(AF) Secret Part 3

Secret Part 3

cover22

Secret

Just never trust anyone…

Author : @zha_yurie

Cast : Choi Siwon-Tiffany Hwang

Jung Jessica, Lee Donghae

Im Yoona, Kim Taeyeon, Kwon Yuri

Rating : PG16

Genre : Friendship, Marriage Life

“Ini adalah rahasia kita berdua, Yoona. Biarkan semuanya berjalan dengan tenang, sesuai rencanaku. Tidak ada yang boleh tahu mengenai ini. Tidak Taeyeon, tidak juga Tiffany, terlebih Siwon. Tapi, jika kau benar-benar ingin membocorkannya, lakukanlah… di hari pemakamanku!”

“Berjanjilah untuk menjadi saksi kebahagiaan mereka!”

 

Siapa kau sebenarnya, Jessica Jung?

***

Seoul, 2004

 

“Keuraee!! Aku memang menyukainya! Sangat menyukainya! Tiffany Hwang benar-benar menyukai Choi Siwon! Itu yang mau kaudengar? Kau sudah puas sekarang?”

Jessica terperangah, gemetar.

“Ba-bagaimana … kau … Se-sejak kapan?”terbata-bata ia bersuara, serak.

“Apa kau akan terkejut kalau kukatakan bahwa aku sudah mencintainya jauh sebelum kau? Apa kau akan mulai menyalahkan dirimu yang tidak peka? Yah, jawab aku, Jessica Jung, apa arti hubunganmu dengan Siwon oppa selama ini, eoh? Apa kau benar-benar mencintainya sementara yang kau lakukan hanya mengabaikannya?”

“Kau tidak berhak mengatakan itu padaku, Tiffany.”

“Seharusnya dia memilihku…”

“Keumanhae!”

“Bukan kau yang berhak menjadi pengantinnya! Bukan kauuu!”Tiffany menjerit, terisak hebat.

Sementara ia terjebak dalam getaran dingin yang membungkusnya rapat. Ia bahkan terlalu terkejut hingga lupa untuk bernapas. Melihat Tiffany terisak histeris, berair mata banjir membuat ia semakin tertohok. Duhai, apa pasal yang membuat mereka terlibat dalam drama percintaan menyedihkan ini? Jessica lunglai, terhunyung dan terjatuh di atas kakinya. Terisak bersama Tiffany.

***

Tiffany mengetuk ringan pintu ruang kerja Siwon sebelum membukanya. Senyumnya seketika mengembang melihat Siwon sedang bersandar di kursi dengan mata terpejam.

“Wah, menjadi presdir benar-benar melelahkanmu, ya?”ujarnya ringan.

Mendengar suara cantik istrinya, Siwon segera membuka mata.

“Kau sudah di sini? Masuklah!”

“Apa anda kelelahan, Presdir? Aku tidak menganggu tidur anda,kan?”

Siwon terkekeh. “Apa-apaan itu, Nyonya Choi? Apa meetingnya sudah selesai?”

Tiffany ikut terkekeh lalu mengangguk mengiyakan. “Kalau tidak ada hambatan kami akan segera meluncurkan koleksi baru dalam tiga hari ini,”ujarnya sembari duduk di atas meja, berhadapan dengan Siwon. “Tanggapan publik juga sangat bagus. Yoona juga sudah mulai syuting untuk iklannya.”

“Jalhaesseo, yeobo-ya,”ujar Siwon tersenyum. “Bagaimana dengan rekan kerjamu?”tanyanya kemudian.

Tiffany mengerjap, terkejut. Tapi dengan cepat ia menguasai diri dengan tersenyum seperti biasa. “Seperti katamu dia memang cocok berada di bidang yang sama denganku. Ah, sudah hampir jam makan siang. Ingin makan bersama di luar, Presdir?”

Siwon tersenyum dan mengangguk. “Hubunganmu dengan Jessica baik-baik saja, kan?”tanyanya lagi.

“Ehm, ya, begitulah.” Jawaban Tiffany lebih menyerupai gumaman.

Perubahan ekspresi itu juga terekam jelas di mata Siwon. Kembali mengingat tentang foto yang dilihatnya kemarin membuat ia menghela panjang.

“Setidaknya sampai proyek ini berhasil kalian bisa berteman baik lagi,”ujarnya.

Kening Tiffany mengerut. “Apa katamu, Oppa?”tanyanya memastikan. Sesuatu yang tak tampak mulai menaburkan kegelisahan di hati Tiffany.

“Tidak, bukan apa-apa,”elak Siwon ringan. Ia lalu bangkit dari duduk, mengecup kening Tiffany sebentar dan mengambil jasnya.

“Ayo, aku sudah sangat lapar!”ajaknya sembari mendahului Tiffany.

Tapi Tiffany tak langsung beranjak. Kecemasan itu semakin mengumpul. Cara Siwon menghindari tatapannya … bahu yang lunglai … langkahnya yang gontai … nada lirih dalam kalimatnya … Tiffany tercekat.

“Oppa!”panggilnya cepat. “Kemarin … apa yang dibicarakan abeoji dan eomeonim denganmu? Apa Jaeshin mendapat sedikit masalah?”tanyanya segera begitu Siwon menoleh.

Pria itu tersenyum, tapi Tiffany hampir yakin jika senyum itu dimaksudkan untuk menyembunyikan sesuatu.

“Begitulah. Hanya beberapa nasehat dari pria tua untuk pewarisnya. Kenapa masih duduk di situ? Kau mau menemaniku makan siang atau haruskah kupanggil sekretaris cantikku untuk menemaniku?”

Tiffany merenggut kesal. Ia segera beranjak, menyambut uluran tangan Siwon yang segera mendekapnya mesra. Keduanya lalu berjalan bersama keluar dari ruangan kerja itu.

Entahlah … Tiffany merasa ada yang aneh dari Siwon.

***

“Mommy!!”

Suara teriakan lantang Danny terdengar, disusul oleh pemilik suara yang berlari menyambut kedatangan Tiffany.

“Aigoo, putraku menunggu Mommy rupanya!”sambut Tiffany ceria. Dipeluknya sang buah hati tanpa merasa kerepotan oleh jas dan tas kerja. Dengan ringan ia menggendong Danny dan masuk ke dalam rumah.

“Bagaimana sekolah hari ini? Menyenangkan?”

“Ne, aku memenangkan lomba lari tadi, Mom! Bu guru juga memberikan hadiah padaku!”

“Benarkah? Wah, anakku memang hebat!”

Keceriaan dan keriangan anak-ibu itu dipandangi oleh Siwon dengan senyum miris. Betapa ia sangat mencintai keluarga kecilnya. Ia bahkan tak sanggup membayangkan harus kehilangan mereka suatu saat nanti. Tawa Tiffany dan Danny adalah obat rindu dan resahnya selama ini. Bagaimana ia bisa melepaskannya? Siwon menggeleng pelan, menghapus bayangan itu dari kepalanya.

Tidak. Ia tidak akan goyah. Tidak boleh ada yang mengusik pernikahan mereka.

“Oppa? Ada apa denganmu?”tegur Tiffany heran. Dihampirinya sang suami. Dengan senyum cantik ia membantu Siwon melepaskan dasi dan jas kerja.

“Danny sangat senang hari ini,”ujar Tiffany. “Bagaimana kalau kita mengambil cuti untuk liburan keluarga, Oppa? Sudah lama sekali kita tidak keluar bertiga.”

Siwon tersenyum dan mengangguk, “Kau benar. Akan kupertimbangkan. Tapi setelah proyek ini selesai, oke?”

“Tentu saja, Oppa!”

Senyum cantik dan eye-smile itu … Siwon meloloskan desah begitu Tiffany meninggalkannya untuk menyimpan jas. Bagaimana bisa ia meragukan istrinya di saat seperti ini? Melihat Tiffany lesu dan lelah saja ia tak sanggup, apatah lagi jika harus melihat tangisannya?

Siwon menggeleng pelan, memutuskan untuk menyimpan resahnya untuk waktu yang tepat.

***

“Aku tidak menyukai desain ini.”

Tiffany sudah sering mendengar kritik seperti itu sepanjang usia kerjanya. Dan ia sudah sangat lihai mengurus masalah semacam itu. Kepuasan pelanggan adalah tujuan utama mereka, karenanya meski melelahkan ia tak keberatan. Tapi ketika kalimat itu dikeluarkan oleh Jessica, semuanya berbeda.

Tidak hanya Tiffany, tapi hampir semua tim desainer yang hadir di ruang rapat membeku oleh tatapan angkuh itu.

“A-apa maksudnya?”tanya Tiffany, terbata. “Bagian mana yang tidak sesuai dengan selera anda, Nona Jung?”

Jessica tersenyum kecil, balas menatap Tiffany.

“Semuanya. Mendadak aku tidak menyukainya. Bagaimana ini? Sepertinya semuanya harus diganti.”

Jemari Tiffany tertekuk, geram. Tapi di hadapan semua staf, ia mencoba untuk tetap anggun.

“Wah, bukankah peringatan ini sedikit terlambat, Nona Jung? Peluncuran proyek kurang dari seminggu lagi! Bagaimana bisa kau meminta pengubahan keseluruhan?!”

“Memang harus bagaimana lagi? Pihak Safetech baru sempat memeriksa dan mereka tidak menyukainya. Apa kami harus menerima semua desain mengecewakan ini? Aku sama sekali tidak sudi membuang-buang uangku untuk kekecewaan, Nyonya Choi!”

“Bagaimana pun bukankah ini sedikit keterlaluan, Nona Jung?”sela seorang desainer. “Bahkan syuting untuk promosinya sudah dilakukan. Produk juga sudah benar-benar siap dilepas di pasaran. Kita tidak bisa menarik produk begitu saja.”

“Jadi, kau ingin produk sampah keluar sebagai hasil ‘spektakuler’ proyek ini?”tukas Jessica tajam.

“Kau benar-benar keterlaluan, Jessica Jung!”desis Tiffany, geram.

“Jangan membuat kami harus mengundurkan diri karena kekecewaan tentang kinerja. Kalian seharusnya sudah ahli menangani hal semacam ini,”ujar Jessica lagi.

“Jadi, menurutmu apa yang harus dilakukan?”tanya Tiffany, tegas.

“Tarik kembali produk-produk itu dan buat desain baru sebelum peluncuran tiga hari nanti,”jawab Jessica tak ragu.

“Sayang sekali, aku ingin kita menggunakan produk ini. Terserah apa kalian suka atau tidak. Jaeshin Fashion adalah pemegang saham utama dan penentu dalam proyek. Bukan Safetech!”seru Tiffany lantang.

Jessica tersenyum kecil, “Baiklah kalau begitu. Kau sudah mengambil resikonya. Lakukan apapun yang kau mau, Nyonya Choi.”

Tiffany memang berhasil mempertahankan desainnya. Tapi ia sama sekali tak tenang. Terlebih karena menyadari senyum puas di wajah Jessica begitu meeting mereka bubar, seolah memang itu yang diinginkannya.

***

Choi Siwon tersenyum kecil melihat istrinya sedari tadi mondar-mandir gelisah. Sudah hampir pukul dua belas malam dan mereka belum juga terlelap. Sebenarnya ia sudah terlelap, tapi demi menyadari Tiffany mendadak terkena gangguan tidur ia pun kehilangan selera lelapnya.

“Apa lagi kali ini, hm?”tanya Siwon serak.

Tiffany menghela, memijit keningnya dengan resah. “Entahlah. Aku sangat gugup, oppa.”

“Memang apa yang kaukhawatirkan? Sejauh yang kulihat respon investor sangat bagus. Mereka bahkan sudah menyiapkan panggung istimewa. Ayo, sini tidurlah! Memangnya kau ingin kamera menyorotmu dengan kantong mata hitam yang menggelembung? Kau harus tampil prima untuk peluncuran besok, Tiffany!”

Tak bisa mengelak, Tiffany mengalah. Ia menyeret langkahnya berbaring di sisi Siwon.

“Besok tidak akan terjadi apa-apa, kan?”desak Tiffany resah.

“Asal kau tak tersandung gaunmu sendiri, semua akan baik-baik saja. Sejak proyek ini dimulai kau sama sekali tak pernah tenang. Apa aku memberimu beban yang terlalu berat?”tanya Siwon, sembari mengelus kepala Tiffany dalam dekapannya.

Jika kemarin ia tak menyadari keresahan Tiffany yang sesungguhnya, malam itu ia mulai merasakannya. Tiffany cemas. Tapi bukan tentang proyeknya. Siwon menghela panjang, menarik Tiffany semakin masuk ke dalam pelukannya. Ia pun sama resahnya.

***

Ratusan tamu undangan terhormat memadati gedung. Kursi-kursi dengan kain terbaik segera terisi. Piring-piring berisi hidangan kelas atas dihidangkan bersama bergelas-gelas sampanye dan wine. Selagi tamu berdatangan satu persatu, kesibukan pelayan hilir mudik. Mengisi piring, mengeluarkan bunga-bunga mewah, mengantar tamu dan memberikan pelayanan yang terbaik. Sementara panggung berkelas sudah didirikan di tengah ruangan. Lengkap dengan karpet merah dan pengaturan lampu dan segala tetek bengeknya yang diatur sempurna. Dalam sepuluh menit ke depan, fashion show sekaligus peluncuran aplikasi hi-tech yang didedikasikan untuk fashion akan berlangsung.

Jessica hadir di sana, duduk di barisan terdepan dengan wajah angkuh serta penampilan memukau bak ratu. Sementara Donghae mengamit lengannya mesra.

Namun segala kemeriahan dan kemegahan fashion show itu hanya menyisakan kekecewaan. Dua jam setelah acara berakhir, media beramai-ramai menyorot acara kaum elite itu. Bukan untuk menyiarkan keberhasilannya, tapi justru menampilkan protes. Kejutan besar menanti para elit Jaeshin ketika mereka memeriksa media. Dengan segera, sebuah pertemuan mendadak digelar.

“Plagiat? 5 dari 20 rancangan ini adalah plagiat?!”

“Brand fashion besar di New York mengklaimnya begitu. Produk mereka yang diluncurkan sebulan lalu memang memiliki banyak kesamaan dengan produk kita.”

“Tanggapan publik juga kurang bagus. Sangat disayangkan, proyek ini hampir gagal. Meskipun nyonya muda Choi sangat mumpuni, kali ini dia sangat mengecewakan.”

“Kerugian perusahaan hampir mencapai 15 milyar dollar, Presdir. Apa yang akan anda lakukan?”

“Presdir Choi, meskipun Ketua Tim adalah bagian dari keluarga inti Jaeshin, tapi publiklah yang mengatur perputaran bisnis. Tolong, kita perlu memikirkan jalan keluarnya dengan mengabaikan posisi di sini. Terlebih karena netizen bereaksi jauh lebih buruk dari dugaan kita.”

“Lebih buruk lagi, pasar saham benar-benar kacau. Apa yang sebenarnya terjadi, Presdir Choi? Bagaimana mungkin skandal ini sampai mempengaruhi pasar saham seperti itu? Kalau kita tidak bertindak cepat, satu persatu investor akan mengundurkan diri!”

“Kau tidak perlu mengatakan itu, Direktur Oh. Bahkan sampai sekarang investor sudah banyak meninggalkan kita. Sedikit saja kita lengah, nama Jaeshin akan segera tumbang!”

Ruang rapat semakin gerah. Gerutuan dan helaan frustasi terdengar dimana-mana.

“Sejak awal aku sudah menentang proyek ini,”seorang direktur cabang angkat suara. “Bukankah kuperingatkan sebelumnya? Kita tidak boleh menyerahkan proyek penting kepada orang baru meski itu adalah istri Presdir!”

“Ya, aku tahu.”sahut Siwon lemah.

Jaeshin tidak pernah dipermalukan seperti ini. Apa yang salah dengan kinerja Tiffany?

“Aku sudah memperingatkannya untuk mengganti desain. Tapi sayang sekali dia tidak mau mendengarku. Jadi, salah siapa sekarang ini, Presdir Choi?”sahut Jessica angkat suara.

Siwon mendongak, membalas tatapan Jessica. Mendadak ia teringat dengan peringatan orangtuanya. Kekuatan milik Jessica … apakah benar-benar untuk menghancurkan Jaeshin? Tapi, kenapa?

***

Tiffany sontak berdiri begitu Siwon masuk ke dalam ruangan. Raut cemas nampak jelas di wajahnya.

“Oppa, bagaimana? Apa yang terjadi?”

Siwon menghela napas panjang. “Ini tidak bisa dihindari, yeobo. Kau memang sudah berusaha keras, tapi ini tetap tidak berhasil. Dan lebih buruk lagi, perusahaan mengalami kerugian karena proyek ini.”

Tiffany mendadak lemas. “Jadi… apa yang harus kulakukan? Kenapa bisa…”

“Memangnya apa yang kau lakukan selama ini? Aku tahu kau tidak menyukai Jessica, tapi tidak bisakah kau bermain secara profesional? Bagaimana mungkin kau membiarkan proyek ini gagal,hah?”

Tiffany terperangah. Sungguh, baru kali ini ia mendengar Siwon berteriak seperti itu padanya. Terlebih karena mendengar nama Jessica diselipkan dalam kemarahan itu.

“Oppa…”

“Aku tidak meminta banyak darimu, Tiffany. Kau yang ingin memimpin proyek ini jadi aku mempercayaimu, tapi apa ini?”

“Mianhae, oppa. Aku sudah berusaha.”

“Ya, memang. Tapi kau terlalu keras kepala, Tiffany. Bukankah sudah kukatakan kalau kau seharusnya bekerja sama dengan anggota timmu? Hanya karena kau memiliki kemampuan bukan berarti kau bisa mengabaikan orang di sekitarmu! Keegoisan yang membuat proyek ini gagal, Tiffany, bukan kerja kerasmu!”

Tiffany terpekur. Ia terlalu kalut untuk tahu apa yang harus dikatakannya. Kata-kata Siwon sudah lebih dari cukup untuk menampar kuat-kuat pertahanannya.

Siwon melonggarkan dasinya dengan gerakan kasar. Ia gerah. Pertemuan dengan pihak managemen dan supervisor perusahaan tidak berlangsung baik. Mereka terus menyudutkan dan mempertanyakan kinerja perusahaannya. Beban itu semakin berlipat karena yang mereka bahas dan sudutkan adalah istrinya. Inilah yang membuat Siwon merasa frustasi. Jangankan mereka, iapun sangat terpukul dengan kegagalan ini. Tapi melampiaskan kemarahan pada Tiffany jelas tidak mungkin dilakukannya.

“Oppa, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah melakukan kesalahan besar… aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menebus kerugian ini.”

Lihatlah, nada memelas itu dengan gampang menggetarkan hatinya. Ia menghela panjang lagi, menatap Tiffany yang putus asa. Direngkuhnya tubuh itu ke dalam pelukannya.

“Kau sudah bekerja keras. Ini bukan hal yang baru terjadi,”bisiknya.

“Tapi tetap saja, oppa… Apa yang harus kukatakan pada keluarga Jaeshin? Eomeonim juga pasti sangat kecewa. Aku harus menebus kerugian perusahaan, oppa!”Tiffany mulai terisak.

“Bantu aku meyakinkan investor, yeobo. Hanya itu satu-satunya cara.”

Isakan Tiffany terhenti. Ia mendongak, menatap tak percaya pada Siwon dengan mata yang masih menyisakan bekas airmata.

“Kau masih mau mempertahankan Safetech?”

Siwon menghela lelah, “mereka satu-satunya tumpuan harapan kita, Tiffany. Dibandingkan perusahaan lain, keberadaan mereka yang menjadi pilar utama proyek ini. Kita sudah gagal, tidak perlu ditambah dengan kemunduran mereka juga. Tolong, lupakan apapun tentang masalahmu dengan Jessica! Kita harus menyelamatkan Jaeshin terlebih dahulu!”

Tidak!batin Tiffany menjerit, pernikahan ini yang perlu diselamatkan dulu! Lihatlah, Jessica sudah mulai mengendalikan suaminya…

“Oppa… aku akan mencari sumber dana lain… tolong, lepaskan Safetech…”ia memelas, merasa begitu putus asa.

Siwon tidak menjawab. Ia hanya menghela panjang dan mengecup kening Tiffany dalam-dalam.

“Maafkan aku, yeobo…”

Dan Tiffany tahu, malam kegelisahannya semakin jauh dari matahari. Ia terhempas, menyesali diri, berputus asa.

***

Yoona terperangah ketika ia masuk ke dalam apartemen Jessica. Ada kue tart, bunga dan musik ceria di sana. Sementara sang pemilik apartemen baru saja keluar dari kamarnya sembari bersenandung kecil. Ceria sekali.

“Ah, kau sudah datang? Masuklah!”sambut Jessica. “Sebentar lagi Donghae oppa datang tapi tidak apa-apa kalau kau mau makan terlebih dahulu! Aku sudah memesan banyak makanan.”

“Sebenarnya … kau sedang merayakan apa, eonni?”tanya Yoona sembari memakai sendal rumah.

“Bukan apa-apa. Hanya merayakan satu dari keberhasilanku,”jawab Jessica tenang.

Kening Yoona mengerut, tapi segera ia mengerti.

“Proyek Jaeshin?”tanyanya pelan.

Jessica hanya tersenyum. Diserahkannya gelas wine pada Yoona tanpa mempedulikan raut tak setuju di wajah Yoona.

“Kau benar-benar melakukannya, eonni…”lirih Yoona.

“Aku tidak akan pernah mundur, kau tahu itu.”

Yoona menghela panjang, menyesap winenya perlahan. Ia tak pernah setuju dengan cara Jessica membalas Jaeshin. Tapi ia sendiri tak bisa menghentikannya. Apalagi karena ia paham sekali alasan kenapa Jessica menyimpan luka yang sangat besar untuk Jaeshin. Karena itulah ia memutuskan untuk diam saja dan menikmati keceriaan Jessica. Lagipula, sudah lama sekali ia tak melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu tersenyum begitu riang.

Skandal plagiat itu mungkin memberikan dampak buruk untuk Jaeshin. Tapi berita baiknya, ia bisa melihat kegembiraan yang tak dipaksakan dari Jessica. Dan itu membuatnya merasa sedikit lega.

***

“Aku tahu ini sangat mengecewakan kalian,”ujar Siwon, menghela panjang, “tapi aku sungguh berharap kalian tidak lantas mundur karena masalah ini.”

Donghae tertawa kecil. “Kami tidak mundur semudah itu, Presdir Choi. Lagipula semua orang pasti terkenal skandal. Ini hanya masalah kecil, anggap saja begitu.”

“Ah, terima kasih, Presdir Lee. Aku benar-benar berterima kasih.”

“Jangan sungkan. Bukankah teman memang harus seperti itu?”balas Donghae ringan.

Kening Siwon mengerut. Mendadak teringat sesuatu.

“Ah ya, Presdir Lee, boleh aku bertanya sesuatu? Mungkin melenceng dari permbicaraan, tapi sudah berapa lama kau dan Nona Jung berkenalan?”

Alis Donghae bergerak naik. Kemudian ia tertawa.

“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”ujarnya. “Mungkin sepuluh tahun? Sepertinya sudah lebih. Sebenarnya kami bersekolah di SMA yang sama tapi sempat berpisah saat kuliah.”

“SMA yang sama? SMA Hanuel?”

Donghae mengangguk kecil. Tersamar ia tersenyum melihat kernyitan di kening Siwon.

“Berarti kau juga mengenal istriku, kan? Dia juga lulusan SMA Haneul.”

“Nyonya Tiffany? Ah ya, tentu saja. Meski dulu hanya mengenal nama saja tapi aku sering mendengar tentang nyonya Tiffany dari Jessica. Mereka berteman cukup baik.”

“Aneh. Kenapa Tiffany tidak pernah menceritakannya padaku?”

Donghae tertawa lagi. “Mereka sering bertemu kok. Mungkin dia memilih untuk tidak menganggu pekerjaanmu, Presdir Choi. Oh ya, seingatku Jessica bahkan pernah mengirimkan paket beberapa hari setelah kami tiba di Seoul. Cukup membuktikan kalau hubungan mereka cukup dekat, kan?”

Siwon hanya mengangguk. Sungguh, ia bingung luar biasa. Dan karena kebingungannya itu ia tak menyadari sinar mata Donghae yang menyeringai mencemooh.

***

Sudah hampir dini hari ketika Siwon tiba di rumahnya. Ia terlalu lelah setelah menghubungi investor dan mengurus kekacauan yang disebabkan oleh skandal plagiat itu. Sebenarnya ia pun tak berniat pulang dan sudah hampir terlelap di sofa nyaman dalam ruangan kerjanya. Tapi perbincangannya beberapa jam lalu dengan Donghae terus mengusik. Dan pada puncaknya ia bergegas pulang.

Setelah berhasil masuk rumah tanpa menimbulkan banyak suara, Siwon mengendap masuk ke dalam kamar. Tiffany sudah terlelap. Tapi ia tak sedang ingin mengamati wajah cantik istrinya. Hanya setelah memastikan Tiffany benar-benar terlelap, Siwon bergerak tanpa perlu membuat keributan. Satu persatu lemari dan laci diperiksanya. Untunglah ia paham sekali kebiasaan Tiffany. Ia terlalu mengenal wanita itu hingga dengan mudah menemukan sebuah album foto dari bawah tumpukan majalah fashion lama.

Ia ingat Tiffany menerima paket kiriman hari itu. Kalau ucapan Donghae benar, berarti Jessica yang mengirimkannya. Tapi, kenapa album foto? Kenapa pula Tiffany harus membohonginya tentang paket itu? Siwon menghela sembari beranjak.

Didekatinya Tiffany yang tengah terlelap. Jemarinya kemudian bergerak merapikan rambut yang menutupi wajah itu.

“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Fany?”gumamnya lirih.

Ketika Tiffany menggeliat pelan, Siwon segera menjauhkan tangannya. Tak ingin menganggu tidur istrinya. Kemudian ia memperbaiki selimut Tiffany lalu beranjak keluar kamar. Ini bukan pertama kalinya ia tidak tidur bersama Tiffany karena terlalu banyak urusan yang memusingkan kepalanya.

***

Pukul tujuh kurang lima belas menit. Tiffany menggeliat bangun. Agak panik ia beranjak bangun begitu melihat jam. Seharusnya ia sudah mandi dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Tapi hati Tiffany mencelos tiba-tiba, menyadari bahwa Siwon belum pulang semalaman.

Selesai berbenah, Tiffany beranjak ke dapur. Tapi langkahnya tertahan saat menyadari lampu kamar kerja Siwon menyala. Secercah lega menyelinap di hatinya. Bergegas ia menghampiri ruang kerja suaminya itu.

“Oppa, apa kau di dalam?”

Tak ada sahutan. Tapi tak masalah. Tiffany memutar kenop pintu dan segera masuk.

Siwon ada di sana. Tertidur di kursinya. Sangat lelap. Tiffany tersenyum kecil mendekatinya. Harus ia akui perasaan bersalah itu menghantuinya. Kegagalan proyeknya pasti memberikan banyak beban untuk Siwon. Seharusnya ia menghibur dan menenangkannya. Lihatlah, dia sampai tertidur karena kelelahan di kursi yang tak nyaman itu.

Tapi semakin mendekati Siwon, senyum Tiffany meluntur. Kelegaannya lenyap buyar seketika. Tergantikan oleh kepanikan dan ketakutan yang tiba-tiba. Sangat jelas dilihat olehnya, serakan foto-foto di atas meja kerja Siwon.

Rasa dingin merambat begitu cepat, mencengkram dan menyelimutinya erat. Lutut Tiffany lemas saat ia menggerakkan tangan, mengumpulkan foto itu.

Kenapa foto-foto itu ada pada Siwon? Apa yang harus dikatakannya nanti? Bagaimana ia akan menjelaskannya?

Agak takut-takut, ia menyentuh lengan Siwon.

“Oppa … bangunlah! Oppa…”

Detik berikutnya, Tiffany diserang kepanikan yang lain. Siwon tak bergerak. Histeris, ia menjerit memanggil pelayannya. Sementara ia menepuk-nepuk pipi Siwon dengan panik.

“Oppa! Bangun, Oppa! Bangunlah, jebaal!”

Dalam sejam berikutnya, pagi Tiffanya kacau luar biasa. Siwon masih ditangani di ruang pemeriksaan. Dan ia tak bisa duduk dengan tenang. Entah sudah berapa lama ia terisak. Merutuki kebodohannya yang tak berhati-hati. Siwon seharusnya tidak melihat foto-foto itu! Lihatlah … ini karena kecerobohannya!

***

Jessica baru saja ingin menyantap makan siang saat Taeyeon menghampirinya. Agak terkejut ia tersenyum menyambut sahabat lamanya itu. Tak peduli jika wajah Taeyeon jelas-jelas menunjukkan ketidak-sukaannya.

“Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Tae-ya…”ujar Jessica.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu selagi kau duduk di restoranku,”sahut Taeyeon masam.

“Oh, ini restoranmu? Wah, aku benar-benar tidak tahu.”

“Memang kenapa kalau kau tahu? Ingin menghancurkannya juga seperti yang kau lakukan pada Jaeshin?”

Senyum ramah Jessica lenyap seketika, terganti dengan wajah dingin. Ia menghela panjang, meletakkan kembali sumpit yang dipegangnya lalu menatap Taeyeon tajam.

“Aku tidak tahu alasan kenapa kau begitu sentimen padaku. Tapi kalau kau ingin tahu, aku sama sekali tidak akan terusik dengan kebencianmu, Kim Taeyeon.”

“Karena kau terlalu fokus menganggu rumah tangga orang lain?”tukas Taeyeon tak kalah tajam, “tidak cukupkah kau membuat keluarga Jaeshin hampir kehilangan putra mereka tujuh tahun lalu? Kau benar-benar rubah mengerikan, Jung Jessica. Sampai kapan kau akan hidup dengan jalan menyedihkan seperti ini, eoh? Menggerogoti kebahagiaan orang lain, seperti rayap pemangsa saja.”

Mati-matian Jessica meredam bara kemarahannya dengan meneguk air putih. Bukan kata-kata Taeyeon yang menyengatnya. Tapi memikirkan tentang bagaimana eratnya persahabatan mereka dulu … Jessica terluka dengan penolakan mereka sekarang.

“Kau membuat selera makanku hilang, Kim Taeyeon,”ujar Jessica datar.

“Aku menghampirimu untuk mengusirmu keluar dari sini. Aku sama sekali tidak sudi membiarkan orang yang menyakiti Tiffany duduk di sini.”

Jessica menghela berat lalu dengan tenang berdiri. Lupakan soal makan siang, nafsu makannya benar-benar hilang.

“Tiffany benar-benar beruntung memiliki kau di pihaknya, Kim Taeyeon,”ia berujar datar, menatap lurus ke dalam mata Taeyeon. “Tapi apa yang akan kau lakukan kalau Tiffany justru membuangmu kelak? Apa kau yakin dia sebaik yang kau pikirkan?”

Wajah Taeyeon merah padam. Sungguh, seringaian Jessica membuatnya ingin menghantamkan godam di wajah itu sekarang juga. Ia menghela berat, buang pandang.

“Keluar dari tempat ini sebelum aku mengusirmu dengan kasar, Jung Jessica!”desisnya tajam.

“Jangan khawatir,”sahut Jessica, merapikan lipatan mantelnya dengan tenang. “Aku akan mengunjungi rumah sakit setelah ini. Jadi, tidak perlu repot-repot mengusirku.”

Tersenyum kecil, Jessica berlalu meninggalkan Taeyeon yang meloloskan desahan marah. Begitu sosok Jessica tidak terlihat lagi olehnya, segera ia mengambil ponsel dan mengontak seseorang.

“Apa kau akan membiarkan perempuan itu berkeliaran? Choi Siwon seharusnya tidak tinggal diam melihat Tiffany dipermainkan! Kalau Tiffany tidak mau mengatakannya, biarkan aku yang membeberkan semuanya! Akan kulakukan apapun untuk menghancurkan perempuan itu!”cerocosnya segera. “Aku akan tunggu sampai Siwon oppa bisa diajak berbicara lalu memberitahu semuanya tentang kejadian tujuh tahun lalu. Aku tidak akan peduli jika dia harus kesakitan karena ingatannya. Tiffany sudah cukup menderita dengan kehadiran perempuan itu!”

***

Hari kedua Siwon dirawat, Tiffany menemukan sebuah buket bunga babybreath di atas meja kamar rawat Siwon. Ia tak perlu repot-repot bertanya. Bukan karena Siwon menolak berbicara dengannya selama dua hari ini, tapi juga karena ia tahu pasti siapa yang membawa bunga itu.

“Jessica datang menjengukku,”ujar Siwon.

Tiffany terperanjat. Ketika ia mendongak menatap suaminya yang bersandar letih, tatapan lelah itu diterimanya. Dokter sudah memberitahunya bahwa Siwon terlalu lelah. Fisik maupun mental. Terlebih setelah memaksa memorinya mengingat kejadian lampau. Siwon yang selalu nampak fit itu terkulai, memperlihatkan sisi lemahnya yang sudah tak terbendung.

Tiffany sendiri terlalu canggung untuk berbicara dengan Siwon, takut jika pembicaraan mereka membahas foto-foto itu dan ia belum menemukan jawaban yang harus diberikannya. Karena itu, ia hanya hadir di sisi Siwon. Menemani suaminya menerima penjenguk dan melayani kebutuhannya meski mereka saling diam.

Setelah dua hari tersiksa batin, Siwon akhirnya berbicara padanya. Tapi, ketika mereka harus membahas Jessica, ia tak tahu apakah harus senang atau sebaliknya. Karena itu, ia hanya tersenyum kecil.

“Dia mencarimu,”lanjut Siwon lagi.

“Aku harus mengantar Danny ke sekolah, Oppa,”lirihnya sembari meletakkan kantong kertas berisi kotak bekal yang dimasaknya tadi.

“Bisa kau simpan bunganya di vas?”

Hati Tiffany mencelos. Pandangannya mulai berkabut ketika ia menatap Siwon. Apa maksud permintaan itu? Apa mungkin … Siwon sudah kembali mengingat masa lalunya? Tapi dokter belum memberitahukan apa-apa.

“Ah ya, sebentar!”gumamnya lirih. Sembari meraih buket bunga itu, hatinya bergemuruh kencang. Sungguh, ia ingin berlari dan menampar Jessica kuat-kuat sekarang ini! Lihatlah, dia benar-benar mempermainkannya.

Babybreath … secuil kenangan Jessica bersama Siwon. Tiffany menghela panjang, menyeka ujung matanya dan segera mengerjakan titah suaminya.

“Kau masih ingin menyembunyikannya?”tanya Siwon selagi Tiffany meletakkan vas bunga baby breath di atas nakas samping ranjang Siwon.

“Apa?”tanyanya. Sebisa mungkin suaranya tak terdengar bergetar.

“Segalanya. Tentang kau. Tentang aku. Tentang kita. Tentang Jessica,”ujar Siwon, menatap tegas. “Apa waktu bertahun-tahun belum cukup untuk menyembunyikannya? Apa aku harus menunggu rambutku beruban sampai kau bisa jujur padaku?”

“Oppa…”

“Katakan padaku, Tiffany. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?”

“Oppa… aku …”

“Aku bisa melakukan apa saja untuk mencari tahu, Fany-ya…”lirih Siwon, bergetar. “Tapi karena aku mencintaimu, tolong, jangan menodai cinta itu dengan kebohongan. Tidak bisakah kau saja yang memberitahuku?”

“Kau harus sembuh dulu, Oppa…”sahut Tiffany, nyaris menangis. “Aku akan menceritakannya padamu. Semuanya. Tapi, setelah kau benar-benar sembuh. Aku janji, Oppa.”

Siwon tersenyum kecil. Membiarkan Tiffany menggenggam tangannya.

Dan keesokan harinya, ketika Siwon sudah diperbolehkan dirawat jalan, dengan didampingi Taeyeon, Tiffany membeberkan semua.

***

“Skandal plagiat sepertinya kurang kuat, Sica,”ujar Donghae, menuangkan wine ke dalam gelas wanita itu. “Jaeshin bisa pulih dengan cepat.”

“Tidak masalah. Peringatan memang datang seperti itu, kan? Dengan perlahan … pelan … lalu akhirnya akan meledak,” Jessica tersenyum, mengangkat sedikit gelas wine, bersulang dengan Donghae.

“Kudengar kalau kau mengunjungi Siwon di rumah sakit.”

Lagi, Jessica menanggapi dengan senyum kecil. Ia paham jelas maksud pembicaraan Donghae. “Hanya untuk memastikan apakah ingatannya sudah pulih atau tidak,”ujarnya ringan. “Tapi, sepertinya belum. Jadi aku memberitahunya.”

“Memberitahu apa?”sahut Donghae cepat.

“Bahwa kami pernah berteman baik, untuk beberapa tahun lampau. Yah, ada apa dengan ekspresimu itu, eoh?”

Memperlihatkan kecemburuannya dengan jelas membuat Donghae salah tingkah. Tapi Jessica hanya tertawa kecil.

“Menurutmu, dia bisa mengingat memorinya kembali?”tanya Donghae kemudian.

Jessica menggerakkan bahu. “Entahlah,”ujarnya mengambang. “Hey, Lee Donghae, kita sudah membicarakan ini, bukan? Jangan mengungkitnya lagi, please.”

Donghae tertawa pelan, menyesap wine dengan tenang.

“Jangan khawatir!”ujar Jessica, meledek. “Aku tidak akan melepaskanmu, Lee Donghae! Kalau pun ya, aku pasti sudah seharusnya dilempar ke planet Mars.”

***

“Siip, menoleh sedikit ke kanan! Okay! Lagi! Good, good!”

Blits kamera bersileweran. Menerpa gadis cantik yang asyik berpose. Sudah hampir sejam pemotretan berlangsung.

“Okay, sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Sugohaesseo, Yoona-ssi!”seru sang fotografer, mengamati hasil jepretannya di kamera.

Bergegas Yoona menghampiri stylistnya dan berganti pakaian. Ia ada janji makan siang bersama Tiffany hari ini.

“Jam empat sore nanti, jangan lupa fanmeeting di COEX Mall, Yoona-ssi!”ujar managernya mengingatkan ketika mereka sudah tiba di depan rumah Tiffany.

“Jangan khawatir, aku akan kembali jam tiga sore nanti. Ah, tidak usah repot-repot menjemputku, ya.”

Managernya menghela, “Yoona-ssi, bagaimana kalau paparazzi menemukan kalian lagi?”keluhnya. Tahu jelas apa maksud Yoona memintanya untuk tidak menjemput.

Gadis itu tertawa ringan. “Memang kenapa? Sebentar lagi kami juga akan menikah. Jangan khawatir! Seunggi oppa hanya menjemputku dari rumah Tiffany eonni. Dia tidak mengantar sampai tempat fansmeeting, kok. Aku pergi dulu, ya! Oneul sugohaesseoyo.”

Langkah Yoona tertahan sesaat melihat mobil yang amat dikenalinya terparkir di halaman rumah besar itu. Tapi karena itu juga ia segera masuk dengan riang. Ada banyak hal yang ingin diceritakannya pada Tiffany. Sembari bersenandung kecil, menyanyikan lagu kekasihnya yang baru saja dirilis, Yoona sedikit berharap bisa menemukan pesta di rumah itu. Berhubung karena Siwon sudah diperbolehkan untuk pulang, mereka pasti akan menikmati pesta. Sangat pas untuk memberitahukan rencana pernikahannya yang sudah tak lama lagi.

“Kemana orang-orang?”tanyanya bingung mendapati ruang tengah kosong melompong. Tak ada pesta seperti yang diharapkannya meski aroma sedap makanan tercium.

Melalui pelayan rumah Yoona diberitahu keberadaan pemilik rumah di kamar Siwon. Karena di sana juga ada Taeyeon, tanpa ragu Yoona naik ke lantai dua. Bodoh amat, kalau Siwon marah-marah karena menerobos rumahnya. Ia cukup berlindung di belakang Tiffany untuk melihat wajah kalah Siwon.

Tapi apa yang didapatinya kemudian sama sekali jauh dari perkiraannya. Tak kan ada canda dan ledekan. Bahkan suara tawa. Karena yang didengarnya ketika membuka pintu kamar Siwon adalah sebuah isakan tangis.

“Jadi, aku dan dia … hampir menikah?”suara serak Siwon terdengar.

“Begitulah, oppa,”sahut suara yang diyakini Yoona sebagai suara Taeyeon. “Tapi untunglah pernikahan itu tidak terjadi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian sampai menikah. Tidak hanya melukai Tiffany, tapi juga meruntuhkan Jaeshin. Kau tahu, oppa, aku sangat bersyukur saat nenekmu membatalkan pernikahan karena mengetahui niat buruk Emerarld Corp, terhadap Jaeshin.”

“Lalu … Tiffany …”

“Jaeshin tidak salah memilihnya sebagai menantu mereka, Oppa, percayalah padaku!”ujar Taeyeon yakin.

“Aku benar-benar minta maaf, Oppa!”isak Tiffany, “aku tidak bisa membiarkanmu memaksa mengingat semuanya. Melihatmu sakit saja … aku sungguh tidak sanggup.”

“Jangan menangis, honey. It’s okay. Aku baik-baik saja, see? Lalu, bagaimana dengan kecelakaan itu?”

“Rem blong,”ujar Taeyeon. “Sebenarnya Jaeshin sudah meminta bantuan polisi untuk menginvestigasi kasus itu tapi mereka merahasiakan hasilnya.”

“Kenapa?”

Jeda menyelinap.

“Karena abeonim tak ingin mereka memperkarakan …”jawab Tiffany, terisak, “… Jessica.”

“Jessica?”

“Pembatalan pernikahan sudah sangat berat untuk dia hadapi jadi mereka memutuskan untuk memaafkannya, Oppa. Sebagai gantinya, Tiffany menjadi pengantinmu.”

“Jadi, maksudmu … karena itu Jessica menyimpan semacam dendam pada Jaeshin? Padaku?”

Yoona tak lagi mendengar kelanjutan percakapan itu. Ia sudah mundur, memutuskan untuk meninggalkan rumah itu diam-diam. Toh tak ada gunanya ia ikut campur.

***

Malam berlalu dengan begitu lambat. Setidaknya begitu yang dirasakan Siwon. Setelah Tiffany terisak di pelukannya tadi siang, kebimbangan dan ketidak-mengertian telah membuatnya harus menikmati perjalanan waktu yang lambat.

“Oppa?”panggil Tiffany, serak. Pasti ia terusik karena Siwon masih saja bersandar di kepala ranjang mereka. “Kenapa kau belum tidur?”

“Tidak apa-apa. Tidurlah lagi, yeobo,”balas Siwon segera, mencegah Tiffany untuk ikut bangun.

“Kau harus masuk kantor besok pagi. Jangan kehilangan stamina gara-gara kurang tidur, oppa …”

Siwon tersenyum, mengelus kepala istrinya sayang. Bahkan saat tak sadar sepenuhnya pun wanita itu masih menunjukkan perhatian besar. Siwon merutuki diri sendiri. Betapa tak tahu dirinya ia! Segera ia berbaring, menatap wajah Tiffany yang kembali terlelap. Siwon menghela, mengelus pipi itu lembut.

“Kenapa?” Tiffany membuka mata, bersuara parau.

“Tidak apa-apa,”balas Siwon lirih, “hanya saja … aku merasa bersalah.”

Sorot mata serius Siwon membuat kantuk perlahan meninggalkan Tiffany. Ia beringsut memperbaiki posisi tidurnya hingga menghadap Siwon.

“Karena cerita kemarin?”tanya Tiffany.

“Karena pernah mengabaikanmu.”

Tiffany tersenyum, mengarahkan jemarinya menelusuri wajah tampan itu.

“Justru aku yang ketakutan setengah mati karena berpikir kau akan meninggalkanku setelah tahu semuanya, Oppa.”

“Apa dia juga tahu kalau aku kehilangan memori?”

Tiffany mengangguk. “Eomeonim yang memberitahunya. Tapi kurasa itu tidak akan mempengaruhinya. Cinta bisa berubah kapan saja, oppa.”

“Tapi dia menyakitimu, sayang … seharusnya kau memberitahuku supaya …”

“Sstt! Sudahlah, Oppa. Tidak apa-apa.”

“Maafkan aku,”bisik Siwon, menarik Tiffany masuk ke dalam pelukannya. Mencoba meredam bara di dalam hatinya.

Bersama pelukan itu Siwon berharap agar ia bisa segera terlelap. Dan membuang jauh-jauh pikiran tentang Jessica yang mengusiknya sedari tadi. Bohong kalau ia tak mengkhawatirkan Jessica. Siwon hanya tak ingin membuat Tiffany kembali terluka dengan membicarakan wanita itu di saat mereka menikmati momen berdua.

Biarlah, batin Siwon. Ia harus mengambil keputusan. Seperti kata Tiffany beberapa hari  lalu. Mereka harus menyelamatkan pernikahan dan juga Jaeshin Group.

***

Jessica mengerutkan kening melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya. Tapi sejurus kemudian ia tersenyum.

“Well, aku tidak tahu kenapa Choi Siwon yang seharusnya masih berada di rumah sakit datang ke sini,”ujarnya.

Tapi bukan sambutan hangat yang diterima Jessica. Sebaliknya, rahang Siwon mengeras. Dengan raut dingin itu ia menghampiri meja kerja Jessica. Sebuah map diletakkannya di atas meja.

“Apa ini?”

“Tolong … menjauhlah dari keluargaku, Jessica.”

Jessica terperangah. Jelas terkejut. Tapi buru-buru ia menyembunyikannya dalam tawa pelan.

“Memangnya apa yang sudah kulakukan?”

Siwon tak langsung menjawab. “Aku mungkin belum mengerti perasaan sakitmu, tapi kalau kau datang untuk membalasnya, cukup balas padaku. Jangan melibatkan Tiffany, please…”

Kening Jessica seketika mengerut. Apa-apaan ini? Siwon menyalahkannya?

“Choi Siwon…”

“Tolong,”sela Siwon tegas, “jangan mengungkit masa lalu lagi! Jalani saja yang sekarang terjadi. Dengan begitu tidak perlu ada yang terluka lagi!”

“Apa maksudmu, Choi Siwon?”tukas Jessica, tak lagi menggunakan nada lembut. “Kau ingin aku pergi?”

Siwon balas menatap tajam ke dalam mata itu lalu mengangguk. “Aku akan membatalkan kerjasama dengan Safetech. Dengan begitu, kau sudah tak punya alasan berada di sini lagi.”

“Kau benar-benar mengusirku?”suara Jessica meninggi. “Setelah apa yang kaulakukan padaku, kau pikir bisa mengusirku begitu saja?”

Giliran Siwon yang tercengang. Siapa sangka jika gadis cantik yang selalu tersenyum anggun bak bangsawan ini ternyata bisa berteriak marah?

“Apa yang kau lakukan dengan kerugian yang ditimbulkan proyek itu, eoh? Kau pikir kami menghabiskan uang hanya untuk rugi dan diusir seperti ini? Kau pikir kau bisa melakukan itu? Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu, Choi Siwon…”

“Karena itu, berhentilah menganggu Tiffany! Tidak bisakah kau memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan?”balas Siwon.

“Jadi, itu yang dikatakannya padamu? Bahwa aku yang mengganggunya?”suara Jessica kembali melemah, terdengar sarkas.

“Aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan dana Safetech. Tapi sebagai gantinya, tolong jangan mengusik kami lagi.”

Begitu saja. Siwon kemudian berlalu meninggalkan kekosongan aneh di ruangan itu. Jessica menghembuskan napas kuat-kuat. Mendadak merasa gerah. Dengan tak sabaran dibukanya amplop yang tadi dibawa Siwon. Sungguh, ia tak mengerti kenapa Siwon mendadak berbalik menyudutkannya. Tapi apa yang ditemukan dalam amplop itu sudah menjawab ketidak mengertiannya.

Dokumen investigasi beberapa tahun lalu. Foto-foto.

Tentang kecelakaan Siwon dan Tiffany, beberapa tahun lalu. Dimana Siwon kehilangan ingatannya.

Jessica lunglai seketika. Apa-apaan ini? Apa Siwon sudah menemukan ingatannya kembali? Tapi, kenapa dia justru memintanya pergi? Nanar Jessica membaca apapun yang tertulis di sana. Ia tak salah duga. Namanya juga ada di sana. Dinyatakan sebagai sebab kecelakaan itu.

Gemetar Jessica meremas artikel-artikel itu. Tiffany rupanya masih ingin memperpanjang pertarungan mereka. Membuat Siwon berbalik membencinya … Jessica bersumpah tidak akan membiarkan Tiffany bernapas tenang kali ini.

Masih dengan tangan gemetar, diraihnya ponsel. Menghubungi Donghae.

“Oppa, lakukanlah!”ujarnya segera begitu panggilannya tersambung. “Aku tidak akan berbelas kasihan lagi. Kali ini, izinkan aku menyakiti wanita itu, oppa!”

***

“Taeyeon benar,”desah nyonya besar Choi, sembari menyerumput teh hijau buatan Tiffany. “Sejak awal seharusnya kau tak perlu bertemu dengan gadis itu.”

“Siwon oppa sudah membatalkan kerjasamanya, ya, kan, oppa?”ujar Tiffany.

Siwon mengangguk, meraih jemari Tiffany ke dalam genggamannya.

“Baguslah,”ujar nyonya besar Choi. “Seharusnya kau juga cukup pintar untuk melihat keresahan istrimu, Choi Siwon. Kenapa juga kau tidak memberitahunya sejak awal, Tiffany? Tapi tidak apa-apa, kalau sudah tidak ada lagi kontrak, dia bisa segera pergi.”

“Maafkan aku, eomeonim,”lirih Tiffany. “Perusahaan pasti rugi banyak, kan?”

“Tidak apa-apa,”ujar Siwon, “asal kau tidak lagi tersiksa.”

Nyonya besar Choi tersenyum kecil memandangi mereka.

“Ah ya, aku harus pulang sekarang. Ada pertemuan klub golf sebentar. Kalau kalian sempat, berkunjunglah ke rumah!”ujarnya sembari berdiri.

Siwon dan Tiffany mengantar nyonya besar Choi sampai ke lift. Kunjungan ibu mertuanya meski hanya sebentar sudah cukup menenangkan Tiffany. Setidaknya itu meyakinkannya bahwa ia masih memiliki orang yang mendukung dan menyayanginya.

Tapi ketenangan nyonya besar Choi tidak berlangsung lama. Di lantai empat belas lift berhenti dan terbuka. Sosok Jessica, terlihat angkuh seperti biasa, dengan tenang masuk ke dalam lift.

“Sepertinya anda baru saja melakukan kunjungan di kantor putra anda, Nyonya Choi,”ujar Jessica, tanpa menoleh.

Tidak ada tanggapan.

“Kalian pasti merasa hebat karena memutuskan kontrak kerja sama dengan Safetech. Tapi, sepertinya kalian terlalu terburu-buru,”ujar Jessica lagi, dengan nada mencemooh.

Nyonya Choi mungkin masih mengangkat dagu, tak menurunkan wibawa dan terlihat tak terpengaruh. Tapi dinding lift yang terbuat dari baja membuat Jessica bisa melihat pantulan wajah itu. Ada ketakutan yang terbaca.

“Aku akan melakukannya seperti keinginan kalian,”kata Jessica lagi. “Pergi dan menghilang, seperti tujuh tahun lalu.”

“Apa maumu sebenarnya?”tukas Nyonya besar Choi, gusar.

Jessica tersenyum kecil. “Sederhana saja, eomeonim. Aku hanya ingin hak-ku kembali.”

“Hak? Hak apa yang perempuan sepertimu miliki di sini, eoh?”

“Kau mungkin bisa bersandiwara di depan putramu yang kehilangan ingatan. Tapi, aku mengingat semuanya, eomeonim.”

Nyonya besar Choi melirik ke layar lift. Masih ada enam lantai. Ia meremas jemarinya yang mulai gemetar.

“Tiffany sepertinya sudah memutuskan untuk mempertahankan Siwon sampai akhir. Cinta memang membuat orang buta, ya, eomeonim? Tapi tak apa. Toh pada akhirnya Siwon akan tahu kebenarannya. Aku penarasan bagaimana Tiffany akan menghadapinya nanti.”

Kesabaran Nyonya Besar Choi lenyap seketika. Ia berbalik dengan cepat, menatap Jessica dengan kemarahan yang tak disembunyikan lagi.

“Kau! Jangan-pernah-menganggu-mereka!! Aku tidak akan pernah membiarkanmu, Jessica! Tidak akan pernah!”raungnya marah.

Jessica hanya tersenyum mencemooh.

“Aku tidak takut ancamanmu, eomeonim. Kenapa? Karena seharusnya akulah yang mengancammu! Lihat saja, akan kuhancurkan Jaeshin sampai tidak tersisa apa-apa lagi! Akan kuhancurkan berkeping-keping!”

Nyonya besar Choi terpaku. Sorot mata Jessica, kemarahan dan bara dendam yang menyala di sana mengintimidasinya.

“Kau pikir aku akan peduli jika pewarismu yang masih kecil itu akan kehilangan masa depan? Kau pikir aku akan berbaik hati pada menantumu hanya karena dia dulunya adalah sahabat baikku? Kau pikir aku akan melepaskan putramu hanya karena dia pernah menjadi calon pengantinku? Apa kau pikir aku akan membiarkanmu … setelah kau menghancurkan keluargaku?! Ayah, ibu, bahkan cucumu yang belum lahir … kau pikir aku akan membiarkan kematian mereka tanpa harga?!”

Mata Jessica berkabut, memanas. Kepingan lukanya muncul satu persatu, terbayang jelas di mata nyonya besar Choi.

“Berani sekali kau mencoba menghalangiku, eomeonim…”

Pada timing yang tepat, hanya beberapa detik sebelum pertahanan Jessica runtuh, pintu lift berdesis terbuka. Masih menyisakan tatapan mengintimadasi, Jessica melengos keluar. Tapi baru selangkah, ia berbalik. Sembari menekan tombol pembuka pintu, ia menatap lurus ke wajah nyonya besar Choi.

“Kau mungkin berpikir bisa menghalangiku sebagai perwakilan Safetech. Tapi sekarang yang berdiri di hadapanmu adalah Jung Jessica, pewaris Emerald Corp, yang tujuh lalu dihancurkan oleh Jaeshin. Jangan lupakan itu, eomeonim!”

Tidak ada tanggapan. Tapi sinar mata yang kehilangan wibawa itu sudah cukup membuat senyum kemenangan tersungging di wajah Jessica. Masih dengan tatapan menantang, dilepaskannya tombol pembuka pintu. Hingga pintu baja itu menutup, ia tak melepaskan pandangannya. Setiap detik dinikmatinya wajah ketakutan yang masih mencoba mempertahankan wibawa itu.

***

Jessica lunglai, tersaruk-saruk menarik langkah masuk ke dalam rumah itu. Sudah sangat larut malam, jadi ia merasa tak perlu khawatir dengan pertanyaan orangtuanya tentang keadaannya yang semrawut itu. Tapi baru beberapa langkah ia melewati pintu, suara isakan terdengar. Dan di salah satu sofa ruang tamunya yang megah, ia mendapati sang ibu menangis terisak-isak tak terkendali. Sementara di hadapannya sang ayah hanya menunduk, nampak begitu putus asa.

Ia tak bertanya malam itu. Toh, ia sendiri terlalu lelah untuk terlibat dalam masalah orangtuanya. Tapi ia memang tak perlu mendengar langsung jawaban itu untuk tahu sebab orangtuanya menangis. Karena keesokan hari, petugas bank datang dan menempelkan stiker barang sitaan ke semua barang mereka.

Ibunya pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Belum lagi ia pulih dari shock itu, Tetua Choi, nenek Siwon, datang menemuinya.

“Pernikahanmu besok harus dibatalkan. Ibumu sangat membutuhkanmu sekarang ini. Apa kau mau bersenang-senang merayakan pesta pernikahan sementara keluargamu berduka? Tidak usah mencemaskan seserahan pernikahan yang sudah terlanjur kau terima, gunakan saja untuk bertahan hidup. Daripada berpikir menjadi nyonya muda Jaeshin, lebih baik kau rawat ibumu baik-baik.”

Ia tidak mengatakan apa-apa sampai wanita tua itu meninggalkannya. Ketika kemudian wajahnya banjir oleh tangisan, ia tetap bergeming. Tak mengeluarkan isakan dan hanya menangis. Adakah yang lebih buruk dari itu?

Lalu ketika menghadiri pemakaman orangtuanya tiga hari kemudian, airmata telah berhenti mengalir di wajahnya. Ia sudah terlalu sering menangis sampai tak bisa lagi mengeluarkannya. Ia hanya berdiri di sana, berjam-jam setelah para pelayat pergi. Seorang diri.

Tak ada Siwon. Tak ada Taeyeon. Tak ada Tiffany.

Mereka semua tak ada. Teman-teman yang dulu menjadi saudaranya, tak seorang pun yang datang ke acara pemakaman itu. Bahkan kekasihnya pun…

Hanya sebuah mobil hitam yang terparkir di luar arena pemakaman yang ada di sana. Ketika Jessica memutuskan untuk pulang, ia melihat wajah dingin di balik kaca mobil itu. Wajah yang tak menampakkan belas kasih, menatap datar tanpa ekspresi. Wajah yang dengan ekspresi sama memintanya membatalkan pernikahan dengan Siwon. Hari yang seharusnya membuatnya menjadi seorang ratu bergaun putih berubah menjadi hari ia menjadi pesakitan dengan gaun hitam. Semua karena orang itu.

Jaeshin Group.

***

Siwon merebahkan kepalanya di sandaran kursi. Tiga hari tidak masuk kerja justru membuat perasaannya memburuk. Tapi dia memang tak pernah merasa baik sejak pengakuan Tiffany didengarnya kemarin.

Mencoba menepis lelah, Siwon memejamkan mata. Ia sudah tahu jika ia kehilangan beberapa memorinya di masa lampau. Dan Tiffany sudah menceritakan mengenai hubungan masa lalu mereka dan siapa Jessica. Tapi, kenapa ia merasa ada yang tidak benar?

Mengingat kembali betapa tak terimanya Jessica saat ia memintanya pergi, membuat Siwon terus memikirkannya. Tiffany mengatakan kalau dalam masa lalu mereka, Jessica amat sangat terobsesi dengannya. Tapi ada yang salah … Jessica sudah bertunangan. Dan kalau memang dia masih menyukai Siwon, bukankah seharusnya ia tak perlu menghilang selama beberapa tahun? Apa yang sudah terlewatkan olehnya? Siwon mengerang pelan. Kepalanya kembali berdenging sakit.

***

“Aku mendengar semuanya, eonni!”

Yoona bergeming kokoh saat mengatakan kalimat itu. Tapi raut wajah Jessica sama sekali tak bisa ditebaknya. Datar seperti biasa. Meski ia tak memungkiri jika awan mendung tersapu tebal di sana.

“Aku tidak akan tinggal diam saja, eonni! Tidak akan pernah!”seru Yoona lagi, mencoba mengalahkan hiruk pikuk musik club.

“Kau tidak bisa mengubah apa-apa, Yoong!”balas Jessica akhirnya.

“Tapi mereka tidak bisa membuangmu seperti ini, eonni! Setidaknya, biarkan Siwon oppa mengetahuinya!”

Jessica tersenyum miris, mengisi gelasnya dengan gerakan yang tak lagi sinkron. Matanya menatap kosong, memperjelas kehadiran kabut luka itu.

“Biarkan saja, Yoona-ya…”lirihnya.

“Tidak!”sahut Yoona cepat, “masih terlalu cepat untuk menyerah! Biarkan aku membantumu, eoh?”

“Terima kasih, Yoona. Tapi aku memang tak pantas menjadi nyonya muda Jaeshin sementara ibuku sedang sakit. Lagipula, apa yang kuharapkan sekarang?”

“Siwon oppa sangat mencintaimu, eonni…”

“Bagaimana kalau Tiffany hamil? Kalau aku menikah dengan Siwon oppa, bagaimana dengan Tiffany? Bagaimana kalau anaknya bertanya siapa ayah kandungnya? Apa dia akan menunjuk pria yang juga menggendong anakku?”

Yoona bungkam. Bingung, resah berkecamuk.

“Jadi…”

“Aku akan menyerah tentang Jaeshin Group,”desah Jessica letih.

“Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan semudah itu!”

Tapi, ia telah mengambil keputusan dan tak kan goyah lagi. Ia telah memesan tiket keberangkatan ke luar negeri dan akan segera meninggalkan Korea keesokan harinya. Hanya saja, malam itu ia menemukan luka lain dalam keluarganya.

Emerald Corp bangkrut. Ayahnya bunuh diri, tak kuasa menanggung beban. Lalu kemudian setelah sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit, ibunya juga memutuskan untuk menyusul suaminya. Ia sendiri. Terlunta-lunta.

Tapi Jung Jessica belum menyerah pada kehidupan. Ia masih memiliki seorang adik di California. Dan ke sanalah ia menuju. Ia berencana melepaskan diri dari semua luka itu. Melupakan segala hal tentang Korea. Dan tentang pernikahannya yang berlalu muram.

Dua hari setelah berada di California, sebuah telepon penting datang dari Yoona.

Siwon mengalami kecelakaan hebat.

“Dia belum juga sadar dari komanya, eonni. Sudah dua hari.”

“Kenapa aku mau peduli dengannya?”ia menukas dingin, meski sesungguhnya keringat dingin telah membasahi wajahnya.

“Dia sedang mengejarmu, eonni. Siwon oppa melarikan diri dari kurungan neneknya demi menyusulmu di bandara, tapi…”

“Pria bodoh,”ia mengumpat, pelan dan bergetar.

Di seberang benua, Yoona tergugu diam. Jessica tidak mengeluarkan suara apa-apa setelahnya, tapi ia tahu pasti bahwa Jessica sedang menangis. Karena itu ia tidak memutuskan panggilan teleponnya.

“Kau akan pulang, kan, eonni?”ia bersuara beberapa saat kemudian, lirih. “Siwon oppa mungkin membutuhkanmu!”

Tidak ada jawaban.

“Sebenarnya… Tiffany eonni juga mengalami kecelakaan yang sama. Dia juga masih koma sampai sekarang. Mereka berdua…”

“Terima kasih sudah mengabariku, Yoona. Tapi bagaimana ini? Sepertinya kau salah berharap aku akan kembali. Tidak, keputusanku sudah bulat. Jangan menghubungiku lagi kalau kau hanya ingin membicarakan mereka.”

Baru saja Yoona hendak menyela, suara klik terdengar memutuskan pembicaraan mereka. Ia menghela panjang, bersandar putus asa di sofa rumah sakit itu. Sementara deru mesin pemanas dan detak mesin EKG bergaung menguasai ruangan itu.

***

Yoona menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan besar itu. Warna pink pastel dipadukan putih mendominasi ruangan itu. Sangat elegan dan girly. Sangat Tiffany. Mengingat bahwa Siwon-lah yang meminta agar ruangan istrinya didesain pink membuat Yoona kembali menelan miris.

“Maaf, agak berantakan, Yoong,”ujar Tiffany yang sibuk di meja kerjanya. “ada banyak hal yang terjadi di perusahaan akhir-akhir ini. Setelah kekacauan yang kutimbulkan kemarin ya… tahulah maksudku. Duduklah dulu! Ah, kau mau minum apa?”lanjutnya sembari mengambil gagang telepon, bermaksud menelpon sekretarisnya.

“Tidak usah, eonni,”ujar Yoona, “aku tidak lama, kok.”

Tiffany mengangguk paham lalu kembali menunduk meneliti dokumennya.

“Tiffany eonni,”panggil Yoona lirih, “bisakah kau berhenti, please?”

Tiffany mendongak dengan kening berkerut, “Berhenti apanya?”

Yoona menggigiti bibir bawahnya dengan gelisah sementara Tiffany memandangnya dengan tatapan menuntut. Butuh beberapa saat bagi Yoona untuk mengumpulkan keberaniannya dan menjawab.

“Berhentilah… membenci Jessica eonni!”

Tiffany mengerjap, terlalu terkejut untuk bisa segera berkata-kata.

“A-apa maksudmu? Bukan dia yang harus berhenti, tapi kau menyuruhku untuk berhenti?”

Yoona mengangguk, kali ini ia nampak sangat yakin.

“Ne, eonni. Kau sudah banyak menyakitinya. Bagaimanapun bukankah kalian dulu berteman sangat baik? Kasihanilah dia,eonni…”

Tiffany mendengus. “Apa sekarang kau berpihak padanya,Im Yoona? Setelah apa yang dia lakukan padaku kau berlari ke sisinya? Sadarlah, Jessica sudah…”

“Eonni, bukankah kau yang harus sadar?”Yoona memotong dengan tajam, dingin dan bergetar, “kesakitan dan luka yang diberikan oleh Jessica eonni memang sangat buruk. Semua orang tahu itu,eonni. Tapi, kenapa mereka tidak berpikir kenapa Jessica eonni melakukan semua itu? Bukankah itu karena lukanya jauh lebih besar darimu,eonni? Jessica eonni hanya merasa putus asa untuk hidup dan memikirkan cara ini untuk membalaskan kemarahannya. Kukira kau tahu itu dengan baik, eonni.”

Mulut Tiffany terbuka tapi sejurus kemudian ia menutupnya kembali. Nampak jelas jika ia sangat terkejut dan terpukul dengan kata-kata Yoona. Terlebih karena itu… benar.

“Pikirkanlah, eonni. Kesalahanmu jauh lebih besar. Jadi, kumohon hentikanlah kebencianmu itu!”

Mworago?”

Yoona menarik napas panjang sebelum buka mulut, “aku tahu semuanya. Alasan kenapa kau bisa tidur dengan Siwon oppa di pesta lajang mereka. Bahkan mengenai kecelakaan itu, aku juga tahu, eonni. Kau mungkin bisa membohongi Taeyeon eonni, tapi sayang sekali, aku sudah mengetahui kebenarannya sebelum kau membohongiku.”

Tiffany terpaku shock. Wajahnya memucat. Ingin ia menyangkal itu dengan keyakinan bahwa ia sedang bermimpi, tapi tak bisa. Yoona berdiri yakin di hadapannya. Dengan sorot mata yang meski berkabut, menyisakan keyakinan.

“Jadi …” terbata ia bersuara, bergetar, “apa sekarang kau mengancamku?”

Yoona menghela panjang lalu menjawab dengan lirih, “tidak. Bukan mengancammu, eonni. Tapi aku memohon belas kasihanmu…”ia terdiam sebentar, matanya mendadak memanas dan suaranya menjadi jauh lebih bergetar, “karena hidup Jessica eonni sudah tidak lama lagi. Ketika ia memutuskan datang kembali, bukan karena ingin membalasmu, eonni. Tapi… ia hanya ingin…mengucapkan perpisahan padamu… Ia mengambil jalannya sendiri untuk menyadarkanmu. Jadi, berhentilah karena ini semua sia-sia saja…”

Isakan Yoona terdengar, mengambang di tengah keheningan mencekam yang tiba-tiba menyeruak. Tiffany masih terhenyak shock.

“A-apa maksudmu? Hidupnya…tidak lama lagi? Maksudmu, dia akan meninggal … dalam waktu dekat ini?”pertanyaan itu meluncur dengan terbata-bata, tapi sejurus kemudian ia mendengus tertawa. “Luarbiasa sekali kau berusaha menipuku, Im Yoona. Memangnya aku akan mempercayaimu setelah kau jelas-jelas mengkhianatiku?”

Yoona tercengang. “Eonni…”

“Keluarlah, aku memiliki banyak pekerjaan. Kakak kesayanganmu itu sudah meninggalkan banyak pekerjaan untukku.”

“Aku benar-benar tak percaya ini kau, Tiffany eonni. Apa sekarang kau berubah karena ambisi bodoh itu? Untuk apa kau melakukan ini? Untuk Jaeshin? Untuk Siwon oppa? Apa harta kekayaan, nama besar dan cinta itu lebih berharga dari temanmu? Jessica eonni sedang sekarat! Sahabat yang kau hancurkan masa depannya itu harus menanggung penyakit mematikan di tubuhnya karena keegoisanmu di masa lalu! Apa sekarang kau akan mengabaikannya seperti itu? Karena luka yang kaupaksakan padanya, ia nyaris membunuh dirinya sendiri sepuluh tahun lalu! Kau mungkin bisa tenang karena sampai sekarang dia masih hidup!” mata Yoona yang berair menatap lurus wajah pucat di hadapannya, “… dia… sedang sekarat, eonni… Karena percobaan bunuh dirinya… penyakit terkutuk itu terus menggerogoti hidupnya! Dia sekarat karena kesalahanmu, eonni! Dia bahkan kehilangan anaknya yang belum lahir! Apa sekarang, kau akan mengacuhkannya begitu saja? Tidakkah … kau merasa bersalah sedikit saja?”

Tiffany tiba-tiba menjerit. Matanya memerah, dan tanpa bisa dicegah, tangannya bergerak ringan menjatuhkan berkas-berkas di atas meja kerjanya. Tubuhnya bergetar dan ia terlihat sangat kacau.

“Eonni…”

“Keluar, Im Yoona!”Ia menjerit histeris dengan seluruh tubuh gemetar menahan gelombang serangan ketakutannya. “Enyah dari hadapanku sekarang juga! Enyahlah!”

Yoona yang sempat tercengang terkejut akhirnya mengalah. Ia menghela panjang lalu berbalik, meninggalkan ruangan Tiffany dengan langkah gontai.

Begitu pintu tertutup, detik itu juga Tiffany terhunyung. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan. Ia bertumpu pada lengan sofa, masih dengan gemetar. Seluruh tubuhnya terasa lemas, seperti jika organ-organnya ditarik paksa keluar. Tiffany terisak. Kali ini, cengkraman di ulu hatinya terasa jauh lebih kasar. Ia merintih dalam isakannya. Ketakutan itu sekarang telah menjelma menjadi monster menakutkan yang akan melenyapkan hidupnya dalam sekejap. Tiffany larut dalam isakan ketakutannya.

Benar, ini semua salahnya. Jessica memang seorang rubah betina yang licik, tapi ia-lah yang menciptakan rubah itu. Ini semua salahnya. Ketakutan yang menggerogoti ketenangan selama sepuluh tahun terakhir telah bersua dengan akhirnya. Tiffany sadar, nerakanya hari itu masih jauh dari kata berakhir. Ia semakin merasa putus asa saat memikirkan tentang Siwon, Danny dan keluarganya. Ini bukan hanya tentang Jaeshin, tapi tentang hidupnya. Apa yang harus dikatakannya saat semua jari mengacung ke arahnya? Oh tidak, Tiffany menekuk lutut dan menyembunyikan isakannya di sana. Haruskah kebohongan itu terbongkar sekarang?

***

Preview the Next Chapter

 

“Jadi karena itu kau melakukannya? Membuat Siwon oppa tidur denganmu…”

“Aku tidak bisa memikirkan jalan lain…”

“Tidak. Kau tak hanya ingin menyelamatkan Jessica. Lebih dari itu, kau juga menyukainya, kan? Kau juga sangat mencintai Siwon karena itu kau mengambil jalan itu!”

 

“Aku baik-baik saja.”

“Tidak, kau kesakitan. Dan itu karena aku melupakanmu. Seandainya saja aku tidak kehilangan memoriku, kau pasti tak perlu melewati semua penderitaan ini. Aku bahkan menjauhkanmu dari sahabat-sahabatmu, membuat hubunganmu dengan Tiffany jadi rumit … aku minta maaf …”

 

 

 

“Oppa, belajarlah melepasku… Hari ini atau besok, kau pasti akan kehilangan aku,kan?”

Untuk seorang pria yang mencintai sahabatnya, berjanjilah untuk segera melepaskan cintamu. Harapan itu terkadang akan menyandungmu saat kau melupakan sekelilingmu. Berhentilah mengatakan ‘hanya kau satu-satunya’ karena ada jutaan orang membutuhkan cintamu.

 

Untuk apa kau melakukan semua ini, Tiffany?

***

Cuap-cuap Author :

 

Hai, hai! Sebelumnya, i need to apologize … rencananya ini cuma sampai tiga chapter saja. Tapi, ternyata molor –lagi- hehe, maaf, maaf. Boleh ya, nambah porsi deg-degannya sekali lagi?😀

Ending ceritanya sudah saya tulis, kok, bahkan jauh hari sebelum chapter kedua diposting. Apa nanti happy atau sad, just wait it, please J Cuma saya agak bingung mau menyambungkan ending yang sudah ditulis duluan dengan plot ceritanya. Karena itu masih mutar-mutar mencari solusi. Sebenarnya, saya suka stalk komentar pembaca di blog. Biarpun saya ini penulis kategori suka tegaan sama tokoh, believe me, saya membaca semua komentar pembaca dan sebisa mungkin memberikan yang kalian inginkan. Jadi, komentar pembaca sangat membantu saya membangun plot.

Masih bingung, nggak, dengan konfliknya? Saya harap beberapa pertanyaan tentang masa lalu mereka sudah terjawab di chapter ini. Mengenai kebenaran sesungguhnya, di chapter end akan dibahas. Kidaehaejuseyo ^_^

Sekali lagi, saya minta maaf soal keterlambatan penyetoran chapter ini. Sampai ditagih sama adminnya, hehe. Lagi-lagi, saya harus menggunakan alasan kuliah sebagai alasan.

Dan juga terima kasih karena sudah mau membaca ff ini. Saya tidak perlu mengulangi bahwa komentar pembaca amat saya apresiasi, kan?😀 Meski hanya sebaris –yeah, saya jauuh lebih suka yang panjang- setiap komentar pembaca selalu memacu saya untuk segera menyelesaikan cerita ini. Apheuro manhi-manhi saranghaejuseyooo! *deepbow*

 

Sstt… kalau ada yang tanya saya ada di pihak mana saat menulis ini, antara Jess atau Tiff … saya pilih …

 

Lee Seunggi. Yang saya simpan untuk diri sendiri. Karena itu dia tidak muncul-muncul Hoho. *abaikan ini*

See you soon!

 

 

135 thoughts on “(AF) Secret Part 3

  1. *ngacung* Aku masih bingung author , ini sih akunya aja yg terlalu lemot kayanya -_-”
    Tapi sumpah ini ff aku suka banget walaupun konfliknya cukup berat, bikin hati deg-degan terbawa perasaan para cast di ff ini , campur aduk pokonya. Apalagi tulisan author yang jelas walaupun jalan ceritanya sendiri masih muter” dan belum benar-benar jelas tapi tulisannya ga ngebetein untuk dibaca malah semakin penasaran dan seru.
    Kalo aku mah ga bela tiffa / jessi deh, sepertinya terlepas dari siapa yang salah mereka berdua sama-sama punya penderitaan masing” dan sama” tertekan sebetulnya *poormyjeti*.
    Tapi tetep berharap happy endinglah untuk sifany, kasihan danny’nyaaa , duh kebayang sifany kalo punya anak nanti jadinya, hahaha *gafokus*
    Oke intinya sih aku seneng juga karena ga ending di part ini , horrreeeeee. Sayang kalo harus end begitu aja apalagi konfliknya bagus, kalo diburu-buru pasti banyak yg minta sequel *modus* ya author lebih taulah ya urusah tulis menulis. Pokonya aku nantikan part selanjutnya + judul selanjutnya *loh* heheee
    Keep writing author , semangaaaaaat ♡

  2. aku suka banger ff ini aaa deg degan jadi sebenerna yg salah itubsiapa authorr !! plissss jgn lama2 ya capther end nyaa masih bingung sm masa lalu merekaaa

  3. Woahhh.. DAEBAKK!!! (^o^)b
    Baru kali ini baca ff yg bikin deg”an dari awal (dan sepertinya) sampai akhir… ak sampai lupa thor udah berapa kali nahan napas saking tegangnya…
    Thor sebenarnya yg jahat *eh lebih tepatnya yg salah siapa sih disini? Sica? Fany? or Ortu Siwon? Aisshh… bikin makin penasaran…..😄
    Next part jangan lama” ya thor… dan pleeaasse bgt thor… klo bisa bikin jd Happy Ending… yayaya? *ngarep bgt

  4. Di chap ini aku sudah cukup paham dengan masalalu mereka, tapi aku benar-benar penasaran dengan kebenaran yang sesungguhnya, apa alasan tiffany yg sebenarnya melakukan semua itu.

    Ceritanya makin keren thor, makin seru!!! Next chap nya jangan lama yah thor soalnya udah penasaran banget nih dengan kelanjutan ceritanya. Semangat terus yah thor untuk buat kelanjutan cerita dan endingnya. Fighting!!!^^

  5. ARGH ! Jujur, aku ksel banget kenapa dulu siwon suka banget sama jessica, ugh! Kenapa sih Tiffany harus jadi orang jahatnya, huhuhu.. Tapi ini yang buat ceritanya jadi menarik. Part selanjutnya cepetan ya thor, keburu amarah ini padam, hahaha😀

  6. Ya ampun ini chapter 3 bikin gemes yg baca.
    Agak ga suka sm tiffany yg nutupin kejujuran pake kebohongan laen, tapi emg serba salah juga sih, demi cinta sm kluarga pasti klo kita diposisinya tiffany bakal ngelakuin hal yg sama.

    Masi ga bisa nebak ini endingnya gimana, klo tiwi sih pgnnya siwon ga milih sapa2, biar adil, ga ada yg tersakiti satu sm lain, #abaikan

    Bagus bgt kak chapter 3 ini, kena bgt feelnya, berasa dilema gt bacanya, ga tau msti mihak yg mana.
    Semangat kak bwt nulisnya,

  7. Konflik’a mantep ciiinnn…
    Pas flashback prtama udh ketauan yg jahat sapa eh trnyata di balik itu malah kebalikan’a sapa yg jahat eh di ksh flashback lg trnyata msh ada rahasia sbnr’a
    waahhh.. emang ga bsa di tebak
    Rahasia di balik rahasia bakaln terungkap nih
    Msh penasaran sm kisah sbnr’a
    Yaaahh DAEBAK!!
    di tnggu BGT next chap’a

  8. Ini sbenernya siapa yg slah sih??,,,ato cma slah pham aja?
    Lihat dri sisi jess kasian dy,, liat dri sisi tiff jga kasian dya,,jdi bngung sndiri siapa yg slah,,,

  9. Akhirnya ^_^
    Ga tau harus koment apa ^_^
    Keren jalan ceritanya luar biasa^_^
    Bener2 bikin deg-degan bacanya >●<
    Ga sabar nunggu next part kisah tiffany-siwon-jessica ^_^

  10. sumpah bikin penasaran bngett….alur ceritanya jg gabisa ketebak…entah siapa entar yg sebenernya bersalah,yg penting jd nya happy ending😀, semangat ya thor!! di tunggu part selanjutnya :*

  11. Di part awalya aku udah cukup
    paham dengan masalalu mereka, tp kenapa kayaknya tiffany ada yg di tutupinya ya?
    Tapi aku benar-benar penasaran dengan kebenaran yang sesungguhnya, apa alasan tiffany yg sebenarnya melakukan semua itu.
    Apa cuma yoona yg tau semua kebenarannya? Jd taeyeon dan sahabat tiffany yg lain di bohongi juga dong sama cerita tiffany?
    Argh sumpah penasaran bgt sama kelanjutannya, ditunggu part selanjutnya ya thor🙂

  12. masih gak rela, ini mengarah ke tiffany jahatnya padahalkan ini ff sifany
    jessica dibikin ada sisi jahatnya donk masalalunya
    terus part end.nya klo beneran fany yg mendominasi jahatnya terus siwon gimana donk pastikan akhir2nya ninggalin fany
    ahh… jadi gak rela

    katanya part END nya udah di tulis kenapa selalu lama post.nya thor/??

  13. Bingung sama preview next chapternya.. Sulit banget nebak siapa yg ngucapin dialog itu..
    Next chapter ditunggu, jangan lama2 ya postingnya Authornim😀

  14. auttthhoorr, ak sedikit gk terima karakter tippa -_-
    kenapa dia jahat bgt ma jessi -,-
    ak gk rela tippa keq gtu. huhuu

    dibagian akhir part sedih bagt thor, ahhh tippa -,-
    jgn bikin sad ending ye thor. hahaa

    makin kesini semakin ad penjelasan knpa jess bisa kyk gtu, jdi penasaran ma lanjutanny.
    ak baca lg deh ah. hahaa
    thankyou thor :-*

  15. meski telat bacanya tp kok aku ikt deg degan yaa thor apa yg akan terjadi sm siwon tippa sica? huaa complicated bgt ini kereeennnn

  16. Ternyata tiff yg mulai smw permsalahan nya
    Tpi dia nglakuin itu jga krna sayang sm siwon, dan krna dlu sikap sica yg cuek sm siwon
    Pdahal siwon lebih dlu kenal sm tiiff, tpi malah pacaran sm sica

  17. Rahasia apalagi yg sbnrnya disembunyikan sama tiffany? rumit banget ya.
    Dendam Jessica yang teramat besar menghancurkan semuanya.
    Jessica pernah hamil? anak siapa?siwon masa?
    Wah cerita nya makin bikin gregetan thor

  18. Author daebak nih buat readers deg-degan.. Jadi di ff ini tiffany jadi orang yg egois kah? Siapa yang menyebabkan kecelakaan siwon?? Wahh aku bingung harus komentar apa, tapi bener deh perasaanku campur aduk waktu baca cerita ini :’) 👍

  19. Wow….daebak thor.kasih 2 jempol deh thor.
    Apa jadi awal masalahnya dari fany yg berbohong fany ah jujurlah sama siwon,siwon pasti ngerti kok,pasti akan memaafkanmu dan juga masalah cepat selesai.Amin.thor,konfliknya benar2 deh.
    Saya baca next partnya aja ya thot.hwaiting.
    Happy ending ya thor.Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s