-satunya yang bisa dilakukannya adalah mendoakan yang terbaik dan mendukung Jessica.

***

Choi Siwon sedang memperhatikan selembar foto saat sekretarisnya masuk. Segera diletakkannya lembaran itu dengan posisi terbalik di atas meja.

“Dia bersedia, Presdir. Besok jam sembilan pagi di kantornya.”

“Baik, terima kasih.”

Akhirnya … Siwon kembali meraih lembar foto itu. Tersenyum miris memperhatikan bagaimana Jessica muda tersenyum cerah ke arah kamera. Sementara di samping gadis itu, Choi Siwon muda merangkul pinggangnya erat. Sama-sama tertawa pada kamera.

Jemari Siwon bergerak, mengelus wajah gadis itu.

Di atas meja kerjanya, masih ada beberapa lembar foto lain. Semuanya baru tiba kemarin siang. Paket yang diantarkan langsung ke kantornya itu berisi foto-foto kenangan SMA. Bukti bahwa ia pernah mencintai Jessica ada di sana. Nyata dan tak bisa ditampiknya. Sinar mata dan tawa mereka, semuanya murni tanpa ada keterpaksaan.

Rasa itu semakin miris saat Siwon melihat lembaran foto pre-wedding mereka. Oh, lihat bagaimana ia menatap wanita itu … penuh cinta dan pemujaan …

Dan terselip di antara foto-foto itu, selembar kertas. Foto USG dan catatan medis.

Mianhae …” ia berbisik lirih, merengkuh lembaran-lembaran itu ke dalam pelukannya.

***

Wajah pucat. Tubuh kurus. Tatapan sayu. Jessica Jung telah kehilangan setengah dari keangkuhannya. Tapi wanita itu masih mendongak angkuh saat Siwon masuk menemuinya. Meski kertas-kertas dokumen menumpuk di meja kerja itu, Siwon hampir yakin jika Jessica tidak sedang bekerja. Langkah pelan nyaris limbung Jessica saat menghampirinya sudah cukup membuktikan bahwa kesehatannya masih mengkhawatirkan.

“Kudengar kau sudah mencoba menemuiku beberapa hari terakhir,”ujar Jessica, duduk di hadapan Siwon. “Maaf, terlalu banyak hal yang mau diurus. Kinerja Jaeshin Fashion ternyata lebih buruk dari perkiraanku. Hah, kau benar-benar tidak jeli memerintah kekuasaanmu, Choi Siwon. Ah, kau ingin minum apa?”

Tak mendapat jawaban, Jessica menatap Siwon. Pria itu sedang memandanginya, lurus dan lekat. Mendadak Jessica merasa gamang. Ia mengenali dengan baik tatapan itu. Dulu, saat ia merajuk, marah atau hanya pura-pura mengacuhkan Siwon, pria itu akan memberinya tatapan seperti itu. Ia akan memohon, meminta maaf, memeluk dan memberinya ketenangan.

Jessica menghela panjang, membuat bayang kenangan itu bercerai berai seketika.

“Bagaimana kabarmu, Sooyeon-a?”tanya Siwon, lirih.

Jessica mengerjap, terkejut. Oh, Choi Siwon … apa kau kembali? Lama keduanya hanya bertatapan. Menikmati detik demi detik dimana kenangan manis mereka memainkan melodi indahnya. Jessica tersenyum kecil. Choi Siwon kembali…

“Kau akhirnya mengingatku?”balasnya bertanya. “Tidak menyakitimu, kan?”

“Maafkan aku, Jessica …”

Siwon masih menatapnya lekat. Terlihat jelas, perasaan bersalah yang terpancar dalam sinar mata itu.

“Untuk apa?”lirih Jessica.

“Karena sudah melupakanmu,”ujar Siwon, “aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa di depanmu. Segalanya menyudutkanku. Semuanya salahku.”

“Jadi, apa rencanamu sekarang?”

“Aku harus minta maaf, kan? Sungguh, Sooyeon-a, aku tidak tahu sama sekali … kau pasti melewatkan banyak kesulitan selama ini …”

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak, kau kesakitan. Dan itu karena aku melupakanmu. Seandainya saja aku tidak kehilangan memoriku, kau pasti tak perlu melewati semua penderitaan ini. Aku bahkan menjauhkanmu dari sahabat-sahabatmu, membuat hubunganmu dengan Tiffany jadi rumit … aku minta maaf …”

Jessica menghela panjang, berusaha sekuat mungkin melawan desakan airmatanya. Lihatlah … pria itu sedang menunduk di hadapannya sekarang, tak kuasa menatapnya, dipenuhi beban luka dan rasa bersalah.

“Aku tahu kalau aku sangat tidak tahu malu. Setelah apa yang terjadi padamu …”

Siwon tak melanjutkan perkataannya. Tapi pada detik itu Jessica paham dengan jelas apa yang dimaksudkan Siwon. Ia tersenyum kecil, mencoba berdamai dengan luka baru.

“Ukurannya seperti ini,”ia berujar, memperlihatkan ibu jarinya. “Aku bahkan bisa mendengar detak jantung kecilnya. Dokter bilang … jari-jarinya mulai tumbuh … dan dia … hidup … Seharusnya dia sudah masuk sekolah sekarang, bertemu dengan banyak teman, mungkin juga memiliki teman perempuan yang cantik… Tapi aku meledakkan jantung kecil itu, oppa … karena itu … Tuhan pasti menghukum ibu yang kejam sepertiku …”

“Sooyeon-a …”

“Kau pasti sudah mendengarnya, kan? Hidupku mungkin tidak akan lama lagi, oppa …”

“Kau akan sembuh,”tukas Siwon.

“Tidak sembuh juga tidak apa-apa,”Jessica tersenyum kecil. “Karena aku sudah lelah. Tapi sekarang aku juga sudah sedikit lega. Putraku di syurga tidak lagi resah karena ayahnya telah mengetahui keberadaannya.”

Siwon menghela panjang. Air mata yang mengumpul di mata itu membuat semua pembendaharaan katanya lenyap tak berbekas.

“Kurasa sudah saatnya aku bertemu dengannya. Banyak hal yang perlu kusampaikan padanya sekarang. Bahwa ayahnya hidup dengan baik selama ini. Bahagia. Sehat. Dan juga merindukannya. Ia bahkan sudah memiliki adik yang tampan sekarang,”Jessica melemparkan senyum untuk Siwon. “Jangan khawatir, oppa … dia tidak akan membencimu. Akulah yang membuatnya tak bisa melihatmu. Karena itu, akulah yang harus pergi untuk meminta maaf padanya.”

“Jangan membuatku terlihat seperti pria brengsek, Sooyeon-a,”ujar Siwon.

Jessica tertawa kecil lalu segera mengusap air matanya. “Maaf,”gumamnya.

“Aku lebih menyesal darimu, Sooyeon-a. Seandainya aku tahu lebih awal … ”

“Seandainya kau tahu lebih awal … bagaimana dengan Tiffany?”tanya Jessica menyela.

Tak ada jawaban. Jelas sekali Siwon terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi Jessica tak ingin mendesak jadi dibiarkannya pria itu menemukan jawabannya. Diraihnya gelas air dan menyesap isinya perlahan. Siwon mungkin tak menyadarinya, tapi jemari Jessica mulai gemetar.

“Dia wanita yang baik,”Siwon berujar lirih. “Terlepas dari semua masalah ini … dia tetaplah wanita berharga, ibu dari anakku … Aku tahu kalau kau banyak terluka selama ini tapi … Maafkan aku, Sooyeon…”

Jessica tidak menjawab. Keputusan itu sudah pasti. Siwon memilih Tiffany. Selesai.

“Sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus menatapmu lagi. Apa kata maaf bahkan cukup untuk menukar semua penderitaan yang kau lewati selama ini? Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi … Tapi, Tiffany …”

“Bisakah … aku memelukmu … sekali saja, Oppa?”suara Jessica bergetar ketika ia mengatakannya.

Siwon tersenyum dan mengangguk-angguk. Tangan kanannya terulur, mengusap air mata di wajah Jessica. Lalu beranjak untuk memeluk wanita itu.

“Maafkan aku … maafkan Tiffany … maaf sudah memaksakan luka untukmu, Sooyeon-a …”

Siwon terus berulang kali membisikkan kata itu. Membuat air mata Jessica semakin melesak keluar. Ia hanya menangis, memeluk Siwon erat dan tak meminta Siwon berhenti meminta maaf. Untuk memeluk Siwon yang terakhir kalinya, meski ingatan pria itu belum pulih sepenuhnya, ia hanya ingin menikmati moment itu. Mencoba berdamai dengan lukanya.

Sementara itu, dari pintu ruangan yang tak tertutup rapat, seorang wanita membalikkan badan. Tak kuasa melihat mereka. Sedari tadi pun ia telah menelan sesak di dadanya mendengarkan percakapan mereka.

Tapi betapa terkejutnya Tiffany saat ia berbalik dan menemukan Donghae berdiri tak jauh darinya. Tak bisa disangkal lagi jika pria itu melihatnya menguping mereka sedari tadi.

“Jangan cemburu untuk satu pelukan setelah tujuh tahun ini, Fany-ah,”ujar Donghae parau, “kau bisa memeluknya sebanyak yang kau inginkan.”

Tiffany tidak menjawab. Meski dalam hati bertanya-tanya tak mengerti. Apa benar Donghae dan Jessica menjalin hubungan? Kenapa pria ini begitu enteng membiarkan mereka bertemu sebagai mantan kekasih?

“Jangan khawatirkan aku,”ujar Donghae lagi, seolah memahami pertanyaan dalam kepala Tiffany. “Aku sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Memberikan waktu tak lebih dari setengah jam untuknya agar bisa bersama orang yang pernah dicintainya, itu tak seberapa.”

Pria itu tersenyum padanya. Getir dan menyimpan duka. Tiffany buang pandang. Bodoh sekali, untuk apa terus berpura-pura tegar di saat mereka terluka? Tak ingin berdebat dengan Donghae yang bisa saja berpotensi memperburuk suasana hatinya, Tiffany memutuskan untuk pergi.

***

Satu menit … terseret oleh duka. Satu menit … lunglai karena cinta. Satu menit … untuk persahabatan yang hancur. Jessica menengadah, menyadarkan beban kepala di sandaran sofa dan mencengkram lengan soda dengan jemari gemetar. Sesak luar biasa. Kehangatan pelukan Siwon masih membekas, mendera-dera menyiksanya. Oh Tuhaan, ia sungguh merindukan pelukan itu.

“Bodoh … bodoh …”

Ia bergumam, membiarkan angin yang lolos melalui jendela mempermainkan rambutnya. Ia masih mencintai pria itu … sangat merindukannya …

“Kau bodoh, Jung Sooyeon …”

Jessica kalah oleh kepura-puraannya. Bagaimanapun kejamnya ia menantang dunia, ia hanyalah seorang wanita. Ketika tak lagi menemukan sandaran, tersiksa oleh luka yang dibuatnya sendiri, bertemankan kesepian … hanya tangisan yang bisa menghiburnya. Begitulah Jessica terisak, mengumpati kebodohan dirinya dan membiarkan tangisannya menderas. Ia hanya perlu melepaskan luka dan rindunya …

***

Rapat Umum Pemegang Saham Jaeshin Group

 

Choi Siwon masih tertegun di tempatnya. Puluhan pemilik saham telah meninggalkan ruangan. Rapat umum pemegang saham sudah selesai sepuluh menit lalu, tapi ia belum juga beranjak. Hingga seorang wanita menghampirinya.

“Kita pulang sekarang, oppa?”

Siwon tersadar oleh suara itu. Wajah wanita yang dirindukannya sedang tersenyum padanya. Tulus, dan terlihat amat cantik. Ia tersenyum kecil dan mengangguk. Bersama keduanya berjalan beriringan menuju mobil.

“Kenapa Jessica tidak hadir?”tanya Siwon. Genggaman tangan Tiffany mendadak tegang lagi.

“Kenapa kau mencarinya, oppa?”

Tak ada jawaban. Tiffany menoleh, tapi Siwon melepaskan genggaman tangannya. Membuka pintu mobil untuk Tiffany dan berdiam diri sepanjang perjalanan. Takut jika Siwon nantinya kembali menjaga jarak darinya, Tiffany memilih untuk diam. Hanya deru mobil yang terdengar di tengah mereka.

***

Dua orang wanita duduk berhadapan di sebuah cafe. Kepulan uap teh yang masih panas menari-nari di tengah kesenyapan. Sedari tadi keduanya berdiam, sama-sama canggung memulai pembicaraan. Hingga naluri kakak membuat seorang dari mereka membuka perbincangan.

“Bagaimana kabarmu?”

Yoona tersenyum kecil. Basa-basi yang terlalu basi menurutnya.

“Tidak cukup baik,”balasnya bergumam.

Taeyeon mengangguk kecil, lalu menyesap tehnya perlahan.

“Tentu saja tidak ada yang merasa baik di saat seperti ini,”gumamnya.

“Jadi …”

“Akan kupertimbangkan. Aku memikirkannya semalam dan … kupikir memang tidak seharusnya aku hanya melihat satu sisi saja.”

Yoona tersenyum lega. Disodorkannya sebuah amplop ke hadapan Taeyeon. Isi amplop itu hampir sama dengan amplop yang beberapa hari lalu dikirimnya ke kantor Siwon.

“Ini catatan medisnya tujuh tahun terakhir. Alamatnya juga sudah kutulis di sana. Datanglah kalau sempat,”ujar Yoona.

“Bagaimana dengan Tiffany?”tanya Taeyeon.

Yoona tak langsung menjawab. Ia yakin Taeyeon juga sudah paham situasi yang mereka hadapi. Hasil rapat umum Jaeshin kemarin sudah disiarkan banyak media. Tentu saja mereka sudah melihatnya. Dan karena hal itu juga Taeyeon mulai melunak pada Jessica.

“Bisakah … kau membujuknya, eonni?”pinta Yoona.

Taeyeon menghela. “Aku tidak tahu,”gumamnya ragu. Sungguh, ia sendiri masih dilema. Semalam Yoona datang ke rumahnya, memaksa ingin bercerita mengenai kejadian tujuh tahun lalu. Jelas saja ia menolak mentah-mentah, terlebih saat menyadari bahwa Yoona lebih membela Jessica. Tapi yang kemudian terjadi di rapat umum Jaeshin membuktikan ucapan Yoona. Karena itulah ia mengalah dan menerima amplop berisi catatan medis Jessica.

***

“Hey, oppa, apa kau sibuk akhir pekan ini?”

Donghae tertawa kecil sembari tetap membolak-balik laporan yang dibacanya. Ia bisa merasakan Jessica sedang cemberut di seberang sana mendengar tawanya.

“Tentu saja aku sibuk, Jess. Kau tidak sadar seberapa banyak pekerjaan yang kautinggalkan untukku sebulan terakhir? Tapi, kalau kau membutuhkanku, aku akan meluangkan waktuku. Jadi, apa yang kau inginkan,hm?”

Jeda sesaat. Mungkin Jessica sedang berpikir atau enggan mengatakannya. Donghae memanfaatkan jeda itu dengan membaca laporannya lagi.

“Aku meminta waktu luangmu, oppa…”

Donghae kembali tertawa. “Hey, kenapa kau terdengar segan begitu? Dan juga, ini aneh sekali mendengarmu meminta begitu padaku.”

“Aish, aku jadi terdengar seperti yeoja pemaksa.”gerutuan Jessica terdengar.

“Haha, jangan khawatir. Aku mengenalmu luar dalam, Jess. Jadi, apa yang akan kita lakukan? Menyerang Jaeshin dengan langkah baru?”

“Bukan,”tukas Jessica.

“Lalu?”

“Err…Wanna date with me?”

Donghae mengerjap terkejut sebelum menutup berkas laporannya. Perhatiannya sekarang terfokus pada pembicaraan.

“Date? Ini tidak terdengar seperti Jung Jessica.”

“Aku tidak bercanda, Oppa. Rasanya melelahkan juga setiap hari berkutat dengan pekerjaan. Jadi, ayo keluar berkencan denganku!”

“Hey, kau seharusnya berkencan dengan orang kau sukai, Sica!”

“Dengan siapa? Siwon oppa? Cih, aku tidak sudi melakukannya dengan suami orang lain. Tapi, kau benar juga. Kencan memang dilakukan bersama orang yang dicintai,kan? Jadi, keluarlah bersamaku, oppa. Bukankah kau menyukaiku?”

Donghae tertawa canggung. Jessica terlalu blak-blakan tapi ia menyukai itu.

“Err… ya, tentu saja. Kemana kau ingin pergi?”

“Bukankah seharusnya namja yang menentukan tempatnya? Aku akan berdandan dan menunggumu hari Sabtu pagi. Ingat, Lee Donghae, kita akan keluar bersenang-senang, jadi jangan sampai kau membahas pekerjaan. Berpakaian santailah dan kita nikmati hari berdua saja, oke?”

Oh God! Rasanya luar biasa sekali! Donghae merutuk dalam hati, ia pasti sudah terlihat seperti orang gila karena terus nyengir bahagia. Begitu sambungan terputus, ia tertawa. Ia sangat suka saat Jessica bersikap manis seperti itu. Setelah bertahun-tahun ia menunggu … Sekarang mereka jadi terdengar seperti sepasang kekasih sungguhan, bukan?

Tapi, dipikir-pikir, ini aneh juga. Tidak biasanya Jessica seperti ini. Sangat aneh. Tapi Donghae segera menepis semua pikiran itu dan menikmati kembali kebahagiaannya. Ini kesempatan langka dan ia akan memanfaatkannya sebaik mungkin.

***

Semilir angin pantai menjadi saksi sepasang kekasih yang menikmati waktu berdua mereka. Sedari pagi pasangan itu berada di sana. Menikmati sarapan, bermain pasir, berjemur, hingga berbelanja di toko-toko souvenir. Hingga sore menjelang, keceriaan terpancar jelas di wajah mereka.

Saat senja mulai tergelincir, pasangan itu menggelar tikar di tepian pantai dan duduk menungu pemandangan matahari terbenam.

“Oppa,”panggil Jessica lirih.

Donghae menjawab dengan gumaman pelan tanpa melepas pandangannya pada panorama senja di hadapan mereka.

“Mianhaeyo, jeongmal,”lanjut Jessica, berbisik lirih.

“Maaf untuk apa?”sahut Donghae tanpa memandang pada gadis itu.

“Karena tidak bisa membalas perasaanmu,”bisik Jesisca, “kau tahu, oppa, aku terkadang merasa frustasi dan sangat marah pada diriku sendiri saat aku berusaha mencintaimu tapi aku gagal.”

“Kita sudah membahas ini, Sica. Aku tidak pernah memaksamu jadi tidak apa-apa.”

“Bukan karena aku tidak mencintaimu, oppa. Aku menyukaimu tapi ruang itu sudah tertutup. Aku sendiri sudah gagal mencoba membukanya. Maafkan aku.”

Jemari Donghae bergerak merapikan anak rambut Jessica yang tertiup angin.

“Hey, Sica, apa kau lupa janji kita?”

“Tetap saja, kau pasti terluka. Setelah apa yang kau lakukan untukku, aku malah tidak bisa memberikan apa-apa padamu, oppa. Lihatlah, aku terdengar seperti wanita yang buruk,kan?”

“Kau mau bersandar padaku saja sudah cukup, Sica. Jangan menambah bebanmu dengan memikirkan perasaanku. Selama kau baik-baik saja, aku juga tidak akan terluka. Kau paham? Jangan membahas itu lagi.”

Jessica tidak menyahut. Ia memejamkan matanya, menikmati elusan hangat Donghae di kepalanya dan semilir angin yang mempermainkan helai rambutnya.

“Oppa, kuharap kau segera menemukan gadismu dan menikah dengannya…”

Donghae tersenyum miris. “Kau satu-satunya, Sica. Aku tidak akan menikah dengan wanita lain selama kau masih mengandalkanku. Aku senang saat kau mempercayaiku dan bersandar padaku. Kau tahu itu tidak mungkin terjadi jika aku sudah menikah,kan? Sampai kapanpun aku juga tidak akan sudi meninggalkanmu kebingungan tanpa sandaran sementara aku hidup tenang dengan keluargaku.”

“Bagaimana kalau… aku sudah tidak ada?”

Donghae terenyak.

“kau akan menemukan penggantiku,kan?”

“Jessica…”

“Oppa, biarpun impianku masih panjang, tubuhku sudah lelah. Setiap hari aku bisa merasakan sel tubuhku merontok dan mati. Aku tidak tahu sampai berapa lama aku bisa berpura-pura tegar di atas lututku yang gemetaran. Berapapun banyaknya usaha yang kulakukan untuk bertahan, tubuhku mengkhianatiku, oppa… aku tidak bisa melawannya lebih lama lagi…”

Donghae menghembuskan napas berat. Suara Jessica bergetar dan ia pun merasa sangat lemah tak berdaya. Direngkuhnya tubuh kurus itu dalam dekapannya yang lebih erat.

Sungguh, setiap hari ia juga merasakan ketakutan itu.

“Kau pasti bisa, Jess…”

“Ya, sepuluh tahun sudah kulewati dengan mantra ajaib itu, oppa. Tapi, bagaimana jika itu adalah batas kemampuanku? Aku sungguh takut,oppa. Bagaimana jika aku tertidur dan tidak bisa membuka mataku lagi?”

“Sstt! Jangan berbicara seperti itu. Bukankah kita datang ke sini untuk bersenang-senang?”

“Oppa, berjanjilah padaku!”Jessica tetap ngotot, “jika nanti aku pergi, jangan pernah menutup hatimu pada gadis lain. Jangan terpuruk sepertiku atau orang lain akan merasakan luka yang kauciptakan. Seharusnya sudah cukup aku saja yang merasakan penyesalan ini. Kau harus tegar dan menemukan gadis yang bisa kau nikahi nanti.”

“Jessica, hentikan pembicaraan ini, please!”

Jessica menggeleng, menenggelamkan wajahnya di dada bidang dan mengeratkan pelukannya pada leher Donghae.

“Satu-satunya penyesalan terbesarku yang masih ada sampai saat ini hanya kau,oppa. Aku benar-benar merasa bersalah tak bisa membalas perasaanmu.”

Donghae merasakan sesak itu bertalu-talu dalam ulu hatinya. Bagaimana ia bisa bertahan tanpa gadis itu nantinya? Mendengar suaranya yang gemetar seperti ini saja membuatnya tersiksa luar biasa. Apa ia akan sanggup melepasnya? Donghae menenggelamkan wajahnya di puncak kepala Jessica. Dikecupnya dengan penuh perasaan, dalam. Tidak, ia tidak akan sanggup kehilangan aroma ini… Hanya Jessica satu-satunya.

“Oppa, belajarlah melepasku… Hari ini atau besok, kau pasti akan kehilangan aku,kan?”

“Jessica, saat aku memutuskan untuk mencintaimu saat itu juga aku menyerahkan hatiku padamu. Aku akan hidup bersamamu dan tidak akan melepasmu bagaimanapun. Jika akhirnya aku dipaksa melepaskanmu, aku akan senang jika itu terjadi saat kau berada dalam pelukanku. Asal kau tak melepaskanku, aku akan baik-baik saja. Aku hanya ingin saat kau harus pergi nanti, akulah yang terus berada di sisimu. Sehingga saat kita kembali dipertemukan, kau akan mengingat jika akulah yang mengantar kepergianmu…”

Jemari Jessica yang memegang kemeja Donghae mencengkram erat. Ia selalu sesak karena ketulusan itu. Airmatanya meluncur begitu saja. Untuk seorang pria yang mencintai sahabatnya, berjanjilah untuk segera melepaskan cintamu. Harapan itu terkadang akan menyandungmu saat kau melupakan sekelilingmu. Berhentilah mengatakan ‘hanya kau satu-satunya’ karena ada jutaan orang membutuhkan cintamu.

Lee Donghae, terima kasih telah menjadi pelindungku. Jika kita bertemu di kehidupan selanjutnya, aku berjanji saat itulah aku akan membalas cintamu.

Jessica tenggelam dalam kehangatan pelukan itu. Choi Siwon, terkutuklah kau yang telah memadamkan cahaya cinta dalam hatiku. Karena pria sepertimu, aku merasa tidak pantas menerima ketulusan ini. Sebuah kesia-siaan yang menyakitkan.

Matahari telah tenggelam sepenuhnya. Cakrawala berganti rupa dan semakin mengelam. Tapi dua sejoli itu belum juga beranjak meninggalkan bibir pantai. Hanya debur ombak yang menerpa pantai terdengar menggulung-ngulung menghancurkan keheningan.

***

“Apa lagi kali ini?”Tiffany menyahut dengan ketus.

“Aku ingin meminta bantuanmu,”ujar Donghae pelan, “temui Jessica. Dia sedang kritis di rumah sakit.”

Sesaat raut keterkejutan muncul di wajah Tiffany, tapi ia segera buang pandang dengan angkuh.

“Untuk apa aku menemui orang yang telah merusak semuanya? Ah tidak, untuk apa menemui orang yang membenciku?”

Donghae tersenyum lirih. “Tiffany Hwang, sepertinya kau salah mengenai Jessica tentang satu hal.”

Tiffany  bergeming. Ia tetap bersidekap angkuh, menolak untuk menatap Donghae.

“Jessica tidak pernah membencimu, Tiffany.”

Tiffany bergeming.

“Setiap kali ia melewati masa kritisnya, ia akan mencarimu. Dari sekian banyak orang yang mempedulikannya, ia selalu panik, menangis dan menyebut-nyebut namamu. Jessica selalu ketakutan setiap kali ia harus terbaring di rumah sakit. Aku memang membantu dan menenangkannya selama tahun-tahun yang terlewati ini. Saat ia mencarimu, aku yang akan membisikinya dan membuatnya tenang bahwa kau pasti akan datang. Aku berhasil melakukannya selama beberapa tahun sampai dia sadar bahwa kau tidak akan pernah datang.”

Donghae menghela napas, membuang pandangan menerawang jauh. Mungkin untuk menyembunyikan mata merahnya dari Tiffany.

“Jessica ketakutan setiap kali itu karena khawatir ia tidak akan memiliki kesempatan lain untuk bertemu denganmu. Tiffany, kau adalah sahabat yang sangat disayanginya. Bahkan saat ia memohon agar aku membiarkannya mati, bukan penyesalan tentang Siwon yang membuatnya frustasi seperti orang gila. Dia bilang jika kau yang pertama kali menyukai Siwon dan saat itu seharusnya yang berkencan dengan Siwon adalah kau. Benar, daripada menganggapmu sebagai pengkhianat, Jessica jauh lebih menyesalkan persahabatan kalian putus karena cinta setigita. Bahkan, selama setahun lebih ia menghabiskan banyak waktunya memikirkan dan menangisi dirinya yang telah merebut cinta sahabatnya. Dan juga, telah membuat sahabatnya menjadi seorang monster.”

“Hentikan, Lee Donghae!”

“Saat dia datang kembali, Jessica ingin sekali kau menyapanya. Tapi sepertinya hal lain yang terjadi, ya? Bahkan album foto kenangan itu kau lenyapkan selamanya. Sepertinya kau tidak tahu seberapa berharganya album itu bagi Jessica.”

“Dia mengolok-olokku! Dia mempermainkanku! Dia yang menghancurkan semuanya, Lee Donghae! Kalau saja dia tidak bertindak seperti itu… mempermainkan dan nyaris menghancurkan Jaeshin…”

“Jessica merasa sedih karena ambisimu, Tiffany. Ia ingin menyadarkanmu.”

“Kekanak-kanakan sekali!”Tiffany menyambar ketus. Wajahnya merah padam menahan putaran emosi di ubun-ubunnya.

“Pada akhirnya dia tidak membiarkan Jaeshin runtuh,kan? Kumohon, Tiffany…”

Lagi, ia bergeming. Wajah memohon Siwon, ekspresi kebencian Danny, helaan putus asa Ibu mertuanya, hingga sosok lemah Ayah mertuanya di pembaringan rumah sakit silih berganti bermunculan di kepalanya. Ia tidak akan melewatkan semua kesakitan itu kalau bukan karena Jessica yang memutuskan untuk kembali lagi.

Tapi hari itu ia ada di sana. Saat Jessica menangis, terisak hingga bahunya berguncang … ia melihatnya. Hari itu ia tak melihat selubung keangkuhan Jessica. Semuanya lepas dan menyisakan kerapuhannya. Sebagai sesama wanita, bagi Tiffany tangisan terisak itu sudah menunjukkan dengan jelas. Betapa Jessica masih mencintai Siwon. Ah, ia sungguh tak mengerti. Bukankah tujuh tahun terlalu lama untuk bisa melupakan cinta pertamamu? Terlebih di saat pria seperti Donghae berada di sisinya.

“Kau bilang kalau kau mencintai Jessica. Apa dia tidak tahu perasaanmu?”

Donghae tersenyum kecil. “Tentu saja dia tahu. Kami hidup bersama selama tujuh tahun. Tapi aku tidak peduli apa dia mencintaiku atau tidak. Cukup berada di sisinya membuatku bersyukur.”

Tiffany mendengus.

“Cinta tak bisa dipaksakan, Tiffany Hwang. Seperti kau tak bisa melepaskan Siwon. Dan seperti Jessica tak bisa melepaskan bayang Siwon. Seperti Jessica mencoba menganggapai tempatmu.”

***

Tiffany baru saja  kembali dari kamar Danny saat Siwon mengakhiri panggilan teleponnya. Rencananya hari itu mereka akan bertamasya, seperti yang pernah dijanjikan Siwon pada putranya. Tapi sesuatu yang buruk sepertinya telah terjadi.

“Ada apa, oppa?”tanya Tiffany.

“Ah itu … baru saja … Yoona menghubungiku …”

“Yoona? Kenapa?”

Wajah pucat Siwon dan gelagat anehnya. Tiffany semakin resah. Jangan-jangan …

“Jessica … kembali kritis. Dia memintamu ke sana.”

Oh, nama itu lagi! Tiffany menghela panjang, terhunyung jatuh ke atas ranjang.

“Kau belum ingin berbaikan dengannya?”

“Entahlah.”

Siwon hanya tersenyum kecil. Paham jelas jika pikiran Tiffany sudah cukup sibuk selama ini. Ditepuknya bahu wanita itu, mencoba membagi simpati.

“Aku akan menjenguknya. Sebaiknya kau juga pergi,”ujar Siwon.

Tiffany tak  menjawab. Selepas mengantar Siwon keluar, ia masih duduk merenung di kamarnya. Kelebatan pikiran terus mengusik sedari tadi.

 

Jenguklah …

Ia mendesah. Untuk apa? Terlalu banyak luka yang ditimbulkan oleh perseteruan mereka.

Kau mungkin tidak akan memiliki kesempatan di lain waktu …

Ah, tidak. Dia sudah cukup kuat bertahan selama ini. Bahkan di saat sakit pun masih sempat membuat Jaeshin diserang bertubi-tubi. Perdebatan batin itu terus berlanjut hingga sejam lamanya. Antara ego dan simpati, keduanya sama-sama besar dalam jiwa Tiffany.

Tapi terlepas dari semua masalah itu, bukankah Jessica adalah sahabatnya? Siapa yang pertama kali menghadiahkan pelukan di pagi buta hari ulang tahunnya sejak mereka SMP hingga kuliah? Siapa yang blak-blakan menggampar ketua tim basket sekolah mereka saat Tiffany terganggu dengan pria itu? Siapa yang melewatkan ujian Biologinya saat ia harus dilarikan ke rumah sakit? Siapa yang berada di barisan terdepan menyorakinya saat ia mengikuti lomba fashion sekolah? Dan juga, siapa yang menangis bersamanya malam itu? Saat ia berteriak, mendeklarikasikan perasaan terpendamnya pada Siwon … siapa yang terisak bersamanya? Dan siapa yang pada akhirnya mengalah … dan membiarkan ia memiliki Siwon?

Jessica Jung.

Jessica yang selalu dengan senang hati memberikan apapun miliknya. Apapun yang diinginkan sahabat-sahabatnya. Saat Taeyeon membutuhkan bantuan biaya untuk toko kacamata ayahnya, Jessica yang paling pertama mengulurkan tangan. Tak peduli jika puluhan tas mahalnya harus digadaikan. Saat Yuri menangis karena dikhianati kekasihnya, Jessica yang dengan emosi membara menyeret pria itu. Memukuli, mencaci, menghina dan mempermalukan pria itu hingga berlutut memohon maaf di depan Yuri. Saat Yoona mengatakan ingin menjadi pemain drama, Jessica sibuk mengurus dan memuluskan jalannya. Pun ketika antifansnya bermunculan, Jessica yang menghalau mereka semua.

Bahkan seandainya ia memberitahu Jessica bahwa ia mencintai Siwon lebih awal… wanita itu mungkin akan melepaskannya …

Tiffany menghela panjang. Bahkan Jaeshin Fashion yang telah direbutnya … saham Jaeshin yang sudah hampir lepas dari tangan keluarga mereka … Jessica menangkap semuanya. Lalu dikembalikan atas nama Tiffany Hwang. Utuh.

Memikirkan bagaimana ia bisa menjadi nyonya muda, sukses, terlihat sempurna dan bertahan sampai sekarang … Jessica berperan penting dalam hidupnya.

Tiffany meraih ponselnya. Sebuah nama rumah sakit tersimpan di salah satu pesan dari Yoona. Kembali ia berperang melawan egonya sendiri.

***

“Mereka tidak boleh menikah. Tidak boleh.”

Ia terisak hebat, gemetaran dan terlihat sangat kacau.

“Tenanglah, Fany-ya … kenapa kau bilang begitu, eoh?”

“Karena Jaeshin ada dibalik kebangkrutan Emerald Corp! Keluarga Jaeshin yang menghancurkan mereka! Aku tidak bisa membayangkan kehidupan yang akan dilalui Jessica kalau ia sampai masuk dalam keluarga itu.”

“Jangan berbicara tidak masuk akal begitu. Kenapa pula Jaeshin Group harus melakukan itu pada calon besan mereka?”

“Nenek Siwon tak pernah merestui pernikahan itu. Membiarkan Jessica masuk ke dalam rumah Jaeshin sama saja menyerahkannya untuk dipenggal. Aku tidak bisa membiarkannya…”

“Jadi karena itu kau melakukannya? Membuat Siwon tidur denganmu…”

“Aku tidak bisa memikirkan jalan lain…”

“Tidak. Kau tak hanya ingin menyelamatkan Jessica. Lebih dari itu, kau juga menyukainya, kan? Kau juga sangat mencintai Siwon karena itu kau mengambil jalan itu!”

Senyap menerjang keduanya. Dua bersaudara itu sama-sama diam, kalut dengan pikiran masing-masing.

“Ya…”

Michelle terperangah. “Oh Tiffany… tapi bagaimana bisa kau…”

“Aku terdengar seperti pengkhianat, bukan?”tukas Tiffany miris. “Entahlah, eonni … aku benar-benar tidak tahu dan rasanya ingin melupakan semua hal itu.”

Tiffany ditempa sesal berkepanjangan. Karena itu, ketika Siwon memutuskan untuk kabur dan mengejar Jessica, ia memutuskan untuk ikut. Tak peduli Siwon nyaris melemparkannya keluar. Ia sudah terlibat dalam masalah dan harus memperbaikinya sebelum memburuk. Tapi, naas perjalanan mereka yang terburu-buru berakhir buruk.

Ia tak meminta mereka melakukannya. Ketika ia sadar dari tidur panjang, semuanya telah terjadi. Rumor itu telah beredar tanpa bisa ia cegah.

“Bukan Jessica yang melakukan sabotase, Dad! Jessica tidak bersalah!”

“Sudah, hentikan omong kosongmu! Percuma kau bicara sekarang! Semua orang sudah menganggap kalau dia adalah pengkhianat yang melukai hati putri kesayanganku, sahabat baiknya dan sekarang ia melarikan diri setelah berusaha mencelakakan kalian! Jessica bukan lagi sahabatmu dan Siwon tak pernah mencintai Jessica. Itu saja yang harus kau tahu sekarang!”

 

Jessica hidup sebagai orang jahat selama ini dan ialah korbannya. Betapa rumor telah membumi hanguskan mereka dengan mudah dan menyembunyikan kebenaran hingga bertahun-tahun lamanya.

Tapi segalanya sudah terungkap sekarang. Di mana lagi ia bisa bersembunyi? Bahkan menatap bayangan dirinya pun rasanya sudah tak sanggup.

Jessica sedang sekarat … karena apa yang kau lakukan padanya dulu … luka yang kau paksakan …

Dan  saat Siwon mengabaikannya … Tiffany terisak. Beginikah …? Seperti inikah sakit yang dirasakan Jessica, saat pria yang dicintainya justru melupakan dan mengabaikannya? Seburuk inikah luka kehilangan yang dialami Jessica?

Dia mencoba bunuh diri …

Karena tak sanggup menahan luka itu kah? Jemari Tiffany gemetar mencengkram kerah bajunya. Apa saja, asal ia bisa menahan buncahan luka itu bergemuruh di dadanya.

Tuhan, apa yang sudah dilakukannya?

Menikahi Choi Siwon di saat Jessica terbaring kritis di rumah sakit … melahirkan anak yang seharusnya menjadi anak Jessica … membiarkan orang-orang menudingnya bersalah … hanya diam ketika dunia membenci Jessica …

Seperti pengecut.

Tiffany larut dalam isakannya. Bodoh! Apa yang sudah kaulakukan, Tiffany? Untuk apa kau menyimpan semua permusuhan ini?

 

Kau tak lebih dari seorang monster, Tiffany.

Monster mengerikan yang melahirkan seekor rubah kejam.

***

Derap langkahnya tergesa-gesa. Ribut memantul-mantul di koridor rumah sakit. Oh, lupakan soal penampilan berkelas. Ia bahkan merasa ingin melemparkan high heel yang dirasanya hanya memperlambat.

“Dimana kamar Jessica?”Tiffany bertanya cepat begitu ia tiba di meja resepsionis. Napasnya memburu cepat sementara peluh panik membasahi wajahnya.

“Jessica…”perawat yang masih kaget itu berusaha bertanya dengan pelan, untuk memastikan. Tapi, tampaknya itu hanya membuat Tiffany semakin kesal.

“Jessica Jung! Seberapa banyak pasien sekarat yang bernama Jessica Jung di sini,eoh?! Cepat tunjukkan kamarnya!”

Menit berikutnya, Tiffany sudah berada di depan ruang ICU VVIP. Perawat yang membantunya memakai pakaian higenis baru saja keluar sementara ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya.

Deru mesin penghangat ruangan bercampur dengan denyut mesin EKG menyambut kedatangan Tiffany. Ada beberapa orang di dalam sana, tapi hanya keheningan yang bisa didengarnya. Tidak ada yang bersuara. Seolah hanya ada kematian di sana.

Langkah Tiffany gamang, sangat hati-hati dan gemetar mendekati ranjang pesakitan.

“Fany eonni…” suara Yoona. Tiffany mengabaikannya. Tatapannya tertuju pada wajah pucat itu. Jessica tertidur dengan damai. Lututnya semakin gemetar. Oh God. Ada apa dengan kabel-kabel itu? Kenapa semuanya harus terpasang di tubuh kurus Jessica?

“Fany-ah!”sebuah suara memekik terdengar lalu kemudian sebuah tangan menahan Tiffany. Ia nyaris terjatuh. “apa kau baik-baik saja?” itu Taeyeon yang berbisik cemas dengan suara bergetar.

“Bagaimana… apa… dia masih hidup?”

“Hanya demi menunggumu,eonni. Kemarilah.”

Tiffany berhasil sampai di sisi ranjang Jessica dengan susah payah.

“Sica… bangunlah…” Donghae yang duduk di sisi yang satunya lagi berbisik pelan pada Jessica. “Tiffany sudah ada di sini. Bukankah kau ingin melihatnya?”

Mata Donghae yang memerah tak melepas pandangan pada wajah Jessica. Tangannya pun menggenggam erat, terkadang menciuminya dengan dalam, berharap itu akan menyalurkan kekuatan untuk Jessica. Ia kembali mengelus pipi Jessica lembut dan berbisik lagi sembari mengecup punggung tangannya. Donghae menangis selagi melakukan itu.

Perlahan, kelopak mata Jessica bergerak-gerak. Lamat-lamat ia membuka mata dan mencari.

“A…ku di sini, Sica-ya…”Tiffany membuka mulut dan segera sadar jika suaranya sangat bergetar.

Jessica, di balik masker oksigennya, tersenyum tipis. Bibirnya lalu bergerak pelan membisikkan sebuah kata.

“M…mianhae…”

Detik itu juga, pertahanan Tiffany runtuh. Ia terisak dan harus bertumpu pada lengan Taeyeon.

Jessica hanya tersenyum lalu kembali tertidur. Untuk seorang sahabat yang kusakiti, tak ada kata lain yang berguna di antara pertengkaran selain ketulusan. Kita pernah tertawa dan mengukir mimpi bersama, kenapa kita tidak mau menangis bersama? Aku tidak keberatan menanggung luka ini, selama kau masih mengawasiku.

***

­Baiklah, ini adalah lembaran ke-70 dan kita sudah sampai di akhir cerita! This’s the End.

Well, sebelumnya aku harus mengucapkan terima kasih. Untuk kalian para reader yang meluangkan waktu membaca, mengomentari dan juga –mungkin- deg-degan menikmati tiap plot. Kalian harus tahu betapa leganya saya selesai menuliskan ini semua.

Pada awalnya fanfic ini rencana saya ikut sertakan di sayembara FF Sifany’s Island tempo hari lalu. Tapi seperti yang saya katakan di awal, saya ini suka molor dalam menulis. Lihat saja, kan, fanfic yang rencananya cuma 3shoot ini malah berakhir dengan empat part –yang semoga saja tidak dianggap pendek. Hehe.

Sebagai penulis, saya cuma berharap pembaca bisa terhibur dan puas membaca cerita yang saya akui ditulis tidak dengan maksimal dan tergesa-gesa sehingga diedit asal-asalan. Maunya juga ini dibagi jadi dua part lagi. Mengingat panjangnya yang tidak sedikit. Hehe. Tapi tak apalah. Saya paham kok bagaimana rasanya jadi reader yang ditampar dengan kata to be continued. Lagipula, daripada dikejar target setoran gara-gara molor kan lebih baik sekalian ya. Dan yang utama, waktu saya juga tak lagi seluang biasanya. Ada ujian MID Semester soalnyaa!

Jujur ya, saya tidak tahu bagaimana harus menuliskan happy end atau sad end. Jadi, sesuai presepsi pembaca sajalah.

Sekali lagi, terima kasih sudah memberikan dukungan dan menunggu fanfic ini sampai selesai. Manhi kamsahaeyo ^_^

Eitss … no sequel, please.

***

Epilog

 

Musim semi bersuka cita menyambut persiapan festival sakura. Jalan-jalan ramai oleh kebahagian. Taman-taman dibuka. Semua orang keluar dari rumah mereka, bergandengan tangan menyusuri jalan, menikmati udara musim semi yang hangat.

Semua orang berada pada suasana hati yang menyenangkan. Perusahaan besar memberikan penawaran kenyamanan bagi orang-orang. Pusat perbelanjaan, taman bermain, pedagang kedai, sekolah, perguruan tinggi sampai petugas kebersihan, menyambut hari dengan senyuman mereka.

Terlebih bagi keluarga besar Jaeshin Group. Sebuah wahana bermain dan bersantai keluarga baru saja diresmikan hari itu. Warga kota yang berkumpul langsung menikmatinya. Terlebih karena wahana ini diperuntukkan untuk umum. Tak perlu ada tiket masuk dan pelarangan. Ini murni lahir dari ketulusan. Biarlah kekayaan Jaeshin yang merawat dan memberikan layanan pada masyarakat. Untuk peresmiannya pun mereka tak perlu datang dengan setelan jas Armani seharga ratusan juta atau gaun malam milyaran won. Mobil-mobil mewah disimpan dalam garasi sementara kotak keranjang bekal beserta tikar bersantai dikeluarkan.

Ini semua adalah ide dari istri Presdir Jaeshin, Tiffany Hwang. Setelah pelepasan 500 buah balon udara, ia berkeliling menyapa para tamu undangan yang datang bersama keluarga mereka.

“Senang sekali akhirnya Jaeshin pulih lagi.”

“Benar, tidak heran proyek pertama ini didedikasikan untuk masyarakat umum. Yah, hitung-hitung sebagai wujud kesyukuran mereka,bukan?”

Tiffany masih berkeliling menyapa tamunya. Ia nampak sangat ceria. Dengan busana piknik dan topi anyaman yang cantik, ia menawarkan kehangatan kekeluargaan pada setiap orang di sana.

“Aigoo, kau sangat baik sekali menggunakan uangmu untuk membantu pemerintah menyediakan taman umum seperti ini!” seorang ibu pejabat memujinya dengan tulus saat ia menghampiri mereka.

“Terima kasih, nyonya.”

Selagi keduanya berbincang-bincang, seorang pria dengan busana santai menghampiri mereka.

Choi Siwon melingkarkan lengannya di pinggang Tiffany begitu ia tiba di dekatnya. Tentu saja itu membuat Tiffany terkejut sekaligus tersipu.

“Kau mengagetkanku,oppa.”

Siwon hanya tersenyum, memamerkan dimplenya yang menawan. Ia lalu menoleh pada ibu pejabat yang diajak ngobrol oleh Tiffany. Setelah meminta izin meminjam istrinya, ia menarik Tiffany. Kedua berjalan berdua dengan lengan Siwon yang merangkul pinggang Tiffany dengan mesra.

“Kau terlihat sangat senang hari ini,yeobo.”

“Tentu saja,”balas Tiffany, “tidak ada alasan untuk terus bersedih. Bagaimana menurutmu? Apa dia akan senang dengan ini?”

Keduanya tiba di bangku kayu. Siwon duduk terlebih dahulu lalu menarik pinggang Tiffany hingga wanita itu duduk di sebelahnya.

“Hm,”Siwon menjawab, “dia pasti senang. Kau membuka taman umum atas namanya, tentu saja dia menyukai hal-hal seperti ini.”

Tiffany tersenyum. Pandangannya tertuju pada langit lepas. Beberapa buah balon masih melayang-layang diatas sana.

“Sudah lima ratus hari dia pergi… kenapa aku tiba-tiba merindukannya?”Tiffany berbisik lirih.

“Jessica memang tipe orang yang gampang dirindukan.”

Tiffany melirik suaminya tajam. “Cih, pantas saja… dia memang tipe yang gampang dirindukan,ya?”

Siwon terkekeh, “hey, berhentilah cemburu pada sahabatmu sendiri!”

“Aku tidak cemburu,”tukas Tiffany, “lagipula dia sudah tidak mencintaimu,”lanjutnya sambil mencibir.

Siwon menghela panjang lalu tertawa kecil.

“Baiklah, baiklah. Tapi, ngomong-ngomong kemana Donghae? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

Belum sempat Tiffany menjawab, dering ponsel Siwon menyela pembicaraan.

“Panjang umur sekali anak ini. Eoh, yeoboseyo… kau dimana? Peresmian sudah selesai sepuluh menit yang lalu. Mwo? Apa yang kau lakukan di bandara? Ah, begitu ya… baiklah…”

“Apa Donghae oppa akan keluar negeri lagi?”tanya Tiffany segera begitu Siwon mengakhiri pembicaraannya.

“Tidak. Dia menjemput seseorang. Aku harap itu seorang gadis.”

“Kenapa?”

“Sebelum dia menjadi perjaka tua, bukankah itu harus terjadi?”

***

Seorang gadis modis dengan tumpukan koper di trolinya segera melepas kacamata hitam begitu ia melihat sosok yang dicarinya. Senyumnya begitu lebar dan kesenangan nampak jelas di wajahnya. Lalu kemudian tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, ia berteriak lantang.

“Hyungbu!!”

Pria itu, Lee Donghae, terperanjat kaget. Terlebih saat melihat bagaimana seorang gadis cantik dengan dandanan high stylist berlari-lari menghampirinya.

“Hey, hey, tidak bisakah kau menjaga sikapmu, Jung Soojung? Kau itu perempuan, bersikaplah seperti gadis yang anggun!” Alih-alih langsung memeluk, Donghae malah menggerutu.

Jung Krystal, adik bungsu wanita yang telah merebut cintanya itu mencibir. “Aish, kau masih secerewet yang dulu. Kau tak ingin memelukku? Padahal aku sangat merindukanmu, hyungbu!”

Donghae tertawa lalu kemudian menarik Krystal dalam pelukan hangatnya.

“Aku juga sangat merindukanmu, Jung SooJung!”ia berbisik lirih.

“Hey, tidak bisakah kalian berpisah? Jung SooJung, apa yang kau lakukan sekarang?!” suara seorang pria tiba-tiba menginterupsi pelukan mereka.

Donghae segera melepaskan pelukan Krystal dan mendapati seorang cowok manis dengan troli berisi tumpukan koper memandangi mereka dengan tak bersahabat. Krystal tertawa manis lalu dengan mesra ia merangkul lengan pria itu.

“Oppa, perkenalkan ini Lee Donghae! Hyungbu, perkenalkan  ini Kang Minhyuk, namjachinguku!”

Keduanya segera bertukar salam dengan sedikit canggung.

“Baiklah, ayo kita pulang!”ujar Donghae kemudian. Bertiga mereka beriringan keluar meninggalkan bandara.

“Hyungbu, kapan kau akan memperkenalkan calon istrimu padaku,eoh? Jessica eonni sudah setahun lebih meninggal, apa kau belum move-on?”tanya Krystal selagi mereka dalam perjalanan menuju rumah Donghae.

“Entahlah, rasanya tidak mudah. Haha, kakakmu itu sepertinya sudah membawa semua hatiku bersamanya.”

Krystal meringis, “so cheesy!”

Donghae hanya tertawa. “Sudah berapa lama kau berkencan?”

“Sudah dua tahun. Benar,kan, oppa?”

Minhyuk mengangguk, “Ya, lebih dua bulan.”

“Apa Jessica eonni tidak pernah menceritakannya padamu?”

“Kau lupa,ya? Tiga tahun hidupnya yang terakhir, kakakmu itu hanya sibuk berbisnis. Jangankan mengosipkanmu, mengunjungi toko coklat kesukaannya pun tidak sempat.”

“Itu terdengar berlebihan sekali, hyungbu.”Krystal merengut kesal.

Donghae tersenyum kecil memandangi mereka melalui kaca spionnya. Pasangan yang sangat manis. Ia kemudian berdehem.

“Minhyuk-a, aku belum tahu bagaimana kalian bertemu dan jatuh cinta, tapi sekarang aku adalah penjaga Soojung. Aku tidak akan membiarkanmu jika kau sampai menyakitinya.”

Krystal mencibir, “Mwo-ya…”

“Ne, tenang saja, hyung.”

Donghae mengangguk-angguk, “karena aku belum mengenalmu, kita akan berbincang banyak setelah tiba di rumah.”ujarnya.

Krystal hanya tersenyum menanggapinya. Sejak Jessica meninggal, perhatian Donghae banyak tercurahkan untuk Krystal. Saat ia memiliki waktu kosong, selain mengunjungi makam Jessica, ia akan menghabiskan waktunya bersama Krystal. Mungkin karena itu ia masih saja tak memiliki waktu untuk berkencan dengan wanita lain. Seperti yang pernah dikatakannya, ia akan terus hidup bersama Jessica. Termasuk mengambil alih tugas menjaga Krystal.

Donghae bukannya benar-benar menutup hati untuk wanita lain, tapi ia memang belum bertemu dengan wanita yang bisa membuatnya berdebar seperti ketika memikirkan Jessica. Atau setidaknya wanita yang bisa memahami rasa cintanya pada Jessica.

Pernah sekali ia mencoba  menerima kencan buta yang diatur oleh Siwon. Tapi hubungan itu tidak bertahan lama karena gadis itu tidak bisa menahan kecemburuannya pada Jessica. Hey, bagaimana mungkin seseorang masih cemburu pada orang yang telah meninggal? Donghae hanya berharap kelak bertemu dengan wanita yang bisa mengerti bahwa sebagian hatinya telah terisi oleh Jessica. Ia hanya membutuhkan sebuah ketulusan karena dengan seperti itu ia akan belajar melepas Jessica dengan perlahan.

***

Ah ya, komentar masih diharapkan ya.😉 Semoga ada ide untuk menulis lagi. Mungkin genre lain, hehe. Masih bisa, kan, saya menitip tulisan di SI? *colek-colek Admin*

Dan juga … mengenai karakter tokoh dalam fanfic ini, saya berusaha untuk tetap subjektif memberi mereka peran dan karakter. Meski agak susah juga sih.

Soalnya, Jeti is my favourite! Pas nulis ini saya sering deg-degan juga. Apalagi pas nulis ending. Weeh, i killed her! Hampir tidak percaya saya harus membunuh Jessica Jung, sementara dialah my favourite one di SNSD  *nah, kelihatan, kan, tegaannya?* Meski ini hanya fanfic, semoga pesan-pesannya bisa tersampaikan.

Apheuro manhi-manhi saranghaejuseyo!

Sampai jumpa di lain kesempatan, ya. Bolehlah kita berkawan di BBM 74125793 atau di twitter @zha_yurie.

118 thoughts on “(AF) Secret Part 4

  1. Ff nya keren
    Kasian jga sm sica, sbenarnya dia gk benci sm fany
    Tpi seharus nya jga sica gk muncul dgn keadaan seakan mw mnghancurkan rumah tangga sifany
    Mngkin tiff emang jahat sm sica, dan banyak bohong sm siwon dan teman nya, tpi tiff gtu jga krna oemma siwon yg ikut membohongi siwon
    Mkin terharu waktu siwon oppa gk tega bwt tiff oenni terluka dan ttp milih tiff walau uda ingat sm sica dan bilang”terlepasa dri smw msalah inoidia(tiff) adalah wanita yg berharga ibu dri anakku. Malikat,teman hidup, org kepercayaan.
    Siwon syang bngt ternyata sm tiff biar pun uda dibohongin bnyak.
    Ditunggu thor ff brikut nya.

  2. Finally end juga. Udah nguras air mata
    Sebenrnya sica baik dan tiffany juga nyelamatin sica karena jaeshin yg bt emerald bangkrut tapi cara yg ditempuh mereka salah. Wah friendshipnya rumit ya.

  3. ceritanya keren… menguras air mata bnget..😥 sebenernya gk rela sica mninggal, tpi ya sudahlah… terharu bnget sama sikapnya sica.. dia rela nglakuin apa aja buat sahabatnya…😥

  4. Gamau tau thor… ini astaga, sumpah! Tanggung jawab dong thor :’),sebenernya cuma iseng pengen liat ff ini,eh teruskebawa suasana bacanya! Asli keren parah! Sampe ngucur bacanya huaaaa,baru iseng baca part ini doang udh kaya gini,apalagi baca full?
    Daebak parah! :””) ♥♥♥♥♥

  5. Akhirnyaaaaaa selesai juga bacanya,rasanya plong dan juga nyesek 😂😢
    haeppa setia banget duh😂😙
    Makasih thor😘😘😘 keren bgt!
    Banjir loh kasurku 😭 *apasih *curhat

  6. Ceritanya menguras air mata :”) persahabatan jessica dan tiffany rumit tapi sebenernya mereka saling menjaga :”) awalnya aku ngira karakter tiffany disini egois pengen ngerebut siwon. Tapi ternyata setelah tau tujuannya.. Wahhh daebak author hebattt… Aku nangis sesegukan ih.. Buat authornya keep writing ya thor.. Ditunggu karya-karya selanjutnya ^^

  7. Siwon benar2 ingat semua di masa lalunya.kasian sica karna penyakit yg diderita divonis umurnya tidak panjang lagi.ternyata sica tidak benar2 benci fany,sica hanya ingin menyadarkan fany. Benar2 daebak thor.suka dengan konfliknya thor.
    Tetap semangat thor.ditggu ff selanjutnya thor

  8. KYAAAAAA daeebakkkkkk!!!!❤❤ Jeti daebak! Author bikin mereka jadi daebakkk!!!! (y) suka banget ff ini!! Soalnya mereka sahabatan!! (y) konfliknya (y) jalan cerita oke banget!! Aku nge feel bangett; Jessica ice princess masih sebut Tiffany ketika sadar dari sekaratnya?! Lalu dia masih bisa tegar untuk tersenyum ketika Tiffany datang memohon?! OII MRS. CHOI, you and Jessica never ever ever ever ve apart if you know that!! ; 3 setiap kalimat yang membutuhkan jawaban dipikiranku seolah terjawab sempurna! Waahh jinjja daebak!! KYAAA jeongmall!!! Maaf ya thor panjang komen. Imajinasi Author yg bikin aku kek gini:?

  9. Ya Tuhan ini ff menguras air mata jiwa dan ragaku…awalnya iseng baca ini ff tp malah kebawa..oh my god nyesek haru bahagia.haistagahhhhg

  10. masi gabisa moveon dari cerita ini.. setiap saat pengen nangis kejeer, pasti baca ff ini.. trus nangis smpe mata bengkak… gabisa bayangin gimana beratnya hidup jessica, apalagi segala hal yg dianggap berharga, hilang juga ikut ga berbekas (family &baby) .. gimana resahnya tiffany, takut kebohongan dia ketahuan.. gimana bimbangnya yoona mau mihak antara jessica ato tiffany, tpi akhirnya dia milih sica, sma2 usaha buat nyadarin tiffany…. Ff ini jga ngajarin banyak hal.. apalagi dri sisinya jessica, “Tetap tegar, walaupun tornado mnrjang.” Ditunggu karya2 selanjutnyaa…. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s